Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

ANALISIS PENGELOLAAN KREDIT PADA by hilen

VIEWS: 317 PAGES: 15

									    PENGELOLAAN KREDIT PADA BANK PERKREDITAN RAKYAT
                DI KOTA BANDARLAMPUNG

                              Mahrinasari MS
                  Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung

                                  ABSTRACT

Managing credit is a hard task in banking because of affecting the liquidity
and rentability/profitability performance. If liquidity of bank is in the best
performance, credit volume allocation will be low. However, If rentability of
bank is in the best performance, credit allocation will increase. Therefore, the
research problem is how management bank in Bank Perkreditan Rakyat Kota
Bandarlampung manages its credit volume, and how the allocation of credit
affects the liquidity and rentability of bank, or otherwise. The research design
applied is exploratory and causal design, and using a regression analysis and
interpreting the liquidity and rentability data ratio compared to Bank Indonesia
as a bank-performance standard. The results show that managing credit in
BPR Kota Bandarlampung measured by NPL performs in healthy condition
because management bank applies prudent banking policy in allocating credit
volume to his customers, and the allocation of credit volume is determined by
the liquidity and rentability ratio for achieving the best performance of bank.
Another important finding of this study is that the allocation of credit volume is
affected by negative cash ratio and positive LDR as the liquidity ratio, and
also positive ROA as the rentability ratio.

Key words: Credit, Liquidity, and Rentability


                              I. PENDAHULUAN

Krisis ekonomi terjadi salah satunya akibat dari rendahnya kegiatan investasi
usaha. Kegiatan investasi usaha dapat berkembang tergantung dukungan
dari    lembaga     keuangan     Bank,    yang      salah  satu    fungsinya
menumbuhkembangkan pergerakan investasi usaha dengan bentuk
penyaluran kredit yang terbesar dan atau bentuk lainnya kepada pihak
pengusaha yang berkepentingan. Salah satu jenis Perbankan yang
memainkan peranannya dalam kegiatan investasi usaha di kota
Bandarlampung adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Jumlah usaha BPR sejak Paket Oktober 1998 menunjukkan jumlah yang
meningkat. Data menunjukkan bahwa jumlah BPR pada tahun 1990
sebanyak 2 BPR menjadi 27 BPR pada tahun 1999. Sedangkan jumlah
kantor BPR sebanyak 2 menjadi 29 BPR. Jumlah BPR yang beroperasi
tersebut berada dalam kategori Bank Umum. Kemudian pada tahun 2000
jumlah BPR dalam kategori Bank Umum menurun sebanyak 25 BPR, dan
dalam kategori Bank Syariah sebanyak 2 BPR, dengan jumlah kantor BPR
pada kategori Bank Umum sebanyak 27 BPR dan pada kategori Bank
        Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                   (Oleh Mahrinasari)




Syariah sebanyak 2 BPR (Statistik Ekonomi Keuangan Daerah, Bank
Indonesia Lampung, 2001).

Posisi nilai kredit yang disalurkan oleh BPR meningkat dari tahun 1990
sebesar 15.796 juta rupiah menjadi 256.548 juta rupiah pada tahun 2000
dengan jenis penggunaan: Kredit modal kerja pada tahun 1990 sebesar
15.351 juta rupiah dan Konsumsi sebesar 445 juta rupiah tampa adanya
kredit Investasi, dan pada tahun 2000 sebesar 135.545 juta rupiah untuk
kredit modal kerja, dan sebesar 2.042 juta rupiah untuk kredit investasi, serta
sebesar 118.861 untuk kredit konsumsi. Posisi kredit pada BPR di wilayah
kerja kota Bandarlampung menunjukkan peningkatan dari tahun 2000 hingga
2001, sebesar 102,54%, dengan rerata peningkatan per bulan sebesar
105,45% (sumber Bank Indonesia, September 2002).

Pengelolaan kredit menjadi suatu persoalan pelik bagi manajemen bank. Jika
manajemen bank ingin memperbesar likuiditas berarti kredit yang dapat
diberikan harus diperkecil untuk memperbesar cadangan kas, yang berarti
dana yang dapat menghasilkan untuk pencapaian rentabilitas berkurang.
Sebaliknya, Rentabilitas dapat meningkat jika pemberian kredit dapat
diperbesar, yang berarti posisi likuiditas mengecil karena sebagian besar
dana diperuntukkan pada dana produktif (loanable fund).

Kondisi likuiditas BPR di Kota Bandarlampung menunjukkan penurunan jika
dilihat dari nilai cash ratio dari tahun 2000 hingga tahun 2001, dengan rerata
posisi laporan per bulan pada tahun 2000 dan 2001 di bawah 2,55 yaitu
dalam kategori tidak sehat menurut ketentuan Bank Indonesia. Jika dilihat
dari Loan To Deposit Ratio (LDR) BPR di kota Bandarlampung menunjukkan
peningkatan sebesar 11,8% dari tahun 2000 hingga tahun 2001, dengan
rerata per bulan di bawah 90% dalam kategori sehat menurut ketentuan Bank
Indonesia. Di lain pihak, kondisi rentabilitas dilihat dari nilai Return on Asset
(ROA) BPR menunjukkan penurunan sebesar 39,9%, dengan akumulasi
keuntungan dalam 12 bulan pada tahun 2000 dan 2001 di atas 1,21 % dalam
kategori sehat menurut ketentuan Bank Indonesia. Oleh karena itu, penulis
mencoba merumuskan masalah:
        1.    Bagaimana pengelolaan kredit pada Bank BPR di Kota
              Bandarlampung ?.
        2.    Bagaimana perkembangan likuiditas dan rentabilitas bank BPR di
              Kota Bandarlampung dalam mempengaruhi perkembangan
              jumlah kredit yang disalurkan ?.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pengelolaan kredit oleh
BPR di Kota Bandarlampung, untuk mengetahui apakah kredit sebagai
variabel terikat, yang artinya dipengaruhi oleh likuiditas dan rentabilitas, atau
sebaliknya pada BPR di Kota Bandarlampung, dan sebagai bahan informasi
yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.bagi BPR di
Kota Bandarlampung.

