Docstoc

Renungan Bagi Jiwa 3

Document Sample
Renungan Bagi Jiwa 3 Powered By Docstoc
					RENUNGAN BAGI JIWA
Bagian 3
Kliping Aneka Renungan, Kesaksian dan Ajaran Pembangun Iman (dihimpun dari berbagai sumber)

1 Timotius 2:4, Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
1

KATA PENGANTAR Kliping ini merupakan kumpulan tulisan terbaik dari berbagai sumber. Baik sekali jika digunakan sebagai pelengkap pembacaan Alkitab karena memberikan penjelasan yang mudah dipahami serta uraian kontekstual. Sebagaimana ditulis oleh Administrator situs Roti Hidup.com dalam tulisan penutup kliping ini:

Rahasia untuk memahami kehendak Allah: 95% adalah perkara taat kepada kehendak Allah, dan 5% adalah perkara pemahaman.
Saya percaya bahwa para Penulis telah memiliki urapan khusus, pengalaman pribadi dan penghayatan yang baik sehingga mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang sedemikian. Ijinkan saya memasukkan karya tulis Anda ke dalam kliping elektronik ini untuk disebarluaskan semata-mata untuk menyebarluaskan firman Tuhan agar menjangkau semakin banyak jiwa, tidak dengan tujuan komersil atau alasan pribadi lainnya. Untuk itu saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada semua penulis yang karyanya saya masukkan ke dalam kliping elektronik ini. Anda telah menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu yang membangun iman para pembaca, pastilah Tuhan Yesus memperhatikan dan membalasnya dengan segala yang terbaik. Tuhan memberkati Anda semua. www.airhidup.com Sucipto Maria John Daniel www.papma-kasih.org Kurniawan Yulia Oeniyati Living Stream Ministry Renungan Pelita Sahabat Pamela Garrion Betty Chan Joseph Wise Poriman Inggou Poppy Pratva Ineke Anggraeni Donny Christian cerita-kristen.com Loren Sartika Pinkrose, Paris van Java Robinson Tulenan Susan P Schutz Henry Sujaya Lie Lydia gpdisacramento dr. Harry Ratulangi dan dr. Andik Wijaya Chuck Ebbs Jim Kolianan Pdm. Johny Kilapong, MA Ayub Abner Mbuilima Erna Liem Henry Sujaya Lie Jonathan L Parapak www.kasihkekal.org
2

Eka Darmaputera Pdt. Indri Gautama John Adisubrata Ir. Stanley I. Sethiadi Ang Tek Khun Pdt. Mary Hartanti Derek Prince Hans P.Tan Pdt. Bigman Sirait Pdt. Erastus Sabdono.M.Th. Rehobot Online Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia Tim Pengerja GKI Kayu Putih Pdt. Juswantori Ichwan, M. Th. James C. Hefley, terbitan Yayasan Kalam Hidup. George Muller James C. Hefley www.pemudakristen.com Renungan Harian (DH, DC, SS, HW, J, MII, HV, DR, DB, DM, DE, DJ) Ayub Yahya SUARA PEMBARUAN DAILY budiyanto www.rotihidup.com Mohon maaf sekiranya ada nama penulis/ lembaga yang tidak tercantum dalam daftar tersebut. Tuhan Yesus memberkati Anda semua.

Salam hormat dalam kasih Kristus, mosesforesto@gmail.com (Lukisan pada cover depan: “Fraktal Penyaliban”, Oil on Canvas, 60cm X 80cm, Moses Foresto)

3

Kerilumologi Natal Oleh: Ayub Yahya Tidak salah, seperti disinyalir oleh Jaya Suprana, manusia serba bisa, pencetus kelirumologi, bahwa di dunia ini ada banyak sekali kekeliruan. Tetapi karena sudah terlanjur biasa diucapkan dan didengar, atau terlanjur sering dipakai sehingga lalu tidak lagi dirasakan sebagai kekeliruan. Misalnya, anggapan bahwa Yunus ditelan ikan paus. Keliru. Selain paus bukan sejenis ikan, tetapi mamalia, dalam cerita Yunus di Alkitab juga tidak pernah disebutkan ikan paus; hanya disebutkan ikan besar (Yunus 1:17). Atau dalam pemakaian kata-kata. Misalnya kata acuh, kerap orang menyamakan dengan tidak peduli, cuek. Padahal acuh, artinya justru peduli, tidak cuek. Juga kata semena-mena biasa disamakan dengan sewenangwenang. Padahal semena-mena artinya adalah: tidak sewenang-wenang. Di seputar Natal juga ada kekeliruan. Misalnya, cerita tentang orang majus dari Timur. Selama ini selalu digambarkan berjumlah tiga orang. Padahal Alkitab hanya menyebutkan “orang-orang majus” (Matius 2:1-12); tidak disebutkan jumlahnya secara pasti berapa. Memang dalam kisah orang majus itu disebutkan tiga jenis hadiah yang mereka bawa; mas, kemenyan dan mur. Tetapi tiga jenis hadiah tidak serta merta dibawa oleh tiga orang juga ‘kan? Atau cerita tentang Yusuf dan Maria yang tengah mencari penginapan. Dalam drama Natal biasanya digambarkan begini: Yusuf berjalan menuntun keledai, sementara Maria yang tengah hamil tua duduk di atasnya. Mereka berjalan dari satu penginapan ke penginapan lain, dan selalu dijawab, “Maaf, tidak ada kamar kosong”. Jawaban tersebut keliru sebab yang dikatakan Alkitab bukan tidak ada kamar kosong, tapi tidak ada tempat bagi mereka (Lukas 2:1-7). Jadi kamar kosong sih mungkin ada, cuma buat Yusuf dan Maria tidak ada tempat. Hal ini bisa dimengerti mengingat situasi dan kondisi waktu itu. Kota Betlehem tengah dipadati orang-orang dari luar kota yang mau ikut sensus penduduk. Penginapan tentunya menjadi sangat mahal. Sedang Yusuf dan Maria hanyalah orang-orang sederhana. Pula, Maria sedang hamil tua. Kalau sampai melahirkan di penginapan, pasti akan merepotkan sekali. Belum lagi suara tangis bayi yang bisa mengganggu tamu-tamu lain. Jadi dari perhitungan bisnis, tentu rugi menerima mereka menginap. Karena itu bagi mereka, maaf saja, tidak ada tempat. Begitu juga anggapan bahwa tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Tuhan Yesus. Bulan Desember di Palestina adalah musim dingin, padahal di Alkitab ketika Tuhan Yesus lahir diceritakan tentang gembala-gembala yang sedang menggembalakan dombanya di padang (Lukas 2:8-20), jadi pasti bukan musim dingin. Sebetulnya memang tidak ada tanggal yang pasti kapan Tuhan Yesus lahir. Pada zaman itu merayakan hari kelahiran dianggap sebagai tradisi kafir. Orang-orang Kristen pun tidak terbiasa melakukannya. Satu-satunya perayaan hari kelahiran yang dicatat dalam Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (Matius 14:6). Gereja perdana hanya merayakan hari kebangkitan Tuhan Yesus. Tanggal 25 Desember semula merupakan perayaan non-kristiani; menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Sekitar akhir abad ke-4 orang-orang Kristen di kota Roma mengambil alih tanggal itu dan menjadikannya sebagai peringatan kelahiran Tuhan Yesus. Hari Natal. Sampai sekarang. Itulah beberapa kekeliruan seputar Natal. Tetapi dari semua kekeliruan itu, ada satu kekeliruan yang paling fatal. Yaitu, ketika Natal sudah identik dengan kemeriahan; hura-hura pesta atau pertunjukkan rupa-rupa acara. Entah di rumah, di gereja, di kantor, atau di mana saja. Seakan Natal tanpa itu semua bukan lagi Natal. Sehinggga orang pun lantas lebih sibuk dengan acara, bukan makna; lebih peduli pada bentuk, bukan isi; lebih memikirkan konsepsi, bukan substansi.
4

Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif Oleh Ayub Yahya Satu: Negatif thinking. Misalnya, kalau pas lagi jalan sendiri, lalu ada yang tanya (teman gereja atau teman sekampus lain jurusan), "Koq sendiri?" Langsung deh reaksinya seperti ini: "Sudah tahu sendiri, pakai tanya-tanya. Mentang-mentang gua jomblo. Ngenyek, ya." Atau, suatu kali ngelihat ada orang lain yang ngelihatin: "Kenapa sih lihat-lihat?! Anehnya ya, karena gua jomblo. Dasar, tamblo (tampang bloon) luh." Padahal, "Koq sendiri?" itu kan pertanyaan standar orang yang pengen tanya tapi nggak tahu mau tanya apa. Just basa-basi. Nggak ada maksud apa-apa. Malah kalau tanyanya "Koq berdua?" atau "Sama siapa?" jadi aneh bin konyol. Lha, sudah jelas sendiri pakai tanya "Koq berdua?" atau "Sama siapa?" segala. Dan orang yang ngelihatin bisa saja karena rasa-rasanya koq kenal. Begitulah kalau sudah dikuasai pikiran negatif. Segala sesuatu disikapi secara negatif. Ibarat orang pakai kacamata hitam. Semua yang dilihatnya serba hitam. Lalu bagaimana dong mengatasinya? Tidak ada cara lain, ganti kacamatanya dengan kacamata yang lebih terang. Jangan salahkan obyek yang dilihat.

Dua: Citra diri yang negatif. "Siapalah saya ini. Tampang pas-pasan. Nggak bisa apa-apa pula. Otak belet, lha nilai kuliah saja hampir tidak pernah bergeser dari C. Dapet B tuh untung. A, wah ajaib benar anugerahMu deh. Mana ada yang mau sama saya. Seandainya saya jadi orang lain pun, nggak bakalan koq saya mau punya pacar kayak diri saya begini." Padahal gambaran kita tentang diri kita sendiri akan sangat berpengaruh terhadap pikiran, perasaan dan sikap hidup kita. Ibarat makanan bagi tubuh kita, citra diri akan sangat menentukan; apakah kita akan menjadi pribadi yang optimistis, percaya diri, punya semangat hidup. Atau sebaliknya, menjadi pribadi yang pesimistis, rendah diri, loyo alias nggak punya semangat hidup.

Tiga: Rumput di halaman rumah tetangga kelihatan lebih hijau. "Duh, enak nian punya pacar kayak die. Kemana-mana ada yang nemenin. Ada yang perhatiin and diperhatiin. Ada shoulder to cry on. Malam minggu nggak cengo sendiri di rumah. Lonely. Bisa ngerasain dag dig dug serrr tiap nunggu doi. Kapan pun dan dimana pun ada yan g selalu bisa di-call. Pokoknya asyik deh." Jadi nganggepnya hidup orang lain tuh lebih enak, lebih baik, lebih nikmat, lebih segalanya. Lalu kita berandai-andai; seandainya hidup kita kayak hidup die, dunia kita kayak dunia die. Seolah kita nih baru bahagia kalau kayak die. Kita jadi kurang bersyukur dengan hidup kita sendiri. Padahal, mana ada sih orang yang hidupnya selalu senang. Seperti kata pepatah Belanda, setiap orang tuh punya salib. Siapa pun pastilah punya senang dan susahnya sendiri. Punya pacar pun nggak melulu enak koq. Kadang ada sebalnya. Kadang bisa bikin jengkel and stress juga. So, jangan heran kalau yang sudah punya pacar pun bisa mikir begini: "Duh, enak nian ngejomblo. Bebase sebebas burung di udara. Asyike seasyik ikan di laut. Nikmate senikmat udang rebus Mang Engking, Yogyakarta - apalagi sambal terasinya itu loh, uihh uenakke pol deh." (apa coba hubungannya?! hehehe:)

5

Empat: Berselubung topeng. Nggak jujur dengan diri sendiri. Nggak apa adanya. Contoh 1 (gaya selebritis: kemayu, dengan sikap bertutur diatur): "Aku emang belum mau pacaran koq. Suer. Masih ingin sendiri." - Yang sebenarnya: aku belum ketemu yang aku mau die mau. Adanya aku mau die nggak mau, die mau akunya nggak mau. Ada yang aku mau die mau, eh die maunya mau nabok sama aku. Padahal apa salahnya bilang, "Aku bukannya nggak kepengen, tapi belum ketemu yang pas." Titik. Kalau bilangnya: belum mau pacaran, masih ingin sendiri - besok atau lusa ternyata ketemu yang cocok. Nah, luh baru nyaho. Malu kan mesti ngejilat ludah kuda (kalau ludah sendiri sudah biasa:). Contoh 2 (gaya politisi: kemaki, dengan sikap bertutur nggak teratur): "Gue naksir die?! Idihh, amit-amit. Sorry ya, dibayar goceng pun nggak bakalan gue ambil!" - Yang sebenarnya: aku sih okelah sama die, tapi dienya cuek banget. Benci deh aku (dengan gaya genit ala Pelawak Tessi). Padahal apa salahnya bilang, "Dienya cuek begitu, mana berani gue." Titik. Kalau bilangnya: amit-amit, dibayar goceng pun gua gak bakalan ambil - dan ternyata die tuh ngesir sama kita, cuma karena die pemalu jadinya die pasang sikap cuek bebek. Sok cool. Nah, gimana coba kalau begitu?! Masak mau ikut-ikut si selebritis: ngejilat ludah kuda. So, tanggalkan topeng itu. Apa adanya sajalah. Tapi ya, jangan vulgar, mengobral atau norak. Jujur dengan elegan gitulah. (bersambung) 220504 Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif (2) Oleh Ayub Yahya Lima: Hanyut terbawa perasaan. Nelangsa. Merasa kasihan pada diri sendiri. Seakan dengan ke-jomblo-an itu, dia menjadi orang yang paling malang di dunia. Makan jadi nggak enak (apalagi sayurnya sudah basi, kurang garam pula), tidur nggak nyenyak (AC mati nggak ada listrik, banyak nyamuk lagi). Nyanyinya pun lagu Chrisye: "Di malam yang sesunyi ini aku sendiri, tiada yang menemani...... srot, srot (nyedot ingus). Akhirnya kini kusadarai dia telah pergi tinggalkan diriku..... pufz, pufz (buang ingus pakai lengan baju). Nanini nananininani ninaneniii (bagian ini nggak hafal). Reff: Mengapa terjadi pada diriku, aku tak percaya kau telah tiada.... hiks, hiks (terisak). Haruskah ku pergi tinggalkan dunia..... hoahh, hoahh (nangis sejadi-jadinya)." Selanjutnya no comment deh. Bukan apa-apa, saya takut ikut-ikut sedih, ikut-ikut nangis, ikutikut sedot ingus. Malah repot. Lagian, orang yang lagi terhanyut oleh aneka rupa perasaan susah dan sedih sebetulnya kan nggak butuh kata-kata; ia lebih butuh empati dan simpati. Saya cuma mau bilang: "You'll never walk alone, Jomblo (ngutip lagu yang biasa dinyanyiin fans kesebelasan Inggris). Kan banyak juga yang jomblo hehehe:)." Enam: Memaksakan kehendak. Cara halus: "Hi, cowok, godain kita dong!" (ekstrim: sambil melotot, satu tangan berkacak pinggang satu tangan lagi menggenggam batu siap ditimpukin). Atau, "Hi, cewek, kita godain ya!" (ekstrim: sambil memiting seorang nenek yang kebetulan lewat, dan menodongkan pistol ke keningnya).
6

Cara kasar: "Apa pun yang terjadi gua harus dapetin doi; biar gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang. Pokoknya harus dan kudu!" (ekstrim: bayar segerombolan preman untuk menculik doi, lalu dengan gaya kungfu Buce Li datang menyelamatkannya). Atau, "Saya nggak bisa hidup tanpa doi. Sudahlah, saya mau mati saja! Mana tali, mana tali! Saya mau gantung diri!" (ekstrim: "Bunda, hidup ini kejam. Kembalikan saja aku ke dalam rahimmu!" - segede gitu, gimana masukinnya ya?!") Atau, "Marilah kepadaku semua yang letih, lesu dan membutuhkan kehangatan, aku akan memberikan diriku seutuhnya!" (ekstrim: ..... disensor). Dan kalau berdoa doanya begini: "Tuhan, kalau dia jodoh saya, dekatkanlah. Kalau dia bukan jodoh saya, jodohkanlah. Tapi kalau dia nggak bisa jadi jodoh saya, biarkan dia ngejomblo seumur hidup. Amin." Padahal segala sesuatu yang dipaksakan - apalagi soal jodoh - pasti akan lebih banyak buruknya daripada baiknya. Usaha tentunya nggak salah, punya keinginan mangga silahkan. Tapi iringilah itu dengan penyerahan diri kepada Sang Khalik: "Bukan hendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mu!" Dengan berusaha dan berserah, hidup akan terasa lebih ringan. Tuhan tahu apa yang terbaik buat diri kita. Percaya deh. Tujuh: Sirik. Orang Manado bilang mangiri. Alias iri dengki. Nggak senang ngelihat orang lain senang. Senangnya ngejelek-jelekin dan ngecil-ngecilin kebaikan orang lain. "Alaaa, dia sih piala bergilir. Lihat aja, bentar lagi juga dia akan pindah ke pelukan cowok laen. Gua sih amit-amit dapetin dia!" "Eh elu tahu nggak, dia itu kan bekas pacarnya teman sodara teman gue. Nah, kata teman gue, temen gue dari sodaranya, sodaranya dari temennya yang mantan dia itu, dia pernah terlibat narkoba tuh. Pernah digerebek polisi segala. Ortunya sampai jual rumahnya untuk bebasin dia dari penjara." Padahal ke-sirik-an hanya akan membuat kita makin buruk di mata orang lain. Dan pasti di mata Tuhan juga. Nggak ada faedahnya. Maka, bertobatlah! 310504 Katakan Jomblo Sejujurnya Oleh Ayub Yahya Ada banyak alasan kenapa orang ngejomblo. Ada yang karena memang sudah pilihan. Jadi kesempatan sih ada. Kesiapan mental, spiritual dan material juga oke. Cuma ya, nggak mau saja. No way-lah. Nah, nggak maunya itu bisa karena ingin konsen dengan studi atau karier. Nggak mau diganggu dengan segala urusan tetek dan bengek. Bisa karena ingin total mengabdi panggilan pelayanan. Misalnya, ngurusin anak jalanan, atau pergi ke daerah terpencil dan melayani suku terasing di sana. Atau bisa juga karena ingin setia menanti cinta "sang tambatan hati". Biar pun doi sudah punya "gandengan" (emangnya truk) alias tidak sendiri lagi. Prinsipnya sebelum "janur melengkung"
7

(married maksudnya) penantian jalan terus. Bahkan, andaikan pun nanti sang janur akhirnya melengkung juga: "Ku tunggu jandamu!" (kalau cewek, ya "Ku tunggu dudamu!"). Pokoknya, seperti lagunya Meriam Bellina: "Ku tutup pintu hati untuk semua cinta walau batin ini menjerit... hiks!" Lha habis gimana, sudah cinta setengah mati setengah hidup sama die. Nggak bisa pindah ke lain hati. (Apa pun alasan orang memilih ngejomblo, kita perlu ngehargainya. Ngejomblo atau tidak toh itu hak asasi setiap orang. Hak asasi berarti hak itu diberikan oleh Tuhan karena kita ini manusia. Sama dengan hak untuk hidup, hak untuk diperlakukan secara adil dan beradab, hak untuk dicintai dan mencintai. Jadi, jangan malah sinis atau curiga yang nggak-nggak) **** Ada juga yang memilih ngejomblo karena trauma. Misalnya, dulu pernah pacaran. Sayang banget sama doi, sampai-sampai segalanya sudah diberikan. Tapi eh, dikhianati. Doi ternyata punya kekasih lain. Sakit sekali. Nyerinya sampai ke sumsum tulang. Serasa digigit seribu ekor nyamuk demam berdarah. Duh! Padahal (ngutip iklan) satu gigitan saja sudah berbahaya. Kapok deh kapok! Atau, trauma karena ngelihat ortu berantem melulu. Nggak siang nggak malam. Mana berantemnya nggak kira-kira; pakai piring terbang dan makian kebun binatang segala. Sudah gitu, ngelihat teman yang sudah berumah tangga sami mawon. Barantakan pula. Malah sampai cerai. Jadinya takut. Daripada sengsara mendingan ngejomblo. Bisa bebas sebebas burung di udara. (Kita harus bersimpatik dengan orang-orang seperti itu. Hidup dengan trauma tuh nggak enak lho. Mereka adalah korban; korban sesamanya, korban lingkungannya, atau bahkan korban dirinya sendiri. Jadi, mbok ya tolong mereka. Minimal jadilah teman buat mereka. Jangan sampai sikap dan kata-kata kita malah tambah melukai). **** Ada juga yang ngejomblo bukan karena pilihan, tapi karena keadaan dan kesempatan yang belum klop. Jadi keinginan sih ada. Bahkan besar. Doa dan usaha juga sudah. Cuma ya, belum ketemu yang pas saja. Nah, belum ketemu yang pas itu bisa karena standar yang ketinggian. Kebanyakan milih. Mikirnya tuh kayak orang mau naik bis. Yang itu kotor, malas ah. Yang ini nggak ada AC-nya, ogah ah. Yang ono sopirnya nggak meyakinkan, nggak mau ah - Ah uh ah uh terus, jadinya nggak naik-naik. Tetap cengo di terminal. Pengennya yang perfect: cakep (kalau cewek kayak Sophia Latjuba, kalau cowok kayak Ari Wibowo), kaya raya (kayak James Riady), pintar (kayak B.J. Habibie), baik hati dan tidak sombong serta enak kalau di ajak ngobrol (kayak saya hehehe:) - Eit, yang terakhir cuma "ngecap" lho. Habis susah sih cari contohnya. Ntar dikira promosi diri, bisa tambah pengagum. Nggak ku ku deh hehehe :) - Pokoknya yang ideal banget. Ya, nggak nemu-nemu. Jadinya, jomblo terussss. Bisa juga karena kurang berusaha. Lha, gimana bisa ketemu yang pas kalau diam di rumah terus. Nggak mau bergaul. Ngeharep "doi" nyamperin sendiri. Kucluk-kucluk datang bawa setangkai bunga (segepok "bunga" bank ?) dan bilang, "Hi, it's me. Godain kita dong!" - Ya, ampun! Broer and sus, jodoh nggak turun dari langit lho. Usaha tuh kudu. Minimal buka peluang dong supaya mengenal dan dikenal sebanyak mungkin orang lain. Caranya? Ya, bergaullah. Ikuti aktivitas muda-mudi di gereja, misalnya, gabung dengan klub pencinta alam, atau klub apalah - yang baik, tentunya. Kalau perlu jadi anggota Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut). Semakin banyak dikenal dan mengenal orang kan semakin besar kemungkinan ketemu yang pas.
8

**** Tetapi bisa juga nggak ketemu yang pas itu karena "faktor x". Alias blank. Nggak tahu kenapa. Padahal, "modal" sih cukuplah - tampang nggak jelek-jelak amat, karier lumayan, jiwa-raga sehat nggak ada gangguan serius. Doa dan usaha juga sudah lebih dari cukup. Tuntutan standar nggak macam-macam; pokoknya yang penting seiman, sehat jiwa-raga, dan (tentu saja) harus lawan jenis (habis masak sejenis?!). Cuma itu. Tetapi eh, koq ya tetap saja jomblo. Heran! Begitulah hidup. Nggak semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Otak kita terlalu terbatas untuk mengungkap semua realitas. Ada banyak hal dalam hidup ini yang hanya bisa kita terima tanpa reserve. Itulah misteri. Misalnya: kenapa kita lahir di sini, seperti ini dan dari orang tua si Anu? Nggak tahu. Kita hanya bisa menerimanya. Jomblo juga (kadang-kadang) begitu. Kenapa sampai ngejomblo, nggak selalu bisa dijelaskan dengan logis. Pokoknya entah. Lalu bagaimana dong? Kalau suatu keadaan itu memang tidak dapat kita ubah, jalan terbaik - dan sehat pula - ya, kita terima saja. Jalani dengan legowo. Toh gerundelan, menyalahkan diri sendiri, uring-uringan, marah-marah, menyesali habis-habisan, nggak ada gunanya. Selain malah memperburuk keadaan. Paling "enak" hidup tuh mengalir sajalah. Upayakan yang terbaik apa pun yang harus kita lakukan, selebihnya terserah DIA, Sang Pemilik Kehidupan. Melawan arus hanya akan menimbulkan "riak-riak" gelombang. Kita akan capek sendiri. Buang-buang energi. So, go with the flow, Jomblo! Kalau Jomblo Jangan Duka Oleh Ayub Yahya Kerap kita tidak bisa mengelak dari suatu keadaan yang tidak kita inginkan. Tetapi kita toh tetap dapat memilih sikap atau tindakan apa yang akan kita ambil, sebagai reaksi kita terhadap keadaan itu. Nah, bagaimana reaksi kita itu akan sangat menentukan keadaan itu selanjutnya; menjadi baik atau malah (lebih) buruk. Misalnya, sakit. Sekeras apa pun kita menjaga kesehatan - minum vitamin, makan teratur, tidur cukup, olah raga rutin - tapi eh, ada saja saatnya kita sakit. Iya, kan?! Entah itu sakit ringan, entah sakit berat. Kita tidak bisa mengelak. Tetapi kita bisa memilih sikap atau tindakan seperti apa sebagai reaksi kita terhadap sakit itu. Kita bisa terus ngedumel, menyesali habis-habisan, marah-marah, semprot sana semprot sini. Pokoknya kagak terima. Akibatnya ya, kita bisa stress sendiri. Tambah pusing tujuh keliling. Orang lain juga mungkin jadi jengkel dengan kita. Lha, emang enak deket-deket orang yang terus ngeluh dan uring-uringan?! Penyakit tidak sembuh, malah timbul masalah baru. Atau kita bersikap tenang. Kita berserah kepada Tuhan. Kita percaya dibalik segala hal yang Tuhan ijinkan terjadi pasti ada hikmahnya. Dengan bersikap begitu bisa saja penyakit kita tidak lantas sembuh, tapi minimal kita tidak jadi stress. Tidak tambah pusing tujuh keliling. Kita tetap bisa bersyukur, menikmati hari-hari dengan gembira. Relasi kita dengan orang lain juga tidak terganggu. **** Ngejomblo juga begitu. Bisa saja kita tidak bisa mengelak dari status jomblo. Kita sudah berdoa, sampai lidah pun terasa kelu memohon-mohon kepada Tuhan. Kita juga sudah
9

berusaha keras. Begitu keras. Hingga ibarat hati kita sebuah rumah; pintunya sudah kita buka lebar-lebar, jendelanya sudah pentangkan, bahkan atapnya sudah kita bongkar habis. Sudah plong blong. Tetapi koq ya sang pangeran berkuda - atau sang putri bercadar putih - yang kita harap-harapkan itu tidak juga kunjung datang. Lalu bagaimana dong? Selanjutnya ya, tergantung kita. Kalau kita melihat ke-jomblo-an itu sebagai aib; sebagai sesuatu yang memalukan dan menyedihkan, kita bisa terus tenggelam dalam kekecewaan dan kekesalan. Rasanya Tuhan tidak adil. Hidup pun terasa tidak enak. Sepi. Getir. Sengsara. Kita jadi murung. Hidup segan, mati nggak mau. Efeknya, kalau misalnya kita lagi pergi-pergi; ke mall atau ke pesta ulang tahun teman, lalu ada yang tanya, "Koq sendirian?!" kita artikan sebagai sindiran. Kita pun marah. Mutung. Padahal orang cuma tanya, tidak ada maksud apa-apa. Yang celaka, kalau kemudian kita "banting harga". Ngobral. Pokoknya siapa saja yang nyamperin, kita oke-in tanpa pikir-pikir lagi. Mending kalau kita dapat orang yang tepat. Lha, kalau nggak?! Apa tidak sedang membangun neraka buat diri sendiri tuh. Osraaaammmmmm. Relasi khusus antara pria dan wanita, apalagi kalau itu mengarah ke jenjang pernikahan, tidak bisa dibangun di atas dasar ketergesaan, keterpaksaan, atau asal-asalan, kan?! Akan tetapi kalau kita melihat ke-jomblo-an itu secara positif; sebagai bagian dari rencana Tuhan atas hidup kita, percaya deh ke-jomblo-an itu tidak akan menjadi beban yang menakutkan. Kita bisa tetap enjoy dengan "kesendirian" kita. Happy dengan hari-hari kita. Pikiran kita pun akan lebih terbuka melihat sisi-sisi baiknya ngejomblo; bahwa ngejomblo tidak melulu berarti "kisah sedih di Hari Minggu" (koq jadi kayak lagu Koes Plus?!). Dan yang paling penting, kita tetap dapat membuka diri tanpa mesti "mengobral" diri. Pokoknya so good-lah. Hidup jomblo! Bisa saja sih sesekali kita juga merasa lonely. Atau kepikiran enaknya kalau ada yang ngapelin atau diapelin, ada yang perhatiin dan diperhatiin. Tetapi perasaan dan pikiran semacam itu tidak akan membuat kita lantas jadi nelangsa. Apalagi kalau sampai mengutuk "malam dimana kita dikandung bunda". Pasti nggaklah. Paling kita bernyanyi sendu. Bisa lagu ngepopnya alm. Nike Ardila: "Jenuh aku mendengar, manisnya kata cinta lebih baik ku jomblo. Bukannya sekali, sering ku mencoba, namun ku gagal lagi... hiks, hiks. Hanya iman di dada yang membuat ku mampu selalu tabah menjalani... yeah!" Bisa juga lagu rohani. Macam "Kekuatan Serta Penghiburan", "Jalan Hidup Tak Selalu", "Hanya DIA-lah Yang Tahu", atau "Nearer, My God, to Thee " (Itu loh lagu yang mengiringi tenggelamnya kapal Titanic :). **** So, jangan kecil hati kalau memang mesti ngejomblo. Apalagi patah arang, sampai kepengen mati segala. Jangan. Toh yang penting bukan statusnya - jomblo atau tidak. Yang penting, bagaimana kita menyikapinya. Dunia jomblo pun tak kalah indah kok. Asal kita melihat dan memikirkannya secara positif. Percaya deh. 170404 7 Role 2 be Happy Oleh Ayub Yahya SMS (Short Messagge Service) sekarang ini sedang jadi trend. Selain praktis dan murah, SMS juga mengasyikkan. Maka, jangan heran kalau di rumah, di kantor, di kendaraan umum, di WC, di kampus, atau di mana saja, orang asyik ber-SMS ria. Mereka asyik memencet tombol10

tombol huruf pada hand phonenya; bisa sambil duduk, sambil tiduran, sambil makan, sambil jalan kaki, atau bahkan sambil nyetir mobil. Apalagi hand phone juga sudah bukan merupakan barang mewah lagi, seperti pertama kali kemunculannya. Hampir semua kalangan – dari ABG (anak baru gede) sampai profesor; dari penjual bakmie jawa di pinggir jalan sampai tros eksekutif hotel berbintang lima – membawa hand phone. Setiap hari entah berapa puluh atau ratus juta SMS tersebar dari satu hand phone ke hand phone lain. Entah untuk urusan bisnis, entah sekadar just to say hello antar teman; dengan mengirim cerita humor, gambar-gambar lucu, atau juga pepatah-pepatah yang bagus untuk direnungkan. Seperti tempo hari, dari seorang teman saya menerima SMS ini: 7 role 2 be happy: 1. Never hate 2. Don‟t worry 3. Live simple 4. Expect the little 5. Give a lot 6. Always smile 7. Have a good friend like me :) Bahagia? Siapa sih yang tidak mendambakannya?! Semua orang ingin bahagia. Semua orang, sadar atau tidak sadar, melakukan ini dan itu – bekerja, berkeluarga, menabung, studi, masuk sebuah club member, atau apa saja – pada dasarnya adalah demi meraih kebahagiaan. Namun ada anggapan yang keliru tentang kebahagiaan. Yaitu anggapan, bahwa kebahagiaan terletak di luar diri kita; pada apa-apa yang bisa kita miliki – kekayaan, jabatan, pengaruh, popularitas. Padahal semua hal itu sebetulnya seperti air laut, semakin kita meminumnya semakin kita merasa haus; kita akan selalu merasa kurang. Kebahagiaan sesungguhnya terletak di dalam diri kita; dalam pikiran dan sanubari kita. Pikiran yang diisi dengan kebaikan, bersih dari niat dan keinginan jahat. Sanubari yang dipenuhi oleh cinta, bebas dari perasaan dan prasangka buruk. Maka, betul sekali pesan SMS tadi, kita tidak akan jauh dari kebahagiaan kalau kita tidak menyimpan kebencian, tidak membiarkan diri dikuasai kekuatiran, hidup sederhana (tidak neko-neko orang Jawa bilang), tidak berharap terlalu banyak terhadap sesuatu atau seseorang, memiliki semangat memberi yang besar, banyak tersenyum, dan terakhir, ini yang menarik bagi saya, “punya teman seperti diriku”. Siapa “diriku”? Bisa Anda, bisa saya. Bisa jadi yang terakhir ini hanya gurauan tambahan dari si pengirim SMS. Karenanya ada tambahan tanda :).Tetapi menurut saya, di situ terkandung kebenaran juga. Betapa baiknya kalau kita bisa menjadi teman bagi seseorang, yang karenanya kemudian ia berbahagia. Bagi kita sendiri itu bisa merupakan kebahagiaan tersendiri. Betul, sebab sungguh sangat membahagiakan, apabila sikap dan tindakan kita dapat membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Sungguh sangat membahagiakan, apabila karena karya dan pemberian kita, anak-anak jalanan di lorong-lorong kumuh, opa-oma di panti jompo, atau siapa saja yang kita temui, tersenyum bahagia. Kebahagiaan yang kita tebar, seumpama pedang bermata dua; mengenai yang menerima, mengenai pula kita yang memberi. Kuncinya cuma satu: cinta. Sebab kebahagiaan memang tidak pernah jauh dari cinta; cinta kepada sesama, cinta kepada Tuhan. Dan itu, sekali lagi, terletak dalam pikiran dan sanubari kita. Maka, ketika Kristus, Sang Guru Agung, berkata, “Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap akal budimu; dan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”, sebetulnya itu demi kebahagiaan kita juga. Sungguh. Tidak percaya? Buktikanlah! 021203

11

Keinginan Oleh Ayub Yahya Keinginan adalah anugerah. Hidup ini akan terasa hambar dan monoton bila tidak ada keinginan. Bayangkan kalau kita tidak punya keinginan; untuk makan, untuk belajar, untuk berekreasi, untuk bercinta, untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, dan sebagainya. Maka, sejauh itu mungkin -- tidak bertentangan dengan hati nurani, tidak melanggar nilai-nilai yang kita anut, tidak merugikan orang lain, tidak mencelakakan diri sendiri -- ikutilah keinginan hatimu. Akan tetapi hati-hati, jangan pula sampai dikendalikan oleh keinginan. Salah-salah kita jatuh pada sikap menghalalkan segala cara dan patah arang bila tidak bisa mencapainya. Banyak tragedi kemanusiaan terjadi akibat orang-orang yang diperbudak oleh keinginannya. Keinginan akan menjadi "kutuk" kalau sudah menjadi tuan atas kita. Jadi, prinsipnya: jangan membelenggu keinginan hatimu dengan segala "tetek bengek", tetapi juga jangan membiarkannya lepas tanpa kendali. 210603 Orang Sulit Oleh Ayub Yahya Saya sudah menstater mobil mau jalan, lagi membetulkan letak sandaran jok, tahu-tahu mobil yang parkir di seberang malah pindah persis di depan. Yang nyetir, laki-laki 45 tahunan, memberi tanda dengan tangannya supaya saya mundur. Padahal di belakang agak sempit karena ada pagar. Kalau saja dia nungggu beberapa detik saja; saya sudah mau jalan kok, jadi saya tidak perlu mesti mundur-mundurin dulu mobil, dia juga toh tidak rugi apa-apa. Saya hanya geleng-geleng kepala. Tak diduga orang itu keluar dari mobilnya, menghampiri, dan mengetuk pintu mobil saya. "Kenapa lu geleng-geleng kepala, nantang ya?!" tanyanya tanpa ba bi bu lagi. Saya hanya melongo. Bingung. "Kok begini" pikir saya. Ya, orang sulit memang bisa ketemu dimana saja; di kantor, di kampus, di gereja, di rumah, di jalan. Dan siapa saja; tetangga, teman, dosen, atasan, bahkan anggota keluarga sendiri. Paling tidak enak kalau mesti berurusan dengan orang sulit. Capek hati, capek pikiran. Orang yang bikin kita serba salah, dan cuma bisa mengurut dada. Orang yang mudah tersinggung, tetapi gampang menyinggung orang lain. Orang yang dableg, tidak bisa dibilangin, maumaunya sendiri, tidak peduli orang lain, sikapnya kasar, ngomongnya gede. Orang yang kalau bicaranya duh rohani sekali, tetapi perbuatannya lebih-lebih busuknya. Namun toh ada baiknya juga ketemu orang sulit. Paling tidak, mengajar kita, betapa buruknya kita kalau berperilaku begitu. 110603 Komentar Oleh Ayub Yahya Ada saat saya tergoda untuk berpikir begini: buat apa saya berlelah-lelah melakukan ini dan itu - menulis artikel, misalnya, atau belajar - toh saya tidak selamanya ada di dunia ini; cepat atau lambat saya akan mati, meninggalkan semua itu. Tidakkah lebih baik saya ikuti saja suasana dan maunya hati; "mengalir" mengikuti kemana saja arus kehidupan berhembus?! Bisa jadi itu juga yang ada dalam benak Pengkhotbah ketika dia berkata, "Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?" Rasanya hidup ini menjadi sunyi. Sungguh-sungguh sunyi. Lantas saya menjadi bosan dengan segala sesuatu. Malas. Apatis. Dan tidak produktif.
12

