PENERAPAN METODE QAWAID DALAM MENINGKATAN KUALITAS BAHASA ARAB

Document Sample
PENERAPAN METODE QAWAID DALAM MENINGKATAN KUALITAS BAHASA ARAB Powered By Docstoc
					                                                                                        1

                                         BAB I

                                  PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

        Rasulullah saw., sebagai Nabi penutup telah mempraktekkan setiap

detail dari ajaran Islam pada dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan negara.1

Ajaran Islam yang sumber utamanya adalah al-Qur'an yang berbahasa Arab

sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., untuk

disampaikan kepada seluruh umat manusia. Setiap muslim wajib menjadikan

al-Qur'an sebagai pedoman dan landasan hidup di dunia ini. Al-Qur'an

diturunkan kepada Rasulullah saw., dengan menggunakan bahasa Arab, karena

bahasa pengantar Rasulullah saw., dalam menyiarkan Islam adalah bahasa

Arab.

        Al-Qur'an diturunkan dengan berbahasa Arab, sebagaimana dengan

firman Allah swt., dalam surah Fushshilat (41) : 3, sebagai berikut :

                    (3 : ‫ﻛﺘﺎﺏ ﻓﺼﻠﺖ ﺁﻳﺘﻪ ﻗﺮﺁﻧﺎ ﻋﺮﺑﻴﺎ ﻟﻘﻮﻡ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ )ﻓﺼﻠﺖ‬
Terjemahnya :
     "Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yaitu bacaan dalam bahasa Arab
     untuk kaum yang mengetahui" (Q.S. Fusshilat (41) : 3).2


        1 M. Thalib, Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shaleh. (Cet. I; Bandung : Irsyad Baitus
Salam, 1996), h. 13
        2 Departemen Agama R.I, Al-Qur'an dan Terjemahnya. (Madinah : Mujamma' Khadim Al-

Haram Al-Syarifayn), h. 774
                                                                                             2

       Mempelajari al-Qur'an dan memeliharanya adalah tugas dan kewajiban

bagi seluruh muslim, dalam kaitan ini Allah swt., kembali berfirman dalam al-

Qur'an surah al-Hijr (15) : 9, sebagai berikut :

                           (9 : ‫)ﺍﻟﺤﺠﺮ‬   ‫ﺍﻧﺎ ﻧﺤﻦ ﻧﺰﻟﻨﺎ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻧﺎ ﻟﻪ ﻟﺤﺎﻓﻈﻮﻥ‬
Terjemahnya :

     "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesunggunya
     Kami benar-benar memeliharanya". (Q.S. al-Hijr (15) : 9).3

       Untuk mempertahankan kevalidan al-Qur'an dan al-Hadits, juga ilmu-

ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum, pemerintah Indonesia membentuk

lembaga-lembaga            pendidikan      formal,     mulai      dari    tingkat   Ibtidaiyah,

Tsanawiyah, Aliyah dan perguruan tinggi di bawah naungan Departemen

Agama, namun pondok pesantren pada umumnya didirikan oleh para ulama

yang bersifat otonom termasuk Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu.

       Mata pelajaran bahasa Arab merupakan mata pelajaran yang sangat

urgen di antara mata pelajaran agama. Hal ini disebabkan karena mata

pelajaran bahasa Arab merupakan alat bantu yang sangat penting untuk

mendalami seluruh buku-buku agama yang menggunakan bahasa Arab. Tanpa

ilmu bahasa Arab seseorang hanya dapat mempelajari ajaran Islam melalui

buku-buku terjemahan yang jumlahnya sampai saat ini masih sangat terbatas

       3   Ibid., h. 391
                                                                                                  3

jika dibandingkan dengan buku-buku yang menggunakan bahasa Arab yang

sampai saat ini masih banyak yang belum diterjemahkan.

       Guna meningkatkan kualitas peserta didik khususnya pada bidang studi

bahasa Arab, maka lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu berupaya secara maksimal dan seoptimal

mungkin dengan menyediakan kitab-kitab kuning berbahasa Arab. Di samping

itu, para pendidik yang mengajarkan bidang studi bahasa Arab diupayakan

agar profesional dan jumlah mereka harus sesuai dengan jumlah peserta didik

yang ada.

       Meskipun demikian, bukan berarti proses pengajaran bahasa Arab tidak

mengalami hambatan, melainkan masih banyak dijumpai hambatan pada

beberapa komponen pengajaran itu sendiri. Oleh karena itu, eksistensi bahasa

Arab sangat urgen untuk senantiasa dipelajari, apalagi bahasa Arab itu sendiri

merupakan bahasa umat Islam. Mereka harus selalu mempelajari dan

mendalami bahasa Arab, minimal dapat mengerti huruf-huruf Arab yang pada

akhirnya paling tidak dapat membaca al-Qur'an dengan baik dan benar. Dapat

membaca al-Qur'an adalah sebagai wujud rasa cinta terhadap bangsa dan

agama.4 Cinta agama akan mewujudkan studi dalam konteks global.5


       4   Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam. (Cet. V; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000),
h. 9
       5   M. Amin Abdullah, Metodologi Studi Agama. (Cet. I; Yokyakarta : Pustaka Pelajar, 2000),
                                                                                                 4

          Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam dalam tatanan

pergaulan sehari-hari tidak pernah lepas dari bahasa Arab sebagai alat

komunikasi. Apabila kita memiliki kompetensi bahasa, maka seseorang dapat

berkomunikasi secara aktif dengan orang lain.6 Jika ditinjau, maka bahasa Arab

mempunyai peranan yang cukup besar dalam kehidupan kita. Realita ini dapat

dilihat dari seseorang yang hendak mengikrarkan keislamannya, ia harus

mengucapkan dua kalimat syahadat, bahkan berbagai aktivitas yang bersifat

ta'abbudiyah seperti adzan, iqamat yang setiap harinya dikumandangkan di

mushollah atau mesjid menggunakan bahasa Arab, walaupun tidak secara

keseluruhan dipahami, maksudnya tetap mendapatkan pahala disisi Allah swt.

dilain pihak, umat Islam setiap harinya juga tidak terlepas dengan penggunaan

bahasa Arab minimal lima kali dalam sehari semalam, yaitu pada waktu sholat

fardhu. Selanjutnya doa-doa serta inti khutbah di setiap hari Jum'at, dan masih

banyak lagi aktivitas-aktivitas keislaman yang ada hubungannya dengan

penggunaan bahasa Arab yang telah disebutkan.

          Jika diteliti secara mendetail, ternyata bahasa Arab banyak memberikan

kontribusi dalam memperkaya khazanah perbendaharaan bahasa Indonesia

termasuk bahasa daerah, sehingga banyak ditemukan kosa kata yang sehari-


h. 483.
          6   Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Bahasa. (Cet. I; Bandung : Angkasa, 1999),
h. 2
                                                                                               5

harinya digunakan untuk berkomunikasi yang diadopsi dari bahasa Arab,

misalnya kata akhirat, alam, ilmu, dan lain sebagainya. Salah satu upaya untuk

menguasai bahasa Arab secara maksimal, maka harus memilih guru yang

profesional.7

        Untuk menguasai berbagai disiplin ilmu sekaligus untuk melegitimasi

keorsinilan bahasa Arab, maka sangat urgen untuk menguasai metode

pengajaran termasuk penguasaan kaedah-kaedahnya. Penguasaan pada kedua

kategori tersebut dapat sejalan apabila masing-masing didalami secara baik.

Bahkan Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A menyatakan bahwa metode lebih

penting dari substansi atau materi.8 Maksudnya sebelum menguasai Qawaid

bahasa Arab atau tatanan materinya terlebih dahulu harus menguasai berbagai

metode, baik dalam mempelajari bahasa Arab maupun dalam mengajarkannya.

        Eksistensi bahasa Arab yang absah dimulai pada tahun 1973 yang

untuk pertama kalinya dijadikan sebagai bahasa resmi dalam lingkungan

Perserikatan      Bangsa-Bangsa.          Pidato-pidato,       pembicaraan        aktual     dan

perdebatan yang kontroversial di forum tersebut diterjemahkan serta

ditafsirkan kedalam bahasa Arab yang sejajar dengan bahasa-bahasa lainnya,



        7   Syekh Ibrahim ibn Ismail, Ta'lim wa al-Muta'allim. (Surabaya : Maktab Husain Umar,
1989), h. 13
          8 Azhar Arsyad, Suatu Penafsiran Psikodinamik Terhadap Metodologi Bahasa Asing Inovatif.

(Jakarta : Al-Quswa, 1989), h. 1
                                                                                             6

seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Perancis, dan lain-lain.9

Pemakaian bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resmi di PBB menempatkan

kedudukannya sebagai bahasa yang dipergunakan sebagai alat komunikasi

antar individu dan masyarakat maupun dalam hubungan diplomasi

internasional.10 Oleh karena itu bahasa Arab sangat penting bagi setiap bangsa,

dan lebih khusus lagi bagi umat Islam yang harus menguasai bahasa Arab yaitu

dengan jalan senantiasa belajar dan mengadakan persiapan pelajaran yang

sempurna, menetapkan dan menggunakan metode yang efektif dan efesien

serta kemampuan mencurahkan kesanggupan untuk menerima pelajaran bahasa

Arab sekaligus mengajarkannya agar dapat dipahami dengan sebaik-baiknya.11

        Kurikulum pada lembaga pendidikan ini dalam hal ini adalah Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu berorientasi pada

pengembangan ajaran Islam secara kaffah. Hal ini sesuai dengan firman Allah

swt., dalam surah al-Baqarah (2) : 208, sebagai berikut :

 (208 : ‫ﻳﺂﺍﻳﻬﺎﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺍﺩﺧﻠﻮﺍ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻠﻢ ﻛﺎﻓﺔ ﻭﻻﺗﺘﺒﻌﻮﺍ ﺧﻄﻮﺍﺕ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺇﻧﻪ ﻟﻜﻢ ﻋﺪﻭ ﻣﺒﻴﻦ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬
Terjemahnya :

     "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
     keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan.


        9  Juwairiah Dahlan, Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab. (Cet. I; Surabaya : Al-Ikhlas,
1992), h. 32
         10 Ibid.
         11 Abu Bakar Muhammad, Metode Khusus Pengajaran Bahasa Arab. (Surabaya : Usaha

Nasional, 1981), h. 2
                                                                            7

    Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh nyata bagimu" (Q.S. al-Baqarah
    (2) : 208).12

      Ayat tersbut di atas dapat dipahami bahwa ajaran Islam harus

terespresikan dalam jiwa pemiliknya secara keseluruhan, baik yang

menyangkut aspek keduniaan maupun aspek akhirat. Kedua aspek tersebut

dituangkan serta direalisasikan dalam bentuk teori-teori tentang disiplin ilmu

yang mencakup ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.

      Kurikulum bahasa Arab yang diterapkan di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu merujuk pada kurikulum Departemen

Agama yang telah dirancang melalui pertimbangan yang cukup matang, baik

yang menyangkut aspek metode yang tepat, kualifikasi tenaga pengajar atau

guru, sarana dan prasarana yang tersedia, dan lain sebagainya.

      Dengan merujuk pada latar belakang tersebut di atas dan didasari oleh

pertimbangan yang matang tentang pentingnya penerapan metode Qawaid,

maka penulis merasa tergugah dan tertarik untuk mengungkap sisi proses

pengajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu dalam suatu kajian penelitian yang berjudul Penerapan

Metode Qawaid Dalam Meningkatkan Kualitas Bahasa Arab di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.



      12   Departemen Agam R.I., op.cit., h. 50
                                                                           8




B. Rumusan dan Batasan Masalah

       Dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis akan

mengemukakan suatu permasalahn pokok, yaitu bagaimana penerapan metode

Qawaid yang diterapkan dalam proses pengajaran bahasa Arab di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu. Permasalahan

pokok tersebut akan dirinci sebagai berikut :

1. Bagaimana sistem pengajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern

    Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu ?.

2. Apa yang ditekankan dalam menerapkan metode Qawaid dalam rangka

    meningkatkan kualitas bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-

    Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu ?.



C. Pengertian Judul

       Penelitian ini berjudul penerapan metode Qawaid yang diterapkan

dalam proses pengajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu. Untuk memahami judul penelitian ini,

maka ada beberapa variabel yang harus dijelaskan, di antaranya adalah sebagai

berikut :

1. Penerapan
                                                                                              9

        Kata penerapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dai kata

terap, yang berarti perihal mempraktekkan.13 Jadi yang dimaksud dengan kata

penerapan adalah mempraktekkan teori-teori tertentu yang dianggap perlu

guna mencapai tujuan tertentu.

2. Metode

        Istilah    metode      memang       sering     digunakan       dalam     dunia     ilmu

pengetahuan, termasuk dalam ruang lingkup pendidikan. Karena metode itu

sendiri mempunyai peranan dan nilai yang sangat penting bagi keberhasilan

ilmu tertentu.

        Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah metode adalah cara yang

teratur dan terfikir yang baik untuk mencapai tujuan tertentu.14 Sedangkan

dalam        Ensiklopedia    Indonesia,      kata    metode      diartikan     sebagai     cara

penyelidikan; cara melaksanakan suatu pekerjaan atau mencari ilmu

pengetahuan.15 Selanjutnya dalam ilmu pengetahuan sendiri, cara tersebut

harus diterapkan dengan jelas, apalagi jika ilmu pengetahuan tersebut

mencapai tingkat tertentu karena merupakan syarat yang esensial bagi

pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.


