Docstoc

pola asuh

Document Sample
pola asuh Powered By Docstoc
					Nama : Angga Permana P.
NIM    : 0601981
Psikologi Abnormal
                                          Pola Asuh


      Perkembangan seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan yang
terdekat, yang paling awal dan yang terlama dialami seseorang adalah lingkungan keluarga.
Dan dalam lingkungan keluarga tersebut, yang memiliki andil atau pengaruh terbesar dalam
perkembangan seorang anak salah satu diantaranya adalah pola asuh orangtua. Bagaimana
cara orangtua mendidik dan mengasuh sang anak, dapat menentukan baik-buruknya
perkembangan anak.
      Pola asuh orangtua menurut Diana Baumrind yaitu, pola asuh, permisif indifferent,
permisif indulgent, otoriter, dan otoritatif. Akan tetapi yang akan dibahas di sini adalah pola
asuh otoriter. Pola asuh otoriter merupakan pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan,
keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh
anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orangtua akan emosi dan marah jika anak
melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orangtuanya. Hukuman mental
dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan
disiplin serta menghormati orangtua yang telah membesarkannya.
      Idealnya, anak hasil didikan orang tua otoriter lebih bisa mandiri, bisa menjadi orang
sesuai keinginan orang tua, lebih disiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani
hidup. Akan tetapi, pola asuh otoriter ini biasanya lebih sering menyebabkan anak tidak
bahagia, paranoid/selalu berada dalam ketakutan, mudah sedih dan tertekan, senang berada di
luar rumah, benci orangtua, dan hal-hal negatif lainnya.
      Contoh kasusnya (saya ambil dari komik “Godhand Teru) adalah tentang seorang anak
yang bernama Takeru, yang dibesarkan orang tuanya dengan keras, tanpa memperoleh kasih
sayang yang dibutuhkannya, kesenangan dan kegembiraan bermain dengan teman sebayanya.
Setiap hari ia harus berlatih bermain piano tanpa henti, bahkan saat sakit sekalipun.
Orangtuanya menginginkanya menjadi pianis terkenal meneruskan jejak mereka. Pada suatu
saat, saat ia sakit, orangtuanya malah pergi konser ke luar negeri tanpa menjenguknya.
Bahkan saat mereka pulang pun, yang ditanya pertama kali bukanlah keadaannya. Akan
tetapi, mereka malah bertanya apakah ia tidak bolos latihan, dan langsung menguji
kemampuan bermainnya. Pada saat ia protes, orangtuanya malah mengatakan agar ia jangan
egois, karena semua itu demi dirinya dan mereka tidak butuh anak yang membolos latihan.
      Pada kasus pola asuh otoriter, orangtua sering memaksakan kehendak mereka. Mereka
beranggapan bahwa semua yang mereka lakukan adalah demi anaknya. Mereka seakan-akan
lebih tahu apa yang terbaik bagi anaknya, tanpa mereka mempedulikan perasaan dan
keinginan si anak. Sering terjadi, mereka menetapkan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh
anak, dan tidak akan segan-segan menghukum si anak apabila tidak mematuhi aturan-aturan
tersebut (biasanya dalam bentuk hukuman fisik).
      Dengan pola asuh semacam ini, anak akan kehilangan jati dirinya. Karena semua yang
mereka lakukan telah diatur, sehingga anak tidak dapat mengekspresikan dirinya. Selain itu,
anak juga akan cenderung kurang berinisiatif. Karena apa yang akan mereka kerjakan sudah
diatur oleh orangtua mereka. Tugas mereka hanya patuh dan melakukan apa yang telah
diperintahkan kepada mereka. Mereka seakan-akan hanyalah sebuah robot yang dikendalikan
oleh para orangtua.
      Seperti pada contoh kasus di atas, Takeru dipaksa orang tuanya untuk terus berlatih
bermain piano, meskipun itu harus mengorbankan waktunya bermain, dan bersenang-senang
bersama teman-teman sebayanya. Bahkan di saat sakit sekalipun, ia tidak boleh bolos latihan
piano. Dan ia akan dihukum jika tidak melaksanakannya, bahkan dianggap tidak dibutuhkan
sebagai seorang anak.
      Selain itu, dengan pola asuh otoriter tersebut akan membuat anak menjadi tertekan dan
menjadi pribadi yang tertutup (introvert). Apalagi dengan terus-menerus berlatih piano,
menyebabkan Takeru menjadi kurang bergaul dengan teman sebayanya atau kurang
bersosialisasi. Sehingga dapat menyebabkan Takeru menjadi pribadi yang tertutup, dan
kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi kurang berkembang dengan baik. Hal ini
pada akhirnya, tanpa disadari dapat membuat seorang anak menjadi minder dan kurang
percaya diri.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1863
posted:12/4/2009
language:Indonesian
pages:2