Docstoc

Pengenalan Mikroskop

Document Sample
Pengenalan Mikroskop Powered By Docstoc
					LAPORAN PRAKTIKUM PENGENALAN MIKROSKOP

OLEH : NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN NIM : MUHAMMAD PARHANI : J1FI09039 : 4 : TATI HIDAYAH : J1D107060

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU OKTOBER, 2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Menurut bentuk dan struktur selnya makhluk hidup dibedakan menjadi dua

yaitu makhluk hidup bersel banyak dan makhluk hidup bersel satu, makhluk ini tidak dapat terlihat dengan mata kita, karena panca indra manusia memiliki kemampuan daya pisah atau daya lihat yang sangat terbatas. Oleh karena itu banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan diamati dan pengamatan itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu. Salah satu alat bantu yang sering digunakan dalam penelitian atau pengamatan tentang organisme yang tidak bisa dilihat dengan mata, terutama dalam bidang kedokteran dan biologi adalah mikroskop dalam (bahasa latin mikro diartikan kecil sedangkan scopium berarti penglihatan). Mikroskop sering digunakan untuk, meningkat

kemampuan daya pisah atau lihat seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati obyek yang sangat halus dan tidak dapat terlihat oleh mata terbuka (Dwidjoseputro, 1994). Bakteri adalah makhluk hidup yang kecil sehingga tidak bisa di lihat dengan mata telanjang (tanpa bantuan alat pembesar). Begitu juga hal nya dengan paramecium dan sebagainya sehingga bantuan alat pembesar ini sangat diperlukan. Alat pembesar ini selain diperlukan untuk melihat bakteri, alat pembesar juga sangat diperlukan untuk melihat isi dari sel pada makhluk hidup, bentuk organisme-organisme yang kecil, untuk melihat jaringan yang ada di dalam tubuh organisme, serta banyak lagi hal lainnya (Syamsuri, 2000). Pancaindera manusia memiliki kemampuan daya pisah terbatas, oleh karena itu banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan diamati hanya dapat diperiksa dengan menggunakan alat bantu. Dan alat Bantu itu adalah Mikroskop yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan daya pisah seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati objek yang sangat halus sekalipun (David, 1978). Mikroskop pertama kali ditemukan pada tahun 1632 oleh seorang ilmuan

berkebangsaan Belanda bernama Antoni Van Leeucanhoek. Beliau berhasil membuat mikroskop berlensa tunggal yang sederhana. mikroskop yang ditemukan pertama kali ini penbesarannya dapat mencapai pemliesaran sekitar 270 kali. Dengan mikroskop ini Antoni Van Leeucanhoek dapat meIihat benda kecill dalam tetesan air sekalipun (Muchlis, 1980). Setelah ditemukannya Mikroskop oleh Anton Van. L, tak lama kemudian seorang ilmuan bemama Robe hooke juga menemukan mikroskop berlensa tunggal yang merupakan pengembang dari mikroskop sebelumnya. Mikroskop Robert H memiliki lampu kondensor, sehingga dapat melihat objeyengan sangat jelas (Muchlis,1980). Dalam melakukan pengamatan terhadap suatu benda yang memiliki ukuran renik dimana pancaindera kita tidak mampu untuk melihatnya. Pancaindera manusia memiliki kemampuan daya pisah yang terbatas. Oleh karena itu banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan diamati tanpa digunakan alat bantu. Alat bantu yang sering digunakan dalam pengamatan terutama dalam bidang biologi, yaitu mikroskop. Dalam Bahasa latin mikro diartikan keeil dan scopium diartikan pengilihatan, Mikroskop berfungsi untuk meningkatkan kemampuan daya pisah seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati benda yang halos sekalipun ( Muchlis, 1980 ). Hingga saat ini sudah ada dua macam mikroskop yaitu mikroskop cahaya yang biasa banyak digunakan dalam bidang pendidikan dan mikroskop elektron yang digunakan bidang kedokteran karena mikroskop elektron ini mempunyai pembesaran yang lebih dibandingkan dengan mikroskop cahaya. Mikroskop elekron ini menggunakan elektron berkecepatan tinggi yang dapat di samakan dengan sinar-x (0.05 angstrom atau satu million satuan inci) (Albert, 1994).

