JURNAL BINA SEHAT DESEMBER 2013.doc by amarakbar

VIEWS: 10 PAGES: 99

									                                                                          1

HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN IBU BALITA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI
POSYANDU DUSUN KEDUNG CALUK DESA KRETERANGGON SAMBENG - LAMONGAN

Asirotul Ma’rifah, Ma’rifatul Khusnia

PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP PENCAPAIAN INVOLUSI UTERUS PADA
IBU POST PARTUM

Ima Rakhmayanti, Veryudha, Istissa’datul


UPAYA MENINGKATKAN SELF-CARE AGENCY IBU BAYI PREMATUR DENGAN PENDEKATAN
BECOMING A MOTHER DI RSUD SIDOARJO

Noer Saudah, M. Achwandi

METODE ANALISIS STRUCTURAL EQUATION MODELLING TERHADAP DATA SURVEY
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DERAJAT KESEHATAN

Ifa Roifah, Arif Wicaksono , Chaterina Janes Pratiwi

MODEL PENGEMBANGAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA RESPON HOSPITALISASI ANAK
TODLER DENGAN KUANTITAS DAN KUALITAS TIDUR DI RUMAH SAKIT KARTINI
KABUPATEN MOJOKERTO

Tri Ratnaningsih, Lutfi Wahyuni

EFFECT OF COUNSELING CLIENTS OF ATTITUDE OF DISEASE POLY VCT HIV / AIDS

Faisal Ibnu, Binarti Dwi W, Amar Akbar

UPAYA MENINGKATKAN PERSEPSI IBU TERHADAP BAYI PRETERM DENGAN METODE
EXPERIENTIAL   LEARNING    DI     RSUD    SIDOARJO    JAWA    TIMUR

M.Sajidin, Indah Kusmindarti

KETERKAITAN PENDIDIKAN DAN PERENCANAAN KEHAMILAN DENGAN KELENGKAPAN
PELAYANAN ANTENATAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUPATEN MOJOKERTO

Elies Meilinawati SB, Ifa Roifah

PENGARUH SENAM NIFAS TERHADAP PROSES INVOLUSI UTERI PADA IBU POST PARTUM
DI BPM Hj.NINIK ARTININGSIH, SST.M.KES WILAYAH BLOOTO KOTA MOJOKERTO

Ariu Dewi Yanti


PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA FLASH CARD (KARTU GAMBAR) DALAM ENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA ANAK PRASEKOLAH DI TK B SEGUNUNG MOJOKERTO

Ima Rahmawati
                                                                                                2


     UPAYA MENINGKATKAN SELF-CARE AGENCY IBU BAYI PREMATUR
             DENGAN PENDEKATAN BECOMING A MOTHER
                       DI RSUD SIDOARJO

                            Noer Saudah, M. Achwandi

                                    ABSTRAK

       Tingkat stres yang tinggi orangtua terutama ibu dan rendahnya tingkat kompetensi
menunjukkan bahwa orang tua (ibu) masih membutuhkan bantuan dalam merawat bayi
preterm. Keadaan ini mempengaruhi tingkat kemandirian (self care agency) ibu dalam
merawat bayi preterm. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan self care agency ibu bayi
preterm dengan pendekatan becoming a mother. Metode pencapaian tujuan penelitian dengan
quasy experimental dengan pre-post test design. Tahapan dalam penelitian ini mulai dari
pengumpulan data melalui pre test self care agency pada kelompok perlakuan maupun
kelompok kontrol, berikutnya memberikan intervensi keperawatan dengan metode
pendekatan becoming a mother I, II dan ke III sedangkan pada kelompok kontrol deberikan
perawatan biasa. Selanjutnya dilakukan post test, analisa data melalui uji paired t-test dan
pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh peningkatan
kemampuan selfcare Agency setelah dilakukan pendekatan becoming a mother.Terdapat
perbedaan pengaruh antara kemampuan selfcare Agency setelah dilakukan pendekatan
becoming a mother dibandingkan dengan yang tidak.Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi pedoman perawat dalam melakukan intervensi keperawatan pada ibu bayi preterm.
Dengan demikian akan dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam merawat bayi secara
mandiri di rumah.

KATA KUNCI : Self care agency, preterm dan becoming a mother


PENDAHULUAN                                      Pendokumentasian dalam rekam medik,
    Di  banyak           Negara    industri
                                                 angka     BBLR    dan       preterm         tidak
termasuk Amerika Serikat oleh Pannet
                                                 dibedakan. Angka kejadian preterm di
pada tahun 1995, proporsi bayi yang
                                                 RSUD Sidoarjo masih diatas 15%.
dilahirkan sebelum aterm meningkat dalam
                                                          Olshtain Mann, Auslander, Gail
20 tahun terakhir. Di Kanada meningkat
                                                 (2009)    melakukan      penelitian     dengan
6,3% pada tahun 1981 menjadi 6,8% pada
                                                 membandingkan       stres     orangtua       dan
tahun 1992. Di Indonesia angka kejadian
                                                 persepsi kompetensi orangtua antara ibu
partus preterm masih di atas 10% (Abadi,
                                                 dan ayah dari bayi preterm dua bulan
2005).
                                                 setelah keluar dari NICU di Israel dengan
         Rumah   Sakit    Umum     Daerah
                                                 orang-orang tua dari bayi aterm. Temuan
(RSUD) Sidoarjo merupakan salah satu
                                                 menunjukkan      bahwa      orang     tua   bayi
rumah sakit di Jawa Timur yang menjadi
                                                 preterm masih menunjukkan tingkat stres
rujukan yang banyak menerima kasus-
                                                 yang lebih tinggi daripada orangtuabayi
kasus kelahiran BBLR dan preterm.
                                                                                                     2


atermdan persepsi yang lebih rendah dari                 ekstenal.Self Care Agency dapat merujuk
kompetensi dalam merawat bayi preterm                    pada ibu sebagai klien, perawat/ bidan dan
daripada orang tua dari bayi aterm.                      dokter    spesialis    yang   merawat     bayi
Penelitian lain ditemukan terjadi kesulitan              preterm. Dengan pendekatan perawatan
dalam      melaksanakan          peran     orangtua,     becoming a mother yang menekankan
termasuk         pemisahan       dari     bayi    dan    pada     peran   ibu    dan   keluarga    oleh
kesempatan agak terbatas untuk bertemu                   Mercer(Marriner-Tomey&Alligood,
(Franklin, 2006). Thomas, Renaud, dan                    2006)sebagaiupaya       untuk     peningkatan
Depaul (2004) meneliti adanya stres                      kemampuan ibu dalam merawat bayi
pengasuhan antara ibu dari bayi preterm                  preterm, diharapkan selfcareagency pada
enam sampai 10 minggu setelah keluar                     ibu bayi preterm akan meningkat dan bayi
dari rumah sakit.                                        preterm akan mendapatkan perawatan
          Bayi preterm yang telahkeluar dari             yang optimal sepulang dari rumah sakit.
rumah sakit tidak boleh dianggap sebagai                 METODE PENELITIAN
akhir dari masalah yang penuh stres bagi                     Rancangan penelitian quasy experimental

orangtua.        Intervensikeperawatankeluarga           dengan pre-posttest design dan komparasi.
                                                         Kegiatan penelitian di RSUD Sidoarjo.
dalam melakukan perawatan selanjutnya
                                                         Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang
difokuskan pada upaya perawatan mandiri
                                                         melahirkan bayi preterm, sampel sebanyak 96
pada      bayi     baru     lahir.      Kemandirian
                                                         orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner.
orangtua dalam merawat bayi preterm
                                                         Variabel penelitian self care Agency dan
membutuhkan dukungan emosional terus                     variabel independen pendekatan keperawatan
sesuai dengan kebutuhan mereka.                          denga becoming a mother. Analisa data
          Kemampuan          orang       tua     dalam   menggunakan uji statistik paired t test
melaksanakan perawatan mandiri pada                      HASIL PENELITIAN
bayi preterm dapat dianalisis dengan                     Tabel 1       Karakteristik     responden
menggunakan Teori Keperawatan Self                           berdasarkan Kriteria selfcare Agency
                                                             ibu bayi preterm sebelum dilakukan
Care yang dikemukakan oleh Dorothea                          pendekatan becoming a mother pada
Orem. Orem menyatakan bahwa manusia                          masing-masing kelompok penelitian

pada dasarnya mempunyai kemampuan
dalam merawat dirinya sendiri yang
disebut      Self         Care       Agency(Taylor
&Reppening, 2011). Self Care Agency                      Tabel 2.      Karakteristik    responden
dapat berubah           setiap waktu           yang di       berdasarkan Kriteria selfcare Agency
                                                             ibu bayi preterm setelah dilakukan
pengaruhi        oleh     faktor     internal      dan
                                                                                                                                                                                                                                     3


                    pendekatan becoming a mother pada                                                                                                                                dengan kelompok kontrol pada tingkat
                    masing-masing kelompok penelitian
                                                                                                                                                                                     posttest.
                                                                                                                                                                                     Pembahasan
                                                                                                                                                                                              Berdasarkan tabel 5.6 diatas dapat
                                                                                                                                                                                     diketahui        bahwa        pada       kelompok
                                                                                                                                                                                     eksperimen paling banyak sudah memiliki
  Tabel 3.      Output Uji PairedT-Test
  selfcare Agency ibu bayi preterm sebelum                                                                                                                                           kriteria baik yaitu sebanyak 21 responden
  dan setelah dilakukan pendekatan                                                                                                                                                   (43,8%).      Sedangkan        pada      kelompok
  becoming a mother pada kelompok
  eksperimen                                                                                                                                                                         kontrol didapatkan paling banyak sudah
                                                                                                                                                                                     memiliki kriteria cukup yaitu sebanyak 19
  Tabel 4.      Output Uji Paired T-Test                                                                                                                                             responden (39,6%).
       selfcare Agency ibu bayi preterm                                                                                                                                                       Hasil      analisa       data      diatas
       sebelum dan setelah dilakukan
       pendekatan becoming a mother pada                                                                                                                                             menunjukkan         bahwa        masing-masing
       kelompok kontrol                                                                                                                                                              kelompok responden hampir mempunyai
                                                                                                                                                                                     kemampuan yang sama tentang selfcare
                                                                        Paired Samples Test
                                                                                                                                                                                     Agency       pada   bayi      preterm     sebelum
                                                                       Paired Differences
                                                                                               95% Confidence
                                                                                                Interval of the                                                                      dilakukan pendekatan becoming a mother.
                                                                         Std. Error               Difference

Pair      Skor Kelompok Kontrol
                                              Mean        Std. Deviation Mean                 Lower        Upper               t               df        Sig. (2-tailed)
                                                                                                                                                                                     Namun,        responden       pada       kelompok
1         Pre Test - Skor Kelompok            -,12500           ,44363             ,06403     -,25382          ,00382         -1,952                47               ,057
          Kontrol Post Test
                                                                                                                                                                                     eksperimen,         sedikit       lebih       baik

  Tabel 5                  Output Uji IndependenT-                                                                                                                                   kemampuannya         namun       tidak    berbeda
                                   Agency
      Test selfcare Independent Samples Test ibu bayi preterm                                                                                                                        secara      signifikan    terhadap       kelompok
      antara kelompok eksperimen dengan
              Levene's Test for
             Equality of Variances
      kelompok kontrol pada tingkat
                                              t-test for Equality of Means
                                                                                   95% Confidence
                                                                                                                                                                                     kontrol.      Sehingga        kondisi     tersebut
                                                                                    Interval of the
      posttest                                             Mean         Std. Error    Difference                                                                                     memungkinkan             untuk           dilakukan
                                                     F          Sig.               t         df        Sig. (2-tailed) Difference Difference              Lower         Upper
       Skor Pre Test        Equal variances
                            assumed
                            Equal variances
                                                       ,147       ,702             -,504          94              ,615      -,25000           ,49575 -1,23433               ,73433
                                                                                                                                                                                     pemberian pendekatan becoming a mother
                                                                                   -,504    94,000                ,615      -,25000           ,49575 -1,23433               ,73433
                            not assumed                                    Independent Samples Test

        Kriteria Pre test Equal variances        Levene's Test for
                                                       ,974       ,326
                                                Equality of Variances          1,531              94              ,129       ,25000
                                                                                                               t-test for Equality of Means   ,16325      -,07414           ,57414
                                                                                                                                                                                     untuk mengingkatkan pengetahuan atau
                            assumed                                                                                                                       95% Confidence
                                                                                                                                                           Interval of the
                            Equal variances
                                                                                                                                                                                     kemampuannya tentang selfcare Agency
                                                                                                                           Mean        Std. Error            Difference
                                                                               1,531        93,838                ,129       ,25000           ,16325      -,07415           ,57415
       Skor Pre Test
                            not assumed
                           Equal variances
                                                   F           Sig.            t            df         Sig. (2-tailed)   Difference    Difference        Lower        Upper
                                                     ,147        ,702          -,504              94             ,615       -,25000           ,49575     -1,23433       ,73433
                           assumed
                            Equal variances
        Skor Post Test Equal variances
                                                   23,320         ,000          5,244
                                                                               -,504             94
                                                                                            94,000                ,000
                                                                                                                 ,615       1,97917
                                                                                                                            -,25000            ,37744
                                                                                                                                              ,49575       1,22975
                                                                                                                                                         -1,23433       2,72859
                                                                                                                                                                        ,73433
                            assumed
                                                                                                                                                                                     pada bayi preterm.
                           not assumed
       Kriteria Pre test   Equal variances
                                                     ,974        ,326         1,531               94             ,129       ,25000            ,16325      -,07414       ,57414
                            Equal variances
                           assumed
                           Equal variances                                     5,244        65,958                ,000      1,97917           ,37744      1,22557       2,73276
                            not assumed
                           not assumed
                                                                              1,531         93,838               ,129       ,25000            ,16325      -,07415       ,57415



                                                                                                                                                                                              Berdasarkan tabel 5.7 diatas dapat
       Skor Post Test      Equal variances
                            Equal variances
        Kriteria Post test assumed                23,320         ,000         5,244               94             ,000      1,97917            ,37744     1,22975       2,72859


                               Berdasarkan tabel 5.10,58333 ,13288 ,31950 ,84717
                            assumed
                                   2,196
                           Equal variances
                           not assumed
                            Equal variances
       Kriteria Post test Equal variances
                                         ,142 4,390 94 ,000
                                                            diatas dapat      5,244         65,958               ,000      1,97917            ,37744     1,22557       2,73276

                                                   2,196         ,142         4,390            94                ,000       ,58333            ,13288      ,31950        ,84717
                           assumed                                             4,390        80,941                ,000       ,58333           ,13288       ,31894           ,84772
                            not assumed
  diketahui bahwa nilai probabilitas hasil
                           Equal variances
                          not assumed
                                                                              4,390         80,941               ,000       ,58333            ,13288      ,31894        ,84772
                                                                                                                                                                                     diketahui        bahwa        pada       kelompok

  perhitungan                                                 IndependenT-Test                                                                           sebesar                     eksperimen sebagian memiliki kriteria baik

  0,000>                                 0,05                            yang                             artinya                                   terdapat                         yaitu sebanyak 26 responden (54,2%).

  perbedaan                                              selfcare                                 Agency                                  ibu                       bayi             Sedangkan        pada      kelompok        kontrol

  pretermantara                                                            kelompok                                                   eksperimen                                     didapatkan paling banyak sudah memiliki
                                                                                                          4


kriteria      cukup      yaitu      sebanyak      20    0,000>      0,05        yang    artinya     terdapat
responden (41,7%).                                      perbedaan        selfcare      Agency     ibu   bayi
           Setelah      dilakukan       pendekatan      preterm     antara        kelompok       eksperimen
becoming a mother diketahui bahwa                       dengan kelompok kontrol pada tingkat
responden yang mendapatkan pendekatan                   posttest.
becoming        a      mother     kemampuannya          KESIMPULAN
menjadi lebih baik dengan tidak adanya                  1. Selfcare Agency pada bayi preterm
responden yang berpengetahuan kurang.                        sebelum            dilakukan        pendekatan
Sedangkan            responden       yang       tidak        becoming a mother sebagian besar
mendapatkan          pendekatan      becoming      a         dengan kriteria baik yaitu sebanyak 21
mother       kemampuannya           tidak     banyak         responden (43,8%).
berubah.                                                2.      Selfcare         Agency      pada       bayi
           Berdasarkan tabel 5.8 diatas dapat                pretermsetelah dilakukan pendekatan
diketahui bahwa nilai probabilitas hasil                     becoming a mother sebagian besar
perhitungan PairedT-Test sebesar 0,000 <                     dengan kriteria baik yaitu sebanyak 26
0,05 yang artinya terdapat perbedaan                         responden (54,2%).
selfcare Agency ibu bayi preterm sebelum                3. Ada pengaruh peningkatan kemampuan
dan        setelah      dilakukan       pendekatan           selfcare     Agency       setelah    dilakukan
becoming       a      mother     pada    kelompok            pendekatan becoming a mother
eksperimen. Perbedaan tersebut adalah                   4. Terdapat perbedaan pengaruh antara
terjadi peningkatan kemampuan selfcare                       kemampuan selfcare Agency setelah
Agency setelah dilakukan pendekatan                          dilakukan         pendekatan    becoming     a
becoming a mother.                                           mother dibandingkan dengan yang tidak
           Berdasarkan      tabel       5.9    dapat    SARAN
diketahui bahwa nilai probabilitas hasil
                                                        1.    Ibu       bayi     preterm    dan    keluarga
perhitungan PairedT-Test sebesar 0,057>
                                                                mempraktikkan ketrampilan yang
0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan
                                                                telah di dapat
selfcare Agency ibu bayi preterm sebelum
                                                        2. Perawat melakukan kunjungna rumah
dan        setelah      dilakukan       pendekatan
                                                                untuk memantau perkembangan bayi
becoming       a      mother     pada    kelompok
                                                                preterm
kontrol.
           Berdasarkan      tabel     5.10     dapat
                                                        DAFTAR PUSTAKA
diketahui bahwa nilai probabilitas hasil
perhitungan          IndependenT-Test         sebesar
                                                                                      5


Abadi A, 2005. Prematuritas Tantangan       Olshtain-Mann, Orly; Auslander, Gail K.,
      Masa       Depan     Kedokteran              2008. Parents of Preterm Infants
      Fetomaternal, disampaikan delam              Two Months after Discharge from
      pengukuhan Guru Besar pada                   the Hospital: Are They Still at
      Fakultas Kedoketran Universitas              (Parental) Risk?Yerusalem Journal
      Airlangga, Airlangga University              Health & Social Work 33. 4 (Nov
      Press, Surabaya                              2008): 299-308

Baker, L. K., & Denyes M. J. 2008.          Sugiyono, 2004. Statistik untuk Penelitian,
      Predictor    of   Self-care   in            Bandung, Alfabeta
      Adolesents, Journal of Pediatric
      Nursing, 23 (1)                       Taylor & Renpenning, 2011. Self-care in
                                                   Nursing Theory, Spinger Publising
Browne, J.V., & Talmi,A. 2005. Family-             Company. Columbia
      based intervention to enhance
      infant-parent relationships in the    Thomas, K. A., Renaud, M.T., & Depaul,
      neonatal intensive care unit.              D. (2004). Use of the parenting
      Journal of Pediatric Psychology,           stress index in mothers of preterm
      30,667-677.                                infants. Advanced Neonatal Care,
                                                 4, 33-41.
Cunningham Fg, Gant Nf, Leveno KJ,
      Gilstrap Lc, Hauth Jc, Wenstrom
      KD, et al 2005. William
      Obestetrics, 22 edition, The
      McGraw-Hill Companies, p. 689-
      727

Franklin, C. (2006). The neonatal nurse's
       role in parental attachment in the
       NICU. Critical Care Nursing
       Quarterly, 29, 81-85.

Janet Tucker,William McGuire, 2004.
       Epidemiology of prterm Birth,
       BMJ 329 edition, Balckwell
       Publishing, 675

Janet           Tucker,GarethParry,Peter
        WFowlie,William       McGuire,
        2004. Organisationand delivery
        ofperinatal services, BMJ 329
        edition, Balckwell Publishing,
        735

Marriner-Tomey & Alligood, 2006.
      Nursing theorists and their works.
      6th Ed.St.Louis: Mosby Elsevier,
      Inc
                                                                                            1


      HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN IBU BALITA DENGAN STATUS GIZI
                BALITA DI POSYANDU DUSUN KEDUNG CALUK DESA
                    KRETERANGGON SAMBENG - LAMONGAN

                           Asirotul Ma’rifah, Ma’rifatul Khusnia

                                         ABSTRACT
      Mother's education has a very important role in reducing the prevalence of
malnutrition in children under five years. A mother can determine how the selection of food
for their babies. Health department reported that about 900 thousand children under five in
Indonesia holds of the malnutrition status. This resulted in Indonesia was ranked five
malnutrition. The purpose of this Research to determine the relationship of maternal
education with nutritional status of children under five years at Posyandu Kedung Caluk
Kreteranggon Sambeng Lamongan. The research desing is correlational analytic. The
population was all women who come Posyandu Kedung Caluk Kreteranggon Sambeng
Lamongan district by 40 mothers. Samples were taken with a total sampling of 40
respondents. Data collected with the questionnaire for education and observation sheets baby
weight and then tested with Spearman rho test and presented in the distribution frequency
table. The result of Spearman test obtained ρ = 0.012, α = 0.05 then ρ <α, so that the H0 is
rejected and H1 is accepted it means that there is a relationship between maternal education
with the nutritional status of children under five years in Kedung Caluk Kreteranggon
Sambeng Lamongan. Results of this study can be stated that the higher one's education, the
better their nutritional status. Because of the higher education then someone will get better
knowledge about foods that meets the nutritional needs of the better their nutritional status.
Mother of toddler expected to increase knowledge of the nutrition, so their can stimulate to
improve compliance with nutritional status of Children with Better.

Keywords: Education, Toddlers, Nutritional Status


PENDAHULUAN                                       lemak dan lebih sedikit serat. Untuk
       Status gizi pada masa balita perlu         tumbuh     dan     berkembang,     manusia
mendapatkan perhatian yang serius pada            memerlukan enam zat gizi utama, yaitu
orang tua, karena kekurangan gizi pada            karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan
masa ini akan mengakibatkan kerusakan             air. Zat tersebut dapat kita peroleh dari
yang irreversibel (tidak dapat dipulihkan).       makanan yang kita konsumsi sehari-
Masa balita adalah periode perkembangan           hari.Anak dapat tumbuh dan berkembang
fisik dan mental yang pesat. Otak balita          dengan    baik,   maka     makanan     yang
ibu    telah   siap   menghadapi   berbagai       dimakannya tidak boleh hanya sekedar
stimulasi seperti belajar berjalan dan            mengenyangkan perut saja. (Proverawati
berbicara lebih lancar. Balita memiliki           dan Asfuah:2009).
kebutuhan gizi yang berbeda dari orang                  Keadaan kesehatan gizi tergantung
dewasa. Balita membutuhkan lebih banyak           dari tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi
                                                                                                  2


ditentukan oleh kualitas serta kuantitas            kasus balita gizi buruk tertinggi. (Dewi
hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan             dkk:2012).
adanya semua zat gizi yang diperlukan                       Berdasarkan riset kesehatan Dasar
tubuh didalam susunan hidangan dan                  tahun     2010,     sebanyak     13,0%     anak
perbandingannya yang satu terhadap yang             berstatus gizi buruk. Data yang sama
lain. Kuantitas menunjukkan kwantum                 menunjukan 13,3% anak kurus diantaranya
masing-masing       zat         gizi     terhadap   6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak
kebutuhan tubuh. Kalau susunan hidangan             memiliki kategori sangat pendek. Keadaan
memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari                 ini berpengaruh pada masih tingginya
sudut kualitas maupun kuantitasnya, maka            angka kematian bayi. Menurut WHO lebih
tubuh akan mendapat kondisi kesehatan               dari 50% kematian bayi dan anak terkait
gizi         yang               sebaik-baiknya.     dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh
(Sediaoetama:2008).        Pendidikan         ibu   karena itu masalah gizi perlu ditangani
mempunyai peran yang sangat penting                 secara cepat dan tepat.           (Kementrian
dalam mengurangi prevelensi masalah gizi            Kesehatan RI.2011).
pada balita. Seorang ibu dapat menentukan                   Hasil Riskesdas 2010 menunjukkan
bagaimana pola asuh yang akan dipilihnya            prevalensi gizi kurang menjadi 17,9% dan
terutama dalam pemilihan makanan untuk              gizi buruk menjadi 4,9%. Provinsi Jawa
balitanya. (Damanik dkk:2012).                      Timur     yang      dikenal    sebagai    daerah
       Menurut data Dinas Kesehatan RI              lumbung padi nasional ternyata tidak
tercatat sekitar 4 persen atau 900 ribu             diimbangi     dengan     peningkatan      secara
balita yang tersebar di seluruh Indonesia           signifikan status gizi pada balita. Jawa
menyandang status gizi buruk. Hal ini               Timur merupakan Provinsi ke-3 dengan
mengakibatkan       Indonesia          menduduki    jumlah penderita gizi kurang terbanyak di
peringkat lima besar pemilik gizi buruk             Indonesia yaitu mencapai 434 ribu balita.
balita. Di antara provinsi-provinsi di              Jumlah ini terkonsentrasi pada daerah tapal
Indonesia pada tahun 2007, posisi Jawa              kuda      seperti     Probolinggo,       Jember,
Timur jika dilihat dari tingkat status gizi         Lumajang. Target Millenium Development
buruk termasuk ke dalam kelompok                    Goals (MDGs) pada tahun 2015 adalah
menengah    dengan        4,8     persen   balita   penurunan angka kekurangan gizi pa-da
digolongkan gizi buruk. Jawa Timur                  balita sampai 12,6%. Sehingga diperlukan
termasuk ke dalam empat provinsi yang               upaya serius dan strategi perbaikan status
selama 5 tahun berturut-turut (2005-2009)           gizi balita di Jawa Timur. (Anggraini
berada pada kategori 10 provinsi dengan             dkk:2012).
                                                                                                      3


         Masalah status gizi balita masih            berpengaruh terhadap sikap dan perilaku
banyak ditemukan mulai dari balita dengan            dalam     memilih        makanan    yang      pada
status gizi kurang, maupun gizi lebih di             akhirnya akan berpengaruh pada keadaan
dusun kedung caluk desa kreteranggon                 gizi individu yang bersangkutan. (Istiono
kecamatan sambeng kabupaten lamongan.                dkk:2009).      Pengetahuan        sangat     erat
Beberapa       faktor     yang     mempengaruhi      kaitannya      dengan      pendidikan    dimana
status      gizi balita diantaranya tingkat          diharapkan seseorang dengan pendidikan
pendidikan,      pengetahuan        ibu    tentang   tinggi maka orang tersebut akan semakin
makanan bergizi, sosial ekonomi dsb.                 luas pula pengetahuannya. (Munir:2012).
Tingkat pendidikan ibu mayoritas (SD -               Ilmu gizi mencakup dua komponen yang
SMP) sebanyak 50 %, (SMA, MA)                        penting, yaitu makanan dan kesehatan.
sebanyak 40 %, dan perguruan tinggi                  Untuk mencapai kesehatan yang optimal
sebanyak 10 %. Salah satu contoh tentang             diperlukan      makanan       bukan      sekedar
makanan        bergizi     yaitu     ibu    balita   makanan,         tetapi      makanan          yang
mengatakan         yang     terpenting     adalah    mengandung        gizi     atau    zat-zat    gizi.
anaknya makan sesering mungkin dan                   (Notoatmodjo:2011). Ibu perlu mencermati
berat      badan        anaknya     naik    tanpa    konsumsi makanan balita seperti yang
memperhatikan komposisi makanan dan                  seharusnya dibutuhkan berdasarkan pola
kandungan makanan yang diberikan pada                makan dengan gizi seimbang. Pengetahuan
anaknya.                                             gizi    yang     baik     akan     menyebabkan
         Pendidikan ibu mempunyai peranan            seseorang mampu menyusun menu yang
penting dalam menentukan status gizi                 baik untuk dikonsumsi. Semakin banyak
balita. Peningkatan pendidikan ibu akan              pengetahuan gizi seseorang maka akan
membawa dampak pada investasi sumber                 semakin      memperhitungkan         jenis     dan
daya manusia yang berkualitas, karena                jumlah makanan yang diperolehnya untuk
dengan peningkatan pendidikan ibu akan               dikonsumsi. (Munir:2012).
meningkatkan status gizi balita yang pada                   Masalah     gizi    masyarakat        bukan
akhirnya dapat meningkatkan peluang                  menyangkut        aspek      kesehatan        saja,
kesempatan pendidikan balitanya sebagai              melainkan aspek-aspek yang terkait yang
modal dasar sumber daya manusia yang                 lain, seperti ekonomi, sosial budaya,
berkualitas.       (Damanik        dkk:    2012).    pendidikan,          kependudukan,             dan
Pengetahuan ibu merupakan salah satu                 sebagainya. Oleh sebab itu, penanganan
faktor yang berpengaruh terhadap gizi                atau perbaikan gizi sebagai upaya terapi
balita. Tingkat pengetahuan seseorang                tidak hanya diarahkan pada gangguan gizi
                                                                                                                    4


atau kesehatan saja, melainkan juga kearah              40 ibu balita. Dalam penelitian ini
bidang-bidang           yang     lain.     Misalnya     menggunakan            teknik         Non     Probability
penyakit gizi KKP (kekurangan kalori dan                sampling type total sampling. Dalam
protein) pada anak-anak balita, tidak cukup             penelitian ini variabel Dependent adalah
dengan      hanya        pemberian         makanan      status gizi balita dan variabel Independent
tambahan         saja    (PMT),      tetapi     juga    adalah pendidikan ibu balita.
dilakukan perbaikan ekonomi, peningkatan                HASIL PENELITIAN
pengetahuan, tentang gizi , skrining balita
                                                        Tabel 1. Tabulasi Silang antara pendidikan
secara minimal 1 bulan sekali melalui                     ibu balita Dengan status gizi balita di
                                                          Posyandu Dusun Kedung Caluk Desa
posyandu                dan              sebagainya.
                                                          Kreteranggon Kecamatan Sambeng
(Notoatmodjo:2011).                                       Kabupaten Lamongan Bulan April 2013
        Berdasarkan            fenomena       diatas
                                                                                     Pendidikan
mendorong         keinginan       penulis      untuk      Status
                                                                        G
mengkaji lebih lanjut tentang hubungan                                SDi      SLTP                  D3/P
                                                                                          SLTA              Total
                                                                        z                                             T
antara pendidikan ibu balita dengan status                              i
                                                                     f %       f    %     f    % f % f          %
gizi balita di Posyandu Dusun Kedung
                                                                                    10
Caluk Desa Kreteranggon Kecamatan                         Buruk      0    0    1          0    0 0 0 1 100
                                                                                                  0
Sambeng Kabupaten Lamongan.                                              11,        61,        27,          1
                                                         Kurang      2         11         5          0 0        100
                                                                                           1          1         8         8
                                                                                    18,        56,          1
METODE PENELITIAN                                          Baik      0    0    3          9          4 25       100
                                                                                                      8         3         6
         Jenis      desain      penelitian     yang
                                                          Lebih      0    0    3 60 2 40 0 0 5 100
digunakan adalah analitik korelasi dengan
                                                                                                            4
menggunakan pendekatan cross sectional.                   Total      2    5 18 45 16 40 4 10                    100
                                                                                                                          0
Metode analitik korelasi ini digunakan                  Sumber: data primer 2012

untuk     mengukur        hubungan         (korelasi)
antara pendidikan ibu balita dengan status              PEMBAHASAN

gizi balita di Posyandu Dusun Kedung                    1. Latar belakang pendidikan ibu balita di
Caluk Desa Kreteranggon Kecamatan                          Posyandu Dusun Kedung Caluk Desa
                                                           Kreteranggon Kecamatan Sambeng
Sambeng Kabupaten Lamongan. Populasi                       Kabupaten Lamongan
pada penelitian ini adalah semua ibu balita
                                                                Hasil penelitian yang dilakukan di
yang datang ke Posyandu Dusun Kedung
                                                        Posyandu Dusun Kedung Caluk Desa
Caluk Desa Kreteranggon Kecamatan
                                                        Kreteranggon               Kecamatan           Sambeng
Sambeng Kabupaten Lamongan sebanyak
                                                        Kabupaten Lamongan pada bulan April
                                                                                             5


