Kurikulum Berbasis Kompetensi (Matematika) by j489mkd0

VIEWS: 2,533 PAGES: 7

									                        Kurikulum Berbasis Kompetensi (Matematika)

                                       Oleh: Ujang Sukandi1

Pengantar
Pembahasan mengenai kurikulum dapat dianggap sebagai usaha menjawab paling sedikit
4 pertanyaan berikut:
1) Tujuan pendidikan apa yang ingin dicapai?
2) Pengalaman belajar apa yang perlu disediakan untuk mencapai tujuan tersebut?
3) Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?
4) Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?
Dalam makalah ini keempat pertanyaan tersebut digunakan untuk membahas kurikulum
berbasis kompetensi (KBK) mata pelajaran metematika untuk jenjang sekolah dasar
(SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah tingkat atas (SMA).

1. Tujuan Pendidikan Matematika
Kompetensi dalam KBK dapat dimasukkan kedalam jawaban terhadap pertanyaan ”
Tujuan pendidikan apa yang ingin dicapai?” Kompetensi sendiri diartikan sebagai
kemampuan seseorang untuk berpikir, berbuat, dan bersikap secara ajeg (konsisten).
Artinya seluruh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajari siswa harus
berwujud dalam bentuk pikiran, perbuatan, dan perilaku siswa yang relatif bertahan lama.
Dalam pengertian kompetensi ini, terdapat dua unsur yang menjadi ciri kompetensi: 1)
Keteramatan, dan 2) Kebertahanan. Artinya, kompetensi itu harus dapat dilihat dan dapat
bertahan dalam waktu yang relatif lama. Misal seseorang dikatakan memiliki kompetensi
menjahit. Ia tidak cukup menunjukkan hasil tes pengetahuan tentang menjahit, tetapi
harus menunjukkan praktek menjahit itu sendiri dan dapat menunjukkannya kapan saja ia
diminta.
Dalam matematika, kompetensi mengandung dua aspek: aspek material dan aspek
formal. Aspek material menggambarkan penguasaan konsep dan keterampilan sedangkan
aspek formal menggambarkan pengembangan nalar siswa (formal ----- to form =
membentuk). Selama ini pembelajaran matematika lebih menekankan aspek material
daripada aspek formal. KBK menghendaki pengembangan keduanya, bahkan dapat
dikatakan lebih pada aspek formal, sebagaimana disebutkan dalam dokumen KBK
matematika bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:
      1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam penarikan kesimpulan misalnya melalui
         kegiatan penyelidikan, eksplorasi, ....................;
      2. .... mengembangkan pemikiran divergen ....;
      3. Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah;
      4. Mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui ...
         grafik, diagram, ....


1
    Staf Teknis Pusat Pengembangan Kurikulum Depdiknas Jakarta.
Coba bandingkan tugas pada kolom sebelah kiri dan kolom sebelah kanan berikut. Apa
perbedaan dampak terhadap berpikir siswa dari tugas pada masing-masing kolom?


 Carilah hasilnya                          Dengan angka 2, 3, 5, dan 6, penjumlahan
                                           bilangan 2 angka mana saja yang dapat kamu
                    26                     susun?
                    35 +                   Bagaimana angka harus disusun agar hasil
                    ....                   penjumlahannya terbesar?


Tugas pada kolom kiri menuntut siswa untuk mengingat tidak lebih dari 2 hal: 1) hasil
jumlah bilangan 1 angka, yaitu 6 + 5, 1 + 2, dan 3 + 3; 2) teknik menyimpan untuk
penjumlahan 2 bilangan yang hasilnya 10 atau lebih. Dua hal ini termasuk aspek material.
Sedangkan tugas pada kolom kanan, selain dituntut 2 hal di atas, siswa dituntut 2 hal
lainnya, yaitu 1) berpikir alternatif, yaitu menemukan berbagai kemungkinan bentuk
penjumlahan 2 bilangan 2 angka; dan 2) menemukan susunan angka yang menyebabkan
hasil penjumlahan menjadi terbesar. Belum lagi bila pertanyaan ”Mengapa susunan itu
menyebabkan hasil terbesar?” ditambahkan setelah menemukan susunan angka tersebut.
Pertanyaan terakhir ini menuntut siswa untuk ’berargumentasi’. Mereka menemukan
hubungan antara susunan angka dan hasil jumlah. Dua hal tambahan ini merupakan
kemampuan matematika yang beraspek formal. Dengan perkataan lain, tugas pada kolom
kanan mengembangkan kedua aspek sedangkan tugas pada kolom kiri hanya aspek
material dari kemampuan matematika. Dengan kata lain pula, dalam KBK materi
pelajaran matematika harus diolah/disajaikan dalam bentuk seperti pada kolom kanan.
Mungkin tidak semua materi dapat diolah seperti itu, namun bagi materi yang mungkin
’mengapa tidak?’.

