Produksi Ternak Potong ( pokok bahasan 2 )

Document Sample
Produksi Ternak Potong ( pokok bahasan 2 ) Powered By Docstoc
					Tatap muka ke 4 & 5
                                POKOK BAHASAN III

    III. KOMPARATIF SIFAT REPRODUKSI, FISIOLOGI PERTUMBUHAN DAN
                      STRUKTUR ALAT PENCERNAAN


Tujuan Instruksional Umum :
    Memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang karakteristik setiap
      komoditi ternak potong.

Tujuan Instruksional Khusus :
    Memberikan pengertian tentang perbedaan karakteristik perbedaan sifat
      reproduksi, fisiologi, pertumbuhan dan struktur alat pencernaan komoditi
      ternak potong ditinjau dari aspek produksi.

Uraian Materi :

      Ditinjau dari aspek produksi, khususnya ternak potong sebagai penghasil
daging, produktivitas ternak potong dipengaruhi oleh :
    Potensi Reproduksi, dapat diketahui dari indikator : umur pubertas, siklus
      estrus, masa birahi, gejala birahi, masa bunting, interval kelahiran, menopause
      (klimakterium) dan litter size (jumlah anak sekelahiran).
    Karakteristik reproduksi ini sulit untuk dimanipulasi, sehingga potensi
      reproduksi dianggap sebagai faktor pembatas dalam pengembangan populasi
      ternak. Misalnya ternak sapi, masa bunting 283 hari, post partum mating 3 – 6
      bulan, CI nya 12 – 15 bulan, jumlah anak sekelahiran 1, maka paling produktif
      seekor induk hanya menghasilkan satu ekor anak per tahun.
    Potensi reproduksi untuk setiap komoditi ternak potong dapat dilihat pada tabel
      berikut :
                                                                                     27




Tabel 2. Komparatif sifat reproduksi pada berbagai ternak potong

    Indikator reproduksi     Kelinci    Babi    Domba   Kambing     Sapi   Kerbau
  Pubertas (bl)               3-4       5-6      6-8      6-8      18-24     + 24
  Siklus estrus (hr)        Induced    18-24    17-22    17-23      + 21     + 21
  Masa bunting (hr)           + 30     + 114    + 150    + 150     + 283   303-310
  Interval kelahiran           2        5-6      +8       +8       12-18    18-24
  intensif (bl)
  Litter size (ekor)        S/d 12     S/d 12   S/d 3    S/d 3      1        1
  Asumsi produktivitas      S/d 60     S/d 24   S/d 5    S/d 5      1        1
  anak / th (ekor/induk)
  Ranking       kecepatan      1         2       3-4      3-4       5        6
  perkembangan
  populasi

    Usaha yang dapat dilakukan untuk memanipulasi karakter reproduksi antara
       lain :
        Menentukan komoditi yang sesuai untuk tujuan usaha,
        Penentuan saat perkawinan dan metode perkawinan yang tepat,
        Mengusahakan jarak kelahiran yang pendek tetapi tidak mengganggu
           kondisi induk,
        Mengusahakan jumlah anak (litter size) yang maksimal dengan persen
           kematian minimal sehingga natural increase dan angka panen mencapai
           persen yang tinggi.
    Antar komoditi ternak potong, ternyata memiliki data yang berbeda dalam
       kinerja pertumbuhannya. Sebagai contoh laju pertumbuhan harian ternak
       kelinci 10 - 20 gram, ternak kelinci pada umur 4 bulan (BB 2 – 3 kg) dapat
       dipotong, pada domba / kambing umur 12 – 18 bulan (BB 15 – 20 kg) dan
       ternak sapi umur 3 – 4 tahun (400 – 500 kg) sudah layak dipotong.
    Potensi pertumbuhan yang berbeda antar komoditi ternak, dapat digunakan
       sebagai bahan pertimbangan dalam memilih ternak potong yang paling tepat
       untuk dikembangkan pada suatu wilayah tertentu.
    Pertumbuhan normal yang berbentuk huruf S (Sigmoid) berlaku untuk semua
       komoditi ternak potong, tetapi pencapaian kurve tersebut berbeda antar
       komoditi.
                                                                                28




    Meskipun kondisi lingkungan dibuat seideal mungkin (termasuk pakan),
      pencapaian laju pertumbuhan dan kurve pertumbuhan tersebut tidak akan
      melampaui batas angka tertentu sesuai dengan sifat genetiknya.
    Pada batas tertentu (dewasa tubuh), umur dan berat tertentu, laju
      pertumbuhan ternak tidak akan meningkat lagi, misalnya ADG maksimum
      pada kelinci dicapai sebesar 30 gram, domba / kambing 20 gram dan untuk
      sapi 1 kg.