Tinjauan Teoritis Pengelolaan Kredit


                                                                                                 2
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




Tugas pokok suatu bank dapat diartikan sebagai kegiatan penghimpunan dan
penyaluran dana. Penghimpunan dana oleh bank dapat berbentuk simpanan
pihak ketiga seperti giro, tabungan, dan deposito, atau simpanan jenis
lainnya, sedangkan kegiatan penyaluran dana dapat berbentuk penyertaan,
penanaman sementara pada pihak lain, investasi pada aktiva tetap maupun
dalam bentuk kredit. Tugas ini lebih banyak dilakukan oleh Bank Umum jika
dibandingkan dengan Bank Perkereditan Rakyat. Sesuai dengan definisinya
bahwa Bank Perkreditan Rakyat. menurut UU No. 10/1998, adalah bank
dalam melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan atau
menggunakan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa
dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan BPR hanya menghimpun dana dalam
bentuk tabungan dan deposito, dilarang menerima simpanan giro. BPR
beroperasi hanya dibatasi dalam wilayah tertentu saja. Kemudian BPR berdiri
dengan modal awal relatif lebih kecil dibandingkan dengan Bank Umum. BPR
juga dilarang untuk mengikuti kliring dan transaksi valuta asing.

Sumber dana masyarakat dari tabungan dan deposito selain sumber dana
internal BPR cenderung akan lebih banyak dialokasikan kepada kegiatan
kredit, karena kegiatan kredit bersifat produktif yang juga dikenal dengan
istilah aktiva produktif. Kredit bersifat produktif berarti menghasilkan berupa
pendapatan bunga atas kredit yang sekaligus merupakan pendapatan
terbesar bagi bank, yang akhirnya berpengaruh terhadap kinerja rentabilitas
bank.

Pengertian kredit menurut Sinungan, Muchdarsyah, (1993, hal. 120) adalah:
     Kredit adalah pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain
     dan prestasi itu akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu yang
     akan datang disertai kontra prestasi berupa pendapatan bunga.

Definisi di atas mencerminkan bahwa bank memperoleh pendapatan terbesar
melalui sumber bunga kredit. Sehingga secara umum dapat digambarkan
bahwa komposisi aset suatu bank hampir 80% digunakan dalam bentuk
kredit.

BPR dalam memberikan jumlah penyaluran dana kredit yang begitu besar
bahkan melebih 80% dari total asset yang dimiliki akan berakibat
terganggunya likuiditas bank, karena sumberdana simpanan masyarakat
tersedot dengan jumlah pemakaian kredit. Jumlah dana kredit yang
disalurkan berasal dari simpanan masyarakat dianggap sehat menurut Bank
Indonesia adalah antara 85% - 110%. Dengan demikian, pemberian kredit
yang berlebihan mengandung suatu resiko bagi pihak manjemen.
Kemungkinan resiko yang timbul dalam penyaluran kredit adalah terjadi
transaksi pembayaran kembali atas kredit dalam kondisi tidak terbayar atau
pembayaran kembali dari debitur tersendat (dengan kata lain Non Performing
loannya membesar yang berarti ada suatu indikasi terjadi kredit macet).
Kondisi ini akan menimbulkan kinerja likuiditas BPR terganggu dan berakibat
buruk sehingga akan menjadikan BPR tersebut beku operasi. Dengan


                                                                                                3
        Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                   (Oleh Mahrinasari)




demikian rasio likuiditas diperbesar akan berbanding terbalik dengan alokasi
volume kredit, dan rasio rentabilitas diperbesar berarti memperbesar alokasi
volume kredit.

Kinerja likuiditas diukur dengan rasio Likuiditas, sedangkan kinerja rentabilitas
diukur dengan rasio Rentabilitas, yang diukur dengan membandingkan data
histories dari laporan keuangan BPR yang ada dan atau menggunakan
kriteria dari Bank Indonesia, yang dikukuhkan dalam Surat Keputusan
Direktur Bank Indonesia No. 30/12/Kep/Dir, Surat Edaran Bank Indonesia
No.30/3/UPPB tanggal 30 April 1997, terlihat pada Tabel 1.

       Tabel 1. Bobot dan kriteria Penilaian Bank Perkreditan Rakyat,
2002
                                                     Tingkat Kesehatan (%)
N   Faktor- Faktor                    Bobot          Sehat    Cukup Kurang                   Tidak
o                                     (%)                     Sehat   Sehat                  Sehat

1   Rentabilitas:                     10
      • ROA                           5              >=1,21       0,99-         0,76-        <0,76
      • BOPO                          5              93,52-       1,21          0,99         100-
                                                     92           94,72-        95,92-       <95,92
                                                                  <93,52        <94,72
2   Likuiditas:
    • Alat Likuid /Hut. 4,05-5,00                    3,30-        2,55-         2,55-        0-
       Lancar (Cash Ratio)                           ,4,05        <3,30         <3,30        <2,55
    • LDR       (Loan   To 94,75-                    98,50-       102,25-       102,25-
       Deposit Ratio)      90,00                     <94,75       <98,50        <98,50       115-
                                                                                             <102,2
                                                                                             5
Sumber: Bank Indonesia, September 2002

Pengelolaan likuiditas bank diartikan sebagai suatu proses pengendalian dari
alat likuid yang mudah ditunaikan guna memenuhi semua kewajiban bank
yang harus dibayar. Pengelolaan likuiditas berkaitan erat dengan
kepercayaan masyarakat, nasabah, dan pemerintah.

