Sasterawan Kristen 1

Document Sample
Sasterawan Kristen 1 Powered By Docstoc
					FRIDOLIN UKUR, PENDETA YANG SASTRAWAN

Ada baiknya kita mengenal beberapa penulis Kristen yang pernah mengguncang cakrawala sastra di Indonesia. Sayangnya, dengan referensi literatur yang terbatas, saya hanya bisa mengumpulkan beberapa yang cukup menonjol. Saya akan memulai dengan seorang figur pendeta sekaligus sastrawan, Fridolin Ukur. Dalam tulisan ini saya tidak membuat suatu kritik, namun sebagian besar hanya mengutip buku “Angkatan ’66- Prosa dan Puisi”, terbitan PT. Gunung Agung tahun 1976, hasil karya H.B. Jassin dan beberapa bagian terambil dari Ensiklopedi Tokoh Indonesia (http://www.tokohindonesia.com). Fridolin Ukur kerap menggunakan nama samaran Eff. Serau. Dilahirkan di Tamiang Layang pada tanggal 5 April 1930. Ia menamatkan sekolah dari SD sampai SMA di Banjarmasin (1942 sampai 1948). Semasa remaja, ia juga sempat ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan sebagai tentara (1946-1950). Namun, 'jiwa pendeta' yang sudah terasuh dalam diri anak seorang penilik sekolah ini tampaknya lebih membara. Sejak kecil ia dan saudara-saudaranya telah menerima pendidikan agama dari orangtuanya. Ditambah lagi dengan pertemuannya dengan pendeta Ethel Bert Saloh, seorang pendeta pribumi suku Dayak, yang menjadi inspirasi dan memperdalam pengetahuan agama Fridolin. Pendeta keluaran Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta 1956 dan Fakultas Theologia Basel. Ia juga seorang Letnan Muda dalam TNI, sebelum masuk Sekolah Tinggi Theologia. Pernah jadi Ketua Redaksi majalah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dimana sajak-sajaknya dimuat dengan nama samaran Eff. Serau. Dianggap sebagai penyair Kristen Indonesia, selain karena ia seorang Kristen dan seorang Pendeta, dalam sajak-sajaknya nampak pula dengan jelas pandangannya dari sudut keyakinan Kristen. Kumpulan sajaknya yang sudah terbit ialah Malam Sunyi (1961) serta Darah dan Peluh (1962), keduanya diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen, Jakarta. Fridolin juga menulis beberapa buku. Satu di antaranya, berjudul: Tuaiannya Sungguh Banyak, diterbitkan BPK Gunung Mulia, 2002. Buku ini memaparkan keberadaan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), yang sebelumnya bernama Gereja Dayak Evangelis (GDE). Gereja ini mulai dirintis dengan kedatangan para penginjil Barat, mula-mula dari Zending Basel, kemudian dilanjutkan oleh Zending Barmen. Fridolin Ukur, sebagai seorang putra Kalimantan, berupaya mengungkapkan pergumulan para penginjil Barat itu, yang kemudian dilanjutkan para pelayan gerejawi pribumi. Buku ini menguraikan betapa karya Tuhan yang amat besar di Indonesia sehingga kita pun dapat berseru, "Tuaiannya sungguh banyak!"

Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, 26 Juni 2003 dan dimakamkan daerah kelahirannya, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Dalam tulisan ini dimuat beberapa sajak-sajaknya :

DRAMA 3 BABAK

I ada bayi terisak sedu menggeletar telanjang dalam palungan tengik ....................................... .......................................

