Docstoc

DASAR KETRAMPILAN KONSELING (HELPING)

Document Sample
DASAR KETRAMPILAN KONSELING (HELPING) Powered By Docstoc
					                                                  DAFTAR ISI




BAB I PENDAHULUAN
         A. Latar Belakang Masalah ...............................................................1
         B. Rumusan Masalah .......................................................................1
         C. Tujuan ..........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
         1. Konseling Sebagai Proses Helping Relation ...............................3
         2. Ketrampilan Dasar Konselor ........................................................7
         3. Terapi Sebagai Proses Helping.....................................................12
         4. Tujuan Proses Helping .................................................................17
BAB III PENUTUP
          1. Kesimpulan..................................................................................18
          2. Saran ...........................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................21




                                                                                                                   1
                                         BAB I

                                    PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

            Konseling merupakan proses pemberian bantuan melalui wawancara

   konseling atau pertemuan tatap muka yang dilakukan oleh seorang ahli yang

   terlatih dan perpengalaman di bidang konseling terhadap individu/klien yang

   membutuhkannya atau yang sedang menghadapi masalah. Pemberian layanan

   bantuan tersebut berdasarkan teori, metode, dan tenik yang sesuai, sehingga klien

   mampu mengembangkan potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalah

   yang dihadapinya dan bila suatu saat mengalami keadaan yang sama dalam

   hidupnya diharapkan klien mampu menghadapinya, serta dapat menyesuaikan diri

   terhadap lingkungan di sekitarnya. Selain itu klien diharapkan mengalami

   perubahan yang bersifat fundamental baik dalam perubahan sikap dan

   tindakannya ke arah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Konseling

   juga sebagai helping relation.



2. Rumusan Masalah

         Apa yang dimaksud helping?

         Apa saja ketrampilan dasar konselor?

         Apa saja jenis-jenis terapi yang digunakan untuk proses helping?

         Apa tujuan proses helping?




                                                                                  2
3. Tujuan

           Mengetahui apa yang dimaksud helping.

           Mengetahui ketrampilan dasar konselor.

           Mengetahui jenis-jenis terapi yang digunakan untuk proses helping.

           Mengetahui tujuan proses helping.




                                                                                 3
                                          BAB II


                                    PEMBAHASAN

1.   KONSELING SEBAGAI HELPING RELATION

            Amat banyak hubungan antar manusia yang mengandung unsur-unsur

     pemberian bantuan. Ini memang diperlukan karena berbagai kondisi dilematis,

     konflik, ataupun krisis yang dialami individu dan perlu bantuan segera. Akan

     tetapi, atas sifat dan ciri-cirinya, tidak semua pemberian bantuan dapat dibuat

     profesional.

            Upaya pemberian bantuan, selanjutnya disebut helping, di Indonesia tetap

     begitu. Yang dibicarakan disini adalah yang profesional sifatnya. Menurut Mc

     Cully, suatu profesi helping dimaknakan sebagai adanya seseorang, didasarkan

     pengetahuan khasnya, menerapkan suatu teknik intelektual dalam suatu

     pertemuan khusus dengan orang lain dengan maksud agar orang lain akan

     memungkinkan lebih efektif menghadapi dilema-dilema, pertentangan yang

     merupakan ciri khas kondisi manusia.

            Suatu helping relation ditandai oleh ciri-ciri dasar tertentu. Pandangan

     Bruce Shertzer dan Sally C Stone yang diadaptasi disini, mengenai ciri-ciri

     helping relation adalah:

            Helping relation adalah penuh makna, bermanfaat.

            Afeksi sangat mencolok dalam helping relation.

            Keutuhan pribadi tampil atau terjadi dalam helping relation.




                                                                                  4
       Helping relation terbentuk melalui kesepakatan bersama individu-

        individu yang terlibat.

       Hubungan terjalin karena individu yang hendak dibantu membutuhkan

        informasi, pelajaran, bantuan, pengalaman dan perawatan dari orang

        lain.

