Metodologi Des Inventar

Document Sample
Metodologi Des Inventar Powered By Docstoc
					DiBi Server 7.11

Sebuah Metode untuk Membangun Inventarisasi Bencana sebagai bagian dari Proses Mitigasi Resiko

METODOLOGI DESINVENTAR (Versi 7.11)

Jakarta, Februari 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 2

Abstrak
Dokumen ini menjelaskan mengenai metode dan perangkat lunak “DesInventar” serta beberapa hasil penerapannya di Amerika Selatan dan negara-negara lainnya. Metode DesInventar mengusulkan penggunaan data historis mengenai dampak, yang dikumpulkan dalam cara yang sistematis dan sama dalm proses identifikasi bahaya dan kerawanan bencana dan oleh karena it resiko-resiko pada daerah tertentu. Data dikumpulkan berdasarkan serangkaian standar dan diberi penanda waktu dan diberikan rujukan geografis hingga unit wilayah geografis terkecil. Penekanan khusus diberikan pada pembukuan bencana kecil dan menengah, yang mengungkap bahaya bencana dan kerawanan yang dapat tetap tersembunyi jika penekanan tersebut tidak diberikan. Analisa data bencana kecil dan menengah merupakan kunci untuk analisa resiko di tingkat masyarakat. Perangkat lunak ini dapat digunakan bersama dengan perangkat lain untuk menjalankan jenis analisa temporal dan geografis lain dari data ini yang memproduksi baik hasil kualitatif maupun kuantitatif. Hasil-hasil ini dipresentasikan dalam bentuk data tabular, diagram, dan peta. Terdapat juga versi internet dari perangkat ini, yang membuat banyak pengguna dapat memperbaharui perangkat ini secara terpisah dan dalam waktu bersamaan. Baik metodologi maupun perangkat lunaknya telah diuji secara mendalam dan dipakai secara luas di Amerika Latin dan Karibia untuk membangun inventaris bencana mereka. Banyak keadaan darurat nasional di bagian wilayah dunia ini telah menggunakan DesInventar sebagai masukan bagi Analisis Resiko, Mitigasi Resiko, perumusan sistem peringatan ini serta perangkat hari ke hari untuk menindaklanjuti keberhasilan atau perubahan kesiapan dan rencana mitigasi mereka seiring waktu, dan bahkan pada banyak situasi bencana, seperti pada kasus El Niño di Perú, angin topan Mitch di Honduras, dan Armenia (Kolombia) dan gempa bumi di El Salvador.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 3

Pendahuluan
Jika makna dari kata “Disaster” (bencana) dicari pada kamus, sebuah definisi dengan banyak makna akan muncul.
dis·as·ter (dî-zàs¹ter, -sàs¹-) noun a. Sebuah kejadian yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan batin yang luas; sebuah catastrophe. b. Sebuah ketidakberuntungan yang berat. Informal. A kegagalan total: Pesta makan malam itu adalah suatu bencana. c. Tidak digunakan lagi. Pengaruh buruk dari sebuah bintang atau planet. [Bahasa Perancis désastre, dari bahasa Italia disastro : dis-, pejorative pref. (dari bahasa Latin dis-). Lihat dis- + astro, bintang (dari bahasa Latin astrum, dari bahasa Yunani, astron).] Sinonim: disaster, calamity, catastrophe, cataclysm (bencana). Kata-kata benda merujuk pada kejadian yang mempunyai hasil yang fatal atau merusak. Disaster (Bencana) biasanya menyiratkan kehancuran, kesulitan, dan hilangnya nyawa dalam jumlah besar 1

Pembaca akan dengan mudah menemukan bahwa jalinan umum yang menghubungkan semua definisi ini adalah konsep kerusakan atau kehilangan yang besar. Kebanyakan definisi bencana yang masih berlaku bergantung pada satu batasan atau lebih untuk menyatakan fakta bahwa Bencana harus mempunyai ‘skala’ tertentu Dampak minimal terhadap nyawa manusia (contoh 10 kematian dan/atau 100 orang terkena dampak) Masyarakat yang terkena dampak tidak dapat mengatasi keadaan darurat dan/atau meminta bantuan dari luar. Keadaan darurat telah diumumkan Ada gangguan terhadap keteraturan sosial (9, 10)

Pada saat proyek DesInventar dimulai oleh sekelompok peneliti dari La Red, paragraf berikut ini diambil sebagai pernyataan yang memberikan motivasi:
“Pertumbuhan penduduk dan proses urbanisasi, kecenderungan dalam penggunaan lahan, meningkatnya kemiskinan pada sebagian besar kelompok masyarakat, penggunaan teknologi yang salah dalam pembangunan rumah dan prasarana dasar, dan sistem organisasi yang tidak sesuai, antara lain adalah faktor-faktor yang meningkatkan kerawanan masyarakat dan akibatnya kejadian 5 bencana alam dan fisik dengan keragaman yang luas.”

Namun, kurangnya catatan penggolongan bencana yang sesuai, sistematis dan seragam, yang dipahami sebagai “serangkaian efek kejadian yang mengancam masyarakat”, pada satu sisi dan keyakinan untuk menganggap bencana hanya sebagai efek dari kejadian yang mempunyai proporsi dan dampak yang besar pada sisi lainnya, telah menyembunyikan ribuan bencana skala kecil dan menengah yang terjadi setiap tahun di Amerika Latin, Karibia, Asia dan Africa, bencana yang merupakan hasil dari kerawanan yang tinggi dalam masyarakat kita.
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 4

Namun, terdapat institusi dan peneliti di sejumlah negara yang tertarik pada masalah ini. Tetapi sayangnya, mereka menggunakan alat yang berbeda untuk mensistemisasikan informasi mengenai bencana – terutama database atau berkas fisik – yang dirancang berdasarkan kriteria khusus atau kriteria sektor khusus, dan menggunakan format yabg berbeda. Selain itu terdapat volume informasi yang besar yang bekum dikumpulkan dan disistemisasikan, terutama bahan-bahan grafik. Informasi yang tersebar ini harus dikumpulkan, disesuaikan, dan dianalisa. Tetapi informasi tersebut juga harus diberi rujukan secara geografis, karena bencana (masyarakat dan prasarana yang terkena dampak) akibat efek dari tiap kejadian adalah variabel yang diatur berdasarkan wilayah.

