Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Renungan Bagi Jiwa 5 by mosesforesto

VIEWS: 4,873 PAGES: 172

Kliping elektronik pilihan renungan dan ajaran firman Tuhan.

More Info
									RENUNGAN BAGI JIWA
Bagian 5
Kliping Aneka Renungan, Kesaksian dan Ajaran Pembangun Iman (dihimpun dari berbagai sumber)

1 Timotius 2:4, Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
1

KATA PENGANTAR Kliping ini merupakan kumpulan tulisan terbaik dari berbagai sumber. Baik sekali jika digunakan sebagai pelengkap pembacaan Alkitab karena memberikan penjelasan yang mudah dipahami serta uraian kontekstual. Sebagaimana ditulis oleh Administrator situs Roti Hidup.com dalam tulisan penutup kliping ini:

Rahasia untuk memahami kehendak Allah: 95% adalah perkara taat kepada kehendak Allah, dan 5% adalah perkara pemahaman.
Saya percaya bahwa para Penulis telah memiliki urapan khusus, pengalaman pribadi dan penghayatan yang baik sehingga mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang sedemikian. Ijinkan saya memasukkan karya tulis Anda ke dalam kliping elektronik ini untuk disebarluaskan semata-mata untuk menyebarluaskan firman Tuhan agar menjangkau semakin banyak jiwa, tidak dengan tujuan komersil atau alasan pribadi lainnya. Untuk itu saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada semua penulis yang karyanya saya masukkan ke dalam kliping elektronik ini. Anda telah menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu yang membangun iman para pembaca, pastilah Tuhan Yesus memperhatikan dan membalasnya dengan segala yang terbaik. Tuhan memberkati Anda semua. www.airhidup.com Sucipto Maria John Daniel www.papma-kasih.org Kurniawan Yulia Oeniyati Living Stream Ministry Renungan Pelita Sahabat Pamela Garrion Betty Chan Joseph Wise Poriman Inggou Poppy Pratva Ineke Anggraeni Donny Christian cerita-kristen.com Loren Sartika Pinkrose, Paris van Java Robinson Tulenan Susan P Schutz Henry Sujaya Lie Lydia gpdisacramento dr. Harry Ratulangi dan dr. Andik Wijaya Chuck Ebbs Jim Kolianan Pdm. Johny Kilapong, MA Ayub Abner Mbuilima Erna Liem Henry Sujaya Lie Jonathan L Parapak www.kasihkekal.org
2

Eka Darmaputera Pdt. Indri Gautama John Adisubrata Ir. Stanley I. Sethiadi Ang Tek Khun Pdt. Mary Hartanti Derek Prince Hans P.Tan Pdt. Bigman Sirait Pdt. Erastus Sabdono.M.Th. Rehobot Online Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia Tim Pengerja GKI Kayu Putih Pdt. Juswantori Ichwan, M. Th. James C. Hefley, terbitan Yayasan Kalam Hidup. George Muller James C. Hefley www.pemudakristen.com Renungan Harian (DH, DC, SS, HW, J, MII, HV, DR, DB, DM, DE, DJ) Ayub Yahya SUARA PEMBARUAN DAILY budiyanto www.rotihidup.com Mohon maaf sekiranya ada nama penulis/ lembaga yang tidak tercantum dalam daftar tersebut. Tuhan Yesus memberkati Anda semua.

Salam hormat dalam kasih Kristus, mosesforesto@gmail.com (Lukisan pada cover depan: “Terhisap”, Oil on Canvas, 95cm X 95 cm, Moses Foresto, 2009)

3

Interlude adalah selingan, jeda, waktu untuk istirahat. Kolom Interlude adalah kolom yang mengajak Anda untuk jeda dari antara kebisingan hidup dan kegalauan pikiran. Interlude ingin berbicara dari hati dan mengajak Anda untuk menghidup hati, dengan bahasa hati. Kiranya Interlude dapat menyapa hati Anda dan memberi Anda interlude dalam hidup.

Lagu dari Jauh Oleh Ang Tek Khun

dahulu aku menyanyi dari jauh... karena tak tahu untuk siapa dan ke mana laguku harus dilantunkan dahulu aku menyanyi dari samar... karena tak punya hati dan kata-kata tak punya inspirasi untuk menuliskan lirik dahulu aku menyanyi dari kekosongan... karena melodi guncang suara berloncatan dan terkadang hilang entah ke mana dahulu aku menyanyi dari kebimbangan... karena yang kulihat hanya belantara segalanya tenggelam tanpa makna dahulu aku menyanyi dari gemetar... karena lidah hilang nada bibir tak mau berdendang hari-hari jadi muram tanpa irama dahulu aku menyanyi dari jauh... kini tidak lagi
4

karena semua itu telah berlalu jadi masa lalu (c) Ang Tek Khun, 2004

Melangkah Dengan Berbeda Ada pribadi yang berjalan di depan kita tapi sering membuat kita tertinggal Ada pribadi yang berjalan di sisi kita tapi sering membuat kita kesepian. Namun ada Pribadi yang berjalan di dalam kita dan kita pun melangkah dengan berbeda. Jogja, September 2004 Waktu Aku Turun hidup membawaku naik namun Tuhan membuatku menengok ke bawah dan aku pun memilih turun saat di ketinggian itu hanya ada haus panjang yang tak terhentikan dan aku pun memilih turun saat di keasingan itu hanya ada lapar nelangsa yang tak terkenyangkan dan aku pun memilih turun saat di keegoisan itu hanya ada durna yang tak habis-habis dan waktu aku turun kutempuh jalan hina yang begitu sepi dan labirin dan waktu aku turun kutempuh jalan kotor yang begitu jijik dan kusta dan waktu aku turun kutempuh jalan
5

pengikisan dan pengosongan diri dan waktu aku turun aku makin tiada Dia makin ada dalam hari-hari yang hadir dan waktu aku turun kujumpa Dia sang Sejati yang menatangku dalam melangkah JOGJA, 25 oktober 2004 * Terima kasih buat Pdt. Budi S. Marsudi untuk inspirasi dari kisah hidup Nouwen Membaca Beritamu - para korban tsunami

membaca beritamu aku tercenung hilang pikir hilang kata hilang indra dan waktu seakan binasa maka ... aku tak punya tempat selain berlari ke Dia sebelum aku hilang ingat hilang diri 7/1/05

Membaca Beritamu - para korban tsunami

membaca beritamu aku tercenung hilang pikir hilang kata hilang indra dan waktu seakan binasa maka ... aku tak punya tempat selain berlari ke Dia sebelum aku hilang ingat hilang diri 7/1/05
6

Lagu dari Jauh Oleh Ang Tek Khun

dahulu aku menyanyi dari jauh...

7

D E R E K P R I N C E

karena tak tahu untuk siapa dan ke mana laguku harus dilantunkan dahulu aku menyanyi dari samar... karena tak punya hati dan kata-kata tak punya inspirasi untuk menuliskan lirik dahulu aku menyanyi dari kekosongan... karena melodi guncang suara berloncatan dan terkadang hilang entah ke mana dahulu aku menyanyi dari kebimbangan... karena yang kulihat hanya belantara segalanya tenggelam tanpa makna dahulu aku menyanyi dari gemetar... karena lidah hilang nada bibir tak mau berdendang hari-hari jadi muram tanpa irama dahulu aku menyanyi dari jauh... kini tidak lagi karena semua itu telah berlalu jadi masa lalu (c) Ang Tek Khun, 2004 LANGKAH BERIKUTNYA

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Mazmur 119:105 Dalam ayat ini Daud merenungkan cara berjalan kita yang seharusnya di tengah-tengah dunia ini. Ia menyoroti dua hal utama: kaki yang kita pakai untuk melangkah, dan jalan yang kita lalui. Ia menjamin bahwa kita tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan apabila kita sepenuhnya percaya dan taat kepada Firman Tuhan. Akan datang saat-saat ketika dunia di sekitar kita menjadi gelap sama sekali. Pada saat itu pandangan kita ke segala arah akan terbatas sampai beberapa meter saja. Di depan kita mungkin ada masalah-masalah yang belum beres. Mungkin juga ada bahaya yang mengancam kita di balik tikungan. Namun di tengah semua itu kita mendapat suatu jaminan; Jika kita benar-benar mentaati Firman Tuhan dalam menghadapi keadaan apapun juga, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan. Kaki kita tidak akan menapak di tempat yang berbahaya yang dapat membuat kita tersandung dan jatuh sehingga mengalami cedera atau
8

mendapat malapetaka. Namun jaminan tersebut berlaku untuk satu ―daerah‖ khusus saja; yaitu hanya di tempat kita akan menapakkan kaki kita pada langkah berikutnya. Tuhan tidak berjanji bahwa kita akan bisa melihat jauh ke depan. Apa yang akan terjadi jauh di depan kita mungkin sama sekali tidak bisa kita ketahui , tetapi hal itu tidak perlu membuat kita khawatir. Yang diminta Tuhan dari kita hanyalah agar setiap langkah, kita ayunkan dengan penuh ketaatan kepada Firman Tuhan. Bahaya yang terbesar bagi kita adalah jika kita berusaha melihat terlalu jauh ke depan menembus kegelapan itu. Karena dengan berbuat demikian kemungkinan kita bisa kurang memperhatikan tempat yang akan kita pijak yang tepat ada di depan kita, yaitu satu-satunya tempat yang disinari Tuhan setiap kali kita akan melangkah. Tanggapan Iman: Tuhan, tunjukkanlah padaku dimana aku harus menaruh kakiku sekarang dengan menaati Firman-Mu. Kuserahkan masa depanku ke dalam tangan-Mu. Berjalan sejauh ―dua mil‖ hanya dimungkinkan apabila kita sudah berjalan. . . SEJAUH SATU MIL Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Matius 5:41) Di sini Yesus menggambarkan suatu situasi di mana hukum, adat istiadat, memung kinkan seseorang memaksa orang lain untuk berjalan sejauh satu mil bersamanya. Melalui cara tersebut Yesus sebetulnya sedang mengajarkan: ―Jika kamu mengalami hal ini, janganlah hanya berjalan satu mil dengan orang tersebut, melainkan dua mil. Berjalanlah sampai dua kali jauhnya dari apa yang ia tuntut darimu sebagai haknya.‖ Dapat dikatakan bahwa satu mil yang pertama melambangkan kewajiban, mil yang kedua melambangkan kasih. Kasih dengan cumacuma berarti melakukan sesuatu dua kali lebih besar dari yang diwajibkan. Ucapan Yesus tersebut memicu lahirnya ungkapan ―berjalan sejauh dua mil.‖ Akan tetapi, di dalam ungkapan tersebut terkandung suatu pengertian sederhana serta logis yang sering kali terlewatkan. Banyak tindakan serta ucapan orang Kristen yang seakan-akan mencerminkan bahwa apabila mereka sudah mengekspresikan kasih, maka secara otomatis mereka dibebaskan dari kewajiban-kewajiban normal yang harus dijalankan sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat. Padahal, kebenarannya justru yang sebaliknya. Anda dapat berjalan sejauh dua mil hanya setelah Anda berjalan sejauh satu mil. Ekspresi kasih hanya dapat dimulai setelah kewajiban dipenuhi. Prinsip yang sama diungkapkan oleh Paulus dalam Roma 13:8, Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Di sini sekali lagi, urutan dinilai penting. Persyaratan yang negatif disodorkan terlebih dulu: Janganlah kamu berhutang apa-apa. Perintah ini mencakup semua kewajiban kita di bidang hukum maupun etika. Kita harus terlebih dulu memenuhi kewajiban ini, baru kita dapat melangkah kepada persyaratan yang positif, yaitu saling mengasihi. Kasih kristiani tidak sejalan dengan kegagalan untuk memenuhi kewajiban kita di bidang hukum maupun etika. Kita boleh menguraikan pernyataan tersebut dengan kata-kata sendiri seperti ini: Kasih sejati dapat diekspresikan setelah semua hutang dipastikan sudah dibayar. KASIH AGAPE YANG CENGENG

9

Banyak orang Kristen memiliki konsep yang keliru mengenai kasih yang diajarkan dalam Alkitab. Kasih jenis ini bukanlah sikap sentimental yang diekspresikan dengan sejumlah kata atau kalimat klise yang berbau religius dan terdengar berbunga-bunga. Ada orang yang menjuluki kasih palsu yang tidak alkitabiah ini sebagai ―kasih agape yang cengeng.‖ Rasul Yohanes memperingatkan kita: marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1 Yohanes 3:18). Kasih alkitabiah yang sejati terutama diekspresikan dalam tindakan, bukan dalam ucapan. Dalam kitab Rut, kita disuguhi sebuah gambaran yang kontras secara mencolok melalui perilaku kedua menantu perempuan Naomi: Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya (Rut 1:14). Orpa mengekspresikan kasih lahiriah—sebuah ciuman; namun Rut mengasihi dalam bentuk tindakan—ia mendampingi mertua perempuannya saat dirinya dibutuhkan. Tatkala saya mengalami krisis, tidak begitu penting bagi saya siapa yang mencium saya. Saya ingin tahu siapa yang bersedia mendampingi saya. Kitab Amsal juga memberi peringatan menyangkut hal ini: Lebih baik teguran yang nyata-nyata, dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpahlimpah.(Amsal 27:5–6). Kasih palsu yang dimanifestasikan dalam kata-kata yang manis akan membuat kita melambung tatkala segala sesuatu berjalan mulus, namun kita akan merasa dikhianati manakala kita mengalami kesukaran. Kasih sejati mengajar kita untuk mengenal kebenaran dan, jika perlu, menegur kita, kendati teguran itu menyakiti perasaan kita. Namun, kasih yang seperti ini tidak akan mengkhianati kita di kemudian hari. Bukan secara kebetulan bahwa Yudas mengkhianati Yesus di hadapan musuh-musuh-Nya dengan sebuah ciuman. Yesus sendiri mengomentari perilaku Yudas demikian: ―Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?‖ (Lukas 22:48). Ekspresi kasih secara lahiriah, tanpa disertai tindakan kasih, adalah pengkhianatan. Dalam Efesus 4:15 Paulus menggambarkan satu-satunya cara yang membuat rohani kita dapat bertumbuh dewasa: tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala. Kasih apa pun yang tidak berpegang kepada kebenaran adalah kasih palsu. Persekutuan antar sesama yang abadi harus dilandaskan pada sikap saling terbuka, kejujuran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, . . . (1 Yohanes 1:7). Persekutuan sejati hanya dimungkinkan di dalam terang. Kita tidak dapat memiliki perekutuan di dalam gelap. Rasul Yohanes membuat dua pernyataan mengenai sifat Tuhan yang hakiki dengan cara yang sederhana, namun mendalam maknanya: Tuhan adalah terang (1 Yohanes 1:5); dan Tuhan itu kasih (1 Yohanes 4:8, 16). Kasih Tuhan tidak pernah dapat dipisahkan dari terang Tuhan. Kasih Tuhan tidak terwujud di dalam gelap. KASIH “MENUTUPI,” BUKAN “MENYEMBUNYIKAN”

10

Rasul Petrus mengatakan bahwa kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8). Sekali lagi, di sini timbul banyak salah penafsiran di kalangan orang Kristen. Petrus mengatakan ―menutupi.‖ Ia tidak mengatakan ―menyembunyikan.‖ Petrus tidak berbicara tentang kebiasaan yang melekat di dalam banyak kelompok orang Kristen, yaitu menyembunyikan dosa dan berpura-pura bahwa dosa itu tidak pernah ada dan segala sesuatu baik-baik saja. Kasih kristiani menutupi dosa dengan cara seperti yang dilakukan Tuhan ketika menutupi dosa. Pertama-tama, dosa harus dipaparkan di bawah terang. Dosa harus dinyatakan, diakui dan disesali. Jika perlu, ganti rugi harus dilakukan. Hanya setelah semua ini dilakukan, dosa dapat ditutupi dengan pengampunan yang sejati sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab. Seiring dengan waktu, kita mempunyai kontak dengan kelompok-kelompok kristiani yang hanya memiliki satu tema—―kasih.‖ Pengalaman meyakinkan saya bahwa di dalam kelompok-kelompok serupa ini telah muncul suatu kesalahan dalam hal doktrin atau dalam hal dosa yang tidak diakui—atau kedua-duanya. Kasih digunakan sebagai sarana ―persembunyian.‖ Jika dosa yang menjadi persoalan, biasanya dosa ditemukan dalam kehidupan para pemimpin kelompok. Jika kita mulai menggali persoalan yang ada dan secara terang-terangan memaparkan apa yang menjadi penyebabnya, maka kita langsung dihadapkan dengan tuduhan, ―Wah, Anda tidak punya kasih!‖ Sebaiknya kebenaran berikut ditekankan sekali lagi: Kasih alkitabiah yang sejati diekspresi kan terutama dalam tindakan, bukan dalam ucapan. Marilah kita kembali kepada perumpamaan satu mil dan dua mil—hubungan antara kasih dan kewajiban. Kita sudah membaca bahwa kasih sejati timbul hanya setelah kita memenuhi kewajiban-kewajiban kita di bidang hukum maupun etika. Sebaliknya, kasih yang tidak memenuhi kewajiban-kewajiban tersebut adalah kasih palsu. Tak terhitung banyaknya cara untuk menerapkan prinsip ini dalam kehidupan orang Kristen. Dalam pembahasan berikut saya akan menunjukkan sejumlah kondisi inkonsisten yang paling lazim ditemukan di antara orang-orang Kristen sesuai dengan pengamatan saya. MEMBERHALAKAN MISI-MISI KE LUAR NEGERI Saya pernah bermitra dengan sebuah gereja yang amat sangat membanggakan program misimisi ke luar negerinya. Jemaatnya sendiri agak kecil, namun komitmen nya untuk misi-misi ke luar negeri sedemikian amat besar sehingga tidak proposional. Seorang pengkhotbah yang spesialis di bidang promosi permisian diundang untuk berkampanye selama dua minggu dengan pengertian bahwa honornya akan diambil kan dari persembahan untuk misi lewat janji iman selama dua minggu itu. Akhirnya terkumpul angka sebesar $50,000 sebagai persembahan yang akan diterima. Namun, beberapa persembahan yang dijanjikan itu dipenuhi pada waktu yang sudah sangat terlambat; sisanya, bahkan, tidak pernah dipenuhi sama sekali. Meskipun demikian, pengkhotbah terkait tidak punya alasan untuk mengeluhkan honor pelayanan selama dua minggu yang sudah dijanjikan, yaitu $5,000! Pada saat persembahan yang terkumpul lewat janji iman itu digunakan untuk kepentingan misi-misi keluar negeri, gereja dengan perasaan sedih harus menunggak pembayaran yang berkaitan dengan pengeluaran rutin—tagihan telepon, bensin, dsb. Realitasnya, dalam situasi khusus seperti itu, misi-misi ke luar negeri menjadi ―berhala‖ gereja. Anggota-anggota gereja mengorbankan sesuatu untuk ―berhala‖ mereka, namun mereka jelas telah gagal untuk memenuhi kewajiban-kewajiban di gereja mereka sendiri. Adakalanya, jauh lebih mudah untuk disibukkan dengan sebuah ―ladang asing‖ ketimbang menerapkan kebenaran iman kita di dalam jemaat. Mata orang bebal melayang sampai ke ujung bumi. (Amsal 17:24). ALKOHOLIS ATAU KARISMATIS? Pada suatu kali, saya kebetulan menjadi pengelola dari sejumlah rumah yang letaknya berdempetan. Salah sebuah rumah itu dihuni oleh pasangan yang tidak pernah mengaku sebagai orang Kristen dan yang, faktanya, adalah alkoholis, pecandu minuman keras. Sewa rumah mereka dibayar secara teratur dan kondisi rumah dipelihara dengan baik. Tatkala pasangan tersebut masih tinggal di sana, seorang wanita tetangganya tiba-tiba ditinggal mati
11

suaminya. Orang pertama yang menunjuk kan simpati dalam wujud nyata adalah wanita yang alkoholis. Satu hari sesudah peristiwa kematian, ia bertandang ke rumah istri yang berduka dengan menyodorkan cek sebesar $200. Pada waktunya, pasangan alkoholis ini pindah dan penghuni baru menggantikan tempatnya—sebuah keluarga yang aktif di lingkungan gereja karismatis. Keluarga ini banyak sekali membuang uang untuk membeli barang-barang keperluan mereka, namun sewa rumah jarang dilunasi tepat waktu. Mereka lalai untuk memperhatikan anak-anak mereka maupun rumah yang mereka diami sehingga sejumlah tetangganya mengeluh kepada saya dan mengancam akan membawa persoalan tersebut kepada pihak yang berwajib. Suatu hari, saya merenungkan situasi itu dalam-dalam. Katakanlah saya sendiri bukan orang Kristen dan ada orang yang menanyai saya: ―Penyewa yang seperti apa yang Anda sukai, alkoholis atau karismatis?‖ Tak ayal lagi, saya akan menjawab: Yang alkoholis kapan pun juga! “SEMATA-MATA AGAR FIRMAN DIBERITAKAN, PAK PRINCE” Pada suatu kurun waktu tertentu dalam pelayanan saya, ada sesama orang Kristen yang menggandakan dan menjual kaset-kaset khotbah saya. Tindakan ini dilakukan tanpa memberitahu saya atau meminta izin dari saya. Tak lama kemudian, saya sadar bahwa pasti ada keuntungan yang melebihi batas secara sangat substansial. Saya meminta agar dibuat semacam kalkulasi keuntungan dan saya mengatakan bahwa ada royalti yang tentunya harus jatuh ke tangan saya. Saran saya ditanggapi dengan jawaban bernada ‗kasih‘ dan jaminan bahwa penggandaan itu dilakukan ―semata-mata agar Firman diberitakan, Pak Prince!‖ Namun, saya tidak pernah menerima hasil kalkulasi keuntungan maupun royalti. Kemudian, orang-orang yang mengambil keuntungan dari pelayanan saya menuduh bahwa saya ―mata duitan‖ dalam melayani Tuhan. Yang lebih buruk lagi, mereka tidak melontarkan tuduhan ini langsung kepada saya, melainkan menyebar-nyebarkannya di belakang saya. Saya bertanya kepada diri sendiri: Dapatkah Tuhan betul-betul merasa puas bahwa Firman-Nya disebarkan dengan cara ini? “EFFISIENSI ADALAH KRISTIANI” Dalam 2 Petrus 1:5–7 kita diberi sebuah daftar berisikan tujuh tahap perkembangan rohani yang harus menindaklanjuti iman kita yang mula-mula di dalam Kristus. Kepada ―iman‖ kita diperintahkan untuk menambahkan yang berikut: kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih kepada semua orang. Ini mengingatkan kita kepada perumpamaan satu mil dan dua mil. Kasih harus dibangun di atas sebuah landasan rohani yang berkembang sesuai dengan urutan. Jika tidak diletakkan landasan ini, maka kasih kristiani yang sejati tidak dapat pernah terwujud. Tahap pertama yang harus kita tambahkan kepada iman ialah kebajikan. Kata kebajikan dapat diterjemahkan sebagai ―keunggulan‖ atau ―effisiensi.‖ Betapa sedikitnya orang Kristen yang menyadari bahwa efisiensi adalah suatu kebajikan kristiani yang perlu dilakukan! Sebaliknya, Alkitab tidak memiliki kata yang tepat untuk mengatakan tentang kemalasan atau kebodohan. Padahal, kedua sifat tersebut dihakimi secara lebih keras dan lebih mematikan dari segi konsekuensi-konsekuensinya, ketimbang kemabukan. Selama lima tahun tinggal di Afrika Timur, saya diberi wewenang oleh sebuah perguruan tinggi untuk melatih guru-guru yang nantinya akan mengajar di sejumlah sekolah Afrika. Semasa pelatihan itu, banyak di antara siswa-siswa kami yang menerima Kristus dan juga dibaptis di dalam Roh Kudus. Saya mendapati bahwa begitu mereka menjadi orang Kristen, mereka berharap bahwa saya menunjukkan suatu kebajikan khusus kepada mereka—bersikap agak lunak dalam penilaian saya atas tes-tes tertulis maupun praktek mengajar yang mereka buat. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa justru kebalikannya yang harus saya lakukan. ―Sekarang bahwa kamu sudah menjadi orang Kristen,‖ ini yang biasanya saya katakan,
12

―kamu memiliki segala sesuatu yang tadinya tidak kamu miliki. Ada damai Tuhan di hatimu, dan kuasa doa serta kuasa Roh Kudus yang dapat diminta. Seandainya kamu dapat berhasil dalam tes atau dalam praktek mengajar tanpa segala sesuatu yang kini kamu miliki, tentunya keberhasilanmu menjadi dua kali ganda setelah kamu menjadi orang Kristen. Saya tidak berharap kamu menjadi kurang berhasil, melainkan lebih berhasil setelah menerima Kristus. Demikian juga harapan Tuhan!‖ Prinsip yang sama berlaku dalam setiap bidang kegiatan di mana orang Kristen melayani dan mendapat nafkahnya. Orang Kristen bisa bekerja sebagai guru, dokter, jururawat, pramusaji, tehnisi, petugas kebersihan. Tak peduli apa bidangnya, orang Kristen sudah seharusnya bekerja secara luar biasa. Ia harus lebih setia, lebih dapat diandalkan, lebih efisien ketimbang orang non-Kristen. Saya sudah mengamati bahwa Tuhan tidak pernah memanggil seseorang yang gagal di dalam pekerjaan sekulernya untuk masuk ke dalam pelayanan rohani ―purnawaktu‖. Seseorang harus terlebih dulu membuktikan bahwa dirinya berhasil di dalam pekerjaan sekulernya sebelum Tuhan memberi tanggung jawab yang lebih besar di bidang rohani. Kesetiaan dimulai dalam perkara-perkara kecil dan sekuler, kemudian akan dikembangkan secara lebih total dalam perkara-perkara yang besar dan rohani. Dengan sangat tegas Yesus menetapkan prinsip ini dalam Lukas 16:10–11: ―Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu [orang-orang yang religius] tidak setia dalam hal Mamon [kewajiban-kewajiban sekuler dan materi] yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta [pelayanan rohani yang besar] yang sesungguhnya?‖ " KEWAJIBAN TERHADAP KELUARGA DIDAHULUKAN" Dalam 1 Timotus 5 Paulus secara sistematis mengulas kewajiban-kewajiban orang Kristen terhadap anggota keluarga masing-masing. Dalam hal ini, ia berkata, Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumah nya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. (1 Timotius 5:8). Dalam setiap keluarga kewajiban utama untuk memberi nafkah bagi keluarga terletak di pundak ayah. Dan ini lebih dari sekadar menyediakan sandang, pangan dan uang. Dalam Efesus 5:25–28 Paulus membandingkan hubungan antara Kristus dan jemaat dengan hubungan suami dan istri. Sebagaimana Kristus menguduskan jemaat dengan air dan Firman yang memurnikan, demikian juga suami bertanggung jawab untuk melayani Firman Tuhan yang membasuh dan menyucikan bagi istri serta anak-anak nya. Ayah harus menjadi sumber kebenaran rohani bagi keluarganya. Dalam Efesus 6:4 Paulus menaruhkan tanggung jawab pendidikan rohani bagi anak-anaknya langsung kepada ayah: Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat [pendidikan] Tuhan. Kita dapat meringkaskan semua ini dengan mengatakan bahwa dalam setiap keluar ga, ayah memiliki dua pelayanan karunia Tuhan yang tidak boleh ia lalaikan: ia adalah nabi sekaligus imam bagi keluarganya. Sebagai nabi, ia mewakili Tuhan di hadapan keluarganya; sebagai imam, ia mewakili keluarganya di hadapan Tuhan. Untuk me laksanakan kedua kewajiban ini dengan setia dibutuhkan sejumlah waktu minimum tertentu yang disisihkan bagi keluarga. Di antara pria-pria yang gagal menyisihkan waktu yang memadai untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya di dalam keluarga, agaknya mereka yang berprofesi sebagai hamba Tuhan yang paling banyak jumlahnya, baik yang menetap atau yang keliling. Gembala yang menetap sering kali begitu disibukkan dengan rapat-rapat pengurus, kepanitiaan dan acaraacara gerejani sehingga nyaris ia tidak memiliki waktu untuk bersama-sama keluarganya. Hamba Tuhan keliling melintasi dunia seperti seorang panglima yang diutus ke mana-mana bagi Kristus, namun ia meninggalkan istri dan anak-anak yang jiwanya tercabik-cabik oleh karena frustrasi, kepahitan serta pembe rontakan—yang penyebab utamanya adalah kegagalan kepala keluarga dalam mem pedulikan mereka. Saya tidak pernah bisa melupakan
13

sebuah komentar yang dibuat oleh seorang pemuda yang orangtuanya sudah melayani selama bertahun-tahun di Afrika sebagai utusan Injil: ―Jelas, orangtua kami mengasihi orang Afrika, namun mereka tidak mengasihi kami!‖ Penilaian yang diberikan Kitab Suci mengenai seorang ayah yang gagal untuk me laksanakan kewajiban-kewajiban utama ini ialah bahwa ia sudah murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman. Apakah seseorang yang ―lebih buruk dari orang yang tidak beriman‖ layak untuk mengkhotbahkan Injil? Dalam suratnya kepada orang-orang Kristen (karismatis) di Korintus, Paulus berkata: Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu? (2 Korintus 13:5). Banyak di antara kita perlu menyimak peringatan tersebut hari ini. Sebelum kita menggunakan kata-kata klise yang berbau religius ―berjalan sejauh dua mil,‖ kita harus memastikan terlebih dulu bahwa kita betul-betul sudah ―berjalan sejauh satu mil.‖ Sebelum kita mengkespresikan kasih, pastikanlah dulu bahwa semua kewajiban kita sudah dipenuhi. Derek Prince BETAPA BERHARGANYA ANDA

Lebih dari lima puluh tahun, saya mencoba untuk menolong orang-orang dengan berbagai masalah di dalam hidup mereka. Dan saya tiba pada suatu kesimpulan bahwa : masalah kita yang paling mendasar sebagai manusia adalah kita tidak pernah menyadari betapa berharganya kita ini. Sebagai akibatnya, kita melakukan banyak kesalahan yang fatal. Kita seperti halnya seorang yang sangat beruntung, namun menjual seluruh harta warisan kita untuk membeli hal-hal yang tidak berguna seperti kepuasan seksual semalam, sebatang mariyuana, pesta alkohol yang memabukkan, ataupun berfoya-foya dengan uang yang kita miliki. Atau kita mungkin menghargai diri kita sedikit lebih tinggi, yaitu dengan mengejar posisi yang bergengsi di bidang politik, atau di panggung hiburan dunia, bahkan mungkin mengejar posisi terhormat di kantor-kantor gereja. Betapapun bergengsinya semua itu namun tidak dapat dibandingkan dengan nilai dari harta warisan yang telah kita peroleh. Jika kita ingin mengetahui seberapa berharganya diri kita sebagai manusia, kita harus mengingat bagaimana Adam, nenek moyang kita diciptakan dengan cara yang begitu unik dan sangat menakjubkan.

Mukjizat dari penciptaan Adam Di dalam Injil Yohanes 1:1-3, kita menemukan bahwa pribadi yang sesungguhnya, menciptakan apa yang telah ada bukanlah Allah Bapa, tetapi Firman Tuhan, yang selalu bersama-sama dengan Allah di dalam kekekalan – Pribadi yang kemudian dinyatakan di dalam sejarah umat manusia sebagai Yesus dari Nazareth : ―Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Firman Tuhan), dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan ― Penciptaan, secara keseluruhan, terjadi dengan memperkatakan firman Tuhan : ―Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat‖ (Ibrani 11:3).Sebab Dia berfirman dan semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada‖(Mazmur 33:9). Namun penciptaan Adam, yang digambarkan di dalam Kejadian 2:7, sangatlah berbeda: ―Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Perhatikanlah hal tersebut! Allah berlutut, mengambil tanah dengan tangan-Nya, me ngaduknya dengan air dan membentuknya menjadi tubuh manusia. Itulah yang terjadi, bagian paling sempurna dari Alkitab yang pernah diciptakan, lebih agung dari karya agungnya Michaelangelo. Tetapi manusia belum memiliki hidup pada saat itu. Kemudian
14

sesuatu yang luar biasa terjadi. Sang Pencipta mencondongkan tubuh-Nya dan menaruh bibir-Nya di atas bibir patung tanah liat hasil ciptaan-Nya tersebut, dan menghembuskan nafas-Nya melalui lubang hidung-Nya ke dalam lubang hidung ciptaan-Nya tersebut. Ketika nafas-Nya berhembus ke dalam tubuh patung tersebut, nafas itu merubahnya menjadi makhluk hidup dengan seluruh organ tubuhnya yang berfungsi sempurna, dengan roh yang luar biasa, dan dengan kemampuan intelektual serta emosinya sebagai manusia yang telah mampu merespon. Tidak ada makhluk lain yang pernah diciptakan dengan cara yang seperti itu. Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan mukjizat tersebut sangatlah gamblang. Bahasa Ibrani merupakan salah satu satu bahasa dari beberapa bahasa yang mampu menggambarkan kejadian tersebut secara jelas. Bunyi dari kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai nafas adalah yipakh. Kata tersebut mengandung arti ―letupan‖ yang disertai dengan kekuatan yang besar, terus menerus melepaskan udara dari tenggorokan. Pada saat Tuhan membungkuk dan menghembuskan nafas-Nya melalui mulut dan hidung patung tanah liat tersebut, bukan dengan lemah lembut namun dengan sekuat tenaga sehingga patung tanah liat tersebut menerima impartasi kehidupan Allah yang luar biasa! Pada saat itu juga, manusia menjadi tiga kesatuan yang hidup, komposisi dari Roh, Jiwa dan Tubuh. Roh didapat dari hembusan nafas-Nya Allah; Tubuhnya adalah tanah liat yang telah berubah menjadi daging yang memiliki denyut kehidupan; jiwanya, terdiri dari kesatuan tubuh dan rohnya, menjadi sesuatu yang sangat unik, berbeda dari yang lainnya dan mampu untuk membuat keputusan-saya mau atau saya tidak mau. Bersamaan dengan saat, dimana Tuhan memberikan pasangan hidup, Adam ditentukan untuk berkuasa atas dunia sebagai wakilnya Allah. Ketiga kesatuan yang ada dalam dirinya secara alami sangat mirip dengan ketiga sifat Allah. Secara lahiriah dia adalah gambaran Sang Penciptanya. Sesungguhnya baik bentuk lahiriah maupun batiniahnya, dia adalah gambaran Allah yang sempurna dan unik yang pernah ada di muka bumi ini. Selanjutnya, Adam dan Hawa menikmati persekutuan pribadi dengan Allah. Setiap hari, setiap saat Tuhan bersama-sama dengan mereka. Siapa yang tahu apa yang dibicarakan Allah dengan mereka ? Kita tahu, Allah memberi Adam hak khusus untuk menamai semua makhluk hidup yang ada. Tragedi terbesar di dalam sejarah umat manusia terjadi. Tipu muslihat Iblis, membuat Adam dan Hawa menjual warisan yang diberikan oleh Allah demi buah tersebut. Ketidaktaatan ini telah mempengaruhi setiap bagian dari kehidupan Adam. Rohnya terpisah dari Allah dan mati. Dalam jiwanya selalu memberontak kepada Sang Pencipta. Tubuhnya menjadi rentan terhadap sakit 6penyakit, dimakan usia dan mati. Tuhan sudah memperingatkan Adam tentang pohon pengetahuan tersebut, ‖Pada saat kamu memakan buah tersebut, kamu pasti mati‖ Pada saat itu jugalah roh Adam mati; tubuhnya tidak akan berumur lebih dari 900 tahun.(Kejadian 2:17). BETAPA BERHARGANYA ANDA

Mukjizat dari penebusan Yesus Konsekuensi dari ketidak-taatan Adam sangatlah buruk, namun hal tersebut justru memberi penjelasan tentang sifat Allah yang sesungguhnya : Kasih Allah yang begitu sangat dalam. Allah tidak pernah menyerah kepada Adam dan keturunannya. Dia selalu rindu untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Hal tersebut dengan indah dikatakan di dalan Yakobus 4:5 (NAS): ―Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita diinginkan-Nya dengan cemburu‖- roh yang dihembuskan ke dalam diri Adam pada waktu dia diciptakan. Yang luar biasa adalah bahwa Allah terus menerus merindukan persekutuan pribadi yang pernah ada di antara Dia dan Adam, namun karena pemberontakan Adam persekutuan tersebut terpecah, pemberontakan yang terus menerus ada di dalam semua keturunan Adam. Sehingga berapapun harganya, Allah membuat jalan agar kita dapat dipulihkan. Dia mengirim Yesus ―untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang‖(Lukas19:10).
15

Melalui pengorbanannya di kayu salib, Yesus membuat kita layak untuk diampuni dan dibersihkan dari dosa dan menjadi keluarga Allah sendiri. Di dalam Matius 13:45-46, Yesus membuat perumpamaan yang bagi saya secara pribadi sangat indah dalam melukiskan tentang penyelamatan kita: ―Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.‖ Bagi saya hal tersebut menggambarkan penyelamatan jiwa manusia. Yesus adalah pedagang yang dimaksud, bukan wisatawan yang datang hanya untuk melihat-lihat, tetapi seorang penjual mutiara yang berpengalaman yang benar-benar tahu seberapa tinggi nilai setiap mutiara. Mutiara yang Dia beli adalah jiwa manusia, milik anda dan saya. Dia membelinya dengan seluruh harta yang Dia miliki. Melihat kepada budaya yang kita miliki, saya melihat suatu gambaran pada saat seorang pedagang memberikan kabar kepada istrinya. ―Sayang, aku telah menjual mobil kita‖ ―Kau menjual mobil kita? Nggak masalah, paling tidak kita masih punya tempat untuk berteduh.‖ ―Tidak, aku juga sudah menjual rumah kita!‖ ―Apa yang telah membuatmu melakukan semua itu?‖ ―Aku menemukan sebuah mutiara terindah yang pernah aku lihat. Seumur hidupku aku mencari mutiara yang seperti itu. Aku akan bayar berapapun harganya, tunggu sampai kau melihatnya!‖ Lalu apakah artinya bagi kita, bagi anda dan saya? Setiap kita mungkin telah me nganggap bahwa diri kita hanyalah sebuah mutiara yang tidak berharga. Ingatlah, Yesus telah membayar berapapun harga yang harus dibayar-Nya untuk mendapatkan kita kembali kepada-Nya. Walaupun Dia adalah Allah semesta alam, Dia telah menanggalkan semuanya itu dan menderita sampai mati di kayu salib. Dia tidak punya apa-apa lagi. Jubah dan pusara tempat dia dikuburkan, keduanya merupakan hasil pinjaman. ―…yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.‖(2 Korintus 8:9) Mungkin anda tidak pernah berpikir pentingnya melihat siapa diri kita sebenarnya. Anda kehilangan gambar diri anda. Mungkin karena anda melihat ke belakang ke kehidupan yang pahit dan mengecewakan: kehilangan masa kanak-kanak ataupun masa kanak-kanak yang tidak bahagia, perkawinan yang berakhir dengan perceraian, atau karir yang tidak tercapai, ataupun tahun-tahun yang dilewatkan dengan menelan obat-obatan dan alcohol. Masa lalu dan masa depan anda membawa satu pesan yang sama: KEGAGALAN ! Tapi tidak untuk Yesus! Dia sangat mengasihi saudara sehingga Dia mau menyerah kan apa saja agar anda bisa kembali pada-Nya. Mengulangi perkataan Rasul Paulus, jadikan hal itu rhema bagi diri anda : ―….Anak Allah telah mengasihi aku dan menye rahkan diri-Nya untuk aku.‖ Katakan lagi,‖…. Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Katakan lagi,‖……Anak Allah telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20) Sekarang lihatlah diri anda sebagai sebuah mutiara yang ada dalam genggaman Yesus. Dengarkan apa yang dikatakan-Nya pada anda, ‖Kamu sangat begitu indah! Tidak sia-sia Aku menjual segalanya agar bisa memilikimu. Sekarang kamu telah menjadi milik-Ku selamanya!‖ Anda tidak dapat melakukan apapun untuk membayar semua ini. Anda tidak dapat mengubah diri anda ataupun membuat diri anda menjadi baik. Yang anda dapat lakukan hanyalah menerima apa yang sudah Yesus lakukan dan bersyukur selalu kepada-Nya! Anda milik-Nya untuk selamanya! Derek Prince IKUTLAH AKU

16

Jika anda diminta untuk menggambarkan kekristenan dalam 2 kata, bagaimanakah anda akan meresponinya? Untuk diri saya sendiri, dengan tanpa keraguan saya akan menjawab: Mengikuti Yesus. Itu adalah esensi dari kekristenan. Hal ini digambarkan dengan sangat jelas dalam kisah Matius si pemungut cukai (Matius 9:1-8). Sewaktu Matius sedang duduk di rumah cukai, Yesus melewatinya lalu berkata kepadanya : ―Ikutlah Aku‖. Panggilan Allah yang kekal dalam hidup Matius bergantung pada responnya saat itu. Maka berdirilah Matius, lalu mengikut Dia.

Dua Syarat Utama Jika kita memutuskan untuk meresponi panggilan Allah seperti apa yang telah dilaku kan oleh Matius, maka kita akan menemukan bahwa ada dua syarat utama sebelum kita dapat memulai untuk mengikuti-Nya. Dua syarat itu terdapat dalam perkataan Yesus di kitab Matius 16:24 : ― Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.‖ Pertama, kita harus menyangkal diri kita ; dan yang kedua, kita harus memikul salib kita. Menyangkal adalah untuk mengatakan ―Tidak!― Kita harus mengatakan ―Tidak‖ kepada kehendak , tuntutan, dan kesombongan kita. Kita harus menggemakan doa Yesus di Taman Getsemani: ―tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.‖ (Lukas 22:42) Kita bisa melanjutkan untuk memikul salib kita hanya bila kita sudah terlebih dahulu menyangkal diri kita. Seseorang telah mengartikan salib kita itu sebagai suatu tempat dimana kehendak Allah bertentangan dengan kehendak kita. Salib itu sebenarnya adalah tempat penghukuman. Didalam kitab Roma 6:6 Paulus mengatkan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan bersama dengan Dia (Yesus).Manusia lama kita adalah manusia yang memberontak, manusia yang mempunyai sifat ingin menyenangkan diri sendiri dimana setiap kita telah mewarisinya secara keturunan dari nenek moyang kita, Adam. Tuhan hanya mempunyai satu solusi untuk manusia lama kita. Tuhan tidak mengirim nya ke gereja ataupun ke sekolah minggu, Tuhan tidak mengajarnya dengan aturan-aturan yang khusus, atau mengirimnya ke kelas-kelas untuk pengembangan diri. Solusi Tuhan adalah sederhana dan final. Solusi itu adalah penghukuman. Kabar baik dari berita injil adalah bahwa penghukuman itu berlangsung ketika Tuhan Yesus mati diatas kayu salib. Manusia lama kita telah turut disalibkan didalam Dia pada saat itu. Untuk kita bisa menerima berkat-Nya dari peristiwa itu, kita bukan hanya harus mengetahuinya, tapi kita juga harus mempercayainya. IKUTLAH AKU Ditantang oleh Tuhan melalui Mimpi Sekitar lima puluh tahun yang lalu saya biasa memimpin pertemuan para penginjil di London, Marble Arch. Pada suatu malam selama saya di sana, saya mendapatkan mimpi dimana saya melihat seseorang berkotbah di atas mimbar. Pesan yang disam paikan orang itu baik, tapi ada sesuatu tentang penampilannya yang tidak saya sukai. Tubuhnya terlihat bengkok dan kakinya terlihat pekuk. Meskipun begitu, saya tidak begitu menanggapi mimpi itu. Sekitar seminggu kemudian, saya mendapatkan mimpi yang sama persis seperti yang saya dapatkan sebelumnya. Saya menyimpulkan bahwa Tuhan sedang ingin berbicara sesuatu kepada saya. Saya bertanya, ―Tuhan, siapakah orang itu? Kotbahnya baik tapi ada sesuatu yang tidak saya sukai tentang penampilannya. Siapakah dia?‖ Tuhan menjawab dengan segera dan langsung: ―Kamulah orang itu!‖ Tuhan secara jelas menginginkan beberapa perubahan yang penting dalam hidup saya, tapi saya tidak tahu perubahan apa yang diinginkan Tuhan, tepatnya. Hari Paskah sudah dekat dan saya menemukan diri saya sedang merenungkan tentang karya
17

penyaliban. Saya mendapatkan gambaran tentang tiga kayu salib di atas bukit. Salib yang ada di tengah lebih tinggi dibandingkan dua lainnya. Roh Kudus bertanya kepada saya, ―Untuk siapa salib yang ditengah itu dibuat?‖ Tetapi kemudian Roh Kudus mengingatkan,‖Hati-hati dengan cara kamu menjawab.‖ Saya memikirkan ulang sekali lagi sebelum saya memberi jawaban, kemudian saya menjawab,‖Salib yang ditengah itu dibuat untuk Barabas, tapi di saat-saat terakhir Yesuslah yang menggantikannya.‖ ―Ya, Dia menggantikannya,‖ jawab saya. ―Berarti kamulah Barabas itu !‖ jawab Roh Kudus. Pada saat itu saya melihatnya dengan sangat jelas : Sebenarnya, sayalah penjahat yang dimana salib itu dipersiapkan untuk saya. Salib itu dibuat untuk ukuran saya. Itulah tempat dimana saya seharusnya berada. Saya mencoba untuk mengutarakannya sesuai dengan perkataan Paulus tentang dirinya di kitab Roma 7:18 : ‖ Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik …‖ Saya melihat bahwa setiap area dari kepribadian saya telah dikotori oleh dosa. Tidak ada sesuatu pun di dalam kehidupan saya yang murni, yang baik, yang dapat dipertimbangkan untuk membalas kebaikan Tuhan. Tapi bagaimana saya harus meresponinya ? Saya menemukan jawabannya dalam kitab Roma 6 : 6-13. Paulus menyebutkan empat langkah yang harus dilakukan. Ayat 6: Yang pertama, saya harus tahu kalau semua dosa-dosa saya telah turut dimatikan ketika Yesus mati di atas kayu salib. Ini adalah langkah pertama yang mutlak yang harus kita pahami sebelum kita melanjutkan ke langkah yang lain Ayat 11: Saya harus memperhitungkan kalau diri saya sudah mati, sama seperti Tuhan Yesus telah mati. Ayat 12: Atas dasar itu, saya harus memastikan untuk saya menolak dosa itu supaya dosa itu tidak terus-menerus menguasai hidup saya. Ayat 13: Saya harus menyatakan diri saya kepada Tuhan sebagai seseorang yang telah dibangkitkan dari kematian dan saya harus menyerahkan setiap anggota tubuh saya sebagai instrumen –untuk kemuliaan Tuhan-, dan senjata, untuk kebenaran. Penggunaan kata senjata disini mengingatkan saya untuk terus berjaga-jaga karena saya akan menghadapi perlawanan dari si Iblis.

IKUTLAH AKU Tiga Ketetapan Allah Untuk membebaskan kita sepenuhnya dari perbudakan dosa, Allah sudah menetap kan tiga hal. Pertama, Dia harus berhadapan dengan dosa yang sudah kita lakukan. Karena Yesus telah membayar lunas dosa kita diatas kayu salib, maka Tuhan Allah dapat mengampuni kita tanpa meragukan keadilan-Nya. Oleh karena itu, ketetapan-Nya yang pertama adalah pengampunan. Tetapi kemudian Tuhan juga harus berhadapan dengan alam yang sudah rusak yang ada disekitar kita yang menyebabkan kita terus-menerus melakukan dosa-dosa itu. KetetapanNya adalah penghukuman, untuk mematikan semua dosa-dosa itu. Tetapi, kabar baiknya adalah bahwa penghukuman itu telah berlangsung lebih dari 19 abad yang lalu ketika Yesus mati diatas kayu salib. Meskipun begitu, ini belumlah selesai. Tujuan Allah adalah untuk menggantikan manusia lama yang berdosa dengan manusia baru ciptaan-Nya sendiri. Ketetapan ini dijelaskan di Efesus 4:22-24:
18

―yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menang galkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesat kan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan keku dusan yang sesungguhnya.‖ Meskipun begitu, kita tidak boleh menyangka bahwa manusia lama kita akan mene rima hukumannya begitu saja. Sebaliknya, dia akan terus-menerus berjuang untuk mendapatkan kembali kendalinya atas kita. Ini menjelaskan kata-kata peringatan Paulus dalam kitab Kolose pasal 3. Dalam ayat 3 dia mengatakan, ―Sebab kamu telah mati…. Tetapi kemudian di ayat 5 dia mengatakan,‖Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,….‖ Kita harus berdiri dengan iman bahwa manusia lama kita sudah ditanggalkan dan kita harus terus-menerus menolak usahanya untuk mengambil-alih kembali kendalinya atas diri kita.

IKUTLAH AKU Refleksi Rohani secara Pribadi Sayangnya, banyak orang-orang Kristen tidak pernah mengerti dan tidak pernah mengambil manfaat sepenuhnya dari ketetapan-ketetapan yang sudah Allah tetapkan secara sempurna ini. Mereka menuntut dan terus menuntut pengampunan atas dosa-dosa mereka, tapi mereka tidak tahu kalau Tuhan juga membuat ketetapan untuk manusia lama dihukum mati dan untuk manusia baru menggantikan tempatnya. Akibatnya, kehidupan rohani mereka akan menjadi seperti roda yang terus berputar : berdosa----bertobat---diampuni---dan kemudian berdosa lagi…Mereka belum pernah mengalami pelepasan sepenuhnya dari kendali dosadosa manusia lama mereka. Analisa atas ketetapan-ketetapan Allah untuk dosa seharusnya mengarahkan kita untuk kita membuat refleksi rohani secara pribadi, dimana kita menanyakan kepada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Apakah saya sepenuhnyan yakin bahwa semua dosa saya sudah diampuni? Sudahkah saya dibebaskan dari kendali manusia lama saya? Sudahkah saya mengenakan manusia baru yang diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya? Apakah saya sedang mengikuti Yesus? IKUTLAH AKU Pandangan Sekilas tentang Masa Depan

Biarkan saya tutup dengan sedikit cerita mengenai keadaan di masa depan, diambil dari kitab Wahyu pasal 7 dan 14. Pada akhir zaman nanti, Tuhan akan menyediakan bagi-Nya 144,000 orang yang telah dimateraikan dari keturunan suku Israel yang merupakan pengikut Mesias. Dia akan mengirim mereka kedalam dunia yang sedang bergoncang sebagai akibat dari Kesusahan yang Besar dan mereka akan menuai jiwa-jiwa yang sangat banyak sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menghitungnya. Wahyu 14:1-5 menggambarkan 144,000 orang ini, setelah mereka dengan jaya menyelesaikan tugas mereka. Dengan nama Bapa dan Anak tertulis di dahi mereka, mereka menyembah Allah dengan lagu yang terdengar bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat, lagu yang tidak seorang lain pun bisa mempela jarinya. Orang-orang yang seperti apakah mereka?
19

Karakter mereka dilukiskan dengan sangat jelas di ayat 4 dan 5: mereka tidak mencemarkan dirinya ; mereka suci, murni ; didalam mulut mereka tidak terdapat dusta ; mereka tidak bercela. Bagaimana mereka mampu memiliki karakter yang sempurna seperti itu? Ada satu jawaban sederhana yang diberikan di ayat 4: mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi. Apakah hal itu menginspirasi anda—sebagaimana hal itu menginspirasi saya—dengan kerinduan untuk mengikuti Yesus lebih dekat lagi ? Derek Prince

MENYENANGKAN HATI BAPA SURGAWI Pewahyuan Pribadi Bapa Surgawi Orang-orang Kristen Karismatik dan Injili senang sekali mengutip kata-kata dari Tuhan Yesus di dalam Injil Yohanes 14 : 6 yang berkata: ‖ Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.‖ Namun saya percaya bahwa masih banyak diantara kita yang hanya memahami sebagian dari maksud ayat tersebut, khususnya tentang pernyataan Yesus akan diri-Nya sebagai jalan. Sesuatu dapat dikatakan sebuah jalan, bila hal tersebut mengarah kepada suatu tempat tujuan. Dalam hal ini Yesus adalah jalan dan Bapa adalah tempat tujuannya. Pewahyuan Pribadi Bapa Surgawi Di dalam doa-Nya , Yesus berkata kepada Bapa: ‖ Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaku dari dunia…‖ (Yoh 17- 6) Selama empat belas abad masyarakat Yahudi telah mengenal nama Yehovah (Yahweh) . Namun di dalam doa-Nya, nama yang sekarang dinyatakan oleh Yesus kepada mereka adalah “Bapa”. Nama tersebut disebutkan oleh Yesus sebanyak enam kali di dalam doaNya. Apakah maksud Yesus menyatakan nama tersebut kepada murid-muridNya? Sebagaimana mereka melihat kehidupan Yesus di hadapan mereka sebagai seorang Anak Allah, mereka dapat mulai memahami apa artinya memiliki hubungan pribadi (intim) dengan Allah sebagai Bapa. Hal tersebut merupakan hal yang tidak pernah disingkapkan secara terang-terangan sebelumnya kepada orang-orang Yahudi di dalam Perjanjian Lama. Yesus menegaskan bahwa hanya Dialah satu-satunya yang dapat menyingkapkan pribadi Bapa. ― Segala sesuatu telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu, dan tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan tidak ada seorangpun yang mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyata kannya.‖ (Mat 11 : 27) Yohanes dengan bijak berkata: ―Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannya.‖ (Yoh 1 : 18). Penulis kitab Ibrani membuat sebuah perbedaan antara pesan yang disampaikan oleh nabinabi di dalam Perjanjian Lama dan yang disampaikan oleh Yesus: ― Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan anakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. ― (Ibr 1 :1-2). Dalam bahasa Yunani, secara harafiah disebutkan bukan dengan perantaraan Anak-Nya, melainkan dengan perantaraan “seorang” Anak. Firman Tuhan yang disampai kan di dalam Perjanjian Baru berbeda dengan firman Tuhan yang disampaikan di dalam Perjanjian Lama. Perbedaannya bukan hanya pada isi firman yang disampaikan tetapi juga pada perantara yang dipakai untuk menyampaikan firman Tuhan tersebut. Di dalam Perjanjian Lama, Allah berbicara melalui perantara nabi-nabi; sedangkan di dalam Perjanjian Baru Allah berbicara melalui seorang Anak. Hanya Yesuslah sebagai seorang Anak yang dapat menyingkapkan pribadi Allah sebagai Bapa.
20

MENYENANGKAN HATI BAPA SURGAWI Sebuah Pewahyuan Pribadi Pada awal tahun 1996, pengertian saya terhadap Allah sebagai Bapa mengalami perubahan yang sangat drastis melalui suatu pengalaman pribadi. Suatu pagi, di saat saya dan Ruth sedang berdoa bersama di tempat tidur seperti yang biasa kami lakukan; tiba-tiba saya merasakan suatu kuasa yang mengalir di telapak kaki saya dan terus naik hingga ke sekujur tubuh saya, yang menyebabkan tubuh saya tergun cang dengan kuat. (Sesudahnya, Ruth mengatakan bahwa kulit di wajah saya berubah menjadi sangat merah.) Pada saat yang bersamaan, saya juga merasakan suatu kuasa kegelapan yang berbentuk seperti tangan dengan sebuah topi tengkorak yang berwarna hitam yang menjulur ke arah kepala saya dan berusaha untuk menekan saya dengan kuat. Untuk beberapa saat terjadi pertempuran antara dua kekuatan tersebut dan dimenangkan oleh kekuatan yang bekerja di sekujur tubuh saya. Seketika itu juga kuasa kegelapan itu lenyap. Segera setelah semua hal itu terjadi dan tanpa berpikir panjang, saya mengetahui bahwa saya dapat memanggil-Nya, Bapaku. Selama lebih dari lima puluh tahun saya biasa menggunakan kata ―Bapa kami‖. Secara doktrin, kebenaran tersebut sangat jelas sekali bagi saya. Bahkan saya pun pernah berkotbah tentang suatu topik yang saya sampaikan secara bersambung dalam tiga seri yaitu, ― Mengenal Allah sebagai Bapa. ― Namun pewahyuan yang saya telah peroleh pada saat itu merupakan suatu pewahyuan secara langsung dari Bapa dan yang saya alami secara pribadi. Saya akan membagikan kepada anda penafsiran saya mengenai pengalaman terse but. Saya akan menjelaskan latar belakang diri saya kepada anda. Saya dilahirkan di India dan saya dibesarkan di India sampai berumur lima tahun. Lalu dua puluh tahun kemudian, setelah saya lahir baru dan dibaptis Roh Kudus, saya menjadi peka terhadap suatu ―bayangan gelap― dari India yang selalu melekati saya. Saya menya dari bahwa ―bayangan gelap― tersebut merupakan salah satu dari ―dewa-dewa― di India (yang diperkirakan berjumlah sekitar 4 juta lebih) yang mengikuti saya dan berusaha untuk menguasai saya. Ada satu cara khusus yang dilakukan oleh ―dewa‖ tersebut untuk menekan saya. Setiap pagi saya bangun dari tidur dengan suatu perasaan terhadap sesuatu yang jahat yang sedang menunggu saya. Sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara logika, suatu bentuk kegelapan yang tak berwujud. Setelah saya dibaptis Roh Kudus, perasaan tersebut semakin lama semakin berku rang secara drastis, tetapi perasaan tersebut tidak pernah hilang dari diri saya. Namun akhirnya, saya menemukan bahwa ketika saya menguasai pikiran saya untuk memuji dan menyembah Tuhan , perasaan tersebut terangkat dari saya. Akan tetapi perasaan itu selalu kembali lagi keesokan harinya! Pada hari disaat kuasa gelap yang berbentuk seperti tangan dengan sebuah topi tengkorak hitam tersebut ditarik keluar, perasaan itupun lenyap dan tidak pernah kembali lagi! Dan sejak saat itu menjadi suatu hal yang secara alami buat saya untuk memanggil Allah sebagai ―Bapa‖ atau ―Bapaku.‖ Hubungan yang saya miliki dengan Bapa sejak saat itu bukan lagi sebagai hubungan secara ―theologi‖ yang saya ketahui tetapi menjadi hubungan secara pribadi. Saya telah menikmati hubungan pribadi saya dengan Bapa sampai saat ini. Hal terse but memberikan kepada saya pengertian yang baru tentang empat hal kebenaran firman Allah yang berhubungan dengan kebapaan (sifat-sifat seorang bapa.)

MENYENANGKAN HATI BAPA SURGAWI 1. Kebapaan adalah sumber dari identitas diri kita. Melalui Alkitab, seorang tokoh selalu diperkenalkan sebagai seorang anak (keturunan) dari seseorang yang jelas asal-usulnya. Hal tersebut juga diperlihatkan dari nama-nama keluarga bagi orang Inggris, seperti Williamson, Jackson, Thompson. Identitas diri mereka
21

diwariskan dari seorang ayah. Dewasa ini di banyak negara, perpecahan yang terjadi didalam keluarga telah meng hasilkan suatu generasi yang kita sebut ―generasi X.‖ X mewakili dari suatu kuantitas yang tak diketahui nilainya . Banyak anak muda di generasi ini yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan seorang ayah (bapa.) Akibat dari hal tersebut , mereka mengalami suatu krisis identitas. Mereka tidak mengetahui siapa diri mereka sesungguhnya. Suatu jeritan tangis di dalam hati mereka atas kerinduan mereka akan seorang ayah. Saya percaya jika Gereja dapat memberitakan kebenaran tentang Allah sebagai seorang Bapa dengan efektif, maka akan ada banyak anak muda di zaman ini yang akan berlari ke dalam pelukan Bapa. Kita dapat melakukan hal ini dengan cara yang sama seperti yang Yesus lakukan yaitu dengan ―menyingkapkan‖ nama Bapa kepada murid-muridnya dengan cara mendemonstrasikan hubungan pribadi kita dengan Bapa di dalam kehidupan kita sehari-hari.

MENYENANGKAN HATI BAPA SURGAWI 2. Kebapaan memberikan kita jaminan bahwa kita memiliki sebuah rumah di Surga. Semenjak saya lahir baru, saya percaya jika saya terus beriman kepada Yesus maka setelah saya meninggal dunia saya pasti akan masuk ke Surga, tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa saya memilki sebuah rumah di Surga. Namun setelah peristiwa yang saya alami ketika kuasa gelap yang menekan saya dilenyapkan, seketika itu juga secara alami saya memandang Surga sebagai rumah saya. Singkatnya setelah kejadian tersebut, saya berbicara kepada Ruth, ― Jika suatu hari nanti saya meninggal dunia, jika kamu ingin memberikan batu nisan di makam saya, kamu dapat menulis kan hanya dua kata saja di batu nisan saya: ―Pulang ke Rumah.‖ Saya mulai berpikir tentang seorang pengemis miskin yang duduk di dekat pintu seorang yang kaya. Ketika dia meninggal dunia, dia ―dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.‖ (Luk16:22) Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa satu malaikat saja sudah cukup untuk dapat membawa orang miskin itu, namun Allah mengirimkan sepasukan malaikat-malaikat pengiring untuk menjemputnya! Pengemis itu diberikan sebuah sambutan yang meriah untuk menuju ke pangkuan Abraham. Saya percaya bahwa hal itu juga berlaku untuk setiap anak-anak Allah. Dia memiliki sepasukan malaikat-malaikat pengiring yang siap untuk membawa setiap kita menuju ke rumah kita yang abadi. Di suatu saat, saya dan Ruth berkenalan dengan seorang saudara seiman wanita keturunan Hawai (yang bernama Mary.) Mary melayani Allah dengan setia selama bertahun-tahun. Dia sering berkata kepada temannya, ―Saya belum pernah melihat malaikat dan saya sangat ingin sekali melihatnya!‖ Suatu ketika, di saat Mary sedang terbaring sekarat karena penyakit kanker yang di deritanya, rekan-rekan gerejanya melihat bahwa ada seorang ―saudara seiman wanita‖ yang selalu menemani Mary. Suatu hari wajah Mary dipenuhi oleh kemuliaan Tuhan. Dia merentangkan tangannya dan berkata,‖Aku melihat mereka, aku melihat malaikatmalaikat!‖ Lalu dia meninggal! Malaikat-malaikat pengiringnya telah mengantarnya pulang ke rumah. MENYENANGKAN HATI BAPA SURGAWI 3. Kebapaan menyediakan bagi kita rasa aman seutuhnya. Ada sebuah lukisan yang memperlihatkan seorang anak kecil yang berada di dalam genggaman tangan ayahnya, dengan wajahnya yang bersandar di bahu ayahnya. Di sekelilingnya mungkin ada begitu banyak kebingungan dan kesulitan. Dunia seolah-olah terlihat akan runtuh. Namun sang anak tersebut seutuhnya berada di dalam kedamaian, tidak memusingkan oleh apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia aman di dalam genggaman
22

ayahnya. Kita pun juga, kita aman di dalam genggaman Bapa kita. Yesus telah memberikan jaminan kepada kita bahwa Bapa kita lebih besar dari siapapun yang mengepung kita dan tak seorangpun yang dapat merebut kita dari tangan-Nya! Yesus juga memberikan kepada murid-murid-Nya jaminan ini: ―Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.‖ (Luk 12:32) Kita mungkin merupakan sebuah kawanan kecil yang dikelilingi oleh berbagai macam hewan-hewan liar yang buas, akan tetapi karena Bapa kita telah berjanji untuk memberikan kepada kita suatu Kerajaan, maka tidak ada satu kuasa apapun di jagad raya ini yang dapat menahannya dari kita. 4. Kebapaan menyediakan bagi kita motivasi yang benar untuk melayani. Di dalam Filipi 2:3, Paul memperingatkan kita sebagai hamba-hamba Allah: ―Dengan tidak mencari kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia…‖ Selama bertahun-tahun, saya telah melakukan pengamatan bahwa salah satu masalah yang terus menerus meresap di dalam gereja adalah adanya ambisi pribadi dan persaingan diantara para pelayan Tuhan yang lainnya. Saya tambahkan bahwa pengamatan tersebut pertama-tama dan terutama saya lakukan di dalam kehidupan saya pribadi. Seringkali kita melakukan kesalahan dengan membuat suatu ukuran akan rasa aman kita dibandingkan sejajar dengan kesuksesan kita. Sebagai contoh, jika saya membangun gereja yang terbesar atau memimpin sebuah pertemuan yang terbesar, atau mendapatkan banyak sambutan dari orang lain, saya pasti akan merasa aman. Namun hal ini hanyalah sebuah khayalan belaka. Di dalam kenyataannya, semakin kita menempatkan rasa aman kita berdasarkan kepada kesuksesan pribadi, maka justru semakin berkuranglah rasa aman kita. Kita akan terus menerus merasa terancam oleh berbagai macam kemungkinan yang dapat terjadi dari orang lain yang mungkin dapat membangun gereja yang lebih besar, dapat memimpin rapat yang lebih besar atau lebih banyak mendapatkan sambutan dari orang lain. Saya pribadi menemukan sebuah pola yang sempurna di dalam diri Yesus yang berkata, ‖Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.‖ (Yoh 8:29) Saya tidak lagi dimotivasi oleh ambisi pribadi saya. Saya telah menemukan sebuah motivasi yang lebih murni, lebih indah. Caranya mudah, yaitu: untuk menyenangkan hati Bapaku. Saya melatih diri saya sendiri untuk menghadapi setiap situasi atau setiap keputusan yang saya ambil melalui suatu pendekatan yang sederhana dengan cara mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana, yaitu: Bagaimanakah aku dapat menyenangkan hati Bapaku? Di dalam menghadapi masa kegagalan dan rasa frustrasi, saya berusaha memindahkan fokus saya yang berusaha untuk mengatasi hal tersebut kepada suatu sikap yang berusaha ingin menyenangkan hati Bapa. Sebagai hamba-hamba Kristus, sesungguhnya tidak ada persaingan di antara kita, jika hati kita dimotivasi oleh satu kerinduan yang sederhana ini yaitu untuk menyenangkan hati Bapa kita. Keharmonisan dan keinginan untuk saling membantu akan menggantikan keegoisan dan perselisihan. Derek Prince HARGA PENEBUSAN HIDUP KITA

Karena Tuhan dengan kasihNya telah menerima kita dan menjadikan kita anak-anakNya, kita terkadang tidak menyediakan tempat bagi ―takut akan Tuhan‖ di dalam kehidupan kita. Fakta bahwa Allah Bapa telah menebus kita dengan harga yang tak terbilang mahalnya, yaitu berupa darah AnakNya yang sangat mahal, seharusnya membuat kita bertanggung jawab untuk sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang memuliakan Dia. Dalam I Petrus 1:17-19, Rasul Petrus menyatakan bahwa harga yang dibayar untuk
23

penebusan kita harus membangkitkan dalam diri kita suatu rasa takut yang kudus sehingga kita tidak gagal dalam menjalani kehidupan yang memberikan kepada Allah Bapa kemuliaan yang menjadi hakNya: Dan jika kamu menyebutnya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam takut akan Allah selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab, kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu, itu bukan dari barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Jadi, Petrus sama sekali tidak mengatakan bahwa penebusan kita tidak menyediakan tempat dalam kehidupan kita untuk takut akan Tuhan. Sebaliknya, ia menekankan bahwa takut akan Tuhan adalah tanggapan kita yang tepat! Sementara saya berusaha menggambarkan dampak dari takut akan Tuhan yang harus dimiliki dalam kehidupan saya, saya membayangkan diri saya sedang berdiri di puncak sebuah batu karang yang terjal dan curam sambil melihat kebawah, ke sebuah lembah batubatuan yang terletak ribuan meter jauhnya. Pagar besi pengaman membuat saya tidak bisa melangkah terlalu dekat ke pinggiran jurang. Saya menggambarkan pagar besi pengaman itu sebagai peringatan dari Kitab Suci dan tuntutan-tuntutan untuk hidup kudus. Lalu, saya bertanya kepada diri sendiri, Bagaimana kalau saya begitu congkak, melompati pagar besi pengaman itu dan berdiri persis di pinggiran jurang? Sesudah itu satu langkah saja sudah mampu mempercepat hidup saya menuju malapetaka terakhir yang tak dapat dihindarkan! Sementara saya memikirkannya, oto-otot perut saya menegang dengan sendirinya dan rasa takut menguasai diri saya. Saya teringat kata-kata peringatan yang ditujukan bagi orangorang Kristen di Ibrani: ―Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup‖ Ibrani 10:31. Sikap kagum dan hormat harus menyertai sikap kita, tidak saja terhadap Tuhan, tetapi juga terhadap firmanNya. Tuhan berkata, ‖Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firmanKu.‖ Yesaya 66:2 Mengapa kita harus gentar kepada firman Tuhan? Karena, firman Tuhan adalah jalan yang dilalui baik oleh Allah Bapa maupun Allah Anak untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Dalam Yohanes 14:23 Yesus berkata, ―Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanku dan Bapaku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.‖ Sikap kita terhadap firmanNya menyatakan sejauh mana kita benar-benar mengasihi Yesus dan membuka jalan bagi Tuhan dalam kepenuhanNya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Ketika kita membaca atau mendengar firmanNya, sikap kita seharusnya sama seperti jika sosok Allah Bapa dan sosok Allah Anak sedang berdiri di depan kita. Semakin kita menyadari, betapa mahalnya harga yang telah Tuhan bayarkan untuk menebus hidup kita, semakin jugalah seharusnya kita memberikan rasa hormat dan takut akan Tuhan sebagaimana Dia layak menerimanya serta menjalani hidup yang semakin memuliakan namaNya!

HATI YANG SUCI

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh Mazmur 51:12 Ada hal-hal tertentu yang dapat dilakukan oleh manusia dan ada pula yang tidak dapat dilakukannya. Manusia mampu membuat berbagai benda. Ia dapat membuat barang-barang industri, menyetel, menyelaraskan, dan mereparasinya. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, yaitu mencipta. Hanya Tuhanlah Sang Pencipta. Rupanya Daud telah mencapai suatu titik dalam kehidupannya yang membuatnya berhadapan dengan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang yang berdosa. Ketika ditegur
24

oleh nabi Natan mengenai perzinahannya dengan Batsyeba, ia mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya, mulai melihat keadaan hatinya yang sebenarnya. Ia melihat kerusakan dan kehancuran yang telah terjadi dalam hatinya karena dosa itu dan ia menyadari bahwa ia tidak dapat berbuat apapun juga untuk mengatasinya. Ia tidak dapat membereskannya. Ia tidak dapat mereparasinya. Ia tidak dapat memperbaiki keadaan. Semua yang dapat dilakukannya tidaklah cukup. Maka, dengan jiwa yang amat pedih, ia berpaling kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk melakukan sesuatu yang memang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan, yaitu menciptakan hati yang murni di dalam dirinya. Jika anda dan saya dapat melihat hati kita sendiri seperti Daud dapat melihat keadaan hatinya, mungkin kita juga akan melihat keadaan yang sama. Berbagai akibat dosa telah menimbulkan kerusakan sedemikian rupa, sehingga kita tidak dapat melakukan apapun juga untuk mengatasinya. Tidak ada gunanya untuk mencoba mereparasi, membereskan, atau memperbaikinya. Hanya ada satu cara bagi kita. Kita dapat melakukan apa yang dilakukan Daud. Kita dapat mengakui kenyatan yang kita hadapi itu, kemudian menghampiri Tuhan dan berdoa: ―Tuhan, aku tidak dapat mengubah diriku sendiri. Aku tidak dapat memperbaiki diriku. Hatiku telah demikian rusak dan berdosa. Lakukanlah bagiku apa yang tidak bisa kulakukan bagi diriku sendiri. Ciptakanlah dalam diriku sebuah hati yang suci, ya Tuhan.‖ Jawaban paling sempurna atas jeritan hati Daud itu yang juga merupakan jawaban bagi semua umat manusia telah tersedia melalui pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus di kayu salib. Melalui korban tersebut, seluruh umat manusia dapat menerima mukjizat yang menghasilkan ciptaan yang baru itu. ―Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang‖ ( II Korintus 5:17 ) KUNCI KEDAMAIAN

Besarlah ketentraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka. Mazmur 119:165

Alkitab bukan saja menjanjikan ketentraman atau kedamaian, tetapi bahkan ketentraman yang ―besar‖. Sayangnya, bahasa manusia di zaman modern ini sudah sedemikian merosot standarnya, sehingga sulit sekali bagi kita untuk menangkap apa yang sesungguhnya disediakan Tuhan bagi kita. Tolak ukur untuk ―kedamaian‖ yang dipakai manusia dewasa ini telah menjadi begitu rendah. Sekedar tidak ada peperangan diantara dua bangsa sudah disebut sebagai keadaan yang damai. Padahal diantara mereka bisa saja masih tersimpan rasa benci, takut atau bahkan mereka masih saling memaki dan menuduh, namun kita tetap mengatakan bahwa hubungan kedua bangsa itu dalam keadaan damai. Alkitab memberikan standar yang jauh lebih tinggi. Perkataan Ibrani untuk ―kedamaian‖ adalah shalom. Artinya lebih daripada sekedar tidak adanya perkelahian atau peperangan. Arti kata itu berhubungan dengan akar katanya yang berarti keutuhan atau kesempurnaan. Jadi, kedamaian yang dimaksudkan mencakup suatu keutuhan, suatu kesempurnaan. Artinya, tidak ada apapun yang kurang dalam kehidupan kita. Orang yang memiliki kedamaian dalam arti seperti ini adalah orang yang utuh dan sempurna, dan memiliki kepenuhan dalam hidupnya. Inilah kehidupan yang dijanjikan kepada orang-orang yang mencintai Taurat atau hukum Allah, karena taurat-Nya juga mencakup segala-galanya seperti yang tercakup dalam kedamaian itu. Taurat Tuhan meliputi segala segi kehidupan kita –kerohanian, hal-hal yang berhubungan dengan perasaan kita, keadaan jasmani, serta segi materi. Bila semua segi kehidupan tersebut kita tundukkan di bawah hukum Tuhan, kita akan mengalami keserasian dengan alam sekeliling kita, oleh karena alam itupun diatur oleh hukum yang sama. Dengan demikian, tidak ada yang dapat membuat kita tersandung. Kita tidak akan mudah tersinggung atau kecil hati. Segala macam kesulitan dan bahkan permusuhan tidak akan membuat kita goyah, oleh karena di dalam diri kita ada kuasa yang berasal dari hukum
25

Tuhan itu dan kuasa itu jauh lebih besar daripada apapun juga yang mengganggu kita dari luar. Tanggapan Iman: Tuhan, biarlah seluruh kehidupanku berada di bawah hukum-Mu dan biarlah damaiMu bekerja dengan bebas dalam diriku. MEMILIH KEHIDUPAN

Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. Mazmur 118:17 Sikap kita terhadap kehidupan harus seratus persen positif. Betapa berbahayanya bila kita, melalui cara apa pun bersikap negatif, pesimis atau hanya berpikir mengenai kematian. Namun betapa seringnya orang menyerah kalah kepada tekanan dalam hidupnya dan menjerit: ―Lebih baik aku mati saja!‖ Mereka tidak menyadari bahwa dengan ucapan tersebut mereka sesungguhnya membuka jalan bagi berbagai bentuk kekuatan negative dari kuasa gelap untuk memasuki pikiran mereka, yang kemudian akan menguasai seluruh kepribadian mereka. Suatu ucapan yang tanpa dipikir panjang terlontar begitu saja ketika menghadapi tekanan tertentu (yang biasanya berlangsung sementara saja) pada akhirnya dapat menjadi suatu keadaan yang menyedihkan. Nabi Musa menghadapkan bani Israel dengan masalah ini dalam Ulangan 30:19: ―…pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan , supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu…‖ Tahukah anda, bahwa jika kita menginginkan kehidupan, kita sendiri harus memilih untuk hidup? Kita tidak boleh pasrah kepada keadaan dengan bersikap masa bodoh dan pasif sambil mengatakan: ―Yang akan terjadi, terjadilah‖. Tuhan menyuruh kita untuk memilih: kehidupan dan berkat di satu sisi, atau kematian dan kutuk di sisi lainnya. Kita tidak dapat menghindar dari persoalan ini. Tidak memilih sama saja dengan memilih hal yang keliru. Pilihan yang kita tentukan itupun akan membawa akibat bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi keturunan kita. Dengan memilih kehidupan sesungguhnya kita membuka suatu aliran yang akan mengalir terus hingga ke generasi-generasi berikutnya. Yesus berkata: ―Pencuri datang untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang , supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.‖ (Yohanes 10:10). Siapakah yang akan anda pilih, Yesuskah atau pencuri itu? Tanggapan Iman: Hari ini, ya Tuhan, sesuai dengan Firman-Mu aku memilih kehidupan bagi diriku sendiri dan bagi keturunan-keturunanku.

PENASEHAT AJAIB

Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Mazmur 16:7 Saya pun mengaminkan perkataan Daud tersebut. Saya mengerti betapa indahnya bisa mendapatkan nasihat Tuhan, dan nasihat Tuhan itu jauh lebih tinggi daripada segala hikmat manusia. Berkali-kali saya telah mengalami sendiri, bahwa nasihat Tuhan itu sungguh dapat dipercayai. Dalam pewahyuan Alkitab yang berikutnya nabi Yesaya menyebut Tuhan
26

sebagai Penasihat Ajaib (Yesaya 9:5). Perkataan Ajaib itu sendiri selalu mengandung suatu unsur supranatural. Nasihat Tuhan memang lebih tinggi tingkatannya daripada hikmat manusia, pemahaman manusia, dan pengetahuan manusia. Saya sungguh bersyukur karena bisa mendapatkan nasihat-Nya! Saya juga mengaminkan kalimat yang selanjutnya: ―Pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.‖ Seringkali pada waktu menghadapi masalah yang sulit dipecahkan, saya serahkan saja masalah itu kepada Tuhan lalu pergi tidur tanpa menggumuli masalah itu lebih lanjut. Kemudian dalam keheningan malam Tuhan membangunkan saya. Di dalam lubuk hati saya yang terdalam, ia berbicara kepada saya dengan suara yang begitu tenang dan lembut, memperlihatkan jawaban atas masalah saya itu. Betapa indahnya mengetahui bahwa nasihat Tuhan itu tersedia bagi kita! Apabila anda sudah kehabisan tenaga dan kehabisan akal, apabila anda sudah benar-benar memutar otak namun tidak juga menemukan jalan keluar, apabila anda mengalami jalan buntu dalam kehidupan ini dan tidak tahu kemana lagi anda harus pergi, ingatlah bahwa Tuhan adalah Penasihat Ajaib! Datanglah kepada-Nya. Serahkan masalah anda kepada-Nya. Bukalah hati anda untuk-Nya karena Ia berbicara kepada hati, bukan kepada ―kepala‖ kita. Dengan cara-Nya yang ajaib, Ia akan menunjukkan jawabannya kepada anda. Tanggapan Iman: “Dengan nasihat-Mu engkau menuntun aku, dan kemudian engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan” ( Mazmur 73:24 ) RENCANA-NYA BAGI HIDUPKU

Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu! Mazmur 138:8

Alangkah senangnya mengetahui bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana bagi kita masingmasing! Daud tidak berkata bahwa Tuhan akan menggenapi atau menyelesaikan rencanaku. Ia berkata bahwa Tuhan akan menggenapi (menyelesaikan) rencana-Nya bagiku. Ada suatu perbedaan besar antara kedua hal itu. Mungkin saya mempunyai suatu rencana, sedangkan Tuhan juga mempunyai suatu rencana yang berbeda. Tuhan tidak menjamin bahwa Ia akan menggenapi rencana saya. Ia hanya menjamin bahwa Ia akan menggenapi rencana-Nya. Jaminan Tuhan itu terdapat dalam kata-kata berikutnya: ―Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.‖ Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai ―kasih setia‖ itu memiliki arti yang lebih mendalam, yaitu kesetiaan yang menyebabkan Tuhan tetap memenuhi komitmen-Nya terhadap ikatan janji yang telah dibuat-Nya dengan kita. Komitmen Tuhan untuk menggenapi (menyelesaikan) rencana-Nya dalam kehidupan kita bahkan berlanjut hingga ke dalam kekekalan. Bagian penutup ayat ini seakan-akan merupakan jeritan keputus-asaan Daud: ―Janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!‖ Saya teringat ketika pada suatu hari saya melayani seorang wanita Kristen yang berbaring di tempat tidur dan sedang menantikan ajalnya akibat penyakit kanker yang dideritanya. Wanita itu mengambil Alkitab Living Bible (Firman Allah yang Hidup) dari lemari kecil di sebelah tempat tidurnya lalu dengan suara keras membaca kata-kata Daud itu: ―Janganlah Engkau meninggalkan aku karena Engkaulah yang membuat aku!‖. Dengan cara itu wanita tersebut secara pribadi menegaskan keyakinannya bahwa penyakit, penderitaan atau kematian sekalipun tidak akan dapat menghalangi kasih setia Tuhan dalam menggenapi rencana-Nya baginya yang akan membuat ia mencapai kemenangan pada
27

akhirnya. Jaminan yang sama masih tetap berlaku bagi kita semua yang telah memasuki ikatan janji yang ditawarkan Tuhan kepada manusia melalui Yesus. Tuhanlah yang menjadikan kita, Ia pun tidak akan meninggalkan kita. Mungkin bukan rencana kita, tetapi rencana- Nyalah yang pasti akan digenapi. Rencana tersebut akan tetap teguh, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini.

