PENGARUH METODE GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA by danialbustan

VIEWS: 5 PAGES: 95

More Info
									                                                                                         1




                                            BAB I

                                     PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

       Salah satu faktor keberhasilan pembangunan nasional adalah kemajuan pada

bidang pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Pembangunan

nasional akan dapat berhasil apabila ditunjang oleh keberhasilan dalam bidang

pendidikan. Dengan keberhasilan pendidikan suatu negara akan dapat menjadi negara

yang maju, sebab bila pendidikan suatu negara berhasil, maka dengan sndirinya akan

terciptalah insan-insan yang berkualitas yang berilmu pengetahuan dan berbudi

pekerti mulia dan tercapailah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana yang

disebutkan dalam surah al-Mujadalah ayat 11, yaitu :

           ‫... ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻣﻨﻜﻢ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﻭﺗﻮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﺭﺟﺖ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﺗﻌﻤﻠﻮﻥ ﺧﺒﻴﺮ‬
Terjemahnya :
     " …niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan
     berilmu pengetahuan diantara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan
     beberapa derajat dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".1

       Sejalan dengan ayat tersebut di atas, dalam Undang-Undang Pendidikan

Nasional dijelaskan tentang tujuan pendidikan nasional, sebagai berikut :


       Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
       mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman
       dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,


       1 Departemen Agama R.I, Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Jakarta : Proyek Pengadaan Kitab
Suci Al-Qur'an, 1971), h. 911.
                                                                                        2




       memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
       kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
       kemasyarakatan dan kebangsaan.2

       Dengan demikian tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk menciptakan

manusia yang berpengetahuan luas yang berbudi pekerti mulia untuk mencapai

kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

       Melihat tujuan pendidikan tidak hanya menciptakan insan-insan yang

memiliki pengetahuan luas, tetapi juga menciptakan insan-insan yang berbudi pekerti

luhur. Dengan demikian pendidikan agama khususnya pendidikan agama Islam tidak

kalah pentingnya dengan pendidikan umum. Untuk mencapai tujuan pendidikan

tersebut, maka diperlukan upaya menumbuhkan motivasi pada diri peserta didik,

khususnya dalam hal belajar.

       Motivasi sangat diperlukan karena dengan adanya motivasi tersebut tujuan

belajar akan mudah dicapai. Namun demikian, motivasi sebagai faktor dari dalam diri

sendiri terkadang tidak tumbuh dengan sendirinya, sebab faktor-faktor dari luar juga

mempunyai pengaruh terhadap perkembangan motivasi didalam diri seseorang.

Melihat pentingnya faktor luar dalam memberikan dorongan, maka guru harus

mempunyai metode atau cara terhadap tumbuhnya motivasi dalam diri siswa untuk

mengarahkan dan mengembangkan kearah tujuan yang ingin dicapainya.

       Oleh karena peserta didik masih memerlukan adanya dorongan didalam

belajar, maka perlu bagi guru untuk memberikan motivasi terhadap peserta didiknya


       2   Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 tahun 2003, tentang Tujuan Pendidikan
Nasional. h. 2.
                                                                               3




dengan tujuan agar siswa tersebut memiliki semangat yang lebih tinggi dalam upaya

meningkatkan prestasi mereka.

       Namun pada kenyataannya masih banyak guru yang kurang profesional dalam

mengajarkan berbagai mata pelajaran, sehingga motivasi belajar siswa masih rendah.

Rendahnya motivasi belajar siswa akan sangat mempengaruhi siswa atau peserta

didik itu sendiri, diantaranya adalah siswa tampak malas untuk mengikuti pelajaran

dan apabila proses belajar mengajar berlangsung timbul rasa ngantuk dan tidak

adanya perhatian terhadap pelajaran. Pengaruh ini akan nampak dalam keseluruhan

kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran yang tidak disenanginya. Dengan demikian

guru dengan berbagai aktivitasnya dalam mengajar diharapkan dapat menciptakan

motivasi dalam kelas dan berupaya menemukan berbagai cara untuk memotivasi anak

didiknya.

       Dengan demikian guru tidak hanya di tuntut untuk memberikan materi tetapi

juga dituntut untuk dapat mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak didiknya

dengan tujuan agar supaya anak didiknya tidak hanya mempunyai pengetahuan

tentang agama tetapi juga dapat memahami, menghayati serta mengamalkannya

dalam kehidupan sehari-hari.

       MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli adalah suatu

lembaga pendidikan formal tingkat pertama yang berstatus negeri dan bernaung

dibawah Departemen Agama. Lembaga sekolah ini memfokuskan pelajarannya pada

mata pelajaran umum dan agama di kabupaten Tolitoli. Sebagai lembaga pendidikan

yang memiliki ciri khusus keislaman sebagai identitasnya, berupaya memberi bekal
                                                                                   4




ilmu pengetahuan kepada siswanya untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia

sebagai muslim sejati yang menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam, yang

pada gilirannya berguna bagi bangsa dan negara.

          Bertitik tolak dari pengertian judul di atas, kiranya dapat penulis tegaskan

maksud judul tersebut yaitu suatu penelitian yang berusaha mempelajari, menyelidiki

tentang pengaruh metode guru dalam memberikan dorongan atau motivasi kepada

siswa dan dampaknya terhadap hasil belajar siswa pada Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli.



B. Rumusan Masalah.

          Atas dasar latar belakang di atas, maka penulis mencoba merumuskan

beberapa permasalahan yang dianggap perlu kemudian akan dibahas lebih jauh,

yaitu :

    1. Bagaimanakah metode guru dalam meningkatkan motivasi siswa pada MTs

          Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli ?.

    2. Bagaimana motivasi dan prestasi siswa dalam belajar pada MTs Darul Ulum

          Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli ?.

    3. Bagaimana pengaruh metode guru dalam meningkatkan motivasi belajar

          siswa terhadap hasil belajar siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

          Kabupaten Toli-toli ?.

C. Hipotesis
                                                                               5




         Berdasarkan masalah di atas, maka penulis mengambil suatu hipotesis yang

merupakan jawaban sementara, yaitu :

   1. Diduga bahwa metode guru dalam meningkatkan motivasi siswa pada MTs

         Darul Ulum Kec. Galang Kab. Toli-toli adalah kurang.

   2. Diduga bahwa motivasi dan prestasi siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan

         Galang Kabupaten. Toli-toli dalam belajar di rasakan masih kurang.

   3. Bahwa pengaruh metode guru dalam meningkatkan motivasi belajar terhadap

         prestasi belajar siswa dirasakan sangat kurang



D. Ruang Lingkup Penelitian

         Mengingat penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dan kurangnya

sumber-sumber informasi serta hasil-hasil penelitian sejenis yang dilakukan

sebelumnya pada situasi dan latar belakang yang sama, maka penelitian ini dibatasi

pada :

   1. Metode guru dalam meningkatkan motivasi siswa dalam belajar pada MTs

         Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli.

   2. Motivasi belajar siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

         Toli-toli.

   3. Prestasi belajar siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-

         toli.
                                                                                               6




    4. Pengaruh metode guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada MTs

        Darul Ulum Kec. Galang Kab. Toli-toli.



E. Pengertian Judul

        Untuk mengetahui lebih jelas tentang isi penulisan karya ilmiah ini, maka ada

baiknya penulis mengemukakan pengertian-pengertian istilah yang ada pada judul

dalam karya ilmiah ini, yaitu :

    1. Metode guru

        Istilah metode memang sering dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan,

termasuk dalam ruang lingkup pendidikan karena metode itu sendiri mempunyai

peranan dan nilai yang sangat penting bagi keberhasilan ilmu tertentu.

        Secara bahasa metode berasal dari dua suku kata, yaitu metos dan hodos.

Metos berarti melalui, sedangkan hodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian

metode mengandung pengertian suatu jalan yang harus ditempuh untuk mencapai

suatu tujuan.3 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa

metode adalah suatu cara yang ditempuh dengan teratur, sistimatis, terencana dan

terpikir secara baik-baik untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu.4

        Sedangkan guru adalah orang yang mempunyai pekerjaan mengajar.5 Hakikat

tugas guru dinamakan sebagai pendidik atau pengasuh. Dari pengertian tersebut dapat

        3  M. Arifin, Ilmu Pendidikan : Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis BerdasarkanPendekatan
Interdisipliner, (Ed. I, Cet. III; Jakarta : Bumi Aksara, 1994), h. 47.
         4 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1976), h.

105 & 649.
         5 Ibid., h. 79
                                                                                               7




dipahami         bahwa    pendidikan     mengandung      makna     mengasuh,      menanggung,

mengembangkan. Penekanannya terletak pada kompetensi profesionalisme guru itu

sendiri, sebagaimana pendapat Charles D. Jonshon yang dikutip oleh Drs. Moh Uzer

Usman bahwa kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan

yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.6

        2. Motivasi belajar

          Motivasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu motive dan mantion, yang berarti

gerakan atau sesuatu yang bergerak; dorongan yang terdapat dalam diri seseorang

yang menyebabkan timbulnya gerakan pada organisme agar individu dapat berbuat

dan bertingkah laku untuk mencapai suatu tujuan.7 Menurut Abdul Hamid Mursi

dalam tulisannya, mengutip pendapat dari B. Berelson and G. Steiner, mengatakan

bahwa istilah motivasi dapat didefinisikan sebagai keadaan internal individu yang

melahirkan kekuatan, kegairahan dan dinamika, serta mengarahkan tingkah laku pada

tujuan.8

          Sedangkan kata belajar dalam bahasa Inggris yaitu learn, yang berarti sesuatu

hal yang meningkatkan perbuatan atau meningkatkan perbuatan atau didapatkannya

kemampuan atau pengertian baru.9 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia




          6   Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001),
h. 14
          Ibid., h. 944
          7
          8Abdul Hamid Mursi, As-Syakhsiyatul Muntajah. Diterjemahkan oleh Moh Nur Hakim
dengan judul Sumber Daya Manusia yang Produktif: Pendekatan Al-Qur'an dan Sains,(Cet. I; Jakarta :
Gema Insani Press, 1997), h. 90
        9 Siti Partini Sudirman, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : Studying, 1977), h. 28
                                                                                                8




dijelaskan tentang pengertian belajar, yaitu berusaha memperoleh kepandaian atau

ilmu pengetahuan.10

    3. Prestasi siswa

        Kata prestasi secara bahasa adalah "hasil yang ingin dicapai untuk

meningkatkan hasil yang telah dicapai ke arah yang lebih baik".11

        Sedangkan kata siswa dalam proses belajar mengajar juga disebut murid atau

anak didik. Siswa adalah siapa saja yang terdaftar sebagai obyek pendidikan disuatu

lembaga pendidikan. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan

pengertian siswa yaitu manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan.12

    4. MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli.

        MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli adalah suatu

lembaga pendidikan formal tingkat pertama yang berstatus negeri dan bernaung

dibawah Departemen Agama. Lembaga sekolah ini memfokuskan pelajarannya pada

mata pelajaran umum dan agama di kabupaten Toli-toli. Sebagai lembaga pendidikan

yang memiliki ciri khusus keislaman sebagai identitasnya, berupaya memberi bekal

ilmu pengetahuan kepada siswanya untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia

sebagai muslim sejati yang menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam, yang

pada gilirannya berguna bagi bangsa dan negara.



         10Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa

Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, Cet. III; 1990), 13.
         11 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Cet. VI; Jakarta : Balai Pustaka,

1988), h. 30.
         12 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT. Rineka

Cipta, 1997), h. 89
                                                                                9




       Bertitik tolak dari pengertian judul di atas, kiranya dapat penulis tegaskan

maksud judul tersebut yaitu suatu penelitian yang berusaha mempelajari, menyelidiki

tentang pengaruh metode guru dalam memberikan dorongan atau motivasi kepada

siswa dan dampaknya terhadap hasil belajar siswa pada Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli.



F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

      1. Tujuan Penelitian

     a. Untuk mengetahui metode guru di dalam memotivasi belajar siswa pada

        MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli dan dampaknya

        terhadap hasil belajar siswa.

     b. Untuk mengetahui bagaimana motivasi siswa MTs Darul Ulum Kecamatan

        Galang Kabupaten Toli-toli dalam belajar.

     c. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi siswa

        MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten dalam proses belajar.

      2. Kegunaan Penelitian.

      a. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan sumbangan

         terhadap penembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang ilmu

         pendidikan Islam.

      b. Sebagai bahan masukan bagi guru dalam usaha menumbuhkan motivasi

         siswa belajar serta untuk meningkatkan prestasi siswa pada lembaga

         tersebut.
                                                                                    10




      c. Untuk meningkatkan pemikiran dalam rangka pemecahan masalah-masalah

            yang dihadapi oleh lembaga tersebut yang berkaitan dengan pendidikan

            dan pengajaran.

      d. Untuk       menyumbangkan       pemikiran    dalam    rangka   meningkatkan,

            memperbaiki moral siswa agar dapat menjadi manusia yang bertaqwa,

            beriman, dan berguna bagi bangsa dan negaranya.



