Tapem Pdf

Document Sample
Tapem Pdf Powered By Docstoc
					LAPORAN
PERUMUSAN KEBIJAKAN KELEMBAGAAN TATA PEMERINTAHAN DI LAUT

DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN SEKRETARIAT JENDERAL TAHUN ANGGARAN 2007

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

1

KATA PENGANTAR

Sumberdaya kelautan merupakan pendukung penting bagi ekonomi Indonesia dan sangat penting, baik secara nasional maupun dunia, karena kekayaan keanekaragaman hayatinya. Namun demikian, upaya pengelolaannya saat ini belum dapat memenuhi tujuan perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan. Hadirnya otonomi daerah tahun 1999, Indonesia telah mengalami perubahan yang amat besar dalam sistem hukumnya. Pengelolaan sumberdaya kelautan dan sumberdaya alam lainnya telah berganti dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan bidang legislatif dianggap memiliki peran lebih besar dalam menyusun dan mengawasi peraturan perundang-undangan. Namun demikian, upaya pengelolaannya saat ini belum dapat memenuhi tujuan perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan. Pembangunan negeri bahari yang selama ini dilakukan banyak terjadi tumpang tindih

(over lapping) kewenangan dan seringkali menimbulkan konflik kewenangan antar sektor.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pengelolaan di bidang kelautan ditangani lebih dari satu departemen yang tentu saja memiliki kepentingan yang berbeda. Sebenarnya dari kegiatan pemanfaatan laut dan tata pemerintahan di laut dapat diketahui bahwa pengaturan pendayagunaan kelautan telah tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan secara sektoral dimasing-masing instansi. Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan kebijakan dalam mendayagunakan berbagai sektor di segenap tingkat pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan secara bijaksana untuk kepentingan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga diperlukan pengaturan melalui kebijakan tata pemerintahan di laut yang merupakan suatu sistem yang dapat memaksimalkan manfaat dari penggunaan sumberdaya kelautan dan ruang di laut bagi kepentingan bangsa Indonesia. Dalam mengatur ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat di dalamnya untuk menjalankan dua dimensi kepentingan, Pertama kepentingan dan kewenangan nasional terhadap wilayah perairan laut Indonesia dan kedua, kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap peraturan global di perairan laut internasional. Pengaturan yang diinginkan tersebut diwujudkan dalam bentuk tata-laksana pengelolaan kelautan (ocean governance) sebagai instrumen kebijakan kelautan (ocean policy). Untuk mewujudkan maka perlu dilakukan suatu kajian yang mendalam mengenai berbagai aspek antara lain aspek administrasi pemerintahan, aspek kelembagaan maritim, aspek kedaulatan dan penegakan hukum dan aspek-aspek maritim lainnya.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

i

Kajian tersebut disajikan dalam laporan akhir yang disusun berdasarkan hasil rapat penyempurnaan dari laporan kemajuan dengan pemangku kepentingan (stakeholders). Adapun hasilnya telah tersusun sebagai laporan akhir Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut. Akhir kata semoga dengan selesainya penulisan laporan akhir ini dapat dijadikan pedoman dan bermanfaat bagi para pembaca, utamanya bagi kalangan birokrat dalam menyusun suatu kebijakan pengelolaan laut.

Ketua Tim Penyusun

Drs. Ir. Bonar Simangunsong, M.Sc

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

ii

DAFTAR ISI

Hal Kata Pengantar .................................................................................................. Daftar Isi ........................................................................................................... Daftar Tabel ....................................................................................................... Daftar Gambar .................................................................................................. Ringkasan Eksekutif .......................................................................................... BAB I Pendahuluan ...................................................................................... 1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1.2 Permasalahan ................................................................................ 1.3 Tujuan dan Sasaran ....................................................................... 1.3.1 Tujuan ................................................................................ 1.3.2 Sasaran .............................................................................. 1.4 Lingkup Kegiatan ............................................................................ 1.5 Keluaran ........................................................................................ 1.6 Metoda Penelitian ........................................................................... 1.6.1 Metode Pendekatan .............................................................. 1.6.2 Sampel Wilayah Kelautan ...................................................... 1.6.3 Sampel Responden ............................................................... 1.6.5 Metodologi Analisis ............................................................... 1.7 Sistematika Penulisan Laporan ......................................................... BAB II i iii v v 1 5 5 8 8 8 9 9 9 9 9 10 11 12 13

1.6.4 Data .................................................................................... 11 1.6.6 Model Analisis Kebijakan ........................................................ 13

Negara Kesatuan Republik Indonesia Sebagai Negara Kepulauan .. 15 2.1 Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia ................................. 2.3 Wawasan Negara Republik Indonesia Sebagai Negara Kepulauan ........ 2.4 Tanggung Jawab Negara Republik Indonesia Sebagai Negara Kepulauan .......................................................................... 23 15 20 2.2 Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Laut ..................... 15

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

iii

2.5 Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Kelautan ........ 2.7 Keterkaitan Otonomi Daerah dengan Pengelolaan Kelautan ................. 2.8 Pemanfaatan Dan Pendayagunaan Kekayaan Laut .............................. BAB

24 26 27

2.6 Instansi Pemerintah yang Terkait dengan Kelautan ............................. 25

III Meta Masalah Tata Pemerintahan Di Laut Indonesia ....................... 34 3.1 Penggalian Masalah ........................................................................ 3.1.1 Inventarisasi Lembaga/Instansi Yang Terkait Pengelolaan Laut, Fungsi dan Dasar Hukumnya ......................................... 3.1.2. Penggalian Masalah Dari Survey Di 18 Pemerintahan Provinsi Sampel .................................................................... 3.1.3 Penggalian Masalah Dari Beberapa Instansi di Pemerintah Pusat .................................................................. 41 3.1.4 Penggalian Masalah Perjanjian Internasional ............................ 45 3.2 Kewenangan Daerah Terhadap Wilayah Laut ...................................... 48 3.3 Peluang Dan Tantangan Tata Pemerintahan Di Laut (Kebijakan) .......... 50 3.3.1 Peluang dan Tantangan Global/ Eksternal Keamanan di Laut ..... 3.3.2 Peluang dan Tantangan Nasional/Lingkungan Internal .............. 3.3.3 Tantangan Regional .............................................................. 50 57 65 36 34 34

BAB

IV Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut Indonesia ....................... 67 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. 4.5. 4.6. 4.7. 4.8. 4.9. 4.10 Tata Pemerintahan Di Laut Yang Baik ............................................ Otoritas Di Laut .......................................................................... Pengembangan Infrastruktur ........................................................ Pengembangan Kelembagaan ....................................................... Model Kelembagaan Tata Pemerintahan Laut Negara Lain ............... Pengaturan Tata Pemerintahan Di Laut .......................................... Ruang Kerja Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut ...... Kawasan-Kawasan Maritim Tata Pemerintahan Di Laut .................... Keberhasilan Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut ................... Penegakan Kedaulatan Hukum Di Laut .......................................... 67 69 69 70 71 75 76 78 79 80

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

iv

BAB

V

Kebijakan Dan Strategi Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut Indonesia ............................................................................. 85 5.1 Kebijakan Pembentukan Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut ............................................................................ 85 5.2 Strategi Pembentukan Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut ............................................................................ 86 5.3 Tugas Fungsi Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut ....... 5.4 Organisasi Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut ............. 87 88

BAB

VI Kesimpulan Dan Rekomendasi .......................................................... 90 6.1 Kesimpulan .................................................................................... 90 6.2 Rekomendasi .................................................................................. 91

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL Hal Tabel 2.1. Kumpulan Perundang-Undangan Yang Merngatur Tentang Kelautan ............ 24 Tabel 2.2. Kewenangan Lembaga-lembaga Pemerintah dan Dasar Aturannya .............. 25 Tabel 3.1. Inventarisasi Instansi yang terkait mengelola Kelautan .............................. 35

DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 4.1. Ruang Kelautan ................................................................................. 78 Gambar 5.1. Bagan Organisasi Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut ..................... 89

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

v

RINGKASAN EKSEKUTIF

Semua fungsi dan tugas pemerintahan (fungsi dan tugas manajemen) telah dibagi habis kepada lembaga pemerintahan dan lembaga pemerintah non departemen. Semua persoalan dan tantangan tersebut di atas ditanganai oleh masing-masing lembaga dan cenderung secara parsial dan sektoral. Berbagai persoalan kelautan sebelum terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan telah ditangani oleh berbagai sektor. Masalah pelayaran dan pelautnya ditangani oleh Departemen Perhubungan, masalah pariwisata bahari ditangani oleh Kementerian Negara Pariwisata dan Budaya, masalah pertambangan lepas pantai ditangani oleh Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, masalah industri pengolahan hasil laut dan industri perkapalan,galanan kapal ditangani oleh Departemen Perindustrian, permasalahan di daratan/wilayah darat ditangani oleh Depertemen Dalam Negeri yang cenderung mempunyai kedudukan sentral. Namun dalam nuansa Otonomi Daerah (OTODA) kewenangan kordinatifnya melemah. Masih banyak lagi masalah lainnya yag terkait dengan kelautan yang ditangani secara parsial dengan tingkat ego-sektoral yang tinggi, lebih-lebih lagi dengan sering berubah-ubahnya bentuk organisasi pemerintahan. Laut yang mempunyai karateristik ekosistem yang sangat berbeda diperlakukan sama dengan ekosistem darat dan secara politis seharusnya mampu menjadi memadu-serasikan persatuan dan kesatuan nasional ternyata justru memperkuat legitimasi pendekatan sektoral. Dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan, agaknya belum cukup mampu untuk mengubah paradigma darat ke paradigma laut. Ruang gerak departemen ini masih gamang, karena banyak tugas pokok dan fungsinya yang tumpang tindih dengan departemen lain, akibatnya yang terjadi bukannya upaya untuk memadu-serasikan tetapi justru terkesan terjadi tumpang tindih program pembangunan antar departemen dan lembaga negara lainnya, termasuk di bidang perikanan sekalipun bidang ini mempunyai domain yang spesifik. Hal tersebut sudah tentu akan melahirkan pemborosan sumberdaya dan dana Dalam situasi semacam ini seharusnya ada lembaga atau peraturan perundangan yang dapat mengatur dan mengkoordinasikan dengan baik berbagai program yang terkait dengan kelautan, yang tersebar di berbagai departemen dan lembaga negara lainnya. Peran untuk memadukan program ini sebenarnya dahulu diemban oleh Bappenas dan peningkatan fungsi anggaran dari DPR, maka saat ini praktis tidak ada lagi lembaga negara yang dapat memadukan berbagai program pembangunan tahunan. Rujukan utama untuk memadukan itu ada pada PROPENAS (Program Pembangunan Nasional) yang sesungguhnya masih sangat multi tafsir. Pengaturan dan koordinasi tidak hanya untuk program-program pembangunan saja, akan tetapi pengaturan dan pengelolaan keamanan dan pengamanannya, agar mampu mengelola wilayah laut dengan sumber-sumber ekonominya yang tidak terbatas (self-generating/elf renewal). Suatu kebijakan yang mengatur ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat didalamnya untuk menjalankan dua dimensi kepentingan, pertama kepentingan dan kewenangan

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

1

nasional terhadap wilayah perairan laut Indonesia dan kedua kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap peraturan global di perairan laut internasional. Pengaturan yang diinginkan diwujudkan dalam bentuk tata-laksana pengelolaan kelautan (ocean governance). Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut, sebagai sub-sistem yang integral Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia SANKRI sudah sangat mendesak. Lebih jauh, sistem tersebut harus selaras dengan konvensi-konvesi dan tata hubungan internasional, yaitu : Konvensi hukum laut PBB 1982 hanya mengakui hak negara Nusantara (Archipelagic state) untuk menarik garis-garis pangkal lurus Nusantara (Archipelagic straight baselines) yang menghubungkan titik terluar dari pulau terluar Negara Kepulauan Indonesia sesuai dengan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Pasal 47 UNCLOS 1982 itu hanya berlaku untuk Negara Nusantara kepulauan. Archipelagic state, konsep Archipelago adalah suatu negara kepulauan terdiri lebih dari satu gugus pulau yang jaraknya sangat jauh dari gugus pulau lainnya.

-

Mekanisme pengaturan yang disusun bedasarkan fungsi-fungsi dan kewajiban pemerintah (ocean governance) di bidang kelautan. Pelaksanaan ocean governance harus mampu menjawab tantangan terhadap perkembangan yang pesat sesuai dengan perubahan kepentingan negara terhadap dinamika isu-isu domestik dan global. Fungsi pemerintah dimulai dari fungsi pada penagturan hubungan internasional dalam menjamin kepatuhan pada perjanjian internasional; fungsi keamanan nasional sebagai pertahanan negara;fungsi perdagangan antar wilayah,regional dan internasional; fungsi hak kepemilikan yang menjamin manfaat sebesarbesarnya untuk kepentingan rakyat; fungsi penegakan hukum yang menjamin kepentingan publik dan upaya pencegahan publik; dan fungsi kepercayaan dari masyarakat yang menjamin keberlanjutan pembangunan demi kebutuhan generasi mendatang. Pada sisi lain adanya tuntutan desentralisasi memerlukan perubahan yang mendasar pada kelembagaan pemerintah, peraturan-peraturan yang diperlukan, dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Oleh karenanya pelaksanaan ocean governance harus dapat sejalan dengan tuntutan dan keinginan masyarakat setempat dan sekaligus pada sisi lain memenuhi kepatuhan pemerintah Indonesia terhadap tuntutan kepentingan internasional. Kemampuan mengatur berbagai dan kepentingan setiap pihak di laut akan memperkuat jatidiri sebagai bangsa negara bahari. Negara adalah penanggung jawab penataan hukum di laut dalam perannya sebagai negara pantai, (coastal state), negara bendera (flag state), dan negara pelabuhan (port state). Oleh karena itu hanya pemerintahan negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, administratif dan diplomatik) yang berwawasan kelautan yang dapat mengaplikasikan “good order at sea” (tata kelautan yang baik) seperti yang diisyaratkan oleh masyarakat kelautan internasional. Pemerintah perlu suatu ketetapan tentang otoritas di laut yang harus diputuskan dengan Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Presiden (Perpres) sebagaimana yang diamanatkan dalam Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim stb.1939 Nomor 442, dan UNCLOS 1982 yang telah diratifikasi dengan Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 1985, serta Amandemen Konvensi Internasioanl Tentang Keselamatan Jiwa Di Laut (SOLAS) 1974.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

2

Perubahan global yang mendasar di bidang kelautan atau pada aspek maritim memberi pengaruh yang sangat besar pula menyangkut keamanan laut, upaya menegakan keamanan di laut dalam rangka menetapkan integritas wilayah kelautan Indonesia perlu diperlakukan dengan cara memadukan secara komprehensif strategi pertahanan negara yang meliputi strategi militer, strategi ekonomi, dan dengan didukung strategi politik. Posisi geografis tersebut meyebabkan Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh dan kepentingan-kepentingan negara lain, baik menyangkut masalah politis, ekonomi sosial dan budaya maupun militer, lebih-lebih lagi dalam era globalisasi ekonomi sekarang ini di mana derajat saling ketergantungan (interdenpedency) makin kuat. Agar kelautan dapat dikelola dengan baik perlu membentuk organisasi Kementrian Kordinator Kelautan/setingkatnya, yang secara otomatis harus diberikan fungsi dan tugastugas kordinasi dan implementatif pengelolaan kelautan/maritim di atas. Oleh karena fungsi dan tugas-tugas pengelolaan laut sudah terbagi habis pada berbagai instansi, maka dengan sendirinya pengorganisasian kelautan adalah organisasi matrix, artinya instansi-instansi yang menangani kelautan mempunyai dua “ keanggotaan”. Pertama, anggota departemen fungsional. Kedua, anggota Kementerian Kelautan. Contohnya; Dirjen Perla bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan dalam aspek perhubungannya, dan kepada Menteri Kordinator Kelautan dalam aspek kelautannya. Kementerian Kelautan menyelenggarakan apa yang sekarang dilaksanakan oleh Dewan Maritim Indonesia. Pada sisi yang lain mungkin ada fungsi dan tugas-tugas baru dalam bidang kelautan/maritim yang dapat diberikan kepada organisasi baru ini. Lembaga/organisasi ini bertanggung jawab terhadap semua kegiatan kelautan/kemaritiman dari pusat sampai daerah, mengumpulkan aset-aset yang tersebar di berbagai instasi sebelumnya dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dalam hal kewenangan-kewenangan pelaksanaan kegiatan kelautan/kemaritiman dapat menggunakan aturan perundang-undangan yang telah ada, tetapi instansinya telah merajut dalam lembaga/organisasi baru tersebut, menjadi satu kapal satu seragam. Kelembagaan Kelautan Wilayah/Kawasan Otoritas dapat dibentuk pada wilayah yang meliputi dua Provinsi atau lebih. Di mana wilayah kerja lembaga otoritas tata pemerintahan di laut di tingkat sub-nasional tersebut untuk selanjutnya disebut sebagai Kawasan Maritim. Lembaga kawasan maritim di daerah ini yang akan menjadi Vocal Point dari kegiatan-kegiatan laut dengan tujuan untuk mengelola potensi dan kekayaan laut, berdasarkan satu kesatuan wilayah laut yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya).Kelembagaan ini yang bertanggung jawab kepada Presiden melalui Lembaga Tata Pemerintahan Di Laut tingkat nasional (Menteri Koordinator Kelautan). Tujuan adanya lembaga otoritas kawasan maritim ini adalah agar ada sinergi pengelolaan laut dan penegakan hukum (Ocean Governance) antar wilayah administratif (Provinsi ataupun Kabupaten/Kota) yang berbatasan langsung, dan disatukan berdasarkan satu kesatuan wilayah laut yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya) misal Kawasan Teluk Tomini.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

3

Di butuhkan kemauan politik untuk meninggalkan kepentingan sektor oleh seluruh unsur bangsa baik di legislatif, eksekutif, yudikatif agar tujuan utama yang ingin dicapai dalam pemantapan ocean governance merupakan suatu keterpaduan dari pembangunan di berbagai sektor oleh segenap tingkat pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan. Perlunya dilakukan perubahan-perubahan beberapa perundang-undangan yang tidak sejalan dan menghambat lahirnya organisasi baru ini, untuk kemauan politik eksekutif dan legislatif yang diharapkan. Secara bertahap membentuk lembaga tunggal yang mampu dan mempunyai akses organisasi sampai pada tingkat daerah. Kedudukannya merupakan lembaga permanen, karena daerah dinilai bahwa banyak sekali masalah kemaritiman di daerah yang bersifat lintas sektor yang harus ditangani dan diselesaikan Organisasi Kelembagaan baru ini merupakan otoritas maritim yang sangat strategis dalam rangka pembentukan suatu ocean governance, guna terwujudnya negara maritim Indonesia yang tangguh dan disegani. Oleh karena itu operasionalisasi di tingkat otoritas kawasan maritim tidak dapat dilimpahkan kepada pemerintahan di daerah. Kelembagaan otoritas kawasan maritim ini merupakan perpanjangan tangan dalam mengeimplementasikan kebijakan-kebijakan maritim yang dkembangkan atas dasar prinsip-prinsip kesatuan dan persatuan nasional. Jadi diharapkan adanya kemauan politik dari pemerintah daerah dalam unsur pengintegrasi pembangunan antar wilayah-wilayah administratif yang di era otonomi diakui cenderung kebablasan menuju federalisasi.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

4

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 2/3 wilayah kedaulatannya adalah wilayah laut dan memiliki luas 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 km2 wilayah teritorial dan 2,7 km2 wilayah ZEEI, yang memiliki 17.480 pulau dan garis pantai sepanjang 95.181 km. Selain potensi fisik yang demikian besar, Indonesia dikarunia pula berbagai sumberdaya hayati, nir hayati dan kekayaan laut yang beranekaragam. Kemudian dari sudut pandang geografis Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi strategis dalam lalu lintas perekonomian dunia, yaitu terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia) yang membuat masyarakat dunia mengakui Indonesia sebagai persimpangan lintas pelayaran niaga utama (across the main commercial shipping line). Kenyataan ini menjadikan modal dalam pembangunan di Indonesia berbasis kepada negara kepulauan, yang mampu memadukan paradigma pendekatan “Land based socioeconomic development” dengan “Marine based socio-economic development”. Kewenangan dan landasan hukum pengelolaan wilayah laut Indonesia yang begitu luas mengandung hak dan kewajiban bangsa dan negara seperti hak kedaulatan, hak yurisdiksi dan kewajiban untuk penjagaan, pengamanan, perlindungan dan pemeliharaan. Hal tersebut perlu dilakukan untuk pemanfaatan, kemaslahatan dan kesejahteraan bangsa yang sebesarbesarnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seluruh aspek kegiatan kemaritiman dan pengamanan kelestarian lingkungan laut harus mengacu kepada ketentuanketentuan hukum internasional yang mengikat antara lain UNCLOS Tahun 1982, namun halhal yang bersifat partial dan kekhususan bagi setiap negara sebagai pengecualian dapat diatur asal tidak bertentangan dengan ketentuan hukum internasional tersebut. Dalam pembangunan negeri bahari yang dilakukan selama ini banyak terjadi tumpang tindih (over lapping) kewenangan seringkali menimbulkan konflik kewenangan antar sektor. Hal itu tidak dapat dipungkiri karena pengelolaan di bidang kelautan ditangani lebih dari satu departemen yang tentu saja memiliki kepentingan yang berbeda. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan kebijakan dalam mendayagunakan berbagai sektor di segenap tingkat pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan kelautan (ocean policy) Indonesia mencakup dua dimensi, yaitu pertama kepentingan dan kewenangan nasional terhadap wilayah perairan laut Indonesia, kedua kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap peraturan global di perairan laut internasional. Maka dalam menjalankan kedua dimensi kepentingan tersebut diperlukan suatu kebijakan yang mengatur ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat di dalamnya. Pengaturan yang diwujudkan dalam bentuk tata pemerintahan di laut (ocean governance) sebagai instrumen kebijakan kelautan (ocean policy).

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

5

Pengertian ocean governance diarahkan untuk mewujudkan bentuk rancang bangun dan upaya yang dilakukan dalam mengatur kegiatan publik pada wilayah laut beserta pemanfaatan sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya. Hal ini terkait dengan semakin pentingnya peran laut bagi kehidupan bangsa Indonesia sehingga pengaturan melalui tata pemerintahan di laut menuntut suatu sistem yang dapat memaksimalkan manfaat sumberdaya dan ruang di laut bagi kepentingan bangsa Indonesia. Mekanisme pengelolaan kelautan tidak terlepas dari eksistensi kebijakan nasional di bidang kelautan (ocean policy) yang disusun untuk menjalankan fungsi-fungsi dan kewajiban pemerintah (ocean governance). Pelaksanaan ocean governance harus mampu menjawab tantangan terhadap perkembangan yang pesat sesuai dengan perubahan kepentingan negara terhadap dinamika isu-isu domestik dan global sekaligus memanfaatkan laut Indonesia sebagai ruang hidup bagi rakyatnya. Fungsi pemerintah dimulai dari penataan pengaturan hubungan internasional dalam menjamin kepatuhan terhadap perjanjian internasional; fungsi keamanan nasional sebagai pertahanan negara; fungsi kelautan; fungsi perdagangan antar wilayah, regional dan internasional; fungsi hak kepemilikan yang menjamin pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat; fungsi penegakan hukum yang menjamin kepentingan publik dan upaya pencegahan konflik; dan fungsi kepercayaan dari masyarakat yang menjamin keberlanjutan pembangunan demi kebutuhan generasi mendatang. Pada satu sisi, adanya tuntutan desentralisasi yang memerlukan perubahan mendasar pada kelembagaan pemerintah, peraturan-peraturan yang diperlukan, dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Oleh karenanya pelaksanaan ocean governance harus dapat sejalan dengan tuntutan dan keinginan masyarakat setempat, sekaligus pada sisi lain memenuhi kepatuhan pemerintah Indonesia terhadap tuntutan kepentingan internasional, dengan terpenuhi kemampuan mengatur berbagai kegiatan dan kepentingan setiap pihak di laut akan memperkuat kedaulatan negara yang pada akhirnya memperkuat jati diri sebagai bangsa bahari. Negara merupakan penanggung jawab penataan hukum di laut dalam perannya sebagai negara pantai (coastal state), negara bendera (flag state) dan negara pelabuhan (port state). Oleh karena itu hanya pemerintahan negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, administratif dan diplomatik) yang berwawasan kelautan yang dapat mengaplikasikan ’good order at sea’ (tata kelautan yang baik) seperti yang disyaratkan oleh masyarakat kelautan internasional. Untuk itu dalam kebijakan nasional terutama tata laksana pemerintahan di laut perlu ada penetapan yang jelas siapa yang bertanggung jawab. Peran pemerintah yang cenderung tetap mengarah pada mentalitas provider atau sekedar penggerak pembangunan harus secara nyata beralih kepada perannya sebagai fasilitator dan penyeimbang (enabler). Langkah selanjutnya pemerintah sebaiknya berkonsentrasi kepada upaya-upaya untuk; menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, membangun infrastruktur, sarana dan prasarana, menyediakan akses permodalan, mendidik dan meningkatkan keterampilan teknis SDM kelautan dan perikanan, pertambangan, pariwisata, tranportasi, dll, maka masyarakat bahari dapat menjadi pelaku usaha ekonomi yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

6

Penyusunan peraturan perundang-undangan adalah salah satu bagian dari pembuatan kebijakan publik. Artinya kebijakan yang dimunculkan pihak yang berwenang dipakai oleh pemerintah negara untuk menjalankan tugas-tugasnya. Peraturan perundangan harus menampung semua aspirasi yang terkait dengan kebijakan publik. Pemerintah tidak mungkin berjalan tanpa adanya suatu kebijakan publik (aturan main) dalam menjalankan pemerintahan negara, karena pemerintahan melakukan kegiatan itu tidak sembarangan. Peraturan tersebutlah yang menerapkan ocean governance sebagai pelaksananya adalah lembaga-lembaga tertentu, maka dari itu diperlukan kebijakan untuk memantapkan kelembagaan ocean governance (tata pemerintahan di laut). Dalam mewujudkan hal itu, maka penyusunan peraturan perundangunndangan tentang tata laksana pemerintahan di laut adalah salah satu kebutuhan. Untuk merumuskan suatu kebijakan publik dibidang kelembagaan tata laksana pemerintahan di laut sungguh sangat komplek, multi dimensi, dan multi sektoral karena wilayah dan ruang kelautan sarat dengan berbagai muatan kepentingan (stake holder). Para stake holder mempunyai peranan dalam menyusun kebijakan publik. Sementara itu, kebijakankebijakan publik yang telah dirumuskan selama ini saling berdiri dan belum terintegrasi untuk kepentingan kedaulatan negara terutama kewilayahan dan kesejahteraan rakyat. Di dalam membahas kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut maka harus diuraikan terlebih dahulu tentang konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan yang berdaulat. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang merdeka. Pemerintah pusatlah yang mengatur seluruh daerah dari Sabang sampai Merauke, sebab berdasarkan konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kesatuan (unitarian state) yang merdeka dan berdaulat dari kekuasaan negara lain dan tidak ada negara di dalam negara. Kesatuan artinya Republik Indonesia adalah suatu negara yang memiliki rakyat yang satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Oleh sebab itu diperlukan penyusunan kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut tidak cukup dibahas dari aspek tugas dan fungsi dan kewenangan instansi terkait saja, tapi juga harus ditinjau dari segi hukum tata negara yang dapat mengakomodir berbagai kepentingan antar sektor, antar daerah, antar stakehoder dan hubungan pemerintah pusat dan daerah. Dengan adanya kebijakan penataan kelembagaan tata pemerintahan di laut maka pengelolaan kekayaan sumberdaya alam yang saat ini belum optimal, seperti halnya dalam pengelolaan pemanfaatan potensi laut oleh beberapa instansi yang cenderung berjalan sendirisendiri sesuai dengan kepentingan sektor masing-masing, diharapkan dapat tersinergi. Apalagi saat ini dengan belum adanya undang-undang tentang kelautan dan kebijakan kelautan (ocean policy) yang dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam pembangunan kelautan. Demikian juga terhadap pelayanan kepentingan internasional masih ada kesan yang simpang siur dan tumpang tindih. Sebagai akibat kelembagaan tata pemerintahan di laut yang tumpang tindih selama ini memperlihatkan bentuk kelembagaan yang ada tidak dapat mengintegrasikan dan mengsingkronisasikan fungsi dan kewenangan aparatur terkait di laut. Maka fakta yang ditemukan di lapangan memperlihatkan bahwa tata pemerintahan yang sekarang belum bisa 7

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

mengatur secara terpadu, efisien dan efektif dalam mendayagunakan seluruh kelembagaan terkait, aparatur serta sarana-prasarana untuk mengelola kekayaan laut Indonesia. Atas dasar itu, dianggap perlu merumuskan kebijakan penataan kelembagaan tata pemerintahan di laut. 1.2 Permasalahan Fungsi pemerintahan dan pembangunan telah dibagi habis ke dalam berbagai fungsi departemen dan lembaga pemerintahan non departemen. Demikian juga fungsi pemerintahan dan pembangunan (tata laksana pemerintahan dan pembangunan) di laut juga telah di bagi habis ke dalam berbagai departemen dan lembaga negara non departemen yang berfungsi mengelola bidang kelautan. Tata pemerintahan di laut telah diatur dengan peraturan perundangan yang cukup banyak, baik peraturan perundangan nasional, hukum dan konvensikonvensi Internasional, serta perjanjian-perjanjian internasional baik yang bersifat bilateral ataupun multinasional. Fungsi pemerintahan yang utama di laut adalah penegakan kedaulatan dan hukum di laut. Dalam rangka penegakan hukum di laut, Pemerintah Republik Indonesia harus menjalankan fungsi penegakan hukum berbagai peraturan perundangan yang berkaitan dengan laut, sampai dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pada tingkat internasional/global juga terdapat berbagai Konvensi Internasional yang telah diratifikasi oleh pemerintah yang mengatur tentang keamanan laut internasional termasuk juga wilayah laut Indonesia. Di samping itu masih ada sekitar Peraturan Perundangan warisan Pemerintah Belanda yang masih berlaku positif. Banyak peraturan perundangan yang ada yang mengatur tata pemerintahan di laut memang jamak, karena Negara Republik Indonesia adalah negara hukum, seperti ditegaskan kembali dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 Ayat (3) Bab I Amandemen ketiga Undang-Undang Dasar 1945. Artinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), dan tidak berdasarkan atas kekuasaan (machtsstaat). Namun sangat disayangkan, dari banyaknya peraturan perundangan tersebut banyak yang saling tumpang tindih, bahkan ada yang saling bertabrakan, sehingga menyulitkan pengelolaan pemanfaatan laut untuk kemakmuran rakyat secara efektif dan efisien Semua pengelolaan di laut tersebut di atas telah ditangani oleh lembaga yang di amanatkan masingmasing peraturan perundangan tersebut, sehingga akibatnya lembaga-lembaga tersebut cenderung berjalan secara parsial dan sektoral. 1.3 Tujuan Dan Sasaran 1.3.1 Tujuan dari kegiatan ini adalah : Untuk merumuskan kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut yang berkaitan dengan organisasi, kewenangan, tugas dan fungsi.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

8

1.3.2 Sasaran kegiatan ini adalah : Tersusunnya rumusan kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut sebagai lanjutan dari perumusan kebijakan tata pemerintahan di laut. 1.4 Lingkup Kegiatan • • Mengkaji kewenangan, tugas pokok dan fungsi instansi/kelembagaan terkait yang terlibat dalam pengelolaan kelautan. Memetakan lembaga yang terkait dengan pengelolaan kelautan, tingkat daerah dan pusat serta kelembagaan tata pemerintahan di laut negara lain, yang berkaitan dengan aspek kelembagaan; Melakukan survey ke daerah tentang kelembagaan yang terkait dengan tata pemerintahan di laut yang merupakan perpanjangan tangan instansi pusat di daerah Mengidentifikasi tentang permasalahan kelembagaan tata pemerintahan di laut dengan para stakeholders dan instansi terkait.