Tanggapan Iman: Aku menerima rencana Tuhan bagiku, sekalipun mungkin berbeda dengan rencanaku sendiri, dan aku percaya Ia akan menggenapinya.

JAMINAN KEAMANAN ―Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai‖ Mazmur 5:13

Daud percaya sepenuhnya akan satu hal: Tuhan memberkati orang-orang yang benar. Kita juga harus sama percayanya seperti Daud. Di zaman sekarang ini orang-orang atau pihakpihak yang kita andalkan untuk memberikan jaminan keamanan dan kepastian mengenai masa depan ternyata justru mengecewakan kita. Dimana-mana lembaga-lembaga politik dan keuangan yang menjadi andalan banyak orang mulai berguguran. Namun ada satu hal yang tidak perlu diragukan dalam kehidupan ini: Tuhan memberkati orang yang benar. Kenyataan yang sederhana namun tidak pernah berubah ini mengajarkan suatu hal yang penting namun praktis mengenai cara dan gaya kehidupan yang seharusnya kita tempuh. Di satu sisi, kita perlu mengurangi waktu dan tenaga yang selama ini kita pakai untuk menjamin keamanan kita dari segi materi. Di sisi lain, kita harus lebih banyak memikirkan apakah kehidupan kita sudah benar di mata Tuhan, apakah kita sudah layak mendapatkan berkat Tuhan, yang disediakan-Nya bagi orang yang benar. Berkat yang disediakan Tuhan bagi orang yang benar itu juga mencakup perlindungan yang diberikan-Nya. Anugerah Tuhan diturunkan kepada orang benar. Apabila kita benar-benar hidup dalam kebenaran-Nya , anugerah-Nya pun akan berada di sekeliling kita seperti perisai yang melindungi kita dari segala penjuru. Anugerah itu akan melindungi kita dari setiap pukulan, tekanan, kejahatan yang berusaha menghancurkan kita. Sesungguhnya kita tidak mampu menghadapi semuanya itu dengan kemampuan dan kekuatan kita sendiri. Yang mampu sepenuhnya melindungi kita hanyalah ―Perisai‖ anugerah Tuhan. Daripada kita berusaha menjadi lebih kuat dan lebih mampu dengan mendahulukan kepentingan sendiri, lebih baik kita berusaha menjadi orang yang benar, sebab hasilnya jauh lebih indah dan bahkan kekal. ―Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu‖ ( Matius 6:33) Tanggapan Iman: Tolonglah aku Tuhan, supaya aku lebih memikirkan dan mengutamakan kebenaran daripada memikirkan dan mengutamakan keberhasilan dan kepentingan diriku sendiri. KEHAUSAN JIWA
28

―Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?‖ Mazmur 42:2-3 Saya rasa kita semua pernah mengalami kehausan. Bagi saya pribadi, kata ―haus‖ itu mengingatkan saya kepada pengalaman ketika saya bertugas sebagai tentara Inggris dalam Perang Dunia II. Selama tiga tahun kami ditempatkan di padang gurun yang gersang di Afrika Utara. Kadang-kadang persediaan air kami hampir habis dan saya masih ingat bahwa pada saat-saat seperti itu seluruh jiwa raga saya rasanya dikuasai oleh satu jeritan yang begitu kuat namun tidak terungkapkan – jeritan minta air. Tidak ada hal lain kecuali air yang dapat menghentikan jeritan itu. Dalam ayat diatas pemazmur berbicara mengenai semacam kehausan yang lain. Bukan kehausan jasmani melainkan kehausan dalam jiwa. Kehausan jenis ini pun pernah saya alami. Selama bertahun-tahun saya berusaha mengejar suatu kepuasan namun tidak pernah berhasil meraihnya. Saya mencoba menemukan kepuasan itu dari berbagai segi, baik jasmani, estetika, maupun intelektual. Saya mencoba menemukan kepuasan dari musik, drama, filsafat, perjalanan ke mancanegara dan hal-hal lain yang dapat memuaskan kedagingan saya. Tetapi semakin serius saya mencarinya, semakin hampa dan frustasi perasaan saya jadinya. Akhirnya saya menemukan juga jawabannya. Ternyata jawabannya sama seperti jawaban yang ditemukan pemazmur tiga ribu tahun yang silam: ―Bilakah aku boleh datang melihat Allah‖ Ada suatu kehausan dalam jiwa, suatu kerinduan yang begitu dalam pada diri manusia yang tidak dapat dipuaskan kecuali oleh Tuhan sendiri. Mungkin anda pun sudah mencoba mendapatkan kepuasan dari berbagai sumber tetapi belum juga menemukannya. Jika demikian anda harus mengerti dua hal: pertama, tidak ada apa pun juga kecuali Tuhan sendiri yang dapat memuaskan anda; kedua, sesungguhnya Ia sedang menantikan kedatangan anda. Tanggapan Iman: Ya Tuhan, bawalah aku ke tempat aku dapat bertemu dengan-Mu sehingga dahaga jiwaku dapat kau puaskan. CARA MEMULAI HARI YANG BARU ―Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.‖ Mazmur 5:4 Bagaimana anda memulai setiap hari yang baru? Apakah begitu bangun anda segera mulai dengan berbagai kesibukan sambil mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus? Apakah karena begitu terburu-buru, anda seringkali kehabisan napas, dan kehabisan kesabaran lalu menjadi jengkel terhadap istri atau suami anda, marah-marah kepada anakanak, dan bingung menghadapi masalah yang timbul? Apakah anda memulai hari yang baru dalam keadaan kurang siap, kurang sigap dan khawatir mengenai apa yang akan anda hadapi? Penyebab dari semua itu sebenarnya sederhana saja. Anda tidak memulai hari anda secara benar. Cobalah belajar dari Daud: ―TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku.‖ Setiap hari hal yang pertama dilakukan oleh Daud adalah berseru kepada Tuhan, yaitu memperdengarkan suaranya kepada Dia. Kata-katanya yang pertama pada setiap hari yang baru ditujukannya untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Selanjutnya Daud berkata: ―Pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku
29

menunggu-nunggu.‖ Sungguh suatu cara yang amat bijak untuk memulai hari yang baru! Perdengarkanlah suara anda kepada Tuhan dalam doa. Lalu ajukanlah semua permohonan anda kepada-Nya. Kemukakan kepada-Nya hal-hal yang harus anda lakukan pada hari itu. Serahkanlah kepada-Nya masalah-masalah serta kesulitan yang kemungkinan akan anda hadapi. Serahkan keputusan-keputusan anda kepada-Nya pula. Kemudian, seperti halnya Daud, anda akan dapat menunggu dengan penuh harap. Anda akan mampu menyongsong hari itu dengan penuh semangat karena yakin akan mendapat jawaban Tuhan atas doa-doa yang telah anda ajukan kepada-Nya di pagi hari itu. Ada sebuah pepatah dalam bahasa Yunani yang mengatakan: ―Permulaan yang baik merupakan separuh dari seluruh pekerjaan itu sendiri.‖ Demikian pula halnya dengan cara kita menjalani kehidupan ini setiap hari. Cara kita memulai suatu hari yang baru menentukan hampir segala yang akan terjadi di sepanjang hari itu. Jarang sekali akhir dari suatu hari akan lebih diberkati daripada permulaannya sendiri. Oleh karena itu, mulailah setiap hari yang baru dengan memperdengarkan suara anda kepada Tuhan. Tanggapan Iman: Ya Tuhan, tolonglah aku untuk memulai setiap hari yang baru dengan benar, yaitu dengan selalu berseru kepada-Mu dan mengajukan segala permohonanku setiap pagi. SERAHKANLAH DAHULU - SESUDAH ITU PERCAYA

Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya dan Ia akan bertindakMazmur 37:5 Apakah Anda ingin Tuhan benar-benar berdaulat atas segala keadaan Anda, segala masalah Anda, bahkan seluruh kehidupan Anda? Ada tiga langkah sederhana yang diperlukan untuk itu. Pertama: Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN. Ini merupakan langkah yang menentukan, yang harus diambil sekali untuk selama-lamanya. Menyerahkan kehidupan kepada Tuhan dapat diumpamakan seperti menyimpan uang di bank. Anda menyerahkan uang kepada kasir, melepaskan tangan Anda dari uang itu dan menerima sebuah tanda terima. Sekarang Anda tahu bahwa Anda telah menyerahkan uang itu kepada bank. Tanda terima itulah buktinya. Kedua: Percayalah kepada Tuhan. Menyerahkan kehidupan adalah suatu langkah yang diambil sekali untuk selama-lamanya., tetapi percaya adalah suatu sikap yang harus terus dipelihara. Sesudah Anda menyerahkan uang ke bank, Anda tentu tidak khawatir lagi mengenai apakah uang itu masih disimpan di bank atau apakah pihak bank tahu apa yang harus mereka lakukan dengan uang itu. Anda percaya saja kepada bank itu. Dalam hal kehidupan, Anda tidak menaruh kepercayaan kepada sebuah bank, melainkan kepada Tuhan. Sesudah Anda mengambil kedua langkah yang pertama itu, langkah yang ketiga adalah urusan Tuhan: Ia akan bertindak. Dalam Alkitab bahasa Inggris dikatakan, ―Ia akan melakukannya.‖ Keadaan apapun yang Anda hadapi , kebutuhan apapun yang ada pada diri Anda, masalah apapun, keputusan apapun, serahkanlah semuanya kepada Tuhan. Itulah langkah yang harus Anda ambil. Selanjutnya Anda harus tetap percaya kepada-Nya. Itulah sikap yang perlu Anda pelihara. Kedua hal ini akan mendatangkan perasaan aman dan tentram yang luar biasa karena adanya keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak. Ia adalah Tuhan yang mengatur segala-galanya. Anda dapat mempercayakan uang Anda kepada bank demikian juga Anda dapat mempercayakan masalah Anda kepada Tuhan. Bawalah kepada-Nya, serahkanlah dan senantiasa percaya kepada-Nya. Lalu apa yang menjadi tanda terima atau buktinya? Buktinya adalah kesaksian Roh Kudus dalam hati Anda bahwa Tuhan telah menerima penyerahan Anda kepada-Nya.
30

Tanggapan Iman: Tuhan, aku memutuskan untuk menyerahkan kepada-Mu segala keadaan yang menimbulkan kesulitan bagiku. Aku percaya kepada-Mu, bahwa engkau akan bertindak. MENETAPKAN PRIORITAS YANG TEPAT ―Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.‖ Mazmur 90:12 Apakah yang dimaksud dengan ―menghitung hari-hari‖? Ijinkan saya menambahkan satu pertanyaan yang lain: Hal apakah dalam kehidupan anda yang anda rasa paling sulit untuk dikelola – bahkan anda sampai seringkali kekurangan hal itu? Banyak orang mungkin cenderung menjawab:Uang. Tetapi menurut pengalaman saya ada hal lain yang jauh lebih sulit untuk diatur, dan saya lebih sering kekurangan hal tersebut daripada hal-hal yang lain. Itulah waktu! Bagi saya, waktu adalah unsur kehidupan yang paling sulit dikelola secara tepat. Oleh karena itu, cara kita memakai waktu merupakan ujian terberat dari disiplin pribadi dan kesungguhan komitmen Kristiani kita. Sebab itu dengan sepenuh hati saya mengaminkan doa pemazmur ini: Ajarlah aku menghitung hari-hariku dengan baik. Dalam prakteknya hal ini berarti: Ajarlah aku menetapkan prioritasku dengan tepat. Ajarlah aku memberikan cukup waktu bagi perkaraperkara yang lebih penting. Hanya dengan cara demikianlah saya akan beroleh ―hati yang bijaksana.‖ Pada akhirnya, prioritas waktu yang kita tetapkan menunjukkan nilai-nilai yang mendasari kehidupan kita. Hal-hal yang kita beri prioritas rendah dengan sendirinya akan terhapus karena berada di baris yang paling bawah dalam daftar kita. Jika kita tidak memberikan prioritas yang tinggi kepada hal-hal yang benar-benar penting – seperti doa dan pembacaan Alkitab- seluruh kehidupan kita akan menjadi kacau. Lalu kita akan tergoda untuk selalu memberi dalih: ―Saya tidak mempunyai cukup waktu.‖ Padahal sebenarnya kita harus mengatakan: ―Saya tidak memakai waktu saya dengan benar.‖ Sebelum terlambat, marilah berdoa bersama saya: ―Ajar kami untuk menghitung hari-hari kami dengan benar.‖ Tanggapan Iman: Tuhan, aku menaruh kehidupanku di hadapan-Mu seperti selembar kertas kosong dan kumohon agar Roh-Mu menulisinya dengan hal-hal yang telah Kautetapkan sebagai prioritas dalam kehidupanku. ALIRAN SUKACITA

Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku…. Mazmur 43:4

Daud belajar dua hal mengenai sukacita. Pertama, sukacita hanya berasal dari satu sumber yaitu: Tuhan sendiri. Kedua, hanya ada satu tempat untuk menimba dari sumber tersebut yaitu: mezbah Allah. Mezbah Allah adalah tempat untuk mempersembahkan korban, tempat untuk melakukan penyerahan diri dan pengudusan, serta tempat untuk mempersembahkan kehidupan kita. Sukacita yang hanya berasal dari Tuhan itu akan mengalir dalam diri kita setelah kita mempersembahkan korban di atas mezbah tersebut. Ada suatu perbedaan besar antara sukacita dan perasaan senang. Sukacita terdapat di
31

dalam roh, sedangkan rasa senang terletak di dalam jiwa. Rasa senang berkaitan dengan emosi, perasaan dan keadaan yang kita alami. Apabila segala sesuatu berjalan dengan baik, kita merasa senang. Apabila keadaan kurang beres, kita menjadi kurang senang. Merasa senang itu memang baik, tetapi perasaan itu tidak akan bertahan terus. Sebaliknya, sukacita tidak bergantung kepada perasaan atau situasi kita. Ia tidak bergantung kepada keadaan jasmani kita. Ia terdapat di dalam roh. Hanya ada satu sumber sukacita, yaitu Tuhan sendiri. Tuhan itu kekal dan tidak dapat diubahkan. Itu sebabnya kita dapat tetap bersukacita sekalipun kita tidak sedang merasa senang. Sukacita datang langsung dari Tuhan sendiri. Seperti halnya Tuhan, sukacita itu bersifat kekal dan tidak akan berubah, ia tidak dapat terpengaruh oleh keadaan. Tetapi sukacita itu hanya kita dapatkan di atas mezbah Tuhan. Seperti Daud, kita pun harus memutuskan untuk pergi menghadap Tuhan, datang ke mezbah-Nya, ke tempat mempersembahkan korban, tempat melakukan penyerahan serta pengudusan. Itulah tempat kita menyerah tanpa syarat kepada Tuhan. Sesudah itu kita selamanya akan dapat menikmati sukacita yang tidak pernah berubah. Tanggapan Iman: Ya Tuhan, di atas mezbah-Mu kuserahkan hidupku tanpa syarat. Alirkanlah dalam diriku sukacita yang hanya berasal dari-Mu itu. TOLONG AKU TUHAN

Tuhan Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku Mazmur 30:3

Salah satu ciri Alkitab yang menjadi berkat bagi saya adalah kesederhanaannya yang luar biasa. Alkitab menyampaikan hal-hal yang paling mendalam dengan kata-kata yang paling sederhana dan singkat. Dalam Alkitab bahasa Inggris setiap kata dari ayat yang dikutip dia atas itu terdiri dari satu suku kata saja. ―O Lord my God, I called to you for help and you healed me.‖ Seluruhnya terdiri dari 14 kata yang singkat dan sederhana, namun betapa dalamnya kebenaran yang diungkapkan ayat ini! Dalam seluruh Alkitab, Tuhan mengungkapkan diri-Nya sebagai Penyembuh umat-Nya. Ia berkata kepada bani Israel sesudah melepaskan mereka dari perbudakan di negeri Mesir: ―…sebab Aku TUHAN-lah yang menyembuhkan engkau‖ (Keluaran 15:26). Atau dengan kata-kata lain: ‖Akulah TUHAN Doktermu.‖ Dua belas abad kemudian Ia menegaskan kembali pernyataan-Nya: ―Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah‖ (Maleakhi 3:6). Kepada umat Kristen yang berada dalam Perjanjian Baru Yakobus menulis: ―Kalau ada seorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia (Yakobus 5:14-15). Saya mengucap syukur kepada Tuhan karena sekarang ini ada banyak ahli kedokteran, jururawat dan orang-orang yang pekerjaannya menolong orang-orang sakit dan lemah. Tetapi, pada akhirnya yang memberikan kesembuhan adalah Tuhan sendiri. Sarana atau orang yang dipakai untuk menyembuhkan itu bermacam-macam, tetapi Sumber yang memberikan kesembuhan itu selalu sama. Mungkin Anda sedang menderita suatu penyakit atau mempunyai masalah dengan keadaan jasmani Anda, atau Anda memikul suatu beban berat yang sebenarnya ingin disingkirkan
32

Tuhan dari kehidupan Anda. Sudahkah terpikir oleh Anda untuk berseru dan meminta tolong kepada Tuhan? Perhatikanlah betapa sederhananya kata-kata dalam ayat itu: ―Kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.‖ Tetapi, kadang-kadang kita justru lupa melakukan hal-hal yang sederhana dan begitu mudah. Apa salahnya membawa persoalan Anda kepada Tuhan? Saya sudah sering melakukan hal itu dan Tuhan pun telah menyembuhkan saya. Saya percaya Ia juga akan melakukan hal yang sama bagi Anda. Tanggapan Iman: Tuhan, Engkaulah Penciptaku dan Penebusku. Aku percaya Engkau telah menyelamatkan jiwaku, oleh karena itu aku juga percaya bahwa Engkau akan menyembuhkan penyakitku. DARI PENDAFTARAN SAMPAI LULUS UJIAN ―Siapakah orang yang takut akan Tuhan? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjianNya diberitahukan-Nya kepada mereka.‖ Mazmur 25:12-14

Setiap kali Tuhan membuka pendaftaran bagi murid-murid baru yang akan diajar-Nya, Ia selalu memilih murid-murid tersebut atas dasar watak kepribadian mereka. Ia tidak mendasarkan pilihan-Nya pada kemampuan intelektual, tingkat pendidikan ataupun kedudukan sosial mereka. Yang penting bagi Tuhan adalah sikap batiniah mereka terhadapNya: apakah mereka memiliki sikap yang tunduk dan penuh hormat. Selain itu Tuhan sendiri pula yang menetapkan materi pelajaran yang akan diberikan kepada murid-murid-Nya itu. Ia akan mengajar mereka mengenai ―jalan yang harus dipilihnya.‖ Seringkali jalan itu bukanlah jalan pilihan kita sendiri. Mungkin kita lebih suka mendapat pelajaran mengenai nubuat atau pewahyuan ilahi yang luar biasa, tetapi pengajaran Tuhan ternyata lebih menekankan hal-hal yang sederhana dan berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, seperti: pengabdian, pengorbanan, kesetiaan. Bagi orang-orang yang benar-benar mau menundukkan diri kepada pengajaran Tuhan tersedia suatu berkat yang istimewa: ―Rahasia Tuhan akan diberitahukan-Nya bagi orang yang takut akan Dia‖. Dalam hubungan antar sesama manusia pun kita menceritakan rahasia kita hanya kepada orang yang kita percayai. Demikian pula, apabila Tuhan membagikan rahasia-Nya kepada kita, hal itu membuktikan bahwa kita telah memperoleh kepercayaan dari-Nya. Itu dapat diumpamakan sebagai ijazah tanda kelulusan kita. Hal itu digambarkan dengan indah sekali dalam hubungan Yesus dengan murid-murid-Nya. Setelah tiga tahun lamanya memanggil mereka menjadi murid-Nya, Ia berkata kepada mereka: ―Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapa-Ku‖ (Yohanes 15:15). Yesus sendiri harus belajar terlebih dahulu dari Bapa-Nya dengan cara Dia benar-benar tunduk dan taat terhadap Bapa. Selanjutnya Ia pun mengajarkan semua yang Ia dapatkan dari Bapa-Nya kepada orang-orang yang benar-benar mau tunduk dan taat kepada-Nya. Hingga sekarang pun Tuhan masih memilih murid-murid-Nya atas dasar itu. Dan persyaratan maupun materi pelajaran yang akan digunakan-Nya juga tidak akan berubah. Tanggapan Iman:
33

Ya Tuhan, aku rindu menjadi murid yang tunduk dan taat kepada-Mu supaya pada saat yang Engkau tentukan nanti Engkau akan memberitahukan rahasia-rahasiaMu kepadaku.

BILA KAKIKU GOYANG Ketika aku berpikir: ―Kakiku goyang,‖ maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. Mazmur 94:18-19

Ada satu hal yang secara khusus menarik perhatian saya berkenaan dengan gambaran yang diberikan Alkitab mengenai Tuhan: Alkitab berkata bahwa Ia begitu penuh pengertian. Ia mengetahui kelemahan-kelemahan kita, tetapi tidak menolak kita karena kelemahankelemahan tersebut. Ia tidak menyuruh kita berpura-pura kepada-Nya maupun kepada dunia luar bahwa kita ini kuat, sedangkan kenyataannya kita lemah. Yang Ia minta hanya agar kita benar-benar menyerahkan kepada-Nya segala sesuatu yang kita miliki, betapa pun hal itu kelihatannya tidak berarti atau tidak memadai. Segala kekurangan itu akan ditutup oleh kasih karunia-Nya. ―Kakiku goyang!‖ teriak pemazmur. Ia hampir saja jatuh dan tidak dapat menyelamatkan diri. Tetapi begitu ia mengakui kebutuhannya, Tuhan segera datang untuk menyelamatkannya: ―Kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.‖ Inilah pola yang kita masing-masing harus mengingatnya. Apabila kaki kita mulai goyah dan kita kehilangan keseimbangan, Tuhan tidak menyuruh kita menyelamatkan diri sendiri. Kita cukup menyampaikan kebutuhan kita kepada-Nya dan kasih setia-Nya akan menyokong dan menyelamatkan kita. Dalam ayat berikutnya pemazmur menggambarkan reaksi yang terjadi dalam hatinya sendiri: ―Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.‖ Justru pada saat-saat kita merasakan kecemasan yang luar biasa, Tuhan secara tiba-tiba akan melimpahi jiwa kita dengan sukacita yang mengalahkan kecemasan tersebut. Bahkan, semakin besar tekanan yang kita alami, semakin indah pula penghiburan Tuhan yang akan kita rasakan. Dalam II Korintus 1:8-9, Paulus menggambarkan pengalaman semacam itu: ―Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya pada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.‖ Tanggapan Iman: Apabila kakiku mulai goyah, ya Tuhan, tolonglah aku untuk mengingat bahwa kasihMu akan menyokongku. TIDUR MERUPAKAN PEMBERIAN TUHAN ―Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.‖ Mazmur 4:9 Salah satu pewahyuan yang indah yang kita dapatkan di dalam Alkitab adalah bahwa (kemampuan untuk) tidur merupakan suatu pemberian Tuhan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Daud mengalami berbagai tekanan yang berat dan kehidupannya sering terancam. Banyak sekali musuh yang berusaha menyerangnya dari segala arah. Namun di
34

tengah-tengah suasana seperti itu Daud dapat tidur nyenyak dan tidak terganggu sama sekali. Ia mengemukakan dalam ayat diatas bahwa ia dapat menikmati berkat Tuhan itu karena Daud semata-mata bergantung kepada Tuhan untuk keselamatan dan keamanannya. Keamanan yang dirasakannya tidak bergantung kepada keadaan sekitarnya, kekayaan yang dimilikinya, maupun kepada janji-janji manusia yang rapuh. Ia hanya bergantung kepada janji-janji yang terdapat dalam Firman Tuhan, yang kekal abadi dan tidak pernah berubah. Setiap malam Daud tidak lupa menaruh kehidupannya di tangan Tuhan. Dengan penuh keyakinan kepada Tuhan ia membaringkan diri untuk tidur. Ia begitu yakin bahwa nyawanya akan selamat di tangan Tuhan, sehingga tidak sulit baginya untuk tidur nyenyak dan bangun lagi, tanpa ada sedikitpun rasa khawatir atau rasa takut. Ia tidak pernah mengalami siksaan yang biasa dirasakan oleh orang yang susah tidur. Di zaman sekarang ini banyak orang yang tidak memiliki rasa aman seperti itu. Bila malam hari tiba mereka mulai merasa tertekan, kebingungan atau dicekam oleh ketakutan. Segala masalah dan kekuatiran yang digeluti pada siang hari tidak dapat mereka lepaskan begitu saja pada malam hari. Apabila anda juga menghadapi masalah seperti itu, cobalah belajar dari Daud. Ketahuilah bahwa hanya Tuhan Yesus-lah satu-satunya Sumber yang memberikan damai sejahtera dan rasa aman kepada manusia. Belajarlah untuk percaya kepada-Nya dengan kepolosan hati seorang anak kecil dan terimalah tidur dengan penuh kedamaian sebagai pemberian-Nya.

Tanggapan Iman: Tuhan, aku percaya bahwa Engkau mencintaiku, dan bahwa Engkau hendak memberkatiku juga dengan tidur. HARTA YANG TERPENDAM DI LADANG

Ayat Alkitab pertama yang berkaitan dengan judul diatas mengetengahkan suatu perumpamaan tentang Yesus, dan perumpamaan ini terdapat di dalam Matius 13:44 ―Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.‖ Betapa sederhananya cerita itu. Namun, hal-hal rohani apakah yang diungkapkan oleh cerita yang sederhana itu? Adapun orang yang menemukan harta itu tidak lain adalah Yesus sendiri. Ladangnya adalah dunia ini. Lalu, apakah yang digambarkan oleh harta itu? Saya percaya bahwa harta itu menggambarkan umat Tuhan yang ada di dunia ini. Jadi, orang yang menemukan harta itu adalah Yesus, ladangnya adalah dunia ini, sedangkan harta yang ditemukan adalah umat Tuhan yang ada di dunia ini. Ketika menemukan harta karun di ladang, orang itu melakukan sesuatu yang sangat bijaksana. Ia tidak serta merta menyebarkan berita mengenai penemuannya itu. Dikatakan bahwa ia langsung memendam kembali harta itu. Sebab seandainya orang lain mengetahui bahwa ada harta karun yang terpendam di ladang itu, tentu ia akan mendapat banyak saingan. Maka ia menyembunyikan harta itu dan memutuskan untuk membeli seluruh bidang tanah tersebut. Hendaknya dicatat bahwa sebenarnya ia tidak menginginkan sebidang tanah itu. Yang diinginkannya hanyalah harta yang terpendam di situ, tetapi ia menyadari bahwa mau tidak mau seluruh ladang harus dibeli untuk dapat memiliki harta yang terpendam itu. Jadi ia harus membayar harga seluruh ladang itu, dan harga yang dibayarnya itu sangat tinggi
35

baginya, sampai-sampai ia harus menjual seluruh miliknya. Tetapi ia melakukannya dengan sukacita, karena ia mengetahui betapa berharganya harta terpendam yang akan diperolehnya dari ladang itu. Saya dapat membayangkan betapa terherannya warga yang tinggal di sekitar ladang itu. ―Mengapa orang itu mau membeli ladang itu? Sebenarnya ladang itu tidak menghasilkan apa-apa. Mengapa pula ia mau membayar demikian mahal untuk ladang seperti itu?‖ Tentu saja mereka berpikir demikian, karena mereka tidak mengetahui bahwa ada harta karun yang terpendam di ladang itu. Satu-satunya orang yang mengetahui adanya harta karun itu adalah Yesus. Demikianlah juga Yesus membayar harga untuk membeli seluruh dunia ini, agar dapat memperoleh harta yang terpendam di ladang itu. Adapun harta karun itu ialah umat Tuhan. ini, agar dapat memperoleh harta yang terpendam di ladang itu. Adapun harta karun itu ialah umat Tuhan. Sekarang marilah kita melihat suatu ayat lain yang terdapat dalam Perjanjian Baru, yaitu Yohanes 3:16 yang terkenal itu: ―Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.‖ Jadi, begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengorbankan nyawa Anak-Nya sendiri untuk menebus dunia ini. Tetapi yang kemudian diperoleh Allah dan dunia ini adalah ―setiap orang yang percaya‖ itu. Jadi, Yesus rela mati agar dapat membeli seluruh dunia ini untuk mendapatkan “setiap orang yang percaya” itu. Di dalam Titus 2:14 dikemukakan kebenaran yang sama. Di dalam ayat ini dikatakan mengenai Yesus Kristus: ― yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.‖ Itulah hartanya, yaitu umat kepunyaan-Nya sendiri. Suatu umat yang telah dibeli dari dunia ini, ditebus dari segala kejahatan, dikuduskan, dan dijadikan rajin untuk berbuat baik. Dan harga pembayaran adalah diri-Nya sendiri, yaitu segala yang dimiliki-Nya, seluruh keberadaan-Nya. Ia memberikan diri-Nya sendiri demi umat tebusan-Nya. Ada hal lain mengenai harta di ladang itu. Memang, Yesuslah yang membeli ladang itu, tetapi selanjutnya pekerjaan penggalian untuk mengeluarkan harta yang terpendam itu diserahkan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para pengabar Injil. Banyak juga pekerjaan yang perlu dilakukan untuk hal ini. Lokasi tempat harta itu berada harus dicari, tanahnya harus digali kemudian harta tersebut dikeluarkan. Semua pekerjaan itu tidak perlu dilakukan oleh Yesus sendiri. Untuk itu Ia sudah mempunyai hamba-hamba-Nya yang melayani di dunia ini, yang bertugas untuk mencari harta itu dan menggalinya. Percayalah saudara, membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan dan memberitakan Injil kepada mereka bukan suatu pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu sama beratnya seperti orang yang menggali tanah untuk mencari harta yang terpendam. Dan pekerjaan itu menjadi tugas bagi setiap kita, yaitu orang-orang percaya. Kita bertugas untuk mengeluarkan harta itu dari dalam ladang, kemudian membersihkan dan menyiapkannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kita hendaknya jangan lupa akan harga yang telah dibayar lunas untuk pembelian ladang itu dan untuk harta yang terpendam di dalamnya. Pembayarannya dilakukan dengan
36

memberikan segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tidak dikeluarkan-Nya, semuanya Ia berikan. Kasih Kristus benar-benar tidak kepalang tanggung. Dan Ia tetap melakukannya dengan sukacita, karena Ia begitu mengasihi harta tersebut, yaitu Anda dan saya. BERGEMBIRA KARENA TUHAN

―…bergembiralah karena TUHAN, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.‖ Mazmur 37:4 Perhatikan kalimat yang pertama: ―Bergembiralah karena TUHAN‖. Saya pernah mendengar seseorang bertanya begini: ―Apakah Anda benar-benar menikmati ibadah Anda, atau Anda terpaksa menahan rasa bosan pada waktu melakukannya?‖ Pada umumnya sebagian besar umat manusia menganggap ibadah atau agama sebagai suatu kewajiban yang berat, yang terpaksa dilakukan dengan bersabar dan menahan perasaan bosan. Padahal Tuhan tidak menghendaki manusia mengalami keadaan seperti itu dalam berhubungan dengan Dia. Ada satu pernyataan doktrin dasar dari Gereja Presbiterian yang mengatakan: ―Kewajiban utama dan tertinggi dari manusia adalah memuliakan Tuhan, dan menikmatiNya selama-lamanya.‖ Pernahkah terpikir oleh Anda bahwa Anda juga dapat menikmati Tuhan? Tuhan berkata: ―Bergembiralah karena Aku, maka Aku akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.‖ Hal ini tidak berarti bahwa Tuhan akan sekedar melakukan bagi kita segala sesuatu yang kita inginkan atau pikirkan. Karena, seringkali keinginan manusia yang belum bertobat dan penuh kedagingan itu adalah keinginan yang cemar, bahkan menyimpang dari kebenaran. Seandainya Tuhan benar-benar menuruti semua keinginan tersebut, hasil akhirnya malah akan merugikan kita. Sebagai ganti keinginan-keinginan yang buruk itu Tuhan berjanji untuk memberi kita keinginan-keinginan yang baru, yang saleh dan bermanfaat, yaitu keinginan-keinginan yang sama seperti yang dimiliki Tuhan. Setelah itu Ia akan memuaskan keinginan-keinginan tersebut, karena itu adalah keinginan-keinginan yang diberikan-Nya sendiri kepada kita. Tetapi terlebih dahulu, demikian kata Daud, kita harus belajar untuk bergembira karena Tuhan. Artinya, hubungan pribadi kita dengan Tuhan harus menjadi perkara yang paling utama dalam kehidupan. Hubungan tersebut harus lebih utama daripada segala hubungan lain yang yang kita miliki dan harus lebih penting daripada segala hal lain yang menghasilkan kepuasan. Tidak boleh ada motivasi lain. Kita berhubungan dengan Tuhan hanya karena kita ingin menyenangkan-Nya, bukan karena kita berharap menerima sesuatu dari Dia. Sesudah itu akan terjadi suatu paradoks: hubungan yang tulus dengan Tuhan ini yang didorong oleh kerinduan untuk mengenal-Nya akan mengantar kita masuk ke suatu wilayah kepuasan yang sebelumnya tidak dapat kita bayangkan, apabila kita nikmati. Tanggapan Iman: Aku akan bergembira dalam Tuhan dan tidak akan mencari sumber kepuasan lain di luar Dia. DIA YANG BERDAULAT ATAS WAKTU

37

Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: ―Engkaulah Allahku!‖ Masa hidupku ada dalam tangan-Mu… Mazmur 31:15-16 Betapa dalamnya pewahyuan yang kita dapatkan disini, yaitu bahwa sesungguhnya Tuhan berdaulat penuh atas seluruh waktu dalam kehidupan kita! Dan betapa kita diberkati oleh pewahyuan tersebut! Tuhan adalah satu-satu-Nya yang berkuasa atas waktu dan mengendalikan waktu di alam semesta ini. Kekuasaan Tuhan ini diperlihatkan dengan indah sekali melalui peredaran benda-benda di langit. Sekian banyak bintang yang tak terhitung jumlahnya beredar tanpa henti di alam ini. Dengan jadwal dan jalur yang sedemikian tepatnya, sehingga tidak pernah terjadi tabrakan antara satu bintang dengan yang lainnya. Tidak ada satu bintang pun yang menyimpang dari jalur atau jadwal yang telah ditetapkan baginya. Semuanya itu jelas bukan merupakan hasil proses mekanis yang terjadi begitu saja, tanpa pemikiran yang matang. Sebaliknya, keadaan tadi menunjukkan keterlibatan Tuhan secara pribadi terhadap alam semesta ciptaan-Nya. Tuhanlah yang memberi nama kepada setiap bintang dan yang menjaga agar bintang itu tetap pada jalurnya. Yesaya mengingatkan kita bahwa Dialah ―…yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat!‖ (Yesaya 40:26). Sedemikian cermat dan sempurnanya Tuhan mengatur pergerakan bintang-bintang. Secermat dan sesempurna itu pula Ia mengatur perjalanan kehidupan kita masing-masing, khususnya unsur waktu dalam kehidupan kita. Ia melihat setiap peristiwa sebelum peristiwa itu sendiri terjadi. Bisa saja kita terkejut dan tidak siap menghadapi suatu krisis yang timbul secara tak terduga. Tetapi Tuhan tidak pernah demikian. Di tengah-tengah krisis semacam itu secara konsisten dan tanpa pernah terburu-buru Ia terus melaksanakan rencana-Nya bagi kehidupan kita. Bagi saya pribadi, faktor waktu merupakan unsur kehidupan yang paling sulit untuk dikendalikan. Waktu bahkan lebih sulit diatur dibandingkan dengan uang. Namun saya belajar bahwa jalan keluar untuk persoalan itu adalah dengan menyerahkan seluruh waktu saya ke dalam pengendalian Tuhan , dengan berkata seperti Daud: ―Masa hidupku ada dalam tangan-Mu.‖ Pada permulaan setiap hari yang baru saya selalu berdoa supaya sepanjang hari itu saya ―senantiasa berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.‖ Dengan cara tersebut hal-hal yang terjadi di sepanjang hari itu akan mengikuti rencana Tuhan, sama pastinya seperti bintang-bintang beredar menurut jalurnya. Tanggapan Iman: Tuhan, aku mohon dan aku percaya engkau mengatur setiap waktu dalam kehidupanku sama seperti Engkau mengatur perjalanan bintang-bintang di langit. BERHASIL KARENA DIBERKATI ―Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah taurat TUHAN (hukum Tuhan, versi bhs. Inggris), dan yang merenungkan taurat (hukum) itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya , dan yang tidak layu daunnya apa saja yang diperbuatnya berhasil.― Mazmur 1:1-3 Berbahagialah [―BLESSED‖ (diberkati) dalam versi bhs. Inggris]. Itulah kata pembukaan dari seluruh kitab Mazmur yang sekaligus memuat intisari dari segala sesuatu yang ditulis
38

dalam kitab tersebut. Berkat-berkat yang tercantum di situ mengalir dalam dua arah: berkat Tuhan untuk manusia, dan kemudian manusia mengembalikan berkat itu untuk memuliakan Tuhan. Di dalam mazmur ini Daud menulis sebuah kalimat yang singkat namun padat isinya untuk menggambarkan berkat-berkat yang dijanjikan kepada manusia : “Apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Bagaimana anda dapat menjadi orang seperti itu, menjadi orang yang diberkati Tuhan sehingga apapun yang anda lakukan pasti berhasil? Daud menyampaikan lima buah persyaratan untuk hal ini. Tiga yang pertama merupakan persyaratan negatif, kemudian diikuti oleh dua persyaratan yang positif. Apakah persyaratan negatif yang harus dipenuhi terlebih dahulu? Jangan Anda berjalan menurut nasihat orang fasik, Jangan berdiri di jalan orang berdosa, Jangan duduk dalam kumpulan pencemooh. Intisari dari ketiga persyaratan tersebut adalah: kepada siapakah Anda pergi untuk mencari nasihat atau petunjuk? Nasihat yang anda turuti itulah yang menentukan arah atau perjalanan kehidupan anda. Apabila anda mengikuti nasihat dari orang-orang yang menolak prinsip-prinsip Tuhan dan mengabaikan hukum-Nya, tentu saja Anda tidak berhak atas berkat-berkat-Nya yang membahagiakan itu. Selanjutnya, dua persyaratan yang pasitif itu adalah: Anda harus suka (gemar) akan taurat Tuhan (hukum atau perintah-perintah Tuhan) dan merenungkannya siang & malam. Sumber utama bagi segala nasihat yang bijaksana dan benar hanyalah hukum atau peraturan Tuhan. Apabila pikiran dan hati anda senantiasa diisi dan dipenuhi dengan peraturan Tuhan dan kehidupan anda selalu jalan dengan peraturan tersebut, tentu Tuhan akan memberkati Anda sehingga perjalanan hidup Anda berhasil. Mungkin Anda selama ini merasa letih karena sering dilanda oleh kegagalan dan kekecewaan. Bila demikian, cobalah Anda sekarang benar-benar memperhatikan hukumhukum Tuhan. Renungkanlah hukum-hukum itu, terapkanlah dalam hidup Anda sehari-hari. Hukum-hukum itu pasti akan membuahkan suatu hasil dalam kehidupan Anda. Tuhan sendiri menjamin bahwa Anda akan berhasil. TANGGAPAN IMAN : YA TUHAN, aku akan meniru sikap dan teladan hidup Daud, bersama dia aku akan berkata: “Peringatan-peringatan-MU menjadi kegemaranku, menjadi penasihatpenasihatku” Mazmur 119:24 IBADAH YANG BERKENAN DI HADAPAN TUHAN

―TUHAN menjaga orang-orang asing, anak-anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.‖ Mazmur 146:9

Dalam ayat di atas pemazmur mengemukakan secara berdampingan dua sisi yang begitu seimbang dari karakter Tuhan: di satu sisi, kepedulian dan kasih Tuhan terhadap orangorang asing (orang-orang yang jauh dari kampung halamannya), anak-anak yatim dan jandajanda; dan di sisi lain, tindakan-Nya yang keras terhadap orang-orang jahat. Sebagai orang Kristen kita pada umumnya tidak diharapkan menjadi ―tangan‖ Tuhan yang akan langsung menghukum orang-orang , melainkan kita dituntut untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada orang-orang yang berada dalam kesulitan - terutama para janda dan yatim piatu. Kita cenderung berbicara mengenai ibadah dalam arti yang umum tanpa menyadari bahwa sebenarnya Alkitab memberikan suatu definisi yang spesifik sekali mengenai ibadah yang benar di mata Tuhan. Seringkali Tuhan memakai ukuran yang berbeda dengan yang dipakai manusia. Banyak hal yang kita anggap sebagai ibadah yang benar ternyata tidak benar di
39

mata Tuhan. Definisi ibadah yang benar menurut Tuhan terdapat dalam Yakobus 1:27: ―Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka., dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.‖ Definisi tersebut mempunyai dua sisi: Sisi pertama, yaitu tindakan-tindakan nyata untuk menolong janda-janda dan yatim piatu; Sisi kedua, yaitu menjaga menjaga diri supaya tidak tercemar oleh dunia. Yang sering terjadi adalah bahwa orang-orang yang kita anggap ―agamawi‖ umumnya begitu kuat dalam menentang hal-hal yang bersifat ―duniawi‖ ,namun mereka jarang sekali atau bahkan tidak pernah melakukan apa-apa untuk menolong janda-janda dan yatim piatu. Satu hal yang tidak perlu diragukan lagi di zaman sekarang ini adalah: apabila kita benarbenar peduli dan prihatin akan kesusahan para janda dan yatim piatu, kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi mereka terbuka seluas-luasnya. Hampir di setiap negara kita dapat mendengar jerit tangis mereka yang meminta tolong kepada kita. Jika kita diam saja dan tidak berbuat sesuatu, itu pasti bukan karena tidak ada kesempatan, melainkan karena kita tidak berniat untuk menolong mereka. Tanggapan Iman: Tuhan, aku bersedia memikul tanggung jawab yang Engkau berikan kepadaku untuk menolong orang-orang yang berada dalam kesusahan, khususnya para janda dan yatim piatu. DI TENGAH-TENGAH PENTAS DUNIA

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Mazmur 8:4-5

Bila kita memandang ke langit luas dan jutaan gugusan bintang yang bertebaran di sana, maka bola bumi tempat tinggal kita ini akan terkesan kecil sekali, seperti setitik debu di alam semesta ini. Berhadapan dengan alam semesta yang luas tak terkira ini, kita merasa diri kita sangat kecil dan tidak berarti, bahkan amat lemah dan tidak berdaya. Namun demikian, Daud meyakinkan kita bahwa Tuhan sangat berminat kepada manusia. Ia benar-benar peduli akan kita. Bahkan, perhatian-Nya secara khusus senantiasa tertuju kepada kita. Tuhan tidak pernah mengukur apa pun berdasarkan jumlah atau besar kecilnya. Bahkan, menurut tolak ukur Tuhan – sebagaimana dikatakan Yesus sendiri – nilai dari satu jiwa manusia lebih besar daripada nilai seluruh alam semesta ini. Selama ini kita sering mempunyai gambaran bahwa bumi ini merupakan pusat alam semesta ini. Kemungkinan besar pendapat seperti itu tidak benar. Namun demikian, bila dilihat dari segi sejarah tidak salah juga jika dikatakan bahwa bumi ini memainkan suatu peranan yang maha penting. Sesungguhnya, bumi ini merupakan semacam panggung tempat dipentaskannya suatu pagelaran yang paling besar di alam semesta ini, suatu kisah drama yang belum selesai hingga sekarang. Dua ribu tahun yang lalu di atas panggung bumi ini, di kota Yerusalem, terjadilah kisah drama terbesar yaitu penyaliban Yesus demi menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa dan maut. Pada waktu itu Tuhan memperlihatkan kepada seluruh jagat raya betapa berharganya jiwa manusia itu bagi-Nya. Untuk menebus manusia dari dosa dan kematian, Ia bahkan merelakan hal yang paling berharga yang terdapat di alam semesta ini, yaitu darah kehidupan Anak-Nya sendiri. Oleh karena itu Paulus menulis: ―Sebab kami telah
40

menjadi tontonan bagi dunia,…‖ ( I Korintus 4:9 ). Perkataan yang diterjemahkan sebagai ―tontonan‖ itu berasal dari bahasa Yunani yang arti sesungguhnya adalah ―teater‖ (pentas). Meskipun manusia sedemikian kecil dan tidak ada artinya, dilihat dari rencana Tuhan yang Maha Berdaulat kita sesungguhnya berada di titik pusat ―pentas‖ alam semesta. Tanggapan Iman: Terima kasih Tuhan, karena Engkau demikian menghargai kami, anak-anak-Mu, bahkan lebih daripada seluruh alam semesta yang terdapat di sekeliling kami. LANGKAH BERIKUTNYA

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Mazmur 119:105 Dalam ayat ini Daud merenungkan cara berjalan kita yang seharusnya di tengah-tengah dunia ini. Ia menyoroti dua hal utama: kaki yang kita pakai untuk melangkah, dan jalan yang kita lalui. Ia menjamin bahwa kita tidak akan pernah berjalan dalam kegelapan apabila kita sepenuhnya percaya dan taat kepada Firman Tuhan. Akan datang saat-saat ketika dunia di sekitar kita menjadi gelap sama sekali. Pada saat itu pandangan kita ke segala arah akan terbatas sampai beberapa meter saja. Di depan kita mungkin ada masalah-masalah yang belum beres. Mungkin juga ada bahaya yang mengancam kita di balik tikungan. Namun di tengah semua itu kita mendapat suatu jaminan; Jika kita benar-benar mentaati Firman Tuhan dalam menghadapi keadaan apapun juga, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan. Kaki kita tidak akan menapak di tempat yang berbahaya yang dapat membuat kita tersandung dan jatuh sehingga mengalami cedera atau mendapat malapetaka. Namun jaminan tersebut berlaku untuk satu ―daerah‖ khusus saja; yaitu hanya di tempat kita akan menapakkan kaki kita pada langkah berikutnya. Tuhan tidak berjanji bahwa kita akan bisa melihat jauh ke depan. Apa yang akan terjadi jauh di depan kita mungkin sama sekali tidak bisa kita ketahui , tetapi hal itu tidak perlu membuat kita khawatir. Yang diminta Tuhan dari kita hanyalah agar setiap langkah, kita ayunkan dengan penuh ketaatan kepada Firman Tuhan. Bahaya yang terbesar bagi kita adalah jika kita berusaha melihat terlalu jauh ke depan menembus kegelapan itu. Karena dengan berbuat demikian kemungkinan kita bisa kurang memperhatikan tempat yang akan kita pijak yang tepat ada di depan kita, yaitu satu-satunya tempat yang disinari Tuhan setiap kali kita akan melangkah. Tanggapan Iman: Tuhan, tunjukkanlah padaku dimana aku harus menaruh kakiku sekarang dengan menaati Firman-Mu. Kuserahkan masa depanku ke dalam tangan-Mu. Pdt. Mary Hartanti "PRAJURIT DAN PAHLAWAN" 1 Sam 16:14-16 "Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN. Lalu berkatalah hamba-hamba Saul kepadanya: "Ketahuilah, roh jahat yang dari pada Allah mengganggu engkau; baiklah tuanku menitahkan hamba-hambamu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang dari pada Allah itu hinggap padamu, haruslah ia main
41

kecapi, maka engkau merasa nyaman. "" Oleh karena dosa Saul Roh Tuhan mundur dari padanya sebaliknya roh jahat datang mengganggu dia. Di dalam ayat-ayat di atas dikatakan roh jahat itu dari pada Tuhan. Bagaimanakah pengertian yang sebenarnya? Apakah Tuhan mengutus roh jahat untuk mengganggu manusia? Pengertiannya tidak demikian. Tuhan pemegang otoritas yang tertinggi jadi kalau ada roh jahat yang mau mengganggu orang yang percaya itu harus seijin Tuhan. Contohnya kasus Ayub. Tuhan memberikan ijin kepada Iblis untuk mendatangkan pencobaan kepada Ayub. Konsekuensi dari mundurnya Roh Allah dari seseorang yaitu tiadanya penyertaan Allah bagi orang tersebut. Penyertaan Tuhan di dalam kehidupan seseorang sangat penting. Apabila kita ingin hidup di dalam penyertaan Tuhan hindarkanlah diri dari berbuat dosa dan hiduplah di dalam penundukan atau ketaatan. Apakah yang dialami oleh seseorang yang disertai Tuhan? Orang yang disertai Tuhan dibuatNya hidup orang itu berhasit walau ibaratnya kedudukan orang itu rendah sekalipun apa yang diperbuatnya dibuat Tuhan berhasil. Contoh Yusuf di dalam penjara. Kej 39:21-23 - "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasiL " Pada waktu ditaruh di tempat tinggipun, pada saat menjadi seorang raja muda tetap berhasil. Orang yang disertai Tuhan boleh dikata lewat api tidak terbakar, lewat banjir tidak hanyut. Yes 43:2 - "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. " Ingat riwayat Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tuhan mengasihi ciptaanNya yang dibentukNya, yang sudah ditebusNya dan dipanggilNya menjadi kepunyaanNya sendiri. Jadi posisi sebagai orang percaya kepada Tuhan, menjadi milik Tuhan itu sangat penting. Dia istimewa, dia spesial, dia tidak semata-mata hanya sebagai makhluk ciptaan. Yes 41:10 –―janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan; bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. " Orang yang disertai Tuhan diteguhkan Tuhan, ditolong Tuhan, dia dipegang oleh tangan kanan Tuhan yang membawa kemenangan. Perlu diperhatikan bahwa orang yang disertai Tuhan bukannya tanpa masalah tetapi pada saat menghadapi masalah Tuhan menolongnya sehingga membuat dia tidak goyah. Menjadi Prajurit 1. Untuk menjadi prajurit seseorang perlu dilatih. Dia perlu memiliki penundukan terus menerus kepada komandannya dan kepada setiap otoritas yang mewakili komandannya. Sebagai contoh: Pada saat sepasukan prajurit diterjunkan di medan pertempuran sebagian ditugaskan sebagai pengintai, sebagian dijadikan orang yang memancing musuh, sebagian menjadi backing perlindungan. Walaupun yang dijadikan pemancing musuh itu menjadi umpan musuh dan sangat membahayakan nyawanya tetapi seorang prajurit harus selalu tunduk kepada perintah komandannya.
42

Tuhan menghendaki kita bukan hanya menjadi pengikut-pengikut Kristus tetapi juga menjadi prajurit-prajuritNya. Sebagai prajurit Kristus apapun yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai otoritas tertinggi melalui FirmanNya dan melalui pemimpin-pemimpin rohani harus ditaati. Kita menjadi prajurit Kristus, sebagai prajurit kita pindah dari alam santai masuk ke dalam peperangan. Seorang prajurit Kristus perlu berjaga-jaga di dalam hidupnya dengan doa. Pada waktu malam, pada waktu dini hari, di mana kita secara tubuh lelah dan mengantuk tetapi apabila komandan menghendaki kita untuk berjaga dan berdoa kita harus tunduk. Lawan kita si Iblis sering menyerang pada saat kita terlena. Yesus adalah contoh prajurit yang baik. Flp 2:7,8 - "melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, !a telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. " Apakah persyaratan prajurit yang baik? Selain berlatih dia perlu mengosongkan diri. Tidak memikirkan kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Hidupnya hanya di dalam ketaatan menjalankan komando atau perintah dari komandannya. Komandannyalah yang memikirkan apa yang menjadi kebutuhannya. 2 Tim 2:3,4 - "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. " 2. Penundukan atau ketaatan. Seorang prajurit di dalam menjalankan tugasnya tunduk pada atasan. Entah perintahnya itu masuk akal atau tidak masuk akal ditaati. Seorang prajurit harus bergerak searah dengan perintah atasannya (Firman Tuhan) dan di bawah pimpinan Roh Kudus. Kesaksian: Seorang pekerja gereja lulusan sekolah Alkitab membantu hamba Tuhan di kota Baah, Pulau Rote. Pada suatu hari dia mendapat dorongan Roh Kudus untuk merintis sidang sendiri. Dia minta ijin kepada gembala sidang dan atas persetujuan gembala sidang dia memulai perintisan di desa Lekik dengan banyak berdoa dan berpuasa. Pada suatu hari dia mendengar suara Roh Kudus untuk berjalan di jalan yang sunyi dalam hutan. Dia taat. Akhirnya dia menemukan sebuah pondok dan di dalamnya ada orang yang terbaring sakit lurnpuh. Dia lawat orang ini dan didoakan setiap hari sampai orang tersebut sembuh dan bisa berjalan. Dia mendapat satu jiwa untuk modal perintisan. Dari ketaatannya kepada Tuhan jiwa-jiwa ditambahkan. Mulai dari membangun pondok tempat ibadah dari rantingranting akhirnya dia dapat membangun gedung permanen, melayani dengan dibantu beberapa pengerja. Pernah dimasukkan ke dalam penjara karena Injil tetapi dia disertai Tuhan, dibebaskan dan pekerjaan Tuhan tetap berkembang. Ibu Mary pernah melayani sidang tersebut tahun 1983. Di dalam ketaatannya untuk menderita dan di dalam ketekunannya untuk berjuang seorang prajurit yang disertai Tuhan pasti kokoh dan berhasil. Ada kesaksian yang lain. Seorang ibu sedang memasak. Dia disuruh Tuhan untuk meninggalkan dapur dan pergi ke depan rumah. Dia melihat ada satu keluarga sedang pindah rumah. Keluarga baru ini tinggal di belakang rumahnya. Ibu ini menyambut keluarga baru tersebut, memberi minum kepada mereka dan mulai bersahabat. Pada suatu hari tetangga barunya ada yang jatuh sakit. Dia datang untuk mendoakan, orang tersebut disembuhkan Tuhan dan menjadi percaya kepada Tuhan. Bagaimana sebaiknya kita meresponi panggilan Tuhan untuk ikut menderita sebagai prajurit. Katakan Tuhan aku siap, aku mau taat, apabila bagian ini dari Tuhan jadilah tetapi apabila bukan dari Tuhan batalkanlah. Sikap ketaatan memang mengandung resiko.Tetapi perbuatan ketaatan mengandung mujizat.
43

Contoh perjamuan kawin di Kana. Pada saat anggur perjamuannya habis Yesus memerintahkan para pelayan untuk mengisi enam tempayan dengan air. Sebenamya tempayan itu biasa dipakai untuk menampung air atau untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah enam tempayan tersebut dipenuhi dengan air Tuhan Yesus menyuruh mereka untuk mencedok dan mencicipinya. Ternyata air tersebut berubah menjadi anggur. Kapan perubahan ini terjadi tidak ada yang mengetahui. Apa yang diperintahkan Yesus untuk dilakukan tampaknya tidak logis tetapi pada saat pelayan-pelayan itu taat mereka mengalami mujizat. 3. Mengosongkah diri dan merendahkan diri. Apa arti mengosongkan diri dan merendahkan diri? Dikaitkan dengan sikap ketaatan mengosongkan diri berarti tidak punya hak untuk protes. Pengertiannya juga tidak punya keinginan yang ngotot atau hendak dipaksakan. Mengosongkan diri berarti menurut, pasrah, menyerah tetapi tidak cuek atau apatis atau tidak mau peduli, tidak mau pusing dan tidak ngambeg. Seluruh hidup kita menjadi milik Tuhan dan haknya Tuhan. Dia yang berhak menentukan segala segi dalam kehidupan kita termasuk apa sekolah kita, jurusan yang kita ambil, jodoh kita, kapan menikah, tempat kediaman, profesi, juga tempat pelayanan. 4. Milikilah prinsip bahwa pilihan Tuhan selalu yang terbaik. a. Milikilah sikap agar supaya keinginan Tuhan yang selalu terjadi dan bukan keinginan kita. b. Emosi, pendapat sendiri tak perlu kita pertahankan dengan ngotot. Bahkan kita tidak boleh protes sebab kita sedang diproses. Apabila kita selalu ngotot dengan keinginan sendiri kita akan menjadi egois dan keras kepala. Ada bahaya apabila kita selalu berhasil bisa menjadi sombong. Kita diproses Tuhan supaya memiliki sikap tabah, tekun, sabar, ulet, lembut dan rendah hati, Tuhan ingin melahirkan satu kepribadian yang berkarakter indah seperti bejana yang berkualitas, berharga dan indah bentuknya. Misalnya saja kita menghadapi ejekan dan olokan tanpa sakit hati. Bahkan kalau perlu kita bisa ikut tertawa pada saat ditertawakan. Kita harus tetap bisa mengasihi walau ditolak atau tidak disukai. Dalam proses penundukan di mana hak kita harus dilepaskan atau tidak dihargai kita harus bisa menjadi makin kuat. Dalam proses penundukan itu sedang terjadi pembentukan pribadi atau karakter. Orang yang sedang mengalami proses perlu menghilangkan keinginan untuk dipuji atau ditonjolkan karena dia ingin menjadi seperti Kristus yang mengosongkan diriNya. Perubahan hidup, perubahan wawasan, perubahan kepribadian dan karakter selama mengalami proses itu sendiri adalah suatu mujizat atau keajaiban. Hati-hati dengan suara Tuhan: Kalau Tuhan berkata "Aku mau meninggikan engkau". Jangan cepat-cepat tertawa, mungkin anda mau disalib. Yusuf dijanjikan menjadi seorang raja melalui mimpi-mimpi indahnya tetapi untuk menjadi seorang raja yang diperkenan Allah ternyata Yusuf harus melalui proses panjang direndahkan dulu, mengosongkan diri dulu, ditolak dulu. la dimusuhi oleh abang-abangnya sendiri, dibuang ke sumur, dijual sebagai budak belian, bekerja sebagai seorang budak. Mana mungkin seorang budak menjadi raja. Tetapi itulah proses Tuhan. Dari yang mustahil menjadi tidak mustahil. Sebagai budak dia difitnah dan dipenjarakan. Itulah proses penundukan diri yang paling rendah berada di lembah yang paling dalam. Selama proses pahit yang panjang belasan tahun dia tidak pemah marah atau berontak atau meninggalkan Tuhan. Dia tetap mempertahankan kwalitas hidup yang menyenangkan Tuhan. Tuhan berkenan akan Yusuf dan meninggikan dia pada waktunya dengan memiliki karakter yang sepadan dengan tujuan Allah dalam hidupnya.

44

Istri perlu tunduk kepada suami. Istri yang mengosongkan dirinya dalam penundukan kepada suami, maka Tuhan sendiri yang akan menjamah suaminya. Apa yang membuat kite sulit diproses? Ego kita, harga diri kita, dan karena kita mempertahankan hak, kita sulit pada saat diproses. Kita cenderung untuk berontak, membelot, melawan, sakit hati dan menyebarkan akar yang pahit. Penilaian Tuhan Yang Tepat Tidak ada yang dapat menilai kita dengan tepat kecuali Tuhan. Apabila Allah mengambil semuanya dari kita tidak ada yang bisa menolong kita. Allah memang seringkali berlawanan dengan cara kita sendiri. Memang tidak ada yang bisa merubah manusia kecuali Tuhan. Ada bagian yang harus kita lakukan tetapi ada bagian yang Tuhan lakukan. Kita juga tidak dapat menuntut Tuhan untuk melakukan segala sesuatu bagi kita. Bagian kita adalah penundukan. Berdiri Di Tempat Yang Benar Berdirilah di tempatmu yang benar. Ketahuilah batasan-batasan wewenangmu dan tugasmu. Di dalam hubungan rumah tangga apabila suami baik janganlah kita ngelonjak atau dominan terhadap suami. Tempatkan suami tetap sebagai kepala dalam rumah tangga. Jangan sampai karena suami baik lalu istri kurang memperhatikan aturan serta bebas merdeka semaunya. Allah menuntut bagian kita untuk dilakukan sebelum Dia melakukan bagianNya yang mendatangkan mujizat atau kebaikan. "DATING ATAU KENCAN" Sebetulnya Alkitab sama sekali tidak mengajarkan tentang dating atau kencan. Alkitab tidak mengajarkan umur berapa mulai boleh dating. Alkitab tidak mengajarkan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Alkitab bicara mengenai mencari teman hidup yang tepat Alkitab memberi patokan atau kriteria tentang pasangan hidup. Di dalam Alkitab Ayah berperan untuk menentukan siapa yang menjadi pasangan hidup putra atau putrinya. Adalah sangat baik apabila anak muda bertanya bukan soal bagaimana cara berpacaran, tetapi "bagaimana pasangan yang tepat". Dating lebih menitikberatkan pada perkara lahiriah. Sedangkan Tuhan lebih menitikberatkan pada masalah hati. Yang penting adalah pandangan Allah, bukan pandangan kita sendiri. Di dalam keluarga Allah, orang tua berperan untuk memilih atau menentukan jodoh untuk putra-putrinya. Bukan lingkungan yang menentukan jodoh untuk anak kita. Bukan tetangga yang menentukan, tetapi orang tua. Pasangan perlu bertemu di tempat umum, atau dalam pehimpunan kelompok, dan ada yang membina. Perkawinan adalah satu ikatan perjanjian. Yang penting adalah siapa orangnya. Yang penting adalah apa yang Tuhan ingin anda lakukan. "Setialah dalam segala keadaan. Setialah dan hiduplah benar di manapun juga." Keluarga membutuhkan cinta kasih. Dating sering tercobai oleh hawa nafsu. Tetapi perkawinan adalah Ikatan Perjanjian dengan tanggung jawab. Ikatan Perjanjian antara suami dan isteri adalah Ikatan Perjanjian antara Yesus dengan jemaat. Tuhan tidak menjanjikan kebahagiaan atau kemudahan setiap hari. Tetapi Tuhan menjanjikan penyertaan setiap hari. Tuhan tidak menjanjikan segala sesuatu lancar setiap hari, tetapi la menyerahkan
45

nyawaNya bagi jemaatNya. Demikian pula perkawinan. Perkawinan bukan impian yang penuh kesenangan tiap hari. Tetapi di tengah kesulitan ada kerelaan untuk berkorban. Perkawinan bukan mudah setiap hari, bukan nyaman setiap hari. Bangunlah hubungan berdasarkan Firman Tuhan. Roh Kudus Guru Agung yang akan mengajar anda. Sebuah Perenungan Tidak setiap orang mau mensyukuri sukses anda. Bila anda mendapat perkenan Allah, orang lain bisa cemburu. Mata cemburu memandang, tetapi rohmu tidak terpengaruh. Bila anda terpengaruh, anda tidak dapat meraih sukses. Bila Tuhan Raja di atas segala raja berkenan kepadamu, tak masalah siapa yang tak menyukaimu. . Fahami tujuan Allah untuk hidupmu, walau banyak tantangan ada di hadapanmu. Tuhan tidak pernah menaruh seseorang di tempat yang terlalu kecil untuk bertumbuh, kita harus melakukan apa yang kita dapatkan, kenikmatan dalam pekerjaan meletakkan kesempurnaan dalam karya. "PERNIKAHAN" Pernikahan adalah pembentukan suatu keluarga. Untuk apa pernikahan diciptakan Tuhan? Agar tercipta keluarga. Untuk apa keluarga diciptakan? Agar tercipta gambar Allah dimuka bumi. Apabila keluarga dibentuk di dalam kasih dan hidup di dalam kasih, maka keluarga yang saling mengasihi dan mengasihi Tuhan itu akan memancarkan keindahan Kristus. Melalui keluarga semacam ini kita akan mengenal Bapa, Anak, dan Roh Kudus, ini adalah keluarga di sorga. Keluarga di bumi yang dibangun dalam kasih dan yang hidup di dalam kasih serta mengasihi Tuhan, akan memancarkan karakter Allah, dan akan sangat menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana satu keluarga hidup dalam kasih dan mengasihi Tuhan? Kita akan mulai dari perkawinan dulu. 1. Perkawinan adalah satu ikatan perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan single. Baik laki-laki atau perempuan itu menyatakan komitmennya mengikatkan diri dalam satu perkawinan untuk membentuk satu keluarga. Inilah komitmen yang diucapkan Adam terhadap Hawa pada waktu mereka dipertemukan oleh Tuhan. Kej 2:23 "Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki laki. "" Pria mengakui dia menemukan dan menerima jodohnya. 2. Setelah pasangan pria dan wanita single menikah, mereka perlu memberi prioritas atau mengutamakan dalam membangun keintiman proses menjadi satu daging. Kej 2:24,25 ―Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, mereka tidak merasa malu. "

a. Pengertian satu daging bukan hanya menyangkut hal-hal fisik, menyangkut keberadaan manusia secara utuh, yaitu pasangan pengantin menyatu dalam roh, jiwa, dan tubuh.
46

Mat 19:5,6 "Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Romans dalam perkawinan sangat penting, sebab hal itu oleh Allah yang menciptakan perkawinan itu. Tetapi roman tidak semata-mata kesatuan fisik, tetapi kesatuan batin. b. Keintiman suami-isteri adalah ujud ketergantungan satu pasangan suami-isteri, di mana yang satu membutuhkan yang lain, dan tak bias diganti oleh orang lain. Mereka saling membutuhkan; saling mengasihi dan saling menerima pasangan apa adanya. c. Di dalam keintiman kepribadian masing-masing akan dibangun dengan belajar untuk saling mengenal lebih lagi, saling membangun. Dan hal ini hanya bisa dilakukan dalam keterbukaan dan rela dibentuk, rela menerima masukan dengan kerendahan hati. d. Bila saling mengenal dan saling memahami ini meningkat, keintiman bertumbuh, bahkan sampai pasangan tersebut menjadi keluarga yang dikaruniai anak-anak. Keintiman ini akan membangun kerukunan, dan kerukunan mendatangkan berkat. Mzm 133:1-3 ―Nyanyian ziarah Daud Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selamalamanya." Kerukunan tidak bisa terujud tanpa dibangun komunikasi. Pasangan pengantin baru, dalam sepanjang hidupnya yang akan datang harus belajar membangun komunikasi yang sehat dan lancar, belajar saling mengalah di mana perlu. 3. Keluarga juga akan dibangun dalam kasih, saling mengasihi, dan mengasihi Tuhan pada saat masing-masing melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar.

a. Mereka harus menjalankan aktivitas yang Tuhan berikan kepada mereka. Kej 1:26 "BerfirmanlahAllah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi‖ Mereka harus bekerja mencukupi kebutuhan hidup mereka. b. Mereka memerlukan berkat Allah menyertai kehidupan mereka. Kej 1:28 ―Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan alas segala binatang yang merayap di bumi.‖ Berkat ini penting, supaya keturunan dan usaha pekerjaan mereka juga diberkati. Berkat ini juga perlu untuk kehidupan rohani dan jasmani mereka. c. Mereka perlu hidup di dalam ibadah. Kej 2:1-3 ―Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan - yang dibuat-Nya itu, berhentilah la pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah la berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu."
47

Di sinilah keluarga menyatakan kasihnya kepada Tuhan, beribadah dengan setia. APA YANG MENGHALANGI KEINTIMAN Dosa bukan hanya menghalangi keintiman, tetapi dosa merusak keintiman. Oleh sebab dosa, suami-isteri tidak bisa saling terbuka. Dosa melukai, dan luka dalam batin menutup hati terhadap keintiman. Keintiman tidak bisa dibangun oleh sebab dosa merusak komunikasi. Kesombongan merusak komunikasi. Kemarahan merusak komunikasi. Cemburu, dan sebab akibatnya merusak keintiman. Miskin komunikasi merusak keintiman. Cuek merusak keintiman. Merasa benar sendiri dan mau menang sendiri merusak keintiman. Mementingkan keluarga sendiri merusak keintiman. Milikilah keterbukaan selalu, bangunlah keintiman. "DEPRESI" (Bagian Pertama) Depresi adalah perasaan tertekan sampai bisa putus asa. Saya kadang-kadang mengalami depresi. Ada yang berkata :‖ Orang Kristen seharusnya tidak depresi." Bagaimana dengan pandangan ini? Apakah karena saya depresi maka saya bukan orang Kristen yang sungguh? Mungkin saudara tersebut belum pernah mengalami depresi. Orang yang belum mengalami depresi tidak bisa memahami bagaimana keadaan orang depresi dan bagaimana rasanya. Banyak tokoh-tokoh iman mengalami masa-masa depresi. Contohnya Nabi Elia. Siapa Nabi Elia? Nabi Elia adalah salah satu Nabi terbesar di tsrael. Melalui doanya langit tidak menurunkan hujan 3 ½ tahun. Dan kemudian melalui doanya pula hujan mulai turun. Saat terjadi kemarau panjang dan kelaparan terjadi di mana-mana, Allah memeliharanya dengan mengirim roti setiap pagi dan daging setiap petang melalui seekor burung gagak. la pada saat itu berada di tepi Sungai Kerit. la berada di sana dipelihara oleh Tuhan sampai air Sungai Kerit menjadi kering, sebab hujan tidak turun 3 1/2 tahun. Pada saat air di Sungai Kerit menjadi kering, ia disuruh Tuhan untuk pergi ke Sarfat. Di sana Tuhan sudah mempersiapkan seorang janda miskin untuk memberi makan bagi Nabi Elia. Nabi Elia mengalami pemeliharaan Allah secara adi kodrati. Yang pertama dipelihara melalui seekor burung gagak. Di Sarfat seorang janda miskin menghidupi Nabi besar ini dengan roti setiap hari. Dia Nabi besar dengan tugas berat. Dia Nabi pemberani, menghadapi ratusan nabi Baal. Allah berkali-kali menjawab doanya dengan spektakuler: la berdoa supaya hujan tidak turun, hujan tidak turun 3 1/2 tahun. Dia berdoa minta hujan turun dan hujanpun turun. Dia berdoa minta Tuhan mengirim api membakar kurban persembahannya di Gunung Karmel, dan api diturunkan Tuhan dari langit. Bahkan ia dengan perkasa membunuh 450 nabi Baal. 1 Raj 19:1-8,9-18,19-21. Nabi Elia mengalami depresi sebab takut ancaman. I Raj. 19:1-4 "Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
48

Ada bermacam-macam hal yang bisa.menyebabkan orang menjadi depresi. Misalnya: 1. Karena keluarga yang tidak harmonis. 2. Mengalami kekerasan dalam perkawinan. 3. Mengalami pemerkosaan, menjadi budak seks. 4. Sebab lilitan hutang. 5. Sebab perlakuan sadis dari orang tua atau majikan. 6. Sebab trauma yang tak teratasi. 7. Sebab ditipu. 8. Sebab beban yang tak terselesaikan. 9. Sebab dikecewakan. 10. Sebab merasa dieksploitasi, dimanfaatkan, tanpa bisa mengemukakan pendapat. 11. Sebab penyakit berkepanjangan. 12. Sebab disalah fahami dan merasa tertolak. 13. Sebab studi yang gagal atau cita-cita yang taktercapai. 14. Sebab cinta sepihak, atau cinta yang dikhianati. 15. Sebab tidak mendapat perhatian anak di kala tua. 16. Sebab tertibat kuasa gelap. 17. Karena melihat keadaan belum seperti yang dirindukan. Dan masih banyak lagi. Sekarang kita akan melihat bagaimana Alkitab memberi petunjuk untuk mengatasi depresi 1. SADARI DAN ALAMI KASIH ALLAH. Saat Elia mengalami depresi, Allah tidak marah kepada Elia, tetapi menyatakan kasihNya. Bagaimana cara Tuhan menyatakan kasihNya? la mengutus malaikat. I Raj 19:5 ―Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Banqunlah, makanlah!" Apakah saudara sedang depresi? Saudara putus asa atau hampir putus asa? Saudara patah semangat? Tuhan tidak tinggal diam. Dia mendengar keluhanmu. Dia meresponi doa dan keluh kesahmu. Dia utus malaikatNya untuk apa? Untuk mendampingimu. Anda tidak sendiri. Dia diutus untuk menolongmu, menguatkanmu, menghiburmu, membangkitkan semangatmu. Malaikat itu menyentuh dia. Sentuhan itu menyadarkan bahwa dia tidak sendiri. Tuhan akan menyampaikan sentuhan kasih Allah yang membangkitkan semangatmu. Anda tidak sendiri. Allah peduli dan tidak membiarkan anda dalam keputusasaan. la akan menolong anda secara adi kodrati dalam kalbu anda. Yang Dia jamah pertama adalah hati dan jiwanya. Sentuhan itu membuat hatirrya terjaga. Anda depresi, saat ini Allah sendiri ada di samping anda. Panggil Dia, mintalah agar Dia menyentuh hati anda. 2. YANG KEDUA, ALLAH MEMPEDULIKAN KESEHATAN FISIKNYA. 1 Raj 19:5b,6 ―Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula." Elia diberi makan, supaya tubuhnya kuat. Orang yang depresi sering tidak suka makan. Hati dan pikirannya kacau, makan tak nyaman. Tuhan memperhatikan kesehatan fisik kita supaya tidak lemah, sehingga tubuh kita bisa melakukan kehendak Allah. ―Semangat yang patah mengeringkan tulang." Allah menyentuh membangkitkan semangat. Allah menghendaki tulang-tulang kita segar dan sehat. Allah menghendaki secara utuh roh, jiwa dan tubuh kita sehat. III Yoh 2 ―Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja." Anda harus bangkit dari depresi Anda. Makanlah makanan yang sehat untuk tubuhmu. Makanlah juga firman yang menguatkan roh, jiwa dan tubuhmu. Jangan lari ke dunia,
49

diskotik, judi. ekstasl, seks bebas, mejik, mantera, tenaga dalam, ilmu-ilmu. Itu bukan obat untuk depresi, itu akan merusak dan menjerumuskan Anda

"DEPRESI" (Bagian Kedua) 3. MASIH LEMAH? TAMBAH LAGI. Setelah makan dan minum, Elia berbaring lagi. Bukankah demikian keadaan anda saat depresi? Sudah makan dan minum, tetapi tetap lemah. Kemauannya belum mampu menguatkan hati menjadi suatu tindakan. Tetapi sentuhan kasih Allah tidak berhenti di situ. I Raj 19:7 "Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu. " Orang yang depresi harus didampingi dan terus diberi dorongan. Orang yang depresi mau lari dari kenyataan hidup. Orang yang depresi mau menghindar dari lingkungannya, ia menjauh ke padang gurun, seperti Elia. Tuhan tahu, Tuhan mengasihi, Tuhan tidak mau menelantarkan. >Nutrisi ditambah lagi! Makanlah makanan sehat, sampai anda kuat betul. Makanlah Firman Allah sampai anda kuat untuk berdiri dan berjalan. Perjalanan hidup kita masih panjang. Kita masih harus berjalan 40 hari dan 40 malam. >40 adalah angka pencobaan. Di dalam perjalanan hidup di dunia ini kita menjalani kehidupan penuh pencobaan dan ujian, masalah dan tantangan. Dan agar kita kuat untuk menjalaninya, perbekalannya harus cukup. 4. JANGAN TINGGAL DALAM KEKECEWAAN. Setelah mengalami sentuhan malaikat dan menerima makanan yang menyehatkan dan menguatkan, dan Elia mengalami kekuatan untuk berjalan selama 40 hari dan 40 malam, ia mencapai Gunung Horeb. la kuat pergi dari padang guran yang adalah dataran rendah, mencapai bukit, berarti dia kuat untuk mendaki. Tetapi apa yang dibuat di Gunung Horeb? la masuk ke gua, bermalam di situ. Dia sudah mengalami sentuhan, sudah makan, sudah pindah tempat, tetapi kekecewaannya belum hilang. I Raj 19:9,10 ―Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Ella ?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku. " Apa kerjamu di sini? Tidur-tidur?!! Kitapun saat depresi seperti itu. Kita pikirdengan pindah tempat kita akan beres. Tidak! Yang kita hindari bukan tempat. Tetapi kekecewaan. Biarpun kita pindah tempat, dari padang gurun ke bukit, dari tempat terbuka tanpa perlindungan ke gua yang hangat, hati kecewa tak bisa memberi sukacita. Allah tidak mau kita demikian. Allah tidak mau kita tertidur. Allah mau kita bangkit, berdiri; cari hadirat Allah. I Raj 19:11 "Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di ha dapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. " Saudara lari ke dunia? Saudara mencari perlindungan dan kehangatan dunia? Saudara memakai cara-cara dunia? Anda mendapat! Tetapi itu yang sifatnya hanya sementara. Anda mendapat secara semu. Anda hanya ketemu fatamorgana. Hilangkan kekecewaanmu! Tetapi mana bisa! Anda tidak bisa menghilangkan kekecewaan dengan kekuatan anda sendiri. Anda harus
50

bertemu Dia. Anda harus masuk hadiratNya. Anda memerlukan pengurapanNya. Hubungan anda dengan Tuhan.harus pulih. Orang yang depresi cenderung lari dari hadiratTuhan. Tetapi Tuhan mau anda mencari hadiratNya. Jangan lari! Datanglah! Mendekatlah! 5. TANGKAP HADIRAT ALLAH, ALAMI! 5.1. Allah hadir dengan pengurapan yang dahsyat. I Raj 19:11 b,12 "Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa." Kadang-kadang Allah tidak ada dalam yang gegap gempita, yang spektakuler. Tetapi Allah sedang memimpin anda dalam ketegangan. Tetapi Allah ada dalam ketegangan. Anda perlu punya hati yang tenang, pikiran yang teduh. Temukan Allah dalam urapanNya di sana. 5.2. Saat Allah hadir Dia perdengarkan suaraNya. SuaraNya selalu lembut. SuaraNya bisa teguran. I Raj 19:13,14 "Segera sesudah Elia mendengamya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku." Sekali lagi Tuhan berkata: "Apa kerjamu di sini?!' Ya, tempo hari memang yang kau lakukan hebat! Engkau KKR di Gunung Karmel Engkau membunuh nabi Baal! Engkau giat!! Tetapi sekarang? Engkau lari dari satu tempat ke tempat lain. Engkau maunya tidur-tidur. Engkau patah semangat. Mengapa? Sebab kecewa; kecewa, kecewa... Heee! Bangkit dari kecewamu. Dengar perintahKu! Lakukan perintahKu! 5.3. Dengar Misi dari Allah. I Raj 19:15,16 "Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau." Dulu kamu bekerja dengan giat. Sekarang jangan tetap tinggal dalam kekecewaan! Aku percayakan tugas baru kepadamu. Engkau Nabi pilihanKu, engkau tetap Nabi pilihanKu. Lakukan tugas kenabianmu. Kamu jangan melarikan diri. Sekarang kamu harus kembali ke jalan yang tadi kamu lewati, engkau tadi melarikan diri, sekarang engkau kembali! Ulangi lagi perjalananmu. Aku masih mempercayaimu: 5.3.1. Urapi Hazael menjadi raja atas Aram. 5.3.2. Urapi Yehu, cucu Nimsi menjadi raja atas Israel. 5.3.3. Urapi Elisa bin Safat dari Abel Mehola, menjadi nabi menggantikanmu.

