Docstoc

Produksi Ternak Potong ( pokok bahasan 1 )

Document Sample
Produksi Ternak Potong ( pokok bahasan 1 ) Powered By Docstoc
					Tatap muka ke 2 & 3
                                                  POKOK BAHASAN II
           II. FAKTOR-FAKTOR YANG TERKAIT DENGAN PROSES PRODUKSI TERNAK POTONG


Tujuan Instruksional Umum              :

               Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses produksi ternak potong dan cara memanipulasi
                faktor-faktor tersebut untuk peningkatan produktivitas ternak potong.

Tujuan Instruksional Khusus :
          1.    Mengetahui produktivitas ternak potong ditinjau dari beberapa aspek.
          2.    Mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap produksi ternak potong.
          3.    Mengetahui indikator keberhasilan usaha penggemukan pada ternak potong (sapi).

Uraian Materi        :

          Produktivitas ternak adalah kemampuan dari seekor ternak dalam menghasilkan suatu produk, dalam hal
ini ternak potong menghasilkan produk berupa daging, anak, maupun produk yang lain. Peningkatan produksi
peternakan baik secara kualitas maupun kuantitas dimaksudkan untuk :

         Memenuhi kebutuhan pangan hewani masyarakat yang semakin meningkat dalam upaya meningkatkan
          kualitas pangan dan perbaikan gisi masyarakat.

         Memenuhi kebutuhan bahan baku peternakan bagi industri yang terus berkembang.

         Meningkatkan pendapatan devisa dari ekspor dan menekan penggunaan devisa impor bahan peternakan.

         Peningkatan produktivitas peternakan ini meliputi :

                o    Populasi ternak

                o    Produksi hasil ternak (daging, telur, susu, kulit, bulu dll)

                o    Konsumsi hasil ternak (daging, telur, susu)

                o    Income

                o    Perkembangan pelaksanaan IB

                o    Perkembangan penanaman HMT dan pemanfaatan limbah pertanian

                o    Kesehatan / pengamanan ternak.

          Dalam suatu usaha penggemukan ternak potong (sapi), banyak faktor yang harus diperhatikan agar
usaha yang dijalankan dapat berhasil dengan baik. Faktor-faktor tersebut antara lain :

         Faktor internal : berasal dari ternak sapinya sendiri yaitu bangsa, jenis kelamin, umur dan lain-lain.

         Bangsa : Sapi bangsa Shorthorn, Santa gertrudis mempunyai produksi daging dan laju pertumbuhan
          yang tinggi, tetapi daya adaptasi di daerah tropis kurang baik.

         Sapi Brahman mempunyai daya adaptasi yang baik di daerah tropis, tahan ekto parasit dan caplak, tetapi
          laju pertumbuhannya tidak setinggi kedua sapi di atas. Sapi ini juga sering digunakan sebagai sapi kerja.
                                                                                                               7




          Persilangan sapi Brahman, Shorthorn, Santa gertrudis dari Australia yang dikenal dengan Brahman cross
           (Bx) mampu beradaptasi di daerah tropis dengan baik dan mempunyai laju pertumbuhan lebih tinggi
           dibandingkan dengan sapi PO dan sapi Bali.

          Sapi PFH jantan mempunyai pertumbuhan yang tinggi.

BANGSA-BANGSA SAPI POTONG

           Perkembangan bioteknologi dibidang peternakan sudah sangat pesat sehingga saat ini bermunculan
beberapa bangsa sapi potong baru, baik berasal dari persilangan maupun rekayasa genetik. Semua bangsa sapi
potong yang ada di dunia ini memiliki klasifikasi zoologis sebagai berikut :

Filum                : Chordata ( hewan yang memiliki tulang belakang)

Kelas      : Mamalia ( hewan-hewan yang menyusui)

Ordo                 : Artiodaktili ( hewan berkuku/berteracak genap)

Sub ordo             : Ruminansia ( hewan memamah biak)

Famili               : Bovidae ( hewan dengan tanduk berongga)

Genus                : Bos ( pemamah biak berkaki empat)

Spesies              : 1. Bos Taurus, golongan sapi-sapi Eropa

                      2. Bos Indicus, golongan sapi-sapi berpunuk

                      3. Bos Sondaicus, golongan banteng (bos banteng)

          Jenis kelamin : pada pola pemeliharaan yang sama, sapi jantan lebih cepat tumbuh dari pada sapi betina
           pada bangsa yang sama. Sapi jantan lebih efisien dalam menggunakan pakan dibandingkan dengan sapi
           betina.

