Docstoc

SKRIPSI PTK TK IKIP

Document Sample
SKRIPSI PTK TK IKIP Powered By Docstoc
					                                   BAB I

                            PENDAHULUAN



A.   Latar Belakang Masalah

          Pendidikan Taman Kanak-Kanan merupakan salah satu bentuk

     pendidikan pra sekolah yang terdapat dijalur pendidikan sekolah (PP No.27

     Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan pra sekolah tugas utama TK

     adalah   mempersiapkan     anak    dengan    memperkenalkan      berbagai

     pengetahuan, sikap/perilaku keterampilan dan intelektual agar dapat

     melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di sekolah

     dasar (Departemen Pendidikan Nasional, 2001).

          Pandangan ini mengisyaratkan bahwa TK merupakan Lembaga

     Pendidikan Pra Skolatik atau Pre-Akademik. Dengan demikian TK tidak

     mengemban tanggung jawab utama dalam membina kemampuan skolatik

     atau akademik anak seperti kemampuan membaca dan menulis. Substansi

     pembinaan kemampuan skolatik atau akademik ini harus menjadi tanggung

     jawab utama Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar.

          Dengan pemahaman minat dan kebiasaan adalah dua pengertian yang

     berbeda tetapi berkaitan. Minat ada perbedaan keinginan dan kemauan yang

     dapat berkembang jika ada motivasi. Kebiasaan adalah perilaku, yaitu suatu

     sikap atau kegiatan yang bersifat fisik atau manual, yang telah mendarah

     daging atau membudaya dalam diri seseorang. Terbentuknya suatu

     kebiasaan pada umumnya makan waktu lama dan dalam pembentukan jika
minat dan motivasi tidak ada, umumnya kebiasaan tidak tumbuh dan tidak

berkembang (Tampubolonm, 1999 : 41).

     Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan

dalam praktik kependidikan TK dan sekolah dasar di Indonesia. “Pergeseran

tanggung jawab pengembangan kemampuan skolatik (akademik) dari

Sekolah Dasar ke Taman Kanak-Kanak terjadi dimana-mana, baik secara

terang-terangan maupun terselubung. Banyak sekolah dasar (umunya swasta

san sebagai negeri) sering kali mengajukan persyaratan atau tes masuk

dengan menggunakan konsep akademik, terutama tes “membaca dan

menulis.” Lembaga Pendidikan sekolah dasar seperti ini sering dianggap

sebagai lembaga pendidikan “berkualitas” dan “bonafid”. Gejala-gejala atau

peristiwa praktik pendidikan seperti itu mendorong lembaga pendidikan

Taman Kanak-Kanak maupun orang tua berlomba mengajarkan kemampuan

akademik membaca menulis dengan mengadopsi pola-pola pembelajaran

disekolah dasar.

     Mengajarkan membaca dan menulis di Taman Kanak-kanak dapat

dilaksanakan dalam batas-batas aturan pengembangan pra sekolah atau pra

akademik serta mendasarkan diri pada prinsip dasar hakiki dari Pendidikan

TK sebagai sebuah taman bermain, sosialisasi dan pengembangan berbagai

kemampuan pra skolatik yang substansi, seperti pengembangan kecerdasan

emosi, motorik, disiplin/tanggung jawab, konsep diri, anak (Departemen

Pendidikan Nasional, 2000)
     Begitu juga gemar buku melalui pengetahuan secara bertahap oleh

orang tua membiasakan anak membaca, ini biasa dilakukan saja, dini sekitar

2 tahun, perlu juga orang tua mendampingi, menceritakan, atau juga

mengajak menuliskan isi buku. Orang tua yang baik menyediakan berbagai

macam buku untuk tambahan informasi yang dibacakan. Atau memberi

contoh pada orang tua ke anak menggemari baca buku, ini akan menulis

pada si kecil. Atau juga melatih anak seperti contoh ayah selalu

mendiskusikan apa yang merekabaca dan ibu mengajak membaca bersama.

Tidak semua buku bacaan baik untuk anak, sebagai orang tua mengakses

informasi   oleh   karena   itu   membekali   buku   yang    baik   dengan

mengeluarkannya sebisa mungkin mana yang baik dan tidak (majalah Ayah

Bunda, 2005)

     Dalam rangka memupuk minat baca diantara anak sekolah perlu

ditetapkan wajib baca. Misalnya persewaan buku seperti perpustakaan

menyediakan buku-buku yang menarik sehingga menimbulkan anak-anak

tertarik pada buku ada gambarnya. Contoh komik, cerita bersambung, cerita

silat. Apabila membaca buku diwajibkan untuk mengulang berkali-kali

maka akan terbentuklah kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca pada

akhirnya akan menumbuhkan kegemaran membaca.

     Dalam usaha untuk memupuk kemampuan-kemampuan skolastik pada

anak harus diperhatikan mengenai masa peka. Datangnya masa peka untuk

anak tidak sama, bersifat individual dan tidak sama pula urutannya. Apabila

guru telah melihat datangnya masa peka baik untuk berhitung maupun
membaca dan menulis, maka kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya

untuk memupuk kemampuan-kemampuan tersebut. Walaupun tidak ada

kemutlakan umur mengenai timbulnya masa peka, tetapi masa masa peka

umumnya dapat dikatakan bahwa menjelang 6 tahun semua anak sudah

memiliki cukup persiapan fisik dan mental untuk menerima bimbingan ke

arah persiapan fisik-fisik dan mental anak.

     Anak harus diberi pendidikan skolastik yang dilaksanakan secara

sistematis dan direncanakan dengan baik, sekalipun dalam bentuk permanen.

Dengan demikian dapat diharapkan hasil yang baik, untuk dimanfaatkan

oleh anak nanti di SD.

a.   Anak mempunyai konsep bilangan dan hitungan.

b.   Anak mempunyai hubungan antara angka dan bilangan.

c.   Anak memiliki kemampuan untuk melihat hubungan antara tulisan dan

     suara.

d.   Anak mempunyai koordinasi otot-otot mata dan tangan.

e.   Anak mempunyai kemmapuan untuk mengenal kalimat-kalimat

     tertulis.

f.   Intelegensi anak berkembang baik.

g.   Masa peka untuk belajar berhitung membaca dan menulis terpenuhi.

     Pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk

pendidikan prasekolah yang terdapat dijalur pendidikan sekolah (PP. No. 27

Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan prasekolah, tugas utama TK

adalah    mempersiapkan      anak    dengan   memperkenalkan     berbagai
pengetahuan, sikap/perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat

melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di sekolah

dasar.