        13   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Cet. III;
Jakarta : Balai Pustaka, 1994), h. 935.
          14 Ibid., h. 580-581
          15 Dewan Redaksi, Ensiklopedia Nasional Indonesia. (Jakarta : Ikhtiar Baru : Van Hoeve,

1983), h. 2230
                                                                                                10

        Metode secara bahasa berasal dari dua suku kata, yaitu metos dan

hodos. Metos berarti melalui, dan hodos berarti jalan. Dengan demikian

metode mengandung pengertian suatu jalan yang harus ditempuh untuk

mencapai tujuan.16 Metode dalam bahasa Aran disebut (‫ )ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ – ﻃﺮﺍﺋﻖ‬yang

dapat diartikan jalan, kelakuan, madzhab (aliran).17 Dalam al-Qur'an kata

tersebut disebut sebanyak sebelas kali dengan segala bentuknya.18

        Secara istilah metode didefinisikan sebagai suatu cara yang teratur dan

terfikir dengan baik untuk mencapai suatu maksud dan tujuan tertentu. Kata

‫ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ‬atau metode mempunyai istilah yang relevan dan saling terkait dalam

penggunaannya. Sri Utami Subyakti Nababan dalam bukunya yang berjudul

Metodologi       Pengajaran       Bahasa,      mengutip       pendapat      Anthony       (1963)

menyarankan beberapa tingkat perbedaan yaitu pendekatan teori, metode,

strategi, dan tehnik. Menurut Anthony approach adalah tingkat asumsi atau

pendirian mengenai bahasa dan pengajaran bahasa atau dapat dikatakan

sebagai filsafat tentang pengajaran bahasa. Metode adalah tingkat yang

menerapkan teori-teori pada tingkat approach. Dalam tingkat ini diadakan

pilihan tentang keterampilan-keterampilan khusus mana yang harus diajarkan,


         16 M. Arifin, Ilmu Pendidikan : Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan

Interdisipliner. (Ed. I, Cet. III; Jakarta : Bumi Aksara, 1994), h. 47
         17 Husin Al-Habsy, Kamus Al-Kautsar Lengkap Arab – Indonesia. (Bangil : Yayasan

Pesantren Islam, 1992), h. 232
         18 Muhammad Fu'ad Abdul Al-Baqi, Al-Mu'jam al-Mufahras lil al-Faz al-Qur'an al-Kariem.

(Indonesia : Maktabah Dahlan, t.th), h. 540
                                                                                               11

materi-materi apa yang harus disajikan. Tehnik adalah tingkat yang

menguraikan prosedur tersendiri dan terperinci tentang cara pengajaran bahasa

dalam kelas.19

         Menurut Prof. Dr. H. Radhi Al-Hafid, M.A, metode adalah rencana

menyeluruh yang berhubungan dengan pengkajian materi pelajaran secara

teratur dan tidak saling bertentangan dan didasarkan atas suatu pendekatan.20

         Dari defenisi leksikal di atas dapat dikemukakan bahwa ‫ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ‬atau

metode merupakan suatu cara atau strategi yang terencana, terorganisir dengan

baik dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan. Metode dapat dikatakan

tepat jika diterapkan dalam situasi dan kondisi tertentu, sehingga keberhasilan

penerapan dan penggunaan metode tersebut dapat dirasakan oleh seluruh

pihak.

3. Qawaid

         Qawaid adalah jamak dari kata kaidah yang berarti undang-undang atau

aturan, juga dapat dikatakan nahwu, sharaf.21 Dari defenisi kata penerapan,

metode dan Qawaid, jika ketiganya digabungkan, maka akan dengan mudah

didapatkan gambaran bahwa makna secara umum ketiga kata tersebut adalah


         19Sri Utami Subyakti Nababan, Metodologi Pengajaran Bahasa. (Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama, 1993), h. 10
        20 H. M. Radhi Al-Hafid, Mengenal Metode Pengajaran Bahasa Arab. (Yokyakarta : 1990),

h. 21
        21 Louis Ma'luf, Al-Munjid fi al-Lughah. (Cet. XXX; Beirut : Dar al-Masyriq, 1986), h. 425
                                                                                              12

penerapan metode Qawaid yang digunakan agar dapat mengena atau mencapai

sasaran yang diinginkan atau tujuan yang ingin dicapai.

4. Meningkatkan

        Kata meningkatkan berasal dari kata tingkat yang dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia diartikan dengan menaikkan (derajat) sesuatu atau

mempertinggi sesuatu.22

5. Kualitas

        Kualitas secara harfiah berarti derajat atau tarap kepandaian dan

kecakapan seseorang. Sedangkan secara defenitif kualita adalah ukuran

kecakapan dan kepandaian seseorang dalam memahami ilmu pengetahuan.23

6. Bahasa Arab

        Bahasa Arab adalah salah satu nama bidang studi atau mata pelajaran

yang akan menjadi objek penelitian skripsi ini. Menurut Syekh Mustafa al-

Ghalayani bahasa Arab adalah suatu rangkaian kalimat yang dipakai orang

untuk mencapai maksud tertentu.24




        22Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op.cit., h. 950
        23Ibid., 467
       24 Syekh Mustafa Al-Ghulayani, Jami' al-Durus al-Arabiyyah. (Cet. XXX, Juz I; Beirut : Al-

Maktabah Al-Asriyyah, 1994), h. 4
                                                                                    13

       Dalam Garis-Garis Besar Pengajaran (GBPP) Departemen Agama R.I

disebutkan bahwa bahasa Arab adalah suatu jenis mata pelajaran yang dapat

dipilih siswa sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.25



D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

   1. Tujuan Penelitian.

      a. Tujuan Umum

       Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai

metode yang diterapkan pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu dalam rangka meningkatkan kualitas bahasa Arab.

      b. Tujuan Khusus

       Secara khusus, penelitian ini bertujuan :

       a) Untuk mengetahui bentuk-bentuk metode dalam mengajarkan

            bahasa Arab pada santri di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

            Ngata Baru Biromaru Palu.

       b) Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang metode yang

            diterapkan selama ini di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

            Ngata Baru Biromaru Palu.



       25 Departemen Agama R.I, Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Bahasa Arab
untuk Madrasah Aliyah. (Jakarta : Pengembangan Madrasah, 1989), h. 6
                                                                            14

      c) Untuk mengetahui kelebihan metode Qawaid dalam pengajaran

          bahasa Arab sekaligus untuk mengetahui keberhasilan proses

          pengajaran bahasa Arab yang kemudian selanjutnya dilakukan

          inovasi-inovasi   yang   mengacu    pada    peningkatan   kualitas

          pemahaman bahasa Arab bagi santri di Pondok Pesantren Modern

          Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

      Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui kekurangan dan

kelebihan yang menyangkut metode dan proses pengajaran bahasa Arab di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, sekaligus

dapat mengetahui keefektifan dan efesiensi sebuah metode yang diterapkan.

   2. Kegunaan Penelitian

     a. Kegunaan ilmiah

      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

untuk kajian-kajian mengenai metode pengajaran bahasa Arab di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, sekaligus dapat

memberikan nilai tambah kepada penulis untuk lebih meningkatkan

pengetahuan dan pengalaman selama penulis mendapatkan ilmu pengetahuan

di bangku kuliah.

    b. Kegunaan praktis.
                                                                             15

        Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang konstruktif

untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi para pembinaan Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu dan STAIN Datokarama Palu

serta bagi para pengelola lembaga-lembaga pendidikan lainnya agar dapat

membina dan mengembangkan metode pengajaran yang tepat, sekaligus dapat

melihat dan menilai efektifitasnya dalam rangka menghasilkan out-put yang

dicita-citakan.



E. Garis Besar Isi Skripsi

        Adapun isi penelitian ini terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab

disusun secara sistematis sebagai berikut :

        Bab I, Pendahuluan yang memuat antara lain latar belakang, rumusan

masalah, defenisi operasional, tujuan dan kegunaan penelitian serta garis-garis

besar isi skripsi.

        Bab II, berisi telaah pustaka yang merupakan kajian teoritis tentang

literatur mengenai berbagai aspek pengajaran bahasa Arab. Oleh sebab itu,

dalam bab ini akan ditemukan penjelasan tentang penerapan metode

pengajaran bahasa Arab, tujuan pengajaran bahasa Arab dan metode

pengajaran bahasa Arab serta media dan alat-alat bantu pengajaran bahasa

Arab.
                                                                         16

       Bab III, berisi tentang pendekatan penelitian, rancangan penelitian,

lokasi penelitian/kehadiran peneliti, sumber data, tehnik pengumpulan data,

tehnik analisis data, dan diakhiri dengan pengecekan keabsahan data

       Bab IV, berisi tentang gambaran umum Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, baik dari segi sarana maupun dari segi

prasarananya, kemudian dilanjutkan dengan sistem pengajaran bahasa Arab,

materi-materi pokok pelajaran bahasa Arab (Qawaid) di Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, metode pengajaran bahasa

Arab di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu,

dan yang terakhir adalah penerapan metode Qawaid dalam meningkatkan

kualitas bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu.

       Bab V, adalah penutup yang berisi kesimpulan yang merupakan

jawaban atas permasalahan yang menjadi objek penelitian skripsi ini.

Disamping itu dikemukakan saran yang berfungsi sebagai rekomendasi atas

hasil-hasil yang telah dicapai dalam penelitian ini.



                                     BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA
                                                                            17



A. Penerapan Metode Pengajaran Bahasa Arab

  1. Penerapan Metode

      Dalam tatanan kehidupan ini sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa

semua aktivitas yang mempunyai tujuan tertentu tidak akan terlepas dari upaya

mencari dan menelusuri suatu metode, kemudian metode tersebut ditetapkan

serta diterapkan secara kondisional. Secara realitas bahwa suatu tujuan tidak

akan dapat terwujud secara maksimal bila tanpa menerapkan suatu metode

yang efektif dan efesien. Oleh karena itu, metode juga dapat dikatakan sebagai

jembatan atau cara yang efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun yang

menjadi substansi pokok permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimana

merancang suatu metode agar dapat berfungsi secara maksimal sebagaimana

yang diharapkan.

      Menetapkan dan merancang suatu metode tidak semudah membalikkan

telapak tangan, akan tetapi membutuhkan perhatian dan pemikiran yang

matang serta wawasan yang luas, sebab hal ini menyangkut beberapa

komponen yang terintegrasi dalam suatu sistem, karena antara satu dengan

yang lainnya tidak dapat dipisahkan bagaikan suatu bangunan yang harus

saling menguatkan. Bagi siapa saja yang merancang suatu metode, maka
                                                                                                 18

masing-masing komponen tersebut harus betul-betul dipahami, dihayati dan

dipertimbangkan secara matang sebelum menerapkan metode tersebut.

        Menurut W.J.S. Poerwadarminta, bahwa :

      Penerapan metode adalah terdiri dari dua rangkaian kata, dari kata
      dasarnya yaitu terap dan metode. Penerapan berarti perihal
      mempraktekkan, sedangkan kata metode adalah suatu cara yang ditempuh
      dengan teratur, sistematis, terencana dan terpikir secara baik-baik untuk
      mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu.26

        Dari pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

penerapan berasal dari kata dasar terap yang berarti mempraktekkan.

Sedangkan metode merupakan prosedur yang sistematis yang meliputi upaya

menyelidiki fakta nyata atau menyelidiki suatu konsep.

   2. Pengajaran

        Pengertian tentang pengajaran secara klasikal seperti dikemukakan oleh

Nana Sujana bahwa "pengajaran adalah suatu proses mengajar yang lebih

menekankan pada terjadinya hubungan interaksi antara guru dan siswanya

melalui kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru".27

        Sedangkan menurut H.C. Witherington dan W.H. Burton Bapensi

memberikan pengertian pengajaran, sebagai berikut :



        26  W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka, 1993),
h. 105 dan 649.
         27 Nana Sujana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. (Cet. II; Jakarta : Sinar Baru, 1989),

h. 28.
                                                                                             19

       Mengajar yang efektif sangat kompleks dan bisa tergantung kepada
       integrasi dari berbagai faktor. Dan untuk mengetahui beberapa
       persyaratan mengajar tentunya perlu diadakan penyelidikan atau
       penelitian tentang seluruh komponen yang terlibat dalam suatu proses
       pengajaran, baik yang menyangkut guru maupun yang berhubungan
       dengan murid, atau dengan metode yang ada.28

       Dari beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di

atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran dalam prosesnya lebih

menitik beratkan pada proses belajar mengajar. Dalam hal ini secara otomatis

akan mengarahkan anak didik sebagai obyek. Murid atau anak didik dalam

posisi ini akan mengalami proses belajar yaitu memperoleh pengajaran.

   3. Komponen-komponen Pengajaran

        Pengajaran sebagai suatu sistem dalam lembaga pendidikan sudah tentu

harus memiliki beberapa komponen. Menurut Dr. Nana Sujana, bahwa

"komponen pengajaran ada empat macam, yaitu tujuan, bahan, metode atau

alat, dan penilaian".29

        Untuk lebih jelasnya keterkaitan antara komponen tersebut terdapat

penjelasan sebagai berikut :

a. Tujuan




        28  H.C. Witherrington dan W.H. Burton Bapensi, Tehnik-tehnik Belajar Mengajar. (Bandung
: Jemmar, t. th), h. 131.
        29 Nana Sujana, op.cit., h. 30
                                                                            20

      Tujuan adalah komponen pertama yang harus ditetapkan dalam sistem

suatu lembaga pendidikan. Tujuan ini mempunyai fungsi penentu arah pada

kegiatan belajar mengajar. Tujuan pengajaran merupakan rumusan tingkah

laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dapat dimiliki oleh siswa setelah

menyelesaikan kegiatan belajarnya. Isi tujuan pengajaran pada hakekatnya

adalah hasil belajar yang diharapkan.

b. Materi Pengajaran

      Setelah ditetapkannya tujuan pengajaran yang menjadi isi kagiatan

belajar mengajar, selanjutnya dapat ditentukan pula materi atau bahan

pengajaran sesuai dengan tingkatannya asing-masing.

c. Metode atau Alat

      Kedua unsur ini berfungsi sebagai jembatan atau media transformasi

pelajaran terhadap hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu, metode atau alat

yang digunakan dalam pengajaran harus betul-betul efektif serta dipilih secara

selektif dan obyektif dengan mengacu pada tujuan dan bahan pelajaran yang

telah ditetapkannya sebelumnya.

d. Evaluasi

      Komponen ini mempunyai fungsi untuk menetapkan, apakah tujuan

pengajaran sudah tercapai, atau dengan kata lain, evaluasi memainkan peranan
                                                                                 21

penting sebagai barometer atau tolak ukur untuk mengetahui sejauhmana

tujuan pengajaran tersebut telah tercapai.

