Pengantar Modifikasi Perilaku

					                                            BAB I
                        PENGENALAN MODIFIKASI PERILAKU


A. Definisi Perilaku Manusia
    Karakteristik perilaku
   1. Perilaku adalah perkataan dan perbuatan individu. Jadi apa yang dikatakan dan
        dilakukan oleh seseorang merupakan karakteristik dari perilakunya.
   2. Perilaku mempunyai satu atau lebih dimensi yang dapat diukur, yaitu : frekuensi,
        durasi, dan intensitas.
   3. Perilaku dapat diobservasi, dijelaskan, dan direkam oleh orang lain atau orang yang
        terlibat dalam perilaku tersebut.
   4. Perilaku mempengaruhi lingkungan, lingkungan fisik atau sosial.
   5. Perilaku dipengaruhi oleh lingkungan (lawful).
   6. Perilaku bisa tampak atau tidak tampak. Perilaku yang tampak bisa diobservasi oleh
        orang lain, sedangkan perilaku yang tidak tampak merupakan kejadian atau hal
        pribadi yang hanya bisa dirasakan oleh individu itu sendiri atau individu lain yang
        terlibat dalam perilaku tersebut.


B. Definisi Modifikasi Perilaku
     Modifikasi perilaku adalah wilayah psikologi yang terkait dengan analisa dan
modifikasi perilaku manusia.
        Analisa maksudnya mengidentifikasi hubungan fungsional antara lingkungan dan
         perilaku tertentu untuk memahami alasan dari perilaku atau untuk menentukan
         mengapa seseorang berperilaku seperti itu.
        Modifikasi maksudnya mengembangkan dan menerapkan prosedur-prosedur untuk
         menolong individu mengubah perilakunya.
        Prosedur-prosedur modifikasi perilaku digunakan oleh para profesional atau
         paraprofesional untuk menolong seseorang mengubah perilaku sosialnya secara
         signifikan, dengan tujuan untuk memperbaiki beberapa aspek pada kehidupannya.


C. Karakteristik Modifikasi Perilaku
   1. Fokus pada perilaku, bukan pada karakteristik atau sifat individu. Dalam modifikasi
        perilaku, perilaku yang akan diubah disebut dengan perilaku target. Kelebihan
        perilaku adalah perilaku target dengan perilaku yang tak menyenangkan, yang ingin
     dikurangi dalam hal frekuensi, durasi, dan intensitas. Contoh perilaku ini adalah
     merokok. Kekurangan perilaku adalah perilaku target dengan perilaku yang
     menyenangkan, yang ingin ditingkatkan dalam hal frekuensi, durasi, dan intensitas.
     Contoh perilaku ini adalah olahraga atau belajar.
  2. Berdasarkan pada prosedur dan prinsip-prinsip perilaku.
  3. Menekankan pada kejadian-kejadian sekarang. Perilaku manusia dikendalikan oleh
     kejadian-kejadian di sekitarnya, dan tujuan dari modifikasi perilaku adalah untuk
     mengidentifikasi kejadian-kejadian tersebut.
  4. Mendeskripsikan prosedur-prosedur modifikasi perilaku secara tepat. Prosedur-
     prosedur modifikasi perilaku melibatkan perubahan-perubahan spesifik pada
     kejadian-kejadian di lingkungan. Dengan deskripsi prosedur yang tepat, peneliti dan
     para profesional lainnya dapat menggunakan prosedur-prosedur tersebut secara tepat
     setiap saat.
  5. Menerapkan perlakuan (treatment) pada orang dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Ukuran perubahan perilaku.
  7. Menekankan kejadian-kejadian yang lalu sebagai penyebab dari perilaku.
  8. Penolakan terhadap hipotesis yang mendasari penyebab dari perilaku.


