PROSIDING TAHUN 2008 http

Document Sample
PROSIDING TAHUN 2008 http Powered By Docstoc
					PROSIDING TAHUN 2008 http://www.faperta.ugm.ac.id/semnaskan/abstrak/prosiding2008/poster/e_penan gkapan_ilmu_kelautan.php
Bidang Penangkapan dan Ilmu Kelautan PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN BUBU PADA TERUMBU BUATAN BAMBU DAN BAN DI PULAU PRAMUKA KEPULAUAN SERIBU Dina Mayasari1, Mulyono S Baskoro2, dan M Fedi A Sondita2 1) Mahasiswa Program Magister Program Studi Teknologi Kelautaan IPB 2) Dosen pada Program Studi Teknologi Kelautan IPB Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan komposisi serta jumlah ikan karang yang terkumpul di sekitar terumbu buatan bambu (TB-bambu) dan ban (TB-ban) dan membandingkan hasil tangkapan bubu yang dipasang pada terumbu buatan bambu dan ban. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing. Tahap penelitian meliputi pra penelitian, penelitian tahap 1, penelitian tahap 2 dan analisis data. Pra penelitian meliputi survei lokasi dan pembuatan surat ijin penelitian. Penelitian tahap 1 meliputi pembuatan desain terumbu buatan, pemasangan terumbu buatan dan pemeliharaan terumbu buatan. Penelitian tahap 2 meliputi pengukuran parameter fisik, pengambilan sampel perifiton, pengamatan kelimpahan ikan disekitar terumbu buatan, pengoperasian alat tangkap bubu dan identifikasi serta pengukuran hasil tangkapan. Analisis data hasil tangkapan menggunakan „uji t‟ menyimpulkan tidak ada perbedaan komposisi ikan yang berkumpul diantara kedua jenis terumbu buatan. Jenis ikan yang berkumpul tersebut terdiri dari 15 famili, 19 genus dan 27 spesies dengan jumlah ikan 789 ekor (TB-ban) dan 402 ekor (TB-bambu). Jenis ikan yang dominan berkumpul di kedua terumbu adalah Caesio cuning, Scolopsis sp, Siganus sutor dan Sargocentron cornutum. Jumlah ikan yang tertangkap pada kedua jenis terumbu buatan ban dan bambu menggunakan alat tangkap bubu „berbeda nyata‟ (thit 3,6 dan ttab 1,7, α 0,05), dimana terumbu buatan ban lebih banyak dibandingkan dengan terumbu buatan bambu. Kata kunci: terumbu buatan ban, terumbu buatan bambu, bubu, Kepulauan Seribu

HUBUNGAN FAKTOR INTERNAL PENGOLAH DENGAN PERSEPSINYA TERHADAP KITOSAN SEBAGAI PENGAWET ALAMI IKAN ASIN Ernik Yuliana dan Idha Farida Fakultas MIPA Universitas Terbuka Email: idha@mail.ut.ac.id ; ernik@mail.ut.ac.id Penemuan kitosan sebagai pengawet alami ikan asin memberi harapan baru bagi industri kecil pengolahan hasil perikanan. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui persepsi pengolah ikan terhadap kitosan dan hubungan faktor internal pengolah dengan persepsinya terhadap kitosan. Rancangan penelitian adalah eksplorasi research design. Populasi penelitian

adalah seluruh pengolah ikan asin di PHPT Muara Angke, sampel diambil secara acak sebanyak 60 orang. Data dikumpulkan dengan metode survei dan diolah dengan metode statistika nonparametrik Rank Spearmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolah ikan ingin menghasilkan ikan asin yang tidak berbahaya bagi konsumen. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka masih meragukan bahwa kitosan adalah salah satu bahan pengawet alami dan dapat mengawetkan ikan asin setara dengan formalin. Kitosan belum banyak dikenal oleh para pengolah, tetapi mereka bersedia mencoba kitosan sebagai pengawet. Tingkat pendidikan pengolah tidak berhubungan secara signifikan dengan persepsi pengolah terhadap kitosan. Pengalaman menjadi pengolah juga tidak berhubungan secara signifikan dengan persepsi pengolah terhadap kitosan. Kebiasaan pengolah menggunakan pengawet kimia berhubungan secara signifikan dengan kesedian pengolah untuk mencoba kitosan sebagai pengawet alami. Kata kunci: kitosan, pengolah ikan asin, persepsi

PENGAMATAN AWAL GELOMBANG PASANG SUNGAI (BONO) DI MUARA SUNGAI KAMPAR DAN ROKAN Fauzi dan Agusnimar Fisheries Departement, Faculty of Agriculture, Islamic University of Riau Bono (Tidal bore)adalah istilah masyarakat Riau untuk gelombang pasang yang menjadi menceng dan menggulung karena memasuki muara sungai yang mempunyai dimensi tertentu. Bono merambat ke arah hulu dengan kecepatan relatif tinggi. Makalah ini adalah hasil review dari kajian Jalaluddin pada tahun 1995 dan observasi di antara Parit 5 dan Jumrah (kawasan muara S. Rokan) dan di antara Pulau Muda dan Teluk Binjai untuk kawasan muara S. Kampar pada bulan Juli – September 2005. Pada bulan Juli 1995 di sekitar Teluk Meranti amplitudo bono berkisar antara 75,3 – 176,3 cm dengan kecepatan antara 16 – 30 km / jam Memakai data hasil kajian Jalaluddin (1995) kajian ini mendapatkan hubungan amplitudo (Y, m) dan kecepatan (Q, m/detik) sbb: Y = 46,2037 + 0, 9937 Q (r = 0,9168, Jalaluddin 1995) Y = 25,6265 + 0,8886 X (r = 0,8645 (hasil perhitungan ulang dalam kajian ini) Q = - 0,288 + 2,031 Y (perhitungan dari data Jalaluddin, 1995) Bono mempunyai kecepatan dan ketinggian tertentu di berbagai tempat. Karena itu para nakhoda yang mahir, dapat mengelola perahu dan kapalnya untuk berselancar bersama dan atau mendahului gelombang bono ini. Kajian lebih lengkap untuk mengenal dan menyebarkan sifat-sifat bono di berbagai penggal sungai disarankan untuk meninjau kemungkinan memanfaatkan fenomena alam ini bagi pelancongan dan pelayaran di sungai. Kata kunci: Tidal bore, bono, gelombang, kecepatan, amplitudo, Kampar, Rokan, estuary.

