Manajemen Ternak Potong ( pokok Bahasan ) by Iyandri_TilukWahyono

VIEWS: 1 PAGES: 37

									Tatap muka ke : 3 - 4

                                POKOK BAHASAN II

                              II. MANAJEMEN PENILAIAN

Tujuan Instruksional Umum :

    Mengetahui manfaat dan cara penilaian ternak potong, untuk mendapatkan
      produktivitas ternak potong yang tinggi baik berdasarkan bentuk luar maupun
      karkas yang dihasilkan.

Tujuan Instruksional Khusus :

    Mengetahui cara judging pada ternak potong.

    Mengetahui teknik scoring kondisi tubuh pada ternak potong.

    Mengetahui cara-cara penilaian karkas pada ternak potong.

    Mengetahui karakteristik ideal pada ternak potong.

Uraian Materi

      Dalam proses pengembangbiakan ternak potong agar dapat menjamin
dihasilkannya keturunan yang baik untuk menyediakan bibit yang baik untuk tujuan
reproduksi maupun produksi bakalan, perlu diatur dan dikelola secara terarah dan hati-
hati. Peternak harus memahami karakteristik bibit yang baik atau bakalan yang baik
serta menyiapkan ternak pengganti (replacement stock) yang mempunyai produktivitas
minimal sama dengan tetuanya atau kelompok pemeliharaan periode sebelumnya.

A. Judging

   Judging adalah salah satu cara yang dipergunakan dalam bidang peternakan untuk
mengetahui derajat karakteristik yang dimiliki oleh hewan, yang sangat penting
fungsinya untuk produksi. Judging dapat digunakan untuk melihat hubungan antara
bentuk luar dengan kualitas ternak. Peternak sebetulnya secara tidak sadar telah
mengetahui tentang judging. Pengetahuan tentang judging penting untuk membantu
peternak dalam menentukan bibit. Judging dapat menolong peternak dalam
hubungannya dengan pemberian pakan, seleksi, breeding dan pemasaran .
                                                                                     19




      Judging merupakan penilaian subyektif terhadap ternak berdasarkan penampilan
luar / bentuk luar. Melalui pengamatan visual dipilih ternak dari sekelompok ternak
(mass selection) berdasar pada nilai standard ideal. Untuk dapat menilai seekor ternak,
seorang peternak harus mengetahui hal-hal sebagai berikut :

      Memiliki pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh ternak, terutama yang
      berkaitan dengan konformasi tubuhnya.

      Mengetahui criteria tipe ternak yang akan diusahakan, harus sesuai dengan
      kebutuhan dan permintaan pasar.

      Mampu menilai ternak potong secara akurat dan membuat keputusan
      berdasarkan fakta.

      Bersikap jujur dan netral disertai dengan alasan yang kuat dalam menentukan
      penilaiannya.

Langkah-langkah penilaian :

    Penilaian melalui kecermatan pandangan

    Penilaian melalui kecermatan perabaan

    Penilaian melalui pengukuran bagian-bagian tertentu.

   Seleksi yang dilakukan terhadap ternak selalu melalui judging, sehingga judging
merupakan tindakan seleksi dari sekelompok ternak. Penggolongan ternak yang akan
diseleksi berdasarkan pada : jenis kelamin, umur ternak, asal-usul ternak, bobot badan
dan bangsa. Sehingga judging tidak mungkin dilakukan kecuali diketahui macam ternak
yang akan diseleksi.

Judging pada sapi potong bibit

      Untuk mendapatkan hasil yang baik, dalam melakukan penilaian sapi potong bibit
diperlukan alat penilaian dalam bentuk table skor, timbangan, alat pengukur tubuh dll.
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah :

    Perhatian lebih ditujukan pada tipe individual daripada perototan atau kondisinya,
      walaupun karakteristik idealnya sesuai dengan permintaan pasar.
                                                                                   20




 Melakukan pengamatan pada jarak yang mencakup keseluruhan frame ternak
   yang dinilai. Pengamatan dilakukan dari samping dengan jarak 2,5 – 3 m, dari
   depan dengan jarak 2,5 m dan dari belakang dengan jarak 2,5 m.

 Mengamati pada saat ternak berjalan untuk menilai pergerakannya atau adanya
   kecacatan.

 Perabaan      dilakukan   untuk   merasakan   kualitas   kulit,   perdagingan   dan
   perlemakannya.

 Melakukan pengukuran ukuran-ukuran tubuh penting yang sesuai dengan tujuan
   judging.
21
                                                                                   22




Judging pada sapi siap potong / siap jual

      Penilaian sapi siap jual lebih ditekankan pada karakteristik konformasi dan
kondisi akhir daripada terhadap karakteristik jenis kelamin dan bangsa.