• •

1.5 Keluaran Keluarannya adalah naskah kajian rumusan kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut sesuai dengan konsepsi negara kepulauan. 1.6 Metode Penelitian 1.6.1. Metode Pendekatan Untuk menyusun kajian akademis Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut, dipergunakan pendekatan sistem kebijakan publik, yang terdiri dari unsur-unsur : 1. Lingkungan kebijakan yang meliputi : Budaya, politik, nasional, keadaan sosial ekonomi masyarakat, keamanan/ pertahanan baik internal maupun eksternal yang berkaitan dengan hubungan internasional, kondisi laut Indonesia, baik luas, bentuk dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. 2. “Stakeholders “ kebijakan meliputi : Para pelaku/pembuat kebijakan, dalam sistem politik yang ada. Stakeholders, perorangan/kelompok dan semua pihak yang mempengaruhi, dan juga dipengaruhi oleh kebijakan publik tersebut, lembaga pemerintahan yang terkait yang menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan di laut, serta kelompok sasaran kelembagaan yang dipengaruhi yang akan diatur oleh kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

9

3.

Kebijakan publik itu sendiri, yaitu penataan pelaksanaan pemerintahan di laut, yang akan dibuat dalam bentuk “grand design” kebijakan penataan pemerintahan di laut yang akan berperan sebagai pedoman bagi semua yang terkait, terutama pembuat dan pelaksana kebijakan. Kelompok sasaran kebijakan, yang meliputi : Seluruh kelembagaan terkait, aparatur serta sarana-prasarana yang mengelola kekayaan laut Indonesia. Kelompok masyarakat, dalam bentuk kelembagaan atau perorangan yang terpengaruh kebijakan, atau yang akan diatur oleh kebijakan tersebut seperti asosiasi angkutan laut, ataupun perorangan, para nelayan, dan sebagainya yang menggunakan laut sebagai ruang hidup dan ruang juangnya. Aktivitas/kegiatan-kegiatan ekonomi, sosial dan lainnya di laut yang akan diatur oleh kebijakan publik yang akan dibentuk/disusun suatu tata pemerintahan di laut yang menjalankan fungsi-fungsi, seperti mengatur pelayaran dan lalu lintas laut, keamanan, pertahanan, budidaya biota laut, penangkapan ikan, dan aktivitas di laut lainnya.

4.

Dalam studi ini dipergunakan pendekatan pada : 1. Kelembagaan dengan kewenangannya Di sini iventarisasi lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan yang mengatur masalah kegiatan di laut, beserta peraturan perundangan dan sasaran yang diaturnya. 2. Kegiatan/aktifitas yang dilakukan di laut : Inventarisir kegitan-kegiatan yang ada di laut, baik kegiatan ekonomi, sosial atau kegiatan lainnya dengan peraturan perundangan yang mengatur kegiatan-kegiatan tersebut, serta sasaran dari pengaturan tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti kegiatan ekonomi meliputi transportasi/ angkutan/pelayaran di laut, penangkapan ikan di laut, budidaya ikan/rumput/tanaman laut lainnya, pariwisata, diving dan eksploitasi sumber-sumber yang ada di laut atau dasar laut, serta pertahanan dan keamanan di laut serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. 3. 4. Kewilayahan administratif di laut, pengatur, dan peraturannya. nasional propinsi dan kabupaten dan pemerintahan kota. Sumber yang ada di laut dan di dasar laut, pengatur dan peraturannya.

1.6.2. Sample Wilayah Kelautan Dalam studi ini, yang menjadi fokus studi adalah lembaga pemerintah dengan aktivitas di laut di seluruh laut Indonesia termasuk di daerah. Karena peraturan, pengatur dan obyek yang diatur relatif homogin, dan mungkin hanya masalahnya yang berbeda, maka 10

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

sample wilayah ditentukan secara “purposive”, yaitu wilayah laut yang merupakan sentrasentra kegiatan sosial ekonomi dan juga keamanan, atau yang banyak muncul masalah kelautan. Atas dasar tersebut, maka dipilih sample wilayah sebagai berikut : Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Gorontalo, Provinsi Sulawesi Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Bali, Provinsi Maluku, Provinsi Maluku Utara, Provinsi Papua. 1.6.3. Sampel Responden Yang menjadi sample responden dalam kajian perumusan kelembagaan tata pemerintahan di laut ini, adalah : 1) Lembaga yang mempunyai kewenangan mengelola kelautan diantaranya : a Departemen Kelautan dan Perikanan. Pejabat-pejabat yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengaturan tentang kelautan , di pusat dan di daerah-daerah sample. b Departemen Perhubungan, Ditjen Perhubungan Laut. Pejabat-pejabat yang berkaitan dengan Perhubungan Laut. Administrator Pelabuhan, terutama di daerah sample. c Kementerian Lingkungan Hidup Pejabat-pejabat yang mempunyai kewenangan dan mengelola lingkungan hidup di Laut. d e f g 1.6.4. Data 1) Data sekunder Data sekunder dikumpulkan dari studi pustaka, internet, dan juga laporan dari instansi terkait terutama yang menyangkut peraturan perundangan yang ada tentang masalah kelautan. Data sekunder ini juga meliputi kelembagaan tata pemerintahan di laut (Ocean Governance) dari beberapa negara yang di jadikan referensi perbandingan. Data sekunder ini dipergunakan untuk menyusun perumusan Departemen Pertahanan Pejabat-pejabat yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan di laut. TNI Angkatan Laut dan Polri Pemda dengan Dinas-dinas yang berkaitan Pejabat-pejabat yang berkaitan. Dan Lembaga/Instansi lain yang ada kaitannya.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

11

permasalahan yang ada dalam kelembagaan tata pemerintahan di laut. Data sekunder ini juga dipergunakan untuk memperkuat landasan analisis permasalahan di laut. 2) Data Primer Data primer diambil dari sampel responden, dengan bantuan daftar pertanyaan/ questionnaires. Adapun data yang diambil yaitu: 1. 2. Pemahaman keterkaitan pemerintah daerah dengan kelembagaan tata pemerintahan di laut. Pemahaman kelembagaan pemerintahan di laut meliputi sejarah, torganisasi yang pernah ada, tugas dan fungsi, peraturan perundangan yang menjadi dasar lembaga tersebut. Masalah-masalah yang dihadapi responden dalam menjalankan tugas mengelola/menjalankan kegiatan di laut. Persepsi responden untuk mengelola masalah dan kegiatan dilaut dengan baik.

3. 4.

1.6.5. Metodologi Analisis Metodologi analisis kebijakan dibentuk berdasarkan multidisiplin ilmu yang integral. Analisis kebijakan pada umumnya bersifat diskriptif, yang diambil dari disiplin ilmu yang tradisional (political sience) yang bertujuan untuk mengetahui sebab dan akibat dari suatu kebijakan publik. Dalam studi ini metodologi analisis kebijakan menggunakan lima prosedur umum/baku dalam memecahkan masalah kemasyarakatan. Lima prosedur umum/baku tersebut adalah : a. Menstrukturkan/mendifinisikan masalah (problem structuring/definition), untuk mendapatkan informasi dan mengetahui kondisi dan sebab-sebab yang menimbulkan masalah kebijakan tersebut. (cq. Tumpang tindihnya suatu peraturan atau yang lain). Prediksi/masa depan kebijakan (forecasting/prediction of policy future), untuk mencari informasi untuk mengetahui konsekuensi-konsekuensi kebijakan di masa depan, bila kebijakan tersebut dipilih dan dilaksanakan, dan juga termasuk bila tidak berbuat sesuatu (doing nothing/not to do - Thomas R. Dye). Rekomendasi/petunjuk/resep (Recommendation/prescription) untuk mendapatkan informasi guna mengetahui nilai atau harga atau kerugian/keuntungan dari konsekuensi kebijakan di masa depan, bila kebijakan tersebut dilaksanakan. Memonitor (monitoring/description), untuk mendapatkan informasi guna mengetahui konsekuensi masa kini dan masa lalu dari suatu kebijakan bila alternatif kebijakan dilaksanakan. Evaluasi kinerja kebijakan (evaluation), untuk mendapatkan informasi guna mengetahui konsekuensi nilai/harga/kerugian bila masalah kebijakan dipecahkan atau ditangani Jadi dalam kaitan ini dibuat seperti mengadakan “feasibility Kebijakan“. 12

b.

c.

d.

e.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

1.6.6. Model Analisis Kebijakan Model analisis kebijakan ada dua, yaitu : 1. Descriptive Models, yaitu model yang bertugas untuk menjelaskan/mendiskripsikan ataupun untuk memprediksikan sebab-sebab dan konsekuensi dari suatu pilihan kebijakan. Normative models, yaitu model yang bertugas tidak hanya untuk menjelaskan ataupun memprediksi, akan tetapi juga memberikan aturan-aturan untuk optimalisasi. Dalam studi ini dipergunakan model diskriptif.

2.

3.

1.7 Sistematika Penulisan Laporan Sistematika penulisan laporan dalam perumusan kebijakan kelembagaan tata pemerintahan di laut terdiri atas 6 (enam) bab, yaitu: BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, lingkup kegiatan, keluaran (output), metode penelitian dan sistematika penulisan laporan yang digunakan dalam pengkajian. BAB II NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA SEBAGAI NEGARA KEPULAUAN Bab ini membahas Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan yaitu: konstitusi NKRI, kedaulatan NKRI di laut, wawasan NKRI sebagai negara kepulauan, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kelautan, instansi pemerintah yang terkait dengan kelautan, keterkaitan otonomi daerah dengan pengelolaan kelautan, pemanfaatan dan pendayagunaan kekayaan laut. BAB III META MASALAH TATA PEMERINTAHAN DI LAUT INDONESIA Bab ini menguraikan tentang instansi yang terkait pengelolaan tata pemerintahan di laut meliputi fungsi dan dasar hukumnya, gambaran masalah dan struktur masalah tentang kebijakan tata pemerintahan di laut, penggalian masalah dari para pembuat/perumus kebijakan, lingkungan eksternal kelembagaan tata pemerintahan di laut secara global meliputi hukum dan perjanjian internasional dan lingkungan nasional. BAB IV KELEMBAGAAN TATA PEMERINTAHAN DI LAUT INDONESIA Bab ini membahas kondisi yang diinginkan di masa depan tentang Tata Pemerintahan Di Laut Yang Baik, Otoritas Di Laut, Penegakan Kedaulatan Hukum Di Laut, Keberhasilan Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut, didasarkan

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

13

pada pendekatan : Pengembangan Infrastruktur, Pengembangan Kelembagaan, Pengaturan Tata Pemerintahan Di Laut, Ruang Kerja Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut, Kawasan-Kawasan Maritim Tata Pemerintahan Di Laut dan perbandingan Model Kelembagaan Tata Pemerintahan Laut Negara Lain. BAB V KEBIJAKAN DAN STRATEGI KELEMBAGAAN TATA PEMERINTAHAN DI LAUT INDONESIA Bab ini menguraikan Kebijakan Pembentukan Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut, Strategi Pembentukan Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut, Tugas Fungsi Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut, Organisasi Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut. BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini menyimpulkan rekomendasi tentang kelembagaan tata pemerintahan di laut.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

14

BAB II NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA SEBAGAI NEGARA KEPULAUAN

2.1. Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah suatu negara merdeka dan berdaulat. Di dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada alinea Pembukaan (Preambul) Undang-undang Dasar 1945 tertulis tujuan nasional bangsa Indonesia yaitu “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat berbahagia dengan selamat sentausa mengantar rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan negera Indonesia, yang merdeka dan bersatu, berdaulat, adil dan makmur “. Dalam penjelasan Undang-undang Dasar 1945 memberikan pengertian bahwa negara kebangsaan dan perjuangan yang diproklamasikan rakyat Indonesia adalah negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia berdasarkan persatuan dan kesatuan dan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kebangsaan Indonesia memiliki paham bhineka tunggal ika yaitu berbagai suku bangsa, berbendera agama, budaya dan bahasa daerah, bersatu (manunggal) dalam satu Negara yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus negara kepulauan. Dalam Undang-undang Dasar 1945 (Amandemen) Bab IX Pasal 25A menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara yang beciri nusantara dengan wilayah dan batas-batas dan hak-haknya ditetapkan undang-undang”. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang sebanding atau seluas Eropa atau Amerika, dimana 2/3 luas wilayah kedaulatan terdiri dari laut yang mempunyai wilayah laut yurisdiksi sangat luas dan sangat kaya akan sumber daya alam yang terdiri dari 17.480 pulau dengan panjang pantai 95.181 Km terpanjang ke empat di dunia, serta terletak pada letak geografis yang sangat straegis, yaitu di antara dua benua dan dua samudera. Situasi dan kondisi aspek alamiah demikian menunjukan bahwa laut adalah kodrat alamiah yang paling dominan mempengaruhi kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional Indonesia sejak jaman dahulu. Oleh karenanya kebiajakan pembangunan nasional seyogyanya dirumuskan dengan mempertimbangkan dan memperhatikan kekurangan, kelebihan, kerawanan dan keunggulan dari pengaruh alamiah laut. 2.2. Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Laut 2.2.1. Dalam hukum internasional dikenal adanya yurisdiksi negara (state justification), antara lain yurisdiksi negara untuk mengatur yang meliputi :

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

15

1)

Yurisdiksi legislatif, yaitu hak dan kewenangan negara untuk menetapkan peraturanperaturan hukum nasional dengan memperhatikan kaidah-kaidah hukum internasional. Yurisdiksi eksekutif, yaitu hak dan kewenangan negara untuk menerapkan atau melaksanakan peraturan hukum yang telah ditetapkannya, baik terhadap permasalahan-permasalahan yang beraspek nasional maupun beraspek internasional. Yurisdiksi yudikatif, yaitu hak dan kewenangan negara untuk mengadili dan menghukum terhadap pelanggaran-pelanggaran peraturan perundang-undangan nasional dengan memperhatikan kaidah-kaidah hukum internasional.

2)

3)

2.2.2. Kedaulatan Negara Republik Indonesia di perairan Indonesia meliputi Laut Teritorial Indonesia, Perairan Kepulauan Indonesia dan Perairan Pedalaman Indonesia serta ruang udara di atas laut teritorial, perairan kepulauan dan perairan pedalaman, serta dasar laut dan tanah dibawahnya termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 1) 2) Laut Teritorial Indonesia adalah jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia . Perairan Kepulauan Indonesia adalah semua perairan yang terletak yang terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai. Perairan Pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air terendah dari pantai-pantai Indonesia.

3)

Ketentuan lebih lanjut tentang Perairan Indonesia telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1998. 2.2.3. Negara Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atas kekayaan alam dan yurisdiksi tertentu di Zona Tambahan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Landas Kontinen Indonesia. Zona Tambahan Indonesia adalah perairan yang berdampingan dengan Laut Teritorial Indonesia yang dapat diukur selebar 24 mil laut dari Garis Pangkal Lurus Kepulauan. Indonesia memiliki yurisdiksi pengawasan di Zona Tambahan Indonesia untuk mencegah dan menindak pelanggaran fiskal dan bea cukai, imigrasi atau pengawasan saniter, serta menghukum pelanggaran peraturan perundang-undangan di laut teritorialnya namun sampai kini belum ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya . 1) Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal wilayah Indonesia. Segenap sumberdaya alam hayati dan non hayati yang 16

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

terdapat di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, baik potensial maupun efektif adalah modal dan milik bersama Bangsa Indonesia sesuai dengan hukum laut internasional. Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Republik Indonesia mempunyai dan melaksanakan: a). Hak berdaulat untuk melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan konservasi sumberdaya alam hayati dan non hayati dari dasar laut dan tanah dibawahnya serta air diatasnya dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan eksploitasi Zona Ekonomi tersebut, seperti pembangkit listrik yang berasal dari tenaga dari air, arus dan angin. b). Yurisdiksi yang berhubungan dengan pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya, penelitian ilmiah mengenai kelautan, perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. c). Hak-hak dan kewajiban –kewajiban lainnya antara lain : (1) Sepanjang yang bertalian dengan dasar laut dan tanah di bawahnya, hak berdaulat, hak-hak lain, yurisdiksi dan kewajiban-kewajiban Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat 1) dilaksanakan menurut peraturan perundang-undangan Landas Kontinen Indonesia, persetujuanpersetujuan antara Republik Indonesia dengan negara-negara tetangga dan ketentuan-ketentuan hukum internasional yang telah diratifikasi. (2) Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta pemasangan kabel dan pipa bawah laut diakui sesuai dengan prinsip-prinsip hukum laut internasional yang berlaku. Masalah Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut tersebut erat kaitannya dengan masalah penetapan lebar laut teritorial maksimal 12 mil, karena beberapa negara pantai yang menganut lebar Laut Teritorial 200 mil, baru dapat menerima penetapan lebar laut teritorial 12 mil dengan adanya rejim Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut. Pada sisi lain; negara-negara tanpa pantai dan negara-negara yang secara geografis tidak beruntung, baru dapat menerima penetapan lebar laut teritorial 12 mil laut dan Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut dengan ketentuan bahwa mereka memperoleh kesempatan untuk turut serta memanfaatkan surplus dari sumber perikanan yang tidak dimanfaatkan negara pantaidi ZEE nya, serta mempunyai hak transit ke dan dari laut melalui wilayah laut negara pantai /negara transit. Negara–negara maritim baru dapat menerima rejim Zona Ekonomi Eksklusif jika negara pantai tetap menghormati kebebasan pelayaran/ penerbangan melalui Zona Ekonomi Eksklusif. Ketentuan tentang Zona Eksklusif Indonesia telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

17

2)

Landas kontinen negara pantai meliputi dasar laut dan tanah dibawahnya dari daerah dibawah permukaan laut yang terletak di luar laut teritorialnya sepanjang kelanjutan alamiah wilayah daratannya hingga pinggiran luar tepian kontinen, atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur, dalam hal pinggiran luar tepi kontinen tidak mencapai jarak tersebut. Tepian kontinen meliputi kelanjutan bagian daratan negara pantai yang berada di bawah permukaan air, dan terdiri dari dasar laut dan tanah dibawahnya dari daratan kontinen lereng (slope), dan tanjakan (rise). Tepian kontinen ini tidak mencakup dasar samudera dalam dengan bukit-bukit samudera atau tanah dibawahnya. Apabila tepian kontinen lebih lebar dari 200 mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur, Negara pantai menetapkan pinggiran luar tepi kontinen : a). dengan suatu garis yang ditarik dengan menunjuk titik –titik tetap terluar dimana ketebalan endapan adalah paling sedikit 1% dari jarak terdekat antara titik tersebut dan kaki lereng kontinen, atau b). dengan suatu garis yang ditarik dengan menunjuk pada titik-titik tetap yang terletak tidak lebih dari 60 mil laut dari kaki lereng kontinen. Titik-titik tetap yang merupakan garis luar landas kontinen pada dasar laut tersebut tidak boleh melebihi 350 mil laut yang diukur dari garis pangkal laut teritorial diukur atau tidak boleh melebihi 100 mil laut dari batas kedalaman (isobath) 2.500 meter. Kriteria kelanjutan alamiah wilayah daratan di bawah laut hingga tepian kontinen yang ditentukan dalam Konvensi ini pada akhirnya dapat diterima negaranegara bukan negara pantai, khususnya negara-negara yang geografis tidak beruntung, setelah Konvensi juga menentukan bahwa negara pantai mempunyai kewajiban untuk memberikan pembayaran atau kontribusi dalam natura yang berkenaan dengan eksploitasi sumber kekayaan non- hayati Landas Kontinen di luar 200 mil laut. Meskipun Landas Kontinen semula termasuk dalam rejim Zona Ekonomi Eksklusif, namun dalam Konvensi ini Landas Kontinen diatur dalam bab tersendiri. Negara Republik Indonesia mempunyai hak berdaulat dan eksklusif untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya kekayaan alam di Landas Kontinen Indonesia. Dalam hal landas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di Landas Kontinen Indonesia, berbatasan dengan negara lain, penetapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat dilakukan dengan cara mengadakan perundingan-perundingan untuk mencapai suatu persetujuan. UndangUndang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen perlu disesuaikan dengan ketentuan ini karena Undang-Undang tersebut masih didasarkan pada Konvensi 1958 yang dalam banyak hal telah digantikan dengan Konvensi 1982.

3)

Guna menjamin hak lintas kapal dan pesawat udara asing khususnya non niaga dan non schedule untuk lewat berlayar /terbang melintasi Perairan Kepulauan Indonesia, Pemerintah wajib menetapkan satu atau lebih Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dengan memperhatikan persyaratan sesuai ketentuan Hukum 18

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

Laut Internasional. Ketentuan tentang ALKI ini untuk sebagian telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2002. Guna menjamin kelancaran lalu lintas dan mencegah terjadinya kecelakaan, Pemerintah dapat menetapkan suatu pengaturan pemisah Lalu Lintas (Traffic Separation Scheme) di selat-selat yang digunakan untuk pelayaran internasional dan perairan kepulauan dengan memperhatikan persyaratan sesuai dengan ketentuan Hukum Laut Internasional yang berlaku. 4) Kewenangan negara diluar yurisdiksi nasional. Laut Bebas. Ada perbedaan besar antara Konvensi 1958 dengan Konvensi 1982. Konvensi Jenewa tahun 1958 menetapkan Laut Lepas dimulai dari batas terluar Laut Teritorial. Konvensi 1982 menetapkan bahwa Laut Lepas tidak mencakup Zona Ekonomi Eksklusif. Di laut lepas/ laut bebas ini semua Negara berhak atas kebebasan berlayar, terbang diatasnya, memasang kabel dan pipa di dasar laut dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan tentang landas kontinen, membangun pulau buatan dan instalasi lainnya berdasarkan hukum internasional dengan tunduk pada ketentuan–ketentuan tentang landas kontinen, menangkap ikan dengan memperhatikan ketentuan –ketentuan tentang konservasi dan pengelolaan kekayaan alam hayati di laut lepas dan kebebasan melaksanakan penelitian ilmiah kelautan dengan mematuhi ketentuan-ketentuan tentang landas kontinen dan ketentuanketentuan tentang penelitian ilmiah kelautan. a) Hak dan Kewajiban Negara di laut bebas (The High Seas) berlaku “Freedoms of High Seas”, antara lain : (1) Kebebasan pelayaran. (a) Kebebasan penerbangan. (b) Kebebasan penangkapan ikan. (c) Kebebasan melakukan penelitian ilmiah kelautan. (d) Kebebasan memasang pipa-pipa dan kabel-kabel di bawah laut. (2) Disamping itu di Laut bebas terdapat hak dan kewajiban internasional bagi setiap Negara, antara lain : (a) Kewajiban memberantas “internasional crimes” antara lain : • Kejahatan perompak di laut (piracy). • Perdagangan budak (Slavery). • Kejahatan narkotika dan sejenisnya. • Kewajiban mencegah dan menanggulangi pencemaran laut (marine pollution). (b) Kewajiban memberikan pertolongan di laut (search and rescue). (c) Kewajiban mengawasi kapal-kapal yang mnegibarkan bendera kebangsaannya, meliputi : Di laut bebas

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

19

• Pengawasan di bidang teknis (safety of ship). • Pengawasan di bidang administrative (ship‘s registration). • Pengawasan di bidang social (standard of training, certification and watchkeeping). (d) Kewajiban memberantas siaran gelap (unauthorized broadcasting). (e) Hak untuk melakukan “Hot Pursuit” terhadap kapal yang diduga telah melakukan pelanggaran hukum di wilayahnya. Hot pursuit dilakukan oleh kapal perang (warship), yang harus dilakukan secara terus menerus tanpa henti, dan harus dihentikan apabila kapal yang dikejar memasuki Laut Teritorial negara lain. Upaya hukum yang dapat dilakukan adalah melalui ekstradisi. Uraian mengenai hak dan kewajiban negara di laut bebas tersebut di atas menunjukkan bahwa masalah penegakan hukum menjangkau pula di wilayah laut di luar kepulauan, hak-hak berdaulat dan yurisdiksi Negara. 5) Kawasan Dasar laut samudera diluar landas kontinen suatu negara dikelola oleh International Sea Bed Authority (ISBA) di Jamaika. Kewenangannya mencakup memberi ijin explorasi dan eksploitasi kekayaan alam didasar laut dan tanah dibawahnya, baik mineral maupun biodiversity yang ada di dasar laut. Diantara mineral yang menjadi wewenangnya adalah nodule, berbagai metal. Mineral ini kaya dengan nikel, tembaga, kobalt, mangan. Sampai sekarang 8 negara telah mengadakan kontrak ekplorasi dengan ISBA, yaitu: Jepang, Korea Selatan, RRC, Perancis, Rusia, Jerman, dan suatu konsorsium Eropa Timur, semuanya di Samudera Pasifik dan India di Samudera Hindia. Walaupun Indonesia tidak mempunyai kedaulatan atau hak berdaulat di laut lepas dan di International Sea Bed Area, namun Indonesia mempunyai kepentingan kepentingan atas kawasan laut/samudera tersebut, terutama untuk ikut memanfaatkan kekayaan alamnya (perikanan, energi, dan mineral) dan ruangnya (pelayaran) serta lingkungannya karena sangat erat kaitannya dengan pengelolaan dan konservasi kekayaan alam di Indonesia di ZEE, Landas Kontinen dan Perairan–perairan yang berada di bawah kedaulatan dan hakhak berdaulatnya.

2.3. Wawasan Negara Republik Indonesia Sebagai Negara Kepulauan Penyelenggaraan kehidupan nasional sebuah bangsa selayaknya senantiasa didasari oleh pandangan hidup dan cita-cita nasional, serta selalu menyatu dengan lingkungannya. Indonesia sebagai sebuah bangsa harus menghayati keberadaan diri dan memahami cita-citanya, sehingga arah dan langkah bangsa ini dalam mewujudkan cita-citanya dilandasi oleh cara pandang atau wawasan yang dapat memberikan corak, pola pikir, pola sikap dan pola tindak bangsa ini dalam menghadapi berbagai masalah baik nasional maupun global. Konstelasi goelogi dan geografi Indonesia, sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan cita-cita nasionalnya mendorong tumbuhnya wawasan yang mengkristal menjadi aspirasi bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

20

Nusantara (archipelagic) dipahami sebagai konsep kewilayahan nasional dengan penekanan bahwa wilayah negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dihubungkan oleh laut. Laut yang menghubungkan dan mempersatukan pulau-pulau yang tersebar di seantero khatulistiwa. Sedangkan Wawasan Nusantara adalah konsep geopolitik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah Indonesia, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah dibawahnya dan udara diatasnya secara tidak terpisahkan, yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam. Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia terhadap kedaulatan wilayahnya yang merupakan satu kesatuan dari berbagai aspek ekonomi, ekologi, sosial, budaya, politik, pertahanan, dan keamanan yang menjadikannya Indonesia adalah negara utuh menyeluruh sebagai negara kesatuan yang berdaulat. Dalam Wawasan Nusantara posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui secara internasional sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki potensi sumberdaya alam laut yang sangat besar, kiranya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Dengan memandang laut Indonesia sebagai tali kehidupan dan masa depan bangsa sehingga pengamanan dan pemanfaatannya harus mendapat perhatian yang khusus dan sungguh-sungguh dalam perencanaan dan pembangunan nasional. Kelautan sebagai ruang hidup dan ruang juang bangsa Indonesia diatur dan dikelola dengan tujuan memperkuat Wawasan Nusantara, mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang maju, tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera, mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berorientasi kepada keserasian kepentingan antar daerah, nasional dan internasional, membangun ekonomi nasional yang berorientasi pada keunggulan komparatif dibidang kelautan, dan mewujudkan sistem pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan (oceans governance). Wawasan Nusantara sebagai konsepsi politik dan kenegaraan yang merupakan manifestasi pemikiran politik bangsa Indonesia telah ditegaskan dalam GBHN dengan Tap. MPR No.IV Tahun 1973. Penetapan ini merupakan tahapan akhir perkembangan konsepsi negara kepulauan yang telah diperjuangkan sejak Deklarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957. Pada konferensi hukum laut PBB UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) III telah disepakati pengaturan rezim hukum laut. Salah satu keputusan terpenting bagi Indonesia pada konferensi ini adalah pengakuan terhadap bentuk negara kepulauan dengan pengaturan hak dan kewajibannya. Keputusan tersebut secara resmi diterima untuk ditandatangani 117 negara pada sidang terakhir Konferensi Hukum Laut (HUKLA) III PBB di Montego Bay Jamaika Tanggal 10 Desember 1982. Pengakuan dunia internasional ini ditindaklanjuti dengan diterbitkannya UU No. 17 tahun 1985 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang HUKLA 1982 yang berlaku mulai 31 Desember 1985, 28 Tahun setelah Deklarasi Juanda tanggal 13 Desember 1957. Sejak itu Indonesia mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk melaksanakan Konvensi HUKLA PBB tahun 1982. Konvensi ini selanjutnya harus dijadikan pedoman dalam penyusunan instrumen hukum nasional untuk dapat menjamin penerapannya secara keseluruhan.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

21

Kesepakatan konvensi HUKLA 1982 memberikan penambahan luas wilayah perairan Indonesia secara signifikan. Pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 berdasarkan Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnatie (TZMKO) 1939 warisan pemerintah kolonial, luas perairan Indonesia diperkirakan sekitar 100.000 km2. berdasarkan penetapan konvensi HUKLA 1982 wilayah laut yang dapat dikelola indonesia berkembang menjadi 5,8 juta km2 yang terdiri atas 3,1 juta km2 perairan nasional Indonesia (Laut Wilayah atau Teritorial dan perairan Kepulauan) dan 2,7 juta km2 perairan laut ZEE. Luas perairan dimungkinkan dapat berkembang lagi, apabila Indonesia pada batas waktu hingga 2009 dapat membuktikan bahwa Indonesia memiliki batas landas kontinen di laar 200 mil laut. Perkembangan luas wilayah laut harus disadari sebagai tantangan nyata untuk dikelola, dijaga dan diamankan bagi kepentingan bangsa Indonesia. Laut telah berkembang menjadi aset nasional sebagai wilayah kedaulatan, ekosistem, sumberdaya yang dapat bertindak sebagai sumber energi, sumber bahan makanan, sumber bahan farmasi, serta berperan sebagai lintas laut antar pulau, kesadaran sosial-budaya, kawasan perdagangan, pariwisata dan wilayah pertahanan keamanan. Bangsa Indonesia harus sadar bahwa memiliki ruang hidup dengan potensi untuk dikembangkan menjadi negara kepulauan sebagai manifestasi konsepsi wawasan nusantara secara utuh yang memperhatikan keselarasan, dan keterpaduan antara darat, laut dan udara dala satu kesatuan wilayah, politik, dan ekonomi demi kemakmuran seluruh bangsa Indonesia. Dalam rangka mewujudkan Indonesia sebagai negara kepulauan handal yang dibangun dengan memperhatikan geostrategi dan geopilitik berdasarkan prinsip wawsan nusantara sebagai kesatuan IPOLEKSOSBUD HANKAM atas wilayah darat, laut dan udara, maka diperlukan perangkat nasional berupa kebijakan kelautan Indonesia yang mencerminkan keterpaduan antar sektor, antar matra, pusat sumberdaya kelautan secara bijaksana untuk memberikan kesejahteraan bagi segenap rakyat Indonesia. Kebijakan kelautan yang dihasilkan harus memuat uraian-uraian normatif yang berisi kebijakan, strategi, program pengelolaan sumberdaya kelautan yang meliputi: 1. memantapkan konsep Wawasan Nusantara secara utuh dalam membangun Indonesia sebagai negara kelautan yang memiliki daya saing kuat dalam menghadapi persaingan global. pengelolaan sumberdaya kelautan yang mengacu kepada prinsip pembangunan yang berkelanjutan, pengelolaan terpadu, dan prinsip kehati-hatian. menyelaraskan kebijakan sektoral pembangunan kelautan dan upaya penyelarasan antar sektor dan antar matra. komitmen pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya kelautan secara terpadu.