REVIEW PENGGUNAAN ALAT PEREDUKSI IKAN PADA TRAWL DI BEBERAPA PERAIRAN INDONESIA Tri Wahyu B. dan Mahiswara Balai Riset Perikanan Laut, Jakarta Trawl baik berukuran besar maupun kecil adalah salah satu alat tangkap yang dilarang dioperasikan, hal ini dikuatkan dengan dikeluarkannya Keppres No. 39 Tahun 1980. Dalam pengoperasian trawl selain tertangkap udang dan ikan target, ikut tertangkap juga ikan dan organisme dasar lainnya. Ikan dan non ikan yang ikut tertangkap oleh trawl disebut hasil tangkapan sampingan (HTS). HTS yang berupa ikan dan non ikan yang kurang menguntungkan sebagian besar dibuang kembali ke laut. Untuk mengurangi jumlah buangan HTS, trawl harus dilengkapi dengan alat pereduksi ikan (API). Penggunaan API ini dimaksudkan agar diperoleh suatu keseimbangan antara upaya pemanfaatan dan keberlanjutan sumberdaya ikan dan lingkungan. Alat pereduksi ikan yang telah diujicobakan di beberapa perairan antara lain adalah TED (Turtle Excluder Device), BED (By-catch Excluder Device), dan JTEDs (Juvenile and Trash Excluder Devices). Pemasangan TED pada trawl yang diujicobakan di Perairan Arafura mampu mereduksi HTS rata-rata sebesar 35.72 %, namun penurunan HTS ini diikuti pula oleh penurunan hasil tangkapan udang sebesar 21.52 %. Hasil ujicoba BED di perairan Cilacap mampu mereduksi bycatch sebesar 63.9% per-tawur, dan diikuti pula oleh penurunan hasil tangkapan udang sebesar 31.4 % per-tawur. Sedangkan penggunaan JTEDs hasil ujicoba JTEDs di perairan utara Jawa dengan ukuran kisi 10 mm, 17.5 mm dan 25.4 masing-masing meloloskan ikan berukuran kecil berkisar antara 2.42% – 40,18 %, 9,47 – 63,45 % dan 4,65 – 26,05 % dari total ikan yang tertangkap. Kata kunci: trawl, alat pereduksi ikan, BED, TED, JTEDs

METADATA http://www.nbin.lipi.go.id/index.php?x=pisp_meta&met=422 Kategori Tema Subtema Referensi Bibliografi : Perikanan : Perikanan Tradisionil : IDRIAL. 1996. Pengaruh Penggunaan Warna Cahaya Lampu Berbeda Terhadap Hasil Tangkapan Ikan hias Dengan : mengunakan Alat tangkap Bubu Di Perairan Pulau Ujung Tiku Kecamtan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat," : Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta, Jalan Sumatera Ulak karang, Padang Telp. 0751-443715 : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhpenggunaan warna cahaya lampu berbeda terhadap hasil

Lokasi dan Kontak Deskripsi

tangkapan ikan hias dengan menggunakan alat tangkap bubu dan jenis ikan yang tertangkap. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh perbedaan Warna cahaya lampu listrik terhadap hasil tangkapan ikan hias. Dipublikasi : 23 Desember 1995 sampai tangal 6 januari 1996

Metode pengumpulan data : Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan 4 unit bubu plastik denga letak dasar berbentuk oval, dengan ukuran panjang I meter, Leber 80 cm Tinggi 30 cm mempunyi satu buah pintu (ijeb) yang berbentuk lingkaran dengan diameter 21 cm. Daerah Penelitian Tanggal Koleksi Data Skala Unit Koleksi Data Format Biaya Komentar Simpul NBIN : Penelitian ini dilakukan di Perairan Pulau Ujung Tiku : 23 Desember 1995 sampai tangal 6 januari 1996 : : : Laporan cetakan dalam MS Word : : : PISP SUMBAR Jl. Khatib Sulaiman No. 1, Kota Padang Telp. 0751-443611 Fax: 0751-55676 Email: pisp_sumbar(at)yahoo(dot)com Website: http://www.geocities.com/pisp_sumbar/ Nama yang dapat dihubungi: - Nugroho Retno, ST., M.Si

Info Perikanan http://www.perikanandiy.info/home.php?mode=content&submode=detail&id=203 Teknologi Penangkapan Udang Udang terutama udang penaeid merupakan komoditi ekspor perikanan utama, mempunyai potensi yang cukup tinggi. Daerah usaha penangkapan terutama perairan : Papua, sebagian Maluku, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Jawa dan Sumatera. Udang penaeid dan sejenisnya yang termasuk sumberdaya demersal, hidup didasar perairan dan gerakannya lamban dapat diusahakan dengan alat tangkap, seperti : pukat udang (baca: trawl udang), jaring tiga lapis/jatilap (trammel net), jaring insang dasar (bottom monofilament gill net), dogol/cantrang (danish seine), perangkap, jermal (stow net, tidal trap), togo, ambai, pukat tepi. Udang barong yang habitat hidupnya di karang-karang (perairan karang) atau bebatuan dapat ditangkap dengan alat seperti : jaring insang karang (coralreef giil net), jaring hampar, bubu, tombak, pesambet.

Udang jambret/rebon dapat diusakan dengan alat tangkap seperti : sodo (push net), krakat, arat, jaring kantong bubu (bubu jermal). Pukat Udang (BED Equipped Shrimp Net) BED singkatan By-catch Excluder Device, tidak lain adalah jaring trawl yang telah mengalami modifikasi sedemikian rupa yaitu dengan menambahkan (menempatkan) bingkai jeruji pada bagian papan atau bagian perut antara badan (body) dan kantong (baca: cod end) yang fungsinya untuk meloloskan atau menyaring hasil tangkapan. Deskripsi Pukat udang pada prinsipnya terdiri dari bagian kantong (cod end), badan (body), sayap (wing), sewakan (otter board) dan tali-tarik (warp). Desain pukat udang pada prinsipnya adalah sama dengan pukat harimau atau jaring trawl lainnya., tetapi pada pukat udang ini dilengkapi dengan BED seperti telah dikemukakan. Teknologi Penangkapan Pukat udang ini dioperasikan dengan ditarik menelusuri dasar perairan oleh kapal berukuran 100 GT atau lebih dengan anak buah (crew) lebih dari 10 orang. Lama penarikan antara 1-2 jam tergantung keadaan daerah penangkapan (trawl ground). Daerah penangkapan dipilih yang permukaannya rata, berdasar lumpur atau lumpur-pasir. Operasi penangkapan dilakukan baik pada siang maupun malam hari, tergantung keadaan. Daerah Penangkapan Indonesia Timur (Papua dan Maluku). Hasil Tangkapan Utama Udang jerbung (Penaeus merguensis), U. windu (P. monodon), U. dogol (Metapenaeus ensis), U. krosok (Para penaeopsis spp.) Trawl Udang Ganda (Double-rigged Shrimp Trawls) Deskripsi Trawl udang ganda adalah otter trawl yang dalam operasi penangkapannya menggunakan dua buah unit jaring sekaligus. Dengan penggunaan trawl udang ganda ini terutama berpengaruh terhadap luas liputan area penangkapan. Dengan demikian diharapkan hasil tangkapannya menjadi berlipat ganda dibanding bila hanya menggunakan satu jaring. Daerah Penangkapan Perairan Papua (Laut Arafura) dan sebagian perairan Maluku (sekitar Kep. Aru). Teknologi Penangkapan Panjang jaring sekitar 33 m. Sedang papan trawl (otter board) berukuran 1,8 m panjang dan 1,4 m lebar, berat 500-562 kg/buah. Dalam operasi penangkapan menggunakan kapal berukuran 300 GT, kekuatan 700 PK/HP. Mengenai tonase kapal yang dipakai ini bervariasi tergantung besar kecilnya jaring yang digunakan. Kapal untuk trawl udang ganda ini dilengkapi dengan dua derek (outriggers) yang dipasang pada kanan-kiri dari lambung kapal. Dalam keadaan operasi dengan keadaan derek yang telah dipasang terlihat seakan-akan seperti sayap.

