Docstoc

Pendahuluan

Document Sample
Pendahuluan Powered By Docstoc
					Ekosistem Wilayah Pesisir

BAB I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan penggunaan tanah di Indonesia memperlihatkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir merupakan tahapan terakhir dari eksploitasi manusia terhadap lingkungannya (Soerianegara, 1977). Sebelumnya, manusia memanfaatkan tanah daratan untuk mencukupi kebutuhannya yang didukung masukan energi dan teknologi tertentu yang sesuai untuk wilayah darat. Dalam tahapan ini, sesungguhnya ekosistem darat dapat mencapai hasil paling optimal dipandang dari keseimbangan input dan output energi. Artinya kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat harusnya dapat didukung oleh ekosistem daratan. Lebih jauh dari itu, yaitu memanfaatkan wilayah pesisir berarti melibatkan penggunaan input energi yang lebih besar dan sekaligus berpeluang menurunkan efisiensi produksi dan menghasilkan degradasi ekosistem keseluruhan. Secara umum permasalahan dalam pengelolaan ekosistem ini selain bersumber dari ekosistem darat misalnya karena kegiatan industri atau pertanian; dan laut karena transportasi; juga karena karakteristik organismenya yang sangat rentan terhadap perubahan yang mempengaruhinya (Dahuri et al., 1996). Pemahaman keseimbangan energi dalam ekosistem pesisir dapat memberikan kerangka penting dan mendasar bagi upaya-upaya pemanfaatannya. Odum (1971) menggambarkan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

1

Ekosistem Wilayah Pesisir

bahwa wilayah pesisir yang subur (fertile estuaris) dalam keadaan yang stabil (atau klimak) memiliki tingkat respirasi (R) dan fotosintesis (P) yang sama (R/P mendekati satu) dengan tingkat yang paling besar di bawah terumbu karang (coral reefs). Hal ini bermakna bahwa variabel waktu merupakan faktor penentu paling penting dalam pembentukannya. Seandainya saja ekosistem pesisir terganggu, sekalipun masukan energi bagi rehabilitasinya telah tersedia, ia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk menata interaksi di dalam komponen-komponennya agar berstruktur dan berfungsi sama seperti sebelumnya. Karakteristik yang spesifik tersebut, tentu saja tidak dapat didekati dengan mekanisme pasar untuk pengelolaannya, belum lagi banyak dijumpai aset-aset non use value di dalamnya yang mencirikan common resources. Pendekatan yang mungkin untuk pengelolaannya adalah material balance, dimana aliran materi dan energi yang mempengaruhinya harus dihitung secara cermat dan ditempatkan pada proporsinya (Pierce and Turner, 1990). 2. Konsep Aliran Energi Ekosistem pesisir bersama dengan terumbu karang menempati peringkat tertinggi dalam produktifitas (gross primary production), yaitu 20000 kcal m-2 tahun-1. Angka ini jauh di atas produktifitas ekosistem darat yang memperoleh masukan energi, yaitu 12000 kcal m-2 tahun-1. Tingginya produktifitas itu berkaitan dengan karakteristik wilayah pesisir yang khas, yaitu (1) wilayah pesisir merupakan areal jebakan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