2. 3. 4.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

22

2.4. Tanggung Jawab Negara Republik Indonesia Sebagai Negara Kepulauan Pasal 33 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pengertian dikuasai ini bukan dimiliki tetapi dikelola sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab negara. Berdasarkan pengertian inilah Pemerintah mempunyai kewenangan untuk mengelola laut, serta kekayaan yang ada didalamnya. Disamping itu, tanggung jawab negara juga menunjuk pada hasil-hasil Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup pada tahun 1972 di Stockholm, yang salah satu hasilnya adalah Deklarasi Stockholm yang terdiri atas 27 Prinsip. Prinsip ke 21 berbunyi: “State have, in accordance with the Charter of the United Nations and the principles of international law, the sovereign right to exploit their own resources pursuant to their own environmental and developmental policies and the responsibility to ensure that activities within the yurisdiction or control do not cause damage to the environment of other States or of areas beyond the limits of national jurisdiction”. Prinsip ini dijadikan Prinsip 2 Deklarasi Rio 1992 yang menunjukkan pentingnya ketentuan tersebut, meskipun prinsip tersebut berdimensi internasional, tetapi penerapannya dapat bersifat nasional yaitu bahwa negara mempunyai tanggung jawab untuk mengelola sumberdaya alam nasionalnya sekaligus melestarikannya. Sedangkan menurut penjelasan pasal 3 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 asas tanggung jawab negara adalah menjamin bahwa pemanfaatan sumberdaya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat baik generasi masa kini, maupun generasi masa depan. Di lain pihak, negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di laur wilayah negara. Pelaksanaan tanggung jawab negara oleh pemerintah dan rakyat merupakan unsur terpenting berjalannya konsep pembangunan berkelanjutan. Pengalaman rezim pengelolaan wilayah laut Indonesia yang begitu luas mengandung hak dan kewajiban bangsa dan negara, seperti hak kedaulatan, hak yurisdiksi dan kewajiban untuk penjagaan, pengamanan, perlindungan dan pemeliharaan. Hal tersebut perlu dilakukan untuk pemanfaatan, kemaslahatan dan kesejahteraan bangsa yang sebesar-besarnya dalam kerangka Negera Kesatuan Republik Indonesia. Sementara kegiatan kemaritiman dan pengamanan kelestarian lingkungan laut harus mengacu kepada ketentuan-ketentuan hukum internasional yang mengikat antara lain UNCLOS Tahun 1982. Namun hal-hal kekhususan pada setiap negara adalah pengecualian yang dapat diatur oleh negara yang bersangkutan asal tidak bertentangan dengan ketentuan hukum internasional tersebut. Negara merupakan penanggung jawab penataan hukum di laut dalam perannya sebagai negara pantai (coastal state), negara bendera (flag state) dan negara pelabuhan (port state). Oleh karena itu hanya pemerintahan negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, administratif dan diplomatik) yang berwawasan kelautan yang dapat mengaplikasikan ‘good order at sea ‘ (tata kelautan yang baik) seperti yang diisyratkan oleh masyarakat kelautan internasional. Untuk itu dalam kebijakan nasional terutama tata laksana pemerintahan di laut perlu ada penetapan yang jelas siapa yang bertanggung jawab.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

23

2.5. Peraturan Perundang-undangan yang Berkaitan dengan Kelautan Adalah kenyataan bahwa terdapat perundang-undangan yang mengatur berbagai sektor kelautan telah diberlakukan , yaitu : a. Telah ada Undang-Undang yang seluruhnya mengatur laut seperti : Undang-Undang tentang Perairan Indonesia, Undang-Undang tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan lain - lain; Ada Undang-Undang yang bersifat umum yang mengatur bukan hanya laut seperti: UndangUndang tentang Penataan Ruang, Undang-Undang tentang Pertambangan, Undang-Undang tentang Perindustrian, Undang-Undang tentang Kepariwisataan dan lain-lain.

b.

Peraturan perundang-undangan yang terkait kelautan dapat digambarkan sebagaimana dalam Tabel 2.1. di bawah ini :
Tahun 1939 1945 1957 1958 1959 1960 1961 1967 1968 1971 1972 1973 1974 1981 1982 Undang-Undang Umum Undang-Undang yang mengatur Kelautan TZMKO UUD 45 Deklarasi Juanda Konferensi I Tahun 1958 Prp 4 Konferensi II Tahun 1960 Konvensi lainnya

UU No.11 Tahun 1967 PERTAMBANGAN

PERTAMBANGAN DI LAUT

UU No. 1 Tahun 1973 LANDAS KONTINEN

Sidang 1 Konferensi III

Sidang 12 Konferensi III UNCLOS 82 UU No. /5 Tahun 1983 ZEEI UU No. 5 Tahun 1984 PERINDUSTRIAN INDUSTRI KELAUTAN UU No. 17 Tahun 1985

1983 1984 1985 1986 1989

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

24

Tahun 1990

Undang-Undang Umum UU No. 5 Tahun 1990 KONSERVASI No. 9 Tahun 1990 KEPARIWISATAAN

Undang-Undang yang mengatur Kelautan KONSERVASI LAUT WISATA BAHARI UU No. 21 Tahun 1992 PELAYARAN

Konvensi lainnya

1991 1992 UU No.24 Tahun 1992 TATA RUANG 1993 1994 1995 1996 1997 1998 2001 2002 UU No. 23 Tahun 1997 LINGKUNGAN HIDUP

TATA RUANG KELAUTAN

UU No.16 Tahun 1996 PERAIRAN INDONESIA LINGK.HIDUP KELAUTAN

2003 2004

UU No. 18 Tahun 2002 SISNASLITBANG LITBANG KELAUTAN UU No. 3 Tahun 2002 PENEGAKAN KEDAULATAN PERTAHANAN DAN HUKUM DI LAUT UU No.2 Tahun 2002POLRI UU No.20 Tahun 2003 SISDIKNAS SDM KELAUTAN Pasal 18 UU No. 32 Tahun 2004 UU No.31 Tahun 2004 PERIKANAN Pemerintah Daerah (Kewengan Laut Provinsi/Kabupaten/Kota UU NO 34 TAHUN 2004 TNI (GAKLATKUM DI LAUT) UU NO25 TAHUN 2004 SISRENBANG SISRENBANGKELAUTAN

Tabel 2.1. Kumpulan perundang-undangan yang mengatur tentang kelautan. 2.6. Instansi Pemerintah yang Terkait dengan Kelautan Instansi yang terkait dalam mengelola kelautan seperti disajikan pada Tabel 2.2 berikut ini:
INSTANSI UNDANG2 TZMKO/ 1939 PSL.14 PEROMPAKAN, DLL TNI AL POLRI PPNS Bea Cukai PPBNS HUBLA PPNS DKP PPNS IMIGRASI PPNS LH PPNS PKA/ HUTAN PPNS DIKNAS

•

•

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

25

INSTANSI UNDANG2 5 / 1983, ZEEI 31 / 04, PERIKANAN 5 / 1992, BENDA CAGAR BUDAYA 9 / 1992, IMIGRASI 21 / 1992, PELAYARAN 5 / 1990, KSDA 10 / 1995, KEPABEANAN 6 / 1996, PERAIRAN 23 / 1997, LINGK. HIDUP 41 / 1999, KEHUTANAN

TNI AL • •

POLRI

PPNS Bea Cukai

PPBNS HUBLA

PPNS DKP

PPNS IMIGRASI

PPNS LH

PPNS PKA/ HUTAN

PPNS DIKNAS

•

• •

• • • • • • • • • • • • • • • •

•

•

•

• •

•

•

•

Tabel 2.2. Kewenangan Lembaga-lembaga Pemerintah dan Dasar Aturannya Fungsi pemerintahan dan pembangunan telah dibagi habis ke dalam berbagai fungsi departemen dan lembaga pemerintahan. Demikian juga fungsi pemerintahan dan pembangunan (tata laksana pemerintahan dan pembangunan) di laut juga telah di bagi habis ke dalam berbagai departemen dan lembaga negara yang berfungsi mengelola bidang kelautan. Pemerintah telah membentuk Dewan Maritim Indonesia (DMI) dan Departemen Eksplorasi Kelautan dan Perikanan yang sekarang menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan telah berkiprah selama 6 tahun, serta didukung dengan keberadaan Dinas-dinas yang berada di 33 Pemerintah Provinsi, dan kurang lebih 250 Pemerintah Kabupaten/Kota. Namun demikian pada kenyataannya masih banyak kekurangannya, terkhusus mengenai kapasitas SDM, sarana dan prasaran bidang kelautan dan perikanan. 2.7. Keterkaitan Otonomi Daerah dengan Pengelolaan Kelautan Sejak Otonomi Daerah seluas-luasnya, masing-masing Daerah khususnya Kabupaten/ kota memiliki kewenangan penuh terhadap pengelolaan pembangunan di daerahnya masingmasing sehingga terjadi eksploitasi SDA secara besar-besaran dalam rangka peningkatan PAD Dengan telah direvisinya UU No. 22 / 1999 menjadi UU No. 32 / 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka pada pasal 18 ditegaskan bahwa “Pemerintah Daerah mempunyai wewenang dalam pengelolaan SDA di Wilayah Laut teritorial sejauh 12 mil laut untuk wewenang Pemerintah

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

26

Provinsi, dan 1/3 dari wewenang Pemerintah Provinsi adalah wewenang Pemerintah Kabupaten/ Kota. Pada prinsipnya Pemerintah Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota tidak memiliki kewenangan terhadap SDA laut yang berada di daerahnya, tetapi Pemerintah Daerah hanya mempunyai Wewenang untuk hak mengurusi, Mengeksploitasi dan Mengelola di Wilayah lautnya, dengan mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. Disisi lain wilayah laut yang berada diatas 12 mil laut adalah merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. Pasal 18 UU No.32 tahun 2004 bahwa Pemerintahan Daerah mempunyai wewenang untuk mengelola SDA di Wilayah Lautnya meliputi ; a. b. c. d. e. f. Eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut. Pengaturan administrasi. Pengaturan tata ruang laut. Penegakkan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan. Ikut serta dalam pemeliharaan Keamanan. Ikut serta dalam pertahanan kedaulatan Negara

2.8. Pemanfaatan Dan Pendayagunaan Kekayaan Laut a. Pemanfaatan dan pendayagunaan laut menurut pasal 25 A UUD 1945 dan ketentuanketentuan dalam Konvensi hukum laut internasional Laut memiliki berbagai fungsi : 1) Laut sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas lebih dari 17.000 pulau besar kecil. Hal ini jelas tergambar dalam naskah Deklarasi Juanda yang menyatakan : “segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian – bagian yang wajar daripada daripada wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada dibawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia......” Laut sebagai sumber pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Didalam laut tumbuh dan dapat ditumbuhkan berbagai sumber-sumber bahan pemenuhan kebutuhan dasar manusia terutama pangan, seperti ikan dan biota perairan lainnya. Laut sebagai sumber bahan dasar dan sumber energi. Pada dasar laut dan di bawah laut tertentu berbagai mineral dan sumber energi yang dapat ditambang untuk digunakan sebagai bahan baku industri dan sebagai sumber energi. Laut sebagai medan industri. Tersimpul pada kedua hal tersebut diatas, laut juga merupakan medan kegiatan industri, baik secara langsung seperti pelayaran, pertambangan lepas pantai, maupun secara tidak langsung seperti proses bahan makanan, industri galangan kapal, industri alat-alat pertambangan lepas pantai dll.

2)

3)

4)

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

27

b.

Perikanan dan biota laut lainnya. Perikanan dan biota laut lainnya mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan perekonomian nasional, terutama dalam meningkatkan perluasan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan dan peningkatan taraf hidup bangsa pada umumnya, nelayan kecil, pembudi daya ikan kecil, dan pihakpihak pelaku usaha di bidang perikanan dengan tetap memelihara lingkungan, kelestarian, dan kesetersediaan sumber daya ikan. Perairan yang berada di bawah kedaulatan dan yurisdiksi (hak-hak berdaulat) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan laut lepas berdasarkan ketentuan internasional, mengandung sumber daya ikan dan lahan pembudidayaan ikan yang potensial. Dengan meratifikasi Konvensi Perserikatan BangsaBangsa tentang Hukum Laut, Indonesia memiliki hak untuk melakukan pemanfaatan, konservasi, dan pengelolaan sumberdaya ikan di zona ekonomi eksklusif dan laut lepas yang dilaksanakan berdasarkan persyaratan atau standar internasional. Dalam rangka pembangunan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara perlu dilakukan dengan sebaikbaiknya dengan cara sebagai berikut : 1) berdasarkan asas manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi dan kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungannya yang berkelanjutan, dengan mengutamakan perluasan kesempatan kerja, peningkatan taraf hidup bagi nelayan dan peningkatan penerimaan dan devisa negara. Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya ikan secara optimal dan berkelanjutan perlu ditingkatkan peranan pengawas perikanan dan peran serta masyarakat (khususnya nelayan) dalam upaya pengawasan dibidang perikanan secara berdaya guna dan berhasil guna. pengelolaan perikanan wajib didasarkan pada prinsip perencanaan dan keterpaduan pengendaliannya. Pengelolaan perikanan dilakukan dengan memperhatikan pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pengelolaan perikanan yang memenuhi unsur pembangunan yang berkesinambungan, yang didukung dengan penelitian dan pengembangan perikanan seta pengendalian yang terpadu. Pengelolaan perikanan dengan meningkatkan pendidikan dan pelatihan serta penyuluhan di bidang perikanan.

2) 3) 4)

5)

Ketentuan mengenai aspek perikanan telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. c. Pelayaran. Pelayaran mempunyai peranan penting dan strategis untuk memantapkan perwujudan Wawasan Nusantara, memperkukuh persatuan dan kesatuan dan mempererat hubungan antar bangsa dalam usaha mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Pelayaran bagi Negara Republik Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan salah satu moda transportasi yang tidak dapat dipisahkan dari moda-moda transportasi lain yang ditata dalam sistem transportasi nasional yang dinamis 28

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

dan mampu mengadaptasi kemajuan di masa depan, mempunyai karakteristik mampu melakukan pengangkutan secara masal, menghubungkan dan menjangkau seluruh wilayah melalui perairan. Untuk itu diselenggarakan pelayaran yang berdasarkan asas manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, kepentingan umum, keterpaduan, keseimbangan, kesadaran hukum dan percaya pada diri sendiri. Pelayaran dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. Pelayaran nasional termasuk pelayaran rakyat menerapkan asas Kabotase bagi pelayaran dalam negeri dan asas pangsa angkutan yang wajar dalam angkutan dari dan ke luar negeri. Ketentuan tentang pelayaran telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992. d. Pertambangan dan Energi Kelautan. Semua bahan galian yang terdapat dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan endapan–endapan alam yang merupakan kekayaan Nasional Indonesia yang harus dikelola dan dikembangkan, dan oleh karenanya dikuasai dan dipergunakan oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Bahan galian digolongkan pada tiga golongan yaitu: bahan galian strategis, bahan galian vital dan bahan galian yang tidak termasuk kedua golongan tersebut. Golongan bahan galian yang strategis adalah: minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam, bitumen padat, aspal, antrasit, batubara, batubara muda, uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya, nikel, cobalt, dan timah. Golongan bahan galian vital adalah; besi, mangaan, khrom, wolfram, vanadium, titan, bauksit, tembaga, timbal, seng, emas, platina, perak, air raksa, intan, arsen, antimon, bismut, ytrium, rhutenium, cerium, dan logam-logam langka lainnya, berilium, korundum, zirkon, kristal kwarsa, kriolit, fluorspar, barit, yodium, brom, khlor dan belerang. Ketentuan tentang pertambangan telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan antara lain : Undang-Undang No 11 tahun 1967 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan, Undang – Undang 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Peraturan Pemerintah 42 tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Wilayah hukum pertambangan Indonesia meliputi baik yang di darat, di dasar laut maupun tanah dibawahnya dibawah kedaulatan dan hak-hak berdaulat Indonesia. Sedimen-sedimen di bawah laut dan kondisi geografi kelautan mengandung potensi yang besar untuk dapat dikembangkan sebagai energi alternatif non konvensional dan termasuk sumberdaya kelautan non hayati yang dapat diperbaharui yang memiliki potensi untuk dikembangkan di kawasan pesisir dan lautan Indonesia. Jenis energi kelautan yang berpeluang dikembangkan adalah: energi gelombang, energi pasang surut dan arus, energi angin, energi konversi perbedaan suhu dan perbedaan salinitas. Ketentuan lebih lanjut tentang pertambangan laut perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. Wisata bahari. Telah cukup lama beredar istilah industri wisata, namun karena wisata diatur dengan undang-undang Kepariwisataan dan bukan dengan Undang-Undang tentang Perindustrian, maka dalam pembahasan Undang-Undang tentang Kelautan tidak digunakan 29

e.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

istilah industri wisata. Keadaan alam, flora dan fauna, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah serta seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumberdaya dan modal yang besar artinya bagi usaha pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. Kepariwisataan mempunyai peranan penting untuk memperluas dan meratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperbesar pendapatan nasional, serta memupuk rasa cinta tanah air dan memperkaya kebudayaan nasional. Penyelenggaraan kepariwisataan dilaksanakan berdasarkan asas manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, perikehidupan dalam keseimbangan dan kepercayaan pada diri sendiri. Penyelenggaraan kepariwisataan nasional bertujuan untuk : 1). memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata; 2). memupuk rasa cinta tanah air dan meningkatkan persahabatan antar bangsa; 3). memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja; 4). meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; 5). mendorong pendayagunaan produksi nasional. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memiliki potensi kekayaan dan keindahan laut yang diminati oleh wisatawan dalam dan luar negeri, serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ketentuan tentang kepariwisataan telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990. Namun undang-undang tersebut belum secara tepat mewadahi wisata bahari. Wisata bahari yang didefinisikan meliputi menyelam, berselancar, berlayar pesiar, bermain jet ski, berselancar angin, serta mengunjungi resort-resort yang tersedia di pulaupulau, adalah jelas bukan wisata tirta sebagaimana dimaksud dalam Undang–Undang Nomor 9 Tahun 1990. Pemerintah menetapkan obyek dan daya tarik wisata bahari. Pembangunan fasilitas untuk wisata bahari dimulai dengan survey untuk menemukenali berbagai obyek wisata bahari serta merencanakan pembangunan fasilitas yang diperlukan seperti dermaga, bouy dan prasarana pendukung lainnya. Pemerintah wajib mengatur pemanfaatan dan pengelolaan laut untuk wisata bahari berdasarkan tata ruang wilayah dan dilaksanakan dengan asas kelestarian, berkelanjutan, keterpaduan, keterpeliharaan, dan memperhatikan aspek ekologis kawasan serta melibatkan peran serta masyarakat adat, masyarakat lokal dan masyarakat pesisir sebagai pemangku kepentingan. Ketentuan lebih lanjut mengenai wisata bahari perlu diatur lebih lanjut dengan peraturan perundangundangan. f. Industri kelautan. Untuk mencapai sasaran pembangunan di bidang ekonomi, industri memegang peranan yang menentukan dan oleh karenanya perlu lebih dikembangkan secara seimbang dan terpadu dengan meningkatkan peran serta masyarakat secara aktif serta mendayagunakan secara optimal seluruh sumber daya alam, manusia dan dana yang tersedia. Pembangunan industri berlandaskan demokrasi ekonomi, kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri, manfaat dan kelestarian lingkungan hidup. Dengan 30

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

landasan ini, kegiatan industri pada hakekatnya terbuka untuk diusahakan masyarakat. Namun demikian cabang-cabang industri yang penting dan strategis serta menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. 1). Pembangunan industri bertujuan : a) Meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata dengan memanfaatkan dana, sumber daya alam, dan atau hasil budidaya serta dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara bertahap, mengubah struktur perekonomian ke arah yang lebih baik, maju, sehat, dan lebih seimbang sebagai upaya untuk mewujudkan dasar yang lebih kuat dan lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi pada umumnya, serta memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan industri pada khususnya. Meningkatkan kemampuan dan penguasaan serta mendorong terciptanya teknologi yang tepat guna dan menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuan dunia usaha nasional; Meningkatkan keikutsertaan masyarakat dan kemampuan golongan ekonomi lemah, termasuk pengrajin agar berperan secara aktif dalam pembangunan industri Memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan peranan koperasi industri. Meningkatkan penerimaan devisa negara melalui peningkatan ekspor produksi nasional yang bermutu, disamping penghematan devisa melalui pengutamaan pemakaian hasil produksi dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan kepada luar negeri. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan industri yang menunjang pembangunan daerah dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara Menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional. Pemerintah menetapkan bidang usaha yang termasuk dalam industri kecil termasuk industri yang menggunakan ketrampilan tradisional, dan industri penghasil benda seni yang dapat diusahakan hanya oleh Warga Negara Republik Indonesia.

b)

c)

d)

e) f)

g) h) i)

Ketentuan lebih lanjut tentang perindustrian telah diatur dengan Undang-undang No 5 tahun 1984. 2) Industri kelautan dirumuskan dengan meneliti Surat Keputusan Menteri Nomor 75/ M/ SK/ 5/ 1995 tanggal 5 Mei 1995 tentang Penetapan Jenis-Jenis Industri Dalam Pembinaan Masing-masing Direktorat Jenderal dan Kewenangan Memberikan Izin Usaha Industri dan Izin Usaha Kawasan Industri di Lingkungan Departemen Perindustrian. Industri Kelautan meliputi kegiatan sebagai berikut : 31

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l)

industri bangunan lepas pantai, industri perbaikan bangunan lepas pantai, industri kapal/perahu, industri peralatan dan perlengkapan kapal, industri perbaikan kapal, industri pemotongan kapal, rancang bangun dan perekayasaan industri kelautan, industri pengalengan ikan dan biota perairan lainnya, industri penggaraman/pengeringan ikan dan biota perairan lainnya, industri pengasapan ikan dan biota perairan lainnya, industri pemindangan ikan dan biota perairan lainnya, industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya,

m) industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk ikan dan biota perairan lainnya Ketentuan lebih lanjut tentang industri kelautan perlu diatur dengan peraturan perundang-undangan. g. Benda-benda berharga di laut. Sesuai dengan amanat pasal 33 ayat (3) undangundang dasar 1945, mengamanatkan bahwa :bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Benda- benda berharga di laut dapat berupa barang muatan kapal tenggelam atau benda-benda lain yang disiapkan untuk kesejahteraan rakyat. Hingga saat ini peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang benda-benda berharga asal muatan kapal tenggelam yang ditemukan dilaut adalah Keputusan Presiden Nomor 107 tahun 2000 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga asal Muatan Kapal yang Tenggelam. Disamping itu berlaku peraturan perundang-undangan mengenai cagar budaya yang mencakup benda-benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisasisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau yang mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan tersebut, benda-benda berharga dan bersejarah yang ditemukan di laut yang berada di Laut Teritorial dan Perairan Kepulauan merupakan potensi kekayaan negara dan menjadi milik negara. Oleh karena itu negara wajib mengatur mengenai kepemilikan dan pemanfaatannya. Benda-benda purbakala dan bersejarah yang ditemukan di luar wilayah kedaulatan negara diatur sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum internasional. Sebagian masalah ini telah diatur dalam UNESCO Convention on Protection of the Underwater Cultural Heritage tgl 2 November 2001. Indonesia ikut menerima (adopt) konvensi ini, tetapi belum meratifikasinya. Konvensi ini akan berlaku 3 bulan setelah ratifikasi yang ke 20. Sampai saat ini (akhir 2005) baru ada 6 ratifikasi.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

32

Pengangkatan dan pemanfaatan benda-benda berharga yang diklasifikasikan sebagai “archeological and historical” adalah sebagaimana diatur dalam UNCLOS 1982 yang telah diratifikasi oleh Pemerintah R.I. dengan Undang - Undang No.17 tahun 1985. Persyaratan untuk melakukan survei, pengangkatan dan pemanfaatan benda-benda berharga diperlukan izin dari pemerintah yang meliputi izin survei, izin pengangkatan dan izin pemanfaatan.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

33

BAB III META MASALAH TATA PEMERINTAHAN DI LAUT

Pada tahun 2007 Indonesia sudah berusia 62 tahun, selama Indonesia Merdeka sudah banyak program pembangunan dilaksanakan. Namun dalam tiga puluh tahun lebih pembangunan nasional Indonesia, semua perhatian ditujukan pada pengelolaan sumberdaya alam, terutama sumberdaya alam yang ada di darat. Pemerintah kurang memperhatikan kelautan/maritim Indonesia. Sebagai akibatnya, adalah tata laksana pemerintahan kenegaraan hanya mengutamakan tata laksana pemerintahan di darat, dan kurang memperhatikan aspek kelautan. 3.1. Penggalian Masalah Tujuan penataan pemerintahan di laut, agar terdapat “law and order” yang baik, dengan demikian, maka pengelolaan sumberdaya kelautan untuk tujuan ekonomi akan menjadi lebih optimum. “Law and order”, termasuk dukungan pengamanan dan keamanan di laut untuk dapat mengaturnya dengan baik. Agar mampu menyusun tata pemerintahan di laut yang lebih baik, maka perlu menggali masalah-masalah tata pemerintahan di laut yang sudah ada, yang tertuang dalam peraturan-perundangan dan instansi pelaksana peraturan tersebut, serta menggali dan menstrukturkan (problems) dari stakeholders dan dari lingkungan intra dan ekstra masyarakat kita. 3.1.1 Inventarisasi Lembaga/Instansi Yang Terkait Pengelolaan Laut, Fungsi dan Dasar Hukumnya. Agar lebih mudah meta masalah serta menstrukturkan/mendifinisikannya lebih jauh, maka perlu menginventarissasi lebih dulu lembaga-lembaga yang terkait dalam mengelola kelautan seperti disajikan pada bagian berikut ini. Fungsi pemerintahan dan pembangunan telah dibagi habis ke dalam berbagai fungsi departemen dan lembaga pemerintahan. Demikian juga fungsi pemerintahan dan pembangunan (tata laksana pemerintahan dan pembangunan) di laut juga telah di bagi habis ke dalam berbagai departemen dan lembaga negara yang berfungsi mengelola bidang kelautan. Untuk dapat melakukan meta masalah dan menstrukturkan atau mendifinisikan masalah di bidang kelautan dengan baik, maka harus lebih dulu menginventarisir lembaga/ instansi pemerintah yang menangani masalah laut dengan fungsi-fungsinya. Adapun inventarisasi tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

34

Tabel 3.1. Inventarisasi Instansi Yang Terkait Mengelola Kelautan
No. 1 Nama Instansi/ Lembaga Tugas dan Fungsi Dasar Hukum Keterangan Juga menjalankan Ordonasi Laut/ TZMKO 1939/1942. Fungsi pokoknya tentang pemerintahan dan pembangunan di laut.

2

3

4 5

6

Departemen Pertahan- Menegakkan kedaulatan Undang_Undang R I an dan TNI AL di laut No 03/ 2002 Tentang Pertahanan Negara Departemen Kelautan Menjalankan sebagian UU No. 06 Th.1996 dan Perikanan. fungsi pemerintahan di tentang Perairan.UU. laut No. 01 Th.1962 tentang Karantina Laut. UU. No. 05 Th. 1985 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia UU. No. 31 Th. 2004 tentang Perikanan Departemen Fungsi pemerintahan UU. No. 21 Th. 1992 Perhubungan dan pembangunan tentang Pelayaran Dan bidang perhubungan juga bebe rapa konvensi dan telekomunikasi internasional seperti dalam lampiran. Departemen Fungsi Kepabean/ UU. No. 10 Th. 1995 Keuangan R.I Bea Cukai tentang Kepa-Beanan Kementerian Fungsi menjaga UU. No 23 Th.1997 LingkunganHidup kelestarian lingkungan tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Departemen Energi Fungsi mengelola UU. No. 22 Th. 2001, dan Sumberdaya tambang, minyak dan tentang Minyak dan Mineral. gas bumi. Gas Bumi Kepolisian Negara R.I. Fungsi menjaga keamanan dan sebagai penyidik Departemen Dalam Negeri Dewan Kelautan Indonesia Fungsi mengelola pemerintahan dalam negeri termasuk di laut. Fungsi konsultasi Undang-Undang No. 02 Th. 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia UU. No. 32 Th. 2004 tentang Pemerintahan Daerah Keppres No.21 Tahun 2007 Perpres No. 81 Tahun 2005

Beberapa Konvensi tentang keselamatan di laut. Lihat lampiran.

Meliputi lingkungan di darat dan laut. Terutama menyangkut eksplorasi dan eksplitasi migas di laut. Polisi Air menjaga keamanan di laut.