Hasil Tangkapan Utama Udang jerbung (Penaeus merguensis), U. windu (P. monodon), U. dogol (Metapenaeus ensis), U. krosok (Para penaeopsis spp.) Pukat Harimau (Cungking Trawl) Deskripsi Pukat harimau atau lebih dikenal Cungking Trawl adalah termasuk otter trawl kecil atau dikatakan Mini Otter Trawl. Pukat harimau adalah tipe shrimp trawl, berbentuk bulat panjang dengan sayap pendek. Jaring trawl ini dapat digolongkan tipe Meksiko. Teknologi Penangkapan Bahan jaring yang dipakai sintetik fibre (Polyethylene). Pelampungnya dari bahan plastik, berbentuk bulat dan mengecil pada kedua ujungnya. Kapal yang umumnya digunakan berbobot 15 ton (25 PK). Papan trawl berukuran 1,33 m panjang, 0,57 m lebar dan tebal 2,5 cm, berat 27 kg/buah. Jaring trawl yang dipakai berukuran panjang sekitar 12-18 m. Bentuk kapal Cungkring trawl ini dibuat sedemikian rupa dengan luas relatif datar. Gerakannya sangat lincah, dapat menelusuri sampai perairan yang relatif dangkal sekali. Hasil Tangkapan Ikan (utama) dan udang (sampingan) Dogol, Cantrang dan sejenisnya (Danish Seine) Deskripsi Dilihat dari bentuknya, alat tangkap ini menyerupai payang tetapi ukuran-ukurannya lebih kecil. Dilihat fungsi dan hasil tangkapannya ia menyerupai trawl, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapan hanya menggunakan perahu layar atau perahu bermotor ukuran kecil. Teknologi Penangkapan Setelah jaring diturunkan dan melingkari sasaran yang dituju (umumnya dengan cara mendugaduga) kemudian dengan tali panjang (slambar, haul line) ditarik ke arah perahu (baca : perahu dalam keadaan dilabuh atau berhenti). Luas dasar perairan yang dapat ditelusuri (diliput) sangat tergantung pada panjang tali slambar (warp) yang digunakan. Penarikan jaring melalui tali slambar yang pada gilirannya penaikan jaring keatas perahu dilakukan dari salah satu sisi perahu. Dogol, cantrang atau sejenisnya dapat juga digolongkan sebagai ”jaring trawl semu” (shadow trawl), sedangkan trawl yang sebenarnya disebut true trawl. Daerah Penangkapan Pantai Utara Jawa, Pantai Selatan Jawa, Madura, Lampung. Hasil Tangkapan Udang dan ikan demersal (petek, kerapu, sebelah, pari,cucut, gurita)

Jaring Tiga Lapis (Trammel Net) Deskripsi Ada yang menyebutnya ”jaring gondrong”, ”jaring tilek”,”jaring kantong”, ”jaring ciker” atau untuk mudahnya disebut jatilap (jaring tiga lapis). Jaring ini terdiri dari tiga lapis, yaitu dua lapis yang diluar mempunyai mata lebih besar, sedangkan lembaran jaring yang ditengah matanya lebih kecil dan dipasangnya agak longgar. Teknologi Penangkapan Dalam pengoperasiannya jaring ini dapat dilabuh (diset) di dasar maupun dihanyutkan. Ikanikan yang tertangkap karena terpuntal. Hasil Tangkapan Udang penaeid, Kuro/Senangin, Mayung, Bawal Hitam, Gulamah. Jaring Insang Karang (Coral Reef Gill Net) Jaring ini terutama dipergunakan untuk menangkap udang karang. Berbeda dengan jaring insang labuh lainnya, jaring insang karang ini tidak dilengkapi dengan tali ris bawah namun ada juga yang memakai tali ris bawah. Pemberat-pemberatnya berupa timah hitam diikatkan langsung pada bagian simpul jaring yang terbawah. Daerah Penangkapan Perairan karang atau tepatnya diatas karang-karang. Hasil Tangkapan Udang barong, spiny lobster Bubu Udang, Perangkap Setengah Lingkaran Deskripsi Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal nelayan. Variasi bentuknya banyak sekali, hampir di setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri. Bentuk bubu ada yang seperti : sangkar (eages), silinder (cylindrical), gendang, segitiga memanjang (kubus) atau segi banyak, bulat setengah lingkaran, dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu. Secara garis besar bubu terdiri dari bagian-bagian badan (body), mulut (funnel) atau ijeb, pintu. Untuk menangkap udang barong digunakan bubu khusus yaitu bubu silindris dan bubu bulat setengah lingkaran dengan mulut ditengah-tengah atas. Semetara untuk udang penaeid, kepiting/rajungan dapat ditangkap dengan bubu udang yang bahan-bahannya terbuat dari plastik.

Teknologi Penangkapan Perangkap Setengah Lingkaran (Half Circling Traps) Pemasangan atau penanaman perangkap ini menyerupai bangunan yang membentuk setengah lingkaran dengan darat pantai. Bahan yang digunakan bisa dnegan jaring (net), kere bambu ataupun susuna batu, Prinsip penangkapan ini ialah mengahdang ikan atau biota laut lainnya yaitu pada waktu pasang mendekat pantai dan waktu surut menjauhi pantai. Pengambilan hasil dilakukan pada waktu air surut dalam keadaan kering, setengah kering atau mungkinmasih tergenag air. Hasil Tangkapan Utama Udang barong Daerah Penangkapan Bubu Udang : Kep. Seribu, Bali, Lombok Perangkap Setengah Lingkaran : Kep. Seribu, Ambon, Banda, Kupang, Sibolga, Padang, Bengkalis, Bau-bau, Muna, Kep. Aru, Maluku Tengah, Kendari, Madura, Jawa Timur. Sumber : Drs. Waluyo Subani, Ir. H.R. Barus. 1998/1999. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Balai Penelitian Perikanan Laut.