   4. Kriteria Keberhasilan Pengajaran

      a. Keberhasilan pengajaran ditinjau dari sudut prosesnya.

       Dalam kriteria ini lebih menekankan pada proses berlangsungnya

kegiatan belajar mengajar. Kriteria ini memandang bahwa pengajaran adalah

suatu proses yang di dalamnya harus ada hubungan interaksi secara dinamis

antara siswa dengan guru atau pengajar dan secara horizontal yaitu antara

siswa dengan siswa. Siswa dalam hal ini posisinya adalah sebagai subyek

belajar.

      b. Kriteria dirtinjau dari sudut hasil yang telah dicapai.

       Kriteria ini memang lebih menekankan pada tingkat penguasaan tujuan

oleh siswa sebagai subyek belajar, baik dari segi kualitasnya maupun dari segi

kuantitasnya.

       Kedua kriteria tersebut di atas tidaklah dapat berdiri sendiri, tetapi harus

merupakan hubungan sebab akibat. Dengan kriteria tersebut, berarti proses

pengajaran bukan hanya sekedar mengejar hasil setinggi-tingginya lalu

mengabaikan proses, akan tetapi keduanya adalah keseimbangan. Dengan kata

lain bahwa pengajaran tidak semata-mata hanya menghasilkan out-put

oriented, tetapi juga merupakan proses oriented.
                                                                         22

B. Tujuan Pengajaran Bahasa Arab

       Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama

yang harus ditetapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Dan tujuan

tersebut pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang

harus dicapai dan dimiliki oleh para peserta didik setelah mereka

menyelesaikan kegiatan belajar dalam proses pengajaran.

       Dengan adanya tujuan dan operasional, maka akan dipilih bahan

pelajaran yang menjadi isi kegiatan belajar mengajar. Dan dengan bahan

pelajaran itu pula diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pengajaran

yang diharapkan. Ada dua variabel yang terkait dengan tujuan pengajaran

tersebut, yaitu :

1. Pengajaran Bahasa Arab Sebagai Alat dan Tujuan Pengajaran

       Dilihat dari segi pengajaran, bahasa dibedakan menjadi dua,

sebagaimana tertulis dalam buku Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada

Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN. Pengajaran IAIN pada hakekatnya ada

dua macam, yaitu pertama sebagai alat dan kedua sebagai tujuan.

       Pengajaran bahasa Arab sebagai alat adalah pengajaran bahasa Arab

yang bertujuan untuk menjadikan penguasaan bahasa Arab oleh peserta didik

sebagai sarana atau alat untuk membantu keahlian yang dipelajari.
                                                                                   23

       Pengajaran bahasa Arab sebagai tujuan pengajaran bahasa Arab

dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga ahli bahasa Arab dan sastra Arab

atau memberikan keahlian untuk mengajar bahasa Arab sebagai contoh dari

pengajaran bahasa Arab sebagai tujuan adalah pengajaran bahasa Arab yang

ada di Fakultas Sastra Arab.30

2. Klasifikasi Tujuan Pengajaran Bahasa Arab

       Dalam dunia pendidikan dan pengajaran terdapat beberapa tingkatan

tujuan, yang oleh Dr. Nana Sujana dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu :

"pertama, tujuan umum pendidikan; kedua, tujuan institusional; ketiga, tujuan

kurikuler; empat, tujuan instruksional".31

   a. Tujuan Umum Pendidikan

       Tujuan pendidikan ini menduduki peringkat paling atas dari segenap

tujuan yang ada dalam tujuan umum ini termasuk juga tujuan nasional. tujuan

nasional yang menetapkan adalah pemerintah, oleh karena itu tujuan nasional

suatu negara tidaklah sama dengan negara lainnya. Perbedaan tersebut seirama

dengan perbedaan dasar filosofis dan politik setiap bangsa.

   b. Tujuan Institusional




       30 Departemen Agama R.I., Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada Perguruan Tinggi
Agama Islam. (Jakarta : Bimbaga Islam, 1987), h. 88
       31 Nana Sujana, op.cit., h. 35
                                                                            24

      Tujuan ini adalah tujuan yang diharapkan dicapai oleh lembaga atau

jenis tingkatan sekolah sebagai tujuan antara untuk Garis Besar Program

Pengajaran (GBPP).

      Dengan berpijak pada klasifikasi tujuan pengajaran secara umum di

atas, maka dapat diketahui bahwa tujuan pengajaran bahasa Arab jika dilihat

dari tujuan nasional, maka dapat diketahui bahwa tujuan pengajaran bahasa

Arab di Indonesia merupakan salah satu unsur untuk merealisasikan tujuan

nasional terutama yang terkait dengan kepentingan mayoritas penduduk

Indonesia, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.32

      Tujuan pengajaran bahasa Arab bila dikaitkan dengan tujuan

instruksional, maka tujuan tersebut dibagi kepada dua bagian, yaitu pengajaran

bahasa Arab sebagai alat dan pengajaran bahasa Arab sebagai tujuan.

Pengajaran bahasa Arab sebagai alat maka tujuan instruksional tersebut

dimaksudkan mulai dari Madrasah Ibtidaiyah sampai pada Perguruan Tinggi

Agama, yaitu bertujuan menjadikan penguasaan bahasa Arab sebagai sarana

atau alat untuk membantu keahlian lain yang digeluti atau untuk dipergunakan

sebagai alat komunikasi.

      Sedangkan pengajaran bahasa Arab sebagai tujuan, hanya terdapat pada

Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab dan Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan

      32   Nana Sujana, op.cit., h. 57
                                                                                        25

Bahasa Arab, bertujuan untuk menghasilkan tenaga ahli bahasa dan sastra Arab

atau untuk memberikan keahlian untuk mengajar bahasa Arab.

       Pengajaran bahasa Arab dalam kaitannya dengan tujuan kurikuler dapat

dilihat dalam kurikulum Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)

bahasa Arab di setiap jenjang pendidikan.33

       Sedangkan tujuan instruksional merupakan tujuan pengajaran bahasa

Arab yang paling rendah yaitu tujuan yang ingin dicapai dari selesainya setiap

pokok bahasan dari pengajaran bahasa Arab disetiap akhir pertemuan dalam

proses belajar mengajar.

       Dari keterangan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa tujuan

pengajaran bahasa Arab di lembaga pendidikan dalam hal ini Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu adalah alat, yaitu

pengajaran bahasa Arab yang bertujuan menjadikan penguasaan bahasa Arab

oleh peserta didik sebagai sarana untuk membantu keahlian yang dipelajari.


C. Metode Pengajaran Bahasa Arab

   1. Pendekatan, Metode dan Tehnik




       33  Departemen Agama R.I., Kurikulum Pendidikan Berciri Khas Agama Dalam Garis-garis
Besar Program Pengajaran Madrasah Aliyah, Mata Pelajaran Bahasa Arab. (Jakarta : Bimbaga
Islam, 1994), h. 1-2
                                                                                             26

        Pendekatan, metode dan tehnik merupakan istilah-istilah penting yang

perlu diketahui dalam rangka perbaikan cara mengajar bahasa demi

tercapainya hasil yang maksimal. Dari ketiga istilah tersebut di atas sering

dicampur adukkan pengertiannya, padahal ketiga istilah tersebut mempunyai

pengertian yang berbeda. Sehubungan dengan perbedaan tersebut di atas, maka

Muljanto Sumardi menegaskan bahwa pendekatan, metode dan tehnik

mempunyai hubungan hirarkis, di mana tehnik adalah penjelasan dan

penjabaran dari pendekatan.34

        Untuk lebih jelasnya, maka penulis akan menjelaskan ketiga istilah

tersebut dia atas, sebagai berikut :

   a. Pendekatan

        Pendekatan dalam pengertian pengajaran bahasa adalah seperangkat

asumsi yang bertalian dengan hakekat bahasa, hakekat pengajaran dan belajar

bahasa.35 Sedangkan menurut Prof. Dr. H. Radhi Al-Hafid, M.A bahwa :

     Pendekatan adalah pendirian, filsafat atau keyakinan yang bersifat
     aksimatis, diyakini tapi tidak mesti dibuktikan, maka pendekatan
     pengajaran bahasa dapat terdiri dari serangkaian asumsi mengenai esensi
     bahasa pengajaran dan belajar bahasa.36



          34 Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing; Sebuah Tinjauan Dari Segi Metodologi.

(Cet. II; Jakarta : Bulan Bintang, 1975), h. 17
          35 Kasurianto dan Fernades Yacoba, Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia; Buku II

Metodologi Pengajaran. (Surabaya : Universitas Press IKIP Surabaya, 1991), h. 1
          36 H.M. Radhi Al-Hafid, Mengenal Metode Pengajaran Bahasa Arab. (Yokyakarta, 1990), h.

21.
                                                                          27

      Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan itu

adalah menyatakan pokok pikiran, landasan pikiran, hal yang dipandang benar

atau sesuatu yang diyakini, tetapi tidak perlu dibuktikan kebenarannya. Oleh

karena itu, dalam pengajaran bahasa, aspek menyimak dan bercakap-cakap

harus diajarkan sebelum mengajarkan aspek membaca dan menulis.

   b. Metode Pengajaran Bahasa

      Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos, yang berarti

jalan atau cara. Dalam pengajaran bahasa, metode di definisikan dengan

rencana penyajian pelajaran secara menyeluruh dengan urutan yang sistematis

berdasarkan pendekatan-pendekatan tertentu.37

      Dari defenisi tersebut di atas dapat diketahui bahwa metode merupakan

penjabaran dari suatu pendekatan tertentu. Dengan demikian, maka dalam

pendekatan sudah pasti memiliki satu metode yang ada dalam suatu

pendekatan yang digunakan untuk mempresentasikan setiap materi pelajaran.

Dan dalam menyampaikan suatu materi pelajaran tentu dapat menggunakan

semua metode yang ada dalam suatu pendekatan. Menurut Dr. Muljanto

Sumardi, dalam bukunya yang berjudul Pengajaran Bahasa Asing; Sebuah

Tinjauan Dari Segi Metodologi,38 mengemukakan bahwa metode pengajaran

bahasa adalah sebagai berikut :

      37   Kusrianto, op.cit., h. 1-2
                                                                          28

   1). Direct Method

      Direct artinya langsung, direct method yaitu suatu cara menyajikan

materi pelajaran (bahasa asing) dimana guru langsung menggunakan bahasa

asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak

didik sedikitpun dalam proses mengajar berlangsung.39

      Pada prinsipnya metode ini sangat utama dalam pengajaran bahasa

Arab, karena siswa dapat secara langsung melatih kemahiran lidah tanpa

menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungan). Meskipun pada mulanya

dengan metode ini sangat menyulitkan anak didik untuk menirukan dengan

menguasai.

   2). Natural Method

      Natural method, disebut demikian karena dalam proses belajar

mengajar, anak didik dibawa ke alam seperti halnya pelajaran ibu sendiri.

Dalam bahasa Arab disebut dengan ‫ .ﻃﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺘﺮﺑﻴﺔ‬Dalam pelaksanaan metode ini

tidak jauh berbeda dengan metode langsung dalam bahasa asing, tanpa

diterjemahkan sedikitpun, sedangkan bahasa anak (bahasa ibu) tidak

dipergunakan sama sekali.

   3). Psychological Method (metode berdasarkan kejiwaan)



      38   Muljanto Sumardi, op.cit., h. 7
      39   Muljanto, Ibid., h. 32
                                                                                              29

        Penerapan atau pemakaian metode ini dalam pengajaran bahasa bagi

siswa adalah sangat memperhatikan keadaan jiwa dan asosiasi pikiran mereka,

kesukaan hati mereka, yaitu apa yang mereka paling senangi. Penyampaian

bahan-bahan materi pelajaran. Prinsip utama dalam mempraktekkan metode ini

adalah pelajaran bahasa itu hendaknya disesuaikan dengan kondisi jiwa siswa

dan disenangi oleh mereka.

   4). Phonetic Method (Mendengarkan dan mengucapkan)

        Metode ini mengutamakan ear learning dan aspek training, yaitu cara

mengajukan pelajaran bahasa melalui latihan-latihan mendengar, kemudian

diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam

bahasa yang sedang dipelajari. Dalam bahasa Arab, metode ini disebut dengan

‫04.ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺴﻤﻌﻴﺔ ﺍﻟﺴﻔﻮﻳﺔ‬

        Metode ini dapat dikatakan gabungan dari metode natural dan reading.

Menurut metode ini, pelajaran dimulai dengan latihan-latihan mendengar

kemudian diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata atau kalimat

dalam bahasa asing, kemudian disusul dengan latihan-latihan membaca

(reading and conversation).

   5). Reading Method (metode membaca).41


        40 Tayyar Yusuf, et.all., Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. (Cet. I; Jakarta :
Raja Grafindo Persada, 1995), h. 159
        41 Tayyar Yusuf, et.all., Ibid., h. 31
                                                                           30

      Reading method yaitu menyajikan materi pelajaran dengan cara terlebih

dahulu mengutamakan membaca, yaitu guru mula-mula membicarakan topik

bacaan, kemudian diikuti oleh siswa, kadang-kadang guru juga dapat

menunjuk langsung kepada siswa yang membacakan materi pelajaran, lalu

siswa yang lainnya memperhatikan apa yang dibaca oleh temannya tersebut.

      Tehnik dalam metode ini adalah bagaimana guru membacakan terlebih

dahulu materi pelajaran dan siswa memperhatikannya, setelah guru membaca,

kemudian ia menunjuk langsung salah satu siswa untuk membacakan kembali

apa yang telah dibaca oleh guru tersebut.

