Paideia Kuriou, Mendidik Anak Secara Kristiani by mosesforesto

VIEWS: 2,620 PAGES: 38

More Info
									PAIDEIA KURIOU
Oleh: Moses Foresto (Kumpulan Tulisan dan Beberapa Artikel, Diedit dan diadaptasi dari berbagai sumber) PENDAHULUAN Baca : Etika Kristen (DR. J. Verkuyl) hal : 176-189 Efesus 6:4 Dan kamu, bapabapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anakanakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.> ajaran dan nasihat Tuhan Efesus 6:4 And, ye fathers, provoke not your children to wrath: but bring them up in the nurture and admonition of the Lord. > nurture and admonition of the Lord Efesus 6:4 Parents, do not treat your children in such a way as to make them angry. Instead, raise them with Christian discipline and instruction. > Christian discipline and instruction Efesus 6:4 Hai segala bapa, jangan kamu menggusari anakanakmu, melainkan peliharalah mereka itu dengan pengajaran yang sopan dan nasehat Tuhan.> pengajaran yang sopan dan nasehat Tuhan Kata : paideia paideia

Pengucapan: paheedi'ah Kata lainnya : chastening 3, nurture 1, instruction 1, chastisement 1 Definisi : 1) the whole training and education of children (which relates to the cultivation of mind and morals, and employs for this purpose now commands and admonitions, now reproof and punishment) It also includes the training and care of the body 2) whatever in adults also cultivates the soul, esp. by correcting mistakes and curbing passions. 2a) instruction which aims at increasing virtue 2b) chastisement, chastening, (of the evils with which God visits men for their amendment) Kata : paideuw paideuo

Pengucapan: paheedyoo'o Kata lainnya : chasten 6, chastise 2, learn 2, teach 2, instruct 1 Definisi : 1) to train children 1a) to be instructed or taught or learn 1b) to cause one to learn 2) to chastise
paideia kuriou

1

2a) to chastise or castigate with words, to correct 2a1) of those who are moulding the character of others by reproof and admonition 2b) of God 2b1) to chasten by the affliction of evils and calamities 2c) to chastise with blows, to scourge 2c1) of a father punishing his son 2c2) of a judge ordering one to be scourged

Kata : kurieuw kurieuo Pengucapan: koreeyoo'o Kata lainnya : have dominion over 4, exercise lordship over 1, be Lord of 1, Definisi : 1) to be lord of, to rule, have dominion over 2) of things and forces 2a) to exercise influence upon, to have power over Kata : kurioj kurios Pengucapan: koo'reeos Asal Kata : from kuros (supremacy) Kata lainnya : Lord 667, lord 54, master 11, sir 6, Sir 6, misc 4 Jumlah : 748 Definisi : 1) he to whom a person or thing belongs, about which he has power of deciding; master, lord 1a) the possessor and disposer of a thing 1a1) the owner; one who has control of the person, the master 1a2) in the state: the sovereign, prince, chief, the Roman emperor 1b) is a title of honour expressive of respect and reverence, with which servants greet their master 1c) this title is given to: God, the Messiah Ulangan : 4:9 Tetapi waspadalah dan berhatihatilah, supaya jangan engkau melupakan halhal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anakanakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu, 4:10 yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepadaKu, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataanKu, sehingga mereka takut kepadaKu selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anakanak mereka. 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulangulang kepada anakanakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
paideia kuriou

2

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

STATUS ROHANI SEORANG ANAK

PENDAHULUAN Tulisan ini ditujukan bagi para Pelayan Anak.Pelayan anak bukan hanya dalam pengertian Pendeta, Gembala Sidang, Konselor Anak atau para Guru Sekolah Minggu, namun yang terutama adalah bagi para orang tua yang ingin secara benar berperan sebagai pelayan anakanaknya.

RENUNGAN UNTUK ORANGTUA "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benarbenar menyadarinya. Tulangtulangku tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian bagian bumi yang paling bawah; mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis harihari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:1316) Anakanak adalah pemberian Allah. Menjadi orangtua adalah anugerah dan kepercayaan yang tidak ada bandingnya. Kelahiran seorang anak menurut keyakinan Pemazmur bukanlah suatu kebetulan, tetapi sesuatu yang ada dalam rencana Allah. Bila kita perhatikan Mazmur 139 seutuhnya kita mendapatkan keyakinan bahwa perhatian Allah terhadap kita adalah perhatian yang berkesinambungan. Hal itu jelas dari penggunaan katakata kerja yang terdapat didalamnya, yaitu digunakannya waktu yang berbeda dalam pasal yang sama (dalam bahasa Indonesia tidak jelas, tetapi dalam bahasa Ibrani dan Inggris terlihat dengan jelas: Masa lampau (past tense): Ayat 1 : "O Lord Thou hast searched me and known me" Masa sekarang (present tense): Ayat 2 : "Thou knowest my downsitting and mine uprising" Masa yang akan datang (future tense): Ayat 10 : "even there shall Thy hand lead me" Ketika seseorang ditenun dalam kandungan ibu, Allah melihat pada masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Tiap anak adalah pribadi yang unik yang ada permulaannya, yaitu pada waktu terjadinya pembuahan, tetapi yang tidak ada akhirnya, karena ia akan menjadi makhluk kekal. Itulah sebabnya menjadi orangtua adalah sesuatu yang bukan saja istimewa tetapi juga tugas yang sangat serius karena menyangkut kekekalan. Ia dapat menjadi penghuni surga untuk selama lamanya, atau penghuni neraka untuk selamalamanya.
paideia kuriou

3

Untuk menjadi orangtua yang baik, kita harus memulainya dengan sebuah pernikahan yang harmonis. Suasana damai dan komunikasi yang sehat dalam keluarga akan mempengaruhi kepribadian dan kehidupan seorang anak. Betapa besarnya pengaruh situasi keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak tercermin dari puisi Dorothy Lawe Holt berikut ini: "Bila seorang anak dibesarkan dalam kritikan, ia belajar untuk menghakimi. Bila seorang anak hidup dalam permusuhan, ia belajar untuk berkelahi. Bila seorang anak dibesarkan dengan ejekan, ia belajar menjadi tak percaya diri. Bila seorang anak dibesarkan dengan halhal yang memalukan, ia belajar hidup dengan rasa bersalah Tetapi ... Bila seorang anak dibesarkan dengan rasa toleransi yang besar, ia belajar untuk bersabar. Bila seorang anak dibesarkan dengan katakata yang membesarkan hati, ia belajar untuk percaya diri. Bila seorang anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar untuk menghargai. Bila seorang anak dibesarkan dengan dengan kejujuran ia belajar rasa keadilan. Bila seorang anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar untuk beriman. Bila seorang anak dibesarkan dengan perasaan bahwa ia diterima, ia belajar untuk menerima dirinya sendiri. Bila seorang anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar untuk menemukan cinta di dunia." Bila kita menyadari betapa besarnya pengaruh suasana rumah tangga kita dalam perkembangan anak, maka kita perlu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Bahan diambil dan diedit dari sumber: Judul Buletin: Buletin Sinode GUPDI edisi III/02 Penulis : Pdt. Debora Estefanus, S.Th.
paideia kuriou

4

Penerbit : Sinode GUPDI, Surakarta, 2002 Halaman : 33

ORANGTUA SEBAGAI WAKIL ALLAH Orang Kristen memiliki satu tanggapan yang berbeda dengan orang non Kristen. Karena Alkitab dengan jelas berkata, "Seperti bapa sayang kepada anakanaknya ... sebagaimana seorang ibu mencintai anak, demikian juga Bapamu yang di sorga." (baca: Mazmur 103:13; Yesaya 66:13). Kita dapat melihat gambaran yang penting sekali, ibu dan bapak adalah wakil Allah di hadapan manusia. Ini suatu prinsip. Jikalau kita menjadi orangtua yang tidak menyadari prinsip ini, kita telah gagal menjadi orangtua. Sebagai orangtua, kita harus sadar dan ingat, bahwa kita harus mendidik anak dan kita wakil Allah bagi anak. Karena kita menjadi wakil Allah, maka kita harus berhatihati dalam mendidik anak. Jika Tuhan mempercayakan uang kepada kita, itu adalah hal yang tidak terlalu penting. Jika ia percayakan segala sesuatu yang lain di luar diri kita, itu tetap tidak terlalu penting. Tetapi jika Tuhan mempercayakan anakanak untuk kita didik, ini merupakan kepercayaan yang luarbiasa. Tidak ada sesuatu yang lain yang lebih penting daripada anak kita. Karena anak adalah harta orangtua secara pribadi, yang juga harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, dan ini merupakan kewajiban yang bersifat kekal. Itu sebabnya, mendidik anakanak merupakan sesuatu hal yang serius. Jikalau orangtua adalah wakil Allah, bolehkah kita bertindak salah sebagai wakil Tuhan? Kalau kita salah mewakili Tuhan, salah berbicara, mengajar dengan prinsip yang tidak benar, maka itu mengakibatkan anakanak tidak mungkin melihat kemualiaan dan keadilan Tuhan dengan konsep yang benar. Dengan memaparkan konsep seperti ini, diharapkan agar merekayang sudah atau akan menjadi bapak aau ibu dapat menanamkan dalam hati dan pikiran Anda suatu konsep, bahwa Anda adalah wakil Tuhan. Anakanak akan melihat Tuhan melalui orangtua mereka. Apabila orangtua beres, anakanak mempunyai konsep yan beres tentang orangtua mereka, jika orangtua tidak beres, yang rugi bukan orang lain tetapi anakanak Anda sendiri, karena dengan demikian anakanak tidak mempunyai suatu konsep yang benar tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia. Bahan diambil dan diedit dari sumber: Judul Buku: Membesarkan Anak dalam Tuhan Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1994 Halaman : 5 6

paideia kuriou

5

ORANG TUA WAJIB MEMBIMBING ANAKANAK KEPADA KEDEWASAAN ROHANI Oleh: Cecile Moore Jangan meremehkan kemampuan anakanak yang telah diberikan pendidikan dan pengarahan secara Kristiani. Seorang guru yang berdedikasi akan menikmati kesempatan dan tantangan yang luar biasa ini. Ketua dari komite tempat saya melayani menyarankan agar kami memindahkan guru terbaik dari Departemen Kanak ke Kelas Orang Dewasa. Dia berkata, "Oh, siapa saja dapat mengajar Kelas Kanak Kanak." Betapa salahnya dia! Dan betapa menyedihkan dan salahnya apabila seorang guru menerima untuk mengajar sebuah kelas dengan keadaan demikian. Guruguru anak adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk mengisi tempat istimewa ini dan mengisi tujuan dari rencana Tuhan bagi gerejaNya. Saya menjadi seorang Kristen setelah saya dewasa, jadi saya tidak mendapat pengajaran Kristen selama masa kanakkanak saya. Sebagai hasilnya, saya harus memulai pengetahuan Kristiani dari tingkatan anakanak. Saya merasa malu ketika untuk kali pertama saya diminta untuk memimpin doa di depan publik atau memimpin doa persembahan. Ketika saya mulai mengajar pertama kali dalam kelas anakanak, saya bertekad agar mereka tidak merasakan rasa malu yang sama seperti saya. Jadi saya berusaha untuk mengajar mereka halhal yang dipaksakan kepada saya untuk belajar sebagai seorang dewasa. Saya mulai mengajarkan anakanak untuk berdoa dengan memakai kalimatkalimat doa. Pada mulanya, beberapa anak kehilangan kata kata. Tetapi saya minta mereka untuk mengekspresikan rasa terima kasih kepada Tuhan atas orangtua mereka, guruguru, temanteman, dsb. Tidak lama kemudian mereka menyadari bahwa mereka dapat berbicara kepada Bapa mereka di Surga sama seperti yang mereka lakukan kepada ayah mereka di bumi ini. Dengan beberapa saransaran dan dorongan mereka berdoa sendiri. Akhirnya anak yang paling pemalu sekalipun turut berpartisipasi. Doa menghasilkan dasar iman untuk siapa saja. Doa semasa anakanak akan membantu mengembangkan hubungan anak dengan Tuhan dan ini akan membantu dia untuk dapat bertahan dalam kehidupannya di masa datang. Billy adalah sebuah contoh dari keuntungankeuntungan yang didapat dari belajar berdoa. Seorang anak lelaki berambut merah dan sangat pemalu, yang mulanya merasa raguragu untuk ikut serta dalam waktu doa kami. Tetapi setelah dia mempelajari apakah doa itu, Billy mulai melupakan keadaannya dan mulai benarbenar bebicara kepada Tuhan. "Tolong ampuni saya karena saya telah meneriaki ibu saya," kita dengar ia berdoa. "Saya mau menjadi baik, tetapi saya menjadi begitu marah. Lalu saya melakukan halhal yang tidak seharusnya." Billy mengutarakan isi hatinya lebih bebas daripada yang dilakukan oleh banyak orang dewasa. Tidak lama kemudian Billy menerima Yesus
paideia kuriou

