Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

M-002-KONSEPPENATAANKAWASANSTASIUNJEBRESFINAL.pdf

VIEWS: 5 PAGES: 10

									                                                                                          M-002

     PERANCANGAN KAWASAN STASIUN JEBRES-PASAR LEDOKSARI
                          MERAYAKAN SOLO METROPOLIS 1900 -2025

      A. SEJARAH PERKEMBANGAN KERETA API DAN STASIUN K.A DI SURAKARTA
           Ide pembangunan jaringan kereta api dikemukakan oleh Kolonel Jhr Van Der Wijk pada 15
Agustus 1840 karena menurutnya, pembangunan jaringan kereta api di Eropa berhasil mengatasi
masalah pengangkutan. Selain itu, kereta api dinilai akan memberikan keuntungan di bidang
pertahanan. Maka, ia mengusulkan pembangunan jalur rel kereta api Jakarta-Surabaya lewat
Surakarta-Yogyakarta-Bandung lengkap dengan simpangannya. Usulan tersebut diterima oleh
Pemerintah Belanda, tetapi jalur yang dipilih adalah Semarang-Surakarta-Yogyakarta. Pemerintah
mengeluarkan surat keputusan (Koninklijk Besluit) Nomor 270 tertanggal 28 Mei 1842 yang
menetapkan bahwa pemerintah akan membangun jalan rel yang terbentang dari Semarang ke Kedu
dan ke Vorstenlanden (Surakarta – Yogyakarta) untuk meningkatkan sarana transportasi tradisional
berupa kereta yang ditarik sapi dan kerbau serta untuk meningkatkan daya angkut bagi barang-barang
ekspor. Keputusan tersebut belum dapat segera direalisasikan dan terus menuai perdebatan mengenai
pihak yang akan membangun dan jalur yang akan dilalui. Semarang selatan, Surakarta, Yogyakarta
merupakan daerah penghasil barang ekspor yang kaya seperti gula, tembakau, kayu yang diangkut
dan diekspor melalui Pelabuhan Semarang. Akhirnya dengan adanya kebutuhan yang saling
berhubungan maka pada tahun 1862 untuk pertama kalinya pemerintah memberikan konsesinya
kepada beberapa pengusaha swasta yang kemudian mendirikan perusahaan kereta api swasta
Nederlandsch-Indische Spoorweg-Mattschapij (NISM), Para pengusaha yang mengontrak tanah-tanah
perkebunan sangat memerlukan jasa angkutan kereta api, dengan bersedia membayar uang muka
untuk muatan yang diangkutnya.1
           Pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Hindia Belanda LAJ Baron Sloet Van Den Belle
melakukan upacara pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di Semarang.
Pembangunan diprakarsai oleh NISM yang dipimpin oleh JP de Bordes dan dalam tiga tahun sudah
diselesaikan jalan sepanjang 26 kilometer dari Semarang sampai ke Desa Tangoeng atau yang
sekarang dikenal dengan Desa Tanggung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ruas jalan ini dibuka
untuk umum pada 10 Agustus 1867 dan berhasil diluncurkan kereta api pertama di Indonesia. Dalam
pembangunan jalur kereta api muncul banyak kesulitan baik finansial maupun bencana yang menimpa
para pekerja sehingga Pemerintah Belanda terjun langsung mendirikan perusahaan Staats
Spoorwagen (SS). Jalur rel pertama yang dibangun SS adalah Surabaya-Pasuruan sepanjang 115

1
    Sejarah Transportasi Kereta Api di Karesidenan Semarang, Univ. Kristen Satya Wacana


H a l | 1 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                   M-002

