PENDUDUK DAN TENAGA KERJA

Document Sample
PENDUDUK DAN TENAGA KERJA Powered By Docstoc
					MAKALAH PENDUDUK DAN TENAGA KERJA SEMESTER III

Disusun oleh: Afandi aprihastanto Afriyan zulfikar T Ahmad nasir Ali priyo W Beni setyawan Dona kristiawan (k7408048) ( (k7408049) ( (k7408051) ( (k7408054) ( (k7408188) ( (k7408205) ( ) ) ) ) ) )

PEND. EKONOMI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009

PENDUDUK DAN TENAGA KERJA
Sebelumnya telah kita ketahui bahwa tujuan pembangunan ekonomi adalah peningkatan standar hidup penduduk negara yang bersangkutan yang biasa diukur dengan pendapatan riil perkapita. Standar hidup tidak akan dapat dinaikkan kecuali jika output total meningkat dengan lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah penduduk. Untuk mempengaruhi perkembangan output, maka diperlukan adanya penambahan investasi yang cukup besar untuk dapat menyerap pertambahan penduduk. Pada kesempatan kali ini, akan membahas tentang hubungan pertumbuhan penduduk dengan perkembangan ekonomi.

A. PERANAN PENDUDUK DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI Ada 4 aspek penduduk yang perlu diperhatikan negara-negara sedang berkembang, yaitu: Adanya tingkat perkembangan penduduk yang relatif tinggi Adanya struktur umum yang favorable Tidak adanya distribusi penduduk yang merata Tidak adanya tenaga kerja yang terlatih dan terdidik

1. Tingkat Perkembangan Penduduk yang Tinggi Tidak selamanya pertumbuhan penduduk yang cepat memberikan dampak yang negatif terhadap perkembangan ekonomi dalam suatu negara. Kaum klasik mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat pada suatu negara yang maju, akan memberikan dampak positif. Dengan bertambahnya penduduk maka daya beli masyarakat semakin meningkat. Hal ini dikarenakan dalam negara maju, tingkat tabungan yang dimiliki mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk, sehingga dengan penduduk yang banyak justru meningkatkan purchasing power. Permintaan akan meningkat seiring bertambahnya penduduk. Penawaran pun akan bertambah pula karena semakin banyak kebutuhan penduduknya yang harus dipenuhi. Efek yang lain, dengan semakin banyaknya penduduk yang berkualitas, maka sektor tenaga kerja ahli mudah didapat. Apalagi di negara maju ditunjang oleh banyak faktor. Hal ini sesuai dengan pendapat Keynes, bahwa dalam negara maju meningkatnya produktivitas tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja akan selalu mengiringi kenaikan jumlah penduduk. Pertumbuhan penduduk di negara berkembang umumnya memberikan efek yang negatif, karena pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan kualitas dan produktivitas manusianya tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Kaum Klasik bahwa selalu ada perlombaan antara tingkat perkembangan output dengan tingkat perkembangan penduduk yang akhirnya akan dimenangkan oleh perkembangan penduduk. Hal itu terjadi karena penduduk juga berfungsi sebagai tenaga kerja,

sehingga biasanya sering terdapat kesulitan dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Kalau misalnya penduduk tersebut dapat mendapatkan pekerjaan, maka akan dapat meningkatkan kesejahteraan bangsanya, namun apabila tidak, mereka akan menjelma menjadi pengangguran yang hanya akan meningkatkan angka ketergantungan dan otomatis menurunkan tingkat kesejahteraan suatu negara. Produktivitas penduduk di negara berkembang relatif rendah sehingga mengakibatkan rendahnya produksi. Hal itu dikarenakan sebagian besar penduduk di negara berkembang berasal dari sektor agraris, sehingga hasil dari produksinya biasanya hanya habis untuk dikonsumsi sendiri. Bahkan untuk konsumsi sendiri saja masih kurang, sehingga mereka tidak terlalu memikirkan tentang menabung (saving) apalagi investasi. a. Isu Kependudukan Di negara berkembang, masalah kependudukan merupakan masalah yang sulit untuk diatasi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan tingkat tabungan yang cukup. Apalagi jika kualitas penduduk itu sendiri tidak cukup bagus setidaknya untuk memproduksi atau memenuhi kebutuhannya sendiri. Dia akan menjadi pengangguran yang tentunya akan mengurangi tingkat kesejahteraan. Oleh karena itu, di negara berkembang dibutuhkan suntikan investasi untuk mengembangkan perekonomian. b. Trend Fertilitas dan Mortalitas Pada umumnya tingkat kelahiran yang tinggi dihubungkan dengan kemiskinan nasional. Namun adalah keliru bila kita menyiimpulkan bahwa berhubung angka kelahiran yang tinggi pada umumnya terdapat di negara miskin. Sedangkan angka kelahiran rendah terdapat di negara maju. Maka dengan meningkatkan pendapatan per kapita lalu tingkat kelahiran akan menurun. Juga tidak ada kepastian hubungan antara laju pertumbuhan pendapatan nasional per kapita dengan tingkat kelahiran. Namun jelas ada bukti bahwa ada hubungan positif anatara sidtribusi pendapatan dengan tingkat kelahiran. Akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa negara-negara yang berjuang untuk mengurangi tidak meratanya penghasilan atau dengan kata lain berusaha menyebarkan hasil (benefit) dari pembangunan ekonomi ke sebagian besar penduduk akan mungkin sekali mampu menurunkan tingkat kelahiran daripada negar-negara yang kurang memperhatikan pemerataan hasil pembangunan ekonominya. c. Pertumbuhan Penduduk dan Kebutuhan Investasi Untuk meningkatkan output, tambahan investasi harus cukup besar sehingga dapat meningkatkan penghasilan riil per kapita. Tetapi kesulitan dalam hal ini sering dialami oleh negara berkembang, sesuai dengan Teori Perangkap pada Keseimbangan Pendapatan yang Rendah Malthus. Kesimpulannya untuk dapat mempertinggi penghasilan per kapitanya negara berkembang memerlukan kebijakan dorongan yang besar. Atau perekonomian harus memenuhi

