Respon Fisiologi Juvenil Udang Windu, Penaeus monodon Fabricius pada Bobot dan Densitas Pemeliharaan yang Berbeda

Document Sample
Respon Fisiologi Juvenil Udang Windu, Penaeus monodon Fabricius  pada Bobot dan Densitas Pemeliharaan yang Berbeda Powered By Docstoc
					                     DISERTASI
        RESPON FISIOLOGI JUVENIL UDANG WINDU,
 Penaeus monodon FABRICIUS PADA BOBOT DAN DENSITAS
PEMELIHARAAN YANG BERBEDA DALAM WADAH TERKONTROL


PHYSIOLOGICAL RESPONSE OF TIGER PRAWN (Penaeus monodon
 Fabricius) JUVENILE REARED ON DIFFERENT BODY WEIGHT AND
                DENSITY IN CONTROLLED TANKS



                    HARTINAH TAYIBU
                      PO100308014




                PROGRAM PASCASARJANA
                UNIVERSITAS HASANUDDIN
                          2012
        RESPON FISIOLOGI JUVENIL UDANG WINDU,
 Penaeus monodon FABRICIUS PADA BOBOT DAN DENSITAS
PEMELIHARAAN YANG BERBEDA DALAM WADAH TERKONTROL


        PHYSIOLOGICAL RESPONSE OF TIGER PRAWN
(Penaeus monodon Fabricius) JUVENILE REARED ON DIFFERENT
     BODY WEIGHT AND DENSITY IN CONTROLLED TANKS




                          Disertasi
    Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Doktor



                       Program studi
                       Ilmu Pertanian



                 Disusun dan Diajukan Oleh
                    Tanda Tangan Penulis
                     HARTINAH TAYIBU



                          Kepada



                PROGRAM PASCASARJANA
                UNIVERSITAS HASANUDDIN
                        MAKASSAR
                            2012
                                PRAKATA

      Upaya maksimal yang dilakukan oleh penulis tidak akan terwujud
dengan baik tanpa diiringi dengan doa yang dikabulkan oleh Allah Subhana
Wataala, Untuk itu patutlah kiranya jika penulis memanjatkan puji dan
syukur serta terima kasih yang tak terhingga kepaNya dan kepada orang–
orang yang turut mendukung penyelesaian laporan disertasi ini antara lain :
1. Kepada Bapak Prof.Dr.Akbar Tahir,M.Sc. selaku promotor dan Bapak
   Dr.Ir.Dody Dharmawan Trijuno, M.App.Sc,Bapak Dr.Ir.M.Iqbal Djawad,
   M.Sc, masing-masing selaku ko promotor yang telah meberikan motivasi,
   arahan dan bimbingan mulai dari penyusunan proposal penelitian hingga
   penyelesaian disertasi ini.
2. Kepada Ibu Prof. Dr.Ir.Yusminah Hala,M.S., selaku penguji luar dan
   Bapak Dr. Ir. Edison Saade, M.Sc, Bapak Prof.Dr.Ir. Alexander
   Rantetondok, M.Fish dan Bapak Dr. Ir. Hilal Anshary, M.Sc., masing-
   masing selaku penguji internal, semuanya banyak memberikan masukan
   yang konstruktif.
3. Kepada semua keluarga, rekan-rekan seangkatan di Jurusan Perikanan,
   semua staf Stasiun Penelitian Balitbangda di Kupa Barru, staf
   Laboratorium Politani yang tidak sempat disebut namanya, atas
   partisipasi dan bantuannya dalam penyelesaian studi ini
      Akhirnya dengan tulus penulis menghaturkan terima kasih kepada
Ayahanda tercinta H.SK. Tayibu (alm) dan ibunda tercinta Hj. Darawisa atas
doa beliau yang senantiasa mengiringi hingga penyelesaian studi ini.
Khusus buat suamiku         Dr.Ir. Rustam M.S. dan anak-anakku Rusnathul
Amiah dan Rhadiathul Islamiyah, terima kasih sayang, Karena
keberadaanmu, pengorbanan, keikhlasan dan doamu menjadi motivasi
ampuh bagi ibu dalam meraih cita-cita ini.
      Semoga disertasi ini bermanfaat bagi penulis dan berguna kepada
yang memerlukannya amin.
                                                 Makassar,Desember 2012

                                                Penulis
                                     ABSTRAK
      Hartinah Tayibu, Respon Fisiologi Juvenil Udang Windu, Penaeus
monodon, Fabricius pada Bobot dan Densitas Pemeliharaan yang Berbeda
dalam Wadah Terkontrol (Akbar Tahir, sebagai promotor, Dody Dharmawan
Trijuno, Muh.Iqbal DJawad, masing-masing sebagai ko promotor).
      Kepadatan tinggi merupakan konsekuensi umum dalam tambak
budidaya udang intensif, yang dapat menyebabkan udang stres. Stres tidak
selamanya merugikan, tetapi sampai batas waktu tertentu dapat merupakan
rangsangan yang dapat memicu proses metabolisme dan sistem kerja
hormon tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon fisiologi
juvenil udang windu pada bobot dan densitas yang berbeda, melalui
pemantauan beberapa parameter hemolimf, retensi energi, pertambahan
bobot dan kelangsungan hidup. Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan
informasi dalam menilai vitalitas juvenil udang windu dalam budidaya
secara dini. Selain itu dapat memberikan informasi tentang fisiologi stres
juvenil udang windu pada bobot berbeda dalam merespon densitas
pemeliharaan yang berbeda.           Penelitian ini menggunakan metode
eksperimen yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu Perlakuan A (densitas 25
ekor/m2), perlakuan B (50 ekor/m2) perlakuan C (densitas 75 ekor/m2) yang
diulang 3 kali. Juvenil udang windu sebagai hewan uji, dengan kelompok
bobot 5-7g dan 8-10g, kelompok bobot 11-13g dan 14-16g. Terdiri dari 2
stok untuk perlakuan A, masing-masing 1 stok untuk perlakuan B dan C
(stok sebagai pengganti hewan uji pada saat sampel hemolimf). Untuk
mengkaji pola respon fisiologi juvenil udang windu maka data disajikan
dalam bentuk tabulasi, grafik dan histogram lalu dianalisis secara deskriptif
dan dilanjutkan dengan analisis statitik korelasi multivariate dan bivariate
pada ά =0.05 dan ά =0.01.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara alami jumlah hemosit,
total protein hemolimf, dan osmolalitas plasma berkorelasi positif terhadap
peningkatan bobot juvenil udang windu, tetapi tidak berkorelasi terhadap
glukosa hemolimf. Secara alami, juvenil udang windu memiliki komposisi
persentase sel-sel globular lebih tinggi dibandingkan sel-sel semiglobular
dan hyalin pada bobot 5-10 g. Sebaliknya, komposisi persentase sel hyalin
lebih tinggi dari pada kedua sel lain pada bobot 11-16 g. Berdasarkan pola
respon fisiologi yang diekspresikan berdasarkan          perubahan jumlah
hemosit, kimia hemolimf, retensi enerji, dan pertambahan bobot,
kelangsungan hidup dan tingkah laku maka dapat disimpulkan bahwa
juvenil udang windu pada densitas 25 ekor/m2 tidak menyebabkan stres
pada bobot yang berbeda. Sebaliknya, stres terjadi pada densitas 50 dan
75 ekor/m2, dan menjadi penyebab mortalitas sampai pemantauan 120 jam.
Adaptasi dicapai pada pemantauan 76 jam, kondisi ini stabil hingga
pemantauan 120 jam dan mortalitas setelah periode ini terutama karena
kanibalisme. Respon fisiologi berdasarkan perbedaan komposisi sel
hemosit juvenil udang windu pada kelompok bobot yang berbeda
                                  Abstract
         Hartinah Tayibu. Physiological Response of Juvenile Tiger Shrimp,
Penaeus monodon (Fabricius) Reared in Different Weight and Density
(Supervised by Akbar Tahir, Dody Dharmawan Trijuno, and Muh. Iqbal
Djawad).
         High density is a one consequence of intensive shrimp cultures in a
pond that lead to stress. Stress is not always harmful, but to a certain extent
may stimulate metabolism processes and working system of body’s
hormones. This study aims to analyze physiological response of juvenile
tiger shrimps in different weight and density through several types of
monitoring parameters, i.e.: haemolymph, energy retention, weight gain and
survival rate. The results may become extra information to assess juvenile
vitality of shrimp in an early physiological response. Moreover, it may offer
information on stress physiology of juvenile shrimp in different weight that
reared in tanks as a response to different densities. This experiment was
carried out through three different types of density treatment, mainly
treatment A (25 ind/m2), treatment B (50 ind/m2), and treatment C (75
ind/m2) with three repetition. As an inquiry object, juvenile tiger shrimps
were grouped in accordance to 5-7 g and 8-10 g, as well as 11-13 g and 14-
16 g in weightiness. Furthermore, treatment A is consisted of two stocks,
while both treatment B and C are consisted of one stock each. In addition, a
stock runs for sampling test of animal haemolymph. To analyze
physiological response patterns of juvenile tiger shrimps, data is presented
in the form of tabulation, graphs and histograms. Then, analysis is done
descriptively, followed by bivariate and multivariate correlation statistics
according to α = 0.05 and α = 0.01.
         The results showed that, naturally the number of haemocytes, a total
of haemolimph protein, and osmolality plasm were positively correlated to
the increasing weight of juvenile tiger shrimp, but uncorrelated to
haemolimph glucose. Naturally, Juvenile tiger shrimp may possess higher
percentage composition of globular cells than semi-globular and hyaline
cells of 5-10 g in weightiness. On the contrary, percentage composition of
hyaline cells higher than another two cells of 11-16 g. Based on
physiological response patterns that expressed through changes in
haemocytes, haemolimph chemistry, energy retention, and weight gained,
survival rate and behavior of juvenile tiger shrimps, one may conclude that
the of density 25 ind/m2 does not cause stress on different sizes of juvenile
tiger shrimps. In contrast, stress occurred on density 50 and 75 ind/m2 and
be-cause mortality up to 120 hours. Adaptation is achieved at 76 hours, the
condition is stable up to 120 hours. most of the shrimp mortality after this
period is caused by cannibalism.
                 PERNYATAAN KEASLIAN DISERTASI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

          Nama                 : Hartinah Tayibu
          Nomor Mahasiswa      : P0100308014

          Program Studi        : Ilmu Pertanian

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa disertasi yang saya tulis ini benar-
benar   merupakan    hasil   karya     saya   sendiri,   bukan   merupakan
pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari
terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebahagian atau keseluruhan disertasi
ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut, sesuai hukum yang berlaku.



                                                  Makassar Desember 2012
                                                   Yang menyatakan,


                                                   Hartinah Tayibu
                               DAFTAR ISI


                                                              Halaman

  PRAKATA ………………..……………………………………………                                  iv

  ABSTRAK ………………………………………………………………                                       v

  PERNYATAAN KEASLIAN DISERTASI ……………………………                          vii

  DAFTAR ISI ……………………………………………………………                                viii

  DAFTAR TABEL ………………………………………………………                                 x

  DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………                                xi

  DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………                               xiv

  I. PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang …………………………………………………                              1
      B. Rumusan Masalah ………… ………….. ……………………                            4
      C. Tujuan penelitian ………………………………………………                         7
      D. Kegunaan Penelitian    .......................…………………………        8
      E. Hipotesis Penelitian ..……………………………………………                        8
      F. Definisi dan Istilah (Glosarium) …………………………………..                9
II.   TINJAUAN PUSTAKA
      A. Hemolimf ……………………………………………………….…                            11
      B. Respon Fisiologi Udang Terhadap Stressor Eksternal
        Respon Fisiologi Terhadap Densitas Pemeliharaan…………… 18
        Respon Fisiologi Terhadap Ketersediaan Pakan .……………. 20
        Respon Fisiologi Terhadap Kualitas Air ………………………… 26

      C. Fisiologi Stres pada Udang .…………………………………….                 33
      D. Ganti Kulit (Moulting) dan Pertumbuhan ………………………            39
  E. METODE PENELITIAN
  A. Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………             45
  B. Materi dan Metode
    Alat dan Bahan ...………………………………………….……… 45
    Disain Percobaan …...…………………………………………… 46
    Metode Pemeliharaan ……...………………………………...…... 49
  C. Evaluasi Hemolimf, Retensi Energi, Pertambahan Bobot dan
     kelangsungan Hidup………………….…………………………… 49

  D. Parameter Kualitas Air ……………………………………………              51

  E. Analisis Statistik…………………………………………………… 51

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
  A. Penelitian Tahap Pertama
     Karakteristik Hemolimf …………………………………………              54
     Penentuan Salinitas Pemeliharaan …………………………          68
  B. Penelitian Tahap keduai
     Respon Fisiologi Berdasarkan Parameter Hemolimf ………   72
     Respon Fisiologi Berdasarkan Pertambahan Bobot ...……. 94
     Respon Fisiologi Berdasarkan Retensi Energi .……………... 97
     Respon Fisiologi Berdasarkan Kelangsungan Hidup……….. 101
     Kualitas Air ……………………………………………………… 103
     Stres Fisiologi Juvenil Udang Windu………………………… 103
IV. PENUTUP
  A. Kesimpulan …………………………………………………….... 116
  B. Saran-saran …………………………………………………….... 117
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………. … 119
LAMPIRAN
                                        DAFTAR TABEL
Tabel                                                                                         Halaman

 1. Karakteristik Hemosit Udang Windu …………………………………                                                    14
 2. Fungsi Sel Hemosit pada Udang Berdasarkan Tipe Selnya ………                                          16
 3. Persyaratan Mutu Pakan Buatan Udang windu …………………....... 25
 4. Kriteria Kualitas Air yang Diperbolehkan untuk Kegiatan Budidaya
    Perikanan .......................................................................................... 32
 5. Komposisi Pakan yang Digunakan Selama Penelitian ……………… 46
 6. Variabel, Metode dan Rumus yang Digunakan dalam Evaluasi …… 50
 7. Parameter , Alat dan Analisis yang Digunakan serta Frekuensi
    Pengamatan Air pada Penelitian . .…………………………………… 51
 8. Ekskresi Amoniak Juvenil Udang Windu, Penaeus monodon pada
    Bobot 5-10 g pada Salinitas Air yang Berbeda…….……………….…69
 9. Ekskresi Amoniak Juvenil Udang Windu, Penaeus monodon pada
    Bobot 11-16 g pada Salinitas Air yang Berbeda……...……….….……69
 10. Kisaran Kulitas Air Media Pemeliharaan Selama Penelitian pada
     Bobot 5 -7 g dan 8-10 g, Bobot 11-13 g dan 14-6g.……………….….103
                        DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                      Halaman

   1. Tipe Hemosit Udang Windu …………….. ……………………                    13
   2. Mikrograp Elektron dari Hemosit Penaeus monodon…..…..        15
   3. Aplikasi Prinsip General Adaptation Syndrom/GAS ……………        38
   4. Klasifikasi Tingkat Stres Lobster ………………. ………………             39
   5. Kerangka Pikir Penelitian ……………………………..………..                 45
   6. Tata Letak Wadah Penelitian pada pada kelompok bobot 5-7 g
      dan 8-10 g, dan kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g…..…….. 48

   7. Alur Pelaksanaan Penelitian ……………………………………                   53

   8. Grafik Hubungan Antara Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) dengan
      Bobot (g) Juvenil Udang Windu ……………………………….…. 55

   9. Grafik Hubungan Antara Bobot (g) Juvenil Udang Windu dengan
      Total Protein Hemolimfnya (g/dl) ………………………………… 58

   10. Grafik Hubungan antara Bobot (g) Juvenil Udang Windu dengan
       Glukosa Hemolimfnya (mg/dl)…………………………………….. 59

   11. Grafik Hubungan antara Bobot (g) Juvenil Udang Windu dengan
       Osmolalitas Plasmanya (mOsm/kg) ……………………………… 62

   12. Perbandingan Komposisi Difrensiasi Sel Hemolimf Juvenil Udang
       Windu pada Bobot yang Berbeda pada Tiga Kali Sampling dengan
       Interval Waktu 10 Hari …………………………………………….. 64

   13. Mikrograph Sel Hemosit Juvenil Udang Windu (G = Granular,
       SG = Semiglobular dan H = Hyalin) …………………………….. 67

   14. Grafik Hubungan Jumlah Hemosit (… x 106 sel/ml) Juvenil Udang
       Windu bobot Berbeda, setiap Perlakuan pada Masa Pengamatan
       yang Berbeda. ………………………….……………….…………….73

   15. Grafik Hubungan Rata-rata Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil
       Udang Windu Bobot 5 -7 g dan 8-10 g dan Bobot 11-13 g dan
       14 - 16 g, pada Setiap perlakuan yang Dipantau pada Waktu
       (jam) yang Berbeda ………………………………………………… 79
16. Rata-rata Persentase Jumlah Hemosit Juvenil Udang Windu Bobot
    Berbeda Berdasarkan Tipenya Setiap Perlakuan, kelompok
    Bobot 5-7 g dan 8 -10 g. …………………………………………… 90

17. Rata-rata Persentase Jumlah Hemosit Juvenil Udang Windu Bobot
    Berbeda Berdasarkan Tipenya Setiap Perlakuan, Kelompok Bobot
    11-13 g dan 14 – 16 g……………………………………………….. 91

18. Grafik Hubungan Pertambahan Bobot (g) Juvenil Udang Windu
    pada Bobot 5-7 g dan 8±1 g dan bobot 11-13 g dan 14-16 g,
    Setiap Perlakuan pada Waktu Pemantauan yang berbeda…… 94

19. Histogram Jumlah Juvenil Udang Windu yang ganti Kulit pada
   Bobot Berbeda pada Setiap Perlakuan yang Diulang
   Tiga Kali………………………………………………………………                              96

20. Histogram Total Energi Tubuh (kkal/g) Juvenil Udang Windu
    pada Bobot yang Berbeda Setiap Perlakuan…………………… 98

21. Histogram Kelangsungan Hidup Juvenil udang Windu pada
    Pemantauan 5 hari dan , 12 hari, bobot 5 -7 g dan 8-10 g,
    11-13 g dan 13-16 g, setiap Perlakuan………………………               101

22. Identifikasi Awal Gejala Fisiologi Stres Juvenil Udang Windu
    Setelah Diintervensi Densitas Pemeliharaan yang Berbeda……109

23. Identifikasi Awal Gejala Fisiologi Stres Juvenil Udang Windu
    Setelah Diintervensi Densitas Pemeliharaan yang Berbeda, … 110
                         DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran                                                        Halaman

   1. Prosedur Pengambilan Hemolimf Juvenil Udang windu dan Teknik
      Perhitungan Jumlah Hemosit….. ………………………………… 129

   2. Prosedur Penentuan Total Protein Hemolimf (Metode Biuret)      130

   3. Prosedur Penentuan Glukosa Darah (Metode Enzimatik/GOD
      PAP)…………………………………………………………………… 131
   4. Prosedur Pengukuran Osmolaritas Media dan Cairan Tubuh Juvenil
      Udang Windu (SOP FISKE Micro-Osmometer, Model 210) … 132

   5. Persiapan Preparat dan Cara Menghitung Persentase Hemosit
      Berdasarkan Tipe Selnya ………………………………………… 134

   6. Teknik Menghitung Sisa Pakan …………………………………                     134

   7. Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) Juvenil Udang Windu, Penaeus
      monodon Fab pada Bobot (g) yang Berbeda, …………………… 135

   8. Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil Udang Windu, Penaeus
      monodon Fab pada Bobot yang Berbeda …………………………135

   9. Glukosa Hemolimf (ml/dl) Juvenil Udang Windu, Penaeus
      monodon Fab pada Bobot yang Berbeda……………………… 136
   10. Osmolalitas Plasma (mOsm/kg) Juvenil Udang Windu, Penaeus
      monodon Fab. pada Bobot yang Berbeda ……………………… 136

   11. Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Multivariate Antar Parameter
       Hemolimf yang dipantau pada penelitian pendahuluan,
       pada ά 0,01 ………………………………………………………… 137
   12. Persentase Diffresiasi Sel Hemosit (%) Juvenil Udang Windu pada
       Bobot yang Berbeda yang Dipelihara dalam Tambak dengan
       Salinitas Air 38 ppt. Pemantauan Tanggal 12 oktober 2011
       (pukul 16:40) ………………………………………………………… 138

   13. Persentase Diffrensiasi sel Hemosit (%) Juvenil Udang Windu
       pada Bobot yang Berbeda yang Dipelihara dalam Tambak dengan
       Salinitas Air 36 ppt. Pemantauan Tanggal 22 Oktober 2011
       (pukul 11:30) …………………………………………………………. 138
14. Persentase Diffrensiasi sel Hemosit (%) Juvenil Udang Windu pada
    Bobot yang Berbeda yang Dipelihara dalam Tambak dengan
    Salinitas Air 36 ppt. Pemantauan Tanggal 1 November 2011
    (pukul 06:00) ………………………………………………………… 139

15. Rata-rata Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) Juvenil Udang Windu,
    Penaeus monodon Fab Bobot 5 -7 g dan 8-10 g, setiap
    Perlakuan,      …………………………………………………… 139

16. Rata-rata Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) Juvenil Udang Windu,
    Penaeus monodon Fab Bobot 11-13 g dan 14-16 g, Setiap
    Perlakuan, …………………………………………………………… 140

17. Rata-rata Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil Udang Windu Bobot
    Berbeda pada Setiap Perlakuan, Bobot 5 -7 g dan 8-10 g ……… 140

18. Rata-rata Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil Udang Windu Bobot
    Berbeda pada Setiap Perlakuan, Bobot 11-13 g dan 14-16 g … 141

19. Rata-rata Glukosa Hemolimf (mg/dl) Juvenil Udang Windu Bobot
    Berbeda Setiap Perlakuan, Bobot 5-7 g dan 8-10 g …………… 141

20. Rata-rata Glukosa Hemolimf (mg/dl) Juvenil Udang Windu Bobot
    Berbeda Setiap Perlakuan Bobot 11-13 g dan 14-16 g ………….142

21. Rata-rata Osmolalitas Plasma (mOsm/kg) Juvenil Udang Windu
    pada Bobot yang Berbeda setiap Perlakuan, Bobot 5 -7 g
    dan 8-10 g ………………………………………………………… 142

22. Rata-rata Osmolalitas Plasma (mOsm/kg) Juvenil Udang Windu
    pada Bobot 11-13 g dan 14-16 g, Setiap Perlakuan …...………. 143

23. Hasil Uji Korelasi Multivariate Antar Parameter Hemolimf yang
    Dipantau pada Setiap Perlakuan dan Waktu Pemantauan yang
    Berbeda ……………………………………………………………… 144

24. Rata-rata Persentase Difrensiasi Sel Juvenil Udang Windu Bobot
    5 -7 g dan 8-10 g, Berdasarkan tipenya pada Setiap
    Perlakuan…………………………………………………………… 145

25. Rata-rata Persentase Difrensiasi Sel Juvenil Udang Windu Bobot
    11-13 g dan 14-16 g Berdasarkan tipenya pada Setiap
    Perlakuan,. ………………………………………………………… 146
26. Data Bobot Juvenil Udang Windu Bobot 5 -7 g dan 8-10 g Pada
    Pemantauan 0 Hari , 5 Hari dan 12 Hari Setiap Perlakuan, … 131

27. Data Bobot Juvenil Udang Windu Bobot11-13 g dan 14-16 g
    Pada Pemantauan 0 Hari , 5 Hari dan 12 Hari Setiap
    Perlakuan,……………………………………………………………. 147

28. Jumlah Pakan Yang Diberikan Setiap Perlakuan Selama
    Penelitian, Bobot 5 -7 g dan 8-10 g ……………………………… 148

29. Pakan Yang Tersisa (g) pada setiap Perlakuan Selama Penelitian
    Bobot 5 -7 g dan 8-10 g …………………………………………… 149

30. Jumlah Pakan Yang Diberikan Setiap Perlakuan Selama
    Penelitian, Bobot 11-13 g dan14-16g ………………………………150

31. Pakan Yang Tersisa (g) pada setiap Perlakuan Selama Penelitian
    Bobot 11-13g dan 14-16g ………………………………………… 151

32. Kandungan Nutrien (% Bobot Kering) Jevenil Udang Windu Bobot
    5 -7 g dan 8-10 g, Setiap Perlakuan, …………………………… 152

33. Penghitungan Retensi Energi Juvenil Udang Windu Bobot 5-7 g
    dan 8-10 g (% bahan kering) ………………………………………. 153

34. Kandungan Nutrien (% Bobot Kering) Jevenil Udang Windu Bobot
    11-13 g dan 14-16 g, Setiap Perlakuan, …………………………. 154

35. Penghitungan Retensi Energi Juvenil Udang Windu Bobot 11-13 g
    dan 14-16 g (% bahan kering) …………………………………… 155

36. Hasil Uji Korelasi Antara Pertambahan Bobot dan Energi Total
    Tubuh (kkal). pada Waktu Pemantauan yang Berbeda, Setiap
    Perlakuan, Kelompok Bobot 5 -7 g dan 8-10 g ………………… 156

37. Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Antara Energi Total Tubuh (kkal)
    dan Pertambahan Bobot. pada Waktu Pemantauan yang Berbeda,
    Setiap Perlakuan ( ά 0,01) , Bobot 11-13 g dan 14-16g……… 157

38. Jumlah Juvenil Udang Windu (ekor) Yang Hidup Selama Penelitian
    pada Bobot 5 -7 g dan 8-10 g ……………………………………… 158

39. Jumlah Juvenil Udang Windu (ekor) Yang Hidup Selama Penelitian
    pada Bobot 11-12 g dan 14-16 g ………………………………… 159
40. Jumlah Juvenil Udang Windu yang Ganti Kulit pada Perlakuan
    Berbeda yang Diulang Tiga Kali…………………………………… 160

41. Gambar Dokumen Penelitian ………………………………………. 161
                           I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

     Interaksi segi tiga antara lingkungan, patogen dan udang windu

senantiasa terjadi selama proses budidaya tambak berlangsung dan tidak

dapat dihilangkan, hanya dapat diupayakan dengan meminimalkan patogen

dan mengoptimalkan      lingkungan serta memaksimalkan kondisi fisiologi

udang windu agar tetap fit dan tidak stres.

     Salah satu teknologi budidaya udang windu yang diterapkan saat ini

dalam rangka meningkatkan produksi            tambak adalah teknologi semi

intensif dan intensif. Budidaya intensif menurut Chiang dan Liang (1985),

dicirikan oleh padat penebaran tinggi (≥ 30 ekor/m2), 20 – 60 PL/m2,

(http://www.fao.org/culturedspecies/Penaus_monodon/en, Januari2012) dan

mengandalkan pakan buatan sebagai pasokan nutrien. Penelitian tentang

densitas pemeliharaan udang windu yang berbeda telah banyak dilakukan

(Allan and Maguir, 1992, Primavera, 1994, Salama, 2005, Mangampa dkk.,

2008, Supomo, 2009 dan Zaki et al. 2004), tetapi respon fisiologi yang

diamati adalah   pertumbuhan dan kelangsungan hidup sebagai variabel

indikator. Variabel pertumbuhan merupakan indikator stres jangka panjang,

apabila dalam pengelolaan budidaya udang windu hanya mengacu pada

pemantauan indikator        tersebut. Oleh karenanya        apabila terjadi

ketidaknormalan udang windu yang dipelihara, akan mati sebelum

dilakukan tindakan pencegahan. Menurut Wolffrom (2004), stressor yang
penting dalam budidaya ikan secara umum adalah interaksi antar hewan,

penanganan, transportasi, dan faktor lingkungan (suhu, oksigen, pH, bahan

kimia dan lain-lain).

     Kepadatan tinggi merupakan konsekuensi umum dalam budidaya

udang intensif. Kepadatan tinggi dapat menyebabkan udang stres. Stres

tidak selamanya merugikan, tetapi sampai batas waktu tertentu justru

merupakan rangsangan yang dapat         memicu proses metabolisme dan

sistem kerja hormonal tubuh. Intervensi densitas pemeliharaan tinggi akan

menyebabkan       udang   windu   menyesuaikan    diri   terhadap   tekanan

keterbatasan ruang gerak, oksigen terlarut dan interaksi antara hewan. Hal

ini dibutuhkan energi yang melebihi kemampuan udang, sehingga dapat

menyebabkan terjadinya perubahan komposisi sel-sel hemosit pada udang

windu hingga terjadi stres. Hemosit pada crustacea merupakan salah satu

indikator pertahanan dan memiliki fagositik yang tinggi. Menurut Perazzolo

et al. (2002), jumlah hemosit dan total protein hemolimf merupakan

parameter respon fisiologis yang paling sensitif terhadap kondisi stres pada

budidaya udang Farfantepenaeus paulensis. Selanjutnya Wolffrom (2004),

menyatakan bahwa ada tiga tingkatan respon stres yaitu respon primer,

sekunder dan tertier. Respon primer ikan termasuk udang windu diawali

dari pelepasan katekolamin dan kartikosteroid, respon sekunder ditandai

sebagai reaksi langsung dari hemolimf dan hormon, sedangkan respon
tertier   merupakan      respon    jangka   panjang    yang      mempengaruhi

pertumbuhan, reproduksi dan tanggapan kekebalan bagi ikan.

      Berdasarkan     fenomena      di   atas,   diketahui    bahwa   densitas

pemeliharaan tinggi dapat memicu terjadinya stres. Perubahan komposisi

sel-sel darah, kimia darah pada beberapa jenis ikan dan udang telah

diketahui adalah berhubungan dengan stres, namun mekanisme hubungan

ini sangat komplek dan sangat sedikit dipahami untuk udang windu. Udang

windu merupakan komoditi andalan di Negara Asia Tenggara termasuk

Indonesia dan khususnya Sulawesi Selatan.           Untuk itu perlu dilakukan

penelitian terhadap udang windu untuk mengkaji               hubungan densitas

pemeliharaan tinggi terhadap beberapa parameter hemolimf. Stres udang

dalam budidaya di tambak          diketahui merupakan salah satu penyebab

terjadinya kegagalan panen yang solusinya sampai sekarang belum dapat

ditemukan secara pasti. Dalam penelitian ini telah dikaji beberapa

parameter hemolimf sebagai indikator respon fisiologi jangka pendek dan

retensi energi, pertambahan bobot dan kelangsungan hidup sebagai

parameter respon fisiologi    jangka panjang.     Hasil kajian ini diharapkan

memberikan informasi tambahan dalam menilai vitalitas juvenil udang windu

secara dini agar identifikasi      masalah dalam budidaya tambak dapat

terdeteksi lebih awal.
                          B. Rumusan Masalah


     Akar permasalahan pada kegagalan panen dalam budidaya udang

windu secara intensif salah satunya adalah akibat stres yang berlangsung

secara terus menerus (intens) yang pada akhirnya dapat menyebabkan

penurunan kenyamanan. Salah satu penyebab stres udang windu pada

sistem budidaya intensif adalah kepadatan yang tinggi dan pemberian

pakan secara berlebihan, sehingga sisa pakan menimbulkan masalah

kualitas air. Tekanan yang dialami oleh juvenil udang windu sebagai efek

dari kepadatan tinggi dikontrol oleh sistem saraf pusat yang memerintahkan

sel neurosekretori untuk memproduksi hormon sel neurosekretori yang

antara lain mampu menghambat dan merangsang organ x dalam

memproduksi hormon untuk merespon perubahan lingkungan.        Mengontrol

proses metabolisme dan kontraksi jantung yang pada akhirnya akan

mempengaruhi nafsu makan dan kadar metabolit dalam darah.         Apabila

kadar metabolit dalam darah tidak sesuai dengan kebutuhan juvenil udang

untuk kelangsungan metabolisme normal, dapat menyebabkan stres. Stres

yang dialami dapat menurunkan nafsu makan yang sampai batas tertentu

dapat berpengaruh negatif terhadap retensi energi dan pertumbuhan juvenil

udang windu.     Menurut Wolffrom (2004) definisi stres sebagai suatu

keadaan dimana keseimbangan atau homoestasis udang terancam atau

terganggu oleh faktor internal atau eksternal, atau   kondisi dimana ikan

tidak mampu lagi memelihara fisiologi normal akibat berbagai faktor.
Selanjutnya dinyatakan bahwa stres terjadi akibat penempatan ikan pada

situasi diluar ambang batas toleransi. Respon yang dilakukan oleh udang

windu secara berlebih akan mengancam keseimbangan atau homoestasis

dan dapat menimbulkan kondisi patologis (Bonga, 1997 dalam Wolffrom,

2004).   Pada kondisi inilah udang windu rentan terjangkit penyakit yang

mematikan.     Pemantauan indikator stres secara dini dianggap esensil

dalam pengelolaan budidaya udang windu agar penanganan masalah yang

muncul dapat terdeteksi lebih awal, untuk selanjutnya dilakukan tindakan

pencegahan penyebab terjadinya stres.

     Stres lingkungan misalnya penurunan oksigen adalah resiko umum

dalam tambak budidaya udang intensif dengan kepadatan yang tinggi dan

pemberian pakan yang berlebih.   Stres ini dapat mengakibatkan terjadinya

penyakit. Masalah yang muncul pada densitas pemeliharaan tinggi atau

populasi lebih adalah hypoxia (defisiensi O2), hal ini disebabkan karena

aerasi kurang, filter kotor, dasar wadah/kolam sarat dengan bahan

terdekomposisi sehingga terjadi kompetisi oksigen. Selanjutnya apabila hal

ini berlangsung secara intens maka dapat menyebabkan malformasi pada

udang windu yang biasanya hidup di dasar akan muncul kepermukaan air,

sambil megap-megap hingga bisa mengalami kematian (insang pucat,

overculum terbuka).   Namun stres sampai batas tertentu dimana juvenil

udang windu mampu melampaui masa konpensasi sehingga mencapai
adaptasi, yang ditandai dengan retensi energi dan kadar metabolit dalam

darah normal kembali, dapat memicu pertumbuhannya.

      Dalam rangka lebih memahami bagaimana densitas pemeliharaan

yang tinggi menyebabkan terjadinya perubahan fungsi fisiologis normal

(stres), maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai

berikut: (1) Bagaimana gejala respon fisiologi juvenil udang windu pada

bobot berbeda yang diekspresikan melalui perubahan sel-sel hemolimf,

kimia hemolimf, retensi energi, pertambahan bobot dan kelangsungan hidup

terhadap perbedaan densitas pemeliharaan yang dicobakan. (2) Apakah

densitas pemeliharaan tinggi dapat menyebabkan juvenil udang windu stres

dan apakah saling berhubungan          antara perubahan parameter hemolimf

(jumlah hemosit, total protein hemolimf, glukosa hemolimf dan osmolalitas

plasma), retensi energi, pertambahan bobot dan kelangsungan hidup juvenil

udang windu, jika diintervensi dengan densitas pemeliharaan yang berbeda

(3) Bagaimana pola gejala fisiologi stres juvenil udang windu pada bobot

yang berbeda jika dipeliharan pada densitas yang berbeda.

      Sel   darah   hemolimf   dapat    disamakan   dengan   leukosit   pada

Vertebrata, mengandung komponen anorganik yang dominan yaitu Natrium

dan Khlorida        dan komponen organik (gula, lemak dan protein).

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa jumlah hemosit dan

total protein hemolimf merupakan parameter indikator stres yang paling

sensitif    bagi udang Farfantepenaeus paulensis terhadap perubahan
lingkungan dan kadar glukosa hemolimf           dikontrol oleh banyak faktor,

sehingga penting dikaji, namun penelitian yang sama          terhadap udang

windu belum dilakukan. Sehubungan dengan itu dalam penelitian ini telah

diamati jumlah hemosit,      total protein hemolimf, kadar glukosa hemolimf

serta osmolalitas plasma.      Sedangkan respon fisiologi jangka panjang

(tertier)   yang   diamati   kelangsungan hidup,    pemanfaatan pakan dan

pertumbuhan. Mengacu pada penelitian respon fisiologi udang windu pada

bobot dan      densitas pemeliharaan yang berbeda, diperoleh informasi

tambahan      tentang   bagaimana    densitas    pemeliharaan   yang   tinggi

mempengaruhi kadar metabolit dalam darah (jumlah hemosit, total protein

hemolimf, glukosa hemolimf dan osmolalitas plasma), retensi energi dan

kelangsungan hidup serta pertumbuhan juvenil udang windu.


                             C. Tujuan Penelitian

      Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah

dipaparkan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1) Karakterisasi hemolimf juvenil udang windu pada bobot yang berbeda.

