Docstoc

anxiety disorders

Document Sample
anxiety disorders Powered By Docstoc
					 Anxiety Disorders
  Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Abnormal




                                Oleh:
                 Nur Fitriani           (054576)
                 Fahmie Sugihharti R. (054705)
                 Hendi Fauzi K S        (054470)




           JURUSAN PSIKOLOGI
   FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
                            2007


                                -1-
                                      BAB I
                                 Pendahuluan
I.1   Latar Belakang
       Di dalam budaya modern ini, setiap manusia sering sekali dihadapkan pada
suatu keadaan yang sama sekali tidak mengenakan dan mengancam bagi dirinya.
Yaitu suatu perasaan ketakutan yang berlebihan akan masa yang akan dilaluinya.
Perasaan tersebut timbul dan mengganggu pemikiran, perasaan dan bahkan sampai
berpengaruh terhadap fisiologisnya. Perasaan tersebut sering disebut rasa cemas.
       Kecemasan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia. Semua
orang dipastikan pernah atau bahkan sering mengalami kecemasan. Sebagian besar
dari manusia merasa cemas dan tegang dalam menghadapi situasi yang mengancam
dan menekan dirinya. Ancaman dan tekanan yang dialami oleh manusia itu berbeda-
beda satu sama lain, sehingga tingkat kecemasannya pun berbeda-beda.
       Pada dasarnya reaksi kecemasan merupakan hal yang normal sebagai suatu
reaksi terhadap stress. Artinya, seseorang yang merasa cemas itu merupakan hal
yang wajar dan manusiawi karena dengan kita memiliki reaksi kecemasan ini
terkadang kita terhindar dari bahaya yang lebih besar dari apa yang kita cemaskan
atau kita terdorong untuk dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya kita anggap kita
tidak bisa melakukanya. Walaupun demikian kecemasan juga bisa dianggap abnormal
bila terjadi dalam situasi yang oleh kebanyakan orang dapat diatasi dengan mudah,
tetapi oleh diri yang bersangkutan dipandang sebagai sebuah situasi yang teramat
sulit, sehingga membuat kehidupanya terganggu dan lebih jauh mengganggu
kehidupan sosilnya.
       Dengan melihat begitu pentingnya masalah tidak normalnya kecemasan ini
maka kami (penyusun) mencoba mengkaji diaharapkan setelah kita mengetahui
bagaimana gangguan kecemasan ini nantiya disamping kita dapat mengetahui
penderitanya lebih jauh lagi kita dapat memberikan pertolongan kepadanya.




                                        -2-
I.2      Tujuan
         Tujuan yang ingin dicapai adalah
      1. Memberikan gambaran mengenai kecemasan secara umum.
      2. Memberikan gambaran mengenai gejala-gejala dari reaksi kecemasan yang
         terganggu.
      3. Menyampaikan beberapa perspektif mengenai kecemasan dan terapi yang
         dapat dilakukan.


I.3    Rumusan masalah
       1. Bagaimana Pengertian Kecemasan secara umum?
       2. Gejala gangguan kecemasan
       3. Bagaimana persfektif keilmuan melihat penomena gangguan kecemasan.




