PENCAPAIAN PROGRAM IMUNISASI PADA ANAK USIA 12-23 BULAN DI by dfffwwwkdfi

VIEWS: 3,765 PAGES: 4

									 PENCAPAIAN PROGRAM IMUNISASI PADA ANAK                                       health centers will become the spearheads in achieving WHO target of 90%
  USIA 12-23 BULAN DI KABUPATEN PURWOREJO                                     coverage of basic immunization. However, the role of private clinics and
                                                                              doctors and midwives in their private practices to deliver immunization
                                                                              services should be improved, taking possible contacts with children as
                                                                              opportunity for vaccine delivery.
    Hari Kusnanto1,2, Siswanto Agus Wilopo1,2, Achmad Surjono1,3,
                           Harun Rusito1,4
                                                                              Keywords: expanded program for immunization - vaccine coverage - age of
                                                                              vaccination
     Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat
 (LPKGM)1; Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat2, Ilmu Kesehatan
 Anak3 Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
          dan Dinas Kesehatan Kabupaten, Purworejo4



Abstract
          A baseline survey was carried out in Purworejo district, Central
Java. The survey was a baseline data collection as a part of the community
health and nutrition research laboratory (CHNRL) in the district. The
objectives of the study were to estimate the coverage and timeliness of
BCG, second dose of DPT and Polio, and measles immunization among
children aged 12-23 months. The findings of the study indicated that the
proportion of children fully immunized was 83.7%, while the proportions
of children immunized against tuberculosis, diphtheria-pertussis-tetanus,
polio and measles were 91.1%, 85.6%, 85.4%, and 73.4% respectively.
These figures were comparable to those reported based on the Indonesian
Demographic and Health Survey in 1994 for Central Java. Village health
post (posyandu) was the most frequently reported location for vaccine
delivery, followed by primary health centre. The mean ages of vaccination
were 63 days, 125 days and 278 days for BCG, both second dose of DPT
and Polio, and measles respectively. The age of measles immunization was
predicted by the age of DPT immunization with a regression coefficient of
0.49 (95% confidence interval 0.26-0.39). Similarly, the age of DPT
immunization was significantly related to the age of BCG immunization,
with a regression coefficient of 0.77 (95% confidence interval 0.58-0.67).
The village health post was as good as the other facilities where the
immunization took place in terms of the timeliness of vaccine delivery,
except for BCG which was delivered at an age of one month older on the
average, compared to the age when BCG vaccination was provided in a
private clinic or doctor’s private office. Village health posts and primary

Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                 [1]     Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat              [2]
Pendahuluan                                                                               Cakupan imunisasi tidak hanya merupakan indikator derajat
                                                                                    pengendalian penyakit-penyakit sasaran, melainkan juga ketersediaan
      Pelayanan imunisasi telah berkembang dengan sangat pesat selama 20            infrastruktur pelayanan kesehatan primer. Tahun 2000 merupakan waktu
tahun terakhir, dengan dukungan infrastruktur dan suprastruktur yang                yang dicanangkan sebagai tonggak eliminasi polio paralitik. Strategi WHO2
semakin kuat. Kemajuan ini tidak dapat dilepaskan dari resolusi World               untuk mencapai sasaran tersebut meliputi peningkatan surveilans, jaringan
Health Assembly (WHA), Mei, 1974 mengenai EPI (Expanded Programme                   kerjasama laboratorium kesehatan untuk pemeriksaan serologik maupun
on Immunization). Resolusi-resolusi selanjutnya menempatkan EPI sebagai             virologik, dan perluasan cakupan vaksinasi dengan OPV (oral polio
komponen esensial pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam                 vaccine). Tetanus neonatorum diperkirakan sebagai penyebab kematian
pelayanan kesehatan primer. Semula, sasaran yang dicanangkan adalah                 433.000 bayi pada tahun 1991, hampir separuh (212.000 bayi) meninggal
pemberian imunisasi pada semua anak pada tahun 1990. Namun, pada tahun              di wilayah Asia Tenggara3. Program imunisasi TT merupakan teknologi
1982 dan 1986 WHA memperingatkan bahwa cakupan imunisasi harus terus                yang paling tepat untuk mengeliminasi tetanus neonatorum tersebut,
ditingkatkan dengan lebih cepat agar dapat dicapai sasaran sesuai dengan            disamping peningkatan higiene dalam pertolongan persalinan. Peningkatan
yang telah ditetapkan semula. Diputuskan bahwa sekurang-kurangnya 80%               cakupan imunisasi mengakibatkan penurunan tingkat kematian anak di
anak-anak telah menerima imunisasi pada tahun 1990 dan 90% pada tahun               Freetown, Sierra Leone4. Cakupan vaksinasi yang tinggi diperlukan untuk
2000.                                                                               memutus rantai infeksi, khususnya pada penyakit campak. Wabah penyakit
                                                                                    campak akan terus mengancam jika cakupan vaksinasi kurang dari 70%.
     Pada akhir tahun 1988 diperkirakan bahwa cakupan imunisasi di                  Anak-anak yang menderita komplikasi penyakit campak yang berat tidak
Indonesia cukup tinggi dibandingkan beberapa negara berkembang lain                 memperoleh vaksinasi cukup dini5. Disarankan pemberian vaksinasi campak
dengan jumlah anak yang mencapai usia 1 tahun lebih besar dari 4 juta               pada usia 6 bulan atau setelah antibodi maternal menghilang dari sirkulasi
(Tabel 1). Secara keseluruhan, 9% dari semua anak yang belum diimunisasi            anak, dan bila memungkinkan diberikan imunisasi ulang pada anak yang
atau hanya memiliki kekebalan parsial berasal dari Indonesia1.                      lebih besar, misalnya pada waktu anak mulai sekolah.

