PEMBARUAN ISLAM MENURUT SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA

Document Sample
PEMBARUAN ISLAM MENURUT SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA Powered By Docstoc
					  PEMBARUAN ISLAM MENURUT SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA
Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, lahir di Qalmun, sebuah desa sekitar 4 km dari Tripoli,
Libanon pada 27 Jumadil Awal 1282 H.; Beliau adalah bangsawan Arab yang memiliki
garis keturunan langsung dari Sayyidina Husen, putera Ali bin Abu Thalib dan Fatimah
puteri Rasulullah Saw.
Gelar Sayyid pada awal namanya merupakan gelar yang biasa diberikan kepada semua
yang mempunyai garis keturunan tersebut.; Keluarga Ridha dikenal oleh lingkungannya
sebagai keluarga yang taat beragama serta menguasai ilmu-ilmu agama sehingga mereka
dikenal juga dengan sebutan Syaikh.
Salah seorang kakek Rasyid Ridha bernama Sayyid Syaikh Ahmad adalah orang yang
wara' sehingga seluruh waktunya hanya digunakan untuk membaca dan beribadah, serta
tidak menerima tamu kecuali sahabat-sahabat terdekat dan ulama, itupun hanya pada
waktu-waktu tertentu, yaitu antara Ashar dan Maghrib. Hal yang sama juga menurun
pada ayahnya sehingga Rasyid Ridha banyak terpengaruh dan belajar dari ayahnya
sendiri, seperti yang ditulis dalam buku hariannya yang dikutip oleh Ibrahim Ahmad al-
Adawi :
Ketika aku mencapai umur remaja, aku melihat dirumah kami pemuka-pemuka agama
Kristen dari Tripoli dan Libanon, bahkan aku lihat pula pendeta-pendeta, khususnya
dihari raya, aku melihat ayahku rahimahullah berbasa-basi dengan mereka sebagaimana
beliau berbasa-basi dengan penguasa dan pemuka masyarakat Islam. Ayahku menyebut
apa yang beliau ketahui tentang kebaikan-kebaikan mereka secara objektif, tetapi tidak
dihadapan mereka. Ini adalah salah satu sebab mengapa aku menganjurkan untuk
bertoleransi serta mencari titik temu dan kerjasama antara semua penduduk negeri atas
dasar keadilan dan kebajikan yang dibenarkan oleh agama, demi kemajuan negara.
Setelah menamatkan pelajarannya ditaman-taman pendidikan dikampungnya yang
dinamai al-Kuttab, Ridha dikirim oleh orangtuanya ke Tripoli ( Libanon ) untuk belajar di
Madrasah Ibtidaiyah yang mengajarkan ilmu nahwu, shorof, akidah, fiqih, berhitung dan
ilmu bumi, dengan bahasa pengantar adalah bahasa Turki, mengingat Libanon waktu itu
ada dibawah kekuasaan kerajaan Usmaniah.
Ridha tidak tertarik pada sekolah tersebut, setahun kemudian dia pindah kesekolah Islam
negeri yang merupakan sekolah terbaik pada saat itu dengan bahasa Arab sebagai bahasa
pengantar, disamping diajarkan pula bahasa Turki dan Prancis. Sekolah ini dipimpin oleh
ulama besar Syam ketika itu, yaitu Syaikh Husain al-Jisr yang kelak mempunyai andil
besar terhadap perkembangan pemikiran Ridha sebab hubungan keduanya tidak berhenti
meskipun kemudian sekolah itu ditutup oleh pemerintah Turki. Dari Syaikh inilah Ridha
mendapat kesempatan menulis dibeberapa surat kabar Tripoli yang kelak mengantarnya
memimpin majalah al-Manar.
Selain Syaikh Husain al-Jisr, Rasyid Ridha juga belajar dari Syaikh Mahmud Nasyabah
yang ahli dibidang hadis dan mengajarnya sampai selesai dan karenanyalah Ridha
mampu menilai hadis-hadis yang dhaif dan maudhu sehingga dia digelari " Voltaire " -
nya kaum Muslim karena keahliannya menggoyahkan segala sesuatu yang tidak benar
dalam bidang agama. ( Voltaire adalah filosof Prancis yang mengkritik secara pedas
pendapat para pemuka agama dan masyarakat Prancis pada masanya serta tokoh yang
mengantar tercetusnya Revolusi Prancis tahun 1789 M ).