Untuk mengahadapi masa depan, yang ditandai dengan munculnya berbagai perubahan,
maka tampaknya tujuan pembelajaran matematika harus lebih diarahkan ke aspek formal,
mengingat aspek material sudah banyak ”dikuasai ” oleh mesin. Aspek formal lebih
mendidik siswa untuk:

      Berpikir logis: berpikir ’jika ..., maka ...’
      Berpikir sistematis: berpikir runtut
      Berpikir analitis: melihat pola, hubungan
      Berpikir sintesis: kreatif
      Berpikir alternatif: menemukan cara lain

Berbagai kemampuan berpikir tersebut lebih memungkinkan siswa dapat memecahkan
masalah yang dihadapi, baik dalam matematika, mata pelajaran lain, dan diharapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perkataan lain, dalam matematika semua
pengetahuan yang diperoleh harus bermuara pada kemampuan memecahkan masalah.




                                                                                        2
Bagaimana dengan Anda selama ini mengajar matematika: lebih mengembangkan aspek
material atau aspek formal? Apakah sekarang jelas mengapa siswa mengalami kesulitan
dalam menghadapi persoalan matematika yang menuntut berpikir analitis dan sintesis?


2. Metode/Kegiatan Pembelajaran
Paling sedikit terdapat 3 istilah yang perlu dipahami perbedaannya: 1) tahu, 2) paham,
dan 3) mampu. Seseorang dianggap mengetahui sesuatu bila dapat menyebutkan atau
mengatakan kembali apa yang diketahuinya. Ia menyebutkan/menjelaskan apa yang
diketahuinya itu persis seperti kata-kata orang yang menyampaikan kepadanya atau
seperti apa yang tertulis dalam buku yang ia baca. Sedangkan paham ditandai dengan
seseorang dapat menjelaskan kembali apa yang diketahui dengan kata-katanya sendiri.
Jika ia tidak dapat menjelaskan, ia dapat memberi contoh atau bukan contoh tentang
konsep yang diketahuinya, sebagai pengganti dari ketidakmampuannya menjelaskan.
Seseorang dikatakan ’mampu’ bila ia dapat melakukan sesuatu yang diketahuinya.



           tahu                 dapat menyebutkan

        paham                    dapat menjelaskan dengan kata-katanya sendiri
                                 dapat memberi contoh dan/atau bukan contoh

       mampu                    dapat melakukan



Tuntutan tentang hasil belajar siswa dalam KBK adalah berupa kompetensi, sesuatu yang
lebih menggambarkan apa yang dapat dilakukan, yaitu ’mampu’, daripada apa yang
diketahui siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang bagaimana yang diperkirakan
dapat menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi?

Jelas, pembelajaran yang didominasi ’ceramah guru’ agak sulit untuk diharapkan
menghasilkan siswa dengan ciri seperti itu. Sebaliknya, pembelajaran yang menyediakan
siswa banyak kesempatan untuk berbuat, berlatih, dan berdiskusi dengan guru maupun
temannya lebih memungkinkan menghasilkan siswa yang memiliki kompetensi. Banyak
mengerjakan latihan soal, sebagaimana yang sekarang terjadi, memang dapat menjadikan
siswa ’dapat melakukan’, namun sering terbatas pada pemecahan persoalan yang pernah
atau mirip dengan yang pernah dipecahkan. Sedangkan untuk persoalan baru, siswa
sering ’terseok-seok’ bahkan tak mampu menyelesaikannya.

Hal ini berarti siswa tidak memiliki ’cara berpikir umum’ yang relatif dapat digunakan
dalam memecahkan berbagai situasi persoalan. Cara berpikir itu adalah seperti yang
disebut di atas, yaitu berpikir logis, berpikir sistematis, berpikir analitis (melihat pola,
hubungan), berpikir sintesis (kreatif), dan berpikir alternatif. Cara berpikir seperti ini lahir
dari bagaimana cara kita (guru) mengolah materi matematika.




                                                                                              3
Paling sedikit terdapat tiga cara mengolah materi matematika agar siswa memiliki
kemampuan baik yang beraspek material terlebih aspek formal: nuansa penyelidikan,
penemuan, dan pemecahan masalah.