Maria menyobek lampin usang coba tutup ini tubuh

(di kejauhan anjing melolong pilu rindukan tulang-tulang kering memecah sepi malam rawan)

II Kelana tak berkekasih (dulu bayi kelahiran kandang) berjalan sendiri pada abu dan debu bumi masuki kepekatan alam padat dosa;

Ia cari dan masih terus cari kekasih-kekasih lupa Dia aku dan kau, pelarian-pelarian cinta malam pada symphonia “Hosana” di gapura ini Kelana tak berkekasih menangis sedih sendiri

III

aku dan kau pendewa-pendewa gelap benci pada Kelana pembawa kasih aku dan kau juga ikut teriak: “Pakukan dia! pakukan dia!” ini tubuh kurus letih mencari kaku terpaku ....................................... ....................................... darah dan peluh, menetes terus satu satu masih mencari kini mencari kau dan aku Dari: Darah dan Peluh

LAKON TIGA BABAK

Malam pahit; sendiri Ketakutan mencekik aku; Garang kutentang aku sendiri Ingin lari dari ini cengkeraman Mangsa di kejauhan hampa.

Tersembunyi di panas tubuh Kuhidupi dosa dengan nafas sendiri Bangun dan jaga Di tiapkali jantung berdetik Komandokan ini tubuh Darah dan daging

(lemas aku dalam ini pertentangan)

Kugagahkan diri tegak tengadah Kuberanikan diri memandang tatapan ruang Sekujur tubuhku dikejutkan oleh ini bayangan Lakon tiga babak:

-

Maut Salib Kebangkitan

Kujeritkan teriakan kesukaan Pertentangan dalam diri sudah berakhir Dalam Lakon Tiga Babak Dari: Darah dan Peluh

01 MARIA

Wajahnya menatap jauh Bibirnya tersenyum suka Nyanyinya tak bernada keluh Lagunya: cetusan kegiatan rasa Ia mesra mendekap Putra Seerat dada dengan hati Setiap petang tiba Ibu melafas doa suci Waktu ia tahu mendengar Lagu yang dinyanyikan Putra Dalam Darah dan TubuhNya Maria tambah sadar: Yang ia terbuai di palungan domba Tuhannya sendiri, Penebus dosa

ANAK HILANG

Gelisah mudanya membawanya ngembara Di ketandusan cinta

Berpindah dari katakata merayu Ke pipi-pipi montok Gila dikemekaran bibir-bibir merah

Sekali tak pernah ia terpikir Peristiwa akan mencekik di benua duka Yang ada akan sudah dipertiada Tinggal diri seorang terbantun di pinggir jalan Dan tangis ini hanya sendu dan berjawab.

di ini malam tak berbintang ia menjalin kesedihan dalam keluh-kesakitan; disisinya menggeletak anjing kurus -- menggonggong ngeri ratapi betina lari tinggalkan yang hampir matiMeminta pengasihan.

Di ini malam tak berbintang Bulan juga enggan berdandan Ia rindu Rindu pulang Rindu Bapa Rindu kasih menggenggam hati Roma, musim panas 1956

MAUT ITU UNTUNG

Kematian adalah duka merobek, mencabik menyelesaikan kesementaraan; pisah terakhir tak lagi berujung hampa dalam hidup di bumi ini; Kematian adalah ratapan raung tangis kehilangan

karena yang pergi tak kembali lagi di kekinian waktu yang selalu memburu; Kematian adalah kepunahan jasad fana keinsanian yang berasal dari debu tanah melenyap seperti uap; Tapi bagi kita, maut adalah untung: yang ditabur dalam kebinasaan, dihidupkan dalam kekekalan, disemai dalam kehinaan, ditumbuhkan dalam kemuliaan, ditanam dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan; hanya dalam sekejap saja semua akan diubah kita, kau dan aku pewaris hidup kekal; yang tersisa hanya cinta!

