modul ham trisakti

Document Sample
modul ham trisakti Powered By Docstoc
					                               Laporan Kasus IV

   Keluarga yang Meminta Dokter Melakukan
              Pengobatan dengan Segala Cara
                    (Extraordinary Treatment)

                                      Kelompok IV


03007067   Dika Astriana K                        03009206      Rika Susanti

03008103   Fifi Tandion                           03009207      Rinoka Wira PP

03008106   Friska Monita                          03009209      Riyan Budianur

03008111   Gita Mutiara F                         03009247      Syavina Wardah

03009164   Nabila Zaneta                          03009248      Syahriar Muhammad

03009166   Najua Saleh                            03009249      Sylvia Alviodita

03009168   Nanda Anesa M                          03009277 Yuanita Lavinia




                             Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

                                     Jakarta, 27 Januari 2012
                                          BAB I

                                   PENDAHULUAN

        Extraordinary Treatment adalah pengobatan yang biasanya berupa tindakan invasif
dan dianggap memberatkan atau membebani pasien dan merupakan upaya yang
menimbulakan banyak masalah etik. (1)

        Jika mengedepankan salah satu kaidah etika yaitu prinsip otonomi, maka setiap pasien
berhak memutuskan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan terhadap dirinya, termasuk
untuk menolak atau memilih jenis pengobatan terlepas dari konsekuensi yang telah
diberitahukan dan dipahami oleh pasien tersebut. Pasien harus mempertimbangkan secara
matang dan memikirkan manfaat serta mudharat yang didapatkan dari extraordinary
treatment ini, karena pengobatan ini berisko tinggi, bersifat kompleks dan menggunakan
teknologi-teknologi tinggi, inovatif, eksperimental, tidak biasa, relatif bermanfaat sedikit
untuk memperpanjang hidup pasien, mahal, ketersediaannya sangat jarang hanya ada di
tempat-tempat tertentu, dan biasanya disertai dengan nyeri hebat dan rasa tidak nyaman
lainnya. (2)
                                           BAB II

                                   LAPORAN KASUS

Sesi I

         Bapak Arman (61 tahun) dan Ny. Nanu (60 tahun) sudah 35 tahun menikah. Mereka
dikaruniai dua orang anak perempuan yang semuanya sudah berumahtangga dan memberikan
dua orang cucu.

         Kondisi ekonomi keluarga Pak Arman cukup baik, memiliki dua perusahaan yang
berjalan dengan baik.

         Bapak Arman dan Ny. Nani cukup dikenal di lingkungannya karena keduanya aktif
dalam kegiatan sosial dan keagamaan, bahkan pak Arman menjadi salah satu donatur tetap
pada sebuah panti asuhan.

         Walaupun sebelumnya Pak Arman adalah perokok berat, namun sudah sejak 5 tahun
terakhir ini berhenti total merokok dan aktif berolah raga.

         Sejak satu tahun yang lalu, Pak Arman kerap kali merasa pusing dan sakit di daerah
lehernya serta batuk-batuk. Pemeriksaan oleh dokter di kantornya dinyatakan tensinya 130/80
mmHg, jantung dan parunya baik. Pak Arman diberi obat simptomatik biasa namun tidak ada
perbaikan.

         Pak Arman lalu periksa ke dokter spesialis di klinik yang cukup besar. Hasil
pemeriksaan menunjukkan pak Arman menderita kanker paru-paru yang sudah bermetastase
ke tulang. Dokter menganjurkan untuk dilakukan penyinaran dan kemoterapi.

         Pak Arman dan istrinya tidak 100% percaya pada hasil pemeriksaan dokter tadi dan
menginginkan second opinion di luar negeri.

         Istrinya, Ny. Nani, begitu terpukul mendengar keterangan dokter dan merasa heran
dan tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat kepadanga. Sambil
menangis ia menyatakan bahwa ia belum siap bila ditinggal suaminya untuk selamanya.

         Sebaliknya bapak Arman tampak lebih tegar dan merasa yakin bahwa ini adalah
sapaan Tuhan dan Tuhan pasti punya rencana sendiri dengan memberikan penyakit
kepadanya.
Sesi II

          Bapak Arman dan Ny. Nani ingin memperoleh secon opinion, lalu berangkatlah ke
luar negeri untuk berobat. Hasil pemeriksaan medis di luar negeri menyataka bahwa Pak
Arman menderita kanker paru-paru stadium lanjut, yang sudah bermetastase ke tulang-tulang.
Beberapa ruas tulang vertebra servikalnya sudah begitu rapuh dan harus segera diatas agar
tidak menjepit saraf-sarafnya.

          Operasi perbaikan vertebra servikal berhasil baik. Untuk kankernya, Pak Arman
hasrus menjalani pengobatan penyinaran dan kemoterapi.

          Setelah pengobatan selesai, Pak Arman dam istrinya pulang ke Jakarta. Kondisi Pak
Arman tampak ada kemajuan dan semangat hidupnya tetap tinggi.

          Sebulan kemudian Pak Arman kembali ke luar negeri untuk kontrol penyakitnya.
Hasilnya begitu menggembirakan. Kanker parunya dinyatakan hampir menghilang.
Kemoterapi diteruskan dan kemudian Pak Arman kembali lagi ke Jakarta.

          Namun, beberapa minggu kemudian, kondisi Pak Arman justru menurun, ia menjadi
kesulitan untuk berjalan. Bicaranya sangat pelan dan cenderung banyak tidur. Bila makan dan
minum Pak Arman selalu kesulita menelan (keselak). Pak Arman secara drastis tampak
sangat lemah.

          Saat kembali periksa ke luar negeri, dokter menyatakan bahwa kankernya sudah
menjalar ke otak. Dokter menyarankan agar Pak Arman menjalani pengobatan paliatif saja.