Penyelidikan
Suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengamati pengaruh suatu variabel
terhadap variabel lain.

 Topik/Konsep           Nuansa Biasa                     Nuansa ’Penyelidikan’
                Jika diketahui panjang suatu     Apa yang terjadi dengan luas
 Luas           persegipanjang 6 cm dan          persegipanjang jika panjang dan
 persegipanjang lebar 4 cm, berapakah luas       lebarnya diperbesar 2 kali? 3 kali?
                persegipanjang itu?              dari semula?
                Diketahui jari-jari sebuah       Apakah luas suatu lingkaran menjadi
 Luas lingkaran lingkaran sama dengan 7 cm,      2 kali semula bila jari-jarinya
                berapakah luas lingkaran itu?    diperbesar 2 kali? menjadi 3 kali bila
                                                 diperbesar 3 kali? dan seterusnya.
 Volum balok                   ?                                    ?

Pada contoh pertama siswa didorong untuk mengamati pengaruh variabel ukuran panjang
dan lebar terhadap luas persegipanjang. Pada contoh kedua, mengamati pengaruh variabel
ukuran jari-jari terhadap luas lingkaran.

Penemuan
Suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan pola/keteraturan,
hubungan, rumus, bangun, atau cara. Berpikir alternatif dapat dikategorikan kedalam
’penemuan’ karena siswa menemukan cara lain memecahkan suatu persoalan.
 Topik/Konsep            Nuansa Biasa                     Nuansa ’Penemuan’
                 Dari 1, 4, 9, dan 16, manakah   Bilangan manakah berikutnya?
 Bilangan        yang termasuk bilangan           1, 4, 9, 16, ...
                 genap?                           2, 6, 12, 20, ...
                 Apa nama bangun berikut:        Bangun apa berikutnya?
 Bangun datar
                     ,,   ,     , dan               ,    ,     ,    ,    , ...


 Keliling        Berapa luas lingkaran yang      Apa yang dapat kamu temukan dari
 Lingkaran       bergaris tengah 14 cm?          perbandingan keliling dan diameter
                                                 suatu lingkaran?

 Rata-           Berapa rata-rata dari           Lima bilangan mana saja yang rata-
 rata/’Mean’     3, 4, 5, 6, dan 7?              ratanya 5?




                                                                                          4
Pemecahan masalah
Suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan terlebih dahulu
cara/strategi/hubungan sebelum menyelesaikan suatu masalah matematika.
 Topik/Konsep            Nuansa Biasa              Nuansa ’Pemecahan Masalah’

                         2/3 – 1/4 = ...
                         3/4 – 1/3 = ...

 Pecahan                                             2/3          3/4          ?
                  Berapa bagian yang             Berapa bagian yang dihitamkan
                  dihitamkan berikut?            berikut?




                                                 Buku Ani 2 buah lebih banyak dari
 Bilangan bulat            6 – 4 = ...           buku Ucok. Buku Ani 6 buah. Berapa
                                                 buah buku Ucok?


Soal pada kolom tengah sudah menunjukkan kejelasan tentang apa yang diperbuat siswa,
yaitu ’mengurangkan’ atau membilang. Sedangkan soal pada kolom paling kanan
menuntut siswa untuk menemukan terlebih dahulu ’logika’/cara penyelesaian sebelum
menyelesaikannya. Soal tidak memberikan kejelasan apa yang harus dilakukan siswa.
Namun, soal ini dapat saja tidak merupakan soal pemecahan masalah lagi bila siswa telah
mengetahui apa yang harus dilakukan karena misalnya pernah menyelesaikannya
sebelumnya.

Sejumlah materi/konsep matematika mungkin lebih cocok/mudah diolah ke nuansa
penyelidikan, sedangkan yang lainnya ke nuansa penemuan atau pemecahan masalah;
atau mungkin terdapat konsep yang dapat diolah kedalam dua bahkan ketiga nuansa
tersebut.