6

sebagai juruselamat pribadinya, bergabung dengan gereja kami, dan dibaptiskan dalam air. Dia menjadi pekerja dan saksi bagi Tuhan. Pelajaran yang diajarkan dengan roh kasih akan tetap tinggal di dalam anakanak selama hidupnya. Sekarang adalah saatnya untuk memenuhi pikiran dan hatinya dengan kebenarankebenaran Firman Tuhan. Anakanak senang belajar. Anakanak yang menghafal bukubuku Alkitab tidak akan menjadi orang dewasa yang merabaraba di saat mereka menyelidiki ceramah pendeta. Dengan demikian kita menyadari betapa pentingnya mengajar anakanak informasi tentang Alkitab. Anakanak senang dapat merasa berguna. Berikan dorongan kepada mereka untuk menyebarkan selebaranselebaran dan cerita Alkitab. Mereka sedang belajar misi dan dapat menjadi saksi yang efektif sementara mereka melakukannya. Sekali waktu kami meletakkan selebaranselebaran di ruang tunggu. Seorang suami yang belum diselamatkan dari salah satu anggota kami mengambil setumpuk dari selebaran itu ketika hendak pergi ke luar kota. Kita tidak berhasil untuk menyampaikan Injil dengan cara lain. Capailah rumah para orangtua yang belum diselamatkan dengan mengirimkan selebaranselebaran atau cerita Alkitab yang berhubungan dengan keselamatan melalui anakanak. Sarankan agar anakanak meminta orangtua membacakannya kepada mereka. Roh Kudus akan memakai ini untuk melayani orangtua yang belum selamat. Anakanak dapat menjadi alat untuk mengarahkan orang kepada keselamatan. Dalam sebuah pertemuan kebangunan rohani di gereja kami, jemaat sedang dalam doa yang tak putusputus untuk seorang lelaki yang belum diselamatkan. Ketika ajakan untuk menerima Yesus diberikan, seorang anak lelaki belasan tahun dengan terisakisak datang ke depan dari satu sisi altar, dan seorang anak perempuan yang menangis datang dari sisi yang lain. Mereka memeluk ayah mereka dan mulai memohon. Berulangulang mereka memohon, "Ayah, tolong, terima Yesus malam ini." Akhirnya ayahnya sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Memeluk kedua anaknya, dia datang ke altar di mana mereka disambut oleh ibu mereka. Betapa indahnya gambaran ini. Seseorang pernah berkata, "Di saat seorang dewasa diubahkan, seseorang diselamatkan; tetapi ketika seorang anak datang kepada Yesus, seluruh kehidupan diselamatkan." Marilah kita memberikan yang terbaik bagi anakanak kita sekarang, sebab apa yang kita berikan kepada seorang anak akan kembali berkat seratus kali lipat. Siapa yang bisa menghitung nilai dan kemampuannya? Hanya Tuhan. Bahan diedit dari sumber: Judul Buku: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2 Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1996 Halaman : 292 293 ORANGTUA DAN ANAKANAK Nas : Kol 3:21 "Hai bapabapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."
paideia kuriou

7

Mr. W.A. Bonger (1962) seorang guru besar Ilmu Kriminologi di Universitas Amsterdam, dalam bukunya Pengantar Tentang Kriminologi, menempatkan permasalahan “Terlantarnya anakanak” dalam urutan pertama kajiannya perihal Aetiologi (ilmu tentang sebab musabab) dari sosiologi kriminal. Ia menyatakan bahwa :”Kejahatan anakanak dan pemudapemuda sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan, lagipula kebanyakan penjahatpenjahat yang sudah dewasa umumnya sudah semenjak mudanya menjadi penjahat sudah merosot kesusilaannya sejak kecil... “. Selanjutnya dijelaskan bahwa :”Terutama pertumbuhan perindustrian menyebabkan adanya banyak sekali kejahatan anakanak,” Juga dijelaskan :”Hampir di semua negaranegara yang sudah tinggi peradabannya pencegahan dan pemberantasan kejahatan anakanak mendapat perhatian yang terbesar”. Ia juga menyimpulkan bahwa :”Terlantarnya anakanak oleh orang tua dan keluarga merupakan suatu unsur dalam semua kejahatan, karena itu merupakan unsur umum”. Kewajiban yang penting dari para orangtua (Yun. _pater_; jamak, _pateres_, dapat berarti "ayahayah" atau "ayah dan ibu") ialah memberikan kepada anak mereka ajaran dan teguran yang termasuk pengasuhan Kristen. Orangtua harus menjadi teladan dalam kehidupan dan perilaku Kristen, serta lebih mempedulikan keselamatan anak mereka daripada pekerjaan, profesi, pelayanan mereka di gereja atau kedudukan sosial mereka (bd. Mazm 127:3). 1) Menurut perkataan Paulus dalam Ef 6:4 dan Kol 3:21, dan juga perintah Allah dalam banyak ayat PL (Kej 18:19"; Ul 6:7"; Mazm 78:5"; Ams 4:1"4; Ams 6:20"), [atau > Kej 18:19; Ul 6:7; Mazm 78:5; Ams 4:14; 6:20] maka orangtua bertanggung jawab untuk memberi asuhan dan didikan kepada anak mereka yang akan mempersiapkan mereka untuk hidup berkenan kepada Allah. Yang terutama bertanggung jawab memberikan didikan alkitabiah dan rohani kepada anakanak adalah keluarga, bukan gereja atau sekolah Minggu. Gereja dan sekolah Minggu hanya membantu didikan dari orangtua. 2) Inti pengasuhan Kristen ialah; Hati bapa harus berpaling kepada hati anaknya agar dapat membawa hati anak itu kepada hati Juruselamat (Luk 1:17"). [atau > Luk 1:17] 3) Dalam membesarkan anakanak mereka, orangtua hendaknya jangan menunjukkan sikap pilih kasih, harus memberi dorongan dan juga teguran, hanya menghukum perbuatan salah yang dilakukan dengan sengaja, dan mengabdikan kehidupan mereka dalam kasih kepada anakanak mereka dengan hati yang penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (Kol 3:1214,21). 4) Berikut ini terdapat lima belas langkah yang harus diambil oleh para orangtua untuk menuntun anak mereka menuju kehidupan yang saleh di dalam Kristus : (a) Menyerahkan anakanak kepada Allah pada permulaan kehidupan mereka (1Sam 1:28; Luk 2:22). (b) Mengajar anakanak agar takut akan Tuhan dan berpaling dari
paideia kuriou

8

kejahatan, mencintai kebenaran dan membenci dosa. Bangkitkan di dalam mereka kesadaran akan sikap dan pendapat Allah terhadap dosa (Ibr 1:9"). [atau > Ibr 1:9] (c) Mengajar anakanak untuk menaati orangtua melalui disiplin alkitabiah (Ul 8:5; Ams 3:1112; 13:24; 23:1314; 29:15,17; Ibr 12:7). (d) Melindungi anakanak dari berbagai pengaruh jahat dengan menyadari usaha Iblis untuk menghancurkan mereka secara rohani melalui daya tarik dunia dan temanteman yang tak bermoral (Ams 13:20; 28:7; 1Yoh 2:1517). (e) Menyadarkan anakanak bahwa Allah selalu mengamati dan menilai apa yang mereka lakukan, pikirkan, dan katakan (Mazm 139:112). (f) Membawa anakanak pada usia muda kepada iman pribadi, pertobatan, dan baptisan air dalam Kristus (Mat 19:14). (g) Menetapkan anakanak dalam sebuah gereja rohani di mana Firman Allah diberitakan, prinsipprinsip kebenaranNya dihormati, dan Roh Kudus dinyatakan. Mengajarkan kepada mereka semboyan ini, "Aku bersahabat dengan semua orang yang takut kepadaMu" (Mazm 119:63; Kis 12:5"). [atau > Kis 12:5] (h) Mendorong anakanak untuk tetap hidup terpisah dari dunia serta bersaksi dan bekerja bagi Allah (2Kor 6:147:1; Yak 4:4). Mengajarkan mereka bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini (Ibr 11:1316), bahwa tanah air dan kewarganegaraan mereka yang sebenarnya adalah di sorga bersama Kristus (Fili 3:20; Kol 3:13). (i) Memberi tahu anakanak tentang pentingnya baptisan dalam Roh Kudus (Kis 1:45,8; 2:4,39). (j) Mengajarkan anakanak bahwa Allah mengasihi mereka dan mempunyai maksud khusus untuk kehidupan mereka (Luk 1:1317; Rom 8:30; 1Pet 1:39). (k) Tiap hari mengajarkan anak dalam Firman Allah, baik dalam percakapan maupun dalam ibadah keluarga (Ul 4:9; 6:57; 1Tim 4:6; 2Tim 3:15). (l) Melalui teladan dan nasihat, doronglah anakanak untuk hidup bertekun dalam doa (Kis 6:4; Rom 12:12; Ef 6:18; Yak 5:16). (m) Mempersiapkan anakanak untuk menderita dan mengalami penganiayaan oleh sebab kebenaran (Mat 5:1012). Mereka harus mengetahui bahwa "setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2Tim 3:12). (n) Mengangkat anakanak kepada Allah dalam doa syafaat yang tetap dan sungguhsungguh (Ef 6:18; Yak 5:1618; Yoh 17:1" [atau > Yoh 17:1] mengenai doa Yesus untuk muridmuridNya sebagai suatu contoh doa orangtua untuk anakanak mereka). (o) Memiliki kasih dan kepedulian sedemikian untuk anakanak sehingga bersedia untuk mencurahkan kehidupan saudara sebagai suatu persembahan kepada Tuhan, agar dapat memperdalam iman mereka dan menjadikan kehidupan mereka sebagaimana semestinya di dalam Tuhan (Fili 2:17"). [atau > Fili 2:17]
paideia kuriou

9

MULAILAH DENGAN MENDENGAR PENDAPAT ANAK Dalam masa tumbuh kembang anak, ada hal yang sangat ditunggu bagi orangtua yakni mendengar bayinya bersuara, tetapi ketika anak kemudian tumbuh dan berkembang serta sudah lancar berbicara, kadang orangtua mengabaikan apa pendapat anak atau apa yang diinginkan anak. Mendengar pendapat anak dan menyejajarkannya dengan pendapat orang dewasa, hingga kini belum banyak dilakukan orang dewasa dan tentu saja menjadi pekerjaan rumah (PR) besar buat kita. BATASAN USIA ANAK Hingga saat ini masih terjadi perbedaan kategori batasan usia anak. Padahal, batasan usia anak akan sangat menentukan siapa yang berhak untuk diberi perlindungan. Dalam produk perundangan negara kita, batasan usia anak sangat bervariasi. Sebagai contoh batasan usia anak/orang dalam hal politik (menggunakan hak pilih pada saat Pemilu) akan berbeda dengan batasan usia perkawinan, yang juga berbeda dengan batasan usia anak dalam ketenagakerjaan. Perbedaan batasan usia tersebut tentu saja sangat membingungkan dan kurang memberi ketegasan terhadap batasan usia anak secara umum. Sebenarnya batasan usia anak telah secara jelas diakui internasional yakni dengan acuan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Children atau CRC), yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990. Disebutkan dalam CRC bahwa anak adalah setiap yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undangundang (UU) yang berlaku, ketentuan usia dewasa anak bisa dicapai lebih awal. Dengan demikian apabila suatu negara menetapkan batas usia anak berbeda dalam setiap undangundang yang ditetapkan dalam wilayah negaranya maka tidak bertentangan dengan CRC. MAMPU BERPENDAPAT Terkait dengan hak berpendapat meskipun sederhana tetapi masih jarang dilakukan, karena adanya anggapan bahwa anak dipandang belum memberikan aspirasi mengenai dirinya karena kesulitan bahasa dan komunikasi secara verbal. Jika kita lebih cermati sebenarnya anak mempunyai bahasa tersendiri untuk mengungkapkan pendapatnya seperti bahasa tubuh, bahasa gambar, atau bahasabahasa lain yang kadang kurang kita (sebagai orang dewasa) pahami. Satu konsorsium di sebuah kota di Jawa Tengah mengadakan forum diskusi bagi anak yang diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Nasional. Dalam kegiatan tersebut terkumpul kurang lebih 70 anak yang diberikan kebebasan untuk beraspirasi dengan menggambar, bercerita mengenai halhal yang paling disayangi, dan paling dibenci. Hasilnya sangat menakjubkan, ternyata anak mampu beraspirasi mengenai pengalaman hidupnya, mengenai keinginannya yang
paideia kuriou

