; PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR JUJUR DAN BERINTEGRITAS
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR JUJUR DAN BERINTEGRITAS

VIEWS: 0 PAGES: 23

PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR JUJUR DAN BERINTEGRITAS

More Info
  • pg 1
									PENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR
    JUJUR DAN BERINTEGRITAS
   Tugas Mata Kliah Pengembangan Pribadi Konselor

     Dosen Pengampu :Anisa Maimunah, M.Psi.




                     disusun oleh:


      Dafid Kurniawan                (11144200192)

      Danar Jati Prakoso             (11144200206)

      Tri Hartanto                   (11144200258)

      Pamungkas Puju Handayani (11144200230)

      Didik Okta Saktiawan           (11144200222)




 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


      UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA


                         2012


                                                     1
                         KATA PENGANTAR



        Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkah dan hikmat-Nya yang

dilimpahkan kepada penulis, sehingga mampu menyelesaikan penyusunan makalah

yang    berjudul   “PENGEMBANGAN        PRIBADI     KONSELOR       JUJUR   DAN

BERINTEGRITAS “.


       Makalah ini ditulis dengan maksud untuk memenuhi salah satu tugas mata

kuliah Pengembangan Pribadi Konselor yang diampu oleh dosen Anisa Maimunah,

M.Psi. pada Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas PGRI Yogyakarta. Berkat bimbingan dari berbagai pihak,

maka akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.


       Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak

kekurangan, baik dalam penulisan maupun dalam penyusunannya, mengingat

kemampuan yang masih terbatas serta sempitnya pengetahuan. Oleh karena itu,

penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan

makalah ini. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat diambil

manfaatnya bagi kita semua. Amin.


                                                  Yogyakarta, 27 September 2012




                                                         Penulis




                                                                             2
                                                  DAFTAR ISI




BAB I PENDAHULUAN
         A. Latar Belakang Masalah ...............................................................1
         B. Rumusan Masalah .......................................................................1
         C. Tujuan ..........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
         1. Pengertian Kepribadian ................................................................3
         2. Pengertian Jujur ............................................................................4
         3. Pengertian Integritas ....................................................................5
         4. Karakteristik Konselor Jujur dan Berintegritas ............................6
         5. Cara Mengembangkan Kepribadian Jujur dan Berintegritas .......12
         6. Pentingnya Konselor Berkepribadian Jujur dan Berintegritas......14
BAB III SIMPULAN
          Kesimpulan........................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................20




                                                                                                                 3
                                       BAB I

                                     PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

        Aktivitas bimbingan dan konseling, pada dasarnya, merupakan interaksi

timbal-balik, yang di dalamnya terjadi hubungan saling mempengaruhi antara

konselor sebagai pihak yang membantu dan klien sebagai pihak yang dibantu. Hanya

saja, mengingat konselor diasumsikan sebagai pribadi yang akan membimbing

konseli dalam mencapai tujuan tertentu, maka dalam relasi ini sangat dibutuhkan

adanya kapasitas tertentu yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Kapasitas

tertentu inilah yang menentukan kualitas konselor.


        Kualitas konselor adalah semua kriteria keunggulan termasuk pribadi,

pengetahuan, wawasan, keterampilan, dan nila-inilai yang dimiliki konselor, yang

akan menentukan keberhasilan (efektivitas) proses bimbingan dan konseling. Salah

satu kualitas yang kurang dibicarakan adalah kualitas pribadi konselor, yang

menyangkut segala aspek kepribadian yang amat penting dan menentukan efektivitas

konseling.




2. Rumusan Masalah

       Apa pengertian kepribadian?

       Apa pengertian jujur?

       Apa pengertian integritas?

       Apa karakteristik konselor jujur dan berintegritas?


                                                                              4
      Bagaimana cara mengembangkan pribadi jujur dan berintegritas?

      Kenapa konselor harus memiliki kepribadian jujur dan berintegritas?




3. Tujuan

      Mengetahui pengertian kepribadian.

      Mengetahui pengertian jujur.

      Mengetahui pengertian integritas.

      Mengetahui karakteristik konselor jujur dan berintegritas.

      Mengetahui cara mengembangkan pribadi jujur dan berintegritas.

      Mengetahui       pentingnya   konselor   memiliki   kepribadian   jujur   dan

       berintegritas.