7

8

9

10 Bakorkamla

Fungsi koordinasi

Kewenangan Pengolahan Sumberdaya di wilayah Laut Merumuskan Kebijakan di Bidang Kelautan Koordinasi Keamanan laut

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

35

Di atas telah diinventarisasi pengelola tata laksana pemerintahan di laut. Dari hasil inventarisasi tersebut dapat dilihat hanya yang berkaitan dengan perumus dan pelaksana dari kebijakan tersebut. Dalam hal ini adalah lembaga-lembaga yang termasuk dalam birokrasi/eksekutif. Oleh karena itu, maka langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi pembuat/perumus kebijakan kelembagaan tata laksana pemerintahan di laut, dan selanjutnya. Suatu kebijakan adalah dibuat dalam suatu sistem politik. Dalam kaitan ini kebijakan atau berbicara dalam sistem politik, bagaimana perumus kebijakan mampu menjaring aspirasi dari stakeholders kebijakan, khususnya masyarakat yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan tersebut. Dalam studi ini meta masalah dari kalangan legislatif tidak diadakan karena keterbatasan dalam surveinya. Meta masalah hanya dilakukan pada perumus dan pelaksana kebijakan, pelaku ekonomi dan masyarakat, tokoh-tokoh yang terkait. Meta masalah dari dilakukan hanya kepada para pengelola tata laksana pemerintahan di laut dari eksekutif seperti diuraikan berikut : TNI Angkatan Laut sebagai pelaksana peraturan dan perundangan yang berkaitan dengan kedaulatan yuridiksi wilayah laut. Departemen Pertahanan sebagai pelaksana peraturan dan perundangan yang berkaitan dengan pertahanan kedaulatan yuridiksi wilayah laut dan pelibatan peran serta warga negara dalam mempertahankan wilayah laut. Departemen Kelautan dan Perikanan sumberdaya perikanan dan kelautan. Departemen Perhubungan, terutama yang menyangkut moda transportasi laut, keselamatan pelayaran dan kesyahbandaran. Departemen Keuangan dengan kegiatan kepabeanan. Departemen Pertambangan dan Energi, dengan kegiatan “off-shore exploration”. Kementerian Lingkungan Hidup, kelestarian lingkungan laut baik lingkungan fisik maupun non-fisik. Kepolisian Republik Indonesia dengan penegakan keamananan di wilayah NKRI Departemen Paririwisata dengan wisata bahari. Departemen Luar Negeri dengan perjanjian internasionalnya baik bilateral maupun multilateral Departemen Dalam Negeri dengan kewenangan pemerintah daerah. Dewan Kelautan Indonesia dengan wewenang perumusan kebijakan publik. Badan Koordinasi Keamanan Laut Republik Indonesia dengan kewenangan koordinasi keamanan laut. 3.1.2. Penggalian Masalah Dari Survey Di 18 Pemerintahan Provinsi Sampel • Pada waktu terbitnya Pasal 10 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang mengatur kewenangan telah memberikan implikasi yang kurang positif di daerah dan bahkan dapat dikatakan menjadi kontra produktif bagi kelancaran jalannya pemerintahan 36

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

dan pembangunan, khususnya pembangunan kelautan, oleh sebab itu direvisi menjadi Undang-undang No 32/2004 dahulunya adalah Undang-undang 22 tahun 1999 yang disempurnakan. Dalam UU No 22/1999 dinyatakan bahwa provinsi terdiri dari wilayah daratan dan wilayah laut sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai. Ini merupakan definisi teritori yang diinterpretasi oleh daerah bahwa ada laut provinsi dan laut kabupaten/kota sehingga terjadilah konflik perebutan sumber daya alam hayati. Hal ini kemudian disempurnakan dalam UU No 32/2004 pasal 18 dengan menyebut istilah kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut, bukan batas laut daerah. Dari hasil survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel berpendapat bahwa kewenangan ini hanyalah untuk mengelola sumber daya laut bukan untuk menguasai secara penuh wilayah laut, berbeda dengan kekuasaan daerah atas wilayah darat. Hasil survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel, responden yang diwawancarai mewakili tiap instansi telah paham mengenai Undangundang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 18. Hasil survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel belum semua dikeluarkan PERDA tentang batas-batas wilayah laut provinsi/kabupaten sesuai yang ditentukan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah • Lembaga/instansi pemerintah yang terkait dengan kewenangan kelautan di daerah tidak semua mempunyai kewenangan mengatur/mengelola pantai dan laut mempunyai dan berperan serta dalam menjalankan fungsi konservasi sumberdaya kelautan. Adapun dalam menjalankan fungsi ini hasil survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel mengalami hambatan berupa sarana dan prasarana dan hambatan berupa keterbatasan sumberdaya manusia kelautan. Wilayah pesisir memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Namun, wilayah pesisir dengan berbagai karakteristiknya tersebut belum sepenuhnya dipahami dan diintegrasikan secara terpadu. Dari hasil survey ke pemerintahan provinsi sampel, dalam menjalankan fungsi penataan ruang, menyatakan terjadi tumpang tindih kepentingan. Saat ini permasalahan yang terkait dengan penataan ruang di wilayah pesisir dan laut selain keterbatasan sumberdaya manusia dan sarana dan prasarana adalah potensi konflik kepentingan dan tumpang tindih yang tidak hanya terjadi antarsektor (pemerintahan, masyarakat setempat, maupun swasta), namun juga antar penggunaan. Pokok permasalahan dalam pengelolaan kelautan adalah sebagai berikut pemanfaatan tata ruang kelautan, dampak lingkungan dari kegiatan manusia dan kelemahan administratif. Dengan melihat kompleksitas perencanaan tata ruang kelautan, belum ada kerangka teoritis dari perencanaan tata ruang kelautan. Sehingga pendekatan yang dipilih berdasarkan pendekatan budaya, ekonomi, administrasi dan politik dan tentu saja issue yang dialamatkan pada inisiatif perencanaan tata ruang kelautan. Beberapa integrasi yang harus dilakukan di dalam pengelolaan kelautan adalah: Integrasi antar sektor dalam kelautan, integrasi antar 37

•

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

kawasan (antar daerah provinsi dan kabupaten/kota, integrasi antar pengelola tingkat pemerintahan, integrasi antar negara, dan integrasi antar berbagai disiplin ilmu. Adanya perbedaan kepentingan dan prioritas pada tiap lembaga merupakan salah satu penyebab utama pengembangan kawasan perbatasan menjadi tidak efektif. Oleh karena itu direkomendasikan untuk mengkaji : (a) upaya-upaya penguatan mekanisme koordinasi “satu atap” penanganan kawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar, dan (b) pengkajian tersebut juga perlu menjajagi kemungkinan untuk mengalihkan penanganan kawasan perbatasan dan pulaupulau terluar oleh suatu lembaga khusus. • Sebagian responden yang diwawancarai dalam survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel, mengetahui tentang ratifikasi Konvensi Internasional tentang SOLAS 1974 dan ISPS Code 2002. Didasarkan konvensi internasional tersebut Indonesia telah mendapat perhatian dan kecaman dari masyarakat internasional karena sampai sekarang Indonesia belum mempunyai penjaga pantai dan laut sebagaimana diatur dalam ISPS Code 2002 bab V peraturan (article) 15 pemerintah diwajibkan membentuk semacam penjaga pantai dan laut yang bertugas untuk menjaga keselamatan dan keamanan maritim. Disadari responden bahwa kelemahan sistem keamanan laut menyebabkan kerugian di perairan Indonesia menjadi meningkat seperti kerugian akibat pencurian kekayaan laut, penyeludupan, perampokan dan pembajakan bersenjata yang banyak terjadi di perairan Indonesia. Pemerintah daerah menyatakan bahwa telah melaksanakan penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah, walaupun dalam pelaksanaannya banyak menghadapi masalah sehingga penegakkan hukum tidak maksimal. Adapun pemeliharaan keamanan dan pertahanan telah dilakukan pemerintah daerah, namun masih belum maksimal akibat keterbatasan sarana dan prasarana serta serta sumberdaya manusia di bidang pertahanan dan keamanan (aparatur TNI/Polri) beserta kapal patrolinya. Lembaga/instansi pemerintah di daerah yang terkait dengan kewenangan mengatur/ mengelola di pantai dan laut, berperan serta dalam menjalankan pengawasan, penyelidikan dan penyidikan dalam penegakan hukum. Dari survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel, berpendapat bahwa yakin terjadi tumpang tindih dan belum optimalnya penegakan hukum di laut. Permasalahan tersebut terjadi pada saat penyidikan pelanggaran sampai dengan prosesnya dalam pengadilan. Menurut responden hal ini disebabkan pada ketidakpastian dan ketidakjelasan hukum, kewenangan dan peran institusi, penafsiran terminology peraturan, manajemen sektoral, seperti kebutuhan akan substansi dan arahan; dan penegakan hukum sendiri seperti sanksi, denda, dan pengawasan atau pengendalian. Kegiatan industri kelautan membutuhkan perijinan, dari hasil responden yang diwawancarai pada survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel lembaga yang mempunyai fungsi perijinan dalam eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan

•

•

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

38

kekayaan laut menyatakan untuk permasalahan perijinan terdapat tumpang tindih atau ijin usaha sama tetapi harus ijin ke beberapa instansi. Ijin yang berlapis-lapis ini menurut pelaku usaha menimbulkan biaya usaha tinggi. Selain itu, menyatakan mengalami hambatan keterbatasan sumberdaya manusia dan mengalami hambatan terbatasnya sarana dan prasarana. Setelah melakukan wawancara dan dilakukan analisa, ternyata terdapat beberapa permasalahan penting yang menyangkut investasi, yaitu perijinan yang tumpang tindih. Menurut surveyor perijinan tersebut perlu adanya pembenahan. Beberapa perijinan yang tumpang tindih misal industri perikanan, untuk ijin penangkapan ikan ke dinas perikanan, untuk kapal penangkapnya ke dinas perhubungan, ijin perusahaannya ke dinas perdagangan ; Ijin Budidaya ikan dan biota laut juga terjadi tumpang tindih , terutama ijin usaha dan ijin lokasi yang berkaitan dengan tataguna tanah/wilayah, konflik kepentingannya pada penggunaan lahan untuk budidaya ikan dan biota laut sering tidak sesuai dengan peruntukannya; pemberian ijin pertambangan dari dinas pertambangan mempunyai konflik kepentingan dengan dinas kelautan karena limbah yang dibuang ke sungai kemudian mengalir ke laut. Permasalahan perijinan tersebut apabila masih terjadi tumpang tindih dan berlapis-lapis tentunya tidak akan menarik bagi para investor untuk berinvestasi. Oleh sebab itu perlu adanya keterpaduan dalam pemberian ijin, dengan tidak menimbulkan beban biaya tinggi. • Dari hasil yang diperoleh lewat pengisian kuesioner survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel, instansi pemerintah yang berperan serta dalam menjalankan fungsi menjaga keselamatan pelayaran menyatakan bahwa dalam implementasi di lapangan sering terbentur dengan keterbatasan sumberdaya manusia serta kurangnya sarana dan prasarana sehingga menyulitkan untuk melakukan upaya penjagaan keselamatan pelayaran di perairan daerahnya. Dalam kewenangan mengatur/mengelola pantai dan laut, instansi yang menjalankan fungsi peradilan dalam menjalankan fungsi tersebut menyatakan mengalami hambatan berupa tumpang tindih peraturan dan kewenangan terhadap tugas dan fungsi instansi lain, keterbatasan sumberdaya manusia serta keterbatasan sarana dan prasarana. Dari hasil survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel berpendapat legalitas Dewan Maritim Indonesia perlu diperjelas bahkan perlu dibentuk menjadi suatu badan yang independent, agar mampu sebagai lembaga koordinasi lintas departemen/lembaga dalam penanganan kemaritiman. Dilihat dari hasil kuesioner. Beberapa pemerintahan provinsi telah mengeluarkan perda tentang batas-batas wilayah laut, dan menyatakan bahwa perda yang mengatur nelayan untuk menangkap ikan dalam batas-batas wilayah laut sesuai dengan yang ditentukan dalam undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 18. Kurangtahuannya masyarakat mengenai Perda ini diakibatkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah terhadap masyarakat, sehingga menyebabkan masih

•

•

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

39

banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran di wilayah perairan kewenangan daerah dan sering kali ada nelayan yang menangkap ikan melewati batas-batas wilayah laut terutama melewati wilayah laut Indonesia dan ini merupakan konflik yang banyak kali terjadi antara nelayan Indonesia dan asing. Sebagian responden berpendapat bahwa nelayan yang melewati batas-batas wilayah laut provinsi/ kabupaten merupakan pelanggaran peraturan. Mengkavling wilayah laut dan melarang nelayan dari provinsi/kabupaten lain menangkap ikan di luar batas wilayah laut provinsi, diakui responden merupakan pemahaman yang tidak selaras dengan wawasan nusantara, karena seluruh laut di wilayah NKRI adalah milik bangsa Indonesia dan laut NKRI adalah ruang juang, tali kehidupan dan laut adalah pemersatu bangsa Indonesia. Melihat banyaknya masalah dan konflik yang terjadi antar wilayah di laut khususnya konflik antar nelayan dan batas wilayah laut, responden setuju jika dibentuk lembaga antar Provinsi, dan Kabupaten untuk menangani konflik tersebut. • Sebagian respoden yang diwawancarai menyatakan mengetahui kalau pada awal pemerintahan Indonesia telah memiliki satu badan penjaga pantai yaitu Jawatan Pelayaran sebagai kelanjutan dari jawatan pelayaran zaman Belanda dengan dasar hukum yang berlaku sejak zaman Belanda dan masih berlaku serta dipergunakan sampai saat ini. Tugas dan fungsi Jawatan Pelayaran saat ini sama dan sebangun dengan tugas dan fungsi dari organisasi penjagaan pantai. Tidak semua responden telah mengetahui tentang fungsi-fungsi operasional jawatan pelayaran. Fungsifungsi operasional tersebut meliputi;keselamatan kapal niaga; keselamatan dan keamanan pelabuhan; sarana bantu navigasi; hidrografi; SAR maritim; perlindungan lingkungan laut, penegakan hukum maritim. Bakorkamla sebagai Badan Koordinasi Keamanan Laut berfungsi untuk mengkoordinasikan satuan-satuan patroli laut dari berbagai instansi yang berperan dalam penegakan hukum di laut. Akibat terjadi multiinstansi dalam pemerintahan inilah maka Bakorkamla dibentuk. Responden menyatakan mengetahui pembentukan badan ini, dan Bakorkamla yang sejogjanya menjadi badan koordinasi namun sampai sekarang belum berjalan dengan baik. Untuk memaksimalkan sistem pengamanan dan penegakan hukum di wilayah laut, dari hasil survey di seluruh 18 pemerintahan provinsi sampel menyatakan setuju dan perlu dibentuk suatu lembaga pemerintah di laut yang profesional melaksanakan multifungsi pemerintah di laut dan bukan melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri untuk kepentingan sektor masing-masing serta setuju jika kewenangan instansi mereka di wilayah laut menjadi bagian dari lembaga tersebut. Responden yang diwawancarai menyatakan perlu suatu lembaga yang mengkoordinasikan kewenangan masing-masing lembaga yang mengatur, mengelola wilayah laut Indonesia. Para responden tersebut memberikan masukan bahwa peraturan perundang-undangan yang ada saat ini masih bersifat mempromosikan dan

•

•

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

40

mendukung kepentingan sektor masing-masing. Oleh karena itu, terdapat kendala besar dalam mengkoordinasikan program dan kegiatan yang berlokasi di wilayah laut dan pesisir, baik koordinasi antarsektor terkait maupun koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Seluruh pihak terpaku kepada pencapaian tujuan masing-masing tanpa memperdulikan pentingnya esensi keterpaduan dalam pelaksanaan pengelolaan di wilayah laut dan pesisir. Pembenahan institusi (pranata dan aturan main) khususnya dalam pengelolaan kelautan harus menjadi prioritas nomor satu dalam kerangka “ocean governance”. Hanya dengan institusi yang berfungsi baik, kemajuan dan pembangunan akan datang dengan sendirinya. Pemerintah tidak perlu langsung melaksanakan kegiatan pembangunan sendiri. Masyarakat dan dunia usaha yang akan melakukan kegiatan-kegiatan itu. Pemerintah mempunyai tugas utama untuk menjamin agar institusi-institusi, aturan main, itu berjalan baik sesuai fungsinya. Untuk mendukung pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 18 ayat 3 huruf d, e dan f, pemerintah provinsi sangat perlu memiliki kapal patroli. 3.1.3. Penggalian Masalah Dari Beberapa Instansi di Pemerintah Pusat Tatanan pemerintahan di laut, fungsinya mengatur pemanfaatan laut sebagai sarana dan prasana, eksplorasi dan eksplotasi sumber-sumberdaya kelautan itu sendiri secara efisien, aman dan lestari dan dapat memberikan kesejahteraan yang optimal/maksimal secara merata kepada masyarakat/publik. Bahwa masalah utama pembangunan kelautan adalah soal pengawasan, penegakan hukum, dan koordinasi antar sektor di laut. Hal yang sering dikeluhkan TNI AL dan POLAIR dalam soal pengawasan dan pengamanan laut adalah keterbatasan fasilitas. Sebenarnya telah lama bergulir wacana kerja sama dengan dengan pemerintah provinsi dalam pengadaan fasilitas kapal patroli. Namun, kerjasama ini mendapat sorotan yang tajam karena dianggap melanggar UU No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan, yang menegaskan bahwa urusan belanja alat-alat perang dan biaya penggunaannya haruslah diambilkan dari APBN. Namun demikian, sebenarnya pengadaan kapal patroli oleh beberapa pemerintah provinsi yang hendak melindungi wilayahnya dari berbagai praktek ilegal sebagai bagian dari implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 18 ayat 3 huruf d, e dan f memang ditegaskan bahwa kewenangan daerah di laut mencakup penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah, dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. Juga, dalam kepentingan penegakan keamanan di laut propinsi, upaya kerjasama dengan TNI AL dan POLAIR dalam pengadaan kapal patroli mestinya dapat dipahami. Pemprov yang peduli keamanan wilayahnya dan memiliki sumberdaya finansial di satu sisi, sementara TNI AL dan POLAIR yang memiliki kewenangan serta kemampuan dalam penegakan keamanan dan pertahanan serta miskin fasilitas, berkolaborasi dalam pengembangan MCS (Monitoring, Controlling, and Surveillance) untuk sumberdaya laut, 41

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

yang sekaligus menjaga kedaulatan bangsa kita di laut. MCS merupakan salah satu prasyarat pokok dalam pengelolaan sumberdaya laut. Di wilayah pesisir pada umumnya nelayan tradisional sekaligus menjalankan fungsi MCS, yang diatur melalui aturan lokal. Sementara itu di luar wilayah pesisir (off shore), tumpuan terhadap kehadiran aparat negara (TNI AL maupun POLRI) sangatlah besar, karena cakupan wilayah dan medan masalah yang makin luas dan kompleks.Upaya mengatasi masalah keamanan suatu provinsi mesti dilihat secara lebih komprehensif. Memberdayakan TNI AL dan POLAIR hanyalah merupakan salah satu bagian penting dari MCS. Justru agenda yang terpenting adalah terbentuknya institus ko-manajemen (collaborative management) dalam MCS sumberdaya laut daerah, yang terdiri dari unsur TNI AL, POLAIR, Pemprov, wakil masyarakat, kejaksaan, beacukai, dan kehakiman. Unsur-unsur tersebut, khususnya penegak hukum, selama ini berdiri sendiri-sendiri dan penuh dengan rasa saling tidak percaya. Padahal keterpaduan antar instansi tersebut sangatlah mutlak. Tidak jarang penangkapan kapal asing sering mentah karena ulah salah satu unsur tersebut. Karena itu melalui ko-manajemen ini kontrol terhadap setiap unsur akan terjadi. Disinilah harusnya Pemprov mengambil alih posisi sebagai koordinator dalam ko-manajemen MCS tersebut, karena Pemprov pulalah yang pertama kali merasakan dampak dari kondisi wilayah lautnya yang tidak aman dan tidak teratur. Dan, tentu ini tantangan Pemprov dalam memberdayakan seluruh kekuatan unsur tersebut. Untuk itu ko-manajemen tersebut perlu dilembagakan di setiap provinsi. Sebenarnya model ko-manajemen ini bukan barang baru karena, kita juga punya BAKORKAMLA (Badan Koordinasi Keamanan Laut) yang didirikan tahun 1972 oleh Surat Keputusan Bersama tiga Menteri (Kehakiman, Hankam dan Keuangan). Kemudian diperbarui dengan dibentuk lembaga Bakorkamla RI berdasarkan Perpres No. 81 Tahun 2005. Bakorkamla RI mengacu pada tugas dan wewenang dari institusi induk masing-masing anggota Bakorkamla RI. Mereka seolah memiliki hak untuk menegakkan hukum di laut secara sendiri-sendiri, sudah peralatan kurang, tidak ada harmonisasi antara satu dengan lainnya. Ketiadaaan satu garis komando dalam menegakkan hukum Anggotanya terdiri dari : Satuan Polisi Perairan, Perhubungan Laut, KPLP, Bea Cukai, PPNS Kelautan dan Perikanan, TNI AL, serta institusi lain. Paling tidak ada 10 organisasi yang menangani berbagai masalah di laut. Sepuluh lembaga ini mendapatkan paling tidak legitimasi dari 16 aturan perundangan yang ada. Namun demikian, sampai saat ini keberadaan BAKORKAMLA masih belum optimal dengan berbagai alasan antara lain : sarana terbatas, koordinasi kurang mantap, masalah kewenangan antar instansi dan anggaran untuk dukungan logistik operasi yang masih belum jelas dan belum dapat teratasi.Penyebab Bakorkamla RI tidak dapat efektif bekerja karena masing-masing institusi yang menangani keamanan laut tetap berada dalam induknya. Sistem penganggaran juga bergantung kepada institusi induk sehingga sulit menjadi kesatuan program dari Bakorkamla; Terdapat sistem dan prosedur yang tidak seragam. Selama ini tidak jarang satu kapal dicegat oleh berbagai instansi yang berbeda. Kapal yang sudah diizinkan Bea Cukai untuk berlayar masih bisa ditangkap oleh KPLP lalu TNI AL dengan bermacam argumen pelanggaran, untuk melepaskan kapal tersebut,

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

42

dibutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit sehingga pihaknya seringkali dikeluhkan oleh pemilik barang kiriman karena keterlambatan dan kerusakan barang. Kondisi penegakan hukum di laut oleh Bakorkamla tidak optimal terjadi karena titik berat pelaksanaan tugas, fungsi, wewenang, dan tanggung jawab anggota di wilayah laut Indonesia mengakibatkan potensi laut belum bisa dimanfaatkan secara efektif, efisien terpadu memiliki kewenangan mengendalikan seluruh sarana dan prasarana instansi terkait untuk memperdayakan dan mengelola sumber daya alam di laut. Namun dengan otonomi daerah, Bakorkamla memang belum direvitalisasi. Sehingga, saat inilah momentum yang tepat bagi daerah untuk mereformasi dan merevitalisasikannya. Tentu persoalan kerjasama antara Pemprov dengan TNI AL dan POLAIR tidak akan menjadi kontroversial kalau di provinsi tersebut sudah tertata institusi ko-manajemen untuk MCS. Skenarionya, mestinya Pemprov-lah yang membiayai kegiatan MCSnya, tidak saja untuk keperluan pembelian kapal patroli yang dioperasikan TNI AL atau POLAIR , tetapi juga untuk keperluan operasional MCS lainnya. Dengan institusi ko-manajemen MCS ini, maka tidak akan terlihat lagi hubungan ekslusif antara Pemprov dengan TNI AL dan POLAIR, karena seluruh peralatan yang dibeli Pemprov tidak hanya untuk TNI AL dan POLAIR tetapi untuk kepentingan institusi ko-manajemen itu dalam mengembangkan MCS. Dan, kecurigaan yang tidak perlu juga tidak akan muncul. Sementara itu misi utama untuk mengendalikan praktek ilegal di laut dapat diwujudkan. Dengan demikian, persoalan pembelian kapal patroli oleh Pemprov tersebut seharusnya tidak dimaknai sebagai desentralisasi pertahanan, melainkan desentralisasi MCS. Dan, ini memang merupakan kebutuhan daerah dalam kerangka pemanfaatan dan perlindungan potensi sumberdaya lautnya. Serta, merupakan salah satu rangkaian dari upaya menegakkan kepastian hukum di laut.Ini merupakan koreksi terhadap sentralisasi MCS pada masa lalu yang ternyata tidak efektif. Karena, sentralisasi tentu menyebabkan biaya transaksi yang tinggi yang sulit ditanggung negara untuk mencakup wilayah laut kita yang sangat luas itu. Terbukti saat ini TNI AL, POLAIR dan pemerintah pusat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan seluruh wilayah. Karena itu, seharusnya desentralisasi MCS ini mestinya menjadi solusi atas kebuntuan masalah MCS yang sentralistik. Dalam UU Perikanan yang disahkan 14 September 2004, dinyatakan secara tegas perlunya peradilan perikanan. Ini penting untuk mempercepat proses hukum bagi pelanggaran perikanan. Selama ini penanganan pelanggaran di bidang perikanan sangatlah lambat, yang membuat ketidakpastian hukum di laut. Banyak kasus kapal asing terbengkalai, dan kalau pun tertangani butuh waktu yang sangat lama sehingga kita pun tidak mampu memanfaatkan kapal hasil sitaan untuk kepentingan nelayan lokal karena menurunnya kualitas kapal dan alat tangkap akibat terlantar. Upaya percepatan realisasi peradilan perikanan mencakup beberapa hal. Pertama, realisasi pada tingkat kelengkapan instrumen hukum. Yakni, penyusunan Peraturan Pemerintah (PP) sebagai instrumen operasionalisasi amanat UU Perikanan, serta harmonisasi dengan produk perundangan yang terkait lainnya. Kedua, realisasi pada tingkat politik, yakni perlunya mendapat dukungan dari berbagai lembaga tinggi lainnya, seperti koordinasi

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

43

koordinasi yang baik dengan Menteri Kehakiman dan Mahkamah Agung. Seperti diketahui, Mahkamah Agung masih mengeluhkan adanya pola pengadilan sektoral ini. Salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kapal penangkapan ilegal serta hambatan untuk mengatasinya adalah karena banyaknya instansi yang mengeluarkan ijin. Akibatnya muncul birokrasi yang panjang, dan peluang-peluang manipulasi serta saling lempar tanggung jawab antar instansi. Surat-surat ijin yang dikeluarkan beberapa instansi dan diperlukan untuk penangkapan ikan adalah sebagai berikut : a) b) c) d) e) f) g) h) i) Surat tanda pendaftaran/kebangsaan (didasari oleh surat ukur dan Gross Akte) dikeluarkan oleh Perhubungan Laut. Sertifikat kelaikan dan pengawakan kapal (Perhubungan Laut). Paspor/Seamen Book/DAHSUSKIM bagi ABK WNA (Imigrasi). Ijin Kerja Tenaga Asing (IKTA) (Depnakertrans). Surat Ijin Operasional Perusahaan Non Pelayaran (SIOPNP) (Perhubungan Laut). Surat Penangkapan Ikan (SPI) (Ditjen Perikanan Tangkap/DKP). Ijin Usaha Perikanan (IUP) (Ditjen Perikanan Tangkap/DKP). Surat Ijin Berlayar (SIB) (Ditjen Perhubungan Laut). Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) bagi KII berasal dari KIA (Ditjen Bea Cukai)

Dari sekian banyak ijin tersebut, semestinya beberapa ijin dapat diintegrasikan ke satu instansi sehingga memudahkan monitoring. Namun hal ini bukan hal yang mudah. Karena, misalnya, untuk mengeluarkan sertifikat kelaikan dan pengawakan kapal mesti mendapatkan sertifikat dari IMO (International Maritime Organization). Dan, saat ini sertifikat ini hanya dimiliki Departemen Perhubungan. Sehingga, agar Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) mengambil alih perijinan ini, diperlukan kemampuan teknis yang disertifikasi secara internasional. Disinilah perlunya pengembangan kapasitas dalam proses integrasi perijinan. Mengenai tata ruang maritim/kelautan, sampai saat ini belum ada pedoman operasional yang berorientasi kepada maritim. Pedoman-pedoman yang ada masih lebih berorientasi “kontinental”, dan belum mengintegrasikan pulau-pulau, pesisir, dan laut sebagai satu kesatuan wilayah perencanaan. Dengan otonomi daerah, di mana provinsi dengan kabupaten /kota tidak hirarkis, maka perencanaan dapat menjadi sangat sendiri-sendiri, parsial, bahkan mungkin saling merugikan. Sebagai contoh, di suatu kabupaten, pesisir dijadikan pabrik. Sedangkan di kabupaten berbatasan, pesisirnya akan dibangun tambak, tentu masing-masing tidak cocok Oleh karena itu perlu diwujudkan tata ruang yang sinergi dan serasi antar daerah/kawasan menjadi kebutuhan. Tata ruang kewilayahan, tata guna tanah/wilayah belum memadai sehingga pemanfaatannya belum opatimum/ maksimal. Terjadinya beban/pemanfaatan yang berlebihan di suatu kawasan, sehingga akan terjadi berkurangnya hasil, atau bahkan hilang/punahnya species tertentu. Tata ruang dan wilayah belum memadai dan kurang terkordinasi dengan Undang Undang/Pusat.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

44

Untuk tumpang tindih kewenangan antar wilayah (kabupaten/kota yang berbatasan). Kasus yang terjadi adalah konflik antarnelayan di pantai utara Jatim dan Selat Madura. Peristiwa yang bisa menimbulkan korban jiwa itu terus berlangsung begitu digulirkannya UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah. Konflik sulit dihindarkan, baik antarnelayan di kabupaten tetangga seperti Kab. Gresik dan Kab. Lamongan maupun antarkabupaten yang terpisah selat seperti nelayan dari Kab. Sidoarjo dengan Kab. Bangkalan atau Kab. Pasuruan dengan Kab. Bangkalan. Bentuknya bisa saling menyandera perahu dan awak nelayannya, pembakaran perahu, pengusiran perahu bahkan saling baku bunuh. Ketidakpahaman terhadap UU tersebut seolah memunculkan sikap ‘pengkaplingan’ laut, padahal inti kewenangan pemda dalam kewenangan pengelolaan wilayah perairan laut hanyalah pengelolaan dan bukan kepemilikan wilayah. Sedangkan nelayan dalam negeri bisa melakukan penangkapan di perairan manapun di wilayah Indonesia. Tata laksana pemerintahan yang berkaitan dengan kewenangan pengelolaan laut yang berhubungan dengan lintas Kabupaten, Kota dan Propinsi belum diatur dengan jelas, sehingga hal ini potensial bagi memicu konflik horizontal maupun vertikal. Masalah-masalah yang dihadapi bidang kelautan yang perlu mendapatkan perhatian yang berkaitan dengan ketahanan nasional dalam bidang Pertahanan dan Keamanan adalah: a) b) c) d) Masalah legalitas latihan militer dan kegiatan inteljen militer asing di zona ekonomi eksklusif (ZEE) suatu negara. Diperlukan adanya code of conduct mengenai hal ini. Masalah terorisme di laut Munculnya isu tentang IUU fishing, people smuggling, perompakan di laut dan bajak laut, illegal immigrant, dsb. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dan perikanan perlu diantisipasi dampak negatifnya.