     Tujuan utama TK tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan

dalam praktek kependidikan TK dan sekolah dasar Indonesia. Pergeseran

tanggungjawab pengembangan kemampuan skolastik (akademik) dari

sekolah dasar ke TK terjadi dimana-mana, baik secara terang-terangan

maupun terselubung. Banyak sekolah dasar (umumnya swasta dan sebagian

negeri) seringkali mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan

menggunakan konsep akademik, terutama tes membaca dan menulis

lembaga pendidikan sekolah dasar seperti ini seringpula dianggap sebagai

lembaga pendidikan berkualitas dan bonafid. Gejala-gejala atau peristiwa

praktik pendidikan seperti ini mendorong lembaga pendidikan TK maupun

orang tua berlomba mengajarkan kemampuan akademik membaca dan

menulis dengan mengadopsi pola-pola pembelajaran di sekolah dasar,

akibatnya tidak jarang TK tidak lagi menjadi tamAn yang indah, tempat

bermain dan berteman banyak, tetapi beralih fungsi menjadi sekolah TK

dalam makna menyekolahkan secara dini pada anak-anak. Tanda-tandanya

terlihat pada pentargetan kemampuan akademik membaca dan menulis,

proses belajar mengajar mengadopsi sekolah dasar dan bentuk penugasan

pekerjaan rumah pada anak-anak.
             Kondisi ini justru diperparah oleh desakan orangtua agar anak-anak di

     TK diajarkan membaca dan menulis agar bisa memasukkan anaknya ke

     sekolah dasar bonafid dan favorit.



B.   Rumusan Masalah

             Dengan melihat latar belakang masalah yang ada, dapat dirumuskan

     masalah sebagai berikut:

     a.      Bagaimana cara yang tepat dalam memberikan permainan pada anak

             sehingga anak mempunyai minat untuk belajar membaca?

     b.      Jenis-jenis permainan apakah yang digunakan untuk menumbuhkan

             minat baca anak?

     c.      Strategi yang digunakan oleh guru dalam menumbuhkan minat baca

             anak?



C.        Tujuan Penelitian

     Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:

     a.      Untuk mengetahui bagaimana cara menumbuhkan secara dini minat

             baca pada anak usia dini.

     b.      Untuk mengetahuai berbagai macam jenis permainan yang paling tepat

             untuk menumbuhkan minat baca pada anak TK.

     c.      Untuk mengetahui sejauh mana peranan guru dalam mempersiapkan

             anak di TK untuk memasuki SD.
D.        Manfaat Penelitian

             Disamping memiliki tujuan, penulisan proposal ini diharapkan dapat

     bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca dan orangtua.

     a.      Bagi penulis

             Penulisan proposal ini merupakan pengalaman yang sangat berharga

             karena dapat menambah wawasan, ilmu pengetahuan dan pemahaman

             tentang cara-cara yang paling tepat menumbuhkan minat baca anak

             usia dini melalui berbagai macam permainan.

     b.      Bagi pembaca

             Dengan adanya proposal ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

             pembaca    untuk    menambah     wawasan   dan   pengetahuan     agar

             menghasilkan generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia.

     c.      Bagi orang tua

             Dengan memperhatikan kemampuan anak, diharapkan orang tua dapat

             mendidik dan membimbing anak dalam menumbuhkan minat baca

             sehingga anak akan menjadi anak yang cerdas, terampil, berguna bagi

             diri sendiri, masyarakat dan negara.
                                   BAB II


A.   Guru

     a.   Pengertian guru

          Guru adalah sebagai pengganti orang tua dalam suatu lembaga

          pendidikan serta sebagai bapak bagi seorang murid yaitu memberikan

          bantuan jasmani dan rohani pada peserta didik. Guru atau pendidik

          juga menduduki posisi yang penting sebagai penyebab untuk

          mengarahkan pada sesuatu tentang berhasil tidaknya dalam mencapai

          tujuan pendidikan yang akan dicapai.

          1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang

             Guru dan Dosen Memperkokoh Jabatan Guru sebagai Profesi

             seperti tercantum dalam:

             a)   Pasal 1 ayat 1

                  Menyebutkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas

                  utama mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai dan

                  mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini,

                  jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.

             b)   Pasal 2 ayat 1

                  Menyebutkan guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga

                  professional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan

                  mengenah, pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan

                  formal yang diangkat sesui dengan perundang-undangan.
b.   Tugas Guru

          Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru

     mempunyai 3 tugas pokok, yaitu:

     1) Tugas profesional

        Adalah meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan

        dan nilai-nilai yang sejenis yang belum diketahui.

     2) Tugas manusiawi

        Adalah tugas guru untuk membantu anak didik agar dapat

        memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-

        baiknya.

     3) Tugas kemasyarakatan

        Adalah merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang

        baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah

        digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.

c.   Peran Guru

     1) Fasilitator

        Artinya guru menyediakan bahan pembelajaran, memberikan

        bantuan teknis, pengarahan dan petunjuk bagi peserta didik untuk

        menyelesaikan tugas dan menyelesaikan materi pembelajaran.

     2) Motivator

        Artinya guru harus memberikan dorongan kepada siswa untuk

        lebih giat belajar.
          3) Sebagai pemacu perekayasa pembelajaran

              Artinya guru sebagai (elative) yang melaksanakan kegiatan secara

              kreatif, menemukan atau mengembangkan strategi, metode atau

              konsep-konsep baik dalam pembelajaran.

          4) Sebagai pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.



B.   Hakikat Anak

          Anak-anak merupakan bagian dalam kehidupan kita. Anak adalah

     subyek didik dalam pendidikan taman kanak-kanak artinya sebagai pelaku

     utama dalam pendidikan itu.

          Para ahli memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda antara yang

     satu dengan yang lain, antara lain:

     a. Pandangan Pestalozzi

        Johan Heinrich Pestalozzi adalah seorang ahli pendidikan swiss yang

        hidup antara tahun 1746 – 1827. Pestalozzi berpandangan bahwa anak

        pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik. Pertumbuhan dan

        perkembangan yang terjadi pada anak berlangsung secara bertahap dan

        berkesinambungan.

     b. Pandangan Maria Montessori

        Pandangan Montessori tentang anak tidak terlepas dari pengaruh

        pemikiran ahli yang lain yaitu Rousseau dan Pestalozzi yang menekankan

        pada pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan penuh kasih agar

        potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal.
c. Pandangan froebel

   Froebel memandang anak sebagai individu yang pada kodratnya bersifat

   baik, sifat yang buruk timbul karena kurangnya pendidikan atau

   pengertian yang dimiliki anak.

d. Pandangan J.J. Rousseau

        Rousseau menyarankan konsep “kembali elativ” dan pendekatan

   yang bersifat alamiyah dalam pendidikan anak. Bagi Rousseau

   pendekatan alamiah berarti anak akan berkembang secara optimal tanpa

   hambatan, menurutnya bahwa pendidikan yang bersifat alamiah

   menghasilkan     dan     memacu   berkembangnya     kualitas   semacam

   kebahagiaan, spontanitas dan rasa ingin tahu.

e. Pandangan Konstruktivitis

   Pandangan ini dimotori oleh dua orang ahli psikologis, yaitu Jean Piaget

   dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya paham konstruktivitis ini mempunyai

   asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif.

f. Pandangan Ki Hajar Dewantoro

   Ki Hajar Dewantoro memandang anak sebagai kodrat alam yang

   memiliki pembawaan masing-masing serta kemerdekaan untuk berbuat

   serta mengatur dirinya sendiri.

   Hakekat anak diantaranya dikemukakan oleh Brodecamp Copple,

   Brenner serta Kellough dalam Solahudin (2000) sebagai berikut:

   1) Anak bersifat unik.