kilometer yang diresmikan pada 16 Mei 1878.2 Panjang jalan kereta api tumbuh dengan pesat dari 110
kilometer pada tahun 1870 menjadi 3.338 kilometer pada tahun 1900.
           Sejarah perkembangan transportasi publik di Kota Solo sudah dimulai sejak hampir 100 tahun
lalu pada masa kekuasaan Paku Buwono X. Beliau bersama pemerintahan Hindia Belanda
membangun jaringan transportasi publik yg tengah populer waktu itu yaitu kereta api dan tram.
Kekuasaan PB X tidak hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan saja, beliau juga memikirkan
kepentingan rakyatnya yg hidup di wilayah Vorstenlanden, menurut Babad Sala yang ditulis oleh
RM.Sajid, jalur trem dimulai dari depan Benteng Vastenburg, lalu ke Kauman dan menuju Derpoyudan
hingga Pasar Pon. Keterangan ini juga menyebut jalur di halte Pasar Pon ini memungkinkan trem dari
dua arah dapat bertemu. Selanjutnya jalur trem melintasi Sriwedari hingga Purwosari. Jalur trem juga
membentang ke barat hingga Gembongan (wilayah Kartasura).
           Hadirnya kereta api di Surakarta membuat NISM pada tahun 1870 membangun sebuah stasiun
di tanah milik Keraton Mangkunegaran. Di tanah yang berada di dekat pacuan kuda milik kerabat
keraton di daerah Balapan itu kemudian berdiri sebuah stasiun yang sekarang dikenal dengan nama
Solo Balapan (SLO). Stasiun Solo Balapan ini dibangun sebagai tempat penguasa Kasunan Surakarta
Pakoeboewono X memberi sambutan kepada para Gubernur Hindia-Belanda yang datang ke
wilayahnya sebelum dibawa menuju keraton. Pembangunan jalur kereta Tanggung, Surakarta, dan
Yogyakarta menurut sejarawan UNS Dr. Yoyok Mugiyanto M.Si yang dimuat dalam Majalah Kereta Api
edisi Juni 2012 adalah untuk melancarkan kepentingan diplomasi pemerintah Hindia Belanda.
Beberapa tahun kemudian, kepentingan diplomasi ini berubah menjadi kepentingan untuk angkutan
manusia, terutama ketika Staats Spoorwegen mulai menguat dan berhasil membuat jaringan jalur
kereta api di seluruh Jawa.
                                                                Stasiun lain di Surakarta yang dibangun
                                                       setelah adanya jalur kereta api Surakarta-Yogyakarta
                                                       adalah Stasiun Purwosari. Stasiun ini dibangun oleh
                                                       NISM pada 1875, tiga tahun setelah selesainya jalur
                                                       kereta    api   Surakarta-Yogyakarta.   Stasiun   ini
                                                       merupakan pintu masuk kereta api         ke wilayah
                                                       Surakarta dari arah barat, Yogyakarta. Di stasiun
                                                       Purwosari, terdapat jalur kereta api menuju ke arah
                                                       Wonogiri yang dibangun pada tahun 1922. Tidak
    Gambar 1. Kereta / Tram yang ditarik oleh 2 ekor
    kuda, dikelola oleh perusahaan Solosche Tramweg    hanya terdapat jalur menuju Wonogiri, jalur menuju
    Matschapij.

2
    http://oase.kompas.com/read/2011/07/21/10045816/Sejarah.Kereta.Api.di.Indonesia


H a l | 2 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                 M-002

Boyolali pun sempat ada di stasiun ini. Jalur menuju Boyolali digunakan untuk memperlancar
pengangkutan hasil produksi pabrik seperti pabrik tembakau dan gula. Jika jalur Purwosari-Wonogiri
masih aktif sampai saat ini, nasib sebaliknya dialami jalur Purwosari-Boyolali yang sudah tidak lagi aktif
dan hilang.3
Tabel 1. Stasiun yang ada di Kota Surakarta
No        Nama Stasiun                                     Tahun                   Operator
1         Stasiun Solo-Balapan                             1873                    NISM
2         Stasiun Poerwosari                               1875                    NISM
3         Stasiun Djebres                                  1884                    S.S
4         Stasiun Solo Kota (Sangkrah)                     1912                    NISM
NISM : Nederlandsch Indische Spoorweg Matschapij, milik swasta
S.S : Staats Spoorwegen, milik pemerintah




