Docstoc

Mengajar dengan Metode Diskusi

Document Sample
Mengajar dengan Metode Diskusi Powered By Docstoc
					BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar menjadi penting bagi seorang pendidik untuk memilih metode mana yang efektif. Pada dasarnya semua metode yang digunakan dalam mengajar adalah baik, namun dalam pelaksanaannya sangat bergantun pada guru. Metode yang kurang baik di tangan seorang guru dapat menjadi metode yang baik sekali di tangan guru yang lain, dan metode yang baik akan jelek di tangan guru yang tidak menguasai tehnik pelaksanaannya. Jadi jelas bahwa guru sangat berperan dalam memilih dan menggunakan metode mengajar yang baik. Salah satu metode pengajaran yang digunakan adalah metode diskusi. Metode diskusi merupakan metode yang membuat para siswa aktif karena semua siswa memperoleh kesempatan berbicara atau berdialog satu sama lain untuk bertukar pikiran dan informasi tentang suatu topik atau masalah, atau mencari kemungkinan fakta dan pembuktian yang dapat digunakan bagi pemecahan suatu masalah. Dengan menggunakan metode diskusi dalam proses belajar mengajar matematika diharapkan agar siswa lebih aktif dalam belajar, sehingga siswa lebih bergairah dan bersemangat dalam mempelajari matematika serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2

Rumusan Masalah 1. 2. Apakah metode diskusi itu? Apakah metode diskusi tepat diapakai dalam pembelajaran dengan materi “Teorena Sisa dan Teorema Faktir”? 3. Apakah penggunaaan metode diskusi yang diterapkan menggunakan Teori Polya dan Teori Konstruktivistik, serta menggunakan

pendekatan induktif mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik?

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Teori Humanistik dan Teori Konstruktivistik 2.1.1 Teori Humanistik Teori humanistik adalah Belajar untuk memenusiakan manusia, memahami perilaku belajar dari sudut pandang perilakunya, bukan pengamatnya. Teori ini bertujuan menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Guru memberi motivasi kesadaran mengenai kesadaran akan pengalaman belajar dalam kehidupan siswa.guru menfalititasi pengalaman belajar siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran, sedangkan siswa sebagai pelaku utama yang memaknai poses pengalaman belajar, memahami potensi dirinya, mengembangkan potensi dirinya secara positif. Proses Pembelajaran Humanistik :    merumuskan adanya tujuan pembelajaran yang jelas parsitipasi aktif dari siswa melalui kontrak belajar yang jelas,jujur, dan positif. siswa bebas mengemukakan pendapat,memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkannya dan menanggung rsiko dari perilaku yang ditunjukan.  siswa didorong untuk peka,mandiri,berpikir kritis,belajar

atasinisiatif sendiri.

2.1.2 Teori Konstruktivistik Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa

2

pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyongkonyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan

kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain. Dari keterangan tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Tujuan Teori Konstruktivistik : 1) Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri 2) Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan

pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. 3) Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. 4) Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. 5) Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

2.1.3 Alasan Pemilihan Teori Alasan memilih teori humanistik dan teori konstruktivistik karena dengan menggunakan teori ini membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap dan siswa dapat secara aktif mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkannya. Dan teori ini

3

sangat sesuai dalam pembelajaran menggunakan metode diskusi dalam materi Teorema Sisa.

2.2

Metode Diskusi 2.2.1 Pengertian Metode Diskusi Metode diskusi merupakan suatu metode pengajaran yang mana guru memberi suatu persoalan atau masalah kepada murid, dan para murid diberi kesempatan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu dengan teman-temannya. Dalam diskusi murid dapat mengemukakan pendapat, menyangkal pendapat orang lain,

mengajukan usul-usul, dan mengajukan saran-saran dalam rangka pemecahan masalah yang ditinjau dari berbagai segi. Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui sarana pertukaran pikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapai ( Semiwan, 19990 :76 ). Sedangkan menurut Suryosubroto ( 1997:179 ) mengemukakan metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pengajaran dengan guru memberikan kesempatan kepada siswa atau kelompok-kelompok untuk mengadakan

perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun ke berbagai alternatif pemecahan suatu masalah. Dalam diskusi, setiap siswa turut berpartisipasi secara aktif dan turut aktif pula dalam memecahkan masalah. Semakin banyak siswa yang terlibat, semakin banyak pula yang mereka pelajari. Sedangkan guru tidak banyak ikut campur tangan sebab nantinya siswa tidak dapat belajar banyak. Dengan melaksanakan metode diskusi maka suasana kelas akan menjadi semakin hidup, setiap anak diharapkan menjadi berpartisipasi secara aktif. Dalam diskusi, peranan guru sebagai pusat pemberi informasi, pemberi ketegasan, penentu batas dapat dikurangi. Sehingga guru hanya sebagai pengatur lalu lintas dan penunjuk jalan

4

dalam

pelaksanaan

diskusi.

Sedangkan

pemecahan

masalah

diserahkan kepada semua siswa. Sebagai pengatur lalu lintas jalannya diskusi maka guru harus dapat mengatur jalannya diskusi agar pembicaraan tidak dikuasai oleh sebagian murid saja, mencegah agar tidak ada anak yang selalu memotong pembicaraan orang lain atau ribut-ribut bicara bersama, dan juga memberi kesempatan serta mendorong agar semua anak mengemukakan pendapatnya. Dalam hal ini guru dapat pula menurunkan ketegangan dari siswa dengan menjelaskan posisi argumentasinya deibandingkan dengan teman-temannya. Sebagai penunjuk jalan, maka harus bisa mengarahkan diskusi agar jalannya diskudi dapat berjalan dengan baik. Hal-hal yang harus dilakukan guru sebagai penunjuk jalan adalah : 1. Menjelaskan kembali apa yang menjadi pokok permasalahan apabila ada gejala-gejala pembahasan akan menyimpang pada persoalan semula. 2. Menyerahkan gagasan baru di dalam melihat masalah yang sedang didiskusikan itu. 3. Menunjukkan aspek-aspek penting yang menjadi pokok pembahasan dengan ditinjau dari berbagai segi pemecahan masalah. 4. memutuskan kembali pernyataan seseorang siswa dengan jalan memperjelas pendapat anak yang kurang dapat dimengerti oleh anak lain. 5. Menyimpulkan semua yang telah dikemukakan siswa, di mana titik pertemuanya dan titik perbedaannya dijelasakan kembali kepada siswa. Pelaksanaan diskusi dalam proses belajar-mengajar, para siswa dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang disesuaikan dengan kebutuhan atau jenis diskusi. Setiap kelompok berkisar 5 sampai 8 orang. Sehingga kalau dalam kelas terdapat 40 siswa maka

5

akan menjadi 5 samapi 6 kelompok diskusi. Masing-masing kelompok diberi persoalan untuk dipecahkan bersama-sama dalam kelompok tersebut. Permasalahan yang diberikan kepada setiap kelompok bisa sama atau berbeda-beda. Tentang pengaturan kelompok dan pemberian masalah sebaiknya disesuaikan dengan jenis diskusi yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Jenis-jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar diantaranya : 1) 2) 3) 4) 5) Diskusi panel, Symposium, Seminar, Forum, dan Musyawarah belajar. Agar metode diskusi dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan maka guru harus memperhatikan beberapa hal, yaitu : a) Menentukan masalah (topik) yang dijangkau oleh taraf berfikir siswa. Artinya siswa sudah memiliki pengetahuan tentang pemecahan masalah yang diharapkan. Sehingga siswa dapat menilai, menganalisa dan mencari alternatif pemecahan dari topik yang diberikan oleh guru. b) Mengemukakan masalah dengan memberi penjelasan cara-cara pemecahannya dan menjelaskan hasil apa yang ingin dicapai dalam diskusi. c) Guru membentuk kelompok dengan murid dan dipilih pula ketua, wakil, penulis, mengatur tempat duduk, menjelaskan tata tertib dan lain-lain. d) Murid mendiskusikan masalah dengan kelompoknya masingmasing dengan bimbingan guru. Guru mendekatkan pada masing-masing kelompok secara bergantian dan memberi bantuan bila diperlukan, merangsang semua anggota kelompok

