FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CAKUPAN PROGRAM PEMBERIAN KAPSUL
Document Sample


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI bulan Februari sebesar 44,9% dan pada bulan Agustus 51%. Data diolah
CAKUPAN PROGRAM PEMBERIAN KAPSUL dengan uji kai kuadrat, dan ternyata ada hubungan yang bermakna antara
cakupan pemberian kapsul vitamin A dengan pendidikan ibu, usia ibu,
VITAMIN A PADA BALITA pendidikan ayah, keikutsertaan orang tua dalam program KB, serta
DI PURWOREJO TAHUN 1996 kepemilikan televisi. Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita tidak
memiliki hubungan yang bermakna dengan usia ayah, status kerja ibu, dan
kepemilikan radio.
Tundjungsari Ratna Utami; Prof. dr. Moh. Hakimi, SpOG; Disarankan agar dilakukan penelitian lagi dengan menggali faktor
Prof. dr. Achmad Surjono, SpAK pengetahuan ibu/ masyarakat mengenai vitamin A, juga faktor kader/
petugas kesehatan.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat,
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
INTISARI
Vitamin A merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan
oleh tubuh. Penelitian telah membuktikan bahwa kekurangan vitamin A
pada anak mengakibat xeropthalmia serta meningkatkan angka morbiditas
dan mortalitas. Salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kekurangan
vitamin A ini dengan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi setiap bulan
Februari dan Agustus.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A secara nasional pada tahun
1992 adalah 58%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan
pemberian kapsul vitamin A di Purworejo tahun 1996 dan mengaitkan
dengan usia ibu, pendidikan ibu, status kerja, usia ayah, pendidikan ayah,
keikutseraan orang tua dalam program KB, kepemilikan televisi dan radio.
Subjek penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan yang tinggal bersama
kedua orang tua, bertempat tinggal di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Rancangan penelitian ini adalah non eksperimental cross sectional.
Menurut data yang terdapat di Laboratorium Penelitian Kesehatan
dan Gizi Masyarakat, bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ada 3334 balita yang
memenuhi syarat untuk menjadi subjek. Sebanyak 1026 (30,8%) balita
mendapat kapsul vitamin A lengkap, 1144 (34,3%) balita mendapat satu
kali, dan 1164 (34,9%) balita tidak mendapat sama sekali. Cakupan pada
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [1] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [2]
I. PENDAHULUAN Florentino, 1991).
A. Latar Belakang Salah satu akibat KVA adalah xeropthalmia, yaitu penyakit
yang ditandai dengan rusaknya mata anak, yang kondisinya sangat
Anak adalah pengemban tugas di hari depan. Anaklah yang bervariasi mulai dari kekeringan selaput bola mata hinga timbulnya
akan melanjutkan pembangunan di muka bumi ini. Kualitas seorang kebutaan. Upaya penanggulangan masalah xeropthalmia di Indonesia
anak di masa sekarang akan berpengaruh terhadap kondisinya di masa telah digalakkan sejak tahun 1970-an, dengan cara pemberian kapsyl
yang akan datang. Oleh karena itu sudah sewajarnya jika anak vitamin A dosis tinggi 200.000 IU kepada semua anak yang berusia
mendapat perhatian yang khusus. 12-59 bulan di seluruh Indonesia setiap bulan Februari dan Agustus
melalui Puskesmas yang diteruskan ke Posyandu.
Tingkat kemajuan dan tingkat kesejahteraan suatu bangsa lebih
ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) dibandingkan dengan Xeropthalmia yang mengancam kebutaan anak secara nasional
Sumber Daya Alam (SDA). Dengan SDA yang minimal, suatu negara di Indonesia sejak tahun 1970-an hingga sekarang secara berangur-
dapat mencapai tingkat negara maju, asal saja SDM yang dimiliki angsur menunjukkan penurunan dari 1,2% pada tahun 1978 menjadi
berkualitas. Oleh karena itu penting sekali untuk meningkatkan 0,34% pada tahun 1992. Penurunan ini tidak terjadi di seluruh wilayah
kualitas manusia , sejak masa kanak-kanak, agar mereka dapat tumbuh di propinsi di Indonesia. Ada beberapa propinsi yang masih
dan berkembang menjadi anggota masyarakat yang berguna dan dapat menunjukkan angka xeropthalmia tinggi (> 0,5%), yaitu propinsi
berkarya secara maksimal (Ratna, 1988). Sulawesi Selatan (2,92%), Sulawesi Tenggara (0,61%), dan Maluku
(0,88%). Hal ini didukung data yang menunjukkan angka cakupan
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas manusia yakni pemberian vitamin A secara nasional sekitar 58% (tarwotjo, 1992 cit
dengan memenuhi kebutuhan nutrisi. Nutrisi yang baik akan ikut Armunanto, 1994).
membantu mencegah terjadinya penyakit yang akut dan kronik, dan
juga menopang perkembangan kemampuan fisik dan mental (Barness, Vitamin A, selain berperan dalam pencegahan xeropthalmia
1988). juga menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi/ anak balita.
Dampak intervensi vitamin A dengan pemberian vitamin A dosis
Di Indonesia, hal pemenuhan kebutuhan nutrisi masih tinggi setiap 6 bulan terhadap angka mortalitas anak balita telah
dihadapkan pada empat masalah gizi kurang yaitu: (1) Kekurangan diteliti. anak balita yang mendapat kapsul vitamin a dosis tinggi
Kalori Protein (KKP), (2) Kekurangan Vitamin A (KVA) yang dapat mempunyai risiko relatif kematian yang lebih rendah daripada anak
berakibat kebutaan, (3) Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI), balita yang tidak mendapatkan kapsul vitamin A (Muhilal, 1986).
dan (4) Anemia Defisiensi Besi (ADB) (Agus, 1983). Masalah ini Vitamin A juga berperan dalam pertumbuhan anak. Penelitian di
banyak terdapat pada bayi, anak balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan Purwakarta membuktikan bahwa KVA taraf ringan mempengaruhi
masyarakat berpenghasilan rendah (Kodyat, 1993 cit Purjanto, 1994). terhambatnya pertumbuhan berat dan tinggi badan anak dibawah usia
6 tahun (Tarwotjo, 1993 cit Myrnawati, 1997).
Masalah KVA bukan hanya menjadi masalah di Indonesia,
tetapi juga merupakan salah satu masalah gizi di negara-negara yang Walaupun penelitian tentang KVA di Indonesia telah banyak
sedang berkembang sebab prevalensinya masih tinggi. Di Manla, dilakukan oleh para ahli, ternyata KVA masih belum secara tuntas
Filipina, berdasarkan pengukuran kadar vitamin A dalam plasma dapat diatas karena KVA merupakan lingkaran setan yang sulit dicari
(n=406) maka didapatkan 20% dari jumlah tersebut masih menderita ujung pangkalnya dan diputus mata rantai yang menjadi penyebabnya
KVA (yakni bila kadar vitamin A < 10 ug/dl). Kondisi KVA tersebut (Sommer, 1983 cit Armunanto, 1994). Pemberian kapsul vitamin A
menimpa mereka yang berusia 6 bulan - 19 tahun (Villavieja, 1990 cit dosis tinggi pada Balita, yang merupakan salah satu program
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [3] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [4]
penanggulangan KVA, pada tahun 1992 baru mencakup 58%, dan B. Kepentingan Masalah
seyogyanya angka ini masih harus ditingkatkan.
Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh informasi
mengenai berbagai faktor yang dapat mempengaruhi cakupan
distribusi pemberian vitamin A pada balita.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi kemajuan
ilmu pengetahuan dan dapat memberi masukan bagi kelanjutan
pelaksanaan program pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang
dapat mempengaruhi cakupan distribusi pemberian kapsul vitamin A
dosis tinggi pada balita.
D. Tinjauan Pustaka
Vitamin A
Vitamin A adalah suatu campuran bahan organik yang
dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil, berperan dalam
metabolisme sel untuk keperluan pemeliharaan atau pertumbuhan
organik yang bersangkutan. Vitamin merupakan bahan makanan yang
harus diusahakan dari luar (Barness, 1992).
Vitamin tidak termasuk golongan protein, karbohidrat maupun
lemak, dan terdapat dalam jumlah yang kecil dalam makanan tetapi
sangat penting peranannya bagi fungsi tubuh tertentu. Dalam bahan
pangan, vitamin dapat terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda, di
antaranya ada yang berbentuk provitamin yang setelah diserap dalam
tubuh segera mengalami perubahan kimia menjadi vitamin yang aktif.
Vitamin umumnya dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu
vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air.
Vitamin A termasuk vitamin yang larut dalam lemak, dan dimasukkan
ke dalam kelompok lipida, karena tidak larut dalam air dan dapat
diekskresi dengan menggunakan pelarut organik.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [5] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [6]
Vitamin A hanya terdapat dalam jaringan hewan, sedangkan kebutaan merupakan masalah sosial dan ekonomi yang harus
dalam tumbuhan terdapat sebagai beta-karoten, yaitu senyawa ditanggulangi dan bila mungkin dicegah (Muhilal dkk., 1992).
provitamin a yang di dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A.
Bahan makanan yang menjadi sumber vitamin A antara lain kelapa Kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan gangguan visual
sawit, ikan, kuning telur, lemak susu, daging berlemak, hati, sayuran, dan mukosa mata yang berakhir dengan kebutaan. Vitamin A juga
buah-buahan, biji-bijian sumber minyak seperti kacang hijau dan berperan dalam mempertahankan daya tahan tubuh terhadap infeksi
sebagainya (Susilo dkk, 1988). khususnya pada anak-anak. Penyakit infeksi yang sering dihubungkan
dengan kondisi KVA adalah diare, ISPA, campak. Penelitian di
Vitamin yang larut dalam lemak, termasuk vitamin A, adalah Indonesia tahun 1979 menemukan bahwa suplementasi vitamin A
molekul-molekul apolar hidrofobik, yang semuanya merupakan menurunkan angka mortalitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa
derivat isopren. Vitamin yang larut dalam lemak memerlukan absorpsi dapat terjadi peningkatan kejadian kesakitan pada anak yang menderita
lemak normal untuk ikut diserap. Sekali diserap, vitamin yang larut KVA. Hal ini sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan ilmiah
dalam lemak ditranspor ke hati dalam kilomikron dan disimpan dalam tentang vitamin A di Italia tahun 1991, yaitu sepakat bahwa KVA
hati (Martin, 1987). Tubuh mempunyai kemampuan toleransi 150 kali tingkat ringan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas
dari kecukupan konsumsi vitamin A yang dianjurkan, kecuali bagi khususnya anak usia 6 bulan sampai 6 tahun (Satoto, 1992).
bayi dan ibu hamil. Seorang anak yang berusia 1-3 tahun yang
membutuhkan 1500 SI setiap hari, bila diberikan dosis 150 kali lebih Kebutuhan seseorang akan vitamin A bergantung pada sejumlah
besar dari jumlah ini tidak akan membahayakan anak. Dengan faktor yang saling berhubungan termasuk umur, kecepatan
demikian kapsul vitamin A dosis tinggi yang berisikan 200.000 SI pertumbuhan, jenis kelamin, efisiensi penyerapan dan penyimpanan,
vitamin A ester di dalam larutan lemak, dianggap dapat diterima dan efisiensi pengakutan plasma dan penggunaannya dalam sel-sel yang
tidak menyebabkan sakit (Husaini, 1992). Vitamin A berdosis relatif menjadi sasarannya. Kecepatan pertumbuhan yang rendah pada umur
sangat tinggi mudah terabsorpsi, mudah tersimpan dengan memadai tertentu secara nyata menurunkan kebutuhan, sedang parasit
pada hati dan organ lain, serta efektif digunakan dalam jangka waktu pencernaan, kekurangan gizi (misalnya KKP) dan penyakit-penyakit
tertentu. Dosis tinggi tunggal vitamin A dapat mencukupi kebutuhan pada saluran pencernaan, hati serta ginjal cenderung menaikkan
anak pra-sekolah selama 4-6 bulan (Rahmat, 1997). kebutuhan (Nasution, 1988).
Kapsul vitamin A dosis tinggi berisi 200.000 SI (60.000 ug)
vitamin A dan 40 SI vitamin E di dalam larutan minyak. Kapsul Tabel 1. Kecukupan Gizi yang Dianjurkan per Orang per Hari
tersebut terbuat dari gelatin yang ujungnya berupa puting yang dapat
digunting bila isinya akan ditekan keluar. Hal ini penting bila
diberikan kepada bayi yang belum dapat menelan kapsul. Kapsul ini Golongan umur BB(kg) Vit. A(IU)
dapat pula ditelan, dan dalam jangka waktu 10 menit dalam saluran (tahun)
pencernaan gelatin sudah tercerna. Stabilitas kapsul vitamin A sangat
baik, dapat disimpan selama 42 bulan, dan tidak menyebabkan 0,5 - 1 8 1200
pengurangan vitamin A dalam kapsul lebih dari 10% (Husaini, 1982). 1-3 11,5 1500
4-6 16,5 1800
Kegunaan vitamin A untuk tubuh antara lain untuk 7-9 23 2400
pertumbuhan, penglihatan, reproduksi dan pemeliharaan sel epitel.
Dengan demikian kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan (Soetrisno, 1983)
gangguan anatomik dan faal mata dengan akibat kebutaan. Masalah
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [7] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [8]
Pada tahun 1986 WHO memulai menetapkan program 10 tahun (reinforcing factor), meliputi sikap dan perilaku petugas kesehatan,
untuk pencegahan dan pengawasan kekurangan vitamin A dan dorongan dari guru, anggota keluarga lain, pamong, dan lain-lain
xeropthalmia. Ada 3 strategi dasar yang digunakan yaitu: peningkatan (Green, 1980 cit Salam, 1987)
produksi dan konsumsi makanan yang kaya vitamin A melalui
pembangunan pertanian dan pendidikan gizi, fortifikasi vitamin A Nadapdap (1988) menguraikan bahwa perilaku kesehatan
pada makanan yang banyak dikonsumsi, dan distribusi berupa pribadi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) faktor
suplemen berupa kapsul vitamin A dosis tinggi pada semua anak yang demografis (umur, jenis kelamin, bangsa, kelompok etnis), (2) faktor
mempunyai risiko xeropthalmia. Selanjutnya hal ini diperkuat lagi sosial psikologi (kepribadian, pengalaman sebelumnya), dan faktor
dengan hasil pertemuan IVACG 1993 di Tanzania. Ada beberapa hal struktur (kelas sosial, akses pelayanan kesehatan). Selain faktor yang
yang sesuai di Indonesia yakni: (1) program distribusi vitamin A mempengaruhi kesehatan pribadi, ada pula faktor pendorong untuk
dengan prioritas pada balita dan ibu nifas pada kantong-kantong rawan bertindak, yang berupa kampanye, media massa, peringatan dari
KVA dan daerah dengan morbiditas tinggi (khususnya campak dan dokter, tulisan dalam surat kabar, majalah, dsb.