2013 terhadap 40 responden diperoleh data         ekonomi yang akan berdampak pada
berdasarkan tabel 4.5 bahwa hampir                pemenuhan      kebutuhan   makanan     yang
setengahnya ibu mempunyai latar belakang          bergizi untuk balita.
pendidikan SLTP sebanyak 18 responden             2. Status Gizi di Posyandu Dusun Kedung
                                                     Caluk Desa Kreteranggon Kecamatan
(45%). Pendidikan adalah usaha sadar dan
                                                     Sambeng Kabupaten Lamongan
terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar                    Hasil penelitian tentang status gizi
peserta didik secara aktif mengembangkan          balita yang dilakukan terhadap 40 balita di
potesi dirinya untuk memiliki kekuatan            Posyandu Dusun Kedung Caluk Desa
spiritual keagamaan, pengendalian diri,           Kreteranggon       Kecamatan      Sambeng
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,            Kabupaten     Lamongan     diperoleh     data
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,        hampir setengahnya status gizi balita
masyarakat, bangsa, dan negara. (UU-RI            responden termasuk pada kategori status
No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem                  gizi kurang sebanyak 18 balita (45%).
Pendidikan Nasional). Sedangkan menurut           Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai
Umar     La   Sulo     (2005)     pendidikan      akibat konsumsi makanan dan penggunaan
merupakan suatu proses yang kompleks              zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi
dan melibatkan berbagai pihak, khususnya          buruk , kurang, baik, dan lebih. (Almatsier,
keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai         2009). Hasil penelitian ini menunjukkan
lingkungan    pendidikan       yang     dikenal   bahwa responden pada penelitian ini masih
sebagai tripusat pendidikan.                      belum mampu untuk memenuhi kebutuhan
       Responden      pada   penelitian     ini   gizi yang diperlukan oleh anak mereka
menunjukkan bahwa sebagian besar latara           dimana hal ini terjadi karena kurangnya
belakang pendidikan responden penelitian          pemahaman responden tentang makanan
ini termasuk dalam kategori pendidikan            yang baik untuk balita dan juga karena
dasar atau SLTP, dimana dengan latar              pengaruh keadaan perekonomian keluarga
belakang pendidikan yang dimiliki oleh            sehingga pemenuhan kebutuhan makanan
responden dapat dikatakan mereka kurang           yang bergizi dan bernutrisi tinggi masih
mampu dalam memahami informasi yang               belum tercapai dengan baik yang akhirnya
diterima tentang gizi yang harus diberikan        dapat mempengaruhi status gizi balita.
pada balita selain itu juga karena dengan               Berdasarkan faktor usia responden
pendidikan    dasar    biasanya       responden   diperoleh data bahwa sebagian besar
jarang    yang     mempunyai          pekerjaan   responden berusia 20-35 tahun sebanyak
sehingga dapat mempengaruhi kondisi               26 responden (65%). Sesuai dengan
                                                                                                              6


ungkapan       yang        disampaikan             oleh    belakang pendidikan ibu adalah SLTP
Notoatmodjo (2010) bahwa faktor-faktor                     sebanyak           11       responden      (61,1%),
yang      memfasilitasi           perilaku         atau    berdasarkan status gizi balita dengan
mempredisposisi           terjadinya         perilaku      kategori baik diperoleh data sebagian besar
seseorang antara lain usia, pengetahuan,                   ibu balita mempunyai latar belakang
pendidikan,             sikap,            keyakinan,       pendidikan SLTA sebanyak 9 responden
kepercayaan,         nilai-nilai,       tradisi     dan    (56,33%) dan berdasarkan kategori status
sebagainya.      Usia         responden            pada    gizi balita yang lebih diperoleh data
penelitian ini menunjukkan bahwa mereka                    sebagian besar responden mempunyai latar
sudah termasuk dalam usia dewasa dimana                    belakang pendidikan SLTP sebanyak 3
seharusnya      responden           sudah         cukup    responden (60%). Hasil uji spearman rho
mempunyai             pengalaman              tentang      diperoleh data ρ = 0.012 , α = 0,05 maka ρ
pemenuhan kebutuhan gizi balita dimana                     < α sehingga H0 ditolak dan H1 diterima
pegnalaman tersebut dapat berasal dari                     berarti ada hubungan antara pendidikan
lingkungan     keluarga          atau     lingkungan       ibu balita dengan status gizi balita di
pekerjaan, akan tetapi karena responden                    Posyandu Dusun Kedung Caluk Desa
masih belum mampu memahami informasi                       Kreteranggon              Kecamatan        Sambeng
yang diterima sehingga masih banyak ibu                    Kabupaten Lamongan.
balita yang tidak mampu memberikan                                  Ada beberapa faktor yang sering
makanan yang memenuhi kebutuhan gizi                       merupakan penyebab gangguan gizi, baik
balita yang akhirnya banyak balita pada                    langsung      maupun           langsung.      Sebagai
penelitian ini yang mengalami status gizi                  penyebab           langsung        gangguan      gizi
kurang.                                                    khususnya gangguan gizi pada bayi dan
3. Hubungan pendidikan ibu balita                          balita adalah tidak sesuai              jumlah gizi
   Dengan status gizi balita di Posyandu
                                                           yang mereka peroleh dari makanan dengan
   Dusun     Kedung       Caluk     Desa
   Kreteranggon Kecamatan Sambeng                          kebutuhan tubuh mereka (Proverawati,
   Kabupaten Lamongan
                                                           2010 dalam Suparyanto, 2012).
       Berdasarkan pada tabel 1. diatas                             Dalam kehidupan masyarakat sehari-
diperoleh data bahwa berdasarkan status                    hari      sering        terlihat   keluarga     yang
gizi balita dengan kategori buruk diperoleh                sungguhpun berpenghasilan cukup akan
data seluruh ibu balita mempunyai latar                    tetapi      makanan           yang      dihidangkan
belakang pendidikan SLTP. Berdasarkan                      seadanya.      Dengan          demikian    kejadian
status gizi balita dengan kategori kurang                  gangguan gizi tidak hanya ditemukan pada
diperoleh     data      sebagian        besar      latar   keluarga yang berpenghasilan kurang akan
                                                                                                      7


tetapi     juga     pada       keluarga       yang            Berdasarkan data tabulasi silang
berpenghasilan cukup karena biasanya                  diperoleh      data    meskipun       responden
mereka akan menitipkan pengasuhan anak                mempunyai latar belakang pendidikan
pada pembantu, jika pembantu dapat                    SLTP tetapi status gizi anak ada yang
mengetahui         tentang      nutrisi       yang    dikategorikan dalam status gizi baik dan
dibutuhkan anak dengan baik maka status               lebih     masing-masing         sebanyak        3
gizi     anak   akan      menjadi    lebih    baik    responden.      Hal     ini    terjadi     karena
demikian pula sebaliknya. Keadaan ini                 responden sudah cukup mengerti tentang
menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan                  pemenuhan kebutuhan gizi pada balita
faedah makanan bagi kesehatan tubuh                   dimana pemahaman tersebut diperoleh dari
menjadi penyebab buruknya mutu gizi                   informasi      keluarga       dan    lingkungan
makanan keluarga, khususnya makanan                   disekitar responden dan responden sudah
balita. Masalah gizi karena kurangnya                 cukup memahami informasi tersebut.
pengetahuan dan ketrampilan dibidang                          Pada    responden       dengan       latar
memasak akan menurunkan konsumsi                      belakang pendidikan SD terdapat balita
makanan anak, keragaman bahan dan                     yang mempunyai status gizi kurang terjadi
keragaman         jenis       makanan         yang    karena kurangnya pemahaman responden
mempengaruhi           kejiwaan           misalnya    tentang makanan yang bergizi dan harus
kebebasan.        Sedangkan         untuk     latar   diberikan pada usia balita, selain itu porsi
belakang pendidikan SLTP yang masih                   dan     frekuensi     makanan       yang    harus
mempunyai balita dengan status gizi buruk             diberikanpun masih belum maksimal atau
terjadi karena responden masih belum                  sesuai dengan usia anak, sehingga balita
mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi                   masih mengalami kekurangan gizi.
anak pada usia balita, disamping itu karena                   Pada    responden       dengan       latar
jumlah anak yang banyak atau lebih dari               belakang pendidikan SLTA terdapat 5
satu kemungkinan responden masih belum                responden yang mempunyai status gizi
dapat memberikan perawatan yang baik                  kurang, hal ini terjadi kemungkinan karena
pada kedua anaknya karena kurangnya                   responden      masih      belum      memahami
pemahaman dalam melakukan perawtan                    informasi yang diterima tentang makanan
yang baik pada balita terutama pada                   yang mengandung unsur gizi yang baik
masalah gizi balita, meskipun mereka                  dan cocok untuk balita, dimana keadaan
sudah     memperoleh         informasi      tentang   ini dapat mempengaruhi kebutuhan gizi
pemenuhan gizi pada balita dari petugas               balita responden. Selain itu karena kondisi
kesehatan setempat.                                   ekonomi responden yang cukup baik
                                                                                              8


sehingga    mereka      dapat     mencukupi    Kabupaten Lamongan yang dibuktikan
kebutuhan gizi yang diperlukan oleh balita.    dari ahsil uji spearman rank dengan ρ =
     Selain faktor pendidikan terdapat         0,012 dan α = 0,05.
faktor lain yang dapat mempengaruhi
status gizi balita diantaranya pengetahuan     SARAN
ibu, status ekonomi, jumlah anak atau          1.     Diharapkan       ibu      balita     lebih
faktor herediter. Akan tetapi pada hasil       meningkatkan pendidikan (pengetahuan
penelitian ini dapat dinyatakan bahwa          atau keilmuan) sehingga dengan keilmuan
semakin tinggi pendidikan seseorang maka       yang lebih dapat merangsang untuk dapat
akan semakin baik status gizi balita           meningkatkan       pengetahuan            tentang
mereka. Karena dengan pendidikan yang          pemenuhan status gizi balita sehingga
tinggi maka pengetahuan seseorang akan         stataus gizi akan dapat lebih baik.
semakin baik tetntang makanan yang dapat       2.     Bagi        Institusi        Kesehatan
memenuhi kebutuhan gizi balita maka            diharapkan lebih intensif lagi dalam
akan semakin baik pula status gizi mereka.     memberikan        pendidikan         kesehatan
                                               terutama    tentang     penimbangan          dan
KESIMPULAN                                     pemenuhan gizi balita sehingga orang tua
1.     Pendidikan ibu di Posyandu Dusun        lebih mengerti dan memahami tentang
Kedung      Caluk     Desa      Kreteranggon   pemenuhan      status     gizi    balita     dan
Kecamatan        Sambeng          Kabupaten    pengukuran status gizi.
Lamongan diperoleh data sebagian besar
ibu mempunyai latar belakang pendidikan        DAFTAR PUSTAKA
SLTP sebanyak 18 responden (45%).
                                               Almatseir, Sunita. 2009. Prinsip Dasar
2.     Status gizi balita di Posyandu               Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia
                                                    Utama
Dusun Kedung Caluk Desa Kreteranggon
Kecamatan        Sambeng          Kabupaten    Anggraini Retno, Purhadi. 2012. Jurnal
                                                   Penelitian Pemodelan Faktor-Faktor
Lamongan diperoleh data bahwa hampir
                                                   yang      Berpengaruh     Terhadap
setengahnya status gizi balita responden           Prevalensi Balita Kurang Gizi Di
                                                   Provinsi Jawa Timur dengan
termasuk pada kategori status gizi kurang
                                                   Pendekatan          Georgraphically
sebanyak 18 balita (45%).                          Weighted     Logistic   Regression
                                                   (GWLR). Jurnal Sains dan Seni ITS.
3.     Ada hubungan antara pendidikan
                                                   Surabaya
ibu balita dengan status gizi balita di
                                               Azwar, Saifuddin. 2007.      Metode
Posyandu Dusun Kedung Caluk Desa
                                                   Penelitian. Yogyakarta : Pustaka
Kreteranggon        Kecamatan      Sambeng         Pelajar
                                                                                  9



Damanik Rizal M, Ekayanti Ikeu, Hariyadi   Munir, Miftakhul. 2012. Jurnal Dosen
    Didik. 2010. Jurnal Penelitian              Hubungan        antara     Tingkat
    Analisis Pengaruh Pendidikan Ibu            Pengetahuan Ibu tentang Makanan
    Terhadap Status Gizi Balita Di              Tambahan dengan Pola Pemenuhan
    Kalimantan Barat. Jurnal Gizi dan           Makanan Tambahan pada Bayi Usia
    Pangan. Surabaya                            6-12 Bulan di Desa Margosoko
                                                Kecamatan     Bancar     Kabupaten
Departemen     Gizi    dan   Kesehatan          Tuban. Tuban : Stikes NU
     Masyarakat.    2011.   Gizi    dan
     Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT    Narbuko Cholid, Achmadi Abu. 2009.
     RajaGrafindo Prasada                       Metodologi Penelitian. Jakarta :
                                                Bumi Aksara
Dewi Riana Kurnia, Budiantoro I Nyoman.
     2012. Jurnal Penelitian Faktor-       Netty, Utary. 2011. Diktat Gizi Dalam
     Faktor yang Mempengaruhi Angka              Kespro Stikes Bina Sehat PPNI
     Gizi Buruk di Jawa Timur dengan             Mojokerto
     Pendekatan Regresi Nonparametrik
     Spline. Jurnal Sains dan Seni ITS.    Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi
     Surabaya                                   Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
                                                Jakarta : Rineka Cipta
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Riset
     Keperawatan dan Teknik Penulisan      Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu
     Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika           Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
                                                Cipta
Istiono, Wahyudi, dkk. 2009. Jurnal
      Analisis    Faktor-Faktor    yang    Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi
      Mempengaruhi Status Gizi Balita.          Penelitian Kesehatan. Jakarta :
      Berita Kedokteran Masyarakat              Rineka Cipta

Kementerian    Kesehatan      Republik     Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Kesehatan
    Indonesia.    2011.       Pedoman           Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta :
    Pelayanan Anak Gizi Buruk                   Rineka Cipta

Kementerian Menteri Republik Indonesia.    Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan
    2011.     Standar      Antropometri         Metodologi Penelitian dan Ilmu
    Penilaian Status Gizi Anak                  Keperawatan. Jakarta : Salemba
                                                Medika
Marimbi,   Hanum.    2010.   Tumbuh
     Kembang, Status Gizi & Imunisasi      Proverawati Atikah, Asfuah Siti. 2009.
     Dasar pada Balita. Yogyakarta :            Buku Ajar Gizi untuk Kebidanan.
     Nuha Medika                                Yogyakarta : Nuha Medika

Munir, Miftakhul. 2012. Jurnal Dosen       Saebani, Beni Achmad. 2008. Metode
     Hubungan antara Pengetahuan Ibu            Penelitian. Bandung : Pustaka Setia
     Tentang Gizi Seimbang Dengan
     Status Gizi Balita (1-5 Tahun) (Di    Setiawan Ari, Saryono. 2010. Metodologi
     Desa Sumurgeneng Wilayah Kerja              Penelitian Kebidanan DIII, DIV, S1,
     Puskesmas Jenu-Tuban). Tuban :              dan S2. Yogyakarta : Nuha Medika
     Stikes NU
                                          10


Soediaoetama, Achmad Djaeni. 2008. Ilmu
     Gizi 1. Jakarta : Dian Rakyat

Supriasa I Dewa Nyoman, Bakri Bachyar,
     Fajar Ibnu. 2002. Penilaian Status
     Gizi. Jakarta : EGC

Tirtarahardja Umar, La Sulo S. L. 2005.
      Pengantar Pendidikan. Jakarta :
      Rineka Cipta

Undang-Undang   Republik    Indonesia
    Nomor 20. 2003. Sistem Pendidikan
    Nasional

Widodo, Rahayu. 2010. Pemberioan
    Makanan, Suplemen, & Obat pada
    Anak.     Jakarta   :     EGC
                                                                                  11




   PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP PENCAPAIAN
                INVOLUSI UTERUS PADA IBU POST PARTUM


                    Ima Rakhmayanti, Veryudha, Istissa’datul


                                     ABSTRACT

         Early initiation is one of the factors that affect uterine involution occurs
during breastfeeding because stimulation and release of hormones such as
oxytocin which stimulates contraction of muscle function in addition to smooth-
muscle breast, also causes contraction and retraction of uterine muscles. This
research aimed to determine the effect of early initiation to acceleration in
mothers postpartum uterine involution in Katemas Village Independent Practice
Midwife (IPM) Kudu Sub District Jombang District. Design research is an
observational correlation with the analytic approach prospective cohort. The
population were all postpartum mothers in the Katemas Village IPM Kudu Sub
District Jombang District, using purposive sampling technique samples obtained
13 samples. The results showed that the application of early breastfeeding
initiation most successful is as many as 76.9%, and maternal postpartum uterine
involution was normal as many as 61.5%. Analysis of the data used is Wilcoxon
test where α = 0.046 <0.05 then H0 is rejected, so there is the influence of the
acceleration of early initiation of breastfeeding in mothers postpartum uterine
involution in in Katemas Village Independent Practice Midwife (IPM) Kudu Sub
District Jombang District. Early initiation of breastfeeding can accelerate uterine
involution due to suction the baby's mouth on the nipple early, there will be a let
down reflex early so this nipple sucking stimulates the posterior pituitary to
release oxytocin which is useful for the contraction of smooth muscles of the
uterus so that the process uterine muscle returns to its original state can occur
earlier.

Keywords: early breastfeeding initiation, uterine involution


PENDAHULUAN                                   normal, umumnya berlangsung 6
       Masa     nifas   secara   harfiah      minggu atau tidak lama sesudahnya
didefinisikan sebagai masa segera             dan salah satu perubahan yang terjadi
setelah kelahiran. Masa ini juga              pada alat reproduksi yaitu involusi
meliputi minggu-minggu berikutnya             (Saleha, 2009). Involusi uterus atau
pada    waktu     saluran    reproduksi       pengerutan uterus merupakan suatu
kembali ke keadaan tidak hamil yang           proses dimana uterus kembali ke
                                                                                          12




kondisi sebelum hamil. Involusi uteri          sedangkan di Jawa Timur 34,0%
dapat juga dikatakan sebagai proses            (Depkes, 2010).
kembalinya uterus pada keadaan                         Penelitian Sa’adah dkk (2008)
semula atau keadaan sebelum hamil              di     Magetan         tentang     hubungan
(Varney, 2007).                                pemberian      ASI       pertama       dengan
      Faktor-faktor                   yang     proses involusio uteri menunjukkan
mempengaruhi        involusi         uterus    hasil 21,9% tidak melakukan IMD
diantaranya adalah inisiasi menyusu            dan 15,6% dengan involusi uterus
dini (Wiknjosastro, 2007). Inisiasi            tidak baik (Sa’adah dkk, 2010).
menyusu dini (IMD) merupakan                   Hasil      studi       pendahuluan       yang
proses bayi menyusu segera setelah             dilakukan      pada       tanggal       22-23
dilahirkan selama 1 jam. Protokol              November 2012 di Desa Katemas
evidence based yang baru telah                 Kecamatan              Kudu      Kabupaten
diperbaharui    oleh      WHO       (World     Jombang pada 3 bidan, 2 bidan
Health Organization) dan UNICEF                (66,7%)      tidak       melakukan       IMD
tentang asuhan bayi baru lahir satu            dengan alasan bayi bisa kedinginan
jam   pertama,      salah     satu     dari    jika tidak segera digedong, dan ASI
pernyataannya     yaitu      bayi    harus     masih bisa diberikan nanti setelah
mendapatkan kontak kulit dengan                semua bersih sehingga ibu dan bayi
kulit ibunya segera setelah lahir              merasa nyaman, selain itu tidak
selama    paling sedikit satu jam              semua ibu ASInya langsung keluar
(Ambarwati & Wulandari, 2008).                 sehingga bayi tidak mendapatkan
      Data      WHO         tahun     2009     ASI meskipun telah lama diletakkan
menunjukkan         bahwa           inisiasi   diantara      kedua       payudara        ibu,
menyusu dini hanya dilakukan oleh              sedangkan          1     bidan         (33,3%)
31,9% ibu yang melahirkan (WHO,                melakukan          IMD     dengan       alasan
2009). Data Riskesdas tahun 2010               sudah      menjadi        protap        asuhan
menunjukkan       hasil      bahwa       di    persalinan normal, dan berusaha
Indonesia hanya 29,3% ibu yang                 memberikan ASI sedini mungkin
menyusui anaknya pada 1 jam                    pada    bayi       sehingga      ibu     dapat
pertama        setelah       melahirkan,
                                                                                            13




memberikan ASI eksklusif pada                     lambat, tonus uteri lembek, tidak ada
bayinya.                                          perasaan      mules     pada    ibu     nifas
         Inisiasi         menyusu          dini   akibatnya      terjadinya      perdarahan.
merupakan salah satu faktor yang                  Perkiraan kehilangan darah biasanya
mempengaruhi              involusi      uterus    tidak sebanyak yang sebenarnya,
karena       saat      menyusui         terjadi   kadang-kadang hanya setengah dari
rangsangan          dan      dikeluarkannya       yang sebenarnya (Anggraini, 2010).
hormon antara lain oksitosin yang                         Langkah yang dapat diambil
berfungsi           selain       merangsang       untuk      meningkatkan            penerapan
kontraksi otot-otot polos payudara,               inisiasi menyusu dini adalah dengan
juga       menyebabkan               terjadinya   cara memberikan penyuluhan pada
kontraksi dan retraksi otot uterus.               ibu hamil dan suami sehingga ibu
Hal       tersebut        akan       menekan      dapat terdorong untuk melaksanakan
pembuluh darah yang mengakibatkan                 IMD     segera    setelah      melahirkan.
berkurangnya suplai darah ke uterus.              Petugas kesehatan harus berusaha
Proses       ini      membantu           untuk    untuk     menerapkan        IMD        setiap
mengurangi          situs     atau      tempat    melakukan asuhan persalinan, selain
implantasi plasenta serta mengurangi              dapat memberikan hak bayi secara
perdarahan.          Hormon          oksitosin    dini,       membangun              hubungan
tersebut bukan saja mempengaruhi                  emosional lebih awal, juga yang
otot-otot polos pada buah dada tetapi             terpenting       dapat      mempercepat
juga otot-otot polos pada uterus                  pemulihan      kondisi      ibu.      Tenaga
sehingga uterus berkontraksi lebih                kesehatan harus mampu menerapkan
baik lagi, dengan demikian involusi               program        IMD,       selain       untuk
uterus lebih cepat (Roesli, 2008).                menyusui         sesegera          mungkin,
Apabila terjadi kegagalan involusi                hubungan ibu dan bayi dapat terjalin
uterus untuk kembali pada keadaan                 lebih awal.
tidak hamil maka akan menyebabkan                 METODE PENELITIAN
sub involusi. Gejala dari sub involusi                    Desain        penelitian      adalah
meliputi      lochea         menetap/merah        sesuatu yang vital dalam penelitian
segar,     penurunan         fundus       uteri   yang                      memungkinkan
                                                                                     14




memaksimalkan              suatu      kontrol    pengambilan          data     variabel
beberapa        faktor       yang       biasa    tergantung      (akibat)      (Dahlan,
mempengaruhi validity suatu hasil,               2009).Populasi dalam penelitian ini
selain itu desain riset juga berguna             adalah semua ibu bersalin di Desa
sebagai     petunjuk       peneliti    dalam     Katemas        Kecamatan        Kudu
perencanaan          dan        pelaksanaan      Kabupaten Jombang. Sampling pada
penelitian untuk mencapai suatu                  penelitian ini menggunakan teknik
tujuan      atau     menjawab           suatu    purposive sampling yaitu teknik
pernyataan (Nursalam, 2008).                     penentuan sampel dengan mencari
         Desain          Penelitian        ini   sampel yang sesuai dengan tujuan
menggunakan            desain         analitik   penelitian (Hidayat, 2009). Sampel
observasional        korelasi         dengan     adalah    sebagian     dari   populasi
pendekatan kohort prospektif yaitu               (Notoatmodjo, 2010). Sampel yang
penelitian dimana pengambilan data               digunakan     dalam    penelitian   ini
variabel bebas (sebab) dilakukan                 adalah sebagian ibu bersalin di Desa
terlebih dahulu, setelah beberapa                Katemas        Kecamatan        Kudu
waktu kemudian baru dilakukan                    Kabupaten Jombang.
HASIL PENELITIAN

   1. Inisiasi Menyusu dini

          Tabel 1.      Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelaksanaan
                        Inisiasi Menyusu Dini di BPM Dyah Patmika, AMd.Keb Desa
                        Katemas Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang pada tanggal
                        8 April-7 Mei 2013.
           No          Pelaksanaan IMD           Frekuensi    Persentase (%)
            1                Berhasil               10              76,9
            2            Tidak Berhasil              3              23,1
                          Jumlah                    13              100

          Berdasarkan tabel 1. diketahui bahwa sebagian besar pelaksanaan inisiasi
          menyusu dini berhasil sebanyak 10 orang (76,9%).
                                                                          15




   2. Involusi Uterus
      Tabel 2.      Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Involusi
                    Uterus di BPM Dyah Patmika, AMd.Keb Desa Katemas
                    Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang pada tanggal 8
                    April-7 Mei 2013.

        No       Involusi Uterus         Frekuensi        Persentase (%)
         1           Lambat                   2                 15,4
         2           Normal                   8                 61,5
         3            Cepat                   3                 23,1
                     Jumlah                  13                 100
      Berdasarkan tabel 2. diketahui sebagian besar involusi uterus ibu nifas

      berjalan normal sebanyak 8 responden (61,5%).

   3. Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Dengan Involusi Uterus

      Tabel 3.      Tabulasi Silang Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini Dengan
                    Involusi Uterus di BPM Dyah Patmika, AMd.Keb.
                                    Involusi Uterus
                                                                     Jumlah
                           Lambat       Normal           Cepat
             IMD           f    %      F      %         f     %       f    %
        Tidak berhasil     2   15,4    1      7,7       0      0      3   23,1
           Berhasil        0    0      7     53,8       3    23,1    10   76,9
            Jumlah         2   15,4    8     61,5       3    23,1    13   100




      Berdasarkan tabel 3. diketahui bahwa dari 10 bayi baru lahir yang dapat
      melakukan inisiasi menyusu dini, 7 diantaranya membuat involusi uterus
      ibu normal.


      Hasil      Uji      Wilcoxon,      diterima yang artinya ada pengaruh
didapatkan bahwa α hitung = 0,046 <      antara inisiasi menyusu dini dengan
0,05 maka H0 ditolak dan H1              involusi uterus.
                                                                                      16




                                            menghisap, ketegangan otot, reflek
                                            rooting (mencari), sehingga bayi
PEMBAHASAN
                                            berusaha untuk menemukan puting
1. Inisiasi Menyusu Dini
                                            ibu. Faktor kesiapan fisik ibu juga
        Berdasarkan Tabel 1 di atas
                                            berperan dalam keberhasilan IMD,
menunjukkan bahwa sebagian besar
                                            sehingga ibu akan menurut pada apa
pelaksanaan inisiasi menyusu dini
                                            yang diminta penolong termasuk
berhasil, keberhasilan bayi dapat
                                            untuk melakukan IMD. Sedangkan
menyusu sendiri pada ibunya paling
                                            ketidakberhasilan pelaksanaan IMD
banyak adalah menit ke 40-45.
                                            dikarenakan bayi mengalami asfiksi
Pelaksanaan inisiasi menyusu dini
                                            dan apnea (gagal nafas) sehingga
dipengaruhi oleh beberapa faktor,
                                            harus segera dirujuk, reflek rooting
diantaranya faktor pendukung, yaitu
                                            bayi kurang baik dalam mencari
kesiapan fisik dan psikologis ibu,
                                            puting susu ibu sehingga pada 1 jam
serta    faktor   penghambat,      yaitu
                                            pertama bayi tidak dapat melakukan
kurangnya informasi, faktor tenaga
                                            IMD, dan juga kurangnya kooperatif
kesehatan,    pendapat     yang    salah
                                            ibu dalam asuhan persalinan, ibu
tentang IMD, dan gencarnya promosi
                                            merasa takut anaknya kedinginan
susu formula (Yohmi, 2009).
                                            jadi      meminta        untuk         segera
        Tenaga kesehatan harus selalu
                                            dipakaikan        baju    dan         gedong.
memperhatikan        setiap       asuhan
                                            Meskipun           penolong            sudah
persalinan yang diberikan untuk
                                            menjelaskan manfaat dan pentingnya
memberikan asuhan sayang ibu dan
                                            IMD,       akan     tetapi      ibu     tetap
bayi, sehingga selalu menerapkan
                                            memaksakan anaknya untuk segera
IMD di setiap asuhannya. Selain itu,
                                            dipakaikan baju.
kondisi neuro fisiologis bayi yang
                                                   2. Involusi Uterus
sudah matang dapat mengakibatkan
                                                      Berdasarkan        Tabel         2
gerakan-gerakan           terkoordinasi.
                                            menunjukkan bahwa sebagian besar
Gerakan yang paling penting selama
                                            involusi uterus ibu nifas berjalan
hari-hari pertama kehidupan seperti
                                            normal. Involusi uterus dipengaruhi
gerak     mata,   bibir    dan     lidah,
                                            oleh beberapa faktor yaitu senam
                                                                                            17




nifas, mobilisasi dini, menyusu dini,             dipengaruhi oleh faktor yang lain,
gizi, psikologis, usia, paritas, dan              seperti kebanyakan ibu yang tinggal
pekerjaan (Ambarwati & Wulandari,                 di pedesaan dimana masih terikat
2008).                                            adat     bahwa      setelah    melahirkan
        Inisiasi           menyusu         dini   dilarang untuk segera berjalan atau
merupakan salah satu dari sekian                  melakukan        pekerjaan,           padahal
banyak faktor yang mempengaruhi                   mobilisasi dini sangat penting untuk
involusi uterus.             Involusi uterus      proses involusi uterus. Selain itu,
dapat      berjalan         dengan      normal    budaya tarak masih dilakukan oleh
kemungkinan            dipengaruhi         oleh   beberapa ibu sehingga gizi untuk ibu
faktor lain tidak hanya karena inisiasi           nifas tidak terpenuhi, hal ini juga
menyusu            dini.      IMD         dapat   dapat       mempengaruhi               proses
mempercepat involusi uterus karena                terjadinya involusi uterus.
dengan isapan mulut bayi pada                     3. Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini
puting susu ibu secara dini, maka                    terhadap Percepatan Involusi
akan terjadi reflek let down lebih                   Uterus
awal sehingga isapan putting ini                          Berdasarkan           table        3
merangsang pituitari posterior untuk              menunjukkan bahwa bayi baru lahir
mengeluarkan               oksitosin      yang    sebagian besar berhasil melakukan
berguna untuk produksi ASI dan juga               inisiasi menyusu dini, dan membuat
kontraksi     otot-otot        polos     uterus   involusi uterus ibu normal dan
sehingga proses pengembalian otot                 sebagian kecil mempercepat involusi
uterus ke keadaan semula bisa terjadi             uterus ibu. Menyusu dini merupakan
lebih      awal.       Ibu      nifas     yang    salah     satu      faktor      pendukung
mengalami involusi uterus lambat                  terjadinya proses involusi uterus
bisa          disebabkan                 karena   karena dengan memberikan ASI
ketidakberhasilan             bayi       dalam    kepada      bayi       segera         setelah
melakukan             IMD,             sehingga   melahirkan sampai satu jam pertama,
rangsangan oksitosin lebih awal                   memberikan efek kontraksi pada otot
untuk memicu kontraksi uterus tidak               polos      uterus      (Ambarwati          &
terjadi,           kemungkinan             juga   Wulandari, 2008).
                                                                                             18




        IMD         dapat         mempercepat     Kecamatan            Kudu          Kabupaten
involusi uterus karena dengan isapan              Jombang. IMD dapat mempercepat
mulut bayi pada puting susu ibu                   involusi uterus karena dengan isapan
secara dini, maka akan terjadi reflek             mulut bayi pada puting susu ibu
let down lebih awal sehingga isapan               secara dini, maka akan terjadi reflek
putting     ini     merangsang        pituitari   let down lebih awal sehingga isapan
posterior         untuk         mengeluarkan      puting      ini    merangsang        pituitari
oksitosin         yang      berguna     untuk     posterior         untuk      mengeluarkan
produksi ASI dan juga kontraksi                   oksitosin         yang    berguna      untuk
otot-otot        polos    uterus      sehingga    produksi ASI dan juga kontraksi
proses pengembalian otot uterus ke                otot-otot     polos       uterus     sehingga
keadaan semula bisa terjadi lebih                 proses pengembalian otot uterus ke
awal.       Sedangkan pada ibu nifas              keadaan semula bisa terjadi lebih
yang mengalami              involusi uterus       awal.
lambat, disebabkan karena tidak
berhasilnya bayi melakukan IMD,                   SARAN
sehingga         tidak    ada      rangsangan     1. Bagi Tenaga Kesehatan
pengeluaran hormon oksitosin lebih                              Diharapkan               untuk
awal, sehingga kontraksi otot polos                  mengembangkan                    pelayanan
uterus tidak terjadi sebaik pada ibu                 kesehatan ibu nifas dan bayi baru
dan bayi yang berhasil melakukan                     lahir dengan cara menerapkan
IMD.         Faktor lain yang dapat                  IMD            pada     setiap     asuhan
mempengaruhi lambatnya involusi                      persalinan,           sehingga       dapat
uterus      antara        lain,     kurangnya        meningkatkan kualitas hidup ibu
mobilisasi ibu nifas, maupun gizi                    dan bayi baru lahir dengan
yang tidak seimbang.                                 kembalinya organ reproduksi ibu
                                                     lebih      cepat       dan      melakukan
SIMPULAN                                             pemberian lebih dini.
        Ada pengaruh inisiasi menyusu             2. Bagi Peneliti Selanjutnya
dini terhadap percepatan involusi                               Diharapkan               untuk
uterus      di    BPM       Desa      Katemas        melakukan                pengembangan
                                                                               19




   penelitian mengenai perawatan                    Diakses tanggal 4 November
                                                    2012
   ibu nifas dan bayi baru lahir
   terutama      tentang         inisiasi   Dahlan, Sopiyudin M. (2009).
                                                 Langkah-Langkah        Membuat
   menyusu dini dan involusi uterus
                                                 Proposal Penelitian Bidang
   di rumah sakit karena jumlah                  Kedokteran dan Kesehatan.
                                                 Jakarta : Sagung Seto.
   persalinan yang terjadi juga lebih
   banyak     sehingga        didapatkan    Hidayat, A.A. (2009).       Metode
                                                  Penelitian Keperawatan dan
   jumlah     sampel     yang     besar,
                                                  Teknik Analisis Data. Jakarta:
   terutama          faktor        yang           Salemba Medika.
   mempengaruhi involusi uterus
                                            Long,      BC. (2004). Perawatan
   sehingga dapat dijadikan teori                     Medikal Bedah Brunner &
                                                      Suddarth. Bandung: Yayasan
   evidence based.
                                                      IAPK Pajajaran.