                                        -3-
                                       BAB II
                                   Pembahasan
II.1 Pengertian Kecemasan
       Banyak sekali literatur-literatur yang menkhususkan diri membahas mengenai
kecemasan, dalam kebudayaan modern, dan dalam tulisan para ahli filsafat yang
berjuang dengan pertanyaan eksistensial. Diungkapkan bahwa Kecemasan dimulai
dari rasa takut, apakah akan― dihadapi atau dihindari ―.Lang, Bradley, dan Cuthbert,
1998; Nesse’ 1998.
       Kecemasan dan panik berbeda satu sama lain, walaupun keduanya dijalin
dengan emosi takut. Kecemasan adalah sebuah perasaan ketakutan dan menggerogoti
pemikiran tentang penderitaan dan ancaman bahwa hidup di masa depan kadang-
kadang tidak jelas.
       Kecemasan dimulai dengan respon takut yang mengalihkan arah kedalam
keraguan, kewaspadaan sebagai tanda ancaman dan suatu perasaan kronis terhadap
kegelisahan.
       Di dalam serangan panik, penggerakan sistem ketakutan meletus dengan kuat
dan tiba-tiba dan mengerahkan seseorang untuk melarikan diri. Seseorang memiliki
serangan panik, memiliki gejala seperti debaran jantung dan pemendekan nafas dan
perasaan pada kondisi yang darurat untuk membuat sebuah tawaran akhir
keputusasaan sebagai jalan keluar yang merupakan bencana besar yang merugikan.
Brown, Marten dan Barlow ; 1995; Joiner, Steer, Beck, et al.,1999.
       Sampai tahun 1980, gangguan kecemasan dikelompokan dengan somatoform
dan gangguan disosiative. Pada abad ke 18 oleh seorang dokter Scotlandia, William
Cullen, untuk menguraikan suatu kerusakan pada nervous sistem yang menghasilkan
perilaku ― nervous‖. Sepanjang abad yang ke 19 orang-orang yang ― sehat ingatan‖
tetapi meskipun demikian perilaku self-defeating telah diberi label neurotic dan
diasumsikan sebagai korban dari beberapa ketidak berfungsian neurogical yang tidak
diketahui. Kemudian, mulai disekitar abad ke 20, pandangan biogenic ini secara
berangsur-angsur digantikan oleh pandangan Psychogenic Freud. Menurut freud,
neurosis ada bukan disebabkan oleh organic, tetapi, melainkan oleh kecemasan.
Seperti penekanan memori dan keinginan yang mengancam untuk memutuskan
kedalam alam sadar. Kecemasan terjadi sebagai isyarat bahaya kepada ego. Perilaku




                                        -4-
neurotic yang manapun merupakan ungkapan mengenai kecemasan atau sebuah
pertahanan melawan kecemasan.
        Banyak orang-orang menolak pada klasifikasi ini. Oleh karena itu sebagai
jawaban ini DSM-III 1980 menghapuskan ―Neurosis‖ dan menghapuskan ―
gangguan Neurosis ― kedalam kategori yang berbeda, berdasarkan pada pola perilaku
mereka yang berbelit-belit. Istilah neurosis masih luas digunakan dalam tulisan
psychodinamic, dan kesehatan mental profesional menunjukan bahwa gangguan
kecemasan, tidak sama dengan Schizoprenia. Orang-orang dengan gangguan
kecemasan mungkin salah menafsirkan atau bertindak melebihi batas terhadap
stimulus tertentu yang berhubungan dengan permasalahan psikologis mereka, tetapi
secara umum mereka melihat dunia sama seperti pandangan kita dan dalam banyak
kasus mereka masih bisa berpergian rutin, melanjutkan percakapan dengan layak,
mulai bekerja dengan baik dan berhubungan dengan orang lain, dan seterusnya.


II.2 Gangguan kecemasan Umum
       Pada dasarnya, orang dengan gangguan kecemasan umum mengalami kondisi
khawatir, sebagaimana mereka secara terus menerus mengharapkan hal yang terburuk
dan menantikan sesutu yang menyeramkan untuk terjadi, yang manapun terhadap
dirinya atau orang-orang yang peduli kepada mereka. Kondisi psikologis mereka
tercurah keluar kedalam kognitifnya dan fungsi psikologis, dan mereka merasakan
resah, tajam dan lekas marah : memiliki kesulitan konsentrasi; mudah lelah; dan sulit
untuk tidur dan penderita mengalami penyakit tegang otot kronis Thayer, Friedman,
dan Borkovec, 1996.
       Kelompok yang paling banyak menderita
       Gangguan menjadi terus meningkat umumnya antara orang-orang yang lebih
tua dari 35 tahun Thayer, Friedman, dan Borkovec, 1996. Orang-orang yang
dipisahkan, diceraikan, atau menjanda memiliki resiko yang lebih tinggi  Witchen
dan Hoyer, 2001.


II.3 Gejala gangguan Kecemasan
       Gangguan kecemasan mencakup sekelompok gangguan dimana rasa cemas
merupakan gejela utama atau kecemasan dialami bilamana individu berupaya
mengendalikan perilaku maladaptif tertentunya. Terdapat tiga pola dasar yaitu



