Jangan Bersedih

					“Jangan bersedih karena anda masih memiliki dua mata, dua telinga, dua bibir, dua tangan dan dua kaki, lidah dan hati anda masih memiliki kedamaian, keamanan, dan kesehatan” La – Tahzan

Sekitar tiga bulan yang lalu, saya mengalami kecelakaan di lapangan sepakbola. Ruas telapak kaki saya bergeser, dan saya mengalami rasa sakit yang sangat luar biasa. Yang saya ingat saat itu ialah sedikit benturan dan diikuti oleh rasa nyeri disekeliling pergelangan kaki kiri saya yang menjalar hingga paha. Saya keluar ke sisi lapangan dan masih belum menyadari jika bentuk kaki kiri saya sedikit berubah. Saya bahkan berpikir mungkin untuk tidak akan bermain sepakbola lagi. Dalam beberapa hari tersebut, saya mengikuti pengobatan untuk menghindari terjepitnya saluran urat syaraf yang berada di kaki. Dan saya sangat tertekan menghadapi hal ini. kehidupan terus berlanjut, dan saya masih memiliki rasa sesal yang sangat menyesakan, dan sadar jika mungkin saya tidak bermain pada hari itu kejadian ini tak akan terjadi. Kaki saya diperban dan dilumuri dengan semacam ramuan tradisional yang saya pikir memang cukup bekerja, setidaknya untuk melawan rasa sakit dan pegal. Sejujurnya saya masih sempat berpikir untuk menyalahkan tuhan. Kelelahan pikiran yang saya alami membuat saya berpikir jika kehidupan yang biasa saya jalani tidak akan sama lagi. Saya masih belum bisa berjalan dengan normal dan masih membutuhkan alat untuk membantu saya berjalan meskipun hampir tak pernah digunakan. Saya menghabiskan banyak waktu saya di tempat tidur, dan meracau mengenai kebodohan dan rasa sesal yang terselimuti depresi tentang hal yang baru saya alami ini. Benar – benar down pada waktu itu. Hingga akhirnya rasa bosan mengalahkan saya, saya memutuskan untuk pergi keluar komplek perumahan dan berjalan tak tentu arah. Saya mendapati diri berada di sebuah jalan yang tidak saya kenal. Tapi, saya terus melangkah karena udara pun terasa sangat nyaman pada hari itu, sejuk dan cuaca cerah. Saya berhenti disebuah gubuk di tepi ruas jalan. Selang beberapa saat kemudian terdengar suara bel khas penjual ice cream. Saya memutuskan akan membeli ice cream itu ketika lewat nanti. Namanya bapak Ushim. Beliu berusiah lebih dari 75 tahun dan masih setia mengayuh sepeda tuanya menjajakan ice cream menjamah seluruh wilayah desa yang beliu lalui. Dengan hanya berbekal sebotol air masak dalam botol beliu mengayuh sepedanya melewati beberapa desa puluhan tanjakan dan turunan dan tak pernah mengeluh sedikit pun, beliau berkata “hanya ini yang bisa saya kerjakan nak, kalau bapak gak kerja lha kesian anak – anak dirumah gak bisa jajan” ucapnya ketika saya bertanya mengapa beliu masih juga berjualan dalam usia senjanya. Rupanya anak – anak beliu mengidap penyakit epilepsy dan hanya ia dan istrinya yang bekerja ke lima putra putrinya terserang penyakit semua. Saya malu, malu kepada diri saya sendiri, kepada bapak Ushim yang tak pernha menyerah, dan kepada tuhan saya Allah swt. Dengan segala keterbatasan yang beliu miliki Pak Ushim masih terus berjalan menjajakan jualannya tanpa merasa lelah sedikitpun tapi, justru penuh rasa syukur dan

tawahdhu dalam menjalani hari – harinya. Jauh sekali dengan saya, dan ketika itulah saya sadar telah berbuat kesalahan dan tak terasa air mata saya tertetes. Tak ada kejadian yang mengetuk pintu hati saya begitu dalam selain kejadian yang saya alami hari itu. Sebuah pelajaran yang sangat berarti yang bisa saya dapatkan dari sosok sederhana Bapak Ushim. Melalui beliu lah Allah menunjukan betapa besar kasihnya dan betapa kufurnya diri kita. Saya berusaha melewati hari – hari selanjutnya dengan penuh optimism dan syukur, syukur atas setiap hembusan nafas yang diberikan, langkah yang bisa saya ambil hingga degup jantung yang berdetak. Dan saya pun mulai ridho dan ikhlas atas incident yang terjadi. Selang 1 bulan kemudian cedera saya sembuh dan saya bisa bermain kembali. “Impossible is nothing”

Saturday, September 19, 2009


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:77
posted:11/26/2009
language:Indonesian
pages:2