Docstoc

PENILAIAN ASPEK AFEKTIF

Document Sample
PENILAIAN ASPEK AFEKTIF Powered By Docstoc
					BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Asesmen dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa (Herman et al., 1992:95; Popham, 1995:3). Variabel-variabel penting yang dimaksud sekurang-kurangya meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap siswa dalam pembelajaran yang diperoleh guru dengan berbagai metode dan prosedur baik formal maupun informal, sebagaimana dikemukakan oleh Corner (1991:2-3) sebagaiberikut. “A general term enhancing all methods customarily used to appraise performance of an individual pupil or group. It may refer to a broad appraisal including many sources of evidence and many aspect of pupil's knowledge, understanding, skills and attitudes; An assessment instrument may be any method and procedure, formal or informal, for producing information about pupil” Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan profesional untuk memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan antara lain untuk: (1) mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar, (2) memonitor kemajuan siswa, (3) menentukan jenjang kemampuan siswa,

0

(4) menentukan efektivitas pembelajaran, (5) mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran, (6) mengevaluasi kinerja guru kelas, (7) mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru. Penggunaan jenis asesmen yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan dalam mengakses informasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran. Pemilihan metode asesmen harus didasarkan pada target informasi yang ingin dicapai. Informasi yang dimaksud adalah hasil belajar yang dicapai siswa. Stiggins (1994:3,67) mengemukakan lima kategori target hasil belajar yang layak dijadikan dasar dalam menentukan jenis asesmen yang akan digunakan oleh pengajar. Kelima hasil belajar tersebut adalah: (1) Knowledge Outcomes, merupakan penguasaan siswa terhadap substansi pengetahuan suatu mata pelajaran (2) Reasoning Outcomes, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuannya dalam melakukan nalar (reason) dan memecahkan suatu masalah. (3) Skill Outcomes, kemampuan untuk menunjukkan prestasi tertentu yang berhubungan dengan keterampilan yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan. (4) Product Outcomes, kemampuan untuk membuat suatu produk tertentu yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan (5) Affective Outcomes, pencapaian sikap tertentu sebagai akibat mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan.

1

Untuk lima kategori hasil belajar di atas, Stiggins (1994: 83) menawarkan empat jenis metode asesmen dasar. Keempat metode tersebut adalah: 1) Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items), benar-salah (true-false items), menjodohkan atau menco-cokkan (matching exercises), dan isian singkat (short answer fill-in items),(2) Essay Assessment, dalam asesmen ini siswa diberikan beberapa persoalan kompleks yang menuntut jawaban tertulis berupa paparan dari solusi terhadap persoalan tersebut,(3) Performance Assessment, merupakan pengukuran langsung terhadap prestasi yang ditunjukkan siswa dalam proses pembelajaran. Asesmen ini terutama didasarkan pada kegiatan observasi dan evaluasi terhadap proses dimana suatu keterampilan, sikap, dan produk ditunjukkan oleh siswa,(4) Personal Communication Assessment, termasuk ke dalamnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru selama pembelajaran, wawancara, perbincangan, percakapan, dan diskusi yang menuntut munculnya keterampilan siswa dalam mengemukakan

jawaban/gagasan

Tabel 1 Empat Jenis Metode Asesmen Dasar
Aspek Selected response(structured, questionnaire)  Dapat difokuskan secara tajam  Mudah diadministrasikan  Mudah dirangkum hasilnya  Hasil dapat dibandingkan melalui responden  Dapat disamarkan  Sampel dapat Open-ended (non structure questionnaire)  Fokus dapat dipertajam  Relatif mudah dikembangkan  Relatif mudah diadministra sikan  Dapat Performance assesment  Gangguan dapat dihilangkan dengan pengamatan tingkah laku atau produk.  Dapat focus pada petunjuk nonverbal  Dapat menjadi rendah hati Personal Communication)  Dapat sangat difokuskan  Dapat disederhanakan,t anpa ancaman  Dapat sangat distruktur  kan atau tidak  Dapat mengikuti petunjuk verbal dan nonverbal