                                        -5-
Phobia, gangguan stress akut, dan gangguan stress posttraumatic yang melibatkan
suatu ketakutan yang dibangun oleh suatu situasi atau objek yang bisa diidentifikasi.
         Phobia
          Phobia memiliki dua komponen :
1. Suatu ketakutan yang kuat dan menetap pada sebuah objek atau suatu situasi.
2. Penghindaran stimulus yang phobic.
          Dalam beberapa hal, suatu stimulus yang phobic sepenuhnya nampak aman.
Biasanya stimulus yang membawa suatu sugesti awal yang bahaya, untuk contoh,
sesuatu yang bisa menjadikan seorang anak kecil takut seperti anjing, serangga, ular
atau tempat tinggi. Orang-orang nonphobic mungkin juga menghindari berbagai hal
ini. Perbedaan antara reaksi nonphobic dengan reaksi phobic adalah, pertama, salah
satu contohnya; orang yang normal mungkin merasakan ketakutan ketika melihat
seekor ular. Seseorang yang phobia ular menunjukan taraf           kecemasan seperti
meningkatnya kecepatan detak jantung, berkeringat, dan demikian seterusnya dan
mungkin terdapat suatu serangan panik saat melihat ular.
          Phobia terbagi kedalam dua jenis : Phobia spesifik, atau ketakutan tentang
situasi atau objek yang dibatasi dan phobia sosial, atau ketakutan pada kebingungan
sosial.
          Phobia spesifik adalah sebuah ketakutan, tanpa pertimbangan nyata tentang
objek atau situasi tertentu. Tipe spesifik phobia diantaranya, achropobia, takut pada
ketinggian.
          Phobia sosial, orang-orang yang menderita phobia sosial dari pengalaman,
kegelisahan akut, ketakutan, dan kebingungan ketika berhadapan dengan orang lain.
Reaksi dari phobia sosial ialah menghindari melakukan tindakan tertentu di depan
orang lain, karena takut mempermalukan atau menghina diri mereka. Phobia sosial
ini begitu mengikis kepercayaan diri.
          Hasil penelitian gaya pengasuhan orang tua menjadi resiko yang tinggi untuk
menjadi phobia sosial. Orang tua yang terlalu over protective tanpa menjadi
penyokong emosional; orang tua yang terlalu perhatian dengan pakaian, tatakrama,
dll; dan orang tua yang menakut-nakuti anak-anak dari sosialisasi, mencegah dari
pelajaran keterampilan sosial dan pengasuhan ketakutan sosial—tiga pola ini sering
dilaporkan oleh mereka yang memiliki phobia sosial Bruch dan Heimberg, 1994.
          Kelompok yang paling banyak menderita



                                          -6-
        Phobia spesifik sering dimulai pada usia anak-anak, berarti terjadi pada usia
antara 11 dan 17 tahun Boyd, rae, Thompson, dkk, 1990. Sedangkan untuk phobia
sosial umumnya terjadi pada awal masa remaja. Semakin sedikit pendidikan dan
wawasan seseorang, maka semakin besar resiko terjadi phobia, baik itu phobia
spesifik ataupun phobia sosial Magee, Eaton, Witchen, et,al, 1996
   Gangguan Obsessive – Compulsive
        Sebuah obsesi adalah suatu pemikiran atau gambaran yang terpelihara, dan
mengganggu kedalam kesadaran seseorang. Orang menemukan pemikiran yang
menyusahkan dan tidak pantas dan mencoba untuk menekannya, tetapi tetap
terpikirkan kembali.
        Gejala obsessive- compulsive ringan merupakan hal yang umum dalam
populasi Gibbs, 1996, obsesi yang paling umum berputar disekitar dorongan agresif
dan ketakutan terhadap pencemaran Summerfeldt, Antony, Downie, et,.al, 1997.
        Compulsive, meskipun mungkin obsessive dan compulsive hampir sama
yaitu mengganggu dan berpikir hal yang tidak logis, compulsive disini maksudnya
cenderung lebih natural. Untuk contoh, compulsive yang umum pada saat sedang
ritual membersihkan dan ritual mengecek Khanna dan Mukhrejee, 1992; Rachman
dan Hodgoson,1980.
        Pasien obsessive compulsive kadang-kadang menunjukan reaksi depresi,
kesalahan, kemurungan, mereka betul-betul menujukan kecemasan  Gibbs, 1996.
        Kelompok yang paling banyak menderita
        Gangguan pada umumnya terjadi pada masa remaja awal atau awal masa
muda Burke, Regier, dkk, 1990.
   Posttraumatic stress disorder PTSD
        Gangguan posttraumatic stress adalah beberapa reaksi psikologis, menetap
sedikitnya satu bulan, dan menyertakan perasaan ketakutan yang teramat sangat,
ketidakberdayaan, atau kengerian, untuk peristiwa traumatik yang keras. Peristiwa itu
nyata atau mengancam kematian dan kerugian serius kepada dirinya. Seperti
peristiwa perkosaan, penyergapan, bencana alam seperti gempa dan tsunami, dan
lain-lain.
        PTSD berbeda dengan gangguan kecemasan yang lainnnya, dalam arti bahwa
sumber tekanannya merupakan suatu peristiwa eksternal yang menyakitkan, sehingga