3.1.4. Penggalian Masalah Perjanjian Internasional Masalah yang dihadapi Indonesia dalam implementasi Kovensi Hukum Laut 1982 (diratifikasi melalui UU No. 17 Th 1985 pada tanggal 31 Desember 1985), yang merupakan landasan hukum internasional bagi kedudukan Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic states). Indonesia mempunyai kewajiban untuk segera mengimplementasikan ketentuan dalam Hukum Laut 1982 ke dalam peraturan perundangan nasional: Indonesia wajib membentuk coast guard karena menyetujui untuk bertanggung jawab dan menjamin pembentukan organisasi tersebut sejak 1974. Langkahlangkah pembentukan organisasi pengawal pantai dan laut itu, seharusnya selambatlambatnya terwujud 1 Juli 2004 yang lalu. Selain itu, Indonesia juga menyetujui Resolusi A 924 (22) tentang, “Tinjauan ulang terhadap pedoman dan prosedur pencegahan tindak terorisme yang mengancam keamanan penumpang dan para

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

45

awak kapal serta keselamatan kapal,” yang ditetapkan tanggal 20 November 2002 dalam Sidang Majelis Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO). Dasar-dasar hukum internasional yang mewajibkan Indonesia membentuk coast guard, diatur dalam Bab V Peraturan 15 Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut (Solas 1974) mengenai kewajiban negara penandatangan membentuk organisasi pengawal laut dan pantai. Organisasi pengawal laut dan pantai ini sudah banyak berdiri di berbagai dunia, seperti Amerika Serikat dan Jepang. Aturan lain, ketentuan internasional tentang keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan (ISPS Code 2002) mengenai kewajiban negara peserta menetapkan otoritas nasional dan otoritas lokal yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan maritim. Diperkuat dengan Pasal 217, 218, dan 220 Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hukum Laut (Unclos III, 1982) tentang penegakan hukum oleh negara pantai (coast state), oleh negara bendera (flag state) dan negara pelabuhan (port state). Dalam hukum nasional, rujukan pembentukan coast guard diatur dalam UU Nomor 21 Tahun 1992 Pasal 55 tentang keselamatan dan keamanan kapal. Kemudian penegakan hukum oleh negara pelabuhan tertuang dalam peraturan bandar 1925 dan UU Nomor 21 Tahun 1992 Pasal 21 Ayat (3) tentang ketertiban dan keamanan pelabuhan atau bandar. Coast guard dibutuhkan, sebagai tuntutan hukum internasional, agar Indonesia bisa menjamin keselamatan dan keamanan kapal berbendera asing yang melintas damai di perairan Indonesia. Jika Indonesia tidak bisa menjamin, itu berarti kapal berbendera asing akan dikawal oleh kapal perang negaranya sehingga perairan Indonesia seperti perairan internasional. Kalau itu terjadi, terancamlah kedaulatan negara karena perairan Indonesia yang menjadi alur lintas damai internasional tidak lagi diakui. Jika keamanan laut dan pantai tidak terjamin, perekonomian nasional bisa terancam karena lalu lintas ekspor dan impor terganggu. Keadaan tersebut bisa menimbulkan biaya tinggi bagi kapal yang hendak masuk perairan Indonesia. Tingginya risiko akibat tidak terjaminnya keamanan mengakibatkan mahalnya asuransi kapal yang masuk ke Indonesia. Justru itu dibutuhkan pengamanan laut dan pantai secara intensif. Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Indonesia, untuk otoritas lokal, dunia internasional hanya mengakui organisasi pengawal laut dan pantai (coast guard). Penetapan batas-batas terluar dari berbagai zona maritim yang berada di bawah kedaulatan dan yurisdiksi negara. UU No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia untuk pertama kalinya Indonesia menyatakan diri sebagai negara kepulauan (pasal 2 dan 6 undang-undang tersebut menetapkan tentang laut pedalaman). Dengan adanya pengakuan prinsip negara kepulauan secara hukum dan politis berarti ada pengakuan internasional atas penambahan wilayah Indonesia dari 1,65 juta km2 menjadi 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 juta km2 wilayah laut dan 2,7 juta km2 ZEE/landas kontinen. Hal ini berimplikasi terhadap bidang pertahanan dan keamanan khususnya dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di wilayah ZEE oleh kapal-

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

46

kapal asing (IUU fishing). Oleh karena itu khusus untuk wilayah baru ZEE, ada kewajiban bagi Indonesia untuk melakukan delimitasi batas maritim ZEE dengan negara-negara tetangga melalui jalur diplomasi. PP. No. 38 Tahun 2002 yang berisi daftar koordinat geografis titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia. UU No. 5 Tahun 1983 yang berisi hak-hak berdaulat dan jurisdiksi Indonesia di ZEE. Garis batas wilayah dan yurisdiksi Indonesia di laut dengan negara-negara yang berbatasan. Sejak diakuinya konsep negara kepulauan pada Konvensi Hukum Laut 1982, permasalahan penataan batas maritim masih merupakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Konsistensi penanganan baik melalui perundingan diplomatik maupun koordinasi antar pemangku kepentingan diharapkan dapat mempercepat penyelesaian batas maritim. Penetapan garis batas wilayah dan jurisdiksi di laut adalah suatu proses untuk menetapkan secara nyata pembagian hak berdasarkan kedaulatan (Sovereignty) hak-hak berdaulat (Sovereign rights) dan yurisdiksi terhadap zona-zona maritim (Konvensi HUKLA, 1982). Ada 10 negara yang berbatasan laut dengan Indonesia, yakni: Australia, Filipina, India, Malaysia, Palau, Papua Nugini, Singapura, Timor Leste, Thailand, dan Vietnam. Untuk itu telah ditetapkan prioritas untuk penetapan batas maritim dengan negara-negara tetangga, yakni (1) Singapura, Malaysia, Filipina, Palau; (2) Timor Leste; (3) India, Thailand, Vietnam; dan (4) Papua Nugini dan Australia. Penetapan garis batas wilayah maritim Indonesia dimaksudkan penegakkan kedaulatan negara dalam melindungi sumberdaya alam yang melimpah yang ada dalam kolom air, baik hayati maupun non hayati, stock sumberdaya perikanan di ZEEI, maupun di dasar laut seperti minyak dan gas bumi, dll. Melalui jalur diplomasi akan dicapai persetujuan tentang garis batas maritim (perundingan bilateral, multilateral) dengan negara yang berbatasan tanpa harus mengorbankan kepentingan nasional. Dalam perkembangannya Pemerintah RI telah dapat menyelesaikan beberapa perjanjian perbatasan dengan negara-negara tetangga, yaitu dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura, Papua New Guinea dan Australia. Perjanjian-perjanjian tersebut terdiri dari Perjanjian tentang Garis Batas Laut Teritorial; Perjanjian tentang Garis Batas Laut Kontinen; Perjanjian tentang Garis Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Penataan batas maritim bagi Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan tantangan nyata dan tanggungjawab besar untuk menyelesaikannya. Selain batasbatas maritim dengan negara tetangga, Indonesia hingga saat ini belum menetapkan Zona Tambahan, dan belum menyerahkan kepada PBB mengenai Koordinat Titiktitik Pangkal dan Koordinat Laut Wilayah Indonesia. Tantangan selanjutnya adalah Indonesia mendapatkan kesempatan hingga tahun 2009 untuk menyampaikan klaim atas batas landas kontinen di luar 200 mil laut. Dalam kaitannya pengajuan klaim ini diperlukan dukungan data ilmiah didasarkan pada kajian dan survey ilmiah meliputi Bathymetri, Geodesi, Geofisik, dan Geologi yang mengacu pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Commission on the Limits of Continental Shelf

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

47

3.2. Kewenangan Daerah Terhadap Wilayah Laut Undang-undang No 32/2004 dahulunya adalah Undang-undang 22 tahun 1999 yang disempurnakan. Dalam UU No 22/1999 dinyatakan bahwa provinsi terdiri dari wilayah daratan dan wilayah laut sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai. Ini merupakan definisi teritori yang diinterpretasi oleh daerah bahwa ada laut provinsi dan laut kabupaten/kota sehingga terjadilah konflik perebutan sumber daya alam hayati. Hal ini kemudian disempurnakan dalam UU No 32/2004 pasal 18 dengan menyebut istilah kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut, bukan batas laut daerah. Pemerintah Indonesia menetapkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan adanya UU ini membawa implikasi baru bagi pembangunan di wilayah pesisir, maka daerah mulai diberi wewenang-wewenang tertentu di laut yang. “Seringkali menimbulkan permasalahan tentang hakekat kewenangannya. Perumusan pasal 2 (1) UU No.32/2004 yang mengatakan bahwa “NKRI dibagi atas Daerah-Daerah propinsi dan Daerah propinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota.............”, seolah--olah menunjukkan bahwa kesatuan NKRI sudah tidak lagi merupakan hal yang fundamental, termasuk kesatuan kewilayahannya, yang dengan demikian juga berarti kesatuan kekayaan alamnya. Karena itulah mulai banyak orang yang mempertanyakan bahwa Otonomi Daerah yang semacam itu adalah tantangan terberat bagi kesatuan kewilayahan Indonesia dan dikhawatirkan lama-lama akan dapat merupakan tantangan bagi kesatuan kejiwaan Indonesia sebagai satu bangsa dan satu tanah air serta tantangan terhadap kesatuan kenegaraan Indonesia itu sendiri. Masalah pulau-pulau kecil terluar yang berada di daerah perbatasan dengan negara tetangga dan pengelolaan dalam pemanfaatan pulau-pulau kecil oleh Pemerintah Provinsi dan atau oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Masalah pengelolaan wilayah laut oleh Pemerintah Daerah, mengingat belum terbitnya PP tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten.Kota sebagai pengganti PP No. 25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonom dan Kepmendagri No. 130-67/2002 tentang Kewenangan yang diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. Terjadinya perbedaan penafsiran oleh masing-masing Pemerintah Daerah terhadap isi pasal 18 UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sehingga ada Pemda yang melakukan pengkaplingan wilayah lautnya. Masih sering terjadinya konflik antar para nelayan terutama untuk daerah yang wilayah lautnya berhimpitan atau berdekatan, begitu pula untuk nelayan yang berjauhan asal provinsinya seperti nelayan yang berasal dari provinsi Jawa Tengah mencari ikan ke Provinsi Kalimantan Selatan dan atau ke wilayah laut Provinsi Sulawesi Selatan. Masih banyaknya para nelayan Indonesia melakukan pelanggaran pencarian ikan di wilayah perairan laut negara tetangga. Bila sebelumnya seluruh wilayah perairan laut Indonesia berada pada wewenang pemerintah pusat, maka dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah daerah memiliki wewenang atas sebagian wilayah perairan laut.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

48

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ini minimal memiliki dua implikasi terhadap kegiatan sumberdaya pesisir dan laut, khususnya dalam hal perwilayahan daerah penangkapan ikan, yaitu : (1) Daerah propinsi harus dengan lebih pasti mengetahui potensi perikanan serta batas-batas wilayahnya sebagai dasar untuk menentukan jenis dan tipe kegiatan perikanan yang sesuai di daerahnya, (2) Daerah propinsi harus mampu mengalokasikan 4 mil laut dari 12 mil laut yang berada di bawah wewenangnya kepada kota/kabupaten yang selanjutnya dikelola pemanfaatannya. Pembangunan sumberdaya pesisir dan laut pada saat ini menjadi andalan bagi bangsa Indonsia untuk melakukan pemulihan ekonomi akibat krisis yang berlangsung sejak tiga tahun lalu. Sesuai dengan kebijakan politik untuk memacu desentralisasi, maka pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut akan lebih banyak didelegasikan kepada pemerintah daerah. Hal ini tentu saja memberikan peluang yang lebih besar bagi daerah untuk mengelola dan memanfaatkan potensi pesisir dan kelautannya bagi kesejahteraan daerah. Namun disisi lain juga menciptakan kemungkinan eksploitasi sumberdaya hanya untuk memacu pertumbuhan daerah. Ditambah lagi degan kondisi umum sumberdaya manusia, ekosistem, dan kebijakan pembangunan pesisir dan laut selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya tersebut yang lestari dan memihak pada kepentingan masyarakat dan lingkungan. Akhir-akhir ini sudah berkembang pula berbagai-bagai gagasan untuk meningkatkan peranan Daerah didalam mernbantu peningkatan keamanan laut. Sebagian gagasan tersebut didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan .praktis dan sebagian lagi didasarkan kepada Pasal 18 UU No. 32/2004. Salah satu gagasan yang pernah berkembang adalah gagasan KASAL B. K. Sondakh yang menyarankan agar Pemda ikut mengamankan laut bekerjasama dengan TNI AL, dimana Pemda membeli kapal-kapal patroli yang kemudian dioperasikan oleb TNI AL. Usul ini mendapat dukungan antara lain dari propinsi Papua, Riau dan Bangka Belitung serta mendapat restu dari Menteri Pertahanan pada waktu itu. Tetapi usul ini mendapat tantangan dari kalangan LSM yang khawatir akan kembaIinya peranan militer daIam masalah penegakan hukum clan dari Depdagri yang menganggapnya bertentangan dengan UU karena masalah keamanan dan pertahanan sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat 3 UU No. 32/2004 adalah wewenang Pemerintah Pusat, bukan wewenang Pemerintah Daerah.Selanjutnya Komisi I DPR dapat memahami usul tersebut karena yang dipersoalkan adalah pembelian kapal patroli, bukan kapal perang. Dalam kenyataannya, TNI AL memang sudah bekerjasama dengan instansi lain dalam pengoperasian kapal-kapal yang bukan kapal TNI AL seperti dengan operasi kapal riset BPPT (Baruna Jaya I - IV) clan operasi helikopter Badan SAR Nasional. Dari segi praktis memang ada kesulitan Daerah mengembangkan sendiri kemampuan “keamanan maupun pertahanan” seperti yang disebutkan dalam Pasal 18 (3) UU No. 32/2004, apalagi kalau tidak dioperasikan secara tunggal, baik oleh TNI AL ataupun oleh Bakorkamla karena :Dalam pelaksanannya di laut bisa “bertabrakan” kegiatannya dengan tugas-tugas instansi lainnya, khususnya TNI AL, POLRI, Bea Cukai, andaikata dalam kegiatan aparat Daerah tersebut terlibat kapal-kapal asing yang sedang lewat atau berada di perairan dalam batas Propinsi/

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

49

Kabupaten/Kota maka tidak jelas masalah liability “state responsibility” karena pada akhirnya Pemerintah Pusat akan dapat dituntut bertanggung jawab (lihat misalnya Pasal 232 UNCLOS 1982). Sesuai dengan ketentuan Hukum Laut Intemasional maka pada umumnya yang berhak melakukan tindalan-tindakan keamanan di laut adalah pejabat--pejabat atau kapal-kapal perang, kapal terbang militer, atau kapal-kapal atau kapal terbang lainnya yang diberi tanda yang jelas bahwa dia berada dalam togas Pemerintahan clan diberi kuasa untuk melaksanakan tindakantindakan tersebut (lihat misalnya Pasal 224 UNCLOS 1982). Aparat-aparat “penegak hukum” Daerah di laut yang tidak jelas tanda dan authority nya dapat dianggap sebagai kapal-kapal bajak laut perompak. Andaikata masing-masing pemerintah Daerah mengembangkan kemampuan keamanan dan pertahannya sendiri di laut, dengan mudah akan dapat terjadi konflik-konflik horizontal antara Provinsi--provinsi/Kabupaten-kabupaten yang berdekatan. Bisa dibayangkan akan menimbulkan masalah baru yang lebih ruwet dalam penanganan masalah keamanan laut yang akan mempersulit pelaksanaan tugas Bakorkamla. Andaikata ada Daerah-Daerah yang kaya yang memang mampu membeli kapal-kapal memberikan peluang untuk membantu peningkatan kemampuan penegakan hukum dan kedaulatan di laut, maka sewajarnya bantuan tersebut “dihibahkan” kepada unsur-unsur penegak hukum Pusat, termasuk Bakorkamla. Dalam hal demikian, barangkali dana-dana yang akan dialirkan oleh Pusat ke Daerah sebagian dapat dimanfaatakan untuk membantu peningkatan kemampuan penegakan hukum dan kedaulatan di laut. Barangkali bantuan yang paling efektif dari Daerah dalam peningkatan keamanan di laut adalah menjadi semacam “mata-mata” pemerintah di rant terutama dengan mengefektifkan peranan nelayan dan pelaut mereka dalam memonitor dan mengawasi laut dan menjaga koordinasi dan komunikasi yang erat dengan aparat-aparat penegak hukum dan keamanan, baik yang ditempatkan di Daerah maupun di Pusat. Pada satu sisi, adanya tuntutan desentralisasi yang memerlukan perubahan mendasar pada kelembagaan pemerintah, peraturan-peraturan yang diperlukan, dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Oleh karenanya pelaksanaan ocean governace harus dapat sejalan dengan tuntutan dan keinginan masyarakat setempat, sekaligus pada sisi lain memenuhi kepatuhan pemerintah Indonesia terhadap tuntutan kepentingan internasional, dengan terpenuhi kemampuan mengatur berbagai kegiatan dan kepentingan setiap pihak di laut akan memperkuat kedaulatan negara yang pada akhirnya memperkuat jati diri sebagai bangsa bahari 3.3. Peluang Dan Tantangan Tata Pemerintahan Di Laut 3.3.1. Peluang dan Tantangan Global/ Eksternal Keamanan di Laut Sekalipun Perang Dingin telah berakhir sejak tahun 1986, namun faktor keamanan Indonesia, khususnya keamanan di laut yang sangat luas tersebut sangat penting. “Law and Order” dalam arti keamanan kita sangat penting agar mampu memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk kepentingan bangsa. Berkhirnya perang dingin tidak berarti berhentinya juga kepentingan pihak-pihak lain atas wilayah Indonesia untuk

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

50

kepentingan nasional mereka masing-masing. Berakhirnya Perang Dingin disusul dengan munculnya globalisasi ekonomi dengan sistem kapitalismenya, demokrasitisasi, hakhak asasi manusia. Bahkan dengan dalih demokratisasi, keamanan nasionalnya dan keamanan dunia suatu negara dapat mengancam negara lain dan bahkan menyerang dan mendudukinya. Yang lebih jelas, globalisasi ekonomipun menuntut faktor keamanan dalam masalah globalisasi tidak jarang terjadi tekanan-tekanan diplomatik oleh suatu negara terhadap negara lainnya. Dalam kaitan ini bidang pertahanan dan keamanan wilayah laut Indonesia masih relatif lemah. Ini dapat dilihat dari banyaknya penyusupanpenyusupan di wilayah laut kita yang tidak diketahui, dan juga jalur pelayaran banyak yang kurang aman dari perompakan di laut. Beberapa peristiwa skala nasional yang terjadi, lepasnya Timor-Timur pada jajak pendapat tahun 1999, konflik di Maluku dan Poso, dan persoalan di Papua tidak terlepas dari peran dan penyusupan-penyusupan asing. Faktor yang dominan dalam era globalisasi ini, memang tetap masalah ekonomi. Namun faktor keamanan tetap penting agar Indonesia dapat memanfaatkan globalisasi tersebut untuk kepentingan bangsa. Keamanan di wilayah kedaulatan Indonesia, terutama keamanan di laut sangat penting, agar mengelolanya dengan aman dan tenang untuk kesejahteraan bangsa. Lebih-lebih lagi saat ini dan dimasa ke depan dimana sumbersumber alam kita yang utama di darat relatif sudah habis. Dalam hal ini, faktor keamanan dan pengamanan menjadi sangat penting. Jadi pengaruh keamanan di laut kita menjadi sangat penting. Upaya menegakkan keamanan di laut dalam rangka memantapkan integritas wilayah laut Indonesia, perlu dilakukan dengan cara memadukan secara komprehensif strategi pertahanan negara yang meliputi strategi militer, strategi ekonomi, dan didukung strategi politik. Strategi ekonomi, misalnya memperkuat armada pelayaran nasional dan rakyat, serta armada nelayan yang dapat menunjang kepentingan pertahanan dan keamanan di laut. Peran militer atau angkatan laut tidak bisa diabaikan, karena kekuatan angkatan laut yang dibangun untuk tujuan mempertahankan Negara dalam rangka menghadapi ancaman militer, dapat difungsikan secara efektif untuk mencegah perang dan menjamin perdamaian, antara lain melalui Confidence Building Measure, penangkalan, tindakan pemaksaan maupun diplomasi pertahanan. Armada pelayaran rakyat dapat dirancang untuk diintegrasikan dalam upaya pengamanan wilayah negara. Faktor keamanan tersebut tidak terlepas dari posisi geografis Indonesia pada silang dua benua dan dua lautan, sehingga tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh dan kepentingan-kepentingan negara lain, baik menyangkut masalah politis, ekonomi, sosial budaya maupun militer, lebih-lebih lagi dalam era globalisasii ekonomi sekarang ini dimana derajat saling ketergantungan (interdenpedency) makin menguat. Konflik-konflik yang terjadi di belahan dunia lain dapat secara langsung melimpah dan berpengaruh ke wilayah kita, yang dapat memicu aksi-aksi masa maupun tindakan-tindakan lain yang dapat mempengaruhi kondisi keamanan nasional. Pada aspek kelautan, konteks strategi yang dihadapi adalah kerawanan wilayah perairan kita, terutama yang disebabkan dari

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

51

lingkungan luar, di samping dari dalam negeri. Hal tersebut terjadi karena beberapa hal, pertama bersumber pada luasnya wilayah perairan yang harus diamankan; kedua banyaknya jalur-jalur pelayaran “Sea Lane Of Communication (SLOC)” dan “Sea Lane Oil Trade (SLOT)” serta yang ketiga besarnya deposit kekayaan hayati dan non hayati yang terkandung didalamnya,sehingga pihak-pihak luar ingin memanfaatkan/ menguasainya. Pada pihak kita, dihadapkan dengan keterbatasan sarana, dana, dan sumberdaya manusia untuk mengamankannya. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi silang antar dua benua dan dua lautan luas, memiliki angkatan laut yang kuat dan modern bukanlah suatu kemewahan, melainkan suatu kebutuhan (Conditio sine quanon) berkaitan dengan perkembangan ekonomi global, dimana telah terjadi pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dari kawasan Atlantik dan Eropa, ke kawasan Asia Pasifik, tidak berlebihan bila ada pendapat yang mengatakan bahwa abad XXI adalah milik kawasan Pasifik atau “The Pasific Century”. Theodore Roosevelt dalam usia 24 tahun ( 1882) telah menulis pentingnya angkatan laut yang efisien dan kuat, untuk menjadi kekuatan dunia (The Naval War of 1812/History of the United States Navy During the Last War with Great Britain). Roosevelt terinpirasi oleh pemikiran angkatan laut besar, Captain Alfred Thayer Mahan (The Influence of Sea Power upon History (1660 – 178 ). Mahan dengan cerdik menulis rangkaian hubungan antara industri (kelautan) yang produktif, Armada pelayaran komersial yang makmur, keuangan negara yang kuat dan angkatan laut yang kuat akan menjamin/memperkokoh tujuan nasional. Roosvelt bertemu Mahan pertama kali dalam kuliah Mahan di Naval War College di Newport. Kombinasi Roosvelt sebagai pelaksana (1897 Roosvelt Assistant Secretay of the Navy) dan mengaplikasi prinsip-prinsip Mahan menghasilkan penguasaan laut yang luar biasa. 1) Hukum dan Perjanjian Internasional Sejak Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982 (UNCLOS 1982) dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985, konvensi tersebut berlaku sebagai hukum positif sejak tanggal 16 November 1994, maka status Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) diakui oleh dunia. Indonesia secara legal formal terikat dengan ketentuan-ketentuan dalam hukum internasional tersebut, termasuk kewajiban Indonesia untuk menjamin keamanan di laut, khususnya di Sea Lane Of Communication. Bila kewajiban ini diabaikan, dalam arti bahwa kapal-kapal niaga pengguna terancam keamananya bila melintas di perairan Indonesia, maka hal itu dapat menjadi alasan untuk menghadirkan kekuatan angkatan lautnya. Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 merupakan sebuah Konvensi yang monumental di bidang hukum laut dan Indonesia mempunyai peran besar terhadap Konvensi tersebut karena konsep “negara kepuluan” dalam Deklarasi Djuanda 1957, diterima negara peserta dan dimasukan dalam Konvensi tersebut. Konvensi yang terdiri dari 320 pasal tersebut, hanya beberapa pasal, yaitu Pasal 21, 42, dan 221 yang menyinggung istilah maritim, sehingga istilah

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

52

maritim ini hanya sebagian kecil yang disinggung oleh Konvensi PBB tentang Hukum Laut tersebut. Jadi pengaturan kelautan/maritim lebih jauh masih dibutuhkan. 2) Organisasi Maritim Internasional (IMO) Istilah maritim mendapat perhatian besar setelah dibentuknya Inter Governmental Maritime Consultation Organization disingkat IMC0 tahun 1954. IMCO dirubah menjadi International Maritime Organization (IMO) tahun 1978. IMO ternyata berhasil menyadarkan masyarakat internasional tentang pentingnya melindungi dan melestarikan laut melalui berbagai konvensi yang menyangkut kepentingan laut. Oleh karena konvensi-konvensi IMO ini sangat penting dalam melindungi laut, maka banyak negara yang memiliki kepentingan dengan laut telah meratifikasinya, sehingga mereka terikat untuk melaksanakan semua ketentuanketentuan Konvensi IMO tersebut. Konvensi--konvensi IMO sebagai berikut: Keselamatan Maritim (Maritime Safety), diatur oleh: • Konvensi Internasional untuk Keselamatan di Laut (International Convention for the Safety of Life at Sea – SOLAS) tahun 1969 dan Amandemen tahun 1974; Konvensi Internasional tentang Jalur Muatan (International Convention on Load Lines) tahun 1966; Persetujuan Kapal Penumpang Perdagangan Khusus (Special Trade Passanger Ships Agreement - STP) tahun 1971; Pengaturan Internasional untuk Pencegahan Tabrakan di Laut (International Regulations for Preventing Collisions at Sea–COLREG) tahun 1972; Konvensi Internasional untuk Kontainer (International Convention for Safe Containers) tahun 1972; Konvensi tentang Organisasi Satelit Maritim Internasional (Convention on the International Maritime Satellite Organization–INMARSAT) tahun 1976; Konvensi untuk Keselamatan Kapal Penangkapan Ikan (the Torremolinos International Convention for the Safety of Fishing Vessels), tahun 1977; Konvensi Internasioal tentang Pencarian dan Penyelamatan Kemaritiman (International Convention on Maritime Search and Rescue – SAR). Pencemaran Laut (Marine Pollution ) Konvensi Internasional untuk Pencegahan Pencemaran Laut oleh Minyak (International Convention for the Prevention of Pollution of the Sea by Oil - OILPOL) tahun 1954; Konvensi tentang Pencegahan Pencemaran Laut oleh Dumping Limbah dan yang lainnya ( Convention on the Prevention of Marine Pollution bu Dumping of Wastes and Other Matter - LDC ) tahun 1972; Konvensi International untuk Pencegahan Pencemaran dari Kapal (International Convention for the Prevention of Pollution from Ships –MARPOL) tahun 1973, dan diamandemen oleh Protokol tahun 1978, sehingga disebut MARPOL 73/78; Konvensi Internasional berkenaan dengan Intervensi di Laut Lepas dalam Kasus Kecelakaan Pencemaran Minyak (International Convention Relating to

•

•

•

•

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

53

Intervention on the High Seas in Cases of Oil Pollution Casualties – INTERVENTION) tahun 1969;
• Konvensi Internasional tentang Kerjasama, Respon terhadap Pencemaran Minyak (International Convention on Oil Pollution Preparedness, Response and Co-operation – OPR) tahun 1990. Tanggung Jawab Ganti Rugi&Kompensasi (Liability& Compensation): Konvensi lnternasional tentang Ganti Rugi Perdata untuk Bahaya Pencemaran Minyak (International Convention on Civil Liability For Oil Pollution Demage – CLC) tahun 1969; Konvensi Internasional tentang Pembentukan Dana Internasional untuk Kompensasi Bahaya Pencemaran Minyak (International Convention on the Establishment of an International Fund for Compensation for Oil Pollution Damage – FUND) tahun 1971; Konvensi mengenai Ganti Rugi Perdata dalam hal Pengangkutan Maritim Bahanbahan Nuklir (Convention Relating to Civil Liability in the Field of Maritime Carriage of Nuclear Materials – NUCLEAR) tahun 1971; Konvensi tentang Pembatasan Ganti Rugi Klaim Kemaritiman (Convention on Limitation of Liability for Maritime Claims – LLMC) tahun 1976. Konvensi tentang Fasilitas Lalu Lintas Kemaritiman Internasional (Convention on Facilitation of International Maritime Traffic – FAL) tahun 1965; Konvensi Internasional tentang Ukuran Muatan Kapal (International Convention on Tonnage Measurement of Ships – TONNAGE) tahun 1969; Konvensi tentang Penindasan tindakan-tindakan yang melawan hukum terhadap Keselamatan Pelayaran Maritim (Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Maritime Navigation – SUA) tahun 1988; International Convention on Salvage - SALVAGE tahun 1989.

•

•

•

• •

•

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa IMO semakin memperkuat pelaksanaan world seaborne trade mulai tahun 1970-an sampai tahun 2000 seperti perdagangan produksi dan pengangkutan minyak mentah melalui laut, juga menggunakan fasilitas internet dalam kegiatan kemaritimannya, yaitu: melalui E-trade facilitation untuk kepentingan dunia perkapalan dan perdagangan melalui industri pengangkutan laut. Di samping itu, telah lama dikenal dalam IMO program GSP/GSM (Global Positioning System/Global System for Mobile Communicatio). IMO juga memanfaatkan fasilitas E-Transport, pasar di mana pembeli dan penjual melakukan transaksi secara elektronik, seperti halnya E-trade facilitation . Fasilitas ini mempertemukan semua trading partners seperti pemilik kapal, pengangkut, pihak ketiga, dan pengelola pelabuhan. IMO menghasilkan beberapa konvensi yang khusus mengatur transportasi kemaritiman, seperti : United Nations Convention on a Code of Conduct for Liner Conference, 1974;

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

54

3)

United Nations Convention on the Carriage of Goods by Sea (Hamburg Rules), 1978; United Nations Convention on International Multimodal Transport of Goods, 1980; United Nations Convention on Condition for Registration of Ships, 1986; International Convention on Maritime Liens and Mortgages, 1993; International Convention on Arrest of Ships, 1999.