Itulah sebenarnya yang terjadi ketika sekian lama saya berhenti menulis. Bahkan tiga bulan terakhir praktis saya tidak menulis apa-apa. Rasanya buat apa gitu?! Saya malah lebih banyak duduk di depan televisi; memencet-mencet remote memindah chanel satu ke chanel lain (duh, kalau dipikir sekarang, betapa banyak saya telah membuang-buang sesuatu yang sangat berharga: waktu). Sampai beberapa hari yang lalu saya ke warnet, iseng membuka-buka kolom saya di glorianet. Saya membaca beberapa komentar pembaca yang ada di situ. Yang lama maupun yang baru. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyentak hati saya. Kegembiraan. Ya, adakah tulisan-tulisan saya itu berguna bagi orang lain? Begitu pertanyaan yang segera muncul dalam benak saya. Tidak ada sesuatu yang lebih menggembirakan, selain ketika kita sadar bahwa diri kita atau apa yang kita lakukan berguna - walau mungkin sedikit bagi orang lain. Bukankah begitu?! Hidup memang akan terasa sebagai kesia-siaan - tidak berguna, lalu menjadi hampa - kalau hanya berorientasi pada diri sendiri; kepentingan, kegembiraan, kebaikan diri sendiri. Tetapi kalau hidup juga berorientasi pada orang lain; sungguh akan terasa penuh warna. Betapa indahnya. Terima kasih, rekan-rekan, atas komentar Anda; baik tertulis, maupun lisan. Itu sungguh berarti besar bagi saya. Minimal telah memberi gairah baru, untuk kembali berkarya. Tolong saya untuk menjaga gairah itu. Sekali pun saya hanyalah sarana, dan Tuhan Sang Pemilik sesungguhnya. Yang Tak Sempat Terucap Kesan-Pesan Dalam Rangka HUT 60 Tahun Pdt Eka Darmaputera PhD Oleh Ayub Yahya Grogi. Saya grogi ketika diminta Pak Santo (MC), ke depan, dan ditanya tentang kesan saya terhadap tulisan-tulisan Pak Eka. Itu sungguh di luar dugaan. Tidak ada dalam skenario. Sempat memang terpikir mau bicara apa, tetapi segera saya ingat waktu yang sangat ketat. Acara perayaan ulang tahun Pak Eka--setelah ibadah setengah jam; yang ditandai dengan potong kue, nyanyi "Happy Birthday", dan serah terima buku ke beberapa orang--lalu dilanjutkan dengan apresiasi buku-buku Pak Eka direncanakan tidak lebih dari satu jam. Yang lebih bikin grogi adalah "nama-nama besar" yang hadir. Walah, gimana pula ini. Rasanya seperti "dibawa jatuh ke dalam pencobaan", he, he, he. Ya, saya bicara juga sih akhirnya. Lha, ditanya, masak tidak ngejawab. Cuma kering dan ya tidak ada apa-apanyalah. Saya cuma bilang waktu itu, saya kagum dengan kedalaman dan keluasan sekaligus keringanan tulisan-tulisan Pak Eka. Namun, it's oke. Toh saya bisa mengutarakan apa yang tidak sempat terucap lewat tulisan kelak. Saya yakin momen ini tidak berhenti sampai di sini. Pasti ada kelanjutannya. Dan benar, teman-teman di Gloria berencana hendak melanjutkan momen ini di website. Syukur. Sebab sangat tidak enak loh menyimpan sesuatu yang ingin diucapkan, tetapi belum sempat terucap. *** Awalnya. Bermula dari percakapan ngalor-ngidul tentang buku dengan Ang Tek Khun di rumah kontrakan saya sekitar awal Oktober. Percakapan biasa saja; tidak direncanakan, tidak juga dengan tujuan apa-apa. Just omong-omong. Kebetulan kami bertetangga, satu RW beda RT. Saya banyak berguru tentang lika-liku penerbitan buku pada rekan yang satu ini. Siapa tahu suatu saat kelak saya bisa punya penerbitan sendiri. Tidak salah kan bermimpi?! :) Ketika itu buku Pak Eka, "Beragama Dengan Akal Sehat", sudah beredar. Sedang buku "Dengarlah yang Dikatakan Roh" sudah hampir rampung dicetak. Dan "Khotbah Yesus Di
13

Bukit" masih dalam proses awal. Ketiga buku tersebut merupakan kumpulan tulisan Pak Eka yang baru, yang secara rutin dimuat dalam rubrik Sabda, Sinar Harapan (yang kemudian dimuat juga di website GloriaNet, ed). Perbincangan lalu mengarah pada tulisan-tulisan lama Pak Eka yang belum diterbitkan. Kami juga menyinggung soal ulang tahun Pak Eka bulan November. Persis yang ke-60. Kami punya kesamaan rasa terhadap Pak Eka; kagum sekaligus sayang. Dari perbincangan itu terlontar ide, untuk membuat acara khusus guna menyambut momen tersebut. Tentunya yang berhubungan dengan buku. Singkat kata, ide itu terus bergulir. Dan berkembang. Mendapat dukungan dari banyak pihak. Termasuk--yang penting--Pak Eka juga tidak keberatan. Persiapan selanjutnya mengalir begitu saja. Kecuali saat terakhir menjelang keberangkatan ke Jakarta, tidak ada rapat khusus. Teman-teman Gloria memang setiap hari bertemu. Dan saya bisa lewat telepon. Hingga hari H-nya memang ada saja yang direncanakan tidak jadi, dan yang jadi padahal tidak direncanakan. Tetapi toh semuanya berjalan dengan lancar. Puji Tuhan atas perkenan-Nya. Saya kagum dengan dedikasi dan ritme kerja teman-teman Gloria. Mereka antusias dan sungguh-sungguh sekali menyiapkan acara ini. Padahal sebagian besar dari mereka mungkin hanya tahu Pak Eka. Itu pun dari tulisan-tulisannya. Tidak mengenal dekat, apalagi punya hubungan formal. Rasa sayang dan apresiasi kadang memang tidak ditentukan oleh jarak formal. Saya kebagian peran menyiapkan buku-buku Pak Eka yang akan diterbitkan. Gloria memberi kebebasan penuh; bukan hanya soal buku macam apa, tetapi juga soal berapa banyak yang bisa disiapkan. Oleh karena waktu yang sangat singkat--sekitar dua minggu--saya konsentrasi pada tulisantulisan Pak Eka di Sinar Harapan dulu dan Suara Pembaruan. Targetnya sebenarnya satu atau dua buku sudah bagus. Tetapi dalam perjalanan ternyata bisa empat buku: "Mengapa Harus Salib?", "Iklan Bagi Anak Hilang", "Tanpa Plus, Tanpa Minus", dan "Ketika Takut Mencengkram". Sungguh di luar dugaan. (Plus satu buku lagi yang diluncurkan--tulisan-tulisan terbaru dengan judul "Khotbah Yesus di Bukit", ed). Peran saya relatif tidak terlalu sulit. Selain memang saya enjoy, tulisan-tulisan sekaliber Pak Eka juga tidak perlu diapa-apakan lagi. Saya hanya memilih-milah; mengelompokkan setiap tulisan ke dalam satu tema tertentu. Lalu mengganti beberapa judul tulisan yang agak overlap, sedikit menyesuaikan isi pada satu-dua tulisan, dan memberi judul setiap bab. Terakhir, menulis kata pengantar. Saya mendapat masukan juga dari teman-teman Gloria. *** Kesan. Saya hanya penikmat tulisan-tulisan Pak Eka. Bukan pengamat. Sebab kapasitas saya memang kurang memadai untuk mengambil posisi sebagai pengamat. Jadi sangat sulit buat saya kalau mau bicara soal kesan. Kecuali kalau kesan itu sebatas pada kulit luar. Tidak sampai ke daging, apalagi tulang sumsum--kalau daging dan tulang sumsum, itu porsinya para pendekar mumpuni. Sebagai penikmat, saya menangkap ketajaman tulisan-tulisan Pak Eka; tanpa tedeng alingaling, tanpa basa-basi--seumpama gerakan silat Huang Fei Yung, legenda dalam cerita silat, sekali sabet dua-tiga orang musuh terjengkang. Saya juga merasakan kejutan-kejutan yang ditimbulkan--seumpama jurus-jurus Sakuraba, jagoan asal Jepang di Pride Fighting Championship; tidak terpikirkan, tidak terduga. Kadang malah menjungkirbalikkan apa yang selama ini dipahami. Coba saja simak, sekadar menyebut contoh, Ester dan Yang Merah-merah dalam "Tanpa Plus, Tanpa Minus".
14

Kalau pun ada yang "sedikit kurang", menurut hemat saya, barangkali pada bahasa. Kadangkadang Pak Eka lebih bergaya lisan daripada tulisan. Misalnya, dengan memakai kata "tapi" di awal paragraf. Harusnya "Akan tetapi" atau "Namun". Ya, tidak soal sih. Toh tidak ada pengaruhnya terhadap isi. Cuma bagi yang suka menulis terasa agak janggal juga. Dan kalau saya bandingkan, tulisan-tulisan Pak Eka dulu; ketika masih aktif menulis di Suara Pembaruan, dan sakitnya belum separah sekarang--"Mengapa Harus Salib?", "Iklan Bagi Anak Hilang", "Tanpa Plus, Tanpa Minus", dan "Ketika Takut Mencengkram"--terkesan lebih jernih dan lebih lepas. Dalam tulisan-tulisan baru di Sinar Harapan; setelah sekian lama tidak menulis renungan di koran--"Beragama Dengan Akal Sehat", "Dengarlah Yang Dikatakan Roh", dan "Khotbah Yesus Di Bukit"--terkesan agak "berat". Seperti kalau orang bicara, tidak lagi rileks. Pendeknya, dalam tulisan-tulisan Pak Eka yang baru, saya agak--sekali lagi agak, tidak sama sekali--kehilangan salah satu hal yang selama ini menjadi kekuatannya: "keringanan". Atau mungkin saya yang mengalami kemunduran. Seorang teman bilang, mungkin saking banyaknya yang ingin Pak Eka tulis setelah sekian lama tidak menulis. Apalagi sejak 1998--ketika itu Pak Eka sudah tidak lagi menulis di Suara Pembaruan, kecuali saat Natal dan Tahun Baru--sampai kini bangsa Indonesia betul-betul dihantam oleh bertubi-tubi persoalan. Pak Eka adalah seorang yang amat mencintai bangsanya. Melihat semua yang terjadi, sangat mungkin ia merasa geram, marah, sedih, ingin berbuat sesuatu tetapi juga tidak berdaya. Bisa jadi begitu. Tetapi menurut saya, sederhana saja, karena sakitnya yang tambah parah. Memang, energi intelektual Pak Eka itu luar biasa. Jauh melampaui energi fisiknya. Bayangkan, dalam sakitnya pun ia tetap bisa produktif. Tetapi toh sedikit banyaknya kelelahan dan kesakitan fisik akan mempengaruhi kejernihan dan keringanan pikiran. *** Terima kasih. Saya sungguh beruntung mendapat kesempatan dari Gloria, dan perkenan dari Pak Eka untuk mengedit buku-bukunya. Dan memberi kata penutup pada salah satu buku yang lain. Sekali lagi terima kasih. Selain saya bisa ikut terkenal he, he, he. Selama sekitar dua minggu "bergumul" dengan tulisan-tulisan Pak Eka, saya juga bisa banyak belajar--bahkan lebih banyak, dibanding saya belajar mata kuliah "Agama dan Masyarakat" selama satu semester di pasca sarjana Duta Wacana--Betul. Ini bukan melebih-lebihkan. Agama dan Masyarakat adalah bidangnya Pak Eka. Padahal, kalau diibaratkan kue, tulisan-tulisan yang saya edit itu sebetulnya hanya "remahremah" dari kue besar dan enak yang dibikin Pak Eka. Sedang potongan "dagingnya" sudah diambil oleh banyak pihak. Yang paling banyak mendapat, siapa lagi kalau bukan panitia buku emiritasi Pak Eka dulu, yang berhasil menerbitkan kumpulan tulisan Pak Eka dalam buku sangat tebal. It's oke. Setiap orang punya bagian tertentu dalam hidupnya. Pula yang penting toh bukan berapa besar bagian yang di dapat, tetapi bagaimana memanfaatkan bagian yang ada. Ketika saya bertemu Pak Eka di rumahnya, sehari sebelum acara, terus terang hati saya sebetulnya agak gentar. Buku-buku Pak Eka yang saya edit itu karena keterbatasan waktu tidak sempat Pak Eka periksa. Jadi dari saya langsung ke penerbit. Tidak ke Pak Eka dulu. Saya kuatir Pak Eka kecewa atau bagaimanalah. Soalnya saya tahu kalau untuk urusan karya Pak Eka sangat perfeksionis. Walau juga saya tahu, Pak Eka seorang yang sangat bisa menghargai upaya seseorang. Betapa pun kecilnya. Tetapi setelah Pak Eka, dan juga Bu Evang, bilang senang--dan bahkan kemudian ditelepon, Pak Eka bilang puas--saya lega sekali. Plong. Kelegaan yang sama, saya yakin akan dirasakan juga oleh teman-teman Gloria.
15

Ke depan saya berharap akan makin banyak lagi tulisan-tulisan Pak Eka; entah makalahmakalah di seminar, atau yang dimuat di berbagai majalah dan koran, yang bisa diterbitkan. Rasanya sayang sekali kalau tulisan-tulisan itu hanya numpuk di dus. Dan menjadi harta karun yang tidak tersentuh. Padahal kalau dibaca banyak orang, pasti akan jadi berkat yang luar biasa. Apalagi untuk urusan arsip, Pak Eka--seperti juga untuk urusan kesehatan--maaf--agak ceroboh. Sebab, konon banyak sekali tulisan-tulisannya itu yang entah di mana. Saya yakin sekali, kerjasama Pak Eka dan Gloria akan menjalin simbiosis mutualisma. Yang paling merasakan manfaat dari kerjasama ini, siapa lagi kalau bukan masyarakat luas. Khususnya gereja. Semoga. HIKMAH Hikmah sesungguhnya ada di mana-mana. Dalam setiap kejadian ada hikmah; baik manis maupun pahit, keberhasilan maupun kegagalan, suka maupun duka. Asal kita mau mencarinya; mengambil jarak sejenak darinya, lalu merenungkannya. Tidak larut, apalagi hanyut, dengan perasaan yang ditimbulkannya. Juga dalam musibah banjir yang baru lalu. Bayangkan, sebagian besar wilayah Jakarta, kota termodern di Indonesia, denyut nadi Ibu Pertiwi, tergenang air. Beberapa di antaranya bahkan nyaris tenggelam. Betul, kerugian yang ditimbulkan pastilah sangat besar. Tetapi minimal, kita jadi lebih sadar, bahwa kesabaran alam pun ada batasnya. Alam tidak bisa terus-menerus disakiti dan dicurangi; entah itu atas nama pembangunan, entah pula demi uang dan nama besar. Pada saatnya alam juga bisa marah, dan menunjukkan kekuatannya. Kalau sudah begitu, jangan harap kita mampu melawannya. Kita ini kecil di hadapan alam. Kita bukan tandingan alam. Bisa jadi memang, orang-orang yang paling bertanggung jawab dengan rusaknya alam kini tengah bersantai ria di villanya yang super mewah; biarkan saja. Kita serahkan mereka pada alam. Alam pasti punya hukumnya sendiri. Yang penting kita; marilah kita sekarang belajar lebih mencintai alam; dengan memelihara dan menjaganya. Alam pasti tidak buta. Apa yang kita tabur kepadanya, itu juga yang akan kita tuai darinya. Tidak percaya? Buktikanlah! Pasti, dengan banjir itu, kita juga jadi repot dan susah; membereskan rumah yang berantakan, membersihkan meja, kursi, lemari, dan ranjang yang terendam banjir, serta memperbaiki atau malah membuang barang-barang yang rusak. Belum lagi baunya yang menyengat. Tetapi minimal, kita jadi lebih peka, lebih mampu bersolider dengan sesama yang mengalami kejadian serupa. Sebelumnya bagi sebagian kita, banjir mungkin hanya sebuah berita yang kita tonton di tivi atau baca di koran. Sekarang kita mengalaminya sendiri. Sungguh sebuah pelajaran berharga. Sedang bagi kita yang pernah mengalami sebelumnya, banjir kali ini bisa jadi hendak mengajar supaya kita lebih bersabar; lebih bergantung kepada Tuhan. Lebih bisa menyadari, bahwa betapa pun barang-barang yang ada di dunia ini bisa rusak atau hilang; karenanya janganlah kita melekatkan hati kepadanya. Dan buat saya pribadi, musibah banjir ini memberi sebuah kesadaran baru; bahwa perbedaan denominasi gereja dan agama - yang dalam keadaan normal biasanya sangat sulit dipersatukan - ternyata dapat dipertemukan dalam satu hal: kemanusiaan. Dalam sebuah posko pertolongan korban banjir; tua-muda, pria-wanita tanpa memandang dari gereja mana dan agamanya apa, bahu-membahu menolong korban banjir; mengevakuasi para orang tua dan anak-anak ke tempat yang aman; mengirim makanan, minuman, dan obat-obatan ke penampungan pengungsi; mengadakan dapur umum dan pos pengobatan gratis. Mereka memang bukan politisi; yang akan memakai apa pun - termasuk musibah ini - sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan politik dan mengejar ambisi. Mereka juga bukan aparat atau pejabat, yang baru bertindak sesudah memperhitungkan keuntungan apa yang bisa mereka
16

peroleh. Tentu nantinya akan mengundang wartawan pula; supaya foto mereka yang sedang "sigap membantu" rakyat kecil dipajang besar-besar di koran atau ditayangkan di tivi. Ya, mereka hanyalah orang-orang biasa, yang masing-masing bertindak dengan satu naluri: kemanusiaan. Dalam keadaan mendesak karena musibah yang diperlukan memang cuma satu kata: tindakan. Terima kasih, rekan-rekan, untuk pelajarannya. Tuhan pasti mengingatkan karya Anda semua. ULANG TAHUN Kemarin saya berulang tahun. Ada ucapan selamat; lewat telepon, imel, maupun Short Message Service (SMS). Ada kado. Ada teman-teman yang datang ke rumah; lalu nyanyi "happy birthday to you", tiup lilin, dan potong kue. Saya tidak tahu dari mana tradisi merayakan hari ulang tahun itu berasal; bangsa mana yang memulai, siapa yang mencetuskan. Pasti, tradisi ini sudah lama sekali. Kakek buyut teman saya pernah merayakan ulang tahun. Saya lihat fotonya dipajang di ruang tamu rumahnya. Bahkan di Alkitab juga ada cerita tentang orang yang merayakan ulang tahun; Raja Herodes. Yang saya tidak mengerti, dan tidak pernah bisa mengerti, kenapa orang sampai perlu merayakan ulang tahun? Atau, kenapa kalau seseorang itu berulang tahun kok pakai diselamatin segala? Toh ulang tahun bukan sebuah prestasi. Alamiah saja 'kan. Dan pula apa bedanya hari ulang tahun dengan hari-hari lainnya?! Lebih aneh lagi ucapan seperti ini, "Selamat panjang umur, ya!" Loh, ulang tahun kok panjang umur?! Bukannya justru malah makin pendek umur?! Ulang tahun adalah tanda, bahwa jatah hidup kita di dunia makin singkat. Jadi, sesungguhnya ulang tahun lebih merupakan peringatan, bahwa hidup kita di dunia ini makin terbatas. Maka, marilah kita pergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Jangan berleha-leha atau lalai, sebab cepat atau lambat, pasti akan ada tiba juga saatnya ketika Tuhan memanggil kita, "kembalilah, hai anak manusia!" Seumur-umur saya memang belum pernah merayakan ulang tahun. Waktu kecil sampai remaja keinginan itu tentu saja ada. Apalagi kalau melihat ada teman yang ulang tahunnya dipestain; rasanya kepengen gitu. Tetapi tidak bisa. Lha, mau merayakan ulang tahun bagaimana, untuk makan sehari-hari saja susah. Setelah dewasa - sesudah punya penghasilan sendiri - untuk merayakan bisalah walau mungkin sederhana; tidak di hotel atau restoran berbintang, tetapi memang tidak ingin saja. Sebelum menikah saya malah suka lupa kalau hari itu ulang tahun saya - dan memang jarang ada yang ngingetin juga - Setelah menikah saja, istri saya suka masak khusus kalau saya ulang tahun. Buat saya, ulang tahun adalah moment untuk merenung; sejenak mengambil jarak dari rutinitas. Karena itu, terus terang, saya lebih senang menyepi dan sendiri, daripada ramairamai. Bahkan bila mungkin, ingin sekali rasanya pergi ke puncak gunung atau ke tepi lautan atau ke tengah hamparan sawah; sekadar untuk merenungkan kehidupan yang sudah saya jalani, dan yang akan saya jalani. Buat saya, ulang tahun adalah saat untuk mengevaluasi diri; apakah hidup saya sudah sesuai dengan missi yang Tuhan embankan kepada saya? Sudahkah hidup saya berarti - sekecil apa pun - buat dunia ini, minimal buat keluarga, yang sudah Tuhan titipkan kepada saya? Itu buat saya, bagaimana dengan Anda?! Dan doa saya, "Seandainya mungkin, Tuhan, kelak apabila ulang tahun kembali menjelang, ajarlah saya menghitung hari-hari sedemikian, sehingga saya beroleh hati yang bijaksana, untuk menimbang, untuk bertindak, untuk berkarya; buat Tuhan, buat keluarga, buat sesama." Itu doa saya, bagaimana doa Anda?!

17

SUDUT PANDANG Tidak salah, baik buruknya sebuah kejadian kerap tidak ditentukan oleh kejadian itu sendiri, tetapi oleh bagaimana cara kita memandangnya; sudut pandang mana yang kita pakai. Seperti dalam cerita ini. Dua orang salesman sebuah pabrik sepatu ditugaskan oleh atasannya untuk menjajaki kemungkinan pemasaran sepatu di sebuah daerah yang sedang berkembang. Mereka pergi ke daerah itu, dan melihat ternyata para penduduk di daerah itu tidak ada yang memakai sepatu. Maka kedua salesman itu pulang memberi laporan. Laporan salesman pertama: "Pak, di sana tidak ada orang yang memakai sepatu, jadi percuma memasarkan sepatu; siapa yang mau membeli?!" Sedang salesman kedua melaporkan: "Pak, di sana tidak ada orang yang memakai sepatu, ini kesempatan bagi kita memasarkan sepatu di sana; kita bisa menciptakan pasar!" Sebuah kenyataan yang sama, dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda; yang satu melihatnya sebagai hambatan, yang satu lagi melihat sebagai kesempatan. Hasilnya tentu berbeda; positif dan negatif. Contoh lain. Dua pria separuh baya sama-sama sakit, dirawat di rumah sakit yang sama, dan di kamar yang sama pula. Bedanya, pria pertama melihat penyakitnya sebagai musibah. Karenanya ia begitu sedih dan menyesalinya. Hatinya dipenuhi protes, "Mengapa saya harus mengalami sakit seperti ini, Tuhan?!" Sedang pria kedua, melihat penyakitnya sebagai bagian dari rencana Tuhan dalam hidupnya dan keluarganya. Apa rencana Tuhan di balik sakitnya itu? Mungkin ia sendiri tidak tahu. Hanya ia yakin, Tuhan tidak mungkin mengizinkan sesuatu terjadi padanya dengan maksud buruk. Karenanya ia dapat menjalani masa-masa sakitnya dengan hati berserah. Sekalipun rasa sakit mendera tubuhnya, ia tidak kekurangan kegembiraan dan rasa syukur. Sehingga ia juga dapat menikmati hari-harinya. Kalau pun ada pertanyaan yang muncul dalam hatinya adalah, "Apa maunya Tuhan dengan mengizinkan ia sakit seperti itu?!" Maka, ketika kita begitu sedih dengan kesusahan, begitu marah dengan kegagalan dan begitu gelisah dengan problem hidup yang terus mendera; jangan-jangan yang harus kita lakukan hanya--ya, hanya--merubah sudut pandang kita. Benar, seperti kata Doug Hooper, seorang penulis kolom surat kabar terkenal dari Amerika, "Kita adalah apa yang kita pikirkan." MEMBELI CINTA Cerita ini saya baca 12-13 tahun yang lalu, waktu saya masih kuliah. Jadi detailnya sudah agak lupa. Judulnya Buying Love, membeli cinta. Sebuah cerita dari Tiongkok. Inti ceritanya begini. Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu – begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh. Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. “Hutang mereka sudah jatuh tempo,” kata sang tuan. “Baik, Tuan,” sahut si bodoh. “Tetapi nanti uangnya mau diapakan?” “Belikan sesuatu yang aku belum punyai,” jawab sang tuan. Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung itu. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.
18

Akhirnya si bodoh berhasil juga menyelesaikan tugasnya. Tetapi dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.” “Apa, ya?” tanya si bodoh dalam hati. “Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?” Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk. “Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,” katanya. Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan. Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. “Benarbenar bodoh,” omelnya. Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan. “Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?” tanya sang tuan. “Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,” jawab si bodoh. “Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.” Kita berhenti dengan kisah ini. Mari kita bicara tentang Tommy Soeharto. Andai saja dulu ketika masih jaya dia mempergunakan uang dan pengaruhnya untuk menebar cinta kasih, mungkin nasibnya tidak akan setragis sekarang – di kelilingi cemoohan dan cibiran, bahkan juga cercaan. Tidak percaya?! Cobalah sesekali Anda ngobrol di warung kopi, kampus, kantor atau di mana saja. Jangan lihat sikap “para petinggi” yang dengan hangat memeluk dan menciumnya – bak menyambut si anak hilang – ketika dia tertangkap setelah sekitar setahun menjadi buron. Jangan lihat sikap para aparat dalam memperlakukannya sebagai tersangka dalam kasus berat; pembunuhan Hakim Agung dan peledakan bom di beberapa tempat. Jangan juga lihat dan dengar sikap dan omongan para pengacaranya. Semoga orang-orang yang punya kekayaan dan pengaruh dapat belajar dari kisah tadi, dan kisah Tommy; bahwa kekayaan dan pengaruh baru akan sangat berguna kalau dipergunakan untuk menebar cinta kasih. Sebab, seperti kata penulis Amsal “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dan dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” CINTA Cinta tidak pernah dapat didefinisikan dengan tuntas. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk mengungkap realitas cinta. Tetapi itu baik. Dengan begitu manusia akan selalu merindukan dan membicarakannya. Tuhan rupanya begitu menyayangi cinta, sehingga Dia memberi selubung misteri kepadanya. Sebab kalau tidak, segera manusia memahami arti cinta sedalam-dalamnya dan sejelas-jelasnya, segera pula manusia akan melupakannya dan membuangnya. Manusia adalah mahluk pembosan, tetapi ia juga punya kecenderungan untuk selalu penasaran
19

dengan segala hal yang bernilai misteri. Banyak kisah dalam dunia ini yang tetap hidup dibenak banyak orang justru karena itu belum terungkap tuntas. Kematian Putri Diana, Bruce Lee, Marlyn Monroe dan John F. Kennedy adalah beberapa contoh. Cinta juga demikian, sebagai sebuah makna ia yang akan terus hidup dalam benak dan sanubari setiap orang. Akan tetapi cinta memang bukan soal definisi. Cinta adalah praksis; kontemplasi dan aksi, perenungan dan perbuatan. Dan kadang-kadang itu melampaui akal. Tuhan Yesus pernah merasakan cinta sedemikian. Kejadiannya di Betania, seminggu menjelang penyaliban-Nya. Seorang wanita, Injil Yohanes mencatat namanya Maria, saudara Lazarus yang Dia bangkitkan dari kematian, mengurapi-Nya dengan sekitar setengah liter minyak narwastu murni yang mahal harganya. Tidak hanya sampai di situ, wanita itu juga kemudian menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya. Demi meraih perhatian dan popularitas ala politisi? Bukan. Itu spontanitas yang keluar dari hati yang mencintai. Sebab di sana tidak ada tuntutan, tidak ada perhitungan untung-rugi, juga tidak ada dinding gengsi dan kebanggaan diri yang menghalangi. Yang ada adalah keinginan untuk memberi sesuatu yang terbaik dari yang dimiliki. Hanya itu. Cinta selalu tidak bersyarat, tidak berpamrih. Dan cinta juga tidak mengenal harga, bagi cinta tidak ada yang terlalu mahal. Ada sepasang pemuda pemudi saling mencintai. Mereka sangat miskin, tetapi keduanya memiliki sesuatu yang amat disayangi dan dibanggakannya. Sang wanita memiliki rambut panjang nan indah. Sang pria memiliki sebuah jam emas warisan ayahnya. Ketika hari Natal menjelang keduanya ingin saling memberi hadiah. Hanya saja mereka tidak punya cukup uang. Tanpa saling tahu, sang wanita memotong rambutnya dan menjualnya, sedang sang pria juga menjual jam emasnya. Ketika mereka membuka hadiah masing-masing. Ternyata sang pria membeli sebuah hiasan rambut, dan sang wanita membeli sebuah kotak kecil dari platina tempat menyimpan jam. BUDAYA Ada sebuah permainan, begini. Kalau kita ditanya, dan kita akan menjawab iya; biasanya kita menganggukkan kepala. Sedang kalau kita akan menjawab tidak, biasanya kita menggelengkan kepala. Nah, sekarang dibalik, kalau kita menjawab iya; gelengkan kepala. Dan kalau kita menjawab tidak; anggukkan kepala. Gampang? Saya jamin, tidak! Kenapa? karena dari dulu iya itu mengangguk, dan tidak itu menggeleng. Tidak gampang merubah sebuah perilaku yang sudah menjadi budaya; walau juga bukan berarti tidak bisa. Seumpama pohon, makin besar dan tinggi makin sulit dicabut. Ini juga yang terjadi di negeri ini; korupsi (dari yang kecil-kecilan sampai yang gede-gedean), tindakan tidak adil dan diskriminasi, sudah begitu membudaya. Bahkan sepertinya sudah dianggap biasa. Pun sekarang, yang konon zaman reformasi, tidak serta merta merubah keadaan ke arah yang lebih baik. Pasalnya, ya itu tadi, sudah menjadi budaya. Sebuah contoh. Sekitar tiga tahun lalu, teman saya, keturunan Cina, yang sejak kakek dari kakeknya sudah menetap dan menjadi warga negera Indonesia, mau pindah KTP; dari Tangerang ke Jakarta. Dia bekerja di Jakarta, dan sedang nyicil rumah di salah satu perumahan di Jakarta. Seperti lazimnya, dia datang ke RT. RT bilang, karena dari daerah biayanya 60-70 ribu. Teman saya tidak keberatan. Tetapi seminggu kemudian datang petugas dari kelurahan, minta 800 ribu. Resmi. Teman saya terkaget-kaget; dia pilih tidak usah pindah. Teman saya punya kenalan, orang Batak, yang tahu kejadiannya. Kenalannya itu lalu datang ke kelurahan. Bicara ini dan itu dengan si anu dan si ano. Dua minggu setelah itu KTP-nya keluar dan hanya membayar 3 ribu. Harga resminya memang segitu. Aneh tetapi nyata. Padahal kenalannya itu bukan pejabat, sama dengan teman saya itu; warga biasa. Yang berbeda hanya suku bangsa. Ceritanya bersambung minggu lalu. Istri teman saya itu, KTP Jakarta, mau pindah ikut Kartu
20

Keluarga suaminya. Teman saya datang ke RT lalu ke kelurahan, sampai enam kali, ada saja yang kurang. Akhirnya, kenalannya pula yang ngurus; sehari selesai tanpa ba bi bu. Begitulah sebuah prilaku kalau sudah menjadi budaya; susah dirubah. Karena itu berhatihatilah dengan prilaku; kalau Anda tahu perilaku itu buruk, sebelum menjadi budaya dan Anda sulit merubah, hindarilah. Sebaliknya kalau perilaku itu baik adanya; walau mungkin susah, cobalah budayakan. Lama-lama akan menjadi biasa. DENDAM Relasi antar manusia kerapkali diwarnai dendam; pukul ganti pukul, darah ganti darah, cacian ganti cacian. Padahal sejarah telah membuktikan, dendam tidak pernah menyelesaikan masalah. Dendam berbalas dendam justru akan menimbulkan masalah baru. Tetapi manusia tidak juga belajar dari sejarah. Deretan korban akibat dendam pun terus bertambah panjang. Dan sepertinya masih akan terus bertambah. Dalam situasi dan kondisi demikian, maka sungguh menyejukkan membaca kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Yusuf dibenci saudara-saudaranya. Ia dianiaya dan dijual sebagai budak. Lantas berbagai lika-liku hidup ia jalani. Tetapi siapa menduga, akhirnya justru peristiwa itulah yang menghantar Yusuf ke puncak kariernya; menjadi orang kepercayaan Firaun, pejabat nomor dua di Mesir. Ketika saudara-saudaranya datang dalam kemiskinan, karena bencana kelaparan yang menghantam negerinya, hendak menghambakan diri kepadanya, itulah saat terbaik untuk Yusuf melampiaskan dendamnya. Satu kata keluar dari mulutnya, lunaslah sudah seluruh hutang masa lalunya. Akan tetapi Yusuf tidak melakukannya. "Aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakan untuk kebaikan," begitu katanya, dan memeluk saudara-saudaranya dalam damai. Kisah pun berakhir bahagia. Andai saja semua bangsa di dunia bisa belajar pada Yusuf; persoalan barangkali tetap akan ada, demikian juga perbedaan pendapat, tetapi paling tidak dengan membuang dendam persoalan tidak lantas memunculkan persoalan baru yang lebih besar. Dan konflik bisa segera diakhiri. Kisah Yusuf telah membuktikannya. Sulit memang, tetapi kalau Yusuf bisa, kenapa kita tidak?! KENANGAN Malam ini hujan. Cukup deras. Saya duduk di teras depan rumah. Sendiri. Belum seminggu saya pindah rumah; masih sangat berantakan, dan banyak debu. Anak-anak dan istri saya masih tinggal sementara di rumah mertua. Rencananya setelah semuanya beres mereka baru menyusul. Saya memandang titik-titik hujan jatuh di atas rumput, di atas tanaman, di ujung teras, di pagar. Berlatar belakang gelapnya malam. Sesekali, cahaya lampu mobil lewat menerebos masuk. Ada rasa tentram yang menyelinap ke dalam hati. Entah. Barangkali itu adalah reaksi dari kelelahan fisik dan kegalauan batin yang saya alami beberapa hari terakhir; istri baru melahirkan lewat operasi caesar, lalu pindahan rumah, lalu pembantu pulang kampung. Kelegaan, bukankah kerap mengiringi saat-saat berat dalam hidup bila semuanya itu berlalu? Tanpa saya mauin pikiran saya jadi mengembara ke masa-masa lalu. Pada masa kanak-kanak; kalau dikenang, itulah masa-masa manis dalam hidup saya. Betul, di sana tidak selalu ada kelimpahan, bahkan lebih kerap keserbaterbatasan. Betul, di sana tidak selalu ada keriangan, bahkan lebih kerap air mata yang terurai. Pada masa remaja ketika saya aktif di gereja; kalau dikenang, itulah masa-masa menyenangkan dalam hidup saya. Di sana, tidak selalu memang keberhasilan saya gapai dan nikmati; tidak
21

selalu harapan dan keinginan menjadi kenyataan. Bahkan tidak sedikit kegagalan saya alami, tidak sedikit keinginan dan harapan yang menguap tanpa pernah menjadi kenyataan. Pada masa kuliah di Jogjakarta; kalau dikenang, itulah masa-masa indah dalam hidup saya. Masa di mana saya bertemu dengan diri saya, dan dengan panggilan itu; masa yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Ada memang di sana kekecewaan, yang bahkan sampai kini kerap masih tersisa. Ada memang di sana kebodohan, yang bahkan sampai kini kerap masih saya sesali. Begitulah, masa lalu memang selalu indah bila dikenang. Betapa pun pedih dan getir. Kenangan akan masa lalu selalu menggoda. Tetapi hidup kita toh tidak surut ke belakang. Betapa pun kenangan bukanlah kenyataan. Maka, jangan biarkan ia menjebak dan memenjarakan kita. Supaya kita tidak kehilangan kesempatan untuk merasakan dan menyadari, betapa bernilainya masa sekarang. ISU Di tengah masyarakat yang resah dan bingung, isu bisa menjadi subur. Sebuah dugaan, sebuah penafsiran, bahkan sebuah kabar burung, bisa ditangkap sebagai sebuah kebenaran. Maka, ibarat sebuah bola salju, dia akan terus menggelinding, semakin lama semakin besar; meninggalkan jejak, tanpa orang tahu lagi bentuk aslinya. Seperti dalam kisah ini. Asrama mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi menerima kiriman paket dari salah seorang alumnus. Paket itu berisi sekeranjang makanan khas sebuah daerah. Tentu saja disambut gembira. Bagi komunitas asrama, kiriman makanan bisa menjadi "anugerah" tersendiri. Akan tetapi, entah karena kelamaan diperjalanan atau entah dari sananya memang sudah begitu, makanan itu agak berbau tidak sedap. Wah, bagaimana ini? Kalau dibuang jelas sayang. Dan, kok ya tidak menghargai si pengirim yang sudah bersusah payah dan berbaik hati. Tetapi kalau dimakan juga, nanti kenapa-kenapa pula; mending kalau hanya mules, lha kalau sampai harus masuk rumah sakit, bagaimana coba. "Kita berikan saja dulu sedikit ke si Bujel, anjing Ibu asrama. Kalau si Bujel tidak kenapakenapa, berarti bisa kita makan," usul seorang penghuni. "Itu tidak berperi kebinatangan dong," protes penghuni lain. "Lha, orang saja banyak yang tidak berperi kemanusiaan; kok situ masih mikirin peri kebinatangan. Apa mau situ yang nyicipi?!" Alhasil, usul diterima. Si Bujel dipanggil, lebih tepat dipaksa. Tentunya tidak atas sepengetahuan Ibu asrama. Singkat kata, ternyata si Bujel tidak kenapa-kenapa melahap itu makanan. Anjing itu malah mengaing-ngaing minta lagi. Maka tanpa dikomando dua kali, para mahasiswa menyerbu itu makanan. Dalam waktu singkat ludes. Dan tidak terjadi apa-apa. Malamnya, mereka mendapat kabar si Bujel mati! Bukan alang kepalang mereka kaget. Keresahan dan ketakutan lantas saja menghantui; bagaimana ini, makanan sudah masuk ke perut mereka?! Ada yang katanya mendadak pusing, malah ada juga yang lalu muntah-muntah. Dokter segera dipanggil. Para mahasiswa yang tadi ikut makan diperiksa satu per satu. Tidak ada yang janggal. Lalu kenapa si Bujel mati? O, rupanya tergilas truk! Maka, berhati-hatilah dengan isu. Jangan kita mengambil keputusan atas dasar isu. Terlebih, jangan pula ikut menggelindingkan isu. Salah-salah, justru kita sendiri yang tergilas.