"DEPRESI" (Bagian Ke tiga) 5.4 Tuhan akan mengadakan pembersihan, Tuhan membangkitkan rekan untuk Elia. I Raj 19:17 " maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu ; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa".
51

Hazael dan Yehu serta Elisa akan menjadi alat Tuhan, dipakai Tuhan untuk membersihkan umatNya dari cemar. Dengan kata lain, Allah tidak membiarkan Elia bekerja sendiri. Dia membangkitkan pemimpin-pemimpin yang akan mengadakan pembersihan di antara umatNya. Elia depresi sebab ia takut ancaman Izebel. Elia depresi sebab dia merasa dia bekerja giat, mati-matian, seorang diri. Sekarang Tuhan membangkitkan yang lain. Dia tidak sendiri. Di dalam depresi, anda perlu teman. Allah akan menyiapkan teman bagi Anda. Teman yang sevisi. 5.5 Tuhan menjamin Elia tidak sendiri I Raj 19:18 " Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia" U..u..u..u ! Masih ada 7000 orang yang Tuhan sisakan yang bersih, yang tidak tercemar! hati-hati ! Kita semua umat pilihan Allah. Jaga kekudusan, jaga kemurnian hidup. Jaga langkahmu dan pergaulanmu ! Tuhan maha tahu. Pedang Tuhan akan berjalan. Hanya yang bersih yang diselamatkan. 6. MEMPERSIAPKAN PENGGANTI I Raj 19:19-21 Seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan yang karakternya penuh integritas, tidak akan meninggalkan tugas tanpa mempersiapkan pengganti. Pengganti yang dipersiapkan harus sesuai petunjuk Tuhan. Kriteria pengganti: 6.1 Rjin bekerja. I Raj 19:19 "Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya." 6.2 Mampu memikul tanggung jawab besar "Membajak dengan 12 pasang lembu" 6.3 Harus orang responsif dan komit I Raj 19 : 20 "Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya : " Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau " Jawabnya kepadanya : " baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang kuperbuat kepadamu" 6.4 Harus orang yang loyal, menanggung janji. I Raj 19 : 21 " Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelih dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya." 6.5 Orang yang berintegritas Tak ada yang menjadi keberatan atau ganjalan Berani mengorbankan identitasnya, tanpa bertanya, tanpa keragu-raguan. Identitas sebagai anak orang kaya. Saya korbankan 12 pasang lembu, nanti menjadi nabi Allah dapat apa? 6.6 Orang yang merayakan panggilannya Meresponi panggilan Allah dengan sukacita, tidak dengan sedih dan terpaksa. 6.7 Orang yang rendah hati, bukan orang yang mencari posisi. Dengan melakukan tugas dari Bapa dalam ketaatan anda terlepas dari depresi. Ternyata intimidasi Izebel tidak menjadi kenyataan. Elia tidak mati dibunuh, oleh Izebel,
52

tetapi tetap melayani dengan kekuatan baru dari Allah. Bahkan Elia ke sorga tanpa melalui kematian, tetapi diangkat hidup-hidup. Hai! bangkit dari depresimu ! Dan hiduplah! "JESUS, I GIVE YOU MY HEART" Amsal 4:23, ―Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan‖ Roma 12: 1, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah : itu adalah ibadahmu yang sejati.‖ Di dalam peristiwa kelahiran Yesus 2000 tahun lebih yang lalu banyak sekali orang yang terlibat. Kita melihat pemberian- pemberian yang dipersembahkan seputar kelahiranNya. 1. Malaikat Gabriel memberi diri untuk menyampaikan berita mengenai kelahiran Yesus :

a. Berita kepada Maria, bahwa ia beroleh kasih karunia dari Allah, bahwa Allah menyertai dia, dan bahwa ia akan mengandung Yesus. Ini adalah berita bahagia atau berita sukacita. Kita perlu menjadi malaikat utusan Allah bahwa Allah mengasihi setiap orang yang kita temui. Ia mau memberikan Yesus yang bisa mengubah kehidupan dan memberi keselamatan bagi siapa saja yang mau menerima. b. Ia menyampaikan berita kepada para gembala. Ia menyampaikan berita sukacita yang membawa pengharapan dan penghiburan untuk kelompok manusia yang sederhana yang butuh penghiburan dan pengharapan. Kitapun perlu menjadi malaikat utusan Allah, agar kita memberitakan kabar sukacita bagi orang yang susah dan tak berpengharapan, bahwa Yesus sanggup memberi pengharapan kepada mereka yang susah, miskin dan putus asa. Yesus Juruselamat sanggup menyelamatkan atau melepaskan kita dari semua kesusahan kita dan dari masalah apapun yang kita hadapi. Haleluyah. c. Para Malaikat menyanyi dimalam yang sunyi. Sepasukan malaikat mempersembahkan suaranya untuk menaikkan pujian kepada Allah yang Maha Tinggi, tetapi di dalam pujiannya mereka juga mengucapkan damai kebumi. Allah berkenan memberi damai kepada orang yang diperkenan. Damai Dia tawarkan kepada siapa saja. Haleluya! Allah juga menghendaki agar kita menjadi malaikat-malaikat utusan Allah yang menyanyikan puji-pujian selalu kepada Allah di tengah penderitaan manusia. Lagu-lagu pujian akan menolong umat manusia untuk mengangkat bebannya, dan agar supaya diganti dengan damai atau kelegaan. Apakah kehadiran kita didalam kehidupan seseorang bisa membawa damai dan sukacita yang sumbernya adalah Yesus Kristus Sang Raja Damai. Dunia sangat memerlukan hal ini. 2. Maria memberi dirinya untuk mengandung dan melahirkan Yesus. Agar Yesus menyatakan diri di dalam dunia ini, Dia memerlukan wadah Maria, perawan suci dari Nazaret merelakan dirinya mengandung dan melahirkan Yesus. Pada zaman inipun Yesus memerlukan orang-orang agar Dia dapat memanifestasikan diriNya ke dalam dunia ini. Mari kita menyerahkan hidup kita seperti Maria, "Yesus, saya persilahkan Engkau lahir dihatiku. Ubahkan hatiku menjadi baru. Biarlah Engkau menjadi besar di dalam hidupku, dan biarlah hidupku melahirkanMu, supaya Engkau termanifestasikan melalui kehidupanku, baik melalui tutur kataku ataupun tingkah lakuku." Amin.

53

3. Yusuf memberikan dirinya untuk menerima Maria. Menerima Maria sama dengan menerima bayi yang berada di dalam kandungan Maria. Kita terpanggil untuk menjadi seperti Yusuf yang mau menerima sesama kita yang memiliki Yesus didalam hidupnya. Dengan kerelaan Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya, ia melindungi bayi Yesus. Kitapun terpanggil untuk mengasihi, menerima dan melindungi sesama saudara kita seiman. Sama seperti Maria, tanpa Yusuf mengambil dia sebagai istri; dia bisa dirajam dengan batu, sebab dia hamil di luar nikah. Kita pun sering melihat orang, oleh karena percaya Yesus hidupnya terancam, atau berada didalam bahaya. Kita perlu melindungi dan mengupayakan keamanan untuk orang yang terancam atau teraniaya oleh karena Nama Yesus. 4. Para Gembala meresponi berita malaikat, mereka datang untuk melihat dan menyembah Yesus. Kita pun terpanggil untuk memberi perhatian kepada setiap Firman yang kita terima, dan kita terpanggil untuk melangkah, datang kepada Yesus, sujud menyembah Dia, dan mengabarkan Yesus kepada siapa saja yang kita temui. Apakah anda sudah mengalami berjumpa dengan Yesus? Apakah anda sudah mengalami damai dan sukacita dari padaNya? Kabarkanlah itu kepada orang lain. Saksikan pengalamanmu bersama Yesus dengan orang lain. Kita harus terus memberitakan kabar sukacita ini kepada siapa saja yang kita temui, supaya mereka mengalami pertolongan Yesus juga. 5. Para Majus memberi diri menyelidiki, meneliti, dan mengikuti BintangNya, mencari Yesus sampai ketemu. Lalu mereka mempersembahkan emas, kemenyan dan Mur. Kita semua terpanggil tidak untuk santai-santai, tetapi perhatikan kehidupan orang yang benar, selidiki dan teliti tentang Yesus, ikutilah petunjuk dan kesaksian orang benar, sampai bertemu Yesus. Sembahlah Yesus, persembahkanlah bukan hanya tenaga dan pikiranmu, tetapi persembahkanlah imanmu, doa-doamu, kesetiaanmu dan juga hartamu. Apabila hatimu kau persembahkan kepada Yesus, tentu anda tidak akan keberatan mempersembahkan apa saja kepadaNya. Anda tidak akan pernah menyesal apabila anda memberikan hatimu kepada Yesus. Dia akan membersihkan atau menyucikan hatimu dari semua dosa dan kejahatan. Dia akan mengisi hatimu dengan damai dan sukacita. Dia akan menuntun, dan membimbing anda untuk masuk dalam kehidupan yang bisa menikmati janji-janji Allah yang indah. 6. Jangan datang seorang diri. Datanglah dan serahkan hatimu dan bawalah seluruh keluargamu bersama-sama. Amin.

PERKAWINAN "MENCINTAI DIA KARENA DIA" Cinta, sejuta rasanya, kata mereka yang sedang bercinta. Cinta menuju kepada pernikahan. Pernikahan bukan pestanya. Pernikahan bukan gaun pengantinnya. Pernikahan bukan setelan jas mempelainya. Pernikahan bukan dekorasi dan tempat resepsinya. Cinta adalah komitmen antara seorang pria dan wanita single yang dewasa dalam iman, dewasa dalam kemandirian keuangan. Masuk ke dalam pernikahan berarti sudah siap menghadapi tantangan. Hidup baru dengan pasangan yang dicintai tidak selalu mudah dan mulus. Hidup baru dengan pasangan yang dicintai berarti mulai menghadapi tantangan. Mengapa menghadapi tantangan dalam kehidupan? Dua pribadi yang saling tidak tahu sepenuhnya menjadi satu, . . Bagaimana caranya menekan odol. Bagaimana caranya tidur. Ada perempuan yang setelah beberapa bulan menikah tidak mau tidur seranjang dengan suaminya sebab suaminya ngorok. Kadang-kadang pasangan tidak tahu apa kesukaan dan apa yang tidak disukai pasangannya. Apa kesulitannya? Kadang-kadang manusia cenderung melakukan apa yang dia sukai, ingin pasangannya mengerti dan mengikutinya, tetapi dia sendiri tidak
54

memahami kesukaan pasangannya; mengabaikannya, atau tidak mau mendukungnya. Ada pasangan yang tidak mau mempersoalkannya, tetapi ada yang kemudian menimbulkan persoalan. Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Tetapi kebahagiaan harus diusahakan oleh kedua belah pihak, bukan dengan saling menuntut atau saling memaksa, tetapi dengan saling memahami, saling memberi atau saling memperhatikan, bahkan saling berkorban. Sukses di dalam pernikahan bukan meminta atau menuntut pasanganmu menjadi orang yang tepat, tetapi jadilah orang yang tepat untuk pasanganmu. Pernikahan sukses bukan dengan sekedar mengharapkan kebahagiaan dari padanya, tetapi dengan menanamkan kebahagiaan ke dalamnya. Apa kuncinya? Saling memberi, saling memperhatikan, saling melayani. Rela berkorban, selalu menyangkal diri, suka mengampuni. Dalam dialog selama pernikahan atau dalam kehidupan kapan saja, dengan siapa saja, ada beberapa reaksi untuk suatu percakapan. Pilihlah untuk tidak mudah marah, atau pilihlah perbincangan yang tidak menyulut kemarahan. I Ptr 3: 7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." Suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu. Hiduplah dengan pengertian terhadap perasaannya, sebab wanita biasa main perasaan. Jangan sakiti atau kecewakan perasaannya. Apa yang anda lakukan atau ucapkan, untuk kesalahan yang kecil, itu dapat disimpan lama dalam memorinya. Ef 5:25 "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. " Mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat adalah mengasihi dengan sempurna, mengasihi habis-habisan, sehingga siap mati baginya, artinya rela berkorban baginya. Perhatikan emosinya, waktu dia sakit, waktu dia lemah atau lelah. Janganlah hal ini menjadi janji nikah semata-mata, tetapi untuk menggenapi janji itu perlu latihan dalam hal yang kecil-kecil. Jangan lupa berpacaran dalam pernikahan, ingat ulang tahun masing-masing, ingat ulang tahun pernikahan. Kasihi dengan seutuhnya, saling menerima apa adanya. Kasihi dengan kelembutan hati dan sikap. Kasihi dengan perasaan yang dinyatakan dalam tindakan. Cintai dia karena dia. Bukan karena wajahnya. Bukan karena tubuhnya. Semua bisa berubah. Minta Tuhan memampukan kalian saling mengasihi dan menjadi saksi di dalam dunia yang kurang kasih. Ef 5:22-24 – ―Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. " Isteri terpanggil untuk tunduk kepada suami, yaitu menghargai suami, bukan karena kecakapan atau kekayaannya, tetapi sebab dia adalah suami, yang adalah kepala untuk rumah tangga. Dia payung bagi keluarga. Dia yang melindungi dan bertanggungjawab atas keluarga, Bagaimanapun dia adalah manusia yang tidak sempuma, yang perlu. ditopang, didukung, dihargai, dihormati. Jangan merendahkan suami dalam perkataan dan perbuatan. Kalian masing-masing bukan orang yang sempurna. Namun kalian sudah cukup lama saling mengenal. Kalian sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun
55

demikian setelah kalian menjadi satu dalam pernikahan, masih akan ada banyak hal yang kalian berdua perlu pe!ajari. Ams 27:17 – ―Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." Pernikahan adalah tempat di mana kita saling mengasah dan menajamkan, membuat 2 pribadi makin bijaksana. Biarlah Tuhan mengikat kalian dengan kasihNya yang abadi di dalam pernikahan. Tuhan memberkati sekarang dan selamanya. " MENDENGAR SUARA TUHAN" ( 1) I. Allah itu Roh adanya Apakah seseorang bisa mendengar suara Allah? Seharusnya manusia bisa mendengar suara Allah. Bagaimana penjelasannya? Sebab Allah Roh adanya, dan manusia memiliki roh, jiwa dan tubuh. Roh bisa berkomunikasi dengan roh. Yoh 4:24 "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. " I Tes 5:23 "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." Dengan kata lain; manusia adalah makhluk roh, tinggal dalam tubuh. II. Hubungan antara Allah dengan ciptaanNya A. Dalam Perjanjian Lama 1. Roh Allah melayang-layang atas ciptaanNya. Kej 1:2 "Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. " 2. Roh Allah berkuasa atas seseorang. a. Atas serombongan nabi I Sam 10:10 "Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengahtengah mereka. " b.Atas Saul I Sam 11:6 "Ketika Saul mendengar kabar itu, maka berkuasalah Roh Allah atas dia, dan menyala-nyalalah amarahnya dengan sangat." c. Hinggap pada orang-orang suruhan Saul I Sam 19:20 "Maka Saul mengirim orang-orang suruhan untuk mengambil Daud. Tetapi orang-orang ini melihat sekumpulan nabi kepenuhan, dengan dikepalai oleh Samuel. Dan Roh Allah hinggap pada orang-orang suruhan Saul, sehingga mereka pun kepenuhan seperti nabi." 3. Roh Allah menciptakan kita, dan memberi kehidupan. Ay 33:4 "Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup. " B. Dalam Perjanjian Baru 1. Roh Allah nampak seperti burung merpati. Mat 3:16 "Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan la melihat Roh Allah seperti burunq merpati turun ke atas-Nya."
56

2. Roh Allah berkuasa untuk mengusir setan. Mat 12:28 "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." 3. Roh Kristus ada di dalam milikNya. Rm 8:9 "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. " 4. Roh Allah memimpin anak-anakNya. Rm 8:14 "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah." 5. Tubuh kita adalah Bait Allah. I Kor 3:16 "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" III. Allah bicara dengan manusia Allah itu Roh adanya. Allah adalah pribadi yang mempunyai pikiran, perasaan dan kehendak, kemauan, rencana dan melakukan keputusan-keputusan. Allah adalah pribadi yang disebut juga AlIah Abraham, Ishak dan Yakub. Contoh-contoh Allah bicara dengan manusia: 1. Allah bicara kepada Adam. Kej 3:9 "Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 2. Allah bicara kepada Kain. Kej 4:6 "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?" 3. Allah bicara kepada Nuh. Kej 6:13 ―Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi." 4. Allah bicara kepada Abraham. Kej 12:1 ―Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Dia masih bicara kepada pribadi-pribadi tertentu. 5. Kemudian Dia bicara kepada Musa sebagai pengantara untuk seluruh bangsa. Kel 35:29 "Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan - mereka ltu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN. " Makin lama Tuhan sepertinya makin jarang bicara kepada individu. Hal ini semua mengenai hubungan. Hubungan manusia dengan penciptaNya makin renggang, sehingga jarang yang bisa mendengar suara Allah. IV. Mulai dengan pemulihan Apabila kita mau mendengar suara Allah, kita harus mulai dengan pemulihan. Hubungan dengan Allah yang rusak harus dipulihkan. Pemulihan itu mulai dengan pertobatan, berbalik kepada Allah. Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa, dia putus hubungan dengan Tuhan, berjalan menuju dunia meninggalkan Tuhan, rohaninya mati, tidak punya kemampuan untuk berkomunikasi atau bersekutu (berfellowship) dengan Allah. Dengan bertobat, kembali kepada Allah, hubungan dengan Allah dipulihkan. Dulu hidup
57

dalam pemberontakan, menjadi lawan Allah, tetapi kemudian berbalik menjadi sahabat Allah, bahkan menjadi anak-anak Allah. Sebagai sahabat atau sebagai anak, ada hubungan timbal balik dengan Allah. Dengan demikian roh dan jiwa manusia bisa mendengar kembali suaraNya. Hos 6:1-3 "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. la akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga la akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguhsungguh mengenal TUHAN; la pasti muncul seperti fajar, la akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. " Apabila kita sungguh-sungguh kembali kepada Allah, meninggalkan dosa dan dunia, hubungan pulih, komunikasi akan lancar kembali. Apakah anda ingin mendengar suara Allah? 1. Sadari dosa-dosamu. 2. Sesali dosa-dosamu. 3. Akui dosa-dosamu. 4. Minta ampun akan dosa-dosamu. 5. Percaya pengampunan Tuhan Yesus. 6. Percaya penyucian dosa dan hati kita oleh darah Yesus dari semua kejahatan. 7. Serahkan diri kepada Tuhan. 8. Buka hati, persilakan Yesus masuk ke dalam hati kita. Ucapkan langkah-langkah ini di dalam doa. Setelah itu kita perlu dilayani pelepasan, dibaptis, bergabung dengan Gereja Lokal, ikut pemuridan.

" MENDENGAR SUARA TUHAN" (2) V. Membangun komunikasi sebagai sahabat dan anak dengan Allah Tuhan kita Setelah hubungan pulih, komunikasi harus dibangun. Persahabatan yang baik pasti menjalin komunikasi yang akrab. Demikian pula sebagai anak yang baik harus membangun komunikasi yang sehat terhadap Bapa. Bagaimana cara membangun komunikasi yang baik? 1. Setia beribadah. 2. Setia membaca dan merenungkan Firman Allah. 3. Setia dalam pujian dan penyembahan: 4. Setia berdoa. 5. Setia belajar mendengar suaraNya. Komunikasi perlu dibangun dengan keakraban, yaitu kesetiaan. Vl. Membangun komunikasi antar sesama, seperti kita membangun hubungan dengan Allah. Komunikasi yang paling efektif adalah dengan jalan menyapa dan bercakap-cakap. Dimulai dengan saling menyapa, bertemu, bincang-bincang, adakan waktu, telepon, SMS, menulis surat, membaca suratnya, berkunjung ke rumahnya, memberi pemberianpemberian, dst. Seseorang yang ingin berkomuniksi dengan baik ada motivasi yang mendorong mereka. Dorongan yang paling kuat untuk membangun suatu komunikasi adalah kasih, atau cinta. Tak usah disuruh, orang yang saling mengasihi akan mencari jalan, dan suka sekali untuk berkomunikasi.
58

Demikian pula dengan hubungan kita dengan Allah. Apa yang menjadi dorongan atau motivasi yang kuat untuk membangun komunikasi dengan Tuhan? Kasih adalah dorongan yang terkuat untuk membangun komunikasi dengan Tuhan. Kita perlu meminta agar cinta kasih Allah kembali dicurahkan di dalam hati kita. Makin dialog dibina, kita akan makin mengenal pihak yang lain. Demikian pula dengan hubungan kita dengan Allah. Oleh karena komunikasi yang dibangun, kita akan makin akrab, makin mengenal; dan bisa mengenal suaraNya. Allah menyukai orang yang suka bergaul denganNya. VII. Mengenali cara Allah berbicara Allah berbicara dengan berbagai macam cara. Kita dapat mempelajari bagaimana cara Allah berbicara. Allah suka dengan orang yang bergaul denganNya, sehingga pernah terjadi seseorang yang bernama Henokh, tanpa kematian diangkat oleh Allah, sebab ia bergaul denganNya. Kej 5:24 ―Dan Henoch hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah." Pada saat seseorang berdoa, orang itu yang berinisiatif untuk berbicara dengan Allah. Tetapi sebenarnya AIlahpun suka berbicara dengan kita. Memang hal seperti ini momentum. Kapan terjadinya, hal itu terserah kepada Tuhan. Kita tidak bisa memanipulasi Allah agar Dia berbicara dengan kita menurut kehendak kita; menurut waktu dan cara kita. Dia punya cara sendiri. Dia punya waktu sendiri. Dia punya otoritas atau wewenang kapan dan untuk apa Dia bicara. Dia bicara tidak untuk memenuhi keinginan kita yang egois. Namun Dia tetap Allah yang penuh kasih. Dalam moment-moment besar untuk pekerjaannya yang Dia percayakan kepada saya, saya mendengar suaraNya. Dalam urusan pribadi juga, bahkan kadang-kadang untuk hal yang kecil, dan hal itu menunjukkan betapa besar kasihNya kepada saya dan bahwa Dia hidup, pendengar doa, dan peduli. Baik di dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, Allah bicara dengan berbagai cara. 1. Dia berbicara melalui FirmanNya. Mzm 119:105 ―Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku " Dengan cara ini Tuhan sebetulnya mau bicara kepada kita , paling sering day, by day kita mengasah telinga rohani kita. Terutama Dia bicara untuk menanamkan prinsip-prinsip kehidupan. Namun Dia juga bicara melalui FirmanNya untuk pergumulan yang sifatnya khusus atau spesifik. Firman ini adalah dasar Allah berkomunikasi dengan manusia. Inilah perlunya membaca Alkitab setiap hari. 2. Cara yang lain Allah bicara lewat hati nurani. Orang yang percaya Yesus sudah dimeteraikan Roh Kudus. Ef.1:13 "Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil Keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu." Lalu Roh Kudus menyertai mereka dan ingin tinggal di dalam mereka. Yoh.14 :5-17 " kata Tomas kepadaNya:" Tuhan kami tidak tahu kemana Engkau pergi ; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya : " Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia". kata Filipus kepada-Nya:" Tuhan tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya:"Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata : Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku didalam Bapa dan Bapa didalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang diam didalam Aku. Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku didalam
59

Bapa, dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, karena pekerjan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu : sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa, dan apa yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada Ku dalam namaKu,Aku akan melakukannya" " Jikalau kamu mengasihi Aku,kamu akan menuruti segala perintahKu. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Yoh 14:18-20 ―Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datanq kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam BapaKu dan kamu didalam Aku dan Aku di dalam kamu. " Roh Kudus juga mau memenuhi mereka. Ef 5:15-18 "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh. " Tahap-tahap ini penting. Mengapa? Sebab Roh Kudus ingin menuntun atau memimpin orang percaya. Rm 8:14 "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. " Tanpa Roh Kristus di dalam kita, kita bukan milik Kristus. Rm 8:9 ‖Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus. Ia bukan milik Kristus. " Salah satu syarat kehidupan dalam Kristus adalah hidup di dalam ketaatan kepada pimpinan Roh Kudus. Anda ingin mendengar suara Allah? Hiduplah dalam ketaatan terus-menerus. Tidak mudah kita hidup dalam ketaatan, sebab kita memiliki keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan Roh. Lingkungan kitapun pada umumnya tidak mendukung kita. Lingkungan sering mempengaruhi kita dan menjerat kita ke dalam berbagai keinginan daging.

" MENDENGAR SUARA TUHAN" (3) Apa saja lingkungan kita? • Teman, sahabat, tetangga, keluarga. TV. • Keramaian atau kesenangan dunia, kesenangan mata. Hari demi hari kita harus melatih diri dalam ketaatan akan Firman Tuhan. Roh Kudus berdiam di dalam kita dengan cara kita merindukanNya, membuka hati, mengundangNya. Cara komunikasi Bapa dengan orang percaya: Bapa bicara kepada Yesus, Yesus bicara kepada kita melalui Roh Kudus; Sumber ajaran dari Yesus adalah dari Bapa. Yoh 7 : 16 "Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri,
60

tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.'" Nanti Roh Kudus akan mengajar kita segala kebenaran. Yoh 14:26 "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. " Jadi mata rantai komunikasi orang percaya adalah: Bapa, Anak, Roh Kudus, Orang Percaya. (Baca IagiYoh 14:17,20,26). Bagaimana cara kita mendengar suara Allah dalam hati kita? Ada suara atau perkataan yang lembut dalam hati kita. Bagaimana kita bisa membedakan apakah itu suara Roh Kudus atau suara sendiri? • Suara Roh Kudus sesuai Firman Allah. • Suara Roh Kudus menyatakan kehendak dan atau rencana Allah; kadang-kadang tidak sama dengan keinginan kita. • Suara Roh Kudus dinyatakan menurut waktu, cara dan kehendakNya, bukan mengikuti kemauan kita. • Suara Roh Kudus sering minta penyangkalan diri kita. • Suara Roh Kudus memberi hikmat tatkala kita di dalam kesesakan; penghiburan pada waktu kita tertekan, jalan keluar dalam kesulitan. • Suara Roh Kudus menegur dan mengajar. Suara diri sendiri. • Hati nurani yang berserah, yang selalu mencari kehendak Tuhan, Yang rela menyangkal diri, yang selalu mau taat, sinkron dengan suara Roh Kudus: • Suara diri sendiri biasanya egois, menyenangkan diri sendiri. • Suara diri sendiri kadang-kadang bertentangan dengan Firman Allah. • Suara diri sendiri cenderung membenarkan diri sendiri. Semua suara yang kita dengar perlu diuji kebenarannya. Dari buahnya kamu mengenal pohonnya. Anda ingin mendengar suara Allah di dalam hati nurani? • Isi hatimu selalu dengan Firman Allah. • Miliki sikap ketaatan atau penundukan. • Hidup dalam penyerahan, apa maunya Tuhan. • Miliki sikap rela melepaskan hak. • Apa yang dari Tuhan tidak selalu sesuai dengan keinginan hati. • Tetapi apa yang dari Tuhan mendatangkan damai sejehtera • Isi bisa petunjuk, teguran, penghiburan. 3. Tuhan juga bicara melalui mimpi. Hal ini sering Tuhan lakukan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Banyak contoh kita lihat dalam Alkitab. Mimpi itu kadang-kadang bisa secara harafiah, namun kebanyakan secara lambang atau perumpamaan: • Yakub mendapat mimpi dari Tuhan, melihat tangga yang menghubungkan bumi dan surga. Kej 28:12 "Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya samapi di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu‖. • Yusuf berkali-kati mimpi tentang masa depan hidupnya, atau rencana Allah dalam hidupnya. Kej 37:9 ―Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku. " • Pegawai-pegawai Firaun bermimpi tentang masa depan kehidupan mereka yang berhubungan dengan karir mereka: Kej 40:8 "Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya. " Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Bukankah Allah yang menerangkan
61

arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpiku itu kepadamu." • Firaun bermimpi tentang masa depan negerinya. Kej 49:1 "Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil." Kalau disebutkan satu persatu akan sangat banyak. Di dalam Perjanjian Barupun demikian: • Yusuf mendapat mimpi tentang kondisi Maria. Mat 1:20 • Orang Majus mendapat mimpi tentang Herodes. Mat 2:12 Pada hari inipun Tuhan masih berbicara melalui mimpi. Ay 33:14-18 "Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihalan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguranteguran untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannya, dan melenyapkan kesombongan orang, untuk menahan nyawanya dari pada liang kubur, dan hidupnya dari pada maut oleh lembing. " Banyak maksud Allah berbicara dalam mimpi: • Untuk menyatakan kasih dan penyertaanNya. • Untuk meneguhkan perjanjianNya. • Untuk menyatakan rencanaNya. • Untuk memberitahu apa yang akan datang. • Untuk memberi peringatan-peringatan • Untuk memberi petunjuk. Mimpi yang menakutkan. Apabila anda mengalami mimpi yang menakutkan atau mengerikan, tolaklah di dalam Nama Yesus. Sebelum tidur anda bisa berdoa agar supaya Tuhan melindungi anda dari mimpi-mimpi yang buruk. Namun apabila itu suatu peringatan perhatikanlah. Mintalah perlindungan dari Tuhan. Pada saat kita mendapat mimpi, kita berdoa minta pengertian kepada Tuhan. Atau kita sampaikan kepada orang yang lebih dewasa rohani agar mendapat pengertiannya. Berhati-hatilah dengan tafsir mimpi cara dunia. ltulah sebabnya kita tetap perlu penuh dengan Firman agar Tuhan melindungi kita dari yang jahat dan sesat. 4. Tuhan juga berbicara melalui penglihatan. Hal ini dipakai oleh Tuhan dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru juga. Kita dapat membaca kembali apa yang ditulis dalam Kitab Ayub 33 dan Yoel 2 pada poin 3 di atas mengenai mimpi. Mimpi didapat orang pada waktu tidur. Penglihatan didapat orang pada waktu berdoa. Penglihatan ada bermacam-macam. • Penglihatan pada saat berdoa dengan mata tertutup. • Penglihatan dengan mata terbuka, bisa dalam kaitan kita sedang berdialog dengan Tuhan menanyakan sesuatu, atau inisiatif murni dari Tuhan sebab Dia ingin menyampaikan suatu pesan. • Penglihatan ada yang hitam putih, tetapi ada yang berwarna. • Penglihatan ada yang samar , semacam pengetahuan dalam kalbu, ada yang jelas. • Penglihatan ada yang natural, ada yang merupakan perlambang: Saat kita mendengar suara Allah dengan cara apa saja harus minta peneguhan dari Tuhan. Segala sesuatu harus kita kaji menurut FirmanTuhan.

" MENDENGAR SUARA TUHAN" (4) Penglihatan ataupun mimpi atau apa saja cara Allah berkomunikasi dengan manusia ada
62

yang berkenaan dengan: • Pribadi. • Bangsa atau Negara. • Keadaan zaman, tanda-tanda zaman. 5. Tuhan berbicara lewat nubuat. Nubuat adalah ucapan Ilahi yang dapat kita mengerti mengenai sesuatu yang akan terjadi. Ada bermacam-macam nubuat: • Nubuat pada saat kita berdoa. • Nubuat bukan pada saat berdoa. Nubuat bisa terjadi oleh karena: • Kerja dari Roh Kudus melalui karunia untuk bernubuat. • Atau oleh karena Roh Kudus melengkapi orang yang terpanggil dalam jabatan pelayanan kenabian. Tidak semua orang yang bernubuat adalah Nabi. Tetapi seorang nabi pasti diberi nubuatan oleh Tuhan. Apakah jawatan nabi masih ada dalam Perjanjian Baru? Menurut Ef 4 masih ada. Ef 4:11,12 "Dan lalah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi ..." Tugas Nabi dalam PB adalah melengkapi orang kudus untuk pekerjaan pelayanan. Setiap nubuat juga harus diuji. I Kor 14:29-33 "Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkatakata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. " Jadi nubuat ini diberi Tuhan pada saat umat Tuhan bersekutu. Di dalam persekutuan, di mana ada firman, doa, pujian dan penyembahan, Roh Kudus bekerja dengan urapanNya dan Dia bekerja dengan karunia-karunia dengan maksud: Untuk membangun, menasihati dan menghibur. Perhatikan ini. Nubuat bukan untuk menghakimi. Adapun apabila ada sisi teguran, tentu ada sisi jalan keluar, I Kor 14:2,3 ―Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu. Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ―Terkutuklah Yesus." dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.‖ Hati-hati di dalam penggunaan semua karunia. Karunia tidaklah untuk manusia memanipulasi Tuhan. Tetapi karunia adalah manusia menjadi alat Tuhan. I Kor 12:4-7 "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama‖. Namun demikian kita semua masing-masing boleh belajar untuk bernubuat. • Kita adalah tubuh Kristus dan setiap orang anggotanya. I Kor 12:27 ―Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. ― • Di dalam menjalankan karunia dasar kita adalah kasih. Kita boleh berusaha untuk beroleh karunia untuk bernubuat I Kor 14:1 ―Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat ―. • Saat menjalankan karunia untuk bernubuat kita rela ditanggapi yang lain. I Kor 14:29
63

―Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. ― • Kita semua boleh bernubuat seorang demi seorang. Tujuan supaya semua belajar untuk beroleh kekuatan. I Kor 14:31- ―Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang; sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan‖ . Setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga masih ada nabi dalam PB, yaitu Nabi Agabus Kis 13, pada saat itu di Gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar: Kis 13:1 ―Pada waktu itu dalam jemaat Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus." Para Nabi dan Pengajar itu tidak hanya mendengar suara itu, tetapi mereka melakukan seperti yang Tuhan pesan. Di mana letak permasalahan kita? Seringkali atau mungkin kita pernah mendengar suara Allah, tetapi kita meragukan, kita bertanya-tanya, atau kita menyangkal, mungkin juga kita belum biasa dengan suara itu, sehingga kita tidak menanggapinya atau kita malah melakukan sebaliknya. Ada yang yakin sudah mendengar suara Allah, tetapi nampakrrya tidak digenapi. lngat, lblis tidak suka apabda VISI dari Allah digenapi. Itulah sebabnya dia ingin menggagalkan dengan cara apa saja: • Bisa dengan ketidakpersetujuan rekan atau tim. • Bisa dengan hambatan dari luar, dari masyarakat atau pemerintah sekalipun. • Bisa karena kita menyerah akibat perlawanan atau keadaan yang tidak mendukung. • Bisa karena emosi kita, pemberontakan kita, kurang sabar kita, dan pendapat kita sendiri. Pesan: Jangan takut ditertawakan orang.Tetap percaya, minta Tuhan yang beracara untuk menggenapi apa yang Dia ucapkan 6. Allah bisa bicara dengan suara yang bisa didengar (audible). Contoh: I Sam 3:1-4: 1 a. Apakah kita masih bisa mendengar Allah berbicara dengan cara ini zaman ini? Hal itu terserah kepada kehendak Allah. Kita tidak bisa paksakan Allah untuk berbicara dengan cara ini atau itu, tetapi kita bisa memohon atau merindukan. Tetapi untuk apa? Jangan memanipulasi Allah untuk memuaskan ego kita. Orang percaya mejik-mejik bisa mengalami pendengaran seperti yang ada dalam pelajaran ini. Itulah sebabnya kita pertu menguji segala sesuatu. I Yoh 4:1 ―Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. ― • Apa yang dari Tuhan akan membawa kita kepada ketaatan akan FirmanNya, dan tidak bertentangan dengan FirmanNya. • Apa yang dari Tuhan akan digenapi sesuai cara Tuhan dan waktu Tuhan. • Karunia atau suara-suara dapat dipalsukan. Tetapi ada yang tidak bisa dipalsukan, yaitu kasih Allah, kesucian atau kekudusan. Itu sebabnya kita mengenal pohonnya. Sedangkan Imam Eli dan keluarga imam tidak diajak bicara oleh Tuhan. Malah seorang anak yang dititipkan dalam keluarga imam diajak bicara oleh Tuhan. Setiap hal yang dipercayakan kepada kita itu satu kepercayaan yang harus dipikul dengan tanggung jawab. Apakah seseorang yang menjalankan karunia atau yang peka mendengar suara Allah bisa dipercaya seterusnya? • Hanya Tuhan yang tidak berubah. Manusia bisa berubah. • Motivasi manusia dalam menangkap apa yang dari Tuhan dan di dalam menjalankannya bisa berubah. Peganglah teguh Firman Allah di dalam menguji pernyataan. 7. Allah bicara melalui indra rohani. Tadi melalui hati, telinga, mata, mulut Dia bisa bicara melalui rasa, peciuman dan
64

pencicipan: Misal dalam satu ibadah atau persekutuan, atau pada saat berdoa, pujian dan penyembahan, kita merasa: Angin bertiup, embun turun, gerimis atau hujan. Gelombang, gempa, aliran listrik, percikan bunga api, dll. Atau: kita mencium bau kemenyan atau hio. Kita mencium bau wangi. Kita mencium bau busuk atau amis, dll. Atau: Di mulut kita merasa pahit kita merasa mual mau muntah, dll. Pada saat kita merasa seperti hal-hal diatas, kita bisa bertanya kepada Tuhan apa maksud Tuhan. Hal ini sangat perlu pada saat kita mendoakan orang pada saat konseling, dll. Penyataan-penyataan itu sangat menolong, membangun dan pelayanan menjadi efektif. 8. Tuhan bisa bicara juga dengan intuisi, kesan atau impresi, firasat,ilham dalam kalbu, gerakan, dorongan ataupun pencegahan melalui emosi atau kemauan. • Intuisi, semacam dororgan dalam batin. Kita seperti tahu, padahal sebetuhya tidak tahu. • Kesan atau impresi. ini juga didalam batin. Kesan boleh dikatakan seperti tanggapan dan pengertian. • Firasat,semacam rasa. • Ilham dalam kalbu, semacam ide yang Tuhan beri. • Gerakan atau dorongan dilakukan Tuhan dalam hati, bisa juga dengan menggerakkan anggota tubuh kita, menuntun langkah kita, dll. • Pencegahan, misal kita dibuat enggan atau malas pergi atau melakukan sesuatu. Ingat pada saat kita mendapat hal-hal ini kita dalam kondisi bersekutu dengan Tuhan atau dengan sesama, atau dalam keadaan mencari kehendak Tuhan, atau mencari jawaban. 9. Tuhan bisa bicara dengan keadaan, situasi, kejadian atau peristiwa, dengan alam, pengalaman, perkataan orang, buku yang kita baca, dll. • Misal Tsunami, gempa, banjir, tanah longsor, dll. itu adalah Allah bicara, mengingatkan kita akan FirmanNya. • Dalam peperangan orang Israel melawan musuhnya, Tuhan memberitahu kepada Daud untuk memperhatikan bunyi pada pohon kertau. I Taw 14:14 ―Maka bertanyalah lagi Daud kepada Allah, lalu Allah menjawab: "Janganlah maju di belakang mereka, tetapi buatlah gerakan lingkaran terhadap mereka, sehingga engkau dapat menyerang mereka dari jurusan pohon-pohon kertau‖. Tuhan juga menuntun umatNya keluar dari Mesir dengan tiang awan dan tiang api. PENUTUP Mulailah hidup dengan hubungan yang benar dan Tuhan dan dengan sesama. Beribadahlah dengan setia. Carilah Tuhan, carilah wajahNya setiap hari. Pasti Dia tidak akan menyembunyikan diri. Selamat mengalami persekutuan indah dengan Tuhan.

"PERCAYALAH KEPADA TUHAN BUKAN KEPADA MANUSIA" Kita bisa mempercayai orang, tetapi tidak bisa mempercayakan diri kepadanya. Kita tidak mendasarkan hidup kita kepada apa yang dijanjikan manusia. Alkitab adalah suara Allah. Apabila kita membaca Alkitab, kita mendengar suara Allah. Apabila anda diserang oleh anak panah berapi berupa penyakit, kutiblah ayat-ayat Alkitab. Firman Allah adalah seperti perisai. Apabila kita menaruh nilai atau menghargai pendapat manusia, maka pendapat manusia menjadi perisai kita. Apa yang dikatakan oleh manusia tidak cukup untuk menjadi perisai bagi kita. Apabila manusia berkata: "Aku mengasihimu." bisa berarti "Aku mengijinkanmu." Kasih adalah apabila ia tidak menyentuhmu. "Aku mengasihimu" adalah satu komitmen. Pria yang mengatakan "Aku mengasihimu" sebaiknya memiliki rumah kediaman, dan bukan sebaliknya ia datang untuk tinggal di rumah anda; pinjam barang-barang atau sepeda motor anda, mengambil makanan dari lemari es anda. Apabila yang sebaliknya terjadi, sang putri cemas sebab ia mempercayai
65

dan menaruh pengharapannya kepada perkataan manusia. Apabila anda menikah bukan oleh karena anda membutuhkan sesuatu dari orang tersebut. Apabila pria menikah, seharusnya pria ada dalam pihak memberi, apabila anda menikah dengan sikap siap memberi, anda tidak akan sakit hati. Apabila anda berbisnis, lakukanlah sesuai dengan Firman Tuhan. Buatlah keputusan yang benar, maka anda akan mendapat langganan yang baik. Apabila anda tidak bersandar kepada perkataan manusia, anda tidak akan terluka. Seharusnya anda bersikap "Aku percaya kepadamu," tetapi "Aku tidak mempercayakan diriku kepadamu," anda akan menjaga hatimu terhadap kekecewaan. Berserahlah kepada Allah dan FirmanNya. Kita harus berharap kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan kita. Pada waktu kita sakit, kita sembuh bukan karena apa kata dokter, tetapi oleh karena Firman Allah mengatakannya. Jadikan Firman Allah perisaimu. Allah tidak pernah mengingkari FirmanNya. Percayalah Firman Allah dan hidup dalam damai sejahtera. 1. Lindungi diri anda dari sakit hati. Kenakanlah perisai iman. Yaitu percayalah, dan terapkan Firman Allah dalam kehidupan. 2. Peganglah dan junjunglah Firman Allah. Jangan biarkan anda tidak memakainya. 3. Apabila anda terluka, ampunilah. Hal ini harus menjadi pilihan dan keputusan anda. Mengampuni bukan perasaan, tetapi suatu keputusan. Apabila anda berpegang kepada perasaan, anda tidak akan pernah mengampuni. Apabila kita mengampuni, kita tidak perlu menuntut fihak lain untuk membayar dengan sesuatu. Pada waktu Allah mengampuni kita, la tidak menunggu agar kita berubah. Kita berubah setelah pengampunan. Pada saat kita mengampuni, orang yang kita ampuni itu tidak berhutang apa-apa kepada kita. 4.Makanlah perjamuan suci untuk masalah anda. Setelah anda mengampuni, makanlah perjamuan suci. Lepaskan orang tersebut. Jangan anda pegang lagi. Apabila anda tetap marah atau sakit hati, anda akan terpenjara di dalam perasaan anda. Serahkanlah kepada Allah, dan lepaskan. 5. Janganlah membicarakannya lagi. Setiap kali kita membicarakannya lagi kita sedang membuka lagi pembalut luka, dan luka terbuka lagi. Dengan membicarakannya luka tidak tersembuhkan. Apabila anda mempedulikan perasaan, anda membicarakannya. Tetapi apabila anda mempedulikan masa depan, anda tidak akan membicarakannya. Jangan menjadi orang yang sensitif, sebab apabila menjadi orang yang sensitif, anda adalah orang yang tidak mempedulikan masa depan. Perasaan sensitif menghalangi kita mengacu ke depan. 6. Jangan ijinkan Iblis melihat anda terluka. Iblis jahat, licik dan mencari target, terutama apabila ada yang sakit hati. Apabila ia mengetahui bahwa anda sakit hati, ia akan mengajar dan menjadikan anda targetnya lagi. 7. Jangan pernah membalas dendam. Rm 12:19 - "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." Jangan pernah membalas dendam. Berkati mereka. Kirimkanlah sesuatu kepada mereka. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan
66

Anda tak perlu dikuasai lagi oleh perasaan anda. Anda perlu dikuasai Firman Tuhan dan Roh Kudus. Apabila anda ingin damai sejahtera menguasai pikiran anda, fokuskan hidup anda pada Firman Allah. Dewasakan emosimu dengan jalan menguasainya. Di atas telah ditulis langkah-langkah sederhana untuk menguasai emosi kita. Ada pengharapan di dalam Tuhan. Allah bisa merubah kehidupan Anda. "BERGERAK DI DALAM PENGURAPAN" Roh kudus bekerja melalui iman mendatangkan kuasa untuk mengalahkan musuh, pengurapan sangat perlu dan merupakan keharusan. Apabila kita, ingin pelayanan agar pelayanan kita, diterima Tuhan, kita perlu pengurapan Roh Kudus. Yesaya 9:1-3 "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang , yang besar, mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar, mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat penindas telah Kau patahkan seperti pada hari kekalahan Midian. " Fasal di dalam kitab Yesaya 9 ini berbicara mengenai kelahiran Yesus, yang disebut Kristus. Perkataan Kristus berarti yang diurapi, pengurapan itulah yang sanggup mematahkan kuk. Haleluya! Kuk dipatahkan! Berarti ada kuasa yang dipatahkan. Dan kuasa yang mematahkan itu datang dari pengurapan Roh Kudus. Mengapa kurang kuasa? Sebab kurang pengurapan Roh Kudus. Ada tingkat tingkat pengurapan dan ada tingkat tingkat kuasa, serta ada bermacam macam manifestasi dari pengurapan Roh Kudus. Apa akibat dan tujuan pengurapan? Pengurapan membawa orang kepada keselamatan. Imamat 14:18 Dan apa yang tinggal dari minyak itu haruslah dibubuhnya pada kepala orang yang akan ditahirkan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN. Di dalam ayat ini pengurapan dinyatakan melalui minyak. Imamat 14 berbicara mengenai hukum pentahiran orang kusta. Penderita kusta menggambarkan orang berdosa. Penderita kusta menggambarkan orang berdosa yang dosanya di ampuni, disucikan oleh darah Anak Domba Allah. Pada saat pentahiran, minyak dituangkan diatas kepala penderita kusta itu. Pengurapan minyak itu gambaran dari pencurahan pengurapan, pada saat itu penderita kusta dinyatakan tahir. Pengurapan membawa orang kepada keselamatan. Sekarang kita akan bicara mengenai dosa, siapa yang tidak berdosa setelah kita percaya? Boleh dikatakan setiap hari jatuh ke dalam dosa, kita tidak mencapai standar Allah. Namun ada bedanya antara kondisi kita sebelum bertobat dan setelah bertobat dan diselamatkan. Tetapi sebelum seseorang bertobat, Roh kudus menempelak orang berdosa, menyadarkan dia akan dosanya dan membawa orang tetsebut kepada pertobatan. Yohanes 16:8-13 ―Dan kalau Ia datang, la akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila la datang,
67

yaitu Roh Kebenaran, la akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab la tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakan-Nya dan la akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.‖ Rohkudus inilah yang mencelikkan mata hati manusia. Peran Roh Kudus pada orang yang sudah percaya Setelah kita diselamatkan kita membutuhkan Roh Kudus. Pada saat kita menjadi percaya. Roh Kudus memeteraikan kita. Efesus 1:13 - "Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu." Lalu Roh Kudus menyertai kita, dan kemudian Dia ingin diam di dalam kita Yohanes 14:20 – ―Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. ― Kemudian Tuhan mau kita dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus Efesus 5:17-18 - "Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh." Apa tujuan peran Roh Kudus yang meningkat-ningkat dalam kehidupan orang percaya ini? Supaya kita hidup dalam ketaatan dengan bimbingan Roh Kudus. Yohanes 16:26 - "Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa." Maksud Roh Kudus juga supaya kita tidak hidup di dalam dosa. Roh kudus mau menguasai kita, sehingga kita menguasai dosa dan tidak dikuasai dosa, kita diberi kuasa oleh Roh Kudus Yakobus 4:7 – ―Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" Setelah kita menjadi percaya dan diselamatkan, dosa masih bisa mencobai atau menggoda kita, tetapi Roh Kudus memberi kepada kita kuasa untuk menolak atau melawan dosa, saat iblis menggoda kita bisa berkata "Aku tak mau melakukan itu. Aku tak mau rnelihat itu". Pengalaman kelahiran baru memberi kepada kita kemampuan untuk menyatakan'Tidak" kepada dosa, benih dosa itu sudah tidak ada di dalam kita, sudah diganti dengan benih Kristus. Apa artinya ? Kita tidak lagi mau dengan sengaja berbuat dosa. Memang kita tinggal dalam tubuh yang fana, terbuat dari tanah liat, bisa mengalami kerusakan, dan bisa jatuh dalam kelemahan, bisa salah dan khilaf. Kita dibebaskan dari tubuh fana ini pada saat kematian. Tubuh yang fana ini tubuh dosa, tetapi setelah di babtis, tubuh dosa hilang kuasanya. Roma 6:6 – ―Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. " Roma 6:12 - "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya" Kita bisa berdosa, tetapi kita tidak harus dikuasai dosa, tetapi sebaliknya kita menguasai dosa. Selama di dalam tubuh ini kita mengerang, ingin bebas, dan kita akan bebas dengan sempurna pada saat kematian. Roma 7:21 - "Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. "
68

Roma 8:10 -11 - "Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka la, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. " Roma 8: 13 - "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. " Roma 8 :23 - "Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. " Roma 12:1; Roma 13:14 Kita butuh pendoa syafaat Dosa menguasai dunia. Dosa tidak menguasai kita. Namun kita butuh pendoa syafaat, Yesus menjadi pendoa syafaat kita - Ibrani 5:7. Mengapa kita butuh pendoa syafaat? Supaya menjaga kita dalam kemurnian, supaya kita selalu dibersihkan dan menjadi bersih. Allah kudus sehingga la tidak bisa melihat dosa. Dia kudus, Dia terang. Dimana ada terang kegelapan pergi. Allah tidak bisa melihat dosa, Dia melihat kita, melalui darah AnakNya. Allah mengikatkan perjanjianNya dengan umat pilihanNya dengan darah Keluaran 24:8. Darah perjanjian itu disiramkan diatas semua umat: Demikian pula anda dan saya, diatas kita sudah disiramkan darah perjanjian yaitu Darah Anak Domba Allah, Tuhan Yesus Kristus. Dulu Musa naik bukit, kemudian Allah turun Setelah penyiraman umat dengan darah korban persembahan, kemudian Allah memerintahkan Musa untuk membuat Tabemakel dan Allah berjanji akan berdiam ditengah tengah umatNya. Dulu Musa harus mendaki Gunung Sinai setinggi 9000 kaki untuk bertemu Allah, namun setelah umat disiram dengan darah perjanjian, Allah bersedia turun ke tengah umatNya - Keluaran 25:8 Kehidupan doa yang penuh kuasa dan berhasil .Agardoa penuh kuasa dan berhasil dibutuhkan 3 hal : 1. Lokasi yang benar 2. Posisi yang benar 3. Kondisi yang benar Lokasi yang benar Matius 6:6. Dimana lokasinya? Lokasinya adalah menyendiri dengan Allah, Musa berdoa meninggalkan kemah, masuk ke Tabernakel. Posisi yang benar Bilangan 7:89. Posisi yang benar adalah dalam tempat Maha Kudus, dimana ada tutup pendamaian diatas tabut Allah, semua sudah diperciki dengan darah. Kondisi yang benar. Mazmur 51 Kondisi yang benar adalah hati yang hancur • Hati yang hancur adalah hati yang hancur akan dosa dan kesalahannya • Kesadaran demikian rupa sampai minta belas kasihan dari Tuhan. Minta untuk diampuni dan dihapus dosanya. •Tuhan berkenan kebenaran dalam batin Ingat kita adalah orang-orang yang diurapi, sebab oleh pengurapan itulah kita diselamatkan. Marilah kita tetap tinggal dalam pengurapan itu sehingga kehidupan baru kita di teguhkan dan bahkan bertumbuh menjadi kuat, terpelihara dalam kekudusan dan
69

kemurnian. "KEKUATAN HIDUP ORANG PERCAYA" Efesus 6:10 ―Akhimya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya." Kita harus menyadari bahwa manusia lemah. Hal ini dinyatakan di dalam seluruh Alkitab. A. Kelemahan Batin 1. Dia lemah terhadap pencobaan (Lihat Kitab Kejadian). 2. Dia lemah di dalam menjaga kekudusan. 3. Dia lemah di dalam mempertahankan prinsip hidup. 4. Dia lemah didalam ketaatan murni kepada Tuhan. 5. Dia lemah di dalam berkata-kata, bertingkah laku, dan berpikir. 6. Dia lemah dalam membangun hubungan. B. Kelemahan secara lahir 1. Dia lemah menghadapi alam. 2. Dia lemah menghadapi penyakit. C. Manusia memerlukan kekuatan di luar dirinya. Dia memerlukan kekuatan di luar dirinya untuk menolong dia survive dan mengembangkan hidup. Cara yang salah: a. Dia memakai yang ghaib-ghaib. b. Dia membuat allah dan ilah untuk dirinya c. Dia mencari guru untuk dirinya. d. Dia mencari kekebalan: e. Dia memakai mejik-mejik. f. Dia percaya tempat-tempat keramat. g.Dia melindungi diri dengan benda-benda yang dianggap ampuh atau punya kekuatan: 1. Ditanam di tanah atau kebun sekitar rumah 2. Ditanam pada waktu membangun rumah. 3. Dia tanam di pintu gerbng; atau di pintu masuk rumah. 4. Dia tanam di toko, di sumur, di pintu masuk, di ruang tamu, di dalam kasur atau bantal, di bubungan rumah, dll. Dia mengandalkan kesehatannya, rejekinya, kebahagiaannya, jodohnya, keturunannya, dll pada barang-barang tadi. h. Ada yang lebih dalam membangun hubungan dengan yang ghaib-ghaib. 1. Dia mulai berdoa, menyembah; dan berhubungan dengan roh-roh dan allah serta ilahilah, dengan pohon, batu, kuburan, patung, lukisan, dll. 2. Dia mengucapkan dan menghafal mantera-mantera. 3. Dia bakar benda-benda yang dianggap ada khasiatnya seperti yang dibutuhkan, lalu abunya dicampurdengan minumannya. 4. Dia masukkan benda cair atau benda padat ke dalam badannya, di kepala, di kening, di bibir, di lengan, di telapak tangan, di perut, di paha, di punggung, di d a d a , diminum, bahkan ada yang dialat kelamin. D. Hal-hal di atas ini berbahaya Memang hal-hal tersebut di atas mempunyai kekuatan spiritual untuk memberi apa yang diinginkan manusia. Lalu di mana letak bahayanya? Di dunia ini ada 2 sumber kekuatan. 1. Kekuatan yang sumbernya Tuhan. 2. Kekuatan yang sumbernya Kegelapan. Nah, apa yang dibutuhkan manusia sebenarnya? Manusia perlu dipenuhi kebutuhannya:
70

1. Untuk rohnya, yaitu nasib di balik kematian. 2. Untuk jiwanya, supaya dia tenang dan tenteram. 3. Untuk jasmaninya supaya sehat dan berkecukupan. Jangan ikut-ikut atau mempergunakan sesuatu yang anda tidak faham, yang anda tidak tahu ujungnya dengan pasti. Alkitab menyatakan: "Satu kali kita pasti mati, setelah itu datang penghakiman." Ibrani 9:27. Allah menetapkan manusia mati sekali saja, setelah itu diadili. Kekristenan tidak percaya re-inkarnasi. Kita diberi kesempatan hidup cuma satu kali. Kita tidak bisa mengulangi lagi hidup ini setelah kita mati. Jadi hati-hati Jangan memakai kekuatan asal kekuatan! Jangan hanya mengejar yang di dunia ini Kebahagiaan, kecantikan, kekayaan, kekuasaan, sukses; kehormatan; yang kemudian setelah mati, ke mana? Kita perlu kekuatan di luar diri kita yang memberi jaminan kepada kita kedua-duanya; baik yang jasmani dan yang spiritual. Kita perlu jaminan keselamatan untuk hidup kekal bahagia selamanya di sorga. Bapa di sorga melalui Yesus Kristus memberi jaminan ini!! Yohanes 3:16 - "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal , supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. " Menurut Kitab Suci kita, jaminan itu ada pada Yesus. E. Menjadi kuat di dalam Kristus. Efesus 6:10 - "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya." Hendaklah saudara menjadi kuat dengan kekuatan yang saudara dapat dari kuasa Tuhan; karena kita bersatu dengan Tuhan. Melalui bertobat dan percaya, kita sudah menjadi satu dengan Tuhan. Kalau kita bersatu dengan Tuhan, kita juga ada di dalam kekuatanNya dan kuasaNya. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita sudah melihat kekuatan Yesus yang luar biasa. 1.Dia kuat dalam menjalani penderitaan. 2.Dia kuat dalam karakter; karakterNya tidak rusak karena penderitaan. Ada orang yang karakternya rusak saat mengalami tekanan dan penderitaan. 3.Dia kuat di dalam menjalankan kehendak Bapa. 4.Dia kuat dalam kehidupan yang sederhana dan kerendahan hati seumur hidup. 5.Dia kuat dalam menerapkan nilai-nilai moral. Hal-hal inilah yang sebenarnya merupakan nilai-nilai luhur yang mendasar yang harus kita jalani di dalam kehidupan ini. Kalau kita kuat di dalam hal-hal ini kita akan kuat di dalam hal-ha! yang lahiriah atau jasmani. Kekuatan Yesus telah membawa Dia di dalam kemenangan: 1. Yesus sudah menang terhadap Iblis yang terus-menerus menggoda, mencobai, memusuhi Dia. 2. Yesus sudah menang terhadap kebencian orang terhadap Dia, dengan memohon pengampunan untuk semua dosa mereka. 3.Yesus sudah menang terhadap sakit penyakit, Dia mati dalam tubuh yang hancur dan muka yang rusak, tetapi bangkit dengan tubuh yang mulia. 4.Dia menang terhadap kebutuhan materi, Dia menyediakan sarapan bagi muridNya di tepi Tasik Galilea setelah Dia bangkit. 5.Dia menang dan menjamin bisnis yang berhasil. Setelah kebangkitan, Dia membuat muridNya sukses menangkap ikan. 6.Dia menang terhadap dosa, Dia tidak membalas dendam kepada orang yang menyiksa Dia.
71

7. Dia menang terhadap maut, Dia sudah mati, dikuburkan, tetapi bangkit pada hari ketiga. Apa yang anda butuhkan semua ada dalam Yesus yang menjamin pertolongan selama kita di dunia, dan menjamin sorga bagi kita. Yohanes 14:1-4.

"BEJANA DARI TANAH LIAT" Yeremia 18:1-23 Di dalam Kitab Yeremia ini ditulis mengenai penjunan atau tukang periuk yang sedang membuat periuk atau bejana dari tanah liat. Hal ini menggambarkan Tuhan sebagai penjunan yang akan membentuk hidup kita yang berasal dari tanah liat ini menjadi bejana yang berguna di dalam tanganNya. II Kor 4:7 "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, buka , dari diri kami. " Kita adalah bejana dari tanah liat. Di dalam membentuk atau menangani kita Tuhan tidak pernah menyerah. Pada saat dilihatNya hidup kita tidak tepat Ia selalu membentuknya menjadi sesuatu yang lain supaya dipakaiNya. Kita adalah bejana dari tanah liat dengan potensi tanpa batas.

Pada saat kita meleset Sang Penjunan akan memungut kita kembali dan membentuk seluruhnya lagi. Di dalam alam semesta ini ada bulan, bintang-bintang dan ada bumi. Bulan dan bintang-bintang itu indah di dalam pemandangan mata. Tetapi Tuhan mengambil tanah liat dari bumi untuk membentuk manusia. Lalu ke dalam bejana dari tanah liat itu Dia hembuskan nafasNya yang menghidupkan sehingga memiliki nyawa, memiliki jiwa dan roh. Tuhan menaruhkan kekayaan dari kemuliaanNya. II Kor 4:3 ―Jika Injil yang kami beritakan masih fertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa. " Apakah kekayaan kemuliaanNya? Kekayaan kemuliaanNya adalah Injil Yesus Kristus. Allah tidak pernah menyerah atau berputus asa terhadap kita. Kita melihat Abram. Dahulu dia seorang kafir. Yos 24:2 ―Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain." Abraham dan nenek moyangnya dahulu menyembah allah lain. Tetapi Allah melihat dia adalah bejana tanah liat yang akan bisa dipakai Nya. Demikian juga dengan kita. Baik latar belakang kita atau keberadaan kita sendiri tidak pernah terlalu bagus, tetapi Allah dapat membuat kita menjadi baru sama sekali. Dia dapat membentuk kita ulang seluruhnya. Kita melihat lagi Musa Dia adalah anak seorang lbrani yang dibuang ke sungai Nil. Dia dipungut anak oleh Putri Firaun. Dia menjadi Pangeran Mesi~, satu kerajaan yang tidak mengenal Allah Abraham. Dia pernah menjadi seorang pembunuh. Dia menyembunyikan mayat orang tersebut di dalam pasir. Dia melarikan diri di Midian. Dia menjadi gembala domba mertuanya yang sedikit jumlahnya; Tetapi Allah membentuknya kembali menjadi alat yang berguna di tangan Tuhan. Demikian pula dengan kita,Tuhan dapat membentuk kita kembali menjadi bejana yang sangat indah di tanganNya walau kita sudah jatuh terpuruk paling rendah sekalipun . Kita akan melihat lagi Daud.
72

Daud kita kenal kepahlawanannya. Dia adalah gembala yang pernah membunuh singa dan beruang dengan tangan telanjang. Bahklan sebelum menjadi prajurit sekalipun, dia sudah pernah membunuh Goliat, raksasa pendekar Filistin. Tetapi di dalam masa jabatannya yang tinggi sebagai raja, dia berubah menjadi pembunuh Uria prajuritnya dan mengambil ABetsyeba isteri uria menjadi isterinya. Ini kejatuhan yang sngat fatal. Tetapi Tuhan tidak putus asa mengenai Daud. Dia membentuk Daud kembali sehingga dia dapat mengarang Mazmur yang sangat memberkati pembaca-pembacanya. Mengapa demikian? Karena dia mau bertobat dalam pembentukan Tuhan. Demikian juga kita perlu kerendahan hati dan pertobatan agar Tuhan dapat membentuk kita kembali dari kejatuhan-kejatuhan kita menjadi alat yang indah di tanganNya. Kita akan melihat Saulus dari Tarsus. Bukankah dia seorang pembunuh. Dia adalah pembunuh berdarah dingin yang mengejar orang-orang tidak berdosa dan membunuh mereka karena semangat agamawi yang salah. Tetapi Tuhan melihat dia sebagai bejana yang penuh potensi. Tuhan Yesus khusus menjumpainya dalam perjalanan ke Damsyik. Kis. 9 : 4 ― Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya :‖ Saulus, saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?‖ Berat sekali kalau kita menendang Yesus batu karang yang hidup. Tetapi pembunuh berdarah dingin ini dibentuk kembali olehTuhan menjadi seorang Rasul Paulus, pahlawan Tuhan yang perkasa Tuhan sanggup mengambilmu, memegangmu dan membentukmu ulang kembali. Kita akan melihat Petrus yang menyangkal Yesus. Baru saja dia mengaku bahwa Yesus adalah Kristus Anak Allah yang hidup. Tetapi tidak lama kemudian imannya goncang dan dia menyangkal Yesus bahkan sampai tiga kali. Tetapi tatkala sadar dia menangis. Tuhan membentuknya kembali menjadi bejana yang sangat berguna di tangan Tuhan. Dia menjadi penuai jiwa- jiwa yang pelayanannya disertai dengan tanda heran dan mujizat dan menjadi orang yang tidak takut menjadi martir. Tetapi mengapa Tuhan tidak membuat Yudas menjadi bejana yang baru? Sebab Yudas tidak membuka diri bagi pengampunan. Yudas menggantung diri. Janganlah anda mengeraskan hati terhadap pembentukanNya. Apabila penjunan itu sudah membentuk anda kembali Iblis tidak bisa menuntut anda kembali. Itulah sebabnya teruslah menyerahkan dirimu kepada Tuhan di dalam kegagalan-kegagalnan. Jangan berputus asa. Kis.9:15 ―Tetapi firman Tuhan kepadanya :‖ Pergilah, sebab oarng ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.‖ Engkau adalah bejana yang terpilih untuk dipakai di tangan Tuhan. Engkau adalah terang di dalam kegelapan.Kita semua mempunyai satu destiny yaitu menjadi bejana yang terbuat dari tanah liat didalam tangan Tuhan. Didalam kegagalankegagalan kita Tuhan akan membentuk kita ulang menjadi keajaiban dan kesaksian. Kita adalah generasi yang dipilih. Kita adalah pasukan Tuhan yang perkasa.Semua kita memiliki potensi yang dikaruniakan Tuhan. Kita semua masih harus belajar. Apa yang harus kita pelajari: 1. Kita harus percaya terhadap potensi dalam diri kita. kamu tidak pernah terlalu tua untuk melakukan sesuatua.Mungkin yang terakhir yang kamu lakukan dalam garis finish kehidupanmu adalah yang terpenting. Kej 50:24-26 "Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini,
73

ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.‖ Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." Kemudian matilah Yusuf, berumur,seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir." 2. Menyerahlah kepada tangan penjunan. Jangan berdebat atau membantah. Seorang budak kecil yang dibawa sebagai tawanan sudah menjadi bejana yang indah di tangan Tuhan untuk bersaksi kepada seorang jenderal yang kusta yaitu Naaman sehingga jenderal ini disembuhkan. Di dalam setiap sistem dunia yang berlaku Tuhan mau menaruh umatNya sebagai bejana yang akan membawa terang di sana. 3. Milikilah hati sebagai seorang hamba. Orang yang berhati hamba selalu siap untuk menjalankan perintah tuannya. Seorang berhati hamba rendah hati. Jauhkan segala kesombongan dalam bentuk kecil apapun juga. Pada saat hamba melakukan perintah tuannya dia tidak perlu kuatir karena tuannya akan memperlengkapinya. 4. Jadilah ambassador pendamaian. Jangan pernah katakan pada seseorang "Ke neraka kau‖. Kita sudah melihat kemarahan, kegeraman, pertikaian di mana-mana. Tetapi bejana di tangan Tuhan menciptakan damai di mana-mana. 5. Temukan atau ciptakan atmosfer yang benar. Kapan ada jaminan atmosfer yang benar? Yaitu pada waktu Roh Kudus ditiupkan ke dalam bejana tanah liat ini. Tanpa Roh Kudus tidak ada sesuatupun yang bisa kita lakukan. Kata-Kata Mutiara
  

Apabila engkau mengenalNya maka engkau akan mengasihiNya Kita dipersatukan dengan Tuhan untuk satu tujuan yaitu menjadikan bejana yang murni di dalam tanganNya. Suami dan isteri adalah sahabat karib yang saling menolong sepanjang hidupnya. (Pengajaran TD Jakes-TBN)

"BERPERANG BAGI KELUARGA" Kita perlu berperang bagi keluarga dan bagi setiap rumah tangga. Keluarga di dunia dewasa ini ada di dalam pertempuran. Sebagai ayah atau ibu seseorang perlu mengambil keputusan dengan tepat: Akan kuijinkan atau tidak kuijinkan anakku begini atau begitu. Apakah aku seorang yang terlalu keras, liberal, atau terbuka pikirannya? Kita perlu mengetahui informasi mengenai apa yang terjadi dunia ini. Kita perlu mempunyai pengenalan akan Allah dan pengetahuan akan FirmanNya, supaya tidak binasa. Hosea 4:6 "Umat Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu. " Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban oleh karena kita tidak mau belajar mengenal Allah. Anak kita yang akan menerima akibat kebodohan kita. Sedikit banyak kita harus tahu mengenai isu tentang perdukunan, sihir, dongeng-dongeng yang merebak. Kita harus berhati-hati dan mewaspadai buku-buku Harry Potter. Buku-buku Harry Potter mengajar anak-anak bagaimana menggunakan sihir dan perdukunan. Ini merupakan bahaya terbesar yang mengancam keluarga, menjerat anak-anak .
74

Dengan buku-buku itu perdukunan dan sihir dianggap normal. Bahkan yang tidak membeli dan membacanya dituduh terbelakang. Apakah inspirasi yang ada di dalamnya? Buku Harry Potter terdiri dari 7 jilid, semua dirancang, baik mengenai watak-watak atau tokoh-tokoh di dalamnya, baik ceritanya di dalam satu malam berkembang melalui satu inspirasi. Buku ini tidak wajar. Buku ini supranatural, demonik, penuh inspirasi kuasa kegelapan. Setan tidak pernah muncul terang-terangan, tetapi selalu memakai selubung, menampakkan diri sebagai malaikat terang, menggunakan musik tertentu dan itu merupakan pintu gerbang untuk masuk ke suatu dunia spiritual yang lebih luas dan dalam. Hati-hati dan perhatikan! Setan tidak bisa menyerang tanpa ijin.Kadang-kadang ia punya pintu untuk masuk melalui keturunan. Apabila kita tidak taat Firman, hal itu menjadi pintu terbuka untuk serangan. Dengan membaca buku Harry Potter, kita membuka celah.Dengan membeli VCDnya dan menontonnya, kita membuka celah. I Sam 15:23 "Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenunq dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman Tuhan,maka Ia telah menolak engkau sebagai raja. " Tidak taat sama dengan durhaka, dan durhaka sama seperti dosa bertenung. Segala sesuatu di dalam hidup kita yang menghalangi perjalanan kita dengan Tuhan, merupakan pintu terbuka untuk serangan masuk. Itu mungkin melalui musik, dan buku-buku yang duniawi, porno, dan mejik. Tidak cukup kita melarang orang untuk tidak membaca, dan menonton, tetapi kita perlu memberi penjelasan. Sajian-sajian TV, VCD, DVD, sering menyajikan musik keras, ritual-ritual mejik, hal-hal spiritual, demonik, kekerasan, gangster, pembunuhan, tipu daya, pornography, dll yang tidak sesuai Firman Tuhan. Dalam musik dan dialog penuh hujat, caci maki, pemberontakan. Buku-buku Harry Potter menjadikan seorang pembunuh sebagai pahlawan. Bagaimana kita bisa menjadikan pembunuh sebagai pahlawan? Anak-anak kita harus diberi pelajaran dan penjelasan. Kadang-kadang pesta-pesta juga bisa berbahaya. Mengapa pesta-pesta bisa berbahaya? Penyembahan berhala biasanya juga disertai dengan pesta-pesta. Mereka pesta sambil mabuk-mabuk. Mereka pesta-pesta dengan melakukan percabulan dan perjinahan. Seringkali pesta-pesta mengalihkan fokus kita dari Tuhan. Melalui pesta-pesta kadangkadang orang melakukan hal-hal yang dilarang Firman Tuhan, dan mereka berontak kepada orang tua. Mereka tidak mau dinasihati. Dan melalui pesta-pesta banyak orang melupakan rumah tangganya. Melalui pesta-pesta orang membuka celah untuk serangan Iblis lewat pergaulan yang tidak tepat. I Kor 15:33 "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. " Fokuskan dirimu kepada Allah, pada saat anda tidak memfokuskan diri kepada Allah, hal itu merupakan celah. Kadang-kadang pesta-pesta dan upacara-upacara ritual itu merupakan sumber dari serangan kuasa kegelapan. Berhati-hatilah dengan sumber-sumber hikmat dari: horoskop, hong sui, ramalan, mantera, tenung, sihir, dll. Di balik semua ini ada malaikat yang jahat, demonik, merusak moral, hal-hal ini dilarang Firman, dan merupakan pemberontakan kepada Tuhan. Apabila kita kontak dengan hal-hal di atas, kita mengijinkan roh-roh jahat menyusup masuk. Apa hasilnya? Ketidaktaatan, pemberontakan, melawan nasihat, memutarbalikkan kebenaran. Orang-orang yang terlibat hal-hal seperti ini harus bertobat! Jangan membuka pintu bagi Iblis! Sebaliknya berdoalah, dan tengkinglah. Jangan ikut atau ikutikutan. Jangan ingin tahu atau mau mencoba-coba Hindarilah! Tolaklah! Anda
75

tidak perlu mendekat. Anda tidak perlu bergabung. (Jentenzen Franklin - TBN) DRUG DAN OBAT-OBAT TERLARANG Drug dan obat-obat terlarang erat hubungannya dengan tenung dan sihir. Bahkan boleh dikatakan bahwa drug dan sihir adalah kombinasi. Drug dan obat-obat terlarang melemahkan jiwa. Orang yang terikat dengan drug dan obat-obat terlarang cenderung mengikuti hal yang buruk yang dibisikkan oleh roh jahat kepadanya. Tubuhnyapun diseret untuk terlibat dalam okultisme. Sebetulnya drug itu bukan semata-mata soal fisik, tetapi hal itu merupakan kegiatan spiritual. Mencoba drug merupakan pintu masuk bagi Iblis menguasai pikiran dan memperalat tubuh. Melalui drug pekerjaan Iblis bergerak mendorong yang terlibat ke pornography, kekerasan; bahkan sampai ke pembunuhan. Orang menganggapnya biasa, wajar-wajar saja. Padahal pemakai drug cenderung juga melakukan kekerasan seks, percabulan, dll.Hindari drug!! Halloween, kucing hitam, tengkorak adalah kedok-kedok setan. Mereka adalah simbol dari kerajaan kegelapan. Hindari itu. Jangan ikut-ikutan. (Carmen – TBN) "DAUD DIURAPI TIGA KALI" Apa perbedaan pengurapan untuk Saul dan pengurapan untuk Daud? Pengurapan unt;uk Saul dari buli-buli. Pengurapan untuk Daud dari tanduk. Yang pertama dari barang buatan manusia, yang kedua dari barang ciptaan Tuhan. Kita memerlukan pengurapan yang langsung datang dari Tuhan walaupun itu diimpartasikan melalui manusia. Pengurapan yang dari Tuhan itu lahir dari Firman dan Roh Kudus. Segala sesuatu di dalam Alkitab dimulai dari Taman Eden kemudian diakhiri di Getsemani. Dari Getsemani ke salib di Golgota penderitaan Kristus sempurna. Dia mengatakan sudah genap. Dia adalah Imam Besar Agung yang diurapi bagi kita dengan kebangkitanNya. Kita mengenang kisah tiga hari perjalanan Ishak berdampingan dengan Abraham ayahnya sambil memikul kayu dan membawa pisau: Ishak bertanya di manakah domba itu?Abraham menjawab Tuhan akan menyediakan. Di dalam Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis mengatakan lihatlah Anak Domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini. Di dalam Wahyu dikatakan Yesus sebagai Anak Domba yang sudah tersembelih. Kita semua diajak memandang kepada Anak Domba Allah. Yesus Kristus adalah domba Paskah bagi kita. Kita perlu pengurapan baru setiap hari dari Yesus Imam Besar Agung kita. Di dalam PL ada kaki dian dari emas yang di dalam bahasa Ibrani disebut "manorah". Tiap hari sumbunya harus dibersihkan dan dipotong dan harus dituangkan minyak yang baru pada corotnya. Hal ini menyatakan bahwa untuk menjadi terang dunia kita perlu dibersihkan dan dipangkas setiap hari serta mendapat pengurapan yang baru. Kembali kepada Daud. Dia mendapat pengurapan 3 kali. Pengurapan pertama oleh Samuel di rumah bapaknya. Itu adalah pengurapan masuk ke dalam peperangan melawan Goliat. Di dalam medan perang kita melihat 4 kelompok manusia: a. Kelompok orang yang tidak diurapi. Mereka tidak punya iman, tidak punya keberanian, sembunyi dan takut kepada musuh. b. Orang yang pernah diurapi tetapi pengurapannya sudah hilang, yaitu Saul. Orang demikian mengandalkan hikmat dunia. c. Goliat. Dia adalah orang yang punya pengurapan negatif, melawan Tuhan, melawan umat Tuhan; menghalangi rencana Allah digenapi dalam diri seseorang atau satu bangsa. d.Orang yang mengenakan pengurapan baru, yaitu Daud. Tidak takut menghadapi musuh, tidak bersandar kekuatan sendiri, tidak memakai hikmat
76

manusia tetapi berani melawan musuh dan mengalahkannya dengan hikmat dari Tuhan. Pengurapan Daud oleh Suku Yehuda. Yehuda artinya pujian. Dengan pengurapan ini kita mendapat impartasi pengurapan pujian. Tanpa hidup di dalam pujian terus-menerus di dalam hati kita bisa kehilangan Yesus seperti Maria kehilangan Yesus di tengah keramaian hari raya di bait suci. Pengurapan untuk seluruh bangsa Israel. Di sini pengurapan Daud meningkat masuk ke tingkat nasional. Pada waktu Daud di rumah bapaknya la diurapi tetapi dia belum dilantik. Maka level berikut adalah dia dilantik untuk menjadi raja. Mengapa pengurapan ini penting? Karena ada baalzebul di dunia ini. Baalzebul adalah raja kegelapan. Arti nama baalzebul adalah dewa lalat. Lalat suka hinggap pada badan dan hidung ternak, buang kotoran dan bertelur di sana kemudian akan menyebarkan penyakit ke dalam seluruh tubuh ternak itu. Ternak-ternak sering harus diolesi dengan minyak sehingga penyakit tidak akan merusak tubuhnya. Demikian juga kita, kita perlu pengurapan supaya baalzebul tidak menelorkan pikiran-pikiran busuk di dalam pikiran kita. Dengan demikian kita akan hidup di dalam damai sejahtera. Tuhan memanggil kita untuk masuk dalam peperangan, dalam pujian, dalam pelayanan ke tingkat yang lebih tinggi dan dalam damai sejahtera. Untuk itu semua kita perlu pengurapan yang selalu diperbaharui. Yes 10:27a "Pada waktu itu beban yang ditimpakan ,mereka atas bahumu akan terbuang, dan kuk yang diletakkan mereka atas tengkukmu akan lenyap. " Beban-beban apa yang akan dilenyapkan? Beban keterbatasan; keuangan, pelayanan; gereja, pernikahan, anak-anak dan lain-lainnya. Hari ini juga beban itu harus lenyap. Kita perlu memakai pengurapan di kepala kita. Biar Roh Kudus bergerak bebas di dalam setiap situasi kehidupan kita, panggilan kita dan seterusnya. Kita perlu membangun atmosfer ilahi di mana hanya Tuhan yang dimuliakan. Biar Tuhan makin bertambah-tambah dan kita makin berkurang-kurang.