2) Mengkaji pola gejala respon fisiologi juvenil udang windu pada bobot

   berbeda yang diekspresikan melalui perubahan sel-sel hemolimf, kimia

   hemolimf, retensi energi, pertambahan bobot dan kelangsungan hidup

   terhadap perbedaan densitas pemeliharaan yang dicobakan.

3) Mengkaji bagaimana hubungan antara densitas pemeliharaan tinggi

   terhadap fisiologi stres juvenil udang windu melalui pemantauan
  beberapa parameter hemolimf (jumlah hemosit, total protein, glukosa

  hemolimf dan osmolaliti plasma), retensi energi, pertambahan bobot dan

  kelangsungan hidupnya.

4) Mengestimasi gejala fisiologi stres juvenil udang windu bobot berbeda

  pada densitas pemeliharaan tinggi, sehingga         juvenil udang windu

  mengalami stres hingga mencapai adaptasi/kematian.


                        D. Kegunaan Penelitian

     Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dasar dan acuan dalam

pemantauan vitalitas juvenil udang windu, untuk menentukan kondisi

kesehatan udang lebih awal.       Pemantauan indikator stres secara dini

diperlukan dalam pengelolaan budidaya udang windu agar penanganan

masalah yang muncul dapat        terdeteksi lebih awal,   untuk selanjutnya

dilakukan tindakan pencegahan.


                        E. Hipotesis Penelitian

1) Ada korelasi antara peningkatan bobot juvenil udang windu dengan

  beberapa parameter hemolimf (jumlah hemosit, total protein, glukosa

  hemolimf dan osmolaliti plasma), retensi energi, pertambahan bobot dan

  kelangsungan hidupnya.

2) Ada perbedaan tren pola gejala respon fisiologi juvenil udang windu

  bobot berbeda dalam merespon densitas pemeliharaan yang berbeda.
3) Ada perbedaan gejala fisiologi stres juvenil udang windu bobot berbeda

  dalam merespon densitas tinggi.

                   F. Definisi dan Istilah (Glosarium)

     Beberapa istilah dan definisi yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain :
1) Respon fisiologi adalah tanggapan terhadap stressor lingkungan yang
     diaktualisasikan melalui proses fisiologi (proses yang terjadi dalam
     tubuh hewan), Tanggapan ini terdiri dari tanggapan primer, sekunder
     dan tertier.
2) Respon atau tanggapan stres awal (primer) terhadap stressor adalah
     pelepasan katekolamin dan kortikosteroid,
3) Respon menengah (sekunder) ditandai sebagai reaksi langsung dari
     darah dan hormon.
4) Respon jangka panjang (tertier) merupakan tanggapan terhadap
     stressor eksternal dalam jangka waktu yang lama hingga
     mempengaruhi pertumbuhan reproduksi dan kekebalan tubuh bagi
     ikan.
5) Stres adalah sebagai suatu keadaan dimana keseimbangan atau
     homoestasis yang normal pada tubuh udang windu terganggu atau
     terancam oleh faktor internal dan/atau eksternal.
6) General Adaptation Syndrome (GAS) adalah                          usaha
     mempertahankan diri dengan cara mengatur atau mengembalikan
     proses metabolisme tubuh pada tingkat yang normal melawan
     tekanan/gangguan fisikokimia lingkungan
7) Glukosa darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di
     dalam darah atau konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum
     yang diatur dengan ketat di dalam tubuh.
8) Nilai osmolalitas plasma adalah kuantitas ion-ion (kuantitas kimiawi)
     cairan tubuh juvenil udang windu dalam merespon kuantitas ion-ion
     (kuantitas kimiawi) dalam media hidupnya
9) Retensi energi adalah nilai penyimpanan energi dalam tubuh hewan
     yang dapat dihitung dengan perbandingan antara selisih total energi
     tubuh akhir dan total energi tubuh awal dengan total energi pakan
     yang dikonsumsi
10) Total Hemocyte Count (THC) atau jumlah               hemosit    adalah
     menunjukkan jumlah sel hemosit secara keseluruhan yang terdiri dari
     sel hemosit granular, semigranular, dan agranular (hyalin).
11) Distres adalah stres yang dialami oleh juvenil udang windu yang tidak
     mampu diselesaikan untuk mencapai adaptasi
12) Eustres adalah stres yang dialami oleh juvenil udang yang mampu
     diselesaikan melalui homeostasis, kompensasi dan adaptasi.
                        II. TINJAUAN PUSTAKA

                             A. Hemolimf

     Menurut Maynard (1960), darah udang disebut hemolimf terdiri dari

plasma dan korpuskel (sel darah) dengan komponen organik dan

anorganik.   Selanjutnya dinyatakan bahwa komponen anorganik yang

terbanyak adalah natrium dan klorida, yang sedikit adalah kalium, kalsium

dan magnesium, sedangkan komponen organik terdiri dari gula, lemak dan

protein.

     Darah udang tidak mengandung haemoglobin, sehingga darahnya

tidak berwarna merah, dan fungsi haemoglobin sebagai transport oksigen,

digantikan oleh haemosianin, suatu protein yang mengandung Cu dan

dapat berikatan dengan oksigen. Dalam bentuk tereduksi hemosianin tidak

berwarna, jika berikatan dengan oksigen akan berwarna biru. Hemosianin

berfungsi selain sebagai   transport oksigen, juga sebagai buffer dalam

darah dan berperan penting dalam osmotik darah (Maynard, 1960).

     Plasma merupakan fluida yang berfungsi mengalirkan sel darah

(Oxford Biomedical Research, 2010 : info@oxfordbiomed.com ).      Menurut

Maynard (1960), korpuskel atau sel darah hemolimf dapat disamakan

dengan leukosit pada vertebrata, terdiri dari granulosit dan hialosit.

Granulosit mengandung granula di dalam sitoplasmanya memberikan

warna biru dengan pewarna giemsa. Granulosit merupakan jaringan untuk

sistem pertahanan seluler melawan infeksi,    sel ini akan bermigrasi ke
daerah-daerah yang mengalami infeksi, menembus dinding pembuluh dan

memfagosit partikel asing.    Selanjutnya dinyatakan bahwa darah udang

selain mengandung molekul hemosianin yang membawa oksigen, juga

molekul immunoreaktif disebut lectin. Lectin atau glikoprotein (gula+protein)

yang mengikat bagian gula dari molekul lain terutama molekul asing. Lebih

lanjut di laporkan bahwa lectin memiliki spesivisitas yang luas, yang berarti

dapat bereaksi dengan banyak jenis molekul tidak hanya gula contoh:

Lectin bereaksi dengan komponen gula dari lipopolisacharida, β-glucan

bakteri Gram negatif (contoh Vibrio sp) dan kapang yang mengandung

β-glucan juga dapat dikenali oleh lectin.   Lectin juga dikemukakan bahwa

dapat mengenali virus dan patogen lainnya yang mengandung glikoprotein

permukaan, setelah mengenali agen asing, lectin mengaglutinasi dan

membuatnya tidak aktif.        Namun disimpulkan bahwa kespesifikan

pengikatan oleh lectin ini bukanlah merupakan antibodi pada udang, karena

udang tidak memiliki memori untuk merespon apabila serangan penyakit

yang sama muncul kembali.

     Terminologi hemosit Cruatacea tidak seragam, akan tetapi secara

umum beberapa penulis mengikuti klasifikasi yang direkomendasikan oleh

Bauchau (1981 dalam Van de Braak, 2002 dan Effendy et al., 2004) yaitu

sel hyalin, sel semigranular dan sel granular.    Klasifikasi hemosit udang

penaeid sering dibedakan granular besar dan granular kecil serta agranular

(Martin and Graves (1985 dalam Van de Braak, 2002).
     Secara umum sel hyalin merupakan tipe sel paling kecil dengan ratio

perbandingan antara nucleus dan sitoplasma tinggi dan tidak atau sedikit

granula sitoplasmanya.   Sedangkan granular merupakan tipe sel paling

besar dengan nukleus relatif kecil dan terbungkus penuh oleh granulanya.

Selanjutnya dinyatakan bahwa sel semigranular merupakan tipe sel sedang

yaitu besarnya antara sel hyalin dan sel granular (Bauchau, 1981; Soderhall

and Cerenius, 1992 dalam Van de Braak, 2002). Hasil penelitian Van de

Braak (2002) menemukan satu tipe sel yang belum disebutkan oleh peneliti

sebelumnya adalah tipe sel granular tanpa nukleus (Gambar 1).




Gambar 1. Tipe Hemosit Udang Windu (Sumber: Van de Braak, 2002)
          Keterangan : Tipe 1 = hemosit dengan eosinophylic cytoplasm,
          Tipe 2 = hemosit dengan bentuk membujur dengan warna
          eosinoflik sitoplasma yang cerah , Tipe 3 = hemosit berbentuk
          bulat agak oval dengan warna eosinophylic cytoplasm yang
          cerah, Tipe 4 = hemosit yang mempunyai eosinofilik yang
          berbentuk bulat dan Tipe 5 = hemosit nukleus/sitoplasma
          rendah. Skala Gambar 5 µm.
       Karakteristik hemosit udang windu disajikan pada   Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Hemosit Udang Windu (Van de Braak, 2002)

       T          Bentuk         Warna            Bentu           Warna
 ipe sel       Nucleus        Nucleus           k sel        sitoplasma
    1      Lingkaran, oval     Biru          Lingkaran          Merah
             atau bentuk                     atau oval
           tapak kaki kuda
   2          Oval atau         Biru        memanjang     Kurang berwarna
             bentuk tapak                                 atau merah muda
              kaki kuda

   3       Lingkaran, oval      Biru         Lingkaran    Kurang berwarna
             atau bentuk                     atau oval    atau merah muda
           tapak kaki kuda
   4         Tidak jelas      Lingkaran berwarna biru yang berisi substansi
                                         bulatan warna merah
   5       Lingkaran atau      Biru tua                    Kurang berwarna
                oval

       Penampakan sel hemolimf udang windu secara mikrograf seperti

terlihat pada Gambar 2
                                              (b)




                                        (a)                      (c)




Gambar 2. Mikrograp Elektron dari Hemosit             Penaeus monodon
          (Van de Braak, 2002 ). Keterangan : Gambar keseluruhan
          (a). Skala gambar = 5 μm. Granulosit (b) hyalinosit atau
          semigranulosit dengan laju nucleus/sitoplasma yang tinggi
          seperti terlihat pada beberapa       pseudopoda (c). Skala
          gambar = 2.5 μm. C, sitoplasm; G, granulosit; g, granule; H,
          hyalinosit; N, nucleus; S, semigranulosit .

     Sel-sel hemosit yang terdapat pada udang windu memiliki fungsi
tersendiri seperti disajikan pada Tabel 2.
 Tabel 2. Fungsi Sel Hemosit pada Udang Berdasarkan Tipe Selnya

No    Tipe Sel                          Fungsi                                Pustaka
      Hemosit
1    Granular    1. Mampu fagositosis Tetapi dengan frekuaensi lebih 1. Hose dan
                    kurang dari sel hyalin                              Martin (1989)

                 2. sebagai tempat penyimpanan protein antibakteri      2. Van de Braak
                    maupun enzim-enzim yang berperan dalam sistem          (2002).
                    pertahanan tubuh. enzim protease yang tersimpan
                    dalam keadaan tidak aktif yang disebut inactive
                    serine proteinase (proppA). Dalam keadaan aktif,
                    enzim protease ini berperan sebagai aktivator
                    pembentukan enzim Phenoloksidase (PO) yang
                    merupakan salah satu komponen penting dalam
                    sistem imun udang windu. Enzim protease juga
                    berperan dalam mendegradasi mikroba ketika
                    terjadi proses fagositosis.
2      Semi-     1. Sebagai sel utama yang terlibat dalam fagositosis   1. Soderhall dan
      granular      jika terdapat benda asing dalam tubuh udang            Cerenius (1992)
                 2. sebagai tempat penyimpanan protein antibakteri      2. Van de Braak
                    maupun enzim-enzim yang berperan dalam sistem          (2002).
                    pertahanan tubuh. Enzim protease yang tersimpan
                    dalam keadaan tidak aktif yang disebut inactive
                    serine proteinase (proppA). Dalam keadaan aktif,
                    enzim protease ini berperan sebagai aktivator
                    pembentukan enzim Phenoloksidase (PO) yang
                    merupakan salah satu komponen penting dalam
                    sistem imun udang windu. Enzim protease juga
                    berperan dalam mendegradasi mikroba ketika
                    terjadi proses fagositosis.
3     Hyalin     1. berperan dalam proses fagositosis dan aktivitas     1. Lio-Po et al.,
                    seperti halnya makrofage pada ikan dan binatang        (2001).
                    berdarah panas.
                 2. berperan dalam proses fagositosis mikroba yang      2. (Neves et al.,
                    masuk ke dalam tubuh saat terjadinya infeksi           2002; Campa-
                    penyakit. Salah satu komponen yang terlibat dalam      Cordova et al.,
                    proses ini adalah terbentuknya reactive oxygen         2002 dalam
                    species (ROS) seperti anion superoksida, hidrogen      Van de Braak,
                    peroksida, oksigen singlet dan hidroksil radikal.      2002)
                    Komponen ROS ini memiliki kemampuan
                    antimikroba dan dapat merusak makromolekul
                    seperti DNA, karbohidrat dan protein yang
                    barkaitan erat dengan patogen yang masuk ke
                    dalam tubuh
                 3. Pada lobster Amerika (Homarus americanus )          3. Peterson dan
                    dianggap sebagai hemosit tertentu yang dapat           Keith (1992);
                    mempunyai fungsi analog dengan antibodi, karena        McKay dan
                    imunitas yang ditunjukkan diduga terkait dengan        Jenkin (1970)
                    adanya perubahan sel fagositosis (sel hyalin)          dalam Van de
                                                                           Braak (2002)
       Jumlah hemosit menunjukkan jumlah sel hemosit secara keseluruhan

yang terdiri dari sel hemosit agranular (hyalin), semigranular dan granular

atau sel (Mahasri, 2008). Terjadi penurunan jumlah hemosit pada sirkulasi

darah udang jika terjadi gangguan eksternal, karena persediaan gula,

seperti glikogen dalam hati dimetabolisme sebagai sediaan energi untuk

emergensi,      sementara pada kondisi ini nafsu makan udang menurun

(Kamiso dkk., 2009).

       Pagositosis diyakini merupakan salah satu mekanisme pertahanan

seluler bagi Crustacea, dimana hemosit merupakan pertahanan pertama

untuk melawan tekanan      dalam tubuh dan sangat penting dalam reaksi

kekebalan Crustacea (Itami et al., 1989 dalam Van de Braak, 2002).

       Menurut Van de Braak (2002) bahwa jumlah hemosit udang windu

dapat berfluktuasi, temperatur air merupakan salah satu faktor eksternal

yang    dapat    menyebabkan   perubahan   jumlah   hemosit.   Selanjutnya

dilaporkan bahwa pada temperatur air 27 – 28 oC, salinitas 20 – 25 ppt dan

kadar oksigen 7,2 mg/l     adalah 50,9 x 106 ± 17,7 x 106 sel/ml.     Hasil

penelitian menunjukkan bahwa udang windu yang diimunisasi terlihat

adanya peningkatan jumlah hemositnya dari 50,99 x 106 sel/ml menjadi

69,91 x 106 sel/ml. Peningkatan jumlah hemosit ini menunjukkan adanya

respon imun udang windu.
B.   Respon Fisiologi Udang Terhadap Tekanan (Stressor) Eksternal
     Respon Fisiologi terhadap Densitas Pemeliharaan

      Secara alami apabila kepadatan udang melampaui daya dukung

perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar udang

tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti

ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stres dan

merupakan pemicu timbulnya serangan penyakit. Selanjutnya dinyatakan

bahwa perubahan lingkungan (enviromental changes) akibat densitas

pemeliharaan yang tinggi dan pemberian pakan buatan yang berlebih

sebagai sumber nutrien utama, akibatnya sisa pakan dan sisa metabolisme

menimbulkan masalah kualitas air, selanjutnya dituding menjadi penyebab

utama timbulnya stres pada udang dalam budidaya intensif. Bila udang

mengalami stres, maka akan ditanggapinya dengan mengembangkan suatu

kondisi homeostasis yang baru dengan mengubah metabolismenya.

Respon terhadap stres pada ikan dikontrol oleh sistem endokrin melalui

pelepasan hormon kortisol (Barton et al., 1980) dan katekolamin

(Woodward, 1982). Sandnes dan Waagbo (1991 dalam Marzuqi et al, 1997)

menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan metabolisme glukosa pada

tubuh yang dipicu oleh hormon kortisol dan katekolamin tersebut. Menurut

Piliang dan Djojosoebagio (2000), Stres menyebabkan           peningkatan

sekresi   kortisol   (glukokortikoid).   Dengan   demikian,   stres    dapat

meningkatkan glukosa darah. Selanjutnya dinyatakan bahwa beberapa

mekanisme yang berperan dalam mempertahankan kestabilan               glukosa
darah adalah glikogenesis,glukoneogenesis, lipogenesis dan lipolisis.

Homeostasis kadar glukosa dalam darah dipertahankan oleh beberapa

mekanisme, yaitu mekanisme yang mengatur kecepatan konversi glukosa

menjadi glikogen atau lemak yang disimpan, dan mekanisme yang

mengatur pelepasan kembali dari bentuk simpanan untuk dikonversi

menjadi glukosa yang masuk ke dalam darah. Oleh karena itu, dengan

banyaknya mekanisme yang berperan dalam mempertahankan homeostatis

glukosa darah, kestabilan glukosa darah menjadi sangat penting bagi

kesehatan bahkan kehidupan (Piliang dan Djojosoebagio, 2000).

     Araneda      et    al    (2008)   melaporkan    bahwa    pertumbuhan    dan

kelangsungan hidup juvenil Penaeus vannamei pada densitas pemeliharaan

berbeda menurun dengan meningkatnya densitas dari 90, 130 dan

180 ekor/m3.       Selanjutnya dilaporkan bahwa pertumbuhan Penaeus

vannamei    pada        densitas   130/m3,    maka    udang    yang    diproduksi

pertumbuhannya isometrik (b=2,9) dan dalam kondisi baik,              sedangkan

pada densitas 90/m3 positif alometrik, dan negatif alometrik pada densitas

pemeliharaan 180 ekor/m3.

     Dilaporkan        oleh   Supomo     (2009)   bahwa   pemeliharaan     udang

Litopenaeus vannamei pada densitas 105 ekor/m3 lebih baik kelangsungan

hidup,   FCR   dan        pertumbuhannya      dibandingkan    dengan     densitas

pemeliharaan 75 ekor/m3 pada sistem budidaya intensif Dipasena

Lampung.
     Allan and Maguire (1992) melaporkan bahwa densitas pemliharaan

yang berbeda       (5, 15, 25 dan 40 ekor/m2) tidak mempengaruhi

kelangsungan hidup udang windu dalam tambak, tetapi berpengaruh

terhadap pertambahan bobotnya dan oksigen terlarut dalam air (berbanding

terbalik dengan densitas pemeliharaan).      Selanjutnya dilaporkan bahwa

ditinjau dari segi ekonomi, kepadatan 15,25 dan 40 ekor/m2           tidak

menunjukkan perbedaan yang signifikan.


Respon Fisiologi Terhadap Ketersediaan Pakan

     Pemberian pakan secara harfiah dapat berarti memberi sesuatu yang

dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan, dapat pula didefinisikan

sebagai suatu rangkaian proses dalam hal mana suatu organisme

mengambil dan mengassimilasi makanan untuk tumbuh dan mengganti

jaringan yang usang atau rusak.

     Pakan yang diberikan berfungsi untuk mempertahankan hidup,

memacu pertumbuhan, mengganti sel-sel yang rusak atau usang dan

memasok energi. Pakan yang dikonsumsi udang berfungsi sebagai sumber

nutrien dan energi, yang antara lain digunakan untuk mempertahankan dan

membangun tubuh, untuk proses perkembangbiakan, dan pencegahan

penyakit, kanibalisme serta mortalitas tinggi. Pakan udang yang baik harus

mengandung semua nutrien yang dibutuhkan. Zat-zat tersebut terdiri dari

protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
      Protein adalah bagian yang terpenting          dalam sel makhluk hidup.

Fungsi protein adalah membentuk jaringan tubuh, memperbaiki jaringan

tubuh yang rusak, merupakan komponen enzim dalam tubuh dan

merupakan sumber energi untuk keperluan metabolisme.             Kemampuan

udang untuk mencerna protein bergantung kepada komposisi asam amino

yang dikandung dalam pakan. Asam amino yang dimaksud adalah asam

amino esensial yang terdiri dari metionin, valin, lisin, leusin, isoleusin,

histidin, arginin, treonin, fenilalanin dan triptofan (Watanabe, 1988 dalam

Piyatirtitivorakul, 2007).

      Menurut Chu Chen and           Cheng   (2002), kandungan protein dan

hemosianin dalam hemolimf            Penaeus japonicus meningkat dengan

meningkatnya bobot pada setiap tahap pemeliharaan yaitu 7.56 – 21.22 g

(N = 70).        Selanjutnya disimpulkan bahwa konsentrasi protein dan

hemosianin dalam hemolimf ditentukan oleh ukuran,           jenis kelamin dan

siklus ganti kulit.

      Menurut Deshimaru (1979) udang windu membutuhkan kadar lemak

sekitar   4   -7      %   dalam   pakan.   Teshima    dan   Kanazawa   (1979)

mengemukakan bahwa udang tidak mampu mensintesa asam asetat

menjadi sterol.           Kebutuhan sterol pakan dapat      dipenuhi dengan

menambahkan kholesterol. Kholesterol dalam tubuh udang akan diubah

menjadi hormon steroid, hormon ganti kulit dan digunakan sebagai

pembentuk hipodermis.          Kebutuhan kholesterol yang optimum adalah
0,5 % (Poernomo, 1985). Selanjutnya dinyatakan bahwa rasio asam lemak

W 3:W 6 dalam pakan nampaknya lebih penting dari pada tingkat kadar,

masing-masing untuk merangsang pertumbuhan, untuk pertumbuhan yang

optimal kadar asam lemak W 3 harus lebih tinggi dari pada W 6. Kondisi

sebaliknya akan menghambat pertumbuhan.

     Karbohidrat merupakan sumber energi yang dapat menghemat

pemakaian protein, sehingga protein pakan dapat digunakan secara efisien

untuk proses pertumbuhan.      Bila pemberian karbohidrat dalam pakan

berlebih maka karbohidrat akan disimpan dalam bentuk lemak atau dirubah

menjadi glikogen. Menurut Dall (1965 dalam Sumeru dan Kontara, 1987)

udang memerlukan karbohidrat dalam pakan berlebih untuk sintesis khitin

dalam pembentukan kulit keras (eksoskeleton).       Khitin digunakan oleh

udang dalam proses pertumbuhan untuk membentuk dan mengganti

eksoskeleton selama ganti kulit.   Komponen utama eksoskeleton udang

disintesa dari N-asetil glukosamin (Kitabayashi et al, 1971). Ilyas dkk.,

(1987) menyarankan pemberian karbohidrat sebaiknya tidak melebihi 10 %

dari bobot pakan.

     Dalam ilmu kedokteran gula darah adalah istilah yang mengacu

kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat

glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan

melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh (Wikipedia,

ensiklopedia:Gula_darah.htm. diekses 2011).
     Glikogen berasal dari kelebihan glukosa dalam darah. Affandi dkk.

(1992) menyatakan bahwa karbohidrat yang dikonsumsi oleh ikan akan

dicerna di dalam pencernaan hingga menjadi glukosa.         Selanjutnya

dinyatakan bahwa gukosa akan diserap oleh dinding usus dan kemudian

masuk dalam darah. Glukosa yang ditransfortasikan dalam darah akan

diambil oleh sel-sel pada tubuh organisme untuk menghasilkan energi

melalui proses oksidasi pada organ hati, glukosa akan masuk ke dalam sel

hepatosit secara mudah dan selanjutnya diubah menjadi glikogen (Hadim

dkk., 2001).

     Energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen pada Crustacea

menurut Lockwood (2002) dengan bantuan enzim posporilase glikogen

menjadi glukosa-1-pospat, lalu menjadi glukosa-6-pospat selanjutnya

menjadi glukosa melalui bantuan enzim hexokinase dan sejumlah ATP.

     Sel juga dapat menghasilkan glukosa dari bahan bukan karbohidrat

melalui proses glukoneogenesis, yaitu lintasan yang bertanggung jawab

atas pengubahan senyawa non karbohidrat menjadi glukosa. Substrat

utamanya adalah asam amino, gliserol, laktat dan piruvat. Glukosa yang

dibentuk bukan dari karbohidrat kemudian dapat menjadi glikogen melalui

proses glikoneogenesis.

     Proses glikogenolisis ini sendiri sangat dipengaruhi oleh hormon.

Menurut Junguiera (1995), proses pengubahan glikogen menjadi glukosa

sangat dipengaruhi oleh hormon yang disekresikan oleh pankreas dalam
hal ini adalah hormon glukagon. Penurunan kadar glukosa darah pada saat

pembantutan akan merangsang pankreas untuk mensekresikan hormon

glukagon. Selanjutnya dinyatakan bahwa hormon ini akan merangsang

enzim fosfolirasi yang akan menjadi katalisator bagi perubahan glikogen

menjadi glukosa sehingga kadar glukosa darah akan kembali meningkat

(Hadim dkk., 2001).

     Vitamin dan mineral yang ditambahkan dalam pakan udang, diberikan

dalam bentuk campuran (vitamin mix dan meneral mix).                 Vitamin

mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan, metabolisme dan

reproduksi,     sedangkan    mineral   dalam    pembentukan   eksoskeleton,

keseimbangan osmosis, struktur jaringan, pengiriman impuls saraf dan

kontraksi otot. Kebutuhan vitamin dan mineral bagi udang secara kuantitatif

masih belum banyak diketahui.      Vitamin yang penting adalah Vitamin C, E

dan B (Fisher, 1960).       Jenis mineral yang penting untuk pakan udang

adalah Kalsium dan Fosfor. Perbandingan Kalsium dan Fosfor untuk udang

windu   adalah     1,2:1    (Poernomo,   1985    dan   http://www.perikanan-

udidaya,kkp,go.id/index.php?option=com content&view =, Februari 2011).

     Persyaratan      mutu pakan buatan        udang windu    yang   disusun

berdasarkan beberapa hasil peneltian oleh Ditjen Budidaya KKP disajikan

pada Tabel 3.
 Tabel 3. Persyaratan mutu pakan buatan udang windu yang disusun
          berdasarkan beberapa hasil peneltian oleh Ditjen Budidaya KKP

                                                Persyaratan mutu
  Kriteria Uji      Satuan   Starter       Starter  Grower Grower
                                                                          Finisher
                                1             2         1         2
Air, maks           % b/b      10            10        10        10         10
Protein             % b/b      40            38        37        36         35
(Nx6,25), min
Lemak, min          % b/b        6           4         4         4           4
Serat Kasar,        % b/b        3           3         3         3           4
maks
Abu, maks           % b/b       15           15        15        15         15
Kestabilan          % b/b       90           90        90        90         90
dalam air
(setelah 2 jam),
min
Nitrogen            % b/b       0,15        0,15      0,15      0,15        0,15
Bebas, maks
Cemaran
Mikroba
- ALT, maks         Kol/g    5x103         7,5x103   7,5x103   7,5x103    7,5x103
- Kapang, maks      Kol/g     50              50        50        50         50

       Udang       memerlukan     energi     untuk   pertumbuhan,      pergerakan,

 reproduksi dan metabolisme (Zonneveld et al,1999). Energi dalam pakan

 dapat diperoleh dari karbohidrat, lemak dan protein. Dalam teori ilmu nutrisi

 dijelaskan bahwa penggunaan energi yang diperoleh melalui asupan pakan

 yang dikonsumsi, dialokasikan untuk kebutuhan metabolisme yang terdiri

 dari metabolisme standar, aktif, pencernaan, pergerakan dan deposisi

 bahan makanan, dan energi untuk sekresi dan eksresi, pertumbuhan dan

 reproduksi. Energi metabolisme merupakan energi yang mutlak terpenuhi

 untuk mempertahankan hidup (maintenance) sehingga udang dapat

 bertahan hidup.      Kekurangan energi dibawah standar kebutuhan energi
maintenance berefek negatif terhadap proses metabolisme dalam tubuh,

yang apabila berlangsung intens dapat menyebabkan penyusutan ukuran

tubuh, ketidaknormalan organ tubuh bahkan dapat berakibat kematian.

     Retensi energi yang dinyatakan dalam persen merupakan persentase

perbandingan antara jumlah energi yang disimpan dalam tubuh (kkal)

dengan jumlah energi yang diberikan (kkal).         Besarnya retensi energi

ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi dan kondisi

fisiologi serta lingkungannya.    Pada kondisi lingkungan dan kebutuhan

nutrien optimal untuk kehidupan udang, namun kondisi fisiologinya

terganggu oleh faktor internal (sifat genetik) dan eksternal (densitas tinggi)

akan berefek negatif terhadap vitalitasnya.


Respon Fisiologi Terhadap Kualitas Air

     Air mempunyai kemampuan untuk menampung oksigen terlarut, jika

telah mencapai tingkat kejenuhannya maka oksigen yang diproduksi akan

dibuang ke udara.    Kapasitas air dalam menampung oksigen ditentukan

antara lain suhu dan salinitas.   Semakin tinggi suhu semakin berkurang

jumlah oksigen yang dapat dipertahankan tetap terlarut, demikian pula

salinitas, semakin tinggi salinitas air berarti semakin banyak bahan-bahan

terlarut lain yang telah ada dalam air dan mengurangi ruang yang tersisa

untuk oksigen terlarut, sehingga jumlah oksigen terlarut juga lebih rendah.

Osmolalitas hemolimf juvenil udang Farfantepenaeus subtili (1.23 g ± 0.26)

setelah dipelihara pada salinitas 5, 10, 15, 20, 25, 30 dan 45‰ selama
24 jam, memperlihatkan bahwa salinitas tinggi 25 and 35‰, tidak berbeda

dengan salinitas 5‰, namun komsumsi pakan paling tinggi pada

pemeliharaan di salinitas 25 dan 35‰. Titik isoosmotik diestimasi melalui

regresi antara osmolalitas hemolimf dan osmolalitas air laut yaitu diperoleh

pada osmolalitas 377.07 mOsm/kg,         yang identik dengan salinitas 14‰.

Selanjutnya dilaporkan bahwa        F. subtilis pertumbuhannya tinggi pada

salinitas tinggi dan berada pada titik isoosmotik yaitu kira-kira salinities

25‰ (Silva et al. 2010).

     Juvenil   Litopenaeus      vannamei     yang    telah   diinvestigasi    pada

temperatur 20, 25, and 30°C. dengan fluktuasi salinitas berbeda yaitu ± 0,

± 5, ± 10 and ± 15 ‰, salinitas 20 ‰ sebagai kontrol.           Sesudah 48 hari

diberi pakan, survival rate rendah pada fluktuasi salinitas ± 15‰ setiap

perlakuan temperatur. Selanjutnya dilaporkan bahwa pertumbuhan juvenil

paling baik pada fluktuasi salinitas ± 5-10 ‰ dengan suhu 25 dan 30°C.

Fluktuasi salinitas      berpengaruh terhadap efisiensi pemanfaatan pakan.

Selanjutnya disarankan pemeliharaan udang pada fluktuasi salinitas ± 5-

10 ‰    karena    energi     digunakan     untuk    pertumbuhan     dan      sedikit

pembelanjaan energi untuk respirasi dan eksresi pada temperatur 25 dan

30°C (Su et al. 2010).

     Pada perairan laut dan payau tingkat oksigen terlarut yang baik 7 -

10 ppm pada siang hari. Untuk udang ideal 4 ppm pada pagi hari dan

mendekati tingkat jenuh (7-10 ppm ) pada siang hari. Pada konsentarsi
oksigen 6 mg/l pola osmoregulasi juvenil udang Litopenaeus stylirostris

adalah   isosmatik, sedangkan pada konsenttrasi 2 dan 4 mg/l,           terjadi

modifikasi capacitas osmoregulasinya, yaitu berubah dari pola osmoregulasi

isosmotik   menjadi   hipo-osmotik, dengan demikian     disimpulkan bahwa

untuk pemeliharaannya dibutuhkan konsentarsi oksigen terlarut 6 ml/l ( Re

and Díaz, 2011).

     Menurut    Stickney   (1979),   kekurangan    oksigen   terlarut    akan

membahayakan organisme air karena dapat menyebabkan stres, mudah

terkena penyakit dan bahkan kematian. Haliman dan Adijaya (2005)

menyatakan bahwa kandungan oksigen terlarut sangat mempengaruhi

metabolisme tubuh udang. Kadar oksigen terlarut yang optimum bagi udang

adalah di atas 4 mg/l (Liao dan Huang, 1975 dalam Chien, 1992). Kadar

oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi

air dan tekanan atmosfer.        Toksisitas amoniak meningkat dengan

menurunnya kadar oksigen terlarut. Konsentrasi NH3 yang relatif aman

untuk udang Penaeus sp adalah di bawah 0,1 mg/l (Liu, 1989).

     Penurunan kadar oksigen terlarut dari 6 ppm menjadi 1,8 dan 2,2 ppm

menyebabkan rata-rata kematian udang windu 47 %, salah satu

penyebabnya adalah kemampuan pagositosis udang pada tingkat oksigen

rendah menekan sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan infeksi

bakteri yang biasanya penyebab akhir kematian udang ( Direkburasakom

and Danayadol, 1998).
     Dalam budidaya perairan, fluktuasi pH air dapat disebabkan karena

pasokan pakan buatan, densitas kultifan dan populasi plankton (Rollo et al,

2006). Akumulasi sisa pakan dan metabolisme dalam air mengakibatkan

meningkatnya senyawa amonia dan nitrit. Bila pH tinggi maka konsentrasi

meningkat dan akan menyulitkan proses urine isoionik untuk NH3 keluar dari

dalam tubuh ke media.     Akibatnya akan meracuni tubuh kultifan (Boyd,

1982). Selanjutnya dikatakan bila terjadi fluktuasi kandungan amonia dan

nitrit dalam air, perlu diupayakan agar kandungan amonia dan nitrit dalam

air tidak lebih dari 0.05 mg NH3-N perliter dan tidak lebih dari 0,05 mg

NO2-N perliter .

     Sumber utama senyawa amonia pada pemeliharaan udang berasal

dari ekskresi langsung organisme air atau udang dan ikan yang

dibudidayakan (Chin and Chen, 1987, Chen and Kou, 1992, Chen and Lin,

1995). Burford et al (2002) mengemukakan bahwa sumber amonia dalam

sistem tambak udang berasal dari pakan tambahan (pellet). Sejak hari

pertama pakan masuk sudah dapat terdeteksi adanya senyawa amonia

yang berasal dari pakan tersebut konsentrasi amonia pakan tambahan

(pellet). Sejak hari pertama pakan masuk sudah dapat terdeteksi adanya

senyawa amonia yang berasal dari pakan tersebut. Konsentrasi amonia

dalam sistem tambak udang akan berbanding lurus dengan jumlah pakan

yang masuk .
     Senyawa amonia yang tidak berbentuk ion (NH 3) relatif lebih bersifat

toksik pada hewan akuatik (udang) dari pada yang berbentuk ion NH4+.

Kondisi pH dan suhu lingkungan perairan sangat berpengaruh terhadap

perbandingan jumlah kandungan amonia tinggi berpengaruh terhadap:

peningkatan konsumsi oksigen oleh jaringan, kerusakan insang dan

mengurangi kemampuan darah dalam mengikat oksigen. Konsentrasi

amonia 1 mg/1 berpotensi menyebabkan kematian udang dan konsentrasi

diatas 0,1 mg/1 akan berpengaruh pada laju pertumbuhan udang (Boyd,

1990). Hewan air yang hidup di lingkungan dengan kandungan amonia

tinggi secara fisiologis akan mengalami kerusakan pada jaringan ginjal,

tiroid, dan limpa.

     Nitrit merupakan senyawa antara, hasil oksidasi amonia. Senyawa

nitrit oleh beberapa kelompok bakteri tertentu digunakan sebagai penerima

elektron terakhir dalam proses metabolismenya. Hal ini terjadi pada kondisi

lingkungan yang anaerobik. Mekanisme tersebut dikenal dengan istilah

respirasi nitrit. Enzim yang berperan adalah nitrit reduktase (Madigan et al,

1997).