10

sederhana dan mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya. Dengan cara tersebut kita menjadi seperti anakanak dan menyadari bahwa lingkungan di sekitar anak sangat berpengaruh pada pertumbuhannya dan bahwa anak sangat rentan menjadi korban kekerasan. Beberapa bentuk kekerasan yang muncul pada anak misalnya yang harus hidup di jalan sebagai anak jalanan, anak yang harus bekerja, menjadi korban kekerasan seksual dan terbelenggu karena tanggung jawab keluarga yang dibebankan kepada mereka. Dari kenyataan itu tidak ada alasan tidak, bahwa kita harus mendengar pendapat anak dan memberi kesempatan anak untuk beraspirasi. Menjadikan anak sebagai subyek bukan obyek, adalah catatan penting yang harus kita lakukan. Dengan menganggap anak sebagai subyek, kita akan mampu mendengar pendapat anak yang disejajarkan dengan pendapat orang dewasa. Didengarnya suara anak dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk kebijakan pemerintah adalah hal yang menarik untuk dikaji. Secara langsung atau tak langsung setiap kebijakan yang diambil pemerintah juga berimbas pada anak. Misalnya kebijakan tata kota. Jika tata ruang kota tidak mempunyai perspektif pada anak, maka akan semakin sempitlah ruang bermain anak. Pola pembangunan yang mengabaikan kepentingan anak, salah satunya dengan tidak menyediakan "public space" (ruang publik) yang mudah diakses oleh anakanak. Kepentingan penyediaan "public space" sebenarnya sebagai media untuk anak. Dengan demikian anak dididik untuk belajar berinteraksi dengan orang lain dan kenal terhadap lingkungannya. Jika kemudian tempattempat bermain anak tidak ada, akan sangat berpengaruh terhadap masa tumbuh kembang anak. Jika kita menjelajahi wilayah di kota kita masingmasing, sering kita bertemu banyak anak yang terpaksa bermain layanglayang di jalan yang tentu akan membahayakan jiwa mereka. Kemudian sempat juga kita temui segerombolan anak yang bermain bola di lahan lahan parkir. Sebenarnya ada tempattempat publik/bermain lainnya, seperti play station, taman hiburan, kebun binatang, dan lainlain. Namun itu semua sarat dengan kepentingan bisnis daripada kepentingan pendidikan bagi anakanak. Dan mesti diingat pula bahwa ruangruang itu ternyata hanya bisa diakses oleh anak yang cukup mampu secara ekonomi. Kenyataan itu seharusnya membuka kesadaran bagi pengambil kebijakan di pemerintah kota, bahwa setiap pembuatan keputusan haruslah mempunyai perspektif yang jelas untuk anak. Terlebih lagi untuk kebijakan yang terkait dengan masalah anak haruslah mengikutsertakan anak. Sejauh ini dinilai bahwa pembangunan kota kurang bersahabat dengan anak, seperti pengaturan transportasi bagi kepentingan anak anak. Seharusnya Pemerintah Kota mampu menyediakan busbus sekolah yang dikhususkan beroperasi pada jamjam sekolah sehingga anakanak
paideia kuriou

11

tidak perlu berdesakdesakan atau bergelantungan di pintu bus umum yang dipastikan berbahaya untuk mereka. Atau, Pemerintah Kota perlu membangun tempattempat yang "accesible" untuk anakanak "disabled" (anak anak penyandang cacat) sehingga mereka mampu mengakses tempat tempat tertentu, terutama tempattempat umum seperti tempat bermain. Hak berpendapat anak merupakan satusatunya hak dari sepuluh hak anak yang telah diakui secara internasional dalam CRC, sembilan hak anak yang lain adalah hak mendapat informasi, hak bermain, hak berkumpul, hak mendapat pendidikan, hak beristirahat, hak memiliki identitas, hak dilindungi keluarga, hak untuk sehat, dan hak terpenuhi kebutuhan dasarnya. TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH

Dalam CRC yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, sebenarnya merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memberikan hak berpendapat bagi anak. Dalam CRC, hak berpendapat anak tertuang dalam Pasal 12 ayat 1, disebutkan, "Negaranegara peserta akan menjamin anakanak yang mampu membentuk pandangannya sendiri bahwa mereka mempunyai hak untuk menyatakan pandanganpandangan secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak dipertimbangkan sesuai dengan usia dan kematangan anak." Dengan mempertimbangkan masa tumbuh anak tentu hak berpendapat tidak hanya dimaknai pada saat anak berbicara secara verbal, karena hak berpendapat ini mencakup kebebasan yang terlepas dari pembatasan untuk meminta, menerima, dan memberi informasi serta gagasan dalam segala jenis, baik lisan, tulisan, atau cetakan, dalam bentuk seni ataupun media yang lain. Sifat hak asasi anak yang universal memberikan arti bahwa hak ini dilekatkan pada anak tanpa membedabedakan suku, agama, ras, warna kulit, kelamin, bahasa, pandangan, politik dan lainlain, asalusul bangsa, harta kekayaan, cacat, kelahiran, atau status lain dari anak atau orangtua. Mendengar suara anak dan mengikutsertakan anak dalam rencana kebijakan kota terutama yang terkait dengan anak tentu menjadi bagian dari kewajiban pemerintah untuk turut menghargai hak asasi anak. Untuk mendengar suara anak, pemerintah bisa memfasilitasi terbentuknya forumforum anak. Karena, dalam penyelenggaraan forum anak, banyak hal yang bisa digali dari anak seperti apa yang terjadi pada anak termasuk kekerasan yang menimpanya dan apa yang menjadi keinginan anak. Sebagaimana terungkap dalam CRC Pasal 12 ayat 2, mendengar pendapat anak dapat dilakukan baik secara langsung ataupun tak langsung melalui perwakilan atau suatu badan yang tepat. Jadi, memulai dengan mendengar pendapat anak kita termasuk anak sebagai generasi penerus
paideia kuriou

12

akan semakin dididik untuk menghargai perbedaan dalam berpendapat dan menjadi pilar untuk membangun negara Indonesia yang lebih demokratis. Bahan diedit dari sumber: Judul Surat Kabar: SOLOPOS Edisi : Selasa, 23 Juli 2002 Penulis : Haryani Saptaningtyas Ketua Divisi Penelitian Social Analysis and Research Institute (SARI) Halaman :4

MEREKA TIDAK BISA DIKARBIT Tidak seorang pun meragukan pentingnya prestasi intelektual dalam diri seorang anak. Namun prestasi intelektual itu jangan sampai melemahkan keyakinan kita bahwa anak akan mencapai hasil yang sebaikbaiknya kalau mereka diberi kesempatan berkembang sesuai dengan langkah yang ditentukan alam bagi mereka. Soalnya, kalau perkembangan intelektual mereka diburuburu dan didesakdesak, hasilnya justru akan kurang dibandingkan dengan jika mereka dibiarkan berkembang dengan wajar. Berikut tiga kasus yang sering dijumpai para psikolog yang bisa dipetik sebagai pelajaran. 1. Nani, siswa kelas I SD yang kepandaiannya sedang, dipaksapaksa oleh orangtuanya untuk belajar komputer. Soalnya orangtuanya pernah membaca bahwa kebanyakan anak perempuan kalah dari anak lakilaki dalam pelajaran matematika. Padahal mereka ingin Nani kelak bisa masuk universitas terbaik. 2. Boby, anak kelas V SD yang kecerdasannya di atas ratarata, ternyata mundur sekali prestasinya. Ia selalu lelah dan tegang, karena selain harus membuat PR dan belajar di sekolah, ia juga harus pergi ke perpustakaan, belajar piano, dan latihan renang. "Kami ingin agar ia jangan ketinggalan dalam semua bidang," kata ayahnya, yang tidak mau membuka mata betapa anaknya merasa tertekan dan frustasi. 3. Dina, murid SMU. Gurunya pernah menyebutnya sebagai calon genius. Hal itu dianggap ayahnya sebagai isyarat untuk memaksa pelbagai pihak agar membolehkan Dina lompat kelas. Maksudnya, agar Dina bisa masuk universitas setahun lebih awal dari usia normal. Dina tampak bingung dan kehilangan harapan untuk berhasil, tapi orangtuanya tak kenal kompromi. Ia diharuskan meninggalkan minatnya untuk menari, meninggalkan temantemannya dan juga pacarnya, yang menurut orang tuanya hanya "hanya membuangbuang waktunya" saja.
paideia kuriou

13

Ketiga kasus seperti itu tidak jarang kita jumpai. Banyak anak menjadi korban dari kecenderungan yang keliru, yaitu menghapuskan masa kanakkanak secepatnya dan menggantikannya dengan kedewasaan. Masalahnya banyak orangtua beranggapan supaya anak nantinya bisa survive, bisa bertahan di masa yang akan datang yang penuh tantangan, sehingga mereka harus secepatnya menjadi dewasa. Anak yang diburuburu seperti itu bukan cuma kehilangan kesejahteraan jiwanya, tetapi juga kehilangan kemampuannya untuk menangani stres. Di lain pihak ada orangtua yang tidak mau kalah dari orangtua lain, bertekad membesarkan generasi "bayi super" berupa geniusgenius muda yang kekuatan otaknya didorong sampai batas maksimal mulai saat meninggalkan rahim. Bayibayi bukan diajak bermain dengan gembira, melainkan dicekoki dengan halhal yang dianggap "bekal masuk universitas". Anak belum berumur 4 tahun pun dijejali daftar katakata, karena "tahun depan akan dimasukkan ke TK elite". Bahkan masa liburan pun kini sering tidak bisa dimanfaatkan untuk bersenangsenang dan mengkhayal lagi oleh anakanak. Sebaliknya, mereka disuruh les macammacam. Memang betul bahwa bayi pun lebih mampu menerima pelajaran daripada yang kita bayangkan. Namun mencoba memajukan kemampuan intelektual seorang anak prematur sama saja dengan mengacaukan jadwal biologis perkembangan manusia yang sudah builtin. Perkembangan kemampuan seorang anak bergantung pada perkembangan otak dan sistem sarafnya. Langkah kemajuan anak yang satu bisa beda sekali dari anak yang lain. Dengan memaksa anak menyamakan derapnya dengan anak yang lebih cepat melangkah, kita hanya akan membuat si anak bingung dan frustasi. Psikolog David Elkind, dalam bukunya "The Hurried Child", melaporkan sekarang banyak anak yang mendapatkan perawatan psikologis, karena dipaksa belajar macammacam pada saat masih kecil sekali. Menurut Elkind, anakanak itu diciutkan masa kanakkanaknya. Stres yang mereka alami sering muncul dalam bentuk gejalagejala fisik, seperti anak umur 4 tahun yang tadinya selalu sehat, kini sering sakit kepala. Anakanak membutuhkan kesempatan di samping belajar, untuk berangan angan di samping melakukan sesuatu. Kenyataannya anakanak yang mengalami masa kanakkanak yang utuh biasanya lebih berhasil sebagai orang dewasa. Bagaimanapun, buah yang matang di pohon tetap lebih enak daripada buah karbitan. Makanya, Roussseau pun berpesan, "Biarlah masa kanakkanak matang sendiri." Sumber: Judul Buku: Kumpulan Artikel Intisari Psikologi Anak Penerbit : Majalah Intisari, 1996
paideia kuriou