Beberapa alat yang digunakan dalam mengukur likuiditas bank BPR menurut
ketentuan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia no 30/12/KEP/DIR dan
Surat Edaran BI No. 30/3/UPPB adalah rasio kas, dan rasio
pinjaman/simpanan. Lebih lanjut, menurut Pujo Mulyono, Teguh (1999, hal.
93) bahwa teknik analisa likuiditas lainnya dapat menggunakan rasio
pinjaman/simpanan, dan resiko kredit yang berkaitan langsung dengan
aktivitas kredit.
Rasio kas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan bank untuk
melunasi kewajiban-kewajiban yang segera harus dibayar dengan alat likuid
yang dipunyai seperti kas dan giro pada Bank Indonesia.

                        Kas + Giro BI


                                                                                                 4
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




   rasio kas =
                    Simpanan Pihak ketiga

rasio pinjaman/simpanan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
likuiditas bank lebih mendekati sifat dari kegiatan bank murni. Semakin tinggi
tingkat rasio ini maka likuiditas bank semakin kecil, karena biaya yang
diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar.

                                                 Kredit
    rasio pinjaman/simpanan =
                                            Simpanan Pihak III

rasio pinjaman/simpanan adalah rasio untuk mengukur likuiditas bank,
semakin tinggi nilai rasio yang diperoleh menunjukkan semakin rendahnya
likuiditas bank yang bersangkutan.
                                 Total pinjaman
     rasio pinjaman/simpanan     =
                                 Total aset

Resiko kredit dikenal juga dengan pinjaman bermasalah merupakan rasio
untuk mengukur resiko bank atas kredit yang tidak dapat dibayar kembali oleh
debiturnya, baik pokok dan bunga kredit. Selain itu, rasio ini menunjukkan
kemampuan bank dalam memnuhi likuiditas dengan mengadakan pergeseran
atau penarikan kreditnya yang outstanding untuk memenuhi permintaan kredit
lainnya. Aturan Bank Indonesia atas rasio ini adalah tidak melebihi 5%.

                       Bad Debts
   Resiko kredit =
                       Total pinjaman

Rentabilitas bermanfaat untuk mengukur kinerja BPR terhadap kemampuan
memperoleh keuntungan untuk keberlangsungan usaha bank tersebut. 2
rasio rentabilitas menurut ketentuan BI yaitu: rasio pengembalian aset, rasio
efisiensi operasional bank (Beban Operasional terhadap pendapatan
operasional). Kemudian, Pujo Mulyono, Teguh (1999, hal. 141)
mengungkapkan bahwa analisa rasio rentabilitas lainnya yang berkaitan
dengan pendapatan bank atas pemberian kredit adalah Rate of Return on
Loan, Interest Margin on Loan.

Return on Assets merupakan                 rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan manajemen bank                    dalam memperoleh profitabilitas dan
mengelola tingkat efisiensi usaha         bank secara keseluruhan. Semakin besar
nilai rasio ini menunjukkan tingkat       rentabilitas usaha bank semakin baik atau
sehat.

                                        Laba setelah pajak
Rasio Return on Asset          =
                                        Total Harta


                                                                                                5
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




Rasio efisiensi operasional bank yang diukur dengan melihat perbandingan
antara beban operasional dan pendapatan operasional bank. Semakin kecil
nilai rasio yang diperoleh berarti manajemen bank menjalankan usahanya
semakin baik atau sehat.

                                                 Beban Operasional
Rasio Efisiensi Operasional Bank =
                                               Pendapatan Operasional

Rate of Return on Loan (ROL) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan
manajemen bank dalam mengelola kegiatan perkreditannya.

                       Interest and Fees on Loans
Return on Loan =
                               Total Loans

Interest Margin on Loan (IMOL) yaitu suatu rasio           untuk mengukur
kemampuan manajemen bank dalam memperoleh pendapatan bunga atas
pemberian kredit yang dilakukan. Semakin tinggi nilai rasio ini menunjukkan
semakin besar tingkat pendapatan bunga atas kredit yang diperoleh.


                               Interest Income – Interest Expenses
Interest Margin on Loans =
                                                Total Loans



                              II. METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang telah dilakukan adalah gabungan antara
rancangan penelitian ekplaratory, dan kausal.

Desain ekplaratori sebagai penelitian penjajakan awal dilakukan untuk
mengetahui pertentantangan pemikiran dari tujuan penelitian ke 2 yaitu
apakah pemberian kredit yang mempengaruhi masing –masing rentabilitas
dan likuiditas atau justru kondisi pengelolaan likuiditas dan rentabilitas yang
mempengaruhi penentuan jumlah pemberian kredit. Oleh karena itu, untuk
mengetahui kondisi ini peneliti mencoba menanyakan kepada 3 responden
dari 3 wakil BPR terbesar dan cukup lama berdiri yaitu BPR EKA, BPR
Tripanca, dan BPR Bank Pasar Kota Bandarlampung, dan langsung sebagai
respondennya adalah Direktur Utama dari 3 BPR tersebut,

Penelitian kausal menurut Malholtra, 1993: 102 cocok dilakukan bertujuan
untuk mengetahui variabel mana sebagai variabel bebas dan variabel lainya
sebagai variabel terikat dari suatu gejala masalah atau masalah, dan untuk
menentukan hubungan antara variabel penyebab (bebas) dan variabel akibat