Tujuan
Tujuan Proyek DesInventar Project adalah untuk menciptakan inventaris bencana di wilayah-wilayah dan negara-negara di Amerika Selatan dan Karibia, dan jika memungkinkan di Asia dan Afrika dan kemudian mempunyai kemampuan untuk menganalisa dan menjelaskan bahaya, kerawanan dan resiko dalam hal ruang, waktu, baik secara maju ataupun mundur. Tujuan akhir dari kemampuan ini adalah penggunaannya dalam kegiatan manajemen resiko, yang kegiatannya berkisar mulai dari mitigasi hingga perhatian dan pemulihan pasca bencana. Evaluasi kualitatif dan kuantitatif dan pertumbuhan memerlukan dasar dokumen dan catatan yang kuat termasuk mengenai bencana pada saat ini dan pada saat yang akan datang. Bahkan pada negara-negara berkembang, kepentingan dan kebutuhan untuk mengumpulkan data yang sistematik dan seragam mengenai Bencana sudah mulai diakui. Baru-baru ini, Kaukus Bahaya Bencana Alam memberikan laporan pada Kongres Amerika Serikat yang berjudul Prioritas Nasional: Membangun Ketahanan3. Laporan ini terfokus pada bagaimana Kongres dapat membantu mengurangi kerawanan negara terhadap kejadian-kejadian bencana, dan menjelaskan area khusus yang membutuhkan perhatian dari pembuat undang-undang. Hal tersebut meliputi:       Mengembangkan database yang terus menerus diperbaharui mengenai kerugian akibat bencana alam; Memperoleh data mengenai efektifitas biaya mitigasi; Mengembangkan respon keadaan darurat dan peringatan dini; Menumbuhkan pemulihan jangka panjang dengan meningkatkan koordinasi pada seluruh lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga lainnya; Memfokuskan pencegahan dan juga tanggap bencana; dan Meningkatkan kehandalan dari prasarana penting.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 5

Sangat mengejutkan bahwa dua item pertama pada daftar ditujukan pada pengumpulan masalah mengenai pengumpulan informasi mengenai bencana dan efeknya, dalam semua tahap mitigasi resiko, bahkan diatas kegiatan-kegiatan yang secara tradisional telah diberikan prioritas tertinggi, seperti sistem peringatan dini, atau meningkatkan kehandalan prasarana. Para peneliti LA RED dan institusi-institusi yang menjadi anggotanya telah mengerjakan hipotesa ini dalam jangka waktu yang lama, tidak hanya untuk menyediakan perangkat dan informasi untuk para peneliti di seluruh dunia, tetapi juga sebagai dasar empiris dari informasi yang berguna bagi proyek dan penelitian internal, dan secara khusus untuk membuktikan beberapa hipotesa yang bekerja, seperti yang saat ini dikenal luas sebagai fakta bahwa dampak keseluruhan bencana skala kecil dan menengah yang sama dengan atau sangat melebihi dampak dari apa yang disebut sebagai bencana skala besar. Sebagai kontribusi dari tujuan umum ini, LA RED memulai proyek DesInventar yang produknya berwujud sebagai metodologi, seperangkat software dan database nasional untuk (awalnya) delapan negara. Metodologi DesInventar mengajukan penggunaan data histories mengenai dampak bencana, yang dikumpulkan dalam cara yang sistematik dan seragam dalam proses mengidentifikasi bahaya dan kerawanan dan resiko pada wialayah tertentu. Kriteria dasar yang memandu DesInventar adalah: Semua inventaris harus menggunakan variabel yang sama untuk mengukur efek dan penggolongan kejadian dasar dan seragam; Informasi yang dikumpulkan dan diproses harus dimasukkan dalam skala waktu dan tingkat ruang yang diberikan rujukan geografis; Inventaris harus dianalisa dengan menggunakan perangkat sistem yang merupakan persyaratan dasar dalam riset perbandingan dan untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang terkait dengan tindakan mitigasi dan manajemen resiko secara keseluruhan.

Data dikumpulkan berdasarkan serangkaian standar dan diberikan tanda waktu dan rujukan geografis hingga unit geografis dengan resolusi terkecil. Sebagai bagian dari pelaksanaan proyek, terdapat juga instrumen yang meleluasakan visualisasi ruang dan waktu, fenomena yang telah didaftarkan dengan menggunakan diagram dan peta.

Proyek Inventaris Bencana
Proyek DesInventar, “Inventaris Bencana di Amerika Latin” yang dimulai pada akhir tahun 1993. Tahap pendahuluannya meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini:

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 6

a) Pembahasan dan penjelasan mengenai kriteria konseptual dan metodologis untuk penanganan analitik dari bencana skala kecil, menengah dan besar b) Pengembangan metodologi dan perangkat sistem yang dibutuhkan untuk tujuan ini dan c) Kumpulan informasi untuk tahun 1970 hingga 1994 dalam sumber-sumber yang tersedia, yang diperoleh dari contoh pada delapan negara Amerika Latin (Meksiko, Guatemala, El Salvador, Kosta Rika, Kolombia, Ekuador, Peru dan Argentina). Kemudian DesInventar adalah sintesis dari proses yang mana melalui DesInventar, tim peneliti yang berada di bawah LA RED mengajukan kerangka kerja dimana konsep dan metodologi yang terkait dengan bencana disatukan, dan juga merupakan instrumen untuk pengembangan tujuan yang telah ditentukan. Data DesInventar Nasional telah dikumpulkan dan dipelihara melalui organisasi nasional yang berbeda, baik secara pemerintahan maupun akademis, dibawah koordinasi secara keseluruhan dari LA RED, yang telah membuat rangkaian data tersebut tersedia secara online untuk diunduh dan dicari pada http://www.desinventar.org. Saat ini, rangkaian data DesInventar telah dikembangkan untuk 15 negara: Argentina, Bolivia, Cili, Kolombia, Kosta Rika, Ekuador, El Salvador, Guatemala, Jamaika, Meksiko, Panama, Peru, Republik Dominika, Trinidad & Tobago dan Venezuela. Yang saat ini sedang dibangun adalah database untuk Kuba, Haiti dan Guyana. Tujuh studi kasus khusus telah dilaksanakan dengan menggunakan DesInventar pada saat operasi bantuan dan perhatian pada situasi bencana: Honduras dan Nicaragua, setelah Topan Mitch; El Salvador, kasus gempa bumi di bulan Januari dan Februari tahun 2001; di Venezuela selama keadaan darurat Estado Vargas, di Kolombia DesInventar digunakan pada saat gempa bumi di Pereira/Armenia pada tahun 1998 dan genpa bumi di Peru pada tanggal 21 Juni 2001 dan bencana El Niño di bagian utara Peru di daerah Piura pada tahun 1997. Selain itu, DesInventar telah diterapkan pada beberapa skenario wilayah: Negara Bagian Florida, Amerika Serikat; Estado de Paraiba, Brasil dan Departamentos of Antioquia dan Valle del Cauca di Kolombia. Terdapat juga penerapan di tingkat kota di Pereira yang mengikuti gempa bumi yang disebutkan di atas. Database-database ini dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga non-pemerintahan, institusi penelitian dan utamanaya sumber dari media. Hampir semua rangkaian data mempunyai setidaknya liputan selama 30 tahun dari tahun 1970 hingga seterusnya. Sejak tahun 1999, LA RED telah memelihara rangkaian data DesInventar dengan menggunakan biayanya sendiri. Instrumen inventaris bencana lainnya yang disebut sebagai Mandisa, diadaptasi dari DesInventar, dan telah dikembangkan disejumlah bagian Afrika Selatan oleh jaringan PeriPeri.
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 7