14

Halaman : 178 179 PENTINGNYA PENDALAMAN ALKITAB BAGI ORANG TUA Nas : 2Tim 2:2" Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orangorang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." Gereja bertanggung jawab untuk memelihara dan mempertahankan doktrin rasuli asli dan benar yang ditemukan dalam Alkitab dan mempercayakannya kepada orang tanpa berkompromi atau tercemar. Hal ini menunjukkan perlunya pembinaan Alkitab di dalam gereja. 1) Alkitab memberikan alasanalasan berikut ini untuk pendalaman alkitabiah atau teologi di rumah, gereja atau di sekolah: (a) mempercayakan Injil Kristus kepada orang percaya yang setia supaya mereka dapat mengenal (2Tim 3:15; Yer 2:8"), [atau > Yer 2:8] memelihara (2Tim 1:14") [atau > 2Tim 1:14] dan mengajarkan iman alkitabiah yang benar (1Tim 4:6,11; 2Tim 2:2) dan standar kebenaran 1Tim 6:3; Rom 6:17"); [atau > Rom 6:17] (b) menunjukkan kepada pelajar betapa pentingnya "tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orangorang kudus" (Yud 1:3") [atau > Yud 1:3] dan memberikan kepada mereka sarana untuk mempertahankannya terhadap semua teologi palsu (1Tim 6:34; Tit 1:9; Kis 20:31"; Gal 1:9"; 1Tim 4:1"; [atau > Kis 20:31; Gal 1:9; 1Tim 4:1] lih. art. GURUGURU PALSU, no.08441). (c) membantu pelajar untuk bertumbuh terus dalam watak melalui "ajaran yang sesuai dengan ibadah" (1Tim 6:3; bd. Yos 1:8; Mazm 1:23; Mazm 119:97100; Mat 28:20; Yoh 17:1418; 1Tes 4:1; 1Tim 4:7,16; 2Tim 3:16; 1Tim 1:5"). [atau > 1Tim 1:5] (d) memperlengkapi pelajar untuk memperkuat dan mendewasakan orang percaya lain supaya bersamasama dapat mencerminkan gambar Kristus dalam rumah, gereja lokal, dan tubuh Kristus (Ef 4:1116). (e) menuntun pelajar kepada pemahaman dan pengalaman yang lebih mendalam mengenai kerajaan Allah di bumi ini dan pertentangannya dengan kuasa Iblis (Ef 6:1018; lih. art. KERAJAAN ALLAH, no.08437). (f) memotivasi pelajar melalui kebenaran kekal dari Injil, untuk mengabdi dengan sepenuh hati untuk menginjili orang terhilang dan memberitakan Injil kepada semua bangsa dalam kuasa Roh Kudus
paideia kuriou

15

(Mat 28:1820; Mr 16:1520). (g) memperdalam pengalaman pelajar mengenai kasih Kristus, persekutuan pribadi dan karunia Roh Kudus (Yoh 17:3,21,26; Ef 3:1819) dengan mendorong mereka mengikuti pimpinan Roh Kudus yang di dalam mereka (Rom 8:14) dengan menerima baptisan dalam Roh Kudus (bd. Kis 2:4; lih. art. BAPTISAN DALAM ROH KUDUS, no.08449), dan dengan mengajar mereka berdoa (Mat 6:9"), [atau > Mat 6:9] berpuasa (Mat 6:16") [atau > Mat 6:16] dan beribadah, sementara menantikan kedatangan Kristus yang mulia dengan semangat rohani yang sama dengan orang saleh PB (2Tim 4:8; Tit 2:13). 2) Jelaslah dari alasanalasan ini bahwa pengajaran harus dilaksanakan oleh mereka yang sungguh setia kepada Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya (2Tim 1:1314; Ezr 7:10"; [atau > Ezr 7:10] lih. art. PENGILHAMAN DAN KEKUASAAN ALKITAB, no.08470), dan kepada Roh Kudus dan pelayananNya dalam kebenaran, keadilan, dan kuasa (2Tim 1:14). 3) Perhatikan bahwa pendalaman alkitabiah yang benar menekankan kebenaran yang sejati (yaitu, mengenal, menjadi, dan melakukan) dan bukan sekedar mengetahui fakta dan kebenaran alkitabiah saja. Kebenarankebenaran akbar yang terungkap dalam Alkitab merupakan kebenaran yang menebus, dan bukan kebenaran akademis saja. Karena meliput masalah hidup dan mati, kebenaran itu menuntut tanggapan dan keputusan pribadi dari pembina dan pelajar (Yak 2:17; Fili 1:9"). [atau > Fili 1:9]

Lih. art. PENDALAMAN ALKITAB BAGI ORANG KRISTEN _ ... dan akhir zaman Mat 24:5,11 Lihat FULL pada "Mat 24:5" Lihat FULL pada "Mat 24:11" _ sifat dari ... Ayub 42:7; Gal 5:7 Lihat FULL pada "Ayub 42:7" Lihat FULL pada "Gal 5:7" Kata Pokok: AJAR, PENGAJARANPENGAJARAN PALSU Info 06001

1. Merusak iman. 2Tim 2:18
paideia kuriou

16

2. Allah membenci . Wahy 2:6,14,15 3. Tidak berguna dan siasia. Tit 3:9; Ibr 13:9 4. Harus dihindari oleh: 4.1 Hambahamba Tuhan. 1Tim 4:1,6,20 4.2 Orangorang kudus. Ef 4:14; Kol 2:8 4.3 Semua orang. Yer 23:16; 29:8,9 5. Orangorang fasik mencintai . 2Tim 4:3,4 6. Orangorang fasik disesatkan oleh . 2Tes 2:11 7. Guruguru : 7.1 Akan bertambah banyak pada akhir zaman. 1Tim 4:1 7.2 Akan dinyatakan kepada semua orang. 2Tim 3:9 7.3 Harus waspada terhadap . Rom 16:17,18 7.4 Mengajarkan ajaran palsu. Kis 20:30 7.5 Menghujat Jalan Kebenaran. 2Pet 2:2 7.6 Menyesatkan banyak orang. Mat 24:5 7.7 Memutarbalikkan Injil Kristus. Gal 1:6,7 7.8 Banyak orang mengikutinya. 2Pet 2:2 7.9 Jangan menerima mereka. 2Yoh 1:10 8. Guruguru dilukiskan sebagai: 8.1 Ganas. Kis 20:29 8.2 Tamak. Tit 1:11; 2Pet 2:3 8.3 Curang. 2Kor 11:13 8.4 Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. 2Tim 3:8 8.5 Berlagak tahu padahal tidak tahu apaapa. 1Tim 6:3,4 9. Menguji dengan Firman Tuhan. Yes 8:19; 1Yoh 4:1 10. Kutuk pada orang yang mengajarkan . Gal 1:8,9 11. Hukuman bagi orang yang mengajarkan .
paideia kuriou

17

Mi 3:6,7; 2Pet 2:1,3

Judul: GURUGURU PALSU Nas : Mr 13:22 Ayat: "Sebab MesiasMesias palsu dan nabinabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tandatanda dan mujizatmujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orangorang pilihan." GAMBARAN. Orang percaya dewasa ini harus menyadari bahwa di dalam gerejagereja masa kini mungkin sekali ada pekerja Firman Allah yang sikap dan hidupnya sama dengan guruguru bejat yang mengajarkan Taurat Allah pada zaman Yesus (Mat 24:11,24). Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya pada Kristus adalah orang yang sungguhsungguh percaya, demikian pula tidak semua penulis Kristen, utusan gerejani, gembala sidang, penginjil, pengajar, penatua, dan pekerja gereja benarbenar menjadi hamba Allah. 1) Secara lahiriah para rohaniwan ini "tampak benar di mata orang" (Mat 23:28). Mereka datang "dengan menyamar seperti domba" (Mat 7:15). Mungkin saja mereka melandaskan berita mereka atas Firman Allah dan menyatakan standar tinggi yang benar. Mereka mungkin kelihatan sangat memperhatikan pekerjaan dan Kerajaan Allah dan memperlihatkan perhatian besar terhadap keselamatan jiwajiwa yang terhilang sambil mengaku bahwa mereka mengasihi orang banyak. Mereka mungkin tampak sebagai hamba Allah yang sungguhsungguh, pemimpin rohani yang patut dihargai, dan diurapi oleh Roh Kudus. Mereka bahkan kelihatan sangat berhasil dan banyak orang mengikut mereka (Mat 24:11,24; 2Kor 11:1315 Mat 7:21"; Mat 7:22"; Mat 7:23"). [atau > Mat 7:2123] 2) Sekalipun demikian, orangorang ini sangat mirip dengan nabi palsu dalam PL (Ul 13:3"; 1Raj 18:40"; Neh 6:12"; Yer 14:14"; Hos 4:15"; [atau > Ul 13:3; 1Raj 18:40; Neh 6:12; Yer 14:14; Hos 4:15] lih. art. NABI DI DALAM PERJANJIAN LAMA, no.08427) dan orang Farisi dalam PB. Di dalam kehidupan mereka yang sesungguhnya, yaitu yang tidak tampak kepada umum, mereka dipenuhi "rampasan dan kerakusan" (Mat 23:25), "penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran" (Mat 23:27), "penuh kemunafikan dan kedurjanaan" (Mat 23:28). Kehidupan mereka di balik pintu yang terkunci menyangkut halhal seperti hawa nafsu, kebejatan, perzinahan, kerakusan, dan kegemaran yang memusat pada diri sendiri. 3) Penipu lihai ini memperoleh kedudukan yang berpengaruh di dalam
paideia kuriou

18

gereja melalui dua cara. (a) Beberapa guru/pengkhotbah palsu mengawali pelayanan mereka dengan kesungguhan hati, kebenaran, kemurnian, dan iman yang sungguhsungguh kepada Kristus. Kemudian karena kesombongan dan keinginan mereka yang tak bermoral, kasih dan pengabdian mereka kepada Kristus semakin memudar. Sebagai akibatnya, hubungan mereka terputus dengan Kerajaan Allah (1Kor 6:910; Gal 5:1921; Ef 5:56) sehingga mereka menjadi sarana Iblis sementara masih menyamar sebagai pelayan kebenaran (lih. 2Kor 11:15). (b) Guruguru/pengkhotbah palsu lainnya tidak pernah sungguhsungguh percaya kepada Kristus. Iblis telah menanamkan mereka di dalam gereja sejak awal pelayanan mereka (Mat 13:2428,3643) sambil menggunakan kecakapan dan karisma mereka serta membantu dalam keberhasilan mereka. Siasat Iblis ialah menempatkan mereka dalam kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja agar mereka dapat merusak pekerjaan Kristus. Iblis mengetahui bahwa pada saat perbuatan mereka ketahuan, Injil dan nama Kristus akan sangat dipermalukan. CARACARA MENGUJI. Empat belas kali dalam kitabkitab Injil, Yesus mengingatkan muridNya agar waspada terhadap pemimpinpemimpin yang akan menyesatkan (Mat 7:15; 16:6,11; 24:4,24; Mr 4:24; 8:15; 12:3840; 13:5; Luk 12:1; 17:23; 20:46; 21:8). Di tempat lain orang percaya dinasihati untuk menguji pengajar, pengkhotbah, dan pemimpin di dalam gereja (1Tes 5:21; 1Yoh 4:1). Langkahlangkah berikut ini dapat dipergunakan untuk menguji guru palsu atau nabi palsu. 1) Perhatikan watak mereka. Adakah mereka itu berdoa dengan tekun serta mengabdi kepada Allah dengan tulus dan sungguhsungguh? Apakah mereka sudah menyatakan buah Roh (Gal 5:2223), mengasihi orang berdosa (Yoh 3:16), membenci kefasikan dan mengasihi kebenaran (Ibr 1:9") [atau > Ibr 1:9] serta gigih menentang dosa (Mat 23:139; Luk 3:1820)? 2) Perhatikan motivasi mereka. Pemimpin Kristen yang sejati akan berusaha melakukan empat hal: (a) menghormati Kristus (2Kor 8:23; Fili 1:20); (b) memimpin gereja kepada pengudusan (Kis 26:18; 1Kor 6:18; 2Kor 6:1618); (c) menyelamatkan orang yang terhilang (1Kor 9:1922); dan (d) memberitakan serta mempertahankan Injil Kristus dan ajaran para rasul (Fili 1:16"; dan Yud 1:3"). [atau > Fili 1:16; Yud 1:3] 3) Ujilah buah dalam kehidupan dan berita. Buah atau hasil pelayanan pekerja palsu ini sering kali terdiri atas orang bertobat yang tidak sepenuhnya menyerah kepada segenap Firman Allah (Mat 7:16"). [atau > Mat 7:16] 4) Perhatikan tingkat ketergantungan pada Alkitab. Ujian ini sangat menentukan. Apakah mereka percaya dan mengajar bahwa penulisan asli dari PL dan PB sepenuhnya diilhami oleh Allah sehingga kita harus tunduk
paideia kuriou