G. Garis-garis Besar Isi Skripsi

           Untuk memberikan gambaran singkat tentang isi skripsi ini, berikut penulis

akan memaparkan garis-garis besar isi skripsi.

           Bab pertama, pendahuluan yaitu menguraikan masalah tentang latar belakang

masalah, rumusan masalah, hipotesis, pengertian judul, ruang lingkup penelitian,

tujuan dan kegunaan penelitian dan garis-garis besar isi skripsi.

           Bab kedua tinjauan kepustakaan, menyajikan tentang berbagai konsep dan

berbagai teori yang relevan dengan masalah-masalah penelitian yang menyangkut

metode guru dalam meningkatkan motivasi siswa dan dampaknya terhadap hasil

belajar.

           Bab ketiga metode penelitian, yang meliputi pendekatan penelitian, rancangan

penelitian, sumber data, tehnik analisis data dan pengecekan keabsahan data.

           Bab keempat hasil penelitian, yang meliputi metode guru dalam

meningkatkan motivasi siswa dan dampaknya terhadap hasil belajar, keadaan
                                                                                             11




motivasi siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Toli-toli, dan faktor-

faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar.

         Bab kelima penutup, sebagai penutup maka pada bab ini hanya meliputi

kesimpulan dari seluruh isi skripsi dan saran-saran.



                                            BAB II

                                   TINJAUAN PUSTAKA



A. Pengertian, Dasar dan Tujuan Belajar.

         1. Pengertian Belajar

         Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang belajar, maka dalam

pembahasan ini akan dibahas tentang pengertian belajar menurut beberapa ahli.

         Ahli belajar modern mengemukakan dan merumuskan pengertian belajar

sebagai berikut :

         Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau percobaan dalam diri seseorang
         yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat
         pengalaman dan latihan.13

         Tingkah laku yang baru yang dimaksud di atas, adalah dari tidak tahu menjadi

tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan-

kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial,

emosional dan pertumbuhan jasmaniah. Sesungguhnya aspek jasmaniah dan aspek


         13Oemar   Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, (Bandung : Transito,
1983), h. 21.
                                                                                 12




rohaniah keduanya saling melengkapi dan bertalian satu sama lain. Keduanya

merupakan          aspek-aspek   yang   bersifat   komplementer.   Manusia    dalam

pertumbuhannya selalu menuntut kegiatan rohani dan jasmani. Membaca buku

misalnya adalah paduan antara kegiatan jasmani yang berupa gerakan-gerakan mata,

gerakan tangan, sikap badaniah dengan kegiatan-kegiatan rohaniah yang berupa

mengelola pengertian-pengertian yang ada dalam bacaan, membandingkan,

mengingat kembali, memikirkan persoalan dan lain sebagainya. Setiap perbuatan

belajar senantiasa memiliki aspek jasmaniah yang disebut struktur dan aspek rohaniah

yang disebut fungsi. Otak yang ada pada diri manusia sebagai kegiatan yang penting.

Otak itu adalah strukturnya dan berfikir adalah fungsinya. Keduanya saling bertalian

dan saling mempengaruhi satu sama lain. Jika otak luka, maka fungsi berfikirpun

akan terganggu, dan sebaliknya jika fungsi berfikir itu tidak normal, maka otak itu

akan berubah bentuknya. Jadi jelas bahwa kedua aspek itu sesungguhnya bersatu

dalam perbuatan belajar seseorang.

       Lebih lanjut dikatakan bahwa belajar adalah :

       Kegiatan-kegiatan fisik atau badaniah. Hasil belajar yang dicapai adalah
       berupa perubahan-perubahan dalam fisik misalnya untuk mencapai
       kecakapan-kecakapan motoris seperti lari, mengendarai mobil, memukul bola
       secara baik dan lain sebagainya.14

       Kemudian pandangan lain menitikberatkan pendapatnya bahwa belajar itu

adalah :




       14   Ibid
                                                                                    13




       Kegiatan rohaniah atau psychis. Hasil belajar yang dicapai adalah perubahan-
       perubahan dalam psychis, misalnya memperoleh pengertian tentang bahasa,
       mengapresisai seni budaya, bersikap susila dan lain-lain.15

       Para ahli dibidang belajar pada umumnya sependapat bahwa perbuatan belajar

itu adalah bersifat kompleks, karena merupakan suatu proses yang dipengaruhi atau

ditentukan oleh banyaknya faktor yang meliputi berbagai aspek, baik yang bersumber

dari dalam diri maupun yang bersumber dari luar diri manusia.

       Pada pokoknya ada tiga jenis tafsiran belajar yakni : belajar menurut ilmu jiwa

daya, belajar menurut ilmu jiwa asosiasi dan belajar menurut ilmu jiwa gestalt atau

organis.

       Oemar Hamalik dalam bukunya yang berjudul Metode Belajar dan Kesulitan-

kesulitan Belajar dijelaskan bahwa belajar menurut ilmu jiwa daya yakni :

       Jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, seperti : berfikir, mengingat perasaan,
       mengenal, kemauan, dan lain sebagainya. Daya-daya ini dapat berkembang
       dan berfungsi apabila dilatih dengan bahan-bahan dan cara-cara tertentu.16

       Berdasarkan pandangan tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan belajar

adalah usaha melatih daya-daya tersebut agar berkembang, sehingga manusia dapat

berfikir, mengingat, dan lain sebagainya. Dengan cara yang digunakan adalah

menghafal, memecahkan soal-soal dan berbagai jenis kegiatan lainnya.

       Selanjutnya menurut Wasty Soemanto yang mengutip pendapat Whittaker,

mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang




       15   Ibid., h. 22
       16   Oemar Hamalik, Ibid., Metode … h. 23
                                                                                      14




ditimbulkan melalui latihan dan pengalaman.17 Kemudian menurut W.S. Winkel

dalam bukunya Psikologi Pengajaran, mengemukakan bahwa :

      "Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
      interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan
      dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan
      tersebut bersifat relatif konstan dan berbekas".18
      Dari defenisi tersebut di atas, dapat diambil suatu kesamaan unsur, yaitu

bahwa belajar merupakan perubahan dalam tingkah laku ke arah yang lebih baik,

sebab belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan

pengalaman, perubahan dalam belajar relatif mantap dan berbekas, perubahan ini

menyangkut aspek kepribadian.

      Kemudian menurut teori Ilmu Jiwa Asosiasi, yakni :

      Jiwa manusia terdiri dari asosiasi dari berbagai tanggapan yang masuk
      kedalam jiwa. Asosiasi tersebut biasanya terbentuk berkat adanya hubungan
      antara perangsang-perangsang dan reaksi-reaksi yang disebut dengan
      hubungan stimulius response.19

       Dari pandangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa belajar berarti

membentuk hubungan-hubungan itu agar bertalian erat, dan belajar yang demikian

sifatnya mekanis, seperti mesin, dan akhirnya akan terbentuk kebiasaan-kebiasaan

dan setumpukan ilmu pengetahuan.

      Selanjutnya menurut teori Ilmu Jiwa Gestalt, yaitu :

      Jiwa manusia bukan terdiri dari tanggapan (elemen-elemen), melainkan
      merupakan satu keseluruhan yang bulat dan berstruktur. Jiwa manusia hidup



      17 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Bina Aksara, 1984), h. 99
      18 W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta : Gramedia, 1989), h. 36.
      19 Oemar Hamalik, op.cit., h. 23
                                                                                                15




       dan didalamnya terdapat prinsip aktif, dimana individu senantiasa
       berkecenderungan untuk beraktivitas, berinteraksi dengan lingkungan.20

       Dari pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar berarti mengalami,

berbuat, bereaksi, berfikir secara kritis. Jadi jelas bahwa pengertian belajar

merupakan integrasi dari pada berbagai pandangan tentang belajar dari ketiga teori

tersebut.

       Made Pidarta dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pendidikan Indonesia

juga dijelaskan pengetian belajar, yaitu perubahan perilaku. Seseorang dikatakan

sudah belajar kalau perilakunya sudah berubah perilaku berkaitan dengan segala

aspek individu yang akan dikembangkan dan di tumbuhkan.21

       Jadi dari pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang

belajar adalah seseorang yang sibuk dengan usaha-usaha mengembangkan dan

menumbuhkan semua aspek individu.

       Kemudian menurut Lester D. Crow dan Alicia Crow belajar adalah

perubahan individu dalam kebisaan, pengetahuan dan sikap.22

       Dalam defenisi tersebut dikatakan bahwa seseorang belajar kalau ada

perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar

disini merupakan suatu proses dimana guru terutama melihat apa yang terjadi selama

murid menjalani pengalaman edukatif, untuk mencapai suatu tujuan.



       20   op.cit., h. 23,
       21   Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Cet. I; Jakarta : Bina Aksara, 1998), h.
108.
       22   Roestiyah N. K., op.cit., h. 141.
                                                                                              16




        S. Nasution M.A mengutip pendapat dari Made Pidarta mengemukakan

tentang masalah belajar dalam bukunya Masalah-masalah Ilmu Keguruan

mengatakan bahwa belajar itu hanya menambah dan mengumpulkan sejumlah ilmu

pengetahuan.23



        Bila memperhatikan pengertian di atas, maka terlampau sempit dan hanya

berpusat kepada mata pelajaran belaka. Padahal belajar tidak hanya dijuruskan

kepada pengumpulan sejumlah ilmu belaka. Belajar itu sendiri adalah suatu proses

aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu.

        Sebagian para ahli berpendapat bahwa belajar adalah belajar merupakan

proses pertumbuhan yang dihasilkan oleh perhubungan berkondisi antara stimulas

dan respons.24

        Jadi menurut pendapat tersebut, belajar pada dasarnya adalah menghubungkan

sebuah respons tertentu pada sebuah stimulas yang tadinya tidak berhubungan.

Penemuan yang lebih maju lagi memperluas pengertian belajar yang secara ringkas

dapat dikemukakan dalam lima karakteristik, yaitu : 1) Belajar terjadi dalam situasi

yang secara individual, 2) Motivasi sebagai daya penggerak, 3) Hasil pelajaran adalah

kebulatan pola tingkah laku, 4) Murid menghadapi situasi secara pribadi, 5) Belajar




        23 Ibid
        24 Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, (Cet. IV; Bandung : Transito,
1980), h. 67.
                                                                                        17




adalah        mengalami.25     Untuk    lebih   memahami   hal   tersebut,   penulis   akan

menjelaskannya sebagai berikut :

    a. Belajar terjadi dalam situasi yang secara individual.

         Siswa atau anak didik yang terlampau muda atau tidak sanggup memecahkan

suatu soal karena tidak memperoleh hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam

situasi tertentu, sehingga hubungan tersebut menjadi jelas baginya dan dengan

demikian dengan sendirinya siswa tersebut mampu memecahkan masalah tersebut.

    b. Motivasi sebagai daya penggerak.

         Motivasi dapat berfungsi sebagai penggerak atau pendorong usaha serta

pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi.

Adanya motivasi yang baik dalam proses belajar akan menunjukkan hasil yang baik.

    c. Hasil pelajaran adalah kebulatan pola tingkah laku

         Pembentukan sikap mental dan perilaku siswa tidak akan terlepas dari

penanaman nilai-nilai sikap dan pola tingkah laku itu sendiri. Oleh karena itu guru

tidak sekedar mengajar tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan

nilai-nilai tersebut.

    d. Murid menghadapi situasi secara pribadi.

         Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan peribadi siswa, guru

haruslah lebih bijaksana dan hati-hati dalam proses pendekatannya. Untuk itu




         25   Winarno Surakhmad, Pengantar…,Ibid., h. 68
                                                                                            18




dibutuhkan kecakapan dalam mengarahkan motivasi dan berfikir dengan tidak lupa

menggunakan peribadi guru itu sendiri sebagai model atau contoh bagi siswanya.

    e. Belajar adalah mengalami.

        Belajar memerlukan tenaga. Oleh karena itu untuk mencapai hasil yang baik

diperlukan badan yang sehat. Siswa yang merasa jiwanya tertekan, senantiasa diliputi

oleh perasaan takut akan kegagalan, tidak akan dapat belajar secara efektif. Demikian

pula halnya bila seorang siswa tidak disukai oleh teman mereka sendiri atau bahkan

oleh gurunya akan menemui kesulitan dalam belajar. Tempat belajar hendaknya

tenang, jangan diganggu oleh perangsang-perangsang dari sekitarnya. Untuk belajar

diperlukan konsentrasi pikiran.