          Ny. Nani tidak setuju dengan saran dokter, ia tetap meminta agar dokter mau
mengobati suaminya dengan segala cara agar dapat disembuhkan.
                                            BAB III

                                     PEMBAHASAN

Identitas Pasien

Nama            : Bapak Arman

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur            : 61 tahun

Agama           :-

Pekerjaan       : Pengusaha

Alamat          : Jakarta




Analisis Kasus

Skenario 1

        5 tahun yang lalu pak Arman adalah seorang perokok berat  rokok merupakan
         faktor resiko dari Ca paru yang diderita oleh Pak Arman.
        1 tahun yang lalu Pak Arman kerap kali merasa pusing dan sakit di daerah leher serta
         batuk-batuk  kemungkinan besar ini merupakan gejala awal dari Ca paru yang
         diderita Pak Arman.
        Pak Arman sudah pernah memeriksakan dirinya ke dokter perusahaan tempat dia
         bekerja, dari hasil pemeriksaan dokter tersebut tensi pak Arman dalam keadaan
         normal 130/80mmHg, jantung dan paru-parunya juga dalam keadaan baik dan sudah
         diberi obat simptomatik biasa namun tidak ada perbaikan  kemungkinan Ca paru
         yang diderita Pak Arman tidak terdeteksi oleh dokter sehingga Pak Arman hanya
         diberikan obat simptomatik saja.
        Pak Arman di diagnosis Ca paru yang bermetastasis ke tulang oleh dokter spesialis di
         klinik yang cukup besar dan dokter menyarankan untuk melakukan terapi sinar dan
         kemoterapi tetapi Pak Arman dan isrtrinya tidak 100 persen percaya pada hasil
         pemeriksaan dokter tadi dan menginginkan second opinion di luar negeri  sikap
       yang ditunjukkan oleh Pak Arman dan Ny. Nani menurut Elizabeth Kubbler - Ross
       ada di tahap pertama dimana mereka mengalami shock/ penyangkalan mengenai
       penyakit yang diderita Pak Arman sehingga mereka masih ingin memastikannya
       dengan memilih untuk ke luar negeri untuk mendapatkan second opinion.
      Istri Pak Arman begitu terpukul mendengar keterangan dokter dan merasa heran dan
       tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat kepadanya,
       sambil menangis ia menyatakan bahwa ia belum siap bila ditinggal suaminya untuk
       selamanya  sikap istri pak Arman yang seperti ini menurut Elizabeth Kubbler
       Rossjuga menunjukkan tahap pertama dimana Ny. Nani belum dapat menerima sakit
       yang diderita pak Arman. Untuk mengatasi keadaan ini mungkin dengan pendekatan
       keagamaan sesuai yang dianut dapat memberi dukungan untuk menghadapi masalah
       yang dihadapi.
      Pak Arman tampak lebih tegar dan merasa yakin bahwa ini adalah sapaan Tuhan dan
       Tuhan pasti punya rencana sendiri dengan memberikan penyakit kepadanya  pak
       Arman menunjukkan sikap yang sabar dan tabah dalam mengahadapi cobaan yang
       dihadapinya, ini mungkin karena Pak Arman merupakan orang yang taat terhadap
       agama.




Skenario 2

      Second opinion yang didapat oleh Pak Arman di luar negeri, dokter menyatakan Pak
       Arman menderita kanker paru stadium lanjut yang bermetastase ke tulang-tulang,
       beberapa ruas tulang vertebra servikalnya sudah begitu rapuh dan harus segera diatasi
       agar tidak menjepit saraf-sarafnya, operasi perbaikan vertebra servikalis berhasil baik,
       untuk kankernya Pak Arman harus menjalani pengobatan penyinaran dan
       kemoterapia, kondisi Pak Arman tampak ada kemajuan dan semangat hidupnya tetap
       tinggi, 1 bulan kemudian pada saat Pak Arman kembali ke luar negeri untuk kontrol
       penyakitnya dan hasilnya kanker parunya sudah hampir menghilang, kemoterapi tetap
       diteruskan, beberapa minggu kemudian kondisi Pak Arman justru mulai menurun, ia
       menjadi kesulitan untuk berjalan, bicaranya sangat pelan dan cenderung banyak tidur,
       bila makan dan minum selalu kesulitan menelan, Pak Arman drastis sangat lemah,
       saat kembali periksa ke luar negeri, dokter menyatakan bahwa kankernya sudah
    menjalar ke otak  kemungkinan besar Ca paru Pak Arman mengalami metastase
    dengan cepat sehingga dalam waktu beberapa minggu sudah metastase ke otak.
   Dokter menyarankan pengobatan paliatif untuk Pak Arman  tindakan yang
    dilakukan oleh dokter sudah tepat dengan menganjurkan pak Arman untuk
    menjalankan pengobatan paliatif karena dengan pengobatan paliatif dapat
    menigkatkan kualitas hidup pak Arman, mengurangi penderitaan pak Arman,
    membuat Pak Arman merasa nyaman (comfort) dalam menjalankan end of life dalam
    hidupnya.


    Pengobatan paliatif pada Bapak Arman

           Pengobatan paliatif diberikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang
    menderita penyakit yang serius atau membahayakan jiwa. Tujuan dari pengobatan
    paliatif adalah mencegah atau merawat sedini mungkin gejala-gejala penyakit, dan
    efek samping yang disebabkan dari pengobatan penyakit tersebut, serta masalah-
    masalah psikologis, sosial dan spiritual yang terkait dengan penyakit atau
    pengobatannya. Pengobatan ini juga bisa disebut pengobatan untuk menyamankan,
    pengobatan suportif, dan penanganan gejala.

    Pengobatan paliatif :

       -   Mengurangi rasa sakit dan gejala tidak nyaman lainnya;
       -   Menegaskan arti kehidupan dan memandang kematian sebagai suatu proses
           yang normal;
       -   Tidak bertujuan untuk mempercepat ataupun menunda kematian;
       -   Memadukan aspek-aspek psikologi dan spirital dalam pengobatan pasien;
       -   Menawarkan dukungan untuk membantu pasien hidup seaktif mungkin sampai
           saat meninggalnya;
       -   Menawarkan dukungan untuk membantu keluarga pasien agar tabah selama
           pasien sakit serta di saat-saat sedih dan kehilangan;
       -   Menggunakan pendekatan secara tim untuk menjawab kebutuhan pasien dan
           keluarganya, termasuk dukungan di saat-saat sedih dan kehilangan, jika
           diperlukan;
       -   Meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan pengaruh positif selama sakit;
          -    Dapat diterapkan sejak awal pengobatan penyakit, bersamaan dengan terapi-
               terapi lain yang bertujuan untuk memperpanjang hidup misalnya kemoterapi
               atau terapi radiasi, dan mencakup penyelidikan yang diperlukan untuk dapat
               memahami dan menangani berbagai komplikasi klinis yang menyulitkan
               dengan lebih baik.