Komparatif struktur alat pencernaan
      Pembagian ternak potong menjadi ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing)
dan non ruminansia (babi, kelinci) didasarkan atas perbedaan struktur alat
pencernaannya. Berdasarkan spesies, perbedaan struktur alat pencernaan dan
karakteristik setiap komoditi ternak potong, dibagi seperti pada gambar 1.
berdasarkan pembagian tersebut, setiap pengembangan ternak potong harus
memperhatikan karakteristik setiap individu ternak potong, baik perbedaan struktur
alat pencernaan maupun karakteristik reproduksinya serta potensi pertumbuhan dari
setiap komoditi ternak tersebut.


                                      Ternak Potong




             Ternak Non Ruminansia                    Ternak Ruminansia
             (monogastrik)                             (poligastrik)


      pseudo          non ruminasi     ternak besar        ternak kecil
      ruminasi        (babi)           (kerbau, sapi)   (kambing, domba)
      (kelinci)

                   caecum degenerasi
caecum 45% dari tractus                      rumen, retikulum, omasum
digestivus                                                 abomasum

                     Gambar 1. Skema pembagian ternak potong
                                                                                29




      Pada ternak ruminansia, struktur alat pencernaan adalah poligastrik dengan
keistimewaan keberadaan mikroba (bakteri, protozoa), dan fungi terutama pada
rumennya. Mikroba khususnya bakteri cellulolitic, hemo cellulolitic bacteria mampu
memfermentasi bahan pakan berserat (serat kasar) dan bahan pakan lain menjadi
volatile fatty acid (VFA) yang kemudian diabsorbsi oleh ternak. Berdasarkan
mekanisme tersebut, ruminansia mampu memanfaatkan serat kasar, sedangkan
pada ternak non ruminansia (babi dan kelinci) struktur alat pencernaannya adalah
monogastrik berupa ventrikulus yang hampir tidak ada mikrobia seperti pada
ruminansia. Kondisi ini menyebabkan ternak non ruminansia tidak mampu
menggunakan pakan berserat kasar (rumput tua, jerami dll.)




             Gambar 2. Struktur saluran pencernaan pada ruminansia
                                                                                  30




      Perbedaan    struktur   alat   pencernaan   antar   komoditi   ternak   potong
menampilkan perbedaan proses dan mekanisme pencernaan dalam saluran
pencernaan (mis. Ventriculus pada babi vs rumen pada sapi), sehingga tidak
mungkin ternak babi yang diberi pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi
dapat tumbuh dengan optimal. Sebaliknya pada ternak ruminansia (sapi, kerbau,
kambing dan domba) dapat memanfaatkan pakan dengan serat kasar yang tinggi
(rumput), dan dapat tumbuh dengan baik.

      Antara ternak babi dan kelinci juga mempunyai perbedaan yang prinsip karena
kelinci memiliki caecum yang relatif besar (45% dari saluran pencernaan), sebaliknya
caecum babi mengalami degradasi (rudimentair). Pada caecum kelinci terjadi
fermentasi mikrobia yang menghasilkan asam-asam amino (protein) dan vitamin B,
sehingga pada ternak kelinci, fesesnya yang basah (soft faeces) mengandung asam
amino dan vitamin B. Apabila ternak kelinci dalam pakannya kekurangan protein /
vitamin B, maka soft faeces akan dimakan. Mekanisme ini disebut coprophagy,
sehingga sering kelinci disebut pseudo ruminansia (melakukan pseudo ruminasi).

Sistem Digesti

       Kelinci termasuk pseudoruminant yaitu herbivora yang tidak dapat mencerna
serat kasar dengan baik. Kelinci memfermentasikan pakan di coecum yang kurang
lebih 50% dari seluruh kapasitas saluran pencernaannya (Sarwono, 2001).

       Menurut Arrington dan Kelly (1986), kelinci termasuk pseudoruminant tetapi
sistem digestinya tidak berfungsi seperti ruminant dan alat pencerna makanannya
mempunyai karakteristik hewan monogastrik. Perut kelinci terdiri dari 3 bagian yaitu
bagian cardiac di dekat oesophagus, fundus di sebelah kiri bagian cardiac dan
pylorus di dekat usus halus. Volume perut adalah 36% dari total volume saluran
pencernaan, pH di dalam perut adalah 1.9. Coecum adalah segmen paling besar dari
saluran pencernaan besarnya 42% dari total volume.