   2) Anak mengekspresikan perilakunya secara elative spontan
        3) Anak bersifat aktif dan energik, biasanya anak senang melakukan

           berbagai aktifitas.

        4) Anak itu egosentris.

           Dengan sifat yang egosentris ia lebih cenderung melihat dan

           memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri.

        5) Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan antusias terhadap

           banyak hal.

        6) Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.

           Terdorong rasa ingin tahu yang kuat terhadap sesuatu hal, anak

           lazimnya senang menjelajah, mencoba mempelajari hal-hal baru.

        7) Anak umumnya kaya dengan fantasi.

           Anak senang dengan hal-hal yang imajinatif.



C.   HAKIKAT TAMAN KANAK-KANAK

          Taman kanak-kanak merupakan bagian dari pendidikan prasekolah

     termasuk TK bukan pendidikan wajib dan tidak dipersiapkan untuk menjadi

     persyaratan untuk memasuki pendidikan SD.

     a. Hakikat TK dalam kurikulum TK 1968.

        Adalah lembaga pendidikan yang pertama-tama memberikan secara

        sistematis bimbingan dan pembinaan jasmaniah dan rohaniah untuk

        perkembangan anak secara harmonis lebih luas dari pendidikan keluarga.
     b. Hakikat TK dalam kurikulum 1976 adalah.

          1)    Pusat perkembangan kepribadian anak

          2)    Pusat kesejahteraan anak.

          3)    Sebagai usaha untuk membantu ibu (keluarga) untuk memenuhi

                kebutuhan jasmani dan rohani anak yang diperlukan bagi

                perkembangan kepribadiannya.

          4)    Sebagai usaha untuk memodernisasikan / memajukan masyarakat

                (terutama masyarakat pedesaan).

     c. Hakikat TK dalam kurikulum 2004 adalah bentuk satuan pendidikan

          anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan

          program pendidikan bagi anak usia 4 – 6 tahun.



D.   PENGERTIAN BERMAIN MENURUT PARA AHLI

               Dari berbagai bahasan mengenai kegiatan bermain, pada umumnya

     para pakar hanya membedakan atau mengkategorikan kegiatan bermain

     tanpa secara gamblang mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain

     lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan

     lainnya.

     a.    Mildred Parten

           Bermain sebagai sarana sosialisasi dan bentuk interaksi antar anak yang

           terjadi saat mereka melakukan suatu kegiatan.
b.   Jean Piaget

     Tahapan perkembangan bermain sebagai berikut:

     1)     Sensory motor play (± 3 – 4 bulan sampai 1 ½ tahun)

     2)     Symbolic atau make believe play (± 2 – 7 tahun)

           Bermain khayal dan bermain pura-pura.

     3) Social play games with rules (± 8 – 11 tahun)

           Bemain tahap yang tertinggi dengan penggunaan simbol lebih

           banyak diwarnai oleh nalar, logika dan bersifat obyektif.

     4)    Games with ruler & sports (11 tahun ke atas)

            Kegiatan bermain yang memiliki aturan adalah olah raga namun

            masih menyenangkan dan dinikmati anak.

c.   Hurlock

     Perkembangan bermain terjadi melalui tahapan sebagai berikut:

      1)     Tahap penjelajahan.

      2)     Tahap mainan

      3)     Tahap bermain

      4)     Tahap melamun.

     Istilah-istilah di bawah ini diambil dari Kamus Bahasa Indonesia W.J.S.

     Poerwadarminta edisi ketiga tahun 2003, seperti:

     1.     Membaca adalah melihat tulisan dan mengerti atau dapat

            melisankan apa yang tertulis itu.

     2.     Menulis adalah membuat huruf (angka, dsb) dengan pena (pensil,

            kapur, dsb).
          3.   Huruf adalah gambar bunyi bahasa: aksara – balok, tulisan tegak

               yang dirangkai-rangkaikan (seperti huruf cetak) – besar, huruf yang

               agak besar dan agak berlainan bentuknya, untuk menuliskan

               permulaan kalimat, nama orang, dsb.

     5)        Bahasa adalah perkataan atau kalimat tertentu yang mengandung

               maksud yang khas.

          Pengertian bahasa menurut Soenjono Dardjo Widjojo adalah suatu

          sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu

          masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar

          sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.



E.   MANFAAT BERMAIN PRASEKOLAH, KETAJAMAN PANCA

     INDERA

           Pada anak prasekolah, ketajaman atau kepekaan penglihatan dan

     pendengaran sangat-sangat perlu untuk dikembangkan karena akan

     membantu anak agar lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk-

     bentuk atau kata-kata tertentu yang akhirnya memudahkan anak untuk

     belajar membaca serta menulis dikemudian hari. Kepekaan penglihatan dan

     penginderaan dapat dilatih sejak dini, misalnya pada bayi dapat dimulai

     dengan permainan kerincingan atau musik box yang dapat berbunyi dan

     menimbulkan macam-macam suara. Membacakan cearita, mengajak

     berbicara, mendengarkan lagu yang dinyanyikan ibu atau didengar dari
     radio.   Cassette   akan   membuat   anak   belajar   memperhatikan   dan

     mengingatnya.

          Pada usia prasekolah anak dapat mengamati berbagai bentuk, ukuran,

     warna, besaran misalnya melalui alat-alat permainan edukatif atau

     memainkan benda seperti peralatan rumah tangga yang ada di rumah atau

     kalau di sekolah berbagai macam permainan seperti mencocokkan benda

     dengan kartu bergambar, kartu suku kata, bermain bisikan kata atau

     mungkin dengan bercerita sesuai dengan cerita yang diminati anak.



F.   JENIS SERTA MACAM-MACAM KEGIATAN BERMAIN

     Kegiatan bermain menurut jenisnya terdiri atas bermain aktif dan bermain

     pasif. Hal ini sesuai dengan Hurlock (1978) di dalam bukunya Child

     Development mengemukakan ada 2 penggolongan utama kegiatan bermain

     yaitu bermain aktif dan bermain pasif atau dikenal sebagai hiburan

     (amusement).

          Secara umum bermain aktif banyak dilakukan pada masa kanak-kanak

     awal sedangkan kegiatan bermain pasif lebih mendominasi kegiatan akhir

     masa kanak-kanak yaitu sekitar usia praremaja karena adanya perubahan-

     perubahan fisik, emosi, minat dan sebagainya. Tapi tidak berarti bahwa

     kegiatan bermain aktif akan menghilang dan digantikan oleh kegiatan

     bermain pasif sebab kedua jenis kegiatan bermain ini akan selalu ada

     bersama, hanya saja penekannya yang berbeda.
     Kedua jenis kegiatan tersebut akan memberi kesenangan, kebahagiaan

pada anak dan dapat memenuhi kebutuhan anak untuk bermain. Masing-

masing jenis kegiatan bermain tersebut di atas mempunyai sumbangan

positif baik terhadap penyesuaian sosial maupun penyesuaian diri anak,

terhadap perkembangan fisik-motorik anak dan perkembangan emosi,

kepribadian maupun perkembangan kognitif.

