Docstoc

Artikel hasil penelitian PTK

Document Sample
Artikel hasil penelitian PTK Powered By Docstoc
					              OPTIMALISASAI PEMBELAJARAN PAKEM
   UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KOMPOISI DASAR

                                                                                Wagiran
                                      Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNNES

       SARI: Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengoptimalan
       kompetensi menulis komposisi dasar mahasiswa dengan memanfaatkan
       pendekatan pembelajaran PAKEM dengan memanfaatkan memanfaatkan
       laboratorium jurnalistik secara optimal. Subjek penelitian secara umum
       adalah Tim Dosen Menulis dan para mahasiswa pengikuti matakuliah
       Menulis Program Studi Sastra Indonesia. Variabel input berupa model
       pembelajaran menulis dengan pendekatan PAKEM yang mengoptimalkan
       pemanfaatan laboratorium jurnalistik dan variabel output berupa peningkatan
       keterampilan menulis mahasiswa. Data penelitian ini berupa data kualitatif
       dan kuantitatif yang dikumpulkan dengan teknik pengamatan langsung,
       wawancara mendalam, angket, jurnal, dan dokumentasi. Data dilakukan
       dengan analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang
       difokuskan pada pengoptimalan pendekatan PAKEM diketahui bahwa ada
       peningkatan keterampilan menulis komposisi dasar mahasiswa sebesar
       10,77% dan terdapat perubahan perilaku sesuai karakter pendekatan PAKEM
       sebesar 21,47%. Berdasarkan simpulan hasil penelitian disampaikan saran
       sebagai berikut. Perlu pemanfaatan pendekatan PAKEM secara optimal untuk
       membantu membekali para mahasiswa menguasai menguasai komposisi
       dasar. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut ke arah penciptaan model
       pembelajaran PAKEM.

Kata kunci: kompetensi menulis, laboratorium jurnalistik, pendekatan PAKEM,
           perubahan perilaku..

PENDAHULUAN

       Mata kuliah Dasar-Dasar Menulis diberikan pada semester 1 Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. SI. Tujuan perkuliahan Dasar-Dasar Menulis
adalah agar mahasiswa mahir menyusun komposisi dasar dengan menggunakan bahasa
Indonesia ragam ilmiah dengan baik dan benar.
       Mata kuliah Dasar-Dasar Menulis secara khusus merupakan prasyarat bagi mata
kuliah Penulisan Karya Ilmiah dan mata kuliah Penulisan Kreatif. Mata kuliah ini juga
memberikan dasar umum berbagai ragam penulisan karya ilmiah, baik berupa karya ilmiah
akademis (skripsi, makalah, paper) maupun penulisan karya ilmiah profesional.
       Mata kuliah ini meliputi teori komposisi (40%) dan praktik penulisan (60%). Teori
komposisi meliputi organisasi komposisi, dasar-dasar kebahasaan (diksi, kalimat efektif,
pengembangan paragraf, logika berbahasa), EYD, kaidah tata tulis, dan kiat menyusun



                                           1
komposisi. Praktik penyusunan komposisi meliputi dua tahap kegiatan, yakni latihan curah
gagasan yang bertujuan memperlancar mahasiswa dalam mengungkapkan gagasan dan
penyusunan komposisi dasar yang terdiri atas penulisan narasi, deskripsi, eksposisi,
argumentasi, dan persuasi dalam berbagai genre tulisan.
         Berdasarkan pengalaman peneliti pada saat mengampu mata kuliah Dasar-Dasar
Menulis pada semester 2 PBSI tahun ajaran 2004/2005 lalu, juga berdasarkan hasil diskusi
dengan dosen pengampu mata kuliah yang sama pada kelas paralel, ditemukan beberapa
permasalahan yang menghambat keberhasilan perkuliahan.
         Permasalahan pertama, bersumber dari kurang kreatifnya dosen pengampu dalam
memilih strategi pembelajaran. Hal ini terpicu dari beratnya melakukan koreksi tulisan
mahasiswa sehingga umpan balik dari dosen pada kesempurnaan tulisan mahasiswa kurang
maksimal. Beberapa dosen lebih memilih metode ceramah untuk penguasaan teori dan
tugas untuk materi praktik. Porsi 40% teori dan 60% praktik, kadang-kadang terjadi
sebaliknya atau bahkan kegiatan praktik hanya dijadikan tugas dan dikumpulkan langsung
pada dosen untuk dinilai. Mahasiswa kurang mendapatkan respon yang membangun
kompetensi menulisnya.
         Permasalahan kedua, bersumber dari mahasiswa pengikut mata kuliah Dasar-Dasar
Menulis. Permasalahan dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni hambatan yang
bersumber dari kepribadian mahasiswa itu sendiri. Hambatan ini berupa kemalasan,
kurangnya kesempatan praktik menulis, sulit memulai menulis, takut tulisannya jelek,
kurang percaya diri, dan tidak sabar dalam menulis.
         Manifestasi dari rasa malas menulis berupa upaya menunda-nunda penulisan dan
bingung memulai menulis, serta putus asa bila tulisannya mendapat banyak kritikan.
Melalui wawancara dengan beberapa mahasiswa yang sudah menempuh Mata Kuliah
Dasar-Dasar Menulis diketahui bahwa rasa malas menulis tersebut bersumber dari
kurangnya motivasi. Kurangnya motivasi tersebut bersumber dari kurangnya pemahaman
akan manfaat keterampilan menulis dalam kehidupan sehari-hari serta kesuksesan studi.
         Selain itu, kurangnya motivasi itu juga berasal dari respon dosen yang kurang
positif pada tulisan mahasiswa. Sering tulisan mahasiswa tidak mendapat respon yang
semestinya dari dosen, bahkan sering juga tugas mahasiswa tersebut tidak pernah kembali
kepada mahasiswa sehingga mahasiswa tidak tahu apakah yang ditulis sudah baik atau
belum.
         Ketika hal itu dikonfirmasikan pada beberapa dosen pengampu mata kuliah
tersebut, termasuk peneliti, diketahui bahwa mereka merasa kekurangan waktu untuk


