Materi
BAPPENAS
Perencanaan dan Pelaku Pembangunan
Drs. H. Dadang Solihin, MA
Direktur Sistem dan Pelaporan Evaluasi Kinerja Pembangunan-Bappenas Pembangunan-
Musrenbang RPJPD Kabupaten Kutai Kartanegara Tenggarong, 30 Januari 2008
Pola Perubahan yang Sedang Terjadi Paradigma Pembangunan Pergeseran Paradigma: From Government to Governance Pelaku Pembangunan: Paradigma Governance Pelaku Pembangunan: Stakeholders g Troika: Pola Hubungan antara Pemerintah, Dunia Usaha Swasta, dan Masyarakat Perencanaan Fungsi/Manfaat Perencanaan Syarat Perencanaan Tujuan dan Rencana Sifat P Sif t Perencanaan Kegagalan Perencanaan Bias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan Sistem Perencanaan yang Berhasil Perencanaan yang Ideal Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
www.dadangsolihin.com 2
Pola Perubahan yang Sedang Terjadi
Proses transformasi struktural dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern dan dari ekonomi agraris ke ekonomi industri. Proses t P transformasi dari sistem ekonomi yang f id i i t k i didominasi oleh pemerintah ke arah sistem ekonomi pasar, pasar yang masyarakatnya makin berperan sebagai pelaku utama pembangunan. Kedua proses internal tersebut didorong dan dipengaruhi oleh proses eksternal, yaitu proses globalisasi perekonomian dunia, dengan dua ciri dan faktor pendorongnya yaitu perdagangan bebas dan kemajuan teknologi.
www.dadangsolihin.com 3
Paradigma Pembangunan
Pembangunan bertujuan akhir meningkatkan harkat dan martabat manusia; b i Mengemban misi pemberantasan kemiskinan; Mendorong peningkatan produktivitas secara maksimal dan meningkatkan kontrol atas barang dan jasa; Memelihara konservasi alam (lingkungan) dan menjaga keseimbangan ekosistem; k i b k i t Memperkuat basis civil society dan institusi politik guna g g ; mengembangkan demokrasi; dan Merawat stabilitas sosial politik yang kondusif bagi implementasi pembangunan.
(Kaushik Basu, On the Goals of Development, 2002).
www.dadangsolihin.com
4
Pergeseran Paradigma:
From Government to Governance
Pelaku Pembangunan: Paradigma Governance
Interaksi antara Pemerintah, Dunia Usaha Swasta, dan Masyarakat yang bersendikan transparansi, akuntabilitas, M k t b dik t i k t bilit partisipatif, dsb.
Tenaga Kerja Kontrol Kontrol
Dunia Usaha Swasta
Pemerintah
Masyarakat
Government
Memberikan hak ekslusif bagi negara untuk mengatur hal-hal publik, sementara aktor di luarnya, hanya dapat disertakan sejauh g gj y negara mengijinkannya.
Governance
Persoalan-persoalan publik adalah urusan bersama pemerintah, civil society dan dunia usaha sebagai tiga aktor utama.
Nilai Pertumbuhan Pasar P Redistibusi Melalui Pelayanan
Apabila sendi-sendi tersebut dipenuhi, maka Governance akan G d k Good.
5 www.dadangsolihin.com 6
www.dadangsolihin.com
Pelaku Pembangunan: Stakeholders
STATE
Executive Judiciary d Legislature Public service Military Police
Troika: Pola Hubungan antara Pemerintah, Dunia Usaha Swasta, dan Masyarakat
CITIZENS
Community-based organizations C it b d i ti Non-governmental organizations Professional Associations Religious groups Women’s groups Media
organized into:
Masyarakat, Masyarakat Bangsa, dan Negara
Masyarakat y Pemerintah
VISI
BUSINESS
Small / medium / large enterprises Multinational Corporations Financial institutions Stock exchange
Good Governance
Dunia Usaha
www.dadangsolihin.com
7
www.dadangsolihin.com
8
Perencanaan
Suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan tepat, pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. y y g Proses pengambilan keputusan dari sejumlah p j pilihan, untuk mencapai suatu p tujuan yang dikehendaki.