     Selanjutnya akan dibahas pengertian bermain aktif dan pasif,

dilengkapi dengan macam-macam kegiatan untuk masing-masing kelompok

serta manfaat yang dapat dipetik dari tiap kegiatan.

a.   Pengertian Kegiatan Bermain Aktif

              Kegiatan bermain aktif adalah kegiatan yang memberikan

     kesenangan dan kepuasaan pada anak melalui aktifitas yang mereka

     lakukan sendiri, dengan pernataan lain, anak aktif melakukan sendiri.

              Kegiatan bermain aktif juga dapat diartikan sebagai kegiatan

     yang melibatkan banyak aktifitas tubuh atau gerakan-gerakan tubuh.

     Seberapa sering anak melakukan kegiatan bermain jenis ini dan apa

     saja ragam permainan yang mereka lakukan, sangat bervariasi dan

     dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :

     4.1.a.      Kesehatan

                      Anak yang sehat akan lebih banyak melakukan kegiatan

                 bermain aktif dan lebih memperoleh rasa puas dari apa yang

                 mereka lakukan..
                  Beda halnya pada anak-anak yang kurang sehat atau

         sering terkena penyakit, kegiatan bermain aktif akan cepat

         menimbulkan rasa lelah sehingga mereka kurang terdorong

         atau tidak dapat terlalu banyak melakukan jenis bermain

         aktif.

4.1.b.   Penerimaan social dari kelompok teman bermain

                  Kegiatan bermain aktif pada umumnya melibatkan

         sejumlah anak. Kalau anak merasa diterima oleh teman-

         teman sepermainan, ia akan lebih menyukai jenis kegiatan

         bermain aktif dan sebagian besar waktu bermainnya tentu

         akan terisi oleh jenis kegiatan ini.

4.1.c.   Tingkat Kecerdasan Anak

                  Kecerdasan anak akan berpengaruh terhadap variasi

         kegiatan bermain aktif. Anak yang sangat cerdas atau yang

         tidak cerdas biasanya tidak terlampau banyak melakukan

         kegiatan bermain aktif, karena minat mereka tidak sama

         dengan anak-anak yang mempunyai taraf kecerdasan rata-rata

         sehingga mempengaruhi minat bermainnya. Bukan dalam

         artian mereka tidak suka melakukan kegiatan bermain aktif,

         tapi kegiatan bermain mereka umumnya diimbangi dengan

         kegiatan bermain jenis lainnya. Penjelasan lebih lanjut dapat

         and abaca dalam Bab VI.
              Variasi kegiatan bermain aktif pada anak-anak yang

         tidak atau kurang cerdas juga tidak terlampau banyak bila

         dibandingkan dengan anak yang mempunyai kecerdasan rata-

         rata atau mendekati rata-rata karena taraf kecerdasan juga

         mempengaruhi minat bermain mereka (anda bisa mengingat

         kembali penjelasan Piaget di dalam Bab I).

4.1.d.   Jenis Kelamin

              Anak perempuan umumnya tidak             begitu sering

         melakukan kegiatan bermain aktif yang sifatnya agak “kasar”

         dan kelaki-lakian bila dibandingkan anak laki-laki. Hal ini

         terjadi bukan karena anak perempuan kurang sehat atau

         kurang kuat. Masyarakat dalam hal ini orang tua kurang

         mendukung bila anak perempuannya melakukan permainan

         yang kasar sehingga tanpa di sadari juga mempengaruhi

         minat/bermain    anak.   Ada    penelitian-penelitian   yang

         dilakukan terhadap permainan anak berdasarkan perbedaab

         jenis kelamin dan dapat and abaca di dalam Bab VI tentang

         issue khusus dalam bermain.

4.1.e.   Alat Permainan

              Alat permainan yang tersedia untuk anak akan

         menentukan jenis bermainnya, apakah anak lebih sering

         melakukan kegiatan bermain aktif atau pasif. Bila fasilitas

         yang tersedia untuk bermain aktif tidak banyak, otomatis
         anak akan lebih condong melakukan kegiatan bermain pasif.

         Misalkan saja orang tua atau pihak sekolah kurang

         menyediakan alat permainan untuk bangun membangun

         (konstruktif, seperti nalok-balok dari kayu atau plastic, alat

         dapur dalam bentuk miniature, alat pertukangan, puzzle;

         maka anak akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk

         bermain pasif seperti menonton TV atau film, membaca

         buku, mendengarmusik dan lai-lain.

4.1.f.   Lingkungan Tempat Anak dibesarkan

              Lingkungan bisa diartikan sebagai daerah pedesaan dan

         perkotaan. Di daerah pedesaan yang masih mempunyai lahan

         luas akan lebih memungkinkan anak melakukan kegiatan

         bermain aktif dalam suasana alam terbuka misalnya saja

         mereka punya kesempatan untuk memanfaatkan tumbuh-

         tumbuhan ataupun benda-benda yang ada di lingkungan

         sekitarnya, membuat mainan dari daun pisang, daun kelapa,

         bermain laying-layang, memancing ikan dan lain-lain.

         Sedangkan anak yang hidup di lingkungan perkotaan akan

         mempunyai kegiatan bermain aktif yang berbeda mengingat

         lahan yang terbatas dan banyaknya fasilitas lain yang bisa

         dinikmati.
b.   Macam-macam Kegiatan Bermain Aktif

              Di dalam kelompok ini terdapat banyak ragam kegiatan bermain

     yang bisa dilakukan untuk usia bayi sampai dengan remaja, dewasa

     maupun usia tua. Ada kegiatan yang masih banyak dilakukan pada

     masa bayi, anak-anak usia sekolah, remaja dan sseterusnya.

              Berikut ini akan saya uraikan beberapa macam kegiatan bermain

     aktif berikut pembahasan mengenai manfaat yang dapat dipetik dari

     kegiatan tersebut.

     4.2.a.      Bermain Bebas dan Spontan

                      Ciri dan kegiatan bermain ini dilakukan dimana saja,

                 dengan cara apa saja dan berdasarkan apa yang ingin

                 dilakukan. Maksudnya, tidak ada aturan peraturan yang harus

                 dipatuhi oleh anak. Selama ia suka, ia bisa melakukannya.

                 Umumnya anak akan melakukan kegiatan bermain bebas dan

                 spontan bila menemukan adanya suatu yang baru dan berbeda

                 dari apa yang biasa ia lihat, Atau bisa saja anak asyik bermain

                 bebas dengan mainan baru yang mengundang rasa ingin tahu

                 anak. Kalau mainan itu menyenangkan dan menantang anak

                 untuk tahhu lebih banyak, maka makin banyak pula waktu

                 yang digunakan untuk bermain bebas.

                      Kegiatan bermain ini umumnya banyak dijumpai pada

                 anak usia antara 3 bulan sampai sekitar 2 tahun. Sebagai

                 contoh, bayi akan asyik mengamati kerincingan yang
digantungkan di atas tempat tidurnya. Ia akan mencoba

meraih kerincingan atau kakinya menendang-menendang

tempat    tidur   sehingga    kerincingan        bergerak     serta

menimbulkan suara-suara tertentu. Pengalaman ini sangat

menarik minatnya dan ia melakukan berulang-ulang kali

sampai keinginan tahunya terpuaskan atau suatu saat karena

usaha yang dilakukan terus menerus. Bayi berhasil meraih

kerincingan tersebut dan hal ini juga menimbulkan rasa puas.