     Pada sistem budidaya perairan khususnya tambak udang senyawa

nitrit sangat berbahaya. Senyawa tersebut akan menghambat masuknya

oksigen ke dalam tubuh hewan budidaya (udang). Senyawa nitrit masuk

dalam tubuh organisme air melalui insang. Pada saat senyawa nitrit

diabsorbsi oleh darah ikan, akan membentuk Methaemoglobin (Hb + NO2 =
Met-Hb). Unsur besi hemoglobin akan dioksidasi dari ferro menjadi ferri,

sehingga terbentuk Met-Hb yang tidak dapat atau menurun kemampuannya

dalam mengikat unsur oksigen. Selanjutnya dinyatakan bahwa darah ikan

yang mengandung Met-Hb berwarna coklat (Boyd, 1990). Beberapa

organisme air (ikan) mampu menurunkan kadar methemoglobin melalui

diproduksinya enzim methemoglobin reduktase (Huey and Beitinger, 1982

dalam Boyd 1990; Freeman et al 1983 dalam Boyd, 1990). Masing-masing

jenis dan tingkat perkembangan ikan juga mempunyai daya tahan yang

berbeda terhadap senyawa nitrit. Pertumbuhan udang galah masih baik

pada kandungan nitrit sekitar 1.8-6,2 mg/1. sedangkan pada udang windu

nilai lethal Concentration 50 (LC 50) untuk waktu pemaparan 24 jam adalah

sebesar 2,04 mg/1. Pada konsentrasi tersebut udang akan mati sebanyak

50% (Chen and Chen, 1992). Sedangkan konsentrasi nitrit yang tidak

membahayakan untuk pertumbuhan pada budidaya udang windu paling

tinggi sebesar 4,5 mg/1 (Chen and Chan, 1987).

     Nilai redoks sudah mencapai -100 mV menunjukan adanya reaksi

reduksi yang diduga akan menghasilkan senyawa beracun nitrit dan sulfida

pada pH asam dan Amonia pada pH basa. Apabila nilai redoks sudah

mencapai -100 mV menunjukan adanya reaksi reduksi yang diduga akan

menghasilkan senyawa beracun nitrit dan sulfida pada pH asam dan

Amonia pada pH basa.
Tabel 4. Kriteria Kualitas Air yang Diperbolehkan untuk Kegiatan Budidaya
         Perikanan

       N                                      Batas optimum
              Parameter
  o                                     Batas             Optimum
       1      Suhu (oC)                21 – 32             29-30
  .
       2      Salinitas (ppt)           0 – 35                15-25
  .
       3      TSS (ppm)                25 – 500               25-80
  .
       4      Kecerahan(cm)             25-60                 30-40
  .
       5      pH                       6,5 – 8,5             7.5-8.5
  .
       6      Alkalinitas (ppm)          > 50                 >100
  .
       8      Oksigen terlarut            >2                   3
        (mg/l)
       9      NH+3-N (mg/l)               1,0                   0
  .
       1      NO2 –N(mg/l)               0,25                   0
  0.
       1      BOD5 (ppm)                 < 25                  <25
  2.
       1      COD (ppm)                 40-80                  <40
  3.
       1      H2S (ppm)                 0.001                   0
  4.
(Sumber : Poernomo (l992), MENKHL (l988), Widigdo (2000) dan
          Ramanujam         (2008, www.Aquaculture.tn.nic.n/pdf/g
          uidelines.pdf.) .
       Berdasarkan fenomena di atas maka kelayakan kualitas air dalam

kegiatan budidaya udang merupakan suatu hal yang penting dan mutlak

untuk diperhatikan oleh para praktisi sebagaimana disajikan pada Tabel 4

sebelumnya.
     Ada hubungan korelasi positif pH permukaan sedimen dengan

tekanan osmotik, tekanan osmotik menurun secara signifikan apabila pH

air menurun dari 7.0 menjadi 6.5. (Lemonnier et al, 2004).


                       B. Fisiologi Stres pada Udang

     Menurut Prazzolo et al, (2009) banyak faktor yang menyebabkan

gangguan keseimbangan atau homeostasis pada ikan termasuk udang

windu yaitu faktor internal (sifat genetik) dan eksternal seperti pengelolaan

pada saat penangkapan dan membudidayakan (densitas pemeliharaan,

transportasi, vaksinasi) dan faktor lingkungan (suhu, pH, dan bahan kimia).

Faktor eksternal tersebut dapat menyebabkan tekanan terhadap organisme,

yang jika kronis atau intens dapat menurunkan vitalitas dan menyebabkan

stres bagi udang windu. Stres dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan

dimana keseimbangan atau homoestasis yang normal pada tubuh udang

windu terganggu atau terancam oleh faktor eksternal.             Selanjutnya

dinyatakan bahwa stres diawali dari perubahan fisiologis dan akhirnya

diekspresikan dalam respon perilaku yang bertujuan untuk        membangun

kembali keseimbangan atau kenyamanan melalui kegiatan adjusment atau

readjusting biologis    contohnya memaksimalkan fungsi respirasi dan

osmoregulasi (Smith, 1982 dan Bonga, 1997 dalam Wolffrom, 2004). Stres

menurut definisi di atas tidak perlu dianggap merugikan tetapi hanyalah

bentuk respon adaftif , namun respon adaftif dapat berbalik merugikan dan

disfungsional ketika menjadi kronis atau berkepanjangan (Barton, 1997
dalam Wolffrom, 2004). Selye (1950) dan Soelistyowati (2002) menyatakan

bahwa      usaha   mempertahankan     diri   dengan   cara   mengatur   atau

mengembalikan proses metabolisme tubuh pada tingkat yang normal

melawan tekanan/gangguan fisikokimia lingkungan biasa disebut General

Adaptation Syndrome (GAS). Oleh karena itu penting dibedakan dengan

eustressor yaitu suatu respon terhadap tantangan yang mengancam dan

dapat menyebabkan efek patologis.

     Menurut Wolffrom (2004) bentuk dan besarnya respon ikan termasuk

udang terhadap stressor tergantung dari jenis stressor, jenis udang

(spesies) dan bahkan pada tingkat moulting bagi crustacea, kondisi umum

udang dan tahap perkembangan dalam siklus hidupnya (stadia, dan bobot

badan).

     Seperti halnya dengan respon fisiologi, tanggapan stres juga dapat

dibagi menjadi tiga yaitu primer, sekunder dan tertier. Tanggapan utama

(primer)    terhadap    stressor   adalah    pelepasan   katekolamin    dan

kortikosteroid,    respon sekunder ditandai sebagai reaksi langsung dari

darah dan hormon, sedangkan respon tertier merupakan tanggapan

terhadap stressor jangka panjang yang mempengaruhi pertumbuhan

reproduksi dan kekebalan tubuh bagi ikan (Wolffrom, 2004).

     Hormon dan kadar gula, protein darah dapat diukur dan digunakan

sebagai indikator tingkat stres udang.       Selanjutnya dinyatakan bahwa

sumbu hypothalamus simpatik chromaffin diketahui mengatur kadar
katekolamin pada organisme (Wolffrom, 2004).        Lebih lanjut dinyatakan

bahwa katekolamin (epinephrine dan norepinephrine) dalam keadaan

normal dapat berubah dalam beberapa menit sebagai respon terhadap

suatu stressor yang berat, terutama dilepaskan dari sel-sel chromafin ginjal.

Sebagai akibat dari peningkatan kadar katekolamin, tingkat penyerapan

oksigen melalui insang meningkat dan afinitas haemoglobin pada ikan dan

hemosit pada udang meningkat yang mengakibatkan transport oksigen

membaik. Selain itu, katekolamin meningkatkan pelepasan glukosa dari

hati, memicu terjadinya hyperglikemia sebagai indikator stres terkait dengan

darah dan mengurangi jumlah glikogen dalam hati. Stres yang kronis, intens

dan berkepanjangan memungkinkan timbulnya tekanan secara tiba-tiba

pada sumbu hipotalamus-hipofisis-interrenal yang bertanggung jawab

terhadap pengaturan kortisol. Kortisol merupakan produk akhir dari sumbu

ini yang diproduksi pada sel-sel internal dari ginjal yang diinduksi oleh

adrenokortikotropik hormon (ACTH) dan kortikotropin-realising–hormon

(RCH). Lebih lanjut dinyatakan bahwa peningkatan kortisol dapat mencapai

10 -100 kali lipat setelah mengalami gangguan stressor yang berat (kondisi

menegangkan) dalam beberapa menit. Organ target utama kortisol adalah

hati,   usus,   dan   insang.   Pengaruh    utama    kortisol   adalah   pada

keseimbangan mineral dan metabolisme energi, kortisol memainkan

peranan penting untuk pengaturan       pengambilan/ekstrusi Na+, Cl- oleh

karena itu penting bagi ikan untuk tidak hidup pada lingkungan yang hypo
atau    hiperosmotik.   Hal   ini   diketahui   kareha    kortisol    merangsang

glukoneogenesis, suatu fakta yang mungkin berkontribusi terhadap

penurunan bobot badan yang terjadi selama stres kronis dan apabila

berlangsung secara intens dan berkepanjangan maka dapat menyebabkan

kematian pada udang (Wolffrom, 2004).

       Menurut Selye (1950), Smith (1982) dan Soelistyowati (2002) bahwa

tahapan umum perubahan fisiologi dalam GAS pada manusia dan ikan

yang mengalami stres sebagai berikut: (1) sinyal pertama berupa reaksi

alarm dimana kelenjar interrenal terstimulir oleh sistem syaraf untuk

mencapai     kesetimbangan      yaitu   melepaskan       hormon      stres   berupa

katekolamin dan kortikosteroid, serta adrenokortropik (ACTH) dari kelenjar

adenohipopisis (2) sinyal kedua adalah tahapan adaptasi yang merupakan

bagian dari proses bertahan (resistensi).          Dalam hal ini, pelepasan

hormonal yang berlebihan menyebabkan peningkatan kadar bahan kimia

darah      (ion K, Na, Cl) dan bagian hematologis (hiperglisermia,

hiperlaktisemia, leukopemia).       Selanjutnya dinyatakan bahwa akumulasi

bahan tersebut akan meracuni darah (toksemia) sehingga memaksa limpa

melakukan kontraksi (kontraksi berlebih) untuk menetralisir racun dan

berdampak pada pembengkakan limpa.              Lebih lanjut dinyatakan bahwa

reaksi sympatetik pada sistem syaraf yang disebabkan oleh kontraksi

splenis tersebut akhirnya meningkatkan respirasi dimana ikan bernafas

lebih cepat yang memacu tekanan darah lebih tinggi untuk memasok
kebutuhan oksigen. Aktivitas fisiologis selama proses adaptasi berlangsung

untuk mencapai keseimbangan (Homeostasis) tersebut menyebabkan ikan

menjadi cepat letih, nampak gelisah, terengah-engah dan nafsu makan

menurun sehingga sering berdampak pada pengurusan tubuh (berat badan

menurun).    (3)   tahap   homeostasis   (mencapai   keseimbangan)    atau

pemulihan, yaitu suatu keadaan dimana apabila proses adaptasi mengalami

kegagalan, maka ikan berada pada tahap kelelahan (exaution). Dalam hal

ini, ikan secara individual atau populasional biasanya akan menunjukkan

kelemahan

     fisik berupa gangguan pertumbuhan dan kesehatan Seperti anoxia,

infeksi, hyperflasia sel (pada ikan budidaya karena ketidakseimbangan

endokrin),   forced    excersice,   keracunan,   septicaemia.        Selain

itu,dikemukakan bahwa ikan menjadi rentan penyakit.         Secara grafik

aplikasi mekanisme terjadinya GAS dapat dilihat pada Gambar 3.
                                        Kematian




                       Tidak Terobati
    Cacat                                                                             Take-off
            Penyakit


                                                                             Limit Kompensasi
                       Terobati




                                                                                        Perbaikan
            Sehat

                        Stress




                                                                                                     Kematian
                                               Homeostasis            Kompensasi           Non-
                                                                                        Kompensasi
                                                                        Ketidakseimbangan

Gambar 3. Aplikasi Prinsip General Adaptation Syndrome/GAS (Selye,
         1950)

      Gambaran klasifikasi                            tingkat stres    tersebut diillustrasikan sebagai

contoh yang terjadi pada lobster (Gambar 4).
                               STRESSOR LINGKUNGAN                               Tingkat


                            REAKSI SYARAF                                 Tingkat 1
                         SEKRESI HORMON STRES                             Fase alrm
                                                                          (Menit)
  RESPON                                      RESPON                      Tingkat 2
  FISIOLOGI                                    IMMUN                      (awal)
  Mobilisasi cadangan energi                  Sel darah meningkat         Fase alarm
                                              Mengurangi dan mencegah     (Menit – jam)
                                              kehilangan darah


  RESPON                                      GANGGUAN                    Tingkat 2
  PATOLOGI                                    IMMUNITAS                   (akhir)
  Peningkatan laktat                          Sel-sel darah menurun       Fase Resisiten
  Gangguan air dan ion                        Bakteri hidup dalam darah   (jam – hari)
  Awal terjadinya cedera sel                  Gangguan pembekuan

  RESPON PATHOPHYSIOLOGICAL                   RESPON STRES KRONIS         Tingkat 3
  Cedera sel sudah meluas                     Gangguan pertumbuhan,       (awal)
                                              reproduksi dan immunitas    Fase resisten
                                                                          atau atau fase
                                                                          awal kelelahan
                                                                          (hari –
                                                                          minggu)

                        RESPON PATHOLOGICAL                               Tingkat 3
                         Infeksi bakteri pada jaringan                    (akhir)
         Kerusakan jaringan meluas dan menyebabkan gangguan organ         Fase kelelahan


                                 MATI

Gambar 4. Klasifikasi Tingkat Stres Lobster (Evans, 1999)


                  C. Ganti Kulit (Moulting) dan Pertumbuhan

      Ganti kulit pada Crustacea adalah siklus proses pergantian kulit yang

terjadi pada periode tertentu.        Terjadi pertambahan bobot sehingga otot

terlalu padat.      Kondisi ini membawa pesan ke sistem saraf pusat yang

menghasilkan hormon sel neurosekretori untuk menghambat organ x, bila

organ x tidak aktif berarti tidak ada produksi Hormon Inhibitor Moulting

(HIM), maka Organ y memproduksi Hormon Stimulating Moulting (HSM)
sehingga menyebabkan terjadinya ganti kulit.           Selanjutnya dinyatakan

bahwa pertumbuhan terjadi sebelum ganti kulit, volume tubuh bertambah

sebelum ganti kulit dan akan mengembang sesudahnya, karena menyerap

air dan adanya pertambahan ruang.           Fase ganti kulit ini berlangsung

singkat, dan merupakan fase krisis. Pada kondisi ini banyak terjadi

kematian karena mekanik, fisiologis dan biologis. Kematian mekanik terjadi

karena hewan tidak mampu melepaskan diri dari kulit lama, lalu kehabisan

energi.    Energi yang tersedia tidak cukup untuk         memenuhi kebutuhan

dalam      mempertahankan     hidup     (energi    maintenance).   Selanjutnya

dinyatakan bahwa kematian fisiologi terjadi karena pada saat ganti kulit,

permiabilitas kulit   kurang mampu mengatur osmasa tubuh dengan

lingkungan. Sedangkan kematian biologis disebabkan adanya pemangsaan,

udang yang ganti kulit tidak dapat bergerak sehingga muda dimangsa

(Lockwood, 2002).

     Organ x pada Crustacea terdapat pada dua pertiga dari kelenjar

tangkai mata dan berada pada ganglion penglihatan atau pusat saraf

penglihatan (Smith, 1982).      Fungsi      Organ x pada Crustacea, juga

menghasilkan hormon yang dapat mengontrol glukosa darah, mengontrol

laju metabolisme, mengontrol metabolisme protein dan mengontrol kerja

jantung.    Pada   tangkai   mata     terdapat    enzim   penghambat   proses

pembentukan glukosa yang disebut enzim transglukolase. Itulah sebabnya

apabila organ x dihilangkan maka kadar glukosa darah meningkat,            ini
dibutuhkan untuk pembentukan kutikula. Untuk menghilangkan pengaruh

enzim tersebut maka dilakukan ablasi pada tangkai mata sehingga banyak

terbentuk glukosa selanjutnya menghasilakan banyak energi, yang

diperlukan untuk ganti kulit (Lockwood, 2002 ). Lebih lanjut dinyatakan

efek lanjut dari ablasi pada tangkai mata, organ y memproduksi HSM yang

memicu terjadinya ganti kulit. Terbukti apabila organ y ini dihilangkan maka

Crustacea tidak dapat ganti kulit

     Menurut Lockwood (2002) fungsi lain dari hormon yang dihasilkan oleh

organ x dapat mengontrol laju metabolisme pada Crustacea. Apabila organ

x pada Crustacea dihilangkan, maka konsumsi oksigen meningkat, sedikit

perubahan jika hanya dihilangkan salah satunya. Selanjutnya dinyatakan

bahwa konsumsi O2 yang meningkat menunjukkan bahwa metabolisme

berjalan cepat.    Sebaliknya apabila kedua organ y dihilangkan tidak

berpengaruh terhadap konsumsi oksigen.

     Organ x dapat menghasilkan hormon 5,6 dihydroxi tryptamin,

5 hydroxi tryptamin dan 6 hydroxi tryptamin, yang berfungsi untuk

meningkatkan laju denyut jantung dan meningkatkan amplitudo denyut

jantung. Denyut jantung dikontrol oleh myogenik      dan neurogenik, serta

tekanan cairan dalam tubuh (Smith, 1982 dan Lockwood, 2002).

     Pertumbuhan merupakan peningkatan panjang, volume, bobot basah

maupun bobot kering berdasarkan waktu.        Wickins (1982) menjelaskan

bahwa pertumbuhan pada udang merupakan fungsi dari frekuensi ganti
kulit, grafik pertumbuhannya secara individu akan membentuk bangunan

seperti anak tangga, karena adanya proses ganti kulit. Akan tetapi karena

suatu populasi berganti kulit tidak serentak pada waktu yang sama, maka

grafik pertumbuhan udang menjadi grafik yang halus (smooth).     Dengan

demikian semakin sering terjadi ganti kuli, pada udang semakin curam

kemiringan grafik pertumbuhannya. Ganti kulit menurut Ling (1964)

dipengaruhi oleh umur, kualitas dan kuantitas pakan. Apabila pakan cukup

maka frekuensi ganti kulit berkorelasi dengan kualitas dan kantitas pakan

yang diberikan dan udang pada stadium muda akan lebih sering ganti kulit

dari pada udang dewasa.    Selain pemberian pakan yang berkecukupan,

untuk memicu pertumbuhan berbagai upaya yang dilakukan untuk

merangsang terjadinya ganti kulit     antara pemberian bahan kimia,

manipulasi lingkungan perairan dan stressing dengan berbagai intervensi

eksternal. Pertumbuhan dalam individu ialah pertambahan jaringan akibat

dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada kelebihan

input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan. Bahan

yang berasal dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk metabolisme

dasar, pergerakan, produksi organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh

atau mengganti sel-sel yang sudah tidak     terpakai. Bahan-bahan tidak

berguna akan dikeluarkan dari tubuh melalui eksresi. Apabila terdapat

bahan berlebih dari keperluan tersebut akan dibuat sel baru sebagai

penambahan unit atau penggantian sel dari bagian tubuh. Secara
keseluruhan resultantenya merupakan perubahan ukuran (Effendie, 2002).

Affandi   dan   Tang   (2002)    menyatakan    bahwa    pendekatan    dalam

mempelajari pertumbuhan dapat dilakukan melalui : (1) model pertumbuhan

metabolik, (2) model matematik yaitu penelaahan pertumbuhan melalui

pendekatan persamaan matematik dan kurva, dan (3) analisa pada tingkat

sel   melalui   penelaahan      pertumbuhan   melalui   perkembangan      sel

(multiplication, regeneration dan hypertrophy). Lebih lanjut dijelaskan bahwa

beberapa aspek yang berkaitan dengan pertumbuhan individu terutama

yang berkaitan proses fisiologis meliputi regenerasi, metamorfosa dan ganti

kulit. (moulting) Regenerasi berkaitan dengan kondisi binatang/hewan yang

memiliki kemampuan untuk menyusun kembali jaringan/bagian tubuh yang

telah hilang, baik pada waktu proses fisiologis normal maupun rusak karena

luka. Pengertian moulting berkenaan dengan proses pelepasan secara

periodik cangkang yang sudah tua dan pembentukan cangkang baru

dengan ukuran yang lebih besar. Pada Crustacea (udang), pertumbuhan

terjadi secara berkala setelah pergantian kulit. Pertambahan panjang dan

bobot tubuh akan terhambat bila tidak didahului oleh ganti kulit. Seperti

halnya Arthropoda lain, pertumbuhan udang windu tergantung dua faktor

yaitu frekuensi ganti kulit (waktu antara moulting) dan peningkatan

pertumbuhan (berapa pertumbuhan setiap moulting baru) (Wyban dan

Sweeney, 1991). Kecepatan pertumbuhan merupakan fungsi kedua faktor
tersebut, namun akan menurun apabila kondisi lingkungan dan nutrisi tidak

cocok (Wickins dan Lee, 2002).

     Berdasarkan teori yang telah dibangun maka kerangka alur pikir

penelitian ini diilustrasikan seperti pada Gambar 5.
                        III. METODE PENELITIAN


                    A. Tempat dan Waktu Penelitian

     Penelitian ini dilaksanakan di Stasiun Penelitian Balitbangda Tingkat

Propinsi,   yang terletak di Kecamatan Kupa, Kabupaten Barru, analisis

beberapa sampel dilakukan di beberapa laboratorium antara lain :

Laboratorium   lingkungan   Balai   Riset   Budidaya   air   Payau   Maros,

Laboratorium Klinik Permai Bestari Makassar, Laboratorium Penyakit dan

Laboratorium Nutrisi   Politani Pangkep, Sulawesi Selatan.     Pelaksanaan

penelitian mulai dari persiapan hingga analisis laboratorium dilakukan pada

Bulan Juli 2011 sampai dengan Januari 2012.


                          B. Materi dan Metode
Alat dan Bahan

     Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :      (1)

Hewan uji berupa juvenil udang windu yang berasal dari hasil budidaya

udang windu di tambak semi intensif milik Stasiun Penelitian Balitbangda

Propinsi Sulawesi Selatan di Kupa, Kabupaten Barru, yang diaklimatisasi

selama 24 jam. Ukuran bobot udang yang digunakan adalah 5-16 g. (2)

Pakan buatan, komposisi nutriennya dapat dilihat pada Tabel 5. (3) Wadah

percobaan berupa akuarium kaca ukuran 50 x 35 x 40 cm sebanyak 26

buah yang dilengkapi dengan aerator (4) sarana dan prasarana produksi

penunjang budidaya dan alat pengukur fisika kimia air.(5) Peralatan dan
bahan untuk analisis darah dan osmolalitas plasma juvenil udang windu

serta peralatan dan bahan untuk analisis pakan dan       komposisi tubuh

juvenil udang windu.

Tabel 5. Komposisi Pakan yang Digunakan Selama Penelitian

  Kandungan Pakan         Kandungan nutrien1     Hasil analisis proximate2
                           (% bobot kering)         (% bobot kering)
      Karbohidrat                12.0                    12.7469
        Protein                   36                      30.88
        Lemak                    14.5                     17.46
          Air                      5                        7.6
         Abu                     13.8                        11
  Kandungan energi                      4671.3317 kcal/g
Keterangan:1=kandungan nutrien berdasarkan informasi produsen,
           2= kandungan nutrien hasil analisis proksimate di Laboratorium
           Nutrisi Jurusan Budidaya Perikanan Politani Pangkep, 2011.


                           C. Disain Percobaan

     Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan

eksprimen yaitu melalui dua      tahap.   Tahap Pertama terdiri dari 1)

Karakterisasi hemolimf juvenil udang windu yang dipelihara dalam tambak

semi intensif.   Pemantauan karakteristik hemolimf (jumlah hemosit, total

protein hemolimf, glukosa hemolimf, osmolalitas plasma, difrensiasi sel)

dilakukan pada saat udang berumur dua bulan.        Pengambilan sampel

dilakukan 3 kali dengan interval waktu 10 hari.    2) Penentuan salinitas

pemeliharaan bertujuan untuk menentukan salinitas pemeliharaan pada

bobot juvenil yang berbeda dengan perlakuan salinitas 15, 20 dan 25 ppt.

pada bobot juveni udang windu 5-7 g dan 8-10 g. Salinitas 22, 26 dan   30

ppt pada bobot juvenil udang windu 11-13 g dan 14-16 g, masing-masing
perlakuan terdiri dari 3 ulangan, variabel indikator adalah konsentrasi

amoniak dalam media pemeliharaan. Peneltian Tahap kedua terdiri dari

kelompok bobot yang berbeda, masing-masing kelompok bobot 5-7 g dan

8-10g dan kelompok 11-13 g dan 14-16g, Masing-masing kelompok bobot

dilakukan uji coba perlakuan densitas. Densitas yang digunakan adalah

25, 50 dan 75 ekor/m2 atau kepadatan 5, 10 dan 15 ekor per aquarium yang

berukuran 50 x 35 x 40 cm yang diisi air setinggi 25 cm dengan volume air

52.5 liter. Masing-masing perlakuan mempunyai 3 ulangan dan 2 stok untuk

perlakuan A (kepadatan 25 ekor/m2) dan masing-masing 1 stok untuk

Perlakuan B (kepadatan 50 ekor/m2) dan perlakuan C (75 ekor/m2). Stok

diperuntukan sebagai pengganti hewan uji apabila dilakukan sampling, stok

diperlakukan seperti masing-masing perlakuan. Tata letak penelitian dapat

dilihat pada Gambar 6.
                                            t
       A22                A1                    A23           A12           A11
                         stok
                                                       B2            A13     C22
       B2          B13                B21
                                                       stok
        2
                                                                              A2
                   B21                                               C1      stok
       A21                                             B11           stok

                                                                             C2
                   B12            Kelompok             B1           A1       stok
       C23
                                  Bobot 5-7g           stok         stok

                                  dan 8-10g                                  A2
       B23         C12                                 C11           C13     stok




         A2              C11                    B23           A23            C1
        Stok                                                                stok

                                                                    B11
      C12          A1                B12               C2                     A13
                  stok                                stok

                                                                    A12       A2
      A11          C23                                B22                      1
                                                                    A1
                                                                    stok     B21
      C13
                 A21              Kelompok            B13
                                Bobot 11-13g
                                                                    A2         B1
                                 dan 14-16g
                   B2                                 C21           stok      stok
      C22
                  stok


Gambar 6. Tata Letak Wadah Penelitian pada kelompok bobot 5-7 g dan 8-
          10 g, dan kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g. Keterangan :
          Perlakuan A = Densitas Pemeliharaan 25 ekor/m2, Perlakuan B
          = densitas pemeliharaan 50 ekor/m2, Perlakuan C = densitas
          pemeliharaan 75 kor/m2. Aquarium Kaca Ditempatkan dalam
          Wadah yang Terbuat dari Papan yang Dilapisi Plastik dan Berisi
          Air Setinggi 25 cm.
                        D. Metode Pemeliharaan


     Pemeliharaan dilakukan dalam wadah akuarium kaca berkapasitas

± 50 liter,   Juvenil udang windu yang digunakan telah diaklimatisasi

laboratorium dalam bak penampungan selama 1 hari, ditebar dengan

kepadatan sesuai perlakuan (25, 50 dan 75 ekor/m2). Pakan yang diberikan

selama penelitian pada kelompok bobot juvenil udang windu yang berbeda

adalah pakan Nomor II (penomoran sesuai nomor pakan yang diberikan

pada budidaya udang windu di tambak pada masa pertumbuhan atau umur

1 – 3 bulan). Frekuensi pemberian pakan 4 kali dalam sehari pada setiap

kelompok bobot juvenil udang windu yang dipelihara.     Pemberian pakan

dilakukan pada pagi (pukul 06.00), siang (pukul 12.00), sore (pukul 18.00)

dan malam hari (pukul 24.00). Dosis pakan adalah 5 % Bobot Biomassa.

Pengelolaan kualitas air media pemeliharaan dilakukan melalui pergantian

air dua kali sehari yaitu sebelum pemberian pakan pada pagi hari dan

sebelum pemberian pakan pada sore hari sebanyak 90 %.


E. Evaluasi  Hemolimf,       Retensi     Energi,    Pertumbuhan       dan
   Kelangsungan Hidup

     Variabel, teknik pengukuran dan     evaluasi   yang digunakan pada

setiap kelompok bobot juvenil udang windu. seperti tertera pada Tabel 6.
Tabel 6. Variabel, Metode dan Rumus yang Digunakan dalam Evaluasi.

No    Variabel         Metode                             Rumus
1    Jumlah        Modifikasi
     Hemosit       metode             jumlah hemosit = P x N x 103 ���� 25 ���� ������������/��������
                   Blaxhall dan    Keterangan :
                   Daishley        P = Jumlah kotak kecil dalam haemocytometer
                   (1973).             (16)
                                   N= Rata-rata jumlah hemosit yang dihitung pada
                                       beberapa kotakan kecil
                                   103=volume sampel dalam kotak besar (jika
                                         menggunakan haemocytometer kedalaman
                                         0.1 mm
                                    25=jumlah kotak dalam haemocytometer
2    Total         Metode Biuret                          AbsSp
                                                  [PD] =        X PSt
                                                            AbsSt
     Protein
     Hemolimf
                                  Keterangan:
                                  [PD] : Konsentrasi protein hemolimf (g/dl)
                                  AbsSp : Absorbansi sampel
                                  AbsSt : Absorbansi standar
                                  [PSt] : Konsentrasi protein standar (g/dl)
3    Kadar         Enzimatik/GO                            AbsSp
     Glukosa       D-PAP                           [GD] =           X GSt
                                                            AbsSt
     hemolimf                     (Wedemeyer dan Yasutake, 1977) :
                                  Keteranga
                                  [GD]: Konsentrasi glukosa hemolimf (mg/dl)
                                  AbsSp : Absorbansi sampel
                                  AbsSt : Absorbansi standar
                                   [GSt] :Konsentrasi glukosa standar (mg/dl)
4    Difrensiasi   Martin dan     Dihitung berdasarkan tipe sel hingga mencapai
     sel           Graves (1995). 100 %
5    Osmolalita    Menggunakan           pembacaan pada osmometer
     s             osmometer
6    Retensi       Takeuchi                               FE −IE x 100
                                                    RE =
                                                               E
     Energi        (1988)
                                   Keterangan :
                                  RE = retensi energi (%)
                                  FE= total energi tubuh pada waktu t (kkal)
                                  IE= total energi tubuh pada awal percobaan (kkal)
                                  E = total energi yang dikonsumsi (kkal)Hasil
7    SR            Effendie                                   Nt
                                                    SR(%) =        x 100
                   (2002)                                     No
                                  Keterangan :
                                  SR = persentase udang uji yang hidup (%)
                                  Nt =jumlah individu udang uji pada akhir
                                          penelitian (ekor)
                                  No=jumlah individu udang uji pada awal (ekor)
          Sebagai data penunjang dilakukan pemantauan sisa pakan,

jumlah udang yang ganti kulit, pola tingkah laku dan fisika kimia air. Teknik

pengambilan hemolimf dan metode analisis laboratorium                terhadap

parameter yang dipantau      disajikan pada lampiran laporan disertasi ini.

Untuk kandungan energi total pada pakan dan tubuh juvenil udang windu

dihitung berdasarkan koefisien konversi protein, lemak dan karbohidrat

(BETN) berturut-turut sebesar 23,6 kJ/g, 39,5 kJ/g dan 17,2 kJ/g. Nilai

konversi energi sebesar 1 kJ setara dengan 4,2 kkal (Zonneveld et, 1991).

Parameter Kualitas Air (Tabel 7)

Tabel 7. Parameter , Alat dan Analisis yang Digunakan serta Frekuensi
         Pengamatan Air pada Penelitian
No        Parameter           Alat/Bahan Yang              Analsis
                                 Digunakan             Laboratorium dan
                                                          Frekuensi
                                                         Pengamatan
                                  Fisika
 1.          Suhu               Thermometer            Insitu/ setiap harian
                                   Kimia
 2.           pH                  PH-meter               Insitu/setiap hari
 3.        Salinitas          Hand refractomete          Insitu/setiap hari
 4.      Oksigen (DO)             DO-Meter               Insitu/setiap hari
 5.        Amoniak         Botol Sampel, Preservatif   / awal, pertengahan
                                                            dan akhir


                              F. Analisis Statistik

      Untuk mengkaji pola respon fisiologi yang diekspresikan melalui

parameter hemolimf (jumlah hemosit, glukosa dan total protein hemolimf,
osmolalitas plasma), retensi energi, perubahan bobot dan kelangsungan

hidup juvenil udang windu pada kelompok bobot dan densitas pemeliharaan

yang berbeda, maka pemantauan dilakukan pada 0, 24, 36, 76 jam dan

120 jam hingga 12 hari pemeliharaan,       disajikan dalam bentuk tabulasi,

grafik, histogram lalu dinterpretasi secara deskriptif.     Penetapan jam

Pemantauan yang berbeda mengacu pada           Evans (1999).     Selanjutnya

untuk mengetahui hubungan antar beberapa parameter yang dipantau

tersebut dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji korelasi multivariate

pada tingkat kepercayaan 95%. (Steel dan Torrie, 1991). Alat bantu dalam

pengolahan data statistik menggunakan note book kompiuter dan program

SPSS versi 17 (Trihendradi, 2007).     Data fisika kimia air ditabulasi dan

diintepretasikan secara deskriptif.

           Alur Pelaksanaan penelitian seperti tertera pada Gambar 7
                                                  Salinitas
Karakteristik hemolimf                             layak




                                                   Data penunjang:
                                                  sisa pakan, jumlah
                                                   udang ganti kulit,
                                                    kualitas air dan
                                                     tingkah laku,
                                                   morfologi udang
 Respon Fisiologi dan Fisiologi Stres                  yang mati.



          Gambar 7. Alur Pelaksanaan Penelitian
                        IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


     Hasil penelitian yang diperoleh dari kegiatan di lapangan pada

penelitian tahap pertama dan di laboratorium pada tahap kedua,       akan

dibahas secara berurutan sebagai berikut:


                       A. Penelitian Tahap Pertama

Karakteristik Hemolimf

     Untuk mempelajari karakteristik hemolimf juvenil udang windu pada

bobot yang berbeda secara alami, maka dilakukan pemantauan pada

pemeliharaan    di   tambak   terhadap    beberapa   parameter   hemolimf.

Parameter hemolimf juvenil udang windu yang dipantau meliputi jumlah

hemosit, total protein hemolimf (TPH), glukosa hemolimf, osmolalitas

plasma dan komposisi differensiasi tipe sel.


Jumlah Hemosit

     Berdasarkan tren pola jumlah hemosit pada bobot juvenil udang windu

yang berbeda, sebagaimana terlihat pada Gambar 8 dan Lampiran 7,
                               80


     Jumlah hemosit (...x106
                               70
                               60
            sel/ml             50
                               40                                                sampling I
                               30
                                                                                 sampling II
                               20
                                                                                 sampling III
                               10
                                0
                                    5   6    7   8   9   10 11 12 13 14 15 16
                                            Bobot juvenil udang windu (g)


Gambar 8. Grafik Hubungan antara Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml)
         dengan Bobot (g) Juvenil Udang Windu

     Jumlah hemosit juvenil udang windu meningkat seiring dengan

bertambahnya ukuran bobot, namun tidak terjadi peningkatan dengan

bertambahnya umur. Selanjutnya berdasarkan uji korelasi (Lampiran 11)

diketahui bahwa jumlah hemosit berkorelasi positif terhadap ukuran bobot

juvenil udang windu (r=0.674). Kenyataan ini mendukung beberapa hasil

penelitian sebelumnya bahwa di alam jumlah hemosit                               bervariasi dan

merupakan fungsi dari tahap pengembangan, siklus ganti kulit post larva

Penaeus japonicus                            (Tsing, et al. 1989; Wolffrom, 2004).   Selanjutnya

dinyatakan bahwa jumlah hemosit juga bervariasi karena faktor lingkungan

seperti salinitas dan suhu (Oliver dan Fisher, 1995), apabila suhu meningkat

maka jumlah hemosit yang beredar dalam hemolimf meningkat                                 karena

kebutuhan dan kekuatan pompa jantung, selain itu ketersedian pakan dan

gizi, infeksi penyakit juga berpengaruh. Apabila suplai gizi dalam tubuh
berkurang, sebagai efek dari nafsu makan yang     menurun    karena stres,

maka jumlah hemosit juga akan menurun. Stres dapat disebabkan oleh

faktor   lingkungan, pakan dan densitas pemeliharaan yang tinggi serta

infeksi penyakit. Penurunan jumlah hemosit sebagai efek dari infeksi

penyakit secara spesifik terbukti bahwa jumlah hemosit yang beredar pada

darah ikan di sekitar organ yang terinfeksi lebih besar dibandingkan pada

organ yang tidak terinfeksi (Kamiso dkk., 2009). Penelitian yang dilakukan

sebelumnya oleh Mahasri (2008) menunjukkan bahwa pada postlarva

udang windu yang diimunisasi terlihat adanya peningkatan jumlah sel

hemosit dari 50,99 x 106 sel/ml menjadi 69,91 x 106 sel/ml. Selanjutnya

dilaporkan bahwa peningkatan jumlah sel hemosit ini sebagai bukti adanya

respon immun bagi post larva udang windu. Sebelumya, maynard (1960)

melaporkan bahwa udang dapat meningkatkan jumlah hemositnya untuk

pertahanan tubuh.