                                        -7-
reaksi orang, berpikir mungkin menyerupai gangguan kecemasan yang lain, nampak
sampai tarap tertentu dapat dimengerti. Meskipun demikian sangatlah melemahkan.
       Orang bisa terus mengingat peristiwa trauma tersebut bisa satu minggu, satu
bulan atau bahkan tahunan. Stimulus yang mengingatkan korban kepada peristiwa
yang traumatis dapat menyebabkan korban PTSD untuk              kembali membawa
psikologisnya kepada peristiwa traumatis.
       Ironisnya, semakin seseorang mencoba untuk menghindari fisik dan emosinya
terhadap ingatan traumanya, semakin mungkin dia malah memiliki ― efek
pengingatan kembali‖ dengan suatu asa yang berlawanan meningkatkan kilas balik
dan mengganggu memori.Gejala PTSD biasanya nampak tidak lama sesudah trauma
itu. Dalam beberapa hal, bagaimanapun, ada suatu ―masa inkubasi‖ berhari-hari atau
bahkan berbulan – bulan setelah peristiwa.
       Kemungkinan terjadinya gangguan stress pasca trauma tergantung pada sifat
dasar dari trauma itu sendiri. Ditemukan hingga 65 persen pada wanita terjadi akibat
serangan seksual, 40 persen pada orang yang selamat dari kecelakaan kendaraan
bermotor, dan 15 persen pada veteran pertempuran vietnam.
       Karakteristik orang yang menjadi korban juga berperan dalam perkembangan
gangguan stres pasca trauma ini, seperti masih kecil pada saat trauma, kurang
berpendidikan, dan jenis kelamin.
   Gangguan Panik
       Dalam serangan panik, ketakutan yang kuat atau reaksi khawatir yang
berkembang sepenuhnya mulai dengan tiba-tiba dan segera memuncak memberangus
hampir pada tingkat yang tak tertahankan. Orang menjadi berkeringat, merasa pusing,
menggigil, dan sesak nafas. Nadi menjadi cepat dan jantung berdebar keras. Mual,
dada terasa sakit, perasaan tercekik, mati rasa, dan merasa panas atau dingin adalah
keadaan yang biasa.
       Orang yang dalam pengaruh serangan mungkin melihat dunia seperti tidak
nyata untuk mereka sendiri. Mereka juga memiliki perasaan datangnya ajal yang tak
terelakkan, mereka lepas kendali, menjadi gila atau mati. Serangan panik biasanya
terjadi dengan singkat, kejadian episodik itu terjadi dan mencapai puncaknya dalam
sepuluh menit.
       Menurut DSM-IV-TR, orang yang mengalami gangguan panik ketika kambuh
diikuti oleh masalah psikologis dan perilaku, seperti ketakutan menetap akan
serangan yang akan datang, khawatir akan akibat dari serangan, atau perubahan yang


                                        -8-
signifikan dalam perilaku sebagai hasil dari serangan. Akibatnya orang dengan
gangguan panik tidak dapat pergi kemana-mana seperti bekerja, menonton film, atau
pergi belanja ke supermarket, tanpa ketakutan terhadap serangan yang mungkin
terjadi di depan semua orang dan tidak ada pertolongan didekatnya.
   Agoraphobia: Ketakutan Lepas Kendali di Tempat Umum
        Komplikasi dari gangguan panik disebut agoraphobia. Secara harfiah,
agoraphobia berarti ‖takut berada di tempat belanja‖. Sebenarnya orang dengan
agoraphobia takut berada dalam situasi apapun karena kemungkinan untuk lari sulit,
dan ketakutan tidak akan ada orang yang menolongnya dalam keadaan simtom panik.
Agoraphobia ini seringkali didahului oleh fase serangan panik.


