IMPLEMENTASI LIFE SKILL DALAM PEMBELAJARAN BHS INDONESIA by wagiran001

VIEWS: 5,860 PAGES: 21

More Info
									               STRATEGI PENGIMPLEMENTASIAN LIFE SKILL
               DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
                              BERDASARKAN KTSP
                                       Wagiran
             Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unnes



LATAR BELAKANG
       Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan yang
diamanatkan dalam GBHN. Sementara itu berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu
pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Dari dalam negeri dapat dilihat
bahwa NEM SD, SLTP, SMU/SMK masih relatif rendah dan tidak terjadi peningkatan
yang berarti. Dari dunia usaha muncul keluhan bahwa para lulusan sekolah belum
memiliki kesiapan kerja yang memadai. Terjadi juga ketidakpuasan berjenjang antar
lembaga pendidikan yang membentuk alur lingkaran setan. SLTP mengeluhkan bahwa
bekal lulusan SD belum memadai untuk memasuki pendidikan di SLTP. Sekolah
Menengah (SMU/SMK) juga mengeluhkan hal yang sama terhadap para lulusan SLTP.
Hal ini juga terjadi pada Perguruan Tinggi yang mengeluhkan mutu lulusan Sekolah
Menengah. Sementara itu, para guru dan Kepala Sekolah juga mengeluhkan bahwa
mutu lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (PT) juga belum siap menjadi
guru yang profesional. Kondisi seperti ini kapan akan berakhir?
       Munculnya laporan bahwa banyak para lulusan SLTP dan Sekolah Menengah,
bahkan Perguruan Tinggi menjadi pengangguran, baik di desa maupun di kota karena
sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sulitnya mendpatkan pekerjaan bukan semata-mata
tidak ada lowongan pekerjaan, karena mereka tidak memenuhi syarat tuntutan dunia
kerja. Menenuhi syarat dunia kerja saja tidak mampu, apalagi menciptakan pekerjaan.
Sementara itu, mereka merasa malu jika harus mengerjakan pekerjaan kasar (bertani,
berdagang) seperti yang dilakukan orang tua mereka. Hal ini terjadi karena
pembelajaran di sekolah cenderung sangat teoretik dan tidak terkait dengan lingkungan
di mana anak berada (Blazely dkk. 1977). Akibatnya peserta didik tidak mampu
menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang


                                           1
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seakan-akan mencabut peserta didik
dari lingkungannya sehingga menjadi asing di masyarakatnya sendiri.
         Dari komparasi internasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang
menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat
ke-102 dari 106 negara yang diservai, satu peringkat di bawah vietnam. Survai The
Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan bahwa Indonesia menduduki
peringkat ke-12 dari 12 negara yang disurvai, juga satu tingkat di bawah Vietnam. Hasil
studi The Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R 1999)
menunjukkan bahwa siswa SLTP Indonesia menempati peringkat 32 untuk IPA dan 34
untuk matematika dari 38 negara yang disurvai di Asia, Australia, dan Afrika (Diknas
2001).
         Hasil penelitian HDI, PERC, dan TIMSS-R menjadi pelajaran yang sangat
berharga. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu yang selama ini
dilakukan masih belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia.
Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah mendasar, konsisten, dan sistematik.
Di samping itu perlu kesadaran bersama bahwa (1) peningkatan mutu pendidikan
merupakan komitmen untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia, baik sebagai
pribadi-pribadi maupun sebagai modal dasar pembangunan bangsa, dan (20 pemerataan
daya tamapung pendidikan harus disertai pemerataan mutu pendidikan, sehingga
mampu manjangkau seluruh masyarakat. Untuk maksud itu, pendidikan perlu
dikembalikan kepada prinsip dasarnya, yaitu humanisasi.
         Sementara mutu pendidikan di Indoneisa belum menggembirakan, tantangan
masa depan sangat berat. Di dalam negeri, krisis ekonomi menyebabkan angka
pengangguran terus meningkat hingga mencapai 40 juta. Di dalam dunia pendidikan
sendiri, tercatat 12,3% tamatan SD tidak melanjutkan, 34,4% tamatan SLTP tidak
melanjutkan, dan 53,12% tamatan Sekolah Menengah tidak melanjutkan (Balitbang
Diknas 2000). Mereka perlu diperhatikan agar tidak menambah jumlah deretan angka
pengangguran. Belum lagi para lulusan SD, SLTP, dan Sekolah Menengah, bahkan
Perguruan Tinggi yang terdampar sebagai pengangguran karena tidak mampu bersaing
di pasar kerja dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini berarti
bahwa perlu dipikirkan bagaimana pendidikan dapat berperan mengubah manusia beban
menjadi manusia produktif. Bekal apa yang harus diberikan kepada peserta didik agar
                                          2
dapat memasuki dunia kerja atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri sehingga
mampu menghidupi diri sendiri, syukur dapat menghidupi keluarga dan lingkungannya.
         Dari urian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia kini
menghadapi masalah yang serius, yakni (1) banyaknya peserta didik yang putus
sekolah, (2) banyaknya lulusan SD, SLTP, SMU/K yang tidak mampu menerapkan
pengetahuan dan keterampilan yang mereka pelajari di sekolah ke dalam dunia kerja,
sehingga mereka terasing di lingkungannya sendiri, (3) Sementara AFTA akan segera
diberlakukan, tenaga kerja asing akan masuk ke Indonesia dan menggusur tenaga kerja
Indonesia yang tidak profesional. Kita akan menjadi pecundang di negara sendiri.
         Bertolak dari masalah tersebut, perlu konsolidasi agar pendidikan dapat
membekali        peserta didik dengan kecakapan hidup, yakni keberanian menghadapi
problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara
kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya (Diknas 2005). Pendidikan perlu
mensinergikan berbagai mata pelajaran menjadi kecakapan hidup yang diperlukan
seseorang. Dengan bekal kecakapan hidup tersebut diharapkan para lulusan sekolah
akan mampu memecahkan masalah kehidupana yang dihadapi, termasuk mencari dan
menciptakan pekerjaan. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam kesempatan ini
adalah     apa      dan   bagaimana     kecakapan     hidup/Life     skill?   Bagaimana
mengimplementasikannya dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa
Indonesia di sekolah (SD, SLTP, dan SMU/K)?