                                                                                                6
        Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                   (Oleh Mahrinasari)




(terikat) yang keduanya dapat diprediksi. Penelitian kausal pada penelitian ini
lebih ditujukan pada perolehan informasi sekunder atas variabel bebas atau
terikat dari suatu masalah mengenai pengaruh pengelolaan kredit, Likuiditas
dan Rentabilitas, apakah likuiditas dan rentabilitas sebagai variabel bebas,
dan kredit sebagai variabel terikat, dan atau sebaliknya. Penelusuran kedua
variabel ini mana yang lebih tepat sebagai variabel terikat atau bebas dengan
mencoba menelusuri studi pustaka dan menelusuri pendapat manajemen
bank pada 3 sampel BPR dengan Metode ekperimen (uji coba diantara
variabel tersebut) akan diterapkan untuk melihat faktor pengaruh yang mana
yang dominan. Alat analisis Regresi Linier – aplikasi Komputer Software
SPSS digunakan untuk mengetahui faktor pengaruh antara variabel bebas
dan terikat, dan untuk menguji hipotesis menerapkan Uji F, dengan Kriteria:
Ho: X1 = X2 =X3=X4= 0 (Tidak ada pengaruh), dimana F hitung > Ftabel, Ho
ditolak
Ha: X1 = X2=X3=X4 ≠ 0 (Berpengaruh Postif), dimana F hitung ≤ Ftabel, Ha
ditolak

Populasi target penelitian yaitu: BPR yang wilayah operasionalnya di kota
Bandarlampung, dengan memilih 3 BPR sampel . Hal ini dilakukan untuk
menjawab permasalah dan tujuan penelitian no. 2.

Penentuan unit sampel (responden) adalah didasarkan atas unsur
kesengajaan dengan tujuan bahwa unit sampel mewakili gambaran
populasinya, yang dikenal dengan teknik purposive random sampling. Jumlah
unit sampel BPR terpilih 3 BPR dengan pertimbangan BPR memiliki jumlah
aset relatif besar dan telah berdiri cukup lama di atas 5 tahun, dengan
menggunakan daftar pertanyaan.

Penelitian dilaksanakan pada Bank Indonesia Bandarlampung untuk
mendapatkan data sekunder tentang Volume Kredit, NPL, Likuiditas, ROA,
BOPO, serta pada PT BPR Tripanca Setiadana cabang Bandarlampung yang
berlokasi di Teluk Betung, PT BPR Eka Bumi Artha cabang Bandarlampung
berlokasi di jalan Kartini Tanjungkarang, dan PD BPR Bank Pasar kota
Bandarlampung berlokasi di jalan Raden Intan, Tanjungkarang untuk
mendapatkan data sekunder laporan keuangan neraca dan rugi/laba per akhir
periode pembukuan serta memperoleh data primer tentang pengelolaan kredit
pada BPR.


                         III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Variabel Kredit, Likuiditas, dan Rentabilitas Apakah Sebagai variabel
    bebas atau Variabel Terikat

Tiga responden terpilih menyatakan bahwa besar kecilnya jumlah volume
kredit yang dialokasikan tergantung kondisi likuiditas dan rentabilitas usaha
BPR di wailayah kerja Bandarlampung. Dengan demikian, Jumlah volume
kredit sebagai variabel terikat dan likuiditas dan rentabilitas sebagai variabel


                                                                                                 7
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




bebas. Kondisi ini sesuai dengan teori penganggaran volume kredit, yang
menyatakan volume kredit akan dapat diperbesar tergantung besarnya posisi
keuangan yang dimiliki seperti LDR, Net open position, ROA sebagai ukuran
perolehan tingkat keuntungan yang memadai, dan CAR, serta lainnya
sebagai faktor internal bank (Teguh Pudjo Muljono, 1996, hal. 210). Namun,
secara prakmatis dan konsep teori lainnya jelas menunjukkan bahwa jika
kredit dialokasikan besar maka tingkat likuiditas akan berkorelasi atau
berpengaruh secara negatif, sedangkan sebaliknya besarnya kredit justru
memperbesar tingkat rentabilitas (Teguh Pudjo Muljono, 1996, hal. 179).

Penelitian selanjutnya melakukan eksperimen terhadap ketiga variabel
tersebut dengan menggunakan alat uji Regresi Linier. Alat uji Regresi Linier
dilakukan 3 tahap, yaitu tahap pertama mengujicobakan pengaruh Likuiditas
yang diukur dengan Cash Ratio (CR), dan LDR dan Rentabilitas diukur
dengan ROA BPR terhadap alokasi volume kredit di wilayah kerja
Bandarlampung, tahap kedua menguji pengaruh likuiditas diukur dengan CR
BPR dan ROA terhadap alokasi volume kredit, dan tahap ketiga menguji
pengaruh Likuiditas diukur dengan LDR dan Rentabilitas yang diukur dengan
ROA terhadap alokasi kredit BPR di wilayah kerja Bandarlampung.


3.2 Pengelolaan Kredit BPR di Wilayah Kerja Bandarlampung

Volume kredit yang diberikan oleh 9 BPR di wilayah kerja Bandarlampung
menunjukkan fluktuasi dari bulan Pebruari sampai Juli 2002, namun
cenderung menunjukkan peningkatan. Kondisi ini mempengaruhi kinerja
pengembalian nilai kredit yang dikategorikan dalam kategori kurang lancar,
diragukan, dan macet yang juga dikenal dengan kondisi Non Performing
Loan (NPl). NPL pada 9 BPR di wilayah kerja Bandarlampung menunjukkan
kecenderungan menurun, sehingga rasio NPL dari 9 BPR juga menunjukkan
penurunan, yang dapat dilihat pada tabel 4 berikut.

