Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja untuk Rantai Pasok Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia _teknik Industri_ by Iyandri_TilukWahyono

VIEWS: 5 PAGES: 11

									Jurnal Teknik Industri, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, 13-24
ISSN 1411-2485 print / ISSN 2087-7439 online


                 Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja untuk
              Rantai Pasok Kelapa Sawit Berkelanjutan di Indonesia
                                                    Rika Ampuh Hadiguna1*


          Abstract: As the country's largest palm oil producer in the world, Indonesian palm oil
          production is still encounter political barriers or non-tariff economy of several countries.
          Sustainable development policies have a role to overcome these obstacles. The research problem
          is how to build policies through the performance based risk assessment for sustainable palm oil
          supply chain in Indonesia. The research objective is to recommend policies that supported by
          performance-based risk assessment models for sustainable palm oil supply chain in Indonesia.
          Performance-based risk assessment algorithms have been developed and verified in a
          comprehensive manner. Model verification is conducted by analyzing the performance of crude
          palm oil supply chain based on expert’s analysis. This study has obtained the necessary
          indicators to assess the risk based on performance of sustainable crude palm oil supply chain.
          Model application has shown that risk level of sustainable crude palm oil in Indonesia relating to
          economics, environmental, and social aspects are moderate, respectively. However, there are
          some indicators that need to be considered with the level of risk is quite high, namely demand
          rate, quality of palm oil, timelines of product delivery, availability of crude palm oil and bullwhip
          effect. This paper has recommended some policies to address those risks.

          Keywords: Supply chain, palm oil, risk, performance, sustainable.


                        Pendahuluan                                     an minyak sawit Indonesia (Indonesian Sustainable
                                                                        Palm Oil, ISPO) pada Maret 2011. (http://health.
Manajemen rantai pasok minyak sawit (crude palm                         kompas.com).
oil) yang fokus pada efektivitas operasional telah
menjadi perhatian para peneliti seperti Djohar et al.                   Risiko yang dipicu dari isu keberlanjutan perlu di-
[4], Hadiguna et al. [8, 10], Machfud [16]. Selanjut-                   kelola dengan baik untuk menjamin kontinuitas
nya, isu keberlanjutan telah menjadi perhatian                          pasokan ke negara Eropa seperti Spanyol dan
serius para pelaku industri minyak sawit. Isu keber-                    Perancis. Selama ini, Spanyol mengimpor kelapa
lanjutan (sustainable) yang meliputi aspek ling-                        sawit dan kedelai dari Argentina. Laporan Direk-
kungan, aspek sosial dan aspek ekonomi telah men-                       torat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil
jadi isu strategis secara global. Menurut Beamon [1],                   Pertanian Kementerian Pertanian RI (http://pphp.
isu keberlanjutan sangat penting dalam manajemen                        deptan.go.id) menjelaskan bahwa ekspor minyak
rantai pasok untuk menjamin keberlangsungan                             sawit Indonesia ke Uni Eropa, pada 2008 mencapai
bisnis. Menurut Widodo [27] dan Widodo et al. [29],                     4,36 juta ton dengan kisaran harga per ton US$626
hal ini penting diperhatikan karena berkaitan                           (US$2,73 miliar) kemudian naik menjadi 4,79 juta
dengan dampak dari kedinamisan, ketidakpastian,                         ton dengan kisaran harga per ton US$454 (US$2,16
dan pertentangan tujuan ekologi, ekonomi, dan                           miliar) pada 2009 dan 4,06 juta ton pada 2010
sosial.                                                                 dengan kisaran harga per ton berkisar US$643
                                                                        (US$2,61 miliar). Salah satu hambatan ekspor ke
Sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di                        Spanyol adalah penerapan EU Renewable Directive
dunia, produksi minyak sawit Indonesia selalu men-                      yang berpotensi sebagai hambatan non-tarif dalam
dapatkan hambatan politik ekonomi atau non tarif                        perdagangan.
dari beberapa negara. Misalnya, Australia yang me-
netapkan Undang-Undang Food Standards Amand-                            Uraian di atas menunjukan bahwa isu keberlanjut-
ment (Truth in Labeling - Palm Oil) tahun 2011.                         an merupakan situasi yang kompleks sehingga
Situasi ini menjadi ancaman terhadap daya saing                         memicu munculnya risiko yang perlu dikelola secara
minyak sawit produksi Indonesia (http://www.                            sistematis. Kemunculan risiko tidak terlepas dari
indonesiafinancetoday.com). Pemerintah mengelola                        kinerja operasional yang berdampak pada tingkat
ancaman ini dengan mengeluarkan standar kelestari-                      strategis. Menurut Sabri dan Beamon [19], integrasi
                                                                        manajemen rantai pasok tingkat strategis dan ope-
1 Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Industri, Universitas Andalas.        rasional secara simultan sangat penting dilakukan.
Limau Manis, Padang 25163, Indonesia.                                   Di samping itu, risiko yang dipicu isu keberlanjutan
Email: hadiguna@ft.unand.ac.id
                                                                        memungkinkan terjadinya multi tafsir sebagaimana
*   Penulis korespondensi                                               dinyatakan Blengini dan Shield [2], Carter dan

