MANAJEMEN SELEKSI, BREEDING, REPRODUKSI

Document Sample
MANAJEMEN SELEKSI, BREEDING, REPRODUKSI Powered By Docstoc
					Tatap muka ke 5 – 6

                                 POKOK BAHASAN III

                 III. MANAJEMEN SELEKSI, BREEDING, REPRODUKSI

Tujuan Instruksional Umum :

          Mengetahui pentingnya manajemen seleksi maupun pemuliabiakan dan
          reproduksi pada ternak potong, untuk meningkatkan produksi sesuai dengan
          tujuan pemeliharaan ternak potong.

Tujuan Instruksional Khusus :

          Mengetahui tujuan seleksi dan pemuliabiakan pada ternak potong.

          Mengetahui cara seleksi dan pemuliabiakan pada ternak potong.

          Mengetahui manajemen reproduksi dan pola perkawinan pada ternak potong .

Uraian Materi :

          Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang dianggap
mempunyai mutu genetik baik untuk dikembangkan lebih lanjut serta memilih ternak
yang dianggap kurang baik untuk disingkirkan dan tidak dikembangbiakkan lebih
lanjut.

          Seleksi dilakukan untuk membentuk program peternakan dengan hasil produk
yang berkualitas tinggi, biasanya dilakukan dengan program perkawinan yang
terarah. Program ini akan menghasilkan keturunan dengan karakteristik yang mampu
meningkatkan produktivitas dan nilai ternak. Manajemen dan pengelolaannya
dilakukan sejak perkawinan sampai pasca lahir.

          Pemuliabiakan sapi potong bertujuan untuk menghasilkan sapi bibit yang
diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu genetik populasi sapi potong.

          Policy seleksi / breeding yang dilakukan pada usaha ternak potong harus
disesuaikan dengan tujuan usaha itu sendiri misalnya untuk tujuan breeding, fattening
                                                                                   56




maupun kombinasi breeding -fattening, karena masing-masing tujuan mempunyai
kriteria yang belum tentu sama.

      Tujuan untuk breeding yang jelas akan menunjukkan arah seleksi terhadap
perbaikan mutu genetik generasi berikutnya dan kemampuan reproduksi calon induk /
pejantan, termasuk produktivitas anak pada usaha peternakan tersebut. Dengan kata
lain, seleksi untuk tujuan breeding adalah memilih induk maupun pejantan yang
unggul. Produktivitas induk dapat dilihat dari breeding load yang efisien dengan
manajemen reproduksi yang benar / tepat, dalam hal ini perlu penerapan program
Inseminasi Buatan.

      Seleksi dengan tujuan fattening akan menunjukkan arah seleksi untuk
pemilihan calon bakalan post weaning yang potensial untuk menghasilkan edible
meat / daging maksimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

      Sedangkan seleksi dengan tujuan tenaga kerja akan menunjukkan ar ah
seleksi pada ternak-ternak yang berpotensi sebagai tenaga kerja maksimal.

      Beberapa factor yang perlu dipahami dalam melakukan seleksi adalah
karakteristik bangsa, karakteristik produksi, ternak pengganti, kelompok pejantan dan
bakalan. Masing-masing karakteristik tersebut merupakan criteria yang sangat
penting agar dapat memproduksi daging yang berkualitas tinggi. Misalnya dalam
menentukan bangsa ternak, akan sangat ditentukan oleh permintaan pasar, tipe
usaha, program perkawinan, biaya dan ketersediaan bibit yang baik, kualitas dan
kuantitas pakan, kondisi iklim dan topografi lingkungan pemeliharaan serta selera
konsumen.

Pola seleksi & breeding pada usaha ternak potong

Sasaran      :

      Produksi yang mengarah pada mutu genetis yang baik, sesuai dengan tujuan
      pemeliharaan

Tahap seleksi        :

      Seleksi memilih calon breeding stock
                                                                                  57




               Kriteria dasar dalam pemilihan ternak adalah berdasarkan bangsa dan
       sifat genetis, bentuk luar, kesehatan. Dalam memilih bangsa dan sifat
       genetisnya, sebaiknya memilih bangsa yang paling disu kai/populer baik lokal
       maupun impor, sesuai dengan kondisi setempat dan tujuan usaha.

               Bentuk luar seekor ternak juga menjadi bahan pertimbangan dalam
       seleksi, karena bentuk luar berkorelasi positip terhadap faktor genetis (laju
       pertumbuhan, mutu dan hasil          akhir/daging). Kriteria pemilihan ternak
       berdasarkan kesehatan antara lain keadaan tubuh, sikap dan tingkah laku,
       pernapasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan sapi.

               Banyak metode seleksi yang dapat digunakan dalam pemilikan ternak,
       seperti pedigree, farm test selection, independent culling level, tandem
       methode dan progeny test. Metode seleksi yang digunakan pada ternak
       potong biasanya adalah independent culling level dan tandem.

   Seleksi betina pengganti (replacement)

       Pada sapi

       Betina pengganti adalah dasar untuk mencapai keberhasilan pemeliharaan
kelompok induk yang akan menghasilkan sejumlah pedhet sebagai produk yang
diharapkan. Banyaknya jumlah induk yang akan diganti tergantung pada beberapa
factor antara lain :

       Tingkat reproduksi kelompok ind uk yang dipelihara.

       Rencana mengurangi atau menambah jumlah kelompok.

       Umur rata-rata induk dalam kelompok yang dipelihara.

       Berkurangnya jumlah induk dalam kelompok.

       Jumlah induk yang diafkir dalam kelompok.

Langkah manajemen yang perlu dilakukan adalah :
                                                                                       58




      Melakukan evaluasi sapi betina yang sudah dipersiapkan sebagai calon
      pengganti pada periode saat sapih, saat akan kawin pertama dan setelah
      perkawinan.

      Memilih betina yang berasal dari keturunan dengan produktivitas tinggi / baik.

      Memilih betina yang cepat melahirkan dengan bobot badan tinggi.

      Memilih betina dengan konformasi dan konstitusi tubuh proporsional.

      Memilih betina yang sehat dan terbebas dari penyakit menular maupun
      herediter.

      Pada domba

      Prinsip pemilihan betina pengganti pada domba hamper sama d engan sapi.
Dasar utama yang digunakan adalah kondisinya baik, kesehatan, kemampuan
menghasilkan susu yang dapat memenuhi kebutuhan cempenya. Adapun sebagai
acuan adalah :

      Tingkat kebuntingan induk lebih tinggi

      Produksi susu induk tinggi

      Memiliki sifat keibuan (mothering ability) tinggi

      Daya hidup lama.

      Pada babi

      Pada ternak babi, betina pengganti harus memiliki keuntungan dalam
perubahan nilai genetisnya pada induk. Umumnya jumlah pengganti yang
dipersiapkan antara 20 – 25% dari setiap kelahiran. Langkah -langkah operasional
betina pengganti pada babi adalah :

      Evaluasi babi dara pengganti dilakukan pada empat periode : saat lahir, saat
      sapih, saat bobot badan sekitar 82 – 91 kg dan saat dikawinkan.

      Memilih babi yang cepat pertumbuhannya, jumlah litter banyak , perdagingan
      baik.
                                                                                    59




          Dari segi reproduksi baik, ukuran vulva normal, pubertas satu bulan sebelum
          perkawinan, berasal dari induk yang mempunyai jumlah anak sapih 9 – 10
          anak per kelahiran. Ambing kompak, sekurang -kurangnya mempunyai 6
          pasang puting.

          Konformasi tubuh kompak, proporsional.

          Ketebalan lemak punggung pada saat bobot badan 91 kg lebih tipis
          dibandingkan babi lain pada bobot yang sama.

          Mempunyai BB lebih tinggi pada umur 170 hari dibandingkan dengan babi lain
          yang ada dalam kelompok.

          Bebas dari penyakit dan cacat bawaan.

   Seleksi pejantan

          Pejantan adalah sumber plasma nutfah yang akan menurunkan sifat -sifatnya
pada keturunannya. Langkah -langkah operasionalnya adalah :

Pada sapi :

          Pilih pejantan yang kuat

          Berasal dari tetua yang catatan pedigree nya ba ik

          Bobot lahir sedng, pertumbuhan cepat sampai umur 12 – 18 bulan, tetapi
          bobot dewasa tidak terlalu berat.

          Pilih pejantan yang mempunyai fertilitas tinggi, lingkar skrotum pada umur 1
          tahun berkisar 32 – 34 cm dan tidak kurang dari 34 cm pada umur 2 tahun
          atau lebih.

          Pilih pejantan yang mempunyai tipe baik.

          Pada saat pejantan berdiri kedudukan kaki -kakinya harus kuat, terutama kaki
belakang. Kaki belakang akan menjadi tumpuan pada waktu pejantan mengawini
betina.

          Dalam memilih domba pejantan, terutama untu k tujuan persilangan terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :
                                                                                    60




       Tingkat pertumbuhan cepat

       Kualitas dan kuantitas karkas cukup baik dan menguntungkan

       Kemampuan seksualnya tinggi dan agresif, seekor pejantan mampu melayani
       50 – 60 ekor betina, tetapi pada pemeliharaan di padang yang kurang baik
       hanya mampu melayani 40 ekor betina.

       Fertilitas tinggi.

       Pada seleksi babi pejantan, yang perlu diperhatikan adalah keadaan sifat -sifat
baik yang nantinya akan diturunkan pada anak -anaknya. Pejantan harus mampu
melayani betina sampai enam kali dalam seminggu dengan seks rasio 1 : 15.

   Seleksi bakalan

       Beberapa factor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bakalan yang
dapat menentukan besar kecilnya keuntungan perusahaan adalah :

       Biaya pakan, termasuk bentuk, proporsi dan jumlah pakan yang harus
       disediakan.

       Biaya margin (selisih) antara pembelian bakalan dengan harga jual saat finish.

       Perhitungan nilai ekonomis gain yang diperoleh.

       Prediksi kebutuhan fasilitas dn peralatan yang harus diinvestasikan.

       Mengetahui pangsa pasar pada saat bakalan tersebut dipotong / dijual.

       Menentukan lama pemberian pakan selama penggemukan.

       Efisiensi kebutuhan tenaga kerja.

       Dalam menyeleksi bakalan untuk tujuan tersebut, harus diperhatikan beberapa
hal sebagai berikut :

       Mempunyai efisiensi pakan tinggi

       Bakalan berumur muda

       Ternak jantan akan tumbuh lebih cepat tumbuh dan efisien daripada ternak
       betina, sebaiknya ternak jantan sudah dikastrasi.
                                                                                       61




      Ternak yang mengalami kekurangan pakan atau mendapat pakan berkualitas
      rendah sebelum digemukkan akan menghasilkan gain yang lebih tinggi pada
      saat digemukkan (mengalami pertumbuhan kompensasai / compensatory
      growth).

Beberapa indikator untuk menentukan bangsa sapi :

      Jumlah populasi

            Semakin     tinggi   populasi   suatu    jenis   ternak,   semakin    mu dah
      mendapatkan jenis ternak tersebut.

      Pertambahan populasi setiap tahun

            Merupakan penjabaran dari kematian dan kelahiran ternak sapi setiap
      tahun. Semakin rendah tingkat kematian ternak sapi di suatu wilayah, semakin
      cepat pertambahan populasinya.

      Penyebaran

            Walaupun populasi suatu jenis ternak (sapi) termasuk tinggi, tetapi
      kalau penyebarannya tidak merata pada berbagai daerah, maka akan sulit
      untuk mendapatkan jenis ternak tersebut. Misalnya sapi PO tersebar di seluruh
      daerah di P. jawa, Sumatera dan pul au lainnya, sedangkan sapi Bali tersebar
      di P. Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Sumbawa, Timor, Lampung.

      Produksi karkas

            Produksi karkas ternak sapi ditentukan oleh bobot badan dan
      persentase karkasnya. Semakin tinggi produksi karkaas, semakin mah al pula
      harga sapi. Sapi Bali mempunyai persen karkas paling tinggi (56,9%)
      dibandingkan dengan sapi lokal yang lain.

