PROSIDING TAHUN 2006 by andesraya

VIEWS: 3,006 PAGES: 37

									PROSIDING TAHUN 2006
Bidang Manjemen Sumberdaya Perikanan dan Ilmu Kelautan

FASILITASI INFORMASI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT UNTUK MENUNJANG UPAYA PENGELOLAAN BERBASIS MASYARAKAT PESISIR TELUK SUMBERKIMA BALI BARAT Wawan Andriyanto *), Adi Hanafi *), Dewi Syahidah *) Arif Rahman Hakim **), Sudarsono ***), Wiranti Saraswati ****) * ) Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol PO Box 140, Singaraja 81101 Bali Email : andriyanto_w@yahoo.co.id **) LEAD Indonesia ***) REEFCHECK ****) MAC Indonesia Abstrak Informasi adalah data yang telah diolah dan menjadi bentuk yang bermanfaat bagi penggunanya untuk proses pengambilan keputusan baik keputusan yang harus ditetapkan saat ini maupun masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan fasilitasi penyediaan data dan informasi sumberdaya laut dan pesisir Desa Sumberkima untuk menunjang pengelolaan laut berbasis masyarakat yang diharapkan berkelanjutan. Pengambilan dan pengumpulan data data dilakukan dengan serangkaian penelitian secara terpadu melibatkan pihak-pihak yang berkompeten dalam bidang sosial ekonomi, karakterisasi biofisik sumberdaya alam, dan pemberdayaan masyarakat di Sumberkima. Kondisi sosial ekonomi 88 % mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan ikan hias, 6 % nelayan ikan konsumsi, masing-masing 3 persen adalah nelayan pembudidaya rumput laut dan pembudidaya keramba jaring apung dengan komoditas seperti kerapu dan bandeng. Teluk Sumberkima memiliki luas hamparan sekitar 935 ha dengan panjang garis pantai sekitar 10 km. Karakteristik daratan kering saat surut terendah berupa gosong pasir dan pecahan karang 28,00 %; Barrier karang 10,31 %; Padang lamun 7,17 %; Takad 0,35 %; Mangroves 3,98 %; Sedimen pantai (lumpur berpasir) 14.12 %; Laguna 0.83 % dan Kedalaman >10 m 35,22 %. Kelimpahan ikan per 400 m2 yang ada sekitar 1922 ekor dengan 127 jenis. Sampai saat ini masyarakat telah mengorganisasikan diri dalam Badan Pengelola Wilayah Laut dan Pesisir Sumberkima dan informasi tersebut sangat bermanfaat bagi rencana pelestarian dan pengelolaannya. Dengan pendampingan dari lembaga dan stake holder yang lain dilakukan serangkaian program, diantaranya adalah sertifikasi ikan hias dan transplantasi terumbu karang. Kata Kunci : Informasi, Potensi laut dan pesisir, Pengelolaan, Masyarakat Pesisir, Teluk Sumberkima

IDENTIFIKASI BENTUK LAHAN PANTAI KECAMATAN BONEPANTAI KABUPATEN BONEBOLANGO PROPINSI GORONTALO

David Kuntel Lab. Morfologi Pantai & Hidro-Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi – Manado, Sulawesi Utara. Kelurahan Batukota Link. III No. 127. Kecamatan Malalayang, Manado (95115), Sulawesi Utara. Telp: 0431-836516 / 0852-406-79591. E-mail: davidkuntel@yahoo.com) Abstrak Untuk kepentingan pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir, Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Republik Indonesia mengadakan penelitian untuk mengetahui karakteristik pantai Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bonebolango, Provinsi Gorontalo. Survei lapangan telah dilakukan pada kawasan pantai Uabanga, Botungobungo, Tongo, Tihu, Tamboo, Tolotio, dan Olele. Karakteristik pantai Kecamatan Bonepantai, Kabupaten Bonebolango tergolong dalam karakteristik pantai tipe II, IV, dan V. Karakteristik pantai daerah ini secara umum diketahui memiliki tipe pantai yang bertebing, berbatu, berkerikil, dan berpasir. Serta adanya hamparan terumbu karang dan bangunan pantai. Proses dominan yang terjadi dalam kawasan pantai ini adalah proses marin dengan gelombang laut yang menerpa material-material yang terdapat di sepanjang pantai. Kata kunci: karakteristik pantai, Kecamatan Bonepantai, Gorontalo.

PERAN TEKNOLOGI TERUMBU KARANG BUATAN DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN KAITANNYA DISTRIBUSI PERIFITON DALAM MENUNJANG BUDIDAYA LAUT Istiyanto Samidjan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang Abstrak Peran terumbu karang buatan (TKB) yang ditempatkan di perairan laut sangat besar perannya dalam keberadaan biota laut dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti: suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus, oksigen terlarut, BOD, COD dan substrat dasar untuk penempelan perifiton. Perifiton sangat penting perannya sebagai makanan ikan untuk meningkatkan produksi perikanan dalam menunjang rekayasa budidaya laut masa kini. Tujuan penelitian untuk mengkaji kaitan faktor lingkungan dengan keberadaan spesies/komunitas perifiton dan untuk memngetahui “key factor” yang menentukan keberadaan perifiton sebagai makanan ikan. Serta peranan faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi komunitas perifiton sebagai pakan potensial untuk menunjang budidaya laut. Metode penelitian dengan menempatkan TKB berbentuk pyramid ukuran 75x75x125 cm terbuat dari semen ditempatkan di Pulau Menjangan Besar (TKB A1 sesuai arah angin, TKB A2 lawan arah angin, TKB A3 peralihan arah angin), dan TKB di tempatkan di Gon Waru (TKB B1 sesuai arah angin, TKB B2 lawan arah angina, TKB B3 peralihan arah angin). TKB tersebut ditempatkan pada kedalaman perairan 5 meter. Metode penelitian menggunakan metode eksploratif dengan rancangan non parametrik Kruskal-Wallis untuk mengetahui perbedaan perlakuan antar lokasi. Data yang dikumpulkan meliputi:perifiton

dilakukan setiap bulan sekali dengan menggunakan buku identifikasi dari Newell & Newell (1963) dan Yamaji (1979). Faktor lingkungan seperti kualitas air yakni: oksigen terlarut, NH3, NO2, PO4, BOD, COD, silikat, suhu, salinitas diamati pada pagi (07.00) dan sore hari (jam 17.00) selama delapan bulan. Sedangkan komposisi kimia lender pada permukaan TKB yang diamati adalah N, P, C, Ca, K, SiO2 diukur dengan menggunakan metode Yoshida et al., (1972). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di lokasi Pulau Menjangan besar bersifat mesotropik dan di Gon Waru bersifat oligotropik. Hasil analisis CCA (Canonical Correspondence Analysis), terdapat perbedaan distribusi perifiton pada TKB yang ditempatkan di Pulau Menjangan Besar dan di Gon Waru. Di Pulau Menjangan Besar didominasi perifiton dengan spesies pioneer Bacillia paradoxa dengan kelimpahan 140 indv/cm2 diikuti famili dari Thalassionemataceae, Periniaceae, Chaetophoraceae, Phaeocystaceae, Dinophysidae, Thecadiummaceae, Biddulphiaceae, Rhizosoleniaceae dipengaruhi oleh unsur P, C, Ca. Berbeda halnya dengan di Gon Waru spesies pioneer yang muncul di TKB adalah Rhizosolenia hebetate 100-140 ind/cm2, kemudian diikuti oleh famili Bacillariaceae, Chaetoceraceae, Globorotalidae, Zygnemataceae, Rhodopheceae, Atlantidae, Ceramiaceae dipengaruhi oleh unsur SiO2. Perifiton yang potensial untuk menunjang budidaya laut terutama dari famili Chaetoceraceae yang ditemukan di Pulau Menjangan Besar dan di Gon Waru. Kata kunci: perifiton, CCA (Canonical Correspondence Analysis), Bacillia paradoxa, Rhizosolenia hebetate, P, C, Ca, SiO2.

REKAYASA TEKNOLOGI TERUMBU KARANG BUATAN SEBAGAI PENCIPTAAN HABITAT BARU IKAN KARANG UNTUK MENUNJANG PRODUKSI BUDIDAYA LAUT Istiyanto Samidjan Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang Abstrak Rekayasa teknologi Terumbu Karang Buatan (TKB) dalam menunjang budidaya laut, saat ini berkembang dengan cepat dan berperan penting dalam inovasi budidaya laut untuk meningkatkan produksi perikanan. Ditemukannya teknologi TKB sebagai Shelter, penciptaan habitat baru, pengkayaan habitat, yang bermanfaat sebagai tempat mengumpulnya ikan, berkembang biak, memijah (spawning ground), mengasuh larva (nursery ground) dan tumbuhnya (pembesaran) ikan. Tujuan penelitian untuk mengkaji peran rekayasa teknologi TKB sebagai penciptaan habitat baru, sehingga mendorong ikan karang untuk berkumpul (recruitment) dan sebagai benih ikan karang yang potensial untuk meningkatkan produksi budidaya laut. Metode penelitian dengan menempatkan bangunan laut berupa TKB berbentuk pyramid ukuran 75x75x125 cm yang terbuat dari semen, terumbu tersebut di tempatkan pada dasar perairan berpasir (lokasi Pulau Menjangan Besar adalah TKB A1,A2,A3) dan dasar perairan rusak (Gon Waru adalah TKB B1,B2,B3) Kepulauan Karimunjawa, Jepara. TKB tersebut ditempatkan pada kedalaman perairan 5 meter.Data yang dikumpulkan meliputi parameter kualitas air yakni: suhu, salinitas, O2, NH3, NO2, PO4, BOD, COD, silica dan data biologis seperti: jenis, jumlah ikan, kelimpahan ikan karang. Metode penelitian dengan menggunakan statistik non parametric ujiKruskalWallis untuk membedakan dua lokasi yang berbeda. Kemudian untuk mengetahui respon

ikan dengan faktor lingkungan digunakan uji CCA (Canonical Correspondence Analysis) dan soft ware Biplot. Penelitian dilakukan sejak Oktober 2002 sampai Mei 2003 di perairan Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan karang hasil produksi TKB antara lain dari famili Caesionidae produksinya 20 ekor/m2(TKB B2), 16 ekor/m2(TKB B1), 7 ekor/m2(TKB A1, A2), 5 ekor/m2(TKB A3), Serranidae 21 ekor/m2(TKB-B2), 17 ekor/m2(TKB-B1), 13 ekor/m2(TKB-B3), 8 ekor/m2(TKB-A2), 6 ekor/m2(TKB A1), 4 ekor/m2(TKB A3), serta siganidae 26 ekor/m2 (TKB B2), 22 ekor/m2(TKB-B1), 18 ekor/m2(TKB A2), 15 ekor/m2(TKB A3), 14 ekor/m2(TKB A1). Adapun jenis ikan kerapu dan beronang yang memungkinkan untuk dibudidayakan dengan system karamba jaring apung (KJA) adalah dari produksi TKB antara lain Epinephelus coeruleopunctatus (2-7 ekor/m2), Euxiphipops navarchus (2-6 ekor/m2), Siganus coralinus (1-3 ekor/m2), S. virgatus (3-11 ekor/m2), S. lineatus (1-2 ekor/m2), S. stellatus (1-2 ekor/m2). Kata kunci: TKB (Terumbu Karang Buatan), Siganidae, Serranidae, Caesionidae, Chaetodontidae.

ANALISIS STABILITAS KAPAL IKAN MULTI-PURPOSE Djauhar Manfaat1) dan Arif Rachman Hakim2) 1) Staf Pengajar, 2)Alumni Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Tekonologi Kelautan, ITS Surabaya Telp./Fax: 031-5947254/5964182, Email: dmanfaat@na.its.ac.id Abstrak Pemanfaatan potensi perikanan di daerah perairan Pantai Utara Jawa Timur belum dilakukan secara maksimal. Pada daerah perairan ini, dimana terdapat berbagai jenis ikan, kapal-kapal ikan single-purpose, yaitu kapal ikan dengan alat tangkap tunggal, misalnya purse seine, longline atau trawl, dioperasikan. Dengan alat tangkap tunggal, potensi ikan yang ada pada daerah perairan ini kurang dapat dimanfaatkan secara optimal, karena hanya jenis ikan yang sesuai dengan salah satu jenis dari alat tangkap tersebut yang dapat ditangkap. Salah satu cara utama untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengoperasikan kapal ikan multi-purpose, yaitu kapal ikan yang dilengkapi dengan berbagai macam alat tangkap, misalnya purse seine, longline dan trawl. Perancangan kapal ikan multi-purpose yang optimal dan mempunyai daerah jelajah yang jauh di daerah perairan Pantai Utara Jawa Timur telah dilakukan. Ukuran utama optimal kapal ini adalah sebagai berikut: panjang (Lpp) = 27.00 m, lebar (Bmoulded) = 5.50 m, tinggi (Hmoulded) = 3.00 m, sarat (T) = 2.31 m, dan kecepatan dinas (Vs) = 9 knots. Kapal ikan ini dilengkapi dengan tiga macam alat tangkap, yaitu purse seine, longline dan trawl. Namun demikian, analisis stabilitas kapal ikan multi-purpose ini belum dilakukan. Oleh karena itu, dalam makalah ini, analisis stabilitas kapal ikan multi-purpose ini yang dihitung dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Barnhart & Thewlis diuraikan. Dari hasil analisis ini didapatkan bahwa desain kapal ikan multi-purpose ini memenuhi persyaratan stabilitas yang ditentukan dalam Peraturan International Maritime Organization (IMO). Kata kunci: kapal ikan multi-purpose, trawl, purse seine, longline, stabilitas kapal.