                                                                   13
                 Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



Rogers [3], Sikdar [23]. Praktek rantai pasokan yang               manajemen risiko rantai pasok green belum banyak
berkelanjutan patut memperhatikan beragam pro-                     mendapatkan perhatian.
ses diantara pengadaan yang bertanggung jawab,
pemantauan produk, etika organisasi, dan operasi                   Hadiguna et al. [8] telah memperkenalkan sebuah
berkelanjutan menurut Wagner dan Svensson [28].                    model konseptual dari manajemen rantai pasok
                                                                   minyak sawit. Pada dasarnya, model koseptual ini
Upaya menjawab permasalahan isu keberlanjutan                      menjelaskan aktivitas-aktivitas kunci dan keter-
dalam rantai pasok minyak sawit adalah penilaian                   kaitannya dalam sebuah sistem kordinasi rantai
risiko keberlanjutan dan mitigasinya. Beberapa                     pasok. Aktivitas-aktivitas kunci tersebut mem-
studi sebelumnya antara lain tinjauan berbagai                     butuhkan tata kelola yang baik untuk mendapatkan
                                                                   praktik manajemen rantai pasok yang andal. Model-
model kuantitatif untuk mengelola risiko rantai
                                                                   model dari beberapa aktivitas kunci tersebut yang
pasok diantaranya oleh Faisal [5] dan Tang [25],
                                                                   telah dikembangkan antara lain Hadiguna dan
stabilitas kerjasama dinamis antar mitra dalam
                                                                   Machfud [9] yang mengembangkan model peren-
rantai pasok oleh Khan dan Burnes [14], pengaruh
                                                                   canaan produksi minyak sawit. Model dikem-
perubahan iklim terhadap keamanan produk                           bangkan menggunakan fuzzy programa linear yang
pangan oleh Jacxsens et al. [13]. Berdasarkan beber-               bermanfaat untuk optimasi produksi minyak sawit.
apa studi tersebut, penilaian berfokus hanya pada                  Hadiguna [10] juga mengembangkan sebuah model
prediksi kejadian yang mengganggu, bukan akar                      persediaan minyak sawit di tangki timbun pelabuh-
penyebab ketidakpastian yang dinyatakan oleh                       an. Model ini bermanfaat untuk menjamin keter-
Trkman dan McCormack [24]. Dalam konteks rantai                    sediaan produk sesuai dengan jadwal kedatangan
pasok minyak sawit, risiko ketidakpastian berke-                   kapal. Pengembangan model dengan menerapkan
lanjutan bersumber dari aspek ekonomi, lingkungan                  fuzzy kuantitas ukuran ekonomis yang dimodifikasi.
dan sosial politik. Akar ketidakpastian dapat dide-                Lanjutan dari model persediaan ini adalah peran-
teksi melalui kinerja periode-periode saat ini atau                cangan sistem pendukung keputusan yang dikem-
sebelumnya.                                                        bangkan oleh Machfud et al. [16]. Model ini sangat
                                                                   membantu pengambil keputusan dalam perencana-
Beberapa penelitian terdahulu belum mempertim-                     an dan pengendalian persediaan dalam rangka
bangkan hal ini. Penilaian risiko berbasis kinerja                 memenuhi tingkat pelayanan yang telah ditetapkan.
rantai pasok minyak sawit berkelanjutan menjadi
kunci penting untuk setiap tingkatan keputusan.                    Penelitian lainnya yang membahas rantai pasok
Para pengambil keputusan membutuhkan sebuah                        minyak sawit adalah Widodo et al. [29] yang
alat bantu dalam proses penilaian risiko berke-                    mengembangkan model dinamika sistem dengan
lanjutan. Tujuan studi adalah membangun model                      mempertimbangkan aspek pendapatan, kesejah-
yang berkemampuan melakukan penilaian risiko                       teraan sosial dan lingkungan. Penelitian ini mem-
berbasis kinerja untuk rantai pasok minyak sawit                   beri perhatian terhadap kebijakan peningkatan
berkelanjutan. Urgensi penelitian ini adalah kebu-                 produktivitas perkebunan dan dampaknya terhadap
tuhan terhadap sebuah alat analisis yang kom-                      lingkungan. Widodo [27] juga membahas mana-
prehensif untuk dimanfaatkan oleh pembuat kebi-                    jemen rantai pasok minyak sawit dengan memper-
jakan dalam pengelolaan sistem industri minyak                     timbangkan keberadaan industri furnitur. Model ini
sawit berkelanjutan.                                               dikembangkan menggunakan dinamika sistem
                                                                   untuk mendapatkan kondisi terbaik peningkatan
Sistem Rantai Pasok Minyak Sawit                                   produktivitas perkebunan kelapa sawit dengan
                                                                   memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk bahan
Supply chain management (SCM) atau manajemen                       baku industri furnitur. Djohar et al. [4] juga me-
rantai pasok minyak sawit merupakan salah satu                     ngembangkan model dinamika sistem untuk me-
sistem kompleks yang sangat menarik dipelajari.                    rumuskan skenario peningkatan daya saing minyak
Manajemen rantai pasok minyak sawit belum                          sawit melalui manajemen rantai pasok.
banyak mendapatkan perhatian dari para peneliti.
Dalam dekade terakhir, fokus para peneliti kelapa                  Penilaian Risiko Kerberlanjutan
sawit lebih diarahkan pada pengembangan per-
alatan. Dari aspek budidaya, upaya yang terus                      Penilaian risiko rantai pasok merupakan bagian
menerus dilakukan adalah meningkatkan produkti-                    yang penting untuk menjamin kelangsungan bisnis.
vitas. Hal ini tentunya perlu diiringi manajemen                   Dampak dari terjadinya risiko adalah kerugian baik
operasional yang handal sehingga produksi yang                     dari sisi kehilangan pendapatan maupun pencitraan
dihasilkan mampu memberikan manfaat bagi se-                       perusahaan atau produk yang menurun. Penilaian
luruh pihak yang berkepentingan. Ekonomi industri                  risiko menjadi penting untuk mengukur dampak
minyak sawit mentah masih menjadi perhatian                        yang akan terjadi dan perusahaan dapat menganti-
utama para peneliti. Isu-isu yang terkait dengan                   sipasinya.


                                                              14
                     Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



Tabel 1. Ringkasan studi penilaian risiko rantai pasok                 pengukuran kinerja berorientasi pada periode masa
         Model                        Pembahasan                       lalu. Makalah pada beberapa studi sebelumnya
Formulasi matematik       Jaringan rantai pasok, temasuk               menyajikan penilaian risiko dan pengukuran
[12, 21]                  inventori, profit, dan biaya total           kinerja masing-masing secara berdiri sendiri (stand
Simulasi [6, 26]          Kualitas dan kuantitas produk                alone).
Uji statistik [7,15,30]   Analisa faktor-faktor risiko
                                                                                         Metode Penelitian
Penelitian pengembangan metode penilaian risiko
rantai pasok masih terus dilakukan dan umumnya                         Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem
memberi perhatian kepada penerapan metode-                             dengan tahapan penelitian sebagai berikut: perta-
metode pengambilan keputusan kriteria majemuk.                         ma, tahap pemahaman situasi nyata. Pada tahapan
Perkembangan studi penilaian risiko rantai pasok                       ini dilakukan studi lapang, pustaka dan diskusi
dapat dikategorikan sustainable dan non-sustainable.                   perihal isu-isu keberlanjutan di industri kelapa
Kategori sustainable artinya mempertimbangkan                          sawit nasional.
isu-isu keberlanjutan termasuk aspek ekonomi,
sosial dan lingkungan. Non-sustainable hanya fokus                     Kedua, tahap identifikasi dan formulasi indikator-
pada aspek-aspek ekonomis seperti total biaya,                         indikator berdasarkan tiga aspek yaitu ekonomis,
mutu dan waktu.                                                        lingkungan dan sosial politik. Proses ini dilakukan
                                                                       dengan cara berdiskusi dengan para akademisi,
Beberapa publikasi penilaian risiko rantai pasok                       praktisi dan hasil-hasil penelitian yang relevan
green antara lain Sarkis penerapan analytical                          dengan isu minyak sawit berkelanjutan. Hasil
network process (ANP) untuk menilai risiko rantai                      identifikasi dijaring berdasarkan analisis logika.
pasok green oleh Sarkis [20]. Studi ini memperkenal-                   Proses ini dilakukan dengan mempelajari penger-
kan atribut-atribut green supply chain yang bersifat                   tian dari setiap indikator yang diperoleh dari pen-
umum untuk industry manufaktur dan menjelas-                           dapat para pakar. Tujuan penjaringan adalah
kan cara kerja dari ANP. Studi lainnya adalah                          menjamin tidak ada overlapping antar indikator dan
membangun sebuah metodologi penilaian risiko                           pengelompokan berdasarkan tiga aspek keberlan-
                                                                       jutan yang digunakan dalam studi ini.
rantai pasok green menggunakan fuzzy AHP oleh
Yang dan Li [32]. Studi yang telah dilakukan ini
                                                                       Ketiga, tahap perumusan algoritma dan komputasi.
fokus pada cara penentuan prioritas dari jenis-jenis
                                                                       Tahap ini bertujuan menghasilkan algoritma peni-
risiko rantai pasok green. Keunggulan dari studi ini
                                                                       laian kinerja, penilaian risiko dan integrasinya.
hanya kemampuan penentuan prioritas tetapi                             Algoritma diimplementasikan menggunakan baha-
belum teruji untuk penilaian risiko rantai pasok                       sa program komputer MATLAB R2009b. Proses
industri minyak sawit.                                                 perhitungan yang digunakan dalam studi ini meru-
                                                                       juk pada konsep non numeric multi criteria decision
Studi penerapan ANP lainnya dalam penilaian                            making oleh Yager [34]. Kinerja dinilai berdasarkan
risiko rantai pasok berdasarkan life cycle dari proses                 beberapa tingkatan, yaitu sangat baik, baik, cukup
dan produk oleh Xia dan Chen [31]. Metode yang                         baik, biasa, kurang baik, sangat kurang baik,
dikembangkan ini bertujuan untuk mendapatkan                           Buruk. Penilaian risiko juga menggunakan linguis-
indikator-indikator kritikal dari operasional rantai                   tik yang terdiri dari tingkatan, yaitu tidak ada dam-
pasok. Model matematik pemilihan pemasok dari                          pak, sangat kurang berdampak, kurang berdampak,
sistem rantai pasok green dikembangkan oleh Yeh                        berdampak biasa, cukup besar dampaknya, besar
dan Chuang [33] untuk multi tahap dan setiap                           dampaknya, sangat besar dampaknya.
tahap melakukan proses pemilihan pemasok. For-
                                                                       Keempat, tahap pengumpulan data yang merupa-
mulasi matematik diselesaikan menggunakan algo-
                                                                       kan bagian dari proses verifikasi model. Pengum-
ritma genetika. Ada empat indikator yang diformu-
                                                                       pulan data menggunakan kuesioner dan disebarkan
lasikan menjadi fungsi obyektif yaitu biaya total,                     kepada 15 orang pakar. Pakar dalam studi ini
waktu total, kualitas produk dan kepedulian ling-                      adalah orang yang mempunyai pengetahuan dan
kungan. Model ini untuk pemilihan pemasok me-                          pengalaman baik secara akademik ataupun praktis
lalui penanganan risiko dari setiap alterantif                         di bidang industri kelapa sawit. Para pakar yang
pemasok. Ringkasan beberapa studi penilaian risiko                     dihubungi berlatar belakang pendidikan S2 dan S3
rantai pasok dapat dilihat pada Tabel 1.                               dan punya pengalaman penelitian atau praktisi
                                                                       dibidang industri kelapa sawit.
Studi ini akan membahas sebuah konsep baru yaitu
penilaian risiko berbasis kinerja. Penilaian risiko                    Kelima, tahap analisis kebijakan. Proses ini di-
berorientasi pada periode akan datang, sedangkan                       bangun melalui basis aturan yang menghubungkan