6

untuk aktif dalam berbicara, mengemukakan ide-ide tanpa adanya tekanan atau paksaan. e) Tiap kelompok melaporkan hasil-hasilnya. Lebih baik dalam laporan itu diajukan selain secara tertulis juga secara lisan (dibacakan) dab semua siswa diharapkan memberi tanggapan dan guru berusaha sebagai penengah apabila ada perbedaan (pertentangan) pendapat dan memberi usulan serta penjelasan sebagai kesimpulan. f) Akhirnya semua siswa mencatat hasil dari diskusi dan masingmasing ketua kelompok mengumpulkan hasil diskusinya kepada guru. Dalam proses belajar mengajar, metode diskusi mempunyai beberapa tujuan antara lain : 1) Menanamkan dan mengembangkan keberanian untuk

mengemukakan pendapat sendiri. 2) Mencari kebenaran secara jujur melalui pertimbangan pendapat yang mungkin saja berbeda antara satu dengan yang lain. 3) 4) Belajar menemukan kesepakatan pendapat melalui musyawarah. Memberikan kehidupan kelas yang lebih mendekati kegiatan hidup yang sebenarnya. Metode diskusi dalam proses belajar mengajar mempunyai beberapa kegunaan, antara lain : a) Memberi kesempatan pada siswa untuk menyalurkan

kemampuan masing-masing, dapat mendorong anank untuk mengemukakan ide baru. b) Dapat memanfaatkan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa. c) Membantu siswa untuk dapat mengetrapkan pengalaman teoritis dan pengalaman praktis dalam berbagai pengetahuan di sekolah.

7

d)

Membantu siswa untuk dapat menilai kemampuan dirinya, teman-temannya dan juga siswa dapat menghargai pendapat teman.

e)

Mengembangkan inovasi anank untuk belajar lebih lanjut. Metode diskusi mempunyai beberapa kebaikan dibandingkan

dengan metode lain, yaitu antara lain : 1) Anak mendapat kesempatan untuk mengemukakan fikirannya, atau ide-idenya dan mempertahankannya dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. 2) Dalam diskusi setiap anak mendapat kesempatan untuk menyumbangkan gagasannya terhadap masalah yang dihadapi. Oleh karena itulah maka metode diskusi juga disebut metode musyawarah. 3) Hasil belajar melalui diskusi fungsional, sebab corak dan sifat masalah yang didiskusikan banyak terdapat di dalam kehidupan masyarakat. 4) Mengembangkan cara berfikir kritis dan sikap hormat atau menghargai terhadap pendapat orang lain. 5) Anak dapat mengembangkan taraf belajar yang lebih tinggi. Di samping mempunyai beberapa kebaikan, maka diskusi juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain : a) Sering terlalu banyak menyita waktu karena penyelesaian suatu diskusi sulit untuk diramalkan atau diperhitungkan. b) Diskusi memerlukan ketajaman dalam menangkap inti masalah yang dibicarakan. Hal ini tidak mudah, karena itulah biasanya sering keluar dari masalahnya. c) Dalam prakteknya sering diskusi itu akan diborong oleh beberapa siswa saja, sedangkan yang lain hanya sebagai pendengar setia. Walaupun guru sudah memberi kesempatan pada semua siswa untuk mengemukakan buah fikirannya.

8

Agar pelaksanaan diskusi dapat berjalan dengan baik, maka guru perlu mencari permasalahan yang kira-kira tepat untuk menjadi bahan diskusi. Masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk dijadikan bahan diskusi hendaknya memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut : 1) Masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan itu hendaknya mengandung berbagai kemungkinan jawaban atau pemecahan, sehingga setiap jawaban itu mempunyai kebenaran ditinjau dari sudut pandang tertentu. 2) Masalah-masalah itu hendaknya mempunyai arti bagi anak dan hendaknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak. 3) Masalah atau pertanyaan itu hendaknya dapat mengembangkan tarap belajar yang lebih tinggi.