      Efisiensi penggunaan pakan

            Efisiensi   pakan    ditentukan   dari    konversi    pakannya,      biasanya
      berdasarkan konsumsi bahan kering pakan. Semakin ke cil angka konversi
      pakan, semakin efisien ternak tersebut mengubah pakan menjadi daging.
                                                                                   62




Tahap pelaksanaan pemilihan sapi :

      Pemilihan     induk   maupun   pejantan   sangat   penting   dilakukan   karena
berpengaruh terhadap keberhasilan perkawinan dan kualitas pedet yan g dihasilkan.
Syarat indukan yang berkualitas adalah :

   1. Indukan minimum berumur 1,5 – 2 tahun, maksimum 5 tahun, dengan bobot
      badan untuk sapi lokal sekitar 225 – 250 kg/ekor dan sapi impor sekitar 350
      kg/ekor.

   2. Mata cerah, bulu bagus dan mengkilap serta pa nggul yang besar.

   3. Bentuk ambing relatif besar, letaknya simetris, puting 4 buah.

   4. Ukuran rongga pinggul (pelvis) sekitar 20 – 25 cm (untuk memudahkan induk
      ketika akan melahirkan).

   5. Tidak memiliki kelainan fisik dan penyakit menular.

Secara umum yang menjadi dasar / pertimbangan dalam pemilihan ternak sapi yang
akan dipelihara peternak adalah :

      Tipe ternak

             Pemilihan tipe ternak sapi didasarkan atas kemampuan memproduksi
      sesuatu dan bentuk luar sapi yang bersangkutan. Ada tiga tipe sapi potong
      yaitu tipe potong (sapi Shorthorn, Hereford, Simental, Brahman, Bali dll), tipa
      kerja (sapi Ongole), tipe dwi guna (sapi Bali, Madura, PO, Peranakan
      Brahman)

      Penilaian dan pengukuran sapi

             Setelah memilih tipe potong, kemudian menilai tipe tersebut dalam
      kelompok dengan cara melakukan pengamatan dari jarak jauh dan dari dekat
      (pengamatan dari samping, belakang dan depan). Pengamatan dari jarak jauh
      (pengamatan keolmpok) dilakukan pada jarak kurang lebih 6 meter, kemudian
      mengambil beberapa ekor sapi dan melakukan pengamatan individu untuk
      mengetahui kondisi ternak. Sapi diusahakan bergerak untuk mengetahui
                                                                                   63




       kelincahan / kesehatannya. Kalau perlu dapat dilakukan pengukuran pada
       bagian tubuh sapi.

               Pengamatan dari jarak dekat bertujuan untuk memperoleh skor
       penilaian yang baik. Ternak sapi diamati dari berbagai arah baik arah samping,
       belakang maupun depan. Kemudian tahap selanjutnya adalah memegang dan
       mengukur bagian-bagian tubuh tertentu. Bagian -bagian tubuh yang terpenting
       pada ternak sapi yang diukur antara lain tinggi gumba , tinggi kemudi, dalam
       dada, lingkar dada/tubuh, lebar dada, lebar kemudi, panjang tubuh, lebar dahi,
       panjang kepala dan lebar pipi.

       Setelah 2 hal tersebut di atas terlaksana, tahap selanjutnya adalah melakukan
seleksi terhadap ternak sapi.

Tahap seleksi :
                                                  Calon Induk

                               Seleksi            Calon Pejantan

                                                  Calon Bakalan

                                             Breeding
                       Calon Induk x calon pejantan

            Breeding load sesuai     - S/C=1
                                     - Deteksi birahi tepat
            CR max                   - Saat perkawinan tepat
                               Perkawinan

                                        Bunting
                                   Partus


                                    Anak



Fattening              Replacement                Pejantan sbg     Untuk tenaga
                       untuk breeding             bibit            kerja
                       stock


Seleksi bakalan :
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih bakalan adalah :
   a. Bakalan memiliki efisiensi pakan yang tinggi
                                                                                     64




   b. Umur bakalan masih muda
   c. Sebaiknya memilih bakalan yang sudah dikastrasi
   d. Sapi yang pada saat periode pertumbuhan memperoleh pakan berkualitas
      rendah akan menghasilkan pertambahan bobot badan yanng lebih tinggi dari
      pada sapi yang diberi pakan b erkualitas baik (hal ini peluang untuk
      memperoleh pertumbuhan kompensasi)
   e. Sapi jantan akan tumbuh lebih cepat dan efisien daripada steer, sedangkan
      steer tumbuh lebih baik daripada heifer, tetapi harga jual sapi jantan akan lebih
      rendah.

      Breeding

             Breeding   adalah suatu cara manipulasi genetik individu untuk
      mendapatkan mutu genetik yang baik melalui perkawinan, baik secara
      inbreeding maupun out breeding (cross breeding, back cross, grading up dan
      pure breeding).

PEMILIHAN BIBIT

A. Pengertian Bibit dan Benih

       Dalam suatu usaha peternakan, pemilihan bibit unggul merupakan suatu
   keharusan yang harus dilakukan karena bibit merupakan salah satu kunci
   keberhasilan dari usaha peternakan. Bibit yng baik didukung pakan yang baik
   dan tatalaksana yang baik akan mendapatkan produksi yang optimal . Ternak
   yang dipilih untuk digunakan sebagai bibit harus didasarkan pada sifat -sifat
   produksi tinggi guna memperoleh produksi yang maksimal.

       Untuk menjamin mutu produksi yang sesuai dengan permintaan konsumen
   diperlukan bibit ternak yng bermutu, oleh ka rena itu diperlukan pengaturan
   mengenai standar mutu atau kualitas bibit ternak dan produksinya.

       Tujuan utama standarisasi adalah untuk meningkatkan daya saing has il
   peternakan di pasaran dalam dan luar negeri              yang diharapkan dapat
   meningkatkan penerimaan devisa negara dan pendapatan petani.
                                                                                     65




        Bagi ternak-ternak tertentu, standar mutu bibit diatur dalam Standar
    Pertanian Indonesia Bidang Peternakan (SPINAK) No. 01/43/1988 yang
    dituangkan      dalam    SK    Meteri   Pertanian   No.   3568/Kpts/TN.410/5/1988.
    sedangkan bagi ternak yang belum diatur dalam Standarisasi Mutu diatur dalam
    Kesepakatan Teknis.

    Bibit Ternak : semua ternak hasil proses penelitian dan pengkajian dan atau
                       ternak yang memenuhi persyaratan tert entu untuk dikembangkan
                       dan atau produksi

    Benih : calon bibit ternak yang mempunyai kemampuan persyaratan tertentu
              untuk dikembangbiakan seperti : mani (semen), sel telur (oocyt), telur
              tetas dan embrio

    Sumber : Pedoman Pembibitan Ternak Nasional , Hardjosubroto (1994):

    Bibit Sapi : pedet / sapi muda yang dipelihara untuk menjadi sapi potong baik
                   jantan maupun betina

    Sapi Bibit : Sapi yang memenuhi persyaratan tententu dan dibudidayakan untuk
                   reproduksi dengan tujuan utama produksi daging dan atau tena ga
                   kerja. Mani dan embrio termasuk didalam artian sapi bibit

    Di Indonesia, semen beku berasal dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) :

-     Ungaran

-     Lembang

-     Singosari (Jawa Timur)

    Prinsip IB :

    Ada pejantan unggul           menghasilkan banyak semen ; b isa mengawini banyak
                             betina

    Jadi, IB adalah untuk memanfaatkan pejantan unggul semaksimal mungkin

    Misal : untuk kawin alam ; satu ekor sapi jantan bisa mengawini 75 -100 betina

    Tetapi dengan IB, satu ekor sapi bisa untuk 7.500 – 10.000 betina (100x)
                                                                                         66




      Prinsip Embrio Transfer :

      Untuk memberdayakan betina unggul

      Misal : secara alami, betina bisa menghasilkan anak setiap tahun satu ekor ,
      tetapi dengan embrio transfer bisa menghasilkan anak lebih banyak .

      Caranya betina disuntik dengan hormon agar terjadi super ovulasi, sehingga bisa
      mengahasilkan ovum lebih dari satu (bisa sampai 10)

      Ovum tersebut diambil, di IB, sehingga menghasilkan banyak embrio.

      Embrio diambil         dititipkan pada betina lain (resipien) yang sudah siap bunting
      (caranya : disuntik dengan hormon penyerentakan berahi)

      Penentuan Umur sapi :

      Pedet              :   < 1 tahun : gigi belum ada yang berganti

      Sapi Muda          : 1 – 3 tahun        : 1-2 pasang gigi berganti (poel)

      Sapi Dewasa        :   > 3 tahun : 3-4 pasang gigi berganti

Dasar Pemilihan Bibit

A. Berdasarkan Silsilah (pedigree)

  Silsilah : catatan prestasi produksi tetua (induk dan pejantan)

  Catatan dilakukan oleh perusahaan besar (di Indonesia              biasa dilakukan pada
  ternak perah; ternak potong masih jarang)

  Catatan pada ternak potong :

  -    Berat lahir              - Berat dewasa              - PBBH

  -    Berat sapih              - Bobot potong

   (kalau tidak ada timbangan untuk mengukur BB            penaksiran menggunakan LD

  Rumus yang sangat terkenal untuk menaksir BB adalah Rumus Schrool, yaitu :
                     2
  BB = (LD + 22)
          100
                                                                                   67




   untuk sapi-sapi Bos Taurus (sapi-sapi di Eropa)

Kalau digunakan untuk sapi -sapi di Indonesia (sapi tropis)   Bos Indicus biasanya
terlalu berat;

Misal : LD = 100 cm

BB = (100+22) 2           = (122)2
       100                   100

    = 148,86 kg

Kalau ditimbang      kurang dari 148,86 kg

yang cocok :

BB = (LD+5)2
       100

BB = (100+5)2
       100

    = 110,25 kg

Selisih : 38 kg        untuk sapi-sapi gemuk; untuk sapi-sapi kurus lebih kecil lagi;
lebih-lebih untuk pedet

Hasil dari seleksi berdasarkan silsilah :

a. Sapi potong :

  - Bobot pada umur tertentu (bobot lahir, bobot sapih, bobot dewasa)

  - Kecepatan pertumbuhan (pbbh)

  - Ukuran tubuh tertentu (tinggi gumba, lingkar dada, panjang badan)

b. Kambing & Domba :

  - Bobot pada umur tertentu

  - Kecepatan pertumbuhan

  - Produksi dan karakteristik wool

  - Indeks fertilitas induk
                                                                             68




  c. Babi :

    - Seleksi Indeks

    Indeks Induk = 100 + 6,5 ( L – L ) + 1.0 (W – W)

    L : Jumlah anak hidup

    L : Rata-rata jumlah anak hidup

    W : Bobot anak (21 hari)

    W : Rata-rata bobot 21 hari

  Pemilihan bibit berdasarkan Pedigree masih jarang dilakukan;

  Yang banyak dilakukan adalah seleksi berdasarkan Eksterior.