19

kepada seluruh ajarannya (2Yoh 1:911; lih. art. PENGILHAMAN DAN KEKUASAAN ALKITAB, no.08470). Jika tidak, dapat dipastikan bahwa baik mereka maupun berita yang mereka sampaikan tidak berasal dari Allah. 5) Akhirnya, ujilah kejujuran mereka berkenaan dengan uang Tuhan. Apakah mereka menolak untuk mengambil banyak uang untuk diri mereka, mengatur semua keuangan dengan jujur dan penuh tanggung jawab, dan berusaha memajukan pekerjaan Tuhan dengan caracara yang sesuai dengan standar PB untuk para pemimpin (1Tim 3:3; 6:910)? Haruslah disadari bahwa kendatipun segala usaha orang percaya yang setia dalam menilai kehidupan dan berita seseorang, akan ada guruguru palsu di dalam gereja, yang dengan bantuan Iblis, tetap tidak diketahui hingga tiba saatnya Allah memutuskan untuk menyingkapkan keadaan mereka yang sesungguhnya.

AKTIVITAS MENULIS

Seringkali ada satu bentuk aktivitas menulis yang digunakan secara berlebihan dalam Sekolah Minggu, sedangkan bentuk aktivitas menulis yang lainnya jarang sekali digunakan. Aktivitas menulis dalam sebuah proses belajar mengajar yang biasa digunakan dalam Sekolah Minggu adalah dengan mengajak anakanak untuk mendengarkan sebuah cerita, kemudian lembar kerja dibagikan dan anakanak diminta untuk menulis jawaban/menjawab pertanyaanpertanyaan dalam lembar kerja tersebut. GSM menggunakan banyak usaha agar ASM dapat menulis jawaban dengan benar, rapi dan pada tempatnya. Tapi aktivitas menulis yang kreatif, di satu sisi, menantang anak anak untuk memikirkan tentang makna pelajaran yang disampaikan dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Menulis puisi, cerita, jurnal, dan naskah adalah aktivitasaktivitas yang dapat melibatkan anakanak dalam proses belajar. Dengan menggunakan bahan bahan yang tidak mahal, guru dapat membangkitkan minat anakanak pada pelajaran yang disampaikannya, sekaligus menolong anakanak untuk melatih dan membentuk kecakapan mereka dalam berkomunikasi. Para guru yang menggunakan aktivitas menulis kreatif harus menyadari kemampuan dan minat anakanak didik mereka. Misalnya ada anakanak yang memiliki minat dan mau berpartisipasi namun tidak bisa menulis dengan lancar, maka mereka dapat menyatakan idenya di depan kelas ataupun di depan guru. Aktivitasaktivitas alternatif perlu disediakan, khususnya bagi anakanak yang cenderung memilih aktivitas drama, musik, ataupun seni. Berikut ini adalah bentukbentuk aktivitas menulis kreatif: 1. Kalimat Deskripsi
paideia kuriou

20

Anakanak dapat diminta untuk menulis kalimatkalimat deskripsi dari gambargambar (sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan) yang dipasang di kelas. Untuk mereview, anakanak dapat diminta untuk memasangkan kalimatkalimat itu sesuai dengan gambargambar tersebut. Sebagai kreasi dalam pelajaran, anakanak dapat menulis deskripsi tentang binatangbinatang dan memasangkannya dengan foto binatangbinatang yang tersedia. 2. Doa Doa tertulis sebaiknya tidak digunakan untuk menunjukkan kepada ASM bagaimana cara berkomunikasi dengan Allah. Guru sebaiknya mendorong anakanak untuk berdoa secara spontan dan komunikatif. Meskipun demikian, menuliskan doa dapat menolong anak untuk lebih mengerti permohonan doa yang disampaikan dan mengatur cara penyampaian idenya. Menulis doa sekaligus juga dapat menolong anakanak untuk mengetahui bagaimana Allah menjawab doadoa mereka. 3. Koran/Majalah Proyek favorit untuk anakanak usia Sekolah Dasar adalah membuat berita (seperti di koran) tentang satu peristiwa dalam sejarah Alkitab. Guru dapat menyediakan "fotofoto" untuk anakanak yang lebih menyukai aktivitas seni. Penulisan laporan yang ringkas dan tepat membutuhkan seorang reporter untuk menyeleksi peristiwa peristiwa penting yang terjadi, mengetahui peran dari karakter karakter yang terlibat, dan menuliskan beritanya sehingga dapat menampilkan satu edisi "Koran/Majalah Sekolah Minggu". Untuk lebih memahami jangkauan dan urutan peristiwa yang terjadi dalam kitab Keluaran, anakanak dapat membuat berita tentang tulahtulah dan bagaimana bangsa Israel bersiapsiap untuk meninggalkan Mesir. Kolomkolom yang ada dapat juga diisi wawancara dengan Firaun dan Musa, misalnya. 4. Puisi Beberapa anak suka untuk menulis puisi karena menyukai ritmenya, sedangkan anakanak lain enggan untuk membuat puisi apapun bentuknya. Guru dapat menyediakan berbagai bentuk puisi untuk menunjukkan kepada anakanak bahwa membuat puisi itu mudah dan menyenangkan untuk mengekspresikan perasaan dan ide pikiran. Untuk mengekspresikan perasaan mereka tentang ciptaanciptaan Allah dalam setiap musim, anakanak dapat diberi tugas untuk menuliskan tentang musimmusim tersebut. Lalu mereka dapat menggabungkan hasil tulisannya dalam sebuah buku dan disharingkan di kelas.
paideia kuriou

21

5. Drama Pendek Naskah dibuat untuk melakonkan peristiwaperistiwa baik yang ada di Alkitab atau pengalamanpengalaman seharihari yang mengilustrasikan tentang kebenaran Alkitab. Naskah drama itu dapat dimainkan oleh anakanak ataupun boneka. Untuk menulis naskah drama, seorang penulis harus memiliki pemahaman yang benar tentang cerita yang akan didramakan dan dapat membayangkan dirinya dalam peranperan setiap karakternya. Sekelompok anak dapat didorong untuk menulis kembali peristiwa peristiwa dalam Alkitab dengan mengambil setting kontemporer. Latihan ini dapat menolong mereka untuk lebih memahami, misalnya status sosial orang Samaria dalam cerita "Orang Samaria yang Baik Hati." Setiap orang yang lewat dalam cerita itu dapat digantikan dengan karakter yang paralel di jaman modern ini. 6. Jurnal/Diary Ada dua cara untuk membuat sebuah proyek jurnal (buku harian). Pertama adalah metode yang digunakan untuk mendorong anakanak mengingat tentang pelajaranpelajaran dari Alkitab yang telah mereka terima dan bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Metode kedua adalah menuliskan jurnal seolaholah dia menjadi "saksi mata" yang juga mengalami peristiwaperistiwa yang terjadi Alkitab. Laporanlaporan dari peristiwa di Alkitab dapat juga ditulis dalam bentuk surat ataupun postcard. Anakanak dapat membayangkan, misalnya waktu mereka turut hadir saat Yesus memberi makan orang banyak. Biarkan mereka menulis di postcard untuk menceritakan peristiwa itu dan dilengkapi dengan "gambar peristiwa itu" di sebalik postcard itu. Aktivitas menulis yang kebanyakan dilakukan anakanak di Sekolah Minggu tidak lebih dari aktivitas meniru tulisan yang membosankan dan membuat kesibukan untuk anakanak. Anakanak perlu dilatih untuk menulis secara kreatif dan bagaimana menggunakan medium ini (tulisan) untuk mengekspresikan ide dan perasaan mereka tentang segala sesuatu yang telah mereka pelajari. Bahan diterjemahkan dari sumber: Judul Buku: The Complete Handbook of Children's Ministry Penulis : Dr. Robert J. Choun dan Dr. Michael S. Lawson Penerbit : Thomas Nelson Publishers, 1993 Halaman : 360 362

ARTIKEL (2) MANFAAT KEGIATAN MENULIS
paideia kuriou

22

Aktivitasaktivitas menulis kreatif merupakan pengalaman belajar yang berharga bagi anakanak, bila pengalamanpengalaman itu direncanakan sesuai dengan kemampuan anak, dan mereka tidak mendapat hukuman saat mengalami kegagalan. Menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan seperti puisi, cerita, buku harian, stanza, hymne, dsb. akan menolong seorang anak untuk mengingat dan kemudian mengembangkan pikiranpikiran utama yang ingin diekspresikan. Sebagai contoh: Seorang anak yang baru mulai belajar membaca dapat mendiktekan katakata atau kalimatkalimat lalu ditulis oleh guru. Hal ini, melatih anakanak untuk memiliki catatan yang mengingatkannya tentang ideide yang tercetus di kelas. Seorang anak yang menulis surat kepada temannya dan menjelaskan tentang poinpoin utama pelajaran, berarti dia sedang mengembangkan keahliannya dalam mensharingkan iman mereka kepada orang lain. Seorang anak yang menuliskan kembali ayatayat Alkitab dengan kata katanya sendiri, berusaha untuk memahami arti ayatayat tersebut dan tidak sekedar mengingat saja. Seorang anak yang memberikan sebuah kata atau frase kepada satu kelompok mengarang, didorong untuk mengetahui bagaimana rasanya menjadi satu bagian dalam kelas dan menikmati keberhasilannya saat idenya diterima. Manfaat yang diperoleh dari aktivitas menulis kreatif: Pelajaran di Sekolah Minggu yang berhubungan dengan aktivitas menulis kreatif dapat menolong anakanak untuk: 1. Mendata/mendeskripsikan contohcontoh nyata dari konsepkonsep abstrak seperti mengasihi, mengampuni, menyembah dan melayani. 2. Menyatakan perasaan anakanak tentang Allah, atau tentang pengalaman dan kebutuhan mereka. 3. Menyatukan pikiran saat menuangkan ideide mereka dengan kata kata. 4. Mengingat saatsaat dimana mereka menerapkan kebenaran Alkitab dalam kehidupannya seharihari. 5. Menunjukkan kasih kepada sesama (misalnya: menulis surat kepada para misionaris atau orangorang yang di rumah; menulis ucapan terima kasih kepada orangtua atau staf gereja; menawarkan bantuan dengan membuat kuponkupon bertuliskan "Saya akan menolong Anda", dsb.).
paideia kuriou

23

6. Meningkatkan daya ingat mereka tentang peristiwaperistiwa di Alkitab dengan cara membuat dan menulis informasi tentang cerita Alkitab. Bahan diterjemahkan dari sumber: Judul Buku: Sunday School Smart Pages Editor : Wes and Sheryl Haystead Penerbit : Gospel Light, 1992 Halaman : 109

Hari libur bukan berarti terbebas dari halhal yang berhubungan dengan alat tulis menulis. Guru Sekolah Minggu dapat mengadakan kegiatan tulis menulis yang berguna bagi para ASMnya. Di bawah ini tips bagi GSM yang ingin mengadakan kegiatan menulis kreatif di Sekolah Minggu. MENYELENGGARAKAN AKTIVITAS MENULIS KREATIF DI SEKOLAH MINGGU

