3

Document Sample
3 Powered By Docstoc
					Potensi Perikanan Ktp Pengirim: Potensi Perikanan Ketapang Menunggu Pemberdayaan
Oleh Yosef Sinaga

Konsumsi ikan pada pelita ke VI diproyeksikan 19,2kg/kapita/th. Berdasarkan jumlah penduduk awal tahun 1997 yang mencapai 200 juta jiwa maka diperlukan ika sebanyak 3.840.000 ton/tahun. Jika dikurangi ekspor sekitar 17 persen produksi total maka jumlah ikan tersedia 3.574.000 ton atau kurang 266.000 ton/tahun dari kebutuhan domestik. Pada masa lima tahun mendatang kesadaran masyarakat mengonsumsi protein diperkirakan akan meningkat, sehingga bukan mustahil bila konsumsi ikan 25kg/kapita/tahun seperti disyaratkan FAO akan tercapai. Pada tingkat konsumsi demikian maka kebutuhan ikan pasar domestik akan semakin meningkat. Kab. Dati II Ketapang yang memiliki luas perairan 2600 km2 tentu mempunyai potensi untuk menjadi daerah pemasok ikan. Hal ini tentu membutuhkan tangan terampil SDM yang handal serta peran serta Pemda setempat. Peran serta Pemda dalam menjadikan sektor perikanan sebagai sumber PAD selain sektor kehutanan dan perkebunan mengandung konsekuensi peningkatan taraf ekonomi nelayan maupun potensi wilayah terhadap para investor, baik sektor perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Peningkatan taraf hidup ekonomi nelayan dapat dimulai dengan : 1. Memberikan penyuluhan teknologi penangkapan maupun teknologi penanganan hasil tangkap. 2. Pembangunan TPI (tempat pelelangan ikan) yang merupakan pasar bagi hasil tangkapan nelayan. 3. Memacu berdirinya koperasi. 4. Pengucuran kredit ringan melalui koperasi. 5. Adanya pengawasan dan larangan nelayan asing untuk beroperasi di perairan Ketapang atau perairan Kalbar umumnya. 6. Sistem kontrol yang baik dan benar terhadap langkah konkret yang sudah dilaksanakan. Namun demikian langkah tersebut di atas harus didahului dengan menginventarisir sentra-sentra industri penangkapan serta jumlah nelayan yang beroperasi. Selain industri perikanan tangkap Kab. Dati II Ketapang untuk memiliki potensi perikanan budidaya yang belum diupayakan secara maksimal. Potensi perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di Kab. Ketapang adalah budidaya udang dan bandeng dengan tidak menutup kemungkinan budidaya ikan lainnya. Alternatif lokasi pengembangan industri budidaya di Kab. Dati II Ketapang terletak di beberapa kecamatan yang memiliki pantai, beberapa di antaranya terletak di : a. Kec Matan Hilir Utara Lokasi potensial terletak diwilayah Kuala Tolak dan Kuala Satong meliputi areal 1600 ha dan di sei Awan seluas 1000 ha. b. Kec Simpang Hilir Berada di sebelah utara Teluk Batang dengan luas areal 1.150 ha c. Kec Maya Karimata Lokasi berada di sebelah utara Teluk batang atau di sebelah barat lokasi Kec. Simpang Hilir. d. Kec Kendawangan Terletak di sebelah utara ibukota Kec Kendawangan dengan luas 2600 ha. Melalui studi identifikasi di lapangan yang meliputi faktor status lahan, fungsi peruntukan lahan, luas lahan minimal, aksesibilitas lokasi kelayakan faktor fisik serta kondisi sosial ekonomi setempat, Kec Matan Hilir Utara adalah lokasi prioritas pengembangan industri budidaya. Dalam rangka