1.2

Tujuan Tujuan percobaan ini adalah untuk mengenali bagian-bagian mikroskop,

memahami fungsi dan terampil menggunakannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Harus diketahui agar penggunaan mikroskop yang benar harus dimiliki oleh seorang praktikan, oleh karcna itu, praktikum tentang pengenalan mikroskop merupakan hal pertama yang harus dilaksanaka. Terdapat berbagai tipe mikroskop yang masing-masing mempunyai tujuan penggunaan tertentu dan dengan bermacam kelengkapan pula. Mikroskop yang sering digunakan dalam Biologi adalah Mikroskop Cahaya, baik yang berlensa okuler tunggal atau dikenal dengan Mikroskop Monokuler maupun berlensa okuler ganda atau yang dikenal Mikroskop binokuler (Leeson, 1990). Mikroskop pada dasarnya adalah suatu alat pembesar yang terdiri dari dua lensa cembung yaitu sehagai lensa obyektif atau yang dekat dengan mata dan lensa okuler. Benda yang diamati mengalami pembesaran sebesa dua kali dengan lensa obyektif dan lensa okuler, dimana lensa okuler berfungsi sehagai lup. Bayangan akhir yang diamati bersifat maya, terbalik dan diperbesar. Bayangan tersebut merupakan aberasi sferis dan kromatis dari cahaya dan spektrum sinar nampak (Leeson, 1990). Mikroskop mcngalami perkembanan dari waktu ke iyaktu. Pada awalnya hanya di temukan sebuah mikroskop biasa oleh/Antony Van Leuwenhoek (1632-1723) dengan hanya perbesaran scbcsar 3000X. K mudian Ruska dan nol pada tahun 1932 menemukan Mikroskop elektron dcnga melakukan perbaikan tehadap mikroskop biasa yang ditemukan oleh Antony Van Yeuwenhoek dengan cara 1. tenarnbahkan partikel elcktron sehagai pemantul bayangan objek. Perkembang an selanjutnya ditemukan Mikroskop fase kontras oleh Firt Zenika (Leeson, 1990). Macam-macam mikroskop diantaranya: 1. Mikroskop cahaya Pada awal abad ke-17 ketika dunia ilmu pengetahuan pada masa itu mulai menduga adanya dunia renik yang tak terlihat akibat terbatasnya kemampuan mata manusia. Padahal dunia itu berpengaruh pada hidup manusia. Maka

dibuatlah apa yang kini kita sebut mikroskop. Kata ini berasal dari bahasa Yunani di mana mikros berarti kecil dan skopeo berarti melihat (Washitoaji, 2000). Saat ini tidak ada dokumen yang dapat menuntun kita pada siapa sebenarnya penemu mikroskop ini. Kemungkinan mikroskop dikembangkan dari teleskop yang memiliki Galileo pada pertengahan abad ke-17. Instrumen mikroskop pertama yang terbukukan adalah yang dipakai oleh ilmuwan Belanda bernama Antony van Leeuwenhoek (1632-1723). Mikroskop ini terdiri dari lensa cembung yang kuat dengan penadah sampel (preparat) yang dapat digerakkan. Dengan mikroskop yang sederhana ini Leeuwenhoek dapat melakukan pengamatan dengan pembesaran hingga 400 x dan ia mengumumkan pada dunia penemuannya akan jasad renik seperti bakteri, protozoa, dan spermatozoa. Ia juga dapat mengklasifikasikan sel darah merah dengan mengamati bentuknya (Washitoaji, 2000). Keterbatasan pada mikroskop Leeuwenhoek adalah pada kekuatan lensa cembung yang digunakan. Untuk mengatasinya digunakan lensa tambahan yang diletakkan persis didepan mata pengamat yang disebut eyepiece, sehingga obyek dari lensa pertama (kemudian disebut lensa obyektif) dapat diperbesar lagi dengan menggunakan lensa ke dua ini. Pada perkembangan selanjutnya ditambahkan pengatur jarak antara kedua lensa untuk mempertajam fokus, cermin atau sumber pencahayaan lain, penadah obyek yang dapat digerakkan dan lain-lain, yang semua ini merupakan dasar dari pengembangan mikroskop modern yang kemudian disebut mikroskop cahaya Light Microscope (LM) (Washitoaji, 2000). LM modern mampu memberikan pembesaran (magnifikasi) sampai 1.000 kali, dan memungkinkan mata manusia dapat membedakan dua buah obyek yang berjarak satu sama lain sekitar 0,0002 mm (disebut daya resolusi 0,0002 mm). Seperti diketahui mata manusia yang sehat disebut-sebut mempunyai daya resolusi 0,2 mm. Pada pengembangan selanjutnya diketahui bahwa kemampuan lensa cembung untuk memberikan resolusi tinggi sudah sampai pada batasnya, meskipun kualitas dan jumlah lensanya telah ditingkatkan. Belakangan diketahui bahwa ternyata panjang gelombang dari sumber cahaya yang digunakan untuk pencahayaan berpengaruh pada daya resolusi yang lebih tinggi. Diketahui bahwa daya resolusi tidak dapat lebih pendek dari panjang gelombang cahaya yang