•Tak ada bantal yang lebih keras daripada rasa bersalah •Jangan sampai kita hanya punya penyesalan: "Andaikan aku begini, andaikan aku begitu." "Aku harap", "Aku menyesal" • Buatlah keputusan-keputusan yang benar sekarang. Ini saatnya anda tidak membuat keputusan yang salah, sebab akibatnya panjang. •Kita kaya sebab nilai-nilai yang Tuhan depositokan di dalam diri kita "KELIMPAHAN DAN KEKURANGAN" Mazmur 23 : 1-6 Apakah kelimpahan itu? Kelimpahan artinya tidak kekurangan apapun juga. Pengertiannya yang dimaksud di sini adalah mengalami aliran kehidupan sedemikian rupa sehingga apa yang kita butuhkan mengalir dan dapat kita cedok dari situ. Kita mengalami pada waktu membutuhkan ada saja berkat untuk mencukupinya. Hidup yang limpah atau luber tidak selalu berarti simpanan kita banyak, tabungan kita besar. Kita tidak hidup bersandar pada tabungan kita tetapi kita hidup bersandar kepada Tuhan sebagai gembala kita yang pasti akan rnenjaga, melindungi dan memelihara kita sehingga kita tidak kekurangan sesuatupun. Apabila kita hidup bergantung kepada providensiaNya hidup kita mengalami kedamaian dan ketenangan. Tidak demikian halnya kalau kita bersandar seseorang, warisan atau tabungan. Manusia
77

bisa berubah, warisan bisa habis atau ditipu orang dan tabungan bisa berkurang. Pengharapan apapun juga terhadap hal-hal yang di dalam dunia ini mudah membuat kita cemas, damai tercuri dan iman menjadi goyah. Apakah yang dimaksud dengan kekurangan? Kekurangan artinya tidak memiliki sumber yang bisa diandalkan sebab kita tidak memiliki relasi yang tepat kepada Allah. Relasi kita yang tidak tepat atau kurang baik dengan Allah akan membiaskan banyak persoalan di dalam kehidupan kita, dan itupun dapat merusak relasi kita dengan sesama dan kitapun akan mengalami permasalahan dengan sumber kehidupan kita. Apabila kita menjadikan Yesus gembala kita yang baik kita akan mengalami sukses. Sukses adalah suatu keputusan atau pilihan yang kita tentukan untuk masa depan kita. Jadi mulai saat ini kita sudah harus mulai mengambii keputusan untuk sukses dan hidup berkelimpahan. Katakan kepada dirimu: "Tuhan Engkau gembalaku yang baik, aku tidak akan kekurangan apapun juga. Masa depanku ada di dalam tanganMu dan apabila aku percaya kepadaMu dan mempercayakan diri kepadaMu. Aku pasti akan sukses. Mulai hari ini aku mengambil keputusan dan pilihan untuk sukses‖. Pada waktu Yesus menyerah di dalam penderitaanNya dan puncaknya di kayu salib dan berteriak sudah genap. Dia masuk ke dalam perhentian. Kitapun memerlukan pengurapan yang membawa kita ke dalam perhentian. Perhentian adalah ketenangan di datam roh dan jiwa walaupun banyak pergolakan di sekitar kita. Perhentian artinya tidak kecemasan atau kegelisahan lagi. Di situ ada ketenangan yang memberikan jalan keluar kepada setiap persoalan. Apabila kita masuk ke dalam perhentian kita segala sesuatu dapat dikuasai. Tuhan akan memberi kita ―Hukum Kemampuan". Bukankah di dunia ini ada beribu-ribu milyuner. Setiap menit seorang milyuner baru muncul dan 90% dari mereka adalah selfmade (mencetak dirinya sendiri). Bagaimana caranya? Mereka bekerja keras, mereka menanam perusahaan dan mereka rajin. Bagaimana carinya supaya anda memiliki kemampuan? Impikan, khayalkan, imajinasikan sejenak bahwa kamu bisa berhasil. Bahwa anda sukses adalah keinginan Tuhan. Katakan pada dirimu sendiri: Allah menginginkan saya berhasil, Allah tidak menginginkan saya gagal, sayapun mengambil keputusan dan memilih untuk berhasil clan tidak untuk gagal. Maka sayapun mengambil keputusan untuk memiliki impian-impian yang indah untuk menginvestasikan diri di dalam kerja keras, berusaha dan rajin. Ingat perintahTuhan supaya kita berbuah dan berbuah lebat. Dari benih yang ada dalam buah bisa tumbuh tanaman yang baru. Jadi di dalam perintah Tuhan untuk berbuah dan berbuah lebat terkandung maksud supaya kita bermultiplikasi. Biarlah kamu berbuah lebat dan buahmu itu menetap, tidak rontok, tidak gugur dan tidak hilang. Makin kita bertumbuh dan makin kita menjadi dewasa seharusnya kita makin menjadi produktif. Apakah sasaran Tuhan atau obyektif Tuhan buat kita yaitu supaya kita menggapai, kalau perlu kita meloncat meraih produktivitas yang maksimum. Capailah tingkat produktivitas yang maksimum. Untuk mencapai hal itu dibutuhkan kemampuan. Dari mana kita beroleh kemampuan? Kemampuan itu dari Tuhan. Ulangan 8:11-18 Apakah yang dimaksud dengan kemampuan? 1. Kemampuan adalah kekuatan, kuasa, skill atau kecakapan, dan sumber-sumber untuk melakukan sesuatu, untuk menyelesaikannya. Anda jangan menertawakan impian anda sendiri atau takut ditertawakan orang. 2. Kemampuan adalah juga talenta. Matius 25:14,15 Cara Tuhan memberi talenta adalah menurut kesanggupan kita, sebab talenta itu harus dijalankan supaya bermultiplikasi dan tuan yang mempercayakan akan minta pertanggungjawaban. (Mat 25:14-30). Allah mengetahui keterbatasan kita. Tetapi limit atau garis batas kemampuan kita dapat direntangkan. Bagaimana caranya? Tingkatkanlah level dari kemampuanmu. Yohanes 16:12-15. a. Kita dapat menaikkan level kemampuan kita dengan bersandar kepada Roh Kudus. Tuhan tahu timingnya, waktunya dan Tuhan tahu caranya sampai mendetil. Tuhan berkata di dalam ayat-ayat tadi ada pewahyuan yang pada saat itu mereka tidak bisa – tangkap tetapi di kemudian hari orang itu akan makin mengerti dan terbuka pikirannya. Bisa saja
78

memakan waktu bahkan sampai 10 tahun. Pada saat kita diberi diberi pewahyuan kita tidak cakap menanggungnya. Tetapi kita dapat bertumbuh di dalam kemampuan kita. Pada saat ini banyak hal yang kita bisa lakukan atau capai dari pada tahun-tahun yang silam. Kita dapat menjalankan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. b. Talenta dapat bertambah-tambah karena digunakan. Makin kita menggunakan talenta makin kemampuan kita ditambah. Kita melihat di dalam Injil Mat 25 ada yang menggandakan talenta sampai 5 kali ada yang 2 kali. Maka apa yang ditaruh atau dipercayakan Tuhan kepada kita mengalami progres yang bisa diperhitungkan. Makin kita menggunakan makin kita mampu. Makin kita mampu kita akan menggunakannya lagi menjadi suatu siklus. Pakailah dulu talentamu secara konstan misalnya talenta khotbah, mengajar, musik dan penggunaan karunia-karunia yang lain. Uang akan bermultiplikasi menghasilkan uang, skill akan bermultiplikasi melahirkan skill. Kalau kita sering berkhotbah seharusnya khotbah kita juga bertambah baik. c. Bertumbuhlah mencapai level impian kita. Jadilah seorang pemimpi besar. Impikan tentang bangunan-bangunan, dana-dana, yang bisa terjangkau. Lalu rentangkan impianmu untuk menjangkau lebih lagi dan membangun lebih lagi. Pengaruhilah dunia kerjamu atau dunia pasarmu dan rubahlah bangsamu.

"BERKAT & KUTUK MELALUI PERKATAAN" (1) Di dalam Alkitab Allah memberikan contoh mengenai mengucapkan berkat dan mengucapkan kutuk. Pada saat berkat diucapkan seolah-olah berkat itu mengembang menjadi suatu tudung. Demikian juga apabila suatu kutuk diucapkan. Kutuk itu akan menjadi seperti racun yang menyebar yang akan mencelakakan mereka yang mendengarnya. Bil 6:22-27 "TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada Harun dan anakanaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka. "" Di dalam perikop ini Tuhan mengajarkan kepada Musa bagaimana seharusnya Harun menyampaikan ucapan berkat kepada umat Israel. Apakah inti dari ucapan berkat imam besar ini? Ucapan berkat itu berisi persediaan berkat dari Allah sendiri: 1. Bahwa Allah akan memberkati. Artinya Allah akan menudungi mereka dengan segala persediaan untuk mencukupi segala kebutuhan mereka baik secara rohani, jiwani dan jasmani. 2. Tuhan menyediakan perlindungan bagi mereka terhadap musuh, alam, cuaca, bencana, sakit-penyakit dan segala sesuatu yang dapat membahayakan ataupun merugikan jemaat. 3. Wajah Tuhan akan memancarkan cahaya ke atas umatNya, sehingga mereka berjalan dan hidup di dalam terangNya yang ajaib. 4. Tuhan akan memberikan kasih karuniaNya. Apakah kasih karunia itu? Kasih karunia adalah pemberian dari Tuhan untuk melengkapi manusia supaya manusia mampu menghadapi kesulitan dan menyelesaikannya. Kasih karunia yang melengkapi orang, memampukan dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Jadi di dalam kasih karunia terkandung hikmat, kecakapan, keterampilan, kekuatan mental, spiritual dan fisik serta berkat-berkat yang lain misalnya: keuangan, sarana, sumberdaya insani, dll. Seseorang yang mendapat
79

kasih karunia tidak pernah akan mengalami jalan buntu tetapi mereka akan selalu mengalami terobosan-terobosan dan kemenangan-kemenangan. Apakah orang yang mendapatkan kasih karunia tidak pernah kesulitan, menjadi lemah atau kadang-kadang berputus asa? Bisa. Suka-duka dalam kehidupan itu manusiawi. Tetapi bagi orang yang mendapat kasih karunia kesukaran dan tantangan akan diubah menjadi batu loncatan untuk naik tingkat baik tingkat kerohanian, tingkat kesejahteraan dan tingkat pelayanan. 5.Tuhan menghadapkan wajahNya dan tidak memalingkan wajahNya. Artinya Tuhan sayang dan Tuhan menerima, Tuhan tidak menolak, Tuhan tidak membuang muka. 6. Tuhan akan memberikan damai sejahtera. Damai sejahtera ini melampaui akal pikiran manusiawi kita. Bahkan justru sering terjadi di kala di dalam pergolakan hidup sangat besar damai sejahtera Allah itu hadir dan kita bisa merasakannya di dalam hati kita. Yang sering kacau adalah pikiran kita. Itulah sebabnya sangat perlu supaya damai sejahtera itu dapat melingkupi dan menguasai sepenuhnya baik hati maupun pikiran kita. Bagaimana caranya? a. Bersukacita selalu di dalam Tuhan. b. Berbaik hati dan berbuat baik kepada semua orang. c. Jangan kuatir apapun juga. d. Semua keinginan kita kita ungkapkan kepadaTuhan. e. Jangan lupa bersyafaat dan mengucap syukur. Melalui lima langkah ini damai sejahtera yang Tuhan berikan akan menjaga hati dan pikiran kita. Damai sejahtera ini bukan hanya membuat hati dan pikiran kita tenang tetapi menolong kita bertindak mengambil keputusan ataupun bereaksi dengan tenang juga. Pada saat seorang imam, seorang pemimpin atau seseorang mengucapkan berkat kepada orang lain dengan memakai nama Tuhan maka nama Tuhan sudah diletakkan di atas orang itu. Orang itu pasti diberkati dan diproteksi Allah. Maka kita lihat bahwa berkat yang diucapkan itu akan menudungi setiap aspek di dalam kehidupan kita: keluarga, rumah tangga, persahabatan, gereja, pekerjaan, studi, dll. Ul 28:3-6 "Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar." Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa semua segi dalam kehidupan kita ditudungi atau ditutupi dengan berkat-berkat Allah: 1. Di manapun kita berada kita diberkati. 2. Keadaan kita dan pekerjaan kita atau usaha kita diberkati. 3. Sandang, pangan kita diberkati. 4. Semua kegiatan dan perjalanan kita diberkati. Itulah sebabnya ucapkanlah Firman Tuhan yang penuh janji dan ucapkanlah kata-kata berkat. Ucapan kutuk mencelakakan orang lain. Kutuk terjadi karena ketidaktaatan dan kutuk menurun sampai keturunan ke-4 (orang tua, anak, cucu, cicit, buyut). Tetapi kuasa berkat lebih besar. Bagi orang yang taat berkat Tuhan akan mengalir sampai kepada beribu-ribu orang. Kel 20:6 "Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. " Setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus kita diberi kuasa untuk menjadi anak Allah dan kita adalah anak Allah. Apabila kita taat pimpinan Roh Kudus maka Allah menjadi Bapa bagi kita di samping bapa kita secara jasmani. Ucapan-ucapan berkat akan membuat kita sangat produktif untuk masa depan yang baik. Kej 12:2,3 "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan
80

memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Banyak berkat yang terkandung di dalam ucapan berkat dari Allah kepada Abraham: 1. Keturunannya akan menjadi sangat banyak dan melahirkan satu bangsa yang besar. 2. Allah akan memberkati. 3. Allah akan membuat namanya terkenal. 4. Setelah diberkati dia akan menjadi berkat. 5. Tuhan memberkati orang yang memberkati. Artinya perbuatan baik yang orang lain lakukan kepada kita akan dibalas oleh Tuhan juga dengan kebaikan. 6. Tuhan mengutuk orang-orang yang mengutuk. Apa yang buruk yang dilakukan orang kepada kita baik dengan perkataan atau perbuatan Tuhan sendiri yang akan membalasnya. 7. Oleh sebab kita diberkati kita akan menjadi berkat untuk banyak bangsa di muka bumi. Apakah orang yang diberkati tidak pernah mengalami kesulitan-kesulitan? Kita melihat di dalam Alkitab orang-orang yang diberkati mengalami banyak kesulitan. Sebagai contoh sebelas rasul Yesus (kecuali Yudas). Sebelas rasul Yesus semua mengalami masa sulit. Kemungkinan hanya Yohanes yang tidak menjadi martir. Rasul Yohanes sendiri direbus dalam minyak dalam kuali yang besar tetapi dia tidak mati. Lalu dibuang ke Pulau Patmos. Zaman itu pulau itu sepi, gersang atau tandus, banyak penjahat di sana dan mereka harus bekerja paksa. Tetapi apa yang membuat para murid ini tahan menderita yaitu berkat dari Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus. Berkat-berkat yang diucapkan atau yang kita baca menjadi jaminan bagi masa depan kita dan menudungi kita. Berkat itu menudungi kepala kita dan memberi kita masa depan yang baik. Pemimpin yang suka memberkati akan membuat umat diberkati dan bersukacita. Ef 1:3 "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga."

"BERKAT & KUTUK MELALUI PERKATAAN" (2) Luar biasa berkat yang kita terima setelah kita bertobat. Karena kepada kita dikaruniakan oleh Tuhan segala berkat rohani di sorga. Jadi sebetulnya kita tidak kekurangan apapun juga. Maka kita harus selalu memuji Tuhan dan mengucap syukur. Allah ingin kita semua diberkati. Sebaliknya kitapun harus memberkati Tuhan dengan puji-pujian yang keluar dari hati kita. Mzm 103 :1-5 "Dari Daud. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi seperti pada burung rajawali." Tuhan sumber segala sesuatu. Dia selalu memberkati kita dengan segala kebaikannya. Yang Tuhan tidak bisa lakukan adalah memuji diri-Nya sendiri.Itulah sebabnya kita memberkati Tuhan dengan lagu atau kata-kata pujian kita. Apa yang kita puji-puji dari Tuhan menurut alinea ayat-ayat di atas? 1. Pujilah nama-Nya yang kudus. Nama Allah memang kudus. Tetapi lebih dari itu namaNya dahsyat, ajaib, berkuasa, mulia dst. 2. Pujilah semua kebaikkanNya dan jangan melupakan kebaikanNya terutama di masamasa sukar dalam kehidupan kita, janganlah melupakan kebaikanNya dan mengucap syukurlah senantiasa. 3. Kita memuji Dia karena Dia sudah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Kita
81

diangkatNya menjadi anakNya, dijadikan umat pilihanNya, dijadikan biji mataNya, disayang, dipelihara dan dilindungi dan di atas segalanya diberi keselamatan di akhir hidup kita. 4. Dia menyembuhkan segala penyakit kita, Dia telah menanggung semua penyakit dan kelemahan kita di dalam tubuhnya di kayu salib dan bilur-bilurNya sudah menyembuhkan kita. I Pet. 2: 24 " Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh." Yes 53:5 " Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." 5. Dia menebus kita dari lubang kubur. Hal ini bisa mempunyai pengertian yaitu menyembuhkan kita dari penyakit yang membawa kematian dan melepaskan nyawa kita dari maut yaitu dari neraka. 6. Dia memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat. Artinya ada berkat-berkat indah dan berharga di atas kepala kita. 7. Dia memberkati kita dengan kepuasan. Hasrat hati kita dikabulkanNya dengan kebaikan-kebaikan. 8. Dia yang sanggup memperbaharui masa muda kita menjadi seperti burung rajawali. Artinya Dia yang menyanggupkan kita untuk menjadi kuat, tabah, teguh, di dalam menghadapi tantangan dan konsisten di dalam tujuan hidup. Pada saat kita mengucapkan berkat-berkat di dalam pujian kita kepada Allah, sesungguhnya kitapun sedang menyediakan suatu tudung berkat yang menudungi kita dari sekarang sampai ke masa depan kita. Berkat ini bisa kita umpamakan seperti kembang api raksasa yang kita luncurkan dari tangan kita naik ke angkasa lalu mengembang dengan percikan bunga apinya yang berwarna-warni turun seperti hujan berkat. Allah memiliki banyak cara yang cerdik untuk memberkati kita.Ratakan jalan di depanmu untuk satu kehidupan yang diberkati.Untuk itu anda harus membayar harga.Tuhan dapat memberkati siapa saja termasuk kita. Allah sedang bekerja di dalam diri kita. Diapun mengucapkan ucapan-ucapan berkatNya atas kita. Kitapun memiliki satu bagian untuk membawa berkat dan mengucapkan berkat bagi kehidupan orang lain. Berkat yang dari Tuhan mempunyai kuasa pelipatgandaan. Sebagai contoh : Pada saat Yesus memegang roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya dan membagikannya kepada orang banyak melalui murid-muridNya terjadilah multiplikasi. Mrk. 6 : 41-43 " Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-muridNya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu , begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikanNya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan." 5 ketul roti dan 2 ekor ikan mengenyangkan 5000 orang laki-laki saja dan sisanya masih 12 bakul. Pada lain kesempatan Dia melakukan hal yang sama dan 7 ketul roti mengenyangkan 4000 orang. Tetapi juga masih banyak sisanya. Kapan multiplikasi itu terjadi ? Apakah saat berdoa mengucap syukur ? Multiplikasi itu terjadi pada saat roti itu diberkati dan dipecah-pecahkan Praktekkan itu dalam kehidupanmu.Mungkin buku tabungan anda sedang kosong. Ambillah dan ucapkan berkat atasnya.
82

Ambillah dompetmu yang kosong, berkatilah, ucapkanlah kata-kata berkat. Tanamtanaman di kebun, ternak-ternak di kandang, stok-stok dagangan, tumpang tangan dan ucapkan berkat. Ucapkan berkat atas kolam-kolam ikanmu, atas kendaraan dan semua aset yang Tuhan berikan. Ucapkan berkat atasnya. Jangan lupa tentu ucapkan berkat atas dirimu sendiri dan terutama untuk keluargamu. Apakah kita juga harus memberkati musuh kita, orang yang memusuhi atau yang berbuat jahat kepada kita? Ya kita harus memberkati semua orang termasuk orang yang menganiaya kita. Rm. 12: 14 " Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!" Apakah kita ingat akan Yakub di dalam PL? Dia adalah orang yang mempunyai hati sangat rindu untuk diberkati. 1. Dia minta hak kesulungan dari Esau Kej. 25: 31 -"Tetapi kata Yakub:" Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu" 2. Dia minta berkat anak sulung kepada Ishak ayahnya. Kej. 27:19 -"Kata Yakub kepada ayahnya :" Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku". 3. Dia minta diberkati oleh malaikat yang bergulat dengan dia di tepi Sungai Yabok. Kej. 32:26 - "lalu kata orang itu:" Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub :" Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku". Dan masih banyak lagi contoh dari kehidupan Yakub. Di dalam PB kitapun melihat banyak orang yang merindukan berkat. Sebagai contoh: banyak wanita membawa anak-anaknya kepada Yesus untuk diberkati. Orang-orang yang merindukan berkat semuanya tidak takut tantangan. Mereka selalu menerobos dan Tuhan menghargai dan meluluskan keinginan mereka. Melalui ucapan-ucapanmu katakanlah berkat. Di dalam hati sanubarimu kandunglah berkat. Allah ingin memberkati kita dengan jodoh, dengan anak-anak, dengan keluarga dan rumah tangga yang komitmen kepada Tuhan dan yang melayani Tuhan.

"MENJADI SEPERTI BURUNG RAJAWALI" Yes 40:31 "Tetapi orang-orang yang menanti,nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. " Bagi setiap orang yang menantikan Tuhan, akan diperbaharui kekuatannya menjadi seperti seekor burung rajawali. Apakah ciri-ciri burung rajawali? Ciri yang utama dan terutama yaitu tidak takut badai. Orang yang berkarakter burung rajawali tidak takut badai kehidupan. Burung rajawali = malah menantikan datangnya badai. Dia akan mengembangkan sayapnya, memperhatikan dengan pandangan visinya, kapan badai datang. Sebab dia akan menghadapinya dan menggunakan badai itu untuk melambung tinggi mendekati matahari. Burung rajawali tidak mengepak-ngepakkan sayapnya, tetapi dia mengembangkan sayapnya. Dia tidak terbang dengan kekuatan kepak sayapnya, tetapi dia terbang dengan kekuatan angin. Orang yang diperbaharui kekuatannya oleh Tuhan akan menjadi seperti burung rajawali, tidak mengepak-ngepakkan sayap, bekerja dan berjuang memakai kekuatan sendiri, tetapi akan bersandar kekuatan angin Roh Kudus. Burung rajawali tidak seperti ayam atau anak ayam.Ayam atau anak ayam penciumannya tajam, mereka tahu saat akan datang badai. Mereka ribut berkotek-kotek, menciap-ciap, bingung lari kesana kemari, sambil mengepak-ngepakkan sayapnya mencari tempat persembunyian untuk berlindung terhadap badai. Apabila badai datang mereka bisa
83

menjadi korban, sebab mereka lemah, tak berdaya, dia menjadi victim badai. Lain dengan burung rajawali, dia tidak menjadi victim, tetapi menjadi victor, pemenang, terbang mengatasi badai. Demikian pula orang percaya yang menanti-nantikan Tuhan. Kekuatannya akan diperbaharui oleh Tuhan, sehingga ia menjadi kuat, sayap iman dan pengharapannya kuat. Dia tidak menjadi korban badai, tetapi dia menjadi lebih dari pemenang. Dia menghadapi badai dengan penuh keyakinan. Badai pencobaan dalam kehidupan, badai masalah yang melanda datang dengan kencang dan derasnya, tetapi ia menanti dengan tenang, dia hadapi dengan kepastian, dan dia melayang di atasnya, dengan bersandar kekuatan dan kuasa Roh Kudus. Burung rajawali yang melayang tinggi melambangkan kebebasan sempurna, menggambarkan kemerdekaan roh dan jiwa yang bersandar kepada Tuhan dan Roh Kudus. Mereka yang sudah dimerdekakan oleh Yesus sebab sudah bertobat dan mengenal kebenaran, adalah orang yang merdeka sesungguhnya, sehingga mereka tidak tertindih oleh beban masalah, tetapi mereka melambung di dalam iman dan pengharapan mengatasi masalah atau badai kehidupan. Badai dalam kehidupan tidak menjadi ancaman yang menakutkan atau raksasa yang menggentarkan, tetapi badai dalam kehidupan apabila dihadapi dengan berani. akan merupakan sarana untuk meningkat ke level yang lebih tinggi, yaitu makin dekat kepada Tuhan, Surya Kebenaran. Jangan bersandar manusia di dalam menghadapi badai dalam kehidupanmu. Manusia pemahamannya terbatas. Mungkin ada yang simpati atau empathy kepada anda. Tetapi mungkin ada yang mencibir, mengejek, menertawakan anda. Mungkin di dalam menghadapi badai dalam kehidupan anda mulai berputus asa, tak ada orang yang peduli, tak ada yang faham, apalagi menolong. Mungkin anda merasa sendiri, ditinggalkan dan dibiarkan oleh teman, sahabat atau saudara. Anda kesepian. Tetapi ingat, anda tidak sendiri, Tuhan bersama anda, Dia tidak melupakan dan tidak meninggalkan anda. Dia tidak membiarkan anda sebagai yatim piatu. Yoh 14:18 "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. " Mat 28:20 "Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai.kepada akhir zaman. " Ibr 13:5,6 "Janganlah-kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. "Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" Jangan takut! Anda sendiri, kesepian? Memang. Burung rajawali tidak sama dengan yang lain. Burungburung yang lain terbang berbondong-bondong. Kadang-kadang membentuk formasi. Aduuuh, enak, banyak teman. But an eagle flies alone (Tetapi burung rajawali terbang sendiri). Tetapi bersama dengan Tuhan Yesus anda bisa melakukan segala sesuatu. Flp 4:13 "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. " Ayo terbang melintasi badai kehidupan dengan kekuatan sayap rajawali, dengan kuasa Firman dan Roh Kudus; dengan iman dan pengharapan, dan katakan ayat tersebut di atas untuk dirimu sendiri. Ciri apa lagi yang dimiliki burung rajawali?
84

Ia menyediakan waktu untuk memperbaharui diri. Saat kekuatan sayapnya mulai berkurang, dia sabar. Dia berdiam diri ; dia tidak terbang. Dia mencari tempat yang tinggi di atas bukit batu. Bukit batu kita adalah Tuhan. Mzm 18:3 "Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!‖ Mzm 62:3,7 ―Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. ― Tuhan harus menjadi yang nomer satu dalam kehidupan kita. Bagi kita tidak ada duanya. Apa yang dilakukan burung rajawali? Ada waktu pembaharuan bagi dia. Di sana dia akan mencabuti bulu-bulunya. Ada _ lebih kurang 7000 bulu pada dirinya, dan itu dicabutinya semua. Kemudian dia akan membersihkan dirinya dari debu, lumpur, dan kutu. Masa pembaharuan ini memakan waktu 40 hari. Kita perlu ada waktu memperbaharui diri, iman, kasih, semangat, roh, cukup lama bersama Tuhan. Kalau perlu sabar, berdiam diri 40 hari 40 malam bersama Tuhan. Biar manusia lama, dan lain-lain yang sudah lama kita cabuti, dan yang baru timbul. Setelah 40 hari, bersama dengan jalannya waktu, bulu-bulu yang baru sudah tumbuh, bersih, sehat, kuat, maka rajawali dapat terbang lebih dahsyat lagi di angkasa setelah pembaharuan. Bagaimana dengan kekuatan rohani anda? Bagaimana dengan stamina anda? Mungkin anda terlalu sering menghadapi badai dalam kehidupan. Kekuatan iman dan pengharapan anda menurun, anda perlu diisi dengan Firman yang baru dan anda perlu pengurapan yang segar, sehingga anda lebih dahsyat menghadapi masalah. Ciri yang lain: Burung rajawali mempunyai persiapan diri setiap hari. la menggosok paruhnya. la membuat bulu pada tubuhnya sangat berminyak sehingga pada waktu dia menukik ke dalam laut untuk menyambar ikan, ia tidak tenggelam. Dia dapat keluar dengan bulu yang kering dan mengkilat sebab berlumuran minyak. Kitapun perlu mempunyai waktu persiapan setiap hari. 1. Persiapan dalam berkata-kata. Yes 50:4 "Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. " 2. Persiapan untuk mendengar. Yes 50:5 "Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. " 3. Persiapan untuk menderita. Yes 50:6 "Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi." Biarlah kehidupan kita diurapi kembali oleh Roh Kudus agar tantangan dan bahaya tidak akan mencelakakan kita. Persiapan-persiapan itu adalah untuk memampukan kita terbang tinggi hari lepas hari.

"BAGAIMANA MENGHADAPI PENCOBAAN CARA ALKITAB" Yak 1:2-4 ‖Saudara-saudaraku, anggaplah sebagaI suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu
85

menghasilkan ketekunan.l:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.‖ Orang percaya memang sering menghadapi pencobaan yang sulit dirasakan. Itu adalah bagian dari kehidupannya-Yak 2:2-2:26 (Baca ya?). 1 Ptr 1:7 – ―Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.‖ 1 Ptr 4: 1-19 (Baca Iho ya! Rame-rame boleh). 1 Kor 4:9-13 (Kalau anda membaca jadi kuat deh). 2 Kor 6:3-10 (Kalau anda rriembaca pasti terhibur). 2 Kor 11:23-33 (Ayo baca, jangan malas!). 2 Kor 12:7 - "Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. "-Tujuannya menjaga kita dalam kerendahan hati. Tiap pencobaan ada tujuannya: Rm 5:3-5 – ―Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati, kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.‖ Surat Yakobus ditulis kepada 12 suku yang tercerai-berai oleh karena mereka mengalami penjajahan-penjajahan oleh berbagai bangsa berganti-ganti. Suku-suku itu tersebar di berbagai kota di Eropa, Asia, dan Afrika. Mereka tetap menganut hukum mereka sendiri, memiliki rumah-rumah sembahyang, dan tetap terpisah dari penduduk yang lain. Perkataan salam dari Yakobus bahasa aslinya dari Bahasa Gerika: chairo, mengandung pengertian sukacita (joy), bersukacitalah (rejoice); salam atau selamat (hail) diberkatilah. Itu adalah bentuk salam kuno yang mengharapkan atau memujikan kesehatan dan kemakmuran (health and prosperity). Salam ini menghangatkan hati dan menguatkan orang-orang yang tercerai-berai, kadangkadang terisolirdan sering teraniaya atau menghadapi pencobaan dan kesusahankesusahan. Surat itu dibuka dengan nasihat yang sangat baik apabila menghadapi pencobaan. Coba kita lihat, sebab hal ini sangat kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kita yang hidup di jaman akhir ini banyak yang stress, dll. Nasihat firman berlaku abadi, tepat untuk saat ini juga. Berbagai pencobaan, Bahasa Gerika: Peirasmos. Pengertiannya adalah pencobaan, serangan, diberikan untuk membuktikan sesuatu (yaitu iman), untuk meneliti (kesungguhan kita), pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan. Pencobaan macam apa saja, tidak mesti pencobaan untuk berbuat dosa. Pencobaan menguji kepercayaan dan iman kita, dan menguji kepribadian kita apakah kita berdiri atas kebenaran dan apakah kepercayaan kita teguh, dan apakah iman kita murni. Ujian melahirkan kesabaran, dan kesabaran mengerjakan kesempurnaan. A. Kita dinasihati agar mengangap sebagai suatu kebahagiaan apabila jatuh ke dalam berbaqai pencobaan. Yak 1:2 – ―Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan" Jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Kata Jatuh berasal dari Bahasa Gerika: peripipto, yang artinya adalah terjebak ke dalam (to fall into atau to be caught by). Jadi pada dasarnya kita tidak mencari pencobaan, tetapi ketemu, seperti misalnya terjebak
86

banjir. Tidak diduga, kita ketemu banjir, bahkan bisa terkurung d dalamnya. Lalu tentu saja kita mencari jalan keluar. Bahkan di dalam ayat ini disebut berbagai pencobaan. Memang, sering masalah dan pergumulan yang kita hadapi bermacam-macam. Tetapi Firman Tuhan mengatakan: ―Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan" Jadi Tuhan ingin pada saat kita menghadapi berbagai pencobaan jangan takut, kuatir, stres, marah, kecewa, sedih, tertekan. Tetapi bahagia, jadi harus senyum. Bukan sombong! Bukan senyum orang yang kelewat bingung atau terganggu ingatan,tetapi senyurn sebab penyerahan diri kepada Allah, sebab percaya kemampuan dan kekuatan Allah. Kita tidak perlu tertekan atau sedih dan kacau, sebab hal-hal tersebut dapat mengubah keadaan. Supaya kita bisa bahagia, kita perlu mengucap syukur saat menghadapi berbagai pencobaan. Memang manusiawi apabila kita mengeluh atau sedih saat menghadapi berbagai pencobaan. Tetapi Rasul Paulus berkata bahwa kita adalah lebih daripada seorang pemenang (Rm 8 :37). Kasih Yesus yang membuat kita mampu. B. Mengapa kita menganggap sebagai suatu kebahagiaan apabla kita menghadapi berbagai pencobaan? Yak 1:3- ―Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.‖ 1. Sebab pencobaan itu merupakan ujian terhadap iman. Pencobaan dipakai oleh Iblis untuk menjatuhkan kita. Pencobaan dipakai oleh Tuhan untuk menguji iman kita. Tujuan iman diuji adalah: mengangkat kita ke level yang lebih tinggi. a. Membuktikan kesungguhan dan kualitas dari iman itu. b. Meningkatkan iman agar lebih tertanam kepada Kristus, apapun yang terjadi. 2. Sebab saat kita menghadapl pencobaan, kita dilatih ketekunan. Ketekunan merupakan buah yang dihasilkan oleh adanya pencobaan yang dihadapi, sebab orang tersebut berusaha untuk dapat mengatasi atau menyelesaikan. Makin bermacammacam masalah dan pergumulan yang dihadapi, makin orang tersebut belajar tekun. Bahkan orang tersebut akan ditempa keuletannya dalam perjuangan untuk survive dan menang. Di situ mental dan kepribadian kita ditempa, menjadi kuat, tekun, ulet, tidak mudah putus asa. 3. Yak 1:4 –“Dan biarkanlah ketekunan ituu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Wah, apabila kita menghadapi pencobaan dengan rasa bahagia, rasa syukur, kita akan kuat dan tabah dan akan dibawa kepada kesempurnaan. A. Ketekunan menghasilkan buah yang matang. Artinya rohani kita bertumbuh, didewasakan melalui pergumulan dan pencobaan. B. Supaya kamu menjadi sempurna. Iman dan kepribadian kita disempurnakan lewat pergumulan dan pencobaan.Ada 6 hal mengenai kesempurnaan: B.1. Pekerjaan yang sempurna tentang kesabaran.Yak1:4. Usaha yang sempurna tentang kesabaran. Kesabaran jadi sempurna. B2. Pengetahuan yang sempurna. Flp.3:15. Melalui pergumulan dan pencobaan pengetahuan kita dibuat sempurna, misal pemahaman mengenai pribadi Allah dan jalan-jalan Allah. B.3. Karunia atau pemberian yang sempurna.Yak 1:17. Di dalam menghadapi pencobaan melalui pergumulan-pergumulan, Tuhan memberikan kepada kita karunia-karunia yang sempurna, kita diperlengkapiNya dari tempat yang Mahatinggi. Tuhan makin menambah karuniaNya. B.4 Hukum kemerdekaan yang sempurna. Yak 1:25. Supaya bisa mampu menghadapi pergumulan dan pencobaan, kita perlu menetiti hukum Tuhan yang sempurna. Pemahaman akan firmanNya akan memerdekakan kita. Melalui pergumulan dalam pencobaan, kita mengalami firmanNya.

87

FirmanNya akan membuka wawasan bagi kita bagaimana menghadapi dan mengatasi masalah. FirmanNya akan memberi petunjuk-petunjuk kepada kita, oleh kuasa Roh KudusNya. Bacalah Firman, renungkan, cari petunjuk Allah di dalamnya. Pengertian akan FirmanNya akan membebaskan roh dan jiwa anda dari belenggu masalah. B.5. Iman yang sempurna oleh karena pengendalian diri. Yak 2:22 –―Kamu lihat bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.‖ (Perfect faith by works). Iman perlu dinyatakan dalam perbuatan. Tanpa perbuatan iman mati. Iman menjadi sempuma, oleh karena dikerjakan oleh perbuatan. Hendaknya Firman Tuhan betul-betul bisa menjawab masalah oleh karena iman, dan Firman Tuhan diterapkan dalam praktik kehidupan. Kita menghadapi persoalan kita dan menyelesaikan dengan iman. Yak 2:17 – ―Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati‖. B.6. Manusia yang sempuma oleh karena pengendalian diri. Yak 3:2 – ―Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal, barangsiapa tidak bersalah dalam parkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.‖ Pada saat pergumulan-pergumulan dan pencobaan terjadi, biasanya apa yang sulit untuk kita kuasai? Lidah dan bibir kita, itulah yang cepat sekali untuk bereaksi. Kita cepat menanggapi pencobaan dengan keluhan. Kadang-kadang ungkapan kecewa atau jengkel langsung keluar dari bibir lidah kita. Lalu bagaimana agar kita menjadi manusia yang disempumakan melalui pencobaan dan persoalan yang kita alami? Kita harus merubah ucapan bibir kita dari keluhan menjadi ucapan syukur. Kita harus merubah ucapan rasa kecewa kita atau kejengkelan kita dengan memberkati, menasihati, memotivasi, bila pergumulan kita tentang anak, misalnya. Kita harus merubah semua pertanyaan di hati kita dengan memuji Tuhan. Yuk kita belajar terus. Dengan demikian ucapan kita akan terkendali. Tuhan sumber damai memberi damai yang melimpah di hati saudara. Amin. "MENJADI MURID YANG SEJATI" Luk 14:25-32 "Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian." Apabila kita ingin menjadi murid yang sejati kita harus mengambil langkah iman. Tuhan Yesus dikerumuni oleh orang banyak. Mereka datang berduyun-duyun mengikut Dia. Dan Yesus memberi komentar agar barangsiapa mengikut Dia harus memikul salibnya. Bagaimana situasi jumlah yang besar pada umumnya? Jumlah yang besar itu oke-oke saja
88

tetapi Yesus tidak terkesan dengan jumlah yang besar. Sebab jumlah yang besar itu sering datang dan pergi. Kadang-kadang mereka bisa berbalik menentangmu. Yesus turun ke dunia tidak membangun kerumunan orang yang banyak tetapi Dia membangun gerejaNya. 1. Dia menjalankan agenda surga dengan cara kasih dan menjelaskan kepada mereka inilah rencanaNya. Dengan kata lain sepertinya Yesus mengatakan: "Aku yang akan menjadi nomer satu dalam hidupmu" Luk 14:28 - "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. " 2. Tuhan menghendaki kita memikui salib kita sambil mengikut Dia. Luk 14:27 Apakah salib itu? Salib itu adalah instrumen kematian. Yaitu alat untuk mematikan kita. Kita hanya bisa mati apabila mau menyerahkan segalanya bukan separuh, bukan 90% tetapi segalanya. Tuhan Yesus tidak menekan kita sehingga penyerahan kita menjadi suatu beban yang berat, tetapi Tuhan Yesus menyatakan hukum untuk mengikut Dia. Seseorang yang mengikut Yesus dengan penyerahan total harus menyadari bahwa itulah komitmen yang dia ambil dan dia akan menjalaninya dengan sukacita. Ada satu garis yang tinggi yang dituntut oleh Tuhan untuk komitmen kita. Tuhan seolaholah berkata demikian: "Jikalau Aku hanya memiliki 12 orang Aku akan bisa mengubah dunia ini hanya dengan yang 12 orang itu." Apabila anda ingin menjadi murid Tuhan asingkan dirimu dari kerumunan orang banyak untuk menjadi seorang murid yang sungguh-sungguh komitmen. POTRET SEORANG MURID YANG KOMITMEN Ada lima aspek dari murid yang komitmen. 1. Dia komitmen untuk memiliki saat teduh dengan Tuhan Yesus. Dia membangun hubungan melalui penyembahan dan itu bukan hanya menyanyi setiap Minggu pagi di gereja. Itu harus menjadi penyembahan seumur hidup kita. Tuhan itu bukan mengejar penyembahan kita tetapi Tuhan mengejar kita. Dia menginginkan penyembah. Yoh 4:23,24 - "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembahpenyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. " Hubungan kita akan mengalir melalui penyembahan yaitu penyembahan yang keluar dari dasar hati yang akan menyentuh hati Allah, dengan iman 2. Mereka ada di dalam persekutuan kasih dengan sesamanya. Kita perlu terlibat di dalam persekutuan kamunitas dari rumah ke rumah. Kita tidak bisa membangun persekutuan yang akrab di dalam ibadah-badah hari Minggu saja sebab hal itu hanya merupakan hubungan yang dangkal. Kita tidak bisa sungguh-sungguh saling memperhatikan di dalam ibadah. Di dalam ibadah kita memang saling melayani tetapi kita akan melayani kebutuhan mereka secara mendalam pada saat bertemu dari rumah ke rumah. Kis 2:41-47; Kis 4:32-37. Apabila kita hanya hadir dalam ibadah raya kita tidak memiliki pertanggungjawaban mengenai apa yang kita dengar dari Firman Tuhan. Kita perlu sekali memiliki keluarga kecil di mana kita dapat memperhatikan satu dengan yang lain. Seorang murid akan membangun hubungan. Kerumunan orang banyak itu kadang-kadang mengikuti jalannya sendiri. Apalagi bila kerumunan orang banyak itu tersinggung atau merasa dikecewakan. Apabila ada seseorang yang melukaimu pergi selesaikanlah dengan orang itu. Apabila tidak mempan panggillah orang ketiga. Mat 18: 15-20.
89

3. Seorang murid memiliki hati hamba. Mat 20:28 - "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. " Mrk 10:45 - "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Dia tahu bagaimana mengembangkan karunia-karunia. Kalau kita memiliki orientasi yang egois terhadap hidup kita itu akan merusakkan hidup kita sendiri. Seorang murid akan menghancurkan orientasi yang egois dalam dirinya dan mulai melayani. Kita perlu menanggapi kebutuhan orang dengan mengatakan apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain. Sebagai murid kita juga perlu mengatakan apa yang bisa saya berikan kepada gereja. Orang-orang Kudus Vs Setan-setan. Ada yang melakukan segala sesuatu dengan banting tulang tetapi ada yang lain duduk santai tidak melakukan apa-apa. Kadang-kadang diadakan simulasi, presentasi, praktek di kelas mengalami pengalaman indah tetapi tidak mau pergi melakukan penjangkauan. Kadang-kadang ada yang saling memukul, saling bertengkar untuk banyak hal makanya tidak mencapai kemenangan. Di dalam hal ini 5 jawatan rohani harus melengkapi. Semua orang diwadahi dalam tugastugas mengalahkan musuh. 4. Seorang murid adalah seorang pemberi yang murah hati. Luk 14:28-30. Mereka demikian dicengkeram untuk hal-hal yang ada kepentingannya dengan Yesus. Segala sumber baik daya dan dana dipersembahkan dengan senang hati dan dengan limpah asal kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita miliki datang dari Tuhan. Mestinya kita akan rela mengembalikan kepadaNya semaksimalnya. Untuk hal ini hanya diperlukan perubahan paradigma atau pergeseran dalam cara berpikir. Karena sebenarnya semuanya datangnya dari Tuhan. 5. Seorang murid sangat bergairah untuk menginjil. Dia akan menularkan penginjilan kepada orang-orang lain. Dia memiliki hati yang sepenuhnya ingin memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dia memiliki sukacita yang lebih bila bisa memperoleh satu orang lebih dari segalanya. Karena satu orang yang bertobat ada sukacita di surga dan seluruh malaikat di surga bersukacita. Prioritas surga adalah menyelamatkan yang terhilang. Marilah kita menjadi mata rantai yang di tengah atau mata rantai penyambung dan janganlah kita menjadi mata rantai yang hilang. Bagian dari petualangan besar mengasihi jiwa-jiwa adalah menjadikan jiwa-jiwa itu orang-orang percaya dan menjadi murid Yesus. Dengan adanya mata rantai-mata rantai pemuridan impaknya akan sangat besar kepada dunia yang terhilang. Seberangilah garis itu. Mulailah bangun hubungan-hubungan. Jadilah salah seorang yang paling penuh menjadi murid Yesus. Kita hanya memiliki satu kehidupan untuk kita jalani. Yesus ingin kita menjalaninya sepenuhnya. Sasaran kita adalah memberi dan tidak sekedar menerima. Luk 8:38 - "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. " Yoh 10:10 - "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. " Adalah di dalam memberi bahwa kita akan menerima. Hubungan kita dengan Yesus tidak didasarkan atas rutinitas tetapi perlu dibakar lagi dan diisi lagi, melalui pergaulan karib denganNya. Nikmatilah kehadiranNya setiap hari di dalam hidupmu dengan pujian penyembahan dan merenungkan firmanNya.
90

"JATUH CINTA DENGAN TUHAN" Keinginan-keinginan di dalam hati kita akan sesuatu bisa membutakan kita. Hendaknya kita memperhatikan apakah keinginan-keinginan itu akan membawa kita kepada hal yang positif atau negatif. Kita perlu minta kepada Tuhan keinginan untuk mengenal Dia dan mengasihi Dia. Kita perlu ingin mencintai apa yang Tuhan ingini. Apa yang Tuhan ingini atau yang Tuhan mau adalah yang terbaik. Tanpa kita sadari kesibukan-kesibukan dapat membuat cinta kita kepada Tuhan luntur. Belajar mendengar suara Tuhan setiap haripun tidak merupakan jaminan bahwa cinta kepada Tuhan masih ada di dalam hati. Banyak berkat juga bukan jaminan cinta Tuhan ada di hati. Urapan dan karuniapun bukan jaminan mengenai hal itu. Bagaimana hal ini dapat kita pahami? Walaupun semuanya itu lancar tetapi tanpa keintiman dengan Tuhan tidak merupakan jaminan bahwa kita mengasihi Tuhan. Sebagai misal di dalam doa seringkali kita berkomunikasi dengan Tuhan seperti bisnis. Alkitab mengatakan bahwa cinta itu kuat lebih dari maut. Henokh berkenan kepada Allah. Daud juga berkenan kepada Allah. Apabila kita mempunyai iman kita berkenan kepada Allah. Ibr 11:6 - "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" Tanpa dasar kasih semuanya akan sia-sia. Kita akan melihat catatan Alkitab bahwa Henokh berkenan kepada Allah. Tetapi Alkitab tidak mencatat Henokh melakukan suatu karya. Sepertinya ia tidak berbuat apa-apa. Jadi kemungkinan dia hanya hidup sebagai orang biasa, mencari nafkah, bertanggungjawab untuk keluarga. Tetapi dia bergaul dengan Allah, dia intim dengan Allah. Itulah sebabnya Allah berkenan kepadanya. Daud berkenan kepada Allah. Apakah dia sempurna? Tidak. Ada yang lebih hebat dari Daud tetapi dia berkenan kepada Allah. Dia bergaul atau intim dengan AIlah. Yesus melayani hanya.3 1/2 tahun tetapi la berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah tidak tergantung lama pelayanan dan tidak tergantung apakah tiap hari berada di Bait Allah. Yesus bergaul karib dengan Allah, Henokh berjalan dengan Tuhan, Daud dekat dengan hati Tuhan. Yesus bangun pagi dan bersekutu dengan Bapa. Kita ingat peringatan Tuhan kepada Sidang Jemaat di Efesus. Why 2:1-7. Sidang Jemaat di Efesus giat melakukan banyak kegiatan; banyak program, mereka bersusah payah dan tekun, mereka mempunyai karunia membedakan roh, mereka juga sabar di dalam penderitaan karena nama Yesus. Tetapi Yesus mencela mereka karena mereka kehilangan kasih yang mula-mula dan Tuhan juga memperingatkan bila mereka tidak kembali kepada kasih yanq mula-mula khaki diannya akan disingkirkan dari mereka. Mereka tidak lagi hidup di dalam terang dan tidak lagi bisa membawa terang itu kepada dunia ini. Cinta tidak bisa dibuat-buat cinta tidak bisa diukur dengan tari menari, lompat melompat, semangat dan sorak sorai. Jemaat bisa kehilangan cinta kepada Tuhan oleh karena penyelewengan dari fokus di dalam kehidupannya. Kita tidak bisa membangkit-bangkitkan cinta itu tetapi kita hanya bisa meminta cinta itu. Mintalah kepada Tuhan supaya cinta mula-mula kita dipulihkan. Cinta memberi kekuatan tatkala kita berada di dalam kesesakan. Mintalah, rindukanlah dan menjeritlah kepada Tuhan untuk beroleh cinta kepada Tuhan. Kis 13:7-22 Ayat 22 - "Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang
91

berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. " Daud berkenan. di hati Allah sebab dia melakukan kehendak Allah. Sebaliknya Saul tidak berkenan kepada Allah sebab dia tidak taat. Tidak melakukan apa yang diperintahkan, melanggar apa yang dilarang, mengikuti kemauan sendiri. Dengan kata lain dia menyeleweng atau memberontak tetapi sukar dinasihati. Tanda seseorang mengasihi Tuhan adalah taat kepadaNya. Yoh 14-15 – ―Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu. " Hak 3:1-6 - "Inilah bangsa-bangsa yang dibiarkan TUHAN tinggal untuk mencobai orang Israel itu dengan perantaraan mereka, yakni semua orang Israel yang tidak mengenal perang Kanaan. -- Maksudnya hanyalah, supaya keturunan-keturunan orang Israel yang tidak mengenal perang yang sudah-sudah, dilatih berperang oleh TUHAN. Yang tingqal ialah kelima raja kota orang Filistin dan semua orang Kanaan, orang Sidon dan orang Hewi, yang mendiami pegunungan Libanon, dari gunung Baal-Hermon sampai ke jalan yang menuju ke Hamat. Mereka itu ada di sana, supaya la mencobai orang Israel dengan perantaraan mereka untuk mengetahui, apakah mereka mendengarkan perintah yang diberikan TUHAN kepada nenek moyang mereka dengan perantaraan Musa. Demikianlah orang Israel itu diam di tengah-tengah orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Mereka mengambii anak-anak perempuan, orangorang itu menjadi isteri mereka dan memberikan anak-anak perempuan mereka kepada anak-anak lelaki orang-orang itu, serta beribadah kepada allah orang-orang itu. " Mengapa orang Kanaan masih disisakan? Pertama supaya mereka berlatih berperang. Kedua Tuhan ingin melihat apakah mereka mendengarkan petintah Tuhan dan melakukannya atau tidak .Ternyata umat Israel khususnya keturunan yang tidak ikut berperang dulu tidak taat. Akibatnya biasanya mereka dijajah dan ditekan oleh bangsabangsa yang ada di sekitarnya. Namun apabila mereka berteriak minta tolong Tuhan akan membangkitkan mereka kembali melalui hakim yang Tuhan angkat. Kita akan melihat jenis- jenis orang percaya. 1. Ada kelompok orang percaya yang menerima atau mempunyai janji Allah tetapi tidak bisa menikmatinya. Dia sering mendengar nubuat tetapi tidak mengalami apa yang dijanjikan. 2. Orang percaya yang berperang dan berhasil membuat penaklukan-penaklukan tetapi tidak tuntas. Di dalam dirinya masih banyak sisa-sisa musuh-musuh iman. Di dalam dirinya dia terus menerus berperang dan tidak menikmati damai sejahtera. 3. Ada kelompok orang percaya seperti pada zaman hakim-hakim yang santai-santai, ibadah tidak sungguh-sungguh bahkan mungkin tidak ibadah, tidak mempunyai cinta kepada Tuhan. Dia tidak tahu panggilannya, tidak tahu apa yang Tuhan mau supaya dia lakukan. Dengan kata lain tidak punya tujuan hidup. Ini adalah jenis-jenis orang percaya yang belum memenuhi apa yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita bergaul karib denqan Dia, taat kepadaNya, menikmati janji- janjiNya, hidup berkemenangan dan mengalami damai sejahtera di dalam hati walau tetap ada tantangan. Tiap orang mempunyai panggilan di dalam hidupnya. Tuhan mau kita semua mencapai target dari panggilan kita masing-masing. Kesaksian: Ada seorang pendoa syafaat di bukit doa Ungaran. Pada saat dia berdoa Tuhan memberitahu mengenai seseorang di Cina secara mendetil. la tidak mengenal orang tersebut dan ia sendiri belum pernah pergi ke Cina. Tetapi dia berdoa syafaat memerangi roh-roh kegelapan di sekitar orang tersebut. Ternyata di Cina di suatu desa ada orang yang sedang sakit. Dia didatangi seorang malaikat dan disembuhkan Tuhan. Melalui kesaksian
92

orang ini penduduk di desa itu bertobat. Malaikat itu menjelaskan bahwa dia datang oleh karena doa syafaat seorang pendoa di bukit doa Ungaran dan disebutkan nama pendoa itu. Hal ini luar biasa sekali. Peristiwa seperti di dalam kitab Kisah Para Rasul terulang kembali. Dalam perintisannya di Pulau Rote Pdt. Yeremia Selan banyak berdoa dan berpuasa. Oleh petunjuk Roh Kudus dia disuruh berjalan di suatu kampung melewati hutan. Di sana ternyata ada sebuah pondok kecil dan ada orang yang terbaring sakit serta mengerang. Bapak Yeremia mendoakannya dan tekun melawatnya. Orang tersebut sembuh. Itulah asal mula perintisan di desa Lekik di Pulau Rote. Demikian juga dialami oleh ibu Mary di dalam perintisan-perintisannya. Semua dilakukannya berdasarkan mendengar suara Tuhan dan itu terjadi pada saat Ibu Mary bersekutu dengan Tuhan di dalam doa, kadang-kadang pada saat berdialog dengan Tuhan di kamar mandi, di kamarnya, di mobil dalam perjalanan atau pada waktu ibadah dan puasa. Lakukan tugas dalam panggilanmu dan capailah sasaran yang Tuhan berikan padamu. Ingat tiap-tiap orang mempunyai panggilan di dalam hidupnya. Berdirilah di tempat panggilan saudara, jangan berdiri di tempat orang lain. Kita tidak perlu berebutan mengenai posisi atau jabatan. Tetapi secara korporat masing-masing setia kepada panggilannya sampai mencapai penggenapan. Pemusik dan pemuji perlu belajar mendengar suara Tuhan. Dia perlu mengetahui isi hati Allah dan kehendakNya sehingga dia tidak akan mencari lagu atas kemauan sendiri dan yang memuaskan dirinya. Dia perlu mendengar kehendak Tuhan sehingga musik dan lagu itu memuaskan hati Tuhan. Hati-hati apabila kita tidak berdiri di tempat kita sendiri. Tahukah anda apa akibatnya jikalau kita tidak berdiri di tempat kita sendiri? Setiap orang yang tidak berdiri di tempatnya sesuai dengan panggilannya dia mengganggu kehendak Allah, menginterupsi agenda Allah dan harus dikebaskan dari tubuh Kristus. Apabila manusia atau organisasi tidak bertindak sekalipun Tuhan yang akan bertindak. Demikian juga mengenai dosa. Apabila seseorang di dalam panggilannya sengaja berbuat dosa walau manusia atau organisasi tidak bertindak Tuhan akan bertindak. Mengenal dan Mengetahui Tempat Kita Mengenal dan mengetahui tempat kita di dalam panggilan sangat penting. Orang yang mengenal dan tahu tempatnya di dalam panggilannya diperkenan Tuhan, contohnya seperti Daud. Umat Israel yang sudah mendiami tanah Kanaan jatuh bangun dalam kehidupan rohaninya dan mereka menginginkan seorang raja. Tetapi kita melihat apa jadinya. Kita bukan hanya perlu tahu tempat panggilan kita, kehendak Tuhan atas kita tetapi kita juga perlu tahu waktu Tuhan untuk kita. Apa yang diminta orang Israel itu diberikan oleh Tuhan tetapi ternyata itu bukan yang terbaik. Mereka mendapat seorang pemimpin yang diangkat sebagai raja yang pertama yaitu Saul. Sebenarnya Saul bisa menjadi yang terbaik apabila dia terus menerus menempatkan diri di tempat yang tepat dan terus menerus di dalam ketaatan. Sayang sekali dia menjadi orang yang tidak taat. Saul baik pada permulaannya tetapi buruk pada akhirnya. Tuhan mau memberi yang terbaik untuk kita di dalam panggilanNya. Hal itu memerlukan tanggung jawab kita untuk terus menempatkan diri di tempat yang Tuhan tentukan dalam panggilan. Terus berjalan di dalam ketaatan dan memegang waktu Tuhan atau agenda Tuhan. Belajarlah untuk mengetahui waktu Tuhan di dalam panggilan anda. Demikian juga mengenai keluarga. Bagaimana untuk membimbing keluarga atau bagaimana untuk membangun serta memulai satu keluarga yang baru. Keluarga perlu belajar mendengar suara Tuhan dan saling mengkomunikasikan apa yang didapat dari Tuhan. Seseorang perlu mengambil keputusan atau melangkah berdasar tiga hal: kehendak Tuhan, waktu Tuhan dan cara Tuhan. Orang tua perlu mendoakan anak-anak dan memberkati anak-anak. Doa dan berkat orang tua ini memagari anak-anak supaya Iblis tidak mencuri kesempatan. Melalui doa Tuhan akan membangun benteng dan melindungi mereka. Orang tua juga perlu melatih iman anak-anak agar supaya anak-anak ini dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan, dapat bertumbuh dan mengalami Tuhan secara nyata tanpa
93

mengabaikan otoritas orang tua. Kembali kepada Daud, dia adalah seorang yang menggenapi kehendak Tuhan di dalam menaklukkan semua bagian kerajaan yang Tuhan berikan sebagai bagian untuk ditaklukkan. Beberapa hal yang perlu kita taklukkan: 1. Daging atau ego kita. Kemauan atau kehendak kita sendiri harus ditaklukkan dengan cara melatih penundukan yang terus menerus kepada Allah melalui FirmanNya. 2. Iblis harus kita taklukkan. Iblis ini sering menyerang jiwa yaitu pikiran, perasaan dan kemauan. Dia sering memberikan ide-ide palsu yang nampaknya baik dan menguntungkan diri kita. Maka kita harus berhati-hati sebab Iblis bisa menyerang, membujuk, bertipu daya bahkan bekerja sama dengan ego kita. Iblis juga menyerang, menduduki atau menguasai pribadi, keluarga, sebuah tempat misalnya kamar, rumah, desa, kota, daerah, wilayah, negara. Itulah sebabnya perlu keterbukaan di dalam satu keluarga. Jangan ada yang ditutup-tutupi antara anak dan orang tua, masingmasing perlu terbuka terhadap koreksi dan teguran-teguran. 3. Pengaruh dunia perlu ditaklukkan. Apa yang kita tonton, apa yang kita dengar, ke mana kita pergi, waktu yang kita pakai semua sangat perlu diatur, didisiplin di dalam penundukan kepada Tuhan, kepada FirmanNya dan Roh KudusNya. Shopping boleh tetapi di bawah kontrol Tuhan. Jalanjalan OK tetap jaga hubungan dengan Tuhan. 4. Pelayanan perlu ditaklukkan di bawah kaki Tuhan. Kita tentu terkejut kalau pelayanan termasuk hal yang harus ditaklukkan. Apa sebabnya? Sebab pelayanan bisa menjadi lembah kesibukan tanpa pengurapan, penyertaan atau perkenan Tuhan. 5. Rumah tangga perlu ditaklukkan di bawah penguasaan Tuhan. Yesus adalah kepala rumah tangga yang tidak kelihatan. Pemegang otoritas utama dalam rumah tangga adalah ayah. Ayah atau bapak di dalam satu keluarga perlu menyadari bahwa Kristus adalah kepala dalam rumah tangga yang dipimpinnya. Maka seorang ayah perlu lebih dulu dalam penundukan kepada Kristus dan dia harus membawa istri dan anakanaknya di dalam penundukan kepada Kristus. Tetapi ternyata kita menemui di kebanyakan rumah tangga artinya dalam prosentase terbesar rumah tangga seorang ayah atau bapak tidak menjalankan fungsinya dengan benar. Apakah dengan demikian ibu dapat mengambil alih otoritas di dalam namah tangga? Dia tidak bisa mengambil alih otoritas tetapi dia bisa bertindak sebagai penolong bagi suami untuk memberlakukan otoritas Kristus di dalam rumah tangganya. Dia perlu mengajak anak-anaknya untuk membangun mezbah di dalam keluarga dengan tetap menghargai suami yang tidak menjalankan otoritasnya sebagaimana mestinya. Apa yang menyebabkan Allah berkenan kepada Daud 1. Daud adalah seorang pendoa dan penyembah. Seorang pendoa dan penyembah selalu merindukan hadirat Tuhan. Tuhan sangat berkenan bila umatNya merindukan Dia. 2. la seorang prajurit. Seorang prajurit itu sejajar dengan hamba. Dia berhati dan berjiwa hamba dan telah membuktikan diri sebagai prajurit yang baik. Seorang prajurit yang baik selalu taat dan berada di dalam penundukan kepada komandannya. 3. Dia menaklukkan segala sasaran yang ditargetkan. Dia adalah prajurit yang selalu menang dan berhasil. Tuhanpun menghendaki kita agar berhasil di dalam penaklukan-penaklukan. 4. Dia juga berkarunia nabi. Di dalam panggilan dan pelayanannya dia tahu kedudukannya di hadapan Tuhan, dia dekat dengan Tuhan dan apa yang dia dapat dari Tuhan disampaikannya kepada umatNya. 5. Dia hidup di dalam pengurapan yang melimpah. Pengurapan yang melimpah ini dia dapat melalui doa dan pujian serta penyembahan. Dia berdoa tiga kali sehari dan memuji-memuji Tuhan tujuh kali sehari.
94

6. Dia memiliki hikmat, marifat dan kuasa. Ini semua merupakan pemberian dari Roh Kudus di dalam dirinya. Kedekatannya dengan Allah memberi pencurahan Roh Kudus kepadanya. 7. Dia memiliki ikatan perjanjian dengan Tuhan dan memiliki visi. Orang yang memiliki ikatan perjanjian dengan Tuhan hidup di dalam kasih karunia Tuhan dan orang yang memiliki visi memiliki sasaran untuk dicapai. Tanpa visi menjadi liarlah umat. "BERDOA UNTUK BANGSA" Yer 42:10-13 "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau. TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang la membangkitkan semangatNya untuk bertempur, la bertempik sorak, ya, la memekik, terhadap musuh-musuh-Nya la membuktikan kepahlawanan-Nya. " Ada kuasa dalam pujian untuk pemulihan, ada kuasa dalam pujian untuk menaklukkan bangsa-bangsa. Nyanyian tentang kemenangan akan berkumandang untuk membebaskan bangsabangsa dari belenggu-belenggu mereka. Kej 25:12-18 Negara yang terdiri dari pulau-pulau yang terbanyak adalah Indonesia. Kurang lebih ada 17.000 pulau. Penduduk bumi di Indonesia ini termasuk ranking 4. Why 7:9-10 - "Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"" Suatu ketika semua kita akan berdiri di hadapan Anak Domba tidak terkecuali, dari segala bangsa, suku, bahasa dan kaum semua akan ada di hadapan tahta Anak Domba. Nantinya semua juga akan diadili berdasarkan semua perbuatan mereka dan akan diteliti siapa yang tidak tercatat di dalam buku kehidupan. Bayangkan betapa besar jumlah orang yang akan binasa apabila mereka tidak bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Mat 7:9 - "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti" Kalau kamu minta roti atau rejeki Tuhan akan memberikannya. Demikian juga apabila engkau minta bangsa dan suku bangsa Tuhan akan memberikannya. Mzm 2:8 - "Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu." Bangsa-bangsa akan menjadi milik pusaka bahkan dari ujung bumi yang satu sampai ke ujung bumi yang lain. Kita perlu berdoa syafaat untuk keselamatan bangsa Indonesia yang berdiam di pulau-pulau, di kota-kota dan di desa-desanya, di pegunungan dan di lembahlembahnya serta yang ada di pantai-pantainya. Juga akan lebih baik apabila kita menyebutkan pulau-pulau atau daerah-daerah serta kota-kota secara spesifik supaya Tuhan
95

beracara di sana. Kej 18:20,21 - "Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya. "" Di atas muka bumi ini banyak doa sampai ke telinga Tuhan. Banyak keluh kesah sampai ke telinga Tuhan. Apa yang akan kita bawa kepada Tuhan. Doa atau keluh kesah. Keluh kesah ada di dalam hati orang yang menderita oleh karena lingkungan atau keadaan. Tetapi doa dipanjatkan untuk menyelamatkan orang dari keluh kesah mereka. Mari kita berdoa untuk kota kita, daerah kita dan negara kita yang sangat berkeluh kesah oleh karena permasalahan-permasalahan atau kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya. Apakah kita pikir desa-desa dan kota-kota kita itu aman-aman saja. Ecstasy atau obatobatan terlarang sudah tersebar di mana-mana. Tahun 2000 satu di antara dua ratus orang terkena AIDS. Masih ditambah lagi dengan penderitaan karena kemiskinan dan pengangguran. Banyak generasi muda terbengkalai cita-citanya tetapi sebaliknya banyak lulusan akademik yang menganggur sebab tidak ada lapangan kerja. Sementara penderitaan terjadi karena penjajahan antara manusia dengan manusia, pemerkosaan, penculikan, kekerasan, dll. Di dalam Kej 18 ditulis mengenai Tuhan datang kepada Abraham. Mengapa Tuhan datang kepada Abraham? Sebab di Sodom dan Gomora itu ada keponakan Abraham yang bernama Lot. Jadi Tuhan memberi sinyal kepada Abraham sebelum Dia menghancurkan kota yang didiami Lot itu. Maka mulailah Abraham berdoa syafaat untuk keselamatan Sodom dan Gomora dan dia tawar menawar dengan Tuhan. Bagaimana dengan kita? Kita melihat saudara sebangsa dan setanah air sedang menderita maka kita harus bergandengan tangan untuk berdoa. Kita datang ke dunia dengan telanjang, matipun kita tidak bisa membawa apa-apa. Keselamatan jiwa itulah yang terpenting bagi kehidupan manusia. Itulah sebabnya kita perlu berdoa untuk pertobatan dan keselamatan saudara kita sebangsa dan setanah air. Apa yang kelihatan di peta Indonesia? Seringkali di daerah Kristen iman orang Kristen statis, tidak ada pergerakan dan tidak bisa dibanggakan. Jangan kita tertidur hanya dengan pemahaman diberkati dan hidup berkelimpahan. Diberkati tidak masalah, kitapun harus percaya bahwa kita akan diberkati dengan porsi yang cukup. Kita pasti selalu berdoa untuk berkat dan hidup berkelimpahan tetapi mari sekarang kita berdoa untuk sesuatu yang besar dengan porsi yang besar yaitu untuk bangsa Indonesia. Untuk suku-suku bangsanya yang tersebar di belasan ribu kepulauan nusantara di Indonesia dan juga untuk keselamatan dan pertobatan bangsa-bangsa yang lain. Doa untuk bangsa, suku-suku bangsa dan bangsa-bangsa yang lain harus dipanjatkan secara korporat. Doa untuk porsi-porsi yang kecil cukup dilakukan secara pribadi tetapi untuk perkaraperkara besar harus sepakat secara korporat. Yes 62:6-9 - "Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintaipengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai la menegakkan Yerusalem dan sampai la membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi. TUHAN telah bersumpah demi tangan kanan-Nya, demi tangan kekuatan-Nya: "Sesungguhnya, Aku tidak akan memberi gandummu lagi sebagai makanan kepada musuhmu, dan sesungguhnya, orang-orang asing tidak akan meminum air anggurmu yang telah kau hasilkan dengan bersusah-susah; tetapi orang yang menuainya akan memakannya juga dan akan memuji-muji TUHAN, dan orang yang mengumpulkannya akan meminumnya juga di pelataran-pelataran tempat
96

kudus-Ku. "" Apa makna ayat-ayat ini bila kita terapkan dengan keadaan kita di Indonesia? Tuhan mengingatkan supaya orang percaya di Indonesia tidak tenang-tenang dan santai-santai. Orang-orang percaya di Indonesia harus menjadi pengintai-pengintai di menara jaga baik siang ataupun malam. Hal ini berarti bahwa kita harus memperhatikan, meneliti dan mengetahui keadaan negara kita serta menjadi pendoa syafaat baginya. Kita perlu menjadi pendoa syafaat bagi bangsa dan negara kita sampai pemulihan terjadi, sampai bangsa ini dapat menikmati hasil buminya, sawah ladangnya, hutan-hutannya, marga satwanya serta lautannya dengan limpah dan tidak kekurangan suatupun. Kita melihat dengan adanya bencana-bencana dan musibah-musibah mata dunia tertuju ke Indonesia. Bapa di sorga juga tahu kebutuhan-kebutuhan Indonesia. Tetapi Bapa di sorga senang apabila anakanakNya yang berada di Indonesia memohon pertolongan di dalam doa. Kita perlu menyediakan waktu-waktu khusus untuk berdoa bagi pemulihan dan keselamatan bangsa Indonesia dan itu menyenangkan hati Tuhan. "PRAJURIT DAN PAHLAWAN" 1 Sam 16:14-16 "Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN. Lalu berkatalah hamba-hamba Saul kepadanya: "Ketahuilah, roh jahat yang dari pada Allah mengganggu engkau; baiklah tuanku menitahkan hamba-hambamu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang dari pada Allah itu hinggap padamu, haruslah ia main kecapi, maka engkau merasa nyaman. "" Oleh karena dosa Saul Roh Tuhan mundur dari padanya sebaliknya roh jahat datang mengganggu dia. Di dalam ayat-ayat di atas dikatakan roh jahat itu dari pada Tuhan. Bagaimanakah pengertian yang sebenarnya? Apakah Tuhan mengutus roh jahat untuk mengganggu manusia? Pengertiannya tidak demikian. Tuhan pemegang otoritas yang tertinggi jadi kalau ada roh jahat yang mau mengganggu orang yang percaya itu harus seijin Tuhan. Contohnya kasus Ayub. Tuhan memberikan ijin kepada Iblis untuk mendatangkan pencobaan kepada Ayub. Konsekuensi dari mundurnya Roh Allah dari seseorang yaitu tiadanya penyertaan Allah bagi orang tersebut. Penyertaan Tuhan di dalam kehidupan seseorang sangat penting. Apabila kita ingin hidup di dalam penyertaan Tuhan hindarkanlah diri dari berbuat dosa dan hiduplah di dalam penundukan atau ketaatan. Apakah yang dialami oleh seseorang yang disertai Tuhan? Orang yang disertai Tuhan dibuatNya hidup orang itu berhasit walau ibaratnya kedudukan orang itu rendah sekalipun apa yang diperbuatnya dibuat Tuhan berhasil. Contoh Yusuf di dalam penjara. Kej 39:21-23 - "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasiL " Pada waktu ditaruh di tempat tinggipun, pada saat menjadi seorang raja muda tetap berhasil. Orang yang disertai Tuhan boleh dikata lewat api tidak terbakar, lewat banjir tidak hanyut. Yes 43:2 - "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui
97

api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. " Ingat riwayat Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Tuhan mengasihi ciptaanNya yang dibentukNya, yang sudah ditebusNya dan dipanggilNya menjadi kepunyaanNya sendiri. Jadi posisi sebagai orang percaya kepada Tuhan, menjadi milik Tuhan itu sangat penting. Dia istimewa, dia spesial, dia tidak semata-mata hanya sebagai makhluk ciptaan. Yes 41:10 –―janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan; bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. " Orang yang disertai Tuhan diteguhkan Tuhan, ditolong Tuhan, dia dipegang oleh tangan kanan Tuhan yang membawa kemenangan. Perlu diperhatikan bahwa orang yang disertai Tuhan bukannya tanpa masalah tetapi pada saat menghadapi masalah Tuhan menolongnya sehingga membuat dia tidak goyah. Menjadi Prajurit 1. Untuk menjadi prajurit seseorang perlu dilatih. Dia perlu memiliki penundukan terus menerus kepada komandannya dan kepada setiap otoritas yang mewakili komandannya. Sebagai contoh: Pada saat sepasukan prajurit diterjunkan di medan pertempuran sebagian ditugaskan sebagai pengintai, sebagian dijadikan orang yang memancing musuh, sebagian menjadi backing perlindungan. Walaupun yang dijadikan pemancing musuh itu menjadi umpan musuh dan sangat membahayakan nyawanya tetapi seorang prajurit harus selalu tunduk kepada perintah komandannya. Tuhan menghendaki kita bukan hanya menjadi pengikut-pengikut Kristus tetapi juga menjadi prajurit-prajuritNya. Sebagai prajurit Kristus apapun yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai otoritas tertinggi melalui FirmanNya dan melalui pemimpin-pemimpin rohani harus ditaati. Kita menjadi prajurit Kristus, sebagai prajurit kita pindah dari alam santai masuk ke dalam peperangan. Seorang prajurit Kristus perlu berjaga-jaga di dalam hidupnya dengan doa. Pada waktu malam, pada waktu dini hari, di mana kita secara tubuh lelah dan mengantuk tetapi apabila komandan menghendaki kita untuk berjaga dan berdoa kita harus tunduk. Lawan kita si Iblis sering menyerang pada saat kita terlena. Yesus adalah contoh prajurit yang baik. Flp 2:7,8 - "melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, !a telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. " Apakah persyaratan prajurit yang baik? Selain berlatih dia perlu mengosongkan diri. Tidak memikirkan kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Hidupnya hanya di dalam ketaatan menjalankan komando atau perintah dari komandannya. Komandannyalah yang memikirkan apa yang menjadi kebutuhannya. 2 Tim 2:3,4 - "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. " 2. Penundukan atau ketaatan. Seorang prajurit di dalam menjalankan tugasnya tunduk pada atasan. Entah perintahnya itu masuk akal atau tidak masuk akal ditaati. Seorang prajurit harus bergerak searah dengan perintah atasannya (Firman Tuhan) dan di bawah pimpinan Roh Kudus. Kesaksian: Seorang pekerja gereja lulusan sekolah Alkitab membantu hamba Tuhan di kota Baah, Pulau Rote. Pada suatu hari dia mendapat dorongan Roh Kudus untuk merintis sidang sendiri. Dia minta ijin kepada gembala sidang dan atas persetujuan gembala sidang dia memulai perintisan di desa Lekik dengan banyak berdoa dan berpuasa. Pada suatu hari dia mendengar suara Roh Kudus untuk berjalan di jalan yang sunyi dalam hutan. Dia taat. Akhirnya dia menemukan sebuah pondok dan di dalamnya ada orang yang terbaring sakit lurnpuh. Dia lawat orang ini dan didoakan setiap hari sampai orang tersebut sembuh dan
98

bisa berjalan. Dia mendapat satu jiwa untuk modal perintisan. Dari ketaatannya kepada Tuhan jiwa-jiwa ditambahkan. Mulai dari membangun pondok tempat ibadah dari rantingranting akhirnya dia dapat membangun gedung permanen, melayani dengan dibantu beberapa pengerja. Pernah dimasukkan ke dalam penjara karena Injil tetapi dia disertai Tuhan, dibebaskan dan pekerjaan Tuhan tetap berkembang. Ibu Mary pernah melayani sidang tersebut tahun 1983. Di dalam ketaatannya untuk menderita dan di dalam ketekunannya untuk berjuang seorang prajurit yang disertai Tuhan pasti kokoh dan berhasil. Ada kesaksian yang lain. Seorang ibu sedang memasak. Dia disuruh Tuhan untuk meninggalkan dapur dan pergi ke depan rumah. Dia melihat ada satu keluarga sedang pindah rumah. Keluarga baru ini tinggal di belakang rumahnya. Ibu ini menyambut keluarga baru tersebut, memberi minum kepada mereka dan mulai bersahabat. Pada suatu hari tetangga barunya ada yang jatuh sakit. Dia datang untuk mendoakan, orang tersebut disembuhkan Tuhan dan menjadi percaya kepada Tuhan. Bagaimana sebaiknya kita meresponi panggilan Tuhan untuk ikut menderita sebagai prajurit. Katakan Tuhan aku siap, aku mau taat, apabila bagian ini dari Tuhan jadilah tetapi apabila bukan dari Tuhan batalkanlah. Sikap ketaatan memang mengandung resiko.Tetapi perbuatan ketaatan mengandung mujizat. Contoh perjamuan kawin di Kana. Pada saat anggur perjamuannya habis Yesus memerintahkan para pelayan untuk mengisi enam tempayan dengan air. Sebenamya tempayan itu biasa dipakai untuk menampung air atau untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah enam tempayan tersebut dipenuhi dengan air Tuhan Yesus menyuruh mereka untuk mencedok dan mencicipinya. Ternyata air tersebut berubah menjadi anggur. Kapan perubahan ini terjadi tidak ada yang mengetahui. Apa yang diperintahkan Yesus untuk dilakukan tampaknya tidak logis tetapi pada saat pelayan-pelayan itu taat mereka mengalami mujizat. 3. Mengosongkah diri dan merendahkan diri. Apa arti mengosongkan diri dan merendahkan diri? Dikaitkan dengan sikap ketaatan mengosongkan diri berarti tidak punya hak untuk protes. Pengertiannya juga tidak punya keinginan yang ngotot atau hendak dipaksakan. Mengosongkan diri berarti menurut, pasrah, menyerah tetapi tidak cuek atau apatis atau tidak mau peduli, tidak mau pusing dan tidak ngambeg. Seluruh hidup kita menjadi milik Tuhan dan haknya Tuhan. Dia yang berhak menentukan segala segi dalam kehidupan kita termasuk apa sekolah kita, jurusan yang kita ambil, jodoh kita, kapan menikah, tempat kediaman, profesi, juga tempat pelayanan. 4. Milikilah prinsip bahwa pilihan Tuhan selalu yang terbaik. a. Milikilah sikap agar supaya keinginan Tuhan yang selalu terjadi dan bukan keinginan kita. b. Emosi, pendapat sendiri tak perlu kita pertahankan dengan ngotot. Bahkan kita tidak boleh protes sebab kita sedang diproses. Apabila kita selalu ngotot dengan keinginan sendiri kita akan menjadi egois dan keras kepala. Ada bahaya apabila kita selalu berhasil bisa menjadi sombong. Kita diproses Tuhan supaya memiliki sikap tabah, tekun, sabar, ulet, lembut dan rendah hati, Tuhan ingin melahirkan satu kepribadian yang berkarakter indah seperti bejana yang berkualitas, berharga dan indah bentuknya. Misalnya saja kita menghadapi ejekan dan olokan tanpa sakit hati. Bahkan kalau perlu kita bisa ikut tertawa pada saat ditertawakan. Kita harus tetap bisa
99

mengasihi walau ditolak atau tidak disukai. Dalam proses penundukan di mana hak kita harus dilepaskan atau tidak dihargai kita harus bisa menjadi makin kuat. Dalam proses penundukan itu sedang terjadi pembentukan pribadi atau karakter. Orang yang sedang mengalami proses perlu menghilangkan keinginan untuk dipuji atau ditonjolkan karena dia ingin menjadi seperti Kristus yang mengosongkan diriNya. Perubahan hidup, perubahan wawasan, perubahan kepribadian dan karakter selama mengalami proses itu sendiri adalah suatu mujizat atau keajaiban. Hati-hati dengan suara Tuhan: Kalau Tuhan berkata "Aku mau meninggikan engkau". Jangan cepat-cepat tertawa, mungkin anda mau disalib. Yusuf dijanjikan menjadi seorang raja melalui mimpi-mimpi indahnya tetapi untuk menjadi seorang raja yang diperkenan Allah ternyata Yusuf harus melalui proses panjang direndahkan dulu, mengosongkan diri dulu, ditolak dulu. la dimusuhi oleh abang-abangnya sendiri, dibuang ke sumur, dijual sebagai budak belian, bekerja sebagai seorang budak. Mana mungkin seorang budak menjadi raja. Tetapi itulah proses Tuhan. Dari yang mustahil menjadi tidak mustahil. Sebagai budak dia difitnah dan dipenjarakan. Itulah proses penundukan diri yang paling rendah berada di lembah yang paling dalam. Selama proses pahit yang panjang belasan tahun dia tidak pemah marah atau berontak atau meninggalkan Tuhan. Dia tetap mempertahankan kwalitas hidup yang menyenangkan Tuhan. Tuhan berkenan akan Yusuf dan meninggikan dia pada waktunya dengan memiliki karakter yang sepadan dengan tujuan Allah dalam hidupnya. Istri perlu tunduk kepada suami. Istri yang mengosongkan dirinya dalam penundukan kepada suami, maka Tuhan sendiri yang akan menjamah suaminya. Apa yang membuat kite sulit diproses? Ego kita, harga diri kita, dan karena kita mempertahankan hak, kita sulit pada saat diproses. Kita cenderung untuk berontak, membelot, melawan, sakit hati dan menyebarkan akar yang pahit. Penilaian Tuhan Yang Tepat Tidak ada yang dapat menilai kita dengan tepat kecuali Tuhan. Apabila Allah mengambil semuanya dari kita tidak ada yang bisa menolong kita. Allah memang seringkali berlawanan dengan cara kita sendiri. Memang tidak ada yang bisa merubah manusia kecuali Tuhan. Ada bagian yang harus kita lakukan tetapi ada bagian yang Tuhan lakukan. Kita juga tidak dapat menuntut Tuhan untuk melakukan segala sesuatu bagi kita. Bagian kita adalah penundukan. Berdiri Di Tempat Yang Benar Berdirilah di tempatmu yang benar. Ketahuilah batasan-batasan wewenangmu dan tugasmu. Di dalam hubungan rumah tangga apabila suami baik janganlah kita ngelonjak atau dominan terhadap suami. Tempatkan suami tetap sebagai kepala dalam rumah tangga. Jangan sampai karena suami baik lalu istri kurang memperhatikan aturan serta bebas merdeka semaunya. Allah menuntut bagian kita untuk dilakukan sebelum Dia melakukan bagianNya yang mendatangkan mujizat atau kebaikan.