PROSIDING TAHUN 2008
Bidang Penangkapan dan Ilmu Kelautan PEMODELAN ANALITIK UPWELLING IMBUH ANGIN DI TELUK TOMINI A. Sulaiman dan M. Sadli Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (PTISDA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) BPPT Gd-2 Lt 19, Jl. Mh. Thamrin 8, Jakarta. Ph:021-3169706, fax:021-3169720 Email: asulaiman@webmail.bppt.go.id. Fenomena upwelling merupakan fenomena yang banyak dikaji oleh para oseanografer karena berdampak secara ekonomi yaitu berkaitan dengan daerah penangkapan ikan. Upwelling terjadi karena adanya Ekman drift yang dibangkitkan oleh angin. Pada makalah ini akan dicoba

merumuskan kemungkinan terjadinya upwelling di perairan teluk Tomini. Karena kompleksnya kondisi teluk maka kita melakukan penyederhanaan. Secara geometri teluk dipandang sebagai sebuah kubus dengan salah satu sisi terbuka. Karena daerah studi terletak di ekuator dan secara geometri memenuhi sirkulasi lereng, maka persamaan gerak yang digunakan adalah persamaan linier Boussinesq dalam bidang beta. Persamaan gerak beserta syarat batasnya dipecahkan secara analitik. Dengan menggunakan ekspansi dalam fungsi eigen untuk fungsi vertikal maka kita akan dapatkan persamaan gerak dalam arah horisontal dan vertical secara terpisah. Persamaan dalam arah horisontal dipecahkan dengan metode fungsi Green sedangkan persamaan dalam arah vertikal dipecahkan dengan aproksimasi WKB. Distribusi nutrien akibat proses upwelling akan dipelajari hanya dengan menyelesaikan persamaan adveksi-difusi satu dimensi. Dengan memasukkan gaya gerak utama angina monsoon, didapatkan bahwa Ekmann drift muncul pada musim Barat dan melemah pada musim Timur. Melalui distribusi nutrient maka relasinya dengan daerah penangkapan ikan akan diberikan. Kata kunci: sirkulasi arus, teluk Tomini, upwelling.

PERKEMBANGAN HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI SEKITAR LAUT JAWA Achmad Zamroni dan Suwarso Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut, Jakarta Pukat cincin merupakan alat tangkap utama untuk perikanan pelagis kecil serta mempunyai peranan penting di dalam pengusahaan sumberdaya perikanan di Laut Jawa. Armada pukat cincin berkembang pesat sejak tahun 1976 dan daerah penangkapan tersebar luas di perairan paparan Sunda, diantaranya Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Cina Selatan, Selat Karimata dan saat ini telah mencapai perairan Sulawesi. Tahun 1994 diindikasikan perkembangan daerah penangkapan ini telah mencapai maksimum (Boely, 1995). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengemukakan perkembangan hasil tangkapan dan upaya ikan pelagis di Laut Jawa berdasarkan data basis hasil tangkapan pukat cincin yang mendarat di Pekalongan tahun 2002– 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan layang (Decapterus spp.) tetap merupakan jenis utama/dominan hampir di semua daerah penangkapan, yaitu sebesar 52% dari seluruh hasil tangkapan. Hasil tersebut tidak berbeda dengan hasil pada tahun 1985–1992. Jumlah trip tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 1749 trip dan menurun secara signifikan menjadi 818 trip pada tahun 2007. Penurunan jumlah trip ini diikuti dengan meningkatnya jumlah hari di laut menjadi sekitar 2 bulan. Laju tangkap terus mengalami penurunan dari 1000 kg/hari pada tahun 2004 menjadi, sebesar 409 kg/hari pada tahun 2007. Laju tangkap tersebut jauh lebih kecil jika dibandingkan pada tahun 1992-1996 yang mencapai 2387 kg/hari. Diantara tujuh daerah penangkapan di perairan Laut Jawa dan Selat Makassar, laju tangkap lebih tinggi dijumpai di perairan sekitar Kep. Kangean, yaitu sekitar 750 kg/hari. Kata kunci : pukat cincin, pelagis kecil, daerah penangkapan, jumlah trip, laju tangkap.

MODEL PASANG SURUT TIDAK LINEAR DENGAN METODE ASIMILASI DATA VARIASIONAL Agus Setiawan Pusat Teknologi Lingkungan BPPT BPPT Gedung 2 Lantai 19 Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340 E-mail: a_setiawan@webmail.bppt.go.id Sebuah prosedur asimilasi data variasional telah berhasil dikembangkan dan diterapkan pada model pasang surut tidak linear 2-dimensi dengan memanfaatkan metode iteratif conjugate gradient least square yang efisien dalam mencari solusi dari masalah minimisasi. Model pasang surut dengan asimilasi data ini telah diterapkan di perairan Irlandia dan Seltik (Samudera Atlantik) dengan resolusi ruang 5 menit menggunakan komponen pasang surut M2 dan S2 sebagai gaya pembangkit di syarat batas terbuka model. Dari hasil analisis komponen pasang surut M2, S2, beserta over- dan compound tides (yaitu komponen pasang surut tidak linear yang merupakan kelipatan dari komponen utama dan kombinasi dari dua atau lebih komponen utama) yang dihasilkan oleh model ini diperoleh bahwa dengan mengasimilasikan data pengamatan ke dalam model diperoleh hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan model tanpa data asimilasi, dimana over- dan underestimates yang dihasilkan oleh model tanpa data asimilasi dapat diminimalkan sehingga hasil model memiliki kesesuaian yang tinggi dengan data pengamatan. Kata kunci: model pasang surut, asimilasi data, tidak linear, conjugate gradient least square

INVENTARISASI, EFEKTIFITAS, DAN SELEKTIFITAS ALAT TANGKAP TRADISIONAL DALAM KEGIATAN PENANGKAPAN KEPITING BAKAU DI PANTAI MAYANGAN, KABUPATEN SUBANG Amula Nurfiarini dan Amran Ronny Syam Staf Peneliti pada Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Jatiluhur Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis alat tangkap tradisional serta efektifitas penggunaannya pada kegiatan penangkapan kepiting bakau di pantai Mayangan Kabupaten Subang. Penelitian dilakukan selama tahun 2007. Metode penelitian yang digukanan adalah metode survey dan wawancara. Hasil inventarisasi alat tangkap kepiting bakau menunjukkan bahwa beberapa jenis alat tangkap tradisional untuk kegiatan penangkapa kepiting bakau antara lain bubu lipat (badong/wadong), bangkol, pancing-caduk, jaring kepiting, dan pintur. Alat tangkap bubu lipat dan jarring bersifat pasif, sedangkan alat tangkap bangkol, pancing-caduk, dan pintur bersifat aktif. Hasil analisis terhadap nilai tangkapan ikan per upaya tangkap (catch per unit effort) pada masing-masing jenis alat tangkap di atas adalah 0,028; 0,14; 0,30; dan 0,33 kg/unit/jam. Sedangkan hasil analisis selektifitas menunjukkan bahwa penangkapan kepiting dengan alat tangkap jenis bangkol merupakan alat tangkap kepiting yang paling selektif dibanding dengan alat tangkap jenis lainnya.