   6). Grammar Method (metode gramatika)

      Metode gramatika adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan

menghafal aturan-aturan atau kaidah-kaidah tentang tata bahasa, jadi

penekanannya adalah pada bagaimana anak didik dapat menguasai tata bahasa,

sedangkan percakapan anak didik tidak dipentingkan. Dengan metode ini

sebagian beranggapan bahwa anak didik jika hendak menguasai bahasa, maka

ia harus menguasai tata bahasa terlebih dahulu.

   7). Translation Method (Metode Penerjemahan)

      Metode ini yaitu menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing ke

dalam bahasa sehari-hari dan buku-buku bacaan tersebut tentunya sudah

direncanakan sebelumnya.
                                                                            31

       Pada dasarnya metode ini layak diunakan pada anak didik yang telah

memiliki perbendaharaan kata yang cukup, sehingga pada waktu guru

menerjemahkan bacaan tersebut siswa tidak terlalu menemui kesulitan untuk

menerjemahkannya satu persatu.

       Bagi seorang guru, dengan metode ini tidaklah terlalu sulit untuk

mengajar, meski harus menguasai kaedah-kaedah tata bahasa yang baik,

asalkan ia memiliki kemampuan dan menguasai kata-kata, maka guru dapat

mengajar dengan baik dan benar, meskipun guru tersebut tidak terlalu

profesional dalam bahasa asing yang diajarkannya.

   8). Grammar – Translation Method

       Metode ini adalah gabungan antara metode gramatika dan metode

translation. Metode ini dapat dikatakan ideal karena kelemahan dari salah satu

atau keduanya sama-sama saling menutupi dan melengkapi. Materi gramatika

terlebih   dahulu   diajarkan   kemudian    pelajaran   menerjemahkan     dan

pelaksanaannya sejalan.

       Namun kelemahannya masih juga ada, yaitu siswa hanya dapat

menyusun kalimat, akan tetapi tidak bisa terampil dalam bahasa Arab,

sedangkan yang diutamakan dalam mengajarkan bahasa adalah bagaimana

siswa dapat terampil dalam bercakap atau berkomunikasi.

   9). Electric Method (metode campuran)
                                                                                       32

       Metode ini dapat dikatakan sebagai metode campuran, dalam bahasa

Arab disebut dengan ‫ 24.ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺘﻮﻟﻔﻴﺔ‬Melalui metode ini, jika menyajikan bahan

pelajaran bahasa asing di depan kelas dapat melalui berbagai macam

kombinasi dari beberapa metode.

       Metode ini sering digunakan pada lembaga-lembaga non formal, karena

guru mengajarkan bahasa asing sesuai dengan kemampuan masing-masing

peserta didik dan disip;in ilmu yang mereka miliki.

   10). Unit Method (metode unit)

       Unit artinya bagian-bagian yang memiliki kesatuan lengkap dan bulat.43

Dengan kata lain, metode ini merupakan suatu cara menyajikan pelajaran

bahasa asing melalui unit kesatuan pengertian yang utuh dan lengkap. Dalam

pelajaran bahasa asing melalui metode ini dapat dilakukan melalui lima

tahapan, yaitu langkah persiapan, penyajian materi, asosiasi, generalisasi, dan

langkah aplikasi.44

   11). Language – Control Method




       42     Azhar Arsyad, Suatu Penafsiran Psikodinamik Terhadap Metodologi Bahasa Asing
Inovatif. (Cet. I; Jakarta : Al-Quswa, 1989), h. 46
          43 H. Tayyar yusuf, et.all., op.cit., h. 172
          44 Ibid., h. 173-174
                                                                           33

       Metode ini sering disebut dengan istilah simplcation method, yaitu

penyajian pelajaran dengan cara mengajarkan kosa-kata sebanyak-banyaknya,

struktur-struktur kalimat dan istilah-istilah tertentu yang sederhana.

       Ciri-ciri pokok yang menonjol dalam penyajian metode ini adalah

pembahasan dan gradasi yang ketat baik kosa kata maupun struktur kalimat

bahasa asing tersebut haruslah ditata sedemikian rupa atas dasar prinsip

didaktis dan psikologis anak didik.45

       Keberhasilan pengajaran bukan hanya ditentukan oleh banyak atau

tidaknya kosa kata dan struktur kalimat yang diajarkan dan dikuasai oleh anak

didik, tetapi sangat membantu untuk memahami materi pelajaran yang

disajikan apalagi jika bahasa asing tersebut dapat diketahui maknanya jika

diketahui artinya.

   12). Mim –Men Method

       Mim adalah singkatan dari mimicry atau meniru, dan mem adalah

memorization atau menghafal atau mengingat. Metode ini sering disebut

dengan informan –drill method.46

   13). Practic Theori Method




       45   Muljanto Sumardi, op.cit., 38
       46   H. Tayyar Yusuf, et.all., op.cit., h. 183
                                                                                      34

      Dilihat dari namanya, metode ini yang diutamakan adalah dengan

mengadakan         praktek      terlebih      dahulu,   kemudian   materi   atau   teori.

Perbandingan untuk metode ini adalah tujuh banding tiga. Tujuh untuk praktek

dan tiga untuk teori. Jadi besar kemungkinan siswa cepat lancar dalam

berbahasa asing.

   14). Cognate Method

      Cognate adalah kata-kata yang sama asalnya.47 Penyajian materi dalam

metode ini yaitu dengan mengutamakan inventarisasi kata-kata yang sama,

akar kata yang sama, huruf-huruf atau arti yang sama.

   15). Dual – Language Method

      Metode ini adalah kelanjutan dari metode cognate, bukan saja

menginventarisasi kata-kata yang sama, tetapi lebih dari itu. Antara bahasa

asing yang dipelajari dengan bahasa-bahasa sendiri. Misalnya bahasa Inggris

dirangkapkan dengan bahasa Indonesia (dibanding-bandingkan) di dalamnya

tentang kata-kata yang sama, arti yang sama, serta kosa kata yang sebanyak

mungkin dan meliputi semua segi lainnya.48

      Inilah lima belas macam metode pengajaran yang masing-masing

metode memiliki ciri khusus. Dan menurut analisa penulis, bahwa masih



      47   Muljanto Sumardi, op.cit., h. 39
      48   op.cit., h. 181
                                                                                              35

banyak metode lain yang sering dipergunakan dalam mengajarkan bahasa

asing yang mungkin lebih efektif dan efesien.

        Menurut Dra. Juwariyah Dahlan, MA bahwa "bahasa Arab bagi orang

Indonesia adalah termasuk bahasa asing",49 dan menguasai metode pengajaran

bahasa asing menurut Dr. Muljanto Sumardi ada lima belas macam metode

pengajaran bahasa. Namun selain itu masih ada dan diakui pula metode-

metode yang lain, walau kesemuanya tidak terdapat perbedaan yang menjolok.50

   c. Tehnik

        Istilah tehnik dalam pengajaran didefinisikan dengan cara-cara dan alat

yang digunakan oleh guru atau pengajar dalam rangka mencapai suatu tujuan

secara langsung dalam pelaksanaan pelajaran saat itu.51

        Menurut Prof. Dr. H. Radhi Al-Hafid, M.A yang dimaksud dengan

tehnik dalam belajar termasuk dalam belajar bahasa yang bersifat

implementasional saat proses belajar berlangsung yaitu untuk mencapai

sasaran yang diharapkan.52

        Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa tehnik merupakan penjelasan

dan penjabaran suatu metode, maka sudah tentu bahwa kutipan defenisi tehnik


        49  Juwariyah Dahlan, Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab. (Cet. I; Surabaya : Al-Ikhlas,
1992), h. 103
         50 Muljanto Sumardi, op.cit., h. 59
         51 Kasurianto, op.cit., h. 24
         52 H. M. Radhi Al-Hafid, op.cit., h. 32
                                                                                                 36

tersebut perlu dilengkapi dengan pijakan pada metode tertentu. Dengan

demikian, maka dapatlah dipahami bahwa tehnik itu dapat di defenisikan

sebagai daya upaya, atau usaha-usaha yang ditempuh oleh seorang guru dalam

rangka mencapai suatu tujuan pengajaran dengan cara yang paling praktis,

namun tetap harus senantiasa merujuk serta berpijak pada metode tertentu.

    2. Evaluasi Pengajaran Bahasa Arab

       2. a. Defenisi

         Bila dilihat dari segi arti, kata evaluasi secara umum memiliki banyak

arti. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Suharsimi Arikunto bahwa makna dari

evaluasi adalah sebagai berikut :

     1) Mengukur, yaitu membandingkan suatu ukuran umumnya bersifat

        ukuran kuantitatif.

     2) Nilai, yaitu mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran

        norma, penilaian umumnya bersifat kualitatif.

     3) Evaluasi juga dapat berarti perpaduan antara menilai dengan mengukur.53

         Istilah evaluasi memang sering dikacaukan dengan pengukuran,

sebenarnya keduanya ada kaitan yang sangat erat, tetapi memiliki sedikit




         53   Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. (Cet. VII; Jakarta : Bumi Aksara,
1991), h. 3
                                                                                               37

perbedaan. Menurut Sumadi Suryabrata dalam bukunya Psikilogi Belajar,

dinyatakan bahwa :

    Pengukuran adalah mencakup segala cara untuk memperoleh informasi
    yang dapat di kwantifikasikan, baik dengan tes maupun dengan cara-cara
    lain. Sedangkan pengertian evaluasi menekankan pada penggunaan
    informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain
    untuk menentukan pendapat dan membuat keputusan-keputusan
    pendidikan.54

        Dari pengertian tersebut di atas, jika dihubungkan dengan pendidikan

dan pengajaran, maka evaluasi dapat berarti suatu tindakan yang lebih maju

atau proses untuk menilai segala yang ada yang telah dijabarkan dalam ruang

lingkup pendidikan berdasarkan waktu, ukuran atau patokan tertentu.




   2. b. Bentuk-bentuk evaluasi pengajaran bahasa Arab

        Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa istilah evaluasi

adalah istilah yang masih bersifat umum. Sedangkan jika dihubungkan dengan

proses pengajaran bahasa Arab, maka evaluasi dalam hal ini mempunyai kata

padanan yaitu ‫ ,ﺍﻟﺘﻤﺮﻳﻦ‬atau ‫ 55,ﺍﻟﺘﺪﺭﻳﺒﺎﺕ‬yang pada dasarnya bermakna latihan-

latihan. Maksudnya adalah latihan-latihan yang diberikan oleh guru kepada


        54  H. Abu Ahmadi dan Widodo Supriono, Psikologi Belajar. (Cet. I; Jakarta : Rineka Cipta,
1991), h. 187.
         55 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwar; Kamus Arab-Indonesia. (Surabaya : Pesantren,

1989), h. 1424
                                                                               38

peserta didik untuk mengulang dan mengingat kembali isi pokok dari

pelajaran-pelajaran yang telah diterima selama belajar dalam waktu tertentu.

      Bentuk-bentuk evaluasi yang dimaksud adalah sebagai berikut :

   1). Qira'ah

      Metode Qira'ah adalah penyajian materi pelajaran dengan cara

membaca, mengucapkan lafadz dan kalimat dalam bahasa Arab dengan baik

dan benar.

      Adapun tujuan pembelajaran Qira'ah ini adalah sebagai berikut :

 a. Melatih siswa terampil dalam membaca huruf Arab dan al-Qur'an.

 b. Dapat melagukan dan melantunkan gaya bahasa Arab dan al-Qur'an.

 c. Melatih siswa untuk dapat membaca dan mengerti serta faham terhadap

    apa yang dibaca.

 d. Agar siswa dapat membaca, membahas dan meneliti buku-buku agama,

    karya ulama-ulama besar dan pemikir besar besar Islam yang umumnya

    karya mereka ditulis dengan bahasa Arab.

   2). Kitabah.

      Metode Kitabah adalah penyajian materi pelajaran dengan cara menulis,

kata dan kalimat dalam bahasa Arab dengan baik dan benar.

      Adapun tujuan pembelajaran Kitabah ini adalah sebagai berikut :

 a. Melatih siswa terampil dalam menulis huruf Arab dan al-Qur'an.
                                                                           39

 b. Melatih siswa untuk dapat menulis dan mengerti serta faham terhadap apa

    yang mereka tulis.

  3). Insya'

      Insya' ini diberikan sesuai dengan taraf kemampuan bahasa para pelajar.

Insya' ini adakalanya berbentuk ‫ ,ﺇﻧﺸﺄ ﻣﻮﺟﻬﺔ‬yaitu latihan dalam menyusun

kalimat Arab dengan terlebih dahulu diberikan bahan rangsangan dengan

mengemukakan berbagai pertanyaan-pertanyaan, contoh-contoh kalimat, dan

lain sebagainya. Sedangkan bentuk insya' yang lain adalah bentuk bebas

dengan tetap mengacu pada pokok permasalahan muthola'ah, dan banyak lagi

bentuk-bentuk insya' yang diberikan menurut selera guru masing-masing

dengan tetap mempertimbangkan kemampuan siswa dan sarana atau fasilitas

yang ada.

  4). Muhadatsah atau Mahfudzat

      Materi ini sangat penting, karena muhadtsah atau mahfudzat

menyangkut keterampilan dalam berbicara, sedangkan bahasa selalu identik

dengan lisan. Dengan kata lain bahwa bahasa itu lebih ditekankan pada

pengucapan dengan memperhatikan dialek aslinya.