                                            Notoatmodjo, Soekidjo. (2010).
                                                  Metodologi       Penelitian
DAFTAR PUSTAKA                                    Kesehatan. Jakarta : PT.
                                                  Rineka Cipta.

Ambarwati, E.Retna & Wulandari,D.           Nursalam. (2008). Konsep dan
    (2008). Asuhan Kebidanan                       Penerapan      Metodologi
    Nifas.    Jogjakarta:  Mitra                   Penelitian           Ilmu
    Cendikia Press.                                Keperawatan.      Jakarta:
                                                   Salemba Medika
Anggraini Y. (2010). Asuhan
     Kebidanan     Masa      Nifas.         Reeder,        Martin.        (2011).
     Yogyakarta. Pustaka Rihama.                 Keperawatan Maternitas :
                                                 Kesehatan Wanita, Bayi dan
Arikunto,    Suharsimi.  (2006).                 Keluarga. Alih bahasa Yati
     Prosedur penelitian, suatu                  Afiyati, dkk. Edisi 18. Jakarta :
     pendekatan praktek. Jakarta:                EGC.
     Rineka Cipta.
                                            Roesli,     Utami. (2008). Inisiasi
Arisman. (2009). Gizi dalam Daur                      Menyusu Dini Plus ASI
     Kehidupan.     Palembang     :                   Eksklusif. Jakarta : Pustaka
     Universitas Sriwijaya Press.                     Bunda.

Depkes    RI.     (2010)  Laporan           Sa’adah dkk. (2010). Hubungan
    Riskesdas tahun 2010. Tersedia               Antara Waktu Pemberian Asi
    dari (http://www.depkes.go.id).              Pertama Dengan Involusi
                                                 Uterus Pada Ibu Postpartum
                                                                       20




     Normal Hari Ke-7. Surabaya:       Yohmi, Elizabeth. (2009). Inisiasi
     Poltekkes Depkes Surabaya.                  Menyusu Dini. Tersedia
     Jurnal Penelitian Kesehatan.                dari
                                                 (http://www.idai.or.id/as
Saifuddin, Abdul, Bari. (2009). Buku             i/artikel.asp?). Diakses
     Acuan Nasional Pelayanan                    pada        tanggal    10
     Kesehatan     Maternal      Dan             November 2012
     Neonatal. Jakarta: Yayasan
     Bina     Pustaka       Sarwono
     Prawirohardjo.

Salamah, Ummi. (2008). Riset
     Kebidanan. Yogyakarta: Mitra
     Cendikia Press

Saleha, Sitti. (2009). Asuhan
     Kebidanan Pada Masa Nifas.
     Jakarta: Salemba Medika.

Setiadi.   (2007).   Konsep   dan
        Penulisan            Riset
        Keperawatan.   Yogyakarta:
        Graha Ilmu.

Suherni. Widyasih, H. & Rahmawati,
     A. (2009). Perawatan Masa
     Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

Suradi,     Rulina. (2007). Inisiasi
          Menyusu Dini. Jakarta :
          Pustaka Bunda.

Varney, H. (2007). Buku Ajar
     Asuhan Kebidanan Edisi 4.
     Jakarta;EGC

WHO. (2010). World health reports
   of    2010.   Tersedia    dari
   (www.who.int). Diakses pada
   tanggal 10 Novermber 2012.

Wiknjosastro, Hanifah (2007). Ilmu
    Kebidanan. Jakarta: Yayasan
    Bina      Pustaka     Sarwono
    Prawirohardjo.
                                                                                              21


           METODE ANALISIS STRUCTURAL EQUATION MODELLING
          TERHADAP DATA SURVEY FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
                         DERAJAT KESEHATAN

                                        Ifa Roifah
                                      Arif Wicaksono
                                   Chaterina Janes Pratiwi

                                         ABSTRACT

         The phenomenon of health data presentation in the central statistical agency or health
department, still presented by deskripitif statistical form. Health research is still limited by
correlation analysis. Theories and models in the health departement generally can be
formulating using which construct can’t be measured or observed directly, so there is
variables unobserved and variables observed. Usually, the analysis used is multiple
regression analysis. This analysis only observed the direct influence on the response variable.
Structural equation modeling is an alternative option to solve the problem if the research
variables is a unobserved variable. This research purpose use validity and reliability of the
survey data that influence health status and the determination of the structural model and the
goodness of fit of the survey data factors that affect health status. This research is non-
reactive research by use of secondary data, that is data of East Java health department.
Validity and reliability of the indicators can measure constructs significantly manifest latent
exogenous variables and endogenous latent variable with loading factor / λ> 0.5 and construct
reliability values> 0.6. Causality interaction variables formed by latent product is health care,
health behaviors and health resources that influence the health status line parameter
coefficient> 0.5, p-value <0.05 at significance level α = 5%. Result of this research,
expected to contribute for the development of science, such as : (1) considerations to setting
health policy and health promotion to preventive & improve health status (2) Guidance to
creating health modeling.

Keywords : structural equation modeling, health status.
                                                                                                             22


PENDAHULUAN                                                  bahwa       ada     beberapa      faktor      yang
         Konsep        teori      tentang          derajat   mempengaruhi        derajat     kesehatan     yaitu
kesehatan dan faktor yang mempengaruhi                       faktor      lingkungan,        faktor      perilaku
kesehatan tidak bisa diukur secara langsung,                 masyarakat dan faktor pelayanan kesehatan.
sehingga untuk melakukan analisis data                       Semua faktor tersebut tidak bisa diukur
tidak bisa hanya menggunakan analisis                        langsung,    melainkan        melalui   indikator-
deskriptif ataupun analisis korelasi saja.                   indikator yang diketahui. Hasil penelitian
Hasil pengolahan data yang dilakukan oleh                    bidang dengan menggunakan analisis regresi
badan pusat statistic menunjukkan AKB                        yang dilakukan oleh Budiantara (2012)
Jawa Timur tahun 2005-2010 turun dari                        menunjukkan faktor penyebab kejadian
36,65 (tahun 2005) menjadi 29.99 per 1.000                   balita gizi buruk di Jawa Timur tahun 2007
kelahiran hidup. Angka tersebut masih jauh                   adalah prosenntase ibu yang memeriksakan
dari target MDG’S tahun 2015 sebesar 23                      kehamilan.
per 1.000 kelahiran hidup. Indikator lain dari                        Fenomena       diatas     menunjukkan
derajat kesehatan yang masih menjadi                         bahwa penelitian dalam bidang kesehatan
masalah di Jawa Timur adalah masalah                         pada umumnya sangat komplek, banyak
status    gizi.     Berdasarkan           data     Dinas     fenomena yang saling berhubungan sebab
Kesehatan Jawa Timur pada tahun 2010                         akibat    yang      melibatkan     multivariable.
terdapat 136 kecamatan yang rawan gizi                       Analisis data lebih lanjut sangat diperlukan
atau     20,54     %      dari    662       kecamatan.       untuk     mengetahui      kondisi       kesehatan
Pengolahan         data        lain      juga      masih     masyarakat. Oleh karena masalah kesehatan
menggunakan         analisis          deskriptif    yaitu    merupakan salah satu faktor yang berperan
tenaga kesehatan di Jawa Timur masih                         penting dalam mewujudkan sumber daya
belum     sesuai       dengan         kebutuhan       dan    manusia yang berkualitas. Teori dan model
penyebaran, masih banyak tenaga kesehatan                    dalam       dunia      kesehatan        umumnya
yang bertugas di rumah sakit yaitu sebesar                   diformulasikan menggunakan konstruk yang
52,29 %, sedangkan 36,97 % di Puskesmas                      tidak dapat diukur atau diamati secara
(Dinkes, 2012)                                               langsung, sehingga ada variabel tidak
         Hasil     penelitan      tentang        masalah     teramati atau terukur dan variabel teramati
kesehatan dilakukan oleh Wulandari, dkk                      atau terukur.
(2010) dengan menggunakan analisis regresi
                                                                                                           23


          Pola hubungan antar variabelnya pun          berpengaruh pada estimasi parameter dari
sering kali berhubungan secara langsung dan            sudut biased-unbiased dan besar-kecilnya
tidak langsung. Model kausal yang sering               variansi. Masalah kesalahan pengukuran ini
digunakan untuk mengetahui hubungan                    diatasi    oleh     SEM      melalui      persamaan-
antar variabel adalah regresi linier atau              persamaan         yang      ada        pada      model
regresi linier berganda. Analisis regresi              pengukuran.
berganda hanya dapat melihat pengaruh                            Hair et al. (2006) menunjukkan
langsung      terhadap    variabel       responnya.    perbedaan antara SEM dengan teknik regresi
Tetapi untuk melihat besarnya pengaruh                 dan multivariat yaitu (1) estimaasi terhadap
langsung maupun tidak langsung perlu                   multiple          interrelated            dependence
dilakukan analisis lebih lanjut. Model                 relationship      yang      istilah     sederhananya
persamaan struktural merupakan alternatif              adalah susunan beberapa persamaan regresi
pilihan     untuk      menyelesaikan       masalah     berganda yang terpisahkan tetapi saling
tersebut jika variabel penilitian adalah               berkaitan.        Susunan         persamaan         ini
variabel tidak terukur (unobserved variable).          dispesifikasikan         dalam        bentuk     model
          Model persamaan struktural lebih             struktural dan di estimasi secara simultan.
umum dikenal dengan structural equation                Perbedaan yang paling nampak antara SEM
modelling (SEM) merupakan suatu teknik                 dan regresi berganda adalah pada SEM
multivariat yang menggabungkan aspek-                  sebuah variabel bebas pada satu persamaan
aspek pada analisis faktor dan analisis                bisa      menjadi     variabel         terikat     pada
regresi     berganda     yang     memungkinkan         persamaan yang lain. (2) kemampuan untuk
peneliti    untuk      mensimulasi       seri   dari   menunjukkan konsep-konsep tidak teramati
hubungan dependen antar variabel terukur               (unobserved       concepts)       serta     hubungan-
dan variabel laten (Hair et al., 2006). Alasan         hubungan       yang      ada     didalamnya,       dan
penggunaan SEM dibandingkan dengan                     perhitungan terhadap kesalahan-kesalahan
regresi dikemukakan oleh Gujarati (1995)               pengukuran          dalam       estimasi.        Tujuan
yang       dikutip     oleh      Wijanto        2009   penelitian ini adalah pengukuran                 model
menunjukkan bahwa penggunaan variabel-                 (validitas dan reliabilitas) variable manifest
variabel     laten   pada      regresi    berganda     terhadap       data      survey        faktor     yang
menimbulkan                   kesalahan-kesalahan      mempengaruhi          derajat      kesehatan       dan
pengukuran      (measurement         error)     yang   penentuan model struktural dan goodness of
                                                                                                                                               24


fit   terhadap      data    survey    faktor   yang   sehat (PK2), jumlah dokter (SK1), jumlah
mempengaruhi derajat kesehatan.                       perawat (SK2) dan jumlah bidan (SK3).
METODE PENELITIAN                                     Data penelitian dianalisis melalui , yaitu :
      Penelitian ini merupakan penelitian             1. Membuat Model berdasarkan konsep dan
non-reaktif karena pengukuran variabel yang                 teori
digunakan        peneliti     menggunkan       data   2. Membuat path diagram
sekunder     yaitu     data    Dinas    Kesehatan
                                                                  e1           e2        e3    e4
                                                                   1            1         1     1

                                                                  L
                                                                 P 1        L
                                                                           P 2        L
                                                                                     P 3       L
                                                                                              P 4
                                                                           1


provinsi Jawa Timur. Jenis penelitian ini                                           PL




analitik dengan melakukan analisis berbagai
                                                                                                                            1
                                                                                                                           e 3
                                                       e5        K
                                                                P 1

variabel     eksogen        yang     mempengaruhi
                                                                                                                             1
                                                            1          1            PK                                           1   DJ1        1
                                                                                                                                               e 2
                                                       e6        K
                                                                P 2                                                                        1
                                                                                                                            DJ       DJ2        1
                                                                                                                                               e 1

                                                                                                                                           1
                                                                                                                                     DJ3        1
                                                                                                                                               e 0


variabel endogen dengan menggunakan
analisis structural equational modeling.
                                                                                                         SK

Bentler dan Chou (1987) yang dikutip                                                           S 1
                                                                                                K        S 2
                                                                                                          K
                                                                                                               1


                                                                                                                K
                                                                                                               S 3
                                                                                                     1    1        1



Wijanto (2009) menyarankan bahwa paling                                                             e7   e8    e9




rendah rasio 5 sampai dengan 10 responden                       Gambar 4.2 Gambar path diagram

per variabel teramati akan mencukupi untuk            3.        Membuat konversi path diagram ke

distribusi normal. Besar sampel dalam                           dalam persamaan

penelitian ini sesuai dengan ketentua diatas          4.        Memilih jenis input matrik dan estimasi

adalah antara 60 kecamatan sampai dengan                        model

120 kecamatan.                                        5.        Menilai identifikasi model struktural

      Variabel dalam penelitian ini angka             6.        Uji Kecocokan Model

kematian bayi (DJ1), status gizi balita buruk         HASIL PENELITIAN

(DJ2), berat badan bayi baru lahir rendah                          Hasil penelitian diuraikan mulai dari

(DJ3), deteksi tumbuh kembang balita                  analisis deskriptif dan analisis multivariate

(PL2), pertolongan persalinan oleh tenaga             atau pemodelan dengan analisis structural

kesehatan (PL1), deteksi tumbuh kembang               equation modelling. Asumsi dasar yang

balita     (PL2),     kunjungan        pemeriksaan    harus dipenuhi dalam analisis structural

kehamilan pada trimester 1 (K1) (PL3),                equation                           modeling                      adalah        asumsi

kunjungan pemeriksaan kehamilan pada                  multivariate                            normal.               Untuk        memenuhi

trimester 3 (K4) (PL4), bayi diberi asi               asumsi tersebut data outlier harus dibuang

ekslusif (PK1), perilaku hidup bersih dan             sampai dengan asumsi dasar terpenuhi.
                                                                                                   25


Pengujian asumsi multivariate normal di             adalah     jumlah dokter yaitu 4,47. Range
mulai hasil data cleaning sebanyak 557              terbesar pada variabel jumlah perawat yaitu
sampai dengan didapatkan besar sampel 85            35.
kecamatan. Asumsi multivariate normal               1. Evaluasi Pengukuran model
didapatkan hasil          2,111 < 2,56. Hasil                Evaluasi       pengukuran          model
analisis deskriptif sebagai berikut :               menggunakan Confirmatory Factor Analysis
                 Tabel 1 Deskripsi variabel         (CFA) melalui pengujian validitas dan
                    derajat kesehatan
                                                    reliabilitas pada data.
                                                    a. Pengujian validitas

                                                             Hasil   pengujian      validitas    pada
                                                    variabel laten eksogen (pelayanan kesehatan,
                                                    perilaku    kesehatan     dan    sumber      daya
                                                    kesehatan) dan variabel laten endogen
                                                    (derajat kesehatan) sebagai berikut :
         Mean    minimum      pada       variable   1. Variabel laten eksogen
observerd/manifest derajat kesehatan adalah            Tabel 2 Nilai loading factor/���� variable
                                                                            eksogen
angka kematian bayi yaitu 1,13 dengan nilai
minimum 0,19 dan nilai maximum              3,63,
sedangkan    range    atau   jangkauan       data
terbesar pada berat badan bayi lahir rendah
yaitu 8,85. Mean minimum pada variable
observerd/manifest     pelayanan        kesehatan
adalah     deteksi tumbuh kembang yaitu
66,58. Range terbesar pada variabel deteksi
tumbuh kembang yaitu 76,10.                Mean
                                                             Nilai loading factor dari hubungan
minimum pada variable observerd/manifest
                                                    variabel     manifest     dengan        konstruk
perilaku kesehatan perilaku hidup sehat dan
                                                    pelayanan kesehatan adalah pertolongan
bersih adalah yaitu 43,28. Range terbesar
                                                    persalinan oleh tenaga kesehatan, deteksi
pada variabel bayi diberi asi eksklusif yaitu
                                                    tumbuh     kembang         balita,    kunjungan
85,40.   Mean      minimum     pada      variable
                                                    pemeriksaan kehamilan trimester 1 (K1) dan
observerd/manifest sumber daya kesehatan
                                                                                           26


kunjungan pemeriksaan kehamilan trimester     ,status gizi buruk dan berat badan bayi lahir
3 (K4)       masing-masing lebih dari 0,5     rendah, masing-masing         lebih dari 0,5
sehingga dapat disimpulkan bahwa keempat      sehingga dapat disimpulkan bahwa ketiga
variabel manifest tersebut signifikan dalam   variabel manifest tersebut signifikan dalam
mengukur variabel laten konstruk pelayanan    mengukur variabel laten konstruk derajat
kesehatan.                                    kesehatan.
      Nilai loading factor dari hubungan      b. Pengujian reliabilitas
variabel manifest dengan konstruk perilaku
                                                      Variabel dikatakan dikatakan cukup
kesehatan adalah bayi diberi asi eksklusif
                                              bagus reliabilitasnya bila variabel tersebut
dan    perilaku hidup bersih dan sehat,
                                              mempunyai construct reliability lebih besar
masing-masing lebih dari 0,5 sehingga dapat
                                              dari 0,6. Hasil pengujian reliabilitas pada
disimpulakan bahwa kedua variabel manifest
                                              masing-masing variabel laten eksogen dan
tersebut signifikan dalam mengukur variabel
                                              variabel laten endogen sebagai berikut :
laten konstruk perilaku kesehatan.
                                              1. Variabel eksogen
      Nilai loading factor dari hubungan
                                              1) Pelayanan kesehatan
variabel manifest dengan konstruk sumber
daya kesehatan adalah       jumlah dokter,
jumlah perawat dan jumlah bidan, masing-
masing lebih dari 0,5 sehingga dapat          Hasil    perhitungan    konstruk    reliabilitas
disimpulkan bahwa ketiga variabel manifest    adalah 0,808 dari batas nilai konstruk
tersebut signifikan dalam mengukur variabel   reliabilitas yaitu 0,6, dapat disimpulkan
laten konstruk sumber daya kesehatan.         bahwa      variabel     pelayanan    kesehatan
2. Variabel laten endogen                     mempunyai reliabilitas yang baik.
  Tabel 3 Nilai loading factor/���� variable    2) Perilaku kesehatan
                       endogen


                                              Hasil    perhitungan    konstruk    reliabilitas
                                              adalah 0,677 lebih dari batas nilai konstruk
                                              reliabilitas yaitu 0,6, dapat disimpulkan
      Nilai loading factor dari hubungan
                                              bahwa        variabel    perilaku    kesehatan
variabel manifest dengan konstruk derajat
                                              mempunyai reliabilitas yang baik.
kesehatan adalah angka kematian bayi
                                                                                                           27


 3) Sumber daya kesehatan                                   antara     pelayanan      kesehatan      dengan
                                                            derajat kesehatan. Nilai negatif pada
                                                            koefisien     parameter     artinya     semakin
 Hasil    perhitungan      konstruk     reliabilitas
                                                            tinggi     pelayanan     kesehatan          maka
 adalah 0,97 lebih dari batas nilai konstruk
                                                            indikator      derajat     kesehatan         akan
 reliabilitas yaitu 0,6       dapat disimpulkan
                                                            menurun.
 bahwa variabel sumber daya kesehatan
                                                       b. Koefisien parameter jalur dari hubungan
 mempunyai reliabilitas yang baik.
                                                            antara variabel perilaku kesehatan dengan
 4) Variable endogen
                                                            derajat kesehatan sebesar 0,028 dengan
         Perhitungan       konstruk     reliabilitas        p-value 0,006 < α            artinya terdapat
derajat kesehatan sebagai berikut :                         pengaruh       yang       signifikan        antara
                                                            pelayanan      kesehatan     dengan      derajat
                                                            kesehatan. Nilai positif pada koefisien
 Hasil    perhitungan      konstruk     reliabilitas
                                                            parameter artinya semakin baik perilaku
 adalah 0,784 lebih dari batas nilai konstruk
                                                            kesehatan        maka      indikator     derajat
 reliabilitas yaitu 0,6, dapat disimpulkan
                                                            kesehatan akan meningkat.
 bahwa       variable       derajat      kesehatan
                                                       c.            Koefisien    parameter     jalur     dari
 mempunyai reliabilitas yang baik.
                                                            hubungan antara variabel sumber daya
 2.      Evaluasi Model Struktural
                                                            kesehatan      dengan     derajat      kesehatan
       Tabel 4 Evaluasi model struktural
                                                            sebesar 0,084 dengan p-value 0,002 < α
                                                            artinya terdapat pengaruh yang signifikan
                                                            antara     pelayanan      kesehatan      dengan

         Pengaruh hubungan variabel laten                   derajat kesehatan. Nilai positif pada

 eksogen terhadap variabel laten endogen                    koefisien     parameter     artinya     semakin

 (derajat kesehatan) pada tabel 5.4 dapat                   banyak sumber daya kesehatan                maka

 dijelaskan sebagai berikut.                                indikator      derajat     kesehatan         akan

 a.        Koefisien    parameter       jalur   dari        meningkat.

      hubungan    antara     variabel    pelayanan     5.2.3         Uji Kelayakan Model             Derajat

      kesehatan   dengan      derajat    kesehatan          Kesehatan

      sebesar -0,044 dengan p-value 0,022 < α               Tabel 5.6. Hasil Goodness of fit model
                                                                       derajat kesehatan
      artinya terdapat pengaruh yang signifikan
                                                                                                         28


                                                              Wijanto     (2009)       mengemukakan
                                                    suatu variable manifest secara signifikan
                                                    dapat mengukur konstruk variable laten jika
Uji kelayakan model derajat kesehatan               nilai     loading   factor/����     lebih     dari     0,5
secara keseluruhan sudah memenuhi kriteria          sedangkan variabel manifest reliable secara
goodness of fit yaitu nilai CFI, IFI, TLI dan       signifikan terhadap variable manifest jika
NFI ≥ 0,9 dapat disimpulkan model derajat           nilai C.R (counstruct reliability) lebih dari
kesehatan adalah       baik. Model akhir dari       0,6.
pengujian hipotesis adalah :                                  Konsep     teori      tentang      indikator
Derajat kesehatan = -0,044 PL + 0,028 PK +          derajat      kesehatan       dikemukakan            oleh
                          0,084 SK                  Hapsari (2004) bahwa indikator derajat
PEMBAHASAN                                          kesehatan secara umum                adalah angka
        Asumsi         multivariate      normal     kematian (mortalitas), status gizi dan angka
merupakan      persyaratan     dalam     analisis   kesakitan (morbiditas) . Angka kematian
structural equation modeling, jika asumsi           bayi menjadi indikator pertama dalam
tidak terpenuhi maka akan didapatkan hasil          menentukan derajat kesehatan anak karena
standart error yang rendah dan fit index            merupakan cerminan dari status kesehatan
menghasilkan nilai yang underestimate.              anak saat ini. Tingginya angka kematian
Asumsi multivariate normal pada penelitian          bayi di Indonesia disebabkan oleh berbagai
ini bisa terpenhi melalui beberapa tahap            faktor, diantaranya faktor penyakit infeksi
pengujian yaitu dengan membuang data                dan kekurangan gizi. Status gizi balita
outlier. Data mengalami outlier menurut             kurang dan buruk serta berat badan lahir
Wijaya, 2009 jika nilai probabilitas lebih          rendah      merupakan        salah    satu         sebab
kecil   dari   0,05.    Outlier   bisa    terjadi   kematian      bayi/balita       sekaligus     sebagai
kemungkinan adanya kesalahan mulai dari             indikator derajat kesehatan di Indonesia.
pengumpulan data sampai dengan input                          Hasil penelitian yang dilakukan oleh
data.                                               Riskiyanti dan Wulandari tahun 2010
1. Model pengukuran (validitas dan                  tentang      Analisis     regresi         multivariate
   reliabilitas) variable manifest terhadap
   data survey faktor yang mempengaruhi             berdasarkan             faktor-faktor              yang
   derajat kesehatan                                mempengaruhi             derajat            kesehatan
                                                    (prosentase kematian bayi, prosentase angka
                                                                                                      29


harapan hidup dan prosentase status gizi           dengan variable manifest jumlah dokter,
buruk,) propinsi Jawa Timur menunjukkan            jumlah      perawat      dan       jumlah       bidan
bahwa factor yang mempengaruhi derajat             didapatkan hasil nilai loading factor/���� lebih
kesehatan     (prosentase     kematian     bayi,   dari 0,5 artinya        masing-masing variabel
prosentase    angka    harapan     hidup    dan    manifest/indikator tersebut signifikan dapat
prosentase    status   gizi    buruk)    adalah    mengukur variabel latennya. Sedangkan
prosentase persalinan yang dilakukan oleh          pengujian reliabilitas pada ketiga variabel
tenaga medis dan prosentase imunisasi              laten eksogen didapatkan hasil lebih dari 0,6
lengkap yang meliputi imunisasi BCG,               artinya mempunyai reliabilitas yang baik.
DPT, campak dan hepatitis, dengan model                     Hal ini sesuai dengan teori yang
sebagai berikut:                                   dikemukakan oleh Hendrick L.Blum yang
 AKB          = 89,947 - 0,377 X5 - 0,145 X6       dikutip oleh Mubarak, 2009 terdapat empat
 AHH = 45,605 + 0,21 X5 + 0,059 X6                 faktor yang mempenaruhi derajat kesehatan
 Gizi Buruk = 5,894 - 0,026 X5 - 0,017 X6          masyarakat     yaitu     genetika         (keturunan),
Besarnya      hubungan        antara    variabel   pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat,
respon dan variabel prediktor diperoleh            lingkungan. Analisis program dan pelayanan
0,837. Ini dapat dikatakan bahwa model             kesehatan      dapat         dilakukan         dengan
dapat menjelaskan informasi data sebesar           menggunakan          pendekatan      sistem,     yaitu
83,7 persen                                        denagn memperhatikan komponen input-
       Evaluasi pengukuran model melalui           proses-output.       Ouput      dalam       pelayanan
pengujian validitas pada masing-masing             kesehatan yang berkaitan dengan factor
indikator baik pada variable laten pelayanan       yang     mempengaruhi           derajat     kesehatan
kesehatan (variabel persalinan oleh tenaga         adalah persalinan oleh tenaga kesehatan,
kesehatan, deteksi tumbuh kembang balita,          deteksi tumbuh kembang balita, kunjungan
kunjungan pemeriksaan kehamilan pada               pemeriksaan      kehamilan         pada      trimester
trimester pertama (K1) dan pemeriksaan             pertama (K1) dan pemeriksaan kehamilan
kehamilan pada trimester ketiga (K4)),             pada     trimester     ketiga     (K4).      Perilaku
variable laten perilaku kesehatan dengan           berhubungan      dengan         peningkatan       dan
variabel manifest bayi diberi asi eksklusif        pemeliharaan kesehatan diantaranya PHBS,
dan perilaku hidup bersih dan sehat serta          gizi seimbang dan pemberian asi eksklusif.
variabele aten sumber daya kesehatan               Disamping ke empat faktor tersebut ada
                                                                                                        30