Namun, walaupun ada upaya dari La Red dan lembaga-lembaga pendukung lainnya, Proyek ini tidak berhasil dilaksanakan di semua negara dimana proyek ini telah dimulai. Proyek-proyek di beberapa negara tidak pernah dimulai oleh lembaga yang berwenang, bahkan setelah negara itu menerima pelatihan, perangkat lunak dan jasa konsultasi (!). Di beberapa negara lainnya, lembaga-lembaga yang berwenang telah memulai proyek tersebut, yang dilaksanakan berdasarkan riset historis dan menggunakannya untuk analisis awal, tetapi tidak terus mendukung proyek ini secara berkesinambungan. Masalah ini disebutkan disini karena potensi sepenuhnya dari data dicapai tidak hanya pada saat riset histories telah selesai, tetapi juga pada jangka panjang, dengan upaya yang berkelanjutan dari lembaga-lembaga yang mengambil kepemilikan dari proyek. Penyebab utama kegagalan proyek inventaris: Tingkat pergantian yang tinggi dari staf-staf yang terlibat, yang berujung pada hilangnya pengetahuan yang didapat selama tahap pelatihan proyek secara lambat. Ketidakmampuan untuk menetapkan DesInventar sebagai perangkat untuk mengukur keefektifan rencana mitigasi. Kami yakin, pada beberapa kasus tidak ada ketertarikan pada tindakan ini seperti yang ditunjukkan oleh kinerja yang rendah dari lembaga-lembaga terkait . Hambatan anggaran membuat lembaga-lembaga tidak dapat mempertahankan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang digunakan untuk proyek. Dalam hal ini, peraturannya adalah masalah yang mendesak harus didahulukan dari masalah yang penting (atau yang setidaknya sangat diperlukan). Kegiatan institusi yang tinggi karena periode kejadian bencana di atas rata-rata yang juga membuat sumber daya untuk terus dipertahankan dan tersedia bagi proyek. Ada kemungkinan ketidaksetujuan institusional dengan Metodologi proyek. Pilihan yang salah dari para lembaga atau kegagalan untuk membangun komunikasi yang baik dengan lembaga yang mengambil kepemilikan proyek. Walaupun tujuan utamanya adalah untuk melibatkan lembaga penanggulangan bencana utama atau pusat, pada beberapa kasus, terdapat lebih dari satu lembaga yang terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan bencana .

-

-

Metodologi DesInventar
Penjelasan singkat mengenai Metodologi DesInventar 4 diberikan dalam dokumen ini. Metodologi ini sangat didasarkan pada serangkaian definisi dan klasifikasi, dan konsep ruang yang dibagi dalam beberapa tingkat pembagian wilayah, tetapi di atas itu semua: Membagi dan memberi rujukan geografis dari data yang nantinya akan mengijinkan analisis data pada tingkat resolusi geografis minimum. Pengumpulan dan penggunaan data mengenai bencana skala kecil dan menengah.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 8

Metodologi ini juga membahas serangkaian sumber informasi yang sesuai yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi inventaris.

Penjelasan Dasar
Inti dari metodologi ini terdapat pada definisi “Kejadian” dan “Bencana”. Definisi ini tidak menetapkan atau bertentangan atau menjelaskan kembali definisi yang telah dikenal luas, tetapi berfungsi sebagai dasar untuk pekerjaan sistematis dalam mengumpulkan informasi mengenai bencana dengan cara yang sesuai. “Kejadian” dijelaskan sebagai fenomena sosial-alam yang dapat dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan, harta benda dan prasarana. “Bencana” dijelaskan sebagai serangkaian efek negatif yang disebabkan oleh fenomena sosial-alam dan fenomena alam pada hidup manusia, harta benda dan prasarana (sebuah “Kejadian”) dalam unit geografis tertentu pada jangka waktu tertentu. Sama pentingnya dengan penjelasan mengenai “Kejadian” dan “Bencana” itu sendiri adalah penggolongan formal dari Kejadian dan Bencana tersebut. Secara khusus, ada kebingungan yang besar pada saat berurusan dengan kejadian sebagai batasan yang memisahkan satu golongan kejadian yang sangat serpa atau hanya dipisahkan dengan garis yang tidak jelas. Sebuah contoh yang baik adalah serangkaian kejadian yang berhubungan dengan cuaca (atau meteorologi): sebuah penggolongan resmi dengan tolok ukur yang sangat jelas harus ditempatkan untuk membedakan “Badai” dengan “Angin Ribut” atau “Angin Kencan”. Pada banyak kejadian, fenomena cuaca yang sama harus digolongkan secara berbeda tergantung dari tempat dan waktu (contohnya Angin Topan yang berubah menjadi badai tropis). Tujuan dari menggolongkan kejadian (dan efek yang dinyatakan dibawah ini) adalah kembali membuat data mengenai bencana menjadi seragam dan dapat dibandingkan. Dokumentasi DesInventar dengan jelas memberikan kriteria dan mendorong (tetapi tidak membatasi) penggunaan klasifikasi yang mengajukan rangkaian kejadian berikut ini:
KECELAKAAN GELOMBANG PASANF LONGSORAN SALJU BENCANA BIOLOGIS EROSI GARIS PANTAI KEKERINGAN GEMPA BUMI BADAI LISTRIK WABAH PENYAKIT LETUSAN GUNUNG BERAPI LEDAKAN HUJAN BESERTA ANGIN RIBUT GELOMBANG PANAS TANAH LONGSOR KEBOCORAN PENCAIRAN PANIK WABAH POLUSI HUJAN SEDIMENTASI BADAI SALJU
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Dibuat oleh Team DiBi

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 9
KEGAGALAN KEBAKARAN BANJIR KEBAKARAN HUTAN KEBEKUAN BANJIR BANDANG BADAI ANGIN RIBUT STRUKTUR GELOMBANG TINGGI TSUNAMI