                                                                  15
                   Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



antara nilai risiko dan kumpulan penyelesaian.                       Regulator (Legal, Fair, Safe, True): Pemenuhan
Data yang diperoleh dari pakar diolah untuk men-                     terhadap seluruh persyaratan hukum yang berlaku
dapatkan nilai kinerja dan tingkat risiko.                           yang mencakup peraturan tentang penguasaan
                                                                     tanah dan hak atas tanah, tenaga kerja, praktek-
            Hasil dan Pembahasan                                     praktek pertanian (misalnya penggunaan pestisida
                                                                     atau bahan-bahan kimia), lingkungan (misalnya UU
Analisis Kebutuhan Pemangku Kepentingan                              tentang satwa liar, polusi, pengelolaan lingkungan,
                                                                     dan kehutanan), tempat penyimpanan, transportasi
Analisis kebutuhan para pemangku kepentingan                         dan proses pengolahan, perundang-undangan yang
dilakukan berdasarkan ukuran kepuasan dan kon-                       dikeluarkan di bawah UU atau konvensi interna-
tribusi oleh Neely et al. [18]. Analisis dilakukan                   sional misalnya Konvensi Keanekaragaman Hayati,
dengan merujuk pada naskah akhir interpretasi                        CBD (Prinsip 2). Memberi citra positif.
nasional prinsip dan kriteria untuk produksi
minyak sawit berkelanjutan Republik Indonesia                        Masyarakat: Kontribusi terhadap pembangunan
atau Roundtable on Sustainable Palm Oil Indo-                        masyarakat lokal (kriteria 6.11). Adanya transparansi
nesian National Interpretation Working Group                         data, komunikasi, konsultasi, sistem penang-
(RSPO INA-NIWG). Secara umum stakehoders                             gapan keluhan, prosedur kompensasi dan negosiasi
satisfaction sebagai berikut:                                        (kriteria 6.2, 6.3, 6.4).

Konsumen (Fast, Right, Cheap, Easy): Kualitas CPO                    Selanjutnya, analisis terhadap stakeholders contri-
(sustainable CPO). Harga yang kompetitif. Kemu-                      bution dapat diuraikan sebagai berikut:
dahan dalam administrasi.
                                                                     Konsumen (Profit, Growth, Opinion, Trust): Mem-
Employee (Purpose, Care, Skill, Pay): Pemberian                      berikan keuntungan berupa profit bagi perusahaan.
upah yang sesuai atau paling tidak memenuhi                          Membantu mempromosikan perusahaan terkait
standar minimum industri atau hukum, dan cukup                       sustainable.
untuk memenuhi kebutuhan dasar pekerja (kriteria
6.5). Tersedia fasilitas perumahan, air bersih,                      Employee (Hands, Hearths, Minds, Voice): Melaku-
kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang                         kan pelayanan informasi kepada stakeholder ber-
memadai (kriteria 6.5). Diperbolehkan adanya                         kaitan isu lingkungan, sosial, dan hukum (kriteria
serikat kerja dan hak untuk berkumpul dan                            1.1 dan 1.2). Melakukan rencana replanting tahun-
mengeluarkan pendapat (kriteria 6.6). Perusahaan                     an untuk minimum 5 tahun ke depan yang setiap
tidak terlibat atau mendukung diskriminasi ber-                      tahun dilakukan kaji ulang (kriteria 3.1). Mendoku-
basis ras, kasta, kebangsaan, agama, ketidak-                        mentasikan prosedur operasi kebun dan pabrik
mampuan fisik, jender, orientasi seksual, keanggo-                   (kriteria 4.1). Melakukan praktek mempertahankan
taan serikat, afiliasi politik atau umur (kriteria 6.8).             dan meningkatkan kesuburan tanah (kriteria 4.2).
Pencegahan pelecehan seksual dan berbagai bentuk                     Melakukan meminimalisasi dan mengendalikan
kekerasan terhadap perempuan dan untuk me-                           erosi dan degradasi tanah (kriteria 4.3). Memper-
lindungi hak reproduksi mereka dikembangkan dan                      tahankan kualitas dan ketersediaan air permukaan
diaplikasikan di lingkungan kerja (kriteria 6.9).                    dan air tanah (kriteria 4.4). Menerapkan teknik
Jaminan kesehatan dan keselamatan kerja (kriteria                    Pengendalian Hama Terpadu atau PHT (kriteria
4.7). Pelatihan skill karyawan untuk bekerja dan                     4.5). Mengurangi/mencegah dampak negatif dan
menyelamatkan diri (kriteria 4.8).                                   mendorong dampak positif (kriteria 5.1). Meng-
                                                                     identifikasi spesies langka, terancam dan hampir
Investor berupa return, reward, figures, faith                       punah dengan nilai konversi tinggi (kriteria 5.2).
(Prinsip 3): Peningkatan keuntungan. Peningkatan                     Mengurangi, mendaur ulang dan membuang limbah
skill karyawan. Minimasi biaya operasional. Kemu-                    dengan cara yang tepat (kriteria 5.3). Efisiensi
dahan pengawasan dan perkembangan usaha (selu-                       energi dan memaksimalkan penggunaan energi
ruh hasil terukur didokumentasikan dengan baik).                     terbarukan (kriteria 5.4). Menghindari penggunaan
Perbaikan terus-menerus pada wilayah-wilayah                         api untuk pemusnahan limbah atau pembukaan
utama aktifitas (kriteria 8.1).                                      lahan (kriteria 5.5). Mengurangi pencemaran dan
                                                                     emisi, termasuk gas rumah kaca (kriteria 5.6).
Supplier (Profit, Growth, Opinion, Trust): Per-
kebunan dan pabrik berurusan adil dan transparan                     Investor (Capital, Credit, Risk, Support): Menyedia-
(kriteria 6.10). Pembayaran tepat waktu. Admi-                       kan modal. Memperhatikan perkembangan usaha.
nistrasi yang mudah. Kelangsungan kerjasama yang                     Menyediakan lapangan kerja.
baik.