KONSEP DASAR LIFE SKILL
         Kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani
menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan,
kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga
akhirnya mampu mengatasinya. Pengertian kecakapan hidup lebih luas dari sekedar
kemampuan untuk bekerja.
         Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi empat jenis, yakni (1) kecakapan
personal (personal skill), (2) kecakapan sosial (social skill), (3) kecakapan akademik
(academic skill), dan (4) kecakapan vokasional (vocational skill).
         Kecakapan Personal mencakup kecakapan           mengenal diri dan kecakapan
berpikir rasional. Kecakapan mengenal diri pada hakikatnya merupakan penghayatan
                                            3
diri sebagai makhluk Tuhan Yang Mahaesa, sebagai anggota masyarakat,          sebagai
warga negara, serta kemampuan berintrospeksi. Berintrospeksi untuk menyadari dan
mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sekaligus menjadikannya sebagai
modal    dalam meningkatkan diri sebagai individu yang bermanfaat bagi diri dan
lingkungannya. Kecakapan berpikir rasional mencakup antara lain (1) kecakapan
menggali dan menemukan informasi, (2) kecakapan mengolah informasi dan
mengambil keputusan, dan (3) kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.
        Kecakapan sosial atau kecakapan antar-personal mencakup antara lain (1)
kecakapan berkomunikasi secara empati (Comunication skill) dan (2) kecakapan
bekerjasama (collaboration skill). Empati merupakan sikap penuh pengertian dan seni
berkomunikasi dua arah. Dalam berkomunikasi secara empati, tidak sekedar
menyampaikan pesan, tetapi menekankan juga isi dan sampainya pesan disertai kesan
yang baik yang akan menumbuhkan hubungan yang harmonis.
        Dua kecakapan hidup tersebut di atas merupakan kecakapan hidup yang bersifat
umum (generik). Kecakapan hidup tersebut diperlukan oleh siapapun, baik siswa TK,
SD, SLTP, SMU, SMK, maupun mereka yang telah bekerja. Kecakapan hidup umum
tersebut diperlukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dalam bidang apa saja.
        Kecakapan hidup yang bersifat spesifik diperlukan seseorang untuk menghadapi
problem bidang khusus. Kecakapan hidup yang bersifat khusus disebut juga sebagai
kompetensi teknis. Yang terkait dengan materi dan pendekatan pembelajaran,
kompetensi teknis ini mecakup kecakapan pengembangan akademik dan kecakapan
vokasional yang terkait dengan pekerjaan tertentu.
        Kecakapan akademik yang sering juga disebut kemampuan berpikir ilmiah
pada dasarnya merupakan pengembangan diri, kecakapan berpikir rasional pada generik
life skill Jika kecakapan berpikir rasional bersifat umum, kecakapan akademik sudah
lebih mengarah kepada kegiatan yang bersifat akademik/keilmuan. Kecakapan
akademik mencakup antara lain (1) kecakapan melakukan identifikasi variabel dan
menjelaskan hubungannya pada suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis
terhadap suatu rangkaian kejadian, merancang dan melaksanakan penilaian untuk
membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan.
        Kecakapan vokasional sering disebut sebagai kecakapan kejuruan          yang
dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang ada di masyarakat. Perlu disadari
                                            4
bahwa di alam kehidupan nyata, antara generik life skill (GLS) dan specific life skill
(SLS) tidak berfungsi secara terpisah-pisah secara eksklusif. Hal yang terjadi adalah
peleburan kecakapan-kecakapan tersebut menjadi sebuah tindakan individu yang
melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan intelektual. Derajat kualitas tindakan
individu dalam banyak hal dipengaruhi oleh kualitas kematangan berbagai aspek
pendukung tersebut. Dalam menghadapi kehidupan di masyarakat GLS dan SLS
diperlukan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Dengan kata lain, berbagai
kecakapan hidup tersebut dapat dipilah-pilah dalam pembelajaran tetapi dalam
penerapannya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi.
        Selain kecakapan hidup tersebut, peserta didik juga perlu memiliki nilai religius
yang berupa akhlaq dan budi pekerti mulia. Artinya, kesadaran diri, berpikir rasional,
hubungan antar personal, kecakapan akademik, serta kecakapan vokasional harus
dijiwai oleh akhlaq mulai dan budi pekerti yang luhur. Akhlaq dan budi pekerti mulia
harus menjadi kendali dari setiap tindakan seseorang. Oleh karena itu, kesadaran diri
sebagai makhluk Tuhan Yang Mahaesa harus mampu mengembangkan akhlaq mulia
dan budi pekerti luhur tersebut. Di sinilah pentingnya pembentukan jatidiri dan
kepribadian guna menumbuhkembangkan penghayatan nilai-nilai etika-sosial-religius
yang merupakan bagian integral dari pendidikan di semua jenis dan jenjang pendidikan.
Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia yang bermakna perlu mengintegrasikan
life skill dan sekaligus nilai-nilai budi pekerti.