       Helping relation dilangsungkan melalui komunikasi dan interaksi.

       Struktur helping relation adalah jelas atau gamblang.

       Upaya-upaya yang bersifat kerja sama menandai helping relation.

       Orang-orang dalam helping relation dapat dengan mudah ditemui atau

        didekati dan terjamin ajeg sebagai pribadi.

       Perubahan merupakan tujuan hubungan konseling



       Konseling pada dasarnya merupakan suatu hubungan helping, helping

relationship.Mereka menganggap diri hadir untuk menyediakan layanan helping

bagi orang-orang yang ingin atau butuh bantuan. Para konselor dan/atau para

calon konselor agaknya cukup senang dengan ungkapan Lawrence M. Brammer

tentang kemungkinan mereka mampu memerankan profesi helping. Brammer

mengungkapkan bahwa banyak orang yang mempunyai daya-mampu alamiah,

natural, untuk membantu dengan baik karena pengalaman hidupnya yang

menguntungkan. Mereka memiliki daya-mampu intelektual untuk memahami

dan memperhatikan ciri-ciri helping secara alamiah sehingga lebih dapat

menolong orang lain dengan baik. Di dalam helping profesional pribadi konselor

merupakan ”instrumen” menentukan bagi adanya hasil-hasil positif konseling.



                                                                            5
Kondisi ini akan di dukung oleh keterampilan konselor mewujudkan sikap dasar

dalam berkomunikasi dengan klien. Adapun pokok-pokok kekhasan pribadi

para helper pada umumnya berdasarkan sifat hubungan helping, menurut

Brammer, adalah:

      Awareness of Self and Values (Kesadaran Akan Diri dan Nilai-nilai)

             Para helper memerlukan suatu kesadaran tentang posisi-posisi nilai

       mereka sendiri. Mereka harus mampu menjawab dengan jelas

       pertanyaan-pertanyaan, siapakah saya? Apakah yang penting bagi saya?

       Apakah signifikansi sosial dari apa yang saya lakukan? Mengapa saya

       mau menjadi seorang helper? Kesadaran ini membantu para helper

       membentuk kejujuran terhadap dirinya sendiri dan terhadap helpi mereka

       dan juga membantu para helper menghindari memperalat secara tak

       bertanggung jawab atau tak etis terhadap para helpi bagi kepentingan

       pemuasan kebutuhan diri-pribadi para helper sendiri.



      Awareness of Cultural Experience (Kesadaran Akan Pengalaman

       Budaya)

             Helper dituntut mengetahui lebih banyak lagi tentang budaya para

       helpi. Mengetahui lebih banyak perbedaan antara para helper dan para

       helpi merupakan hal sangat vital bagi keefektifan hubungan helping.

       Kelompok orang-orang tertentu seperti para tahanan, pemabuk, kanak-

       kanak, orang jompo, janda/duda, penyandang cacat-fisik atau mental,

       siswa-siswa miskin, pria atau wanita, dan semacamnya, sangat mungkin



                                                                             6
    memiliki pengalaman hidup yang sangat berlainan dengan para helper

    mereka. Para helper profesinal hendaknya mempelajari ciri-khas budaya

    dan kebiasaan tiap kelompok helpi mereka.



   Ability to Analyze the Helper’s Own Feeling (Kemampuan Menganalisis

    Kemampuan Helper Sendiri).

          Para helper harus mampu ”menyelami” perasaan-perasaan mereka

    sendiri, memahami dan menerima perasaan-perasaan mereka. Tidak

    menggantungkan harapan-harapan sukses terlalu tinggi dan berdiskusi

    sesama kolega dapat membantu meredakan perasaan-perasan negatif.



   Ability to Serve as Model and Influencer (Kemampuan Berlayan Sebagai

    ”Teladan” dan ”Pemimipin” atau Orang ”Berpengaruh”).