          Umur : sapi pada umur muda (1,5 – 3,5 tahun) mempunyai laju pertumbuhan yang lebih tinggi
           dibandingkan dengan sapi yang tua, sehingga untuk mendapatkan keuntungan yang besar, pada
           penggemukan sapi dipilih sapi yang masih muda.

          Faktor eksternal : faktor dari luar yang mempengaruhi produktivitas ternak sapi adalah : pakan (faktor
           utama), temperatur, kelembaban, gerakan mekanik, pengendalian penyakit, perawatan, perkandangan
           dan seleksi bakalan.

Secara fisik indikator keberhasilan usaha penggemukan (sapi potong) adalah :


               Tingginya laju pertumbuhan selama proses penggemukan, yang dapat dilihat dari gain ataupun ADG
                (Average Daily Gain).


               Terbentuknya jaringan badan yang dapat dikonsumsi sesuai selera konsumen (edible meat, organ
                dalam dll.).


               Angka konversi pakan efisien.
                                                                                                                       8




                 Nilai feed cost per gain yang rendah (ekonomis).


                 Produksi karkas, edible portion tinggi dan kualitas produk baik.


                 Mortalitas dan kasus penyakit rendah / jarang.

Secara ekonomis :


                 Efisiensi biaya pakan tanpa mengurangi kualitas pakan yang diberikan.


                 Pemilihan bakalan yang potensial.


                 Komponen yang mempengaruhi biaya produksi selain pemilihan bakalan perlu diperhatikan (kandang
                  dan bangunan lain) agar diperoleh keuntungan yang layak.


                 Faktor perencanaan dan studi kelayakan


                 Pemanfaatan tenaga kerja yang efisien.

          Produk utama ternak potong adalah daging (edible portion), dan ini ditentukan oleh kualitas maupun
kuantitasnya. Secara kualitas (mutu), daging yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh umur potong, perlakuan,
pakan, breed dan jenis kelamin. Kualitas daging ditentukan oleh banyak sedikitnya lemak marbling dan otot miofibril,
ini akan mempengaruhi tenderness (keempukan), flavour (bau), juiceness (rasa) dan warna.

          Secara kuantitas, jumlah produk daging dapat dilihat dari aspek :

         Perkembangbiakan sampai dengan dipotong (jumlah daging yang dihasilkan per unit per waktu tertentu).
          Hal ini dipengaruhi oleh fertilitas induk, conception rate, mortalitas induk, interval kelahiran, S/C, breeding
          load.

         Produksi edible portion (daging) per ekor per unit, yang ditentukan dari bobot potong, bobot karkas, bobot
          daging, bobot organ dalam dan meat bone ratio. Faktor-faktor tersebut sangat dipengaruhi oleh gain yang
          dihasilkan, FCR, feed cost per gain dll.

Volume produksi daging di Indonesia rendah karena :

                 Populasi ternak rendah, hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain ternak sapi masih
                  diusahakan dalam skala kecil, kepemilikan lahan terbatas, modal terbatas dan ternak sapi masih
                  merupakan bagian kecil dari seluruh usaha pertanian.

                 Produksi rendah, hal ini disebabkan karena tujuan pemeliharaan ternak tidak terfokus untuk produksi
                  daging, tetapi untuk beberapa tujuan sehingga produksi per unitnya rendah (ternak sapi sebagai
                  ternak potong dan ternak kerja), faktor bibit juga berpengaruh terhadap rendahnya produksi daging
                  serta pemberian pakan yang terbatas baik dalam kuantitas maupun kualitas.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk memperbaiki / meningkatkan produksi adalah :

                 Melalui perbaikan bibit
                                                                                                                9




              Melalui perbaikan pengelolaan : pakan, kesehatan dll.

Produktivitas ditinjau dari aspek pertumbuhan dan perkembangan jaringan

Sasaran : produksi daging atau edible portion per unit atau per ekor maksimal.

Produksi daging untuk setiap ekor ternak dipengaruhi oleh :

                   berat saat dipotong

                   berat badan kosong (empty body weight)

                   % berat karkas

                   % berat non karkas

                   jumlah daging

                   rasio daging tulang.