D. Sejarah Modifikasi Perilaku
   Tokoh utama
  a. Ivan P. Pavlov (1849-1936)
     Pavlov melakukan peneltian yang menemukan proses dasar dari respondent
     conditioning.
  b. Edward L. Thorndike (1874-1949)
     Kontribusi utama dari Thorndike adalah deskripsi hukum akibat (law of effect).
  c. John B. Watson (1878-1958)
     Dalam artikel “Psychology as the Behaviorist Views It”, Watson menyatakan bahwa
     perilaku yang bisa diobservasi merupakan subjek masalah psikologi yang tepat dan
     semua perilaku itu dikontrol oleh kejadian-kejadian di lingkungan.
  d. B. F. Skinner (1904-1990)
     Skinner memperluas kajian perilaku yang mulanya dijelaskan oleh Watson. Skinner
     menjelaskan perbedaan antara respondent conditioning (yang dijelaskan oleh Pavlov
     dan Watson) dan operant conditioning, yang mana konsekuensi dari perilaku ini
     mengontrol kejadian yang akan datang (seperti teori law of effect Thorndike).
   Peneliti-peneliti awal modifikasi perilaku
   Peneliti-peneliti awal ini mempelajari perilaku anak (Azrin & Lindsey, 1956; Baer, 1960;
   Bijou, 1957), dewasa (Goldiamond, 1965; Verplanck, 1955; Wolpe, 1958), pasien sakit
   mental (Ayllon & Azrin, 1964; Ayllon & michael, 1959), dan individu keterbelakangan
   mental (Ferster, 1961; Fuller, 1949; Wolf, Risley, & Mees, 1964).


E. Area-area Penggunaan
  1. Gangguan perkembangan
   Individu dengan gangguan perkembangan sering kali memiliki kekurangan perilaku yang
   serius, dan modifikasi perilaku telah digunakan untuk mengajarkan bermacam teknik
   fungsional untuk mengatasi kekurangan ini.
  2. Sakit mental
   Sebagian dari penelitian awal modifikasi perilaku mendemonstrasikan bahwa hal
   tersebut efektif dalam membantu individu sakit mental dalam setting kelembagaan.
   Modifikasi perilaku telah digunakan terhadap pasien dengan sakit mental kronis untuk
   memodifikasi perilaku seperti keterampilan-keterampilan dalam kehidupan sehari-hari,
   perilaku sosial, perilaku agresif, pemenuhan treatment, perilaku psychotic, dan
   keterampilan kerja.
  3. Pendidikan dan pendidikan khusus
   Para peneliti telah menganalisa interaksi guru-murid di dalam kelas, memperbaiki
   metode pengajaran, dan mengembangkan prosedur untuk mengurangi masalah perilaku
   dalam kelas. Prosedur modifikasi perilaku juga telah digunakan di pendidikan tinggi
   untuk memperbaiki teknik instruksional dan meningkatkan pembelajaran siswa.
   Dalam pendidikan khusus, pendidikan terhadap individu dengan gangguan mental,
   modifikasi perilaku telah memainkan peranan penting, dalam mengembangkan metode
   pengajaran, mengontrol masalah perilaku di kelas, meningkatkan perilaku sosial dan
   kemampuan/keterampilan fungsional, promosi manajemen diri, dan melatih guru-guru.
  4. Rehabilitasi
   Rehabilitasi adalah proses menolong individu agar kembali normal setelah cedera atau
   trauma. Modifikasi perilaku digunakan dalam rehabilitasi seperti : terapi fisik, untuk
   mengajarkan keterampilan baru yang bisa menggantikan keterampilan yang hilang
   setelah cedera atau trauma, untuk mengurangi masalah perilaku, untuk membantu
   mengatur luka yang serius, dan memperbaiki kinerja memori.
5. Psikologi komunitas
Dalam     psikologi   komunitas,    intervensi-intervensi    perilaku   dirancang   untuk
mempengaruhi perilaku banyak orang dengan tujuan menguntungkan semua orang.
Sebagian target dari psikologi komunitas ini termasuk pengurangan sampah,
meningkatkan daur ulang, mengurangi konsumsi energi, mengurangi penggunaan obat
ilegal, dan meningkatkan penggunaan sabuk pengaman.
6. Psikologi klinis
Dalam psikologi klinis, prinsip-prinsip dan prosedur psikologi digunakan untuk
menolong orang dengan masalah pribadi. Khasnya, modifikasi perilaku yang dalam
psikologi klinis sering disebut terapi perilaku, melibatkan individu atau terapi grup yang
dilakukan oleh ahli psikologi.
7. Bisnis, industri, dan layanan masyarakat
Penggunaan modifikasi perilaku dalam area ini disebut dengan modifikasi perilaku
organisasi atau manajemen perilaku organisasi. Penggunaan modifikasi perilaku dalam
area ini telah menghasilkan peningkatan dalam produktifitas, keuntungan bagi
organisasi, dan peningkatan kepuasan kerja pada karyawan.
8. Manajemen diri
Orang menggunakan prosedur modifikasi perilaku untuk mengatur perilaku mereka
sendiri. Mereka menggunakan prosedur manajemen diri untuk mengontrol kebiasaan
pribadi, perilaku sehat, perilaku profesional, dan masalah pribadi.
9. Manajemen anak
Orangtua dan guru dapat mempelajari penggunaan prosedur modifikasi perilaku untuk
membantu anak mengatasi masalah ngompol (buang air waktu tidur), sifat mudah marah,
perilaku agresif, tatakrama yang jelek, dan masalah lainnya.
10. Preventif
Penggunaan modifikasi perilaku dalam area ini adalah mencegah kekerasan seksual
anak, penculikan anak, kecelakaan di rumah, kekerasan dan penolakan/pengabaiaan
anak, dan penyakit seksual yang menular.
11. Psikologi olahraga
Modifikasi perilaku telah digunakan untuk memperbaiki performa atau prestasi altet
dalam berbagai macam olahraga selama latihan dan perlombaan.
  12. Perilaku sehat
  Prosedur modifikasi perilaku digunakan untuk untuk memperkenalkan perilaku sehat
  dengan meningkatkan pola hidup sehat (seperti; olahraga dan nutrisi yang tepat), dan
  mengurangi pola hidup yang tidak sehat (seperti; merokok, dan minum-minum).
  13. Gerontology
   Prosedur modifikasi perilaku digunakan pada rumah perawatan dan fasilitas perawatan
   lainnya untuk membantu mengontrol perilaku orang-orang tua.