    2. Dasar dan Tujuan Belajar.

        Belajar dasarnya adalah kewajiban utama dan sarana terbaik untuk

mencerdaskan ummat, khususnya bila ilmu itu disertai dengan amal. Sebagaimana

yang dikatakan oleh Imam Al-Gazali, bahwa :

        Meskipun seseorang membaca beratus ribu masalah ilmiah, kemudian
        mengajarkannya pula, tetapi tidak mengamalkannya, maka itu semua tidak
        akan ada faedahnya. Ilmu baru ada manfaatnya kalau diamalkan.26

        Pendapat Imam Al-Gazali tersebut di atas tidak saja menegaskan agar orang

harus belajar tetapi juga menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan bila disertai

dengan amal. Al-Gazali menghendaki agar supaya setiap muslim untuk belajar,




        26  M. Athiyah Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang,
1970), h. 33.
                                                                                 19




kemudian beramal dan bekerja dengan ilmunya, dan selanjutnya ikhlas dan jujur pula

dalam amal perbuatannya.

       Adapun dasar yang mewajibkan manusia untuk belajar, dalam Al-Qur'an

surah Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi :

‫ﺇﻗﺮﺃ ﺑﺈﺳﻢ ﺭﺑﻚ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻖ ﺧﻠﻖ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﻠﻖ ﺇﻗﺮﺃ ﻭﺭﺑﻚ ﺍﻷﻛﺮﺍﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﻘﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ‬
                                        ‫ﻣﺎﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ‬

Terjemahnya :
     "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan
     manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah
     yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Dia mengajarkan kepada
     manusia apa yang tidak diketahuinya".27
       Ayat tersebut di atas memerintahkan kepada kita untuk membaca. Bukan saja

membaca melalui buku-buku tetapi membaca lewat masyarakat, kegiatan-kegiatan

yang lainnya, dan mampu membaca gejala-gejala apa yang terjadi di dunia. Dengan

demikian belajar sangat menuntut manusia, agar manusia tahu dan dapat

memanfaatkannya.

       Dalam surah Al-Ankabut ayat 43 juga dijelaskan pentingnya ilmu

pengetahuan bagi manusia, yaitu :

                       ‫ﻭﺗﻠﻚ ﺍﻷﻣﺜﺎﻝ ﻧﻀﺮﺑﻬﺎ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻭﻣﺎ ﻳﻌﻘﻠﻬﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ‬

Terjemahnya :
     "Dan perumpamaan itu kami buat untuk manusia dan tidak ada yang
     memahaminya kecuali orang-orang berilmu".28




       27   Departemen Agama R.I., Al-Qur'an dan Terjemahnya, h. 1079.
       28   Ibid., h. 634
                                                                                            20




       Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada yang mengerti kecuali orang-

orang yang terpelajar. Dan Allah swt., lebih menegaskan lagi dalam surah Al-

Mujadalah ayat 11, sebagai berikut :

             ‫ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻣﻨﻜﻢ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﻭﺗﻮﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﺭﺟﺖ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﺗﻌﻤﻠﻮﻥ ﺧﺒﻴﺮ‬

Terjemahnya :
      "Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu diantara kamu dan orang-
      orang yang diberi ilmu beberapa derajat …"29




       Dalam pandangan Islam, ilmu itu adalah suatu hal yang tergolong suci, suatu

yang sangat berharga dalam kehidupan seorang muslim.

       Lebih lanjut dalam Undang-undang Pendidikan Nasional nomor 20 tahun

2003 dijelaskan sebagai berikut :

       Setiap warga negara berhak atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk
       mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan dan
       keterampilan yang sekurang-kurangnya serta dengan pengetahuan,
       kemampuan dan keterampilan tamatan Pendidikan Dasar.30

        Hal tersebut di atas, menjelaskan bahwa tiap-tiap warga negara diberikan hak

untuk mengerti pendidikan. Tanpa membeda-bedakan dari suku mana, hartawan atau

tidak, semuanya diberi kesempatan. Ini menandakan bahwa betapa pentingnya belajar

untuk memperoleh pendidikan guna memanfatkan baik bagi diri sendiri maupun bagi

bangsa dan negara serta bagi agama.


       29   Ibid., h. 910
       30   Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003, tentang Pendidikan Nasional,
h. 2
                                                                                 21




       Undang-undang Pendidikan Nasional juga menjelaskan tujuan pendidikan

Nasional, sebagai berikut :

       Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
       mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman
       dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
       memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
       kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
       kemasyarakatan dan kebangsaan.31

       Dalam proses belajar mengajar tujuan utama adalah untuk mengalihkan

pengetahuan milik pngajar kepada anak didik, sehingga benar-benar menjadi milik

anak didik. Cara untuk melaksanakan alih pengetahuan ini bermacam-macam, namun

kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai penguasaan, agar didik berhasil menguasai

bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang telah ditetapkan.

       Pada prinsipnya belajar dapat dilakukan oleh setiap orang, hanya ada yang

berhasil dan ada pula yang kurang berhasil mencapai tujuan belajar bahkan ada

diantaranya yang sama sekali tidak berhasil. Keberhasilan dalam belajar disamping

ditentukan oleh tingkat intelegensi dan bakat, banyak pula ditentukan oleh

kemampuan seseorang untuk belajar secara efesien dan efektif.

       Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka berikut ini akan dijelaskan

tujuan belajar. Tujuan sebenarnya tergantung dari kebutuhan hidup, bila seorang

belajar bermain tenis, berarti ia ingin menjadi juara, mencari keharuman dan nama

baik. Demikian juga halnya bila seseorang belajar keterampilan berarti ia ingin jadi

penghasil dari keterampilan-keterampilan yang ia pelajari agar berguna baik bagi


       31   Ibid
                                                                                      22




dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Dan bila seseorang ingin belajar ilmu

pengetahuan berarti ia ingin memilikinya, mengetahui yang kemudian diamalkan baik

bagi pribadi maupun bagi bangsa dan agama.

       S. Nasution M.A dalam bukunya yang berjudul                 Didaktik Azas-azas

Pengajaran dijelaskan tujuan belajar sebagai berikut :

        Kesanggupan seseorang untuk menggunakan suatu kecakapan, pengertian,
        prinsip-prinsip dan lain-lain yang diperoleh dalam suatu lapangan kedalam
        situasi yang baru.32

       Seorang ahli pendidikan mengemukakan tujuan belajar sebagai berikut :

   a. Pengumpulan pengetahuan.
   b. Penananam konsep, dan kecekatan.
   c. Pembentukan sikap dan perbuatan.33

       Pengertian tersebut memberikan arti bahwa seorang anak didik setelah

mengumpulkan ilmu pengetahuan diharapkan dapat menanamkan konsep pada

dirinya dengan kecakatan yang dimiliki, dan dengan konsep-konsep tersebut dapat

membentuk sikap dan perbuatan pada dirinya.

       Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, mengemukakan tentang tujuan-

tujuan individu yang ingin dicapai dalam belajar adalah sebagai berikut :

       Pembinaan pribadi muslim yang berpadu pada perkembangan dari aspek
       spirituil, jasmani, emosi, intelektual, dan sosial. Atau dengan kata lain berkisar
       pada keseluruhannya pada pembinaan warga negara muslim yang baik, yang
       percaya pada Tuhan dan agamanya; berpegang teguh pada ajaran-ajaran
       agamanya, sehat jasmani berimbang dalam motivasi-motivasi, emosi dan
       keinginan-keinginannya sesuai dengan dirinya dan dengan orang lain,
       bersenjatakan ilmu dan pengetahuan, memiliki alat-alat yang asasi, luas


       32   S. Nasution, op.cit., h. 50
       33   Winarno Surakhmad, op.cit., h. 65
                                                                                               23




        pengetahuan, dan sadarkan masalah-masalah masyarakat, sanggup
        melaksanakan masa luangnya, memikul tanggungjawab terhadap diri,
        keluarga, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan seluruhnya dan berkorban
        untuk menegahkan dan memperkuatnya.34

        Sifat-sifat itulah yang harus dimiliki oleh individu dalam masyarakat dan

pendidikan Islam berusaha menjadikannya sebagai tujuan dan mencapainya dengan

segala kemampuan yang dimilikinya. Dengan tujuan tersebut diatas, nampak



lengkaplah tujuan belajar yang ingin dicapai, dan bila itu tercapai benar-benar tujuan

belajar berhasil dengan baik sesuai dengan yang diinginkan.

        Lebuh lanjut tujuan pendidikan Islam dijelaskan sesuai dengan hasil rumusan

Kongres Pendidikan Islam se-Dunia, menunjukkan bahwa :

        Pendidikan harus merealisasikan cita-cita (idealis) islami yang mencakup
        pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis
        berdasarkan potensi psikologis dan fisiologis (jasmani) manusia yang
        mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara
        berkesinambungan sehingga terbentuklah manusia muslim yang paripurna
        yang berjiwa tawakkal kepada Allah swt.35

        Tujuan pendidikan Islam tersebut juga identik dengan tujuan belajar.

Demikian tujuan pendidikan Islam sama luasnya dengan kebutuhan hidup manusia

modern masa kini dan masa yang akan datang, dimana manusia tidak hanya

memerlukan iman atau agama melainkan juga ilmu pengetahuan dan teknologi




        34 Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Tarbiyatul al-Islam, diterjemahkan oleh Hasan
Langgulung dengan judul Falsafah Pendidikan Islam, (Cet. I; Jakarta : Bulan Bintang, 1979), h. 444
        35 H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Cet. III; Jakarta : Bumi Aksara, 1994), h. 224
                                                                                24




sebagai alat memperoleh kesejahteraan hidup di dunia sebagai sarana untuk mencapai

kehidupan spiritual yang bahagia di akhirat kelak.

       Sejalan dengan tujuan pendidikan yang bersifat paripurna tersebut. M. Fadhil

Al-Djamaly, berpendapat bahwa :

       Sasaran pendidikan Islam yang sesuai dengan ajaran Al-Qur'an adalah
       membina kesadaran atas diri manusia sendiri dan atas sistem sosial yang
       islami, sikap dan rasa tanggung jawab sosialnya, juga terhadap alam sekitar
       ciptaan Allah swt., serta kesadarannya untuk mengembangkan dan mengelola
       ciptaan-Nya bagi kepentingan dan kesejahteraan.36

       Sebagian ulama merumuskan tujuan pendidikan Islam yang didasarkan atas

cita-cita hidup umat Islam yang menginginkan kehidupan duniawi dan ukrawi yang

bahagia serta harmonis, maka tujuan pendidikan Islam secara teoritis dibedakan

menjadi dua jenis, yaitu tujuan keagamaan dan tujuan keduniaan. Tujuan keagamaan

difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup melaksanakan syariat

Islam melalui proses pendidikan spiritual menuju makrifat kepada Allah swt.37

       Pada hakikatnya setiap orang Islam adalah insan agama yang bercita-cita,

berfikir, beramal untuk kehidupan akhirat berdasarkan atas petunjuk dari wahyu

Allah swt., melalui Rasulullah saw. Kecenderungan hidup keagamaan ini merupakan

ruhnya agama yang benar yang perkembangannya dipimpin oleh ajaran Islam yang

murni yang bersumber pada kitab suci, menjelaskan serta menerangkan tentang

perkara yang benar, tentang tugas kewajiban manusia untuk mengikuti yang benar.




       36   Ibid., h. 225
       37   Ibid., h. 227
                                                                              25




Oleh karena itu tujuan pendidikan Islam penuh dengan nilai rohaniah islami dan

berorientasi kepada kebahagiaan hidup di akhirat.

       Selanjutnya adalah tujuan keduaniaan sebagai tujuan kedua dari tujuan

pendidikan Islam yakni mengutamakan pada upaya untuk mewujudkan kehidupan

sejahtera di dunia dan kemanfaatannya.38

       Suatu perubahan pada individu belajar tidak hanya mengenai jumlah

pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian,

penghargaan, minat, penyesuaian diri. Pendeknya mengenai segala aspek organisme

atau pribadi seseorang. Karena itu seseorang yang belajar itu tidak sama lagi

dibandingkan dengan saat sebelumnya, karena tentunya ia lebih sanggup menghadapi

kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia tidak

hanya menambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara

fungsional dalam situasi-situasi dalam kehidupannya.