Total Protein Hemolimf

     Protein darah merupakan salah satu dari tiga jenis protein di dalam

tubuh yang terbentuk dari asam amino berupa larutan koloidal di dalam

plasma darah. Selanjutnya dinyatakan bahwa kegunaan protein darah

adalah   untuk : Sirkulasi molekul lipida, hormon, vitamin dan zat besi,

protease inhibitor dan kinin precursor, regulasi aktivitas, fungsional non

seluler dalam sistem kekebalan (Maynard, 1960).
     Seperti halnya jumlah hemositnya, berdasarkan hasil analisis korelasi

antara total protein hemolimf dan bobot juvenil udang windu (Lampiran 11),

diketahui bahwa total protein hemolimf juvenil udang windu bobot 5 – 16 g

juga berkorelasi dengan peningkatan bobotnya (r=0.708).      Total protein

hemolimf udang dipengaruhi oleh asupan gizi, kondisi fisiologi stadia dan

intermoulth.   Menurut Juknis Budidaya Udang Windu, Dirjen Budidaya

Perikanan (2007), kebutuhan protein dalam pakan udang windu pada fase

pertumbuahan lebih tinggi dari pada kebutuhan udang dewasa.         Pada

udang yang siap untuk bereproduksi kebutuhan proteinnya         menurun,

namun kebutuhan asupan gizi lemak meningkat, karena lemak dibutuhkan

untuk pembentukan sel-sel telur, sedangkan energi untuk pertumbuhan

sudah menurun.       Oleh karena protein merupakan asupan gizi yang

dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kenyataannya dalam penelitian ini total

protein hemolimf juvenil udang windu, meningkat dengan       bobot juvenil

udang windu.     Adanya indikasi korelasi antara total protein hemolimf

dengan bobot juvenil udang windu, mendukung data jumlah hemosit juvenil

udang windu yang telah dipaparkan sebelumnya. Hal ini dapat dipahami

karena haemoglobin pada sel

     darah merah ikan merupakan sel yang tersusun dari protein, semakin

tinggi total hb darah ikan maka total protein darah juga meningkat

(Soelistyowati, 2002). Oleh karena penelitian yang sama terhadap udang

belum dilakukan, maka berdasarkan fenomena ini diduga bahwa dengan
meningkatnya jumlah hemosit                                     juvenil udang windu menjadi salah satu

penyebab meningkatnya total protein hemolimf karena sel hemosit tersusun

dari protein, sebagaimana halnya sel haemoglobin pada ikan.

     Berdasarkan total protein hemolimf, maka patut diduga bahwa juvenil

udang windu mulai ukuran 5 – 16 g yang menjadi objek dalam penelitian ini,

masih berada pada periode pertumbuhan.                                              Sehingga penurunan kadar

protein dan peningkatan lemak pakan, belum perlu dilakukan pada ukuran

juvenil tersebut, namun dibutuhkan perubahan manajemen yang berbeda

misalnya dosis pakan dan salinitas serta densitas pemeliharaan, hal ini

disarankan karena adanya indikasi                                          pengelompokan seiring dengan

pertambahan umur pemeliharaan yaitu antara sampling I, II dan III (Gambar

8 dan 9) kenyataannnya cendrung terjadi peningkatan, baik berdasarkan

jumlah hemosit yang telah dipaparkan sebelumnya maupun total protein

hemolimfnya.

                                        10.000
        Total protein hemolimf (g/dl)




                                         8.000

                                         6.000
                                                                                             sampling I
                                         4.000
                                                                                             samping II
                                         2.000                                               sampling III
                                            0
                                                 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
                                                    Bobot juvenil udang windu (g)


Gambar 9. Grafik Hubungan Antara Bobot (g) Juvenil Udang Windu dengan
         Total Protein Hemolimfnya (g/dl)
Glukosa Hemolimf

     Berdasarkan hasil uji korelasi antara glukosa hemolimf dan bobot

juvenil udang windu (Lampiran 11), diketahui bahwa glukosa hemolimf

juvenil udang windu tidak berkorelasi dengan bobotnya (r=0.003). Fluktuasi

glukosa hemolimf udang terjadi apabila ada gangguan eksternal dan

internal. Gangguan eksternal                              misalnya lingkungan ekstrim, kepadatan

tinggi, infeksi penyakit, Apabila udang mengalami tekanan eksternal yang

terus menerus, maka                               udang mengalami stres        yang akan ditanggapi

dengan mengembangkan suatu kondisi homeostasis yang baru dengan

mengubah metabolismenya.                                Fluktuasi glukosa hemolimf     juvenil udang

windu sebagai terlihat pada Gambar 10.

                                 90
      Glukosa hemolimf (mg/dl)




                                 80
                                 70
                                 60
                                 50
                                 40                                                  sampling I
                                 30                                                  sampling II
                                 20
                                 10                                                  sampling III
                                  0
                                      5   6   7   8   9 10 11 12 13 14 15 16

                                                  Bobot juvenil udang (g)


Gambar 10. Grafik Hubungan antara Bobot (g) Juvenil Udang Windu
          denganl Glukosa Hemolimfnya (mg/dl)

     Terjadinya fluktuasi glukosa hemolimf dan tidak terlihatnya tren

sebagaimana halnya pada jumlah hemosit dan total protein diduga terjadi

karena adanya gangguan eksternal pada saat sampling, mengingat
peningkatan dan penurunan glukosa darah sangat sensitif dan berlangsung

sangat cepat. Peningkatan glukosa darah merupakan salah satu upaya

yang dilakukan oleh juvenil udang windu untuk merespon stimulus

penyebab tekanan dan menjadi salah satu indikator respon fisiologi secara

dini untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau fagositosis dengan

mengembangkan proses homeostasis. Respon terhadap faktor eksternal

ini dikontrol oleh sistem endokrin melalui pelepasan hormon kortisol (Barton

et al., 1980) dan kotekolamin (Woodward, 1982). Sandnes dan Waagbo

(1991) dalam Marzuqi et al., (1997) menyatakan bahwa akan terjadi

peningkatan metabolisme glukosa pada tubuh yang dipicu oleh hormon

kortisol dan katekolamin tersebut. Selanjutnya dinyatakan bahwa stres

menyebabkan peningkatan sekresi kortisol (glukokortikoid), yang dapat

memicu peningkatan glukosa darah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa

beberapa mekanisme yang berperan dalam mempertahankan kestabilan

glukosa darah     adalah glukoneogenesis,     lipolisis,   glikogenesis,   dan

lipogenesis. Homeostasis kadar glukosa dalam darah dipertahankan oleh

beberapa mekanisme, yaitu mekanisme yang mengatur kecepatan konversi

glukosa menjadi glikogen atau lemak yang disimpan, dan mekanisme yang

mengatur pelepasan kembali dari bentuk simpanan untuk dikonversi

menjadi glukosa yang masuk ke dalam darah. Oleh karena itu, dengan

banyaknya mekanisme yang berperan dalam mempertahankan homeostatis
glukosa darah, kestabilan glukosa darah menjadi sangat penting bagi

kesehatan bahkan kehidupan (Piliang dan Djojosoebagio, 2000).


Osmolalitas Plasma

       Parameter hemolimf lain yang diamati adalah osmolalitas plasma.

Kenyataannya nilai osmolalitas plasma juvenil udang windu dari hasil

penelitian ini meningkat dengan meningkatnya ukuran bobotnya (Gambar

11).      Berdasarkan hasil pemantauan salinitas tambak pada saat

pengambilan sampel diketahui bahwa kisaran salinitas tambak adalah 32-

40 ppt. Kisaran salinitas ini lebih tinggi dari kisaran salinitas yang optimal

bagi juvenil udang windu, salinitas yang layak bagi juvenil udang windu

pada ukuran 11-16 g adalah 26 ppt., dan ukuran bobot 5-10 g adalah

20 ppt.    Adanya perbedaan kebutuhan salinitas optimum tersebut dapat

dipahami karena tuntutan siklus hidup, yakni menjelang dewasa akan

kembali ke laut dalam, dimana salinitas airnya lebih tinggi Selanjutnya

berdasarkan hasil uji korelasi antara osmolalitas dan bobot juvenil udang

windu     (Lampiran 11),    diketahui bahwa peningkatan nilai osmolalitas

plasma juvenil udang windu berkorelasi positif dengan peningkatan

bobotnya (r=0.826).     Kenyataan ini menunjukkan bahwa adanya korelasi

antara    pertambahan      bobot   dan   peningkatan    osmolalitas   plasma

membuktikan bahwa kebutuhan salinitas air meningkat pada bobot juvenil

udang windu yang lebih besar.
     Keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dan air media sangat

penting bagi kehidupan hewan air. Fungsi biokimia mineral pada spesies

perairan sama dengan hewan daratan. Pada hewan air, ion-ion secara aktif

diserap tubuh melalui insang ketika terjadi proses penyerapan air.

Kebutuhan energetik untuk pengaturan ion secara umum akan lebih rendah

pada lingkungan yang isoosmotik, dengan demikian energi yang disimpan

dapat cukup substansial untuk meningkatkan pertumbuhan (Imsland et al.,

2003).    Hewan air yang hidup pada kondisi lingkungan isoosmotik tidak

berarti osmoregulasi tidak berlangsung, namun osmoregulasi tetap terjadi

untuk mengatur keseimbangan ion-ion dalam tubuh dan lingkungannya (

Smith, 1982).

                           600
         plasma(mOsm/kg)




                           500
             Osmolaliti




                           400
                           300                                     sampling I
                           200                                     sampling II
                           100                                     sampling III
                             0
                                 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
                                   Bobot juvenil udang windu (g)


Gambar 11. Grafik Hubungan antara Bobot (g) Juvenil Udang Windu
          dengan Osmolalitas Plasmanya (mOsm/kg)

     Berdasarkan ulasan sebelumnya, maka disarankan agar pemeliharaan

juvenil udang windu pada kondisi isoosmotik, dan untuk kebutuhan ini

dibutuhkan penelitian lanjutan.
Persentase Jumlah Hemosit Berdasarkan Tipe Selnya

     Selain parameter hemolimf yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam

penelitian ini juga diamati komposisi persentase jumlah sel hemosit

berdasarkan   tipe   selnya.    Penentuan    persentase   jumlah   hemosit

berdasarkan tipenya mengacu pada hasil penelitian pendahuluan Van de

Braak (1996 dalam Van de Braak, 2002) yang melaporkan ada tiga tipe sel

hemosit yaitu hyalin, granular, dan semigranular. Sebelumnya Tsing et al.

(1989 dalam Van de Braak, 2002) dapat membedakan antara sel granular

kecil, besar dan sedang dengan menggunakan metode TEM (Transmission

Electron Microscope).    Pemantauan persentase differensiasi sel dalam

penelitian ini dilakukan dengan frekuensi pengamatan tiga kali dan interval

waktu 10 hari.    Karakteristik berdasarkan hasil rata-rata yang diperoleh

terhadap   pemantauan     komposisi   persentase    jumlah   sel   hemosit

berdasarkan tipenya, dapat dilihat pada Gambar 12 sedangkan informasi

dalam bentuk angka disajikan pada Lampiran 12, 13 dan 14.
                  juvenil bobot 5-10 g                  Juvenil bobot 11-16 g

       Sampling I                               Sampling I
                        hyalin                                       glranular
                         29%                                            30%
                                                         hyalin
                                  granular
                                                          47%
                                    53%
                semigranular
                   18%                                              semigranular
                                                                       23%




       Sampling II                              Sampling II
                                                                     granular
                  hyalin                                               28%
                   29%            granular               hyalin
                                    51%                   47%

              semigranular                                         Semigranular
                                                                      25%
                 20%




                                                Sampling III
       Sampling III                                                   glranular
                                                        hyalin          29%
                       hyalin
                                                         45%
                        30%
                                     granular
                                       49%
                                                                      Semi granular
                  Semigranular                                           26%
                     21%




Gambar 12. Perbandingan Komposisi Differensiasi Sel Hemolimf Juvenil
          Udang Windu pada Bobot yang Berbeda pada Tiga Kali
          Sampling dengan Interval Waktu 10 Hari

     Sel semigranular dikenal sebagai                sel utama yang terlibat dalam

fagositosis partikel asing pada udang (Soderhall dan Cerenius, 1992;

Bachere et al. 1995), juga sebagai tempat penyimpanan protein anti bakteri

(Van de Braak, 2002).            Sel granular juga mampu melakukan fagositosis

bahan asing tetapi dengan frekuensi kurang dari sel hyalin (Hoss dan

Martin, 1989 dalam Van de Braak, 2002). Akan tetapi sel granular telah

terbukti memainkan peran penting sebagai sistem pertahanan dalam udang

karena aktivitas anti bakterinya. Sel hyalin merupakan sel hemosit yang

terkecil dan paling banyak, juga dianggap sebagai fagosit (Soderhall dan

Cerenius, 1992). Neves et al. (2002; Campa Cordova et al, 2002 dalam Van

de Braak, 2002) menyatakan bahwa pada saat udang terinfeksi penyakit,
sel hyalin berperan dalam proses fagositosis mikroba karena terbentuknya

Spesies oksigen relatif (ROS) yang memiliki daya antimikroba dan dapat

merusak mikromolekul seperti DNA, karbohidrat dan protein yang berkaitan

apabila ada patogen yang masuk ke dalam tubuh tersebut. Selanjutnya

McKey dan Jenkin (1970) dan Peterson dan Keth (1992) (dalam Van de

Braak, 2002), menyatakan bahwa hyalin merupakan jenis hemosit tertentu

pada Homarus americana, yang diduga mempunyai fungsi analog dengan

fungsi antibodi pada ikan, karena imunitas yang ditunjukkan diduga terkait

adanya perubahan sel fagositosis (sel hyalin).

     Berdasarkan peran masing-masing jenis sel hemosit pada udang,

maka dari hasil penelitian ini diketahui bahwa secara alami juvenil udang

windu dengan bobot lebih kecil diciptakan dengan kemampuan sistem

pertahanan tubuh yang tinggi, karena adanya enzim protease yang dimilki

oleh sel hemosit granular. Enzim protease tersebut yang dalam keadaan

aktif berperan sebagai aktivator pembentukan enzim Phenoloksidase (PO)

yang merupakan komponen penting dalam sistem immun udang windu,

enzim ini juga berperan dalam mendegradasi mikroba ketika fagositosis

berlangsung (Van de Braak, 2002). Namun kemampuan antimikroba dan

kemampuan merusak DNA, Karbohidrat dan protein yang berkaitan dengan

patogen lebih kecil dibandingkan juvenil udang windu bobot lebih besar. Hal

ini diduga karena persentase sel hyalinnya kecil. Sebaliknya pada juvenil

udang windu bobot besar.
     Apabila dikaji peranan Lectin atau glikoprotein dalam hemolimf

Crustacea,   menurut   (Lockwood,    2002),   bahwa    lectin   mempunyai

kemampuan bereaksi dengan banyak jenis molekul contohnya lipoprotein

atau β-glucan dan mampu mengaglutinasi benda asing dan membuatnya

tidak aktif, maka paling tidak patut diduga bahwa lectin merupakan

penyusun utama sel hyalin pada hemosit juvenil udang windu. Tahir (1997)

melaporkan bahwa asupan ekstrak kasar LPS dari E. Coli selama 96 jam

menunjukkan adanya kecendrungan menurunnya tingkat kematian udang

seiring dengan meningkatnya dosis serta bertambahnya waktu pemberian

imunostimulan.    Sehubungan dengan hal itu           Rantetondok (2002)

menyatakan bahwa penambahan imunostimulan          dalam    pakan   benih

udang dapat meningkatkan sel-sel kekebalan udang khususnya hyalin dan

fagositosis dari hemosit sehingga diharapkan akan tahan terhadap mikroba

patogen dalam tambak. Tiga tipe sel hemosit dapat dilihat pada Gambar 13.
     G



                                 SG                                   SG

                                                G


                                                                H




                      G
                                                           G




Gambar 13. Mikrograph Sel Hemosit Juvenil Udang Windu (G = Granular,
          SG = Semigranular dan H = Hyalin)(pembesaran 1000 x)
     Berdasarkan ulasan sebelumnya, patut diduga bahwa salah satu

penyebab udang windu ukuran bobot kecil yang telah diketahui,                 rentan

terhadap   serangan       penyakit    dan   sensitivitas       terhadap    perubahan

lingkungan lebih tinggi dibandingkan dengan juvenil udang windu bobot

besar.   Karena secara alami          juvenil udang windu bobot kecil tercipta

dengan memiliki jumlah sel globular dalam hemolimfnya lebih besar

dibanding sel hemolimf lainnya.         Sesuai fungsi sel globular yang telah

dipaparkan sebelumnya, maka dapat diduga bahwa juvenil udang bobot

kecil memiliki protein anti bakteri dan enzim-enzim yang berperan dalam
sistem pertahanan tubuh lebih besar dibandingkan juvenil udang windu

bobot besar, tetapi kemampuan untuk perlawanan terhadap tekanan dan

kemampuan untuk menghancurkan jika ada patogen lebih kecil dibanding

juvenil ukuran besar. Hal ini diduga karena jumlah sel hyalin lebih kecil.

Sebaliknya pada juvenil udang windu bobot besar, persentase sel hyalin

lebih besar, tetapi sel granular lebih kecil.


Penentuan Salinitas Pemeliharaan

     Salinitas   merupakan       salah   satu   parameter   fisika    air   yang

mempengaruhi respon fisiologi juvenil udang windu antara lain proses

osmoregulasi dan eksresi amoniak. Sehubungan dengan itu, untuk

mengeliminir pengaruh salinitas terhadap respon fisiologi juvenil udang

windu pada penelitian ini, maka penelitian pendahuluan bertujuan untuk

mencari salinitas yang layak pada ukuran bobot yang akan dicobakan.

Parameter indikator adalah eksresi amoniak yang dihasilkan setelah juvenil

udang windu dipelihara selama 24 jam. Kegunaan hasil penelitian

pendahuluan, diharapkan       agar respon fisiologi yang diekspresikan oleh

juvenil udang windu pada penelitian inti, hanya dipengaruhi oleh intervensi

yang dilakukan yaitu densitas pemeliharaan yang berbeda.             Hasil yang

diperoleh disajikan pada Tabel 7 dan 8.
Tabel 7. Ekskresi Amoniak Juvenil Udang Windu, Penaeus monodon Bobot
         5- 10 g, pada Salinitas Air yang Berbeda

  Bobot       ulangan          Kandungan NH3 (ppm) dalam media
  udang                   pemeliharaan dengan Salinitas (ppt) air yang
   (g)                                     berbeda
                               15              20                30
   5-10            1         1.596           0.0137           0.459
                   2         0.991           0.0121           0.764
                   3         1.237           0.0153           0.981
       Rata-rata         1.275±0.3042    0.0137±0.0016 0.735±0.2622


Tabel 8. Ekskresi Amoniak Juvenil Udang Windu, Penaeus monodon Bobot
          11-16 g , pada Salinitas Air yang Berbeda


  Bobot       ulangan          Kandungan NH3 (ppm) dalam media
  udang                   pemeliharaan dengan Salinitas (ppt) air yang
   (g)                                     berbeda
                               22              26                30
  11-16            1         1.596           0.0137           0.059
                   2         0.988           0.0121           0.114
                   3         0.237           0.0153           0.101
       Rata-rata         0.940±0.1042    0.0137±0.0016 0.738±0.2875

     Pemeliharaan juvenil udang windu dengan salinitas berbeda selama

24 jam, diperoleh kandungan amoniak air terkecil pada salinitas 20 ppt.,

untuk ukuran bobot 5-10 g dan salinitas 26 ppt., untuk ukuran 11-16 g.

Menurut Chen (1985 dalam Sang dan Fotedor, 2004) salinitas air optimum

untuk juvenil udang windu adalah 22-34 ppt.

     Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan salinitas air juvenil

udang windu meningkat dengan meningkatnya         ukuran bobot, hal ini

menunjukkan    bahwa    peningkatan    bobot   memungkinkan   terjadinya

perubahan fisiologi yang berhubungan dengan osmoregulasi dalam tubuh,
sehingga   salinitas    air   yang    dibutuhkan    meningkat     sesuai   dengan

peningkatan bobot juvenil udang windu.           Hal ini dapat dipahami karena

sesuai tuntutan dalam siklus hidupnya, yakni menjelang dewasa akan

kembali ke laut yang salinitasnya lebih tinggi (Motoh, 1981). Walaupun

hewan uji yang menjadi objek dalam penelitian ini belum mencapai dewasa

tetapi peningkatan bobot kenyataannya menjadi salah satu penyebab

meningkatnya kebutuhan salinitas air yang dapat menunjang proses

osmoregulasi secara normal dalam mempertahankan hidupnya. Kenyataan

ini didukung oleh hasil penelitian Sang and Fotedor (2004) bahwa

peningkatan salinitas dan bertambahnya bobot dan umur Penaeus

latisulcatus Kishinou berbanding lurus dengan peningkatan osmolalitas

plasmanya. Kenyataan ini dibuktikan berdasarkan hasil analisis regresi

bahwa titik isoosmotik yang diperoleh meningkat dari 28.7 ppt. pada awal

pemeliharaan menjadi 29.46 ppt. setelah 20 hari pemeliharaan selanjutnya

31.73 ppt setelah 60 hari pemeliharaan dengan bobot masing-masing

juvenil udang Penaeus latisulcatus Kishinou berturut-turut 2.95±0.26,

4.02±0.47, 5.79±0.64 g.

     Berdasarkan       beberapa      hasil   penelitian   yang   telah   dijelaskan

sebelumnya, maka        salinitas air yang diduga layak pada ukuran bobot

juvenil udang windu yang berbeda, berdasarkan              hasil penelitian tahap

pertama    ini belum diyakini merupakan salinitas air yang isoosmotik

terhadap cairan tubuh juvenil udang windu, karena perlu pembuktian
melalui pengamatan linierisasi antar osmolalitas plasma (tekanan osmotik)

juvenil udang windu dengan tekanan osmotik lingkungan (air).      Menurut

Setiarto et al. (2004) bahwa eksresi amoniak induk Marsupenaeus

japonicus, terkecil pada salinitas 35 ppt. namun     disarankan salinitas

optimumnya adalah 30 – 35 ppt., karena pemelihraan pada salinitas rendah

tidak menyebabkan terjadinya perubahan fisiologi secara signifikan

misalnya : peningkatan konsumsi oksigen dan eksresi amonianya .

     Amoniak di perairan menurut Neil, Fotedor and        Shelley (2005)

berasal dari hasil samping metabolisme hewan (yang dikeluarkan berupa

ekskresi) dan hasil proses dekomposisi bahan organik oleh bakteri. Hasil

analisis kandungan amoniak di Laboratorium adalah amoniak total, dimana

belum dipisahkan antara amoniak tak terionosasi (amoniak bebas, NH3)

yang toksik dan ammonium (NH4+) yang relatif tidak bersifat toksik.

Selanjutnya dinyatakan bahwa amoniak merupakan hasil eksresi yang

sangat penting karena dapat menimbulkan toksisitas.       Amoniak yang

berasal dari sisa pakan dalam penelitian pendahuluan ini diupayakan

seminimal mungkin karena pemberian pakan hanya dilakukan menjelang

malam hari. Menurut Primavera (1994) sisa pakan dalam perairan akan

mengalami degradasi yang menghasilkan amoniak setelah 24 jam dalam

air apabila konsentrasi oksigen terbatas. Amoniak dan nitrit merupakan

polutan yang sangat penting dieliminir dalam sistem budidaya       karena

toksisitasnya terhadap organisme akuatik. Kelebihan asam amino dalam
tubuh akan disekresikan dalam bentuk amoniak, karena asam amino tidak

dapat disimpan dalam tubuh sebagai cadangan energi, seperti halnya

karbohidrat dan lemak.


                         B. Penelitian Tahap Kedua

            Respon Fisiologi Berdasarkan Parameter Hemolimf

     Penelitian tentang respon fisiologi sebagai efek dari beberapa upaya

untuk meningkatkan immunitas, stressing oksigen dan toksisitas bahan

kimia dalam perairan telah banyak dilakukan, sedangkan respon fisiologi

berdasarkan parameter hemolimf juvenil udang windu terhadap kepadatan

tinggi belum ada penelitian sebelumnya. Kepadatan tinggi diketahui menjadi

salah satu penyebab terjadinya stres pada sistem budidaya udang windu

secara terus menerusif. Dewasa ini diketahui bahwa stres udang dapat

mengakibatkan kegagalan panen.      Respon fisiologi juvenil udang windu

berdasarkan beberapa parameter hemolimfnya disajikan sebagai berikut:


Jumlah Hemosit

Rata-rata jumlah hemosit juvenil udang windu pada bobot dan densitas

pemeliharaan yang berbeda,      disajikan dalam bentuk grafik yang dapat

dilihat pada Gambar 14 dan data       dalam bentuk angka tertera     pada

Lampiran 15 dan 16.

     Peningkatan jumlah hemosit juvenil udang windu pada ukuran yang

berbeda (5-7 g dan 8-10 g), setelah intervensi densitas yang berbeda
selama 24 jam, merupakan upaya untuk meningkatkan ketahanan tubuh

dalam merespon lingkungan baru. Maynard (1960) melaporkan bahwa

udang dapat meningkatkan jumlah hemositnya untuk pertahanan tubuh.



                                          Kelompok bobot 5-7 g dan 8-10 g                     Kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g

                                 90                                                         90
                                 80                                                         80
                                 70                                                         70
                                 60                                                         60
                                 50                                              perlakuan A 50                                perlakuan A
                                 40                                              perlakuan B 40                                perlakuan B
Jumlah Hemosit (….x 106Sel/ml)




                                 30                                                         30
                                                                                 perlakauan C                                  perlakuan C
                                 20                                                         20
                                 10                                                         10
                                 0                                                           0
                                            0       24    36    76    120 jam                     0   24   36   76   120 jam

                                 100
                                                                                            90
                                  90
                                                                                            80
                                  80
                                                                                            70
                                  70
                                                                                            60
                                  60
                                                                                 perlakuan A 50
                                  50                                                                                           perlakuan A
                                                                                 perlakuan B 40
                                  40                                                                                           perlakuan B
                                                                                 perlakuan C
                                  30                                                         30                                perlakuan C
                                  20                                                        20
                                  10                                                        10
                                      0
                                                                                             0
                                                0    24    36    76    120 jam
                                                                                                  0   24   36   76   120 jam



Gambar 14. Grafik Hubungan Jumlah Hemosit (… x 106 sel/ml) Juvenil
           Udang Windu bobot Berbeda, setiap Perlakuan pada Masa
           Pengamatan     yang     Berbeda.  Keterangan:Perlakuan
           A=densitas 25 ekor/m2, perlakuan B=densitas 50 ekor/m2,
           perlakuan C=densitas 75 ekor/m2
                                      Mekanisme terjadinya peningkatan jumlah hemosit diawali dari sinyal

yang diterima oleh sistem saraf pusat. Sinyal tersebut dinterpretasikan lalu

disampaikan pesan ke sel neurosekretori untuk memproduksi hormon sel

neurosekretori yang dapat menghambat atau merangsang organ x. Organ

x antara lain dapat memicu kerja jantung melalui sistem saraf neurogenik
yang akan memicu konduksi dan kontraksi jantung (Smith, 1982).

Akibatnya kontraksi jantung meningkat, sebagai upaya homeostasis yang

dikembangkan karena kecemasan yang dialami juvenil udang windu

terhadap lingkungan baru dan intervensi perlakuan densitas yang

dicobakan.      Efek dari peningkatan kontraksi jantung terbukti dengan

meningkatnya jumlah hemosit juvenil udang windu pada pemantauan

24 jam, setiap perlakuan yang dicobakan, kecuali perlakuan C pada juvenil

bobot 11-13 g dan 14-16 g diduga peningkatan tersebut terlampaui pada

pemantauan 24 jam, sehingga yang terpantau adalah sudah terjadi

penurunan jumlah hemositnya.

     Hemolimf merupakan salah satu parameter sistem immun pada udang

windu   yang     dapat    menjadi    indikator   untuk   mengetahui   aktivitas

pagositasnya.      Selanjutnya dinyatakan        bahwa hemosit pagositosis

berbanding     terbalik   dengan    jumlah   hemosit     (Direkbusarakom   and

Danayadol, 1998). Lebih lanjut dilaporkan bahwa untuk memahami

bagaimana kondisi oksigen terlarut rendah (1,8–2.0 ppm) dengan uji

tantang jenis bakteri bercahaya, dilaporkan bahwa pada kondisi ini

menunjukkan pengaruh negatif secara signifikan terhadap sistem kekabalan

tubuh udang windu dan karena itu dapat menyebabkan wabah penyakit dan

kematian.

     Oleh karena tekanan keterbatasan ruang dan populasi lebih,

berlangsung terus menerus (terus menerus) hingga pemantauan 36 jam,
diduga menjadi penyebab utama terjadinya stres. Kondisi stres merupakan

pertanda kemampuan homeostasis berakhir. Dengan demikian kondisi ini

memaksa juvenil udang windu melakukan kompensasi dalam merespon

perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2.       Kompensasi

dilakukan melalui mobilisasi energi secara berlebihan untuk memenuhi

kebutuhan energi. Energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen dalam hati

diurai melalui proses glikolisis dan lipolisis untuk menghasilkan glukosa.

Namun karena mobilisasi energi berlangsung terus menerus menyebabkan

energi yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan proses metabolisme

berlangsung normal. Selanjutnya mempengaruhi hasil metabolit dalam

darah termasuk jumlah hemosit.        Penurunan jumlah hemosit pada

pemantauan 36 jam bagi juvenil udang windu yang masih bertahan hidup

diduga turun hingga batas limit kompensasi minimum yang dapat ditolerir

namun stres tak terhindarkan. Sebaliknya pada juvenil udang windu yang

mati pada periode ini. Stres yang teridentifikasi pada pemantauan 36 jam

pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2 menyebabkan

terjadinya depresi tingkah laku yakni juvenil udang windu tidak respon

terhadap pakan yang diberikan, diam disudut aquarium dan mengarah

keluar, serta tidak respon apabila disentuh oleh benda asing. Penurunan

jumlah hemosit secara drastis merupakan indikator terjadinya penurunan

daya tahan tubuh yang disebabkan oleh intervensi densitas pemeliharaan

tinggi yang berlangsung secara terus menerus.       Kenyataan ini dapat
menyebabkan gangguan fungsi tubuh, bahkan menyebabkan kematian

(Lampiran 38 dan 39).

     Intervensi densitas tinggi yang berlangsung secara terus menerus

(berkepanjangan).    Menurut (Bonga, 1997; Gilmour et al. 1994 dalam

Van de Braak, 2001), dalam kondisi stres kronis pada ikan mungkin

mengalami kesulitan pada hypothalamus-pitiutary- interenalnya untuk

bereaksi secara tiba-tiba. Demikian pula yang terjadi pada manusia yang

telah dilaporkan sebelumnya oleh Selye (1975) bahwa jika tekanan tetap

ada, walaupun sudah berupaya untuk beradaptasi, namun tubuh manusia

tidak bisa bertahan jika berlangsung secara terus menerus, karena sumber

daya secara bertahap habis. Pada kondisi inilah terjadi stres persisten yang

tidak mampu diselesaikan melalui adaptasi dan dianggap marabahaya

karena dapat mengakibatkan depresi perilaku. Kamiso dkk., (2009)

melaporkan bahwa terjadi penurunan jumlah hemosit pada sirkulasi darah

udang jika terjadi gangguan eksternal, karena persediaan gula, seperti

glikogen dalam      hati dimetabolisme sebagai sediaan energi untuk

emergensi, sementara pada kondisi ini nafsu makan udang menurun. Hal

ini didukung oleh pernyataan Soelistyowati (2002) sebelumnya bahwa

perubahan lingkungan baik fisik, kimia dan biologis diluar ambang batas

yang dapat ditolerir dan berlangsung secara terus menerus atau

berkepanjangan dapat menyebabkan kematian sebagai efek dari stres yang
berkepanjangan karena tidak mampu melampau masa kompensasi dan

terjadilah kelelahan.

       Keberhasilan kompensasi yang dikembangkan oleh juvenil udang

windu yang masih bertahan hidup hingga pemantauan 76 jam merupakan

upaya perbaikan yang dikembangkan sehingga jumlah hemosit meningkat

kembali setelah mengalami penurunan pada pemantauan 36 jam. Pada

kondisi ini diduga juvenil udang windu mampu mencapai adaptasi. Hal ini

didukung oleh ekspresi tingkah laku yang normal kembali. Kondisi ini stabil

hingga pemantauan 120 jam.

       Berdasarkan kenyataan yang diperoleh dari hasil penelitian ini diduga

bahwa pemeliharaan juvenil udang windu dengan densitas 25 ekor/m2

kondisi homeostasis tercapai pada pemantauan 24 jam, dan intervensi

tersebut tidak menyebabkan stres.      Berbeda dengan perlakuan densitas

25 ekor/m2, perlakuan dengan densitas pemeliharaan 50 dan 75 ekor/m2, ini

menyebabkan juvenil udang windu bobot 5-7g dan 8-10 g stres yang

menyebabkan kematian. Indikasi adaptasi juga ditandai dengan maraknya

jumlah juvenil udang windu yang ganti kulit (Lampiran 41), namun sifat

kanibalismenya meningkat, hal ini diketahui karena udang          yang mati

setelah ganti kulit, kaki jalannya habis digerogoti oleh udang lain (Lampiran

41).   Hal lain yang memperkuat dugaan adalah cangkang juvenil udang

windu yang ganti kulitpun habis dimakan, kecuali karapaks kepala,

sementara pakan yang diberikan banyak yang tersisa.
     Berdasarkan fenomena yang digambarkan dari dua tahap penelitian

di atas diketahui bahwa perbedaan tren pola respon fisiologi juvenil udang

windu pada bobot yang berbeda yang diekspresikan melalui perubahan sel-

sel hemosit merupakn efek dari densitas pemeliharaan tinggi. Pada juvenil

udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g       densitas 50 dan 75 ekor/m2 dapat

menyebabkan stres, namun juvenil bobot 11-13 g dan 14-16 g stres hanya

terjadi pada densitas 75 ekor/m2. Patut diduga bahwa stressing bagi udang

sampai batas tertentu, yang dikenal dengan istilah eustres diduga mampu

mencapai adaptasi dan merupakan pemicu terjadinya ganti kulit yaitu salah

satu indikator terjadinya pertumbuhan. Ganti kulit bagi Crustacea pertanda

suatu kemakmuran yang telah diketahui sebelumnya. Sebaliknya stressing

hingga menyebabkan kesulitan yang dikenal dengan istilah distres dapat

menyebabkan disfungsional organ dan perubahan morfologi,           bahkan

menyebabkan kematian secara tiba-tiba.


Total Protein Hemolimf

     Protein darah merupakan salah satu dari tiga jenis protein     dalam

tubuh yang terbentuk dari asam amino berupa larutan koloidal dalam

plasma darah. Pada manusia total protein serum dalam darah sekitar 7,2 -

8 g/dl atau sekitar 7% dari volume darah keseluruhan Menurut Wikipedia

ensiklopedia, diekses 2012,,   protein darah berfunsi untuk ; (1) Sirkulasi

molekul lipida, hormon, vitamin dan zat besi (2) enzim,         komponen
komplemen, protease inhibitor dan kinin precursor (3)                                                   Regulasi aktivitas,

fungsional non seluler dalam sistem kekebalan.

                                      Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa total protein

hemolimf juvenil udang windu pada perlakuan densitas yang dicobakan,

memperlihatkan respon yang berbeda antara bobot 5-7 g dan 8-10 g, 11-

13 g dan 14-16 g                                       (Gambar 15) pada setiap perlakuan. Hal ini dapat

dipahami karena pertambahan bobot juvenil udang windu berkorelasi

dengan total protein hemolimfnya sebagaimana telah dijelaskan pada

penelitian pendahuluan.