                                            2
mengoreksi tulisan mahasiswa satu demi satu. Mereka yang melakukan koreksi
menemukan kesalahan berulang yang dilakukan mahasiswa sehingga sering menghentikan
koreksi karena merasa bahwa tulisan lainnya juga memiliki kesalahan yang cenderung
sama. Beberapa kesalahan umum tulisan, oleh beberapa dosen dicoba untuk dijelaskan lagi
atau dilatih secara khusus sebagai bentuk respon. Namun, respon umum tersebut sering
kurang memuaskan mahasiswa. Mereka yang ingin maju, mengharapkan respon secara
langsung pada masing-masing tulisan. Sebaliknya, mahasiswa yang malas justru tidak ingin
tulisannya mendapatkan respon karena akan berakibat pada mereka harus bekerja lagi
memperbaiki tulisannya.
       Hambatan lain yang bersumber dari mahasiswa adalah hambatan-hambatan teknis.
Hambatan teknis dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) kesulitan menemukan topik atau
masalah yang akan ditulis, 2) kesulitan mencari atau menemukan bahan penulisan atau
referensi, 3) kesulitan menyusun kalimat yang efektif, 4) kesulitan menyusun paragraf yang
kohesif dan koheren, 5) kurang menguasai tatacara penulisan karya ilmiah, dan 6) tidak
cermat dalam menggunakan EYD. Berbagai hambatan teknis tersebut bersumber dari
kurangnya latihan menulis dan tidak dimanfaatkannya proses menyunting sebagai tahap
akhir proses menulis.
       Secara umum, perkuliahan Dasar-Dasar Menulis dirasakan oleh mahasiswa kurang
menarik dan membosankan. Mahasiswa merasa bosan dengan cara praktik menulis yang
hanya tugas dan dikumpulkan, tanpa ada respon lebih lanjut. Selain itu, banyaknya teori
yang dibahas juga menyulitkan mahasiswa dalam menulis karena dosen cenderung
menceramahkan teori menulis bukan membimbing menulis tahap demi tahap.
       Dari uraian di atas, maka penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis
komposisi dasar mahasiswa pengikut matakuliah Dasar-Dasar Menulis dalam konteks
pembelajaran yang menggunakan pendekatan pakem (Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan).
       Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimanakah pengoptimalan kemampuan menulis kompoisis dasar dengan
pendekatan PAKEM (Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). yang
berbasis jurnalistik pada mahasiswa pengikut Mata Kuliah Dasar-Dasar Menulis.




                                            3
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK
Kompetensi Menulis
        Berdasarkan hasil penelitian yang diadakan terhadap tulisan mahasiswa, Flower dan
Hayes (lewat Tompkins, 1990: 71) mengembangkan model proses menulis. Proses menulis
dapat dideskripsikan sebagai proses pemecahan masalah yang kompleks, yang
mengandung tiga elemen, yaitu lingkungan tugas, memori jangka panjang penulis, dan
proses menulis. Pertama, lingkungan tugas adalah tugas yang penulis kerjakan dalam
menulis. Kedua, memori jangka panjang penulis adalah pengetahuan mengenai topik,
pembaca, dan cara menulis. Ketiga, proses menulis meliputi tiga kegiatan, yaitu: (1)
merencanakan (menentukan tujuan untuk mengarahkan tulisan), (2) mewujudkan (menulis
sesuai dengan rencana yang sudah dibuat), dan (3) merevisi (mengevaluasi dan merevisi
tulisan).
        Ketiga kegiatan tersebut tidak merupakan tahap-tahap yang linear, karena penulis
terus-menerus memantau tulisannya dan bergerak maju mundur (Zuchdi, 1997: 6).
Peninjauan kembali tulisan yang telah dihasilkan ini dapat dianggap sebagai komponen
keempat dalam proses menulis. Hal inilah yang membantu penulis dapat mengungkapkan
gagasan secara logis dan sistematis, tidak mengandung bagian-bagian yang kontradiktif.
Dengan kata lain, konsistensi (keajegan) isi gagasan dapat terjaga.
        Berkaitan dengan tahap-tahap proses menulis, Tompkins (1990: 73) menyajikan
lima tahap, yaitu: (1) pramenulis, (2) pembuatan draft, (3) merevisi, (4) menyunting, dan
(5) berbagi (sharing). Tompkins juga menekankan bahwa tahap-tahap menulis ini tidak
merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinier, artinya merupakan
putaran berulang. Misalnya, setelah selesai menyunting tulisannya, penulis mungkin ingin
meninjau kembali kesesuaiannya dengan kerangka tulisan atau draft awalnya. Kegiatan-
kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap itu dapat dirinci lagi.
        Dalam kegiatan penyuntingan ini, sekurang-kurangnya ada dua tahap yang harus
dilakukan. Pertama, penyuntingan tulisan untuk kejelasan penyajian. Kedua, penyuntingan
bahasa dalam tulisan agar sesuai dengan sasarannya (Rifai, 1997: 105-106). Penyuntingan
tahap pertama akan berkaitan dengan masalah komunikasi. Tulisan diolah agar isinya dapat
dengan jelas diterima oleh pembaca. Pada tahap ini, sering kali penyunting harus
mereorganisasi tulisan karena penyajiannya dianggap kurang efektif. Ada kalanya,
penyunting terpaksa membuang beberapa paragraf atau sebaliknya, harus menambahkan
beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf untuk memperlancar hubungan gagasan.
Dalam melakukan penyuntingan pada tahap ini, penyunting sebaiknya berkonsultasi dan


