Docstoc

PENGARUH KEMAMPUAN GURU MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

Document Sample
PENGARUH KEMAMPUAN GURU MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA Powered By Docstoc
					                                                                             1




                                         BAB I

                                  PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

       Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah sebagai lembaga pendidikan Islam

telah menjadi lembaga pendidikan favorit masyarakat Sulawesi Tengah. Sehingga

tidaklah mengherankan apabila setiap tahunnya peminatnya semakin meningkat. Hal

ini terbukti dengan melihat perkembangan yang dialami oleh lembaga pondok

pesantren ini.

       Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah juga menyajikan materi pelajaran pendidikan agama Islam sebagai salah

satu mata pelajaran yang tentunya dengan hal tersebut diharapkan dapat lebih

membantu menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran beragama dan perilaku

positif dikalangan para santri atau siswa.

       Mencermati komposisi pengaturan kurikulum tersebut, agaknya perlu

dipertanyakan, bagaimana suatu lembaga pendidikan mampu membentuk manusia

secara utuh, yaitu manusia Indonesia yang seimbang antara penguasaan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta agamanya, sehingga mampu meraih kebahagiaan

hidup di dunia dan di akhirat .

       Secara logika, dengan materi pelajaran pendidikan agama Islam yang ada,

lembaga pendidikan seperti pondok pesantren akan terasa sulit menelorkan out put

yang seimbang dalam pengetahuan agama dan penguasaan iptek bila yang
                                                                                         2




bersangkutan tidak berlatar belakang pendidikan agama yang kuat untuk mempelajari

agama secara outodidak. Kondisi ini perlu menjadi renungan dan meninjau kembali

secara jernih agar kurikulum pendidikan dapat diarahkan kepada komposisi yang

lebih seimbang dan proposional.1

        Disamping itu, fakta menunjukkan bahwa siswa atau peserta didik yang

mengecap pendidikan di lembaga pendidikan ini sangat beragam latar belakangnya,

baik dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam pemahaman

keagamaannya. Hal ini disebabkan karena lembaga pendidikan ini dalam menerima

calon santri atau siswa dari berbagai lulusan yang ada.

        Melihat keragaman para insan pendidikan ini, sangat jelas tergambar

perbedaan perilaku dan perbedaan dalam memahami serta mengaktualisasikan ajaran

agama. Untuk itu pendidikan agama Islam bukan hanya sekedar memberikan

pengetahuan atau kognitifnya saja kepada peserta didik, tetapi hal yang paling esensi

adalah unsur nilai atau nilai afektifnya. Karena pendidikan dalam arti pengetahuan

saja tidak akan ada artinya jika tidak melibatkan pendidikan kepribadian. Pendidikan

agama Islam justru diharapkan mampu merasuk kedalam tahap penghayatan,

sehingga sikap dan tingkah laku akan sejalan dengan pengetahuan keagamaan yang

dimilikinya.

        Menyadari ruang lingkup pendidikan agama Islam yang sangat luas, maka

kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat keagamaan akan menjadi salah satu


        1  Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren Pendidikan Alternatif Masa Depan, (Cet. I;
Jakarta : Gema Insani Press, 1997), h. 59.
                                                                            3




tuntutan. Dengan adanya kajian-kajian keislaman ini diharapkan dapat membantu

mengimbangi antara ilmu pengetahuan dan teknologi serta ilmu keagamaan.

       Sekalipun lembaga pondok pesantren ini telah lama berdiri, dan telah

menghasilkan out put atau alumni, namun masih banyak hal yang perlu mendapat

perhatian serius terutama menyangkut pelaksanaan pendidikan agama Islam di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu yang

kelihatannya belum menujukkan optimalisasi. Sehingga dapat dilihat implikasinya

terhadap perilaku santri dalam kesehariannya.

       Dengan memperhatikan kondisi yang demikian, tentu ada permasalahan-

permasalahan yang menjadi penyebab dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu kurang berhasil.

Kemungkinan besar masalah-masalah tersebut disebabkan diantaranya oleh :

   a. Para tenaga pengajar semata-mata hanya mengejar target pelajaran.

   b. Kurikulum pendidikannya.

   c. Tenaga pengajar tidak dapat dijadikan figur bagi siswa.

   d. Kondisi siswa yang kurang memahami serta tidak adanya kesadaran dalam

       diri sendiri, dalam hal ini adalah mempraktekkan ajaran agama Islam itu

       sendiri.

   e. Metode pengajaran yang diterapkan kurang sesuai

       Kekurang pedulian terhadap aspek agama, baik sebagai doktrin, ajaran,

maupun penampakan fisik lembaga pendidikan, tampaknya menjadi model

perkembangan lembaga pendidikan di Indonesia. Salah satu contoh adalah suatu
                                                                                                 4




lembaga pendidikan yang sampai saat ini tidak memiliki sarana keagamaan (masjid).

Sedangkan pada lembaga pendidikan lainnya dibangun dengan bentuk dan tempat

yang sangat tidak menonjol dan kurang memadai.2

        Namun pada kenyataannya di lembaga pendidikan dewasa ini, pendidikan

agama hanya sebagai kriteria etis. Agama masih melibatkan secara ekslusif dan

spesial, yakni hanya terbatas pada masalah penerapan ilmu pengetahuan atau

teknologi saja. Hal ini disebabkan karena masih adanya anggapan bahwa ilmu

pengetahuan adalah bebas nilai,3 sehingga agama harus ditempatkan diluar struktur

ilmu pengetahuan. Agama hanya menjadi sub sistem yang diintegrasikan kedalam

kurikulum belaka, atau paling tidak sebagai persyaratan formal dan sekedar ritual

akademik, sehingga dalam kurikulum hanya tercantum mata pelajaran agama yang

secara esensial dijabarkan secara terpisah dengan mata pelajaran lain.

        Sebagian kecil lembaga pendidikan telah menjadikan agama sebagai bagian

yang tidak terpisahkan, terintegrasi dengan misi lembaga pendidikan tersebut.

Dengan kata lain, bahwa misi lembaga pendidikan inheren dengan misi agama, dan

agama menjadi sumber nilai dalam keseluruhan sistem penyelenggaraannya.4

        Posisi pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan, dari seluruh jenjang

dan jenis pendidikan, baik secara historis maupun secara konstitusional telah mantap



         2 Nurkholis Madjid, dkk., Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi (Wacana Tentang

Pendidikan Agama Islam), (Cet. I; Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 208.
         3 Ilmu pengetahuan terapan yang tidak hanya terbatas pada satu kajian disiplin keilmuan akan

tetapi menyangkut seluruh disiplin ilmu tanpa melihat adanya dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan
ilmu-ilmu yang sifatnya sekuler.
         4 Nurkholis Madjid, Ibid., h. 210.
                                                                                  5




dan menjadi kebutuhan oleh semua pihak. Oleh karena itu, masalah pendidikan

agama Islam di lembaga pendidikan manapun di Indonesia ini bukan lagi masalah

eksistensi atau keberadaannya, tetapi adalah masalah mutu dan fungsinya atau

peranannya.

       Idealnya, pendidikan agama Islam juga agama-agama lain menempati posisi

kunci, terintegrasi secara fungsional dengan berbagai disiplin ilmu atau bidang studi

dan berperan menentukan kelulusan. Namun dalam kenyataannya pendidikan agama

Islam masih menempati posisi pinggiran, tereliminasi dan tidak menentukan

kelulusan. Selain itu, mata pelajaran pendidikan agama Islam bukanlah mata

pelajaran keahlian, tetapi hanya merupakan mata pelajaran yang umum yang bersifat

melayani dan tidak berpengaruh dalam menentukan kelulusan.

       Untuk itu, agama sebagai dasar pembentukan kualitas diri sangat berperan

dalam menumbuhkembangkan kesadaran, sikap dan perilaku penganutnya. Oleh

karena itu, pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan menjadi sangat sentral

dalam mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa.

       Mempersiapkan suatu masyarakat yang mampu bersaing merupakan salah

satu tugas lembaga pendidikan pondok pesantren yang berkembang saat ini. Masing-

masing lembaga pendidikan dengan segala keterbatasan yang dimilikinya dituntut

untuk menawarkan berbagai kiat dan keterampilan yang diperkirakan akan

bermanfaat bagi masyarakat dalam memasuki era globalisasi, sehingga mereka

nantinya tidak menjadi masyarakat yang tertinggal yang akan menjadi makanan

empuk bagi masyarakat yang memiliki daya saing yang tinggi. Dalam mencapai
                                                                                           6




maksud tersebut, berbagai program ditawarkan, yang orientasi akhirnya adalah

pengembangan sumber daya manusia yang merupakan kunci utama dalam

menghadapi daya saing yang tinggi tersebut. Meskipun demikian tidak semua

lembaga       pendidikan   mampu      menawarkan       program     yang    seimbang      bagi

pengembangan sumber daya manusia yang meliputi berbagai aspek, termasuk aspek

moral.5

          Salah satu konsukwensi dari nilai-nilai dasar keislaman yang disampaikan di

lembaga pendidikan, tidak boleh lagi dikerjakan oleh tenaga amatiran, atau yang

hanya mengenal sedikit dimensi ajaran Islam. Pandangan dunia Islam yang holistik,

perlu dimiliki seseorang sebelum ia memulai karirnya sebagai tenaga pendidik.

Adapun kurikulum yang tepat dan terpadu memang sangat penting, tetapi betapapun

bagusnya suatu kurikulum, jika ditangani oleh mereka yang tidak profesional, maka

akan membawa pada iklim belajar mengajar menjadi runyam. Sebaliknya, kurikulum

yang sederhana tapi tergenggam ditangan pendidik yang profesional, maka suasana

belajar mengajar akan menjadi sangat hidup, dialogis bahkan mengena pada sasaran

yang diharapkan.6

          Idealnya, guru agama di suatu lembaga pendidikan dalam hal ini adalah

lembaga pendidikan pondok pesantren adalah mereka yang ahli, dan merasa benar-




          H. A. Yakub Matondang, dkk., Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi, (Cet. I;
          5

Yokyakarta : Tiara Wacana, 1998), h. 3
       6 Muslih Usa dan Aden Wijdan SZ., Pendidikan Islam Dalam Peradaban Industrial, (Cet. I;

Yokyakarta : Aditya Media dan Fakuultas Tarbiyah Universitas Islam Indonesia, 1997), h. 25
                                                                                    7




benar memiliki rasa keterpanggilan tugas dan penuh dengan profesionalismenya,

kreatifitas, inovatif dan percaya diri sebagai tenaga pendidik atau guru agama Islam.



B. Rumusan dan Batasan Masalah

       Berdasarkan latar belakang di atas, maka secara rinci penelitian ini diuraikan

dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

    1. Bagaimana tingkat pemahaman siswa Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

       Ngata Baru Biromaru Palu terhadap pendidikan agama Islam ?.

    2. Bagaimana implementasi pendidikan agama Islam dan pengaruhnya dalam

       pembentukan pribadi siswa yang berakhlakul karimah ?.



C. Pengertian Judul dan Defenisi Operasional

       Untuk menghindari terjadinya berbagai penafsiran terhadap judul penelitian

ini, maka ada beberapa kata yang dianggap penting untuk diberikan pengertian-

pengertian sehingga tidak terjadi intrepretasi yang berbeda-beda. Skripsi ini berjudul

"Implementasi Pendidikan Agama Islam Terhadap Perilaku Siswa Di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu".

       Adapun kata yang penulis maksudkan adalah sebagai berikut :
                                                                                           8




     1. Pengertian implementasi.

        Kata implementasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu implementation. Makna

kata ini berati pelaksanaan, dari kata ini kemudian lahir kata implementasi.7

     2. Pengertian pendidikan agama Islam.

        Prof. Dr. Zhakiah Darajat, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan

pendidikan agama Islam adalah :

        Pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa
        bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari
        pendidikannya ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-
        ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta
        menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi
        keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.8

        Sedangkan pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan pondok pesantren

adalah merupakan kelanjutan dari pendidikan agama Islam pada jenjang pendidikan

sebelumnya. Kemudian dikembangkan sesuai dengan tingkat intelektual peserta didik

atau siswa yang relatif tinggi.

        Pendidikan agama Islam pada pondok pesantren adalah salah satu mata

pelajaran yang wajib diikuti oleh setiap peserta didik atau siswa dan mata pelajaran

ini adalah termasuk mata pelajaran yang menentukan kelulusan.




        7 John M. Echols dan Hassan Shadily, an English – Indonesia Dictionary, (Jakarta : PT.
Gramedia, 1976), h. 313.
       8 Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Cet. II; Jakarta : Bumi Aksara, 1992), h. 86.
                                                                                  9




     3. Perilaku siswa.

       Perilaku siswa atau peserta didik adalah tindakan, perbuatan, sikap siswa yang

ditujukan kepada orang lain atau lingkungan yang dipengaruhi oleh nilai yang dianut,

situasi dan kondisi serta tujuan yang ingin dicapai.

     4. Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

       Lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru didirikan bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional

tanggal 2 Mei 1993 M/10 Zulhijjah 1413 H, diatas tanah wakaf seluas kurang lebih 8

h.a., yang berlokasi di desa Ngata Baru Kecamatan Sigi Biromaru Daerah Tingkat II

Kota Madya Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

ini dibangun sebagai upaya mengantisipasi situasi dan kondisi yang terjadi di tengah

masyarakat yang kian hari kian jauh dari nilai kehidupan dan kultur budaya Islam,

karena terhalang oleh kehidupan yang materialistis, individualistis, kultur budaya

yang serba nisbi dan pergaulan bebas yang melanda sebahagian besar generasi muda

Islam. Di samping untuk mendidik dan membina para generasi muda Islam dengan

dasar iman dan taqwa agar mereka memiliki mentalitas yang kuat dan kedalaman

spiritual serta kehandalan dibidang ilmu pengetahuan dan keterampilan sehingga

mereka siap tampil sebagai muslim yang mujahhid untuk menegakkan agama Allah

di muka bumi ini.