STRATEGI UMUM PENGIMPLEMENTASIAN LIFE SKILL
Hubungan Kehidupan, Life Skill, dan Matapelajaran
        Pendidikan sebagai sebuah sistem pada dasarnya merupakan sistematisasi dari
proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu, secara filosofis pendidikan diartikan
sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik.
Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi peserta didik
sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.
Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka
ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya (Sange 2000).
        Secara histories, pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi. Anak
belajar dari orang tuanya atau orang dewasa lain, bahkan belajar dari lingkungannya.
                                               5
Anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mencari solusi untuk
memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi sehari-hari. Ketika pendidikan
berubah menjadi semakin formal, berbagai bidang kehidupan diterjemahkan dalam
berbagai matapelajaran, tujuan pendidikan tetap sama, yakni agar peserta didik mampu
memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan cara lebih
baik dan lebih cepat. Berbagai matapelajaran berfungsi sebagai alat untuk menjelaskan
fenomena alam kehidupan yang sedang dan akan dihadapi anak.
       Dengan demikian akan muncul pertanyaan, lantas bagaimana hubungana antara
kehidupan nyata dengan matapelajaran. Hubungan kedua hal tersebut dijembatani oleh
sebuah konsep yang bernama life skill. Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan
bagan berikut.

Tabel 1 Pola Hubungan Life Skill dengan Kehidupan Nyata dan Mata Pelajaran


 KEHIDUPAN                                                              MATA
                                    LIFE SKILL
 NYATA                                                                  PELAJARAN

Keterangan:               Arah pengembangan kurikulum
                          Arah kontribusi hasil pembelajaran

       Pada tahap awal, dilakukan identifikasi kecakapan hidup yang diperlukan untuk
menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Kecakapan hidup yang teridentifikasi,
kemudian direalisasikan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
mendukung kecakapan hidup tersebut. Tahap selanjutnya, kecakapan hidup tersebut
dikemas dalam bentuk matapelajaran. Apa yang dipelajari oleh peserta didik di sekolah
pada dasarnya mempelajari bagaimana cara hidup di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
karena itu, pada saat peserta didik lulus dari suatu lembaga pendidikan, dia akan dapat
memasuki kehidupan nyata di masyarakat sesuai dengan jenjang pendidikan yang
diperolehnya.
       Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa matapelajaran, termasuk mata
pelajaran bahasa Indonesia adalah alat untuk mencapai kecakapan hidup. Kecakapan
hidup itulah yang diperlukan oleh peserta didik pada saat memasuki kehidupan sebagai
individu yang mandiri dan produktif, anggota masyarakat dan warga negara yang baik
dan fungsional. Kompetensi yang dicapai oleh setiap matapelajaran hanyalah
                                          6
kompetensi “antara” untuk mewujudkan kemampuan nyata yang diinginkan, yakni
kecakapan hidup (life skill).
       Mempelajari matapelajaran bahasa Indonesia, bukan sekadar paham bahasanya,
tetapi mampu menggunakan bahasa bahasa untuk bernalar, mengungkapkan dan
menyampaikan buah pikiran dalam bentuk komunikasi yang efektif.
       Inovasi pendidikan di berbagai negara maju (misalnya Amerika, Australia) telah
lebih dahulu mengarah kepada pengembangan kecakapan hidup (life skill) dengan
pembelajaran kontekstual (Contekstual Teaching and Learning-CTL). CTL merupakan
model pembelajaran yang mengarah pada pengembangan kecakapan hidup (Blanchard
2001; University of Washington 2001). Model pendidikan realistik (realistic education)
yang kini sedang berkembang, juga merupakan upaya mengatur agar pendidikan sesuai
dengan kebutuhan nyata peserta didik, agar hasilnya dapat diterapkan guna menghadapi
dan memecahkan problema hidup yang dihadapi.
       Pada model pembelajaran tersebut (CTL dan realistik), matapelajaran dipadukan
atau dikaitkan satu dengan yang lain agar sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat.
Pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan peserta didik, agar memungkinkan
mereka belajar menerapkan isi matapelajaran dalam pemecahan problema yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

       Pendidikan Kecakapan Hidup (life skill edication) dipersiapkan agar peserta
didik siap mengahadapi era informasi, era AFTA, dan pasar bebas. Pada intinya
Pendidikan Kecakapan Hidup membantu peserta didik dalam mengembangkan
kemampuan belajar (learning how to learn), menghilangkan pola pikir dan kebiasaan
yang tidak tepat (learning how to unlearn), menyadari dan mensyukuri potensi diri
untuk dikembangkan dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan, serta
mampu memecahkan permasalahan kehidupan secara kreatif.

       Pendidikan Kecakapan Hidup bukan matapelajaran baru, sehingga dengan
adanya Pendidikan Kecakapan Hidup kurikulum tidak perlu diubah atau ditambah
pokok bahasannya, apalagi ditambah matapelajarannya untuk memenuhi tuntutan
Pendidikan Kecakapan Hidup. Yang diperlukan adalah reorientasi dari subject mater
oriented menjadi life skill oriented. Dengan prinsip ini mata pelajaran dipahami sebagai
alat untuk mengembangkan kecakapan hidup dan bukan sebagai tujuan.
                                           7
        Penerapan suatu konsep pendidikan tentu terkait dengan kondisi peserta didik,
dan lingkungannya. Sebagaimana prinsip pendidikan, aplikasi kurikulum atau konsep
pendidikan harus mempertimbangkan substansi yang dipelajari, karakter peserta didik,
dan kondisi sekolah serta lingkungan yang bersangkutan. Oleh karena itu, implementasi
Pendidikan Kecakapan Hidup dalam berbagai jenjang dan jenis pendidikan tidak dapat
dilakukan secara seragam. Implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup di SD tentu
berbeda dengan di SMP, SMA, atau SMK.