Ekonomi dan Perdagangan Pemanfaatan laut untuk kepentingan nasional sebagian besar adalah dalam bentuk pelayaran dan eksplorasi kekayaan laut dalam bentuk perikanan, biota laut dan lainnya. Geografis sebagai Negara Kepulaauan (Archipelagic State) yang telah diakui oleh dunia terletak di jalan silang antar dua benua dan lautan luas, sudah tentu wilayah laut ini menjadi pusat pelayaran niaga, penangkapan ikan dan juga jalur pelayaran kapal perang. Sebagai contoh, Selat Malaka, dimana dilewati oleh 72% tanker yang melintas dari/dan ke Samudera Hindia - Pasifik, dan hanya 28% yang lewat Selat Lombok, Selat Makassar, dan Laut Sulawesi. Perdagangan lewat laut ini sebagian besar melalui perairan Indonesia, karena memang semua “Sea Lane Of Communication” berada di perairan Indonesia. Semua pelayaran tersebut hampir seluruhnya dilayani oleh pelayaran asing. Namun pada sisi lain kita harus bertanggung jawab dalam pengamanannya. Pada sisi lain posisi silang tersebut juga membawa konsekuensi mudahnya masuk penyusupan-penyusupan asing yang dapat mempengaruhi faktor keamanan seperti Aceh, Poso, Papua, dan peristiwa Bawean dimana pesawat-pesawat tempur armada angkatan laut Amerika Serikat beberapa bulan yang lalu terbang tanpa ijin diatas wilayah perairan Indonesia. Dalam kaitannya dengan pelayaran niaga, Pemerintah Indonesia harus tunduk pada General Agreement on Tariffs and Trade Organization (GATT)/World Trade Organization (WTO). Sebagai tambahan bahwa UNCTAD yang banyak memberikan informasi tentang kegiatan IMO, ternyata juga IMO melakukan kerjasama dengan WTO (World Trade Organization) dalam kegiatan keqwmaritiman yang melibatkan negara-negara maju di bidang perdagangan, yaitu negara-negara yang tergabung dalam OECD. Ini menunjukkan bahwa persoalan kemaritiman dalam pandangan IMO lebih luas cakupannya dibandingkan dengan kelautan. Dalam kerangka GATT/WTO (General Agreement on Tariffs and Trade Organization) kini sering terjadi kasus konflik antara pihak-pihak yang terkait dengan perdagangan dengan pihak-pihak yang memppunyai komitmen dengan perlindungan lingkungan. Sekarang ini GATT/WTO menjadi wadah terjadinya sengketa lingkungan dan perdagangan, terutama kasus-kasus yang terjadi berhubungan dengan negara maju. Lingkungan hidup secara fisik terdiri dari daratan, lautan, dan udara, sehingga apabila terjadi sengketa berkenaan dengan persoalan kelautan, merupakan bagian dari sengketa lingkungan hidup. Di lain pihak laut merupakan sumber ekonomi

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

55

terutama bagi negara-negara berkembang, karena dengan sumberdaya laut itulah mereka bisa mengekspor hasil-hasil laut seperti ikan tuna atau udang. Negara maju memandang bahwa apa yang dilakukan oleh negara-negara berkembang dalam melakukan perdagangan komoditi laut tersebut, dianggap banyak melakukan kerusakan laut atau membunuh binatang laut lainnya misalnya lumba-lumba atau kura-kura, sehingga mereka dianggap aturan WTO, karena perdagangan mereka membahayakan lingkungan, sehingga timbul sengketa perdagangan dan lingkungan. Beberapa kasus konflik antara lingkungan dengan perdagangan dalam kerangka GATT/WTO tersebut, yaitu misalnya Tuna-Dolphin Dispute Case tahun 1991 dan 1993, Australia-Measures Affecting Importation of Salmon tahun 1995, Canadian Tuna Case tahun 1982, US-Import Prohibition of Certain Shrimp and Shrimp Products (Shrimp-Turtle Cas). Kasus-kasus yang diselesaikan di forum GATT/WTO tersebut sering mengacu kepada ketentuan Pasal XX GATT, yang menyatakan bahwa pelaksanaan perdagangan internasional boleh bertentangan dengan aturan GATT/WTO apabila perdagangan tersebut untuk kepentingan necessary to protect human, animal, or plant life or health; elating to the conservation of exhaustible natural resources if such measures are made effective in conjunctions on domestic production or consumption. Dalam penerapanya aturan ini ternyata banyak menimbulkan salah penafsiran antara penggugat dengan para hakim di GATT/WTO, sehingga tidak jarang aspek perdagangannya yang menonjol di bandingkan dengan aspek pelestarian sumberdaya lautnya. Demikian juga persoalan kelautan atau kemaritiman telah mendapat perhatian dalam KTT Bumi (Earth Summit) pada tanggal 5-16 Juni 1992 di Rio de Janeiro. KTT tersebut telah berhasil mengeluarkan berbagai dokumen penting, rnisalnya Agenda 21, Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan, Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati, Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan iklim, dan Prinsip-prinsip Pengelolaan Kehutanan. Agenda 21 Global telah diadopsi menjadi Agenda 21 Nasional tahun 1996, dan kedua Konvensi hasil KTT ini sudah dikupas sekilas seperti di atas. Dalam Agenda 21 Global terdapat Bab 17 yang membahas tentang perlindungan dan pengelolaan lautan (protection and management of ocean). Samudra ocean termasuk laut-laut yang tertutup dan setengah tertutup, merupakan bagian penting dari sistem penopang hidup global. Lautan yang menutup sebagian besar permukaan bumi, mempengaruhi iklim, cuaca, dan keadaan atmosfer, serta merupakan sumber penghidupan bagi penduduk dunia. Agenda 21 ini juga mengungkapkan bahwa hukum maritim merupakan basis internasional bagi perlindungan dan pemanfaatan lautan secara berkelanjutan. Namun lautan kini mengalami banyak tekanan lingkungan sekitarnya berupa pencemaran (baik dari darat atau di laut sendiri), penangkapan ikan yang berlebihan, degradasi garis pantai serta berkurangnya ekosistem terumbu karang dan hutan bakau, sehingga apabila dibiarkan tanpa adanya upaya (baik upaya hukum maupun

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

56

teknologi) mencegah penurunan tersebut, maka akan menimbulkan bahaya bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, penegakan hukum yang menyangkut kepentingan laut atau maritim harus segera dilaksanakan oleh pihak atau instansi yang berwenang. Dalam kaitan dengan pemanfaatan laut untuk kepentingan pelayaran, eksplorasi sumber-sumberdaya laut dan biota laut, juga mengalami tantangan. Dalam kaitannya dengan perdagangan internasional, ekspor dan impor Indonesia lebih dari 80% masih dilayani oleh pelayaran kapal-kapal asing, itulah juga yang merupakan salah satu sebab, mengapa neraca transaksi berjalan (curret account ) hampir selama 30 tahun lebih ( 1969 – 1999) selalu difisit, sekalipun neraca ekspor-impor barang surplus. Tidak saja armada perdagangan yang dikuasai kapal pelayaran asing, wilayah laut masih dipenuhi oleh armada penangkap ikan asing, baik yang mempunyai ijin ataupun penangkapan ilegal. Lebih dari itu armada penangkap ikan kitapun di wilayah laut Indonesia Bagian Timur, seperti Sorong, Timika dan Merauke, banyak yang diawaki oleh pelaut-pelaut dari Thailand. 3.3.2. Peluang dan Tantangan Nasional/Lingkungan Internal 1) Pertahanan dan Keamanan Negara Indonesia terkenal dengan Nusatara (Nusa–Antara) dengan wawasan Nusantara atau wawasan maritim. Namun pada sisi yang lain belum mampu mengamankan dan menjaga keamanannya dengan baik sehingga mampu mengelola/memanfaatkannya untuk kemakmuran bangsa kita seoptimal mungkin. Lemahnya kemampuan pertahanan dan keamanan terutama di laut, tidak terlepas dari sejarah terbentuknya NKRI yang berdaulat terletak di wilayah kepulauan/wilayah perairan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai suku bangsa yang menyebar diseluruh wilayah nusantara tersebut. Penduduk dari wilayah tersebut terdiri dari beberapa suku bangsa yang tinggal di daerah-daerah pesisir dan pulaupulau kecil pada dasarnya adalah penduduk berwawasan bahari karena kehidupannya ditopang dari mencari ikan (nelayan) dan perdagangan antar pulau dan bahkan antar benua. Semangat kebahariannya tersebut diwujudkan dalam perilaku sebagai pelaut yang ulung yang sampai mengarungi samudera Hindia sampai ke Madagaskar, perantau menyeberangi laut untuk bermukim di pesisir pulau-pulau lainnya hingga menjadi perompak/bajak laut. Kerajaan-kerajaan suku bangsa yang bertebaran itu belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya merupakan penduduk dari satu wilayah kepulauan (archipelago). Hal itu menjadi berubah setelah muncul kerajaan Sriwijaya di Sumatera, dan lebih jauh Kerajaan Majapahit dengan Mahapatihnya yang bernama Gajah Mada berkeinginan untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil Nusantara di bawah koordinasi Kerajaan Majapahit. Mahapatih Gajah Mada dan Panglima Laut Majapahit, Mpu Nala, mempunyai kehendak mempersatukan wilayah perairan Nusantara

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

57

menjadi satu kerajaan di bawah panji-panji Majapahit dengan nama Nusantara, Nusa-Antara karena negeri terdiri dari pulau-pulau di wilayah perairan yang sangat luas. Dalam kaitan ini, Majapahit dengan Angkatan Lautnya yang kuat pada zamannya, menaklukkan kerajaan-kerajaaan lain di nusantara dan menggunakan laut sebagai wilayah pertahanan dan keamanan, serta memanfaatkannya sebagai sarana perdagangan dan transportasi untuk menghubungkan wilayah-wilayah lain dari Sumatera, Kalimantan sampai dengan Papua dengan Pusat Pemerintahan Kerajaan Majapahit. Dalam kaitan ini, Majapahit sudah dapat dikatakan memiliki wawasan kelautan dan visi mariti. Dengan menguasai perdagangan dan perhubungan lewat Majapahit mampu mengkordinasi wilayah negeri kepulauannya yang begitu luas, serta melindungi diri dari serangan musuh. Belandapun datang ke daerah Nusantara dengan membawa Armada Laut dan armada dagangnya VOC. Berkaca pada kemampuan Majapahit memelihara dan mempertahankan wilayah kerajaannya pada wilayah perairan yang begitu luas dalam waktu yang cukup panjang, maka Belandapun, mewujudkan visi maritimnya untuk menguasai Nusantara dengan membangun armada perang dan armada pelayaran yang kuat. Dengan visi maritim tersebut Belanda membangun armada lautnya yang kuat dan dapat menguasai perdagangan dan pelayaran melalui perairan Nusantara dari kawasan Utara: Ternate dan Tidore, kawasan Tengah Makassar, kawasan Selatan Batavia dan sepanjang Pantura (Pantai Utara Pulau Jawa). Sangat disayangkan, bahwa pada satu sisi Belanda dalam menguasai Indonesia disatu sisi memperkuat visi maritimnya dengan membangun armada laut (armada perang dan armada dagang) yang kuat, pada sisi yang lain Belanda membunuh jiwa dan semangat bahari suku-suku di nusantara dengan berbagai cara dan blokade laut yang dilakukannya terhadap kerajaan-kerajaan yang mempunyai armada laut yang kuat. Hal tersebut dilakukan olen Belanda agar tidak ada pihak-pihak atau kerajaan yang mempunyai Kekuatan Laut yang dapat mengancam kekuasaan Belanda di nusantara ini. Dengan demikian, sejarah bahari dan semangat bahari suku-suku di nusantara yang panjang tersebut, sayangnya telah terdegradasi secara sengaja oleh sistem pemerintahan Belanda selama 350 tahun. Suku-suku di nusantara pada umumnya tidak lagi memiliki jiwa bahari, dan kehidupannnya lebih berorientasi kepada daratan. Sayangnya hal tersebut berlanjut terus, sampai pada penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Tahun 1960-an dalam rangka merebut Irian Barat, kekuatan laut Indonesia dan ditambah dengan kekuatan udara yang cukup disegani di kawasan Asia ini, mampu menjaga wilayah Indonesia, terutama wilayah lautnya dengan baik. Faktor pertahanan dan keamanan di laut sangat penting dalam rangka pengelolaan sumber-sumber alam yang ada di laut. Hal tersebut terjadi karena wawasan kelautan sangat disadari. Sebagai Negara Kepulauan (archipelagic state), kekuatan laut sangat penting. Namun sangat disayangkan, kekuatan di laut dan juga di udara untuk menjaga keamanan di laut sangat kurang. Ini dapat dilihat dari

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

58

banyaknya penyusupan-penyusupan di laut dan udara, serta penangkapan ikan ilegal ikan oleh pihak-pihak asing termasuk kasus Bawean seperti telah disinggung diatas. Jadi wawasan bahari/maritim bagi negara kepulauan sangat penting. Oleh karena itu, semua pihak harus mengembangkan wawasan kelautan bangsa kita di masa depan.

2)

Hukum
Tata Pemerintahan umum termasuk Tata Pemerintahan di Laut terwujud dalam bentuk Peraturan Perundangan yang ada, seperti UU No.06 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia pada tingkat Nasional dan UNCLOS 1982 pada tingkat Internasional. Namun, Indonesia belum memiki peraturan pemeritah mengenai batas-batas (garis pangkal dan titik pangkal) yang seharusnya disampaikan kepada PBB, yang menjadi dasar bagi kepastian hukum lainnya, baik untuk perjanjian internasional, regiaonal, dan bilateral, maupun untuk penetapan zona lain seperti zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan batas-batas kontinen. Untuk memenuhi ketentuan tenang Lintas Damai, Indonesia telah menetapak tiga ALKI, masingmasing satu di wilayah barat, satu di wilayah tengah dan satu di wilayah timur. Sementara itu, kemampuan aparatur negara (TNI-AL, POLRI, dan PPNS) untuk menegakkan kedaulatan dan hukum di laut dirasakan masih lemah dan masyarakat umum belum cukup terlibat. Di sisi lain, pasal 10 UU No. 22 Tahun 1999 yang mengatur batas kewenangan di laut telah memberikan implikasi kurang positif di daerah dan menjadi kontra produktif bagi kelancaran pemerintah dan pembangunan di masyarakat. Di sisi lain, kondisi keamanan di laut saat ini perlu ditangani lebih efektif, maka diperlukan sinergi semua instansi penegak hukum di laut dalam suatu wadah badan koordinasi yang dikelola secara profesional dan didukung oleh anggaran yang memadai. Permasalahan internal yang menonjol seperti telah dikemukakan pada Meta Masalah di atas, adalah terjadinya benturan kepentingan antar satu sektor/ aktifitas dengan sektor lainya, misalnya kepentingan untuk kelestarian ekosistem laut dengan kepentingan untuk meningkatkan ekspor hasil laut, kepentingan untuk pengembangan industri dalam negeri dengan kepentingan untuk menghemat devisa, dan sebagainya. Dalam kaitan tersebut, selalu akan ada “trade-off” untuk memenuhi satu kepentingan. Disinilah diperlukan kebijakan yang mampu menyeimbangkannya tanpa ada pihak dan masyarakat yang dirugikan (Pareto Optimality). Di samping itu juga masih ada kelemahan struktural yang menyangkut badan yang bertanggung jawab menjamin keamanan di laut, yaitu Bakorkamla RI. Disadari bahwa Bakorkamla RI tidak dapat berfungsi secara efektif karena badan tersebut dibentuk bukan dengan undang-undang, melainkan dengan ketentuan yang peringkatnya Iebih rendah dari undang-undang, yaitu Peraturan Presiden, sedangkan beberapa instansi yang terlibat didalamya masing-masing memiliki tugas pokok sesuai undang-undangnya sendiri 59

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

dan kepentingan sektor/bidangnya. Ini bisa terjadi karena visi dan karakter bangsa (pembuat kebijakan dan stakeholders lainnya) yang masih “Land Oriented” dan belum “Archipelagic Oriented”. Dari beberapa permasalahan internal yang dikemukakan diatas, yang menarik untuk dicermati adalah masih belum membudayanya pemahaman masyarakat termasuk aparat yang bertugas dilapangan, terhadap produk-produk hukum yang dikeluarkan oleh negara. Hal ini disebabkan karena peraturan perundang-undangan tersebut belum tersosialisasi secara luas dikalangan masyarakat. Di pihak lain, pendekatan dan pemecahan masalah cenderung bersifat sektoral, sehingga masing-masing hanya memahami ketentuan hukum sesuai bidang dan tanggung jawabnya, serta kurang mamahami tanggung jawab dan wewenang pihak lain. Hal ini menyebabkan terjadinya tumpang tindih dan ketidakserasian aktifitas dilapangan, yang pada giliranya dapat mengurangi kemampuan penegakan keamanan di laut, serta memberi peluang kepada pihak lain untuk melakukan kegiatan ilegal. Menyangkut penegakan hukum di laut, kata kuncinya adalah keterpaduan. Tidak ada satupun negara di dunia yang mampu mewujudkan jaminan keamanan di laut hanya oleh satu institusi secara mandiri. Saat ini penyelenggaraan pertahanan dan keamanan negara masih dalam masa transisi, semula mengacu kepada produk hukum lama, yaitu Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982, menuju kearah pelaksanaan Ketetapan MPR Nomor Vll/MPR/2000 dan ketetapan MPR Nomor Vll/MPR/2000 serta Undang-Undang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Pasal 3 ayat 2 UU No.3 Tahun 2002 menyebutkan bahwa “Pertahanan Negara disusun dengan memperhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan”. Maka orientasi pertahannan negara adalah “Archipelagic Oriented”. Hal ini mengandung makna bahwa pertahanan negara tidak lagi berpusat di darat akan tetapi di laut, karena ancaman terbesar akan datang dari laut (termasuk udara di atas laut). “Inward Looking”, melainkan “Outward Looking”. Perubahan mendasar lainnya adalah menyangkut Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta) yang diletakkan dalam format negara modern melalui kebijakan politik negara, sehingga memberi kesadaran dan tanggung jawab kepada masyarakat bahwa masalah pertahanan negara bukan hanya urusan TNI semata, melainkan masalah seluruh bangsa. Dalam kaitan ini, maka integrasi semua unsur sumberdaya kelautan terutama armada laut menjadi sangat relevan. Sebagaimana diketahui, lingkup keamanan di laut cukup luas dan dampak ekonomi yang ditimbulkanya tidak hanya di tingkat nasional dan subregional saja, melainkan juga berdampak di tingkat regional dan nasional. Oleh sebab itu solusi pemecahan permasalahanya bukan hanya di tingkat nasional, melainkan juga memiliki kadar ketergantungan yang tinggi kepada negara-negara !ainya, khususnya negara pengguna Sea Lane of Communication dan Sea Lane Oil Transportation. Untuk itu perlu adanya kerja sama multilateral dalam keamanan di laut. 60

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

Dalam rangka memantapkan integritas wilayah laut Indonesia diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk menciptakan kondisi laut yang aman atau penegakan hukum di laut. Disamping untuk memantapkan integritas wilayah laut, adanya jaminan keamanan di laut merupakan syarat bagi terwujudnya pengelolaan laut yang optimal, sehingga kontribusi sektor kelautan terhadap devisa negara akan semakin meningkat. Sebaliknya tidak adanya jaminan keamanan di laut akan memberikan dampak ekonomi yang sangat merugikan bagi negara, serta dampaknya dapat pula merugikan negara-negara pengguna. Sedangkan tanggung jawab keamanan di laut adalah tanggung jawab bersama segenap komponen bangsa. Kata kuncinya adalah keterpaduan, yaitu mensinergikan kekuatan dan kemampuan. Hal itu tidak sulit diwujudkan sepanjang dilandasi dengan tekad dan kemauan yang kuat untuk melaksanakan pengabdian yang tulus kepada bangsa dan negara. Sebagaimana diketahui, untuk saat ini Indonesia belum memiliki “Ocean Policy” yang bersifat “payung terpadu dan lengkap”, meskipun di setiap sektor telah memiliki peraturan perundang-undangan. Meskipun demikian, peraturan perundangundangan yang ada dirasakan masih bersifat sektoral, parsial, kurang sinergi dan berorientasi pada kewenangan pemerintah. Di samping itu, Indonesia juga belum memiliki sistem khusus dalam sistem peradilan (mahkamah) maritim. 3) Ekonomi-Sosial Selama ini pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia berbasis pada sumberdaya alam di darat, seperti pertambangan dan kehutanan (kayu). Sebagai akibatnya, pembangunan bidang kelautan belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir mengalami keterpurukan ekonomi. Sebanyak 22% dari penduduk Indonesia adalah masyarakat yang menempati areal pesisir sebagai tempat tinggal dan bekerja pada sektor yang berhubungan dengan kelautan. Kenyataannya sebanyak 65% nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat pesisir sebagai pelaku dan objek dari pembangunan masih terjebak dalam kemiskinan. Berdasarkan kontribusi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya kelautan terhadap PDB pada tahun 1998 mencapai 20,06%. Angka ini masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang dimiliki, apalagi bila dibandingkan dengan negara lainnya yang memiliki sumberdaya kelautan lebih kecil dari Indonesia, seperti: Islandia, Cina dan Jepang di mana kontribusi ekonomi dari bidang kelautannya masingmasing sebesar 65%, 48%, dan 54%. Demikian juga peran perikanan terhadap ekspor Indonesia sangat kecil, hanya mencapai sekitar US $ 5 milyar. Sedangkan potensi yang dimiliki oleh wilayah laut cenderung tidak terbatas dan bersifat “selfgenerating”. Kegiatan ekonomi/industri yang berhubungan dengan kelautan masih lemah untuk semua bidang/sub-sektor seperti berikut :

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

61

a)

Industri Perikanan Industri perikanan di Indonesia dapat dikatakan masih sangat memprihatikan, hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusi perikanan terhadap pendatan nasional. Pencurian ikan, pengrusakan lingkungan hidup, dan lainnya hingga saat ini masih sangat belum mampu terkendalikan juga mengenai masalah distribusi (pemasaran) yang masih dikuasai oleh negara pesaing. Juga soal keamanan di laut akibat keterbatasan armada dan personel yang belum memadai. Parahnya lagi, beberapa daerah telah salah menafsirkan tentang otonomi daerah, yang menimbulkan penguasaan laut di daerah tersebut. Perikanan juga belum mampu mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat luas. Dalam kaitan ini, nelayan masih berada pada posisi kelompok termiskin dan tidak mempunyai posisi tawar yang cukup kuat. Permasalahan khusus lainnya dari “stakeholders” telah diuraikan diatas dalam “Meta Masalah”.

b)

Industri Wisata Bahari Dengan latar belakang tropis laut Indonesia merupakan yang terbesar dari wilayah Asean, dan memiliki potensi wisata bahari yang beraneka ragam. Potensi ini mengandung keunikan dan kelangkaan dibandingkan dengan kawasan mediteranean dan carribean. Sebenarnya, industri wisata bahari Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata bahari terbesar di dunia dengan berbasis marine ecotourism. Namun industri ini juga tak luput dari ancaman yang timbul dari dalam negeri, seperti dijelaskan diatas. Ancamanancaman tersebut membuat negara tetangga yang selama ini dianggap sebagai pesaing, memiliki daya saing yang lebih tinggi. Dalam kaitan tersebut permasalahan keamanan dan ekonomi biaya tinggi juga menjadi, masalah misalnya ijin sebuah cruiser / kapal wisata untuk datang ke Indonesia memerlukan banyak ijin, waktu dan biaya yang besar. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan rendahnya wisatawan bahari yang datang ke Indonesia secara berkelompok. Yang ada dan umumnya bersifat perorangan adalah wisatawan bahari asing untuk “surfing” dipantai Kuta ataupun di Pulau Nias. Sementara dari dalam, ancaman itu muncul berupa masih adanya masyarakat yang merusak atau mencemari lingkungan. Cruising Approval For Indonesian Territory ( CAIT) dan penyusunan Custom Immigration Port Clearance dan Quarantine (CIPQ) yang menyulitkan ditambah lagi kebijakan fiskal yang belum mendukung.

c)

Industri Pelayaran Pelayaran Indonesia memiliki nilai sangat strategis tidak saja dalam aspek ekonomi, karena mendatangkan devisa, kesempatan kerja, dan membangkitkan ekonomi lainnya, tetapi juga dalam aspek lainnya seperti kedaulatan (sea power) dan pemersatu bangsa. Namun industri pelayaran Indonesia dewasa ini dalam kondisi sangat memprihatinkan. Data pada tahun 2000 lalu

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

62

menunjukkan bahwa 95,38% dari kegiatan ekspor-impor dan 46,99% pelayaran domestik dilayani kapal-kapal berbendera asing, sementara dilain sisi pelayaran rakyat atau tradisional semakin terpuruk saja. Lebih jauh, bahwa ada kecenderungan, bahkan banyak perusahaan Pelayaran Nasional yang memindahkan basisnya ke negara lain sehingga kapalnya berbendera asing hanya untuk menghindaran peraturan perundangan yang ada dan perpajakan. Selain ancaman di atas, akibat bisnis yang tidak terintegrasi secara vertikal dan horisontal merupakan suatu kelemahan tersendiri untuk industri pelayaran ini. SDM dan manajemen yang kurang profesional, kapasitas dan kualitas pendidikan pelaut (swasta), sistem dan kualitas serta kapasitas pelayanan pelabuhan, pajak dan retribusi, dan kredit (pendanaan) untuk modal serta sistem hukum yang belum memadai. Permasalahan-permasalahan strategis lainnya antara lain: • • • • Belum adanya dukungan perbankan. Tidak mampu mengembangkan armada. Praktek pengoperasian kapal asing menimbulkan dampak negatif, misalnya kemudahan mencharter kapal. Sarana dan prasarana pelabuhan mengenai fasilitas pelabuhan untuk pelayanan kapal penumpang masih bersatu dengan pelayanan kapal barang. Sertifikat kepelautan yang diterbitkan tidak diterima oleh negara lain. Belum ada jaringan informasi yang memadai. Belum dilaksanakannya pengembangan jaringan infrastruktur pelabuhan dalam tantanan kepelabuhan nasional yang berakibat pengoperasian pelabuhan tidak optimal sehingga secara nasional tidak efisien karena invetasi yang berlebihan. Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia umumnya belum mempunyai master plan yang memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin kepastian usaha dan investasi.

• • •

d)

Tata Ruang dan Lingkungan Pendayagunaan wilayah negara dilaksanakan dengan cara mempersiapkan wilayah dan mengatur pembangunannya sedini mungkin sesuai dengan penataan ruang yang terencana secara rasional, bertanggung jawab dan sesuai dengan daya dukung alam, dengan senantiasa memperhatikan keseimbangan maupun kelestarian lingkungan dan memperhatikan kepentingan kesejahteraan dan pertahanan. Penataan ruang adalah perencanaan tata ruang, yang dilakukan melalui proses, prosedur, penyusunan dan penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kebutuhan peruntukannya. Kegiatan ini dilakukan melalui pengkajian, inventarisasi, survei dan pemetaan, perencanaan tata ruang, pemeliharaan, 63

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatannya. Selama ini pembangunan tata ruang di Indonesia masih berorientasi pada pembangunan daratan, yang relatif terlepas dari tata ruang pesisir dan laut. Pembangunan tersebut juga belum mengintegrasikan pulau-pulau yang ada, wilayah pesisir dan laut sebagai kesatuan wilayah dalam perencanaannya. Apalagi, hal ini diakibatkan pada pedoman-pedoman yang ada masih terlalu yuridistis, eksekutif dominan, sektoral dan parsial. Menyadari bahwa keberadaan ruang wilayah negara adalah tidak terbatas, maka pemanfaatan ruang harus diatur sebaik mungkin, agar dapat menghindari kemungkinan pemborosan pemanfaatan dan penurunan kualitas ruang. Untuk itu Penataan Ruang Wilayah harus memperhatikan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatannya, meliputi besaran kegiatan, jenis kegiatan, fungsi lokasi, kualitas ruang, dan estetika lingkungan. Dewasa ini sangat mendesak Penataan Tata Ruang berbasis maritim, yang menjadikan sumberdaya kelautan sebagai “driving forces” keunggulan wilayah Indonesia, secara terkoordinasi, terpadu, efektif dan efisien, serta memperhatikan kelestarian lingkungan sampai terwujudnya Wilhan sebagai salah satu kekuatan komponen pendukung perencanaan strategis operasi pertahanan berlapis dan operasi keamanan dalam negeri. Tata Ruang harus jelas fungsi dan peruntukannya berdasarkan hukum yang berlaku dan dapat diselenggarakan secara terpadu oleh semua pihak yang terkait. Tata Ruang yang menjamin keutuhan kesatuan wilayah NKRI, hendaknya dikembangkan secara optimal dan berkelanjutan untuk menunjang kelangsungan hidup bangsa dan negara secara baik dan aman. e) Industri Pengolahan Hasil Laut. Industri pengolahan hasil laut, sama dengan industri lainnya mengalami banyak persoalan terutama yang menyangkut perijinan dan pembinaan banyak tumpang tindihnya. Kurang kordinasi dalam pembinaan menimbulkan biaya tinggi dan kurang efektif dan efisien. Pembinaan datang dari sektor-sektor teknis dan juga Pemda. f) Industri Perkapalan dan Galangan Kapal Industri perkapalan mengalami kemunduran. Kebijakan untuk mengutamakan kapal-kapal buatan dalam negeri kurang bergema. bahkan pengaturan pengadaan kapal berbelit-belit. Perpajakanpun demikian, sehingga banyak kapal-kapal nasional mengambil domisili di luar negeri dengan bendera asing. Departemen Perhubungan bahkan mengijinkan kembali penggunaan kapal asing untuk angkutan batu bara dalam negeri sejak Agustus 2006.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

64

3.3.3. Tantangan Regional (1) Pasal 18 Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah berisi sebagai berikut :Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. (2) Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut; pengaturan administratif; pengaturan tata ruang; penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah; ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.

(4) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. (5) Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil, kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 (dua) provinsi tersebut, dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil. (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan. Pasal ini mengundang para pejabat daerah menafsirkan berbagai kebijakan publik tentang pengaturan wilayah laut di daerah-daerah seperti peristiwa pengkavlingan wilayah laut, tumpang tindih pengelolaan perizinan, sekalipun pengelolaan pengamanan laut. Maka dengan adanya manajemen tata pemerintahan di laut diharapkan wewenang, tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah terintegrasi tanpa harus menghilangkan otonomi, keistimewaan atau kekhususan daerah Perubahan paradigma pembangunan sentralistik menjadi desentralistik berdasarkan UU No.22 tahun 1999 yang selanjutnya diubah menjadi UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dapat berdampak semakin kompleks permasalahan pengeloaan sumberdaya kelautan di Indonesia. Permasalahan pengeloaan laut yang selama ini belum 65

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

menunjukan sinergi antar sektor ataupun antar matra, dikhawatirkan dapat berkembang menjadi permasalahan yang semakin kompleks dengan adanya pelaksanaan otonomi daerah. Pemahaman terhadap pelaksanaan otonomi daerah terhadap pengelolaan sumberdaya khususnya kelautan masih beragam, batas wilayah pengeloaan perairan seringkali disalahartikan sebagai batas admisnistrasi atau bahkan sebagai wilayah kedaulatan daerah, hal ini telah memicu adanya konflik antar daerah dalam pengelolaan sumberdaya kelautan. Perkembangan-perkembangan otonomi daerah dibidang kelautan, walaupun dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang baik guna mempercepat pembangunan Daerah, kalau kurang bijaksana atau berhati-hati dalam pelaksanaannya malah dapat merupakan tantangan barn bagi keamanan laut Indonesia dan bagi kesatuan kewilayahan nusantara dan NKRI itu sendiri.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

66

BAB IV KELEMBAGAAN TATA PEMERINTAHAN DI LAUT INDONESIA
Dalam pengertian luas, kebijakan kelautan Indonesia (ocean policy) mencakup dua dimensi. Pertama kepentingan dan kewenangan nasional terhadap wilayah perairan laut Indonesia dan kedua, kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap peraturan global di perairan laut internasional. Oleh karena itu dalam menjalankan kedua dimensi kepentingan tersebut diperlukan suatu kebijakan yang mengatur ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat di dalamnya. Pengaturan yang diinginkan diwujudkan dalam bentuk tata-Iaksana pengelolaan kelautan (ocean governance) sebagai instrumen kebijakan kelautan (ocean policy) . 4.1. Tata Pemerintahan Di Laut Yang Baik Membentuk pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan bagi kepentingan pembangunan nasional (oceans governance). Pemerintahan yang berorientasi pada pembangunan kelautan adalah pemerintahan merencanakan serta mengimplementasikan pembangunan sektor-sektor kelautan sebagai bagian dari pembangunan nasional. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam pemantapan ocean governance merupakan suatu keterpaduan dari pembangunan di berbagai sektor oleh segenap tingkat pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan. Selanjutnya tata-laksana pengelolaan kelautan (ocean governance) dibangun secara sistematik melalui pengembangan : 1) Dasar pemahaman Dasar Pemahaman, yaitu pengelolaan perairan beserta sumberdaya alam yang dikandungnya tidak dapat dipisahkan melalui pembagian atas dasar batas administrasi semata. Sebaliknya pembangunan kelautan harus diarahkan pada pendekatan secara menyeluruh dari garis pantai sampai sejauh 200 mil. 2) Penetapan tujuan dan sasaran Mengembangkan rujukan nasional dalam menentukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional di bidang kelautan serta menetapkan prinsip dasar dan kriteria untuk dijadikan acuan dalam merumuskan pembangunan berkelanjutan di bidang kelautan. 3) Unsur-unsur nilai dan etika Mengembangkan unsur-unsur nilai dan etika serta terus mempertahankan nilai budaya berupa kearifan lokal yang telah mengakar di masyarakat. Nilai dan etika yang dikembangkan harus dapat dilaksanakan sehingga mampu memiliki kepastian hukum dalam menjamin dan melindungi kepentingan publik (stewardship). 4) Kemampuan penyelesaian perselisihan (conflict resolution capacity) Mengembangkan kemampuan penyelesaian berbagai bentuk perselisihan di laut (multipleuse conflict) dan kemampuan penentuan skala prioritas penggunaan maupun pemanfaatan 67

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

perairan beserta sumberdaya yang ada mengingat perairan laut digunakan oleh berbagai sektor (multi-purpose use). 5) Kemampuan perencanaan Mengembangkan perencanaan penggunaan dan pemanfaatan ruang laut secara lokal wilayah dan regional dengan melibatkan peran serta semua pelaku (stakeholders). 6) Integrasi horizontal Menyusun langkah-langkah keterpaduan kegiatan melalui harmonisasi pemanfaatan antar sektor pembangunan dengan tidak saling merusak tata lingkungan hidup dan ekosistem yang ada. 7) Integrasi vertikal Membangun kesepakatan antar pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam mengelola wilayah perairan secara terpadu melalui pembentukan kerjasama maupun suatu badan organisasi. Selanjutnya keterpaduan yang disusun di atas menjadi dasar untuk menjalankan tataIaksana pengelolaan di bidang kelautan (ocean governance). Pengertian ocean governance diarahkan untuk dapat mewujudkan bentuk rancang bangun dan upaya yang dilakukan dalam mengatur kegiatan publik pada wilayah laut beserta pemanfaatan sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya. Hal ini terkait dengan semakin pentingnya peran laut bagi kehidupan bangsa Indonesia sehingga pengaturan melalui tata-Iaksana pengelolaan laut menuntut suatu sistem yang dapat memaksimalkan manfaat dari penggunaan sumberdaya dan ruang di laut bagi kepentingan bangsa Indonesia. Mekanisme pengaturan tidak terlepas dari eksistensi kebijakan nasional di bidang kelautan (ocean policy) yang disusun berdasarkan fungsi-fungsi dan kewajiban pemerintah (ocean governance) di bidang kelautan. Pelaksanaan ocean governance harus mampu menjawab tantangan terhadap perkembangan yang pesat sesuai dengan perubahan kepentingan negara terhadap dinamika isu-isu domestik dan global. Fungsi pemerintah dimulai dari fungsi pada pengaturan hubungan internasional dalam menjamin kepatuhan pada perjanjian internasional; fungsi keamanan nasional sebagai pertahanan negara; fungsi perdagangan antar wilayah, regional dan internasional; fungsi hak kepemilikan yang menjamin manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat; fungsi penegakan hukum yang menjamin kepentingan publik dan upaya pencegahan konflik; dan fungsi kepercayaan dari masyarakat yang menjamin keberlanjutan pembangunan demi kebutuhan generasi mendatang. Pada sisi lain, adanya tuntutan desentralisasi memerlukan perubahan yang mendasar pada kelembagaan pemerintah, peraturan-peraturan yang diperlukan, dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Oleh karenanya pelaksanaan ocean governance harus dapat sejalan dengan tuntutan dan keinginan masyarakat setempat dan sekaligus pada sisi lain memenuhi kepatuhan pemerintah Indonesia terhadap tuntutan kepentingan internasional. Kemampuan mengatur berbagai kegiatan dan kepentingan setiap pihak di laut akan memperkuat kedaulatan negara yang pada akhirnya memperkuat jatidiri sebagai bangsa bahari.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