II.4 Gangguan Kecemasan Perspektif Teori dan Terapi
A. Perspektif Kognitif: Penilaian berlebihan terhadap Ancaman
        Proses kognitif berperan dalam perkembangan gangguan kecemasan. Para ahli
kognitif mengemukakan masalah mendasar dari gangguan kecemasan yaitu penilaian
mereka yang terlalu berlebihan terhadap bahaya. (Beck& Clark, 1997; Riskind &
Williams, inpress). Hal ini menjelaskan bahwa ketakutan menyebabkan persepsi
terhadap potensi bahaya yang terkadang kita dapat menyesuaikan diri terhadapnya.
        Kejadian pada masa anak-anak, termasuk hubungan kedekatan yang salah,
nampaknya mengarahkan individu dalam menghasilkan kognisi yang mudah
terpengaruh gangguan kecemasan dan masalah psikologis lainnya. Para ahli kognitif
menduga bahwa setiap tipe gangguan kecemasan jelas memiliki muatan kognitif.
Beberapa gangguan kognitif sebagian besar berpusat pada penilaian mereka yang
terlalu berlebihan terhadap ancaman dari luar, sementara yang lainnya terutama
berpusat penilaian dari dalam, seperti takut mendapat serangan jantung, Tapi semua
gangguan mungkin meliputi kedua macam ancaman tersebut pada tingkat tertentu.
Pobia
    1. Pobia Spesifik
        Menurut nilai kognitif, individu yang mengalami pobia spesifik menilai
bahaya secara berlebihan terhadap fakta objektif. Contohnya, orang yang takut pada
laba-laba cenderung memiliki banyak penyimpangan keyakinan terhadap rangsang
pobik, dalam hal ini adalah laba-laba. Orang yang memiliki pobia akan cenderung
membesar-besarkan ancaman.



                                        -9-
   2. Pobia Sosial
   Orang yang merasa cemas terhadap sosialnya cenderung takut mendapat keadaan
yang memalukan dirinya di depan umum. Mereka terlalu memfokuskan pada apa
yang seharusnya mereka dapatkan yang merupakan penyimpangan kesan mengenai
bagaimana orang lain melihat mereka.
Gangguan Kecemasan Umum
       Individu yang mengalami gangguan kecemasan umum menurut pandangan
kognitif ini adalah pikiran mereka didominasi oleh pikiran-pikiran mengenai sifat
mudah terkena ancaman yang mereka miliki. Perasaan takut mereka terhadap
ancaman membuat mereka waspada pada tanda-tanda bahaya tersebut.
       Orang yang mengalami gangguan kecemasan umum merasa dunia ini penuh
dengan ancaman, mereka tidak dapat menemukan rasa aman sedikitpun dengan
menghindari rangsangan spesifik secara fisik. Orang dengan gangguan kecemasan
umum seringkali membuat masalah mereka lebih buruk akibat dari kekhawatiran
mereka terhadap kecemasan mereka sendiri. Kekhawatiran seperti ini disebut
Well(1999) sebagai metaworry.
Gangguan Panik
       Model kognitif membantu menjelaskan fakta bahwa serangan panik dapat
disebabkan oleh kondisi-kondisi di laboratorium, dengan hasil yang mirip dengan
serangan alami. Selain itu, faktor kognitif juga membantu menjelaskan mengenai
bagaimana serangan panik akan mengembangkan agoraphobia, Berikut ini adalah
model kognitif dalam serangan panik.




                                       - 10 -
                                    Trigger stimulus
                                 (external or internal)




                                    Perceived threat




                Interpretation of                          apprehension
                 Sensations as
                 catastrophic




                                    Body sensation


       Menurut model ini persepsi yang salah pada sensasi fisik meningkatkan
sensasi dan mengarah pada serangan panik.
Gangguan Obsesif-Kompulsif
       Gangguan ini ditandai dengan gejala pengulangan pikiran, kata-kata, atau
perbuatan yang tampaknya tidak beralasan, yang irasionalitasnya disadari, namun
tidak dapat dicegah atau dielakkan oleh yang bersangkutan. Individu dengan
gangguan obsesif-kompulsif mengalami disstres yang kuat mengenai pikiran-pikiran
yang mengganggu. Hal ini sebagai hasil dari fungsi interpretasi dari pikiran-pikiran
yang mengganggu mereka.
Gangguan Stres Pasca Trauma
       Para ahli kognitif mencatat bahwa banyak orang yang membuka pengalaman
traumatik mereka seumur hidup, tetapi hanya sedikit saja dari mereka yang
mengalami gangguan stres pasca trauma. Para ahli ini menjelaskan bahwa membuka
kembali trauma yang pernah dialami dapat menghancurkan inti penerimaan/penilaian
mereka mengenai makna hidup dan keamanan mereka di alam/dunia.
       Individu membangun kembali anggapan mereka mengenai keamanan, makna
hidup, dan kesembuhan. Tapi untuk sebagian kecil penderita gangguan stres pasca