       Dalam proses pendirian Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru,

sangat nampak bahwa lembaga tersebut dibangun dengan landasan keikhlasan

beramal semata untuk menegakkan ilmu pengetahuan karena dengan modal satu
                                                                               10




bangunan kecil yang terbuat dari papan dengan jumlah awal santri sebanyak 52 orang

dan seorang Kyai yaitu Bapak Drs. K. H. M. Arief Siraj, Lc, dimulailah aktivitas

lembaga pendidikan ini. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang kurang merespon

atau kurang mempercayai bahkan sampai tidak mengenal kehadiran lembaga

pendidikan ini, karena letaknya yang terbilang sangat jauh dan terpencil di lembah

kota Palu yang hiruk-pikuk, di semak-semak belukar kurang lebih 14 KM ke arah

timur laut Kota Palu, dengan radius sekitar 4 KM dari perumahan penduduk, baik itu

penduduk kelurahan Petobo, maupun kelurahan Kawatuna. (lebih jelasnya akan

dibahas pada bab empat dalam skripsi ini).

       Dengan demikian secara operasional maksud penulis terhadap judul penelitian

ini adalah berusaha membahas tentang implementasi pendidikan agama Islam yang

berpengaruh terhadap perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu dalam berinteraksi pada lingkungan pesantren, dan dapat

pula dicermati dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu peneliti juga

akan membahas tentang beberapa hal mengenai faktor-faktor pendukung yang dapat

menumbuhkan kesadaran positif, seperti proses belajar mengajar, metode pengajaran

materi pendidikan agama Islam, literatur yang tersedia, unsur tenaga pendidik,

keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, saling menghormati sesama peserta didik

atau siswa, menghargai guru, sampai pada cara santri dalam berpakaian. Serta

kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam.

Demikian halnya penulis akan berusaha mencari solusi untuk mengatasi kendala

tersebut.
                                                                                  11




D. Tujuan dan Manfaat penelitian

     1. Tujuan Penelitian

       Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data

dan informasi yang akurat tentang implementasi pendidikan agama Islam terhadap

perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

Secara lebih khusus, penelitian ini bertujuan antara lain :

   a. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam dapat

       diserap dan dipahami oleh para siswa di Pondok Pesantren Modern Al-

       Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

   b. Bagaimana pengaruh pendidikan agama Islam sehingga dapat membentuk

       pribadi siswa yang berakhlakul karimah.

     2. Manfaat Penelitian

       a. Manfaat ilmiah,

       Sebagai suatu karya ilmiah, skripsi ini diharapkan dapat memberikan

kontribusi pemikiran yang signifikan bagi para peserta didik atau siswa i maupun

kalangan pendidik pondok pesantren, tetapi juga bagi lembaga pendidikan lainnya

yang mengalami fenomena yang sama. Skripsi ini juga diharapkan menjadi

pendorong bagi seluruh komponen dan dapat memberikan manfaat bagi lembaga

pendidikan dalam rangka membina dan meningkatkan pemahaman keagamaan serta

penanaman perilaku positif. Penelitian ini juga akan menjadi rujukan untuk penelitian

selanjutnya dan untuk masa yang akan datang.
                                                                                12




       b. Manfaat praktis,

       Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu guna mengambil

langkah-langkah strategis dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa terhadap

pendidikan agama Islam sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat serta

pengembangan ilmu pengetahuan.



E. Garis-Garis Besar Isi Skripsi

       Pada bab pertama, dikemukakan dasar-dasar pembahasan skripsi yang

meliputi latar belakang, rumusan dan batasan masalah, pengertian judul, tujuan dan

manfaat penelitian, serta diakhiri dengan         gambaran umum isi skripsi yang

menguraikan tentang garis-garis besar isi skripsi ini.

       Pada bab kedua, menguraikan tentang tinjauan teoritis tentang implementasi

pendidikan agama Islam terhadap perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu yang diantaranya menjelaskan mengenai

pemahaman tentang pendidikan agama Islam, peran pendidikan agama Islam dalam

pembentukan akhlak, kemudian dilanjutkan dengan strategi pengembangan

pendidikan agama Islam, dan diakhiri dengan aktualisasi ajaran dan nilai-niali

relegius.

       Pada bab ketiga, yaitu metode penelitian yang berisikan tentang pendekatan

penelitian, rancangan penelitian, lokasi penelitian atau kehadiran peneliti, sumber
                                                                                    13




data, tehnik pengumpulan data, tehnik analisis data, dan diakhiri dengan pengecekan

keabsahan data.

       Pada bab keempat, pada bab ini diungkapkan gambaran umum tentang

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru, antara lain dengan

mengetengahkan kondisi objektif sejarah berdirinya Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan

mengenai analisis tentang pemahaman siswa terhadap pendidikan agama Islam di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, dan diakhiri

dengan pembahasan mengenai analisis tentang implementasi pendidikan agama Islam

dan pengaruhnya dalam pembentukan perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

       Pada bab kelima, mengetengahkan tentang hal-hal yang dapat disimpulkan

dan dapat dimengerti dari apa yang telah diuraikan pada kajian-kajian sebelumnya.


                                      BAB II

                             TINJAUAN PUSTAKA



A. Pemahaman Tentang Pendidikan Agama Islam

       Posisi pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan, dari semua jenjang

dan jenis pendidikan, baik secara historis maupun secara konstitusional telah mantap

dan menjadi kebutuhan semua pihak. Oleh karena itu, masalah pendidikan agama

Islam di lembaga pendidikan manapun di Indonesia ini bukan lagi masalah
                                                                                         14




eksitensinya atau peranannya. Namun kecenderungan dan pemahaman peserta didik

terhadap pendidikan agama Islam sebagian besar dapat dipastikan mengikuti

mainstrem keagamaan masyarakat muslim. Mayoritas kelompok besar ini juga dapat

dipastikan memahami dan melaksanakan agama secara tradisional dan konvensional.

Mereka yang peduli, seperti dapat disaksikan melaksanakan ajaran-ajaran agama

selayaknya dan seadanya, sebagaimana mereka terima dari orang tua dan lingkungan

sosialisasi keagamaan yang biasa.9

        Untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pendidikan agama Islam

perlu formulasi dan reorientasi yang tepat. Pada lembaga pendidikan bentuk

pemahaman dan kecenderungan peserta didik dalam memahami ajaran agama Islam

melalui organisasi-organisasi Islam didalam maupun diluar lembaga pendidikan.

Organisasi-organisasi tersebut seperti kajian-kajian keislaman, studi Islam intensif,

dan lain sebagainya. Organisasi-organisasi tersebut sangat besar pengaruhnya dalam

membina intelektualitas dan kematangan berfikir siswa atau peserta didik.

        Perkembangan pemahaman keagamaan siswa di lembaga pendidikan

berkaitan erat degan kualitas wawasan keagamaan yang mereka miliki dan masukan

yang mereka terima dari berbagai sumber belajar, baik dari dalam maupun dari luar.

Namun demikian, terdapat berbagai gejala pemahaman yang diamati, sehingga

tampak indikasi yang mengisyaratkan polarisasi pemahaman keagamaan mereka.

Disatu sisi terdapat pola pemahaman yang bersifat terbuka dan optimistik, disisi lain


        9Nurkholis Madjid, dkk., Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi(Wacana Tentang
Pendidikan Agama Islam), (Cet. I; Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 224
                                                                                               15




ada pola pemahaman yang bersifat eksklusif dan pesimistik yang bergabung dalam

kelompok-kelompok kecil yang terkesan militan dan menjurus menjadi kelompok

sempalan.10 Kelompok-kelompok sempalan ini banyak masuk kedalam lembaga

pendidikan umum dan merasuki pemikiran para siswa atau peserta didik. Pola

pemahaman kelompok ini bersifat tekstual dan statis dalam memahami ayat-ayat al-

Qur'an dan hadits. Pemahaman secara tekstual dan statis menyebarkan kadar

keterikatan pada makna harfiah yang sangat kuat.11

       Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul Metodologi Studi Islam

menawarkan metode pemahaman Islam secara menyeluruh.12 Pemahaman secara

integral dan terbuka terhadap ajaran agama Islam terutama yang berkaitan dengan

akidah syari'ah dan akhlak sangatlah diharapkan. Sehingga dengan demikian akan

terhindar dari kesalahpahaman terhadap ajaran agama Islam.

       Oleh karena itu, pengembangan pendidikan agama Islam hendaknya tidak

terjebak kedalam perdebatan fragmentatif yang mencoba memahami pemikiran Islam

secara dikotomis dan sebelah-sebelah. Pendekatan dikotomis dan fragmentatif dalam

memahami Islam tidak akan dapat sampai kepada pemahaman Islam secara

menyeluruh. Oleh sebab itu dalam menghadapi era globalisasi pendidikan Islam harus

konsisten untuk tetap setia hidup bersama al-Qur'an dan hadits. Dengan kesetiaan

hidup bersama al-Qur'an dan hadits tersebut Islam tidak hanya dapat terlindungi dari



       10 Ibid., h. 250
       11 Ibid., h. 251
       12 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Cet. VI; Raja Grafindo Persada, 2001), h. 107-108.
                                                                                              16




bahaya fragmentasi dan dampak sekularisasi, tetapi juga dapat memberikan kritik

terhadap ilmu pengetahuan dan dampak kebudayaan barat yang cenderung hedonistik,

ria, serakah dan eksploitatif, meski menerima hal-hal positif dari padanya. Kedua

sumber ini pula yang menjadi tulang punggung bangunan moralitas manusiawi yang

senantiasa sesuai dengan tantangan zaman.13

        Jadi, disini dituntut adanya konsistensi antara ucapan dan perbuatan,

sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur'an (surat al-Shaf : 2-3), yaitu :

              ‫ﻳﺂﺃﻳﻬﺎﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﻣﻨﻮﺍ ﻟﻢ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﻣﺎﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺘﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻥ ﺗﻘﻮﻟﻮﺍ ﻣﺎﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ‬




Terjemahnya :

        "Wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan sesuatu yang
        tidak kamu lakukan. Allah murka kepada orang-orang yang mengatakan
        sesuatu tetapi tidak mau melakukannya".14

        Dalam usaha untuk mencapai keseimbangan antara ucapan dan perbuatan,

iman dan ilmu, emosi dan rasio, serta kepentingan jasmani dan rohani, diharapkan

kepada semua pihak dapat bertanggung jawab, dinamis, inovatif dan kreatif dalam

memahami dan menjalani ajaran agama.


B. Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Akhlak




        13 Irsyad Djuwaeli, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam, (Cet. I; Jakarta : Karsa Utama
Mandiri dan PB Matla'ul al-Anwar, 1998), h. 80-81.
        14 Departemen Agama R.I., Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara

Penterjemah dan Penafsiran Al-Qur'an, 1991), h. 928.
                                                                                             17




        Agama merupakan ekspresi total dalam kehidupan umat manusia di setiap

waktu dan ruang kehidupan yang ia tempati. Oleh karena itu yang diperlukan adalah

pendidikan agama, bukan pengajaran agama.

        Menurut Al-Gazali, pendidikan merupakan penentuan corak pemikiran dan

kehidupan suatu bangsa. Al-Gazali melukiskan pendidikan Islam sejalan dengan

pandangannya tentang hidup dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, artinya

sejalan dengan filsafatnya. Al-Gazali juga menetapkan kurikulum pelajaran yang

menurut pandangannya sesuai dengan sasaran dan tujuan pendidikan yang

diinginkan. Al-Gazali mengelompokkan ilmu kedalam dua kelompok, yaitu

kelompok ilmu wajib 'ain dan kelompok ilmu wajib kifayah.15

        Pendidikan Islam sebagai salah satu sub sistem pendidikan nasional

diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional. karena itu

diperlukan pemikiran untuk lebih mengaktualisasikan peran pendidikan Islam.

Aktualisasi dalam arti bahwa pendidikan Islam ikut tampil sebagai pemecah segala

masalah.

        Tugas pendidikan Islam senantiasa bersambung dan tanpa batas. Hal ini

karena hakikat pendidikan Ilam merupakan proses tanpa akhir yang sejalan dengan

konsensus universal yang ditetapkan oleh Allah swt., dan Rasul-Nya, dengan istilah

"Long Life Education". Demikian juga tugas yang diberikan pada lembaga



        15 Fatiyah Hasan Sulaiman, Madzahibu fi al-Tarbawiyyah Bahtsu fi al-Tarbawiyyi 'Inda al-
Gazali, diterjemahkan oleh Z.S. Nainggolan dan Hadri Hasan dengan judul Sistem Pendidikan
Menurut Al-Gazali Solusi Menghadapi Tantangan Zaman, (Cet. III; Jakarta : Dea Press, 2000), h. 33
                                                                                        18




pendidikan Islam bersifat dinamis dan progresif mengikuti kebutuhan anak didik

dalam arti yang luas. Untuk menelaah tugas pendidikan Islam, dapat dilihat dari tiga

pendekatan, yaitu :

    1. Pendidikan dipandang sebagai pengembangan potensi.

    2. Pendidikan dipandang sebagai pewarisan budaya.

    3. Pendidikan dipandang sebagai interaksi antara potensi dan budaya.

       Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib, ketiga pendekatan tersebut tidak dapat

berjalan sendiri karena adanya penekanan pada satu segi, sementara segi-segi lainnya

proporsinya lebih kecil.16

       Agar pendidikan Islam tampil secara nyata, maka pendidikan Islam

menampilkan ajaran Islam secara komprehensif dalam beberapa tampilan, yaitu

sebagai berikut :

     1. Integral.

       Untuk mengaktualisasikan ajaran Islam melalui pendidikan Islam, diperlukan

pemahaman ajaran Islam yang integral. Sampai kini pendidikan Islam masih

ditempatkan sebagai pemberi kontribusi bagi pembangunan mental spiritual.

Kontribusi tersebut merupakan porsi yang tidak kalah pentingnya. Akan tetapi bila

hanya porsi itu yang dipertahankan, maka akan memperlihatkan wajah Islam yang

semata-mata hanya bersifat spiritual, yang dengan sendirinya akan mempersempit

cakrawala pendidikan Islam itu sendiri.