digunakan untuk pengamatan. Penggunaan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti sinar biru atau ultra violet dapat memberikan sedikit perbaikan, kemudian ditambah dengan pemanfaatan zat-zat yang mempunyai indeks bias tinggi (seperti minyak), resolusi dapat ditingkatkan hingga di atas 100 nanometer (nm). Hal ini belum memuaskan peneliti pada masa itu, sehingga pencarian akan mode baru akan mikroskop terus dilakukan (Washitoaji, 2000). 2. Mikroskop elektron Pada tahun 1920 ditemukan suatu fenomena di mana elektron yang dipercepat dalam suatu kolom elektromagnet, dalam suasana hampa udara (vakum) berkarakter seperti cahaya, dengan panjang gelombang yang 100.000 kali lebih kecil dari cahaya. Selanjutnya ditemukan juga bahwa medan listrik dan medan magnet dapat berperan sebagai lensa dan cermin terdapat elektron seperti pada lensa gelas dalam mikroskop cahaya (Washitoaji, 2000). Ilmuwan dari Universitas Berlin yaitu Dr Ernst Ruska menggabungkan penemuan ini dan membangun TEM (Transmission Electron Microscope/ mikroskop elektron mode transmisi elektron) yang pertama pada tahun 1931. Untuk pekerjaannya ini dunia menganugerahinya hadiah Nobel pada tahun 1986. Mikroskop yang pertama menggunakan dua "lensa" medan magnet, namun tiga tahun kemudian ia menambah "lensa" ketiga dan mendemonstrasikan resolusi hingga 100 nm (dua kali lebih baik dari mikroskop cahaya pada masa itu) (Washitoaji, 2000). Mikroskop eletron mode transmisi elektron pada masa sekarang, dengan berbagai perbaikan dari yang terdahulu, dapat memberikan resolusi hingga 0,1 nm (atau 1 angstrom) atau dengan pembesaran sampai satu juta kali, suatu hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Leeuwenhoek. Sayangnya mikroskop eletron mode ini bekerja bagaikan sebuah slide proyektor, di mana elektron ditembuskan ke dalam obyek pengamatan dan pengamat mengamati hasil tembusannya pada layar. Yang terlihat bukan hanya bayangan siluet seperti pada pertunjukkan wayang kulit, tetapi pada resolusi yang tinggi pengamat dapat melihat struktur kristal dan lain lain, bahkan pergerakan elektron seperti yang ditunjukkan oleh peneliti dari Jepang Prof Dr Hashimoto (Okayama University of Science) pada sebuah seminar yang lalu di Puspiptek Serpong. Konsekuensinya

obyek yang diamati disyaratkan setipis mungkin sehingga dapat ditembus oleh elektron, atau elektron dipercepat secepat mungkin sehingga mampu menembus objek sampai pada batas tertentu (Washitoaji, 2000). Meskipun banyak bidang-bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dengan bantuan mikroskop elektron mode ini, syarat "agar obyek pengamatan setipis mungkin" ini kembali membuat sebagian peneliti tidak terpuaskan, terutama yang memiliki obyek yang tidak dapat dengan serta merta dipertipis. Karena itu pengembangan mode baru mikroskop elektron terus dilakukan (Washitoaji, 2000).

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1.