B. Metode dan Prinsip Pengajaran

     1. Metode Pengajaran.

       Pendidik atau guru yang baik adalah yang pandai menggunakan metode, bila

metode yang digunakan pada anak didik atau siswa kurang berhasil. Dan masalah

metode itu sendiri telah dijelaskan dalam Al-Qur'an, yaitu :




       38   Ibid., h. 228.
                                                                                      26




       a. Partisipasi guru dalam situasi belajar mengajar, dalam surah An-Nisa ayat 9

Allah swt., menjelaskan :

    ‫ﻭﻟﻴﺨﺲ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻟﻮﺗﺮﻛﻮﺍﻣﻦ ﺧﻠﻔﻬﻢ ﺫﺭﻳﺔ ﺿﻌﻔﺎ ﺧﺎﻓﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻠﻴﺘﻘﻮﺍﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻘﻮﻝ ﻗﻮﻻ ﺳﺪﻳﺪﺍ‬

Terjemahnya :
      "Dan hendaklah kamu takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya
      meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka
      khawatirkan terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
      bertaqwa kepada Allah dan mereka mengucapkan perkataan yang benar".39

      Ayat tersebut di atas mengandung makna perintah kepada para pendidik atau

guru untuk bertaqwa kepada Allah swt., dan berkata benar sekaligus merupakan

perilaku yang menjurus kepada hukum yang benar. Dengan jalan menempatkan posisi

orang lain sambil menghayati kelemahannya, niscaya ia akan benar-benar

memperhatikan perkataan yang benar dengan didasarkan pada ketaqwaan kepada

Allah swt.

       b. Pergaulan yang bervariasi. Dalam surah (Al-Isra ayat 41) Allah swt

menjelaskan :

                     ‫ﻭﻟﻘﺪ ﺻﺮﻓﻨﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻴﺬﻛﺮﻭﺍ ﻭﻣﺎ ﻳﺰﻳﺪ ﻫﻢ ﺍﻻﻧﻔﻮﺭﺍ‬

Terjemahnya :
      "Dan sesungguhnya dalam Al-Qur'an ini kami telah mengulang-ulang
      peringatan agar mereka selalu ingat. Namun ulangan peringatan itu hanyalah
      menambah lari mereka dari kebenaran".40

       Secara ringkas ayat ini telah menerangkan salah satu metode pengajaran yang

patut diikuti. Adapun metode yang dimaksud adalah menyiapkan makna atau perkara



       39   Departemen Agama R.I, Al-Qur'an dan Terjemahnya, h. 116
       40   Ibid., h. 430
                                                                                      27




tertentu dengan menggunakan contoh serta menyorotinya dari berbagai sudut

pandang yaitu dengan jalan mengulangi serta menggunakan berbagai sudut pandang

dan argumentasi yang dapat menanggalkan keraguan dan menggugah sikap percaya

akan kebenaran.

          c. Membuat perumpamaan dan bercerita untuk mengambil pelajaran. Dalam

surah At-Taubah ayat 70 Allah swt menjelaskan :

‫ﺍﺍﻟﻢ ﻳﺄﺗﻬﻢ ﻧﺒﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻬﻢ ﻗﻮﻡ ﻧﻮﺡ ﻭﻋﺎﺩ ﻭﺛﻤﻮﺩ ﻭﻗﻮﻡ ﺍﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻭﺍﺻﺤﺎﺏ ﻣﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺆﺗﻔﻜﺖ ﺍﺗﺘﻬﻢ‬
                            ‫ﺭﺳﻠﻬﻢ ﺑﺎﻟﺒﻴﻨﺎﺕ ﻓﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻈﻠﻴﻬﻢ ﻭﻟﻜﻦ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺍﻧﻔﺴﻬﻢ ﻳﻈﻠﻤﻮﻥ‬

Terjemahnya :
      "Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum
      mereka, yaitu kaum Nuh, Ad Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan
      penduduk negeri-negeri yang telah musnah, telah datang kepada mereka Rasul-
      rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah
      menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri". 41

          Kisah-kisah itu dapat dipandang secara menyeluruh selaras dengan tujuan

pelajaran yang diamaksud serta bagaimana pemanfaatannya.

          d. Mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Dalam Al-

Qur'an banyak ayat yang bertalian dengan berbagai peristiwa. Meskipun peristiwa

tersebut terjadi karena suatu sebab khusus, namun tersirat didalamnya pelajaran.

Metode ini memungkinkan mengikuti apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al-

Qur'an.




          41   Ibid., h. 290
                                                                                       28




        e. Teladan yang baik. Salah satu cara mendidik adalah memberikan teladan

yang baik kepada anak didik. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah swt., dalam

surah Al-Ahzab ayat 21 :

   ‫ﻟﻘﺪ ﻛﺎﻥ ﻟﻜﻢ ﻓﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺳﻮﺓ ﺣﺴﻨﺔ ﻟﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﺟﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺸﻴﺮﺍ‬

Terjemahnya :
     "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi
     kalian yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari
     kiamat dan ia banyak menyebut Allah".42

        f. Memperhatikan karakteristik situasi belajar mengajar. Memperhatikan

karakteristik adalah sesuai ajaran Islam. Adanya keanekaragaman metode qur'ani

dalam        menyampaikan    perkara   serupa,   merupakan    dalil   akan   keharusan

memperhatikan adanya perbedaan diantara manusia. Karena diantara manusia

terdapat perbedaan individual. Oleh karena itu harus memperhatikan kondisi murid

dan faktor lingkungannya.

        Diantara metode umum yang paling menonjol dapat disebutkan dalam buku

Falsafah Pendidikan Islam sebagai berikut :

   1. Metode pengambilan kesimpulan atau induktif.

        Metode ini dimulai dengan membahas dari bagian-bagian yang kecil untuk

sampai kepada undang-undang umum. Guru yang menjelaskan metode ini

memberikan misal-misal dan detail-detail yang kecil-kecil, kemudian mencoba

melalui jalan perbandingan dan menentukan sifat-sifat untuk mengambil kesimpulan.




        42   Ibid., h. 670
                                                                                 29




Metode ini bertujuan untuk membimbing anak didik untuk mengetahui fakta-fakta

dan hukum-hukum umum melalui jalan pengambilan keputusan atau induktif.

   2. Metode perbandingan.

       Metode ini dapat digunakan pada pengajaran ilmu pengetahuan dan pelajaran-

pelajaran yang mengandung prinsip-prinsip, hukum-hukum dan fakta-fakta umum

termasuk bahasa, sejarah, dan lain-lain yang diatur oleh prinsip-prinsip dan undang-

undang umum. Metode ini membahas dari yang umum kepada yang khusus, dari

keseluruhan kepada bagian-bagian yang kecil, dimana disebutkan prinsip umum

dahulu kemudian diberi misal dan perincian-perincian yang menjelaskannya.




   3. Metode kuliah.

       Metode kuliah ini adalah metode yang menyatakan bahwa mengajar

menyiapkan pelajaran, mencatatkan perkara-perkara penting lalu diperbincangkan,

kemudian menjelaskan dengan terperinci lalu selanjutnya disimpulkan. Metode ini

paling cocok diterapkan pada perkuliahan.

   4. Metode dialog atau perbincangan.

       Metode ini berdasarkan pada dialog, perbincangan melalui tanya jawab untuk

sampai kepada fakta yang tidak dapat diragukan, dikritik dan dibantah lagi. Metode

ini oleh pendidik-pendidik modern, mereka kembangkan sesuai dengan tabiat agama

dan akhlaknya. Dan atas itulah metode perdebatan betul-betul merupakan salah satu

ciri khas pendidikan dalam Islam.43
                                                                                        30




        Untuk lebih melengkapi metode-metode dalam mengajar, maka dalam buku

Pendidikan Dalam Islam juga dijelaskan adanya berbagai macam metode dan metode

tersebut sebagai metode umum yang telah dipergunakan dalam kegiatan proses

belajar mengajar. Metode tersebut adalah sebagai berikut :

   a.   Metode ceramah.
   b.   Metode tanya jawab
   c.   Metode diskusi
   d.   Metode demonstrasi dan eksperimen
   e.   Metode pemberian tugas dan resitasi
   f.   Metode karyawisata
   g.   Metode kerja kelompok
   h.   Metode sosio drama dan peranan.44
        Metode tersebut di atas mempunyai persamaan dari berbagai macam metode

yang telah diungkapkan sebelumnya yang banyak dipergunakan oleh pendidik dan

pengajar dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya.

Diantaranya yang dapat dipergunakan langsung adalah metode ceramah, tanya jawab,

demonstrasi, bermain peranan dengan menggunakan alat-alat bantu.

     2. Prinsip Pengajaran.

        Mengajar adalah suatu usaha yang sangat kompleks, sehingga sukar

menentukan bagaimanakah sebenarnya mengajar yang baik. Ada guru baik kepada

Taman Kanak-kanak akan tetapi menemukan kegagalan di kelas-kelas tingkat tinggi

dan sebaliknya ada guru yang pandai mengajar mahasiswa akan tetapi tidak sanggup

menghadapi murid-murid di kelas rendah.



        43  Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan
Bintang, 1979), h. 561
         44 Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1993), h. 247
                                                                                                      31




           Namun demikian dapat diberikan beberapa prinsip yang berlaku umum untuk

semua guru hal tersebut sebagaimana dalam buku Didaktik Asas-asas mengajar

sebagai berikut :

      a.   Guru yang baik memahami dan menghormati murid.
      b.   Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikan.
      c.   Guru yang baik menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran.
      d.   Guru yang baik menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu.
      e.   Guru yang baik mengaktifkan murid dalam hal belajar.
      f.   Guru yang baik memberi pengertian dan bukan hanya kata-kata belaka.
      g.   Guru mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikannya.45

           Dari prinsip-prinsip tersebut di atas, maka mengajar itu adalah suatu aktivitas

yang kompleks tidak mudah mengikat cara-cara mengajar yang baik dan batasan

tertentu. Namun demikian setiap guru dan calon guru harus menetapkan pada diri

sendiri syarat-syarat yang harus dimiliki oleh guru yang baik, agar jelas bagi kearah

mana ia harus membentuk dirinya.

           Lebih lanjut prinsip-prinsip mengajar juga dijelaskan dalam buku Masalah-

masalah Ilmu Keguruan, yaitu :

      a.   Perhatian.
      b.   Aktivitas
      c.   Appersepsi.
      d.   Peragaan.
      e.   Repetisi.
      f.   Konsentrasi.
      g.   Sosialisasi.
      h.   Individualisasi.
      i.   Evaluasi.46



           45   S. Nasution, Didaktik Azas-azas Mengajar, (Bandung : Jemmars, 1986), h. 12
           46   Roestiyah N.K., Masalah-masalah Ilmu Keguruan, (Cet. II; Jakarta : Bina Aksara, 1986), h.
19.
                                                                                 32




       Di dalam mengajar guru harus membangkitkan perhatian anak kepada

pelajaran yang diberikan. Misalnya dengan menggunakan media yang merangsang

anak didik untuk berfikir, maupun menghubungkan dengan pengetahuan yang telah

dimiliki oleh anak didik, sehingga timbul pengertian. Usaha ini mengakibatkan anak

dapat membanding-bandingkan, membedakan, dan menyimpulkan pengetahuan yang

diterimanya.

       Aktivitas dalam kegiatan proses belajar mengajar, guru perlu menimbulkan

aktivitas anak didik dalam berfikir maupun berbuat. Bila anak menjadi partisipan

yang aktif, maka ia memiliki ilmu pengetahuan yang baik, dapat mengaplikasikan

dalam perbuatan sehari-hari.

       Setiap guru yang mengajar perlu menghubungkan pelajaran yang akan

diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh anak didik, atau pengalaman.

Dengan demikian anak didik akan memperoleh hubungan antara pengetahuan yang

telah menjadi miliknya dengan pelajaran yang akan diterimanya.

       Waktu guru mengajar harus menunjukkan benda-benda, gambar atau

menggunakan media lainnya, agar membantu anak didik untuk membentuk

pengertian, lebih menarik perhatian anak didik, lebih merangsang anak untuk berfikir

dan lain sebagainya.

       Bila guru mengajar dalam hal ini menjelaskan suatu unit pelajaran, maka

perlu diulang-ulang agar anak didik dapat memahami apa yang disampaikan

kepadanya, juga anak didik dapat memahami apa yang disampaikan kepadanya. Guru

juga dalam aktifitas mengajarnya wajib memperhatikan dan memikirkan hubungan
                                                                                 33




diantara setiap mata pelajaran, sehingga memperluas dan memperdalam pengetahuan

anak didik itu sendiri.

        Dan yang terpenting adalah konsentrasi yaitu usaha konsentrasi pelajaran

yang menyebabkan siswa akan memperoleh pengalaman langsung, mengamati

sendiri, meneliti sendiri, menyusun dan menyimpulkan pengetahuan itu sendiri.

        Dalam perkembangannya siswa perlu bergaul dengan teman lainnya untuk

dapat saling membantu, tolong menolong, memecahkan masalah-masalah secara

bersama dengan baik dan lancar.

        Karena siswa merupakan mahluk yang unik yaitu memiliki sikap, watak,

intelegensi yang berbeda-beda, maka guru perlu mengadakan perencaan untuk anak

didik secara klasikal maupun perencanaan program individual.