                                                            Sebelumnya pada era pergantian abad sekitar
                                                            awal tahun 1900-an ada jalur tram yang
                                                            dioperatori oleh Solosche Tramweg Matschapij
                                 1                          (STM) berupa kereta yang ditarik oleh 2 ekor
            2
                                                  3         kuda dengan rute dari Stasiun Purwosari
                                                            menuju ke arah Boyolali serta dari Stasiun
                                                            Purwosari menuju ke Stasiun Sangkrah (Solo-
                                                  4         Kotta) dengan melewati beberapa halte seperti
                                                            Ngadisuryan,   Ngapeman,      Pasarpon,     dan
                                                            Kauman. Dari Stasiun Sangkrah menuju Stasiun
                                                            SS Jebres dengan melewati kawasan Pecinan.
                                                           Pada tahun 1914, tram ini mulai tidak digunakan
    Gambar 2 . Peta jalur KA yang ada di Kota Surakarta.
    sumber: www.ghverhoeven.com                            seiring dengan STM yang dibeli oleh NISM.4




3
    http://sejarawanmuda.wordpress.com/2012/10/26/mooi-spoorwegen-op-vorstenlanden/
4
    G.H. Verhoeven on rail, 1925-1945. www.ghverhoeven.com


H a l | 3 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                             M-002




    Gambar 3 . Peta administratif Kota Surakarta pada tahun 1920 lengkap dengan jalan dan rel KA dimana jalur rel
    dari Stasiun Sangkrah menuju arah Stasiun Jebres masih tergambar
    sumber:www.kit.nl



    B. PERKEMBANGAN KOTA SOLO & STASIUN JEBRES 1884 – 1945: Memori Kejayaan
         Vorstenlanden
       Stasiun-stasiun KA yang dibangun di tanah Vorstenlanden (Surakarta-Jokjakarta) pada awal
abad ke-20 selain digunakan untuk transportasi manusia (penumpang) juga dimanfaatkan untuk
mengangkut komoditas perkebunan seperti tembakau, gula, kopi dan indigo. Pada tahun 1847, di
Vorstenlanden terdapat 47 perkebunan. 5 diantaranya adalah pabrik gula milik Gubernemen
(pemerintah), 1 perkebunan tembakau,serta 5 perkebunan kopi5. Praja Mangkunegaran memiliki
industri gula yaitu pabrik gula Tjolomadu dan Tasikmadu sedangkan Kasunanan Surakarta memiliki
industri gula di Pabrik Gula Gondang Winangoen serta komoditas tembakau vorstenlanden untuk
bahan baku cerutu dari Klaten. Tidak salah kemudian ada jargon “hindia belanda gabusnya belanda”.
       Takashi Shiraishi dalam An Age in Motion: Popular Radicalism in Java 1912-1926 mengatakan,
wilayah eks-Karesidenan Surakarta pada awal abad ke-19 merupakan pusat pertumbuhan industri
sekaligus sebagai pusat perdagangan kaum boemipoetera. Surakarta dikenal sebagai wilayah
vorstenlanden, yang memiliki dua pusat kekuasaan, yakn Mangkunegaran dan Kasunanan yang
menjadi mitra kolonial Belanda6. Komoditas-komoditas itu tentu saja sangat laris dan dibutuhkan di

5
    Vorstenlanden periode 1830-1870, Fauzi Rachman. S.Pd. http://kim.pensa-sb.info/dosen/artikel-
dosen/vorstenlanden-periode-1830-1870/
6
  http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/03/11/55360/Edukasi-Wisata-Vorstenlanden-


H a l | 4 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                     M-002

dunia pada masanya terutama untuk kebutuhan pasar eropa sehingga tidak salah kemudian
dibutuhkan alat transportasi yang mampu mengangkut dalam jumlah besar yaitu kereta api. Stasiun
Jebres adalah stasiun milik pemerintah hindia belanda (staats spoorwegen) pada waktu itu yang juga
secara ekslusif digunakan untuk mengangkut berbagai komoditas hasil perkebunan sebagai komoditas
ekspor menuju ke arah pelabuhan yang ada di Semarang, sehingga di Stasiun Jebres pula dibangun
gudang-gudang tempat penyimpanan (zoupakhuis) serta tempat bongkar muat barang.