22

NASIB Ada sebuah pepatah Cina, "Nasib baik, nasib buruk siapa tahu." Pepatah itu mau mengatakan, apa yang sekarang tampaknya keberuntungan belum tentu seterusnya menjadi keberuntungan; salah-salah malah bisa menjadi bencana. Sebaliknya apa yang sekarang tampaknya bencana, belum tentu seterusnya menjadi bencana; bisa-bisa malah menjadi keberuntungan. Perjalanan hidup Joseph Estrada dan Megawati hingga sekarang ini bisa mewakili kebenaran pepatah itu. Estrada, mantan Presiden Filipina, ditangkap. Setelah sebelumnya Sandiganbayan (Pengadilan Antikorupsi di Filipina, yang peresmian pembangunan gedungnya dilakukan oleh Estrada sendiri) menyatakan dia bersalah, telah melakukan tindak korupsi selama menjadi presiden. Untuk kejahatannya itu dia diancam hukuman mati. Foto wajah Estrada yang kuyu dan lelah terpampang di koran; tak ubahnya pengedar narkoba atau penjahat yang tertangkap. Berbeda sekali dengan tiga tahun lalu ketika dia terpilih menjadi Presiden Filipina, menggantikan Fidel Ramos; ada lambaian tangan sukacita, ada senyum kemenangan. Siapa tahu justru jabatannya itulah yang mengiringkannya ke penjara. Andai dia tidak menjadi presiden, barangkali ceritanya akan berbeda. Sebaliknya dengan Megawati. Ia kerap menjadi bulan-bulanan ketika Soeharto masih jaya. Apalagi ketika ia berani menyatakan kesediaannya menjadi presiden. Saat itu bicara soal presiden diluar Soeharto memang sangat ditabukan. Puncaknya peristiwa 27 Juli 1996, yang hampir-hampir menenggelamkan Jakarta ke dalam kerusuhan. Sejak itu sampai beberapa bulan kemudian, ia dan para pembelanya menjadi sasaran teror rezim Orde Baru. Siapa menduga, justru peristiwa itulah yang menaikkan popularitas Megawati di mata rakyat, paling tidak begitulah pendapat banyak orang (Ben Anderson, ahli tentang Indonesia asal Amerika, mengatakan peristiwa 27 Juli 1996 adalah blunder paling fatal yang pernah dilakukan Soeharto). Megawati menjadi personifikasi kaum tertindas dan kesewenangwenangan rezim Orde Baru. Maka simpati pun mengalir kepadanya. Banyak pengamat setuju; kemenangan partainya dalam pemilu lalu lebih karena simpati ini, dan bukan karena kapasitasnya. Sampai saat ini lakon Estrada dan Megawati memang masih belum berakhir. Kita masih menunggu keberuntungan dan bencana apa kira-kira yang akan mengiringi langkah hidup mereka. Yang pasti buat kita; nasib baik, nasib buruk siapa tahu. Betapa tipisnya batas antara tawa dan air mata, keberuntungan dan bencana. Maka memang jangan pongah kalau nasib baik sedang menghampiri, sebab siapa tahu justru itulah yang akan membawa bencana. Sebaliknya jangan patah hati ketika nasib buruk menjemput, sebab siapa tahu justru itulah yang membawa keberuntungan buat kita. Mawas diri dan senantiasa sadar bahwa ada Tuhan di atas sana, itulah langkah terbaik. MALU Kisah ini sangat dikenal. Para ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepada Tuhan Yesus seorang perempuan yang ketahuan berzinah. Menurut hukum yang berlaku ketika itu jelas: perzinahan adalah dosa besar, dan vonisnya adalah dirajam dengan batu sampai mati. Apa yang akan Tuhan Yesus lakukan? Ini yang ditunggu-tunggu. Kalau Dia tidak melakukan tindakan tegas, maka terbukalah kesempatan untuk menghantam-Nya dengan tuduhan pelecehan terhadap hukum. Berarti sekali tepuk dua lalat. Sebaliknya kalau Dia mengambil tindakan tegas, toh mereka juga yang akan mendapat nama sebagai penegak supremasi hukum. Begitulah sejarah mencatat, selalu saja ada orang-orang yang bertindak atas nama hukum untuk kepentingan sendiri. Hukum hanya dijadikan sebagai topeng atau pemuas ambisi pribadi. Bangsa kita sudah cukup kenyang dengan soal yang satu ini.
23

Sekilas kedudukan Tuhan Yesus terpojok. Para tokoh agama itu sepertinya sudah siap dengan sorai kemenangan. Tinggal menunggu waktu. Tetapi siapa yang menduga dengan cerdik Dia mengeluarkan maklumat pamungkas-Nya, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini." Tidak ada sorai kemenangan. Tangan tidak jadi teracung, pun sorak tidak jadi terungkap. Sepi. Seorang demi seorang, demikian Injil Yohanes mencatat, mulai dari yang tua meninggalkan tempat itu. Kisah ini kita akhiri sampai di sini. Mari kita bicara tentang para ahli Taurat dan orang Farisi. Image mereka selama ini sangat buruk; munafik, keras kepala, kaku, merasa paling benar. Pada kisah ini kita melihat sisi lain dari mereka. Yaitu, bahwa setidaknya mereka masih punya rasa malu hati atau dalam bahasa Sunda rumangsa. Kalau mau mereka tetap bisa mengambil batu dan melempari perempuan itu. Siapa yang peduli dengan dosa-dosa mereka. Apalagi saat itu kebanggaan mereka betul-betul sedang dipertaruhkan; merekalah yang membawa perempuan itu kepada Tuhan Yesus. Rasa malu, Saudara, itulah yang sudah lama hilang dari banyak politikus di negeri ini. Dulu mereka yang mendukung, sekarang mereka juga yang menghujat, bahkan tidak sedikit juga yang menyangkal pernah mendukung; dulu mereka yang menjegal, sekarang mereka juga membujuk-bujuk, sampai agama dibawa-bawa, entah untuk menjegal entah untuk mendukung. Lalu istilah-istilah "cerdik" (tetapi tidak tulus alias licik) muncul, dari mulai poros tengah sampai koalisi permanen. Rasa malu, rasa malu, duhai….. dimanakah engkau gerangan berada…..??? AGAMA Kalau ada satu bidang dalam kehidupan manusia, yang paling kerap dieksploitasi dan dimanipulasi habis-habisan, maka itu adalah agama. Demi mengejar keuntungan dan kepentingan pribadi, atau meraih ambisi dan tujuan politik tertentu; simbol-simbol agama kerap dikedepankan. Emosi keagamaan memang paling mudah dibangkitkan. Dan ketika emosi sudah mengemuka, maka yang ada adalah irasionalitas. Betapa tidak, tidakkah sangat irasional dua orang atau dua kelompok orang saling hantam atau bunuh atas dasar agama. Bahkan tidak jarang pula atas dasar Kitab Suci yang sama. Tidak jelas, siapa yang sesungguhnya sedang mereka bela; Tuhan atau pemahaman mereka tentang Tuhan? Maka jangan heran kalau agama lantas berwajah ganda; mengajarkan cinta kasih di satu pihak, tetapi menampilkan wajah beringas penuh kebencian di lain pihak. Agama seakan menjadi alat pembenaran barbarisme dan anarkhisme; baik dalam ucapan maupun tindakan. Seperti hari itu, Jumat sekitar 2000 kurang 32 tahun yang lalu. Bayangkan adegan ini: wajahwajah beringas penuh kebencian mencerca dan mencaci Si Terhukum, sambil berteriak bengis tanpa ampun, "Salibkan, Dia! Salibkan, Dia!" Tangan teracung, mata nyalang menyala. Darimana munculnya derap kebencian itu, kalau bukan dari sentimen keagamaan. "Dia telah menghujat Allah," begitu tuduhan terhadap-Nya. Dan menghujat Allah yang mereka maksudkan adalah: tidak seiring dan sejalan dengan pemahaman yang mereka anut. Sampai kini, awal milenium ketiga, perang dan pertikaian atas dasar agama terus saja terjadi; baik yang sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sekadar menyebut beberapa contoh: di India dan Irlandia Utara, atau yang paling dekat dengan kita Ambon dan Maluku Utara. Entah sudah berapa banyak korban yang jatuh, dan masih akan terus jatuh. Sejak dulu, pertikaian dan peperangan karena agama selalu menjadi pertikaian dan peperangan paling bengis dan berdarah. Bisa jadi karena masing-masing bertindak atas nama Allah, dan imingiming mati masuk surga.
24

Kapan agama-agama di bumi ini bertobat, dan kembali ke misi awal: menjadi alat bagi terwujudnya damai sejahtera dan kasih ilahi di antara sesama manusia. Jumat Agung pertama di milenium baru ini, kiranya menyegarkan kita kembali; bagaimana supaya melalui perkataan dan perbuatan kita menampilkan wajah bersahabat penuh kasih Sang Kristus, Junjungan kita. STANDAR Saya kagum dengan teman saya itu. Dia pengusaha, bukan pengusaha besar memang, tetapi, paling tidak di mata saya, lumayanlah. Akhir tahun yang lalu badai krismon habis-habisan menerpa usahanya. Tagihannya di sana-sini macet, sementara dia terus diuber tagihan dengan kurs dollar yang gila-gilaan. Perusahaannya yang ia bangun dari bawah benar-benar di ambang kehancuran. Tetapi dia toh tetap tenang-tenang saja. Aktif di gereja seperti biasa. Tertawa dan bersenda gurau seperti biasa. Kalau dia tidak cerita, orang lain juga tidak akan tahu apa yang sedang dihadapinya. Yang bikin saya kagum adalah jawabannya ketika ditanya, kok tidak stress: "Saya berangkat dari bawah, dari sepetak kamar kontrakan. Jadi kalaupun saya sampai harus kehilangan semua ini, buat saya tidak masalah. Jadi sopir taxi pun saya masih bisa. Atau, ya jualan sop kambing di pinggir jalan." Dia bicara itu serius. Bisa jadi karena itu pula ia bisa tetap tenang. Saya jadi merenung. Seseorang yang sudah hidup berkelimpahan, tidak terganggu dengan keadaan kemudian yang memaksanya hidup sederhana. Apa yang membuatnya demikian? Jawabnya di sini adalah standar hidup. Orang biasanya akan sulit menerima kalau hidup yang ia jalani dirasakannya tidak sesuai lagi dengan standar hidupnya. Padahal, soal standar hidup ini sebetulnya adalah soal hati, bukan soal pendapatan! Maksudnya begini. Kita sering mendengar slogan ini, bukan: "Kita harus meningkatkan standar hidup!" Bahkan sepertinya standar ini sudah menjadi semacam falsafah, atau doktrin yang terus-menerus didengungkan. Tetapi sebetulnya slogan itu keliru. Standar hidup itu tidak perlu ditingkatkan, yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan untuk mencapai standar itu. Jadi misalnya, kalau sekarang ini standar hidup kita naik sepeda motor, ya sudah tidak usah ditingkatkan. Yang perlu kita tingkatkan adalah kemampuan kita agar kalau mungkin bisa naik mobil. Standar hidupnya tetap sepeda motor. Sehingga ketika kita sudah bisa naik mobil, lantas karena keadaan kita terpaksa harus kembali naik sepeda motor, kita tidak kaget lagi atau merasa gengsi. Stress, depresi, kehilangan kendali diri, dan sebangsanya seringkali timbul karena orang tidak bisa lagi hidup di bumi setelah mengawang-awang di bulan. Mereka lupa untuk berdiri setelah keenakan duduk. Ini yang jadi masalah. Yaitu ketika apa yang kita capai sekarang sudah begitu menguasai diri kita, sehingga sadar atau tidak kita terninabobokan olehnya. Akibatnya kita jadi tidak siap kehilangan. Padahal dalam dunia yang serba tidak pasti ini, apa sih yang tidak bakal berlalu. Badai saja pasti berlalu (katanya!), apalagi angin sepoi-sepoi yang bisa membuat kita terlena. PAY IT FORWARD Bayangkan begini: Karena sebuah peristiwa, mobil Anda hancur. Di tengah hujan deras. Lalu tiba-tiba muncul orang tidak dikenal, memberikan mobil Jaguarnya kepada Anda. Betul-betul memberikannya! Gratis. Anda pasti menganggap orang itu gila, atau punya maksud apa-apa terhadap Anda. Atau Anda menganggap itu cuma adegan dalam mimpi di siang bolong. Semua berawal dari seorang bocah berusia 12 tahun, Trevor McKinney. Trevor mendapat tugas dari gurunya di sekolah, untuk melakukan sesuatu yang bisa merubah dunia. Kedengarannya memang sulit, idealis, bahkan tidak mungkin. Tetapi Trevor toh melaksanakannya juga. Caranya dengan pay it forward. Dia melakukan suatu perbuatan baik kepada tiga orang. Lalu tiga orang itu masing-masing melakukan perbuatan baik kepada tiga orang lainnya. Terus begitu.
25

Gampang? Tidak. Dalam kenyataan tidak sesederhana itu; kebaikan tidak lantas segera menghasilkan kebaikan. Trevor sendiri akhirnya merasa pay it forward gagal. Dia tidak tahu gelandangan yang ditolongnya, telah membantu membetulkan mobil ibunya yang rusak; dan Ibunya, seorang peminum, telah mendatangi ibunya, nenek Trevor yang juga peminum dan hidup menggelandangan; memaafkan kekerasan dan tindakan tidak baiknya di masa lalu. Trevor juga tidak tahu kalau Sang Nenek telah menolong seorang pemuda kulit hitam bergajulan dari bahaya; dan pemuda itu telah menolong anak perempuan seorang jutawan yang menderita penyakit asma akut. Dan di tengah hujan deras, Jutawan itu memberikan mobil jaguarnya kepada seorang wartawan yang sedang kebingungannya karena mobilnya hancur. Gratis. Tanpa embel-embel. Dan seperti juga Anda, si wartawan menganggap itu sebagai sebuah "kegilaan". Tetapi toh nyata. Sampai ketika dirinya diwawancarai oleh si wartawan, Trevor masih merasa pay it forwad tidak berhasil. Bahkan sampai akhir hayatnya; ketika sebuah tusukan pisau menghujam diperutnya, saat dia berupaya menolong seorang temannya dari gangguan anak-anak berandalan. Bocah berusia 12 tahun itu telah tiada. Tetapi malam itu, disaksikan dua hati luka yang telah disembuhkan dipersatukan, puluhan, atau mungkin ratusan, bunga dan nyala lilin berarak ke halaman rumahnya. Seakan sebuah janji, pay it forward tidak berakhir sampai disitu. Sebab kebaikan memang tidak akan pernah berhenti; ia akan terus mengalir, mengisi relung-relung hati yang paling keras sekalipun dan menghantarnya pada sebuah kebaikan yang lain. Di tengah arus individualitas dan budaya kekerasan yang makin deras dalam masyarakat kita, maka pay it forward adalah sebuah pilihan. Tidak percaya? Mari kita coba; lakukan sebuah kebaikan, dan biarkan kebaikan itu menggelinding menghasilkan kebaikan lainnya. ELITE Elite adalah sebuah predikat, untuk menyebut orang-orang pilihan, golongan kelas atas, kaum terkemuka. Singkat kata, elite adalah mereka yang mumpuni di bidangnya; lebih dari sekadar orang biasa. Tetapi pengertian tersebut serta merta menjadi "kacau" (tidak relevan) bila dikenakan kepada para politikus di negeri kita. Mereka yang disebut, atau bahkan yang menamakan dirinya elite politik itu, ternyata lebih banyak yang tidak berlaku sebagai elite. Bayangkan, di tengah persoalan bangsa yang begitu besar; pertikaian dan tindak kekerasan antar kelompok masyarakat, ancaman disintegrasi bangsa, krisis ekonomi yang berkepanjangan, belum terselesaikannya secara hukum kasus-kasus korupsi dan kriminal lainnya di masa lalu; mereka malah bertengkar soal jabatan, soal bagaimana mengganti presiden yang usianya belum dua tahun itu. Yang menggelikan, dan tanpa malu-malu, dulu mereka yang mengojok-ojok Gus Dur menjadi presiden, dan menjegal Mbak Megawati memperoleh haknya sebagai calon presiden dari partai pemenang Pemilu. Berbagai alasan dikemukakan; dari yang katanya menurut agama wanita tidak boleh menjadi presiden, sampai yang katanya kemampuan Mbak Mega meragukan. Kini mereka-mereka juga yang mati-matian hendak menggusur Gus Dur, dan mengojok-ojok Mbak Mega menjadi presiden. Berbagai alasan pula yang dikemukakan; dari yang katanya dalam keadaan mendesak wanita boleh saja menjadi presiden, sampai yang katanya Mbak Mega sekarang sudah mampu memimpin bangsa ini dan lagi partainya Mbak Mega itu 'kan pemenang pemilu. Aneh, tetapi nyata. Padahal jelas mereka itu bukan orang-orang bodoh; ada yang sekian lama berkecimpung dalam dunia politik, bahkan ada yang profesor doktor. Tetapi lah, kok begitu kelakuannya? Sepertinya tidak ada cara lain yang lebih cerdas yang bisa mereka lakukan. Kalaulah kinerja Gus Dur amburadul, mereka yang dulu mengusung Gus Dur menjadi presiden harusnya ikut pula bertanggung jawab. Dan sebagai wujud pertanggungjawaban kepada kepada rakyat, akan sangat terhormat kalau mereka mundur dari dari jabatannya. Kalau mau bertarung,
26

bertarunglah secara ksatria dalam Pemilu yang akan datang; bukan sekarang. Tetapi karena dasarnya memang mau jabatan, mana rela mereka mundur. Begitulah kalau ambisi sudah menjadi tuan; maka nurani dan akal sehat menjadi tidak berfungsi. Bahkan agama dijadikan sebagai "kuda tunggangan" untuk merebut dan memuaskan napsu kekuasaan. Lupa, betapa rapuhnya kekuasaan yang didirikan di atas alas penghalalan segala cara. KONTRADIKSI Tadi pagi saya mengantar istri saya ke dokter. Biasa, check-up rutin kehamilan. Sementara menunggu, iseng-iseng saya berbincang dengan Pak Ujo, sebutlah demikian, tukang kebun Pak Dokter. Kata Pak Ujo, Pak Dokter rumahnya banyak. Di daerah di mana dia buka praktek saja ada empat buah. Yang ditinggalin satu, yang lain kosong tidak terurus. Anak-anak Pak Dokter ada enam; lima sudah berkeluarga dan punya pekerjaan sendiri-sendiri, satu orang lagi masih kuliah tinggal bersama Pak dan Ibu Dokter. Belum lagi rumah yang di Serang ada dua. Belum lagi villanya tiga buah. Belum lagi kebun kelapa sawitnya. Belum lagi... saya tidak ingat apa lagi kepunyaan Pak Dokter yang disebutkan Pak Ujo. "Bapak sendiri tinggal di mana?" tanya saya. "Saya tinggal di Rawamangun. Ngontrak." Hidup memang penuh kontradiksi. Ada orang yang kelebihan sekali, ada orang yang kekurangan sekali. Ada orang yang kekenyangan sekali, ada orang yang kelaparan sekali. Ada orang yang kaya sekali, sampai-sampai dia sendiri mungkin sudah tidak tahu lagi mau dipakai untuk apa atau mau dikemanakan hartanya itu. Tetapi ada juga orang yang miskin sekali, sampai-sampai uang recehan lima puluh seratus perak pun dia kejar mati-matian. Untuk keluar dari kontradiksi itu diperlukan keseimbangan. Rasul Paulus dalam bahasa yang lebih tegas dan lugas mengatakan, "Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan," ( 2 Korintus 8:14). Dalam Doa Bapa Kami, ada kalimat "……… berikanlah kami pada hari makanan kami yang secukupnya." Doa bukan sekadar apa yang kita katakan tetapi juga apa yang kita lakukan. Terkabulnya sebuah doa adalah gabungan antara anugerah Allah dan usaha manusia. Maka, dalam kalimat doa yang Tuhan Yesus ajarkan tersebut terkandung selain permohonan juga panggilan. Panggilan supaya yang lebih mau membagi kelebihannya kepada yang kurang, dan yang kurang mau menerima kelebihan yang lebih; sehingga baik yang lebih maupun yang kurang sama-sama cukup. Andai saja semangat untuk cukup itu ada di hati setiap orang, saya percaya betul hampir semua persoalan di dunia bisa teratasi. Memang terlalu sulit untuk mengharapkan semua orang memiliki semangat untuk cukup. Tetapi barangkali kita bisa memulainya dari diri kita sendiri; membagi kelebihan kita kepada mereka yang kekurangan. Dengan begitu bisa jadi kita tidak membuat dunia menjadi lebih baik, tetapi paling tidak kita tidak memperburuknya. KEMENDESAKAN Dalam kemendesakan waktu menjadi sangat berharga. Detik demi detik terasa begitu berarti. Dan sayang kalau tersia-sia. Seperti pada pagi itu, saya sedang mengejar waktu untuk tiba di Stasiun Gambir. Saya akan berangkat ke Yogyakarta naik Kereta Api Pk. 08.00. Sampai Pk. 07.30 saya masih ada di Cempaka Putih. Dalam keadaan normal, ke Stasiun Gambir memang tinggal 20 menitan. Tetapi persoalannya jalanan macet; panjang lagi. Mana sejak semalam gerimis turun tak kunjung henti, membuat kendaraan tak bisa laju. Mau tidak
27

mau harus cari "jalan tikus" (gang atau jalan kecil yang bisa dijadikan sebagai jalan alternatif). Itu juga untung-untungan. Sebab tidak jarang "jalan tikus" pun macet pula. Dalam keadaan begitu, maka setiap kejadian menjadi "bermakna", menimbulkan rupa-rupa perasaan; jengkel dengan kendaraan di depan yang berjalan perlahan; kepingin marah dengan serombongan orang yang menyeberang jalan, membuat laju kendaraan terpaksa diperlambat; kesal dengan metromini yang bagai raja jalanan, membelok ke kanan dengan menyalib dari jalur kiri. Dan banyak lagi kejadian, yang dalam keadaan tidak mendesak akan berlalu begitu saja; tanpa makna, tanpa menimbulkan perasaaan apa-apa. Hidup juga demikian; bila tidak ada kemendesakan segala sesuatu akan berjalan tanpa makna, berlalu begitu saja, dan terlupakan. Kemendesakan yang utama dan pertama dalam hidup tidak lain adalah kematian. Maka, kematian, itulah sesungguhnya yang menjadikan hidup ini sangat berharga. Kematian menyadarkan kita, bahwa segala yang kita miliki di dunia ini; keluarga, waktu, kesehatan, harta benda, teman, dan pekerjaan cepat atau lambat akan kita tinggalkan. Kesadaran itu selanjutnya mendorong kita untuk menjalani hidup ini sepenuh rasa tanggung jawab, menghargai yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dan mempergunakan dengan sebenar-benarnya. Benar, Heidegger, eksistensialis asal Jerman, ketika berujar; dalam hidup yang tidak akan berakhir tidak akan ada pula kemendesakan. Tanpa kemendesakan segala sesuatu dapat dilakukan dapat juga ditunda. Maka segala sesuatu itu akan kehilangan nilai pentingnya pula, tindakan dan keputusan kita tidak akan bernilai apa-apa. Karena itu, dalam bahasa Heidegger, kita perlu "berani untuk takut mati". Artinya, rasa takut akan kematian, tidak perlu disangkali apalagi dihindari. Sebab justru "ketakutan" akan kematian itulah yang membuat kita dapat menghargai kehidupan. KEKUASAAN Tentang kekuasaan; sejarah mencatat, penguasa satu turun (dan hilang ditelan zaman) penguasa lain muncul, hasilnya hampir selalu sama: tirani. Baik tirani dalam arti penindasan terhadap martabat manusia dan pembunuhan massal ala Lenin, Pinochet, dan Pol Pot, maupun tirani dalam arti penyalahgunaan kekuasaan dan pemaksaan kehendak demi kepentingan pribadi dan kroni ala Mobutu, Marcos, dan Soeharto. Kekuasaan itu nikmat, ia memberi banyak fasilitas. Tetapi justru karena itu ia juga memabukkan; dapat menyeret dan menjerumuskan siapa saja pemiliknya ke dalam jurang kehancuran. Moralitas dan intelektualitas, dua hal penting yang tidak dapat tidak harus ada pada diri seorang penguasa yang baik, tidak cukup untuk membendung gempuran godaan kekuasaan. Sebab betapa pun manusia punya satu kelemahan yang sama; mudah dimabukkan oleh fasilitas, entah materi, pengaruh, atau juga popularitas. Belum kalau menyangkut soal "ketidakenakkan hati". Maka klop sudah, kelemahan manusia dipadu dengan kilau kekuasaan, hasilnya: manipulasi dan kesewenangan. Oleh karena itu, agar kekuasaan tetap pada fungsinya, yaitu sebagai pelayan dan bukan tuan, maka dibutuhkan sistem pemerintahan yang bersih dan budaya masyarakat yang kondusif untuk tumbuhnya ketulusan dan kejujuran serta sikap saling menghargai perbedaan. Dua hal yang justru belum ada di negeri kita. Kalau pun ada, masih dalam taraf belajar dan "merabaraba". Sistem pemerintahan kita sudah lama terkontaminasi virus kolusi, korupsi, dan nepotisme. Imbasnya pada mental suap dan penghalalan segara cara demi mengejar tujuan; jabatan lebih karena fasilitas, bukan kapasitas atau kredibilitas. Maka hukum dan keadilan tak kunjung berdiri tegak di atas semua golongan; ibarat orang tak juga sembuh dari sakit. Dan budaya masyarakat kita dalam mendukung kekuasaan yang elegant, juga masih belum beranjak dari "taraf TK"; mental tidak bisa menerima kekalahan, mental "pokoknya gua punya mau, bodo amat yang lain terganggu", mental "lempar batu lantas cuci tangan, dan mencari kambing hitam", mental kasak-kusuk dan jegal-menjegal; tak juga hilang.
28

Dalam situasi dan kondisi demikian, bahkan seorang Gus Dur dan Megawati; dua dari sangat sedikit elite politik di negeri ini yang masih kita percayai mempunyai hati nurani yang tulus, siapa berani menjamin tidak akan menjadi Soekarno atau Soeharto baru? Okelah, sebagai pribadi barangkali mereka tidak, tetapi bagaimana dengan kerabat dan orang-orang dekat mereka? Karena itu agenda, yang pertama dan terutama sekarang ini seharusnya bukan penggeseran Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati (mudah-mudahan Mbak Mega punya mata batin yang jernih untuk melihat motif dibalik niat para penjegalnya dahulu mengojok-ngojok dia menjadi Presiden), tetapi bagaimana meluruskan sistem pemerintahan kita, dan mendewasakan budaya masyarakat kita dalam berdemokrasi. Rasanya itu jauh lebih baik, daripada kita meributkan soal pergantian Presiden. Memang tidak mudah, tetapi paling tidak kita bisa memulainya dari diri sendiri di lingkngan kita yang paling dekat. NAMA Hampir semua orang kenal Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid Tuhan Yesus. Jabatan resminya bendahara. Sepanjang sejarah orang mengingatnya, mengenang ciumannya di Taman Getsemani, dan... mengutuknya sebagai pengkhianat! Tetapi tahukah Anda, kenapa Yudas mengkhianati Tuhan Yesus? Jelas bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa dia menghargai-Nya hanya 30 keping uang perak. Kalau mau, tentunya dia bisa meminta harga yang jauh lebih tinggi. Dan pula, setelah mendapatkan uang itu kenapa dia malah membuangnya? Juga jelas bukan karena Yudas membenci-Nya. Sebab kalau betul karena benci, tentunya dia merasa senang ketika Tuhan Yesus akhirnya ditangkap. Kenapa dia malah menyesal setengah mati sampai-sampai nekad gantung diri. Lalu karena apa? Kuat dugaan, karena Yudas ingin memaksakan kehendaknya. Dia ingin Tuhan Yesus bertindak sesuai dengan keinginannya, berlaku seperti yang dia mau. Begitulah kalau keinginan sudah menjadi tuan. Segala cara akan dihalalkan. Suara hati tidak lagi didengar. Tetapi masalahnya di sini bukan itu. Masalahnya adalah nama. Kata Yudas adalah bentuk Yunani dari kata Ibrani Yuda, yang artinya: Terpujilah Tuhan. Sungguh sebuah nama yang indah. Tetapi kenapa kenyataannya malah seorang pengkhianat? Benar kata Shakespeare, "What's in a name?", apalah arti sebuah nama. Nama tidak menjadi jaminan perilaku penyandangnya. Seperti, sebut saja, orang yang bernama Luhur, bisa jadi kelakuannya malah rendah. Atau orang yang bernama Aquinas, tidak dijamin pribudi dan kepandaiannya seluhur Thomas Aquinas, seorang filsuf sekaligus teolog hebat pada Zaman Skolastik. Sama juga dengan orang yang namanya Ayub, tidak lantas dia panjang sabar dan tahan banting seperti tokoh Ayub dalam Alkitab. Jadi sebuah nama bisa saja sekadar pepesan kosong. Indah artinya, tetapi tidak sesuai dengan perilaku penyadangnya. Seperti Yudas Iskariot. Artinya bagus, tetapi jebulnya justru seorang pengkhianat. Sungguh berat memang menyandang beban arti sebuah nama. Lebih berat dari menyandang segala atribut kesarjanaan. Barangkali jauh lebih baik seorang yang bernama Jangkrik atau Kuya, tetapi memiliki pribudi seorang satria pinandita. JUJUR Waktu kecil saya pernah mendengar pepatah, "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana." Ibu saya juga sering bilang, "Jadi orang itu harus jujur, harus bisa dipercaya orang lain. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirimu juga. Supaya hidupmu lebih mudah." Lalu saya mencoba jujur. Paling sedikit, tidak terlalu menyimpang dari nilai-nilai kejujuran yang saya anut. Kalau saya tidak menyetujui sesuatu, saya katakan itu. Kalau saya tidak
29

menyukai sesuatu atau seseorang, saya ungkapkan itu; entah lewat sikap atau melalui ucapan. Saya pikir, suka atau tidak suka itu toh hak setiap orang, tidak dapat dipaksakan. Asal tidak dengan niat jahat. Demikian juga kalau saya sedang dalam pergulatan batin mengenai sesuatu, saya tidak sungkan untuk menampakkannya. Sampai-sampai pernah ada seorang teman yang bilang, bahwa saya ini terlalu transparan. Tetapi apa yang saya dapatkan? Justru berbagai benturan. Saya malah banyak berkubang dalam kesulitan. Sebab ternyata tidak semua orang siap dan senang menerima ketidaksetujuan orang lain. Apalagi kalau itu datangnya dari yang lebih muda atau bawahan, malah dianggapnya sebagai keras kepala atau pemberontakan. Tidak semua orang siap dan mampu menerima sikap tidak suka dari orang lain. Mereka mungkin lebih senang menerima senyum di bibir atau anggukan menghormat sekalipun palsu. Repotnya lagi, tidak semua orang siap dan bisa mendengar pergulatan batin orang lain dengan hati bersih, pikiran yang dewasa, dan niat baik; malah tidak jarang mereka memakainya sebagai senjata untuk menghakimi dan menuntut. Jujur saja ternyata memang tidak cukup. Perlu juga diiringi sikap bijak. Kejujuran tanpa kebijakan sama dengan ketulusan tanpa kecerdikan: kebodohan. Jujur dan bijak, seperti juga cerdik dan tulus, adalah dua sisi dalam satu mata uang yang sama. Yang satu dan yang lain tidak boleh diabaikan. Tuhan, karuniakan kepada saya bukan saja sikap jujur tetapi juga sikap bijak. Supaya kejujuran saya ini tidak justru membuat orang lain berdosa. Sebab kalau itu terjadi, di situ saya pun telah berdosa. SABAR Sabar. Bisa jadi ini bukan sikap yang paling menentukan dalam hidup seseorang. Berhasil atau gagal, bahagia atau kecewa, tak selalu berkaitan langsung dengan sikap sabar. Tetapi hampir dapat dipastikan, ketidaksabaran bisa mempersulit diri sendiri. Bahkan juga orang lain. Membuat rumit apa yang sebenarnya sepele. Lihat saja ini, yang terjadi suatu kali di satu sudut Jakarta. Masalah sebenarnya sederhana, sebuah sedan mogok agak ke tengah jalan. Seharusnya itu tidak menjadi soal besar, jalan di kanan dan kiri masih cukup lebar untuk dilalui kendaraan lain. Hanya memang harus perlahan-lahan. Cuma ya itu tadi, kendaraan dari kiri tidak sabar lantas nyerobot jalur kanan. Kendaraan dari kanan tidak mau kalah, nyerobot jalur kiri. Jadinya macet total. Maju tidak bisa, mundur juga tidak bisa. Kalau sudah begitu, maka orang jadi mudah naik darah. Caci maki berhamburan. Malah ada pengemudi yang sampai memukul-mukul stir mobilnya sendiri. Yang kasihan sopir sedan yang mogok, disumpahin sana sini. Padahal siapa lagi yang kepingin mogok di tengah jalan. Ah, tapi ini Indonesia, Bung! Konon, sumber kemacetan lalu lintas di mana saja adalah karena daya tampung jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan. Bisa betul sih. Logislah. Tetapi toh juga ada penyebab lain yang patut diperhitungkan. Yaitu ketidaksabaran para pengemudi; mental tidak mau ngantri dan ingin main serobot. Mending kalau memang ada hal lain yang penting dan genting. Tetapi seringnya 'kan tidak dengan motif apa-apa. Pokoknya ada kesempatan serobot, tak peduli akibatnya apa. Padahal kalau dihitung-hitung paling beda waktunya cuma dalam hitungan menit. Maka dalam banyak hal, terutama dalam kesesakan dan penantian, belajar sabar itu perlu. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diri kita sendiri. Betul, dengan bersabar tidak lantas persoalan menjadi beres, atau hidup menjadi lebih indah. Tetapi paling tidak, kita tidak mempersulit diri sendiri dan orang lain. Prinsipnya, jangan membuat masalah pada apa yang bukan masalah, dan jangan menambah masalah pada apa yang sudah jadi masalah. Untuk itu tidak ada sikap lain yang dibutuhkan, selain sabar.
30

Sandiwara Pekerjaan Oleh Jonathan Parapak Siapakah yang tidak ingin mendapat pujian dari boss? Kesenangan dan kebanggaan boss bisa membawa berkah. Gaji naik, bonus bertambah, dan mungkin juga promosi. Zaman Orde Baru banyak dipakai "laporan ABS" (Asal Bapak Senang). Laporan proyek selalu bagus, tak ada penyimpangan, tak ada masalah, semuanya mulus untuk menyenangkan boss. Realitanya? Proyek sarat korupsi, kadang tak bermanfaat, semuanya pemborosan. Simak saja berita banyaknya puskesmas di mana tak banyak orang, gedung sekolah tanpa murid, dan lain-lain. Wah, rupanya itulah sandiwara proyek alias "proyek-proyekan". Lebih parah lagi "banyaknya proyek fiktif" yang digelar pada berbagai tataran kekuasaan. Lihat saja kasus proyek pembagian sembako oleh pejabat tinggi negara! Dan, sandiwara tidak hanya terjadi di tingkat atas. Di pabrik, di departemen atau dunia bisnis, kalau ada boss, semuanya kelihatan sibuk, asyik bekerja, padahal tak ada yang dikerjakan. Mental ABS, telah merasuk di mana-mana. Kita ingin memberi kesan baik padahal bobrok; rajin padahal malas, produktif padahal tidak ada hasil. Semuanya bersandiwara untuk kesenangan boss. Sandiwara serupa juga terjadi di rumah. Anak kalau ada ayah, ibu kelihatan rajin belajar, padahal pura-pura belajar, pikirannya di tempat lain. Lebih parah lagi mungkin di lingkungan gereja, banyak yang rajin koor, melayani, tetapi sesungguhnya tak senang di rumah karena istri yang cerewet atau suami tukang marah. Sangat memprihatinkan bahwa dunia kerja kita penuh dengan sandiwara. Kalau kita simak kehidupan Yusuf (Kejadian 39-45), kita dapati seorang yang setia, dunia kerjanya penuh kesempatan untuk bersandiwara, namun karena komitmennya kepada Allah, Yusuf selalu melakukan yang terbaik, baik sebagai budak, narapidana maupun di istana. Rasul Paulus dalam suratnya ke Jemaat Kolose menegaskan, bahwa sebagai manusia baru, manusia yang sudah diselamatkan hendaknya "Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (Kolose 3:17) dan apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Bagi Paulus dan bagi kita yang berkomitmen untuk mengikut Yesus, tak ada ruangan untuk bersandiwara. Dia maha tahu, Dia mengetahui motivasi dan sikap kita, Dia tahu apa yang kita lakukan, kualitas pekerjaan yang kita hasilkan, tak mungkin bersandiwara di hadapan Tuhan. Oleh karena itulah, Paulus sendiri dalam suratnya ke jemaat di Roma, mengajak kita untuk "Demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu, sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah; itulah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:11). Pekerjaan kita adalah bagian dari ibadah kita. Pekerjaan kita adalah persembahan kepada Tuhan. Kalau demikian, tidakkah kita seharusnya melakukan yang terbaik? Ada boss duniawi atau tidak, kita memberikan yang terbaik karena "Boss Surgawi" terus-menerus melihat kita. Memang Paulus dalam suratnya ke jemaat di Roma menegaskan; janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Kalau dunia bersandiwara, munafik, maka marilah dalam bekerja dan berkarya, kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan sebagai bahagian dari ibadah kita yang sejati. Tuhan memampukan dan menolong kita!* 260304