                                                                                   5
                                      BAB II


                                PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN KEPRIBADIAN

      Banyak para ahli yang mendefinisikan kepribadian. Salah satu yang paling

  penting menurut Gordon W.Allport. Kepribadian adalah suatu organisasi yang

  dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan

  pemikiran indvidu secara khas. Terjadinya Interaksi psiko-fisik mengarahkan

  tingkah laku manusia. Maksud dinamis pada pengertian tersebut adalah perilaku

  mungkin saja berubah-ubah melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-

  pengalaman, reward, punishment, pendidikan dsb.

      Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang

  terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri

  terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan

  kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang.

  Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih

  bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan

  keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes,

  1992).

      Dari dua definisi diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa kepribadian adalah

  suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan

  tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas dan kebiasaan individu yang

  terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri

  terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Perkembangan



                                                                                 6
  kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah

  pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan,

  mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya.



2. PENGERTIAN JUJUR

     Jujur adalah sebuah kata yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Bagi

  yang telah mengenal kata jujur mungkin sudah tahu apa itu arti atau makna dari

  kata jujur tersebut. Dengan memahami makna kata jujur ini maka mereka akan

  dapat menyikapinya. Namun masih banyak yang tidak tahu sama sekali dan ada

  juga hanya tahu maknanya secara samar-samar. Indikator kearah itu sangat

  mudah ditemukan yakni          masih saja banyak orang belum jujur          jika

  dibandingkan dengan orang yang telah jujur.

       Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang.

  Jika ada seseorang berhadapan dengan sesuatu atau fenomena maka orang itu

  akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Jika

  orang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain

  tanpa ada “perobahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti

  itulah yang disebut dengan jujur. Dalam penjabarannya jujur bisa diartikan

  sebagai perilaku yang tidak memutar balikan fakta, bertindak sesuai hati nurani,

  mengatakan benar bila itu benar dan mengatakan salah bila itu salah.

  (artikata.com : 2012)




                                                                                7
3. PENGERTIAN INTEGRITAS

      Integritas adalah sebuah konsep konsistensi tindakan, nilai-nilai, metode,

  langkah-langkah, prinsip, harapan, dan hasil. Dalam etika, integritas dianggap

  sebagai kejujuran dan kebenaran yang merupakan kata kerja atau akurasi dari

  tindakan seseorang. Integritas dapat dianggap sebagai kebalikan dari

  kemunafikan,    dalam yang menganggap konsistensi internal sebagai suatu

  kebajikan, dan menyarankan bahwa pihak-pihak yang memegang nilai-nilai

  yang tampaknya bertentangan harus account untuk perbedaan atau mengubah

  keyakinan mereka.

      Kata “integritas” berasal dari kata sifat Latin integer (utuh, lengkap) Dalam

  konteks ini, integritas adalah rasa batin “keutuhan” yang berasal dari kualitas

  seperti kejujuran dan konsistensi karakter.. Dengan demikian, seseorang dapat

  menghakimi bahwa orang lain “memiliki integritas” sejauh bahwa mereka

  bertindak sesuai dengan, nilai dan prinsip keyakinan mereka yakini. Integritas

  pada hakekatnya bermakna mempunyai kepribadian utuh tak tergoyahkan, yang

  terwujud pada sikap setia dan tangguh berpegang pada nilai-nilai atau norma-

  norma yang berlaku dalam melaksanakan tugas. (IndoLibrary.com : 2011)

      Integritas akan mendorong terbentuknya pribadi yang berani menolak

  godaan dan segala bentuk intervensi, dengan mengedepankan tuntutan hati

  nurani untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan selalu berusaha

  melakukan tugas dengan segala cara-cara terbaik untuk mencapai tujuan terbaik.




                                                                                 8
4. KARAKTERISTIK KONSELOR JUJUR DAN BERINTEGRITAS

    Memiliki sikap Toleran

            Masalah-masalah seperti stres yang dimiliki oleh konselinya

     hendaknya mampu konselor atasi dengan baik dan ia memiliki kemampuan

     untuk menghadapi hal-hal yang kurang menentu tersebut tanpa terganggu

     profesinya dan aspek kehidupan pribadinya. Contoh, bu Andya pada suatu

     hari menerima klien yang sedang stres berat karena ia menjadi korban

     penindasan yang dilakukan teman-teman sekelasnya. Penindasan ini tidak

     sekedar hanya di mai-maki atau di suruh-suruh, namun juga sampai

     melakukan tindak kekerasan. Klien ini menceritakan semua kekesalan yang ia

     rasakan kepada bu andya. Bahwa meskipun ia tidak mau disuruh-suruh

     namun ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengungkapkannya dan

     selalu pasrah menerima penindasanpenindasan yang dilakukan teman-teman

     sekelasnya.