Fungsi/ Fungsi/Manfaat Perencanaan
Sebagai penuntun arah Minimalisasi ketidakpastian Minimalisasi inefisiensi sumber daya Penetapan standar dalam pengawasan kualitas g
crimsonbelt.multiply.com
www.dadangsolihin.com 9 www.dadangsolihin.com 10
Syarat Perencanaan
Harus memiliki, mengetahui, dan memperhitungkan: 1. 1 Tujuan akhir yang dikehendaki dikehendaki. 2. Sasaran-sasaran dan prioritas untuk mewujudkannya (yang mencerminkan pemilihan dari berbagai alternatif). 3. Jangka waktu mencapai sasaran-sasaran tersebut. 4. Masalah-masalah yang dihadapi. 5. Modal atau sumber daya yang akan digunakan serta pengalokasiannya. l k i 6. kebijakan-kebijakan untuk melaksanakannya. 7. Orang, organisasi, atau badan pelaksananya. 7 O i i t b d l k 8. Mekanisme pemantauan, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaannya. pelaksanaannya
www.dadangsolihin.com 11
Syarat Perencanaan . . .
Faktual dan Realistis Logis dan Rasional Fleksibel Komitmen Komprehensif atau menyeluruh
crimsonbelt.multiply.com
www.dadangsolihin.com
12
Tujuan dan Rencana
Tujuan (Goals) Pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat diraih atau dicapai oleh individu, kelompok atau seluruh organisasi. e ca a (Plans) Rencana ( a s) Segala bentuk konsep dan dokumentasi yang gg g j menggambarkan bagaimana tujuan akan dicapai dan bagaimana sumber daya akan dialokasikan, penjadualan dari proses pencapaian t j i tujuan, hi hingga segala h l yang l hal terkait dengan pencapaian tujuan.
www.dadangsolihin.com 13
Sifat Perencanaan
Dari segi ruang lingkup tujuan dan sasarannya sasarannya, perencanaan dapat bersifat nasional, sektoral dan spasial. Perencanaan dapat berupa perencanaan agregatif atau komprehensif dan parsial. Dalam jangkauan dan hierarkinya, ada perencanaan tingkat pusat dan tingkat daerah. Dari jangka waktunya, perencanaan dapat bersifat jangka panjang, menengah, atau jangka pendek pendek.
www.dadangsolihin.com
14
Sifat Perencanaan . . .
Dilihat dari arus informasi perencanaan dapat informasi, bersifat dari atas ke bawah (top down), dari bawah ke atas (bottom up), atau kedua-duanya. ( p), y Dari segi ketetapan atau keluwesan proyeksi ke depannya, perencanaan dapat indikatif atau preskriptif. Berdasarkan sistem politiknya, perencanaan dapat bersifat alokatif, inovatif dan radikal. Produk perencanaan dapat berbentuk rencana (plan), kebijakan, peraturan, alokasi anggaran, ( l ) k bij k t l k i program, atau kegiatan (d/h proyek).
www.dadangsolihin.com 15
Kegagalan Perencanaan
1. Penyusunan perencanaan tidak tepat, mungkin karena: informasinya kurang g lengkap, metodologinya belum dikuasai, perencanaannya tidak realistis sehingga tidak mungkin pernah bisa terlaksana pengaruh politis terlalu besar sehingga pertimbangan pertimbanganpertimbangan teknis perencanaan diabaikan.
www.dadangsolihin.com
16
Kegagalan Perencanaan
2. Perencanaannya mungkin baik, tetapi pelaksanaannya tidak y seperti seharusnya. kegagalan terjadi karena tidak berkaitnya perencanaan dengan pelaksanaannya. aparat pelaksana tidak siap atau tidak kompeten kompeten, masyarakat tidak punya kesempatan berpartisipasi sehingga tidak mendukungnya.
Kegagalan Perencanaan
3. perencanaan mengikuti paradigma yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan serta tidak dapat mengatasi masalah mendasar negara berkembang.
Misalnya, orientasi semata-mata pada pertumbuhan yang menyebabkan makin b bk ki melebarnya kesenjangan. Dengan demikian demikian, yang keliru bukan semata-mata perencanaannya, perencanaannya tetapi falsafah atau konsep di balik perencanaan itu itu.
www.dadangsolihin.com 18
www.dadangsolihin.com
17
Kegagalan Perencanaan
4. karena perencanaan diartikan sebagai pengaturan total kehidupan manusia sampai yang paling kecil sekalipun. Perencanaan di sini tidak memberikan kesempatan berkembangnya prakarsa g g individu dan pengembangan kapasitas serta potensi masyarakat secara penuh. Sistem ini bertentangan dengan hukum penawaran dan permintaan karena pemerintah mengatur semuanya. Perencanaan seperti inilah yang disebut sebagai sistem perencanaan terpusat (centrally planned system).
www.dadangsolihin.com 19
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias pertama Adanya kecenderungan berpikir bahwa: – dimensi rasional dari pembangunan lebih penting dari dimensi moralnya, – dimensi material lebih penting daripada dimensi kelembagaannya, dan – dimensi ekonomi lebih penting dari dimensi sosialnya. sosialnya Akibat dari anggapan itu ialah alokasi sumber y p g p daya pembangunan diprioritaskan menurut jalan pikiran yang demikian.
www.dadangsolihin.com
20
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan Bias kedua Pendekatan pembangunan yang berasal dari atas lebih sempurna p daripada pengalaman dan aspirasi pembangunan di tingkat bawah (grassroot). root) Akibatnya kebijakan pembangunan menjadi kurang efektif karena kurang mempertimbangkan kondisi yang nyata dan hidup di masyarakat.