Home | Login

Sastra-Indonesia.com

http://www.sastra-indonesia.com/2009/05/kekristenandalam-kesusastraan-indonesia/ Kekristenan dalam Kesusastraan Indonesia
Posted by PuJa on May 12, 2009 Suryadi http://cetak.kompas.com/ Ada dua unsur yang menjadi sumber ’energi’ penggerak alur cerita yang hampir tidak terlalu sulit menelisik jejaknya dalam teks sastra Indonesia. Yang pertama adalah unsur kesukubangsaan (dimensi etnisitas) dan yang kedua adalah unsur keagamaan (dimensi religiositas). Representasi kedua unsur ini dalam karya-karya sastra Indonesia—dalam kadar yang berbeda-beda—hampir selalu dapat dirasakan. Kesusastraan Indonesia modern, sejak awal kemunculannya sampai sekarang, dipenuhi oleh teks-teks fiksional yang merepresentasikan persoalan-persoalan etnisitas dan religiositas dengan menampilkan banyak wira yang mengalami guncangan psikologis akibat pertemuan dengan modernisme Barat. Dimensi etnisitas karya-karya sastra Indonesia sudah lama menjadi topik pembicaraan di kalangan pengamat sastra. Penelitian dan polemik mengenai regionalisme dalam kesusastraan Indonesia—dengan memakai berbagai istilah seperti ”perdebatan sastra kontekstual”, ”revitalisasi sastra pedalaman”, dan lain sebagainya—telah berlangsung paling tidak sejak 1980-an, seperti dapat dikesan dalam tulisan- tulisan Ariel Heryanto, Linus Suryadi AG, Mursal Esten, Michael Bodden, dan Farida Soemargono—untuk menyebut beberapa nama.

Dimensi religiositas karya-karya sastra Indonesia juga sudah sering dibahas dalam penelitian dan kritik sastra. Namun, sejarah studi sastra Indonesia menunjukkan bahwa yang lebih sering dikaji adalah representasi agama mayoritas (Islam), seperti dapat dikesan dari, misalnya, studi Sjamsu (1971), Jassin (1972), Deakin (1976), Hasjmi (1979; 1984), Dardjowidjojo dan Lamoureux (1983), Navis (1984), Mangunwijaya (1988), Tohari (1989), Tahqiq (1995), serta Saridjo (2006). Sebaliknya, studi dan kritik yang membahas dimensi religiositas agama-agama minoritas, seperti Kristen, Hindu, dan Buddha, sangat jarang tersua. Sejak lama kultur politik dan agama di Indonesia potensial membuat kalangan intelektual, akademisi, dan budayawan cenderung menjauhkan diri dari diskursus apa pun yang terkait dengan agama-agama minoritas. Orang dibuat khawatir dan takut untuk mengangkat isu agama-agama minoritas ke dalam wacana publik, termasuk dalam dunia penelitian dan kritik sastra. Kenyataan menunjukkan bahwa sejumlah teks sastra Indonesia lahir dari latar belakang tradisi kekristenan. Namun, unsur religiositas kekristenan (Christianity) itu jarang dibahas dalam wacana penelitian dan kritik sastra Indonesia. Demikianlah umpamanya, representasi kekristenan, baik dalam nada mitos pengukuhan maupun mitos pembebasan, dapat dikesan dalam Upacara karya Korrie Layun Rampan (1976), Romo Rahadi (1981) dan Pohon-pohon Sesawi (1999) karya YB Mangun Wijaya, Saman karya Ayu Utami (1998), dan Genesis (2005) karya Ratih Kumala— untuk sekadar menyebut contoh. Di bidang puisi, karya-karya Fridolin Ukur (misalnya dalam antologi Malam Sunji (1961) dan Darah dan Peluh (1962)), beberapa karya Sitor Situmorang dan WS Rendra, juga kaya dengan simbol-simbol kekristenan. Jika diluaskan pandangan ke daerah-daerah di luar Jawa, maka karya-karya sastra Indonesia yang merepresentasikan religiositas kekristenan cukup banyak jumlahnya, misalnya dalam Matias Akankari (antologi cerpen, 1972), Cumbuan Sabana (1976), dan Requiem untuk Seorang Perempuan (1983) karya Gerson Poyk, dan dalam Rabies (2002) dan Surat-surat dari Dili (2005) karya Maria Matildis Banda. Agama adalah unsur primordial dalam kesusastraan Indonesia modern. Eksklusivisme religiositas mendapat lahan subur dalam teks-teks literer kita, dari dulu sampai sekarang. Indikasinya: dalam dunia kepengarangan, amat sedikit sastrawan Indonesia yang mampu melakukan tour of area keluar dari batas agama masing-masing. Bahkan dalam teks novel yang merayakan pluralisme keindonesiaan sekalipun, seperti Saman, religiositas—dalam hal ini kekristenan—tetap kentara. Studi sastra Indonesia yang tumbuh di atas wacana agama mayoritas yang cenderung mendominasi menyebabkan timbulnya kecualian terhadap unsur religiositas agama-