                  Pada umumnya, mayoritas pasien kanker sudah berada pada kanker
          stadium lanjut saat pertama kali bertemu dengan profesional medis. Bagi mereka,
          satu-satunya pilihan pengobatan yang realistis adalah penghilangan rasa sakit dan
          pengobatan paliatif. Metode pendekatan yang efektif dalam pengobatan paliatif
          untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien kanker tersedia di sini.

      Ny. Nani tidak setuju dengan saran dokter, ia tetap minta agar dokter mau mengobati
       suaminya dengan segala cara agar dapt disembuhkan  sikap dokter seharusnya
       dapat menasehati dan memberikan informasi yang jelas mengenai keadaan pak Arman
       dan mengenai tujuan dari pengobatan paliatif sehingga Ny. Nani dapat mengambil
       keputusan dengan tepat. Tetapi dalam hal ini dokter juga harus tetap menghormati
       keputusan yang nantinya akan diambil oleh Ny. Nani dan pak Arman ( menghormati
       otonomi pasien). Dokter juga dapat menyarankan untuk melakukan pendekatan
       keagamaan.



Sakit Penyakit

      Pandangan Agama

       Islam

       1. Keyakinan
          Ketika seseorang sakit, ia harus sangat meyakini bahwa sakit yang dialaminya
          tersebut berasal dari Allah SWT, dan Allah juga yang akan menyembuhkannya.
          Seperti dalam firman Allah :
          “Dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku” (Asy-Syu’araa [36]:80)
          Di samping itu ada juga hadist yang berbunyi “Lii Kulli Daa In Dawaun” yang
          artinya “Setia penyakit ada obatnya”. Seseorang yang menderita suatu penyakit
          haruslah mempunyai keyakinan yang sangat kuat bahwa semua penyakit pasti ada
          obatnya.
2. Menggunakan obat yang halal dan Thoyyib
    “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap
    penyakit pasti ada obatnya. Maka berobatlah kalian, tapi jangan dengan yang
    haram” (Riwayat Abu Dawud).
       Konsep kedua dalam pengobatan islam adalah adalah menggunakan obat yang
    halal dan thoyyib.
3. Tidak membawa mudharat dan mencacatkan tubuh
    Dalam pengobatan islam, kita dianjurkan untuk tidak melakukan pengobatan yang
    kiranya pengobatan tersebut membawa kemudharatan yang justru menimbulkan
    masalah baru bagi seseorang.
4. Tidak berbau takhayul, bid’ah, dan kurafat
    Ketiga hal diatas wajib dihindari karena dapat mengakibatkan pelakunya jatuh
    dalam jurang kekafiran.
5. Mencari yang lebih baik
    Seseorang dianjurkan untuk terus berikhtiar sampai penyakit itu sembuh atas izin
    Allah.
6. Ikhlas, sabar, dan bertawakal
    Konsep –konsep yang telah disebutkan diatas hendaknya dapat diterapkan oleh
    pasien sendiri yang tertimpa penyakit, maupun oleh dokter sendiri dalam
    menghadapi dan menyikapi penyakit pasiennya.

Kristen Protestan

       Penyebab utama sakit dalam agama Kristen Protestan adalah karena dosa,
“Pemberontakan manusia (+iblis) terhadap Allah (dosa manusia pertama)” Kej.3; Rm.
8:19-23 dan penyebab dosa yang kedua antara lain yaitu;

-   karena ulah manusia sendiri karena perilaku hidup tidak sehat dan tidak menjaga
    tubuh sebagai bait Allah. (1Kor: 6-19)
-   Ulah orang lain seperti penyakit menular, kecelakaan
-   Dari kuasa atau roh jahat-setan. (Luk. 13: 10-17, Luk. 8:2)
       Sakit sendiri, “semua atas seijin Tuan dan di dalam kontrol Tuhan” (contoh
kisah Ayub, Roma 8:28)

    Tujuan sakit menurut pandangan Agama Kristen Protestan
-   Proses Pemurnian Allah, “sebagai didikan yang membuahkan damai sejahtera
    melalui sakit penyakit”. (Ayb 5:17-18, Ibr. 2:11, 12:10, 1 Kor 11:32).
-   Penderitaan dari sakit atau penyakit membawa kebaikan bagi jemaat, “si sakit
    ditengah penderitaannya membagi sukacita dalam Tuhan, membawa berkat bagi
    orang lain” (Kol. 1:24; 2, Kor. 1:5)
-   Sakit penyakit diizinkan Allah untuk kesaksian, “khusunya bagi iblis, bahwa
    ditengah penderitaan si sakit tetap mengasihi Allah” (Ayb, 1:2)


Katolik

       “Tuhan Yesus setia.” (2 Tesalonika 3:3) Ini adalah janji Tuhan yang selalu
ditepati-Nya. Terutama dalam keadaan sakit, saat kita tidak lagi dapat mengandalkan
manusia, kita dapat bersandar pada janji Tuhan ini. Pada saat kita sakit dan menderita,
kita justru dapat lebih memahami sengsara Yesus pada saat memanggul salibNya ke
gunung Kalvari, sehingga kita sungguh dapat merasakan persatuan dengan Yesus.
Janganlah kita lupa bahwa pada saat yang sulit ini, Tuhan Yesus rindu untuk
mempersatukan kita dengan Diri-Nya, agar kita memperoleh jamahan-Nya.

       Melalui penyakit, kita mengalami bahwa kita terbatas dalam banyak hal;
bahwa segala kepandaian dan kekayaan bahkan tidak dapat menggantikan arti
kesehatan. Dan di atas semua itu, kita diingatkan akan kematian. Maka, tak jarang,
penyakit dapat menimbulkan rasa takut, ingin menutup diri, bahkan putus asa dan
‘marah’ kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya, penyakit dapat membuat kita lebih pasrah,
lebih dapat melihat apa yang terpenting di dalam hidup ini, sehingga kita tidak lagi
mencari segala sesuatu yang tidak penting. Seringkali, penyakit membawa kita
mencari Tuhan dan kembali kepada-Nya.