       Menurut Blakely dan Bade (1991), sistem pencernaan kelinci merupakan
sistem pencernaan yang sederhana dengan coecum dan usus yang besar. Hal ini
memungkinkan kelinci dapat memanfaatkan bahan-bahan hijauan, rumput dan
                                                                                31




sejenisnya. Bahan-bahan itu dicerna oleh bakteri di saluran cerna bagian bawah
seperti yang terjadi pada saluran cerna kuda. Kelinci mempunyai sifat coprophagy
yaitu memakan feses yang sudah dikeluarkan. Feses ini berwarna hijau muda dan
lembek. Hal ini terjadi karena konstruksi saluran pencernaannnya sehingga
memungkinkan kelinci untuk memanfaatkan secara penuh pencernaan bakteri di
saluran bagian bawah atau yaitu mengkonversi protein asal hijauan menjadi protein
bakteri yang berkualitas tinggi, mensintesis vitamin B dan memecah selulose/ serat
menjadi energi yang berguna.

FISIOLOGI PENCERNAAN MONOGASTRIK DAN POLIGASTRIK

      Berdasarkan alat pencernaannya atau tipe lambung yang dimilikinya, hewan
dibagi dalam dua kelompok yakni : hewan monogastrik dan hewan poligastrik. Hewan
monogastrik adalah hewan-hewan yang memiliki lambung sederhana atau lambung
tunggal seringkali disebut hewan non- ruminansia. Sedangkan hewan poligastrik
adalah hewan-hewan yang mempunyai lambung jamak atau banyak, yaitu
mempunyai empat bagian lambung rumen, retikulum, omasum, dan abomasum
disebut juga hewan ruminansia.

      Hewan monogastrik dapat pula dibedakan berdasarkan makanan utamanya,
atau kebiasaan makan dan jenis makanan yang dikonsumsinya, yaitu karnivora
(hewan pemakan daging) contohnya anjing dan kucing ; hewan omnivora (hewan
pemakan tumbuhan dan hewan) contohnya babi dan ayam ; dan hewan herbivora
(hewan pemakan tumbuhan) contonya kuda dan kelinci.Hewan-hewan herbivora
(pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah
biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan
kompleks. Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh
hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem
pencernaan hewan lain.

      Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan ruminansia, tampak
pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi
untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna. Di samping itu, pada hewan
                                                                                    32




ruminansia terdapat modifikasi lambung yang dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu:
rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab), dan abomasum
(perut masam).

      Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan
alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasums 7-
8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot spingter berkontraksi.
Abomasum merupakan lambung yang sesungguhnya pada hewan ruminansia.

      Hewan herbivora, seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur
lambung seperti halnya pada sapi untuk fermentasi selulosa. Proses fermentasi atau
pembusukan yang dilakukan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banvak
mengandung bakteri. proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang
terjadi dilambung. Akibatnya, kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena
pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yaitu pada sekum. Sedangkan pada
sapi, proses pencernaan terjadi dua kali, yaitu pada lambung dan sekum keduanya
dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

      Adanya bakteri selulotik pada lambung hewan memamah biak merupakan
bentuk simbiosis mutualisme yang dapat menghasilkan vitamin B serta asam amino.
Di samping itu, bakteri ini dapat ,menghasilkan gas metan (CH4), sehingga dapat
dipakai dalam pembuatan biogas sebagai sumber energi altematif.

      Kelinci dewasa menyerap protein (sampai 90%) di usus halus mereka, namun
tergantung pada sumbernya. Protein dari alfalfa, sebagai contohnya, tidak dapat
dicerna oleh kelinci. Kelinci sangat payah dalam hal mencerna selulosa (Fraga 1990)
hal ini merupakan paradoks bagi hewan pemakan tumbuhan. Daya cerna yang lemah
terhadap serat dan kecepatan pencernaan kelinci untuk menyingkirkan semua
partikel yang sulit dicerna menyebabkan kelinci membutuhkan jumlah makanan yang
besar (Sakaguchi 1992)

      Proses pencernaan dimulai di mulut, dimana makanan akan diremukkan oleh
gigi. Ketika seekor kelinci makan, ia akan mengunyah kira- kira 300 kali dan
mencampurkannya dengan liurnya. Ketika makanan sudah terasa halus, kelinci akan
                                                                                    33




menelan makanan melewati kerongkongan dan makanan akan berpindah ke
lambung, disana kontraksi otot akan meremas dan memutar makanan, memisahkan
partikel-partikel dan mencampurkan mereka dengan cairan lambung. Namun fungsi
utama lambung sendiri sebagai organ penyimpanan dan sterilisasi sebelum makanan
dipindah ke usus halus.