B. Berdasarkan Eksterior (bentuk luar)

   Berdasarkan pengamatan, yaitu dengan :

   - melihat

   - memegang / meraba

   Ciri-ciri umum bibit yang baik :

   1. Sesuai dengan bangsanya

      - Sapi Ongole           : putih abu-abu

      - Sapi Bali             : merah bata

      - Sapi Bos Indicus      : mempunyai punuk

      Misal : Sapi Bali

      - Warna pedet : merah bata

      - Menjelang dewasa : betina : merah bata; jantan : kehitaman

      - Dilihat dari belakang, bokongnya ada lingkaran putih

     Bos Indicus (sapi-sapi Asia) : tinggi, ramping, berpunuk, bergelambir

     - tinggi       agar jauh dari tanah, sehingga tidak panas
                                                                                69




  - berpunuk & bergelambir         untuk memperluas permukaan tubuh; agar

                                    tempat untuk membuang panas lebih luas

  Bos Taurus (sapi-sapi Eropa) :

  - pendek      agar dekat dengan tanah, sehingga tidak kedinginan

  - permukaan tubuh sempit         agar kontak dengan udara luar sesedikit mungkin

2. Sesuai dengan tujuan pemeliharaan , misalnya :

  - Penghasil daging :

  - Penghasil wool :

  Pejantan          : gagah, scrotum kenyal

  Induk             : ambing simetris

3. Sehat; dengan ciri-ciri :

  - mata bersinar

  - bulu halus dan mengkilap

  - kulit elastis

  - sikap berdiri tegak

  - lincah, riang, kuat

  - nafsu makan baik

4. Sesuai dengan standar (bila ada)

  Contoh standar

  Standar Umum Bibit Sapi (SPINAK 01/43/1988)

  * Sapi Madura

  1. Sifat Kualitatif

     a. Warna : merah bata / merah coklat be rcampur putih dengan batas yang
                    tidak jelas pada bagian paha
                                                                                70




     b. Tanduk : kecil, pendek serta memngarah ke bagian luar

     c. Bentuk badan : tubuh kecil, kaki pendek ; betina tidak berpunuk, jantan
                         punuk berkembang baik dan jelas

  2. Sifat Kuantitatif

     a. Tinggi gumba :

        Betina : minimal 105 cm, maksimal 108 cm

        Jantan : minimal 115 cm, maksimal 125 cm

     b. Umur ternak :

        Betina : 18 – 24 bulan (maksimal punya 1 pasang gigi seri tetap)

        Jantan : 24 – 36 bulan (min. punya 1 ps. gigi tetap, max punya 2 ps.)

Standar untuk Babi Parent Stock

Standar Umum

a. Babi bibit Parent Stock harus mempunyai surat keterangan atau jaminan dari
   perusahaan Babi Bibit Grand Parent Stocknya; mengenai : warna, bentuk
   badan dan kualitasnya sebagai babi b ibit.

b. Babi bibit Parent Stock harus sehat dan bebas dari cacat fisik seperti : cacat
   mata (kebutaan), pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta tidak
   terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya .

c. Semua bibit Parent Stock betina ha rus bebas dari cacat alat reproduksi.
   abnormal ambing serta tidak menunjukkan gejala kema ndulan.

d. Babi bibit Parent stock jantan harus siap sebagai pejantan serta tid ak
   menderita cacat pada alat kelaminnya, terutama testis harus satu pasang .

Standar Khusus :

a. Umur Dewasa kelamin :

  - Betina : 5 bulan
                                                                             71




   - Jantan : 5 bulan

b. Babi bibit Parent Stock dapat mencapai BB dewasa kelamin :

   - Betina : 80 – 90 kg

   - Jantan : 80 – 90 kg

c. Berasal dari tetua Induk dengan jumlah anak lahir hidup per kelahiran :

   - Dari jalur jantan : + 7 ekor

   - Dari jalur betina : 8 – 9 ekor

d. Bobot Lahir Anak :

   - Dari jalur jantan : + 1,3 kg

   - Dari jalur betina : 1,2 – 1,4 kg

e. Rataan pbbh :

   - Dari jalur jantan : + 685 gr

   - Dari jalur betina : 740 – 70 gr

5. Calon Pejantan

   - Dada dalam dan lebar

   - Testis normal

   - Nafsu berahi tinggi

6. Calon induk

   - Tidak terlalu gemuk

   - Letak vulva normal

   - Ambing normal

   - Puting normal (jumlah dana bentuk), missal : sapi 4, babi 12

   - Sifat mengasuh anak (mothering ability) b aik
                                                                                      72




Ciri khusus Ternak Bibit

Sapi Potong

Standar Mutu Bibit (SK Mentan 358/TN410/88)

   -   Sapi Madura

   -   Sapi Bali

   -   Sapi Ongole

   -   Sapi Peranakan Ongole (PO)

   -   Sapi Brahman Lokal

   -   Kerbau

Sifat kualitatif :

   -   Warna

   -   Tanduk

   -   Bentuk Badan

Sifat Kuantitatif :

   -   tinggi Gumba

   -   Umur

Warna sapi Brahman tidak Uniform , karena terbentuk dari emp at (4) bangsa, yaitu :

   -   Sapi Gir

   -   Sapi Krishna Valley

   -   Sapi Nellore

   -   Sapi Gujarat

Sapi PO

   -   Sekarang sudah tidak begitu disukai, karena penggunaan sebagai tenaga kerja
       sudah berkuarang (diganti dengan traktor)
                                                                                 73




  -   Yang lebih disukai adalah Simmental, karena hasil daging baik ; tetapi pakan
      harus lebih baik

Sapi Jantan:

- Testis Simetrsa kanan dan kiri

- Testis kenyal dan elastis

Sapi Betina :

- Puting : empat buah dan simetris

- Ambing : besar dan simetris

- Vulva    : tidak terlalu ke atas

Kambing dan Domba :

- Sama dengan sapi, hanya ditambah : Jantan dan betina dari keturunan kembar !

Babi :

Standar Mutu Bibit Impor

   1. Standar Mutu Bibit babi Grand Parent Stock (GPS)

   2. Standar Mutu Bibit babi Parent Stock (PS)

   3. Standar Mutu Bibit babi Lokal (babi Jawa, babi Sumatra, babi Bali)

Standar Umum :

  -   SK dari perusahaan di atasnya

  -   Bebas dari cacat fisik dan reproduksi

Standar Khusus

  -   Bobot ternak

  -   Dari induk dengan litter size tertentu

  -   Ambing baik; putting 6 pasang dan simetris
                                                                 74




Klasifikasi Bibit

1. Secara Umum

  a. Bibit Dasar (Foundation Stock)      bibit hasil pemuliaan

     - Spesifikasi tertentu

     - Mempunyai silsilah

     - Untuk menghasilkan bibit induk

  b. Bibit Induk (Breeding Stock)

     - Spesifikasi tertentu

     - Mempunyai silsilah

     - Untuk menghasilkan bibit sebar

  c. Bibit Sebar (bibit niaga = Commercial Stock)

     - Spesifikasi ternentu

     - Untuk digunakan dalam proses produksi

     yang komplit pada ternak ayam dan babi !

2. Secara Khusus (pada unggas dan babi)

a. Bibit Galur Murni (pure line / PL)

  - Spesifikasi tertentu

  - Menghasilkan bibit nenek Grand Parent Stock = GPS)

b. Grand Parent Stock (GPS) = Bibit Nenek

  - Sesifikasi tertentu

  - Menghasilkan bibit induk (Parent Stock = PS)

c. Parent Stock (PS) = Bibit Induk

  - Spesifikasi tertentu

  - Menghasilkan bibit sebar (bibit niaga) = Final Stock (FS)
                                                                                75




d. Final Stock (FS) = Bibit sebar (bibit Niaga)

  - Spesifikasi tertentu

  - Untuk dipelihara hingga menghasilkan daging / telur

      yang dipelihara langsung oleh peternak

Perusahaan di Indonesia baru sampai dengan : GPS

Untuk galur Murni     biasanya masih impor

Betina PO     ><     Pejantan Simmental

             F1

  -   Jantan : untuk digemukkan; dipotong

  -   Betina >< Simmental

             F2

  -   Jantan : digemukkan; dipotong

  -   Betina >< Simmental

             F3

Keturunan persilangan sapi Simmental jantan harus digemukkan untuk dipotong;
jangan smpai untuk mengawini betina; karena akan mennurunkan mutu genetic;
karena gen Simmental sudah turun !

Betina hasil persilangan sebaiknya dibeli oleh pemerintah; digunakan untuk bibit;
jangan sampai keluar dari kawasan tes ebut

A. Pemilihan Bibit sapi dan Kerbau

        Secara umum pada pemilihan bibit ternak, harus diperhatikan sehat tidaknya
ternak calon bibit. Adapun tanda -tanda ternak sehat adalah :

        a. Mata bersinar, tidak terdapat kondisi patologik

        b. Bulu halus dan mengkilap
                                                                                     76




        c. Kulit tampak elastis

        d. Sikap berdiri tegak, kuat dan semua bagian tubuh diduku ng oleh keempat
           kaki dengan teracak yang rata

        e. Gerak lincah dan kuat

        f. Nafsu makan cukup baik, bila diberi ransum lain cepat menyesuaikan

Standar Umum Mutu Bibit Sapi

   a. Sapi harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti : cacat mata
       (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan bulu abnormal

   b. Sapi bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing
       serta tidak menunjukkan gejala kemandulan

   c. Sapi bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada
       alat kelaminnya

Contoh standar mutu bibit sapi berdasarkan SPINAK/01/43/1988 adalah :

Standar Mutu Bibit Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sifat Kualitatif :

   a. Warna : putih kelabu atau kehitam -hitaman

   b. Tanduk : relatif pendek, pada yang betina lebih pendek dibanding jantan

   c. Bentuk badan : kepala relatif pendek dengan profil melengkung. Punuk besar
       mengarah ke leher, lipatan -lipatan kulit yang terdapat di bawah perut dan leher
       menuju ke arah leher, kaki panjang dan kokoh

Sifat Kuantitatif :

   a. Tinggi gumba : betina 112 - 118 cm.

                         jantan 118 - 125 cm

   b. Umur : betina 18 - 24 bulan ( maksimal ganti gigi 1 p asang )

                Jantan 24 – 36 bulan (ganti gigi 1 – 2 pasang )
                                                                                      77




Standar Umum Mutu Bibit Kerbau (berdasarkan Kesepakatan Teknis)

        a. Kerbau bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti cacat mata
          (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal serta
          tidak terdapat kelainan tulang

        b. Semua Kerbau bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal
          ambing serta tidak menunjukkan gejala kemandulan

        c. Kerbau bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat
          pada alat kelaminnya

Contoh standar mutu bibit kerbau berdasar Kesepakatan Teknis

Standar Mutu Bibit Kerbau Lumpur (Swamp buffalo)

Sifat Kualitatif :

   a. Warna : kulit berwarna abu -abu, hitam serta bulu berwarna abu -abu sampai
         hitam

   b. Tanduk : mengarah ke belakang horizontal, bentuk bulat panjang dengan
         bagian ujung yang meruncing serta membentuk setengah lingkaran

   c. Bentuk badan : kondisi badan baik, bagian belakang penuh dengan otot yang
         berkembang, leher kompak dan kuat serta mempunyai proporsi yang
         sebanding dengan badan dana kepala, ambing berkembang dan simetr is

Sifat Kuantitatif :

   a. Tinggi gumba : betina 120 – 125 cm, jantan 125 – 130 cm

   b. Umur : betina 24 – 36 bulan (maksimal ganti gigi 1 pasang),

                 jantan 30 – 40 bulan ( ganti gigi 1 – 2 pasang )

   c.     Berat badan : betina 250 – 300 kg, jantan 300 – 350 kg

B. Pemilihan Bibit Domba dan Kambing

          Produktivitas induk domba dan kambing sangat ditentuka oleh kelahiran
anaknya. Induk muda yang mampu melahirkan anak kembar pada kelahiran pertama
                                                                                   78




ada kecenderungan melahirkan kembar pula pada waktu selanjutnya. Induk-induk
inilah yang dikehendaki dalam memilih bibit karena dapat menurunkan kembar ,
walaupun kemungkinan peluang hanya 15%.

       Kriteria pemilihan bibit yang biasa digunakan sebagai pedoman dalam rangka
melakukan seleksi terhadap ternak domb a dan kambing adalah :

       a. Sehat; tanda-tanda domba dan kambing yang sehat antara lain : mata
            bersinar dan bersih, bulu meng kilat dan bersih, selaput lendir mata dan
            kulit tidak pucat, gerakannya aktif, hi dung dan mulut tidak mengeluarkan
            cairan, dan anus tampak bersih

       b. Bangsa; menurut kesukaan peternak d an konsumen, dengan memilih
            bangsa domba/kambing yang biasa diternakkan di daerah sekitar.

       c.   Kesuburan; induk yang subur adalah yang memliki banyak anak setiap
            melahrikan

       d. Temperamen; induk yang mempunyai temperamen yang baik yaitu induk
            yang mau merawat anaknya dengan rajin dan selalu menyusui anaknya

       e. Produksi susu tinggi; untuk memberikan jaminan hidup dan pertumbuhan
            anak yang baik sampai disapih, diharapkan induk mampu mensuplai susu
            yang cukup.