Ridha juga belajar dari Syaikh Abdul Gani ar-Rafi yang mengajarkannya sebagian dari
kitab hadis Nailul Authar ( sebuah kitab hadis yang dikarang oleh Asy-Syaukani yang
bermadzhab Syiah Zaidiyah ), al-Ustad Muhammad al-Husaini dan Syaikh Muhammad
Kamil ar-Rafi dan Ridha selalu hadir dalam diskusi mereka mengenai ilmu ushul dan
logika.
Selama masa pendidikannya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha membagi waktunya
antara ilmu dan ibadah pada salah satu masjid milik keluarganya, ibunya sempat bercerita
: Semenjak Muhammad dewasa, aku tidak pernah melihat dia tidur karena dia tidur baru
sesudah kami bangun dan bangun sebelum kami terbangun.; Tidak itu saja, adiknya,
Sayyid Shaleh pernah juga berkata : Aku tadinya menganggap saudaraku Rasyid adalah
seorang Nabi. Tetapi ketika aku tahu bahwa Nabi kita Muhammad Saw adalah penutup
seluruh Nabi, aku menjadi yakin bahwa dia adalah seorang wali.
Ridha menulis dalam buku hariannya :
Aku selalu berusaha agar jiwaku suci dan hatiku jernih, supaya aku siap menerima ilmu
yang bersifat ilham, serta berusaha agar jiwaku bersih sehingga mampu menerima segala
pengetahuan yang dituangkan kedalamnya.
Dalam rangka menyucikan jiwa inilah, Ridha menghindari makan-makanan yang lezat-
lezat atau tidur diatas kasur, mengikuti cara yang dilakukan kaum sufi. Sikap ini
dihasilkan oleh kegemarannya membaca kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali
yang dibacanya berulang-ulang hingga benar-benar mempengaruhi jiwa dan tingkah
lakunya, sampai-sampai menurut Ridha, dia pernah merasakan seakan-akan mampu
berjalan diatas air dan terbang diudara.
Majalah al-Urwah al-Wutsqa yang diterbitkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan
Muhammad Abduh di Paris dan tersebar diseluruh dunia, ikut dibaca oleh Rasyid Ridha
dan ini memberikan pengaruh besar bagi jiwanya.
Kekagumannya pada Muhammad Abduh bertambah mendalam sejak Abduh kembali ke
Beirut untuk kedua kalinya tahun 1885 dan mengajar sambil mengarang, pertemuan
keduanya terjadi ketika Syaikh Muhammad Abduh berkunjung ke Tripoli untuk menemui
temannya, Syaikh Abdullah al-Barakah yang mengajar disekolah al-Khanutiyah.
Ridha sempat bertanya mengenai kitab tafsir terbaik menurut Abduh, dan dijawab bahwa
tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari adalah yang terbaik karena ketelitian redaksinya
serta segi-segi sastra bahasa yang diuraikannya.
Pertemuan yang kedua kali antara Abduh dan Ridha terjadi pada tahun 1894, juga di
Tripoli dan kali ini Rasyid Ridha menemani Abduh sepanjang hari sehingga banyak
kesempatan untuk menanyakan segala sesuatu yang masih kabur baginya.; Pertemuan
ketiga terjadi lima tahun berikutnya, yaitu 18 Januari 1898 di Kairo, Mesir dan sebulan
sesudah itu Rasyid Ridha mengemukakan keinginannya untuk menerbitkan surat kabar
yang mengolah masalah sosial, budaya dan agama.
Meskipun awalnya Abduh tidak setuju, tetapi akhirnya beliau merestuinya dan
memilihkan nama al-Manar dari sekian banyak nama yang diusulkan Ridha.
al-Manar sendiri terbit edisi perdana pada tanggal 17 Maret 1898 berupa media mingguan
sebanyak delapan halaman dan mendapat sambutan hangat tidak hanya di Mesir tetapi
juga negara-negara sekitarnya hingga sampai ke Eropa dan Indonesia.
Ridha memberikan perhatian lebih kepada Indonesia, terbukti bahwa dia mewudujkan
Madrasah Dar ad-Da'wah wa al-Irsyad, salah satu tujuannya adalah mengirim tamatannya
ke Jawa dan China, untuk penerimaan pelajarnya, diutamakan yang berasal dari Jawa,
China dan daerah-daerah selain Afrika Utara.