        Bertolak dari pemikiran tersebut dan mengingat Pendidikan Life Skill
merupakan konsep yang relatif baru (walaupun sebenarnya merupakan penajaman
konsep yang sudah ada), diperlukan suatu panduan untuk melaksanakannya.

Prinsip Pengimplementasian Life Skill

   Walaupun pelaksanaan Pendidikan Life Skill dapat bervariasi, disesuaikan dengan
kondisi anak dan lingkungannya, jenis sekolah, jenjang pendidikan, jenis matapelajaran,
namun    memiliki   prinsip-prinsip   umum     yang sama.    Berikut    prinsip   umum
pengimplementasian Pendidikan Life Skill yang sesuai dengan kebijakan pendidikan di
Indonesia.
1. Tidak mengubah sistem umum pendidikan yang berlaku saat ini.
2. Tidak harus dengan mengubah kurikulum, yang diperlukan adalah pensiasatan
   kurikulum untuk diorientasikan pada life skill.
3. Etika-sosio-religius dapat diintegrasikan dalam proses pendidikan.
4. Pembelajaran menggunakan prinsip learning to know, learning to do, learning to be,
   dan learning to life together.
5. Pelaksanaan PKH dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah.
6. Potensi wilayah sekitar dapat direfleksikan dalam penyelenggaraan pendidikan ,
   sesuai dengan prinsip pendidikan kontekstual dan pendidikan berbasis luas (broad
   based education).
7. Paradigma learning for life and school to work dapat dijadikan dalam kegiatan
   pendidikan sehingga terjadi pertautan antara pendidikan dengan kebutuhan nyata
   peserta didik.


                                           8
8. Penyelenggaraan pendidikan senantiasa diarahkan agar peserta didik: (a) menuju
   hidup yang sehat dan berkualitas, (b) mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang
   luas, serta (c) memiliki akses untuk mampu memenuhi standar hidupnya secara
   layak.


Pengimplementasian Life Skill di Sekolah
       Adapun pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di sekolah harus disesuaikan
dengan tingkat perkembangan fisiologis dan psikologis peserta didik. Proporsi
implementasi Pendidikan Kecakapan Hidup di sekolah dapat digambarkan dalam
diagram berikut.

                                AS                   VS
                                (SMA)              (SMK)




                                     GLS
                                     TK-SD-SLTP


Gambar 1 Proporsi Life Skill di TK-SD-SLTP, SMU, dan SMK

       Berdasarakan gambar tersebut dapat dipahami bahwa untuk tingkat TK, SD/MI,
SMP/MTs difokuskan pada kecakapan hidup umum (Generik Life Sill) yang mencakup
kesadaran diri dan kesadaran personal serta kecakapan sosial. Hal ini didasarkan atas
prinsip bahwa GLS merupakan pondasi kecakapan hidup yang akan diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari, apapun kegiatan seseorang. Hal ini bukan berarti pada jenjang
pendidikan TK, SD/MI, SLTP/MTs tidak dikembangkan              kecakapan akademik
(academic skill) dan kecakapan vokasional (vocational skill). AS dan VS         baru
dikenalkan pada tahap awal.
       Pada SMA/MA, Pendidikan Kecakapan Hidup difokuskan pada pengembangan
kecakapan akademik (AS), selain tetap memantapkan GLS serta mengenal tahap awal
VS. Pada SMK, Pendidikan Kecakapan Hidup lebih difokuskan pada pengembangan
kecakapan vokasional dengan tetap memantapkan GLS dengan tetap memperkenalkan


                                         9
AS. Pengembangan AS di SMK diintegrasikan dalam pengembangan VS demikian juga
di SMU/MA, pengembangan VS diintegrasikan dalam pengembangan AS.
       Perlu dipahami bahwa PKH bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Sejak
lama kurikulum kita sudah menyebutkan bahwa tujuan pendidikan mencakup juga
penumbuhkembangan sikap jujur, disiplin, saling toleransi, berpikir rasional dan kritis,
dan sebagainya yang sebenarnya identik dengan GLS. Untuk IPA di SLTP bahkan
secara tegas menyebutkan bahwa pembelajaran menggunakan keterampilan proses yang
identik dengan kecakapan berpikir rasional dan kecakapan akademik. Hanya hal itu
belum dirancang secara sengaja dan hanya dicapai sebagai efek pengiring yang secara
otomatis juga turut tercapai seiring dengan terkuasainya substansi materi.
       Penelitian Nur dkk. (1996) mengungkapkan bahwa kemampuan siswa dalam
keterampilan proses sangat rendah. Ditemukan pula bahwa pola pembelajaran di
sekolah sangat berorientasi pada produk, sehingga kegiatan pembelajaran yang berguna
untuk menumbuhkan keterampilan proses tidak dilaksanakan dengan baik. Dari
wawancara dengan guru ditemukan bahwa memang kegiatan tersebut tidak tercantum
dalam pembelajaran sehingga guru tidak perlu melaksanakannya apalagi mengukur
hasilnya. Penelitian Blazely dkk. (1977) menemukan fenomena yang mirip, sehingga
pembelajaran seakan menjadi penumpukan fakta, konsep, dan teori semata.
       Jika PKH merupakan penajaman konsep keterampilan proses dan konsep
lainnya, serta pelaksanaannya tidak perlu mengubah kurikulum secara khusus,
pertanyaan yang muncul: bagaimana hubungan antara PKH dengan substansi
matapelajaran. Termasuk bagaimana penekanan antara keduanya, yang tentu berbeda
untuk setiap jenjang pendidikan, sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis dan
fisiologis siswa. Hubungan antara PKH dengan substansi (isi) matapelajaran di sekolah
terlihat pada gambar berikut.
Gambar Proporsi Life Skill dan Substansi Matapelajaran di Sekolah