Quiz
  1. Perilaku didefinisikan sebagai apa yang dikatakan dan dilakukan individu.
  2. Perilaku mempengaruhi lingkungan fisik dan/atau sosial.
  3. Modifikasi perilaku adalah wilayah psikologi yang terkait dengan analisa dan
       modifikasi perilaku manusia.
  4. Terlalu banyaknya suatu perilaku disebut dengan kelebihan perilaku (behavioral
       excess).
  5. Terlalu sedikitnya suatu perilaku disebut dengan kekurangan perilaku (behavioral
       deficit).
  6. Frekuensi, durasi, dan intensitas disebut dengan dimensi dari perilaku.
  7. Pavlov merupakan orang yang pertama kali menjelaskan tentang respon terkondisi
       (conditioned reflex).
       Thorndike mendemonstrasikan hukum akibat (law of effect)
       Skinner melakukan penelitian terhadap prinsip perilaku operant dan memberikan
       fondasi bagi modifikasi perilaku.
  8. Watson memulai pergerakan dalam psikologi yang disebut dengan behaviorism.
  9. Perilaku tampak (overt) adalah perilaku yang dapat diobservasi dan direkam oleh
       orang lain.
  10. Perilaku tidak tampak (covert) tidak dapat diobservasi orang lain.
                                            BAB II
                     OBSERVASI DAN PEREKAMAN PERILAKU


      Menurut Iwata, Vollmer dan Zarcone, terdapat dua macam assessment, yaitu
assessment langsung (merekam perilaku target yang dimunculkan) dan assessment tidak
langsung (wawancara, kuosioner, dan skala rating). Langkah-langkah dalam merencanakan
perekaman perilaku adalah sebagai berikut :
     1. Menentukan perilaku target
     2. Menentukan logistik perekaman
     3. Memilih metode perekaman
     4. Memilih instrument perekaman


1. Menentukan Perilaku Target
      Dalam menentukan perilaku target, harus mengidentifikasi apa yang dikatakan dan
dilakukan oleh individu. Penentuan perilaku termasuk menjelaskan perilaku secara spesifik
dan bersifat aktif pada individu. Pelabelan perilaku bersifat ambigu, dan dapat diartikan pada
beberapa hal yang berbeda. Internal state tidak dapat diobservasi dan direkam oleh rang lain.
      Ketika dua orang yang tidak berhubungan mengobservasi perilaku yang sama dan
keduanya sepakat tentang perilaku yang muncul, hal ini disebut reliabilitas interobserver.
Observer harus mengembangkan penentuan perilaku spesifik yang benar-benar cocok dengan
perilaku target dari individu yang diobservasi.


