Docstoc

Penelitian Metode Belajar

Document Sample
Penelitian Metode Belajar Powered By Docstoc
					Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Laporan Penelitian

PEMBELAJARAN TUNTAS PADA PONDOK PESANTREN (STUDI KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN METODE SOROGAN DAN BANDONGAN)

oleh Daniel Rabitha, S. Psi

DEPARTEMEN AGAMA BADAN LITBANG DAN DIKLAT BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN AGAMA JAKARTA 2008
1

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu jalur yang mempengaruhi perubahan zaman agrikultur ke zaman informasi, selain ekonomi dan teknologi. Salah satu perubahan dalam wilayah pendidikan adalah pada metode pengajaran yang digunakan. Banyak metode pembelajaran tradisional mengalami „peremajaan‟ Robinson (1992) mengungkapkan bahwa “ketika metode pembelajaran oleh tradisional pakar dan model intruksional tengah atau

dikembangkan

pendidikan,

karakteristik

pelajar

pengharapan sosial berubah. Pembelajaran tuntas (Mastery Learning) merupakan metode instruksional yang mengasumsikan semua peserta didik bisa belajar jika mereka diciptakan kondisi belajar yang tepat. penciptaan kondisi tersebut mengeliminasi keadaan siswa yang tidak siap menerima materi pelajaran. Sehingga mau tidak mau mereka yang „lambat‟ akan mengikuti pola belajar tersebut. Pelajar yang tidak puas menyelesaikan sebuah topik diberikan tambahan instruksi sampai mereka sukses. Pelajar yang telah awal menguasai topik pembelajaran menggunakan waktu sisanya untuk memperkaya wacananya sampai seluruh kelas selesai. 2

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Mastery learning tidak memperhatikan isi, tetapi pada proses dari menguasai dan berdasarkan pada pembelajaran Benyamin Bloom untuk model mastery dengan perbaikan yang dibuat oleh Block. Mastery learning bisa artikan seperti guru yang melangkah bolak-balik mengawasi pelajar, satu-satu, atau pembelajaran individual dengan materi program. Sebagai model pembelajaran yang kerap digunakan, mastery learning secara umum mengarah pada kepemahaman siswa. Dalam pemahaman bahasa asing misalnya, mastery learning digunakan sebagai model paling dasar dari siswa untuk memahami secara mendalam mengenai bahasa. Seperti Gerd A. Brendel (ADFL Bulletin, 1983: 37-40) dalam mengembangkan model pembelajaran bahasa Jerman. Model pembelajaran tersebut dijadikan Gerd sebagai „payung‟ transfer ilmu bahasa Jerman. Persandingan antara metode kusrsus bahasa dengan model pembelajaran tuntas dianggap Gerd sangat efektif diterapkan kepada siswa. Banyak metode yang bisa dipersandingkan dengan mastery learning. Seperti metode sorogan dan bandongan yang biasa diterapkan pada pondok pesantren salafiah (tradisional). Kedua metode ini cukup unik dan sangat „membumi‟1. Pesantren pada awalnya berkembang di Nusantara sebagai gerakan antikolonial Belanda dan tempat menuai pendidikan bagi rakyat (Sayono,

1 Membumi di sini dimaksudkan adalah sangat naturalistik dan metode belajar yang mendasar.

3

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

2006). Motif rakyat belajar melalui pesantren adalah mendapatkan ilmu agama Islam dengan acuan Al-Qur‟an, Hadits, dan Kitab Kuning. Tokoh Kyai dalam pesantren menjadi sentral pengayoman santri. Kyai senantiasa dianggap figur yang mendatangkan berkah karena sangat memahami ilmu agama Islam. Bermula dari penganggapan Kyai sebagai figur metode sorogan (sorog; artinya menyodorkan) berkembang. Santri menyodorkan materi (baik dari Al-Qur‟an, Hadits,dan Kitab Kuning) yang ingin diketahuinya. Perkembangan pesantren kian pesat. Terbukti dengan adanya pengakategorian pesantren Salaf (tradisional) dan Khalaf (modern). Tidak hanya itu, Depag juga mengkategorikan pesantren unggulan dan non unggulan. Jelas pengkategorian tersebut berdasarkan pada indikasi yang telah dibangun. Pesantren Salafiah dikategorikan sebagai yang awal atau tradisional selain karena kesederhanaannya juga karena penggunaan dari metode sorogan dan bandongan dalam mempelajari agama Islam. Sedangankan pesantren Khalafiah selain ditunjang dengan fsilitas yang memadai juga kaya akan penggunaan metode pembelajaran (kursus, klasikal, dll). Salah satu pesantren yang pernah dikategorikan Depag sebagai peantren unggulan karena berhasil memproduksi santri-santri yang handal dalam membaca Al-Qur‟an adalah Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah. Sebuah pesantren yang berasal dari kota Palembang. Berdasarkan sejarah pesantren tersebut, awalnya merupakan kategori pesantren Salafiah. 4