       16Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka
Dasar Operasionalnya, (Cet. I; Bandung : Trigenda Karya, 1993), h. 31
                                                                                              19




        Ajaran Islam tentang amal shaleh yang seringkali digandengkan dengan iman

dalam al-Qur'an diinterpretasikan lebih luas sebagai suatu aktivitas, kreatifitas dan

transfer nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan, maka hal yang penting adalah

menanamkan dinamika berfikir, tanggung jawab, beramal dan pemahaman positif dan

kreatif terhadap qadar Allah swt.17

     2. Dialog kreatif.

        Sebagai jabaran dari terapan ajaran Islam yang integral melalui proses

pendidikan, maka pendidikan Islam aan mampu memnciptakan sosok pribadi yang

mampu berdialog secara kreatif dengan zamannya. Para ahli memberikan berbagai

gelar terhadap masa sekarang ini. Ada yang menyebutnya dengan era globalisasi, era

informasi, dan ada yang menyebutnya dengan post modern. Apapun yang diberikan

pada masa kini, secara umum ditandai dengan era keterbukaan dan era perbenturan

nilai yang demikian pesat dibanding sebelumnya.

        Cita-cita pendidikan adalah untuk membentuk ssok pribadi manusia yang

mampu berdialog kreatif dengan perkembangan zamannya. Dalam pandangan Islam,

fitrah yang dinerikan oleh Allah swt., kepada manusia adalah milik manusia untuk

memberikan otonomi pribadinya. Fitrah tersebut dikembangkan melalui pendidikan

agar mampu menjadi energi kreatif dalam kehidupannya sehari-hari. Aktualisasi

fitrah itu akan menjadi pemisah antara yang haq dan yang bathil. Fitrah manusia yang

teraktualisasikan akan menjadi kekuatan yang berani menghadapi zamannya dan akan


        17   Hasan Langgulung, Kreatifitas dan Pendidikan Islam : Analisis Psikologi dan Falsafah,
(Cet. I; Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1991), h. 369.
                                                                                                 20




mewarnai suasana dimana ia hidup. Tapi dalam saat yang sama ia mampu

mengadopsi nilai-nilai zamannya untuk mengembangkan dan menyuburkan dirinya

sendiri.

     3. Kemandirian.

           Pendidikan kemandirian akan menciptakan kemampuan peserta didik untuk

memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memiliki inisiatif serta prakarsa dan

mampu menyelesaikan masalahnya, sehingga tidak menjadi beban masyarakat dan

beban pembangunan yang kita hadapi sekarang ini.

           Berbagai perkembangan dan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan

teknologi akan mudah diketahui oleh masyarakat. Kecenderungan seperti itu harus

diantisipasi oleh dunia pendidikan jika kita ingin menempatkan pendidikan sebagai

agen pembangunan dan perkembangan yang tidak ketinggalan zaman.

           Islam mengajarkan agar seorang muslim tidak menggantungkan hidupnya

pada orang lain, melainkan berusaha mencari nafkah secara halal tanpa harus

diperhambat oleh gengsi pribadi.             Rasulullah saw., bersabda dalam salah satu

haditnya :

‫ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ, ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻭﻫﻴﺐ, ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻫﺸﺎﻡ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﺑﻴﺮ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‬
‫ﻗﺎﻝ : ﻷﻥ ﻳﺄﺧﺬ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺣﺒﻠﻪ ﻓﻴﺄﺗﻲ ﺑﺠﺰﻣﺔ ﺍﻟﺤﻄﺐ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ ﻓﻴﺒﻴﻌﻬﺎ ﻓﻜﻴﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻬﺎ ﻭﺟﻬﻪ ﺧﻴﺮ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﺴﺄﻝ‬
                                                                                      .‫ﺃﻋﻄﻮﻩ ﺃﻭ ﻣﻨﻌﻮﻩ‬

Terjemahnya :

        "Dari Zubair bin Awwam r.a, ia berkata : berkata Rasulullah saw : jika
        sekiranya salah seorang diantara kamu mengambil tali lalu pergi ke gunung
        mencari kayu kemudian dipikul ke pasar untuk dijual dan dengan itu ia
        menutup air mukanya (kehormatannya), maka hal itu adalah lebih baik dari
                                                                                                  21




        pada meminta-minta, apakah mereka (orang-orang tempat meminta-minta)
        memberinya atau menolaknya".18

        Hadits tersebut di atas harus dipahami secara simbolik, tidak secara harfiah.

Kata "mencari kayu", dipahami sebagai usaha sungguh-sungguh untuk menciptakan

kemandirian dalam menghadapi era keterbukaan ini, tidak bergantung pada orang

lain.

        Azwar, dalam salah satu bukunya yang berjudul Sikap Manusia : Teori dan

Pengukurannya, menjelaskan bahwa :

        Perilaku merupakan niat yang sudah direalisasikan dalam bentuk tingkah laku
        yang tampak. Suatu niat senantiasa didahului oleh pengetahuan tentang suatu
        obyek. Dari sikap tersebut timbullah niat untuk berperilaku.19

        Realisasi niat seseorang menjadi suatu perilaku sangat dipengaruhi oleh

banyak faktor yang terdapat dalam lingkungan. Itulah sebabnya perilaku manusia itu

bersifat deferensial, artinya bahwa suatu stimulus yang sama belum tentu

menimbulkan reaksi yang sama dari individu. Sebaliknya sesuatu yang sama belum

tentu timbul dari akibat stimulus yang serupa.

        Ibn Miskawaih, dalam bukunya Tahdzib Al-Akhlak mengatakan bahwa :

        Bidang pembinaan kader dianggap sebagai bidang yang terbaik ketimbang
        bidang yang lain, yaitu bidang yang difokuskan pada mengarahkan tingkah
        laku manusia agar menjadi baik. Dalam penyusunan tatanan moral, dan dalam
        mengarahkan kesempurnaannya kita dihadapkan pada cara yang alami, yaitu
        dimana kita mengikuti proses alami. Cara tersebut berupa menemukan
        fakultas-fakultas jiwa.20

        18   Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalany, Fath al-Biry bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Jilid III,
(Cet. I; Kairo : Dar al-Rayyam al-Turasi, 1986), h. 101
          19 S. Azwar, Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya, (Yokyakarta : Liberty, 1988), h. 57
          20 Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlak, diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju

Kesempurnaan Akhlak, (Cet. I; Bandung : Mizan, 1994), h. 60
                                                                                                 22




       Rasulullah saw., dalam membina umatnya menunjukkan bahwa pentingnya

arti keteladanan. Pendidik atau guru tidak dapat bergantung sepenuhnya pada

perkataan atau ucapan yang disampaikannya kepada siswa atau anak didik. Perkataan

atau ucapannya akan kehilangan artinya jika tidak selaras dengan sikap dan

perilakunya, karena yang ditangkap atau yang dihayati oleh anak didik adalah seluruh

kepribadiannya. Untuk itu, keteladanan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah

saw., sangat penting artinya khususnya bagi pendidikan Islam, sebagaimana Allah

swt., berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21, sebagai berikut :

            ‫ﻟﻘﺪ ﻛﺎﻥ ﻟﻜﻢ ﻓﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺳﻮﺓ ﺣﺴﻨﺔ ﻟﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﺟﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻭﺍﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺸﻴﺮﺍ‬
Terjemahnya :

       "Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik untuk
       kamu, bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kemudian,
       dan yang banyak mengingat Allah".21

       Ayat di atas menunjukkan kepada umat Islam bagaimana pentingnya

meneladani dan mempraktekkan akhlak Rasulullah saw., dalam kehidupan sehari-

hari. Sebab akhlak Rasulullah saw., merupakan akhlak yang terpuji dan beliau tidak

pernah berbuat cela dalam sejarah kehidupannya sehingga beliau termasuk dalam

kategori kekasih Allah swt.

       Dalam melakukan pembinaan akhlak bukan hanya semata-mata tugas para

pendidik, tetapi menjadi bagian dari tokoh agama dan lembaga keagamaan.

Kompleksitas masalah yang dihadapi oleh anak didik membutuhkan penanganan


       21   Departemen Agama, op.cit., h. 287
                                                                                            23




yang lebih dari satu sudut pandang. Sudah saatnya para tokoh agama dan lembaga

keagamaan mengembangkan kerja sama dengan lembaga pendidikan seperti pondok

pesantren atau lembaga pendidikan yang lainnya yang menangani program

pembinaan mental dan spiritual. Para pendidik dan tokoh agama mengembangkan

wawasan pembinaan yang mencoba memadukan antara misi dan orientasi keagamaan

yang dimiliki dengan pendekatan metodologis baru yang efektif.22

        Hal yang terpenting dari pendidikan akhlak adalah mewajibkan dirinya

melakukan perbuatan baik bagi umum yang senatiasa diperhatikan olehnya dan

dijadikan tujuan yang harus ditempuh. Tujuan-tujuan tersebut banyak dan seseorang

dapat memilih menurut apa yang sesuai dengan keinginannya. Sudah sepantasnya tiap

manusia harus mempunyai bagian dari kepentingan umum. Dengan demikian

tumbuhlah kecintaannya terhadap sesama manusia.23

        Pengajaran akhlak membicarakan nilai suatu perbuatan menurut ajaran agama,

membicarakan sifat-sifat terpuji dan tercela menurut ajaran agama, membicarakan

berbagai hal yang langsung ikut mempengaruhi pembentukan sifat-sifat itu pada diri

seseorang. Secara umum agama Islam telah memperlihatkan contoh dan teladan yang

baik dalam pelaksanaan akhlak itu sendiri, terutama tingkah laku dan perbuatan

Rasulullah saw., sebagai pembawa ajaran yang haq. Rasulullah saw., memang diutus

oleh Allah swt., untuk membina sekaligus menyempurnakan akhlak. Ajaran yang



        22 Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Cet. I; Jakarta : Logos Wacana
Ilmu, 2001), h. 38-39
        23 Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak, (Cet. VIII; Jakarta : Bulan Bintang, 1995), h. 65-66
                                                                                                24




dibawa oleh beliau berisi materi tentang pembentukan bathin setiap orang, sehingga

dengan demikian akan melahirkan sifat-sifat baik dan terpuji yang nampak dalam

bentuk tindakan dan tingkah laku. Bukan hanya Rasulullah saw., yang telah

memberikan contoh perbuatan tersebut, tetapi juga para sahabat beliau dan para

imam-imam mujtahid yang telah memberikan contoh tingkah laku terpuji menurut

ukuran nilai ajaran agama.24

C. Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Islam

         Pendidikan agama Islam disuatu lembaga pendidikan dimaksudkan untuk

menumbuhkan nilai-nilai keislaman secara akademik, kritis, dan rasional sesuai

dengan        al-Qur'an    dan    menurut     pola    yang    dipraktekkan      oleh    Rasulullah

saw.,berpandangan luas, sigap dan tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi. Sehingga keimanan dan ketaqwaannya terhadap Allah swt., teraplikasi

dalam berbagai aspek kehidupan.

         Untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan agama Islam pada

lembaga pendidikan            (pondok pesantren), diperlukan strategi dan pendekatan-

pendekatan yang dapat menyentuh sasaran. Sasaran yang dimaksud adalah sebagai

berikut :

   1. Pendidikan agama Islam yang diajarkan kepada siswa dapat diberikan secara

         holistik dan integrative kedalam seluruh mata pelajaran yang ditempuh oleh

         siswa selama menjalani proses belajar.


         24   Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Cet. I; Bumi Aksara, 1995), h.
70-72.
                                                                                25




   2. Pendekatan kontekstual yang mana pendidikan agama Islam dikembangkan

       dengan memperhatikan situasi, latar belakang makro maupun mikro.

   3. Penyelenggaran pendidikan agama Islam diberikan secara monotolik sebagai

       suatu mata pelajaran yang terpisah dengan mata pelajaran lainnya.

   4. Keseimbangan berfikir deduktif dan induktif perlu dalam pengembangan

       proses belajar mengajar pendidikan agama Islam yang diharapkan dapat

       diciptakan proses belajar yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan

       agama Islam.

       Melalui proses belajar mengajar yang menyelaraskan keseimbangan tersebut,

siswa dapat dilibatkan dalam kegiatan belajar yang memberi pengalaman bagaimana

memperoleh pengetahuan, penanaman sikap dan tingkah laku yang rasional dan

bertanggung jawab secara induktif dan deduktif dalam menyelesaikan suatu tugas.25

       Menurut Muhaimin dalam bukunya Paradigma Pendidikan Islam, mengatakan

bahwa strategi pengembangan pendidikan Islam perlu dijabarkan kedalam beberapa

pendekatan tertentu yaitu sebagai berikut :

     1. Pendekatan pengalaman.

       Pendekatan pengalaman yaitu memberikan pengalaman keagamaan kepada

siswa dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.

     2. Pendekatan Pembiasan.




       25   Nurkholis Madjid, dkk., op.cit., h. 114-115.
                                                                            26




       Pendekatan pembiasaan yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk

senantiasa mengamalkan ajaran agamanya atau akhlakul karimah.

    3. Pendekatan emosional.

       Pendekatan emosional yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi

peserta didik atau siswa dalam meyakini dan memahami serta menghayati akidah

Islam dan memberi motivasi agar siswa ikhlas mengamalkan ajaran agamanya,

khususnya yang berkaitan dengan akhlak.




    4. Pendekatan rasional

       Pendekatan rasional yaitu usaha untuk memberikan peranan kepada rasio

(akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama.

    5. Pendekatan fungsional

       Pendekatan fungsional yaitu usaha menyajikan ajaran agama Islam dengan

menekankan pada segi kemanfaatannya bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari

sesuai dengan tingkat perkembangannya.