Sebuah upaya yang baik dilakukan selama tahap penelitian untuk membuat peserta pelatihan mengenali penggolongan ini. Kelompok peneliti yang merumuskan dan menentukan kembali Metodologi juga telah menghabiskan waktu yang banyak untuk membahas efek dari bencana. Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mencapai kesepakatan mengenai efek, definisi, dan untuk pengukuran dan masalah lainnya yang terkait dengan pengukuran kuantitatif dan kualitatif dan penjelasan mengenai efek-efek tersebut. Pada bagian efek dari “Datacard”, catatan yang diambil untuk masing-masing bencana mencerminkan hasil pembahasan seperti berikut:

Efek yang dikumpulkan kemudian digolongkan sebagai variabel “jelas” dan “tidak jelas”. Variabel yang jelas seperti angka kematian, orang hilang, cedera, dan rumah yang hancur atau rusak dikumpulkan jika mungkin -. Untuk terus mengikuti bencana yang efeknya tidak diukur secara akurat atau tidak diukur sama sekali, sebuah rangkaian variabel yang tidak jelas dikumpulkan. Variabel-variabel ini menunjukkan bahwa bencana mempunyai efek khusus tanpa ada upaya untuk menentukan kuantitasnya. Tujuan dari variabel ini adalah untuk mencegah hilangnya seluruh informasi pada saat data menghilang atau diketahui sebagai tidak terpercaya. Penting untuk diperhatikan bahwa beberapa keputusan diambil oleh tim peneliti pada saat membatasi jumlah variabel efek yang harus dikumpulkan. Pembaca harus mengingat bahwa salah satu tujuan dari inventaris ini ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai bencana yang terjadi di masa lalu, dan dalam hak ini, ketersediaan efek yang
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 10

rinci mengenai informasi masih diragukan. Berdasarkan asumsi ini, tim memeilih untuk membuat variabel tetap menjadi rendah sehingga, dalam satu sisi, keberhasilan dapat diprediksi pada penelitian historis nyata dan pada sisi lain, hasil dapat memberikan informasi yang cukup untuk bekerja pada saat menentukan kerawanan, menemukan pola atau mengesahkan resiko yang diperoleh dengan cara lain. Rangkaian dari pengaruh yang dipilih ditujukan pada definisi Bencana pada inti metodologi: pengaruh pada hidup manusia (kematian, hilang, cedera, evakuasi, relokasi dan orang-orang yang terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung), harta benda (rumah yang hancur dan terkena dampak serta pengaruh pada tanaman dan hewan ternak) dan pada prasarana (transportasi, komunikasi, peralatan, dan lain-lain.). Namun, rangkaian terakhir dari efek pada prasarana ini sangat sulit untuk dibuat modelnya dan oleh karena itu mengukur dengan cara yang umum dan seragam, dan sebuah keputusan dibuat untuk menjaga efek ini tetap menjadi variabel ‘tidak jelas’. Dapat ditambahkan bahwa angka dan pernyataan yang tepat mengenai kerusakan pada prasarana akan sangat sulit didapat dan sangat tidak handal dari segi riset historis.

Konsep unit geografi dengan resolusi minimal
Salah satu pijakan dari metodologi ini adalah konsep pemberian rujukan geografis pada informasi di dalam inventaris. Saat proyek dimulai pada wilayah studi tertentu, salah satu langkah pertama adalah untuk memilih divisi (pembagian area) yang membuat para peneliti dapat melaksanakan analisis dan mencapai kesimpulan yang diinginkan pada tingkat rincian yang sesuai. Telah diketahui secara luas bahwa ada fakta bahwa organisasi bantuan, lembaga penanggulangan keadaan darurat dan media cenderung untuk merata-ratakan informasi kerugian bencana dengan beberapa tujuan berbeda yang berkisar dari alokasi anggaram dan sumber daya untuk mendukung operasi bantuan hanya untuk memperoleh data yang sensasional untuk kepala berita. Namun tujuan analitik dari informasi yang dikumpulkan dari informasi yang dikumpulkan untuk inventaris bencana membutuhkan data yang dipisah secara sepenuhnya untuk masing-masing unit geografis pada sistem penentuan wilayah. Sayangnya informasi mengenai bencana skala menengah dan besar seringkali tidak tersedia dalam bentuk yang terpisah. Bencana skala kecil, karena sifatnya dapat diberikan rujukan geografis dengan mudah, karena bencana skala tersebut tidak melampaui batas unit geografi dimana bencana tersebut terjadi. Memisah-misakan data adalah tugas yang sulit, yang mempunyai implikasi yang luas pada pekerjaan dan selanjutnya pada kegunaan informasi. Pada satu sisi, menggunakan data mengenai bencana yang dikumpulkan dengan resolusi geografi tertinggi (yaitu. Dengan ukuran unit geografi terkecil yang memungkinkan) akan berujung pada rincian yang lebih
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 11

jelas pada analisa dan hasil, tetapi di sisi lain, hal ini akan meningkatkan tingkat upaya dan kesulitan pemisahan data secara dramatis. Salah satu pelajaran utama yang diambil dari pekerjaan yang dilakukan selama ini dalam proyek adalah bahwa tantangan pemisahan data adalah kesulitan utama yang dihadapi oleh penelitian inventaris. Untuk meringankan sebagian beban dari pemisahan data, dan untuk membuat pengguna dapat memperoleh hasil pada tingkat yang berbeda, DesInventar menganggap ruang sebagai terbagi secara hierarkis menjadi beberapa tingkat divisi. Pada masing-masing tingkat hierarki, masing-masing unit geografi harus sesuai dengan beberapa unit pada tingkat rincian berikutnya. Untuk database tingkat nasional, proyek ini biasanya menganggap tingkat geografi pertama sebagai sama dengan propinsi, dan tingkat kedua sama dengan kotamadya. Kepatuhan terhadap pembagian politik-administratif sangat disarankan, karena data statistik lainnya yang dibutuhkan dalam proses analisis resiko kemungkinan akan dibuat untuk divisi khusus tersebut. Pada banyak kejadian, Lembaga penanggulangan bencana juga diatur di berdasarkan standar pembagian administratif. Peneliti seringkali menghadapi masalah dalam memisah-misahkan data dan ada banyak contoh dimana masalah sama sekali tidak mempunyai solusi, terutama jika kita kembali ke tahun-tahun sebelumnya dan pada kasus dimana berkas asli sudah tidak lagi tersedia. Metodologi ini menunjukkan beberapa pekerjaan, yang beberapa diantaranya bersifat kontroversial atau mempunyai implikasi yang berat dalam penggunaan data selama tahap analisis. Pilihan lainnya bagi para peneliti adalah: o Mengalihkan semua kerusakan pada satu unit geografis. Hal ini secara alami akan mengubah hasil analisa pada tingkat unit geografi terendah karena unit geigrafi yang menjadi sasaran akan menunjukkan kerusakan (dan oleh karenanya kerawanan dan resiko) yang lebih tinggi dibandingkan kerusakan nyata dan unit yang terpengaruh lainnya akan menunjukkan kerusakan yang lebih sedikit. Namun, hasil yang diperoleh untuk tingkat resolusi geografis masih dapat bersiafat akurat, pada satu sisi, dan integritas data yang tersimpan dalam database sebagai citra cermin dari sumber berkas data asli akan tersimpan. Biasanya datacard akan dipenuhi dengan keterangan-keterangan yang membuat penganalisa dapat is dengan cepat menemukan masalah dan para peneliti didorong untuk menilau unit geografis mana yang paling sesuai untuk menerima kerugian (yang merupakan unit geografis yang menerima kerugian terbesar) dan untuk memenuhi satu datacard per unit geografis, dengan keterangan dan kaitan terhadap datacard dengan semua efeknya.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 12