PERTUMBUHAN KERANG BAKAU Polymesoda erosa (MOLLUSKA, BIVALVE) YANG DITRANSPLANTASIKAN Ita Widowati, Jusup Suprijanto dan Nirmala Kristiani Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia. ita_jusup@yahoo.co.id Abstrak Pertumbuhan Polymesoda erosa, yang ditransplantasikan dari Segara Anakan-Cilacap ke Teluk Awur-Jepara, Jawa Tengah; telah diamati dan dibandingkan diantara 3 (tiga) kelas ukuran yaitu: I. (21-40) mm II.(41-60) mm and III.(61-80) mm. Sejumlah 324 kerang dipelihara selama 3 bulan di dalam sedimen di daerah bakau. Dengan tujuan untuk mempertahankan jumlah dan mempermudah penangkapan, kerang dipelihara dalam keranjang yang terbuat dari kayu dan bambu. Sebanyak 12 keranjang kayu persegi (1m x 1m x 15 cm) dibenamkan kedalam sedimen sampai setengah tingginya. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pertumbuhan, yaitu berkisar antara 1,29 mm sampai 15,71 mm. Pertumbuhan tebal adalah yang terbesar dibandingkan tinggi dan panjang cangkangnya (a=0,05). Tingkat pertumbuhan tertinggi ditemukan pada kelas ukuran I (a = 0,05). Kata kunci: pertumbuhan, Polymesoda erosa, transplantasi.

PEMELIHARAAN KERANG SIMPING Amusium pleuronectes (MOLLUSKA, BIVALVIA): SUATU STUDI PENDAHULUAN Jusup Suprijanto dan Ita Widowati Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia. ita_jusup@yahoo.co.id Abstrak Kerang simping (Amusium pleuronectes) diperoleh dari perahu nelayan yang beroperasi di perairan Pekalongan, pantai Utara Jawa. Prosedur penangkapan telah dimodifikasi pada waktu dan tekniknya dalam upaya untuk mendapatkan biota yang hidup. Kerang simping dipelihara dalam wadah 150 liter dengan menggunakan air laut yang telah disaring, dengan suhu sekitar 27°C. Selama pemeliharaan, dilakukan penggantian sebanyak 50% dari volume air laut setiap 2 hari sekali atau kadang-kadang setiap hari. Kerang simping diberi pakan alga campuran yang berasal dari kultur yaitu: Chaetoceros sp., Dunaliella sp. and Chlorella sp. dengan kepadatan 30.000-90.000 cells/ ml. Kecepatan filtrasi dari kerang simping diukur dengan menggunakan pakan tersebut.Hasil penelitian menunjukkan kecepatan filtrasi yang berbeda, berkisar antara 0,0461 liter/jam sampai 0,4405 liter/jam. Kata kunci: Amusium pleuronectes, pemeliharaan, tingkat filtrasi.

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN BUJUK (Channa cyanospilos) DI DAS MUSI, SUMATERA SELATAN Azwar Said Peneliti Balai Riset Perikanana Perairan Umum Jl. Beringin No. 308 Tlp/Fax. (0711) 537194/527205 HP: 0813 73926001 Email: brppu-palembang@yahoo.com Palembang 30763 Abstrak Ikan bujuk (Channa cyanospilos) merupakan spesies asli (native species) yang terdapat di Sumatera (Sungai Musi) dan Kalimantan (Sungai Kapuas, Kalimantan Barat) dan juga kemungkinan ikan asli di Semenanjung Malaysia. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data biologi ikan bujuk meliputi distribusi panjang dan berat ikan, hubungan panjang berat (pola pertumbuhan), berat gonad, indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas, pakan alami dan habitat ikan. Hasil yang didapatkan ukuran ikan panjang total yang diperoleh berkisar 19,5-35,5 cm dengan berat berkisar 70 – 600 g. Pola pertumbuhan ikan bujuk adalah isometrik (nilai b= 3,1892 dengan taraf signifikansi 0,05). Berat gonad berkisar 1,33-6,8 g dengan rata-rata 3,775, indeks kematangan gonad (IKG) berkisar 0,348-1,331 dengan rata-rata 0,801, fekunditas berkisar 1.209-4.563 butir dengan rata-rata 2.303 butir diameter telur antara 0,27 – 0,45 mm dan puncak pemijahan terjadi pada bulan Mei, Juli dan September. Dapat diprediksi ikan bujuk memijah sepanjang tahun. Kata kunci: Channa cyanospilos, spesies asli, biologi, indeks kematangan gonad, fekunditas, pertumbuhan.

STUDI PENDAHULUAN DOMESTIKASI IKAN CLOWN (Amphiprion ocellaris) PADA BERBAGAI SUBSTRAT Daniar Kusumawati1), Ketut Maha Setiawati1), Wardoyo1) dan Yunus2) 1) Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol PO Box 140, Singaraja 81101 Bali 2) CV. Dinar, Denpasar Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian jenis substrat yang berbeda sebagai habitat tempat pemeliharaan ikan clown terhadap laju pertumbuhan beratnya. Hewan uji yang digunakan adalah 32 ekor ikan clown yang berasal dari hasil tangkapan di Makasar. Ikan clown tersebut di masukkan dalam aquarium secara berpasangan (jantan dan betina). Pakan yang diberikan adalah pelet dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yang diberikan pada pagi dan sore hari secara adlibitum. Perlakuan yang diuji coba adalah pemberian substrat pasir (P), substrat karang (K), dan tanpa substrat/control (T). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa pemberian berbagai jenis substrat sebagai tempat pemeliharaan ikan clown pada aquarium tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap laju pertumbuhan berat pada masingmasing perlakuan selama penelitian yaitu perlakuan substrat pasir (P) = 0,2987% + 0,05, substrat karang (K) = 0,7525% + 0,43 dan tanpa substrat/control (T) = 0,4548% + 0,10. Kata kunci: pemeliharaan, induk, ikan clown, substrat.

UPAYA DOMESTIKASI DAN PEMIJAHAN IKAN BELIDA YANG DIPELIHARA DALAM WADAH BUDIDAYA Anang Hari Kristanto, Jojo Subagja dan Estu Nugroho Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor E-mail: ananghari@yahoo.com Abstrak Ikan belida hasil tangkapan dari sungai Cisadane, mempunyai berat berkisar 2,3-6,5 kg dengan rataan 3,9 kg, sebanyak 10 ekor ( 6 jantan dan 4 betina), ditempatkan dalam kolam berukuran 250 m2. Selama pemeliharaan 5 bulan, induk ikan belida diberikan pakan ikan hidup berupa nila dan anakannya yang berasal dari induk yang memijah. Pada awal musim kemarau, induk betina di kanulasi untuk melihat telur yang ada. Telur yang diperoleh berdiameter 1,5-2 mm, kemudian masing-masing induk betina diimplant dengan hormon 100 µg.kg-1 LHRHa (1 ekor), 500 IU.kg1 hCG (2 ekor) dan 500 IU.kg-1 hCG dan 100 µg.kg-1 17 ? methiltestoteron (1 ekor). Dua bulan setelah implantasi, induk-induk betina di coba untuk dipijahkan secara buatan, dengan menyuntikan hormon ovaprim, dengan dosis 0,5 ml.kg-1. Dari hasil peliritan, hanya 1 ekor induk yang menghasilkan 20 butir telur, dengan kondisi telur yang belum matang sempurna sehingga tidak terjadi proses pembuahan . « Back to faperta | Back to Top ^ Bidang Teknologi Budidaya

BUDIDAYA ANEMONE LAUT (Stichodactyla gigantean) UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI MASSAL DENGAN METODA FRAGMENTASI Istiyanto Samidjan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang Abstrak Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dari bulan Juli sampai September 2005 di laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk peningkatan produksi massal karang lunak anemone laut (Stichodactyla gigantean) dengan metoda fragmentasi dan mengukur pertumbuhan (panjang) dan kelulushidupan anemone laut yang di fragmentasi di laboratorium. Metoda penelitian dengan

menggunakan Rancangan Dasar Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah T1 (dipotong 1 bagian), T2 (dipotong 2 bagian), T3 (dipotong 3 bagian), T4 (dipotong 4 bagian). Perlakuan fragmentasi anemone laut (T1,T2,T3,T4) dibesarkan dalam bak dengan system resirkulasi dengan menggunakan filtrasi biologi dan diberi pakan Tubifex sp. 5% per biomass per hari. Pengumpulan data laju pertumbuhan, produksi masal, kelulushidupan, dan parameter kualitas air meliputi: suhu, salinitas, oksigen terlarut, nitrit, ammonia, posfat, BOD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (panjang), kelulushidupan dan produksi massal anemone laut (S. gigantea) (P <0,05). Perlakuan terbaik untuk peningkatan produksi massal anemone laut adalah perlakuan anemone laut dipotong dua bagian (pertumbuhan panjang 6,62 ± 0,112 cm dan kelulus hidupan 100 ± 0%). Pengolahan kualitas air dengan biofiltrasi biologi sesuai untuk pemeliharaan anemone laut yang difragmentasi. Kata kunci: metode fragmentasi, anemone laut (Stichodactyla gigantean), Tubifex sp., biofiltrasi biologi.

KERAGAAN BENIH UDANG GALAH GIMARCO PADA WADAH BERBEDA Ikhsan Khasani Abstrak Salah satu tahapan dalam budidaya udang galah adalah pendederan (nursery) yang bertujuan untuk menyediakan benih dengan ukuran 3-5 cm. Kegiatan pembesaran udang galah dengan benih hasil pendederan akan memberikan derajat sintasan yang lebih baik dibandingkan penggunaan benih ukuran pasca larva (PL). Kegiatan pendederan juga sangat diperlukan dalam sistem budidaya udang galah monosek jantan yang membutuhkan benih ukuran minimal 6 cm. Oleh karena itu kegiatan pendederan pasca larva untuk menyediakan benih merupakan peluang usaha yang cukup menjajikan. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh wadah pemeliharaan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih udang galah pada fase pendederan. Benih yang digunakan adalah udang galah stadia pasca larva (PL) umur 10 hari. Pemeliharaan dilakukan menggunakan tiga jenis wadah, yaitu bak beton ukuran 10 m3 secara indoor dengan padat tebar 400 ekor/m3, Kolam tanah ukuran 5 x 5 m2 dengan kepadatan 200 ekor/ m2 dan waring ukuran 2 x 1 x 1 m dengan padat penebaran 500 ekor/ m2. Kegiatan pendederan dilakukan selama 30 hari hingga diperoleh benih dengan ukuran 3-5 cm. Masing-masing perlakuan diukang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif dalam bentuk grafik untuk membandingkan efektifitas wadah pemeliharaan yang digunakan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pendederan dengan menggunakan waring yang ditempatkan di kolam memberikan hasil yang terbaik, yang ditunjukkan dengan derajat sintasan yang cukup tinggi (78,6%) dengan ukuran benih yang lebih besar (PT = 4,11 cm; Bobot = 0,47 g). Sementara pendederan di bak secara indoor walaupun memberikan derajat sintasan yang cukup tinggi (79,3%) namun pertumbuhan benihnya agak lambat (PT = 2,97 cm; Bobot = 0,31 g). Sedangkan Pendederan di kolam tanah walaupun pertumbuhan benihnya cukup bagus (PT = 3,88 cm; Bobot = 0,42 g) namun sintasanya hanya mencapai 52,2%. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pendederan udang galah lebih baik dilakukan dengan

menggunakan waring yang ditempatkan di kolam dibandingkan menggunakan kolam tanah atau bak tembok secara indoor. Kata kunci: pendederan, udang galah, wadah.

PERBAIKAN TEKNIK PRODUKSI BENIH KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) DI BALAI BESAR RISET PERIKANAN BUDIDAYA LAUT, GONDOL – BALI Bambang Susanto, Ketut Suwirya, Irwan Setyadi dan Zafran Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol PO BOX. 140 Singaraja – Bali E-mail: bambang-ssnt@yahoo.com Abstrak Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki teknik pemeliharaan zoea kepiting bakau Scylla paramamosain sampai menghasilkan benih (crablet). Digunakan bak volume 300 L dengan sistem air lift dan resirkulasi serta ditebar zoea dengan kepadatan awal 100 ekor/L. Pakan alami rotifer dan pakan komersial diberikan selama stadia zoea dan mulai stadia Z-3 ditambahkan nauplius artemia. Suhu air selama pemeliharaan zoea dipertahankan pada suhu 30±0,5°C dengan alat pemanas otomatis. Setelah stadia megalopa, kemudian dipindahkan kedalam beberapa bak volume 1.000-4.000 L dengan kepadatan 1-2 ekor/L dan diberi pakan komersial sampai menjadi benih stadia crablet 3-4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perkembangan stadia zoea lebih cepat yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dan pergantian stadia zoea-megalopa yang semakin singkat sekitar 2 hari sekali dalam setiap stadianya. Stadia megalopa kepiting bakau dengan metoda ini dapat dicapai dalam masa pemeliharaan 10-12 hari sebanyak 5.770 ekor, dengan prosentase sintasan sebesar 19,23%. Keragaan megalopa dalam bak pemeliharaan terlihat bergerak aktif yang menandakan kondisi megalopa tersebut sangat sehat. Stadia crablet-1 dicapai sekitar 4 hari (D-4) dari stadia megalopa dengan sintasan 76,5±5%, dan crablet 3-4 dicapai sekitar 14 hari (D-14), dengan sintasan 24,44-31,32 % atau rata-rata 28,38±2%. Kata kunci: crablet, kepiting bakau (Scylla paramamosain), sistem resirkulasi, megalopa.