    6. Pendekatan keteladanan

       Pendekatan keteladanan yaitu menyuguhkan keteladanan, baik yang langsung

melalui penciptaan kondisi pergaulan antar personal sekolah atau lembaga

pendidikan, perilaku pendidik dan tenaga kependidikan lain yang mencerminkan

perilaku yang baik, maupun yang tidak langsung yaitu melalui suguhan ilustrasi

berupa kisah-kisah keteladanan.26
                                                                                           27




         Berbagai pendekatan tersebut di atas, kemudian dijabarkan kedalam metode-

metode pembelajaran pendidikan agama Islam yang berorientasi pada nilai, yang

pada intinya ada empat metode, yaitu metode dogmatik, deduktif, induktif, dan

reflektif.27

         Pertama, metode dogmatik adalah metode untuk mengajarkan nilai kepada

siswa dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang harus

diterima apa adanya tanpa mempersoalkan hakikat kebaikan dan kebaikan itu sendiri.

         Kedua, metode deduktif adalah cara menyajikan nilai-nilai kebenaran dengan

jalan menguraikan konsep tentang kebenaran itu sendiri agar dapat dipahami oleh

siswa.

         Ketiga, metode induktif adalah sebagai kebalikan dari metode deduktif, yaitu

dalam membelajarkan nilai dimulai dengan mengenalkan kasus-kasus dalam

kehidupan sehari-hari, kemudian ditarik maknanya secara hakiki tentang nilai-nilai

kebenaran yang berada dalam kehidupan tersebut.

         Keempat, metode reflektif merupakan gabungan dari penggunaan metode

deduktif dan metode induktif, yaitu membelajarkan nilai dengan jalan antara

memberikan konsep secara umum tentang nilai-nilai kebenaran, kemudian melihatnya

dalam kasus-kasus kehidupan, atau dari melihat kasus sehari-hari dikembalikan

kepada konsep teoritiknya yang umum.28


         26 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam : Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam
di Sekolah, (Cet. I; Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001), h. 174
         27 Ibid., h. 176
         28 Ibid
                                                                              28




       Dengan demikian selain beberapa unsur penunjang yang telah dipaparkan di

atas, dalam hal ini adalah strategi yang perlu diperhatikan adalah mengenai

metodologi. Metode pengajaran di lembaga pendidikan harus sesuai dengan tuntutan

intelektual para siswa. Dengan memiliki beberapa pengetahuan tentang metode maka

akan mempermudah seorang pendidik dalam proses pembelajarannya. Pendidik juga

akan lebih mudah menetapkan metode mana yang paling sesuai dengan situasi dan

kondisi yang dihadapinya.

       Kreatifitas pendidik sangat diperlukan untuk mengembangkan model

pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Pendidik harus mampu mengaitkan

atau menghubungkan seluruh aspek pembelajaran sehingga sangat berarti bagi siswa.

Selain itu pendekatan-pendekatan dan berbagai metode yang dilaksanakan dalam

proses belajar mengajar di kelas, juga yang terepenting adalah bagaimana siswa

menjadi bagaian yang tidak terpisahkan dari masyarakat secara keseluruhan. Dengan

demikian mereka dituntut untuk selalu terbuka terhadap kenyataan yang berkembang

dalam masyarakat.



D. Aktualisasi Ajaran Islam dan Nilai-nilai Agama

       Islam menghendaki agar manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan

tujuan hidupnya sebgaimana yang telah digariskan oleh Allah swt. tujuan hidup

manusia menurut Allah swt., adalah beribadah kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam

al-Qur'an dalam surat al-Dzariyat ayat 56, sebagai berikut :

                             ‫ﻭﻣﺎ ﺧﻠﻘﺖ ﺍﻟﺠﻦ ﻭﺍﻹﻧﺲ ﺍﻻ ﻟﻴﻌﺒﺪﻭﻧﻰ‬
                                                                                    29




Terjemahnya :

       "dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka
       beribadah kepadaku".29

       Jadi, Allah swt., dalam menciptakan mahluknya dimuka bumi ini adalah untuk

beribadah kepada-Nya. Untuk itu umat manusia diharapkan agar dapat menjadi

hamba yang taat dan bertanggung jawab dengan segala perintah maupun larangan-

Nya.

       Dalam rangka mewujudkan tujuan manusia yaitu beribadah kepada Allah swt.,

maka salah satu cara atau metode yang tepat dilakukan adalah melalui penanaman

pendidikan agama Islam pada semua jenjang pendidikan. Baik dari tingkat Sekolah

Dasar, sampai pada tingkat perguruan tinggi. Hal ini diharapkan agar pendidikan

agama tersebut dapat berpengaruh pada sikap dan tingkah laku seseorang dalam

kehidupannya sehari-hari.

       Unsur terpenting yang akan diaktualisasikan dalam mengembangkan manusia

seutuhnya adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Kedua unsur tersebut

bagaikan dua sisi mata uang yang masing-masing saling membutuhkan dan tidak

dapat berdiri sendiri.

       Adapun wujud aktualisasi keagamaan pada suatu lembaga pendidikan dapat

dipilah pada tiga pilihan yaitu Pertama, dari segi fisik, aktualisasi ajaran dan nilai-

nilai keagamaan atau religi tersebut dalam wujud sarana ibadah, perpustakaan, dan



       29   Departemen Agama R.I., op.cit., h. 453
                                                                                  30




perangkat-perangkat lunak seperti buku-buku dan peraturan-peraturan yang telah

ditetapkan. Kedua, aktualisasi keagamaan atau religi yang dapat dilihat adalah dengan

adanya kegiatan-kegiatan seperti pelaksanaan ibadah shalat jama'ah, proses belajar

mengajar, kursus, dan lain sebagainya. Ketiga, aktualisasi yang maknanya lebih

dalam yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku seperti salam, sapaan, penampilan

(pakaian atau busana).30 Aktualisasi ajaran Islam adalah gerak hidup dalam

pencapaian kualitas kemanusiaan dan perwujudan fungsi-fungsi kekhalifaan yang

diamanatkan Islam kepada umat manusia.

       Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka norma dan etika dalam lembaga

pendidikan seyogyanya dapat ditegakkan oleh lingkungan lembaga pendidikan itu

sendiri yang telah memperoleh pendidikan agama melalui pendidikan agama Islam.

Norma dan etika yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Etos belajar mengajar

   a) Mendukung sepenuhnya kesempatan pengembangan intelektual, fisik, sosial,

       moral dan budaya manusia seutuhnya.

   b) Mendorong aktivitas riset yang mengharumkan institusi atau lembaga

       pendidikan serta berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

   c) Mendorong kreativitas dan bersikap terbuka terhadap berbagai tantangan.

2. Etos keterbukaan

   a) Mengakomodasikan akses untuk siswa yang berprestasi



       30   Nurkholis Madjid, dkk., op.cit., h. 219
                                                                          31




   b) Menunjukkan perilaku yang bersahabat

   c) Menjunjung tinggi toleransi

   d) Menujukkan budi pekerti yang baik dan menikmati kerja




3. Etos sebagai masyarakat madani

   a) Demokratis

   b) Bertanggung jawab

   c) Membina kemitraan

   d) Memperjuangkan standar tertinggi dalam semua usaha

   e) Menujukkan rasa hormat dalam berhubungan satu sama lain dan menolak

       segala bentuk ketidaksopanan

4. Etos pelayanan

   a) Menawarkan kegiatan yang terorganisasi dengan baik dan relevan dengan

       masyarakat

   b) Memperjuangkan komunikasi secara intensif dan terbuka

   c) Pantang berhenti untuk selalu menuju pada standar tertinggi dalam semua

       usaha

   d) Memperjuangkan perubahan dan perbaikan secara terus menerus

   e) Menawarkan program yang terencana dengan baik, konsisten, terkini dan

       berorientasi pada kebutuhan siswa
                                                                                      32




   f) Menjawab kebutuhan masayarakat seraya menjaga standar tertinggi dalam

       semua usaha

5. Etos berkarya positif

   a) Memciptakan suasana yang kondusif pada lingkungan lembaga pendidikan

   b) Mendukung efesiensi dan kerja sama tim

   c) Membina kerja sama dan mencari kualitas terbaik dalam semua aspek

   d) Mensyukuri pencapaian dan meningkatkan komitmen untuk mendukung

       pengembangan intelektual serta menghasilkan pendidikan yang berkualitas

       yang bermanfaat bagi masyarakat.31




                                              BAB III

                                  METODE PENELITIAN


A. Pendekatan Penelitian


       Pendekatan penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah

pendekatan         kualitatif     deskriptif.      Artinya   pemilihan   yang   bertujuan

mendiskripsikan hasil penelitian yang ditemukan oleh penulis dilapangan.

Sehubungan dengan penelitian deskriptif kualitatif ini di kemukakan beberapa

pendapat antara lain, Moleong, mengatakan bahwa penelitian kualitatif sebagai



       31   Nurkholis Madjid, dkk., op.cit., h. 133-134
                                                                                                  33




penelitian yang tidak menggunakan perhitungan.32 Sedangkan Noeng Muhadjir

mengatakan bahwa penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif

merupakan penelitian yang hanya sekedar menggambarkan hasil analisis suatu

variable penelitian.33

        Selanjutnya Imron Arifin dalam bukunya Penelitian Kualitatif Dalam

Ilmu-ilmu Sosial mengatakan bahwa penelitian kualitatif bersifat fleksibel,

terbuka dan dapat dikondisikan berdasarkan lapangan penelitian.34

        Penelitian dengan pendekatan kualitatif dalam tulisan ini didasarkan

pada sasaran yang ingin dicapai yaitu mendiskripsikan tentang implementasi

pendidikan agama Islam terhadap perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.



B. Rancangan Penelitian

        Penelitian ini adalah merupakan penelitian studi kasus dan penelitian

lapangan. Menurut Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar dalam bukunya



          32   Moleong., Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1990), h. 45

          33   Noeng Muhadjir., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Ed. III; Yokyakarta : Rake Sarasin,

1998), h. 21

          34   Imron Arfhan., Penelitian Kualitatif Dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan, (Cet. III;

Malang : Kalimasada Press, 1996), h. 40
                                                                                            34




Metodologi Penelitian Sosial, mengatakan bahwa penelitian kasus dan

penelitian lapangan bermaksud mempelajari secara intensif tentang latar

belakang keadaan sekarang, interaksi sosial, individu, kelompok, lembaga dan

masyarakat.35

        Variabel utama dalam penelitian ini adalah implementasi pendidikan

agama Islam terhadap perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.



C. Lokasi Penelitian/Kehadiran Peneliti

      1. Lokasi Penelitian


        Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah, terletak di Kabupaten Donggala,

desa Ngata Baru Kelurahan Biromaru Palu merupakan salah satu wilayah daerah

tingkat I Sulawesi Tengah.

        Dipilihnya Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah sebagai lokasi penelitian

skripsi ini didasarkan beberapa alasan, diantaranya adalah :

    a. Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah memiliki beberapa orang guru agama

        yang dapat dijadikan objek-objek penelitian, terutama meneliti tentang




          35Husaini   Usman dan Purnomo Setiadi Akbar., Metodologi Penelitian Sosial, (Cet. IV;

Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2003), h. 4
                                                                                35




        implementasi pendidikan agama Islam terhadap perilaku siswa di Pondok

        Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biroamaru Palu.

   b. Siswa Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah seluruhnya beragama Islam,

        yang     juga    memiliki   perilaku   yang    beraneka    ragam     dalam

        mengimplementasikan materi pendidikan agama Islam. Kondisi ini tentu

        memberikan satu objek penelitian yang jelas tentang implementasi pendidikan

        agama Islam terhadap perilaku siswa di Pondok Pesantren Modern Al-

        Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

        Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu dapat

dijangkau oleh kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Pada lokasi inilah

berdiri beberapa bangunan antara lain adalah masjid, gedung perpustakaan, gedung

laboratoruim fisika dan biologi, gedung keterampilan, bangunan/gedung tempat

belajar santri atau siswa.

        Di samping bangunan permanen sekolah untuk para santri, juga terdapat

gedung sebagai kantor dan sekaligus sebagai tempat dewan guru yang dipergunakan

sebagai tempat administrasi ketatausahaan maupun tempat permanen dengan para

tamu. Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu memiliki

dua buah Koperasi Pelajar (Kopel), dan satu Warung Pelajar masing-masing dikelola

oleh Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu.

     2. Kehadiran Peneliti
                                                                                36




          Penulis sebagai peneliti yang juga bertindak sebagai instrumen penelitian

sekaligus sebagai pengumpul data. Dalam melakukan penelitian, penulis bertindak

sebagai      pengamat     penuh    yang    mengamati     perilaku   siswa    dalam

mengimplementasikan materi pendidikan agama Islam di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu. Para informan yang akan diwawancarai

oleh penulis akan diupayakan mengetahui keberadaan penulis sebagai peneliti,

sehingga dapat memberikan informasi yang valid.



D. Sumber Data

          Jenis data yang akan dikumpulkan oleh penulis dalam penelitian ini

terbagi dalam dua jenis, yaitu :

1. Data kepustakaan, yaitu : data yang diperoleh dari literatur seperti buku,

   majalah, dan lain sebagainya. Karakteristik data kepustakaan yang

   dikumpulkan dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu :

   a. Data primer, yaitu : literatur yang membahas tentang implementasi

      pendidikan agama Islam terhadap perilaku siswa di Pondok Pesantren

      Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

   b. Data sekunder, yaitu : literatur lain yang mendukung penelitian ini

      seperti kamus-kamus, buku-buku yang membahas tentang perilaku

      siswa atau santri dalam mengimplementasikan materi pendidikan agama

      Islam, dan lain sebagainya.
                                                                           37




2. Data lapangan, yaitu : data yang diperoleh dari hasil penelitian penulis di

   lokasi penelitian. Karakteristik data lapangan yang dikumpulkan dapat di

   kategorisasikan dalam dua jenis, yaitu :

   a. Data primer, yaitu : data lapangan yang mengungkapkan tentang

      perilaku santri atau siswa dalam mengimplementasikan materi

      pendidikan agama Islam di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

      Ngata Baru Biromaru Palu, terutama yang diperoleh dari informan, yaitu

      satu orang Pimpinan Pondok yang sekaligus sebagai Kepala Madrasah

      Tsanawiyah (MTs), satu orang Kepala Madrasah Aliyah dan beberapa

      orang guru bidang studi pendidikan agama Islam, satu orang bagian Tata

      Usaha, dan beberapa orang siswa.

   b. Data Sekunder, yaitu : data lapangan lain yang mendukung penelitian ini

      seperti sejarah berdirinya Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

      Baru Biromaru Palu, keadaan sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.