31

Sandiwara Pernikahan Oleh Jonathan Parapak Raja dan ratu sehari adalah julukan yang sering kita pakai untuk pengantin di Indonesia. Mereka dirias begitu hebat, sehingga sering sekali kita tidak lagi mengenali orangnya. Sungguh suatu sandiwara kemegahan atau kecantikan untuk dipamer bagi kehadiran tamu yang kadang-kadang jumlahnya sampai beberapa ribu orang. Lebih parah lagi, kadang kita dengar mereka dinikahkan karena "kecelakaan". Suasana yang demikian, sungguh menyedihkan, kalau kita simak bagaimana Allah merancang pernikahan. Bagaimana Adam begitu bahagia menyambut Hawa. "Ini dia, tulang dari tulangku, daging dari dagingku". Dan bagaimana Tuhan mengamanatkan, ".dan mereka menjadi satu daging" dan "Apa yang dipersatukan oleh Tuhan jangan sampai diceraikan manusia". Pernikahan dirancang Tuhan untuk kebahagiaan manusia dan kemuliaan Tuhan. Dapatkah kita bayangkan bagaimana sedihnya Tuhan, melihat pasangan yang terpaksa dinikahkan; melihat pasangan yang menikah dengan motif uang, jabatan, atau hanya karena terpesona kecantikan lahiriah, yang mungkin adalah ramuan salon atau kedokteran. Kita sedih menyaksikan bagaimana "nilai cinta kasih" oleh banyak film sudah direndahkan hanya pada tataran hubungan seks dan ketertarikan fisik. Manusia secara fisik mengalami perubahan karena umur, maka sulit membayangkan pernikahan yang langgeng hanya karena daya tarik kecantikan fisik. Pada zaman orde baru, sering juga kita dengar seorang pejabat tampil dengan istri yang katanya hanya untuk konsumsi publik. Kenyataannya mereka tidak lagi saling mencintai. Kalau ketahuan ada istri muda, maka pejabat yang bersangkutan akan menghadapi masalah jabatan. Suasana ini pun hanyalah suatu "sandiwara pernikahan" untuk maksud tertentu. Sangat menyedihkan! Ada lagi cerita lain. Di suatu daerah wisata, banyak dijumpai perempuan yang menikah dengan orang asing. Katanya pernikahan itu sah, tetapi hanya berumur 3 minggu atau sebulan. Kita bisa terka motivasi pernikahan yang demikian. Memang dalam dunia ini kita dapati begitu banyak sandiwara yang terkait dengan pernikahan. Lebih memprihatinkan lagi "kumpul kebo" semakin biasa, sehingga lembaga pernikahan, mulai banyak dipertanyakan. Fenomena ini cukup merisaukan, menjadi tantangan bagi kita, bagi masyarakat kita dan bagi gereja! Kalau kita peduli, maka para keluarga kristiani seyogianya dipersiapkan untuk menghadapi tantangan-tantangan sekuler, melalui pelayanan keluarga, penyiapan pemudapemudi menghadapi pernikahan, dan pemberdayaan keluarga-keluarga muda agar mereka siap menghadapi tantangan dan menikmati pernikahan mereka yang diperkaya dan diberkati Tuhan, sehingga keluarga mereka adalah keluarga yang memuliakan Tuhan.* 030304 Sandiwara Cinta Kasih Oleh Jonathan Parapak Pada hari-hari menjelang Natal, berbagai panti pelayanan panen hadiah. Panti asuhan banyak dikunjungi panitia natal instansi, perusahaan atau persekutuan doa. Anak-anak panti cukup sibuk, bahkan mereka lelah dipamer agar dapat diambil televisi, disiarkan untuk mengumandangkan bahwa panitia natal instansi tersebut peduli dan menyatakan ungkapan kasih kepada anak-anak di panti asuhan. Kita syukuri adanya kepedulian dari berbagai pihak kepada anak-anak kita yang sangat membutuhkan cinta kasih; mereka perlu ditolong, dibantu agar menikmati cinta kasih dari sesama, yang mungkin langka mereka alami.
32

Pertanyaannya adalah apakah pemberian dan perhatian itu tulus sebagai ungkapan cinta kasih? Kalau hanya terjadi sekali setahun, kalau hanya dilakukan agar disiarkan oleh televisi atau ditulis oleh surat kabar, siapakah yang mendapatkan keuntungan? Oleh karena itu, banyak dari pemberian kita atau kepedulian kita mungkin hanyalah sebagai sandiwara cinta kasih saja. Orang bijak mengatakan, "Orang yang mengasihi pasti memberi tetapi orang yang memberi belum tentu mengasihi". Tuhan Yesus dengan ceritanya tentang "Orang Samaria yang murah hati" (Lukas 10:25-37) menegaskan kepada kita, makna yang dalam tentang mengasihi. Banyak diantara kita mungkin ahli dalam mendiskusikan cinta kasih (mungkin orang Lewi termasuk demikian), namun tak mau direpotkan dengan orang yang lagi menderita dan memerlukan uluran tangan. Di pihak lain, hati dan perasaan kita sungguh tersentuh oleh mereka yang dengan tulus menolong sesama tanpa menghiraukan perlunya televisi, berita Koran, atau tepuk tangan riuh-rendah. Itulah yang harusnya kita perbanyak, namun orang-orang tulus seperti Ibu Teresa tampaknya semakin jarang kita jumpai. Di pihak lain semakin marak pesta besar yang didanai dari uang yang tak jelas asal-usulnya; semakin banyak mobil-mobil mewah berkeliaran yang katanya dimiliki oleh para pejabat, politisi, dan pengusaha muda. Jalan-jalan yang dilalui penuh dengan orang-orang yang miskin, yang menantikan perhatian dari kita semua. Di tengah-tengah suasana krisis moral dan krisis kemiskinan saat ini, sangat kita perlukan orang-orang yang dengan tulus bekerja keras untuk mengangkat saudara-saudara kita dari belenggu kemiskinan. Mereka yang dengan tulus mau menerima mereka-mereka yang sudah terpinggirkan, termarginalisasi. Marilah kita mencontoh cinta kasih Sang Bapa yang menyambut anak-Nya yang hilang yang kembali kepada Bapa, sesudah menghabiskan harta warisannya. Dia tak layak dikasihani, dia harusnya dihukum. Namun karena dia bertobat, Bapanya mengampuni dia dan dia diterima kembali sebagai anak. Pesta yang diadakan untuk dia adalah pesta yang tulus, bukan sandiwara cinta kasih. Marilah kita mencontoh cinta kasih "orang Samaria", cinta kasih yang rela berkorban; cinta kasih yang menembus dinding pemisah; cinta kasih yang tulus tak ragu berkorban, tak ragu mengambil resiko untuk mengasihi sesamanya manusia.* 130204 Sandiwara Tahun Baru Oleh Jonathan Parapak Terompet berbunyi penuh semarak, langit hitam dihiasi kembang api, riuh-rendah gelak-tawa sambil saling mengucapkan "Selamat Tahun Baru". Menarik sekali perilaku manusia, yang sepertinya "mengkhususkan", bahkan mengajaibkan menit pertama dari suatu tahun kalender. Manusia rupanya memerlukan momen-momen tertentu dalam hidupnya untuk mengekspresikan perasaan kegembiraan. Tak salah bergembira dan bersyukur. Namun kalau kita saksikan dunia menghamburkan uang dalam pesta-pora, kembang api, dan lain-lain, wajar kita bertanya "Ini apa lagi?" Apakah ini suatu sandiwara Tahun Baru kreasi dunia bisnis yang pada saat-saat terakhir ingin meraup keuntungan sebelum tutup buku? Mungkin saja itu adalah penyebabnya. Namun kalau kita amati perilaku setiap manusianya, bisa bermacam-macam alasan. Mungkin saja itu merupakan perayaan keberhasilan dalam satu tahun. Wajar-wajar saja! Mungkin pula itu merupakan cara untuk melupakan kekecewaan dan perasaan frustrasi yang menjadi beban selama tahun yang baru lewat. Kalau kita simak uraian-uraian Alkitab, memang Tuhan Yesus menkotbahkan kebahagiaan dalam Matius 5 (Khotbah di Atas Bukit). Yang menarik adalah yang dianggap bahagia adalah orang-orang yang miskin di hadapan Allah. Orang-orang yang berduka cita. Orang-orang yang
33

lapar dan haus akan kebenaran. Orang-orang yang suci hatinya. Orang-orang yang membawa damai. Ternyata kebahagiaan yang ditawarkan Tuhan Yesus lain dari yang kita cari dalam acara tahun baru. Rasul Paulus menulis dari dalam penjara ke jemaat di Filipi, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!" (4:4). Bukan hanya pada permulaan tahun. Sukacita orang-orang percaya berintikan penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus bagi orang yang bertobat dan percaya. Memang akhir tahun adalah kesempatan yang baik bagi kita semua untuk mengevaluasi hidup kita di hadapan Tuhan. Selain bersyukur, seyogianya kita berusaha untuk memperbaiki, memperbarui hal-hal yang perlu. Sehingga dengan demikian yang lebih mengemuka adalah komitmen baru, resolusi tahun baru untuk hidup lebih berkenan kepada Tuhan. Bahkan baik juga mengadakan analisis K3T (Karunia/kekuatan kita, Kelemahan kita, Kesempatan yang diberikan Tuhan dan tantangan yang dihadapi - SWOT). Semuanya kita bawa kepada Tuhan sehingga dalam tahun 2004 kita dituntun, diberi hikmat untuk dapat mengatasi masalah dan tantangan. Menghadapi suatu periode waktu, memerlukan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, sebaiknya kita juga berusaha untuk merencanakan kehidupan selama tahun yang baru bersama Tuhan. Selamat tahun baru, semoga Sandiwara Tahun Baru tidak membuat kita lupa akan Tuhan, lupa akan karunia dan pimpinan Tuhan, lupa akan panggilan Tuhan. Tetapi justru tahun baru mendorong kita untuk berkomitmen, terus-menerus memperbaiki, memperbarui diri, agar kita diperkenan menjadi pengikut-pengikut Tuhan yang setia.* 300104 Sandiwara Persembahan Oleh Jonathan Parapak Pesembahan di kalangan umat kristiani adalah suatu kata dan konsep yang sangat umum. Hampir di mana ada pertemuan umat, di situ "katanya" ada persembahan. Ia bisa berwujud kotak persembahan, pundi persembahan, lelang barang sebagai persembahan, lagu pujian koor, atau vocal group sebagai persembahan. Persembahan identik secara formal dengan memberikan sesuatu untuk Tuhan. Yang merisaukan adalah banyak dari persembahan itu tidak lain adalah bagian dari sandiwara agamawi, yang realitasnya hanyalah keterpaksaan, rutinisme, bahkan gengsiisme. Simak saja apa yang terjadi dengan persembahan mingguan atau bulanan. Pada umumnya, dengan alasan keterbukaan maka nama penyumbang dan jumlah sumbangan diumumkan dalam warta gereja. Di sana kelihatan siapa yang menyumbang banyak dan mendapat perhatian dari jemaat. Kalau tidak pakai nama, jumlah sumbangan berikutnya akan menurun. Nah, apakah pengumuman persembahan itu adalah sungguh-sungguh persembahan? Ataukah kesempatan persembahan dalam gereja sudah dipakai untuk pamer? Simak juga "lelang" yang diadakan oleh beberapa kelompok. Pelelang mendorong, kadang-kadang memaksa, agar banyak uang yang diberi. Peserta didorong untuk berkompetisi, gengsi diangkat-angkat untuk mengeruk dana dari partisipan. Adakah cara ini persembahan yang turus atau murni? Sering pula kita dapati: kebaktian atau acara dengan "persembahan koor", katanya bagian dari ibadah! Karena banyaknya bisa sampai 5, 6, 10 koor sehingga ibadah berubah menjadi parade bahkan "pameran" koor, yang belum tentu mendukung ibadah. Bahkan, menyebabkan peserta ibadah gelisah, kesal dan lain-lain. Kalau demikian, apakah itu persembahan? Persembahan untuk siapa? Semua ini serba menarik karena Firman Tuhan tegas menasihatkan agar dalam memberi supaya tulus dan ikhlas, yang diberi oleh tangan kanan, tangan kiri pun jangan tahu (Matius 6:3). Jadi, Firman Tuhan menuntut ketulusan, keikhlasan, pengorbanan, dan persembahan yang berkenan kepada Tuhan.
34

Simak saja Roma 12:1, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" dan apa yang terjadi dengan Ananias dan Safira (Kisah Para Rasuk 5:1-11). Dalam hal Ananias dan isterinya, tak ada alasan untuk berbohong, kecuali dorongan gengsi, maka kesalahan keluarga itu adalah berbohong/bersandiwara di hadapan Tuhan. Hukumannya sangat cepat, kedua suami isteri meninggal. Bersandiwara memang mengasyikan, mengangkat gengsi tetapi alangkah busuknya di hadapan Tuhan. Dalam Alkitab kita baca persembahan yang diterima Tuhan seperti yang dilakukan Habel. Dia memang secara manusia menanggung kematian karena kemarahan dan iri hati saudaranya. Abraham rela mempersembahkan putranya sebagai tanda kesetiaannya dan imannya kepada Tuhan yang dia sembah. Tuhan Yesus memperhatikan persembahan seorang janda dari kekurangannya. Tuhan Yesus sendiri rela menderita disalib dan mati untuk menyelamatkan yang berdosa. Contoh-contoh ini mengajak kita untuk memeriksa diri, memeriksa motivasi kita dalam memberi! Jangan-jangan pemberian kita adalah keterpaksaan; atau pameran kekayaan, atau uang sogok untuk mendapat sanjungan dan popularitas. Persembahan yang benar dan berkenan kepada Tuhan adalah persembahan yang lahir dari hidup yang bertobat (Matius 5:24); persembahan yang merupakan kerelaan berkorban (seperti janda miskin, Lukas 21:4), persembahan yang merupakan bagian dari persembahan tubuh (Roma 12:1) dan merupakan persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah sehingga merupakan "ibadah yang sejati". Marilah kita dengan tulus, dengan iman yang teguh, hanya menyembah Dia Sang Juruselamat kita, dan rela memberikan yang terbaik bagi kemuliaan nama-Nya. * 160104 Sandiwara Keluarga Oleh Jonathan Parapak Siapakah di antara kita yang tidak peduli dengan nama baik keluarga? Banyak yang rela mempertaruhkan nyawanya demi nama baik keluarga. Lihat saja "Budaya Siri" di Sulawesi Selatan, yang mendorong tindakan mengorbankan apa saja, demi nama baik. Saya kira memang nama baik wajar untuk dibela dan dipertahankan. Yang ingin diangkat dalam tulisan ini nama baik yang mana? Yang murni, tulus, atau yang hanya sandiwara kehidupan keluarga? Kadang demi nama baik, "perselingkuhan" dijaga, dirahasiakan dengan biaya berapa pun. Demi nama keluarga, "anak yang tidak naik kelas" dipindahkan ke sekolah lain. Demi nama baik keluarga, putra yang kena narkoba dipindahkan keluar daerah--biar nama baik terjaga sebagai keluarga yang baik-baik. Banyak pasangan yang sesungguhnya mengalami masalah besar dalam pernikahan, tetapi dirahasiakan demi nama baik keluarga. Kita sangat kreatif dalam menggelar sandiwara kehidupan, agar borok, persoalan keluarga kita tidak diketahui orang dan nama baik kita terpelihara. Sandiwara kehidupan ini, tanpa kita sadari, sesungguhnya lebih seperti kanker kehidupan yang kita pelihara, dan pada waktunya akan menghancurkan keluarga kita. Sandiwara kehidupan keluarga mungkin berlangsung tanpa kita sadari. Simak saja beberapa contoh di bawah ini: * Pak Ali hampir tiap hari pulang malam, katanya bekerja lembur (tidak dibayar); menurut pikirannya, dia berjuang demi keluarga. (Pak Ali tanpa sadar ingin memberi pesan kepada keluarga istrinya bahwa ia bekerja keras untuk keluarganya--walaupun gajinya pas-pasan
35

saja"). * Benny tiap malam belajar dalam kamarnya supaya dapat memenuhi harapan bapaknya, juara I seperti bapaknya dulu waktu masih sekolah. (Pada dasarnya, Benny terbebani dengan beban harapan orangtuanya. Walaupun hasil rapornya sudah di atas rata-rata 7, waktu ia memperlihatkannya kepada ayahnya, ia tetap dimarahi: "Anak malas! Harusnya di atas 8!"). * Ibu Nona, rajin dalam pelayanan dan persekutuan. Ia tampil seperti nyonya/ibu yang harmonis, bisa mengendalikan segala persoalan (Ibu Nona, sesungguhnya tidak betah di rumah, karena rumahnya sempit dan suaminya rewel sekali, hobinya hanya menonton TV). Dari contoh-contoh di atas, kita dapat simak bagaimana mudahnya kita terjerumus dalam berbagai sandiwara! Apakah yang sesungguhnya diharapkan oleh Tuhan? Yang diminta oleh Tuhan adalah kejujuran, ketulusan; simak saja apa yang terjadi dengan Ananias dan Saphira di hadapan para Rasul. Sandiwara mereka berakhir dengan kematian. Apakah yang diharapkan Tuhan dari keluarga kita? Keluarga terdiri dari suami, istri, dan anak. Dalam konteks penciptaan, semua adalah manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-28). Mereka diberi kemuliaan dan hormat (Mazmur 8:6). Alkitab menegaskan bahwa manusia, keluarga adalah ciptaan yang amat mulia, diberi potensi yang luar biasa. Tanpa sandiwara, manusia di hadapan Tuhan sudah sangat berharga, dan menjadi obyek kasih Tuhan yang luar biasa. Menurut pemazmur 133, Tuhan amat berkenan pada keluarga yang rukun dan damai, ke sanalah Tuhan akan memerintahkan berkat-Nya. Tuhan menghendaki agar dalam keluarga cinta kasih yang tulus dan murni dapat ditumbuh kembangkan antara suami dan istri antara orangtua dan anak (Efesus 5:22,23). Dari beberapa kutipan ayat Alkitab ini, dapat kita lihat bahwa "tak ada ruangan sandiwara dalam kehidupan keluarga; tak ada rahasia atau kepura-puraan--"mereka menjadi satu" (Kejadian 2:24). Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang pola hidup, perilaku, dan komunikasinya memancarkan cinta kasih yang tulus dan murni secara konsisten. Mereka tidak berarti luput dari tantangan dan masalah. Tetapi dalam menghadapi semuanya itu mereka dapat menghadapinya, menyelesaikannya di bawah terang Firman Tuhan dan penyertaan Tuhan. Marilah kita hilangkan semua sandiwara, kita gantikan dengan kata, pikiran, dan perilaku yang tulus, jujur, dan sarat cinta kasih. * Sandiwara Pelayanan Oleh Jonathan L Parapak Pelayanan sudah berkembang menjadi bagian dari kesombongan rohani, dan pelarian dari realitas kehidupan. Percakapan di antara para aktivis gereja atau persekutuan cenderung membuat kesibukan pelayanan, seolah-olah suatu daftar prestasi yang dapat dibanggakan. Kalau ungkapan-ungkapan itu keluar dari hati yang tulus dan peduli, maka akan nyata bahwa pelayanannya adalah panggilan murni baginya dari Tuhan untuk menjadi kawan sekerja Allah. Kemurnian motivasi pelayanan kini banyak menjadi sorotan. Dengar saja pandangan warga jemaat bahkan dosen sekolah tinggi teologia, yang banyak mengeluhkan motivasi mereka yang masuk ke sekolah tersebut. Apa yang berkembang adalah institusi STT dan seterusnya institusi gereja menjadi panggung sandiwara pelayanan untuk memenuhi ambisi pribadi. Banyak pemuda-pemuda kita yang "katanya sangat terpanggil dalam pelayanan", baik di gereja, kampus, sehingga begitu sibuk dan kuliahnya terlantar dan hubungan kekeluargaannya menjadi gersang. Kadang dikutiplah alasan pelindung "pengikut Kristus yang memikul salib" (Lukas 14:17), tetapi di balik itu semua adalah ego yang ingin tampil, dihormati dan dikagumi. Pelayanan menjadi sandiwara penampilan egoisme dan kepentingan pribadi.
36

Kadang juga kita jumpai mereka yang senang dipanggil hamba Tuhan, yang bekerja begitu keras, dengan waktu yang lama, sehingga tak ada lagi waktu dan energinya untuk keluarga. Alasannya adalah semuanya dipersembahkan kepada Tuhan (Roma 12:1), tetapi di balik itu adalah dorongan untuk diakui sebagai pelayan yang habis-habisan untuk kemuliaan Tuhan. Sandiwaranya adalah "pelayan yang memberikan/mengorbankan dirinya dan keluarganya!" Saya yakin banyak hamba Tuhan yang melayani dengan tulus, yang berupaya hidup holistik di hadapan Tuhan, namun karena kebutuhan pelayanan, kadang sulit untuk juga memberi perhatian yang cukup bagi keluarganya dan kesehatannya. Mengapa sandiwara pelayanan diangkat dalam tulisan ini? Seperti digambarkan di atas, nampaknya "pelayanan sudah diperalat", sudah menjadi kendaraan politik, kendaraan gengsi, kendaraan ambisi pribadi. Motivasi yang salah dalam pelayanan banyak disoroti oleh Tuhan Yesus sendiri. Pelayanan adalah kesediaan untuk berkorban (Yohanes 3:16, Filipi 2:1-11). Pelayanan adalah kesediaan untuk merendahkan hati (Yohanes 13:4-11). Pelayanan adalah respons kita atas panggilan Kristus (Yohanes 15:16). Sejarah gereja penuh dengan tokoh-tokoh yang karena pertobatan, dengan sungguh melayani Tuhan. Lihat saja Paulus yang bekerja keras, menderita, dipenjara untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil. Lihat saja para misionaris yang pergi dari Amerika dan Eropa ke berbagai penjuru dunia. Lihat saja Ibu Theresa, karena panggilan Tuhan, memberikan segalanya bagi pelayanannya. Dalam pelayanan yang tulus dan murni tidak ada sandiwara. Sandiwara pelayanan bukanlah dilakoni mereka yang sungguh-sungguh terpanggil untuk melayani. Yang bersandiwara adalah mereka yang hatinya, panggilannya bukanlah pelayanan tetapi memakai pelayanan untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Janganlah kita terjerumus dalam sandiwara pelayanan, melainkan layanilah Tuhan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. * Sandiwara Kehidupan Oleh Jonathan L Parapak Siapakah di antara kita yang tidak mendambakan kehidupan penuh damai sejahtera, berkecukupan, maju, dan terpandang? Tidak sedikit pula yang menginginkan kehidupan yang selalu marak, dinamis, penuh gairah, sukses, berkuasa, dan berpengaruh! Maslow sendiri mencoba memberi klasifikasi "kebutuhan manusia"--dari memenuhi kebutuhan fisik minimum sampai aktualisasi diri. Dorongan pemenuhan berbagai kebutuhan, telah menumbuhkembangkan berbagai keanehan dalam hidup. Saya tidak akan membahas kebutuhan/kehidupan manusia dari sudut pandang teori Maslow. Yang menjadi keprihatinan dan perhatian tulisan-tulisan ini adalah "maraknya sandiwara kehidupan"--ini kalau memakai kata yang santun, tetapi intinya adalah "maraknya kemunafikan dalam hidup ini", maraknya "pameran kehidupan", bahkan mungkin maraknya kebohongan dalam kehidupan kita, yang mungkin Maslow sendiri dapat memberi penjelasan dan terapinya. Begitu banyak ilmu telah berupaya untuk memahami kehidupan ini. Ilmu filsafat, ilmu psikologi, teologi, dan lain-lain, yang pada umumnya lebih banyak memahami apa yang terjadi daripada mengapa terjadi, dan bagaimana "sandiwara, kemunafikan, kesombongan, pamer" dikurangi bahkan kalau dapat dihilangkan. Sukses tersebut akan mengembangkan ketulusan, kejujuran, saling menerima, dan saling mengasihi antarsesama manusia, sehingga akan berkembang kehidupan kebersamaan dalam masyarakat yang semakin harmonis. Lebih mendalam lagi, kehidupan spiritual kita akan berkembang dengan sehat, holistik dan penuh kedamaian dan kenikmatan. Kalau kini bangsa dan masyarakat kita lagi marak dengan kemunafikan, kebohongan publik, krisis moral, maka kita harus mencari akar permasalahan. Sandiwara kehidupan tidak berpretensi untuk menyodorkan solusi komprehensif. Tulisan-tulisan ringkas yang disajikan,
37

dimaksudkan sebagai upaya untuk secara gamblang mengangkat begitu banyaknya sandiwara kehidupan kita lakoni, sadar atau tidak sadar, membawa kita pada kemerosotan moral, kemunafikan, sehingga merusak berbagai sendi-sendi kehidupan baik pribadi maupun keluarga, bahkan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Dengan bercermin pada berbagai kasus yang diangkat, kiranya kita secara jernih kembali menyadari betapa mulianya nilai-nilai kemanusiaan seperti kebenaran, keadilan dan keindahan. Penulis mendambakan agar dengan kesadaran, pertobatan, kita kembali menghargai nilai-nilai universal kemanusiaan, yang dapat mendorong kita untuk saling menghargai, saling menerima, dan saling bekerja sama, bersinergi dalam membangun bangsa dan negara. Lebih dalam lagi, sorotan sandiwara kehidupan dalam tulisan ini didasari pada nilai-nilai dan amanat Alkitab sebagai kitab suci yang diyakini umat kristiani. Menyimak berbagai contoh dari Alkitab, kita dapati bahwa berbagai sandiwara kehidupan yang diangkat, bukanlah barang baru, nampaknya sudah hadir sepanjang sejarah manusia, dengan format dan bentuk yang berbeda, sesuai perkembangan dan budaya masyarakatnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh putus asa, melainkan tetap dan terus berpengharapan akan hidup dan masa depan orang percaya "yang berkelimpahan". Harapan penulis, kiranya Tuhan, Roh Kudus, membarui kita, dan kita meninggalkan "bersandiwara" dan menjadi insan-insan pembaruan yang tulus, jujur, dan berpengharapan. Sandiwara Spiritualitas Oleh Jonathan L Parapak Sandiwara spiritualitas rupanya sudah marak dari zaman dulu. Lihat saja Raja Herodes yang katanya ingin menyembah "Bayi yang lahir itu"--padahal, ia ingin membunuh-Nya. Atau pemuka agama yang kalau berdoa mengambil tempat di rumah ibadat dan tikungan jalan, supaya mereka dilihat orang (Matius 6:5-15). Mereka berpuasa dengan pameran "muka muram" agar kelihatan berpuasa! Kalau kini kita menyaksikan doa politik, doa bersama berbagai umat, apakah juga bagian dari pamer kesalehan kita? Memang soal sandiwara spiritualitas ini banyak bentuknya sekarang ini. Di daerah yang aman, kita lihat para umat dengan pakaian khas pergi gereja, menjinjing Alkitab, kadang dengan mudah terbaca sepertinya ada pengumuman: "Lihat aku saleh, aku rajin ke gereja." Sementara itu, di daerah yang tidak aman, di KTP tetulis "agamanya lain" pun tak dipersoalkan! Begitu banyaknya simbol-simbol keberagaman yang sudah cenderung menjadi "sandiwara keagamaan". Jumlah gereja di suatu tempat, telah menjadi ukuran utama kehidupan beragama di tempat itu. Jumlah pengunjung ritual dan perayaan keagamaan, merupakan ukuran kesalehan masyarakatnya, tidak peduli banyaknya penjudi, pemakai narkoba dan pelacuran dalam masyarakat, dan pola hidup kesombongan dan gengsi-gengsian. Apakah ini berarti kita semakin sukses bersandiwara? Kalau kita amati penampilan ritual kehidupan beragama para pejabat atau pengusaha, kita bangga dipimpin oleh orang-orang saleh. Namun pada saat kita membaca penilaian lembaga-lembaga asing, tentang peradilan kita, kita heran mengapa negeri tercinta termasuk yang terkorup dan sistem peradilan kita termasuk yang paling jelek di dunia (Kompas, 15 Juli 2002). Kita bangga dengan kehidupan kerukunan beragama, kesantunan masyarakat kita, kesalehan umat beragama kita. Namun dengan peristiwa yang relatif kecil cepat membesar menjadi bentrokan, kerusuhan bahkan sepertinya perang antar agama, apakah ini berarti kerukunan kita, kesalehan kita hanyalah sebatas sandiwara belaka? Kita dapat terus membuat daftar panjang yang mendorong kita bertanya mengapa begitu marak sandiwara spiritualitas di tengah kita? Pasti banyak jawaban yang dapat dikemukakan, yang mendorong kita bertanya terus:
38

* Apakah ritual dan simbol-simbol agamawi sudah kita pakai sebagai kendaraan gengsi sosial dan pengaruh politik? * Apakah penghayatan spiritualitas kita sudah melumpuhkan karakter kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi mampu bertanya secara kritis, hanya bisa ikut arus dan mudah tenggelam dalam gerakan massa? * Apakah spiritualitas kita hanya terbatas pada pengetahuan tentang agama kita, ritualitas, dan aturannya, sehingga substansi keimanan dan hubungan dengan Sang Pencipta, sesungguhnya hampa dan keropos? Banyak pertanyaan yang harus kita jawab. Beberapa yang dikemukakan di sini adalah contoh rangsangan untuk kita renungkan dan dan cermati. Penulis ingin mengangkat beberapa contoh yang disoroti oleh Tuhan Yesus sendiri. Cara berdoa misalnya (Matius 6:5-15). Doa adalah komunikasi antara kita yang berdoa dengan Allah yang Mahatahu, Makakasih, dan Mahakuasa. Tidak mungkin kita bersandiwara di hadapan-Nya. Dia Mahatahu, termasuk mengetahui sikap kita, motivasi kita, kebutuhan kita. Oleh karena itu, bersandiwara dengan doa, atau pamer doa, adalah suatu kebodohan kita. Mari kita ikuti saja saran Tuhan Yesus, yang menekankan ketulusan, kejujuran, kemurnian motivasi. Tak perlu pamer, masuk kamar, kunci pintu, dan berkomunikasi (berdoa) apa adanya dengan Sang Bapa, Allah yang Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahakasih. Mari kita mawas diri dan uji motivasi kita dalam keterlibatan kita di gereja, persekutuan, atau pelayanan tertentu. Jangan sampai kesalehan kita adalah perpanjangan ego dan gengsi kita-sepertinya Tuhan tidak bisa berbuat tanpa kita. Spiritualitas yang holistik yang dituntut Tuhan dari kita adalah dalam ketulusan, kejujuran, dan kemurnian kita membuka diri bagi Tuhan. Dialah yang menuntut kita dalam komunikasi kita dengan Dia; dalam kita diperkenan menjadi alat bagi-Nya; dalam kita berupaya hidup dalam satunya kata dan perbuatan, sehingga tak ada ruangan sandiwara dalam hidup kita, dan yang nyata bagi mereka di sekeliling kita adalah spiritualitas yang holistik, kehidupan yang memancarkan kebenaran, ketulusan, keadilan, kepedulian, cinta kasih yang tak bersyarat. Kalau kita mampu mewujudnyatakannya secara konsisten, kita doakan kiranya Tuhan semakin dimuliakan dalam hidup kita, dan sandiwara kita diubah menjadi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang semuanya merupakan persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan (Roma 12:1). Sandiwara "Damai Di Bumi" Oleh Jonathan L Parapak Kata "damai" mungkin termasuk yang paling banyak kita baca di media massa. Walau demikian, ternyata rasa damai, kedamaian, hidup damai, masih merupakan dambaaan dari begitu banyak anak manusia, anak bangsa di Indonesia. Nampaknya, kalau tidak ada perang, tidak ada perkelahian, kerusuhan, benturan fisik, maka damai dianggap ada. Pada saat-saat Natal, lagu "damai di bumi" banyak dikumandangkan, seolah-olah melupakan realitas ketidakdamaian di berbagai bagian Indonesia, bahkan seantero bumi. Keluarga dan pribadi pun banyak terbebani dengan ketidakdamaian. Kalau demikian apakah "damai" itu bagian dari sandiwara yang banyak menjadi bagian dari kehidupan kita? Saya tak punya statistik namun merasa bahwa "sandiwara damai keluarga" cukup meluas, mungkin sampai menjadi bagian dari 50% pasangan. Banyak yang sesungguhnya "tak ada dami lagi dalam keluarganya" namun demi pekerjaan, jabatan, nama keluarga, masalahnya diredam, dirahasiakan sehingga kedua belah pihak sangat pandai bersandiwara. Pada saat jabatan selesai, perceraian cepat selesai, dan istri muda pun segera tampil. Belum lagi, realitas perselingkuhan yang banyak diangkat oleh sinetron39

sinetron, yang antara lain adalah sandiwara kehidupan perselingkuhan. Dalam suatu masyarakat majemuk seperti Indonesia, pemeliharaan ketenteraman, kedamaian, dan perdamaian adalah suatu hal yang amat kompleks. Kita lihat saja Ambon, yang dulunya kelihatan rukun, ternyata dapat meledak begitu hebat sehingga sulit dimengerti oleh manusia dengan pikiran rasional. Lihat saja beberapa lingkungan di Jakarta, sepertinya tiada hari tanpa bentrok atau tawuran. Lihat saja Timur Tengah, yang sudah bertahun-tahun dilanda benturan dan perang. Solusi damai nampaknya masih jauh juga. Mengapa manusia begitu sulit dan mahal mendapatkan dan menikmati damai yang tulus, indah dan berkelanjutan? Masalah kedamaian memang mulai rusak di Taman Firdaus. Manusia dengan Tuhannya dirusak oleh dosa (Kejadian 3:1-19). Akibat dosa, manusia juga mengalami kerusakan lingkungannya. Tuhan Allah mengambil prakarsa damai, sehingga kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat dijanjikan. Persoalan yang ingin diangkat di sini adalah "dambaan dan kerinduan" begitu banyak anak manusia untuk menikmati kedamaian tetap berkobar. Namun, yang banyak terjadi bukan damai yang tulus, melainkan sandiwara damai. Nampaknya kita masih sangat kurang dalam kemampuan mengatasi konflik-konflik, apakah itu dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Sudah waktunya kita meninggalkan sandiwara kehidupan dan mulai belajar mengatasi berbagai kesalahpahaman, mis-komunikasi, egoisme kepentingan, membangun jembatan komunikasi antarkelompok dalam masyarakat, sehingga damai yang terbina atas dasar cinta kasih, kebersamaan yang saling peduli dan saling menghargai dalam komunikasi terbuka yang harmonis, menghargai perbedaan. Prakarsa Tuhan yang membangun komunikasi perdamaian dengan manusia melalui kehadiran Yesus Kristus, sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar, kiranya menjadi inspirasi dan contoh bagi kita dalam menumbuh kembangkan suasana damai dalam keluarga kita dan dalam masyarakat kita (1 Yohanes 3:16; Roma 5:1-11). Dimungkinkannya perdamaian manusia dengan Allah, didasari atas banyak hal-hal mendasar, seperti cinta kasih Allah, kerelaan Yesus Kristus berkorban, setiap manusia dianggap penting dan mulia di hadapan Tuhan (Mazmur 8:1-6). Ia mengosongkan diri dan hadir di tengah-tengah manusia menjadi contoh (Filipi 2:7). Ia menerima semua yang bertobat dan mau percaya. Kedamaian yang diprakarsai Allah, bersifat universal dan terbuka bagi siapa saja di bumi ini. Prakarsa Allah adalah prakarsa yang penuh cinta kasih, tulus dan pasti. Kiranya kita semua lebih banyak menjadi pemrakarsa damai yang tulus, melalui berbagai interaksi komunikasi antarkasih dan resolusi berbagai konflik agar tidak berkembang menjadi sandiwara damai bahkan mendorong berkembangnya gunung api kebencian, kemunafikan yang mudah meletus. Sandiwara Natal Oleh Jonathan L Parapak Membaca judul di atas, kita langsung akan berpikir, pasti tulisan ini tentang sandiwara kelahiran Yesus, ada kandang domba, Maria dan Yusuf, gembala dan malaikat. Wah itu sih yang biasa, dan sudah mengglobal. Sandiwara itu sederhana, mudah dipahami. Intinya selalu terfokus pada "Yesus Kristus" yang lahir dalam keprihatinan di kandang domba. Ada banyak sandiwara Natal yang jauh lebih marak, gemerlapan, canggih, dan pemerannya pun tak tanggung-tanggung. Sebut saja "Sandiwara Pesta Natal". Marak dan gemerlapan di istana-istana meriah dan sungguh mempesona di hotel-hotel, besar-besaran di berbagai gedung, dan banyak lagi. Mengapa pesta-pesta yang gemerlapan ini, tidak lain dari suatu sandiwara? Memang banyak dana dikeluarkan, panitia super sibuk, tetapi pada umumnya "yang dirayakan kedatangan-Nya" tidak diberi tempat. Yang diagungkan adalah "kesenangan, kemewahan, keramaian, dan kemarakan". Memang pestanya adalah "sandiwara kenikmatan manusia", bahkan mungkin pesta pora saja.
40