Tabel 2. Volume Kredit, NPL dan Rasio NPL pada 9 BPR di Wilayah
         Kerja Bandarlampung Periode Pebruari - Juli 2002

    Bulan          Volume     Kredit NPL (Rp.000) Rasio NPL (%)
                   (Rp.000)
    Pebruari 2002 242.884.080        10.255.911     4,22
    Maret 2002     253.464.470       10.233.143     4,04
    April 2002     262.197.175       9.915.520      3,78
    Mei 2002       273.745.827       10.114.650     3,69
    Juni 2002      270.475.551       9.670.740      3,58
    Juli 2002      313.239.683       9.954.827      3,18
   Sumber: Bank Indonesia Bandarlampung, September 2002.

Rasio NPL di atas menunjukkan bahwa kinerja pengelolaan kredit BPR
berada di wilayah kerja Bandarlampung dalam kategori cukup sehat karena
masih di bawah batas toleransi atau standar yang ditentukan Bank Indonesia


                                                                                                8
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




yaitu maksimum 5%. Nilai di atas diharapkan cenderung menurun hingga
mencapai titik 0 yang berarti tidak ada kredit kurang lancar, tidak lancar
diragukan atau bahkan macet.

3.2.1 Kondisi Non Performing Loan(NPL) pada 3 BPR Responden

Rasio NPL pada PT BPR Eka Bumi Artha hampir mencapai nilai 0% per juni
2002 (Sumber: Hasil Angket September 2002 yang ditujukan dan dijawab
oleh kepala cabang PT BPR Eka Bumi Artha cabang Bandarlampung). Hal ini
dapat terjadi dilihat dari prosedur pemberian kredit lebih ketat dan jaminan
kreditnya langsung dipotong dari penghasilan gaji pegawai. Pengetatan
pemberian kredit dapat dilihat dari adanya usulan pinjaman atau kredit ditolak
dengan beberapa alasan yaitu persyaratan tidak lengkap dan anggunan yang
diajukan atas dasar jumlah gaji/penghasilan tidak memadai.

Rasio NPL pada BPR Tripanca Setiadana cabang Bandarlampung
menunjukkan penurunan dan nilai rasio NPLnya rerata mencapai 1%, yaitu
per Desember 1999 sebesar 1,32%, per Desember 2000 sebesar 1,24%, dan
per Desember 2001 sebesar 1,03%. Nilai rasio ini sangat kecil karena adanya
prosedur pemberian kredit yang ketat dan ini terbukti dilihat dari ada jumlah
usulan kredit yang ditolak karena beberapa alasan yaitu usaha tidak layak,
dan jaminan tidak dapat menutupi nilai pinjaman/kredit. Nilai rasio NPL ini
juga terjadi sebagai akibat terjadinya pengembalian kredit kurang lancar yang
disebabkan oleh adanya kondisi krisis moneter yang berdampak terhadap
daya beli masyarakat pada kegiatan usaha nasabah yang mendapat fasilitas
kredit dari PT BPR Tripanca Setiadana sedikit kurang lancar (hasil angket
yang dijawab oleh direktur BPR Tripanca Setiadana, September 2002).

Rasio NPL pada BPR Bank Pasar Kota Bandarlampung menunjukkan
penurunan, dengan nilai rasio NPL sebesar 8,2% per Desember 1999, 3,2%
per Desember 2000, 1,6% per Desember 2001, dan 1,4% per Juni 2002. Nilai
ini diperoleh dari kredit kurang lancar, diragukan, dan macet. Kondisi nilai
rasio NPL ini relatif besar dibandingkan dengan kedua BPR sebelumnya,
namun nilai ini masih cukup baik di bawah batas toleransi yang ditentukan
oleh Bank Indonesia 5%. Khusus, nilai NPL 8,2% berada di atas standar
Bank Indonesia terjadi karena adanya krisis moneter yang sangat besar
pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat yang menurun. Saat itu tahun
1999 terjadi besarnya tingkat suku bunga kredit atas pinjaman untuk usaha
kecil, kemudian pengembalian kredit dari usaha kecil yang memperoleh
fasilitas kredit terjadi banyak kurang lancar dan diragukan sebagai akibat
antara lain yaitu, rendahnya daya beli masyarakat terhadap usaha nasabah
yang mendapatkan kredit, usaha nasabah bankrut, dan pemilik meninggal
dunia. Namun demikian, pengembalian kredit tidak ada dalam kategori kredit
macet, karena sejak dini dalam prosedur pemberian kredit cukup ketat,
khususnya dapat terlihat dari adanya jumlah usulan kredit yang ditolak
karena alasan adanya usaha yang tidak layak, jaminan tidak mencukupi, dan
usaha milik orang lain (hasil angket kepada BPR, September 2002).



                                                                                                9
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




3.3 Pengaruh Likuiditas dan Rentabilitas terhadap Kredit


Hasil regresi linier berganda dengan menggunakan program aplikasi SPSS
(Statistical Product and Service Solution) menunjukkan nilai sebagai berikut.

Y = 54233470 + 0,484 LDR - 0,184 CR + 0,122ROA
    (1,384)    (2,468)     (-0,898)    (0,589)

( ) = nilai t hitung
R2 = 0,249
DW = 0,559
F = 2,214
Hasil Perhitungan berindikasi bahwa Uji F tidak menunjukkan variabel bebas
bersama-sama tidak mempengaruhi variabel terikat, karena F hitung lebih
kecil =2,214 dibandingkan dengan F tabel (24, 4) = 2,78. Sehingga model ini
harus dipisahkan dengan menghilangkan salah satu variabel bebas dari
variabel likuiditas yang saling berkorelasi mendekati angka 50% (korelasi
signifikansi 1-tailed). Model regresi linier berikut didapatkan dengan model
terbaik (Lihat Lampiran . ).