faktor yang mempengruhi derajat kesehatan          Oleh karena data yang digunakan dalam
yaitu manajemen kesehatan, sumber daya             penelitian ini adalah data sekunder, sehingga
kesehatan (misalnya jumlah dokter, jumlah          kualitas            data           tidak          dapat
perawat dan jumlah bidan)         dan sektor-      dipertanggungjawabkan              misalnya       masih
sektor terkait.                                    banyak didapatkan hasil prosentase yang
2. Model struktural dan goodness of fit            melebihi 100%, range/ jangkauan data yang
   terhadap data survey faktor yang
                                                   cukup tinggi dan banyaknya data missing
   mempengaruhi derajat kesehatan
                                                   pada       tiap     variabel       sehingga      sangat
           Hubungan      kausalitas        dapat
                                                   berpengaruh terhadap hasil analisis secara
ditentukan oleh nilai koefisien paramaeter
                                                   statistik.
jalur (nilai loading faktor/λ), nilai t-
                                                           Hasil       penelitian      ini    berbanding
hitung/C.R dan nilai probabilitas/p-value
                                                   terbalik      dengan       hasil    penelitian     yang
pada taraf signifikansi α = 5 %. Hasil
                                                   dilakukan oleh Salisa tentang Pemodelan
penelitian        menunjukkan          pelayanan
                                                   persamaan struktural pada derajat kesehatan
kesehatan, perilaku kesehatan dan sumber
                                                   dengan moderasi infrastruktur pada tingkat
daya kesehatan berpengaruh terhadap derajat
                                                   kabupaten Propinsi Jawa Timur tahun 2010.
kesehatan. Nilai positif pada koefisien
                                                   Analisis dalam penelitian ini menggunakan
parameter jalur pada perilaku kesehatan
                                                   M-SEM dengan Smart PLS, hasil evaluasi
terhadap derajat kesehatan dan sumber daya
                                                   model        struktural     menunjukkan          kondisi
kesehatan terhadap derajat kesehatan. Nilai
                                                   lingkungan, pelayanan kesehatan, tenaga
negatif pada koefisien jalur palayanan
                                                   kesehatan dan infrastruktur berpengaruh
kesehatan terhadap derajat kesehatan artinya
                                                   terhadap               derajat             kesehatan,
semakin tinggi pelayanan maka derajat
                                                   korelasi/hubunngan mempunyai negatif.
kesehatan akan menurun.
                                                           Hasil uji kelayakan model secara
           Kemungkinan nilai negative terjadi
                                                   keseluruhan model derajat kesehatan adalah
karena banyaknya data yang missing dari
                                                   baik, hal ini didukung oleh semua kriteria
557 hanya 85 data yang tidak missing dan
                                                   ketepatan         model     yang     hampir      semua
outlier.      Asumsi    multivariate     normal
                                                   memenuhi rentang yang diharapkan, model
terpenuhi pada besar sampel 85 unit
                                                   ini sesuai dengan teori yang dikembangkan
kecamatan, sehingga banyak data yang
                                                   oleh Hendrick L. Blum. Hasil penelitian ini
dibuang yaitu sebanyak 472 kecamatan.
                                                   didukung oleh penelitian dari Salisa tentang
                                                                                                         31


pemodelan         persamaan      struktural      pada    1. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas
derajat     kesehatan         dengan      moderasi         menunjukkan variabel manifest/indikator
infrastruktur       pada      tingkat     kabupaten        secara      signifikan    dapat     mengukur
Propinsi Jawa Timur tahun 2010. Analisis                   variable latennya dengan nilai loading
dalam penelitian ini menggunakan M-SEM                     factor/���� > 0,5 dan niilai reliabilitas
dengan Smart PLS, hasil uji kelayakan                      >0,6.
model sebelum dibentuk variabael interaksi               2. Hubungan kausalitas dari variabel laten
model derajat kesehatan adalah baik.                       eksogen dengan variabel laten endogen
          Teori lain yang dikemukanan oleh                 sebelum             dimasukkan        variabel
beberapa peneliti          yaitu Jaccard dan Wan           interaksi/latent product didapatkan hasil
(1996),     Kline    (1998)      (dalam     Garson,        koefisien parameter jalur > 0,5 dengan p-
2000;Sharma, 1996) menyarankan untuk                       value < 0,05 pada taraf signifikansi 5 %
menggunakan         paling     sedikit    tiga     uji     artinya terdapat pengaruh variabel laten
kelayakan         model.      Beberapa        ukuran       eksogen dengan variabel laten endogen,
kesesuaian model yang sering digunakan                     sehingga analisis moderating structural
untuk     menilai    kelayakan      suatu     model        equation modeling bisa ddilanjutkan.
(Bollen, 1989) adalah (1) uji χ ² dimana                   Hasil    uji   kelayakan     model        derajat
model dikatakan baik jika p-value lebih                    kesehatan      menunjukkan         model      fit
besar dari α. (2) GFI atau Goodness of                     sehingga model derajat kesehatan yang
FitIndex, suatu model dikatakan baik jika                  dikembangkan berdasarkan teori Hendrik
nilai GFI lebih besar dari 0,09 dan nilai                  L. Blum sudah tepat dan secara umum
maksimumnya adalah 1 (Sharma, 1996). (3)                   model       sudah     mewakili     data     yang
AGFI atau AdjustedGoodness of FitIndex,                    sebenarnya
suatu model dikatakan baik jika nilai AGFI               SARAN
lebih     besar     dari     0,80   dan          nilai   1. Perlu diadakan pelatihan analisis data
maksimumnya adalah 1 (Sharma, 1996). (4)                   bagi petugas pe-input data mulai dari
RMSEA atau Root Mean Squares Error of                      tingkat kecamatan sampai dengan tingkat
Approximation, bila RMSEA ≤ 0,08 maka                      provinsi.
secara umum model sudah mewakili data                    2. Perlu penelitian model derajat kesehatan
yang sebenarnya (Sharma, 1996).                            yang lain sehingga dapat memberikan
SIMPULAN                                                   kontribusi      yang       lebih      terhadap
                                                                                      32


  perkembangan pembangunan di Jawa             Wulandari, S.P (2010). Analisis Regresi
                                                     Multivariate Berdasarkan Faktor
  Timur khususnya di bidang kesehatan
                                                     yang      mempengaruhi       Derajat
                                                     Kesehatan di Propinsi Jawa Timur.
                                                     Jurnal Sains dan Seni. 1 (1)

DAFTAR PUSTAKA

Budiantara, I.Y. (2012) Faktor-Faktor yang
      Mempengaruhi Angka Gizi Buruk Di
      Jawa Timur dengan Pendekatan
      Regresi      Nonparametrik    Spline,
      Jurnal Sains dan Seni 1 (1)

Dinkes. (2012). Profil Kesehatan Jawa
      Timur Tahun 2010, sitasi 14 Maret
      2012

Hapsari, E.D. (2004). Kontribusi Penting
      Menyelamatkan Persalinan Sehat
      dan Buku KIA, sitasi 22 Maret 2012

Hair, J.F., R.E. Anderson, R.L. Thatam,
       and W.C.          Black.   (2006).
       Multivariate Data Analysis With
       Reading, 6th edition. Englewood
       Cliffs, NJ: Prentice Hall. Upper
       Saddle River.

Mubarak, I. (2006). Ilmu Kesehatan
      Masyarakat,  Salemba Medika,
      Jakarta

Sharma, S., Mukherjee, S., Kumar, A., &
      Dillon, W.R. (2005). A simulation
      study to investigate the use of cutoff
      values for assessing model fit in
      covariance structure models. Journal
      of Business Research. 58, 935-43.

Wijanto, H. (2009), Struktural Equation
      Modelling, Graha Ilmu, Jakarta
                                                                                                 33


          MODEL PENGEMBANGAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA RESPON
             HOSPITALISASI ANAK TODLER DENGAN KUANTITAS DAN
                  KUALITAS TIDUR DI RUMAH SAKIT KARTINI
                     KABUPATEN MOJOKERTO

                                           Tri Ratnaningsih
                                            Lutfi Wahyuni


                                           ABSTRACT

The son of the first are treated, never has a sense of being treated in hospital change of
environment, a staff to a very strange, cause stress vidual for children ( perry &; potter, ampères.
2005 ). This research aimed to develop a model of nursing child todler hospitalisasi ' s response
to the quantity of the quality of bed in the hospital kartini mojokerto. Observational ( survey ),
design engineering of cross-sectional, the population of the son of one to three years.
Respondents child 13-24 month 17 of the child ( 56,7 % ). Respondents having given an
orphanage nursing response hospitalisasi mild 19 ( 63,3 % ). Respondents having given an
orphanage nursing the quality of children ( 53,3 sleeping fulfilled 16 % ). Mann withney
standard error test 0.05 ( 5 % ) of the value of the probability of 0,000 & it; 0.05, there are
influence response hospitalisasi against the quantity of sleep the son of one to three years. The
son of meet the quality of having if someone shows no sign of sleep deprivation, don ' t have a
problem sleeping.

Keywords: hospitalisasi, the quality of sleep, the quantity of sleep
                                                                                                  34


PENDAHULUAN                                             area tersebut (Donna L. Wong, 2008). Pola
          Hospitalisasi      merupakan          suatu   tidur normal pada anak usia toddler (1-3
proses yang karena suatu alasan yang                    tahun) biasanya tidur 10-12 jam/hari, sekitar
berencana atau darurat, mengharuskan anak               25% dari siklus tidur adalah tidur REM;
untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani            anak tidur siang dan sepanjang malam
terapi dan perawatan sampai pemulangannya               (Wahitiqbal&Ns. Nurul, 2007). Dengan
kembali ke rumah. Pada anak-anak sakit                  adanya lingkungan rumah sakit bagi pasien
dianggap sebagai hukuman atas kesalahan                 khusunya anak-anak yang baru pertama kali
yang      diperbuat.      Hampir    semua       anak    di rawat inap di rumah sakit merupakan hal
mengalami sakit dan harus di bawa ke                    yang asing. Karena perubahan lingkungan
rumah sakit. Proses hospitalisasi pada anak             yang asing dan kebiasaan sehari-hari yang
dapat mengalami berbagai kejadian yang                  berbeda selama di rumah sakit, hal ini
ditunjukkan       dengan     pengalaman         yang    menyebabkan masalah bagi anak salah
traumatik dan penuh dengan stres. Bagi anak             satunya yaitu gangguan istirahat tidur.
yang baru pertama kali dirawat biasanya                 Berdasarkan studi pendahuluan yang telah
menjalani         lebih     banyak         tindakan     lakukan di Ruang Pohon dan Buah Rumah
pemeriksaan oleh beberapa orang, tidak                  Sakit    Kartini      Mojosari     Kabupaten
pernah      mempunyai        gambaran       tentang     Mojokerto pada tanggal 16 & 18 Februari
dirawat      di    rumah      sakit,     perubahan      2013    didapatkan    10   responden    anak
lingkungan yang tiba-tiba, staf yang masih              diantaranya 7 (70%) anak usia toddler, 1
sangat asing, menimbulkan stres tersendiri              (10%) anak usia bayi dan 2 (20%) anak usia
bagi anak (Perry & Potter, 2005). Anak                  prasekolah.   Hasil    observasi   didapatkan
tersebut akan menunjukkan perilaku sebagai              semua anak pada usia toddler mengalami
reaksi terhadap pengalaman hospitalisasi.               gangguan tidur, dalam pemenuhan kuantitas
Anak pada tahap toddler (1-3 tahun) lebih               tidur didapatkan 1 jam tidur siang dan 7-8
banyak      perilaku      mencari      tujuan    dan    jam malam hari hal ini disebabkan karena
berusaha      mendapatkan      autonomi.        Area    sering terbangun karena kegiatan rutin
utama toddler dalam hal ritual mencakup                 rumah sakit dan juga pengaruh lingkungan
makan, tidur, mandi, toileting, dan bermain.            disekitarnya, dan dalam pemenuhan kualitas
Jika rutinitas tersebut terganggu maka dapat            tidur didapatkan dari semua 5 (57,1 %) anak
terjadi kesulitan di salah satu atau semua              sering menguap, 1 (14,3 %) konjungtiva
                                                                                                    35


merah, 2 (28,6 %) mudah terangsang dan              tidaknya              hubungan              antara
gelisah.                                            variableindependent dan variable dependen.
METODE PENELITIAN                                   HASIL DAN PEMBAHASAN
          Dalam penelitian ini desain yang                 Sebagian       besar     responden     yang
digunakan      adalah    menggunakan        jenis   merupakan anak toddler berjenis kelamin
penelitian observasional (survey) dimana            perempuan yaitu sebanyak 16 anak (53,3%).
dalam pengumpulan data tanpa melakukan              sebagian besar responden yang merupakan
intervensi atau perlakuan. Pada penelitian          anak toddlerberusia 13-24 bulan yaitu
observasional dengan rancang bangun cross-          sebanyak 17 anak (56,7%). sebagian besar
sectionaldimana variabel penelitian diukur          responden       setelah       diberikan     asuhan
hanya sekali saja, sehingga variabel mana           keperawatan          menunjukkan           respons
yang sebagai penyebab dan akibat tidak              hospitalisasinya dalam kategori ringan yaitu
dibedakan (Hidayat, 2007). Populasi dalam           sebanyak 19 anak (63,3%). sebagian besar
penelitian yaitu anak usia toddler (1-3 tahun)      responden       setelah       diberikan     asuhan
yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit            keperawatan          menunjukkan          kuantitas
Kartini     Kabupaten    Mojokerto.     Sampel      tidurnya terpenuhi lebih dari 10 jam yaitu
dalam penelitian ini adalah anak toddler (1-3       sebanyak 18 anak (60%). sebagian besar
tahun) yang mengalami rawat inap di                 responden       setelah       diberikan     asuhan
Rumah Sakit Kartini Kabupaten Mojokerto.            keperawatan menunjukkan kualitas tidurnya
Sampling             dalam     penelitian     ini   terpenuhi yaitu sebanyak 16 anak (53,3%).
menggunakan           teknik      “Consecutive      dari 19 anak yang mengalami hospitalisasi
Sampling” cara pengambilan sampel ini               ringan hampir seluruhnya kuantitas tidurnya
dilakukan dengan memilih yang memenuhi              terpenuhi yaitu sebanyak 17 anak (89,5%).
kriteria penelitian sampai kurun waktu              Sedangkan dari 7 anak yang mengalami
tertentu sehingga jumlah sampel terpenuhi           hospitalisasi    ringan      didapatkan     hampir
(Sugiono, 2001 dalam Hidayat, 2007).                seluruhnya      kuantitas       tidurnya      tidak
Setelah didapatkan nilai dari masing-masing         terpenuhi yaitu sebanyak 6 anak (87,5%).
criteria, kemudian ditabulasikan ke dalam           Dan    dari      4    anak     yang   mengalami
tabulasi    silang   antara    kedua   variable.    hispitalisasi berat seluruhnya tidak terpenuhi
Selanjutnya dianalisis dengan menggunakan           kuantitas tidurnya. Berdasarkan tabulasi
uji Mann Withney untuk mengetahui ada               silang diatas dapat disimpulkan bahwa anak
                                                                                                         36


yang mengalami respons hospitalisasi ringan           sebagian besar responden setelah diberikan
maka      kuantitas       tidurnya      cenderung     asuhan keperawatan menunjukkan respons
terpenuhi. Berdasarkan hasil uji mann                 hospitalisasinya dalam kategori ringan yaitu
withney dengan standar error 0,05 (5%)                sebanyak 19 anak (63,3%).
didapatkan       nilai     probabilitas       hasil              Hospitalisasi bagi anak dianggap
perhitungan sebesar 0,000 < 0,05 yang                 sebagai pengalaman yang mengancam dan
artinya                                    terdapat   stessor,     sehingga      anak     akan       mudah
pengaruhresponhospitalisasiterhadap                   mengalami        krisis     karena:      (1)     anak
kuantitas tidur pada anak usia toddler (1-3           mengalami stress akibat perubahan baik
tahun) di Rumah Sakit Kartini Kabupaten               terhadap      status      kesehatannya         maupun
Mojokerto. dari 19 anak yang mengalami                lingkungannya, dan (2) anak mempunyai
hospitalisasi    ringan    hampir     seluruhnya      sejumlah keterbatasan dalam mekanisme
kualitas tidurnya terpenuhi yaitu sebanyak            koping untuk mengatasi masalah maupun
15 anak (78,9%). Sedangkan dari 7 anak                kejadian-kejadian yang bersifat menekan.
yang      mengalami       hospitalisasi     ringan    (Nursalam,        2008).       Selama           proses
didapatkan      hampir     seluruhnya      kualitas   hospitalisasi bukan hanya anak tetapiorang
tidurnya tidak terpenuhi yaitu sebanyak 6             tua juga mengalami kebiasaan yang asing,
anak (87,5%). Dan dari            4 anak yang         lingkungan yang asing, hal ini merupakan
mengalami hispitalisasi berat seluruhnya              pengalaman       yang       traumatikdan        penuh
tidak      terpenuhi       kualitas       tidurnya.   dengan stres. Berbagi perasaan yang sering
Berdasarkan tabulasi silang diatas dapat              muncul pada anak yaitu cemas, marah,
disimpulkan bahwa anak yang mengalami                 sedih, dan rasa bersalah. Pemberian Asuhan
respons hospitalisasi ringan maka kualitas            keperawatan dengan pengembangan yang
tidurnya cenderung terpenuhi. Berdasarkan             telah dilakukan oleh peneliti memberikan
hasil uji mann withney dengan standar error           dampak yang cukup baik bagi sebagian
0,05 (5%) didapatkan nilai probabilitas hasil         besar responden anak usia toddler. Di mana
perhitungan sebesar 0,000 < 0,01 yang                 setelah      diberikan     asuhan     keperawatan
artinya            terdapat               pengaruh    tersebut anak hanya cenderung mengalami
responhospitalisasi terhadap kualitas tidur           hospotalisasi ringan yang dapat dianggap
pada anak usia toddler (1-3 tahun)               di   sebagai kewajaran mengingat hospitalisasi
Rumah Sakit Kartini Kabupaten Mojokerto.              pada anak tidak mungkin hilang sama sekali.
                                                                                                     37


Rata-rata respons hospitalisasi yang masih             kondisi anaknya. sebagian besar responden
dialami oleh anak yaitu anak menangis                  setelah     diberikan    asuhan     keperawatan
karena kesakitan dan beberapa takut jarum              menunjukkan kualitas tidurnya terpenuhi
suntik, memanggil-manggil ibunya dan anak              yaitu sebanyak 16 anak (53,3%).
kurang minat untuk bermain. sebagian besar                       Hasil penelitian menunjukkan anak
responden      setelah      diberikan        asuhan    yang kualitas tidurnya terpenuhi lebih
keperawatan         menunjukkan            kuantitas   dominan dari pada yang tidak terpenuhi.
tidurnya terpenuhi lebih dari 10 jam yaitu             Kualitas tidur sendiri adalah kepuasan anak
sebanyak 18 anak (60%).                                terhadap tidur, sehingga anak tersebut tidak
       Kuantitas tidur adalah jumlah tidur             memperlihatkan      perasaan      lelah,   mudah
seseorang pada siang dan malam hari yang               terangsang dan gelisah, lesu dan apatis,
biasanya dihitung dengan jumlah waktu                  kehitaman di sekitar mata, kelopak mata
(jam). ( Hidayat 2006). Pada anak Toddler.             bengkak, konjungtiva merah, mata perih,
tidur 10-12 jam/hari, 1-3 jam tidur siang dan          perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan
9-10 jam malam hari.             Hasil penelitian      sering menguap atau mengantuk. Seorang
menunjukkan         anak    yang    mendapatkan        anak dikatakan memenuhi kualitas tidur bila
kuantitas tidur lebih dari 10 jam lebih                seseorang     tersebut   tidak     menunjukkan
dominan.      Hal     tersebut     lebih    banyak     tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak
dikarenakan         orang     tuanya        mampu      mengalami masalah dalam tidurnya.
menenangkan anak pada saat anak menjalani                        Hasil penelitian menunjukkan bahwa
proses perawatan dan setelah menjalani                 hanya beberapa anak yang mengalami
proses perawatan. Namun masih banyak                   gangguan kualitas tidur, gangguan yang
anak yang mendapatkan kuantitas tidur yang             paling sering terlihat adalah ekspresi wajah,
kurang dari 10 yaitu sebanyak 40%. Hal                 di mana anak yang mengalami gangguan ini
tersebut      banyak        dikarenakan        anak    biasanya terlihat di konjungtivanya yang
mengalami kesakitan yang membuatnya                    berwarna      kemerah-merahan        dan    mata
sangat tidak nyaman sehingga anak susah                terlihat cekung. Selain itu anak masih
tidur dan sering terbangun ketika tidur selain         mengalami kantuk yang berlebihan ditandai
itu orang tua juga kurang mampu untuk                  dengan sering menguap. Dan beberapa anak
memenangkan anaknya karena orangtua                    mengalami penurungan daya ingat dan
juga terlihat gugup dan panik melihat                  bingung tentang yang terjadi pada dirinya.
                                                                                                        38


Secara      keseluruhan         responden      sudah    tidur dengan akumulasi waktu lebih dari 10
dominan tidak mengalami gangguan kualitas               jam. Namun hal tersebut juga tidak lepas
tidur.    dari   19     anak    yang      mengalami     dari orang tua yang dengan sabar menemani
hospitalisasi    ringan        hampir     seluruhnya    anaknya yang sedang menjalani proses
kuantitas tidurnya terpenuhi yaitu sebanyak             perawatan.      19   anak     yang     mengalami
17 anak (89,5%). Sedangkan dari 7 anak                  hospitalisasi    ringan     hampir     seluruhnya
yang      mengalami        hospitalisasi      ringan    kualitas tidurnya terpenuhi yaitu sebanyak
didapatkan hampir seluruhnya kuantitas                  15 anak (78,9%). Sedangkan dari 7 anak
tidurnya tidak terpenuhi yaitu sebanyak 6               yang    mengalami         hospitalisasi     ringan
anak (87,5%). Dan dari               4 anak yang        didapatkan      hampir     seluruhnya      kualitas
mengalami hispitalisasi berat seluruhnya                tidurnya tidak terpenuhi yaitu sebanyak 6
tidak      terpenuhi       kuantitas        tidurnya.   anak (87,5%). Dan dari             4 anak yang
Berdasarkan tabulasi silang diatas dapat                mengalami hispitalisasi berat seluruhnya
disimpulkan bahwa anak yang mengalami                   tidak     terpenuhi         kualitas      tidurnya.
respons hospitalisasi ringan maka kuantitas             Berdasarkan tabulasi silang diatas dapat
tidurnya cenderung terpenuhi.                           disimpulkan bahwa anak yang mengalami
          Berdasarkan             hasil           uji   respons hospitalisasi ringan maka kualitas
mannwithneydidengan standar error 0,05                  tidurnya cenderung terpenuhi.
(5%) didapatkan nilai probabilitas hasil                        Berdasarkan hasil uji mann withney
perhitungan sebesar 0,000 < 0,05 yang                   dengan standar error 0,05 (5%) didapatkan
artinya                                     terdapat    nilai probabilitas hasil perhitungan sebesar
pengaruhresponhospitalisasiterhadap                     0,000 < 0,01 yang artinya terdapat pengaruh
kuantitas tidur pada anak usia toddler (1-3             responhospitalisasi terhadap kualitas tidur
tahun) di Rumah Sakit Kartini Kabupaten                 pada anak usia toddler (1-3 tahun)               di
Mojokerto.                                              Rumah Sakit Kartini Kabupaten Mojokerto.
          Anak yang mendapatkan asuhan                          Walaupun anak yang mendapatkan
keperawatan dengan pengembangan yang                    kuantitas tidur dan kualitas tidur tidak sama
dilakukan        oleh     peneliti        cenderung     namun     sebagian        besar    anak      sudah
responsnya terhadap hospitalisasi cenderung             mendapatkan kualitas tidur yang baik karena
ringan dan hal tersebut berpengaruh pada                respons hospitalisasinya terhadap asuhan
kuantitas tidurnya di mana anak sudah dapat             keperawatan yang diberikan sudah cukup
                                                                                                       39


baik. Proses perawatan dapat berjalan                   responhospitalisasi terhadap kualitas tidur
dengan baik karena kolaborasi antara tenaga             pada anak usia toddler (1-3 tahun)             di
medis dengan orang tua dalam perawatan                  Rumah Sakit Kartini Kabupaten Mojokerto.
anaknya dan tenaga medis juga sering
memberikan          informasi-informasi      penting    SARAN
dalam perawatan anak di rumah sakit                     Diharapkan keluarga memperhatikan tidur
sehingga sebagian besar orang mampu                     anak selama anak dirawat di rumah sakit
membantu merawat anaknya dengan baik.                   sehingga     tidur    anak    tetap     terpenuhi
KESIMPULAN                                              meskipun sakit. Melihat adanya hubungan
          Setelah         diberikan            asuhan   antara responhospitalisasi dengan kuantitas
keperawatan            menunjukkan           respons    dan kualitas tidur pada anak yang menjalani
hospitalisasinya dalam kategori ringan yaitu            rawat inap maka diharapkan instansi rumah
sebanyak      19      anak       (63,3%).    Setelah    sakit khususnya bidang keperawatan anak
diberikan asuhan keperawatan menunjukkan                agar     memperhatikan       dan      menerapkan
kuantitas tidurnya terpenuhi lebih dari 10              asuhan      keperawatan      untuk     kebutuhan
jam yaitu sebanyak 18 anak (60%). Setelah               istirahat    tidur    anak       selama     masa
diberikan asuhan keperawatan menunjukkan                hospitalisasi.        Diharapkan          peneliti
kualitas tidurnya terpenuhi yaitu sebanyak              selanjutnya melakukan penelitian tentang
16 anak (53,3%).           Berdasarkan hasil uji        faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
mannwithneydidengan standar error 0,05                  istirahat tidur khususnya pada anak toddler
(5%) didapatkan nilai probabilitas hasil                (1-3        tahun)        yang        mengalami
perhitungan sebesar 0,000 < 0,05 yang                   responhospitalisasi
artinya                                      terdapat
pengaruhresponhospitalisasiterhadap                     DAFTAR PUSTAKA
kuantitas tidur pada anak usia toddler (1-3             Alimul Aziz Hidayat. 2005. Pengantar Ilmu
                                                               Keperawatan Anak 1. Jakarta :
tahun) di Rumah Sakit Kartini Kabupaten
                                                               Salemba Medika.
Mojokerto.          Berdasarkan        hasil      uji
                                                        Alimul Aziz Hidayat. 2006. Pengantar
mannwithneydidengan standar error 0,05
                                                              Kebutuhan Manusia : Aplikasi
(5%) didapatkan nilai probabilitas hasil                      Konsep dan Proses Keperawatan
                                                              Buku 2. jakarta : Salemba medika
perhitungan sebesar 0,000 < 0,01 yang
artinya               terdapat              pengaruh
                                                                                          40


Alimul     Aziz, Hidayat. 2007. Metode           Potter     Dan Perry. 2005. Buku Ajar
         Penelitian  Keperawatan  Dan                      Fundamental Keperawatan Edisi 4.
         Teknik Analisa Data. Jakarta;                     Jakarta; EGC
         Salemba Medika
                                                 Riyadi,     Sujono dan Sukarmin. 2009.
Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu                  Asuhan Keperawatan pada anak.
       Pendekatan Praktek revisi v. Jakarta                Yogjakarta: Graha Ilmu.
       : PT Rineka, Metode Penelitian
                                                 Rahmawati, A (2009) Hubungan dukungan
       Kuantitatif. Jakarta : Kencana.                kelurga dengan tingkat kecemasan
                                                      akibat hospitalisasi pada anak usia
Bugin Burhan. 2008. Metode Penelitian                 prasekolah di bangsal I RSUP
         Kuantitatif. Jakarta : Kencana               drSoeradjiTirtonegoro         Klaten.
                                                      Diakses tanggal 10 Januari 2013
Desi . (2009) Teori Perkembangan Anak
                                                      Websitehttp://skripsistikes,wordpress
       Usia 3-6 Tahun Saat Mengalami
                                                      .com
       Hospitalisasi. ( Http : // Desi . petra
       ijunnkpe. Com / 2007 /41403014/
       Teori –perkembangan- anak –usia-3-        Setiadi. 2007. Konsep & Penulisan Riset
       6-tahun-saat-mengalami-                           Keperawatan. Yogyakarta. Graha
       hospitalisasi.html) (Accessed 15                  Ilmu
       September 2009)                           Sugiono .2007. Statistika Untuk Penelitian .
Iqbal Wahid dan Chayatin Nurul. 2005.                  Bandung : ALFA BETA.
      Buku Ajar Kebutuhan Dasar
      Manusia : Teori dan Aplikasi dalam         Supartini  yupi.2004.   Konsep       Dasar
      Praktik. Jakarta : EGC                            Keperawatan Anak . Jakarta : EGC.

                                                 Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak
Notoatmodjo Soekidjo. 2002. Metode                       . Jakarta : EGC.
      Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT
      Rineka Cipta.                              Tarwanto dan Wartonah. 2006. Kebutuhan
                                                       Dasar   Manusia     dan   Proses
Nursalam. 2005, Asuhan Keperawatan Bayi                Keperawatan Edisi 3. Jakarta :
       dan Anak . Jakarta : Salemba Medika             Salemba Medika

Nursalam. 2008. Konsep & Penerapan               Wong,      Donna L.. 2008. Buku Ajar
       Metodologi       Penelitian   Ilmu                  KepewrawatanPediatrik. Jakarta:
       Keperawatan      Edisi    2  dalam                  EGC
       Pedoman        Skripsi, tesis dan
       Instrumen Penelitian Keperawatan.
       Jakarta : Salemba Medika.
                                                                                                   41


           EFFECT OF COUNSELING CLIENTS OF ATTITUDE OF DISEASE
                           POLY VCT HIV / AIDS

                           Faisal Ibnu, Binarti Dwi W, Amar Akbar

                                            ABSTRACT

          Infectious diseases HIV / AIDS is a health problem in Indonesia. Lack of promotion of
the public about the existence of VCT ( Voluntary Counseling and Testing ) , and the difficulty
of the community to access VCT services . The purpose of this study is to prove the effect of
counseling on poly VCT clients' attitudes about HIV / AIDS at the Health Center Mentikan
Mojokerto . In this study using pre - experimental research design . Independent variables are
counseled on HIV - AIDS and the dependent variable is the attitude of the client poly VCT on
HIV - AIDS . The population in this study are individuals who have behavioral risk of
contracting HIV AIDS who visited the health center Mentikan number 28 , the sampling
technique used was obtained 28 samples of consecutive sampling . The instrument used was a
questionnaire / questionnaires . Results of research on attitudes prior to counseling the majority
of respondents had a negative attitude that is 16 respondents ( 57 % ) . Performed after
counseling while most respondents have a positive attitude that is 24 respondents ( 86 % ) . From
the data analysis using the Wilcoxon signed ranks test test results obtained ρ = 0.001 while α =
0.05 . Value ρ < α , then H0 is rejected and H1 is accepted . There is the effect of counseling on
clients' attitudes poly VCT on HIV / AIDS at the Health Center Mentikan Mojokerto . Of this
research is there influence clients' attitudes toward counseling poly VCT on HIV / AIDS at the
Health Center Mentikan Mojokerto . With the counseling or counseling have an influence on the
attitude from negative to positive , but still there are not affected this can be caused by low levels
of educationand life experienceis still minimal .