      Bagian penting dari pencernaan baru akan dimulai di usus halus, dimana asam
lambung dineutralisir dan enzim-enzim dari hati dan pankreas dicampur dengan
makanan. Enzim ini penting untuk mencerna dan menyerap karbohidrat, protein,
lemak dan vitamin. Kemudian 90% fruktosa, protein, dan sari-sari makanan lain akan
diserap, namun selulosa dan serat lain yang tidak dapat dicerna dengan baik
(termasuk kulit pohon yang sering digerogoti kelinci maupun serat yang ada di pellet
mereka) akan disingkirkan.

      Dalam cecum, bakteri akan mencerna selulosa, hampir semua jenis gula, sari-
sari makanan dan protein berlebih yang tidak tercerna di usus halus. Setiap 3 sampai
8 jam cecum akan berkontraksi dan memaksa material yang ada di dalamnya untuk
kembali ke usus besar, dimana sisa-sisa tersebut akan dilapisi oleh lendir, dan
berpindah ke anus. Sisa-sisa ini akan menjadi kotoran yang berbentuk seperti anggur
hitam kecil-kecil yang disebut “cecothropes” atau “cecal pills”. Untungnya, proses ini
lebih sering terjadi dimalam hari. Kelinci biasanya akan memakan cecothropesnya
kembali langsung dari anus untuk mencerna kembali sari-sari makanan yang tidak
tercerna tadi dan menerima nutrisi yang lebih banyak. Meski terlihat sangat
menjijikan, proses ini sangat penting bagi pencernaan kelinci dan menjaga agar
kelinci tetap sehat! Sedangkan partikel-partikel besar dari serat yang tidak tercerna
yang dibuang ke usus besar akan membentuk kotoran keras berbentuk bundar (fecal
pills). Cecal pills berbentuk anggur dan sedikit basah karena terbentuk dari sisa-sisa
makanan dan partikel serat kecil. Fecal pills berbentuk bulat dan keras karena
terbentuk dari serat kasar dan dibuang secara melingkar. Maka, ketika fecal pills ini
terlihat lembek (apalagi berair) hal itu dapat berarti terdapat kondisi tidak normal
dalam pencernaan kelinci.
                                                                                  34




SISTEM PENCERNAAN KUDA

      Kuda merupakan ternak Non ruminansia. Hal ini disebabkan oleh sistem
pencernaan enzimatik terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pencernaan
fermentatif. Kuda memiliki kemampuan untuk memanfaatkan hijauan dalam jumlah
yang cukup dengan proses fermentatif di bagian caecum. Saluran pencernaan kuda
memiliki ciri khusus yaitu ukuran kapasitas saluran pencernaan bagian belakang lebih
besar di bandingkan bagian belakang. Alat pencernaan adalah organ-organ yang
langsung berhubungan dengan penerimaan, pencernaan bahan pakan dan
pengeluaran sisa pencernaan atau metabolisme. Berikut penjelasan secara umum
maupun khusus dari alat dan fungsi pencernaan kuda:

Rongga Mulut (mouth).

      Mulut merupakan bagian pertama dari sistem penmcernaan yang mempunyai
3 fungsi yaitu mengambil pakan, pengunyahan secara mekanik dan pembasahan
pakan dengan saliva. Di dalam rongga mulut terdapat organ pelengkap yaitu lidah,
gigi, dan saliva. Lidah merupakan alat pencernaan mekanik. Kuda dapat menyeleksi
                                                                                   35




pakan yang dimakan dikarenakan adanya bungkul-bungkul pengecap pada lidah dan
terbanyak terdapat di daerah dorsum lidah dibandingkan bagian lain dengan cara
merasakan pakan yang dimakan. Gigi adalah organ pelengkap yang secara mekanik
relative kuat untuk memulai proses pencernaan. Gigi juga digunakan untuk
menentukan umur umur dengan melihat : penyembulan (erupsi), pergantian
sementara, bentuk dan dan derajat keausan gigi. Saliva kuda mengandung elektrolit
utama yaitu Na+, K+, Ca2+, Cl-, HCO2-, HPO4- serta tidak atau sedikit sekali
mengandung amylase. Saliva dihasilkan oleh 3 pasang kelenjar yaitu kelenjar parotis,
kelenjar mandibularis, kelenjar sublingualis. Saliva berfungsi sebagai pelicin dalam
mengunyah dan menelan pakan dengan adanya mucin, mengatur temperatur rongga
mulut, pelindung mukosa mulut dan detoksikasi.