2.2.2 Alasan Pemilihan Metode Diskusi Salah satu komponen yang sangat menentukan terhadap keberhasilan atau tidaknya suatu proses pengajaran adalah metodenya. Sebagai penyaji memilih metode diskusi dikarenakan dengan menggunakan metode ini akan mendorong siswa berfikir sistematis dengan menghadapkannya kepada masalah-masalah yang akan dipecahkan. Selain itu dengan menggunakan metode diskusi, siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan diskusi murid dapat saling tukar menukar informasi, menerima informasi dan dapat pula mempertahankan pendapatnya dalam rangka pemecahan masalah yang dapat ditinjau dari berbagai segi. Dengan metode diskusi, tepat diguanakan pada pembelajaran matematika dengan materi “Teorema Sisa dan Teorema Faktor” karena dengan materi ini muncul banyak permasalahan yang harus diselesaikan oleh siswa dengan mendiskusikannya.

9

2.3

Pendekatan Induktif 2.3.1 Pengertian Pendekatan Induktif Proses berfikir yang dilakukan untuk menarik kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat khusus menjadi hal bersifat umum disebut penalaran induktif. Untuk memperoleh pengetahuan dari percobaan atau eksperimen yang umum bersifat empiris digunakan penalaran induktif. Dalam pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan menengah, pendekatan induktif disarankan untuk masih digunakan. Hal ini didasari oleh para ahli yang menyatakan bahwa masih banyak siswa sekolah dasar dan menengah yang sulit untuk menggunakan penalaran deduktif. Oleh karenanya, mereka lebih mudah menggunakan penalaran induktif untuk memahami konsepkonsep matematika. Pembelajaran menggunakan pendekatan ini diperlukan waktu yang cukup lama. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan induktif, untuk mengenalkan teorema pada siswa dilakukan dengan pemberian contoh-contoh yang mengarah pada suatu rumus (formula) yang dikehendaki. Pendekatan dengan menggunakan pendekatan induktif memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif menemukan rumus (formula) dengan observasi, bereksperimen, dan berfikir. Kesalahan konsep pada diri siswa akan lebih awal dapat diketahui dan diatasi. Kebaikan pendekatan ini yaitu pada siswa tingkat rendah dan siswa yang lemah, penggunaan pendekatan induktif sangat sesuai. Sedangkan kelamahannya yaitu memerlukan waktu yang cukup lama sehingga bagi siswa yang pandai, pendekatan ini mengakibatkan pelajaran menjadi membosankan. Pada umumnya formula yang didapat dengan metode ini belum lengkap dalam arti belum dapat menjamin suatu kesimpulan yang berlaku umum, kecuali pada tahapan yang dilakukan dengan induksi lengkap.

10

2.3.2 Alasan Pemilihan Pendekatan Induktif Selain menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan pendekatan pemebelajaran yang sesuai dengan metode pembelajaran. Dalam hal ini pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan induktif. Penyusun memilih pendekatan ini dikarenakan pendekatan induktif memeberikan kesempatan pada siswa untuk aktif

mengemukakan argumentasinya, menyangkal atau mempertahankan argumentasinya dari pendapat orang lain kemudian menyimpulkan. Bagi siswa-siswa pada tingkat rendah dan siswa yang lemah penggunakan pendekatan induktif sangat sesuai, namun dengan menggunakan pendekatan ini memerlukan waktu yang cukup lama.

11

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu

: Matematika : XI IA / Gasal : 10 menit

Standar Kompetensi : Menyelesaikan masalah mengenai teorema sisa. Kompetensi Dasar : Menggunakan teorema sisa dengan pemecahan masalah serta membuktikan teorema sisa. Indikator : Membuktikan teorema sisa

Tujuan Pembelajaran : 1. Siswa mampu membuktikan teorema sisa 2. Siswa mampu menghitung sisa pembagian suku banyak oleh bentuk linier dan kuadrat dengan teorema sisa yang diperoleh dengan pembagian khusus seperti : (x-k); (ax + b); (x-a) (x-b) dan pembagian dengan (x-k) (ax-b) Materi Ajar Teori Belajar Metode Pendekatan Media Alat dan Bahan Sumber Bahan : Teorema Sisa : Humanistik dan Kontrivistik : Metode Diskusi : Pendekatan Induktif : Power Point : Whiteboard, spidol,penghapus. : Buku paket SMA kelas XI semester I

Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Awal (5 menit) a. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam b. Guru mengontrol kehadiran siswa c. Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari d. Guru menginformasikan tentang tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti a. Guru memberikan soal yang berkaitan dengan teorema siswa

12

b. Guru membantu siswa dan meminta siswa untuk mencari teorema sisa berdasarkan pengetahuan lamanya c. Guru meminta siswa untuk mengemukakan pendapat d. Guru memberikan penguatan tentang teorema sisa e. Guru memberikan soal kembali yang berkaitan dengan teorema sisa f. Guru menyuruh siswa berkumpul, bekerja sama serta berdiskusi dengan kelompoknya tentang penyelesaian soal tersebut g. Guru meminta perwakilan kelompok untuk mengerjakan di depan h. Guru meminta siswa untuk mengoreksi bersama-sama 3. Kegiatan Akhir a. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan materi yang dipelajari b. Siswa memperoleh wawasan dan pengembangannya c. Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam Sumber Bahan Buku paket SMA kelas XI semester I Penilaian a. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan b. Keaktifan siswa dalam mengemukakan pendapat c. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal d. Kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan teman kelompok dalam menyelesaikan soal. Latihan Soal : 1) 2) 3) 4) Tentukan sisa pada pembagian x 2  2x  7  oleh (x + 2) ! Tentukan sisa pada pembagian 4x 3  2x 2  3 oleh (2x – 3) ! Tentukan sisa pada pembagian 2x 4  5x 3  x  8 oleh (x2 + 2 – 2) ! Tentukan sisa pada pembagian 4x 2  7x 2  x  2 oleh 2x 2  x  3 !

13

TEOREMA SISA Pada pembagian suku banyak telah dipelajari bahwa persamaan dasar yang menghubungkan antara f (x) dengan g (x), h (x), dan s (x) adalah :
f (x)  g (x). h (x)  s (x) 1

dengan f (x) = suku banyak berderajat n g (x) = pembagi berderajat m, m < n h (x) = hasil bagi berderajat (n-m) s (x) = sisa Pada bahasan ini kita akan memusatkan pengamatan kita pada sisa s (x). Pada bahasan yang lalu telah dijabarkan bentuk-bentuk sisa yang diperoleh dengan pembagi yang khusus, seperti (x-h), (ax + b), dan (ax2 + bx + c). berdasar bentukbentuk khusus tersebut akan kita turunkan beberapa teorema sisa dan memberikan bukti sederhana. Pembagian dengan (x – k) Teorema 1 Jika suku banyak f (x) dibagi (x-k), maka sisanya adalah f (k). Bukti Suku banyak f (x) dibagi (x-k), sehingga diperoleh persamaan dasar f (x) = (x-k) . h (x) + s dengan s merupakan konstanta (s berderajat 0, karena pembagian berderajat 1). Jika x diganti dengan k, maka : f (x) = (k-k) . h (k) + s = 0+s =s Jadi, f (x) = s (terbukti) Hasil ini dikenal sebagai Teorema Sisa I. Pembagian dengan (ax + b) Teorema 2
b Jika suku banyak f (x) dibagi (ax-b), maka sisanya adalah f  .  a 

14

Bukti Suku banyak f (x) dibagi (ax + b), sehingga diperoleh persamaan dasar f (x) = (ax + b) . h (x) + s dengan s merupakan konstanta.
b Jika x diganti dengan   , maka :  a 

 b  b b f  =  a   b .h s    a    a    a 
b = h . b  b   s  a 

= 0+s =s
b Jadi, f   = s (terbutki)  a 

Hasil ini dikenal dengan Teorema Sisa II. Pembagian dengan (x – a) (x – b) Teorema 3 Jika suku banyak f (x) dibagi (x-a) (x-b), maka sisanya adalah (x-a) . h1 (b) + f (a) dengan h1 (x) hasil bagi f (x) oleh (x-n). Bukti Suku banyak f (x) dibagi (x-a) (x-b), sehingga diperoleh persamaan dasar f (x) = (x-a) . (x-b) . h (x) + s (x) dengan s (x) fungsi berderajat paling tinggi satu. Kita akan membuktikan dengan 3 tahap : Tahap 1 : Jika f (x) dibagi dengan (x-a), maka persamaan dasar dinyatakan dengan f (x) = (x-a) . h1 (x) s1, dengan s1 = f (a) Tahap 2 : Kemudian h1 (x) dibagi dengan (x-b), maka persamaan dasar dinyatakan dengan h1 (x) = (x-b) . h2 (x) + s2, dengan s2 = h1 (b) Substitusikan h1 (x) pada f (x) sehingga diperoleh : f (x) = x  a x  bh 2 x   h1 b  f a  = x  a x  bh 2 x   x  a h1 b  f a 