Keywords : Counseling , Client Attitudes VCT , HIV / AIDS
                                                                                       42




PENDAHULUAN                                   banyak menjangkiti remaja putri.
                                              Diperkirakan diseluruh dunia yang
          Penyakit infeksi HIV/AIDS           terjangkit penyakit HIV/AIDS 7,3
merupakan masalah kesehatan di                juta wanita muda dan 4,5 juta pria
Indonesia. Selain angka kejadiannya           muda. berusia 15 – 24 tahun tercatat
yang terus cenderung meningkat dan            sebagai        penderita     baru      HIV.
menjadi ancaman bagi kesehatan                Sebanyak 87% pengidap HIV/AIDS
masyarakat juga gambaran klinis               hidup     di     negara     miskin      dan
penyakit     ini     sangat     bervariasi.   berkembang.
Berbagai       faktor         yang    ikut            Data di Jawa Timur Maret
mempengaruhi terhadap peningkatan             2011       Pemberantasan            Penyakit
jumlah penderita yaitu meningkatnya           Menular melaporkan sebanyak 7.734
jumlah pengguna Napza intravena,              orang     terinfeksi       HIV      (Depkes
PSK, mobilitas dari dan keluar negeri         Jatim,2011).Sedangkan data di Dinas
dan masih belum efektifnya upaya              Kesehatan kota Mojokerto tahun
pencegahan         serta      pengendalian    2009 tercatat 120 orang penderita
penyakit ini (Tim medik RSUD Dr.              HIV.Tahun        2011      mencapai     269
Soetomo, 2002).                               dengan rincian laki-laki 148 wanita
     Sangat sedikit kaum muda                 121 usia 25 tahun - 44 tahun
yang memiliki pengetahuan memadai             sebanyak 208 orang,usia < 15 tahun
dan benar tentang VCT termasuk                8 orang,usia 15 tahun - 30 tahun ada
HIV/AIDS       padahal        pengetahuan     30          orang(Dinkes               Kota
tersebut dibutuhkan untuk terhindar           Mojokerto,2011).
dari resiko penularan dan tidak                       Melihat tingginya prevalensi
diskriminatif kepada penderita AIDS.          diatas maka masalah HIV-AIDS saat
Dari data yang didapat dari UNAIDS            ini bukan hanya masalah medik dari
(United Nation for AIDS) akhir                penyakit menular semata tapi sudah
tahun 2004 di dunia diperkirakan              menjadi          masalah         kesehatan
terdapat 39,4 juta orang penderita            masyarakat yang sangat luas. Oleh
HIV/AIDS. Menurut laporan United              karena itu penangannya juga harus
Nations     Population        Fund,   HIV     berdasarkan pendekatan kesehatan
                                                                                            43




masyarakat              melalui           upaya    sisi kesehatan masyarakat, VCT
pencegahan primer, sekunder, dan                   dipandang      sebagai     penghormatan
tertier. Salah satu upaya tersebut                 atas hak asasi manusia. VCT juga
adalah upaya deteksi dini untuk                    merupakan salah satu komponen
mengetahui            apakah          seseorang    utama dalam mendukung program
menderita HIV melalui konseling                    WHO The target “3 by 5” Target.
testing    dan        tes    sukarela     bukan    Sebanyak 3.000.000 ODHA bisa
dipaksa atau diwajibkan (Modul                     mengkonsumsi ARV di tahun 2005.
Pelatihan        Konseling        dan       Tes             Berdasarkan      latar      belakang
Sukarela     HIV            VCT,Depkes      RI,    tersebut,     penulis     tertarik     untuk
2004).                                             melakukan        penelitian        Pengaruh
        Dasar           pemikiran           dari   Konseling           terhadap          Tingkat
pengadaan        konseling        sehubungan       Pengetahuan dan Sikap mengenai
dengan      infeksi         HIV/AIDS       ialah   HIV/AIDS di Puskesmas Mentikan
bahwa        semua            orang        takut   Kota Mojokerto.
menghadapi rasa sakit yang hebat,                  Rumusan Masalah
apalagi yang sakitnya hebat dan tak                          Sehubungan       dengan      data
ada harapan untuk sembuh, terlebih                 diatas       maka       dapat      disusun
lagi    menghadapi           kematian      yang    identifikasi masalah sebagai berikut:
sudah diambang pintu dan pasti.                    Adakah         pengaruh           konseling
Dengan demikian maka diharapkan                    terhadap sikap klien VCT tentang
mereka           yang          membutuhkan         penyakit HIV/AIDS di Puskesmas
pelayanan dapat menerima layanan                   Mentikan Kota Mojokerto. Tujuan
yang baik, menurunkan stigma dan                   penelitian      ini      adalah       untuk
mengurangi diskriminasi, VCT juga                  membuktikan         pengaruh konseling
dapat           mendorong               perilaku   terhadap sikap klien VCT mengenai
masyarakat        kearah       normal      yang    penyakit HIV/AIDS di Puskesmas
disebut      normalisasi          HIV/AIDS.        Mentikan Kota Mojokerto.
Karena          itu         penting       untuk
meningkatkan                     ketersediaan
pelayanan VCT di Indonesia. Dari
                                                                                                            44




METODE PENELITIAN                              dengan                 adanya                keterlibatan
                                               penelitian                 dalam             melakukan
          Sampel penelitian ini adalah
                                               manipulasi terhadap variabel bebas.
individu yang memenuhi kriteria
                                               dengan           menggunakan                 Rancangan
inklusi
                                               Pra-Pasca test dalam satu kelompok
    Kriteria inklusi :
                                               (One-Group                        Pra-test-posttest
    1. Semua       klien     VCT       yang
                                               Design)
          berkunjung pertama kali di
          Puskesmas Mentikan Kota
                                                    Subjek        Pra         Perlakuan        Pasca-tes
          Mojokerto
                                                                    O1                I                O2
    2. Semua       klien     VCT       yang
                                                      K          Time 1            Time 2            Time 3
          berkunjung pertama kali di
          Puskesmas Mentikan Kota
          Mojokerto yang tidak buta             K : Subjek yang merupakan klien
          huruf.                                     VCT
    Kriteria Eklusi ;                                        HIV AIDS
    1. Pasien VCT yang berkunjung               O1 : Dilakukan pre tes sebelum
          bukan untuk tujuan konseling                       dilakukan konseling.
    2. Pasien VCT yang tidak dapat              I                  : Dilakukan Intervensi
          datang        tetapi        hanya          (Konseling)
          menyertakan sampel darah                           sekali
          saja untuk uji laboratorium.          O2 : Dilakukan post tes sesudah
    3. Pasien yang tidak bersedia                            dilakukan konseling.
          untuk dikonseling.                   Instrumen Penelitian dan Metode
Tehnik Pengambilan Sampel                      Pengambilan data
          Menggunakan            consecutive                 Teknik         pengumpulan                    data
              sampling                         yang digunakan dalam penelitian ini
Model Penelitian                               adalah                                     menggunakan
    Secara umum memakai desain                 angket/kuisioner. Cara Pemilihan uji
pra eksperimen dimana rancangan                statistik                  menggunakan                       Pra
penelitian yang dipergunakan untuk             Eksperimen                  Pre-Post           Wilcoxon
mencari       hubungan       sebab-akibat
                                                                                  45




Signed rank test. Sedangkan pada            Signed Ranks Test dengan nilai
Sikap menggunakan format tipe likert        kemaknaan p > 0,05.
Tempat dan waktu Penelitian                 HASIL DAN PEMBAHASAN
        Penelitian      dilakukan      di   Hasil Penelitian
Puskesmas            Mentikan        Kota   Gambar Lokasi Penelitian
Mojokerto pada tanggal 6 Agustus                   Klinik      VCT        (Voluntary
sampai dengan 31 Agustus 2013.              Conseling and Testing) yang berada
Analisa data                                di RSU Dr. Wahidin Sudiro Husodo
I. Analisa Univariat                        Kota   Mojokerto       yang     sekarang
1. Sikap                                    berada di Puskesmas Blooto dan
  Untuk mengukur sikap responden,           Mentikan Kota Mojokerto. Bentuk
diukur dengan menggunakan skala             layanan    konseling     dan      testing
likert yang terdiri dari 4 jawaban          sukarela   merupakan      salah      satu
Sangat setuju = 4, Setuju = 3, Tidak        strategi kesehatan masyarakat dan
setuju = 2, Sangat tidak setuju = 1         sebagai pintu masuk keseluruhan
untuk      pertanyaan     positif.   skor   layanan     kesehatan         HIV/AIDS
diperoleh dengan rumus :                    berkelanjutan.
                                                   Pengambilan data dilakukan
                Sp
             N=    x100%                    pada klien VCT yang berkunjung
                Sm
                                            pertama kali di Puskesmas Mentikan
   Selanjutnya            dikategorikan     yang berjumlah 28 orang pada bulan
kedalam sikap positif jika skor             Agustus 2013.
responden 56% - 100% atau lebih
dari rata-rata, sikap negatif jika skor     Data Umum
responden < 40 % - 54% atau kurang          1.Distribusi Responden        Berdasarkan
                                            Jenis kelamin
dari rata-rata.


2 . Analisa Statistik
Untuk mengetahui pengaruh sikap
diuji dengan menggunakan Wilcoxon
                                                                                  46




Gambar 1.   Diagram      Pie   Distribusi
            Responden berdasarkan Usia
            klien   poli     VCT    yang
            berkunjung di Puskesmas
            Mentikan bulan Agustus
            2013.
2.Distribusi Responden Berdasarkan
   Usia



                                            Gambar 3       Diagram Pie Distribusi
                                                           Responden      berdasarkan
                                                           Tingkat         Pendidikan
                                                           Terakhir klien poli VCT
                                                           yang     berkunjung     di
                                                           Puskesmas         Mentikan
                                                           bulan Agustus 2013.

Gambar 2.   Diagram      Pie   Distribusi
                                                   Berdasarkan diagram pie 5.3 di
            Responden        berdasarkan    atas    terlihat   bahwa     responden
            Usia klien   poli VCT yang
            berkunjung    di Puskesmas      sebagian       besar     berpendidikan
            Mentikan     bulan Agustus
            2013.                           terakhir SMA sejumlah 16 orang
                                            (57%) dan 8 responden (29%)
       Berdasarkan diagram pie 5.2          berpendidikan terakhir SMP serta 4
di atas terlihat bahwa responden            responden (14 %) berpendidikan
sebagaian besar usia 25-34 tahun 10         terakhir SD.
responden (36%) dan usia 15-24
                                            3.Distribusi Responden Berdasarkan
tahun 7 responden (25%),usia 35-44
                                               Kelompok Resiko
tahun 6 responden (21%) serta usia <
15 tahun 5 responden (18%).
4.Distribusi Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan




                                            Gambar 4.   Diagram       Pie
                                                 Distribusi     Responden
                                                 berdasarkan     Kelompok
                                                                               47




       Resiko klien poli VCT yang       HIV/AIDS dari manapun yaitu 19
       berkunjung di Puskesmas
                                        orang (68%).
       Mentikan bulan Agustus
       2013.
                                        6.Distribusi Responden Berdasarkan
       Berdasarkan diagram pie 5.4
                                           Sumber Informasi
di   atas   bahwa   sebagian    besar
responden adalah dari pekerja seks
(PSK) sejumlah 10 responden (36%)
dan 7 responden (25%) dari usia 15-
24 tahun, 5 responden (18%) dari
IDU, 3 responden (10%) dari klien
pekerja seks, 2 responden (7%) dari
                                        Gambar 6 .     Diagram Pie Distribusi
biseksual serta 1 responden (3%)                       Responden     berdasarkan
                                                       Sumber Informasi klien poli
dari kelompok homoseksual.                             VCT yang berkunjung di
                                                       Puskesmas Mentikan bulan
                                                       Agustus 2013.
5.Distribusi Responden berdasarkan             Berdasarkan diagram pie 5.6
   Peroleh Informasi mengenali          di atas terlihat bahwa sebagian besar
   HIV/AIDS
                                        responden      19   responden      (68%)
                                        tidak pernah mendapatkan informasi
                                        mengenai HIV/AIDS dari manapun
                                        dan 6 responden (21%) di dapatkan
                                        dari   Sumber       Informasi     Media
                                        elektronik, 2 responden (7%) dari
Gambar 5. Diagram Pie Distribusi
          Responden berdasarkan         media cetak serta 1 responden (4%)
          Mendapatkan Informasi         penyuluhan,.
          klien poli VCT yang
          berkunjung           di       Data Khusus
          Puskesmas      Mentikan       1.Distribusi Responden Berdasarkan
          bulan Agustus 2013.              Sikap Sebelum Konseling
                                           HIV/AIDS
       Berdasarkan diagram pie 5.5
di atas terlihat bahwa responden
sebagian    besar    tidak     pernah
mendapatkan informasi mengenai
                                                                                 48




                                                  Berdasarkan Diagram Pie
                                          5.8    terlihat     bahwa       terdapat
                                          peningkatan sikap positif sesudah
                                          konseling pada 28 Responden
                                          yaitu menjadi 24 responden (86%)
Gambar    1. Diagram Pie Distribusi
           Responden berdasarkan Sikap    dan masih ada 4 responden (14 %)
           Sebelum Konseling klien poli
           VCT yang berkunjung di         yang masih bersikap negatif.
           Puskesmas Mentikan Agustus
           2013.                          3. Pengaruh Konseling Terhadap
         Berdasarkan pie 1. di atas
                                             Peningkatan Sikap Sebelum dan
terlihat bahwa terdapat hasil sikap
                                             Sesudah Konseling
sebelum konseling yaitu dari 28           Tabel 3. Tabel pengaruh konseling terhadap
responden terdapat sikap negatif                   peningkatan sikap sebelum dan
                                                   sesudah konseling klien poli VCT
berjumlah 16 responden (57%) dan                   yg berkunjung di Puskesmas
                                                   Mentikan bulan Agustus 2013
12 responden bersikap positf (43%).                            Sikap
                                               Kriteria      Sebelum        Sesudah
2.       Distribusi      Responden                          F     %       F      %
         Berdasarkan Sikap Sesudah             Positif     12    43%      24    86%
         diberikan        Konseling            Negatif     16    57%       4    14%
         HIV/AIDs                                          28 100% 28 100%
                                                                   P : 0,001

                                                  Berdasarkan uji statistik Non
                                          Parametrik, Wilcoxon Signed Rank
                                          test dengan kemaknaan P = 0,05
                                          artinya apabila P < 0,05 Ho di tolak
                                          yang berarti ada pengaruh antara
Gambar 2. Diagram Pie Distribusi          konseling         terhadap         sikap.
          Responden berdasarkan
          Sikap Sebelum klien             Didapatkan hasil P = 0,001 yang
          poli     VCT     yang           artinya H0 ditolak yang artinya
          berkunjung di Puskes-
          mas Mentikan bulan              terdapat pengaruh konseling sebelum
          Agustus 2013.                   dan sesudah konseling mengenai
                                          HIV/AIDS.
                                                                                        49




PEMBAHASAN                                    mudah         menerima            informasi
1. Sikap Sebelum Dilakukan                    (Arikunto, 2010).
   Konseling Terhadap Penyakit                        Kenyataan        di       lapangan
   HIV/AIDS                                   menunjukkan bahwa responden yang
         Berdasarkan hasil data di atas       berpendidikan SMA belum tentu
sebelum di lakukan konseling dari 28          mempunyai      wawasan        yang      luas
Responden jumlah sikap yang positif           khususnya        tentang           penyakit
berjumlah 12 orang (43%) dan yang             HIV/AIDS.
negatif 16 orang (57%). Hal ini dapat                 Konseling             HIV/AIDS
disebabkan     kurangnya         informasi    merupakan      komunikasi           bersifat
dasar mengenai penyakit HIV/AIDS              rahasia antaraklien dan konselor
sehingga      pandangan          seseorang    bertujuan meningkatkan kemampuan
mengenai penyakit tersebut masih              menghadapi stres dan mengambil
minim.      Dari      Responden      yang     keputusan       berkaitan           dengan
mendapatkan        informasi     hanya   9    HIV/AIDS.        Proses           konseling
orang (32%) ini akan mempengaruhi             termasuk evaluasi risiko personal
seseorang     dalam     proses     berfikir   penularan        HIV,              fasilitasi
mengenai penyakit HIV/AIDS. Dari              pencegahan perilaku       dan      evaluasi
hasil    penelitian     didapatkan       16   penyesuaian     diri      ketika       klien
responden (57%) yang berpendidikan            menghadapi hasil tes positif . Proses
SMA.        Semakin      cukup       umur     konseling termasuk evaluasi resiko
seseorang maka semakin banyak                 personal      penularan       HIV/AIDS
pengalaman yang diperoleh karena              adalah fasilitas pencegahan perilaku
semakin matang, seseorang maka                dan evaluasi penyesuaian diri ketika
akan        semakin       baik        cara    menghadapi hasil tes positif (Modul
mempersepsikan atau menanggapi                pelatihan konseling WHO, 2006).
masalah. Tingkat pendidikan sangat                   Sikap Klien Poli VCT tentang
mempengaruhi persepsi seseorang               penyakit HIV/AIDS di Puskesmas
karena dengan pendidikan semakin              Mentikan Kota Mojokerto pada saat
tinggi maka orang tersebut akan               sebelum diberikan konseling banyak
                                              yang    mumpunyai         sikap     negatif
                                                                                     50




dikarenakan banyak dari responden            dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang     belum     mengetahui     tentang    antara lain : pengalaman pribadi,
penyakit HIV/AIDS dan bagaimana              pengaruh orang lain yang dianggap
cara penularannya.                           penting,      pengaruh         kebudayaan,
2.   Sikap Sesudah Dilakukan                 media        massa      dan       lembaga
     Konseling Terhadap Penyakit             pendidikan.
     HIV/AIDS                                           Kenyataan di lapangan dari
         Berdasarkan      hasil      data    sumber informasi ke 28 responden
penelitian dasar sesudah konseling           yang mendapatkan sumber informasi
pada 28 responden yaitu mengalami            sebanyak 9 responden (32%) dan 19
peningkatan dari sikap yaitu positif         responden      (68%)      tidak     pernah
menjadi 24 orang (86%).                      mendapatkan informasi mengenai
       Konseling     merupakan      suatu    HIV/AIDS dari sumber manapun.
proses pencegahan dan perubahan              Dengan adanya konseling pada klien
perilaku dapat mencegah penularan.           poli    VCT          tentang      penyakit
Diagnosis HIV mempunyai banyak               HIV/AIDS, responden dapat lebih
implikasi - psikologik, sosial, fisik,       mengetahui dan memahami tentang
spiritual. HIV ialah penyakit yang           penyakit HIV/AIDS dan bagaimana
mengancam hidup dan pengobatan               cara penularannya.Sikap Klien Poli
seumur hidup. Pencegahan penularan           VCT tentang penyakit HIV/AIDS di
HIV dengan menyediakan informasi             Puskesmas            Mentikan        Kota
tentang perilaku     berisiko     (seperti   Mojokerto pada kalangan ini banyak
seks aman atau penggunaan jarum              yang mumpunyai sikap positif dari
bersama) dan membantu orang dalam            12 responden menjadi 24 responden
mengembangkan             keterampilan       dikarenakan dari responden yang
pribadiyang        diperlukan      untuk     sudah mengetahui tentang penyakit
perubahan perilaku dan negosiasi             HIV/AIDS       dan     bagaimana      cara
praktek lebih aman (Depkes RI,               penularannya.
2004).                                       3.Pengaruh sebelum dan sesudah
         Menurut      Azwar       (2005),       konseling terhadap penyakit HIV-
bahwa pembentukan sikap seseorang               AIDS
                                                                                            51




       Berdasarkan uji statistik Non                   Hal ini sesuai dengan teori
Parametrik, Wilcoxon Signed Rank              bahwa reaksi perubahan perilaku
test dengan kemaknaan P = 0,05                yang        disebabkan               pemberian
artinya apabila P < 0,05 Ho di tolak          konseling pada orang dewasa akan
yang berarti ada pengaruh antara              bisa     dinilai    baik      jika     terdapat
konseling terhadap sikap. Didapatkan          perubahan          yang         positif      dari
hasil P = 0,001 yang artinya H0               seseorang. Perubahan perilaku yang
ditolak     yang      artinya      terdapat   dimaksud            adalah           terjadinya
pengaruh konseling sebelum dan                peningkatan/perbaikan pengetahuan,
sesudah       konseling          mengenai     sikap,     dan      pemahaman             tentang
HIV/AIDS.                                     penyakit HIV/AIDS dan mengetahui
       Berdasarkan        data       diatas   bagaimana cara penularan penyakit
terdapat hasil peningkatan sikap              HIV/AIDS.Konseling                         dapat
positif     sebelum      dan       sesudah    mempengaruhi             seseorang        melalui
konseling pada 28 responden dari 12           prosedur diskusi pembelajaran antara
responden      (43%)      menjadi       24    Konselor      dan        Responden         untuk
responden (86%) ini menjadi bukti             memahami            HIV/AIDS              beserta
bahwa konseling yang berisikan                konsekuensi terhadap diri individu
tentang informasi dasar mengenai              (Fonny, 2003).
HIV-AIDS merupakan cara yang                           Kenyataan         28        responden
efektif    dalam       merubah       sikap    dikonseling 12 responden (43%)
seseorang dan pencegahan perilaku             yang bersikap Positif menjadi 24
yang beresiko penularan HIV-AIDS.             responden (86%) dan masih ada 4
       Konseling      merupakan      salah    responden        (12%)      yang       bersikap
satu      pendekatan      yang       perlu    negatif.Hal        ini     dikarenakan         4
dikembangkan       untuk         mengelola    responden          (14%)        yang       masih
kejiwaan dan proses menggunakan               berpendidikan SD serta minimnya
pikiran secara mandiri (Pedoman               pengalaman hidup maka sulit untuk
pelayanan     konseling    dan      testing   memahami konseling.Dalam proses
HIV/AIDS).                                    perubahan          perilaku          hendaknya
                                              disadari           bahwa             perubahan
                                                                                   52




pengetahuan ke sikap dan seterusnya           SARAN
ke perbuatan, bukan merupakan garis           1. Untuk      mengurangi      penularan
lurus. Terdapat beberapa catatan                  HIV/AIDS       perlu      dilakukan
bahwa perubahan pengetahuan ke                    konseling       untuk      individu
sikap,    sangat     dipengaruhi       oleh       mendapatkan       akses      semua
persepsi yang bersangkutan tentang                pelayanan      baik       informasi,
masalah     dan       perubahan       yang        edukasi terapi dan dukungan
dimaksud. Begitu pula bila sikap                  sosial.
telah berubah, maka keadaan itu               2. Perlu diadakan penyuluhan atau
merupakan          predisposisi      untuk       konseling     kelompok,      dengan
perubahan perilaku.                              mengadakan mobile VCT yang
KESIMPULAN                                       berkesinambungan pada segala
         Pada bab ini akan diuraikan             lapisan      masyarakat         baik
kesimpulan dan saran berdasarkan                 lingkungan               pendidikan
dari hasil pembahasan yang telah                 menengah       atas,     universitas,
dipaparkan pada bab sebelumnya :                 kelompok Ibu-ibu rumah tangga,
1.   Sikap klien sebelum dilakukan               Lokalisasi      dan        Lembaga
     konseling didapatkan sebagian               pemasyarakatan.
     besar bersikap negatif sebanyak          3. Penelitian         ini         dapat
     16 orang (57%).                             membuktikan      bahwa       terdapat
2. Sikap klien sesudah konseling                 pengaruh     konseling      terhadap
     didapatkan       sebagian        besar      sikap sehingga dapat dijadikan
     bersikap positif       sebanyak 24          tolak ukur keefektifan konseling
     orang (86%).                                dalam mengurangi pencegahan
3. Terdapat        pengaruh       konseling      HIV/AIDS dan sebagai data awal
     terhadap sikap klien VCT tentang            untuk penelitian selanjutnya.
     HIV/AIDS          di     Puskesmas
                                              DAFTAR PUSTAKA
     Mentikan        Kota     Mojokerto
     dengan hasil uji analisa Wilcoxon        Alimul,    Azis.  (2003).  Riset
                                                  Keperawatan    Dan    Teknik
     Signed Rank test didapatkan nilai
                                                  Penulisan Ilmiah. Surabaya:
     p=0,001.                                     Salemba Medika
                                                                         53




                                           3. Jakarta : Media Aesculapius
Arikunto, Suharsini (2010). Prosedur       FKUI. Hal 163
    suatu pendekatan praktek.Edisi
    revisi III. Jakarta : PT Rineka    Nasronudin, (2001).     Gambaran
    Cipta.                                 Klinis    Penyakit      Infeksi
                                           HIV/AIDS. Surabaya : Tim
Azwar, Saifudin (2005 ). Sikap             Medik AIDS RSUD Dr.
   Manusia. Edisi Revisi ke 2.             Soetomo FK. Univ. Airlangga
   Jogyakarta : Pustaka Pelajar.
                                       Nugrahaini     Naning      (2006).
Dep.Kes RI (2006). Pedoman                Patogenesis dan Stadium Klinis
   Pelayanan  Konseling   dan             HIV/AIDS. Jakarta : Dep.Kes RI
   Testing HIV AIDS Secara
   Sukarela (VCT). Jakarta :           Nursalam (2003). Konsep &
   Dep.Kes RI                              Penerapan           Motodelogi
                                           Penelitian Ilmu Keperawatan.
DEPKES     RI   (2004).  Modul             Surabaya : Salemba Medika
   Pelatihan Konseling dan Tes
   Sukarela HIV (VCT). Jakarta :       Surjadi,       Djidji     (2001).
   Dep.Kes RI                              Kepemimpinan da alam terbuka.
                                           Jakarta : Lembaga Administrasi
Djauzi, Samsuridjal (2001). Buku           Negara
    Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
    II. Ed. 3. Balai Penerbit FKUI.    Silfanus     J.   Fonny      (2003).
    Hal : 81                                Kebijaksanaan Penanggulangan
                                            HIV/AIDS di Indonesia. Jakarta :
Imam    Kurnen,   DSJ   (2006).             Dep.Kes RI
   Konseling Infeksi HIV/AIDS.
   Surabaya : Tim Medik AIDS           Tim Medis RSU Dr. Wahidin Sudiro
   RSUD Dr. Soetomo FK. Univ.             Husodo. (2002). Epidemiologi
   Airlangga                              dan    Surveilans  HIV/AIDS.
                                          Mojokerto
Mansjoer, Arif (2000). Kapita
   Selekta Kedokteran. Jilid 2. Ed.
                                                                                54




  KETERKAITAN PENDIDIKAN DAN PERENCANAAN KEHAMILAN
      DENGAN KELENGKAPAN PELAYANAN ANTENATAL
             DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
                 KABUPATEN MOJOKERTO

                          Elies Meilinawati SB, Ifa Roifah


                                    ABSTRAK
        Antenatal care aims to prevent and treat conditions that can threaten the
health of the fetus / new born baby and or mother. Indicators of access monitoring
coverage of antenatal care use K1, service indicator pregnant women with K4
scope. K1 and K4 coverage gap in the region indicate that there are still women
who are not pregnant monitored by default, if the dropout rate K1 - K4 more than
10 % means that the region is problematic and needs to search. The purpose of
this study was to analyze the relationship between education and pregnancy
planning with complete antenatal care in women in Mojokerto regency.
The study design was cross sectional. The number of respondents was 140 K1
ever recorded in 2011. Data were analyzed with bivariate and multivariable chi
square test and multiple logistic regression. The results of this study are in
bivariate relationship exists between education (p = 0.001) and planning a
pregnancy (p < 0.001) with complete antenatal care , the results obtained in
multi- variable education ( p = 0.012 , POR = 3.299 , IK95 % = 1.307 to 8.327 )
and planning a pregnancy ( p < 0.001 , POR = 8.817 , IK95 % = 3.843 to
20.233).The conclusions of this study are mothers with secondary education up
and have a mother who is planning a pregnancy completeness of antenatal care
compared to mothers with primary education and women with unplanned
pregnancies                                                                       .