Ada lagi sandiwara yang lain, yang satu ini tidak tahu asal muasalnya. Ada "Santa Klaus". Toko-toko besar marak gemerlapan, mempromosikan "barang baru" untuk hadiah Natal. Sebut sajalah "sandiwara hadiah." Bukankah sandiwara hadiah ini dorongan dan kreasi dunia usaha? Berlimpah ruahlah pertukaran hadiah dan pameran baju baru, mobil baru, barang baru. Yang untung adalah perusahaan, dan "Bayi Natal" itu disebut saja tidak!--Ia hilang ditelan kegemerlapan bisnis. Kita jadi bertanya, masih adakah tempat bagi Natal yang murni yang tulus? Seorang pejabat bernatal dengan menolak kiriman parsel, agar jangan sampai ia juga terjerumus dalam sandiwara hadiah. Mungkinkah dia menikmati peristiwa Natal itu dan bukan sandiwaranya. Seorang anak dalam kepolosannya menyiapkan bingkisan sederhana siap untuk dipersembahkan pada Yesus di hari Natal, menabung berbulan-bulan agar membeli sebuah Alkitab bagi ibunya sebagai tanda kasih sayang Natal. Sekelompok orang desa merayakan natal dalam kesederhanaan dan ketulusan jauh dari gemerlapnya pesta-pesta Natal. Apakah mereka luput dari sandiwara pesta Natal? Mungkin ya, tetapi ada pula sandiwara lain, rutinisme, tradisi; karena kita yang di desa, kita yang tak punya, dengan mudah ikut arus rutinisme! Masih adakah harapan untuk Natal sungguh-sungguh merupakan arak-arakan manusia menyambut Sang Juruselamat? Dia datang dalam kesederhanaan dan dalam suasana keprihatinan. Dia datang sebagai Juruselamat. Tetapi mengapa penyambutan bagi-Nya setiap tahun begitu, begini saja, sesudahnya tak ada ada perubahan?! Nyontek soal biasa di sekolah! Berselingkuh biasa saja, asal tak kelihatan! Kolusi tak terhindarkan, kalau tidak anak kita tak bisa sekolah! "UUD" jadi budaya untuk memenangkan tender! Wah, adakah hidup tanpa sandiwara? Kalau begitu apakah Natal membawa makna? Semoga kita bukanlah aktor-aktor sandiwara Natal, tetapi pelaku-pelaku pesan Natal, perdamaian, penyelamatan, ketulusan, kebenaran, cinta kasih, kepedulian kepada yang terpinggirkan, yang tersisih, dan terlupakan. Semoga peringatan Natal kita sungguh terpusat pada Dia yang lahir, datang, agar kita diselamatkan. Dan wujud dari ketulusan dan kesungguhan kita menyambut Dia sebagai Juruselamat, Raja Damai, sehingga kita bertekad mewujudnyatakan pembaruan dalam diri kita, pikiran kita, kata-kata kita, dan perilaku kita. Agar kita dipakai Tuhan untuk menggarami, menerangi, dan ikut membawa damai sejahtera. Natal bukanlah sandiwara, tetapi ia adalah Immanuel. PANDANGAN PARANORMAL, HELIKOPTER, DAN PANDANGAN TUHAN. Akhir-akhir ini media massa memberitakan semakin banyak orang berkonsultasi dengan paranormal. Suasana tak menentu mendorong banyak orang ingin tahu masa depan, bahkan ada yang menginginkan agar paranormal dapat memperbaiki masa depan mereka. Dalam masyarakat majemuk, tentu kita harus menghargai hak hadir setiap manusia, dengan pola dan pandangan hidup serta kesempatan untuk mengekspresikan apa yang mereka yakini. Yang kita perlu refleksikan adalah sikap dan pandangan manusia yang merasa perlu berkonsultasi dengan para normal. Secara umum kita amati mereka adalah orang-orang yang gelisah bahkan khawatir akan masa depan, oleh karena masa depan serba tak menentu. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi besok, tahun depan dan seterusnya. Nampaknya ada gejala kehilangan pegangan untuk memasuki masa depan. Di pihak lain, kita sering mendengar pandangan helikopter, atau dalam bahasa Inggris "helicopter's view". Pandangan helikopter adalah pandangan yang luas dan komprehensif dan dapat memproyeksikan masa depan karena keyakinan dan pengetahuan. Pandangan helikopter
41

membuat orang dalam helikopter tak khawatir akan kemacetan lalu lintas, karena relatif, dibanding orang dalam mobil, ia dapat melihat masa depan (relatif) karena ketinggiannya. Ia dapat segera melihat kemacetan lalu lintas, yang oleh orang di darat belum terbayang. Pandangan helikopter membuat orang tersebut tenang, dan dapat dengan penuh keyakinan menghadapi masa depan. Namun demikian pandangan helikopter bukan merupakan jaminan akan keberhasilan dan keberesan semua rangkaian kehidupan. Pilot helikopter tahu bahwa di balik atau di atas awan sana ada terang matahari, namun ketika ia diliputi awan gelap ia juga bisa tersesat dan mengalami kecelakaan seperti yang baru saja terjadi di Jawa Barat. Kalau demikian, pola pandang yang bagaimanakah yang harus menjadi pegangan kita untuk menyongsong masa depan? Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa masa depan kita tidak tergantung pada ramalan paranormal. Walaupun kita mampu mengembangkan pola pandangan helikopter, namun itu juga bukan jaminan. Hidup ini bukan soal tahu akan masa depan, melainkan soal tujuan hidup, soal makna hidup, soal keselamatan hidup. Saya yakin tak ada kawan-kawan paranormal yang dapat mengubah hidup kita. Kita juga yakin bahwa pola pandang helikopter bukanlah jaminan kita beroleh hidup sejahtera yang diselamatkan. Kita ingat bagaimana Tuhan berjanji kepada Yosua yang lagi cemas: Aku akan menyertai engkau (Yosua 1:9). Kita ingat bagaimana Tuhan Yesus memberi pesan kepada murid-Nya: Aku akan menyertai engkau sampai kesudahan alam. Yesus sendiri mengajarkan: Jangan khawatir ... carilah dulu akan kerajaan Allah dan kebenara-Nya, maka yang lainnya akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). Ayat-ayat ini menegaskan bagi kita bahwa Tuhanlah yang harusnya menjadi tumpuan kita, andalan kita, dan pegangan kita. Ia berdaulat mengatur masa depan, Ia berkuasa atas hidup kita. Ia berjanji untuk menyertai kita. Alangkah indahnya menyadari bahwa masa depan hidup kita ada dalam tangan Tuhan Yang Mahakasih, Mahakuasa, Mahatahu. Alangkah membahagiakannya meyakini bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita dan akan menganugerahkan yang termulia bagi kita yang percaya. Ia jauh lebih mampu dari pandangan helikopter, Ia jauh mengetahui segala sesuatu dari orang pintar bagaimanapun juga. Oleh karena itulah amat membahagiakan untuk menyadari bahwa kunci sukses dalam perlombaan iman kita adalah: Mata tertuju pada Yesus. Ia yang akan menyempurnakan iman kita (Ibrani 12:1-2). Selamat berlomba dalam perlombaan iman! KRISTEN KAPAL SELAM DAN KRISTEN HELIKOPTER Akhir-akhir ini, ada dua peristiwa kecelakaan yang mendapat sorotan pemberitaan media massa, yaitu kecelakaan kapal selam dan jatuh atau hilangnya sebuah helikopter. Kita semua pasti ikut prihatin dengan terjadinya kecelakaan tersebut yang membawa korban manusia. Peristiwa itu tidak akan saya bahas dari aspek kecelakaannya, melainkan justru mendorong saya mengadakan refleksi dari sudut pandang salah satu aspek pemanfaatan teknologi tersebut. Kita semua tahu bahwa kapal selam pada umumnya dibuat menyelam agar tidak mudah dilihat oleh musuh. Dia akan terus berjalan menyelam selagi situasi bahaya dan akan muncul ke permukaan kalau situasi lagi aman. Sebaliknya helikopter banyak dipakai untuk mengamati peristiwa dari udara, apakah itu keadaan lalu lintas ataukah suatu peristiwa unjuk rasa dll. Seorang di helikopter terbang sebagai pengamat dan tidak langsung terlibat dalam keadaan yang diamati. Memang dia bisa terlibat melalui pemberian informasi, namun dia sendiri secara pribadi tidak ikut dalam peristiwa yang diamati. Kedua teknologi ini dapat kita refleksikan dalam kehidupan iman kita, apalagi dalam menghadapi suasana penuh krisis saat ini. Menjadi seorang pengikut Kristus pada saat-saat ini penuh tantangan, penuh ancaman yang mungkin sangat menakutkan. Dalam suasana yang demikian ini, tidak sedikit dari kita yang mungkin memilih menjadi Kristen Kapal Selam. Kita merasakan bahaya, kita merasakan ancaman; mungkin kita tidak diberi pekerjaan, jabatan, bahkan tersingkir, kalau kita menampakkan diri sebagai seorang Kristen. Kita merasa risih
42

tampil sebagai minoritas. Lebih aman tiarap, bahkan menjadi kapal selam dan menunggu suasana yang aman dan baik, baru kita tampil. Kristen kapal selam ini mungkin hanya timbul pada acara resmi Natal atau nikah. Sikap kapal selam ini sangat merisaukan kita. Jusuf waktu di Mesir, di mana pun ia berada, jadi budak atau dipenjara, tak pernah tenggelam. Imannya selalu tampil dan diketahui orang, bahwa apa pun yang dikerjakannya berhasil karena ia takut akan Tuhan (Kejadian 39). Kita juga belajar dari Daniel, menghadapi apa pun ia tak ingin kompromi, dan ia beroleh hikmat untuk dipakai Tuhan membawa berkat. Baik Yusuf maupun Daniel tak menunggu untuk menjadi mayoritas, berkuasa, tidak menunggu sampai semua aman; seterusnya mereka berbuat yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan. Sikap hidup mereka inilah yang saya kira ingin ditonjolkan oleh Paulus dalam suratnya ke Roma (12:1-2), yang berbicara tentang mempersembahkan tubuhmu, hidupmu, sebagai persembahan yang kudus yang berkenan kepada Allah. Tak ada tempat kapal selam dalam kehidupan kristiani, semuanya adalah bagian dari perlombaan iman yang diwajibkan bagi kita (Ibrani 12:1,2). Kita wajib berlomba dengan mata tertuju pada Yesus, yang siap memimpin iman kita pada kesempurnaan. Kehidupan kristiani adalah perlombaan yang memerlukan disiplin, komitmen, dan kebersandaran pada Kristus, sehingga apa pun yang kita hadapi, mulus atau sulit, ancaman atau elu-eluan, dipuji atau dicaci, kita akan setia kepada Dia, sehingga kita tidak akan menyelam menghindar dari Dia yang mau memakai kita. Kini Bangsa kita sedang memerlukan anak bangsa terbaik. Sangat mungkin bahwa anak-anak Tuhan akan dipanggil juga memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, walaupun situasi krisis, menghadapi topan, ancaman, yang dipanggil harus siap dan terlibat dalam berbagai upaya pemulihan. Memang kita juga bisa menjadi penumpang helikopter yang pandai mengamati, tetapi enggan terlibat langsung. Kini memang lagi eranya pengamat. Banyak yang jago mengamati, sedikit yang turun dan langsung membawa perbaikan. Orang Kristen juga bisa menjadi jago pengamat Kristen, tetapi tidak ikut dalam perjuangan bersama saudaranya dalam membawa perwujudan Kerajaan Allah di dunia ini. Helikopter yang terbang terus akan kehabisan bensin dan kecelakaan tak terelakkan. Ia baiknya mendarat dan ikut dalam segala upaya perbaikan dan pemulihan. Tuhan Yesus sendiri menyatakan kamu adalah Terang Dunia, Garam Dunia. Garam memang larut untuk menggarami, memberi kenikmatan, memberi kelestarian. Lilin memang melebur, bahkan hancur agar memberi terang. Untungnya Tuhan Yesus tidak mengatakan: Kamu adalah helikopter! Menjadi garam berarti memberikan yang terbaik bagi masyarakat di mana kita ada, memberikan yang terbaik di mana kita bekerja dan mengabdi (Kolose 3:17,23). Kini bangsa mencari anak bangsa yang siap memberikan yang terbaik bagi bangsanya. Kini gereja Tuhan lagi memanggil anak-anak Tuhan untuk memberikan yang terbaik bagi pelayanan dan kesaksian. Di manakan Kita? Apakah kita ada di dalam kapal selam karena takut? Ataukah kita menikmati jadi pengamat saja dari helikopter? Semoga kita semua kembali kepada-Nya dan mengatakan: Tuhan inilah aku, utuslah Aku!!! Selamat melayani,

MANUSIA TERPENJARA Media massa kita lagi marak membicarakan mereka, termasuk para mantan pejabat yang lagi dipenjara atau ditahan. Reaksi beragam pun bermunculan. Ada yang melihatnya sebagai upaya politik, ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari penegakan hukum dan keadilan. Terlepas dari persepsi dan diskusi, maraknya penahanan dan pemenjaraan akhir-akhir ini mendorong kita berpikir apa arti pemenjaraan dan apakah kita semua bebas dari penjara?
43

Pemenjaraan yang terjadi dalam negara hukum adalah akibat perbuatan melawan hukum, kejahatan atau pidana korupsi. Pemenjaraan pada konsep lama adalah hukuman agar tak berbuat lagi. Pada konsep baru penjara lebih mengarah pada pemasyarakatan, berarti memberi kesempatan untuk sadar, bertobat dan tidak berbuat lagi, dan pada waktunya dilepaskan untuk kembali bebas dan merdeka. Nuansa penahanan dan pemenjaraan akhir-akhir ini banyak terkait dengan rasa adil masyarakat dan kepentingan politik. Refleksi ini tidak akan membahas lebih jauh mengenai keterpenjaraan dari sudut pandang penegakan hukum. Justru suasana akhir-akhir ini mendorong kita bertanya adakah di antara kita yang tak terpenjara? Mungkin ada di antara kita yang lagi terpenjara oleh narkotik, oleh ketagihan berjudi, oleh ambisi materialisme, ambisi kuasa, atau ketagihan seks, dan lain sebagainya. Banyak di antara kita yang bergumul bagaimana dapat keluar dari penjara ini. Pergumulan seperti ini sudah merupakan permulaan yang baik. Yang memprihatinkan kita adalah, kita tidak sadar bahwa kita lagi terpenjara oleh dosa, oleh egoisme, oleh materialisme, oleh kuasanisme, dll. Keterpenjaraan inilah antara lain yang disoroti Tuhan Yesus dalam pernyataanya di Yohanes 8:36, "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benarbenar merdeka." Ayat 32 pada pasal yang sama menyatakan, "kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Kalau mereka yang sudah dipenjarakan akhir-akhir ini membayar para pengacara dengan mahal tetapi masih juga terpenjara, alangkah beruntungnynya kita yang dapat dimerdekakan tanpa bayar, karena semuanya sudah dibayar Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, kalau orang lain lagi sibuk dipenjarakan, maka seyogianya kita sibuk keluar dari penjara dosa, penjara ambisi, penjara tradisi yang buruk, penjara egoisme, penjara kebencian dan tetap dalam firman-Nya dan kita menjadi murid Tuhan, mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita (Yohanes 8:31). Pada umumnya kita juga hanya tertarik dengan mereka yang diberitakan media massa, dan kita pun tak dapat berbuat apa-apa. Padahal di sekitar kita banyak saudara kita yang lagi terpenjara yang memerlukan bantuan kita untuk melepaskan diri dari keterpenjaraan mereka. Kalau kita prihatin dengan terpenjara kelas kakap itu, marilah kita juga peduli dengan mereka yang terpenjara yang mungkin belum sadar, agar mereka juga beroleh kemerdekaan melalui kebenaran yang dari Kristus. Selamat berjuang untuk keluar dari keterpenjaraan, MENANG ATAS BADAI KEHIDUPAN Akhir-akhir ini masyarakat kita, keluarga kita, dan bahkan banyak sekali warga kita yang dilanda beraneka badai kehidupan. Bangsa kita masih tenggelam dalam krisis multidimensi. Krisis moral, krisis ekonomi dan dalam banyak hal krisis kemasyarakatan. Baca saja koran, headline yang muncul adalah pembunuhan, perampokan, kerusuhan, narkoba, perkosaan. Daftar ini bisa panjang sekali. Kalau kita bayangkan wajah-wajah yang mengalami krisis dan badai kehidupan itu, kita akan mudah menyadari betapa berat beban kehidupan yang dialami warga kita, keluarga kita, dan bahkan bangsa kita. Badai kehidupan bukan barang baru bagi umat kristiani. Di Taman Eden, manusia pertama saja mengalami badai kehidupan yang amat mencekam karena ia jatuh dalam dosa. Ia takut, pergi bersembunyi. Di zaman Nuh, bayangkan badai kehidupan yang menimpa umat manusia ditelan air bah, karena dosa mereka. Nuh memang selamat, tetapi sebagai manusia pasti ia bergumul karena punahnya begitu banyak manusia.
44

Yusuf, seorang muda, mau dibunuh saudaranya, kemudian dijual, menjadi hamba, masuk penjara, namun tetap setia, dan akhirnya menjadi raja muda dan menjadi berkat bagi banyak orang. Daniel, seorang pintar, menjadi tawanan politik, dipersiapkan untuk kepentingan lain, namun ia tak mau melupakan Tuhannya dan tetap setia, sehingga masuk kandang singa sekali pun tak menjadi masalah. Yesus Kristus disiksa, disalib tanpa ada kesalahan dan dosa. Paulus dan Silas didera, dipenjarakan karena menolong orang, tetapi tetap bersukacita dalam Tuhan dan akhirnya diselamatkan oleh kuasa Tuhan. Banyak sekali cerita yang patut kita renungkan mengenai penderitaan anak manusia, karena perbuatannya, karena penyalahgunaan kekuasaan, atau karena berbuat baik. Dari berbagai contoh di atas, kita dapat bertanya apakah yang membuat mereka menang atas badai kehidupan yang menimpa mereka. Kata kuncinya adalah M-E-N-A-N-G. Dalam refleksi ini akan diangkat MENANG itu. M - mata tertuju pada Yesus. Ibrani 12:1-2 berbicara tentang perlombaan iman dengan mata tertuju pada Yesus. Dialah yang akan membawa iman kita pada kesempurnaan. Yusuf, dalam menghadapi badai kehidupan. selalu setia pada Tuhan sehingga semua yang dikerjakannya diberkati Tuhan. Dalam menghadapi badai, janganlah mata kita tertuju pada badai, atau kekuatan atau kuasa lain, melainkan pada Dia yang Mahakuasa yang mampu mengatasi segala masalah yang menimbulkan badai kehidupan. E - emosi yang dibuat tangguh oleh Tuhan. Sekarang ini para ahli tidak lagi hanya berbicara tentang Intelligent Quotient, melainkan juga Emotional Quotient, bahkan juga Emotional Competence. Emosi yang tangguh adalah bagian dari kepribadian yang tangguh, ulet, dan tak mudah tergoyahkan, terpengaruh; melainkan ia kukuh pada pendirian yang benar. Ia tak mudah putus asa melainkan selalu berpengharapan, mampu melihat sinar cerah di balik awan gelap. N - niat atau komitmen yang kukuh. Karena komitmennya pada Tuhan, maka apa pun yang terjadi, ia setia pada Tuhan. Badai pasti berlalu, kuasa Tuhan akan tetap sepanjang masa. Oleh karena itu, ia akan berpegang teguh pada janji Tuhan, ia akan hanya mengandalkan kuasa Tuhan. A - akal. Akal yang diberikan Tuhan ia kembangkan dan pakai sebaik-baiknya bagi kemuliaan Tuhan. Talenta yang ia terima, mungkin 2 atau 5, ia lipat gandakan untuk memuliakan Tuhan (Matius 25). Ia akan belajar, berlatih sehingga kalau badai datang ia akan dimampukan Tuhan untuk melihat jalan kemenangan di atas badai itu. Tidak berarti bahwa semuanya akan mulus, tetapi karena ia sudah disiapkan, ia bisa seperti Yusuf, dari seorang budak menjadi raja muda, agar menjadi berkat. N - networking (Kisah Para Rasul 2:41-47). Karena kebersatuannya dengan Tuhan ia dapat dimenangkan oleh Tuhan karena ia berada dalam Tuhan (Yohanes 15:5). Dia akan didoakan oleh kawan sepersekutuannya, ia akan didukung, dibantu oleh kawan sepelayanannya. Ia tak pernah merasa sendirian. G - gerakan. Karena ia bersama Tuhan, karena ia sudah diberdayakan Tuhan, karena ia yakin akan dukungan kawan seiman, maka ia berani, kuat, termotivasi untuk mengadakan gerakan pembaruan, gerakan pelayanan, gerakan kemenangan. Ia melihat badai sebagai kesempatan untuk melayani, untuk menyatakan kuasa Tuhan, untuk berbuat sesuatu yang memuliakan Tuhan. Ia sadar bahwa hidup ini akan banyak menghadapi badai, namun bukan badai itu yang menjadi perhatiannya, melainkan karya Tuhan yang harus diwujudkan. Karya penyelamatan, karya pembaruan, karya yang membawa kesejahteraan.

45

Orang beriman adalah orang yang MENANG atas badai kehidupan. Selamat berlomba dalam perlombaan iman untuk mencapai kemenangan. BERAPAKAH NILAI MANUSIA? Bulan Mei 2002 merupakan bulan refleksi reformasi bagi bangsa Indonesia. Empat tahun yang lalu, reformasi total digulirkan yang telah menelan begitu banyak korban. Selama minggu refleksi ini, stasiun televisi banyak memutar kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik dalam proses perjuangan menurunkan Soeharto maupun peristiwa-peristiwa berdarah, kerusuhan, benturan bernuansa SARA yang banyak menelan korban manusia. Gambar-gambar yang ditayangkan termasuk peristiwa puluhan bahkan ratusan manusia terbakar dalam gedung pertokoan yang dibakar. Pembantaian masal terjadi karena benturan; kerusuhan terjadi antaretnis atau antar-agama. Semua gambaran peristiwa ini memilukan hati kita dan mengusik kemanusiaan kita. Kita sangat perihatin dan bertanya: "Akan menjadi apa bangsa ini?" Lebih dalam lagi kita bertanya: "Apakah artinya manusia di Indonesia tercinta? Masih adakah nilai kemanusiaan yang kita junjung?" Gambaran di atas adalah keterpurukan yang sangat dalam apabila kita pahami bahwa manusia diciptakan oleh Allah itu diberi kemuliaan dan hormat (Mazmur 8), bahwa manusia itu sangat dikasihi Allah sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya barang siapa yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Manusia begitu berharga dan bernilai tinggi di hadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, Allah memberikan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Manusia begitu bernilai sehingga di kamar operasi puluhan dokter bekerja keras bedah otak untuk menyelamatkan satu orang dengan biaya yang mahal. Kita terus bertanya, mengapa nilai manusia itu begitu murah di tengah kebencian dan kerusuhan? Mungkin kita menjawab itulah kehendak Iblis! Itulah akibat dosa! Itulah akibat ketidak adilan, keserakahan. Itulah akibat salah pemahaman agama. Haruskah dan maukah kita terus tenggelam dalam suasana yang dikuasai Iblis dan dosa? Saya yakin kita semua ingin kembali kepada harkat manusia yang dicipta, diberi hormat dan kemuliaan, dicipta menurut gambar dan teladan Allah. Ini hanya mungkin kalau kita dilahirkan kembali (Yohanes 3:3), kalau kita dicipta ulang menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Memang kita semua harus mendukung semua upaya rekonsiliasi, upaya perdamaian, upaya pemberdayaan, pendidikan, dan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteran manusia. Namun mari kita sadar, tanpa penyelamatan Kristus, tanpa pimpinan Roh Kudus, upaya kita akan sia-sia. Semoga kita sadari bahwa harkat, nilai kemanusiaan kita di hadapan Allah amatlah tinggi dan Dia bersedia berkorban untuk memberikan hidup yang berkelimpahan kepada kita (Yohanes 10:10). DIBERDAYAKAN ATAU DIPERDAYAKAN? Salah satu ciri globalisasi adalah derasnya arus informasi yang menerpa setiap manusia melalui berbagai media. Banyak ajaran-ajaran agama yang sedang mengglobal. Banyak ilmu orang pintar yang katanya dapat membuat kita hebat. Banyak trik-trik si jago sulap yang kadang memukau kita, padahal kita ya "sepertinya diperdayakan". Kehadiran pentas dunia di rumah kita, ke dalam ruangan keluarga kita melalui TV, internet dan sebagainya, seharusnya merupakan masukan-masukan untuk memberdayakan kita, menghibur
46

kita, dan menambah pengetahuan dan wawasan kita. Namun, yang terjadi adalah kita sepertinya terbius dengan berbagai ilmu, ajaran, film, terpaan nilai, sehingga tanpa sadar kita terbawa arus, dan kita bukan diberdayakan, tetapi diperdaya, ditipu, dihipnotis, dibius oleh berbagai hal yang negatif. Memang sebagai orang beriman, kita diperingatkan oleh Rasul Paulus, untuk hidup dengan memakai perlengkapan senjata Allah, agar kita dapat menahan dan mengalahkan kuasa-kuasa kegelapan, pengaruh-pengaruh negatif yang dari dunia ini (Efesus 6:10-20). Kita diingatkan oleh Paulus agar kita memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus dan meninggalkan semua perbuatan daging (Galatia 5:16-26). Kita diminta untuk bijak dalam menilai roh itu, agar jangan kita terperdaya oleh roh kegelapan (1 Yohanes 4:1-6). Pemberdayaan diri hanya mungkin terlaksana dengan utuh apabila kita menyatu dengan Kristus (Yohanes 15:1-7) dan sudah diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:1-10). Orang yang mau diberdayakan, adalah orang yang seumur hidup bersedia menjadi pembelajar, orang yang mau mengikuti teladan Kristus, merendahkan hati (Filipi 2:1-8), orang yang siap mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Orang yang budinya siap dibarui terus-menerus (Roma 12:1-2). Semoga yang kita dambakan adalah diberdayakan oleh Roh Kudus dan tidak diperdayakan oleh kuasa-kuasa gelap. Investasi yang Aman Oleh: Jonathan L Parapak Baru-baru ini masyarakat lagi marak membicarakan kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (PT QSAR). Tentu kita semua prihatin dengan musibah tersebut, dan ikut berdoa dan berharap masalahnya dapat diselesaikan dengan baik. Peristiwa ini bagi banyak orang mendorong timbulnya pertanyaan: Investasi manakah yang aman. Memang semula cerita PT QSAR sangat menggiurkan, karena diberi iming-iming keuntungan di atas 50% -- sedangkan deposito hanya sekitar 13%. Kalau punya uang, mengapa tidak! Kita tidak akan membahas PT QSAR, karena refleksi ini bukan refleksi investasi ekonomi. Namun dengan peristiwa PT QSAR, kita tentu diajak bertanya: Jadi, investasi mana yang aman? Mungkin pikiran kita akan cepat pergi ke deposito! Aman kok! Tetapi bunganya rendah. Tapi di bank mana? Krisis perbankan telah pula membuyarkan kepastian keamanan investasi deposito. Sebagian mengatakan: Saham! Tetapi bursa juga kadang anjlok. Lihat saja dampak meletusnya balon DotCOM! Belum lama ini diselenggarakan konferensi internasional "Econophysics", yang katanya adalah ilmu baru yang dapat menolong berinvestasi di bursa. Percaya? Terserah Anda. Ilustrasi di atas mendorong kita bertanya: "Adakah yang kekal dan aman dalam dunia ini"? Adakah investasi yang aman? Kalau pandangan kita materialistis semata, maka kita akan terus mencari cara optimal untuk berinvestasi agar mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Saya kira, menurut pikiran manusia, ini wajar dan sesuai dengan akal sehat. Namun kalau akal sehat diperluas, mudah untuk membayangkan kehancuran kalau semua menuntut keuntungan spektakuler, pertumbuhan spektakuler; yang biasanya berakibat kerusakan spektakuler, termasuk
47

pengrusakan lingkungan dan manusia itu sendiri. Oleh karena itu berbagai protes sedang marak terhadap pengrusakan lingkungan oleh karena mencari untung spektakuler. OK, sekali lagi refleksi ini tak akan berpretensi menjawab masalah besar ini, cukup mengajukan pertanyaan untuk kita renungkan. Dalam perenungan itu mari kita kembali ke Firman Tuhan. Ada beberapa prinsip yang ingin diangkat: Pertama, perintah Tuhan dalam Kejadian 1:28, "Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah ..." sebagai mandat untuk mengelola bumi ini secara bertanggung jawab, yang kalau direnungkan lebih dalam adalah prinsip investasi yang berpandangan holistik, dalam harmoni untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, berinvestasi yang bertanggung jawab adalah bagian dari kehidupan manusia. Kedua, investasi bukanlah akibat dari kekuatiran, melainkan dapat dilakukan sebagai bagian dari persembahan kita kepada Allah (Roma 12:1,2). Semuanya, termasuk tubuh dan hidup, dipersembahkan sebagai ibadah yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Di manakah prioritas investasi kita yang aman? Tuhan Yesus menjawab: "Kumpulkanlah bagimu harta di sorga!" Dia juga menegaskan, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (baca Matius 6:19-34). Dari penegasan Tuhan Yesus ini kita dapat mengangkat satu prinsip, yaitu: investasi yang aman adalah investasi yang mendahulukan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengingatkan kita dalam Kolose 3:17,23 bahwa apa pun yang kita kerjakan, termasuk investasi, kita lakukan untuk memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan. Ini membawa konsekwensi bahwa investasi waktu kita, uang kita, pikiran, dan tenaga kita tidak akan terlibat dalam investasi spekulatif, inevestasi yang hanya mengejar keuntungan besar di luar kewajaran, investasi yang menyengsarakan manusia, investasi yang merusak lingkungan, investasi merusak tatanan harmoni kemanusiaan; melainkan investasi yang akan membawa keselamatan, kesejahteraan, yang menghargai ciptaan Tuhan, dan mendorong harmoni kehidupan antar-manusia dan dengan alam. Kiranya kita semua berketetapan berinvestasi di arena yang paling aman, yaitu mengumpulkan harta untuk Kerajaan Sorga. Selamat berinvestasi,

BELAJAR DARI SI BODOH Orang berkata, kita harus bersedia belajar seumur hidup kita. "From womb to tomb," kata orang Inggris. Maksudnya, terus belajar tanpa henti, sampai ke mana saja. "Bahkan sampai ke negeri Cina," kata sebuah ayat suci. Dan sekarang saya mau menambahi lagi. Yaitu, betapa kita harus bersedia belajar dari siapa saja. Bersedia belajar dari yang pintar, tapi juga bersedia belajar dari yang pandir. Melalui sapaan Sabda kali ini, saya ingin mengajak kita semua belajar dari si Bodoh. Tapi jangan salah sangka. Yang saya sebut si Bodoh ini, samasekali tidak "bodoh" menurut ukuran kita. Menurut penuturan Lukas, tokoh kita ini amat sukses dan kaya luar biasa. Juga cepat, tepat, dan sigap memecahkan masalah. Satu-satunya yang membuat ia pening tujuh keliling adalah, "Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku" (12:17). Toh tidak berarti ia cuma bisa bingung tak keruan. "Inilah yang akan aku perbuat; aku akan
48

merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar, dan aku akan menyimpan segala gandum dan barang-barangku" (12:18). Persoalan pun selesai. Tuntas tas. Jadi, siapa yang telah begitu bodoh mengatakan "si Hebat" ini "bodoh"? Ternyata tidak lain adalah Tuhan sendiri! Tulis Lukas selanjutnya, "Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?" (12:20). Pertanyaannya, mengapa Tuhan menyebut orang itu bodoh? Pasti bukan karena ia kaya. Kekayaan sich, paling sedikit, adalah sesuatu yang netral. Tidak baik dan tidak jahat pada dirinya. Bahkan bisa amat positif. Kekayaan itu baik atau jahat, ditentukan oleh tiga hal yakni bagaimana cara ia peroleh: halal atau haram; apa dampaknya bagi si pemilik: menjadi pelayan atau menjadi tuan; dan untuk apa ia dimanfaatkan: untuk kebaikan dan untuk kejahatan. Paling sedikit ada tiga hal yang menyebabkan Tuhan menyebut "si pintar" itu "bodoh." Tiga hal penting di mana kita perlu belajar dari si Bodoh. Pertama, orang itu disebut bodoh, karena telah mencampur-adukkan "alat" dan "tujuan." Yang semestinya "cuma" alat, eee, ia jadikan sebagai tujuan. Gerbong dijadikan lokomotif. Gerobak disuruh menarik kuda. Ya kacau balau, tentu saja. Hidup jadi tanpa pegangan dan orientasi yang pasti. Aturan main tak ada lagi, sebab yang ada Cuma aturan yang dipermainkan. Dan tolong Anda sadari, itulah salah satu ciri khas kehidupan manusia modern masa kini. Saya tidak mengatakan alat itu tidak penting. Siapa berani mengatakan bahwa sandang, pangan, papan, kedudukan itu tidak penting? O, penting sekali! Tapi, ingat, semua itu penting sebagai alat. Makan, adalah "alat" agar kita hidup sehat. Pakaian, adalah "alat" supaya tubuh kita terlindung dari sengatan cuaca. Dan kekayaan, adalah "alat" agar kita bisa mencukupi kebutuhan hidup kita. Tokoh kita disebut bodoh, sebab ia begitu yakin bahwa dengan panen yang sukses dan dengan memperbesar lumbung, seluruh tujuan hidupnya telah tercapai. Ia sudah boleh menepuk dada sambil berkata, "Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenangsenanglah!" (12:29). Itu bodoh, kata Yesus. Kedua, orang itu disebut bodoh, karena dalam serba rasa berpuas diri, ia telah mengabaikan realitas saling ketergantungannya dengan sesama. Ia merasa "self-sufficient." Artinya, merasa cukup dengan dirinya sendiri. Dalam monolognya, saya hitung, ia mengucapkan 62 kata. Di antara 62 kata itu, tidak kurang dari 14 --20 persen!-- adalah kata "aku" atau "ku." Begitu asyik ia dengan si "aku"nya, mana sempat dan mana ada tempat lagi baginya untuk mempedulikan orang lain. Yang merisaukan hatinya adalah karena ia punya terlampau banyak. Bagaimana mungkin ia menyatukan hati dengan mereka yang tak punya apa-apa. Martin Luther King Jr, dalam bukunya Strenght to Love, mengilustrasikan betapa seluruh umat manusia telah terjerat satu sama lain dalam satu jaringan saling ketergantungan. Setiap pagi sebelum melangkahkan kaki ke kantor, tulisnya, masyarakat Amerika telah berutang kepada separo bumi ini. Spons yang ia pakai untuk menggosok tubuhnya, berasal dari Pasifik. Sabun mandinya buatan Prancis. Kopi yang ia hirup didatangkan dari Brasil, teh dari Srilanka, coklat dari Afrika. Handuknya eks impor dari Taiwan atau Korea. Dan seterusnya.
49

Benar sekali, bukan, bahwa setiap butir nasi yang masuk ke mulut kita adalah wujud ketergantungan kita kepada suatu mata rantai saling membutuhkan antar manusia yang amat panjang? Sebab itu, jadi manusia "jangan sombong." Ojo du-meh. Seolah-olah kita bisa mencukupi diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain. Tapi juga "jangan minder," merasa diri tak bisa menyumbang apa-apa dan tak punya makna apa-apa. Orang yang berpikir begitu, kata Yesus, ia bodoh! Ketiga mengapa tokoh kita disebut "bodoh," adalah karena ia mengabaikan Tuhan. Dari 62 kata yang ia ucapkan, tak sekali pun ia menyebut kata "Allah" atau kata "Tuhan." Yang saya permasalahkan, tentu saja, bukanlah berapa kali orang mengucapkan kata-kata itu. Saya juga tidak mengatakan, bahwa orang tersebut tidak percaya kepada Tuhan. Malah, kemungkinan besar, karena kekayaannya itu, ia juga merangkap sebagai tokoh agama. Yang perlu kita permasalahkan ialah, ketika dalam hidup seseorang Tuhan tidak lagi punya makna apa-apa dalam kehidupan nyata. Bila orang, walau mungkin tak mengucapkannya, bersikap bahwa Tuhan ada atau tidak ada itu tidak penting. Sebab yang akhirnya penting dan menentukan, menurutnya, bukanlah Tuhan, melainkan otak dan tangan manusia sendiri. Artinya, merumuskan masalah dengan tepat, dan melakukan tindakan antisipatif secara cepat. Memperbesar lumbung-lumbung kita. Dan setelah itu, kata orang itu, yakinlah, Anda akan bisa berkata, "Hai jiwaku, beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah." Sungguh gagah dan meyakinkan, bukan? Ya. Tapi bodoh! Karena apa yang bisa dilakukan manusia, bila Allah datang kepadanya dan berkata, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?" Ini benar-benar merupakan peringatan telak bagi kita semua. Khususnya bagi mereka yang merasa aman, walau buron, lantaran di gudangnya bertumpuk-tumpuk emas lantakan, di bank, bertriliun-triliun uang hasil rampokannya, dan di rumah-rumah kontrakan berpeti-peti senjata api otomatis. Mereka mungkin kuat, tapi bodoh! Begitu pula semua yang memperlakukan alat seolah-olah tujuan, yang mengabaikan kebutuhan dan hak-hak sesama, dan yang tidak mempedulikan penghakiman Tuhan. Mahkamah Agung bisa meloloskan Anda. Hati nurani Anda yang telah mati barangkali tak lagi menuduh Anda. Tapi, percayalah, kebenaran Tuhan akan terus mengejar Anda sampai ke akhirat pun. Jangan Bodoh! (SH131001) MELAWAN KONFORMISME "Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini," begitu Paulus memberi nasihat. Artinya: dalam hidup di dunia ini, jangan hendaknya kita jadi konformis yang demi rasa aman terus mengekor mengikuti kehendak zaman. Atau jadi bebek yang baru merasa terlindung bila berada di tengah rombongan. Tapi jadilah batu karang, yang walau didera ombak namun tetap bertahan! Jadilah burung elang, yang tak ragu terbang sendiri menerjang angin menembus awan! Sebab, seperti tutur Emiliano Zapata, tokoh revolusioner Meksiko, "Lebih baik mati berpijak di atas kakimu, ketimbang hidup bertumpu pada lututmu." Nasihat yang jempol! Tapi apa tidak konyol? Bukankah di sepanjang zaman, berjuang melawan konformisme selalu merupakan perjuangan yang amat berat? Lihat, misalnya, pengalaman Pilatus. Atau Yohanes Pembaptis. Bahkan Yesus.
50