2

Ekosistem Wilayah Pesisir

hara (a nutrient trap) sebagai akibat pertemuan aliran air dari ekosistem darat dan ekosistem laut, (2) wilayah pesisir menyediakan habitat dan kehidupan sepanjang tahun bagi sekelompok produser penting (macrophytes, benthic microphytes, dan phytoplankon) yang menyusun struktur ekosistem pesisir, dan (3) wilayah pesisir menyimpan energi (pasang surut) yang besar dari aliran materi dan energi bagi keberlangsungan ekosistemnya (Odum, 1971). Namun demikian tingginya produktifitas ekosistem pesisir tidak mencerminkan keadaan sesederhana yang terjadi di ekosistem darat. Sesuai dengan dinamikanya, produktifitas ekosistem sistem sangat dipengaruhi oleh aliran input dan output yang berasal ekosistem darat dan laut. Yang terjadi sesungguhnya adalah adanya keseimbangan biofisik secara dinamis di dalam lingkungan produktifitas biologi yang tinggi dalam tiga subsistem. Pertama, pada zone air dangkal, laju fotosintesis melebihi respirasi. Subsistem ini mengekspor energi dan materi (hara) ke zone pesisir yang lebih dalam dan ke daratan di dekatnya. Kedua, pada zone yang lebih dalam, laju respirasi melebihi fotosintesis. Dalam subsistem ini materi hara atau bahan organik dioksidasi menjadi materi-materi yang sederhana yang siap untuk diregenerasi. Ketiga, subsistem plankton dan nekton, merupakan media yang berperan memproduksi, mentransformasi dan mengangkut hara dan energi di antara sub sistem zone dangkal dan dalam mengikuti fluktuasi pasang surut, musim, atau iklim. Lebih lanjut, dinamika materi dan energi dalam ekosistem pesisir dikemukakan berikut (lihat Gambar 1)
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

3

Ekosistem Wilayah Pesisir

mengikuti beberapa kaidah-kaidah atau konsepsi ekologis yang penting. Telah tergambarkan secara jelas bahwa ekosistem pesisir merupakan gambaran sistem tropik yang didominasi oleh produsen. Mereka menggantungkan input materi dan energi terutama dari tenaga pasang surut laut, cahaya matahari dan bahan organik atau unsur hara. Input yang terakhir dapat berasal dari ekosistem darat sebagai bahan bawaan; dan dari ekosistem laut sebagai materi hasil konversi (dan respirasi) utamanya dari sub sistem konsumen. Input ini oleh tenaga pasang surut dan atas bantuan energi matahari merupakan sumber utama bagi fotosistsis (P). Umumnya pengaruh aktifitas manusia terhadap aliran input sangatlah besar. Sekalipun manusia manusia telah bermaksud menginjeksi energi, seringkali perubahan yang dilakukan terhadap ekosistem tidak dapat mengganti aliran input seperti sedia kala. Disinilah letak titik kritikal pengelolaan wilayah pesisir oleh manusia sekaligus berpotensi mengancam keberadaannya.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

4

Ekosistem Wilayah Pesisir

Gambar 1. Model Sederhana Dinamika Energi Ekosistem Wilayah Pesisir (Odum, 1971) (081244426183)

Aliran input kemudian ikut menjalankan beragam proses dan mekanisme yang komplek, yang merupakan keseimbangan (general equilibrium) dan interaksi dari kegiatan produksi dan konsumsi. Proses yang terjadi sangat dipengaruhi tingkat perkembangan ekosistem. Pada tahapan awal suksesi (young nature), kegiatan produksi berjalan sangat intensif dan efisien. Sistem begitu terbuka dan tergantung terhadap pengaruh input sehingga sesungguhnya menyimpan potensi instability dan implisit entropynya tinggi. Sementara itu pada tahapan akhir suksesi (climax), karakteristik ekosistem pesisir telah berbalik dari awal suksesi. Sistem sudah begitu stabil (P~R) dan self sustaining terhadap keadaan dan pengaruh sistem sekitarnya. Interval waktu yang dibutuhkan di antara dua tahapan suksesi dipengaruhi beragam faktor yang mempengaruhi proses dalam sistem secara keseluruhan. Namun demikian pesisir di daerah tropika berpeluang mencapai akhir suksesi yang lebih cepat dibanding
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