Keywords : antenatal care , education , planning a pregnancy

PENDAHULUAN                                  sesuai dengan standar pelayanan
   Pembangunan               kesehatan       antenatal yang ditetapkan dalam
diarahkan     untuk       meningkatkan       Standar     Pelayanan      Kebidanan
kesadaran, kemauan dan kemampuan             (SPK).Perawatanantenatalbertujuan
hidup sehat bagi setiap orang agar           untuk                   mencegahatau
peningkatan     derajat      kesehatan       mengidentifikasidan
masyarakat                       dapat       mengobatikondisi                 yang
terwujud.Pelayanan kesehatan oleh            dapatmengancam
tenaga kesehatan untuk ibu selama            kesehatanjanin/bayi baru lahirdan /
masa kehamilannya, dilaksanakan              atauibu.1Indikator pemantauan akses
                                                                                 55




pelayanan antenatal menggunakan            tahun 2011 mengalami peningkatan,
cakupan K1, indikator pelayanan ibu        tahun 2010 angka drop out tidak
hamil dengan cakupan K4. Adanya            mencapai 10%, pada tahun 2011
kesenjangan antara cakupan K1-K4           angka drop out menjadi 11,3%, pada
menunjukkan masih adanya drop out          tahun 2010 dari 27 puskesmas di
pelayanan antenatal, artinya masih         Kabupaten Mojokerto terdapat 10
ada ibu hamil yang tidak terpantau         puskesmas yang angka drop out K1-
kondisi      kehamilannya         sesuai   K4 lebih dari 10%, sedangkan tahun
standar,jika angka drop out K1-K4          2011 jumlah puskesmas yang angka
lebih dari 10% berarti wilayah             drop out K1-K4 lebih dari 10%
tesebut     bermasalah     dan    perlu    mengalami peningkatan menjadi 16
penelusuran.2                              puskesmas, dimana 4 puskesmas
   Target       capaian      pelayanan     diantaranya telah melampaui target
antenatal    sesuai      dengan    SPM     capaian K1 dan 1 puskesmas telah
kabupaten dan kota tahun 2008              melampaui target K4.6, 7Puskesmas
adalah kunjungan K1 100% pada              Kedungsari, Ngoro dan Dlanggu
tahun 2015, serta kunjungan K4 95%         merupakan 3 wilayah puskesmas
pada tahun 2015.3 Capaian pelayanan        dengan drop out tertinggi yaitu
antenatal di Indonesia berdasarkan         melebihi 20% pada tahun 2011.
Profil Data Kesehatan Indonesia                   Analisis pemanfaatan layanan
tahun 2011 didapatkan hasil cakupan        kesehatan sering didasarkan pada
K1 95,71%, cakupan K4 88,27%.4 Di          model perilaku yang dikembangkan
Jawa Timur tahun 2011 cakupan K1           oleh     Andersen     dan      Newman.8-
96,63% dan cakupan K4 88,25%.5             10Kerangka    konseptual membantu
   Kabupaten Mojokerto mengalami           pemahaman      lebih    baik      tentang
penurunan cakupan K1 dan K4 pada           hubungan antara determinan (faktor
tahun 2011 dibandingkan tahun 2010         penentu) sosial, determinan          dari
yaitu K1 97,81% dan K4 90,58%              sistem    perawatan    kesehatan     dan
pada tahun 2010 menjadi K1 97,2%           determinan          individu        pada
dan K4 85,9%.4, 6Angka drop out            penggunaan                     perawatan
K1-K4 di Kabupaten Mojokerto               kesehatan.8Konsep faktor penentu
                                                                                            56




(determinan) individu pemanfaatan                 pelayanan antenatal pada ibu di
pelayanan      kesehatan       terdiri     dari   wilayah kerja puskesmas.
komponen predisposisi, komponen                   HASIL PENELITIAN
pemungkin            dan          komponen           Hasil pengambilan data meliputi
kebutuhan       sehubungan             dengan     karakteristik      subjek       penelitian,
tingkat     penyakit.8-10Tujuan          dalam    hubungan        antar      variabel     yang
penelitian ini adalah menganalisis                dianalisis   secara        bivariabel    dan
hubungan            pendidikan             dan    multivariabel, akan disajikan dalam
perencanaan         kehamilan          dengan     bentuk narasi dan tabel.
pemanfaatan         pelayanan      antenatal      Tabel      1 Distribusi Frekuensi
                                                          Karakteristik Umum Subjek
pada ibu di wilayah kerja puskesmas
                                                          Penelitian
di Kabupaten Mojokerto.
METODE
    Rancangan penelitian ini adalah
analaitik       corelation             dengan
pendekatan      crossectional.         Jumlah
responden adalah 140 orang yang
pernah tercatat K1 pada tahun 2011
                                                          Tabel 1 dapat dilihat bahwa
Teknik pengambilan sampel pada
                                                  pendidikan sebagian besar responden
penelitian       kuantitatif           dengan
                                                  (63%) adalah pendidikan dasar.Jarak
proportional        random        sampling.
                                                  tempuh sebagian besar responden
Analisis     data     dilakukan          secara
                                                  (79%) lebih dekat dibandingkan
bivariabel dengan uji chi square dan
                                                  jarak tempuh rata-rata responden,
multivariabel dengan regresi logistik
                                                  Sebagian besar responden (70%)
berganda.      Kemaknaan          hasil     uji
                                                  menggunakan             alat   transportasi
ditentukan            dengan              nilai
                                                  berupa sepeda motor untuk menuju
p<0,005.Hipotesis          statistik     dalam
                                                  tempat       pelayanan          kesehatan.
penelitian ini tidak ada hubungan
                                                  responden        dengan         kehamilan
pendidikan          dan        perencanaan
                                                  direncanakan      adalah       66%,     serta
kehamilan       dengan         pemanfaatan
                                                  sebagian besar (66%) responden
                                                                                 57




dengan       pemanfaatan       pelayanan   pelayanan antenatal dengan nilai OR
antenatal yang lengkap.                    = 3,299 (IK 95% : 1,307-8,327) dan
Tabel 2Analisis bivariabel hubungan        p = 0,012 yang artinya ibu yang
     pendidikan ibu, perencanaan
                                           berpendidikan rendah mempunyai
     kehamilan dengan kelengkapan
     pelayanan      antenatal    di        risiko tidak melakukan pemanfaatan
     Kabupaten Mojokerto
                                           pelayanan antenatal lengkap 3,299
                                           kali lebih tinggi daripada ibu yang
                                           berpendidikan menengah ke atas
                                           serta dapat diketahui bahwa variabel
                                           yang     paling     menentukan    dalam
                                           pemanfaatan        pelayanan    antenatal
                                           adalah       perencanaan       kehamilan
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat          dengan ditunjukkan hubungan yang
bahwa pendidikan dan perencanaan           signifikan        antara    perencanaan
                                           kehamilan         dengan    pemanfaatan
kehamilan        berhubungan     dengan
                                           pelayanan antenatal dengan nilai OR
kelengkapan       pelayanan    antenatal   = 8,817 (IK 95% : 3,843-20,233) dan
(p<0,005).                                 p<0,001 yang artinya ibu yang tidak
                                           merencanakan               kehamilannya
Tabel     3 Analisis Multivariabel
         hubungan pendidikan ibudan        mempunyai risiko tidak melakukan
         perencanaan        kehamilan      pemanfaatan        pelayanan    antenatal
         dengan          kelengkapan
         pelayananantenatal        di      lengkap 8,817 kali lebih tinggi
         Kabupaten          Mojokerto      daripada ibu yang merencanakan
                                           kehamilan. Model akhir hubungan
                                           pendidikan         dan      perencanaan
                                           kehamilan         dengan    pemanfaatan
                                           pelayanan antenatal pada ibu di
                                           wilayah kerja puskesmas adalah
         Tabel     3       menunjukkan     Y = -4,396 + 1,193 pendidikan +
hubungan yang signifikan antara                   2,177 perencanaan kehamilan
pendidikan       dengan    pemanfaatan
                                                                                       58




PEMBAHASAN                                        kunjungan yang lebih banyak 22%
1. Hubungan                     Antara            dibandingkan      dengan     ibu   yang
       Pendidikan             Dengan              mempunyai pendidikan rendah.8
       Pemanfaatan        Pelayanan                  Pendidikan      responden       yang
       Antenatal                                  terbanyak adalah pendidikan dasar
       Hasil     penelitian menunjukkan           yaitu SD (Sekolah Dasar) dan SMP
pendidikan mempunyai hubungan                     (Sekolah     Menengah         Pertama),
yang       signifikan     dan         bermakna    sehingga seperti yang diungkapkan
dengan          pemanfaatan         pelayanan     di atas bahwa ibu yang memiliki
antenatal, yang artinya bahwa ibu                 pendidikan dasar, cenderung untuk
yang            berpendidikan            dasar    melakukan pelayanan antenatal yang
mempunyai risiko tidak melakukan                  tidak lengkap. Pendidikan ibu yang
pelayanan antenatal yang lengkap                  rendah       cenderung        membuat
2,56 kali dibandingkan ibu dengan                 pemahaman ibu tentang pemeriksaan
pendidikan              menengah            ke    kehamilan tidak sebaik ibu dengan
atas.Pemanfaatan                    pelayanan     pendidikan      menengah     ke    atas,
antenatal meningkat seiring dengan                sehingga ibu tidak dapat membuat
peningkatan pendidikan.Pendidikan                 keputusan yang tepat untuk segera
mempunyai              pengaruh           yang    melakukan pemeriksaan kehamilan
signifikan       terhadap       pemanfaatan       ataupun     melakukan      pemeriksaan
pelayanan antenatal oleh ibu hamil.8,             kehamilan dengan lengkap.
11-16Hasil       penelitian     ini     sejalan   2. Hubungan Antara Perencanaan
dengan yang diungkapkan World                        Kehamilan Dengan Pemanfaatan
Demographic and Health Survey                        Pelayanan Antenatal
(DHS)          bahwa    perempuan         yang       Penelitian     ini      menunjukkan
mempunyai tingkat pendidikan level                adanya hubungan yang signifikan
ke dua dan selanjutnya memiliki                   dan bermakna antara perencanaan
kunjungan antenatal lebih banyak 2                kehamilan       dengan     pemanfaatan
kali       daripada       wanita         tidak    pelayanan antenatal dimana ibu yang
berpendidikan.17              Ibu         yang    tidak merencanakan kehamilannya
berpendidikan lebih tinggi memiliki               mempunyai risiko tidak melakukan
                                                                                           59




pemanfaatan     pelayanan         antenatal   membuat ibu merasa tidak nyaman
lengkap 8,817 kali lebih tinggi               dan tidak siap ditinjau dari segi
daripada ibu yang merencanakan                psikis     dan        finansial,      sehingga
kehamilan,      serta       perencanaan       ketidaksiapan         ibu     membuat        ibu
kehamilan merupakan faktor yang               kesulitan dalam membuat keputusan
paling dominan dalam pemanfaatan              tentang pemeriksaan kehamilan yang
pelayanan antenatal.                          harus dilakukan. Kehamilan yang
   Beberapa       kondisiyang       sering    dikarenakan kegagalan penggunaan
dijumpai dankondisi individu seperti          alat kontrasepsi sebagai bentuk dari
keinginan ntukmemilikianakterakhir            kehamilan yang tidak direncanakan,
danjumlah       anak        sebelumnya,       sehingga     diperlukan            pemahaman
terbuktimenjadi      penting        dalam     yang     baik         dari      ibu        untuk
penentuan pemanfaatan pelayanan               menggunakan            alat     kontrasespsi
kesehatan.18Penelitian      ini     sesuai    secara benar. Kehamilan di luar
dengan hasil penelitian dari Bahilu,          nikah juga sebagai bentuk dari
dkk (2009) yang menyatakan wanita             kehamilan yang tidak direncanakan.
yang      kehamilan          terakhirnya      Kehamilan        di      luar      nikah     ini
diinginkan lebih cenderung untuk              membawa dampak psikologis yang
menggunakan ANC dibandingkan                  kuat pada ibu, dimana pada akhirnya
wanita yang memiliki kehamilan                ibu yang mengalami kehamilan di
yang tidak direncanakan. Wanita               luar nikah cenderung untuk tidak
yang     menginginkan        kehamilan        memanfaatkan pelayanan antenatal
mereka lebih mungkin menggunakan              secara lengkap dikarenakan adanya
perawatan kehamilan dibandingkan              rasa takut pada orang tua dan rasa
dengan         wanita          yangtidak      malu pada orang lain, sehingga tidak
menginginkan kehamilan mereka.13              melakukan pemeriksaan kehamilan.
   Perencanaan kehamilan membuat              3.   Hubungan           pendidikan          dan
ibu merasa lebih mudah menerima                    perencanaan kehamilan dengan
kehamilannya       karena         memang           pemanfaatan                   pelayanan
kehamilan      tersebut      diinginkan.           antenatal care di wilayah kerja
Kehamilan yang tidak direncanakan                  puskesmas.
                                                                                           60




      Pendidikan mungkin memiliki               dan melahirkan sehubungan dengan
      efek pada perilaku kesehatan              adanya beban ekonomi dan beban
      karena       pengetahuan          yang    psikis yang diterima lebih berat
      mereka         miliki.Pemanfaatan         daripada ibu dengan kehamilan pada
      pelayanan antenatal meningkat             paritas yang rendah dan kehamilan
      seiring      dengan      peningkatan      yang direncanakan.
      pendidikan.19             Pendidikan         Konsep           perilaku      kesehatan
      responden yang sebagian besar             individu berdasarkan Health Belief
      merupakan       pendidikan        dasar   Models (HBM) yang menyatakan
      cenderung                      membuat    bahwa seseorang akan melakukan
      pemahaman ibu tidak sebaik ibu            tindakan      pencegahan             penyakit
      dengan pendidikan menengah                bergantung pada persepsinya bahwa
      ke atas sehingga ibu tidak dapat          mereka      secara         pribadi     rentan
      membuat keputusan yang tepat              terhadap kondisi/masalah kesehatan,
      untuk melakukan pemanfaatan               kosekuensi      dari       kondisi/masalah
      pelayanan      antenatal        dengan    kesehatan     akan      serius,      perilaku
      lengkap.                                  pencegahan          efektif       mencegah
Wanita dengan paritas yang tinggi               kondisi/masalah kesehatan, manfaat
dan      kelompok             yang      tidak   mengurangi          ancaman          masalah
mengharapkan kehamilan cenderung                kesehatan lebih besar dibanding
menggunakan pelayanan antenatal                 biaya pengobatan. Formulasi yang
lebih sedikit.20,        21   Wanita yang       lebih    baru       dari      HBM       telah
menginginkan kehamilan mereka                   memasukkan self-efficacy sebagai
lebih      mungkin            menggunakan       faktor        kunci.           Self-efficacy
perawatan kehamilan dibandingkan                dipengaruhi oleh variabel mediasi
dengan          wanita        yang      tidak   dan pada gilirannya mempengaruhi
menginginkan kehamilan mereka.13                ekspektasi. Selain itu, beberapa
Pada     paritas     yang      tinggi    dan    bentuk       dari       HBM           melihat
kelompok yang tidak mengharapkan                kerentanan umum untuk penyakit
kehamilan, ibu merasa tidak siap                sebagai faktor kunci dalam model.
dan merasa berat bila harus hamil               Namun, substitusi dari kasus umum
                                                                                    61




atas konsekuensi tertentu hanya                SARAN
tepat jika niat perilaku pencegahan               Bagi bidan disarankan untuk
adalah          untuk        meningkatkan      lebih     meningkatkan          kualitas
kesehatan secara umum.22Andersen               pelayanan, terutama yang berkaitan
juga     memasukkan           sikap     dan    dengan     memberikan          konseling
keyakinan           sebagai           faktor   perencanaan kehamilan pada saat
pedisposisi, tetapi pada penelitian            melakukan pemeriksaan kehamilan
ini tidak diteliti sikap, motivasi dan         serta    meningkatkan      kerjasama
self-efficacy ibu untuk melakukan              dengan berbagai pihak, tidak hanya
pemanfaatan pelayanan kesehatan                dengan kader tetapi juga dengan
sehingga tidak diketahui bagaimana             sesama bidan.
sikap, motivasi dan niat ibu untuk             2. Bagi Dinas Kesehatan disarankan
memanfaatkan pelayanan antenatal               untuk selalu melakukan pembinaan
secara lengkap.                                kepada    bidan    berkaitan     dengan
                                               pencatatan dan pelaporan terutama
SIMPULAN                                       pada bidan praktik mandiri serta
       Simpulan dari penelitian ini            meningkatkan      pemanfaatan      buku
adalah      pemanfaatan          pelayanan     kesehatan ibu dan anak (buku KIA)
antenatal secara lengkap dilakukan             untuk    memantau     kesehatan      ibu
pada      ibu      dengan       pendidikan     hamil.
menengah          ke     atas     danpada
kehamilan         yang       direncanakan.     DAFTAR PUSTAKA
Perencanaan kehamilan merupakan                Banta. What is efficacy/effectiveness
                                                 of antenatal care and the financial
determinan individu yang paling
                                                 and organizational implications?
dominan          dalam        kelengkapan        WHO Regional Office for Europe
                                                 [Internet]. 2003 10 Juli 2012.
pelayanan antental. Kehamilan yang
                                                 Available                     from:
tidak direncanakan membuat ibu                   http://www.euro.who.int/Docume
                                                 nt/E82996.pdf.
tidak tahu bahwa dirinya hamil
                                               Departemen Kesehatan Republik
sehingga         terlambat      melakukan        Indonesia. Pedoman Pemantauan
                                                 Wilayah Setempat Kesehatan Ibu
pemanfaatan pelayanan antenatal.
                                                 dan Anak (PWS-KIA). Jakarta:
                                                 Departemen Kesehatan Republik
                                                                           62




   Indonesia Direktorat Jenderal           Bidang      Kecamatan      Sarudik
   Bina Pelayanan Medik.2009.              Kabupaten Tapanuli Tengah
Departemen Kesehatan RI. Standar           [Skripsi]. Medan: Universitas
   Pelayanan      Minimal     Bidang       Sumatera Utara; 2010.
   Kesehatan di Kabupaten/Kota.         Tura G. Antenatal Care Service
   Jakarta:    Biro    Hukum     dan       Utilization and Associated Factors
   Organisasi      Setjen     Depkes       in Metekel Zone, Northwest
   RI.2008.                                Ethiopia. Ethiop J Health Sci.
Kementerian Kesehatan Republik             2009 July 2009;19 (2):111-9.
   Indonesia. Profil Data Kesehatan     Bahilu T, G Abebe, Mariam, Y
   Indonesia Tahun 2011. Jakarta:          Dibaba.       Factors     affecting
   Kementerian Kesehatan RI.2012.          antenatal care utilization in Yem
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa              Special Woreda, Southwestern
   Timur. Selayang Pandang 2011.           Ethiopia. Ethiop J Health Sci.
   Dinas Kesehatan Provinsi Jawa           2009;19:1(March 2009):45-51.
   Timur, 2012.                         Manna PK, D De, D Ghosh.
Dinas       Kesehatan     Kabupaten        Knowledge Attitude and Practices
   Mojokerto. Profil Kesehatan             for Antenatal Care and Delivery
   Kabupaten Mojokerto tahun 2010.         of The Mothers of Tea Garden in
   Mojokerto: Dinas Kesehatan              Jalpaiguri and Darjeeling District,
   Kabupaten Mojokerto.2011.               West Bengal National Journal of
Dinas       Kesehatan     Kabupaten        Community Medicine 2011;2(1).
   Mojokerto. Profil Kesehatan          Abedin S, R Islam, T Hossain.
   Kabupaten Mojokerto tahun 2011.         Antenatal Care During Pregnancy
   Mojokerto: Dinas Kesehatan              : A Study on Naogaon District of
   Kabupaten Mojokerto.2012.               Bangladesh. The Socio Sciences.
Beeckman K, F Louckx, K Putman.            2008;3(8):537-41.
   Determinants of the number of        Awusi VO, EV Anyawu, V Okeleke.
   antenatal visits in a metropolitan      Determinants of Antenatal Care
   region. BMC Public Health               Services Utilization in Emevor
   2010;10:527.                            Village, Nigeria. Benin Journal of
Andersen R, JF Newman. Societal            Postgraduate Medicine. 2009;11
   and individual determinants of          Suplemental.
   medical care utilization in the      Pradhan A. Situation of antenanal
   United States. Milbank Mem              care and delivery practices.
   Fund Q Health Soc. 1973;51:95-          Kathmandu University Medical
   124.                                    Journal. 2005;3(11):266-70.
Andersen RM. Revisiting Behavioral      Ortiz AV. Determinants of demand
   model and acces to medical care:        for antenatal care in Columbia.
   does it matter? J Health Soc            Rosario: Univesidad del Rosario;
   Behav. 1995;36:1-10.                    2007.
Situmeang R. Pengaruh Faktor            Sondakh NL. Quality of Antenatal
   Predisposisi, Pemungkin dan             Care Service in Indonesia : Do
   Kebutuhan terhadap Pemanfaatan          Mother's Characteristics Play an
   Sarana Pelayanan Antenatal oleh         Important role? [Tesis]. Mahidol:
   Ibu Hamil di Kelurahan Pasir            Mahidol University; 2003.
                                         63




Ali AAA, MM Osman, AO Abbaker,
   I Adam. Use of Antenatal Care
   Services in Kassala, Eastern
   Sudan. BMC Pregnacy & Birth
   2010;10:67.
Asiimwe      KJ.    Utilization    Of
   Antenatal     Services     Among
   Adolescents       In       Western
   Uganda2007. Available from:
   http://uaps2007.princeton.edu/pap
   ers/70085.
Redding CA, Rossi JS, Rossi RS,
   Velicer WF, Prochaska JO. Health
   Behavior        Models         The
   International Electronic Journal of
   Health Education. 2003;3(spesial
   issue):180-93.
                                                                                  65



  PENGARUH SENAM NIFAS TERHADAP PROSES INVOLUSI UTERI
     PADA IBU POST PARTUM DI BPM Hj.NINIK ARTININGSIH,
       SST.M.KES WILAYAH BLOOTO KOTA MOJOKERTO


                                     NOER SAUDAH
                                    ARIU DEWI YANTI

                                       ABSTRACT

         Motivation is a physiologi and psychologi condition in a someone that
motivate to do certain activity in order to reach out for direction( necessity). The
motivations function is to motivate someone to do certain activity. Its also as an
activate or a motor that give energy to someone to do assignment. This research
is to get the description of nifas mothers description to follow nifas gym in BPM
Hj.Ninik Artiningsih, SST.M.Kes, Blooto Mojokerto district. The research is use
descriptive methode, the population are 29 respondens. It’s take by consecutive
sampling. the data is take by quetioner in April – Mei 2013. Then the data is
analize by editing, coding,scoring and tabulating. The result of the research
shows. That the motivation of nifas mother to follow nifas gym is medium and the
total is 16 (55,2%) respondens. Motivation are influences by the age, educations
level, occupations and parity of respondens. From these conclution, its better for
respondens to improve their proclivity to look for information through healthy
cares place, mass media and electronic media in order that they can improve their
knowledge about nifas gym, and motivate to follow nifas gym.

Key words : Motivation, Nifas Periode, Nifas gym.

PENDAHULUAN
    Masa nifas             adalah    masa     memulihkan        bentuk   tubuh   dan
dimulai setelah partus selesai dan            dinding    perut     seindah   mungkin
berakhir kira - kira 6 minggu. Akan           (Mochtar, 1998). Melihat ibu-ibu
tetapi seluruh alat genital baru pulih        muda yang baru mempunyai anak
kembali      seperti      sebelum     ada     dua atau tiga orang, dinding perutnya
kehamilan dalam waktu 6 minggu                sudah begitu kendur dan jika hamil
(Sarwono, 2007). Dalam masa nifas,            dan bersalin beberapa kali, maka
akan      terjadi      perubahan     yang     perut ibu sudah tampak seperti perut
signifikan pada tubuh ibu salah               klemping/perut buncit. Satu-satunya
satunya adalah mengalami perubahan            cara      untuk      mencegah      atau
fisik (Uzzi Reiss, 2004) Umumnya              mengurangi         timbulnya    kondisi
yang   menjadi         perhatian    wanita    tersebut adalah senantiasa melakukan
setelah persalinan adalah bagaimana           senam nifas sesudah setiap kali
                                                                                              66



persalinan          (Maryunani,         2009).   ibu nifas, didapat 8 orang mau
Senam nifas adalah senam yang                    mengikuti senam nifas dan 2 orang
terdiri     atas     sederetan     gerakan-      tidak       mengikuti            diantaranya
gerakan tubuh yang dilakukan ibu-                mengatakan tidak mau mengikuti
ibu       setelah     melahirkan         guna    senam nifas adalah dikarenakan ibu
mempercepat pemulihan keadaan ibu                nifas beralasan sibuk dalam merawat
(Sujiyatini, 2010). Manfaat senam                bayinya.
nifas adalah mengencangkan otot                           Kebanyakan            ibu       nifas
perut,     liang     senggama,     otot-otot     enggan           untuk           melakukan
sekitar     vagina     maupun      otot-otot     pergerakan,        mereka            khawatir
dasar panggul. Selain itu, kondisi               gerakan     yang        dilakukan       justru
umum       ibu      menjadi     lebih    baik,   menimbulkan dampak seperti nyeri
rehabilitasi atau pemulihan jadi bisa            dan     perdarahan        (Hellen        Farer
lebih cepat, dan menumbuhkan /                   :2001). Jika ibu tidak melakukan
memperbaiki             nafsu           makan    senam nifas, maka dikhawatirkan
(Sujiyatini, 2010).                              yang       pertama        akan          terjadi
          Idealnya, ibu harus menerima           kelemahan        pada     otot    didinding
penyuluhan            tentang           senam    perut. Otot-otot perut terdiri dari
pascanatal pada saat antenatal dan               lapisan-lapisan      serabut         otot-otot,
dianjurkan untuk sesegera mungkin                beberapa berjalan lurus ke atas atau
memulai       pada     masa      pascanatal.     kebawah          abdomen,            beberapa
Namun sayangnya, banyak ibu yang                 berjalan miring dan menyilang.
tidak mengikuti kelas antenatal dan              Serabut vertical diberi nama otot
mereka inilah yang memerlukan                    rectus abdominis, memebentuk pita
tutor yang diawasi secara tunggal                ganda      dan    cenderung           terpisah
pada masa pascanatal (Brayshaw,                  karena peregangan selama hamil,
2008).                                           secara bersamaan kelompok otot ini
          Berdasarkan                    studi   membentuk korset yang menyokong
pendahuluan yang dilakukan pada                  organ perut dan tulang belakang.
tanggal 13 bulan Januari tahun 2013              Apabila     korset       ini     mengalami
diBPM Hj.NinikArtiningsih, wilayah               kelemehan akan menjadi penyebab
Blooto Kota Mojokerto terdapat 10                sakit pinggang dan timbulnya celah
                                                                                         67



pada pertengahan otot dinding perut
(peritchard,dkk,1991:425            didalam     METODE PENELITIAN
buku Nursalam dan Siti Pariani                          Sampel            adalah      bagian
2001).                                          populasi yang akan diteliti atau
         Yang       kedua    akan     terjadi   sebagian jumlah dari karakteristik
kelemahan otot dasar panggul, otot              yang dimiliki oleh populasi (Hidayat,
dasar        panggul        mempengaruhi        2007). Pada penelitian ini sampel
efisiensi      kandung       kemih       dan    berjumlah 29 responden, diambil dari
menyokong           isi    panggul.     Bila    ibu     nifas      di      BPM      Hj.Ninik
mengalami            kelemahan         akan     Artiningsih,        SST.M.Kes           yang
mengakibatkan             kencing      tidak    memenuhi kriteria :
terkontrol, tidak jarang bila ligament                  Kriteria Inklusi
rotundum       kendor       mengakibatkan               Kriteria        inklusi    merupakan
uterus jatuh ke belakang. Selain                kriteria dimana subyek penelitian
melahirkan oleh karena ligament,                dapat     mewakili          dalam     sampel
facia,      jaringan      penunjang      alat   penelitian yang memenuhi syarat
genetalia menjadi kendor ( Sarwono,             sebagai sampel (Hidayat, 2007).
1994:207 didalam buku Nursalam                          Dalam penelitian ini kriteria
dan Siti Pariani 2001).                         inklusinya adalah :
            Upaya            meningkatkan       a) Ibu nifas yang bersedia diteliti.
motivasi ibu nifas mengikuti senam              b) Ibu nifas bisa membaca dan
nifas dapat dilakukan dengan cara                  menulis
penyuluhan tentang senam nifas                  c) Ibu nifas yang telah melahirkan
meliputi manfaat, tujuan dan teknik                bayinya (dimulai setelah hari
atau cara senam nifas. Sekaligus                   pertama post partum sampai 6
mempraktekkan bagaimana teknik                     minggu yang fisiologis).
atau cara senam nifas. Berdasarkan
fenomena diatas saya tertarik untuk             Kriteria Eksklusi
mengetahui sejauh mana motivasi                          Kriteria Eksklusi merupakan
ibu nifas mengikuti senam nifas di              kriteria dimana subyek penelitian
BPM Hj.Ninik Artiningsih, wilayah               tidak dapat mewakili sampel. Karena
Blooto Kota Mojokerto.
                                                                                                           68



tidak    memenuhi              syarat       sebagai   Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
                                                       Umur         di       BPM        Hj.Ninik
sampel penelitian.                                     Artiningsih,SST.M.Kes,Wilayah Blooto Kota
                                                       Mojokerto pada bulan April-Mei 2013.
         Kriteria          Eksklusi            dala     No          Umur          Frekuensi       Prosentase
                                                        1.        <20 Tahun           7             24,1%
penelitian ini adalah :                                 2.        21-35 tahun        16             55,2%
                                                        3.        >35 Tahun           6             20,7%
a) Ibu nifas yang tidak berada                                      Jumlah           29             100%

      ditempat           saat           dilakukan
                                                      Tabel     4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
                                                              Pendidikan di BPM Hj.Ninik Artiningsih,
      penelitian.                                             SSt.M.Kes,Wilayah Blooto Kota Mojokerto
                                                              Pada Bulan April-Mei 2013.
b) Ibu         nifas     yang      mempunyai
                                                        No          Pendidikan        Frekuensi     Prosentase
      gangguan mental.                                   1         Tidak sekolah          1            3,4%
                                                         2               SD               4           13,8%
                                                         3              SMP              10           34,5%
c) Ibu         nifas     yang      mempunyai             4             SMA               14           48,3%
                                                         5        Perguruan Tinggi        -              -
      komplikasi               saat           nifas                   Jumlah             29           100%

      (perdarahan, infeksi)
                                                      Tabel     4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan
d) Ibu nifas yang di rujuk kerumah                            Pekerjaan di BPM Hj.Ninik Artiningsih,
                                                              SST.M.Kes, wilayah Blooto Kota Mojokerto
      sakit.                                                  Pada Bulan April-Mei 2013
                                                       No         Pendidikan         Frekuensi     Prosentase

                                                        1         Tidak bekerja         10           34,4%
HASIL PENELITIAN                                        2            Bekerja            19           65,6%
                                                                     Jumlah             29           100%
        Hasil     penelitian          ini    dibagi
                                                      Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jumlah
menjadi dua bagian yaitu data umum                          Anak di BPM Hj.Ninik Artinngsih,
                                                            SST.M.Kes, Wilayah Blooto Kota Mojokerto
dan data khusus. Data umum berupa                           Pada Bulan April-Mei 2013.

karakteristik           responden             yang          No      Jumlah anak       Frekuensi     Prosentase
                                                             1         1 anak            13           44,8%
meliputi umur, pendidikan, pekerjaan                         2        2-4 anak           14           48,3%
                                                             3        ≥4 anak             2            6,9%
                                                             4        ≥5 anak
dan     jumlah         anak.     Data       khusus
                                                                       Jumlah             29          100%
meliputi gambaran motivasi ibu nifas
                                                      Gambar 4.5 Tabel distribusi frekuensi berdasarkan
dalam mengikuti senam nifas di                            tingkat motivasi di BPM Hj.Ninik Artiningsih,
                                                          SST.M.Kes, Wilayah Blooto Kota Mojokerto
BPM                                     Hj.Ninik          Pada Bulan April-Mei 2013.

