Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Ultrasonography - DOC

VIEWS: 1,189 PAGES: 4

									ULTRASONOGRAPHY (USG)
   Ultrasonography atau sonography adalah sebuah teknik yang memvisualisasikan struktur superficial atau deep pada tubuh dengan mereakam pulse dari gelombang ultrasonic yang direfleksikan dari jaringan. Pembuatan gambar dari suara biasa dilakukan dalam 3 tahap – produksi gelombang suara, menerima echo dan menginterpretasikan echo tersebut. Transducer yang melakukan kontak dengan kulit menghasilkan gelombang suara, lalu gelombang suara tersebut direfleksikan kembali oleh jaringan pada tubuh sebagai echo. Echo diterima oleh transducer dan dirubah menjadi energi elektrik. Signal elektrik direkam dan ditunjukkan di monitor sebagai gambar real time dan direkam sebagai gambrl tunggal atau direkam dalam videotape. Dalam fisika, istilah “ultrasound” merupakan energi akustik dengan frekuensi di atas pendengaran manusia (20.000 Hz atau 20 kiloHertz). Biasanya sonography beroperasi dengan rentang frekuensi antara 2-18 megaHertz, ratusan kali lebih besar dari batas pendengaran manusia. Pilihan frekuensi bergantung pada kemauan resolusi spasial dari gambar dan kedalaman gambar: frekuensi yang lebih rendah memproduksi resolusi lebih kecil tapi gambar yang lebih dalam ke dalam tubuh. Masing-masing jaringan tubuh mempunyai impedence acustic tertentu. dalam jaringan yang heterogen akan ditimbulkan bermacam-macam echo, disebut anechoic atau echofree atau bebas echo. Suatu rongga berisi cairan bersifat anechoic, misalnya kista, asites, pembuluh darah besar, perikardial, atau pleural effusion. Cairan akan berwarna hitam pada layar, jaringan padat seperti tulang, memproduksi perefleksian gelombang dengan kecepatan tinggi, akan berwarna putih pada layar. Semakin padat organ, semakin putih warnanya pada layar. Gambar dihasilkan sangat cepat (>40frames/sec), sehingga gambar pada layar tampak bergerak real time.







Aplikasi Terapis Aplikasi terapis menggunakan ultrasound untuk memberi panas atau agitasi pada tubuh. Oleh karena itu, energi yang digunakan lebih banyak daripada saat diagnostic ultrasound. Pada banyak kasus, frekuensi yang digunakan juga sangat berbeda.  Ultrasound dapat digunakan untuk membersihkan gigi pada dental hygiene.  Ultrasound dapat digunakan untuk menghasilkan pemanasan regional dan perubahan mekanik pada jaringan biologis, cth: pada occupational therapy, physical therapy dan pengobatan kanker. Tapi, penggunaan ultrasound pada penanganan kondisi musculoskeletal tidak dapat digunakan.  Ultrasound yang terfokus dapat digunakan untuk menghasilkan pemanasan lokal untuk menangani cyst atau tumor (benign atau malignant), ini diketahui sebagai Focused Ultrasound Surgery (FUS) atau High Intensity Focused Ultrasound (HIFU). Prosedur ini biasanya menggunakan frekuensi yang lebih rendah daripada medical diagnostic ultrasound (250 kHz – 2000 kHz), tapi energi yang lebih besar secara signifikan. Treatment menggunakan HIFU seringkali dipandu oleh MRI.  Focused ultrasound dapat digunakan untuk menghancurkan batu ginjal dengan lithotripsy.  Ultrasound juga dapat digunakan pada penanganan katarak dengan phacoemulsification





Efek fisiologis tambahan dari ultrasound berintensitas rendah baru-baru saja ditemukan, cth: kemampuannya untuk menstimulasi pertumbuhan tulang dan potensinya untuk mengganggu blood-brain barrier untuk administrasi obat. Procoagulant pada frekuensi 5-12 MHz