Di sisi lain, melalui kegiatan bermain seperti ini, tanpa

disengaja bayi belajar untuk lebih tanggap terhadap benda-

benda atau situasi lingkungannya. Indera penglihatan dan

pendengaran menjadi terlatih untuk melihat, mendengar,

berespon terhadap rangsangan yang ada di lingkungannya.

     Tangannyapun semakin terampil untuk meraih dan

mungkin     memegang    benda,      ia   perlu    menyeleraskan

(mengkoordinasikan) antara gerakan-gerakan tangan dengan

penglihatannya. Hal ini penting sebagai persiapan dini anak

melakukan     tugas-tugas    lain   yang    lebih     sulit    dan

membutuhkan koordinasi mata dengan tangan misalnya saja

memasukkan sendok makan ke dalam mulut.

     Contoh lain, anak usia 6 bulan yang mulai bisa

merangkak, ia sangat menikmati kepandaian yang baru

diperolehanya, ia merasa antusias untuk merangkak mengitari
         ruangan dan sesekali memegang, menyentuh, menjilat,

         menarik benda-benda yang dijumpainya. Lewat kegiatan ini

         akan mendapat lebih banyak pengetahuan dan pengalaman,

         anak merasa senang, puas, bisa menyalurkan keinginannya

         dan banyak lagi manfaat lainnya.

              Anak usia sekitar 1 tahun yang baru dapat berjalan, juga

         mempunyai kesenangan tersendiri. Kalau dulunya ia banyak

         bergantung pada orang lain untuk pergi kian kemari maka

         sekarang ia bisa berjalan sendiri. Barangkali tanpa sengaja ia

         menarik taplak meja karena ingin tahu benda apa yang ada di

         atasnya. Tiba-tiba benda itu jatuh bertebaran di lantai dan

         menimbulkan bunyi, bahkan mungkin ada sesuatu yang

         pecah berderai-derai. Dari pengalaman ini anak mendapat

         pengetahuan baru dan dapat mengamati adanya hubungan

         sebab akibat. Misalnya saja kalau taplak meja ditarik, ada

         benda yang jatuh kebawah, ada bunyi-bunyi tertentu dan

         mungkin akibat-akibat lain.

4.2.b.   Bermain Konstruktif

              Yang dimaksud dengan bermain konstruktif yaitu

         kegiatan yang menggunakan berbagai benda yang ada untuk

         menciptakan suatu hasil karya tertentu.

         Berbagai manfaat bisa diperoleh melalui kegiatan bermain

         ini, antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk
         berdaya cipta (Kreatif), melatih ketrampilan motorik halus,

         melatih konsentrasi, ketekunan, daya tahan. Kalau ia berhasil,

         akan menimbulkan rasa puas, mendapat penghargaan social

         (pujian dari orang lain) yang akan meningkatkan keinginan

         anak bekerja lebih baik lagi).

              Yang termasuk dalam kegiatan bermain konstruktif

         adalah   mencipta    bentuk      tertentu   dari   lilin   mainan,

         menggunting dan menempel kertas atau kain, merakit

         kepingan kayu atau plastic menjadi bentuk tertentu dan masih

         banyak kegiatan lain yang akan meningkatkan keinginan

         anak bekerja lebih baik lagi.

4.2.c.   Bermain Khayal/Bermain Peran

              Bermain khayal atau bermain peran salah satu jenis

         bermain aktif, diartikan sebagai pemberian atribut tertentu

         terhadap benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang ia

         pilih. Apa yang dilakukan anak tampil dalam tingkah laku

         yang nyata dan dapat diamati dan biasanya melibatkan

         penggunaan bahasa.mempunyain tteman bermain, maka

         mereka akan saling bertukar koleksinya dengan teman. Sejak

         anak memasuki usia sekolah (+ 6 atau 7 tahun) maka mereka

         senang mengumpulkan barang-barang tertentu misalnya

         mengumpulkan perangko, gambar-gambar tertentu, kartu dari
tokoh-tokoh film kartun, tokoh olah raga yang ternama dan

sebagainya.

      Anak merasa puas bila hasil koleksinya bisa lebih

teman-temannya baik dalam hal kelengkapan maupun

kelangkaan dan mutunya. Kepuasan lebih diperoleh dari

kegiatan mengumpulkan benda-benda tersebut daripada

koleksinya sendiri. Seakan-akan ia senang “berburu” untuk

bisa memperoleh benda tertentu. Pada anak-anak ang usianya

lebih besar, akan mengatur benda-benda yang dikumpulkan

berdasarkan sistimatika tertentu dan menyimpannya dengan

lebih teratur sehingga mudah diperlihatkan pada teman lain.

      Jadi     kegiatan   mengumpulkan   benda   pada   anak

prasekolah dengan anak usia sekolah mempunyai persamaan

dalam hal rasa senang diperoleh dari kegiatan mengumpulkan

itu sendiri.

      Perbedaannya anak prasekolah mengumpulkan benda-

benda hanya secara acak sedangkan anak usia sekolah

mengumpulkan        benda   yang   memang sedang popular

dikalangan teman-teman dan merasa puas kalau koleksinya

melebihi teman-temannya. Apa manfaat dari kegiatan

mengumpulkan benda-benda ini? Anak dapat belajar untuk

menyesuaikan diri karena ia belajar untuk berbagi dan

bekerjasama dengan teman, bersikap jujur, berkompetisi.
          Kegiatan ini bisa digolongkan bermain sendiri (solitaire) atau

          kelompok. Tentu saja ada segi negatifnya bila anak terlalu

          terpaku pada benda-benda yang dikumpulkan sehingga

          menimbulkan perasaan superior atau begitu terhanyut dalam

          kegiatan bermain sendiri terlalu asik dengan hasil koleksinya,

          lupa waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain dan

          bermain dengan teman.

4.2..d.   Melakukan Penjelajahan (Eksplorasi)

                  Saat bayi, anak melakukan penjelajahan yang kita kenal

          dengan bermain bebas dan spontan. Pada anak yang usianya

          lebih besar, eksplorasi dilakukan dengan terencana dan ada

          pengaturannya      karena   biasanyamelibatkan    sekelompok

          teman. Sebaiknya ada orang yang mengarahkan dan

          membimbing anak. Kegiatan eksplorasi dijumpai pada

          aktivitas berkemah, pramuka, karya wisata ke tempat-tempat

          yang akan memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi

          anak.

                  Beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan ini

          adalah menambah pengetahuan anak dan mendorong anak

          mencari tahu hal-hal yang baru. Manfaat kedua adalah

          mendukung perkembangan kepribadian yang positif misalnya

          saja inisiatif untuk bertindak, bersikap tenag menghadapi

          masalah yang tidak diharapkan, bersikap sportif, percaya diri
         dan sebagainya. Manfaat ketiga adalah berbagai alat Bantu

         bagi anak untuk bersosialisasi atau menyesuaikan diri dengan

         teman-teman. Anak berada jauh dari rang tua yang biasanya

         melindungi    serta   membimbingnya,     ia   perlu   belajar

         menyesuaikan diri terhadap harapan-harapan teman.