                                 Kelompok bobot 5-7 g dan 8-10 g                       Kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g
                                4,5                                             4,5
                                 4                                                 4
                                3,5                                             3,5
                                 3                                                 3
                                2,5                                  perlakuan A2,5                                    perlakuan A
Tatal protein Hemolimf (g/dl)




                                 2                                   perlakuan B 2                                     perlakuan B
                                1,5                                  perlakuan C1,5                                    Perlakuan C
                                 1                                                 1
                                0,5                                             0,5
                                 0                                                 0
                                        0   24   36   76   120 jam                       0    24   36   76   120 jam
                                4,5                                                8
                                  4                                                7
                                3,5
                                                                                   6
                                  3
                                                                                   5
                                2,5                                  perlakuan A                                       perlakuan A
                                                                                   4
                                  2                                  perlakuan B                                       perlakuan B
                                1,5                                  Perlakuan C 3                                     Perlakuan C

                                  1                                                2

                                0,5                                                1

                                  0                                                0
                                        0   24   36   76   120 jam                       0    24   36   76   120 jam



Gambar 15. Grafik Hubungan Rata-rata Total Protein Hemolimf (g/dl)
          Juvenil Udang Windu Bobot 5 -7 g dan 8-10 g dan Bobot 11-
          13 g dan 14 - 16 g, pada Setiap perlakuan yang Dipantau
          pada Waktu (jam) yang Berbeda. Keterangan:Perlakuan
          A=densitas 25 ekor/m2, perlakuan B=densitas 50 ekor/m2,
          perlakuan C=densitas 75 ekor/m2
       Total protein hemolimf ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pakan

yang     dikonsumsi   serta   kemampuan    juvenil   udang   windu   untuk

memanfaatkan asupan pakan yang dikonsumsi. Pemanfaatan pakan yang

dikonsumsi dipengaruhi oleh kondisi fisiologi juvenil udang windu. Apabila

kondisi fisiologi terganggu oleh faktor internal maupun eksternal (densitas

tinggi), maka nafsu makan dan daya cerna menurun akibatnya total protein

yang beredar dalam aliran darah juga rendah.

       Peningkatan dan penurunan total protein hemolimf juvenil udang

windu bobot 5-7 g dan 8-10 g dan 11-13 g dan 14-16 g pada pemantauan

24 jam hingga 36 jam menunjukkan tren pola yang berfluktuasi dan tidak

memperlihatkan pola tertentu sebagaimana halnya jumlah hemositnya. Hal

ini terjadi diduga karena pada periode tersebut merupakan masa

kecemasan dan masa stres sehingga memaksa juvenil udang untuk

mengembangkan proses homeostasis dan kompensasi untuk meningkatkan

ketahanan tubuh dan berupaya untuk mempertahankan hidup agar mampu

mencapai adaptasi.     Adaptasi tercapai pada pemantauan 76 jam, telah

dibahas sebelumnya. Hal ini didukung oleh tren data total protein hemolimf

juvenil udang windu dimana semua perlakuan stabil mulai pada

pemantauan 76 jam hingga 120 jam.         Kelebihan protein dalam tubuh

crustacea dirubah menjadi lemak lalu disimpan dalam bentuk glikogen pada

hati melalui proses glikoneogenesis dan akan diurai kembali melalui proses

lipolisis apabila tubuh memerlukan energi tinggi. Pada kondisi stres proses
glikolisis dan lipolisis terjadi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Hasil

dari proses glikolisis dan lipolisis dalam bentuk asam amino diedarkan

dalam darah, sehingga diduga mepengaruhi rata-rata total protein darah

yang cendrung meningkat pada masa kecemasan dan stres tersebut.

     Mobilisasi protein dalam bentuk asam amino dalam darah merupakan

salah satu strategi homeostasis dan kompensasi yang dikembangkan oleh

juvenil udang windu dalam merespon lingkungan baru dan keluar dari

kondisi stres untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Menurut Selye (1972)

protein darah pada manusia berfungsi sebagai regulasi aktivitas, fungsional

non seluler dalam sistem kekebalan. Selanjutnya dinyatakan bahwa serum

lipoprotein berperan dalam sistem kekebalan tubuh karena dapat berbentuk

enzim, transporter, protein struktural, antigen dan toksin. Selain itu

penyebab terjadinya peningkatan total protein hemolimf juvenil udang windu

dalam penelitian ini, diduga erat hubungannya dengan peningkatan jumlah

hemosit pada pemantauan 24 jam, karena hemosit merupakan                     protein

sebagaimana     telah     dijelaskan   sebelumnya.     Hal    lain   yang     dapat

menyebabkan terjadinya peningktan total protein darah adalah terjadi

respiratory   distres     dan    terjadi    gejala    hipersensitivitas.     Gejala

hipersensitivitas juvenil udang windu pada penelitian ini terlihat pada

pemantauan    24    jam     (sangat    reaktif   terhadap    benda   asing    yang

menyentuhnya) pada semua perlakuan.              Lebih lanjut dinyatakan bahwa

stressing lingkungan melalui peningkatan dopamin dapat mendorong
Litopenaeus      vanname     bobot   20±1.5   g   untuk   memodulasi    energi

metabolisme, osmoregulasi dan respon respiratorinya. Sebelum penelitian

ini telah dilaporkan bahwa total protein hemolimf akan menurun apabila

terjadi      malnutrisi dan malabsorbsi, diare, ketidakseimbangan hormon

dan dalam jangka waktu panjang disebabkan karena berbagai macam

penyakit       (http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas.Blood_value_sorted, diekses

2012). .

         Efek positif dari densitas tinggi apabila juvenil udang windu mampu

mencapai adaptasi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya diduga

menjadi pemicu nafsu makan sehingga energi yang tersedia berlebih untuk

kebutuhan ganti kulit. Kondisi Intermoult juvenil udang windu menuntut

terjadinya peningkatan total protein hemolimfnya, karena membutuhkan

energi tinggi.      Hal ini didukung oleh hasil penelitian Cheng et al. (2001)

pada Macrobrachium rosenbergi, bahwa total protein hemolimf, osmolalitas

dan konsentrasi Cl-, Na+ dan K+ hemolimfnya rendah, selama Postmoult

dan tinggi selama Intermoult dan awal premoult dalam kondisi budidaya di

kolam.      Hal ini diduga berhubungan dengan absorbsi air pada saat ganti

kulit.


Glukosa Hemolimf

         Berdasarkan data glukosa hemolimf yang terpantau dalam penelitian

ini,     diperoleh informasi bahwa intervensi densitas berbeda dalam

pemeliharaan juvenil udang windu pada bobot 5-7 g dan 8-10 g , 11-13 g
dan 14-16 g tidak menunjukkan adanya tren pola peningkatan dan

penurunan tertertentu (Lampiran 19 dan 20), seperti halnya jumlah hemosit

dan total protein hemolimfnya.   Perubahan parameter glukosa hemolimf

juvenil udang windu sebagai efek dari perlakuan yang dicobakan dalam

penelitian ini, diduga berlangsung sangat cepat, sehingga perubahan

tersebut tidak memperlihatkan pola tertentu pada pemantauan 24, 36,76

dan 120 jam. Hal ini dapat dipahami karena glukosa darah dikontrol oleh

banyak faktor (Piliang dan Djojosubagio, 2000)        sebagaimana telah

dijelaskan sebelumnya. Pernyataan ini didukung oleh hasil penelitian Chiu

et al. (2006) bahwa Litopenaeus vanname bobot 20±1.5 g yang telah

disuntik secara individual dengan garam atau dopamin pada konsentrasi

berbeda (10-8, 10-7 dan 10-6 per ekor) ternyata peningkatan glukosa dan

laktat hemolimfnya terjadi diantara 2 – 4 jam, dan kembali pulih pada 8 –

16 jam setelah penyuntikan. Selanjutnya dinyatakan bahwa penyuntikan

dopamin   juga   secara   signifikan   menurunkan   perbandingan   antara

oxyhemocianin dan ratio protein, sebagai efek dari peningkatan protein

hemolimfnya. Sehubungan dengan kenyataan itu, disimpulkan bahwa stres

karena efek dopamin mendorong terjadinya modulasi energi metabolisme,

osmoregulasi dan respon respiratori dalam rangka beradaptasi terhadap

tekanan lingkungan.

     Berdasarkan fenomena di atas maka patut diduga bahwa perubahan

glukosa hemolimf udang windu dalam merespon intervensi densitas tinggi
yang dapat menyebabkan terjadinya stres pada pemantauan 36 jam pada

penelitian ini diduga terlampaui atau tidak termonitor. Dengan demikian

hasil pemantauan glukosa hemolimf yang diperoleh dalam penelitian ini

tidak menunjukkan pola tertentu seperti halnya jumlah hemosit dan total

protein   hemolimfnya.      Itulah        sebabnya   Perazzolo   et   al.   (2002)

merekomendasikan bahwa parameter hemolimf yang paling sensitif untuk

menilai kondisi stres pada budidaya udang Farfantepenaeus paulensis

adalah jumlah hemosit dan total protein hemolimfnya. Kedua parameter

hemolimf tersebut terbukti lebih stabil dibandingkan dengan glukosa

hemolimf.

     Rata-rata glukosa hemolimf juvenil udang windu yang diperoleh dalam

penelitian ini berbeda dari yang dilaporkan oleh (Taqwa, 2008) terhadap

post larva udang windu yaitu              terbesar   223,19 mg/dl dan terkecil

160,04 mg/dl. Perbedaan ini diduga disebabkan karena perbedaan ukuran

hewan uji, juga diduga terjadi denaturasi glukosa hemolimf dalam proses

pengangkutan dari Barru ke Makassar, mengingat glukosa hemolimf sangat

sensitif dan sangat tidak stabil dibandingkan total protein hemolimfnya.

Untuk itu disarankan dalam penelitian glukosa hemolimf juvenil udang

windu     sebaiknya   dianalisis     di    tempat    pemeliharaan     dan   tanpa

menggunakan co-agulant, pada kondisi suhu ruangan dimana udang

tersebut dipelihara. Sedangkan untuk memantau efek perlakuan yang
dicobakan terhadap perubahan glukosa hemolimf sebaiknya dipantau

dalam periode singkat (dalam waktu hitungan kurang dari 24 jam).


Osmolalitas Plasma

      Berdasarkan data pada Lampiran 21 dan 22, diketahui bahwa tidak

terjadi peningkatan dan penurunan secara signifikan osmolalitas plasma

juvenil udang windu pada setiap perlakuan. Hal ini dapat dipahami karena

pemeliharaan dilakukan pada salinitas yang sama yaitu 20 ppt., pada bobot

juvenil udang windu 5-7 g dan 8-10 g dan 26 ppt., pada bobot 11-13 g dan

14-16 g . Rata-rata nilai osmolalitas yang diperoleh pada percobaan juvenil

udang windu bobot 11-13 g dan 14-16 g (500.28 mOsm/kg) lebih tinggi

dari juvenil bobot 5-7 g dan 8-10 g (498.37 mOsm/kg). Hal ini mendukung

data penelitian tahap pertama yang menunjukkan bahwa          peningkatan

bobot juvenil udang windu berkorelasi dengan nilai osmolalitas plasmanya.

Kenyataan ini menjawab mengapa       udang windu dalam siklus hidupnya

menjelang dewasa akan bermigrasi ke perairan laut yang salinitas airnya

lebih tinggi sebagaimana telah diketahui sebelumnya, ternyata salah

satunya adalah tuntutan proses fisiologi (proses osmoregulasi). Tantulo dan

Fotedar (2006) menyatakan bahwa osmolalitas plasma juvenil udang windu

akan semakin meningkat secara linear seiring dengan peningkatan

salinitas.

      Nilai osmolalitas plasma juvenil udang windu tidak selamanya

dipengaruhi oleh salinitas air, pada salinitas yang sama, namun kondisi
fisiologi udang stres akibat gangguan eksternal lainnya, maka nilai

osmolalitas plasmanya akan menurun.            Nilai osmolalitas plasma juvenil

udang windu pada bobot yang berbeda dalam penelitian ini yaitu pada

densitas pemeliharaan 50 dan 75 ekor/m2 agak menurun pada pemantauan

36 jam. Hal ini diduga sebagai efek dari intervensi densitas pemeliharaan

tinggi yang berlangsung secara terus menerus sehingga menyebabkan

terjadinya penurunan nilai osmolalitas, dimana pada kondisi ini sebelumnya

telah dijelaskan juvenil udang windu diduga stres. Homeostasis yang

dilakukan secara berlebih merupakan upaya yang dikembangkan untuk

mencapai adaptasi melalui perubahan metabolisme. Dalam kondisi stres,

diduga kemampuan untuk mengatur permiabilitas sel menurun, sehingga

mobilisasi ion antar sel dengan lingkungan tidak terkontrol, menyebabkan

tingkat osmolalitas menurun.          Penurunan tingkat osmosis menjadi

hypoosmotik cairan tubuh juvenil udang windu, tanpa perubahan salinitas,

diduga   sebagai    efek   lanjut    dari   intervensi   densitas   tinggi   yang

menyebabkan juvenil udang windu stres. Hal ini didukung oleh data

pengamatan pada pemantauan 36 jam, ternyata dengan salinitas air yang

sama,    tingkat   osmotiknya       dapat   berubah      menjadi    hypoosmotik.

Ketidakseimbangan osmotik yang terus berlanjut karena stres merupakan

suatu pembelanjaan energi yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan

untuk mencapai resistensi dan kompensasi. Lebih jauh dijelaskan oleh

Buranajitpirom     et al. (2010) bahwa ekspresi dan aktivitas enzim
Na+/K+-ATPase pada antenal gland berkorelasi dengan kondisi fisiologi

juvenil udang windu dan lingkungan sekitarnya.      Pada salinitas rendah

ekspresi dan aktivitas enzim meningkat.     Selanjutnya dinyatakan bahwa

adaptasi udang windu pada salinitas yang berbeda merupakan fungsi

eksresi dari kelenjar antenal (antenal gland), namun dalam kondisi juvenil

udang windu stres diduga kemampuan untuk mengatur hal ini terganggu.

Hal lain yang berpeluang untuk menyebabkan terjadinya penurunan tingkat

osmolalitas juvenil udang windu adalah diduga tingginya kelarutan ion-ion

dalam media pemeliharaan sebagai efek dari sekresi juvenil udang windu

yang berlebihan dalam merespon intervensi densitas tinggi.           Untuk

mengeleminir efek tersebut, maka dalam penelitian ini diupayakan melalui

pergantian air 2 kali sehari sebanyak 90 % sehingga efek tersebut dapat

diabaikan dalam pembahasan.

     Berdasar hasil uji korelasi pada ά=0.05 (Lampiran 23), diketahui

bahwa jumlah hemosit berkorelasi dengan total protein hemolimf (r=0.176

dengan nilai siq=0.00), namun tidak berkorelasi dengan glukosa hemolimf

dan osmolalitas plasma dengan koefisien korelasi masing-masing secara

berurutan r = 0.051, dengan nilai siq=0.254 dan r = 0.08 dengan siq =0.914.


Differensiasi Sel Hemosit

     Strategi inter sel yang dikembangkan oleh juvenil udang windu bobot

5-7 g dan 8-10 g, 11-13 g       dan 14-16 g     dalam merespon densitas

pemeliharaan yang berbeda melalui persentase jumlah masing-masing tipe
hemositnya adalah meningkatkan jumlah sel hyalin dan sel semiglobular

dalam darah seperti yang terpantau pada pemantauan 24 jam. Beberapa

peneliti sebelumnya melaporkan bahwa sel hemosit mempunyai fungsi

masing-masing     sesuai   tipe   selnya,   sebagaimana     telah   dipaparkan

sebelumnya.   Pada    pemantauan      36    jam   pada    perlakuan   densitas

50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2, yang sebelumnya telah dibahas bahwa

juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g, 11-13 g dan 14-16 g         dalam

kondisi stres. Pada kondisi stres, kenyataannya persentase jumlah hemosit

berdasarkan tipenya, pada semua perlakuan terjadi peningkatan sel

granular diikuti penurunan hyalin lalu terendah semigranular (Gambar 16

dan Gambar 17),    Lampiran 24 dan 25. Hal ini menunjukkan bahwa pada

kondisi stres, secara fisiologi juvenil udang windu hanya mampu

meningkatkan pertahanan tubuh, tetapi kemampuan perlawanan menurun

pada semua kelompok bobot juvenil udang windu. Hal ini didukung oleh

beberapa peneliti sebelumnya yang melaporkan bahwa fungsi sel globular

juvenil udang windu kaitannya dengan adanya benda asing dalam tubuhnya

adalah berperan sebagai protein anti bakteri dan meningkatkan aktivitas

enzim yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh serta mampu

mendegradasi jika terdapat mikroba ketika terjadi fagositosis. Sementara

sel hyalin mempunyai fungsi untuk merusak makromolekul seperti DNA,

karbohidrat dan protein patogen sebagai bentuk perlawanannya. Fenomena

ini menjawab permasalahan dalam budidaya udang di tambak yang
solusinya sampai sekarang belum terpecahkan secara pasti. Stres yang

dialami oleh juvenil windu memudahkan patogen menyerang,         karena

ternyata dalam kondisi stres, juvenil udang windu hanya mampu bertahan

hidup tetapi kemampuan untuk melawan atau menghancurkan seandainya

terdapat benda asing dalam tubuhnya menurun.

     Berdasarkan pada pemantauan komposisi differensiasi sel hemosit

yang dipantau hingga 76 jam pemeliharaan, dapat diyakini bahwa secara

fisiologi ketahanan tubuh juvenil udang windu semakin mantap selain

terbukti dari peningkatan jumlah hemosit dan total protein hemolimfnya

yang sebelumnya telah dijelaskan juga jumlah sel granular meningkat dan

sel hyalin dan semigranular berimbang, kenyataan ini mendukung

pernyataan sebelumnya bahwa pada pemantauan 76 jam, juvenil udang

windu sudah beradaptasi. Kondisi ini stabil hingga pemantauan 120 jam.
     Berbeda dengan juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g , juvenil

udang windu bobot 11-13 g dan 14-16 g mengembangkan strategi inter sel

yang berbeda yakni dalam merespon densitas pemeliharaan yang berbeda

ternyata persentase jumlah hemosit tipe hyalin lebih tinggi kemudian diikuti

sel semigranular lalu terendah sel granular. Kenyataan ini menunjukkan

bahwa juvenil udang windu bobot 11-13 g dan 14-16 g pada pemantauan

24 jam, meningkatkan sel-sel hyalin dalam hemosit untuk meningkatkan

kemampuan fisiologi perlawanan terhadap tekanan. Sel hyalin merupakan

salah satu parameter peningkatan status kesehatan atau ketahanan tubuh

udang yang tentunya tidak lepas dari peran dan fungsi dari jenis sel lain

dalam hemosit. Menurut Soderhall dan Cerenius (1992), kerjasama dan

komunikasi sel pada beberapa reaksi pertahanan dan terjadi apabila

terdapat mikroorganisme atau parasit sudah dikenali maka respon imun

dibentuk. Bachere (2000), mengemukakan bahwa berdasarkan karakteriktik

morfologi dan sitokimia, beberapa fungsi dan keterlibatan dalam reaksi

pertahanan yang berbeda berhubungan dengan jenis sel yang berbeda,

misalnya sel hyalin dengan fagositosis dan koagulasi, sel granular dan semi

granular dengan fagositosis dan sistem profenoloksidase meningkatkan

ketahanan tubuhnya melalui peningkatan kemampuan untuk fagositosis

(Johanson et al., 2008). Namun kemampuan ini        menurun pada kondisi

stres yaitu pemantauan 36 jam sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.

Hal ini ditandai dengan menurunnya jumlah sel hyalin dan semigranular
walaupun dalam kondisi berimbang.      Selanjutnya kondisi persentase sel

hemosit pada pemantauan 76 jam hampir berimbang antara tiga tipe sel.

Pada pemantauan 120 jam, kenyataannya         persentase sel semigranular

lebih tinggi diikuti dengan sel hyalin dan terendah sel granular. Kenyataan

ini mendukung data yang diperoleh pada penelitian pendahuluan bahwa

udang yang berukuran besar secara fisiologi mempunyai kemampuan

perlawanan terhadap tekanan lebih tinggi dan secara patologi kemampuan

untuk memfagositosis jika terdapat benda asing dalam tubuhnya juga lebih

tinggi sebaliknya pada juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g.

     Berdasarkan kondisi inter sel hemolimf yang diungkapkan melalui

pemantauan persentase jumlah sel berdasarkan tipenya dapat disimpulkan

bahwa strategi juvenil udang windu ukuran bobot 5-7 g dan 8-10 g. dalam

meningkatkan ketahanan tubuh, secara inter sel berbeda dengan juvenil

udang windu bobot bobot 11-13 g dan 14-16 g.       Peningkatan ketahanan

tubuh pada pemantauan 24 jam bagi juvenil bobot 5-7 g dan 8-10 g secara

homeostasis intra sel melalui peningkatan sel granular, sedang juvenil

bobot 11-13 g dan 14-16 g melalui peningkatan sel semigranular dan sel

hyalin. Namun dalam kondisi stres berat, mempunyai kemampuan yang

sama. Kedua kelompok bobot juvenil udang windu mempunyai persentase

jumlah sel hyalin yang lebih tinggi dibanding kedua tipe lainnya (granular

dan semigranular).   Penyebab terjadinya penurunan sel hyalin dan sel

granular diduga berhubungan dengan penurunan total protein hemolimf,
yang diketahui sebagai sumber nutrien, berperan dalam meningkatkan

antibodi dalam tubuh ikan dan mamalia (Soelistyowati, 2002).


Respon Fisiologi Berdasarkan Pertambahan Bobot

                                            Perubahan bobot juvenil udang windu pada bobot dan densitas

pemeliharaan yang berbeda disajikan pada Gambar 18 dan Lampiran 26

dan 27.

                                                     Kelompok bobot 5-7 g dan 8-10 g         Kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g
                                             8.000                                        12.600
                                                                                          12.400
Pertambahan Bobot (g) juvenil udang windu




                                             6.000
                                                                                          12.200
                                             4.000                          perlakuan A   12.000                     perlakuan A
                                                                            perlakuan B   11.800                     perlakuan B
                                             2.000
                                                                                          11.600
                                                0                           perlakuan C   11.400                     perlakuan C

                                                       0      5     12                             0    5     12
                                                                   hari                                      hari
                                             9.600                                        20.000
                                             9.400
                                             9.200                                        15.000
                                             9.000                          perlakuan A   10.000                     perlakuan A
                                             8.800                          perlakuan B
                                             8.600                                         5.000                     perlakuan B
                                             8.400                          perlakuan C                              perlakuanC
                                                                                              0
                                             8.200
                                                                                                   0    5     12
                                                       0      5   12 hari                                    hari

Gambar 18.                                                 Grafik Hubungan Pertambahan Bobot (g) Juvenil Udang
                                                           Windu pada Bobot 5-7 g dan 8-10 g dan bobot 11-13 g
                                                           dan 14-16 g , Setiap Perlakuan pada Waktu Pemantauan
                                                           yang Berbeda. Keterangan:Perlakuan A=densitas 25
                                                           ekor/m2, perlakuan B=densitas 50 ekor/m2, perlakuan
                                                           C=densitas 75 ekor/m2
                                            Terjadi penurunan grafik pertumbuhan juvenil udang windu                      pada

densitas 50 dan 75 ekor/m2, sebagaimana yang ditunjukkan pada                                                          Gambar

18. Kenyataan ini tidak berarti bahwa juvenil udang windu tidak tumbuh atau

bobotnya menyusut tetapi penurunan bobot juvenil udang windu pada
perlakuan tersebut disebabkan karena meningkatnya jumlah udang yang

ganti kulit (Gambar 19).   Diketahui bahwa bobot udang menurun atau

konstan pada saat intermoult atau postmoult.      Itulah sebabnya grafik

pertumbuhan udang secara individu membentuk anak tangga, setiap anak

tangga menggambarkan proses ganti kulit. Ganti kulit merupakan salah satu

indikator terjadinya pertumbuhan.   Meningkatnya jumlah juvenil udang

windu yang ganti kulit setelah mampu beradaptasi merupakan efek jangka

panjang dari densias pemeliharaan tinggi yang dapat menyebabkan stres,

namun stres yang dialami     mampu diselesaikan melalui homeostasis,

kompensasi dan adaptasi.

     Kenyataan lain yang mendukung bahwa pertumbuhan juvenil udang

windu meningkat pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas

75   ekor/m2   walaupun    grafik   pertumbuhannya    menurun,    adalah

meningkatnya retensi energi setelah mencapai adaptasi yang akan dibahas

pada sub bab berikutnya.
                                                  Kelompok bobot 5-7g & 8-10 g                                      Kelompok bobot 11-13g & 14-16 g
                                          6
                                                                                                                7

                                          5                                                                     6

                                          4                                                                     5

                                                                                                  perlakuan A   4
Jumlah juvenil yang ganti kulit (ekor)

                                          3                                                                                                                            perlakuan A
                                                                                                  perlakuan B
                                                                                                                3                                                      perlakuan B
                                          2                                                       perlakuan C
                                                                                                                                                                       perlakuan C
                                                                                                                2
                                          1
                                                                                                                1
                                          0
                                                                                                                0
                                              1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12
                                                                                                                    1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12


                                          7                                                                     9
                                                                                                                8
                                          6
                                                                                                                7
                                          5
                                                                                                                6
                                          4                                                       perlakuan A   5                                                      perlakuan A
                                          3                                                       perlakuan B   4                                                      perlakuan B
                                                                                                  perlakuan C   3                                                      perlakuan C
                                          2
                                                                                                                2
                                          1
                                                                                                                1
                                          0                                                                     0
                                              1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11    12                     1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12




                                                                                            Pemantauan hari ke

Gambar 19. Histogram Jumlah Juvenil Udang Windu yang ganti Kulit pada
           Bobot Berbeda pada Setiap Perlakuan yang Diulang Tiga Kali,
           Selama Pemeliharaan. Kerangan: Perlakuan A=densitas 25
           ekor/m2, perlakuan B=densitas 50 ekor/m2, perlakuan
           C=densitas   75 ekor/m2.

                                         Berdasarkan data yang tersaji pada Lampiran 36 dan 37, diketahui

bahwa pertambahan bobot individu juvenil udang windu berkorelasi dengan

retensi energi                                                    baik pada kelompok bobot 5-7g dan 8-10g maupun

kelompok bobot 11-13g dan 14-16g dengan koefisien korelasi masing-

masing r = 0.532 dengan nilai siq = 0.004, r = 0.368 dengan nilai siq =0.06.

Hal ini dapat dipahami karena apabila retensi energi tinggi dalam tubuh

berarti energi yang tersedia tidak hanya cukup untuk mempertahankan

hidup, tetapi berlebih untuk pertumbuhan.                                                                                   Hal lain yang mendukung

terjadinya pertambahan bobot individu karena manejemen pemberian
pakan dan kualitas air diupayakan tetap optimal pada kondisi laboratorium.

Diketahui bahwa dalam budidaya udang windu selain pakan harus sesuai

kebutuhan baik kuantitas maupun kualitasnya juga harus didukung oleh

lingkungan optimal.


Respon Fisiologi Berdasarkan Retensi Energi

     Indikasi rendahnya penggunaan protein sebagai sumber energi

ditunjukkan salah satu adalah menurunnya total protein hemolimf pada

kondisi stres, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Nilai total protein

hemolimf yang rendah diduga sebagai indikasi adanya katabolisme protein

menjadi energi, baik yang berasal dari protein pakan maupun protein tubuh.

Dalam hubungannya dengan pertumbuhan, retensi energi yang tinggi

menunjukkan jumlah energi yang tersedia untuk pertumbuhan makin besar.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara energi total

tubuh, retensi energi dengan pertambahan bobot juvenil udang windu

(Lampiran 26 dan 27) sebagai variabel tidak terikat (independen).     Tren

energi total tubuh dan retensi energi cendrung meningkat, namun retensi

energi nihil pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2

pada kelompok bobot 5-7 g dan 8-10 g, tetapi pada kelompok bobot 11-16 g

dan 14-16 g ternyata mampu menyimpan energi (Gambar 20).
                                     Kelompok bobot 5-7 g dan 8-10 g                                Kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g
                              1750
                                                                                             1800
                              1700
                                                                                             1750
                              1650
                                                                                             1700
                              1600
                                                                                ENT awal 1650
                              1550                                                                                                              ENT awal
                                                                                ENT 5 hari
                              1500                                                        1600                                                  ENT 5 hari
                                                                                ENT 12 hari
                                                                                                                                                ENT 12 hari
                              1450                                                        1550
Energi Total Tubuh (kkal/g)




                              1400                                                           1500
                              1350
                                                                                             1450
                                      perlakuan A   perlakuan B   perlakuan C
                                                                                                      perlakuan A   perlakuan B   perlakuan C



                                                                                             1850
                              1850
                                                                                             1800
                              1800
                              1750                                                           1750

                              1700                                                           1700                                               ENT awal
                              1650                                              ENT awal
                                                                                             1650                                               ENT 5 hari
                              1600                                              ENT 5 hari
                                                                                                                                                ENT 12 hari
                              1550                                              ENT 12 hari1600
                              1500                                                           1550
                              1450
                                                                                             1500
                              1400                                                                    perlakuan A   perlakuan B   perlakuan C
                                      perlakuan A   perlakuan B   perlakuan C




Gambar 20. Histogram Total Energi Tubuh (kkal/g) Juvenil Udang Windu
           pada    Bobot     yang      Berbeda   Setiap     Perlakuan.
                                                          2
           Keterangan:Perlakuan A=densitas 25 ekor/m , perlakuan
           B=densitas 50 ekor/m2, perlakuan C=densitas 75 ekor/m2


                                Adanya penyimpanan energi bagi juvenil udang windu, dapat dipahami

karena efek lanjut dari stres yang dialami, sehingga setelah mencapai

adaptasi                                   nafsu        makan            meningkat                  terbukti        dengan         meningkatnya

kanibalisme. Hal lain yang menyebabkan juvenil udang windu bobot 11-

13 g dan 14-16 g pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas

75 ekor/m2 mampu menyimpan energi setelah mencapai adaptasi, terbukti

jumlah juvenil udang windu yang ganti kulit pada kelompok bobot 11-13 g

dan bobot 14 -16 g lebih banyak dibandingkan kelompok bobot 5-7 g dan
bobot 8-10 g (Gambar 19 dan Lampiran 40). Oleh karena ganti kulit

merupakan salah satu indikator terjadinya pertumbuhan sehingga patut

diduga bahwa energi yang tersedia selain cukup untuk mempertahankan

hidup juga berlebih untuk pertumbuhan.        dengan meningkatnya energi

tubuh merupakan indikator bahwa jumlah energi yang tersedia dalam tubuh

cukup untuk pertumbuhan, dan apabila         terjadinya pertambahan bobot

maka ganti kulit harus terjadi. Tingginya rata-rata total energi tubuh pada

perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2 dibandingkan

perlakuan densitas 25 ekor/m2 di akhir penelitian, diduga merupakan salah

satu efek jangka panjang dari eustres yang dialami oleh juvenil udang windu

pada perlakuan tersebut, yang mampu diatasi hingga mencapai adaptasi.

     Efek dari densitas pemeliharaan yang berbeda terhadap energi total

tubuh dan retensi energi dari hasil penelitian ini disajikan pada Lampiran 32

dan 33, untuk kelompok bobot juvenil udang windu 5-7 g dan 8-10g.

sedangkan juvenil udang windu kelompok bobot 11-13 g dan 14-16g

disajikan pada Lampiran 34 dan 35.

      Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa densitas pemeliharaan

25 ekor/m2 tidak menyebabkan terjadinya peningkatan dan penurunan

energi total tubuh juvenil udang windu secara signifikan. namun energi total

tubuh menurun pada densitas 50 dan 75 ekor/m2 pada bobot 5-7 g dan 8-

10 g pada pemantauan 5 hari, dan hanya terjadi penurunan pada densitas

75 ekor/m2 pada bobot 11-13 g dan 14-16 g pada pemantauan 36 jam.
Kenyatan ini menunjukkan bahwa kondisi stres juvenil udang windu pada

pemantauan 36 jam      mempengaruhi nilai penyimpanan energi dalam

tubuhnya, karena adanya upaya homeostasis dan kompensasi yang diduga

menguras energi secara berlebih untuk mencapai adaptasi.         Energi

dibutuhkan oleh juvenil udang windu untuk melakukan     aktivitas seperti

bertahan hidup, tumbuh dan bereproduksi. serta mempertahankan perilaku

normal. Kenyataan ini ditunjukan dengan menurunnya nafsu makan juvenil

udang windu yang ditandai dengan meningkatnya sisa pakan seperti data

yang disajikan pada Lampiran 29 dan 31.      Menurunnya nafsu makan,

berefek terhadap asupan gizi sementara pembelanjaan energi tinggi karena

harus mengembangkan proses metabolisme baru melalui homeostasis

dalam menanggapi intervensi densitas tinggi tersebut. Terjadinya stres

sehubungan dengan retensi energi diduga disebabkan karena mobilisasi

energi berlebih, akibatnya energi untuk mempertahankan proses fisiologi

normal tidak tercukupi. Dugaan ini terbukti dengan terjadinya mobilisasi

protein dalam darah sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.       Itulah

sebabnya juvenil udang windu pada kondisi ini mengalami depresi tingkah

laku yakni diam dan tidak reaktif terhadap pakan dan benda asing yang

menyentuh. Selanjutnya juvenil udang windu yang mati pada periode ini

diduga karena energi yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan untuk

mempertahankan hidup (maintenance)        sebagai efek dari intervensi

densitas tinggi yang berlangsung secara terus menerus.       Diperlukan
penelitian dengan mengkaji perubahan-perubahan metabolisme juvenil

udang windu sehubungan dengan intervensi yang dilakukan.


Respon Fisiologi Berdasarkan Kelangsunan Hidup

                               Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas tidak terjadi pada

juvenil udang windu yang dipelihara pada densitas 25 ekor/m2 Gambar 21).


                               Kelompok bobot 5-7 g dan 8-10 g                        Kelompok bobot 11-13 g dan 14-16 g
                                                                                120
                         120

                                                                                100
                         100

                                                                                 80
                          80
                                                                                                                         perlakuan A
                                                                  perlakuan A 60
                          60                                                                                             perlakuan B
                                                                  perlakuan B
Kelangsungan Hidup (%)




                                                                                 40                                      perlakuan C
                          40                                      perlakuan C

                                                                                 20
                          20

                                                                                  0
                           0
                                                                                        5 hari   5-12 hari   0-12 hari
                                 5 hari   5-12 hari   0-12 hari
                                                                                120
                         120

                                                                                100
                         100

                                                                                 80
                          80
                                                                                                                         perlakuan A
                                                                  perlakuan A 60
                          60                                                                                             perlakuan B
                                                                  perlakuan B
                                                                                 40                                      perlakuan C
                          40                                      perlakuan C

                                                                                 20
                          20

                                                                                  0
                           0
                                                                                        5 hari   5-12 hari   0-12 hari
                                 5 hari   5-12 hari   0-12 hari


                                                                   Hari

  Gambar 21. Histogram Kelangsungan Hidup Juvenil udang Windu pada
              Pemantauan 5 hari dan , 12 hari, bobot 5 -7 g dan 8-10 g,
              11-13   g    dan    13-16    g,      setiap    Perlakuan.
                                                           2
              Keterangan:Perlakuan A=densitas 25 ekor/m , perlakuan
              B=densitas 50 ekor/m2, perlakuan C=densitas 75 ekor/m2
     Mortalitas yang terjadi pada masa 5 hari pemeliharaan terutama

disebabkan karena stres sebagai efek dari perlakuan, hal ini nyata terlihat

pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2.          Nafsu

makan yang menurun (Lampiran 29 dan 31) pada kondisi stres

menyebabkan energi yang dibutuhkan untuk pembentukan hasil-hasil

metabolit dalam darah tidak tercukupi    akibatnya kadar metabolit dalam

darah menurun hingga batas nonkompensasi, Pada kondisi ini daya tahan

tubuh menurun hingga terpuruk yang memungkinkan untuk terjadinya

kematian juvenil udang windu.

     Mortalitas yang terjadi pada masa pemeliharaan 5 hari hingga panen

(perlakuan 75 ekor/m2) karena munculnya sifat kanibalisme dari juvenil

udang, sehingga apabila ada juvenil udang windu yang ganti kulit maka mati

karena diserang oleh individu lain.