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Namun karena perkembangan zaman, lambat-laun pesantren ini bertransformasi menjadi pesantren Khalafiah (modern). Salah satu keunikan dari pesantren Al-ittifaqiah dan menimbulkan pertanyaan bandongan besar adalah mempertahankan pembelajaran. metode Padahal, sorogan dan

sebagai

media

Al-Ittifaqiah

merupakan kategori pesantren Khalafiah (modern) yang umumnya pada kebanyakan pesantren khalafiah sudah meninggalkan metode tersebut.

1.2

Perumusan Masalah 1. Mengapa metode sorogan dan bandongan masih tetap

dipertahankan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah yang sudah moderen? 2. Nilai-nilai apa yang tertanam dalam penggunaan metode tersebut? 3. Apa yang menjadi kelemahan metode tersebut diterapkan pada pondok pesantren tersebut?

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui keistimewaan metode sorogan yang dilaksanakan di pesantren Al-Ittifaqiah. 2. Mengetahui faktor-faktor terpenting dalam pelaksanaan

metode sorogan. 5

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah: 1. Secara keilmuan diharapkan dapat memperkaya khazanah metode pembelajaran. 2. Bagi pengambil kebijakan diharapkan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pelestraian dan pembaharuan

metode pembelajaran di pesantren dan dapat mengakomodasi metode ini sebagai metode pembelajaran nasional.

1.4

Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan

metode grounded research atau grounded theory yang intinya adalah semua analisis harus berdasarkan data yang ada dan bukan berdasarkan berbagai ide yang ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, teori yang grounded adalah teori yang diperoleh secara induktif dari penelitian tentang fenomena yang dijelaskannya. Peneliti tidak memulai

penelitiannya dengan satu teori tertentu lalu membuktikannya, tetapi memulai dengan suatu bidang kajian dan hal-hal yang terkait dengan bidang tersebut. Pendekatan studi yang digunakan dalam penelitian adalah Sosiologis-Historis-Psikologis. Alasan mengapa ketiga aspek keilmuan itu berusaha ditampilkan dalam penelitian ini adalah, pertama secara sosiologis tiap-tiap daerah pastilah memiliki keunikan tersendiri. Kultur yang berkembang beragam. Sehingga dengan menggunakan pendekatan 6

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

sosiologis peneliti berusaha menangkap gambaran utuh dari masyarakat di sekitar pesantren Al-Ittifaqiah. Kedua, secara historis metode sorogan dan bandongan merupakan metode pembelajaran yang terbilang klasik dan dilabelkan atau dipasangkan dengan pesantren salaf. Perkembangan metode pendidikan kian pesat. Karena perkembangan inilah terjadi pengkotakan

metode-metode pembelajaran menjadi klasik dan modern. Apabila dalam penelitian ini mampu memaparkan alur dari metode klasik sampai modern pastilah sangat menarik. Ketiga, secara psikologis. Pengkotakan metode modern-klasik, kultur masyarakat dan pesantren sangat mungkin berefek terhadap santri-santri pada pesantren Al-Ittifaqiah. Melalui pendekatan psikologis jawaban dari efek tersebut berusaha dibuktikan kebenarannya. Penelitian dilakukan pada pondok pesantren Al-Ittifaqiah di Propinsi Sumatera Selatan, kabupaten Ogan Komring Ilir. Pondok pesantren Al-Ittifaqiah merupakan pesantren yang banyak menghasilkan qori-qori (pelantun ayat suci Al-Qur‟an) handal. Data yang diambil dalam penelitian ini bersumber dari lapangan (field), tertulis, dan dokumentasi. Metode yang digunakan dalam pengambilan dokumentasi. data tersebut dengan observasi, wawancara, dan