                                                                16
                     Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



Tabel 2. Struktur indikator-indikator risiko                           Notasi sebagai berikut:
                                                                          : ukuran kinerja parsial (partial performance)
   Aspek                  Indikator-indikator
                                                                            untuk obyektif ke-i
               E1.   Volume permintaan
                                                                          : ukuran kinerja total (total performance)
               E2.   Harga minyak sawit mentah
                                                                          : bobot (weight) untuk KPI ke- j dan obyektif
               E3.   Harga tandan buah segar
               E4.   Kualitas minyak sawit mentah                           ke-i
                                                                          : skor untuk KPI ke-j dan obyektif ke-i
               E5.   Ketepatan jadwal pengiriman
Ekonomis             minyak sawit                                         : indeks untuk obyektif
               E6.   Ketersediaan minyak sawit                            : indeks untuk KPI
                     mentah
               E7.   Losses                                            Formulasi penentuan ukuran kinerja dapat disele-
               E8.   Biaya pengolahan                                  saikan menggunakan algoritma komputasi sebagai
               E9.   Distorsi informasi permintaan                     berikut:
               L1.   Konsumsi energi
               L2.   Pengolahan limbah bernilai                        Tetapkan bobot dan capaian dari setiap indikator.
                     tambah                                            Hitung nilai score untuk setiap KPI untuk periode t
           L3.       Reuse and recycle material                        dan simpan dalam database.
Lingkungan L4.       Ancaman bencana alam
           L5.       Remanufacturing                                   Hitung pencapaian setiap KPI dengan cara mem-
           L6.       Kualitas lahan                                    bandingkan capaian dengan target yang telah di-
           L7.       Penerapan teknologi ramah                         tetapkan. Simpan hasil di dalam database. Dapat-
                     lingkungan non-pengolahan                         kan score untuk setiap indikator berdasarkan inter-
                                                                       val capaian yang telah ditetapkan. Simpan di dalam
               S1.   Mogok kerja buruh
                                                                       database.
               S2.   Unjuk rasa masyarakat
Sosial         S3.   Perundangan lingkungan hidup
                                                                       Hitung        untuk periode t dan simpan dalam
               S4.   Budaya lokal
               S5.   Serangan kriminal                                 database. Panggil bobot untuk setiap KPI dari
                                                                       obyektif ke i. Panggil skor untuk setiap KPI dari
                                                                       obyektif ke i. Hitung hasil kali   dan    untuk j.
Supplier (Fast, Right, Cheap, Easy): Melakukan
                                                                       Jumlahkan hasil kali. Simpan di database.
pengiriman tepat waktu. Komitmen terhadap kua-
litas. Regulator (Rules, Reason, Clarity, Advise):
                                                                       Hitung        untuk periode t dan simpan dalam
Mendapatkan perlindungan keamanan dalam men-
                                                                       database. Panggil bobot setiap KPI dari database.
jalankan usaha. Ketepatan waktu dalam pengajuan
                                                                       Panggil      dari database. Hitung hasil kali dan
permohonan perijinan. Melakukan pengecekan ter-
                                                                          untuk i. Simpan di dalam database.
hadap pemenuhan hukum.

Masyarakat: Menjaga keamanan lingkungan seki-                          Ulangi perhitungan pencapaian setiap KPI jika
tar perusahaan. Mempromosikan kepedulian sosial                        bobot KPI dan obyektif tidak berubah. Jika tidak,
perusahaan.                                                            maka tetapkan bobot dan capaian dari setiap
                                                                       indikator.
Model Pengukuran Kinerja
                                                                       Model Penilaian Risiko
Analisis kebutuhan para pemangku kepentingan
dapat diformulasikan menjadi kumpulan indikator                        Teknik penilaian risiko yang dikembangkan terdiri
yang diperlukan dalam penilaian risiko dan peng-                       dari dua bagian, pertama adalah penilaian kemung-
ukuran kinerja. Indikator-indikator diformulasikan                     kinan risiko dan kedua adalah penilaian terhadap
berdasarkan tiga aspek yaitu ekonomis, lingkungan                      dampak atau kekerasan risiko. Agregasi tingkat
dan social. Hasil formulasi indikator-indikator dapat                  risiko adalah perkalian antara kemungkinan risiko
dilihat pada Tabel 2.                                                  dan kekerasan risiko. Algoritma dikembangkan ber-
                                                                       dasarkan operator ordered weighted average oleh
Ada dua jenis ukuran kinerja yang diformulasikan                       Yager [34]. Rumusan algoritma sebagai berikut:
yaitu kinerja parsial dan kinerja keseluruhan
berdasarkan key performance indicators (KPI). Ada-                     Tetapkan banyak pakar penilai risiko           dan
pun formulasi matematika untuk kedua jenis                             banyak titik-titik skala penilaian         dimana
ukuran kinerja sebagai berikut:                                                                . Selanjutnya Berikan
      ∑                                        (1)                     penilaian kemungkinan risiko oleh setiap pakar
      ∑ ∑                                      (2)                                 untuk seluruh pemicu risiko i. Berikan