                                              4
berkomunikasi dengan penulis. Pada tahap ini, penyunting harus luwes dan pandai-pandai
menjelaskan perubahan yang disarankannya kepada penulis karena hal ini sangat peka.
Hal-hal yang berkaitan dengan penyuntingan tahap ini adalah kerangka tulisan,
pengembangan tulisan, penyusunan paragraf, dan kalimat.
       Kerangka tulisan merupakan ringkasan sebuah tulisan. Melalui kerangka tulisan,
penyunting dapat melihat gagasan, tujuan, wujud, dan sudut pandang penulis. Dalam
bentuknya yang ringkas itulah, tulisan dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara
menyeluruh, dan tidak secara lepas-lepas (Keraf, 1989: 134). Penyunting dapat
memperoleh keutuhan sebuah tulisan dengan cara mengkaji daftar isi tulisan dan bagian
pendahuluan. Jika ada, misalnya, dalam tulisan ilmiah atau ilmiah populer, sebaiknya
bagian simpulan pun dibaca. Dengan demikian, penyunting akan memperoleh gambaran
awal mengenai sebuah tulisan dan tujuannya. Gambaran itu kemudian diperkuat dengan
membaca secara keseluruhan isi tulisan. Jika tulisan merupakan karya fiksi, misalnya,
penyunting langsung membaca keseluruhan karya tersebut. Pada saat itulah, biasanya
penyunting sudah dapat menandai bagian-bagian yang perlu disesuaikan.
       Berdasarkan kerangka tulisan tersebut dapat diketahui tujuan penulis. Selanjutnya,
berdasarkan pengetahuan atas tujuan penulis, dapat diketahui bentuk tulisan dari sebuah
naskah (tulisan). Pada umumnya, tulisan dapat dikelompokkan atas empat macam bentuk,
yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi.
       Bentuk tulisan narasi dipilih jika penulis ingin bercerita kepada pembaca. Narasi
biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Akan tetapi, narasi dapat juga ditulis
berdasarkan pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan
peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan
narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa.
       Bentuk tulisan deskripsi dipilih jika penulis ingin menggambarkan bentuk, sifat,
rasa, corak dari hal yang diamatinya. Deskripsi juga dilakukan untuk melukiskan perasaan,
seperti bahagia, takut, sepi, sedih, dan sebagainya. Penggambaran itu mengandalkan
pancaindera dalam proses penguraiannya. Deskripsi yang baik harus didasarkan pada
pengamatan yang cermat dan penyusunan yang tepat. Tujuan deskripsi adalah membentuk,
melalui ungkapan bahasa, imajinasi pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang,
peristiwa, dan agar mereka dapat memahami suatu sensasi atau emosi. Pada umumnya,
deskripsi jarang berdiri sendiri. Bentuk tulisan tersebut selalu menjadi bagian dalam bentuk
tulisan lainnya.



                                              5
       Bentuk tulisan eksposisi dipilih jika penulis ingin memberikan informasi,
penjelasan, keterangan atau pemahaman. Berita merupakan bentuk tulisan eksposisi karena
memberikan informasi. Tulisan dalam majalah juga merupakan eksposisi. Buku teks
merupakan bentuk eksposisi. Pada dasarnya, eksposisi berusaha menjelaskan suatu
prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan
gagasan, menerangkan bagan atau tabel, mengulas sesuatu.Tulisan eksposisi sering
ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Laras yang termasuk dalam
bentuk tulisan eksposisi adalah buku resep, buku-buku pelajaran, buku teks, dan majalah.
       Tulisan berbentuk argumentasi bertujuan meyakinkan orang, membuktikan
pendapat atau pendirian pribadi, atau membujuk pembaca agar pendapat pribadi penulis
dapat diterima. Bentuk tulisan tersebut erat kaitannya dengan eksposisi dan ditunjang oleh
deskripsi. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-
fakta yang tepat sebagai alasan untuk menunjang kalimat topik. Kalimat topik, biasanya
merupakan sebuah pernyataan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam sebuah
majalah    atau    surat    kabar,   misalnya,   argumentasi    ditemui   dalam     kolom
opini/wacana/gagasan/pendapat.
       Kendatipun keempat bentuk tulisan tersebut memiliki ciri masing-masing, mereka
tidak secara ketat terpisah satu sama lain. Dalam sebuah kolom, misalnya, dapat ditemukan
berbagai bentuk tulisan tersebut tersebar di dalam paragraf yang membangun kerangka
tersebut. Oleh karena itu, penyunting berfungsi untuk mempertajam dan memperkuat
pembagian paragraf. Pembagian paragraf terdiri atas paragraf pembuka, paragraf
penghubung atau isi, dan paragraf penutup sering kali tidak diketahui oleh penulis. Masih
sering ditemukan tulisan yang sulit dipahami karena pemisahan bagian-bagian atau pokok-
pokoknya tidak jelas.
       Pemeriksaan atas kalimat merupakan penyuntingan tahap pertama juga. Pada tahap
ini pun, sebaiknya penyunting berkonsultasi dengan penulis. Penyunting harus memiliki
pengetahuan bahasa yang memadai. Dengan demikian, penyunting dapat menjelaskan
dengan baik kesalahan kalimat yang dilakukan oleh penulis. Untuk itu, penyunting harus
menguasai persyaratan yang tercakup dalam kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif
adalah kalimat yang secara jitu atau tepat mewakili gagasan atau perasaan penulis. Untuk
dapat membuat kalimat yang efektif, ada tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu kesatuan
gagasan, kepaduan, penalaran, kehematan atau ekonomisasi bahasa, penekanan,
kesejajaran, dan variasi.