          Dari kepentingan konsumen, kualitas fisik dan kimia daging juga berpengaruh terhadap keuntungan
produsen (peternak).

          Besarnya produksi daging sangat dipengaruhi oleh bobot potong. Untuk mendapatkan bobot potong yang
tinggi, maka laju pertumbuhan harus tinggi.

Tujuan : - laju pertumbuhan maksimal

               -    berat karkas, edible portion / daging maksimal

               -    efisiensi produksi

               -    interaksi pertumbuhan dengan lingkungan

          Untuk mendapatkan produksi daging per ekor yang maksimal, maka manipulasi terhadap semua faktor
tersebut di atas perlu dilaksanakan, antara lain pemilihan ternak yang secara genetik mempunyai potensi
pertumbuhan baik, pencapaian bobot potong yang singkat, efisiensi pemberian pakan dan komposisi daging yang
tinggi.

Pertumbuhan

          Dalam rangka usaha ternak potong, pemahaman tentang pertumbuhan sangat penting, karena daging
sebagai produk utama ternak potong, kualitas dan kuantitasnya ditentukan oleh terbentuknya jaringan edible portion
terutama daging, melalui proses pertumbuhan. Proses pertumbuhan dan perkembangan dari semua jaringan tubuh
secara kumulatif dapat diukur dari pertambahan berat badan ternak.

          Pertumbuhan merupakan aktivitas yang penting dalam suatu usaha peternakan terutama pada ternak
penghasil daging. Pengertian pertumbuhan pada ternak potong dimulai pada saat terjadinya pembuahan yang
kemudian dilanjutkan dengan proses hiperplasia (peningkatan jumlah sel jaringan) dan hipertrofi (peningkatan
ukuran sel). Pada masa awal (dua pertiga masa kebuntingan) pertumbuhan didominasi oleh hiperplasia, sedangkan
sepertiga akhir masa kebuntingan didominasi oleh proses hipertrofi (peningkatan ukuran sel / serabut otot) dan
dilanjutkan pada periode post natal (sesudah kelahiran).
                                                                                                                 10




PROSES PERTUMBUHAN

          Proses pertumbuhan merupakan suatu proses pertambahan berat hidup pada seekor ternak yang dimulai
sejak terjadinya fertilisasi, yaitu saat bersatunya sel telur dengan spermatozoa sehingga terbentuk zygote, kemudian
tumbuh menjadi embrio, foetus, dan selanjutnya lahir sebagai anak serta berakhir pada saat mengalami kematian
yang alami sebagai akibat proses penuaan . Pada proses pertumbuhan dapat dibedakan dalam 2 (dua) pengertian,
yaitu :

a. Pertambahan (growth).

          Pertumbuhan dalam arti pertambahan (growth) mempunyai pengertian sebagai pertambahan yang
meliputi ukuran dan bobot dari suatu jaringan, misalnya jaringan daging, jaringan tulang dan jaringan syaraf. Dalam
proses pertambahan ini gejala pertumbuhan dari suatu organ atau individu ditandai dengan sel-selnya bertambah
banyak jumlahnya (proses perbanyakan sel) yang sering disebut dengan istilah hyperplasia dan bertambah besar
sel-selnya atau proses prubahan bentuk sel, yang disebut dengan istilah hyperthropia.

b. Perkembangan (development)

          Pertumbuhan dalam arti perkembangan (development) mempunyai pengertian sebagai perubahan dari
bentuk badan (body shape) atau konformasinya. Hal ini dapat terlihat jelas pada mahluk berderajad tinggi, misalnya
perkembangan mental yang diikuti dengan perkembangan bentuk tubuhnya. Dengan kata lain, secara singkat
proses perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan bentuk, struktur dam konformasinya.

          Pola pertumbuhan secara keseluruhan, yaitu sejak fase embrional sampai dengan pertumbuhan yang
maksimum yaitu pada saat dicapainya dewasa tubuh merupakan proses yang cepat dan mempunyai pola yang
tetap dan apabila digambarkan dalam suatu diagram atau kurva maka akan berbentuk sigmoid ( letter S; S Shape
Curve). Kurva sigmoid akan dapat terjadi apabila seekor ternak tumbuh dalam lingkungan yang optimal, namun
apabila seekor ternak yang pada waktu masih muda pernah mengalami kekurangan makanan, maka
pertumbuhannya akan terhambat dan pertambahan berat badannya rendah, sehingga kurva sigmoid tidak akan
tercapai. Kurva sigmoid tersebut dapat digambarkan apabila dilakukan penimbangan berat badan dari seekor ternak
pada selang waktu tertentu dan perubahan berat badan tersebut digambar dalam suatu diagram maka akan terlihat
sebagai kurva yang berbentuk sigmoid.