Waktu dan Tempat Praktikum dilaksanakan pada pukul 08.00 WITA,hari rabu, tanggal 21

Oktober 2009. Bertempat di Laboratorium Biologi Dasar 1, Laboratorium Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Mangkurat, Banjarbaru. 3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop cahaya monokuler dan binokuler, kaca benda, kaca penutup, pinset, pipet tetes, kuas, air, preparat, dll. 2.3 1. Prosedur Kerja Mencari bidang penglihatan. 1.1. Menaikkan tabung menggunakan makrometer ( pemutar kasar), hingga lensa obyektif tidak membentur meja/panggung bila revolver diputar-putar. 1.2. Tempatkan lensa obyektif pembesaran lemah ( 4X atau 10X ) dengan memutar revolver sampai berbunyi klik ( posisinya satu poros dengan lensa okuler). 1.3. bukalah diafragma sebesar-besarnya dengan menarik tangkainya ke Belakang. 1.4. aturlah letak cermin sedemikian rupa ke arah cahaya, hingga terlihat lingkaran ( lapangan pandang ) yang sangat terang di Universitas Lambung

dalam lensa okuler. Mikroskop siao digunakan. 2. Mencari bayangan sediaan. 2.1. Naikkan tabung mikroskop menggunakan makrometer, hingga jarak antara lensa obyektif dengan permukaan meja -/+ 3 cm. 2.2. Letakkan sediaan yang akan diamati di tengah-tengah lubang meja benda, gunakanlah penjepit sediaan agar tidak tergeser.

2.3.

Putarlah makrometer ke belakang sampai penuh ( hati-hati ), sambil menempatkan noda sediaan tepat di bawah lensa obyektif, hingga jarak antara ujung lensa obyektif dengan permukaan atas kaca penutup hanya -/+ 1mm.

2.4.

Bidikkan mata ke lensa okuler sambil memutar makrometer ke depan searah jarum jam secara hati-hati sampai tampak bayangan yang jelas.

2.5.

untuk mendapatkan pembesaran kuat, putar revolver dan lensa obyektif yang sesuai. Kemudian mainkan fungsi micrometer secara perlahan dan hati-hati. ( ingat bila menggunakan lensa obyektif 100 X, maka di atast sediaan perlu ditetesi minyak imersi dahulu)

3.

Memelihara mikroskop 3.1. Mikroskop harus selalu diangkat dan dibawa dalam posisi tegak, dengan satu tangan memegang erat pada lengan mikroskop dan tangan yang lain menyangga pada dasar atau kakinya. 3.2. Apabila tabung perlu diangkat dicondongkan posisinya, maka cukup dilakukan dengan memutar engsel penggerak sebagai titik putar. Setelah selesai harus ditegakkan kembali. 3.3 . Usahakan agar lensa obyektif lemah ( 4X atau 10X ) berada satu poros di bawah lensa okuler. Aturlah kedudukan tabung sedemikian rupa sehingga ujung lensa obyektif lemah berjarak kurang lebih 1cm dari atas meja benda. 3.4. Aturlah kedudukan penjepit sediaan dengan rapid an cermin pada posisi tegak agar debu tidak banyak menempel. 3.5. Apabila pengamatan dengan menggunakan minyak imersi telah berakhir, bersihkan sisa minyak dengan menggunakan cairan Xilol sesegara mungkin dan keringkan dengan kain lap yang bersih. 3.6. Selanjutnya setiap akan menggunakan mikroskop, bersihkan lensa atau bagian lainnya dengan kain lap bersih dari bahan yang halus (flannel).

4.

Pengukuran Mikroskopis/Mikrometri Untuk mengetahui ukuran obyek yang diamati dengan mikroskop untuk dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang disebut Mikrometer Obyektif dan Mikrometer Okule

5.

Menggambar Hasil. Hasil pengamatan dengan mikroskop dapat dituangkan dalam bentuk gambar, yang dilakukan dengan alat fotografi atau dengan tangan (manual). Gambar yang baik harus dapat menyampaikan ide yang jelas dari suatu struktur yang nyata sebagaimana tampak hubungan antara bagian-bagian yang diamati. Adapun cirri-ciri gambar yang baik adalah ; jelas, mempunyai keterangan yang lengkap, rapi, dan cermat. Gamabr diatur sedemikian rupa, dibagian tengah halaman buku, disertai judul, keterangan pembesaran, biasanya satu halaman hanya untuk 1-2 gambar saja, letak keterangan gambar pada sisi yang sama dengan jarak garis petunjuk diusahakan sama dan tidak saling berpotongan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Keterangan : 1. Lensa Okuler 2. Tabung 3. Makrometer 4. Mikrometer 5. Lensa Objektif 6. Penjepit 7. Diafragma 8. Panggung 9. Cahaya 10. Kaki Dasar 11. Lengan