                                             6
       Penyuntingan tahap kedua berkaitan dengan masalah yang lebih terperinci, lebih
khusus. Dalam hal ini, penyunting berhubungan dengan masalah kaidah bahasa, yang
mencakup perbaikan dalam kalimat, pilihan kata (diksi), tanda baca, dan ejaan. Pada saat
penyunting memperbaiki kalimat dan pilihan kata dalam tulisan, ia dapat berkonsultasi
dengan penulis atau langsung memperbaikinya. Hal ini bergantung pada keluasan
permasalahan yang harus diperbaiki. Sebaliknya, masalah perbaikan dalam tanda baca dan
ejaan dapat langsung dikerjakan oleh penyunting tanpa memberitahukan penulis. Perbaikan
dalam tahap ini bersifat kecil, namun sangat mendasar.
5. Tahap Berbagi
       Tahap terakhir dalam proses menulis adalah berbagi (sharing) atau publikasi. Pada
tahap berbagi ini, pembelajar menulis dapat melakukan hal-hal berikut.
a. Mempublikasikan (memajang) tulisan mereka dalam suatu bentuk tulisan yang sesuai,
   atau
b. Berbagi tulisan yang dihasilkan dengan pembaca yang telah mereka tentukan dalam
   forum diskusi atau seminar.
       Dari tahap-tahap pembelajaran menulis             dengan pendekatan/model   proses
sebagaimana dijabarkan di atas dapat dipahami betapa banyak dan bervariasi kegiatan
pembelajar dalam proses menulis. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut sudah
barang tentu merupakan pelajaran yang sangat berharga guna mengembangkan
keterampilan menulis. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pembelajar pada setiap tahap,
upaya-upaya mengatasi kesulitan tersebut, dan hasil terbaik yang dicapai oleh para
pembelajar membuat mereka lebih tekun dan tidak mudah menyerah dalam mencapai hasil
yang terbaik dalam mengembangkan keterampilan menulis.
       Pembelajaran menulis bagi penutur asing dengan menggunakan pendekatan
keterampilan proses merupakan suatu alternatif untuk mencapai keterampilan menulis
pembelajar secara efektif. Hal ini dimungkinkan karena diterapkannya proses kreatif dalam
menulis yang diimplementasikan melalui tahap-tahap kegiatan yang dapat dilakukan
pembelajar (pramenulis, membuat draft, merevisi, menyunting, dan berbagi (sharing).
Proses menulis itu tidak selalu bersifat linear tetapi dapat bersifat nonlinier, dan perlu
disesuaikan dengan berbagai jenis tulisan yang mereka susun.


Pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan (PAKEM)
       Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan dan juga tuntutan desentralisasi
pendidikan, diperkenalkan pendekatan baru dalam rangka pengelolaan berbasis sekolah.


                                            7
Beberapa gagasan serta kebijaksanaan pemerintah yang mendasari pengelolaan Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) di sekolah antara lain mengenai empat pilar pendidikan yaitu
belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan (learning to do),
belajar untuk menjadi diri sendiri/mandiri (learning to be), dan belajar untuk kebersamaan
(learning to life together). Selanjutnya pesan A. Malik Fajar (dalam Seksi Kurikulum
2003:2) bahwa “secara umum KBM di sekolah harus menyenangkan, mengasyikan,
mencerdaskan, dan menguatkan daya pikir siswa yang berpedoman pada tujuan, sehingga
KBM akan menjadi lebih efektif”.
       Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada suatu pemikiran bahwa siswa
akan belajar lebih baik jika lingkungan yang diciptakan alamiah. Belajar akan lebih
bermakna jika siswa “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahui” apa yang
dipelajari. Kenyaataan telah membuktikan, pembelajaran yang berorientasi pada target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi “mengingat” dalam jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang.
        Dengan demikian, cara pengelolaan proses pembelajaran harus sangat diperhatikan,
salah satunya adalah metode yang sesuai dengan pembelajaran. Pendekatan berarti cara
yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Pendekatan pembelajaran
dapat diartikan sebagai cara menyeluruh (dari awal sampai akhir) dan mencapai tujuan
pembelajaran.
       Seksi Kurikulum (2003:2) menyatakan bahwa PAKEM adalah akronim dari
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam
proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana yang mendukung (kondusif)
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar
memang suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan
hanya proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika
pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka
pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif siswa sangat
penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan
sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
       Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan KBM yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar
mengajar yang menyenangkan agar siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada
belajar sehingga waktu untuk mencurahkan perhatiannya (time on ask) tinggi. Menurut