                                         - 11 -
trauma, kesembuhan tidak terjadi. Hal ini dikarenakan oleh anggapan bahwa dunia
adalah bahaya yang tidak dapat diperkirakan dan mereka tidak berdaya untuk
menghadapi bahaya tersebut.
Penanganan Kognitif pada Gangguan Kecemasan
       Terapi kognitif merupakan penanganan yang umum untuk gangguan
kecemasan. Pada tahun sebelumnya, terapi kognitif menghasilkan perbaikan yang
bertahan lebih lama. Keefektifan lainnya dari terapi kognitif meliputi pelatihan
keterampilan-keteranpilan sosial dan strategi relaksasi.
       Pendekatan kognitif dalam kecemasan ini mendapat kritik, yaitu pada daftar
pertanyaan yang dipakai dalam mengukur penilaian individu yang berlebihan
terhadap bahaya dinilai sebagai keadaan yang biasa terjadi pada depresi seperti
kecemasan. Kritik lainnya adalah proses emosi mungkin menggerakkan pusat otak
dengan rendah sebelum proses tingkat tinggi mempengaruhi. Sehingga, beberapa
reaksi mungkin tidak menengahi proses tingkat tinggi.


B. Perspektif Behavior
       Para ahli perilaku menekankan pada kondisi yang dapat diamati untuk reaksi
kecemasan dan keadaan mereka. Terapi perilaku untuk gangguan kecemasan
difokuskan pada menolong orang sehingga bisa mengatasi kecemasan dan
menghadapi rangsang takut.
Belajar Meninggalkan Kecemasan
       Dalam kajian gangguan kecemasan ini para terapis behavior telah
mengembangkan satu set teknik dalam mereduksi kecemasan dengan cara melawan
rangsangan-rangsangan yang menimbulkan rasa takut. Dalam tekniknya ini, klien
diarahkan untuk menggambarkan tingkatan kecemasan dan membayangkannya
dengan tetap, sementara otot-otot mereka mengalami relaksasi, sehingga klien
diharapkan dapat menghadapi rangsang takut dengan keadaan tenang.
       Ada juga teknik lain dalam terapi behavior ini, yaitu teknik terbuka. Dalam
terapi ini klien dihadapkan pada rangsang takut yang membuat individu tersebut
cemas. Terapi ini disusun untuk membantu individu yang mengalami kecemasan
untuk dapat melawan hal yang menjadi penyebab dari kecemasan tersebut.
Unlearning Anxiety
       Mengenai      gangguan    kecemasan        ini   para   terapis   berhavioral   telah
mengembangkan satu set tekhnik dalam mereduksi kecemasan dengan jalan