      Menurut Drs. H. Hidayat bahwa ada satu hal yang tidak kalah

pentingnya demi keberhasilan satu tujuan pengajaran bahasa Arab umumnya,

khususnya pelajaran muhadatsah atau mahfudzat, yaitu guru hendaknya selalu
                                                                                                   40

aktif dalam berbicara dengan bahasa Arab di setiap saat sesuai dengan

kemampuannya masing-masing.56

    5). Tarjamah

        Tarjamah ini adalah untuk memantapkan penguasaan pola bahasa yang

telah diajarkan. Dalam hal ini hendaknya didasari oleh adanya perbedaan-

perbedaan susunan bahasa Arab dan susunan bahasa Indonesia seperti halnya

mengenai pokok kalimat, yaitu dalam bahasa Arab ada dua macam susunan

yaitu ‫ ﺟﻤﻠﺔ ﻓﻌﻠﻴﺔ‬dan ‫ .ﺟﻤﻠﺔ ﺇﺳﻤﻴﺔ‬Oleh karena itu perlu dikembangkan model

terjemahan yang sesuai dengan bahasa masing-masing, bukan terjemahan

secara harfiyah. Menurut Umar Asasuddin Sohah bahwa :

      Prosedur terjemahan lebih berbelit-belit, karena seorang penerjemah atau
      anak didik harus dituntut untuk dapat menguasai dua bahasa. Dengan kata
      lain bahwa terjemahan terbaik tidak akan tercapai tanpa penguasaan kedua
      bahasa tersebut.57

        Dari penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

menterjemah itu adalah sangat susah, apalagi jika pengetahuan tentang ilmu

nahwu dan ilmu sharaf serta penguasaan kosa kata sangat minim. Namun

untuk bisa menterjemahkan dengan baik harus terlebih dahulu memperbanyak




        56   H. Hidayat, et.all., Ta'lim al-Luqhah al-Arabiyah li al-Madrasah al-Aliyah fi al-Qism al-
Salis. (Jakarta : Syahid Indah, 1991), h. 103
          57 Umar Asasuddin Sohah, Problematika Pengajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, (Nur

Cahaya, 1982), h. 39
                                                                                                   41

menghafal, yaitu dengan menguasai perbendaharaan kata atau ‫ ﻣﻔﺮﺩﺍﺕ‬sekaligus

mempermudah memahami struktur pada suatu kalimat, atau apapun bentuknya.




                                              BAB III

                                   METODE PENELITIAN



A. Pendekatan Penelitian


        Pendekatan penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah

pendekatan          kualitatif     deskriptif.     Artinya       pemilihan       yang     bertujuan

mendiskripsikan hasil penelitian yang ditemukan oleh penulis di lapangan.

Sehubungan dengan penelitian deskriptif kualitatif ini di kemukakan beberapa

pendapat antara lain, Moleong, mengatakan bahwa penelitian kualitatif sebagai

penelitian yang tidak menggunakan perhitungan.58 Sedangkan Noeng Muhadjir

mengatakan bahwa penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif

merupakan penelitian yang hanya sekedar menggambarkan hasil analisis suatu

variable penelitian.59


          58   Moleong., Penelitian Kualitatif. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1990), h. 45

          59   Noeng Muhadjir., Metodologi Penelitian Kualitatif. (Ed. III; Yokyakarta : Rake Sarasin,

1998), h. 21
                                                                                                 42

        Selanjutnya Imron Arifin dalam bukunya Penelitian Kualitatif Dalam

Ilmu-ilmu Sosial mengatakan bahwa penelitian kualitatif bersifat fleksibel,

terbuka dan dapat dikondisikan berdasarkan lapangan penelitian.60

        Penelitian dengan pendekatan kualitatif dalam tulisan ini didasarkan

pada sasaran yang ingin dicapai yaitu mendiskripsikan tentang penerapan

metode Qawaid dalam meningkatkan kualitas bahasa Arab di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.



B. Rancangan Penelitian

        Penelitian ini adalah merupakan penelitian studi kasus dan penelitian

lapangan. Menurut Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar dalam bukunya

Metodologi Penelitian Sosial, mengatakan bahwa penelitian kasus dan

penelitian lapangan bermaksud mempelajari secara intensif tentang latar

belakang keadaan sekarang, interaksi sosial, individu, kelompok, lembaga dan

masyarakat.61




          60   Imron Arfhan., Penelitian Kualitatif Dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan. (Cet. III;

Malang : Kalimasada Press, 1996), h. 40

          61Husaini   Usman dan Purnomo Setiadi Akbar., Metodologi Penelitian Sosial. (Cet. IV;

Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2003), h. 4
                                                                       43

       Variabel utama dalam penelitian ini adalah penerapan metode Qawaid

dalam meningkatkan kualitas Bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.



C. Lokasi Penelitian/Kehadiran Peneliti

   1. Lokasi Penelitian


       Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu,

terletak di Kecamatan Sigi Biromaru, desa Ngata Baru merupakan salah satu

wilayah daerah tingkat I Sulawesi Tengah.

       Dipilihnya Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu sebagai lokasi penelitian skripsi ini di dasarkan beberapa

alasan, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

   sebagian besar memiliki guru yang khusus mengajarkan bidang studi

   bahasa Arab yang dapat dijadikan objek penelitian, terutama meneliti

   tentang penerapan metode Qawaid dalam meningkatkan kualitas Bahasa

   Arab di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

   Palu.
                                                                        44

b. Siswa atau santri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

   Biromaru Palu seluruhnya beragama Islam dan sebagian besar dari siswa

   tersebut berasal dari Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, kondisi

   ini tentu memberikan satu objek penelitian yang jelas tentang penerapan

   metode Qawaid dalam meningkatkan kualitas Bahasa Arab di Pondok

   Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu.

      Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

dapat dijangkau oleh kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Pada

lokasi inilah berdiri beberapa bangunan antara lain adalah masjid, gedung

perpustakaan, gedung laboratoruim, gedung keterampilan, bangunan/gedung

tempat belajar siswa.

      Di samping bangunan permanen sekolah untuk para siswa, juga terdapat

gedung sebagai kantor dan sekaligus sebagai tempat dewan guru yang

dipergunakan sebagai tempat administrasi ketatausahaan maupun tempat

permanen dengan para tamu.

   2. Kehadiran Peneliti

      Penulis sebagai peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian

sekaligus sebagai pengumpul data. Dalam melakukan penelitian, penulis

bertindak sebagai pengamat penuh yang mengamati tentang penerapan metode

Qawaid dalam meningkatkan kualitas Bahasa Arab di Pondok Pesantren
                                                                            45

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu. Para informan yang akan di

wawancarai oleh penulis akan diupayakan mengetahui keberadaan penulis

sebagai peneliti, sehingga dapat memberikan informasi yang valid.



D. Sumber Data

       Jenis data yang akan dikumpulkan oleh penulis dalam penelitian ini

terbagi dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut :

1. Data kepustakaan, yaitu : data yang di peroleh dari literatur seperti buku,

   majalah, dan lain sebagainya. Karakteristik data kepustakaan yang di

   kumpulkan dapat di kategorikan dalam dua jenis, yaitu :

   a. Data primer, yaitu : literatur yang membahas tentang penerapan metode

      Qawaid serta peningkatan kualitas bahasa Arab.

   b. Data sekunder, yaitu : literatur lain yang mendukung penelitian ini

      seperti kamus-kamus, buku-buku yang membahas tentang            metode

      Qawaid dalam peningkatan kualitas bahasa Arab, tehnik, dan lain

      sebagainya.

2. Data lapangan, yaitu : data yang diperoleh dari hasil penelitian penulis di

   lokasi penelitian. Karakteristik data lapangan yang dikumpulkan dapat di

   kategorisasikan dalam dua jenis, yaitu :
                                                                         46

     a. Data primer, yaitu : data lapangan yang mengungkapkan tentang

       penerapan metode Qawaid dalam meningkatkan kualitas Bahasa Arab

       di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu,

       terutama yang di peroleh dari informan, yaitu satu orang Pimpinan

       Pondok sekaligus sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah, satu orang

       Kepala Madrasah Aliyah, satu orang direktur TMI, beberapa orang guru

       bidang studi bahasa Arab, satu orang bagian Tata Usaha, dan beberapa

       orang siswa.

     b. Data Sekunder, yaitu : data lapangan lain yang mendukung penelitian

       ini seperti sejarah berdirinya Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

       Ngata Baru Biromaru Palu, keadaan sarana dan prasarana, dan lain

       sebagainya.



E. Tehnik Pengumpulan Data

       Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu dengan

menggunakan metode sebagai berikut :

1.   Observasi; yaitu penulis melakukan pengamatan langsung pada lokasi

     penelitian yaitu pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru
                                                                          47

     Biromaru Palu, menyangkut keadaan sarana dan prasarana pendidikan dan

     lain sebagainya.

2.   Interview; yaitu penulis melakukan wawancara dengan beberapa informan

     yang dapat memberikan data, seperti Pimpinan Pondok yang juga

     merangkap sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah atau Kepala Madrasah

     Aliyah atau direktur TMI dan beberapa orang dewan guru.

3.   Dokumentasi; yaitu penulis mengumpulkan data dari beberapa dokumen-

     dokumen penting, seperti papan monografi dan arsip-arsip lain yang

     mendukung kelengkapan data penelitian ini.

F. Tehnik Analisis Data

     Data yang dikumpulkan kemudian diolah dan di analisis dengan langkah-

langkah sebagai berikut :

1. Reduksi data, yaitu penulis merangkum beberapa data dan keterangan yang

     dianggap penting untuk di analisa, kemudian dimasukkan kedalam

     pembahasan ini. Artinya, tidak semua data dan keterangan yang diperoleh

     masuk dalam kategori pembahasan ini.

2. Penyajian data, yaitu penulis memperoleh data dan keterangan dari objek

     yang bersangkutan, kemudian disajikan untuk dibahas guna menemukan

     kebenaran-kebenaran yang hakiki.
                                                                             48

3. Verifikasi data, yaitu penulis membuktikan kebenaran data yang diperoleh

    dengan tujuan menghindari adanya unsur subjektifitas yang dapat

    mengurangi bobot kualitas skripsi ini. Artinya, data dan keterangan yang

    diperoleh dapat di ukur melalui responden yang benar-benar sebagai

    pelaku atau sekurang-kurangnya memahami terhadap masalah yang

    diajukan.



G. Pengecekan Keabsahan Data

       Pengecekan kebsahan data dimaksudkan disini adalah untuk menjamin

validitas data yang dikumpulkan, sehingga hasil penelitian ini dapat di

pertanggungjawabkan secara objektif dan ilmiah. Dalam penelitian kualitatif,

keabsahan atau validitas data tidak diuji dengan metode statistik, melainkan

dengan analisis kritis kualitatif.

       Adapun tehnik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah melalui cross check atau cek silang antar data, baik dari

sumber yang sejenis maupun dari jenis sumber lain. maka data yang bersumber

dari hasil wawancara dengan seorang informan, misalnya di kronfontasikan

dengan data dari informan lain. Ini yang dimaksud dengan cek silang antar data

dari sumber yang sejenis.
                                                                            49

      Sedangkan cek silang antar data dari sumber yang tidak sejenis,

misalnya data dari seorang informan di konfrontasikan dengan data hasil

observasi, atau data yang bersumber dari dokumentasi. Dengan demikian,

validitas sebuah data sangat ditentukan oleh dukungan data lain, terutama dari

sumber data primer dan atau paling tidak di dukung oleh data sekunder.




                                  BAB IV

                           HASIL PENELITIAN




A. Gambaran Umum Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata
   Baru Biromaru Palu

    1. Sejarah Singkat

      Lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru di dirikan bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan

Nasional tanggal 2 Mei 1993 M/10 Zulhijjah 1413 H, di atas tanah wakaf
                                                                             50

seluas kurang lebih 8 h.a., yang berlokasi di desa Ngata Baru Kecamatan Sigi

Biromaru Daerah Tingkat II Kota Madya Palu Provinsi Sulawesi Tengah.

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah ini dibangun sebagai upaya

mengantisipasi situasi dan kondisi yang terjadi di tengah masyarakat yang kian

hari kian jauh dari nilai kehidupan dan kultur budaya Islam, karena terhalang

oleh kehidupan yang materialistis, individualistis, kultur budaya yang serba

nisbi dan pergaulan bebas yang melanda sebahagian besar generasi muda

Islam. Di samping untuk mendidik dan membina para generasi muda Islam

dengan dasar iman dan taqwa agar mereka memiliki mentalitas yang kuat dan

kedalaman spiritual serta kehandalan dibidang ilmu pengetahuan dan

keterampilan sehingga mereka siap tampil sebagai muslim yang mujahhid

untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini.

      Dalam proses pendirian Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru, sangat nampak bahwa lembaga tersebut dibangun dengan landasan

keikhlasan beramal semata untuk menegakkan ilmu pengetahuan karena

dengan modal satu bangunan kecil yang terbuat dari papan dengan jumlah awal

santri sebanyak 52 orang dan seorang Kyai yaitu Bapak Drs. K. H. M. Arief

Siraj, Lc, dimulailah aktivitas lembaga pendidikan ini. Oleh karena itu, banyak

masyarakat yang kurang merespon atau kurang mempercayai bahkan sampai

tidak mengenal kehadiran lembaga pendidikan ini, karena letaknya yang
                                                                              51

terbilang sangat jauh dan terpencil di lembah kota Palu yang hiruk-pikuk, di

semak-semak belukar kurang lebih 14 KM ke arah timur laut Kota Palu,

dengan radius sekitar 4 KM dari perumahan penduduk, baik itu penduduk

kelurahan Petobo, maupun kelurahan Kawatuna.

      Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru langsung dipimpin

oleh pendirinya sendiri yaitu Drs. K. H. M. Arief Siraj, Lc, seorang putra Bugis

Barru Sulawesi Selatan kelahiran Desa Sabang Kabupaten Donggala tanggal

13 Juni 1955 dengan berlatar pendidikan Sekolah Dasar Tamat tahun 1967,

Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Gontor Ponorogo selama enam

tahun, tamat tahun 1978, kemudian melanjutkan pendidikannya pada Institut

Pendidikan Darussalam (IPD) Fakultas Ushuluddin tamat tahun 1982, lalu

kemudian melanjutkan studi ke Cairo Mesir selama tiga tahun dan berhasil

mendapat gelar Lc tahun 1985, kemudian menyelesaikan sarjana (Drs) pada

Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palu dan selesai pada tahun 1990.