B. FASE-FASE PERTUMBUHAN

          Pada proses pertumbuhan yang berlangsung mulai dari saat fertilisasi sampai dengan ternak mengalami
kematian sebagai akibat proses penuaan dapat terbagi dalam 3 (tiga) fase berdasarkan pada kecepatan
pertumbuhannya, yaitu :

     1.   Fase stasioner/ fase initial/ fase latent.

          Pada fase ini dimulai dari masa embrional sampai dengan foetus berumur 2/3 masa kebuntingan, misalnya
untuk sapi sampai foetus berumur 6 bulan dalam kandungan. Dalam fase ini belum terlihat dengan jelas
pertumbuhannya apabila dibandingkan dengan pertumbuhan secara keseluruhan akan tetapi persentase kecepatan
tumbuh (persentage growth rate) adalah tinggi. Hal ini disebabkan bahwa walaupun rata-rata pertambahan berat
harian (Average Daily Gain) relatif rendah tetapi berat hidupnya juga rendah sehingga perbandingan antara rata-rata
pertambahan berat harian (Average Daily Gain) dengan berat hidupnya menjadi tinggi.

2. Fase eksponensial/ fase logaritmis.
                                                                                                              11




          Fase ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu (a) bagian pertama, dimulai dari umur foetus 1/3 akhir masa
kebuntingan sampai dengan dicapainya umur dewasa kelamin (pubertas), misalnya pada sapi dari umur 3 bulan
menjelang lahir sampai dengan umur pubertas yaitu 7-8 bulan. Pada fase bagian ini merupakan fase pertumbuhan
yang memiliki kecepatan tumbuh paling cepat sehingga dapat dilihat dengan jelas kecepatan pertumbuhannya.
Pada umumnya rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) maksimum dicapai pada saat
menjelang pubertas yang disebut maximum growth rate, (b) bagian kedua, dimulai saat pubertas sampai
tercapainya ukuran tubuh yang maksimal, yaitu pada sapi sampai umur 7-8 tahun. Pada fase bagian ini merupakan
fase yang proses pertumbuhannya berangsur-angsur kecepatannya berkurang sampai suatu saat tidak terjadi
proses pertumbuhan.

          Rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) akan mencapai titik nol (ADG = 0) pada
saat dewasa tubuh maksimum dan pada saat itulah ternak tidak mengalami kenaikan berat badan lagi bahkan dapat
terjadi penyusutan berat badan. Pada fase eksponensial/logaritmis ini grafik persentase kecepatan tumbuh
(persentage growth rate) menunjukan kecenderungan menurun dan hal ini disebabkan meskipun rata-rata
pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) besar tetapi berat hidupnya mempunyai kenaikan yang lebih
besar dibandingkan dengan Rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) itu sendiri.

3. Fase regresi.

          Fase ini merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya dan berakhir sampai dengan terjadinya kematian
yang alami. Pada fase ini tidak terjadi pertumbuhan, bahkan memungkinkan terjadi adanya suatu penyusutan berat
atau ukuran sehingga dikatakan fase regresi. Setelah pertumbuhan maksimum dicapai, maka proses pertumbuhan
dapat dikatakan berhenti tetapi dilanjutkan dengan proses lain dari kehidupan yang meliputi proses regenerasi,
reparasi, reproduksi, dll. Pada saat berat maksimal dicapai, berat tersebut bertahan sampai kemudian berkurang
dan apabila mulai berumur sangat tua terlihat mengalami penyusutan berat yang nyata dan saat itulah terjadi
kecepatan pertumbuhan yang negatif.