Beratnya perjuangan tersebut, kian terasa di zaman kita. Yakni ketika tekanan sekitar dan pengaruh massa begitu perkasa. Ialah yang membentuk cara berfikir kita. Dan ia pulalah yang menabuh genderang menentukan langkah dan irama kaki kita, menarikan irama status quo. Sekitar kita adalah kekuatan raksasa yang menarik leher kita dan mencucuk hidung kita, supaya kita menempuh jalan yang aman, yaitu jalan mengikut angin. Supaya kita menghindari lorong-lorong sunyi, yang biasanya cuma dilalui kaum mbalelo dan minoritas keras kepala. Dan mencegah kita melakukan tindakan bodoh, yaitu memasuki peperangan yang mustahil kita menangkan. Di belakang kekuatan besar itu, saudara, adalah roh konformisme. Beberapa pakar sosiologi menegaskan, bahwa moralitas tak lain adalah hasil kesepakatan kelompok semata. Bahwa yang benar dan yang baik adalah yang sesuai dengan kehendak kelompok. Beberapa pakar psikologi menekankan, betapa kematangan serta kestabilan mental dan emosional seseorang ditentukan oleh kemampuan yang bersangkutan menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada. Dan beberapa agamawan pun mengukur kadar kemurnian iman orang dari kerelaan yang bersangkutan untuk tunduk tanpa reserve terhadap rumusan-rumusan dogma tertentu. Semua ini, saudara, adalah bentuk lain dari konformisme. Paulus, saya yakin, bukan tidak menyadari realitas ini. Meremehkannya pun, pasti tidak. Namun begitu, dengan tegasnya ia menekankan supaya kita tidak menjadi konformis yang membabi buta. Keluhuran moral lebih penting ketimbang persetujuan atau penerimaan sekitar. Yang mengatakan ini, bukan cuma Paulus. Yesus pun menegaskan hal yang sama. Berulangulang kali, dengan tajam sekali. Misalnya, ketika peradaban modern secara sistematis mencuci otak kita agar percaya bahwa kebahagiaan ditandai oleh ukuran mobil kita; atau oleh ke‟wah‟an bangunan rumah kita; atau oleh ke‟eksklusif‟an merek pakaian kita; Yesus mengingatkan betapa "Hidup manusia tidaklah ditentukan oleh kelimpahan harta yang ia miliki." Ketika banyak dari generasi muda (dan tua juga) terlanjur yakin bahwa seks bebas adalah bagian hakiki dari aktualisasi serta ekspresi diri, Yesus menggelengkan kepala-Nya dan berkata, "Barangsiapa memandang perempuan dan menginginkannya, ia sudah berzinah di dalam hatinya." Ketika mayoritas orang lebih memilih jalan kenikmatan ketimbang keyakinan, dan oleh karenanya menolak menderita demi kebenaran, kita mendengar Yesus berujar, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, oleh karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." Ketika para alim ulama serta tokoh agama membusungkan dada membanggakan ketaatan beragama mereka, Yesus malah mencibir seraya berkata, "Sesungguhnya para pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului kamu masuk ke Kerajaan Allah." Tatkala kita -- baik karena ketumpulan perasaan kita maupun karena kepongahan individualisme kita -- gagal memberi respon terhadap kebutuhan sesama yang bernasib malang, dengan menahan geram Yesus mengecam, "Apa yang kalian lakukan terhadap saudaraku yang paling hina ini, itulah kelakuan kalian terhadap Aku."
51

Dan sewaktu di tengah maraknya suasana konflik, kita cenderung membiarkan bara dendam dan api benci membakar jiwa menggerogoti sanubari, Yesus mengajar, "Kasihilah musuhmu, berkatilah orang yang mengutukimu, berbuatlah baik kepada yang membencimu, dan berdoalah bagi mereka yang memfitnah dan menganiaya kamu." Di mana-mana dan kapan saja, sepertinya ketika kasih Yesus senantiasa memancarkan cahaya yang menyilaukan, menelanjangi wajah buruk dari kecenderungan konformitas kita yang tersembunyi. Persoalannya, masih mendengarkah kita? Masih adakah rasa jengah tersisa di kalbu kita? Atau sebaliknya, kita malah tambah mengeraskan hati? Mengapa tokoh-tokoh seperti Paulus dan Yesus menekankan hal-hal yang oleh dunia dipandang sebagai tidak umum, tidak normal, dan tidak lazim? Apakah bukan ini yang acap membuat orang jadi skeptis dan sinis terhadap agama? Yakni karena "tidak realistisnya" dan "tidak relevannya" agama itu. Karena agama seolah-olah cuma memberi dua pilihan kepada manusia: menjadi "eksentrik" atau menjadi "munafik." Saya punya dua tanggapan. Yang pertama adalah, agama sejati -- tak dapat tidak -- memang mesti begitu. Sebab bila agama, sekedar demi realisme dan relevansi, ikut-ikutan berkubang dalam lumpur roh-roh zaman, lalu apa manfaat atau faedahnya agama? Agama akan kehilangan jatidiri dan fungsinya, bila ia tak punya yang lain, yang berbeda, yang lebih baik, untuk ditawarkan kepada dunia. Tapi jelas, bukan sekadar asal "nyeleneh." Isu utama di sini bukanlah realistis atau tidak realistis, melainkan apakah agama itu kritis dan profetis. Agama harus kritis dan profetis. Pemimpin-pemimpin agama mesti kritis dan profetis. Menyerukan pertobatan, ketika masyarakat salah jalan. Tidak malah ikut-ikutan jadi koruptor atau provokator. Atau demi popularitas, mengorbankan ingeritas. Demi kekuasaan dan kekayaan, melacurkan kehormatan. Tanggapan saya yang kedua ialah, bahwa walaupun sangat menyadari akan risiko disebut kuno, kolot, dan usang, tapi -- apa boleh buat -- kehidupan ini cuma memberi satu di antara dua kemungkinan. Yaitu, seperti pernah dikatakan oleh Longfellow, mau jadi "landasan/telenan" atau menjadi "martil." Mau jadi obyek yang sepenuhnya dibentuk oleh keadaan, atau subyek yang mempengaruhi perkembangan keadaan. Apa yang kita maui, tidak sulit untuk dipilih. Siapa yang secara sadar memilih untuk jadi "telenan"? Yang sulit adalah konsekuensinya. Apalagi bila yang harus kita hadapi adalah tekanan massa dan kecenderungan dunia. Sebab itu, bila Anda memilih untuk menyerah saja, saya tidak heran. Namun demikian, perlu Anda ketahui bahwa sejarah hanya berutang kepada orang-orang seperti Thomas Jefferson, yang pernah menulis, "Aku telah bersumpah di depan altar Allahku, untuk melancarkan perang abadi kepada segala bentuk tirani yang menjajah pikiran bebas manusia." Perang tanpa ujung melawan konformisme. Seperti terjadi pada Yohanes Pembaptis atau Stefanus, bahkan Yesus; pada Socrates atau Polycarpus, non-konformisme kadang-kadang harus dibayar dengan darah. Tapi dari bumi yang basah oleh darah para nonkonformis inilah, peradaban dapat berlanjut. Paling tidak, dapat bertahan.
52

Jadi silakan pilih. Menjadi "sabut kelapa" yang dipontang-pantingkan gelombang, atau menjadi "batu karang" yang dalam deraan ombak terus bertahan? Antara menjadi "bebek" yang terlindung di tengah rombongan, atau, menjadi "burung elang" yang berani menempuh risiko terbang sendirian mengarung awan? (SH-201001) BUKAN ASAL TAMPIL BEDA Orang yang teguh bagai batu karang atau tegar laksana burung elang, pasti lebih mengundang rasa hormat dan decak kagum, ketimbang sabut kelapa yang terus dipontang-pantingkan gelombang, atau bebek yang beraninya cuma menyelinap di tengah kerumunan banyak orang. Karena itu, jayalah para nonkonformis! Dan matilah kaum oportunis serta kompromis! Tapi tidak asal nonkonformis! Sebab yang terhormat bukanlah orang yang pokoknya mengatakan „tidak,‟ atau yang kebanggaannya asal tampil beda! Tidak. Orang yang cuma bermodal „ngeyel‟ atau „ngotot,‟ tidak mengundang decak kagum atau rasa hormat. Itu sebabnya, Paulus tidak cukup hanya mengatakan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini" titik. Agaknya ia menyadari benar, betapa nonkonformisme yang keren itu mudah sekali dijadikan kedok sikap pamer diri dan merasa benar sendiri. Menjadi pembalut kepongahan, kemunafikan, serta kegenitan yang memuakkan. "Tetapi," tulis Paulus lebih lanjut, "berubahlah oleh pembaharuan budimu." Nonkonormisme hanya akan membawa berkat, bila didahului pertobatan. Hanya membangun, bila diletakkan dalam bingkai sikap mental baru. Dengan perkataan lain, hanya bisa mengubah, setelah si nonkonformis sendiri mengalami transformasi diri. Budinya, kata Paulus, harus dibaharui. Hanya bila ini terjadi, seorang nonkonformis akan berjuang lebih seimbang. Di satu pihak, melawan kejahatan dengan konsisten, sepenuh hati, dan tanpa kompromi. Di lain pihak, melakukannya dalam kasih dan dengan penuh rendah hati. Di satu pihak, tidak terjebak oleh kesabaran pasif yang memberinya dalih untuk tidak berbuat apa-apa. Di lain pihak, tidak sembrono hantam kromo akibat ketidaksabaran yang tanpa perhitungan. Seorang nonkonformis yang telah mengalami transformasi diri, menyadari betapa perjuangan melawan kejahatan adalah peperangan tanpa ujung, yang menuntut kesabaran dan keuletan yang nyaris tanpa batas. Sekaligus, suatu rangkaian pertempuran tanpa henti dari tempat ke tempat, yang menuntut seluruh energi dan konsentrasi dari saat ke saat. *** Betapa dunia membutuhkan non-konformis tipe itu! Non-konformis sejati, yang tetap runduk karena berisi. Yang berani berbeda, tidak sekadar petantang-petenteng sarat dengan snobisme serta nafsu pamer diri. Yang tak mengenal rasa jeri, tapi bukan cuma karena ingin disebut pemberani. Kita amat membutuhkan pejuang-pejuang seperti itu karena, betapa rentannya masa depan umat manusia. Kita membutuhkan orang-orang yang bermental baja dan berhati kaca, untuk memperlambat proses pembusukannya. Sebab sadarkah Anda betapa planet kita bisa luluh lantak dalam sekejap, lumer bagaikan lemak terpanggang bara, oleh misalnya satu saja ledakan nuklir? Dan bahwa umat manusia bisa lenyap musnah dalam sesaat, akibat senjata kimia dalam suatu perang biologi, seperti kuman antraks misalnya? Rentannya kehidupan ini oleh banyak pakar disimpulkan, sebagai dampak samping teknologi ciptaan manusia yang lepas kendali. Yang sebabnya tak mampu diprediksi, dan yang akibatnya tak sanggup diatasi. Karenanya racun paling berbisa bagi masa depan umat manusia, sebenarnya terletak pada diri manusia sendiri. Pada kecenderungan hatinya: kesombongannya, kepalsuannya, kedengkiannya, serta pementingan diri sendiri. Dari waktu ke waktu kita menyaksikan,
53

bagaimana kebenaran dipasung oleh kebohongan dan kemunafikan. Bagaimana manusia menyembah ilah-ilah palsu, yang kini tak lagi bernama Baal atau berbentuk anak lembu mas, tapi bernama etno-nasionalisme, etno-religionisme, materialisme, hedonisme serta egosentrisme. Isme-isme yang saya sebutkan itu, wah, daya pikatnya luar biasa. Tapi sekaligus, daya hancurnya juga amat mengerikan. Untuk melawannya, tidak cuma dibutuhkan seorang pemberani, tapi orang yang telah "dibaharui budinya." Maksud saya, orang yang tak lagi terpilin oleh pusaran roh-roh zaman yang saya sebutkan di atas. Anggur baru, kata Yesus, membutuhkan kerbat baru. Itulah sebabnya mengapa cita-cita reformasi kian lirih saja suaranya dan luruh kekuatannya, sebab pejabat dan penyelenggara negeri yang mestinya mereformasi, ternyata masih perlu direformasi. Mereka adalah kerbat-kerbat lama. Mereka adalah stok lama dengan bungkus baru. Sebenarnya sudah tak layak pakai, dan seharusnya sudah dibuang sejak dulu-dulu. Mengikuti petuah Yesus: lebih baik masuk surga dengan satu mata, ketimbang tubuh utuh tapi masuk neraka. *** Yakinlah, bahwa keselamatan dunia serta kelangsungan masa depan umat manusia, termasuk di dalamnya nasib bangsa kita, tidak akan terwujud melalui pintu penyesuaian diri kepada kecenderungan mayoritas. Tapi melalui lorong-lorong sempit, lorong-lorong perlawanan kaum minoritas non-konformis. Ini hendaknya kita ingat benar. Khususnya oleh mereka yang mengidentikkan kearifan dengan mengikuti kemauan mereka yang lebih banyak atau yang lebih kuat. Dalam batas-batas tertentu, menyesuaikan diri tentu perlu. Tapi Anda mesti menetapkan rambu batas yang tegas dan jelas, di mana dan kapan harus mengatakan „tidak‟. Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak berlutut di depan patung raja. "Jika Allah kami yang kami puja (berkenan) melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami -- tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan -- menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Seperti Thomas Jefferson, yang walaupun hidup di tengah zaman yang membenarkan perbudakan, menyatakan: "Kami memegangi ini sebagai kebenaran yang tak perlu dibuktikan lagi, yaitu bahwa semua orang diciptakan setara, dan bahwa semua orang dikaruniai oleh Sang Khalik hak-hak yang tak dapat tanggal, antara lain hak untuk hidup, hak untuk bebas, dan hak untuk mengejar kebahagiaan." Tidak dapat tidak. Sebab, seperti kata Abraham Lincoln, tak ada satu bangsa pun di muka bumi ini mampu bertahan, setengah budak dan setengah merdeka. Saya tidak dapat menutup-nutupi kenyataan, bahwa sikap seperti itu mengandung konsekuensi. Seorang non-konformis sejati, tidak mustahil mesti berjalan dalam bayang-bayang penderitaan, berisiko kehilangan pekerjaan atau kedudukan, dan setiap kali mungkin mesti menjawab pertanyaan anak-anaknya yang masih belia, "Mengapa sih Papa begitu sering masuk penjara? Apakah Papa orang jahat?" Apa boleh buat. Bagi pengabdi kebenaran, betapa acap, salib datang mendahului mahkota. Namun begitu, tak ada alasan untuk mundur. Sebab sisi kebenaran yang lainnya adalah, bahwa hidup seorang nonkonformis sejati -- betapapun pendeknya -- tidaklah menuju senja, melainkan fajar. Bagi mereka, kematian bukan tujuan akhir, cuma sasaran antara. Tak perlu diacuhkan benar. MENGASIHI MUSUH: URGENSI ATAU FANTASI? "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Dari semua titah Yesus, tak ayal lagi, inilah perintah yang paling sulit dipraktikkan.
54

Namanya saja musuh, lha kok mesti dikasihi. Aneh bin ajaib, bukan? Banyak orang dengan serius, tulus dan jujur mengatakan, "Saya akui, perintah tersebut memang luhur dan mulia. Tapi bagaimana melaksanakannya?" Bagaimana mungkin mengasihi orang yang dengan sadar, sengaja, serta terencana, bermaksud mencelakakan kita? Atau orang lalu bersikap seperti Nietzsche. Filsuf Jerman ini mengatakan, bahwa perintah "mengasihi musuh" adalah salah satu bukti nyata, betapa etika Kristen--seperti yang ingin ditekankannya--adalah etikanya orang yang berkepribadian lembek bagai bubur dan yang punya nyali melempem seperti kerupuk. Bukan etikanya orang yang tegar, tegap, dan perkasa. Etikanya para pecundang, bukan filsafat hidupnya para pemenang. Orang-orang itu, kata Nietzsche, bila jujur, sebenarnya juga ingin membalas musuh-musuhnya. Siapa yang tidak?! Tapi sayang sekali, mereka tak punya keberanian. Hatinya kecil. Maka jadilah pengecut-pengecut itu, melalui perintah ini, menghibur diri sambil mencari pembenaran. Walaupun alasannya berwarna-warni, suara terbanyak akan menyimpulkan, bahwa Yesus adalah pemimpi. Idealis yang tak peduli pada yang praktis. Sebab itu, begitu nasihat mereka, boleh saja ajaran-Nya Anda amini dan simpan baik-baik di dalam hati. Tapi Anda tak perlu repot-repot mencoba melaksanakannya. Karena ini hanya akan membuat Anda frustrasi. Itu kata orang banyak. Namun saya mau berkata lain. Saya ingin mengatakan bahwa, teristimewa untuk dunia kita masa kini, perintah Yesus yang satu itu secara khusus justru menantang kita dengan urgensi dan relevansi baru. Kekerasan demi kekerasan nan tak kunjung henti di segenap belahan bumi, seharusnya mengingatkan kita betapa jalan kebencian yang kita lalui selama ini, akhirnya hanya punya satu ujung saja. Yakni kebinasaan dan kehancuran total bagi semua. Karenanya bila, seperti Nietzsche, kita mau menyelamatkan masa depan peradaban manusia, maka harus kita sadari, bahwa perintah "mengasihi musuh" adalah sebuah keharusan yang tak dapat tidak. Bukan sekadar fantasi indah seorang idealis atau etikanya para pecundang. Bahwa kasih, termasuk di sini mengasihi musuh, adalah satu-satunya kunci solusi bagi masalahmasalah besar yang membelit seluruh umat manusia dewasa ini. Dan bahwa Yesus bukanlah seorang idealis tanpa nilai praktis, melainkan justru seorang realis yang amat sangat praktis. Ini tidak berarti bahwa Yesus menafikan kesulitan-kesulitan serius yang inheren terkandung di dalam perintah tersebut. O, jangan Anda samakan Yesus dengan pendeta-pendeta atau penginjil-penginjil yang dari belakang mimbar menggambarkan betapa perjalanan iman itu seolah-olah tanpa pergumulan, bahwa kehidupan itu tanpa beban, dan bahwa kekudusan itu begitu gampang. Tidak! Yesus mengenal betul keterbatasan manusiawi serta dilema-dilemanya. Ia sendiri mengalaminya. Namun demikian, tanpa meremehkan kenyataan itu, Yesus benar-benar sangat serius dengan titah-Nya itu, kata demi kata. Dan Ia mau agar kita juga sama seriusnya dengan apa yang diperintahkan-Nya itu. Tugas kita, saudara, bukanlah melakukan studi kelayakan apakah perintah itu bisa dilaksanakan atau tidak. Tugas kita cuma ini memahami perintah itu dengan benar, lalu membulatkan tekad melaksanakannya. Titik. *** Tapi, dalam praktik, bagaimana sih caranya mengasihi musuh? Apa sih yang mesti dan dapat kita lakukan? Untuk mampu melaksanakan perintah ini, Anda pertama-tama perlu mengembangkan terus kemampuan dan terutama kemauan Anda dalam hal mengampuni. Orang tak mungkin mengasihi tanpa mau mengampuni. Dan selanjutnya yang mesti Anda sadari adalah, pengampunan selalu berarti mengampuni orang yang bersalah, khususnya orang yang telah
55

melukai dan menyakiti Anda. Orang baik-baik tidak memerlukan pengampunan Anda. Begitu pula orang yang senantiasa menyenangkan hati Anda. Astaga, mengampuni begitu saja orang yang telah melukai dan menyakiti kita?! Ini mungkin mengagetkan. Tapi memang tak ada pilihan lain. Pengampunan selalu merupakan bagian dari kewajiban si korban, bukan si pelaku. Yang berkewajiban mengampuni adalah pihak yang telah menjadi korban ketidakadilan, korban penindasan, korban penghisapan, korban kebencian, korban pengkhianatan, dan sebagainya. Sedangkan para pelaku kejahatan berada di kutub yang satu lagi, yaitu dalam posisi perlu diampuni. Bukan mengampuni. Ini jelas dalam perumpamaan "Si Anak Hilang." Ketika si anak durhaka itu akhirnya tiba juga pada akal sehatnya, lalu dengan langkah tak pasti mengatasi rasa malu dan rasa takut ia menyusuri jalan kembali untuk mencari pengampunan, apa yang terjadi? Adalah orang yang paling ia salahi dan sakiti--sang Ayah!--merupakan satu-satunya orang yang dapat menyiramkan air sejuk pengampunan. Tak ada yang lain. Pengampunan tidak berarti melupakan, apalagi mengabaikan, kejahatan yang pernah dilakukan. Samasekali tidak! Kejahatan tidak boleh dilupakan, dan memang tidak bisa. Pengampunan sejati justru hanya bisa hadir dan lahir dari tengah rasa pedih yang masih amat terasa. Tapi meskipun begitu, di tengah kepedihan dan sakit hati itu, yang bersangkutan dengan sadar dan sengaja, tidak membiarkan kepedihan itu memadamkan api kasihnya, serta meruntuhkan jembatan penghubung antarkeduanya. Kepedihannya yang sangat juga tidak ia biarkan membunuh pengharapan dan peluang, bahwa pada satu saat--entah kapan--mereka akan dapat menjalin lagi sebuah awal baru dalam kebersamaan mereka. Jadi bukan "to forget and to forgive" atau "lupakan dan ampuni," tetapi justru "to remember and to forgive" atau "mengingat dan mengampuni"! Aku tidak melupakan kesakitan serta kepedihanku akibat perbuatanmu, itu tak mungkin, tapi aku dengan tulus bersedia mengampunimu. Aku tidak dapat membenarkan kejahatanmu, ini juga mustahil, tetapi justru karena itu aku mengampunimu. *** Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu saja karena adanya kemauan yang kuat serta tekad yang bulat. Mengampuni seungguhnya bukanlah soal mampu atau tidak mampu, tetapi soal mau atau tidak mau. Kemauan yang kuat untuk mengampuni ini, pada gilirannya, akan amat terbantu bila ada kesadaran yang penuh, bahwa pada setiap orang selalu terdapat kejahatan maupun kebaikan. Maksud saya, tak ada orang sepenuhnya baik dan seluruhnya jahat. Sejahat-jahatnya si musuh, ia pasti menyimpan kebaikan. Dan sebaik-baiknya diri kita, pasti ada kekurangan dan kesalahan di dalamnya. Setiap orang karenanya membutuhkan baik penerimaaan maupun pengampunan. Kita ataupun siapa saja. Implikasinya, bila Anda membutuhkan pengampunan dari orang lain, apakah Anda punya alasan yang sah bagi keengganan Anda mengampuni orang lain? Mengampuni maupun mengasihi bukanlah soal getar rasa atau gejolak emosi. Bukan soal suka atau tidak suka. Tapi, sekali lagi, soal mau atau tidak mau. Sebab itu beruntunglah kita, karena Tuhan tidak memerintahkan kita untuk menyukai musuh kita. Walaupun Tuhan sendiri, kita tahu, Ia tidak akan bisa memaksa siapa pun untuk menyukai orang yang tidak ia sukai. Tapi orang memang tidak harus terlebih dahulu menyukai seseorang, baru dapat menerima dan mengampuninya. Ada satu lagi. Di atas saya katakan, bahwa tak seorang pun dapat memaksa Anda untuk mengampuni. Pengampunan itu mesti tulus, tanpa terpaksa. Namun demikian, Anda dapat "memaksa" diri Anda sendiri untuk mengampuni. Maksud saya, kemauan itu harus Anda kendalikan, bukan sebaliknya mengendalikan Anda.
56

Terlebih-lebih bila kita ingat, betapa negeri ini sudah tak punya banyak pilihan lagi, kecuali "rekonsiliasi sekarang" atau "hancur berkeping-keping kemudian." Secara individual kita tentu tak akan mampu mendamaikan seluruh negeri. Namun kita dapat mulai dengan mengusir kebencian, memadamkan dendam, dan menghadirkan damai di hati kita masing-masing. Ini arti dan dampaknya pasti besar sekali. (SH-031201) MIMPI YANG RUNTUH Salah satu kepahitan yang mesti kita telan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan adalah kenyataan bahwa tidak semua mimpi kita yang paling indah, serta cita-cita kita yang paling luhur, akan menjadi kenyataan. Getirnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, harapan demi harapan luruh, rubuh, dan runtuh, satu demi satu! Padahal, sering kali itu adalah harapan-harapan mulia. Sama sekali tidak mengada-ada. George Frederic Watts, dalam salah satu lukisannya yang paling kesohor, melukiskan "Pengharapan" sebagai sosok sendu. Duduk di puncak bola dunia, menundukkan kepala, sementara jemarinya memetik harpa--pada satu-satunya senar yang belum putus. Siapa yang belum pernah mengalami kegetiran itu? Senar harpa yang putus satu-satu. Lalu lagu kehidupan yang sumbang dan menyayat muncul dari situ. Bahkan Paulus pun, tak terkecuali, mengalaminya. Nyaris di akhir suratnya ke Roma, ia menulis, "Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol, aku dapat singgah di tempatmu (= Roma) dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana (= Spanyol), setelah seketika aku menikmati pertemuan dengan kamu." Harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Paulus tak pernah sampai ke Spanyol. Dan menginjakkan kakinya di kota Roma pun bukan untuk "singgah di tempatmu," melainkan sebagai tawanan dengan tangan dan kaki terbelenggu. Padahal, Roma dan Spanyol adalah dua kota paling penting dalam strategi pemberitaan Injil Paulus. Bisa dibandingkan dengan Kabul dan Kandahar bagi pasukan Taliban. Spanyol adalah batas "paling jauh" atau "ujung bumi" yang dapat dicapai oleh Injil pada waktu itu, sedang Roma adalah "pintu gerbang" menuju ke situ. Bukankah pengalaman Paulus ini adalah tipikal pengalaman manusia? Setiap orang pasti punya "Spanyol"-nya masing-masing. Tempat ia melabuhkan sauh pengharapannya yang paling jauh; dan mengukir idealismenya yang paling mulia. Tapi boro-boro "Spanyol," sampai di "Roma" pun melenceng jauh dari skenario. Pada awalnya, seperti Abraham atau seperti Musa, oh, para idealis dengan semangat menggebu-gebu, ikhlas meninggalkan segala sesuatu, demi "tanah perjanjian" yang limpah dengan susu dan madu. Demi "Spanyol"! Namun akhirnya? Sampai ke batas usia mereka, seperti tutur penulis surat Ibrani, mereka cuma bisa "melambai-lambaikan tangan dari kejauhan." Tak pernah masuk ke "negeri perjanjian." Apa yang tidak rela dikorbankan oleh Mohandas Mahatma Gandhi demi India yang bersatu dan merdeka? Namun semua pengorbanannya seolah-olah hanyalah pembayar tiket masuk guna menyaksikan perang antarkelompok agama yang secara tragis membelah anak benua itu menjadi India dan Pakistan, lalu kemudian Pakistan dan Bangladesh (dan mungkin kemudian lagi, India dan Kashmir?). Contoh ini masih dapat kita perpanjang lagi tanpa batas. Woodrow Wilson dengan impian "Liga Bangsa-Bangsa"-nya. Gorbachev dengan gagasan "Glasnost" dan "Perestroika"-nya. Sun Yat Sen dengan prinsip "San Min Chu I"-nya. Gamal Abdel Nasser dengan ambisi "Pan Arabika"-nya. Soekarno dengan obsesi "Pancasila" dan "Gotong Royong"-nya. Lalu mungkin pula kita nanti dengan kedambaan akan "Indonesia Baru" dengan "Reformasi" dan "masyarakat sipil"-nya. Semua itu adalah harapan-harapan yang mungkin tak akan pernah terwujud. Mimpi-mimpi yang runtuh agaknya adalah bagian tak terelakkan dari kefanaan
57

manusia. *** Bila memang tak terhindarkan, bagaimana kita mesti menyikapinya? Ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah, saking kecewanya, orang lalu membenamkan diri ke dalam pusaran frustrasi yang melingkar-lingkar tanpa jalan keluar, ditindih rasa penasaran, serta dibakar oleh api perlawanan dan pemberontakan kepada kenyataan. Orang-orang dari tipe ini biasanya berkembang menjadi orang-orang yang berhati beku, yang menyimpan kebencian dan menyandang dendam, bukan cuma terhadap Tuhan, melainkan juga terhadap orang-orang lain, bahkan terhadap dirinya sendiri. Karena tak mungkin berhadaphadapan langsung dengan Tuhan, mereka akan melampiaskan amarah kepada orang-orang di sekitar mereka, khususnya kepada pihak yang lebih "lemah." Dalam hal ini, mereka bisa menjadi amat kejam dan tak berperikemanusiaan. Beberapa analis sosial menengarai kemungkinan, kebencian sementara pihak kepada "minoritas" Kristen, antara lain adalah karena faktor tersebut. Maksud saya, orang-orang Kristen itu sebenarnya cuma "sasaran antara" saja dari keberangan mereka, bukan tujuan akhir. Benar tidaknya analisis ini, tidak relevan saya permasalahkan di sini. Ke-"judes"-an, keberangan, kepekaan yang berlebih-lebihan, bahkan kekerasan dan kekejaman adalah karakteristik yang dominan dari tipe reaksi yang pertama ini. Kekecewaannya yang amat mendalam membuat ia tak mampu mengasihi apa pun. Dan sebaliknya, mereka juga tidak mengharapkan kasih siapa pun. Duka yang panjang, kekekecewaan yang berulang-ulang, dan perasaan tertindas yang telah menorehkan luka yang amat dalam, adalah kombinasi ampuh untuk melahirkan kepribadian yang saya sebutkan itu. Konon, banyak teroris yang memilih jalan kekerasan bukanlah orang-orang yang kejam sejak awalnya. Semula, mereka barangkali hanyalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang mau menagih hak mereka. Tapi sayang sekali, mereka tidak cukup memiliki kesabaran dan kesadaran bahwa untuk mewujudkan yang baik diperlukan proses perjuangan dan pengorbanan yang panjang, serta cara yang baik pula. Klaim mereka bahwa mereka berjuang untuk yang baik dan yang benar tidak jarang harus mereka buktikan dengan kesediaan untuk berlapang dada menerima kenyataan, ketika cita-cita yang paling luhur serta upaya yang paling maksimal, tidak serta-merta menjamin keberhasilan. *** Reaksi yang lain, yang kedua, mengambil bentuk yang sebaliknya. Bukannya menjadi agresif, melainkan justru menarik diri dari dunia sekitar, memilih berasyik-asyik dengan diri sendiri, lalu berkembang menjadi introver, rapat-rapat menutup diri. Hanya dengan begitu, mereka merasa aman dari sekelilingnya yang terasa serba mengancam. Karenanya, tak seorang pun mereka izinkan masuk ke dalam privasinya. Sebaliknya, tak sekelumit pun mereka berminat dan berniat masuk ke kehidupan orang lain. Orang-orang ini telah berhenti bergumul, kehilangan daya, serta kehabisan gairah berjuang. Satu-satunya yang mereka inginkan adalah mengasingkan diri, kemudian tenggelam dalam alam kepasifan total. Mereka selalu menjaga jarak terhadap sekitarnya. Tidak mau terlibat apaapa. Tidak pula peduli pada siapa-siapa. Tak punya cukup kepedulian untuk mengasihi, ataupun nafsu untuk membenci. Terlalu menjauh bahkan untuk memikirkan diri sendiri, dan terlalu beku untuk memikirkan orang lain. Terlalu tertutup untuk merasakan sukacita, terlalu apatis untuk merasakan dukacita. Matanya tak mampu lagi menangkap keindahan alam. Telinganya kehilangan kepekaan untuk mendengar keagungan karya-karya musik abadi. Orang-orang seperti ini tidak mati, tapi juga tidak hidup. Mereka cuma sekadar eksis. Ada, tapi tidak berada. Harapan yang terus-menerus dikecewakan telah menggiring mereka kepada sinisme yang
58

melumpuhkan, seperti yang dilukiskan oleh Omar Khayyam, sang pujangga. "Pengharapan tempat sauh hati manusia melabuh / lebur jadi abu / atau bertaburan bagai salju / di wajah gurun berdebu / berkilau sejam dua / lalu sirna." Tapi salah dugalah mereka yang menyangka, bahwa mereka bisa melarikan diri dari kenyataan. No way! Filsafat "burung onta" yang merasa aman asal saja tidak melihat bahaya akan menjerumuskan mereka ke bahaya yang lebih fatal. Pada satu pihak, bodohlah orang yang membenturkan kepalanya ke tembok dengan maksud merubuhkannya. Pada lain pihak, yang tidak kalah sia-sianya, adalah berpikir bahwa hanya dengan menunggu tanpa berbuat apa-apa, pada suatu ketika, tembok itu akan rubuh dengan sendirinya. Jadi jelaslah, dua reaksi yang telah kita perbincangkan ini bukanlah cara merespons kekecewaan yang semestinya. Lalu bagaimana seharusnya? Masih ada dua pilihan sikap lagi yang harus kita bahas. Namun untuk ini, mohon Anda bersabar sampai minggu depan. Yang jelas pokok bahasan kita ini sangat relevan, khususnya karena kita akan segera memasuki tahun yang baru. (SH-020102) KEJAHATAN MEMANG PERKASA, TAPI TIDAK MAHAKUASA Oleh: Eka Darmaputera Orang Yunani kuno--seperti kita--percaya, Allah (= theos) itu baik. Sebab Ia baik, mustahillah dari sini muncul yang jahat. Jadi, kalau begitu, dari manakah kejahatan berasal? Jawab mereka: pasti dari "Tuhan" yang lain. Tuhan yang "bengis." Namanya, Demiourgos. Ada pula versi lain. Sebab Theos itu baik, yang disebut "jahat" itu tidak mungkin ada. Alias ilusi semata. Ilusi karena manusia yang telah terperangkap oleh kebendaan dan kedagingan, tak mampu lagi menangkap kebenaran yang sebenar-benarnya. Iman Kristen amat berbeda. Mewarisi iman Israel Perjanjian Lama, orang Kristen meyakini, pertama, kejahatan itu riil, nyata, fakta. Bukan sekadar fiksi, ilusi, atau fantasi. Dan, kedua, orang Kristen mempercayai dengan sepenuh hati, hanya ada satu Allah, tidak "allah" yang baik dan "allah yang "jahat." Allah yang satu itu adalah Khalik semua. Yang tampak maupun yang tidak. Yang baik maupun yang jahat. Kekristenan malah tidak cuma mengakui bahwa kejahatan itu ada, tetapi juga menekankan bahwa kuasa kejahatan itu perkasa luar biasa. Sebab itu, bila tak mau celaka, jangan sekali-kali meremehkannya. Dengan kemampuan serta kemauan maksimalnya sekalipun, manusia tak bakal mampu menandingi apalagi mengalahkan si Jahat. Buku terakhir Perjanjian Baru, Wahyu, secara dramatis melukiskan perang akhir yang imbang antara kuasa kebenaran versus kuasa kejahatan. Walaupun akhirnya, si Anak Domba itulah yang memenangkan pertarungan. *** Namun, iman Kristen tidak cuma mengatakan bahwa kejahatan itu ada serta serba perkasa, titik. Sebab bila cuma itu, ya apa istimewanya? Dan apa manfaatnya? Yang istimewa adalah kekristenan menegaskan, secara intrinsik di dalam dirinya, kejahatan menyimpan benih-benih penghancuran dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, kejahatan menyimpan kekuatan yang self-destructive. Seperti kamikaze, pasukan bunuh diri Jepang di masa PD II dulu. Bisa saja untuk masa yang lama, kejahatan tampak tangguh dan perkasa, seolah-olah tak mungkin tergoyahkan. Tapi, lihatlah apa yang terjadi dalam sejarah! Tidak ada kelaliman yang tahan bertahta selama-lamanya. Pada suatu ketika--bisa lama bisa pendek--kuasa kejahatan akan digilas oleh kuasa keadilan. Keniscayaan ini berlaku untuk kekuasaan apa saja, di mana saja dan kapan saja.
59