Model 1:
Y = 0,0000195 + -0,515 CR + 0,113 ROA
      (5,990)        (-2,655)    (0,58)
( ) = nilai t hitung
R2 = 0,501
DW = 0,473, dL tabel (K=2, n = 24 ) = 1,19
F hitung    = 3.526, dan F tabel (20,4) (95%) = 2,87

Model 2:
Y = 43955311 + 0,473 LDR + 0,062 ROA
       (1,178)       (2,427)     (0,318)
( ) = nilai t hitung
R2 = 0,468
DW = 0,479, dL tabel (K=2, n = 24 ) = 1,19
F hitung = 2,945, dan F tabel (20,4) (95%) = 2,87

Nilai R di atas menunjukkan hubungan cukup erat diantara variabel bebas
dengan variabel terikat untuk kedua model.

Model 1 menunjukkan F hitung lebih besar dari F tabel, demikian juga pada
model 2, yang berarti bahwa variabel bebas rasio kas dan ROA bersama-
sama mempengaruhi variabel terikat kredit dan variabel bebas LDR dan ROA
bersama-sama mempengaruhi variabel terikat kredit.

Uji DW digunakan untuk mengetahui apakah terjadi autokorelasi pada model
tersebut (G.S. Maddala, 1988, hal. 186), dengan kriteria:
                     Jika dw < dL, Tolak Ho, berarti tidak ada autokorelasi


                                                                                              10
        Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                   (Oleh Mahrinasari)




                      Jika dw > dU, Terima Ho, berarti ada autokorelasi
                      Jika dL < dw < dU, Uji tidak dapat disimpulkan
Hasil DW untuk kedua model tersebut berada di bawah dL tabel, yang berarti
tidak ada autokorelasi.

Kedua model tersebut juga ternyata tidak melanggar asumsi regresi , yaitu
tidak terjadi multikolinieritas karena berdasarkan matrik korelasi tidak terdapat
matrik korelasi yang berarti antara variabel bebas di bawah 50%, dan tidak
terjadi heteroskedastisitas karena berdasarkan scatter plot diagram normal
regresi tidak terbentuk pola tertentu, serta menyebar berada di bawah dan di
atas angka 0 pada sumbu Y.

Pengujian model di atas menunjukkan bahwa volume kredit yang diberikan
kepada nasabah usaha kecil dipengaruhi oleh rasio kas, rasio likuiditas dan
ROA. Jika rasio kas terjadi kenaikan sebesar satu satuan akan menyebabkan
penurunan alokasi volume kredit sebesar 0,515 satu satuan. Hal ini dapat
terjadi karena manajemen bank menggunakan sumber dana yang ada untuk
lebih banyak dialokasikan untuk dana kredit yang dapat menghasilkan
keuntungan lebih. Sehingga, model juga menunjukkan bahwa adanya
pengaruh positif dari LDR dan ROA terhadap volume kredit.

Jika LDR meningkat satu satuan pada model 2 , maka volume kredit yang
dialokasikan juga meningkat sebesar 0,473. Baik Berdasarkan model 1
maupun model 2, ROA berpengaruh positif terhadap perkembangan volume
kredit. Jika ROA meningkat sebesar satu satuan maka volume kreedit akan
meningkat sebesar 0,113 pada model 1, dan sebesar 0,062 pada model 2.
Hal ini dapat saja terjadi, jika manajemen menginginkan dananya menjadi
lebih produktif sehingga dapat menghasilkan keuntungan usaha bank lebih
banyak. Dengan demikian, konsep teori yang menyatakan bahwa jika
manajemen bank menginginkan keuntungan lebih maka sumber dana yang
ada lebih banyak dialokasikan kepada kegiatan aktiva produktif seperti
volume kredit. Namun, kondisi likuiditas yang diukur dengan rasio kas
sebagai pengukuran kemampuan dalam menyiapkan kewajiban dananya
kepada nasabah penyimpan dana akan menurun jika volume kredit
dialokasikan lebih besar, yang berarti berpengaruh dan atau berkorelasi
negatif.

3.4     Kondisi Volume Kredit, Likuiditas dan Rentabilitas

Volume kredit pada BPR di wilayah kerja kota Bandarlampung menunjukkan
fluktuasi, dengan rerata per bulan pada tahun 2000 sebesar Rp
80.807.638,83 (000), dan tahun 2001 sebesar Rp 163.665.098,67 (000).

Posisi likuiditas pada BPR di wilayah kerja Bandarlampung yang diukur
dengan cash rasio jika dilihat dari data bulanan dalam kategori tidak sehat
dengan rerata per bulan pada tahun 2000 sebesar 1,525%, dan tahun 2001
sebesar 1,186%. Namun jika diukur dengan LDR data bulanan menunjukkan



                                                                                               11
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




posisi sehat dengan rerata bulanan pada tahun 2000 sebesar 68,535%, dan
pada tahun 2001 sebesar 76,627% .

Posisi rentabilitas pada BPR wialyah kerja Bandarlampung yang diukur
dengan ROA menunjukkan kondisi tidak sehat jika dilihat dari data bulanan,
dengan rerata per bulan sebesar 0,747% pada tahun 2000 dan 0,449% pada
tahun 2001. Sebaliknya jika dilihat dari rasio efisiensi usaha dengan ukuran
BOPO menunjukkan posisi sehat dengan rerata per bulan pada tahun 2002
selama bulan Februari hingga Juli 2002 sebesar 89,284%.