            Dalam masalah ini, bu Andya mentolerir stres yang dihadapi oleh si

     klien dengan tidak memprotes terhadap apa yang dirasakan kliennya. Namun

     ia justru memberi semangat dan motivasi agar supaya kliennya menjadi lebih

     berani mengungkapkan pendapatnya dan dapat menyelesaikan problemanya

     dengan teman-teman kelasnya itu dengan baik.



    Mengantisipasi berbagai tekanan yang menimpa diri

            Sebagai seorang yang memiliki keutuhan atau integritas kepribadian

     yang kuat, wajar bila seorang konselor mampu melakukan antisipasi terhadap



                                                                             9
    tekanan-tekanan yang menimpa diri konselor sendiri. Tekanan-tekanan ini

    bisa jadi disebabkan oleh hal yang diluar dugaan dan bisa datang kapan saja

    tanpa pemberitahuan, oleh karenanya seorang konselor harus mampu

    melakukan antisipasi diri terhadap tekanan yang muncul. Bila tekanan yang

    seperti ini sudah muncul dan konselor kurang mampu mengatasinya, maka

    bila dibawa pada konseling akan mengganggu mekanisme konseling

    dikarenakan ketidaksiapan pribadi konselor dalam melaksanakan tuganya.

           Contoh, pak Joko adalah seorang konselor di SMP garuda di

    semarang, sebagai seorang tidak jarang juga mempunyai masalah-masalah

    yang dapat menekan dirinya. Pada suatu ketika ia di jadikan sebagai petugas

    penghukum siswa yang telat masuk sekolah maupun yang melanggar

    peraturan sekolah. Dalam hal ini pak Joko tau bahwa tugas tersebut bukanlah

    wewenang pak joko sebagai konselor. Merasa mendapat tekanan dari kepala

    sekolah lalu ia memutuskan untuk mendengarkan musik guna menenangkan

    suasana hatinya, karena ia tau bahwa pikirannya yang tidak tenang tersebut

    akan mengganggu tugasnya sebagai konselor sekolah.



   Melakukan coping terhadap berbagai tekanan yang menimpa diri

           Coping merupakan salah satu upaya atau metode yan dilakukan

    konselor agar konselor mampu menyesuaikan dan mengatasi berbagai macam

    permasalahan sesuai dengan keadaan dan situasi yang terjadi. Hendaknya

    konseling ini menerapkan metode coping pada saat ia berhadapan dengan

    klien dan bisa juga diterapkan konselor pada keadaan yang menimpa dirinya



                                                                             10
    sendiri. Metode ini sangat berguna bagi konselor pada saat ia menjalankan

    tugasnya karena ia mampu mengatasi berbagai macam keadaan yang ia

    hadapi. Contoh, Septi sering sekali terlambat masuk sekolah, hampir setiap

    hari ia terlambat sekolah. Ia sering menerima hukuman dari petugas

    kedisiplinan karena keterlambatannya tersebut. Karena masalahnya tesebut, ia

    lalu dipanggil guru BK guna menanyai sebab penyebab yan menjadikannya

    sering terlambat sekolah. Setelah dijelaskan oleh septi, lalu konselor tahu

    alasan mengapa septi sering terlambat masuk sekolah, ternyata angkutan yang

    biasanya mengantarkan ia dari kampungnya ke terminal sekarang sudah tidan

    beroperasi lagi, sehingga ia harus berjalan kaki pergi keterminal. Dalam

    kasus ini, konselor telah tepat menggunakan coping dalam menghadapi

    permasalahan kliennya.



   Berwibawa, jujur, sabar, ramah, dan konsisten.