Pharynx dan Esofagus

       Pharynx adalah penyambung rongga mulut dan esophagus. Esophgagus
mempunyai panjang kira-kira 50-60 inchi. Pada pharynx dan esofagus tidak terjadi
pencernaan yang berarti.

Lambung

       Lambung kuda relatif lebih kecil dibandingkan ternak lain terutama ternak
ternak ruminansia. Kapasitas lambung kuda antara 8-15 liter atau hanya 9% dari total
kapasitas saluran pencernaan. Proses pencernaan yang terjadi di daerah lambung
tidak semurna dikarenakan aktivitas mikroorganisme sangat terbatas dimana
populasi bakteri relati rendah, waktu tinggal pakan di lambung hanya sebentar sekitar
30menit, dan hasil proses fermentatif adalah asam laaktat bukan VFA.

Pankreas

       Kuda memiliki perbedaan yang spesifik dari segi cairan pankreas dengan
ternak lain yaitu konsentrasi enzim dan kadar HCO3 rendah. Bagian pankreas kuda
terdiri dari endokrin dan eksokrin.
                                                                                 36




Usus Kecil

       Usus kecil merupakan tempat utama untuk mencerna karbohidrat, protein dan
lemak serta tempat absorbsi vitamin dan mineral. Kapasitas usus kecil adalah
30%.dari seluruh kapasitas saluran pencernaan kuda. Usus kecil terdiri dari tiga
bagian yaitu: duodenum, jejenum, dan ileum. Proses pencernaan di usus kecil kecil
adalah proses pencernaan enzimatik. Beberapa enzitersebut adalah peptidase,
dipeptidase, amylase, dan lipase.

Usus Besar

       Usus besar terdiri dari caecum, colon, rektum. Caecum dan colon memiliki
kapasitas 60% dari keseluruhan saluran pencernaan yang mempunyai fungsi 1)
tempat fermentasi dengan hasil berupa VFA, 2) Sintesa Asam Amino, Vit B & K, 3)
Tempat utama mencerna neutral detergen fiber (NDF), 4) asam laktat dari lambung
dengan adanya Veilonella gazagones akan dirubah menjadi VFA.

       Produksi dan proses pencernaan fermentatif di usus besar tidak semuanya
dapat dimanfaatkan karena posisi yang dibelakang setelah usus halus kecil, sehigga
hanya sekitar 25% hasil fermentatif di usus besar yang dapat diserap kembali ke
usus kecil atau dimanfaatkan oleh tubuh. Sedangkan rektum merupakan tempat
utama penyerapan air kembali. Proses pencernaan dari mulut sampai terbuang
sebagai feses dari 95 % pakan yang dikonsumsi membutuhkan waktu 65-75 jam.

SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA RUMINANSIA

       Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen, Retikulum,
Omasum dan Abomasum

       Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu
terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur
alat pencernaan kadang-kadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan
yang lain.

       Berdasarkan susunan gigi, terlihat bahwa sapi (hewan memamah biak) tidak
mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih
                                                                                        37




banyak dibandingkan dengan manusia sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah
makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50%
selulosa.

      Jika dibandingkan dengan kuda, faring pada sapi lebih pendek. Esofagus
(kerongkongan) pada sapi sangat pendek dan lebar serta lebih mampu berdilatasi
(mernbesar). Esofagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan
sekitar 5 cm.

      Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut.
Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang
akan dimamah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses
pembusukan dan fermentasi.

      Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum,
dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan
alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-
8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk tonjolan pada saat otot sfinkter berkontraksi.




                           Gbr. Saluran pencernaan sapi



      Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai
gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein,
polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh
bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke
                                                                               38




retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan
yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk
dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke
ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan
bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut
yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara
kimiawi oleh enzim.