                                            8
hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif
dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajarannya tidak efektif, yaitu tidak
menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajarannya berlangsung,
sebab pembelajaran berlangsung memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus
dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka
pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
        PAKEM adalah suatu pendekatan pembelajaran yang baik dan menyenangkan bagi
siswa. Hal yang penting dalam pembelajaran model PAKEM adalah harus mampu
merancang skenario pembelajaran seperti yang diharapkan (pembelajaran yang mengena)
tapi tetap bersifat menyenangkan. Pembelajaran harus berpusat pada siswa, siswa harus
lebih dominan dan aktif serta terlibat sebanyak mungkin dalam kegiatan pembelajaran.
        Pembelajaran juga harus menggali kreativitas siswa, misalnya menemukan ide dan
gagasan yang tidak harus sama dengan yang telah ada. Keefektifan pembelajaran dilihat
dari ketercapaian tujuan yang dikaitkan dengan materi, sarana, bahan, dan alat yang
tersedia. PAKEM harus dapat menciptakan suasana pembelajaran sedemikian rupa
sehingga menyenangkan siswa, seperti belajar tidak harus selalu dilaksanakan di dalam
kelas tetapi bisa di luar kelas.
        Secara garis besar PAKEM digambarkan oleh Seksi Kurikulum (2003:2) sebagai
berikut.
    (1) siswa harus terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
    kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat; (2) guru
    menggunakan berbagai alat bantu dan cara untuk membangkitkan semangat, termasuk
    menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran yang
    menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa; (3) guru mengatur kelas dan memajang
    buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan “pojok baca”; (4)
    guru menerapkan cara belajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara
    belajar kelompok; (5) guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
    pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa
    dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.


        Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan PAKEM menurut Seksi
Kurikulum (2003:2-4), yaitu: (1) memahami sifat yang dimiliki anak. Pada dasarnya anak
memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi. Kedua sifat tersebut merupakan modal
dasar bagi berkembangnya sikap berpikir kritis dan kreatif; (2) mengenal anak secara


                                            9
perorangan, artinya anak bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam
PAKEM, semua anak di dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama,
melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki
kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu teman yang lemah (tutor sebaya).
Dengan mengenal kemampuan anak, dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga
belajar anak menjadi optimal; (3) memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian
belajar, maksudnya secara alami anak sejak kecil bermain berpasangan atau berkelompok.
Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas
atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau berkelompok. Kondisi seperti
ini dapat memudahkan siswa untuk berinteraksi dan bertukar pikiran; (4) mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah. Untuk memecahkan
masalah memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis
masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Oleh karena itu, tugas
guru mengembangkannya antara lain dengan sering-sering memberi tugas atau mengajukan
pertanyaan yang terbuka; (5) mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang
menarik. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajang untuk memenuhi sudut-sudut ruang
kelas. Dengan demikian, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan
menimbulkan inspirasi bagi siswa lain; (6) memanfaatkan lingkungan sebagai sumber
belajar, maksudnya lingkungan dapat berperan sebagai media belajar tetapi juga sebagai
objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering
membuat anak merasa senang dalam belajar; (7) memberikan umpan balik untuk
meningkatkan kegiatan belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan
salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik lebih mengungkapkan
kekuatan daripada kelemahan siswa; (8) membedakan aktif fisik dan aktif mental, aktif
mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan
orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat
berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut; seperti takut
ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah.

       Jadi dapat disimpulkan bahwa karakteristik PAKEM adalah: 1) aktif, maksudnya
dalam proses pembelajaran guru harus harus menciptakan suasana yang mendukung
(kondusif) sehingga siswa aktif, bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan;
2) kreatif, dimaksudkan agar guru menciptakan KBM yang beragam sehingga memenuhi
berbagai tingkat kemampuan siswa; 3) menyenangkan adalah suasana belajar yang