            Kemampuan para helper sebagai ”pemimpin” atau orang

    ”berpengaruh”, dan sebagai ”teladan” diperlukan pula dalam proses

    helping. Meskipun ini tidak berarti bahwa para helper harus menguasai

    para helpi mereka, para helper harus dapat menunjukkan kemampuan

    melihat inti masalah dengan tajam dan cepat dan mempunyai rasa

    percaya diri yang mapan.



   Altruism

          Pribadi yang altruistis ditandai kesediaan berkorban (waktu,

    tenaga, dan mungkin materi) untuk kepentingan kebahagiaan atau



                                                                       7
        kesenangan orang lain. Dengan kata lain kepuasan para helper diperoleh

        melalui pemberian peluang memuaskan orang-orang lain.



       Strong Sense of Ethics (Penghayatan Etik yang Kuat)

               Kelompok helper profesional, seperti konselor, memiliki kode

        etik untuk dipahami dan dipakai serta dapat menimbulkan kepercayaan

        masyarakat terhadap mereka.



       Responsibility (Tanggung Jawab)

              Para helper yang bertanggung jawab menyadari keterbatasan-

        keterbatasan mereka, sehingga tidak mencanangkan hasil-hasil (tujuan)

        yang tidak realistis. Mereka akan mengupayakan referal kepada spesialis

        ketika mereka menyadari keterbatasan diri mereka dan tetap kontak

        dengan para helpi mereka sampai spesilalis lain itu mengambil tanggung

        jawab dalam suatu hubungan baru dengan klien. Begitu pula, ketika

        secara pasti para helper kompeten menangani kasus, mereka tidak

        membiarkan kasus-kasus para helpi terkatung-katung tanpa penyelesaian.



2. KETRAMPILAN DASAR KONSELOR

     Kompetensi Intelektual

               Jelas bahwa keterampilan-keterampilan konselor dilandasi oleh

        pengetahuan siap pakai mengenai tingkah laku manusia, pemikiran yang

        cerdas, dan kemampuan mengintegrasikan peristiwa yang dihadapi



                                                                             8
   dengan pendidikan dan pengalamannya. Kompetensi komunikasi

   merupakan sebagian dari kompetensi intelektual konselor. Oleh karena

   itu konseling, terutama latar interview, sangat bergantung pada

   komunikasi yang jelas, maka kunci penting keefektifan konseling adalah

   kompetensi komunikasi.



 Kelincahan Karsa-cipta

         Di dalam memilih dengan cepat dan tepat respon yang bijak,

   sangat dperlukan kelincahan karsa-cipta seorang konselor tersebut.

   Kelincahan ini terutama sekali sangat terasa pentingnya di saat interview

   konseling dimana klien mengemukakan pernyataan-pernyataan verbal

   atau nonverbal.mulai sejak penerimaan klien, penyiapan interview,

   penyusunan model konseren/masalah klien, penentuan tujuan dan tujuan

   khusus, penentuan dan pelaksanaan strategi, sampai pada evaluasi untuk

   kerja konselor dan klien, penuh dengan proses pengambilan keputusan

   dan penetapan tindakan. Kebanyakan dari hal ini menuntut kesegeraan

   dan kelincahan karsa-cipta konselor.



 Pengembangan Keakraban

        Keterampilan lain, namun merupakan syarat yang sangat pokok

   guna tercipta dan terbina saling-hubungan harmoni antara klien dan

   konselor,   adalah    pengembangan      keakraban     (rapport).   Istilah

   ”pengembangan”, di sini, mencakup menciptakan, pemantapan, dan



                                                                           9
pelanggengan keakraban selama konseling. Jika sudah terjalin keakraban

yang baik antara konselor dan klien, maka klien akan berbicara secara

bebas mengenai dirinya sendiri dan masalah-masalah sesungguhnya yang

dialaminya. Jika keakraban itu berhasil dimantapkan dan dipelihara,

maka konselor dapat mengembangkan komunikasi dengan berbagai

teknik tersedia. Karena komunikasai adalah bagian esensial untuk proses

konseling yang sangat erat kaitannya dengan perilaku manusia (Jalaludin

Rakhmat , 2011).