Kepribadian konselor merupakan titik tumpu yang berfungsi sebagai

penyeimbang antara pengetahuan mengenai dinamika perilaku dan keterampilan

terapeutik. Ketika titik tumpu ini kuat, pengetahuan dan keterampilan bekerja

secara seimbang dengan kepribadian yang berpengaruh pada perubahan perilaku

positif dalam konseling. Menampilkan kepribadian yang mencerminkan sifat-

sifat berbudi dan luhur ini hendaknya bisa konselor terapkan dalam tugasnya

saat proses konseling, saat berada di lingkungan kerja, maupun di kehidupan

sehari-hari konselor itu sendiri. Dengan demikian konselor akan dikatakan

mampu membangun keutuhan kepribadian konselor yang sesungguhnya.



                                                                             11
Konselor yang jujur memiliki ciri seperti, bersikap kongruen, artinya sifat-sifat

dirinya yang dipersepsi oleh dirinya sendiri (real self) sama sebangun dengan

yang dipersepsi oleh orang lain (public self). Memiliki pemahaman yang jelas

tentang makna kejujuran (Thohari Musnamar : 1992).

    Contoh, Riska adalah seorang siswa SMA raflesia kelas X, ia mempunyai

perangai yang temperamen dan emosional. Saat berkonseling ia terlihat tergesa-

gesa dan bersikap menantang kepada konselornya mengenai permasalahan

tempat bimbingan belajar yang bagus dan berkualitas. Dalam keadaan demikian,

pak Topo selaku konselor sekolah dengan sabar dan ramah menghadapi riska

tanpa melawan riska dengan perangai yang serupa. Pak Topo juga bisa

menampilkan kewibawaan dan kejujurannya kepada riska dengan mengatakan

informasi-informasi yang ditanyakan Riska kepadanya.



   Menampilkan kepribadian dan perilaku emosi yang stabil

           Konselor juga perlu membangun kehidupan emosional yang sehat.

    Artinya, konselor mempunyai relasi yang baik dengan orang lain, konselor

    belajar untuk menyelesaikan masalah-masalah konselor sendiri. Kalau emosi

    konselor tidak sehat, bisa-bisa klien jadi sasaran. Bagaimana membangun

    emosi yang sehat? Syarat utamanya adalah seorang konselor sudah lebih

    dahulu dikonseling. Konselor dikonseling selama bertahun-tahun, supaya

    konselor siap. Kalau tidak sehat secara emosi, konselor bisa collaps.

    Akhirnya proses konseling merupakan campur-adukan emosi, antara emosi

    klien dan emosi konselor. konselor harus memilah antara emosi klien dan



                                                                              12
emosi konselor. Kemarahan klien bisa-bisa menjadi kemarahan konselor.

Selain pernah dikonseling, konselor juga perlu membangun kebutuhan

fisiknya. Hal ini perlu supaya konselor bisa konsentrasi, dan tidak

mengantuk. Konselor juga diwajibkan mampu mengontrol emosi bila sedang

berhadapan dengan konselinya. Tidak seharusnya seorang konselor akan

merasa terprovokasi mendengarkan pendapat dan ocehan konselinya, oleh

karenanya seorang konselor harus berlatih mengontrol emosi demi

keprofesionalitas dalam pekerjaannya.

         Contoh, pada saat jam kebersihan di sekolah SMA mukoharjo

semarang, Amelia datang ketempat konselor untuk mengungkapkan

kecemasannya terhadap hasil ujian masuk perguruan tinggi. Dalam keadaan

cemas tersebut. Namun ia masih sempat mengata-ngatai teman-teman yang

mengikuti ujian yang sama dengan petra. Ia mengatakan bahwa ia lebih pintar

dari teman-temannya, namun ia masih kurang percaya diri akan hasil

ujiannya nanti. Kendati demikian, ia masih saja suka mencela temanya

dengan mengatai mereka bodoh, goblok, dan tolol. Dalam kasus tersebut,

konselor sama sekali tidak terpicu emosinya dengan omongan pedas petra, ia

masih bisa mengontrol emosinya sendiri sehingga tidak mudah terpancing

dan tersulut, sehingga ia mampu menghadapi petra yang demikian, dan

memberikan petra penguatan bahwa ia tidak perlu cemas terhadap hasil ujian

nanti.