                                                                  17
                    Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



penilaian dampak risiko oleh setiap pakar k untuk                     P9. Kerjasama penelitian dan pengembangan an-
seluruh pemicu risiko i.                                                   tara pemerintah, swasta dan lembaga peneli-
                                                                           tian termasuk perguruan tinggi.
Hitung nilai agregasi dari seluruh pakar untuk                        P10. Perumusan agenda riset pengembangan komo-
kemungkinan risiko dan dampak risiko untuk setiap                          ditas kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan
pemicu risiko. Langkah-langkah agregasi nilai seba-                        pangan (minyak goreng), pakan, bahan bakar
gai berikut:                                                               dan serat, penelitian pengembangan daya
                                                                           saing.
Lakukan reordering nilai-nilai berdasarkan nilai                      P11. Penyediaan dan pemberian informasi oleh lem-
skala tertinggi ke skala terendah,    untuk setiap                         baga-lembaga pemerintah pusat dan daerah
indikator ke-j dimana j = 1,2,...,r.                                       tentang perkebunan dan industri pengolahan
Definisikan fungsi perataan aritmatik       untuk                          kelapa sawit.
setiap indikator j menggunakan:                                       P12. Respon kebijakan kontra kampanye negatif
                                                                           terhadap kelapa sawit dengan memanfaatkan
                [             ]                                            fakta dan hasil penelitian tentang kelapa sawit.
                                                                      P13. Meningkatkan intensitas promosi dan advokasi
                                                                           dalam menghadapi kampanye negatif terhadap
Bandingkan         dan       . Pilih nilai minimum.
                                                                           kelapa sawit.
Dapatkan nilai agregasi yaitu
                                                                      P14. Menggunakan Indonesian Sustainable Palm
        {           } untuk setiap
                                                                           Oil (ISPO) sebagai alat promosi, advokasi dan
                                                                           kampanye publik untuk memperkuat posisi
Ulangi proses agregasi ini untuk mendapatkan nilai                         tawar kelapa sawit Indonesia.
agregasi tingkat faktor.                                              P15. Sosialisasi dan pelatihan penerapan prinsip dan
                                                                           kriteria berkelanjutan terutama kepada petani.
Tempatkan nilai agregasi kemungkinan risiko                           P16. Monitoring dan evaluasi penerapan prinsip dan
setiap faktor-faktor risiko sebagai    dan dampak                          kriteria berkelanjutan.
risiko dari setiap faktor-faktor risiko sebagai .                     P17. Fasilitasi promosi, advokasi dan kampanye
Tetapkan negasi dari sebagai Neg ). Dapatkan                               positif bahwa pembangunan perkebunan di
nilai agregasi akhir sebagai         {         }]                          Indonesia telah menerapkan prinsip dan kri-
                                                                           teria pembangunan kelapa sawit berkelan-
Rekomendasi Pengelolaan Risiko                                             jutan.
                                                                      P18. Kerjasama kemitraan antara perusahaan per-
Tingkat risiko yang diperoleh dari hasil penilaian                         kebunan dan industri pengolahan kelapa dengan
akan ditindak lanjuti sebagai rencana aksi. Studi ini                      masyarakat sekitar/petani untuk mengem-
menggunakan hasil studi sebelumnya oleh Haryana                            bangkan perkebunan rakyat.
et al. [11] yang telah merumuskan kebijakan dan                       P19. Penguatan SDM bidang kelembagaan petani,
strategi berkelanjutan industri kelapa sawit di                            baik dari pihak petani maupun perusahaan.
Indonesia. Rumusan tersebut dirujuk sebagai basis                     P20. Modifikasi program revitalisasi perkebunan
pengetahuan dalam model yang dikembangkan.                                 kelapa sawit melalui penyediaan fasilitas
Basis pengetahuan ini dipandang sebagai kumpulan                           kredit tanpa jaminan, terutama untuk perema-
penyelesaian layak dasar (basic feasible solutions).                       jaan perkebunan kelapa sawit rakyat.
Kumpulan penyelesaian sebagai berikut:                                P21. Pemberian subsidi bunga sehingga tingkat
P1. Pembentukan klaster industri kelapa sawit.                             bunga kredit menjadi murah dan terjangkau
P2. Pengembangan jaringan infrastruktur secara                             oleh petani.
     terintegrasi.                                                    P22. Penyediaan tenaga pendamping dalam pene-
P3. Insentif fiskal bea masuk untuk peralatan dan                          rapan inovasi teknologi dan kelembagaan.
     mesin-mesin.                                                     P23. Penyediaan lahan bagi petani untuk mengua-
P4. Alokasi kredit bersubsidi bunga untuk inves-                           sai lahan-lahan terlantar atau lahan lain sesuai
     tasi dan modal kerja pengembangan industri                            ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
     hilir.                                                           P24. Pemberdayaan dan penguatan kelembagaan
P5. Insentif bea keluar untuk ekspor produk hilir                          petani sehingga kelembagaan petani mem-
     dan produk samping.                                                   punyai status hukum yang pasti.
P6. Disinsentif bea keluar untuk ekspor bahan                         P25. Sosialisasi dan pelatihan kepada petani ten-
     mentah dengan tetap memperhatikan keber-                              tang penerapan berbagai teknologi, termasuk
     adaan industri hulu.                                                  tentang bibit palsu, dalam rangka pem-
P7. Pemberian disinsentif diberlakukan terhadap                            bangunan kelapa sawit berkelanjutan.
     pelanggar kelapa sawit berkelanjutan.                            P26. Penerapan model peremajaan kelapa sawit
P8. Peningkatan anggaran dan investasi litbang.                            yang telah memperhitungkan kebutuhan tek-


                                                                 18
                    Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



       nologi, modal dan manajemen peremajaan ter-                    dapat memberikan penilaian kinerja rantai pasok
       utama bagi perkebunan kelapa sawit rakyat.                     berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetap-
P27.   Pengembangan layanan penunjang agribisnis                      kan. Lakukanlah proses komputasi untuk agregasi
       kelapa sawit, seperti penyediaan teknologi,                    kinerja, proses komputasi untuk tingkat risiko dan
       sarana produksi (pupuk organik dan non-                        proses basis aturan untuk penentuan kebijakan.
       organik serta obat-obatan) dan prasarana (alat                 Melalui hasil perhitungan tersebut maka rekomen-
       dan mesin), serta informasi agribisnis terutama                dasi kebijakan dapat diusulkan. Lakukan lagi
       bagi perkebunan kelapa sawit rakyat.                           penilaian kinerja rantai pasok oleh setiap pemangku
P28.   Penerapan kerjasama kemitraan antara lem-                      kepentingan untuk periode penilaian berikutnya.
       baga petani dan perusahaan yang efektif dan
       berkeadilan sesuai ketentuan peraturan per-                    Kerangka kerja penilaian risiko berbasis kinerja
       undang-undangan yang berlaku (UU Kemi-                         yang diusulkan dapat memainkan peran penting
       traan, UU Larangan Praktek Monopoli dan                        dalam proses pembuatan kebijakan, antisipasi krisis
       Persaingan Tidak Sehat dan Aturan-aturan                       dan deteksi dini. Sistem ini memungkinkan pe-
       Pelaksanaannya).                                               mangku kepentingan untuk menavigasi sejumlah
P29.   Fasilitasi pengembangan kelembagaan petani                     besar informasi secara cepat dan mengakomodir
       melalui pertumbuhan dari bawah dan mampu                       perbedaan pendapat antara berbagai pihak yang
       menampung kepentingan para petani anggota-                     terlibat. Selain itu, sistem ini dapat mengeksplorasi
       nya dan pengembangan kegiatan usaha.                           keterkaitan antara faktor-faktor yang dapat mem-
P30.   Pengembangan sistem manajemen penerapan                        pengaruhi keputusan. Kerangka kerja dari sistem
       hukum dan perizinan pembangunan kelapa                         dapat dilihat pada Gambar 1.
       sawit berkelanjutan dengan menerapkan indi-
       kator dan persyaratan yang jelas dan tertib.                   Analisis Risiko Rantai Pasok di Indonesia
P31.   Percepatan padu serasi antara Tata Guna
       Hutan Kesepakatan (TGHK) dengan Rencana                        Kinerja rantai pasok minyak sawit berkelanjutan
       Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) semua                            tidak terlepas dari kepentingan ekonomis. Menurut
       tingkatan.                                                     Manurung [17] jenis-jenis biaya pengelolaan perke-
P32.   Percepatan pelepasan kawasan hutan untuk                       bunan kelapa sawit merupakan penjumlahan dari
       hutan bagi areal penggunaan lain (APL) sesuai                  semua pengeluaran dalam kurun waktu satu tahun
       perundang-undangan yang berlaku termasuk                       tertentu, untuk melaksanakan kegiatan tertentu,
       moratorium hutan disertai penguatan hukum                      sesuai dengan jadual pelaksanaan kegiatan. Biaya-
       dalam implementasinya.                                         biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan
P33.   Pemberian izin perluasan kebun diberlakukan                    dalam pelaksanaan kegiatan proyek di antaranya
       untuk perusahaan yang menerapkan pem-                          adalah: (i) mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU)
       bangunan berkelanjutan.                                        lahan perkebunan kelapa sawit, (ii) investasi
P34.   Perluasan lahan hanya diijinkan bila produk-                   tanaman kelapa sawit, (iii) pemeliharaan tanaman,
       tivitas kebun sudah mencapai titik optimal.                    (iv) pemanenan TBS, (v) pemupukan, (vi) pengang-
P35.   Perluasan dilakukan dengan memanfaatkan                        kutan TBS ke pabrik pengolahan, (vii) investasi
       lahan pertanian terlantar.                                     pembangunan pabrik, (viii) biaya pengolahan TBS
                                                                      menjadi CPO dan KPO, (ix) biaya pengangkutan
Kerangka Kerja Sistem                                                 CPO dan KPO dari lokasi PKS ke pelabuhan ekspor,
                                                                      (x) biaya overhead, dan (xi) biaya depresiasi.
Sistem beroperasi dengan prosedur menggunakan
masukan non-numerik. Sistem ini menggunakan                           Rangkaian kegiatan rantai pasok memberikan kon-
proses pengambilan keputusan berkelompok dengan                       tribusi terhadap tiga aspek keberlanjutan. Tentu-
pertimbangan bahwa perumusan kebijakan melibat-                       nya, upaya peningkatan kinerja minyak sawit ber-
kan beragam pihak. Pendekatan ini dianggap tepat                      kelanjutan dapat dievaluasi melalui kumpulan
untuk melakukan penilaian risiko berbasis kinerja.                    indikator. Hasil penilaian kinerja minyak sawit
Sistem yang diusulkan ini berkemampuan mem-                           berkelanjutan dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil
berikan penilaian operasional, taktis dan strategis.                  penilaian diperoleh melalui pendapat para pakar
Kerangka kerja model terdiri dari beberapa                            baik yang terkait dengan capaian maupun standar
langkah, yaitu:                                                       penilaian. Aplikasi dari model yang dikembangkan
                                                                      dalam studi ini adalah manajemen rantai pasok
Tetapkan banyak pemangku kepentingan yang                             secara makro. Model ini juga dapat diterapkan
dilibatkan dalam proses penilaian. Pemangku ke-                       untuk sistem rantai pasok skala mikro misalnya
pentingan inilah yang akan menilai bobot dampak                       manajemen rantai pasok pada perusahaan perke-
risiko untuk setiap indikator. Selanjutnya proses                     bunan kelapa sawit. Hasil dari kinerja pada Tabel 3
komputasi untuk agregasi dampak risiko dapat                          mencerminkan kinerja rantai pasok minyak sawit
dilakukan, sehingga setiap pemangku kepentingan                       berkelanjutan di Indonesia.