Posisi volume kredit pada BPR Tripanca Setiadana relatif lebih besar
dibandingkan dua BPR lainnya, BPR Eka Bumi Artha dan Bank Pasar kota
Bandarlampung .

Posisi likuiditas BPR Tripanca dan BPR Bank Pasar diukur dari Rasio Kas
menunjukkan kategori kurang sehat untuk kurun waktu 2 tahun terakhir tahun
2000 dan 2001. Namun, pada tahun 1999 posisi rasio kas BPR Bank Pasar
menunjukkan kondisi sehat, rasio kas BPR Tripanca cukup sehat. Nilai rasio
kas menurun disebabkan oleh meningkatnya alokasi volume kredit pada
tahun 2000 dan 2001, yang berimbas kepada peningkatan rasio LAR (Loan to
Asset Ratio).

Posisi LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2000 dan 2001 menunjukkan
kinerja sehat pada BPR Tripanca dan Bank Pasar. Namun pada tahun 1999
menunjukkan posisi kinerja LDR yang tidak sehat khususnya bagai BPR Bank
Pasar mencapai 120% melebihi standar Bank Indonesia di atas 115%
(kategori tidak sehat), dan bagi BPR Tripanca menunjukkan nilai yang tidak
normal, juga dapat dikatakan tidak sehat sebesar 50,58%. Hal ini berarti
adanya pengetatan alokasi volume kredit kepada masyarakat yang
diakibatkan oleh dampak krisis moneter, yang juga berarti BPR bersangkutan
menerapkan prinsip kehati-hatian sangat baik.

PT BPR Bank Pasar memiliki kinerja ROA (tingkat pengembalian keuntungan
atas alokasi aktiva yang digunakan) dalam kategori sehat, sebaliknya PT BPR
Tripanca dan Eka Bumi Artha masing-masing dalam kategori kurang sehat
dan tidak sehat pada tahun 2000 dan 2001. Nilai ROA pada PT BPR Eka
pada tahun 2000 sebesar 0,80 dan tahun 2001 sebesar 0,83, dan bagi PT
BPR Tripanca memiliki nilai pada tahun 2000 sebesar
0,65 dan tahun 2001 sebesar 0,45 menurun. Hal ini menunjukkan juga
terhadap pengelolaan usaha PT BPR Tripanca yang kurang efisien dan
bahkan tidak efisien, terbukti dapat dilihat dari nilai BOPO BPR Tripanca pada
tahun 2000 sebesar 94,47 dalam kategori kurang sehat dan tahun 2001
sebesar 96,79 dalam kategori tidak sehat. Namun, pada BPR Bank Pasar
berdampak pada BOPO dalam kategori sehat atau efisien dengan nilai BOPO
pada tahun 2000 sebesar 75,47 dan tahun 2001 sebesar 83,13. Nilai BOPO
BPR Bank Pasar juga aberdampak terhadap besarnya perolehan Return on
Loan dan Interest Margin on Loan.



                                                                                              12
       Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                  (Oleh Mahrinasari)




Pendapatan bunga dan Fee atas alokasi kredit ROL (Return on Loan) pada
BPR Tripanca dan Bank Pasar keduanya menunjukkan penurunan, yang
berarti perolehan pendapatan dari bunga dan fee atas kredit mengecil,
sehingga berdampak juga terhadap nilai Interest Margin on Loan IMOL
(tingkat perolehan pendapatan bunga setelah dikurangi biaya bunga atas
kredit) berkurang. Nilai ROL pada PT BPR Tripanca tahun 2000 sebesar
18,29 dan tahun 2001 sebesar 19,11, pada PT BPR Bank Pasar tahun 2000
sebesar 24,78 dan tahun 2001 sebesar 23,41. Nilai IMOL pada PT BPR
Tripanca tahun 2000 sebesar 5,87 dan tahun 2001 sebesar 2,69, pada BPR
Bank Pasar tahun 2000 sebesar 9,02 tahun 2001 sebesar 5,39. Dengan
demikian, Nilai ROL dan IMOL pada PT BPR Bank Pasar menunjukkan nilai
yang lebih besar dibandingkan PT BPR Tripanca.


                           IV. SIMPULAN DAN SARAN

4.1   Simpulan

Beberapa kesimpulan atas dasar hasil dan pembahasan adalah sebagai
berikut:
1.     Pengelolaan kredit BPR di wilayah kerja kota Bandarlampung dilihat
       dari NPL dalam kategori sehat di bawah 5% standar Bank Indonesia,
       terjadi karena manajemen bank menerapkan prinsip kehati-hatian yang
       tetap menjadi pegangan dalam mengalokasikan volume kredit kepada
       nasabah.
2.     Pengalokasian volume kredit BPR ditentukan oleh kinerja likuiditas dan
       rentabilitas usaha, dalam rangka menjaga kinerja bank dalam kondisi
       sehat.
3.     Pengalokasian volume kredit dipengaruhi negatif oleh rasio kas, dan
       positif oleh LDR dan ROA yang ditunjuk oleh koefisien regresi masing-
       masing variabel. Volume kredit dipengaruhi negatif oleh rasio kas
       terjadi karena sumber dana bank yang ada lebih besar dialokasikan
       kepada kegiatan aktiva produktif yang lebih dapat menciptakan
       keuntungan usaha bank. Hal ini berimbas kepada semakin besarnya
       LDR, ROA, dan BOPO yang diperoleh. Pengujian melalui uji F- dari
       kedua model yang ada dilakukan menghasilkan Nilai F –hitung lebih
       besar dari F-tabel dengan kepercayaan 95% yaitu 3,526 dan 2,945
       lebih dari 2,87, yang berarti variabel bebas CR, LDR, dan ROA,
       bersama-sama mempengaruhi variabel terikat volume kredit. Dengan
       demikian, jika LDR dan ROA diperbesar berarti alokasi volume kredit
       meningkat. Sebaliknya, jika rasio kas sebagai alat ukur kinerja BPR
       sangat likuid ditingkatkan berarti alokasi volume kredit menurun.