1. Tulis di papan tulis atau di kertas semua kata yang perlu diketahui ejaannya oleh anakanak. 2. Rekam ideide dari anakanak yang tidak terlibat dalam aktivitas tersebut. Kemudian tulis ideide tersebut dan tambahkan pada proyek yang sedang dikerjakan. 3. Biarkan anakanak bekerja sama, pastikan seorang dari mereka atau dalam kelompok cukup pandai dalam menuliskan ideide kelompok mereka. 4. Minta satu kelompok agar mendiktekan sebuah cerita atau surat untuk Anda tulis. 5. Usahausaha seorang anak dalam menulis kreatif akan lebih terpacu jika guru memberikan contohcontoh untuk merangsang pikiran anak anak. 6. Tunjukkan dan diskusikan gambargambar atau objekobjek lainnya untuk memunculkan ide. 7. Sediakan "awalan cerita" (biasanya menggambarkan situasi yang dapat dilengkapi oleh anakanak). 8. Usulkan sebuah problem yang dapat diselesaikan oleh anakanak. 9. Sebelum anakanak mulai menulis, dorong mereka untuk terlebih dulu menceritakan tentang ideide yang kemungkinan akan mereka
paideia kuriou

24

gunakan. Selamat beraktivitas! Bahan diterjemahkan dari sumber: Judul Buku: Sunday School Smart Pages Editor : Wes and Sheryl Haystead Penerbit : Gospel Light, 1992 Halaman : 109 PERASAAN ANAK TERHADAP MUSIK

Sejak dini anak sebenarnya sudah mengenal musik. Perhatikan saja anak yang baru lahir, ia sudah dapat memberikan tanggapan yang berbeda pada masingmasing jenis musik. Misalnya lagu lembut meninabobokannya, sedang lagulagu keras membuat ia lebih aktif menggerakgerakkan tubuhnya. Meski lututnya mengikuti irama lagu, atau menggerakgerakkan tangannya seperti sedang memimpin sebuah Orkes Simfoni. Musik dan gerak pada dasarnya merupakan dua unsur yang menyatu. Perkembangan musikal seorang anak pertama kali dimulai dari mendengar dan kemudian menggerakgerakkan anggota tubuh sesuai dengan irama. Dan menjelang usia enam tahun, sebetulnya kemampuan untuk menyelaraskan gerak dengan irama lagu semakin jelas terlihat. Barangkali kita perlu ingat, bahwa bermain musik itu merupakan hal biasa, seperti juga berbicara atau belajar membaca dan menulis. Terlebih lagi jika pengertian musik di sini mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan bunyi, yang dapat dirangkum dan disusun dengan cara tertentu. Mungkin kita masih ingat ketika kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Pada suatu kesempatan muridmurid berkumpul dalam kelas, dan guru kebetulan tidak ada. Kemudian tibatiba seorang murid memukul mukulkan tangannya di atas meja. Dengan tanpa disadari perbuatannya itu diikuti oleh temantemannya, sehingga hampir seisi kelas memukul mukul mejanya masingmasing. Ajaib! pukulanpukulan itu menjadi berirama dan beraturan walau tidak terencana, sehingga merupakan iringan lagu yang dinyanyikan bersama. Tanpa disadari pula sebenarnya anakanak telah menciptakan musik. Kita tahu, bahwa musik memegang peranan dalam kehidupan manusia. Bahkan musik merupakan salah satu bahasa manusia di manamana dan dalam suasana apapun juga. Kegembiraan atau kebahagiaan sering dinyatakan dengan musik, begitu juga kesedihan diwujudkan dalam musik, malahan juga komunikasi dengan Tuhan. Paling tidak dengan irama dan nadanada yang mengalun menyentuh perasaan. Sekarang mungkin kita perlu mengetahui, siapa saja yang boleh
paideia kuriou

25

mengambil pelajaran musik? Apakah semua anak, atau hanya mereka yang berbakat saja? Pertamatama harus dilihat adanya minat anak terhadap musik, dalam arti kata musik yang sifatnya lebih luas dan umum. Jika kita lihat anakanak yang berhasil menemukan kegembiraan dalam 'permainan musik', apakah itu hanya musik mulut, musik bunyibunyian atau musik sungguhsungguh, dan dengan permainan itu mereka berhasil menciptakan kegembiraan pada orang lain, kiranya telah tercapailah apa yang dimaksud dengan 'permainan musik' itu. Di sini, dalam taraf yang paling sederhana pun diperlukan adanya minat, perhatian dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan musik. Pendidikan musik untuk anakanak balita, seyogyanya dapat diperkenalkan dengan berbagai jenis alat musik. Setiap anak mencoba mengenalnya sehingga ia mengetahui bagaimana menggunakannya. Sementara itu penelitian para ahli pendidik musik di luar negeri, masih belum dapat menemukan cara yang pasti untuk 'meramalkan' keberhasilan seorang anak dalam memainkan alat musik tertentu. Sebab kenyataannya banyak sekali anakanak yang mulai dengan alat musik hanya untuk mengetahui bahwa itu bukan alat yang cocok untuknya. Dr. Sinichi Suzuki, seorang pendidik musik berkebangsaan Jepang, telah berhasil mengajar anakanak berumur dua setengah tahun ke atas. Hasilnya? Luar biasa! Suzuki juga membuktikan bahwa bakat seseorang (yang dijajaginya terutama tentang musik) tidak selalu dibawa semenjak lahir. Menurut pendapatnya, seorang anak dapat belajar musik seperti halnya ia belajar bahasa ibunya meskipun tidak semua orang menjadi ahli bahasa. Dapat kita bayangkan, tiga ribu anak murid Dr.Suzuki bermain serentak pada sebuah konser masal di Nippon Budokan Hall Tokyo dengan alatalat musik biola, piano, cello dan lainlain diiringi sejenis alat musik tradisional semacam kecapi bernama koto. Lagu lagu yang mereka mainkan antara lain ciptaan Bach, Mozart, Fiocco, Genin, Vivaldi, juga ciptaan Dr.Suzuki sendiri. Sungguh merupakan pertunjukan yang memukau, kalau saja kita tahu bahwa anakanak yang memainkannya berusia tak lebih dari enam tahun. Sebelum seorang anak belajar memainkan alat musik, alangkah baiknya jika anak tersebut mendapatkan pengetahuan dasar tentang musik. Sebenarnya akan lebih baik jika anakanak ini memperolehnya di Sekolah Dasar, tetapi hal ini tidak selalu diajarkan di sana. Untunglah sekarang makin banyak tempattempat pendidikan yang memberikan pengajaran musik oleh para guru yang berwenang. Mengumpulkan serta menyimpan beberapa alat musik yang sederhana, sekalipun tidak ada ruginya sangat bermanfaat bagi seluruh keluarga, apalagi keluarga yang penuh bakat musik. Ajarkan padanya bagaimana memelihara alat musik yang ada.
paideia kuriou

26

Banyak sekali ibuibu yang tidak mempunyai waktu karena harus terus menggendong bayinya yang cerewet untuk menidurkannya. Ia tidak menyadari bahwa setiap irama, lagu atau melodi juga sanggup menidurkan bayi, juga musik rock! Namun sedemikian jauh belum ada yang bisa menandingi kelembutan suara ibu yang sanggup menenangkan bayi dan membuatnya tertidur. Sering ibu bernyanyi bila hendak menidurkan anaknya, dengan cara seperti ini anak akan mengenal nyanyian tersebut dan ternyata membuatnya ngantuk. Sebelum anak dapat diharapkan mempunyai minat untuk berlatih musik, mulamula ia harus diberi dorongan untuk mendengarkan, dan kemudian untuk turut serta dalam permainan musik. Seperti halnya dengan membaca, pengertian anak harus lebih maju daripada kemampuannya untuk melaksanakannya. Keinginan anak untuk melaksanakan harus besar kuatnya sehingga ia bersedia mengikuti tata tertib yang berulang ulang dan seringkali membosankan pada latihanlatihan taraf permulaan. Namun yang penting di sini adalah pengertian dari orang tua (terutama ibu), sebab pengetahuan saja tidak akan cukup untuk dapat melakukan pengembangan dan pengarahan pada anak. Sesungguhnya sejak dilahirkan anak memiliki dasar yang meliputi berbagai aspek, termasuk aspek perasaan terhadap musik. Sumber: Judul Buku: Butirbutir Mutiara Rumah Tangga Pengarang : Alex Sobur Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1987 Halaman : 216 218

MUSIK DALAM SEKOLAH MINGGU

Pada jaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, banyak perintah yang Tuhan berikan lewat katakata berirama dan lagulagu. Bahkan, 150 Mazmur sebenarnya dimaksudkan untuk dinyanyikan. Sejak dulu sampai sekarang, musik terus digunakan untuk mengungkapkan ekspresi, berkomunikasi, memberikan perintah, atau penyembahan. Di bawah ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika GSM ingin menggunakan musik dalam pelayanan: 1. Lirik harus memiliki arti dan makna yang sesuai dengan umur ASM dan tingkatan kelas Sekolah Minggu. Lebih baik menyanyikan lagu yang liriknya memiliki arti harafiah daripada katakata yang
paideia kuriou

27

berupa simbolsimbol (katakata figuratif). Evaluasilah lirik lagulagu itu agar sesuai dengan taraf pengertian anakanak. 2. Gerakan menyanyi harus berfokus pada isi lagu. Anakanak membutuhkan dan menyukai kegiatan yang menggerakan otototot tubuh. Nyanyian yang memakai gerakan sangat disukai anakanak, tapi jangan sampai fokus nyanyian justru pada gerakannya saja. Gerakan harus berhubungan dengan lirik/katakata dalam lagu yang dinyanyikan karena makna dari katakatalah yang menjadi inti nyanyian. 3. Lagu harus berorientasi mendidik. Ajarkan satu konsep kebenaran Alkitab secara baik dengan mengarahkan semua aktivitas dan sumbersumber yang ada pada konsep yang diajarkan tsb.. 4. Lirik lagu harus memiliki doktrin yang Alkitabiah. Jangan gunakan lagu yang kedengarannya enak di telinga tanpa lebih dahulu mengevaluasi liriknya. Akan sulit sekali untuk mengubah pengajaran yang salah pada lagu/musik yang sudah terlanjur disukai. [Juga berhatihatilah dengan lagulagu yang mengimplikasikan bahwa binatang memiliki sifat rohani). 5. Melodi yang digunakan haruslah tidak rumit/sederhana. Carilah lagu yang menarik dan sesuai untuk masingmasing tingkatan kelas atau umur ASM. Satu hal yang harus diingat, tujuan kegiatan musik dalam kelas Sekolah Minggu adalah untuk mengajar kebenaran Alkitab, bukan untuk mengembangkan kualitas suara atau cara menyanyi yang profesional. ASM yang masih kecilkecil menikmati kegiatan menyanyi walaupun sering kali mereka tidak dapat menyanyikan tone dan rhytmnya dengan benar/tepat. (Tapi hal itu bisa mereka pelajari sejalan dengan bertambahnya usia mereka). Koor anakanak dapat menjadi program yang sangat berguna, tapi perlu diingat bahwa program ini tidak boleh dipakai untuk menggantikan program Sekolah Minggu itu sendiri. Bahan diterjemahkan dari sumber: Judul Buku: The Complete Handbook For Children's Ministry Pengarang : Dr. Robert J. Choun and Dr. Michael S. Lawson Penerbit : Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993 Halaman : 220 221

-*- KIAT MEMBESARKAN ANAK -*Membesarkan anak bukanlah masalah sepele. Saya percaya bahwa para pembaca yang adalah orangtua (terutama ibu) akan membenarkan kalimat ini. Sebagaimana hubungan suami-istri akan mempengaruhi hubungan orangtua-anak, demikian pulalah hubungan orangtua-anak akan mempengaruhi hubungan suami-istri. Hubungan suami-istri yang sehat dan kuat cenderung menghasilkan anak-anak yang sehat dan kuat pula.
paideia kuriou