                                                                                         Cakupan pelayanan vaksinasi dan waktu pemberian yang tepat
       Tabel 1. Cakupan imunisasi di Indonesia dan beberapa negara                  merupakan salah satu indikator keberhasilan manajemen program imunisasi,
                      berkembang lain tahun 1988                                    disamping unsur-unsur lain seperti rantai dingin dan mutu pelayanan
                                                                                    kesehatan yang terkait. Pelayanan imunisasi juga merupakan kesempatan
                    Anak          Cakupan imunisasi (%) anak waktu mencapai 1       kontak antara petugas kesehatan dan masyarakat serta antara anggauta
    Nama          mencapai                           tahun                          masyarakat yang satu dengan yang lain, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
    Negara         1 tahun                                                          penyuluhan dan motivasi pemberian ASI oleh para ibu6, suplementasi
                    (juta)      BCG        DPT3         Polio3   Campak   TT Ibu    vitamin A, dan lain-lain. Permasalahan penelitian ini adalah apakah cakupan
                                                                          Hamil
                                                                                    vaksinasi pada anak usia 12-23 bulan di Kabupaten Purworejo, Jawa
 India              22,56          72         73          64       44      58       Tengah, sudah cukup memadai. Disamping itu perlu diketahui pola umur
 Indonesia           5,15          74         61          62       55      29       anak pada waktu vaksin diberikan, dan faktor-faktor yang berpengaruh
 Nigeria             4,59          37         21          21       24      17       terhadap waktu pemberian vaksin tersebut.
 Bangladesh          4,15          14          9           8        6       7
 Brazil              4,07          68         57          90       55      62
 Pakistan            4,03          72         62          62       53      27




Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                         [3]   Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                 [4]
Subyek dan cara penelitian                                                    lengkap menunjukkan bahwa sebagian besar anak memperoleh imunisasi di
                                                                              Posyandu, sedangkan peran pelayanan kesehatan swasta dalam pelayanan
      Subyek penelitian adalah anak-anak berusia 12-23 bulan, yang tercatat   imunisasi masih rendah (Tabel 3).
sebagai anggauta rumah tangga sampel survai kegiatan Laboratorium
Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat (LPKGM). Sampel tersebut               Tabel 2. Cakupan imunisasi pada anak-anak menurut SDKI tahun 1991
ditetapkan berdasarkan metoda klaster dengan wilayah pencacahan (wilcah)          dan 1994 dibandingkan hasil survai di Kabupaten Purworejo, 1995
sebagai unit sampling, sesuai dengan kerangka sampling untuk sensus dan
survai oleh BPS (Balai Pusat Statistik). Anak umur 12-23 bulan yang
tercakup dalam sampel penelitian berjumlah 836 orang anak.                                                              Cakupan imunisasi dasar dalam (%)
                                                                                       Wilayah survai
                                                                                                                    BCG           DPT 2        Polio 2       Campak
     Pertanyaan mengenai tanggal lahir dan tanggal pemberian vaksinasi
dikonfirmasi berdasarkan catatan tertulis, yaitu kartu keluarga (C1) untuk      SDKI 1991 Jawa Tengah                83,5%            76,7%        76,8%         64,0%
tanggal lahir dan KMS yang memuat tanggal lahir maupun tanggal                  SDKI 1994 Jawa Tengah                88,5%            82,8%        84,8%         73,7%
imunisasi.                                                                      Survai CHNRL 1995                    91,1%            85,6%        85,4%         73,4%