RAJIN IBADAH, TAPI DOSA TAK BERKURANG Oleh : Pdt. Bigman Sirait Ada pula orang yang melihat Allah yang kasih, tetapi melupakan Allah yang kudus. Allah kasih sekaligus kudus. Allah kudus, sekaligus kasih. Tuhan Allah adalah kudus yang tidak bercampur dengan dosa, yang tidak merancang dosa, dan pasti tidak berdosa. Dia Allah yang terpisah dari dosa, yang tidak bisa melihat dosa. Ia Allah yang kudus, tidak mungkin berdosa. Sehingga jatuhnya manusia ke dalam dosa adalah tanggung jawab manusia.

100

Maka, Tuhan Allah yang kudus itu tidak merancang dosa. Karena itu jangan pernah beranggapan dosa itu ciptaan Tuhan. Manusia diciptakan dalam potensi netral: bisa taat perintah Allah, bisa melanggar. Namun manusia mengambil posisi melanggar. Padahal perintah sangat jelas dan sangat mudah dilakukan, hanya taat saja. Tetapi manusia tidak mampu tunduk kepada Allah yang menciptakannya. Allah yang kudus dikhianati, dikudeta manusia dengan dosa yang diperbuatnya. Kudus ialah sifat Allah yang membuat-Nya tidak bisa berkompromi dengan dosa apa pun, sekecil apa pun. Mana bisa manusia menghadap Allah yang mahasuci dengan dosa, sekalipun itu kecil sekali. Allah memang mengampuni orang berdosa, tetapi Ia menghukum dosa. Siapa yang berdosa, ada pengampunan. Tetapi jangan lupa, Allah murka terhadap dosa. Jangan mempermainkan Allah dalam pengakuan dosa. Banyak orang mengaku dosa dengan kemunafikan. Dosa yang pertama belum beres sudah ditambah lagi dengan dosa yang kedua, yaitu pura-pura minta ampun dosa. Banyak orang beribadah, tidak berkurang dosanya, tetapi malah bertambah, karena berbagai kebohongan. Sementara Allah yang dihadapi itu kudus, yang mengetahui kebengkokan hati manusia, dan harus berduka karena perilaku kita. Ibadah mau mengaku dosa, tetapi bukan terampuni tetapi bertambah. Kenapa? Karena kita mengaku dosa pun ternyata bermain-main dengan dosa. Kekudusan Allah menuntut manusia harus hidup kudus. Dia kudus maka kita harus kudus. Dan kekudusan yang kita terima hanya mungkin ditebus di dalam darah Yesus Kristus. Dan Dia sudah melakukan itu. Karena itu periksa diri, bergantunglah kepada Tuhan Yesus. Bersyukurlah karena Dia menebus dosa. Ia tidak akan pernah kagum dengan aktivitas keagamaan sehebat apa pun. Karena Dia hanya akan menyorot orang-orang yang kudus, sama seperti Dia kudus. Kekudusan Allah menuntut manusia untuk jauh dari berhala. Allah yang kudus tidak rela di ―selingkuh‖i. Allah yang kudus tidak mau diduakan. Jangan pernah berpikir berhala bisa kita simpan, sementara kita memainkan peran sebagai orang percaya yang rajin ke gereja. Jangan pernah berpikir pula bahwa berhala itu hanya sekadar patung, gua, pohon besar. Orang modern memiliki jauh lebih banyak tempat berhala. Di jaman sekarang orang memberhalakan kekayaannya, sehingga menghina orang lain. Orang modern memberhalakan kepintarannya, kepada otaknyalah dia bergantung, bukan lagi kepada Tuhan. Otak yang dipakai, bukan iman. Padahal seharusnya otak itu tunduk kepada iman. Orang-orang yang punya kuasa, memperlakukan orang semena-mena karena berpikir dia yang berkuasa, lupa kepada Tuhan. Semua peran yang dimainkan dalam kondisi seperti itu menunjukkan manusia punya berhala. Seorang pria mem-berhalakan ceweknya yang cantik, sehingga mau meninggalkan Tuhan dengan seribu dalih demi sang kekasih, yang kebetulan tidak kenal Tuhan. Karena itu hati-hati kepada jebakan berhala yang membuat Tuhan yang kudus jauh dari kita. Kekudusan Allah menuntut kita untuk kudus, kalau memang kita mau jadi anak Allah. Lain cerita jika dengan sadar kita berkata, ―saya tidak mau‖. Jika memang tidak mau menjadi anak Allah, kau berhak untuk tidak kudus. Silakan lakukan apa yang kau mau. Tetapi kalau engkau berkata, ―Aku anak Allah, mau mengikut Allah‖, maka hiduplah kudus. Dia tidak menuntut kita melakukan sesuatu yang tidak dapat kita lakukan. Dia tidak menuntut kita melakukan sesuatu yang tidak jelas. Dia menuntut kita untuk melakukan apa yang ada pada diri-Nya dan apa yang sudah dikerjakan-Nya, di dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita. Ditebus Yesus Implikasi kekudusan Allah menuntut kekudusan iman. Kekudusan Allah ini tidak hanya dibicarakan dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga menggemakan Allah yang kudus itu secara luar biasa. Dalam Matius 5: 48 dikatakan, ―Kuduslah engkau karena Tuhan Allah kudus‖. Kekudusan yang dikerjakan di dalam diri kita orang berdosa yang telah ditebus di dalam diri Yesus Kristus, harus kita pelihara dan jaga. Kita tidak punya argumen untuk tidak hidup kudus di hadapan Allah. Allah yang kudus menuntut kita kudus di
101

tengah dunia yang tidak kudus. Allah yang kudus menuntut kita hidup kudus, karena kita memang sudah dikuduskan. Karena itu mari kita sama-sama untuk tidak menghina diri kita yang sudah dikuduskan oleh cinta kasih-Nya. Memang tidak sederhana karena kita hidup di dalam dunia yang penuh seluk beluk menghan-curkan dan mematikan. Di tengah-tengah dunia yang penuh perta-rungan sulit dan berat tetapi harus dilewati. Jangan pernah berkata, ―Mana mungkin aku bisa hidup kudus‖. Tuhan yang mengasihi kita adalah Tuhan yang memberi kita kekuatan asalkan kita taat kepada ketetapan-Nya, bergantung kepada kebenaran firman-Nya dan hidup di dalam iman yang dianugerahkan-Nya. Kekudusan akan memisah kita dari dosa yang berarti juga terpisah dari masalah. Karena seluruh sumber masalah adalah dosa. Ketegangan, kesulitan akan punah termakan kesukacitaan karena hidup dalam kekudusan. Kekudusan membawa kita dengan jernih memandang kehidupan. Kekudusan membawa kita dengan tenang menikmati kehidupan. Tak ada alasan bagi kita untuk menggadaikan kekudusan hanya karena dendam, atau kebencian. Tak ada alasan menjual kekudusan demi kepuasan perut. Tetapi ada alasan yang sangat kuat supaya kita selalu kudus, karena itu adalah perintah Allah. Tuntutan yang tidak bisa kita sepelekan, yang mau tak mau harus kita penuhi. Karena itu, mari bersama untuk merespon kepada Allah yang kudus dengan hidup kudus. Allah yang benci kepada dosa tetapi setia mengasihi ketika kita mengaku dosa. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) KETIKA UMAT SEMAKIN BODOH Oleh : Pdt. Bigman Sirait

Manusia adalah makhluk yang pintar. Manusia juga sadar serta yakin akan kepin-tarannya itu. Kepintaran ini pula yang membuat manusia mampu menjelajahi alam semesta, khususnya Bumi. Manusia mampu menggali isi perut Bumi dan memanfaatkannya demi kemudahan hidup serta kesejahteraan.Yang lebih spektakuler, makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia ini sudah mendarat di Bulan. Sayang, berdasarkan penelitian, tidak ada peluang bagi makhluk bumi untuk hidup dan berdomisili di Bulan. Meski demi-kian, manusia ternyata belum puas. Penelitian angkasa luar serta pembangunan teknologi pendukungnya terus dilakukan. Hasilnya, Amerika Serikat dengan NASA-nya belum lama ini sukses mendaratkan pesawat di Planet Mars. Pesawat tanpa awak yang diken-dalikan dari Bumi ini mengambil gambar-gambar di permukaan Planet Mars dan secara berkala mengirimkannya ke Bumi. Berdasarkan foto-foto inilah para ahli se-dang meneliti apakah planet merah ini layak dihuni oleh warga Bumi. Berkat anugerah kepintaran ini, manusia bisa menciptakan segala sesuatu demi kemudahan hidup. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mampu mengembangkan penemuan-penemuan baru yang serba luar biasa. Di bidang kedokteran misalnya, pasangan suami-istri yang kesulitan punya anak bisa ikut program bayi tabung. Dan yang lebih spektakuler, dengan teknologi kloning, bisa dibuat "fotokopi" seseorang-meskipun dia sudah lama meninggal dunia. Sadar akan kehebatannya itu, tidak sedikit pula manusia jaman sekarang yang merasa tidak membutuhkan orang lain. Realita ini membuat sifat individualistis ma-nusia semakin menonjol. Salah satu bentuk dari sifat tidak membutuhkan orang lain ini sering tampak dalam kehidupan suami-istri. Dulu, rasa kebergantungan seorang istri terhadap suami begitu kuat. Tetapi di era modern ini, rasa kebergantungan itu semakin tipis. Bahkan, istri-istri pada jaman sekarang sudah ada yang "berani" berkata, "Memangnya cuma suami saja yang bisa cari makan? Saya juga bisa!" Kenyataan-kenyataan seperti ini memang pahit. Di mana ketika manusia dalam penjelajahan dan pencahariannya itu semakin pintar, ternyata pada titik yang sama muncul
102

sebuah kebodohan yang amat sangat. Semakin manusia itu pintar, ternyata dia semakin bodoh. Kenapa? Karena di dalam realita sosialnya saja, semakin manusia itu pintar atau semakin he-bat, individualistisnya semakin kuat. Jika perasaan mandirinya semakin kuat, dia semakin tidak membutuhkan orang lain pula. Namun, justru di sinilah kebodohan manusia itu mulai ditunjukkan. Padahal konsep penciptaan manusia oleh Allah adalah untuk saling bergantung. Dalam Kejadian 2: 18 Tuhan Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. AKU akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Dengan demikian, maka konsep kebersamaan, kebergantungan manusia yang satu dengan yang lain merupakan persekutuan yang paling tinggi di dalam hakekat ke-manusiaan. Oleh karena itu, manusia yang semakin pintar dan membuat dia makin individualistis itu juga akhirnya semakin bodoh karena menghilangkan atau menyangkal hakekatnya sebagai makhluk yang memerlukan orang lain. Sebab dengan adanya perasaan tidak membutuhkan orang lain, sebenarnya manusia sedang membunuh perasaannya. Padahal unsur ini (rasa membutuhkan orang lain) sangat perlu di dalam diri seorang manusia. Sifat kebersamaan, sifat membutuhkan orang lain, perlu dan mutlak untuk terus dipupuk. Jelaslah bahwa kepintaran manusia yang hebat itu, hikmatnya yang sangat luar biasa itu, ternyata menjadi kebodohan pula. Karena semakin manusia itu ber-hikmat, semakin bertambah ilmunya, dia semakin tidak mengenal Allah, karena dia tidak mau tahu Allah. Ia semakin mengabaikan Allah dan menganggap bahwa dirinyalah Allah. Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia yang makin pintar itu sekaligus pada saat yang bersamaan juga menjadi semakin bodoh? Oleh karena itu, kemajuan jaman menjadi malapetaka pula. Di satu sisi, kemajuan jaman memberikan pengharapan, serta suatu nilai plus. Tetapi pada saat yang bersamaan kemajuan jaman mengancam keimanan manusia, bahkan membunuh dan mencabik-cabiknya. Sehingga manusia kehilangan pegangan kepercayaan yang sejati kepada Allah. Kenyataan-kenyataan seperti ini membuat kita harus berhati-hati. Sebab ternyata keberhasilan tidak selalu menjadi kesukaan. Keberhasilan ternyata tidak selalu membawa kita pada kebahagiaan. Karena kesukaan, kehebatan, keberhasilan, justru bisa membawa kita ke ledakan malapetaka yang sangat mengerikan, di mana kita bisa kehilangan rasa cinta terhadap sesama, kehilangan rasa kebergantungan, dan bahkan kehilangan kepercayaan. Oleh karena itu, di dalam paradoks seperti ini kita ti-dak boleh terjebak, tetapi bagaimana seharusnya kita belajar untuk menekuni, meyakini kebenaran Alkitab. Alkitab mengatakan bahwa orang-orang berdosa itu adalah orang-orang bodoh. Sebaliknya, menurut ukuran manusia, orang yang menguasai ilmu pengetahuan itu disebut pintar. Tetapi mereka itu menjadi bodoh jika diukur dari ukuran Tuhan. Mereka itu memang bodoh, karena tidak bisa mengenal Tuhan. Jadi, pada waktu orang tidak bisa mengenal Tuhan, itu adalah sebuah kebodohan, karena dia tidak akan menemukan jalan keselamatan. Dan tragisnya adalah, kebodohan itu justru muncul pada saat manusia itu mempunyai hikmat yang paling tinggi, ilmu pengetahuan dan teknologi serba canggih, penemuan-penemuan yang paling hebat. Dengan demikian, bukankah merupakan suatu tragedi yang sangat menyesakkan ketika manusia itu disebut bodoh? Seharusnya, dengan kecerdasan yang luar biasa serta penemuan-penemuan yang mencengangkan itu, manusia semakin mengerti dan mengenal Allah. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Ini benar-benar sebuah tragedi yang sangat menyedihkan dan sangat pahit. Tetapi ini adalah realita yang tidak bisa dielakkan dari kehidupan umat manusia. Oleh karena itu kita harus berhati-hati di tengah-tengah kehidupan supaya tidak terjebak ke dalam perangkap-perangkap yang pada satu sisi sepertinya sangat menjanjikan, tetapi di segi lain mematikan. Pada satu sisi kita tampak semakin bijak dan pintar tetapi di sisi lain kita semakin kehilangan arah. Maka, berpeganglah senantiasa pada Allah, sebab hanya DIA-lah jalan keselamatan itu.*
103

(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) YANG MERENDAHKAN HATI AKAN DITINGGIKAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Matius 23:12) Dari segi tata bahasa, kata ―rendah‖ adalah antonim (lawan) dari ―tinggi‖. Dalam pengertian bahasa dan ke-hidupan sehari-hari, kedua kata di atas jelas berbeda. Dan perbedaan sema-cam ini cukup banyak mewarnai Al-kitab. Di sini kita dapat melihat adanya perbenturan yang sangat dahsyat an-tara nilai yang ditetapkan Yesus de-ngan nilai yang diterapkan dunia. Ini sebenarnya tidak menyenangkan bagi banyak kalangan, termasuk para ahli Taurat yang merasa memiliki nilai tersendiri. Ayat di atas muncul ketika Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka memang mengajarkan Taurat tentang kebenaran, menga-jarkan supaya setiap orang berperilaku benar. Namun, perilaku mereka sendiri tidak benar. Mereka tidak melakukan hal-hal yang semestinya mereka lakukan sebagai konsekuensi penga-jaran mereka. Artinya mereka telah berbuat kesalahan. Tragis, khotbah yang mereka sampaikan tidak lebih hanya berupa konsumsi dari mulut ke kuping. Tingkah laku mereka sehari-hari berlawanan dengan isi khotbah mereka. Ini tentu saja suatu penipuan, penyelewengan, yang tidak disukai oleh Tuhan. Mereka ingin menempatkan diri sebagai Musa pada jaman mereka. Mereka menempatkan diri menjadi tinggi, hebat, luar biasa melebihi siapa pun. Yang lebih parah, mereka juga sudah menempatkan diri sebagai wakil Tuhan. Maka terjadilah penekanan para pemimpin agama terhadap umat. Tidak heran, jika banyak umat menjadi bodoh, karena tidak mau mencari kebenaran Allah, tetapi hanya mau mengarahkan telinga ke khotbah-khotbah yang seringkali tidak benar. Kondisi ini benar-benar mengerikan, apalagi umat sendiri pun kelihatannya kurang bergairah dalam membaca Alkitab dengan kritis dan teliti. Umat menjadi korban yang mudah di-ninabobo-kan oleh berbagai kepal-suan. Umat tidak lagi selektif atau sen-sitif untuk memperhatikan ayat demi ayat, kata demi kata. Dengan menempatkan diri sebagai rabbi, para ahli Taurat juga menem-patkan diri sebagai pusat segalanya, yang tahu segalanya. Artinya mereka meninggikan diri dengan merebut porsi Allah, dengan segala kepongahan. Me-reka telah bermusuhan dengan Allah, sebab Allah sangat benci terhadap orang yang sombong, pongah, yang hanya gemar meninggikan diri. Dalam doa pun, mereka hanya menonjolkan diri di hadapan Tuhan. Sebaliknya orang lain dijelek-jelekkan, seperti bunyi salah satu doa ini: ―Tuhan, beruntunglah aku. Aku seorang ahli Taurat, Farisi, yang seminggu berpuasa dua kali, tidak seperti si pemungut cukai yang berdosa itu…‖ Jebakan keagamaan memang mengerikan. Karena itu hati-hatilah agar jangan sampai membuat suatu pengakuan sepihak bahwa kita adalah yang terbaik. Jangan sampai seperti ahli Taurat yang karena merasa dirinya paling suci, paling hebat, paling jago, malah berusaha merebut kekuasaan Allah. Dan karena itulah Tuhan mem-peringatkan, ―Barangsiapa meninggi-kan dirinya, dia akan direndahkan.‖ Sebaliknya, berbahagialah mereka yang merendahkan dirinya. Merendah-kan diri bukan berarti menempatkan diri lebih rendah dengan membungkukkan badan. Merendahkan diri di sini me-nyangkut sikap hati yang takluk pada kebenaran Allah, tunduk dan menya-dari diri sebagai orang berdosa. Status seperti ini sangat penting kita miliki. Ketika orang dekat dengan Tuhan, kesadarannya sangat tinggi. Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Petrus. Saking merasa sangat rendah di hadapan Tuhan, dia malah meminta agar Tuhan menjauhinya, ―Tuhan,
104

menjauhlah dariku, orang berdosa ini...‖ Sementara orang yang pongah dan besar kepala justru mengangkat diri dan senantiasa berbuat dosa. Saat berbuat dosa pun dia sudah tidak sadar. Jika dinasihati, malah marah. Akhirnya dia semakin dalam terperosok ke dalam kesombongan, merasa diri sebagai orang yang paling hebat, pa-ling baik. Lucifer, malaikat yang mem-buat dirinya sama dengan Allah, akhir-nya dibuang dari surga. Nasib sama menimpa Adam dan Hawa. Karena ingin sama dengan Allah, keduanya diusir dari Taman Eden. Oleh karena itulah, setiap orang Kristen seharusnya mencerminkan suatu kerendahan hati. Wujud keren-dahan hati seorang kaya bukan de-ngan cara mengenakan pakaian sederhana. Kerendahan dalam konteks ini menyangkut sikap hati, bukan bagai-mana penampilan diri. Suatu kesadaran bahwa diri kita bukanlah apa-apa, me-rupakan salah satu wujud kerendahan hati. Jika seseorang menyadari kalau dirinya bukan apa-apa, maka apa pun yang ada padanya bukan dianggap sebagai miliknya. Maka pengendalian diri dari dalam, menjadi sesuatu yang paling penting. Dalam dunia kerja, kita sebagai pekerja pun seharusnya menyikapi ini semua dengan kesungguhan yang utuh. Nikmati apa yang ada, yang Tu-han berikan. Kita tidak perlu berpura-pura merendahkan diri dengan menge-nakan pakaian compang-camping ke kantor. Kalau kita memang bisa, ke-napa tidak memakai pakaian yang ba-gus? Tidak perlu memakai sandal jepit jika kita sanggup beli sepatu. Tetapi jangan pula membeli pakaian bagus da-ri tumpahan darah atau keringat orang lain. Sekali lagi, bukan penampilan luar yang berbicara tentang kerendahan hati, tetapi sikap hati. Sehingga kita merasa lebih bukan karena punya ba-nyak uang, bukan pula karena kita punya jabatan. Sebaliknya, kita me-rasa kurang, bukan lantaran tidak pu-nya uang atau tidak punya jabatan. Tetapi yang penting, lebih atau ku-rangnya kita dalam kehidupan, kita perlu senantiasa menanyakan apakah kita dekat dengan Tuhan? Jika kita dekat dengan Tuhan, DIA-lah nilai lebih kita. Sebab kalau kita ber-sama Tuhan maka DIA akan mengang-kat kita. Jikalau kita bersama dengan Tuhan, DIA akan meninggikan kita. Oleh kebenaran, kita direndahkan. Oleh kebenaran pula kita akan diting-gikan. Oleh karena kebenaran kita di-angkat oleh Tuhan. Tetapi barangsiapa meninggikan diri melewati kebenaran, dia akan direndahkan. Jika mendapat penghinaan, atau direndahkan, puji Tuhan. Itu kesem-patan untuk merendahkan hati, bukan untuk merendahkan diri. Tetapi jika kita kecewa atau marah terhadap tekanan, berarti kita telah membuang harta benda yang luar biasa nilainya. Kesem-patan seperti itu ibarat mutiara yang terindah, pemberian Tuhan. Jadi, jangan dibuang. * (Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) KEHILANGAN NYAWA, MENDAPATKAN HIDUP Oleh : Pdt. Bigman Sirait

Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10: 39) Berbicara tentang nyawa atau jiwa, kemungkinan kita berpenda-pat bahwa ini hanya masalah hidup atau mati di mana, mati dianggap hanya sekadar berhenti bernafas. Nyawa dalam konteks ini menjadi sangat menarik karena mengacu pada satu pemahaman: barang siapa mempertahankan nyawa-nya, sama saja mempertahankan cara hidupnya. Selanjutnya, anggapan bahwa manusia bisa me-nyelesaikan persoalan hidupnya dan menyelamatkan diri sendiri, justru salah. Karena keselamatan tidak tergantung pada kemampuan manusia. Keselamatan meru-pakan anugerah Allah. Karena itu, barang siapa berani kehilangan nyawanya karena Kristus, maka ia akan mendapatkannya.
105

Prinsip-prinsip apa saja yang hendak kita pelajari dari paradoks ini? Yang pertama, berani berserah penuh kepada Tuhan. Keberanian ini bersifat mutlak, dan merupakan tuntutan dari Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Maka kita harus berani mempersembahkan, mem-pertaruhkan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Prinsip per-tama ini, bisa jadi merupakan bagian yang tidak kita sukai. Tetapi jika ditanyakan, apakah kita rela mati untuk Kristus? Kita semua pasti menjawab, "Rela." Hal ini mirip dengan ketika Petrus ditanya oleh Yesus, beberapa saat sebe-lum menyerahkan diri pada pasu-kan tentara Romawi. Saat itu Petrus menjawab, "Guru, orang lain boleh lari, tetapi aku tidak." Namun Yesus yang mengetahui isi hati manusia mengatakan, "Petrus, sebelum ayam berkokok, kau telah tiga kali menyangkal Aku." Dan ternyata perkataan Yesus itu terbukti, sebab Petrus melarikan diri begitu tentara datang menangkap Yesus. Dari paparan di atas dapat kita lihat bahwa pada awalnya Petrus memang punya semangat yang bagus. Dan kita pun seharusnya memiliki semangat yang bagus. Tetapi biarlah kita menjelajahi seca-ra jujur hati nurani sendiri, agar ti-dak terjebak pada statemen emosi kosong belaka. Jujur pada hati nurani, menjadikan kita peka untuk mencermati sikap hidup kita. Kalau secara jujur kita menemu-kan bahwa kita tidak berani berserah diri, berdoalah supaya kita se-makin dikuatkan Tuhan. Berdoa-lah, memohon belas kasihan dari Roh Kudus, yang akan menuntun dan memampukan kita menyerahkan seluruh jiwa raga pada Tuhan. Berani berserah artinya sama dengan berani kehilangan segala yang kita miliki bahkan kehilangan nyawa. Sikap berani kehilangan ini pernah dicontohkan oleh Rasul Paulus dengan berkata, "Ada pun hidupku ini bukannya aku lagi, tetapi Kristus hidup di dalam aku." Waktu dia kehilangan dirinya, justru dia mendapatkan kesejatian dirinya. Kenapa kita harus berserah diri? Karena dulu kita berkuasa penuh atas diri kita, sehingga kita tidak mau mengendalikan diri, juga tidak mau diatur. Tetapi sekarang kita harus berserah diri, mau diatur oleh Tuhan. Dan bukan diri kita lagi yang menjadi pemerintah atas hidup kita, tetapi Tuhan. Prinsip kedua, kita harus berani melupakan diri. Dalam hal ini kita harus melupakan identitas, kepuasan, kebanggaan, kebahagiaan di waktu lampau yang kita sebut se-bagai hidup lama. Sebagai ganti-nya, sekarang kita mesti berani berpindah ke dalam kehidupan yang baru, yang sesuai dengan "selera" dan kehendak Tuhan. Jika ingin mendapatkan kehidupan yang baru, maka rela-lah kehila-ngan. Berani berserah, berani melepas harga diri, atau melupakan diri sendiri. Dalam Alkitab sering ditemukan istilah "manusia lama" dan "manusia baru". Kita jangan mau terus berkutat sebagai manusia lama, melainkan harus hidup sebagai manusia baru. Jika kita tetap hidup sebagai manusia lama, dan tidak pernah mau menjadi manusia yang baru, maka kita tidak akan pernah merasakan betapa nikmatnya menjadi manusia baru itu. Dan oleh karena kita hanya berkutat pada kemanusiaan lama itu, maka nilai kepercayaan yang ada pada kita pun menjadi sia-sia. Namun perlu dicamkan, melupa-kan diri dalam konteks ini tidak sama dengan lupa diri. Lupa diri adalah sesuatu yang negatif, karena lupa diri adalah suatu kondisi yang tidak terkendali (out of control). Keberanian melupakan diri yang kita maksudkan di sini adalah kemauan yang utuh untuk menaruh seluruh kehendak Allah menjadi kehendak yang final di dalam hidup kita. Selanjutnya, kehendak Allah yang sudah terpateri di dalam hidup itu kita laksanakan dalam aktivitas sehari-hari. Jadi, penye-rahan mutlak kepada Tuhan, itu menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Kita harus berani berserah diri dan melupakan diri. Kedua kata kunci tersebut, yakni berserah diri dan melupakan diri, sangat penting kita resapi su-paya kita tidak berkutat hanya ke-pada diri, kebutuhan diri, sema-ngat diri, tetapi berkutat pada ke-hendak Allah. Kita pun semestinya senantiasa bertanya pada diri sendiri, "Apa yang diinginkan Allah untuk saya lakukan, sehingga pengabdian saya total kepada Dia?" Dan jika kita mampu menjawabnya, yakni dengan mampu melak-sanakannya, ini akan menjadi ke-sukaan tersendiri di dalam hidup kita. Itulah yang membuat kita mengalami dan mendapatkan kesejatian hidup. Kita mendapatkan kesejatian hidup ketika kita berani
106

melupakan diri kita yang dulu, kehidupan yang lama itu, sehingga mendapatkan diri yang sekarang, yang baru. Ini terjadi karena kita berani berserah. Keberanian yang ketiga, yakni berani berkorban untuk Tuhan, menuntut kita untuk mempersem-bahkan seluruh kehidupan untuk Tuhan. Sehingga dengan demi-kian, di dalam kehilangan kita akan mendapatkan. Dan di dalam kehi-langan itulah kita akan menemu-kan. Alkitab memberi satu ilustrasi yang menarik, yakni biji gandum tidak akan pernah tumbuh menjadi sebatang pohon gandum kalau biji itu tidak mati lebih dahulu. Kenapa? Karena biji gandum yang mati itu harus terlebih dahulu membelah dirinya. Dan oleh karena kematian, dan kemudian membelah dirinya itulah biji gandum tersebut mendapatkan kehidupan. Dengan kata lain, biji gandum mendapatkan kehidupan (yang baru) justru kalau dia membelah dirinya terlebih dahulu. Jika dibandingkan dengan manu-sia, maka manusia harus berani mengorbankan dirinya untuk Tu-han, baru kemudian memperoleh hidup yang baru. Maka keberanian untuk berse-rah, keberanian melupakan diri, dan keberanian untuk berkorban, sangat kita butuhkan untuk "membelah" diri kita sehingga dari diri kita muncul kehidupan dan pengharapan. Jadi penyerahan diri bukan suatu wujud dari ketidak-berdayaan. Mengorban-kan sesuatu bukan berarti akan kehilangan sesuatu. Melupakan diri tidak berarti kehilangan diri. Tetapi yang akan kita dapatkan justru sebaliknya, yakni kehidu-pan, kekuatan, dan identitas diri yang baru.* (Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) NATAL DAN PEMAHAMAN AKAN KASIH TUHAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

Bulan Desember bukan hanya indah, namun juga selalu gegap gempita karena seluruh dunia menyongsong Natal. Gegap gempita itu bercam-pur baur dengan sukacita karena Kristus datang melawat umat manusia. Yesus datang ke dunia atau Natal bukan sebuah rencana di pertengahan jalan, tetapi Natal adalah sebuah rencana Allah yang sangat luar biasa. Allah menge-tahui bagaimana bebalnya manusia yang akan melanggar perintah-Nya dan jatuh ke dalam dosa. Dan untuk itulah Allah sudah menyediakan keselamatan bagi manusia. Dulu, nun jauh di Taman Eden, berita Natal pertama kali dikuman-dangkan, walaupun aktualisasinya terjadi ribuan tahun kemudian. Ini perlu kita ingat bersama supaya tidak terjebak dalam perangkap rutinitas atau religiusitas dari Natal ke Natal. Apa yang terjadi di Taman Eden? Saat itu, manusia ada di dalam kesempurnaannya. Manusia hidup begitu berkelimpahan. Tidak ada persoalan ekonomi, manusia bisa makan, minum. Apa pun yang diinginkannya dengan sangat mudah didapat. Hakekat manusia pun adalah hakekat dalam kesempurnaan sebagai penguasa alam semesta. Apa pun tunduk pada dia. Maka indahlah kehidupan di sana, dulu. Namun sayang, di dalam kesem-purnaannya, di dalam ketidakber-dosaannya, manusia melanggar perintah Allah. Manusia jatuh ke dalam dosa, dan harus binasa! Namun kasih Allah kepada manusia membuat Dia rela turun ke dunia, menjadi sama dengan manusia, untuk menebus dosa manusia. De-ngan cinta kasih Allah, manusia memiliki pengharapan. Itulah kekuatan Natal yang membuat Dia rela turun, membuat Dia rela tak mendapat tempat. Yang membuat Dia rela ditolak, karena ketidaktaat-an manusia yang sudah mencipta-kan bencana panjang bagi dirinya sendiri, tetapi harus dibereskan oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu, mari kita sikapi dan pahami Natal itu dengan benar. Natal bukanlah sebuah kelayakan kehidupan manusia. Justru Natal adalah penebusan atas dosa karena pemberontakan kita terhadap Dia, membuat Dia rela turun dari surga ke dunia. Dia turun dalam kerelaan padahal sebenarnya tidak ada kewajiban bagi Dia untuk menyela-matkan manusia. Tetapi cinta kasih-Nya membawa-Nya melawat kita. Bukankah seharusnya kita bersyu-kur? Maka gegap gempita Natal ter-letak pada pemahaman kita, sejauh mana kita mampu memahami pertolongan Allah. Jika kita mampu memahaminya, maka sejauh itulah kita akan bersuka cita dalam Natal.
107

Waktu terus bergulir. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, persoalan silih-berganti diciptakan: sampai ke jaman Nuh, terus ber-gulir sampai ke jaman Sodom dan Gomora. Bahkan sampai saat ini kita melihat, dosa terus-menerus dicip-takan. Dosa memang sangat kreatif menciptakan berbagai bentuk, termasuk dengan apa yang dina-makan dosa modern. Dosa sangat luar biasa untuk menelan korbannya. Oleh karena itu, di kandang hina, melihat realita seperti itu, di mana tidak ada harapan hidup manusia, Yesus Kristus anak Allah mau turun dari sorga. Dia rela menjadi manusia, sama seperti kita bahkan ting-gal di tempat di mana kita tidak ingin tinggal. Ia rela menjadi sama seperti kita untuk melakukan karya keselamatan. Di kandang hina, Ia datang. Berita Natal berkumandang, gembala mendengarkan. Natal dinyatakan, Tuhan dipermuliakan. Tetapi jangan lupa, semua dilakukan dalam kehinaan dan ketiadaan. Karenanya, yang datang adalah gembala, bukan raja. Orang-orang Majus yang datang pun adalah orang-orang kafir, bukan bangsa pilihan, bukan Yahudi. Tapi di sini, di tempat yang hina inilah kemuliaan dinyatakan. Di kandang yang tidak mulia ini, Natal keselamatan justru menjadi nyata. Meski demikian, kita tidak perlu merayakan Natal dengan ber-susah-susah, berhina-hina, sedih, porak poranda, dan sebagainya supaya mampu memahaminya. Ini bukan soal fenomena, bukan soal apa yang bisa kita lihat dengan mata atau kita rasakan. Tetapi ini persoalan kualitas yang paling utuh, yakni bagaimana kita melakukannya dengan suasana hati dan pemahaman yang utuh. Karena itu, pengenalan akan Alkitab menjadi modal pertama kalau kita mau merayakan Natal. Bukan berapa besar kapital yang ada pada kita. Tetapi berapa jauh kita mengenal Dia di dalam hidup kita. Berapa jauh kita mengenal Dia di dalam semangat gairah, berapa jauh iman kita meng-Allah kepada Yesus Kristus, anak Allah. Saya kira ini suatu pemikiran atau renungan yang jarang sekali kita pahami. Sehingga kita betul-betul masuk ke suasana Natal yang utuh itu. Sekali lagi, Natal bukan soal tempatnya, tetapi bagaimana kita melakukan apa yang Allah mau dalam kualitas pemahaman kita. Ini semua perlu kita pahami supaya tidak terjebak dalam perangkapperangkap rutin, sebaliknya kita perlu diingatkan secara rutin. Jangan setiap tiba Natal kita melaksanakan seremonialnya saja tetapi kehilangan maknanya. Dan tragedinya, dalam kehilangan makna, kita justru mengatakan, ―Hati-hati jangan sampai kehilangan makna.‖ Tetapi kata-kata ―jangan sampai kehilangan makna‖ itu pun sudah kehilangan makna. Maka tidak ada kata yang pas untuk mengingatkan, kecuali sikap iman yang benar. Tidak ada kata yang pas kecuali pemahaman yang utuh. Tidak ada kata yang pas kecuali hubungan pribadi dengan Tuhan. Karena itu berbahagialah Anda di Natal ini, kalau Anda beriman pada Dia. Jangan nodai Natal dalam keluh kesahmu kepada Tuhan hanya karena tidak paham pada apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan: kekecewaan, kemarahan berkepanjangan yang tidak pada tempatnya. Akhirnya, jangan nodai Natal, hanya karena tidak cukup uang untuk membeli seperangkat barang yang diinginkan dalam rangka merayakan Natal. Jangan nodai Natal dengan perasaan cemburu karena orang lain bisa menghias rumahnya. Sebab sesungguhnya, Natal adalah momentum yang tepat bagi kita untuk mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan untuk kita. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) SELAMAT TAHUN BARU YANG LAMA Oleh : Pdt. Bigman Sirait

TAHUN baru (1 Januari), sebagai perayaan terus melesat maju memimpin Natal (25 Desember). Apa mak-sudnya? Apakah ini sebuah per-saingan sehingga ada yang maju dan ada pula yang tertinggal? Yang pasti, Alkitab tidak pernah menganjurkan, apalagi memerin-tahkan umat kristiani berbondong-bondong bertahun baru. Natal (25 Desember), memang memiliki makna teologis dan historis bagi iman Kristen. Momen ini penting sebagai perhentian bagi umat, untuk merenung kesediaan Juru Selamat, melawat umat yang bejat karena dosa.
108

Berabad-abad, peringatan itu bergerak dinamis dalam pasang su-rut kesadaran umat. Hanya saja, kecenderungan akhir-akhir ini tam-pak agak menjebak, yakni lumuran kemewahan atas Natal dengan alasan perayaan besar. Padahal, sejatinya kebesaran Natal tidak pernah digambarkan Alkitab dalam perayaan, melainkan dalam kerela-an Sang Juru Selamat, untuk ber-temu umat (sekalipun berlang-sung dalam nuansa penolakan, dan tidak ada tempat yang tersedia bagi DIA). Nah, dalam kebesaran perayaan Natal inilah tahun baru mendom-pleng. Dari semula hanya sekadar menempel, kini tahun baru telah menjadi bagian yang ―sejajar‖ de-ngan Natal. Namanya selalu tertera bersama Natal (Selamat Hari Natal dan Tahun Baru—Merry Christ-mas and Happy New Year). Lalu, dalam perjalanan menuju era modern hingga ke pang-kuan postmo, kini, perayaan ini didominasi oleh tahun baru. Ajang populernya disebut Old & New. Ditunggu orang di sean-tero dunia, dirayakan semua komunitas, mulai dari yang bermoral hingga amoral. Yah, tahun baru memang telah menjadi peristiwa besar, dan akan terus semakin besar, seturut dengan gairah manusia akan perayaan-perayaan yang besar. Malam Natal (24 Desem-ber) tidak lagi semegah malam tahun baru (31 Desember). Dan, ironisnya, dalam kesyah-duan pun, Natal kehilangan gregetnya. Natal hanya syahdu dalam lagu ―Malam Kudus‖, sele-bihnya tidak. Untuk ukuran ―mewah‖, Natal kalah dari tahun baru. Ringkasnya, Natal telah krisis identitas akibat ulah umat yang kurang hikmat. Padahal sejatinya, semangat Natal harus tetap pada nuansa Natal pertama: syahdu, sarat renungan, tapi penuh suka-cita karena DIA telah datang di dalam hidup orang yang percaya. Sementara itu, tahun baru se-makin megah dan pongah, sepo-ngah semangat manusia yang selalu merasa paling hebat. Mereka yang tidak berpunya tersingkir ke pinggir, tidak ada yang mau berbagi dengan mereka. Dan yang paling menyedihkan adalah, semakin mewahnya perayaan tahun baru, Natal seakan tidak mau kalah, ia terpancing ikut bertanding. Dan ini membuat Natal semakin jauh dari jati dirinya, kekhusukan malam yang kudus itu tiada lagi. Keber-sahajaan Maria dan Yusuf saat menjaga Bayi Kudus, makin sulit diimajinasikan, apalagi pribadi Sang Bayi Kudus. Kesukacitaan para gembala tak lagi kita punya, karena itu hanya tinggal kisah saja. Natal telah berubah menjadi hingar bingar tanpa arah. Keprihatinan semakin besar dengan fakta yang tidak terban-tah ketika tahun baru yang dise-but baru itu ternyata tidak mem-bawa hal-hal yang baru. Manusia tidak mengalami pembaharuan seperti yang dikatakan Rasul Paulus (Roma 12: 2). Manusia tidak semakin baik, kualitas hidup juga tidak semakin baik, bahkan gereja pun tidak lebih baik. Yang ada justru sebaliknya. Manusia semakin bejat, sementara gereja semakin tersesat. Dunia semakin gelap karena ―terang umat‖ se-makin meredup dan tak berdaya. ―Tahun baru, apanya yang ba-ru?‖ gugat Pengkhotbah 1:10. Pengkhotbah betul, fakta di kesementaraan hidup berkisah tentang kegagalan manusia menjaga diri sebagai citra Allah. Tahun baru malah membuktikan manusia hanya semakin bertam-bah dalam ―dosa-dosa yang baru‖ (kuantitasnya bukan kualitas do-sa). Di sinilah gereja dituntut memainkan perannya memenga-ruhi dunia, bukan sebaliknya dipe-ngaruhi dunia. Tarik-menarik gereja dan dunia tidak akan pernah berhenti hingga kesudahan bumi. Yang menjadi pertanyaan, siapakah pemenangnya? Sayang-nya, kedudukan sementara berkisah, bahwa dunia menjadi pemimpin dalam pengumpulan angka. Tahun baru menjadi salah satu parameter (sekalipun bukan satu-satunya). Gereja harus bangun dari mimpi panjang, melepaskan diri dari pelukan dunia, melupakan kenik-matan sesaat, dan kembali ke ha-bitatnya, yaitu berani menyangkal diri dan memikul salib dalam me-ngikut Yesus. Jangan lagi mema-nipulasi ayat-ayat suci demi kenikmatan diri. Tampil hidup mewah dengan dalih diberkati. Gereja dipanggil untuk berbagi atas berkat besar yang diterima dari kemurahan Sang Pencipta, bukan untuk menumpuknya.
109

Semoga di Tahun baru ini gereja mengalami pembaharuan budi agar bisa menciptakan peru-bahan kehidupan. Namun, semo-ga gereja tidak terjebak pada pe-rubahan tanpa pembaharuan. Perubahan yang hanya sebatas asesoris (ritualitas) bukan pemba-haruan oleh Roh (spiritualitas). Semoga masih ada tersisa keju-juran untuk mengevalusi diri sendiri tanpa terjebak menghakimi. Akhirnya, selamat tahun baru, bukan karena tahunnya, melain-kan karena pembaharuan yang terjadi dalam hidup kita semua.

SIA-SIA, TUMPUK HARTA TANPA PENYERTAAN TUHAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

RUMAH merupakan salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi manusia. Di rumahlah, setiap orang menghabiskan seba-gian besar hari-harinya. Wajar pula jika setiap orang mendambakan rumah yang bisa membuatnya merasa aman, tenang dan nyaman tinggal di sana. Rumah dan segala kebutuhan hidup—yang dalam kesempatan ini kita sebut saja harta— merupakan hal yang sa-ngat penting dalam kehidupan. Harta yang kita miliki, bisa menjadi suatu identitas tentang: who am I—siapa saya? Semakin banyak harta, semakin besar penghormat-an orang pada kita. Tapi, rumah atau harta benda seperti apa yang Tuhan kehendaki? Tentang hal ini, Raja Salomo (dalam Mazmur 127 : 1) mengatakan, ―Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya…‖. Raja Salomo dikenal sebagai raja Israel yang tidak hanya sukses memerintah kerajaannya, namun juga jenius dalam mengelola usaha dan perdagangan. Tidak heran, berkat kepiawaiannya itu, dia berhasil menumpuk harta benda yang membuatnya sebagai raja yang kaya raya luar biasa. Sayang, sebagai orang yang diberkati Tuhan dengan segudang kemam-puan luar biasa itu, dia justru mela-kukan hal-hal yang tidak disukai oleh Tuhan: memiliki ribuan wanita simpanan. Dia memang sukses menumpuk harta, tapi gagal membendung hawa nafsu. Yang lebih menyedihkan, dia tergoda oleh salah seorang wanita simpanannya sehingga terjatuh dalam penyem-bahan berhala! Namun seluruh pengalaman itu tidak membuatnya merasa bahagia. Sampai akhirnya, dalam perenungannya dia menyadari bahwa tanpa pe-nyertaan Tuhan, semua sia-sia. Bagi kita, rumah dan harta benda, memang telah men-jadi semacam KTP. Orang mengenal, mengukur, dan menghormati kita tergan-tung dari seberapa banyak harta kita. Harta benda sebagai identitas menjadi konsentrasi dan perhatian semua orang. Dengan harta yang cukup, seseorang itu akan dihargai. Tapi sebaliknya, jika harta bendanya tidak cukup, dia dicurigai. Apalagi tak punya apa-apa, ia akan dizalimi. Haknya akan dirampas, dia akan diinjak-injak orang. Karena itu, harta benda sebagai identitas menjadi mimpi setiap orang. Semua orang akan berpacu untuk mendapatkannya, bagaimana pun caranya. Korupsi, boleh-boleh saja. Mencuri, kenapa tidak? Menipu? Lakukan! Orang akan mengesahkan segala cara demi harta ini. Jika harta menjadi ukuran harga diri, maka kebenaran-kebenaran hidup pun bergeser. Orang ber-pacu untuk membuktikan ke-kayaan sebagai wujud ―berkat‖ Tuhan. Harga diri tidak lagi me-nempel pada nilai-nilai etis yang seharusnya dimiliki: kejujuran, kesungguhan, kebenaran. Dalam hal seperti ini kita telah melihat banyak fakta yang sangat menye-dihkan, demi harta benda, korban berjatuhan. Dan tragedi yang lain adalah jika harta dijadikan sebagai keyakinan, iman, menjadikannya sebagai berhala. Jika sudah begini, maka Alkitab tidak ada apa-apanya lagi. Tidak mendengar khotbah ju-ga bukan masalah. Yang penting, asal jangan sampai nggak ada uang, asal jangan sampai berku-rang properti, rumah dan harta benda. Bagi orang-orang se-perti ini, pertarungannya ha-nya melulu untuk materi.
110

Karena materi baginya adalah berhala, maka dia siap melakukan apa saja untuk itu. Dia siap menzalimi orang, bahkan saking gilanya akan harta, tidak sedikit orang pergi ke Gunung Kawi, me-nebar sesajen ke mana-mana, ―berguru‖ ke sana-sini, asal bisa kaya. Meski anak, anggota keluarga atau pembantunya menjadi tum-bal, tidak masalah, yang penting bisa kaya. Sangat mengerikan, dia rela nyawa orang hilang demi berhala yang dipuja-pujanya: materi. Manusia semacam ini bukan lagi manusia, karena bukan hanya dirinya saja yang dihargai dengan materi, tetapi orang lain pun dia hargai dengan materi. Dia tidak sungkan-sungkan mencabut nya-wa orang lain demi kelanggengan materi yang mengalir ke dalam hidupnya. Seorang wanita yang berstatus istri bisa saja mening-galkan suaminya demi materi. Se-ring pula terjadi pengkhianatan dan memakan banyak korban demi ma-teri yang sudah merupakan segala-galanya dalam kehidupan. Oleh karena itulah Alkitab me-ngajarkan kepada kita, ―Kalau har-ta benda seperti itu yang kau dam-bakan, sia-sialah‖. Kalau itu datang dari semangat dirimu, ketika itu kau jadikan identitas, harga dirimu, ke-yakinan dirimu, berhalamu, habislah hidupmu. Harta benda itu milik Tuhan, berasal dari Tuhan, maka belajarlah bergantung hidup pada Tuhan, melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan, bekerja sesuai yang Tuhan kehendaki, rajin seperti yang dituntut Alkitab. Harta benda bukan dosa, tetapi bagaimana memperlakukannya, itulah yang jadi masalah. Karena itu biarkan Tuhan membangunnya. Seharusnya gairah kita untuk men-cari harta adalah semangat untuk melayani Tuhan. Sehingga di dalam gairah mencari atau membangun materi, kita ada dalam kendali diri yang penuh, tidak terjebak pada perangkap, rangsangan yang me-mang luar biasa dari materi itu. Ma-ka, apa pun yang ada dalam hidup kita, hanya omong kosong jika kita dapatkan dengan cara tanpa Tuhan, mengabaikan Tuhan.(Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

JUMAT AGUNG, MOMENTUM UNTUK MEMULIAKAN TUHAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

SETIAP hari Jumat Agung, ucapan Yesus dari kayu salib selalu berkumandang: ―Ba-pa, ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang dilakukan‖ (Lukas 23: 34). DIA disalibkan, oleh karena kita dengan sadar berkata: ―Salibkan Dia‖. DIA disalibkan oleh karena kita dengan sadar berkata: ―DIA bukan siapa-siapa‖. DIA disalibkan, karena dengan sadar kita berkata: ―Kitalah hidup ini, kitalah Tuhan itu‖. Ketika Yesus mengatakan, ―Ampunilah mereka…‖ itu betul sekali. Sebab para ahli Taurat sudah menjadikan dirinya sebagai ―tuhan‖ yang memegang palu pe-ngadilan untuk menjatuhkan vonis yang sangat berat terhadap Yesus, Mesias, anak Allah. Mereka menghukum-Nya dengan pongah dan bangga. Mereka bukan saja menghukum DIA dengan rasa tidak bersalah, tetapi juga senang. Kasihan, sebab sesungguhnya mereka semakin dalam terperosok ke dalam lubang kemunafikan dan kepongahan yang kosong. Mereka bisa saja terus-menerus mengumandangkan suara Tuhan, namun tidak pernah melakukannya dalam kehidupannya. Mereka bisa saja beraktivitas dalam hidup, tetapi jauh dari kuasa Allah. Karena itu Yesus berkata, ―Ampuni mereka…‖ Sekali lagi, mereka sedang membunuh dirinya sendiri, meng-habiskan masa depan anak cucu-nya karena mereka tidak takut akan Tuhan. Dosa memang sa-ngat luar biasa membuat dan menciptakan kebebalan pada diri mereka, membuat mereka melacurkan hidup mereka, membuat mereka terjebak pada perangkapperangkap yang salah itu. Ini menjadi pertarungan serius bagi kita semua. Jumat Agung ini, haruskah DIA kembali mengucapkan kalimat yang sama kepada setiap kita yang ada di dalam gereja? Kepada kita yang sudah mengaku percaya, haruskah DIA menggugat dan berkata, ―Bapa ampuni mereka, sebab mereka hanya berkhot-bah, mereka
111

hanya memegang Alkitab, mereka hanya menya-nyi, mereka melayani Aku, tetapi sebetulnya mereka tidak tahu apa yang mereka kerjakan?‖ Jangan sampai terjadi hal seperti ini. Bukankah sangat ironis ketika gereja memuliakan nama Yesus tetapi DIA tidak rela? Bukankah kekristenan menjadi ironis ketika semua umat merasa kehadiran-Nya, tetapi DIA sendiri tidak pernah datang di tengah-tengah mereka, karena banyak topeng, kemunafikan, kesalahan yang ditutup-tutupi? Banyak ungkapan lips service yang tidak pada tempatnya yang datang dari berbagai penjuru, dari mereka yang menyatakan diri sebagai permimpin agama. Akankah Yesus kembali meminta Bapa Surgawi mengampuni mereka? Saudara yang terkasih, camkan dan pikirkan baik-baik. Bukankah seharusnya gereja Tuhan menjadi gereja yang punya kekuatan dan kuasa yang luar biasa, karena menjadi agen kebenaran yang diberi kuasa oleh Tuhan? Tetapi pada kenyataannya, kita terjebak dan terperangkap menjadi pecun-dang dan kalah. Jangan sampai kita salah dalam memainkan peran. Jangan sampai kita salah dalam mengayunkan langkah dalam upaya memahami kebe-naran yang hakiki itu. Kiranya Jumat Agung ini boleh mengingatkan kita supaya jangan terjebak pada perangkap yang salah. Maka kita perlu memeriksa diri, sebab jangan-jangan kita terlalu banyak memakai topeng dalam hidup ini. Sekiranya kita tidak me-nemukan kebenaran yang hakiki, Jumat Agung menjadi mo-mentum yang penting bagai-mana kita mengarahkan mata kita ke kayu salib, merenung ulang penderitaan yang dialami-Nya. Kemudian kita mencoba untuk menelaah, sebab bukan-kah seharusnya kita hidup untuk kemuliaan nama Tuhan? Jumat Agung ini, ketika Saudara pergi ke gereja, camkan dan pikir-kan baik-baik. Di Bukit Golgota, Yesus Anak Manusia, Tuhan kita, tersalib. Dari situ dia menatap kita yang datang dan masuk ke gereja, satu demi satu. Yesus menatap dari salib. Entah apa yang dia ucapkan, tapi rasa-rasanya DIA akan mengungkapkan kalimat, ―Ampuni mereka…‖ Mengapa? Karena salib bebicara tentang isi hati Anak Manusia. Salib tidak bebicara tentang fenomena-fenomena belaka. Karena itu jangan terjebak pada rutinitas-rutinitas keagamaan belaka. Gunakan baik-baik, Jumat Agung adalah momen untuk mene-mukan kesejatian makna tentang penderitaan Tuhan, dan penge-tahuan kita akan kebenaran. Manfaatkan momen tersebut secara baik-baik supaya tidak menjadi suatu pengulangan, di mana kita hanya mengulang dan memainkan peran kita tanpa pernah kita pahami bahwa DIA berdiri dan menatap kehidupan kita, dan mungkin berkata, ―Belum terlalu baik.‖ Kiranya Jumat Agung ini boleh menjadi momentum kebangunan keimanan, kebangunan kerohani-an yang utuh untuk hidup takut akan Tuhan, memuliakan Tuhan dalam kesucian kejujuran. Berani-lah membedah, jangan-jangan kita sudah terjebak pada rutinitas seharihari. Selamat menunaikan ibadah Jumat Agung di mana pun engkau berada. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P. Tan) SIKAP TIDAK MAU TAHU, TIMBULKAN KESESATAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

KEBENARAN firman Tuhan tidak bisa dimonopoli oleh sekelompok orang, bahkan pendeta sekalipun. Kebenaran firman Tuhan adalah untuk semua orang yang percaya kepada Tuhan, siapa pun dia. Karena itu sudah pada tempatnya semua orang belajar mengerti firman Tuhan. Seorang pendeta, karena spesialisasinya di bidang teologi, mungkin lebih mengerti, sehingga dia bisa memberikan arah yang pas. Tetapi jemaat juga perlu mengerti dan tahu apakah khotbah yang dia terima itu ―sehat‖ atau tidak? Jadi ada semacam tolok ukur. Ibarat hendak membeli sejenis barang elektronik, kita tentu tidak boleh sembarang beli. Kita harus belajar mengerti tentang merek, spesifikasi, dan lain-lain. Kalau yang kita beli itu sound system, kita harus paham mereknya. Karena bisa saja mereknya Eropa tetapi
112

dibuat di Taiwan, atau Indonesia. Nah, jika untuk membeli sound system saja kita harus hati-hati, maka mendengar firman Tuhan tentu harus lebih berhati-hati lagi. Ukurannya adalah Alkitab. Maka kita harus rajin membaca Alkitab. Sehingga jika mendengar khotbah yang kira-kira menyimpang, minimal kita bisa berpikir, ―Kok yang dikhotbahkan ini lain dari yang saya baca?‖ Akan lebih bagus lagi jika kita punya keinginan untuk bertanya. Tetapi kenyataannya, sering kali kita malah tidak mau tahu. Padahal sikap tidak mau tahu inilah yang memungkinkan terjadinya kesesatan. Banyak orang yang tidak tahu, tetapi berlagak tahu. Orang yang berlagak tahu ini, dengan nekat berkotbah, berbi-cara semaunya. Orang yang ber-lagak tahu hanya akan menga-takan seakan-akan dia tahu apa yang harus dikata-kannya, tetapi apa yang dikatakannya itu tidak lebih dari sebuah kecelakaan atau sesuatu yang menyesatkan. Dan ini sangat berbahaya. Tentang ―tahu‖, ada empat tipe orang. Pertama, orang yang tahu kalau ia tahu. Orang seperti ini paling beruntung, paling berbahagia, karena ia tahu bahwa ia tahu, dan ia tahu bagaimana meman-faatkan pengetahuan itu sehing-ga ia menjadi orang yang berkarya. Ia tahu bagaimana me-manfaatkan pengetahuan itu sehingga ia punya nilai dalam hidupnya. Ia akan membuat suatu perubahan bagi sekitarnya karena tahu memanfaatkan pengetahuannya untuk menda-tangkan keuntungan bukan hanya bagi dirinya, tapi juga buat orang lain. Orang seperti ini suka meriset untuk menemukan kesejatian yang asli. Ia tahu kemampuannya dan tahu pula mengembangkannya. Orang ini berbicara apa yang ia tahu, bukan apa yang ia tidak tahu. Apa yang ia tahu dari Alkitab, itu yang ia bicarakan. Ia tidak bicara yang ia tidak tahu. Tipe kedua adalah orang yang tahu kalau ia tidak tahu. Orang ini masih beruntung. Karena ia tahu kalau ia tidak tahu, maka ia terus belajar, memerhatikan bagian-bagian yang ia tidak tahu. Karena ia tahu mana yang ia tidak tahu, semangatnya untuk menambah pengetahuan pun semakin tinggi. Kita rindu para jemaat memiliki kesadaran seperti ini. Jemaat yang sadar kalau dirinya tidak tahu, tentu akan berusaha dan merasa perlu untuk mencari tahu supaya ia bisa tahu. Dengan demikian di dalam perkembangan pengetahuan tadi, dia terus beranjak memahami kebenaran demi kebenaran. Dalam 2 Petrus 1: 5-8 dikatakan: ―Hendaklah engkau menambahkan pada imanmu kebajikan, kepada kebajikan pengetahuan…‖ Yang dimaksud pengetahuan di sini adalah tentang kebenaran firman itu. Tipe ketiga adalah orang yang tidak tahu kalau ia tahu. Orang ini kerap merasa minder alias tidak pede (percaya diri). Pada sisi lain, dengan sifatnya ini, yang bersangkutan juga menghina dirinya sendiri, sebab ia tidak pernah meng-ekspresikan apa yang ia tahu itu. Orang seperti ini sesungguhnya patut dikasihani, sebab ia justru sering menjadi bahan olok-olokan atau ob-jek tertawaan. Maka, kalau sampai kita tidak tahu apa yang kita tahu, sama saja dengan bahwa kita tidak mengenal diri kita, karena kita tidak tahu sampai sejauh mana kemampuan kita. Orang ini melakukan penghinaan pada dirinya, karena tidak mau tahu siapa dirinya. Tipe keempat—dan paling parah—adalah orang yang tidak tahu kalau dia tidak tahu. Tidak tahu kalau ia tidak tahu mengakibatkan dia sok tahu. Ini adalah orang paling bebal. Dikasih tahu pun dia tidak mau tahu, karena dia pikir dia tahu. Repot. Bayangkan jika orang semacam ini menjadi pengkhotbah, maka dia akan mengkhotbahkan tentang sesuatu hal yang ia tidak tahu. Ironisnya, jika diingatkan ia malah mengatakan kalau khotbahnya itu dari Roh Kudus. Beginilah gawatnya jika orang meng-khotbahkan hal yang ia tidak tahu. Karena itu, ukurlah apakah orang yang berkhotbah itu mengajarkan Injil? Jika si pengkhotbah dan pendengar (umat) sama-sama tidak tahu kalau dia tidak tahu, maka yang ada adalah kekacauan. Karena ajaran yang salah, yang disampaikan oleh si pengkhotbah, direkam salah pula oleh si jemaat, umat pun semakin sesat. Maka dari sini dapat dikatakan, bahwa kesesatan adalah kerja sama yang ―baik‖ antara pengkhotbah dan umat. Jadi, jangan cuma marah kepada si penyesat, yaitu si pengkhotbah atau guru palsu lainnya, tetapi ternyata kita perlu marah juga kepada jemaat yang membodoh-bodohi dirinya, tidak mau tahu apa yang perlu ia tahu, yang menelan mentah-mentah segalanya, dan menjadikan pendeta sama dengan Tuhan, pendeta sama dengan kebe-naran, sampai ia tidak lagi mau tahu apa yang dikatakan Alkitab. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

113

KASIH TIDAK MELINDUNGI KEBODOHAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

MENGAMBIL keputusan seringkali merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. Berbagai ekses biasanya akan muncul begitu suatu keputusan penting ditetapkan. Dalam lingkungan dunia kerja misalnya, seorang pimpinan pada sebuah perusahaan dituntut untuk mampu memutuskan se-suatu secara tepat dan bijak, demi tetap terjaminnya eksistensi peru-sahaan. Dalam hal pengambilan suatu keputusan ini, orientasi kerja sangat berperan. Artinya, apakah dalam mengambil keputusan ini seorang pimpinan berorientasi kepada perasaan atau realita? Ma-salah ini sangat penting terutama bagi kita orang Timur yang masih kental dengan budaya tradisional dan paternalistik, di mana faktor perasaan sungkan masih tinggi. Karena sungkan, tidak jarang se-orang pimpinan perusahaan me-ngambil keputusan yang tidak tepat, yang bisa berakibat buruk pada perusahaan. Sebaliknya, jika dia berusaha rasional, bisa-bisa dia dinilai sebagai manusia yang tidak punya perasaan. Dihadapkan pada masalah ini situasi jadi serba sulit. Dalam dunia kerja, hanya karena didasari rasa sungkan, seringkali kita secara sadar membenarkan yang salah. Meski tahu seseorang itu salah, kita ogah menegur, karena masih ada kaitan keluarga misalnya, atau karena dia lebih se-nior di tempat kerja, dan berbagai alasan lainnya. Ada puluhan atau bahkan ratusan argumentasi yang dapat kita ajukan untuk membe-narkan tindakan ―tidak menegur‖ orang yang salah dalam peker-jaan. Sebagai orang Kristen, bagai-mana tindakan kita jika berhadap-an dengan kondisi seperti ini? Menghadapi realita me-mang tidak gampang. Kita tidak hanya cukup ber-doa. Semua orang Kristen memang harus berdoa, setiap orang Kristen harus dekat pada Tuhan. Namun jangan pernah ber-pikir bahwa dengan de-mikian kita akan terhindar dari segala masalah. Jika kita dirundung masalah justru di situlah seni dari hidup kekristenan. Karena jika kita mulai menemukan jalan keluar dari per-masalahan, makin me-ngertilah kita arti per-tolongan Tuhan itu; makin kita pahamilah artinya kepemimpinan Tuhan itu, karena melalui kesesatan itulah kita ditolong untuk keluar dari segala masalah. Itulah namanya pertolongan Tuhan yang indah dalam hidup. Jadi, jangan mau lari dari persoalan, tetapi hadapilah. Ja-ngan bersembunyi dan menghindar di balik kata-kata rohani yang hanya merupakan dalih karena sebenarnya kita tidak mampu membereskan persoalan. Jika memang tidak mampu, jujurlah pada Tuhan, minta pertolongan-Nya lewat doa agar diberi kebijak-sanaan berbuat yang terbaik. Mes-ki demikian, di samping bergan-tung pada iman yang solid, kita pun harus menggunakan otak, dan tetap belajar dari realita. Lalu bagaimana sikap kita terhadap orang yang salah—atau dengan istilah yang lebih halus—kurang berprestasi dalam peker-jaan? Solusi awal, bisa saja kita berikan kesempatan padanya untuk belajar. Dengan kata lain, dia dipacu agar dapat meningkat-kan kinerjanya. Namun apabila dia tetap tidak mampu lagi untuk berkembang alias sudah mentok, kondisi semacam ini tentu akan menjadi batu sandungan bagi perusahaan. Jika segala upaya sudah mentok, sebagai seorang Kristen, apa tindakan kita? Solusi yang tepat adalah mencarikan posisi yang lebih cocok baginya di perusahaan itu, sebab pada dasarnya dia memang tidak pas di posisinya selama ini. Tindakan tegas memang harus kita ambil. Rasanya tidak enak jika terdengar gunjingan sinis dari kanan-kiri yang bunyinya, ―Sudah minoritas, kerjanya enggak karu-karuan pula.‖ Jika sudah ada tudingan miring seperti ini, kita pun jangan menyalahkan para penuding itu sebagai orang-orang dunia yang tidak mengenal kasih. Jika kita punya anggapan se-perti itu, justru kita sendiri-lah yang sebenarnya tidak mengenal kasih, sebab kasih tidak pernah mem-protect kesalahan, kasih tidak pernah melindungi kebebalan, kasih tidak pernah membela kebo-dohan, atau kasih tidak menolerir ketidakmam-puan seseorang untuk maju. Kasih harus dite-gakkan utuh bersama-sama dengan hukum. Di mana ada kasih, hukum pun berdiri di sana. Dan hanya dengan sikap yang tegaslah kasih itu berdiri tegak. Dalam kaitan ini kita pun perlu merenungkan kata-kata bijak yang tertulis dalam Amsal 17 : 15-17, sebagai berikut: ―Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, keduanya adalah ke-kejian bagi Tuhan. Apakah gu-nanya uang di tangan orang bebal
114

untuk memberi hikmah sedang ia tidak berakal budi? Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.‖ Kata-kata bijak dari Amsal di atas, secara sekilas mungkin tam-pak sederhana, namun jika dire-nungkan, untaian kalimat itu me-ngandung suatu wawasan/pan-dangan yang sangat mendalam, sebab didasarkan pada penga-matan dan pengalaman hidup. Bila kita coba menganalisis kata-kata: ―membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar adalah kekejian bagi Tuhan‖, itu artinya kita dituntut untuk mampu menempatkan sesuatu (seseorang) itu pada tempatnya. Melaksanakan ―instruksi‖ ini jelas bukan perkara sederhana, ter-utama bagi kita orang Timur yang masih kenatal dengan budaya ―sungkan‖ tadi. Tapi, jangan sekali-kali dengan dalih kasih kita tidak berani mengambil tindakan tegas, padahal sebenarnya kita menu-tupi rasa sungkan. Kita harus me-mahami, bahwa kasih minus hu-kum adalah liar, karena tidak ada aturan. Kalau semua orang meng-obral rasa cinta-kasih, tetapi hu-kum tidak ditegakkan, mau jadi apa kita ini? Satu hal yang tidak boleh kita lupakan, karena kasih-Nya-lah maka Tuhan ―memukul‖ kita supaya kita kembali ke jalan-Nya. (Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P. Tan)

DOA BUKAN SUATU KEWAJIBAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

SETIAP orang Kristen pasti tahu berdoa, terlepas dari faktor apakah yang bersang-kutan tidak mau atau malu ketika diminta untuk berdoa. Namun pa-da dasarnya semua orang bisa berdoa dan mengetahui apa itu doa. Doa tidak bisa lepas dari hidup orang benar. Persoalannya, apa-kah kita mengerti makna yang se-sungguhnya dari doa? Ini pertanyaan yang serius, sebab jika diminta berdoa, yang kita lakukan adalah melipat tangan, menutup mata dan berkata-kata, tetapi tidak jelas apa sebenarnya yang ada dalam benak atau hati kita. Apakah doa? Pertama-tama kita harus ingat bahwa doa bukan sebuah kewajiban. Artinya, doa itu hukumnya tidak wajib. Doa itu bukan suatu keharusan. Membaca kalimat di atas, kemungkinan besar kita rada tersentak, karena selama ini kita semua yakin bahwa yang namanya orang Kristen harus dan wajib berdoa. Tapi saya mengata-kan, doa bukan kewajiban, bukan pula keharusan! Kalau doa sebuah kewajiban, maka suka atau tidak suka kita akan selalu berdoa. Jika kita berdoa sekalipun hati tidak suka, ini sesuatu yang gawat, sebab kita munafik. Jika kita berdoa hanya karena kewajiban: lipat tangan, tutup mata, dan berkata-kata, apakah Tuhan pasti menerima? Tidak. Tuhan berkata, ―Janganlah kamu berdoa seperti orang munafik, yang mengucapkan doanya, berdiri di mana-mana, tetapi hatinya tidak tahu ke mana‖. Dengan kata lain, orang-orang seperti di atas melakukan doa hanya sebagai kewajiban ritual kekristenan. Bukan itu doa yang dimaui Tuhan. Jika doa suatu keharusan, ber-arti ada unsur terpaksa. Jika doa hanya suatu kewajiban, maka ada peluang orang berdoa dengan hati yang terpaksa, bukan dengan hati rela. Jadi, doa adalah sebuah kebutuhan yang ada pada diri setiap manusia. Orang percaya diberikan kerinduan itu oleh Tuhan. Orang percaya selalu punya kehausan: butuh akan Allah. Sama seperti kita butuh ma-kan, tidak perlu diajari untuk itu. Bayi yang belum bisa ngomong tahu minta makan, dengan mena-ngis. Tangisan itu secara otomatis akan timbul jika sang bayi merasa lapar. Semakin dia dewasa, dia tidak perlu menangis lagi. Kalau lapar, dia cari makan sendiri. Makan adalah suatu kebutuhan yang tidak perlu diajarkan. Makan adalah suatu kebutuhan yang dilakukan dengan kerelaan, wong kita memang butuh kok. Tetapi kalau makan suatu kewajiban, celakalah kita. Kita tidak enjoy, ti-dak tenang, karena terpaksa. Tetapi karena makan sebuah ke-butuhan, kita pun menikmatinya. Maka doa adalah sebuah kebutuhan bagi orang percaya, yang tidak bisa tidak harus ada. Doa harus ada. Tanpa doa kita tidak mungkin hidup. Tanpa doa kita akan mati. Doa adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, yang harus kita lakukan. Dan suatu kebutuhan tidak pernah dilakukan dengan terpaksa. Kebutuhan dilakukan dengan sikap
115

enjoy, menyenangkan. Bahkan kebutuh-an itu akan kita cari sendiri. Kalau kita sadar doa adalah suatu kebu-tuhan, pasti kita tidak akan pernah berhenti berdoa, bukan? Kita akan sangat suka berdoa dan melaku-kannya dengan penuh sukacita, bukan karena terpaksa. Doa bukan pula suatu tradisi, yang dilakukan karena memang sudah begitu dari dulu. Misalnya doa pada waktu makan bersama keluarga di rumah. Kenapa kita berdoa sebelum makan? Untuk bersyukur. Tapi, jika kita makan permen atau minum teh botol di kantin misalnya, apakah kita berdoa? Kalau memang berdoa adalah mengucap syukur karena ada makanan, apakah permen bukan makanan? Jawabannya bisa menjadi sangat ironis dan lucu. Sebenarnya, kalau mau jujur banyak di antara kita berdoa waktu makan karena tradisi, bukan suatu kesadaran. Tetapi kalau betul-betul mau mengucap syukur, apa pun yang kita makan atau minum, harus lebih dahulu mengucapkan syukur. Jika sedang makan di restoran atau pinggir jalan, mungkin kita tidak perlu melipat tangan, tapi paling tidak bisa mengatakan, ―Terimakasih Tuhan untuk permen ini.‖ Doa juga bukanlah perilaku kristiani, sebab semua penganut agama melakukannya, sebagai kewajiban. Jika kita sebagai orang Kristen berdoa hanya karena kewajiban, lalu apa bedanya kita dengan mereka? Jadi, doa bukanlah perilaku kristiani yang harus kita lakukan karena kita Kristen. Tetapi doa adalah sebuah kehidupan. Doa itu merupakan warna dominan dari perjalanan hidup orang Kristen. Mengapa? Karena yang pertama tadi, doa adalah sebuah kebutuhan, yang harus dipenuhi. Mungkin, saat melipat tangan, tutup mata, dan berkata-kata, kita menganggap kalau kita sedang berdoa, namun sebenarnya tidak, sebab Tuhan tidak mendengar suara hati, kecuali suara mulut kita. Jika sudah demikian, kita akhirnya terjebak pada konsep yang salah. Ingat, doa bukan sekadar susunan kata yang indah, panjang dan puitis. Kalau suara mulut berbeda dengan suara hati, kita tidak sedang berdoa, tapi sedang berbasa-basi, dan mencoba menipu Tuhan dengan kalimat-kalimat indah. Apakah Tuhan senang? Tidak. Kita harus selalu berhati-hati karena Tuhan tahu isi hati kita. Doa juga bukan suatu mantera yang jika diucapkan berkali-kali akan terwujud. Banyak orang Kristen membuat doa seperti mantera, menekankan apa yang dia mau, bukan yang Tuhan mau. Jika doa menjadi semacam mantera, si pendoa menjadi seperti dukun yang membaca-baca mantera. Doa bukan kata-kata magis. Doa adalah ungkapan hati yang murni dari seorang anak Tuhan yang menyuarakan suara hati lewat mulut, yang tidak berbeda antara apa yang diucapkan dengan yang terkandung di dalam hatinya.? (Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P. Tan) IMAN YANG SEJATI BERAWAL DAN BERAKHIR PADA KRISTUS Oleh : Pdt. Bigman Sirait

SECARA umum ada beberapa pengertian tentang iman. Menurut beberapa filsuf, iman adalah sesuatu hal yang ber-ada di antara pendapat biasa dan pengetahuan. Artinya, manusia menerima, kemudian percaya, tetapi belum tentu apa yang dia per-cayai itu benar. Dalam pengertian ini nilai iman lebih rendah dari pe-ngetahuan yang pasti. Ada juga yang mengatakan kalau iman itu suatu kepercayaan yang muncul sebagai suatu kepastian. Di sini, iman diidentikkan dengan pengetahuan. Jadi, apa yang dipercayai itu karena apa yang diketahui. Di sini iman sederajat dengan pengetahuan. Singkat kata, ada yang menaruh iman di bawah penge-tahuan, ada yang membuatnya sejajar dengan pengetahuan, ada yang membuatnya di atas pengetahuan, dan sebagainya. Iman di dalam pandangan umum memiliki semacam tingkat kualifikasi. Namun perlu juga kita me-ngerti bahwa tanpa sadar, penger-tian-pengertian seperti ini banyak sekali kita pakai dalam kehidupan kita, bersama dengan Tuhan, da-lam kehidupan beragama kita. Bukankah di antara kita banyak yang mau percaya karena memang sudah tahu dan pasti yang dipercaya itu? Atau mungkin juga kita percaya karena pengalaman. Mi-salnya setelah berdoa, penyakit kita langsung sembuh. Jadi kita percaya Tuhan itu hidup. Sebaliknya, coba seandainya penyakit ti-dak sembuh, maka bisa jadi kita tidak akan percaya.
116

Masuknya pengertian-pengertian iman secara umum ini ke pema-haman iman Kristen, jelas berbahaya, karena banyak pemahaman ini dibalut dengan ayat-ayat Alkitab. Dengan dibalut ayat-ayat suci, pe-mahaman seperti ini memang tam-pak manis, tetapi sebenarnya sangat rapuh. Ini menjadi sebuah peringatan bagi orang Kristen supaya ja-ngan sampai terjebak pada pola pikir dunia. Kalau konsep dunia itu dikatakan sebagai iman, betapa murahnya iman kritsiani itu. Kalau iman itu hanya sekadar apa yang kita ketahui, kita alami, lalu di mana letak iman yang berpusat kepada Kristus itu? Sekarang, mari kita lihat pengertian iman secara kristiani. Dalam pengertian khusus (kristiani) ini, iman merupakan anugerah dari Tu-han. Iman ini dianugerahkan bagi orang yang diperkenankan-NYA dan menjadi percaya kepada-Nya. Jadi, iman dianugerahkan oleh Allah. Iman tidak kita bawa dari lahir, iman bukan merupakan bakat. Iman tidak ada dengan begitu saja dalam diri manusia. Iman adalah sesuatu yang diperkenankan, dianugerahkan oleh Allah, khususnya di dalam iman mengenal DIA, Yesus Kristus Tuhan.