      Karakteristik idealnya adalah sapi yang siap dipasarkan harus memiliki katagori
dan pertimbangan yang sesuai dengan selera konsumen dan secara ekonomis akan
lebih menguntungkan. Bentuk penilaiannya terlihat pada Tabel berikut :
                                                                          23




Tabel 1. Daftar isian Penilaian Sapi Siap Jual/ Potong

        Bagian yang dinilai              Nilai           Sapi   Koreksi
                                       standard
Penampilan Umum (35%)

1. Bobot badan (sesuai umur)              3

2. Bentuk tubuh (dalam, panjang,          10
   simetris,     halus, punggung
   sejajar garis perut)
3. Kualitas (kepala ramping, kulit        7
   lentur dengan ketebalan sedang,
   bulu halus)
4. Kondisi tubuh (bulat, halus            15
   merata, bebas cacat dan
   bengkak, tidak kegemukan)
Kepala dan Leher (4%)

1. Kepala (lebar, mulut besar,            2
   lubang hidung besar dan
   terbuka, bersih)
2. Leher (pendek, tebal,      halus,      2
   merata sampai bahu)
Perempat Depan (10%)

1. Bahu (halus, kopak, luas dan           6
   gempal pada bagian atas,
   bersih)
2. Dada (ramping, serasi, lebar dan       2
   penuh)
3. Kaki depan (lurus, terbuka lebar,      2
   penuh)
Badan (30%)

1. Dada (penuh, dalam, lebar,             3
   lingkar dada besar, belikat
   penuh)
2. Rusuk (melengkung seperti              7
   busur, perdagingan tebal dan
   halus)
                                                                                    24




3. Punggung        (luas,     lurus,        8
   berdaging tebal dan padat)
4. Pinggang / loin (luas, tebal,           10
   berdaging padat dan halus)
5. Legok lapar /flank (ramping,             2
   penuh, lemak tidak berlebihan)
Perempat Belakang (21%)

1. Pantan dan pinggul (halus,               2
   tertutup perdagingan yang
   merata)
2. Pinggul / rump (panjang, lebar           5
   datar, pangkal ekor halus,
   benjolan punggung terpisah
   lebar)
3. Gandik / paha atas / round              10
   (tebal, dalam dan penuh)
4. Betis / twist (penuh, dalam,             2
   serasi)
5. Kaki belakang (lurus, terbuka            2
   lebar)
NILAI TOTAL                                100

Keterangan : koreksi dinilai oleh penilai final

Untuk form isian sapi bibit, menyesuaikan dengan karakteristik yang dinilai untuk sapi
bibit
25
26
27
                                                                                      28




Judging pada domba

      Terdapat 2 tujuan dalam judging pada domba, untuk tujuan pasar atau potong
(market classes) dan untuk tujuan bibit (breeding classes). Untuk tujuan dipotong,
penilaian lebih dititik beratkan pada tipe ternak, perototan, keunggulan karkas, hasil
daging, kualitas, kesimetrisan dan kehalusannya.

      Penilaian tipenya didasarkan pada konformasi tubuh (struktur dan bentuk
tubuhnya). Domba yang siap dipasarkan harus mempunyai ketebalan lemak punggung
0,35 – 0,65 cm yang diukur pada tulang rusuk ke 12 dan 13.

      Untuk ternak bibit, karakteristik utama lebih ditujukan pada kondisi tubuh, ukuran
tubuh, keadaan kaki dan pertulangannya, bangsa dan seks             karakternya, serta
kehalusan tubuh.
                                                                                   29




Langkah-langkah judging pada domba :

    Mengamati domba dari jarak yang cukup dekat dari depan, belakang dan
      samping.

    Pastikan bahwa domba berdiri dengan baik pada ke empat kakinya dalam posisi
      segi empat.

    Saat jari-jari melakukan perabaan, lakukan penekanan pada bagian-bagian tubuh
      domba agar bisa merasakan perdagingan dan perlemakannya. Perabaan
      (palpasi) pada domba penting artinya karena keadaan tubuh domba sangat
      dipengaruhi oleh penutupan bulu. Untuk mengetahui perototan, kekuatan, dan
      kelurusan punggung, perabaan dilakukan dengan tangan terbuka

    Perabaan dimulai dari bagian bahu atau ekor.

    Bila perabaan dimulai dari ekor, awali dari bagian lutut menuju ekor. Kemudian
      dilanjutkan dari ekor ke bagian bahu sambil dirasakan perdagingan dan
      perlemakannya.

    Dengan penekanan jari, rasakan pada titik bahu keadaan perlemakannya bila
      domba tersebut digemukkan.

    Rentangkan jari tangan dengan jengkalan pada bagian bahu, agar bisa dirasakan
      kedalam dadanya. Keadaan rusuk depan saat dinilai harus melengkung seperti
      busur.

    Dengan tangan dan jari-jari yang masih direntangkan, telusuri bagian tubuh
      samping domba, rasakan perdagingan dan perlemakannya pada bagian rusuk.

    Rentangkan jari tangan pada bagian pinggang (loin) untuk menilai luas dan
      dalamnya bagian tersebut. Jengkalkan tangan dari bagian akhir rusuk sampai ke
      bagian tulang duduk untuk menilai panjang loin.