PENGAMATAN PROFIL STEROID HORMON PADA SERUM DARAH INDUK KERAPU LUMPUR (Epinephelus coioides) YANG DIIMPLAN DENGAN PELET HORMON LHRH-a DAN 17 α-MT, SERTA PERKEMBANGAN GONADNYA Agus Priyono, Titiek Aslianti, dan Tony Setiadharma Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Po Box 141, Singaraja-Bali. Telp. 0361-92278. E-mail: agus_priyono@telkom.net

Abstrak Pada proses perkembangan gonad umumnya diikuti oleh perubahan ukuran sel telur, stadium sperma maupun perubahan steroid hormon dalam serum darah. Tujuan percobaan adalah untuk mengamati kandungan steroid hormon dalam serum darah induk kerapu yang diimplan dengan pellet hormon LHRH-a dan 17 α methyltestosterone selama proses pematangan gonad. Induk dipelihara dalam dua buah bak beton volume 100 m3 kepadatan 15 ekor/bak. Untuk triger perkembangan gonad, induk betina diimplan dengan LHRH-a dosis 50 µg dan induk jantan dimplan dengan pellet hormon 17α-MT dosis berbeda yaitu (perlakuan A) dosis 50 µg/kg berat ikan, (perlakuan B) dosis 100 µg/kg berat ikan. Peubah yang diamati a.l: kandungan steroid hormon darah (diukur dengan ELISA pada panjang gelombang 492 nm), perkembangan gonad (sel telur dan sperma). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serum darah (estradiol 17-beta) pada induk betina yang diimplant dengan pelet hormon LHRH-a dosis 50 µg/kg berat ikan pada perlakuan A antara 0,1 sampai 4 ng/ml dan perlakuan B lebih rendah dari perlakuan A yaitu antara 0,1 sampai 3 ng/ml dengan perkembangan sel telur pada perlakuan A dan B antara 275 sampai lebih dari 500 ?m (small vitelogenesis–large vitelogenesis). Kandungan steroid hormon 11-KT induk jantan pada perlakuan A bervariasi antara 10-100 ng/ml dan pada perlakuan B antara 10-110 ng/ml dan dengan kategori sperma positip satu (1) pada perlakuan A dan positip satu (1) dan dua (2) pada perlakuan B. Kata kunci: serum darah, kerapu lumpur, perkembangan gonad, implan hormon, hormon steroid.

PENGARUH IMPALANTASI HORMON LHRH-a DALAM MENINGKATKAN PEMIJAHAN DAN KUALITAS TELUR PADA INDUK BETINA IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Tony Setiadharma, Agus Prijono, Nyoman Adiasmara Giri Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Po Box 140 Singaraja, Telp 0362 92278, Fax 0362 92272 Abstrak Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan hormon LHRH-a terhadap pemijahan dan perkembangan gonad induk kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Induk kerapu macan berukuran 4,46 –13,26 kg yang dipelihara dalam 2 tangki volume 30 m³, masing – masing diisi 9 ekor induk terdiri dari 6 ekor betina dan 3 ekor jantan. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan cumi segar sebanyak 3% berat total/hari. Sebagai perlakuan dalam penelitian adalah yaitu A. (Pakan + Vit E dan C) tanpa hormon, B. (Pakan + Vit E dan C) dan hormon LHRH-a. Percobaan ini dilakukan selama 6 bulan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa hormon berpengaruh terhadap pemijahan dan perkembangan gonad. Pada perlakuan B memperlihatkan hasil proses reproduksi yang lebih baik dan terjadi pemijahan sebanyak 8 kali pada periode bulan Mei sampai Nopember 2003 dengan jumlah total telur yang dibuahi sebanyak 16.360.000 butir, kemudian pada perlakuan A terjadi pemijahan sebanyak 4 kali dengan jumlah total telur 9.280.000 butir. Diameter telur untuk kedua perlakuan sangat bervariasi antara 250-600µm, kemudian pengamatan SAI larva untuk perlakuan B (dengan hormon) mencapai 2,80-4,96 sedang

perlakuan A (tanpa hormon) 0,18-4,80 kemudian kandungan steroid hormon dalam darah lebih tinggi pada penggunaan LHRH-a sekitar 0,52-0,90 ng/ml Kata kunci: LHRH-a, gonad, kematangan, kerapu macan.

DOSIS EFEKTIF OVAPRIM UNTUK STIMULASI OVULASI-SPERMIASI PADA IKAN SINODONTIS (Synodontis nigriventris) Siti Subandiyah dan Darti Satyani Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar, Depok Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar efektif dari ovaprim untuk ovulasi dan spermiasi induk-induk ikan hias Synodontis nigriventris (Sinodontis). Sembilan pasang induk ikan sinodontis berumur 18 bulan dengan berat badan induk betina sekitar 50 gram dan jantan 70 gram digunakan dalam percobaan ini. Dosis atau kadar ovaprim sebagai perlakuan adalah 0,50 ml/kg dan 1,00 ml/kg berat badan, dengan 3 (tiga) kali ulangan. Pembuahan dilakukan secara buatan dengan cara mencampurkan telur dan sperma hasil stripping induk tersebut. Telur yang sudah dibuahi diinkubasikan dalam akuarium-akuarium berukuran 100x50x40 cm. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kadar ovaprim 1,00 ml/kg memberikan waktu laten paling cepat (14,67 jam) dibandingkan dengan perlakuan lain (23,67 jam untuk 0,50 ml/kg dan 19,00 untuk 0,75 ml/kg). Namun demikian jumlah telur ovulasi dan sintasan larva tidak ada beda diantara perlakuan. Daya tetas telur tampak paling tinggi juga pada ovaprim dengan kadar 0,75 ml/kg yaitu 69,34% dibandingkan dengan 0,50 ml/kg dan 1,00 ml/kg yang hanya 65,32 dan 65,0%. Kata kunci: Ovaprim, dosis efektif, ovulasi, telur.

PEMIJAHAN BUATAN, PERKEMBANGAN EMBRIO DAN LARVA IKAN KERAPU KWE (LONG TOOTH), Epinephelus bruneus Bejo Slamet Balai Besar Research Perikanan Budidaya Laut Gondol,Gerogak, PO Box 140 Singaraja 81101, Bali. E-mail, Gondol @singaraja.wasantara.net.id Abstrak Pengamatan pada pemijahan buatan serta perkembangan embrio dan larva ikan kerapu kwe (long tooth) (Epinephelus bruneus) telah dilakukan di Mie Sea Farming Center Jepang. Induk yang digunakan terdiri dari 10 ekor induk jantan dengan ukuran berat 9,5-26,1kg/ ekor, panjang total 80,4-114,8 cm dan 30 ekor betina ukuran dengan berat badan 3,1-19,1 kg/ekor, panjang total 56,3-103,5 cm. Rangsangan pemijahan dilakukan melalui implantasi pellet hormon LHRH-a dengan dosis 400 µg/kg berat badan (BB) dan 21 hari kemudian disuntik dengan hormon gonadotropin dengan dosis 400 IU/kg BB. Pemijahan buatan dilakukan dengan pengurutan

(striping) induk jantan dan betina yang telah matang kemudian telur dan spermanya dicampur untuk pembuahan. Pengamatan perkembangan embrio terhadap telur yang telah dibuahi dilakukan secara kontinyu di bawah mikroskop sampai saat telur menetas. Larva yang menetas dipindahkan ke tangki pemeliharaan larva dan selama pemeliharaan dilakukan pengamatan perkembangan larvanya. Hasil pengamatan menunjukan bahwa hanya 3 ekor jantan (30%) dan 18 ekor betina (60%) yang berhasil matang telur. Telur hasil pemijahan buatan menghasilkan rasio pembuahan 0-65% dan rasio penetasan 0-51%. Waktu inkubasi telur adalah 27 jam pada suhu 25 oC. Larva mulai buka mulut pada umur 3 hari (D-3) sore jam dan mulai makan pada D-4 pagi. Cadangan makanan berupa kuning telur habis diserap pada D-5 pagi hari dan butir minyak habis terserap pada D-6 pagi. Pada umur 9 hari larva mulai tumbuh duri sirip dada dan umur 10 hari mulai tumbuh duri sirip punggung. Phase juvenil dicapai saat larva berumur 50-60 hari, dimana bentuknya sudah menyerupai tipe ikan dewasa. Kata kunci: kerapu kwe, pemijahan buatan, embrio, larva.

JANTANISASI BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SECARA MASSAL DI KOLAM PEMBUDI DAYA Eni Kusrini1), Bambang Priono1), dan Reza Samsudin2) 1) Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta 2) Balai Riset Budidaya Perikanan Air Tawar, Bogor Abstrak Ikan nila (Oreochromis niloticus) jantan mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibanding dengan ikan nila betina sehingga pemilihan nila jantan cenderung menjadi prioritas. Salah satu cara untuk memproduksi benih ikan berkelamin tunggal jantan adalah dengan pemberian hormon androgen atau sintetiknya secara oral atau perendaman. Suatu kajian produksi jantan secara massal melalui hormonal telah dilakukan di daerah Kabupaten Cianjur. Induk ikan nila yang digunakan sebanyak 100 ekor yang terdiri atas 80 ekor betina dan 20 ekor jantan dipijahkan dalam waring. Pengumpulan telur dilakukan dengan teknik pengocokan, kemudian diinkubasi dalam wadah khusus sampai umur 9 hari. Benih direndam dalam larutan 17-a methyltestosteron dengan dosis 10 mg/L selama 12 jam. Setelah direndam benih dibesarkan dalam waring, pemberian pakan menggunakan pakan terapung diberikan sekenyangnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa benih nila hasil perendaman dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan menjadi 78,58% dibandingkan tanpa perendaman yang hanya sebesar 47,48%. Hasil kajian ini menunjukkan penggunaan 17-α methyltestosteron dengan dosis 10 mg/L cukup efektif dalam mencari imbangan nila jantan pada fase benih. Kata Kunci: ikan nila, jantanisasi, 17-α methyltestosteron.

PEMELIHARAAN JUVENIL KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) PADA KUALITAS BERBEDA DALAM SATU SIKLUS PRODUKSI

Ketut Maha Setiawati, Wardoyo, Tony Setiadharma, Suko Ismi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan pada juvenile ikan kerapu macan yang dihasilkan dalam satu siklus produksi (kualitas). Hewan uji yang digunakan adalah juvenil kerapu macan. Kepadatan ikan pada masing-masing tangki 300 ekor/bak. Perlakuan yang diuji coba adalah perbedaan ukuran ikan dalam satu siklus produksi: Kualitas A dengan ukuran panjang total ± 3 cm(A); Kualitas B dengan panjang total ± 2,5 cm (B); Kualitas C dengan panjang total ± 2 cm (C). Tangki yang digunakan bervolume 400L sebanyak 9 tangki, dengan volume air pemeliharaan 150 L. Perlakuan dirancang dengan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak pada panjang total ikan tidak berbeda nyata antara masing-masing perlakuan. Sedangkan pertumbuhan mutlak pada berat tubuh berbeda nyata. Kecepatan pertumbuhan mutlak (berat) yang tertinggi yaitu pada perlakuan A = 8,04 g, perlakuan B = 5,37 dan pada perlakuan C = 4,5 g, Sintasan yang dihasilkan pada masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata. Sintasan pada perlakuan A, B dan C masing-masing adalah 78,66%, 72,33% dan 61,67%. Kata kunci: pemeliharaan juvenile, kualitas, abnormalitas

UPAYA PENINGKATAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA KERAPU LUMPUR, Epinephelus coioides DALAM MENUNJANG PRODUKSI BENIH YANG BERKUALITAS, BERKESINAMBUNGAN DAN SESUAI STANDAR NASIONAL INDONESIA Titiek Aslianti Abstrak Produksi benih ikan kerapu selama periode tahun 2000-2006 terus dipacu dalam upaya mengantisipasi kesenjangan pasok benih bagi berkembangnya kegiatan usaha budidaya. Satu diantara jenis ikan kerapu yang mulai banyak diminati pembudidaya adalah kerapu Lumpur, Epinephelus coioides. Berbagai penelitian yang mengarah pada peningkatan sintasan dan perbaikan pertumbuhan serta keragaan benih sesuai SNI telah dilakukan. Permasalahan yang sering dihadapi umumnya terjadi pada masa-masa perubahan fase yang merupakan masa kritis bagi perkembangan larva menjadi juvenile hingga benih. Faktor lingkungan, pakan dan penyakit merupakan faktor penentu keberhasilan produksi benih. Pada makalah ini akan diuraikan tingkat keberhasilan produksi benih kerapu Lumpur melalui berbagai penelitian managemen pakan dan lingkungan serta kendalanya. Kata kunci: kelangsungan hidup, kerapu Lumpur, produksi benih, SNI.

PROSIDING TAHUN 2005
Bidang Budidaya Perikanan-Perairan

PENGEMBANGAN BUDI DAYA IKAN KERAPU DI PULAU BELITUNG Achmad Sudradjat dan Adang Saputra Pusat Riset Perikanan Budidaya Jl. K.S. Tubun, Petamburan VI, Jakarta 10260 Abstrak Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka-Belitung, merupakan salah satu wilayah perairan di Indonesia bagian barat yang mempunyai potensi untuk pengembangan marikultur, khususnya untuk budi daya ikan dalam Karamba Jaring Apung (KJA). Pada tahun 2003 telah dilakukan penelitian potensi lokasi untuk KJA dan uji-coba pembesaran benih ikan kerapu tikus hasil hatcheri di Gondol-Bali. Uji-coba dilakukan pada keramba jaring apung yang ditempatkan sekitar pulau Sebongko, Kecamatan Badau, Belitung. Pemberian pakan pada tiga bulan pertama penebaran menggunakan pelet, dan selanjutnya diganti dengan ikan rucah. Lokasi yang memenuhi syarat untuk budi daya (KJA) adalah di empat gugus pulau, yaitu Selat Nasik, Badau, Membalong, Tanjungrusah, dan Sijuk. Hasil uji-coba pembesaran ikan kerapu tikus menunjukkan ikan tumbuh dengan baik (normal) dengan mortalitas sampai dengan bulan ke delapan sebesar 45 %, terutama terjadi kematian pada bulan ke-3 sampai dengan ke-6. Dari hasil analisis usaha sampai pemeliharaan selama 18 bulan, bisa mencapai keuntungan sebesar Rp. 35.200.000,- dan B/C ratio = 1,54.