15

= x  a x  bh 2 x   x  a h1 b  f a  f (x) = x  a x  b h 2 x   sx  Jadi, s (x) = (x-a) . h1 (b) + f (a) merupakan sisa Hasil ini dikenal sebagai Teorema Sisa II. Pembagian dengan (x – k) (ax – b) Teorema 4 Jika suku banyak f (x) dibagi (x-k) (ax-b), maka sisanya adalah (terbukti)

  b x  k .h1  a   f k  dengan h1 (x) hasil bagi f (x) oleh (x-k).    
Bukti Suku banyak f (x) dibagi (x-k) (ax-b), sehingga diperoleh persamaan dasar f (x) = (x-k) (ax-b) h (x) + s (x) dengan s (x) fungsi berderajat paling tinggi satu. Kita akan membuktikan dengan 3 tahap : Tahap 1 : f (x) = (x-k) h1 (x) + s1, s1 = f (k) Tahap 2 : h1 (x) dibagi (ax-b), maka diperoleh
h h1 (x) = (ax-b) . h2 (x) + s2, dengan s2 = h1   a

Tahap 3 : Substitusikan h1 (x) pada f (x) sehingga didapat f (x) = x  k ax  b h 2 x   s 2   s1 = x  k ax  bh 2 x   x  k s 2  s1

  b = x  k ax  bh 2 x   x  k .h1    f k  a  

karena f (X) = (x-k) (ax-b) h (x) + s (x)
b maka s (x) = (x-k) . h 1   + f (k) (terbukti) a

Hasil ini dkenal sebagai Teorema sisa IV.

16

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Metode diskusi merupakan suatu metode pengajaran yang mana guru memberi suatu persoalan atau masalah kepada murid, dan para murid diberi kesempatan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu dengan teman-temannya. Dengan menggunakan teori humanistik maka siswa bebas mengemukakan pendapat,memilih pilihannya sendiri,melakukan apa yang diinginkannya dan menanggung rsiko dari perilaku yang ditunjukan. Dan Teori konstruktiviktif memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. pendekatan induktif memeberikan kesempatan pada siswa untuk aktif mengemukakan argumentasinya, menyangkal atau mempertahankan argumentasinya dari pendapat orang lain kemudian menyimpulkan.

3.2

Saran 1) Hendaknya sebelum menyampaikan materi kepada siswa, seorang guru harus sudah menguasai materi sedetail-detailnya. 2) Dalam menyampaikan materi sebaiknya guru memilih teori belajar, metode pembelajaran dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran sehingga materi yang diberikan mudah dipahami oleh siswa. 3) 4) Efisiensi waktu harus diperhatikan dalam proses pembelajaran. Seorang guru hendaknya ulet dan kreatif untuk mencari media teknologi baru dalam proses pembelajaran. 5) Seorang guru hendaknya dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang nyaman dan menyenangkan di kelas.

17

DAFTAR PUSTAKA

Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Usaha Nasional. Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajran Matematika Kontenporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Sulistiyono, Sri Kurnianingsih, Kuntanti. 2005. Matematika XI Semester 2. Jakarta: Gelora Aksara Pratama. http://haydar85.wordpress.com/2008/07/04/teori-belajar-behavioristik/ http://itachi.student.fkip.uns.ac.id/2009/09/08/macam-macam-teori-pembelajaran/ http://joegolan.wordpress.com/2009/04/13/teori-pembelajaran/ http://ukiakih.blogspot.com/2009/03/teori-belajar.html

18


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:39444
posted:11/26/2009
language:Indonesian
pages:18