        Dan terakhir adalah seluruh kegiatan mengajar. Belajar perlu dievaluasi, dan

evaluasi tersebut dapat memberikan motivasi bagi guru maupun bagi anak didik serta

dapat menggambarkan kemajuan anak didik terutama dari segi prestasinya dan juga

dapat menjadi umpan balik bagi guru itu sendiri.

        Selanjutnya oleh Mursell, mengemukakan prinsip-prinsip mengajar yang

disimpulkan menjadi enam prinsip, yaitu sebagai berikut :

   a.   Konteks.
   b.   Fokus.
   c.   Sosialisasi.
   d.   Individualisasi.
   e.   Sequence.
   f.   Evaluasi.47


        47   Ibid., h. 23
                                                                                   34




       Apa yang dikemukakan oleh Mursell relevan dengan prinsip-prinsip yang

telah dikemukakan sebelumnya. Dalam belajar sebagian besar tergantung pada

konteks belajar dan dalam proses belajar perlu diorganisir bahan yang penting.

Artinya bahwa anak didik harus menjumpai kunci dan pembuka yang diperlukan.

       Oemar Mohammad Al-Taoumy Al-Syaibany dalam bukunya Falsafah

Pendidikan Islam, prinsip tersebut dijelaskan bahwa :

       Prinsip-prinsip yang menjadi dasar metode dalam mengajar yakni motivasi
       anak didik dan kebutuhan, minat serta keinginan pada kegiatan proses belajar
       mengajar, sebab dengan motivasi tersebut menjadikan anak didik belajar lebih
       aktif. Kemudian tujuan. Jika anak didik mempunyai tujuan yang jelas dalam
       proses belajar tentu ia akan menyukainya dan mengusahakan dengan sungguh-
       sungguh untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu untuk memelihara tahap
       kematangan yang dicapai oleh anak didik dan derajat kesediaannya untuk
       belajar. Dan juga perlu menjaga perbedaan-perbedaan perseorangan diantara
       para anak didik. Berpegang pada teks-teks agama dan peninggalan dari ulama-
       ulama Islam.

       Seseorang atau siswa akan berhasil dalam belajar, jika pada dirinya ada

keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorngan untuk belajar inilah yang disebut

dengan motivasi. Motivasi dalam hal ini meliputi dua hal yaitu pertama, mengetahui

apa yang akan dipelajari, kedua memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari.

Dengan berpijak pada kedua unsur motivasi tersebut sebagai dasar permulaan yang

baik untuk belajar, sebab tanpa kedua unsur tersebut kegiatan belajar akan sulit untuk

berhasil.

       Di dalam kegiatan belajar juga diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun

mental sebagai suatu wujud reaksi. Pikiran dan otot-ototnya harus bekerja secara

harmonis, sehingga subjek belajar dapat bertindak. Belajar harus aktif, tidak sekedar
                                                                                              35




apa adanya, menyerah pada lingkungan sekitarnya, tetapi semua itu harus dipandang

sebagai suatu tantangan yang memerlukan reaksi.



C. Pengertian dan Fungsi Motivasi.

    1. Pengertian Motivasi

        Istilah motivasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan berbagai

situasi. Dalam uraian ini tidak akan dikemukakan motivasi dalam segala bidang dan

situasi, akan tetapi diarahkan pada motivasi dalam bidang pendidikan, khususnya

dalam kegiatan belajar mengajar. Berikut akan diuraikan pendapat dari beberapa ahli

tentang motivasi.

        S. Nasution, M.A mengemukakan bahwa :

        Memotivasi murid atau anak didik adalah menciptakan kondisi sedemikian
        rupa sehingga anak didik tersebut mau melakukan apa yang dapat
        dilakukannya.48

        Bimo Walgito mendefinisikan motivasi sebagai berikut :

        Motivasi adalah suatu kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang
        menyebabkan organisme tersebut berbuat.49

        Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan mendefinisikan

motivasi sebagai berikut :

        Motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme
        yang mengarahkan perbuatan atau tingkah laku kepada suatu tujuan atau
        perangsang.50


        48 S. Nasution, Didaktik Azas-azas Mengajar (Cet. I; Jakarta : Bumi Aksara, 1995), h. 75.
        49  Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta : Yasbit Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada, 1985), h. 141
                                                                                                36




       Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah

suatu kekuatan yang merupakan keadaan jiwa seseorang yang mendorong seseorang

untuk melakukan suatu aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

       Dalam suatu motivasi umumnya terdapat dua unsur pokok yaitu : unsur

dorongan atau kebutuhan dan unsur tujuan atau dengan kata lain respon individu

terhadap kebutuhan baik primer maupun sekunder akan menghasilkan suatu tingkah

laku sebagai upaya untuk memenyhinya. Proses hubungan timbal balik antara dua

unsur tersebut selalu terdapat dalam diri manusia, sebab pada dasarnya manusia

selalu ingin berbuat untuk kemanusiaan dalam menjalani hidupnya.

       Sebagaimana yang dikemukakan oleh Singgih Gunarsa, bahwa motif akan

timbul jika dalam jiwa seseorang terjadi keadaan yang tidak seimbang.51 Dengan

demikian tingkah laku yang dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan-kebutuhan dan

diarahkan kepada suatu tujuan agar kebutuhan tersebut terpenuhi dinamakan tingkah

laku bermotivasi.

       Kebutuhan merupakan kekurangan adanya sesuatu dan ini menuntut segera

untuk mendapatkan keseimbangan kembali. Situasi adanya kekurangan ini berfungsi

sebagai kekuatan yang menyebabkan seseorang tersebut berbuat untuk memenuhi

kebutuhannya. Oleh sebab itu, antara kebutuhan, motif dan perbuatan seseorang

terjadi hubungan kausal dan merupakan keterikatan yang sangat erat untuk mencapai



       50   Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992), h. 61
       51   Singgih Dirga Gunarsa, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Mutiara, t.th), h. 92-93.
                                                                                           37




suatu tujuan yang diinginkan, dan bila tujuan tersebut telah tercapai, maka akan

timbul motif baru. Akhirnya timbullah lingkungan motif.

        Dalam pada itu Sarlito Wirawan mengemukakan bahwa :

        Suatu kebutuhan dimulai dengan adanya ketidakseimbangan dalam diri
        individu, misalnya lapar atau takut. Keadaan tidak seimbang ini tidak
        menyenangkan individu yang bersangkutan, sehingga timbullah untuk
        meniadakan ketidakseimbangan itu, misalnya makan dan perlindungan.
        Kebutuhan inilah yang akan menimbulkan dorongan atau motif untuk berbuat
        sesuatu.52

        Dengan demikian motif mempunyai peran yang penting dalam kehidupan

manusia didalam memenuhi, mewujudkan suatu kebutuhan yang diinginkan yang

terlealisir dalam perilaku perbuatan untuk sampai kepada tujuan.

        Kebutuhan manusia secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam,

yaitu : kebutuhan biologis dan kebutuhan psikologis. Kedua kebutuhan itulah yang

mendorong manusia untuk memenuhinya agar terjadi keseimbangan dalam dirinya.

        Adapun mekanisme kerja motif dalam diri manusia menurut World Wort

sebagai berikut : reaksi seseorang terhadap rangsangan dipengaruhi oleh empat hal,

yaitu : faktor rangsangan itu sendiri, ciri-ciri atau struktur tetap dari individu, keadaan

sesaat, dan kegiatan yang sedang berlangsung.

        Motif didalam diri individu terkadang tidak muncul dengan sendirinya, oleh

sebab ada beberapa cara untuk menumbuhkannya, yaitu :

    a. Menjelaskan tujuan yang akan dicapai dengan sejelas-jelasnya. Makin jelas
       tujuan yang akan dicapai, tentu makin kuat pula usaha untuk mencapai tujuan.


        52  Sarlito Wirawan, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta : Yasbit Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada, 1985), h. 141.
                                                                                    38




       Menjelaskan pentingnya mencapai tujuan. Dijelaskan alasan-alasan, mengapa
       tujuan itu perlu dicapai.
    b. Menjelaskan insentif-insentif yang akan diperoleh akibat tindakan itu.

     2. Fungsi Motivasi

          Dari beberapa uraian yang telah dipaparkan di atas, tampak jelas bahwa

motivasi mempunyai kekuatan dalam menggerakkan organiseme untuk mencapai

tujuan dan mempengaruhi serta mengubah tingkah laku individu.

          Perlu ditegaskan bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan. Untuk itu

apabila seseorang mempunyai keinginan terhadap sesuatu, maka orang tersebut ingin

mencapai dengan berbagai usaha. Dengan dapatnya seseorang mencapai tujuan yang

diinginkan, timbullah kepuasan dalam dirinya.

          Sehubungan dengan hal tersebut di atas, motivasi mempunyai tiga fungsi

yaitu :

    a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi motivasi ini adalah sebagai
       penggerak. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap
       kegiatan yang akan dikerjakan.
    b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
       Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
       dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
    c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus
       dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-
       perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang
       akan menghadapi ujian dengan harapan lulus, tentu akan melakukan kegiatan
       belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau
       membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

          Di samping itu, ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai

pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena
                                                                                               39




adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil

yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun.

       Didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat

melahirkan prestasi yang baik. Rangsangan motivasi seorang siswa akan sangat

menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.


                                             BAB III

                                 METODE PENELITIAN



A. Pendekatan Penelitian


       Pendekatan penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah

pendekatan        kualitatif     deskriptif.     Artinya       pemilihan       yang     bertujuan

mendiskripsikan hasil penelitian yang ditemukan oleh penulis di lapangan.

Sehubungan dengan penelitian deskriptif kualitatif ini dikemukakan beberapa

pendapat antara lain, Moleong, mengatakan bahwa Penelitian kualitatif sebagai

penelitian yang tidak menggunakan perhitungan.53



       Sedangkan Noeng Muhadjir mengatakan bahwa Penelitian dengan

menggunakan pendekatan kualitatif merupakan penelitian yang hanya sekedar

menggambarkan hasil analisis suatu variable penelitian.54

        53   Moleong., Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1990), h. 45
                                                                                                   40




        Selanjutnya Imron Arifin dalam bukunya Penelitian Kualitatif Dalam

Ilmu-ilmu Sosial mengatakan bahwa Penelitian kualitatif bersifat fleksibel,

terbuka dan dapat dikondisikan berdasarkan lapangan penelitian.55

        Penelitian dengan pendekatan kualitatif dalam tulisan ini didasarkan

pada sasaran yang ingin dicapai yaitu mendiskripsikan tentang metode guru

dalam meningkatkan motivasi siswa dan dampaknya terhadap hasil belajar

(Kasus Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli).



B. Rancangan Penelitian

        Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dan penelitian lapangan.

Menurut Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar dalam bukunya

Metodologi Penelitian Sosial mengatakan bahwa :

        Penelitian kasus dan penelitian lapangan bermaksud mempelajari secara
        intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, interaksi sosial,
        individu, kelompok, lembaga dan masyarakat.56




          54   Noeng Muhadjir., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Ed. III; Yokyakarta : Rake Sarasin,
1998), h. 21
          55 Imron Arfhan., Penelitian Kualitatif Dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan, (Cet. III;
Malang : Kalimasada Press, 1996), h. 40
           56Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar., Metodologi Penelitian Sosial, (Cet. IV;

Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2003), h. 4
                                                                           41




       Variabel utama dalam penelitian ini adalah metode guru dalam

meningkatkan motivasi siswa dan dampaknya terhadap hasil belajar siswa pada

MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli.



C. Sumber Data

       Jenis data yang akan dikumpulkan oleh penulis dalam penelitian ini

terbagi dalam dua jenis, yaitu :

1. Data kepustakaan, yaitu : data yang diperoleh dari literatur seperti buku,

   majalah, dan lain sebagainya. Karakteristik data kepustakaan yang

   dikumpulkan dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu :

   a. Data primer, yaitu : literatur yang membahas tentang pengaruh metode

      guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.

   b. Data sekunder, yaitu : literatur lain yang mendukung penelitian ini

      seperti kamus-kamus, buku-buku yang membahas tentang metode guru

      dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, dan lain sebagainya.

2. Data lapangan, yaitu : data yang diperoleh dari hasil penelitian penulis di

   lokasi penelitian. Karakteristik data lapangan yang dikumpulkan dapat di

   kategorisasikan dalam dua jenis, yaitu :

   a. Data primer, yaitu : data lapangan yang mengungkapkan tentang metode

      guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di MTs Darul Ulum
                                                                            42




      Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, terutama yang diperoleh dari

      informan, yaitu satu orang Kepala Sekolah, tiga orang Wakil Kepala

      Sekolah dan beberapa orang guru, satu orang bagian Tata Usaha, dan

      beberapa orang siswa.

   b. Data Sekunder, yaitu : data lapangan lain yang mendukung penelitian ini

      seperti sejarah berdirinya MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

      Kabupaten Tolitoli, keadaan sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.