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS PAKAN TERHADAP PENAMPILAN REPRODUKSI IKAN BALASHARK (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker)*) Agus Priyadi**), I. Wayan Subamia**), Zafril Imran Azwar**) Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pengaruh berbagai jenis pakan terhadap penampilan reproduksi ikan Balashark (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker) yang dipelihara secara terkontrol dalam bak beton. Induk ikan uji yang digunakan berukuran antara 400 - 500 gram dan panjang standar tubuh 22 cm. Induk dipelihara dalam bak beton berukuran 3x3 m2 dan didisain dengan sistem aerasi dan arus. Jumlah induk setiap bak adalah 4 ekor betina.. Selama pemeliharaan induk diberi pakan pelet kadar protein 30% (A); pelet berkadar protein 30% ditambah cacing “blood worm” (B) dan pakan komersial sebagai perlakuan (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk yang diberi pakan pelet 30% dan cacing “blood worm” menunjukkan perkembangan gonad yang lebih cepat, dan 75% dari induk memijah setelah distimulasi dengan hormon ovaprim, sedangkan induk yang diberi pakan pelet berkadar 30% saja hanya 25% yang memijah dan induk yang diberi pakan pelet komersial belum mencapai kematangan gonad tingkat akhir.

PENGGUNAAN SISTEM RAKIT APUNG UNTUK BUDIDAYA ALGA MERAH Gracilaria edulis

Agustina W. Soumokil dan Petrus A. Wenno E-mail : petrano_unpatti@yahoo.com Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Pattimura Abstrak Penelitian mengenai penggunaan sistem rakit apung untuk budidaya Gracilaria edulis telah dilakukan di Perairan desa Ameth, pulau Nusalaut. Kegiatan ini ditujukan sebagai upaya untuk memperoleh pertumbuhan alga yang cepat, tetapi dalam jumlah biomasa yang besar. Penggunaan sistem rakit apung dimaksudkan untuk mengantisipasi kondisi perairan yang sering mengalami agitasi. Kondisi hidrologi perairan selama penelitian berlangsung berada pada kisaran rata-rata suhu 28 oC, salinitas 30,75 ‰ dan pH 7,46. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomasa yang diperoleh selama 7 minggu berada pada kisaran 93-232% dengan kecepatan pertumbuhan harian rata-rata sebesar 3,22%. Dari berat bibit 100 gr diperoleh biomasa alga dengan berat basah ratarata 2,25 kg. Kata-kata kunci : Gracilaria edulis, Rakit Apung

KERAGAAN PERTUMBUHAN PATIN DJAMBAL (Pangasius djambal), PATIN BANGKOK (Pangasius hypophthalmus) DAN HIBRIDANYA DI KOLAM TANAH Anang Hari Kristanto, Ani Widiyati dan Jack Slembrouck Abstrak Patin djambal merupakan ikan asli Indonesia yang berhasil di domestikasikan dan di pijahkan secara buatan pada tahun 1999, sedangkan patin Bangkok, merupakan ikan introduksi yang didatangkan pada tahun1982. Pemijahan buatan pertama kali dilakukan pada tahun 1990, semenjak itu budidayanya berkembang dengan pesat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaan pertumbuhan patin djambal (Pangasius djambal), patin Bangkok (Pangasius hypophthamus), serta hybrid betina p.djambal dan jantan patin Bangkok dan hybrid antara betina patin Bangkok dan jantan.patin djambal. Penelitian ini dilakukan di kolam tanah Balai penelitian perikanan Air Tawar Sukamandi, Jawa Barat. Ke empat kelompok ikan tersebut dipelihara dalam kolam berukuran 200 M2, setiap kolam ditebari 100 ekor ikan, dengan rataan berat awal 30 gram. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan pelet mengandung protein 28%, pemberian pakan 3 % dari total biomass/hari, pemeliharaan dilakukan selama 8 bulan. Sampling dilakukan setiap bulan dengan jumlah sample 20 % dari populasi, pengukuran dilakukan terhadap bobot ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhir pemeliharaan selama 8 bulan, hybrid antara betina patin Bangkok dan jantan.patin djambal mempunyai laju pertumbuhan spesifik (0.82%/hari) , diikuti hybrid betina patin djambal dan jantan patin bangkok (0,81%/hari), patin bangkok (0,79%/hari) dan patin djambal (0,76%/hari). Kata kunci : Patin djambal, Patin Bangkok, hybrid, keragaan pertumbuhan

PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C KOMERSIL PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN JUVENIL KAKAP MERAH (Lutjanus argentimaculatus) Apri I Supii dan Desi Nurlestiyoningrum Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol. Bali P.O. BOX 140. Singaraja. Abstrak Penelitian penambahan vitamin C komersil pada pakan buatan terhadap pertumbuhan juvenil kakap merah (Lutjanus argentimaculatus) telah dilakukan untuk mengetahui pemberian dosis vitamin C yang tepat bagi juvenil kakap merah. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol dengan menggunakan tangki fiber dengan ukuran 2 x 2 x 1 m, kepadatan hewan uji yang digunakan 1000 ekor/tangki. Ikan yang digunakan berukuran panjang total rata-rata 4,2 cm dan berat rata-rata 2,1 g. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan vitamin C sebanyak 1 gr/kg pakan, vitamin C 2 gr/kg pakan dan tanpa penambahan vitamin C (sebagai kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertumbuhan berat juvenil secara statistik memperlihatkan perbedaan yang nyata (P<0,05) antara perlakuan penambahan vitamin C sebanyak 2g/kg pakan dan 1 g/kg pakan terhadap kontrol (tanpa penambahan vitamin C), akan tetapi antara penambahan vitamin C tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (sama). Sedangkan pada pertumbuhan panjang juvenil secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Pemberian penambahan vitamin C yang optimum dan ekonomis pada juvenil kakap merah adalah pada penambahan vitamin C 1 g/kg pakan. Kata kunci : vitamin C, kakap merah, pertumbuhan

PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN REDUKSI KANIBALISME JUVENIL RAJUNGAN (Portunus pelagicus) MELALUI PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBEDA B. Susanto1), I. Setyadi1), G.S. Sumiarsa 1) dan Titis S.B. 2) 1)Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut - Gondol Bali, Po Box 140 Singaraja – Bali. Telp: 0362-92278, Fax: 0362-92271-72 2)Universitas Muhammadiyah Malang Abstrak Rajungan saat ini sangat diminati dan kebutuhan untuk lokal maupun ekspor cukup besar. Untuk memenuhi permintaan rajungan tersebut, masih mengandalkan dari hasil tangkapan dialam. Kendala yang dihadapi adalah masih tingginya tingkat kanibalisme dari rajungan yang berdampak pada rendahnya prosentase sintasan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan lingkungan pemeliharaan juvenil rajungan yang sesuai sehingga dapat mereduksi kanibalisme, meningkatkan sintasan dan pertumbuhannya. Ukuran juvenil rajungan yang digunakan adalah berukuran panjang dan lebar karapas serta bobot badan awal berturut-turut 13,54?1,23 mm,

26,48?2,59 mm dan 1,45?0,41 g. Perlakuan yang dicobakan adalah A: sistem air mengalir; B: sistem air stagnan dengan suhu terkontrol (heater 32,5 C); C: sistem air stagnan pada suhu kamar. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa sintasan juvenil pada perlakuan A dan B adalah 12,5% dan 10%, sedang sintasan terbaik pada perlakuan C yaitu sebesar 35%. Pertumbuhan berat mutlak terbaik juga pada perlakuan C sebesar 3,18 g atau meningkat sebesar 217,81%. Sementara pertumbuhan lebar karapas mutlak sebesar 13,59 mm atau meningkat 51,34%. Perlakuan C mampu mereduksi kanibalisme lebih baik pada juvenil rajungan Kata kunci: kanibalisme, pengelolaan lingkungan, Portunus pelagicus

KEBUTUHAN OKSIGEN RESPIRASI DAN PERLAKUAN PADAT TEBAR UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de Man) YANG DIPELIHARA DENGAN AERASI Bambang Triyatmo, Murwantoko, Ratih Ida Adharini dan Iwan Malhani Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Abstrak Penelitan telah dilakukan untuk mengetahui kebutuhan oksigen (O2) respirasi dan pengaruh padat tebar udang galah yang dipelihara dengan aerasi. Kebutuhan O2 respirasi udang galah ditentukan menggunakan respirometer (volume air 3 l). Udang galah yang digunakan mempunyai 5 tingkat ukuran berat udang, yaitu berkisar antara 0,6-1,0; 1,1-1,5; 1,6-2,0; 2,1-2,5 dan 2,6-3,0 g. Udang galah diuji dalam respirometer sistem tertutup dengan berat total tiap perlakuan 30 g. Penentuan kebutuhan O2 respirasi udang galah untuk melihat laju konsumsi O2 dan kadar O2 kritis udang galah. Tahap berikutnya dilakukan pemeliharaan udang galah dengan aerasi selama 30 hari. Padat tebar udang galah terdiri dari 5 tingkat yaitu 8, 11, 14, 17, 20 ekor/bak (48, 66, 84, 102, 120 ekor/m2). Pengamatan dilakukan terhadap udang dan kualitas air setiap 10 hari. Pengamatan udang dilakukan terhadap jumlah yang hidup dan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Perlakuan berat udang galah yang semakin meningkat (antara 0,6-3,0 g) nyata berpengaruh terhadap laju konsumsi O2 udang dengan nilai yang semakin menurun (antara 0,220-0,072 mg /g/detik). 2. Perlakuan berat udang galah ternyata tidak berpengaruh terhadap kadar oksigen terlarut kritis. 3. Sintasan dan berat per ekor udang galah yang dipelihara dengan aerasi pada padat tebar 8, 11, 14, 17 dan 20 ekor/bak (48, 66, 84, 102 dan 120 ekor/m2) tidak menunjukkan perbedaan nyata. 4. Kualitas air selama pemeliharaan udang galah dengan aerasi menunjukkan temperatur antara 24,5-28,5 oC, kadar O2 terlarut air 7,4-11,0 ppm, CO2 bebas 0-10 ppm, pH 7,3-9,4, alkalinitas 129-146 ppm dan kadar NH3 0,0083-0,0545 ppm, secara umum termasuk sesuai untuk udang galah. Kata kunci : udang galah, kebutuhan oksigen, padat tebar.

PRODUKSI BENIH KERANG ABALONE (Haliotis asinina) DI LOKA BUDIDAYA LAUT LOMBOK Bayu Priyambodo, Yayan Sofyan dan IBM. Suastika Jaya Abstrak Satu lagi komoditas baru tapi lama yang patut dibudidayakan. Abalone, demikian namanya, bisa menjadi santapan eksotis yang bernilai premium, bahkan laku di mancanegara. Mungkin belum banyak orang tahu tentang Abalone, meski komoditas laut ini sudah cukup lama dieksploitasi terutama di Amerika. Menurut sejarah, di Kalifornia Abalone sudah ditangkap oleh penduduk Amerika keturunan Cina sejak 1850-an. Sementara di Indonesia sampai sekarang cuma sedikit orang yang mengetahuinya. Budidaya Abalone mulai diteliti Loka Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat sejak tahun 1999. Dalam klasifikasi hewan, Abalone termasuk makhluk laut dari kelas Gastropoda, keluarga Haliotidae, jenis Haliotis (kuping laut). Penampilannya mirip siput yang hanya mempunyai cangkang sebelah atas saja. Yang unik, binatang ini endemik, tidak semua tempat ada. Bergerak sangat lambat sehingga predator mudah memangsanya, termasuk manusia. Ia hidup di dasar laut, khususnya di karang-karang. Wilayah Indonesia yang mempunyai spesies ini adalah NTB (Lombok tengah selatan), Ambon, Madura, dan Bajo (Sulsel). Di luar negeri Abalone bisa menjadi makanan eksotik yang harganya mahal. Keeksotisan menu abalon tersebut terlihat di salah satu restoran di Hongkong yang memajang produknya di internet. Menu bernama Abalone with congee dipatok seharga US$82 (lebih dari Rp 700.000,00). Karena sifatnya di alam yang mudah ditangkap dan memiliki nilai ekonomis tinggi (sebagai sea food), maka mendorong terjadinya over eksploitasi dan perdagangan hewan ini. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menemukan improvisasi pemeliharaan larva Abalone hingga mencapai stadia advanced juvenil dan untuk memantapkan sistem teknik produksi benih Abalone di Indonesia. Sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya benih Abalone dalam jumlah besar untuk mendukung industri berbasis budidaya perikanan di Indonesia. Metode produksi benih Abalone adalah melakukan seleksi induk dari alam, pemijahan alami, pemeliharaan pakan hidup, pemeliharaan larva Abalone dan pendederan, panen benih untuk pembesaran. Pemeliharaan larva dilakukan dalam bak fibre glass kapasitas 1,5 m3. Pakan awal berupa benthic Nitzschia sp, benih Abalone umur 2-2,5 bulan sudah dapat memakan rumput laut jenis Gracilaria sp. Sampai umur 3 bulan (ukuran panjang cangkang rata-rata 10 mm) siap didederkan. Sementara ini tingkat kelulushidupan benih relatif masih rendah yaitu antara 0,61,0%. Melalui sistem produksi benih Abalone ini, maka sudah dapat dikembangkan suatu bisnis akuakultur yang feasible guna mendukung industri perikanan berbasis budidaya laut di Indonesia.