Ridha wafat dalam sebuah kecelakaan mobil setelah mengantar Pangeran Sa'ud al-Faisal (
yang kemudian menjadi raja Saudi Arabia ) dari kota Suez di Mesir pada tanggal 22
Agustus 1935 M sembari membaca akhir ayat yang ditafsirkannya :
Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengaruniakan kepadaku sebagian
kekuasaan dan mengajarkan kepadaku penjelasan tentang takwil mimpi. Ya Tuhan
pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku didunia dan akhirat, wafatkanlah aku
dalam keadaan sebagai Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh.
Tafsir al-Manar yang bernama Tafsir al-Quran al-Hakim memperkenalkan dirinya
sebagai kitab tafsir satu-satunya yang menghimpun riwayat-riwayat yang shahih dan
pandangan akal yang tegas yang menjelaskan hikmah-hikmah syariah serta sunnatullah
yang berlaku terhadap manusia dan menjelaskan fungsi al-Qur'an sebagai petunjuk untuk
seluruh manusia disetiap waktu dan tempat serta membandingkan antara petunjuknya
dengan keadaan kaum Muslimin dewasa ini.
Tafsir al-Manar pada dasarnya merupakam hasil karya 3 tokoh Islam, yaitu Sayyid
Jamaluddin al-Afghani, Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha
yang mana dimuat secara berturut-turut dalam majalah al-Manar yang dipimpin oleh
Ridha.
Abduh sempat menyampaikan kuliah-kuliah tafsirnya dari surah al-Fatihah sampai surah
an-Nisa ayat 125 kemudian Ridha selanjutnya menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an sendirian
sampai dengan ayat 52 surah Yusuf ( penafsiran Ridha sendiri sampai ayat 101 tetapi
yang dimuat pada majalah al-Manar hanya sampai ayat 52 ).
Dalam beberapa hal, Rasyid Ridha lebih unggul dari gurunya, Muhammad Abduh, seperti
penguasaannya dibidang hadis dan penafsiran ayat dengan ayat serta keluasan
pembahasan berbagai masalah.
Disisi tertentu, Ridha pun memiliki konsep yang sama dengan Abduh, seperti
penggunaan akal secara luas dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an dan bersikap kritis
atas hadis-hadis yang dianggap shahih oleh umat Islam mayoritas.
Misalnya Ridha menolak hadis Bukhari yang menceritakan mengenai tersihirnya Nabi
yang tidak hanya dianalisanya dari sisi matn tetapi juga dari sisi sanadnya dimana
menurut beliau Hisyam, salah seorang perawi hadis ini mendapat sorotan dan ditolak oleh
ulama al-Jarh wa at-Ta'dil atau juga mengenai hadis terbelahnya bulan yang disampaikan
oleh Abu Hurairah melalui jalur Ibnu Juraij yang disebutnya sudah pikun saat
menceritakan hadis itu pada A'war al-Mashish.
Ridha juga mempersempit penafsiran akan hal-hal yang ghaib, misalnya dia menganggap
bakteri adalah termasuk bagian dari jin yang mampu membuat orang terkena penyakit
sebagaimana tafsirnya atas surah al-Baqarah ayat 275.
Rasyid Ridha, sama seperti Abduh, sangat berhati-hati menerima riwayat yang
mengemukakan pendapat para sahabat Nabi sebagaimana dikutipnya kalimah as-Sayuthi
dalam al-Itqan ketika menyatakan bahwa dalam kitab Fadhail al-Imam asy-Syafei
karangan Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Syakir al-Qathan, terdapat satu riwayat
dari Ibnu Abdil Hakam :
Aku mendengar Syafei berkata : tidak syah ( riwayat yang dinisbahkan ) kepada Ibnu
Abbas menyangkut tafsir kecuali sekitar 100 hadis.
Karena itu, Ridha sangat hati-hati sekali menerima tafsir riwayat terutama dari Ibnu
Abbas, contohnya saat beliau menolak tafsir Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat-ayat
yang turun di Mekkah dengan dasar : Ibnu Abbas bukanlah salah seorang yang menghafal
al-Qur'an atau meriwayatkan hadis pada periode Mekkah, karena beliau lahir tiga tahun
sebelum hijrah atau lima tahun sebelumnya sehingga bisa jadi itu timbul dari pendapat
pribadinya atau pendapat orang yang dia riwayatkan.