o Mengalihkan kerusakan pada unit resolusi geografi yang lebih rendah. Kerugian dialihkan pada unit geografi induk jika kerugian tersebut meliputi semua unit terkecil yang terpengaruh. Dalam hal ini, alih-alih pengenalan distorsi pada tingkat minimum untuk tingkat kerugian yang tinggi bagi satu unit, distorsi kerugian yang lebih kecil disertakan pada seluruh unit terkecil. Namun analisis pada tingkat yang lebih tinggi tidak diubah. Kembali, para peneliti didorong untuk menciptakan satau datacard per unit dengan keterangan dan keterkaitan pada datacard “induk” dan jika mungkin denga variabel tidak jelas yang digunakan untu semua kasus dimana informasi bersifat terpercaya dan terpisah-pisah. Perhatikan bahwa ada satu datacard tambahan pada sistem, yaitu datacard yang dibuat untuk unit induk, tetapi terlepas dari hal ini, integritas informasi asli tetap dipertahankan. o Memberikan perkiraan kerugian pada masing-masing unit unit: sebuah pilihan lain yang sangat controversial yang dapat digunakan dalam beberapa situasi berdasarkan pertimbangan matang dari peneliti. Kehati-hatian yang tinggi harus diterapkan pada saat memeperkirakan karena hal ini dapat menimulkan perdebatan pada proses analisis. Keterangan harus disertakan pada semua datacard yang memperingatkan para analis mengenai hal tersebut dan fakta bawa informasi asli yang didapat dari sumber tidak dibuat “mirror”nya pada database. Pada kejadian manapun, keputusan terakhir berada di tangan peneliti,. Tidak ada solusi umum bagi masalah ini da pemecahan harus dicari berdasarkan dasar kasus-per-kasus. Masalah mengenai sumber informasi (dan hubungannya dengan bencana skala kecil dan menengah) Memisahkan data bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dihadapi oleh pengumpul data. Tantangan besar lainnya timbul pada saat menyatukan laporan sumber data berganda dengan angka yang tidak sama pada saat menjelaskan efek dari kejadian yang sama. Sumber umum untuk informasi mengenai data bencana dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama: Berkas informasi yang dibuat dan dipelihara oleh lembaga penanggulangan keadaan darurat dan organisasi bantuan atau donor. Sumber informasi ini seringkali hanya mengandung informasi mengenai kejadian yang memelrikan tindakan dari bagian organisasi tersebut. Lembaga-lembaga tersebut cenderung untuk tidak mencatat bencana yang dapat ditanggulangi masyarakat, dan membiarkan begitu saja bencana skala kecil dan menengah. Namun informasi menengai hal ini biasanya terpercaya jika tersedia. Berkas Akademis dan Imiah, yang dibuat oleh institusi riset yang seringkali tertarik pada jenis kejadian tertentu dan lebih fokus pada kejadian itu sendiri dibandingkan

-

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 13

-

dengan dampak kejadian pada masyarakat. Contoh dari database ini tersimpan pada pusat penelitian meterologi dan seismologi. Terbitan media, terutama media cetak (surat kabar). Walaupun ada penolakan pada sumber ini di kalangan peneliti ilmiah, pengalaman LA RED dalam membangun database bencana di lebih dari 16 negara dan banyak instansi wilayah selama hampir satu dekade telah menunjukkan kegunaan sumber informasi ini.

Ada beberapa fakta yang tidak dapat diabaikan dan membuat informasi dari media menjadi kebutuhan yang tak dapat dihindari dari inventaris metodologi DesInventar methodology inventories: a) Bencana dalam skala yang sangat kecil TIDAK dicatat oleh sumber informasi lainnya. Penggunaan terbitan media menjadi wajib jika ingin membangun database menyeluruh yang mencakup bencana dalam skala apapun. b) Media secara alami mempunyai kendali diri: walaupun terdapat kemungkinan melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi dalam terbitan media, banyaknya jenis jumlah sumber informasi ini membuat peneliti dapat membandingkan berbagai pandangan dari beberapa surat kabar and dan bahkan dari beberapa edisi atau artikel dari sumber yang sama. c) Dalam banyak kejadian, Media adalah sumber informasi yang memenuhi kebutuhan dua kelompok pertama, atau setidaknya menjadi salah satu masukan yang digunakan untuk membuat berkas mereka. d) Kebanyakan koran menyimpan arsip yang sangat teratur dan dapat diakses oleh umum. Lain halnya dengan sumber informasi lain yang biasanya terbatas, sulit diakses atau tidak teratur dan tercampur dengan banyak data operasi lainnya. e) Informasi tahun-tahun terdahulu dapat diperoleh dari surat kabar, bahkan untuk masa dimana stidak ada sumber informasi formal mengenai efek bencana atau bahkan saat lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas keadaan darurat belum didirikan. f) Masyarakat setempat dapat memastikan keterpercayaan surat kabar dengan mudah. Reputasi surat kabar adalah ukuran yang sangat membantu pada saat mengambil keputusan mengenai informasi yang harus dimasukkan kedalam inventaris. g) Ada kontinuitas dalam kualitas dan keseluruhan masing-masing sumber media, terutama untuk hal yang dianggap sebagai sesuatu yang ‘serius’.