PENGARUH SUHU MEDIA TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN, PENYERAPAN NUTRISI ENDOGENOUS DAN PEMANGSAAN LARVA KERAPU SABUK TUJUH (Epinephelus septemfasciatus) Bejo Slamet Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, PO Box 140, Singara 81101, Bali

Abstrak Penelitian pengaruh suhu media terhadap pertumbuhan, penyerapan nutrisi endogenous dan pemangsaan larva kerapu sabuk tujuh (Epinephelus septemfasciatus) telah dilakukan di Mie Sea Farming Center, Mie Japan; bertujuan untuk mengetahui suhu optimal dalam pemeliharaan larvanya. Penelitian menggunakan wadah berupa 9 bak fiberglass volume 500 liter yang diisi larva dengan 10 ekor per liter. Suhu media yang diuji adalah A : 21-23 oC, B : 23-25 oC dan C : 25-27 oC. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelangsungan hidup larva yang terbaik adalah pada perlakuan B 55,5% disusul kemudian pada C (18,9%) dan terendah pada A (1,1%); sedangkan laju petumbuhan dan penyerapan nutrisi endogenous dan pemangsaan larva semakin tinggi dengan meningkatnya suhu media. Kata kunci : Kerapu sabuk tujuh, larva, suhu media..

PERKEMBANGAN GONAD IKAN BOTIA (Botia macracanthus Bleeker) DALAM PEMELIHARAAN AWAL DI LABORATORIUM Chumaidi Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Jalan Perikanan RT 01/RW 02 Pancoran Mas Depok 16436, Telpon/Fax (021) 7520482 Abstrak Ikan botia (Botia macracanthus Bleeker) adalah ikan hias air tawar yang potensial sebagai komoditas ekspor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon ikan botia yang diberi kombinasi pakan pellet dan cacing tanah (Pheretima sp) terhadap perkembangan gonad dalam pemeliharaan awal di laboratorium dengan menggunakan akuarium (100 x 60 x 60 cm). Penebaran calon induk yaitu sembilan ekor (tujuh betina dan dua jantan) per akuarium. Perlakuan yaitu perbedaan kombinasi pakan pellet dan cacing tanah hidup, sebagai berikut ; a) Pelet 100 %, b) Pelet 65 % + cacing tanah 35 %, c) Pelet 35 % dan cacing tanah 65 % dan d) Cacing tanah 100 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pakan pellet 65 % + cacing tanah 35 % direspon ikan botia paling tinggi dengan tingkat kematangan gonad (TKG) II sebanyak empat induk betina setelah dipelihara selama sembilan bulan. Kata kunci : ikan botia, perkembangan gonad, pelet, cacing tanah

MASA SIMPAN DAN KARAKTERISTIK FILET IKAN NILA YANG DIINOKULASI Lactobacillus plantarum Eddy Afrianto Fakultas Perikanan Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600 Telp./fax 022-7797763, email : edd_afrianto@walla.com

Abstrak Kontaminasi bakteri pembusuk pada filet ikan nila dapat berasal dari media budidaya, ikan nila, proses pembuatan, dan cara penanganan. Kontaminasi ini akan mempengaruhi masa simpan filet. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa simpan filet adalah dengan menghambat aktivitas bakteri pembusuk. Inokulasi Lactobacillus plantarum sebagai anti bakteri dapat menghambat aktivitas bakteri pembusuk selama penyimpanan filet ikan nila pada suhu rendah. Penelitian untuk menguji pengaruh L. plantarum terhadap aktivitas bakteri pembusuk telah dilakukan dengan cara merendam filet ikan nila dalam suspensi L. plantarum pada berbagai konsentrasi dan lama perendaman. Konsentrasi L. plantarum terdiri dari 106, 108, dan 1010 cfu/ml dan lama perendaman 5, 10, dan 15 menit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsentrasi L. plantarum dan lama perendaman berpengaruh terhadap masa simpan dan karaktersitik organoleptik filet pada suhu rendah. Filet yang diinokulasi L. plantarum mempunyai masa simpan lebih lama dibandingkan filet yang tidak diinokulasi. Inokulasi L. plantarum pada filet telah menurunkan pH, menghambat susut bobot dan aktifitas bakteri pembusuk, mempengaruhi karakteristik organoleptik dan meningkatnya konsentrasi asam laktat dan bakteriosin yang dihasilkan. Masa simpan terbaik diperoleh pada filet yang diinokulasi L. plantarum dengan konsentrasi 108 CFU/ml dengan lama perendaman 10 menit. Kata kunci: filet, Lactobacillus plantarum, masa simpan

GAMBARAN HISTOPATOLOGI UDANG WINDU (P. monodon Fabr) AKIBAT PEMAPARAN FORMALIN PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA Endang Susianingsih dan B.R. Tampangallo Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Jl. Makmur DG. Sitakka Maros, Sulawesi Selatan 90512 Abstrak Penggunaan formalin pada budidaya udang windu telah banyak dilakukan untuk mengontrol eksternal parasit dan sebagai upaya untuk mengeliminasi penyebabaran penyakit melalui infeksi virus dengan metoda yang disebut skrining yaitu dengan perendaman benur dalam formalin pada konsentrasi dan lama pemaparan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji gambaran histopalogi udang yang dipapar dengan formalin pada konsentrasi 100, 200 dan 400 ppm selama 1 jam. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Peubah pengamatan yang diamati meliputi mortalitas dan gambaran histopatologi udang uji pada jaringan insang, epitel kulit, epitel mukosa alat cerna dan hepatopankreas. Untuk data mortalitas dianalisa dengan menggunakan anova dan untuk gambaran histopatologis dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya sel-sel yang mengalami degenerasi secara reversible dan irreversible, atropi dan nekrosa pada jaringan insang, epitel kulit dan epitel alat cerna sedang pada hepatopankreas ditemukan adanya inklusion bodi yang menunjukkan adanya infeksi virus. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan formalin sebagai bahan terapeutik pada konsentrasi 100 ppm yang dipapar selama 1 jam bersifat aman terhadap udang uji baik dalam hal mortalitas maupun terhadap perubahan histopatologi.

Kata kunci : hispatologi, screening, udang

EVALUASI VARIASI GENETIK UDANG GALAH GI MACRO, MUSI DAN BARITO DENGAN MENGGUNAKAN PENCIRI DNA Estu Nugroho Abstrak Evaluasi variasi genetik udang galah GI Macro, Musi dan Barito telah dilakukan dengan menggunakan polimorfisme Mitokondria DNA. Terdapat perbedaan yang nyata secara genetic antara ras udang galah Barito dan Musi. Enam komposit haplotype terdeteksi dengan menggunakan 4 enzyme restriksi yaitu Rsa I, Hae III, Mbo I dan MspI pada sekuens CO1, dengan diversitas haplotype rata-rata adalah 0.603. Tipe major composite haplotype terbesar udang galah GI Macro (50%) berasal dari Citarum dan Citanduy, sedangkan Musi mempunyai kontribusi pada tipe kompocite haplotype dengan frekuensi sebesar 25% pada udang galah GI Macro. Udang galah Barito mempunyai prospek sebagai salah satu sumber genetic dalam program pemuliaan. Kata kunci: Genetic Variability, Macrobrachium rosenbergii,. Mt.DNA CO1.

PENGARUH JENIS PAKAN TERHADAP HEMOSITOLOGI IKAN KERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis DI KERAMBA JARING APUNG Fris Johnny, Tatam Sutarmat, Ketut Suwiryadan Des Roza Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali. PO BOX 140 - Singaraja 81101 – Bali. Tel. 0362 92278 – Fax. 0362 92272. Email : frisjravael@yahoo.com Abstrak Percobaan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan terhadap hemositologi ikan kerapu bebek yang dibudidayakan di keramba jaring apung (KJA) telah dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali. Tujuan percobaan ini untuk mengevaluasi uji coba pemakaian pakan pelet untuk budidaya ikan kerapu bebek secara komersial dengan membandingkan pakan pelet yang dibuat oleh BBRPBL Gondol (pelet Gondol), pelet komersial, dan ikan segar terhadap keragaan karakteristik hemositologi. Benih ikan kerapu bebek dengan padat tebar 300 ekor/jaring dipelihara dalam 9 jaring ukuran 2 x 2 x 2 m secara acak dengan bobot rata-rata 36 g. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan pakan yaitu ; pelet Gondol, pelet komersial, dan ikan segar, pakan diberikan 2-3 kali sehari. Pengamatan keragaan hemositologi dilakukan setelah 16 minggu terhadap hematokrit, hemoglobin, total eritrosit, total leukosit, dan diferensiasi leukosit (neutrofil, monosit, limfosit, dan trombosit). Hasil percobaan menunjukkan bahwa hematokrit pemberian pakan pelet komersial (38,2%) dan pelet Gondol (37,3%) berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan

ikan segar (24,2%). Hemoglobin pakan pelet Gondol (7,1 g/100 mL) dan pelet komersial (6,8 g/100 mL) tidak berbeda nyata (P>0,05) dibanding ikan segar (5,8 g/100 mL). Total eritrosit pakan pelet komersial (5,05 x 106 sel/mL) dan pelet Gondol (4,77 x 106 sel/mL) berbeda nyata (P<0,05) dibanding ikan segar (24,2 x 106 sel/mL). Total leukosit pakan pelet Gondol (10,05 x 104 sel/mL) dan pelet komersial (9,63 x 104 sel/mL) berbeda nyata (P<0,05) dibanding ikan segar (1,82 x 104 sel/mL). Hasil percobaan menunjukkan bahwa ikan kerapu bebek yang diberikan pakan pelet memberikan respon positif terhadap keragaan karakteristik hemositologi. Kata kunci: pakan, hemositologi, kerapu bebek, keramba jaring apung

BUDIDAYA UDANG WINDU, Penaeus monodon DI TAMBAK DENGAN POLA RESIRKULASI BERBEDA Gunarto, Abdul Mansyur dan Abdul Malik Tangko Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Jln. M. Dg. Sitakka No. 129 Maros 90512 Email : litkanta@indosat.net.id Abstrak Upaya untuk memperbaiki mutu kualitas air tambak budidaya udang windu telah dilakukan diantaranya menggunakan sistem resirkulasi, tandon dan biofilter. Penelitian ini telah dilakukan di tambak percobaan Maranak, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros menggunakan tambak ukuran 500 m2 dengan padat tebar udang windu PL 40 sebanyak 6 ekor/m2. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang mutu kualitas air dan produksi udang windu pada budidayanya di tambak dengan beberapa pola resirkulasi air yang berbeda. Variasi pola resirkulasi air dimana awalnya air dari sungai dimasukkan ke tandon bakau selanjutnya air dialirkan ke tandon Gracillaria sp kemudian terdapat perbedaan aliran air yaitu air masuk langsung ke tambak udang (Perlakuan I), air langsung masuk ke tambak udang yang disisipi bandeng (Perlakuan II) dan air masuk ke biofilter bandeng terlebih dahulu dan selanjutnya air dimasukkan ke tambak udang (Perlakuan III). Masing-masing perlakuan dengan tiga ulangan. Pengamatan terhadap mutu kualitas air menunjukkan bahwa kandungan nitrat pada kisaran 0,03 – 1,87 ppm di petak udang. Kandungan fosfat di petak udang (U) mengalami peningkatan lebih awal yaitu pada hari ke 28 dan puncaknya pada hari ke 42 mencapai 0,6 ppm. Kandungan amoniak nampak semakin lama semakin tinggi terutama pada petak perlakuan (Uu, Ub dan U), kecuali pada hari ke 70 nampak menurun tetapi selanjutnya meningkat lagi. Kandungan BOT relatif stabil terutama di perlakuan III, yang melalui biotreatment bandeng. Populasi bakteri Vibrio sp di tandon mangrove meningkat sejalan dengan dimulainya resirkulasi air tambak udang sedangkan di tambak perlakuan (Uu, Ub dan U) populasi Vibrio relatif stabil dan dalam batasbatas yang tidak membahayakan bagi udang. Dari 9 petak udang, 4 petak terserang WSSV dan mengalami kematian total, sedangkan 5 petak lainnya udangnya selamat hingga panen pada hari ke 98 setelah penebaran. Pertumbuhan udang paling baik dijumpai pada perlakuan III mencapai ukuran rata-rata 22,14 + 6,86 g dan di perlakuan II rata-rata 10,5 + 5,0 g, sedangkan di perlakuan I rata-rata 17,66 + 4,93 g. Rata-rata pertumbuhan harian 0,18 + 0,035 g (Perlakuan I), 0,11 +

0,051 g (Perlakuan II) dan 0,23 + 0,048 g (Perlakuan III). Sintasan dan produksi tertinggi dijumpai pada perlakuan III (58,05 + 2,29% ) dan 25,6 + 8,7 kg/petak, sedangkan perlakuan II (44,30% + 0) dan 14,20 + 0 kg/petak serta perlakuan I (46,65 + 13,62%) dan 19,20 + 0,56 kg/petak. Kata Kunci : tandon, resirkulasi, produksi

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK ALGA COKLAT (Phaeophyceae) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Pseudomonas aeruginosa Gusti Ngurah Supriantana, Amir Husni dan Siti Ari Budhiyanti Jurusan Perikanan dan Kelautan UGM Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas penghambatan ekstrak alga coklat yang diperoleh dari pantai Drini, Kabupaten Gunung Kidul terhadap S. aureus dan P. aeruginosa. Alga coklat diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan pelarut metanol, kemudian ekstrak digunakan untuk uji skrining dan uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dalam media agar dengan menggunakan metode Disc Diffusion. Dari lima sampel alga coklat yang diteliti, seluruhnya menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S. aureus dan P. aeruginosa. Sargassum duplicatum dan Sargassum cinereum memiliki aktivitas penghambatan S. aureus paling kuat dengan diameter zona penghambatan masing-masing sebesar 6,5 mm dan 3 mm, sedang Turbinaria sp. memiliki aktivitas penghambatan S. aureus dan P. aeruginosa paling lemah dengan diameter zona penghambatan masing-masing sebesar 3 mm dan 1,5 mm. Hasil uji MIC menunjukkan bahwa nilai MIC ekstrak S. duplictum terhadap bakteri S. aureus dan bakteri P. aeruginosa sekitar 50%. Kata kunci: Ekstrak alga coklat, aktivitas antibakteri, S. aureus, P. aeruginosa dan zona penghambatan.