1. Pemilihan Bibit Berdasarkan Silsilah (Pedigree)

       Silsilah adalah suatu catatan tertulis dari keadaa n yang lampau, serta suatu
estimasi akan penampilan seekor ternak. Sebagai contoh seekor pejantan yang telah
menurunkan anak-anak dengan bobot sapih tinggi serta mempu nyai anak yang
kualitas wool atau karkas yang bagus, maka dapat diharapkan pejantan itu memang
mampu meneruskan sifat -sifat baik tersebut kepada keturunannya.

       Pemilihan bibit dengan menggunakan silsilah merup akan cara yang terbaik,
karena dari silsilah ini akan dapat diketahui prestasi produksi dari induk dan
pejantannya.
                                                                                 79




2. Pemilihan Bibit dengan cara Melihat Bagian Tubuh Luar (Eksterior)

       Penilaian penampilan atau performance domba dan kambing diamati pada
keadaan   tubuh      luar,   yaitu   dengan   memegang/meraba   ataupun   melakukan
pengamatan. Penilaian terhadap domba dengan pengamatan lebih sulit diband ing
dengan kambing, karena pada umumnya domba memiliki bulu yang tebal.

       Agar diperoleh hasil yang baik pada penilaian dengan pengamatan, maka
perlu dilakukan pengamatan dari samping, muka dan belakang.

a. Pengamatan dari samping

  Secara umum tubuh tampak besar, bagian atas dan bawah tubuh rata, k aki
  pendek, lurus dan kuat

b. Pengamatan dari depan

  Moncong besar berbentuk segi empat dengan lubang hidung cukup lebar , mata
  besar, dada dalam dan jarak kedua kaki depan relatif lebar

c. Pengamatan dari belakang

  Mulai dari bahu sampai ke ujung pantat cukup lebar, padat dan berisi

d. Menilai dengan memegang/meraba

  Perabaan dimulai dari leher, punggung, pinggang sampai p antat.

3. Pemilihan Domba dan Kambing Calon Bibit

Tanda-tanda Pejantan Calon Bibit :

   a. Sehat, tubuh besar (sesuai umur), relatif panjang dan tidak cacat

   b. Dada dalam dan lebar

   c. Kaki lurus dan kuat

   d. Tumit tinggi

   e. Penampilan gagah

   f. Aktif dan besar nafsu kawinn ya
                                                                              80




   g. Testis normal (2 buah, sama besar dan kenyal)

   h. Alat kelamin kenyal dan dapat ereksi

   i. Sebaiknya berasal dari keturunan kembar

   j. Bulu bersih dan mengkilat

Tanda-tanda betina calon bibit :

   a. Sehat, tidak terlalu gemuk dan tidak cacat

   b. Kaki lurus dan kuat

   c. Alat kelamin normal

   d. Mempunyai sifat mengasuh anak yang baik

   e. Ambing normal (halus, kenyal, tidak ada infeksi/pembengkakan)

   f. Sebaiknya berasal dari keturunan kembar

   g. Bulu bersih dan mengkilap.

C. Pemilihan Bibit Ternak babi

Prinsip-prinsip dasar Pemilihan Ternak

      Pada umumnya para ahli dalam memilih ternak babi untuk dipelihara dapat
menggunakan 4 (empat) dasar pemilihan, yaitu :

         a. Judging; yaitu pemilihan berdasar visual; biasanya digunakan pada
            arena lomba

         b. Pedigree; yaitu pemilihan didasarkan pada prestasi yang dit unjukkan
            oleh nenek moyangnya

         c. Penampilan ternak

         d. Pengujian atau tes produksi seperti yang diatur dalam kesepakatan
            teknis
                                                                                     81




       Sifat-sifat ternak babi ditinjau dari kepentingan ekonomi dapat diklasifikasikan
ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu produktif, reproduk tif dan struktural. Karena setiap
sifat yang diamati pada ternak sebagian ditentukan oleh faktor genetik dan sebagian
oleh lingkungan, maka memilih ternak untuk bibit hend aknya memilih individu-individu
yang berpotensi variasi genetik yang baik dipandang dari sudut ekonomi.

       Pemilihan bibit dalam usaha ternak potong babi, bila ditinjau dari sudut tu juan
pemeliharaan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) golongan, yaitu :

   a. Pemilihan bibit babi bakalan (jantan dan betina) untuk tujuan produksi anak

   b. Pemilihan bibit babi bakalan untuk tujuan digemukkan, kemudian di jual.

Pemilihan bibit babi ditekankan pada :

- Sifat-sifat genetic dari tetuanya

- Penampakan sifat-sifat kelamin sekunder

- Laju pertumbuhan dan efisiensi dalam penggunaan pakan

- Kesehatan ternak

Pemilihan babi bakalan ditekankan pada :

  -   Laju pertumbuhan

  -   Efisiensi pakan

  -   Kesehatan ternak

Memilih Babi Dara dan Pejantan Muda

       Memilih babi dara atau pejantan muda paling sedikit harus sebaik keduanya
(induk/pejantannya) atau lebih superior dalam hal produk, kualitas dan performance
yang potensial yang dapat diteruskan keturunannya dikelak kemudian hari.

Sifat-sifat yang baik dari calon babi dara :

a. Berasal dari tetua yang berkualitas genetik yang baik

b. Berbadan sehat, mata bersih dan bersinar, gerakannya linc ah, serta berat
  badannya sesuai dengan standar berat badan masing -masing bangsa/jenis ternak
                                                                                 82




c. Mempunyai minimal 6 pasang puting susu yang simetris dan mampu
  menghasilkan air susu yang cukup untuk anak yang diasuh

d. Memiliki kaki yang kokoh dan lurus sehingga mampu menopang beban dari berat
  pejantan waktu kawin maupun berat masa bunting

e. Mempunyai sifat keibuan

f. Mempunyai sifat performans seperti laju pertumbuhan dan koefisien pakan yang
  lebih baik dari ternak biasa atau rata -rata ternak

Sifat-sifat yang baik dari pejantan muda :

a. Berasal dari tetua atau nenek moyang yang berkualaita genetik baik

b. Berbadan sehat, mata bersih dan bersinar, gerakannya lincah, berat badannya
  sesuai dengan standar berat badan masing -masing bangsa/jenis babi

c. Memiliki kaki yang kuat dan tegak serta letaknya baik agar bebas bergerak

d. Mempunyai sifat performance yang baik, misalnya laju pertumbuhan serta
  koefisien penggunaan pakan

e. Sifat kejantanannya terlihat nyata dan agresif

    Manajemen reproduksi

       Untuk efisiensi reproduks i, manajemen reproduksi perlu diatur secara cermat
dan tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen reproduksi adalah :

      Kemampuan reproduksi :
             Libido sexualis
             Kualitas sperma / ovum
             Kemampuan fisik
             Litter size
             Produksi susu induk
             Mothering ability
      Efisiensi reproduksi :
             Service per conception
                                                                                     83




                 Breeding load
                 Deteksi berahi
                 Animal crop
                 Farrowing index
                 Conception rate / pregnation rate
Agar perkembangbiakan ternak cepat :

        Manajemen perkawinan yang benar / tepat, diusahakan S/C = 1 dengan
        farrowing index tinggi.

        Kawin pertama dilakukan pada saat dewasa tubuh, sesudah pubertas.

        Fertilitas induk yang baik, kalau mungkin sampai dengan 100 % induk yang
        bunting, hal ini dapat dilakukan dengan seleksi yang terarah.

        Pakan harus cukup dalam kuantitas dan kualit as.

        Seleksi awal untuk pemilihan induk dan pejantan ( breeding stock) harus tepat.

        Pengendalian / penanggulangan penyakit.

        Perawatan kandang dan lainnya harus baik.

Pola perkawinan



                                   Post Partum Estrus


        Birahi          Heat          Partus                   Estrus


Kawin                   kawin                                 kawin         kawin


Gagal            bunting                              gagal           bunting
                                      laktasi
        siklus          bunting                 Post Partum Mating
        estrus
                                                                                    84




Pada ternak yang estrus sesu dah sapih, interval kelahiran ( CI = calving interval)
dihitung sebagai berikut :

       CI     = lama bunting + post partum ma ting

              = lama bunting + post partum estrus + {(S/C – 1) x siklus estrus}

Peningkatan mutu ternak sapi melalui bibit :

       Mengganti seluruh bibit yang telah ada

              Lebih cepat, tetapi biaya lebih tinggi

              Bisa dilakukan secara bert ahap

       Dengan kawin silang antara pejantan unggul terpilih dengan betina lokal.

Karakteristik siklus berahi dan saat tepat perkawinannya

       Uraian                Sapi            Domba          Babi       Kambing
Rata-rata siklus        21              17             20            20
berahi (hari)
Lama berahi (jam)       12 – 18         24 – 36        48 – 72     34 – 38
Ovulasi                 10-12 jam       Akhir berahi   Pertengahan Akhir berahi
                        setelah                        berahi
                        berahi
Saat perkawinan         1. awal         Pertengahan Induk :          Pertengahan
terbaik                 berahi          akhir berahi pertengahan     akhir berahi
                        2. 12-20 jam                 berahi
                        setelah awal                 Dara : hari
                        berahi                       kedua
                                                     setelah
                                                     berahi

TATALAKSANA PERKAWINAN

A. Pubertas

      Proses reproduksi pada ternak baru dapat berlangsung sesudah ternak
tersebut mencapai dewasa kelamin, atau biasa disebut dengan pubertas. Pubertas
adalah suatu indikator bahwa hewan sudah mempunyai kemampuan untuk kawin.
Pubertas terjadi sebelum seekor ternak mencapai dewasa tubuh atau body maturity
                                                                                  85




yang dicapai apabila bobo t badan sudah mencapai 50 -70 persen dari bobot badan
dewasa.

      Pada ternak jantan, pubertas dicapai apabila androgen dan sperma telah
diproduksi, organ-organ reproduksi telah masak, penis telah terbebas dari selubung
dan ternak tersebut mengawini betina dan betina tersebut dapat bunting.

      Pada ternak betina pubertas adalah umur dimana terjadi berahi pertama
disertai dengan ovulasi secara spontan. Satu atau lebih ovulasi tenang dapat terjadi
sebelum ternak betina menunjukkan tanda -tanda berahi yang berhubung an dengan
ovulasi. Frekuensi ovulasi tenang ini sangat tergantung dari efisiensi estrus secara
luas. Umur berahi pertama pada ternak betina bervariasi, pada umumnya disebabkan
karena perkawinan dan perbedaan laju pertumbuhan.

      Diantara banyak faktor yan g mempengaruhi umur tercapainya pubertas adalah
bangsa ternak dan keadaan pakan atau nutrisi. Pada tingkat nutrisi yang rendah dan
laju pertumbuhan yang lambat, pubertas dapat terhambat beberapa minggu, sedang
tingkat konsumsi nutrisi yang tinggi akan mem percepat pubertas. Musim dapat pula
mempengaruhi tercapainya umur pubertas.

      Pada sapi-sapi potong yang ada di Indonesia, pubertas terjadi pada umur
antara 11 – 15 bulan. Untuk sapi-sapi Zebu biasanya terjadi pada umur 18 – 24
bulan, pada sapi-sapi Eropa dicapai pada umur 16 – 18 bulan.