  Meskipun pertanyaan dalam hal berkomunikasi dengan konseli sangat

penting seringkali ada godaan menggunakan pertanyaan yang sebenarnya

tidak perlu. Jika ini terjadi maka proses konseling akan cenderung

melemah. Penyalahgunaan pertanyaan yang biasanya dilakukan konselor

dan seharusnya tidak perlu pada umumnya adalah sebagai berikut :

    Mencampuri Urusan Peibadi

             Tugas pertama konselor ketika ada konseli datang pada

       konselor adalah membangun sebuah kepercayaan. Sehingga

       konseli mau mengungkapkan permasalahan pribadi yang sedang

       dihadapi. Tidak jarang konseli tidak menceritakan masalah yang

       mereka hadapi kepada teman atau bahkan keluarga mereka. Maka

       dari itulah membangun kepercayaan penting dilakukan konselor.

       Apabila konselor mangajukan pertanyaan untuk menggali

       informasi sebelum kepercayaan itu terbangan maka konseli akan




                                                                    10
   cenderung mundur dan merasa konselor mencampuri urusan

   pribadi mereka.



 Mengintrogasi Konseli

         Jika konselor mengajukan pertanyaan secara berturut-turut

   maka sesi konseling akan terasa seperti pengintrogasian. Konseli

   yang datang mencari bantuan akan merasa tertekan dan

   kewalahan. Apabila ini terjadi maka konseli akan menjadi sedikit

   bicara karena khawatir atas “kelancangan” dalam proses

   konseling. Konseli menjadi sedikit bicaran (mengungkapkan

   informasi) dan efeknya adalah menghambat, mempersulit ayau

   bahkan menggagalkan proses konseling.



 Menciptakan Ketidak Setaraan yang Tidak Perlu

       Penting bagi konselor untuk tidak berlaku layaknya seorang

   ahli atau merasa lebih dari orang lain/konseli yang datang

   padanya. Meskipun kita menyadari ada perbedaaan mendasar

   antara konselor dan konseli, konselor harus melibatkan diei dalam

   prose kolaboratif dengan konseli dan dalam hubungan dimana

   ketidak seimbangan itu harus diminimalisir.




                                                                 11
 Melemahkan Proses Konseling

         Melakuakan terlalu banyak pertanyaan akan mengangu

   proses pembicaraan normal. Konseli akan merasa tetekan dan

   menarik diri. Bukannya memikirkan apa yanga akan disampaikan

   pada konselor, ia mungkin diam dan menunggu sampai

   pertanyaan berikutnya diajukan padanya.



 Mengendalikan Proses Penelusuran Konseli

         Masalah utama yang dapat timbul jika konselor terlalu

   mengandalkan           pertanyaan-pertanyaan       konselor      akan

   mengendalikan arah percakapan. Menurut aturan umumya, ini

   tidak boleh terjadi. Karena seharusnya konseli dibiarkan pergi

   kearah mana energinya menuntun. Penting bagi konseli

   menelusuri dimana wilayah-wilayah masalahnya berada. Solusi

   yang baik adalah menggunakan pendekatan mendengarkan secara

   aktif dan reflektif.



 Menggunakan pertanyaan “Mengapa ?”

       Pertanyaan         mengapa      cenderung     membuat      konseli

   mengeluarkan jawaban yang sifatnya rasional dan terkadang

   hanya mengungkapkan apa yang ada di luar dan tidak

   mengungkapkan          apa   yang    sebenarnya    terjadi    didalam.




                                                                      12
                Dibandingkan pertanyaan yang bertipe “mengapa” pertanyaan

                yang berawalan “apa, bagaimana, kapan” biasanya lebih berguna.