PENGARUH BERBAGAI TINGKAT KEPADATAN KECEBONG KATAK LEMBU (Rana catesbeiana Shaw) STADIUM 25 TERHADAP PERTUMBUHAN, KELANGSUNGAN HIDUP DAN METAMORFOSIS Honorius Mundriyanto Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Jalan Perikanan RT 01/RW 02 Pancoran Mas Depok 16436, Telpon/Fax (021) 7520482 Abstrak Penelitian yang dilakukan di Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok selama 35 hari

ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa tingkat kepadatan kecebong katak lembu mulai stadium 25 (umur 7 hari) terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup dan perkembangan stadia. Kecebong katak lembu stadium 25 dengan bobot rata-rata 18,60 mg dan panjang total rata-rata 0,90 cm, ditebar pada 5 tingkat kepadatan yaitu 1 ekor/l, 3 ekor/l, 5 ekor/l, 7 ekor/l dan 9 ekor/l. Wadah percobaan berupa bak plastik bulat berdiameter 40 cm, diisi air masing-masing sebanyak 10 liter. Rancangan percobaan adalah rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Pakan buatan bentuk tepung (46,44% protein) diberikan sebanyak 200%, 60%, 20%, 15% dan 10% masing-masing untuk minggu ke 1, 2, 3, 4 dan 5. Hasil penelitian selama 35 hari menunjukkan bahwa beberapa tingkat kepadatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan (bobot dan panjang total), kelangsungan hidup dan perkembangan stadia (persentase jumlah dan bobot kecebong stadia kaki belakang/stadia premetamorfosis). Kepadatan 1 ekor/l memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup , persentase jumlah dan bobot stadia kaki belakang/premetamorfosis pada kecebong katak lembu. Kata kunci: Rana catesbeiana, kecebong, kepadatan, pertumbuhan, kelangsungan hidup, metamorfosis

PEMELIHARAAN LARVA KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) DENGAN WARNA BAK BERBEDA Ibnu Rusdi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali PO. Box 140 Singaraja, 81101 Telp: 0362-92278; Fax: 0362-92272. Abstrak Salah satu penyebab utama tingginya tingkat kematian pada pemeliharaan larva kepiting bakau (Scylla paramamosain) pada stadia zoea adalah karena faktor lingkungan yang kurang sesuai, Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui warna bak yang sesuai untuk pemeliharaan larva kepiting bakau selama stadia zoea. Wadah penelitian menggunakan 3 buah bak berbentuk silinder berkapasitas 4.000 L. dan ditebari zoea dengan kepadatan 50 ekor/L. Sebagai perlakuan adalah perbedaan warna bak, yaitu: hitam, biru muda dan putih, sedangkan warna untuk dasar bak semua dicat putih. Perlakuan dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna bak memberikan pengaruh terhadap sintasan larva. Bak dengan warna dinding hitam memberikan hasil yang terbaik yaitu dapat menghasilkan megalopa dengan sintasan rata-rata sebesar 3,5%, disusul bak biru muda dengan rata-rata sintasan sebesar 0,2%, sedangkan bak warna putih dengan rata-rata sintasan sebesar 0,1%. Dengan demikian dinding bak warna hitam baik diterapkan dalam pemeliharaan larva kepiting bakau selama stadia zoea. Kata kunci: Megalopa, mud crab, sintasan zoea, warna bak

PENGENDALIAN LINGKUNGAN UNTUK MENDUKUNG BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG YANG BERKELANJUTAN DI WADUK CIRATA Idil Ardi dan Tri Heru Prihadi Peneliti di Pusat Riset Perikanan Budidaya Abstrak Pemanfaatan Waduk Cirata sudah sangat tinggi terutama sebagai lokasi untuk budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) yang telah berkembang sangat pesat, di samping itu buangan limbah industri yang terus mengalir ke dalam Waduk Cirata yang sulit dikontrol. Kedua aktivitas tersebut telah berdampak pada terjadinya degradasi lingkungan perairan waduk tersebut yang ditandai dengan terjadinya pendangkalan, penurunan kualitas air dan sering terjadinya kematian ikan secara masal akibat terjadinya up welling atau pembalikan massa air. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kandungan logam berat pada kolom air Waduk Cirata dalam mendukung budidaya perikanan dengan sistem KJA. Metodologi penelitian dilakukan dengan menganalisis kualitas air, histologi ikan yang dipilihara di KJA. Data diolah berdasarkan analisis deskriptif dan analisa laboratorium. Penelitian ini dilakukan pada tanun 2003, sampling setiap sebulan sekali di Waduk Cirata. Hasil pengamatan kandungan logam berat daalam badan air di Waduk Cirata berdasarkan hasil analisa deskriftif berada dalam kondisi yang buruk. Hasil analisa logam berat yang diperiksa dari sampel air yakni Pb, Cr, Hg dan Cd yang terkandung dalam air menunjukkan bahwa kandungannya masih berada pada toleransi baku mutu tetapi di lain pihak logam berat yang terkandung dalan organ tubuh ikan nila dan ikan mas memperlihatkan bahwa konsentrasi logam berat dalam tubuh ikan sudah melampaui baku mutu dan nilai ini jauh lebih tinggi dibanding konsentrasinya dalam air. Hal ini terjadi karena adanya berbagai peristiwa pada ikan dan biota air lainnya yang meliputi difusi biasa, biomagnifikasi dan biokonsentrasi pada ikan-ikan tersebut. Kata kunci: logam berat, budidaya, dan lingkungan

PENGGUNAAN JENIS SELTER YANG BERBEDA DALAM UPAYA PENCEGAHAN KANIBAL PADA KRABLET RAJUNGAN (Portunus pelagicus) ASAL PEMBENIHAN Setyadi. I*) ; B. Susanto*) dan D. Fitriana**) *) Staf Peneliti Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali. PO.Box 140 Singaraja,Bali, Email : setyadi57@yahoo.com **) Mahasiswa Universitas Muhammadiyah, Malang. Abstrak Rajungan merupakan jenis kepiting yang menyukai hidup di daerah perairan pantai. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali; bertujuan untuk mengetahui jenis selter yang sesuai terhadap kelangsungan hidup krablet rajungan. Hewan uji yang digunakan berupa krablet rajungan dengan ukuran panjang awal karapas: 0,44 - 0,58 cm, lebar awal karapas: 0,80 - 0,86 cm, rata-rata berat awal badan : 0.205 ± 0.23 gram dipelihara dalam 9 wadah waskom berukuran diameter 32 cm, diisi air laut 15 liter dengan perlakuan A:

karang, B: waring, C: karang waring. Masing-masing diisi 100 ekor krablet/wadah dengan 3 ulangan. Rajungan tersebut diberi pelet kering sampai kenyang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan A: 13.67 ± 9.865 %, B: 9.00 ± 1.723 % dan C: 8.33 ± 0.577 %. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ketiga perlakuan tidak berbeda nyata (P> 0.05) Kata kunci : Krablet selter, Portunus pelagicus, swimming crab

PEMETAAN KELAYAKAN LAHAN USAHA BUDIDAYA LAUT DI KECAMATAN MORO, KABUPATEN KARIMUN Joni Haryadi, I Nyoman Radiarta dan Ofri Johan Pusat Perikanan Budidaya, Badan Riset Perikanan dan Kelautan Departemen Kelautan dan Perikanan Abstrak Pemilihan lokasi yang tepat merupakan salah satu syarat utama bagi pengembangan budidaya laut. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dan pemetaan lokasi potensial untuk pengembangan budidaya laut dengan aplikasi inderaja dan SIG. Penelitian telah dilaksanakan di Kecamatan Moro pada bulan Agustus dan Oktober 2004. Pengamatan secara acak dengan teknik sistematik digunakan untuk menentukan lokasi titik pengamatan. Penentuan kelayakan lokasi pengembangan budidaya laut berdasarkan metoda PATTERN (Planning Assisstance Through Technical Evaluation of Relevant Numbers). Analisis data dilakukan dengan cara overlay dari beberapa peta tematik yang diperlukan. Penilaian secara kuantitatif terhadap tingkat kelayakan lahan dilakukan melalui skoring dengan faktor pembobot. Dari hasil survei yang dilakukan di Kecamatan Moro, secara umum kualitas perairan masih dalam kisaran baik untuk kegiatan budidaya laut. Dari hasil analisis SIG yang dilakukan terdapat beberapa lokasi yang masih mempunyai potensi untuk dikembangkan kegiatan budidaya laut diantaranya Keban, Selat Mie, Selat Binga, Sanglar dan sebagain kecil Durai, meskipun faktor kekeruhan (sedimentasi) sangat dominan ditemukan dilokasi penelitian. Key words: suitability site, mariculture, GIS, remote sensing PERFORMANSI PEMIJAHAN DAN PRODUKSI TELUR KERAPU MACAN (Epinhephelus Fuscoguttatus) DI DALAM TANGKI PERIODE 2002-2004 Made Suastika , Gede S. Sumiarsa , Agus Prijono dan Philip Teguh Imanto Balai Besar Riset Perikanan Budidaya laut Gondol, Bali. PO. BOX 140 singaraja, Telp. 0362 92278 / 92272 Abstrak Pemeliharaan induk ikan kerapu macan didalam tangki bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang produksi telur guna mendukung produksi benih kerapu macan. Induk dalam Penelitian ini diseleksi dengan ukuran 3-4 kg/(50-54cm) untuk induk betina dan 5-6 kg /(61-74 cm) untuk

induk Jantan 30 ekor induk dengan ratio jantan betina 1 : 2 mulai dipelihara dalam tangki bulat volume 100 m³ pada tahun 2002.Pada tahun 2004 dilakukan penambahan induk sebanyak 60 ekor dengan ratio jantan betina 1 : 2 yang dipelihara pada tangki yang lain pada volume yang sama. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa induk ikan kerapu macan melakukan pemijahan pada periode bulan gelap hamper sepanjang tahun dengan masa istirahat bulan juni. Produksi telur bervariasi mulai 3 juta/bulan hingga mencapai 48 juta /bulan performansi telur yang diproduksi memiliki diameter telur rata rata 930 milimikron dengan butir minyak 200 milimikron. dan tingkat pembuahan terendah 80% dan kemampuan menetas rata rata 80%. Kata kunci: tingkah laku pemijahan, produksi telur, dan kualitas telur

ANALISIS KUALITAS FISIKA-KIMIA AIR DALAM RANGKA PENENTUAN KELAYAKAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA PERAIRAN DI PANTAI PARADISO TELUK KUPANG Muh. Jafar Umar Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Undana Alamat: Jalan Adisucipto Penfui Kupang-NTT, Telp.: 0380- 838394, Fax.: 0380- 881589, e-mail: jafar_umar2002@yahoo.com Abstrak Suatu penelitian untuk mengetahui nilai beberapa parameter kualitas fisika dan kimia air (suhu, kecerahan, pH, salinitas dan oksigen terlarut) di Pantai Paradiso Teluk Kupang telah dilaksanakan pada tanggal 30 Juli sampai 10 Agustus 2004 (musim kemarau) dan tanggal 27 Januari sampai 7 Pebruari 2005 (musim hujan). Pengukuran dan analisis kualitas air dilakukan secara in situ. Untuk mengetahui adanya perbedaan parameter kualitas air antara musim kemarau dengan musim hujan digunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai parameter kualias air pada musim kemarau adalah suhu 27,7 oC, kecerahan 4,6 meter, pH 7,9, salinitas 33,1 ‰ dan oksigen terlarut 5,3 mg/L, sedangkan pada musim hujan suhu 31,5 oC, kecerahan 3,5 meter, pH 8,3, salinitas 30,3 ‰ dan oksigen terlarut 5,1 mg/L. Parameter suhu, kecerahan dan salinitas nyata berbeda antara musim kemarau dengan musim hujan. Berdasarkan parameter suhu, kecerahan, pH, salinitas dan oksigen terlarut maka dapat disimpulkan bahwa perairan Pantai Paradiso Teluk Kupang layak dijadikan sebagai lokasi pengembangan budidaya rumput laut dan ikan kerapu. Kata kunci: Budidaya, in situ, musim, parameter, Teluk Kupang

EFEKTIFITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK FURAZOLIDON TERHADAP TINGKAT PENULARAN BAKTERI Vibrio sp. PADA LARVA UDANG WINDU Penaeus monodon. Nurhidayah dan Mun Imah Madeali Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau

Abstrak Penyakit vibriosis merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pemeliharaan udang baik oleh pengelola hatchery maupun petani tambak. Salah satu cara untuk menanggulangi penyakit vibriosis adalah dengan penggunaan antibiotik, namun tingkat keberhasilannya sangat bervariasi yang disebabkan oleh jenis dan dosis penggunaan yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis anitibiotik Furazolidon yang tepat dalam upaya mencegah penularan bakteri V. harveyi pada larva udang windu sehingga dapat menghasilkan sintasan hidup yang lebih baik. Penelitian dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros , menggunakan larva udang windu dengan kepadatan 20 ekor/stoples. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan 3 ulangan, masing-masing dengan dosis furazolidon 0, 4, 8 dan 12 ppm. Pemantauan perkembangan populasi bakteri V. harveyi dan sintasan udang windu dilakukan setelah perendaman dengan antibiotik furazolidon. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi furazolidon dengan dosis 4, 8 dan 12 ppm dengan perendaman selama 24 jam nyata berpengaruh terhadap jumlah bakteri yang terinfeksi pada larva udang windu. Interval dosis sebanyak 4 ppm memberikan perbedaan antar perlakuan terhadap perkembangan populasi bakteri baik dalam media pemeliharaan maupun yang menyerang udang windu. Sedangkan terhadap sintasan larva udang windu penggunaan dengan dosis 8 dan 12 ppm tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata, tetapi berbeda sangat nyata terhadap perlakuan dosis 4 dan 0 ppm (kontrol). Kata kunci: Furazolidon, Vibrio sp, larva udang windu

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN NILA GIFT (Oreochromis niloticus) DI LAHAN PASANG SURUT Nurhidayat)1 dan Hj. Harnisah)2 1). Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Jalan Perikanan RT 01/RW 02 Pancoran Mas Depok 16436, Telpon/Fax (021) 7520482 2). BPTP Sumatera Selatan. Jl. Kol. H. Barlian Km 6 Palembang, 0711-410155 Abstrak Tingkat pemanfaatan lahan pasang surut baru sekitar 42,53 % dari total seluas 2.505.600 ha, atau kurang dari setengah luas pasang surut yang ada. Lahan pasang surut merupakan lahan yang mempunyai kendala untuk budidaya pertanian maupun perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan Nila Gift. Kolam yang digunakan sebanyak 12 buah dengan ukuran 150 m2 masing-masing ditebar benih ikan Nila Gift dengan padat tebar 6 ekor/ m2. Benih yang ditebar mempunyai berat rata-rata 27.30 gr/ekor, hewan uji diberikan makan sebanyak 5% dari berat benih yang ditebar. Sebagai perlakuan adalah pemberian pakan yang berbeda yang disusun dalam rancangan acak lengkap, yaitu (A) pakan komersial, (B) pakan formulasi, (C) pakan petani (kontrol) dan (D) pakan formulasi dan pelet. Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari pukul 07.00, siang hari pukul 13.00 dan sore hari pukul 16.00. Hasil penelitian menunjukan selama percobaan lima bulan di peroleh hasil berat rata-rata dengan pakan formulasi dan komersial 553.7 gr/ekor, pakan petani 338.74 gr/ekor, pakan formulasi 413,55 gr/ekor dan pakan komersial 480.222 gr/ekor. Dari

ketiga perlakuan pakan yang diberikan tidak memberikan pengaruh yang nyata pada Uji ANOVA taraf 5% yakni F Hit < F Tab atau 5,7229 < 9,12. Tingkat kelangsungan hidup paling tinggi diperoleh selama percobaan menggunakan pakan komersial adalah (79.49%), disusul pakan komersial dan formulasi (79.33%), pakan formulasi sebesar (77.31%) dan pakan petani (73.42%). Kata Kunci : Nila Gift, Pasang surut, Pakan

SKRINING BAKTERI DARI TAMBAK DAN MANGROVE SEBAGAI PROBIOTIK POTENSIAL UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT VIBRIOSIS PADA UDANG Rahayu Sapta, Ervia Yudiati, Subagiyo Jurusan Ilmu Kelautan, FPIK, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang. Alamat: Gg. Gayamsari 12i, Jl. Banjarsari, Tembalang, Semarang. Phone: 0818 024 26788. Email. orcaellabrevi@yahoo.com Abstrak Penggunaan antibiotik dan desinfektan berlebihan untuk mengendalikan penyakit vibriosis menimbulkan dampak negatif antara lain adanya bakteri vibrio yang resisten dan residu antibiotika. Salah satu alternatif adalah penggunaan probiotik potensial dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme yang dapat menekan atau menghambat pertumbuhan vibrio tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan larva udang. Penelitian ini bertujuan untuk mencari probiotik potensial untuk mengendalikan penyakit vibriosis melalui skrining atau seleksi bakteri pada air dan sedimen tambak ikan bandeng (Chanos chanos) dan udang (Penaeus monodon Fab) serta pada sedimen mangrove yang mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri Vibrio. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Hatcery Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNDIP dan Laboratorium Hama dan Penyakit Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dengan tahapan kerja : teknik pengambilan sampel, sterilisasi alat dan media, isolasi bakteri, skrining bakteri, uji antivibrio, uji antagonis antar isolat, uji toksisitas dan identifikasi bakteri terseleksi. Berdasarkan identifikasi dan karakterisasi terhadap 7 isolat bakteri, didapatkan 3 genus bakteri yang berbeda yaitu Pseudomonas, Bacillus dan Enterobacter. Kata kunci: isolat bakteri, tambak, sedimen mangrove, probiotik, vibriosis

PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KONSUMSI PAKAN BENIH KAKAP MERAH Lutjanus argentimaculatus YANG BERBEDA UKURAN Regina Melianawati dan Ketut Suwirya Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol PO Box 140 Singaraja 81101-Bali Telp. 0362.92278; Fax. 0362.92272

Abstrak Ukuran ikan pada awal pemeliharaan merupakan salah satu hal yang berperanan dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan tingkat konsumsi pakan benih kakap merah yang berbeda ukuran. Kelompok A merupakan kelompok benih kakap merah yang kecil dengan berat tubuh awal 33,28±8,80 gram dan panjang 12,13±1,16 cm. Sedangkan kelompok B merupakan kelompok benih yang lebih besar dengan berat awal 244,00±17,43 gram dan panjang 23,23±6,79 cm. Penelitian dilaksanakan selama 41 hari menggunakan dua buah tangki polyethylene yang bervolume ± 4000 L. Pakan yang digunakan adalah pakan pellet komersial dengan frekuensi pemberian tiga kali sehari. Pencatatan jumlah pakan dilakukan setiap waktu pemberian pakan, sedangkan pengukuran panjang dan berat dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan laju pertumbuhan harian terhadap berat tubuh dan panjang total benih kakap merah Lutjanus argentimaculatus yang berukuran kecil adalah lebih besar dibandingkan pada benih yang berukuran besar. Tingkat konsumsi pakan pada benih kakap merah yang kecil (1,69%) lebih tinggi daripada benih kakap merah yang besar (1,19%). Konversi pakan benih kakap merah yang kecil (2,10) lebih besar dibandingkan pada benih yang besar (1,10), dengan effisiensi pakan masing-masing mencapai 48,51% dan 91,41%. Kata kunci: growth, feed consumption rate, different size, mangrove snapper, Lutjanus argentimaculatus.

PEMELIHARAAN TERIPANG PUTIH (Holothuria scabra) PADA BERBAGAI HABITAT Retno Hartati*, Widianingsih dan Delianis Pringgenies *) Lab. Biologi Kelautan – Jur. Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Kampus Tembalang – Semarang; Telp./Fax. 024 7474698; HP 08157640089; email: birulaut_1107@yahoo.com Abstrak Teripang hidup di berbagai macam habitat yang erat hubungannya dengan persediaan makanan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh habitat yang berbeda terhadap pemeliharaan teripang putih. Perlakuannya pada percobaan ini yaitu media bersubstrat pasir; bersubstrat pasir dengan bahan organik dari serasah lamun dan ditanami Thallasia sp.; media bersubstrat campuran pecahan karang, pasir berbahan organik dari serasah lamun dan ditanami Thallasia sp. dan media tanpa substrat. Wadah penelitian berupa bak plastik dengan sistem air “flow-through”. Teripang dipelihara dengan kepadatan 5 individu/m2 dan diberi pakan tepung klekap (10 % biomassa/hari). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa substrat/sedimen mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemeliharaan teripang putih. Substrat/sedimen merupakan habitat yang baik bagi pertumbuhan organisme bentik sehingga mampu menjadi penyedia pakan alami bagi teripang putih. Substrat yang terbaik pada pemeliharaan teripang putih adalah substrat pasir dengan bahan organik dari serasah lamun dan ditanami Thallasia sp. Kata kunci: teripang putih, Holothuria scabra, substrat, pertumbuhan.

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KAROTENOID DARI SPONGE UNTUK BUDIDAYA PERIKANAN Rosmiati, Emma Suryati, Andi Parenrengi, Sulaeman, dan Andi Tenriulo Peneiti pada Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Jalan Makmur Dg. Sitakka No. 129 Maros 90512, Sulawesi Selatan Telp : (0411) 371544, 313956 Fax : (0411) 371545 E-mail: litkanta@indosat.net.id Abstrak Bahan alam dapat digunakan sebagai alternatif yang lebih baik dibandingkan dengan bahan kimia dan antibiotik untuk pencegahan dan pengendalian penyakit. Sponge adalah salah satu dari bahan alam yang sudah diisolasi dan diidentifikasi senyawanya dengan aktifitas biologi yang baik. Sponge juga mempunyai beberapa jenis karoten yang spesifik yang dapat digunakan untuk pembentukan profil warna pada udang dan ikan. Berdasarkan informasi ini penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi karotenoid dari sponge untuk budidaya perikanan. Hasil penapisan dari 8 spesies sponge diperoleh 3 spesies (Callyspongia sp, Thionella sp dan Xestospongia sp) yang mengandung karotenoid dominan. Ketiga ekstrak karotenoid tersebut dipisahkan lebih lanjut dengan kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis preparatif dan dimurnikan dengan menggunakan SEPPAK silica gel dan C18. Dari pemisahan ini berhasil diidentifikasi 7, 9 – di – tert – butyl – 1 – oxaspiro [4 . 5] deca – 6, 9 – diene – 2, 8 – dione dari Callyspongia sp, cis – 3 , 4 – di methyl – 5 – phenyl – 2 – oxazolidone dari Theonella sp dan 2 , 6 – di (t – butyl) – 4 – hydroxy – 4 – methyl- 2 , 5 – cyclohexadien – 1 – one dari Xestospongia sp berdasarkan hasil analisis data Ultra violet UV (UV), Infra merah (IR) dan Kromatografi gas dan spektroskopi massa (GCMS). Kata kunci: sponge, karotenoid, profil warna

STUDI PENDAHULUAN KARAKTER GENETIK IKAN NAPOLEON, Cheilinus undulatus DENGAN METODE RESTRICTION FRAGMENT LENGTH POLYMORPHISM (RFLP) MTDNA Sari Budi Moria, S., Haryanti, I. Ng. Permana, I.B. Wardana dan B. Slamet Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali PO Box 140 Singaraja 81101-Bali E-mail: moria68@telkom.net Abstrak Dalam upaya mendukung pembenihan yang terkontrol untuk menghasilkan benih, maka pengamatan karakter genetik ikan napoleon (Cheilinus undulatus) sudah dilakukan dengan menggunakan metode Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) mt-DNA. 20 ekor sampel ikan kerapu napoleon diperoleh dari perairan Sulawesi Selatan. Dari 11 enzim restriksi yang digunakan, ternyata hanya 4 enzim yang dapat memotong template mt-DNA ikan napoleon

yaitu enzim Hae III, Hha I, Hinf I dan Mbo I. Hasil analisis dengan Gen-pop karakter genetik dari keempat enzim/locus, menunjukkan bahwa locus Mbo I memberikan keragaman gen yang lebih besar. Oleh karena itu Enzim restriksi Mbo I dapat digunakan sebagai penciri genetik untuk ikan napoleon pada tingkat molekuler dengan metode RFLP mt-DNA. Nilai ratio Ho/He pada populasi Sulawesi Selatan sebesar 1,584 yang mengindikasikan bahwa karakter genetik dari populasi perairan Sulawesi Selatan relatif beragam. Kata kunci : Cheilinus undulatus, genetik, RFLP mt-DNA.

PENETASAN TELUR IKAN BOTIA DENGAN MEDIA AIR DAN SUHU YANG BERBEDA Siti Subandiyah Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Jalan Perikanan RT 01/RW 02 Pancoran Mas Depok 16436, Telpon/Fax (021) 7520482 Abstrak Penelitian ikan botia dilakukan untuk mendapatkan telur yang menetas dan menghasilkan larva dengan lingkungan yang optimal terutama suhu yang sesuai, yaitu suhu A). 26–27 ºC; B). = 2728 ºC; dan C). = 28–29 ºC dan media penetasan air sumur dan air mineral masing-masing 3 ulangan. Dengan menggunakan saringan yang di taruh dalam bak plastik diisi air 15 liter, dilengkapi dengan pengatur suhu, termometer. Air dalam saringan dibuat mengalir, kepadatan 100 butir telur setiap wadah. Dihasilkan larva dari hasil penetasan telur pada suhu 26-27 ºC dapat menghasilkan derajat penetasan 91 % pada media air mineral.