          Proses pertumbuhan apabila ditinjau dari ruang lingkup kehidupan ternak, maka dapat dibagi dalam 2
(dua) periode waktu yaitu :

     1.   Pertumbuhan pre-natal.

          Pertumbuhan pre-natal merupakan pertumbuhan pada periode waktu selama masih embrio, yang
kemudian tumbuh berkembang menjadi foetus. Dengan kata lain, pertumbuhan pre-natal merupakan pertumbuhan
pada periode waktu hidup dalam kandungan. Pada periode ini pertumbuhan foetus yang terbesar mulai dari 2/3
akhir masa kebuntingan, oleh karena itu hendaknya mulai saat itu pemberian makanan induk diusahakan sebaik
mungkin karena pada pertumbuhan pre-natal ini banyak dipengaruhi oleh kondisi induk melalui fungsi dari placenta.
Sebagai contoh pada induk ternak perah yang sedang bunting akan dilakukan suatu periode kering kandang (tidak
diperah) mulai umur kebuntingan 7 bulan dengan maksud agar air susu tidak diperah lagi dan energi dari air susu
dipergunakan untuk memulihkan kondisi serta untuk mensuplai makanan foetus yang relatif pertumbuhannya cepat.

2. Pertumbuhan post-natal

          Pertumbuhan post-natal dimulai dari saat dilahirkan sampai dengan terjadinya kematian secara alami.
Pada saat lahir sampai dengan saat penyapihan terjadi pertumbuhan yang relatif cepat dan kemudian setelah umur
sapih mengalami penurunan sedikit. Kecepatan pertumbuhan anak sejak dilahirkan sampai dengan disapih sangat
bergantung kepada atau banyak ditentukan oleh produksi air susu induk, disamping adanya pengaruh dari
                                                                                                               12




makanan dan lingkungan. Dengan kata lain, pertumbuhan selama periode laktasi banyak dipengaruhi oleh faktor
induk (maternal factor). Pada saat menjelang dewasa kelamin (pubertas) terjadi pertumbuhan yang cepat kembali,
sedang pada saat menjelang dewasa tubuh (mature), laju pertumbuhan relatif lambat dan sesudah itu pemeliharaan
ternak potong pada umumnya sudah tidak menghasilkan kenaikan berat badan lagi. Pada ternak sapi dewasa
kelamin (pubertas) dicapai pada umur lebih kurang 8 bulan, sedangkan dewasa tubuh (mature) dimana maksimum
ukuran tubuhnya tercapai yaitu kira-kira pada umur 6-8 tahun.

C. INDIKATOR PERTUMBUHAN.

          Pertumbuhan selalu terjadi dalam setiap mahluk hidup dan dimulai dari saat pembuahan serta berakhir
sampai dengan saat mahluk mengalami kematian yang alami. Ditinjau dari aspek produksi, maka terjadinya
pertumbuhan dapat ditunjukkan dengan terjadinya perubahan-perubahan, antara lain :

     1.   Perubahan ukuran badan, yaitu apabila ternak terlihat semakin bertambah tinggi dan panjang. Misal
          seekor sapi pada saat dilahirkan tingginya 75 cm dan pada saat umur sapih tingginya mencapai 105 cm,
          maka terjadi pertambahan tinggi badan 30 cm.

     2.   Perubahan berat badan, yaitu ternak akan selalu bertambah berat yang dapat diketahui apabila dilakukan
          penimbangan dalam periode waktu tertentu. Misalnya seekor sapi pada saat lahir berat badannya 25 kg
          dan saat mencapai umur sapih memiliki berat badan 90 kg, maka terjadi pertambahan berat badan 65 kg.

     3.   Perubahan bentuk badan ternak, yang dapat diketahui apabila dilakukan pengamatan pertumbuhan pada
          seekor ternak dimana seekor ternak pada waktu masih kecil terlihat bahwa kakinya panjang, tetapi setelah
          dewasa terlihat kakinya lebih pendek, dsb.



D. FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA PERTUMBUHAN.

          Tumbuh-kembang dipengaruhi oleh faktor genetik, pakan, jenis kelamin, hormon, lingkungan dan
manajemen. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan sebelum lepas sapih adalah genotipe, bobot
lahir, produksi susu induk, jumlah anak perkelahiran, umur induk, jenis kelamin anak dan umur sapih . Laju
pertumbuhan setelah disapih ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain potensi pertumbuhan dari masing-masing
individu ternak dan pakan yang tersedia . Potensi pertumbuhan dalam periode ini dipengaruhi oleh faktor bangsa,
heterosis (hybrid vigour) dan jenis kelamin. Pola pertumbuhan ternak tergantung pada sistem manajemen
(pengelolaan) yang dipakai, tingkat nutrisi pakan yang tersedia, kesehatan dan iklim.
          Kecepatan pertumbuhan untuk masing-masing ternak tidak akan selalu sama dan hal ini disebabkan
pengaruh dari beberapa faktor, antara lain :