5

Ekosistem Wilayah Pesisir

daerah temperate; implisit di dalamnya proses kerusakan yang lebih cepat karena tingginya kecepatan dekomposisi dan respirasi. Selanjutnya, proses menghasilkan aliran berupa output, entropy dan mekanisme homeostasis. Output dari ekosistem pesisir terutama dikelompokkan ke dalam subsistem consumer berupa ikan atau hasil-hasil laut lainnya. Output dapat diperluas ke dalam nilai-nilai lainnya dari ekosistem yang dapat dimanfaatkan, seperti kayu dari mangrove yang ada di dalamnya atau dari penggunaan lahan lainnya. Pengertian output adalah lebih kepada net productivity, yaitu tambahan produksi (value added) dari gross productivity antara dua waktu pengukuran. Hal ini dipersepsikan sama dengan pertumbuhan ekonomi apa bila dimaksudkan untuk menghitung ke dalam satuan monetary. Konsepsi ekologi lainnya yang melekat dalam ekosistem pesisir adalah entropy (dalam Gambar 1 diperlihatkan sebagai panah ke arah bawah), yang merupakan pencerminkan ketidakefisienan sistem sebagai akibat adanya materi dan energi yang tidak terdaya-gunakan oleh komponenkomponen atau struktur di dalam sistem. Menurut Serageldin (1996), kemiskinan, pencemaran lingkungan, dan rendahnya produktifitas merupakan manifestasi yang ditimbulkan oleh entropy. Entropy mengalir tidak hanya menuju ekosistem pesisir saja, ia dapat berimplikasi secara spasial dan temporal terhadap subsistem darat dan laut dan sistem sosial yang terkait di dalamnya. Misalnya adanya pencemaran laut, maka entropy bisa terjadi dalam hambatan fotosintesis akibat dari (a)
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

6

Ekosistem Wilayah Pesisir

kekeruhan air laut dan (b) tidak berperannya detritus dalam energy transfer unsur hara. Hal ini selanjutnya akan mengakibatkan penurunan produktifitas produsen dan konsumen. Konsepsi ekologis lain yang tidak kalah pentingnya adalah homeostasis. Homeostasis merupakan mekanisme komplek yang terdiri dari: identifikasi materi dan energi dari output; pengorganisasiannya; dan penyelesaian konflik (antara negative dan positive feedback) di dalamnya; yang diperlukan bagi ekosistem untuk senantiasa dalam steady state yang tinggi. Dalam ekosistem pesisir alami mekanisme homeostasis ditampilkan melalui energy transfer oleh sekelompok bakteri, algae dan protozoa dalam pengendalian secara positive feedback. Kelompok community ini berperan dalam total respirasi sehingga menghasilkan unsur hara dan bahan organik yang penting bagi keberlangsungan hidup produsen. Dalam kasus terjadinya pencemaran, mekanisme homeostasis menampilkan pengendalian negative feedback yang menghasilkan tekanan terhadap produsen. Upaya-upaya rehabilitasi wilayah pesisir atau pengelolaan secara hati-hati merupakan manifestasi dari membangun kembali mekanisme homeostasis.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

7

Ekosistem Wilayah Pesisir

3. Struktur Fungsional Ekosistem Pesisir Untuk dapat mengelola pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) kawasan pesisir secara berkelanjutan (on a sustainable basis), perlu pemahaman yang mendalam tentang pengertian dan karakteristik utama dari kawasan ini.

Gambar 2. Keadaan Wilayah Pesisir

Pertanyaan yang seringkali muncul dalam pengelolaan kawasan pesisir adalah bagaimana menentukan batas-batas dari suatu wilayah pesisir (coastal zone). Sampai sekarang belum ada definisi wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan laut. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