       Namun, Agama Katolik mempercayai bahwa segala Allah itu Maha Baik,
maka segala sesuatu yang tidak baik bukan berasal dari Allah. Demikian halnya
dengan penyakit yang membawa penderitaan bagi manusia. Penyakit bukanlah berasal
dari Allah, melainkan dari kelalaian manusia sendiri dan konsekuensi bahwa manusia
memiliki tubuh yang dapat terserang oleh penyakit akibat kelalaiannya sendiri..

       Tetapi meskipun kelihatannya penyakit itu sesuatu yang buruk, namun
sesungguhnya ia dapat memberikan kepada kita sesuatu yang positif. Yang pertama
adalah pertobatan. Biasanya dengan mengalami sakit, terutama jika sakit yang cukup
berat, kita menjadi sadar bahwa telah sekian waktu kita mengandalkan kekuatan
sendiri, dan kurang mengandalkan Tuhan. Kita disadarkan bahwa segala sesuatu yang
ada pada kita adalah pemberian Tuhan dan Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya,
karena semuanya itu akhirnya akan berpulang kepada-Nya.

         Kedua, penyakit kita dapat mempunyai arti penyilihan bagi orang-orang lain.
Artinya, dalam keadaan sakit, kita dapat mendoakan orang lain, terutama untuk
pertobatan mereka, dan Tuhan dapat berkenan mengabulkannya. Paus Yohanes
Paulus II dalam surat Apostoliknya, Salvifici Doloris (On the Christian Meaning of
Human Suffering), mengatakan bahwa setiap manusia yang menderita dapat
mengambil bagian dalam karya Keselamatan yang dipenuhi oleh Kristus. Oleh karena
persatuan dengan penderitaan Kristus, penderitaan kita memperoleh arti yang baru.
Inilah yang disebut oleh Rasul Paulus, “Di dalam tubuhku, aku melengkapi apa yang
kurang dalam penderitaan Kristus demi TubuhNya, yaitu Gereja-Nya.” (Kolose 1:24).
Jadi hanya dalam konteks Gereja, Tubuh mistik Kristus yang kini masih berkembang
dalam ruang dan waktu, kita dapat berpikir tentang ‘apa yang kurang dalam
penderitaan Kristus’. Ini berarti bahwa penderitaan Kristus yang menyelamatkan
dapat selalu dilengkapi secara terus menerus oleh penderitaan manusia sepanjang
zaman, sampai pada kesudahannya nanti di akhir dunia. Oleh karena inilah,
penderitaan selalu menjadi perhatian Gereja, dan Gereja tunduk menghormati
penderitaan di dalam iman akan keselamatan yang menjadi buahnya oleh jasa Kristus.

Buddha

         Hukum kamma adalah hukum perbuatan. Sakit, cacad, dan penderitaan adalah
buah atau akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan di masa lalu (termasuk di
kehidupan – kehidupan yang lalu). Menolong orang sakit, cacad dan yang menderita
adalah kamma baik setara dengan menolong Sammasambudha. Dimulai dengan niat (
cetana) yang baik, dilakukan dengan bijaksana, dan dilakukan dengan cara yang
benar.

         Buddha bersabda, “ Barang siapa merawat orang sakit, sama halnya seperti
merawat Aku (Tathāgata). Dengan melayani orang sakit berarti melayani Aku (
Tathāgata) ; VinayaI,301-302.
       Hindu

               Penyakit itu datang dari dalam maupun dari luar diri sendiri. Menurut ajaran
       Hindu, Bhuwana Agung atau Alam Raya maupun Bhuwana Alit atau Alam Kecil
       (Badan Manusia) terdiri dari lima unsure utama yaiyu aksa (leher), wayu (udara), teja
       (api), apah (air), perthiwi (tanah). Kalau kelima unsur ini tidak seimbang baik dari
       dalam maupun dari luar maka akan menyebabkan penyakit.

               “Bahwa yang menyebabkan seseorang sakit adalah tidak adanya harmoni
       pada diri perseorangan dalam hubungannya dengan lingkungan luarnya dan obat
       adalah alat untuk mengembalikan harmoni ini”.

      Pandangan Hukum

               Pandangan hukum di Indonesia pada pasal 1 ayat 1 UU no. 36 tahun 2009
       (3)tentang Kesehatan, disebutkan bahwa “kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara
       fisik ,mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
       produktif secara social dan ekonomi.’’

               Serta pada pasal 4, dikatakan bahwa ,”setiap orang berhak atas kesehatan” jadi
       dapat diartikan setiap orang yang sakit juga berhak mendapatkan pengobatan untuk
       memperoleh kesehatannya. Hal ini diperjelas dalam Pasal 5 ayat 1 disebutkan ”
       Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya
       di bidang kesehatan.” dan pada ayat kedua “Setiap orang mempunyai hak dalam
       memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.” serta pada
       ayat ketiga “Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan
       sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.” Dua pasal diatas
       menyatakan jika setiap orang berhak mendapatkan kesehatan dan pelayanan
       kesehatan secara adil dan merata tanpa memandang derajat atau hal lainnya. (3)




Etika Hubungan Dokter – Pasien

   Hubungan dokter dengan pasien pada prinsipnya merupakan hubungan yang berdasarkan
atas kepercayaan antara keduanya. Keberhasilan suatu pengobatan tergantung di antaranya
pada seberapa besar kepercayaan pasien kepada dokternya. Hal inilah yang menyebabkan
hubungan seorang pasien dengan dokternya kadang sulit tergantikan oleh dokter lain.Akan
tetapi, hubungan ini dalam beberapa tahun terakhir ini telah berubah akibat makin
menipisnya keharmonisan antara keduanya.

   Berubahnya pola hubungan dokter-pasien yang bersifat paternalistik menjadi hubungan
kolegial atau kemitraan, membuat pasien makin kritis terhadap dokternya. Ketika terjadi
suatu hasil pengobatan yang tidak diinginkan seperti penyakit makin parah, kecacatan atau
kematian, maka pasien serta merta menganggap dokter dan rumah sakitnya lalai.

   Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk
berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya. Akibatnya,
dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk menegakkan diagnosis dan
menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi pasien, umumnya pasien merasa
dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter (superior-inferior), sehingga takut bertanya dan
bercerita atau hanya menjawab sesuai pertanyaan dokter saja.

   Tidak mudah bagi dokter untuk menggali keterangan dari pasien karena memang tidak
bisa diperoleh begitu saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya yang dilandasi
keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan, maupun kepentingan
masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling percaya, pasien akan memberikan
keterangan yang benar dan lengkap sehingga dapat membantu dokter dalam mendiagnosis
penyakit pasien secara baik dan memberi obat yang tepat bagi pasien.

   Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak superior-inferior)
sangat diperlukan agar pasien mau/dapat menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara
jujur dan jelas. Komunikasi efektif mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan
keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan
mengundang masalah.

   Efektif atau tidaknya komunikasi yang berlangsung akan menentukan sikap pasien dalam
menerima diagnosis yang ditetapkan dokter, menjalani pengobatan, melakukan perawatan
diri dan memperhatikan atau mematuhi anjuran/ nasihat dokter. Berdasar bioetika hubungan
dokter pasien harus memenuhi 4 kaidah dasar bioetika, yaitu :

      Otonomi
           -   Dokter wajib menghormati pilihan bebas pasien yang kompeten
           -   Pasien berhak memperoleh informasi medis yang memadai
      Beneficence
           -     Tindakan dokter semata-mata hanya demi kepentingan terbaik pasien
      Non-maleficence
           -     Dokter tidak boleh melakukan tindakan yang merugikan pasien
           -     Tindakan yang dilakukan harus sesuai standart profefsi medis
      Justice
           -     Perlakuan yang sama terhadap kondisi yang sama dan perlakuan yang berbeda
                 terhadap kondisi yang berbeda

       Selain itu, ilmu kedokteran yang diperlajari dan dikuasai setiap dokter memiliki
tujuan dasar, yaitu :

      To cure (sometimes)

           Sebagai dokter kita bertujuan untuk menangani keluhan atau penyakit yang
       diderita oleh pasien. Keluhan atau penyakit yang di derita pasien terkadang dapat
       disembuhkan tetapi tidak selalu, tergantung penanganan yang diberikan

      To relief (often)

           Sebagai dokter kita perlu menolong mencarikan jalan keluar dari keluhan penyakit
       yang datang dari pasien

      To comfort ( always )

                 Sebagai seorang dokter kita harus selalu membuat pasien merasa nyaman
       walaupun pada saat menjelang kematiannya.




Hak Hidup dan Hak Mati

      Pandangan Hukum

                 Dalam Undang Undang yang ada di Indonesia tidak ada yang membahas atau
       membenarkan hak untuk mati, justru malah menentang hal tersebut.

                 Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi
       Manusia (4)


       Pasal 1
(1) Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
   keberadaan manusia sebagai makhlukTuhan Yang Maha Esa dan merupakan
   anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,
   hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat
   dan martabat manusia.
Pasal 4
       Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan
hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai
pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar
hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apapun dan oleh siapapun.
Pasal 9
(1) Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf
   kehidupannya.
(2) Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan
   batin.
(3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Pasal 33
(1) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan
   yang     kejam,   tidak   manusiawi,       merendahkan   derajat   dan   martabat
   kemanusiaannya.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penghilangan paksa dan penghilangan
   nyawa.



KUHP pasal 304

   Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam
keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena
persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada
orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

KUHP pasal 344
       Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang
    jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam pidana maximal 12 tahun.

    KUHP pasal 345

       Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya
    berbuat itu atau member sarana untuk itu, diancam pidana maksimum 4 tahun, kalau
    bunuh diri itu berhasil.




   Pandangan Etika

            Dari etika dan moral hingga sekarang belum ada keputusan tentang ini, ada
    yang mendukung (pro) dan adapula yang menentang (kontra) kedua sisi pun memiliki
    alasan-alasan sendiri yang benar.

    Untuk yang pro         :

       1. Menhormati hak dan otonomi pasien (right to die, right to die with dignity)
       2. Menghilangkan penderitaan pasien.
       3. Kualitas hidup pasien yang menurun

    Untuk yang kontra      :

       1. Bertentangan dengan sifat dasar profesi medis yaitu berpihak pada kehidupan
            (sumpah dokter)
       2. Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran mampu membuat pasien merasa
            aman dan nyaman, contohnya seperti pengobatan paliatif
       3. Bahaya slippery slope, contoh peribahasanya “jika anda membiarkan seekor
            unta mendongakkan hidungnya ke dalam tenda, unta-unta lain akan segera
            melakukan hal yang sama”. Pemakai slippery slope memang bermaksud
            membenarkan diri dan meminta orang lain membenarkan tindakannya.
   Pandangan Agama
    (bia)
Extraordinary Treatment

       Pengobatan luar biasa adalah tipe pengobatan yang biasanya sangat infasif dan
mungkin dianggap memberatkan bagi pasien, upaya untuk memutuskannya menimbulkan
banyak pertanyaan etika.

       Perawatan yang diberikan pada pasien, memerlukan terapi yang luar biasa dalam
rangka mempertahankan atau memperpanjang hidup.

       Tiap orang memiliki hak untuk menolak pengobatan, terlepas dari sifat maupun
konsekuensi penolakan tersebut. Para pengganti pengambilan keputusan memiliki hak untuk
bertindak bagi pasien, selama alasan membuat keputusannya berdasarkan keinginan dan
kepentingan pasien.

       Beberapa orang percaya bahwa penolakan pengobatan dapat diterima. Secara moral,
tidak baik untuk menolak perawatan biasa dibandingkan dengan perawatan luar biasa. Ini
didasarkan bahwa tiap orang memiliki kewajiban untuk mempertahankan hidup mereka
sendiri. Untuk menolak melakukan dasar dari mempertahankan hidup dianggap salah secara
moral, karena dianggap merusak kehidupan sendiri, seperti bunuh diri.

       Beberapa melihat bahwa penolakan pengobatan biasa mungkin merupakan tanda
bahwa pengganti pengambilan keputusan telah melakukan tindakan yang tidak baik.