diare), (2) program penyuluhan (pemasaran sosial) penganekaragaman
konsumsi makanan alamiah sumber vitamin A, (3) fortifikasi vitamin Perilaku seseorang juga dipengaruhi oleh gaya hidup keluarga
A pada bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat sasaran individu tersebut. Gaya hidup merupakan bagian dari manifestasi
(Purjanto, 1994). Dari cara-cara tersebut, yang dianggap paling efektif budaya dan merupakan hasil belajar dan pengalaman sejak lahir
dapat memberikan hasil nyata dalam waktu relatif singkat adalah sampai meninggal dunia. Banyak faktor yang mempengaruhi dan
pemberian kapsul vitamin A dan forfikasi (Husain, 1982). menentukan gaya hidup keluarga. Manifestasi dari gaya hidup
keluarga berbentuk segala perilaku keluarga tersebut, dan merupakan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sehat bagian dari budaya masyarakatnya. Perilaku tampak pada banyak
aktivitas keluarga yang mempunyai 3 unsur utama yang
Pengertian perilaku adalah jiwa (berpendapat, berpikir, mempengaruhinya yaitu: (1) lingkungan hidup, (2) berbagai kebutuhan
bersikap, dan sebagainya) untuk memberikan respon terhadap situasi keluarga, dan (3) sumber daya keluarga. Interaksi ketiga unsur tersebut
di luar subjek tersebut. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) menghasilkan kegiatan keluarga, yang mencerminkan gaya hidup
dan dapat juga bersifat aktif (dengan tindakan). Bentuk operasional keluarga tersebut.
dari perilaku ini dapat dikelompokkan dalam 3 jenis yaitu: (1) perilaku
dalam bentuk pengetahuan yaitu dengan mengetahui situasi rangsang Sumber daya keluarga merupakan fasilitas yang dapat
dari luar, (2) perilaku dalam bentuk sikap yaitu tanggapan batin digunakan untuk keluarga dalam upaya memenuhi kebutuhannya, baik
terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri subjek, (3) perilaku material maupun immaterial. Ada keluarga yang sadar terhadap
dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit berupa perbuatan terhadap tersedianya semua fasilitas ini dan menggunakan semua fasilitas yang
situasi atau rangsangan dari luar (Nadapdap, 1988). dapat dimanfaatkannya itu. Ada pula keluarga yang mengetahui
adanya semua fasilitas yang dapat digunakan, tetapi merasa perlu
Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi perilaku masyarakat untuk hanya menggunakan sebagian, karena sudah memenuhi
atau individu, yaitu: (1) faktor-faktor dasar (predisposing factor) yakni kebutuhan yang ada. Sumber daya keluarga paling sedikit ada 5 jenis:
meliputi kebiasaan, kebiasaan, tradisi, nilai pandangan atau persepsi (1) waktu, (2) sumber daya material: uang dan barang, (3) sumber daya
serta faktor perseorangan atau personal seperti pendapatan keluarga, tenaga, pengetahuan dan keahlian, (4) sumber daya hubungan pribadi,
kedudukan sosial, umur, dan pendidikan yang berhubungan dengan dan (5) sumber daya intrinsik keluarga (Soediaoetomo, 1987).
motivasi seseorang atau sekelompok orang untuk berperilaku; (2)
faktor-faktor pendukung (enabling factor), meliputi sumber daya atau
potensi masyarakat, jarak, fasilitas, dan (3) faktor-faktor pendorong
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [9] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [10]
Pemasaran Sosial Vitamin A Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor-
faktor yang berhubungan dengan pengguna posyandu dan imunisasi.
Pemasaran Sosial adalah perancangan, implementasi, dan Menurut hasil penelitian Ilham (1996), kelompok umur yang paling
pengendalian program-program yang bertujuan untuk meningkatkan benyak mengunjungi posyandu adalah usia 25-29 tahun (41,7%).
penerimaan suatu gagasan, atau praktek-praktek tertentu oleh Proporsi terkecil ditempati kelompok umur 40 tahun ke atas.
kelompok-kelompok sasaran (target). Tujuan pemasaran sosial antara Kelompok umur 30-34 tahun (27,3%) merupakan urutan kedua
lain: (1) dapat menimbulkan pengertian atau pengetahuan kelompok terbesar dan rata-rata umur ibu balita yang mengunjungi posyandu
sasaran, (2) mendorong pelaksanaan suatu kegiatan tertentu, (3) adalah umur 27 tahun. Berdasarkan kelompok umur tersebut berarti
mengubah perilaku, dan (4) mengubah kepercayaan yang mendasar. kebanyakan pengguna posyandu adalah ibu balita yang masih
produktif atau merupakan pasangan usia subur, yaitu pasangan yang
Sejak tahun 1988 sampai sekarang pemasaran sosial vitamin A memiliki kesempatan untuk mendapatkan anak.
masih tetap dilakukan, dan kegiatan ini diintegrasikan bersamaan
promosi Posyandu dengan tahap-tahap: bahwa Posyandu milik Dari hasil penelitian Ilham, prosentase pendidikan ibu balita
masyarakat (dari, oleh, dan untuk masyarakat), memperkenalkan yang paling banyak mengunjungi posyandu adalah SMTA (42%), dan
pelayanan Posyandu dan tahap pengembangan kader sebagai
yang paling rendah adalah perguruan tinggi (11%).
komunikator. Produk-produk pemasaran sosial vitamin A adalah
kapsul vitamin A, makanan kaya akan vitamin A, dan fortifikasi
Berdasarkan hasil penelitian Ilham (1996), dari 410 responden
makan dengan vitamin A. Tempat pemasaran dapat dibedakan yaitu:
yang mengunjungi posyandu sebagian besar (80,2%) bekerja sebagai
(a) untuk kapsul: Puskesmas, rumas kader, posyandu, (b) makanan
sumber vitamin: pasar, kebun buah, pendidikan gizi di sekolah, (c) ibu rumah tangga. Ibu yang bekerja sebagai buruh dan pegawai swasta
fortifikasi: warung makanan, toko makanan. hanya 3,7%, merupakan urutan keempat. Urutan kedua adalah
pedagang (5,9%) dan sebagai urutan ketiga adalah pegawai negri
Departemen Kesehatan, melalui program suplementasi kapsul (4,1%). Pengguna posyandu yang paling besar adalah yang bekerja
vitamin A menyediakan kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 IU, sebagai ibu rumah tangga, berarti bahwa mereka memiliki waktu yang
yang diberikan pada bulan Februari dan Agustus. Satu kapsul vitamin cukup untuk mengunjungi posyandu, dan memiliki waktu banyak
A setiap enam bulan diberikan pada anak yang berusia mulai satu untuk merawat anaknya di rumah.