     Hal lain yang terungkap pada tahap penelitian ini adalah persentase

jumlah jevenil udang ganti kulit pada pemeliharaan dengan densitas tinggi

lebih banyak dibandingkan perlakuan densitas 25 ekor/m2 (kepadatan

rendah). Hal ini membuktikan bahwa stressing lingkungan yaitu kepadatan

tinggi pada pemeliharaan juvenil ukuran besar 11-13 g        dan 14-16 g

diduga diperlukan dalam periode pemeliharaan tertentu, yang bertujuan

untuk merangsang terjadinya ganti kulit (pertumbuhan).        Akan tetapi

diperlukan penelitian tentang kapan   dan lamanya waktu stressing yang

dibutuhkan oleh juvenil udang windu, hingga tidak terjadi kematian (batas
waktu dimana juvenil udang windu mencapai homeostasis).                Stressing

diupayakan tidak berlangsung secara terus menerus, karena dapat

menurunkan vitalitasnya.


Kualitas Air

     Beberapa parameter kualitas air yang dipantau masih berada pada

kisaran yang layak (Tabel 19) untuk pembesaran juvenil udang windu, hal

ini terjadi karena dilakukan         pengelolaan air selama pemeliharaan

berlangsung.

Tabel 19. Kisaran Kulitas Air Media Pemeliharaan Selama Penelitian pada
           Bobot 5 -7 g dan 8-10 g, Bobot 11-13 g dan 14-16 g.

      N         Parameter yang diukur                 Kisaran nilai parameter
o                                                        Kualitas air
      1                        Penelitian Bobot 5 -7 g dan 8-10 g
               Suhu air (oC)                                  28 -30
               pH                                            7.12 -7.9
               Oksigen terlarut                               6.2-6.6
               Amoniak (ppm)                              0.003 – 0.029
               Salinitas (ppt)                                   20
      2                        Penelitian Bobot 5 -7 g dan 8-10 g
               Suhu air (oC)                                   27-29
               pH                                             7.2 -7.4
               Oksigen terlarut                               6.2-6.6
               Amoniak (ppm)                              0.003 – 0.039
               Salinitas (ppt)                                   26


C. Stres Fisiologi Juvenil Udang Windu

     Tren pola respon fisiologi yang diekspresikan melalui beberapa

parameter hemolimf, retensi energi, pertambahan bobot dan kelangsungan

hidup serta pengamatan tingkah laku juvenil udang windu terhadap
perlakuan yang dicobakan, menunjukkan bahwa pola perubahan jumlah

hemosit relatif sama dengan total protein hemolimf, kecuali glukosa

hemolimf dan osmolalitas plasmanya.     Sedangkan pola perubahan total

energi tubuh relatif sama dengan pertambahan bobot tubuhnya.      Hal ini

dibuktikan dari hasil analisis statistik yang menunjukkan bahwa perubahan

jumlah hemosit dan total protein hemolimf berkorelasi secara siqnifikan,

namun tidak berkorelasi terhadap perubahan glukosa hemolimf dan nilai

osmolalitas plasmanya. Sedangkan energi total tubuh juvenil udang windu

pada perlakuan berbeda juga berkorelasi secara siqnifikan, dengan

pertambahan bobotnya, yang telah dibahas sebelumnya.

     Berdasarkan hasil analisis data penelitian baik secara deskriptif

maupun secara statistik maka estimasi gejala stres fisiologi yang

diekspresikan melalui jumlah hemosit       juvenil udang windu dapat

dilustrasikan pada Gambar 22 dan 23.

     Interpretasi Gambar 22 dan 23, mengacu pada kurve GAS yang jauh

sebelumnya telah dikemukakan oleh Selye (1950).        Alasan pemilihan

parameter jumlah hemosit mewakili parameter lainnya (total protein

hemolimf) karena selain secara statistik menunjukkan adanya hubungan

korelasi, juga karena menurut    Perazzolo et al. (2002) bahwa jumlah

hemosit dan total protein hemolimf merupakan parameter respon fisiologis

yang paling sensitif terhadap kondisi stres pada budidaya udang

Farfantepenaeus paulensis,    setelah memantau beberapa parameter
hemolimf    antara    lain   :   jumlah   hemosit,     total       protein   hemolimf.

oxyhemosianin, glukosa hemolimf, osmolalitas plasma, konsentrasi ion,

akumulasi laktat dalam hemolimf.

     Berdasarkan Gambar 22 dan 23, diketahui bahwa tekanan dari

densitas pemeliharaan tinggi (perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas

75 ekor/m2) merupakan sinyal yang diterima oleh sistem saraf pusat .juvenil

udang      windu     menjadi     alarm.    Sistem          saraf     pusat     setelah

menginterpretasikan,     lalu    memerintahkan       sel     neurosekretori     untuk

memproduksi hormon sel neurosekretori yang dapat merangsang atau

menghambat organ x dan kelenjar sinus pada tangkai mata. Selanjutnya

organ x dapat mengontrol organ lain yang ada disekitarnya, salah satunya

menghasilkan hormon 5,6 dihidroptritamin, 5 hidroksi triptamin dan

6 hidroksi triptamin yang mengontrol aktivitas saraf neurogenik pada

jantung yang berperan mengatur denyut jantung, sehingga dapat memicu

konduksi dan kontraksi jantung (Smith, 1982 dan Lockwood, 2002).

Akibatnya kontraksi jantung meningkat, sebagai upaya homeostasis yang

dikembangkan karena kecemasan yang dialami juvenil udang windu

terhadap lingkungan baru dan intervensi perlakuan densitas yang

dicobakan. Reaksi simpatetik pada sistem syaraf yang disebabkan oleh

kontraksi jantung yang meningkat tersebut akhirnya meningkatkan respirasi

dimana diduga juevenil udang windu bernafas lebih cepat yang memicu

tekanan darah lebih tinggi untuk memasok kebutuhan oksigen. Efek dari
peningkatan kontraksi jantung terbukti dengan meningkatnya jumlah

hemosit juvenil udang windu pada pemantauan 24 jam, setiap perlakuan

yang dicobakan, kecuali perlakuan densitas 75 ekor/m2 pada juvenil bobot

11-13 g    dan 14-16 g diduga peningkatan tersebut terlampaui pada

pemantauan 24 jam, sehingga yang terpantau adalah sudah terjadi

penurunan jumlah hemositnya. Peningkatan jumlah hemosit ini akan

menguras energi hingga batas homeostasis berlebih untuk menetralisir

kontraksi jantung agar normal. Oleh karena intervensi densitas tinggi pada

perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2 berlangsung terus

menerus (terus menerus) yang memaksa jantung untuk berkontraksi lebih

cepat hingga batas tertentu dan pada akhirnya menurun hingga batas

nonkompensasi.     Kondisi     ini     menyebabakan      stres     selanjutnya

mempengaruhi nafsu makan dan kadar metabolit darah juvenil udang

windu. Kenyataan ini terbukti dengan penurunan jumlah hemosit secara

drastis pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2 yang

diduga menyebabkan stres.      Aktivitas fisiologis yang berlangsung untuk

mencapai keseimbangan tersebut diduga menyebabkan juvenil udang

windu   mengalami depresi tingkah laku.      Pada kondisi ini juvenil udang

windu   mengembangkan        proses    homeostasis    secara     berlebih   dan

merupakan indikasi bahwa kemampuan homeostasis berakhir. Selanjutnya

juvenil udang windu dituntut untuk mengembangkan strategi lanjutan yaitu

melalui proses kompensasi.            Proses ini tentunya memicu proses
metabolisme abnormal, karena nafsu makan menurun.         Glikogen yang

tersimpan dalam tubuh sebagai energi cadangan, baik yang berasal dari

karbohidrat maupun dari nonkarbohidrat (protein atau/dan lemak), melalui

proses glikolisis atau/dan proses lipolisis menghasilkan glukosa dan asam

amino,    lalu diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah sebagai

sumber energi untuk mensuplay kebutuhan energi kompensasi. Terjadinya

proses homeostasis berlebih pada juvenil udang windu dalam merespon

perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2, terbukti dengan

terjadinya penurunan total energi tubuh, sebagaimana telah dipaparkan

sebelumnya. Penurunan total energi tubuh sampai batas terendah (retensi

energi nihil) dimana kebutuhan energi untuk mempertahankan hidup nihil,

berpengaruh buruk terhadap hasil-hasil metabolit dalam darah (beberapa

parameter hemolimf).   Pengaruh ini nampaknya menyebabkan terjadinya

penurunan jumlah hemosit juvenil udang windu, pada perlakuan densitas

50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2 (pemantauan 36 jam) yang dapat

menyebabkan stres Penurunan jumlah hemosit pada perlakuan densitas

50 ekor/m2 (30.3 x 106 sel/ml) dan perlakuan densitas        75 ekor/m2

(26.1 x 106 sel/ml) menyebabkan jevenil udang windu bobot 5-7 g stres,

tetapi   pada perlakuan densitas 25 ekor/m2 dengan penurunan jumlah

hemositnya 56.6x 106 sel/ml tidak menyebabkan stres. Sedangkan juvenil

udang windu pada bobot 8-10 g        jumlah hemositnya turun 57.001 x

106 sel/ml pada perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan 59.5 x 106 sel/ml pada
perlakuan densitas 75 ekor/m2 menyebakan stres, namun perlakuan

densitas 25 ekor/m2 (955.05x106 sel/ml) juga tidak menyebabkan stres

juvenil udang windu. Indikasi stres juvenil udang windu pada perlakuan

densitas 50 ekor/m2 dan densitas 75 ekor/m2 diyakini karena selain

penurunan jumlah hemosit secara drastis, juga terjadi depresi tingkah laku

sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
                                                                                                      Bobot 5-7 g

                                                                                    perlakuan A             perlakuan B         Perlakuan C




                               mati
                                                                                                                                                   Kurve GAS (Selye, 1950)
                                                                                   84




          cacat
                                                                                   80
                                                                                                         Limit kompensasi
                                                                                   72




                                anlinormasasi
                                                         66
                                                         65
                  penyakit                               60
                                                                                                                    56
                                                                                                                                                   58
                                                                                                                                                   57                          58
                                                                                                                                                                               56   a
                                                                                                                                                   50                          50
                                     normalisasi




                                                                                                                    30
                                                                                                                    26         perbaikan
                                stres
                sehat




                mati                                            homeostasis               Kompensasi              Nonkompensasi/Adaptasi
                                                   0                          24                                36                       76                 stabil       120 jam
                                                                                                      Ketidakseimbangan
                                                                                                      Depresi tingkah laku




                                                                                                      Bobot 8-10 g


                                                                                        perlakuan A         perlakuan B         perlakuan C


                                                                                                                              Kurve GAS (Selye, 1950 )
                                                                                   92
                                       annormasasi
                        mati




                                                                                   87                  Limit kompensasi

                                                         77                        78
        cacat




                                                         73
                                                                                                                                              70                          71
                                                         68
                                  normalisasi




                                                                                                                                                                          67
                                                                                                                   65                         65
                                                                                                                                              62                          62
                                                                                                                   59
                    penyakit




                                                                                                                   57

                                                                                                                                                                                    b
                                                                                                                         perbaikan
                                  stres
                        sehat




                                                              homoestasis                                          Nonkompensasi/Adaptasi               stabil
                        mati                         0                        24            Kompensasi        36                        76                           120 jam

                                                                                                      Ketidakseimbangan
                                                                                                      Depresi tingkah laku




Gambar 22.                Identifikasi Gejala Stres Fisiologi Juvenil Udang Windu
                        Setelah Diintervensi Densitas Pemeliharaan yang Berbeda.
                        Keterangan: a) Bobot 5-7 dan b) bobot 8-10g. Perlakuan A
                        = densitas 25 ekor/m2, B= 50 ekor/m2 dan C = 75 ekor/m2,
                        GAS= General Adaptation Syndrome.
                                                                                              Bobot 11-13 g
                                                                  perlakuan A                        perlakuan B                      perlakuan C




                    mati
                                                                                                             84
                                                                            81
                                                                            80                               79                 Kurve GAS (Selye, 1950)
                                               78


                 normalisasi annormasasi
      cacat


                                                                                                                                            70
                                                                                                                                            66                      67
                                                                                                                                                                    66
                                                                                 Limit kompensasi
                                                                                                                                            60                      61

                                                                            54
                 penyakit




                                                                                                             46
                                                                                                                                                                         a
                                                                                                                         perbaikan
                               stres
               sehat




                                                                                                                  Nonkompensasi/Adaptasi
                    mati                   0        homoestasis        24           Kompensasi          36                            76             stabil    120 jam

                                                                                                    Ketidakseimbangan
                                                                                                    Depresi tingkah laku




                                                                                             Bobot 14-16 g
                                                                  perlakuan A                       perlakuan B                      perlakuan C
                       mati




                                                                                                             84
                                                                            81
                                                                            80                               79               Kurve GAS (Selye, 1950)
                                               78
                 normalisasi annormasasi
       cacat




                                                                                                                                           70
                                                                                                                                           66                      67
                                                                                                                                                                   66
                                                                                 Limit kompensasi
                                                                                                                                           60                      61

                                                                            54
                 penyakit




                                                                                                             46                                                          b
                                                                                                                        perbaikan
                                stres
               sehat




                     mati                           homoestasis                    Kompensasii               Nonkompensasi/Adaptasi                 stabil
                                           0                          24                               36                            76                       120 jam

                                                                                                 Ketidakseimbangan
                                                                                                 Depresi tingkah laku


Gambar 23. Identifikasi Gejala Stres Fisiologi Juvenil Udang Windu
          Setelah Diintervensi Densitas Pemeliharaan yang Berbeda,
           Keterangan: a) Bobot 11-13 g dan b) bobot 14-16
          g.Perlakuan A =densitas 25 ekor/m2, B= 50 ekor/m2 dan C =
          75 ekor/m2, GAS= General Adaptation Syndrome
     Strategi lain yang dikembangkan juvenil udang windu dalam penelitian

ini, terindikasi bahwa Juvenil udang windu pada masa stres agar tetap

mampu bertahan hidup, maka kompensasi yang dikembangkan adalah

meningkatkan daya tahan tubuh secara inter sel hemolimf, yaitu

meningkatkan    persentase   sel   granular,   namun   kemampuan    untuk

fagositosis dan untuk merusak makromelekul terhadap benda asing jika ada

dalam tubuhnya menurun. Hal ini ditandai dengan menurunnya persentase

sel semigranular dan sel hyalin.    Karena Kondisi ini berlangsung terus

menerus tanpa ada upaya normalisasi maka kemungkinan yang dapat

terjadi adalah timbulnya penyakit, cacat bahkan efek yang lebih buruk

adalah kematian. Diduga juvenil udang windu yang mati sebelum mencapai

adaptasi (76 jam) disebabkan karena stres terus menerus (stres persisten).

Hal ini terjadi karena upaya kompensasi yang dikembangkan berlebihan

hingga batas nonkompensasi, akibatnya energi cadangan dalam tubuh tidak

cukup untuk mempertahankan hidup (maintenance) masa ini dikenal

dengan masa kelelahan dan apabila tidak ada perbaikan, normalisasi atau

pengobatan maka terjadi cacat atau kematian.

     Akan tetapi juvenil udang windu yang lolos seleksi alam atau dengan

kata lain mampu beradaptasi justru berefek positif karena diduga menjadi

pemicu proses metabolisme dan kerja hormonal yang dapat merangsang

ganti kulit. Tekanan terus menerus pada perlakuan densitas 50 ekor/m2

dan densitas 75 ekor/m2 yang diterima oleh sistem saraf        pusat lalu
direspon dengan memproduksi hormon sel neurosekretori yang antara lain

dapat menghambat organ x dan kelenjar sinus pada tangkai mata untuk

memproduksi HIM dan memicu (menstimulir) organ y yang letaknya di

bagian ventral sebelah kanan maxiliped Crustacea (Smith, 1982) untuk

memproduksi Moulting Stimulating Hormon (MSH). Selanjutnya dinyatakan

bahwa MSH ini berfungsi mempercepat         ganti kulit (moulting), terbukti

apabila organ ini dihilangkan maka Crustacea tidak mengalami ganti kulit.

Ganti kulit merupakan salah satu indikator terjadinya pertumbuhan. Stres

sampai batas tertentu dapat memicu pertumbuhan, karena tekanan

keterbatasan ruang dan populasi berlebih menyebabkan terjadi peningkatan

hormon kotekolamin dan kortikosteroid (Kenneth et al., 2003), yang

mempengaruhi mobilisasi energi. Mobilisasi energi yang berlebih memaksa

juvenil udang windu untuk meningkatkan proses metabolismenya, akibatnya

pembelanjaan energi tinggi.   Pemanfaatan energi        tinggi, menyebabkan

terjadinya   pengosongan lambung yang tentunya sampai batas tertentu

dapat merangsang nafsu makan juvenil udang windu. Nafsu makan tinggi

berarti   asupan   gizi   terpenuhi   selain    untuk    kebutuhan     untuk

mempertahankan hidup (maintenance) juga berlebih untuk pertumbuhan.

     Indikasi tercapainya adaptasi selain      peningkatan kembali jumlah

hemosit pada pemantauan 76 jam (perlakuan densitas 50 ekor/m2 dan

densitas 75 ekor/m2) setelah mengalami penurunan. Juga          terbukti dari

indikasi lain yaitu kompensasi intersel yang mampu dikembangkan oleh
jevenil udang windu bobot 5-7 g          dan 8-10 g hingga mencapai adaptasi,

ternyata persentase jumlah sel granular kembali normal sebagaimana

karakteristik hemolimf secara alami.         Demikian pula pada juvenil udang

windu bobot 11-13 g          dan 14-16 g, persentase jumlah sel semigranular

dan hyalin lebih tinggi dibandingkan sel granular (sesuai karakteristik secara

alami). Kondisi ini stabil sampai pada pemantauan 5 hari. Pada kondisi ini

jumlah juvenil udang windu yang ganti kulit meningkat (Lampiran 40 dan

41).   Ganti kulit merupakan salah satu indikator terjadinya pertumbuhan

namun sifat kanibalisme juga meningkat. Stres karena populasi lebih pada

ikan salmon telah banyak dilakukan penelitian dan disimpulkan bahwa

kepadatan jelas berhubungan dengan stres khusus misalnya indikator stres

klinis dan dominansi. Demikian pula yang dinyatakan oleh Kenneth et al.

(2003)    bahwa      Stres    pada   ikan     teleostean     akan   mempengaruhi

keseimbangan hidromineral.

       Berbeda dengan juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g, juvenil

bobot 11-13 g        dan 14-16 g, memperlihatkan ekspresi jumlah hemosit

(beberapa    parameter       hemolimf)      yang     berbeda   terhadap   densitas

pemeliharaan tinggi.         Pada perlakuan C upaya homeostasis diduga

berlangsung singkat sehingga pada pemantauan 24 jam masa tersebut

sudah terlampaui, dengan demikian yang terpantau bukannya peningkatan

jumlah    hemosit,     namun     penurunan         hingga   pemantauan    36   jam

(kompensasi). Strategi kompensasi yang dikembangkan sebagai upaya
untuk mempertahankan hidup adalah peningkatan pertahanan tubuh secara

inter sel. Pada kondisi stres juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g,

11-13 g    dan 14-16 g      mengembangkan strategi yang sama yakni

meningkatkan jumlah sel granular, sebagaimana yang telah dikemukakan

sebelumnya.

     Berdasarkan estimasi gejala stres fisiologi juvenil udang windu bobot

5-7 g dan 8-10 g, patut diduga bahwa limit kompensasi terendah terhadap

penurunan jumlah hemosit adalah 26.1x106 sel/ml lalu meningkat hingga

58.11x106 sel/ml, nilai ini diduga merupakan batas normal karena kondisi

ini stabil hingga pemantauan 120 jam.    Sedangkan jumlah hemosit limit

kompensasi terendah pada juvenil udang windu bobot 11-13 g dan 14-16 g

adalah 42.23x106 sel/ml naik menjadi 70.5x106 sel/ml yang diduga

merupakan batas normal,        karena kondisi ini juga      stabil hingga

pemantauan 120 jam.

     Berdasarkan fenomena di atas dapat disimpulkan bahwa stressing

tidak selamanya berefek negatif namun stressing sampai batas tertentu

diduga dapat memicu kerja hormonal yang berhubungan dengan ganti kulit

dan nafsu makan juvenil udang windu.      Nafsu makan yang meningkat

merupakan indikasi bahwa proses fisiologi dalam tubuh normal sehingga

hasil-hasil metabolit dalam darah normal sesuai yang dibutuhkan oleh

juvenil udang windu untuk hidup sehat dan tumbuh.        Untuk mencegah

pengaruh buruk dari stres terus menerus maka selayaknya dilakukan
normalisasi densitas pemeliharaan paling lama kurang dari 36 jam (limit

kompensasi), karena terbukti dalam penelitian ini apabila tidak dilakukan

normalisasi densitas pemeliharaan, maka juvenil udang windu mati karena

seleksi alam. Namun lamanya waktu stressing masih perlu dikaji lebih

lanjut, terutama uji coba di lapangan.   Saran ini diharapkan merupakan

salah satu solusi dalam budidaya udang di tambak dalam menanggulangi

masalah pertumbuhan.
                                V. PENUTUP

                                A. Kesimpulan

1. Secara alami Jumlah hemosit, total protein hemolimf dan osmolalitas

     plasma berkorelasi positif dengan peningkatan bobot juvenil udang

     windu, namun tidak berkorelasi terhadap glukosa hemolimfnya.

2. Berdasarkan tipe sel hemositnya, secara alami        juvenil udang windu

     bobot kecil tercipta dengan memiliki jumlah sel granular lebih tinggi

     dibanding sel semigranular dan sel hyalin, sebaliknya pada juvenil bobot

     besar.

3. Perlakuan densitas pemeliharaan yang berbeda menyebabkan terjadinya

     perubahan jumlah sel-sel hemosit, kimia hemolimf juvenil udang windu

     pada bobot yang berbeda.

4. Densitas pemeliharaan 25 ekor/m2 tidak menyebabkan stres pada juvenil

     udang windu pada ukuran yang berbeda, namun terjadi stres pada

     densitas   50 dan 75 ekor/m2.

5.   Terdapat perbedaan limit kompensasi terendah dan normal jumlah

     hemosit antara juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g dengan

     bobot 11-13 g dan 14-16 g .

6. Berdasarkan differensiasi sel, strategi homeostasis dan kompensasi

     Juvenil udang windu bobot 5-7 g dan 8-10 g 11-13 g dan 14-16 g

     ,untuk mencapai adaptasi, berbeda. Namun dalam kondisi stres semua

     kelompok udang mempunyai strategi yang sama.
7. Mortalitas juvenil udang windu yang terjadi sampai pemantauan 120 jam

  karena stres terus menerus, sedangkan mortalitas yang terjadi setelah

  120 jam hingga 12 hari terjadi karena pemangsaan.

8. Intervensi densitas tinggi dapat menyebabkan terjadinya stres dan bagi

  juvenil udang windu yang mampu mencapai adaptasi diduga merupakan

  rangsangan yang dapat memicu terjadinya ganti kulit atau pertumbuhan


                              B. Saran-saran

1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan karakterisasi hemolimf dengan

  memantau beberapa parameter lainnya          seperti kortisol, glikogen,

  kandungan amoniak, dan oksihemosianin, akumulai asam laktat serta

  perubahan hormonal untuk melengkapi karakteristik hemolimf yang

  diperoleh dalam penelitian ini.

2. Disarankan untuk penelitian selanjutnya tentang pemantauan vitalitas

  juvenil udang windu berdasarkan perubahan parameter hemolimf

  terhadap berbagai intervensi lingkungan seperti salinitas, pH dan suhu

  lingkungan.

3. Intervensi tekanan (stressing) bagi juvenil udang windu dalam proses

  budidaya dibutuhkan untuk memicu ganti kulit yang merupakan indikator

  terjadinya pertumbuhan, namun perlu dilakukan penelitian batas waktu

  intervensi tekanan ekstrim yang dapat menyebabkan stres namun tidak

  terjadi kematian.
4. Disarankan intervensi densitas tinggi untuk memicu stres yang berefek

  positif   terhadap   pertumbuhan   dalam    menanggulangi    masalah

  pertumbuhan udang sebaiknya paling lama kurang dari 36 jam dalam

  kondisi laboratorium. Diperlukan penelitian lanjutan dalam kondisi

  lapangan agar dapat diaplikasikan dalam pembesaran juvenil      udang

  windu di tambak, sebagai salah satu upaya untuk menanggulagi masalah

  pertumbuhan
                           DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R., D.S. Syafei, M.P. Raharjo dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan
     “ Pencernaan”. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian
     Bogor. Bogor.

Affandi, R dan .M. Tang. 2007.         Fisiologi Hewan Air.    Unri Press.
     Pekanbaru Riau Indonesia.

Allan, G.L and G.B. Maguire, 1992. Effects of stocking density on
      production of Penaeus monodon Fabricius in model farming ponds.
      Aquaculture:107 (1992) 49 -66.

Araneda, M., E.Perez and E.G. Leyva, 2008. White shrimp Penaeus
    vannamei culture in freswater at three densities condition state based
    on length and weight. Aquaculture:283 (2008)13-18.

Bachere, E., E. Mialhe, D. Noel, D. V. Boulo, A. Morvan and J.Roriguez.
    1995. Knowledge and research propects in marine mollusc and
    crustacean immunology. Aquaculture :132;17-32.
Barton, B.S., R.E. Peter and C.R. Paulencu. 1980. Plasma cortisol levels of
     fingerIing rainbow trout (Oncorhynchus mykiss) at rest and subjected
     to handling, confinement, transport, and stocking. Can. Fish. Aquatic
     Science : 37:805 - 811.

Blaxhall, P and K., Daisley. 1973. Some blood parameters of the rainbow
     trout I. The Kamloops Variety. Fish Biology :5, 1-8.
Boyd, C.E., 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture.
    Elsevier Scientific Publishing Company, Nederland.
Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Alabana
    Agricultural Expriment Station. Auburn University, Alabama. 482 p.
Boyd CE, Massaut L, Weddig LJ. 1999. Towards Reducing Environmental
    Impacts of Pond Aquaculture. INFOFISH International: 2/98, p:27-33.
Brett J.R., 1979. Environmental Factor and Growth in Fish Physiology,
     Volume VIII. Academic Press New York, Landon. p 599 – 667.

Brower, M., N.J. Brown-Peterson, P.Larkin S. Manning, N. Denslow and K.
    Rose. 2005. Molecular and Organismal Indicators of Chronic and
    Intermittent Hypoxia in Marine Crustacea. CRC Press. P. 261- 276.
Buranajitpirom,D.,S.Asuvapongpatana,W.Weerachatyanukul,K.Wongprasert
    ,W. Namwong, P. Poltana, and B. Withyachumnarnkul. 2010.
    Adaptation of the black tiger shrimp, Penaeus monodon, to different
    salinities through an excretory function of the antennal gland. Sel and
    Tissue Research :340,(3); 481-489.

Chen,J-Chu and S-Y. cheng. 1993. Studies on haemocyanin and
    haemolymph protein levels of Penaeus japonicus based on sex, size
    and moulting cycle. comparative biochemistry and physiology, Part B:
    106, Issue 2, October 1993, P 293-29

Cheng, W., C-Hung liu, C-Hsin and j-Chu Chen. 2001. Hemolymph
    oxyhemocyanin, protein, osmolalitas and electrolyte of macrobrachium
    resenbergii in relation to zise and moolt stage. Aquaculture: 198,
    issues 3-4; 387-400.

Cheng,W., C.H. Liu and C.M.Kuo., 2003. Effects of dissolved oxygen on
    hemolimph parameter of freshwater giant prawn, Macrobrachium
    rosenbergii (de Man). Aquaculture : 220 (2003) 843-856.

Chien,YH. 1992. Water quaity requirement and management for marine
     shrimp culture. In wyban, J. editor. Proceedings of the Special
     Session on Shrimp Farming. USA: Word Aquaculture Society : P 144
     – 156.

Chien,Yew-Hu, C-H.Pan and B.Hunte. 2003. The resistence to physical
     stresses by Penaeus monodon juvenil fed diets suplemented with
     astaxanthin. Aquaculture : 216 (1-4) 203, 177-191.
Chu Chen, J and S,       Cheng, 2002. Studies on haemocyanin and
    haemolymph protein levels of Penaeus japonicus Based on sex, size
    and moulting cycle. : comparative biochemistry : 106, Issue 2,; 293-
    296.
Davis, K.B., B.R. Griffin dan W.L.Gray, 2003. Effect of dietary cortisol on
     resistensi catfish to infection by Ichthyopthirius multifillis and channel
     catfish virus disease. Aquaculture: 218 (2003) 121–130.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. Penerapan Best Management
    Practice Pada Budidaya Udang Windu (Penaeus Monodon Fabricius)
    Terus menerusif. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau
    Jepara.
Deshimaru, O. 1979. Introduction to the artificial diets for prawn Penaeus
    monodon. Aquaculture : 1:115-133.
Direkbusarakom, S. and Y.Danayadol. 1998. Effect of Oxygen Depletion
     on Some Parameters of the Immune system in black Tiger Shrimp
     (Penaeus monodon). In Flegel TW (ed) Advances in Shrimp Bio-
     Technology.     National Centre for Genetic Engeneering and
     Biotechnology, Bangkok.

Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta : Yayasan Pustaka
     Nusatama. 163 hlm.

Effendy, S; Alexander .R dan Akbar .T. 2004. Peningkatan haemosit benur
     udang windu (Penaeus monodon Fabricus) pasca perendaman
     ekstrak ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) pada konsentrasi yang
     berbeda. Jurnal Sains dan Teknologi, Agustus 2004, Vol l4 No.2: 46-
     53.

Evans, L.H., 1999. Health and Desease Concepths in Aquatic Science
    Research Unit, Curtin University of Technology. International
    Symposium on Lobster Health Management. 19 – 21 September
    1999, Adelaide.
Gopinath, R. and K.C. George. 2000. The haemolymph response of
    Penaeus indicus to the extraselular product of aeromonas hydrophyla.
    Marine Biology. Ass.india:42 (1&2) : 84 – 90.

Hadim, E., I. Djawad dan M.Y. Karim, 2001. Kondisi Glikogen dalam Hati
    Juvenil Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forskall) yang Dibantu. Lab
    Ekotoksikologi dan Fisiologi Biota Laut, FIKP-UNHAS, Makassar
    90245. E-mail: iqbaldj@indosat.net.id

Haliman, R.W. dan D. Adijaya. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya.
     Jakarta

Hose, J. E. and Martin, G. G. (1989). Defense functions of granulocytes in
    the ridgeback prawn Sicyonia ingentis. Invertebrate Pathology: 53,
    335-346.

Huisman, E.A. 1976. Food convertion effisienscies at maintenance and
    production levels for Carp, Cyprinus carpio L., and Rainbow Trout,
    Salmo gairdneri R. Aquacultur : 9(3). P: 259 – 277.

Imsland, A.K., S. Gunnarsson, A. Foss, S.O. Stefansson. 2003. Gill Na+,
     K+-ATPase activity, plasma chloride and osmolalitas in juvenile turbot
     (Scophthalmus maximus) reared at different temperatures and
     salinities. Aquaculture : 218:671-683.
Itami, T, 1994. Body Defense System of Penaeid Shrimp, Seminar on Fish
      Physiology and Prevention of Epizootics, Department of Aquaculture
      and Biology, Shimonoseki University of Fisheries, Japan, 7 : 59-65.

Chiu, H-T., S-P. Yeh, S-C. Huang, C-C. Chang, C-M. Kuo, W. Cheng.
     2006. Dopamine induces transient of the physiological responses of
     whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei. Aquaculture:251;2-4; 558-
     566.

Chu Chen,J.,    S-Feng Chen. 1992,. Accumulation of nitrite in the
    haemolymph of Penaeus monodon exposed to ambient
    nitrite.Comparative Pharmacology, :103, Issue 3, November; 477-481

Chu Chen, J and Y-Zin Kou. 1993. Accumulation of ammonia in the
    haemolymph of Penaeus monodon exposed to ambient
    ammonia. Aquaculture: 109, Issue 2, 15 January 1993;177-185.

Johnson , D., R. M. Smith, B. Hendriks, B. Phillip. 2008. Growth rates and
    survival of western rock lobster (Panulirus cygnus) at two
    temperatures (ambient and 23 °C) and two feeding frequencies.
    Aquaculture: 279 (2008) 77–84.

Julio, H., C. Murueta, L. Fernando, G. Carren, M. de Los, and N-del
      Navarette, 2004. Effect of tekanan on shrimp digestive enzymes from
      assays of feces: an alternate method of evaluation. Aquaculture: 233
      (2004) 439–449.

Jussila, J., J. Jago, E. Tsvetnenko and L.H. evans. 1999. Effect of Handling
     or Injury Disturbance on Total Haemocyte Counts in Westeren Rock
     Lobster (Panulirus cygnus George) in Aquatic Science research Unit,
     Curtin University of Technology. International Symposium on Lobster
     Health Management. 19 – 21 september 1999, Adelaide.

Kamiso, Taukhid dan Coco. 2009. Peranan dan Upaya Mensukseskan
    Produksi Udang Nasional. Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan,
    DKP, Jakarta. dit_kesehatanikan@dkp.co.id

Kenneth,B., Davis, Billy, R.griffin, Wayne, L.Gray. 2003. Effect of dietary
    cortisol on resistance of channel catfish to infection by Ichthyopthirius
    multifiilis and channel catfish virus disease. Aquaculture:218, 121-
    130.
Kitabayashi, K., H.Kurata, K. Shudo, K. Nakamura and S.Ishikawa. 1971.
     Studies of Formula Feed for kuruma Prawn I. on the relationship
     Among Glukosamin, Phosphorus and Calcium.              Bulletin of
     Tukairegional Fisheries Rasearch Laboratory 65;91-107.

Lemonnie, H. E.Bernard, E. Boglio, C.Goarant and J. C. Cohard. 2004.
    Influence of sediment characteristics on shrimp physiology: pH as
    principal effect. Aquaculture : 27 October, Pages 297-312

Lightner, D.V and C.R. Pantoja. 2002. Biosecurity in Shrimp Farming.
     Department of Veterinary Science and Microbiology, University of
     Arizona, Tucson, AZ 85721 U.S.A. p 123-165.
Liao, I.C. and H.J. Huang. 1975. Studies on the respiration of economic
     prawns in taiwan, oxygen comsumption and lethal dissolved oxygen of
     egg up to young prawns of Penaeus monodon Fab. Fish. Soc. :
     4(1):33-50.

Lio-Po, G.D, R.L Celia and R.C.L. Erlinda. 2001. Health Management in
     Aquaculture. Aquaculture Department. Southeast Asian Fisheries
     Development Center. Philippines.

Liu CI. 1989. Shrimp Desease, Prevention and Treatment. In Akiyama DM,
     editor Proceeding of the Southeast Asia Shrimp Farm Management
     Worshop. USA: Soybean, America Soybean Association. P 64 – 74.

Lockwood, A.P.M., 2002.     Aspects of the Physiology of Crustacea.
    University of Southampion. 305 p.

MacKenzie, D.S., C.M. Van Putte, and K.A, Leiner,., 1998. Nutrient
    regulation of endocrine function in fish. Aquaculture : 161; 3-25
.
Mahasri, G. 2008. Respon Immun Udang Windu (Penaeus monodon
    Fabricus) yang Diimunisasi dengan Protein Membran Imunogenik MP
    38 dari Zoothamnium penaei . Makalah disampaikan pada Seminar
    Nasional Hasil Riset Kelautan dan Perikanan, Fakultas Perikanan dan
    Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, 08 November 2008.

Mangampa, M., Sulaeman, A. Prenrengi dan S. Lante. 2008. Optimalisasi
    Tebar Benih Udang Pama (Penaeus semisulcatus pada Pentokolan
    dengan Sistem Hapa di Tambak. Jurnal Riset Akuakultur Vol. 3 No. 2 :
    175 – 181.
Martin, G.G. and Graves, L.B., 1985. Fine structure and classification of
     shrimp hemocytes. morphology :185, 339-348.

Marzuqi, M., K. Sugama, Z.I. Azwar. 1997. Pengaruh Askorbil Fosfat
    Magnesium sebagai Sumber Vitamin C Terhadap Pematangan Gonad
    Udang Windu (Penaeus monodon) Asal Tambak. Jurnal Penelitian
    Perikanan Indonesia. 3(3): 41-46.