Atribut pada ultrasonography Keuntungan  Memberikan gambar otot, jaringan yang halus dan permukaan tulang dengan sangat baik dan berguna untuk mendeskripsikan batasan antara solid dan ruang fluid-fluid.  Memberikan gambar “hidup”, dimana operator dapt secara dinamis memilih section yang paling baik untuk diagnosis dan dokumentasi perubahan, seringkali memungkinkan diagnosis yang cepat. Gambar hidup juga memungkinkan untuk biopsi atau injeksi dengan tuntunan ultrasound, yang dapat menjadi sulit bila dilakukan dengan cara lain.  Memperlihatkan struktur organ.  Tidak diketahui mempunyai efek samping jangka panjang dan sangat jarang mengakibatkan ketidaknyamanan pada pasien.  Peralatan secara luas tersedia dan fleksibel.  Kecil, scanner yang mudah dibawa tersedia; pemeriksaan dapat dilakukan di bedside.  Relatif tidak mahal dibandingkan dengan investigasi menggunakna metode lain, seperti computed X-ray tomography, DEXA atau magnetic resonance imaging.  Resolusi spasial lebih baik dalam transducer ultrasound frekuensi tinggi dibanding metode pencitraan yang lain Kelemahan  Mempunyai masalah dalam penetrasi tulang. Sperti misalnya, sonography pada otak orang dewasa sangat terbatas meski sedang dilakukan pengembangan dalam transcranial ultrasonography  Sonography bekerja dengan sangat buruk saat ada gas antara transducer dan organ yang akan diperiksa, disebabkan karena perbedaan impedansi akustik yang ekstrim. Contohnya, gas yang terdapat dalam GI tract seringkali membuat scanning ultrasound pada pancreas menjadi sulit, dan tidak memungkinkan pencitraan paru-paru.  Meski dalam keadaan tidak ada tulang atau gas, kedalaman penetrasi dari ultrasound mungkin terbatas, bergantung pada frekuensi pencitraan. Oleh karena itu, mungkin terdapat kesulitan dalam pemcitraan struktur yang dalam pada tubuh, terutama pada pasien obese.  Metodenya nergantung pada operator. Skill dan pengalaman yang tinggi diperlukan untuk mencapai citra yang berkualitas dan dan untuk membuat diagnosis yang akurat.  Tidak ada gambar penunjuk seperti pada CT dan MR. Sekali gambar telah diperoleh ,tidak ada cara tepat untuk menentukan bagian mana dari tubuh yang dicitrakan. Resiko dan Efek Samping Ultrasonography dianggap sebagai metode pencitraan yang “aman”. Tapi, sedikit efek berbahahaya terkadang terlihat. Studi diagnostic ultrasound pada fetus secara umum sianggap aman selama kehamilan. Prosedur diagnostik ini harus dilakukan hanya saat terdapat indikasi medis yang valid, dan sedikit mungkin