    Amati     ketebalan   bagian   legok   lapar   belakang   untuk   menilai   hasil
      penggemukannya.

    Amati bagian pinggul/bokong (rump) untuk melihat keluasannya, merata dan
      seragam lebarnya. Jengkalkan tangan pada bagian ekor.
                                                                           30




 Rasakan keadaan kaki-kakinya dengan menekankan jari tengah pada bagian
   dalam paha atas sampai ke betis untuk menilai perototannya. Apabila terasa
   perototannya cukup dalam dan merata menandakan bahwa penggemukannya
   terlalu berlebihan.

 Dalam menilai domba bibit, nilailah keadaan bulunya.
                                                                             31




   Peternak sebetulnya secara tidak sadar telah mengetahui judging. Pengetahuan
tentang judging penting untuk membantu peternak dalam menentukan bibit. Seleksi
                                                                               32




yang dilakukan terhadap ternak selalu melalui judging, sehingga judging merupakan
tindakan seleksi dari sekelompok ternak.

Penggolongan ternak yang akan diseleksi berdasarkan pada :

    Jenis kelamin, umur ternak, asal-usul ternak, bobot badan, bangsa sehingga
      judging tidak mungkin dilakukan kecuali diketahui macam ternak yang akan
      diseleksi.

 Judging dapat menolong peternak dalam hubungannya dengan :

    Pemberian pakan, seleksi, breeding dan pemasaran
Penilaian (Grade)

      Lamb : Anak domba yang diseleksi untuk potongan dan merupakan hewan yang
      paling baik di dalam golongannya (PRIME LAMB)
      Choice : Anak domba yang kurang memenuhi syarat sebagai Prime Lamb
      sebagai Choice Slaughter Lambs
      Good
      Medium ( Fair )
      Plain ( Common )
      Cull
      Domba Lamb yang akan digemukkan (feeding) nilai / grade tertinggi Fancy dan
terendah adalah Inferior sedangkan untuk breeding, grade = untuk feeding

      Dalam menentukan grade feeder lambs tidak hanya bentuk tubuh, kualitas, dan
kondisi saja, tetapi juga kesehatan, konstitusi tubuh, substance, dan bulu perlu
dipertimbangkan.

Penentuan grade domba potongan

 Bentuk
              Punggung (back)               perkembangan tubuh
              Pinggang (loin)               pada bagian bagian tsb
              Kaki      (leg)               baik
                                                                                  33




 Kualitas

    Adalah keistimewaan yang diperlihatkan oleh domba. Keistimewaan itu adalah
      mudah berubah sesuai dengan kondisi dan bentuk tubuh. Kualitas yang baik
      mempunyai :

          Ukuran tubuh sedang

          Clean bone, head dan ears

          Kerangka tubuh bundar dengan kulit yang ringan

    Kualitas secara umum berhubungan dengan daging. Daging yang mempunyai
      kualitas baik terlihat dari : perlemakan halus, merata dan padat (firm). Dapat
      ditentukan dengan perabaan sepanjang punggung, rusuk, pinggang, daerah
      rump dan twist.

 Kondisi

       Penyebaran lemak merata, mempunyai dressing percentage baik

       Lebih palatabel, juicy dan lebih empuk.

 Klas dan grade dari feeder sheep


             Fase              Sex                Age            Grade
             Sheep           Ewes             Yearling            Fancy
                            Wethers                              Choice
                                                                  Good
                                                                Medium
                                                                Common
                              Ewes           2 th / lebih        Choice
                                                                  Good
                                                                Medium
                                                                Common
                                                                 Inferior
             Lambs           Ewes             All ages            Fancy
                            Wethers                              Choice
                                                                  Good
                                                                                        34




                                                                     Medium
                                                                     Common
                                                                      Inferior
          Shearer lambs           Ewes             All ages           Choice
                                                                       Good
                                                                     Medium

         Pada feeder sheep, grade sebelum penggemukan diusahakan sama dengan
setelah penggemukan.

Judging pada kambing

         Meat goats should be evaluated on “type” and “market desirability.” These terms
refer to frame size, skeletal correctness and how these blend in the market animal.
“Market desirability” relates how much finish the goat has in relation to its weight, size
and age and is sometimes referred to in terms of USDA quality and yield grades used for
lambs.

         A good market goat should be rectangular in appearance from the side with
straight, level top and bottom lines. Length of rump, length of body and length of leg are
important to market desirability. The rump should be level and the overall body should be
trim. The legs should be straight and placed square under the body, not post-legged or
cow-hocked. The fore and hind legs should show evidence of muscling.

         From the front, a market goat should show width between the forelegs, muscling in
the forearm and shoulders, trimness in the brisket or breast area and soundness and
correctness in the front feet and legs. The head should be in proportion to the neck and
body.

         From the rear, the hindquarter should be muscular and long and the back, loin and
rump should be uniform in width. The feet and legs should be straight and spaced square
and wide under the goat.