                                                                        13
   Menampilkan kepribadian dan perilaku empati.

           Empati adalah kemampuan sesorang untuk merasakan secara tepat

    apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain dan mengkomunikasikan

    persepsinya. Orang yang memiliki tingkat empati tinggi akan menampakkan

    sifat bantuannya yang nyata dan berarti dalam hubungannya dengan orang

    lain, sementara mereka yang rendah tingkat empatinya menunjukkan sifat

    yang secara nyata dan berarti merusak hubungan antarpribadi. Merespon

    konseli yang sedang menunjukkan atau meluapkan emosinya ketika

    konseling, konselor bisa menggunakan empati. Dalam menggunakan empati

    sebagai respon kepada konseli, hendaknya tidak berlebihan, dan diunjukkan

    dengan porsi yang tepat sesuai kebutuhan, agar jalannya proses konseling

    tidak terganggu.

           Contoh, bu Ineke selaku guru BK di SMA negeri 1 subah, tiba-tiba

    kedatangan konseli yang datang dengan senyum yang tersemat di wajahnya.

    Priska namanya, ia terlihat begitu gembira karena baru saja mendapat hadiah

    kado ulang tahun berupa gaun mahal dari perancis. Ia begitu antusias

    bercerita tentang kegembiraannya tersebut kepada bu ineke. Bu ineke pun

    ikut merasa bahagia terhadap priska, namun ia tidak kelewatan batas dalam

    menampilkan empati kegembiraannya tersebut dengan tertawa terbahak-

    bahak atau terlalu kencang dalam menjerit. Ia menampilkan empati

    seperlunya.




                                                                            14
5. CARA MENGEMBANGKAN PRIBADI JUJUR DAN BERINTEGRITAS

       Kenyataan menunjukkan bahwa suatu sistem, metode, atau teknik,

  betatapun ilmiah dan canggihnya, tidak akan berdaya-guna selama tidak

  dijalankan oleh manusia atau pribadi yang berkualitas. Ungkapan the man

  behind the system (orang di balik system) atau the man behind the gun (orang di

  balik senjata) menggambarkan bahwa penentu proses pendidikan adalah

  manusia juga (setelah Tuhan). Hal ini berlaku pula bagi kegiatan bimbingan dan

  konseling. Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan pribadi konselor

  seharusnya diarahkan untuk meraih kualitas Insan Paripurna, yang otaknya sarat

  dengan ilmu yang bermanfaat, hatinya dipenuhi dengan keiman pada tuhan,

  sikap dan perilakunya merealisasikan nilai-nilai yang mantap dan teguh,

  wataknya terpuji, dan bimbingannya kepada orang lain (konseli) membuahkan

  keimanan, kemandirian, semangat kerja tinggi, kedamaian, dan kasih sayang.

  Sungguh tipe ideal konselor yang kualitasnya cukup sulit untuk dicapai, tetapi

  dapat didekati.

      Kejujuran dan Integritas merupkan satu kiesatuan yang tidak dapat

  dipisahkan dan seharusnya ada pada diri setiap konselor. Karena dengan

  kejujuran   dan   integritas   kualitas   konseling   akan   sangat   ditentukan.

  Mengembangkan kejujuran dan integritas syarat utamanya adalah keimanan.

  Tugas seorang konselor memang sangat erat kaitannya dengan spiritual, untuk

  itu setiap konselor penting dan harus memperkuat keimanannya. Dengan agama

  dan keimanan yang kuat maka kejujuran dan integritas akan muncul dalam diri

  konselor.



                                                                                15
    Bastaman memberi beberapa tips (cara) buat para konselor agar meraih

kualitas ideal tersebut. Dia menyebut cara ini dengan istilah pelatihan

pengembangan pribadi yang bercorak psiko-edukasi. Pelatihan ini bertujuan

untuk meningkatkan aspek psiko-sosial yang positif dan mengurangi aspek-apek

yang negatif. Dengan model pelatihan ini, para konselor diharapkan dapat lebih

sadar diri, mampu menyesuaikan diri, menemukan arti, dan tujuan hidupnya,

serta menyadari serta menghayati intensitas ibadah.Dengan pelatihan semacam

ini, ungkapan the man behind the system ditingkatkan “menjadi”, yang berarti

adanya peningkatan mental-spiritual pada manusia (konselor) sebagai penerap

sistem (bimbingan dan konseling).