       Pengobatan biasa dan luar biasa umumnya dikategorikan sebagai berikut :

      Pengobatan biasa :
          -   Rendah risiko bahaya
          -   Sederhana, teknologi relatif rendah
          -   Rutin
          -   Kesempatan yang baik untuk pasien
          -   Relatif murah
          -   Tersedia bagi kebanyakan orang yang membutuhkannya.
          -   menyebabkan nyeri sedikit atau tertekan.




      Pengobatan Luar Biasa
           -       Risiko tinggi
           -       Kompleks, teknologi relatif tinggi
           -       Inovatif, eksperimental, tidak biasa.
           -       Kesempatan relatif kecil bagi pasien.
           -       Relatif mahal.
           -       Tersedia untuk beberapa
           -       Biasanya sumber rasa sakit atau penderitaan.




Pengobatan Sia- Sia (Futile Treatment)

      Pandangan Etika
                   Secara etika dan moral tugas seorang dokter adalah to cure, to relief, and to comfort.
       Dari 3 hal tersebut yang paling harus dipegang adalah to comfort dimana tugas seorang dokter
       disini harus membuat pasien merasa nyaman. Selain itu juga berdasarkan 4 kaidah etika yaitu
       otonomi, beneficence, non-maleficence, dan justice yang intinya dokter harus berbuat hal
       demi kebaikan pasien tanpa merugikannya dan berlaku secara adil dengan tetap menjunjung
       hak-hak pasien.
                   Pengobatan sia-sia adalah suatu tindakan medis yang jika dilakukan tidak
       memberikan pengaruh baik kepada pasien, malah cenderung menambah penderitaan. Hal ini
       biasanya terjadi pada penyakit-penyakit stadium terminal. Jika dikaji secara etika dan moral
       hal ini bias melanggar prinsip “to comfort” dan “non-maleficence”. Hal itu karena
       pengobatan yang sia-sia akan membuat pasien merasa tidak nyaman karena keadaan tubuhnya
       tidak membaik namun harus terus mendapat pengobatan yang tidak berguna. Kemudian,
       karena pengobatan dilakukan terus menerus bisa membuat biaya juga semakin besar yang
       dapat merugikan pasien maupun keluarganya.
                   Jadi, lebih baik ketika mengatasi pasien yang telah berada di stadium terminal dan
       secara ilmu kedokteran memang tidak bisa diobati lagi atau belum ada obatnya, kita
       menyaran jalan keluar berupa pengobatan paliatif. Pengobatan paliatif ini bertujuan untuk
       membuat pasien merasa nyaman meskipun penyakit primernya tidak bisa diobati namun
       pasien bisa menikmati sisa hidupnya dengan nyaman. Tapi kita juga harus tetap menghormati
       hak otonomi pasien ataupun keluarga jika memang tidak ingin melakukan pengobatan
       paliatif.
      Pandangan Hukum
                   Jika dilihat dari sisi moral tadi kita bisa menyimpulkan pengobatan yang sia-sia itu
       akan menbuat pasien tidak nyaman dan mungkin merugikan. Hal ini mungkin bisa
    digolongkan penganiayaan terhadap pasien itu sendiri dimana seharus pasien bisa
    mendapatkan kenyamanan ketika mendapat perawatan medis. Hal ini disebutkan dalam
    KUHP pasal 304 yaitu “Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan
    seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau
    karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada
    orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda paling
    banyak empat ribu lima ratus rupiah.”
   Pandangan Agama
    Kristen Protestan
            Menurut pandangan agama Kristen pengobatan yang sia-sia adalah
    pengobatan yang sesungguhnya tidak diperlukan karena tidak lagi berguna untuk
    menyembuhkan pasien.


    Islam
            Menurut pandangan islam, sakit merupakan ujian iman dan setiap penyakit
    pasti ada obatnya. Selain itu, orang yang sakit dianjurkan untuk sabar dan ikhlas serta.
    Namun jika penyakit itu tidak kunjung sembuh hendaklah manusia bertawakal dan
    berserah diri kepada Allah dan bertaubat dengan sungguh-sungguh. Karena kehidupan
    dan kematian itu datangnya dari Allah.


    Katolik
            Menurut agama katolik yang menyebabkan manusia sakit adalah manusia itu
    sendiri, karena kelalaian manusia menjaga tubuh. Allah itu mahabaik, oleh karena itu
    segala sesuatu yang tidak baik bukan berasal dari Allah. Orang yang terus menerus
    sakit parah atau sangat lama menderita sakit parah menurut gereja katolik dianggap
    sebagai misteri.


    Hindu
            Jika pengobatan secara modern dan segala macam pengobatan belum mampu
    menyembuhkan pasien, dalam hal ini sebaiknya dokter merundingkan dengan pihak
    keluarga pasien tentang keadaan pasien.
    Menurut agama hindu sendiri, sakit parah ada hubungannya dengan karmaphala,
    bukan kutukan Tuhan. Orang yang mengalami sakit parah hendaklah jangan berputus
    asa dalam menghadapi penyakitnya.
       Budha
               Menurut     agama    Buddha     pengobatan   yang   sia-sia   bertujuan   untuk
       membuktikan rasa bakti kepada si sakit, dimana pengobatan percuma dilakukan terus
       menerus, menghabiskan biaya tanpa alasan, dan juga merugikan pasien lain yang juga
       membutuhkan alat yang sama.
       Yang dapat dilakukan :
        Terus memberikan perawatan dan terapi dengan sebaik-baiknya
        Pembacaan paritta-paritta suci, dengan harapan karma baiknya segera berbuah,
           lalu meninggal dunia (karena fisiknya tidak dapat dipergunakan lagi untuk hidup)
           dan terlahir kembali kealam yang lebih baik.



Pengobatan Alternatif

      Pandangan Etika

       Prinsip mengenai pengobatan pada alternatif sebagai berikut

           -   Menghormati otonomi pasien, dalam hal ini kita sebagai dokter memberikan
               kebebasan kepada pasien untuk mengambil keputusannya sendiri, oleh sebab
               itu kita sebagai dokter tidak boleh memaksa kepada pasien walaupun hal itu
               terbaik untuk pasien itu sendiri.
           -   Melindungi agar pasien tidak dirugikan, banyak kasus yang hanya mengambil
               keuntungannya sendiri dari suatu pengobatan untuk itu kita sebagi dokter juga
               menasehati pasien untuk memilih pengobatan alternative, terutama alternatif
               yang berdasarkan bukti ilmiah.