GENERAL APPEARANCE

         STATURE. The term stature refers to the overall skeletal size and length of the
goat. Goats must have an adequate length of cannon bone from knee to pastern and
should be above average in overall length of body and general size. Cannon bone length
                                                                                             35




is a good indication of skeletal size. The goat's height measured at the withers should be
slightly more than at the hips, and bones must be of good size.

          HEAD. The head should combine the beauty of eyes, nose, ears, and overall form
with strength and refinement. It should have a balance of length, width and substance
that insures an ability to consume large amounts of forage with ease.

          FRONT END. The front end is a combination of chest and shoulder features. The
goat should have a wide chest floor and prominent brisket with a smooth blending of
shoulder blades and sharp withers. This insures room for the heart and lungs to do their
work with ease and also is evidence of proper muscle and ligament strength.

          FRONT LEGS. The goat's front legs should be straight, perpendicular to the
ground, sound in the knees and full at the pint of the elbow. The legs should move with
the front feet pointing straight ahead.

          BACK. A back that is straight, strong, wide, long and level is desired in goats. This
denotes a strong body build with good muscling and is indicative of strength to carry
large quantities of feed.

          RUMP. The goat's rump should be long, wide and level from thurl to thurl, cleanly
fleshed and have a slight slope from hips to pins. The shape of the rump is important as it
affects leg set.

          HIND LEGS. The goat's rear legs should be wide apart and straight when viewed
from the rear, with clean hocks and a good combination of bone refinement and strength.
Observed from the side, a plumb line originating at the pin bone would fall parallel to the
leg bone from hock to pastern and touch the ground behind the heel of the foot. The
resulting angles produced at the hock and stifle joint will be most ideal for easy walking
and a minimum of joint problems.

          FEET. Meat goats need strong pasterns and strong, well-formed feet with tight
toes, deep heel and level sole. Such feet are highly resistant to injury or infection and
easy to keep trimmed. Goats with uneven toes and extremely weak pasterns should be
culled.

MUSCLE
                                                                                         36




      Meat characteristics can be visually determined by examining the animal
hindquarters loin, shoulders and neck.

      HINDQUARTERS. A long, deeply attached muscle, relatively thick at the thigh
and stifle is desirable in meat goats. Heavier muscling on the outside of the leg is
acceptable. Muscle over the thurl and rump should be obvious.

      LOIN. The loin eye or ribeye is typically the best indicator of meatiness in market
goats. It should be wide with a symmetrically oval shape on each side of the backbone.
This musc1e should carry forward over the ribs or rack.

      SHOULDERS. The goat's muscling should increase from the withers to the point
of the shoulder with the thickest muscle occurring immediately above the chest floor. The
circumference of the forearm is the second most important indicator of meatiness, so the
forearm muscle should exhibit a prominent bulge and should tie in deep into the knee.

      NECK. The juncture of the neck and shoulder should be free of excess tissue. It
should gently slope to indicate muscling. Smoothness and quality are important in this
area. A long clean neck with muscling in balance to the remainder of the animal is
desired.

CONDITION

      The term condition refers to the amount of finish or fat the animal is carrying.
Goats deposit fat internally before they do externally. The ideal condition is a thin, but
uniform, covering over the loin, rib and shoulder. The external fat thickness over the loin
at the 13th rib should be between .08 to .12 inches or an average .1 inch
                                                                                 37




              Ideal doe                                 Ideal buck




       Ideal doe detailed




                                                        Ideal doe udder



Judging pada babi

       Judging pada babi tidak begitu kompleks seperti pada sapi, karena judging
pada babi lebih dititikberatkan pada tujuan evaluasi pada ternak hidup berdasarkan
nilai relatif yang diperlukan dalam operasionalisasi dan industri.

       Beberapa langkah yang perlu diingat dalam menilai babi untuk dijadikan bibit
sebagai berikut :

    Penilaian lebih dititikberatkan pada tipe ternak daripada kondisi dan
       perdagingannya.
                                                                               38




 Perhatikan standar karakteristik tubuhnya yang harus sesuai dengan
   bangsanya.

 Tentukan kemampuan ternak dengan melihat lamanya produktivitas.

 Evaluasi karakteristik jenis kelaminnya (sifat-sifat jantannya atau sifat-sifat
   betinanya).

 Amati ternak dari berbagai sudut dan berbagai jarak.
39
40
41
42
                                                                                     43




B. Teknik Skoring Kondisi Tubuh

      Kondisi tubuh ternak dapat digunakan untuk pegangan dalam menduga dan
menentukan langkah-langkah penting yang berkaitan dengan pengawasan dan
penilaian. Pada domba dan babi, pemahaman tentang kondisi tubuh tidak begitu
penting karena domba dan babi mudah ditimbang dan diraba. Namun pada sapi
potong, teknik penilaian kondisi tubuh pentig dipahami karena ada keterkaitan
dengan factor lain.