4.2.e.   Permainan (games) dan olah raga (Sports)

              Menurut Bettelheim (dalam Hurlock, 1978), permainan

         dan olahraga adalah kegiatan yang ditandai oleh aturan dan

         persyaratan yang disetujui bersama dan ditentukan dari luar

         untuk menggunakan kegiatan dalam tindakan yang bertujuan.

              Olah raga selalu berupa kontes fisik sedangkan

         permainan bisa berupa kontes fisik atau juga kontes mental.

         Umumnya untuk melakukan kegiatan olah raga, dituntut

         penggunaan keterampilan fisik ataupun aturan permainan

         yang lebih ketat.

              Istilah sport seringkali digunakan untuk kontes yang

         membutuhkan pengaturan kelompok seperti pada olah raga

         basket, sepak bola, bola volley dan lain-lain. Kontesyang

         dilakukan anak-anak umumnya tergolong pada permainan

         (games). Walaupun olah raga mulai dikenal (popular) saat

         anak-anak memasuki usia remaja.

              Kalau pada mulanya anak lebih banyak melakukan

         permainan yang individual, lambat laun ia berusaha bermain
lebih baik dari anak-anak lainnya. Lambat laun anak mampu

bekerjasama dengan pemain lain sehingga akan lebih

memperoleh kepuasan dari kegiatan oleh raga yang pada

umumnya dicapai saat memasuki masa remaja.

Beberapa contoh permainan pada masa kanak-kanak adalah :

-   Permainan pada bayi, terdiri dari permainan yang

    sederhana dan biasa dilakukan dalam keluarga bersama

    dengan orang tua atau saudara-saudaranya sebelum anak

    berusia 1 tahun. Permainan yang secara turun-temurun

    dilakukan antara lain ciluk-ba, petak umpet, berpantun.

-   Permainan individual (dilakukan sendirian) pada usia

    sekitar 4 atau 5 tahun, anak memainkan permain-

    permainan untuk menguji kemampuan dirinya. Ia

    berusaha berkompetisi dengan diri sendiri dalam artian

    berusaha meraih prestasi lebih baik dari kemampuan

    sebelumnya. Misalnya saja melompati parit, melompat

    dengan satu kaki, memantulkan bola kelantai, meniti

    tanggul parit dan seterusnya.

-   Permainan bersama teman-teman

    Saat anak mempunyai minat melakukan permainan

    individual, mereka juga mulai berminat dengan kegiatan

    bersama teman-teman yang biasanya diarahkan oleh anak
    yang lebih besar. Permainan yang umumnya dilakukan

    adalah oetak umpet.

-   Permainan Beregu

    Mulai digemari anak-anak usia antara 8-10 tahun.

    Permainan ini mempunyai aturan-aturan dan kompetensi

    yang tinggi. Contoh dari permainan beregu adalah bola

    basket, sepak bola yang dimodifikasi sendiri oleh mereka

    dengan peraturan-peraturan tersendiri.

-   Permainan di dalam Ruang

    Permainan di dalam ruang tidak sekasar permainan di

    ruang dan umumnya dimainkan saat anak harus berdiam

    di dalam rumah karena sakit, lelah atau cuaca buruk.

    Awalnya anak bermain bersama orang tua dan saudara-

    saudaranya tapi berubah buruk. Awalnya anak bermain

    bersama teman sebayanya. Aturan-aturan menjadi lebih

    ketat   dan   kompetisi    juga   lebih   tinggi   dengan

    meningkatnya usia anak. Permainan tradisional yang

    sering dilakukan adalah main kartu cangkulan, menebak

    kartu, ular tangga dan lain-lain. Pertmainan dan olah raga

    mempunyai manfaat sebagai agen sosialisasi bagi anak

    lain,   bekerja sama dalam berbagai aktivitas dan

    memainkan peranan baik sebagai pemimpin ataupun

    sebagai pengikut.
            Anak juga dapat menilai dirinya maupun keterampilan-

            keterampilan     yang    dikuasai   secara   nyata     dengan

            membandingkannya dengan anak lain yang sebaya. Anak

            yang kurang diterima oleh teman sebaya lebih banyak

            meghabiskan waktu bersama keluarga atau orang tua

            yang umumnya bersikap lebih longgar ataupun banyak

            mengalah pada anak sehingga anak lebih               mendapat

            kesempatan belajar menerima kekalahan dan bersikap

            sportif.

4.2.f.   Musik

             Aktifitas musik bisa digolongkan pada bermain aktif bila

         anak    melakukan    kegiatan    musik   misalnya       bernyayi,

         memainkan alat musik tertentu atau melakukan gerakan-

         gerakan atau tarian        yang diiringi musik.     Bernyanyi

         merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan karena

         tidak menuntut keahlian memainkan alat musik tertentu.

             Manfaat yang dapat diperoleh adalah untuk sosialisasi

         dan memupuk rasa percaya diri pada anak. Karena ia mampu

         bernyanyi atau memainkan alat musik tertentu, mereka dapat

         menyenangkan diri sendiri, sekaligus belajar untuk menjadi

         kreatif. Lewat kegiatan bersama teman, anak belajar

         bekerjasama.
                                 BAB III

                       METODE PENELITIAN



A.   TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

          Penelitian dilaksanakan di TK Dharma Wanita Ketitang Kecamatan

     Jumo Kabupaten Temanggung.

          Waktu penelitian dilaksanakan mulai hari Kamis, 9 Desember 2010

     sampai dengan Rabu, 9 maret 2011.



B.   POPULASI

          Disini peneliti menggunakan populasi yang bersifat studi populasi

     seluruhnya sehingga tidak perlu memunculkan sample.

          Populasinya adalah siswa TK Dharma Wanita Ketitang Kecamatan

     Jumo yang berjumlah 18 anak.

                                 Tabel Populasi

             No           L                  P          Jumlah Anak

              1           8                 10                18



C.   VARIABEL PENELITIAN

          Variabel merupakan gejala yang menjadi focus peneliti untuk diamati.

     Variabel itu sebagai atribut bagi sekelompok orang atau obyek yang

     empunyai variasi antara satu dengan lainnya dalam kelompok itu (Sugiyono:

     1997,2). Variabel juga dapat disebut sebagai objek penelitian yang
     bervariasi. Variabel dalam penelitian ini adalah alat permainan disebut

     sebagai variable penyebab atau variable yang diberi symbol (X) sedangkan

     minat baca disebut sebagai variable terikat yang diberi symbol (Y).



D.   INSTRUMEN PENELITIAN / ALAT PENGUMPULAN DATA

     1.   Pengertian Instrumen

                Instrumen merupakan alat ukur untuk melakukan pengumpulan

          data, dalam penelitian ini, penelitian menggunakan angket untuk

          mengetahui jenis alat permainan yang dipakai dan angket untuk

          mengetahui minat baca.