    KECAKAPAN HIDUP/LIFE SKILL


                                                  SUBSTANSI
                                                  MATAPELAJARAN
      TK         SD         SMP         SMA         S1      S2               S3
                                           10
       Pada gambar tersebut tampak bahwa di TK, penekanan pendidikan secara penuh
pada kecakapan hidup dan hamper tidak dikaitkan dengan substansi matapelajaran.
Anak TK dengan usia 4 s.d. 6 tahun, menurut Piaget masih dalam taraf berpikir
praoperasional, sehingga hanya dapat memahami hal-hal yang dilihat pada saat itu dan
pada umumnya belum bisa memahami hubungan antar fakta. Pembelajaran yang
bersifat akstrak harus dihindari, sebaliknya kemampuan sosialisasi (kecakapan sosial)
sangat perlu dikembangkan. Sebaliknya untuk jenjang S3 (Program Doktor) mahasiswa
diyakini sudah matang dan memiliki kecakapan hidup yang kuat, sehingga dalam studi
fokus pada substansi mata pelajaran sesuai dengan bidang keahliannya. Demikian juga
pada jenjang-jenjang    pendidikan lainnya berlaku perkembangan, semakin tinggi
jenjang pendidikan, semakin dominan pemberian substansi mata pelajaran dan semakin
berkurang kecakapan hidup yang dilatihkan.
       Bertolak dari uraian tersebut di atas, pelaksanaan life skill dapat dilaksanakan
melalui lima cara, yakni: (1) reorientasi pembelajaran, (2) pengembangan budaya
sekolah yang menunjang pembelajaran, (3) manajemen sekolah, (4) hubungan sinergis
dengan masyarakat, (5) pemberian kecakapan vokasional bagi mereka yang potensial
putus sekolah atau tidak melanjutkan.
(1) Reorientasi Matapelajaran
       Pelaksanaan PKH tidak perlu mengubah kurikulum, tetapi perlu mensiasati
kurikulum untuk diorientasikan pada pengembangan kecakapan hidup bersamaan
dengan pembahasan substansi matapelajaran. Life skill dapat diintegrasikan ke dalam
semua matapelajaran, termasuk bahasa Indonesia. Pengintegrasian life skill dimulai dari
kegiatan analisis   kurikulum (SK, KD), pemetaan KD, pengembangan silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sebelum pemetaan KD, guru/sekolah perlu
memahami benar potensi lingkungan sekitar, kebutuhan anak, karakter kurikulum (KD)
dan life skill yang akan dikembangkan. Reorientasi matapelajaran dalam satu jenjang
pendidikan perlu disepakati oleh semua guru matapelajaran di bawah koordinasi Kepala
Sekolah untuk memberikan penekanan dan pembagian tugas pengembangan life skill.
Pembagian kerjasama ini perlu memperhatikan Kompetensi Lintas Kurikulum (KLK)
pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (kini KTSP) pada semua matapelajaran.
       Guru dan sekolah memiliki kebebasan dalam mengimplementasikan dan
mengembangkan life skill dalam pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku.
                                          11
Pengintegrasian life skill dalam pembelajaran tidak bersifat “eksak” atau harga mati.
Guru atau sekolah memiliki kebebasan dalam membantuk pola pengintegrasian sesuai
dengan kebutuhan lingkungannya. Antara guru satu dengan guru lain dalam satu mata
pelajaran, antara matapelajaran satu dengan matapelajaran lain dalam satu sekeolah,
antara sekolah satu dengan sekolah lain dalam satu wilayah, dan antara jenjang
pendidikan satu dengan jenjang pendidikan lain dapat berbeda-beda. Namun demikian
tidak menutup kemungkinan guru-guru atau sekolah-sekolah yang memiliki kesamaan
tujuan    dan   potensi   lingkungan   bisa        bekerjasama   dalam   menentukan   pola
pengintegrasian life skill.
         Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup dapat dilaksanakan dengan
kurikulum yang sekarang sedang berlaku (KTSP), yang memberikan porsi
pengembangan potensi daerah sangat besar (80%). Untuk mengimplementasikan life
skill dalam KTSP perlu memperhatikan hal-hal berikut:
a. Perlu mencermati kompetensi dasar setiap mata pelajaran sehingga guru/sekolah
    dapat mengontrol pelaksanaannya dalam pembelajaran (evaluasi proses) maupun
    hasilnya (evaluasi hasil).
b. Alokasi waktu dan metode pembelajaran dalam KTSP hanya bersifat “ancar-ancar”
    sehingga guru/sekolah masih memiliki kewenangan dalam mengubah dan
    menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekolah.
c. Tugas akhir atau proyek akhir semester/tahun dapat digunakan oleh semua guru
    dalam pengintegrasian materi ajar dan life skill secara komprehensif . Proyek
    tersebut (misalnya karyawisata) dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi
    oleh semua guru matapelajaran.
d. Penjurusan (khususnya di SMA) perlu mempertimbangkan bakat, minat, potensi,
    dan kelanjutan studi peserta didik. Penjurusan jangan hanya berdasarkan
    kepandaian. Adalah tidak tepat pengelompokan siswa yang pandai (berdasarkan
    nilai raport) ke jurusan IPA dan IPS untuk yang kurang pandai, serta jurusan bahasa
    untuk yang bernilai rendah.          Pengelompokan siswa seperti ini adalah
    menjerumuskan dan mengabaikan pengimplementasian life skill.
(2) Pengembangan Budaya Sekolah yang Menunjang Pembelajaran
         Budaya sekolah yang baik mampu meningkatkan motivasi belajar. Jika semua
pimpinan, guru, dan karyawan sekolah menggunakan waktu luang untuk belajar
                                              12
diperpustakaan atau di laboratorium, maupun tempat lain, akan mendorong siswa
mengikutinya. Rangkuman hasil bacaan yang secara periodik ditempel di papan
pengumuman, aktivitas ilmiah remaja, kelompok kesenian, kelompok pramuka, siswa
berprestasi, hasil karya siswa, dll. mendapatkan respon positif dan penghargaan yang
wajar dari sekolah/guru akan turut membantu penciptaan budaya ilmiah yang baik di
sekolah.
(3) Manajemen Sekolah
         Jika dicermati secara seksama, konsep MPMBS yang telah dirintis oleh
direktorat sejak tahun 1999 sejalan dengan konsep life skill.        MPMBS mendorong
sekolah untuk melakukan inovasi guna meningkatkan mutu pendidikan dalam arti luas,
khususnya yang terkait dengan potensi siswa dan kebutuhan lingkungan. Empat prinsip
MPMBS yakni transparansi, kemandirian, akuntabilitas, dan sustainibilitas juga sangat
penting untuk mendukung pelaksanaan life skill di sekolah. Prinsip tersebut akan
menumbuhkan kebersamaan yang harmonis sekaligus keberanian melakukan inovasi
yang akan menjadi kondisi yang baik bagi tumbuh kembang pendidikan kecakapan
hidup.
(4) Hubungan Sinergis dengan Masyarakat
         Hubungan sinergis dengan lingkungan merupakan hal yang ditekankan dalam
pelaksanaan MPMBS dan sekaligus merupakan sarana yang efektif untuk memberikan
bekal life skill pada siswa. Para ahli di lingkungan sekitar sekolah, seperti dokter,
insinyur, ahli pertanian, politikus, pedagang sukses, pengusaha, ahli perbengkelan,
tukang batik, dan sebagainya, yang kadang-kadang mereka menjadi orang tua/wali
murid di sekolah dapat diakses untuk kepentingan siswa. Misalnya dokter, mantri
kesehatan, dapat membantu guru Biologi dalam menjelaskan berbagai penyakit
menular. Penyiar radio/televisi dapat membantu guru bahasa dalam menjelaskan dan
membimbing siswa bagaimana berbicara dengan baik, dan sebagainya.
         Selain itu, berbagai potensi lingkungan seperti pasar tradisional, pasar swalayan,
puskesmas, kantor kelurahan, kantor bank, peternakan, perikanan, pertanian, bengkel,
dan sebagainya dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium bagi siswa. Jika sekolah
bersama komite sekolah dapat merepresentasikan tokoh masyarakat, organisasi profesi,
ahli pendidikan, orang tua murid, guru, bahkan kalangan dunia usaha, maka lambat laun
sekolah akan bisa merangkul semua potensi lingkungannya untuk membantu
                                             13
keberhasilan siswa dalam belajar. Hal ini juga mencegah siswa menjadi terasing di
lingkungannya, sebagaimana yang kini sering terjadi.
(5) Pemberian Kecakapan Vokasional
       Sekolah dapat bekerjasama dengan lembaga lain yang ahli dalam pendidikan
vokasional, misalnya community College. Sekolah bisa menawarkan paket-paket
pendidikan vokasional kepada lembaga yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Misalnya, sekolah bisa membuka kursus komputer, keterampilan merangkai janur,
kursus vokal, musik, melukis, bahasa Inggris, perbengkelan, salon, dan sebagainya
sebagai keterampilan tambahan bagi siswa.        Mengingat tidak semua siswa wajib
mengambil pendidikan vokasional, maka sekolah perlu mengatur “bobot” program
vokasional tersebut, dan dapat diekuivalenkan dengan jumlah jam pelajaran tertentu
sebagaimana aturan dalam KTSP. Penentuan jumlah jam pelajaran dan matapelajaran
apa yang dapat ditinggalkan oleh siswa karena mengikuti program vokasional tersebut
dapat diserahkan kepada sekolah sesuai dengan prinsip MBMBS. Hal ini diperlukan
manajemen serta kerjasama yang baik dengan community college.