7

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1

Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning)

Pembelajaran tuntas berkenaan dengan pengorganisasian mengajar berdasarkan pada tahapan-tahapan. Tiap tahapan memiliki standar minimal penguasaan materi. Melalui pembelajaran tuntas individu yang terlibat di dalamnya „bersentuhan‟ dengan metode instruksional, level belajar, dan keragaman kognisi dari tipe-tipe pola pikir. Pembelajaran diperkenalkan mengembangkan oleh tuntas (mastery Bloom. tuntas learning) Pada dengan kali 1960-an memulainya pertama Bloom dari

Benjamin

pembelajaran

penelitian. dalam penelitian tersebut Pembelajaran tuntas menurut Davis & Sorrel (1995): “The mastery learning method divides subject matter into units that have predetermined objectives or unit expectations. Students, alone or in groups, work through each unit in an organized fashion. Students must demonstrate mastery on unit exams, typically 80%, before moving on to new material. Students who do not achieve mastery receive remediation through tutoring, peer monitoring, small group discussions, or additional homework. Additional time for learning is prescribed for those requiring remediation. Students continue the cycle of studying and testing 8

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

until mastery is met. Block (1971) states that students with minimal prior knowledge of material have higher achievement through mastery learning than with traditional methods of instruction.”

Di atas Davis dan Sorrel mengungkapkan bahwa melalui metode pembelajaran tuntas (mastery learning) bahan pembelajaran dibagi ke dalam satuan-satuan yang ditargetkan. Pelajar, sendiri atau dalam kelompok harus mendemonstrasikan ketuntasan belajarnya dalam ujian. Paling tidak mencapai 80% sebelum melanjutkan ke bahan pembelajaran baru. Pelajar yang tidak tuntas akan mengulang melalui privat, monitoring, kelompok diskusi kecil, atau tambahan PR (pekerjaan rumah-tugas). Penambahan jam belajar menambah target dari

pengulangan. Pelajar melanjutkan pembelajaran dan diuji ketika telah menunjukan ketuntasan. Block menambahkan bahwa pelajar dengan penguasaan pengetahuan dari materi atau bahan pembelajaran memiliki prestasi yang tinggi melalui metode pembelajaran tuntas dibandingkan dengan metode instruksi tradisional. Menurut unsur-unsur mereka, yang pembelajaran tuntas Unsur memiliki tersebut beberapa adalah

membentuknya.

pengajar-pelajar, bahan ajar-target, ujian, dan remedial. Semua unsur tersebut merupakan dasar dari pembelajaran tuntas. Cited dalam Davis & Sorrel (1995) menyebutkan bahwa mastery learning bukan metode instruksi baru. Metode tersebut mendasarkan 9

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

konsepnya pada anggapan bahwa semua pelajar bisa belajar bila sesuai dengan kondisi. Pada metode tersebut pelajar diberikan feedback yang membantu pelajar mengetahui perkembangan belajar. membantu pelajar mengetahui titik keberhasilannya. Pembelajaran tuntas merupakan pengorganisasian waktu dan sumber yang menjamin pelajar mampu menguasai tujuan instruksional pembelajaran. Sangat banyak strategi instruksional pembelajaran Hal ini sangat

(kelompok kecil instruksi, cooperatif learning, use of differentiation activities, discovery learning, discussion group, dll.) yang digunakan guru atau pengajar dalam mendukung pembelajran tuntas. Bloom, Guskey, dan pemerhati pembelajaran lainnya membuat outline yang dilakukan guru dalam pembelajaran tuntas di kelas; a. Guru memisahkan apa yang pelajar akan ketahui dan kemampuan apa yang kan mereka dapatkan setelah pembelajaran. b. Isi pembelajaran dibagi untuk melihat perkembangan pelajar. c. Formative Assesment d. Feedback e. Enrichment dan Acceleration f. Coreective g. Summative Assesment

10

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Dari beberapa pengertian mengenai pembelajaran tuntas di atas disimpulkan bahwa merupakan suatu pengorganisasian belajar mengajar sesuai dengan tahapan dari perkembangan pelajar. Dalam pembelajaran tuntas terdapat tahapan-tahapan yang runtut dimulai dari; pemisahan objek kajian (secara umum), Pemisahan objek kajian (secara spesifik berdasarkan perkembangan pelajar), tes formatif, memberikan umpan balik (feedback) berdasarkan tes, enrichment dan acceleration, Corrective (bagi pelajar yang belum mencapai master), serta tes sumatif. Pembelajaran tuntas merupakan pengorganisasian yang tidak berdiri sendiri, metode ini tetap memerlukan metode pembelajaran lain baik yang bersifat klasik maupun modern. Pemilihan metode-metode tersebut tergantung dari fasilitator.