1. Aspek genetik

          Bangsa ternak yang dikategorikan sebagai bangsa yang besar maka akan memiliki kecepatan tumbuh
yang lebih besar dibandingkan dengan bangsa ternak yang tergolong kecil. Perbedaan dalam tingkat sel antara
embrio dari bangsa kecil (lokal) dengan bangsa besar (unggul) sudah terjadi 48 jam setelah fertilisasi. Beberapa
contoh bangsa sapi yang dikategorikan sebagai bangsa sapi unggul yang terdapat diIndonesia, antara lain sapi
Simmental, Hereford, Angus, Limousin, Brahman.

2. Aspek makanan
                                                                                                                 13




          Pertumbuhan ternak secara optimum dapat tercapai apabila faktor makanan mengandung semua zat gizi
(nutrisi; nutrient) yang diperlukan oleh tubuh (protein, energi, vitamin, mineral) serta diberikan dalam jumlah yang
cukup dan seimbang sesuai dengan jenis ternak, periode pertumbuhannya (umur, berat) dan tujuan pemeliharaan.
Perbedaan tingkat pemberian nutrisi pada semua umur sejak fase foetus bukan hanya mengubah pertumbuhan
secara umum, tetapi juga mempengaruhi jaringan dan berbagai organ. Dengan demikian, ternak dengan tingkat
pemberian nutrisi yang berbeda walaupun bangsa, umur dan beratnya sama akan sangat berbeda dalam bentuk
dan konformasinya. Ternak yang diberi makanan dibawah tingkatan kebutuhan hidup pokoknya (submaintenance)
maka berbagai jaringan dalam tubuh akan dipakai untuk mensuplai energi dan protein untuk hidup pokoknya.

3. Aspek hormonal

          Pertumbuhan diatur oleh hormon pertumbuhan yang mempunyai fungsi untuk memacu sel tubuh agar
berkembang dan membesar. Hormon pertumbuhan dari pituitary akan merangsang pertumbuhan yang pengaruhnya
melalui sejumlah peptida serum dan somatomedium, sedangkan hormon lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan
misalnya androgen, estrogen, hormon tiroid dari glukokortikoid bekerjanya dengan mengubah produksi dan aktivitas
somato medium.

4. Jenis kelamin

          Hormon kelamin dapat berfungsi sebagai hormon pertumbuhan dengan memacu sel tubuh agar
berkembang dan membesar sebagaimana hormon pertumbuhan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pertumbuhan urat daging ternak jantan cenderung lebih besar daripada pertumbuhan urat daging ternak betina. Hal
ini merupakan refleksi perbedaan dalam ukuran badan secara keseluruhan dipengaruhi oleh jenis kelamin.

5. Aspek lingkungan

          Suhu lingkungan yang secara normal dapat ditoleransi oleh organisme berkisar antara 0 – 40o C, tetapi
kisaran suhu lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan ternak secara optimal adalah 18 – 22o C. Persoalan regulasi
panas pada ternak mempunyai kepentingan ekonomis, dimana sapi dan domba cenderung mempertahankan suhu
tubuhnya pada level konstan yang optimum untuk aktivitas biologisnya. Mengekpos ternak pada suhu panas atau
dingin dalam waktu yang lama akan melibatkan perubahan hormon yang spesifik terhadap kedua stress tersebut,
tetapi mengekpos ternak secara mendadak terhadap suhu panas dan dingin sangat berbahaya karena akan
menimbulkan reaksi yang kompleks dari sistem endokrin yang disebut general adaptation syndrome. Ternak sapi
yang tinggal di daerah beriklim dingin pada umumnya akan memiliki tubuh yang kompak dengan kaki dan leher yang
pendek dan ditutupi oleh bulu yang panjang. Ternak sapi yang dipelihara di daerah beiklim sedang akan mempunyai
kerangka yang relatif kurang kompak. Ternak sapi yang berasal dari daerah panas (tropis) akan mempunyai
kerangka persegi, anggota badan yang lebih besar dan terdapat lipatan kulit yang menggantung antara
kerongkongan dan dada serta memiliki bulu yang sangat pendek.