Hal dan alasan yang sama dikemukakan Ridha menyangkut umur Ibnu Abbas ketika ia
menolak riwayat yang ada dalam shahih Muslim menyangkut keikut sertaan malaikat
dalam perang Badar dan pendapatnya bahwa Ibnu Abbas tidak segan-segan mengambil
riwayat dari orang lain meskipun sekelas Ka'ab al-Ahbar.
Rasyid Ridha menulis buku biografi gurunya, Muhammad Abduh dengan judul Tarikh al-
Ustadz al-Imam, dimana disana dia dengan tegas menyatakan kekagumannya terhadap
beliau, baik menyangkut ilmu pengetahuannya maupun sikap, budi pekerti serta
keteguhannya beragama.
Ridha mengakui pula kekurangan gurunya dalam bidang ilmu-ilmu hadis dari segi
riwayat, hapalan dan kritik al-Jarh wa at-Ta'dil sebagaimana para ulama al-Azhar adanya.
Ridha menambahkan bahwa Abduh memiliki kesamaan dengan gurunya ( Jamaluddin al-
Afghani ) yaitu tidak luput dari sikap keras/pemarah tetapi Ridha masih memandangnya
sebagai kewajaran bagi Abduh untuk menyandang tugas kepemimpinan perbaikan dan
pembaruan masyarakat serta agama.
Disisi lain Rasyid Ridha mengecam dan banyak mengkritik secara tegas dan pedas
beberapa tokoh tafsir dan penulis seperti Ibnu Jarir ath-Thabari penulis Tafsir Jami' al-
Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Fakhruddin ar-Razi penulis kitab Mafatih al-Ghaib, az-
Zamakhsyari penulis tafsir al-Kasysyaf, Abdullah bin Umar bin Muhammad al-Baidhawi
penulis tafsir al-Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil, Mahmud al-Alusi penulis tafsir Ruh
al-Mani serta Jalaluddin as-Sayuthi penulis tafsir ad-Dur al-Mantsur.
Dalam kritik-kritiknya itu, Ridha menggunakan kata-kata orang pikun, fanatik buta,
pengkhayal, penulis yang kacau, penjiplak, mufasir bodoh, penulis lelucon dan ketololan
yang tidak dapat diterima akal dan tidak terdapat dalam al-Qur'an sebagai isyarat
pembenar. ( detilnya baca buku ini hal 154 s/d 174 ).
Baik Abduh maupun Ridha sendiri, menurut Quraish Shihab adalah perintis jalan menuju
kesempurnaan, terutama dalam hal tafsir. Dimana tafsir al-Manar ~ masih menurut beliau
~ berusaha menampilkan al-Qur'an dengan wajah yang sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan. Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Rida, Hasan al-Banna, Sayid Qutb,
Abul Ala al-Maududi, (ideolog kebangkitan Islam melawan hegemoni barat) Jamaluddin
al-Afghani, Rasyid Rida, Hasan al-Banna, Sayid Qutb dan Abul Ala al-Maududi adalah
tokoh pergerakan Islam pada abad 20. Setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani,
semua negara Islam dalam kondisi dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Mereka
menyerukan agar umat Islam bangkit dan berjihad melawan penjajahan barat.
Perjuangan al-Afghani dan Rasyid Rida dilanjutkan oleh Hasan al-Banna, dengan
membentuk gerakan Ikhwanul Muslimin yang tumbuh pertama kali di Mesir. Setelah
kematian Hasan al-Banna dalam sebuah penembakan misterius, lahir tokoh ideolog
sekaligus penulis ulung Sayyid Qutb. Semangat pembelaannya kepada Islam terpicu oleh
konspirasi politik internasional yang mengakibatkan meninggalnya Hasan al-Banna.
Sayyid Qutb gencar menghuidupkan semangat jihad dan mengkritisi pemerintahan Islam
pada waktu itu.
Pada waktu bersamaan di Pakistan lahir gerakan Jami’at Islami yang dibidani al-
Maududi, sama dengan Ikhwanul Muslimin, al-Maududi adalah seorang penulis yang
sangat tajam dalam melihat fenomena umat dibawah penjajahan barat. Boleh dikatakan,
pada masa-masa selanjutnya tidak ada gerakan Islam abad 20 yang tidak menyerap
pemikiran Ikhwanul Muslimin dan Jama’at Islami yang relatif adaptif terhadap pemikiran
politik yang sedang berkembang.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:9689
posted:12/7/2009
language:Indonesian
pages:5