4.2   Saran-Saran

Penulis menyarankan beberapa hal berkaitan dengan beberapa kelemahan
dari hasil perhitungan dan pembahasan, yaitu:



                                                                                              13
        Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                   (Oleh Mahrinasari)




1.     Manajemen BPR diharapkan tetap mempertahankan pemanfaatan
       prinsip kehati-hatian dalam mengelola kredit terlebih dalam
       menghadapi krisis moneter yang berdampak kepada lesunya dunia
       usaha dan daya beli masyarakat.
2.     BPR dalam mengalokasikan dan mengekspansikan volume kredit di
       masa datang tetap dan harus memperhatikan kinerja keuangan yang
       diukur dengan LDR, rasio Kas, dan Rentabilitas.
3.     Peningkatan volume kredit dapat dilakukan dalam rangka
       meningkatkan kinerja rentabilitas bank, namun manajemen bank tetap
       memperhatikan perimbangan kinerja antara kinerja rasio kas, LDR dan
       rentabilitas usaha harus dalam kategori sehat, dengan memperhatikan
       aturan kinerja yang ditetapkan Bank Indonesia.
4.     Rentabilitas BPR dapat ditingkatkan melalui peningkatan ROL dan
       IMOL      untuk memperkuat sumber dana sendiri sebagai modal inti
       usaha BPR di masa datang. Oleh karena itu, dalam jangka panjang
       manajemen BPR dalam mengekpansi kredit dapat diperoleh dari
       pemanfaatan sumber dana internal yang lebih besar           sehingga
       kebergantungan sumber dana dari pihak ketiga dapat dikurangi,
       dengan demikian stabilitas likuiditas BPR dapat terjaga aman, dan
       rasio Kas negatif dapat terhindari. Peningkatan ROL dan IMOL perlu
       juga memperhatikan usaha pesaing dalam industri perbankan lainnya.


                                  DAFTAR PUSTAKA


Jusuf, Jopie, 1998, Analisis Kredit untuk Account Officer, Pt Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Kasmir, 2000, Manajemen Perbankan, Edisi I, PT Raja Garafindo Persada, Jakarta.

Maddala, G.S., 1988, Introduction to Econometrics, Macmillan Publishing Company,
New York, USA.

Mulyono, Teguh Pudjo, 1996, Bank Budgeting: Profil Planning, and Control, Edisi 1,
BPFE, Yogyakarta.

_______, Teguh Pudjo, 1999, Analisa Laporan Keuangan Untuk Perbankan, Edisi IV,
Djambatan, Jakarta.

Nasir, Moh., 1999, Metode Penelitian, Cetakan keempat, PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Rindjin, Ketut, 2000, Pengantar Perbankan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank,
Edisi I, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sinungan, Muchdarsyah, 1993, Manajemen Dana Bank, Edisi III, Bumi Aksara,
Jakarta.


                                                                                               14
        Analsisis Kredit BPR dan Pengaruhnya terhadap Pengembangan Usaha Kecil di Kota Bandarlampung
                                                                                   (Oleh Mahrinasari)




_______, Muchdarsyah, 1994, Strategi Manajemen Bank Menghadapi Tahun 2000,
Rineka Cipta, Jakarta.

_______, Muchdarsyah, 1997, Dasar dan Teknik Manajemen Kredit, Rineka Cipta,
Jakarta.

Sari Mulyani, 2002, Faktor –Faktor yang Mempengaruhi perilaku Nasabah Kredit
Progana pada PT BPR Eka Bumi Artha cabang Bandarlampung, Fakultas Ekonomi
Universitas Lampung, Lampung

Supranto, J., 1995, Ekonometrik, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Jakarta.

________, 1993, Statistik Teori dan Aplikasi. Jilid II. Penerbit PT Airlangga, Jakarta.

Surat Edaran Bank Indonesia, “Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum”,
Dalam SE BI, tanggal 30 April 1998.

Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia N0.30/12/Kep/Dir dan Surat Edaran Bank
Indonesia No. 30/3/UPPB, “Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan
Rakyat, tanggal 30 April 1997.

Undang-Undang RI., No. 7 Tahun 1992, Tentang Undang-Undang Pokok Perbankan.

Undang-Udang RI. No. 10 Tahun 1998, Tentang Undang-Undang Pokok Perbankan.

Weston, dan Coppelan, 1990, Manajemen keuangan, Edisi XIII, Diterjemahkan oleh
Jaka Wasana dan Kirbandoko, Erlangga, Jakarta.

_____________,        1998, Sensus Ekonomi 1996, Badan Pusat Statistik Propinsi
Lampung,

_____________, 1999,        Lampung Dalam Angka, Badan Pusat Statistik Propinsi
Lampung.

_____________, September 2001, Statistika Ekonomi- Keuangan Daerah Lampung,
Bank Indonesia, Bandarlampung.

_____________, Februari 2002, Statistika Ekonomi- Keuangan Daerah Lampung,
Bank Indonesia, Bandarlampung.




                                                                                               15

								
To top