8

Ekosistem Wilayah Pesisir

wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries), yaitu : batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Untuk keperluan pengelolaan, penetapan batas-batas wilayah pesisir yang sejajar dengan garis pantai. Akan tetapi, penetapan batasbatas suatu wilayah pesisir yang tegak lurus terhadap garis pantai, sejauh ini belum ada kesepakatan. Dengan perkataan lain, batas wilayah pesisir berbeda dari satu negara ke negara yang lain. Hal ini dapat dimengerti, karena setiap negara memiliki karakteristik lingkungan, sumberdaya dan sistem pemerintahan tersendiri (khas). Definisi dan batas wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut; batas di daratan meliputi daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti pasangsurut, angin laut dan intrusi garam, sedangkan batas di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerahdaerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan. 4. Komponen Fungsional Ekosistem Pesisir Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa sumberdaya hayati perairan pesisir yang merupakan satuan kehidupan (organisme hidup) saling berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan nir-hayatinya (fisik) membentuk suatu sistem. Dengan demikian, pembahasan selanjutnya dititik beratkan pada ekosistem pesisir yang
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

9

Ekosistem Wilayah Pesisir

merupakan unit fungsional komponen hayati (biotik) dan nirhayati (abiotik). Komponen biotik yang menyusun suatu ekosistem pesisir terbagi atas empat kelompok utama: (1) produser, (2) konsumer primer, (3) konsumer sekunder dan (4) dekomposer. Sebagai produser adalah vegetasi autotrof, algae dan fitoplankton yang menggunakan energi matahari untuk proses fotosintesa yang menghasilkan zat organik kompleks dari zat anorganik sederhana. Sebagai konsumer primer adalah hewan-hewan yang memakan produser, disebut herbivora. Herbivora ini menghasilkan pula materi organik (pertumbuhan, reproduksi), tapi mereka tergantung sepenuhnya dari materi organik yang disintesa oleh tumbuhan atau fitoplankton yang dimakannya. Konsumer sekunder adalah karnivora, yaitu semua organisme yang memakan hewan. Untuk suatu analisis yang lebih jelas, kita dapat membagi lagi konsumer sekunder ke dalam konsumer tersier yang memakan konsumer sebelumnya. Sesungguhnya banyak jenis organisme yang tidak dengan mudah dapat diklasifikasikan ke dalam tingkatan trofik ini, karena mereka dapat dimasukkan ke dalam beberapa kelompok: konsumer primer dan sekunder (omnivora), konsumer sekunder dan tersier (predator atau parasit herbivora dan karnivora). Sebagai dekomposer adalah organisme avertebrata, bakteri dan cendawan yang memakan materi organik mati: bangkai, daun-daunan yang mati, ekskreta. Pada prinsipnya terdapat tiga proses dasar yang menyusun struktur fungsional komponen biotik ini: 1) proses produksi (sintesa materi organik), 2) proses konsomasi (memakan materi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

10

Ekosistem Wilayah Pesisir

organik) dan 3) proses dekomposisi atau mineralisasi (pendaurulangan materi). Komponen abiotik dari suatu ekosistem pesisir terbagi atas tiga komponen utama: [1] unsur dan senyawa anorganik, karbon, nitrogen dan air yang terlibat dalam siklus materi di suatu ekosistem, [2] bahan organik, karbohidrat, protein dan lemak yang mengikat komponen abiotik dan biotik dan [3] regim iklim, suhu dan faktor fisik lain yang membatasi kondisi kehidupan. Dari sejumlah besar unsur dan senyawa anorganik sederhana yang dijumpai di suatu ekosistem pesisir, terdapat unsur-unsur tertentu yang penting bagi kehidupan. Unsurunsur tersebut merupakan substansi biogenik atau unsur hara baik makro (karbon, nitrogen, fosfor). maupun mikro (besi, seng, magnesium) Karbohidrat, protein dan lemak yang menyusun tubuh organisme hidup juga terdapat di lingkungan. Senyawa tersebut dan ratusan senyawa kompleks lainnya menyusun komponen organik dari kompartimen abiotik. Bila tubuh organisme hancur, selanjutnya akan terurai menjadi fragmenfragmen dengan berbagai ukuran yang secara kolektif disebut detritus organik. Karena biomassa tanaman lebih besar dibandingkan dengan hewan, maka detritus tanaman biasanya lebih menonjol dibandingkan dengan hewan. Demikian pula tanaman biasanya lebih lambat hancur dibandingkan dengan hewan. Bahan organik terdapat dalam bentuk terlarut dan partikel. Bila bahan organik terurai, bahan tersebut dinamakan humus atau zat humik, yaitu suatu bentuk yang resisten terhadap penghancuran lebih lanjut. Peranan humus dalam
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