2.1.1 Metode Pembelajaran Klasik Metode atau cara pembelajaran pada dasarnya diperlukan fasilitator guna mensinergikan keingingan dari pemberi ilmu dan penerima ilmu. Secara umum pembagian metode pembelajaran terbagi ke dalam du kategori; klasik dan modern. Metode klasik merupakan metode pembelajaran yang berfokus pada buku panduan dan kegiatan belajar mengajar hanya satu arah. Pada Pondok Pesantren metode yang dikategorikan klasik atau tradisional adalah (Dahri, 2008); a. Metode Sorogan 11

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa) yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kiai atau pembantunya (badal, asisten kiyai). System sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. System sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercitacita menjadi alim. System ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran. Sorogan merupakan kegiatan pembelajaran bagi para santri yang lebih menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perorangan

(individual), di bawah bimbingan seorang kiyai atau ustadz (Depag, 2003a:38). Pelaksanaannya, santri yang banyak itu dating bersama, kemudian mereka antri menunggu giliran masing-masing, dengan system pengajaran secara sorogan ini memungkinkan hubungan kiai dengan santri sangat dekat, sebab kiai dapat mengenal kemampuan pribadi santri secara satu satu persatu. Kitab yang disorogkan kepada kiai oleh santri yangsatu dengan santri yang lain tidak harus sama.

b. Metode Bandongan Wetonan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bahasa jawa) 12

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardu (Depag, 2003a:39). Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat cacatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat di sebut dengan bandongan. Tetapi sekarang ini banyak pesantren telah menggunakan metode pengajaran dengan memadukan antara model yang lama dengan model pengajaran yang modern yaitu dengan memadukan metode klasikal yang bertingkat. Kedua metode ini kerap dikategorikan klasik karena kali pertama digunakan pada pesantren-pesantren salaf. Objek kajian yang dibedah dengan menggunakan metode ini hanya kitab kuning. 2.1.2 Metode Pembelajaran Modern Pondok pesantren dalam kategori salaf biasanya menggunakan metode tradisional sebagai alat mencapai tujuan pembelajaran seperti sorogan dan bandongan. Pondok pesantren kategori khalaf metode pembelajaran yang kerap digunakan cenderung modern. Beberapa metode dalam kategori modern dapat dilihat di bawah ini (Yamin, 2007). 2.1.2.1 Klasikal: Pola penerapan system klasikal ini adalah dengan pendirian sekolahsekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama atau ilmu yang dimasukkan dalam katagori 13

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

umum dalam arti termasuk di dalam disiplin ilmuilmu kauni (“Ijtihadi – hasil perolehan manusia) yang berbeda dengan agama yang sifatnya “tauqili“(dalam arti kata langsung diterapkan bentuk dan wujud ajarannya). Kedua disiplin ilmu di dalam system persekolahan diajarkan berdasarkan

kurikulum yang telah baku dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan. 2.1.2.2 Kursus-kursus: Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus (takhassus) ini ditekankan pada pengembangan

keterampilan berbahasa inggris, disamping itu diadakan keterampilan tanggan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotorik seperti, kursus menjahit, mengetik komputer, dan sablon. Pengajaran system ini mengarah pada terbentuknya santri yang memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri menopang ilmu-ilmu agama yang tuntut dari Kyai melalui pelajaran sorogan, wetonan. Sebab pada umumnya santri tidak tergantung pada pekerjaan dimasa mendatang melainkan harus mampu

menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka. 2.1.2.3 Pelatihan: Di samping sitem pengajaran klasikal dan

kursus-kursus, dilaksanakan juga system pelatihan yang menekankan pada kemampuan psikomotorik. Pola pelatihan 14

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

yang

dikembangkan praktis

adalah seperti,

termasuk pelatihan

menumbuhkan pertukangan, koperasi, dan

kemampuan perkebunan,

perikanan,

manajemen

kerajinan-kerajinan yang mendukung terciptanya kemandirian intergratif. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan yang lain yang cenderung lahirnya santri intelek dan ulama yang mumpuni.