68

4.2. Otoritas Di Laut Negara adalah penanggung jawab penataan hukum di laut dalam perannya sebagai negara pantai, (coastal state), negara bendera (flag state), dan negara pelabuhan (port state). Oleh karena itu hanya pemerintahan negara (eksekutif, legislatif, yudikatif, administratif, dan diplomatik) yang berwawasan kelautan sajalah yang dapat mengaplikasikan “good order at sea” (tata kelautan yang baik) seperti yang disyaratkan oleh masyarakat kelautan internasional. Pemerintah perlu suatu ketetapan tentang otoritas di laut yang harus diputuskan dengan Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Presiden (Perpres) sebagaimana yang diamanatkan dalam Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim Stb. 1939 Nomor 442, dan UNCLOS 1982 yang telah diratifikasi dengan Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 1985. Serta Amandemen Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS) 1974. Otoritas Laut dapat ditugaskan pada satu Lembaga setingkat Menteri Kordinator pada tingkat nasional dengan perpanjangan wilayah kerja lembaga otoritas tata pemerintahan di laut di tingkat sub-nasional tersebut untuk selanjutnya disebut sebagai Kawasan Maritim, yang akan menjadi Vocal Point dari kegiatan-kegiatan laut dengan tujuan untuk mengelola potensi dan kekayaan laut bagi kepentingan kehidupan bangsa dan negara, untuk melindungi jiwa manusia dan harta benda di laut, pencegahan pencemaran lingkungan laut, deteksi serta pencegahan pelanggaran hukum di laut. Instansi-instansi yang lain tidak berarti dihentikan, tetapi aktifitas tetap jalan, hanya pengelolaan sumberdaya dan kekayaan di laut perlu diinformasikan pada departemen yang menjadi vocal point, dan penanggung jawab otoritas merupakan pengendali dari “koor group” yang beraktifitas di laut. Kebijakan penugasan otoritas di laut sangat penting karena bercermin pada negara-negara yang maju di bidang kelautan seperti: Korea Selatan pemegang otoritas adalah: Menteri Maritime And Fisheries, negara Selandia Baru pemegang otoritas adalah: Maritime Coordination Centre (MCC) di bawah “Departement of Prime Minister and Cabinet”.. 4.3. Pengembangan Infrastruktur Isu pengelolaan sumberdaya maritim dan lingkungannya sebelum tahun 1999 ditangani oleh beragam sektor yang tidak terkoordinasi, sehingga banyak peraturan yang tidak selaras dan saling tumpang tindih. Untuk itu dalam rangka menunjang keselerasan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan kelautan perlu diadakan pengkajian terhadap seluruh peraturan terkait dalam hal lingkungan hidup dari semua sektor terkait. Langkah ini tidaklah sederhana, dan cenderung sulit sebab diperlukan suatu kerja sarna dan kesepakatan dari semua stakeholders, yang mencakup pusat dan daerah. Dengan adanya otonomi daerah, maka langkah menuju ocean governance yang juga merupakan kesepakatan global, akan memerlukan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Selain diperlukan pengetahuan dalam kebijakan dan peraturan, maka stakeholders terkait perlu menyiapkan sumberdaya manusia yang tepat. Kebijakan dan peraturan maritim yang komprehensif juga harus memberikan koridor terhadap aspek perencanaan, alokasi dari sumberdaya dan menetapkan syarat-syarat untuk memperbaiki iklim investasi. Kebijakan maritim yang komprehensif antara lain bertujuan untuk:

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

69

1). Membuat kerangka untuk pembangunan yang berkelanjutan bagi sumber daya maritim. 2). Membuat kerangka untuk mencapai koordinasi kelembagaan yang lebih baik dalam rangka menerapkan kewajiban yang telah tertera dalam kebijakan nasional, komitmen regional dan konvensi internasional, dan 3). Membuat kerangka untuk kebijakan nasional yang konsisten dan tepat guna. Untuk menuju arah tersebut diperlukan dukungan infrastruktur kelautan yang komprehensif. 4.4. Pengembangan Kelembagaan Tujuan pengembangan kelembagaan kelautan adalah : terwujudnya sistem pengelolaan yang makin terpadu, serasi, efektif dan efisien, sehingga mampu memberikan pelayanan dan dorongan berbagai kegiatan pengelolaan Kelautan. Untuk dapat mewujudkan tujuan pengembangan kelembagaan kelautan tersebut, semua jajaran pemerintah baik Pusat maupun Daerah dalam menyelenggarakan fungsi umum pemerintahan dan pembangunan, mengemban tugas kewajiban untuk melaksanakan upaya-upaya peningkatan : 1) Koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam perumusan kebijaksanaan dan program, pengelolaan, pelaksanaan, serta pengawasan pengendalian pada semua tingkatan, sehingga terwujud keterpaduan pengelolaan. Penerapan dasar-dasar manajemen modern yang meliputi perencanaan yang matang, pelaksanaan yang tepat serta pengawasan pengendalian yang ketat, sehingga terwujud efekifitas dan efisiensi pengelolaan. Koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dalam pengembangan kualitas sumberdaya manusia, pengaturan / legislasi, pelayanan data dan informasi, prosedur dan pelayanan perijinan, pengembangan teknologi, penyediaan sarana prasarana, serta penegakan hukum, sehingga teerwujud kepastian, kemudahan, dan keamanan yang dapat mendorong berbagai kegiatan pengelolaan Kelautan.

2)

3)

Kelembagaan dapat diartikan dalam dua bagian: pettama, kelembagaan sebagai institusi yaitu, lembaga/organisasi berbadan hukum untuk pengelola suatu kegiatan yang memiliki personil, pendanaan dan fasilitas; dan kedua, pelembagaan nilai-nilai atau institutionalization. Kelembagaan sebagai institusi dikembangkan melalui tiga aspek yaitu: pertama , peningkatan kemampuan aparatur yang bekerja di lembaga tersebut, dan memobilisasi tenaga untuk bekerja di lembaga tersebut. Kedua, menyediakan fasilitas ruang kantor, peralatan dan bahan serta fasilitas lainnya untuk mengoperasikan lembaga tersebut, dan ketiga adalah penyediaan dana operasional dan pemeliharaan serta pembangunan untuk membiayai kegiatan lembaga tersebut. Pelembagaan nilai-nilai, dikembangkan dengan memasyarakatkan hasil-hasil yang dikerjakan oleh lembaga tersebut ke masyarakat yang menjadi target atau pengguna jasa lembaga tersebut. Nilai-nilai yang dikembangkan bisa berupa peraturan perundang-undangan, peraturan daerah; tata ruang wilayah pesisir dan lautan; pedoman umum perencanaan pengelolaan wilayah pesisir terpadu, dan bentuk-bentuk lainnya yang dihasilkan oleh lembaga tersebut.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

70

4.5. Model Kelembagaan Tata Pemerintahan Laut Negara Lain 1) Model New Zealand a. Kelembagaan Kelembagaan yang terkait dengan Tata Pemerintahan Laut Di New Zealand, tidak ada lembaga yang terpusat khusus menangani tata pemerintahan laut. Laut dikelola secara bersama antara Lembaga Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Adapun lembaga tersebut adalah : (1) Maritime New Zealand, dengan kewenangan : (a) Informasi izin dumping waste at sea (b) Emergency posisition indacing radio beacons (c) Informasi searaching maritime register of ships (d) Marine notices (e) Informasi safe ships management (f) Informasi safe operational plans (g) Informasi carrying dangerous goods at sea (h) Informasi registering a ships (i) Informasi maritime acciddents, incidents and serious harm-injury (j) informasi how to report a maritime accident, incident or serious harm injury (k) Requirements for overseas ships intending to work in new zealand waters (l) Informasi transferring ownership of vessel (m) Informasi Maritime Rules and Regulations for recreational boating (n) Informasi Marine Protection Rules and Regulations (o) Informasi Maritime Rules and Regulations (p) Informasi seafarer qualifications (q) Informasi safe boating courses for recreational boating (r) Informasi maritime navigation and weather warning (s) Informasi transferring ownership of your vessel (t) Informasi lodging a mortgage against vessel (u) Informasi Lighthouses (v) Information on Marine Oil Spill response (w) Informasi Marine Oil Spill response (2) Ministry of Defence (3) Ministry of Fisheries, dengan kewenangan : (a) Informasi commercial fishing and quotas (b) Informasi fisheries and the marine environment 71

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

(c) Informasi commercial fishing and quotas (d) Informasi marine recreational fishing (e) Report illegal fishing activity (f) Informasi customary fishing (4) Local and Regional Councils, dengan kewenangan : (a) Coastal Environment Management (b) Informasi Izin Dumping Waste At Sea (c) Informasi maritime and inland waterways safety (d) Maps, plans or charts, street and rural maps, GIS maps and charts (5) Land Information New Zealand, dengan kewenangan : (a) Nautical Information (b) Notify Land Information New Zealand of errors and omissions on official New Zealand maps, nautical publications and charts (c) An official New Zealand nautical chart (6) New Zealand Custom Service, dengan kewenangan : (a) Customs Service Clearance For Departing Crafts (b) Customs Service Clearance For Visiting Crafts (7) Transport Accident Investigation Commissions, dengan kewenangan : (a) Transport Accident or Incident Investigation Report (8) Department of Conservation, dengan kewenagan : (a) Informasi outdoor recreation and conservation activities (b) Informasi land, freshwater, marine and heritage conservation b. Peraturan Perundangan (1) Undang-undang Dasar (2) Undang-undang • • • • • • • • Marine Insurance Act 1908 Marine Mammals Protection Act 1978 Marine Reserves Act 1971 Maritime Crimes Act 1999 Maritime Security Act 2004 Maritime Tranport Act 1994 Marine Mammals Protection (Auckland Islands Sanctuary) Notice 1993 Marine Mammals Protection (Banks Peninsula Sanctuary) Notice 1988 72

(3) Peraturan Pemerintah

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Marine Mammals Protection Regulations 1992 Marine Pollution Act Commencement Order 1974 Marine Pollution Act Commencement Order 1976 Marine Protection (Offences) Regulations 1998 Marine Reserve (Auckland Islands—Motu Maha) Order 2003 Marine Reserve (Horoirangi) Order 2005 Marine Reserve (Kapiti) Order 1992 Marine Reserve (Kermadec Islands) Order 1990 Marine Reserve (Long Bay-Okura) Order 1995 Marine Reserve (Long Island-Kokomohua) Order 1993 Marine Reserve (Motu Manawa-Pollen Island) Order 1995 Marine Reserve (Parininihi) Order 2006 Marine Reserve (Piopiotahi (Milford Sound)) Order 1993 Marine Reserve (Pohatu) Order 1999 Marine Reserve (Poor Knights Islands) Order 1981 Marine Reserve (Te Angiangi) Order 1997 Marine Reserve (Te Awaatu Channel (The Gut)) Order 1993 Marine Reserve (Te Matuku) Order 2005 Marine Reserve (Te Paepae o Aotea (Volkner Rocks)) Order 2006 Marine Reserve (Te Tapuwae O Rongokako) Order 1999 Marine Reserve (Tonga Island) Order 1993 Marine Reserve (Tuhua (Mayor Island)) Order 1992 Marine Reserve (Ulva Island-Te Wharawhara) Order 2004 Marine Reserve (Westhaven (Te Tai Tapu)) Order 1994 Marine Reserve (Whanganui A Hei (Cathedral Cove)) Order 1992 Marine Reserve (Whangarei Harbour) Order 2006 Marine Reserves Regulations 1993 Marine Safety Charges Regulations 2000 Maritime (Offences) Regulations 1998 Maritime Security Regulations 2004 Maritime Security (Designated Authority) Order 2004 Maritime Security (Maritime Security Organisations) Order 2004 Maritime Transport Act (Conventions) Order 1994 Maritime Transport Act Commencement Order 1994 Maritime Transport Act Commencement Order 1996 73

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

• • • • • • • • • 2) Belanda a.

Maritime Transport Act Commencement Order 1997 Maritime Transport Act Commencement Order 1998 Maritime Transport Act Commencement Order 2003 Maritime Transport (Certificates of Insurance) Regulations 2005 Maritime Transport (Fund Convention) Levies Order 1996 Maritime Transport Amendment Act 1998 Commencement Order 1999 Maritime Transport (Infringement Fees for Offences Relating to Major Maritime Events) Regulations 1999 Maritime Transport (Marine Protection Conventions) Order 1999 Maritime Transport (Maximum Amounts of Liability for Pollution Damage) Order 2003

Makna Tata Pemerintahan Laut (1). Ajudikasi, definisi dan alokasi hak, kepentingan dan pelayanan, atas laut dan sumberdayanya. (2). Pengawasan, pengumpulan informasi, dan manajemen informasi infrastruktur yang terkait dengan butir (1). (3). Pengaturan mengenai alokasi hak, kepentingan dan pelayanan, dan struktur dan proses alokasi. (4). Kebijakan dan penegakan hukum. (5). Manajemen konflik.

b.

Kelembagaan Kelembagaan Tata Pemerintahan Laut terutama dalam mengelola Laut Utara Belanda. Kelembagaan tersebut adalah Interdepartemental Deliberation Over North Sea Governance (IDON). IDON telah berusia 30 tahun didirikan pertama kali tahun 1977 dengan nama Interdepartemental Coordinating Committee for North Sea Affairs (ICONA) lalu tahun 1998 berubah menjadi IDON. IDON terdiri dari: (1). Ministry Of Transport, Public Works and Water Management, dengan kewenangan mencakup : North Sea Administration Water Policy Freight and shipping Coastguard Navy

(2). Ministry Of Defence, dengan kewenangan mencakup :

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

74

(3). Ministry of Economics Affairs, dengan kewenangan mencakup : Oil and Gas Mining and Exploration (4). Ministry Of Agriculture, Nature Management and Fisheries, dengan kewenangan mencakup : Fishing Nature Conservation Foreign Affairs

(5). Ministry of Foreign Affairs, dengan kewenangan mencakup : (6). Ministry of Housing, Spatial Planing and Environment, dengan kewenangan mencakup : 3) Australia Kelembagaan yang terkait dengan tata pemerintahan laut di Australia adalah : a. National Ocean Advisory Group (NOAG) yang terdiri dari perwakilan industry, masyarakat dan pemerintah. Tugas lembaga ini memberikan nasehat Minister of Environment and Heritage mengenai pelaksanaan kebijakan kelautan Australia. Regional Marine Plans Steering Committee (RMPSC). Lembaga ini dibentuk untuk memberikan arahan Regional Marine Plans. Ocean Board Management (OBM), terdiri dari pejabat dari badan atau departemen yang bertanggungjawab dan terkait dengan laut. Fungsi utama lembaga ini adalah memberi nasehat kepada pejabat tinggi dan seluruh lembaga pemerintah mengenai aspek operasional mengenai ocean policy dan regional marine planning. Ketua lembaga ini adalah Sekretaris Department of Environment and Heritage. Peru a. Kelembagaan Kelembagaan tata pemerintahan laut di Peru terdiri dari (1) lembaga penyusun kebijakan kelautan yaitu Forum on National Agreement. Lembaga ini terdiri dari perwakilan pemerintah, masyarakat dan kalangan bisnis. (2) lembaga pemerintah yang terkait dengan masalah kelautan. 4.6. Pengaturan Tata Pemerintahan Di Laut Pembenahan Merancang/Perumusan Kebijakan Tata Pemerintahan Di Laut, hakekatnya adalah pembenahan sistem dan politik hukum yang ada yang tumpang tindih dan banyak disharmonisnya. Merancang suatu peraturan perundangan yang akan mengatur kembali Tata Pemerintahan di Laut, sebagai bagian yang integral dari Tata Pemerintahan Umum, akan melalui langkah-langkah : National Spatial Planning

b. c.

4)

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

75

(1). Menginventarisasi/mengkaji ulang substansi hukum yang berkaitan dengan kemaritiman. (2). Melakukan pembenahan struktur hukum maritim, termasuk kelembagaan dan pembentukan lembaga-lembaganya. (3). Meningkatkan budaya hukum maritim termasuk sosialisasinya. Oleh karena itu, Kebijakan Tata Pemerintahan di laut harus mengatur semua segi yang terkait dengan kemaritiman, antara lain : (1). Mengatur batas-batas laut/wilayah Indonesia. (Tentang batas-batas wilayah Indonesia tidak diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, karena tiga opsi yang ada tidak di “foting/ stem”, dalam rapat PPPKI dan diusulkan terbuka dengan melihat Undang-Undang Jerman setelah perang lihat risalah Rapat PPKI). (2). Mengatur kedaulatan di laut Nasional Indonesia . (3). Mengatur Penegakkan Kedaulatan dan penegakkan hukum di laut nasional Indonesia. (4). Mengatur kaitan Penegakkan kedaulatan dan penegakkan hukum di wilayah laut Nasional dan kaitannya dengan penegakkan hukum dan perjanjian-perjanjian internasional. (5). Mengatur tata hubungan dan kaitan wilayah nasional, dan tata kewilayahan di bawahnya (nasional dengan daerah dan daerah dengan daerah lainnya). (6). Mengatur dan meregulasi pengelolaan dan pemanfaatan laut agar maksimal dan seadiladilnya memberikan kesejateran kepada rakyat dan bangsa indonesia. (7). Mengatur kelembagaan dan lembaga-lembaga pemerintah yang berfungsi merumuskan kebijakan-kebijakan di laut, implementasi pelaksanaan kebijakan, yang menjalankan kebijakan Tata Pemerintahan Di Laut. (8). Mengatur pelaksana dan pelaksanaan penegakkan hukum di laut sesuai dengan Visi dan Misi Negara Maritim, agar tercapai sasaran mensejahterakan rakyat atas dasar “Pareto Optimality”. (9). Mengatur mekanisme hubungan antar “Stakeholders”, agar terjadi hubungan yang harmonis dalam pengelolaan dan pemanfaatan laut untuk mensejahterakan rakyat seoptimal mungkin; dan (10). Mengatur hal-hal lain yang dianggap perlu untuk mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan laut seefektif dan efisien mungkin untuk kesejahteraan rakyat sebesarbesarnya. 4.7. Ruang Kerja Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut Dengan telah berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UU No.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional 1982) selanjutnya pada tahun 1994 Indonesia secara resmi diakui internasional sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah kedaulatan di laut sebesar kurang lebih dua kali lebih besar dari pada wilayah kedaulatan di darat, dan disamping itu juga memiliki hak berdaulat untuk

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

76

pemanfaatan sumberdaya alam di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen Indonesia. Menurut dimensi ruangnya Pemerintah Republik Indonesia mempunyai hak dan kewajiban mengatur sebagai berikut : 1) Laut dibawah Kedaulatan Wilayah Indonesia, meliputi Perairan Pedalaman, Perairan Kepulauan/Nusantara, dan Laut Territorial (12 Mil dari garis-garis pangkal kepulauan/ nusantara) Laut dibawah Kewenangan dan Hak-Hak Berdaulat Indonesia, meliputi : Zona Berdekatan (sampai 24 Mil dari garis-garis pangkal nusantara) Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sampai 200 Mil dari garis-garis pangkal nusantara Landas Kontinen sampai sejauh kelanjutan alamiah wilayah darat Indonesia kedasar laut dan bisa lebihjauh dari 200 Mil. 3) Laut yang merupakan Kepentingan Indonesia meliputi : Laut Bebas di luar batas ZEE Dasar Laut Internasional di luar batas landas kontinen. Berpatokan dengan luas liputan laut yang diproyeksikan menjadi dimensi ruang tersebut (gambar 4.1), merupakan ruang kerja tata pemerintah di laut. Jadi laut dibawah kedaulatan Indonesia, kewenangan Indonesia pada umumnya penuh, baik atas seluruh kekayaannya, maupun atas ruangnya, baik di air, di dasar laut dan tanah di bawahnya, maupun atas udaranya, kecuali yang merupkan Hak-Hak Lewat Negara Lain serta hak-hak khusus yang di atur dalam konvensi hukum laut internasional 1982 : Di Zona Berdekatan Indonesia mempunyai kewenangan mengatur dan melaksanakan pengawasan atas bea cukai/pabean, imigrasi, karantina, kesehatan, dan.penegakan hukum. Di ZEE, Indonesia mempunyai hak-hak berdaulat atas kekayaan alamnya dan kewenangankewenangan untuk mengatur dan mengizinkan penelitian ilmiah kelautan, perlindungan lingkungan laut, pembangunan pulau-pulau buatan, instalasi dan bangunan-bangunan dilaut. Dilaut bebas dan didasar laut internasional, Indonesia berkepentingan untuk ikut mengatur, memanfaatkan, dan mengamankan kepentingannya, baik terhadap kekayaan alamnya (perikanan dan mineral), maupun penggunaan ruangnya (pelayaran dan penerbangan).

2)

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

77

UDARA

KELAUTAN

PERMUKAAN PELAGIK MESOPELAGIK ABYSAL UNDER THE SEA LAUT DALAM
UNDER THE SEA

MARITIM

Gambar 4.1. Ruang Kelautan Karena itu, tata pemerintahan di laut haruslah mencakup berbagai-bagai kawasan dalam ruang tersebut di atas. Paling tidak Indonesia harus bercita-cita ke arah itu dan secara bertahap meningkatkan kemampuannya untuk bisa benar-benar menjadi negara maritim sesuai dengan keadaan geografis dan lingkungannya.4.8. Kawasan-Kawasan Maritim Tata Pemerintahan Di Laut Dalam pengaturan perencanaan pemanfaatan ruang harus berdasarkan satu kesatuan wilayah yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya) yang mendukung kualitas sumberdaya laut sehingga peruntukkan dan pemanfaatannya tidak dapat dipisahkan menurut daerah administrasi. Tata laksana pemerintahan yang berkaitan dengan kewenangan pengelolaan laut yang berhubungan dengan lintas Kabupaten, Kota dan Propinsi belum diatur dengan jelas, sehingga hal ini potensial untuk memicu konflik horizontal maupun vertikal. Sehingga dalam pengelolaan manfaat sumberdaya kelautan dan perikanan yang bersifat lintas batas (shared stock) antar kedua daerah atau lebih tidak dapat berkesinambungan, karena tidak ada tim/institusi kerjasama antar propinsi dan antar Kabupaten/kota, sebagai jembatan antar pemerintahan daerah dalam pengambilan kebijakan-kebijakan pengelolaan kelautan yang bersifat lintas batas. Memetakan wilayah Indonesia ke dalam kawasan-kawasan maritim atas dasar persamaan geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya). Secara geo-politik pengertian maritim Indonesia adalah suatu lingkungan alam yang terbentuk secara alami, terdiri atas hamparan perairan laut yang luas dengan beribu pulau besar dan tersebar di dalamnya, yang merupakan satu kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat, termasuk udara di atasnya berikut sumberdaya dan lingkungan alam baik yang berada di atas, di dalam, di dasar maupun di bawah dasar lautan.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

78

Jadi pengertian maritim Indonesia tidak terbatas pengertiannya dekat kedekatannya atas perairan laut saja, melainkan lebih dari itu. Maritim Indonesia selain mengandung makna segala sesuatu yang berkaitan dan berdekatan dengan perairan laut, juga mencakup makna wilayah kesatuan laut dan pulau secara utuh dan bulat berikut udara di atasnya. Bertitik-tolak dari pandangan ini maka kebijakan kelautan harus mendudukan perairan laut sebagai unsur pemersatu bangsa, yang menyatukan seluruh pulau-pulau di wilayah nusantara ini dalam mencapai tujuan-tujuan nasional. Untuk kepentingan semantik, maka wilayah kerja lembaga otoritas tata pemerintahan di laut di tingkat sub-nasional tersebut untuk selanjutnya disebut sebagai Kawasan Maritim. Kriteria dari kawasan maritim, tentunya harus dapat menterjemahkan pengertian Maritim Indonesia sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Kawasan Maritim harus dapat mencerminkan kepentingan-kepentingan politik, ekonomi dan sosial dengan tetap memperhatikan kaidahkaidah ekosistem suatu negara kepulauan. Kriteria Kawasan Maritim : a. secara politik tidak dibatasi oleh sistem administrasi wilayah, tetapi dapat menjadi unsur pemersatu berbagai kepentingan daerah dan menjamin rezim wilayah negara kepuluan sebagaimana diamanatkan dalam UNCLOS 1982; secara ekonomi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan kegiatan ekonomi bahari seperti perdagangan antar negara dan antar wilayah, transportasi antar moda, pariwisata bahari dan pengembangan pusat-pusat perekonomian regional dan kawasan produksinya; secara sosial dapat mencerminkan keragaman etnis tetapi tetap dalam bingkai prinsip “ bhineka tunggal ika” ; secara ekosistem dapat secara optimal mengakomodasikan corak ragam ekosistem kepulauan, seperti konsep bio-region, watershed dan sistem wilayah perikanan;

b.

c. d.

Di Indonesia dikenal beberapa tipologi kawasan, antara lain kawasan transmigrasi, KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu), kawasan pariwisata bahari, kawasan wilayah perikanan dan yang terbaru dikenal dengan kawasan bio-region. Telah lama pula kita kenal istilah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Setiap kawasan didefinisikan dan dideliniasi menurut kepentingan dan tujuan tertentu. Oleh karena itu terminologi suatu kawasan harus dilihat dalam suatu konteks dan konsep pemanfaatan tertentu, yang satu dan lainnya berbeda untuk konsep yang berbeda. Kawasan maritim sebagaimana dijelaskan dalam kriteria di atas merupakan komposit dari berbagai pendekatan kewilayahan yang memperhatikan unsur politik, ekonomi, sosial dan ekosistem suatu negara kepulauan. 4.9. Keberhasilan Kelembagaan Tata Pemerintahan Di Laut Untuk dapat membangun suatu negara maritim, salah satu strategi yang harus didorong dan dikembangkan adalah tumbuhnya pemahaman tentang visi maritim nusantara, yang menjadi dasar dari pembentukan perangkat sistem pemerintahan “ocean governance” pemerintahan yang berbasis kemaritiman untuk suatu kepentingan yang masuk dalam tataran perumusan

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

79

kebijakan yang strategis. Sekalipun disadari bahwa untuk tataran operasional berbagai kebijakan strategis ini kemudian perlu dijabarkan lagi ke dalam sistem pemerintahan yang berjalan sebagaimana yang berlaku sekarang yaitu dalam sistem tata pemerintahan pusat dan daerah. Untuk dapat menilai keberhasilan tugas dan fungsi kelembagaan tata pemerintahan di laut diperlukan suatu tolok ukur, yang meliputi : (1). Meningkatnya Kemampuan lembaga penyelesaian perselisihan (conflict resolution capacity) dengan menetapkan skala prioritas berdasarkan prinsip ekosistem kewilayahan (2). Tercapainya kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman navigasi, gangguan keamanan dan pencemaran lingkungan; (3). Tidak ada lagi tumpang tindih kewenangan antar sektor dan antar pusat – daerah dalam mengeelola wilayah laut dan sumberdaya di dalamnya; (4). Terwujud kepastian hukum dalam berusaha di wilayah laut dan penegakan keamanan/ kedaulatan wilayah; (5). Tersedianya landasan hukum bagi Negara sebagai penanggung jawab penataan hukum dilaut dalam perannya sebagai negara pantai (coastal state), negara bendera (flag state) dan negara pelabuhan (port state); 4.10. Penegakan Kedaulatan Hukum Di Laut Habitat lingkungan laut dan darat yang sangat berbeda satu dengan lain tentunya akan sangat mempengaruhi upaya penyelenggaraan keamanan laut yang diimplementasikan dalam kegiatan penegakan hukum di laut. Oleh karena itu logis kiranya bahwa kultur implementasi penegakan hukum di laut akan sangat berbeda dengan penegakan hukum di darat. Hal ini salah satunya tercermin dari rezim hukum laut internasional di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang mana tunduk pada rezim hukum khusus. Di ZEE negara Indonesia mempunyai hak berdaulat untuk kaperluan eksplorasi dan eksplotasi, konservasi dan pengelolaan sumber daya alam hayati maupun non hayati. Sedangkan bagi para pengguna laut lainnya terbatas pada hak kebebasan hak pelayaran dan penerbangan internasional termasuk kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut. Isu global tentang Transnational Crimes cenderung merupakan ancaman konflik bagi perdamaian internasional yang akan berdampak langsung pada implementasi upaya keamanan di laut yang tidak hanya sekadar upaya penegakan hukum seluruh wilayah yuridiksi perairan Indonesia semata, namun juga mencakup kelancaran dalam kerjasama keamanan laut bersama negara-negara tetangga terutama di daerah perbatasan antar kedua negara. Oleh karena itu dalam implementasinya operasional kerjasama keamanan di laut antar negara dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mampu mewadahi interaksi di lapangan dalam bentuk Stand art Operation Prosedure (SOP) bagi unsur-unsur patroli keamanan laut Indonesia agar kecenderungan akses-akses negatif kerjasama patroli keamanan laut dapat dicegah. Sebagai suatu sistem penyelenggaraan keamanan di laut, prinsip-prinsip yang digunakan bagi

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

80

terwujudnya penyelenggaraan operasional keamanan di laut dengan dilakukan secara terpadu dan semangat kebersamaan. Hal ini tentunya sangat mendukung proses penanganan berbagai jenis tindak pelanggaran hukum di laut yang kompleks, yang tidak mungkin dilakukan secara individu akibat keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh setiap instansi. Prinsip lain adalah adanya pengendalian terpusat secara koordinasi tanpa mengabaikan peran tugas dan tanggung jawab setiap stakeholder sesuai dengan kewenangan yang ada. Ini harus dilakukan secara profesional agar operasional penegakan hukum di laut di seluruh wilayah perairan Indonesia dapat terselenggara sinergis maupun terpadu. Secara faktual penegakan hukum di laut memiliki dua dimensi, yaitu : penegakan kedaulatan dan penegakan hukum, sehingga timbul perspektif baru bahwa kedua dimensi tersebut juga akan saling terkait satu dengan lainnya. Jika dipandang sebagai suatu sistem, maka keamanan di laut merupakan rangkaian mulai dari persepsi segenap komponen bangsa terhadap struktur organisasi serta prosedur dan mekanisme penyelenggaraan keamanan di laut yang melibatkan berbagai instansi berwenang dalam penegakan kedaulatan maupun hukum di laut. Oleh karena itu sistem keamanan di laut tetap dibangun dengan upaya mengoptimalkan prinsip sinergis segenap kekuatan yang dimiliki penyelenggara keamanan di laut. Sinergitas dari kedua aspek tersebut harus tercermin dari struktur organisasi, mekanisme dan prosedur sekaligus ketentuanketentuan lain yang mendukung kelancaran tugas penegakan hukum di laut. Berdasarkan yurisdiksi negara, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia berwenang menetapkan pengaturan mengenai penegakan hukum di laut, menegakannya dan menghukum pelanggaran atau tidak ditaatinya peraturan yang sudah ditetapkan. Penegakan hukum di laut mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda dengan penegakan hukum di wilayah daratan, hal ini disebabkan antara lain: a. Berbicara mengenai laut maka disana dapat dilihat adanya kepentingan nasional tetapi juga kepentingan Internasional. Ini berarti dalam melakukan penegakan hukum di laut selain berdasarkan landasan hukum nasional tetapi juga harus mengingat kaidah-kaidah hukum internasional dan kebiasaan internasional yang berlaku. Adanya rejim-rejim hukum (legal regime) yang berbeda di wilayah laut membawa hak dan kewenangan negara yang berbeda pula. Misalnya hak dan kewenangan negara di laut dimana berlaku rejim kedaulatan negara (souvereignty) seperti di perairan kepualauan dan laut teritorial, berbeda di wilayah laut dimana berlaku yurisdiksi tertentu atau hakhak berdaulat (jurisdiction/souvereignrights) seperti di wilayah laut Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen. Kewenangan penegakan hukum di laut menurut hukum laut internasional adalah kapal bukan individu. Dalam hal ini adalah kapal negara (warship/goverment ship) yang mempunyai tanda-tanda yang jelas dan diberi kewenangan untuk melakukan penegakan hukum di laut berdasarkan peraturan perundang-udangan, sedangkan aparat penegakan hukum merupakan pelaksana dari kewenangan penegakan hukum tersebut. Adanya prosedur penegakan hukum di laut, utamanya prosedur tindak pidana atau pelanggaran hukum di laut yang khusus berdasarkan norma-norma hukum internasional 81

b.

c.

d.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

yang berbeda dengan prosedur penyidikan di wilayah daratan. Penyidikan tindak pidana atau pelanggaran hukum di laut dilakukan melalui prosedur sebagai berikut : 1) Perintah berhenti (stopping). Perintah berhenti dilakukan menurut prosedur yang sudah baku antara lain dengan isyarat dan apabila perlu dengan paksaan misalnya dengan tembakan yang tidak membahayakan jiwa manusia. Menaiki kapal tersangka (boarding the ship/right of visit). Apabila kapal tersangka mengindahkan perintah berhenti, selanjutnya Komandan kapal pemeriksa memerintahkan seorang perwira dikawal oleh beberapa ABK dengan menggunakan sekoci menaiki kapal tersangka untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut dapat juga dilakukan dengan cara memerintahkan nahkoda kapal tersangka atau perwira yang untuk datang ke kapal pemeriksa dengan membawa dokumen-dokumen atau surat-surat lain yang diminta. Apabila tidak terdapat cukup bukti adanya pelanggaran hukum maka kapal harus dilepaskan dan diperbolehkan untuk melanjutkan pelayaran (release of ship) setelah dibuat berita acara dan dicatat dalam jurnal kapal. Pemeriksaan kapal (Searching). Apabila cukup bukti adanya pelanggaran hukum, dilakukan pemeriksaan disaksikan oleh dua orang saksi, satu orang dari kapal pemeriksa dan satu lagi dari kapal yang diperiksa. Hasil pemeriksaan dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dicatat dalam jurnal kapal. Penangkapan dan penyeretan kapal (capture of vessel). Apabila hasil pemeriksaan menunjukan bukti-bukti adanya pelanggaran hukum, maka kapal dibawa dan diperintahkan menuju pangkalan/pelabuhan terdekat untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. Penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan. Setelah selesai tahap penyidikan di laut, selanjutnya diserahkan oleh pejabat penyidik kepada Kejaksaan Negeri untuk dilakukan penuntutan, selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri yang berwenang. Menurut peraturan perundang-undangan Indonesia, Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri yang berwenang adalah Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri yang wilayah hukumnya membawahi dimana kapal yang bersangkutan ditahan. Sanksi hukuman yang dapat dijatuhkan untuk tindak pidana tidak selalu berupa sanksi hukuman badan atau hukuman penjara. Di wilayah laut tertentu, sesuai ketentuan Hukum Laut Internasional tidak dapat dijahtuhkan sanksi hukuman badan seperti tindak pidana atau pelanggaran hukum di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Dalam hal ini hanya dapat dijatuhkan sanksi hukuman denda dan atau barang bukti dinyatakan dirampas untuk negara.