                                                                 19
                      Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



                                                                        penting untuk menentukan dugaan yang terbaik
                Sistem
                                            Formalisasi sistem
                                                                        supaya dapat dilakukan penentuan prioritas dengan
              pembelajaran                                              baik. Kesulitan dalam pengukuran risiko adalah
                                                                        menentukan kemungkinan terjadi suatu risiko
                                                                        karena informasi statistik tidak selalu tersedia
      Basis
                        Basis data             Hasil model              untuk beberapa risiko tertentu. Selain itu, meng-
      model
                                                                        evaluasi dampak severity (kerusakan) seringkali
                                                                        cukup sulit untuk asset intangible. Dampak adalah
                 Basis                                                  efek biaya, waktu dan kualitas yang dihasilkan
                                                Antarmuka
              pengetahuan                                               suatu risiko. Penilaian dampak risiko keberlanjutan
                                                                        dari minyak sawit mentah di Indonesia dapat dilihat
                                                                        pada Tabel 4.
         Sistem pemrosesan                    Sistem dialog
                                                                        Rekomendasi Kebijakan untuk Indonesia

                                                                        Pada dasarnya, pengelolaan industri minyak sawit
           Gambar 1. Kerangka kerja sistem
                                                                        mentah dapat dilakukan dengan kebijakan yang
                                                                        efektif baik secara ekonomis, ramah lingkungan dan
Table 3. Kinerja minyak sawit berkelanjutan di Indonesia                sosial budaya. Lebih daripada itu, penciptaan
Aspek      Indikator-indikator                  Kinerja                 peluang ekonomi dari minyak sawit berkelanjutan
           Volume permintaan                    Cukup baik              dapat mengentaskan masyarakat pedesaan dari
           Harga minyak sawit                   Biasa                   kemiskinan. Hal ini dapat diyakini karena per-
           mentah                                                       mintaan terhadap produk minyak sawit dunia akan
           Harga tandan buah                    Biasa                   terus mengalami peningkatan. Manfaat ekonomi
           segar                                                        yang diperoleh masyarakat dari pengusahaan
           Kualitas minyak sawit                Cukup baik              kebun sawit menjadi efek berganda khususnya
           mentah
Ekonomis                                                                pengentasan kemiskinan. Menurut Syaukat [22],
           Ketepatan jadwal                     Cukup baik
           pengiriman minyak                                            pengelolaan kebun yang lebih baik (better mana-
           sawit                                                        gement of the plantation) mampu menekan dampak
           Ketersediaan minyak                  Cukup baik              negatif lingkungan melalui pengolahan minyak
           sawit mentah                                                 sawit berkelanjutan dan keadilan sosial harus
           Losses                               Biasa                   dijamin oleh Pemerintah.
           Biaya pengolahan                     Biasa
           Efek bullwhip                        Biasa                   Tabel 4. Tingkat risiko keberlanjutan
           Konsumsi energi                      Biasa
           Pengolahan limbah                    Biasa                             Indikator-indikator                      Risiko
           bernilai tambah                                              Volume permintaan                              Cukup besar
           Reuse and recycle                    Biasa                   Harga minyak sawit mentah                      Biasa
Lingkungan material                                                     Harga tandan buah segar                        Biasa
           Ancaman bencana alam                 Kurang baik             Kualitas minyak sawit mentah                   Cukup besar
           Remanufacturing                      Biasa                   Ketepatan jadwal pengiriman                    Cukup besar
           Kualitas lahan                       Biasa                   minyak sawit
           Penerapan teknologi                  Biasa
                                                                        Ketersediaan minyak sawit mentah               Cukup besar
           green non-pengolahan
                                                                        Losses                                         Biasa
           Mogok kerja buruh                    Biasa
           Unjuk rasa masyarakat                Kurang baik             Biaya pengolahan                               Biasa
Sosial     Perundangan                          Biasa                   Distorsi informasi permintaan                  Cukup besar
           lingkungan hidup                                             Konsumsi energi                                Biasa
           Budaya lokal                         Biasa                   Pengolahan limbah bernilai tambah              Biasa
           Serangan kriminal                    Biasa                   Reuse and recycle material                     Biasa
                                                                        Bencana alam                                   Biasa
Proses pengukuran risiko dapat dilakukan dengan                         Remanufacturing                                Biasa
cara melihat potensial terjadinya seberapa besar                        Kualitas lahan                                 Biasa
severity (kerusakan) dan probabilitas terjadinya                        Penerapan teknologi ramah                      Biasa
risiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya                      lingkungan non-pengolahan
suatu kejadian sangatlah subyektif dan lebih ber-                       Mogok kerja buruh                              Biasa
dasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa risiko                          Unjuk rasa masyarakat                          Biasa
memang mudah untuk diukur, namun sangatlah                              Perundangan lingkungan hidup                   Biasa
sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian                      Budaya lokal                                   Biasa
yang sangat jarang terjadi. Pada tahap ini sangat                       Serangan kriminal                              Biasa