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias ketiga Pembangunan masyarakat banyak di tingkat bawah lebih memerlukan bantuan material daripada keterampilan teknis dan manajerial. Anggapan ini sering mengakibatkan pemborosan sumber daya dan dana karena: dana, – kurang mempersiapkan keterampilan teknis dan manajerial dalam pengembangan sumber daya manusia, dan – mengakibatkan makin tertinggalnya masyarakat di lapisan bawah.
www.dadangsolihin.com
21
www.dadangsolihin.com
22
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias keempat Teknologi yang diperkenalkan dari atas selalu jauh lebih ampuh daripada teknologi yang berasal dari masyarakat itu sendiri. y Anggapan demikian dapat menyebabkan pendekatan pembangunan yang: terlalu memaksa dan menyamaratakan teknologi tertentu untuk seluruh kawasan pembangunan di tanah air yang sangat luas dan b d beragam tahap perkembangannya i i t h k b ini. pendekatan pembangunan terlalu mengabaikan p potensi teknologi tradisional y g dengan g yang g sedikit penyempurnaan dan pembaharuan mungkin lebih efisien dan lebih efektif untuk d a aat a d ba d g a de ga teknologi dimanfaatkan dibandingkan dengan te o og impor.
www.dadangsolihin.com
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias kelima Lembaga-lembaga yang telah berkembang di kalangan rakyat cenderung tidak efisien dan kurang efektif bahkan menghambat p g g proses pembangunan. Anggapan ini membuat lembaga-lembaga masyarakat di lapisan bawah kurang dimanfaatkan dan kurang ada ikhtiar untuk memperbaharui, memperkuat serta memberdayakannya. Bahkan justru terdapat k B hk j t t d t kecenderungan untuk d t k memperkenalkan lembaga-lembaga baru yang asing dan tidak selalu sejalan dengan nilai dan norma masyarakat. k t
23
www.dadangsolihin.com
24
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias keenam Masyarakat di lapisan bawah tidak tahu apa yang diperlukannya atau bagaimana memperbaiki nasibnya. y Oleh karena itu, mereka harus dituntun dan diberi petunjuk dan tidak perlu dilibatkan dalam perencanaan meskipun yang menyangkut dirinya sendiri. Akibat dari anggapan ini banyak proyek-proyek pembangunan yang dit j k untuk rakyat, t t i b ditujukan t k k t tetapi salah alamat, tidak memecahkan masalah, dan bahkan merugikan rakyat. Bias ini melihat masyarakat sebagai objek dan bukan subjek pembangunan.
www.dadangsolihin.com 25
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias ketujuh Orang miskin adalah miskin karena bodoh dan g g y malas. Dengan demikian, cara menanganinya haruslah bersifat paternalistik seperti memperlakukan orang bodoh dan malas, dan bukan dengan memberi kepercayaan. kepercayaan Dengan anggapan demikian masalah kemiskinan dipandang lebih sebagai usaha p g g sosial (charity) dan bukan usaha penguatan ekonomi.
www.dadangsolihin.com
26
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias kedelapan Ukuran efisiensi pembangunan yang salah dit Uk fi i i b l h diterapkan, k misalnya ICOR, diartikan bahwa investasi harus selalu diarahkan pada yang segera menghasilkan bagi pertumbuhan. pertumbuhan Padahal upaya pemberdayaan masyarakat, akan menghasilkan pertumbuhan, bahkan merupakan p yang (sustainable), ), sumber pertumbuhan y g lebih lestari ( tetapi umumnya dalam kerangka waktu (time frame) yang lebih panjang. Anggapan yang demikian beranjak dari konsep pembangunan yang sangat bersifat teknis dan tidak b t b if t t k i d tid k memahami sisi-sisi sosial budaya dari pembangunan dan potensi yang ada pada rakyat sebagai kekuatan pembangunan. pembangunan
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias kesembilan • Sektor pertanian dan perdesaan adalah sektor tradisional, kurang produktif, dan memiliki masa investasi yang p j g, karena itu kurang menarik y g panjang, g untuk melakukan investasi modal besar-besaran di sektor itu. • Oleh karenanya bermitra dengan petani dan karenanya, usaha kecil di sektor pertanian dan perdesaan dipandang tidak menguntungkan dan memiliki risiko tinggi tinggi. • Anggapan ini juga telah mengakibatkan prasangka dan menghambat upaya untuk secara sungguhsungguh membangun usaha pertanian d usaha h b h t i dan h kecil di perdesaan.