2.2

Pesantren Di Indonesia Pengertian Pondok Pesantren; Pondok pesantren adalah salah satu

pendidikan Islam di Indonesia yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Definisi pesantren sendiri mempunyai pengertian yang bervariasi, tetapi pada hakekatnya mengandung pengertian yang sama. Perkataan pesantren berasal dari bahasa sansekerta yang

memperoleh wujud dan pengertian tersendiri dalam bahasa Indonesia. Asal kata san berarti orang baik (laki-laki) disambung tra berarti suka menolong, santra berarti orang baik baik yang suka menolong. Pesantren berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik (Abdullah, 1983:328). Sementara itu HA Timur Jailani (1982:51) memberikan batasan pesantren adalah gabungan dari berbagai kata pondok dan pesantren, istilah pesantren diangkat dari kata santri yang berarti murid atau santri yang berarti huruf sebab dalam pesantren inilah mula-mula santri 15

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

mengenal huruf, sedang istilah pondok berasal dari kata funduk (dalam bahasa Arab) mempunyai arti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi pondok di Indonesia khususnya di pulau jawa lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu

perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri.
2.2.1 Komponen Pondok Pesantren

Secara umum pesantren memiliki komponen-komponen kiai, santri, masjid, pondok dann kitab kuning. Berikut ini pengertian dan fungsi masingmasing komponen. Sekaligus menunjukkan serta

membedakannya dengan lembaga pendidikan lainnya, yaitu : 2.2.1.1 Pondok : Merupakan tempat tinggal kiai bersama para santrinya. Adanya pondok sebagai tempat tinggal bersama antara kiai dengan para santrinya dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren juga

menampung santri-santri yang berasal dari daerah yang jauh untuk bermukim. Pada awalnya pondok tersebut bukan semata-mata dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama para santri, untuk mengikuti dengan baik pelajaran yang diberikan oleh kiai, tetapi juga sebagai tempat latihan bagi santri yang bersangkutan agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat. 16

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

2.2.1.2

Masjid: Dalam konteks ini, masjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. Masjid yang

merupakan unsure pokok kedua dari pesantren, disamping berfungsi sebagai tempat melakukan sholat berjamaah setiap waktu sholat, juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Biasanya waktu belajar mengajar berkaitan dengan waktu shalat berjamaah, baik sebelum maupun sesudahnya. 2.2.1.3 Santri: Santri merupakan unsure pokok dari suatu pesantren, tentang santri ini biasanya terdiri dari dua kelompok :santri mukim; ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren dan santri kalong; ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar

pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang ke rumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren. 2.2.1.4 Kiai: Adanya kiai dalam pesantren merupakan hal yang mutlak bagi sebuah pesantren, sebab dia adalah tokoh sentral yang memberikan pengajaran, karena kiai menjadi salah satu unsure yang paling dominant dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyhuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyak bergantung pada keahliah dan kedalaman ilmu, kharismatik, wibawa dan ketrampilan kiai yang bersangkutan dalam mengelola pesantrennya. Gelar 17

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

kiai biasanya diberikan oleh masyarakat kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan mendalam tentang agama Islam dan memiliki serta memimpin pondok pesantren, serta mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santri. 2.2.1.5 Kitab-kitab Islam klasik: Unsur pokok lain yang cukup membedakan peantren dengan lembaga lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab Islamklasik atau yang sekarang terkenal dengan sebutan kitab kuning, yang dikarang oleh para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab. Pelajaran dimulai dengan kitab-kitab yang sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab tentang berbagai ilmu yang mendalam. Tingkatan suatu pesantren dan pengajarannya, biasanya diketahui dari jenis-jenis kitab-kitab yang diajarkan.