IMPLEMENTASI LIFE SKILL PADA MATAPELAJARAN

       Sebelum mengimplementasikan life skill dalam matapelajaran bahasa Indonesia,
perlu memahami benar karakter kurikulum yang berlaku (KTSP), karakter
matapelajaran (bahasa Indonesia), serta tuntutan life skill pada jenjang pendidikan yang
bersangkutan (misalnya SD, SMP=GLS), serta cara pengimplementasian life skill dalam
matapelajaran.

Karakter KTSP
       Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sebagai perwujudan dari
kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya
oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah
koordinasi dan supervisi dinas pendidikan.      Penyusunan KTSP berpedoman pada
Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan serta panduan penyusunan kurikulum yang
disusun oleh BSNP.
       Hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan KTSP, di antaranya: (1)
Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia, (2) Peningkatan potensi, kecerdasan,
                                          14
dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, (3)
Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan, (4) Tuntutan dunia kerja,
dan (5) Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

        Pengembangan diri dalam KTSP diberikan bobot minimal setara dengan 2 jam
pelajaran. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat,
minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.

        Hal terakhir yang perlu diperhatikan untuk mengimplementasikan life skill
dalam    KTSP     adalah   pemahaman        bahwa   Kurikulum   untuk   SD/MI/SDLB,
SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/ SMALB, SMK/SMAK dapat memasukkan pendidikan
kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan
akademik dan/atau kecakapan vokasional. Pendidikan kecakapan hidup dapat
merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran. Pendidikan kecakapan hidup
dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari
satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.