E. Tehnik Pengumpulan Data

      Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu dengan

menggunakan metode sebagai berikut :
                                                                         38




1.   Observasi ; yaitu penulis melakukan pengamatan langsung pada lokasi

     penelitian yaitu pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

     Biromaru Palu, menyangkut keadaan sarana dan prasarana pendidikan dan

     lain sebagainya.

2.   Interview ; yaitu penulis melakukan wawancara dengan beberapa

     informan yang dapat memberikan data, seperti Pimpinan Pondok

     Pesantren yang sekaligus sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs)

     atau Kepala Madrasah Aliyah dan beberapa orang dewan guru.

3.   Dokumentasi ; yaitu penulis mengumpulkan data dari beberapa dokumen-

     dokumen penting, seperti papan monografi dan arsip-arsip lain yang

     mendukung kelengkapan data penelitian ini.



F. Tehnik Analisis Data

     Data yang di kumpulkan kemudian diolah dan dianalisis dengan langkah-

lagkah sebagai berikut :

1.   Reduksi data, yaitu penulis merangkum beberapa data dan keterangan

     yang dianggap penting untuk dianalisa, kemudian dimasukkan kedalam

     pembahasan ini. Artinya, tidak semua data dan keterangan yang diperoleh

     masuk dalam kategori pembahasan ini.
                                                                            39




2.   Penyajian data, yaitu penulis memperoleh data dan keterangan dari objek

     yang bersangkutan, kemudian disajikan untuk dibahas guna menemukan

     kebenaran-kebenaran yang hakiki.

3.   Verifikasi data, yaitu penulis membuktikan kebenaran data yang diperoleh

     dengan tujuan menghindari adanya unsur subjektifitas yang dapat

     mengurangi bobot kualitas skripsi ini. Artinya, data dan keterangan yang

     diperoleh dapat diukur melalui responden yang benar-benar sebagai pelaku

     atau sekurang-kurangnya memahami terhadap masalah yang diajukan.




G. Pengecekan Keabsahan Data

       Pengecekan kebsahan data dimaksudkan disini adalah untuk menjamin

validitas data yang dikumpulkan, sehingga hasil penelitian ini dapat

dipertanggung jawabkan secara objektif dan ilmiah. Dalam penelitian

kualitatif, keabsahan atau validitas data tidak diuji dengan metode statistik,

melainkan dengan analisis kritis kualitatif.

       Adapun tehnik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah melalui cross check atau cek silang antar data, baik dari

sumber yang sejenis maupun dari jenis sumber lain. maka data yang bersumber
                                                                           40




dari hasil wawancara dengan seorang informan, misalnya dikronfontasikan

dengan data dari informan lain. Ini yang dimaksud dengan cek silang antar data

dari sumber yang sejenis.

      Sedangkan cek silang antar data dari sumber yang tidak sejenis,

misalnya data dari seorang informan dikonfrontasikan dengan data hasil

observasi, atau data yang bersumber dari dokumentasi. Dengan demikian,

validitas sebuah data sangat ditentukan oleh dukungan data lain, terutama dari

sumber data primer dan atau paling tidak didukung oleh data sekunder.




                                  BAB IV

                            HASIL PENELITIAN




A. Gambaran Umum Pondok Pesantren Modern Al-
Istiqomah Ngata Baru
   Biromaru Palu Kabupaten Donggala.
                                                                           41




    1. Sejarah Singkat

      Lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru didirikan bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan

Nasional tanggal 2 Mei 1993 M/10 Zulhijjah 1413 H, diatas tanah wakaf seluas

kurang lebih 8 h.a., yang berlokasi di desa Ngata Baru Kecamatan Sigi

Biromaru Daerah Tingkat II Kota Madya Palu Provinsi Sulawesi Tengah.

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah ini dibangun sebagai upaya

mengantisipasi situasi dan kondisi yang terjadi di tengah masyarakat yang kian

hari kian jauh dari nilai kehidupan dan kultur budaya Islam, karena terhalang

oleh kehidupan yang materialistis, individualistis, kultur budaya yang serba

nisbi dan pergaulan bebas yang melanda sebahagian besar generasi muda

Islam. Di samping untuk mendidik dan membina para generasi muda Islam

dengan dasar iman dan taqwa agar mereka memiliki mentalitas yang kuat dan

kedalaman spiritual serta kehandalan dibidang ilmu pengetahuan dan

keterampilan sehingga mereka siap tampil sebagai muslim yang mujahhid

untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini.




      Dalam proses pendirian Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru, sangat nampak bahwa lembaga tersebut dibangun dengan landasan
                                                                             42




keikhlasan beramal semata untuk menegakkan ilmu pengetahuan karena

dengan modal satu bangunan kecil yang terbuat dari papan dengan jumlah awal

santri sebanyak 52 orang dan seorang Kyai yaitu Bapak Drs. K. H. M. Arief

Siraj, Lc, dimulailah aktivitas lembaga pendidikan ini. Oleh karena itu, banyak

masyarakat yang kurang merespon atau kurang mempercayai bahkan sampai

tidak mengenal kehadiran lembaga pendidikan ini, karena letaknya yang

terbilang sangat jauh dan terpencil di lembah kota Palu yang hiruk-pikuk, di

semak-semak belukar kurang lebih 14 KM ke arah timur laut Kota Palu,

dengan radius sekitar 4 KM dari perumahan penduduk, baik itu penduduk

kelurahan Petobo, maupun kelurahan Kawatuna.

      Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru langsung dipimpin

oleh pendirinya sendiri yaitu Drs. K. H. M. Arief Siraj, Lc, seorang putra Bugis

Barru Sulawesi Selatan kelahiran Desa Sabang Kabupaten Donggala tanggal

13 Juni 1955 dengan berlatar pendidikan Sekolah Dasar Tamat tahun 1967,

Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Gontor Ponorogo selama enam

tahun, tamat tahun 1978, kemudian melanjutkan pendidikannya pada Institut

Pendidikan Darussalam (IPD) Fakultas Ushuluddin tamat tahun 1982, lalu

kemudian melanjutkan studi ke Cairo Mesir selama tiga tahun dan berhasil

mendapat gelar Lc tahun 1985, kemudian menyelesaikan sarjana (Drs) pada

Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palu dan selesai pada tahun 1990.
                                                                                 43




       Pendiri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru juga aktif dalam

berbagai kegiatan pembinaan keagamaan melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan

dan pemerintah, oleh sebab itu beliau diangkat menjadi salah seorang tenaga pengajar

(Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Departemen Agama Kabupaten Donggala,

namun karena jiwa santrinya yang amat begitu kental, maka beliau kembali

membangun Pondok Pesantren Nurul Falah bersama dengan Prof. H. Ishak Arief,

S.E., di kelurahan Kawatuna dan beliau membina sekaligus menjadi pendidik di

lembaga pendidikan tersebut selama kurang lebih empat tahun, yaitu dari tahun 1988

sampai dengan tahun 1993. namun dengan semangat kemandirian dan keikhlasan

untuk membina ummat Islam di Provinsi Sulawesi Tengah ini, khususnya di Kota

Palu, maka beliau berusaha mendirikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru pada tahun 1993, beliau membeli tanah seluas 12.750 m2 dengan harga

tanah saat itu Rp. 250.000. pada tahun yang sama dimulailah peletakan batu pertama

dengan membangun bak air berkat respon dari berbagai kalangan masyarakat

terutama pemerhati lembaga pendidikan ini, maka beliau berhasil mendirikan Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah yang terletak di Desa Ngata Baru Kecamatan Sigi

Biromaru Kabupaten Donggala Kota Madya Palu provinsi Sulawesi Tengah.

       Lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” ini

dinamakan “Al-Istiqomah”, karena berlatar belakang dari ketetapan hati sang

Kyai untuk mendirikannya, sebab pada waktu mendirikan lembaga ini, sang

Kyai mendapat ujian dan tantangan yang begitu kuat, baik dari segi deraan
                                                                            44




material maupun deraan masyarakat yang belum memberikan respon yang

baik, belum lagi dari faktor lain khususnya dari dalam keluarga, namun karena

tekad bulat dan didukung oleh kesabaran, akhirnya Allah swt., mengabulkan

do’a sang Kyai, hingga akhirnya lembaga pendidikan Pondok Pesantren

Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru Biromaru memiliki santri atau siswa dari

berbagai provinsi di Indonesia.

     2. Sarana dan Prasarana Pendidikan

       Mengenai masalah sarana dan prasarana di Pondok Pesantren Modern “Al-

Istiqomah” Ngata Baru Biromaru, pada dasarnya sebagaimana yang terdapat pada

lembaga pendidikan lainnya termasuk pula pada lembaga pendidikan formal seperti

masalah gedung, ruang pembelajaran, kantor, dan lain sebagainya.

       Untuk lebih jelasnya, keadaan sarana dan prasarana di Pondok

Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru Biromaru, dapat dilihat pada

tabel I berikut ini :
                                                                  45




                                TABEL I
                Keadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
     Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru Biromaru
                             Tahun 2005/2006
NO    JENIS RUANG/GEDUNG             UNIT      LOKAL       KET
     Rumah Pimpinan Pondok             1          -
     Rumah Guru                        2          -
     Asrama Santri (Putra)             3          8
     Asrama Santri (Putri)             4         10
     Ruangan Belajar                   4         17
     Ruang Keterampilan                1          1
     Ruang Perpustakaan                1          1
     Ruang Laboratorium                1          1
     Komputer
     Ruang Laboratorium IPA            1          1
     Ruang Kantor TMI                  1          1
     Ruang Bendahara                    -         1
                                                                             46




       Ruang Guru                                  -             3
       Ruang BK                                    -             1
       Ruang                                       -             1
       Sekertaris/Administrasi
       Masjid                                      1             1
       Dapur Umum                                  1             1
       Koperasi Pelajar (Putra)                    1             1
       Koperasi Pelajar (Putri)                    1             1
       Cafetaria (Kantin) Santri                   1             1
       Putra
       Cafetaria (Kantin) Santri Putri             1             1
       Ruang Makan Santri                          1             2
       Kamar Mandi/WC Santri                       3            14
       Putra
       Kamar Mandi/WC Santri                       3            12
       Putri
       Kamar Mandi /WC Guru                        -             4
       Ruang Genset/Diesel                         1             1
       Lapangan Volly Ball                         -             2
       Lapangan Basket                             -             1
Sumber Data : Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru tahun 2006
                                                                        47




    3. Keadaan Guru dan Santri

      a. Keadaan Guru

      Mengenai keadaan guru (pendidik), penulis mencari data melalui

wawancara kepada Pimpinan Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata

Baru Biromaru, disela waktu istirahatnya, beliau mengatakan :

      Bahwa para pendidik (guru) di Pondok Pesantren Modern “Al-
      Istiqomah” Ngata Baru Biromaru adalah guru-guru yang mukhlisin,
      yang berasal dari berbagai daerah dengan disiplin ilmu masing-masing,
      jumlahnya orang, mereka adalah lulusan dari Pondok Modern Gontor
      Ponorogo, Institut Pendidikan Darussalam Gontor, Universitas Al-
      Azhar Kairo, LIPIA Jakarta, IAIN Makassar, Universitas Tadulako,
      STAIN Datokarama Palu, Universitas Muhammadiyah Palu, dan dari
      Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” (alumni), dan yang sedang
                                                                                               48




        dalam masa proses pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi yang ada
        di Kota Palu.36


        Untuk lebih jelasnya keadaan guru di Pondok Pesantren Modern “Al-

Istiqomah” Ngata Baru Biromaru, dapat dilihat pada tabel II, sebagai berikut :




                                           TABEL II
                                         Keadaan Guru
        Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru Biromaru
                                 Tahun Pelajaran 2005/2006




         36   Drs. K. H. M. Arief Siraj, Lc., Pimpinan Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata

Baru Biromaru, Wawancara, Pondok Pesantren Modern ‘Al-Istiqomah” Ngata Baru Biromaru, tanggal

24 April 2006
                                                                                    49




No
            Nama Guru           L/P      Pend. Terakhir            Jabatan        Ket

1    Drs.K.H.M Arif Siraj, Lc   L     S1 Ushuluddin/Akfil    Pimpinan Pondok

2    Sa’ad Ibnu Taba            L     D2 LIPIA               Direktur TMI

3    Sahri, S.Pd                L     S1 Matematika          Kepala MA

4    Suharno, S.Pd.I            L     S1 Bahasa Arab         Sekertaris

5    Budiyono, S.Pd.I           L     S1 Pend. Agama Islam   Ketua P4

6    Sofyan, S.Pd.I             L     S1 Pend. Agama Islam

7    Mursyidin, S.Pd.I          L     S1 Pend. Agama Islam

8    Budiyanto, S.Pd.I          L     S1 Bahasa Arab         Pengelola Lab. IPA

9    Rusdin Ibrahim, S.Ag       L     S1 Bahasa Arab         Mabikori Pramuka

10   Amran Azali, S.Pd.I        L     S1 Pend. Agama Islam   Pengurus BK

11   Arianto Marewangi, S.Ag    L     S1 Dakwah/KPI

12   Arman Ibrahim, S.Pd.I      L     S1 Pend. Agama Islam

13   Andi Supardi               L     KMI Gontor             Wali Kelas IV Fb

14   Ridwan, S.Pd               L     S1 Kimia

15   Abd. Haris Fathan, S.Pd    L     S1 STIKIP/Akuntansi    Peng. Perpustakaan

16   M. Yusuf Hasan, SP         L     S1 Pertanian           Peng. Lab IPA

17   Zulkarnain                 L     TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas III Mb

18   Musawir                    L     TMI Al-Istiqomah

19   Raslim Islamuddin          L     TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas I Int

20   Syamsul Bahri              L     TMI Al-Istiqomah

21   Faisal Ali Al-Katiri       L     KMI Gontor             Peng. Harian TMI
                                                                              50