             Lebih Mementingkan Kebutuhan-Kebutuhan Konselor

                     Terkadang seorang konselor terjerumus dalam perasaan

                penasarannya saja. Sehingga membuat klien merasa seperti di

                giring kedalam alur yang diinginkan konselor. Meskipun

                tujuannya     sama-sama   untuk      menggali     informasi,   namun

                merefleksi apa yang sudah diungkapkan klien, klien akan

                melanjutkan pembicaraanya tentang hal-hal pribadi yang menjadi

                sumber      dari   permasalahnnya.     (Kathrin     Geldart,   David

                Geldart,2011)




3. TERAPI SEBAGAI PROSES HELPING

       Ada banyak cara dalam proses pemberian bantuan kepada konseli, namun

  secara umum proses terapi adalah proses yang sering digunakan unruk

  memperlancar konseli menemukan pemecahan/jalan keluar dari permasalahan

  yang di hadapi. Terapi-terapi yang secara umum dipakai oleh konselor adalah :

     a) Terapi Psikoanalitik

              Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan

         pengalaman-pengalaman dini. Motif-motif dan konflik tak sadar adalah

         sentral dari tingkahlaku sekarang. Perkembangan dini penting karena



                                                                                  13
   masalah kepribadian berakar dari konflik-konflik masa kanak-kanak

   yang di represi.

        Perkembanagan kepribadian yang normal berlandaskan resolusi dan

   integrasi    fase-fase   perkembangan    psikoseksual     yang   berhasil.

   Perkembangan kepribadian yang gagal merupakan akibat dari resolusi

   sejumlah fase perkembangan psikoseksual yang tidak memadai. Id, ego,

   dan superego membentuk dasar bagi struktur kepribadian . kecemasan

   adalah akibat dari perepresian konflik-konflik dasar. Mekanisme

   pertahanan ego dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Proses-

   proses tak sadar berkaitan dengan tingkahlaku yang muncul sekarang.

        Tujuan dari terapi psikoanalitik adalah membuat hal-hal yang tidak

   disadari menjadi disadari. Membantu konseli dalam menghidupkan

   kembali pengalaman masa kanak-kanak dini dengan menembus konflik-

   konflik yang direpresi (Gerald Corey, 2010).



b) Terapi Eksistensial Humanistik

         Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup

   kesanggupan untuk menyadari diri, bebas memilih jalan untuk

   menentukan nasib, kecamasan, tanggung jawab adalah sebagai unsur

   dasar pencarian makna dari dunia yang tidak bemakna. Keramaian dalam

   kesunyian,     keterheningan     dan   kematian   serta    kecenderungan

   mengaktualkan diri.




                                                                          14
        Terapi ini menekankan kondisi-kondisi manusia. perkembanagn

   kepribadian yang normal berdasarkan keunikan masing-masing individu.

   Kesadaran diri berkembang sejak dini. Psikopatologi adalah akibat dari

   kegagalan pengaktualan diri. Tujuan dari terapi ini adalah menyajikan

   kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.

   Menghapus      penghambat      pengaktualisasi    diri.    Membatu   konseli

   menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri.

   Membantu konseli bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya

   sendiri (Gerald Corey, 2010).



c) Terapi Client-Centered

          Manusia memiliki kecenderuangan kearah berfungsi penuh.

   Dalam konteks hubungan terapiutik, konseli mengalami perasaan-

   perasaan yang sebelumnya diingkari. Konseli mngaktualkan diri dan

   bergerak kearah yang lebih baik, meningkatkan kesadaran, spontanitas,

   dan kepercayaan diri. Konseli memiliki kemampuan untuk sadar atas

   masalah-masalahnya serta cara mengatasinya. Kepercayaan diletakkan

   atas kesanggupak konseli untuk mengarahkan dirinya sendiri. Kesehatan

   mental adalah keselarasan diri ideal dan diri riel. Malajustment adalah

   akibat dari kesengajaan antara diri ideal dan diri riel.