Gambar 1. Mikroskop dan bagian-bagiannya

4.2

Pembahasan

4.2.1 Pengertian Mikroskop Mikroskop adalah alat pembesar diperlukan untuk melihat bakteri, melihat isi dari sel pada makhluk hidup, bentuk organisme-organisme yang kecil, untuk

melihat jaringan yang ada di dalam tubuh organisme, serta banyak lagi hal lainnya (Syamsuri, 2000). 4.2.2 Bagian-Bagian Mikroskop Bagian- bagian pada mikroskop yang wajib\kita ketahui adalah sebagai : 1. Bagian mekanis adalah bagian yang bersifat sekunder namun sangat penting agar mikroskop dapat digunakan dengan baik dan terdiri dari: a. Kaki dasar atau basis ; dapat berbentuk apal kuda, persegi atau bentuk yang lain. b. Pilar, lengan , dan engsel penggerak ; atas kaki terdapat pilar, diatas pilar terdapat lengan. Bagian pilar (19 lengan

ckhubungkan oleh engsel penggerak yang berfungsi untuk mengatuf kedudukarki mikroskop sesuai yang kita kehendaki. c. Meja Benda ; merupakan tempat untuk meletakkan enda atau obyek yang akan diamati. Pada bagian tengah meja terdapat luban yang berfungsi untuk meloloskan cahaya yang bcrasal dari ccrmin pcmantul. \ Di bawah meja atau panggung terdapat sub panggung yang padanya melekat kondensor yang berfungsi untuk memfokuskanicahaya ke obyek yang akan diamati. Di bawah kondensor terdapat diafragrim untuk mengatur

sedikitnya cahaya yang diperlukan. d. Sekrup penggerak sediaan atau obyek ; jumlahnya dua (2) tersusun pada satu sumbu yang berfungsi untuk mcnggerakkan sediaan kekiri dan ke sebelah kanan ( sekrup Bawah ). e. Sekrup pengatur jarak antara teropong dengan sediaan jumlahnnya 2 buah atau menjadi satu, yang inempunyai dua fungsi, yaitu sebagai pengatur atau penggerak kasar ( makrometer ) dan sebagai penggerak halus ( micrometer ) 2. Bagian optik, Bagian ini terdiri dari cermin, lensa kondensor, diafragma, lensa

obyektif, lensa okuler. Alat- alat tersehut merupakan bagian yang utama atau primer dari sebuali mikroskop. a. Cermin ; berfungsi untuk memantulkan cahaya dari sumbu cahaya ke obyek yang kita akan amati. Pada setiap microskop selalu dilengkapi cermin dengan permukaan benda, yaitu permukaan datar dan permukaan cekung. Permukaan datar digunakan apabila sumber cahaya cukup terang, sedangkan permukaan cekung digunakan apabila intensitas mbeahaya kurang atau tidak terang. b. Lensa kondensor ; mikroskop y g baik hiasanya dilengkapi dengan lensa kondensor yang merupakan kom inasi dan \ dua. lensa yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke obyek y g sedang diamati. Apabila kondisi ruangan kekurangan cahaya maka dengan
.

menggunakan

cermin cekung dan mengatur yang lebih baik dari semula.

kondensor akan diperoleh pencahay

c. Diafragma ; merupakan bagian yang dapat diputar atau digeser tangkainya ke salah sate arah yang kita suka. Diafragma berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya yang diperlukan saat sedang mengantatifobyek yang akan diamati. d. Lensa objektif e. Berfungsi untuk memperbesar obyek yang diamati secara langsung, biasanya l e t a k n ya d e k a t d e n g a n s e d i a a n d a n t e r d a p 2 , 3 a t a u l e b i h l e n s a d i pasangsekaligus pada revolver yang dapaticliputar:\ Pada umumnya dijumpai mikroskop dengan tiga lensa obyektif yaq 4X, 10X, dan 40X atau 45X. Lensa obyektif memiliki beberapa ife yang bisa digunakan pada berbagai mikroskop antara lain: akromat, semi apokromat (flourit), apokromat, 'plan akromat (plan) dan plan apokromat (plan apo). f. Lensa okuler g. Lensa ini terletak di atas tabung mikroskop yang dipakai pengamat uittuk mclihat bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif. Lensa pada okuler mempunyai fungsi memperbesar bayangan yang clihasilkan oleh lensa objektif. Di bagian atas okuler tertera x5, x10,

x15. Okuler dengan pembesaran x10 ke atas sangat baik bila dikombinasikan dengan objektif yang berkualitas tinggi, apabila. dengan objektif yang berkualitas rendah akan didapatkan