     2.   Kisi-kisi Instrumen

                Kisi-kisi instrument yang diperlukan untuk mengetahui bentuk-

          bentuk alat permainan minat baca anak

                Variabel
                                       Indikator          No. Item Instrumen
                Penelitian
                                 1. Pengertian alat      1.2.36.4
                                    permainan
                                 2. Bentuk-bentuk        5.6.7.8.9.10.
                                    alat permainan
                                 3. Manfaat alat         11.12.13.14.15
             Alat Permainan         Permainan
                                 4. Tujuan permainan     16.17.18.19.20
                                    bagi anak TK


                                 1. Pengertian           1.2.3.4.5.6
                                    membaca
                                 2. Jenis-jenis          7.8.9.10.11.12.13
               Minat Baca           membaca
                                 3. Manfaat              14.15.16.17.18.19.20
                                    membaca
3.   Uji Coba Instrumen Penelitian

           Subyek yang digunakan untuk uji coba instrument ini adalah

     siswa kelompok B, TK Dharma Wanita Ketitang Kecamatan Jumo

     Kabupaten Temanggung tahun pelajaran 210/2011 yang berjumlah 18

     siswa.     Selanjutnya   instrument      penelitian   diuji   validitas   dan

     reliabilitasnya.

     (1)   Uji Validitas

                  Instrumen penelitian atau alat ukur dikatakan valid jika alat

           tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur yaitu dapat

           mengunkap data dari variable yand diteliti secara tepat. Tinggi

           rendahnya Validitas Instrumen menunjukkan bahwa data yang

           terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variable yang

           diteliti. Analisis untuk mengukur validitas, diukur dengan

           menggunakan rumus korelasasi product moment sebagai berikut:



           r xy =          nΣ xy – (Σ x)(Σ y)
                     √ nΣ x2 – (Σ x)2 {n Σ y2 – (Σ y)2}}


           Keterangan :

           rxy      = Validitas tiap item angket

           n        = Banyaknya responden

           Σx       = Jumlah skor tiap item

           Σy       = Jumlah skor total

           (Waluyo : 1992,95)
            Tiap butir pertanyaan diuji validitasnya, masing-masing

      teks butir pertanyya diperoleh r hitung > r table, sehingga

      instrument penelitian dikatakan valid untuk mengambil data

      penelitian.

(2)   Uji Reabilitas

            Reabilitas menyangkut ketepatan alat ukur. Suatu alat ukur

      mempunyai reliabilitas tinggi atau dapat dipercaya jika alat ukur

      itu mantap, mantap dalam pengertian bahwa alat ukur tersebut

      stabil dan dapat diandalkan.

            Tingkat reliabilitas instrument penelitian ini dihitung

      dengan rumus regresi linier. Teknik ini digunakan untuk mencari

      pengaruh variable serta mencari besar sumbangan dari variable

      bebas (X) terhadap variable terikat (Y). Adapun rumus yang

      digunakan adalah sebagai berikut :

      Y = a + bX                                 (Sugiyono, 1007: 228)

      Keterangan :

      Y   = Subyek dalam variable dependen yang diprediksi

      a   = harga Y bila X = 0 (harga konstan)

      b   = Angka arah atau koefisien regresi yang menunjukkan

             angka peningkatan atau penurunan variable dependen

             yang didasarkan pada variable independent. Bila b (+)

             maka naik, dan bila (-) maka terjadi penurunan.
          X     = Subyek pada variable independent yang mempunyai nilai

                  tertentu.

                 Hasil uji reliabilitas tiap teks, diperoleh r hitung > r table

          sehingga instrument penelitian dikatakan reliable atau dapat

          dipercaya untuk mengambil data penelitian.

4.   Teknik Analisis Data

          Penelitian ini menggunakan teknik analisis statistic deskriptif

     dan statistic asosiatif. Statistic deskriptif adalah statistic yang

     berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap

     objek yang diteliti melalui populasi, tanpa membuat kesimpulan yang

     berlaku untuk umum. Dalam statistic deskriptif dikemukakan cara

     penyajian data dengan table biasa maupun distribusi frekuensi, modus,

     median, mean dan simpangan baku (standar deviasi).

     1)   Anilisis Statistik Deskriptif

          Analisis ini meliputi data tentang :

          (1)    Menghitung Mean (rata-rata)

                      Untuk menghitung mean dari data bergolong, terlebih

                dahulu data tersebut disusun menjadi table sehingga

                perhitungannya      mudah        dilakukan.   Rumus      untuk

                menghitung mean dari data bergolong adalah :

                Me = Σ fx
                       f
      Keterangan :

      Me = Mean untuk data bergolongan

      f    = Jumlah data

      fx = perkalian antara f dalam tiap interval data dengan

      tanda kelas (x), tanda kelas x adalah rata-rata dari batas

      bawah dan batas atas pada setiap interval data.

(2)   Menghitung modus

             Untuk menghitung modus data yang telah kedalam

      table distribusi frekuensi dengan rumus :

      Mo = b + p       b1
                     b1 + b2


      Keterangan

      Mo = Batas bawah kelas dengan frekuensi terbanyak

      b     = Panjang kelas interval dengan frekuensi terbanyak

      p     = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas

              sebelumnya

      b1    = Frekuensi kelas modus dikurangi kelas sebelumnya

      b2    = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas

              berikutnya

(3)   Menghitung standar deviasi (simpangan baku) dengan

      rumus :

      S = √Σf1 (x1 – x)2
             n- 1
      (Sugiyono : 1997, 48-55)
2)   Analisis Statistik Asosiatif

                  Kerangka      kerja    pengolahan     data     mengacu

     (Sugiyono : 1992, 191) adalah sebagai berikut

     (1)   Penilaian data

           Data dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data

           kuantitatif dalam hal ini data diperoleh dari angket

           kemampuan metode berceritadan angket minat baca.

     (2)   Tabulasi data

                  Data terwujud angka-angka yang telah terkumpul

           dimasukkan kedalam table yang disiapkan.               Tujuan

           memasukkan       data      kedalam   table   adalah     untuk

           memudahkan perhitungan kedalam rumus. Rumus yang

           digunakan dalam analisis data ini adalah analisis kolerasi

           product moment untuk mengetahui adakah pengaruh

           variable x terhadap variable y, dan analisa regresi linier

           sederhana untuk mengetahui berapa besar sumbangan

           variable x terhadap y.