                                             10
menyenangkan sehingga waktu untuk mencurahkannya tinggi; 4) efektif yaitu
menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
       Kegiatan     yang   dilakukan   pada    pertemuan     1   siklus   1   adalah   dosen
mempresentasikan tujuan perkuliahan yang akan dicapai mengenai berbagai komposisi
dasar: narasi, deskripsi, argumentasi, dan eksposisi. Mahasiswa bergabung dalam
kelompoknya untuk mendiskusikan pola kerja sebagaimana layaknya sebuah media massa.
Mereka bekerja dalam sebuah Tim jurnalistik dengan berperilaku sebagaimana layaknya
Pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, penyunting bahasa, wartawan, dan penulis lepas.
Mereka masing-masing menulis sebuah artikel opini sebagai bentuk tulisan argumentasi.
Berita sebagai bentuk tulisan narasi. Iklan dan propaganda sebagai bentuk tulisan persuasif,
cerpen dan puisi sebagai bentuk tulisan deskripsi, dan artikel ilmiah popular sebagai bentuk
tulisan eksposisi. Mereka bekerja di kampus dan di luar kampus selama satu minggu.
       Pada pertemuan ke-2 siklus 1 dilanjutkan dengan kegiatan penyuntingan. Mereka
bekerja sama dalam menyunting tulisan dengan cara saling menukar pekerjaan. Hal yang
disunting adalah kualitas isi dan bahasa. Setelah kegiatan menyunting yang diakhiri dengan
berdiskusi bersama untuk saling melakukan koreksi dan konfirmasi berbagai temuan
kesalahan tulisan dan meminta pertimbangan dari dosenm mereka memperbaiki tulisan
kembali di rumah.
       Pada pertemuan ke-3 Siklus I, masing-masing kelompok bekerja sama untuk me-
layout semua tulisan menjadi sebuah majalah dinding dengan memberikan hiasan, gambar-
gambar, dan sebagainya. Setelah majalah dinding masing-masing kelompok siswa mereka
kembali bekerja sama antar kelompok untuk saling menilai majalah dinding dan berbagai
bekerja sama antar kelompok untuk saling menilai majalah dinding dan berbagai tulisan di
dalamnya. Tiap kelompok akan memberikan komentar hasil penilaiannya. Pada akhir siklus
dosen membimbing mahasiswa untuk melakukan refleksi kegiatan dan hasil karya yang
diproduksinya kemudian memberikan saran-saran dan penekanan.
       Hasil siklus I yang berupa rata-rata aktivitas mahasiswa dalam kerja kelompok dan
kualitas produk majalah dinding disajikan sebagai berikut.
       Selama kegiatan diskusi kelompok mahasiswa masih cenderung bekerja secara
individual yang ditunjukkan oleh persentase siswa yang kurang aktif dan tidak aktif bekerja



                                              11
dalam kelompoknya 51,71%. Angka ini terutama ditunjang oleh aspek kesadaran diri dan
kecakapan sosial yang rendah.
       Aktivitas kelompok selain diamati dengan lembar observasi yang dilakukan oleh
dosen juga diamati dengan lembar angket yang diisi oleh mahasiswa. Hal ini untuk
menjaring pengakuan yang jujur pada mahasiswa akan aktivitas kerja tim jurnalistik yang
mereka lakukan.
       Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa 71.34 % siswa menyatakan telah siap
melakukan kegiatan Tim Jurnalistik sedangkan 28,66% belum siap. Hal yang paling baik
adalah rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan saat berdiskusi dan motivasi
yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan memanfaatkan laboratorium
dan cara kerja Tim Jurnalistik.
       Kualitas tulisan mahasiswa pada siklus I yang berupa karangan narasi (berita),
argumentasi (opini), persuasive (iklan), dan eksposisi (Artikel ilmiah popular). Rerata nilai
penulisan narasi factual yang berupa berita adalah 76,68 yang berasal dari rerata aspek isi
77.5 dan aspek bahasa 75.8. Penguasaan aspek isi yang paling rendah ada pada subaspek
kedalaman isi (70) dan pada aspek bahasa yang paling rendah pada subaspek
pengembangan paragraph (70). Aspek kedalaman isi merupakan aspek yang dirasakan
mahasiswa paling sulit karena mahasiswa belum memiliki wawasan yang luas dan
mendalam tentang bahan yang diminta untuk ditulis. Kebanyakan mahasiswa kurang aktif
mengikuti perkembangan yang terjadi di media massa. Adapun aspek pengembangan
memang merupakan subaspek bahasa yang paling kompleks. Mahasiswa harus benar-
benar menguasai diksi, kalimat efektif, dan logika berbahasa untuk menguasai aspek
pengembangan dengan baik.
       Pada jenis karangan argumentasi yang berupa artikel opini, aspek isi yang paling
rendah ada pada subaspek ketuntasan pembahasan. Pada umumnya mahasiswa kurang
tuntas dalam menganalisis dan membahas permasalahan yang dimunculkan pada artikel
opini. Mereka lebih cenderung mengungkapkan banyak persoalan tanpa cukup referensi
untuk mengatasinya. Oleh karena itu kedalaman pembahasan cenderung masih belum
dikuasai dengan baik. Begitu juga pada karangan eskposisi aspek kedalaman juga
merupakan subaspek yang paling lemah. Hal inidisebabkan oleh masih kurangnya wawasan
keilmuwan para mahasiswa yang masih duduk pada semester 2.
       Kegiatan yang dilakukan pada pertemuan ke-1 siklus II ini mahasiswa melakukan
diskusi tentang untuk memahami karakter jurnalistik yang akan digarap. Bila siklus I