tahun hingga lima tahun, ditambah dengan pemberian makanan yang
mengandung vitamin A setiap hari yang akan menjamin kecukupan Jatipura (1993) meneliti mengenai faktor-faktor yang
vitamin A anak balita. Upaya peningkatan konsumsi makanan kaya berhubungan dengan imunisasi DPT-1, yang dianggap mewakili
vitamin A merupakan cara yang paling sesuai untuk jangka panjang, imunisasi yang lain. Faktor yang berhubungan dengan imunisasi DPT-
sedangkan pemasaran sosial vitamin A, khususnya pemberian vitamin 1 adalah unsur ayah (semakin muda umur ayah proporsi diimunisasi
A merupakan cara yang mudah, murah, dan cepat untuk menjamin semakin besar), jumlah anak yang masih hidup (anak masih hidup
agar anak balita di Indonesia tidak menderita kekurangan vitamin A. sedikit proporsi diimunisasi semakin besar), keikutsertaan KB (yang
mengikuti program KB proporsi lebih besar), dan menonton TV (yang
Pada studi tahun 1990 di Jateng, menunjukkan 57,9% ibu-ibu menonton TV proporsi diimunisasi lebih besar). Faktor-faktor diatas
menyatakan anak balitanya mendapatkan kapsul vitamin A, dan yang diduga berhubungan dengan sifat-sifat pandangan modern dan lebih
mendapat lengkap hanya 36,2%. Di Jawa Timur 36,2% mendapat banyaknya kesempatan. Faktor-faktor yang tidak bermakna dengan
vitamin A 1 kali, 14,2% mendapat vitamin A 2 kali. Di Jawa Barat status imunisasi DPT-1 anak adalah umur ibu, pendidikan ayah, jenis
53,6% mendapat vitamin A 1 kali, dan 31,6% mendapat 2 kali. Di DKI kelamin anak, luas rumah, kepemilikan TV, kebiasaan membaca
Jakarta 36,6% mendapat sekali dan 21% mendapat 2 kali (Karyadi, koran, jumlah kelahiran hidup dan kebiasaan mendengarkan radio
1990). (p<0,1).
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [11] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [12]
Penelitian serupa yang dilakukan oleh Kasniyah (1994)
mengemukakan bahwa faktor-faktor sosial demografi yang E. Hipotesis
dihubungkan dengan tidak memanfaatkan pelayanan imunisasi campak
adalah pendidikan orang tua yang rendah, ibu bekerja di luar rumah, Berdasarkan uraian diatas, dibuat hipotesis sebagai berikut: usia
ayah bekerja sebagai petani, ketidaksertaan orang tua menjadi ibu, pendidikan ibu, status kerja ibu, pendidikan ayah, keikutsertaan
organisasi sosial, memiliki anak lebih dari satu, dan status sosial yang dalam program KB, kepemilikan TV, dan kepemilikan radio, memiliki
rendah. Faktor yang memiliki kemaknaan yang besar secara statistik pengaruh terhadap cakupan pemberian kapsul vitamin A.
adalah faktor pendidikan ibu, ayah, ayah bekerja sebagai petani,
ketidakikutsertaan dalam organisasi sosial, dan status sosial yang
rendah. Faktor yang memiliki kemaknaan yang rendah secara statistik
adalah faktor ibu bekerja di luar rumah dan jumlah anak lebih dari II. CARA PENELITIAN
satu.
A. Subjek Penelitian
Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Fibriani (1992) di
Puskesmas Gajahan, Kodya Surakarta. Hasil penelitian tersebut adalah Subjek penelitian
cakupan imunisasi DPT dipengaruhi oleh pendidikan ibu. Semakin
tinggi pendidikan ibu, semakin lengkap status imunisasi DPT bayi, dan Subjek penelitian adalah balita yang saat dilakukan penelitian
pada ibu yang berpendidikan rendah status imunisasi DPT bayi banyak berusia 12-59 bulan (pada bulan Desember 1996 berusia 18-59 bulan).
yang tidak lengkap. Pekerjaan ibu tidak bermakna secara statistik Kriteria inklusi subjek ialah balita tinggal bersama ibu dan ayah
dengan status imunisasi bayi. Baik pada ibu yang bekerja maupun kandung. Populasi penelitian ini adalah balita berusia 12-59 bulan
yang tidak bekerja tidak berhubungan dengan kelengkapan status yang bertempat tinggal di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
imunisasi DPT bayi.
B. Rancangan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, dapat dibuat suatu skema sebagai berikut:
Jenis penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian cross sectional. Variabel yang
termasuk faktor risiko dan variabel yang termasuk efek, diobservasi
sekaligus pada saat yang sama, yang berarti setiap subjek hanya
diobservasi satu kali saja. Faktor risiko dan efek diukur menurut
keadaan atau status saat diobservasi (Pratiknyo, 1986)
Identifikasi variabel
Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas
dan variabel tergantung.
Variabel bebas: usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, usia ayah,
pendidikan ayah, keikutsertaan dalam program KB, kepemilikan radio,
dan kepemilikan TV.
Variabel tergantung: cakupan vitamin A pada balita.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [13] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [14]
Definisi operasional variabel semuanya. Wilcah yang memiliki rumah tangga lebih dari 101,
maka rumah tangga dipilih dengan cara sebagai berikut:
Usia ibu: usia ibu kandung balita dalam tahun 1). Ditentukan interval (I) dua angka dibelakang koma
Pendidikan ibu: tingkat pendidikan tertinggi yang pernah/sedang dengan rumus :
diduduki ibu. Ii = Mi/m, I = 1 s.d. 128
Pekerjaan ibu: pekerjaan utama ibu yang memberi penghasilan Ii = interval untuk wilcah terpilih yang ke-i
terbanyak Mi = banyaknya seluruh rumah tangga yang
Usia ayah: usia ayah kandung balita dalam tahun harus dipilih dari setiap wilcah yang ke-i
Pendidikan ayah: tingkat pendidikan tertinggi yang pernah/sedang m = jumlah rumah tangga yang harus dipilih
diduduki ayah. dari setiap wilcah = 101
Keikutsertaan dalam program KB: pernah atau sedang memakai suatu 2). Ditentukan angka random pertama (Ri) untuk setiap
cara atau alat untuk menunda atau mencegah kehamilan wilcah dengan ketentuan bahwa nilai Ri < Ii; dan
Kepemilikan radio/TV: ada tidaknya radio/TV didalam rumah. seterusnya nilai R2 = R1 + (2-1)Ii.
Cara Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data rumah
tangga yang memiliki balita seperti telah tersebut di atas.
Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Fakultas Keterbatasan Penelitian
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi cakupan pemberian
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat vitamin A sangatlah kompleks, seperti telah dijelaskan dalam kerangka
melakukan penelitian di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. analisis. Dalam penelitian ini hanya sebagian aspek yang ditinjau
Penelitian dilakukan melalui sampel survei, dengan jumlah sampel antara lain faktor persepsi, fasilitas kesehatan dalam masyarakat, dan
sekitar 15.000. Metode pemilihan sampel dengan menggunakan petugas/kader yang berkepentingan dalam distribusi kapsul vitamin A.
rancangan penarikan sampel secara berjenjang, yaitu menurut acuan
Proportional Population Estimated Size (PPES). C. Pengukuran Hasil Penelitian
Pemilihan sampel dilakukan 2 (dua) tahap, yaitu tahap pertama Data diperoleh dari data sekunder. Data sekunder tersebut
memilih wilayah cacah (wilcah) dan tahap kedua memilih rumah merupakan hasil wawancara dari rumah ke rumah yang dilakukan oleh
tangga dari wilcah terpilih. orang-orang lulusan SMTA yang telah dilatih. Dalam rangka untuk
a). Pemilihan sampel wilcah: oleh karena jumlah wilcah yang menjaga mutu dan akurasi yang dikumpulkan di lapangan, maka
harus dipilih sebanyak 128 wilcah, maka seluruh wilcah yang dilakukan sistem cek data yang meliputi editing tingkat petugas,
ada pada frame terpilih semua. Pemilihan sampel ini dilakukan tingkat pengawas, tingkat koordinator, dan tingkat peneliti.
bersama Biro Pusat Statistik (BPS) dengan memakai sampling
frame dari Sensus Pertanian tahun 1993.
b). Pemilihan sampel rumah tangga: menggunakan kaidah equal
sampel, yaitu setiap wilcah diambil sampel rumah tangga yang
sama, yaitu sebanyak m = 13.000/128 atau sebanyak 101
rumah tangga. Wilcah dengan jumlah rumah tangga kurang dari
102, maka seluruh rumah tangga pada wilcah tersebut dipilih
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [15] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [16]
III. HASIL DAN PEMBAHASAN pemberian kapsul vitamin A hanya satu kali, risiko relatif terbesar
pada ibu berusia kurang dari 20 tahun (RR=1,53). Pemberian kapsul
Menurut data tahun 1996 diperoleh 3334 balita yang memenuhi syarat vitamin A lengkap bila dibandingkan dengan yang sama sekali tidak
untuk diteliti. Sebanyak 1026 (30,8%) balita mendapat kapsul vitamin A dua mendapatkannya, maka risiko relatif terbesar terdapat pada ibu yang
kali, 1144 balita (34,3%) hanya mendapat satu kali, dan 1164 (34,9%) tidak berusia di atas 45 tahun. Keterangan yang lengkap dapat dilihat pada
mendapatkannya sama sekali. Prosentase ini masih rendah bila Tabel 2.
dibandingkan dengan cakupan pemberian kapsul vitamin A secara nasional,
yakni sekitar 58%.
Tabel 2. Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A menurut Waktu Pemberian Tabel 3. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A menurut Usia Ibu
Waktu pemberian n % Frekuensi pemberian kapsul vit.A
Usia ibu Jumlah
Februari 471 14,1 (tahun) 0X 1X 2X
Agustus 673 20,2 n % n % n % n %
< 20 10 25,6 23 59,0 6 15,4 39 100
Februari + Agustus 1026 30,8
20 - 34 794 33,5 815 34,5 756 32,0 2365 100
Tidak Februari & Agustus 1164 34,9
35 - 45 341 38,3 294 33,0 255 28,7 890 100
Jumlah 3334 100,0
> 45 19 47,5 12 30,0 9 22,5 40 100
Jumlah 1164 34,9 1141 34,3 1024 30,8 3327 100
Tabel di atas menunjukkan bahwa pada bulan Februari cakupan kapsul
vitamin A sebesar 44,9%, sedangkan pada bulan Agustus sebesar 51 %.
X2 = 20.79672, DF = 6, p < 0,05
Cakupan pada bulan Agustus lebih besar bila dibandingkan pada bulan
Februari dengan selisih 6,1%. Hal ini dimungkinkan karena bulan Februari
merupakan musim penghujan, sehingga orang cenderung enggan keluar
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Jatipura
rumah apalagi jika harus membawa anak kecil.
(1993) yang menyatakan bahwa umur ibu merupakan faktor yang tidak
bermakna terhadap status imunisasi DPT-1 anak. Pada penelitian ini
1. Pengaruh usia ibu
cakupan terbesar terdapat pada ibu kelompok usia 20 - 34 tahun. Hal
ini diduga karena dibandingkan dengan ibu kelompok usia 35-45 dan
Data dianalisis dengan uji kai kuadrat, dan menunjukkan
> 45 tahun, maka ibu usia 20-34 tahun memiliki kesempatan atau
adanya hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan cakupan
waktu luang yang lebih banyak. Sedangkan bila dibandingkan dengan
pemberian kapsul vitamin A pada balita. Prosentase terbesar bagi
ibu kelompok usia < 20 tahun, ibu 20 - 34 tahun memiliki pengalaman
balita yang mendapatkan kapsul vitamin A secara lengkap terdapat
yang lebih banyak.
pada ibu kelompok umur 20-34 tahun, disusul ibu kelompok umur 35-
45 tahun, di atas 45 tahun, dan prosentase terkecil terdapat pada ibu
berusia di bawah 20 tahun.
Pemberian kapsul vitamin A lengkap dibandingkan dengan
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [17] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [18]
Tabel 4. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Mendapatkan Kapsul Vitamin Tabel 6. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita menurut
A menurut Usia Ibu Pendidikan Ibu
Usia ibu Frekuensi Pemberian Vit. A Frekuensi pemberian kapsul vit.A
(Tahun) Risiko relatif Pendidika
0X 2X n 0X 1X 2X Jumlah
< 20 10 6 1,22 (0,83-1,79) ibu n % n % n %
20 - 34 794 756 1 Tidak 123 53,7 72 31,4 34 14,9 229
sekolah
35 - 45 341 255 1,12 (1,03-1,22)
SD 771 35,5 774 35,6 628 28,9 2173
> 45 19 9 1,32 (1,02-1,72)
SMP 126 26,8 161 34,2 184 39,0 471
SMA 126 31,7 116 29,3 155 39,0 397
Tabel 5. Risiko Relatif Balita untuk Mendapatkan Kapsul Vitamin A Satu SMA+ 16 28,0 18 31,6 23 40,4 57
Kali menurut Usia Ibu
Jumlah 1162 34,9 1141 34,3 1024 30,8 3327
Usia ibu Frekuensi Pemberian Vit. A X2 = 81.41666; df = 8; P < 0.05
(Tahun) Risiko relatif
1X 2X
< 20 23 6 1,53 (1,26-1,85) Balita yang tidak mendapatkan kapsul vitamin A secara
lengkap, baik yang hanya mendapat satu kali maupun yang tidak
20 - 34 815 756 1 mendapatkannya sama sekali, risiko relatif terbesar terdapat pada ibu
yang tidak sekolah (RR = 1,9 dan 1,55). Faktor pendidikan diduga
35 - 45 294 255 1,03 (0,94-1,13)
berkaitan erat dengan faktor pengetahuan mengenai vitamin A,
> 45 12 9 1,10 (0,76-1,60) sehingga mempengaruhi persepsi ibu tentang vitamin A dan
selanjutnya memepgnaruhi perilaku ibu dalam usaha melengkapi
kapsul vitamin A untuk anaknya.