    Cara lain untuk meningkatkan kualitas pribadi dalam rangka mencapai citra

konselor ideal adalah dengan pelatihan disiplin diri yang lebih berorientasi

spiritual-religius, yakni membenahi kehidupan pribadi sesuai tuntutan agama

(syari’at). Salah satu bentuknya adalah mengintesifkan dan meningkatkan

kualitas ibadah, misalnya dalam hal dzikir dan shalat. Ultimate goalnya, agar

ungkapan the spirit of the man behind the system dapat ditingkatkan menjadi the

divine guidance in the spirit of the man behind the system. Artinya, dengan

meningkatkan kedekatan kepada Allah (spiritual) sang Konselor akan mendapat

bimbingan-Nya dalam membimbing para kliennya. (KOMUNIKA : 2009)




                                                                            16
6. PENTINGNYA         KONSELOR          BERKEPRIBADIAN          JUJUR        DAN
  BERINTEGRITAS
        Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam

  konseling. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pribadi

  konselor menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif, di

  samping faktor pengetahuan tentang dinamika perilaku dan keterampilan

  terapeutik atau konseling.

       Dalam kenyataan di lapangan, tidak sedikit para siswa yang tidak mau

  datang ke ruang bimbingan dan konseling, bukan karena guru pembimbingnya

  yang kurang keilmuannya dalam bidang bimbingan, tetapi karena mereka

  memiliki kesan bahwa pembimbing tersebut bersifat judes atau kurang ramah.

  Sikap jujur harus dimiliki konselor dalam menjalankan tugasnya/dalam proses

  konseling. Yang dimaksud jujur disini adalah bahwa konselor itu bersikap

  transparan (terbuka), autentik, dan asli (genuine).

        Sikap keterbukaan memungkinkan konselor dan klien untuk menjalin

  hubungan psikologis yang lebih dekat satu sama lainnya di dalam proses

  konseling. Konselor yang menutup atau menyembunyikan bagian-bagian dirinya

  terhadap klien dapat menghalangi terjadinya relasi yang lebih dekat. Kedekatan

  hubungan psikologis sangat penting dalam konseling, sebab dapat menimbulkan

  hubungan yang langsung dan terbuka antara konselor dengan klien. Apabila

  terjadi   ketertutupan   dalam   konseling    dapat   menyebabkan     merintangi

  perkembangan klien. Kejujuran memungkinkan konselor dapat memberikan

  umpan balik secara objektif kepada klien (Thohari Musnamar : 1992).




                                                                               17
    Cara lain untuk mengembangkan kejujuran dan integritas adalah dengan

cara :

1. Menamamkan budaya malu

          Dalam hal ini seorang konselor harus memiliki budaya malu apabila

   melakukan sebuah kebohongan atau ketidak jujuran. Namun, konselor juga

   harus menerapkan asas kerahasiaan dalam menjalankan tugasnya. Budaya

   malu untuk berbohong dapat menjadikan konselor bertindak jujur dalam

   segala kegiatannya.



2. Menjadi diri sendiri

          Artinya seseorang atau seorang konselor haruslah menghargai dan

   bangga terhadap dirinya sendiri, tidak memandang kekuaranagn yang dimiliki

   sebagai sebuah musibah namun lebih memandangnya sebagai jalan terbaik

   yang diberikan tuhan untuk kehidupannya. Memiliki kekurangan tentu saja

   memiliki    kelebihan,   langkah   terbaik   adalah   memaksimalkan   dan

   mengembangkan kelebihan yang dimiliki.



3. Membayangkan kesuksesan

          Optimis, adalah kata kuncinya. Setiap orang haruslah memiliki mimpi

   dalam hidupnya. Dengan memiliki mimpi maka seseoarang akan berusaha

   lebih giat untuk mewujudkan mimpinya tersebut. Mimpi disini bukanlah

   khayalan namun lebih cenderung pada sebuah cita-cita.




                                                                          18
4. Mempertajam Kepekaan.

          Konselor selalu dituntut untuk peka terhadap apa yang terjadi

   disekitarnya. Terlebih pada dewasa ini konselor harus peka dalam menggali

   keterangan dari konseli. Karena tidak jarang konseli yang sulit atau bahkan

   tidak mau jujur terhadap permasalahan yang dihadapi. Konselor juga harus

   selalu belajar dan berusaha merasakan apa yang sebenarnya sedang dirasakan

   konseli sehingga konselor dapat memberikan pencerahan dan konseli dapat

   menemukan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi.



5. Menjadi pribadi yang sederhana.

          Pribadi sederhana adalah pribadi yang terlihat simpel namun tetap

   terpancar kelebihan yang ada dalam dirinya. Tidak terlalu menyombongkan

   apa yang dimiliki dan tidak mengumbar kelebihan dan mempertontonkannya

   didepan orang lain.