LA RED telah melaksanakan penelitian resmi atas masalah yang disebutkan di atas, dengan hasil yang sangat menarik yang menunjukkan bahwa inventaris yang seluruhnya didasarkan pada sumber dari media dapat sangat menyeluruh, dan setidaknya sama terpercayanya dengan inventaris yang dibuat dari sumber konservatif lainnya. Namun, penting untuk dipahami bahwa informasi dalam database hanya sama terpercayanya dengan informasi dari sumbernya. Federasi Palang Merah dan Sabit Merah Internasional mengakui bahwa “...banyak sumber pelaporan yang mempunyai kepentingan
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 14

tersembunyi, dan angka-angka dapat dipengaruhi oleh pertimbangan sosio-politis.” Petak dan Atkisson menyatakan bahwa “...pembesar-besaran oleh media mengenai dampak bencana pada masyarakat tampaknya mengurangi akibat dari jarak yang jauh dari lokasi bencana”. Pengalaman kami sendiri di Amerika Latin menunjukkan bahwa liputan media mengurangi fungsi jarak dari lokasi bencana (9).

Harus dipecahkan: paradigma kejadian berganda.
Salah satu pokok masalah yang menjadi topik dari berbagai pembahasan dalam LA RED adalah masalah mengenai banyaknya kejadian (disebut juga sebagai rantai kejadian) yang dapat terlibat dalam satu bencana. Pertimbangkan skenario berikut ini: selama terjadinya badai El Niño, hujan deras membasahi dataran bukit basah dimana kemudian tanah longsor terjadi yang dipicu oleh gempa bumi dengan efek pada masyarakat. Kejadian apa yang harus diasosiasikan dengan bencana, tanah longsor atau gempa bumi, hujan deras atau, El Niño?. Keadaan terkini dari metodologi menunjukkan bahwa kejadian terakhir pada rantai kejadian, dalam hal ini tanah longsor, harus dicatat sebagai kejadian yang menyebabkan bencana dan mendorong para peneliti untuk menggunakan penilaiannya dalam menilai kejadian kedua sebagai ‘Penyebab’ utama (ini adalah nama yang digunakan dalam datacard untuk kejadian kedua yang terkait). Fakta bahwa tidak semua rantai kejadian yang saat ini telah tercatat, dengan kehilangan terkait dari kemampuan untuk menganalisa, dilihat oleh sebagian anggota tim sebagai masalah yang harus dipecahkan.

Sebuah lubang metodologi: bencana dengan berjangka waktu panjang
Catatan khusus bagi bencana dengan jangka waktu yang panjang, seperti kekeringan dan banjir: walaupun metodologi terakhir memberikan panduan yang jelas mengenai cara melaporkan dan memasukkan data mengenai kejadian berjangka waktu panjang, dan model data menyertakan variabel yang cukup untuk menyimpan data yang terkait dengan jenis kejadian ini, ada rasa mengenai kurangnya pendekatan formal pada masalah penjelasan atas penggolongan jenis bencana ini dalam model terkini dan perangkat analisis dari sistem.

Salah satu contoh adalah serangkaian analisis sementara yang saat ini digunakan oleh sistem. Kejadian dengan jangka waktu panjang ditunjukkan sebagai hanya terjadi sekali dalam satu kurun waktu, biasanya pada tanggal median dari kejadian, dengan semua efek terkonsentrasi pada tanggal median. Beberapa orang menyarankan bahwa metodologi dan

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 15

model data harus mempertimbangkan pemisahan waktu di sepanjang masalah waktu dengan jenis pendekatan yang sama dengan penggabungan (dan pemisahan ruang).

Apa yang harus dilakukan saat unit geografis dibagi kembali?
Untuk alasan politis, ekonomi, budaya, dan lain-lain., kecenderungan para negara adalah untuk membuat unit administratif-politik yang baru, terpisah dari stau unit yang telah ada atau lebih. Terdapat rekomendasi bahwa jika lokasi pasti dari efek bencana tidak diketahui, maka efek tersebut harus disertakan dalam unit yang telah ada sebelumnya. Hal ini berlaku untuk pencatatan kejadian Bersejarah. Dalam hal subdivisi yang baru-baru ini terjadi (dengan kata lain pada 10 tahun terakhir), terdapat rekomendasi untuk meningkatkan basis geografi dari DesInventar dengan nama dan kode baru. Pada kejadian yang ideal dimana data dan kartografi yang rinci tersedia yang mana terdapat perubahan yang penting atau sensitif dalam divisi administratif-politis, pemisahan kedua hal tersebut adalah sesuatu yang bijaksana. Untuk tujuan ini, dua database dapat dibuat (“dua negara”), satu untuk masing-masing periode..

Toolbox
Komponen perangkat lunak yang saat ini meliputi sistem yang terkait dengan perkembangan histories dari proyek ini, yang pada akhirnya mencerminkan pemahaman yang terus berjalan mengenai masalah tersebut dan terus berkembangnya kebutuhan yang dipicu oleh penggunaan dan analisa data.

Modul DesInventar
Modul pertama yang dikembangkan untuk proyek ini adalah bagian dari perangkat lunak yang mengatur pengelolaan database, yang membuat pengguna dapat menambahkan, mengedit, dan menghapus datacards bencana dari database. Walaupun pengembangan ini telah dilakukan sejak awal tahun 1994, fungsi yang lebih baru dan lebih sempurna telah ditambahkan beberapa tahun kemudian. Karena modul ini adalah yang pertama, modul tersebut mewarisi nama proyek dan modul ini juga merupakan sistem yang lengkap dengan perangkat dasar untuk membuat dan memelihara inventaris, serta perangkat dasar untuk analisis. Modul ini berisi semua pilihan yang diperlukan untuk merancang lingkungan yang sesuai dengan persyaratan metodologi: penjelasan mengenai geografi, pencatatn kejadian dan pengkatalogan penyebab dan pembuatan datacard tambahan. Untuk meningkatkan informasi yang ada dalam format elektronik yang berguna bagi inventaris, DesInventar mengijinkan penggunanya untuk memgimpor data dai sumber lain termasuk format DBase, Excel, Text and MS Access. DesInventar juga
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 16

menyertakan perangkat intelejensia dasar untuk mencaritahu dan mencetak database. Walaupun LA RED ingin tetap membuat perangkat lunak ini Cuma-Cuma bagi para penggunanya, LA RED masih menerapkan kendali mengenai kepada siapa perangkat lunak ini dapat diberikan. Walaupun perangkat lunak ini belum pernah dijual, ada persetujuan diantara para anggota LA RED bahwa sejumlah pengguna komersial dari perangkat lunak ini (perusahaan asuransi contohnya,) harus “memberikan sumbangan” bagi proyek. Namun, setiap institusi LSM,, pemerintah, akademis dan penelitian dapat memperoleh lisensi untuk menggunakan DesInventar tanpa biaya apapun. Hal ini berbeda dengan kebijakan mengenai perangkat Query dan database, yang jelas-jelas berada di ranah publik.