Kekuatankekuatan

2

Aspek

Selected response(structured, questionnaire) konsisten

Open-ended (non structure questionnaire) disamarkan  Sampel dapat konsisten over time  Tanpa penyelidikan tindak lanjut  Sulit pemrosesan hasil secara intensif  Diperlukan kecakapan membaca  Diperlukan kecakapan menulis

Performance assesment  Dapat mengamati kelompok atau individu

Personal Communication)  Dapat meminta penyelidikan tindak lanjut  Responden akan perhatian  Hasil lebih mendalam  Mengabaikan siswa yang tidak dapat berkomunikasi  Pewawancara dapat salah penafsiran  Tidak dapat disamarkan  Dapat menghabiskan waktu

Keterbatasan keterbatasan

 Tanpa penyelidikan tindak lanjut  Alasan-alasan untuk perasaanperasaan tidak mungkin ditampakkan  Diperlukan kecakapan membaca

Hasil-hasil paling baik kalau….

 Tujuan jelas  Target afektif ditentukan  Siswa memahami dan menhargai tujuan  Administrasi mudah  Pengajaran jelas  Pertanyaanpertanyaan jelas

Hal-hal yang harus dihindari

 Siswa jangan terlalu serius dan merasa terancam  Siswa menawarkan respon yang diperlukan secara sosial  Terlalu lama

 Tujuan jelas  Target afektif ditentukan  Siswa memahami dan menghargai tujuan  Administrasi mudah  Pengajaran jelas  Pertanyaanpertanyaan jelas  Siswa pandai menulis  Siswa jangan terlalu serius dan merasa terancam  Siswa menawarkan respon yang diperlukan secara sosial

 Kemungkinan observasi tanpa tertulis misal tingkah laku khas (seperti sampel representative)  Kadang-kadang tidak dapat disamarkan  Dapat menimbulkan kesalahan interpretasi penglihatan  Dapat menghabiskan waktu  Tujuan jelas  Kriteria jelas dan pantas/tepat  Berbagai pengamatan dilakukan  Siswa memahami dan menghargai tujuan  Pengajaran jelas

 Tujuan jelas  Target afektif ditentukan  Siswa memahami dan menghargai tujuan  Interaksi mudah  Pengajaran jelas  Pertanyaanpertanyaan jelas

 Kriteria tidak jelas  Observasi terlalu sedikit  Trigger assessment tingkah laku yang diperlukan secara sosial yang menggambarkan

 Siswa jangan terlalu serius dan merasa terancam  Siswa menawarkan respon yang diperlukan secara sosial  Terlalu lama

3

Aspek

Selected response(structured, questionnaire)  Pertanyan ambiguous  Mengarahkan pertanyaan

Open-ended (non structure questionnaire)  Terlalu lama  Pertanyan ambiguous  Mengarahka n pertanyaan

Performance assesment affektif nyata

Personal Communication)  Pertanyan ambiguous  Mengarahkan pertanyaan

Aspek afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang (Popham:1995). Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai kerhasilan studi secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Menurut Krathwohl(1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. B. Pembatasan Kajian Mengingat luasnya bahan kajian asesmen maka saya membatasi ruang lingkup kajian outcomes)”. yakni “Mengases hasil belajar afektit ( Assesment affective

4

BAB II MENGASES HASIL BELAJAR AFEKTIF A. Alasan Asesmen Afektif Menurut Stiggins (1994) asesmen afektif sangat penting dilakukan karena dua alasan: 1. Aspek afektif sebagai suatu hasil pengajaran 2. Aspek afektif berkaitan dengan achievment B. Prinsip Dasar Mengases Aspek Afektif Penilaian afektif agar bermanfaat seperti penilaian prestasi akademik harus ada target yang jelas dan metode yang cocok(Stiggins:1994). Penilaian afektif agar menjadi penilaian yang berkualitas harus memperhatikan hal-hal berikut: 1. Mulai dengan suatu visi yang jelas dari hasil belajar afektif yang akan dinilai 2. Menyusun tujuan yang jelas 3. Menggunakan metode yang baik 4. Sampel yang tepat 5. Mengendalikan gangguan luar C. Tingkatan Belajar Afektif Tingkatan afektif menurut Krathwohl(1961) memiliki tingkatan sebagai berikut : 1. Tingkat Receiving Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan,