MANUSIA TIDAK MAMPU MENEMUKAN ALLAH BERSAMA Oleh : Pdt. Bigman Sirait

KEBERADAAN manusia sebagai makhluk beragama penting kita pahami, supaya di tengah k Kitab Kejadian 1: 27-28, dan Matius 22: 37 mengajak kita untuk menelusuri keberadaan manusia sebagai makhluk berbudaya dan beragama. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mengatur hubungan dengan sesama. Sebagai makhluk beragama, manusia diberi kemampuan untuk berelasi dengan Allah, dalam persekutuan yang utuh antara umat dengan penciptanya. Beragama merupakan kemampuan lahiriah yang diberikan Allah kepada manusia. Hal ini juga membedakan manusia sebagai ciptaan yang utama dengan binatang yang tidak punya kemampuan religius untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Namun kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengakibatkan kerusakan pada sistem nilai manusia. Manusia sebagai makhluk beragama yang seharusnya tunduk kepada kebenaran, justru melawan kebenaran. Manusia yang seharusnya takluk kepada Allah kini tidak lagi tunduk seutuhnya, bahkan sebaliknya memanipulasi atau mengatur Allah dengan caranya yang disebut agama. Ada yang menjadikan agama hanya sekadar baju, dan tidak memberikan ruang dalam hati bagi Tuhan. Kita mengurung Tuhan dalam hidup kita, dan menginginkan agar DIA melakukan apa yang kita mau. Kita bukan hidup seperti apa yang Tuhan mau. Agama berasal dari kata ―a-gamos‖, yang artinya ―tidak kacau‖. Jadi, agama secara umum sebetulnya menghindari kekacauan. Dengan beragama manusia menjadi makhluk yang tertib dan bermoral—kecuali kalau agama yang dianutnya memiliki dasar ajaran yang merusak, menyakiti dan menghancurkan. Ini biasanya disebut bidat (sekte). Namun pada hakekatnya, agama tidak pernah mengajarkan untuk merusak atau menimbulkan kekacauan. Tetapi sebagai ekses dari sebuah agama, kekerasan bisa muncul. Kalau melihat ekses dari suatu agama, jangan salahkan agamanya, sebab yang namanya ekses bisa ada dan terjadi pada agama apa pun. Ekstrimis bisa ada pada agama apa pun. Sifat agama Secara umum dapat dikatakan, agama punya beberapa sifat. Pertama, agama itu bersifat eksklusif. Kenapa? Karena agama merupakan sebuah keyakinan yang menciptakan sistem kepercayaan ke dalam (intern). Penganut yang eksklusif akan menolak segala sesuatu yang berbeda dengan keyakinannya. Di luar mereka dianggap sesat atau kacau. Jadi, agama sangat sulit menerima suatu realita perbedaan. Agama punya kecenderungan untuk menolak perbedaan. Inilah salah satu bentuk eksklusivitas agama.
117

Sifat kedua, radikal. Karenanya, agama itu akan mempertahankan diri dan menolak keras perbedaan agama, kalau perlu dengan cara radikal, menghancurkan. Sehingga muncullah wajah yang menakutkan dari agama, dan ini telah sering dibuktikan sejarah. Jadi, perdebatan atau pertikaian soal agama bisa membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan mungkin tidak akan pernah selesai. Ideologi (kenegaraan) kadang-kadang bisa ditengahi, tetapi kalau sudah menyangkut agama, sangat sulit, karena menyangkut keyakinan yang sangat mendalam. Ketiga, agama juga disebut mistis. Agama tidak sama dengan ilmu pengetahuan. Agama itu digambarkan sakral, tidak bisa diganggu gugat, karena keyakinan kadang kala tidak bisa dijelaskan berdasarkan ratio. Agama bersifat mistis karena memang mengan-dung sesuatu nuansa atau suasana yang misterius: hubungan seseorang dengan Tuhannya. Hubungan ini tidak bisa dipegang atau dijangkau. Jadi, dari sifatnya agama secara umum menempatkan pengikutnya dalam kelompok, untuk bertarung membuktikan diri sebagai yang paling benar, dengan cara paling halus sampai cara paling kasar, tergantung persfektif sang pemimpin. Lalu bagaimana agama dipandang dari kaca mata Kristen? Dalam Roma 3:11 dikatakan, ―Tidak ada seorang pun yang berakal budi. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah...‖ Alkitab mengajarkan kepada kita, sejatinya tidak ada orang yang mencari Allah, karena semua manusia sudah berdosa. Sebagai makhluk berdosa, manusia tidak lagi memiliki kemampuan untuk mencari dan menemukan Allah. Tidak ada manusia yang benar, seorang pun tidak. Manusia tidak punya kemampuan untuk mencari Allah yang suci dan sejati. Sehingga secara umum agama hanyalah suatu sistem di dalam keterbatasan. Sebagai sistem, dia mampu menciptakan kebaikan, moral. Manusia yang makin berbudaya, ditambah kombinasi kesadaran, pertumbuhan di dalam kebutuhan akan lingkungan sosial yang makin dewasa, ditambah ilmu pe-ngetahuan dan pengalaman-pe-ngalaman, membuat manusia itu berpikir untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih dan lebih baik lagi. Agama, dalam kaca mata Kristen, dapat dilihat dalam Yohanes 15: 16. Tuhan berkata, ―Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu...‖. Artinya manusia tidak pernah punya inisiatif untuk mencari dan memilih Tuhan, tetapi justru Tuhanlah yang berinisiatif memilih dan menemukan manusia. Jika penganut agama secara umum berkata, ―Engkaulah Tuhanku‖, maka pengikut Kristus justru mendapat anugerah: dipilih menjadi murid Tuhan. Di sinilah kita merasakan makna kekristenan yang dalam itu, sehingga kekristrenan bukan sekadar agama dalam pengertian secara umum. Kekristenan tidak bisa menjadi sama di dalam pemahaman agama secara umum. Kekristenan harus diyakini sebagai panggilan Kristus kepada orang berdosa, sehingga oleh kemurahan Kristus, orang berdosa mendapat penebusan, sehingga disebut Kristen: murid Kristus, atau Kristus kecil. Jadi, jikalau Kristen dipandang sebagai agama, maka jangan lupa Kristus adalah Allah yang menyatakan diri, bukan dinyatakan oleh umat. Jadi, Kristen adalah sebuah kesaksian Alkitab, bukan sebuah sistematika agama. Kekristenan hanya berpegang pada apa yang dikatakan Alkitab. Apa yang dikatakan dalam Alkitab, itu sudah cukup dan amin. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

KEBENARAN TAK MEMERLUKAN PENGAKUAN BERSAMA Oleh : Pdt. Bigman Sirait

GELOMBANG perjalanan hidup manusia dalam usahanya memahami Allah sudah terjadi sejak dulu. Sudah barang tentu usaha untuk memahami Allah akan mengalami kegagalan.
118

Pada tahap pra-modern, mistik sangat berkembang sehingga semua orang cenderung bertuhan. Hal itu antara lain karena realita kehidupan pada waktu itu semua orang sangat bergantung pada alam semesta. Dengan sendirinya pula, kondisi keberagamaan yang sangat kuat pengaruhnya, mendominasi kehidupan banyak manusia. Kemudian pada gelombang kedua yaitu modern, di mana terjadi penemuan mesin-mesin, cakrawala pikir manusia pun berkembang luar biasa. Struktur pemikiran ini menimbulkan suatu kepongahan dalam diri (pikiran) manusia untuk menjangkau Allah. Terjadilah era yang disebut rasional. Kemudian di era yang berikutnya lagi, berkembang pemikiran posmo dan isme, di mana yang menjadi titik utama adalah perasaan, bukan lagi pada kemampuan berpikir. Dalam pemikiran ini, kemampuan merasa (feeling) menjadi segala-galanya. Maka peranan agama kembali bergeser. Yang paling utama adalah yang ada di dalam, yaitu perasaan. Namun jangan pernah menganggap kalau kekristenan ―mati‖di dalam mistik, rasio atau perasaan. Sebab kekristenan justru hidup. Namun yang membuat repot atau menjadi masalah adalah kekristenan itu di dalam tahap-tahap-nya juga dipengaruhi oleh paham mistis, rasionalisme, maupun paham yang sangat mengagung-agungkan perasaan. Nah, kehidupan-kehidupan semacam ini mewarnai atau lebih tepat menodai ke-kristenan. Tetapi jangan salah mengerti, hal ini bisa terjadi bukan karena Alkitab kurang kuat, atau kebenarannya kurang tepat, tetapi karena ketidakmampuan kita sendiri menjawab realita yang berkembang pada jaman kita masing-masing. Kebenaran yang hakiki itu adalah Alkitab. Tetapi tidak sedikit kekristenan membuka lubang, sehingga ajaran-ajaran yang salah itu datang, masuk dan memengaruhi kekristenan. Tugas utama kita adalah memengaruhi yang lain-lainnya itu supaya sejalan dengan nilai-nilai kekristenan, karena kita disebut sebagai garam dan terang dunia. Garam mengasinkan dan memberi keawetan pada apa yang dijangkaunya, dan terang mene-rangi segala celah yang mampu dijangkaunya. Begitulah seharusnya orang Kristen. Yohanes 4: 20-24 berbicara tentang seorang perempuan Samaria yang berdialog dengan Yesus tentang nenek moyangnya yang menyembah di atas gunung. Dan Yesus mengoreksi pendapat perempuan itu dengan mengatakan bahwa Allah itu roh, maka barang siapa menyembahnya harus dalam roh dan kebenaran. Kalimat yang diucapkan Yesus kepada perempuan Samaria itu ternyata menggema di sepanjang jaman: Bahwa seharusnyalah kita menyembah Bapa di dalam roh dan kebenaran. Karena apa? Allah itu roh, dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran. Bersifat mutlak Kebenaran bersifat mutlak, dan tidak memerlukan pengakuan supaya dia menjadi benar. Kita boleh bilang, bahwa benar itu benar. Tetapi benar itu tidak menjadi benar karena kita mengatakannya benar. Sebaliknya, sekalipun kita tidak mengatakan bahwa benar itu benar, dia tetap benar. Karena kebenaran itu tidak memerlukan sebuah pengakuan supaya dia menjadi benar. Sebab kebenaran, benar pada dirinya. Kebenaran, adalah benar pada hakekatnya. Dan kebenaran itu hanya berasal dari/ atau ada pada Allah. Maka seluruh kebenaran yang ada di muka bumi ini adalah common grace, anugerah umum. Dan anugerah umum itu benar-benar ada dan dipahami oleh semua orang. Tetapi secara special grace, kebenaran menemukan kesejatian Sang Kebenaran yang datang ke dunia di dalam diri Yesus Kristus. Hanya orang yang diperkenankan Tuhan, yang dicintai Tuhan, dinyatakan dengan itu. Dan pernyataan Tuhan terhadap orang-orang yang dicintai-Nya menjadi misteri pribadi lepas pribadi. Beruntunglah perempuan Samaria menemukan kesejatian itu, sehingga dia boleh mengenal Tuhan. Jadi Allah yang benar adalah Allah yang benar pada diri-Nya, yang tidak memerlukan pengakuan kita sehingga Dia menjadi benar, dan Dia tidak terganggu karena ketidakbenaran, dan itu tidak mengurangi nilainya. Sebaliknya, kebenaran Allah membenarkan kita yang tidak benar sehingga kita yang tidak benar menjadi benar. Jika kita benar, bukan karena kita benar, tetapi karena Allah yang benar membenarkan kita.
119

Allah itu roh, maka kita tidak bisa mengurungnya di dalam ruang semau kita, atau membentuk Dia seperti apa yang kita kehendaki. Dia tidak bisa kita kurung bahkan di dalam pikiran kita, karena Dia roh yang melintasi ruang dan waktu, melintas batas secara luar biasa. Allah yang roh itu bisa hadir di mana-mana dalam waktu yang bersamaan karena Dia Allah yang hidup, yang luar biasa. Nah, Allah yang benar dan roh inilah menuntut kita supaya menjadi penyembah-penyembah di dalam roh, yaitu tidak terkurung dalam ruang dan waktu. Oleh karena itu, maka kita harus memerhatikan betul-betul di tengah kehidupan kita, hakekat daripada kebenaran Allah itu. Kebenaran ini nyata di dalam diri kita, membenarkan diri kita. (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) JANGAN DIPERALAT HARTA BERSAMA Oleh : Pdt. Bigman Sirait

HARTA adalah sesuatu benda yang tidak pernah melakukan kesalahan. Memiliki harta juga bukan suatu kesalahan. Yang salah adalah jika harta itu memperalat kita. Makanya kita perlu memikirkan apakah kita memperalat harta. Di abad pertengahan pernah ada ordo-ordo yang sangat unik. Mereka yakin bahwa di dalam kesulitan dan kemiskinanlah kebenaran itu ada dan nyata. Berdasarkan keyakinan itu, banyak dari mereka—yang tadinya kaya-raya—menjual seluruh harta bendanya, sampai akhirnya tidak memiliki apa-apa lagi. Lalu hasil penjualan harta benda yang jumlahnya sangat banyak itu diberikan kepada orang-orang miskin. Mereka sendiri pun akhirnya hidup sebagai orang miskin. Mereka seperti anti terhadap harta duniawi. Selain itu ada juga di antara mereka yang hidup secara askese (menyiksa diri), mengubur diri ke dalam tanah sebatas leher. Ada juga yang sengaja tidur di atas pohon selama berbulan-bulan sampai kulitnya menempel dengan kulit pohon itu. Saking lamanya kulitnya menyatu dengan pohon, belatung pun mulai muncul. Semakin banyak belatung di sana, semakin hebat dan ajaiblah dia menurut anggapannya. Konsep-konsep semacam ini pernah hidup di abad pertengahan. Tetapi kita tidak perlu meniru mereka. Kita tidak perlu ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Tidak usah bercita-cita jadi orang superkaya misalnya untuk bisa melayani. Sebaliknya kita tidak perlu hidup miskin dengan maksud membuktikan kalau Tuhan hidup di dalam diri kita. Apa yang Tuhan percayakan kepada kita, silakan lakukan. Sebaliknya apa yang tidak dipercayakan oleh-Nya, jangan lakukan. Tetapi dengan kecerdikan yang telah dititipkan oleh Tuhan kepada kita, sadarlah kita bahwa itu semua bukan semata untuk menghidupi diri kita sendiri, namun kecerdikan yang ada pada kita harus kita amalkan sebagai saluran berkat bagi orang lain. Dalam Amsal 19: 17 dikatakan, ―Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, (maka dia) memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.‖ Memiutangi Tuhan, adalah istilah yang sangat menarik. Sebab bagaimana mungkin manusia membuat Tuhan berhutang kepada manusia? Padahal intinya adalah Tuhan akan menyatakan cinta kasih kepada orang yang menyalurkan cinta kasih itu. Jadi dengan demikian, memiutangi dalam konteks ini bukan membuat Tuhan mempunyai kewajiban membayar utang kepada manusia. Istilah itu hanya untuk melukiskan bahwa Tuhan akan mengasihi kita dan membimbing kita sebagai orang yang mengasihi Dia. Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Artinya, orang beriman pasti berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama dan menyenangkan hati Tuhan. Jika punya uang atau harta, itu akan dipakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Dan itu dilakukan sebagai luapan rasa syukur yang Tuhan taruh di dalam batinnya. Maka orang yang sadar bahwa dosanya sudah diampuni, akan berbuat banyak, memberi banyak, untuk kemuliaan
120

Tuhan. Harus cerdik Maka orang yang diampuni oleh Tuhan, mestinya memiliki kesadaran yang besar di dalam dirinya untuk gemar berbuat baik dalam hidupnya. Hidupnya pun mengalir sebagaimana Tuhan juga memberkati dia. Tuhan memberkati dia bukan karena dia memberi. Tetapi Tuhan memberkati dia karena dia hidup dalam kebenaran, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Kita diberkati Tuhan bukan lantaran kita memberi. Sebab banyak orang yang memberi namun motivasinya bermacam-macam. Ingat, Tuhan tidak bisa dibodoh-bodohi. Dia tahu apa motivasi seseorang sewaktu memberi persembahan. Tetapi jika kita memberi dengan sungguh-sungguh dan rela, maka berkat yang akan kita dapatkan dari Tuhan sungguh melimpah. Tuhan akan memberikan segala apa yang menjadi kebutuhan hidup kita. Setiap orang percaya mestinya juga cerdik. Orang cerdik mampu memperalat peluang, bukan diperalat oleh peluang itu. Karena itu pintarlah memanfaatkan setiap peluang atau kesempatan, tetapi dengan cara yang jujur. Kemampuan memanfaatkan peluang secara baik dan positif inilah yang membedakan anak-anak terang dengan anak-anak yang bukan terang. Jangan sampai hidup sebagai orang Kristen yang bodoh. Orang Kristen yang bodoh adalah orang yang diperalat oleh uangnya. Jika kita suka membagi-bagi uang kepada orang lain dengan maksud supaya kita dikenal dan dihormati, itu suatu tindakan bodoh, karena kita telah diperalat uang kita. Oleh karena itu, kita yang mengaku percaya kepada Tuhan, seharusnya mampu mengaktualisasikan iman itu dalam kehidupan secara tepat. Jangan merasa berbuat baik terhadap sesama manusia karena suka membagi-bagikan uang. Kita sebagai pekerja di kantor pun, harus bijak supaya mampu menciptakan masa depan yang lebih baik sesuai keinginan Tuhan. Salah satu caranya tentu saja dengan menjalin pergaulan yang harmonis dengan siapa saja, sesuai etika kekristenan. Gaya hidup yang penuh etika kekristenan akan membuat setiap orang merasa senang dan kagum terhadap kita. Selanjutnya, interaksi yang sangat bagus ini akan bisa pula mengantarkan kita menjadi pribadi yang dipercaya oleh atasan sehingga memberikan kedudukan terhormat. Dan sikap hidup sebagaimana seorang Kristen ini tetap kita bawakan dalam berinteraksi dengan kehidupan di mana pun kita berada. Akhirnya semua orang akan tahu siapa kita. KRISTUS DATANG, KITA BERJALAN DALAM KEPASTIAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

ALLAH yang kekal, yang kita sembah, adalah Allah yang melintasi garis, bidang, ruang, dan waktu. Bagi orang percaya, iman itu dimensi yang tidak bisa diukur, karena sangat luar biasa, melintasi segala sesuatu. Allah melewati semuanya. Sementara kita, manusia, dibatasi oleh garis maupun bidang. Sehingga kita terkotak-kotak, terkurung dalam satu ruang, tidak bisa ada di satu tempat, lalu ada di tempat lain pada saat yang bersamaan. Kita dibatasi ruang dan waktu. Itu membuat kita secara hakekat berbeda dengan Allah yang tidak dibatasi oleh garis, bidang, ruang maupun waktu. Maka Allah yang kekal itu sering kali sulit kita mengerti. Tetapi manusia tidak tahu diri. Karena tidak bisa mengerti Allah, justru Allah yang disalahkan. Maka sering tanpa sadar kita memaksakan supaya Allah bisa dimengerti berdasarkan pikiran kita. Waktu Allah bisa dimengerti, barulah kita berkata, ―Ini Allah‖. Sebaliknya, ketika Allah tidak bisa kita mengerti, kita marah-marah. Padahal untuk bisa memahami Allah, kita tidak perlu marah-marah tetapi duduk diam mendengarkan suara Allah, supaya kita bisa mengerti. Allah tidak termakan oleh jaman. Jaman boleh berganti, dari pramodern--modern--postmodern. Yang dulu modern, suatu saat menjadi usang. Manusia menjadi tua dan mati. Tetapi Allah tidak termakan oleh jaman itu. Allah tidak akan menjadi tua oleh perjalanan
121

waktu. Karena Dia Allah yang kekal, tidak termakan jaman, sehingga kehadiran-Nya selalu up to date di sepanjang jaman. Maka tidak heran jika Alkitab juga up to date sepanjang jaman. Yang tidak up to date adalah bagaimana orang Kristen memahaminya atau mengerti. Sering kali kita menjadi cupet, dikurung oleh pengertian-pengertian yang salah, sehingga orang-orang mencemooh, seakan-akan Alkitab itu buku kuno. Padahal Alkitab luar biasa hebat, dahsyat. Pengertian kitalah yang seringkali menjadi kacau karena malas mendalami, menggali dan menemukan mutiara di dalam Alkitab. Kemudian, Allah yang kekal adalah Allah yang menguasai sejarah. Tidak ada suatu sejarah yang lewat kalau bukan karena Dia. Maka Dialah yang memulai sejarah, yang membuka sejarah, menciptakan sejarah. Allah yang kekal itulah pusat kehidupan setiap orang percaya. Allah menjadi pusat pengharapan kita. Pengharapan kita bukan dunia dan ipteknya yang luar biasa, tetapi penghidupan yang Allah berikan. Karena Dia yang memberi dan memelihara hidup, lalu apa yang kita takutkan? Kita boleh takut jika tidak ada yang menjamin hidup. Tetapi Allah yang kekal, pusat pengharapan penghidupan ada bersama kita, menuntun, membimbing dan mengarahkan kita pada satu kehidupan yang sesuai kehendak-Nya, dan pengharapan kehidupan itu dapat dipertanggungjawabkan karena Dia kekal. Dia tahu hidup masa lampau, masa kini, masa depan, semua ada di tangan-Nya. Dalam kepastian Karena itu Allah sebagai pusat pengharapan kehidupan, DIA-lah satu-satunya yang dapat diandal-kan. Di tangan-Nya ada masa depan kita. Dia merangkai masa depan yang baik bagi kita. Itu sebabnya, kepercayaan kepada Allah yang kekal seharusnya memberikan ketenangan pada batin manusia. Kepercayaan kepada Allah yang kekal seharusnya memberi kita kekuatan yang mahadahsyat dalam menjalani kehidupan. Allah sebagai pusat pengharapan masa depan menjadi satu rangkaian perjalanan kehidupan kita. Allah adalah pusat pengharapan yang abadi. Seringkali kita mengalami kepahitan dan kesulitan, sehingga istilah abadi sulit kita mengerti. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali pengharapan kepada Allah. Pengharapan yang abadi. Kita semua akan tua dan mati, tetapi pengharapan itu sendiri adalah pengha-rapan yang abadi. Itu yang penting, karena pengharapan itu akan membawa kita kepada kekekalan yang sejati. Percaya kepada Allah yang menghidupkan, maka mati bukan masalah. Karena itulah pusat pengharapan. Dia yang abadi seha-rusnya menjadi semangat dan gairah di dalam hidup ini. Orang percaya harus terus belajar menemukan kesejatian, di dalam pergumulan dan kesulitan. Karena itu, manusia harus takluk dan menaklukkan diri kepada Allah. Percaya kepada Allah adalah tindakan yang sangat bertanggung jawab. Percaya kepada Allah itulah yang paling penting dalam hidup manusia. Percaya kepada Allah, maka Dia akan memberikan gairah yang menghidupkan, dan itu menjadi kekuatan. Karena Allah adalah Allah yang kekal, maka sudah seharusnya kita menggantungkan seluruh kehi-dupan kepada Dia. Berjalan dalam kepastian, melewati ketidak-pastian. Karena Allah itu kekal, seharusnya Ia menjadi pusat pengharapan kita menyongsong masa depan, sehingga dari ketidakpastian kita berjalan dalam kepastian. Dunia memang penuh ketidakpastian, tetapi Kristus Tuhan yang datang, Allah yang mengubah seluruh kehidupan manusia, memberi harapan yang sangat kuat. Manusia harus bergantung kuat kepada Dia. Bersama Dia, manusia mempunyai pengharapan yang solid. Oleh karena itu, di tengah-tengah persoalan dan pergumulan hidup, jangan pernah menyerah, karena Allah ada bersama kita, menuntun dan membimbing kita. Berbahagialah setiap orang percaya yang menaruh harapnya kepada Dia karena mereka akan dikuatkan, dimenangkan dalam hidupnya. Berbahagialah mereka yang beriman teguh kepada Allah yang kekal, karena mereka memiliki sifat kekal, di dalam hidupnya.

(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)
122

BERAGAMA DALAM KEPALSUAN Oleh : Pdt. Bigman Sirait

TAK bisa dipungkiri jika ada orang yang punya motivasi tertentu dalam beragama. Ini perlu dibedah . Ucapan itu dilatarbelakangi peristiwa ketika Yesus memberi makan 5.000 orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Mukjizat itu memang membuat perut orang-orang yang hadir menjadi kenyang. Di lain sisi, hal itu memberi kesan tersendiri, yakni makan gratis. Kesan lainnya: ternyata ikut Tuhan tidak lapar. Di sini terlihat aktivitas keagamaan yang sangat menarik, di mana orang-orang mencari dan menemukan Yesus di seberang laut. Bagi mereka, Kristus tampak sebagai sesuatu yang sangat indah dan luar biasa. Untuk mencari Yesus, mereka meninggalkan aktivitas, keluarga, dan lain-lain. Ini kegiatan keagamaan yang patut dipuji. Saat mencari Yesus mereka tampak beragama. Tetapi Yesus tidak memuji. Sementara gereja masa kini tentu akan berterimakasih dan memuji jemaat yang terus datang mencari Tuhan, sekalipun pencarian itu dilatari dua kemungkinan: palsu atau asli, atau ada selubung tertentu. Tapi gereja memang bukan Tuhan. Gereja tidak peka seperti Yohanes Pembaptis, yang tahu kepalsuan hati orangorang yang mau dibaptis itu, maka dia pun menghardik, ―Pulang kau ular-ular beludak!‖ Orang jaman sekarang memang kurang peka dibanding para rasul. Mungkin itu sebabnya kita mudah menipu dan tertipu dalam konteks beragama. Tetapi yang namanya asli atau palsu bisa dikenali Tuhan, sehingga Ia berkata (ayat 26), ―Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencariku bukan karena telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang‖. Mereka memang tidak bisa melihat kenyataan bahwa Yesus itu sejatinya Tuhan. Jadi, mereka mencari Yesus bukan untuk memuji dan memuliakan Dia. Artinya, mereka mencari Tuhan karena masalah ekonomi, masalah uang. Beragam motivasi Yesus melakukan mukjizat atau tanda-tanda, supaya orang-orang bisa mengerti dan mengenal Allah dalam Dia. Tetapi mereka memang bukan mencari itu. Sementara, perempuan Samaria (Yohanes 4), menemukan dan tahu bahwa Dia-lah Mesias, anak Allah yang hidup. Tetapi banyak orang mencari Yesus yang bisa kasih makan. Yang mereka cari adalah roti yang bisa mengenyangkan perut. Dalam Yohanes 6: 36 dikatakan, ―Tetapi Aku berkata kepadamu, sungguh pun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya‖. Artinya, orang bisa beragama karena berbagai kondisi, misalnya karena frustrasi, sakit, dan sebagainya. Mereka beragama dalam kepalsuan. Dalam Alkitab, banyak contoh orang yang keberagamaannya ―asli‖, seperti perempuan Samaria tadi. Yang palsu juga banyak. Contohnya, orang-orang yang menyalibkan Yesus, mereka adalah ahli-ahli Taurat, yang lebih mengerti tentang agama. Di gereja, banyak orang berdalih mencari Yesus, namun sejatinya mereka hanya mencari roti yang dibuat-Nya. Mereka mencari Yesus untuk mengenyangkan perut, untuk memuaskan kebutuhan. Tapi mereka tidak bisa menipu Yesus yang bisa melihat hati dan membongkar kepalsuan beragama yang tumbuh subur masa kini. Orang dengan segudang motivasi bisa ada di gereja. Mereka bisa menaikkan doa-doa yang tampak-nya muluk dan luar biasa. Orang-orang ini, tingkat kerajinannya amat mengagumkan. Karena apa? Karena memang punya kepentingan perut. Maka mereka pun ―rajin‖ mencari Kristus. Tampaknya indah. Tetapi mereka mencari Yesus supaya perut mereka terisi, ekonomi terjamin, kenyang dan puas. Keberagamaan yang ujung-ujungnya perut, suatu hal yang berbahaya dalam kehidupan jemaat. Realita persoalan perut, ekonomi ini terus bergulir dari masa ke
123

masa, tak bisa dihindari. Jangankan pada jaman sekarang yang sangat modern, di jaman Yesus pun sudah ada motivasi palsu dalam beragama. Maka perut-perut yang lapar ini menciptakan kepalsuan. Dan bukan hanya demi perut, demi status sosial, orang bisa melakukan banyak cara. Akhirnya kesaksian palsu pun banyak mengalun untuk uang! Kesulitan-kesulitan direkayasa. Penipuan–penipuan dengan dalih persoalan kesulitan kehidupan yang mengatasnamakan Yesus muncul di gereja. Hal semacam ini sudah jadi mainan, dan tidak lagi menimbulkan rasa takut. Celakanya banyak orang Kristen tertipu karena tidak lagi peka mendengar suara Allah. Ini sangat menakutkan, karena ternyata bukan hanya kesaksian, khotbah pun bisa diperjualbelikan. Teguran keras terhadap orang Israel di masa lampau, kiranya bisa kita cermati sebagai teguran keras Yesus kepada kita. Jangan mencari Kristus hanya karena bangkrut. Jangan mencari Kristus hanya karena perlu jaminan keuangan atau tertimpa persoalan bisnis. Seriuslah beragama, jangan sampai Tuhan berkata, ―Kalian bukan mencari Aku, tetapi mencari roti yang sudah membuat perutmu kenyang. Kalian tidak mencari Aku, karena sekalipun kalian mencari dan melihat Aku, kalian tidak percaya‖. Hati-hati! (Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan) Pdt. Erastus Sabdono Ketamakan Pada saat saya mendengarkan siaran salah satu Radio Kristen, saya amat tertarik dengan iklan jadwal ibadah yang dipasang oleh banyak gereja. Ada beberapa hal yang saya tangkap dalam mempromosikan gereja lewat media radio ini. Yang pertama, usaha untuk menarik banyak orang masuk ke dalam gereja. Kedua, usaha untuk menunjukkan kepada orang banyak bahwa Tuhan itu baik, penuh kasih, pasti membuat mukjizat, dan pasti menjawab doa-doa mereka. Tidak ketinggalan juga janji-janji bahwa jemaat yang hadir akan memperoleh apa yang menjadi keinginan dan kerinduan mereka. Saya kira hal ini sangat berbahaya sebab focus orang yang datang hanya tertuju pada satu sisi dari hakikat Tuhan saja, yaitu kasih-Nya. Mereka tidak akan mengetahui sisi lain dari hakikat Tuhan yang menunjukan kehendak-Nya yang menginginkan setiap orang dapat berubah menjadi pribadi-pribadi seperti yang Dia kehendaki. Tanpa disadari promosi-promosi seperti itu membuat banyak orang lupa akan tanggungjawab mereka di hadapan Tuhan, karena mereka akan lebih memaksa Tuhan untuk bertanggungjawab dengan mengabulkan apa yang mereka inginkan daripada merubah dirinya sendiri menjadi pribadi yang berkenan kepadanya. Jika kita mengerti betapa sulitnya merubah diri kita menjadi pribadi yang berkenan di hadapan-Nya, maka hal ini akan menggiring kita pada sikap hidup yang berkenan kepada-Nya. Salah satu sikap itu adalah ketidak tamakan kita akan segala sesuatu. Dalam Injil Lukas 12:15 tuhan Yesus berkata bahwa: “…Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Ketamakan di sini memiliki arti niat usaha seseorang untuk memiliki atau menikmati porsi yang bukan bagiannya. Untuk itulah mengapa Tuhan Yesus dalam Injil Matius 6:11 berkata: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Inilah gaya hidup yang harus menjadi cirri khas kita sebagai anak-anak Allah. Kata ―secukupnya‖ di atas ini sebenarnya nyaris tidak bisa dilakukan oleh manusia karena setiap kita pasti memiliki ketamakan yang intensitasnya berbeda. Itulah sebabnya mengapa ukuran cukup pada diri seseorang sangatlah relative. Namun walaupun demikian jika kita selalu berjalan bersama Tuhan, dan jika kita sadar bahwa hidup kita adalah pengabdian kepada
124

Kristus yang sudah menebus kita dengan harga yang mahal, maka kita akan memiliki sensitifitas. Berisi artikel-artikel yang menyuarakan kebenaran yang ditulis oleh Pdt. Erastus Sabdono.M.Th. Artikel ini bersumber dari website Rehobot Online dan ditulis beliau dengan gaya bahasa yang sederhana, lugas, tegas dan dipersembahkan untuk para pembaca sekalian untuk menjadi berkat Arah Kebangunan Rohani Dewasa Ini Dewasa ini kita melihat dan mengalami suatu gelombang kebangunan rohani yang luar biasa di kalangan orang- orang Kristen di seluruh dunia. Gelombang kebangunan rohani ini menciptakan suatu iklim baru dalam dunia kekristenan kita.Adanya KKR dimana-mana, munculnya persekutuan-persekutuan doa di rumah-rumah bagai jamur di musim hujan,terbentuknya berbagai persekutuan dan perkumpulan yang bertendensi pada kegiatan rohani di berbagai kelompok profesi dll, munculnya keimaman awam, dibukanya berbagai kelas-kelas Alkitab malam, gedung- gedung besar menjadi tempat ibadah, gereja tidak lagi menjadi pusat ibadah satu-satunya dll. Dibalik kandungan positif yang ada di dalam semua kegiatan tersebut maka kita temukan pula berbagai ekses-ekses negatif yang harus diakui bisa merusak nilai kekristenan, kehidupan iman. Sebab bersamaan dengan iklim baru kekristenan ini muncul juga pengajaran yang tidak sehat, praktek-praktek ibadah yang kadang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara theologis ( alkitabiah ) dll. Perlu direnungkan pertanyaan ini : KEMANAKAH ARAH GERAKAN INI SEBENARNYA ? MAU DIKEMANAKAN ORANG-ORANG PERCAYA INI ? Mari melihat apa yang Alkitab berkata tentang maksud dan tujuan kebangunan rohani/pembaharuan hidup sebenarnya ? Ini lebih dari sekedar yang miskin jadi kaya materi, yang sakit sehat, nganggur dapat pekerjaaan dll. Bicara tentang maksud tujuan kebangunan rohani sebenarnya kita sedang kembali melihat maksud kedatang TY ke dalam dunia.Vissi utama kedatangan TY di dalam dunia. Maksud dan Tujuan Kebangunan Rohani Membaca Injil Yohanes 5:24 dan Yohanes 3:16 ini, saya mengajak sdr untuk memberi perhatian kepada kalimat "hidup yang kekal". Kalimat ini tentu tidak asing bagi telinga orang Kristen. Tahukah sdr makna yang terkandung didalam kalimat " hidup yang kekal" Kalau Alkitab berbicara mengenai hidup yang kekal sesungguhnya ia bukan hanya berbicara mengenai waktu , dalam hal ini karena terpancang dengan kata "kekal". Berbicara mengenai hidup yang kekal Alkitab bukan saja berbicara mengenai waktu yang tidak berkesudahan, panjangnya hidup, tetapi ia ingin berbicara pula mengenai dalamnya hidup.Kwalitas hidup, mutu hidup, nilai hidup. Nilai hidup binatang tidak sama dengan nilai hidup manusia. Selanjutnya nilai hidup seseorang berbeda dengan nilai hidup/mutu hidup manusia lain. Harus disadari bahwa nilai hidup semua orang tidak sama. Kriteria apakah yang digunakan untuk menunjukkan nilai hidup manusia itu? kekayaankah, gelar, pangkat, kedudukan, popularitas, penampilan, pengetahuan, kekuasaan, kekuatankekuatan sekuler ? tentu harus saja jawab " TIDAK ". memang pada umumnya ukuran inilah yang dipakai.Hal terbukti dengan kuatnya ambisi manusia pada umumnya memburu hal-hal ini, menempuh segala jalan menghalalkan segala cara . Ukuran apakah yang benar untuk menunjuk nilai/kwalitas/ mutu hidup manusia? Untuk melihat ini kita harus kembali kepada "penciptaan manusia".Yaitu maksud tujuan manusia diciptakan' .Manusia yang bermutu adalah manusia yang hidup sesuai dengan maksud tujuan dirinya diciptakan.Apa maksud tujuan manusia diciptaka Jadi hidup yang berkwalitas yang diungkapkan dengan kalimat" hidup yang kekal"adalah kehidupan yang bersekutu dengan Allah dan dalam pengabdian kepadaNYa". Kebangunan rohani yang Allah kerjakan dewasa ini secara luar biasa dimaksudkan hendak mengembalikan manusia kepada hidup yang bernilai, bermutu, berkwalitas.Manusia yang hidup dalam persekutuan dan pengabdian kepadaNya. Dewasa ini ditengah-tengah kemajuan manusia diberbagai bidang ilmu pengetahuan, ditemukannya berbagai penemuan canggih. Manusia telah menjadi manusia yang telah merosot
125

nilai hidupnya. Seperti jaman Nuh kecenderungan manusia semata-mata kepada perkaraperkara yang melawan Tuhan dan FirmanNya.Terjadi kemerosotan ahlak, moral dan iman (Matius 24:39). Keadaan ini juga berlangsung dalam kehidupan orang Percaya di akhir jaman ini. Memang mereka masih ke gereja, melasanakan liturgi dan ritus agama . Tetapi pada hakekatnya mereka hanya memiliki sebuah keberagamaan tetapi tidak memiliki hakekat kebenaran Injil. (2Tim 3:5). Kalau hal ini berlangsung terus banyak orang-orang yang mengaku Kristen yang akan binasa dan Injil terhambat untuk menjadi keselamatan bagi mereka yang belum mengenal TY. Tidak dapat disangkal banyak gereja hanya menciptakan umatnya menjadi manusia beragama tetapi tidak mengajak jemaat secara militan untuk memiliki hidup yang bersekutu dengan Allah dan dalam pengabdian kepadanya.Parahynya pengabdian yang ditawarkan sebenarnya pengabdian kepada organisasi, denominasi, ambisi dan vissi pribadi tokoh-tokoh rohaniawannya dll. Untuk ini harus diingat bahwa tujuan kebanguan rohani ini bukan untuk membangun denominasi baru, pendeta- pendeta baru, penginjil-penginjil baru yang kemudian sebagai eksesnya muncul pendeta-pendeta gadungan dan penginjil-penginjil petualang. BUkan pula nama denominasi yang megah, tokoh yang berlimpah materi,jumlah jemaat yang berlimpah dalam gereja tertentu dll. Maksud Tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus: MEMBAWA MANUSIA KEDALAM RENCANA SEMULA ALLAH. Jadi ditengah-tengah suasana dunia yang serba tidak menentu ini. Manusia memang digiring untuk mencari Allah (seperti gandum yang siap dituai - Yohanes 4:35- 38). Dunia akan mengkondisi manusia mencari pertolongan, sebab dunia akan digoncang dengan berbagai keadaan (2 Tim 3:1). Alternatif terbaik ditemukan orang yaitu datang kepada Tuhan. Sdr.Kelompok yang memilih alternatif ini. Oleh sebab itu kalau saudara sudah sampai ditempat ini, sdr harus menemukan dengan jelas apa yang Tuhan mau. Kita disini tidak sekedar mencari perteduhan sementara dari berbagai kesulitan hidup dunia ini. TETAPI TUHAN MAU MEMBAWA KITA KEPADA RENCANA AGUNGNYA SEMULA. Bila sdr.bersedia belakar kebenaran dan hidup didalamnya. BIla tidak lebih baik anda tidak ada disini. Anda akan makin frustasi dan bodoh. Gererja bukan sekedar tempat dimana kita dapat melarikan diri dari kesulitan hidup ekonomi, kesehatan dll. Gereja adalah tempat dimana rencana agung Tuhan ditawarkan. Kita tidak dapat membodohi Tuhan dengan berpendapat bahwa PERCAYA KEPADA YESUS BERARTI DAPAT MENGGUNAKAN TUHAN UNTUK KEPENTINGAN KITA, dalam hal ini kepentingan duniawi. PERCAYA KEPADA YESUS BERARTI MENYERAH KEPADA KEHENDAKNYA. Inilah kehendak Tuhan Ia hendak membawa kita kepada rencana AgungNya semula" ( Roma 8:29 ). Allah mau memberikan hidup yang kekal. Kehidupan ini harus dihayati dan dikembangkan. Sebuah kehidupan yang bersekutu dengan Allah dan dalam pengabdian kepadaNYa sepenuh. Ini berarti sdr harus keluar dari kubangan hidup beragama lahiriah / semu. Masuk ke dalam pergumulan mencari kebenaran dengan hati yang haus dan lapar. Kekristenan Yang Benar Sampai hari ini banyak orang Kristen berpikir dan berpendirian bahwa Kekristenan yang benar adalah sekumpulan hukum-hukum atau perintah yang dijalani. Itulah sebabnya ada kelompok orang Kristen yang berusaha menemukan perintah-perintah atau hukum-hukum yang ditulis Alkitab kemudian berusaha merumuskannya dengan teliti guna dilakukan. Ini adalah kelompok militan yang sejajar dengan orang-orang parisi dan ahli torat pada jaman Yesus. Biasanya kelompok ini ditandai dengan sikapnya yang sombong karena kesucian hidup yang mereka miliki dan penghakiman bahkan penghukuman yang mereka lakukan terhadap saudara yang bersalah. Biasanya mereka seperti memiliki rasa bangga atas prestasi kesucian hidup yang mereka miliki dan kecaman yang tajam terhadap saudara yang jatuh dalam dosa. Orang-orang seperti ini mengira bahwa ia berkenan kepada Tuhan lebih dari orang lain, pada hal sikap seperti ini makin menjadikan ia jauh dari hati dan pikiran Allah. Sementara ada kelompok lain yang tidak militan mematuhi hukum, mereka berpendirian sama sama seperti diatas tetapi tidak militan untuk mematuhi hukum. Mereka dengan diam-diam memiliki sikap pesimistis menjadi orang ―saleh Tuhan‖ karena kegagalan melakukan perintah-perintah Tuhan. Menurut kelompok ini menjadi orang Kristen yang benar adalah hal yang mendekati kemustahilan. Tidak jarang orang-orang seperti ini menjauhi kasih karunia Tuhan. Akhirnya mereka bisa
126

terhilang dan tidak mengenal kebenaran sama sekali. Membicarakan hal ini bukan berarti bahwa hukum Tuhan boleh dibuang atau bisa direndahkan. Tetapi kita harus memiliki pemahaman yang benar bagaimana memandang hukum. Kekristenan yang benar harus dimengerti dengan benar. Hal ini sangat penting. Kekristenan yang benar bukan sekedar memahami sekumpulan hukum-hukum dan berusaha melakukannya. Hal pertama yang harus diingat bahwa keselamatan yang kita peroleh adalah anugerah, karunia semata-mata. Kita peroleh bukan karena kita berbuat baik. Tetapi karena iman (Ef 2:8-9). Hal ini merupakan landasan pertam ayang membuat seseorang tidak bias sombong atau tinggi hati karena kebenaran hidup yang dimiliki. Kalau orang Kristen bias sombong dengan kebenaran hidupnyanya , maka jalurnya pasti salah. Ketika seseorang percaya kepada Tuhan yesus sebagai Juru Selamat kemudian Tuhan menjadikannya anakNya, maka Tuhan memberikan kepadanya hak sebagai anaka Allah (Yoh 1:12-13). Hak inilah yang didalamnya terdapat kuasa pembaharuan seperti yang dinubuatkan dalam perjanjian lama (Yehez 36:25-27). Landasan atau dasar untuk menjadi berkenan kepada Allah itu pada hakekatnya adalah pertama ―percaya kepada Tuhan Yesus Kristus‖, selanjutnya mengenal kebenaran. Iblis tidak terlalu berputus asa ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, sebab ia masih memiliki jalan yaitu menutup kebenaran agar tidak dikenali orang percaya tersebut. Kuasa pembaharuan atau kuasa yang memerdekakan terdapat pada ketika seseorang ―mengenal kebenaran‖ (Yoh 8:31-32). Sebab bila tidak demikian niscaya Tuhan Yesus tidak perlu mengajar dari kota ke kota, dari desa ke desa. Pengajaran cukup diserahkan kepada ahli-ahli torat dan guru-guru agama pada waktu itu. Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran Allah yang memerdekakan atau menjadikan orang percaya berkenan kepada Bapa. Hal ini merupakan hal yang utama, sebagai buktinya ketika Tuhan Yesus naik ke sorga maka ia perlu mengutus penolong. Fungsi dari penolong tersebut adalah membawa orang percaya kepada segala kebenaran Tuhan (Yoh 14:16-17,26; 16:12-13). Dengan demikian jelas bahwa yang utama dalah pembaharuan pikiran oleh Firman Tuhan setiap hari, ini adalah landasan untuk menjadi berkenan kepada Tuhan (Roma 12:2). Jadi melakukan Firman Tuhan atau melakukan segala sesuatu yang yang diperintahkan Tuhan (Mat 28:18-20), bukan semata-mata membuat memperhatikan hukum yang tertulis guna dilakukan tetapi mengerti ―kebenaran Tuhan‖ dan menerapkannya dalam hidup. Ini bukan hanya berbicara mengenai sikap tubuh atau apa yang kelihatan tetapi juga sikap hati. Karenanya dalam matius 5 Tuhan Yesus mencoba memberi contoh hukum kesempurnaan yang harus dilakukan anak-anak Tuhan. Tuhan menunjukkan bahwa konsep berjinah, membunuh, mengasihi dll menurut Tuhan dengan menurut ahli torat itu berbeda. Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran Firman Tuhan itulah yang menguduskan (Yoh 17:17) Alangkah Indahnya Hidup Rukun Rukun adalah kata yang sudah sangat akrab ditelinga kita. Kata ini diakui sebagai bagian integral dari budaya moral bangsa kita. Kita agungkan dan promosikan diantara bangsa-bangsa di dunia sebagai ciri dari bangsa Indonesia. Sejarah mencatat, kerukunan juga bagian dari tiang penyangga kejayaan Majapahit pada abad 14 sehingga mampu mempersatukan Nusantara termasuk Timor Timur dan kalimantar Utara. Bahkan sampai jazirah Malaka kekuasaan kerajaan di pulau Jawa ini diakui. Kendati para pejabat kerajaan memiliki keyakinan agama yang berbeda, namun mereka mampu berkonsolidasi membangun negara yang tangguh. Menurut manuskrip Cina Wang Taywan (Tahun.1369), Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang berwilayah luas, rakyatnya hidup makmur, para pemeluk agama yang berbeda hidup berdampingan dengan harmonis. Kejayaan dan kemegahan negeri ini ternyata gemanya sampai pulau-pulau dan negeri yang jauh. Dengan kerukunan ini pula para pejuang bangsa mampu mengusir penjajah hanya dengan senjata sederhana seperti bambu runcing parang dan golok sekalipun harus berhadapan dengan senjata modern Barat. Kerukunan inilah yang menciptakan atmosfir sorga ditengah-tengah keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Benarlah kalimat dalam bahasa jawa yang berbunyi : Rukun agawe sentosa (kerukunan membuat keteguhan). Sungguh sangat memilukan kalau hari ini kita menemukan kenyataan keadaan negeri tercinta ini sangat jauh dari harapan dan impian para pendiri bangsa. Keadaan yang sangat kontradiksi dari cita-cita proklamasi dan kerinduan kusuma bangsa yang telah gugur. Beberapa bagian dari
127

negara ini telah terkoyak-koyak oleh sikap saling curiga, saling membenci sehingga berbuah pertikaian, pembunuhan teror dan dendam berkepanjangan. Hal ini bukan saja merusak tatanan hidup masyarakat hari ini, tetapi juga meletakkan dasar kehancuran bagi generasi penerus di waktu mendatang. Keadaan ini tidak boleh berlangsung terus. Bila keadaan ini berlarut-larut maka akan menggiring lebih banyak orang keluar dari koridor hukum dan etika kemanusiaan serta menciptakan nuansa hidup ―homo homini lupus‖. Kita harus hentikan. Sebagai bagian komponen bangsa yang besar ini, kita harus mengambil langkah nyata guna mengembalikan bangsa ini kejalur yang benar. Malam ini kita merayakan Natal dengan tema ―Alangkah indahnya hidup rukun‖. Tema yang manis terdengar, tetapi rasanya jauh dari jangkauan. Namun demikian kita bertekad untuk mewujudkan dan menterjemahkannya dalam perilaku secara benar. Mengaplikasikan dalam hidup ini secara kongkrit. Sebab setiap kali kita merayakan Natal selalu disertai tema Natal yang ditulis dengan huruh besar di belakang panggung dan mimbar atau dalam buku acara. Didalamnya memuat harapan dan ajakan. Tetapi setelah sekian banyak kita merayakan Natal apakah yang kita peroleh melalui perayaan Natal dengan tema-tema indah tersebut. Ironis sekali, walau Natal diwarnai dengan tema, setumpuk pesan, tetapi bayak Natal berlalu tanpa kesan. Tidak sedikit perayaan Natal datang tidak menambah dan pergi tidak mengurangi kerohaniaan seseorang. Kelahiran Juru Selamat di Bethlehem merupakan damai sejahtera atau syalom bagi semua bangsa. Malaekat di padang Efrata bersyair: ―Damai di bumi diantara manusia yang berkenan kepadaNya (Luk 2:14). Yesuslah damai sejahtera semua kaum di muka bumi ini. Didalam damai sejahtera itu terdapat hubungan yang dipulihkan yaitu sebuah rekonsiliasi agung antara manusia berdosa dengan Allah yang Maha kudus, sebab kedatanganNya menjadi jembatan hubungan yang telah runtuh antara Alah dan manusia. Itulah sebabnya Yesus berkata: ―Akulah jalan kebenaran dan hidup‖. Dalam damai sejahtera itu pula ada hubungan antar manusia yang juga dipulihkan. Mustahil ada pemulihan hubungan antara Allah dan manusia tanpa pemulihan hubungan antar manusia itu sendiri. Sebab pulihnya hubungan antara Allah dan manusia ditandai dengan pulihnya hubungan antar manusia. Semangat Natal sesungguhnya sebuah sebuah gelora pemulihan hubungan, tentunya didalamnya terdapat jiwa atau nafas kerukunan yang sejati. Kerukunan yang sejati, bahasa lain dari ―kasih Allah‖ yang telah diterima dan diajarkan kepada umat pilihanNya. Sebagai anak Tuhan atau umat pilihan Allah yang telah menerima berkat Natal seharusnya kita membagikan nafas dan jiwa kerukunan ini kepada semua manusia. Jadi kerukunan yang menciptakan perdamaian ini bukan sekedar karunia tetapi juga tanggung jawab. Kerukunan dengan orang lain bukan anugerah tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan, digumuli dan diwujudkan. Disinilah kita menemukan tanggung jawab orang percaya sebagai ―terang dan garam dunia‖. Dalam Matius 5:9, berbunyi berbahagialah mereka yang membawa damai, karena akan disebut anak-anak Allah. Dalam ayat ini terdapat signal atau isarat yang jelas bahwa orang percaya harus menebar benih-benih perdamaian. Orang percaya harus menoreh kerukunan yang melukis perdamaian ditengah-tengah masyarakatyang majemuk ini. Tentu kerukunan dimulai dalam rumah tangga kita, melebar di lingkungan pekerjaan, antar sesama politisi serta antar sesama bangsa Indonesia yang majemuk dan yang sekarang kompleksitas masalahnya makin tinggi, yaitu dengan adanya krisis multidemensional atas bangsa ini. Kita tidak boleh hanya menantikan anugerah kerukunan tercipta tanpa usaha kita. Sebagaimana Kristus datang membawa damai. Ia telah mengupayakn damai tersebut. Kita dipanggil untuk mengusahakan damai dalam kiprah kita di gelanggang partai politik di negeri ini. Sebab memang ―terang Allah‖ harus menembus setiap wilayah hidup, juga di gelanggang politik. Oleh sebab itu Politik tidak boleh kita identikkan dengan wilayah setan. Politik juga harus menjadi wilayah kerajaan Allah yang dilebarkan. Melalui gelanggang ini kita kita turut berperan dalam mewujudkan Indonesia yang damai bersatu hidup rukun. PDIP yang memeluk semua lapisan masyarakat dan golongan kiranya dapat menjadi kendaraan anak-anak Tuhan mengobarkan nafas kerukunan. Kita menghadapi godaan begitu banyak. Dari dalam diri manusia pada umumnya dorongan egoisme, mau menang sendiri, melihat kepentingan sendiri tanpa melihat kepentingan bersama yang lebih besar. Dipihak lain kita dapati realitas adanya kekuatan-kekuatan yang berusaha mencabik-cabik keutuhan bangsa ini. Kerukunan ini menjadi tanggung jawab kita semua, tugas bersama, khususnya bagi anakanak Tuhan yang berkiprah di partai yang berlambang kepala banteng ini. Banyak masyarakat negeri ini memiliki harapan atau kalau boleh digunakan kata lain yaitu
128

―tuntuntan‖ kepada pemenang pemilu terakhir ini sebagai partai yang menghentar bangsa ini ke Indonesia Baru yang ―gemah ripah loh jinawi‖, Indonesia yang makmur. Tetapi bagaimana ada kemakmuran tanpa kerukunan. Oleh sebab itu kerukunan harus merupakan agenda utama yang harus kita upayakan dengan seksama dan serius. Kerukunan harus dimulai dari tubuh PDIP selanjutnya meluas sampai kepada semua komponen bangsa yang harus bahu membahu berkonsolidasi sinergi membangun negara yang tangguh. Bila kita sebagai anak-anak Tuhan berperan serta mewujudkan kerukunan tersebut maka kita telah turut menggenapi doa Tuhan Yesus: Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. Dukacita Di Hadapan Tuhan Harus dimengerti bahwa kehidupan orang percaya bukanlah kehidupan yang senantiasa diliputi oleh gelak tawa dan kegembiraan jiwani sebagaimana anak dunia miliki. Terhadap orang yang tidak mengerti dukacita jenis ini yang hanya hanyut dengan gelak tawa dan kegembiraan dunia Tuhan Yesus berkata: Celakalah kamu yang sekarang ini tertawa (Luk 6:25). Dalam hal ini patut kita mengingat orang kaya yang selalau dihibur dan bersukacita oleh kekayaannya, tetapi ternyata ia miskin dihadapan Tuhan (Luk 16:19-31). Akhirnya ia tidak pernah menikmati penghiburan dari Allah selamanya. Ini adalah kecelakaan yang maha dahsyat. "Berbahagialah orang yang berdukacita", pernyataan Tuhan disini sangat aneh dan janggal. Ini adalah sebuah paradok yang sangat membingungkan. Dukacita adalah sesuatu yang dijauhi oleh manusia. Tetapi disini justru dukacita dinyatakan dapat mendatangkan penghiburan. Tersirat jelas bahwa dukacita disini bukan merugikan atau mendatangkan celaka tetapi sebaliknya menguntungkan. Pengertian dukacita disini tidak boleh kita artikan salah. Duka cita disini bukanlah dukacita seperti pengertian pada umumnya, yaitu dukacita oleh karena menanggung kesusahan tertentu karena suatu kesulitan hidup. Ini adalah dukacita yang memiliki ciri tertentu, sifat khusus. Inilah dukacita yang menurut Paulus sebagai dukacita "menurut kehendak Allah " (2Kor 7:810). Mendengar kata "dukacita" pada umumnya kita sudah menolak, tidak menyukai dan memandangnya negatif. Tetapi ada satu jenis dukacita yang positif, dukacita yang mendatangkan keuntungan, kehidupan dan berkat. Untuk mengenal dukacita ini perlu kita terlebih dahulu melihat latar belakang dukacita orang Korintus. Mereka berdukacita karena surat Paulus, surat Paulus yang sering dikenal sebagai surat kemarahan yang pedas dan keras (Ing.severe letter). Sebuah surat pedas yang menunjukkan, membongkar dan menegor kebejatan dan berbagai praktek hidup jemaat Korintus yang mendukakan hati Allah. Surat itu berisi tegoran keras terhadap jemaat Korintus. Teguran itu menimbulkan suatu respon, yaitu dukacita yang mendalam (Yun.elupethete; Kt.Benda lupe. Kt.Kerja lupeo - deeply grief, very sad) . Ini bukan dukacita dari dunia. Dunia ini memiliki berbagai dukacita yang membawa manusia kepada kebinasaan dan Iblis suka menggunakan sarana ini untuk membinasakan manusia. Rupaya tegoran yang keras dan tegas dapat membuka mata pikiran seseorang mengenali dirinya, yaitu keberadaannya dimata Allah. Sehingga timbul dukacita yang benar. Oleh sebab itu kita hendaknya tidak menolak tegoran-tegoran keras yang ditikamkan atas kita. Jangan marah terhadap khotbah-khotbah keras yang disampaikan melalui mimbar-mimbar ini. Khotbah yang keras bukan saja khotbah yang menyinggung mengenai praktek-praktek a moral. Tetapi juga ajaran yang mengajak jemaat mengasihi Allah dengan kesediaan meninggalkan dunia ini dengan segala kesenangannya, mengiring Tuhan dengan rela memikul salib. Rela menderita karena menolak kompromi dengan dosa. Khotbah yang keras adalah khotbah yang mengajak umat untuk hidup seperti Yesus hidup. Dukacita jenis ini disinggung Tuhan dalam khotbah di bukit secara eksplisit. Ini sebuah ratapan yang akan muncul tatkala kita menyadari tidak ada kebenaran dalam hidup kita (Mat 5:4, teks NIV. Blessed are those who mourn, for they will be comforted). Dukacita karena kesadarannya terhadap dosa. Inilah yang dialami oleh penduduk Niniwe sehingga hukuman Allah tidak jadi menimpa mereka (Yunus 3:1-5). Orang yang memiliki dukacita ini akan menjadi semakin kebal terhadap dukacita dunia yang ditancapkan oleh iblis. Menjadi tangguh dalam
129

menghadapi berbagai pergumulan dalam hidup ini. Pararel dengan kenyataan bahwa kalau seseorang mengutamakan Tuhan dan bergumul mengutamakan kerajaan sorga maka segala persoalan hidup ini betapapun besarnya menjadi kecil atau tidak berarti lagi. Dukacita Di Hadapan Tuhan Harus dimengerti bahwa kehidupan orang percaya bukanlah kehidupan yang senantiasa diliputi oleh gelak tawa dan kegembiraan jiwani sebagaimana anak dunia miliki. Terhadap orang yang tidak mengerti dukacita jenis ini yang hanya hanyut dengan gelak tawa dan kegembiraan dunia Tuhan Yesus berkata: Celakalah kamu yang sekarang ini tertawa (Luk 6:25). Dalam hal ini patut kita mengingat orang kaya yang selalau dihibur dan bersukacita oleh kekayaannya, tetapi ternyata ia miskin dihadapan Tuhan (Luk 16:19-31). Akhirnya ia tidak pernah menikmati penghiburan dari Allah selamanya. Ini adalah kecelakaan yang maha dahsyat. "Berbahagialah orang yang berdukacita", pernyataan Tuhan disini sangat aneh dan janggal. Ini adalah sebuah paradok yang sangat membingungkan. Dukacita adalah sesuatu yang dijauhi oleh manusia. Tetapi disini justru dukacita dinyatakan dapat mendatangkan penghiburan. Tersirat jelas bahwa dukacita disini bukan merugikan atau mendatangkan celaka tetapi sebaliknya menguntungkan. Pengertian dukacita disini tidak boleh kita artikan salah. Duka cita disini bukanlah dukacita seperti pengertian pada umumnya, yaitu dukacita oleh karena menanggung kesusahan tertentu karena suatu kesulitan hidup. Ini adalah dukacita yang memiliki ciri tertentu, sifat khusus. Inilah dukacita yang menurut Paulus sebagai dukacita "menurut kehendak Allah " (2Kor 7:810). Mendengar kata "dukacita" pada umumnya kita sudah menolak, tidak menyukai dan memandangnya negatif. Tetapi ada satu jenis dukacita yang positif, dukacita yang mendatangkan keuntungan, kehidupan dan berkat. Untuk mengenal dukacita ini perlu kita terlebih dahulu melihat latar belakang dukacita orang Korintus. Mereka berdukacita karena surat Paulus, surat Paulus yang sering dikenal sebagai surat kemarahan yang pedas dan keras (Ing.severe letter). Sebuah surat pedas yang menunjukkan, membongkar dan menegor kebejatan dan berbagai praktek hidup jemaat Korintus yang mendukakan hati Allah. Surat itu berisi tegoran keras terhadap jemaat Korintus. Teguran itu menimbulkan suatu respon, yaitu dukacita yang mendalam (Yun.elupethete; Kt.Benda lupe. Kt.Kerja lupeo - deeply grief, very sad) . Ini bukan dukacita dari dunia. Dunia ini memiliki berbagai dukacita yang membawa manusia kepada kebinasaan dan Iblis suka menggunakan sarana ini untuk membinasakan manusia. Rupaya tegoran yang keras dan tegas dapat membuka mata pikiran seseorang mengenali dirinya, yaitu keberadaannya dimata Allah. Sehingga timbul dukacita yang benar. Oleh sebab itu kita hendaknya tidak menolak tegoran-tegoran keras yang ditikamkan atas kita. Jangan marah terhadap khotbah-khotbah keras yang disampaikan melalui mimbar-mimbar ini. Khotbah yang keras bukan saja khotbah yang menyinggung mengenai praktek-praktek a moral. Tetapi juga ajaran yang mengajak jemaat mengasihi Allah dengan kesediaan meninggalkan dunia ini dengan segala kesenangannya, mengiring Tuhan dengan rela memikul salib. Rela menderita karena menolak kompromi dengan dosa. Khotbah yang keras adalah khotbah yang mengajak umat untuk hidup seperti Yesus hidup. Dukacita jenis ini disinggung Tuhan dalam khotbah di bukit secara eksplisit. Ini sebuah ratapan yang akan muncul tatkala kita menyadari tidak ada kebenaran dalam hidup kita (Mat 5:4, teks NIV. Blessed are those who mourn, for they will be comforted). Dukacita karena kesadarannya terhadap dosa. Inilah yang dialami oleh penduduk Niniwe sehingga hukuman Allah tidak jadi menimpa mereka (Yunus 3:1-5). Orang yang memiliki dukacita ini akan menjadi semakin kebal terhadap dukacita dunia yang ditancapkan oleh iblis. Menjadi tangguh dalam menghadapi berbagai pergumulan dalam hidup ini. Pararel dengan kenyataan bahwa kalau seseorang mengutamakan Tuhan dan bergumul mengutamakan kerajaan sorga maka segala persoalan hidup ini betapapun besarnya menjadi kecil atau tidak berarti lagi. Bersukacitalah Dalam Tuhan
130

Mungkin orang kurang memperhatikan, bahwa sebenarnya bersukacita itu bukan sekedar sebuah anjuran atau ajakan tetapi perintah. Jelas dari ayat-ayat ini terbukti bahwa sukacita adalah perintah (Teks asli: khairete en kurio pantote, rejoice in the Lord always). Suatu dorongan yang kuat yang Tuhan berikan kepada umatNya. Tentu ada kebenaran indah dibalik ini. Setiap perintah tentu ada maksudnya, maksud ilahi didalamnya (Mis.Jangan berjinah. Allah hendak melindungi perkawinan dst). Demikian pula dengan perintah untuk bersukacita. Dalam bahasa Yunani ada 5 kata yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sukacita. Katakata itu a.l: Khairo, sunkhairo, agalliao, euphraino, kaukhaomai. Dari 5 kata tersebut kata yang paling sering digunakan adalah khairo. Khairo adalah sukacita yang berkaitan dengan hubungan dengan Allah, kata yang mengandung unsur rohani. Inilah sukacita didalam Tuhan. Sukacita yang beralas pada hadirat Allah, kehadiran Tuhan, berkat anugerah Allah (keselamatan, waktu sangkakala berbunyi dll). Ini bukanlah sukacita yang datang dari dunia atau disebabkan oleh perkara-perkara dunia. Ada beberapa alasan yang dapat kita temukan mengapa Allahmenghendaki kita bersukacita: (1). Sukacita adalah ciri dari seorang yang hidup dalam persekutuan yang indah dengan Allah (Maz 16:11; Band: Yoh 17:13; Roma 14:17). Dengan demikian secara tidak langsung Allah menghendaki kita untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah terus menerus. Sukacita kita tidak boleh berhenti hanya sampai di pintu pagar gereja kala kit apulang kebaktian. (2). Sukacita adalah ciri orang benar (Maz 64:11; Gal 5:22 Band: Kain, Kejadian 4:6). Dengan demikian kita dipanggil untuk hidup seturt kehendak Allah sepenuh. Hidup menurut FirmanNya adalah adalah hidup dalam kebenaranNya (Hub.Yoh 17:17). (3). Sukacita syarat ibadah dan pujian yang benar (Maz 100:2 ; Yer 31:7 Hub : Nehemia 2). Dengan demikian sikap hati kita senantiasa berkenan kepada Allah. Pujian dan penyembahan kita berkenan kepada Allah. Koita tidak hanya asal menyanyi tetapi menyanyi dengan sikap memuji dan menyembah Allah yang benar. (4). Sukacita adalah syarat ucapan syukur yang benar Kol 1:12). Alkitab mengatakan kita harus mengucap syukur senantiasa dalam segala hal. Bagaimana ucapan syukur kita berkenan dihadapan Tuhan, yaitu kalau kita mengucap syukur dengan hati bersukacita. Dengan Firman bersukacitalah senantiasa kita dikehendaki untuk mengucap syukur secara benar. Dan dalam ucapan syukur itu ada kuasa. (5). Sukacita adalah ciri dari seorang yang mengandalkan Tuhan dan mempercayaiNya. Kalau Tuhan menghendaki kita bersukacita tentu ada alasan, ada modal atau kemungkinan untuk itu. Apapun keadaan kita. Allah Allah yang besar. Ia bukanlah Allah yang kecil. Dukacita karena masalah-masalah adalah bahasa orang yang tidak percaya Tuhan (Band Maz 37:3-4). Sikap keyakinan kita bahwa Allah itu besar nampak dalam keberanian kita menghadapi hidup ini dengan segala tantangan terdapat didalamnya (Band. Roma 8:15). Menjadi kehendak Allah agar kita menjadi seperti anak kecil dalam hal percaya dan bergantung kepada Tuhan. Allahku Akan Memenuhi Segala Keperluanku Dalam Filipi 4:19 dikatakan bahwa ―Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.‖ Janji ini sesungguhnya tidak diberikan kepada semua orang, tetapi ditujukan kepada mereka yang peduli terhadap pekerjaan Tuhan. Sering janji-janji seperti ini diobral kepada semua orang. Akibatnya Tuhan terkesan murahan dan sembrono. Untuk apa Tuhan memenuhi keperluan seseorang jika orang tersebut akan memberontak kepada Tuhan dan tidak peduli terhadap kepentingan-kepentingan-Nya. Tuhan bukanlah tuhan yang opurtunis, tetapi sangatlah berbahaya bila Tuhan memenuhi kebutuhan seseorang, namun orang tersebut tidak peduli terhadap pekerjaan-Nya. Dalam Injil Matius 28:19-20 dikatakan bahwa ―Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.‖ Dalam konteks apakah Tuhan mengatakan hal ini? Ada banyak orang tertipu bahwa secara otomatis Tuhan akan memenuhi segala keperluannya karena ia berstatus sebagai anak Tuhan. Orang-orang seperti ini juga kerdil karena ia hanya mengerti hak tanpa mengerti tanggung jawabnya. Padahal setiap anak Tuhan harus terlibat dalam usaha penyebaran Injil sampai keseluruh dunia dan pendewasaan orang-orang yang sudah mendengar Injil. Tuhan pasti menyediakan segala keperluan kita. Tetapi masalahnya apakah kita dapat dipercayai Tuhan untuk hal itu? Itulah sebabnya kata ―keperluan‖ dalam Filipi 4:19 memiliki arti kebutuhan yang berguna untuk hidup kita, bukan keinginan kita.
131

Kalimat selanjutnya adalah ―menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya‖, memiliki arti bahwa Tuhan tidak hanya memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan-Nya saja, tetapi juga menurut kemuliaan-Nya juga. Karena kalau hanya menurut kekayaan-Nya saja maka hancurlah hidup kita. Jadi lebih baik kita sakit jadi mulia daripada kita sembuh jadi tidak mulia. Lebih baik kita miskin tetapi mulia daripada kita kaya tetapi tidak mulia. Jika kita perhatikan di sini, Tuhan tidak pernah memberikan apa yang kita perlukan jika hal itu tidak berguna dan tidak membuat kita mulia dihadapan-Nya. Di awal saya sudah mengatakan bahwa Allah hanya memenuhi segala keperluan orang-orang yang peduli terhadap pekerjaan Tuhan. Jemaat di Filipi adalah orang-orang yang peduli kepada pekerjaan Tuhan. Dalam Filipi 4:15 kata hutang dan piutang dalam bahasa aslinya berarti menerima dan memberi. Dengan kata lain orangorang di Filipi sadar bahwa Tuhan telah menyelamatkan dan memberkati mereka, maka mereka merasa memiliki kewajiban untuk membalas kebaikan Tuhan. Bukan merasa memiliki hak untuk meminta Tuhan memberkati mereka. Saya tidak tahu seberapa banyak dari saudara yang dapat memiliki hati seperti para jemaat di Filipi. Tapi saya mau mulai hari ini kita samasama belajar untuk memberkati pekerjaan Tuhan karena Tuhan sudah memberkati kita dengan cara memenuhi segala keperluan yang berguna bagi kita. Biji Sesawi Jika kita membaca Injil Matius 13:31-32 maka kita akan menemukan beberapa kebenaran. Kebenaran itu itu antara lain: 1.Firman Tuhan sekilas nampak sederhana tetapi kalau konsekwen dilakukan maka Firman Tuhan itu akan menjadikan seseorang bertumbuh. Pertumbuhan ini sangat ditentukan oleh pengertiannya terhadap Firman Tuhan (Matius 13:23). Pertumbuhan di sini diukur oleh buah yang dihasilkan. Buah yang dimaksud adalah buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Dalam hal ini kita menemukan kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang tidak berbuah, oleh sebab itu mereka sebenarnya tidak mengerti hakekat kekristenan itu. Mereka tidak pernah bertumbuh dalam kebenaran. Buah disini berbeda dengan "pendewasaan umum" yang dapat dialami banyak orang. Buah yang dimaksud disini ada pertumbuhan agar kita semakin mengenakan kodrat ilahi ( 2 Petrus 1:3-8 ). Untuk mengenali pertumbuhan rohani semacam ini, yang ditandai dengan buah-buah roh perlu pemahaman Firman dan kepekaan ilahi. Dalam hal ini kita tidak dapat mengukur kedewasaan orang lain, sebab hanya Allah yang dapat mengukurnya. Kecilnya biji sesawi yang menggambarkan sederhananya Firman Tuhan tidak membuat kita tergoda atau cenderung melecehkan Firman Tuhan dan menganggapnya tidak berarti. Pada kenyataannya banyak orang yang bersikap demikian. Menganggap Firman Tuhan kurang berarti sehingga mereka tidak merasa perlu merenungkan, menghayati dan melakukannya. Sementara ada kelompok besar manusia yang menganggap kebenaran Allah sebagai kebodohan ( 1 Korintus 1:18 ). Orang- orang ini tidak akan mengerti kebenaran Allah. Dalam hal ini perhatikan bagaimana caranya saudara mendengar : Yakobus 1:21 mendengar Firman Tuhan dengan lemah- lembut, mau dibentuk seperti anak-anak - paidion ( Matius 18:3 ). 2.Pertumbuhan rohani yang ditandai dengan buah-buah Roh membuat seseorang memberkati orang lain. Buah-buah roh sebagai hasil pertumbuhan rohani seseorang dimaksudkan Tuhan agar kita memberkati orang lain. Dalam perumpamaan tersebut bahwa biji sesawi yang kecil setelah bertumbuh menjadi besar dapat menjadi naungan bagi burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabang. Ini menunjukkan bahwa seseorang yang telah dibentuk Firman Tuhan dan menghasilkan buah-buah roh akan menjadi pribadi yang menaungi banyak orang. Harus dimengerti bahwa pertumbuhan rohani dan kedewasaan rohani bukan semata untuk kesenangan dan kepuasan kita, tetapi agar orang disekitar kita memperoleh berkat dari buahbuah roh yang dihasilkan. "Goal" atau tujuan pertumbuhan rohani kita bukan semata-mata untuk kepentingan kita ,tetapi untuk kepentingan orang lain.
132

Karakter kita yang masih menghasilkan buah-buah daging tidak akan dapat menjadi sarana Allah memberkati orang disekitar kita ( Galatia 5:9-21 ). Allah tanganNya perkasa dan kuat, ia hendak memberkati banyak orang, untuk ini Allah mencari orang yang dapat menampung keperkasaan tanganNya menaungi umatNya. Hanya orang- orang yang telah menghasilkan buah roh yang dapat menjadi saranaNya. Tuhan hendak memanifestasikan diriNya dalam diri manusia. Dengan cara bagaiamankah Allah memanifestasikan dirinya dalam diri seseorang. ( Bandingkan : 2 Korintus 3:18. Dengan cara FirmanNya terpersonifikasikan dalam diri orang tersebut selanjunya Allah dapat memanifestasikan diriNya. Seseorang yang mengerti Firman, menghayati dan melakukannya akan menjadi pribadi yang memancarkan Diri Allah, Pribadi Allah dan kehendakNya. Didalamnya tentu juga termasuk segala kekauatan dan kekuasaanNya, yaitu karunia-karuni Roh. Seorang pelayan Tuhan yang rindu hidupnya memberkati jemaat dengan karunia-karunia Roh harus dipersiapkan melalui penaburan Firman yang membuat ia berbuah. Semakin banyak buah yang dihasilkan semakin besar kepercayaan yang Tuhan berikan. Hanya bila Allah memanifestasikan diri pada seseorang , orang tersebut dimampukan untuk menjadi naungan bagi orang lain ( bandingkan Matius 5 : 45-48 ).(Sumber : Rehobot Online)

03 September 2007 TUHAN TIDAK ADIL BAGI ORANG JELEK. Pertanyaan : Kita sudah jelas-jelas melihat realita bahwa orang-orang yang jelek/kurang dalam hal fisik tidak ada yang menyukai dan terbuang dalam hal perjodohan. Mengapa Tuhan mempersulit dengan memberlakukan aturan demikian?Kita tahu bahwa semua hal di dunia ini diciptakan oleh Tuhan sendiri termasuk berlakunya keadaan tersebut? Kita lihat hewan adakah di antara hewan diciptakan jelek? terus terang saya belum pernah lihat.Sementa ra manusia ada. Tuhan sendiri mengetahui kalau manusia punya rasa minder. Mengapa Tuhan tidak memberlakukan keadaan tersebut kepada hewan yang jelas-jelas tidak punya ra sa,malah sebaliknya hewan diciptakan tanpa ukuran cantik/jelek,ganteng/jelek? realita yang saya lihat di kampus: Seorang wanita biarpun IPnya jeblok sekalipun dan jutek akan tetap banyak yang suka/cinta. Sementara kalau yang tidak menarik tapi cukup cerdas,kelakuannya baik sampai berbusa pun ga ada yang mau. Salam, H. Jawaban: Menjumpai Sdr. H Apa kabar? Harapan saya, saudara baik dan sehat-sehat saja. Email saudara telah saya terima, melalui kesempatan ini saya ingin memberikan tanggapan atas email saudara. Pertanyaan & sikap saudara : Adakah seorang ganteng/cantik menyukai sang buruk rupa? JIKA ADA SAYA BARU YAKIN KALAU TUHAN ITU ADIL. Saya menghargai pendapat saudara tersebut. Cara pandang seperti itu adalah hak saudara. Namun dibalik pertanyaan tersebut, tentunya ada latar belakang yang mungkin menjadi pengalaman saudara. Maukah saudara menceritakannya selain pendapat saudara tersebut? Masalah jodoh, itu bukan pergumulan orang jelek saja, tapi juga orang cantik/ganteng. Banyak sebab kenapa seseorang tidak segera mendapatkan jodoh, padahal ia cantik/ganteng? Tetapi ada yang tidak terlalu cantik/ganteng, dengan mudah mendapatkan jodoh. Beberapa sebab seseorang (pria/wanita) sulit mendapatkan jodoh, a.l. :suka pilih-pilih, jual mahal, egois/sombong, muka muram atau marah, hidupnya jorok/kurang tertib dan tidak rapi, kata-katanya kasar, plin-plan, tidak punya pendirian, minder, hidup menyendiri dan tidak suka bergaul, gampang tersinggung, dlsb. Cara mengatasinya adalah melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri (bina diri),
133

belajar mengerti orang lain, belajar menerima dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang mulia, sehingga memiliki percaya diri yang mantap, dan melepaskan semua karakter jelek yang mengganggu dirinya sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain. Selain itu banyak berdoa dan berhenti menyalahkan Tuhan dengan mengatakan ‖Tuhan tidak adil‖, dst. Tuhan itu sangat mengasihi saudara. Alkitab berkata : ‖...engkau berharga di mataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau..‖ (Yes.43:4). ‖Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini (engkau), sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang (engkau) yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal‖ (Yoh.3:16) Terakhir saya ingin memberikan ayat Firman Tuhan untuk direnungkan : ―Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak‖ (Maz.37:3-5) Demikian tanggapan saya. Doa saya, kiranya kasih karuniaNya memenuhi hati dan pikiran saudara senantiasa. Salam, Tim Sahabat MEMBUNUH ATAU MENGASIHI " MEREKA"?

Pertanyaan : Saya bersyukur pada Tuhan ketika saya dapat mengajukan ketidaktahuan saya tentang Firman Tuhan di dalam kitab Ulangan 13:6-11. Dan kiranya Bapak boleh memberikan perspektif baru bagi saya, pertanyaan/masalah saya adalah: Kenapa di dalam firman ini kita disuruh untuk membunuh orang yang membawa kita kepada Allah yang kita tidak kenal. Bukankah ketika saudara-saudarah kita yang pindah ke agama lain, Allah mereka adalah Allah yang tidak kita kenal? Bagaimana tindakan kita terhadap hal seperti ini? Padahal di dalam Perjanjian Baru (PB) kita diperintahkan "mengasihi sesama" bukankah juga mereka ini adalah sesama kita juga? Bagaimana cara menghubungkan Firman ini supaya tidak salah. Jonni Manurung jonmng@yahoo.com Jawaban : Saya, merasa sukacita jika ada orang yang mau belajar memahami kebenaran Firman Tuhan dalam kesungguhan. Baik, Jonni, kita akan mulai dengan mengenali kitab yang kita baca, dan konteks pada waktu kitab itu ditulis. Ini adalah cara memahami dengan tepat. Kitab Ulangan (termasuk Kej, Kel, Im, Bil), ditulis oleh Musa, dalam perjalanan dari Mesir menuju tanah perjanjian. Berbagai aturan yang ada dan diberlakukan kepada umat, tujuannya, adalah untuk kebaikan umat Tuhan. Contoh, seperti apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 7:7; Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, jika hukum Taurat tidak mengatakan jangan mengingini (band.Kel 20 : 17). Nah, Rasul Paulus ingin mengatakan betapa Taurat (Perjanjian Lama) itu kita butuhkan. Hanya saja, dalam konteks kitab Roma, Rasul Paulus mengatakan bahwa Taurat adalah hukum yang diberikan Tuhan, yang kemudian membuktikan bahwa manusia ternyata tidak mampu menaatinya. Manusia berdosa, karena melanggar ketetapan Taurat. Taurat menjadi semacam pengharapan yang sulit diwujudkan. Barulah, setelah kedatangan Kristus ke dunia, pengharapan itu menjadi kenyataan. Hidup benar, oleh dan untuk Yesus. Itu sebabnya Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan menggenapi (Mat 5:17). Sampai di sini, tidak ada yang salah dengan Taurat (PL) dengan Injil (PB), keduanya selaras. Hanya saja, kita perlu memahami bentuk keselarasannya.
134

Dalam kitab Ulangan, perintah membunuh kepada yang membawa umat Tuhan kepada allah yang tidak dikenal (berhala) adalah wujud murka-Nya terhadap dosa menyembah ilah lain (Kel 20 : 3-6). Perlu diperhatikan konteksnya, umat keluar dari Mesir (berhala) menuju tanah perjanjian (Allah), dan ini sebelum kedatangan Kristus ke dunia. Jadi, jika dalam PL seseorang dibunuh (mati) karena menyembah atau membawa orang pada penyembahan berhala, demikian juga di PB, yakni orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus pasti binasa (Yoh 3:16). Nah, persoalan membunuh sampai sekarang juga masih berlaku. Hanya saja, jika dulu kita membunuh tubuh, sekarang membunh keinginan berdosa (Ef 6:12, Musuh kita adalah roh roh di udara/iblis, bukan daging). Jadi, konteks PL sebelum penebusan oleh Yesus adalah pembunuhan tubuh (manusianya), maka dalam konteks PB adalah membunuh dosanya (bukan tubuhnya). Ingat, karena Yesus Kristus sudah mati untuk menebus dosa manusia dan segala kutuknya. Dalam PL, darah domba harus tertumpah untuk menebus dosa dan darah manusia itu sendiri (hukuman mati). Karena dosa yang tidak terampuni, maka dalam PB darah Yesus Kristus telah tertumpah untuk menebus dosa kita (Ibr 9:12-14). Kecuali dosa yang tidak terampuni, yaitu, menghujat Roh Kudus (Luk 12:10). Menghujat Roh Kudus, artinya, menolak secara terus-menerus teguran dari Roh Kudus yang ingin menginsyafkan manusia dari dosa-dosanya (Yoh 16:8-11). Akhirnya, Jonni, membunuh karena dosa, "tetap berlaku". Hanya saja, penebusan Kristus mengakibatkan pergeseran/penggenapan, bukan lagi tubuh orang berdosa, melainkan dosanya orang berdosa. Kasih Allah, tetap sama dari PL hingga PB, bergerak dari samar menjadi jelas. Sekarang terang-benderang bagi kita. Indah ya, Alkitab kita, selamat menikmatinya.* Singkong dan Air Putih, untuk Perjamuan Kudus, Bolehkah?