www.dadangsolihin.com
27
www.dadangsolihin.com
28
BiasBias-Bias dalam Perencanaan Pembangunan
Bias kesepuluh Kegiatan investasi makin cenderung terpusat p yang justru di perkotaan, di sektor industri y g j banyak disubsidi dan diproteksi, yang akibatnya juga mendorong urbanisasi. Pengalaman Taiwan dan Jepang menunjukkan bahwa investasi di wilayah p perdesaan dapat meningkatkan p p g pertumbuhan dan sekaligus pemerataan yang menyebabkan ekonominya menjadi kukuh. •
Sistem Perencanaan yang Berhasil
Sistem perencanaan yang mendorong berkembangnya mekanisme pasar dan peran serta masyarakat. Dalam sistem ini perencanaan dilakukan dengan menentukan sasaran-sasaran secara garis besar baik di bidang sosial maupun besar, ekonomi, dan pelaku utamanya adalah masyarakat dan usaha swasta.
•
www.dadangsolihin.com
29
www.dadangsolihin.com
30
Perencanaan yang Ideal
Interactive Planning
• • Prinsip partisipatif: masyarakat yang akan memperoleh manfaat dari perencanaan harus turut p y serta dalam prosesnya. Prinsip kesinambungan: perencanaan tidak hanya berhenti pada satu tahap; tetapi harus berlanjut sehingga menjamin adanya kemajuan terus-menerus dalam kesejahteraan, d j d l k j ht dan jangan sampai t j di i terjadi kemunduran. Prinsip holistik: masalah dalam perencanaan dan pelaksanaannya tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi (atau sektor) tetapi harus dilihat dari berbagai aspek, dan dalam keutuhan konsep secara keseluruhan. Mengandung sistem yang dapat berkembang (a learning and adaptive system). Terbuka dan demokratis (a pluralistic social setting).
www.dadangsolihin.com 31
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
•
• •
www.dadangsolihin.com
32
Apa itu SPPN?
SPPN adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan k h ilk rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka j k j j k menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah daerah.
Tujuan SPPN
Mendukung koordinasi antar-pelaku pembangunan. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar-Daerah, antar-ruang, antar-waktu, antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan antar-fungsi Daerah. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan p g pengawasan. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
33 www.dadangsolihin.com 34
www.dadangsolihin.com
Proses Perencanaan
Pendekatan Politik:
Pemilihan Presiden/Kepala Daerah menghasilkan rencana p p g pembangunan g hasil proses politik (public choice theory of planning), khususnya penjabaran Visi dan Misi dalam RPJM/D.
Ruang Lingkup Perencanaan (UU25/2004)
NASIONAL
Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP Nasional) (RPJP-Nasional) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nasional) Renstra Kementerian / Lembaga (Renstra KL) Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Penetapan UU (Ps. 13 Ayat 1) Per Pres (Ps. 19 Ayat 1) Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah ( (RPJP-Daerah) ) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah) (RPJM-Daerah) Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD)
DAERAH
Penetapan Perda (Ps. 13 Ayat 2) Peraturan KDH (Ps. 19 Ayat 3)
Proses Teknokratik: Menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu. t k it Partisipatif: Dilaksanakan d Dil k k dengan melibatkan seluruh stakeholders, antara lib tk l h t k h ld t lain melalui Musrenbang.
Peraturan Pimpinan KL (Ps. 19 Ayat 2) Per Pres (Ps. (Ps 26 Ayat 1) Peraturan Pimpinan KL (Ps. (Ps 21 Ayat 1)
Peraturan Pimpinan SKPD (Ps. 19 Ayat 4) Peraturan KDH (Ps. (Ps 26 Ayat 2) Peraturan Pimpinan SKPD ( Ps 21 Ayat 3) Ps.
36
Proses top-down dan bottom-up: Dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan.