2. Pengaruh pendidikan ibu
Tabel 6 menggambarkan cakupan pemberian kapsul vitamin A
pada balita menurut pendidikan ibu. Semakin tinggi pendidikan ibu,
semakin besar prosentase balita yang mendapat kapsul vitamin a
secara lengkap. Data dianalisis dengan uji kai kuadrat, dan ternyata
perbedaan tersebut bermakna secara statistik.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [19] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [20]
Tabel 7. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Mendapatkan Vitamin a tidak bekerja tidak berhubungan dengan kelengkapan pemberian
menurut Pendidikan Ibu. kapsul vitamin A. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian
Jatipura (1993) dan Fibriani (1992), yang menghubungkan dengan
status imunisasi DPT bayi. Data selengkapnya dapat dibaca pada Tabel
Pendidikan Frekuensi Pemberian Vit. A 9.
ibu Risiko relatif
0X 2X Tidak adanya pengaruh status kerja ibu terhadap kelengkapan
Tidak sekolah 123 34 1,91(1,30-2,81) pemberian kapsul vitamin A ini diduga karena meskipun ibu bekerja,
namun pekerjaan tersebut bukan jenis pekerjaan yang sangat menyita
SD 771 628 1,34(0,92-1,96) waktu, sehingga ibu tetap memiliki waktu dan perhatian terhadap
kelengkapan kapsul vitamin A anaknya.
SMP 126 184 0,99(0,66-1,48)
SMA 126 155 1,09(0,73-1,63)
Tabel 9. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita
SMA+ 16 23 1 menurut Status Kerja Ibu
Frekuensi pemberian kapsul vit.A
Tabel 8. Risiko Relatif Balita untuk Mendapatkan Kapsul Vitamin A Satu Status kerja Jumlah
ibu 0X 1X 2X
Kali menurut Pendidikan Ibu.
n % n % n % n %
Pendidikan Frekuensi Pemberian Vit. A Tidak 396 34,7 381 33,6 362 31,7 1139 100
ibu Risiko relatif bekerja
0X 2X
Bekerja 765 54,9 760 34,8 662 30,3 2187 100
Tidak sekolah 72 34 1,55(1,07-2,24)
Jumlah 1161 1141 1024 3326 100
SD 774 628 1,26(0,89-1,78) 2
X = 0,93533; DF = 2; p > 0,05
SMP 161 184 1,06(0,74-1,53)
SMA 116 155 0,97(0,67-1,41) Tabel 10. Risiko Relatif Balita untuk Tidak mendapatkan Kapsul
SMA+ 18 23 1 Vitamin A menurut Status Kerja Ibu
Status Kerja Frekuensi Pemberian Vit. A
3. Pengaruh status kerja ibu ibu Risiko relatif
1X 2X
Data dianalisis dengan uji kai kuadrat, ternyata tidak ada
hubungan yang bermakna antara status kerja ibu dengan cakupan Bekerja 765 662 1,03(0,94-1,12)
pemberian kapsul vitamin A. Baik pada ibu yang bekerja maupun yang Tidak Bekerja 396 362 1
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [21] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [22]
Tabel 11. Risiko Relatif Balita untuk Mendapatkan Tabel 12. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita menurut
Kapsul Vitamin A Satu Kali menurut Status Kerja Ibu Pendidikan Ayah
Status Kerja Frekuensi Pemberian Vit. A Frekuensi pemberian kapsul vit.A
ibu Risiko relatif Pendidikan Jumlah
1X 2X ayah 0X 1X 2X
Bekerja 760 662 1,04(0,96-1,14) n % n % n % n %
Tidak Bekerja 381 362 1 Tdk sekolah 78 50,0 54 34,6 24 15,4 156 100
SD 737 37,2 694 35,0 551 27,8 1982 100
SMP 149 28,5 186 35,6 188 35,9 523 100
4. Pengaruh pendidikan ayah
SMA 160 28,8 180 32,4 216 38,8 556 100
Tabel 12 menunjukkan cakupan pemberian kapsul vitamin A
pada balita menurut pendidikan ayah. Data dianalisis dengan uji kai SMA + 39 35,2 27 24,3 45 40,5 111 100
kuadrat, dan ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah Jumlah 1163 34,9 1141 34,3 1024 30,8 3328 100
dengan cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita. Semakin
tinggi pendidikan ayah, prosentase balita yang mendapat kapsul
X2 = 67.09585, DF = 8, p < 0,05
vitamin A secara lengkap semakin besar.
Ayah dimasukkan sebagai faktor pendorong dalam
Tabel 13. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Menadapatkan Kapsul
mempengaruhi kelengkapan pemberian kapsul vitamin A bagi balita,
Vitamin A menurut Pendidikan Ayah
karena dalam hal ini yang biasanya terlibat langsung adalah ibu.
Pendidikan ayah diduga berkaitan erat dengan pengetahuan dan
persepsi mengenai vitamin A, dan selanjutnya suami memberikan Frekuensi pemberian
dorongan kepada istri untuk melengkapi pemberian kapsul vitamin A Penddkan vitamin A Risiko relatif
pada anaknya. ayah
0X 2X
Tidak sekolah 78 24 1,65(1,28-2,12)
SD 737 551 1,23(0,97-1,56)
SMP 149 188 0,95(0,73-1,23)
SMA 160 216 0,92(0,71-1,19)
SMA + 39 45 1
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [23] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [24]
Tabel 14. Risiko Relatif Balita untuk Mendapatkan Kapsul Vitamin A Tabel 15. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A
Satu Kali menurut Pendidikan Ayah pada Balita menurut Usia Ayah
Frekuensi pemberian Frekuensi pemberian kapsul vit.A
Pendidikan vitamin A Risiko relatif Usia Jumlah
ayah ayah 0X 1X 2X
1X 2X (tahun) n % n % n % n %
Tidak sekolah 54 24 1,85(1,32-2,58)
< 20 2 22,2 5 55,6 2 22,2 9 100
SD 694 551 1,49(1,10-2,01)
20-34 496 32,6 540 35,5 486 31,9 1522 100
SMP 186 188 1,33(0,97-1,82)
35-45 526 36,5 474 32,9 440 30,6 1440 100
SMA 180 216 1,21(0,88-1,66)
> 45 140 38,6 125 34,4 98 27,0 363 100
SMA + 27 45 1
Jumlah 1164 34,9 1144 34,3 1026 30,8 3334 100
X2 = 10.42302, DF = 6, p > 0,05
Risiko relatif tinggi terdapatt pada ayah yang tidak sekolah,
yakni RR=1,86 (antara balita yang mendapat kapsul satu kali dan yang
lengkap) dan RR= 1,65 (antara balita yang sama sekali tidak mendapat
Tabel 16. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Mendapat Kapsul Vitamin A
kapsul vitamin A dengan yang mendapat lengkap).