2. Menentukan Logistik Perekaman
  a. Observer
          Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi siapa yang akan mengobservasi dan
      merekam perilaku dari individu yang bersangkutan. Observer bisa seorang psikolog,
      atau orang yang secara rutin berhubungan dengan klien dalam lingkungan
      kesehariannya seperti guru, orangtua, pegawai, atau supervisor. Observer harus
      mendapat    persetujuan    terlebih   dahulu   untuk   mengobservasi    klien,   apabila
      menggunakan media perekaman seperti video tape.
          Dalam banyak kasus, diusahakan agar perekaman perilaku individu yang
      diobservasi dilakukan tanpa banyak mengganggu kegiatan rutinnya. Dalam beberapa
      kasus, observer adalah orang yang terlibat dalam perilaku itu sendiri, hal ini disebut
      self-monitoring. Keadaan ini dimungkinkan ketika tidak mungkin ada orang lain yang
      terlibat ketika perilaku target itu muncul, seperti perilaku seksual.
  b. Kapan dan dimana
          Sangat penting untuk menentukan waktu spesifik dimana perilaku target akan
      muncul. Observasi dan perekaman perilaku memiliki dua setting, yaitu natural setting
      (di tempat biasanya perilaku biasanya muncul; alami) atau contrived setting (di tempat
      yang tidak biasa). Ketika self-monitoring digunakan, klien dapat mengobservasi dan
      merekam perilaku target seharian, tanpa dibatasi oleh periode waktu tertentu.


3. Memilih Metode Perekaman
      Aspek yang berbeda dari perilaku target dapat diukur dengan metode perekaman yang
berbeda, yaitu :
  a. Perekaman berkelanjutan (terus-menerus)
          Observer mengobservasi klien secara terus-menerus selama periode observasi dan
      merekam tiap kali perilaku muncul. Observer juga harus dapat mengidentifikasi awal
      dan akhir dari setiap perilaku. Frekuensi dari perilaku adalah jumlah perilaku yang
      muncul saat periode observasi (jumlah rokok yang dihabiskan). Durasi perilaku adalah
      total jumlah waktu munculnya perilaku dari awal hingga berakhir (lama bayi
      menangis). Intensitas adalah jumlah tenaga, energi, dan sebagainya yang dikeluarkan
      (tinggi suara saat berteriak/memaki).
  b. Perekaman hasil
          Perekaman hasil adalah metode assessment tidak langsung yang berupa observasi
      dengan cara melihat hasil dari sesuatu/perilaku, tanpa kehadiran observer saat perilaku
      muncul. Observer dapat melihat perilaku dari hasilnya saja. Contoh, meskipun guru
      tidak hadir dikelas, tapi guru masih dapat melihat perilaku murid-muridnya dari tugas
      yang diberikannya.
  c. Perekaman berskala (interval)
          Perekaman dilakukan secara berskala, yang sebelumnya telah dibagi-bagi oleh
      observer dalam interval waktu tertentu. Terdapat dua macam perekaman interval, yaitu
      partial interval recording, dan whole interval recording.
  d. Time sample recording
          Dalam time sample recording, periode observasi dibagi dalam interval waktu
      tertentu, tetapi dapat diobservasi dan direkam setiap bagian dari tiap interval. Dalam
      perekaman ini, level dari perilaku dilaporkan sebagai presentase interval dimana
      perilaku itu muncul. Untuk mengkalkulasikannya, bagi jumlah skor interval dengan
      total jumlah interval selama periode observasi.


4. Memilih Instrument Perekaman
      Langkah terakhir dari rencana perekaman perilaku adalah memilih instrument rekaman
atau apa yang digunakan oleh observer dalam mengobservasi. Lembar data membantu dalam
mengorganisasikan proses rekaman dengan memberikan tanda pada perilaku yang muncul
pada saat observasi. Media apapun dapat digunakan dalam perekaman ini, contohnya :
          a. Menggunakan golf stroke counter untuk menghitung frekuensi.
          b. Menggunakan stopwatch untuk merekam durasi/waktu.
          c. Menggunakan komputer untuk merekam frekuensi dan durasi beberapa perilaku
              secara bersamaan.
          d. Transfer uang koin dari satu saku ke saku lainnya.
          e. Membuat sobekan kecil dari kertas.
          f. Menggunakan ranger beads.
          g. Menggunakan pedometer.


Reaktivitas
      Reaktivitas adalah proses perekaman perilaku yang mengkibatkan perilaku berubah,
walaupun sebelum treatment diadakan. Misalkan karena subyek sadar ia sedang diobservasi.
Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan menunggu sampai subyek melupakan
observer atau dengan cara observasi tanpa diketahui kehadiran observer oleh subyek.


Realibilitas Interobserver
      Untuk mengevaluasi IOR, dua orang yang tidak berhubungan mengobservasi dan
merekam perilaku target yang sama dari subyek yang sama pula selama periode observasi.
Rekaman ini kemudian dibandingkan dan dipresentasekan persamaannya. Jika presentasenya
tinggi, maka terdapat konsistensi antara dua observer, dan berarti pula pengobservasian
perilaku bersufat objektif dan jelas.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:14876
posted:12/4/2009
language:Indonesian
pages:8