    Gambar 3. Foto Stasiun Jebres yang diambil sekitar tahun 1920. (atas). Stasiun Jebres dalam format
    kartu pos (kiri bawah) serta Stasiun Jebres dari arah timur (kanan bawah).
    sumber:www.kitlv.nl

           Pembukaan vorstenlanden membuat Kota Surakarta atau Solo semakin berkembang. Kota ini
menjadi daerah tujuan pariwisata bagi orang-orang kulit putih yang terdiri dari pengusaha-pengusaha
Eropa yang memiliki modal di perkebunan vorstenlanden. Solo yang mulai berkembang menjadi kota
plesiran membuat para pengusaha mulai melirik kota ini sebagai lahan investasi, mereka berlomba-
lomba membangun hotel-hotel dan fasilitas penunjang wisata lainya. Keraton tidak mua kalah dalam
mengisi pertumbuhan Solo menjadi kota plesiran ini. Keraton menawarkan kebudayaannya untuk
dinikmati oleh para wisatawan7.
           Pertumbuhan tempat rekreasi yang ada di Solo kala itu tidak bisa dilepaskan dari peranan
Keraton Surakarta dan Mangkunegaran. Sunan Pakubuwana X bahkan membangun tempat
rekreasi Kebon Raja yang kemudian dikenal dengan nama Taman Sriwedari. Taman Sriwedari ini
digunakan untuk menyelenggarakan berbagai kesenian, khususnya wayang wong yang memang
berkembang pesat di Solo pada masa itu. Walaupun sama-sama berperan, namun perbedaan gaya
pembangunan rekreasi dari kedua keraton ini cukup besar. Aktivitas rekreasi yang dilakukan oleh
7
         http://sosbud.kompasiana.com/2012/05/09/keraton-solo-dalam-mewujudkan-solo-kota-plesiran-1870-
1942/


H a l | 5 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                     M-002

Keraton Kasunanan Surakarta lebih condong ke arah wisata tradisional, mereka membangun kampung
kidul sebagai sebuah wilayah pariwisata yang menyajikan upacara-upacara tradisional yang sejak dulu
sudah berkembang di Keraton. Mangkunegaran dengan kampung Lor-nya justru menampilkan yang
sebaliknya. Mereka menawarkan wisata yang menunjukan perpaduan antara budaya asli dengan
budaya eropa. Tata ruang wilayah ini juga mengadopsi tata ruang ala negara barat dimana banyak
taman-taman bunga yang indah berpadu dengan lingkungan perumahan yang asri, menjadi cikal bakal
kota taman (villapark). Sarana rekreasi yang ditawarkan di Solo selanjutnya tidak hanya ekslusif untuk
kalangan kulit berwarna tetapi juga untuk semua kalangan yang ada di kota itu.
Secara ringkas fasilitas-fasilitas pendukung menuju sebuah kota plesiran atau bisa dikatakan sebagai
kota metropolis awal memang sudah banyak tersedia di Kota Solo pada periode 1900-an sebagai
berikut :
            Tabel 2. Potensi Kota Solo pada awal abad ke-20
NO            JENIS                                               KETERANGAN
1     Infrastruktur          a.   Jalan raya dengan perkerasan dan sudah terorganisir dengan sistem blok
                                  (persimpangan).
                             b.   Jalur rel KA lengkap dengan 4 stasiun (termasuk jalur tram, stasiun jebres
                                  sebagai stasiun milik pemerintah juga menangani pengangkutan ekspor)
                             c.   Listrik, dikelola oleh konsorsium kraton kasunanan, kadipaten mangkunegaran,
                                  swasta yang bernama Solosche Electriciteit Matschapij (SEM).
                             d.   Pembuatan saluran drainase banjir kanal / kali anyar untuk memecah
                                  konsentrasi kali pepe melindungi kota solo dari genangan banjir.
2     Bangunan/fasilitas     a.   Gedung pos dan telegraf.
      umum                   b.   Javasche bank
                             c.   Societet harmoni, societet mangkunegaran dan societet habipraja sebagai
                                  tempat untuk berkumpul-kumpul
                             d.   Hotel Slier, hotel yang cukup mewah pada masa itu sebagai tempat
                                  penginapan bagi para pelancong
                             e.   Schouwburg Purbajan; gedung pertunjukan dan teater.
                             f.   Gedung SRV (Solosche Radio Vereneging), studio radio pertama yang dimiliki
                                  oleh Mangkunegaran
3     Taman                  a.   Stadtuin / Taman sriwedari, lengkap dengan Kebon Raja, gedung ketoprak.
                             b.   Partinah Bosch dan Partini Tuin (sekarang Taman Balekambang.
                             c.   Taman Tirtonadi dan Taman Minapadi
4     Pemukiman              a.   Villapark, di kawasan utara kadipaten mangkunegaran
                             b.   Lodjiwetan, pemukiman orang-orang belanda
                             c.   Pasar Kliwon, pemukiman untuk orang-orang keturunan arab
                             d.   Ketandan, pemukiman untuk orang-orang keturunan tionghoa.
5     Pasar                  a.   Pasar Gede.
                             b.   Pasar Legi