Pengolahan materi seperti itu mungkin lebih didasarkan pada pandangan filsafati
terhadap matematika sebagai ’kegiatan manusia’ ketika menghadapi masalah, sehingga
dalam pembelajarannya siswa didorong untuk berpikir sendiri, menemukan sendiri, dan
berani/terbiasa mengungkapkan pendapat. Sedangkan pengolahan materi yang lebih
mengembangkan aspek material lebih didasarkan pada pandangan matematika ’sebagai
alat’ sehingga dalam pembelajarannya siswa diberitahu tentang bahan kajian matematika
(rumus dan sebagainya), dijelaskan bagaimana menggunakannya, dan kemudian diminta
berlatih menggunakannya. Pandangan pertama menyebabkan siswa pasif, sedangkan
yang kedua menyebabkan siswa aktif dalam belajarnya. Keadaan tersebut digambarkan
secara diagramatik sebagai berikut:




                                                                                      5
                                            Suasana Belajar        Kondisi Siswa      Aspek
                                                                                    kemampuan

                   Mat = Alat            Menerima informasi           Pasif        Material
                                         Mengerjakan latihan
Pandangan ttg
Matematika
                   Mat =                 Menyelidiki                  Aktif        Material
                   Kegiatan manusia      Menemukan                                 Formal
                                         Memecahkan masalah



3. Penilaian
Dari mana kita mengetahui bahwa seseorang memiliki kompetensi tertentu? Kita dapat
mengenalinya paling sedikit dari tiga hal: unjuk kerja, produk, dan perilaku yang ditampilkan.

Sebagaimana kita ketahui, penilaian adalah proses pengumpulan informasi tentang kemampuan
yang dicapai siswa. Jika target yang dituntut dalam tujuan pendidikan di atas adalah ’unjuk kerja’
atau ’apa yang dapat dilakukan siswa’, maka penilaian yang cocok untuk itu adalah penilaian
yang dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan kemampuan dan
perilakunya. Penilaian seperti itu lebih cocok dialamatkan pada penilaian melalui unjuk kerja dan
produk.

Penilaian unjuk kerja
Penilaian unjuk kerja adalah penilaian terhadap tindakan/’action’ siswa pada saat siswa
melakukan tindakan itu. Misalnya memainkan alat musik, menari (Seni), berbicara (Bahasa),
berbagai gerak (Pendidikan Jasmani), menggunakan alat-alat percobaan (IPA) atau alat-alat
pertukangan (Kerajinan tangan): secara efisien dan aman, atau hal umum seperti
kerjasama/partisipasi dalam kerja/diskusi kelompok, merupakan contoh-contoh tindakan siswa
yang cocock dinilai melalui penilaian unjuk kerja. Kemampuan matematika apa yang cocok
dinilai melalui penilaian unjuk kerja?

Menggunakan alat ukur/gambar (penggaris, busur, jangka), misalnya, merupakan kemampuan
yang cocok dinilai melalui penilaian unjuk kerja. Unjuk kerja adalah hal yang dinilai sedangkan
caranya adalah dengan mengamati (observasi) unjuk kerja tersebut. Untuk pelajaran matematika,
penilaian unjuk kerja yang bersifat fisik mungkin tidak terlalu banyak digunakan. Unjuk kerja
dalam bentuk ’berpikir’(= unjuk pikir ?) seperti berpikir logis, sistematis, dan sebagainya
tampaknya lebih cocok untuk kelompok penilaian ini. Cara berpikir ini dapat dilihat dari cara
siswa menyelesaikan suatu masalah dalam matematika.

Penilaian produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap hasil kerja siswa. Karangan, laporan hasil kerja
proyek, atau hasil karya yang dikumpulkan sebagai portofolio dapat dikategorikan sebagai produk
siswa. Penilaian produk biasanya dilakukan terhadap hasil belajar yang berkaitan dengan
’pembuatan barang-barang praktis’ atau ’ekspresi seni’. Dua aspek yang biasanya dinilai dari
suatu produk adalah fungsi dan estetika (keindahan). Bagaimana dengan matematika, apa saja
yang dapat dinilai dengan penilaian produk? Rumus yang ditemukan siswa atau alaternatif lain
penyelesaian suatu masalah dapat dikategorikan sebagai produk, dan oleh karena itu dinilai
melalui penilaian produk.




                                                                                                6
                                Kepustakaan


1. Depdiknas (2003), Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran
   Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.
2. Depdiknas (2003), Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran
   Matematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.
3. Depdiknas (2003), Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran
   Matematika Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah.
4. Forster, M. Dan Masters, G.(1996), What is Performance Assessment?. Australia:
   The Australian Council for Educational Research Ltd.
5. ………………(?), What is Product Assessment?. Australia: The Australian
   Council for Educational Research Ltd.
6. R. Ibrahim dan Benny Karyadi (1991), Pengembangan Inovasi dan Kurikulum.
   Jakarta: Universitas Terbuka.
7. R. Soedjadi, PMRI Memungkinkan Tumbuhnya Budaya Demokrasi. Buletin
   PMRI, edisi II, Oktober 2003.




                                                                                7

								
To top