     (3)   Perhitungan dengan rumus kolerasi Product Moment dan

           regresi linier sederhana

                 Teknik kolerasi product moment dan regresi linier

           sederhana termasuk teknik statistic parametris sederhana

           yang memerlukan asumsi. Asumsi yang dimasukkan
adalah adanya       lineritas   hubungan dan data harus

berdistribusi normal.

a.   Kolerasi Product Moment

     Teknik ini digunakan untuk mengetahui hubungan

     antara variable (x) dengan variable (y). Adapun

     rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

     rxy =     n Σ xy – (Σ x)( Σ y)
         √ {n Σ x2 – (Σ x)2 {n Σ y2 – (Σ y)2}}

     (Sugiyono : 1997, 197)

     Keterangan :

     rxy    = Koefisien kolerasi antara x dan y

     Σxy    = Jumlah product dari x kali y

     Σx2    = Jumlah kuadrat x

     Σy2    = Jumlah kuadrat y

     N      = Jumlah sample

            Pengujian signifikan koefisien ini ditetapkan

     pada taraf kesalahan 1% dan 5% jika r hitung lebih

     dari atau sama dengan harga koefisien kolerasi pada

     table atau secara singkat dinyatakan r hirung > r table

     pada taraf signifikansi 1% da 5%, r hitung lebih besar

     dari r table, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima

     berarti ada hubungan yang positif dan signifikan

     variable x terhadap variable y dan sebaliknya, jika r

     hitung < r table pada taraf signifikansi 1% dan 5%,
     sehingga Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti

     tidak ada hubungan yang positif dan signifikan dari

     variable x terhadap variable y.

b.   Analisis Regresi Linier sederhana

     Teknik ini digunakan untuk mencari pengaruh

     variable serta mencari besar sumbangan dari variable

     (x) terhadap variable terikat (y), adapun rumus yang

     digunakan adalah sebagai berikut :

     Y = a + bx

     (Sugiyono : 1977’ 228)

     Keterangan

     y = Subyek      dalam         variable     dependen     yang

          diprediksikan

     a = harga y bila x = 0 (harga konstan)

     b = angka     arah     atau     koefisien     regresi   yang

          menunjukkan         angka           peningkatan    atau

          penurunan. Variable dependen yang didasarkan

          pada variable independent bila b (+) naik bila(-)

          maka terjadi penurunan

     x = Subyek      pada     variable        independent    yang

          mempunyai nilai tertentu
                Sealin itu harga a dan b dapat dicer dengan rumor

                berikut :

                a = (Σ y)( Σ x2) – (Σ x)( Σ xy)
                          n Σ x2 – (Σ x2)


                (Sugiyono : 1997, 229)

                b=     nΣ xy(Σ x)( Σ y)
                        n Σ x2 – (Σ x)2

3)   Hipotesis Statistik

          Hipotesis statistic adalah dugaan keadaan populasi dengan

     data sample. Besarnya pengaruh variable bebas (x) terhadap

     variable terikat (y) masih harus diuji kebenarannya dan

     signifikansinya. Untuk pengujian signifikansi koefisien kolerasi

     dengan menggunakan rumus uji t sebagai berikut :

     t = r √n – 2
         √n – 2


     dimana harga r = Σ xy
                     √x2 y2



          Bersamanya pengaruh dapat dilihat dari besar kecilnya

     indeks koefisien kolerasi. Nilai mendekati 0 menunjukkan

     rendahnya pengaruh dan nilai mendekati angka 1 menunjukkan

     tingginya pengaruh harga t hitung selanjutnya.

          Dibandingkan dengan harga t table, jika t hitung > t table

     pada taraf kesalahan 1% dan 5% dengan dk-n-1 menunjukkan
Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan pengaruh yang

positif dan signifikan antara pendidikan matematika dan

perkembangan kecerdasan intelektual.

Adapun hipotesisi statistiknya sebagai berikut :

1.   Ha diterima, Ho ditolak, jika t hitung > t tabel

2.   Ha diterima, Ho ditolak, jika t hitung < t tabel
                       SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI



     Sistematika penulisan skripsi disusun dengan tujuan agar pokok-pokok

masalah dapat dibahas secara runtut dan terarah.



Bagian isi:

BAB I     : PENDAHULUAN

              Latar Belakang, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat.

BAB II    : LANDASAN TEORI

              Pengertian Guru, Hakekat Anak, Hakekat TK, Pengertian Bermain

              menurut Para Ahli, Manfaat Bermain Pra Sekolah, Ketajaman Panca

              Indera

BAB III : METODE PENELITIAN
                             DAFTAR PUSTAKA



Depdiknas, 1996. Pengembangan Kemamapuan Berbahasa Taman Kanak-Kanak,
           Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

________, 2000, Permainan Membaca dan Menulis di Taman Kanak-Kanak,
          Jakarta.

Depdikbud, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1995, Bermain, Mainan dan
          Permainan.

________, 1995, Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak; Petunjuk
          Kegiatan Belajar Mengajar Taman Kanak-Kanak, Jakarta.

________, 1996, Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak; Landasan
          Program dan Pengembangan Kegiatan Belajar, Jakarta.

Heinstock, Elizabeth G., 2002, Montessori untuk Prasekolah, PT. Pusataka
           Delapratasa.

Mayke Sugianto T., 1995. Bermain, Mainan dan Permainan, Jakarta

Poerwadarminta, W.J.S., 2003, Kamus Bahasa Indonesia.

Prianto, Roesmini A, 2003, Perilaku Anak Usia Dini, Jakarta.

R. Moeslichatun, 1999, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak, Bandung:
           Rineka Cipta.

Soerjono Dardjowidjojo, 2008, Psikoligunistik (Pengantar Pemahaman Bahasa
          Manusia), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Solekhudin, 1997, Kompetensi Guru dalam Pembelajaran di Taman Kanak-
           Kanak, Jakarta: PT. Pustaka Delaprasta.

Sugiyono, 2006, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfa Beta.

Tampubolon, 1991, Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak,
         Bandung: Antariksa.

Undang-Undang Sisdiknas dan Undang-Undang, 2008, Guru dan Dosen, Jakarta
         Visi Media.
                             PERSETUJUAN




Skripsi dengan judul :Pengaruh Alat Permainan terhadap Minat Baca Anak d TK

Dharma Wanita Ketitang Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung” telah

disetujui oleh Dosen Pembimbing 1 dan Dosen Pembimbing II diketuai oleh ketua

jurusan Dra Khasanah, M.Pd dan disahkan oleh Dekan Dra. Dwi Hardiyanti,

M.Pd TKIP Veteran Semarang pada :

Hari       :

Tanggal    :

                                             Semarang,                         2010

                                             Peneliti

                                             Nama         : Iput Febriantini

                                             NPM          : 08261435



                                 Disetujui
  Dosen Pembimbing I                             Dosen Pembimbing II




  Drs. Triyanto, M.Si                        Dra. Dwi Hardiyanti, M.Pd
NIP. 19550702 198603 1 001                        NIY. 628101958

Disahkan :                              Diketahui:
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan                          Ketua Jurusan



  Dra. Dwi Hardiyanti                           Dra. Khasanah, M.Pd
    NIY. 628101958                                 NIY.614101963
     PENGARUH ALAT PERMAINAN TERHADAP
MINAT BACA ANAK DI TK DHARMA WANITA KETITANG
   KECAMATAN JUMO KABUPATEN TEMANGGUNG



                         SKRIPSI

       Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
                Dalam Menyelesaikan Program
                     Sarjana Pendidikan




                           Oleh :
               Nama           : Iput Febriantini
               NPM            : 08261435
               Jurusan        : S1 PAUD




           FAKULTAS ILMU KEPENDIDIKAN
     INSTITUT ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
                VETERAN SEMARANG
                       2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5
posted:10/20/2013
language:Malay
pages:45