       C.      MEMBANGKITKAN           KEMBALI       SEMANGAT          MASA      LALU      DARI      NEGERI
       VORSTENLANDEN MENUJU SOLO METROPOLIS
             Menurut analisis Kuncoro Jakti, Sesungguhnya sejarah tidak berjalan ke belakang, melainkan
ke depan. Maka, tidak ada gunanya bernostagia tentang masa lalu yang seolah-olah merupakan



H a l | 6 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                M-002

“Zaman Keemasan” ataupun menyesali masa lalu sebagai “Zaman Kegelapan” sehingga menghantui
masa kini. Sikap yang benar dari sebuah kajian sejarah adalah berdasarkan pengalaman masa lalu,
masyarakat harus selalu siap menghadapi masa depan dengan jalan meningkatkan kemampuan
mengantisipasi perkembangan mendatang. Melihat dari sejarah perkembangan Kota Solo yang diawali
oleh kekuasaan monarki trah mataram islam (Kasunanan dan Mangkunegaran) dan kemajuan
kotapraja yang bersumber dari modernisasi industri perkebunan (agroindustri) maka tidak salah jika
sistem tarnsportasi juga turut mewarnai perkembangan kota ini. Perkembangan sistem transportasi
memang diakui sangat dipengaruhi oleh kebutuhan yang terjadi pada jaman itu dimana Kota Solo
berbasis dari jasa dan perdagangan. Konsep Penataan Kawasan Stasiun Jebres dapat diilustrasikan
sebagai berikut :

             •transportasi darat dengan menggunakan alat transportasi tradisional berupa gerobak
              dan dokar yang ditarik oleh sapi, kerbau ataupun kuda.
             •transportasi sungai melalui Bengawan Solo menuju dan dari pelabuhan di surabaya.
   1745-1900 komoditas yang diperdagangkan:tekstil, kain batik, hasil bumi

             •transportasi melalui kereta api ; setelah dibangun 4 stasiun di kota solo. pengangkutan
              barang difokuskan melalui stasiun jebres.
             •transportasi darat; peralihan dari alat transportasi tradisional menuju modern,berupa
   1900-2000 mobil dan truk.
              Komoditas yang diperdagangkan:hasil agroindustri (gula, tembakau, nila/indigo, batik
             •transportasi udara:penerbangan domestik


             •transportasi melalui kereta api: pengangkutan penumpang menuju kota-kota besar lain
              di jawa. terminal peti kemas di jebres tidak lagi efektif untuk dilakukan.
             •transportasi melalui angkutan darat; pengembangan terminal bus tirtonadi, rencana
              jalan tol solo-semarang, jalan tol solo-kertosono.
   2000-2012 •transportasi udara:penerbangan internasional
             •Komoditas yang diperdagangkan bukan lagi berwujud barang tapi juga dalam bentuk
              jasa pariwisata.

                                                   PROSES
                    integrasi antar moda :
                    bandara intl. adisoemarmo,
                                                       industri pariwisata dan budaya;
                    batik solo trans (BST), kereta                ekonomi kerakyatan
                    komuter, sepeda
                                             solo metropolis
                                                2013-2025


                       kota yang berwawasan                      Heritage-Expo
                    lingkungan : solo eco-culture



                             PENATAAN KAWASAN STASIUN JEBRES


H a l | 7 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                        M-002

C.1 . Definisi Konsep Solo Metropolis (2013-2025):Interpretasi pada Kawasan Stasiun Jebres