      Selulase yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak
selulosa menjadi asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum
karena pH yang sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat
dicernakan untuk menjadi sumber protein bagi hewan pemamah biak. Dengan
demikian, hewan ini tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada manusia.
Asam lemak serta protein inilah yang menjadi bahan baku pembentukkan susu pada
sapi. Nah, inilah alasan mengapa hanya dengan memakan rumput, sapi dapat
menghasilkan susu yang bermanfaat bagi manusia.

      Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung
seperti pada sapi untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan
yang dilaksanakan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung
bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di
lambung. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses
pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum. Sedangkan pada
sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang
kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

      Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan
kembali. Kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan,
yang akan dicernakan lagi oleh kelinci.

      Sekum pada pemakan tumbuh-tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan
sekum karnivora. Hal itu disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar
                                                                                     39




dan proses pencernaannya berat, sedangkan pada karnivora volume makanan kecil
dan pencernaan berlangsung dengan cepat.

       Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal
itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).

       Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk
mencerna selulosa menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas
yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

       Tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum akan keluar dari tubuh
organisme bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung
bahan organik akan diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).

       Sumber : www.free.vlsm.org (dengan perubahan)

Sistem Reproduksi

       Sistem Reproduksi Hewan Jantan. Organ genitalia kelinci jantan menurut
Anonimus (1990), terdiri atas:

        Testis .Berbentuk bulat telur ,sepasang menghasilkan sperma .Ini berarti di
dalam scrotum setalah mengalami descencus testikulum .

        Epididymis. Setelah media testis melengkung dari cranial sepanjang testis
dan terdiri dari caput epididymis, cauda epididymis, ductus deferens dan ductus
ejakulatoris.

        Penis. Merupakan organ genetalia exsternal yang tersusun oleh corpus
cavernosum penis, corpus covernosum urethral dan preputium.

        Kelenjar Genitalia Maskulinus. Terdiri dari glandula prostata, uterus
masculinus, glandula vesikularis ,Glandula Balbourethrali dan glandula inguinalis.

       Sistem Reproduksi Hewan Betina. Organ genitalia kelinci betina menurut
Anonimus (1990) terdiri atas:

       Ovarium. Terdiri dari sepasang, terletak di sebelah caudal dari ren. Dalam
ovarium terdapat folikel graaf. Selain itu terdapat corpus luteum, bentuknya massif,
                                                                                    40




berwarna kuning yang dari folikel. Corpus luteum ini setelah terisi membentuk
hormon progesteron.

      Infundibulum. Merupakan pelebaran dari tubae yang berbentuk corong dekat
ovarium. Pada tepi terdapat rambut-rambut yang di sebut fibrae.

      Tubae. Merupakan saluran tipis berkelok-kelok dan merupakan lanjutan dari
infundibulum ke sebelah caudal serta pada rostralnya terjadi conceptio.

      Uterus. Uterus pada kelinci adalah uterus tipe bikornis yang berdinding tebal
dan merupakan tempat embrio melekat dengan perantara placenta .

      Vagina. Merupakan muara keluar sebagai icroitus vagina .

      Vulva. Vulva adalah bagian dari alat reproduksi merupakan celah diantara
labia mayora ,sedangkan labia minora terletak sebelah dalam labia mayora.

      Clitoris. Clitoris adalah alat kecil yang homolog dengan penis yang terdiri dari
corpus covernosum spoisum, clitoris, preputium dan glandula clitoris.

Latihan soal
   1. Jelaskan mengapa potensi pertumbuhan dapat digunakan sebagai bahan
      pertimbangan dalam memilih komoditi ternak potong untuk dikembangkan di
      suatu wilayah!
   2. Jelaskan perbedaan struktur alat pencernaan antara babi, kelinci dan sapi!
   3. Jelaskan yang anda ketahui tentang coprophagy!

RANGKUMAN SINGKAT
      Diantara berbagai komoditi ternak potong, terdapat perbedaan karakteristik
yang prinsip dalam hal struktur alat pencernaan, karakter reproduksi dan fisiologi
pertumbuhannya. Perbedaan tersebut ditinjau dari aspek produksi merupakan faktor
pembatas, yang implikasinya dapat berpengaruh terhadap strategi pengembangan
usaha ternak potong. Oleh karena itu dalam rangka proses produksi dan
pengembangan usaha ternak potong, penyesuaian terhadap komoditi yang cocok di
suatu wilayah perlu diperhatikan.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:1
posted:9/15/2013
language:
pages:15