11

Ekosistem Wilayah Pesisir

ekosistem tidak sepenuhnya dimengerti, tapi diketahui dengan pasti kontribusinya pada sifat tanah. Kategori ketiga dari komponen abiotik suatu ekosistem pesisir adalah faktor-faktor fisik (iklim). Faktor iklim (suhu, curah hujan, kelembaban) sebagaimana halnya sifat kimiawi air dan tanah serta lapisan geologi di bawahnya, merupakan penentu keberadaan suatu jenis organisme. Faktor-faktor ini senantiasa berada dalam satu seri gradien. Kemampuan adaptasi organisme seringkali berubah secara bertahap sepanjang gradien tersebut, tapi sering pula terdapat titik perubahan yang berbaur atau zona persimpangan yang disebut ekoton (misalnya zo na intertidal perairan laut). 5. Dimensi Ekologis Lingkungan Pesisir Secara prinsip ekosistem pesisir mempunyai 4 fungsi pokok bagi kehidupan manusia, yaitu: sebagai penyedia sumberdaya alam, penerima limbah, penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, dan penyedia jasa-jasa kenyamanan. Sebagai suatu ekosistem, perairan pesisir menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik yang dapat dikonsumsi langsung maupun tidak langsung, seperti sumberdaya alam hayati yang dapat pulih (di antaranya sumberdaya perikanan, terumbu karang dan rumput laut), dan sumberdaya alam nirhayati yang tidak dapat pulih (di antaranya sumberdaya mineral, minyak bumi dan gas alam). Sebagai penyedia sumberdaya alam yang produktif, pemanfaatan sumberdaya perairan pesisir yang dapat pulih harus dilakukan dengan tepat agar tidak melebihi kemampuannya untuk memulihkan diri pada periode waktu tertentu. Demikian pula diperlukan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

12

Ekosistem Wilayah Pesisir

kecermatan pemanfaatan sumberdaya perairan pesisir yang tidak dapat pulih, sehingga efeknya tidak merusak lingkungan sekitarnya. Disamping sumberdaya alam yang produktif, ekosistem pesisir merupakan penyedia jasajasa pendukung kehidupan, seperti air bersih dan ruang yang diperlukan bagi berkiprahnya segenap kegiatan manusia. Sebagai penyedia jasa-jasa kenyamanan, ekosistem pesisir merupakan lokasi yang indah dan menyejukkan untuk dijadikan tempat rekreasi atau pariwisata. Ekosistem pesisir juga merupakan tempat penampung limbah yang dihasilkan dari kegiatan manusia. Sebagai tempat penampung limbah, ekosistem ini memiliki kemampuan terbatas yang sangat tergantung pada volume dan jenis limbah yang masuk. Apabila limbah tersebut melampaui kemampuan asimilasi perairan pesisir, maka kerusakan ekosistem dalam bentuk pencemaran akan terjadi. Dari keempat fungsi tersebut di atas, kemampuan ekosistem pesisir sebagai penyedia jasajasa pendukung kehidupan dan penyedia kenyamanan, sangat tergantung dari dua kemampuan lainnya, yaitu sebagai penyedia sumberdaya alam dan penampung limbah. Dari sini terlihat bahwa jika dua kemampuan yang disebut terakhir tidak dirusak oleh kegiatan manusia, maka fungsi ekosistem pesisir sebagai pendukung kehidupan manusia dan penyedia kenyamanan diharapkan dapat dipertahankan dan tetap lestari.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

13


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:3845
posted:11/24/2009
language:Indonesian
pages:13