      Scoring kondisi tubuh akan sangat membantu dalam manajemen ternak,
terutama pada ternak sapi. Penentuan kondisi tubuh pada sapi dapat dilakukan
dengan dua cara sebagai berikut :

      Pengamatan tulang rusuk

      Berdasarkan pengamatan tulang rusuk, kondisi tubuh sapi dapat dinilai melalui
      banyaknya tulang rusuk yang tampak membayang di balik kulit dengan
      ketentuan sebagai berikut :

       Kurus : jika sebagian besar tulang rusuk (lebih dari 8 buah) tampak
          membayang di balik kulit (nilai skor 1).

       Sedang : jika hanya sebagian tulang rusuk (kurang dari 8 buah, biasanya 4
          – 6 buah) tampak membayang di balik kulit (nilai skor 2).

       Gemuk : jika seluruh tulang rusuk tidak tampak membayang di balik kulit
          karena tertutup oleh perdagingan dan lemak (nilai skor 3).

      Perabaan tranverssus (spinosus) processus dan tebal lemak di bawah kulit.

      Pendugaan kondisi tubuh dengan cara ini dibagi menjadi 5 klas, sebagai
      berikut :

       Sangat kurus : tulang punggung tampak menonjol dan tranversus
          processus teraba sangat runcing serta tidak terasa adanya perlemakan di
          bawah kulit (nilai skor 1). Ketebalan lemak sekitar 0 – 1 mm (emasiasi).
                                                                                     44




          Kurus : tranversus processus teraba oleh ibu jari, tidak begitu runcing,
            terasa adanya sedikit perlemakan di bawah kulit (nilai skor 1,5). Ketebalan
            lemak sekitar 2 – 5 mm.

          Sedang : tranversus processus hanya dapat diraba jika ibu jari ditekankan,
            karena perlemakan sudah terdapat di bawah kulit (nilai skor 2). Ketebalan
            lemak sekitar 6 – 10 mm.

          Gemuk      : tranversus processus tidak dapat diraba walaupun ibu jari
            ditekankan, karena perlemakan agak tebal di bawah kulit (nilai skor 2,5).
            Ketebalan lemak sekitar 11 – 16 mm.

          Sangat gemuk : tranversus processus tidak dapat diraba dan terasa sekali
            terdapat perlemakan yang sangat tebal di bawah kulit (nilai skor 3).
            Ketebalan lemak > 17 mm (obesitas).

         Untuk menentukan kondisi tubuh ternak, sebetulnya sudah ada alat yang
cukup praktis, alat ini bekerja secara digital yang disatukan dengan timbangan bobot
badan sehingga ketika sapi ditimbang, langsung dpat diketahui nilai kondisi tubuhnya
(NKT).

Table 1. Hubungan antara skor kondisi tubuh degan aspek reproduksi sapi
       berdasarkan musim yang berbeda

      Status reproduksi                                  Musim
                                          Kemarau                       Hujan
Saat kawin                                   2,5                         2,5
Pertengahan bunting                          2,0                         3,0
Saat melahirkan                              3,0                         2,5
Sumber : Allen, D. dan B. Kilkenny, 1980
                                                                                         45




Table 2. Performen aspek reproduksi sapi bibit berdasar scoring kondisi tubuh

              Skor Individu Induk                          Skor rata-rata kelompok
     Skor          Calving interval (hari)         Skor          Pedet yang disapih (per 100
                                                                         ekor induk)
    1 – 1,5                 418                  1 – 1,5                     78
       2                    383                     2                        85
    2,5 – 3                 364                  2,5 – 3                     95
      3+                    358                     3+                       93
Sumber : Allen, D. dan B. Kilkenny, 1980

When selecting and judging meat goats, or judging them for market, the following
factors need to be taken into consideration:

   General Appearance
   Conformation
   Muscling
   Finish or Condition

Body Condition Scoring as a Management Tool for Appraising Meat Goats

        The body reserve of goats can be evaluated by a procedure known as body
condition scoring (BCS). BCS is the process by which the amount of fat covering the
rump and the loin areas is evaluated by sight and by touch. The goat is given a
numeric score between 1 (thin) and 9 (obese) for meat goats and 1 (thin) and 5
(obese) for dairy goats. Most meat goats generally fall between 3 and 7. A BCS of 5
indicates an average, moderately fleshed animal that is not fat or thin as shown in
Table 1. With a little training and good observations, this technique can also be used
to effectively monitor the nutritional status of a herd.

Table 1. System of body Condition Scoring


           Group          Score                            Description

Thin Condition             1      Emaciated - Goat is extremely thin; no fat is covering
                                  the spine and hip bone areas. The tail bone and hip
                                                                                          46




                               bone are quite pronounced and the individual ribs can
                               be seen.

                               Poor - Goat is still fairly thin. There is little fat covering
                          2    the spine and hip bone regions. The hips, ribs and tail
                               bone are less prominent.

                               Thin - Ribs are still individually identifiable. There is a
                          3
                               little fat covering tail head and spine areas.

                               Borderline - The spine and the ribs can be individually
Borderline Condition      4    identified by palpation, but feel rounded rather than
                               sharp. Some fat is over the ribs.

                               Moderate -Goat has a good overall appearance. Fat is
                          5    over the ribs, hips and tail bone areas and feels spongy
                               to the touch.