      Pendiri Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru juga aktif

dalam berbagai kegiatan pembinaan keagamaan melalui lembaga-lembaga

kemasyarakatan dan pemerintah, oleh sebab itu beliau diangkat menjadi salah

seorang tenaga pengajar (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Departemen

Agama Kabupaten Donggala, namun karena jiwa santrinya yang amat begitu

kental, maka beliau kembali membangun Pondok Pesantren Nurul Falah
                                                                           52

bersama dengan Prof. H. Ishak Arief, S.E., di kelurahan Kawatuna dan beliau

membina sekaligus menjadi pendidik di lembaga pendidikan tersebut selama

kurang lebih empat tahun, yaitu dari tahun 1988 sampai dengan tahun 1993.

namun dengan semangat kemandirian dan keikhlasan untuk membina ummat

Islam di Provinsi Sulawesi Tengah ini, khususnya di Kota Palu, maka beliau

berusaha mendirikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru pada

tahun 1993, beliau membeli tanah seluas 12.750 m2 dengan harga tanah saat

itu Rp. 250.000. Pada tahun yang sama dimulailah peletakan batu pertama

dengan membangun bak air dan berkat respon dari berbagai kalangan

masyarakat terutama pemerhati lembaga pendidikan ini, maka beliau berhasil

mendirikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah yang terletak di Desa

Ngata Baru Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Donggala Kota Madya Palu

provinsi Sulawesi Tengah.

      Lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah ini

dinamakan Al-Istiqomah, karena berlatar belakang dari ketetapan hati sang

Kyai untuk mendirikannya, sebab pada waktu mendirikan lembaga ini, sang

Kyai mendapat ujian dan tantangan yang begitu kuat, baik dari segi deraan

material maupun deraan masyarakat yang belum memberikan respon yang

baik, belum lagi dari faktor lain khususnya dari dalam keluarga, namun karena

tekad bulat dan di dukung oleh kesabaran, akhirnya Allah swt., mengabulkan
                                                                           53

do’a sang Kyai, hingga akhirnya lembaga pendidikan Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru memiliki santri atau siswa dari

berbagai provinsi di Indonesia.

       2. Sarana dan Prasarana

        Mengenai masalah sarana dan prasarana di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru, pada dasarnya sebagaimana yang terdapat

pada lembaga pendidikan lainnya termasuk pula pada lembaga pendidikan

formal seperti masalah gedung, ruang pembelajaran, kantor, dan lain

sebagainya.

        Untuk lebih jelasnya, keadaan sarana dan prasarana di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru, dapat dilihat pada tabel

I berikut ini :

                          TABEL I
                 KEADAAN FASILITAS GEDUNG
           PONDOK PESANTREN MODERN AL-ISTIQOMAH
                   NGATA BARU BIROMARU

                                        Jml      Jml          Kondisi
  No              Jenis Ruang/Gedung
                                        Unit    Lokal   Permanent   Darurat
 1       Rumah Pimpinan Pondok           1        -         1          -
 2       Rumah Guru                      2        -         1          1
 3       Asrama Santri Putra             3        8         8          -
 4       Asrama Santri Putri             4       10         9          1
 5       Ruang Belajar                   4       17        14          3
 6       Ruang Keterampilan              1        1         1          -
 7       Ruang Perpustakaan              1        1         1          -
 8       Ruang Laboratorium Komputer     -        1         1          -
                                                                                       54

 9      Ruang Laboratorium IPA                   1         1           1           -
 10     Ruang Kantor TMI                         1         1           -           1
 11     Ruang Bendahara                          -         1           1           -
 12     Ruang Guru                               -         3           -           3
 13     Ruang Kantor Pengasuhan                  -         1           -           1
 14     Ruang Administrasi/Sekertaris            -         1           -           1
 15     Masjid                                   1         1           1           -
 16     Dapur Umum                               1         1           1           -
 17     Koperasi Pelajar Putra                   1         1           -           1
 18     Koperasi Pelajar Putri                   1         1           -           1
 19     Cafetaria Santri Putra                   1         1           -           1
 20     Cafetaria Santri Putri                   1         1           -           1
 21     Ruang Kantor OPPM Putra                  1         1           -           1
 22     Ruang Kantor OPPM Putri                  1         1           -           1
 23     Ruang Makan Santri                       1         2           -           2
 24     Kamar Mandi/Wc Putra                     3        14          10           4
 25     Kamar Mandi/Wc Putri                     3        12          10           2
 26     Kamar Mandi/Wc Guru                      -         4           -           4
 27     Ruang Diesel/Genset                      1         1           -           1
 28     Lapangan Volly Ball                      -         2           -           2
 29     Lapangan Basket                          -         1           1           -
 30     Aula/Auditorium                          1         1           -           1
 31     Lapangan Sepak Bola                      -         1           1           -
 32     Lapangan Sepak Takraw                    -         1           -           1
Sumber Data : Kantor Tarbiyatul Muallimien al-Islamiyah (TMI) Pondok Pesantren Modern Al-
              Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

                                 TABEL II
    KEADAAN MEUBELER PONDOK PESANTREN MODERN
       AL-ISTIQOMAH NGATA BARU BIROMARU PALU
                                                     Kondisi
No         Nama Alat Meubeler             Jumlah
                                                 Baik    Rusak
1  Meja untuk belajar santri/siswa          267  260         7
2  Bangku untuk belajar santri/siswa        312  300       12
3  Kursi untuk belajar santri/siswa         105   95       10
4  Meja untuk guru                           17   17         1
5  Kursi untuk guru                          17   17         3
6  Meja untuk tata usaha                      2    2         -
7  Kursi untuk tata usaha                     2    2         -
                                                                                      55

8    Meja dan kursi tamu                                1 Set        1 Set        -
9    Meja untuk pimpinan pondok pesantren                 1            1          -
10   Kursi untuk pimp. pondok pesantren                   1            1          -
11   Lemari tata usaha                                    2            2          -
12   Lemari pimpinan pondok pesantren                     1            -          3
13   Lemari untuk guru                                    -            -          1
14   Lemari untuk kelas                                   6            5          1
15   Rak buku perpustakaan                                4            4          -
16   Rak buku tata usaha                                  1            -          1
17   Papan tulis                                         17           17          -
18   White board                                          2            2          -
19   Etalase pengumuman                                   2            2          -
20   Etalase koran (kaca)                                 2            2          -
21   Papan nama pondok pesantren                          2            2          -
22   Papan data Madrasah Tsanawiyah                       1            -          -
23   Papan data Madrasah Aliyah                           1            -          -
24   Papan data pondok pesantren                          1            -          -
Sumber Data : Kantor Tarbiyatul Muallimien al-Islamiyah (TMI) Pondok Pesantren Modern Al-
              Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu
     3. Keadaan Guru dan Santri

     a. Keadaan Guru

       Mengenai keadaan guru (pendidik), penulis mencari data melalui

wawancara kepada Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru, disela waktu istirahatnya, beliau mengatakan :

       … bahwa para pendidik (guru) di Pondok Pesantren Modern Al-
       Istiqomah Ngata Baru Biromaru adalah guru-guru yang mukhlisin, yang
       berasal dari berbagai daerah dengan disiplin ilmu masing-masing,
       jumlahnya orang, mereka adalah lulusan dari Pondok Modern Gontor
       Ponorogo, Institut Pendidikan Darussalam Gontor, Universitas Al-
       Azhar Kairo, LIPIA Jakarta, IAIN Makassar, Universitas Tadulako,
       STAIN Datokarama Palu, Universitas Muhammadiyah Palu, dan dari
       Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah (alumni), dan yang sedang
       dalam masa proses pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi yang ada
       di Kota Palu.62
                                                                                                      56



        Untuk lebih jelasnya tentang keadaan guru di Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru,                 dapat dilihat pada tabel II,             sebagai

berikut :




                              TABEL III
                KEADAAN GURU PONDOK PESANTREN MODERN
                  AL-ISTIQOMAH NGATA BARU BIROMARU
 No            Nama Guru            L/P       Pendidikan Terakhir                  Keterangan
 1    Drs. K.H.M. Arif Siraj, Lc          S1 Ushuluddin/Akidah Filsafat   Pimpinan Pondok
 2    Sa'ad Ibnu Taba                     D2 LIPIA                        Direktur TMI Al-Istiqomah
 3    Sahri, S.Pd                         S1 Matematika                   Kepala Madrasah Aliyah
 4    Suharno, S.Pd.I                     S1 Bahasa Arab                  Sekertaris
 5    Budiyono, S.Pd.I                    S1 Pendidikan Agama Islam       Ketua P4
 6    Sofyan, S.Pd.I                      S1 Pendidikan Agama Islam
 7    Fatrini, S.Pd                       S1 Pendidikan Fisika
 8    Budiyanto, S.Pd.I                   S1 Bahasa Arab                  Pengelola Laboratorium IPA
 9    Rusdin Ibrahim, S.Ag                S1 Bahasa Arab                  Mabikori Pramuka
 10   Amran Azali, S.Pd.I                 S1 Pendidikan Agama Islam       Pengasuhan Santri/BK
 11   Ariyanto Marewangi, S.Ag            S1 Dakwah/KPI
 12   Arman Ibrahim, S.Pd.I               S1 Pendidikan Agama Islam
 13   Ridwan, S.Pd                        S1 Pendidikan Kimia
 14   Abd. Haris Fathan, S.Pd             S1 STKIP/Akuntansi
 15   M. Yusuf Hasan, S.P                 S1 Pertanian                    Pengelola Perpustakaan
 16   Ma'sumah, S.Pd.I                    S1 Pendidikan Agama Islam       Pengelola Laboratorium IPA
 17   Kartin, S.Pd.I                      S1 Pendidikan Agama Islam
 18   Neni, S.Pd.I                        S1 Pendidikan Agama Islam
 19   Fatmawati, S.Pd.I                   S1 Pendidikan Agama Islam




         62   Drs. K. H. M. Arief Siraj, Lc., Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru, Wawancara, Pondok Pesantren Modern ‘Al-Istiqomah” Ngata Baru Biromaru,

Tanggal 17 Juli 2006
                                                                                           57

 20    Ronawati, S.Pd.I                S1 Pendidikan Agama Islam
 21    Asna Azkar, S.Pd.I              S1 Pendidikan Agama Islam
 22    Zulkarnaen                      TMI Al-Istiqomah
 23    Musawir                         TMI Al-Istiqomah
 24    Raslim Islamuddin               TMI Al-Istiqomah
 25    Syamsul Bahri                   TMI Al-Istiqomah
 26    Faisal Ali Al-Katiri            KMI Gontor
 27    Dadan Nurhayat                  KMI Gontor
 28    Eko Prasetyo                    KMI Gontor
 29    Irham Al-Firmany                KMI Gontor
 30    Andi Supardi                    KMI Gontor
 31    Andre                           KMI Gontor
 32    Adi Prayitno                    TMI Al-Istiqomah              Pengurus Harian TMI
 33    Nur Alam                        TMI Al-Istiqomah              Mabikori Pramuka
 34    Muhbar Nontji                   TMI Al-Istiqomah
 35    Muhammad Affan                  TMI Al-Istiqomah              Bendahara
 36    Ismar                           TMI Al-Istiqomah
 37    Ibnu Katsir                     TMI Al-Istiqomah              Bendahara
 38    Usman                           TMI Al-Istiqomah
 39    Syahdan                         TMI Al-Istiqomah              Bendahara
 40    Syarifuddin                     TMI Al-Istiqomah
 41    Fandi M. Badwi                  TMI Al-Istiqomah
 42    Marlia                          TMI Al-Istiqomah
 43    Munira                          TMI Al-Istiqomah
 44    Dwi Handayani                   TMI Al-Istiqomah
 45    Rahmin Abbas                    TMI Al-Istiqomah
 46    Aisyah                          TMI Al-Istiqomah
 47    Irma Maulina                    TMI Al-Istiqomah
 48    Mirna Kurni Vellianti           TMI Al-Istiqomah
 49    Fatmawati Alim                  TMI Al-Istiqomah
 50    Musyrifah                       TMI Al-Istiqomah
Sumber Data : Kantor TMI PPM Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu
      b. Keadaan Santri/Siswa

         Santri atau siswa Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru,

berjumlah 469 orang yang dapat dilihat pada tabel III & IV dibawah ini :

                           TABEL IV
              KEADAAN SANTRI MADRASAH TSANAWIYAH
             PONDOK PESANTREN MODERN AL-ISTIQOMAH
                   NGATA BARU BIROMARU PALU

 N                                   JENIS KELAMIN
                  KELAS                                            JUMLAH            KET
 O                                     L       P
 1                     I               98      65                    163          5 Rombel
 2                     II              65      47                    111          4 Rombel
 3                    III              39      38                     77          2 Rombel
                                                                                            58

       JUMLAH                           202          150           352
Sumber Data : Kantor Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata
             Baru Biromaru Palu

                           TABEL V
               KEADAAN SANTRI MADRASAH ALIYAH
            PONDOK PESANTREN MODERN AL-ISTIQOMAH
                  NGATA BARU BIROMARU PALU

 N                                   JENIS KELAMIN
                KELAS                                          JUMLAH             KET
 O                                     L       P
 1            I                        31      36                   67         2 Rombel
 2            II                       10      15                   25         1 Rombel
 3           III                       10      15                   25         1 Rombel
       JUMLAH                          51      66                  117
Sumber Data : Kantor Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru
              Biromaru Palu

        Menurut penulis, perbandingan jumlah pendidik (guru) dan siswa/santri

pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru sudah memadai.