                                             12
mahasiswa menggunakan media majalah dinding untuk memaparkan hasil karyanya pada
siklus II mahasiswa menggunakan media berupa bulletin.
       Pada pertemuan ke-2 siklus II dilanjutkan dengan pembuatan komposisi dasar
seperti pada siklus pertama dengan jenis komposisi yang berbeda pada tiap individu
anggota kelompok. Mereka saling bertukar peran, baik bertukar peran dalam hal jabatan
kejurnalistikan (Pemimpin Redaksi, Penyuntingan bahasa, Redaktur Pelaksana, wartawan,
Penulis Lepas) maupun dalam penggarapan naskah. Seperti pada siklus I, mereka saling
berbagi dan bekerjasama dalam kegiatan penyuntingan.
       Pada pertemuan ketiga siklus II, mereka melakukan penyuntingan dan memilih
naskah yang terbaik dari karya anggota kelompok kemudian melakukan setting jurnalistik.
Setting bulletin yang dilakukan tiap kelompok tidak dilanjutkan dengan penerbitan karena
keterbatasan dana untuk menerbitkan, namun berhenti pada pemilihan naskah dan penataan
_ea ra. Karya-karya terbaik pada tiap kelompok direkomendasikan untuk dimuat pada
Buletin Pijar Indonesia.
       Hasil siklus II dipaparkan dalam bentuk aktivitas kegiatan mahasiswa dalam Tim
Jurnalistik berdasarkan hasil obsercvasi yang dilakukan dosen dan berdasarkan hasil angket
serta hasil penilaian terhadap naskah komposisi dasar yang berupa berita (narasi), artikel
opini (argumentasi), surat pembaca (persuasive). Dan feature (deskripsi).
       Kegiatan mahasiswa selama proses belajar mengajar dan diskusi kelompok sudah
menunjukkan life skill yang baik dengan rata-rata siswa yang aktif dan sangat aktif 69,29%.
Persentase mahasiwa yang kurang aktif dan tidak aktif bekerja dalam kelompoknya
berkurang menjadi 30,73%. Sebagian besar mahasiswa tetap dalam kelompoknya untuk
menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Masing-masing mahasiswa saling
mengambil giliran dan berbagi tugas dalm kelompoknya demi terselesaikannya tugas tepat
pada waktunya. Ketika ada kelompok yang sedang mempresentasikan hasil diskusi sudah
banyak mahasiswa yang mendengarkan dan memberikan respon yang positif.
       Berdasarkan hasil observasi pada siklus II. Kecenderungan mahasiswa bekerja
sendiri-sendiri seperti pada siklu I sudah mulai berkurang sehingga indicator kekompakan
kerja Tim Jurnalistik sudah tampak. Nilai aktivitas mahasiswa berdasarkan observasi dosen
tidak jauh berbeda dengan pengakuan mahasiswa yang disampaikan melalui angket.
Sebagian besar (75%) merasa sudah terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dengan
memanfaatkan laboratorium jurnalistik.




                                            13
       Berdasarkan hasil angket seperti yang tersaji pada table 5, tampak bahwa 75%
mahasiswa menyatakan telah siap melakukan kegiatan pembelajaran dalam Tim Jurnalistik
sedangkan 25% belum siap. Kesiapan ini sudah lebih baik daripada pada siklus I.
       Hasil tindakan kelas pada siklus II ini diperoleh rata-rata kualitas komposisi dasar
mencapai 83,86 yang berasal dari rata-rata aspek isi 84,06 dan rata-rata aspek bahasa 83,65.
       Komposisi dasar yang dikuasi mahasiswa adalah jenis narasi yang berupa factual
dengan skor rata-rata 86.2 dan yang kurang dikuasai jenis komposisi persuasive yang
berupa menulis prppaganda dengan nilai rata-rata 82,28. Namun demikian secara
keseluruhan, mahasiswa telah berhasil menguasai kemampuan menulis komposisi dasar
baik yang berupa narasi argumentasi, persuasi, maupun eksposisi.


PEMBAHASAN
       Aktivitas kegiatan mahasiswa yang menunjukkan peningkatan sebesar 21,47%.
Aspek yang mengalami peningkatan terbesar adalah aspek creativitas mahasiswa dalam
perkuliahan yaitu sebesar 36,58%. Aspek efectivitas pembelajaran persentasinya tergolong
kecil dibandingkan aspek lainnya,       yaitu sebesar 12,20% dan yang terakhir aspek
menyenangkan bagi mahasiswa meningkat 12,19% .
       Peningkatan kegiatan mahsiswa dengan mengoptimalkan pembelajaran PAKEM
secara umum cukup. Hal ini terutama karena keberhasilan pengelolaan kelas dan membuat
semacam Tim Kerja Jurnalistik yang kompak dan saling berlomba dengan tim lainnya.
Berdasarkan wawancara, mereka merasa bekerja sebagaimana layaknya sebuah Tim
Jurnalistik yang bertanggung jawab terhadap penerbitan sebuah media massa. Tenggat
waktu yang ditentukan dosen dianggapnya sebagai date line berita yang tidak boleh
dilanggar. Pada diri mereka muncul kesadaran dan tanggung jawab sebuah kelompok
pengelola media massa yang profesional.
       Peningkatan keterampilan menulis komposisi dasar aspek isi sebesar 10.88 persen.
Peningkatan terbesar ada pada subaspek karangan eksposisi dan peningkatan terendah ada
pada subaspek karangan persuasive.
       Peningkatan terbesar terjadi pada keterampilan menulis karangan eksposisi terjadi
karena mahasiswa semakin sadar bahwa karangan eksposisi merupakan salah satu jenis
karangan yang penting untuk keperluan mahasiswa sehari-hari, khusus dalam menempuh
perkuliahan selanjutnya. Skripsi yang merupakan salah satu jenis tugas perkuliahan yang
paling ditakuti mahasiswa merupakan jenis karangan eksposisi. Mereka beranggapan,