Maynard,D.M. 1960. Circuation and Heart Function. In T.H. Waterman
    (ed.). The Physiology of Crustacea. Vol I. Academic Press. New
    York.

MENKLH. 1988.     Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan
   Lingkungan Hidup, Nomor ; Kep/02/MNKLH/1988,tentang Pedoman
   Penetapan Baku Mutu lingkungan. Jakarta.
Motoh, H. 1981. Studies on the Fisheries Biology of the Giant Tiger Prawn,
    penaeus monodon in the philippines. Tech.. rep. Aquacult. Dep.
    SEAFDEC.7. 128 p.
Oxford Biomedical Research. 2010.                   Cortisol   EIA    Kit   :
     info@oxfordbiomed.com. Diekses 2011.

Paterson, B.D., G.W. Davidson and P.T. Spanoghe. 1999. Measuring Total
     Protein in Blood of The Westeren Rock Lobster (Panulirus cygnus
     George) by Refraktometer in Westeren Rock Lobster (Panulirus
     cygnus George) in Aquatic Science research Unit, Curtin University of
     Technology. International Symposium on Lobster               Health
     Management. 19 – 21 september 1999, Adelaide.

Perazzolo, L.M., R. Gargioni, P.Ogliari and Margherita A. A. Barracco.
     2002. Evaluation of Some Hemato-immunological Parameters in the
     Shrimp Farfantepenaeus paulensis Submitted to Environmental and
     Physiological Stress. Departemen of Sel Biology, Embriology and
     Genetics, Centre of Biological Sciences, Federal University of Santa
     Catarina, Florionopolis, SC, Brazil.

Piyatirtitivorakul,S. 2007. Nutrition and Feeding of Black Tiger Prawn,
      Penaeus monodon. a Review Study in Thailand, departemen of
      marine science, Faculty of Science, Chilalonghom University Bangkok.

Pilliang, W.G. dan S. Djojosoebagio. 2000. Nutrisi Vitamin Volume 1. Institut
      Pertanian Bogor. 255 hlm.
Poernomo, A. 1992. Pemilihan Lokasi Tambak Udang Berwawasan
    Lingkungan .   Seri Pengembangan Hasil Penelitian No.
    PHP/KAN/PATEK/004/1992

Primavera, J.H. and F.F. Apud. 1994. Pond Culture of Sugpo (Penaeus
     monodon, Fabricius). Philipp. Journal. Fish., (18 (5) : 142 – 176.

Rantetondok, A., 2002.       Pengaruh Imunostimulan β-glukan dan
    Lipopolisakarida Terhadap Respon Imun dan Sintasan Udang Windu
    (Penaeus monodon Fabricius). Disertasi Program Pascasarjana,
    Universitas Hasanuddin. Makassar. 146 hal.

Re, A.D., and F. Diaz. 2011. Effect of different oxygen concentrations on
     physiological energetics of blue shrimp,      Litopenaeus stylirostris
     (Stimpson). Open. Zoology : 4, 1-8.

Rollo,A., R. Sulpizio, M. Nardi, S. Silvi, C. Orpianesi, M. Caggiano, A.
     Cresci and O. Carnevali. 2006. Live microbial feed supplement in
     aquaculture for improvement of stress tolerance.        Fish Physiol
     Biochem: 32:167–177.

Salama, A.J., 2005. Effect of High Salinity Water on Growth and Survival of
    Penaeid Postlarvae from the Red Sea at Different Stocking Densities
    JKAU: Faculty of Marine Science, King Abdulaziz University, Jeddah,
    Saudi Arabia :Sci., 17,3- 9;25. / 1425 A.H.

Sales.J. 2008. The use of linear regression to predict digestible protein and
     available amino acid contents of feed ingredients and diets for fish.
     Aquaculture :278,128–142

Sang, H.M., and S.R. Fotedar. 2004. Growth, survival, haemolimph
    osmolalitas and organosomatik indices of the western king prawn
    (penaeus latisulcatus kishinouye, 1986) reared at different salinities.
    Aquaculture :234 ,601-614.

Selye, H. 1950. The Stres of Life. New York; McGraw-Hill.

Selye, H. 1975. Kebingungan dan kontroversi di bidang stres. of Human
     Stres: 1;37-44.
Setiarto,A., C. A. Strˇssman, F. Takashima1, S. Watanabe1 dan M.
     Yokota.     2004.  Short-term responses of adult kuruma shrimp
     Marsupenaeus japonicus (Bate) to environmental salinity: osmotic
     regulation,   oxygen    consumption  and   ammonia     excretion.
     Aquaculture:35, 669-677

Silva, E. N. Calazans, M. Soares, R. Soares and S. Peixoto. 2010. Effect of
      salinity on survival, growth, food consumption and haemolymph
      osmolality of the pink shrimp Farfantepenaeus subtilis (Pérez-Farfante,
      1967). Aquaculture :306, 1-4, 352-356.

Smith, L.S. 1982. Introduction to Fish Fisiology. T.F.H. Publication, Inc.
     ISBN 0-87666-549-0. England.
Soderhall, K and Cerenius L. 1992. Crustacean Immunity, Annual Rev. of
    Fish diseases, pp. 3 – 23.

Sower, A.D., D.M. Gatlin, S.P Young, J.J. Isely, C.I. Browdy and J.R.
    Tamosso. 2005. Responses of Litopenaeus vannamei (Boone) in
    water containing low consentration of total dissolved solids.
    Aquaculture : 36, 819-823.
Steel, R.G.D and J.H. Torrie. 1991. Principles and Procedures of Statistics.
     London: McGraw-Hill, Book Company, INC. 487 p.

Stickney, R.R, 1979. Principles of Warmwater Aquaculture. John Willey and
     Sons. NewYork.

Sumeru, S.U. dan E.K.Kontara. 1987. Teknik pembuatan Pakan Udang .
    INFIS Manual Seri N0.50:1-18.

Su, Y., S. Ma, and C. Feng. 2010. Effects of salinity fluctuation on the
     growth and energy budget of Juvenile Litopenaeus vannamei at
     different temperatures. Physiology of Crustacean Biology:30, 3, 430-
     434.

Soelistyowati,D.T.,2002.Penyakit       Non-Infeksi, Prekursor     dan
     Penanggulangannya. Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan
     dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Supomo. 2009. Manipulasi Stocking Density dalam Budidaya Udang Putih,
    Litopenaeus vannamei. Tesis Universitas Lampung.
Tahir, A., 1997. Pengaruh Suplementasi Lipopolisakarida pada Pakan
     terhadap Sintasan Larva Udang Windu (Penaeus monodon,
     Fabricius).  Prosiding   II, Seminar  Nasional    Biologi XV.
     Diselenggarakan Bersama Perhimpunan Biologi Indonesia Cabang
     Lampung dan Universitas Lampung, Bandar Lampung. Halaman 864-
     867.

Takeuchi, T. 1988. Laboratory Work Chemical Evaluation of Dietary
    Nutrient. p 179-232. In Watanabe, T. ed. Fish Nutrition and
    Mariculture. Kanagawa Fisheries Training Centre; Japan International
    Cooperation Agency. Tokyo.

Taqwa, F.H. 2008. Pengaruh Penambahan Kalium pada Masa Adaptasi
    Penurunan Salinitas dan Waktu Penggantian Pakan Alami Oleh Pakan
    Buatan Terhadap Performa Pasca Larva Udang vaname (Litopenaeus
    vannamei ). Tesis pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
    Bogor, Bogor.
Team, 2007. Penerapan Best Management Practice Pada Budidaya Udang
    Windu (Peneus Monodon Fabricius) Terus menerusif. Balai Besar
    Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Departemen Kelautan
    dan Perikanan. Jakarta.

Team . Diekses Februari 2011. Persyaratan Mutu Pakan Buatan Udang
    windu.http://www.prikanan-
    Budidaya,kkp,go.id/index.php?option=com_content&view=)

Team, Diakses Januari 2012. Cultured Aquatic Species Information
    Program Penaeus monodon, (Fabricius).
    http:/www.fao.org/culturedspecies/penaeus-monodon/en.
Teshima, S and A. Kanazawa. 1971. Biosyntesis os sterols in the lobster,
     Panulirus japonicus, the prawn. Penaeus japonicus and Cab, Portunus
     trituberculatus. Comparative Biochemistry and Physiology: 388; 597-
     602.

Trihendradi, C. 2007. Langkah Mudah Menguasai Statistik Menggunakan
     SPSS 17 ( Diskriptif, Parametrik, Nonparametrik). CV. Andi Offset,
     Yogyakarta.

Van de Braak, K. 2002. Haemocytic Defence in Balck Tiger Shrimp
    (Penaeus monodon). PhD Thesis, Wageningen University. Netherland.
Wedemeyer, G.A. and W.T. Yasutake. 1977. Clinical Methods for the
    Assessment of the Effects of Environmental Stress on Fish Health.
    Technical Paper of the US. Fish and Wildlife Service. Washington. 18
    p.

Wickins, J.F. and D.O.C. Lee. 2002. Crustacean Farming, Ranching and
     Culture. Blackwell Science.Oxford. 446 p.

Widigdo, B. 2000. Diperlukan Pembakuan Kriteria Eko-Biologis untuk
     Menentukan “potensi Alami” Kawasan Pesisir untuk Budidaya Udang.
     Prosiding, Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir
     Terpadu. PKSPL-IPB. Bogor. 21-26 Februari 2000.

Wolffrom,T. 2004. Farmed Fish and Welfare. Direktorate-General for
     Fisheries, Researh and Scientific Analysis Unit (A4). European
     Commission.
Woodward, J.J. 1982. Plasma Catecholamines in Resting Rainbow Trout
    Oncorhynchus mykiss, by High Pressure Liquid Chromotgraphy. Fish
    Biology : 21 :429-432.

Zaki, M.A., A.A. Nour, M.M. Abdel-Rahim and T.M. Srour. 2004. Effect of
      stocking density and survival, growth ferformance, feed utilization and
      production of marine shrimp Penaeus semisulcatus in earthen ponds..
      Eqyption : 30(B);429-442.

Zonneveld, N, E.A.Huisman dan J.A. Boon. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya
    Ikan. Gledia Pustaka Utama Jakarta.
Lampiran 1. Prosedur Pengambilan Hemolimf Juvenil Udang windu dan
            Teknik Perhitungan Jumlah Hemositnya

     Juvenil udang windu sebelum diambil hemolimfnya terlebih dahulu di
bius dengan minyak cengkeh (dalam 1 liter aquades mengandung 0,1 ml
minyak cengkeh). Hemolimf diperoleh dari bagian ventral haemocoel pada
sekmen perut kedua dengan menggunakan jarum syringe. bervolume 1 ml;
27 gauge hypodermik yang berisi anti-coagulan (0,01 M tris-HCL, 0,25 M
sucrose, 0,1 M Sodium citrat ; perbandingan 1:3, pada pH 7,6), (siap
dihitung) dengan menggunakan haemocytometer (0,1 mm) di bawah
mikroskop cahaya dengan pembesaran 1000 x, penghitungan jumlah
hemosit menggunakan alat hitung (Counter) (Gopinath and George, 2000).
Lokasi dan teknik pengambilan seperti pada gambar berikut :




                             Tempat pengambilan hemolimf udang




Gambar Lampiran 1. Lokasi dan Teknik Pengambilan Hemolimf Juvenil
                   Udang Windu
Lampiran 2. Prosedur Penentuan Total Protein Hemolimf (Metode Biuret)

     Prinsip Metode Biuret adalah protein dengan ion tembaga dalam
larutan alkalis menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna ungu.
Terus menerusitas warna sebanding dengan kadar protein, diukur secara
fotometrik.

1. Persiapan sampel hemolimf seperti pada Lampiran 1
2. Alat/bahan yang digunakan meliputi : spektrofotometer/mikrolab 300,
  pipet, tabung reaksi, mikropipet dan tipnya, reagensia warna (Coomassie
  Brilliant Blue 1, 0,15 M) dan Bovine serum albumin (BSA) sebagai
  standar protein (6 g/dl)
3. Cara kerja :
  - Ke dalam tabung reaksi dipipet
                             Blanko       Standar          Sampel
        Hemolimf                -            -              2.0 µl
         Standar                -          2.0µl              -
         Reagen              1.0 ml        1 ml.0           1.0 ml
         Warna


  - Dicampur dan didiamkan selama 10 menit
  - Dibaca pada spektrofotmeter pada panjang gelombang 546 nm
  - Lalu dihitung dengan rumus yang telah ditulis sebelumnya.
Lampiran 3. Prosedur Penentuan Glukosa Darah (Metode Enzimatik/GOD
            PAP)


                                       GOD
Prinsipnya ; D-glucose + O2 + H2                     D-glucose + H2O2

H2O2+4-aminoantipyrineperoxidase         H20+Quinoneimine Hidroxybenzoat
                                                      (berwarna merah)

1. Persiapan sampel hemolimf seperti pada Lampiran 1
2. Alat/bahan : spektrofotometer/fotometer, pipet, tabung reaksi, mikropipet
  dan tipnya, reagensia warna, standar glukosa 100 mg/dl
3. Cara kerja :
  -   Konsentrasi larutan reagen masing-masing :
      Pospat buffer pH6, 8             100 mM
      p-hydroxybenzoc acid           39.5 mM
      4-Aminoantiphyrine               0.8 mM
      Phenol                           4.5 mM
      Glucose Oxidase                  ≥18kU/l
      Peroxidase                       ≥1.1kU/l
  -   Standar : Larutan setara dengan 100 mg/dl (5.55 mmol/L)
  -   Ke dalam tabung reaksi dipipet
                        Blanko             Standar           Sampel
      Hemolimf             -                  -               1.0 µl
       Standar             -                1.0µl               -
       Reagen           1.0 ml              1 ml.0            2.0 ml
       Warna

  -   Di campur dan didiamkan selama 10 menit
  -   Dibaca pada spektrofotmeter pada panjang gelombang 510 nm
  -   Lalu dihitung     dengan menggunakan rumus yang telah ditulis
      sebelumnya
Lampiran 4. Prosedur Pengukuran Osmolalitas Media dan Cairan Tubuh
            Juvenil Udang Windu (SOP FISKE Micro-Osmometer, Model
            210)

1. Sambungkan kabel ke sumber listrik kemudian tekan tombol main power
  (terletak di bagian depan). Alat akan melakukan prosedur pemanasan
  selama 15-30 menit (untuk tunggu suhu turun/dingin)
2. Kalibrasi :
  a. Siapkan microtube 1,5 ml dan masukkan 100 μl akuades secara hati-
     hati (agar tidak menimbulkan ruang kosong/bubble di bawah akuades)
  b. Cuci/bilas sensor dengan tisu yang telah dibasahi dengan akuades,
     lalu keringkan
  c. Pasangkan microtube ke alat osmometer, tekan dan biarkan
  d. Setelah display menunjukkan angka -70, jarum akan terangkat dan
     menusuk ke microtube 1 kali (jika jarum terangkat dan menusuk
     sebanyak 3 kali, artinya alat belum siap digunakan)
  e. Setelah menusuk microtube, display akan memperlihatkan angka 0
     mosm, lalu langsung tekan θ dan keluarkan microtube untuk ganti
     dengan standar
  f. Cuci/bilas kembali sensor dengan kertas tisu yang telah dibasahi
     dengan akuades, lalu keringkan
  g. Siapkan microtube 1,5 ml baru dan masukkan 100 μl standar/osmotor
     300 mosm secara hati-hati
  h. Pasangkan microtube berisi larutan standar ke alat osmometer, tekan
     dan biarkan
   i. Setelah display memperlihatkan angka 300 mosm, tekan CAL dan
     keluarkan microtube
  j. Cuci/bilas kembali sensor dengan kertas tisu yang dibasahi dengan
     akuades, lalu keringkan
3. Sampel :
  a. Persiapan sampel        hemolimf seperti    pada Lampiran 1 dan untuk
       memperoleh plasmanya dilakukan centrifuge pada kecepatan 3000
       rpm selama 5 menit.
  b.    cairan sampel di masukkan          sebanyak ± 2 μl dalam microtube,
       kemudian masukkan ke sensor
  c. Turunkan handle sampel, tunggu sampai pengukuran selesai dan
       lampu resultnya menyala disertai dengan bunyi “bip”
  d. Angkat handle
  e. Bilas sensor menggunakan kertas tissu yang telah dibasahi dengan
       akuades
4. Setelah selesai melakukan pengukuran :
  a. Bersihkan sensor menggunakan kertas tisu yang dibasahi dengan
       akuades
  b. Pada saat tidak digunakan sensor harus ditutup dengan tabung
       eppendorf kosong (handle dalam posisi turun)
  c. Matikan main power : off
  d. Cabut aliran listrik dari pusat listrik
Lampiran 5. Persiapan Preparat dan Cara Menghitung persentase Hemosit
            Berdasarkan Tipe Selnya

1) Usap hemolimf di atas gelas objek, kering anginkan ± 1 jam
2) Fixasi dalam larutan methanol 70 %, keringanginkan
3) Warnai dengan Giemsa 4 % ± 2 jam, kering anginkan
4) Cuci dengan methanol ± 10 detik, kering anginkan
5) Mount dengan gelas slide/cover glass
6) Siapkan Tabel pengamatan seperti berikut :
                                Jumlah Sel Berdasarkan Tipenya (sel/ml)
 No   Perlakuan     Ulangan       Hyalin      Granular    semigranular
  1       A            1
          A            2
          A            3
          A            4
 2        B            1
          B            2
          B            3
          B            4
 3        C            1
          C            2
          C            3
          C            4

7) Amati dengan mikroskop pada pembesaran 1000 x untuk lebih jelas
  ditambahkan oil imersion pada permukaan preparat
8) Hitung jumlah sel masing-masing jenis mulai dari atas dan menghitung
  dari arah kiri- kanan lalu dari kanan-kiri demikian seterusnya hingga
  mencapai 100 % dari total tipe sel hemolimf yang terhitung.
Lampiran 6. Teknik Menghitung Sisa Pakan
- Sisa pakan yang tersipon di tempatkan pada kertas saring yang telah
  diketahui bobotnya, lalu dikeringkan lalu dioven hingga bobotnya
  konstan, untuk mengetahui bobot pakan yang tersisa, maka bobot kertas
  saring yang berisi sisa pakan dikurangi dengan bobot kertas saring yang
  diketahui sebelumnya.
  Lampiran 7. Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) Juvenil Udang Windu,
              Penaeus monodon Fab pada Bobot (g) yang Berbeda

     Pengamatan I                 Pengamatan II                Pengamatan III
 Bobot      Jumlah Hemosit   Bobot udang   Jumlah Hemosit    Bobot      Jumlah
                 6                              6
udang (g)   (…x10 sel/ml)        (g)       (…x10 sel/ml)    udang (g)   Hemosit
                                                                               6
                                                                        (…x10
                                                                         sel/ml)
  5.34          44.2           5.37             42.4          5.34        42
  6.09          33.7           6.13             29.4          6.16      28.01
  6.82          47.2           7.01              62           7.12       62.2
  8.33          36.4           8.13             35.3          8.31       32.1
  8.85          43.4           9.15            40.02          9.44       42.4
  10.2          45.1           9.97            44-2          10.22      45.11
 11.12          55.3           11.47            67.1         11.25      67.21
 11.77          41.01          12.14            70.2         12.38       70.1
 13.17          58.3           13.39            71.2         13.23      71.22
 14.29          54.4           14.11           66.04         14.30      66.15
 15.09           50            15.37            64.1         15.35      66.02
 16.05          56.1           15.93            64.2         16.22      64.21


  Lampiran 8. Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil Udang Windu, Penaeus
               monodon Fab pada Bobot yang Berbeda

   Pengamatan I                  Pengamatan II                Pengamatan III
Bobot Total Protein           Bobot    Total Protein        Bobot     Total
udang   Hemolimf (           udang (g)  Hemolimf (          udang    Protein
 (g)      g/dl)                            g/dl)              (g)   Hemolimf
                                                                      ( g/dl)
  5.34          3.98           5.37            4.336         5.34     3.728
  6.09          3.632          6.13            2.928         6.16     5.472
  6.82          4.016          7.01            4.616         7.12     6.672
  8.33          4.156          8.13            5.440         8.31     3.440
  8.85          5.424          9.15            5.936         9.44     5.504
  10.2          5.04           9.97            5.760        10.22     5.504
 11.12          4.768          11.47           6.672        11.25     4.356
 11.77          5.552          12.14           6.352        12.38     6.384
 13.17          4.416          13.39           6.032        13.23     6.512
 14.29          5.216          14.11           6.144        14.30     5.888
 15.09          4.80           15.37           8.576        15.35     7.936
 16.05          6.544          15.93           8.016        16.22     8.368
 Lampiran 9.      Glukosa Hemolimf (mg/dl) Juvenil Udang Windu, Penaeus
                  monodon Fab pada Bobot yang Berbeda.

     Pengamatan I                   Pengamatan II                   Pengamatan III
 Bobot      Glukosa Hemolimf   Bobot udang   Glukosa Hemolimf   Bobot udang    Glukosa
udang (g)        (mg/dl)           (g)            (mg/dl)           (g)        Hemolimf
                                                                                (mg/dl)
 5.34            80             5.37              48           5.34         48
 6.09            16             6.13              16           6.16         16
 6.82            32             7.01              32           7.12         68
 8.33            32             8.13              16           8.31         48
 8.85            48             9.15              48           9.44         48
 10.2            32             9.97              32          10.22         32
11.12            16            11.47              48          11.25         32
11.77            48            12.14              64          12.38         32
13.17            32            13.39              16          13.23         16
14.29            32            14.11              48          14.30         48
15.09            80            15.37              48          15.35         48
16.05            32            15.93              32          16.22         32
Keterangan :     Hasil Analisis Laboratorium      Klinik Permai Bestari Makassar,
                2011,
 Lampiran 10. Osmolalitas Plasma (mOsm/kg) Juvenil Udang Windu,
              Penaeus monodon Fab. pada Bobot yang Berbeda.

     Pengamatan I                   Pengamatan II                   Pengamatan III
 Bobot        Osmolalitas      Bobot udang     Osmolalitas      Bobot udang   Osmolalitas
udang (g)       Plasma             (g)           Plasma             (g)         Plasma
              (mOsm/kg)                        (mOsm/kg)                      (mOsm/kg)
 5.34            418             5.37             432              5.34          421
 6.09            473             6.13             475              6.16          480
 6.82            485             7.01             488              7.12          486
 8.33            481             8.13             481              8.31          479
 8.85            518             9.15             518              9.44          499
 10.2            497             9.97             497             10.22          489
11.12            510             11.47            511             11.25          534
11.77            510             12.14            519             12.38          521
13.17            524             13.39            504             13.23          545
14.29            523             14.11            527             14.30          511
15.09            547             15.37            519             15.35          522
16.05            511             15.93            521             16.22          534
     Lampiran 11. Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Multivariate Antar
                  Parameter Hemolimf yang Dipantau pada Penelitian Tahap
                  Pertama.

                                           Korelasi
                                                                                 bobot
                                                                                juvenil
                             Jumlah           Total                 osmolalitas udang
                            Hemosit          Protein       Glukosa    plasma    windu
                        (....106 sel/ml)    Hemolimf       Hemolimf (mOsm/kg)     (g)
Jumlah     Koefisien                   1         .629**         .178      .597**   .674**
Hemosit    Korelasi
(....106   Sig.                                   .000          .149       .000     .000
sel/ml)
           N                         36               36          36         36       36
Total    Koefisien               .629**                1        .117      .577**   .708**
Protein  Korelasi
Hemolimf Sig.                      .000                         .249       .000     .000
           N                         36               36          36         36       36
Glukosa Koefisien                  .178           .117             1       -.086   -.003
Hemolimf Korelasi
           Sig.                    .149           .249                     .310     .493
           N                         36               36          36         36       36
osmolality KoefisienK            .597**          .577**        -.086          1    .826**
plasma     orelasi
(mOsm/k Sig.                       .000           .000          .310                .000
g
           N                         36               36          36         36       36
bobot     koefisienK             .674**          .708**        -.003      .826**       1
juvenil   orelasi
udang     Sig.                     .000           .000          .493       .000
windu (g)
          N                          36               36          36         36       36
**. Korelasi signifikan pada ά= 0.01
Lampiran 12. Persentase Difresiasi Sel (%) Juvenil Udang Windu pada
             Bobot yang Berbeda yang Dipelihara dalam Tambak dengan
             Salinitas Air 38 ppt. Pemantauan Tanggal 12 oktober 2011
             (pukul 16:40)

Bobot udang                  Persentase jenis hemosit (%)
    (g)           Granular            Semigranular          Hyalin
   5.34              55                     16               28
   6.09              58                     17               25
   6.82              40                     26               44
   8.33              61                     14               25
   8.85              60                     19               21
   10.2              46                     21               33
 Rata-rata           53                     19               28
   11.12             31                     22               47
   11.77             39                     25               36
   13.17             30                     24               46
   14.29             32                     28               40
   15.09             21                     19               60
   16.05             26                     20               54
 Rata-rata           30                     23               47

Lampiran 13. Persentase Jenis Hemosit (%) Juvenil Udang Windu pada
             Bobot yang Berbeda yang Dipelihara dalam Tambak dengan
             Salinitas Air 36 ppt. Pemantauan Tanggal 22 Oktober
             2011(pukul 11:30)

Bobot udang                Persentase jenis hemosit (%)
    (g)           Granular          Semigranular            Hyalin
   5.37              52                     18               30
   6.13              54                     19               27
   7.01              41                     27               42
   8.13              61                     16               23
   9.15              60                     20               20
   9.97              47                     20               33
 Rata-rata           52                     20               28
   11.47             31                     24               47
   12.14             31                     28               41
   13.39             30                     26               44
   14.11             31                     29               40
   15.37             27                     25               60
   15.93             23                     22               55
 Rata-rata           29                     26               45
Lampiran 14. Persentase Jenis Hemosit (%) Juvenil Udang Windu pada
             Bobot yang Berbeda yang Dipelihara dalam Tambak dengan
             Salinitas Air 36 ppt. Pemantauan Tanggal 1 November
             2011(pukul 06:00)

Bobot udang                     Persentase jenis hemosit (%)
    (g)              Granular            Semigranular               Hyalin
      5.34             48                         20                 32
      6.16             51                         21                 28
      7.12             43                         26                 41
      8.31             58                         19                 23
      9.44             50                         24                 26
     10.22             47                         20                 33
 Rata-rata             49                      22                    29
     11.25             29                         26                 47
     12.38             31                         29                 40
     13.23             30                         27                 43
     14.30             31                         26                 43
     15.35             28                         27                 47
     16.22             25                         22                 53
 Rata-rata             29                      26                    45


Lampiran 15. Rata-rata Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) Juvenil Udang
            Windu, Penaeus monodon Fab Bobot (g) 5 -7 g dan 8-10 g,
            Setiap Perlakuan, Bobot

                                       Rata-rata Jumlah Hemosit (…. X 106
  No      Klompok      Pengamatan       sel/ml) Juvenil Udang Windu pada
         Bobot udang   pada … jam       Bobot dan Densitas Pemeliharaan
             (gr)                                 yang Berbeda
 1           5-7                        25 ekor/m2     50 ekor/m2   75 ekor/m2
                             0              60              68         65.4
                            24              84           80.001       72.13
                            36             56.3            30.3        26.1
                            76            50.001          58.11       57.13
                            120             50              58        56.99
 2            8-10
                             0            68.33          77.33        73.33
                            24            78.16           92.2          87
                            36            65.06         57.001         59.5
                            76             70.1            62           65
                            120             71             67           62
Lampiran 16. Rata-rata Jumlah Hemosit (….x 106 sel/ml) Juvenil Udang
             Windu, Penaeus monodon Fab Bobot 11-13 g dan 14-16 g,
             Setiap Perlakuan.

                                     Rata-rata Jumlah Hemosit (…. X 106
 No     Klompok       Pengamatan      sel/ml) Juvenil Udang Windu pada
       Bobot udang    pada … jam      Bobot dan Densitas Pemeliharaan
           (gr)                                 yang Berbeda
1         11-13                      25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                           0             77           77           77
                          24           77.86         79.1         53.6
                          36           74.13        82,66        42.23
                          76           66.23         57.3         62.3
                          120          67.33        57.26        62.26
2         14-16
                           0             78           78           78
                          24            81.1         80.33        54.33
                          36             84           79          46.16
                          76            70.5         66.56        60.16
                          120           66.3         67.16        61.33



Lampiran 17. Rata-rata Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil Udang Windu
             Bobot 5 -7 g dan 8-10 g, Setiap Perlakuan.

                                      Rata-rata Total Protein Hemolimf
 No     Klompok       Pengamatan      (g/dl) Juvenil Udang Windu Bobot
       Bobot udang    pada … jam       Berbeda pada Setiap Perlakuan
           (gr)
1          5-7                       25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                           0             3            3            3
                          24            3.13         3.70         3.77
                          36            1.02         2.77         2.97
                          76            2.05         3.01         3.11
                          120           2.15         3.67         3.74
2          8-10
                           0             3           3            3
                          24            3.9         3.77         4.02
                          36            3.78        3.88         3.98
                          76            3.05        6.23         6.77
                          120           3,44        6.44         6.78
Lampiran 18. Rata-rata Total Protein Hemolimf (g/dl) Juvenil Udang Windu
             Bobot 11-13 g dan 14-16 g, Setiap Perlakuan.

                                      Rata-rata Total Protein Hemolimf
 No     Klompok       Pengamatan      (g/dl) Juvenil Udang Windu Bobot
       Bobot udang    pada … jam       Berbeda pada Setiap Perlakuan
           (gr)
1         11-13                      25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                           0            3.24         3.24         3.24
                          24            3.09         2.28         2.23
                          36            2.84         3.86         2.96
                          76            2.92         2.98         3.87
                          120           3.02         3.08         3.87
2         14-16
                           0            3.55        3.55         3.55
                          24            3.21        3.76         3.77
                          36            2.97        3.08         3.87
                          76            2.56        2.15         4.12
                          120           2.58        2.15         4.12



Lampiran 19. Rata-rata Glukosa Hemolimf (mg/dl) Juvenil Udang Windu
             Bobot 5-7 g dan 8-10 g, Setiap Perlakuan.

                                     Rata-rata Glukosa Hemolimf (mg/dl)
 No     Klompok       Pengamatan     Juvenil Udang Windu Bobot Berbeda
       Bobot udang    pada … jam               Setiap Perlakuan
           (gr)
1          5-7                       25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                           0             32           32           32
                          24             32           32           16
                          36             32           32           44
                          76             32           64           16
                          120            32           32           16
2          8-10
                           0             36          32           36
                          24             32          32           48
                          36             32          32           64
                          76             32          64          69.33
                          120            32          64           80
Lampiran 20. Rata-rata Glukosa Hemolimf (mg/dl) Juvenil Udang Windu
             Bobot 11-13 g dan 14-16 g, Setiap Perlakuan.

                                  Rata-rata Glukosa Hemolimf (mg/dl)
 No    Klompok      Pengamatan    Juvenil Udang Windu Bobot Berbeda
      Bobot udang   pada … jam              Setiap Perlakuan
          (gr)
1        11-13                    25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                         0            36           36           36
                        24            32           32           16
                        36            32           32           32
                        76            32           64           16
                        120           32           64           16
2        14-16
                         0           36           36           36
                        24           32           32           48
                        36           32           32           64
                        76           32           64           80
                        120          32           64           80


Lampran 21.   Rata-rata Osmolalitas Plasma (mOsm/kg) Juvenil Udang
              Windu pada Bobot 5 -7 g dan 8-10 g, Setiap Perlakuan.


                                    Rata-rata Osmolalitas Plasma
 No    Klompok      Pengamatan     (mOsm/kg) Juvenil Udang Windu
      Bobot udang   pada           pada Bobot yang Berbeda setiap
          (gr)                                Perlakuan
1         5-7                     25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                        0 jam        496          499          497
                       36 jam        443          456          489
                       76 jam        459          495          521
                        5 hari       502          499          542
                       12 hari       500          490          525
2         8-10
                        0 jam        511          518          504
                       36 jam        515          455          477
                       76 jam        521          472          500
                        5 hari       514          466          534
                       12 hari       512          475          538
Lampran 22.   Rata-rata Osmolalitas Plasma (mOsm/kg) Juvenil Udang
              Windu 11-13 g dan 14-16 g, Setiap Perlakuan.

                    Pengamatan     Rata-rata Osmolalitas Plasma
 No    Klompok         pada       (mOsm/kg) Juvenil Udang Windu
      Bobot udang                 pada Bobot yang Berbeda setiap
          (gr)                               Perlakuan
1        11-13                    25 ekor/m2   50 ekor/m2   75 ekor/m2
                       0 jam         496          499          497
                      36 jam         443          456          489
                      76 jam         459          495          521
                       5 hari        502          499          542
                      12 hari        507          494          524
2        14-16
                       0 jam         511          518          504
                      36 jam         515          455          477
                      76 jam         521          472          500
                       5 hari        514          466          534
                      12 hari        512          475          538
     Lampiran 23.        Hasil Uji Korelasi Multivariate Antar Parameter Hemolimf
                         yang Dipantau pada Setiap Perlakuan dan Waktu
                         Pemantauan yang Berbeda

                                        Korelasi
                                          Jumlah
                                         hemosit Total protein glukosa Osmolalitas
                                         (....x 106 hemolimf hemolimf plasma
                                          sel/ml)     (g/dl)   (mg/dl) (mOsm/kg)
Kendall's   Jumlah          Koefisien     1.000      .176*      -.051      .008
tau_b       hemosit         korelasi
            (....x 106      Sig.             .       .016        .524      .914
            sel/ml)
                            N               90        90         90         90
                                                 *                    *
            Total protein Koefisien        .176      1.000      .184       .082
            hemolimf      korelasi
            (g/dl)        Sig.             .016        .         .025      .272
                            N               90        90         90         90
                                                           *
            glukosa         Koefisien     -.051      .184       1.000      -.094
            hemolimf        korelasi
            (mg/dl)         Sig.           .524      .025         .        .253
                            N               90        90         90         90
            Osmolalitas Koefisien          .008      .082       -.094      1.000
            plasma      korelasi
            (mOsm/kg) Sig.                 .914      .272        .253        .
                          N               90          90         90         90
Keterangan : * Korelasi siqnifikan pada ά = 0.05,
Lampiran 24. Rata-rata Persentase Differensiasi Sel Juvenil Udang Windu
             Bobot 5-6 g dan 7-10 g, Berdasarkan Tipenya pada Setiap
             Perlakuan.

 Bobot   Perlakuan    Pengamatan      Persentase Jenis Hemosit (%)
  (g)     Densitas    pada … jam
  5-6    25 ekor/m2                 Granular   semigranular   Hyalin
                            0
                           24          29           26          45
                           36          48           19          33
                           76          44           33          23
                          120          43           33          24
         50 ekor/m2         0
                           24          57           27          16
                           36          52           23          25
                           76          54           21          25
                          120          51           23          36
         75 ekor/m2         0
                           24          57           27          16
                           36          42           26          32
                           76          42           26          32
                          120          54           23          23
 8-10    25 ekor/m2         0
                           24          41           42          17
                           36          45           21          34
                           76          45           21          34
                          120          43           23          34
         50 ekor/m2         0
                           24          35           26          39
                           36          46           24          30
                           76          46           24          30
                          120          48           24          28
         75 ekor/m2         0
                           24          49           24          27
                           36          49           24          27
                           76          46           24          30
                          120          50           25          25
Lampiran 25. Rata-rata Persentase Differensiasi Sel Juvenil Udang Windu
             Bobot Bobot 11-13 g dan 14-16 g, Berdasarkan Tipenya
             pada Setiap Perlakuan.

 Bobot   Perlakuan    Pengamatan Rata-rata Persentase Jenis Hemosit
  (g)     Densitas    pada … jam                (%)
 11-13   25 ekor/m2              Granular semigranular      Hyalin
                          24        29           21           50
                          36        40           28           32
                          76        35           28           37
                         120        42           21           37
         50 ekor/m2        0
                          24        27           37           36
                          36        39           28           33
                          76        33           28           39
                         120        35           29           36
         75 ekor/m2        0
                          24        22           41           37
                          36        47           26           37
                          76        25           42           33
                         120        32           29           39
 14-16   25 ekor/m2        0
                          24        40           19           41
                          36        34           37           29
                          76        31           37           32
                         120        28           35           37
         50 ekor/m2        0
                          24        24           43           33
                          36        42           24           34
                          76        31           36           33
                         120        34           29           37
         75 ekor/m2        0
                          24        28           39           33
                          36        37           29           34
                          76        22           38           40
                         120        21           39           40
Lampiran 26.     Data Bobot Juvenil Udang Windu Bobot 5 -7 g dan 8-10 g,
                 Pada Pemantauan 0 Hari , 5 Hari dan 12 Hari Setiap
                 Perlakuan.