Kata kunci: alat tangkap, CPUE, kepiting bakau, Pantai Mayangan-Subang

FENOMENA INTRUSI DASAR DI TELUK HURUN LAMPUNG Arif Dwi Santoso Peneliti oseanografi-biologi pada (PTL) Pusat Teknologi Lingkungan-BPPT Email: arif74@webmail.bppt.go.id Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme terjadinya intrusi dasar di Teluk Hurun Lampung. Untuk mencapai tujuan penelitian telah dilakukan 3 macam survey yakni survey mooring, synoptic oceanographic dan survey 25 jam. Dari hasil analisis data mooring temperatur menyebutkan bahwa di Teluk Hurun terjadinya intrusi dasar yang membawa massa air yang berkadar oksigen terlarut rendah, salinitas tinggi dan bertemperatur rendah pada pertengahan bulan Februari hingga awal bulan Juli 2003. Fenomena ini ditimbulkan oleh pengaruh angin Muson Tenggara dari Laut Jawa ke Teluk Lampung hingga masuk ke Teluk Hurun. Kondisi distribusi vertikal dari temperatur, salinitas dan oksigen terlarut terlihat jelas perbedaan yang drastis antara permukaan dan dasar perairan. Dasar perairan pada kedalaman 22 m diidentifikasikan terbentuk lapisan termoklin dengan mempunyai konsentrasi oksigen terlarut lebih rendah dari 1 mg/L. Dari hasil survey 25 jam diketahui bahwa massa air tersebut bergerak menuju ke pantai dengan kecepatan 0,07 m/det. Kondisi seperti ini jelas menjadi ancaman bagi pengelola budidaya perikanan di areal tersebut.

PENELITIAN KOMPOSISI UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DAN STRUKTUR KOMUNITAS HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP BLAD (SURROUNDING NETS) DI PERAIRAN PASANG SURUT SUNGAI MUSI SUMATERA SELATAN Azwar Said Peneliti Balai Riset Perikanan Perairan Umum Jln. Beringin No. 08 Palembang 30763 Tlp/Fax.(0711) 537194/537205 Email: azwarsaid_brppu@yahoo.co.id Bagian Hilir Sungai Musi merupakan perairan pasang surut yang dihuni berbagai jenis biota perikanan yang bernilai ekonomis tinggi termasuk jenis udang galah. Penangkapan udang galah dan beberapa jenis ikan dilakukan dengan berbagai jenis alat tangkap salah satunya alat tangkap blad. Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi udang galah, keanekaragaman dan komunitas hasil tangkapan alat tangkap blad di perairan pasang surut Sungai Musi Sumatera Selatan. Penelitian menggunakan metode pengamatan hasil tangkapan nelayan dengan 4 orang enumerator dan pengamatan langsung hasil tangkapan nelayan yang dilakukan selama 6 bulan dalam 1 tahun yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, September, Oktober dan November. Dihitung komposisi hasil udang galah, total hasil tangkapan dan struktur komunitas dihitung mengikuti persamaan Indeks Keanekaragaman, Indeks Keragaman dan Indeks Dominansi. Rata-rata

komposisi hasil tangkapan udang galah pada bulan Juni 33,8 kg (14,29%), Juli 54,6 kg (16,54%), Agustus 67,6 kg (16,56%), September 70,2 kg (16,07%), Oktober 74,4 kg (15,26%) dan November 23,4 kg (6,98%). Komposisi hasil tangkapan udang galah tertinggi terdapat pada bulan September dan Oktober dari seluruh hasil tangkapan blad. Struktur komunitas hasil tangkapan blad didapatkan perhitungan Indeks Dominansi dengan nilai D = 1 berarti ada spesies yang mendominasi spesies lainnya yaitu ikan seluang (Rasbora sp). Kata kunci:hasil tangkapan, komunitas, udang galah, blad (surrounding nets), perairan, pasang surut, Sungai Musi

SELEKTIVITAS, OPERASIONAL ALAT TANGKAP CORONG DAN TINGKAT KEMATANGAN GONAD HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN DANAU CALA, SUMATERA SELATAN Dadiek Prasetyo Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang Penelitian selektifitas, spesifikasi, operasional alat tangkap corong dan tingkat kematangan gonad hasil tangkapan (ikan Lais) di perairan Danau cala, Sumatera Selatan telah dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Juli 2006. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui selektifitas, cara operasional alat tangkap corong dan tingkat kematangan gonad hasil tangkapan (ikan Lais) di perairan danau Cala, Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan dengan metode survey, penentuan lokasi dilakukan secara disengaja (purposive) di anak anak sungai perairan danau Cala. Parameter yang diamati yaitu hubungan ukuran panjang dan jumlah (persentase) sampel hasil tangkapan ikan lais, spesifikasi dan operasional alat tangkap corong, dan tingkat kematangan gonad ikan hasil tangkapan (ikan lais). Hasil penelitian menunjukan, alat tangkap corong masuk katagori tidak selektif terhadap ukuran hasil tangkapan ikan lais, dengan sebaran hasil tangkapan 10–40 cm. Operasional alat tangkap corong menutup anak sungai dan membahayakan siklus hidup ikan lais. Tingkat kematangan gonad ikan lais, II - IV didapatkan setiap sampling.

IDENTIFIKASI UPWELLING DENGAN MENGGUNAKAN NILAI PRODUKTIVITAS PRIMER DI PERAIRAN INDONESIA BAGIAN TIMUR Fitri Suciaty, Mutiara R. Putri, dan Ivonne M. Radjawane Program Studi Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung Salah satu indikator lokasi yang kaya sumberdaya lautnya adalah kesuburan perairan, yang dapat ditentukan oleh kandungan produktivitas primernya. Daerah upwelling dapat teridentifikasi dengan melihat besarnya nilai produktivitas primer di perairan tersebut.

Identifikasi upwelling musiman pada di perairan Indonesia timur dilakukan dengan menggunakan nilai produktivitas primer di permukaan yang dihitung dengan menggunakan Vertically Generalized Productivity Model (VGPM). Data yang digunakan yaitu data Sea Surface Temperature (SST), Photosynthetically Active Radiation (PAR), dan Sea Surface Chlorophyll (SSC). Data SST diperoleh dari citra satelit AVHRR periode Agustus 2005November 2006, sedangkan data PAR dan data SSC diperoleh dari citra satelit SeaWiFS dan Aqua MODIS pada periode yang sama. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa nilai produktivitas primer mengalami variasi musiman. Nilai produktivitas primer tinggi terlihat pada saat musim timur, terutama di bagian timur Kepulauan Aru (>5500 mgC/m2/hari). Upwelling teridentifikasi di bulan Agustus di daerah dengan nilai produktivitas, salinitas, oksigen dan nutrien yang tinggi di permukaan, serta temperatur permukaan yang rendah. Kata kunci: produktivitas primer, upwelling, photosynthetically active radiation, vertically generalized productivity model, sea surface temperature, sea surface chlorophyll.

KAPAL IKAN YANG EFISIEN DENGAN LAMBUNG KATAMARAN I Ketut Aria Pria Utama, Murdijanto, dan Hairul Jurusan Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Kampus ITS Sukolilo – Surabaya 60111 Email: kutama@na.its.ac.id Pemakaian yang luas dari konfigurasi kapal katamaran untuk aplikasi kapal penumpang, barang dan riset oseanografis telah menggelitik kalangan perikanan untuk turut mengembangkan moda kapal ini. Keuntungan menarik dari kapal jenis ini yaitu tingkat stabilitas melintang yang sangat baik dan memberikan luasan geladak yang lebih besar dibandingkan dengan kapal berbadan tunggal yang sebanding menjadi daya tarik tersendiri bagi pengelola kapal ikan. Kapal jenis ini juga diketahui memiliki hambatan kapal yang lebih kecil sehingga ukuran motor penggerak utama dan kebutuhan BBM kapal menjadi lebih hemat terutama dengan semakin langka dan mahalnya harga bahan bakar fosil tersebut. Studi pengembangan kapal ikan dengan lambung katamaran dilakukan di Jurusan Teknik Perkapalan ITS dan dilengkapi dengan pengujian skala model di kolam uji model memperlihatkan tingkat stabilitas kapal yang sangat baik dan fleksibilitas dalam menata lay-out kapal. Kata kunci: kapal ikan, lambung katamaran, stabilitas, lay-out dan kebutuhan BBM.

DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN SELAT ALAS M. Junaedi dan Paryono Dosen Program Studi Perikanan Universitas Mataram Email: Paryonos@yahoo.com

Parameter oseanografi kelautan yang penting untuk diketahui yaitu Suhu (T) dan Salinitas (S). Dari parameter ini dapat diprediksi berbagai gejala dan dampak yang terjadi di perairan laut, antara lain uppwelling, kelimpahan plankton, kelimpahan ikan, distribusi tekanan, arus laut, serta cuaca. Selat Alas merupakan perairan yang menghubungkan antara Laut Flores dan lautan Hindia. Disepanjang pesisir Selat Alas banyak terdapat nelayan dan pembudidaya ikan. Mengingat strategisnya perairan Selat Alas maka penelitian oseanografi menjadi penting. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sebaran suhu dan salinitas secara menegak dan mendatar. Penelitian dilakukan pada bulan Nopember 2007. Peralatan yang digunakan yaitu Kapal penelitian, CTD, Global Positioning System, dan peta alur pelayaran. Pengukuran parameter dimulai dari lapisan permukaan sampai dekat dasar perairan. Jalur survei penelitian berbentuk transek pararel sistematik, yaitu dengan membuat garis transek sejajar, dengan jarak antar transek yang yaitu 6 mill laut. Penelitian dilakukan pada 18 stasiun, yang terbagi dalam 6 transek yaitu transek A – F. Data hasil pengukuran dari CTD kemudian dikonversi ke data .txt. Data terdiri dari parameter kedalaman, suhu, salinitas, tekanan, dan konduktivitas. Pengolahan data suhu dan salinitas dilakukan bantuan perangkat lunak (software) Ocean Data View (ODV) versi 3.0.1.2005. Profil menegak dan mendatar rata-rata suhu perairan Selat Alas berfluktuasi dengan nilai tertinggi berada pada transek C (stasiun 8, 9, 10 dan 11) yaitu 29.3oC dan terendah berada pada transek A (stasiun 1, 2 dan 3) yaitu 14,1oC. Profil menegak dan mendatar rata-rata salinitas relatif sama yaitu 34,4–34,5%o. Terdapat kecenderungan terjadi peningkatan salinitas pada perairan yang lebih dalam. Kata kunci: suhu, salinitas, distribusi, Selat Alas.

KAJIAN DISTRIBUSI FITOPLANKTON DI SEBAGIAN LAUT UTARA JAWA MENGGUNAKAN CITRA MODIS Miftahuraifah Quratun Aini Email: geosaini@yahoo.com Data suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil yang diperoleh dari citra satelit dapat digunakan untuk mengetahui distribusi fitoplankton. Keberadaan fitoplankton menjadi tolak ukur kesuburan perairan karena fitoplankton merupakan produsen primer. Sehingga kelimpahan ikan bergantung pada akumulasi fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji peran data penginderaan jauh yaitu citra satelit MODIS dalam mendapatkan data distribusi fitoplankton dan untuk mengetahui distribusi fitoplankton di sebagian Laut Utara Jawa. Metode penelitian yang digunakan adalah ektraksi data MODIS untuk informasi suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil. Analisa korelasi antara data citra dengan data in situ yang dilanjutkan analisa potensi fitoplankton berdasarkan data citra (suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil).

Hasil penelitian yaitu peta suhu permukaan laut, peta distribusi klorofil, peta potensi fitoplankton, analisa korelasi data citra (klorofil) dengan data in situ (kerapatan fitoplankton)bersifat positif dengan r= 0,328 (Aqua MODIS 15 november 2006), r= 0,513 (Aqua MODIS 16 november 2006), dan r= 0.348 (Terra MODIS 15 november 2006). Analisa korelasi data suhu pemukaan laut (citra) dengan data suhu permukaan laut in situ bersifat positif dengan nilai r= 0.875 (Aqua MODIS 15 november 2006), r= 0.844 (Aqua MODIS 16 november 2006), dan r= 0.910 Terra MODIS 2006). Potensi fitoplankton dipengaruhi nilai klorofil yang tinggi dan suhu permukaan laut yang rendah. Arus permukaan sangat mempegaruhi distribusi fitoplankton, arus permukaan tergantung pada kondisi cuaca daerah penelitian. Penelitian ini masih memerlukan parameter-parameter lain selain suhu permukaan laut dan nilai klorofil, agar potensi fitoplankton dapat dipetakan dengan lebih detil dan valid. Kata kunci: citra MODIS, suhu permukaan laut, klorofil, dan fitoplankton.

KAJIAN BYCATCH AND DISCARD PERIKANAN PUKAT TARIK (DRAGGED GEAR ON SHRIMP) DI KOTA TARAKAN Muhammad Firdaus dan Amrullah Taqwa FPIK Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Borneo Tarakan, Jl. Amal Lama No.1 Kota Tarakan E-mail: mf2302.borneo@gmail.com Makalah dari penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai prosentase target tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan (bycatch-discard) serta mengetahui/menginformasikan tentang keragaan alat tangkap dan metode penangkapan. Data hasil tangkapan dan upaya penangkapan (jumlah dan jenis), disain dan dimensi unit penangkapan, telah digunakan dalam analisis secara kualitatif nilai prosentase hasil tangkapan dan aspek teknologi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pengoperasian pukat tarik memiliki dua musim penangkapan dengan udang dan ikan nomei sebagai tangkapan utama. Berdasarkan hasil analisa data menunjukkan bahwa nilai prosentase main catch dan HTS untuk target tangkapan udang adalah 40,7%:59,3% dan jenis ikan mujair payau (Oreochromis mossambicus) sebagai HTS yang dominan (26,34%). Operasi penangkapan dengan target tangkapan utama ikan nomei, nilai persentasenya 85,8%:14,2% dan jenis ikan puput (Hisha megaloptera) yang dominan sebagai HTS (31,61 %). Unit perikanan pukat tarik di Kota Tarakan, secara disain, dimensi dan metode penangkapannya teridentifikasi sebagai alat tangkap trawl berukuran kecil (bottom otter trawl). Kata kunci: pukat tarik, hasil dan upaya penangkapan, hasil tangkapan sampingan, keragaan alat tangkap dan metode penangkapan.