pembesaran benda oleh okuler akan jelek. Total pembesaran bayangan dari pengamatan benda adalah ha.sil perkalian antara pembesaran objektif dengan pembesaran okuler. h. Tabung badan mikroskop i. Tabung badan mikroskop adalah bagian yang memisahkan antara lensa objektif dengan lensa okuler. Tiap mikroskop akan berfungsi baik apabila mempunyai panjang tertantu. Apabila panjang tabung badan mikroskop Iebih panjang dari ketentuan maka bayangan akan terlihat tampak buram. 4.2.3 Cara Menggunakan dan Memelihara Mikroskop a. Menggunakan Mikroskop 1. Letakkan mikroskop di atas meja dengan cara memegang lengan mikroskop sedemikian rupa sehingga mikroskop berada persis di hadapan pemaka 2. Putar revolver sehingga lensa obyektif dengan perbesaran lemah berada pada posisi satu poros dengan lensa okuler yang ditandai bunyi klik pada revolver. 3. Mengatur cermin dan diafragma untuk melihat kekuatan cahaya masuk, hinggadari lensa okuler tampak terang berbentuk bulat (lapang pandang). 4. Tempatkan preparat pada meja benda tepat pada lubang preparat dan jepit dengan penjepit obyek/benda! 5. Aturlah fokus untuk memperjelas gambar obyek dengan cara memutar pemutar kasar, sambil dilihat dari lensa okuler. 6. Apabila bayangan obyek sudah ditemukan, maka untuk memperbesar gantilah lensa obyektif dengan ukuran dari 10 X,40 X atau 100 X, dengan cara memutar revolver hingga bunyi klik. 7. Apabila telah selesai menggunakan, bersihkan mikroskop dan simpan pada tempat yang tidak lembab.

b. Memelihara Mikroskop 1. Mikroskop harus selalu diangkat dan dibawa dalam posisi tegak, dengan satu tangan memegang erat pada lengan mikroskop dan tangan yang lain menyangga pada dasar atau kakinya. 2. Apabila tabung perlu diangkat dicondongkan posisinya, maka cukup dilakukan dengan memutar engsel penggerak sebagai titik putar. Setelah selesai harus ditegakkan kembali. 3. Usahakan agar lensa obyektif lemah ( 4X atau 10X ) berada satu poros di bawah lensa okuler. Aturlah kedudukan tabung sedemikian rupa sehingga ujung lensa obyektif lemah berjarak kurang lebih 1cm dari atas meja benda. 4. Aturlah kedudukan penjepit sediaan dengan rapid an cermin pada posisi tegak agar debu tidak banyak menempel. 5. Apabila pengamatan dengan menggunakan minyak imersi telah berakhir, bersihkan sisa minyak dengan menggunakan cairan Xilol sesegara mungkin dan keringkan dengan kain lap yang bersih. 6. Selanjutnya setiap akan menggunakan mikroskop, bersihkan lensa atau bagian lainnya dengan kain lap bersih dari bahan yang halus (flannel).

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut : 1. Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek yang berukuran sangat kecil. Hal ini membantu memecahkan persoalan manusia tentang organisme yang berukuran kecil. 2. Ada dua bagian utama yang umumnya menyusun mikroskop, yaitu : - Bagian optik, yang terdiri dari kondensor, lensa objektif, dan lensa okuler. - Bagian non-optik, yang terdiri dari kaki dan lengan mikroskop, diafragma, meja objek, pemutar halus dan kasar, penjepit kaca objek, dan sumber cahaya. 3. Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.

5.2

Saran Sebelum melakukan praktikum sebaiknya kita harus tahu dulu bagaimana

cara nya dan harus memeriksa segala peralatan yang akan digunakan. Terjalinnya kerja sama antar praktikan dengan asisten sangat diperlukan untuk dapat mencapai target yang dinginkan. Selain itu asisten sebaiknya mendampingi praktikan dalam melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Albert, B, dkk. 1994. Biologi Monokuler Sel Edisi Kedua Mengenai Sel. Gramedi Pustaka Utama. Jakarta. Anonim1. 2009. Fisika Dasar : Mikroskop. http://basicsphysics.blogspot.com. Diakses tanggal 24 oktober 2009. Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta. Nash, David. 1978. The First Ensyclopedia. Banner Press. New York. Syamsuri, 1997. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta. Syamsuri., I. 2000. Biologi 2000. Erlangga. Jakarta.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:58736
posted:11/24/2009
language:Indonesian
pages:18