(Hasbullah, 1999a:142-145) 2.2.2 Tipologi Pondok Pesantren Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman, terutama sekali adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan bentuk pesantren bukan berarti sebagai pondok pesantren yang telah hilang kekhasannya. Dalam hal ini pondok pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk masyarakat. Secara faktual ada beberapa tipe pondok pesantren 18

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

yang berkembang dalam masyarakat, yang meliputi: 2.2.2.1 Pondok Pesantren Tradisional:Pondok pesantren ini masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan

semata-mata mengajarkan kitab yang di tulis oleh ulama‟ pada abad ke 15 dengan menggunakan bahasa arab. Pola pengajarannya dengan menerapakan sisitem “halaqah” yang dilaksanakan di masjid atau surau. Hakekat dari sistem pengajaran halaqah adalah penghapalan yang titik akhirnya dari segi metodologi cenderung kepada terciptanya santri yang menerima dan memiliki ilmu. Artinya ilmu itu tidak berkembang kearah paripurnanya ilmu itu, melainkan hanya terbatas pada apa yang di berikan oleh kyainya. Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kyai pengasuh

pondoknya. Santrinya ada yang menetap di dalam pondok (santri mukim), dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalong). 2.2.2.2 Pondok Pesantren Modern: Pondok pesantren ini

merupakan pengembangan tipe pesantren karena orietasi belajarannya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan system belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nempak pada bangunan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasa maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 19

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa itu. Kedudukan para kyai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar langsung di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal. 2.2.2.3 Pondok Pesantren Komprehensif: Sistem pesantren ini disebut komprehensif merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan watonan, namun secara reguler sistem pesekolahan terus dikembangkan. Bahkan pendidikan ketrampilan pun

diaplikasikan sehingga menjadikannya berbeda dari tipologi kesatu dan kedua (Ghazali, 3003:15)

20

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Profil Singkat Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah

Pondok pesantren yang didirikan pada 10 Juli 1967 di Indralaya kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan ini kali pertama dipimpin oleh Almarhum K. H. Ahmad Qori Nuri (1911-1996). Sebelum itu, Pondok Pesantren Ittifaqiah memiliki rentangan sejarah yang cukup monumental. Hal ini dimulai pada periode 1918-1922; diawali dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Siyasiyah Alamiah (MISA) di Sakatiga yang didirikan dan dipimpin oleh KH. Ishaq Bahsin, ulama besar alumni Universitas al Azhar Mesir. Beliau wafat tahun 1936. kepemimpinan MISA dilanjutkan anak beliau KH. Bahsin Ishaq. Tahun 1942 madrasah ini bubar karena gedungnya dibakar orang tak dikenal. MISA yang bubar tahun 1942, atas prakarsa KH. Ahmad Qori Nuri pada tahun 1950 dibuka kembali dengan nama baru, Sekolah Menengah Islam (SMI) Sakatiga, 1950-1962 dengan Mudir KH. Ismail Muhyiddin. Tahun 1954 beliau wafat, SMI dipimpin KH. Ahmad Qori Nuri. Tahun 1962, SMI diubah namanya menjadi Madrasah Menengah Atas (MMA) Sakatiga, tahun 1962-1967, dipimpin KH. Ahmad Qori Nuri. Tahun 1967, MMA Sakatiga yang dipimpin KH. Ahmad Qori Nuri berpindah lokasi ke Indralaya dengan nama Madrasah Menengah Atas AL 21

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

ITTIFAQIAH Indralaya, dipimpin oleh KH. Ahmad Qori Nuri. Madrasah ini dibangun diatas tanah wakaf KH. Ahmad Rifa‟i bin H. Hasyim dengan luas 4000 m2 (80 x 50 m2). Tahun 1976 MMA AL ITTIFAQIAH berubah status menjadi Pondok Pesantren al Ittifaqiah Indralaya. Pondok ini tetap dipimpin KH. Ahmad Qori Nuri hingga beliau wafat Kamis, 11 April 1996 dalam usia 85 tahun. Setelah wafatnya, kepemimpinan Pondok Pesantren al Ittifaqiah Indralaya dijalankan oleh Wakil Mudir Drs. KH. Mudrik Qori. Tahun 1997 K. Muslih Qori diangkat Yayasan Islam al Ittifaqiah sebagai Mudir. Tetapi bulan Mei 1998 beliau diminta masyarakat Tulung Selapan menjadi Mudir Pondok Pesantren AL ISLAH karena potensi luar biasa pondok ini yang kemudian menjadi Pilot Project BPPT/Kementerian Riset dan Teknologi. Bulan Juni 1998 Yayasan mengamanati Drs. KH. Mudrik Qori sebagai Mudir Pondok Pesantren al Ittifaqiah Indralaya sampai sekarang (sumber;