apa yang disebut “usaha minimum yang sangat perlu”. Pembangunan yang secara sedikit demi sedikit pun bisa dilakukan asal dengan memilih sektor yang yang mempunyai kapasitas berkembang yang cepat. 2. Struktur Umur yang Tidak Favorable Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pada umumnya pada negara yang berkembang memiliki angka ketergantungan yang tinggi karena besarnya jumlah penduduk usia muda. Proporsi yang besar dari penduduk usia muda ini tidak menguntungkan bagi pembangunan ekonomi, karena: I. Penduduk golongan usia muda, cenderung untuk memperkecil angka penghasilan per kapita dan mereka semua merupakan konsumen dan bukan produsen dalam perekonomian tersebut. II. Adanya golongan penduduk usia muda yang besar jumlahnya di suatu negara akan mengakibatkan lebih banyak alokasi faktor-faktor produksi ke arah “investasi-investasi sosial” dan bukan ke “investasi-investasi kapital”. Oleh karena itu, paling tidak ia akan menunda perkembangan ekonomi. 3. Distribusi Penduduk yang Tidak Seimbang Tingkat urbanisasi yang tinggi pada umumnya terjadi pada daerah-daerah yang sudah maju. Sebab para penduduk lebih banyak berpindah dari daerah yang kurang maju ke daerah yang lebih maju, sehingga pada negara maju tingkat urbanisasi lebih kecil. Adanya tingkat upah yang leih menarik di sektor industri mendorong penduduk yang ada di desa berpindah ke kota yang menyebabkan penduduk di negara maju yang bekerja di sektor pertanian lebih sedikit. Berbeda dengan di negara yang berkembang. Urbanisasi yang tinggi menyebabkan ketidakseimbangan dalam proses perkembangan ekonomi antara sektor pertanian dengan sektor industri. Ketidakseimbangan distribusi penduduk baik antara desa dan kota maupun antara daerah yang lebih berkembang dan daerah yang kurang berkembang akan menghambat jalannya pembangunan ekonomi karena pembangunan ekonomi memerlukan mobilitas tenaga kerja yang lebih mudah, yang didapati di negara-negara atau daerah-daerah yang memiliki distribusi penduduk yang lebih merata. 4. Kualitas Tenaga Kerja yang Rendah Rendahnya kualitas penduduk merupakan penghalang pembangunan ekonomi suatu negara disebabkan oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan tenaga kerja yang rendah. Maka menurut Schumacher pendidikan merupakan sumber daya yang terbesar manfaatnya dibandingkan faktorfaktor produksi yang lain.

B. LEDAKAN PENDUDUK (POPULATION EXPLOTION) Faktor utama yang menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian, tingkat kelahiran, dan tingkat perpindahan penduduk. Dua faktor yang pertama sangat besar pengaruhnya dalam mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk yang besar secara absolut akan bertambah lebih cepat daripada jumlah penduduk yang kecil, walaupun laju pertumbuhannya sama.