5

musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif. 2. Tingkat Responding Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang

membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya. 3. Tingkat Valuing Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang

menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi. 4. Tingkat Organization

6

Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup. 5. Tingkat Characterization Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial D. Hasil Belajar Afektif Menurut Andersons(1981),beberapa macam hasil belajar afektif yang relevan dalam setting sekolah terdiri dari ; 1. Sikap Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya. Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap

7

sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya biologi, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran biologi dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. 2. Interest ( minat ) Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. 3. Motivation (motivasi) 4. Value ( nilai ) Definisi tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta

8

didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat. 5. Preference (pilihan) 6. Academic self-concept ( konsep diri ) Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat. 7. Locus of control E. Langkah-langkah Mengases Hasil Belajar Afektif 1. Kriteria a. Intensitas perilaku b. Arah perilaku c. Target perilaku

9

2. Langkah Pengembangan Instrumen a. Menentukan spesifikasi instrument Dalam menyusun spesifikasi instrumen perlu memperhatikan empat hal yaitu (1) tujuan pengukuran, (2) kisi-kisi instrumen, (3) bentuk dan format instrumen, dan (4) panjang instrumen. b. Menulis instrumen Kisi-kisi Intrumen Afektif NO 1 2 3 INDIKATOR JUMLAH BUTIR PERTANYAAN /PERNYATAAN SKALA

c. Menentukan skala instrument Skala yang sering digunakan dalam instrumen penelilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik Skala Thurstone : Minat Terhadap Pelajaran Biologi Skala No 1 2 Pernyataan Saya senang belajar Biologi Saya berusaha hadir setiap pelajaran Biologi 3 Saya berusaha memiliki buku mata pelajaran Biologi 7 6 5 4 3 2 1

10

Skala No 4 Pernyataan Pelajaran Biologi membosankan 7 6 5 4 3 2 1

Skala Likert : Sikap Terhadap Pelajaran Biologi Skala No Pernyataan 4 1 2 3 4 Pelajaran Biologi bermanfaat Pelajaran Biologi sulit Tidak semua harus belajar Biologi Pelajaran Biologi harus dibuat mudah 3 2 1

Skala Beda Semantik 7 Menyenangkan Sulit Bermanfaat Menantang Banyak 6 5 4 3 2 1 Membosankan Mudah Sia-sia Menjemukan Sedikit

d. Menentukan sistem penskoran Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran. Apabila digunakan skala Thurstone, maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan skor terendah 1. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda

11

semantik, tertinggi 7 terendah 1. Untuk skala Likert, pada awalnya skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1. Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban pada katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. Untuk menghindari hal tersebut skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4 (empat) pilihan, agar jelas sikap atau minat responden. Skor perolehan perlu dianalisis untuk tingkat peserta didik dan tingkat kelas, yaitu dengan mencari rerata (mean) dan simpangan baku skor. Selanjutnya ditafsirkan hasilnya untuk mengetahui minat masing-masing peserta didik dan minat kelas terhadap suatu mata pelajaran. e. Menelaah instrument Kegiatan pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir pertanyaan/ pernyataan sesuai dengan indikator, b) bahasa yang digunakan komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar, c) butir peranyaaan/pernyataan tidak bias, d) format instrumen menarik untuk dibaca, e) pedoman menjawab atau mengisi instrumen jelas, dan f) jumlah butir dan/atau panjang kalimat pertanyaan/pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan untuk dibaca/dijawab. Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan lebih baik bila ada pakar penilaian. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format instrumen. Bahasa yang digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat

12

pendidikan responden. Hasil telaah selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen. Panjang instrumen berhubungan dengan masalah kebosanan, yaitu tingkat kejemuan dalam mengisi instrumen. Lama pengisian instrumen sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. Langkah pertama dalam menulis suatu pertanyaan/ pernyataan adalah informasi apa yang ingin diperoleh, struktur pertanyaan, dan pemilihan kata-kata. Pertanyaan yang diajukan jangan sampai bias, yaitu mengarahkan jawaban responden pada arah tertentu, positif atau negatif. f. Merakit instrumen Setelah instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit, yaitu menentukan format tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan. Format instrumen harus dibuat menarik dan tidak terlalu panjang, sehingga responden tertarik untuk membaca dan mengisinya. Setiap sepuluh pertanyaan sebaiknya dipisahkan dengan cara memberi spasi yang lebih, atau diberi batasan garis empat persegi panjang. Urutkan pertanyaan/pernyataan sesuai dengan tingkat kemudahan dalam

menjawab atau mengisinya g. Melakukan ujicoba Setelah dirakit instrumen diujicobakan peserta didik. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi yang ingin dinilai. Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA, maka sampelnya juga

13

peserta didik SMA. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta didik, bisa berasal dari satu sekolah atau lebih. Pada saat ujicoba yang perlu dicatat adalah saran-saran dari responden atas kejelasan pedoman pengisian instrumen, kejelasan kalimat yang digunakan, dan waktu yang diperlukan untuk mengisi instrumen. Waktu yang digunakan disarankan bukan waktu saat responden sudah lelah. Selain itu sebaiknya responden juga diberi minuman agar tidak lelah. Perlu diingat bahwa pengisian instrumen penilaian afektif bukan merupakan tes, sehingga walau ada batasan waktu namun tidak terlalu ketat. Agar responden mengisi instrumen dengan akurat sesuai harapan, maka sebaiknya instrumen dirancang sedemikian rupa sehingga waktu yang diperlukan mengisi instrumen tidak terlalu lama. Berdasarkan

pengalaman, waktu yang diperlukan agar tidak jenuh adalah 30 menit atau kurang. h. Menganalisis hasil ujicoba Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir pertanyaan/ pernyataan. Jika menggunakan skala instrumen 1 sampai 7, dan jawaban responden bervariasi dari 1 sampai 7, maka butir pertanyaan/pernyataan pada instrumen ini dapat dikatakan baik. Namun apabila jawabannya hanya pada satu pilihan jawaban saja, misalnya pada pilihan nomor 3, maka butir instrumen ini tergolong tidak baik. Indikator yang digunakan

14

adalah besarnya daya beda. Bila daya beda butir instrumen lebih dari 0,30, butir instrumen tergolong baik. Indikator lain yang diperhatikan adalah indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas. Batas indeks reliabilitas minimal 0,70. Bila indeks ini lebih kecil dari 0,70, kesalahan pengukuran akan melebihi batas. Oleh karena itu diusahakan agar indeks keandalan instrumen minimal 0,70. i. Memperbaiki instrument Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan yang tidak baik, berdasarkan analisis hasil ujicoba. Bisa saja hasil telaah instrumen baik, namun hasil ujicoba empirik tidak baik. Untuk itu butir pertanyaan/pernyataan instrumen harus diperbaiki. Perbaikan termasuk mengakomodasi saran-saran dari responden ujicoba. Instrumen sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan terbuka. j. Melaksanakan pengukuran Pelaksanaan pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang digunakan. Waktu pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah. Ruang untuk mengisi instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan sirkulasi udara yang baik. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak terganggu satu sama lain. Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada responden yang lain agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. Pengisian instrumen dimulai dengan

15

penjelasan tentang tujuan pengisian, manfaat bagi responden, dan pedoman pengisian instrumen. k. Menafsirkan hasil pengukuran Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Untuk menafsirkan hasil pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan. Misalkan digunakan skala Likert yang berisi 10 butir pertanyaan/ pernyataan dengan 4 (empat) pilihan untuk mengukur sikap peserta didik. Skor untuk butir pertanyaan/pernyataan yang sifatnya positif:

Sangat setuju - Setuju - Tidak setuju - Sangat tidak setuju. (4) (3) (2) (1) Sebaliknya untuk pertanyaan/pernyataan yang bersifat negatif Sangat setuju - Setuju - Tidak setuju - Sangat tidak setuju. (1) (2) (3) (4) Skor tertinggi untuk instrumen tersebut adalah 10 butir x 4 = 40, dan skor terendah 10 butir x 1 = 10. Skor ini dikualifikasikan misalnya menjadi empat kategori sikap atau minat, yaitu sangat tinggi (sangat baik), tinggi (baik), rendah (kurang), dan sangat rendah (sangat kurang). Berdasarkan kategori ini dapat ditentukan minat atau sikap peserta didik. Selanjutnya dapat dicari sikap dan minat kelas terhadap mata pelajaran tertentu

Penentuan kategori hasil pengukuran sikap atau minat dapat dilihat pada tabel berikut.