                                                                   20
                  Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



Hasil penilaian risiko menunjukan bahwa beberapa                    adalah: Penyediaan dan pemberian informasi oleh
indikator dari aspek ekonomis memberikan indikasi                   lembaga-lembaga pemerintah pusat dan daerah
risiko cukup besar. Analisis kebijakan yang relevan                 tentang perkebunan dan industri pengolahan kelapa
untuk mengelola risiko beberapa indikator tersebut                  sawit (P11). Respon kebijakan kontra kampanye
sebagai berikut:                                                    negatif terhadap kelapa sawit dengan meman-
                                                                    faatkan fakta dan hasil penelitian tentang kelapa
Pengelolaan risiko untuk menjaga kinerja volume                     sawit (P12).
permintaan adalah: Pembentukan klaster industri
kelapa sawit (P1). Pengembangan jaringan infra-                                              Simpulan
struktur secara terintegrasi (P2). Insentif bea keluar
untuk ekspor produk hilir dan produk samping (P5).                  Makalah ini memperkenalkan model penilaian
Menggunakan Indonesian Sustainable Palm Oil                         risiko berbasis kinerja untuk rantai pasok yang
(ISPO) sebagai alat promosi, advokasi dan kam-                      sangat bermanfaat untuk perumusan strategi baik
panye publik untuk memperkuat posisi tawar                          pada tingkat perusahaan maupun secara makro.
kelapa sawit Indonesia (P14).                                       Penerapan konsep ini telah dilakukan untuk mana-
                                                                    jemen rantai pasok minyak sawit berkelanjutan di
Pengelolaan risiko untuk menjaga kinerja kualitas                   Indonesia. Studi ini mengusulkan indikator-indi-
minyak sawit adalah: Pemberian disinsentif diber-
                                                                    kator kinerja yang bermanfaat dalam penerapan
lakukan terhadap pelanggar kelapa sawit berkelan-
                                                                    ISPO. Model yang telah jelaskan dalam makalah ini
jutan (P7). Kerjasama penelitian dan pengem-
                                                                    fokus menilai risiko berbasis kinerja rantai pasok
bangan antara pemerintah, swasta dan lembaga
                                                                    minyak sawit mentah berkelanjutan di Indonesia
penelitian termasuk perguruan tinggi (P9). Penye-
                                                                    pada tingkat makro. Keluaran dari model adalah
diaan dan pemberian informasi oleh lembaga-
                                                                    nilai-nilai kinerja dan risiko dari setiap indikator
lembaga pemerintah pusat dan daerah tentang
perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit                     keberlanjutan. Verifikasi model dilakukan dengan
(P11). Meningkatkan intensitas promosi dan advo-                    menganalisis kinerja dan risiko rantai pasok minyak
kasi dalam menghadapi kampanye negatif terhadap                     sawit mentah berdasarkan bantuan analisis para
kelapa sawit (P13). Menggunakan Indonesian                          pakar.
Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai alat promosi,
advokasi dan kampanye publik untuk memperkuat                       Aplikasi model menunjukan bahwa kinerja minyak
posisi tawar kelapa sawit Indonesia (P14).                          sawit mentah berkelanjutan di Indonesia berada
                                                                    pada level biasa. Namun demikian, beberapa indi-
Pengelolaan risiko untuk menjaga kinerja ketepatan                  kator dengan tingkat risiko cukup besar, yaitu
jadwal pengiriman minyak sawit mentah kepada                        volume permintaan, kualitas minyak sawit, kete-
para konsumen adalah pengembangan jaringan                          patan jadwal pengiriman, ketersediaan minyak sawit
infrastruktur secara terintegrasi (P2).                             mentah dan distorsi informasi. Aplikasi model juga
                                                                    telah memberikan beberapa kebijakan untuk meng-
Pengelolaan risiko untuk menjaga kinerja keterse-                   atasi risiko dari setiap indikator tersebut.
diaan minyak sawit mentah adalah: Pemberian
subsidi bunga sehingga tingkat bunga kredit men-                    Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk studi lan-
jadi murah dan terjangkau oleh petani (P21). Penye-                 jutan, yaitu perancangan sistem penunjang kepu-
diaan tenaga pendamping dalam penerapan inovasi                     tusan yang user friendly dan penerapan konsep
teknologi dan kelembagaan (P22). Penyediaan lahan                   penilaian risiko berbasis kinerja untuk industri lain-
bagi petani untuk menguasai lahan-lahan terlantar                   nya. Penerapan dapat dilakukan untuk skala mikro
atau lahan lain sesuai ketentuan perundang-un-                      maupun makro. Langkah penting yang perlu diper-
dangan yang berlaku (P23). Pemberdayaan dan                         hatikan dalam menerapkan konsep ini untuk
penguatan kelembagaan petani sehingga kelem-                        industri lainnya adalah identifikasi indikator-indi-
bagaan petani mempunyai status hukum yang pasti                     kator.
(P24). Sosialisasi dan pelatihan kepada petani
tentang penerapan berbagai teknologi, termasuk                                       Ucapan Terima Kasih
tentang bibit palsu, dalam rangka pembangunan
kelapa sawit berkelanjutan (P25). Penerapan model                   Penulis mengucapkan terima kasih kepada Malay-
peremajaan kelapa sawit yang telah memperhitung-
                                                                    sia Institute of Transport (MITRANS) Universiti
kan kebutuhan teknologi, modal dan manajemen
                                                                    Teknologi MARA, Malaysia yang telah mendukung
peremajaan terutama bagi perkebunan kelapa sawit
                                                                    penelitian ini dan Emilda Sayuti dalam pengum-
rakyat (P26).
                                                                    pulan data. Penulis memberikan apresiasi kepada
                                                                    reviewer yang telah memberikan saran untuk
Pengelolaan risiko untuk mengurangi dampak
distorsi informasi permintaan minyak sawit mentah                   penyempurnaan naskah awal.