2)

3)

4)

5)

6)

Perubahan global yang mendasar di bidang kelautan atau pada aspek maritim memberi pengaruh yang sangat besar pula menyangkut keamanan laut, upaya menegakan keamanan di laut dalam rangka menetapkan integritas wilayah kelautan Indonesia perlu diperlakukan dengan cara memadukan secara komprehensif strategi pertahanan negara yang meliputi strategi militer, strategi ekonomi, dan dengan didukung strategi politik. Posisi geografis tersebut

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

82

meyebabkan Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh dan kepentingan-kepentingan negara lain, baik menyangkut masalah politis, ekonomi sosial dan budaya maupun militer, lebih-lebih lagi dalam era globalisasi ekonomi sekarang ini di mana derajat saling ketergantungan (interdenpedency) makin kuat. Berbagai bentuk dan sifat ancaman dapat terjadi di laut, sementara undang-undang memberikan kepada pemerintah dan aparat keamanan beberapa kewenangan tertentu seperti: kepabeanan, keimigrasian, keselamatan kapal dan navigasi. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) berdasarkan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasioanal Indonesia, memiliki tugas antara lain : menegakan hukum dan menjaga keamanan di laut yurisdiksi nasional sesuai ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi (Undang-undang No.34 Tahun 2004 Pasal 9 ayat (b). Dalam menghadapi bentuk dan ancaman nonmiliter, penanggulangannya dikoordinasikan oleh pimpinan instansi sesuai bidangnya (Undang-undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara pasal 19). Undang-undang No 6 tahun 1996 tentang Perairan Pasal 24 menyatakan bahwa apabila diperlukan untuk pelaksanaan hukum dapat dibentuk suatu badan koordinasi yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Namun hingga saat ini badan koordinasi telah berjalan lebih dari 30 tahun hasilnya belum memenuhi harapan. Oleh karena itu penegakan hukum di laut meliputi kegiatan; kepabeanan, keimigrasian, pelayaran, karantina, perikanan,lingkungan hidup, kepolisian dan pertahanan perlu dilaksanakan oleh suatu badan yaitu badan penegakan hukum dan operasional penuh, terpadu dalam satu kesatuan. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa penegakan hukum di laut itu mempunyai ciri-ciri yang khusus dan ruang lingkup yang khusus pula sesuai dengan rejim-rejim hukum yang berlaku di wilayah laut yang bersangkutan. Oleh karena itu diperlukan adanya badan/lembaga yang khusus yang bersifat tunggal dan integratif sehingga pelaksanaan penegakan hukum di laut akan terintegrasi, efektif dan sinergis. Keberadaan badan ini tidak menghapus fungsi-fungsi utama yang diemban oleh instansi, lembaga yang ada sesuai peraturan perundang-undangan yang memberikan kewenangan kepadanya, tetapi pelaksanaan penegakan hukum di laut dilakukan secara integratif dan tidak sendiri-sendiri. Sesuai uraian di atas, kewenangan melakukan penegakan hukum di laut adalah kapal. Kapal ini harus mempunyai tanda-tanda khusus yang jelas dan mempunyai kewenangan hukum yang jelas pula supaya diketahui oleh masyarakat internasional. Kapal ini diawaki oleh awak kapal yang melebur dalam badan integratif, dilengkapi dengan struktur, fungsi, tugas dan wewenang serta sasarannya. Dengan adanya badan yang khusus ini dihindari ungkapan pihak luar yang melontarkan pertanyaan : “how many navies do you have?”. pelaksanaan penegakan hukum di laut yang berjalan dewasa ini menunjukan tidak efektif, menimbulkan persaingan kewenangan atau kepentingan antar instansi, yang kesemuanya merugikan pelaksanaan penegakan hukum itu sendiri dan juga merugikan pengguna jasa kelautan. Dengan uraian di atas maka kekhawatiran dengan adanya badan peneggakan hukum di laut akan menghapus fungsi-fungsi utama instasi/lembaga yang ada tidaklah beralasan, apalagi akan mencabut peraturan perundang-undangan yang memberi wewenang kepada instansi

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

83

atau lembaga yang bersangkutan. Sehubungan dengan itu, maka gagasan mencuat kepermukaan mengenai pembentukan badan semacam “coast guard”, kiranya sangat perlu dengan memperhatikan kondisi khusus Indonesia dan memperhatikan norma-norma hukum internasional dan kebiasaan internasional yang berlaku. • • • • • • • • • • Keselamatan pelayaran maritim dan pelabuhan Pertambangan di Lepas Pantai Pelestarian Lingkungan Kelautan terutama pencemaran tumpahan minyak di laut (Oil Spill) Kepabeanan yang melalui pelabuhan/laut Keimigrasian yang melalui pelabuhan/laut Fiskal yang melalui pelabuhan/laut Karantina yang melalui pelabuhan/laut Perikanan Pengangkutan di laut Klaim-klaim maritim (Maritime Claim)

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

84

BAB V KEBIJAKAN DAN STRATEGI KELEMBAGAAN TATA PEMERINTAHAN DI LAUT

5.1. Kebijakan Pembentukan Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut Dalam rangka mewujudkan suatu negara maritim yang tangguh sangat perlu untuk melihat dan menelaah masalah-masalah dan tantangan yang telah diuraikan tersebut di atas. Dengan memahami permasalahan dan tantangan tersebut akan dapat dirumuskan bentuk ocean governance yang sesuai untuk kondisi Indonesia, dan merupakan suatu sub sistem yang integral dari administrasi tata pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Permasalahan dan tantangan tersebut di atas dapat dikatakan dihasilkan dan sekaligus harus dihadapi dan dipecahkan oleh tata pemerintahan yang ada. Semua fungsi dan tugas pemerintahan (fungsi dan tugas manajemen) telah dibagi habis kepada lembaga pemerintahan dan lembaga pemerintah non departemen. Semua persoalan dan tantangan tersebut di atas ditanganai oleh masing-masing lembaga dan cenderung secara parsial dan sektoral. Berbagai persoalan kelautan sebelum terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan telah ditangani oleh berbagai sektor. Masalah pelayaran dan pelautnya ditangani oleh Departemen Perhubungan, masalah pariwisata bahari ditangani oleh Kementerian Negara Pariwisata dan Budaya, masalah pertambangan lepas pantai ditangani oleh Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, masalah industri pengolahan hasil laut dan industri perkapalan,galanan kapal ditangani oleh Departemen Perindustrian, permasalahan di daratan/wilayah darat ditangani oleh Depertemen Dalam Negeri yang cenderung mempunyai kedudukan sentral. Namun dalam nuansa Otonomi Daerah (OTODA) kewenangan kordinatifnya melemah. Masih banyak lagi masalah lainnya yag terkait dengan kelautan yang ditangani secara parsial dengan tingkat ego-sektoral yang tinggi, lebih-lebih lagi dengan sering berubah-ubahnya bentuk organisasi pemerintahan. Laut yang mempunyai karateristik ekosistem yang sangat berbeda diperlukakan sama dengan ekosistem darat dan secara politis seharusnya mampu menjadi memadu-serasikan persatuan dan kesatuan nasional ternyata justru memperkuat legitimasi pendekatan sektoral. Dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan, agaknya belum cukup mampu untuk mengubah paradigma darat ke paradigma laut. Ruang gerak departemen ini masih gamblang, karena banyak tugas pokok dan fungsinya yang tumpang tindih dengan departemen lain, akibatnya yang terjadi bukannya upaya untuk memadu-serasikan tetapi justru terkesan terjadi tumpang tindih program pembangunan antar departemen dan lembaga negara lainnya, termasuk di bidang perikanan sekalipun bidang ini mempunyai domain yang spesifik. Hal tersebut sudah tentu akan melahirkan pemborosan sumberdaya dan dana Dalam situasi semacam ini seharusnya ada lembaga atau peraturan perundangan yang dapat mengatur dan mengkoordinasikan dengan baik berbagai program yang terkait dengan

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

85

kelautan, yang tersebar di berbagai departemen dan lembaga negara lainnya. Peran untuk memadukan program ini sebenarnya dahulu diemban oleh Bappenas dan peningkatan fungsi anggaran dari DPR, maka saat ini praktis tidak ada lagi lembaga negara yang dapat memadukan berbagai program pembangunan tahunan. Rujukan utama untuk memadukan itu ada pada PROPENAS (Program Pembangunan Nasional) yang sesungguhnya masih sangat multi tafsir. Pengaturan dan koordinasi tidak hanya untuk program-program pembangunan saja, akan tetapi pengaturan dan pengelolaan keamanan dan pengamanannya, agar mampu mengelola wilayah laut dengan sumber-sumber ekonominya yang tidak terbatas (self-generating/elf renewal). Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut, sebagai sub-sistem yang integral Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia SANKRI sudah sangat mendesak. Lebih jauh, sistem tersebut harus selaras dengan konvensi-konvesi dan tata hubungan internasional, yaitu Konvensi hukum laut PBB 1982 hanya mengakui hak negara Nusantara (Archipelagic state) untuk menarik garis-garis pangkal lurus Nusantara (Archipelagic straight baselines) yang menghubungkan titik terluar dari pulau terluar Negara Kepulauan Indonesia sesuai dengan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957. Pasal 47 UNCLOS 1982 itu hanya berlaku untuk Negara Nusantara kepulauan. Archipelagic state, konsep Archipelago adalah suatu negara kepulauan terdiri lebih dari satu gugus pulau yang jaraknya sangat jauh dari gugus pulau lainnya. Keberadaan Depatemen Kelautan dan Perikanan serta Dewan Maritim Indonesia, kelihatannya sulit mewujudkan pengelolaan kelautan secara terpadu. Fungsi / sektor kelautan saat ini ditangani oleh Departemen “Teknis” Untuk mengkoordinasikan berbagai fungsi kelautan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi dari departemen-departemen seyogyanya dilaksanakan oleh Menteri Kordinator Kelautan. Pengorganisasian kelautan adalah organisasi matrix, artinya instansi-instansi yang menangani kelautan mempunyai dua “ keanggotaan”. Pertama, anggota departemen fungsional. Kedua, anggota Kementerian Kelautan. Contohnya; Dirjen Perla bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan dalam aspek perhubungannya, dan kepada Menteri Menteri Kordinator Kelautan dalam aspek kelautannya. Kementerian Kelautan menyelenggarakan apa yang sekarang dilaksanakan oleh Dewan Maritim Indonesia.. 5.2. Strategi Pembentukan Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut Strategi pembentukan kelembagaan kelautan bertitik tolak dari penyelenggaraan tugastugas fungsional instansi sektoral dalam pembangunan Kelautan yang dikembangkan agar terwujud kesederhanaan birokrasi dengan merajut tugas dan wewenang instansi fungsional sesuai peraturan perundang-undangan, keterpaduan, efekttivitas dan efisiensi, peningkatan penyelenggaraan fungsi pelayanan (kesederhanaan prosedur, kelancaran pelayanan data, serta pelayanan perijinan, pendayaagunaan kelembagaan yang telah ada, dengan : • Membentuk sistem kelembagaan di tingkat nasional yang dapat melaksanakan koordinasi dan memadukan pembangunan kelautan di berbagai sektor mulai dari perencanaan, implementasi sampai evaluasi program-program yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

86

• •

Mengarahkan agar terlaksananya seluruh aspek kebijakan kelautan secara sinergi di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Secara bertahap membentuk lembaga tunggal yang berasal dari lembaga yang sudah ada yang mampu dan mempunyai akses organisasi sampai pada tingkat kabupaten dan bahkan kecamatan dengan dasar undang-undang yang sudah ada dan tidak bertentangan dengan UUD 1945 untuk menjalankan fungsi keamanan dan penegakkan hukum dilaut dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat maritim. Hal ini dimaksudkan agar undang-undang yang sudah ada tidak setiap saat berubah.

5.3. Tugas Fungsi Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut Sesuai dengan dasar-dasar pemikiran demi kepentingan nasional, semua jajaran Pemerintahan yang terkait dengan pengelolaan Kelautan dalam mengemban tugas kewajiban tersebut, menyelenggarakan fungsi-fungsi dalam pembangunan Kelautan, khususnya tentang: 1) Perumusan kebijaksanaan dan penyusunan program Lingkup kebijakan dalam kelembagaan ini meliputi : a) b) c) Pokok-pokok kebijakan kelautan, penyusunan dan perumusan koordinasi dan konsultasi Kebijakan umum / lintas sektoral dalam pengembangan Kelautan dibidang sumberdaya manusia, investasi, teknologi, industri serta potensi sumberdaya maritim. Kebijakan pelaksanaan sesuai mekanisme penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan

Keterpaduan kebijakan merupakan sentra dan faktor penentu dalam mewujudkan keterpaduan pada tahap-tahap manajemen selanjutnya, dengan mekanisme penyelenggaraan dapat menjamin terwujudnya keterpaduan pengelolaan, serta kurang sesuai dengan tolok ukur pengembangan kelembagaan kelautan. 2). Dalam Pembinaan Kualitas SDM Kelautan. Pembinaan kualitas SDM Kelautan merupakan bagian dari pembinaan potensi kelautan nasional, ditinjau dari peran sentra SDM Kelautan dalam menunjang keberhasilan pembangunan nasional, pembinaan SDM Kelautan perlu diselenggarakan secara terpadu yang meliputi segenap aspek kehidupan kelautan.. 3). Dalam Penelitian, Survai Dan Pemetaan SDA Kelautan. Merupakan kelembagaan dalam pengkoordinasian inventarisasi dan evaluasi kekayaan alam di tingkat Kebijaksanaan/Pusat, dengan tugas pokok : Menyiapkan kebijaksanaan umum pemerintah di bidang inventarisasi, evaluasi, pengelolaan, pengembangan, dan pengamanan kekayaan alam. 4). Dalam Pengembangan Teknologi Kelautan, Industri Maritim, dan Invenstasi. 5). Dalam Pelayanan Dan Pengendalian Data Dan Informasi Kelautan Kelembagaan tersebut saat ini dilaksanakan secara sektoral dan kurang terkoordinasi, pelayanan data dan informasi masih terbatas, serta pengendalian data dan informasi

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

87

belum terselenggara secara optimal, sehingga perlu upaya peningkatan implementasi pelayanan dan pengendalian data dan informasi kelautan. 6). Dalam Pengaturan / Legislasi Dan Pelayanan Perijinan. 7). Penegakan Keamanan dan Kedaulatan di Laut (“Coast Guard”) 5.4. Organisasi Kelembagaan Tata Pemerintahan Indonesia di Laut Agar kelautan dapat dikelola dengan baik perlu membentuk organisasi Kementrian Kordinator Kelautan/setingkatnya, yang secara otomatis harus diberikan fungsi dan tugastugas kordinasi dan implementatif pengelolaan kelautan/maritim di atas. Oleh karena fungsi dan tugas-tugas pengelolaan laut sudah terbagi habis pada berbagai instansi, maka dengan sendirinya pengorganisasian kelautan adalah organisasi matrix, artinya instansi-instansi yang menangani kelautan mempunyai dua “ keanggotaan”. Pertama, anggota departemen fungsional. Kedua, anggota Kementerian Kelautan. Contohnya; Dirjen Perla bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan dalam aspek perhubungannya, dan kepada Menteri Kordinator Kelautan dalam aspek kelautannya. Kementerian Kelautan menyelenggarakan apa yang sekarang dilaksanakan oleh Dewan Maritim Indonesia. Pada sisi yang lain mungkin ada fungsi dan tugas-tugas baru dalam bidang kelautan/maritim yang dapat diberikan kepada organisasi baru ini. Lembaga/organisasi ini bertanggung jawab terhadap semua kegiatan kelautan/kemaritiman dari pusat sampai daerah, mengumpulkan aset-aset yang tersebar di berbagai instasi sebelumnya dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dalam hal kewenangan-kewenangan pelaksanaan kegiatan kelautan /kemaritiman dapat menggunakan aturan perundang-undangan yang telah ada, tetapi instansinya telah merajut dalam lembaga/organisasi baru tersebut, menjadi satu kapal satu seragam. Kementrian Kordinator Kelautan/setingkatnya yang bertanggung jawab kepada Presiden, yang mampu memberikan keluaran kebijakan yang terbaik: a) b) c) Berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang muktahir dan visioner. Mengakomodasi kepedulian dunia mengenai keanekaragaman hayati dan perubahan iklim global. Untuk mempercepat pembangunan ekonomi, sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Dalam rangka menciptakan keterpaduan dan sinergitas dibentuk deputi : a) Deputi Ekonomi Kelautan yang terdiri dari bidang: (1). Pelayaran: Departemen Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan Nasional, Perbankan, Menteri BUMN. (2). Perikanan: Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan Nasional, Perbankan, Menteri BUMN.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

88

(3). Pariwisata Kelautan: Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Luar Negeri, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Keuangan, Menteri Hukum dan HAM, Bakorkamla, Perbankan, Menteri BUMN b) c) d) Deputi Lingkungan Hidup: LIPI, BPPT, BRKP, JANHIDROS, Bakosurtanal, LAPAN dan PPGL. Deputi Sumber Daya Manusia Kelautan: Depdiknas, Kementrian PAN, LAN, LEMHANAS. Deputi Penegakan Hukum dan Kedaulatan Laut :

Kelembagaan Kelautan Wilayah/Kawasan Otoritas dapat dibentuk pada wilayah yang meliputi dua Provinsi atau lebih. Di mana wilayah kerja lembaga otoritas tata pemerintahan di laut di tingkat sub-nasional tersebut untuk selanjutnya disebut sebagai Kawasan Maritim. Lembaga kawasan maritim di daerah ini yang akan menjadi Vocal Point dari kegiatan-kegiatan laut dengan tujuan untuk mengelola potensi dan kekayaan laut, berdasarkan satu kesatuan wilayah laut yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya). Kelembagaan ini yang bertanggung jawab kepada Presiden melalui Lembaga Tata Pemerintahan Di Laut tingkat nasional (Menko Kelautan). Tujuan adanya lembaga otoritas kawasan maritim ini adalah agar ada sinergi pengelolaan laut dan penegakan hukum (Ocean Governance) antar wilayah administratif (Provinsi ataupun Kabupaten/Kota) yang berbatasan langsung, dan disatukan berdasarkan satu kesatuan wilayah laut yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya) misal Kawasan Teluk Tomini. Gambar. 5.1. Bagan Organisasi Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut
PRESIDEN

MENKO KELAUTAN

Provinsi Provinsi OTORITAS KAWASAN MARITIM DI DAERAH

DEPUTI

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

89

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 4.1. Kesimpulan Mengalir dari latar belakang, dasar-dasar pemikiran, serta uraian kelembagaan dan pengembangannya, dapat disimpulkan : 1. Terjadinya konflik kewenangan antara instansi pemerintah di pusat dan di pemerintah daerah karena tidak jelasnya rincian kewenangan, jenis, kriteria serta klasifikasi obyek yang menjadi sumber konflik secara detil. mana yang didesentralisasikan, atau yang didekonsentrasikan, atau yang masih disentralisasikan dan wewenang sektor mana. Sehingga menimbulkan interpretasi yang beragam serta potensi konflik. Dalam perencanaan pemanfaatan ruang harus berdasarkan satu kesatuan wilayah yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya) yang mendukung kualitas sumberdaya laut sehingga peruntukkan dan pemanfaatannya tidak dapat dipisahkan menurut daerah administrasi. Kewenangan penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang kelautan telah terbagi kepelbagai kementerian dan lembaga pemerintah, serta pemerintah daerah. Pembangunan kelautan berkelanjutan harus terintegrasi dan secara sinergi antar sektor, antar pusat dan daerah. Pembangunan kelautan diyakini dapat memberikan dukungan yang besar bagi pembangunan nasional, oleh karenanya perlu dilakukan langkah-langkah akselerasi dan prioritas. Untuk itu diperlukan lembaga yang mampu mengkoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan di laut. Perlu pengembangan kelembagaan kelembagaan di tingkat nasional yang dapat melaksanakan koordinasi dan memadukan pembangunan kelautan di berbagai sektor mulai dari perencanaan, implementasi sampai evaluasi program-program yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan. Pengkoordinasian di tingkat Daerah diselenggarakan melalui lembaga otoritas kawasan maritim. Organisasi ini adalah pensinergian pengelolaan laut dan penegakan hukum (Ocean Governance) antar wilayah administratif (Provinsi ataupun Kabupaten/Kota) yang berbatasan langsung, dan disatukan berdasarkan satu kesatuan wilayah laut yang memiliki satu persamaan fungsi geografis dan wawasan (pertahanan, ekonomi, sosial dan budaya) misal Kawasan Teluk Tomini. Pelaksanaan ocean governance harus mampu menjawab tantangan terhadap perkembangan yang pesat sesuai dengan perubahan kepentingan negara terhadap dinamika isu-isu domestik dan global. Fungsi pemerintah dimulai dari fungsi pada pengaturan hubungan internasional dalam menjamin kepatuhan pada perjanjian internasional; fungsi

2.

3. 4. 5.

6. 7.

8.

9.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

90

keamanan nasional sebagai pertahanan negara; fungsi perdagangan antar wilayah, regional dan internasional; fungsi hak kepemilikan yang menjamin manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat; fungsi penegakan hukum yang menjamin kepentingan publik dan upaya pencegahan konflik; dan fungsi kepercayaan dari masyarakat yang menjamin keberlanjutan pembangunan demi kebutuhan generasi mendatang. 4.2. Rekomendasi 1. Di butuhkan kemauan politik untuk meninggalkan kepentingan sektor oleh seluruh unsur bangsa baik di legislatif, eksekutif, yudikatif agar tujuan utama yang ingin dicapai dalam pemantapan ocean governance merupakan suatu keterpaduan dari pembangunan di berbagai sektor oleh segenap tingkat pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, yang diarahkan untuk mencapai sasaran pemanfaatan laut secara keseluruhan. Perlunya dilakukan perubahan-perubahan beberapa perundang-undangan yang tidak sejalan dan menghambat lahirnya organisasi baru ini, untuk kemauan politik eksekutif dan legislatif yang diharapkan. Secara bertahap membentuk lembaga tunggal yang mampu dan mempunyai akses organisasi sampai pada tingkat daerah. Kedudukannya merupakan lembaga permanen, karena daerah dinilai bahwa banyak sekali masalah kemaritiman di daerah yang bersifat lintas sektor yang harus ditangani dan diselesaikan Organisasi Kelembagaan baru ini merupakan otoritas maritim yang sangat strategis dalam rangka pembentukan suatu ocean governance, guna terwujudnya negara maritim Indonesia yang tangguh dan disegani. Oleh karena itu operasionalisasi di tingkat otoritas kawasan maritim tidak dapat dilimpahkan kepada pemerintahan di daerah. Kelembagaan otoritas kawasan maritim ini merupakan perpanjangan tangan dalam mengeimplementasikan kebijakan-kebijakan maritim yang dkembangkan atas dasar prinsip-prinsip kesatuan dan persatuan nasional. Jadi diharapkan adanya kemauan politik dari pemerintah daerah dalam unsur pengintegrasi pembangunan antar wilayah-wilayah administratif yang di era otonomi diakui cenderung kebablasan menuju federalisasi.

2.

3.

4.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

91

DAFTAR

PUSTAKA

Atmosoeprapto, K., 2001, Produktivitas Aktualisasi Budaya Perusahaan, Gramedia, Jakarta. Bastian, Indra, 2001, Akuntansi Sektor Publik Di Indonesia, BPFE, Yogyakarta. Eaton, Joseph W., 1972, Institution Building and Development: from Concepts to Application, Sage Publications, Inc., Beverly Hills, California. Esman, Milton J., 1972, Unsur-unsur dari Pembangunan Lembaga dan Pembangunan Nasional, Terjemahan Pandam Guritno dan Aldi Jeni, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Gomes, Faustino Cardoso, 1995, Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit Andi, Yogyakarta. Handoko, T. Hani, 1995, Manajemen, BPFE, Yogyakarta. Irianto, Jusuf, 2001, Tema-tema Pokok Manajemen Sumber Daya Manusia, Insan Cendekia, Surabaya. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, 1999, Pedoman Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Pelaporan

Lynch, L. Richard dan Kelvin F. Cross, 1993, Performance Measurement System: Hand Book Of Cost Management, Warren Gorham Lamont, New York. McMann, Paul dan Alfred J. Nanni, 1994, Is Your Company Really Measuring Performance, Prentice Hall, Ne Jersey. Notoatmodjo, Soekidjo, 1998, Pengembangan Sumber Daya Manusia, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Rachbini, J. Didik, 2000, Pembangunan Ekonomi Sumber Daya Manusia, Gramedia, Jakarta. Reksohadiprodjo, Sukanto, dan T. Hani Handoko, 1997, Organisasi Perusahaan: Teori, Struktur dan Perilaku, BPFE, Yogyakarta. Robbins, P. Stephen, 1996, Organizational Behavior: Concepts, Controversies, Applications, Prentice-Hall International, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey. Ruky, S. Achmad, 2001, Sistem Manajemen Kinerja: Panduan Praktis Untuk Merancang dan Meraih Kinerja Prima, Gramedia, Jakarta Singarimbun, M., dan Sofian Effendi, 1989, Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta. Soesilo, I. Nining, 2000, Reformasi Pembangunan dengan Langkah-Langkah Manajemen Strategik, Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, FE-UI, Jakarta. Sugandha, Dann, 1988, Koordinasi: Alat Pemersatu Gerak Administrasi, Intermedia, Jakarta. Sutarto, 1998-a, Dasar-dasar Organisasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

92

Sutarto, 1998-b, Dasar-Dasar Kepemimpinan Administrasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Susanto, 1997, Budaya Perusahaan, Gramedia, Jakarta. Steers, M. Richard, 1977, Organizational Effectiveness: A Behavioral View, Goodyear Publishing Company Inc., Santa Monica, California. Terry, George R., 1972, Principles Of Management, Richard D. Irwin Homewood, Illinois.

Thoha, Miftah, 1983, Administrasi Kepegawaian Daerah, Ghalia Indonesia, Jakarta.
————, 1993, Pembinaan Organisasi: Proses Diagnosa dan Intervensi, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tjokrowinoto, M., dkk, 2001, Birokrasi dalam Polemik, Pustaka Pelajar dan Pusat Studi Kewilayahan Universitas Muhammadiyah Malang, Yogyakarta. Usmara, A., 2002, Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia, Amara Books, Yogyakarta. Widodo, Erna dan Mukhtar, 2000, Konstruksi Ke Arah Penelitian Deskriptif, Avyrrous, Yogyakarta. Yuwono, Sony, Edy Sukarno, Muhammad Ichsan, 2002, Petunjuk Praktis Penyusunan Balance Scorecard: Menuju Organisasi Yang Berfokus Pada Strategi, Gramedia, Jakarta. United Nations Conference on Trade dan Development, 2000, Review of Maritime Transport, New York and Geneva. Dewan Maritim Indonesia, 2000, Pokok-Pokok Pemikiran Pembangunan Maritim, Jakarta. Dewan Maritim Indonesia, 2001, Sosialisasi Visi, Misi dan Kegiatan DMI, Jakarta. Dewan Maritim Indonesia, 2001, Direktori Dewan Maritim Indonesia Menuju Membangun Negara Maritim, Jakarta. Yayasan Pendidikan Maritim Indonesia, Pembenahan Sistem Dan Politik Hukum Dengan Fokus Pembenahan Aturan Kemaritiman Dan Implementasi Penegakan Hukum Di Laut/Maritim, Kertas Kerja , Batam Centre, 2006.

Laporan Perumusan Kebijakan Kelembagaan Tata Pemerintahan di Laut

93


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2709
posted:11/13/2009
language:Indonesian
pages:99