      Pubertas babi jantan dicapai pada umur 5 – 8 bulan, babi jantan muda
sebaiknya dibiarkan mencapai umur 8 -9 bulan sebelum dipakai untuk mengawini
betina. Seekor babi betina mencapai pubertas pada umur sekitar 5 -8 bulan, dan
umur yang dianjurkan untuk perkawinan pertamanya adalah 8 -10 bulan.

      Domba dan kambing mencapai pubertas tergantung pada bangsanya, pada
umumnya umur 6 – 8 bulan.         Ternak jantan sebaiknya mulai dipakai sebagai
pemacek diatas satu tahun.
                                                                                     86




B. Estrus atau berahi pada ternak

      Sejak tercapainya pubertas, terjadilah berahi pada ternak yang tidak bunting,
menurut suatu siklus yang ritmis dan khas bagi jenis -jenis ternak tertentu. Interval
antara satu periode estrus ke periode berikutnya disebut siklus estrus. Sapi, kerbau,
domba, kambing dan babi termasuk hewan poli estrus, karena siklus estrusnya
berkesinambungan; musim atau iklim tidak mempengaruhi terjadinya siklus estrus ini.
Pada ternak jantan, siklus berahi tidak ada, pada umumnya pejantan selalu berse dia
menerima ternak betina untuk aktivitas reproduksi.

      Perkawinan dapat berhasil apabila ternak betina yang dikawinkan dalam
keadaan berahi (estrus). Estrus adalah suatu fase dalam siklus berahi dimana ternak
betina bersedia atau mau menerima pejantan un tuk aktifitas reproduksi.

      Adapun tanda-tanda munculnya estrus pada ternak adalah :

   a. Ternak tampak gelisah

   b. Nafsu makan turun

   c. Mencoba menunggangi dan diam bila dinaiki ternak lain

   d. Sering mengibas-ngibaskan ekor dan sering kencing

   e. Vulva kelihatan bengkak, m erah dan hangat

   f. Keluar lendir transparan dari servik yang mengalir melalui vulva dan vagina.

      Dibandingkan dengan ternak sapi, tanda -tanda berahi pada kerbau hampir
tidak diketahui dan sulit ditentukan. Cara yang paling tepat untuk menentukan apakah
berbau betina tersebut berahi atau tidak dapat digunakan kerb au jantan untuk
mendeteksinya.Tanda-tanda berahi yang tidak nyata tersebut tidak menyulitkan
peternak, karena perkawinan kerbau pada umumnya berlangsung di padang
penggembalaan dimana kerbau jantan l eluasa memilih betina-betina yang sedang
berahi.

      Lama berahi dan siklus berahi pada berbagai jenis ternak berbeda -beda.
Untuk ternak sapi siklus berahi datang sekali dalam 18 -24 hari, dengan rata-rata 21
                                                                                      87




hari, sedang lama berahi berkisar 6 -30 jam, dengan rata-rata 17 jam dan ovulasi
terjadi 9-11 jam setelah selesainya estrus.

          Kerbau betina memperlihatkan siklus berahi yang normal selama kurang lebih
tiga minggu. Di Indonesia, siklus berahi pada kerbau Lumpur berkisar antara 17 -29
hari, dengan rata-rata 21,53 hari. Lama berahi ternak kerbau lebih lama daripada
sapi, yaitu berkisar antara 24 -36 jam, dengan rata-rata 17,65 jam.

          Lama siklus berahi normal pada domba berkisar antara 14 -19 hari, dengan
rata-rata 17 hari, lama berahi pada domba -domba lokal di Indonesia berkisar antara
24-48 jam, dengan rta-rata 35,5 jam.

          Lama berahi pada kambing 24 -45 jam. Berahi akan terulang lagi sekitar 19
hari kemudian (apabila tidak dikawinkan atau gagal bunting).

          Siklus berahi pada babi mencapai 19 -23 hari, dengan rata-rata 21 hari, berahi
berlangsung antara 1-4 hari, dengan rata-rata 2-3 hari.

          Salah satu faktor yang penting dalam perkawinan adalah deteksi berahi, oleh
karena itu pengetahuan tentang tanda -tanda berahi, siklus berahi dan ovulasi
menjadikan hal yang penting u ntuk dikuasai.

          Secara umum deteksi berahi pada ternak dapat dilakukan dengan tiga cara,
yaitu :

   a. Tradisional; yaitu pengamatan berahi didasarkan pada timbulnya berahi
          secara alami, tanpa adanya campur tangan manusia

   b. Semi tradisional; telah ada campur tang an manusia, misalnya menggunakan
          pejantan pengusik. Umumnya dilakukan oleh peternak yang memiliki jumlah
          ternak diatas 10 ekor.

   c. Modern;        pengamatan      telah    menggunakan      peralatan   dan    telah
          mengikutsertakan manusia dalam pengamatannya.
                                                                                  88




C. Perkawinan

      Perkawinan       merupakan   bagian   dari rentetan   kegiatan dalam   proses
reproduksi. Perkawinan adalah suatu usaha untuk memasukkan sperma ke dalam
alat kelamin betina.

      Perkawinan yang lazim digunakan pada ternak ada dua, yaitu :

a. Perkawinan Alam

  Perkawinan hanya mun gkin terjadi antara ternak jantan dengan ternak betina yang
  berahi, dimana ternak betina mau menerima ternak jantan. Perkawinan alam ini
  tidak diragukan keberhasilannya, karena semen yang diejakulasikan tanpa
  pengenceran dan didesposisikan pada “ portiovaginalis services” atau mulut servic.

b. Perkawinan buatan (kawin suntik /IB)

  Semen dimasukkan kedalam saluran reproduksi betina dengan menggunakan alat
  buatan manusia. Perkawinan memungkinkan pertemuan spermatozoa dengan sel
  telur, sehingga perlu diperh atikan saat-saat ovulasi pada hewan betina agar
  perkawinan tepat pada waktunya.

Ada tiga macam perkawinan yang da pat terjadi pada ternak, yaitu:

   a. In breeding, adalah perkawinan yang dilakukan antar saudara yang
       mempunyai hubungan keturunan dekat

   b. Grading up, adalah perkawinan antara pejantan unggul dengan sapi lokal
       yang diarahkan pada keturunan pejantan

   c. Cross breeding, adalah perkawinan antara dua bangsa yang telah diketahui
       dengan seksama masing-masing kemampuan produksinya.

       Cara    pengaturan    perkawinan     dapat   dilakukan   dengan   pengaturan
sepenuhnya oleh manusia yang disebut “hand matting”, yaitu pemeliharaan sapi
jantan dan betina dipisah, apabila ada betina yang berahi baru diambilkan pejantan
untuk mengawininya, atau dilakukan Ins eminasi Buatan (IB).         Cara lain adalah
“pastura matting”, yaitu sapi-sapi jantan dan betina dewasa pada musim kawin
                                                                                  89




dilepas bersama-sama. Apabila terdapat sapi yang berahi, tanpa campur tangan
manusia atau pemilik akan terjadi perkawinan.

          Untuk melaksanakan perkawinan perlu diperhatikan waktu yang setepat -
tepatnya agar sapi betina dapat menjadi bunting atau terjadi konsepsi. Saat optimum
untuk terjadinya konsepsi pada ternak sapi adalah pertengahan estrus sampai akhir
estrus.

      Jika terlihat gejala berahi pagi hari, maka inseminasi/perkawinan harus
dilakukan paling lambat sore hari itu juga. Apabila terlihat gejala berahi pada sore
hari, maka perkawinan paling lambat dilakukan esok hari berikutnya.          Waktu
perkawinan/inseminasi pada sapi dianjurkan tidak melebihi 4 jam sebelum ovulasi
berakhir.

      Sistem perkawinan pada ternak domba/kambing selama ini adalah perkawinan
secara alam, sedangkan perkawinan secara IB belum lazim dilaksanakan. Secara
ekonomis perbandingan jumlah ternak jantan sebaiknya setiap eko r pejantan untuk
20-25 ekor betina.

      Dengan manajeman perkawinan yang baik, ternak domba dan kambing dapat
melahirkan setiap 8 atau 9 bulan sekali. Hal ini dapat dicapai dengan penyapihan
anak pada umur 3-4 bulan, walaupun pada umur dua bulan induk sudah d apat
dikawinkan kembali.

      Waktu yang baik untuk mengawinkan domba/kambing adalah 12 -18 jam
setelah terlihat tanda-tanda pertama berahi. Betina yang berahi disarankan dicampur
dengan pejantaan dalam satu kandang, untuk menghindari kegagalan perkawinan.

      Pada babi betina, perkawinan dapat dilakukan antara 12 -30 jam setelah
tampak estrus, tetapi untuk babi induk yang durasi estrus sampai terjadinya ovulasi
lebih panjang, maka saat perkawinan dapat dilakukan 18 -36 jam setelah estrus
tampak.

      Babi jantan dewasa (umur lebih dari 10 bulan) dapat dikawinkan 6 kali
perminggu tanpa menunjukkan kejelekan fertilitas, sedangkan pada pejantan muda
(umur 6-7 bulan) dimana testisnya masih kecil dikawinkan 2 kali perminggu.
                                                                                     90




          Babi induk setelah anaknya disapih dapat dipercepat estrusnya bila kontak
langsung dengan pejantan.           Pengandangan induk yang menyusui dekat pejantan
juga dapat mempercepat estrus.

          Setelah pejantan muda mencapai pubertas (umur 6 -10 bulan) harus
dikandangkan dekat dengan kandang babi dara atau induk.               Hasil p enelitian
menunjukkan bahwa babi jantan yang terisolir dari babi dara atau induk
menyebabkan service performannya tertekan dan akhirnya penggunaan pejantan
untuk mengawini betina juga terlambat.        Oleh karena itu disarankan pemeliharaan
babi pejantan muda bersama-sama dengan babi dara atau induk yang dalam kategori
aktif untuk tujuan dipotong.

Latihan soal
   1. Jelaskan tujuan dilakukan seleksi pada ternak potong !
   2. Jelaskan bagaimana pola perkawinan pada sapi potong!
   3. Jelaskan macam2 perkawinan yang terjadi pada ternak !
   4. Jelaskan indikator untuk menentukan bangsa sapi yang akan dipelihara
          sebagai ternak potong !
   5. Jelaskan kriteria untuk m emilih ternak domba pejantan !



RANGKUMAN SINGKAT

          Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang dianggap
mempunyai mutu genetik baik untuk dikembangkan lebih lanjut serta memilih ternak
yang dianggap kurang baik untuk disingkirkan dan tidak di kembangbiakkan lebih
lanjut.
          Pemuliabiakan sapi potong bertujuan untuk menghasilkan sapi bibit yang
diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu genetik populasi sapi potong.
          Policy seleksi / breeding yang dilakukan pada usaha ternak potong harus
disesuaikan dengan tujuan usaha itu sendiri misalnya untuk tujuan breeding, fattening
maupun kombinasi breeding -fattening, karena masing-masing tujuan mempunyai
kriteria yang belum tentu sama.
                                                                                  91




      Tujuan untuk breeding yang jelas akan menunjukkan arah seleksi terhadap
perbaikan mutu genetik generasi berikutnya dan kemampuan reproduksi calon induk /
pejantan, termasuk produktivitas anak pada usaha peternakan tersebut.
      Pola seleksi & breeding pada usaha ternak potong dilakukan dengan sasaran
peningkatkan produksi yang mengarah pada mutu genetis yang baik, sesuai dengan
tujuan pemeliharaan.
      Agar perkembangbiakan ternak cepat dapat dilakukan dengan cara mengatur
manajemen perkawinan yang benar / tepat, diusahakan S/C = 1 dengan farrowing
index tinggi, kawin pertam a dilakukan pada saat dewasa tubuh, fertilitas induk yang
baik, pakan harus cukup dalam kuantitas dan kualitas, seleksi awal untuk pemilihan
induk dan pejantan (breeding stock) harus tepat, pengendalian / penanggulangan
penyakit, perawatan kandang dan lai nnya harus baik.
                                                                                       92




Bahan tambahan

                                 Selecting Meat Goats


                Melanie Barkley, Bedford County Extension Agent
                                      and
                   Linda Spahr, York County Extension Agent



INTRODUCTION
Evaluating livestock is a basic skill needed by anyone who raises livestock. Selectin g
animals is the same as judging them because you evaluate each individual based on
the merits of the ideal animals. Livestock can be evaluated for their potential as either
breeding animals or market animals. Different characteristics are selected for bas ed
on the purpose of the animal.