C. PEMECAHAN MASALAH KEPENDUDUKAN Masalah penduduk merupakan masalah yang sukar untuk diatasi. Sebenarnya kita dapat menerapkan suatu kebijakan dari sudut tingkat kematian untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk yaitu dengan mencegah penurunan tingkat kematian atau kata lain meningkatkan adanya kematian, hal yang bertentangan dengan hati nurani manusia. Cara lain yaitu dengan mengurangi kepadatan penduduk di negara yang sedang berkembang. Tetapi karena rendahnya tingkat skil maka hal ini juga sulit sekali dilaksanakan. Oleh karena itu kebijakan terakhir yang mungkin bisa ditempuh ialah dengan mempengaruhi tingkat kelahiran yang mana cara ini sudah diterima sebagai cara yang layak di negara berkembang. Salah satunya program keluarga berencana. Tetapi masih banyak ditemui kesulitan dalam aplikasinya, yang disebabkan oleh: Adanya kemelaratan dan buta huruf di negara berkembang Perkembangan ilmu obat-obatan dan ilmu kesehatan masih melupakan faktor-faktor psikologis dari orang-orang yang akan menjadi akseptor

D. PEMANFAATAN SUMBER DAYA MANUSIA

1. Beberapa Konsep Ketenagakerjaan Yang dimaksud dengan human resource disini adalah penduduk yang berupa tenaga kerja (human power) yang dianggap sebagai faktor produksi. Tenaga kerja adalah penduduk pada usia kerja yaitu antara 15-64 tahun. Penduduk dalam usia kerja ini dapat digolongkan menjadi dua: o Angkatan kerja labor force o Bukan angkatan kerja 2. Macam-macam Pengangguran Tenaga kerja yang menganggur aadalah mereka yang ada dalam umur angkatan kerja dan sedang mencari pekerjaan pada tingkat upah yang berlaku. Di negara berkembang pengangguran dapat digolongkan menjadi:

a. Visible Employment Akan timbul apabila jumlah waktu kerja yang sungguh-sungguh digunakan lebih sedikit daripada waktu kerja yang disediakan untuk bekerja. b. Disguised Employment Pengangguran ini terjadi apabila para pekerja telah menggunakan waktu kerjanya secara penuh dalam suatu pekerjaan dapat ditarik ke sektor-sektor atau pekerjaan lain tanpa mengurangi sektor outpout yang ditinggalkan. c. Potential Under Employment Merupakan suatu perluasan dari pengangguran tak kentara dalam artian suatu pekerja dapat ditarik dari sektor tersebut tanpa mengurangi output, tetapi harus dibarengi dengan perubahan-perubahan fundamental dalam metode produksi yang memerlukan pembentukan kapital yang berarti. d. Memanfaatkan Tenaga-tenaga yang menganggur Tenaga yang menganggur merupakan persediaan faktor produksi yang dapat dikombinasikan dengan faktor produksi yang lain guna meningkatkan output di negara yang berkembang. Masalah pemanfaatan tenaga kerja yang menganggur ini baik segi penawaran maupun segi permintaan hanya diperlukan kapital yang relatif sedikit. Keuntungan tenaga yang menganggur tersebut misalnya saja dalam sektor pertanian yang tenaganya menganggur saat tidak musim panen dialihkan atau dimanfaatkan ke dalam industri-industri kecil seperti yang dinyatakan oleh Profesor Leibenstein bahwa kemampuan untuk menghasilkan lebih banyak tergantung pada kalori yang dimiliki tenaga kerja itu, sehingga tidak mudah untuk menarik tenaga kerja dari sektor pertanian yang kemudian akan diikuti oleh penarikan bahan makanan dari sektor pertanian pula.

E. KUALITAS TENAGA KERJA Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang heterogen sehingga diperlukan adanya perencanaan tenaga kerja (man power planing) secara tepat. Ciri khusus yang dimiliki faktor produksi ini adalah tidak dapat hilang atau berkurang apabila faktor produksi itu dipakai, dimanfaatkan atau dijual. Sehingga nilainya semakin tinggi dan keadaannya tidak berkurang. Tujuan utama faktor produksi ini adalah guna mendapatkan balas jasa yang disebut upah dan gaji sebagai harga dari tenaga kerja tersebut. Jadi penawaran tenaga kerja terantung pada tinggi rendahnya tingkat upah. Hubungan antara tingkat upah dan penawaran tenaga kerja perorangan sering ditunjukkan oleh kurwa penawaran tenaga kerja yang berbelok ke belakang (backward bending supply curve). Ini berarti bahwa setelah tingkat upah

naik tidak akan mendorong seseorang untuk bekerja lebih lama atau lebih giat karena pada tingkat pendapatan yang relatif tinggi orang ingin hidup lebih santai. Tapi untuk perekonomian sebagai keseluruhan, semakin tingginya tingkat upah masih akan mendorong semakin banyak orang untuk masuk ke pasar tenaga kerja.


				
DOCUMENT INFO
Description: Tenaga Kerja, Jumlah Penduduk, pada tahun, tahun 2005, perjanjian kerja, serikat buruh, serikat pekerja, Badan Pusat Statistik, perjanjian kerja bersama, Data Statistik, KABUPATEN KEBUMEN, Kebumen Regency, tenaga kerja asing, Biro Pusat Statistik, Drop Out,