Pertanyaan : Bapak Pendeta yang terhormat. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus dan murid-murid memakan hosti yang tidak beragi serta minum anggur. Hosti sebagai lambang tubuh Yesus, sedangkan anggur lambang darah Yesus (Yohanes 6:51, Yohanes 6:53). Pertanyaan saya, apakah hosti dan anggur yang sudah ditetapkan oleh Yesus itu dapat kita ganti dengan makanan/minuman lain? Misalnya singkong dan air putih, atau kerupuk dengan sirup? Saya sendiri berpendapat, itu bukan Perjamuan Kudus seperti yang sudah ditetapkan Yesus. Saya ingin para pendeta/pengajar/gembala sidang dapat memberi pengajaran kepada jemaat berdasarkan kebenaran dari Firman Tuhan. John Sihite Jl.Benda Timur XI Blok E 76/26 Pamulang Permai 2 Ciputat, Tangerang, Banten

Jawaban: Yang terkasih, Sdr. John Sihite. Pertanyaan Anda sangat menarik, karena menyentuh bagian yang penting dalam kehidupan umat Allah, yaitu Perjamuan Kudus. Untuk membahas hal ini kita perlu membagi dulu antara perjamuan itu sendiri dan benda-benda untuk perjamuan. Sakra-men Perjamuan Kudus itu sendiri merupakan keharusan yang memang diperintahkan Tuhan kepada gerejaNya (Lukas 22:19-20). Perjamuan Kudus merupakan sikap iman yang harus dinyatakan,
135

sebagai refleksi keterikatan kita dengan Yesus Kristus Tuhan, juruselamat, kehidupan sejati (Yohanes 14: 6). Saya yakin, untuk hal ini Anda pasti setuju, bukan? Sekarang, soal apakah benda-benda Perjamuan Kudus (roti dan anggur) boleh diganti dengan yang lainnya (singkong dan air putih, misalnya). Dalam konteks Alkitab, roti telah dikenal sejak jaman Perjanjian Lama (PL) sebagai makanan utama (Ulangan 8: 3, Amsal 6: 8), bagian dari ibadah (Keluaran 12: 8), roti sajian (Keluaran 25: 30), dan tentu saja simbol rohani (Yesus berkata, ―Akulah roti hidup‖). Demikian juga dengan anggur yang merupakan bagian yang familiar dalam kehidupan orang Yahudi. (Contoh, pesta perkawinan di Kana yang ketika itu kehabisan anggur. Dan Yesus menolong pasangan itu). Kebun anggur-Ku, menggambarkan umat Israel. Lalu, Yesus melambangkan anggur sebagai darah-Nya. Nah, semuanya (roti, anggur) memang punya makna tersendiri. Tetapi itu adalah simbol yang dipakai dalam konteks Yahudi. Bagaimana jika di sebuah desa terpencil di Indonesia misalnya tidak ada roti dan anggur, atau penduduknya tidak mengenal roti dan anggur? Apakah mereka tidak boleh menyelenggarakan Perjamuan Kudus? Bukankah berdasarkan situasi seperti ini dapat dibenarkan mengganti roti dan anggur? Tetapi sebaliknya, jika ada tersedia roti dan anggur, mengapa harus memakai yang lainnya? Jadi, dalam masalah ini bukan soal boleh atau tidak, melainkan kenyataan yang ada. Toh, roti yang dipakai umat juga ada perbedaan: ada yang memakai ragi (roti beragi), belum lagi bentuk dan ukurannya seperti apa?. Atau anggurnya: fregmentasi atau bukan, dan berapa banyak jumlah idealnya?. Jadi, sekali lagi, yang prinsip adalah Perjamuan Kudus harus dilakukan. Namun, jika tidak ada dan tidak mungkin mendapatkan roti dan anggur, jangan sampai hal itu menghalangi jemaat untuk menyelenggaran acara Perjamuan Kudus. Sebaliknya, jika ada tersedia anggur dan roti, mengapa harus menggantinya dengan atau oleh alasan apa pun, apalagi dengan alasan bahwa itu relatif? Rasul Paulus berkata, ―Tidak semua yang boleh itu berguna‖ (I Korintus 10: 23-24). Selamat bertindak etis dan jangan sampai menjadi batu sandungan. Begitulah pendapat saya, rekan John. Senang bisa berdialog dengan Anda, walaupun baru bisa melalui REFORMATA. Syalom.* Iman Protestan dengan Katolik Berbeda?

Pertanyaan : Bagaimana pendapat Bapak tentang Katolik? Sebagai sesama manusia kita harus mengasihi. Sebagai umat beragama kita harus toleransi dan menghormati. Tapi dalam soal iman, Kristen dan Katolik berbeda sekali. Antara lain banyak ritual Katolik hal yang menurut saya, tidak alkitabiah. Bapak pernah berkhotbah bahwa sekarang ini gereja susah sekali bersatu. Saya setuju dengan pendapat Bapak. Tapi Protestan bersatu dengan Katolik, apa bisa? Saya pernah menanyakan hal ini pada beberapa pendeta, tapi jawabannya tidak ada yang sama. Mariana-Pramuka, Jakarta Jawaban: Syalom, saudari Mariana yang dikasihi Kristus. Pertanyaan Anda sungguh menantang. Tampaknya mudah, namun terasa berat untuk menjawabnya. Terbatasnya ruang konsultasi ini, tak memungkinkan saya untuk menjawab tuntas pertanyaan Anda. Saya akan menjawab dalam tataran normatif, namun berharap dapat menstimulasi (merangsang) pikiran kita bersama untuk melihat ujung jalan pertemuan. Katolik, di era Vatikan I (1869-1870), memang sangat tertutup, dan ini tampaknya sangat
136

dipengaruhi oleh gerakan reformasi gereja (abad 16, cikal bakalnya sejak awal abad 12), yang melahirkan (tanpa direncanakan) Kristen Protestan. Semuanya bergerak begitu cepat, membuat gereja Katolik pada masa itu merumuskan gereja Protestan sebagai penyesat yang jahat. Tarik-menarik, bahkan, dorong-mendorong pun tak terhindar-kan. Ini mengakibatkan, hubungan gereja Katolik dan Protestan semakin terkoyak lebar. Gereja Katolik bahkan mencanangkan slogan: extra ecclesiam nulla salus, yaitu tidak ada keselamatan di luar gereja (gereja Katolik tentunya). Artinya tidak ada keselamatan bagi gereja Protestan. Ketidak-bersalahan Paus yang sempat gonjang-ganjing, disahkan secara bulat di konsili ini. Pertikaian antara Katolik dan Protestan semakin menjadi jadi sejak konsili ini. Saling menyalahkan, bahkan menghakimi, hingga mengutuki datang silih berganti. Hal ini meliputi para petinggi gereja hingga umat di akar rumput. Jadi ratusan tahun "pisah ranjang" bahkan jadi musuh berat, membuat kedua-nya saling berburuk sangka. Dan jelas saja, dengan kondisi seperti ini damai akan susah. Kecurgiaan terpelihara dan kebencian merasuk sukma. Namun di Vatikan II (1962-1965), Paus Yohanes XXIII yang berusia 77 tahun (terpilih sebagai Paus 1958), menekankan pentingnya aggiornamento (penyesuain konteks, tanpa mengubah konten). Dia menyebut, Protestan bukan sebagai penyesat yang jahat, melainkan "saudara-saudara yang terpisah". Doktrin extra ecclesiam nulla salus, dicabut dari akarnya sehingga melahirkan pengakuan adanya keselamatan di luar gereja Katolik (tentunya pengakuan keselamatan ada juga di gereja Protestan). Doktrin Maria ada dalam perdebatan di antara para pemikir Katolik, namun Maria sebagai perantara bukan mengurangi ke-perantaraan unik Kristus ,bahkan memperjelas kuasa keperantaraannya. Injil diyakini sebagai sumber segala kebenaran absolut yang menyelamatkan. Penulis Alkitab yang dilhami oleh Roh Kudus, maka Alkitab dengan teguh dan setia tanpa kesalahan mengajar kebenaran Allah. Ada banyak kebersamaan paham (Katolik, Protestan) yang terbangun. Namun, tentu saja semua ini masih menyisakan ruang diskusi yang lebar. Namun juga perlu dicatat, semangat Vatikan II sangat berbeda dengan Vatikan I, semangatnya lebih pastoral daripada dogmatis dan perdamaian bukan konfrontatif. Vatikan II telah membuka pintu diskusi yang lebih lebar. Tinggal bagaimana kita memakainya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kebersamaan gereja adalah sebuah keniscayaan. Jadi, jika ditanya, mungkinkah bersatu? Jawabanya ada pada waktu dan kedewasan umat Kristen (Katolik dan Protestan). Tapi yang pasti diskusi semakin menepi, semakin bersahabat. Selamat berpikir.* Karena Percaya pada Yesus Kristus-lah Kita Selamat

Pertanyaan : Pak Pendeta yth. Laporan Utama REFORMATA tentang Islam Hanif (edisi Agustus 2005), menurut saya sangat menambah pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi di sekitar kita sebagai orang yang beriman teguh, bahwa keselamatan itu hanya karena anugerah Kristus Tuhan kita. Namun pada dimensi yang lain, saya justru menjadi sangat khawatir atas pemuatan topik-topik semacam Islam Hanif yang bertentangan dengan iman Kristen yang kita imani. Mohon tanggapan Pdt.Bigman Sirait. Paul R Rompas—Rawasari, Jakarta Pusat paul rompas‖ <paulrompas_2003@yahoo.com Jawaban: Terimakasih, untuk tanggapan sekaligus pertanyaan Anda sebagai pembaca kritis REFORMATA. Memang, interaksi seperti ini sangat kita harapkan dalam konteks pembelajaran bersama. Surat Anda kami muat di kontak pembaca (Surat Pembaca—Red). Sedangkan pertanyaannya, kami jawab di ruang Konsultasi Teologi ini, sebagai berikut:
137

Dalam memahami Alkitab, kita harus menyadari bahwa yang namanya multi-tafsir itu tidak terhindarkan. Beda pendeta, beda pendapat, tapi semua berkata bahwa, ―Ini kata Alkitab‖ . Untuk itu, tentu saja kita harus memer-hatikan konteks dan kesinam-bungan dari keseluruhan Alkitab. Menurut Pdt.Robert Walean (tentang Islam hanif), dia hanya mengatakan ―apa yang dikatakan Alkitab‖. Tetapi, apakah memang begitu, tentu perlu diuji. Pen-dekatan historikal dan teologis, sudah disampaikan oleh para nara sumber (ahli Perjanjian Lama) untuk menanggapi tulisan ter-sebut. Sekarang, saya akan coba melengkapi dari sisi lain. Pdt.Robert Walean menga-takan bahwa pendapatnya itu adalah ―kata Alkitab‖. Tetapi saya melihat bahwa itu hanya mengacu pada satu bagian Alkitab saja. Dia memang menyebut di banyak bagian Alkitab, tetapi sayang, tidak jelas bagian yang mana. Yang pasti adalah bahwa Alkitab tidak pernah berbicara secara lepas dengan mengatakan bahwa bangsa Israel akan selamat semua (masuk surga). Lihat kasus perjalanan umat Israel dari Mesir menuju tanah perjanjian, banyak yang dibinasakan oleh murka Tuhan (I Kor 10:8-10, Bil 25:1-9, Kel 17:2, Kel 32, Bil16:41). Jadi, bukan karena kebangsaan-nya seseorang diselamatkan, melainkan kebenaran (menaati ketetapan Tuhan). Memang dikatakan ada sedikit Islam Hanif yang serius (tetapi tidak jelas kelompok mana dan ukurannya apa). Dalam konteks kebangsaan, tidak ada bangsa lain yang menjadi bangsa pilihan, kecuali Israel (Keluaran). Jadi, sangat sulit memahami bani Nebayot dan Kedar disela-matkan karena ke-banian-nya (tafsir yang dipaksakan). Dan, kalaupun itu diyakini sebagai kata Alkitab, maka menurut saya, Niniwe lebih berhak dibicarakan dalam satu kitab, bukan ayat (Kitab Yunus). Hanya saja, Niniwe memang tidak memiliki daya tarik dalam konteks keagamaan di Indonesia (kurang seru untuk diangkat). Kemudian secara progresif, Alkitab (Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru) membawa kita melihat keselamatan itu diberikan kepada setiap bangsa. Kesela-matan karena percaya (bukan karena Nebayot atau Kedar), yaitu yang percaya kepada Yesus Kristus—entah Nebayot, Kedar, atau bangsa apa pun (Yoh 14:6, Kis 4:12, dll—dan ini, kata Alkitab). Jadi, tidak ada ditemukan secara konsisten dari PL ke PB, bahwa seseorang diselamatkan karena kebangsaannya, bahkan ke-agamaannya, melainkan karena percaya (iman) kepada Mesias yang dijanjikan (PL), yaitu Yesus Kristus yang menyatakan diri (PB, Yoh 1:1-18, Fil 2:5-11). Dan, setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, adalah pengikut Kristus, yang disebut Kristen (sekalipun seorang yang beragama Kristen belum tentu pengikut Kristus yang sejati). Sebagai pribadi, tentu saja saya amat sangat berbeda dengan paham Pdt.Robert Walean. Namun dalam konteks wacana, bukankah ini merangsang kita untuk meru-muskan iman yang benar (paling tidak yang kita yakini). Nah, dalam konteks itu pula, menurut saya, REFORMATA mengangkat opini ini tujuannya tentu dalam rangka sebagai pembelajaran. Jadi, tak perlu goyah, maju terus. Hidup memang bukan satu warna, sekalipun penting untuk berwarna. Selamat untuk Sdr.Paul, teruslah menjadi pembaca setia dan kritis. Dan, untuk para pembaca REFORMATA yang lain, silahkan kirim pertanyaan atau tanggapan, demi pencerah-an, menemukan kebenaran sejati. Syalom.* Allah "Iseng" Menciptakan manusia?

Pertanyaan : Saya tahu bahwa Allah begitu kasihnya kepada manusia sehingga rela berkorban mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Namun ada pertanyaan memenuhi benak saya yang belum mendapatkan jawabannya hingga hari ini. Saya tidak berani bertanya pada orang yang saya anggap belum kompeten. Mohon Bapak dapat memenuhi keingintahuan saya ini: Mengapa Allah begitu ―iseng‖nya menciptakan manusia di Taman Eden, sehingga perlu dibuat skenario penyelamatan manusia. Dan baru pada penciptaan pertama saja, Adam dan Hawa, sudah jatuh dalam dosa. Sebelum menciptakan manusia, tentunya Allah menciptakan para malaikat terlebih dahulu. Dan seperti kita ketahui, para malaikat itu juga ada yang mengkhianati Allah sehingga
138

mereka menjadi iblis. Malaikat yang menjadi iblis ini tentunya juga tahu tentang kebesaran dan sifat-sifat penciptanya, tapi kenapa mereka masih tidak percaya juga sehingga membangkang? Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, namun kenapa mereka selalu ―tomat‖ (tobatkumat) tidak kapok-kapok? Noveria—Jakarta Jawaban: Bagus sekali pertanyaannya, Noveria. Rasa penasaran atas kenyataan penciptaan dan kejatuhan Adam dan Hawa memang selalu menimbulkan tanda tanya besar bagi mereka yang suka berpikir. Nah, mari kita mulai dengan fakta penciptaan. Tuhan menciptakan manusia itu ex nihilo (dari tidak ada menjadi ada). Apakah Allah iseng? Tentu saja tidak. Bahkan manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Artinya, serius banget (Kej 1:26-27). Manusia jatuh ke dalam dosa karena melanggar Firman Allah (Kej 2:15-17). Mengapa melanggar? Karena tertipu oleh iblis yang mengatakan bahwa manusia akan menjadi seperti Allah, jika memakan buah pohon yang dilarang (Kej 3: 4-5). Pertanyaan akan berlanjut, mengapa Tuhan mengadakan pohon dan aturan/ larangan sehingga manusia jatuh ke dalam dosa? Jawabannya, manusia jatuh ke dalam dosa bukan karena pohon dan larangannya, melain-kan pelanggarannya. Sementara perintah larangan itu justru dibutuhkan sebagai bukti bahwa manusia itu manusia karena ada aturan (perspektif hukum). Bahwa manusia itu manusia karena dipercaya bisa memenuhi tugas-nya (perspektif antropologi). Bahwa manusia itu manusia karena bisa taat (perspektif religius), dan perspektif lainnya, seperti tang-gung jawab dari perspektif sosial. Jadi tidak ada yang salah di sana. Yang salah, mengapa Adam dan Hawa melanggarnya, padahal mereka diberi kebebasan luas (kemampuan dan tanggung jawab) yang jauh lebih besar ketimbang yang dilarang. Tak seharusnya mereka melanggar nya, itu sebab mereka dihukum. Padahal manusia itu sempurna justru dalam keterbatasannya. Disisi lain, ajaib, pengharapan akan keselamatan di dalam Yesus dinyatakan justru ketika dalam penghukuman (Kej 3:15), bahwa keturunan perempuan—mengacu pada Yesus—akan meremukkan kepala keturunan ular yaitu setan). Nah, kasih Allah begitu besar, yaitu rela mengampuni manusia sekalipun telah melanggar perintah, dan sekalipun Allah tidak punya kewajiban untuk mengampuni manusia. Jadi, peristiwa Taman Eden justru sesuatu yang sangat hebat sekali, bukan iseng, lho. Sementara soal malaikat yang membangkang, itu sederhana saja. Manusia bertobat dan kembali ke jalan yang benar itu bukan inisiatif diri, melainkan kasih karunia Allah (Ef 2: 89, Yoh 15:16). Malaikat tidak mendapat-kan pengampunan, sedangkan manusia dapat pengampunan (II Pet 2:4), bahkan orang percaya akan diberi kuasa menghakimi malaikat (I Kor 6: 3). Jadi, malaikat yang memberontak disebut iblis, dan mereka adalah bapak segala dosa (I Yoh 3: 8). Manusia mati karena dosa (tapi mereka ditebus oleh kematian Yesus, Yoh 3: 16). Iblis tidak mati, bahkan menjadi bapak segala dosa dalam keke-kalan (jadi tidak ada penebusan bagi iblis). Dan, jangan lupa iblis itu roh bukan daging seperti manusia. Wilayah hukumnya jelas berbeda. Puji Tuhan karena DIA memilih kita untuk diselamatkan. Soal ―tomat‖ (TObat dan kuMAT), itu bukan cuma ada pada bangsa Israel, tapi semua manusia termasuk kita juga. Ya, enggak? Tetapi setiap orang yang percaya dengan sungguhsung-guh, tidak akan ―tomat‖, termasuk orang Israel. Paling tidak lihatlah para nabi dan orang percaya di Perjanjian Lama (PL), dan rasul beserta orang percaya di Perjanjian Baru (PB), semoga kita juga disini TOTI, TObat sejaTI. Sekalian dulu ya, yang lain akan dijawab pada edisi mendatang. Tetap langganan REFORMATA dan informasikan juga kepada saudara seiman lainnya. Semoga REFORMATA menjadi berkat. Adakah Keselamatan di Luar Yesus Kristus?

Pertanyaan : SAYA mau menanyakan perihal keselamatan. Dalam Roma 2: 6,13, ada kesan bahwa ada
139

keselamatan di luar Yesus Kristus. Dengan mengacu pada ayat tersebut, pernah seorang pengkotbah mengatakan bahwa keselamatan bukan milik orang Kristen semata. Juga disampaikan contoh kasus orang-orang yang belum pernah atau tidak pernah mendengar Injil, keselamatan mereka didasarkan pada apa yang ada dalam hati dan perbuatan mereka. Bukankah Tuhan sudah menetapkan satu standar perbuatan baik yang sempurna, yaitu hukum Taurat? Namun tidak ada seorang pun manusia yang bisa melakukannya dengan sempurna, bukan? Bahkan ditegaskan bahwa tidak seorang pun dibenarkan dengan melakukan hukum Taurat (Roma 3: 28) yang adalah standar kebaikan yang ditetapkan Allah. Jadi, bagi saya, keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus (Yoh 3:16, Kis 4:1). Saya khawatir dan gelisah atas pernyataan pendeta itu yang cenderung pluralis dan universalis. Bagaimana pandangan Bapak? Valent-Jakarta Jawaban: Valent, saudaraku yang kritis, memang sudah seharusnya kita sebagai orang Kristen senantiasa kritis menyikapi berbagai pemaha-man yang mengatasnamakan Alkitab. Mari kita mulai dengan mengenali karakteristik kitab Roma. Kitab Roma yang ditulis oleh Paulus sarat dengan kedalaman teologis dan filosofis. Kitab ini merupakan tanggapan Paulus terhadap berbagai gugatan yang muncul di jemaat Roma yang seakan membenturkan Injil dan Taurat. Paulus menjawabnya dengan lugas, bahwa Taurat itu betul pada posisinya sebagai pembuka dan Injil sebagai peng-genapan dari keseluruhan janji Allah. Tema kitab Roma sangat jelas (1:16-17), bahwa Injil-lah jalan keselamatan, dan iman adalah pusat pergerakan setiap orang percaya (baik Yahudi maupun Yunani). Dalam kitab Roma, Paulus berkata dengan tegas bahwa tidak ada orang yang benar, yang berakal budi dan mencari Allah (3: 9-11). Jadi, tidak ada orang dise-lamatkan karena benar dan baik (karena Alkitab telah mengatakan tidak ada yang benar dan baik di hadapan Allah). Abraham diselamatkan bukan karena perbuatan-nya melainkan karena percayanya, dan itu jelas tertulis dalam pasal 4:1-8. Lalu pada pasal 5, Paulus menekankan kematian karena Adam (representasi manusia berdosa kepada Allah), namun keselamatan tiba karena Yesus Kristus, bukan perbuatan baik (5:1-17, 9:14-18). Dan akhirnya, kitab Roma ditutup dengan Soli Deo Gloria in Kristos (16: 25-27). Hampir pada semua pasal, berita tentang keselamatan dinyatakan tegas sebagai kasih karunia (Injil), bukan usaha manusia (Taurat). Awas, jangan salah paham dulu seperti yang dikatakan Petrus, bahwa banyak orang salah mengerti tentang tulisan Paulus (2 Petrus 3:15-16). Dalam pasal 7 dan 8, Paulus menjelaskan hukum Taurat adalah hukum dosa. Artinya, karena hukum Taurat, tahulah kita bahwa kita berdosa, dan tidak ada satu orang pun yang mampu memenuhi tun-tutan hukum Taurat. Bahkan Musa yang dipakai Tuhan menuliskan Taurat, pernah membunuh, sekalipun ini sebelum Taurat diberikan Tuhan (Kel 2:11-15). Juga Musa tidak sampai ke tanah perjanjian karena melanggar kekudusan Tuhan (Bil 20:1-13). Musa dibe-narkan karena bertindak dengan iman. Kalau hanya dari sudut perbuatan, Musa gagal. Jadi, sekali lagi Taurat mem-buktikan keberdosaan manusia, sebaliknya kasih karunia Allah, di dalam Yesus Kristus menye-lamatkan orang yang percaya. Tidak ada keselamatan di luar Yesus. Dan hal itu dikatakan oleh Yesus sendiri dalam Yoh 4: 16, dan banyak kesaksian para rasul. Nah, pasal 2 yang dibicarakan harus dilihat sebagai berikut, yaitu sebuah sindiran kepada orang Yahudi yang selalu merasa unggul dari orang lain. Jika ada orang yang tidak tahu hukum Taurat, mela-kukan tuntutan Taurat akan dibe-narkan, maka aneh sekali orang Yahudi tidak melakukan. Allah akan bertindak adil. Bukan karena ke-Yahudi-annya orang diselamatkan, tetapi karena perbuatan. Namun jangan ber-henti dulu, karena perbuatan ternyata adalah buah iman (2: 15, tertulis di hati mereka). Semua perbuatan baik akan diuji (2:16). Dan yang sesuai dengan keteta-pan Tuhan akan dibenarkan ( 2: 28-29). Jadi, jangan dibaca sepotong, atau satu pasal, tetapi seluruh pasal, bahkan kitab.
140

Soal orang yang belum mende-ngar Injil—seperti bayi—kesela-matan mereka itu merupakan kedaulatan Allah yang tidak kita ketahui, dan itu bukan urusan kita (Ul 29: 29). Urusan kita membe-ritakan Injil. Dan jalan keselamatan hanya satu, yaitu melalui Yesus Kristus. Semoga saudaraku Valent tak lagi gelisah, bahkan semakin bergairah memberitakan Injil. Oh ya, jangan lupa bagi-bagi info tentang REFORMATA kepada teman-temanmu yang lainnya. Semoga menjadi berkat bagi banyak orang.* Kenapa Orang Meninggalkan Tuhan?

Pertanyaan: Bapak Pengasuh saya hormati. Sekarang ini, begitu mudah orang meninggalkan Tuhan. Apakah ini kesalahan orang tua yang kurang mendidik anak, tidak menjadi teladan? Atau kesalahan orang Kristen yang tidak peduli terhadap saudaranya, atau gereja yang kurang mengantisipasi dan memproteksi jemaat dengan pengajaran yang sungguh-sungguh? Kritos, Jakarta Jawaban: Baiklah. Saudara Kristos, soal mudahnya seseorang meninggal-kan Tuhan, ada banyak kemung-kinan penyebabnya. Kita akan coba menelusurinya dari berbagai aspek, baik teologis maupun praksis. Dari perspektif teologis, gam-barannya sangat jelas. Seseorang yang tidak terikat sungguhsung-guh kepada Kristus (tidak percaya dalam arti yang sebenarnya, hanya sekadar mengaku percaya), maka sudah pasti dalam perjalanan wak-tu, dia akan hilang dengan sendiri-nya. Dalam Yohanes 17, ketika Yesus berdoa, Dia berkata semua yang percaya pada-Nya tidak ada yang binasa, kecuali dia (Yudas) yang memang tidak masuk dalam bilangan yang percaya. Jadi, Yudas memang tidak pernah sungguh-sungguh menjadi seorang murid, dan waktu telah membuktikan-nya. Jadi, jangan terbalik, seakan Yudas telah sungguh-sungguh menjadi murid, namun kemudian meninggalkan Yesus. Yudas, adalah ilalang di antara gandum, kambing di antara domba. Itulah lukisan teologisnya. Sementara dari sudut praksis (perilaku yang tampak sebagai buah iman), dapat dibagi sebagai berikut: 1. Kesalahan diri sendiri (Lukas 10: 4-15). Dalam konteks ini digambarkan tipe pribadi dalam merespon Firman Tuhan: ada yang mati dan ada yang bertumbuh. Mati karena berbagai kesulitan kehidupan dan tidak bisa bertahan dalam beriman kepada Tuhan. Lalu yang lainnya hidup melintasi pertarungan dan meraih kemenangan iman. Nah, dari perikop ini jelas sekali diri sendiri sebagai pribadi, bertanggung jawab atas pertumbuhan iman. Ini sangat penting untuk disadari, sehingga tidak seorang pun serta-merta menyalahkan lingkungannya karena ketidak-berimanannya. Jadi, tiap orang harus mawas diri, dan terus-menerus mengevaluasi diri, dalam menjaga hubungannya dengan Tuhan. 2.Kesalahan orang tua (Ulangan 6: 4-12). Di sini, digambarkan kewajiban orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anaknya tentang kebenaran Firman Tuhan. Penga-jaran harus dilakukan berulang-ulang, agar Firman Tuhan itu terta-nam dengan baik di hati anak. Ti-dak ada kata berhenti dalam mengajarkan kebenaran Firman. Dan, pengajaran itu bisa dilakukan di berbagai tempat, artinya di mana saja. Sehingga, setiap realita kehidupan bisa menjadi bagian pembelajaran anak. Dengan demikian, setiap anak orang percaya memiliki pondasi yang kuat, dan tentunya tidak mudah terombang-ambing. Jadi, kelalaian orang tua tentu saja dapat menjadi gangguan dalam pertum-buhan iman seorang anak.
141

3. Kesalahan gereja (Efesus 4:1-16). Tuhan memberikan berbagai jabatan dalam gereja. Dan di era kita ada tiga yang masih berperan yaitu : penginjil, gembala, guru/pengajar. Kesemuanya itu dirang-kum dalam struktur gereja. Gereja, memainkan peran sentral dalam mengemban misi memperlengkapi umat Tuhan. Gereja, dalam wibawanya mengajarkan umat tentang kebenaran prinsip berdasarkan Akitab. Dogma yang sehat, dan sejarah gereja, perlu diajarkan untuk membuat umat mengerti sepenuhnya apa yang menjadi kehendak Tuhan, dan tahu arah perjalanan gereja Tuhan. Hal ini perlu, agar membuat umat tidak berwawasan sempit dan ter-pecah-pecah. Kelengkapan umat ini tentu saja menjadi modal utama dalam pertumbuhan iman dan membuat umat tangguh, tidak mudah tersesat. Nah, Sdr. Kristos, selanjutnya juga harus disadari bahwa semua ini saling melengkapi, bukan saling menyalahkan. Jadi, unsur yang ada, seharusnya menjadi tembok berlapis. Jika satu jebol, yang lain melapisi. Ini berarti kejatuhan seseorang dalam keberimanannya harus kita jadikan tanggung jawab kolektif. Semua unsur harus bekerja sama, termasuk institusi Kristen seperti sekolah, dan lain-lain. Semoga penjelasan ini mencerahkan. Maju terus, Kristos. Berdosakah jika Nazar Tidak Dilaksanakan?

Pertanyaan : Bapak pengasuh yang baik. Apa itu nazar? Sebatas apakah suatu janji dapat disebut nazar? Jika misalnya kita mengatakan—kalau Tuhan melakukan sesuatu hal padaku, aku akan melakukan ini atau itu—apakah dapat dikatakan bahwa kita telah bernazar? Apakah Tuhan akan memberi hukuman bagi orang yang melanggar nazar? Naek—Jakarta Barat 0856-9061xxx Jawaban : Nazar—adalah kata yang kemungkinan besar berasal dari bahasa Semit—bisa berarti dewa. Kata ―nazar‖ yang ditemukan dalam Alkitab, berkaitan dengan janji seseorang kepada Allah. Nazar itu bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti: 1. Janji melaksanakan suatu tindakan (Kejadian 28: 20-22). 2. Janji menjauhkan diri dari se-buah tindakan (Mazmur 132: 15). 3. Janji agar Tuhan menyatakan pertolongan-Nya (Bilangan 21: 1-3). Nazar sebagai janji harus dipenuhi, dan adalah dosa jika tidak memenuhinya. Itu sebab, sebelum bernazar, seseorang harus memikirkannya dengan sungguh sungguh, bukan melakukannya karena emosional (Amsal 20: 25). Bernazar atau tidak bernazar bukan dosa. Yang berdosa adalah, bernazar tetapi tidak memenuhinya. Yefta, menjadi suatu kasus yang sangat menarik tentang nazar. Ketika dia bernazar akan memberikan apa pun yang keluar dari pintu rumahnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan (Hakim Hakim 11: 29-40). Dalam kasus Yefta, anak perempuannya dipersembahkan sebagai ―gadis yang tidak pernah mengenal laki-laki‖ ayat 39, (nazir Allah) yang mengabdikan diri pada Allah seumur hidupnya. Yefta, harus memenuhi nazarnya sekalipun hatinya sangat hancur (ayat 35). Untuk kasus ini, ada yang ber-anggapan seolah-olah anak gadis Yefta dibu-nuh (Alkitab mela-rang persembah-an dengan mem-bunuh anak-anak seperti kebiasaan keji pada pengi-kut Dewa Molokh (Im 18: 21, 20: 2-5, Ul 12: 31). Jadi dipersembahkan, bukan dibunuh melainkan jadi nazir Allah. Pengkhotbah 5: 4, menga-takan: ―Lebih baik engkau tidak bernazar, daripada bernazar tetapi tidak menepatinya‖. Jadi, dalam Perjanjian Lama (PL) sudah tampak sangat jelas bahwa nazar bukanlah suatu keharusan, melainkan kesadaran khusus (pergumulan yang harus diper-tanggungjawabkan), pada situasi khusus, yang berlaku khusus. Dalam Perjanjian Baru
142

(PB), kasus nazar muncul dalam Kisah 18:18 (band. 21:23), Paulus dikatakan bernazar (Yunani: euche), namun harus diperhatikan hal ini bersifat sementara dari seorang nazir (yaitu, mencukur rambut), jadi tidak dapat dijadikan model bagi orang Kristen pada umumnya. Paulus dalam Roma 12:1, mengatakan, ―Persembahkanlah tubuhmu (seluruh aktivitasmu) sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan pada Allah‖. Ucapan Rasul Paulus ini sangat tepat kita sikapi dan lakukan dalam hidup sebagai orang beriman, dibanding bernazar tanpa pengetahuan yang jelas. OK, Saudara Naek, selamat menikmati hidup selalu dalam pimpinan Tuhan, tanpa terjebak bernazar sebagai model kebanyakan orang, khususnya dalam konteks ekonomi: ―Tuhan, berkati usaha saya, saya akan beri sekian persen untuk Tuhan‖. Seharusnya, berikanlah apa yang harus diberikan kepada Allah, bukan karena nazar melainkan panggilan hidup orang percaya yang telah menerima penebusan Kristus. Syalom. Apakah Diurapi Sama dengan Lahir Baru?

Pertanyaan : Bapak Pengasuh yang terkasih. 1. Apakah orang yang diurapi TUHAN harus melalui pencobaan? 2.Apakah urapan seseorang tergantung dari ukuran jangka waktu atau jenis pencobaan itu? 3. Apakah ini hanya berlaku bagi umat yang lahir baru? 4. Bagaimana dengan umat yang belum lahir baru. Apakah doktrin tersebut di atas tetap berlaku? Terima kasih, God bless you. Alex Malando Sinurat Medan, Sumatera Utara Jawaban : WAH, pertanyaan Sdr Alex ini jadi terasa sulit, karena kamu sudah membuat kesimpulan lebih dulu, tapi sayang, tidak ada ayat pendukungnya. Padahal inti pemahaman tentang urapan tidak seperti itu. Baik, mari kita urut dengan rapi dulu. Dalam Perjanjian Lama (PL), pengurapan bisa menyangkut orang, tapi juga benda. Contoh, pengurapan atas tabut dan perkakasnya (Kel 30: 26-28). Di sini jelas pengurapan dilakukan terhadap benda. Dan masih banyak lagi contoh lainnya, seperti pengurapan atas tugu (Kej 28:18), pengurapan atas perisai (2 Sam 1: 21,Yes 21:5), dan lain-lain. Untuk apa diurapi? Tujuan pengurapan atas benda-benda ini adalah penyucian (benda itu disucikan karena digunakan untuk tujuan yang suci dan atas ketetapan Tuhan). Itu sebab, pengurapan harus dilakukan dengan minyak khusus (Kel 30: 22-25) dan oleh orang yang khusus, yang ditunjuk Tuhan, tidak oleh semua orang. Sekali lagi perlu diperhatikan, minyak untuk urapan ini tidak bisa dibuat oleh semua orang dan juga pengurapannya tidak bisa dilakukan semua orang. Alkitab mengatakan hal ini dengan sangat jelas, serba khusus. Nah, sekarang kita mulai menjelaskan arti pengurapan. Pengurapan atas orang, berlaku bagi pengurapan raja (1 Sam 16:12-13, 2 Sam 2: 4), kemudian pengurapan atas imam besar (Kel 28:41), dan juga pengurapan atas nabi (1 Raja 19:16). Dari semua contoh, jika kita baca baik-baik tiap ayat yang ada, maka pengurapan, baik kepada benda maupun orang adalah mutlak atas perintah Tuhan. Pengurapan disebut sebagai tindakan Ilahi, bukan inisiatif manusia. Dan pengurapan dilakukan oleh orang yang ditunjuk Tuhan, bukan kemauan pribadi. Jika benda yang diurapi, benda tersebut menjadi kudus. Jika orang yang diurapi, dia menjadi penerima kuasa Tuhan. Digambarkan juga orang yang diurapi sebagai orang yang menerima karunia dan dijaga Tuhan (Maz 23: 5-6). Tidak ada orang yang berani melawan orang yang diurapi Tuhan, apa pun alasannya, dan bagaimanapun kondisi orang itu (1 Sam 24:1-8). Dalam kisah Daud digambarkan bahwa Daud punya kesempatan untuk menyerang Saul yang mengejar dan bermaksud membunuhnya. Daud punya kesempatan menyerang, tetapi tidak melakukannya karena Saul menerima pengurapan dari Tuhan sebagai raja Israel. Daud menyerahkan perkaranya
143

pada Tuhan, dan berkata, ―Tuhanlah yang menjadi hakim antara aku dan engkau‖. Daud menghargai orang yang diurapi Tuhan dan membiarkan Tuhan bertindak atas orang yang diurapinya. Di dalam PL kita melihat pengurapan sebagai hal yang spesifik, bukan umum. Dalam Perjanjian Baru (PB), yang diurapi mengacu kepada Yesus (Kristus artinya yang diurapi, Kisah 10: 38). Dan, orang yang percaya kepada Kritus juga menerima pengurapan (1 Yoh 2: 20). Pengertian pengurapan di sini jelas sekali sebagai yang menerima karunia Roh Kudus, lahir baru, percaya. Artinya, ketika kita menjadi percaya, urapan Roh Kudus ada pada kita. Dengan diurapi, kita disucikan menjadi milik Tuhan. Paulus berkata kamu bukan lagi milik kamu sendiri, melainkan milik Tuhan (I Kor 6: 19-20). Perlu juga ditambahkan, pengertian minyak urapan di PB, tidak lagi mengacu kepada penyucian benda atau pengkhususan diri, karena semua sudah digenapi dalam Kristus. Karena itu semua yang percaya kepada Kristus adalah orang yang diurapi. Untuk minyak buat orang sakit (Yak 5: 14). Pertama konteks itu harus dibaca satu perikop (Yak 4:12-20). Maka tampak jelas yang paling penting dari semuanya bagi orang sakit adalah doa (ayat 16; doa orang benar besar kuasanya), bukan minyaknya. Pengkeramatan benda adalah salah besar, tidak sesuai dengan yang diajarkan Alkitab. Bahkan sejak PL pun sudah demikian. Kehadiran Allah, itu yang terutama bukan benda sebagai simbolnya. Minyak di sini memiliki dua kemungkinan, yaitu memang murni obat (seperti minyak zaitun yang memiliki khasiat tertentu). Tetapi lebih tepat sebagai tanda penyertaan Roh Kudus yang menyembuhkan lewat kuasa doa orang yang benar. Awas, jangan sampai terjebak kepada hal-hal yang mistis. Nah, itulah pengertian utuh tentang pengurapan yang di PB jelas berkaitan dengan iman percaya kepada Yesus Kristus. Sementara itu dulu ya, Alex. Senang bisa menjawab pertanyaan kamu, walaupun terasa tidak pas, karena pertanyaannya sendiri kurang pas. Tapi dengan penjelasan ini semoga menjadi pas sekarang. Teruslah menjadi pelanggan setia tabloid REFORMATA, ya. Tuhan memberkati. Dengan Puasa, Lumpuh dan Bisu Bisa Sembuh?

Pertanyaan : Bapak Pengasuh yang baik. Tiga hari yang lalu, saya konsultasi dengan seorang Hamba Tuhan dari Medan, tentang anak saya yang sudah berumur 3 tahun 7 bulan, tetapi belum bisa duduk, berdiri, berjalan, dan bicara. Untuk kesembuhan anak saya, kami diminta untuk puasa. Yang saya tanyakan adalah: 1. Puasa menurut Kristen itu, bagaimana? Tidak makan dan tidak minumkah? 2. Mulai jam berapa sampai jam berapa? 3. Berdoa dan membaca atau merenungkan Firman Tuhan kiranya Tuhan Yesus Kristus mengasihi anak saya sehingga ia sama seperti anak normal yang lain yang seusia dengan dia-kah? Atau bagaimana? 4. Apa yang harus saya lakukan? Josri Onie Sinaga—Bekasi, Jawa Barat Jawaban : BAIK Josri yang dikasih Tuhan. Mari kita mulai dari pemahaman tentang apa itu puasa. Pada umumnya, berpuasa berarti tidak makan dan tidak minum, atau tidak makan saja pada waktu tertentu. Ester berpuasa selama tiga hari, tidak makan dan tidak minum (Ester 4: 16), sementara Yesus, berpuasa 40 hari tidak makan (Matius 4: 2), tapi tidak disebutkan apakah Yesus juga tidak minum, dan juga tidak disebutkan apakah setelah puasa Yesus haus, hanya lapar. Lalu yang lainnya berpuasa seharian (1 Samuel 7: 6). Jadi tidak ada ketentuan mutlak berapa lama puasa itu dilakukan, atau apakah tidak makan dan tidak minum atau hanya tidak makan saja. Sementara orang orang Farisi, ketat ber-puasa, dua kali dalam seminggu sepanjang hidupnya (Lukas 18:12). Mengapa orang berpuasa? Jika kita menelusuri Perjanjian Lama (PL), ada beberapa alasan mengapa orang berpuasa. Antara lain, yang pertama, sebagai sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan (Im 16:29).
144

Kedua, sebagai bentuk rasa dukacita (1 Sam 31:13). Yang ketiga, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan (2 Sam12:16). Dan yang keempat, sebagai bentuk pengakuan dosa, pertobatan (Neh 9:1-2). Secara umum dapat dikatakan tujuan puasa dalam PL adalah, cerminan kehidupan orang yang hidup saleh, yang menaruh pengharapan penuh kepada Tuhan, sang pencipta yang mahakuasa. Sementara dalam Perjanjian Baru (PB) puasa lebih tampak sebagai meneruskan tradisi PL. Murid-murid Yesus sendiri pernah mendapat kritik karena tidak berpuasa, namun uniknya Yesus justru membela mereka (Mat 9:14-17). Di sini Yesus bukan tidak setuju puasa, namun lebih ke arah pelurusan nilai, bukan sekadar tradisi, seperti kebanyakan yang dilakukan orang Farisi. Rasul Paulus sendiri menyebut puasa sebagai latihan badani yang terbatas gunanya (I Tim 4: 8). Artinya, dengan puasa kita melatih mengendalikan diri (tidak terjebak emosi dan keinginan daging). Namun puasa itu tidak bermanfaat jika tidak disertai ibadah yang benar. Ibadah yang benar/sejati (Rom 12:1). Di dalam PB kasih karunia Tuhan dalam penebusan di kayu salib menjadi kekuatan inti iman Kristen. Doa tidak akan tambah kuasanya hanya dengan berpuasa. Doa hanya akan berkuasa apabila dinaikkan dengan hati yang benar (Yak 5:16), sekalipun tanpa puasa. Hal ini perlu menjadi perhatian, karena ada kecenderungan kuat mensakralkan puasa. Puasa penting tapi bukan yang terpenting. Sikap hati, hidup yang benar, iman yang sejati (Yoh 15: 7), itu yang penting, inti dari kekuatan doa, sekalipun dengan atau tanpa puasa. Josri yang dikasihi Tuhan, Anda bergaul akrab dengan Tuhan janganlah karena moti-vasi ingin mendapat kesembuhan bagi anak Anda, karena bergaul dengan Tuhan adalah panggilan kita sebagai orang percaya. Soal anak yang belum bisa duduk, berdiri, berjalan, dan berbicara padahal usianya sudah 3 tahun 7 bulan, bagi Tuhan itu masalah kecil. Yang penting sikap iman kepada Tuhan harus benar dulu. Lalu, perlu juga membawa anak ke dokter ahli, apakah ini karena ada permasalahan dengan kondisi tulang atau gizi atau yang lainnya. Mukjizat tidak selalu berarti ―sakit langsung sembuh tanpa obat‖. Lewat dokter, Tuhan juga bisa melakukannya. Saya sendiri pernah bermasalah dengan klep jantung. Diope-rasi dan sembuh, dan kisah pengobatan itu sangat luar biasa bagi saya, kesaksian yang tak terlupakan. Jadi ini bukan soal puasa tapi hikmat. Namun, jika mau berpuasa silahkan, tapi bukan dalam konteks anak pasti sembuh. Percayalah Tuhan sangat baik, DIA bisa melakukan apa saja yang DIA mau untuk kita, asal kita hidup dalam kebenaran NYA (Mat 6:33) Okey, sekian dulu ya, Tuhan memberkati Josri dan keluarga. Menjelaskan Konsep Allah Tritunggal dengan Sederhana

Pertanyaan : Bapak Pengasuh yang terhormat. Saya kerap mendapat pertanyaan dari orang-orang non-Kristen tentang ke-tritunggal-an Allah. Menurut Bapak, bagaimana cara menjelaskannya dengan sederhana supaya dapat dipahami oleh mereka dengan mudah? Dalam keterbatasan saya, saya selalu bilang kalau saya percaya pada Allah yang Esa. Tetapi itu bukan jawaban yang bisa diterima oleh mereka, karena mereka tahu saya percaya kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Gali Kelapa Gading Permai—Jakarta Utara Jawaban: Gali yang terkasih di dalam Kristus, memang tak mudah menjelaskan Allah Tritunggal, termasuk juga Allah yang Esa. Siapakah manusia sehingga bisa menjelaskan siapa Allah dengan lengkap sehingga masuk akal? Yang paling masuk akal adalah bahwa ―Allah memang tidak masuk akal, dan, sungguh tidak masuk akal jika Allah masuk akal‖. Statemen ini baru masuk akal. Mengapa? Jelas, karena Allah tak terbatas, melampaui akal
145

kita yang sangat terbatas. Jadi, bagaimana mungkin manusia bisa mengurung Allah yang tidak terbatas di dalam akalnya yang terbatas. Namun, itu tidak berarti kita tidak bisa menje-laskan siapa Allah, tapi penjelas-an sebatas DIA menyatakakan diri-Nya kepada manusia di dalam Firman. Kemudian kita juga harus mengingat bahwa ketika berbicara tentang Allah kita berbicara Allah yang roh adanya (Yoh 4: 24), bukan materi, tidak terbatas pada ruang dan waktu (Maz 93: 2), dan tentu tidak seperti kita yang materi (Maz 90: 4-6). Kita harus awali dari kesadaran ini dulu. Nah, sekarang tentang Allah Tritunggal. 1. Istilah ini secara tersurat memang tidak ada di Alkitab, namun tersirat dengan sangat jelas (Kej 1: 26/KITA, bentuk jamak, Yes 6: 8/bahasa Inggris ―us‖, bentuk jamak), dan juga pada nama Ellohim yang berbentuk jamak (bagian ini perlu penjelasan yang panjang). Tapi intinya, yang percaya pada Allah Abraham, Ishak dan Yakub harus belajar, mengerti dan percaya kebenaran ini. Mungkin ada yang berkata kenapa orang Yahudi sendiri tidak percaya pada Yesus? Jawabannya seder-hana: yang percaya mula-mula juga orang Yahudi, termasuk Pau-lus tokoh Farisi yang sangat terkenal dan terdidik (Kisah 22). Juga fakta kesalahan konsep tentang Me-sianik. 2. Allah Anak, Yesus Kristus, sebelum da-tang ke dunia juga sudah dinubuat-kan lama oleh Perjanjian Lama (PL); tentang diri-Nya, yang mela-hirkan-Nya, kota kela-hiran-Nya, akibat kela-hiran-Nya bahkan ke-matian-Nya. Kebetul-an? Tentu tidak, ka-rena Dia memang da-tang dari kekekalan ke dalam kesementara-an (Yoh 14:1-3, Fil 2:5-8). 3. Allah Bapa dan Allah Roh sudah diper-saksikan dengan jelas oleh Alkitab sejak dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. 4. Lalu dalam berkarya, Mereka mencipta bersama (Kej 1: 2; Allah Roh, 1: 3; Allah Bapa, Yoh 1:1-3; Allah Anak, memelihara dan menebus bersama, Yoh 3:16, Kasih Bapa, Yoh 14: 6; Penebusan Anak, Yoh 16: 8-11,14: 26; Keinsyafan dan pimpinan Roh. Ketiganya satu dalam berkarya penciptaan hingga penebusan). 5. Jadi Allah itu tiga? Tentu tidak. Dia sendiri mengatakan ―esa‖ (Ul 6: 4). Di sinilah masalahnya. Ingat, kita bicara Allah yang Roh, bukan materi; kualitas, bukan kuantitas. Sekarang coba tanya, ―Apakah Allah yang ―satu‖ itu? Apakah Dia ada di Indonesia?‖ Pasti dija-wab ―ada‖. Di tempat lain juga pasti dijawab ―ada‖. Pertanyaannya, jika Allah itu ada di mana-mana, ada berapa Allah itu? Pasti satu bukan. Di ma-na logikanya? Ingat kita bicara Allah yang Roh dan Kekal. Nah, kalau bicara Allah Tri-tunggal bingung, apa Allah tung-gal juga tidak bingung karena bisa di mana-mana pada saat yang sama? Tentu saja bingung karena kita bicara Allah yang melampaui akal. Akhirnya, ternyata Allah Tritunggal itu tidak membingungkan ya, yang membingungkan adalah bagaimana men-jelaskannya. Semoga sekarang jadi jelas. Allah Tritunggal itu tidak sama dengan konsep trimurti. Tritunggal itu esa, tiga pribadi satu kesatuan, dan itu kesaksian Alkitab. Selamat berpikir dengan beriman.? Orang Gila Masuk Surga?

Pertanyaan : BAPAK Pendeta, suatu hari di tempat kerja saya, ada beberapa teman seiman yang sedang bercanda. Dalam canda itu mereka membicarakan masalah orang gila dengan berbagai nasib serta keanehannya. Di tengah keriuhan suasana, tiba-tiba ada yang nyeletuk, ―Apakah orang gila itu bila mati masuk surga?‖ Dan pertanyaan ―iseng‖ itu ternyata membuat perdebatan itu makin hebat dan seru. Peserta terpecah pada dua kubu: pro dan kontra, surga dan neraka. Tolong Bapak jelaskan menurut Alkitab. Tri-Jakarta Jawaban : Apakah orang gila bisa masuk surga? Sebuah pertanyaan yang bisa dipertanyakan kembali: Apa yang membuatnya tidak bisa masuk Sur-ga? Kata ―gila‖, segera meng-ganggu kita. Dan jika diperpan-jang, tentu saja banyak perta-nyaan lainnya, seperti orang idiot dan seterusnya. Belum lagi bayi yang berumur satu hari, atau bah-kan orang yang bermukim di pedalaman, yang notabene tidak pernah mendengar Injil tapi sudah meninggal.
146

Keselamatan menjadi kebutuhan setiap orang, siapa pun dia (tua atau muda, waras atau gila, pen-deta atau orang awam—semuanya perlu keselamatan). Alkitab ber-kata, ―Semua orang telah jatuh ke dalam dosa sebagai konsekuensi kejatuhan Adam (I Korintus 15: 20-22). Ini disebut sebagai dosa turunan, dosa warisan, di mana Adam sebagai reseprentatif manu-sia, berdosa kepada Tuhan. Dan perbuatan dosa itu telah menjadi nyata di dalam kehidupan manusia (Roma 3: 9-20). Jadi, sekali lagi setiap manusia perlu diselamatkan, dan kesela-matan itu hanya ada di dalam penebusan Yesus Kristus. Ini juga berarti, setiap orang bisa dise-lamatkan berdasarkan kemurahan Tuhan, bukan melihat apakah manusianya itu waras atau gila. Ka-rena apabila berdasarkan peme-nuhan syarat, maka tidak seorang pun yang selamat, entah dia waras atau tidak, karena tidak seorang pun yang layak, yang memenuhi syarat, untuk diselamatkan. Sekarang, mari kita pahami apa yang dikatakan Alkitab soal keselamatan. Efesus 2:8-9. Keselamatan adalah kasih karunia. Dengan tegas Alkitab mengatakan keselamatan bukanlah hasil usaha manusia, baik pribadi maupun kolektif. Karena itu manusia tidak bisa memegahkan diri, untuk apa yang telah dia perbuat. Keselamatan sebagai ka-runia Allah, mendahului setiap tin-dakan (pelayanan, persembahan, ibadah, doa, puasa) maupun status manusia (kaya, miskin, sehat, sakit, waras, atau gila). Yohanes 3:16. Keselamatan adalah karena percaya/beriman. Iman yang muncul karena dorongan kasih karunia (bukan kemampuan rasio), yang memam-pukan manusia per-caya kepada Yesus sebagai Tuhan yang menebus dosa dan juru selamat manusia (I Korintus 12: 3). Yohanes 16: 8-11. Untuk percaya, tentu saja diawali dengan kesadaran dan penga-kuan manusia akan dosanya. Kesadaran dan pengakuan yang muncul sebagai anugerah yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang diikuti de-ngan pengakuan percaya kepada Yesus Kristus. Kepercayaan manusia timbul karena dimam-pukan oleh Roh Kudus. Sementara bagi peristiwa di luar jangkauan manusia, seperti keselamatan bayi atau orang yang tidak sempat mendengar Injil selama hidupnya, Alkitab berkata dalam Ulangan 29: 29: Hal hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan Allah kita, tetapi hal hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini. Artinya ada bagian yang kita me-ngerti yaitu percaya selamat, menolak binasa. Yang menolak yang binasa, bukan yang tidak waras. Sementara yang tidak sempat percaya atau bayi, menjadi kedaulatan Allah yang tidak kita ketahui. Allah adil dalam tiap tindakan-Nya. Nah, rekan Tri, saya harap jawaban ini cukup jelas, bahwa keselamatan adalah anugerah dan orang gila pun bisa mendapatkan-nya. Menyangkut sikap ―percaya‖, itu unik sekali, karena lebih merupakan sikap hati/iman yang melintasi rasio. Ketidak-warasan seseorang, itu tidak sama dengan tidak beriman. OK, selamat melanjutkan dis-kusinya dengan teman-teman seiman. Semoga semua sudah berlangganan REFORMATA, supaya dapat informasi yang selalu up to date. Pelajaran 52 KOMUNIKASI

Pembacaan Alkitab: Markus 16:15, 1 Petrus 3:15 Tujuan : Agar peserta dapat menjadi komunikator yang baik dalam menyaksikan Kristus kepada sesama 1. APAKAH KOMUNIKASI? Adanya hubungan aksi reaksi antara dua objek yang berbeda mis.: telephone dll. Untuk manusia hal ini bisa dibayangkan sebagai adanya suatu penyampaian pemikiran, perasaan dari orang yang satu ke orang yang lain (dengan lain kata ada suatu human relation). Komunikasi bisa terjadi dan sukses apabila kedua atau lebih objek/manusia yang melakukannya mempunyai unsur-unsur seperti:
147

- Kesamaan derajat pengertian. - Bisa memberikan aksi ataupun reaksi. - Bisa mengolah data yang masuk dalam komunikasi tsb. - Dan lain-lain hal yang lebih spesifik, yang akan dibicarakan jelas daripada hanya suatu komunikasi yang berhasil dengan umat manusia (Filipi 2:5-8). Dia turun ke bumi dan menjadi manusia supaya bisa berkomunikasi dengan saudara dan saya. Apakah jawab saudara atas kerinduannya ini ? 2. KOMUNIKASI DALAM KEHIDUPAN Apa yang akan terjadi kalau tiba-tiba semua kita ini tidak bisa berkomunikasi lagi. Dunia akan menjadi tidak teratur dan hancur akhirnya. Pemimpin-pemimpin dunia yang berbicara tidak akan didengar, guru sekolah tidak akan bisa mengajar lagi, orang-orang tua akan seperti tidak punya anak lagi. Yang paling mengerikan kalau komunikasi yang ada antara manusia dan Pencipta nya terputus, bagaimanakah jadinya kita ini semua? Kematian kekal dan bukannya hidup kekal oleh karena kita menyadari pentingnya komunikasi dalam kehidupan, kita harus belajar menjadi orang yang komunikatif, baik di sekolah, di masyarakat, juga di gereja dan di persekutuan. 3. HAL-HAL YANG PENTING DALAM KOMUNIKASI a. Untuk diri sendiri 1. Rendah hati seperti Yesus ; Matius 5:5. 2. Rindu untuk menjadi pendamai; Matius 5:9. 3. Berpikir dan berbuat positif ; Filipi 4:8-9 4. Tidak menghakimi orang lain; Mat 7:1-2,Lukas 6:37. 5. Tidak berkata sia-sia, Mat 12:35-37. b. Berhubungan dengan orang lain 1 . Menerima orang lain sepenuhnya; Filipi 2:2-4. 2. Mendengarkan orang lain. 3. Kurangi bicara mengenai diri sendiri. 4. Jujur; Efesus 4:25, Kel 20:16. 5. Berbicara/menyatakan/melakukan 6. Tidak mengkritik,kritik tidak pernah membangun. 4. HAL-HAL YANG PENTING DALAM MENDENGAR a. Dengarkan cerita orang lain. b. Dengarkan cerita orang sepenuhnya. c. Dengarkan cerita orang lebih dahulu / pertama-tama. Berilah,maka akan diberikan kepadamu suatu takaran yang dipadatkan yang gon cangkan, yang tumpah keluar akan dicurahkan kepadamu. 5. KOMUNIKASI DALAM PERSEKUTUAN Persekutuan yang baik dan bertumbuh adalah suatu persekutuan dimana setiap anggotanya merasakan suatu komunikasi yang lancar antara mereka sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi? Kalau setiap anggotanya mencoba menerapkan hal-hal yang disebutkan diatas, maka akan ada suatu perubahan besar dalam persekutuan - persekutuan, anggota yang satu akan mencoba menjadi anggota yang komunikatif, yang lain juga bahkan yang menjadi pemimpin seharusnya yang jadi contoh dalam hal tersebut, hal-hal yang mempengaruhi kehidupan persekutuan antara lain : a. Kegagalan - kegagalan I . Sama sekali tidak kompromi, prinsip sama sekali tidak sama dengan metode, metode boleh berbeda, tetapi prinsip harus tetap dipertahankan. 2. Terlalu sering kompromi, melakukan sesuatu dengan berlebih-lebihan sampai tidak dapat membedakan mana yang secara prinsip tidak dibenarkan. Biasanya orang seperti ini kurang mendapat perhatian, dan ingin memberikannya pada orang lain. 3 . Merasa selalu paling hebat (super), kehebatannya ialah pada saat dia bisa mengkritik/ menjatuhkan orang lain; Lukas 18:9-14, orang Farisi dan pemungut cukai. 4 . Terlalu offensif (menyerang), sama sekali tidak memberikan kesempatan lawan untuk
148

berbicara atau mengemukakan pikirannya. 5. Tidak bersikap terbuka/jujur, ada hal-hal yang penting harus dijelaskan dengan jujur sehingga persoalan bisa diatasi. 6. Stop memberi teguran/nasehat; Mat 18:15-20. Ada kalanya keinginan untuk menegur sesuatu yang salah dipadamkan begitu saja, karena sering mendapat respons yang kurang baik, tegur dan nasehatilah dengan kasih. 7. Tidak bisa mengontrol keluhan - keluhan,seringkali hal-hal tertentu harus disimpan dan digumuli sendiri, tidak harus selalu dinyatakan kepada orang lain. 8. Mencoba membuat setiap orang setuju dengan pendapat dirinya. 9. Tidak mau menunggu sampai orang lain selesai bicara. b. Kemenangan - kemenangan. 1. Menilai orang lain dengan kebaikan; Mat7: 1,2. 2. Nyatakan terimakasih kita, tetapi jangan mengharapkan itu dari orang lain Lukas 17:11 -1910 Orang yang disembuhkan Yesus cuma 1 yang kembali. 3. Belajar menerima teguran/nasehat tanpa merasa disudutkan. 4. Arahkan pcrhatian kcpada kcbutuhan orang lain juga. 5. Hadapi interupsi - interupsi dengan kreatif 6.Belajar menghargai ketenangan dan kesederhanaan dalam mengungkapkan sesuatu jangan berbelit-belit. 7. Belajar memberikan sesuatu sedikit lebih dari pada biasanya. (sedikit lebih perha tian,sedikit lebih kasih dll). 8. Menerima dan menyadari adanya emosi dalam diri kita (emosi utama yaitu:marah). 9. Menerima rencana Tuhan dalam hidup sebagai yang terindah dalam hidup saudara Yeremia 29:11. 6. KESIMPULAN: Sederhana saja sebenarnya, bahwa kalau kita memiliki kasih yang dari Yesus I Korintus 13, maka problem boleh tetap ada tetapi penyelesaiannyapun tentu ada. Si pemimpin menjadi contoh dalam kehidupan yang menyeluruh bukan sekedar pandai-bicara atau organisasi tetapi lebih pandai menjadi penyalur kasih Kristus yang sejati. Anggota persekutuan juga akan menjadi orang yang bukan cuma menuntut, tetapi malah rela memberi baik itu waktu,perhatian dan segala hal lain. Menjadi manusia Kristen yang komunikatif mempunyai pengaruh yang bukan main besarnya dalam kehidupan si individu, dia menjadi pendamai dan yang cinta damai, dia menjadi orang yang membagikan kasih dan bukan penuntut kasih. Terpujilah Nama Yesus dari sekarang sampai selama-lamanya. MAKA TINGGALLAH IMAN YESUS SEKARANG Yakin akan hal-hal yang diharapkan Mempunyai kepastian akan hal-hal yang belum dilihat. PENGHARAPAN KRISTUS didalam kamu pengharapan kemuliaan NANTI BUAH-BUAH ROH KUDUS: KASIH, SABAR TUHAN BAIK HATI TIDAK MELUAP DENGAN KECEMBURUAN TIDAK MEMBUAL TIDAK TINGGI HATI TIDAK ANGKUH TIDAK KASAR TIDAK MEMAKSA ORANG LAIN UNTUK MENGIKUTI KEMAUAN SENDIRI TIDAK CEPAT TERSINGGUNG TIDAK MENGHIRAUKAN ORANG LAIN YANG BERBUAT SALAH KEPADANYA TIDAK MENJADI SENANG KALAU ADA KETIDAK ADILAN HANYA SENANG DENGAN YANG BENAR TAHAN MENGHADAPI SEGALA SESUATU MAU PERCAYA AKAN YANG TERBAIK PADA SETIAP ORANG
149

TIDAK PERNAH HILANG HARAPANNYA SABAR MENUNGGU SEGALA SESUATU TIDAK AKAN LUNTUR KEGEMBIRAAN (SUKA CITA) KEDAMAIAN (PERDAMAIAN) KESABARAN (PANJANG HATI) B U D I (KEMURAHAN) KEBAIKAN HATI (KEBAIKAN) KESETIAAN (SETIAWAN) KERENDAHAN HATI (LEMAH LEMBUT) KESANGGUPAN UNTUK MENGUASAI DIRI (TAHAN NAFSU) TUHAN YESUS KRISTUS adalah JALAN ke SURGA KEBENARAN ALLAH HIDUP KEKAL

BUKU BACAAN PENUNJANG 1. Carnegie. Dale, Bagaimana Mencari Kawan Dan Mempengaruhi Orang Lain, Jakarta: Binarupa Aksara. 2. Susanto. Astrid S, Komunikasi Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia. 3. Narramore. C M, Cara Bergaul Yang Baik, Jakarta: BPK GM. 4. Supratiknya. A, Komunikasi Antar Pribadi, Yogyakarta: Kanisius. 5. Osborne. Cecil G, Seni Bergaul, Jakarta : BPK GM. 6. Dowell. Josh Mc, Kekristenan Sejarah Atau Dongeng, Jakarta: BPK GM. 7. Peale. Norman V, Kuasa Positif Yesus Kristus, Jakarta: BPK GM. 8. Parrot III, Les, High Maintenance Relationships, Jakarta: Metanoia. Pelajaran 51 KUASA DALAM PUJI-PUJIAN

Pembacaan Alkitab: Mazmur 150 Tujuan :Agar peserta dapat menyadari pentingnya musik dalam hidup dan ibadah Kristen sesuai dengan firman Allah. 1. PENGUCAPAN SYUKUR, PUJIAN DAN PENYEMBAHAN. Ada 3 kata yang menyatakan expresi ibadah kita kepada Allah: a. Pengucapan Syukur (Thanksgiving) - kita berterimakasih karena kebaikan Allah atas apa yang telah diberikan/diperbuatNya kepada kita. Mis : untuk berkatnya, kesehatan, keselamatan dll. b. Pujian (Praise) adalah ucapan dari mulut kita yarg memuji Allah karena Dia Allah, kita memuji keagungannya, pribadinya. c. Penyembahan (Worship) = tunduk, membungkuk, meniarapkan diri. Kel. 4 :31 - .... Sujud menyembah .... ini bukan hanya semata-mata sikap fisik tapi juga sikap spiritual - menundukkan diri di dalam jiwa kepada Allah karena kekudus annya. Perhatikan gambaran Alkitabiah tentang penyembahan dalam Yesaya 6: 1-4. 2. EMPAT FAKTA MENGENAI PUJI-PUJIAN. Puji-pujian adalah respons yang wajar terhadap kebesaran Allah (Mz 48 : 2). Alkitab penuh nasihat untuk memuji Tuhan. Mengapa, apakah Allah menuntut pujian? Tidak, malah sebaliknya Ia memberi kita kehormatan untuk memuji Dia karena pujian adalah respons yang wajar akan kebesaranNya. Iblis tidak bisa memuji Tuhan (menyanyi), dan malaikat tidak bisa mengekspresikan kasih atas keselamatan karena Injil Kristus (I Petrus I : 12) dalam puji-pujiannya. Hanya kita, manusia yang dapat! 1. Puji-pujian adalah TAKHTA ALLAH. Mazmur 22:4 - Allah bersemayam di atas puji-pujian. Puji-pujian tidak membuat Allah jadi Raja karena dia memang adalah Raja, walaupun kita memuji Dia ataupun tidak. Tapi dalam pujian kita mengakui ke-Raja-anNya atas hidup kita.
150

Bila Allah hadir di atas puji-pujian, maka Dia akan bertindak (Ehyeh asyer Ehyeh) dan hadiratnya akan menguasai kita. 2. Puji-pujian adalah SENJATA ROHANI kita. Mazmur 8: 3 - Matius 21 : 16 .- Puji-pujian adalah dasar kekuatan yang didirikan Allah pada umatnya untuk membungkam Iblis, menutup mulutnya. Setan alergi terhadap puji-pujian, itu sebabnya ia tidak menghendaki kita memuji Tuhan, karena puji-pujian dapat mengikat kekuatan Setan (Mazmur 149:5-8). 3. Puji-pujian mengatasi PROBLEMA kehidupan. Bila kita menghendaki campur tangan Allah yang ajaib dalam situasi yang serba sulit dan mustahil, kuncinya ialah: memuji Tuhan! II Tawarikh 20: 21-22 - Raja Yosafat mengalahkan bani Amon dan Moab. Yosua 6: 20 - Yerikho runtuh karena sorak-sorai pujian. Kisah Para Rasul 16: 25 - Paulus dan Silas dalam penjara. 4. Puji-pujian sebagai suatu KORBAN. Korban dalam PL biasanya berbentuk binatang (domba) tanpa cacat. Bagi kita sekarang : puji-pujian yang sungguh-sungguh (Ibrani 13:15-16) bukan hanya hafalan ( Yesaya 29: 13) atau tidak sungguh-sungguh (Yesaya 1 : 13). Lebih jauh: puji--pujian juga adalah pengorbanan. Bila kita memuji Allah waktu senang, semua nya lancar, itu baik; tapi itu bukan korban. Tapi bila segala sesuatu menekan, ada beban berat dan kita tetap memuji Tuhan, itulah korban! Kita perlu berkorban bila saat itu kita tidak ingin melakukannya, karena itu akan mematangkan, mendewasakan kita. Iman mengatasi perasaan. 3. SIKAP WAKTU MEMUJI TUHAN. 1. Bertepuk tangan - Mazmur 47: 2. 2. Mengangkat tangan - Mazmur 134: 2, Ratapan 3: 41. 3. Berdiri - II Tawarikh 5:12. 4. Bersujud/tersungkur - II Tawarikh 7: 3. 5. Bersorak - Mazmur 47: 2, Mazmur 100: 1. 6. Bersuka-ria - II Tawarikh 29 - 30. 7. Menari dan melompat dihadapan Tuhan - Mazmur 150:4, II Sam 6: 5,14-16. Jadi meliputi seluruh existensi kita - tubuh , jiwa dan roh . Kapan kita memuji Tuhan ? Mazmur 145:2, 34:2 - setiap hari/ segala waktu. Siapa yang harus memuji Tuhan ? Mazmur 150: 6 - segala yang bernafas. Adakah orang yang tidak memuji Tuhan ? - Mazmur 115: 17 - orang mati. 4. BENTUK-BENTUK NYANYIAN PUJIAN & PENYEMBAHAN Di dalam Alkitab digambarkan ada LIMA JENIS NYANYIAN PUJIAN, yakni: 1. PROCLAMATION (Pemberitaan/Pernyataan), tujuannya kepada manusia. Beritanya harus positif, jelas, menarik. Jenis ini yang seharusnya banyak dinyanyi kan dalam kebaktian PI. Jadi Firman Allah langsung berbicara lewat pujian itu. Misalnya : di dalam Tuhan ada kedamaian, Yesus jawaban dsb. 2. ADORATION (pengagungan) untuk Allah sepenuhnya. Terdiri atas Praise (pujian) : Allah yang Kita Sembah, PerbuatanNya Besar . Worship (penyembahan): Yesus Disanjung, Yesus Kami Puja. Dasarnya: karena dia adalah Allah yang besar dan layak di puja. 3. THANKS GIVING (Ucapan Syukur) kepada Allah sepenuhnya karena dia telah berbuat sesuatu bagi kita : menyelamatkan, memberkati dsb. Mis:Kami Naikkan Syukur,Trima kasih oh Tuhanku, Amazing Grace. 4. LAMENTATION (Ratapan). Maksudnya bukan lagu seperti "Hidupku yang sengsa ra, penuh dengan penderitaan", tapi tangisan yang erat dengan doa syafaat bagi orang lain, dunia, pergumulan bagi pekerjaan Tuhan. Ingat kitab Ratapan Yeremia, tangisan Yesus untuk Yerusalem. Contoh: Nyatakan kasihmu di tengah kami ... kasih yang menangisi bangsa ini, Mari Saudara seiman, kasihilah dunia melalui daku. 5. BATTLE SONG (nyanyian perang) yang bersifat menyerang , menaklukan setan, membelenggu Iblis (Mazmur 149:6-8). Nyanyian ini bersifat cepat, semangat, seperti irama derap kuda. Mis: Dalam nama Yesus ada Kemenangan, Ku Menang. God's Got an Anny . Selanjutnya menurut bentuknya, maka ada TIGA BENTUK PUJIAN DALAM Efesus 5:18-19, Kolose 3:16: 1 . PSALM (psalmos, mazmur) = nyanyian kudus diiringi dengan alat musik. Mungkin
151

menunjukkan keseluruhan kitab Mazmur. Mz 95: 2, I Kor 14 : 26 2. HYMN (humneo,kidung puji-pujian) = memuliakan/merayakan Allah dalam nyanyian Matius 26 : 30, Ibrani 2:12, Kisah 16:25. Banyak hymn dalam gereja kini yang mengandung theologia yang indah. Contoh lagu : How Great Thou Art, Atas Satu Bukit. 3 . SPIRITUAL SONGS (pneumatikos, nyanyian rohani) = nyanyian yang dihidupkan oleh Roh Kudus secara pribadi atau seluruh jemaat secara supernatural. I Kor 14 : 15 -memuji dengan rohku .... Akal budiku. 5. NYANYIAN BARU - Mazmur 40: 4, 33: 2-3,149 :1, Wahyu 5: 9,14: I-5. Fungsinya: a. Nyanyian baru sebagai penyembahan kepada Allah. b. Nyanyian baru ilhaman dimana Allah berbicara kepada umatNya (II Samuel 23:1,2, Mazmur 40:4). I Taw 25:1,2 - nubuat diiringi musik. c. Nyanyian baru dalam sidang jemaat untuk saling menguatkan. Kolose 3:16 nyanyian baru secara bergantian (Mz. 14 7:7, Ezra 3:11),atau berbalas balasan di tengah-tengah sidang supaya saling menguatkan. "Ajar mengajar dan nasehat-menasehatkan sama sendiri" (TL) Nyanyian baru timbul dari 2 sumber, yakni hati kita/roh kita yang dikuasai Roh Kudus atau langsung dari Allah - II Samuel 23 : 1-2. Karena itu kita perlu minta agar Allah memenuhkan kita dengan RohNya. Yoh. 4:23-24 MenyembahNya dalam roh dan kebenaran. Kita harus mengijinkan roh Kudus menguasai roh kita untuk dapat menyembah Dia, dan juga penyembahan kita harus sesuai dengan Firman Allah, yakni kebenaran (Yoh. 17: 17). Tanpa roh maka penyembahan dan ibadah kita kering, suam, hanya sekedar ritual dan mati; tanpa Firman maka penyembahan menjadi perasaan sentimental, emosionil dan fanatisme. Roh Kudus itulah yang mengilhamkan pujian dan penyembahan. Efesus 5: 18,19 -Hendaklah kamu penuh dengan Roh dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani ! Yohanes 7 : 37-39 - aliran air hidup (Roh Kudus) diterima dengan cara : a. Ada kehausan, kerinduan - Yesaya 44:3. b. Datang pada Yesus, satu-satunya pembaptis dengan Roh Kudus (Luk. 3:16) c. Percaya, beriman - Galatia 3: 14b. Tandanya : Kisah 2:4 - bahasa lain/bahasa baru/ bahasa roh - akhirnya menjadi nyanyian dalam roh (I Korintus 14: 15). (Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia) Pelajaran 50 MUSIK DAN KEKRISTENAN

Pembacaan Alkitab: Mazmur 150 Tujuan : Agar peserta dapat menyadari pentingnya musik dalam hidup dan ibadah Kristen sesuai dengan firman Allah. 1. ASAL DAN TUJUAN MUSIK. Musik berasal dari hati Allah sendiri. Sebelum malaikat, alam dan manusia diciptakan, musik sudah ada dalam diri Allah. Scientist menemukan dimensi musik dalam gelombang terang. Allah adalah TERANG (I Yoh 1:5) - ada musik. Musik digunakan sejak semula dalam penyembahan. Allah menciptakan manusia dengan kerinduan untuk menyembahnya, dan Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk itu melalui musik : Vocal atau instrumental. Allah menyukai musik dan Dia ciptakan para malaikat untuk melayani dalam bentuk "Koor Surgawi" dan mungkin Lucifer adalah pemimpinnya (Yeh. 28:13 (KJV) ... thy tabrets and thy pipes, Yes. 14:11 .. gambusmu - thy viols). Tapi kerinduan Lucifer untuk disembah menyebabkannya jatuh (Yes. 14:12-15, Yeh. 28:11-19). Sejak itu Iblis berusaha memanipulasikan musik - "The Angel of Music" menjadi "Satan of Music". 2. KUASA DALAM MUSIK
152

Musik itu amoral, penggunaannyalah yang membuat musik itu jahat atau baik, merusak atau membangun. Musik punya fungsi audio-mental (pendengaran yang mempengaruhi jiwa), ia memiliki efek psikologis yang bersifat universal. Musik dapat mengekspresikan keagungan atau suasana santai, sukacita atau dukacita, dsb. Musik punya "bahasa" tanpa kata tersendiri yang dapat dikomunikasikannya dalam tinggi-rendahnya nada, pola lagu, ritme, melody, dll. sehingga orang dapat dipengaruhi oleh suasana musik tersebut. Plato menganjurkan penggunaan musik dalam pendidikan angkatan muda. Dr. Schoen dalam "The psychology of music " mengatakan bahwa musik adalah alat yang paling berpengaruh yang pernah dikenal para pendidik. Su Tjing (filsuf Tiongkok abad 6 SM) pernah mengatakan, "Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengubah adat dan kebiasaan manusia, kecuali melalui musik!" Musik itu merniliki pengaruh yang besar. a) Efek positif dari musik. Penggunaan "musical therapy " dalam dunia medis. Orang yang akan dioperasi / dicabut gigi diberi soft music - tenangkan syaraf Musik menolong sapi menghasilkan lebih banyak susu dan ayam menghasilkan lebih banyak telur, buah tanaman menjadi lebih besar. Musik / lagu kebangsaan membangkitkan semangat patriotisme dalam membela negara. b) Efek negatif dari musik - Musik rimba dari Afrika punya kuasa untuk kejahatan, menggerakkan emosi, pikiran dan tubuh untuk berperang, membangkitkan hawa nafsu dan pesta pora kanibalistik. - Musik Rock menyebabkan dekadensi moral dalam kebudayaan dan masyarakat. Phytagoras, penemu tangga nada diatonis dan interval nada, mengemukakan 3 elemen dasar musik yakni: - Melody - bagian fundamentalnya. - Harmony - chord yang menyokong melody, suara yang setuju dengan melody : mayor dan minor . - Rhythm - beatnya, yang harus lebih lemah daripada melody dan harmony. Tiga unsur itu dapat mempengaruhi roh , jiwa dan tubuh kita - baik secara positif maupun negatif, tergantung penggunaannya. 3. PENGARUH IBLIS DALAM MUSIK Iblis telah melakukan korup terhadap musik yang merupakan alat Allah yang indah, agar melalui musik Iblis dapat mendemonstrasikan kuasanya dan menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat penyembahan manusia. Iblis telah menggunakan banyak cara untuk menyesatkan generasi, kebudayaan dan bangsa melalui musik. Iblis telah menggunakan musik rimba primitif untuk membangkitkan nafsu dalam upacara magis dan cabul. Mars militer digunakan untuk membangkitkan nafsu membinasakan sesama. Musik klasik digunakan agar manusia memuja keindahan musik itu sendiri, dan bentuk modern yang dipakainya kini ialah melalui musik ROCK! Musik Rock yang mulai populer sejak tahun 1960-an dipakai Iblis untuk menguasai pikiran dan perasaan manusia dengan suaranya yang bising, beat yang dominan, kata-kata yang destruktif dan "subliminal advertisement". Beberapa fakta hubungan musik rock dan kuasa gelap : a. Musik Rock berhubungan dengan penyembahan berhala. b. Musik Rock berhubungan dengan kebudayaan pemberontakan, roh antikris. Mengekspresikan budaya "semau gue", dalam mode rambut, baju dan musik. c. Musik Rock berhubungan dengan obat bius dan imoralitas/ percabulan. "Rock Festivals" di Amerika dengan nudisme dan kecabulannya merupakan repetisi penyembahan patung lembu emas akibat pengaruh agama Kanaani (Keluaran 32: 17-25) hal ini membangkitkan murka Allah . d. Musik Rock banyak mengandung lirik lagu yang memuja Setan. Mis: Dancing with Mr. Devil, Sympathy for the Devil (Rolling Stones). Beelzebul has a Devil Set Aside Me... (Queen - "Bohemian Rhapsody). Highway to Hell ( AC/DC = anti Christ / Devil Children) dll. Satu tehnik cuci otak bawah sadar: Backward Masking, merupakan penyamaran terselubung dari kata/kalimat yang hanya bisa diketahui bila pita kaset dibalik, orang yang
153

ada dalam pengaruh obat bius lebih peka akan hal ini. Contoh lagunya : Another One Bites the Dust (jadi: We decided to smoke marjuana - Queen), Revolution Number Nine (jadi : turn me on dead man... let me out - Beatles! John Lennon : The Beatles lebih populer daripada Yesus ), Raunch n' Roll ( Black Oak Arkansas ), Stairway to heaven Led Zeppelin), bahkan pada lagu : I Just Called to say I Love You! Suara keras/bisingnya juga merusak kesehatan, juga beat lagu Rock kadang-kadang membuat ketukan jantung manusia tidak sinkron (Dr. John Diamond Profesor psikologi di New York's Mount Sinai Hospital). Dr. Philip Beales: Orang yang selalu ke diskotik, daya pendengarannya bisa turun seperti orang berusia 60 tahun. Konferensi Internasional para sarjana ilmu akustik di Paris mengingatkan bahaya musik disco dan tata lampunya bagi kesehatan manusia. 4. MUSIK BAGI KEMULIAAN ALLAH. Sudah saatnya kita menyadari pengaruh negatif dari musik yang dipengarahi Iblis dan menolaknya, serta kembali memberikan musik itu bagi kemuliaan Allah saja (Yesaya 43:7). Bukan berarti kita harus buang kaset, tapi harus bersikap selektip. Saatnya Allah sedang merestorasi musik dalam gerejanya, biar kita persembahkan padanya musik yang telah diberikannya pada kita. Seperti kata-kata William Booth (pendiri Bala Keselamatan ): Musik adalah pemberian Allah. Satu-satunya seni Surga yang diberikan kepada dunia, dan satu-satunya seni dunia yang dapat kita berikan balik ke Surga. Hingga melalui musik kita dapat melayani Allah, membangun saudara seiman, dan memenangkan mereka yang belum diselamatkan. Bagi Dialah kemulia an sampai selama-lamanya, Amin.

(Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia)

Pelajaran 49 PERLUKAH GEREJA MERAYAKAN NATAL?

Pembacaan Alkitab: Galatia 4:4;Yohanes 1 :10-11; 3:16. Tujuan : Agar peserta memiliki pemahaman dan sikap yang benar dalam memperingati kelahiran Juru selamat dunia PENDAHULUAN Pertanyaan tersebut sangat wajar sering muncul karena alasannya Natal tidak ada dalam Alkitab. Perintah Allah kepada Nabi Musa tentang hari-hari yang harus diraya kan: "Inilah hari raya yang ditetapkan ... yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap." (Im. 23:4 dst). Adapun 7 hari raya tersebut adalah sebagai berikut: Paskah, Roti tidak beragi, Buah Bungaran, Pentakosta, Sangkakala, Perdamaian, dan Pondok Daun (Tabernakel) yang harus dilakukan bangsa Israel. Letak nilai dari perayaan-perayaan tersebut bukan pada pelaksana annya tetapi pada makna dan tujuan. Tuhan pernah merasa jemu, jijik dan benci terhadap pelaksanaan perayaan ritualistis formalitas yang kosong (Band. Yes. 1: 11, 13, 14). Makna dan tujuan perayaan terletak pada 3 aspek yaitu: historis, profetik dan personal. A. Hari Raya Paskah (sebagai contoh) 1. Aspek historis Hari itu diselenggarakan agar umat ingat peristiwa bersejarah. Karya Allah yang besar dan dahsyat yang telah membebaskan dari perhambaan di Mesir, dimulai dari percikan darah anak domba paskah di ambang pintu sehingga selamat dari Malaikat Maut. 2. Aspek prophetic Bahwa darah anak domba yang tidak bercacat itu memberitakan Yesus Anak Domba Allah yang akan datang, mencurahkan darahnya, mati disalibkan untuk menebus dosa manusia
154

agar manusia terbebas dari hukuman dosa. Dan luar biasa Yesus disalibkan tepat pada masa perayaan Paskah bangsa Israel, sebagai penggenapan, pengisian makna Paskah yang sebenarnya. Dan gereja sekarang merayakan Paskah dengan isi pemahaman yang baru. 3. Aspek personal Umat yang merayakan Paskah sekedar tradisi hanya menyembelih domba karena orang lain juga melakukan tanpa didasari sikap hati, kasih akan Allah (Ul. 11:22; 1 Sam. 15:22), tidak mendapat perkenan Tuhan bahkan bisa menjadi kebencian Allah. Semua hukum Taurat termasuk semua hukum tata ibadah diberikan oleh Tuhan sebagai sarana respon kasih- hormat manusia terhadap kasih Allah yang mendahu luinya. Respon pribadi kasihhormat terhadap Allah di sini letak nilai atau substansi dari perayaan gerejawi. Percuma ikut merayakan Perjamuan Kudus kalau tidak dilandasi rasa hormat, kagum, mengindahkan dan mcrcsapi salib Yesus. Bahkan cara ikut Perjamuan Kudus yang salah bisa mendatangkan hukuman. I Kor. 11:27-32. Berarti bila Demikian dengan hari-hari Raya yang lain, maka perayaan tersebut akan melibatkan ketiga aspek tersebut. B. Hari Natal Memang perayaan Natal tidak berakar dari Sejarah Alkitab tetapi dari sejarah tradisi gereja. Ketika Kaisar Roma menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran dewa Matahari (Natalis Solis Invicti) dan untuk menentang perayaan kafir tersebut maka gereja di Roma menyatakan hari itu (tanggal 25 Desember th 336) sebagai hari kelahiran Yesus Kristus yang diyakini sebagai Matahari Kebenaran. Sementara tradisi Gereja Armenia menetapkan 6 Januari sebagai hari Epiphania yang dirayakan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus - Epiphania dari kata Yunani, epi artinya sebe lah luar (lahir) dan phainein artinya tampak, kelihatan, arti keseluruhannya nampak secara lahiriah dengan mata kepala. Jadi sebenamya tidak salah kita merayakan Natal asal penerapan 3 aspek tersebut tepat. 1. Aspek historis Kita merayakan Natal tidak berkonotasi pada dewa matahari, apalagi dalam sejarah nya itu berasal dari protes gereja yang menentang, dari pada menyembah dewa matahari lebih baik menyembah Yesus sebagai terang dunia, sebagai matahari pagi yang sejati (Luk.1:78). Tekanan perayaan bukan pada Natalnya tetapi pada fakta sejarah bahwa Firman sungguh telah menjadi daging, Yesus telah lahir lewat kandungan Maria yang dina ungi Roh Kudus. Tentang istilah yang diapdosi dari tradisi kafir, dalam Alkitab nama Allah memakai El juga diambil dari tradisi Asia Barat Daya Kuno yang konotasinya dewa yang tertinggi yang belum dikenal (Band. KR 17:22 dst). Walaupun Israel mengadopsi istilah tersebut namun diberi isi makna baru menjadi El Shaday, El Elyom (Allah yang Maha Tinggi Kej. 14:18,19); El Olam (Allah yang kekal Kej. 21:33; 26:23). Hanya dalam merayakan Kelahiran Yesus tidak harus dipatok pada tanggal 25 Desember, karena perhitungan Masehi ada selisih perhitungan. Kenyataan Yesus lahir bisa th 4 SM dan bulannya bisa jatuh September atau Oktober. Yang penting bukan tanggalnya tetapi data sejarahnya, Ia betul lahir ke dunia. Di dalam kitab Taurat saja telah ditetapkan harus dilaksanakan perayaan Paskah pada tanggal 14 bulan pertama (Abib), namun bagi yang dalam perjalanan jauh atau yang baru mengurus saudaranya yang meninggal (sehingga dikatagorikan najis) maka merayakan Paskah bisa dilakukan bulan kedua (Bil. 9: 10,11). Yang penting bukan peraturan formal yang kaku tetapi substansi perayaan itu, menghayati esensi maknanya. 2. Aspek prophetik Merayakan kelahiran Yesus tidak hanya menoleh ke belakang sejarah, Yesus seba gai bayi terus. Tidak, Yesus sudah di sebelah kanan Allah Bapa dan akan datang lagi menyatakan diri. Kita menanti perayaan Epiphania yang sejati Yesus yang akan menampakkan diri dan akan menjadi Raja di atas segala raja. 3. Aspek personal Tidak ada artinya merayakan kelahiran Yesus biarpun sampai 10 kali sebulan kalau Yesus Kristus tidak pernah lahir atau masuk dalam hatinya dan mengubah hidupnya.
155

Apalagi perayaan Natal sudah terpolusi banyak budaya barat, Natal diasosiasikan dengan Santa Claus, Natal diasosiasikan dengan etalase toko yang dipenuhi dengan produk baru yang serba gemerlapan dari lampu hias sampai sepatu baru. Natal diaso siasikan dengan pesta-pora (X'mas, tak ada Kristusnya ) minum mabuk. Ini yang harus diwaspadai tiap pribadi yang merayakan kelahiran Yesus. Kalau yang difokuskan Kelahiran Yesus maka Perayaan Natal tidak salah dirayakan oleh gereja. Apalagi dalam konteks Indonesia yang mayoritas non kristen maka bila Pemerintah memberikan tanggal merah di 25 Desember ini berarti Pemerintah meng hormati eksistensi Kristen, sehingga kalau orang Kristen sendiri tidak menghargai nya kemudian Natal dihapus sebagai hari libur nasional secara sosial politis orang Kristen yang rugi. Paling baik kita bersyukur dengan apa yang ada, pakai saja 25 Desember sebagai hari KKR tetap, kita isi dengan berita kedatangan Yesus yang positif Gereja masih relevan merayakan hari kelahiran Yesus. Lebih baik istilah Natal diganti Hari Kelahiran Yesus. Sumber: Pdt. A. Soerjadi M.Sc seperti yang dimuat dalam majalah Penyuluh. Buku Bacaan Penunjang: 1. Ismail. Andar, Selamat Natal, Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2. Drane. John, Mengenali Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

(Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia) Pelajaran 48 ENAM CARA AGAR DAPAT MENYERUPAI KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Matius 5:48; Filipi 3:10,11. Tujuan :Agar peserta memiliki kerinduan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Saya merasa bahwa kita semua ingin menyerupai Yesus! Namun demikian, kita cenderung untuk berpikir bahwa hal itu mustahil dan karenanya kita kurang berusaha. Meskipun kita belum menyerupai Dia, kita harus terus-menerus berusaha agar menyerupai-Nya. Jika kita berusaha, maka Roh Kudus akan menolong kita! Beberapa hal yang akan membuat kita menjadi semakin serupa dengan Yesus adalah: 1. Bercakap-cakaplah tentang perkara-perkara Allah. (Lukas 2:46-49). Yesus memu lainya ketika masih kanak-kanak dan Dia meneruskannya sepanjang hidup-Nya. Kita harus menjaga (dan mengendalikan) pemikiran kita, karena di situlah asal mulanya segala perkara (Filipi 4:8; II Korintus 10:5b; Efesus 4:29; Kolose 3:16; 4:6). 2. Selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Bapa (Yohanes 8:29). Khotbah di bukit (Matius 5,6,7) mengemukakan banyak cara untuk menyenangkan Bapa. Jika kita mau membacanya lebih sering - sementara waktu kita harus membacanya setiap hari -kita akan mulai melihat apa yang menyenangkan hati Tuhan. (Pembicara boleh memilih beberapa ayat, misalnya Ucapan bahagia - dengan menyebutkan kata-kata penting yang menunjukkan suatu perbuatan). 3. Dengan tetap mengunjungi rumah Tuhan (Lukas 4:16). Inilah kebiasaan Tuhan - suatu kebiasaan yang baik. Kita perlu berkumpul dengan saudara-saudara yang seiman (lbrani 10:25). Hal itu menguatkan iman dan kasih kita sama sendiri. 4. Luangkan waktu untuk berdoa seorang diri kepada Allah (Matius 14:23). Mungkin inilah hal yang terpenting, yang dapat kita lakukan untak memperkembangkan sikap yang menyerupai Kristus. Kita semua dapat meluangkan waktu - dan bila perlu menyediakan waktu untuk berdoa. Paulus menyuruh kita untuk senantiasa dalam suasana doa (I Tesalonika 5:17). Ini dapat kita lakukan - apa pun juga pekerjaan atau keadaan kita. 5 . Menjadi teladan kesabaran. (Matius 11:29 dan I Petrus 2:21-23). Yesus mengata kan bahwa kita dapat belajar pada Dia, jika kita mengangkat "kuk" bersama-Nya. Kita menjadi kawan hidup dan Dia dapat mengubah watak kita untuk menjadi lebih menyerupai-Nya. 6. Menunjukkan perhatian terhadap orang lain dan bukannya menyenangkan diri sendiri (Roma 15:1-3; Galatia 6:9, 10; I Korintus 10:24). Kita harus memikirkan orang lain,
156

memperhatikan keperluan mereka dan menolong menanggung beban mereka. Inilah kasih persaudaraan dan harus ditunjukkan terus-menerus (Ibrani 13: 1; Roma 12: 10-15). Kalau kita memikirkan hal-hal ini, suatu doa akan naik dari hati kita,"Tuhan, saya sungguh ingin menjadi seperti engkau!" Marilah kita berdoa sementara kita menyanyi kan bersama :"Seperti Yesus, itu saja ku minta!." Saya percaya bahwa Roh Kudus telah berbicara dalam hati kita hari ini, dan Dia berada di sini untuk menolong kita ! (Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia) Pelajaran 47 KRISTUS DATANG UNTUK MENYAKSIKAN KEBENARAN

Tujuan : Agar peserta dapat mengerti maksud tujuan kedatangan Kristus ke dalam dunia PENDAHULUAN Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:32; 17:17; Yoh. 18:37-38: "...untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran ... kata Pilatus kepadanya: Apakah kebenaran itu?". Jiwa manusia mendambakan kebenaran. Bukan kebenaran-kebenaran ilmiah atau sejarah. Kalau yang ini intelek manusia mampu menjawabnya, sehingga lambat laun kebenar an-kebenaran itu terungkap. Namun kebenaran-kebenaran ilmiah dan sejarah tak sanggup memuaskan jiwa manusia dan menyelesaikan masalah-masalah manusia. Yang dirindukan hati manusia adalah kebenaran rohani, kebenaran religius. Ini telah dipikirkan oleh para filsuf selama berabad-abad. Aliran demi aliran muncul dan mengklaim telah menemukan jawaban atas pertanyaan: apakah kebenaran itu? Namun ternyata juga gagasan-gagasan para filsuf tentang kebenaran itu juga simpang siur, tidak memuaskan dan tidak dapat dijadikan acuan hidup yang kokoh. Lalu orangpun jadi bersikap acuh tak acuh, bahkan sinis. Masalah apa itu kebenaran nampaknya menjadi sekedar bahan perdebatan yang melelahkan dan tidak berujung pangkal. Ini tampak dalam pernyataan Pilatus (yang bernada sinis): "Apakah kebenar an itu?". Ia tidak menunggu jawaban Yesus atas pertanyaannya itu. Tentu Ia telah banyak mendengar tentang "teori" kebenaran. Ia anggap Yesus tentu sama saja dengan para filsuf yang pernah ia dengar. Tetapi sebenarnya, soal kebenaran rohani, pada Yesuslah ada kata akhir. Di dalam Dia ada kebenaran yang final! 1. DIALAH KEBENARAN TENTANG ALLAH Inilah kebenaran yang paling dicari manusia. Bukan apakah Allah ada, karena secara naluriah manusia di manapun percaya Allah ada. Tetapi yang ingin diketahui manu sia, bagaimana sifat Allah dan terutama sikapnya terhadap manusia. Justru inilah yang dimanifestasikan Kristus melalui ajarannya, terutama melalui hidupnya. Kristus menyatakan Allah yang tampak itu (Yoh. 1: 18; 14:9 -1 Kol. 1: 15) dan sekaligus sifatnya yang utama, yakni kasih (Yoh. 3:16; I Yoh. 4:9-10). Di luar Kristus tak ada pernyataan Alah yang lengkap, apalagi mengenai kasihnya. Tanda terbaik yang berasal dari Allah, adalah Kristus. Tak ada cara yang lebih baik untuk mengenal kasih Allah kecuali melalui Kristus. Mengenal kebenaran ini membu at kita tidak takut menghampiri Allah, bahkan menjalin persekutuan dengan Dia. Hasilnya: hidup jadi bahagia dan mengarah sempurna (Mazm. 62:2; I Yoh. 1:5-7). 2. DIALAH KEBENARAN TENTANG MANUSIA. Kristus menyatakan gagasan terbaik dan leluhur tentang kodrat dan kewajiban hidup manusia. Ilmu pengetahuan, seni, filsafat, tak sedikitpun mampu memperbaiki konsep Kristus tentang manusia dalam hubungannya dengan Allah. Ini menjadi dasar bagi kehidupan individu, keluarga, gereja maupun masyarakat. Kebenaran apa yang diajarkan Kristus mengenai manusia? Bahwa Allah itu adalah Bapa kita (Mat. 6:9), dan kita anak-anak-Nya (5:45). Bukan saja itu. Bahkan kita ini adalah ahli waris Allah, sewaris dengan Kristus (Roma 8:17; Gal. 4:6-7). Ini adalah kebenaran yang tak
157

ternilai harganya, yang jauh mengungguli semua pikiran manusia tentang dirinya. Dan bila konsep ini difahami, manusia yang terjahat sekalipun akan tergugah untuk bangkit meninggalkan mutu kehidupan yang rendah dan hina (Luk. 15: 8-20). 3. DIALAH KEBENARAN TENTANG HIDUP DI SEBERANG SANA Di tengah-tengah dunia yang penuh tekanan dan jatuh bangunnya peradaban, manusia mendambakan hidup kekal yang memberi harapan dan penyegaran. Konsep Kristus tentang hidup kekal (Yoh. 5:24; 6:47; 11:25-26; 14:1-3 ), menjawab kebutuh an jiwa yang terdalam yang mencakup 2 sisi: 1. Hidup berbobot dalam dunia kini. 2. Hidup yang tidak dibatasi waktu, tapi aktif, berkembang, mulia. "Eternal life is both a present possession and a future realization!". Amin. BUKU BACAAN PENUNJANG: 1. Milne. Bruce, Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK GM. 2. Ryrie. Charles C, Teologi Dasar 1, Yogyakarta: Andi Offset. 3. Ryrie. Charles C, Teologi Dasar II, Yogyakarta: Andi Offset. 4. Dowell. Josh Mc, Allah Menjadi Manusia: LLB. 5. Stott. JR W, Karya Kristus Bagi Kita, Jakarta: BPK GM. 6. Dowell. Josh Mc, Kekristenan Sejarah Atau Dongeng,: BPK GM. 7. Peale. Norman V, Kuasa Positif Yesus Kristus, Jakarta: BPK GM. 8. Stalker. James, Masa Hidup Yesus Kristus, Malang: Gandum Mas. 9. W. Bill & Dowell. J Mc, Nabi Isa, Y Masa Meriba. 10. Moris. Leon, Salib Yesus, Malang: SAAT. 11. Walvrood. John W, Yesus Kristus Tuhan Kita, Surabaya: Yakin. 12. France. R. T, Yesus Sang Radikal, Jakarta: BPK GM. (Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia) Pelajaran 46 NASEHAT BAGI YANG MENDERITA

Pembacaan Alkitab: I Pet. 4:19 Tujuan :Agar peserta dapat memahami makna penderitaan dari sudut pandang Alkitab PENDAHULUAN Allah pasti akan menyelamatkan umat-Nya pada akhirnya. Tetapi dalam perjalanan hidup ini, umat Tuhan mungkin harus mengalami berbagai macam pencobaan. Namun semua penderitaan itu akan membuahkan kebaikan bagi orang percaya. Dari ayat ini, kita menemukan kebenaran-kebenaran, bahwa: 1. ORANG KRISTEN TIDAK BEBAS DARI PENDERITAAN Biarpun macamnya penderitaan tidak sama, namun kita harus siap mengalami kesukaran. Penderitaan bisa menimpa: a. Reputasi : diejek, diolok. Kristus pernah dicap sebagai Baalzebul (Mat. 9:34 ; 10:25; 12:24). Kita mungkin juga dicap bodoh, fanatik, dan lain-lain, kalau mengiring Tuhan sungguhsungguh ( Kis. 17:32) b. Milik: kehilangan milik, harta, materi, tidak naik pangkat atau gaji karena menjadi orang Kristen. Kesalehan bisa jadi penghalang bagi kemajuan karier (Ibr. 10: 34). c. Kebebasan dan nyawa:dipenjara bahkan tewas karena iman dan kesalehannya sebagai orang Kristen. Siapkah kita menerima semua ini? (Kis.21:13). 2. PENDERITAAN ADALAH KEHENDAK ALLAH Aneh? Ini pasti ditolak oleh paham teologi sukses atau kemakmuran bahwa orang Kristen tak
158

boleh menderita karena penderitaan bukan kehendak Tuhan melainkan kehendak iblis. Kalau seorang Kristen menderita, itu tanda kurang iman atau hidupnya tidak beres. Tuduhan yang gegabah! Baca: Yoh. 16:33 ; Fil. 1:29 ; Kis. 14:22 ; I Kor. 10: 13 ; I Pet. 4:12 dan lain--lain. Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan menimpa kita? a. Menguji iman (I Pet. 1: 7). Allah melihat iman kita, walaupun tak nampak. Tetapi kalau iman tidak didemontrasi kan, kita tidak mendapat penghiburan dari iman itu dan Allah tidak dipermuliakan. Karena itu Allah mengijinkan penderitaan sebagai ujian iman (test-case), agar kita maupun orang lain melihat, betapa Allah telah melakukan hal-hal yang berarti bagi kita (ingat iman Sadrakh, Mesakh, Abednego dan Daniel yang diuji - Dan.3,6). 2. Mendewasakan (I Pet. 5.- 10). Penderitaan dimaksudkan untuk menumbuhkan rohani kita. Kerohanian dan karakter cenderung mandek, kalau segala sesuatu lancar dan mulus jalannya. Kesukaran--kesukaran bisa mendongkrak kemandekan itu. Ibr. 5: 8-9: Kristus sendiri disempurna kan melalui penderitaannya. 3. Menyatakan kemuliaan Allah (Yoh.9:3;11:4). Ketahanan orang saleh dalam penderitaan akan menjadi kekaguman dunia. Sedang kekuatan yang diberikan Allah, membuat orang saleh itu sanggup memuji Tuhan dalam sengsara (Kis. 16:25-26). Apalagi jika kelak segala rahasia Allah dibeber dan dikenal seluruh makhluk, betapa membahana pujian bagi Allah yang berhikmat, yang akan dikumandangkan semua mahkluk ! (Wah. 7:11-12 ; 15: 3 -4 ; 19:1-5). 3. SIKAP DALAM PENDERITAAN Orang yang terbaikpun bisa bingung kalau menderita (Ayub). Tetapi di sini ada nasihat yang jitu. 1. Menyerahkan jiwa pada pemeliharaan Tuhan (Mat. 26:39,42; Luk. 1:38). Jangan bertahan dengan kekuatan sendiri atau meronta-ronta. Biarkan hikmat dan kuasa Allah yang menanggulangi cobaan itu demi kita. Jadikan Dia manager dan pengawal jiwa kita untuk mengatasi masalah kita. 2. Tetap berbuat baik (Gal. 6:9 ; Ams. 6:30-31). Ketika percobaan melanda, jangan tergoda untuk berbuat jahat atau berhenti berbuat baik. Jangan memadamkan pelita kita malah kita harus memacu untuk bersinar lebih benderang! 3. Yakinlah akan kesetiaan Allah (I Kor. 1:9 ; 10: 13 ; II Tes. 3:3). Allah berjanji menjaga kaki orang kudus (Mazm. 56:14; 66: 9). Pasti Ia akan mene pati janji itu. Keyakinan ini tak boleh dirampas oleh penderitaan. Buku Bacaan Penunjang: 1. De Haan. Martin R, Mengapa Tuhan Mengijinkan Penderitaan, Yogyakarta; Yayasan Gloria. 2. Murphee. Joh Tal, Kejahatan Dan Penderitaan Mengapa Allah Mengijinkannya Bandung: LLB. Pelajaran 46 NASEHAT BAGI YANG MENDERITA

Pembacaan Alkitab: I Pet. 4:19 Tujuan :Agar peserta dapat memahami makna penderitaan dari sudut pandang Alkitab PENDAHULUAN Allah pasti akan menyelamatkan umat-Nya pada akhirnya. Tetapi dalam perjalanan hidup ini, umat Tuhan mungkin harus mengalami berbagai macam pencobaan. Namun semua penderitaan itu akan membuahkan kebaikan bagi orang percaya. Dari ayat ini, kita menemukan kebenaran-kebenaran, bahwa: 1. ORANG KRISTEN TIDAK BEBAS DARI PENDERITAAN Biarpun macamnya penderitaan tidak sama, namun kita harus siap mengalami kesukaran. Penderitaan bisa menimpa:
159

a. Reputasi : diejek, diolok. Kristus pernah dicap sebagai Baalzebul (Mat. 9:34 ; 10:25; 12:24). Kita mungkin juga dicap bodoh, fanatik, dan lain-lain, kalau mengiring Tuhan sungguhsungguh ( Kis. 17:32) b. Milik: kehilangan milik, harta, materi, tidak naik pangkat atau gaji karena menjadi orang Kristen. Kesalehan bisa jadi penghalang bagi kemajuan karier (Ibr. 10: 34). c. Kebebasan dan nyawa:dipenjara bahkan tewas karena iman dan kesalehannya sebagai orang Kristen. Siapkah kita menerima semua ini? (Kis.21:13). 2. PENDERITAAN ADALAH KEHENDAK ALLAH Aneh? Ini pasti ditolak oleh paham teologi sukses atau kemakmuran bahwa orang Kristen tak boleh menderita karena penderitaan bukan kehendak Tuhan melainkan kehendak iblis. Kalau seorang Kristen menderita, itu tanda kurang iman atau hidupnya tidak beres. Tuduhan yang gegabah! Baca: Yoh. 16:33 ; Fil. 1:29 ; Kis. 14:22 ; I Kor. 10: 13 ; I Pet. 4:12 dan lain--lain. Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan menimpa kita? a. Menguji iman (I Pet. 1: 7). Allah melihat iman kita, walaupun tak nampak. Tetapi kalau iman tidak didemontrasi kan, kita tidak mendapat penghiburan dari iman itu dan Allah tidak dipermuliakan. Karena itu Allah mengijinkan penderitaan sebagai ujian iman (test-case), agar kita maupun orang lain melihat, betapa Allah telah melakukan hal-hal yang berarti bagi kita (ingat iman Sadrakh, Mesakh, Abednego dan Daniel yang diuji - Dan.3,6). 2. Mendewasakan (I Pet. 5.- 10). Penderitaan dimaksudkan untuk menumbuhkan rohani kita. Kerohanian dan karakter cenderung mandek, kalau segala sesuatu lancar dan mulus jalannya. Kesukaran--kesukaran bisa mendongkrak kemandekan itu. Ibr. 5: 8-9: Kristus sendiri disempurna kan melalui penderitaannya. 3. Menyatakan kemuliaan Allah (Yoh.9:3;11:4). Ketahanan orang saleh dalam penderitaan akan menjadi kekaguman dunia. Sedang kekuatan yang diberikan Allah, membuat orang saleh itu sanggup memuji Tuhan dalam sengsara (Kis. 16:25-26). Apalagi jika kelak segala rahasia Allah dibeber dan dikenal seluruh makhluk, betapa membahana pujian bagi Allah yang berhikmat, yang akan dikumandangkan semua mahkluk ! (Wah. 7:11-12 ; 15: 3 -4 ; 19:1-5). 3. SIKAP DALAM PENDERITAAN Orang yang terbaikpun bisa bingung kalau menderita (Ayub). Tetapi di sini ada nasihat yang jitu. 1. Menyerahkan jiwa pada pemeliharaan Tuhan (Mat. 26:39,42; Luk. 1:38). Jangan bertahan dengan kekuatan sendiri atau meronta-ronta. Biarkan hikmat dan kuasa Allah yang menanggulangi cobaan itu demi kita. Jadikan Dia manager dan pengawal jiwa kita untuk mengatasi masalah kita. 2. Tetap berbuat baik (Gal. 6:9 ; Ams. 6:30-31). Ketika percobaan melanda, jangan tergoda untuk berbuat jahat atau berhenti berbuat baik. Jangan memadamkan pelita kita malah kita harus memacu untuk bersinar lebih benderang! 3. Yakinlah akan kesetiaan Allah (I Kor. 1:9 ; 10: 13 ; II Tes. 3:3). Allah berjanji menjaga kaki orang kudus (Mazm. 56:14; 66: 9). Pasti Ia akan mene pati janji itu. Keyakinan ini tak boleh dirampas oleh penderitaan. Buku Bacaan Penunjang: 1. De Haan. Martin R, Mengapa Tuhan Mengijinkan Penderitaan, Yogyakarta; Yayasan Gloria. 2. Murphee. Joh Tal, Kejahatan Dan Penderitaan Mengapa Allah Mengijinkannya Bandung: LLB. Pelajaran 45 KESEMBUHAN BATIN (BAGI HATI YANG LUKA DAN MENGALAMI KEPAHITAN)

160

Pembacaan Alkitab: Ibrani 12:15 Tujuan : Agar peserta bisa mengalami kesembuhan dan kemenangan atas luka-luka batin. PENDAHULUAN Pernahkah saudara dilukai oleh seseorang dalam hidupmu ... ? Hati yang luka adalah pengalaman hidup yang tidak mungkin dihindari oleh siapapun juga yang hidup di bumi yang berdosa ini. Mustahil kita dapat menemukan seseorang yang tidak pernah luka dalarn masyarakat kita masa kini. Akan tetapi, sebetulnya luka itu sendiri tidak akan menjadi persoalan asal kita menanganinya dengan tepat. Kalau tidak diatasi dengan tepat dan cepat, maka luka akan berkembang dan bertumbuh menjadi KEPAHITAN. Akhirnya, bukan luka, tetapi kepahitan itulah yang menghancurkan seseorang. 1. MENGENAL LUKA BATIN. Beberapa gejala menunjukkan bahwa seseorang sedang luka batin: a. Tidak peduli dengan orang lain. Orang yang "luka" hampir-hampir tidak mampu memperhatikan/ memperdulikan orang lain. b. Amat peka dan mudah tersinggung. c. Memiliki sedikit kawan dan berusaha menguasai mereka. d. Menghindari orang-orang baru. e. Tidak tahu mengucap syukur/terimakasih. f . Suka mengucapkan pujian yang berlebihan (kosong) atau sebaliknya kritik tajam. g. Suka menyimpan kesalahan orang lain (tidak bisa/sukar memaafkan). h. Keras kepala dan gampang merajuk (mutung/pundung). i. Sukar saling menanggung beban atau menolong orang dengan hati yang tulus. j . Mengalami perubahan sikap (suasana hati) yang ekstrim - sesaat sangat gembira dan penuh semangat, beberapa menit kemudian dapat menjadi murung dan lamban. 2. BAGAIMANA LUKA BATIN TERJADI. Banyak cara terjadinya luka batin, tetapi biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan kemudian bertambah terus sesuai dengan pertambahan usia, kemudian berubah menjadi kepahitan. Kalau tidak segera disadari dan dilepaskan, kepahitan itu akan mengakar serta dapat melukai dan memahitkan orang lain. Hanya kuasa Allah, melalui doa orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman dapat membebas kannya (doa kelepasan ). Sebab-sebab luka batin/ trauma terjadi antara lain: a. Membandingkan anak yang satu dengan yang lain di hadapan orangnya. b. Mendorong anak secara berlebih-lebihan (memaksa) untuk sama hebatnya dengan kakak atau adiknya. c. Tidak menepati janji kepada anak. Catatan: mendustai anak, sekalipun dalam hal yang kecil, bukan hanya mendidiknya menjadi pembohong besar, tetapi juga melukainya mempersiapkannya menjadi seorang pemberontak! d. Tidak memberikan perhatian yang cukup. e. Sering melemparkan kata-kata yang tajam: makian, kutuk dan yang sejenisnya. f Memperlakukan mereka dengan kasar dan lain-lain. 3. KEPAHITAN: Jebakan Iblis dan Benih Neraka! Salah satu sifat buruk dari kepahitan adalah ... Ia tidak berhenti, bahkan terus menjadi parah. Dimulai dari luka yang kecil, membengkak dan bernanah menjadi sesuatu yang berbahaya. Sebab itu firman Tuhan berkata,"Jagalah supaya JANGAN ada SEORANGPUN menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan TUMBUH AKAR PAHIT yang menimbulkan KERUSUHAN dan mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Jadi kepahitan tidak hanya merugikan diri orang yang bersangkutan, tetapi juga "menimbulkan kerusuhan" dan "mencemarkan banyak orang". Puncaknya MENCEMARKAN NAMA TUHAN! Banyak sebab yang bisa menimbulkan KEPAHIT AN, tapi sebab utamanya adalah "MENJAUHKAN DIRI DARI KASIH KARUNIA ALLAH". Seringkali orang menyimpan kepahitan/dendam berpikir bahwa ia sedang menghan curkan pihak lain dengan sikapnya itu. Tetapi sebetulnya, selain pihak lain benar--benar hancur, terlebih dahulu dia sendiri "hancur di dalam". Tidak jarang pihak yang didendam tidur dengan
161

enak, makan dengan lahap, tertawa riang gembira, sementara yang menyimpan kepahitan tidak tidur semalam suntuk makan tak enak, muka murung sepanjang hari. Menyimpan kepahitan sesungguhnya adalah suatu kebodoh an yang sangat besar. Tetapi kuasa kegelapan/iblis, membalik keadaan ini, seolah-olah memberikan rasa puas kepada orang yang pahit hati, padahal itu sesungguhnya tidak lebih daripada rasa puas yang semu, yang dapat merusak roh, jiwa dan tubuh, sehingga menimbulkan macam-macam penyakit yang nampak di luar. Itulah sebab nya Firman Tuhan berkata, "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh" (Yakobus 5:16). Itulah sebabnya juga percuma mendoakan orang yang sakit kalau dia masih mempunyai kepahitan hati/ dendam yang tidak bersedia membereskannya. Dalam beberapa kasus mendoakan orang sakit Tuhan Yesus lebih dulu mengatakan "Dosamu sudah diampuni". Kapan dosa seseorang diampuni, yaitu apabila seseorang mau mengampuni, atau bersedia melepaskan sifat-sifat buruk dari pikiran, perasaan dan kemampuannya. Ini memung kinkan rohnya hidup dan berkomunikasi dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. 4. TINGKAT LUKA DAN KEPAHITAN a. Luka batin yang terjadi berulang-ulang tanpa pemberesan (mengarsipkan kesalah an orang lain dalam jiwa: pikiran, perasaan dan kemauan). b. Hati yang tertutup terhadap orang yang menyakiti, kemudian kepada semua orang. c. Pemberontakan yang terbuka. d. Mencari kawan senasib. e. Hilangnya keseimbangan dalam jiwa (personalities split). f. Bunuh diri atau membunuh. 5. PENGAMPUNAN: KUNCI BAGI KESEMBUHAN BATIN Tidak mengampuni dosa/kesalahan yang diperbuat seseorang pada kita akan menimbulkan kepahitan dan kegetiran pada diri kita sendiri. Kepahitan adalah sesu atu hal yang sangat merusak. Itu seperti asam (air accu) yang merusak tempat nya atau benda yang tersentuh dengannya (kain, kulit, kaleng). Kepahitan bersifat men dendam dan jika obyek dendam itu tidak ada dekat atau tidak dapat dibalas, mereka yang dekat (sering malah kekasih kita) menjadi pengganti sasarannya, meskipun ini kita lakukan secara tidak sadar. Kepahitan melenyapkan kesegaran, tenaga, damai, kehangatan. Ia menciptakan kebencian dan praduga negatif. Kalau intensitas kepahit an tinggi, orang yang menyimpannya tidak dapat diajak hidup bersama. Kalau inten sitasnya rendah, tidak enak dekat-dekat orang tersebut. Kesembuhan dan transfor masi didapatkan dengan menghadapinya melalui pengampunan (mengampuni). Di dalam perumpamaan hamba yang tidak mempunyai belas kasihan (Matius 18:21--35), Yesus mengajar bahwa kita tidak akan diampuni oleh Allah dari hutang-hutang hidup kita, jika kita tidak mengampuni kesalahan orang lain terhadap kita. Hal inilah yang menjadi salah satu penekanan utama dalam doa "Bapa Kami" (Matius 6:12, 14, 15). Prinsip ini seharusnya menyebabkan kita mengampuni orang lain segera setelah mereka melukai kita, melanggar hakhak kita, atau bersalah pada kita. Suatu hal yang sangat perlu kita ketahui ialah bahwa mengampuni adalah tindakan kehendak kita (an act of will), mengampuni bukan suatu perbuatan akibat perasaan. Kehendak (will) harus mendahului perasaan (feel-ing) dalam mengampuni. Perasaan ingin mengampuni tidak perlu ada dulu. Jika seseorang menunggu perasaannya untuk datang dahulu sebelum dia dapat mengampuni, ia bagaikan orang yang meletakkan gerobak di depan lembunya. Ia harus membaliknya. Kita berkehendak untuk mengam puni dan melakukannya, kemudian dengan anugerah Allah, perasaan akan mengikut inya. Sebab itu pengampunan pada sesama adalah suatu perintah! Tidak perduli kita merasa ingin mengampuni atau tidak (bahkan biasanya tidak), kita harus mengam puni orang bahkan harus minta ampun pada Allah untuk dosa menyimpan kebencian dan kepahitan sekian lama. Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin mengampuni, tetapi dengan anugerah Allah kita dapat. Segera setelah kita mengam puni, Allah mengubah kita. Ia menarik kembali "algojo-algojo"(Matius 18:34). Ia mengubah pendapat dan sikap kita. Ia mengambil kepahitan kita, keberatan hati, dan meletakkan damai dan kasih sebagai gantinya. Kita ditransformasi. Ketegangan kita jadi rileks, dan kita memandang dengan perspektif baru. Kebencian pada orang yang merugikan kita bisa saja sungguh-sungguh secara nyata diganti dengan kasih. 6. JALAN KELUAR DARI JEBAKAN KEPAHITAN
162

a. Daftarkan nama-nama orang yang melukai hati Saudara, lalu doakan mereka: mintakan ampun dan berkat (Roma 12:14 dan I Korintus 4:12). Jangan berkata, "Saya tak mampu" tetapi katakan: "Tuhan, saya MAU mengampuni" Daftarkan pula kelakuan Saudara yang melukai seseorang. Melihat kesalahan sendiri, akan sangat membantu kita mengampuni orang lain dan minta ampun. Tuhan cinta orang-orang yang jujur! b. Serahkan semua penolakan dan luka hati kepada Yesus. Ia telah menderita karena luka--luka kita (I Petrus 2:24). Allah berjanji memberikan kesembuhan bagi luka-luka kita (Yeremia 30:17). Salah satu rahasia kelepasan dari kepahitan hati apabila kita menyadari dan meyakini bahwa Tuhan Yesus sendiri pernah mengalami luka hati dikhianati oleh Yudas (jangan lupaYesus bukan hanya Allah l00%,tapi juga manusia 100%). Ketika Dia, karena dosa kita, ditinggalkan Bapa sehingga Dia berseru "Eli, Eli, lama sabakhtani " (Matius 27:46). Tuhan Yesus bukan hanya berkuasa meno long, juga dapat merasakan apa yang kita rasakan, sebab Dia telah mengalaminya di Kalvari. c. Terimalah kasih Allah bagi Saudara. Tidak ada penolakan di dalam Dia. Allah menerima kita sebagaimana kita ada. d. Ampuni dan terimalah diri Saudara sendiri. Berhenti membenci diri sendiri untuk semua ketidaksempurnaan dan kesalahan Saudara. Bersukacitalah di dalam Allah. e. Yang paling sukar, tapi hasilnya luar biasa ialah: adakan pemberesan dengan orang yang bersangkutan. Kalau empat langkah pertama sudah dilakukan dengan baik, langkah ke lima ini pasti akan bisa kita lakukan dengan baik. Sedangkan untuk menyembuhkan memori/ingatan akibat perlakuan buruk yang dialarni pada masa kanak-kanak yang menyebabkan trauma hingga saat ini adalah sbb: a. Ajak Yesus kembali bersama Saudara menuju saat peristiwa tersebut berlang sung. Kita bisa minta Roh Kudus mengingatkan peristiwa apa yang membuat kita terluka. b. Biarkan kehadiran Allah memenuhi tempat itu dan terimalah kasih Allah dalam pengalaman tersebut. Lihat Allah di sana bersama Saudara dan melindungimu dari si Jahat dan orang yang melukaimu. Dalam imaginasi lihat apa yang Allah lakukan untuk menyatakan pertolongan dan kasihnya kepada kita. Kasih Allah lebih kuat dari rasa sakit kita (Yesaya 61: 1). Ijinkan kasih Allah mengisi memori Saudara, menca but "racun pahit" dari pengalaman buruk yang dialami dan menyembuhkan lukamu. c. Jangan pikirkan lagi luka-luka masa lalu. Pikiran buruk yang "diputar ulang" oleh Iblis harus ditolak dalam nama Yesus (Yesaya 43:18). Setiap kali kenangan buruk itu timbul kembali katakan,"Terima kasih Yesus untuk kesembuhan luka itu !" Buku Bacaan Penunjang: 1. Briggs. Laurenn, Penghiburan yang menguatkan bagi hati yang luka, Bandung: Kalam Hidup. 2. Gregory L.J. Penyembuhan luka-luka akibat pelecehan emosionil, Jakarta: Metanoia. 3. Bristol. Goldie, Haruskah Saya Mengampuni, Bandung: Kalam Hidup. 4. Mike F dan Doug G, Inner healing, IVP. 5. Seamands. David A, Kesembuhan Emosi, Kesembuhan kasih Karunia, Kesembuhan memory, Bandung: Kalam Hidup. 6. Rawan. Obaja A, Luka-luka Batin, Bandung: COP. Pelajaran 45 KESEMBUHAN BATIN (BAGI HATI YANG LUKA DAN MENGALAMI KEPAHITAN)

Pembacaan Alkitab: Ibrani 12:15 Tujuan : Agar peserta bisa mengalami kesembuhan dan kemenangan atas luka-luka batin. PENDAHULUAN Pernahkah saudara dilukai oleh seseorang dalam hidupmu ... ? Hati yang luka adalah pengalaman hidup yang tidak mungkin dihindari oleh siapapun juga yang hidup di bumi yang berdosa ini. Mustahil kita dapat menemukan seseorang yang tidak pernah luka dalarn masyarakat kita masa kini.
163

Akan tetapi, sebetulnya luka itu sendiri tidak akan menjadi persoalan asal kita menanganinya dengan tepat. Kalau tidak diatasi dengan tepat dan cepat, maka luka akan berkembang dan bertumbuh menjadi KEPAHITAN. Akhirnya, bukan luka, tetapi kepahitan itulah yang menghancurkan seseorang. 1. MENGENAL LUKA BATIN. Beberapa gejala menunjukkan bahwa seseorang sedang luka batin: a. Tidak peduli dengan orang lain. Orang yang "luka" hampir-hampir tidak mampu memperhatikan/ memperdulikan orang lain. b. Amat peka dan mudah tersinggung. c. Memiliki sedikit kawan dan berusaha menguasai mereka. d. Menghindari orang-orang baru. e. Tidak tahu mengucap syukur/terimakasih. f . Suka mengucapkan pujian yang berlebihan (kosong) atau sebaliknya kritik tajam. g. Suka menyimpan kesalahan orang lain (tidak bisa/sukar memaafkan). h. Keras kepala dan gampang merajuk (mutung/pundung). i. Sukar saling menanggung beban atau menolong orang dengan hati yang tulus. j . Mengalami perubahan sikap (suasana hati) yang ekstrim - sesaat sangat gembira dan penuh semangat, beberapa menit kemudian dapat menjadi murung dan lamban. 2. BAGAIMANA LUKA BATIN TERJADI. Banyak cara terjadinya luka batin, tetapi biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan kemudian bertambah terus sesuai dengan pertambahan usia, kemudian berubah menjadi kepahitan. Kalau tidak segera disadari dan dilepaskan, kepahitan itu akan mengakar serta dapat melukai dan memahitkan orang lain. Hanya kuasa Allah, melalui doa orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman dapat membebas kannya (doa kelepasan ). Sebab-sebab luka batin/ trauma terjadi antara lain: a. Membandingkan anak yang satu dengan yang lain di hadapan orangnya. b. Mendorong anak secara berlebih-lebihan (memaksa) untuk sama hebatnya dengan kakak atau adiknya. c. Tidak menepati janji kepada anak. Catatan: mendustai anak, sekalipun dalam hal yang kecil, bukan hanya mendidiknya menjadi pembohong besar, tetapi juga melukainya mempersiapkannya menjadi seorang pemberontak! d. Tidak memberikan perhatian yang cukup. e. Sering melemparkan kata-kata yang tajam: makian, kutuk dan yang sejenisnya. f Memperlakukan mereka dengan kasar dan lain-lain. 3. KEPAHITAN: Jebakan Iblis dan Benih Neraka! Salah satu sifat buruk dari kepahitan adalah ... Ia tidak berhenti, bahkan terus menjadi parah. Dimulai dari luka yang kecil, membengkak dan bernanah menjadi sesuatu yang berbahaya. Sebab itu firman Tuhan berkata,"Jagalah supaya JANGAN ada SEORANGPUN menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan TUMBUH AKAR PAHIT yang menimbulkan KERUSUHAN dan mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Jadi kepahitan tidak hanya merugikan diri orang yang bersangkutan, tetapi juga "menimbulkan kerusuhan" dan "mencemarkan banyak orang". Puncaknya MENCEMARKAN NAMA TUHAN! Banyak sebab yang bisa menimbulkan KEPAHIT AN, tapi sebab utamanya adalah "MENJAUHKAN DIRI DARI KASIH KARUNIA ALLAH". Seringkali orang menyimpan kepahitan/dendam berpikir bahwa ia sedang menghan curkan pihak lain dengan sikapnya itu. Tetapi sebetulnya, selain pihak lain benar--benar hancur, terlebih dahulu dia sendiri "hancur di dalam". Tidak jarang pihak yang didendam tidur dengan enak, makan dengan lahap, tertawa riang gembira, sementara yang menyimpan kepahitan tidak tidur semalam suntuk makan tak enak, muka murung sepanjang hari. Menyimpan kepahitan sesungguhnya adalah suatu kebodoh an yang sangat besar. Tetapi kuasa kegelapan/iblis, membalik keadaan ini, seolah-olah memberikan rasa puas kepada orang yang pahit hati, padahal itu sesungguhnya tidak lebih daripada rasa puas yang semu, yang dapat merusak roh, jiwa dan tubuh, sehingga menimbulkan macam-macam penyakit yang nampak di luar. Itulah sebab nya Firman Tuhan berkata, "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh" (Yakobus 5:16). Itulah sebabnya juga percuma
164

mendoakan orang yang sakit kalau dia masih mempunyai kepahitan hati/ dendam yang tidak bersedia membereskannya. Dalam beberapa kasus mendoakan orang sakit Tuhan Yesus lebih dulu mengatakan "Dosamu sudah diampuni". Kapan dosa seseorang diampuni, yaitu apabila seseorang mau mengampuni, atau bersedia melepaskan sifat-sifat buruk dari pikiran, perasaan dan kemampuannya. Ini memung kinkan rohnya hidup dan berkomunikasi dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. 4. TINGKAT LUKA DAN KEPAHITAN a. Luka batin yang terjadi berulang-ulang tanpa pemberesan (mengarsipkan kesalah an orang lain dalam jiwa: pikiran, perasaan dan kemauan). b. Hati yang tertutup terhadap orang yang menyakiti, kemudian kepada semua orang. c. Pemberontakan yang terbuka. d. Mencari kawan senasib. e. Hilangnya keseimbangan dalam jiwa (personalities split). f. Bunuh diri atau membunuh. 5. PENGAMPUNAN: KUNCI BAGI KESEMBUHAN BATIN Tidak mengampuni dosa/kesalahan yang diperbuat seseorang pada kita akan menimbulkan kepahitan dan kegetiran pada diri kita sendiri. Kepahitan adalah sesu atu hal yang sangat merusak. Itu seperti asam (air accu) yang merusak tempat nya atau benda yang tersentuh dengannya (kain, kulit, kaleng). Kepahitan bersifat men dendam dan jika obyek dendam itu tidak ada dekat atau tidak dapat dibalas, mereka yang dekat (sering malah kekasih kita) menjadi pengganti sasarannya, meskipun ini kita lakukan secara tidak sadar. Kepahitan melenyapkan kesegaran, tenaga, damai, kehangatan. Ia menciptakan kebencian dan praduga negatif. Kalau intensitas kepahit an tinggi, orang yang menyimpannya tidak dapat diajak hidup bersama. Kalau inten sitasnya rendah, tidak enak dekat-dekat orang tersebut. Kesembuhan dan transfor masi didapatkan dengan menghadapinya melalui pengampunan (mengampuni). Di dalam perumpamaan hamba yang tidak mempunyai belas kasihan (Matius 18:21--35), Yesus mengajar bahwa kita tidak akan diampuni oleh Allah dari hutang-hutang hidup kita, jika kita tidak mengampuni kesalahan orang lain terhadap kita. Hal inilah yang menjadi salah satu penekanan utama dalam doa "Bapa Kami" (Matius 6:12, 14, 15). Prinsip ini seharusnya menyebabkan kita mengampuni orang lain segera setelah mereka melukai kita, melanggar hakhak kita, atau bersalah pada kita. Suatu hal yang sangat perlu kita ketahui ialah bahwa mengampuni adalah tindakan kehendak kita (an act of will), mengampuni bukan suatu perbuatan akibat perasaan. Kehendak (will) harus mendahului perasaan (feel-ing) dalam mengampuni. Perasaan ingin mengampuni tidak perlu ada dulu. Jika seseorang menunggu perasaannya untuk datang dahulu sebelum dia dapat mengampuni, ia bagaikan orang yang meletakkan gerobak di depan lembunya. Ia harus membaliknya. Kita berkehendak untuk mengam puni dan melakukannya, kemudian dengan anugerah Allah, perasaan akan mengikut inya. Sebab itu pengampunan pada sesama adalah suatu perintah! Tidak perduli kita merasa ingin mengampuni atau tidak (bahkan biasanya tidak), kita harus mengam puni orang bahkan harus minta ampun pada Allah untuk dosa menyimpan kebencian dan kepahitan sekian lama. Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin mengampuni, tetapi dengan anugerah Allah kita dapat. Segera setelah kita mengam puni, Allah mengubah kita. Ia menarik kembali "algojo-algojo"(Matius 18:34). Ia mengubah pendapat dan sikap kita. Ia mengambil kepahitan kita, keberatan hati, dan meletakkan damai dan kasih sebagai gantinya. Kita ditransformasi. Ketegangan kita jadi rileks, dan kita memandang dengan perspektif baru. Kebencian pada orang yang merugikan kita bisa saja sungguh-sungguh secara nyata diganti dengan kasih. 6. JALAN KELUAR DARI JEBAKAN KEPAHITAN a. Daftarkan nama-nama orang yang melukai hati Saudara, lalu doakan mereka: mintakan ampun dan berkat (Roma 12:14 dan I Korintus 4:12). Jangan berkata, "Saya tak mampu" tetapi katakan: "Tuhan, saya MAU mengampuni" Daftarkan pula kelakuan Saudara yang melukai seseorang. Melihat kesalahan sendiri, akan sangat membantu kita mengampuni orang lain dan minta ampun. Tuhan cinta orang-orang yang jujur! b. Serahkan semua penolakan dan luka hati kepada Yesus. Ia telah menderita karena luka--luka kita (I Petrus 2:24). Allah berjanji memberikan kesembuhan bagi luka-luka kita (Yeremia 30:17). Salah satu rahasia kelepasan dari kepahitan hati apabila kita menyadari dan meyakini
165

bahwa Tuhan Yesus sendiri pernah mengalami luka hati dikhianati oleh Yudas (jangan lupaYesus bukan hanya Allah l00%,tapi juga manusia 100%). Ketika Dia, karena dosa kita, ditinggalkan Bapa sehingga Dia berseru "Eli, Eli, lama sabakhtani " (Matius 27:46). Tuhan Yesus bukan hanya berkuasa meno long, juga dapat merasakan apa yang kita rasakan, sebab Dia telah mengalaminya di Kalvari. c. Terimalah kasih Allah bagi Saudara. Tidak ada penolakan di dalam Dia. Allah menerima kita sebagaimana kita ada. d. Ampuni dan terimalah diri Saudara sendiri. Berhenti membenci diri sendiri untuk semua ketidaksempurnaan dan kesalahan Saudara. Bersukacitalah di dalam Allah. e. Yang paling sukar, tapi hasilnya luar biasa ialah: adakan pemberesan dengan orang yang bersangkutan. Kalau empat langkah pertama sudah dilakukan dengan baik, langkah ke lima ini pasti akan bisa kita lakukan dengan baik. Sedangkan untuk menyembuhkan memori/ingatan akibat perlakuan buruk yang dialarni pada masa kanak-kanak yang menyebabkan trauma hingga saat ini adalah sbb: a. Ajak Yesus kembali bersama Saudara menuju saat peristiwa tersebut berlang sung. Kita bisa minta Roh Kudus mengingatkan peristiwa apa yang membuat kita terluka. b. Biarkan kehadiran Allah memenuhi tempat itu dan terimalah kasih Allah dalam pengalaman tersebut. Lihat Allah di sana bersama Saudara dan melindungimu dari si Jahat dan orang yang melukaimu. Dalam imaginasi lihat apa yang Allah lakukan untuk menyatakan pertolongan dan kasihnya kepada kita. Kasih Allah lebih kuat dari rasa sakit kita (Yesaya 61: 1). Ijinkan kasih Allah mengisi memori Saudara, menca but "racun pahit" dari pengalaman buruk yang dialami dan menyembuhkan lukamu. c. Jangan pikirkan lagi luka-luka masa lalu. Pikiran buruk yang "diputar ulang" oleh Iblis harus ditolak dalam nama Yesus (Yesaya 43:18). Setiap kali kenangan buruk itu timbul kembali katakan,"Terima kasih Yesus untuk kesembuhan luka itu !" Buku Bacaan Penunjang: 1. Briggs. Laurenn, Penghiburan yang menguatkan bagi hati yang luka, Bandung: Kalam Hidup. 2. Gregory L.J. Penyembuhan luka-luka akibat pelecehan emosionil, Jakarta: Metanoia. 3. Bristol. Goldie, Haruskah Saya Mengampuni, Bandung: Kalam Hidup. 4. Mike F dan Doug G, Inner healing, IVP. 5. Seamands. David A, Kesembuhan Emosi, Kesembuhan kasih Karunia, Kesembuhan memory, Bandung: Kalam Hidup. 6. Rawan. Obaja A, Luka-luka Batin, Bandung: COP. Pelajaran 42 KESABARAN

Pembacaan Alkitab: I Korintus13:1-4; II Timotius 4:5 Tujuan :Agar peserta memiliki kesabaran Kristus dalam hidupnya PENDAHULUAN Kesabaran adalah suatu sifat hidup terpuji yang hanya sedikit orang, termasuk orang Kristen, memilikinya. Menurut Firman Allah, hidup kita harus ditandai kesabaran, sebab ia merupakan unsur penting dalam membangun kepribadian yang dewasa dan mantap yang ingin Allah ciptakan dalam diri umatNya. PENGERTIAN KESABARAN a. Dapat menahan diri dari amarah/perasaan dendam/fitnahan dan sebagainya (Kolose 3:13) b. Tekun dalam menanggung kesesakan, tekanan dan penderitaan. Jadi, kesabaran selalu berhubungan dengan keadaan sulit bahkan kesabaran meru pakan senjata untuk mengatasi kesulitan. Sebab itu dengan mudah kita mendeteksi seseorang untuk dilihat sabar atau tidak, yaitu dari daya tahannya terhadap masa sulit atau fitnahan. Kesabaran tidak muncul secara otomatis dalam diri seseorang. Kesabaran bukanlah bawaan sejak lahir. Orang tua yang sabar tidak otomatis anaknya pasti sabar. Kesabaran ada dalam diri seseorang
166

merupakan hasil pemben tukan Tuhan melalui: 1 . Masa sulit/penderitaan. Masa sulit diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita dengan maksud-maksud khusus, yaitu membantu menumbuhkan kesabaran dalam diri kita. Contoh Alkitab yang nyata dari hal ini adalah kisah tentang Ayub. Apabila kita mengerti maksud Allah ini maka seharusnya kita berterirna kasih kepada Tuhan untuk masa sulit/ cobaan yang terjadi (Roma 8:28). 2. Roh Kudus (Galatia 5:22-23). Apabila kita dipenuhi dengan Roh Kudus, keadaan ini memudahkan kita untuk memunculkan buah Roh dalam hidup kita. Namun demikian kemudahan ini tidaklah berarti bahwa buah Roh itu muncul begitu saja ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus. Tuhan masih memakai keadaan sulit, penderitaan dan masalah untuk memunculkan buah Roh. Jika seseorang dipenuhi Roh Kudus, orang tersebut akan lebih mudah memunculkannya dibandingkan dengan yang tidak dipenuhi Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena Roh Kudus adalah sumber kekuatan orang percaya. Kesabaran akan lebih mudah muncul ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus, sebab salah satu sifat dari buah Roh adalah KESABARAN itu sendiri. FAKTOR PENYEBAB KETIDAK SABARAN Kristus memanggil kita untuk menjadi umat yang sabar. Dalam kenyataan kita masih sering melihat banyak anak Tuhan yang tidak sabaran. Mengapa demikian ? Ada beberapa hal yang dapat menjadi pengukur/pertanda bahwa kita belum memiliki kesabaran, yakni: a. Belum Dewasa (Ibrani 5:14). b. Masih mementingkan diri sendiri dan menuntut. Tidak mampu menerima/melihat kesalahan dan ketidaksempurnaan orang lain (I Tesalonika 5:4-5). c. Mudah marah/jengkel/ tersinggung. d. Irihati. e. Tidak peka terhadap pembentukan Tuhan dalam hidup (Yakobus 1:2-4). FAKTOR YANG MENOLONG TERBENTUKNYA KESABARAN Ketidaksabaran adalah dosa yang serius di hadapan Tuhan karena ketidaksabaran menjadi benih hidup. Sebab itu ketidaksabaran harus di atasi dengan serius pula. Bagaimana caranya? a. Berdoa minta kesabaran. Bila selesai doa yang datang bukan kesabaran tapi masalah, ingat itu adalah jawaban doa dari Tuhan untuk memberikan kesabaran kepada kita. b. Memiliki persekutuan/saat teduh yang rutin (Baca Firman Allah, doa dan melaku kan Firman Allah). c. Makin berserah kepada Tuhan setiap hari (II Timotius 1:7; Galatia 2:20). d. Minta kepenuhan Roh Kudus. ORANG PERCAYA KEPADA KRISTUS HARUS SABAR, KARENA: 1. Sifat Kristus. (I Timotius 1: 1 6) Teladan Kristus bagi kita adalah kesabaran. Ia telah mendemonstrasikan kesabaran nya ketika Ia dihina, disiksa dan direndahkan. Ia tidak membalas sebaliknya Ia mengampuni. Jika Kristus telah menunjukkan teladan seperti ini, sepantasnya bila anak-anaknya pun menjadi teladan bagi dunia ini dalam hal kesabaran. Orang percaya kepada Kristus harus menjadi orang yang tabah dalam segala keadaan. 2. Sifat seorang Hamba Allah/Rasul dan Nabi (II Korintus 12:21; 6:4,6, II Timotius 4:5)Bukan hanya Tuhan kita yang telah memberikan teladan kesabaran, namun hamba--hambanya, Para Rasul Tuhan dan para NabiNya telah menyatakannya kepada dunia ini. Tuhan menuntut kita untuk mendemonstrasikan kesabaran Kristus ini kepada dunia yang tidak sabar ini. 3. Mencegah Bencana (Pengkotbah 10:4). Beberapa waktu terakhir ini banyak tatanan kehidupan yang dibangun oleh manusia selama puluhan tahun bahkan berabad-abad telah hancur karena ketidak sabaran. Kerusuhan, penganiayaan, pembunuhan dan kejahatan lainnya terjadi sebenarnya inti masalahnya adalah karena tidak adanya kesabaran dalam diri manusia. Sebab itu benarlah kata Firman Tuhan bahwa kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar/ bencana. Bacaan Penunjang: 1. Buku Pegangan Pelayanan, Jakarta : Persekutuan Pembaca Alkitab.
167

2. G.Caram, Paul, Kekristenan Sejati, Jakarta: Nafiri Gabriel, 1996. 3. Graham, Billy, Roh Kudus, Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1988.

Pelajaran 42 KESABARAN

Pembacaan Alkitab: I Korintus13:1-4; II Timotius 4:5 Tujuan :Agar peserta memiliki kesabaran Kristus dalam hidupnya PENDAHULUAN Kesabaran adalah suatu sifat hidup terpuji yang hanya sedikit orang, termasuk orang Kristen, memilikinya. Menurut Firman Allah, hidup kita harus ditandai kesabaran, sebab ia merupakan unsur penting dalam membangun kepribadian yang dewasa dan mantap yang ingin Allah ciptakan dalam diri umatNya. PENGERTIAN KESABARAN a. Dapat menahan diri dari amarah/perasaan dendam/fitnahan dan sebagainya (Kolose 3:13) b. Tekun dalam menanggung kesesakan, tekanan dan penderitaan. Jadi, kesabaran selalu berhubungan dengan keadaan sulit bahkan kesabaran meru pakan senjata untuk mengatasi kesulitan. Sebab itu dengan mudah kita mendeteksi seseorang untuk dilihat sabar atau tidak, yaitu dari daya tahannya terhadap masa sulit atau fitnahan. Kesabaran tidak muncul secara otomatis dalam diri seseorang. Kesabaran bukanlah bawaan sejak lahir. Orang tua yang sabar tidak otomatis anaknya pasti sabar. Kesabaran ada dalam diri seseorang merupakan hasil pemben tukan Tuhan melalui: 1 . Masa sulit/penderitaan. Masa sulit diijinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita dengan maksud-maksud khusus, yaitu membantu menumbuhkan kesabaran dalam diri kita. Contoh Alkitab yang nyata dari hal ini adalah kisah tentang Ayub. Apabila kita mengerti maksud Allah ini maka seharusnya kita berterirna kasih kepada Tuhan untuk masa sulit/ cobaan yang terjadi (Roma 8:28). 2. Roh Kudus (Galatia 5:22-23). Apabila kita dipenuhi dengan Roh Kudus, keadaan ini memudahkan kita untuk memunculkan buah Roh dalam hidup kita. Namun demikian kemudahan ini tidaklah berarti bahwa buah Roh itu muncul begitu saja ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus. Tuhan masih memakai keadaan sulit, penderitaan dan masalah untuk memunculkan buah Roh. Jika seseorang dipenuhi Roh Kudus, orang tersebut akan lebih mudah memunculkannya dibandingkan dengan yang tidak dipenuhi Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena Roh Kudus adalah sumber kekuatan orang percaya. Kesabaran akan lebih mudah muncul ketika seseorang dipenuhi Roh Kudus, sebab salah satu sifat dari buah Roh adalah KESABARAN itu sendiri. FAKTOR PENYEBAB KETIDAK SABARAN Kristus memanggil kita untuk menjadi umat yang sabar. Dalam kenyataan kita masih sering melihat banyak anak Tuhan yang tidak sabaran. Mengapa demikian ? Ada beberapa hal yang dapat menjadi pengukur/pertanda bahwa kita belum memiliki kesabaran, yakni: a. Belum Dewasa (Ibrani 5:14). b. Masih mementingkan diri sendiri dan menuntut. Tidak mampu menerima/melihat kesalahan dan ketidaksempurnaan orang lain (I Tesalonika 5:4-5). c. Mudah marah/jengkel/ tersinggung. d. Irihati. e. Tidak peka terhadap pembentukan Tuhan dalam hidup (Yakobus 1:2-4). FAKTOR YANG MENOLONG TERBENTUKNYA KESABARAN Ketidaksabaran adalah dosa yang serius di hadapan Tuhan karena ketidaksabaran menjadi benih hidup. Sebab itu ketidaksabaran harus di atasi dengan serius pula. Bagaimana
168

caranya? a. Berdoa minta kesabaran. Bila selesai doa yang datang bukan kesabaran tapi masalah, ingat itu adalah jawaban doa dari Tuhan untuk memberikan kesabaran kepada kita. b. Memiliki persekutuan/saat teduh yang rutin (Baca Firman Allah, doa dan melaku kan Firman Allah). c. Makin berserah kepada Tuhan setiap hari (II Timotius 1:7; Galatia 2:20). d. Minta kepenuhan Roh Kudus. ORANG PERCAYA KEPADA KRISTUS HARUS SABAR, KARENA: 1. Sifat Kristus. (I Timotius 1: 1 6) Teladan Kristus bagi kita adalah kesabaran. Ia telah mendemonstrasikan kesabaran nya ketika Ia dihina, disiksa dan direndahkan. Ia tidak membalas sebaliknya Ia mengampuni. Jika Kristus telah menunjukkan teladan seperti ini, sepantasnya bila anak-anaknya pun menjadi teladan bagi dunia ini dalam hal kesabaran. Orang percaya kepada Kristus harus menjadi orang yang tabah dalam segala keadaan. 2. Sifat seorang Hamba Allah/Rasul dan Nabi (II Korintus 12:21; 6:4,6, II Timotius 4:5)Bukan hanya Tuhan kita yang telah memberikan teladan kesabaran, namun hamba-hambanya, Para Rasul Tuhan dan para NabiNya telah menyatakannya kepada dunia ini. Tuhan menuntut kita untuk mendemonstrasikan kesabaran Kristus ini kepada dunia yang tidak sabar ini. 3. Mencegah Bencana (Pengkotbah 10:4). Beberapa waktu terakhir ini banyak tatanan kehidupan yang dibangun oleh manusia selama puluhan tahun bahkan berabad-abad telah hancur karena ketidak sabaran. Kerusuhan, penganiayaan, pembunuhan dan kejahatan lainnya terjadi sebenarnya inti masalahnya adalah karena tidak adanya kesabaran dalam diri manusia. Sebab itu benarlah kata Firman Tuhan bahwa kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar/ bencana. Bacaan Penunjang: 1. Buku Pegangan Pelayanan, Jakarta : Persekutuan Pembaca Alkitab. 2. G.Caram, Paul, Kekristenan Sejati, Jakarta: Nafiri Gabriel, 1996. 3. Graham, Billy, Roh Kudus, Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1988.

(Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia) Pelajaran 43 KEJUJURAN

Pembacaan Alkitab: Pengkhotbah 7:29; Markus 12:14 Tujuan :Agar peserta memiliki kejujuran dalam hidupnya PENDAHULUAN Pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah menciptakannya dalam kesempur naan. Itu sebabnya manusia disebut sebagai Gambar Allah (Kejadian 1:27). Tetapi pada waktu manusia jatuh dalam dosa, kesempurnaan manusia telah dirampas dosa sehingga apa yang baik dan sempurna itu pun menjadi hilang, termasuk di dalamnya hal kejujuran. Dunia masa kini adalah dunia yang kekurangan orang jujur. Sangat sulit kita mene mukan orang jujur. Itu sebabnya dunia mempunyai prinsip"Jangan terlalu jujur nanti sulit kaya". Falsafah ini telah merasuk dalam berbagai bidang/segi kehidupan manu sia tak terkecuali tidak sedikit orang Kristenpun yang terpengaruh. Akibatnya ibadah hanya sekedar tempat cuci dosa, setelah itu kembali ke kubangan dosa ketidak jujuran. Pada waktu Kristus datang ke dalam dunia, Ia datang tidak hanya memberi anugerah keselamatan kepada manusia, tapi termasuk di dalamnya untuk membangun karak ter manusia itu agar betul-betul menyerupai Kristus. Kristus datang memanggil kita untuk hidup jujur di tengah-tengah dunia yang tidak jujur.
169

MAKNA KEJUJURAN Secara hurufiah jujur berarti: berbicara, bertindak, bersikap apa adanya, tidak menyembunyikan, terang-terangan. Makna ini sangat cocok diterapkan bagi orang Kristen karena orang Kristen diberi julukan oleh Kristus sebagai TERANG DUNIA (Matius 5:14). Artinya hidup kita harus terang, transparan, tidak ada kemunafikan. Sebagai terang seharusnya kegelapan tidak bisa menguasai bahkan sebaliknya kegelapan itu yang hilang karena ditelan oleh terang, kecuali terang itu menjadi padam. Dalam terang segala sesuatu menjadi nyata, dalam terang tidak ada bahaya. Jika kita ditempatkan Tuhan di tempat yang sangat sedikit saudara seiman, jangan takut justru itu merupakan kesempatan untuk kita menyatakan terang itu. Kita di kelilingi oleh ketidakjujuran misalnya: KKN, nota bensin, nota toko yang harganya diubah dan sebagainya. -Mungkinkah kita hidup jujur dan sukses di tengah keadaan yang seperti itu? Firman Tuhan ya dan amin, tidak pernah berubah dan Tuhan tidak pernah ingkar janji. BERKAT-BERKAT BAGI ORANG JUJUR: Tuhan memanggil anak-anaknya untuk hidup jujur di manapun kita berada dan profesi apapun yang kita jalani. Setiap panggilan Tuhan selalu mengandung berkat-berkat nya, termasuk dalam kejujuran. Adapun berkat-berkat bagi orang jujur adalah: 1. BERKAT YANG MELIMPAH (Amsal 11: 11) Prinsip dunia yang menganggap bahwa kejujuran merupakan hambatan untuk hidup berkelimpahan merupakan hal yang sangat bertentangan dengan kenyataan janji Tuhan. Tuhan menjanjikan berkat yang berkelirnpahan bagi orang yang hidupnya jujur- Firman Allah berkata, "Berkat orang jujur memperkembangkan kota". Artinya apa yang diperbuat oleh orang jujur akan dibuat Tuhan berhasil dan terus berkem bang. 2. BERKENAN (Amsal 3:32). Ada dua hal yang menjadikan orang berkenan di hadapan Tuhan, yaitu: a. Iman (lbrani ll: 6). b. Taat/melakukan kehendaknya (Kisah 13:22). Kejujuran adalah salah satu perbuatan yang membuat seseorang berkenan di hadapan Tuhan, karena itu Tuhan bergaul erat dengan orang jujur. Seorang bisa bergaul erat dengan orang lain apabila orang tersebut cocok dengan hatinya. Demikian halnya Tuhan tidak mungkin sembarangan bergaul dengan orang yang tidak cocok dengannya. Inilah berkat bagi orang jujur, ia disambut Tuhan dengan penuk keakraban. 3 . DIMULIAKAN (Mazmur 64:11) Ayat ini merupakan janji Tuhan bagi orang jujur bahwa orang jujur akan bermegah dalam kejujurannya. Tuhan akan membuktikan hal ini bukan di Sorga nanti, tapi di bumi. Orang jujur akan dicari oleh banyak orang karena memang di tengah dunia ini kejujuran akan menjadi sesuatu yang langka. Akan datang masanya di mana orang akan merasakan bahwa ketidakjujuran sangat merugikan hidupnya dan akhirnya dunia akan mencari orang jujur untuk menjadi rekan sekerjanya. Saat itulah orang jujur akan bermegah dan dimuliakan Tuhan. Bacaan Penunjang : 1. G.Caram, Paul, KEKRISTENAN SEJATI, Jakarta: Nafiri Gabriel, 1996. 2. W. Pawell, Paul, MURID SEJATI, Bandung: Kalam Hidup, 1982.

(Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia)

170

Pelajaran 44 KETULUSAN

Pembacaan Alkitab: II Korintus 1:12 Tujuan :Agar peserta memiliki kehidupan yang ditandai ketulusan hati PENDAHULUAN Masa kita sekarang ini adalah masa yang penuh dengan kepalsuan, tiruan dan samaran. Di mana-mana kita bisa menemukan kepalsuan. Ada bunga palsu, gigi, rambut, kaki, tangan dan sebagainya. Sepintas kita akan mengalami kesulitan untuk membedakannya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan bunga, gigi, rambut, kaki, tangan yang palsu tersebut yang salah adalah apabila yang dipalsukan adalah sifat-sifat manusia. Kadangkala manusia melapisinya dengan kegiatan agama supaya tidak bisa dibedakan - inilah KEMUNAFIKAN. Manusia bisa dikelabui tapi Tuhan tidak pernah bisa. Panggilan Tuhan kepada kita sebagai anak-anaknya adalah supaya kita bersikap TULUS dalam kekristenan kita, membuang segala kepalsuan dan kemunafikan kita. Gereja terus menerus dituduh sebagai tempat yang penuh dengan kemunafikan. Sebab itu kita harus mewaspadai ragi kemunafikan ini sama seperti Yesus memberi peringatan kepada murid-muridnya tentang ragi orang Fansi. Orang munafik adalah orang yang bermuka dua. Artinya orang yang pandai bersandiwara misalnya setiap minggu rajin beribadah, teratur berdoa tetapi dalam hidupnya sehari-hari penuh dengan ketidakjujuran misalnya: bisnis, suka nyontek dan sebagainya. PENGERTIAN KETULUSAN Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia "tulus" berarti murni, tidak punya tendensi yang lain, ikhlas, tidak ada rasa ingin memiliki, tidak ada rasa eman (sayang). Jadi, ketulusan itu sebenarnya berbicara tentang kemurnian hati yang sama sekali tidak ada tujuan lain yang menyimpang selain menolong sesama. Francois de la Rochefoucauld berkata, "Ketulusan adalah keterbukaan hati; kita menemukannya dalam diri segelintir orang saja". Dunia sedang kekurangan orang yang tulus, itu sebabnya Yesus memanggil kita bukan hanya untuk memperoleh anugrah keselamatan namun juga supaya kita dapat memberikan atau menunjukkan kepada dunia bahwa murid-murid Yesus adalah orang yang tulus. MENGAPA HARUS TULUS ? Ada beberapa hal penting yang menjadi alasan mengapa kita harus hidup dalam ketulusan, yakni: a. KETULUSAN ADALAH SIFAT KRISTUS. Bila kita menelaah dengan seksama kehidupan Kristus selama Ia berada di dunia maka kita akan menemukan teladan yang paling hebat dalam ketulusan adalah Yesus Kristus. Apa yang ia kerjakan tidak pernah ada kepalsuan di dalanmya, Ia selalu terang-terangan dalam menyatakan kebenaran, dan motivasi dalam menolong sesamapun tidak ada tujuan apa-apa selain untuk kebaikan orang yang ditolong tersebut karena memang Ia datang untuk menjadi Juruselamat manusia. Apa yang Ia lakukan murni hanya untuk mentaati kehendak BapaNya. (Yoh 4:34). b. TELADAN HIDUP RASUL-RASUL. Contoh nyata rasul yang memiliki ketulusan dan kemurnian hati yang luar biasa adalah rasul Paulus (II Kor 1- 12). Ia melayani di manapun tidak ada motivasi lain selain untuk mencari jiwa dan menumbuhkan iman jemaat yang dilayaninya. Rasul-rasul telah tiada, siapakah yang akan mendemostrasikan ketulusan sejati kepada dunia ini kalau bukan anak-anaknya, yakni setiap orang percaya kepada Kristus. Jika Kristus adalah Bapa kita maka sewajarnya bila anak-anaknya memiliki sifat Bapanya. CIRI-CIRI KETULUSAN. 1. JUJUR (I Tawarikh 29:9) Orang yang tulus adalah orang yang jujur, apa adanya. Semua ini terjadi karena orang tulus
171

tidak memiliki tendensi lain selain daripada berbuat baik dan menolong orang lain. Orang yang tulus dapat menolong atau memberi bantuan tidak ada pamrih, semuanya dikerjakan dengan sukarela. 2. TIDAK SUKA MENYAKITI SESAMA (Matius 1: 19) Orang yang tulus tidak ada keinginan untuk menyakiti sesama walaupun ia disakiti. Hatinya memiliki roh pengampunan yang kuat. Ia tidak membalas kejahatan tetapi sebalikmya ia mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:14, 17, 21). 3 . DAPAT MENERIMA KEHENDAK ALLAH (Matius 1:24). Orang yang tulus menyadari bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik sekalipun hal itu mungkin tidak masuk akal atau bertolak belakang dengan pemikiran kita. Yusuf menyadari hal ini sebab itu ia tidak ragu-ragu lagi menerima Maria sebagai isterinya. Demikian pula Maria menerima kehendak Allah itu dengan hati yang terbuka walau pun pikirannya bertanya-tanya "bagaimana mungkin seorang perawan bisa hamil" namun hal itupun akhirnya menjadi kenyataan. Orang yang tulus adalah orang yang akan banyak melihat bagaimana rencana Allah terjadi dalam hidupnya. Mengapa demikian? karena tidak ada perbantahan dalam hidupnya. Bacaan Penunjang : 1. W. Powell, Paul, Murid Sejati, Bandung: Kalam Hidup 1982. 2. Santoso, Ananda & Priyanto S, kamus lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Katika 1995. (Sumber : Benih Kekal - Departemen Pemuda & Anak Gereja Bethel Indonesia)

172


								
To top