Manusia boleh saja melecehkan dan memandang remeh moral dan etika. Ketika pemimpinpemimpin umat beragama baru-baru ini berkumpul, lalu bersepakat untuk melancarkan sebuah gerakan moral, saya tahu banyak yang menertawakannya di dalam hati. "Moral? Bisa apa moral?!" Toh sejarah membuktikan adanya sebuah hukum besi moral yang selalu berlaku, baik orang mau mengakuinya atau tidak. *** Intinya adalah hidup ini berlangsung menurut aturan dan ketentuan-ketentuan moral tertentu. Anda mau melawannya? O, silakan! Tapi bersiap-siaplah menuai buahnya dan menanggung konsekuensinya. Anda tak mau mengakuinya? O, silakan! Anda tidak dipaksa. Tapi hukum itu akan berjalan terus, tanpa menunggu restu dan pengakuan Anda. Ada masa-masa di mana seakan-akan orang-orang seperti Hitler atau Mussolini, Idi Amin, atau Rasputin diberi keleluasaan menikmati kejayaannya. Bagaikan ilalang yang dibiarkan tumbuh bebas mengimpit gandum. Tapi ada saatnya, ketika ilalang akan dipisahkan dari gandum. Yang satu untuk dibakar menjadi abu, dan yang lain untuk disimpan di dalam lumbung. Dalam salah satu karya akbarnya, Les Miserables, Victor Hugo berbicara mengenai perang antara Wellington dan Napoleon, perang Waterloo yang terkenal itu. Ia menulis, "Mungkinkah Napoleon memenangkan peperangan? Jawab kita, tidak. Mengapa tidak? Apakah karena Wellington? Atau karena Bluecher? Juga tidak! Tapi karena Allah .... Vonis bagi Napoleon telah dijatuhkan sejak awal oleh Sang Maha Kekal. Kejatuhannya telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa. Napoleon telah membuat Allah jengkel. Waterloo bukanlah peperangan sebenarnya. Ia adalah gambaran dari ajang perang semesta yang sebenarnya." Ajang perang semesta yang sebenarnya? Apa maksudnya? Waterloo, menurut Victor Hugo, merepresentasikan peperangan moral yang terus-menerus terjadi. Waterloo adalah lambang kejatuhan yang pasti dari setiap "napoleon" yang ada di muka bumi. Sebuah peringatan abadi tentang rapuhnya sebuah angkatan anak manusia yang mabok oleh kemenangan militer. Penegasan bahwa kebenaran--atau apapun yang baik--tak mungkin dihasilkan oleh kuasa pedang, melainkan hanya oleh kuasa roh melalui kekuatan moral! *** Anda masih kurang yakin? Telah lupakah Anda bahwa belum sampai seratus tahun yang lalu, selama berabad-abad, dunia--khususnya Asia dan Afrika--masih dikuasai oleh sistem kolonialisme? Sebuah sistem yang waktu itu diyakini sebagai kodrat yang hanya mesti diterima, dan tak mungkin diubah. Ternyata tidak. Suatu kekuatan yang tersembunyi juga bekerja di bawah permukaan. Kekuatan kemerdekaan dan keadilan. Ini disungguhkan tidak kurang oleh MacMillan, Perdana Menteri dari kekuatan kolonial terbesar di dunia, Inggris. Ia mengatakan bahwa "angin perubahan telah mulai bertiup." Kemudian hanya dalam waktu tidak lebih dari 15 tahun, kekuatan-kekuatan kolonial rubuh satu demi satu bagai deretan kartu domino, dan puluhan negara baru bermunculan. Siapa dan dari mana kekuatan ini? Kita tidak tahu. Yang jelas, inilah yang terjadi bila kuasa Tuhan bekerja. Inilah yang terjadi bila kekuatan moralitas dilawan. Inilah yang terjadi bila proses pembusukan telah sampai ke titik yang tak tersembuhkan.
60

Allah mampu mengalahkan dan menaklukkan kuasa kejahatan. Mungkin tidak dengan cara menggelontor bumi dengan air bah seperti pada zaman Nuh; atau membelah lautan seperti pada zaman Musa, atau membakar bumi seperti yang terjadi atas Sodom dan Gomora. Mungkin memang tidak perlu. Sebab sebagaimana saya katakan, lambat atau cepat kuasakuasa kejahatan itu akan menghancurkan dirinya sendiri. Ini adalah bagian dari hukum besi moralitas yang tak mungkin dilawan. Membuktikan kebenaran kata-kata Yesus, orang yang bijaksana akan mendirikan rumahnya di atas batu. "Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh ...." Berbeda dengan mereka yang mendirikan rumahnya di atas pasir. James Russell Lowell menulis, "Kebenaran selamanya terpuruk di lantai berdebu. Dan kejahatan selamanya bertahta di singgasana mulia. Tapi, jangan salah, sebab dari lantai berdebu ini, taufan masa depan menyapu. Dan di kesamaran yang tersembunyi, berdirilah Allah di bawah naungan bayang-bayang--memperhatikan." "Zaman ini zaman edan. Yang tidak ikut-ikutan edan tidak kebagian." Kata-kata ini amat terkenal, bukan? Tapi tolong jangan kutip Ronggowarsito cuma sampai di sini. Sebab yang tak kalah pentingnya adalah, ia juga mengatakan, "Seuntung-untungnya yang edan, masih lebih beruntunglah mereka yang eling dan waspada." (SH-090202) Penyanyi dan Nyanyiannya (Refleksi Matius 5:21-48) Oleh: Eka Darmaputera ANDAIKATA Yesus adalah mahasiswa sekolah teologi, lalu saya dosen homiletika-(= ilmu khotbah)-Nya, "KHOTBAH DI BUKIT" akan saya beri nilai B. Artinya baik, tapi toh tidak istimewa-istimewa banget. Metode penyampaiannya, saya nilai bagus. Lumayan kreatif dan komunikatif. Tidak seperti gaya sebagian pendeta kita yang kaku bagaikan di-"super-glue", atau seperti arca, tak pernah beranjak setengah inci pun dari tempatnya. Yesus tidak. Kata Matius, "Melihat orang banyak itu, Ia naik ke atas bukit". Bayangkan, berkhotbah dari lereng bukit! Wow, romantisnya! Sewaktu berbicara, mata-Nya tidak cuma terpancang ke kertas, atau melulu mendongak ke atas. Tidak berkhotbah bak latihan membaca, dan yang mendengarkannya seperti menonton deklamasi. Menurut Matius, Ia "melihat ke orang banyak". Ia memelihara "eye-contact" atau "kontak mata" dengan para pendengar-Nya. Membuat orang merasa disapa secara pribadi. Sebuah faktor penting dalam komunikasi. Adapun mengenai isinya, khotbah Yesus saya nilai oke. Bahasanya sederhana, mudah ditangkap. Walau pasti tidak membuat segala sesuatunya jadi bening, paling sedikit Ia tidak bikin orang tambah pening. Penyampaian pesannya padat, ringkas, tepat ke sasaran. Ibarat ke Sukabumi, langsung ke Ciawi, tidak putar-putar dulu ke Sukamandi. Kemudian ada satu hal lagi yang amat penting untuk diketahui dan diteladani oleh setiap pengkhotbah. Apa itu? Khotbah di Bukit, tak salah lagi, adalah khotbah yang tegas, tajam, menempelak. Yang menuding tanpa tedeng aling-aling. Yang mengecam tanpa sembunyi tangan. Dengarlah, misalnya, tiga yang berikut ini! "Jika matamu menyesatkan, cungkillah ... jika tanganmu menyesatkan, penggalah dan buanglah". "Jika kamu berdoa, janganlah berdoa
61

seperti orang munafik ...." "Jangan memberikan barang yang kudus kepada anjing, dan jangan kamu lempar mutiaramu kepada babi ...." Tajam dan menusuk, ya, tapi tidak menyakiti hati atau melukai pribadi. Yesus mengingatkan bahwa tujuan sebuah khotbah adalah mengajak mereka yang bersalah agar sadar dan bertobat. Bukan menghukum, dengan membuat orang malu dan sakit hati. Sebuah pelajaran bagi para pengkhotbah yang gemar menyalah-gunakan mimbar untuk memuntahkan unek-unek pribadi, atau menyerang lawan. *** JADI, khotbah Yesus secara umum lumayan-lah. Lebih dari rata-rata. Namun, terus terang, tidak juga terlalu istimewa. Banyak pengkhotbah, penginjil, orator, bahkan demagog, yang sanggup berkhotbah lebih baik dan menarik; lebih memikat dan mengikat. Menurut saya--entah Anda--Bung Karno dan John Kennedy; Buya Hamka dan Zainudin MZ lebih baik. Yohanes Pembaptis juga lebih hebat. Saya tidak mengatakan bahwa Yesus adalah pembicara yang buruk. O, tidak! Saya cuma ingin menegaskan, bahwa Ia bukan pengkhotbah atau orator yang terbaik. Pertanyaannya adalah bila bukan yang terbaik, mengapa mesti repot-repot memedulikannya? Mengapa kita tidak alihkan saja fokus perhatian kita kepada orang lain. yang benar-benar "terbaik"? Pertanyaan yang sah dan wajar! Dan itulah yang akan kita bahas bersama sekarang. Hanya saja, pertanyaannya akan saya rumuskan lebih positif. Bukan "Mengapa kita tidak tinggalkan Yesus?", tetapi "Mengapa kita mesti bertahan pada Yesus?" *** MENGAPA bertahan pada Yesus? Mengapa kata-kata-Nya layak menyita perhatian kita? Apa sih yang ada pada Yesus, yang tidak ada pada orang lain? Jawabannya sangat sederhana. Kelebihan Yesus adalah pada otoritas, kewibawaan, dan kewenangan yang dimiliki-Nya. Inilah yang tidak dimiliki oleh siapa pun yang lain. Otoritas yang membuat Matius menulis, "Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka". Takjub! Itulah reaksi para pendengar langsung khotbah Yesus waktu itu. "Takjub" adalah percampuran pelbagai macam perasaan sekaligus, yang semuanya muncul secara spontan. Kata "spontan" ini penting sekali. Sebab "spontan" berarti sesuatu yang muncul secara tulus, tidak bisa direkayasa atau dipaksa-paksa. Di situ ada rasa heran. Ada rasa kagum. Ada rasa terpesona. Ada rasa "terkuasai" (overwhelmed). Ada rasa hormat. Semua yang saya sebutkan itu harus muncul secara spontan, bukan? Orang dapat dibuat bengong, tapi tidak bisa dipaksa kagum. Orang bisa dibuat takut, tapi tidak bisa dipaksa hormat. Dan perlu saya tambahkan, rasa takjub juga merupakan "induk" dari hal-hal seperti iman, ketaatan, penyerahan diri, dan sebagainya. Semua ini tidak akan ada, betapa pun orang terkagum-kagum misalnya kepada David Copperfield, si pesulap dahsyat bermata elang itu. Dengan amat tepatnya, seseorang, entah siapa, saya lupa, melukiskan bagaimana wujud perasaan takjub, yang lahir alamiah tanpa "bedah kaisar" akibat perjumpaan dengan Kristus. Katanya, "Apabila kaisar yang paling adhikuasa di dunia ini tiba-tiba masuk ruangan, semua orang yang duduk akan serta-merta segera berdiri di atas kaki mereka. Tetapi apabila Kristus yang memasuki ruangan, semua orang yang semula berdiri, akan serta-merta rebah segera
62

bersujud bertumpu di atas lutut mereka". *** PADA bagian Khotbah di Bukit yang kita refleksikan kali ini, dengan amat jelas Yesus menegaskan otoritas yang dimiliki-Nya. Tidak kurang dari lima kali, Ia berkata, "Kamu telah mendengar firman 'begitu, begitu, begitu' .... Tetapi Aku berkata kepadamu 'begini, begini, begini' .... Bila sebelum ini Yesus mengatakan, bahwa "Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya", seka-rang Yesus berulang-ulang mengutip hukum Taurat, tetapi hanya untuk melawannya. Mengapa ini? Pasti bukan karena "sok jago" seperti kecenderungan "koboi-koboi Senayan" kita tempo hari. Yesus tetap sangat mematuhi dan menghormati hukum. Karena itu, Ia bukan mengajarkan halhal yang bertentangan., melainkan hal-hal yang melebihi tuntutan Taurat. Jadi, kalau Taurat mengatakan, "Jalan lima kilo"; Yesus tidak mengatakan, "Jangan berjalan!". Tetapi, "Berjalanlah sepuluh kilo". Ia menuntut lebih daripada ketaatan legal atau ketaatan formal. Ia menghendaki ketaatan total; ketaatan eksistensial. Bukan karena "saya harus", melainkan karena "saya mau". Di mana letak otoritas Yesus, sehingga Ia dapat menuntut ketaatan total seperti itu? Otoritas yang tidak dimiliki bahkan oleh Abraham, Musa atau Elia? Ada dua alasan. Pertama, yang bersangkutan dengan "siapa Dia". Karena Yesus adalah Yesus. Betapa pun hebat "peringkat" rohani Abraham atau Musa atau Elia, mereka menyandarkan otoritas mereka kepada tiga kata ini, yaitu, "Demikianlah Firman Tuhan". Hanya apabila mereka dengan setia menjadi "saluran" Allah, dan tidak menyandarkan diri kepada otoritas mereka sendiri, perkataan mereka punya kewibawaan, dan orang laik mendengarkannya. Yesus tidak! Ia adalah satu-satunya yang punya wewenang untuk berkata, "Tetapi Aku berkata kepadamu ...." Yesus bukan cuma "saluran Allah". Ia adalah Allah sendiri. Anda bertanya, "Mengapa bertahan pada Yesus?" Anda telah memperoleh jawabnya. Yesus adalah satu-satunya yang layak untuk didengarkan dan diikuti karena Ia adalah Allah. Setiap saat ia harus memilih. Pesan untuk Anda, adalah: "Jangan sampai salah pilih! Pilihlah dengan saksama siapa yang layak Anda ikuti! Yang punya otoritas untuk menuntut ketaatan dan kesetiaan mutlak dari Anda!" Yang kedua, pendek saja. Mengapa kita bertahan pada Yesus? Jawabnya adalah: karena integritas-Nya. Jangan Anda ikuti orang berdasarkan omongannya! Orang yang pantas menerima ketaatan dan kesetiaan Anda adalah orang yang satu perkataan dan tindakannya. Dalam hal ini, tidak ada yang mampu melebihi Yesus. Ia melakukan apa yang Ia katakan, dan Ia mengatakan apa yang Ia lakukan. Kadang-kadang kita mendengar orang mengatakan bahwa yang penting adalah "nyanyian"-nya bukan "penyanyi"-nya. It's the song, not the singer. Saya tidak sepakat. Banyak tokoh jadi amat memuakkan, sebab ia bukan penyanyi yang baik untuk nyanyian yang selalu ia nyanyikan. Untuk apa menyimak, bila cuma nyanyiannya saja yang bagus, tetapi penyanyinya parau dan sumbang? Anda masih berminat juga membeli rekaman-rekamannya? Saya tidak! Kesamaan dan Persamaan (Refleksi Matius 5:21-48) Oleh Eka Darmaputera Tiap-tiap orang itu unik. Artinya, tidak ada dua orang yang sama persis. Paling sedikit, sidik jarinya berbeda. Bahkan, menurut teori yang lebih mutakhir, bukan cuma secara fisik
63

seseorang itu khas, tapi juga secara psikis dan spiritual. Bukan hanya "IQ"-nya, tapi juga "EQ"nya dan "SQ"-nya berlain-lainan. Keanekaragaman tersebut kita akui dan kita syukuri.. Namun begitu, iman Kristiani juga menekankan kesamaan. Tolong perhatikan, saya tidak berbicara mengenai "persamaan" (= similarity), tapi kesamaan (= equality)! Maksud saya, sebagai pribadi, Andika berbeda dari Andiki, dan Cornelius berbeda dari Delmethius. Namun sebagai manusia, mereka setara. Mereka berbeda secara eksistensial, tapi sama secara esensial. Sayang sekali tidak semua orang mempercayainya. Padahal ini punya implikasi yang sangat menentukan bagi pandangan yang bersangkutan mengenai HAM. Sebab kalau orang tidak percaya bahwa pada hakikatnya manusia itu sama, bagaimana mungkin ia percaya bahwa orang punya hak asasi yang sama, bukan? *** SEBAGAI contoh tentang pandangan yang berbeda itu, saya akan menyebutkan dua saja. Ekstrem yang satu adalah "determinisme" atau "fatalisme". Menurut aliran ini, setiap orang sudah ditentukan (= determined) "nasib"nya sejak awal. Dari "sononya" telah ditetapkan bahwa yang satu berdarah biru, sedang yang lain orang kebanyakan. Yang satu masuk daftar urut pewaris tahta, sementara yang lain tetap "kromodongso" sampai tutup usia. Dan semua ini punya konsekuensi dalam hak dan perlakuan; dan selanjutnya dalam pembagian kekuasaan dan kekayaan. Jadi, menurut aliran ini, yang hakiki pada manusia adalah justru ketidaksamaannya. Sebab ketidaksamaan itu di-"predestinasi"-kan sejak semula, hanya harus diterima, dan mutlak tak dapat diubah. Dalam pewayangan, Petruk adalah seorang abdi yang baik. Tapi sekaligus, ia pasti tuan yang buruk. Mengapa? Karena "kodrat"nya dari awal adalah abdi. Ketika "Petruk" merampas tahta dan coba mengubah nasibnya dengan mengangkat diri menjadi "ratu", gemparlah dunia para dewa dan kacau-balaulah seluruh alam semesta. Ini bukan terutama karena "Petruk" tidak mampu jadi "ratu", tapi karena "tempat"nya tidak di situ. Dunia hanya akan sejahtera bila semua dengan "mapan" berada di tempat yang telah ditentukan: Jadi kalau tempat Anda adalah raja, memerintahlah! Tapi bila tempat Anda adalah rakyat, taatlah! Jangan dibalik-balik! *** PADA ekstrem yang lain, adalah faham egalitarianisme. Aliran ini justru ngotot meyakini yang sebaliknya. Yaitu bahwa manusia tidak cuma memiliki "kesamaan" yang esensial, tapi juga "persamaan" dalam segala hal. "Semua orang adalah sama dengan semua orang dalam semua hal," begitu kira-kira prinsip mereka. Karena itu bila ada perbedaan, ini adalah kesalahan yang mesti dikoreksi. Atau kalau toh belum bisa diubah sekarang, ya diterima dulu. Namun hanya dengan sangat terpaksa dan untuk sementara saja. Akibatnya? Sendi-sendi kehidupan juga porak-poranda. Mengapa? Sebab ini juga bertentangan dengan kodrat. Orang tidak akan produktif dan roda ekonomi akan macet total, bila yang bekerja 12 jam diupah sama dengan mereka yang bekerja 4 jam. Bagaimana orang akan termotivasi bekerja giat, bila seorang insinyur yang amat inovatif, di akhir bulan, dihargai sama dengan seorang opas yang malas? Bayangkan pula betapa kacaunya sebuah kesatuan militer, ketika hierarki kepangkatan dihapuskan, dan semua orang dari jenderal sampai prajurit mengenakan seragam yang sama tanpa tanda pangkat? Ini pernah coba dijalankan di RRC., dan gagal total. Egalitarianisme bukanlah idealisme yang masuk akal. Saya anjurkan, Anda memimpikannya
64

pun jangan! Ia bukan saja tidak mungkin bisa diwujudkan, tapi juga akan merusak tatanan, dinamika dan kreativitas. Kodrat manusia memiliki dua sisi sekaligus, yang mesti diperhitungkan dengan seimbang: baik "perbedaan" maupun "kesamaan". Kesalahan determinisme adalah karena ia hanya memperhatikan dimensi perbedaannya, sedang egalitarianisme melulu dimensi kesamaan bahkan persamaannya. *** MENURUT iman Kristen, nyaris dalam segala hal, manusia tidak memiliki "persamaan" dengan yang lain. Ke"bhinneka"an ini mesti disyukuri sebagai manifestasi kekayaan dan keajaiban kreativitas Allah. Sebab, wah, betapa kelabunya hidup, sekiranya segala sesuatu serba seragam dan satu warna belaka! Namun sekaligus dengan itu kita juga harus mengatakan, bahwa dalam beberapa hal, manusia memiliki "kesamaan" (bukan "persamaan"!) satu sama lain. Pertanyaannya adalah, dalam hal apa Presiden Mega, misalnya, punya kesamaan dengan Andi Sepa, pemulung sahabat saya? Jenderal Sutarto, yang Pangab, punya kesamaan dengan Mohamad Idris, yang prajurit GAM? Atau kesamaan taipan Nursalim dengan Nurbuat, nelayan yang bekerja di tambak udang plasma-nya di Lampung? Atau Collin Powel dengan al'Hamid yang rumahnya baru saja dihancurkan di Ramallah? Ada empat hal. Kesamaan pertama, adalah, bahwa semua orang adalah CIPTAAN ALLAH yang sama. Ini, saya kira, tak perlu kita percakapkan lagi. Kesamaan kedua, adalah, bahwa semua orang diciptakan sebagai GAMBAR ALLAH. Jadi, apakah ia Mega atau Andi Sepa, Sutarto atau Mohamad Idris, Nursalim atau Nurbuat, Coillin Powel atau al'Hamid, semuanya adalah "gambar Allah". Yang seorang tak ada yang lebih atau kurang dibandingkan dengan yang lain. Dengan perkataan lain, semua orang punya hubungan yang istimewa dengan Allah, yaitu sebagai "gambar"Nya. Dan karenanya semua orang adalah makhluk bermartabat mulia, yang tidak boleh diperilah tapi juga tidak boleh diperhamba. Kesamaan ketiga dan keempat adalah, bahwa setiap orang dan semua orang adalah PENDOSA dan sekaligus penerima tawaran PEMBENARAN dari Allah. Atau, mengutip Paulus, " Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan ke-muliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan Kristus Yesus". *** DARI empat hal yang saya sebutkan di atas, dua yang terakhir adalah yang paling kontroversial. Di mana letak kontroversi-nya? Pertama-tama, karena mungkin hanya orang Kristen saja yang percaya dan mengatakan bahwa "semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah". Semua orang? Ah, yang benar saja dong! Kalau dikatakan "banyak" atau "sebagian besar" orang telah berbuat dosa - ya okelah. Tapi melakukan generalisasi begitu saja, bahwa "semua orang telah berbuat dosa", bukankah keterlaluan? Paling sedikit secara teoritis, kita harus membuka kemungkinan bagi adanya orang yang tidak pernah membunuh, berbohong, berzima. mencuri, atau melakukan hal-hal yang lazim disebut "dosa". Masakan main hantam kromo dengan a priori mengatakan, bahwa semua semua orang telah berbuat dosa?! Apa ini tidak berarti secara gegabah mempersamakan Martin Luther King Jr dengan pembunuhnya? Secara tersirat, dalam bagian Kotbah di Bukit yang sedang kita bahas ini, Yesus memang memperkenalkan sebuah konsep yang sama sekali baru tentang "dosa". Konsep yang mengejutkan!
65

Ia, misalnya, berkata, "Kamu telah mendengar firman Jangan membunuh ; siapa yang membunuh harus dihukum, tapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. . Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina. Tapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. ." *** MEMBACA ini, reaksi spontan orang biasanya adalah menolak dan mendebatnya. Ini adalah manifestasi tersembunyi dari "defense mechanism" orang yang merasa bersalah tapi tidak mau dipersalahkan. Sebab itu kali ini saya anjurkan agar yang pertama-tama Anda lakukan adalah merenungkannya, dan mencari kebenarannya. Bila ini Anda lakukan, percayalah, Anda akhirnya pasti akan mengatakan, "Benar juga, ya?!". Bukankah benar mengatakan, bahwa "tindakan" itu adalah anak kandung "keinginan"? Tindakan hanya akan ada, bila pertama-tama ada niat. Karena itu, pembunuhan lahir dari kebencian. Zina lahir dari hawa nafsu dan pikiran kotor. Bukankah benar pula mengatakan, bahwa bila kita tidak ingin berbuat dosa, maka kita harus membunuh dosa itu sejak ia masih berada dalam kandungan. Lenyapkanlah dosa, sementara ia masih berwujud keinginan. Artinya: stop melamunkan itu! Seperti kata sebuah pepatah India, "Bunuhlah kobra sementara ia masih telur". Dosa telah mulai, ketika Hawa mulai tertarik melihat yang dilarang! Martin Luther King Jr memang jauh berbeda kualitas maupun karakternya, dibandingkan dengan pembunuhnya. Tapi dapatkah kita mengatakan, bahwa MLK tidak pernah - walau sekali - mempunyai keinginan yang jahat? Dan ini juga berlaku bagi siapa saja. Tak seorang pun dapat membanggakan diri, bahwa kita "lebih manusia" atau "lebih ilahi" dari pada yang lain, karena tak pernah punya niat buruk. Paling sedikit dalam hal itulah, semua orang adalah sama-sama pendosa. Sama-sama tergantung kepada anugerah pembenaran Allah. Semua kita pada hakikatnya sama saja: perlu membunuh kobra sementara ia masih telur. Jangan seorang pun merasa terlalu yakin diri, "Ah, saya sih tak mungkin tergoda soal-soal begituan!". Tapi jangan pula bersikap sebaliknya, yaitu merasa tidak percaya diri, sehingga kita terlalu mudah menyerah melawan keinginan. sebelum sempat melawan! * Dari Hati Turun ke Mata Oleh: Eka Darmaputera "Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali. Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati" Begitu, bukan, bunyi pantun yang sangat kita kenal itu? "Mata" dianggap sebagai asal-muasal dan pokok-pangkal hal-hal yang baik, tapi juga rahim yang melahirkan perkara-perkara yang jahat. Tidak heran orang Jepang konon punya kepercayaan, bahwa wanita hamil sebaiknya melihat pemandangan yang indah-indah saja. Misalnya, bunga-bunga di taman nan beraneka-warna. Atau suasana telaga yang damai. Sebaliknya, mereka mesti dihindarkan dari melihat - apalagi melakukan - hal-hal yang jahat. Sampai membunuh seekor nyamuk atau kecoa sekali pun. Menurut saya, kepercayaan tersebut banyak benarnya. Bukankah siapa pun dalam keadaan apa pun, melihat yang indah-indah selalu baik? Sebaliknya melihat, apa lagi terlibat, dengan yang jahat, amatlah riskan dan berbahaya - mudah tertular. Tapi agaknya Firman Tuhan punya pandangan lain. Memang benar Yesus pernah mengatakan, bahwa "mata itu pelita hati". Artinya, mata punya fungsi dan posisi yang vital. Namun salahlah pandangan yang mengatakan, bahwa mata adalah "biang kerok" segala sesuatu.
66

Bahkan bukan cuma salah, tapi juga berbahaya. Ia telah membuat banyak orang tertindas dan menderita, karena hak-hak asasi mereka dilanggar. Praktik-praktik sensor yang sewenangwenang, misalnya, pada umumnya terjadi karena asumsi bahwa kalau saja "mata" tidak melihat yang "jahat-jahat", maka kejahatan pun tidak akan terjadi. Karena itu, apa yang boleh dan tidak boleh dilihat harus diatur dan dibatasi. Kita pasti masih ingat betul masa tatkala majalah-majalah tiba di tangan kita berlumuran tinta hitam. Ini adalah karena orang-orang seperti Ali Murtopo atau Harmoko percaya, bahwa kalau saja masyarakat tidak membaca yang "buruk" (dalam pandangan mereka), otomatis segala sesuatu akan baikbaik semata. *** TAPI sensor yang dimaksudkan sebagai alat pendidikan yang positif, dalam realitas ternyata lebih berfungsi sebagai alat penindasan yang destruktif. Dengan sengaja saya menyebutnya "penindasan", sebab memang itulah yang terjadi, ketika orang dicabut hak-haknya untuk berpikir bebas dan mengambil keputusan sendiri. Padahal Tuhan saja menghormati kebebasan manusia. Ia bahkan memberi pilihan kepada manusia untuk tidak taat! Sebab itu merenggut hak dan kebebasan sesama adalah bertentangan dengan kehendak Allah. Kita mesti setuju dengan pendapat, bahwa kebebasan pers adalah pilar utama HAM. Kebebasan pers tercabut, maka semua hak asasi yang lain tinggal menunggu gilirannya. Namun demikian, penolakan terhadap sensor tidak berarti bahwa pembatasan atau pengaturan tak perlu ada. Salah besarlah mengatakan, bahwa "siapa saja boleh melihat apa saja, di mana saja, dan kapan saja". Di dalam Alkitab kita membaca, bahwa tidak semua boleh dan dapat dilihat dengan bebas oleh manusia. Ada hal-hal yang dilarang keras oleh Allah untuk dilihat. Misalnya, melihat wajah Allah. Ada hal-hal yang karena kefanaan kita tidak mungkin kita lihat. Misalnya, masa depan kita. Kemudian ada pula hal-hal yang sengaja dirahasiakan oleh Allah. Misalnya, kapan Hari Akhir dan ajal kita akan tiba. Lalu akhirnya, ada hal-hal yang walaupun dapat dilihat oleh mata kita, tapi sebaiknya jangan kita lihat. *** PADA satu sisi, kebebasan adalah bagian hakiki manusia. Begitulah Allah menciptakannya dan menghendakinya. Sebab itu pantang dinafikan. Namun demikian, kebebasan tersebut tidak tanpa batas. Sebab pada sisi lain, kebebasan tanpa batas selalu bersifat negatif dan destruktif. Mengapa? Karena ini juga bertentangan dengan kodrat manusia. Kodrat manusia adalah makhluk, ciptaan, karena itu fana. Serba terbatas. Bagaikan singa dalam kurungan. Tampaknya saja garang dan meyakinkan, tapi cuma sampai batas tertentu. Ia tidak bisa keluar dari situ. Upaya manusia untuk melawan dan keluar dari keterbatasannya, pasti berakibat satu di antara dua. Atau ia binasa seperti ikan yang menolak hidup di dalam air. Atau ia celaka karena tak mampu mengendalikan kebebasannya sendiri - seperti mengendarai mobil yang remnya "blong". "Kebebasan" yang "kebablasan". Jadi bagaimana? Jawabnya adalah, pembatasan atau sensor - sampai pada batas tertentu penting dan perlu. Tapi si penyensor juga wajib terus-menerus disensor, dibatasi dan diawasi! Di sinilah masalah kita yang paling krusial. ***
67

UDARA rohani di mana kita hidup - sebagaimana halnya dengan udara "jasmani" di sekitar kita - menurut Firman Tuhan telah mengalami pencemaran atau terpolusi dengan hebatnya. Inilah yang dimaksudkan Paulus, ketika ia menulis tentang perjuangan melawan "penghulu dunia yang gelap" dan "roh-roh jahat di udara". Karena itu, kita perlu "filter" atau "sensor rohani" pula. Menurut Firman Tuhan, "lembaga sensor rohani" yang paling kredibel adalah Roh Kudus. Dia-lah yang tahu dan mampu mem"filter" apa yang boleh masuk dan apa yang harus keluar. Sedemikian rupa, sehingga semua yang keluar menyenangkan hati Allah dan mendatangkan rakhmat bagi sesama. Sedangkan yang masuk melahirkan rasa lapang dan damai sejahtera di hati kita. Tidak sebaliknya, malah membuat nafas rohani kita menjadi sesak. Tapi bagaimana "membuat" agar Roh Kudus benar-benar berfungsi?. Sama seperti untuk dapat memanfaatkan komputer, kita mesti pertama-tama mengetahui cara bekerjanya, kita juga perlu mengetahui bagaimana Roh Kudus bekerja. Alkitab antara lain menjelaskan sebagai berikut. Roh Kudus atau "nafas kehidupan yang dari Allah", adalah salah satu unsur terpenting yang membuat manusia menjadi manusia. Tanpa itu, manusia (= adam) hanyalah debu (= adama) belaka. Namun kita diberitahu bahwa manusia tidak cuma "adama". Manusia adalah suatu kesatuan tubuh, jiwa dan roh - dan karenanya, ia berakal budi dan berhati nurani. Dalam hal memiliki "tubuh", manusia tidak berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Dalam hal memiliki "jiwa", manusia juga tidak berbeda dengan binatang-binatang tertentu. Hanya dalam satu hal, manusia benar-benar unik, tak ada duanya. Yaitu dalam hal keberadaan "Roh Allah" di dalam dirinya. "Roh Allah" inilah yang bekerja di dalam diri manusia, melalui "akal budi" dan "hati nurani"nya - dan membuatnya menjadi makhluk yang istimewa, "gambar Allah". *** BILA menurut pandangan populer dunia ini, semua tindakan manusia - baik maupun buruk "dari mata turun ke hati", Alkitab mengatakan yang sebaliknya. Yaitu, segalanya bertolak dan berpangkal dari "hati" Kalau yang keluar adalah tindakan yang baik, itu berarti Roh Kudus yang berfungsi. Sebaliknya bila yang jahat dan kotor yang keluar, maka roh kegelapan-lah yang beroperasi. Tapi bagaimana pun, tak mungkin manusia otonom sepenuh-penuhnya. Manusia cuma punya pilihan: menjadi "hamba Allah" atau "hamba dosa"; "hidup menurut Roh" atau "hidup menurut daging". Kitab Kejadian mengisahkan peristiwa yang menggambarkan pola proses kejatuhan manusia ke dalam dosa. Pola proses yang terus-menerus terulang sampai sekarang. Di situ kita membaca, antara lain, "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya". Kutipan kita dimulai dengan kalimat "perempuan itu melihat". Sepintas lalu ini memberi kesan, seolah-olah proses dosa berawal dari "mata". "Dari mata turun ke hati". Padahal tidak. Tindakan "perempuan itu melihat" tidak lebih adalah kelanjutan dari suatu proses batin sebelumnya. Yaitu, pertama, ketika manusia berhasil diperdayakan sehingga bersedia berdialog dengan si Iblis. Padahal seharusnya manusia hanya boleh mendengarkan Allah saja. Dan kedua, ketika kemudian manusia - di dalam hatinya - mulai meragukan kebenaran firman dan titah Tuhan.
68

Proses paling awal kejatuhan manusia selalu adalah, ketika di hatinya secara tanpa sadar ia "menyejajarkan" Allah dengan Iblis. Maksud saya ialah, ketika hati manusia mulai mendua, mendengarkan sini mendengarkan sana. Menyangka bahwa ia memiliki wewenang untuk pada akhirnya memutuskan siapa yang benar di antara keduanya: Allah atau Iblis. Padahal seharusnya ia hanya boleh taat kepada Allah. Prinsip yang berlaku adalah: "Bukan karena benar maka sesuatu itu adalah perintah Allah, tetapi karena sesuatu itu adalah perintah Allah maka ia benar". *** BEGITU manusia membuka hati untuk mendengarkan Iblis di samping Allah, ia membuka peluang bagi Iblis untuk melancarkan serangan yang mematikan. Dari mula-mula membanding-bandingkan antara Allah dan Iblis, proses melanjut dengan meragukan Allah dan kian mempercayai Iblis. "Jangan-jangan embah dukun yang benar!" "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat". Atau, "Ayo lakukan saja! Jangan terlalu pusing soal Allah. Sudah berapa kali kamu berteriak dalam doamu kepadaNya? Adakah manfaatnya? Apakah Ia mendengarkanmu? Mengapa tidak coba "orang pinter" sekarang?". Tatkala keraguan akan kebenaran dan kebaikan Allah mulai tersemai di hati Anda, Anda telah tiba di tapal batas antara dosa sebagai "niat" dan dosa sebagai "tindakan". Inilah saatnya mata mulai berfungsi. Ia mengajak Anda berpaling ke arah yang salah, dan memerosokkan Anda semakin dalam ke perangkap dosa. "Lalu ia mengambil buahnya untuk dimakan dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya". Herankah kita sekarang, mengapa dalam Kotbah di Bukit Yesus begitu menekankan peran hati? Dosa, dalam bentuknya yang paling nyata, memang berwujud tindakan. Tapi dosa tidak berpangkal di situ. Tindakan hanyalah out-put saja dari apa yang ada di dalam hati. Mata yang tertarik lalu melirik, serta tangan yang meraih lantas membagi, adalah sekadar konsekuensi logis dari yang sebelumnya menggejolak di sanubari. Seperti uap yang dengan sendirinya keluar dari ketel, ketika air yang dijerang mulai mendidih. "Dosa" ada di ketel, bukan di uap. Tanpa air yang mendidih, uap pun tiada. Yesus menekankan apa yang tersemai di hati manusia, sebab itulah yang akan kita tuai dalam bentuk dosa. Membunuh, misalnya, adalah tindakan dosa. Tidak ada yang mengatakan tidak. Begitu pula dengan mencuri atau berzinah atau berdusta. Tapi bila dosa cuma itu maka, wah, dengan lega saya dapat membusungkan dada dan berkata, "Saya bersih tanpa dosa! Sebab saya toh tidak pernah mengambil jiwa orang, atau mencuri milik orang, atau berzina dengan istri orang, atau menipu orang". Menanggapi ini, Yesus akan berkata, "Kalau dosa adalah itu, maka situasi-mu sungguh memprihatinkan dan tidak ketulungan. Sebab segala sesuatu telah amat terlambat. Ibarat membawa pasien ke bagian gawat darurat, ketika kedaan benar-benar sudah gawat dan sudah darurat. Ya apa lagi yang dapat dilakukan?! Padahal besar kemungkinan yang bersangkutan masih dapat ditolong, sekiranya ia mau mulai berobat, ketika nafasnya mulai kadang-kadang sesak, atau pencernaannya mulai sering terganggu, atau kepalanya mulai mudah pening, atau tidurnya mulai kurang lelap. Ketika segala sesuatu baru "mulai". *** SESEORANG, kata Yesus, tidak baru berdosa setelah ia membunuh atau berzina. Seperti pada beberapa penyakit tertentu, penyakit itu telah mulai sejak amat awal. Dosa membunuh berawal
69

dari membiarkan diri dikuasai amarah. Sedang dosa berzina, menurut Yesus, telah terjadi ketika orang melarutkan diri tanpa melawan dalam arus nafsu kedagingannya Mungkin sambil berkata, "Toh saya tidak berbuat apa-apa?!" Ismail Marzuki dalam salah satu gubahannya, mengungkapkan apa yang saya kemukakan itu. Yaitu ketika sang pemuja gadis "Ayati" setengah bertanya mengatakan, "Dosakah hamba, memuja dikau dalam mimpi. Hanya dalam mimpi?!" Toh cuma dalam mimpi, tidak apa-apa 'kan?! Yesus berkata, "Tidak" Sel kanker yang menyebar liar begitu berbahaya ke seluruh tubuh dimulai dengan satu sel saja! Dosa membunuh berawal dari amarah yang tidak segera dikendalikan. Amarah ini berubah menjadi kebencian. Kemudian kebencian bermetamorfose menjadi dendam. Dan akhirnya dendam hanya menanti kesempatan untuk menjadi tindakan.. Sebelum orang membunuh dengan tangannya, ia terlebih dahulu membunuh dalam hatinya. Tak ada "dosa kecil" atau "dosa besar". Sebab "dosa besar" selalu berasal dan berawal dari "dosa kecil" yang dibiarkan. Bagaikan luka kecil di kulit. Sebaliknya dari pada diobati, luka kecil tersebut dikorek-korek terus setiap kali. Maka luka pun menganga lagi. Dan luka ini akan terus berkembang menjadi kian berbahaya. Anda bertanya, mengapa "Kesepakatan Malino I", nampaknya tak akan berumur panjang? Sebab cuma senjata di tangan saja yang diminta untuk diserahkan. Bukan hati yang terpanggang dendam. Dari mana datangnya dosa? Dari hati turun ke mata. Dari mana datangnya celaka? Dari luka kecil yang dibiarkan menganga! Teguh dalam Prinsip, Terbuka dalam Sikap Oleh Eka Darmaputera SETELAH "politeisme" dan "henoteisme", kini tiba saatnya kita akan membahas alternatif yang ketiga yang menurut Barclay adalah perkembangan yang paling "kemudian" dan yang paling "ideal" dari semua-yaitu "monoteisme". Ketika "politeisme" mengatakan bahwa "Allah" itu "banyak"; "monoteisme" menyatakan, "Tidak! Allah itu cuma satu! Tak mungkin banyak". Lalu kemudian, tatkala dengan simpatik "henoteisme" mengusulkan kompromi, "Oke, kami setuju, Allah itu cuma satu. Namun dalam pengertian, "satu Allah untuk satu bangsa", lagi-lagi "monoteisme" menampik. "Mustahil!," katanya, "Allah yang satu itu adalah Allah seluruh bumi. Satu Allah untuk segenap alam semesta. Allah yang universal, bukan "Allah" yang parokhial!" Keyakinan monoteistis seperti itulah yang mendasari ungkapan iman seorang pemazmur, sebagaimana terbaca dalam Mazmur 139:1-12. Bunyinya, "Jika aku mendaki ke langit, atau menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, atau membuat kediaman di ujung laut"-ya, ke mana pun aku pergi dan di mana pun aku berada- ketika duduk atau berdiri, ketika berjalan atau berbaring- Allah ada di situ!". Allah yang satu dan sama itu! YAHWEH! Sebab itu tak perlu Anda heran, bila perintah yang pertama-dan yang paling utama-dari DASA TITAH adalah, "JANGAN ADA PADAMU ALLAH LAIN DI HADAPAN-KU". Tidak adadan tidak boleh ada-"Allah" yang lain, kecuali Allah yang satu itu. YAHWEH! *** AGAMA, supaya bisa memberi pegangan yang tegas dan jelas-bagi siapa saja, dan dalam konteks situasi apa saja-sebenarnya cuma punya satu pilihan: ia mesti monoteis. Mengapa?
70