                               High Moderate - Firm pressure now needs to be
Moderate Condition        6    applied to feel spinous processes. Fat is observable
(Optimum)                      and palpable over the ribs and tail head area.

                               Good - Animal appears fleshy and obviously carries
                               considerable amount of fat. Very spongy fat covers ribs
                          7
                               and tail head areas. Rounds or pones are beginning to
                               become obvious.

                               Fat - The goat is very fleshy and over-conditioned.
                          8    Spinous and transverse processes are almost
                               impossible to palpate. Rounds or pones are obvious.
Fat Condition
                               Extremely Fat (Obese) - The goat appears blocky, tail
                               head and hips are buried in fatty tissue. Bone structure
                          9
                               is barely viable and is not palpable. Animal may have
                               difficulty in mobility.


General appearance of a meat goat refers to the following:

   Quality and Type - deep bodied, bold, rugged and masculine in appearance,
    showing great power and symmetry of form; clean, strong bone; smooth, well-
    balanced finish; graceful, powerful walk; and impressive style and carriage.
                                                                                      47




   Size and Development - according to age, preference being given to animals
    showing superior growth and muscle development.

   Condition - well-muscled with a smooth, even covering of firm flesh; hair smooth
    and flossy.

Conformation

       Conformation is the build, outline, or contour of an animal. It is influenced
largely by the shape and size of the muscles. Superior meat goat conformation
contributes to a higher dressing percentage, a higher cutting percentage of meat to
bone, and a higher cut-out value in the higher-priced cuts. Consequently, top meat
goat conformation may return more dollars.

Muscling

       Today, consumers are demanding meat with a maximum amount of lean and
minimum amount of fat. Meat goats should show muscling in the regions of the
shoulder, hind quarters, loin, brisket, and neck. However, when scoring an animal for
muscling, it should be recognized that condition or fatness can create a false
impression of muscling. For example, a very thin animal seldom has the appearance
of muscularity, with the result that it is apt to be scored rather low in muscling.
However, when the same animal is fattened, it is likely to score higher on muscling.
Yet, when finish is overdone, the extra condition may cause the animal to lose the
muscular appearance.

Finish or Condition

       Finish refers to condition or amount of fat an animal is carrying and is the
major factor affecting carcass yield of retail cuts, meat quality, and dressing
percentage. In judging meat goats for finish, the quantity, quality, and distribution
must be considered. It must be borne in mind that goats deposit fat internally before
they do externally. The ideal condition or finish required of a meat goat is a thin, but
uniform, covering of fat over the loin, rib, and shoulder areas. Some experts are
recommending that the external fat thickness over the loin at the 13th rib between
                                                                                     48




0.08 and 0.12 inches or an average of 0.1 inches. However, uniform carcass
standards have not been accepted at this point.

Steps in Judging Meat or Market Goats

Side View (neck, rump, shoulder, hocks, barrel, legs)

       When viewed from the side, the neck should be short to medium in length,
strong, and especially thick at the base, blending smoothly into shoulders and brisket.
The rump should be long, broad, and slightly sloping with smooth, even covering of
firm flesh. Hips wide apart and level with back. Pins wide apart and lower than hips.
Tail head slightly above and neatly set between pin bones. Tail symmetrical with
body. Both fore and hind legs should be nearly perpendicular from hock to pastern.
Hocks should show angulation. The barrel should be uniformly deep, wide and
strongly supported from front to rear, with well-sprung ribs. The shoulder should be
moderately heavy, strong, and well muscled with even covering of firm flesh and the
shoulder blades should set smoothly into the area of the chine.

Rear View (rump, hind legs, escutcheon, and thighs)

       From the rear, the hind quarters should be full, wide and deep, with muscling
carrying down deep toward the hocks – both on the inside and outside of the legs;
medium in length, wide apart and nearly straight. Hocks should be wide apart. As
viewed from the rear look for the greatest width in the round about a point halfway
from the rump to the hocks as this indicates fullness of rounds due to muscling rather
than fat.

Front View (fore legs, heart girth, brisket, and head)

       When viewed from the front, the head should be medium in length, strong and
masculine in appearance, muzzle broad with large open nostrils, jaw strong and even,
eyes full and bright and forehead wide. The forelegs should be medium in length; set
keep and widely apart indicating ample digestive capacity strength and vigor;
squarely set; straight; and strong. Bones strong, clean, and adequate density to
support weight; feet sound, short, wide, and straight with deep heel and level sole.
Large heart girth resulting from long, well-sprung foreribs; wide muscular chest floor
                                                                                     49




between front legs; and fullness at point of elbow. Brisket should be broad, deep,
muscular, and firm. The animal should stand well forward.

Top View (back, loin, shoulder)

        When viewed from the top, a market goat should be blocky and rectangular in
appearance. The back should be broad and strong with even covering of smooth, firm
flesh. Top line strong, straight, and nearly level. The loin should be wide, full and
deep. Width over the top and behind the shoulder should indicate a good spring of rib.