               Sikap kita terhadap pengobatan alternatif adalah perlunya hati-hati untuk
       memilih jalan tersebut karena hal ini bisa berdampak hal-hal negatif dan bisa
       berdampak buruk pada pasien tersebut, dan juga untuk pengobatan alternatif sendiri
       didasarkan bukti-bukti ilmiah yang mampu mengurangi dari suatu penyakit yang
       diderita oleh pasien itu sendiri.

      Pandangan Hukum
           PERMENKES RI No 1109/MENKES/PER/IX/2007 tentang batasan terapi
       alternatif :

           Terapi alternatif merupakan terapi non-konvensional untuk meningkatkan
       kesehatan pasien yang bersifat promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan harus
       dilandasi pengetahuan biomedik. Individu yang menjalankan usaha terapi altrernatif
       seyogyanya memiliki izin dari pemerintah untuk menjalankan praktik di bidang
       kesehatan.

       Pro dan kontra tentang pengobatan alternatif :

Pro Pengobatan alternatif                         Kontra Pengobatan alternatif
1. Pada   umumnya      biaya     untuk   terapi   1. Tidak   ada    pembuktian      atau   tidak
  alternatif lebih murah.                            berdasarkan evidence based.
2. Efek samping lebih sedikit.                    2. Belum diakui secara medis
3. Pada umumnya tidak invasif.                    3. Tidak jelas bahan-bahan yang digunakan
4. Menggunakan bahan alamiah.                        dalam pengobatan alternatif.
5. Tujuan : meningkatkan derajat kesehatan.       4. Tidak melaporkan praktek kepada dinas
                                                     kesehatan sehingga tidak memiliki surat
                                                     ijin
                                                  5. Membuka peluang untuk penipuan.



      Pandangan Agama
       Islam

           Islam memperbolehkan pengobatan alternatif asalkan itu tidak menggunakan
       bahan yang haram ataupun seseuatu yang menuju kearah musyrik. Memanfaat suatu
       benda untuk penyembuhan dengan mempercayai benda tersebut dapat membawa
       kesembuhan pada dirinya termasuk sesuatu yang musyrik, (contoh:jimat)

           o “Barang siapa yang menggantungkan jimat, berarti ia telah melakukan
               perbuatan syirik.” (HR. Ahmad dan Hakim). Artinya, menggantungkan jimat
               dan hatinya bergantung kepadanya berarti berbuat syirik.
           o Ibnu Sina, seorang dokter dan sekaligus filosofi dalam islam menulis buku “Al
               Qamus Fi al Thibb” yang berisi tentang manfaat nabati dan rumput-rumputan.
          Baik dari masing-masing jenis maupun secara ramuan, serta khasiatnya dalam
          pengobatan.
   o Ungkapan abadi dari Abu Qurath 4500 tahun yang lalu : “jadikanlah
          makananmu sebagai obatmu dan obatilah setiap penderitaan dengan nabati
          yang tumbuh di bumi, karena nabati itulah yang paling pantas untuk
          menyembuhkan.


Kristen Protestan

   Tidak menolak dan tidak menelan mentah-mentah dan perlu memahami konsep
dibalik praktik penyembuhan alternatif tersebut berdasarkan kebenaran.

Katolik

   Dalam penelitian dasar ilmiah dan dalam penyelidikan terapan, tampak dengan
jelas sekali kekuasaan manusia atas ciptaan. Ilmu pengetahuan dan teknik merupakan
sarana-sarana yang bernilai kalau mengabdi kepada manusia dan memajukan
perkembangannya secara menyeluruh demi kebahagiaan semua orang. Tetapi mereka
tidak mampu menentukan dari diri sendiri arti keberadaan dan kemajuan manusia.
Ilmu pengetahuan dan teknik ditujukan kepada manusia, olehnya mereka diciptakan
dan dikembangkan; dengan demikian mereka menemukan, baik kesadaran mengenai
tujuannya maupun batas-batasnya, hanya di dalam pribadi manusia dan nilai susilanya
(KGK 2293).

   Sebagai ciptaan Allah yang paling mulia, kita sebagai manusia diberikan kuasa
oleh Allah menggunakan alam serta mengembangkannya dengan sebaikbaiknya
dengan penuh tanggung jawab. Dengan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui
pengobatan alternatif, manusaia telah menjalankan perintah Allah sendiri. Namun
yang harus diperhatikan di sini adalah jangan sampai ilmu pengetahuan itu sendiri
merendahkan martabat manusia dengan pengobatan terapan dengan manusia sebagai
objek penelitian. Selain itu penggunaan alam yang berlebihan dan menyimpang dari
Hukum Allah juga patut diperhatikan dalam praktek pengembangan ilmu pengetahuan
yang dilakukan oleh manusia.

Hindu
          Metode terapi alternatif yang dipergunakan biasanya di hindu yaitu Ayurveda.
       Yang mana pengobantan nya ayurveda merupakan salah satu penyembuhan alternatif
       dengan menghubungkan antara sifat-sifat alam dengan tubuh yaitu vata, pitta dan
       kapha.
       Budha
          Tidak ada masalah sepanjang tidak ada pelanggaran sila dan Dhamma dan
       dilakukan dengan sadar dan sukarela.