Seorang guru rata-rata mengajar siswa/santri setiap kelas diusahakan

menampung santri dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Pengaturan ini

tentu sangat membantu kelancaran kegiatan proses belajar mengajar di Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru.

        Ust. Suharno, S.Pd.I, salah seorang pembina dan staf pengajar di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru, mengatakan bahwa :

        Dalam satu ruang kelas, kami selalu menjaga jangan sampai ruang kelas
        tersebut terlalu padat. Kelas yang paling banyak menampung jumlah
        siswa atau santri adalah kelas I & II MTs dengan jumlah 274 orang
        santri, dengan demikian guru dapat mengawasi keseluruhan santri
        sewaktu mengajar.63
                                                                                              59




B. Sistem Pengajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-
   Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

     1. Sistem Pengajaran Bahasa Arab

        Secara umum tujuan pengajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu ini adalah untuk mendorong,

membimbing, mengembangkan dan membina kemampuan berbahasa Arab,

dalam hal ini adalah bahasa Arab fusha dan bahasa standar, baik secara lisan

maupun secara tulisan. Tujuan tersebut di atas jika diperhatikan memang

sesuai dan sejalan dengan tujuan pengajaran bahasa Arab yang tercantum

dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), yang secara nasional

dipergunakan oleh seluruh lembaga pendidikan dalam hal ini adalah Madrasah

Aliyah, baik negeri maupun yang berstatus swasta.

     2. Tujuan Kurikulum

     a). Pengertian

        Kurikulum adalah suatu kelompok mata pelajaran yang disusun secara

sistematis untuk dapat lulus dalam salah satu bidang studi tertentu atau suatu

rencana umum mengenai isi atau bahan-bahan pelajaran khusus yang oleh



         63   Ust. Suharno, S.Pd.I, Pembina/Sekertaris TMI Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu,

Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 18 Juli 2006
                                                                                             60

suatu sekolah atau lembaga pendidikan disajikan kepada pelajaran untuk lulus

atau mendapat sertifikat atau untuk dapat memasuki jabatan atau bidang

tertentu.64 Kurikulum dapat berarti keseluruhan pelajaran yang diberikan oleh

suatu lembaga pendidikan.65 Kurikulum tidak lain adalah hasil belajar yang di

minati dan diharapkan atau intented learning out come.66

         Dari beberapa defenisi tersebut di atas, maka penulis berkesimpulan

bahwa kurikulum itu adalah sebagai program belajar bagi peserta didik yang

disusun secara terencana dan sistematis dibuat dan dilaksanakan dalam

lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.



    b). Tujuan Kurikulum

         Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

memiliki kurikulum yang sama dengan kurikulum pondok pesantren lainnya.

Dengan kata lain bahwa kurikulum yang dipakai adalah kurikulum lokal



         64   Soegarda Poerbahawatja dan H. Harahap, Ensiklopedi Pendidikan (Jakarta : Gunung

Agung, 1981), h. 188.

         65   H. Mappanganro, Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah (Ujung Pandang : Yayasan

Ahkam, 1996), h. 37.

         66   Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung : Sinar Baru Algesindo,

1998), h. 3
                                                                                      61

pesantren formal maupun non formal dan ditambah lagi dengan kurikulum

Departemen Agama baik yang menyangkut jam pelajaran atau materi

pelajaran. Dengan adanya kurikulum model tersebut, maka tujuan kurikulum

yang dimaksud disini adalah kemampuan berbahasa Arab baik pasif maupun

secara aktif. Sedangkan yang tercantum dalam Garis-garis Besar Program

Pengajaran (GBPP) Departemen Agama, yaitu :

     1) Membekali siswa dengan beberapa struktur kalimat baru yang

        menggunakan kosa kata yang telah dimiliki baik lama maupun baru

        yang sesuai dengan program yang ditentukan.

     2) Meningkatkan keterampilan siswa baik reseptif maupun ekspressif

        dalam komunikasi atau kegiatan lainnya.

     3) Meningkatkan apresiasi dan kecintaan siswa kepada bahasa Arab.67




     c). Tujuan Instruksional




        67   Departemen Agama R.I., Pedoman Pelaksanaan Mata Pelajaran Bahasa Arab Untuk

Madrasah Aliyah (Cet. III; Jakarta : Bimbaga Islam, 2000), h. 6.
                                                                                62

       Sebagaimana yang tercantum dalam Garis-garis Besar Program

Pengajaran (GBPP) mata pelajaran bahasa Arab tahun 1994 adalah sebagai

berikut :

   1) Siswa mampu melafalkan kalimat-kalimat Arab dengan informasi yang

       baik dan benar.

   2) Siswa mampu memahami makna kata-kata dan ungkapan atau idiom

       yang berhubungan dengan lingkungan sekolah, aqidah, ibadah, akhlak

       dan sejarah Islam.

   3) Siswa mampu memahami susunan jumlah ismiah dan jumlah fi'liyah

       dengan struktur kalimat yang meliputi bentuk-bentuk kata mufrad dan

       mazid, masdar, ism fa'il, ism maf'ul, harf jar, 'addad, fa'il maf'ulum bih,

       mubtada' (ism inna dan kawan-kawan, kaana dan kawan-kawan),

       khabar, na'at, mudaf ilayhi dan ma'tuf.

   4) Siswa mampu menggunakan kata-kata, ungkapan dan susunan kalimat

       tersebut dalam percakapan sehari-hari.

   5) Siswa mampu membaca dan memahami makna wacana yang meliputi

       kata-kata dan susunan kalimat tersebut.

   6) Siswa mampu menyusun kalimat Arab dalam insya' muwajjahah dengan

       kata-kata dan struktur kalimat tersebut.68
                                                                                            63

   7) Siswa mampu membaca dengan baik kitab-kitab gundul sekaligus

        memahami isi kandungannya.69


        Isi dan tujuan dari kurikulum lokal Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu adalah siswa/santri mampu membaca

dengan baik kitab-kitab gundul (kitab kuning) sekaligus memahami baik yang

tersurat maupun secara implisit pada pelajaran yang telah disajikan atau

diajarkan maupun pada kitab-kitab lainnya.70


C. Metode Pengajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-
   Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

        Berdasarkan data-data yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dan

hasil angket yang dilakukan oleh penulis pada saat penelitian yang

dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu bahwa metode-metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar

adalah penerapan metode qawaid (nahwu dan sharaf) dianggap salah satu




        68   Ibid

        69   Ust. Suharno,S.Pd.I, Pembina/Sekertaris TMI Al-Istiqomah Ngata Baru Biroamru Palu,

Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 18 Juli 2006.

        70   Ust. Sa'ad Ibnu Taba, Direktur TMI Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 19 Juli 2006.
                                                                          64

metode yang dianggap urgen, alasannya menurut para guru atau tenaga

pengajar yang mengajar pelajaran ini adalah karena dalam penerapan metode

ini para siswa atau santri dapat mengikuti pelajaran secara baik, rajin, dan

aktif, baik itu aktif dalam mendengar, membaca, menulis, bercakap maupun

dalam memahami. Misalnya dalam pelajaran nahwu, di sini para santri sangat

dituntut untuk dapat menyusun suatu kalimat mufidah dengan baik dan

mengetahui struktur tata bahasanya serta dituntut dapat memahami makna

yang tersirat pada kalimat tersebut. Terutama dalam memahami kitab-kitab

gundul baik secara leterlet maupun secara kontekstual. Selain metode qawaid

ini, juga ada beberapa metode yang diterapkan pada Pondok Pesantren Modern

Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu yang sifatnya sebagai penunjang atau

pelengkap dari metode qawaid.

       Adapun metode-metode yang dipergunakan dalam mengajarkan bahasa

Arab di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu,

sebagaimana yang dijelaskan oleh Ust. Budiyono, S.Pd.I salah satu tenaga

pengajar adalah sebagai berikut : 1). Metode qawaid (nahwu dan sharaf), 2).

Metode tarjamah, 3). Metode muhadatsah dan muthola'ah, 4). Metode latihan,

5). Metode campuran.71 Untuk lebih jelasnya penulis akan membahas metode-

metode tersebut di atas secara jelas.
                                                                                           65

1) Metode qawaid (nahwu dan sharaf).

        Alasan memilih metode ini, karena guru dalam mengajar senantiasa

memberikan contoh-contoh dari materi yang dibahas agar tidak membosankan

khususnya bagi peserta didik (siswa atau santri), dan guru akan lebih mudah

memberikan pemahaman kepada siswa. Dalam menuliskan contoh-contoh

tersebut senantiasa disertai oleh penjelasan yang bertujuan untuk lebih

mempercepat pemahaman para siswa.

2) Metode Tarjamah.

        Pada umumnya setelah para guru membacakan materi yang diberikan

juga langsung menerjemahkannya, hal ini dilakukan dengan tujuan agar para

siswa lebih mudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang disajikan.

3) Metode Muhadtasah dan Muthola'ah.

        Metode ini lebih menekankan pada hiwar secara langsung atau

percakpan yang disertai muthola'ah atau memperbanyak membaca disamping

menekankan pada materi yang diajarkan, agar dapat mempermudah metode

qawaid yang agak bersifat pasif.

4) Metode Latihan.




        71   Ust. Budiyono, S.Pd.I, Pembina/Ketua P4 Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 20 Juli 2006
                                                                          66

      Metode ini digunakan dalam mengajarkan bahasa Arab, dengan

diselingi dengan tamrinat-tamrinat (latihan-latihan), karena tanpa adanya

latihan-latihan tersebut, maka akan terasa sulit untuk dapat memahami secara

mendalam walaupun materi yang diberikan secara umum telah dikuasainya.

5) Metode Campuran.

      Metode ini digunakan karena dianggap baik. Pada proses interaksi

belajar mengajar berlangsung dapat digunakan beberapa metode untuk lebih

memudahkan pemahaman bahkan dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan

khususnya pada para siswa.

      Dari penjelasan tersebut di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa

pada prinsipnya metode-metode yang digunakan tersebut adalah sangat relevan

diterapkan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu, namun yang juga dianggap urgen dari beberapa metode tersebut adalah

metode   qawaid,    sebab    metode   tersebut   sangat   memudahkan     dan

menyenangkan bagi mayoritas siswa atau santri, yang pada gilirannya mereka

akan aktif dalam belajar khususnya belajar bahasa Arab.


D. Penerapan Metode Qawaid Dalam Meningkatkan Kualitas Bahasa
   Arab di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru
   Biromaru Palu
                                                                                                67

        Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Pimpinan Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu dan hasil analisis

data yang diperoleh yang intinya menjelaskan bahwa metode yang paling

ditekankan dalam mengajarkan bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu adalah metode langsung yang

penekanannya adalah untuk kemampuan berbahasa, namun penerapan metode

qawaid tetap harus diajarkan secara seimbang dan konsisten.72

        Sebenarnya konsep tentang metode adalah sesuatu yang masih abstrak,

dalam arti batas-batas perbedaan antara satu metode dengan metode yang

lainnya belum dapat diketahui secara pasti tentang mana yang efektif, sebab

hal tersebut sangat tergantung pada situasi dan kondisi suatu lembaga

pendidikan itu sendiri.

        Di samping itu penerapan suatu metode tertentu dalam mengajarkan

materi pelajaran bahasa Arab seperti qawaid, muhadatsah dan lain-lain, maka

akan semakin menambah transparannya daerah batas yang memisahkan suatu

metode dengan metode yang lain. Hanya saja secara garis besarnya dan dalam

batas-batas tertentu dominasi dan keadaan suatu metode tidak dapat dipungkiri




        72   Drs. K. H. M. Arif Siraj, Lc, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru

Biromaru Palu, Wawancara ,Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 17 Juli 2006.
                                                                           68

pada suatu lembaga pendidikan tertentu. Dan dari hal tersebut ciri-ciri

khususnya dapat di identifikasikan secara kondisional. Dan lingkungan

lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu tetap menggunakan metode qawaid karena sangat sesuai

dengan kondisi para peserta didiknya dalam kemampuan mereka berbahasa

Arab secara baik dan benar.

       Tentang kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada salah satu

metode pengajaran bahasa Arab, tidak ada satupun yang dapat dijadikan

standar agar dapat digunakan untuk mengukur atau menilai, paling tidak

kekurangan atau kelebihan suatu metode tersebut dikaitkan dengan hal-hal

yang lain, seperti sifat materi pelajaran, keadaan peserta didik, tujuan yang

ingin dicapai, tersedianya sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

       Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dalam analisis tentang

metode yang diterapkan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata

Baru Biromaru Palu dalam mengajarkan bahasa Arab banyak berkisar pada

hal-hal yang terkait dengan pemilihan metode tersebut.

       Metode qawaid ditekankan penggunaannya di Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, sebagaimana yang

diungkapkan oleh salah seorang tenaga pengajar karena dengan beberapa

alasan, diantaranya adalah sebagai berikut :
                                                                         69

       1). Mayoritas para peserta didik atau santrinya berasal dari lembaga

pendidikan Islam seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan

yang sederajat. Para santri tersebut pada umumnya melanjutkan pendidikannya

di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah ini karena ingin lebih

memperdalam pengetahuan mereka dalam belajar bahasa Arab dan ilmu

pengetahuan lainnya.

       2). Para peserta didik atau santri sebelum mengecap pendidikan di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu telah

diajarkan metode muhadatsah. Jadi, secara otomatis mereka telah mengenal

metode-metode belajar yang nantinya akan mereka temui di lembaga

pendidikan ini.