     Analisis data dilakukan untuk memperkirakan cakupan imunisasi
BCG, Polio pemberian dosis ke dua, DPT pemberian dosis ke dua dan
campak. Umur waktu pemberian imunisasi dihitung dalam hari, yakni
tanggal pemberian imunisasi dikurangi tanggal lahir, dengan menggunakan         Tabel 3. Sebaran frekuensi pemberian imunisasi pada anak usia 12-23
program ANALYSIS pada EpiInfo versi 6. Pengaruh waktu pemberian                  bulan yang telah memperoleh imunisasi lengkap (n=700) menurut
vaksin BCG, DPT, dan Polio terhadap waktu pemberian campak sebagai                                   tempat pelayanan imunisasi
vaksin terakhir paket imunisasi EPI pada anak kurang dari 1 tahun, dikaji
dengan regresi berganda. Analisis varians digunakan untuk menguji              Tempat pelayanan         BCG              DPT 2           Polio 2           Campak
perbedaan rata-rata waktu pemberian imunisasi antara tempat pelayanan          RS Pemerintah            15    (2,0%)    10    (1,3%)     10    (1,3%)       9    (1,5%)
yang satu dan yang lain.                                                       RS Swasta                 10   (1,3%)     9    (1,2%)      8    (1,1%)       8    (1,3%)
                                                                               Puskesmas/Pustu          230   (30,8%)   237   (31,8%)    245   (32,8%)     215   (35,2%)
                                                                               Klinik Swasta             10   (1,3%)      7   (0,9%)      6    (0,8%)       6    (1,0%)
                                                                               Posyandu                 388   (52,0%)   388   (51,0%)    380   (50,9%)     337   (55,2%)
Hasil dan pembahasan                                                           Dokter Praktek Swasta     9    (1,2%)    11    (1,5%)     11    (1,5%)      11    (1,8%)
                                                                               Bidan Praktek Swasta      27   (3,6%)     25   (3,4%)      22   (2,9%)       19   (3,1%)
     Cakupan imunisasi dasar pada anak-anak usia 12-23 bulan di                Tempat lain               8    (1,1%)     11   (1,5%)      15   (2,0%)       4    (0,7%)
Kabupaten Purworejo cukup tinggi, tidak jauh berbeda dengan hasil yang         Tak ada keterangan        3    (0,4%)     2    (0,3%)      2    (0,3%)       1    (0,2%)
ditemukan pada SDKI pada tahun 1994 (Tabel 2). Sebanyak 700 (83,7%)            Total                    700 (100%)      700 (100%)       700 (100%)        700 (100%)
anak berusia antara 1 tahun sampai 2 tahun telah memperoleh imunisasi
BCG, DPT dosis kedua, Polio dosis kedua dan campak. Sasaran yang
dicanangkan oleh WHO untuk memberikan vaksinasi pada 90% anak pada
tahun 2000 merupakan hal yang tidak mustahil, jika momentum EPI dengan             Keberhasilan program imunisasi dipengaruhi pula oleh umur pada
ujung tombak Posyandu dan Puskesmas terus dipelihara dan ditingkatkan,        waktu imunisasi diberikan. Vaksin sebaiknya diberikan seawal mungkin,
dan peran kontak pelayanan kesehatan di sektor swasta semakin                 sejauh tidak ada interferensi yang berarti dari antibodi maternal. Dari data
dimanfaatkan untuk memperluas cakupan imunisasi. Hasil analisis tempat        penelitian di antara anak berusia 12-23 bulan yang telah memperoleh
pemberian imunisasi di antara anak yang telah memperoleh imunisasi            imunisasi lengkap diketahui bahwa BCG diberikan rata-rata pada umur 63


Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                 [5]     Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                                 [6]
hari (2 bulan), DPT dosis kedua pada usia 125 hari (4 bulan). Polio dosis    Rumah sakit, klinik dan praktek perorangan perlu dilibatkan dalam upaya
kedua pada usia 125 hari (4 bulan), dan Campak pada usia 278 hari (9         peningkatan cakupan imunisasi, dengan memanfaatkan kontak terhadap
bulan). Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa waktu pemberian vaksin      anak-anak yang sakit maupun pemeriksaan anak sehat.
campak hanya dipengaruhi oleh waktu pemberian vaksin DPT dengan
persamaan regresi:
                                                                             Kepustakaan
Umur (dalam hari) pada waktu vaksinasi campak = 218 + 0,49 x Umur pada
waktu vaksinasi DPT dosis kedua                                              1. Henderson RH. World Health Organization Expanded Programme on
                                                                                  Immunization: progress and evaluation report. Ann N Y Acad Sci
 Interval kepercayaan (confidence interval) 95% koefisien regresi berkisar        1989;569:45-68.
antara 0,26 sampai 0,39. Efektifitas imunisasi campak perlu ditingkatkan     2. Hull HF, Ward NA. Progress towards the global eradication of
dengan cara dan waktu pemberian yang tepat, mengingat komponen beaya              poliomyelitis, World Health Stat Q 1992;45(2-3):280-4.
untuk imunisasi campak merupakan yang tertinggi dibanding vaksin yang        3. Whitman C, Belgharbi L, Gasse F, et al. Progress towards the global
lain7. Hasil penelitian di Nigeria menunjukkan bahwa pergeseran waktu             elimination of neonatal tetanus, World Health Stat Q 1992;45(2-
pemberian campak dari 6 bulan sampai 9 bulan mengakibatkan peningkatan            3):248-56.
penderita campak di bawah usia 9 bulan dari 15% menjadi 21%8.                4. Amin R, Hill RB, Horton SA, et al. Immunization coverage, infant
                                                                                  morbidity and infant mortality in Freetown, Sierra Leone. Soc Sci Med
     Umur (dalam hari) pada waktu pemberian vaksin DPT dosis kedua                1992;35(7):851-6.
dipengaruhi secara bermakna oleh umur pada waktu pemberian BCG               5. Verburgh AP, Crisp NG. Vaccination status of children aged 12-23
dengan persamaan regresi:                                                         months in the Northern Transvaal Health Region. S Afr Med J
                                                                                  1992;81(4):206-9.
Umur pada waktu vaksinasi DPT = 83 + 0,71 x Umur pada waktu vaksinasi        6. Kim-Farley R, Collins C, Tinker A. Linkages between immunization and
BCG                                                                               breastfeeding promotion programs. J Hum Lact 1989;5(4):174-5.

Interval kepercayaan 95% koefisien regresi berkisar antara 0,58 sampai       7. Shepard DS, Sanoh L, Coffi E. Cost-effectiveness of the expanded
0,67.                                                                              programme on immunization in the Ivory Coast: a preliminary
                                                                                   assessment. Soc Sci Med 1986;22(3):369-77.
    Tidak ditemukan perbedaan umur vaksinasi di antara tempat pelayanan,     8. Ibia EO, Asindi AA. Measles in Nigerian children in Calabar during the
kecuali pada imunisasi BCG yang diberikan lebih awal di klinik swasta dan          era of expanded programme on immunization. Trop Geogr Med
dokter praktek swasta (ANAVA Kruskal-Wallis, p = 0,0001).                          1990;42(3):226-32.


Kesimpulan dan saran

     Dapat disimpulkan bahwa cakupan imunisasi di Kabupaten Purworejo
cukup tinggi, sesuai dengan yang dilaporkan dari hasil SDKI tahun 1994
untuk Jawa Tengah. Demikian pula, umur rata-rata pada saat vaksin
diberikan cukup dini, khususnya vaksin campak yang diberikan pada umur
rata-rata 9 bulan, sesuai dengan kebijakan pemerintah pada saat ini. Pada
sebagian besar anak, imunisasi diberikan di posyandu dan puskesmas.


Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                [7]     Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat                [8]

								
To top