Pengobatan Paliatif

      Pandangan Etika
       (yuan)
      Pandangan Hukum
                Perawatan paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan
       menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Tujuannya untuk
       mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas
       hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien
       meninggal, yang terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan
       spiritual, serta tidak stress menghadapi penyakit yang dideritanya. Sedangkan
       pengertian menurut WHO tahun 2002 perawatan paliatif yaitu perawatan untuk
       memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang
       mengancam jiwa, serta penangan masalah fisik, psikososial dan spiritual. Jadi, tujuan
       utama perawatan paliatif bukan untuk menyembuhkan penyakit. Dan yang ditangani
       bukan hanya penderita, tetapi juga keluarganya.
                Yang termasuk dalam katagori perawatan paliatif adalah penatalaksanaan
       nyeri, penatalaksanaan keluhan fisik lainnya, asuhan keperawatan, dukungan
       psikologis, dukungan sosial terutama dari pihak keluarga, dukungan kultural dan
       spiritual dari pakar budaya dan agama masing-masing, dukungan persiapan dan
       selama masa duka cita.
                Dulu perawatan ini hanya diberikan kepada pasien kanker yang secara medis
       sudah tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan pada semua stadium kanker,
       bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain yang mengancam kehidupan
       seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifat kronis.
              Aspek medikolegal dari perawatan paliatif ini dibagi tiga, yaitu informed
    consent, dilakukan resusitasi atau tidak dilakukan resusitasi, dan perawatan di ICU.
    Untuk informed consent, pasien dipastikan paham tentang pengertian, tujuan dan
    pelaksanaan perawatan paliatif ini. Jika pasien kompeten maka ia yang berhak
    menerima informasi dan memberi consent terhadap tindakan paliatif yang akan
    diterimanya disertai dengan keluarga terdekat sebagai saksi., jika pasien tidak
    kompeten maka keluarga terdekat yang memberikan consent atas nama pasien. Saat
    pasien kompeten, tim mengusahakan memperoleh pesan atau pernyataan pasien
    tentang hal yang harus atau boleh atau tidak boleh dilakukan terhadapnya, tetapi pada
    keadaan gawat darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim dapat melakukan
    tindakan kedokteran yang diperlukan.
              Dalam memutuskan dilakukan atau tidak tindakan resusitasi juga ditentukan
    oleh pasien yang kompeten dan telah paham sebelumnya tentang resusitasi ini.
    Keluarga terdekat pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan untuk tidak
    dilakukan tindakan resusitasi kecuali sudah dipesankan dalam pernyataan tertulis oleh
    pasien. Tetapi dalam keadaan dan pertimbangan tertentu, permintaan tertulis oleh
    seluruh     keluarga   terdekat   dapat   dimintakan   penetapan   pengadilan   untuk
    pengesahannya. Tim perawatan paliatif dapat membuat keputusan untuk tidak
    melakukan resusitasi jika pasien dalam tahap terminal dan tindakan resusitasi
    diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya berdasarkan
    bukti ilmiah.
              Untuk perawatan di ICU dilakukan sesuai dengan ketentuan umum yang
    berlaku. Dalam mengahdapi pasien tahap terminal, tim perawatan paliatif harus
    mengikuti pedoman penentuan kematian batang otak dan penghentian peralatan life
    supporting.


   Pandangan Agama
              Pada dasarnya setiap agama menganjurkan setiap pengikutnya untuk
    menjalani pengobatan semaksimal mungkin baik dari segi fisik, psikis dan spiritual.
    Jika memang seseorang tidak bisa lagi diberikan perawatan secara kuratif oleh tim
    dokter maka ia bisa memilih untuk menjalani pengobatan komplementer-alternatif
    jika dirasa masih memungkinkan dan sesuai dengan ajaran agamanya yang telah
    dijelaskan sebelumnya, atau menjalani perawatan alternatif yang bertujuan untuk
    memperingan penderitaanya. Jika perawatan paliatif menggunakan prosedur sesuai
      dengan agama masing-masing dan memberikan manfaat lebih banyak daripada
      mudharatnya, maka perawatan paliatif ini diperbolehkan oleh setiap agama.
              Perawatan paliatif bukan hanya dengan terapi farmakologi seperti obat
      penghilang nyeri, tetapi diberi dukungan psikis dan spiritual juga. Dukungan spiritual
      bisa diberikan oleh keluarga dekat atau tokoh agamanya masing-masing. Dukungan
      ini bisa berupa nasihat untuk bertawakal, bersabar dan berserah diri kepada Tuhan
      atas penyakitnya. Dalam agama Budha percaya bahwa penyakit merupakan kamma
      dari perbuatan masa lalunya, oleh karena itu pasien diberi pengertian untuk menerima
      dan tetap ikhlas untuk menghadapi penyakitnya. Dalam agama Islam dan Kristen
      percaya bahwa sakit merupakan ujian dari Tuhan dan salah satu sarana untuk
      pemurnian dosa, jadi jika pasien dapat ikhlas menerima penyakitnya dan tetap
      bertawakal pada Tuhan nya maka ia akan mendapat keuntungan di akhirat kelak.
      Dalam agama Hindu sakit terjadi karena disharmonisasi anatara alam dengan tubuh
      dan ketidakseimbangan antara vata, pitta dan kapha, oleh karena itu pasien diberi
      pengertian untuk berusaha menyeimbangkannya dan senantiasa berdoa kepada Yang
      Maha Kuasa. Sedangkan dalam agama Katolik, sakit merupakan konsekuensi
      kepemilikan tubuh, jadi pasien diberi pengertian tentang proses ini agar dapat
      menerima bahwa setiap yang hidup pasti akan mengalami sakit dan kematian.

      (kayaknya per agama nya gak usah ditulis ulang deh yu coba lo
koreksi+tambahin yg gue tulis secara kumulatif diatas aja eh tp teserah ding hehe)

      Islam

              Dalam pandangan islam selama terapi paliatif itu tidak merugikan pasien,di
      perbolehkan. Karena perawatan paliatif bukan untuk menunda kematian tetapi
      memberikan kesempatan pada pasien sakit parah meninggal dengan rasa tidak
      tersiksa. Bila proses kelahiran dipersiapkan dengan baik dan sukacita, maka proses
      kematian pun harus dipersiapkan dengan baik dan dalam keadaan senang.

      Kristen Protestan
      Katolik

              Minta ampun kepada tuhan karena semua sakit pada umumnya dari dosa
      kesalahan kita, dan juga untuk permurnian dari dosa kita.

      Hindu
        Bertawakal dan berdoa.


Budha

        Lebih banyak berbuat baik, karena dapat menghilangkan atau mengurangkan
rasa derita oleh pasien tersebut.
             BAB IV

             PENUTUP

Kesimpulan

(yuan)
                                       BAB V

                              DAFTAR PUSTAKA

1. http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/extraordinary+treatment
2. http://www.pages.drexel.edu/~cp28/ordextr.htm
3. Undang– Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
     Manusia.
5.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3
posted:8/16/2013
language:
pages:28