BREEDS OF MEAT GOATS

A breed is a group of genetically related animals that reliably passes on certain
characteristics or traits to their offspring. Goat meat is produced from many goat
breeds in the U.S. Some of these bree ds have been genetically selected specifically
for meat, while others were bred to produce milk. Some of the major meat breeds of
goats and their characteristics are listed below:

South African Boer Goat:




The Boer goat was developed in South Africa as a breed meant solely for meat
production. Because of intense breeding over the past 50 years or more by South
African goat breeders, the Boer goat is considered far superior to any other breed for
                                                                                    93




meat production. These compact, muscular goats have a high gr owth rate, muscular
carcass, good fertility, and functional conformation. Boer goats are white with red
heads. They have pigmented skin and roman noses. Under good nutritional
conditions, Boer goat crossbreds (especially with Nubians) produce outstanding
weight gains and carcasses.

Nubians:




This breed is used for both milk and meat production. They are a large, proud,
graceful breed with roman noses and long, pendulous ears. They can be any color.
Kids have a high growth rate and are generally fleshier th an other dairy breeds. They
are used to crossbreed in many operations because they can improve milk production
and muscling .

Spanish Meat Goat:




These smaller-bodies goats are found mainly in Texas and were originally were used
for clearing brush and main taining pasture. Smaller, more agile goats are dominant in
the wild. Body shape and size, ear shape, horns, hair, and color vary greatly due to
climate, terrain, and available breeding stock. Because of the recent increased
                                                                                            94




demand for goat meat in the sout h, wild Spanish goats are being crossbred with
larger dairy and angora goats to produce a meatier animal

PARTS OF A GOAT
In order to describe the merits of goats, one should first learn the parts of the animal.
This will help in describing positive and neg ative merits possessed by each individual.
It is also helpful to know these parts when evaluating breed characteristics.

                  Parts of a Goat

                                                          1.  Poll          13. Flank
                                                          2.  Forehead      14. Pastern
                                                          3.  Muzzle        15. Hock
                                                          4.  Ear           16. Stifle
                                                          5.  Dewlap        17. Barrel
                                                          6.  Point of      18. Pin
                                                              Shoulder      Bone
                                                          7. Brisket        19. Tail
                                                          8. Point of       20. Hip
                                                              Elbow         21. Withers
                                                          9. Knee           22. Loin
                                                          10. Hoof          23. Back
                                                          11. Dewclaw
                                                          12. Sheath




                                                         The ideal market goat can
                                                         vary, depending on the market
                                                         that you are selling the animal
                                                         to. The Greek Market prefers a
                                                         goat that weighs between 55
                                                         and 65 pounds while the
                                                         Roman Easter market prefers
                  Ideal Market Goat                      goats that weigh 20 to 50
                                                         pounds. The Christmas market
                                                         has a wide range at 25 to 100
                                                         pounds. The Muslim market
                                                         prefers young animals that
                                                         weigh 50 to 70 pounds and
                                                         older animals that are lean and
                                                         weigh between 110 and 115
                                                                                       95




                                                        pounds.

                                                        In addition to weight, market
                                                        goats should have a clean and
                                                        smooth shoulder, a long wide
                                                        and deep loin, and a fairly level
                                                        and square rump. The leg
                                                        should be well muscled and the
                                                        animal should stand squarely
                                                        on its feet and legs and have
                                                        strong, strait pasterns.




Livestock judging

Once you know what the major breeds of livestock are, what they look like, and the
external parts, you can begin to appreciate why it takes considerable practice to
become a good judge of li vestock. Before you start judging livestock, try to make a
mental image of the perfect animal. You can do this by recalling the most desirable
features of the high-quality animals that you have seen and thinking of them as
belonging to one animal. You can also study pictures of champions, show reports,
current livestock magazines, or “ideal -type” pictures from the breed associations.

Each time you evaluate a individual animal or analyze a group of livestock, you
should rely on a system of observing the ani mals. Listed below are a few pointers for
evaluating an animal or group of livestock:

   1. Stand back—Allow enough room between yourself and the animals so that you
       can see all animals at one time. Usually, 25 to 30 feet is a good distance from
       which to view the animals. You should become skilled in evaluating livestock
       from a distance and handle the animals only to confirm your observations. It is
       a mistake to evaluate an animal only with the hands. Market goats are often
       placed on visual appraisal and handlin g.
                                                                                    96




   2. Three angles—Try to look at the animals from the side, front, and rear.
      Compare each animal to the others in the group and to the “ideal” animal that
      you have pictured in your mind.

   3. Big things first—Always look for and analyze the good and bad charact eristics
      of each animal, in major areas such as: frame size, volume, condition,
      muscling, structural correctness, movement, and breed character. Learn to
      study the animals carefully. Concentrate on the parts where we get the high -
      priced cuts. A keen livest ock judge is orderly and never haphazard. Make your
      evaluation decisions according to the big things, unless a pair of animals is
      very similar, in which case you must analyze the minor differences between
      the animals.

   4. Close inspection— When you are near the animals for close inspection or
      handling, you should simply confirm the decisions you made at a distance. If
      an animal appears or handles differently than what it looked like from a
      distance, and if the difference merits consideration, then change your decision.
      During close inspection of goats, move quietly and cautiously so the animals
      don’t become nervous or excited. The following section deals with a suggested
      method of handling goats:

Handling market goats

One key to handling market goats is to dev elop a system to accurately determine
differences in muscle and finish. Each goat should be handled in the same manner. If
you handle one goat from rear to front for finish or fleshing on the back, handle all
goats that way.
                                      97




The way the goat stands will affect
what you are able to feel. The goat
should be standing squarely on all
four feet while it is being handled




With your fingers extended and
together, check the width and
smoothness of the top of his
shoulders.




Handle the topline of the goat for
finish and muscle. Begin by
evaluating the width, spread of
muscle, and firmness of finish
directly behind the shoulders
.
                                               98




Continue down the topline of the
goat. End by evaluating width of the
loin and rump.
.




Next, check for finish over the rib of
the goat by starting on his lower fore
rib. Continue handling toward the
last rib of the goat.




The final location used to determine
finish of a goat is at the last rib. Goats
should feel trimmer at the last rib
compared with the fore rib. Trim,
muscular goats are so firm and hard
when handled. Fat goats are soft to the
touch, and you will find it is difficult to
distinguish the bones of the shoulder,
spine, and ribs. In addition, fat goats will
have a large middle as they tend to
deposit more fat internally as compared
to other species of livestock.
                                          99




Evaluate muscle dimension of the
high-priced regions of the goat by
grasping the loin and checking for
width and depth.




Handle for length of loin by placing
your fingertips at the last rib and
determining where the goat's hooks
fall on your hand or forearm. The
three dimensions - width, depth, and
length - contribute to the total volume
of muscle in the loin, which is one of
the more valuable cuts.




Next, handle the goat for width
and length of rump.
                                                                                        100




                                                 Determine the size of the leg and
                                                 the amount of firmness of inside
                                                 and outside muscling by grasping
                                                 the leg firmly at the stifle region.
                                                 Using one hands, or both hands,
                                                 press firmly with fingers meeting
                                                 on the inside. The leg should be
                                                 firm and heavily muscled, and the
                                                 muscle should extend toward the
                                                 hock.




SUMMARY
Evaluating livestock is a skill that takes many years and much practice to perfect.
After purchasing your first livestock, it may take years to breed a group of animals
that best fits your needs. Be sure to stay current with industry stan dards as you work
toward your goal
                                                                                         101




                          REPRODUCTION IN LIVESTOCK

                                     Dr. Brian Louw

Introduction

       A feature of successful livestock production systems is that animals reproduce
regularly. The reproductive process is influenced mainly by the way in which animals
are managed and fed. Genetic factors exert little influence on the way animals
reproduce. The challenge facing livestock producers, and especially those involved in
producing animals on mainly roughage diets, is to achieve good reproductive rates at
the lowest possible cost. In order to achieve this goal, a knowledge of the
reproductive process, and the factors which influence reproductive ability, is useful.

The reproductive process

       The process which starts with conception and ends with the birth of offspri ng,
is one of the real marvels of nature. After puberty, when animals become capable of
reproduction, a host of hormones interplay to result in female animals showing
symptoms of heat, or oestrus, on a regular basis. During oestrus, females are
receptive to males. Oestrus is exhibited at fixed intervals, the length of which varies
between species, and the so -called oestrus cycles are interrupted only by pregnancy,
or severe stress, including poor nutrition. The signs of oestrus also vary from species
to species. Cattle producers practicing artificial insemination in the absence of bulls
rely on the homosexual behaviour of cows, which mount each other during oestrus, to
identify animals on heat. Oestrus lasts longer in mature cows than in young heifers,
and longer in European cattle breeds than in indigenous breeds. The duration of
oestrus, the length of the oestrus cycle and other reproductive data for different
species are provided in the table overleaf.

       At some time during, or after the end of each oestrus , one or more egg cells or
ova are released from the female reproductive organs, the ovaries. Should fertilization
of an ovum by a sperm occur, an example in nature of extreme “wastage” takes
place. It requires only one sperm to fertilize an ovum, but bet ween 800 and 20 000
million sperm, depending on species, are released at one time by males.
                                                                                      102




              A sufficient number of healthy males is required for normal reproductio

       This wastage is, however, necessary to ensure the survival of animals, since
many millions of sperm die prior to reaching the released ovum or ova. Subsequent to
fertilization, another marvel of nature occurs. The tiny fertilized ovum acts as a signal
to indicate that the female is now pregnant, and the normal cycle of hormonal events,
including oestrus and ovulation, is interrupted to ensure the maintenance of
pregnancy. Shortly prior to birth, a host of hormonal events again takes place, to
ensure the initiation of the birth process, and milk production.




                            Cows in good condition will repro duce regularly

Reproductive management of males

       The number of males required to mate females depends on the farming
system used. More males are required when a restricted breeding season is used, for
example a breeding season of 6 weeks in sheep, or 3 mon ths in beef cattle.
                                                                                      103




       REPRODUCTIVE INFORMATION IN LIVESTOCK

       Criterion                                    Species
                              Cattle         Sheep &            Pigs           Horses
                                              Goats
Age at puberty                8 - 15          5-6               5-6            12 – 18
(months)
Recommended mating           20 - 24             15             7-9              36
age (months)
Length of oestrus            18 – 24          16 – 18          19 - 22         18 – 24
cycle (days)              (average 21)     (average 17)
Length of oestrus         10 - 24 hours    24 - 48 hours       18 - 48       4 - 9 days
Time of ovulation         6 - 14 hours     Late oestrus        18 - 48      36 - 48 hours
                          after oestrus                      hours after    before end of
                                                               start of        oestrus
                                                               oestrus
Length of pregnancy         9 months         5 months        3 months 3      11 months
                                                              weeks 3
                                                                days


       In these systems, 3 to 4 males per 100 females are required. In systems where
males are run with females all year round, only 1 male per 100 females will be
required for beef and sheep production.

       The production of normal sperm is dependant on males being adequately fed,
that is, they must receive adequate amounts of quality feed. Thin, undernourished
males and those in excessively fat condition, will not reproduce efficiently. Males als o
need to be exercised regularly, to prevent them from becoming lazy. Veterinarians
should be consulted on inoculation, dosing and dipping programmes for males, since
the production of sufficient numbers of normal sperm is dependant on their being
healthy at all times.

Reproductive management of females

       Assuming that female stock are healthy, their body condition or weight at
mating is the factor which exerts the greatest influence on their ability to conceive.
Farmers should thus aim to manage their animal s so that target weights and
conditions are met. For example, beef heifers should attain 75% of their mature
weight when mated at 2 years of age. Mature cows have the best chance of
                                                                                    104




conceiving when reaching 100% of their mature weight at mating. Only about 50% of
females will conceive when reaching 75% of their mature weight at mating.