                                                            No        Motivasi        Frekuensi     Prosentase
Artiningsih,SST.M.Kes
                                                              1         Kuat              10          34,5%
Gambaran Tempat Penelitian                                    2        Sedang             16          55,2%
                                                              3        Lemah               3          10,3%
Penelitian ini dilakukan pada bulan
                                                                       Jumlah             29          100%
April sampai mei 2013 di BPM
Hj.Ninik        Artiningsih,       SST.M.Kes
yang berada di Wilayah Blooto Kota                    PEMBAHASAN
Mojokerto                                                 Hasil  penelitian                            yang
                                                      dilaksanakan pada bulan April-Mei
                                                                                   69



2013 di BPM Hj.Ninik Artiningsih,           matang, sehingga responden dengan
SST.M.Kes wilayah Blooto Kota               mudah melahirkan kekuatan untuk
Mojokerto didapatkan 29 responden           memotivasi dirinya sendiri untuk
menunjukkan      bahwa       responden      melakukan senam nifas.
terbanyak adalah      yang memiliki         2. Dilihat dari segi pendidikan
motivasi sedang sebanyak 16 orang                  Berdasarkan         tabel       4.2
(55,2%) dalam mengikuti senam               menunjukkan          bahwa       responden
nifas. Dengan motivasi yang sedang          terbanyak adalah yang berpendidikan
diharapkan      responden,         dapat    SMA sebanyak 14 orang (48,2%).
meningkatkan    motivasinya       dalam     Pada      umumnya       semakin     tinggi
melaksanakan senam nifas.                   pendidikan maka akan semakin baik
1. Dilihat dari segi umur.                  pula       tingkat      pengetahuannya.
       Berdasarkan       tabel       4.1    Pengetahuan itu sendiri merupakan
menunjukkan bahwa            responden      kemampuan            seseorang       untuk
terbanyak adalah yang berumur 21-           mengingat fakta, simbol, prosedur,
35 tahun sebanyak 16 orang (55,1%).         teknik dan teori (Notoatmodjo 1996
Motivasi adalah tingkah laku yang           didalam buku Nursalam dan Siti
diarahkan untuk mencapai tujuan.            Pariani     2001).      Semakin     tinggi
Motivasi ini menjadi proses yang            pendidikan, maka semakin baik pula
dapat menjelaskan mengenai tingkah          dalam mengaplikasi materi senam
laku     seseorang    yang        dalam     nifas yang diperoleh. Responden
melakukan tugas tertentu dan dengan         yang memiliki pendidikan tinggi
makin bertambahnya usia seseorang           akan      lebih      termotivasi    dalam
akan makin banyak pula motif-motif          melaksanakan            senam        nifas
yang dimiliki (Hidayat, 2009). Umur         dibandingkan         dengan      responden
responden cukup dewasa sehingga             yang memiliki pendidikan rendah
menyebabkan      responden        cukup     sehingga involusi uterus akan lebih
memiliki kematangan untuk berfikir          baik      pada        responden      yang
dan dengan semakin bertambahnya             berpendidikan tinggi.
usia    responden,    maka        tingkat   3. Dilihat dari segi pekerjaan
pengalaman akan semakin bertambah                  Berdasarkan         tabel       4.3
dan    kedewasaan    akan        semakin    menunjukkan          bahwa       responden
                                                                                            70



terbanyak adalah bekerja sebanyak                  tinggi     pula       tingkat      motivasi
19       orang     (65,5%)        .     Bekerja    seseorang. Hal ini ini dikarenakan
merupakan kegiatan yang menyita                    pengalaman memiliki pengaruh besar
waktu dan dengan bekerja itu akan                  terhadap motivasi.
mempunyai             pengaruh          terhadap
                                                   KESIMPULAN
kehidupan        keluarga         dan     sosial
                                                        Berdasarkan hasil penelitian
(Markum didalam buku Nursalam
                                                   yang      didapatkan        maka       dapat
dan Siti Pariani 2001). Responden
                                                   disimpulkan bahwa pada dasarnya
yang tidak bekerja memungkinkan
                                                   setengahnya (60%) motivasi ibu
memiliki lingkup pergaulan atau
                                                   nifas dalam melaksanakan senam
sosialisasi yang kurang dibandingkan
                                                   nifas di BPM Hj.Ninik Artiningsih,
dengan       mereka         yang         bekerja
                                                   SST.M.Kes, Wilayah Blooto Kota
sehingga sumber informasi yang
                                                   Mojokerto adalah sedang. Hal ini
didapat     juga      kurang,         khususnya
                                                   dipengaruhi beberapa faktor, antara
tentang senam nifas. Hal ini akan
                                                   lain     faktor     umur,       pendidikan,
berpengaruh             pada            motivasi
                                                   pekerjaan,         jumlah       anak    dan
responden dalam melakukan senam
                                                   lingkungan.
nifas.
4. Dilihat dari jumlah anak
                                                   DAFTAR PUSTAKA
     Berdasarkan               tabel         4.4
menunjukkan            bahwa          responden    Baiyatun.2008. Asuhan Kebidanan
                                                        Nifas Normal. Jakarta : EGC.
terbanyak adalah yang beranak 2-4
sebanyak         14      orang          (48,2%).   Bandiyah Siti. 2009.               Asuhan
                                                        Kebidanan Nifas               Normal.
Pengalaman            merupakan          sumber
                                                        Jakarta : EGC
pengetahuan.          Hal   ini       dilakukan
                                                   Brayshaw Eileen. 2005. Senam
dengan           mengulang              kembali
                                                        Hamil dan Nifas. Jakarta: EGC
pengalaman yang telah diperoleh
                                                   Cunningham, F. Gary. 2009. Obstetri
dalam memecahkan permasalahan
                                                        Williams. Jakarta : EGC
yang dihadapi pada masa lampau
                                                   Djaali. 2009. Psikologi Pendidikan.
(Notoatmodjo,           2002).         Sehingga
                                                         Jakarta : Bumi Aksara
dapat        disimpulkan                semakin
                                                   Duncan        J.      Margaret.        2004.
berpengalaman seseorang semakin
                                                                       71



     Keperawatan        Maternifas.    P    Siagian    Sondang.2004.Teori
     Jakarta : EGC                          Motivasi                 dan
                                            Aplikasinya.Jakarta:  Rineka
Farrer Hellen. 2007. Perawatan              Cipta
      Maternitas. Jakarta: EGC
                                       Prawirohardjo, sarwono. 2007. Ilmu
Hidayat Alimul. 2007. Metode                Kebidanan. Jakarta : EGC
     Penelitian Keperawatan dan
     Teknik Analisis Data.Jakarta :    Purwanto Ngalim. 2007. Psikolog
     Salemba                                Pendidikan. Bandung : Remaja
                                            Rosdakarya
Hacker,    Moore.2006.      Esensial
     Obstetri    dan    Ginekologi.    Rahmat H. Dede. 2009. Pengantar
     Jakarta : CV. Trans Info Cipta         Psikolog     Untuk      Tenaga
                                            Kesehatan Ilmu        Perilaku
Irwanto.2008.   Psikologi Umum.             Manusia. Jakarta : CV. Trans
     Bandung    : Remaja Rusda              Info Media
     Karya.                            Reizz Uzzi. 2004. Menjadi Ibu
                                            Bahagia Pasca Persalinan.
Maryunani. 2008. Asuhan Pada Ibu            Jakarta: Luna Publisher
    Dalam Masa Nifas. Jakarta :
    CV. Trans Info                     Retna Ambarwati Eny.2010. Asuhan
                                            Kebidanan Nifas.Jogjakarta :
Mochtar Rustam.1998. Sinopsis               Nuha Medika
    Obstetri.Jakarta:EGC
                                       Rusmi W. Tri. 1999. Ilmu Perilaku.
Notoatmodjo     soekidjo.     2010.        Jakarta : CV. Infomedika
     Metodologi           Penelitian
     Kesehatan. Jakarta : Rineka       Saleha Siti. 2009. Asuhan Kebidanan
     Cipta                                  Pada Masa Nifas. Jakarta :
                                            Salemba Medika
Notoatmodjo,    soekidjo.    2003.
     Metodologi          Penelitian    Sr. Jenny. 2006. Perawatan Masa
     Kesehatan. Jakarta : Rineka             Nifas Ibu dan Bayi. Jakarta :
     Cipta                                   Sahabat Setia.

Nursalam dan Siti Pariani.2001.        Sujiyatini. 2010. Asuhan Kebidanan
     Metodologi Penelitian dan               Nifas. Yogyakarta : Nuha
     Riset Praktik Keperawatan               Medika
     Klinik.  Jakarta:   Salemba
     Medika                            Suryabrata Sumadi.2013. Psikologi
                                            Pendidikan. Jakarta : Rajawali
Nursalam. 2003. Konsep dan                  Pers.
     Penerapan          Metodologi
     Penelitian Ilmu Keperawatan.      Uno Hamzah. 2008. Teori Motivasi
     Jakarta : Salemba Medika              dan Pengukurannya. Jakarta :
                                           Bumi Absara
                                     72



W. Ladewig Patricia.2005.Buku Saku
     Asuhan Ibu dan Bayi Baru
     Lahir.jakarta : EGC Medical
     publisher

Wirawan Sarwono S.2009.Pengantar
     Psikologi Umum. Jakarta :
     Rajawali Pers
                                                                                    73




 GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG SADARI SEBELUM
 DAN SESUDAH DI BERI PENYULUHAN MAHASISWA TINGKAT I DIII
  KEBIDANAN SADARI DI STIKES BINA SEHATPPNI MOJOKERTO

                         Naning Puji Suryantini, Sri utami

                                     ABSTRACT

 SADARI is effort or way of inspection of bosom which regularly and systematic
conducted by itself woman representing shares not be locked out of by program of
screening or detect early. Still many woman which do not know in doing SADARI. To
increase the student’s knowledge was by giving health counselling. Target of this
research is to know the influence of counselling on the student knowledge prodi DIII
level Midwifery I in the early detection of breasts cancer through SADRI in STIKES
BINA SEHAT PPNI Mojokerto year 2013 The kind of the pre-eksperimen ( design
post-test pre-test group one). His population was all Student prodi DIII level
Midwifery I with amount of sample 49 people. The Sampel election by using
technique of proportional random sampling. Data collecting in this research
propagate quesioner( pre-test) is later, then given by counselling is afterwards given
by kuesioner again ( post-test). The analysis of the Data was carried out with editing,
coding, and scoring. Result of the hypothetical test use the test wilcoxon. Result of
the research showed that the student’s knowledge before counselling was 0%
knowledgeable of goodness after was carried out by counselling increased to 19%
and result of the willcoxon used softwere SPSS was obtained by by the vaive p=
0.000 α = 0.05 then Ho was refused that meant to have the influence of counselling
on the student knowledge prodi DIII level Midwifery I in the early detection of
breasts cancer through SADARI in STIKES BINA SEHAT PPNI Mojokerto. The
increase to knowledge happened in joining counselling as well as the level of high
education so as facilitated to accept information.

Keyword :Counselling, knowledge, SADARI, student
                                                                                                        74


PENDAHULUAN                                              melalui SADARI sekitar 40-50% (Romauli,
       SADARI        (Pemeriksaan            Payudara    2009).
Sendiri) adalah cara untuk menemukan                         Menurut laporan WHO dan Bank
kalainan payudara sendiri sedini mungkin                 Dunia, 2005 memperkirakan setiap tahun,
(Maryati, 2009). Kurangnya informasi yang                terdapat lebih dari 12 juta kasus penderita
tepat dan memadai, terutama tentang cara                 baru penyakit kanker dan 7,6 juta di
pemeriksaan payudara sendiri, sehingga                   antaranya meninggal dunia. Jika tidak
mahsiswa tidak dapat mendeteksi secara dini              dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang
adanya kanker payudara. Padahal kanker                   akan     menderita    kanker     dan    17    juta
payudara adalah salah satu jenis kanker yang             meninggal karena kanker pada tahun 2030.
menyebabkan         kematian       setelah     kanker    Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih
serviks.                                                 cepat di negara miskin dan berkembang
       Telah terbukti bahwa 95% wanita yang              (UICC, 2009).
terdiagnosis    pada       tahap     awal      kanker        Di    Indonesia        penenganan    penyakit
payudara dapat bertahan hidup lebih dari                 kanker belum dapat dilaksanakan secara
lima tahun setelah terdiagnosis, sehingga                optimal, sebab hampir 70% kasus baru
banyak dokter yang merekomendasikan agar                 ditemukan pada stadium lanjut. Hal ini
para       wanita     menjalani         ”SADARI”         terjadi karena penanganan penyakit tidak
(Pemeriksaan Payudara Sendiri) .                         menular     belum      sepenuhnya       mendapat
       The American Cancer Society juga                  prioritas dari pemerintah dan berbagai pihak.
telah mengeluarkan beberapa rekomendasi,                 Data menurut IARCH (Internasional Agency
yang antara lain berupa pemeriksan sendiri               For Reseacrh On Cancer) insiden kanker
sebaiknya       dilakukan      wanita          setelah   payudara di Indonesia sebesar 26 / 100.000
mencapai masa pubertas dan mengalami                     perempuan.
perkembangan        pada     payudaranya          saat       Dari studi pendahuluan tanggal 14 April
menstruasi pada hari ke 7-10 di rumah                    2013 yang dilakukan dengan wawancara
secara rutin setiap bulannya (Rasjidi, 2009).            kepada responden yaitu mahasiswa DIII
       Mahasiswa kebidanan yang sebagai                  Kebidanan        Tingkat    I   STIKES       BINA
tenaga kesehatan selalu berhubungan dengan               SEHAT PPNI Mojokerto dari 10 mahasiswa
wanita dan berkewajiban untuk ikut serta                 yang ditemui, hanya 1 (10%) mahasiswa
menegakkan diagnosis karsinoma payudara                  yang     dapat     menjawabd       engan      baik
                                                                                                         75


pengertian     dari     SADARI          (Pemeriksaan      lingkungan, penyuluhan, media, dan sosial
Payudara Sendiri)              adalah Memeriksa           budaya.      Pengetahuan       sendiri      dapat
payudara sendiri yang dilakukan sedini                    mempengaruhi prilaku mahasiswa (Wawan,
mungkin       untuk           menemukan          kanker   2010).
payudara,     yang       diharuskan        melakukan          Upaya yang dapat dilakukan untuk
SADARI adalah wanita usia subur, dan                      meningkatkan         pengetahuan      mahasiswa
waktu yang tepat untuk melakukan SADARI                   adalah dengan memberikan penyuluhan
adalah pada hari ke 5-7 saat menstruasi. 5                kesehatan kepada mahsiswa. Menurut Prof.
Mahasiswa (50%) kurang tepat dalam                        Dr. Azrul Azwar penyuluhan kesehatan
menjawab pengertian dari SADARI dan                       adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
mereka tidak tahu kapan diharuskan untuk                  dengan penyebaran pesan dan melaksanakan
melakukan SADARI , tetapi kebanyakan                      keyakinan pentingnya kesehatan, sehingga
dari mereka tahu bahwa SADARI biasanya                    masyarakat     tidak saja sadar, tahu, tetapi
dilakukan      oleh       wanita        usia     subur.   dapat berbuat sesuatu, dan mengetahui apa
Sedangkan 4 (40%) mahasiswa yang lain                     yang bisa dilakukan.
sama sekali tidak dapat menjawab dengan                       Tujuan diberikan penyuluhan kesehatan
baik pengertian dari SADARI, siapa yang                   ini adalah tidak lain untuk mengubah sikap
diharuskan melakukan SADARI, dan kapan                    dan prilaku mahasiswa, juga agar memiliki
waktu      yang       tepat     untuk      melakukan      rasa tanggung jawab yang lebih besar pada
SADARI.                                                   kesehatan diri sendiri, kesehatan lingkungan,
       Kurangnya       pengetahuan         mahasiswa      serta    kesehatan     masyarakat      (Nugroho,
dalam melakukan SADARI dapat berakibat                    2010).
negatif      terhadap         kesehatan.       Padahal    METODE PENELITIAN
mahasiswa         sebagai       tenaga      kesehatan             Populasi dalam penelitian ini adalah
diharapkan dapat menegakkan diagnosis                     mahasiswa Prodi DIII Kebidanan tingkat I
dini, dan sedapat mungkin selalu melakukan                dalam deteksi dini kanker payudara melalui
pemeriksaan       payudara       sehingga        kanker   SADARI di STIKES BINA SEHAT PPNI
payudara      dapat      diketahui       lebih    awal    Mojokerto, yaitu sebanyak 196 mahasiswa.
(Manuaba, 2010). Menurut Notoatmodjo,                     Sampel      dalam     penelitian     ini   adalah
pengetahuan mahasiswa dapat dipengeruhi                   menggunakan           proportional         random
oleh      pendidikan,          pekerjaan,        umur,    Sampling, Jika diketahui jumlah mahasiswa
                                                                                                                76


prodi DIII kebidanan Tingkat I               STIKES    Tabel 2.Distribusi frekuensi mahasiswa
                                                            Prodi DIII Kebidanan tingkat Idi
PPNI Mojokerto adalah 196 maka sampel
                                                            STIKES Bina Sehat PPNI Mojokerto
yang diambil adalah :                                       berdasarkan tingkat pengetahuan post-
                                                            test.
        25
  100 x196  49                                        No
                                                          1.
                                                                 Pengetahuan
                                                                    Kurang
                                                                                       F
                                                                                       12
                                                                                                       %
                                                                                                       24,5
                                                          2.         Cukup             18              36,7
Kelas I A:
                                                          3.          Baik             19              38,8
 50                                                                  Jumlah            49              100
     49  12.50  dibulatkan 13
196                                                    Sumber : Data Primer, 2013

                                                               Pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa
Kelas I B:
                                                       tingkat      pengetahuan            responden      tentang
 50
     49  12.50  dibulatkan 13                      SADARI setelah dilakukan post-test adalah
196
Kelas I C:                                             kurang berjumlah 12 responden (24,5%),

 47                                                    cukup          berjumlah             18     responden
     49  11.27  dibulatkan 11
196                                                    (36,7%),sedangkan               pengetahuan             baik
Kelas I D:                                             berjumlah 19 responden (38,8%).
 48                                                    PEMBAHASAN
     49  12.25  dibulatkan 12
196                                                    1.     Identifikasi Pengetahuan Mahasiswa
HASIL PENELITIAN                                       Prodi DIII Kebidanan Tingkat I dalam
                                                       Deteksi Dini Kanker Payudara Melalui
Tabel 1.      Distribusi        frekuensi              SADARI di STIKES BINA SEHAT PPNI
     mahasiswa Prodi DIII Kebidanan                    Mojokerto        sebelum      dilakukannya
     tingkat Idi STIKES BinaSehat PPNI                 penyuluhan (Pre Test).
     Mojokerto      berdasarkan    tingkat
     pengetahuan pre-test.
                                                               Tabel 1. Menunjukkan bahwa tingkat
       No          Pengetahuan       F       %         pengetahuan mahasiswa tentang SADARI
       1.          Kurang           45       91,8
                                                       masih kurang berjumlah 45                   responden
       2.          Cukup             4       8,2
       3.          Baik              0        0        (91,8%),        yang         berpengetahuan            cukup
                      Jumlah        49       100       sebesar 4 responden (8,2), dan tidak ada
Sumber : Data Primer, 2013
                                                       responden yang memiliki pengetahuan baik
        Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa
                                                       (0%).         Adapun           faktor-faktor            yang
tingkat      pengetahuan         responden   tentang
                                                       mepengaruhi              pengetahuan             menurut
SADARI saat pre-testa dalah kurang 45
                                                       Notoatmodjo (2010) antara lain pendidikan,
responden (91,2%), sedangkan pengetahuan
                                                       pekerjaan, umur, lingkungan, penyuluhan,
cukup berjumlah 4 responden (8,2%)
                                                       media masa, dan social budaya. Rendahnya
                                                                                                      77


tingkat pengetahuan mahasiswa sebelum              informasi mengenai SADARI berjumlah 27
dilakukan penyuluhan, hal ini terjadi karena       responden (55,1%), dan yang tidak pernah
mahasiswa     belum       pernah   mendapatkan     mendapatkan informasi mengenai SADARI
materi tentang SADARI saat di sekolah              22      responden        (44,9%),    tetapi     dalam
SMA ataupun di bangku perkuliahan. Hal             mendapatkan             pengetahuan        mengenai
ini juga dapat ditunjang dari:                     SADARI            dapat       dipengaruhi        oleh
      Table 2. yang menunjukkan bahwa              pendidikan, dan lingkungan. Pendidikan
responden     yang    memiliki     pengetahuan     diperlukan        untuk      mendapat      informasi
kurang sebagian besar pada usia 19 tahun.          misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan
Semakin cukup umur, tingkat kematangan             sehingga        dapat     meningkatkan        kualitas
dan kekuatan seseorang akan lebih matang           hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip
dalam berfikir dan bekerja. Dari segi              Notoatmodjo               (2003).        Lingkungan
kepercayaan masyarakat seseorang yang              merupakan         seluruh     kondisi    yang     ada
lebih dewasa dipercaya dari orang yang             disekitar manusia dan pengaruhnya yang
lebih tinggi kedewasaannya.Hal ini akan            dapat mempengaruhi perkembangan dan
sebagai dari pengalaman dan kematangan             prilaku orang atau kelompok, notoatmodjo
jiwa, menurut Huclok (1998) yang dikutip           (2010). Masih banyaknya responden yang
dari wawan 2010. Dari uraian ini dapat             tidak     pernah         mendapatkan       informasi
disimpulkan       bahwa    bertambahnya     usia   mengenai SADARI dapat juga di pengaruhi
seeorang      dapat        berpengaruh     pada    oleh karena malasnya responden dalam
pertambahan           pengetahuan          yang    mencari atau kurangnya informasi mengenai
diperolehnya. Dengan usia yang semakin             deteksi    dini     kanker      payudara      melalui
matang     diharapkan      pengetahuan    dalam    SADARI.
deteksi    dini   kanker     payudara    melalui           Tabel      4.3      distribusi     frekuensi
SADARI dapat bertambah baik. Dengan                berdasarkan sumber informasi mengenai
harapan semakin dini kanker atau tumor             SADARI menunjukkan bahwa lebih dari 27
ditemukan, semakin besar pula harapan              responden        yang       pernah      mendapatkan
kesembuhan.                                        informasi tentang SADARI sebanyak 19
      Pada tabel 4.2 distribusi frekuensi          responden (38,8%) memperoleh informasi
berdasarkan informasi mengenai SADARI              dari tenaga kesehatan, 4 responden (8,2%)
adalah responden yang pernah mendapatkan           dari non tenaga kesehatan dan 4 responden
                                                                                               78


(8,2%) dari media masa. Cara memperoleh            kesehatan sehingga dapat meningkatkan
pengetahuan bisa didapat memalui cara              kualitas        hidup.   Pendidikan       dapat
modern atau cara ilmiah disebut juga metode        mempengaruhi seseorang termasuk juga
ilmiah    sendiri     (Notoatmodjo,      2010).    prilaku seseorang akan pola hidup terutama
Banyaknya     responden        yang    mendapat    dalam memotivasi untuk sikap berperan
informasi dari tenaga kesehatan dapat              serta      dalam      pembangunan      menurut
dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat.           Nursalam 2003 dikutip dari wawan (2010).
Banyaknya responden yang mendapatkan               Pada umumnya semakin tinggi pendidikan
informasi dari tenaga kesehatan karena             seseorang        makin    mudah       menerima
responden lebih memperhatikan informasi            informasi. Serta dengan majunya teknologi
yang disampaikan oleh orang-orang yang             yang tersedia juga dengan bermacam-
sudah mereka kenal, karena sudah timbul            macamnya         media   masa     dapat    pula
kepercayaan          masyarakat          dengan    mempengaruhi prilaku masyarakat tentang
penyampaian informasi.                             inovasi terbaru. Sistem sosial budaya yang
2.     Identifikasi Pengetahuan Mahasiswa          ada pada masyarakat dapat mempengaruhi
Prodi DIII Kebidanan Tingkat I dalam
                                                   dari    sikap    dalam   menerima     informasi
Deteksi Dini Kanker Payudara Melalui
SADARI di STIKES BINA SEHAT PPNI                   (Wawan, 2010). Pengetahuan yang baik ini
Mojokerto setelah dilakukannya penyuluhan
                                                   dikarenakan responden berminat mengikuti
(Post Test).
                                                   penyuluhan yang diberikan peneliti. Dalam
     Pada hasil penelitian pengetahuan             pemberian penyuluhan peneliti tidak hanya
mununjukkan pengetahuan mahasiswa prodi            menjelaskan tetapi juga memperlihatkan
DIII Kebidanan tingkat I dalam deteksi dini        gambar-gambar yang dapat memudahkan
kanker payudara melalui SADARI pada                responden untuk mengingat penjelasan yang
tingkat   tahu,     dan     memahami     setelah   diberikan peneliti.
penyuluhan mayoritas pengetahuan kurang            3.     Identifikasi  pengaruh   Penyuluhan
                                                          Terhadap Pengetahuan Mahasiswa
12 responden (24,5%), sedangkan yang
                                                          Prodi DIII Kebidanan Tingkat I dalam
berpengetahuan       cukup      18    responden           Deteksi Dini Kanker Payudara Melalui
                                                          SADARI di STIKES BINA SEHAT
(36,7%), dan yang berpengetahuan baik
                                                          PPNI Mojokerto.
berjumlah     19          responden    (38.8%).
Pendidikan    diperlukan      untuk    mendapat             Setelah dilakukan intervensi terlihat
informasi misalnya hal-hal yang menunjang          adanya peningkatan pengetahuan dalam
                                                                                                   79


deteksi    dini   kanker     payudara         melalui   kanker      payudara    akan   meningkatkan
SADARI dari yang berpengetahuan kurang                  pengetahuan mahasiswa. Akan tetapi dari
(45 responden), pengetahuan cukup (4                    data tabel 4.5 menunjukkan bahwa masih
responden)        dan      tidak       ada      yang    banyaknya mahasiswa yang berpengetahuan
berpengetahuan baik. Setelah diintervensi               kurang hal ini dapat di sebabkan oleh
dan   dilakukan         pengukuran       (post-test)    peneliti, peneliti masih tergolong pemula
menjadi      12    responen        berpengetahuan       sehingga masih banyak kekurangan saat
kurang, 18 responden berpengetahuan cukup               melakukan penyuluhan, kurang menariknya
dan 19 responden berpengetahuan baik.                   penyuluhan yang diberikan oleh peneliti
Berdasarkan Uji Wilcoxon-signed Rank                    dapat     menyebabkan    responden     kurang
diperoleh nilai p = 0,000<α =0,05, maka                 tertarik terhadap penyuluhan yang diberikan
peneliti menolak H0 yang berarti ada                    sehingga hasil yang didapatkan kurang
perbedaan sebelum dan sesudah penyuluhan                memuaskan.
terhadap pengetahuan mahasiswa Prodi DIII               KESIMPULAN
Kebidanan tingkat I. Menurut Syafrudin                  1.        Tingkat   Pengetahuan      responden
(2009) keberhasilan penyuluhan kesehatan                tentang     SADARI      sebelum      dilakukan
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu            penyuluhan adalah berpengetahuan kurang
tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi,             45 responden (91,8%), cukup 4 responden
adat istiadat, kepercayaan masyarakat, serta            (8,2), dan tidak ada responden yang
ketersediaan        waktu.          Meningkatnya        berpengetahuan baik (0%).
responden yang berpengetahuan cukup dan                 2.        Tingkat   Pengetahuan      responden
baik membuktikan penyuluhan memberikan                  setelah     dilakukan   penyuluhan     tentang
pengaruh       yang       signifikan         terhadap   SADARI yaitu berpengetahuan kurang 12
Peningkatan        pengetahuan.         Hal       ini   responden (24,5%), cukup 18 responden
menunjukkan bahwa penyampaian meteri                    (36,7%), dan yang berpengetahuan baik 19
bisa dipahami dan diterima dengan mudah                 responden (38,8%).
oleh mahasiswa DIII Kebidanan Tingkat I di              3.        Berdasarkan uji Wilcoxon-Singed
STIKES BINA SEHAT PPNI Mojokerto.                       Rank diperolehnilai p = 0,000< α =0,05
Jadi dari data ini dapat diambil gambaran               maka peneliti menolak H0 yang berarti ada
bahwa keaktifan responden dalam mengikuti               pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan
penyuluhan kesehatan dalam deteksi dini                 mahasiswa DIII Kebidanan Tingkat I dalam
                                                                                              80


deteksi    dini    kanker      payudara     melalui   payudara sejak dini dan mengurangi angka
SADARI di STIKES BINA SEHAT PPNI                      kesakitan dan kematian kanker payudara
Mojoketo.                                             yang dikarenakan kurangnya pengtahuan
SARAN                                                 dalam deteksi dini kanker payudara melalui
1. Hendaknya responden lebih aktif dalam              SADARI.
mengikuti penyuluhan serta meningkatkan               DAFTAR PUSTAKA
                                                      Arikunto S. 2010. Manajemen Penelitian.
motivasi belajarnya guna meningkatkan
                                                           Jakarta: Rineka Cipta
pengetahuan          sehingga         memperoleh
                                                      Arikunto S. 2006. Prosedur pen;litian suatu
pengetahuan yang baik dalam deteksi dini
                                                           pendekatan praktik. Jakarta: Rineka
kanker payudara melalui SADARI.                            Cipta
2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat
                                                      Benson R. 2009. Buku Saku Obstetri dan
digunakan sebagai acuan peneliti dalam                     Ginekologi. Jakarta: EGC
mengembangkan pengetahuannya tentang
                                                      Budiarto E, 2002. Biostatistika untuk
deteksi    dini    kanker      payudara     melalui        Kedokteran       dan      Kesehatan
                                                           Masyarakat. Jakarta : EGC
SADARI.
3. Diharapkan             kegiatan    penyuluhan      HaffnerL     J. 2006. at a Glance
                                                           SistemReproduksi. Jakarta: EMC
khususnya tentang deteksi dini kanker
payudara melalui SADARI dijadikan agenda              Hidaya A AA. 2010. Metodologi Penelitian
                                                           Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
khusus dalam kegiatan Lembaga Pengabdian
                                                           Jakarta: Salemba Medika
Masyarakat (LPM).
                                                      Indarwati M. 2009. Bahaya Kanker Bagi
4. Melihat        hasil      penelitian     tentang
                                                           Wanita dan Pria. Jakarta: AV publiser
pemberian penyuluhan mengenai SADARI
                                                      Manuaba S. 2010. Buku Ajar Ginekologi
yang diberikan kepada Mahasiswa secara
                                                          Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta:
signifikan        mempengaruhi        peningkatan         EGC
pengetahuan mahasiswa tentang SADARI,
                                                      Maryati D. 2009. Buku Ajar Kesehatan
maka      diharapakan        bidan   atau   tenaga        Reproduksi.   Yogyakarta:  Muha
                                                          Medika
kesehatan     dalam        deteksi   dini   kanker
payudara melalui SADARI. Karena hal ini               Notoatmodjo     S.   2010.     Metodologi
                                                           Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
sangat penting melihat upaya peningkatan
                                                           Cipta
pengetahuan harus senantiasa dilakukan
                                                      Nugroho T. 2010. Promosi Kesehatan Teori
guna mengurangi angka kejadian kanker
                                             81


     dan Aplikasi.    Yogyakarta:   Nuha
     Medika

Rasjidi I. 2009. Deteksi Dini dan
      Pencegahan Kanker Pada Wanita.
      Jakarta: Sagung Seto

Romauli, S. 2009. Kesehatan Reproduksi
    Buat      Mahasiswa     Kebidanan.
    Yogyakarta: Muha Medika

Saraswati S. 2010. 52 Penyakit Perempuan :
     Mencegah dan Mengobati 52 Penyakit
     yang Sering Diderita Perempuan.
     Yogyakarta: Media Group

Shadine M. 2009. Penyakit Wanita
     Pencegahan,    Deteksi    dini    &
     Pengobatannya.Jakarta: Keen Books

Syafrudin. 2009. Promosi Kesehatan untuk
     Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : CV
     Trans Info Media

Tambunan G. 2002. Diagnosis dan
    Tatalaksana Sepuluh Jenis Kanker
    Terbanyakdi Indonesia. Jakarta: EGC

Wasis. 2008. Pedoman Riset Praktis untuk
     Profesi Perawat. Jakarta: EGC

Wawan dan dewi. 2010. Teori dan
    Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan
    Prilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha
    Medika
                                                                                82



PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA FLASH CARD (KARTU GAMBAR)
   DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK
      PRASEKOLAH DI TK B SEGUNUNG MOJOKERTO


                              IMA RAHMAWATI

                                  ABSTRACT

This learningis anattempttodetermine the influence oflearning to use themediato
playa flashcard(card image) to thereadingability ofpreschool children. The
purposeof this studywas todetermine the effect offlashcard(card image) to
thereadingability ofpreschoolchildreninkindergartenBSegunung ofMojokerto.
This studyused an experimental methodtoapproachone grouppre-post test. The
population is allstudentsKindergartenB, amounting to 35 children. The samples
are25        childrenwho        meet       theinclusion        and        exclusion
criteriawithpurposivesampling. MediaFlashcardindependent variable(card image)
and thedependent variableof reading ability. .Readingabilityin this studywas
measuredusingprosentase. Takingoutcomedata usingobservationandtreatment.
Analysisisused to find theeffect offlashcardsto improvereading skillsof
preschoolchildrenisthe Wilcoxon test. Statisticalresultsshow the value
ofp=0.000(p <0.05) withZ=-4304means thatthere isthe effect ofplay
therapyflashcards(card images). Based on the analysisit can be concludedthat
theuseflashcardlearning(card images) is effective in improvingreading
skillspreschoolchildreninkindergartenBSegunung                        ofMojokerto.
Flashcardconsistsof some sort, such as of the alphabetflashcard, flashcardmath,
readingflashcards, flashcardhistoryandsocial, scienceflashcard, flashcardshijaiyah.

