Memahami Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Baru, 52 by peisty474

VIEWS: 225 PAGES: 3

									Dosa yang Mendatangkan Maut

* 1 Yohanes 5:13-21 Pengetahuan akan hidup yang kekal
5:13 Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak
Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
5:14 Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita,
jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
5:15 Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga
tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.
5:16 Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak
mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan
hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan
maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia
harus berdoa.
5:17 Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.
5:18 Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang
lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.
5:19 Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.
5:20 Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian
kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam
Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal. 5:21 Anak-anakku,
waspadalah terhadap segala berhala.


Adakah dosa yang tidak dapat diampuni? Jika kita membaca 1 Yohanes 5: 16-17, jelas tidak ada
masalah dalam memahami bahwa kita harus berdoa untuk saudara seiman yang berdosa. Sama
dengan Yohanes, orang Kristen mengakui bahwa "semua kejahatan adalah dosa" dan dosa
memisahkan karunia dari Allah. Dengan demikian doa dan bimbingan yang lemah lembut
tampaknya harus dilakukan jika kita melihat seorang saudara seiman berbuat dosa. Tetapi
masalah yang ditimbulkan Yohanes adalah disebutkannya "dosa yang mendatangkan maut." di
mana doa tidak dilakukan (bukan berarti doa itu salah, tetapi tidak ada gunanya). Dosa apakah
itu? Dan kematian apakah yang dimaksudkan-jasmani atau rohani? Karena kita sendiri kadang-
kadang jatuh ke dalam dosa, maka pertanyaan-pertanyaan di luas memiliki arti praktis bagi kita
masing-masing. Ini bukanlah sekadar memecahkan masalah akademis dari Kitab Suci.

Ketika menyelidiki bacaan ini kita melihat, pertama, bahwa kalimat tersebut terdapat pada
akhir Kitab 1 Yohanes, tepat setelah anjuran untuk berdoa (5:13-15). Menurut Yohanes, karena
"kita tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kit a minta kepada-
Nya" maka kita harus berdoa untuk "saudara-saudara kita" yang berdosa. Yakobus
menggunakan susunan yang serupa pada akhir suratnya. Setelah berbicara tentang doa
penyembuhan (Yakobus 5:13-16), ia mencatat anjuran untuk berdoa yang diberikan oleh Elia
(ayat 17-18 ), lalu berbicara tentang mengembalikan orang berdosa dari jalannya yang salah
dan dengan demikian menyelamatkan orang itu dari maut (ayat 19-20). ltulah tujuan dari kitab
yang ditulisnya. Susunan surat yang menyatakan pengharapan akan kesehatan ditambah dengan
kalimat yang menyatakan tujuan pada penutup surat ini merupakan ciri khas dari salah satu
bentuk surat berbahasa Yunani. Dengan demikian kita tidak merasa terkejut bahwa pada
penutup suratnya Yohanes juga menuliskan suatu pengharapan akan kesehatan sebelum sampai
pada pernyataan tujuannya yang terakhir (barangkali 5:20).



Tetapi kehidupan dan kematian apakah yang sedang dibicarakan oleh Yohanes? Inilah
pertanyaan kita yang hidup di zaman modern; bukan pertanyaan salah seorang pembaca
Yohanes, karena kalimatnya yang singkat mengasumsikan bahwa mereka mengetahui apa yang
sedang dibicarakannya. Kita hams mengungkap hal ini dari surat-suratnya selanjutnya. Kita
lihat bahwa Kitab 1Yohanes menggunakan istilah "hidup" tiga belas kali, tujuh di antaranya
dalam pasal ini. Karena yang dimaksudkannya adalah kehidupan rohani (kehidupan kekal)
dalam setiap penggunaan lainnya dari istilah tersebut, maka kita menduga bahwa
pengertiannya dalam teks ini juga sama.
Seperti pada dua bacaan lainnya (keduanya dalam Yohanes 3:14), Yohanes menggunakan kata
"maut" untuk menunjukkan ketaatan rohani, bukan kematian jasmani. jadi meskipun dalam
Perjanjian Baru dosa dapat mengakibatkan kematian jasmani (1 Korintus 11:30; bandingkan
Kisah Para Rasul 5:1-11; 1Korintus 5:5) dan penyakit jasmani (Yakobus 5:15-16),
tampaknya bukan itu pengertiannya dalam bacaan ini. Hal ini secara khusus benar kareria
dalam kitab Injil maupun surat-suratnya Yohanes menganggap kematian jasmani sebagai
sesuatu yang telah ditaklukkan oIeh orang percaya (Yohanes 8:51; 11:26; 1Yohanes 3:14).

Jika demikian, dosa apakah (bukan perbuatan dosa tertentu melainkan kualitas dosa) yang
mengakibatkan kematian rohani? Dalam Perjanjian Lama beberapa dosa mengakibatkan
hukuman mati, sedang lainnya tidak (Bilangan 18:22; Ulangan 22:26).
 Secara khusus, pelanggaran perintah Allah secara disengaja mengakibatkan kematian,
sedangkan dosa yang tidak disengaja tidak mengakibatkan kematian (Imamat4:2, 13,22,27;
5:15; 17:18; Ulangan 15:27-31; Ulangan 17:12).
Dibedakannya kedua dosa iru Juga merupakan sesuatu yang umum pada literatur Yahudi abad
pertama. Meskipun semua referensi Perjanjian Lama ini menunjukkan kematian jasmani dari
orang yang melakukan dosa tersebut, tidaklah mengejutkan jika Yohanes menafsirkan kembali
konsep itu sebagai kehidupan dan kematian rohani, karena itulah yang menjadi pusat
perhatiannya. Dalam hal ini Yohanes melihat pada Yesus, yang menyebutkan dosa yang tidak
dapat diampun (Markus 3:28 dan bacaan-bacaan yang sebanding).