DISTRIBUSI KELIMPAHAN IKAN PELAGIS KECIL YANG TERTANGKAP KAPAL PUKAT CINCIN MINI DI REMBANG PADA TAHUN 2006-2007

Muhammad Taufik Balai Riset Perikanan Laut-Departemen Kelautan dan Perikanan Jl. Muara Baru Ujung Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera 'Nizam Zachman' Email: taufik_rimf@yahoo.co.id Berdasarkan data hasil tangkapan ikan pelagis kecil yang dikumpulkan dari TPI Tasik Agung dapat diketahui bahwa jenis-jenis ikan pelagis kecil hasil tangkapan pukat cincin mini di Rembang pada tahun 2006 dan 2007 adalah layang (Decapterus sp.), banyar (Rastrelliger kanagurta), bawal (Formio niger), kembung (Rastrelliger brachysoma), tenggiri (Scomberomorus sp), selar (Carangidae), cumi-cumi (Loligo sp.), tembang (Sardinella gibbosa), tongkol (Auxis sp.), lemuru (Sardinella lemuru), petek (Leiognathidae) dan lain-lain (ikan campuran). Pada tahun 2006 ikan tangkapan dominan adalah layang (52,6%), diikuti oleh banyar (14,6%) dan yang terkecil adalah kembung (0,003%). Sedangkan pada tahun 2007 layang juga dominan (49,5%), diikuti banyar (11,9%) dan yang paling sedikit adalah tenggiri (0,4%). Puncak musim penangkapan ikan layang terjadi di bulan Agustus-September dengan komposisinya mencapai sekitar 80% dari total tangkapan. Sedangkan puncak musim penangkapan ikan banyar ada dibulan Februari-April dimana komposisinya mencapai 18% dari total tangkapan. Hilangnya ikan kembung yang merupakan spesies coastal dari catatan tahun 2007 menunjukkan sudah tidak ada lagi kapal pukat cincin mini asal Jawa Timur yang mendaratkan hasil tangkapannya di Rembang. Kapal-kapal pukat cincin mini ini memang mengkhususkan diri menangkap ikan kembung dengan jumlah hari dan jarak tempuh yang lebih pendek. Kata kunci: pukat cincin mini, Rembang, pelagis kecil, komposisi

PENERAPAN MODEL NUMERIK GARIS JEJAK UNTUK MEMANTAU SEBARAN PENCEMARAN DI PERAIRAN SIAK, RIAU Mutiara R. Putri Program Studi Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung 40132 Email: mutiara.putri@gmail.com Sebagian besar limbah rumah tangga dan industri yang dibuang ke sepanjang Sungai Siak, yang mengalir melalui kota Pekanbaru, Riau hingga ke Selat Malaka, akan terbawa aliran sungai ini menuju ke estuari. Limbah yang keluar dari mulut sungai Siak ini dapat diikuti jejak sebarannya dengan menggunakan model garis jejak berdasarkan pada pola arusnya. Pada penelitian ini, dengan menggunakan pola arus yang dihasilkan oleh model hidrodinamika HAMburg Shelf Ocean Model (HAMSOM), simulasi sebaran polutan di mulut Sungai Siak dilakukan untuk melihat besarnya pengaruh pasang surut terhadap sebaran polutan, jarak sebaran dan waktu yang dibutuhkan polutan hingga menyebar ke estuari dan Selat Malaka. Hasil simulasi numerik ini selanjutnya dapat digunakan untuk memantau dan menanggulangi sebaran polutan yang terjadi di sekitar muara Sungai Siak dengan melihat jarak terjauh sebaran polutan dan waktunya.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa pengaruh pasang surut komponen M2 sangat dominan di perairan ini, dimana terdapat variasi arah setiap 6-7 jam atau mengalami 2 kali pasang dan 2 kali surut. Jarak sebaran terjauh yang dapat dicapai oleh polutan adalah 2,5 km dari mulut Sungai Siak ke arah utara dan 1,5 km ke arah selatan. Dengan menggunakan arus rata-rata harian diperoleh bahwa polutan akan mencapai bagian utara Selat Bengkalis setelah 20 hari dan menyebar hingga ke utara Selat Malaka sebelum mencapai 50 hari.

PEMODELAN DAN SIMULASI KAPAL IKAN TRADISIONAL TIPE KRANJI Oktavian Rahardjo1 dan Surjo Widodo Adji2 1) Mahasiswa Pasca Sarjana FTK-ITS 2) Dosen Pasca Sarjana FTK-ITS Email: oktaitbms95@yahoo.co.id Kapal ikan tradisional yang semula menggunakan layar, saat ini menggunakan propeller dengan sumber tenaga dari engine. Namun, pemilihan, penggunaan, serta penempatan dari propeller dan engine tersebut dilakukan menurut perkiraan, pengalaman, kebiasaan, dan selera dari sipengrajin atau nelayan pengguna kapal, tanpa adanya pertimbangan teknis. Contohnya adalah kapal ikan tipe Kranji yang menggunakan 2 diesel engine (ex-truck) dan diletakkan di atas deck sehingga memiliki propeller shaft dengan kemiringan hingga 22°. Meskipun begitu, kemampuannya untuk melakukan operasi penangkapan ikan tidak diragukan lagi, terbukti hingga sekarang masih banyak yang beroperasi. Oleh karena itu, perlu diketahui karakteristik tahanan dan pendorongan dari kapal ikan tradisional tipe Kranji dengan bentuk badan kapal dan penempatan sistem penggerak yang ada. Cara mengetahuinya dengan menggunakan pendekatan model dan simulasi di komputer terhadap kapal ini. Pemodelan dan simulasi menggunakan paket program CAD (Computer Aided Design) serta CFD (Computational Fluid Dynamics). Hasil pemodelan dan simulasi kemudian dianalisa untuk memperoleh data dan informasi awal dalam menemukan cara meningkatkan kinerja dari kapal tersebut.. Kata kunci: kapal ikan tradisional, tipe Kranji, pemodelan, simulasi.

DAYA PENGURANGAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BYCATCH) DARI TIGA TIPE BYCATCH REDUCTION DEVICE (BRD): PERCOBAAN TRAWL DI LAUT ARAFURA Ronny I. Wahyu1,2, M. Fedi A. Sondita2, Sugeng Hari Wisudo2, John Haluan2 dan Ari Purbayanto2 Program Pasca Sarjana Teknologi Kelautan, IPB Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPBp Penelitian mengenai daya pengurangan hasil tangkapan sampingan (HTS) dari tiga tipe BRD telah dilakukan di perairan Dolak Laut Arafura pada tanggal 29 November sampai 9 Desember

2007. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan daya pengurangan HTS dari tiga tipe BRD (TED super shooter, square mesh window, fish eye). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 26 total hauling telah diidentifikasi 45 spesies ikan, 2 spesies udang dan kepiting. Sebanyak 21 spesies yang termasuk dalam kategori bycatch dimanfaatkan oleh nelayan karena memiliki nilai ekonomis. Berdasarkan uji pangkat wilcoxon tidak berbeda nyata untuk ketiga tipe BRD dalam meloloskan HTS. Fish eye mengurangi HTS sebesar 13,36%, square mesh window 5,89% dan TED super shooter 4,66%. Ketiga tipe BRD memberikan pengaruh terhadap pelolosan udang yaitu 21,25% untuk fish eye, 22,13% untuk square mesh window dan 32,29% untuk TED super shooter. Kata kunci: hasil tangkapan sampingan, bycatch reduction device, super shooter, fish eye, square mesh window.