                                    pemanfaatan secara maksimal potensi transportasi umum;koneksi
                                    antara bandara internasional Adisoemarmo dengan koridor BST-
                                    Stasiun Purwosari-Stasiun Jebres - dengan menggunakan kereta
  integrasi antar moda              komuter dari arah jokjakarta-kemudian dilanjutkan dengan alat
   sistem transportasi              transportasi ramah lingkungan (sepeda) di dalam kawasan
                                    penataan stasiun jebres atau menuju tempat lain yang ada dalam
                                    delineasi stasiun jebres (pasar gede, kraton kasunanan)
                                    Statistik jumlah penumpang yang masuk di bandara Adisoemarmo
                                    pada tahun 2011 sebanyak 97.579, sementara penumpang KA
                                    bisnis lokal (komuter) yang tercatat di stasiun Balapan sejumlah
                                    517.887, dan jumlah angkutan bus perkotaan sejumlah 214 unit
                                    dengan rata-rata load factor 27,22 %.


                                    potensi kota solo yang kaya ragam budaya baik tangible maupun
                                    intangible menjadi kekuatan dalam industri pariwisata.
   industri pariwisata
  dan budaya:ekonomi                Terdapatnya pasar tradisional:jebres,ledoksari,rejosari sebagai
                                    generator ekonomi kerakyatan perlu mendapat penanganan yang
       kerakyatan                   optimal.menjadi satu bagian dalam skenario penataan kawasan. Dari
                                    data BPS didapatkan pertumbuhan ekonomi Kota Solo pada tahun
                                    2011 sebesar 6,04 % setelah pada tahun 2010 hanya sebesar 5,94 %


                                     pemanfaatan lahan terbuka serta fasade bangunan menjadi satu
                                     rangkaian ruang terbuka hijau menuju konsepsi kota solo - kota
 kota yang berwawasan                hijau ;mengatasi ancaman global warming.
  lingkungan :solo eco
                                     implementasi riil:lahan bantaran rel KA ditanami vegetasi yang
         culture                     bermanfaat bagi warga masyarakat dan lingkungan semisal
                                     tanaman rempah asli indonesia.


                                     Bangunan Stasiun Jebres masuk dalam situs cagar budaya yang
                                     dilindungi oleh UU no. 5/1992 kemudian telah diubah menjadi UU
      Heritage-Expo                  No. 11/2010.serta mendapat label dari Pemerintah Kota Surakarta
                                     sebagai bangunan cagar budaya.
                                     Pemanfaatan kembali depo dry port menjadi fungsi baru yang lebih
                                     memberikan nilai positif bagi warga kota solo.

                                          PARTISIPASI


   masyarakat                 investor                pemerintah kota                   PT.KAI



H a l | 8 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                                             M-002

      C. 2 Strategi Penanganan dan Pemanfaatan Kawasan Stasiun Jebres
          Menurut National Trust for Historic Preservation (2005)8, diperlukan strategi dalam
  penanganan kawasan bersejarah yaitu :
     a. Kolaborasi; pemerintah, swasta dan masyarakat.
     b. Saling keterkaitan dan membutuhkan.
     c. Merencanakan program dan kegiatan yang mampu menghidupkan kawasan.
     d. Fokus pada kualitas dan otentik.
     e. Perlindungan dan pemeliharaan; pada situs cagar budaya yang menjadi focal point
     Aplikasi strategi penanganan untuk kawasan stasiun jebres adalah pada tabel berikut :
NO        OBYEK               JENIS PENANGANAN                      STRATEGI PEMANFAATAN
1        Bangunan Stasiun Konservasi                                     Bangunan utama ini tetap dimanfaatkan sebagai
         Jebres                                                          stasiun, kantor pelayanan penumpang dan
                                                                         angkutan barang kereta api, serta menjaga
                                                                         keutuhan bangunan sebagaimana aslinya.
2        Dry Port / terminal Rehabilitasi / adaptasi                     Lahan yang ada di belakang bangunan utama
         peti kemas                                                      stasiun dan membentang hampir sepanjang 300 m
                                                                         ini dapat difungsikan sebagai ruang publik, galeri
                                                                         atau expo temporary untuk mengenalkan kiprah
                                                                         PT.KAI kepada umum dalam kemasan yang lebih
                                                                         modern, bisa bekerja sama dengan pemerintah
                                                                         kota, institusi seni ataupun lembaga pendidikan
3        Lahan eks POM Adaptasi                                          Dapat digunakan sebagai gerbang (gate) menuju
         BENSIN                                                          kawasan stasiun jebres dan eks terminal peti
                                                                         kemas
4        Lahan di sebelah Rehabilitasi                                   1. Status lahan tersebut adalah milik PT.KAI dan
         kanan-kiri       Pemanfaatan Compatible Use                         dikelola oleh KAPM (Kereta Api Property
         bangunan utama                                                      Management)
         stasiun                                                         2. Merencanakan pemanfaatan lahan yang
                                                                             optimal baik bagi PT.KAI maupun bagi warga
                                                                             yang sebelumnya menyewa lahan tersebut.
                                                                             Implementasinya:
                                                                             - hunian terpadu.
                                                                            - Gerai dengan komoditas pilihan semisal
                                                                               produk rempah (jamu, wedang tradisional,
                                                                               makanan tradisonal).
                                                                            - Homestay / penginapan.
5        Lahan Eks Pasar Rehabilitasi                                    1. Pasar Jebres direlokasi dan dijadikan satu
         Jebres                                                              kawasan terpadu bersama Pasar Rejosari dan
                                                                             Pasar Ledoksari supaya lebih tertata dan
                                                                             optimal.
                                                                         2. Lahan ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk
                                                                             menjadi galeri promosi industri pariwisata,
                                                                             fungsi komersial yang melibatkan potensi lokal
                                                                             warga sekitar.
                                                                         3. Dibangun pula basement untuk parkir terpadu.