        Tujuannya adalah menyediakan iklim yang nyaman dan kondusif

   bagi eksplorisasi diri konseli sehingga ia mampu menyadari penghambat-




                                                                            15
   penghambat pertumbuhan dan aspek-aspek pengalaman diri yang

   sebelumnya diingkari atau didistorsikan (Gerald Corey, 2010).



d) Terapi Gestald

         Orang terdorong kearah keseluruhan dan terintegrasi pemikiran,

   perasaan serta tingkahlaku. Pandangannya anti deterministik dalam arti

   individu dipandang memiliki kesanggupan untuk menyadi bagaimanana

   pengaruh masa lampau berkaitan dengan kesulitan-kesulitan masa

   sekarang. Terapi ini berfokus pada apa dan bagaimana mengalami disini

   dan sekarang untuk membantu konseli agar menerima polaritas-polaritas

   dirinya, menentang konseli agar menerima tanggung jawab atas

   pengambilan dukungan internal alih-alih dukungan eksternal (Gerald

   Corey, 2010).



e) Terapi Analisis Transaksional

        Orang dipandang memiliki kemampuan memilih, apa yang

   sebelumya ditetapkan bisa ditetapakan ulang. Walaupun terkadang

   menjadi korban dari skenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalahkan

   diri bisa diubah dengan kesadaran. Tujuannya adalah membantu konseli

   menjadi pribadi yang otonom (Gerald Corey, 2010).




                                                                      16
f) Terapi Tingkahlaku

        Manusia di bentuk dan dikondisikan oleh pengondisian sosial

   budaya. Tingkahlaku dipandang sebagai hasil belajar pengondisian.

   Terapi ini berdasekan prinsip-prinsip teori belajar. Tujuannya adalah

   menghapus yang merusak/merugikan danmembantu konseli dalam

   mempelajari pola-pola tingkahlaku yang konstruktif (Gerald Corey,

   2010).



g) Terapi Rasional Emotif

        Setiap individu dilahirkan dengan potensi untuk berfikir rasional,

   walaupun     kecenderunagn untuk berfikir curang itu ada. Gangguan-

   gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak tetapi dikekalkan

   melalui    reindoktrinasi   sekarang.   Tujuannya   adalah   menghapus

   pandangan hidup konseli dalam memperoleh pandangan hidup yang

   lebih toleran dan rasional (Gerald Corey, 2010).



h) Terapi Realitas

         Pendekatan ini menolak model medis dan konsep tentang penyakit

   mental. Berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan menolak

   masa lamapau ebagai variabel utama. Tugas konselor adalah melibatkan

   diri untuk menyadarkan konseli tentang tingkahlakunya sekarang.

   Tujuannya adalah membimbing konseli kearah mempelajari tingkahlaku




                                                                       17
          yang realitas dan bertanggungjawab serta mengembangkan “idenditas

          keberhasilan” (Gerald Corey, 2010).



4. TUJUAN PROSES HELPING

      Tujuan dari proses helping sebagaimana telah sedikit dipaparkan di atas

  adalah tujuannya untuk hal-hal yang beroroientasi luas dan berjangjka panjang

  yang seringkali tidak bisa diukur secara objektif. Tujuan-tujuan itu bisa

  mencakup pemenuan otonom dan kebebasan, mengaktualkan diri, penemuan

  evaluasi internal, menjadi lebih terintegrasi,dan sebagainya.     Tujuan-tujuan

  global lainnya bisa terdiri dari atas :

       Konseli jadi lebih menyadari diri, bergerak kearah kesadaran yang lebih

          penuh atas kehidupan batinnya, dan menjadi kurang penyangkalan dan

          pendistorsian

       Konseli menerima tanggung jawab yang lebih besar atas siapa dirinya.

          Menerima        perasaan-perasaanya   sendiri,   menghindari   tindakan

          menyalahkan lingkungan dan orang lain atas keadaan dirinya dan

          menyadari bahwa sekarang dia bertanggung jawab penuh atas apa yang

          dilakukuannya.

       Konseli menjadi lebih berpegang pada kekuatan-kekuatan batin dan

          pribadinya sendiri, menghindari tindakan memainkan peran orang yang

          tak berdaya dan menerima kekuatan yang dimilikinya untuk mengubah

          kehidupannya sendiri.