          Kecepatan pertumbuhan ternak perlu diketahui karena dapat digunakan untuk menentukan produksi
daging dan terutama sangat penting sebagai pedoman atau kriteria seleksi untuk ternak bakalan yang akan
digemukkan. Sebagai contoh pada ternak sapi didapat keterangan dari kurva pertumbuhannya, yaitu bahwa agar
memperoleh hasil yang baik untuk memproduksi daging maka hendaknya dipilih sapi yang setidaknya masih dalam
proses pertumbuhan, yaitu sapi-sapi yang umurnya berkisar antara 1 – 3 tahun.

          Pertumbuhan yang cepat tidak berarti selalu harus pada kondisi ternak sebelum pubertas, karena ternak
dewasapun dalam keadaan sehat namun memiliki kondisi tubuh kurus yang diakibatkan mengalami stress karena
                                                                                                             14




pengaruh makanan, iklim dsb., dapat pula tumbuh dengan cepat setelah mendapatkan perbaikan. Hal ini dikenal
dengan istilah pertumbuhan dipercepat atau pertumbuhan kompensasi (Compensatory growth).
(http://damarapeka.wordpress.com/2011/07/14/pertumbuhan-ternak-potong-2/)

         Pertumbuhan sebelum lahir (pre natal), dipengaruhi oleh mutu genetik induk, induk / pejantan, pakan
induk dan kondisi induk. Sedangkan pertumbuhan post natal dibagi atas 2 tahap yaitu sebelum sapih (prae weaning)
yang dipengaruhi oleh produksi susu induk (dominan), kondisi induk dan anak serta mutu genetik anak dan tahap
sesudah sapih (post weaning), yang dipengaruhi oleh mutu genetik anak, jumlah dan mutu pakan yang diberikan
(dominan), adaptasi lingkungan.

         Laju pertumbuhan merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat suplai daging. Suatu alternatif
yang cepat, mudah dan sederhana dalam mempercepat suplai daging adalah dengan meningkatkan bobot potong.
Oleh karena itu, kecepatan pertumbuhan merupakan kunci sukses pada peternakan yang bertujuan memproduksi
daging. Kecepatan pertumbuhan badan maksimal ditentukan oleh sifat genetik, tetapi faktor pakan sangat penting
untuk pertumbuhan ternak karena pakan yang baik akan memberi kesempatan pada ternak untuk mengembangkan
sifat genetiknya sebaik mungkin.

         Diantara individu dalam satu bangsa atau diantara bangsa ternak terdapat perbedaan respon terhadap
pengaruh lingkungan seperti nutrisi, fisis dan mikrobiologis. Perbedaan respon menyebabkan adanya perbedaan
laju pertumbuhan. Jenis, komposisi kimia dan konsumsi pakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap laju
pertumbuhan. Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih baik.
Pengaruh protein atau rasio energi protein akan lebih besar pada ternak ruminansia dan non ruminansia yang
sedang tumbuh dengan cepat, terutama pada pakan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan
jaringan. Pengaruh nutrisi akan lebih besar jika perlakuan pakan dimulai sejak awal periode pertumbuhan. Jadi
pertumbuhan ternak dapat dimanipulasi dengan perlakuan nutrisi yang berbeda.

         Pada kondisi normal, terutama pemberian pakan yang cukup (kualitas dan kuantitas), kurve pertumbuhan
ternak mengikuti pola seperti huruf S (sigmoid). Berdasarkan pola pertumbuhan tersebut, laju pertumbuhan yang
optimal dicapai pada saat menjelang dan sekitar pubertas dan secara gradual akan menurun sampai terhenti (tidak
meningkat) pada saat dewasa tubuh. Ditinjau dari perkembangan jaringan, jaringan musculus tumbuh cepat pada
saat menjelang dan sekitar pubertas, pada akhir pertumbuhan didominasi oleh jaringan lemak (fat) yang secara
ekonomi tidak memberikan tambahan keuntungan yang berarti dibandingkan dengan nilai pakan yang dikonsumsi.
Indikator untuk mengetahui potensi pertumbuhan ternak dapat diukur dari :

        Saat pertumbuhan : berat lahir, ADG prae weaning, berat sapih, ADG post weaning, FCR.

        Saat dipotong : berat potong, persen karkas, komposisi karkas, edible portion, feed cost per gain, dry
         matter/carcass ratio serta nilai ekonomi dari produk pemotongan termasuk retail cut dari karkas.