PP-Al-Ittifaqiah.com). 3.2 Jumlah dan Keragaman Santri Dalam banyak aspek, PPI telah dapat melaksanakan

program-program pendidikannya sesuai harapan. Terbukti dengan semakin banyaknya orang tua yang menyekolahkan anak-anak mereka di pondok kami ini. Kepercayaan tersebut tak hanya datang dari para orang tua, namun juga dari pemerintah dan negara-negara luar. Tercatat 1577 santri yang sedang digodok di sini. Mereka datang bukan hanya dari propinsi Sumatera Selatan, tetapi juga dari propinsi 22

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Bangka Belitung, Lampung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta dan Sulawesi Selatan. Dari 1.577 santri itu, 836 santri putra (53,01 %) dan 741 santri putri (46,99%). Santri mukim dalam kampus A berjumlah 1115 orang (70.70%) yang terdiri dari 613 santri putra dan 502 santri putri. Sisanya 29% atau 462 orang (terdiri dari 223 santri putra dan 239 santri putri) pulang pergi, karena berada dalam radius 20 KM dari pondok. Para santri PPI mayoritas berasal dari anak petani, buruh tani, buruh bangunan dan pedagang kecil yang berkategori ekonomi lemah atau kurang mampu mencapai 71,13 % (1106 orang), termasuk di dalamnya 63 orang (5,70 %) anak yatim dan hanya 29,87% (471 orang) yang berasal dari keluarga PNS, TNI/POLRI, BUMN, pedagang dan wiraswasta. Pada tahun 1999 Pondok kita telah diakui Departemen Agama sebagai pondok unggulan. Santri-santri Al-Ittifaqiah mendominasi kejuaraan pada MTQ Kabupaten, Propinsi dan Nasional bahkan Internasional. Selain itu, mendominasi pada Pekan Olahraga dan Seni antar Pesantren Kabupaten Ogan Ilir (POSPEKAB), Pekan Olahraga dan Seni antar Pesantren Daerah Sumatera Selatan (POSPEDA) dan bahkan pada Pekan Olahraga dan Seni antar Pesantren Nasional (POSPENAS) di Indramayu Jawa Barat, Palembang Sumatera Selatan dan terakhir tahun 2005 ini di Medan Sumatera Utara. Pada Ujian Negara (UN) kelulusan santri PPI pada tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah secara 23

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

persentase lebih unggul dari madrasah negeri dan swasta di Propinsi Sumatera Selatan. Banyak santri kita yang berhasil memperoleh bea siswa ke Universitas Al-Azhar Mesir, Universitas Al-Ahqaf Yaman, Universitas Internasional Afrika Sudan dan Universitas Islam Syiria. Mereka juga tersebar di perguruan ternama di dalam negeri, IAIN Raden Fatah Palembang dan UNSRI Indralaya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IIQ Jakarta, PTIQ, LIPIA Jakarta serta lainnya. Tahfidz al-Quran, seni baca al-Quran, Qiraat Sabah, Tafsir, Fahmil Quran dan Syarhil Quran adalah program unggulan. Pada tahun 2005, alhamdulillah, PPI telah melahirkan 14 orang hafizh/ah (hafal 30 juz al-Quran). Bahasa Arab dan Inggris adalah program mahkota (crown programme) sehingga sehari-hari santri berkomunikasi dengan dua bahasa ini. 4 Kurikulum Pada Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Secara umum, kurikulum yang diterpkan pada ponpes Al-Ittifaqiah hampir sama dengan kebanyakan Madrasah. Hal ini karena kategori ponpes Al-Ittifaqiah yang Khalafiah (modern). Oleh karena penelitian ini berkutat pada penggunaan dari metode sorogan dan bandongan, maka hanya menyoroti program studi yang menggunakan metode tersebut. Program studi yang masih menggunakan sorogan dan bandongan adalah Tahfidz Qur‟an (kitab/sumber; Al-Qur‟an), Hadits (kitab/sumber; Bulughul Murom, Tauhid (kitab/sumber; Durusul Aqoid), Akhlaq 24

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

(kitab/sumber; Ta‟lim Muta‟allim, Akhlaq Lil Banin), Bahasa Arab (kitab/sumber; Lughoh Al-Arabiah), Fiqh (kitab/sumber; Mabadi‟ul Fiqhiah), Ushl Fiqh (kitab/sumber;Mabadi‟ul Al-Awaliyah), Kitabah (kitab/sumber; Qiraatul Ashriyah), Nahwu (kitab/sumber; Matan