                                            14
untuk mempersiapkan dengan baik dalam menempuh perkuliahan pada hari-hari
mendatang, jenis karangan eksposisilah yang paling penting untuk dikuasai.
        Peningkatan keterampilan menulis karangan persuasive paling rendah yang 7,50%.
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa mahasiswa merasa keterampilan
menulis karangan eksposisi tidak begitu penting dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari,
khususnya dalam membekali mahasiswa dalam menempuh tugas-tugas perkuliahan.
        Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa materi perkuliahan semakin
dibutuhkan oleh mahasiswa maka semakin besar pula semangat mahasiswa untuk
menguasainya. Oleh karena itu, sebelum perkulihan dilaksanakan seorang dosen perlu
memberikan wawancara yang luas akan manfaat materi-materi perkuliahan dalam
kehidupan mahasiswa sehari-hari.
        Peningkatan penguasaan menulis komposisi dasar dari aspek bahasa sebesar
10.66%. Kualitas penggunaan bahasa Indonesia yang paling baik ada pada bahasa
Indonesia yang digunakan dalam penulisan, karangan eksposisi yaitu sebesar 12,38%.
Kualitas penggunaan bahasa Indonesia yang paling rendah ada pada jenis karangan narasi,
yakni sebesar 9,35%.
        Kualitas bahasa yang paling rendah ada pada penulisan karangan narasi yang
berupa berita. Hal ini dapat dimaklumi karena penulisan berita dimedia massa memiliki
kecenderungan menggunakan ragam bahasa Jurnalistik yangkadang-kadang sengaja
melakukan kesalahan bahasa karena sempiotnya ruang yang tersedia sementara isi yang
akan disampaikan banyak. Bahasa ragam jurnalistik cenderung singkat dan padat walaupun
kadang menghilangkan beberapa aspek kebahasaan yang tidak bersifat wajib. Kaidah
pengembangan paragraph dalam penulisan berita juga sering kurang memenuhi syarat
paragraph yang baik.
        Sebaliknya jenis karangan eksposisi cenderung memeiliki kualitas bahasa yang
lebih baik ada peningkatan sebesar 12.38%. Hal ini diketahui dari _ea rah para mahasiswa
yang merasa bahwa karangan eksposisi wajib menggunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar. Karena karangan eksposisi merupakan jenis karya ilmiah sehingga bahasanya
pun juga memenuhi syarat bahasa ragam ilmiah. Bahasa ragam ilmiah merupakan bahasa
baku.
        Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis
komposisi dasar dan life skill mahasiswa dapat meningkat dengan memanfaatkan
laboratoriumnya jurnalistik secara optimal.



                                              15
PENUTUP
       Berdasarkan     hasil   penelitian   dan    pembahasan      yang   difokuskan   pada
pengoptimalan penggunaan pendektan PAKEM                diketahui bahwa ada peningkatan
keterampilan menulis komposisi dasar mahasiswa sebesar 10,77% dan terdapat perubahan
perilaku kea rah aktivitas positif mahasiswa sebesar 21,47%.
       Berdasarkan simpulan hasil penelitian disampaikan saran sebagai berikut. Perlu
memanfaatkan sifat dasar mahasiswa           dalam perkuliahan dengan mengoptimalkan
pendekatan PAKEM.


DAFTAR PUSTAKA


Akhadiah, Sabarti, dkk.. 1996. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
         Jakarta: Erlangga.
Aminuddin.    1990.     Sekitar    Masalah    Sastra,   Beberapa     Prinsip   dan     Model
         Pengembangannya. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.
Keraf, Gorys. 1998. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah.
Keraf, Gorys. 1989. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Keraf, Gorys. 2002. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Menulis Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya: Edisi 1
         April 2005.
Nurjanah, Nunuy. 2005. Penerapan Model Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran
        Nur, M. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Pusat Studi Matematika dan
        IPA Sekolah. Universitas Negeri Semarang
Priyono, A. 2000. Pedoman Praktis Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom-
        Based Action Research).Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Kanwil
        Depdiknas Propinsi Jawa Tengah.
Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarata: PT Rineka Cipta.
Sausa, David A. 2001. Bagaimana Mengelola KBM yang Efisien, Efektif, dan
         Menyenangkan? BruderFIC.or.id (31 April 2005).
Seksi Kurikulum Subdin Pembinaan Pendidikan Dasar. 2003. Pengelolaan Kegiatan
         Belajar Mengajar melalui Pendekatan PAKEM, Kontekstual, dan Kecakapan
         Hidup. Propinsi Jawa Tengah: Depdikbud.
Subana dan Sunarti. 2004. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia berbagai
         Pendekatan, Metode, Teknik, dan Media Pengajaran. Bandung: Pustaka Setia.


                                              16
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
         Angkasa.
Wagiran dan Mukh Doyin. 2005. Curah Gagasan Pengantar Penulisan Karya Ilmiah.
         Semarang: Rumah Indonesia.
Widyamartaya, A.. 1991. Seni Menggayakan Kalimat. Jakarta: Kanisius.
Widyamartaya, A. dan V. Sudiati. 2004. Kiat Menulis Esai Ulasan. Jakrta: Grasindo.
Wiyanto, Asul. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.




                                           17

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:9281
posted:12/8/2009
language:Indonesian
pages:17