22   Taufiq Ruslan Al-Farisi   L   KMI Gontor             Mabikori Pramuka

23   Zackriadi Zain            L   KMI Gontor             Wali Kelas IV Mb

24   Lukman, SP                L   KMI Gontor             Peng. Harian TMI

25   Adi Prayitno              L   TMI Al-Istiqomah       Peng. Harian TMI

26   Nur Alam                  L   TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas II Mc

27   Muhbar Nontji             L   TMI Al-Istiqomah

28   Affan                     L   TMI Al-Istiqomah       Bendahara

29   Ismar                     L   TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas I Mb

30   Ibnu Katsir               L   TMI Al-Istiqomah       Bendahara

31   Usman                     L   TMI Al-Istiqomah

32   Syahdan                   L   TMI Al-Istiqomah       Bendahara

33   Syarifuddin               L   TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas I Mc

34   Fandi M. Badwi            L   TMI Al-Istiqomah

35   Marzuki                   L   TMI Al-Istiqomah

36   Ma’sumah, S.Pd.I          P   S1 Pend. Agama Islam

37   Kartin, S.Pd.I            P   S1 Pend. Agama Islam

38   Neni, S.Pd.I              P   S1 Pend. Agama Islam

39   Fatmawati, S.Pd.I         P   S1 Pend. Agama Islam

40   Ronawati                  P   TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas II Fb

41   Asna Askar                P   TMI Al-Istiqomah

42   Marlia                    P   TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas III Fb

43   Munira                    P   TMI Al-Istiqomah

44   Dwi Handayani             P   TMI Al-Istiqomah       Wali Kelas II Fc
                                                                                   51




 45    Rahmin Abbas               P      TMI Al-Istiqomah

 46    Aisyah                     P      TMI Al-Istiqomah      Wali Kelas I Fc

 47    Irma MAulina               P      TMI Al-Istiqomah      Wali Kelas I Fb

 48    Mirna Kurni Vellianti      P      TMI Al-Istiqomah

 49    Fatmawati Alim             P      TMI Al-Istiqomah

 50    Musyrifah                  P      TMI Al-Istiqomah

Sumber Data : Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru tahun 2006




        b. Keadaan Siswa/Santri


        Santri atau siswa Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

secara keseluruhan berjumlah 485 yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini,

sebagai berikut :

                                         TABEL III
                                       Keadaan Santri
                Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru
                                 Tahun Pelajaran 2006


                                JUMLAH SANTRI
 NO        KELAS               LAKI-        PEREMPUAN            JUMLAH          KET
                               LAKI
  1    I                   98    orang         64    orang      162 orang
                                                                                    52




  2     I (Intensive)      10 orang           4    orang        14     orang
  3     II                 65 orang           47 orang          112 orang
  4     III                39 orang           38 orang          77     orang
  5     III                1    orang         5    orang        6      orang
        (Intensive)
  6     IV                 31 orang           33 orang          64     orang
  7     V                  11 orang           11 orang          22     orang
  8     VI                 9    orang         17 orang          26     orang
 JUMLAH TOTAL
                                                                485 orang

Sumber Data : Pondok Pesantren Modern “Al-Istiqomah” Ngata Baru tahun 2006



        Menurut penulis, perbandingan jumlah pendidik (guru) dan siswa/santri pada

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru sudah memadai. Seorang guru

rata-rata mengajar siswa/santri setiap kelas diusahakan menampung santri dalam

jumlah yang tidak terlalu banyak. Pengaturan ini tentu sangat membantu kelancaran

kegiatan proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru.

        Ust. Suharno, S.Pd.I, salah seorang staf pengajar di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru, mengatakan bahwa :

        “Dalam satu ruang kelas, kami selalu menjaga jangan sampai ruang kelas
        tersebut terlalu padat. Kelas yang paling banyak menampung jumlah siswa
        atau santri adalah kelas III dan kelas I dengan jumlah 231 orang santri, dengan
        demikian guru dapat mengawasi keseluruhan santri sewaktu mengajar”37
                                                                                            53




B. Analisis Tentang Pemahaman Siswa Terhadap Pendidikan Agama Islam
   Di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

        Dalam uraian latar belakang masalah dikatakan bahwa mata pelajaran

pendidikan agama Islam yang wajib diikuti oleh seluruh siswa atau santri. Akan tetapi

materi pendidikan agama Islam memiliki cakupan yang begitu luas. Oleh karena itu

kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler sangat diperlukan dan dibutuhkan

dalam mendukung teori-teori yang telah dipelajari.

        Pemahaman siswa terhadap pendidikan agama Islam sangat terkait dengan

berbagai unsur-unsur penunjang seperti keberadaan dan kualifikasi tenaga pengajar,

proses belajar mengajar, materi pendidikan agama Islam, literatur pendidikan agama

Islam yang tersedia, dan metode pengajaran yang digunakan dalam pembelajaran,

serta berbagai unsur penunjang lainnya.

        Untuk mengetahui bagaimana tingkat pemahaman siswa tau santri pada

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu terhadap mata

pelajaran pendidikan agama Islam dapat dilihat dari beberapa unsur, diantaranya

tenaga pengajar (guru) yang memberikan materi pelajaran apakah telah sesuai dengan

disiplin ilmunya atau tidak. Sebab latar belakang disiplin keilmuan seorang guru

cukup menentukan dalam proses pembelajaran.




         37   Ust. Suharno, S.Pd.I, Wawancara, Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru,

tanggal 25 April 2006
                                                                                    54




         Berikut ini disajikan tanggapan para responden dalam tabel frekuwensi,

sebagai berikut :

                                     TABEL IV
                      Tanggapan Para Siswa/Santri Terhadap Guru
                         Yang Sesuai Dengan Disiplin Ilmunya

                                             Frekwensi
 No          Tanggapan Responden                                   Porsentase (%)
                                              (Orang)
 1       Sesuai                          43 Orang                 72 %
 2       Ragu-ragu                       12 Orang                 20 %
 3       Tidak Sesuai                    5 Orang                  8 %
                Jumlah                   60 Orang                 100 %
Sumber Data : Item No. 1

         Pembelajaran pendidikan agama Islam pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu telah dilaksanakan dengan baik. Dimana guru

yang mengajar tersebut telah sesuai dengan disiplin keilmuannya. Hal ini dapat

dilihat pada tabel di atas, dari 60 orang responden, 43 orang atau 72 % mengatakan

bahwa guru yang mengajar pelajaran pendidikan agama Islam telah sesuai dengan

disiplin ilmunya. Dan yang menyatakan ragu-ragu sebanyak 12 orang atau sebesar 20

%. Sementara sisanya yaitu sebanyak 5 orang atau sebesar 8 % yang menyatakan

tidak.

         Titik kunci keberhasilan pengajaran pendidikan agama Islam terletak pada

siswa atau santri dan pengajar atau guru dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan

hal tersebut, menurut Ust. Sa'ad Ibnu Taba yang mengatakan bahwa :

         Kegiatan proses belajar mengajar pada Pondok Pesantren Modern Al-
         Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu telah memenuhi standarisasi jika dilihat
         dari aspek di atas. Dari segi mutu pengajar atau guru dapat dikatakan telah
         terpenuhi dengan baik, karena kebanyakan dari para pengajar atau guru telah
         berpendidikan Strata satu (S1).38
                                                                                               55




        Pada umumnya guru pendidikan agama Islam berasal dari berbagai disiplin

ilmu, sehingga dengan demikian mata pelajaran pendidikan agama Islam merupakan

keahlian kedua yang perlu dikembangkan.

        Di samping kualifikasi para tenaga pengajar yang ada, dalam hal ini adalah

peningkatan profesionalisme, para guru diberi berbagai kesempatan untuk mengikuti

berbagai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan profesionalisme

dalam pengajaran diantaranya adalah mengikuti pelatihan-pelatihan, seminar dan lain

sebagainya. Oleh karena itu mata pelajaran pendidikan agama Islam merupakan mata

pelajaran afektif, untuk itu pengajar atau guru sangat dituntut memiliki keterampilan

khusus dalam proses belajar mengajar.

        Dalam hal efektifitas pengajaran pendidikan agama Islam di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Palu telah berjalan dengan baik karena

para guru yang mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam tersebut adalah

mereka yang telah memiliki spesialisasi dan keahlian di bidang tersebut. Kualifikasi

pendidikan dan keahlian para guru sangat berpengaruh terhadap peningkatan

pemahaman siswa atau santri dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut dapat

dilihat pada tabel dibawah ini, sebagai berikut :

                                  TABEL V
      Tingkat Pemahaman Siswa/Santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah



        38   Ust. Sa'ad Ibnu Taba, Direktur TMI, Staf Pengajar Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru, Wawancara, tanggal 24 April 2006.
                                                                                    56




                    Terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

                                            Frekwensi
 No         Tanggapan Responden                                    Porsentase (%)
                                             (Orang)
 1     Faham                            19 Orang                31, 7 %
 2     Sangat Faham                     32 Orang                53, 3 %
 3     Tidak Faham                      9 Orang                 15    %
              Jumlah                    60 Orang                100 %
Sumber Data : Item No. 4

        Pada tabel di atas tampak bahwa tingkat pemahaman siswa atau santri pada

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu terhadap

pembelajaran pendidikan agama Islam cukup menonjol, terbukti sebanyak 32 orang

atau 53, 3 % menjawab sangat paham. Sedangkan yang menjawab paham sebanyak

19 orang atau 31,7 %, dan yang menjawab tidak paham sebanyak 9 orang atau 15 %.

        Pemahaman siswa terhadap pembelajaran pendidikan agam Islam terkait

dengan materi-materi yang disajikan oleh para guru. Uraian materi pendidikan

agaman Islam diberikan secara intergral dan terbuka, sehingga para siswa atau santri

tidak terjebak dalam pemahaman yang sempit dan kaku. Misalnya dalam memahami

kisah-kisah dalam al-Qur'an dan hadits diselaraskan dengan pemikiran modern.

Mengenai kisah-kisah masa lalu yang terdapat dalam al-Qur'an, selain diartikan

sebagai pelajaran sejarah, mereka memahaminya secara kontekstual yang mengarah

pada aktualisasi pemahaman ajaran Islam. Kisah kaum nabi Luth, misalnya yang

binasa disebabkan karena praktek homoseksual dan praktek lesbian, sebagaimana

yang disebutkan dalam surah al-Anbiyaa ayat 74 dikaitkan dengan berjangkitnya

penyakit AIDS yang kini menjadi momok bagi seluruh umat manusia di dunia ini.
                                                                                               57




        Selain dari pemahaman yang didapatkan melalui tatap muka di kelas, juga ada

sumber belajar yang lain yang dapat mengembangkan pemahaman siswa atau santri

yaitu kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakurikuler. Menurut salah seorang tenaga

pengajar di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru, Ust. Budiyono,

S.Pd.I sehubungan dengan hal tersebut di atas mengatakan bahwa :

        Kajian-kajian rutin yang kami laksanakan ini sangat bermanfaat dan
        diharapkan dapat memberi nilai tambah, baik bagi para guru maupun bagi
        siswa atau santri itu sendiri. Sebab disini kami banyak mendapatkan praktek-
        praktek pelajaran agama dan pengembangan intelektual.39

        Perkembangan pemahaman keagamaan siswa atau santri yang dapat diamati

berkaitan erat dengan kualitas wawasan yang mereka miliki serta masukan yang

mereka terima dari berbagai sumber belajar.

        Namun dalam pengembangan pemahaman dan intelektual tersebut seharusnya

sejalan dengan perilaku seseorang yang berlandaskan ajaran agama Islam. Tetapi hal

inilah yang sulit ditemukan dalam diri siswa atau santri. Hanya segelintir saja siswa

atau santri yang mampu menyelaraskan antara tingkat pemahaman mereka dengan

perilaku positif, sebab banyak ditemukan diantara siswa atau santri yang tingkat

intelektualnya tinggi, namun akhlak dan moralnya bobrok. Fenomena seperti ini

banyak terjadi di lembaga-lembaga pendidikan, baik yang bersifat umum maupun

yang bersifat swasta.




        39   Ust. Budiyono, S.Pd.I, Staff Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu, Wawancara, tanggal 25 April 2006.
                                                                                         58




        Begitu berartinya kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tersebut bagi siswa

sehingga setiap penerimaan santri baru, kajian-kajian keislaman ini wajib

diperkenalkan dan wajib pula siswa atau santri mengikutinya. Berbagai kajian yang

dilaksanakan oleh para siswa atau santri senior dan para tenaga pengajar atau guru

pembina yang telah ditugaskan dalam pelaksanaan kegiatan ini.

        Akan tetapi setelah proses pembelajaran berlangsung dan kegiatan ekstra

lainnya juga merebak, sebagian perhatian siswa atau santri lainnya tertuju pada

kegiatan-kegiatan tersebut. Hal ini sesuai dengan penyataan seorang siswa,

Mohamaad Ikhsan, mengatakan bahwa :

        Setelah kegiatan-kegiatan tersebut berjalan sekian bulan, minat dan perhatian
        siswa atau santri terhadap kajian-kajian keislaman lambat-laun mulai
        berkurang, bahkan ada diantara para guru yang membina kajian ini tidak lagi
        memberikan respon lagi kepada kami.40

        Menurut hemat penulis, sikap sebahagian siswa atau santri dan pengajar atau

guru seperti itu disebabkan oleh adanya pengaruh-pengaruh yang timbul dari

kalangan siswa atau santri itu sendiri. Mialnya, ada sebahagian anggota kajian ini

dalam memahami ajaran Islam secara tekstual dan terlalu ekstrim. Akibatnya ada

yang telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Kelompok-kelompok

ekstrim yang masuk adalah kelompok sempalan. Terkadang mereka juga banyak

menimbulkan masalah-masalah yang menyebabkan hubungan antara sesama siswa




        40   Mohammad Ikhsan, Siswa/Santri Kelas II MTs Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, tanggal 26 April 2006.
                                                                                59




atau santri menjadi tidak harmonis. Dalam artian bahwa mereka terlalu mengisolasi

diri sehingga betul-betul nampak jarak diantara mereka.