Jurumiah, Matan Jurumiah, Kawakib), Shorof (kitab/sumber; Amtsilatul Tashrifiah, Q. Shofriah, Kailani), Tafsir (kitab/sumber; Jalalain). 5 Out Put

25

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

26

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Sorogan dan Bandongan Pada Ponpes Al-Ittifaqiah: Economical Loss-tradisi

Pondok pesantren Al-Ittifaqiah merupakan tipe pesantren khalafiah., yakni pesantren yang tergolong sudah modern. Namun uniknya masih mempertahankan metode sorogan dan bandongan. Metode sorogan dan bandongan pada Ponpes Al-Ittifaqiah

digunakan Kyai dan Ustadz di waktu-waktu tertentu. Selain itu penggunaan metode tersebut diperuntukan bagi santri yang hendak memperdalam dan kebanyakan santri yang mengikutinya berstatus non mukim (tidak tinggal). Santri non mukim merupakan santri yang tinggal berdekatan dengan pondok pesantren dan rata-rata berekonomi standar. Oleh karena orientasi dari ponpes Al-Ittifaqiah yang berpihak pada kaum tertindas (Dalam Profil Ponpes Al-Ittifaqiah, 2008; 7) dan misi dari ponpes, selalu merekrut santri dari kalangan manapun, termasuk berekonomi ke bawah.

4.2

Keunggulan dan Kelemahan Metode Sorogan Seperti metode pada umumnya, metode sorogan dan bandongan

memiliki kekurangan dan kelebihan. Beberapa kelemahan dan kelebihan 27

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

metode sorogan yang didapatkan pada ponpes Al-Ittifaqiah adalah: 4.2.1 Kelemahan a. Memakan waktu yang cukup lama, karena target yang hendak dicapai. b. Karena menuntut disiplin tinggi, kebanyakan santri banyak yang kewalahan dalam pembagian waktu. c. Bila diwajibkan, ada keterpakasaan dari santri. d. Cenderung memaksa santri. 4.2.2 Kelebihan a. Spontanitas santri tinggi. b. Santri dapat langsung menerima materi yang diinginkan. c. Pemahaman santri lebih mendalam. d. Terdapat perhatian khusus. e. Terdapat kesiapan dari santri ketika hendak sorogan. Sedangkan beberapa kelemahan dan kelebihan metode bandongan yang diterapkan pada ponpes Al-Ittifaqiah: 4.3.1 Kelemahan a. Penyamarataan pengetahuan; tidak ada perbedaan antara santri yang pandai atau lemah. b. Tidak ada perhatian khusus dan tidak memaksa. c. Kebanyakan santri tidak memerlukan persiapan materi. d. Pemahaman santri kurang mendalam.

28

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

4.3.1 Kelebihan a. Tidak ada pembedaan antara santri yang sudah paham dengan yang belum, semua dianggap memiliki kemampuan sama. b. Tidak ada keterpaksaan dalam mengikutiya. c. Tidak terlalu lama. d.

4.3

Parameter Tuntas (abstraksi kitab-kitab yang dikaji; ilmu alat, Fiqih, Teologi, Akhlaq, Tafsir, dan Hadits)

29

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

BAB 5 PENUTUP

5.1

Kesimpulan

5.2

Saran

5.3

Rekomendasi

30

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

DAFTAR PUSTAKA

Buku: Davis, Denese and Jackie Sorrell, (1995, December). Mastery learning in public schools. Paper prepared for PSY 702: Conditions of Learning. 31

Laporan Penelitian Pembelajaran Tuntas Pada Pondok Pesantren

Valdosta, GA: Valdosta State University. Available online:

Yamin, Martinis, (2007), Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP, Jakarta, Gaung Persada Press.

Surat Kabar:

Majalah: Artikel: Sayono, Joko. (2006). Histiografi Pesantren: Perpektif Metodologis Antara Ada dan Tiada. Bulletin: ADFL Bulletin 15, no. 1 (September 1983): 37-40

Jurnal Ilmiah:

Website (internet):

32


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Research
Stats:
views:13548
posted:11/12/2009
language:Indonesian
pages:32
Description: This file was been took in Palembang 2008. This file is a kind of my creation in research studies.