                                         - 12 -
―melawan‖ stimulus-stimulus yang menimbulkan rasa takut yang dalam bab 4
dikatakan sebagai Desensitisasi Sistematik.
       Dalam tekhnik ini klien diarahkan untuk menggambarkan tingkatan
kecemasan dan membayangkanya, satu semi satu sementara itu otot-otot mengalami
relaksasi, alternetifnya klient melakukan pendekatan pada hal yang menakutkanya
dalam kondisi relaksasi. Cara ini berfungsi pada pobia yang spesifik, tapi akhirnya
para terapis menemukan bahwa komponen dari training relaksasi ini sering tidak
terlalau penting.
       Klien dapat juga dibantu melalui tekhnik terbuka (exposure), atau konfrontasi
pada stimulus yang membuat seseorang merasakan cemas, Terapi exposure ini
mencakup sejumlah terkhnik yang disusun untuk membantu individu yang
mengalami kecemasan untuk melawan hal yang menjadi penyebab kecemasan yang
dirasakan, yang mendorong mereka untuk menghindar seperti pada objek tertentu,
situasi, memori, dan gambar. (FOA. 2000).
        Sebagai contoh exposure treatment untuk gangguan posttraumatic stress yang
dapat dibantu dengan jalan membayangkan (Imaginal) dan terknik exposure invivo.
       Imaginal membantu individu untuk melawan terhadap deskripsi emosional
dari bayangan, ingatan dan situasi yang menakutkan sementara exposure in vivo
memliputi penolakan seorang individu melalui pemberian faktor pobia melalaui
gambar. Saat exposure telah terbayangkan oleh klien melalui tekhnik in vivo ini,
sering menyebabakan ―kebanjiran‖, hal ini terjadi saat seseorang dihadapkan pada
stimulus yang menyebabakan ketakutan atau kecemasan sepanjang periode terapi.
        Exposure terapi merupakan treatment psikologi yang paling empiris untuk
PTSD (FOA 2000), dan merupakan treatmen kognitif untuk pobia dan gangguan
kecemasan yang lainya.
       Saat ini banyak yang tertarik mengenai pendekatan salah satunya adalah
EMDR (Eye Movement desensitization and Reprocessing) terapi untuk gangguan
kecemasan, dalam tekhnik ini klien diinstruksikan untuk menggerakan matanya dari
satu sisi ke sisi yang lain, semantara event visual yang dapat menganggu ditampilkan,
meskipun fakta yang ada baru-baru ini menunjukan tidak ada konstribusi khusus dari
pergerakan mata dari satu sisi ke sisi yang lain, dalam tekhnik EMDR ini kesuksesan
dari terapi dapat lebih banyak dalam hal effect desensitizing dari even yang dianggap
mengganggu.



                                        - 13 -
C. Neurosis dalam perspektif Psikodinamis
       Dalam sudut pandang psikodinamis gangguan kecemasan atau neuroses
berakar dari proses ketidaksadaran dan inner konflik, hal ini mengacu pada teori
psikodinamis penyebab dari suatu kecemasan yang dialami sejak masa kecil.
Akar Dari neurosis
       Freud menunjukan bahwa akar dari kecemasan tidak hanya berasal dari
bahaya eksternal tapi juga dari hal-hal yang dianggap dapat mengamcam daya tahan
ego dalam membuat id mencapai kepuasan, tanpa mengabaikan kenyataan dan nilai-
nilai dalan superego.
       Daya dorong dan daya tahan ini terus terjadi sepanjang kehidupan, dan sering
bekerja cukup baik, maka kecemasan yang diakibatkan oleh dorongan id tidak pernah
dialami secara sadar. Dalam beberapa kasus bagaimanapun kecemasan sangat sering
dialami secara sadar, dengan kadar yang lemah.         Kemungkinan lain hal ini
ditampilkan dengan jalan mekanisme pertahanan (Defence Mekanisme), hal ini
mengacu pada teori psikodinamis, khusus pada perilau menyimpang. dalam beberapa
kasus kecemasan tersebut dapat ditafsirkan -Freud katakana sebagai menerawang
bebas (Asosiasi Bebas)- dalam hal ini tdak ada pertahanan diri yang sulit dan apa
yang kita lihat murni sebagi suatu gangguan kecemasan, penyebabanya telah di tekan
tapi kecemasanya nampak.
       Dalam serangan      panik, penyebabnya -dalam hal ini dorongan id- lebih
tertutup dari batas kesadaran, hasilnya akan berakibat pada pembentukan kecemasan.
Dalam phobia struktur ego menahan atau menolak dengan keras kecemasan dengan
menempatkanya dengan cara yang dianggap tepat, sebagai contoh seorang anak laki-
laki yang mengalami kecemasan kastrasi kemungkinan akan menempatkan dorongan-
dorongan itu -dan disamarkan dari dirinya- dengan menunjukan perilaku takut pada
binatang ( seperti kuda atau anjing).
       Para pemikir aliran psikodinamis menjelaskan pula mengenai gangguan
obsessive Compulsive, dalam satu konsep tergantung pada simptom alami. Dalam
kasus ini seorang laki-laki yang terobsesi dan rasa takut bahwa dia kaan membunuh
istrinya saat tidur, psikodinamist akan menjelaskan bahwa aggresi tidak sadar telah
mendorongnya, akhirnya mncul pada kesadaran, disisi lain, ritual kebersihan dan
obsesi terhadap kuman akan diinterpretasikan sebagai suatu reaksi melawan
kehendak masa kanak-kanak yang masih ―hidup‖ dan secara spesial berawal dari