D. Teknik Pengumpulan Data

       Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data di MTs

Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli sebagai berikut :

1. Observasi, yaitu penulis melakukan pengamatan langsung pada lokasi

   penelitian yaitu pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

   Tolitoli, menyangkut keadaan sarana dan prasarana pendidikan dan lain

   sebagainya.

2. Interview, yaitu penulis melakukan wawancara dengan beberapa informan

   yang dapat memberikan data, seperti Kepala Sekolah/Madrasah, Wakil

   Kepala Sekolah/Madrasah, bagian tata usaha, dan beberapa orang dewan

   guru.
                                                                             43




3. Dokumentasi, yaitu penulis mengumpulkan data dari beberapa dokumen-

   dokumen penting, seperti nilai akhir siswa, papan monografi dan arsip-arsip

   lain yang mendukung kelengkapan data penelitian ini.



E. Teknik Analisis Data

       Analisis data dalam penelitian kualitatif tidak terpisah      dari proses

pengumpulan data. Sebelum penulisan laporan dimulai, maka terlebih dahulu

dilakukan analisis data yang meliputi tiga tahap, yaitu sebagai berikut :

  1. Reduksi Data, yaitu melakukan pemilihan, pemusatan, penyederhanaan,

      pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dan catatan

      dilapangan.

  2. Penyiapan Data, yaitu menyelusuri informasi yang memungkinkan

      dilakukannya penarikan kesimpulan penelitian.

  3. Menarik Kesimpulan, yaitu penulis merumuskan kesimpulan penelitian

      yang berkaitan dengan permasalahan pokok penelitian.



F. Pengecekan Keabsahan Data

       Pengecekan keabsahan data dimaksudkan disini adalah untuk menjamin

validitas data yang dikumpulkan, sehingga hasil penelitian ini dapat

dipertanggung jawabkan secara objektif dan ilmiah. Dalam penelitian
                                                                            44




kualitatif, keabsahan atau validitas data tidak diuji dengan metode statistik,

melainkan dengan analisis kritis kualitatif.

       Adapun tehnik pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah melalui cross check atau cek silang antar data, baik dari

sumber yang sejenis maupun dari jenis sumber lain. maka data yang bersumber

dari hasil wawancara dengan seorang informan, misalnya dikronfontasikan

dengan data dari informan lain. Ini yang dimaksud dengan cek silang antar data

dari sumber yang sejenis.

       Sedangkan cek silang antar data dari sumber yang tidak sejenis,

misalnya data dari seorang informan dikonfrontasikan dengan data hasil

observasi, atau data yang bersumber dari dokumentasi. Dengan demikian,

validitas sebuah data sangat ditentukan oleh dukungan data lain, terutama dari

sumber data primer dan atau paling tidak didukung oleh data sekunder.

       Untuk keperluan penulisan skripsi ini, maka akan digunakan metode

penulisan sebagai berikut :

   1. Induktif, yaitu : metode penulisan yang bertolak dari jenis pengetahuan

       yang bersifat khusus kemudian menarik generalisasi yang bersifat

       umum.
                                                                                 45




   2. Deduktif, yaitu : sistem penulisan yang bertolak dari pengetahuan yang

       sifatnya umum kemudian dianalisis secara terperinci guna memperoleh

       gambaran yang bersifat khusus.

   3. Komparatif,      yaitu    :   meneliti   berbagai    faktor    dan   kemudian

       membandingkannya dengan unsur-unsur lainnya dengan tujuan untuk

       memperoleh kesimpulan-kesimpulan terhadap satu permasalahan.




                                       BAB IV

                               HASIL PENELITIAN


A. Tinjauan Umum MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli

       Sebelum penulis membahas masalah inti dari uraian skripsi ini yang

merupakan hasil penelitian, terlebih dahulu akan dikemukakan tinjauan umum

tentang MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dalam rangka

mengaktualisasikan keadaan segenap sumber daya pendidikan yang dimilikinya

sebagai tolok ukur tingkat kualitas dan keberhasilan sekolah tersebut.

       Pada langkah awal diketengahkan mengenai keadaan peserta didik atau siswa

dan pendidik yang merupakan faktor dominan dalam kegiatan pendidikan yang lebih

khusus lagi dalam kegiatan proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, untuk dapat
                                                                                            46




mengungkapkan lebih sistimatis dari kedua unsur tersebut, maka berikut ini penulis

akan mengemukakan hasil penelitian yang langsung dilakukan, baik dengan

melakukan kegiatan observasi, dokumentasi, maupun wawancara yang dilaksanakan

selama berlangsungnya penelitian ini, sebagai berikut :

      1. Keadaan Siswa.

        Berdasarkan pengungkapan hasil dokumentasi yang dilakukan penulis pada

MTs Darul Ulum Kec.Galang Kabupaten Tolitoli menunjukkan bahwa siswa pada

MTs Darul Ulum Kec. Galang Kabupaten Tolitoli tersebut untuk tahun ajaran

2005/2006 berjumlah 94 orang yang terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas I, II, dan

kelas III . Untuk mengetahui jumlah siswa pada masing-masing kelas, maka penulis

akan mengemukakannya pada tabel dibawah ini, sebagai berikut :

                                          Tabel I

       Keadaan Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                     Masing-masing Kelas Tahun 2005/2006

                                            Jenis Kelamin
 No                Kelas                                               Jumlah        Ket
                                            Lk          Pr
 1                    I                 15 Orang    13 Orang         28 Orang
 2                   II                 15 Orang    16 Orang         31 Orang
 3                   III                19 Orang    16 Orang         35 Orang
Sumber Data : Kantor Tata Usaha (TU) MTs Darul Ulum Kec. Galang Toli-toli Tahun 2005/2006

        Dengan memperhatikan jumlah siswa yang ada pada MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli sebagaimana yang telah di uraiakan di atas,

perlu diketahui bahwa jumlah tersebut telah memadai. Hal ini dipertegas kembali

oleh Kepala MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Tolitoli yang mengatakan bahwa :
                                                                                      47




        “Siswa kami sekarang berjumlah sekitar 94 orang siswa dengan rata-rata
        jumlah perkelas 15 sampai 19 orang, dengan jumlah tersebut dapat
        memudahkan proses belajar mengajar sehingga guru kelas dapat mengawasi
        atau mengontrol serta membimbing aktifitas siswanya. Kalau dulu jumlah
        siswanya tidak sebanyak seperti sekarang ini, sehingga daya tampung tidak
        sesuai dengan jumlah siswa yang ada, hal tersebut bisa mengurangi prestasi
        belajar siswa itu sendiri”.57

        Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka dapat dikatakan bahwa jumlah

siswa yang ada di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli telah

dapat menunjang keberhasilan siswa dalam menerima pelajaran secara maksimal dan

hal tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri.

      2. Tenaga Pendidik.

        Dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pada MTs Darul

Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, maka untuk melaksanakan tugas-tugas

pengelolaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar, pada lembaga pendidikan

tersebut telah memiliki 17 orang tenaga pendidik termasuk Kepala Sekolah dan

bagian Tata Usaha. Tenaga pengajar tersebut terdiri dari berbagai disiplin ilmu,

sebahagian dari mereka bergelar sarjana yang telah memiliki Akta IV. Untuk lebih

jelasnya mengenai keadaan pendidik atau tenaga pengajar pada MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dapat di lihat pada tabel berikut ini :

                                     Tabel II
                             Keadaan Tenaga Pendidik
             Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                Tahun 2005/2006
                                                    Bid. Studi Yang        Pendidikan
 No            Nama                 Jabatan

         Abdul Kadir S., A.Ma, Kepala MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli,
        57

Wawancara, (Kantor Kepala Sekolah MTs Darul Ulum, Tanggal 15 Mei 2006).
                                                                                         48




                                                         Diajarkan             Terakhir
 1    Abdul Kadir S, A.Ma          Kep. Sek       Sejarah                   D. II/ Agama
 2    Darwis                       Wakasek/TU     TIK                       KMI
 3    Adinae, A.Ma                 Bendahara      Aqidah Akhlak/PAI         D. II/ Agama
 4    Siti Naimah                  Guru           SKI                       PGA
 5    Jamri Labeddu, A.Ma          Guru           Al-Khat                   D. II/ Agama
 6    Drs. Dirwas                  Guru           Qur'an Hadits             PGA
 7    Dra. Nuryani                 Guru           Bhs. Arab                 S.1/B. Arab
 8    Dra. Alif Sriwijayanti       Guru           Pend. Seni                S.1/PLS
 9    Badaruddin, S.Pd.I           Guru           Bhs. Indonesia            S.1/PAI
 10   Lita Nirawati, S.Pd          Guru           Fisika                    S.1/Kimia
 11   Drs. Busra S                 Guru           Matematika                S.1/Matematika
 12   Muliadi, S.Pd.I              Guru           Biologi                   S.1/PAI
 13   Makmur AS                    Guru           Sosiologi                 -
 14   Andi Tenri Balobo, S.Pd      Guru           Bhs. Inggris              S.1/Pendidikan
 15   Kasuranta, SE                Guru           Ekonomi                   S.1/Ekonomi
 16   Umar Zaini                   Guru           Fiqhi                     KMI
 17   Drs. Ta'budan                Guru           Bhs. Inggris              S.1/B.Inggris
Sumber Data : Laporan Keadaan Tenaga Pendidik Pada MTs Darul Ulum Tolitoli Tahun 2005/2006

       Dengan jumlah tenaga pendidik yang ada di MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli telah dapat memberikan kelancaran proses belajar

mengajar pada Madrasah tersebut, hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh

Kepala MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

       “Untuk melaksanakan tugas-tugas pengajaran dan pendidikan, di Madrasah ini
       telah memiliki tenaga pendidik sebanyak 17 orang dan tenaga Tata Usaha
       sebanyak 1 orang yang berlatar belakang pendidikan dari berbagai disiplin
       ilmu yang dibutuhkan dalam menunjang proses pendidikan di Madrasah ini.
       Demikian pula tingkat kualifikasi pendidikan mereka”.58

       Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dalam

pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli telah berjalan dengan baik, hal ini disebabkan karena di dukung



       58Abdul Kadir S, A.Ma, Kepala MTs Darul Ulum Kec. Galang Kabupaten Toli-toli,
Wawancara, (Kantor Kepala Sekolah MTs Darul Ulum, Tanggal 15 Mei 2006).
                                                                             49




oleh tenaga pengajar dan Tata Usaha yang memadai, baik dari segi kualitas maupun

dari segi kuantitasnya, sehingga dari aspek ketenagaan MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli tidak mengalami hambatan yang berarti.

    3. Kondisi Sarana dan Prasarana

       Dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar terutama pada lembaga

pendidikan formal seperti halnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai

baik dari segi mutu maupun jumlah merupakan suatu hal yang sangat mendasar.

Sebab proses belajar mengajar hanya dapat berlangsung dengan baik jika didukung

oleh sarana dan prasarana yang tersedia pada lembaga pendidikan tersebut, dengan

kata lain bahwa makin terpenuhinya sarana dan prasarana, maka semakin besar pula

kemungkinan tercapainya tujuan pendidikan yang lebih efektif.

       Adapun sarana dan prasarana yang dimaksud dalam pembahasan ini kaitannya

dengan penyelenggaraan proses pendidikan dan pengajaran pada MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli adalah segala sesuatu yang langsung dapat

mempengaruhi segala aktifitas dalam proses belajar mengajar yang meliputi gedung

sekolah, perpustakaan, laboratorium, demikian pula sarana lainnya yang dengan

sengaja disediakan atau dirancang untuk keperluan belajar siswa. dengan demikian

prasarana yang berhubungan dengan segala sesuatu yang dapat mendukung proses

belajar mengajar yang bersifat tidak langsung namun penting adanya bahkan dapat

mempengaruhi proses belajar mengajar tersebut. Sedangkan sarana lebih bersifat

secara langsung dipergunakan dalam proses belajar mengajar atau dengan kata lain

bahwa proses belajar mengajar harus dapat dilakukan jika tersedia sarana yang
                                                                                                50




mendukungnya. Hal ini meliputi mobiler, buku-buku, atau sumber belajar lainnya,

peralatan kantor atau peralatan administrasi lainnya.