Rencana Kerja Kementerian / Lembaga (Renja KL)
35
www.dadangsolihin.com
www.dadangsolihin.com
Tahapan Perencanaan
1. Penyusunan Rencana Rancangan Rencana Pembangunan Nasional / Daerah Rancangan Rencana Kerja Dep / Lembaga SKPD Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rancangan Akhir Rencana Pembangunan 2. 2 Penetapan Rencana RPJP Nas dgn UU dan RPJP Daerah dgn Perda RPJM dengan Keputusan Presiden / Kepala Daerah RKP / RKPD dengan Kep. Presiden / Kepala Daerah 3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana 4. Evaluasi Kinerja
www.dadangsolihin.com 37
Dokumen Perencanaan Daerah
Nasional
RPJP
Pedoman
RPJM Nasional Diperhatikan
RKP
Hubungan antar Dokumen
Diacu
Diacu
RPJP Daerah
Pedoman
RPJM Daerah
Dijabarkan
RKP Daerah Bahan
Pedoman
RAPBD
APBD
Pedoman
Bahan Diacu
Renstra SKPD
Pedoman P d
Renja SKPD
RKA SKPD
DPA SKPD
www.dadangsolihin.com
38
Untuk Apa RPJP? p
Ada perubahan yang terjadi dengan sangat perlahan namun d l l h dalam j jangka panjang efeknya k j f k sangat besar seperti demografi, sumber alam, ekonomi, dll ekonomi dll. Perubahan ini tidak terdeteksi kalau periode analisanya hanya 5 tahun perlu outlook 20 tahun, tahunan. Semua perubahan ini p p perlu diantisipasi dan p dituangkan dalam rencana jangka panjang.
Penyusunan dan Penetapan RPJPD PJPD
Rancangan RPJPD
Musrenbang RPJPD Bahan Rancangan RPJP Melibatkan Masyarakat
Penyusunan Rancangan Akhir
Penetapan Rancangan RPJPD menjadi Perda oleh DPRD
Proses Teknokratik oleh Bappeda
oleh Bappeda
www.dadangsolihin.com
39
www.dadangsolihin.com
40
Penyusunan dan Penetapan RPJPD PJPD
Outline RPJP Daerah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Maksud dan Tujuan Landasan Hukum Hubungan dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Sistematika Penulisan BAB II. KONDISI, ANALISIS, DAN PREDIKSI KONDISI UMUM DAERAH A. A Kondisi dan Analisis Geomorfologi dan Lingkungan Hidup Demografi Ekonomi dan Sumber Daya Alam Sosial Budaya dan Politik Prasarana dan Sarana Pemerintahan Data / informasi lannya yang dianggap penting B. B Prediksi Kondisi Umum Daerah BAB III. VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGAAUNAN DAERAH Visi Misi Arah Pembangunan Daerah www.dadangsolihin.com
Rancangan Visi & Misi
Saran, Tanggapan, Rekomendasi Stakeholders
Rumusan Hasil Kesepakatan & Komitmen
Predikisi Kondisi Umum Daerah ------------------------• Geomorfologi & LH • Ekonomi & SDA •D Demografi fi • Prasarana&Sarana • Dll.
Rancangan RPJP ---------------------Merumuskan Gambaran Awal • Visi • Mi i Misi • Arah Pembangunan
Sosialisasi, Konsultasi Publik, dan Jaringasmara
Musrenbang Jangka Panjang Daerah
Rancangan Akhir RPJPD ---------------------• Visi • Misi • Arah Pembangunan • Arah Umum • Fungsi / Wilayah
Penetapan Perda ttg RPJPD ---------------Perda Ttg P d Tt RPJP Daerah
Rancangan Arah Pembangunan ----------------------Rencana Tata Ruang
SE Mendagri 050/2020/SJ: Tatacara Penyusunan RPJPD
SE Mendagri 050/2020/SJ M d i
42
www.dadangsolihin.com
41
Dadang Solihin’s Profile
Dadang Solihin currently is Director for System and Reporting of Development Performance Evaluation at Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas). He holds MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and Information at DPD Secretariat General as well as D ll Deputy Di t f I f t Director for Information of S ti l Pl ti f Spatial Planning and L d i d Land Use Management at Bappenas.
Terima kasih
www.dadangsolihin.com
43
Beside working as Assistant Professor at Graduate School of Asiag Pacific Studies, Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University of Darma Persada, Jakarta, Indonesia. He got various training around the globe, included Public Officials Capacity Building Training Program for Government Innovation, Seoul –Korea (2007), Advanced International Training Programme of Information Technology g , y, ( ); g Management, at Karlstad City, Sweden (2005); the Training Seminar on Land Use and Management, Taiwan (2004); Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur, Malaysia (2003); Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002); Local Government Administration Training Course, Hiroshima, Japan (2001); and Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan (1999). He published more than five books regarding local autonomous. You can reach Dadang Solihin by email at dadangsol@yahoo.com or by his www.dadangsolihin.com 44 mobile at +62812 932 2202