Ini bukan karena sombong, atau apa. Namun memang harus dikatakan, bahwa pilihan yang lain, "politeisme" misalnya,-walaupun menghasilkan toleransi yang seolah-olah tanpa batas-ia juga melahirkan situasi ketidak-pastian yang tanpa batas. Akibatnya, kehidupan manusia jadi limbung, terpontang-panting dan terombang-ambing kian kemari. Tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa rasa aman. Sedang pilihan kedua, "henoteisme", walaupun sepintas memberi kesan lebih matang dan lebih seimbang, tanpa dikehendaki, menghasilkan kehidupan yang terpecah-pecah dan, pada gilirannya, kepribadian yang terbelah. Kehidupan yang semestinya bulat, utuh dan satu, jadi terkotak-kotak serta terkoyak-koyak menjadi "kerajaan-kerajaan" kecil yang berjalan sendirisendiri, tanpa saling mengacuhkan. Situasi inilah yang membuat seseorang, pada satu saat, bisa meraung atau menyeringai bagaikan serigala lapar, misalnya ketika ia berada di wilayah bisnisnya. Tapi beberapa menit kemudian, ia bisa merunduk dengan khusyuk, berdoa bagai pertapa, tatkala berada di ruang gereja. Hidup manusia yang diseret kesana kemari ke pelbagai "dunia" yang masing-masing menuntut kepribadian yang berbeda-beda-sekali lalim, lain kali alim-adalah hidup yang sungguh melelahkan. Tidak menyejahterakan, apa lagi membahagiakan. *** PERTANYAAN yang banyak dikemukakan orang adalah ini. "Baiklah, kalau benar "monoteisme" yang akhirnya menjadi pilihan terbaik. Kami tidak menolak. Tapi bagaimana dengan nasib "toleransi" selanjutnya? Tidakkah prinsip bahwa hanya ada satu Allah dan cuma ada satu kebenaran, berlawanan dengan semangat dan roh toleransi serta keterbukaan? Apakah kita rela mencampakkan nilai "toleransi" begitu saja, sekadar demi untuk memiliki pegangan hidup yang jelas? Tidakkah ini akan membawa umat manusia kembali ke "Abadabad Kegelapan" (= Dark Ages), yang pengap oleh suasana kecurigaan, pengejaran, serta penindasan terhadap apa pun yang dianggap "sesat" oleh para penguasa agama- yang mengklaim kemutlakan eksklusif bagi diri sendiri?" Terhadap pertanyaan tersebut, jawab saya adalah: "Ya! Semua keprihatinan yang dikemukakan itu, saya akui, adalah canang peringatan yang penting sekali untuk diperhatikan. Kita tidak ingin dan tidak boleh kembali kepada tirani spiritual, yang mengklaim kebenaran tunggal bagi diri mereka sendiri. Walaupun, seperti akan saya jelaskan nanti, praktik-praktik penindasan yang mengatasnamakan "kebenaran tunggal" tersebut, sebenarnya justru total bertentangan dengan prinsip "monoteisme" yang sejati. Praktik-praktik tersebut adalah penyimpangan yang telah mencatut keluhuran prinsip "monoteisme" yang sesungguhnya. Karenanya saya setuju, masalah hubungan antara "monoteisme" dan "toleransi" perlu kita bahas". PADA satu pihak, tak pelak lagi, setiap orang perlu dengan sepenuh hati dan seputih nurani, menunjukkan keterbukaan serta penghargaan yang tulus kepada mereka yang berbeda kepercayaan. Namun demikian, di pihak lain, kita mesti menyadari bahwa toleransi yang murni hanya dapat terjadi, bila ia didasari dan dibarengi oleh keyakinan serta penghargaan yang penuh terhadap keyakinan sendiri. Bila terhadap keyakinannya sendiri saja orang sudah tak peduli, bagaimana dapat kita harapkan ia peduli dan menghargai keyakinan orang lain dengan sepenuh hati? Toleransi sejati bukanlah serta merta menelan bulat-bulat prinsip dan praktik apa saja. Tidak! Sikap seperti itu lebih mirip dengan reaksi panik orang yang nyaris tenggelam, lalu meraup apa saja yang kebetulan lewat di depannya, ketimbang toleransi yang dilandasi oleh kebesaran jiwa. Toleransi yang sejati adalah toleransi yang secara sadar mengenali perbedaan yang ada, tahu
71

sampai sejauh mana ia bisa mengatakan "ya", serta kapan ia harus mengatakan "tidak". Semua ini cuma bisa terwujud, bila orang benar-benar serius terhadap keyakinannya sendiri. Sebaliknya, "toleransi" yang tanpa prinsip dan tanpa batas, adalah toleransi yang palsu. Mengapa? Sebab bila orang berkata ia menyetujui apa saja, ini sebenarnya hanya menunjukkan betapa ia tidak menyetujui apa-apa. Pujian orang akan kelezatan masakan Minang atau Manado, setelah yang bersangkutan merasakan kenikmatan masakan Tiociu atau Sechuan, adalah pujian yang jauh lebih bermakna, ketimbang pujian seseorang yang dengan enteng berkata, "Bagi saya, semua makanan di dunia ini sama lezatnya". Iya 'kan? *** KARENA itu, tanpa sedikit pun bermaksud untuk bersombong-sombong, bersikap eksklusif , atau merasa superior, kita akan membicarakan di mana letak kekhasan serta keunggulan "monoteisme", sehingga dengan teguh dan sadar kita memeganginya. "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-KU". Titah ini menegaskan, bahwa ada satu yang mutlak. Lebih tepat, hanya ada satu yang mutlak. Itu berarti, relativisme serta toleransi tanpa batas ditolak mentah-mentah! "Ada yang mutlak" berarti, bahwa di dalam hidup ini ada yang benar dan ada yang salah; ada yang baik dan ada yang jahat. Ada etika atau moral untuk segala sesuatu. Juga untuk politik dan bisnis? Ya! Keduanya pun tidak "bebas nilai" atau "kedap moral". Mencari kuasa atau meraup laba, memang tidak salah pada dirinya. Namun tidak berarti lalu boleh semaunya. Kita mesti bertanya: bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana menggunakan hasilnya? Apakah dengan cara yang benar? Apakah untuk maksud dan tujuan yang baik? Apa yang saya kemukakan itu juga berlaku untuk agama. Ada agama yang benar, dan ada agama yang salah! Ada agama yang baik dan ada agama yang jahat! Agama yang meremehkan harkat dan martabat manusia, misalnya, adalah agama yang salah dan jahat. Ada norma yang mutlak dan obyektif untuk mengukurnya. *** "JANGAN ada padamu allah lain di hadapan-KU". Artinya: yang mutlak itu bukan cuma ada; tetapi juga bahwa yang mutlak itu cuma satu. Cuma Dia! YAHWEH! Bila yang mutlak itu "cuma Dia", maka konsekuensinya adalah, semua yang lain-apa pun itu, kecuali Dia-tidak mutlak. Saya dan keyakinan kebenaran saya tidak mutlak. Tidak mutlak, berarti terbatas; bisa salah; tidak sempurna. Prinsip "monoteisme" sejati inilah, menurut keyakinan saya, merupakan dasar dari toleransi yang sejati! Sebab tidak satu pun-termasuk diri saya sendiri-yang boleh memutlakkan diri. Semuanya mengakui ketidak-sempurnaannya, dan oleh karena itu juga keterbukaannya untuk saling menerima dan saling belajar. Percaya bahwa ada satu yang mutlak, tidak serta merta mesti berarti "mutlak-mutlakan". Ini sangat menonjol pada konsep yang unik kristiani, yaitu TRINITAS atau TRITUNGGAL. Bahwa Allah yang "satu" itu hadir dalam ke"tiga"an-Nya, dan bahwa Allah yang "tiga" itu berada dalam ke"satu"an-Nya. Intinya: monoteisme tidak sama dengan monolitisme. Bahwa di dalam yang "satu" itu, ada kemajemukan.
72

Konsep ini, saya akui, sulit dijelaskan secara matematis. Tapi bukankah begitu selalu kebenaran itu? Ia, saya akui, juga melampaui logika kita. Tapi bukankah kita sedang berbicara mengenai "Allah", yang memang selalu melampaui daya jangkau akal manusia? Bila kepala Anda pening dibuat oleh konsep "trinitas" ini, katakan saja, "Berbagai-bagai adalah alasan untuk berbagi-bagi; bukan untuk berbalah-balah". Jika Aku Lemah, Aku Kuat Oleh Eka Darmaputera Paul Tournier-seorang dokter, konselor, dan penulis berkebangsaan Swiss-dalam bukunya Creative Suffering, sebagaimana dikutip oleh Philip Yancey, mengungkapkan rasa "surprise"nya setelah membaca sebuah artikel yang berjudul "Orphans Lead the World" atau "Para Yatim Piatu (yang) Memimpin Dunia". Artikel ini melakukan survei atas 300-an tokoh, yang dinilai mempunyai dampak besar dalam perjalanan sejarah dunia. Setelah melakukan studi perbandingan yang mendalam, para peneliti itu menemukan adanya persamaan yang sangat menarik di antara tokoh-tokoh itu. Yaitu, bahwa semua mereka telah dibesarkan sebagai yatim piatu. Baik secara aktual atau pun secara emosional. Maksudnya, mempunyai pengalaman buruk di masa kanak-kanak mereka. Termasuk dalam daftar tersebut, adalah nama-nama besar seperti Alexander Agung, Julius Caesar, Maximilien Francois Marie Isidore de Robespierre, George Washington, Napoleon Bonaparte, Ratu Victoria, Golda Meir, Adolf Hitler, Vladimir Ilyich Lenin, Jozef Stalin, dan Fidel Castro. Tournier sendiri adalah seorang yatim piatu. Bahkan setelah kematian istrinya, ia berkata, ia kembali merasa sebagai yatim piatu lagi di usia tuanya. Tapi kali ini, pengalaman duka tersebut telah membawa perubahan besar baik dalam kepribadian, sikap, maupun pandangan hidupnya. Perubahan yang positif. Sebelumnya ia menilai setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya-apakah itu keberhasilan atau kegagalan-, sebagai baik atau jahat, pada dirinya. Terserang influenza, misalnya, dengan sendirinya, adalah buruk. Sebaliknya, makan enak adalah baik. Kini ia menyadari, bahwa secara moral peristiwanya sendiri adalah netral. Tidak baik atau buruk pada dirinya. Terserang influenza lalu terpaksa tinggal di rumah, yang ternyata membuat ia terhindar dari kecelakaan kereta api yang fatal, adalah baik. Sebaliknya, makan enak tapi kemudian membuat kadar kolesterol naik drastis, adalah buruk. Iya, kan? Sesuatu itu baik atau buruk, tidak tergantung pada peristiwanya, melainkan pada manusianya. *** TOURNIER juga menulis, "Langka sekali kita menjadi tuan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Sering sekali, hal-hal yang tidak kita maui dan tidak kita sukai, itulah yang justru terjadi. Dan kita hanya bisa menerimanya. Namun begitu, bagaimana kita menyikapi dan meresponi peristiwa-peristiwa yang tidak kita pilih itu, adalah tanggungjawab kita sepenuhnya. Penderitaan an sich pada dirinya tidaklah bermanfaat. Apakah ia kemudian bermanfaat atau tidak, tergantung dari sikap kita. Di situlah tes yang sesungguhnya! Apakah reaksi yang dikembangkan adalah reaksi positif, aktif, kreatif? Bila demikian, kelemahan bisa diubah menjadi sumber kekuatan. Kegagalan bisa dijadikan titik awal keberhasilan. Dan kesakitan tubuh menjadi wahana bagi pertumbuhan rohani. Sebaliknya bila responnya negatif, maka kesakitan akan memadamkan semangat dan mematikan vitalitas. Pertolongan yang tepat serta diberikan pada saat yang tepat, akan amat menentukan perjalanan hidup yang bersangkutan selanjutnya. Tournier melihat tugasnya yang utama adalah menolong orang agar mampu memanfaatkan kesakitan menjadi pendorong perubahan yang positif.
73

*** ANDA pasti kenal buah durian. Orang baru dapat menikmati manfaat dan kelezatan buahnya, setelah membelah kulitnya yang tebal. Tindakan itu pasti amat "menyakitkan", tetapi tidak membinasakan. Sebaliknyalah! Ia membebaskan buah durian itu melepaskan segenap potensinya. Martin Luther King Jr. juga berulang-ulang mengatakan hal yang serupa. "Apa yang tidak menghancurkanku, menguatkanku", katanya. Dan pasti begitu pula sikap para tokoh besar dunia. Gandhi, Solzhenitsyn, Sakharov, Tutu, Mandela. Dengan sengaja MLK, Jr. memilih Alabama, yang terkenal dengan gubernur dan sheriff-nya yang amat rasialis, sebagai pusat perjuangannya melawan diskriminasi. Di situ, ia dipukuli, dipenjarakan, dan diperlakukan amat tidak manusiawi. Tapi ia menerimanya dengan sadar dan sabar. Ia yakin, bahwa hanya bila orang melihat dan mengalami sendiri jahatnya rasialisme dalam bentuknya yang paling ekstrem, mereka akan tergerak untuk berjuang. Tapi tidak, selama keadaan masih bisa ditolerir. "Kekristenan," katanya, "menekankan bahwa salib selalu mendahului mahkota. Orang Kristen sejati mesti mau memikul salib. Kalau perlu, sampai salib itu meninggalkan parut luka yang perih. Sebab kota kebahagiaan cuma dapat dimasuki melalui jalan penderitaan". *** PENGALAMAN-PENGALAMAN kongkret para tokoh iman tersebut. membuat saya mampu melihat ajaran Yesus yang "aneh" itu - "Kotbah di Bukit" - dalam terang yang baru. Dulu saya berfikir bahwa kata-kata Yesus, "Berbahagialah mereka yang miskin, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang teraniaya", dan sebagainya itu, adalah kata-kata penghiburan bagi pengikut-pengikut-Nya yang nasibnya kurang beruntung di dunia ini. Seolah-olah Yesus ingin mengatakan, "Sebab kalian miskin, kesehatan kalian buruk, dan hati kalian selalu berduka, maka Aku bermaksud menghibur kamu. Aku juga menjanjikan berkat untuk hidup kalian di masa mendatang. Mudah-mudahan kalian lebih lega dan merasa "enakan" sekarang". Tapi, saudara, Yesus tidak menjanjikan sesuatu untuk masa yang akan datang saja. Ia berkata, "Berbahagialah yang ." ; bukan "Berbahagialah nanti .". Paulus juga mengalami paradoks iman itu sekarang, bukan baru nanti. "Justru dalam kelemahanlah kuasa (Tuhan) menjadi sempurna ". "Jika aku lemah, maka aku kuat" (2 Korintus 12:9,10). Adalah reaksi yang normal dan wajar, bila orang menerima kesakitannya dengan rintihan, kegetiran, bahkan kegeraman. Karena itu, bila respon dan reaksi orang justru sebaliknya, tentu kita bertanya-tanya kepingin tahu. Apa sebabnya? Apa rahasianya? Teologi Kotbah di Bukit, kadang-kadang disebut orang sebagai "Teologi Jungkir Balik" (= Theology of Reversal). Bagi yang sinis, sering diejek sebagai "Teologi Terbaik-balik". Tapi bukan cuma di sini Yesus mengajarkan hal-hal yang menjungkir-balikkan norma-norma yang lazim. Ia juga mengatakan, "Yang pertama akan menjadi yang terakhir" (Matius 19:30); "Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan" (Lukas 14:11); "Yang terbesar di antara kamu harus menjadi yang paling muda; dan yang memimpin menjadi pelayan" (Lukas 22:26). Dan sebagainya. *** MENGAPA ini? Apa sih istimewanya "orang-orang miskin" dan "orang-orang menderita", sehingga memperoleh tempat dan perhatian khusus dari Allah? Seorang biarawati Katolik, Monica Hellwig, sebagaimana dikutip oleh Philip Yancey, mendaftarkan "nilai lebih"
74

penderitaan dan kesakitan, tanpa memuja penderitaan dan kesakitan itu sendiri. Ada sepuluh. (1) Penderitaan membuat orang menyadari kebutuhannya akan penebusan. Membuat ia terbuka untuk Injil. (2) Kesakitan membuat orang sadar akan tergantungannya kepada Allah dan kepada sesamanya yang sehat. Tapi juga saling ketergantungannya dengan saudara-saudaranya senasib. (3) Penderitaan membuat orang tidak mempertaruhkan pengharapan mereka kepada benda-benda, yang cuma memberikan kepuasan semu dan sementara. (4) Penderitaan mendidik orang untuk tidak melebih-lebihkan kemandiriannya, melainkan belajar bersikap rendah hati. (5) Penderitaan membuat orang lebih menekankan kooperasi (= kerjasama) ketimbang kompetisi (= persaingan). (6) Penderitaan memampukan orang membedakan kebutuhan dari kemewahan. (7) Penderitaan mengajarkan kesabaran. (8) Penderitaan memungkinkan orang mengenali perbedaan antara ketakutan yang wajar dan yang berlebihan. Dan (10) Penderitaan membebaskan orang untuk merealisasikan pangilan jiwanya. Karena tidak mempunyai banyak, yang bersangkutan tidak takut kehilangan banyak. *** SADARLAH saya, mengapa tokoh-tokoh iman harus dan telah melampaui begitu banyak kesakitan dan penderitaan. Sebabnya adalah, karena ketergantungan kepada Tuhan, kerendahan hati, kesederhanaan, kerjasama, ketidak-tergantungan kepada kemuliaan dunia, adalah unsurunsur mutlak bagi spiritualitas. Kualitas yang sulit diperoleh dari mereka yang bergelimang dalam kelebihan dan kemewahan bendaniah.. Masyarakat Korintus adalah masyarakat yang memuja penampilan eksternal luar ketimbang kualitas internal. Tapi masyarakat mana sih yang tidak? Toh Paulus bangga dengan "kelemahan"nya. Menjadikan salib sebagai pusat pemberitaannya-salib, yang dianggap "kebodohan" dan "kelemahan". Sejarah hidupnya sendiri telah mengajar dia mengalami, betapa kesakitan dan penderitaan adalah wahana yang efektif bagi anugerah Allah. Jika aku lemah, maka aku kuat. Semakin kita menyadari kelemahan kita, semakin kita akan mencari Allah. Dan semakin kita bergantung kepada-Nya, semakin kuat Ia akan mendekap kita. *** YUNUS, NABI SINTING Yunus bagiku adalah nabi yang paling sinting, tetapi paling simpatik. Yunus dipanggil Tuhan dan diberi tugas, "Bangunlah Yunus bin Amitai. Pergilah ke metropol Niniwe. Berserulah kepada penduduk yang jahatnya sudah begitu tinggi sampai di kakiKu agar mereka bertobat." Tetapi Yunus bahkan melarikan diri ke Tarsis sampai Pelabuhan Yafo. Ia naik kapal maunya lari menjauhi Tuhan. Sinting, bukan? Tetapi sebetulnya dia itu cerdas, punya logika. Batas antara cerdas dan sinting sebetulnya tipis sekali. Einstein misalnya, yang wajahnya seperti badut itu. Tanpa dalil-dalil yang ditemukan Einstein yang melawan ilmu fisika yang sah waktu itu, orang tidak dapat membuat perhitunganperhitungan sampai dapat mendarat di bulan dan lebih jauh lagi meluncurkan pesawat-pesawat canggih ke planet-planet lain. Tanpa orang sinting dunia kita tidak dapat maju. Seperti gado-gado pecel tanpa cabe. Atau sambal goreng tanpa petai. Cuma, Yunus ini lebih sinting daripada cerdas. Mosok lari dari Tuhan. Mana bisa. (Dari "Pohon-pohon Sesawi" hal. 5-6. Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 1999) ANTARA YUNUS DAN SAMUEL
75

"Saya tidak pernah menganjurkan bacaan Kitab Yunus itu kepada para siswa seminari," tegas Romo Broto yang pernah bertahun-tahun menjadi prefect ("penutup") para seminaris. "Berbahaya. Nanti disimpulkan, bahwa boleh-boleh saja orang lari dari panggilannya. Tidak, saya tidak pernah menganjurkan agar murid-murid saya membaca Kitab Yunus." "Tetapi Romo Broto, Nabi Yunus sudah diangkat oleh Yesus sendiri menjadi lambang kesengsaraan, maut dan kebangkitanNya sesudah 3 hari dalam perut maut." "Ya yaaa, memang itu ada benarnya, tetapi anak-anak kita harus tahu disiplin taat kepada perintah tugas. Sekarang baru kecil-kecilan, kelak sebagai pastor harus menghadapi tugas berat. "Bagaimana jadinya kalau mereka sudah belajar membolos, lari, dan merasa lebih pintar daripada Tuhan! Bukan, bukan! Kitab Yunus bukan bacaan rohani yang baik untuk para siswa Seminari. Lebih baik Kitab Samuel. Samuel yang mendengar panggilan Tuhan, dan menjawab, 'Bersabdalah ya Tuhan, AbdiMu mendengar Tuhan.' "Mendengar dalam bahasa Al Kitab artinya sekaligus mengerjakan apa yang diperintahkan. Ya, itu lebih tepat," ujar Romo Broto yang terkenal streng dan disiplin itu. "Jadi nama Karyorejo tepat juga karena berarti mengaryakan, mengerjakan," pikirku dengan hati yang plong blong lega, bekerja dan mengerjakan. Ibuku juga ingin aku menjadi Samuel. Tetapi hati kecilku sendiri simpati kepada Yunus. Ah, mungkin ini yang dimaksud dengan para pemikir Jerman: das Sein und das Sollen (yang ada dan yang harus). Samuel adalah lambang das Sollen. Yunus yang apa adanya. Tak dapat kuingkari, terus terang saja aku lebih bersimpati kepada si Yunus sinting itu. (Dari "Pohon-pohon Sesawi" hal. 19-20. Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 1999) BAHAYANYA MEMBUAT PERTIMBANGAN The Danger of Reasoning "Yesus Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis, ..."Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"… Galatia 3:13 "Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu." Galatia 3:14 "Sebab di dalam Dia dan oleh Darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian" Efesus 1:7-8 Ini semua adalah janji-janji dan pernyataan Allah sendiri mengenai kita orang percaya yang telah mengalami kelahiran baru. Tetapi kenapa banyak orang percaya yang tidak menikmati kemenangan yang diraih Yesus di kayu salib? Pelajaran ini akan membukakannya! PENGAKUAN YANG SALAH Pengakuan yang salah adalah pengakuan yang berbunyi kekalahan, kegagalan dan kehebatan kuasa iblis. Seringkali saya mendengar orang-orang percaya terlalu membesar-besarkan atau fokus pembicaraannya berpusat di peperangan yang setan bawa dalam kehidupan mereka, bagaimana iblis mencoba menghalangi mereka untuk menerima mujizat, bagaimana iblis berhasil
76

membelenggu mereka dan membuat mereka tetap sakit. Pengakuan ini adalah pengakuan kekalahan dari anak-anak Tuhan yang sudah ditebus oleh darah Yesus dan dimeteraikan Roh Kudus menjadi anak-anak Allah. Yohanes 1:12 berkata …"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya Kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; ayat 13nya berkata : orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah."… Yesus mendeklarasikan sendiri bahwa sebagai anak-anak Allah kita mempunyai kuasa yang sama seperti Yesus, kita seharusnya mampu mengatasi sendiri dengan mengundang Allah dalam menghadapi segala masalah, penyakit dan serangan iblis. Kita sudah ditetapkan untuk menjadi lebih dari pemenang, jadi pembicaraan kita seharusnya berpusat pada kemenangan yang Tuhan jaminkan pada kita bukan pada hebatnya kuasa setan. Ingat Yesus sudah memberikan kuasa-Nya pada setiap orang-orang percaya: Lukas 10:19 …"Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."… Efesus 6:10-11…"Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. 11) Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;… Ini semua diberikan dengan cuma-cuma kepada mereka yang memintanya Lukas 11:13 …"Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anakanakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."… Kisah Para Rasul 1:8 …"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."… Kisah Para Rasul 1:4-5 "…menantikan janji Bapa, yang--demikian kata-Nya--"telah kamu dengar dari pada-Ku. 5) Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. …" Kisah Para Rasul 2:1-4…"Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya ber kumpul di satu tempat. 2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasabahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya…." 2 Tawarikh 16:9 …"Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. "… Daniel 11:32 "… tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak." Dia juga telah memberikan pada kita pedang firman-Nya Efesus 6:17 "…dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,… Ibrani 4:12 ..."Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."
77

Efesus 6:16 "… dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,…

Firman Allah baru berfungsi sebagai pedang jika diperkatakan dari mulut seorang Kristen yang hatinya percaya akan firman Allah yang diucapkan itu yaitu firman yang keluar dari hati yang penuh iman dan mulut yang penuh iman. Iman anda baru bekerja jika anda lepaskan, jangan dimiliki saja tetapi harus dilepaskan, anda melepaskan iman anda waktu anda perkatakan di mulut anda dengan hati percaya dan tidak bimbang bahwa apa yang dikatakan anda pasti terjadi dan hal itu akan terjadi. Markus 11:23…"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya."… Charles Capps, guru pengucapan firman yang sukses mengatakan bahwa iman adalah kekuatan rohani. Iman anda akan datang lebih cepat bila anda mengucapkan firman Allah keluar dari mulut anda sendiri daripada melalui mulut orang lain. Anda butuh iman untuk mengharapkan mujizat terjadi. Ibrani 11:1…"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."… Ingat Rasul Paulus berkata: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Roma 10:17 Roh Kudus melalui Rasul Paulus, di sini berbicara mengenai iman dalam Allah dan dalam firman-Nya. Rasul Paulus berkata iman timbul dari PENDENGARAN AKAN FIRMAN TUHAN. Jadi, karena ini adalah kebenaran, firman itu harus diucapkan agar dapat didengar. Saudara tidak dapat mendengar apa-apa tanpa diperkatakan. Saya yakin Rasul Paulus menghimbau kita untuk mendengar suara kita sendiri memperkatakan firman Allah dan mendengar diri kita mengulangi perkataan firman dari mulut kita sendiri. Saudara akan memiliki iman jauh lebih besar jikalau anda memperkatakan firman itu sendiri daripada dari mulut orang lain. Allah sudah mendesainnya seperti ini. Ibrani 11:1 berkata 1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan 2. Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Selama ini kita berpendapat bahwa kita pakai iman untuk hal-hal yang dapat dilihat. Tetapi ini seratus persen bertolak belakang dengan alkitab. Iman itu adalah bukti dari apa yang tidak bisa kita lihat dengan panca indera jasmani kita! Jadi ini menegur kita untuk tidak mengandalkan apa kata panca indera kita! Pengakuan mulut kita selama ini berdasarkan apa yang kita dapat lihat dan sembilan puluh persen apa yang negatif bukan yang sesuai janji Allah yang positif. Ini semua karena pikiran kita tidak diprogram sesuai pengetahuan firman Allah yang berkata bahwa, "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya."…Amsal 18:21 Kita berpikir seperti orang duniawi bukan sebagai ciptaan baru dalam Kristus dan kita berbicara seperti orang duniawi. Semua jenis perkataan yang negatif adalah pengakuan yang salah! Ini memegahkan musuh kita iblis. Pengakuan ini tanpa disadari mendeklarasikan kekalahan Allah Bapa kita. Kebanyakan perkataan orang-orang yang kita dengar saat ini membesarkan si iblis. Perkataan semacam ini menghancurkan iman dan membelenggu anda. Pengakuan dari bibir dan yang bertumbuh dari iman dalam hati anda akan mengalahkan lawan kita secara total dalam setiap peperangan. Pengakuan akan kekuatan iblis yang menghalangi kemenangan anda, akan memberi kekuatan pada iblis atas hidup saudara dan akan membawa ketakutan dan kelemahan. Tetapi jika anda
78

mengakui dengan berani dan yakin akan pemeliharaan dan kuasa tangan Allah Bapa kita dan dengan yakin mendeklarasikan bahwa Roh Allah dalam kita jauh lebih besar daripada kekuatan apapun di sekitar kita, kita akan berada di atas segala pengaruh setan. Setiap kali kita mengutarakan kecemasan dan ketakutan kita dan kita mengutarakan kelemahan dan penyakit kita, kita sedang dengan blak-blakan mengakui bahwa firman Allah itu tidak benar dan bahwa Allah sudah gagal menggenapi janji-Nya. Dia menyatakan bahwa "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" dan "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita" Bukannya kita mengakui bahwa Dia telah menanggung penyakitpenyakit kita dan membuangnya, kita membuat pengakuan "aku masih ada sakitnya" Kita memakai kesaksian dari panca indera kita bukannya kesaksian dari firman Allah. Selama kita berpegang teguh pada pengakuan dari sakit penyakit kita dan penderitaan kita, kita akan tetap sakit. Kita bisa cari pendeta terus untuk mendoakan doa-iman untuk kita dan tidak akan ada hasilnya sebab ketidak percayaan kita menghancurkan iman pendeta itu. Orang percaya yang selalu membuat pengakuan akan dosa-dosanya dan kelemahannya adalah orang yang sedang membangun kelemahan dan kegagalan dan dosa ke dalam hati nuraninya. Kalau kita jatuh dalam dosa, waktu kita insyaf dan mengakui dosa-dosa kita, Allah itu setia dan adil mengampuni kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1 Yohanes 1:9…"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."… Setelah kita membuat pengakuan dosa tersebut yang keluar dari hati yang menyesal dan berduka terhadap Tuhan, jangan kita pikirkan, bicarakan atau diskusikan lagi. Hal itu bukan sejarah kuno, karena sejarah dapat dikenang. Tetapi sewaktu kita mentaati 1 Yohanes 1:9, dosa itu seperti tidak pernah ada atau seperti tidak pernah terjadi. Jangan kita mengingatkan diri kita akan dosa-dosa yang pernah kita lakukan ITU TIDAK ADA LAGI! Kalau saudara mau mengatakan apapun, katakanlah bahwa di dalam Kristus kita sempurna, Kolose 2:10 …"dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa."… Bahwa apa yang Allah katakan mengenai kesalahan-kesalahan kita dan dosa-dosa kita adalah mutlak benar. Kita tidak boleh mengakui dosa-dosa kita kepada orang-orang. Kita dapat mengatakannya waktu kita minta maaf, tetapi sesudah itu kita harus melupakannya. AMPUNI dan LUPAKAN Markus 11:25 …"Dan sewaktu kamu berdiri untuk berdoa, jika kamu mempunyai sesuatu dalam hatimu yang bertentangan dengan orang lain, ampunilah dia dan lepaskan kesalahan itu, tinggalkan dan buang, supaya Bapamu yang di sorga juga mengampuni semua kesalahankesalahanmu dan kelemahan-kelemahanmu dan membuang semuanya itu."… (Amp. Bible) Jangan pernah utarakan kepada semua orang akan kesalahan kita, kelemahan kita dan kejahatan-kejahatan kita di masa lampau. Kalau anda mau mengatakannya katakan hanya kepada Tuhan saja, karena hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan luka sakitnya bukan orang yang menyakitkan anda (Matius 18:25) BERANI MEMBUAT PENGAKUAN YANG BENAR Ingat: Keberhasilan kita sebagai orang percaya tergantung pada pengakuan mulut kita. Atau "Kita hanya seberhasil pengakuan mulut kita!" Mulai sekarang anda dapat keluar dari masalah anda dengan berhasil, jika mulut anda mengeluarkan yang positif. Anda akui bahwa Tuhan adalah Tuhan dari hidup anda; bahwa Dia adalah Tuhan yang mengatasi segala sakit penyakit dan mengatasi segala setan. Anda berpegang teguh pada pengakuan akan ke Tuhanan dari Yesus Kristus atas segala apapun yang bisa membelenggu dan menghalangi anda sehingga anda dapat menikmati pekerjaan yang sudah diselesaikan Yesus Kristus di kayu salib.
79

Di hadapan setiap kebutuhan, anda mengatakan bahwa Tuhanlah gembalaku, aku tidak kekurangan (selalu pengakuan ini dibuat dalam bentuk kalimat masa ini, sekarang) Dialah yang menyediakan segala kebutuhanku. Dialah kesehatanku, kekuatanku, Dialah kekuatan dalam kehidupanku; kepada siapa aku harus takut? Waktu anda membuat pengakuan firman anda sedang mengakui keyakinan anda dalam firman Allah. Ini perlu latihan dengan penuh kedisiplinan setiap hari. Contoh pengakuan yang harus dikatakan setiap orang percaya setiap hari: Pengakuan kesatu: 1 Petrus 5:7 …"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."… Saya mengakui bahwa saya tidak memiliki kekuatiran, kecemasan dan beban-beban. Saya tidak akan mengalami kelemahan jiwa. Saya akan selalu sehat dan cakap untuk bekerja dan tidak bingung. Pikiran saya jernih dan sempurna, roh saya merdeka. Kesaksian saya diurapi oleh Roh Kudus karena DIA yang menanggung segala beban, menopang segala tekanan jiwa dan memenuhi segala kebutuhanku. Pengakuan kedua: "Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku" Saya tidak kekurangan uang, saya tidak kekurangan istirahat atau kesehatan. Saya tak kekurangan kekuatan. Saya tidak kekurangan apapun. Dialah segalanya yang aku perlukan. Ini adalah realita hidup. Sungguh luar biasa hidupku. Aku memiliki rasa aman yang luar biasa, penuh dengan kuasa dan kemenangan! Saya tidak takut untuk berdiri di atas Filipi 4:19…"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."… Ibrani 4:14 "… baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. …" Hidup kita baru berhasil menjadi kesaksian dan berguna bagi dunia ini diukur dari pengakuan dan ketekunan kita dalam memegang teguh pengakuan kita. Dalam segala situasi atau di hadapan segala pendapat dan komentar orang, saudara tidak boleh pernah berserah kepada ketakutan atau mendengar pada suara dari panca indera kita. Kita harus berdiri teguh pada pengakuan kita karena kita tahu dan sadar bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Dibutuhkan kedisplinan untuk memperkatakan apa yang Tuhan telah firmankan mengenai kita untuk menghilangkan kebiasaan membuat pengakuan yang salah, akan kegagalan, kelemahan, dosa, penyakit dan kekurangan. Ingat kita sudah terlatih sejak lahir untuk bicara yang negatif. Sekarang anda harus membuat pengakuan firman dan berdiri di atas apa kata Tuhan akan diri anda. Jangan buat 2 macam pengakuan karena pengakuan yang dikontrol panca indera kita akan menghancurkan pernyataan "siapa anda dalam Kristus" atau siapa Yesus bagi kita/saudara. Roma 1:16 …"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani."…

80


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1789
posted:12/22/2009
language:Indonesian
pages:80
Description: Kliping elektronik. Kumpulan renungan dan pengajaran Alkitab. Membangun iman, memulihkan dan meneguhkan. Mempermudah pemahaman mengenai ajaran dan kebenaran firman Tuhan.