                                        - 14 -
pase anal, muncul gejala-gejala untuk bermain kotor-kotoran, memainkan tinja, dan
lain-lain.
        Penjelasan paling baru menganai gangguan kecemasan ini diungkapkan oleh
teori attachment dari Bowlby. Bowlby mengungkapkan bahwa gangguan hubugan
orang tua dan anak dapat meninggalkan anak pada tahap gangguan kelekatan (
anxious attachment) dicirikan dengan rasa tidak aman dan berlindung. Pendukung
teori ini mengungkapkan bahwa anak yang megalami kelekatan akan mudah
mengalami gangguan kecemasan, khusunya gannguan panik dan agrophobia.kajian
lebih lanjut mengenai gangguan kepanikan ini (panic disorder) menunjukan bahwa
orang yang mengalaminya dicirikan telah mengalami separation anxiety, kehilangan
orang tua atau ketidakcocokan dengan orang tua secara umum
Pengobatan neurosis
        Tujuan dari terapi psikodinamis mengenai gangguan kecemasan ini dan
gangguan-gangguan yang lain adalah untuk menampakan dan menetralisir hal apa
yang oleh ego harus dilindungi dengan mekanisme pertahanan diri, sehingga ego
akan lebih bebas dan lebih fokus (karena merasa aman) terhadap hal yang lebih
bermanfaat, seperti membangun karir dan hubungan sosial akan lebih mudah.
Peranan Neurotransmitter
        Menurut penelitian secara biokimia akar dari gengguan kecemasan berasal
dari tidak normalnya sistem neurotransmitter (Nutt, 2000, 2001), sistem ini mencakup
GABA/ benzosiazepine, sistem syaraf simpatik neropinephrine, dan sistem serotonin.
        Peran neurotransmitter pada gangguan khusus, salah satu hipotesis mengenai
gangguan kecemasan mengungkapkan bahwa gangguan itu dipacu melalui
bertambahnya loncatan-loncatan neurologis pada bagian-bagian di batang otak seperti
lokus cereleus sebagai pusat norepnephrine yang utama. (Gorman dkk, 1980)
         Secara umum gangguan kecemasan yang dialami apabila dilihat dari aspek
syarat khusus neurotransmitter ini disebabakan karena abnormalitas sistem syaraf
termasuk neurontrasmitter di dalamnya khususnya kesalahan respon neurontrasmitter
terhadap stimulus.
Peranan treatment obat
        Seperti kita ketahui bahwa neurotransmitter sebagai salah satu jenis zat yang
terdiri dari zat-zat kimia tertentu, sehingga pemberian obat-obatan akan
mempengaruhi kompleksnya mekanisme kerja dan interaksi neurotransmitter
(Shelton & Brown, 2001).


                                        - 15 -
                                     BAB III
                                     Penutup
Kesimpulan
       Kecemasan yang dialami seseorang pada umumnya merupakan sebuah reaksi
normal, karena kecemasan ini merupakan sebuah alarm bagi seseorang terhadap
bahaya yang mengancam, namun kecemasan ini dapat berubah menjadi sesuatu yang
disebutkan sebagai abnormaslitas yang menganggu pada saat seseorang tidak
memberikan reaksi yang tepat terhadap kecemasan yang dialami.
       Terdapat tiga jenis umum dari gangguan kecemasan ini yaitu: phobia,
gangguan stress akut, dan gangguan stress posttraumatic, setiap jenis gangguan
memiliki karakteristik tertentu yang khas.
       Karena begitu banyaknya gangguan kecemasan ini dialami oleh banyak orang
hal ini mengelitik banyak para ahli untuk memberikan pandangan mengenai
gangguan kecemasan ini, perspektif itu diantaranya adalah kognitf, behavioral, dan
psikodinamis, yang setiap perspektif memiliki cara pandang yang berbeda sehingga
memberikan solusi yang berbeda pula bagi masalah gangguan kecemasan, namun hal
ini menjadi kekayaan tersendiri bagi keilmuan dan khususnya dalam memberikan
pertolongan bagi mereka yang menderita gangguan kecemasan (Anxiety Disorder).




                                        - 16 -

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:3634
posted:12/4/2009
language:Indonesian
pages:16