Keywords: flashcard, Literacy, Preschool
                                                                                         83


PENDAHULUAN                                  Kanak-kanak merupakan salah satu
        Anak usia 4 sampai 6 tahun           bentuk pendidikan prasekolah yang
merupakan bagian dari anak usia dini         disediakan bagi anak usia 4-6 tahun,
yang berada pada rentang usia lahir          dengan lama pendidikan 1-2 tahun.
sampai 8 tahun. Pada usia ini secara         Surat Keputusan Mentri Pendidikan
terminologi disebut sebagai anak usia        dan       Kebudayaan           RI       nomor
pra-sekolah. Usia 4 sampai 6 tahun           0486/U/1992 tentang Taman Kanak-
anak mengalami masa peka dimana              kanak Bab II Pasal 3 ayat (1) dan (2)
anak mulai sensitif untuk menerima           menyebutkan bahwa pendidikan TK
berbagai upaya pengembangan seluruh          bertujuan membantu meletakkan dasar
potensi anak. Masa peka adalah masa          kearah perkembangan sikap, perilaku,
pematangan fungsi-fungsi fisik dan           pengetahuan, keterampilan, dan daya
psikis yang siap merespon stimulasi          cipta yang diperlukan oleh anak didik
yang diberikan oleh lingkungan. Masa         dalam     menyesuaikan         diri     dengan
ini merupakan masa untuk meletakkan          lingkungannya dan untuk pertumbuhan
dasar pertama dalam mengembangkan            serta perkembangan selanjutnya. TK
kemampuan fisik, kognitif, bahasa,           membantu meletakkan dasar ke arah
sosial, emosi, konsep diri, disiplin,        perkembangan                    pengetahuan
seni, moral, dan nilai-nilai agama.          sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
Dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang        disesuaikan dengan usia dan tingkat
sesuai dengan kebutuhan anak agar            penalaran anak didik. Sementara itu,
pertumbuhan dan perkembangan anak            materi yang diajarkan di TK (Program
tercapai secara optimal (Departemen          Kegiatan        Belajar      Taman      Kanak-
Agama, 2003).                                Kanak) meliputi pendidikan moral,
     Peraturan Pemerintah Republik           agama,           disiplin,      kemampuan
Indonesia    nomer    27    tahun    1990    berbahasa, daya pikir, daya cipta,
tentang Pendidikan Prasekolah Bab I          perasaan/emosi,           ketrampilan      dan
pasal 1 ayat (1) dan (2), menyatakan         pendidikan jasmani (Patmonodewo,
pendidikan      prasekolah          adalah   2003).
pendidikan      untuk         membantu               Steinberg     (1982)    yang      telah
pertumbuhan     dan        perkembangan      mengadakan           penelitian         tentang
jasmani dan rohani anak didik di luar        pengaruh membaca dini pada anak-
lingkungan      keluarga        sebelum      anak,     dia     mengemukakan          bahwa
memasuki pendidikan dasar. Taman             banyak sekali keuntungan mengajar
                                                                                          84


anak membaca dini dilihat dari segi                 Selama ini Taman Kanak-kanak
proses belajar mengajar. Salah satunya         didefinisikan sebagai tempat untuk
adalah      belajar      membaca       dini    mempersiapkan anak-anak memasuki
memenuhi rasa ingin tahu anak-anak.            masa sekolah yang dimulai dijenjang
Pendapat yang sama juga dikemukakan            sekolah     dasar.       Kegiatan         yang
oleh     Leonhardt     (1999)     membaca      dilakukan di taman kanak-kanak pun
sangat penting bagi anak. Mereka akan          hanyalah         bermain             dengan
berbicara, menulis dan memahami                mempergunakan         alat-alat     bermain
gagasan-gagasan rumit secara lebih             edukatif. Pelajaran membaca, menulis,
baik.                                          dan berhitung tidak diperkenankan di
        Berdasarkan             pengamatan     tingkat taman kanak-kanak, kecuali
Mulyadi (2005) di sejumlah TK, selain          hanya pengenalan huruf-huruf dan
diajarkan bernyanyi dan keterampilan           angka-angka, itu pun dilakukan setelah
untuk melatih motorik, setiap harinya          anak-anak memasuki TK B (Budiman,
murid-murid      TK      juga     mendapat     2007).
pendidikan      mengenal        huruf-huruf         Dewasa              ini         tampak
alfabet serta angka. Anak-anak yang            kecenderungan        pendidikan     di     TK
masih berusia empat sampai lima tahun          menginginkan anak belajar hal-hal
itu      juga    diharuskan        berlatih    akademis      secepat      mungkin         dan
menuliskannya         dalam     buku   tulis   sebanyak mungkin sebagai tuntutan
seperti halnya murid SD.                       orang tua modern yang menginginkan
        Banyak kalangan berpendapat            anaknya     lebih       unggul       dengan
kalau belajar membaca belum dominan            persiapan yang lebih dini. Biasanya
untuk diajarkan kepada Pendidikan              pelajaran akademis diajarkan di kelas
Anak Usia Dini dan Taman Kanak-                satu SD, seperti menulis, membaca,
kanak. Karena pada masa anak pra               dan matematika, bahkan juga bahasa
sekolah adalah masa anak senang                inggris, sekarang sudah diberikan di
bermain dan tidak harus berfokus               TK walaupun tidak dipersyaratkan
untuk mempelajari ilmu terlalu banyak.         dalam kurikulumnya (Rosalina, 2008).
Materi yang di berikan terlalu banyak,              Proses          belajar         menuju
anak bisa menjadi mudah stres dan              kemampuan baca tulis pada anak TK
susah untuk menerima materi yang               sebaiknya tidak di lakukan dengan
sudah diberikan.                               pendekatan formal, seperti layaknya
                                               anak-anak     SD.       Karena      hal    ini
                                                                                        85


dikhawatirkan akan membuat anak            untuk anak-anak TK mereka. Orang
merasa tertekan dan jenuh, mengingat       tua atau guru perlu menyesuaikan cara
kemampuan      anak      untuk      bisa   mengajar baca tulis sesuai dengan
berkonsentrasi pada satu topic bahasan     kemampuan yang dimiliki tiap anak
biasanya masih sangat terbatas dan         dan stimulasi yang di berikan.
secara umum anak masih berada dalam                Salah satu sarana belajar yang
dunia bermain. Apalagi bila dalam          disajikan     dengan       metode     bermain
memberi pelajaran tersebut dilakukan       adalah         Education          Flashcard.
dengan kekerasan, misalnya disertai        Education        Flashcards       merupakan
dengan bentakan-bentakan, hinaan atau      kartu-kartu bergambar yang dilengkapi
ejekan manakala anak belum mampu           kata-kata, yang diperkenalkan oleh
mengikuti pelajaran baca tulis yang        Glenn Doman, seorang ahli bedah otak
diberikan , maka bukan tidak mungkin       dari       Philadelphia,      Pennsylvania.
anak akan tumbuh menjadi anak              Gambar-gambar             pada       flashcard
rendah diri, yang justru hal ini akan      dikelompok-kelompokkan antara lain:
menghambat               perkembangan      seri binatang, buah-buahan, pakaian,
kemampuannya secara optimal kelak          warna,      bentuk-bentuk        angka,     dan
kemudian hari (Adriana, 2003).             sebagainya.       Education       Flashcards
     Mulyadi (2005) mengungkapkan,         tersebut     dimainkan        dengan       cara
berdasarkan UU Sistem Pendidikan           diperlihatkan pada anak dan dibacakan
Nasional (Sidiknas) No 20 tahun 2003,      secara cepat, hanya dalam waktu 1
TK masuk dalam sistem pendidikan           detik    untuk    masing-masing           kartu.
anak usia dini (PAUD) dengan titik         Tujuan dari metode itu adalah melatih
berat pembelajaran moral, nilai agama,     kemampuan          otak      kanan        untuk
sosial, emosional dan kemandirian.         mengingat       gambar      dan      kata-kata,
Semua nilai-nilai tersebut di tanamkan     sehingga perbendaharaan kata dan
melalui metode pembiasaan.                 kemampuan membaca anak bisa dilatih
     Menurut        Purbo        (2007),   dan ditingkatkan sejak usia dini.
pendekatan bermain sambil belajar,         Education Flashcards ini merupakan
merupakan    cara     terbaik    menuju    terobosan      baru       dibidang     metode
kemampuan baca tulis pada anak TK.         membaca       dengan       mendayagunakan
Guru dan orang tua hendaknya saling        kemampuan          otak      kanan        untuk
bekerjasama untuk dapat memberikan         mengingat (Doman, 1991).
cara belajar dan mengajar yang susuai
                                                                                                          86


         Menurut Doman (1991), flash                              OI :       Observasi  kemampuan
                                                                          membaca setelah diberikan
card dapat diberikan kepada anak
                                                                          flash card
sebagai sebuah permainan mengenal
huruf dan kata-kata. Gambar-gambar                                 Melakukan observasi awal (pre-
flash card yang menarik dengan                            test)          terlebih     dahulu        dengan
warna-warni menyolok akan disukai                         menggunakan instrumen yang ada
anak-anak, sehingga para guru dan                         sehingga diperoleh skor awal sebelum
orang tua bisa mengajak mereka                            intervensi.
bergembira, bermain dan belajar dalam                              Selanjutnya                 memberikan
cara yang sederhana.                                      intervensi pada kelompok perlakuan
                                                          berupa pemberian terapi bermain Flash
SUBYEK DAN METODE                                         Card selama kurang lebih 10 menit
         Subyek penelitian adalah anak                    selama 2 minggu.
usia pra sekolah (TK B), di TK                                     Selanjutnya melakukan observasi
Segunung Mojokerto berjumlah 35                           ulang menggunakan instrumen yang
orang. Penelitian ini menggunakan                         sama dengan observasi awal untuk
rancangan penelitian One – Group pra                      mengukur kemampuan membaca anak
– post test. Suatu kelompok diberi pra                    di TK B (post-test)
– test    kemudian      setelah     perlakuan             ANALISIS DATA
dilakukan     pengukuran          lagi       untuk
                                                                   Data yang telah dikumpulkan
mengetahui akibat dari perlakuan.
                                                          berdasarkan           kuesioner,       dianalisis
Menguji sebab akibat dengan cara
                                                          dengan uji wilcoxon signed rank test
membandingkan          hasil   pra       –     test
                                                          dengan           menggunakan           komputer
dengan pasca test.
Subyek         Pra       Perlakuan           Pasca
                                                          program SPSS for windows dengan
                                                      T   taraf     signifikasi      5%.     Pengambilan
                                                      e
                                                      s   keputusan pada uji wilcoxonsigned
                                                      t
               O            I             OI              rank       testbisa       didapat:     (1)     jika
   K         Waktu 1      Waktu 2        Waktu
                                                      3   probabilitas dibawah 0,05 (ρ value <
                                                          0,05), maka H0 ditolak yang berarti ada
    Keterangan :
    K : Subyek ( anak TK B )                              pengaruh pemberian terapi bermain
    O :      Observasi   kemampuan                        dengan          media     flash    card      (kartu
          membaca sebelum diberikan
          flash card                                      gambar)            terhadap          kemampuan
    I : Intervensi                                        membaca anak prasekolah di TK B
                                                                                                 87


Segunung           Mojokerto,         (2)      jika   mendapatkan nilai tidak baik ada 1
probabilitas > 0,05 (ρ value > 0,05),                 anak      (4%).      Setelah      dilakukan
maka H1 diterima yang berarti tidak                   pembelajaran      menggunakan           media
ada     pengaruh            pemberian        terapi   Flashcard     didapatkan        hasil    yang
bermain dengan media flash card                       mendapatkan nilai baik sekali ada 17
(kartu gambar) terhadap kemampuan                     anak (68%), yang mendapatkan nilai
membaca anak prasekolah di TK B                       baik ada 7 anak (28%), dan yang
Segunung Mojokerto                                    mendapatkan nilai cukup ada 1 anak
                                                      (4%)
HASIL                                                        Dalam uji Wilcoxon didapatkan
       Penelitian        dilakukan      di     TK     signifikansi sebesar 0,000 maka ρ < α
Dharma Wanita Segunung Kecamatan                      (0,05), Z = -4.304 yang artinya ada
Dlanggu Kabupaten Mojokerto yang                      pengaruh pemberian terapi bermain
terletek di jl Raya Pacet No 20. TK                   flashcard (kartu gambar) terhadap
Dharma Wanita ini mempunyai luas                      kemampuan membaca anak prasekolah
tanah + 1650 m2.                                      di TK B Segunung Mojokerto.
       Jumlah siswa yang ada di TK
Dharma Wanita Segunung ini ada 72                     PEMBAHASAN
siswa, yang terdiri dari 37 siswa di TK                      Berdasarkan table 4.5 diatas
A dan 35 siswa di TK B. Dan jumlah                    menunjukkan bahwa dari 25 responden
pegawai ada 5 orang yang meliputi 2                   sebelum      diberikan         pembelajaran
orang guru di TK A dan 3 orang guru                   menggunakan         media      Flash    Card
di     TK     B.       TK    Dharma         Wanita    sebagian    besar    mendapatkan         nilai
Segunung ini mempunyai 2 ruang                        kurang, sedangkan setelah diberikan
kelas, ruang kepala sekolah, toilet,                  pembelajaran      menggunakan           media
tempat bermain anak-anak.                             Flash Card terdapat 24 responden
       25     responden        yang     sebelum       yang mendapatkan nilai baik. Dalam
dilakukan pembelajaran dengan media                   uji Wilcoxon didapatkan signifikasi
Flashcard tidak ada yang mendapatkan                  sebesar 0,000 maka ρ < α (0,05) yang
nilai baik sekali, yang mendapatkan                   artinya ada         pengaruh pemberian
baik    ada        9    anak    (36%),       yang     pembelajaran      menggunakan           media
mendapatkan nilai cukup ada 6 anak                    Flash Card di TK B Segunung
(24%), yang mendapatkan nilai kurang                  Kabupaten Mojokerto, Z atau kekuatan
ada     9     anak      (36%),     dan       yang     pengaruh -4.304 yang artinya pengaruh
                                                                                     88


sangat kuat karena menjauhi indeks           mengembangkan daya ingat, melatih
0,1. Jadi, dapat disimpulkan bahwa           kemandirian,       dan     meningkatkan
terdapat perbedaan yang signifikan           jumlah kosakata.
pada kemampuan membaca sebelum                         Berdasarkan     hasil    analisa
dan setelah diberikan pembelajaran           diatas, peneliti dapat menyimpulkan
menggunakan media Flash Card.                bahwa banyak permainan edukatif
     Fakta diatas didapatkan bahwa           yang dapat membantu anak untuk
ada beragam stimulasi dapat diberikan        belajar dan menstimulasi anak dalam
kepada anak melalui bermain. Bermain         melatih        kemampuan          otaknya.
merupakan sarana belajar yang paling         Permainan yang sangat edukatif salah
efektif untuk menumbuhkan pola pikir         satunya adalah flashcard, flashcard
kritis dan kreatif pada anak. Oleh           mempunyai macam-macam yang dapat
kerana itu, perlu dikembangkan konsep        membantu       anak      dalam     belajar,
“bermain     sambil     belajar”.    Agar    diantaranya adalah flashcard huruf
perkembangan           anak       optimal,   abjad, flashcard hijaiyah, flashcard
diperlukan    suatu     alat     permainan   huruf matematika, flashcard sains,
edukatif (APE). Saat ini sudah tersedia      flashcard membaca, flashcard sejarah
berbagai APE      yang dapat dengan          dan sosial. Macam-macam flashcard
mudah diperoleh di pasaran, dari yang        tersebut       penggunaannya         dapat
standart, seperti lilin, kertas warna,       disesuaikan      dengan     umur       dan
puzzle dan balok konstruksi yang dapat       kemampuan dari anak secara bertahap.
melatih keterampilan motorik halus,          Dalam mengajarkan membaca jangan
meningkatkan imajinasi dan kreatifitas,      sampai pengajar memaksakan anak
sampai dengan yang canggih, yakni            untuk belajar, karena dengan memaksa
game-game dalam computer yang                anak untuk belajar membaca tidak
menuntut     keterampilan         motorik,   akan mendapatkan hasil sesuai harapan
kecepatan, kecermatan, dan ketepatan         melainkan membuat anak trauma dan
tinggi (Oktariani,2009).                     malas untuk belajar.
     Flashcard merupakan salah satu
bentuk permainan edukatif           berupa   KESIMPULAN
pias-pias kartu yang memuat gambar                Ada pengaruh pemberian terapi
dan kata yang sengaja dirancang untuk        bermain dengan media flash card
meningkatkan          berbagai      aspek,   (kartu gambar) terhadap kemampuan
diantaranya: belajar membaca dini,
                                                                            89


membaca anak prasekolah di TK B                 Universitas    Muhammadiyah
                                                Surakarta.
Segunung Mojokerto.
                                          Karisnawati, Suci. 2012.     Upaya
                                                 Meningkatkan     Kemampuan
DAFTAR PUSTAKA
                                                 Menjawab Pertanyaan Melalui
Firdaus, Khodhroul. 2010. Efektifitas            Permainan Kartu Gambar
       Permainan Flash Card Dalam                Pada Anak Kelompok B di TK
       Meningkatkan      Kemampuan               Aisyiyah Mendungan Pabelan
       Membaca Anak Prasekolah Di                Kartasura Sukoharjo     (S-1
       TK Sunan Pandan Aran                      Prodi Pendidikan Anak Usia
       Ngaglik Sleman Yogyakarta                 Dini). Surakarta: Universitas
       (Skripsi S-1 Prodi Ilmu Sosial            Muhammadiyah Surakarta.
       dan Humaniora). Yogyakarta:
       UIN        Sunan      Kalijaga     Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian
       Yogyakarta.                                   Tindakan           Kelas.
                                                     Yogyakarta:        Aditya
Pujiastuti, Anita. 2010. Pemingkatan                 Media.
       Minat Membaca Anak Usia
       Dini Melalui Kegiatan Cerita       Hurlock,    Elizabeth     B.    2001.
       Bergambar Pada Kelompok B                     Perkembangan         Anak.
       di TK Dharma Putera II                        Jakarta: Erlangga.
       Genukharjo (Skripsi S-1 Prodi
       Pendidikan Anak Usia Dini).        Moeslichatoen.     2004.      Metode
       Surakarta:         Universitas           Pengajarandi Taman Kanak-
       Muhammadiyah Surakarta.                  kanak. Jakarta: Rineka Cipta.

Doman, G. 1991. Mengajar Bayi Anda        Tedjasaputra,   Mayke       S.  2001.
     Membaca.     Terjemah     oleh              Bermain,       Mainan      dan
     Ismail Murahimin. Jakarta:                  Permainan Untuk Pendidikan
     Gaya Favorit Press.                         Usia Dini. Jakarta: Gramedia.

Sutini.       2011.        Peningkatan    Hariyati, Nita S. 2011.     Upaya
          Kemampuan          Membaca            Peningkatan     Kemampuan
          Permulaan Melalui Permainan           Membaca Permulaan Melalui
          Kartu Kata Bergambar Pada             Penggunaan Media Gambar di
          Anak Kelompok B RA Ath-Th             TK ABA III Sumberlawang
          ohiriyyah Jaten ( Skripsi S-1         Sragen (S-1 Prodi Pendidikan
          Prodi Pendidikan Anak Usia            Anak Usia Dini). Surakarta:
          Dini). Surakarta: Universitas         Universitas  Muhammadiyah
          Muhammadiyah Surakarta.               Surakarta.

Wardani,     Ika    D.K.     2010.        Muslitaryanti.  2012.       Upaya
      Meningkatkan     Kemampuan                 Meningkatkan     Kemampuan
      Membaca Anak TK Kelompok                   Membaca Permulaan Melalui
      A Dengan Menggunakan Media                 Permainan Kartu Huruf di
      Gambar Di TK Pertiwi                       Kelompok B TK Cempaka
      Kepanjen Delanggu (Skripsi S-              Kebon Gulo Musuk (S-1 Prodi
      1 Prodi Keguruan dan Ilmu                  Ilmu Pendidikan). Surakarta:
      Pendidikan).       Surakarta:
                                         90


       Universitas    Muhammadiyah
       Surakarta.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
       Direktorat Jendral Pendidikan
       Nonformal     dan      Informal
       Kementerian         Pendidikan
       Nasional, 2010. Peraturan
       Menteri Pendidikan Nasional
       Tentang Standar Pendidikan
       Anak Usia Dini: Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional.
       2007. Pedoman Pembelajaran
       Persiapan    Membaca     dan
       Menulis Permulaan di Taman
       Kanak-kanak.         Jakarta:
       Depdinas.

Patmonodewo, S. 2003. Pendidikan
          Anak Prasekolah. Jakarta:
          Rineka Cipta.

Presetyono, S. 2008. Metode Membuat
       Anak Cerdas Sejak Dini.
       Yogyakarta: Garailmu.

Sumiarti,   N. 2002. Pentingnya
            Bermain     Bagi     Anak.
            Jurnal Tazkiya, 2, 32-41.
Suyanto,    S. 2005. Dasar-dasar
            Pendidikan Anak Usia
            Dini.         Yogyakarta:
            Hidayat.

Sudono, Anggani. 2004. Sumber
      Belajar dan Alat Permainan
      untuk Pendidikan Usia Dini.
      Jakarta: PT Gramedia.

Yogi, Indra. 2007. Mengajar Balita
      Membaca dengan Homemade
      Flash Card, Jakarta: Indra.
                                                                                   91



 PERSEPSI KELUARGA PASIEN TENTANG KEPATUHAN MINUM OBAT
       DAN DIET HIPERTENSI DI POLI JANTUNG RSD SIDOARJO

                                 Muhammad Sajidin

                                     ABSTRAK

The results from the MONICA (Multinational Monitoring of Trends Of
Determination In Cardiovascular Diseases) incidence in Indonesia ranges between 6-
18%, so roughly there are 20 million people with hypertension. According to the data
at the heart of poly RSD Sidoarjo, patients recorded hiprtensi on as many as 15625
people in 2010 and in 2011 as many as 16 237 people. People assume that severe
hypertension is not a disease, they underestimate hypertension. They assume
hypertension is not difficult to handle. Perception of how the family is a family give
meaning or interpretation of a stimulus. It is the difference in mean menyebahkan
suggestions given by health workers for treatment programs for patients with
hypertension. A hypertensive patient treatment will be very excited if the support of
family members. With the family who can perceive the stimulus correctly, then the
patient will be able to undergo treatment well, and increase motivation to adhere to
treatment and diet she lived. Support health professionals is another factor that can
affect patient adherence to face the fact that the new healthy behaviors is important.

Keywords: Perception family, Hypertension
                                                                                                               90



     PENDAHULUAN                                           pola      hidup dapat dilakukan dengan
                                                           cara     olah raga,         berhenti      merokok,
        Hipertensi              merupakan          salah
                                                           mengurangi                  konsumsi           garam,
satu    penyakit yang tergolong dapat
                                                           mengurangi         kolesterol       dan berhenti
membunuh            manusia           secara       tidak
                                                           minum minuman yang beralkohol. Diet
terduga. Orang yang terkena hipertensi
                                                           yang dianjurkan dan dipatuhi                    adalah
terkadang tidak                 menyadari apabila
                                                           diet rendah garam, yang mana diet ini
tekanan      darahnya           sudah          melebihi
                                                           bisa     membantu menghilangkan retensi
ambang        batas, yaitu tekanan                darah
                                                           garam atau air dalam jaringan tubuh
sistolik ≥ 140               mmHg, dan tekanan
                                                           dan menurunkan tekanan darah.
darah      diastolik ≥ 90 mmHg, atau bila
                                                           PERMASALAHAN
pasien telah             mendapatkan obat anti
                                                                   Masyarakat                     beranggapan
hipertensi            (Mansyoer.A,                2001).
                                                           hipertensi bukan penyakit yang berat,
Hipertensi akan semakin parah apabila
                                                           mereka meremehkan hipertensi. Mereka
penderita tidak mau minum obat                      dan
                                                           beranggapan         hipertensi         tidak      sulit
patuh      terhadap           diet      yang       telah
                                                           untuk        ditangani. Tingkat kepedulian
ditentukan.
                                                           masyarakat untuk             memeriksakan diri
        Prevalensi penyakit hipertensi di
                                                           mereka juga masih rendah, mereka juga
dunia      menurut Sutomo (2009)                   yang
                                                           tidak tahu         akibat atau dampak            yang
dilaporkan          dari data Join National
                                                           dapat ditimbulkan. Akibat dari hipertensi
Commite           On Prevention              Detection
                                                           yang      tidak           terkontrol             dapat
Evaluation, And              Treadment On High
                                                           menyebabkan komplikasi                 antara     lain
Blood Pressure 7, penderita                  hipertensi
                                                           gagal ginjal, jantung              koroner, gagal
di     dunia hampir              mencapai angka 1
                                                           jantung, mata dan stroke. hipertensi
milyar. Sekitar           600        juta      penderita
                                                           merupakan penyakit yang menahun dan
tersebar      di             beberapa            Negara
                                                           memerlukan pengobatan yang lama atau
berkembang.           Hasil          penelitian     dari
                                                           dapat     dikatakan       harus     minum         obat
MONICA (Multinational                       Monitoring
                                                           selamanya, sehingga tidak sedikit pasien
Of         Trend             Determination            In
                                                           yang      merasa      bosan atau putus asa
Cardiovascular               Diseases)            angka
                                                           terhadap pengobatan.
kejadian            di       Indonesia          berkisar
                                                           PEMBAHASAN
antara 6-18 %, jadi kira-kira terdapat
                                                                  Persepsi    merupakan        proses akhir
20         juta           penderita         hipertensi.
                                                           dari pengamatan yang               diawali       oleh
Menurut data di               poli jantung         RSD
                                                           peng inderaan, yaitu proses diterimanya
Sidoarjo,         tercatat      penderita      hiprtensi
                                                           stimulus oleh alat           indera,     kemudian
pada       tahun         2010        sebanyak 15625
                                                           individu     ada perhatian dan           diteruskan
orang dan pada tahun 2011 sebanyak
                                                           ke       otak,        selanjutnya          individu
16237 orang.
                                                           menyadari         tentang       adanya sesuatu.
        Pengobatan dari hipertensi untuk
                                                           Melalui persepsi individu menyadari dan
menghindari           komplikasi adalah dengan
                                                           dapat      mengerti          tentang       keadaan
cara    mencegah, perubahan pola hidup
                                                           lingkungan         yang      ada       disekitarnya
dan       pengobatan             teratur. Perubahan
                                                                                                         91



maupun tentang hal-halyang ada dalam                    Seorang pasien       hipertensi akan sangat
diri      individu      yang        bersangkutan        bersemangat berobat apabila mendapat
(Sunaryo, 2004).            Menurut ahli lain           dukungan          dari    anggota         keluarga.
persepsi       merupakan             pengalaman         Karena            penyakit                hipertensi
tentang         objek         peristiwa         atau    merupakan penyakit yang menahun dan
hubungannya dengan               menyimpulkan           memerlukan pengobatan yang lama atau
informasi            dan        menafsirkannya.         dapat    dikatakan        harus     minum      obat
Memberikannya           makna             terhadap      selamanya, sehingga tidak sedikit pasien
stimulus.     Persepsi       berbeda        dengan      yang      merasa         bosan atau putus asa
sensasi,meski kata-katanya berhubungan,                 terhadap pengobatan. Pada saat seperti
sensasi        merupakan             pengalaman         inilah        keluarga            harus       dapat
elementer      yang        segera    dan        tidak   memberikan                   bantuan         dengan
perlu penguraian verbal, simbolis atau                  mengartikan atau menafsirkan stimulus
konseptual           terutama       berhubungan         yang ada, agar pasien tidak               putus asa
dengan kegiatan alat indera. Sedangkan                  terhadap      program       pengobatan         yang
persepsi adalah bagaimana                seseorang      dijalaninya.        Dengan adanya keluarga
memberikan           arti terhadap        stimulus      yang dapat        mempersepsikan            stimulus
tersebut (Noto atmodjo, 2010). Persepsi                 dengan benar, maka pasien akan dapat
berbeda dengan sensasi, meski                   kata-   menjalani pengobatan dengan baik, dan
katanya       berhubungan,                  sensasi     meningkatkan             motivasi             untuk
merupakan           pengalaman           elementer      mematuhi         pengobatan dan diet yang
yang       segera      dan       tidak          perlu   dijalaninya. Oleh          karena     itu    sangat
penguraian          verbal, simbolis            atau    besar      sekali         pengaruh          persepsi
konseptual           terutama       berhubungan         keluarga         dalam              meningkatkan
dengan kegiatan alat indera. Sedangkan                  kepatuhan individu            untuk menjalani
persepsi adalah bagaimana                seseorang      program       pengobatan.      Keluarga        yang
memberikan           arti terhadap        stimulus      dapat            mempersepsikan                 atau
tersebut ( Noto atmodjo, 2010 ).                        menafsirkan stimulus dengan benar maka
       Persepsi merupakan           cara pandang        akan didapatkan persepsi yang positif
sesuatu atau mengutarakan pemahaman                     dan sebaliknya keluarga yang                   tidak
hasil olahan daya fikir, artinya persepsi               dapat mempersepsikan stimulus dengan
berkaitan dengan faktor-faktor eksternal                benar, maka akan didapatkan persepsi
yang di respon melalui panca indera,                    yang     negatif. Sedangkan faktor-faktor
daya ingat, daya jiwa (Marliani, 2010).                 yang mempengaruhi persepsi keluarga
Persepsi keluarga tergantung bagaimana                  adalah umur, jenis kelamin, pendidikan
keluarga        memberikan               arti    atau   dan pekerjaan.
menafsirkan suatu stimulus. Hal inilah                         Umur      menggambarkan               proses
yang       menyebahkan perbedaan dalam                  kematangan        seseorang,       dan      persepsi
mengartikan          anjuran –anjuran           yang    juga     dapat      dipengaruhi oleh            usia
diberikan oleh tenaga kesehatan untuk                   dan      kematangan,         sehingga        apabila
program terapi bagi pasien hipertensi.                  seseorang        yang      sudah matang, akan
                                                                                                 92



 tetapi         dia            salah            dalam
                                                          Anronson, P dan Jeremy, 2010. At a
 mempersepsikan             atau       menafsirkan
                                                               Glance      edisi      3       Sistem
 maka       persepsinya        menjadi         negatif,        Kardiovaskuler. Jakarta: Erlangga
                                                               Arief Mansjoer, 2000.
 tingkat pendidikan mereka                        bisa
 memberikan         penafsiran stimulus yang              Baradero, M, 2008. Klien Gangguan
                                                               Kardiovaskular:     Seri   Asuhan
 ada dengan benar dan mampu berfikir
                                                               Keperawatan. Jakarta : EGC
 dengan        baik,       karena        ilmu      dan
                                                          Brunner & Suddarth, 2002. Buku Ajar
 pengalaman yang telah mereka dapatkan.
                                                               Keperawatan Medikal Bedah edisi 8
 orang       yang      tidak        bekerja,      akan         Volume 2. Jakarta ; EGC
 kesulitan            untuk            menafsirkan
                                                          Dalimartha, S, 2008. Care Your Self
 stimulusnya, karena mereka tidak bisa                         Hipertensi. Jakarta : Penebarplus
 tukar pendapat dengan orang lain, untuk
                                                          Davey, P , 2005. At a Glance Medicine,
 menambah pengetahuannya.                                      Jakarta: Erlangga
 KESIMPULAN
                                                          Dekker, L, 2005. Hipertensi Tekanan
      Sangat       besar      sekali      pengaruh            Darah Tinggi. Jakarta : Surya Multi
                                                              Grafika
persepsi keluarga dalam              meningkatkan
kepatuhan      individu        untuk      menjalani       Hidayat, A.A Alimul, 2010. Metodologi
                                                               Penelitian Kesehatan; Paradigma
program      pengobatan.        Keluarga         yang
                                                               Kuantitatif. Surabaya : Health Books
dapat mempersepsikan atau menafsirkan                          Publishing
stimulus     dengan        benar       maka       akan
                                                          Peter, H, 2006. Hipertensi Mendeteksi dan
didapatkan persepsi yang positif                   dan          Mencegah. Jakarta : Buana Populer
sebaliknya keluarga yang               tidak     dapat
                                                          Ridwan, M. 2010. Mengenal, Mencegah,
mempersepsikan stimulus dengan benar,                         Mengatasi Silent Killer Hipertensi.
                                                              Semarang. Pustaka Widyamara
maka akan          didapatkan persepsi yang
negatif.                                                  Santoso, J. 2010.Membonsai Hipertertensi.
                                                               Surabaya. Jaringpena
          Dukungan professional kesehatan
merupakan       faktor      lain       yang dapat         Soekidjo Notoatmojo, 2002. Metodologi
                                                               Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT.
mempengaruhi           kepatuhan          penderita
                                                               Rineka Cipta
menghadapi         kenyataan bahwa perilaku
                                                          Soekidjo Notoatmojo, 2005. Metodologi
sehat yang baru itu merupakan hal yang
                                                               Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT.
penting. Begitu juga            mereka           dapat         Rineka Cipta
mempengaruhi             perilaku         penderita
dengan cara mereka terhadap tindakan
tertentu dari penderita dan secara terus
menerus         memberikan             penghargaan
positif     bagi       penderita yang            telah
mampu        beradaptasi       dengan program
pengobatannya.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S, DR, 2005. Penuntun Diet.
     Jakarta : Gramedia

								
To top