6. Tunjukkan peran terbaik

          Berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik adalah sebuah moto hidup

   yang harus ada dalam pribadi setiap orang. Sebagai seorang konselor peren

   terbaik yang bisa dilakukan adalah menjadi pendengar bila konseli sedang

   mengungkapkan permasalahannya dan menjadi motivator agar konseli dapat

   memecahkan permasalahan yang dihadapi.




                                                                           19
7. Kenali kelebihan anda

          Memaksimalkan potensi diri adalah maksud utamanya. Namun

   sebelum memaksimalkan potensi yang kita miliki tentunya kita harus

   mengenali potensi apa yang kita miliki sehingga kita dapat menemukan cara

   untuk memaksimalkan potensi kita tersebut.



8. Tahu berterimakasih

          Apabila konselor menerima bantuan dari orang lain hendaknya selalu

   mengucapkan terimakasih. Terdengan sepele namun kalimat tersebut sangat

   besar maknanya. Namun bukan hanyan sekedar mengucapkan terimaksih,

   mengahargai bantuan orang lain itu juga bisa menunjukkan terimaksih kita

   terhadap orang tersebut.



9. Membuka diri terhadap kritik

          Sesorang tidaklah bisa menjadi sempurna, pasti ada kekurangan dalam

   dirinya. Membuka diri untuk menerima kritikan dan saran adalah cara terbaik

   untuk membangun dan mengatasi kekurangan tersebut.



10. Lancar berkomunikasi

          Seorang konselor harus mampu berkomunikasi dengan siapapun.

   Dengan komunikasi itulah proses konseling dapat berjalan. Komunikasi

   adalah faktor terpenting dalam pelaksanaan proses konseling karena dalam

   komunikasi inilah pemecahan masalah dapat terwujud.



                                                                           20
                                     BAB III

                                   SIMPULAN

       Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu

yang menentukan tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas dan kebiasaan

individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta

menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam.

Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih

bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan

keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya.

       Jujur bisa diartikan sebagai perilaku yang tidak memutar balikan fakta,

bertindak sesuai hati nurani, mengatakan benar bila itu benar dan mengatakan salah

bila itu salah. Integritas adalah sebuah konsep konsistensi tindakan, nilai-nilai,

metode, langkah-langkah, prinsip, harapan, dan hasil. Dalam etika, integritas

dianggap sebagai kejujuran dan kebenaran yang merupakan kata kerja atau akurasi

dari tindakan seseorang.

       Karekteristik konselor jujur dan berintegritas adalah, memiliki sikap toleran,

mengantisipasi berbagai tekanan, melakukan coping, berwibawa, jujur, sabar, ramah,

dan konsisten, empati, dan emosi yang stabil. Memperkuat agama dan keimanan

merupakan cara yang paling “ampuh” dan tepat untuk menumbuhkan kejujuran dan

integritas dalam diri. Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting

dalam konseling. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pribadi

konselor menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif, di samping

faktor pengetahuan tentang dinamika perilaku dan keterampilan terapeutik atau



                                                                                    21
konseling. Sikap keterbukaan memungkinkan konselor dan klien untuk menjalin

hubungan psikologis yang lebih dekat satu sama lainnya di dalam proses konseling.

Konselor yang menutup atau menyembunyikan bagian-bagian dirinya terhadap klien

dapat menghalangi terjadinya relasi yang lebih dekat. Kedekatan hubungan

psikologis sangat penting dalam konseling, sebab dapat menimbulkan hubungan

yang langsung dan terbuka antara konselor dengan klien. Apabila terjadi ketertutupan

dalam konseling dapat menyebabkan merintangi perkembangan klien. Kejujuran

memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif kepada klien




                                                                                 22
                             DAFTAR PUSTAKA

http://kamusbahasaindonesia.org/jujur/mirip. diunduh pada selas, 26 semptember
       2012 pukul 18 : 42 wib.

http://www.artikata.com/arti-330870-integritas.html. Diunduh pada selasa, 26
       september 2012 pukul 18 : 56

Sunar, Dwi dan Tim (Ed). (2011). Membaca Kepribadian Orang. Yogyakarta : Think

Thohari Musnamar dan Tim (Ed.). (1992). Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan
     Konseling Islami. Yogyakarta : UII Press.




                                                                                 23

								
To top