       Yang dimaksud dengan sarana dan prasarana pendidikan adalah segala sarana

dan prasarana yang terdapat pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli yang secara sengaja dibuat atau dirancang untuk kebutuhan proses belajar

mengajar, seperti terlihat dalam tabel berikut ini :




                                        Tabel III

                    Keadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
                 (Menurut Jenis dan Pendukung Alat Administrasi)
            Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                 Tahun 2005/2006

A. Keadaan Ruang Menurut Jenis

                                                         Keadaan Ruang
                                               Baik        Rusak Ringan   Rusak Berat   Total
 No              Jenis Ruang
                                           Jml
                                                  Luas
                                                           Jml
                                                                   Luas
                                                                          Jml
                                                                                Luas     Jml
                                                   M2               M2           M2
 1    Ruang Teori/Kelas                     3    8x9        3       -      -      -      3
 2    Lab (Kimia dan Biologi)               -     -         -       -      -      -      -
 3    Laboratorium Bahasa                   -     -         -       -      -      -      -
 4    Laboratorium IPS                      -     -         -       -      -      -      -
 5    Ruang Komputer                        -     -         -       -      -      -      -
 6    Ruang Perpustakaan                    -     -         -       -      -      -      -
 7    Ruang Keterampilan                    1    3x3        1       -      -      -      1
 8    Ruang Serbaguna                       -     -         -       -      -      -      -
 9    Ruang UKS                             -     -         -       -      -      -      -
 10   Ruang Praktek                         -     -         -       -      -      -      -
 11   Bengkel                               -     -         -       -      -      -      -
 12   Ruang Pameran                         -     -         -       -      -      -      -
 13   Ruang Bambar                          -     -         -       -      -      -      -
                                                                                         51




 14    Koperasi Siswa                        -      -      -       -    -       -    -
 15    Ruang BP/BK                           -      -      -       -    -       -    -
 16    Ruang Kepala Sekolah                  1     3x3     1       -    -       -    1
 17    Ruang Guru                            1     6x4     1       -    -       -    1
 18    Ruang Tata Usaha                      1     3x3     1       -    -       -    1
 19    Ruang OSIS                            -      -      -       -    -       -    -
 20    Kamar Mandi/WC Guru                   1     2x1,5   1       -    -       -    1
 21    Kamar Mandi/WC Siswa                  1     2x1,5   1       -    -       -    1
 22    Mushollah                             1     12x12   1       -    -       -    1
 23    Rumah Dinas Kep. Sekolah              -      -      -       -    -       -    -
 24    Rumah Dinas Guru                      -      -      -       -    -       -    -
 25    Rumah Dinas Penjaga Sekolah           -      -      -       -    -       -    -
 26    Ruang Sanggar MGMP                    -      -      -       -    -       -    -
 27    Ruang BKG                             -      -      -       -    -       -    -
 28    Asrama Siswa                          -      -      -       -    -       -    -
 29    Unit Produksi                         -      -      -       -    -       -    -
Sumber Data : Kantor Tata Usaha (TU) MTs Darul Ulum Tolitoli Tahun 2005/2006.



B. Pendukung Alat Administrasi

                                                   Jumlah Keadaan Alat/Buku          Jumlah
 No        Nama Alat / Judul Buku
                                            Baik      Rusak Ringan     Rusak Berat    Total
 I     Alat Pendukung Administrasi
       1. Komputer                            1                -                -        1
       2. Mesin Ketik                                          -                -        -
       3. Almari Kabinet                      1                -                -        1

 II    Alat Media Belajar
 (a)   Buku Paket
       1. Fisika                             15                -                -        15
       2. Bahasa Inggris                     15                -                -        15
       3. Matematika                         20                -                -        20
       4. Biologi                            45                -                -        45
       5. Bahasa Indonesia                   15                -                -        15
       6. Pendidikan Agama Islam             45                -                -        45

 (b)   Buku Petunjuk Guru
       1. Matematika                          3                -                -        3
       2. Bahasa Inggris                      3                -                -        3
       3. Biologi                             3                -                -        3
       4. Fisika                              -                -                -        -

 (c)   Alat Peraga
       1. Jangka                              1                -                -        1
                                                                                   52




       2. Globe                              1              -                  -   1
       3. Peta                               1              -                  -   1

 III   Alat Olahraga
       1. Volly Ball                         1              1                  -   2
       2. Bola Kaki                          -              -                  1   1
Sumber Data : Kantor Tata Usaha (TU) MTs Darul Ulum Tolitoli Tahun 2005/2006

        Bertitik tolak dari data yang dikemukakan dalam tabel tersebut tentang

keadaan sarana dan prasarana pendidikan pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli, dapat penulis jelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :

        1. Bahwa sarana dan prasarana belajar untuk siswa dan guru pada MTs Darul

Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dapat dikatakan sudah memadai sesuai

dengan kebutuhan, karena fakta menunjukkan adanya ruang kelas yang memadai.

        2. Prasarana perkantoran yang diperlukan dalam menyelenggarakan

administrasi sekolah pada Madrasah MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli telah tersedia sesuai dengan kebutuhan, seperti adanya fasilitas gedung

inventaris, demikian pula sarana penunjang seperti lemari buku-buku paket yang

digunakan di sekolah tersebut serta catatan-catatan administrasi lainnya dalam

keadaan baik dan siap pakai.

        3. Bahwa sarana penunjang keterampilan jasa dan materi kesenian dan

keolahragaan bagi guru dan siswa sekolah tersebut juga tersedia dan memadai.



B. Metode Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MTs Darul Ulum
   Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                                                                53




       Upaya membangkitkan motivasi yang dilakukan oleh setiap guru diantaranya

dapat dilakukan dengan mengaitkan bahan yang bersifat praktis. Dengan mempelajari

bahan yang dikaitkan dengan hal tersebut, perhatian yang bersifat khusus akan

muncul karena bisa jadi bahan yang sama, namun dihubungkan dengan kehidupan

yang bersifat praktis, dengan demikian akan memunculkan keterkaitan dengan segi-

segi tertentu yang sangat beragam. Dari keberadaan ini maka setiap siswa akan

menaruh perhatian khusus pada segi-segi tertentu dari kaitan bahan tersebut. Dengan

demikian diharapkan motivasi untuk mempelajarinya akan meningkat dan

berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan.

       Pengajaran yang prosesnya dilandasi oleh asas motivasi akan dapat

memberikan suasana dan kondisi kepada upaya para guru, baik dalam menyajikan

rangsangan, memberikan bimbingan, arahan, maupun dorongan atau motivasi. Guru

yang berpijak pada asas ini, maka seluruh upaya yang dilakukan dalam kegiatan

mengajar terfokus pada bagaimana membangkitkan motivasi belajar siswa. Hal ini

tentunya harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan tujuan itu

sendiri menjadi acuan dan penentu bagi jenis bahan dengan kondisi dan situasi

kehidupan yang bersifat praktis dapat memunculkan arti bahan tersebut bagi diri

siswa atau anak didik itu sendiri. Dengan merasakan bahwa bahan itu berarti atau

memiliki makna, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu atau rasa ingin memiliki.

Munculnya rasa keingintahuan tersebut dapat meningkatkan minat belajar yang

disebabkan oleh meningkatnya motivasi dalam diri individu setiap siswa.
                                                                                 54




       Berdasarkan pada uraian-uraian tersebut di atas, maka ada beberapa upaya

yang dilakukan oleh guru-guru, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam

untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli, antara lain adalah sebagai berikut :

     1. Menciptakan kondisi berprestasi

       Keinginan untuk berprestasi sesungguhnya merupakan bagian yang penting

dalam kehidupan setiap individu dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam

bidang olahraga, kesenian, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan

untuk mencapai suatu prestasi belajar dalam berbagai bentuknya, seperti belajar yang

menekankan pada kemampuan menyatakan suatu ide dengan kata-kata yang

dilakukan terutama dalam mempelajari bahasa. Kemudian belajar dengan cara

menjelaskan suatu peristiwa atau keterkaitan antara peristiwa yang satu dengan

peristiwa yang lainnya. Adapun belajar yang berupaya memecahkan masalah yang

mendorong keaktifan siswa untuk melahirkan ide-ide baru.

       Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada bidang studi

pendidikan agama Islam pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli melalui penciptaan kondisi berprestasi ini, yaitu sebagaimana yang

dikemukakan oleh Adinae, A.Ma, guru bidang studi pendidikan agama Islam dan

Akidah Akhlak, yang menyatakan bahwa :

       "Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan
       agama Islam, salah satu upaya yang saya lakukan adalah dengan berupaya
       menciptakan motivasi untuk senantiasa berprestasi antara lain dengan cara
       mengumumkan nilai-nilai yang diperoleh oleh peserta didik atau siswa
       khususnya dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam menurut tinggi
                                                                                       55




       rendahnya nilai yang mereka capai pada tiap semester ataupun evaluasi-
       evaluasi yang dilakukan pada mid semester. Dengan demikian mereka para
       siswa terdorong untuk terus berusaha memperoleh nilai yang lebih baik,
       sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang
       ajaran Islam".59

       Kreatifitas guru termasuk dalam hal ini para guru bidang studi pendidikan

agama Islam pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli

senantiasa dituntut untuk menciptakan pola-pola yang membuat siswa memiliki

motivasi yang tinggi untuk berprestasi sekaligus mendorong mereka untuk lebih

berminat pada materi-materi dan bimbingan yang diberikan oleh guru bidang studi

pendidikan agama Islam di mana guru dituntut lebih berperan aktif dalam memotivasi

siswa dalam mempelajari dan memehami bidang studi pendidikan agama Islam,

meskipun peran guru-guru bidang studi lainnya juga memiliki tanggung jawab besar

dalam membina dan menanamkan nilai-nilai ajaran agama kepada siswa atau anak

didiknya sebagai bagian dari pembinaan dan pembentukan kepribadian siswanya.

Sebab sesungguhnya upaya pembinaan kepribadian siswa ini sudah merupakan

tanggung jawab bersama dari semua pihak, baik guru bidang studi pendidikan agama

maupun guru bidang studi lainnya dalam kapasitasnya sebagai tenaga pendidik dan

orang tua siswa itu sendiri sebagai pendidik pertama dan utama, demikian pula halnya

dengan tokoh-tokoh masyarakat. Mengenai peran serta guru bidang studi lainnya




       59Adinae, A.Ma, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam dan Akidah Akhlak Pada MTs
Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Ruang Dewan Guru MTs Darul
Ulum, Tanggal 16 Mei 2006).
                                                                                  56




dalam mendorong siswa mempelajari bidang studi pendidikan agama Islam dapat

dilihat pada tabel dibawah ini, sebagai berikut :

                                      Tabel IV
              Tanggapan Siswa Terhadap Upaya Guru Bidang Studi Lainnya
                Dalam Mendorong Siswa Mempelajari Pendidikan Agama

                                                  Jumlah
 No                Jawaban                                          Prosentase
                                               (Frekwensi)
 1     Sering                                   30 Orang             71, 42 %
 2     Kadang-kadang                             8 Orang              19, 0 %
 3     Tidak Pernah                              4 Orang              9, 52 %
       Jumlah                                   42 Orang              100 %
Item No. 13



        Jika memperhatikan data tersebut di atas, terlihat bahwa peran serta guru

bidang studi lainnya dalam mendorong siswa untuk mempelajari bidang studi

pendidikan agama Islam menurut tanggapan para siswa yang dijadikan sebagai

responden memberikan jawaban yang cukup tinggi mengenai insensitas guru bidang

studi lainnya dalam memeberikan perhatian terhadap pendidikan agama bagi siswa

yang menjadi siswanya. Hasil angket di atas yang menunjukkan keaktifan dan

kepedulian para guru bidang studi selain bidang studi agama dalam memotivasi siswa

untuk lebih giat belajar pendidikan agama. Hal ini ditegaskan pula oleh salah seorang

guru pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, yang

menegaskan bahwa :

        "Pendidikan agama itu menurut saya merupakan hal yang sangat penting
        untuk diberikan kepada siswa agar mereka dapat mengetahui, memahami,
        menghayati, mengamalkan ajaran agama dalam hal ini adalah ajaran agama
        Islam. Oleh karena itu meskipun saya memegang bidang studi lain selain
        bidang studi agama, namun sebagai seorang pendidik dan juga sebagai
        seorang muslim, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk senantiasa
                                                                                       57




       mendorong dan mengajak setiap siswa khususnya yang ada pada MTs Darul
       Ulum Kecamatan Galang Tolitoli senantiasa memperhatikan dan giat untuk
       mempelajari ajaran agama Islam yang dalam hal ini dapat mereka peroleh
       melalui bidang studi agama Islam yang juga telah menjadi bidang studi yang
       wajib di ikuti oleh siswa".60

       Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka tampak bahwa perhatian,

kepedulian dan rasa tanggung jawab para guru-guru bidang studi lainnya terhadap

keberadaan bidang studi pendidikan agama Islam pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli meskipun hanya dalam bentuk dorongan atau motivasi

serta ajakan kepada siswa agar mereka menjadikan bidang studi agama sebagai salah

satu bidang studi yang sangat perlu diperhatikan karena sangat penting dalam

pembinaan keimanan dan ketaqwaan siswa terhadap Allah swt.