Handling

   Estimate the amount of finish by feeling along the top line and rib area.

   Check for quality of bone by feeling and looking for clean-cup devise, flat bone
    and smooth, clean knee joints. Avoid coarse, spongy bones which is indicated by
    puffy knee joints.

   Check for clean, flat, and wide hocks which are free from coarseness and
    puffiness.

   Check for the width of the round at a point about halfway from the rump to the
    hocks. This indicates fullness of rounds due to muscling rather than fat.

   Check for as much depth as possible in the hind quarter from the tailset to the
    flank.

   Check for depth of hind flank and length from the back to the hocks.

C. Penilaian Karkas

        Penilaian karkas biasanya disebut dengan classing. Maksud classing adalah
penilaian untuk memilih ternak atau produk ternak berdasarkan karakteristik nilai-nilai
ekonomisnya yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta manajemen yang
diterapkan.

        Indicator untuk menilai kualitas karkas ditujukan pada dua hal, yaitu :

     Ketebalan lemak.
                                                                              50




  Ketebalan lemak dinilai berdasarkan penyebaran deposisinya serta keadaan
  jumlahnya (berlimpah atau sedikit). Pengukuran ketebalan lemak akan lebih
  akurat bila menggunakan ultrasonic karena dapat dilakukan pada ternak yang
  masih hidup.

  Jika pengukuran ketebalan lemak tanpa menggunakan alat, maka penilaian
  dapat dilakukan pada bagian tonjolan tulang tranvessus processus ke delapan
  (P8) pada daerah bagian pinggul. Caranya dengan melakukan perabaan
  menggunakan ibu jari dan merasakan ketebalan lemaknya seperti pada
  pendugaan kodisi tubuh.

  Ketebalan lemak dapat dipergunakan untuk menduga persentase karkas.
  Semakin gemuk seekor ternak, akan semakin tinggi persentase karkasnya.


  Tabel 3. Hubungan skor perlemakan dengan tebal lemak dan kondisi tubuh
           ternak sapi


      Skor perlemakan         1       2        3        4          5        6

   Ketebalan lemak (mm)     0–2     3–6     7 – 12   13 – 22   23 – 32     33 +

   Skor kondisi tubuh         1      1,5       2       2,5         3        3+



 Perdagingan

  Ketebalan daging adalah indicator yang baik untuk diukur menggunakan alat
  atau dengan perabaan yang terlatih. Dapat juga diukur dengan menggunakan
  alat ultrasonic pada bagian punggung ternak. Indeks perdagingannya dapat
  diukur berdasarkan formula rumus tertentu.

  Pengukuran bobot karkas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu bobot karkas
  dingin (cold weight) dan bobot karkas panas (hot weight). Hasil pengukuran ini
  akan berpengaruh terhadap persentase karkasnya. Penimbangan karkas
  sebaiknya dalam bentuk karkas dingin yang dilakukan dalam kamar pendingin.
                                                                                    51




       Dalam penjualan karkas, harga karkas panas akan dikurangi 3% dari harga
       karkas dingin dalam bobot yang sama, karena terjadinya evaporasi selama
       karkas tersebut didinginkan.

       Nilai perdagingan      karkas diukur melalui fleshing     index atau indeks
       perdagingan dengan rumus :

                      Index Perdagingan = Bobot Karkas / Panjang Karkas

       Semakin tinggi indeks perdagingan, semakin tebal dan semakin banyak /
       padat daging karkasnya.

D. Karakteristik Ideal

       Ada beberapa hal yang harus dipahami mengenai berbagai karakteristik yang
diharapkan dalam memproduksi ternaknya untuk mewujudkan tujuan perusahaan,
antara lain :

    Karakteristik bangsa

                Tidak ada satu bangsa ternak di dunia ini yang memiliki semua sifat
       baik untuk dipelihara atau dikembangkan dalam segala kondisi atau wilayah.
       Keragaman karakter yang terdapat di dalam bangsa dengan berbagai strain
       lebih bervariasi daripada antar bangsa. Oleh karena itu sebelum mengambil
       keputusan bangsa mana yang akan dipelihara, peternak harus memperhatikan
       karakteristik setiap bangsa, antara lain :

        Fertilitas

                Tingkat fertilitas ternak potong ditentukan oleh kombinasi dari factor
           umur pubertas, tingkat konsepsi, lama bunting, kesulitan melahirkan,
           jumlah anak lahir dan dapat disapih hidup serta cepatnya post partum
           estrus.

        Tingkat pertumbuhan
                                                                              52




      Pertumbuhan yang baik digambarkan oleh cepatnya tercapai target
   bobot badan yang diharapkan sesuai pasar, cepatnya pertumbuhan pasca
   sapih dan cepatnya mencapai deposisi lemak yang diharapkan.

 Kemampuan menyusui

      Kemampuan induk dapat dinilai dari hasil bobot badan anaknya pada
   saat disapih. Induk yang produksi susunya baik dan mempunyai sifat
   keibuan tinggi akan menghasilkan anak dengan bobot sapih tinggi.