28

Hubungan suami-istri yang lemah dan sakit-sakitan, cenderung membuahkan anak-anak yang lemah dan sakit-sakitan pula. Namun kebalikannya juga betul. Hubungan orangtua-anak yang lemah dan sakit-sakitan cenderung menghasilkan (atau merupakan tanda) hubungan suami-istri yang lemah dan sakit-sakitan. Dr. James Dobson, seorang psikolog Kristen dari Amerika, sangat menyadari peranan penting dari cara membesarkan anak yang sehat dalam keharmonisan hubungan suamiistri. Dalam bukunya "The New 'Dare to Discipline'" yang kemudian diintisarikan dalam majalah "Focus on the Family" (March, 1994) ia menjabarkan lima kiat membesarkan anak. Kiat Pertama: Menumbuhkan respek pada orangtua merupakan faktor yang sangat penting dalam membesarkan anak. Ada tiga alasan yang membuat hal ini penting, antara lain: 1) Karena sesunggguhnya anak belajar memberi respek kepada orang lain sewaktu ia belajar memberi respek kepada orangtuanya. Keluarga adalah unit sosial terkecil dan sering kali cara kita berinteraksi dan bereaksi terhadap dunia luar merupakan cermin dari bagaimana kita berinteraksi terhadap keluarga kita. Seorang anak yang tidak menghormati orangtuanya cenderung mengalami kesukaran menghormati figur-figur lain di luar rumahnya. Saya memahami adanya kasus-kasus tertentu di mana orangtua bukan hanya menelantarkan melainkan juga menindas anak mereka. Dalam kasuskasus khusus seperti itu saya menyadari kesukaran yang timbul bagi anak untuk menghormati orangtuanya. Namun saya percaya bahwa yang dimaksud oleh Dr. Dobson adalah kasus pada umumnya, dimana anak yang tidak dididik untuk hormat kepada orangtua cenderung menjadi anak yang sukar hormat kepada orang lain. 2) Karena respek pada orangtua akan menolong orangtua menanamkan nilai-nilai rohani dalam diri anak tatkala anak mencapai usia remaja. Apabila kita baru mau menanamkan pentingnya respek sewaktu anak menginjak remaja, niscaya kita telah terlambat dan akan mengalami kesulitan mengajarkan nilai-nilai rohani dalam dirinya. 3) Karena respek pada orangtua acap kali dikaitkan dengan respek pada Tuhan sendiri. Anak kecil yang belum berkemampuan berpikir secara abstrak sering kali mengasosiasikan figur orangtua, terutama ayah, dengan figur Tuhan. Jadi, anak yang kurang ajar terhadap orangtua sejak kecil akan cenderung tidak respek terhadap Tuhan pula. Kiat Kedua: Kesempatan terbaik untuk berdialog dengan anak adalah pada waktu kita baru saja mendisiplinkannya. Membesarkan anak tidak terlepas dari konfrontasi dan disiplin karena adakalanya anak dengan sengaja melawan otoritas orangtua. Pada saatsaat seperti inilah penting bagi orangtua akan bertumbuh. Biasanya dalam saat konfrontasi dan disiplin seperti ini, anak akan meluappaideia kuriou

29

luap dengan emosi dan setelah itu mengakhiri perlawanannya dengan tangisan. Ini adalah momen yang penting bagi kita, orangtua, untuk memeluk anak, mengatakan kepadanya bahwa kita mengasihinya dan memberi tahu anak akan kesalahannya. Dengan cara ini, anak akan memahami bahwa kita tidak menolaknya atau menghukum dirinya, melainkan menghukum perbuatannya. Jadi orangtua tidak seharusnya takut mendisiplin anak selama tidak berlebihan karena momen-momen seperti ini biasanya dapat mempererat hubungan orangtua-anak. Kiat Ketiga: Kendalikan anak tanpa berteriak-teriak. Menurut Dr.Dobson, berteriak-teriak memarahi anak tidak menyelesaikan masalah, malah akan membuat anak terbiasa dengan kemarahan orangtua. Menggunakan teriakan kemarahan untuk mengendalikan anak sama dengan mencoba menjalankan mobil dengan cara membunyikan klakson. Oleh karena itu cara yang lebih efektif adalah memanfaatkan sesuatu yang penting baginya. Saya setuju dengan pandangan Dr. Dobson ini karena saya pun menyaksikan betapa cepatnya anak-anak kami makan tatkala istri saya berkata, "Kalau tidak selesai makan, kalian tidak boleh ikut pergi." Bagaikan pelari yang mendekati garis final, demikian pula mereka berlari menuju meja makan dan makan dengan lahap -- tanpa kami harus berteriak-teriak marah. Kiat Keempat: Jangan melimpahi anak dengan materi. Pada waktu kita hidup dalam kekurangan, tidaklah sukar bagi kita untuk menolak permintaan anak dengan alasan bahwa kita tidak memiliki uang untuk membeli barang yang ia minta itu. Namun tatkala kita mempunyai uang, menolak permintaan anak menjadi cukup sulit. Kita seakan-akan tidak lagi memiliki alasan untuk menolak permintaannya. Setiap kali kami sekeluarga mengunjungi pasar swalayan, anak-anak selalu mengajak kami (sudah tentu dengan rayuan) untuk melihat-lihat di tempat penjualan mainan anak-anak dan setiap kali pula mereka meminta kami untuk membelikan sesuatu. Biasanya saya menolak permintaan mereka dengan alasan harganya, bagi kami terlalu tinggi. Dasar anak-anak, sekarang mereka mengubah taktik mereka. Setelah mangumandangkan permintaan mereka, pertanyaan pertama yang mereka ajukan adalah, apakah harganya mahal atau tidak. Masalah mulai timbul (bagi kami), karena adakalanya barang yang mereka inginkan harganya memang tidak terlalu tinggi. Sedangkan alasan utama kenapa kami tidak bersedia membelikan barang itu adalah karena kami ingin membatasi barang mainan mereka agar tidak melimpah-ruah dan hilang nilainya. Akhirnya saya terpaksa mengatakan bahwa kami tidak dapat membelikan mainan itu karena mereka sudah memiliki mainan sejenis itu atau kami menjanjikan untuk membelikan mainan itu pada hari ulang tahun mereka. Dr. Dobson menekankan bahwa anak yang dilimpahi dengan materi niscaya mengalami kesukaran menghargai milik kepunyaannya. Saya menambahkan, anak yang tidak pernah menghargai milik kepunyaannya
paideia kuriou

30

cenderung berkembang menjadi seseorang yang tidak berterima kasih dan mementingkan diri sendiri. Anak ini cenderung menjadi seseorang yang egois dan mementingkan haknya belaka, tanpa memikirkan kewajibannya dan kepentingan orang lain. Ia tidak mungkin menghargai pengorbanan orang lain dan tidak mengenal nilai pengorbanan diri. Segala sesuatu menjadi terlalu mudah baginya dan ia pun akhirnya cenderung memudahkan atau meremehkan segala sesuatu. Ingatlah, membatasi kepunyaan mereka tidaklah sama dengan menyengsarakan mereka. Membatasi keinginan anak penting untuk kita lakukan pada abad kemakmuran materi ini demi kebaikannya sendiri. Kiat Kelima: Menjaga keseimbangan antara kasih dan disiplin. Terakhir, Dr. Dobson menjelaskan kita membesarkan anak adalah menjaga keseimbangan antara kasih dan disiplin. Ia menuturkan sebuah cerita yang pernah terjadi pada abad ke-13 di mana Raja Frederick II mengadakan sebuah percobaan dengan 50 bayi. Tujuan eksperimen ini ialah untuk mengetahui bahasa apa yang akan digunakan oleh anak-anak ini apabila mereka dibesarkan tanpa pernah mendengar perkataan apapun. Raja tersebut meminta ibu pengasuh ini untuk membersihkan dan memberi mereka makan namun melarang para pengasuh ini untuk membelai ataupun berbicara kepada bayi-bayi ini. Percobaan ini ternyata gagal total karena akhirnya kelima puluh bayi ini akhirnya meninggal dunia. Seorang anak membutuhkan kasih sayang dan penerimaan orangtuanya sama seperti ia memerlukan makanan dan minuman. Tanpa kasih sayang dan penerimaan, ia akan bertumbuh besar menjadi seorang manusia yang haus dan lapar akan kasih serta penerimaan orang lain. Namun ia pun memerlukan disiplin yang akan menolongnya menguasai diri dan patuh kepada otoritas di atasnya. Disiplin membantunya hidup dalam kerangka atau struktur sehingga ia tidak berkembang menjadi liar tak terkendali bahkan oleh dirinya sendiri. Disiplin diperlukan sebagai sarana orangtua mengkomunikasikan pelajaran-pelajaran bermakna yang ia perlukan. Dr. Dobson menyimpulkan, "Tatkala anak menantang dan memberontak, menangkanlah tantangan itu dengan meyakinkan. Ketika anak bertanya, 'Siapakah yang berkuasa (di rumah ini)?' -- beri tahu dia bahwa andalah, sebagai orangtua, yang berkuasa (di rumah ini). Saat ia bergumam, 'Siapakah yang mengasihi saya?' -- dekaplah ia dalam pelukan Anda dan penuhi dia dengan kasih sayang. Perlakukan dia dengan respek dan penuh penghargaan dan tuntutlah perlakuan yang sama darinya." -*- Sumber -*Buletin PARAKALEO, Departemen Konseling Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia, Vol. 1/No.3/Edisi Juli - September 1994

*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*
paideia kuriou

31

Apakah sebenarnya wibawa itu? Apa yang harus dilakukan orangtua supaya memiliki wibawa yang tepat bagi anak-anaknya? Langkah-langkah apakah yang perlu dilakukan untuk membangun wibawa sesuai dengan firman Tuhan? Silakan menyimak diskusi yang dipandu oleh Pdt. Paul Gunadi berikut ini yang membahas tentang "Wibawa Orangtua". -*- WIBAWA ORANGTUA -*oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi ------T: Tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan oleh orangtua, supaya mempunyai wibawa yang tepat? Jadi bukan ditakuti oleh anak-anak mereka tetapi memang anak-anak ini hormat kepada orangtuanya ini. J: Pertama-tama, saya akan paparkan sikap yang bukan wibawa tapi seringkali dianggap wibawa. Pertama adalah seringkali orangtua beranggapan kalau saya mampu mencukupi kebutuhan fisik, finansial, anak-anak atau istri atau suami saya maka otomatis saya layak untuk dihormati oleh anak-anak. Poin pertama sebetulnya adalah keuangan bukanlah ukuran. Nah jadi adakalanya konsep kita ini keliru dalam hal wibawa. Adakalanya orangtua beranggapan selama saya masih bisa menyediakan uang kepada anakanak, maka anak-anak seharusnyalah hormat kepada saya. Jadi bukan soal berapa besar jumlahnya namun betapa bertanggungjawabnya si orangtua, betapa rajinnya dia itu yang akan membuahkan wibawa pada dirinya, itu yang pertama. Nah sikap yang kedua, adakalanya orangtua beranggapan dengan semakin keras perlakuannya kepada anak, semakin berwibawalah dia. Tapi sebenarnya anak-anak takut pada orangtua atau istilahnya ketakutan kepada orangtua dibedakan dari istilah takut yang lebih netral. Anak-anak menjadi ketakutan kepada orangtua karena perlakuan orangtua yang sangat keras. Nah ini juga anggapan yang keliru sebab membuat anak-anak ketakutan sebetulnya tidaklah melahirkan wibawa. Justru sebetulnya reaksi yang tersembunyi pada diri anak sewaktu takut terhadap orangtua ialah rasa tidak suka, rasa tidak hormat, bahkan rasa benci kepada orangtua. Nah ini adalah faktor kedua yang acapkali kita kaitkan dengan wibawa. Bila orangtua merasa anak-anak tidak menghormatinya, biasanya langkah yang diambil adalah memarahi, berteriak-teriak, memukul anak -- tambah hari tambah keras -- dengan harapan wibawa itu akan dibangkitkan kembali. Namun yang terjadi justru sebaliknya -- orangtua tidak ada wibawa. ------T: Tapi orangtua seringkali memakai hal-hal di atas dengan alasan untuk menegakkan disiplin terhadap anak, bagaimana menurut Bapak? J: Memang yang diharapkan secara lahiriah akan tercapai dimana anakanak karena ketakutan akan taat melakukan yang dikehendaki oleh
paideia kuriou