DesConsultar, Perangkat Query dan Analisis
DesConsultar adalah produk tambahan dari DesInventar. Pengembangannya didorong oleh (dan masih didorong oleh …) meningkatnya kebutuhan berbagai kelompok peneliti untuk menggunakan data DesInventar di Amerika Latin. Produk ini tidak mempunyai kemampuan untuk menangani database (untuk menambhkan dan mengedit data), tetapi menerapkan serangkaian perangkat yang canggih untuk mencari tahu, menampilkan dan menganalisa data, termasuk kemampuan presentasi grafik dan kartografi atas hasil yang menjawab kebutuhan akan analisa ruang dan sementara dari data bencana. DesConsultar dan databasenya berada pada ranah publik di bawah lisensi jenis GPL dan tersedia di www.desinventar.org.

DesImportar
DesImportar adalah perangkat kecil untuk mengimpor dan mengedit peta kedalam DesConsultar, yang menggunakan format digitalnya sendiri untuk menyimpan peta. DesImportar mengirim peta dari format yang paling populer: format GIS seperti Arc/Info shapefiles, MapInfo, Idrisi dan Latin American Promap GIS. Format blain seperti DXF (dari AutoCad/AutoDesk), dan Ascii juga sangat populer, tetapi tidak digunakan karena format tersebut membutuhkan kemampuan mengedit untuk memasukkan kode dan informasi topologi, yang tidak dikembangkan atau bahkan direncanakan.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 17

Penggunaan pada proses Mitigasi Resiko.
LA RED telah mengembangkan instrumen ini untuk memberikan pelaku-pelaku lain yang terlibat dalam mitigasi dan pencegahan bencana (peneliti, institusi penelitian, pemerintah dan sistem perhatian dan perencanaan bencana dan keadaan darurat, regional badan pencegahan lokal dan regional, badan search dan rescue, badan internasional dan bilateral, masyarakat organisasi dan media massa) dengan produk yang sesuai untuk mengumpulkan, memproses, menganalisa dan menjelaskan bencana dengan cara yang seragam. Rancangan dan struktur DesInventar, tersimpan dalam cara yang fleksibel dan mudah untuk diterapkan, yang membuatnya dapat digunakan untuk unit-unit politik-administrasi, perencanaan, pengelolaan atau operasi, dari tingkat solusi nasional hingga lokal. Yang kami maksud dengan tingkat lokal adalah contohnya sebuah kota digambarkan dengan suatu lingkungan atau blok. Kami juga yakin bahwa DesInventar dapat digunakan pada konteks lain, tidak hanya untuk menelusuri perilaku Alami/Sosial dari bencana, tetapi juga untuk jenis bencana apapun, termasuk apa yang disebut sebagai Konflik Masyarakat, endemi dan wabah penyakit, dll. Para anggota LA RED juga telah menggunakan DesInventar untuk memvisualisasikan kerusakan pada jaringan penting (kasus sistem pengairan di Cali) dan kami mengetahui bahwa ada pengguna komersial yang mulai melihat data kami, terutama dari sektor asuransi. Inventaris ini sendiri dapat digunakan dalam berbagai macam cara sebagai bagian dari proses mitigasi bencana. Beberapa kemungkinan penggunaan inventaris (dan perangkat) diberikan di bawah ini. Namun hanya ada sedikit penelitian praktis dan teoritis yang dilakukan dalam bidang ini, atau setidaknya tidak mudah untuk menemukan bidang ini dalam literatur terbaru kemungkinan karena konsep inventaris bencana yang meliputi bencana skala kecil dan menengah masih relatif baru, dan kemungkinan satu-satunya yang tersedia adalah literatur yang dihasilkan dengan proyek DesInventar. Penggunaan jenis rangkaian data DesInventar masih terbatas pada sekelompok kecil peneliti dan institusi, dan salah satu tujuan dari LA RED adalah untuk mendorong para penggunaan perangkat lunak secara praktis dan untuk penelitian di luar LA RED.  Perangkat untuk menentukan kerawanan. Inventaris bencana yang sistematis dapat memberikan informasi yang berharga mengenai kerawanan dari populasi tertentu: kejadian dampak yang dibesar-besarkan atau di atas rata-rata pada masyarakat yang disebabkan oleh kejadian yang skalanya relatif kecil menunjukkan tingginya kerawanan terhadap jenis kejadian tersebut.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 18

Dengan menggunakan pendekatan deduktif, Inventaris bencana dapat memberikan penjelasan mengenai masalah ini dalam waktu yang jauh lebih singkat dan dengan lebih sedikit upaya dan tenaga.  Karena bahan mentah yang penting perlu divalidasi (dan kemungkinan akan menghasilkan) Peta Resiko. Terdapat jumlah pengetahuan teoritis dan praktis yang sangat besar mengenai sifat dan perilaku bahaya bencana, begitu pula dengan metodologi dan instrumen untuk menghasilkan Peta Bencana, termasuk artifak yang berasal dari berbagai displin ilmu seperti geologi, meteorologi, biologi, sociologi, dll. Seperti yang umumnya dinyatakan dalam literatur, resiko bencana merupakan produk dari bahaya bencana, kerawanan dan keterpapaparan. Secara khusus dalam dunia yang berkembang, pendekatan induktif telah digunakan untuk menentukan resiko bencana dengan menggunakan lapisan peta bahaya bencana berganda yang rinci, tingkat keterpaparan (kepadatan penduduk, prasarana dan lain-lain.) terhadap unsur-unsur kerawanan. Pendekatan ini sangat berguna dan kuat. Namun, dalam kebanyakan situasi, pendekatan ini dapat menjadi sangat mahal dan menghabiskan waktu 7. Pendekatan tersebut juga memrlukan tingkat teknologi yang lebih tinggi, sumber daya keuangan yang lebih besar dan personel yang sangat terlatih yang sangat sulit didapatkan di dunia ketiga. 8 Walaupun terdapat fakta bahwa semua metodologi bekerja berdasarkan model-model realitas, dan pengetahuan yang kuat bahwa model adalah semata-mata model dan tidak dapat meliputi realitas secara sepenuhnya, namun dapat dilihat bahwa inventaris bencana, yang mencerminkan realitas sejati dari dampak bencana di wilayah-wilayah, telah kembali diabaikan oleh pengembang dan pengguna perangkat dan metodologi tersebut. Contoh mengenai hal ini tidak terhitung jumlahnya. Kami di LA RED saat ini tidak dapat membayangkan bahwa Peta Resiko dapat dibuat tanpa dukungan inventaris bencana untuk memvalidasi kesimpulannya. Kami juga yakin bahwa masyarakat harus mempunyai ingatan, terutama pada saat berurusan dengan bencana, dimana nyawa manusia, prasarana penting, ekonomi dan aspek lainnya berada dalam bahaya. Membandingkan Peta Resiko dengan Peta Inventaris Bencana merupakan metode validasi langsung. Kejadian yang berulang mengenai bencana di area-area yang digolongkan sebagai daerah beresiko rendah setidaknya merupakan peringatan atas validitas Peta Resiko tersebut.  Inventaris Bencana sebagai alat untuk menindaklanjuti Rencana Mitigasi Resiko