menggunakan seting paparan ultrasonik unutk mendapatkan informasi diagnosis yang perlu (“as low as reasonably achievable” – ARALA principle). Pada USG bisa terdapat resiko penularan: 1. Resiko penularan tinggi, terjadi pada USG intervensi (misalnya punksi menembus kulit, memebran mukosa, atau jaringa lainnya); peralatan yang dipakai memerlukan sterilisasi (mislanya dengan autoklaf atau etilen oksida) dan dipergunakan sekalia pakai dibuang. 2. Reisko penularan sedang, terjadi pada USG yang mengadakan kontak dengan mukosa yang intak, misalnya USG transvaginal; peralatan yang diapaki minimal memerlukan disinfeksi tingkat tinggi (lebih baik dilakukan sterilisasi). 3. Resiko penularan ringan, terjadi pada pemeriksaan kontak langsung dengan kulit intak, misalnya USG transabdominal; peralatan yang diapaki cukup dibersihkan dengna lakohol 70% (sudah dapat membunuh bakteri vegetatif, virus mengandung lemak, fungisidal, dan tuberkulosidal) atau dicuci dengan sabun dan air. Gynecologic ultrasonography  Gynecologic ultrasonography atau Gynecologic sonography menyinggung kepada aplikasi medical ultrasonography pada organ pelvis wanita, terutama uterus, ovarium, tuba Fallopi, begitu juga dengan bladder, adnexa, Pouch of Douglas, dan berbagai penemuan yang bersangkutan dengan pelvis diluar kehamilan.  Eksaminasi dapat dilakukan secara: 1. Transabdominal, biasanya dengan bladder yang penuh sebagai jendela akustik untuk mendapatlan visualisasi yang lebih baik terhadap organ pelvis. Keadaan bladder penuh unutk transabdominal portion dari tes sangat menolong karena suara berjalan melalui cairan dengan penurunan yang lebih sedikit unutk visualisasai yang lebih baik dari uterus dan ovarium yang berada secara posterior dari bladder. Lesi yanglebih besar yang mencapai abdomen lebih mudah dilihat secara transabdominal. Prosedur dipandang tidak menyakitkan, non invasiv, dan relatif aman karena tidak menggunakan radiasi. 2. Transvaginal, dengan vaginal transducer yang didesain secara khusus. Pencitraan transvaginal menggunakan pencitraan dengan frekuensi yang lebih tinggi, yang memberikan resolusi lebih baik dari ovarium, uterus, dan endometrium (tuba Fallopi biasanya tidak terlihat, kecuali membengkak), tapi terbatas pada hal kedalaman pencitraan. Pada ujung probenya dipasang sebuah kondom dan diberi gel 3. Transperineal atau translabial, pemeriksaan ini hanay dilakukanpada keadaan tertentu, misalnya seorang nona ata seorang wanita yang tidak mungkin dilakukan pemeriksaan transvaginal atau transrektal. Dianjurkan kandung kemih pasien cukup terisi, hal ini untuk memudahkan pemeriksaan dan sebagai petunjuk anatomis. Probe dilapiasi kondom dan diberi jeli, kemudian diletakkan di daerah perineum, lalu digerakkan ke atas dan bawah untuk mencari gambarna organ genitalia. Cara ini memang tidak dapat memberikan gambaran organ genitalia sebaik pemeriksaan USG transvaginal atau transrektal. 4. Transrectal, hampir sama dengan transvaginal. Perbedaannya terletak pada bentuk dan ukuran diameter probe. Transducer yang telah sibungkus 2 lapis kondom dan dibubuhi jelly dimasukkan secara perlahan-lahan ke dalam rektum.

5. Pemeriksaan USG invasif. USG dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa atau efek terapeutik, misalnya biopsi vili khoriales, amniosentesis, kordosentesis, ovum pick-up (OPU), atau transfusi intra uterine. Pada umumnya hanya diperlukan anestesi lokal untuk memasukkan jarum punksi, tapi dapat juga anestesi umum pada tindakan OPU. Teknik yang diapaki bisa secara free-hand atau dipandu SG melalui marker punksi yang ada pada transducer.  Gynecologic sonography digunakan secara luas:  untuk mengevaluasi organ pelvis  untuk mendiagnosa dan menangani masalah ginekologi, termasuk endometriosis, leimyoma, adenomyosis, kista ovar dan luka  untuk mengindentidikasi massa adnexal, termasuk kehamilan ektopik  untuk mendiagnosis kanker ginekologis  Pada treatment infertilitas, untuk melacak respon folikel ovarium terhadap medikasi fertilitas (cth: Pergonal).  Lewat transvaginal sonography, kista ovari dapat diaspirasi. Teknik ini digunakan untuk memperoleh oosit melalui transvaginal puncture of ovarian follicles yang dipandu sonography pada IVF.  Sonohysterography adalah prosedur khusus dimana fluid, biasanya sterile saline, dipasangkan ke dalam rongga uterine, dan ginecologic sonography dilakukan pada saat yang bersamaan. Prosedur ini menguraikan patologi intrauterine seperti polip, Asherman’s syndrome, atau submucous leiomyoma.

Sumber: 1. Keith L. Moore, Arthur F. Dalley, Clinically Oriented Anatomy, 5th ed. Hal. 69, 468-469 2. http://www.scribd.com/doc/9642965/Persiapan-dan-Teknik-Pemeriksaan-USG-OBGIN-Dasar-JJE20080409 3. http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_ultrasonography 4. http://en.wikipedia.org/wiki/Gynecologic_ultrasonography


								
To top