 Dosa apakah itu? Bagi Yesus dosa itu adalah melihat pekerjaan Roh Kudus tetapi menyebutnya
sebagai pekerjaan setan. Secara serupa, Yohanes merasa prihatin akan sekelompok orang yang
murtad, mereka yang dulunya merupakan bagian dan masyarakat Kristen tetapi kemudian
meninggalkannya. Apa dosa mereka? Mereka terus hidup dalam dosa (dan dengan dernikian
membenarkan dosa tersebut), mereka saling membenci dan memisahkan diri dari teman-teman
Kristen lainnya (dengan dernikian mereka tidak mempraktikkan perintah tentang kasih),
mereka mengasihi dunia dan bahkan menyangkal bahwa Yesus telah "menjadi manusia"
(barangkali penyangkalan bahwa Kristus benar-benar memiliki tubuh jasmani). Semua itu
bukanlah kesalahan yang terjadi secara kebetulan atau tergelincir ke dalam dosa tertentu,
melainkan sengaja menyimpang dari kebenaran yang telah mereka alami dalam masyarakat
Kristen. Meskipun mereka mungkin masih menganggap diri Kristen, Yohanes mengetahui bahwa
nilai-nilai dan doktrin mereka berbeda dengan yang terdapat dalam kelompoknya.

Jika demikian, mengapa Yohanes tidak mengatakan bahwa kita harus berdoa bagi mereka?
Jawabannya adalah karena doa semacam itu tidak ada gunanya. Masalahnya bukanlah doa itu
salah. Meskipun Yohanes jelas tidak menghendaki orang Kristen berdoa agar orang-orang
tersebut diampuni, ia memilih kata-katanya dengan hati-hati dan tidak melarang orang Kristen
untuk melakukannya. Masalahnya adalah orang-orang tersebut tidak menyesal atau pun ingin
bertobat. Seperti orang-orang yang digambarkan dalam Ibrani 6, mereka telah mengenal
kebenaran dan men galami sepenuhnya apa yang menjadi milik Allah, tetapi mereka mengambil
jalan yang menyimpang. Meskipun Allah pasti akan mengampuni mereka. jika mereka bertobat,
tidak satu hal pun akan mengubah pikiran mereka. Mereka telah meninggalkan masyarakat
Kristen yang benar. Mereka "mengetahui" bahwa mereka benar dan Yohanes salah. Berdoa agar
mereka diampuni tak ada gunanya. Pengampunan diberikan kepada orang-orang yang menyesali
dosa mereka, bukan yang dengan sengaja tetap hidup dalam dosa.
Tetapi bukan itu yang menjadi perhatian utama Yohanes. Inti pembicaraannya adalah orang
Kristen luirus berdoa bagi jernaat Kristen lainnya yang berdosa. Mengapa mereka harus
melakukan hal ini? Pertama, Allah tampaknya lebih suka memberikan pengampunan melalui
pengakuan kepada orang lain dan doa orang lain (seperti dalam Yakobus 5:15-16). Secara
psikologis hal ini membuat pertobatan menjadi jauh lebih nyata dan dengan dernikian lebih
bertahan lama. Kedua, dosa har.us dianggap sebagai hal yang serius. Kesalahan hari ini, jika
kita biarkan, dapat berubah menjadi tipu muslihat, dan saudara seiman kita akan semakin jauh
dari Allah sehmgga akhirnya mereka terrnasuk dalam kelompok yang murtad. Saat untuk turun
tangan bukanlah ketika seseorang telah menjadi keras hati dan menyimpang dari jalan Allah,
tetapi ketika dosanya pertama kali kita lihat. Jika ada yang mendoakannya pada saat itu, maka
ia akan hidup dan tidak akan semakin jauh dari Allah.

Dengan demikian Yohanes menghendaki dua hal yang sering kali kurang dipraktikkan dalam
gereja masa kini. Yang pertama adalah mengambil tanggung jawab atas kesejahteraan rohani
dari ternan-teman Kristen; yaitu mengamati kesalahan (kita dapat "melihat" dosa; dosa itu
tampak), menegur orang berdosa (Galatia 6:1-2), dan berdoa agar mereka mendapatkan
pengampunan. Yang kedua adalah menganggap dosa sebagai hal yang serius, dan menyadari
bahwa dosa itu benar-benar dapat menimbulkan konsekuensi yang serius jika kita tetap hidup
di dalam-Nya. Dengan demikian kita harus hidup dalarn rasa takut yang benar di hadapan Allah
dan memanggil orang lain untuk melakukan hal yang sama. Yohanes tidak ingin kita hidup
dalam ketakutan bahwa kita telah melakukan dosa "yang mendatangkan maut," karena rasa
takut yang benar merupakan petunjuk mengenai pertobatan kita, dan hal itu berarti kita tidak
melakukan dosa semacam itu. Yohanes ingin memanggil kita untuk terbuka satu sama lain
sehingga kita dapat memberikan dan menerima tegman. Dengan demikian kita bukan saja akan
saling menjaga dari pemberon takan yang disengaja dan akibatnya, melainkan juga saling
menolong untuk berjalan dalam persekutuan yang erat dengan Allah yang adalah terang (1
Yohanes 1:5).

								
To top