KARAKTERISTIK PERIKANAN TANGKAP DI RAWA BANJIRAN ALABIO KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN Rupawan Balai Riset Perikanan Perairan Umum Email: rpw_brppu@yahoo.co.id Rawa banjiran adalah bagian dari perairan umum yang dicirikan tergenang atau kering pada waktu tertentu akibat adanya dinamika tinggi air yang berhubungan dengan sungai sekitarnya dan musim. Rawa banjiran Alabio tergolong rawa lebak yang sebagian besar permukaannya ditutupi kelompom tumbuhan gramine dan herba.Penelitian untuk mengetahui karakteristik perikanan tangkap di perairan rawa banjiran Alabio telah dilakukan pada tahun 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas perikanan tangkap di rawa banjiran Alabio dilakukan oleh nelayan perorangan, skala kecil, sebagai pekerjaan musiman selama musim rawa tergenang air (6-8 bulan/tahun). Penangkapan ikan menggunakan 7 jenis alat tangkap dari kelompok; jaring ingsang (gillnet), pancing (hole and lines), bubu (pot trap), hampang (barrier traps) dan beje (pond trap). Operasional masing-masing jenis alat sangat tergantung pada fluktuasi tinggi air. Menangkap 12 jenis ikan rawa (black fish) yang didominasi famili Anabaitidae dan Nandidae dan 15 jenis ikan sungai (white fish.) famili Cyprinidae. Kata kunci:rawa banjiran, nelayan, alat tangkap, jenis ikan.

UPAYA, LAJU TANGKAP DAN ANALISA USAHA PENANGKAPAN ALAT TANGKAP BLAD (Beach barrier trap) DI PERAIRAN ESTUARIA SUNGAI UPANG SUMATERA SELATAN Rupawan Balai Riset Perikanan Perairan Umum Email: rpw_brppu@yahoo.co.id

Perairan estuaria adalah zona pertemuan air tawar dan air laut, secara ekologi mempunyai karakteristik yang khas dan dinamis, zona perangkap unsur hara yang menjadikan perairan estuaria relatif lebih subur dengan keragaman jenis ikan yang tinggi. Di pantai Timur Sumatera Selatan perairan estuaria dibentuk oleh muara sungai Upang, sungai Musi, sungai Banyuasin dan sungai Sembilang. Aktivitas penangkapan sangat berkembang menggunakan 13 jenis alat tangkap salah satunya “blad” (Beach barrier trap). Penelitian untuk mengetahui upaya, laju tangkap dan analisa usaha penangkapan alat tangkap Blad telah dilakukan pada tahun 2007 di perairan estuaria sungai Upang dengan cara observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya penangkapan berkisar antara 7–15 trip atau rata-rata 11 ± 0,76 trip/bulan atau 135 trip/tahun. Laju tangkap rata-rata 27,9±1,15 kg/blad /trip setara dengan 4.279 kg/blad/tahun dengan komposisi kelompok ikan 3.766 kg (88,0%) dan kelompok udang 513 kg (12,0%). Analisa usaha 1 unit blad panjang 300 meter selama 1 tahun, membutuhkan inventasi awal Rp 18.300.000, total biaya tetap dan operasional Rp18.550.000, pendapatan Rp 39.187.000,- keuntungan usaha Rp 20.637.000,- dengan B/C ratio 2,11. Usaha penangkapan yang cukup layak untuk dilakukan. Kata kunci: upaya, laju tangkap, analisa usaha, blad

STABILITAS DINAMIS KAPAL PERIKANAN POLE AND LINE St. Aisjah Farhum Staf Pengajar pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10, Kampus Unhas Tamalanrea. Makassar. E-mail: icha_erick@yahoo.com Penelitian ini merupakan kajian terhadap keragaan dan reaksi kapal perikanan pole and line di laut dalam menjalankan fungsinya, dengan tujuan untuk: menganalisis stabilitas dinamis kapal, menganalisis periode oleng terhadap berbagai nilai tinggi metacentre(GM) kapal dan menganalisis periode oleng kapal pada beberapa amplitudo gelombang beam seas dalam satuan waktu. Kajian ini dilakukan pada empat bentuk kapal pole and line, yaitu round-sharp botttom, roundflat bottom, V-bottom dan round bottom. Untuk mengetahui keragaan dan reaksi kapal di laut dilakukan analisis stabilitas dan periode oleng kapal pada kondisi gelombang beam seas melalui analisis numerik. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kriteria stabilitas kapal pole and line memiliki nilai lengan penegak (GZ) yang positif, dengan nilai periode oleng kapal pole and line yang lebih kecil dibandingkan kisaran periode oleng untuk kapal ikan. Kata kunci: gelombang beam seas, pole and line, periode oleng, stabilitas.

PEMANFAATAN CITRA SATELIT QUICKBIRD UNTUK IDENTIFIKASI PEMANFAATAN LAHAN BUDIDAYA PERBENIHAN LAUT DI PANTAI UTARA BALI Wawan Andriyanto dan Adi Hanafi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol PO.Box 140 Singaraja 8001 – Bali Email: one_aquacdiv@yahoo.com Penelitian dilakukan melalui pendekatan desk studi menggunakan aplikasi software, studi referensi dan survey dengan metode aplikasi Sistem Informasi Geografis. Bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan lahan pesisir untuk budidaya laut baik hatchery ikan, maupun kemungkinan budidaya yang lain yang terekam dalam data akuisisi citra satelit quicbird. Diharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai data dukung profil budidaya laut maupun sebagai rona lingkungan pesisir untuk manajemen lingkungan berkelanjutan. Lokasi atau obyek studi berada di perairan utara Bali, Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng. Untuk analisa peta citra digunakan program ER Mapper 6.1 sedangkan peta citra yang dipergunakan adalah Quicbird akuisisi tanggal 11 Juli 2005 dengan resolusi spasial 0,6 m dan ukuran scene 5x5 km. Peta citra ini lebih detail dibandingkan dengan IKONOS maupun Landsat. Dengan kelebihan dan akuisisi yang terkini ini diharapkan memberikan suatu gambaran yang lebih detail atau tingkat ketelitian yang lebih tinggi tentang obyek yang akan diamati. Survey lapangan dilakukan sebagai validasi interpretasi terhadap citra tentang kondisi terkini. Untuk analisis areal yang diamati dan penyusunan peta-peta tematik dipergunakan program arcView 3.3. Sebagai output akhir adalah didapatkan peta tematik pemanfaatan lahan pesisir pantai sepanjang daerah budidaya dan kondisi terkini yang terdiskripsikan dengan satuan ukuran pemanfaatannya. Kata kunci: citra satelit quickbird, budidaya, perbenihan, bali


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3368
posted:12/21/2009
language:Indonesian
pages:20