 Efisiensi pakan

      Efisiensi pakan merupakan ukuran dalam menentukan keceepatan
   pertumbuhan, besarnya biaya pakan dan tingkat keuntungan. Ternak
   dinyatakan   lebih    efisien   apabila   untuk   memperoleh   1   kg   gain,
   membutuhkan pakan dalam jumlah paling sedikit.

 Ukuran dewasa tubuh

      Ternak dengan BB besar lebih mudah mencapai target BB dalam waktu
   yang lebih singkat.

 Kualitas karkas

      Karkas diharapkan dapat menghasilkan daging maksimal, lemak
   optimal dan tulang minimal. Tergantung pada komponen karkas, bobot
   karkas dan kandungan daging yang dapat dimakan.

 Kesehatan

      Beberapa bangsa ternak tertentu resisten terhadap penyakit atau
   parasit (Brahman resisten terhadap kutu, caplak dan serangga), beberapa
   bangsa tertentu terdapat abnormalitas genetic (hemofili pada Hereford).

 Temperamen

      Terdapat beberapa bangsa sapi yang mudah bersosialisasi dan
   bertemperamen jinak. Sapi yang biasa hidup di pasture akan lebih liar
   dibandingkan dengan sapi yang dikandangkan.
                                                                               53




    Adaptabilitas

          Daya adaptasi ternak akan sangat mempengaruhi produksi. Ternak
      yang cepat beradaptasi akan cepat mencapai target BB yang diharapkan.

    Daya hidup

          Ternak yang daya hidupnya lama atau panjang akan menghasilkan
      anak lebih banyak daripada yang daya hidupnya pendek. Daya hidup akan
      berpengaruh terhadap jumlah replacement yang harus disediakan setiap
      tahun.

    Ketersediaan pengganti (replacement)

          Kualitas ternak pengganti sekurang-kurangnya harus sama dengan
      induk atau pejantan yang sudah dipelihara. Kurangnya ke-tersediaan
      replacement akan mempengaruhi kontinyuitas produksi dan biaya.

 Karakteristik bibit

          Dalam memilih bibit ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh
   produsen, karena setiap bangsa akan memiliki kekurangan dan kelebihan
   masing-masing. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain : keadaan
   lingkungan lokasi pemeliharaan; manfaat yang disesuaikan dengan tujuan
   produksi; selera individu karena ada individu yang tidak menyukai bangsa
   tertentu atau karakteristik tertentu.

          Setiap ternak potong yang akan disiapkan sebagai bibit, perlu diseleksi
   berdasarkan standar ideal sifat-sifat produksinya. Beberapa karakteristik yang
   perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bibit ternak potong antara lain :
   performen reproduksi, kesulitan melahirkan dan bobot lahir, mothering ability,
   tingkat pertumbuhan, efisiensi pakan, daya hidup, kualitas karkas, konformasi
   dan evaluasi karkas.

 Karakteristik induk dalam kelompok

          Seleksi yang kontinyu terhadap induk dalam kelompok akan menunjang
   peningkatan produksi di dalam kelompok tersebut sehingga kualitas ternak
                                                                                     54




       akan selalu terjamin dan akan meningkat dari tahun ke tahun. Beberapa
       karakteristik induk yang perlu diperhatikan adalah : kesehatan, efisiensi
       produksi, lama hidup, tipe individu, konstitusi dan umur, konformasi tubuh.

Latihan soal

   1. Jelaskan arti pentingnya manajemen penilaian pada ternak potong!

   2. Apa yang anda ketahui tentang judging dan bagaimana anda melakukan
       judging pada sapi bakalan!

   3. Jelaskan hubungan antara skor kondisi tubuh dengan performens produksi
       dan reproduksi pada ternak sapi!

Rangkuman Singkat

       Judging adalah salah satu cara yang dipergunakan dalam bidang peternakan
untuk mengetahui derajat karakteristik yang dimiliki oleh hewan, yang sangat penting
fungsinya untuk produksi. Judging dapat digunakan untuk melihat hubungan antara
bentuk luar dengan kualitas ternak.

       Kondisi tubuh ternak dapat digunakan untuk pegangan dalam menduga dan
menentukan langkah-langkah penting yang berkaitan dengan pengawasan dan
penilaian. Pada domba dan babi, pemahaman tentang kondisi tubuh tidak begitu
penting karena domba dan babi mudah ditimbang dan diraba. Namun pada sapi
potong, teknik penilaian kondisi tubuh penting dipahami karena ada keterkaitan
dengan factor lain.

Literatur :

   1. Farm Management (Kay, R.D & W.M. Edward, 1994)

   2. Farm Animal Management & Poultry Production (Sastry & Thomas, 1976).

   3. Genetics of Livestock Improvement (Lasley J. F., 1978)

   4. Manajemen Usaha Ternak Potong (Undang Santosa, 2006)

   5. Livestock Judging Guide, http://www.ksre.ksu.edu/library/4h_y2/S92.pdf

								
To top