      The chances of reaching acceptable target weights are maximized when feed
resources are matched with the nutritional requirements of beef cows. Thus, calving
should be arranged to occur in late winter or early spring, so that cows with suckling
calves, which have a high feed demand, can utilize good quality, actively growing
spring and summer veld. After weaning in autumn, dry cows will have a low feed
requirement and can then utilize poorer quality winter veld grazing.

      Diseases, and poor control of internal and external parasites in females can
suppress their ability to reproduce. Farmers are therefore advised to consult with
veterinarians and other experts to plan effective v accination, dosing and dipping
programmes.

      It is possible to improve reproductive rates by manipulating the amount of milk
produced by females, or the suckling activity of their offspring. Females which
produce excessively large amounts of milk tend to rep roduce poorly, especially when
nutritional levels are inadequate. Farmers can select against cows which produce
excessive amounts of milk, and can reduce the suckling frequency of offspring, by
techniques such as temporary weaning (e.g. for 48 hours in bee f cattle) or restricted
suckling (e.g. suckling beef cows only once a day). The improvement in reproductive
rates as result of these techniques varies considerably though, and these measures
should be considered only when stock are undernourished.



                     Breeding and Selection in the Beef Herd

      The late Dr Geoff Harwin stated that a preoccupation with high absolute
production levels coaxed breeders beyond the bounds of functionally efficient cattle,
and that genetic resources must be matched to the production situa tion. The problem
is exacerbated by the preoccupation of managers with setting goals, often without a
prior, but essential, resource evaluation. All too often, goals are set well beyond the
physiological bounds possible given the breed of cattle involved u nder the relevant
                                                                                      105




environmental conditions. Although it is acceptable for a farmer to maintain cattle for
other reasons than marketing, where selling for a profit is the goal, goals must be
market related and set within the bounds of available resources.

When contemplating beef breeding, the farmer :

       must have clear and realistic breeding goals,

       have a thorough understanding of the principles underlying inheritance

       and general herd management and nutrition in his herd must be of an
       acceptable standard.

Origin - environmental or genetic?

       Since the discovery that characteristics are transmitted by genes, there has
been argument and speculation, as well as research, to determine the importance
and contribution of environmental factors in relation to inherited             factors as
determinants of different characteristics, especially production related factors.

       The following considerations are used as a guide to find out whether a
characteristic is genetic in origin or not :

       Previous studies are useful to decide how heri table a characteristic is and how
       important environmental influences are in causing or modifying the relevant
       characteristic. The advice of experts can be obtained or the literature of
       previous studies consulted.

       If the characteristic appears only in some breeding groups and not in others,
       further questions need to be asked. If different bulls were used and all the
       animals were subjected to the same environmental influences, the bulls must
       be investigated. On the other hand, if environments were different, the origin of
       the characteristic could be the result of environmental factors.

       If there was inbreeding in a group of animals, recessive abnormalities are very
       likely to appear.
                                                                                   106




       Problems that arise when there is a change in the environment, for example
       animals are moved into a new grazing paddock, must be investigated to try
       and isolate possible environmental causes such as the presence of a different
       plant in the new paddock.

       Stress can cause problems and if a farmer is aware of the presence of
       stressful situations, these must be eliminated to exclude stress as a causative
       agent of the characteristic or problem.

       When a phenomenon occurs after the environment was changed, then an
       environmental association is likely.

Unique aspects of beef breeding

       Beef breeding is a relatively simple undertaking, although, as Tom Lasater
said, the difficult part is to keep it simple. Selecting suitable animals for meat
production is assisted by the new carcass classification system which allows virtually
any type of animal to achieve the most desired carcass classes.

Selection for beef characteristics is usually effective because :

       Characteristics of economic importance have medium to high heritability and
       can be measured in both males and females.

       Many characteristics can be measured in young animals before sexual
       maturity.

       Some characteristics of economic importance can be seen phenotypically.

       The measurement of certain traits is difficult. Thus, carcass merit can only be
fully evaluated once an animal is dead. The selection of breeding bulls on carcass
merit is therefore only possible through progeny testing.

       A major difficulty faced by beef producers is the problem of keeping the
consumer happy. Consumers vary in their preferences and beef producers cannot
satisfy changes in demand rapidly because beef production is in essence a long -term
undertaking where overnight changes are not possible.
                                                                                         107




Industry structure and beef breeding

       In many countries it has been shown that the beef industry has a tiered
structure. At the top of t he structure are the bull -producers, which can be stud herds,
with increaser herds below that and the mass of commercial meat producers forming
the basis of the structure. Ideally, genetic material should flow freely from the top of
the structure to the bo ttom, and it should be possible to move superior genetic
material from the base of the structure to the seedstock herds at the top.
Unfortunately, there is a tendency to create a barrier between the stud herds and
commercial herds, which allows genetic mat erial to move down towards the
commercial herds, but prevents or limits the upward movement of genes to the stud
herds. This barrier is often based on perceived economic advantages, which are in no
way related to genetic improvement. A common misconception is that the cattle in
commercial herds are of an inferior quality, whereas it has been shown that there are
very high performing cows and bulls in most commercial beef herds.

       In South Africa the beef industry does not have a clearly definable structure. I n
KwaZulu-Natal there are well established stud breeders and a number of farmers
providing a very large variety of different bulls, including pure -bred bulls as well as so -
called "types" and "composites". A recent change has been a movement towards
using home-bred bulls. The number and variety of bulls available can be confusing to
commercial producers. When commercial producers suddenly change their choice of
breed, flooding of the bull market with certain bulls follows, with a concomitant
shortage of bulls of other breeds.

       Purebred bulls and cows imported from other countries are the basis of most
pure-bred herds in South Africa. Upgrading assisted most breeds to increase
numbers rapidly, also leading to broadening of the genetic base of most breeds
compared to their overseas counterparts. In the early 1950's to 1960's, there was a
trend to close breeds i.e. only allow the use of pure -bred breeding stock into
registered herds. This did not last very long and upgrading was re -introduced for most
breeds. Based on research, many breed societies allowed a substantial shortening of
the upgrading route prior to acceptance of cows as full stud. Recently a number of
                                                                                       108




breed societies have allowed the use of related breeds to be used for the
improvement of certain trai ts in their own animals e.g. the use of Gelbvieh to improve
certain conformational characteristics in the South Devon.

       Apart from certain exceptions like the Afrikaner, prior to 1950 indigenous cattle
were not fully accepted as worthy of consideration for beef production. Lately,
indigenous cattle are becoming part of the South African beef production scene and
breed societies looking after the interests of local cattle breeds have arisen.

Seedstock herds

       Although seedstock herds include producers of breedi ng material who operate
independently of stud associations, most bull breeders are affiliated to a breed
association. Certain advantages are available to members of breed societies,
including the opportunity to spread costs of progeny testing, advertising or participate
in group breeding schemes.

       Improved breeding in seedstock herds is aimed at the production of bulls for
use in commercial herds. As such, traits important to beef production overall should
be included in their breeding goals. Often there is a tendency to pamper both cows
and bulls in stud herds. The practice to overfatten bulls for auctions could render the
animal useless for breeding purposes for some time. The breeders cannot be solely
blamed for this problem, because buyers persist in payi ng higher prices for fat bulls.

Commercial herds

       Cross-breeding is practised in many commercial herds in South Africa.
Although the objective is usually to exploit heterosis, heterotic effects are often absent
because the additional inputs demanded for enh anced performance to take place are
lacking. Additive gene action, the other advantage of cross -breeding, is rarely cited by
beef producers as a reason why they cross -breed. However, mixing the desired
characteristics of different breeds in progeny is a ra pid method to adapt to change
without having to go through a long process of breeding and selection.

       Some traits that commercial breeders consider for selection goals, include :
                                                                                   109




       Low birth weight for ease of calving.

       Weaning weight or pre-weaning rate of gain.

       Post-weaning rate of gain.

       Efficiency of feed conversion.

       Mature mass.

       Mothering ability.

       Carcass traits.

       Conformation.



Communal and small herds

       A relatively large number of cattle in KwaZulu -Natal are run as communal
herds where the cattle in a herd are the property of two or more owners. Although
these herds are not as yet production orientated but are kept largely for cultural
reasons and as a method of banking, there is an emerging trend to sell surplus
progeny from these herds.

       Especially in the northern parts of KwaZulu -Natal, a large proportion of the
communal cattle are indigenous Nguni cattle which are well adapted to local
conditions. A trend to use exotic bulls is eroding this genepool and in many other
parts of the province only vesti ges of indigenous cattle remain. The major breeding
problem in these areas is that herds are run as groups and the bull present serves all
the cows. The owner of a cow is therefore often not able to choose the breed of bull
he wants as a sire of the progen y in his herd.

       In communal areas and on smaller farms and small -holdings there are
individual owners who own a limited number of cattle. This is a group difficult to
describe because of the diversity of practices found. Most of these small owners
dream of owning large herds of cattle, and a limited number of them achieve this in
                                                                                    110




time. The experience gained running small cattle numbers where the animals are
seen and worked with almost daily assists in providing valuable experience.

Maximising profits from be ef production

       Maximising profits and maximising production are not always one and the
same thing in beef farming. Profit is the difference between input and return. Thus,
breeding larger bulls (higher growth rate) or selecting for higher weaning mass, coul d
be necessary for some production systems. In other production systems, bigger
animals with higher weaning weights could be a liability because larger animals eat
more and mature later, which could narrow the margin between input and return.

       Genetic merit will not make up for poor management or create a profit by the
ability of superior breeding material to overcome deficiencies in feeding. Genetically
superior animals only make it possible for a farmer to exploit good management
maximally.

One- and two-factor inheritance, Population genetics

       Mendelian genetics (one - and two-factor inheritance) is the basis of many
concepts in breeding and must be fully grasped in order to understand population
genetics and ultimately breeding and selection. Genetics is a s tudy on its own and
because many good handbooks on the subject are available, only aspects critical for
beef breeding will be examined here. Although a study of genetics will provide the
reader with a better understanding of the concepts touched on in this discussion,
such a study is not essential to grasp the ideas put forward.

       Most traits of economic significance, like growth rate and milk production, are
multigenic in character i.e. are subject to the principles of population genetics. The
importance of one- and two-factor inheritance is mainly related to traits such as coat
colour, horned versus polled cattle and the inheritance of unwanted recessive traits
like bulldog calves and dwarf calf syndrome, amongst others.

       A trait is multigenic in character wh en :
                                                                                        111




       its inheritance cannot be predicted in a simple manner based on Mendelian
       principles

       it is quantitative in character.

       With Mendelian genetics, once a carrier of a recessive lethal gene has been
identified, the relevant animal can be used to diagnose the presence or absence of
the relevant gene in a population. In practice, using marker bulls to detect the
presence of specific genes in a cattle population is only used in the artificial
insemination industry.

Selection in the beef herd

       The most powerful tool available to the breeder to bring about changes in the
genetic composition of a population, is selection. It is noteworthy that change is not
always progress. Thus selection for high growth rates could produce beef animals
exhibiting late carcass mat urity. If steers are intended for feedlotting, this could be an
advantage, whereas pasture -based production systems require early maturing types.

       For effective selection to take place, it is necessary for the breeder to set
goals. The characteristic the br eeder intends to select for will influence what selection
procedures must be followed. The set goals will determine the management practices
which will be most cost and time effective.

       In the setting of goals, the gene frequency of the gene directing the
characteristic under consideration affects the effectiveness of the selection procedure
(Formula 1 - if h2 (heritability) of a trait is high, genetic change ( G) is increased, and
the converse is true). If the gene is not present in the population, no degree of
selection will achieve an increase in gene frequency because h2 = 0. On the other
hand, when gene frequency is very high or the desired gene is a recessive gene,
breeding progress will be slow. The response to selection is best where the desired
gene is present at intermediate frequency levels.