                                                                              18
 Konseli memperjelas nilai-nilainya sendiri, mengambil perspektif yang

   lebih jelas atas masalah-masalah yang dihadapinya, dan menemukan

   dalam dirinya sendiri penyelesaian-penyelesaian bagi konflik-konflik

   yang dialaminya.

 Konseli menjadi lebih terintegrasi serta menghadapi, mengakui,

   menerima dan menangani aspek-aspek dirinya yang terpecah dan

   diingkari, dan mengintegrasi semua perasaan dan pengalaman kedalam

   keseluruhan hidupnya.

 Konseli belajar mengambil resiko yang akan membuka pintu-pintu

   kearah cara-cara hidup yang baru serta menghargai kehidupan dengan

   ketidakpastiannya   yang   diperlukan   bagi   landasan   pembangunan

   pertumbuhan.

 Konseli menjadi lebih mempercayai diri serta bersedia mendorong

   dirinya sendiri untuk melakukan apa yang dipilih untuk dilakukannya.

 Konseli menjadi lebih sadar atas alternatif-alternatif yang mungkin serta

   bersedia memilih bagi dirinya sendiri serta mnerima konsekuensi-

   konekuensi dari pilihannya (Gerald Corey, 2010).




                                                                          19
                                      BAB III

                                    PENUTUP

1) Kesimpulan

           Helping bisa dikatakan sebagai proses akhir dari sebuah proses konseling.

  Helping sendiri dalam bahas Inggris artinya adalah sebuah pemberian bantuan.

  Dalam konteks kaitannya dengan proses konseling, helping mmiliki makna sebagai

  proses pembrian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli. Ada banyak

  ciri dari helper, namun secara umum orang/konselor yang disebut segai helper

  memiliki ciri kematangan dalam hal kepribadian. Artinya dia menyadari, mengerti

  dan memahami dirinya sendiri serta selalu mengaktualisasikan dirinya demi

  tercapainya kedewasaan dalam kepribadinannya.

           Konselor/helper harus memiliki tiga dasar kemampuan yaitu kematangan

  intelektual, kelincahan cipta-karsa, dan kemampuan keakraban atau komunikasi

  dengan konseli. Tujuan utama dari proses helping jelas adalah untuk membantu

  konseli menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Yang terpenting

  adalah konseli dapat memahami dirinya, bertanggung jawab penuh tas apa yang

  dilakukannya serta konseli dapat selalu mengaktualisasi diri.



2) Saran

        Disini kami sangat menitik beratkan pada pengaktualisasian diri, khususnya

  bagi konselor/helper. Karena menurut kamu aktualisasi diri dari konselor amat

  besar pengaruhnya terhadap kesuksesan proses helping. Jadi hendaknya untuk

  konselor atau calon konselor agar selalu mngaktualisasikan diri demi memenui



                                                                                 20
profesionalsisme dalam melakukan profesi sebagai konselor. Keberhasilan proses

konseling memang bukan sepenuhnya pengaruh dari konselor, namun konselor

berkewajiban penuh untuk menciptakan suasana/iklim yang kondusif dan

semaksimal mungkin membantu/memberikan pencerahan kepada konseli gar

mampu keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.




                                                                           21
                            DAFTAR PUSTAKA

Amin,Samsul Munir.2010. Bimbingan dan Konseling Islam, Jakarta: Amzah.

Walgito, Bimo. 2010.Bimbingan dan konseling: Studi dan karier,Yogyakarta: Andi

Langgulung, Hasan. 1986. Teori-teori kesehatan Mental, Jakarta: Al Husna.

Mappiare, A.T. 2004.Pengantar Konseling dan Psikoterapi,Jakarta:PT Raja
      Grafindo Persada.

Willis ,Sofyan. 2004 . Konseling Individual: Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek: Konseling dan Psikoterapi. Bandung :
     Refika Aditama.

Geldard, Kathryn dan david Geldard. 2011. Ketrampilan Praktik Konseling.
     Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosdakarya




                                                                                22

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:6
posted:8/28/2013
language:Malay
pages:22
Description: DASAR KETRAMPILAN KONSELING (HELPING)