Karakter Bahasa Indonesia

        Berdasarkan Permen Diknas No. 22 Tahun 2006 dijelaskan bahwa bahasa
memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta
didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya,
dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam
masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan
kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
        Selanjutnya, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan
baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap
hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
        Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi
kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan,
keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar
kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon
                                            15
situasi lokal, regional, nasional, dan global.
       Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan,
   kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil
   karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta
   didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan
   kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta
   didiknya;
4. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program
   kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
5. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan
   sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan
   sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan
   kepentingan nasional.


Cara Pengimplementasian Life Skill dalam Matapelajaran
       Life skill dapat diimplementasikan dalam kegiatan intrakurikuler maupun dalam
kegiatan ekstrakurikuler, sesuai dengan karakter matapelajaran.
Implementasi dalam Kegiatan Pembelajaran
       Dalam kegiatan intrakurikuler, life skill diintegrasikan dalam penyusunan silabus
pembelajaran,    rencana pelaksanaan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun
evaluasi pembelajaran. Sebelum menyusun silabus pembelajaran, guru perlu
menganalisis kurikulum untuk memahami standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang akan dicapai dalam pembelajaran. Pada saat menganalisis SK dan KD inilah perlu
dilakukan cross ceck dengan life skill yang akan diimplementasikan. Misalnya SK:
“Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan
menyampaikan pengumuman” yang dijabarkan menjadi KD: Menceritakan pengalaman
yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif (Kelas
VII Smt 1) dapat dikaitkan langsung dengan (1) Kecakapan berpikir rasional: menggali
                                             16
informsi serta Kecakapan sosial: berkomunikasi secara lisan. Butir life skill yang akan
diimplementasikan dapat dituliskan secara eksplisit dalam silabus pembelajaran setelah
komponen Kompetensi Dasar, dapat pula tidak dituliskan, namun dalam pelaksanaan
pembelajaran diarahkan untuk mencapai kecakapan tersebut.
          Selanjutnya, kecakapan hidup tersebut tetap diperhatikan dalam pengembangan
materi pokok, kegiatan pembelajaran, serta dalam penilaian, khususnya penilaian
proses.      Pencapaian Life skill tidak perlu diukur secara formal, yang diukur
pencapaiannya tetap Kompetensi Dasar dan Indiokatornya. Iife skill diharapkan akan
muncul sebagai dampak pengiring keberhasilan pembelajaran.
          Pada pengembangan RPP, tidak perlu ada rumusan pencapaian life skill secara
khusus, sebagaimana rumusan tujuan pembelajaran. Life skill diintegrasikan langsung
dalam      langkah-langkah     kegiatan   pembelajaran    serta   penilaian   proses   yang
menggunakan model penilaian berbasis kelas.
          Penilaian berbasis kelas, merupakan bentuk penilaian yang dianjurkan dalam
pembelajaran yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi maupun KTSP.
Berbagai model penilaian yang disarankan untuk mengukur ketercapaian Pendidikan
Kecakapan Hidup adalah sebagai berikut.
1. Kesadaran Diri
   a. Kesadaran Eksistensi Diri
          Digunakan pengukuran dengan skala sikap, tes kepribadian, dan observasi.
          Misalnya dalam mengambil keputusan, tidak ragu-ragu untuk menyampaikan
          ide, tidak ragu-ragu untuk berbeda pendapat, memiliki prinsip yang kuat dalam
          mempertahankan pendapat dan keputusannyanya
   b. Kesadaran Potensi Diri
          Digunakan pengukuran dengan skala sikap, berbagai jenis tes, termasuk tes
          kecerdasan, baik kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosional. Howard
          Gardner telah mengembangkan penilaian multidimensional, yakni evaluasi siswa
          tidak hanya berdasarkan konsep intelegensi, kemampuan, dan pembelajaran,
          dimana hanya ada kemampuan logis-matematis dan verbal-linguistik yang
          dinilai, tetapi penilaian juga meliputi kemampuan visual-spesial, ritmik-musik,
          kinestetik-gerakan tubuh, intrapersonal, dan interpersonal.


                                              17
2. Kecakapan Berpikir Rasional
   a. Kecakapan Menggali Informasi
      Kecakapan menggali informsi dapat dilihat guru maupun siswa lain, pada saat
      guru memberikan tugas-tugas kepada siswa, baik secara individu maupun
      kelompok. Pengukuran dilakukan dengan observasi guru, skala sikap, dan
      penilaian teman sejawat.
   b. Kecakapan Mengolah Informasi
      Pengukuran dilakukan dengan observasi guru, skala sikap, dan penilaian teman
      sejawat.
   c. Kecakapan Mengambil Keputusan
      Pengukuran dilakukan dengan observasi guru, skala sikap, dan penilaian teman
      sejawat. Pada saat mengambil keputusan, siswa perlu menyusun tujuan dan
      kendala-kendala, membuat alternatif keputusan, mempertimbangkan berbagai
      resiko, mengevaluasi, dan menentukan alternatif yang terbaik.
   d. Kecakapan Memecahkan Masalah
      Pengukuran dilakukan dengan observasi guru, skala sikap, dan penilaian teman
      sejawat. Pada kegiatan pemecahan masalah, siswa harus mengenal maslaah atau
      mencari kejelasan suatu masalah untuk menemukan jawaban/jalan keluar dari
      masalah tersebut, merencanakan, dan melaksanakan rencana. Evaluasi yang baik
      untuk kegiatan pemecahan masalah memerlukan pertimbangan baik proses
      berpikir maupun hasil akhirnya.
3. Penilaian Kecakapan Sosial
   a. Kecakapan Komunikasi Lisan
      Kecakapan komunikasi lisan sebenarnya ada pada semua matapelajaran dan
      perilaku siswa dalam kelas dan di sekolah. Pengukuran dilakukan dengan
      observasi guru, skala sikap, dan penilaian teman sejawat.
   b. Kecakapan Komunikasi Tertulis
      Pengukuran dilakukan dengan observasi guru, skala sikap, dan penilaian teman
      sejawat. Salah satu metodenya adalah produk atau hasil belajar, yang
      menampilkan hasil lengkap kerja siswa dalam berbagai bentuk, seperti hasil
      tulisan.