        Angka persentase growth rate (gain/berat hidup x 100%). Angka ini akan menurun sesuai dengan
         perkembangan umur dan berat badan, hal ini disebabkan gain yang tidak stabil, tetapi diikuti
         perkembangan BB yang selalu meningkat.

         Semakin bertambah umur ternak, belum tentu berat daging bertambah atau dengan kata lain,
pertambahan berat badan tidak mengikuti pertambahan umur kecuali menjelang pubertas.

Produktivitas ditinjau dari dinamika populasi dan produksi daging
                                                                                                                    15




           Ditinjau dari dinamika populasi, produktivitas ternak potong diartikan sebagai perkembangan populasi
ternak dalam periode waktu tertentu (umumnya satu tahun) dan sering dinyatakan dalam persen, apabila
dibandingkan dengan populasi ternak secara keseluruhan.

           Ditinjau dari produk edible portion (bagian yang dapat dikonsumsi, terutama daging), produktivitas
diartikan sebagai rata-rata produk edible portion / daging yang dihasilkan oleh seekor ternak (unit ternak).

Sasaran : suplai daging maksimal

Cara       : pengembangan populasi yang maksimal dan pemilihaan ternak potong yang selektif (baik spesies
maupun bangsa) sehingga tercapai bobiot potong (empty body weight) optimal.

           Produktivitas ternak potong ditinjau dari dinamika populasi dipengaruhi oleh :

          struktur populasi ternak

          natural increase (angka pertambahan alami)

          angka panen (animal crop, calf crop untuk sapi, lamb crop untuk domba dan kid crop untuk kambing)

          mortalitas post sapih dan masa aktivitas reproduksi induk.

       Angka panen adalah angka dalam % yang menggambarkan jumlah anak lepas sapih yang diproduksi ternak
potong dalam 1 tahun dibandingkan dengan jumlah induknya. Angka panen dipengaruhi oleh :

          litter size,

          % induk yang melahirkan dalam total populasi induk

          mortalitas anak pada saat pra sapih

           interval kelahiran / jarak beranak.

Jarak beranak dipengaruhi oleh :

          lama bunting

          jarak waktu antara melahirkan dan perkawinan berikutnya (service period)

Service period dipengaruhi oleh :

          ketrampilan peternak dalam mengawinkan ternaknya yang ditunjukkan dengan besarnya angka service
           per conception (S/C) dan waktu menyusui.

Tabel 1. Prediksi perkembangan populasi per tahun pada manajemen yang
            baik

                Uraian                     Kelinci         Babi         Kambing/Dom          Sapi          Kerbau
                                                                            ba
 Masa bunting (hari)                       30-32          + 114            + 150            + 283          + 310
 Jml anak (ekor)                            5-10           6-12             1-3                1             1
 Service period (hari)                     30-60          60-90            + 90             + 180          + 200
 Jarak kelahiran (hari)                      60           + 180            + 240            + 540          + 720
 Jml melahirkan dlm 1 th (kali)              4-6             2              1,5              0,5            0,3
 Jml anak dlm 1 th (ekor)                  20-40          12-24             2-3              0,75           0,5
 Prediksi anak dlm 3 th                    60-120         36-72             6-9                2             1
                                                                                                            16




Latihan-latihan :
1.   Jelaskan faktor-faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan ternak potong !
2.   Jelaskan indikator fisik keberhasilan usaha penggemukan sapi potong !
3.   Pada posisi pertumbuhan dimana dari kurve pertumbuhan normal (kumulatif), nilai feed cost per gain paling
     efisien? Jelaskan alasannya!
4.   Jelaskan prediksi perkembangan populasi ternak potong berdasarkan data pada Tabel 1 di atas!


RANGKUMAN SINGKAT
         Pada ternak potong, proses pertumbuhan normal mengikuti kurve sigmoid. Laju         pertumbuhan yang
optimal dicapai pada saat menjelang dan sekitar pubertas dan secara gradual akan menurun sampai terhenti (tidak
meningkat) pada saat dewasa tubuh. Fenomena pertumbuhan tersebut penting dipahami karena dalam strategi
pemeliharaan ternak, terutama pada program penggemukan, nilai ekonomi dari investasi operasional (terutama dari
pakan), akan cenderung menurun setelah usia pubertas terlampaui karena ADG yang menurun dan proporsi
jaringan lemak yang meningkat.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:2
posted:9/15/2013
language:
pages:11