16

Tabel 2. No. 1. 2. 3. 4.

Kategorisasi sikap atau minat peserta didik untuk 10 butir pernyataan, dengan rentang skor 10 – 40. Skor peserta didik Kategori Sikap atau Minat Sangat tinggi/Sangat baik Tinggi/Baik Rendah/Kurang Sangat rendah/Sangat kurang

Lebih besar dari 35 28 sampai 35 20 sampai 27 Kurang dari 20

Keterangan Tabel 2: 1. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0,80 x 40 = 36, dan batas atasnya 40. 2. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0,70 x 40 = 28, dan skor batas atasnya adalah 35. 3. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0,50 x 40 = 20, dan skor batas atasnya adalah 27. 4. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. Tabel 3 No. 1. 2. 3. 4. Kategorisasi sikap atau minat kelas Skor rata-rata kelas Kategori Sikap atau Minat Sangat tinggi/Sangat baik Tinggi/Baik Rendah/Kurang Sangat rendah/Sangat kurang

Lebih besar dari 35 28 sampai 35 20 sampai 27 Kurang dari 20

Keterangan: 1. Rata-rata skor kelas: jumlah skor semua peserta didik dibagi jumlah peserta didik di kelas ybs. 2. Skor batas bawah kategori sangat tinggi atau sangat baik adalah: 0,80 x 40 = 36, dan batas atasnya 40. 3. Skor batas bawah pada kategori tinggi atau baik adalah: 0,70 x 40 = 28, dan skor batas atasnya adalah 35. 4. Skor batas bawah pada kategori rendah atau kurang adalah: 0,50 x 40 = 20, dan skor batas atasnya adalah 27. 5. Skor yang tergolong pada kategori sangat rendah atau sangat kurang adalah kurang dari 20. 3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan instrumen antara lain: a. Tujuan pengukuran b. Kisi-kisi instrumen

17

c. Bentuk dan format instrumen d. Panjang instrumen. 4. Spesifikasi Instrumen a. Instrumen sikap Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya terhadap kegiatan sekolah, mata pelajaran, pendidik, dan sebagainya. Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. Hasil pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Contoh indikator sikap terhadap mata pelajaran Biologi misalnya.  Membaca buku Biologi  Mempelajari Biologi  Melakukan interaksi dengan guru Biologi  Mengerjakan tugas Biologi  Melakukan diskusi tentang Biologi  Memiliki buku Biologi Contoh pernyataan untuk kuesioner:  Saya senang membaca buku Biologi  Tidak semua orang harus belajar Biologi  Saya jarang bertanya pada guru tentang pelajaran Biologi  Saya tidak senang pada tugas pelajaran Biologi  Saya berusaha mengerjakan soal-soal Biologi sebaik-baiknya  Memiliki buku Biologi penting untuk semua peserta didik

b. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran, yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran. Contoh indikator minat terhadap pelajaran biologi:  Memiliki catatan pelajaran biologi  Berusaha memahami biologi