       Berdasarkan hasil wawancara dan penelitan yang penulis lakukan dengan

beberapa orang siswa atau santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu, dapat dilihat bahwa tingkat pemahaman siswa atau santri terhadap

pembelajaran pendidikan agama Islam cukup baik, hal tersebut disebabkan karena

dikalangan siswa atau santri banyak yang berlatar belakang pendidikan Madrasah

Aliyah, serta dari lingkungan keluarga yang agamis.

       Khusus mata pelajaran pendidikan agama Islam kiranya perlu penambahan

jumlah tenaga pengajar untuk lebih efektif dan efesiennya mata pelajaran ini. Sebab

tidak menutup kemungkinan ada diantara pengajar atau guru pendidikan agama Islam

yang tidak dapat menyelesaikan materinya mengingat tugas mengajarnya yang cukup

padat. Hal tersebut dapat berdampak buruk terhadap para siswa atau santri. Karena

tidak semua siswa atau santri aktif dalam organisasi atau pada kajian-kajian

keislaman. Masih ada sebahagian dari siswa atau santri yang hanya mengandalkan

tatap muka di kelas saja tanpa mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi yang bersifat

ekstrakurikuler. Bahkan ada diantara mereka yang beranggapan bahwa jika terlalu

banyak mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra nantinya akan menghambat dan

memperlambat studi mereka. Golongan ini memang hanya mengandalkan tatap muka

di kelas dan belajar sendiri-sendiri atau belajar secara otodidak. Dengan

memperhatikan penyataan tadi, dapatlah dipahami bahwa kehadiran dan keaktifan

pengajar atau guru dalam proses belajar mengajar sangatlah diharapkan.
                                                                                             60




        Sehubungan dengan hal tersebut di atas, salah seorang tenaga pengajar Ust.

Rusdin Ibrahim, S.Ag mengatakan bahwa :

         Keaktifan guru atau pengajar dan kehadiran siswa atau santri dalam kegiatan
         proses belajar mengajar sangatlah ditekankan, sebab kehadiran siswa atau
         santri nantinya akan menentukan kelulusan mereka sendiri tentunya.41

        Penekanan para guru seperti yang telah dipaparkan di atas, pada dasarnya

cukup berpengaruh terhadap siswa atau santri. Hanya saja sikap dan perilaku yang

mereka tunjukkan terkadang tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari, unsur

nilai-nilai dan unsur moralitas dirasakan masih kurang, sehingga banyak dikalangan

mereka melakukan penyimpangan-penyimpangan.


C. Analisis Tentang Implementasi Pendidikan Agama Islam dan Pengaruhnya
   Dalam Pembentukan Perilaku Siswa Pada Pondok Pesantren Modern
   Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

        Keberadaan pelaksanaan pendidikan agama Islam tidak hanya dipandang

sebagai suatu mata pelajaran yang sama dengan mata pelajaran lainnya. Akan tetapi

pelaksanaan pendidikan agama Islam harus dipandang secara luas sebagai suatu mata

pelajaran yang memiliki jangkauan luas. Akhlak dan perilaku merupakan tujuan

utama dari pelaksanaa pendidikan agama Islam.

        Dengan demikian pelaksanaan pendidikan agama Islam harus menjadi sumber

inspirasi etika, moral, dan spiritual yang dapat menangkal berbagai perubahan sosial




        41   Ust. Rusdin Ibrahim, S.Ag, Staff Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, tanggal 26 April 2006.
                                                                                  61




budaya bangsa yang memiliki aspek negatif sebagai akibat dari kemajuan teknologi

informasi.

       Untuk membuktikan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam pada

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu telah

dilaksanakan sebagaimana mestinya, terutama yang digolongkan kepada tiga aspek,

yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Berikut ini akan dibahas

beberapa variabel-variabel tentang pelaksanaan pendidikan agama Islam dan

pengaruhnya terhadap perilaku siswa atau santri di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

    1. Proses Belajar Mengajar

       Kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam yang berlangsung pada

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu berjalan dengan

baik oleh karena didukung oleh tenaga pendidik yang berkualitas dan ditunjang

dengan sarana dan prasarana yang memadai. Kedua hal ini adalah yang dibutuhkan

oleh siswa atau santri. Namun sebagaimana pengamatan penulis, masih terdapat hal-

hal yang perlu mendapatkan perhatian serius baik dari pihak atasan maupun dari

pihak guru.

       Salah satu hal yang penting untuk meningkatkan proses belajar mengajar

adalah dengan menciptakan hubungan baik antara guru dan siswa. Bagaimanapun

baiknya bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanapun sempurnanya metode yang

digunakan, namun jika hubungan antara guru dan murid tidak harmonis, maka dapat

menciptakan suatu hal yang tidak diinginkan bersama.
                                                                               62




         Kaidah-kaidah proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu telah memiliki dimensi Iman dan Taqwa

(Imtaq) dalam pengembangan pendidikan agama Islam. Para guru pendidikan agama

Islam tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan kedalam otak siswa agar menjadi

jenius dan cerdas, akan tetapi unsur nilai dan akhlakul karimah yang lebih

diutamakan. Para guru juga telah memberikan peluang kepada para siswa atau santri

untuk bertemu diluar jam pelajaran dan menanyakan hal-hal yang kurang jelas

seputar materi yang telah diberikan.

     2. Materi Pendidikan Agama Islam

         Materi pendidikan agama Islam yang disajikan di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu diantaranya berkisar antara masalah akidah,

syari'ah dan akhlak. Selanjutnya pada lembaga pendidikan ini (Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu) dikembangkan oleh guru sesuai

dengan tingkat intelektual siswa atau santri dengan menggunakan sistem pendekatan-

pendekatan dalam pendidikan Islam. Kemudian dalam penyajian materi senantiasa

merujuk pada kurikulum yang berlaku.

         Di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

kurikulum pendidikan agama Islam diselaraskan dengan silabi Departemen

Pendidikan Nasional dan Departemen Agama. Deskripsi sajian dalam silabus mata

pelajaran pendidikan agama Islam pada seluruh lembaga pendidikan di Indonesia

sesuai    dengan    Surat   Keputusan   Direktur   Jendral   Pendidikan    Nomor

20/Dikti/Kep/1997 tanggal 4 Februari 1997. menurut surat keputusan tersebut bahwa
                                                                                                  63




silabus pendidikan agama Islam terdiri atas sembilan bab, yaitu : 1). Manusia dan

agama, 2). Agama Islam, 3). Sumber Agama dan Ajaran Islam, 4). Kerangka Dasar

dan Ajaran Islam, 5). Akidah, 6). Syari'ah (Ibadah dan Muamalah), 7). Akhlak, 8).

Takwa, 9). Islam dan Ilmu Pengetahuan.42

        Dengan penjabaran seperti itu diupayakan agar siswa atau peserta didik dapat

melihat dan mengetahui agama Islam secara keseluruhan. Maka dengan demikian

penulis berkesimpulan bahwa materi-materi pendidikan agama Islam tersebut jelas

memiliki pengaruh terhadap siswa atau santri pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu. Hal ini disebabkan oleh karena dikalangan

siswa banyak yang berasal dari Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Aliyah serta

lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat agama. Jadi, materi-materi pendidikan

agama Islam yang disajikan merupakan hal yang tidak asing lagi bagi mereka.

     3. Unsur Guru Pendidikan Agama Islam

        Guru pendidikan agama Islam yang seharusnya adalah adalah mereka yang

benar-benar memiliki rasa keterpanggilan tugas, lengkap dengan profesionalismenya

yang penuh dengan kreatifitas, inovatif dan kepercayaan diri sebagai guru pendidikan

agama Islam. Di samping itu juga memiliki wawasan yang memadai, juga harus

ditopang dengan moral yang kuat serta akhlak yang baik yang merupakan kunci

kesuksesan dalam mentransfer perilaku kehidupan sehari-hari.



        42   Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Pendidikan Agama Islam Buku Daras, (Cet. I; Jakarta :

Raja Grafindo Persada, 1998), h. 9-10.
                                                                                  64




       Menurut pemantauan penulis, unsur pengajar atau guru pendidikan agama

Islam di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu telah

memiliki kriteria seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Akan tetapi bagi guru

yang belum memiliki kualifikasi pendidikan S1 dan belum lama mengabdikan diri

mereka sebagai guru, jelas tidak dapat disamakan dengan mereka yang telah senior.

Dan masih ada kendala-kendala yang ditemukan dari guru atau tenaga pengajar ketika

ia mengajar di kelas. Kemudian ada satu hal lagi yang menjadi permasalahan yang

menurut penulis adalah jumlah guru tetap tidak sebanding dengan jumlah siswa atau

santri yang ada di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

yang semakin banyak tiap tahunnya. Apalagi yang menjadi target adalah membentuk

alumni atau lulusan yang seimbang antara iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi)

dan imtak (iman dan taqwa).

       Disinilah seorang guru dituntut agar benar-benar dapat bertanggung jawab

bukan hanya dalam hal penyelesaian dan penuntasan bahan sajian pelajaran, tetapi

figurnya sebagai seorang pendidik yang dapat memberikan contoh dan suri tauladan

kepada para siswanya. Dan tidak menutup kemungkinan ada diantara para guru

merasa sulit karena begitu banyaknya kelas yang harus dihadapi dan masing-masing

harus dituntaskan dalam satu semester. Hal tersebut kadang-kadang menimbulkan

ketidak efektifan dan keefesienan pembelajaran.

       Berbagai akibat yang dapat ditimbulkan dengan kekurangan tenaga pengajar.

Tekadang satu orang guru menghadapi dua sampai tiga kelas dalam sehari, bahkan

ada yang lebih dari itu. Menurut penulis bagi guru senior dan telah memiliki berbagai
                                                                                   65




pengalaman hal tersebut tidaklah begitu sulit, tetapi tidak demikian dengan guru baru,

menghadapi siswa atau santri yang cukup banyak sedikitnya akan merasakan

kewalahan juga, karena harus mempersiapkan rancangan pembelajaran (i'dat),

memberikan bimbingan, mengenal karakter siswa satu persatu dan ditambah lagi

dengan tugas-tugas guru lainnya.

       Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberadaan dan figur para guru

pendidikan agama di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu cukup berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan kematangan

intelektual para siswa atau santri. Namun masih ada satu atau dua orang guru yang

tidak dapat menguasai metode pengajaran, sehingga hal ini memiliki pengaruh

tersendiri, tapi hal tersebut bukanlah sesuatu yang signifikan dengan kata lain bahwa

hal tersebut dapat diantisipasi dan dicarikan solusi yang terbaik diantaranya dengan

mengadakan berbagai pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan hal tersebut.

     4. Metode Pengajaran Pendidikan Agama Islam

       Untuk menumbuhkan semangat dan gairah belajar siswa atau santri, guru

perlu memperhatikan teori-teori tentang pengetahuan metodologi pengajaran. Metode

belajar mengajar harus dibuat menarik dan menyenangkan, sehingga mendorong

tumbuhnya motivasi, minat belajar peserta didik dan dengan sendirinya belajar

merupakan suatu kebutuhan bagi mereka. Proses belajar mengajar pendidikan agama

Islam tidak layak dilakukan secara monolog dan satu arah. Sebaliknya, proses belajar

mengajar tersebut harus dinamik dan dialektik sehingga terbuka adanya dialog antara

guru dan peserta didik.
                                                                                 66




        Akan tetapi pada kenyataannya di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu masih terdapat guru pendidikan agama Islam mengajar

hanya mengandalkan sistem ceramah atau satu arah saja. Dibawah ini akan disajikan

tabel mengenai metode pengajaran yang diterapkan oleh guru pendidikan agama

Islam di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, sebagai

berikut :

                                   TABEL VI
        Tanggapan Para Siswa/Santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah
               Mengenai Pola Pengajaran Pendidikan Agama Islam

                                                         Frekwensi      Porsentase
 No                  Tanggapan Responden
                                                          (Orang)          (%)
 1     Pola Pengajaran Monologis (Ceramah)             35 Orang         58,3 %
 2     Pola Pengajaran Doktinir dan Menghafal           5 Orang         8,3 %
       Pola Pengajaran Dialogis                        20 Orang         33,3 %
              Jumlah                                   60 Orang         100 %
Sumber Data : Item No. 7

        Berdasarkan tabel di atas, bahwa 35 orang atau sebanyak 58,3 % yang

menjawab pola pengajaran pendidikan agama Islam dilakukan secara monologis atau

menggunakan sistem ceramah, dan sebanyak 5 orang atau 8,3 % yang menjawab pola

pengajaran dilakukan secara doktinir dan menghafal. Sedangkan yang menjawab pola

perkuliahan secara dialogis adalah sebanyak 20 orang responden atau 33, 3 %.

        Problema di atas menunjukkan hal yang patut untuk diperhatikan, karena

menyangkut penguasaan guru terhadap berbagai macam metode pengajaran. Seorang

guru yang hanya menggunakan salah satu dari sekian banyak metode pengajaran,

akan berakibat tidak baik bagi siswa karena tentunya siswa sendiri akan merasa jenuh

dan bosan terhadap materi yang disajikan. Hal ini sering terjadi pada guru yang
                                                                                67




kurang memahami hakikat metode pengajaran, walaupun guru telah profesional

sekalipun terkadang karena mereka (guru) terlalu asyik dengan uraian materi yang

disajikannya, sehingga lupa jika hanya dia (guru) yang aktif sedangkan siswanya

menjadi pendengar setia.