                      Pengamatan       Rata-rata Bobot Juvenil Udang
 No   Bobot udang     pada … hari     Windu pada Bobot dan Densitas
          (g)                           Pemeliharaan yang Berbeda
  1       5-7                        25 ekor/m2       50           75
                                                   ekor/m2      ekor/m2
                          awal         6.166        6.552        6.198
                                       6.176        6.686        6.328
                                       6.468        7.166        6.728
                         Rerata        6.270        6.801        6.418
                           5           6.600        7.277        6.973
                                       6.179        7.047        6.820
                                       6.560        7.062        6.580
                         Rerata        6.446        7.128        6.791
                          12           7.356        8.102        6.054
                                       6.722        6.486        7.165
                                       6.818        8.244        7.749
                         Rerata        6.965        7.610        6.989
  2       8-10            awal         8.340        9.629        9.026
                                       8.992        8.973        8.912
                                       8.716        8.766        8.237
                         Rerata        8.682        9.122        8.725
                           5           9.150        9.610        9.257
                                       7.715        8.971        9.710
                                       8.820        9.017        9.298
                         Rerata        8.562        9.199        9.421
                          12           8.549        9.747        8.622
                                       9.107        8.919        8.981
                                       8.736        9.337        8.579
                         Rerata        8.787        9.334        8.727
Lampiran 27. Data Bobot Juvenil Udang Windu Bobot 11-13 g dan 14-16 g pada
             Pemantauan 0 Hari , 5 Hari dan 12 Hari, Setiap Perlakuan.

                        Pengamatan    Rata-rata Bobot Juvenil Udang Windu pada
 No   Bobot udang (g)   pada … hari    Bobot dan Densitas Pemeliharaan yang
                                                       Berbeda
  1        11-13                      25 ekor/m2    50 ekor/m2      75 ekor/m2
                            0           12.288         12.933         12.074
                                        12.360         12.097         12.214
                                        12.526         12.589         12.176
                          Rerata        12.391         12.540         12.155
                            5           11.820         11.483         12.575
                                        12.292         12.440         12.542
                                        11.465         12.589         12.452
                          Rerata        11.859         12.171         12.523
                           12           11.428         12.110         11.722
                                        11.486         11.248         11.405
                                        10.606         13. 253        12.406
                          Rerata        11.859         12.171         12.523
  2        14-16           awal         14.122         14.244         14.842
                                        15.612         14.597         15.779
                                        15.090         14.993         14.488
                          Rerata        11.173         12.204         11.844
                            5           16.690         14.440         14.230
                                        13.795         14.940         13.468
                                        12.265         14.513         13.970
                          Rerata        14.941         14.611         15.036
                           12           12.674         14.672         13.457
                                        12.492         13.491         13.515
                                        12.265         13.163         13.265
                          Rerata        12.477         14.631         13.889
Bobot
udang    perlakuan                         Jumlah pakan (g) yang diberikan pada hari ke ….. tahap 1
 (g)
                          1       2       3       4       5       6       7       8       9       10      11      12
  5-7    25 ekor/m   2
                         1.541   1.541   1.541   1.541   1.541   1.650   1.650   1.650   1.650   1.650   1.650   1.650
                         1.544   1.544   1.544   1.544   1.544   1.545   1.545   1.545   1.545   1.545   1.545   1.545
                         1.617   1.617   1.617   1.617   1.617   1.640   1.640   1.640   1.640   1.640   1.640   1.640
         Rata-rata       1.567   1.567   1.567   1.567   1.567   1.612   1.612   1.612   1.612   1.612   1.612   1.612
         50 ekor/m2      3.276   3.276   3.276   2.621   2.621   2.911   2.911   2.911   2.911   2.911   2.911   2.911
                         3.343   3.343   3.008   3.008   3.008   3.171   3.171   3.171   3.171   3.171   3.171   3.171
                         3.583   3.583   3.583   3.583   3.583   3.531   3.531   3.531   3.531   3.531   3.531   3.531
         Rata-rata       3.401   3.401   3.289   3.071   3.071   3.204   3.204   3.204   3.204   3.204   3.204   3.204
         75 ekor/m2      4.648   4.648   4.028   4.028   4.028   4.532   4.532   4.532   4.183   4.183   4.183   4.183
                         4.746   4.429   3.796   3.796   3.796   3.796   3.751   2.728   2.728   2.728   2.728   2.728
                         5.046   5.046   4.036   4.036   4.036   3.948   3.948   3.948   3.639   3.639   3.639   3.639
         Rata-rata       4.813   4.708   3.953   3.953   3.953   4.092   4.077   3.736   3.517   3.517   3.517   3.517
 8-10    25 ekor/m2      2.085   2.085   2.085   2.085   2.085   2.287   4.942   4.942   4.942   4.942   4.942   4.942
                         2.248   2.248   2.248   2.248   2.248   1.544   1.544   1.544   1.544   1.544   1.544   1.544
                         2.179   2.179   2.179   2.179   2.179   1.640   1.640   1.640   1.640   1.640   1.640   1.640
         Rata-rata       2.171   2.171   2.171   2.171   2.171   1.824   2.709   2.709   2.709   2.709   2.709   2.709
         50 ekor/m2      4.805   4.805   4.324   4.324   3.844   2.910   2.910   2.910   2.910   2.910   2.910   2.910
                         4.485   4.485   3.588   3.588   3.588   2.818   2.818   2.818   2.818   2.818   2.818   2.818
                         4.508   4.057   4.057   4.057   3.606   2.824   2.824   2.824   2.824   2.824   2.824   2.824
         Rata-rata       4.599   4.449   3.990   3.990   3.679   2.851   2.851   2.851   2.851   2.851   2.851   2.851
         75 ekor/m2      6.769   6.318   5.866   5.866   5.866   6.017   5.554   5.091   5.091   5.091   5.091   5.091
                         6.684   6.684   6.238   6.238   6.238   5.826   5.826   5.826   4.855   4.855   4.855   4.855
                         6.177   6.177   4.942   4.942   4.942   5.133   5.133   4.184   4.184   3.719   3.719   3.719
         Rata-rata       6.543   6.393   5.682   5.682   5.181   5.659   5.504   5.034   4.710   4.555   4.555   4.555
Lampiran 28. Jumlah Pakan Yang Diberikan Setiap Perlakuan Selama Penelitian Bobot 5 -7 g dan 8-10 g
Bobot
udang    perlakuan                    Pakan yang tersisa (g) pada hari ke ….. Kelompok Bobot 5-7g dan 8-10g.
 (g)                      1       2        3        4        5       6        7     8       9       10      11     12
 5-7     25 ekor/m   2
                         0.231   0.246    0.184   0.215   0.246   0.280   0.264   0.247   0.264   0.247   0.280   0.214
                         0.231   0.216    0.216   0.247   0.247   0.216   0.231   0.247   0.262   0.216   0.216   0.231
                         0.226   0.422    0.274   0.242   0.226   0.262   0.262   0.278   0.246   0.262   0.295   0.295
         Rata-rata       0.229   0.294    0.224   0.234   0.239   0.252   0.252   0.257   0.257   0.241   0.253   0.246
         50 ekor/m2      0.491   0.254    0.524   0.445   0.393   0.465   0.465   0.436   0.465   0.436   0.436   0.494
                         0.501   0.501    0.601   0.421   0.421   0.507   0.475   0.475   0.476   0.412   0.507   0.507
                         0.501   0.573    0.716   0.573   0.573   0.494   0.494   0.564   0.494   0.459   0.706   0.529
         Rata-rata       0.499   0.442    0.612   0.499   0.452   0.499   0.478   0.491   0.478   0.435   0.549   0.510
         75 ekor/m2      0.697   0.743    0.759   0.644   0.644   0.725   0.679   0.725   0.836   0.627   0.836   0.836
                         0.711   0.752    0.607   0.607   0.569   0.607   0.600   0.436   0.436   0.436   0.463   0.436
                         0.756   0.655    0.807   0.686   0.605   0.631   0.631   0.631   0.727   0.618   0.727   0.618
         Rata-rata       0.721   0.691    0.724   0.599   0.606   0.654   0.636   0.564   0.656   0.550   0.605   0.630
 8-10    25 ekor/m2      1.563   1.772    2.293   1.876   1.688   0.320   0.840   0.790   0.842   0.741   0.642   0.632
                         1.686   1.910    2.360   1.910   0.337   0.234   0.308   0.247   0.216   0.216   0.247   0.247
                         1.634   1.961    2.070   1.743   0.326   0.246   0.246   0.328   0.328   0.262   0.265   0.278
         Rata-rata       1.628   1.881    2.241   1.843   1.688   0.266   0.464   0.455   0.462   0.406   0.384   0.385
         50 ekor/m2      0.720   0.816    0.951   0.586   0.601   0.555   0.552   0.582   0.494   0.465   0.552   0.552
                         0.688   0.762    0.825   0.623   0.582   5.826   0.479   0.535   0.479   0.479   0.535   0.507
                         0.617   0.689    0.973   0.494   0.513   5.133   0.508   0.593   0.480   0.423   0.480   0.536
         Rata-rata       0.675   0.755    0.916   0.567   0.565   3.838   0.503   0.570   0.486   0.455   0.522   0.529
         75 ekor/m2      1.015   1.010    1.173   0.938   0.879   0.920   0.833   0.814   0.865   0.967   1.120   0.865
                         1.002   1.069    1.189   1.060   0.935   0.873   0.873   0.873   0.825   0.922   1.019   0.776
                         0.926   1.050    1,037   0.840   0.790   0.769   0.821   0.627   0.794   0.780   0.074   0.536
        Rata-rata        1.009   1.043    1.050   0.960   0.868   0.854   0.842   0.771   0.828   0.899   0.727   0.725
Lampiran 29. Pakan Yang Tersisa (g) pada setiap Perlakuan Selama Penelitian Bobot 5 -7 g dan 8-10 g
Bobot
udang   perlakuan                         Jumlah pakan (g) pada hari ke ….. bobot 11-13g dan 14-16g
 (g)
                          1       2       3       4       5       6       7       8       9       10      11      12
11-13    25 ekor/m   2
                         3.072   3.072   3.072   3.072   3.072   2.955   2.955   2.955   2.955   2.955   2.955   2.955
                         3.090   3.090   3.090   3.090   3.090   3.073   3.073   3.073   3.073   3.073   3.073   3.073
                         3.131   3.131   3.131   3.131   3.131   2.866   2.866   2.866   2.866   2.866   2.866   2.866
         Rata-rata       3.098   3.098   3.098   3.098   3.098   2.965   2.965   2.965   2.965   2.965   2.965   2.965
         50 ekor/m2      6.466   5.819   5.819   5.819   5.171   5.741   5.741   5.741   5.741   5.741   5.741   5.741
                         6.048   6.048   6.048   6.048   6.048   6.220   6.220   6.220   6.220   6.220   6.220   6.220
                         6.294   6.294   5.665   5.665   5.075   5.035   5.035   4.406   4.406   4.406   4.406   4.406
         Rata-rata       6.269   6.054   5.844   5.844   5.431   5.665   5.665   5.456   5.456   5.456   5.456   5.456
         75 ekor/m2      8.570   8.570   8.572   7.996   7.991   8.477   7.875   7.755   4.844   7.262   7.200   7.207
                         8.611   8.610   8.041   8.047   8.047   7.873   7.873   7.311   6.743   7.311   7.314   7.314
                         6.890   6.890   5.834   5.301   5.300   6.265   6.624   5.967   8.611   5.961   5.963   5.966
         Rata-rata       8.024   8.023   7.482   7.115   7.113   7.538   7.457   7.011   6.733   6.845   6.826   6.829
14-16    25 ekor/m2      3.530   3.530   3.530   3.530   3.530   4.172   4.172   4.172   4.172   4.172   4.172   4.172
                         3.903   3.903   3.903   3.903   3.903   3.448   3.448   3.448   3.448   3.448   3.448   3.448
                         3.772   3.772   3.772   3.772   3.772   3.066   3.066   3.066   3.066   3.066   3.066   3.066
         Rata-rata       3.735   3.735   3.735   3.735   3.735   3.562   3.562   3.562   3.562   3.562   3.562   3.562
         50 ekor/m2      8.345   8.345   8.345   6.751   6.753   6.498   6.498   6.498   6.498   6.498   6.498   6.498
                         6.897   6.897   6.897   6.897   6.207   6.723   6.723   6.723   6.723   6.723   6.723   6.723
                         7.256   7.256   7.256   5.519   5.519   6.530   6.530   6.530   6.530   6.530   6.530   6.530
         Rata-rata       7.499   7.499   7.499   6.208   5.863   6.584   6.584   6.584   6.584   6.584   6.584   6.584
         75 ekor/m2      9.505   9.505   9.505   8.871   8.871   6.602   6.602   6.602   6.602   6.602   6.602   6.602
                         9.369   9.369   8.744   8.744   8.744   6.071   6.071   6.071   6.071   6.071   6.071   6.071
                         9.198   9.198   9.198   4.906   4.906   5.265   5.265   5.265   5.265   5.265   5.265   5.265
         Rata-rata       9.357   9.357   9.149   7.507   7.507   5.979   5.979   5.979   5.979   5.979   5.979   5.979

Lampiran 30. Jumlah Pakan yang Diberikan pada Setiap Perlakuan Selama Penelitian Bobot 11-13 g dan 14-16 g.
Bobot
udang    perlakuan                                           Sisa pakan (g) pada hari ke …..
 (g)
                          1        2        3        4         5       6        7        8        9        10      11       12
11-13    25 ekor/m2      0.460    0.460    0.460    0.430     0.522   0.472    0.502    0.411    0.443    0.501   0.443    0.444
                         0.463    0.463    0.523    0.494     0.464   0.460    0.398    0.522    0.430    0.430   0.614    0.491
                         0.469    0.532    0.554    0.469    0.4009   0.410    0.441    0.487    0.401    0.429   0.458    0.458
         Rata-rata       0.464    0.485    0.512    0.464    0.462    0.447    0.447    0.473    0.424    0.453   0.505    0.464
         50 ekor/m2      1.034    0.872    1.164    0.931    0.879    0.861    0.861    0.807    0.975    0.973   0.861    0.803
                         0.846    0.907    1.028    0.967    0.907    0.933    1.057    0.933    0.933    0.933   1.570    0.933
                         0.881    0.944    0.963    0.849    0.761    0.755    0.855    0.660    0.660    0.749   0.881    0.988
         Rata-rata       0.920    0.921    1.051    0.915    0.849    0.849    0.924    0.580    0.856    0.885   1.104    0.911
                     2
         75 ekor/m       1.228    1.285    1.999    1.457    1.518    1.444    1.418    1.240    0.920    1.452   1.296    1.153
                         1.291    1.285    1.609    1.447    1.367    1.259    1.417    1.169    1.348    1.315   1.243    1.462
                         1.033    1.033    1.007    1.050    0.944    1.002    1.258    0.954    1.638    1.013   1.013    1.491
                         1.184    1.201    1.538    1.318     1.443   1.235    1.364    1.205    1.493    1.260   1.184    1.369
14-16    25 ekor/m2      0.259    0.494    0.564    0.529    0.478    0.745    0.783    0.667    0.597    0.667   0.667    0.709
                         0.546    0.546    0.624    0.624    0.585    0.551    0.744    0.551    0.448    0.517   0.556    0.482
                         0.565    0.528    0.565    0.528    0.564    0.521    0.448    0.459    0.501    0.429   0.641    0.551
         Rata-rata       0.455    0.522    0.584    0.550    0.542    0.605    0.652    0.559    0.515    0.537   0.621    0.590
         50 ekor/m2      1.251    1.334    1.502    1.080    1.012    1.104    1.039    1.169    1.039    1.624   1.234    1.234
                         1.034    1.034    1.379    1.103    0.991    1.142    1.075    1.210    1.344    1.277   1.008    1.321
                         1.088    1.160    1.233    0.884    0.998    1.110    1.044    1.175    1.117    1.240   1.634    0.979
         Rata-rata       1.124     1.176    1.371    1.092    1.012    1.119    1.053    1.185    1.167    1.380   1.292    1.278
         75 ekor/m2       1.425    1.520    2.851    1.596    1.508    1.320    1.386    1.188    1.254    1.452   1.320    1.342
                          1.405    1.499    1.748    1.573    1.651    1.092    1.274    1.214    1.153    1.274 109.278    1.821
                          1.379    1.471    2.759    0.883    0.873    1.532    1.219    0.947    1.003    1.497   1.092    1.579
         Rata-rata       1.403    1.497    2.453     1.585    1.580    1.315    1.293    1.201    1.137    1.408   1.168    1.581

Lampiran 31. Sisa Pakan (g) pada Setiap Perlakuan Selama Penelitian Bobot 11-13 g dan 14-16 g.
Lampiran 32. Kandungan Nutrien (% Bobot Kering) Juvenil Udang Windu Bobot
            5 -7 g dan 8-10 g, Setiap Perlakuan.
 Analisis proksimat                              Rata-rata Kandungan Gizi (% bobot kering)
                           Kadar Air
                                       Protein         Lemak         Karbohidrat         Abu

 Pakan buatan                 7.6      30.88        17.46              12.7469               11
                                         Tubuh awal
 5-7 g                      72.70      13.46         0.79               0.3805           12.9
 8-10 g                     72.70      13.86         0.93               0.4215           12.7
                                           (5 hari)
                   2
 5-7 g (25 ekor/m )
          1                 72.70      13.55             1.02           0.1846           12.6
          2                 72.90      13.99             0.94           0.0134           10.7
          3                 72.81      13.49             1.03           0.642            12.6
                  B,1       74.21      13.56             1.79           0.0062           10.7
                      2     72.99      13.55             0.78           0.2431           9.80
                      3     72.49      13.64             0.91           0.1632          10.11
 C1                         74.11      13.87             1.32           0.0055           11.7
 2                          73.04      13.61             0.93           0.0045          12.30
 3                          75.11      13.91             0.41           0.0102          11.79
                    2
 8-10 g (25 ekor/m )
          1                 74.44      13.93             2.05           0.0123           11.6
          2                 72.01      14.01             1.97           0.1003           8.64
          3                 73.21      13.88             1.86           0.1007           9.01
         B,1                73.22      13.90             0.85           0.0418           11.2
         B2                 73.21      14.21             0.79           0.0458          11.02
         B3                 73.11      14.09             0.87           0.0466          11.24
         C1                 76.24      13.91             0.86           0.0012           10.2
          2                 75.21      13.99             0.91           0.0112           9.3
          3                 76.11      14.11             1.04           0.0313           9.6
                                           12 hari
                      2
 5-7 g    (25 ekor/m )
             1              72.6       14.02             1.62           0.1946           11.6
             2              72.66      14.11             1.71           0.1844           11.0
             3              73.01      14.11             1.82           0.2001           10.0
                    B,1     74.21      14.21             1.79           0.0062           10.7
                       2    74.11      14.01             1.67           0.1230           9.01
                       3    73.69      14.36             1.70           0.1330           9.11
 C1                         74.11      14.07             1.32           0.0055           11.7
 2                          74.01      14.77            1.044           0.1121           9.2
 3                          73.11      14.33             1.23           0.132            9.6
                  2
 8-10 g (25 ekor/m )
           1                76.44      14.68             2.05           0.0123           11.6
           2                72.23      14.78             1.92           0.0131           10.7
           3                73.92      14.21             1.90           0.0122          11.01
          B,1               73.22      14.42             0.85           0.0418           11.2
          B2                73.41      14.22             0.91           0.0342           11.2
          B3                73.11      15.01             0.92           0.0301           11.3
          C1                76.24      1511              0.86           0.0012           10.2
           2                75.66      15.22             0.91           0.0013           10.1
           3                76.01      15.22             0.87           0.0022           10.4
Lampiran 33. Penghitungan Retensi Energi Juvenil Udang Windu Bobot 5-7
             g dan 8-10 g (% bahan kering)

      Parameter                                               Perlakuan
                           Ulangan

  Energi Total Tubuh                         25 ekor/m2       50 ekor/m2    75 ekor/m2
     Awal (kkal)
          5-7 g                               1492.703         1492.703      1492.703
         8-10 g                               1559.539         1559.539      1559.539
   Energi total pakan                        4671.3317         4671.3317    4671.3317
 yang dikonsumsi (kkal)
                          Energi Total Tubuh 5 hari (kkal)
         5-7 g                               25 ekor/m2       50 ekor/m2    75 ekor/m2
                              1               1525.529         1642.959     1595.964
                              2               1540.294         1491.359     1514.995
                              3               1554.393         1712.995     1447.515
                            rerata            1540.072         1615.771     1519.491
        8-10 g                1               1727.959         1526.529     1525.932
                              2               1716.392         1553.452     1529.449
                              3               1695.947         1547.129     1573.399
                            rerata             1713.433         1542.370     1542.927
                          Energi total tubuh 12 hari (kkal)
         5-7 g                1               1672.479         1795.994     1709.953
                              2               1695.592         1574.509     1709.442
                              3               1714.976         1525.955     1533.982
                            rerata            1.694.349        1.632.153    1.651.126
        8-10 g                1               1904.955         1579.151     1644.777
                              2               1792.995         1554.595     1673.099
                              3               1747.449         1642.593     1655.751
                            rerata            1.815.133        1.592.113    1.657.876
                            Retensi Energi 5 hari (kkal)
         5-7 g                               25 ekor/m2        50 ekor/m2   75 ekor/m2
                              1               0.703              3.215        2.209
                              2               1.018                 -         0.476
                              3               1.320              4.715           -
                            rerata            1.014
        8-10 g                1               3.605                -            -
                              2               2.912                -            -
                              3               2.920                -          0.296
                            rerata            3.146
                           Retensi Energi 12 hari (kkal)
         5-7 g                1               3.847              6.492        4.650
                              2               4.342              1.751        4.650
                              3               4.757              0.711        0.883
                            rerata            4.315              2.984        3.394
        8-10 g                1               7.394              0.419        1.824
                              2               4.997                -          2.431
                              3               4.032              1.778        2.059
                            rerata            5.474                           2.104
Keterangan : - (nihil)
Lampiran 34. Kandungan Nutrien (% Bobot Kering) Juvenil Udang Windu
             Bobot 11-12 g dan 13-14 g, Setiap Perlakuan.

   Analisis proksimat                     Rata-rata Kandungan Gizi (% bobot kering)
                        Kadar Air
                                    Protein     Lemak         Karbohidrat        Abu

   Pakan buatan            7.6        30.88         17.46        12.7469          11
                                         Tubuh awal
   11-13 g               73.31        14.39         1.34         0.0299          11.7
   14-16 g               73.33        14.41         1.64         0.0496          11.3
                                           (5 hari)
   11-13 g (25
        2
   kor/m )
             1           72.9         14.45          1.22        0.1046          11.8
             2           73.01        14.44          0.83        0.1127          11.6
             3           73.11        14.50          0.89        0.1136          11.2
            B,1          74.21        14.56          1.79        0.0062          10.7
             2           72.67        14.01          1.81        0.0162          10.2
             3           74.07        14.00          2.00        0.0481          10.1
            C1           74.11        14.47          1.32        0.0055          11.7
             2           74.12        14.41          1.33        0.0048          11.7
             3           74.22        14.41          1.01        0.0149          11.8
   14-16 g (25
          2
   ekor/m )
             1           76.44        14.48          2.05        0.0123          11.6
             2           73.69        14.57          2.11        0.1001          11.2
             3           75.44        14.43          2.12        0.1107          11.3
            B,1          73.22        14.49          0.85        0.0418          11.2
            B2           73.27        15.01          0.77        0.4145          11.0
            B3           73.41        14.99          0.81        0..4321         11.1
            C1           76.24        14.52          0.86        0.0012          10.2
             2           74.11        14.50          0.86        0.0112          10.1
             3           74.62        14.71          0.87        0.0114          10.4
                                           12 hari
   14-16 g (25
         2
   ekor/m )
            1            7.27         14.55          1.02        0.1846          12.6
            2            73.41        14.66          1.02        0.0142          12.7
            3            72.11        14.55          1.07        0.0191          12.1
           B,1           74.21        14.56          1.79        0.0062          10.7
            2            74.22        14.51          1.81        0.0057          10.2
            3            75.01        15.01          1.62        0.1431          10.1
           C1            74.11        15.17          1.32        0.0055          11.7
            2            74.20        15.01          1.42        0.0011          11.9
            3            72.91        14.79          1.06        0.0041          11.1
   14-16 g (25
         2
   ekor/m )
            1            76.44        14.99          0.85        0.0418          11.2
            2            76.11        15.33          0.96        0.0418          11.2
            3            75.02        15.22          0.44        0.0528          11.3
           B,1           73.22        14.90          2.65        0.0133          11.3
           B2            76.22        15.01          2.34        0.0143          11.2
           B3            75.11        15.11          1.29        0.0023          11.0
           C1            76.24        15.31          1.86        0.0012          10.2
            2            76.33        15.11          1.96        0.0222          10.7
            3            73.49        15.43          1.43        0.0122          10.7
Lampiran 35. Penghitungan Retensi Energi Juvenil Udang Windu Bobot 11-
             13 g dan 14-16 g (% bahan kering).

       Parameter                                             Perlakuan
                          Ulangan
   Energi Total Tubuh                     25 ekor/m2        50 ekor/m2   75 ekor/m2
      Awal (kkal)
       11-13 g                             1556.496          1556.496     1556.496
       14-16 g                             1703.978          1703.978     1703.978
   Energi total pakan                     4671.3317          4671.3317   4671.3317
   yang dikonsumsi
         (kkal)
                          Energi Total Tubuh 5 hari(kkal )
        11-13 g               1            1642.239        1641.476      1629.344
                              2            1577.131        1698.950      1610.759
                              3            1574.937        1722.954      1572.392
                           rerata          1598.102        1687.793      1604.165
        14-16 g               1            1776.241        1590.292      1596.295
                              2            1871.459        1645.749      1590.722
                              3            1779.393        1651.402      1693.211
                           rerata          1809.031        1629.148      1626.743
                          Energi Total Tubuh 12 hari (kkal)
        11-13 g               1            1624.749        1740.595      1723.035
                              2            1623.343        1720.921      1723.449
                              3            1621.029        1756.995      1642.134
                           rerata          1623.040        1739.504      1696.206
        14-16 g               1            1625.549        1917.492      1830.414
                              2            1691.792        1801.711      1823.749
                              3            1591.159        1711.990      1757.539
                           rerata          1636.167        1810.398      1803.901
                             Retensi Energi 5 hari (%)
        11-13 g              1              1.835              1.819       1.452
                             2              0.441              3.049       1.162
                             3              0.394              3.563       0.340
                           rerata           0.890              2.810       0.984
        14-16 g              1              1.546                -           -
                             2              3.585                -           -
                             3              1.614                -           -
                           rerata           2.248
                            Retensi Energi 12 hari (kkal)
        11-13 g              1              1.461              3.941       3.565
                             2              1.431              3.519       3.574
                             3              1.381              4.392       1.833
                           rerata           1.424              3.950       2.583
        14-16 g              1                 -               4.570       2.706
                             2                 -               2.092       2.563
                             3                 -               0.571       1.146
                           rerata                              2.411       2.138
 Keterangan : - (nihil)
Lampiran 36. Hasil Uji Korelasi Antara Pertambahan Bobot dan Energi Total
             Tubuh (kkal). pada Waktu Pemantauan yang Berbeda, Setiap
             Perlakuan, Kelompok Bobot 5 -7 g dan 8-10 g


                                   Korelasi
                                                    pertambahan energi total
                                                      bobot (g) tubuh (kkal)
Spearman's rho     pertambahan          Koefisien             1.000          .532**
                   bobot (g)            korelasi
                                        Sig.                         .        .004
                                        N                       27                 27
                                                                     **
                   energi total tubuh Koefisien               .532           1.000
                   (kkal)             korelasi
                                        Sig.                   .004                  .
                                        N                       27                 27
**. Korelasi siqnifikan pada ά = 0.01

Lampiran 37. Hasil Analisis Statistik Uji Korelasi Antara Energi Total Tubuh
             (kkal) dan Pertambahan Bobot. pada Waktu Pemantauan yang
             Berbeda, Setiap Perlakuan ( ά 0,01) , Bobot 11-13 g dan 14-
             16g.

                                    Korelasi
                                                      bobot               energi
 Spearman's bobot          Koefisien korelasi             1.000                .368**
    rho                    Sig.                                  .                 .006
                           N                                   54                   54
               energi      Koefisien korelasi             .368**               1.000
                           Sig.                            .006                          .
                           N                                   54                   54
**. Korelasi siqnifikan pada ά = 0.01
Bobot        perlakuan     ulangan                    Jumlah juvenil pada hari ke (ekor)
udang (g)
5-7                                  1    2    3     4     5      6      7      8      9    10   11   12
              25 ekor/m2     1       5    5    5     5     5      5      5      5      5    5    5    5
                             2       5    5    5     5     5      5      5      5      5    5    5    5
                             3       5    5    5     5     5      5      5      5      5    5    5    5
                           Stok 1    5    5    5     5     2      2      2      2      2    2    2    2
                           Stok 2    5    5    5     5     2      2      2      2      2    2    2    2
              50 ekor/m2     1       10   10   10    8     8      8      8      8      8    8    8    8
                             2       10   10   9     9     9      9      9      9      9    9    9    9
                             3       10   10   10    10    10     10     10     10     10   10   10   10
                            stok     10   10   10    10    4      4      4      3      3    3    3    3
              75 ekor/m2     1       15   15   13    13    13     13     13     13     13   12   13   12
                             2       15   14   12    12    12     12     11     8      8    8    8    8
                             3       15   15   12    12    12     12     12     12     12   11   12   11
                            stok     15   14   11    11    9      9      9      9      9    9    9    9
8-10          25 ekor/m2     1       5    5    5     5     5      5      5      5      5    5    5    5
                             2       5    5    5     5     5      5      5      5      5    5    5    5
                             3       5    5    5     5     5      5      5      5      5    5    5    5
                           Stok 1    5    5    4     4     1      1      1      1      1    1    1    1
                           Stok 2    5    5    5     5     2      2      2      2      2    2    2    2
              50 ekor/m2     1       10   10   9     9     8      8      8      8      8    8    8    8
                             2       10   10   8     8     8      8      8      8      8    8    8    8
                             3       10   9    9     9     8      8      8      8      8    8    8    8
                            Stok     10   10   9     9     4      4      4      4      4    4    4    4
              75 ekor/m2     1       15   14   13    13    13     13     12     11     11   11   11   11
                             2       15   15   14    14    14     12     12     12     10   10   10   10
                             3       15   15   12    12    12     11     11     9      9    8    9    8
                            stok     15   15   12    11    5      5      5      5      5    5    5    5


Lampiran 38. Jumlah Juvenil Udang Windu (ekor) Yang Hidup Selama Penelitian pada Bobot 5 -7 g dan 8-10 g
Bobot   perlakuan    ulangan                   Jumlah juvenil (ekor) pada hari ke
udang
  (g)
11-13                          1    2    3    4    5       6     7      8      9    10   11   12
        25 ekor/m2     1       5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                       2       5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                       3       5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                     Stok 1    5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                     Stok 1    5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
        50 ekor/m2     1       10   9    9    9    8       8     8      8      8    8    8    8
                       2       10   10   10   10   10      10    10     10     10   10   10   10
                       3       10   10   9    9    8       8     8      7      7    7    7    7
                      stok     10   10   9    9    9       8     8      8      8    8    8    8
        75 ekor/m2     1       15   15   15   14   14      14    13     13     12   12   12   12
                       2       15   15   14   14   14      14    14     14     13   13   13   13
                       3       15   13   11   10   10      10    10     9      9    9    9    9
                      stok     15   14   13   13   13      13    11     11     11   11   11   11
14-16   25 ekor/m2     1       5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                       2       5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                       3       5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                     Stok 2    5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
                     Stok 2    5    5    5    5    5       5     5      5      5    5    5    5
        50 ekor/m2     1       10   10   10   9    9       9     9      8      8    8    8    8
                       2       10   10   10   10   9       9     9      9      9    9    9    9
                       3       10   10   10   9    9       9     9      9      9    9    9    9
                      Stok     10   10   8    8    8       8     8      8      8    8    8    8
        75 ekor/m2     1       15   15   15   14   13      13    13     13     13   13   13   13
                       2       15   15   14   14   14      14    14     14     14   14   14   14
                       3       15   15   15   13   13      13    13     12     12   12   12   12
                      stok     15   15   14   13   13      12    12     10     10   10   10   10


Lampiran 39. Jumlah Juvenil Udang Windu (ekor) Yang Hidup Selama Penelitian pada Bobot 11-13g dan 14-
             16 g.
      Bobot      Perlakuan                        Pemantauan pada hari ke
      udang      (densitas)   1    2    3     4    5     6     7      8     9   10   11   12
      5-6 g      25 ekor/m2   -    -    1     2    2     3     3      1     2   1    2    1
                 50 ekor/m2   -    -    -     2    1     -     2      3     2   2    2    2
                 75 ekor/m2   -    -    -     -    1     3     5      3     3   2    3    2
      8-10 g     25 ekor/m2   -    -    -     2    2     3     2      -     1    -   1     -
                 50 ekor/m2   -    1    1     3    1     3     1      2     2   1    2    1
                 75 ekor/m2   2    -    2     -    1     -     6      2     3   4    4    3
      11-13 g    25 ekor/m2   -    -    2     -     -    2     1      2     1   1    1    1
                 50 ekor/m2   -    -    1     2    1     1     1      2     3   1    1    1
                 75 ekor/m2   -    -    -     1    1     1     2      2     3   4    6    5
      14-16 g    25 ekor/m2   -    -    3     1    1     -     1      -     2   1    2    1
                 50 ekor/m2   -    -    -     -     -    1     2      1     6   7    7    7
                 75 ekor/m2   1    -    3     -     -    1     2      3     5   6    8    7

Lampiran 40.    Jumlah juvenil Udang Windu yang Ganti Kulit   pada Perlakuan Berbeda yang Diulang Tiga
                Kali Selama Penelitian
Gambar Lampiran 41. Dokumentasi Penelitian

No                   Gambar                          Keterangan

1

                                             Tambak pembesaran
                                             juvenil udang windu milik
                                             Stasiun Penelitian
                                             Balitbangda di Kupa
                                             Kabupaten Barru




2

                                             Tata letak wadah
                                             penelitian setelah
                                             ditempatkan secara acak
                                             dalam bak kayu yang
                                             dilapisi plastik dan diisi air
                                             setinggi 20 cm, suasana
                                             saat pergantian air




3


                                             Perlakuan densitas 25
                                             ekor/m2 . Awal
                                             pemeliharaan, udang
                                             diam diri di dasar
                                             aquarium, diduga terjadi
                                             karena ketakutan
                                             terhadap lingkungan baru,
                                             karena dasar wadah
                                             warna putih seharusnya
                                             warna gelap.
4       (A) Perlakuan 50 ekor/m2,
            pemantauan 36 jam ,
            udang stres diam diri di
            dasar aquarium
            mengarah ke dinding,
    A
            tidak respon terhadap
            pakan dan tidak reaktif
            terhadap benda asing.


        (B) Pemantauan pada 76
            jam, sebahagian besar
            juvenil udang sudah
            berenang bebas ke
            seluruh bagian
            aquarium, rekatif
    B       terhadap pakan dan
            benda asing yang
            menyentuhnya.




5       (A) Perlakuan 75 ekor/m2 ,
            Pada pemantauan 36
    A
            jam, udang stres diam
            diri di dasar aquarium
            mengarah ke dinding,
            tidak respon terhadap
            pakan dan tidak reaktif
            terhadap benda asing

        (B) Pemantauan 76 jam
            sebahagian besar
            juvenil udang windu
            sudah aktif bergerak
            dan bisa berenang ke
    B       permukaan sudah
            reaktif terhadap benda
            asing dan pakan yang
            diberikan
    C
        (C) Pemantauan 5 hari
            semua juvenil udang
            yang hidup
            (beradaptasi) aktif
            berenang keseluh
            bagian aquarium,
            sedang aktif makan
            dan reaktif terhadap
            benda asing yang
            menyentuhnya.




6



        Preparat yang siap
        diamati dalam mikroskop
        untuk differensiasi tipe sel
        hemosit




7

        Udang yang mati setelah
        ganti kulit, karena
        dimangsa oleh udang lain.
        Kaki jalan dan
        antena/antenullenya
        habis.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:19
posted:11/23/2013
language:
pages:179