18

 Memiliki buku biologi  Mengikuti pelajaran biologi Contoh pernyataan untuk kuesioner:  Catatan pelajaran biologi saya lengkap  Catatan pelajaran biologi saya terdapat coretan-coretan tentang halhal yang penting  Saya selalu menyiapkan pertanyaan sebelum mengikuti pelajaran biologi  Saya berusaha memahami mata pelajaran biologi  Saya senang mengerjakan soal biologi.  Saya berusaha selalu hadir pada pelajaran biologi

c. Instrumen pilihan d. Instrumen motivasi e. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk menentukan jenjang karirnya. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh. Contoh indikator konsep diri:  Memilih mata pelajaran yang mudah dipahami  Memiliki kecepatan memahami mata pelajaran  Menunjukkan mata pelajaran yang dirasa sulit  Mengukur kekuatan dan kelemahan fisik Contoh pernyataan untuk instrumen:  Saya sulit mengikuti pelajaran matematika  Saya mudah memahami bahasa Inggris  Saya mudah menghapal suatu konsep.  Saya mampu membuat karangan yang baik  Saya merasa sulit mengikuti pelajaran fisika  Saya bisa bermain sepak bola dengan baik  Saya mampu membuat karya seni yang baik

19

 Saya perlu waktu yang lama untuk memahami pelajaran fisika. f. Instrumen nilai Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif

dan yang negatif. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. Contoh indikator nilai adalah:  Memiliki keyakinan akan peran sekolah  Menyakini keberhasilan peserta didik  Menunjukkan keyakinan atas kemampuan guru.  Mempertahankan keyakinan akan harapan masyarakat Contoh pernyataan untuk kuesioner tentang nilai peserta didik:  Saya berkeyakinan bahwa prestasi belajar peserta didik sulit untuk ditingkatkan.  Saya berkeyakinan bahwa kinerja pendidik sudah maksimal.  Saya berkeyakinan bahwa peserta didik yang ikut bimbingan tes cenderung akan diterima di perguruan tinggi.  Saya berkeyakinan sekolah tidak akan mampu mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat.  Saya berkeyakinan bahwa perubahan selalu membawa masalah.  Saya berkeyakinan bahwa hasil yang dicapai peserta didik adalah atas usahanya. g. Instrumen Locus of control

20

BAB III DISKUSI

1. Apakah aspek apektif yang dicapai siswa satu tingkat saja atau semua tingkatan? Bagaimana kita tahu hal ini? Semua siswa diharapkan mencapai semua tingkatan aspek apektif selama mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dapat diketahui melalui pengukuran menggunakan instrument afektif yang kita lakukan. 2. Bagaimana memaknai skala beda semantic? Skala beda semantic memiliki grade skala dari & sampai dengan satu mulai dari arah positif ke negatif. 3. Bagaimana kriteria aspek afektif? Aspek afektif memiliki kriteria intensitas, arah, dan target. Intensitas bervariasi mulai dari kuat-moderat-lemah. Arah bervariasi mulai dari positifnetral-negatif. Target bisa mata pelajaran, guru, sekolah. 4. Proporsi yang baik antara aspek kognitif dan afektif? Tiga domain yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotor diusahakan ada keseimbangan yang stabil. 5. Mr Kumano (seperti dituturkan oleh prof. Dr.Hj. Nuryani Rustaman,M.Pd ) menyatakan bahwa orang yang tidak pernah mau belajar tidak akan pernah bisa belajar(konstruktivisme social). Dengan demikian, betul bahwa aspek afektif sangat mempengaruhi keberhasilan.

21

6. Mengenai Locus of Control, Prof. Dr. Asmawi Zainul( seperti dituturkan oleh Prof.Dr.Hj.Nuryani Rustaman,M.Pd.) mengatakan bahwa Locus of Control mahasiswa aktifis adalah eksternal, selalu perlu dukungan. Seharusnya ada keseimbangan antara internal dan eksternal.

22

Daftar Pustaka Asmawi, Z. dan Nasution, N. (1994). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud Direktorat Peminaan SMA, Dirjen Mandikdasmen Depamen Pendidikan Nasional Republik Indonesia ( 2005), Penilaian Afektif. Online : Tersedia di
http://www.dikmenum.go.id

Stiggins (1994), Student-Centered Classroom Assesment,New Yor : McMillan College Publishing Company,Inc. Popham,W.J.(1995).4th Know.UCLA. Ed. Classroom Assessment,What Teacher to

Andersen, Lorin. W. (1981). Assessing affective characteristic in the schools. Boston: Allyn and Bacon. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

23


				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:23346
posted:11/25/2009
language:Indonesian
pages:24