    8
        Revitalizing Historic Districts Of Solo, Dr. Danang Priatmodjo


    H a l | 9 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta
                                                                                               M-002

6      Pedestrian way / Renovasi                           1. Area pejalan kaki sebagai konektor integrasi
       area pejalan kaki Rehabilitasi                          antar moda sistem transportasi.
                                                           2. Penggunaan material serta penambahan street
                                                               furniture yang disesuaikan dengan kebutuhan
                                                               dan juga untuk memperindah wajah kawasan
                                                               Stasiun Jebres
7      Eks Rumah Dinas        Preservasi                   Pemanfaatan eks rumah dinas untuk kegiatan
                              Adaptasi                     pemberdayaan masyarakat sekitar semisal : untuk
                                                           kegiatan posyandu, PAUD (pendidikan anak usia
                                                           dini), penyuluhan kesehatan, pelatihan pendidikan
                                                           dan ketrampilan wirausaha.
     C.3 Tahap Pelaksanaan Pembangunan
         Dalam implementasi perencanaan ke depan juga diperlukan tahap-tahap pelaksanaan dalam
         jangka waktu yang disepakati bersama-sama termasuk dengan sumber pembiayaan.

NO             OBYEK                       JANGKA WAKTU PELAKSANAAN (tahun)                 SUMBER DANA /
                                                      2013-2025                              KETERANGAN
                                  1   2    3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13
1       Sosialisasi program                                                                APBD

2       Konservasi      Stasiun                                                            APBN
        Jebres
2       Penataan Koridor (Jl.                                                              APBN, APBD
        Prof. Yohanes)
3       Penataan Eks Stasiun                                                               APBN, APBD
        Pompa Bensin
4       Penataan Dry Port /                                                                APBN
        terminal peti kemas
5       Penataan          lahan                                                            Optimalisasi fungsi
        PT.KAI                                                                             di lahan PT.KAI
         a. Hunian terpadu                                                                 APBN/APBD/
                                                                                           Investor
        b. Homestay/                                                                       Investor
            penginapan
6      Penataan eks Pasar                                                                  Partisipasi ekonomi
       Jebres                                                                              kerakyatan
       a. Pembongkaran                                                                     APBN/APBD
       b. Basement parkir                                                                  APBN/Investasi
          terpadu
       c. Butik Rempah &                                                                   APBN/Investasi
          Promosi ekonomi
          kerakyatan
7      Revitalisasi Pasar                                                                  APBN, APBD
       Jebres, Pasar Rejosari
       dan Pasar Ledoksari



     H a l | 10 Sayembara Perancangan Kawasan Stasiun Jebres-Pasar Ledoksari Kota Surakarta

								
To top