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 19

Data sistematis yang mencatat bencana sebelum dan sesudah penerapan tindakan mitigasi dapat menghasilkan informasi yang berharga mengenai efektifitas rencana yang diterapkan, baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Bahkan jika tidak ada cara yang nyata atau unit yang dapat mengukur keefektifan ini, inventaris ini dapat berfungsi sebagai thermometer perubahan, yang memberikan setidaknya perkiraan mengenai beberapa ukuran yang dapat dianggap sebagai efektifitas: Berkurangnya kejadian bencana. Jika kejadian bencana skala besar berbeda-beda secara dramatis, bencana skala kecil dan menengah terbukti terjadi dengan mengikuti penyebaran waktu-ruang yang lebih teratur. Efektifitas dari rencana mitigasi dapat dipastikan jika penyebaran kejadian bencana skala kecil dan menengah ini tetap lebih rendah setelah pelaksanaan rencana. Berkurangnya Dampak: Rencana mitigasi dapat dianggap efektif bahkan dalam kejadian bencana yang terus berkelanjutan, jika rata-rata kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana skala kecil dan menengah tetap rendah.

-

 Pengenalan Kecenderungan dan Pola Studi mengenai perilaku historis dan ruang dari bencana dapat membantu untuk memahami sifat, dan penyebab bencana, dan oleh karena itu dapat menjadi bantuan yang besar dalam proses pencegahan bencana dan mitigasi resiko. Perangkat DesInventar membantu menemukan beberapa golongan kecenderungan dan pola: Pola ruangan berdasarkan peta tematis menunjukkan kejadian dan/atau pengarush terhadap suatu daerah dan diagram membandingkan dampak pada wilayah-wilayah yang berbeda di sepanjang waktu. Pola dan kecenderungan sementara dengan bantuan berbagai jenis diagram waktu, termasuk diagram musiman dan multi periode. Data Statistik yang dihasilkan oleh penggabungan efek-efek oleh berbagi bidang informasi

-

 Inventaris adalah perangkat strategis untuk merundingkan kebijakan, b=normanorma, dan pendanaan inisiatif. Inventaris bencana dapat menjadi alat yang sangat hebat di tangan kewenangan setempat, yang dapat memberikan bukti yang tidak terbantahkan mengenai besarnya bencana yang terjadi di masyarakatnya, bukti yang dapat digunakan untuk memaksa penerapan kebijakan, dan undang-undang yang ditujukan untuk penerapan mitigasi bencana dan inisiatif pencegahan bencana. Inventaris bencana juga dapat memberikan angka kehilangan dan lerugian yang dibutuhkan untuk membuktikan bahwa berinvestasi dalam mitigasi dan pencegahan adalah sesuatu yang menguntungkan, baik terkait dengan biaya langsung maupun tidak langsung.
Dibuat oleh Team DiBi
dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 20

Dari sudut pandang praktis ini, keberadaan inventaris bencana dapat dianggap sebagai pengurangan kerawanan institusional dari sebuah masyarakat, yang tidak hanya memberikan kewenangan lokal perangkat untuk digunakan dalam proses mitigasi resiko tetapi juga merupakan instrumen strategis untuk berurusan dengan institusi pendanaan dan pemerintah. Organisasi-organisasi ini, baik pada tingkat nasional maupun internasional, semakin menuntut persyaratan untuk pembenaran investasi, dan data itu sendiri bersama dengan hasil analisa yang dilakukan dengan inventaris bencana dapat memberikan kemampuan untuk mendukung proposal dan/atau keputusan pendanaan.

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009

Metodologi DesInventar - DiBi Server 7 Februari 2009. Halaman 21

DAFTAR PUSTAKA

1

Dikutip dari The American Heritage® Dictionary of the English Language, Third Edition © 1996 by Houghton Mifflin Company. Proyecto DesInventar, Andres Velasquez et al,

2

3

Reducing America’s Vulnerability to Natural Hazards, Ellis M. Stanley, Sr., Emergency Preparedness Department, City of Los Angeles [Adapted from the BICEPP Bulletin, published by the Business and Industry Council for Emergency Planning and Preparedness.] The Natural Hazards Observer. Vol. XXVII, No. September 2002 Guía Metodológica de DesInventar, Julio Serje y Andrés Velazquez, , Documentación para el Proyecto DesInventar, Obervatorio Sismológico del Sur-Occidente OSSO, Universidad del Valle, 1998 Agenda de de Investigación y Constitución Orgánica LA RED DE ESTUDIOS SOCIALES EN PREVENCION DE DESASTRES DE AMERICA LATINA 1992 Mitigation and the Consequences of International Aid in Postdisaster Reconstruction, Priya Ranganath, 5/4/00. Original report © Centre d'Etude et de Cooperation Internationale (CECI)., 2000 Concept Note prepared for the DesInventar Workshop in India, Kamal Kishore, UNDP, 2002 Strategies for the design an implementation of GIS applications, Andrew Maskrey in “Navegando entre Brumas”, ITDG/LA RED, 1998 EPC Electronic Disaster Database and Its Characteristics, Carol Tudor, Office of Infrastructure Protection and Emergency Preparedness OCIPEP, Canada. 1997.

4

5

6

7

8

9

10 CRED web site: EM-DAT, the OFDA/CRED International Disaster Database, Universite Catholique de Lovain, http://www.cred.be/emdat/intro.html 11 World Disasters Report 1996. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. Oxford University Press, 1996. 12 Natural Hazard Risk Assessment and Public Policy: Anticipating the Unexpected. Petak, William J., and Arthur A. Atkisson. New York: Springer-Verlag New York Inc. 1982. 13 Disasters in Republica Dominaicana, National Plan of Disaster Prevention. Omar Dario Cardona et al, Ingeniar –LA RED – ICF Consulting, 2001

Dibuat oleh Team DiBi

dengan bantuan SC-DRR - UNDP © Copyright 2009


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Inventar
Stats:
views:966
posted:11/24/2009
language:Indonesian
pages:21
Description: Pelatihan Des Inventar Direktorat EKPD oleh UNDP, 25 Februari 2009