       Research has shown that genetic change ( G) is described by the following
formula:
                                                                                               112




 G = h2 X Selection differential                                    (Formula 1)
Through mathematical manipulation of Formula 1, it can be shown that:

 G=      Accuracy x Intensity x Genetic variation
                                                                    (Formula 2)
                      Generation interval


       For the purposes of the following discussions, when examining Form ula 2 one
need not put actual values to the factors to the right of the equal sign, but it must be
noted that increasing any factors above the division line, will increase            G, whereas
increasing factors below the division line, will decrease          G. The converse of these
statements is true.




Accuracy of selection

       For the beef breeder, accura cy has two meanings i.e. accuracy in itself and
accuracy as it is affected by how applicable a measurement is to the trait it is
intended to evaluate.

       Accurate measurement in itself is necessary for a number of reasons. Farm
scales are built to be robust r ather than accurate. The problem is compounded by the
inaccuracies caused by gutfill. Weighing animals at the same time of day and at the
same stage of the grazing cycle, will assist in reducing differences caused by gutfill.
The removal of food and water overnight prior to weighing is a procedure often
advised in research, but is not necessary under most practical farming conditions,
unless cattle numbers are small in the groups to be compared.

       Accuracy of selection is tied directly to the heritability of the trait. If heritability is
high, selection will achieve the desired genetic change reasonably rapidly. If a trait is
not directly measurable, selection must be based on :

       Making use of correlated traits.

       Measurements on relatives.
                                                                                        113




       Thus carcass merit cannot be assessed with an acceptable degree of accuracy
in the live animal and reliance must be placed on visual appraisal, which is subjective
and subject to beliefs and ideas that are not always well supported by scientific
evidence. Or selection for ca rcass merit can be based on the carcass characteristics
of a sample of slaughtered progeny of the relevant bull.

Intensity of selection

       The intensity of selection is measured by the magnitude of the selection
differential (what percentage of a group of an imals is included in the group retained).
A high intensity of selection is when a small percentage of animals is selected or a
high proportion culled.

       With heifers, intensity of selection is dependant on the reproductive rate in the
relevant herd, which places an upper limit to the number of replacements selected.
When selecting bulls, intensity of selection can be much higher at similar reproductive
rates because only one bull is required for a number of females. It is generally
accepted that where concep tion rates fall below 70%, selection intensity in heifers is
too low. Assuming 70% conception and a 50% male:female ratio, only 35 heifers are
available for selection in a herd of 100 breeding cows. If the replacement rate in the
herd is 20%, and infertili ty in heifers as well as mortalities are taken into account, at
best, 20 heifers must be selected out of 25 to 30 heifers. This represents poor
selection pressure, especially if overmating is practiced.

Genetic variation

       The larger the gene pool selected from, the greater the probability of finding
animals carrying the desired trait. The size of a gene pool is influenced by :

       The number of animals in a herd.

       The genetic variation in the population in which selection is taking place.

       In large herds with relatively high genetic variation, genetic gain is greater than
in relatively small herds. Gene pools can be enlarged by bringing in genetic material
from other herds, for example buying in a bull. Highly inbred cattle have relatively little
                                                                                        114




genetic variation so that even large herds do not exhibit adequate genetic variation to
allow genetic change.

Generation interval

       By definition, generation interval is the average age of parents when their
offspring are born. In beef production where seasonal breeding is applied and the
bulls are of average age, the mean age of the cows in a herd at a set date in the
calving season, provides a good approximation of generation interval.

       Allowing heifers to calve at two years of age will reduce generation interval by
one year compared to calving heifers for the first time at three years of age. However,
age at first calving has a lesser role as a determinant of generation interval. The
major effect on generation interval is replacement rate in the breeding herd.
Replacing 20% of the cows in a herd annually, will imply that cows remain in the herd
for 5 years from date of first calving. Replacing 25% of cows annually will mean that
cows remain in the herd for 4 years from date of first calving, thus reducing
generation interval by one year. Where cows remain highly productive to a relatively
old age, replacement rate can be reduced to 10% and although generation interval is
then low, selection pressure on heifers is high.

Interactions between factors

       It is noteworthy that increasing generation interval affects selection differential.
As replacement rate increases, selection intensity decreases.

       Progeny testing is a powerful tool for increasing accuracy of selection, but has
an adverse effect on generation interval. A good exa mple is found in the AI (artificial
insemination) industry. The semen of bulls can be stored and records kept of the
performance of its progeny. If the progeny performs well, the semen of this proven
bull can be used again, often long after the bull has ce ased to produce semen. It is
then possible to predict the result of breeding accurately, but a generation or two
could be lost in the process.

Selection methods :
                                                                                         115




   1. Individual selection is the selection of the individual based on its own
          performance. Selecting bulls on their corrected 205 day mass is an example.

   2. Pedigree selection is when selection of the individual is based on the
          performance of its forebears. The relative importance of sires is illustrated in
          Figure 1.

   3. Progeny selection is where the perfor mance of progeny is used to determine
          the breeding merit of an individual.

          Family selection is often discussed as a separate way of merit selection, but is
in reality the same as pedigree selection in importance and its effects.

It has been said that: "I ndividuality tells us what an animal seems to be, his pedigree
tells us what he ought to be, but the performance of his progeny tells us what he is".

          Of all the selection procedures, individual selection has had the greatest
impact on genetic gain for a nu mber of years, merely because it is the most
commonly used method of selection. The other selection procedures have had their
main impact in the stud industry and with AI (artificial insemination). With the
availability of computerized data processing (inc luding BLUP: Best Linear Unbiased
Predictor), pedigree and progeny selection can be expected to become increasingly
important in beef breeding.

Selection for several traits

          It is accepted by most breeding experts that selecting for an inordinately large
number of traits at one time is bad practice. Not only does it impair genetic change,
but implementation is difficult. Ideally not more than 6 traits should be selected for at
a time.

          When selecting for more than one trait at a time, there are three practice s
commonly used :

          Minimum culling levels, where a value is attached to all the traits selected for
          and a minimum index level set. Any individual falling short in one or more traits
          is culled.
                                                                                         116




        Tandem selection, in which one trait of an array of traits is se lected for and
        once the trait is established within the herd to the breeder's satisfaction, the
        next trait receives attention. The process is maintained until all the traits in the
        array have been accounted for.

        Index selection, whereby all the chosen trai ts are measured concurrently and
        the relevant measurements included in a formula which is used to obtain a
        selection index (breeding value) for each individual on which selection is then
        based.

        In most beef herds minimum culling levels are used. The main disadvantage is
that where an individual is weak in one trait but strong in one or more other traits, the
relevant individual and its strong points are culled. With tandem selection, the
practical problem is that when selection for the second or higher lev el traits in the
selection array are being selected for, the traits selected for previously tend to sag. To
overcome these difficulties, index selection was developed and, although genetic gain
on any one trait is slow, overall gain is maximised using this selection procedure.
Farmers are advised to make use of an expert to design their selection indices
because correct design is important to ensure good results.

Selection and culling

        With reference to genetics, the question a breeder must ask is :

Does a breeder select for a certain trait, or does he cull against a trait?

        In the case of bull selection, there is no doubt that a breeder goes out and
selects a bull he believes will impart the desired trait or traits to his herd. He is
therefore selecting for a desired trait.

        Because there is evidence that the emphasis in breeding has moved from bull
selection to cow selection, the question arises whether this principle holds for the cow
herd.

        Say a farmer wants to improve weaning weights in his herd. If he is selecting
for high weaning weights, then he could find that only the top 10% of cows are
                                                                                       117




producing suitable progeny. On the other hand, if he follows the approach of selecting
against cows producing poor weaners, he would only cull the bottom 10% to 20%

        It is clear that he is selecting against poor performers and not selecting for
good performers. The difference is very subtle, but has very important repercussions.
Not only does an approach of "culling against" reduce the number of good cows lost
to a herd, the approach also enlarges the size of the gene pool the farmer is working
with.

        From these considerations, it can be concluded that breeders will gain the
most by deciding on a goal, selecting against animals lacking the desired trait and
spending their valuable time on the most important aspect of beef breeding, namely
management. The principle is:

        Cull poor doers and leave selection of the best cow to the hobbyist.

Correlated traits

        The use of correlated traits in selection is often the only way in which genetic
gain can be achieved for characteristics which cannot be readily measured. An
example is to use hip-height as an indicator of carcass maturity type. After all, once
an animal is slaughtered, it cannot be used for breeding, unless semen is drawn
previously.

        There are hidden dangers in using correlated traits in selection. The most
important is that a correlation only exists within the population in which it is measured.
Once selection has taken place, we are no longer working with the same population
and it is possible that the correlation no longer exists. In practice this difficulty does
not often cause problems, but should be kept in mind because in cases where
correlation between traits disappeared, genetic gain suffered severe setbacks when it
was assumed that selection for the correlated trait continued to promote the desired
trait. Breeders should therefore always continue to check that the correlation has not
been lost before major decisions on breeding policy are taken.

Environment and selection
                                                                                         118




       Jan Bonsma will be remembered for his many contributions to the breeding
industry. One of his main contentions was that genotypes must be adapted to the
environment within which they live. When deciding on a selection procedure, the
effect of environment must be considered and it is ideal for selection to take place
within the environment where production will take place. Thus, should the intention be
to increase daily mass gains for feedlot cattle, the best way to measure their genetic
merit is to feed them to their full genetic potential in a feedlot.

Results of selection

       The implementation of the correct selection procedures will result in genetic
change i.e. the frequency of the desired gene within the breeder's herd will change.
Once the breeding goal has been achieved, a process that could take a number of
years, the breeder may decide to set new goals. The whole breeding process then
starts all over again. The difficulty facing the breeder at this stage is to keep the level
of the trait previously selected, at the desired frequency, while selecting for the new
trait. With index selection, some traits could be deleted from the index formula and/or
others added.

       Breeders are often faced with the fact that if selection for a trait is contin ued for
a long time, that trait reaches a level beyond which further improvement is limited and
slow. Geneticists say a selection plateau has been reached. The breeder need not
despair, because genetic variation continues to exist and variation is the joy (and the
despair!) of the breeder.

New technology

       Since the development of the PCR (polimerase chain reaction) procedure in
1986, it has become a very simple laboratory technique to isolate DNA from whole
blood and use the associated information in breedi ng. Thus many genetic markers
correlated to traits have already been identified and the search for more markers is in
full swing. Using DNA technology, the genetic distance between genepools can be
determined and parent identification is a useful breeding tool. At the time of writing,
DNA procedures are still relatively expensive. However, it is hoped that as technology
                                                                                      119




improves, costs will become more realistic, assuming that patent rights do not keep
costs at a relatively high level. A very useful applica tion of DNA fingerprinting is its
use in theft cases, where meat found on the possession of a suspcet can be linked to
skins or previously stored DNA samples.

Setting goals for beef cattle breeding

       With reference to the differences of opinion and controve rsies surrounding the
setting of beef breeding goals, a well -known breeder once said that differences are
mostly about aims, less about methods and not at all about theory. A short list of traits
for selection in beef breeding would include :

       Fertility
       Birth weight
       Weaning weight
       Yearling weight
       Calf birth weight : cow weight
       Calf weaning weight : cow weight at weaning
       Mature live mass
       Draught ability
       Heat tolerance
       Characteristics of fat deposition
       Eye muscle area
       Cold carcass mass
       Weight of hind quarter : weight of front quarter
       Muscling and Dressing %
       Bone
       Conformation
       Structural soundness
       Breed standards
       Temperament
       Disease tolerance
                                                                                    120




      Tick tolerance
      Mothering ability
      Structural soundness
      Growth rate

Sumber :

http://agriculture.kzntl.gov.za/portal/AgricPublications/ProductionGuidelines/BeefProd
uction/BreedingandSelectionintheBeefHerd/tabid/108/D efault.aspx

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:4
posted:9/15/2013
language:
pages:66