REKAYASA TEKNOLOGI PEMIJAHAN DAN PEMELIHARAAN LARVA IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus argentimaculatus) DI BAK TERKENDALI Supriya, Emy Rusyani, Anindiastuti, dan Sudjiharno Balai Budidaya Laut Lampung Abstrak Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus) mempunyai sifat Agresifitas /saling menyerang sehingga sulit dilakukan pemijahan bahkan sering terjadi kematian. Hal ini dimungkinkan sering terjadinya pergantian pasangan, penambahan atau pengurangan jumlah induk dalam bak atau Karamba Jaring Apung (KJA). Untuk mengatasi masalah tersebut sejak Juni 2003 dilakukan perekayasaan dengan cara induk dari tangkapan alam langsung dipelihara dalam bak terkendali tanpa ada penambahan, pengurangan dan pergantian dengan induk lain. Calon induk diberi pakan ikan segar 60 % dan cumi-cumi 40 % sebanyak 3-5 % dari berat ikan, serta setiap minggu satu kali diberi Vitamin E dan multivitamin. Setiap 5 –10 hari sebelum masa pemijahan (bulan gelap) dilakukan teknik manipulasi lingkungan guna merangsang pemijahan. Pemeliharaan larva ikan

kakap merah dilakukan di ruangan tertutup pada bak kapasitas 10 ton dengan kepadatan 8 –10 ekor/liter, pakan yang diberikan berupa Rotifer, Copepoda, artemia, udang jambret dan pakan buatan. Dari rekayasa tersebut diperoleh pemijahan alami pertama kali terjadi pada bulan Oktober 2004 sebanyak 1.500.000 telur memijah setiap bulan sampai bulan April 2005 sebanyak 500.000 telur, puncak pemijahan terjadi pada bulan februari 2005 sebanyak 2.000.000 telur . Kegitan pemeliiharaan larva pencapaian tertinggi terjadi pada bulan Februari 2005 sebanyak 200 ekor (SR = 0,4 %) pada larva umur 45 hari. Rendahnya SR. pada tahap pemeliharaan larva tersebut bisa dijadikan sebagai acuhan untuk penelitian atau perekayasaan lebih lanjut di masa mendatang.. Kata kunci : pemijahan, pemeliharaan larva, ikan kakap merah, bak terkendali

OPTIMASI DOSIS VAKSIN DEBRIS SEL Aeromonas hydrophila TERHADAP PENGENDALIAN PENYAKIT MAS (MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA) PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Suryantinah, R.K.Rini dan Olga Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan dosis optimal vaksin debris sel Aeromonas hydrophila untuk pengendalian penyakit MAS pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Virulensi bakteri A.hydrophila ditingkatkan sebanyak 3 kali. Selanjutnya, sel bakteri dipecah dengan ultrasonikasi. Pemisahkan debris sel dari cell free extract dilakukan dengan sentrifugasi pada 12.000 rpm selama 15 menit. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (CRD) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Selanjutnya dianalisis dengan ANAVA dan Uji Wilayah Ganda Duncan (DMRT). Ikan nila sebanyak 108 ekor dibagi dalam 4 perlakuan, yaitu A = vaksin debris sel A.hydrophila dengan dosis 5 µg, B = vaksin debris sel A.hydrophila dengan dosis 10 µg, C = vaksin debris sel A.hydrophila dengan dosis 15 µg dan D = Kontrol disuntik dengan PBS steril. Parameter yang diamati, yaitu titer antibodi, sintasan, tingkat perlindungan relatif (RPS) dan rerata waktu kematian (RWK) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian vaksin debris berpengaruh nyata P<0,05) terhadap peningkatan titer antibodi ikan nila yang diberi vaksin. Sintasan (A = 62,97 %, B = 77,78 %, C = 81,48 % dan D (Kontrol) = 29,63 %) dan RWK (A = 2,89 hari, B = 3,17 hari, C = 4,33 hari dan D (Kontrol) = 2,37 hari) menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara perlakuan dengan kontrol (P<0,01). Sedangkan nilai RPS (A = 47,38 %, B = 68,42 % dan C = 73,68 %) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Vaksin debris sel dengan dosis optimal 14,17 µg dapat memberikan RPS maksimum 73,9 %. Dapat disimpulkan bahwa vaksin debris sel A.hydrophila dapat meningkatkan titer antibodi, sintasan, RPS dan memperpanjang RWK pada ikan nila. Kata kunci: Vaksin debris sel, A.hydrophila, penyakit MAS, dosis, ikan nila

PENENTUAN ABNORMALITAS LARVA BEBERAPA JENIS IKAN LAUT PRODUK HATCHERI MELALUI PENGAMATAN PERTUMBUHAN TULANG BELAKANG SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS BENIH Titiek Aslianti Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol PO Box 140 Singaraja 81101-Bali Telp. 0362.92278; Fax. 0362.92272 Abstrak Beberapa jenis benih ikan laut seperti kerapu bebek (Cromileptes altivelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kerapu lumpur (Epinephelus coioides) dan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus), sudah dapat diproduksi di hatcheri skala rumah tangga (HSRT), namun tingkat kelangsungan hidup yang dihasilkan masih belum stabil dengan keragaan benih sangat beragam, baik dari segi ukuran maupun normalitas bentuk tubuh. Pengamatan terhadap pertumbuhan tulang belakang benih telah dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi benihbenih yang mengalami deformitas (abnormal) dan sebagai indikator kualitas benih produk hatcheri. Hewan uji diperoleh dari beberapa HSRT yang memproduksi jenis-jenis benih ikan laut tersebut. Pengamatan pertumbuhan tulang belakang dilakukan dengan menggunakan metode pewarnaan ganda terhadap 20-30 ekor larva yang berumur 40-45 hari dari setiap siklus pemeliharaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perkembangan tulang belakang benih produk hatcheri bervariasi, baik ditinjau dari jumlah ruas, jarak antar ruas dan bentuk ruas tulang belakang (abnormalitas). Hal ini sering ditemui terutama jika selama proses pemeliharaan, larva tidak mendapat ransum pakan dalam jumlah dan nutrisi yang cukup, atau lingkungan pemeliharaan yang kurang mendukung. Kata Kunci: tulang belakang, larva, ikan-ikan laut, kualitas benih.

PERAN KEDALAMAN AIR TERHADAP REDUKSI KARAKTER KANIBALIS DAN KERAGAAN PADA PENDEDERAN BENIH KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Tony Setiadharma, Ketut Maha Setiawati dan I Nyoman Adiasmara Giri Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Po Box 140 Singaraja Bali, Telp. (0362) 92278, Fax. (0362) 92272 Abstrak Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol dengan menggunakan bak fiber glass kapasitas 1 m³ sebanyak 9 buah. Masing-masing bak diisi benih kerapu macan ukuran 2,25-2,50 cm dengan kepadatan 2 ekor/l.Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kedalaman yang efektif pada pemeliharaan benih sehingga dihasilkan sintasan dan keragaan benih kerapu macan yang tinggi. Tiga perlakuan perbedaan kedalaman air adalah A. 30 cm, B. 60 cm dan C. 90 cm pada larva umur 45 hari. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan tiga perlakuan dan tiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kedalaman air berpengaruh

nyata terhadap sintasan (P<0.05), namun pertumbuhan panjang dan bobot belum berpengaruh nyata (P>005). Sintasan dan pertumbuhan larva kerapu macan yang tertinggi terlihat pada kedalaman 30 cm yaitu 74,27 ± 2,64%, panjang total 5,91 ± 0,27 cm, dan bobot 4,52 ± 0,33 g, kemudian menyusul kedalaman 60 cm dengan sintasan 56,63±5,29%, panjang total 5,92 ± 0,32 cm, bobot 3,91 ± 0,42 g dan 90 cm yaitu sintasan 52,19 ± 1,96%, panjang total 5,80 ± 0,11 cm dan bobot 3,81 ± 0,31 g. Kata kunci: kedalaman air, sintasan, keragaan benih kerapu.

PERBEDAAN TINGKAT ILUMINASI PADA PEMELIHARAAN LARVA KERAPU BEBEK Cromileptes altivelis UMUR 1-15 HARI Wardoyo, Jhon Haryanto Hutapea, Suko Ismi dan Ketut Maha Setiawati Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Po Box 140 Singaraja Bali Telp. (0362) 92278; Fax : (0362) 92272 Abstrak Penelitian dilakukan menggunakan dilakukan menggunakan bak fiber glass warna hijau dengan volume 350 L. Tiap bak sebelum ditebari telur kerapu diisi air laut dan dipasang lampu neon 2040 watt di atasnya yang jumlah dan tinggi rendahnya disesuaikan dengan hasil pengecekkan illuminasi cahayanya yang digunakan sebagai perlakuan. Besarnya illuminasi sebagai perlakuan adalah A: 50 lux, B: 100 lux, C: 250 lux dan D: 350 lux. Tiap bak ditebari telur kerapu bebek dengan kepadatan 10 butir/L. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat illuminasi cahaya optimum yang dibutuhkan dalam pemeliharaan awal larva kerapu bebek. Penelitian dilakukan sampai larva berumur 15 hari (D15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang total larva kerapu bebek pada umur 15 hari pada perlakuan A,B, C dan D adalah 6,22 ± 1,05, 6,25 ± 0,60, 5,92 ± 0,54 dan 5,85 ± 0,59 mm. Kelangsungan hidup larva sampai umur 15 hari pada perlakuan A, B, C dan D adalah 16,55 ± 7,36, 14,95 ± 2,95, 14,68± 5,62 dan 12,13 ± 3,95%. Berdasarkan analisis statistik menunjukkan bahwa perbedaan tingkat illuminasi cahaya antara 50-350 lux tidak mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva (P=0,05). Kata kunci: Kerapu Bebek, larva, iluminasi.

FILTRATION RATE TIRAM MUTIARA Pinctada Maxima DARI PERAIRAN LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT Yeni Sulistiyani1), Ita Widowati, Sigit AP Dwiono, dan Jusup Suprijanto Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro 1)Jl. Ngesrep timur V Gang Sahabat I/13, Telp (024)7472211 Semarang E-mail : jenny_data@yahoo.com

Abstrak Tiram mutiara (Pinctada Maxima) merupakan salah satu komoditas ekspor dalam bidang budidaya laut yang bernilai ekonomis tinggi sebagai penghasil mutiara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kecepatan filtrasi (“filtration rate”) tiram mutiara pada jenis dan konsentrasi pakan yang berbeda, dan untuk mengetahui jenis pakan yang disukai untuk dikonsumsi oleh tiram. Penelitian dilakukan pada bulan agustus-september 2004. Benih tiram Pinctada Maxima yang digunakan berukuran 3,5-4,5 cm. Pakan yang diberikan adalah Pavlova sp, Isochrysis sp, Tetraselmis sp dengan konsentrasi pakan 20.000 sel/ml, 60.000 sel/ml dan 100.000 sel/ml. Hasil menunjukkan bahwa pakan yang disukai berturut-turut adalah Tetraselmis sp, Isochrysis sp dan Pavlova sp. Kata kunci : Isochrysis sp, Kecepatan Filtrasi, Pavlova sp, Pinctada Maxima, Tetraselmis sp

STUDI KEBIASAAN MAKAN BELUT SAWAH DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Yoni Suryani Program Studi Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kebiasaan makan belut sawah (Monopterus albus) pada berbagai ukuran panjang. Penelitian observasi ini dilakukan dengan mengambil sampel di areal persawahan di D.I. Yogyakarta: Bantul, Gunung Kidul, Sleman, Kulon Progo dan Kota Yogyakarta. Sebagai variabel bebas adalah panjang belut dan variabel tergayut jenis bahan makanan yang dimakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis makanan belut sawah adalah berbagai macam hewan meliputi: belut kecil, katak, capung dan berbagai jenis gastropoda.

PENGARUH JENIS PAKAN TERHADAP TINGKAT ABNORMALITAS DAN KELULUSAN HIDUP BENIH KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Yudha Setiaji dan Tinggal Hermawan Loka Budidaya Laut Batam Jl. Raya Balerang Jembatan III, Pulau Setoko, Batam. PO BOX 60 Sekupang, Batam. Telp. 081536077050. e-mail: yudhasetiaji@yahoo.com Abstrak Kebutuhan nutrisi untuk benih adalah sangat penting agar produk yang dihasilkan berkualitas. Nutrisi merupakan salah satu faktor utama benih berkualitas dapat diproduksi, dengan suplay nutrisi yang lengkap dan tepat benih yang dihasilkan diharapkan dapat seragam, pertumbuhan normal dan tidak cacat. Salah satu usaha untuk memenuhi nutrisi yanng diperlukan adalah

dengan memberikan pakan buatan yang telah terukur kandungan nutrisinya, namun demikian untuk efisiensi pakan benih ikan di pendederan juga diberikan pakan rucah yang harganya lebih murah dibanding pakan pellet. Dalam beberapa periode siklus pembenihan di Loka Budidaya Laut Batam tingkat abnormalitas benih kerapu sangat tinggi, diduga pakan ikan berpengaruh pada tingkat abnormalitas tersebut. Pengamatan yang dilakukan di Loka Budidaya Laut Batam ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan terhadap tingkat abnormalitas benih kerapu macan. Bahan yang diperlukan adalah benih Kerapu Macan hasil pembenihan di LBL Batam, pelet pendederan berbagai ukuran dan pakan ikan rucah, kaporit untuk sterilisasi peralatan dan bak, air media yang telah melalui filterisasi. Perlakuan pertama adalah benih diberikan pakan utama pelet dan pakan tambahan ikan rucah. Perlakuan kedua pakan yang diberikan hanya pelet. Perlakuan ketiga pakan yang diberikan hanya ikan rucah. Dosis pemberian pakan masing-masing perlakuan adalah sampai kenyang. Hasil yang didapatkan behwa tingkat keabnormalan benih pada perlakuan dengan pakan hanya rucah adalah paling tinggi yaitu 78%, diikuti kombinasi pakan pelet dengan pakan rucah sebesar 43%, kemudian benih dengan pakan hanya pelet sebesar 4%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jenis pakan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat abnormalitas benih kerapu macan. Kata kunci: jenis pakan, abnormalitas, kelulusan hidup, benih kerapu. « Back to faperta | Back to Top ^


								
To top