32

orangtuanya. Tapi saya kira ini akan berpengaruh pada usia tertentu atau sampai usia tertentu, tapi sulit berlaku misalkan ketika anak-anak ini remaja dan sudah mampu melawan. ------T: Kadang-kadang sikap disiplin ini akan ditunjukkan dengan sikap yang keras pada usia-usia tertentu untuk membiasakan supaya anak ini disiplin. Apakah itu bisa terpengaruh atau terbawa terus sampai usia dewasa? J: Disiplin itu sendiri memang mutlak diperlukan, jadi orangtua mesti mendisiplin anak. Namun seberapa kerasnya dia mendisiplin dan seberapa adilnya dia mendisiplin, itu 2 hal yang sangat penting yang harus dilihat oleh anak. Kita tidak boleh sedikitpun melupakan bahwa disiplin hanya efektif kalau sebelum disiplin diberikan anak merasa dicintai dan setelah disiplin diberikan anak juga merasa dicintai. Jadi disiplin itu tidak berdiri sendiri, disiplin harus didampingi oleh kedua belah pihak oleh cinta kasih sebab waktu anak-anak dikasihi dan dia tahu dikasihi kemudian didisiplin, maka disiplin itu efektif. Jangan setelah didisiplin anak-anak ini merasa terbuang, tersingkirkan, tidak diinginkan, karena dimarahi dengan begitu keras oleh orangtua. Cinta kasih perlu diungkapkan lagi kepada si anak, perlu diberikan lagi untuk meyakinkan bahwa kita tetap mencintainya. Apa yang diperbuatnya tadi tidak mengubah cinta kita padanya. Nah jadi pasca disiplin atau setelah disiplin cinta kasih juga harus diberikan. Nah dengan cara inilah wibawa orangtua akan bisa ditegakkan. Jadi sekali lagi poin kedua yang seringkali disalahfahami oleh orangtua adalah disiplin yang keras akan menampakkan wibawa saya, kalau tidak ada ini ya tidak bisa. Jadi 2 hal ini memang seringkali menjadi anggapan yang keliru. ------T: Jadi di dalam membangun wibawa itu, langkah-langkah apa yang harus dilakukan orangtua? J: Saya akan bacakan dari kitab Kolose 3:18, "Hai istri-istri tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan." Nah, yang ingin saya tekankan: yang pertama adalah bahwa wibawa orangtua muncul kalau orangtua hidup sesuai dengan peranan dan tugasnya sebagai orangtua. Waktu orangtua mempunyai hubungan yang kuat, yang baik dan yang harmonis, anak-anak tidak bisa tidak akan memandang orangtua dengan penuh hormat. Jadi wibawa yang pertama muncul dari kualitas hubungan suami istri, ini tidak bisa ditawar-tawar. Kalau tadi Tuhan memberi satu perintah kepada istri, di ayat berikutnya Tuhan memberikan 2 perintah kepada suaminya. Saya bacakan dari Kolose 3:19 "Hai suami-suami kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." Jadi memang ada 2 unsur, yang pertama adalah perintah yakni kasihilah istrimu dan yang
paideia kuriou

33

kedua adalah larangan jangan berlaku kasar terhadap istri. -*- Sumber -*-: [[Sajian kami di atas, kami ambil dari isi salah satu kaset TELAGA No. 46A, yang telah kami ringkas/sajikan dalam bentuk tulisan.]] -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip seluruh kaset ini lewat e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)xc.org > -- Informasi tentang pelayanan TELAGA/Tegur Sapa Gembala Keluarga dapat Anda lihat dalam kolom INFO edisi e-Konsel 03 dari URL: ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/003/ [01 Nov 2001]

*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH* -*- RUMAH TANGGA (MEMBESARKAN DAN MENDIDIK ANAK) -*AYAT ALKITAB ============ Amsal 20:7 Kolose 3:21 Amsal 3:11,12 Efesus 6:1-4 Amsal 31:10,26,27,28 Amsal 30:11 Ulangan 12:28 LATAR BELAKANG ============== Salah satu pokok yang dibahas berulang-ulang oleh Alkitab ialah tentang pentingnya mendidik anak melalui pengajaran dan teladan. Secara jelas Kitab Ulangan menekankan bahwa anak-anak harus diajari jalan-jalan Allah: "Apa yang kuperintahkan kepada-Mu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6,7). Kitab Amsal adalah ringkasan dari kebijakan umat Allah. Masalah keluarga dan mengasuh anak dalam iman adalah pokok yang mendapat tekanan kuat di dalamnya. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu." (Amsal 22:6). Timotius telah dididik dalam Alkitab sejak masa kanak-kanaknya, sesuai dengan perintah Allah dan adat bangsa Yahudi. "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepada-Mu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (2Timotius 3:15,17). Paulus berbicara tentang keharusan membina dan mendisiplin anakanak kita secara terus-menerus: "Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup
paideia kuriou

34

juga di dalam dirimu." (2Timotius 1:5). Alkitab mengajarkan bahwa orangtua bertanggung jawab untuk membina dan mendisiplin anak-anak mereka, supaya mereka boleh dibawa untuk mengenal Alkitab dan menghormati Tuhan. ------------------------------Kutipan-----------------------------Menurut Billy Graham: "Penyebab dasar mengapa terjadi ketidakbahagiaan dalam rumah tangga kita ialah karena kita sudah tidak mempedulikan Allah dan prinsipprinsip yang diberikan-Nya kepada kita. Kita tak bersedia melaksanakan rencana-Nya untuk keluarga. Anggota-anggota rumah tangga telah menolak tanggung jawab mereka seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab. Jelas sekali bahwa ketaatan tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diajarkan dan dipelajari. Anak-anak harus diajar taat, sama banyak seperti mereka perlu diajar cara membaca dan menulis." --------------------------Kutipan_Selesai-------------------------STRATEGI BIMBINGAN ================== 1. Anjurkan para orangtua untuk menciptakan suasana rumah tangga yang menghasilkan kerohanian yang kokoh dan perkembangan mental yang baik. a. Suatu rumah tangga yang stabil, damai dan penuh kasih. b. Suatu rumah tangga yang mengutamakan suasana kekeluargaan, di mana terdapat suasana persaudaraan, saling menghormati dan saling menguatkan. Suatu rumah tangga di mana seisi keluarga melakukan sesuatu bersama-sama, khususnya ketika anak-anak masih kecil. c. Suatu rumah tangga yang berpusatkan Allah dan setiap anggotanya berhak untuk menyambut kasih Allah dalam Kristus, dan diajar untuk hidup dari sudut pandang rohani. Lihat Amsal 22:6. (Di sini saat yang tepat untuk menanyakan kepada orangtua itu, apakah dia sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat). Jelaskan "Damai dengan Allah". d. Suatu rumah tangga yang berorientasi pada gereja. Lebih mudah untuk membesarkan anak-anak, bila kehidupan mereka, seluruh isi keluarga beserta para sahabatnya, dipusatkan pada gereja. e. Para orangtua harus memperkenalkan anak-anak mereka kepada dunia pemikiran, baik melalui contoh maupun tindakan. Jika orangtua suka membaca, anak-anak pun akan suka membaca. Bukubuku dan majalah-majalah yang baik untuk anak-anak, harus sudah diperkenalkan dalam rumah tangga. Pengembangan bakat dan kepribadian seperti les musik, olah raga dan hobi, sudah
paideia kuriou

35

dapat diperkenalkan kepada mereka sejak masih di SD. Ini akan menjadi batas pengaman terhadap konflik-konflik yang akan muncul kelak pada waktu mereka remaja. 2. Bimbing orangtua untuk mengakui bahwa anak pun memiliki hak-hak mereka, tetapi hak-hak itu harus dijalin kepada seluruh isi keluarga. a. Anak berhak untuk dikasihi dan diterima. b. Anak berhak untuk menerima berbagai bentuk bantuan yang akan membuat mereka memiliki harga diri, rasa aman dan berarti. c. Anak berhak menyaksikan kedua orangtua mereka menyatakan kasih sayang dan saling menghargai, satu kepada yang lain. Contoh-contoh kelakuan Kristen yang dewasa, perlu mereka saksikan, supaya mereka lihat bagaimana orangtua mereka menangani masalah dan tekanan hidup. d. Anak berhak untuk didisiplin dan dihukum secara adil dan bersitetap. (1) Jangan menuntut lebih dari yang mampu dilakukan anak. (2) Laksanakanlah hukuman secara adil dan benar. Tuntutan yang melampaui batas dan keras, siksaan jasmani, cepat menimbulkan kegetiran dan pemberontakan. Orangtua perlu bersikap luwes dan tidak berpegang pada "huruf-huruf Taurat". (3) Jangan menghukum dalam kemarahan atau letusan perasaan hati saat itu juga. (4) Berikan selalu penjelasan, agar mereka tahu mengapa mereka dihukum. 3. Anjurkan orangtua untuk membuka kesempatan berkomunikasi seluas-luasnya, apa pun resikonya. a. Orangtua harus menyediakan waktu untuk menjadi pendengar yang memperhatikan dan mengambil prakarsa untuk mendorong terjadinya percakapan. Perlu ada diskusi jujur tentang masalah seks, obat bius, alkohol, pacaran, dan sebagainya. b. Orangtua harus membagikan pengalaman-pengalaman masa kecil dan remajanya, termasuk kesalahan dan kegagalan mereka. c. Orangtua harus jujur, mempersilakan anak untuk mempertanyakan patokan hidup dan kepercayaannya. Ini membuka kesempatan untuk menjelaskan dan membelanya. Melalui ini, anak Anda akan merumuskan dasar-dasar kepercayaan dan nilai hidup mereka sendiri. Anda dapat mengajak dan menolong mereka untuk menyusun sasaran-sasaran hidupnya kini dan nanti.
paideia kuriou

36

-*- Sumber -*-: Judul Buku: Buku Pegangan Pelayanan Penulis : Billy Graham Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab Halaman : 235 - 237 CD-SABDA : Topik 17717

*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS* Tips berikut ini diambil dari publikasi "e-BinaAnak" edisi 085/2002 bulan Juli. ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/2002/085/ -*- MENDEDIKASIKAN ANAK KEPADA TUHAN -*Susannah Wesley adalah ibu dari 19 anak, termasuk John Wesley dan Charles Wesley. Dia mendedikasikan semua anaknya kepada Tuhan, dan dia tidak menggunakan buku-buku akademis anak untuk menjaga kehidupan anak-anaknya. Tapi berikut ini adalah "16 Peraturan" yang Susannah terapkan, lebih dari 200 tahun yang lalu, untuk menjaga agar 19 anaknya tetap hidup dalam kebenaran: 1. Anak-anak tidak diperbolehkan makan di luar jam-jam makan. 2. Anak-anak tidak diperbolehkan tidur lebih dari pukul 8 malam. 3. Anak-anak harus dapat minum obat tanpa mengeluh. 4. Mengurangi kehendak egois dari seorang anak dan karena itu perlu bekerjasama dengan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa anak. 5. Mengajari seorang anak berdoa begitu ia dapat berbicara. 6. Melatih anak-anak untuk belajar tenang saat melakukan doa keluarga. 7. Jangan memberikan sesuatu kepada anak yang dimintanya dengan menangis, tetapi berikan kepada mereka apa yang dimintanya dengan sopan. 8. Agar anak tidak suka berbohong, jangan memberikan hukuman pada anak begitu dia mengakui kebohongannya dan menyesali perbuatannya. 9. Jangan biarkan anak melakukan perbuatan dosa tanpa hukuman sama sekali. 10. Jangan menghukum anak dua kali untuk satu kesalahan.
paideia kuriou

37

11. Berikan pujian dan hadiah jika anak berkelakuan baik. 12. Berikan pujian pada anak untuk usaha apapun yang ia lakukan untuk menyenangkan hati orang lain, meskipun usahanya tersebut kurang begitu baik. 13. Menghargai hak milik pribadi bahkan untuk hal-hal yang sepele. 14. Perhatikan dengan cermat setiap janji yang dibuat. 15. Anak perempuan tidak diperbolehkan bekerja sebelum ia mampu membaca. 16. Ajarkan anak untuk takut pada hukuman. -*- Bahan diterjemahkan dari sumber -*-: Judul Buku: All the Children of the Bible Pengarang : Herbert Lockyes Penerbit : Zondervan Publishing House, Grand Rapids, Michigan, 1970 Halaman : 49

paideia kuriou

38


								
To top