agama minoritas. Ini misalnya dapat dikesan dalam berbagai studi dan kritik terhadap Saman karya Ayu Utami (seperti Hatley 1999; Lisabona 2003; Budiman 2003; Mariana 2004; Soe 2007) yang umumnya berangkat dari perspektif teori feminisme. Orang abai terhadap hakikat Saman sebagai sebuah drama mengenai kemurtadan. Alurnya digerakkan oleh keputusan protagonisnya, Athanasius Wisanggeni, keluar dari kepastoran. Problem psikologis yang dialami Wisanggeni sesungguhnya berpangkal pada kesangsiannya terhadap Yesus. Walaupun mendiang YB Mangun Wijaya, misalnya, pernah menyentil pentingnya dimensi kekristenan dalam Saman, seperti dapat dibaca dalam catatannya pada jacket blurb cetakan ke-13 novel ini (Jakarta: Kalam dan Kepustakaan Populer Gramedia, Juni 1999), tetapi tampaknya tidak ada pengamat sastra Indonesia yang terpancing perhatiannya oleh catatan begawan kesusastraan Indonesia itu. Memang Saman tidak menerima nasibnya seperti Langit Makin Mendung-nya Ki Pandjikusmin di tahun 1960-an. Namun, hal itu bukan karena ia diterbitkan di zaman Reformasi, tetapi karena protagonisnya adalah seorang yang bukan memeluk agama mayoritas di Indonesia. Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa mungkin ada semacam self-censorship yang telah terinternalisasi dalam alam bawah sadar kebanyakan peneliti dan kritikus sastra kita ketika hendak mengapungkan wacana-wacana agama minoritas dalam karya-karya sastra Indonesia. Tanpa bermaksud mengabaikan dimensi religiositas agama-agama minoritas lainnya, pada hemat saya unsur kekristenan dalam sastra Indonesia modern perlu diteliti lebih mendalam dan mestinya bebas dari prasangka SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)—salah satu ’mistik’ warisan Orde Baru—dengan tujuan semata-mata hanya untuk memperkaya pemahaman kita terhadap pluralitas budaya dan religiositas teks literer Indonesia yang lahir dari negeri multiagama dan multietnis ini. Harus diakui bahwa prasyarat sosial yang memungkinkan hal ini dapat berkembang di Indonesia memang masih kurang karena belum membudayanya studi lintas agama di satu pihak dan sikap eksklusif pemeluk masing-masing agama di lain pihak yang, langsung atau tidak, terkait dengan politisasi agama oleh negara. Namun, sudah semestinya tradisi ilmu dan kritik sastra Indonesia berusaha membebaskan diri dari sekat-sekat agama dan etnisitas yang dalam rentang waktu cukup lama dalam sejarah bangsa ini di-ada-kan dan ’dipelihara’ oleh rezim yang berkuasa. Membebaskan diri darinya mungkin memberi sedikit kontribusi pada perwujudan mimpi kita tentang sebuah Indonesia bersatu yang toleran terhadap kemajemukannya sendiri. *) Dosen dan Peneliti pada Opleding Talen en culturen van Indonesië, Faculteit der Letteren Universitaeit Leiden, Belanda.

Filed under: Esai


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:395
posted:12/19/2009
language:Indonesian
pages:10