otonomi daerah tingkat II maupun peningkatan PAD, mengundang datangnya investasi di bidang ini adalah kebutuhan mutlak yang harus terpenuhi. Berdasarkan fakta di lapangan sampai saat ini terdapat tiga perusahaan yang mendapat izin usaha budidaya udang di Kab Ketapang yang semuanya beroperasi di Kec Matan Hilir Utara. Tetapi dari ketiga perusahaan tersebut hanya satu perusahaan saja yang masih beroperasi, sementara dua lainnya menghentikan kegiatannya. Adapun perusahaan yang masih beroperasi tersebut adalah PT. Mandiri Kalbar Pratama Lestari yang merupakan PMDN swasta murni. Sedangkan dua perusahaan yang tidak menunjukkan kegiatan budidaya, berpola TIR atau tambak inti rakyat yang mengharapkan subsidi pemerintah. Hal ini memang butuh pengkajian lebih serius agar semua pihak diuntungkan. Menyikapi era pasar bebas AFTA 2003 dan APEC 2010 jika tidak terjadi peningkatan produksi ikan hasil budidaya dan ikan hasil tangkapan diperkirakan mulai mendatar maka Indonesia akan menjadi pasar potensial negara lain, karena produk perikanan termasuk kategori komoditas yang di perdagangkan bebas. Sehubungan dengan hal tersebut usaha budidaya merupakan cara yang paling rasional dan modern dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati. Di samping faktorfaktor yang menguntungkan bagi kepentingan pemasaran seperti keseimbangan suplai, keseragaman ukuran, dan waktu yang dikehendaki,peningkatan produksi usaha budidaya dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam hayati dari kegiatan penangkapan, penyediaan dan peningkatan sumber protein hewani, membuka lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan PAD, juga sumber devisa negara. Selain Industri budidaya udang, untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik alternatif budidaya ikan bandeng adalah pilihan potensial untuk dikembangkan di Kab Ketapang. Disamping di pasarkan sebagai ikan konsumsi bandeng pun dipasarkan sebagai ikan konsumsi bandeng pun dipasarkan sebagai umpan hidup maupun umpan mati untuk industri penangkapan Cakalang atau Tuna. Budidaya ikan bandeng dapat dilakukan dalam tambak atau dalam keramba jaring terapung (KEJAPUNG) dengan masa pemeliharaan 2-4 bulan. Berdasarkan pengujian dilapangan produksi ikan bandeng dapat ditingkatkan sampai 500% jika dilakukan perbaikan teknik budidaya dengan pola pemeliharaan intensif. Potensi sudah dimiliki peluang sudah terbuka, tugas berikutnya adalah menarik investor dan pembenahan sumber daya manusia. Otonomi daerah, potensi wilayah yang dimiliki serta iklim keamanan Kab Ketapang yang kondusif selama ini adalah modal penting yang layak diberdayakan. (Penulis, Alumnus Sekolah Tinggi Perikanan (STP/AUP) Jakarta 1991, Jalan Ketapang-Sukadana Km 54 No. 23 Kuala Satong-Ketapang)
http://www.dkp.kalbar.go.id/artikel.php?id=4

Budidaya Udang Windu Semakin Tertinggal
Posted on August 19, 2009 by m3sultra

Kompas 2009-08-19/Halaman Bisnis & Keuangan Jakarta – Budidaya udang windu atau black tiger yang merupakan spesies asli Indonesia semakin tertinggal. Produksi induk udang windu di sejumlah sentra produksi merosot hingga 50 persen. Kendala budidaya windu itu terungkap dalam Temu Bisnis Peluang Usaha dan Investasi Industri Udang di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, Selasa (18/8) di Jakarta.

Kendala budidaya windu menjadi ironis mengingat nilai jual udang windu tergolong tinggi. Harga udang windu saat ini mencapai Rp 150.000 per kg, berisi 10-15 ekor per kg. Pemasaran udang itu terutama ke Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. Perairan yang berpotensi untuk pengembangan udang windu, antara lain, adalah Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan, Provinsi Gorontalo, Meulaboh di Aceh, Laut Arafura, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Kepala Balai Budidaya Laut Lampung Muhammad Murdjani mengemukakan, dalam empat tahun terakhir, induk udang yang umumnya dari alam ditemukan terinfeksi penyakit di kedalaman perairan hingga 40 meter. Penyakit itu, antara lain, adalah white spot dan monodon baculo virus (MBV). Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur Khaerani Saleh mengungkapkan, pasokan induk udang windu saat ini turun dari 500.000 ekor per bulan menjadi 250.000 ekor. Pasokan langka itu membuat harga naik dari Rp 300.000 per pasang hingga Rp 1 juta. Tahun 2008, ekspor udang windu di Kaltim berkisar 15.489 ton, turun dari 18.000 ton tahun 2007. ”Ekspor menurun dipicu penyakit,” ujar Khaerani. Kebutuhan benih udang (benur) windu di Kaltim 4 miliar ekor per tahun dan bisa dipenuhi sekitar 1,5-2 miliar ekor. Sisanya 2,5-3 miliar ekor dari Jawa dan Sulawesi. Namun, benur juga terserang penyakit. Luas kawasan budidaya udang windu di Kaltim saat ini 130.000 hektar. Areal tambak udang windu yang dimiliki setiap pembudidaya tradisional berkisar 2-5 hektar per rumah tangga. Adapun tebaran benur minim, yakni 200-300 ekor per tambak. Tingkat hidup benur udang windu hanya 20-30 persen, lebih rendah ketimbang spesies udang vaname yang 70 persen. Budidaya udang windu dikembangkan secara tradisional oleh masyarakat, berupa penggunaan induk hasil tangkapan, pakan alami, dan tidak diberi obat-obatan maupun antibiotik. Tahun 2009, target produksi udang windu 162.355 ton, sedangkan udang vaname 377.645 ton. Filed under: Nasional
http://m3sultra.wordpress.com/2009/08/19/budidaya-udang-windu-semakin-tertinggal/


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:124
posted:12/21/2009
language:Indonesian
pages:3