                                         18
   c. Kecakapan Komunikasi Tertulis
       Kecakapan bekerjasama dapat dilihat dari perilaku siswa di sekeolah pada
       umumnya dan di kelas pada khususnya. Hal ini dpat dilihat pada saat
       melaksanakan diskusi, kerja kelompok. Pengukurannya dengan observasi guru,
       penilaian dari teman sejawat. Dalam menilai kecakapan bekerjasama seorang
       siswa, dapat dilihat dari peransertanya sebagai anggota dalam sebuah tim,
       sumbangannya pada kelompok, menjelaskan pada teman-temannya, memuaskan
       teman-temannya, berkomunikasi tentang ide-ide untuk memperkuat posisinya,
       membujuk dan meyakinkan teman, bekerja ke arah persetujuan, dan sebagainya.
4. Penilaian Kecakapan Akademik
   Pada umumnya penilaian kecakapan akademik dilaksanakan dengan tes kognitif.
   Namun demikian ada banyak penilaian untuk mengukur kecakapan akademik siswa
   yang jarang dilakukan guru, di antaranya observasi untuk menilai kemampuan
   psikomotorik dan afektif, dan penilaian dari teman sejawat, serta refleksi dari diri
   sendiri.
       Berbagai model penilaian untuk menilai kecakapan hidup siswa, tidak
dilaksanakan tersendiri, tetapi terintegrasi dengan penilaian pembelajaran dimana
kecakapan hidup itu diintegrasikan.
Implementasi dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
       Implementasi life skill dalam kegiatan ektrakurikuler dikelola dalam bentuk
pengembangan diri yang dapat menunjang pencapaian SK dan KD matapelajaran
bahasa Indonesia. Kegiatan pengembangan diri yang dapat dilakukan, misalnya
Pengembangan Karya Ilmiah Remaja, Sanggar Sastra, Konversasi Diskusi/Debat,
Kepenyiaran, Kepewaraan, Jurnalistik, dan kegiatan lain yang menunjang pencapaian
dan pendalaman KD.
       Berbagai    kegiatan   ekstrakurikuler   yang   merupakan     bentuk   kegiatan
pengembangan diri tersebut diupayakan dapat menciptakan kondisi nyata atau seolah-
olah nyata bagi siswa sehingga siswa dapat berlatih menghadapi segala problema hidup
dan kehidupan yang berkaitan dengan bidang yang dipilihnya. Dengan demikian, siswa
yang telah terbiasa ditempa menghadapi problema dalam lingkungan yang telah
dikondisikan tidak canggung bila kelak siswa menghadapi problema kehidupan di dunia
yang sebenarnya.
                                          19
PENUTUP
       Gagasan implementasi life skill dalam pembelajaran bahasa Indonesia
merupakan sebuah upaya mendekatkan proses pembelajaran di kelas dengan kebutuhan
peserta didik di masyarakat. Pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai proses
pemberian informasi tetapi sebagai proses berlatih menghadapi segala problema hidup
dan kehidupan. Implementasi life skill akan membuat pembelajaran lebih bermakna dan
berkarakter bagi siswa. Life skill dapat diimplementasikan dengan cara (1) reorientasi
pembelajaran, (2) pengembangan budaya sekolah yang menunjang pembelajaran, (3)
manajemen sekolah, (4) hubungan sinergis dengan masyarakat, (5) pemberian
kecakapan vokasional bagi mereka yang potensial putus sekolah atau tidak melanjutkan.
Implementasi life skill dalam pembelajaran dapat dilakukan dalam proses pembelajaran
maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler sebagai bentuk pengembangan diri. Pencapaian
life skill tidak dinilai secara khusus karena bukan sebagai output tetapi sebagai outcome
(dampak pengiring) pencapaian tujuan pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA


Balitbang Diknas. 2000. Statistik Persekolahan. Jakarta: Pusat Statistik Pendidikan.
Blanchard, Allan. 2001. Contextual Teaching and Learning. BEST. 2001.
Bently, Tom. 2000. Learning Beyond the Classroom: Education for Changing World.
        London: Routledge Falmer.
Blazely, Lloyd D. et.all. 1997. Science Study. Jakarta: The Japan Grant Foundation.
Depdiknas. 2001. Laporan pada Rakor Bidang Kesejahteraan Rakyat. Tanggal 12
        September 2001.
Dirdjend. Dikdasmen. 2002. Konsep Dasar dan Pola Pelaksanaan Pendidikan
        Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill). Jakarta: Depdiknas.
Dirdjend.   Dikdasmen.    2002.   Pedoman       Pengembangan     Penilaian   Pendidikan
        Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill). Jakarta: Depdiknas.
University of Washington, College of Education. 2001. Training for Indonesian
        Educational Team in Contextual Teaching and Learning. Seatle: Washington
        USA.


                                           20
Senge, Peter, et.all. 2000. Schools That Learn: A Fifth Discripline Resource. London:
        Nicholas Brealey Publishing.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Permen Diknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Kurikulum Satuan Pendidikan
        Dasar dan Menengah.
Permen Diknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Satuan
        Pendidikan Dasar dan Menengah.
Permen Diknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Permen Diknas No.
        22 dan 23 Tahun 2006.




                                         21

								
To top