       3). Metode qawaid lebih ditekankan di Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu ini karena cara mengajar menurut

metode tersebut sangat membantu khususnya pada kemampuan membaca,

mengetahui susunan kalimat dan sekaligus mempermudah untuk mengetahui

kedudukan suatu kata maupun kalimat berdasarkan strukturnya, pada akhirnya

para santri akan dengan mudah memahami kitab-kitab, sekalipun itu adalah

kitab gundul atau kitab kuning, baik yang tersurat maupun makna-makna yang

tersirat di dalamnya.
                                                                                               70

        4). Penerapan metode qawaid dianggap sebagai metode yang juga

signifikan karena dengan pertimbangan tujuan yang ingin dicapai, dalam hal

ini adalah tujuan instruksional, yaitu para siswa atau santri sangat diharapkan

untuk dapat membaca, memahami, dan menguasai kosa kata serta maknanya

secara baik sesuai dengan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yaitu

yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari, dan dalam kitab-kitab yang

sangat urgen. Di sini siswa atau santri diharapkan untuk dapat berkomunikasi

secara aktif, dan memahami kitab-kitab kuning. Dalam hal ini selain metode

tersebut juga yang sangat berperan adalah metode-metode lain sebagai

penunjangnya.73

        Hal yang sangat penting bahwa metode qawaid yang telah diterapkan di

Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu ini harus

tetap selalu mengutamakan metode muhadatsah yang didukung oleh metode-

metode lainnya sebagai penunjang, seperti metode electic, metode campuran,

dan lain-lain. Alasannya adalah karena keberadaan peserta didik itu sendiri.

Sebagaimana yang diketahui bahwa para peserta didik di Pondok Pesantren

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu terdiri dari dua lulusan yaitu




        73   Faisal Ali Al-Katiri, Pembina/Tenaga Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 21 Juli 2006
                                                                         71

pindahan dari SLTP atau SMU (mereka yang dari lulusan ini kemudian

ditempatkan pada kelas khusus yaitu kelas intensive yang khusus mempelajari

pelajaran pondok selama dua tahun secara berturut-turut).

      Dari dua latar belakang lulusan tersebut akhirnya akan menghasilkan

siswa atau santri yang mempunyai tingkat penguasaan bahasa Arab yang

berbeda, karena mau tidak mau para siswa yang berlatar belakang pendidikan

Islam seperti Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah telah memiliki

pengetahuan bahasa Arab yang cukup memadai, sedangkan siswa yang berlatar

belakang sekolah umum secara otomatis kurang memaami atau mengetahui

ilmu-ilmu agama khususnya yang berkaitan dengan bahasa Arab.

      Di samping alasan tersebut di atas, untuk memperkenalkan siswa yang

masih sangat minim pengetahuannya khususnya dalam bahasa Arab, maka cara

yang paling efektif dan efesien adalah dengan menggunakan metode-metode

seperti yang telah disebutkan di atas ditambah dengan metode-metode yang

lain sebagai penunjang.

      Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa metode qawaid sangat

ditekankan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu ini, maka untuk mengetahui kelebihan sekaligus kekurangannya, maka

penulis ingin mengemukakan sekilas tentang metode qawaid, sebagaimana

yang dikemukakan oleh salah seorang tenaga pengajar pada Pondok Pesantren
                                                                                            72

Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu yang menyatakan bahwa

pada umumnya banyak orang menyangka bahwa bahasa Arab itu disamakan

dengan qawaid (nahwu sharaf), lalu kemudian mereka membayangkan bahwa

jika demikian bahasa Arab tersebut ternyata sukar, sulit, dan lain sebagainya.74

        Dari pernyataan tersebut di atas, terdapat kesan bahwa bahasa Arab itu

ternyata sukar, sulit, dan lain sebagainya. Hal tersebut mungkin terjadi karena

disebabkan dari kesalahan metode, yaitu dengan menggunakan sistem lama,

terlalu menitikberatkan serta mengutamakan pada nahwu sharaf dari pada

ta'bir, muhadatsah, muthala'ah dan imla'. Sehingga seolah-olah menyamakan

bahasa Arab tersebut dengan nahwu sharaf itu sendiri. Dalam arti bahwa jika

seseorang telah mengetahui tata bahasa Arab, maka dengan sendirinya akan

menguasai bahasa Arab. Padahal nahwu sharaf merupakan suatu bagian dari

bahasa Arab yang tidak perlu dianggap sulit.

        Adapun metode pengajaran qawaid yang diterapkan pada Pondok

Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, sebagaimana yang

dikemukakan oleh salah seorang tenaga pengajar, di antaranya adalah sebagai

berikut :




        74   Ust. Suharno, S.Pd.I, Pembina/Sekertaris Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 18 Juli 2006
                                                                                               73

       1). Menyiapkan contoh-contoh sebanyak mungkin mengenai qawaid
yang akan diajarkannya kepada para siswa atau santri, dan hendaknya bahasa
yang digunakan adalah bahasa yang mudah diterima oleh para siswa pada saat
proses pembelajaran sedang berlangsung.
       2). Menulis contoh-contoh tersebut di atas papan tulis dan mengarahkan
perhatian siswa ke papan tulis dan kemudian guru mengadakan tanya jawab
dengan para siswa tentang contoh-contoh yang telah ditulis tersebut. Guru
memberikan perbandingan untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya
dan kemudian mengakhirinya dengan memantapkannya dalam suatu susunan
kalimat sekaligus memperdalam contoh-contoh tersebut yang serupa atau yang
membedakannya dengan contoh yang lain.
       3). Menarik beberapa kesimpulan dalam bentuk kaidah, dan hendaknya
guru mengambil kesimpulan tersebut dengan perantaraan para siswa itu
sendiri, yaitu siswa diusahakan dapat menarik beberapa kesimpulan sendiri.
Hal tersebut adalah salah satu cara yang terbaik bagi mereka agar nantinya para
siswa dapat lebih memahaminya secara baik dan mendalam tentang materi
yang telah disajikan.
       4). Menuliskan kaidah yang telah disimpulkan di atas papan tulis
dengan disertai dengan beberapa perbaikan yang dianggap perlu.
       5). Menyuruh kepada siswa untuk membuat beberapa contoh dalam
bentuk kalimat susunan mereka sendiri sebagai tathbiq kaidah yang telah
disimpulkan tersebut.
       6). Mengemukakan beberapa kata kepada para siswa agar dengan kata-
kata tersebut mereka membuat suatu kalimat sempurna dengan susunan
kalimat yang sesuai dengan kaidah yang telah dipelajari.75

        Jika     dalam     bahasa     Indonesia     qawaid      (nahwu      Sharaf)     sama

pengertiannya dengan tata bahasa dan grammar dalam bahasa Inggris. Oleh




        75   Ust. Sa'ad Ibnu Taba, Direktur/Tenaga Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 19 Juli 2006
                                                                                               74

karena itu agak aneh jika pengajaran bahasa Arab ini mendahulukan nahwu

sharaf dari pada muhadatsah, muthola'ah, dan imla' yang seharusnya dapat

disejajarkan khususnya dalam hal pengajaran.

        Perlu kiranya dipahami bahwa kelebihan dari metode qawaid adalah

dapat mengetahui dan memahami bahasa Arab pada kosa kata, kalimat dan

kedudukannya. Selain itu metode pengajaran ini tidak cepat membosankan

karena banyak memberikan contoh-contoh baik dalam bentuk kata maupun

dalam bentuk kalimat. Adapun kekurangan dari metode qawaid di antaranya

adalah kurangnya kitab dan tidak dapat dikuasainya muhadatsah secara

maksimal sebab metode ini sangat menyita waktu yang cukup lama.76

        Adapun manfaat dari pada metode qawaid, sebagaimana yang

dijelaskan oleh Ust. Suharno, S.Pd.I di antaranya adalah sebagai berikut :

       1). Melatih dan membiasakan para siswa dalam membaca dan
memahami kitab agama dengan baik dan benar.
       2). Membiasakan para siswa untuk dapat menulis kata dan kalimat
dengan benar serta dengan susunan bahasa yang baik disamping itu pula siswa
diharapkan mampu berbahasa dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-
kaidah dalam bahasa Arab.
       3). Memberikan motivasi dan perhatian serta mendidik kemampuan
para siswa secara general dan sistematis.
       4). Mendidik para siswa untuk berminat menjadi guru bahasa Arab.



        76   Ust. Sa'ad Ibnu Taba, Direktur/Tenaga Pengajar Pada Pondok Pesantren Modern Al-

Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 19 Juli 2006
                                                                                            75

       5). Mendidik para siswa agar dapat menarik beberapa kesimpulan dari
ulasan yang benar.77

        Lebih lanjut Ust. Suharno, S.Pd.I menjelaskan bahwa hal-hal yang perlu

diperhatikan dalam memilih metode qawaid ini di antaranya adalah sebagai

berikut :

        1). Setiap metode yang digunakan harus benar-benar mampu
memberikan metode pengalaman belajar kepada para siswa.
        2). Metode yang dipilih harus diupayakan dan merpakan cara atau
metode yang paling dekat dalam rangka pencapaian tujuan, baik tujuan
institusional, tujuan kurikulum, maupun tujuan instruksional.
        3). Metode tersebut harus diupayakan senantiasa menarik bagi minat
para siswa dan mampu memberikan pengajakan belajar kepada para siswa.
        4). Bahasa Arab sebagai salah satu mata pelajaran yang sarat dengan
muatan pendidikan Islam, maka dalam menyampaikannya tidak boleh
mengesampingkan aspek integritas nilai-nilai keislaman di dalamnya.78

        Sebagai akhir dalam pembahasan skripsi ini, maka penulis dapat

menarik suatu kesimpulan bahwa dalam mengajarkan bahasa, tata bahasa, dan

lain sebagainya, maka salah satu aspek yang sering disoroti adalah metode dan

tersedianya tenaga pengajar yang kurang memadai dan profesionalitasnya. Di

samping itu sarana dan prasarana juga ikut andil di dalamnya, namun semua itu


        77   Ust. Suharno, S.Pd.I, Pembina/Sekertaris Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 18 Juli 2006

        78   Ust. Suharno, S.Pd.I, Pembina/Sekertaris Pada Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

Ngata Baru Biromaru Palu, Wawancara, Kantor TMI Al-Istiqomah, Tanggal 18 Juli 2006
                                                                              76

kecuali metode membutuhkan biaya yang cukup tinggi, sedangkan seperti yang

diketahui bersama bahwa subsidi dana khususnya dari pemerintah masih

sangat kurang terutama dalam dunia pendidikan Islam. Dan upaya kita

sekarang adalah bagaimana kita mampu meningkatkan kualitas pendidikan

dengan menggunakan metode-metode yang efektif dan efesien serta

menggunanakannya dengan sebaik-baiknya tentang dana dan fasilitas yang

sangat terbatas tersebut, dan lebih spesifik lagi dalam pengajaran bahasa Arab.



                                    BAB V

                                  PENUTUP



A. Kesimpulan

      Permasalahan tentang metode pengajaran bahasa Arab yang dirumuskan

dalam bab satu, setelah itu dikaji secara teoritis dalam bab kedua, dan

selanjutnya dihubungkan dengan realitas metode pengajaran bahasa Arab yang

diterapkan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru

Palu yang disajikan dalam penyajian data dan analisisnya, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

  1. Metode yang ditekankan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

      Ngata Baru Biromaru Palu dalam proses pengajaran bahasa Arab selama
                                                                              77

   ini selain metode mubasyarah adalah metode qawaid (nahwu shorof).

   Metode ini dapat dikatakan berhasil, karena melihat nilai rata-rata santri

   yaitu di atas lima puluh persen yang menyatakan sikap positif baik

   terhadap materi pengajaran bahasa Arab sekaligus pada guru

   pengajarnya.

2. Tujuan yang ingin dicapai dalam proses pengajaran bahasa Arab di

   Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu

   adalah untuk mendorong, membimbing, mengembangkan dan membina

   kemampuan para siswa atau santri untuk berbahasa Arab baik secara

   aktif maupun secara pasif. Disamping itu pula untuk menumbuhkan

   sikap positif terhadap bahasa Arab itu sendiri dan cinta agama yang

   berdasarkan al-Qur'an dan al-Hadits.

3. Kurikulum yang digunakan di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqomah

   Ngata Baru Biromaru Palu adalah kurikulum lokal dipadukan dengan

   mengekspresikan kurikulum Departemen Agama dan ditambah dengan

   kurikulum      pengajaran   kitab   yang     bersifat   non   formal,   yaitu

   ekstrakurikuler di rumah guru dan kiyai dan juga di mesjid.

4. Dalam rangka usaha meningkatkan kualitas bahasa Arab di Pondok

   Pesantren Modern Al-Istiqomah Ngata Baru Biromaru Palu, sebetulnya

   penerapan    dan    penggunaan      metode     qawaid    selama   ini   telah
                                                                           78

      dilaksanakan secara maksimal dan sudah berhasil, karena sebahagian

      besar para santri mampu menguasai dan memahami pelajaran bahasa

      Arab yang telah diajarkan, keberhasilan tersebut tentunya di ukur dari

      tersedianya sarana dan prasarana yang ada, dan guru yang mengajar

      secara baik.

B. Saran-saran

      Saran-saran yang akan penulis kemukakan dibawah ini adalah ditujukan

kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengajaran bahasa Arab,

dengan catatan tanpa bermaksud menggurui, melainkan hanaya sekedar

sumbangan saran sebagai salah satu solusi untuk mencapai kulaitas bahasa

Arab yang lebih maksimal dibanding sebelumnya.

      Di bawah ini penulis akan sebutkan point-pointnya, antara lain :

  1. Perlunya diadakan kerjasama yang lebih intensif dan lebih aktif antar

      lembaga atau antar personil yang terlibat dalam proses pengajaran

      bahasa Arab, agar pengajaran bahasa Arab tetap dalam tata kesatuan

      yang terkoordinasi.

  2. Pengajaran bahasa Arab perlu ditangani secara serius dan lebih

      profesional, agar mendapatkan hasil yang maksimal dan lebih baik lagi.
                                                                 79

3. Perlu adanya upaya yang sungguh-sungguh dari seluruh pihak untuk

   menghilangkan kesan bahwa bahasa Arab adalah mata pelajaran yang

   sulit.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Education
Stats:
views:3
posted:7/21/2013
language:Unknown
pages:79
Description: References for education