menurut Usia Ayah
5. Pengaruh usia ayah
Usia Ayah Frekuensi pemberian
Cakupan pembarian kapsul vitamin A pada balita menurut usia (tahun) vitamin A Risiko relatif
ayah dapat dilihat pada tabel 15. Prosentase balita yang mendapat
kapsul vitamin A lengkap, terbesar terdapat pada ayah kelompok usia 0X 2X
20-34 tahun (31,9%), sedangkan prosentase terkecil terdapat pada ayah
usia kurang dari 20 tahun (22,2%), namun dengan uji kai kuadrat < 20 2 2 0,99(0,37-2,64)
perbedaan ini tidak bermakna. Hal ini kemungkinan dikarenakan
20-34 496 486 1
bahwa ibu masih menjadi sosok utama yang berkepentingan dalam
melengkapi pemberian kasul vitamin A anaknya, sehingga ayah tidak 35-45 526 440 1,08(0,99-1,17)
berpengalaman banyak dalam masalah ini. Oleh karena itu,
kesempatan atau waktu luang yang dimiliki oleh ayah juga tidak > 45 140 98 1,16(1,03-1,32)
mempengaruhi pemberian kapsul vitamin A pada anaknya.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [25] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [26]
Tabel 17. Risiko Relatif Balita untuk Mendapat Kapsul Vitamin A Tabel 18. Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A pada Balita menurut
atu Kali menurut usia Ayah Keikutsertaan Orang tua dalam Program KB
Usia Ayah Frekuensi pemberian Frekuensi pemberian kapsul vit.A
(tahun) vitamin A Risiko relatif Program Jumlah
KB 0X 1X 2X
1X 2X
n % n % n % n %
< 20 5 2 1,36(0,85-2,18)
Ikut 605 30,7 679 34,3 690 35,0 1971 100
20-34 540 486 1
Tidak 547 41,2 450 33,9 331 24,9 1328 100
35-45 474 440 0,99(0,90-1,07)
Jumlah 1152 34,9 1126 34,2 1021 30,9 3299 100
> 45 125 98 1,07(0,94-1,21)
X2 = 51.12760, DF = 2, p < 0,05
6. Pengaruh keikutsertaan orang tua dalam program KB
Tabel 19. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Mendapatkan Kapsul
Tabel 18 menyatakan cakupan pemberian kapsul vitamin A Vitamin A menurut Keikutsertaan Orang Tua dalam Program KB
pada balita menurut keikutsertaan orang tua dalam program KB. Balita
dengan orang tua ikut serta dalam program KB, prosentase yang
mendapat kapsul vitamin A lengkap adalah 35%, sedangkan orang tua Frekuensi pemberian
yang tidak ikut serta dalam program KB hanya 24,9% balita yang Status KB vitamin A Risiko relatif
mendapat kapsul vitamin A lengkap.
0X 2X
Data dianalisis dengan uji kai kuadrat, dan ada hubungan yang
Tidak ikut 547 331 1,33(1,23-1,44)
bermakna antara keikutsertaan orang tua dalam program KB dengan
cakupan pemberian kapsul vitamin A. Resiko relatif balita untuk Ikut 605 690 1
mendapatkan kapsul hanya satu kali adalah 1,16 dan sama sekali tidak
mendapatkan vitamin A adalah 1,33, pada balita dengan orang tua
tidak mengikuti program KB.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [27] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [28]
Tabel 20. Risiko Relatif Balita untuk Mendapatkan Kapsul Vitamin A Tabel 21. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita menurut
Satu Kali menurut keikutsertaan Orang Tua dalam Program KB Kepemilikan Televisi
Frekuensi pemberian Frekuensi pemberian kapsul vit.A
vitamin A Risiko relatif Televisi Jumlah
Status OR/95%CI 0X 1X 2X
KB 1X 2X
n % n % n % n %
Tidak 450 331 1,39(1,16-1,66) 1,16(1,07-1,26) Tidak 858 38,2 776 34,6 612 27,2 2246 100
ikut punya
Ikut 676 690 1 (rujukan) 1 Punya 301 28,5 348 32,9 408 38,6 1057 100
Jumlah 1159 35,1 1124 34,0 1020 30,9 3303 100
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jatipura
(1993). Faktor keikutsertaan KB diduga berhubungan dengan sifat- X2 = 49.91937, DF = 2; p < 0,05
sifat pandangan moderen, ada usaha untuk mengetahui dan mengikuti
program-program yang dicanangkan oleh pemerintah, termasuk
program pemberian kapsul vitamin A pada balita.
Tabel 22. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Mendapat Kapsul Vitamin A
7. Pengaruh kepemilikan TV menurut kepemilikan Televisi
Data dianalisis dengan uji kai kuadrat, ternyata didapatkan
Frekuensi pemberian
adanya hubungan antara kepemilikan TV dengan cakupan pemberian
Televisi vitamin A Risiko relatif
kasul vitamin A pada balita. Orang tua yang tidak memiliki televisi,
prosentase balita yang mendapatkan kapsul vitamin A lengkap 27,2% 0X 2X
dan pada orang tua yang memiliki televisi prosentasenya 38,6%.
Tidak punya 858 612 1,37(1,25-1,51)
Punya 301 408 1
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [29] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [30]
Tabel 23. Risiko Relatif Balita untuk Mendapat Kapsul Vitamin A Satu Tabel 24. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita menurut
Kali menurut kepemilikan Televisi Kepemilikan Radio
Frekuensi pemberian Frekuensi pemberian kapsul vit.A
Televisi vitamin A Risiko relatif Radio Jumlah
0X 1X 2X
1X 2X
n % n % n % n %
Tidak punya 776 612 1,21(1,11-1,33)
Tidak 222 37,8 208 35,4 157 26,8 587 100
Punya 384 408 1 punya
Punya 937 34,5 916 33,7 863 31,8 2716 100
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Jumlah 1159 35,1 1124 34,0 1020 30,9 3303 100
Jatipura(1993). Hasil penelitian Jatipura menunjukkan bahwa cakupan
imunisasi DPT-1 berhubungan dengan kebiasaan menonton TV, X2 = 5.88257; DF = 2; p > 0,05
namun tidak berhubungan dengan kepemilikan TV. Pada penelitian ini
faktor kebiasaan menonton TV tidak digali, namun diduga faktor
kepemilikan TV berbanding lurus dengan faktor menonton TV.
Tayangan TV kemungkinan banyak memberi masukan mengenai Tabel 25. Risiko Relatif Balita untuk Tidak Mendapat Kapsul Vitamin A
manfaat vitamin A sekaligus program pemberian kapsul vitamin A. menurut Kepemilikan Radio
Risiko relatif balita untuk tidak mendapatkan vitamin A bila
dihubungkan dengan kepemilikan TV adalah 1,37 dan risiko untuk Frekuensi pemberian
mendapatkan kapsul vitamin A hanya satu kali sebesar 1,21. Radio vitamin A Risiko relatif
8. Pengaruh kepemilikan radio 0X 2X
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita menurut Tidak punya 222 157 1,13(1,02-1,24)
kepemilikan radio dapat dilihat pada Tabel 23. Orang tua yang Punya 937 863 1
memiliki radio, prosentase balita yang mendapat kapsul vitamin A
lengkap 31,8%, sementara yang tidak memiliki radio prosentasenya
26,8%. Perbedaan ini ternyata tidak bermakna setelah dianalisis
dengan uji kai kuadrat.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [31] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [32]
Tabel 26. Risiko Relatif Balita untuk Mendapat Kapsul Vitamin A Satu memiliki hubungan yang bermakna dengan:
Kali menurut Kepemilikan Radio a. usia ayah
b. status kerja ibu
c. kepemilikan radio
Frekuensi pemberian 5. Semakin tinggi pendidikan ibud an ayah, maka semakin
Radio vitamin A Risiko relatif tinggi presentase balita yang mendapat kapsul vitamin A
lengkap.
10 X 2X 6. Prosentase balita yang mendapat kapsul vitamin A
Tidak punya 208 157 1,13(1,02-1,24) lengkap, terbesar terdapat pada ibu berusia 20-34 tahun.