       Jadi dengan demikian metode pengajaran mata pelajaran pendidikan agama

Islam di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

sangatlah berpengaruh terutama dalam proses belajar mengajar.

    5. Literatur Pendidikan Agama Islam

       Buku-buku pendidikan agama Islam yang tersedia pada Perpustakaan Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu dirasakan belum begitu

memadai. Hal ini berdasarkan pemantauan penulis selama berlangsungnya penelitian.

Referensi mengenai agama Islam sangat minim. Bacan pustaka yang lebih luas

menyangkut pemikiran-pemikiran Islam klasik, Islam pada abad pertengahan, Islam

modern dan Islam post modern dapat dikatakan bahwa bukunya sama sekali belum

ada, kalaupun ada mungkin tidak sebanyak yang diharapkan oleh siswa dan guru.

       Dalam hal ini makna perpustakaan itu sendiri memiliki peranan yang sangat

besar dalam upaya meningkatkan wawasan keilmuwan. Dan perpustakaan juga

merupakan sunber belajar bagi siswa maupun bagi guru. Namun dalam penelitian ini

membuktikan bahwa perpustakaan tidak begitu memberikan pengaruh terhadap

perkembangan pemikiran, pemahaman dan perilaku siswa terhadap ajaran agama.

Oleh karena itu literatur mengenai buku-buku agama Islam yang tersedia pada

perpustakaan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu
                                                                                  68




belum memadai. Namun tidak menutup kemungkinan guru maupun siswa atau santri

memiliki referensi tersendiri sebagai bahan penunjang.

    6. Kehadiran

       Keaktifa siswa atau santri dalam mengikuti pelajaran merupakan salah satu

tuntutan dan hal ini juga merupakan suatu peraturan yang telah ditentukan dan harus

dipatuhi oleh siswa atau santri ketika proses belajar mengajar berlangsung. Keaktifan

siswa di kelas dengan sendirinya akan membawa pengaruh bagi dirinya, sebab

biasanya karakter maupun perilaku seorang siswa dapat diketahui melalui

kehadirannya dalam mengikuti pelajaran.

       Kegiatan belajar mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam pada

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu berjalan

sebagaimana mestinya, siswa terlihat begitu aktif dan bersemangat. Ada beberapa

faktor yang menjadikan siswa atau santri begitu aktif dan bersemangat adalah karena

mata pelajaran pendidikan agama ini disajikan di awal-awal semester. Selanjutnya

mata pelajaran ini mempunyai nilai-nilai keutamaan dan mudah dipahami oleh karena

tenaga pengajarnya cukup melaksanakan disiplin yang telah ditetapkan, dapat

dijadikan figur atau uswatun hasanah dan mampu mengantarkan siswa atau santri

pada tujuan pembelajaran.

       Apa yang telah dijelaskan di atas dibenarkan oleh salah seorang tenaga

pengajar di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu yang

mengatakan bahwa :
                                                                                               69




        Sejak awal kami (guru) memberi ultimatum kepada seluruh siswa atau santri,
        bahwa siapa saja yang melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan
        termasuk bolos, lalai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru,
        membuat penyimpangan-penyimpangan, maka akan dikenakan sanksi
        menurut aturan yang telah ditentukan.43

        Apa yang disampaikan oleh salah seorang tenaga pengajar seperti yang yang

dijelaskan di atas, rupanya sangat menyentuh sasaran dan berpengaruh terhadap diri

siswa, buktinya mereka cukup mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkan

oleh guru. Tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa diantara sekian

banyak siswa atau santri yang ada terdapat satu atau dua orang siswa atau bahkan

lebih yang tidak mengindahkan aturan-aturan yang telah ditentukan tersebut.

        Jadi, mata pelajaran pendidikan agama Islam cukup memberikan pengaruh

yang sangat signifikan. Dan hasil penelitian ini membuktikan bahwa siswa ataiu

santri di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu sangat

aktif dalam mengikuti tatap muka sekaligus mereka patuh terhadap aturan-aturan

yang telah ditetapkan.

     7. Menghormati Guru

        Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan beberapa orang siswa atau

santri di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu bahwa

pada umumnya siswa atau santri di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu sangat menghargai keberadaan pendidiknya. Akan tetapi cara



        43   Ust. Sahri, S.Pd, Staff Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu, Wawancara, tanggal 25 April 2006
                                                                                      70




mereka (siswa atau santri) dalam menunjukkan sikap hormat terhadap gurunya

berbeda-beda sesuai dengan pemahaman dan persepsi mereka terhadap guru tersebut.

Ada yang menganggap bahwa guru sebagai partner, dan ada pula siswa atau santri

yang hormat terhadap gurunya karena suatu kepentingan, misalnya siswa atau santri

terebut menginginkan nilai yang tinggi.

       Berdasarkan dari hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan beberapa

siswa atau santri dan beberapa orang guru, menunjukkan bahwa sikap siswa atau

santri dalam menghormati gurunya memang berbeda-beda. Adapun siswa atau santri

yang tingkat pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran agama sangat

mendalam senantiasa memperlihatkan kepatuhannya. Misalnya aktif mengikuti

pelajaran yang diberikan baik di kelas maupun di luar kelas, mengerjakan tugas-tugas

yang diberikan kepadanya, selalu bersikap lemah lembut baik terhadap gurunya

maupun terhadap teman sejawatnya, disiplin, dan lain sebagainya. Namun, masih ada

juga siswa atau santri yang kurang peduli dan bahkan tidak menghargai gurunya sama

sekali. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa orang siswa atau santri dengan

terang-terangan menunjukkan perilaku tidak sopan dihadapan gurunya. Misalnya

dengan tidak mengikuti tatap muka di kelas dengan berpura-pura sakit. Perilaku yang

ditunjukkan oleh siswa atau santri tersebut dapat dikatakan telah keluar dari nilai-nilai

yang ditanamkan oleh gurunya.

       Sehubungan dengan hal tersebut di atas, menurut salah seorang tenaga

pengajar di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

mengatakan :
                                                                                              71




        Bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan hal seperti itu terjadi.
        Pertama, karena siswa atau santri tersebut terbiasa dengan lingkungannya
        yang bebas, kehidupan bebas dalam lingkungan keluarga. Dalam artian bahwa
        kurangnya perhatian terhadap pendidikan agama sejak dini, atau mungkin
        orang tuanya kurang memperhatikan anak-anaknya. Kedua, tidak adanya
        kesadaran diri dari siswa atau santri itu sendiri. Ketiga, adanya pengaruh dari
        teman sesama siswa atau santri, biasanya siswa atau santri yang berpengaruh
        karena dia adalah anak orang berada, pengusaha, terpandang, dan lain
        sebagainya. Keempat, ada siswa atau santri yang hanya sekedar ikut-ikutan
        saja karena tidak mau dikatakan kuno atau ketinggalan zaman.44

        Fenomena tersebut merupakan hal yang tidak asing lagi bagi suatu lembaga

pendidikan, baik itu lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan non

formal, sebab pada dasarnya dalam suatu lembaga pendidikan terdapat pluralitas dan

beragam latar belakang. Ada siswa atau santri yang berasal dari lingkungan keluarga

yang mantap keberagamaannya, sampai pada lingkungan yang rusak sekalipun. Akan

tetapi pada lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu hanya sebahagian kecil saja siswa atau santri yang melakukan

penyimpangan-penyimpangan perilaku seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Sebaliknya, siswa atau santri yang telah memahami dan taat terhadap ajaran agama

jelas mereka takut untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Jadi, sangat jelas

bahwa pendidikan agama sangat berpengaruh terhadap sikap dan tingkah laku siswa

atau santri di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

dalam lingkup kesehariannya.




        44   Ust. Arman Ibrahim, S.Pd.I, Staff Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, tanggal 27 April 2006.
                                                                                72




    8. Aktif Mengikuti Kajian Keislaman

       Dalam pembinaan intelektual dan kematangan dalam berfikir siswa atau

santri, Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu memberi

kebebasan dan peluang kepada para siswa atau santri juga kepada para tenaga

pendidiknya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui kegiatan-

kegiatan ekstrakurikuler tanpa mengabaikan proses belajar mengajar.

       Dorongan untuk memasuki organisasi-organisasi keislaman tersebut menjadi

lebih kuat ketika terdapat beberapa anggota atau mantan anggota mereka yang

kemudian menonjol dan cukup terkemuka baik dalam lingkungan pesantren maupun

di luar setelah mereka menyelesaikan studinya pada lembaga pendidikan ini.

       Dengan adanya kajian-kajian keislaman tersebut dapat menambah wawasan

pemahaman keagamaan serta dapat membentuk pola pikir siswa atau santri menuju

pada kedewasaannya dalam berfikir. Kegiatan mentoring, misalnya yang diisi dengan

ceramah-ceramah dan tanya jawab masalah agama yang menghadirkan para nara

sumber yang berkompoten dibidangnya. Melalui kegiatan seperti ini siswa atau santri

banyak mendapatkan pengetahuan lebih khususnya tentang agama dan diharapkan

mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan

lembaga pendidikan maupun di masyarakat kelak. Sehingga tidak sedikit jumlah

siswa atau santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

yang telah mengharumkan dan membawa nama almamaternya.

       Sehubungan dengan hal tersebut di atas, salah seorang wali santri

membenarkan pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa :
                                                                                         73




        Kami sebagai orang tua yang juga pernah ikut aktif dalam suatu organisasi
        kemasyarakatan melihat tingkah laku maupun pola pikir siswa atau santri pada
        Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu ketika
        mereka berbaur dengan masyarakat dinilai sangat bagus. Selanjutnya siswa
        atau santri tersebut juga banyak membantu kami dalam menyukseskan
        berbagai program kami, misalnya dakwah Islamiyah, pelatihan kaderisasi
        ulama dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan kami yang melibatkan siswa
        atau santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru
        Palu.45

        Jadi, keberadaan kajian-kajian keislaman pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu membuat siswa atau santri termotivasi dalam

memahami dan mempelajari Islam secara kaffah. Sehingga bukan hanya kegiatan-

kegiatan yang ada lingkungan pesantren saja yang diikuti oleh santri melainkan juga

organisasi-organiasi di luar pesantren juga ikut mempengaruhi dan memperdalam

wawasan keagamaan mereka.

     9. Cara Berpakaian atau Berbusana

        Cara berpakaian atau berbusana menggambarkan citra atau kepribadian

seseorang. Peserta didik dalam hal ini adalah siswa atau santri harus senantiasa

berpakaian rapi, bersih dan sopan, sebab cara berpakaian seperti yang telah

dianjurkan penting artinya agar persepsi masyarakat dan pihak luar senantiasa

menghargai kedudukannya selaku siswa atau santri yang menjalani proses

pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu.



        45   Abdurrahman Palewa, Wali Santri, Wawancara, Kantor Guru Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, tanggal 27 April 2006.
                                                                                 74




       Dengan adanya kajian-kajian keislaman pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu salah satunya membawa dampak positif

terhadap cara berpakaian dan berbusana. Menurut hemat penulis, ada beberapa faktor

yang menjadikan perubahan dalam diri siswa atau santri tersebut, yaitu : Pertama,

pengaruh pemahaman siswa atau santri terhadap ajaran agama. Kedua, situasi dan

kondisi. Ketiga, karena kesadaran dan niat suci siswa atau santri itu sendiri.

       Pluralitas peserta didik yang ada pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu menimbulkan keragaman persepsi mereka

dalam memahami arti busana atau cara berpakaian sesuai dengan tingkat

pengetahuan, pemahaman dan pengalaman mereka terhadap ajaran agama Islam.

Namun keragaman persepsi tersebut patut disyukuri mengingat perubahan dan tingkat

kedasaran siswa atau santri dalam memahami ajaran agama mulai menunjukkan

adanya kemajuan.



                                        BAB V

                                      PENUTUP



A. Kesimpulan

       Berdasarkan analisis terhadap hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik

beberapa kesimpulan, diantaranya adalah sebagai berikut :

   1. Bahwa tingkat pemahaman siswa atau santri pada Pondok Pesantren Modern

       Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu terhadap pendidikan agama Islam
                                                                               75




      dalam jangka pendek terdapat berbagai peningkatan. Hal ini disebabkan

      karena siswa atau santri mempunyai dasar pengetahuan tentang agama dari

      berbagai sumber belajar. Penulis tidak dapat melihat secara pasti, namun

      terdapat peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, baik ditinjau dari

      aspek kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya.

  2. Pendidikan agama Islam dengan sendirinya jelas tidak cukup untuk merubah

      perilaku siswa atau santri dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan serta

      tujuan yang hendak dicapai, sebab keterbatasan jam pelajaran dan frekwensi

      tatap muka atau pertemuan. Untuk itu kelompok-kelompok kajian keislaman

      sangat dibutuhkan sebagai salah satu penunjang.




B. Saran-saran

  1. Kepada pihak lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

      Ngata Baru Biromaru Palu diharapkan dapat mempertimbangkan dan

      memperhatikan frekwensi pertemuan atau tatap muka khususnya mata

      pelajaran pendidikan agama Islam.

  2. Dalam upaya peningkatan pemahaman dan pengamalan siswa atau santri

      terhadap ajaran agama Islam disarankan kepada lembaga pendidikan Pondok

      Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu agar dapat
                                                                            76




   melengkapi literatur-literatur pendidikan agama Islam, seperti buku-buku

   mengenai sejarah Islam, pemikiran-pemikiran kontemporer dan sebagainya

   sehingga siswa atau santri bahkan guru akan semakin giat dan termotivasi

   untuk mengujungi perpustakaan yang merupakan jantung suatu lembaga

   pendidikan.

3. Kepada pihak lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

   Ngata   Baru    Biromaru    Palu   diharapkan    dapat   memperhatikan   dan

   mengevaluasi para tenaga pendidik yang ada, sehingga kegiatan proses belajar

   mengajar dapat berjalan secara efektif dan efesien.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Education
Stats:
views:0
posted:7/26/2013
language:Unknown
pages:76
Description: Refrences for islamic education