                                                               21
                  Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



                 Daftar Pustaka                                     12. Hahn, G. J., and Kuhn, H., Value-Based Perfor-
                                                                        mance and Risk Management in Supply Chains:
1.  Beamon, B. M., Sustainability and Future of                         A Robust Optimization Approach, International
    Supply Chain Management, Journal Operations                         Journal of Production Economics, 2011, Doi:
    and Supply Chain Management, 1(1), 2008, pp.                        10.1016/j.ijpe.2011.04.002
    4-18.                                                           13. Jacxsens, L., Luning, P. A., van der Vorst, J. G.
2. Blengini, G. A., and Shields, D. J., Overview of                     A. J., Devlieghere, F., Leemans, R., and Uytten-
    the Building Products Supply Chain in Italy,                        daele, M., Simulation Modelling and Risk
    Management of Environmental Quality: An                             Assessment as Tools to Identify the Impact of
    International Journal, 21(4), 2010, pp. 477–493.                    Climate Change on Microbiological Food Safety–
3. Carter, C., and Rogers, D. S., A Framework of                        The Case Study of Fresh Produce Supply Chain,
    Sustainable Supply Chain Management: Moving                         Food Research International, 43(7), 2010, pp.
    Toward New Theory, International Journal of                         1925–1935.
    Physical Distribution & Logistics Management,                   14. Khan, O., and Burnes, B., ‘Risk and Supply
    38(5), 2008, pp. 360-387.                                           Chain Management: Creating a Research Agenda,
4. Djohar S., Tanjung H., and Cahyadi, E. R.,                           The International Journal of Logistics Mana-
    Building A Competitive Advantage on CPO                             gement, 18(2), 2007, pp. 197-216.
    Through Supply Chain Management: A Case                         15. Laeequddin, M., Sardana, G. D., Sahay, B. S.,
    Study in PT. Eka Dura Indonesia, Astra Agro-                        Waheed, K. A., and Sahay, V., Supply Chain
    lestari, Riau, Jurnal Manajemen & Agribisnis,                       Partners’ Trust Building Process through Risk
    1(1), 2003, pp. 20-32.                                              Evaluation: The Perspectives of UAE Packaged
5. Faisal, M. N., Prioritization of Risks in Supply                     Food Industry, Supply Chain Management: An
    Chains, In: Managing Supply Chain Risk and                          International Journal, 14(4), 2009, pp. 280–290.
    Vulnerability: Tools and Methods for Supply                     16. Machfud, Eriyatno, Suryani, A., Yandra, and
    Chain Decision Makers, editor Wu, T., and                           Hadiguna, R. A., Fuzzy Inventory Modelling of
    Blackhurst, J., Springer Publisher, 2009, pp. 41-
                                                                        Crude Palm Oil in Port Bulk Tank, Jurnal
    65.
                                                                        Industri, 9(1), 2010, pp. 67-74.
6. Finke, G. R., Schmitt, A. J., and Singh, M.,
                                                                    17. Manurung, E. G. T., Analisis Valuasi Ekonomi
    Modeling and Simulating Supply Chain Sche-
                                                                        Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indone-
    dule Risk’, Johansson, B., Jain, S., Montoya-
                                                                        sia, US Agency for International Development,
    Torres, J., Hugan, J., and Yücesan, E. (eds.),
                                                                        2001.
    Proceedings of the 2010 Winter Simulation Con-
    ference, 2010, pp. 3472–3481.                                   18. Neely, A. D., Adams, C. A., and Kennerley, M.,
7. Foerst, K., Reuter, C., Hartmann, E., and Blome,                     The Performance Prism the Scorecard for
    C., Managing Supplier Sustainability Risks in A                     Measuring and Managing Busisness Success,
    Dynamically Changing Environment Sustai-                            New Jersey: Prentice Hall, 2003.
    nable Supplier Management in the Chemical                       19. Sabri, E. H., and Beamon, B. M., A Multi-
    Industry, Journal of Purchasing & Supply                            Objective Approach to Simultaneous Strategic
    Management, 16(2), 2010, pp. 118–130.                               and Operational Planning in Supply Chain
8. Hadiguna, R. A., Machfud, Eriyatno, Suryani,                         Design, OMEGA, 28(5), 2000, pp. 581-598.
    A., and Yandra., Manajemen Rantai Pasok Minyak                  20. Sarkis, J., A Strategic Decision Framework for
    Sawit Mentah, Journal Logistic and Supply                           Green Supply Chain Management, Journal of
    Chain Management, 2(1), 2008, pp. 12–23.                            Cleaner Production, 11(4), 2003, pp. 397–409.
9. Hadiguna, R. A., and Machfud, Model Peren-                       21. Scheller-Wolf, A., and Tayur, S., Risk Sharing in
    canaan Produksi pada Rantai Pasok Crude                             Supply Chains using Order Bands-Analytical
    Palm Oil dengan Mempertimbangkan Prefe-                             Results and Managerial Insights, International
    rensi Pengambil Keputusan, Jurnal Teknik                            Journal of Production Economics, 121(2), 2009,
    Industri, 10(1), 2008, pp. 38–49.                                   pp. 715–727.
10. Hadiguna, R. A., Disain Penunjang Keputusan                     22. Syaukat, Y., Menciptakan Daya Saing Ekonomi
    untuk Optimasi Persediaan Minyak Sawit                              dan Lingkungan Industri Kelapa Sawit Indo-
    Mentah dengan Pendekatan Logika Fuzzy, Pro-                         nesia, Agrimedia, 15(1), 2010, pp. 16-19.
    ceeding Seminar on Application and Research in                  23. Sikdar, S. K., Sustainable Development and
    Industrial Technology (SMART), Yogyakarta,                          Sustainability Metrics, The American Institute of
    2009, pp. A040-A045.                                                Chemical Engineering Journal, 49(8), 2003, pp.
11. Haryana A., Indarto, J., and Avianto, N., Kebijak-                  1928–1932.
    an dan Strategi dalam Meningkatkan Nilai                        24. Trkman, P., and McCormack, K., Supply Chain
    Tambah dan Daya Saing Kelapa Sawit Indone-                          Risk in Turbulent Environments – A Conceptual
    sia secara Berkelanjutan dan Berkeadilan,                           Model for Managing Supply Chain Network
    Direktorat Pangan dan Pertanian, BAPPENAS.                          Risk, International Journal of Production Eco-
    2010.                                                               nomics, 119(2), 2009, pp. 247–258.


                                                               22
                  Hadiguna / Model Penilaian Risiko Berbasis Kinerja / JTI, Vol. 14, No. 1, Juni 2012, pp. 13-24



25. Tang, C., Perspectives in Supply Chain Risk                     30. Weeks, K., Reverse Logistics Strategies as a
    Management, International Journal of Produc-                        Means to Improve Profitability, International
    tion Economics, 103(2), 2006, pp. 451–488.                          Journal of Logistics Economics and Globalisa-
26. Vilko, J. P. P., and Hallikas, J. M., Risk Assess-                  tion, 3(1), 2011, pp. 17–41.
    ment in Multi Modal Supply Chains, Inter-                       31. Xia, D., and Chen, B., A Comprehensive
    national Journal of Production Economics, 2011.                     Decision-Making Model for Risk Management of
27. Widodo, K. H., Sustainable Supply Chain Based                       Supply Chain, Expert Systems with Applica-
    Scenarios for Optimizing Trade-off between                          tions, 38(4), 2011, pp. 4957–4966.
    Indonesian Furniture and Crude-Palm-Oil
                                                                    32. Yang, Z., and Li, J., Assessment of Green Supply
    Industries, Operations and Supply Chain Mana-
                                                                        Chain Risk Based on Circular Economy, IEEE
    gement, An International Journal, 3(3), 2010, pp.
    176-185.                                                            17Th International Conference on Industrial
28. Wagner, B., and Svensson, G., Sustainable                           Engineering and Engineering Management
    Supply Chain Practices: Research Propositions                       (IE&EM), 2010, pp. 1276 – 1280.
    for the Future, International Journal of Logistics              33. Yeh, W. C., and Chuang, M. C., Using Multi-
    Economics and Globalisation, 2(2), 2010, pp.                        Objective Genetic Algorithm for Partner Selec-
    176–186.                                                            tion in Green Supply Chain Problems, Expert
29. Widodo, K. H., Abdullah, A., and Arbita, K. P. D.,                  Systems with Applications, 38(4), 2011, pp.
    Sistem Supply Chain Crude-Palm-Oil Indonesia                        4244–4253.
    dengan Mempertimbangkan Aspek Economical                        34. Yager, R. G., Non Numeric Multi Criteria Multi
    Revenue, Social Welfare dan Environment, Jurnal                     Person Decision Making, Group Decision and
    Teknik Industri, 12(1), 2010, pp. 47−54.                            Negotiation, 2(1), 1993, pp. 81-93.




                                                               23

								
To top