7. Keikutsertaan orang tua dalam program KB dan
Punya 916 863 1 kepemilikan TV berbanding lurus dengan prosentase
balita yang mendapat kapsul vitamin A lengkap.
8. Cakupan pemberian kapsul vitamin A di Purworejo tahun
Hasil ini serupa dengan hasil penelitian Jatipura (1993) yang 1996 lebih rendah bila dibandingkan dengan cakupan
menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara nasional.
kebiasaan mendengarkan radio dengan status imunisasi DPT-1. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh faktor acara/siaran radio yang tidak B. Saran
banyak mempromosikan manfaat vitamin A.
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai cakupan
pemberian kapsul vitamin A di daerah lain, yang juga
IV. KESIMPULAN DAN SARAN mengikutsertakan faktor lain, yang juga mengikutsertakan
faktor lain, misalnya faktor pengetahuan ibu, serta faktor
A. Kesimpulan petugas.
2. Karena cakupan pemberian kapsul vitamin A ternyata
1. Program pemberian kapsul vitamin A pada balita di masih rendah, maka sebaiknya penanggulangan
Purworejo tahun 1996 mencakup 30,8% mendapat kapsul kekurangan vitamin A juga dilakukan melalui program
vitamin A lengkap, 34,3% mendapat satu kali, dan 34,9% lain, misalnya dengan menggalakkan makanan sumber
tidak mendapatkan sama sekali. vitamin A.
2. Cakupan kapsul vitamin A di Purworejo pada bulan
Februari mencakup 44,9% dan pada bulan Agustus 1996
adalah 51%.
3. Cakupan pemberian kapsul vitamin A tersebut di atas
memiliki hubungan bermakna dengan:
a. usia ibu
b. pendidikan ibu
c. pendidikan ayah
d. keikutsertaan orang tua dalam program KB
e. kepeilikan TV
4. Cakupan pemberian kapsul vitamin a tersebut tidak
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [33] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [34]
V. DAFTAR PUSTAKA Martin, David M., 1987, Harper's Review of Biochemistry, Edisi 20,
EGC, Jakarta.
Agus, Zaenal Arifin Nang., 1995, Pengaruh Kurang Vitamin A Muhilal., Soekirman, 1986, Dimensi Baru Dampak Program
terhadap Status Kesehatan: Suatu Tinjauan Biokimia dalam Penanggulangan Defisiensi Vitamin A: Penurunan angka
Berita Kedokteran Masyarakat edisi Triwulan 2 tahun 1995. Kesakitan dan Kematian pada Anak Balita dalam Gizi
Armunanto, 1992, The Relationship between Vitamin A Supplement Indonesia, volume IX no.1, Departemen KEsehatan Republik
and Xeropthalmia Disease of Children dalam Berkala Indonesia, Jakarta.
Epidemiologi Klinik dan Biostatistika Indonesia, volume 1 Muhilal., Tarwotjo I.G., 1992, Studi Prevalensi Defisiensi Vitamin A
no.1, Oktober 1994., Tim Epidemiologi Klinik dan dan Zat-zat Gizi Lain di Wilayah Indonesia Bagian Timur,
Biostatistika, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dalam Lokakarya Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Yogyakarta. Indonesia Bagian Timur, Jakarta.
Barness, A. Lewis., 1992, Ilmu Kesehatan Anak Jilid I, EGC, Jakarta. Myrnawati, 1997, Kebijakan Pemberian Vitamin A dan Dampaknya
Fibriani, Anis Rahmani., 1992, Cakupan Imunisasi DPT pada Bayi di pada Kesakitan dan Kematian Bayi dan Anak dalam Jurnal
Puskesmas Gajahan Kodya Surakarta, Karya Tulis Ilmiah, Kedokteran YARSI, volume 5 no. 1, Lembaga Penelitian
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Universitas YARSI, Jakarta.
Florentino, Rodolfo F., Villavieja, BM., Boquecosa, JP., dan Bacos, Nadapdap, Thomson Parluhutan., 1988, Faktor-faktor yang
FF., 1992, Nutrition Situation in Metro Manila dalam Asian mempengaruhi Ibu Rumah Tangga untuk Mengambil Tindakan
Workshop on Nutrition in the Metropolitan Area, Southeast Pencegahan dan Pengobatan ISPA Anak Balitanya di
Asian Journal at Tropical Medicine and Public Health volume Kecamatan Umbulharjo Kodya Yogyakarta, Tesis, Program
23 Supllement 3, 1992 hal. 31-45. Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Pasca Sarjana Universitas
Husaini, 1982, Penggunaan Garam Fortifikasi untuk Menanggulangi Gadjah Mada, Yogyakarta.
Masalah Kurang Vitamin A, Fakulatas Pasca Sarjana, Institut Nasution, Andi Hakim., Karyadi, Darwin., 1998, Vitamin, Gramedia,
Pertanian Bogor. Jakarta.
Ilham, 1996, Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan di Posyandu di Purjanto, 1994, Sosial Marketing Vitamin A dalam Majalah
Wilayah Kerja Puskesmas Depok I Kecamatan Depok Kesehatan Masyarakat, no. 49 Tahun XXIII, Departemen
Kabupaten Sleman, Tesis, Program KEsehatan Masyarakat Kesehatan RI, Jakarta.
Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Rahmat, E.S., Efek Vitamin A terhadap Mortalitas dan Morbiditas
Jatipura, Sujana., 1993, Immunization Status of Children Age 48-59 Anak dalam Majalah Medika, no. 5 Tahun XXIII, Grafiti
Months at the Subdistried Cipayung East Jakarta, Fakultas Medika Press, Jakarta.
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dalam Berita Ratna, I., 1988. Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran
Kesehatan Masyarakat triwulan 2 1995. Universitas Airlangga, Surabaya.
Karyadi, Darwin., 1990 Nutrition Programs and Problems in Indonesia Salam, Siti Aisyah., 1987, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku
dalam Nutrition Research and Development Centre, Ibu dalam Menangani Penyakit Diare Anak Balita di
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Kecamatan Wirobrajan, Tesis, Program Studi Ilmu Kesehatan
Kasniyah, Naniek., 1993, Socio-Demographic Determinants of Non- Masyarakat, Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada,
Use of Measles Immunization Services Among Javanese Yogyakarta.
Mothers dalam Berkala Epidemiologi Klinik dan Biostatistika Satoto, 1992, Peran Vitamin A dalam Menurunkan Angka Morbiditas
Indonesia, volume 1 no.1, Fakultas Kedokteran Universitas dan Mortalitas Anak, dalam Kursus Penyegar Ilmu Gizi,
Gadjah Mada, Yogyakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [35] Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [36]
Sediaoetomo, Achamd Djaeni., 1987, Ilmu Gizi dan Ilmu Diit, Balai
Pustaka, Jakarta.
Soetrisno, 1983, Program Perbaikan Gizi DIY, Kumpulan Naskah
Lengkap Pekan Ilmiah I dan II Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada, Departemen Kesehatan, Yogyakarta.
Susilo, SE., Ashadi, RW., Purwantoro, NA., Rohajatein, U., 1988,
Pemanfaatan Minyak Kelapa Sawit sebagai Salah Satu
Alternatif Sumber Pengadaan Vitamin A, dalam Majalah
Mahasiswa no. 49, Desember 1988, Universitas Padjajaran,
Bandung.
Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat [37]
Related docs
Get documents about "