       Perhatian dan kepedulian terhadap keberadaan bidang studi agama sebagai

salah satu bidang studi yang wajib di ikuti oleh siswa juga ditujukan oleh para orang

tua siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli. Perhatian

dan kepedulian ini terutama dalam bentuk motivasi kepada anak-anak mereka untuk

senantiasa mengikuti dengan baik seluruh bidang studi yang diajarkan khususnya

bidang studi pendidikan agama Islam agar putra putri mereka dapat memperoleh

ilmu-ilmu agama terutama yang berkaitan dengan cara-cara melaksanakan ibadah

yang bersifat praktis. Peran serta orang tua siswa ini dalam memotivasi putra putri




       60 Dra. Alif Sriwijayanti, Guru Bidang Studi Pendidikan Seni Pada MTs Darul Ulum
Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul Ulum, Tanggal
17 Mei 2006).
                                                                                 58




mereka dalam mempelajari bidang studi agama ini sangat jelas terlihat dari tanggapan

para siswa, sebagaimana tertuang dari hasil angket pada tabel V berikut ini :

                                    Tabel V
   Peran Serta Orang Tua Siswa MTs Darul Ulum Kec. Galang Kabupaten Tolitoli
                   Dalam Memotivasi Siswa Untuk Mempelajari
                      Bidang Studi Pendidikan Agama Islam
                                             Jumlah
 No              Jawaban                                      Prosentase
                                          (Frekwensi)
 1    Pernah                                2 Orang             4,76 %
 2    Sering                               39 Orang             92,8 %
 3    Kadang-kadang                         1 Orang             2,38 %
      Jumlah                               42 Orang             100 %
Sumber Data : Angket Item No. 8

        Dari hasil angket pada tabel V di atas, maka bahwa peran serta orang tua

siswa MTs Darul Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dalam memberikan motivasi

kepada putra putrinya cukup tinggi untuk mempelajari bidang studi pendidikan

agama Islam karena mereka menyadari bahwa bidang studi tersebut akan dapat

memberikan pengetahuan dan pemahaman agama kepada putra putri mereka. Hal ini

sangat jelas diutarakan oleh salah seorang dari orang tua siswa MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli yang di wawancarai oleh penulis yang

menyatakan bahwa :

        "Dengan keterbatasan yang ada pada kami, baik keterbatasan mengenai
        pengetahuan agama, keterbatasan waktu, maupun metode yang cocok untuk
        mengajarkan kepada putra putri kami, maka kami sangat bersyukur dengan
        adanya pendidikan agama yang diajarkan di sekolah ini. Oleh sebab itu, kami
        selaku orang tua merasa sangat perlu untuk mendorong anak-anak kami agar
        selalu tekun untuk mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolah ini".61




         Muhtar, Orang Tua Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli,
        61

Wawancara, (Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Tanggal 18 Mei 2006).
                                                                                 59




          Dengan menyimak ketarangan dari salah seorang orang tua siswa di atas,

tersirat bahwa peranan orang tua dan sekolah, khususnya dalam kegiatan proses

belajar mengajar pada bidang studi pendidikan agama Islam telah terjalin dengan

baik.

        2. Upaya-upaya guru dalam peningkatan sarana dan prasarana belajar

          Salah satu faktor penunjang yang tidak kecil peranannya dalam keberhasilan

proses belajar mengajar adalah ketersediaan sarana dan prasarana belajar mengajar

yang memadai, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya. Hal ini juga

berlaku bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bidang studi pendidikan agama

Islam dimana dalam kegiatan belajar mengajar pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli ketersediaan dan optimalisasi sarana dan prasarana yang

telah ada masih merupakan masalah tersendiri sehingga diperlukan upaya-upaya

penambahan dan optimalisasi terhadap ketersediaan sarana dan prasarana belajar

mengajar termasuk dalam hal ini adalah sarana dan prasarana yang dipergunakan

dalam kegiatan belajar mengajar bidang studi pendidikan agama Islam yang bersifat

praktis, seperti sarana berupa buku-buku yang berkaitan dengan bidang studi

pendidikan agama Islam, sebagaimana yang terungkap dari angket pada tabel XIV di

bawah ini, sebagai berikut :

                                 Tabel VI
                     Tanggapan Para Siswa Terhadap
            Kondisi Sarana Belajar Mengajar Buku-Buku Agama
                                          Jumlah
 No          Jawaban                                        Prosentase
                                       (Frekwensi)
 1  Metode Mengajarnya                   1 Orang             2,3 %
                                                                                       60




 2     Alat Bantunya                             1 Orang                  7,14 %
 3     Buku-buku Pelajarannya                   40 Orang                  98,9 %
       Jumlah                                   42 Orang                  100 %
Sumber Data : Angket Item No. 7

        Dan jika keterbatasan dibidang sarana ini dikaitkan dengan keterbatasan

prasarana khususnya yang berhubungan dengan buku-buku pelajaran yang bersifat

penunjang kegiatan belajar mengajar pada bidang studi pendidikan agama Islam

terlihat bahwa keterbatasan buku-buku tersebut pada umumnya buku-buku agama

yang menunjang pengembangan ilmu-ilmu dasar. Hal ini sebagaimana yang

dijelaskan oleh Adinae, A.Ma, guru bidang studi pendidikan agama Islam dan Akidah

Akhlak, yang menyatakan bahwa :

        "Yang sangat dirasakan oleh kami sebagai guru bidang studi dalam
        melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah kurangnya buku-buku
        penunjang dan buku-buku paket yang berhubungan dengan bidang studi
        pendidikan agama Islam, sehingga upaya untuk memberikan materi-materi
        bidang studi pendidikan agama Islam kami lakukan terpaksa harus
        mencatatnya kepada siswa dan ini cukup menyita cukup waktu yang
        seharusnya dapat digunakan untuk memperdalam materi-materi tersebut.
        Sedangkan keterbatasan buku-buku paket bidang studi pendidikan agama
        Islam dapat dikatakan juga masih terbatas".62

        Keterbatasan ini juga dirasakan pada ketersediaan prasarana yang digunakan

untuk kegiatan praktek dalam bidang studi pendidikan agama Islam yang

membutuhkan pengajaran yang bersifat praktis seperti praktek sholat, wudhu, sholat

jenazah, dan lain sebagainya. Prasarana yang dibutuhkan dalam bidang studi




        62Adinae, A.Ma Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam dan Akidah Akhlak Pada MTs
Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul
Ulum, tanggal 16 Mei 2006).
                                                                                 61




pendidikan agama Islam ini terutama adalah tersedianya tempat ibadah berupa

mushollah atau mesjid. Hal tersebut seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

                                Tabel VII
         Tanggapan Para Siswa Tentang Keberadaan Prasarana Ibadah
         Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                          Jumlah
 No             Jawaban                                       Prosentase
                                       (Frekwensi)
 1  Ada                                  1 Orang               2,3 %
 2  Ada tapi tidak digunakan             2 Orang               9,5 %
 3  Tidak ada                           39 Orang               92,8 %
    Jumlah                              42 Orang               100 %
Sumber Data : Angket Item No. 10

        Berdasarkan data tersebut di atas, secara tegas terlihat bahwa keseluruhan

respon (42 orang) menyatakan keberadaan prasarana ibadah, baik berupa mesjid,

mushollah, ataupun ruangan khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan praktek ibadah

pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli. Padahal keberadaan

prasarana ibadah tersebut sangat perlu di sekolah tersebut. Hal ini juga mengingat

bahwa cukup jauhnya prasarana ibadah yang dimiliki masyarakat yang ada di

kecamatan Galang. Mengenai perlunya prasarana ibadah ini tercermin pula dari

tanggapan para siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Tolitoli, sebagaimana

yang terlihat dari hasil angket di bawah ini :

                                 Tabel VIII
      Tanggapan Para Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Tolitoli
                      Tentang Perlunya Prasarana Ibadah
                                           Jumlah
 No             Jawaban                                    Prosentase
                                         (Frekwensi)
 1  Perlu                                 23 Orang          71, 42 %
 2  Perlu sekali                          18 Orang           19, 0 %
 3  Tidak perlu                            3 Orang           9, 52 %
    Jumlah                                42 Orang           100 %
Sumber Data : Angket Item No. 11
                                                                                62




        Jika dicermati hasil angket di atas dan dikaitkan dengan hasil angket

sebelumnya yang memperlihatkan akan pentingnya prasarana ibadah, maka

keberadaan prasarana ibadah berupa mushollah atau mesjid perlu menjadi prioritas.

Hal ini tersirat pula dari hasil angket pada tabel berikut ini :

                                 Tabel IX
       Tanggapan Para Siswa Tentang Prasarana Yang Menjadi Prioritas
         Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                          Jumlah
 No             Jawaban                                      Prosentase
                                        (Frekwensi)
 1  Buku-buku                            16 Orang              67,2 %
 2  Tempat ibadah                        23 Orang              54,7 %
 3  Alat-alat praktek                     5 Orang              11,9 %
    Jumlah                               42 Orang              100 %
Sumber Data : Angket Item No. 12

        Dengan hasil tersebut di atas dan relevansi dengan hasil angket sebelumnya,

maka kebutuhan akan prasarana berupa Mushollah atau prasarana lainnya yang

mendukung aktifitas kegiatan belajar mengajar pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam akan

berkaitan erat dengan upaya peningkatan motivasi belajar siswa dalam bidang

tersebut.

    3. Tingkat Motivasi Dalam Bidang Studi PAI

        Tingkat motivasi siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli dalam mengikuti proses belajar mengajar khususnya dalam bidang studi

pendidikan agama terutama dapat di lihat dari tingkat keaktifan siswa dalam

mengikuti bidang studi tersebut. Hal ini sebagaimana dapat di lihat ari data yang
                                                                                       63




mencerminkan kehadiran para siswa yang diperoleh dari para dewan guru di MTs

Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

                                          Tabel X

               Tingkat Kehadiran Siswa Dalam Mengikuti Bidang Studi
                              Pendidikan Agama Islam

  Kelas        Hadir             Alpa             Sakit        Izin         Prosentase

    I            67                7                 7           3
    II          117               21                 6           5           78,52 %
   III          102               13                 4           2           84,29 %
  JML           276               41                17          10

Sumber Data : Absensi Guru-guru Bidang Studi PAI Tahun 2006.

         Pada tabel tersebut di atas memperlihatkan mengenai tingkat kehadiran siswa

memiliki korelasi tingkat motivasi para siswa terhadap bidang studi PAI. Hal ini juga

secara jelas dikemukakan oleh seorang siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli yang menyatakan bahwa :

         Mengenai bidang studi pendidikan agama Islam yang di ajarkan di sekolah ini,
         menurut saya merupakan bidang studi yang sangat perlu di ikuti, sebab
         melalui bidang studi agama ini kami memperoleh pengetahuan tentang agama
         sebagai bekal serta petunjuk dalam melaksanakan ajaran Islam, baik yang
         bersifat praktek dan lain sebagainya.63

         Dari pernyataan tersebut d atas, tampak bahwa kesadaran akan pentingnya

ajaran agama bagi para siswa khususnya pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli adalah salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan,

pemahaman yang mengarahkan kepada penghayatan dan pengalaman adalah melalui


          Warlia, Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, MTs
         63

Darul Ulum Tanggal 16 Mei 2006.
                                                                               64




proses belajar mengajar dilakukan dalam bidang studi pendidikan agama Islam.

Sehingga hal ini menjadi motivasi bagi siswa untuk mengikuti bidang studi

pendidikan agama Islam yang dilakukan oleh para dewan guru-guru.

       Dengan demikian, secara realitas dapat dipahami bahwa tingkat motivasi

siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dalam mengikuti

bidang studi pendidikan agama Islam sudah relatif memadai.



C. Pengaruh Metode Guru Meningkatkan Motivasi Terhadap Prestasi Belajar
    Siswa

       Dalam pandangan guru-guru yang ada di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli sangat mempunyai arti yang sangat penting dalam kegiatan

pendidikan. Terdapat beberapa target penting yang hendak dicapai dengan

diterapkannya metode dalam kaitannya dengan peningkatan hasil belajar dan mutu

pendidikan, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam. Oleh karena itu jika

pendidikan agamanya kuat, maka siswa tersebut akan mudah di didik dan dapat diberi

tanggung jawab. Demikian pula halnya dengan MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli. Adapun taget-target yang ingin dicapai diantaranya adalah

sebagai berikut :

     1. Tercapainya target kurikulum.

       Tercapainya target kurikulum dalam suatu pengajaran merupakan suatu

indikator yang dapat dipakai untuk menilai adanya keberhasilan belajar siswa

terhadap suatu pokok bahasan atau bahkan keseluruhan program pengajaran.
                                                                                   65




       Sebagaimana lazimnya diantara penyebab tidak tercapainya target kurikulum

disuatu lembaga pendidikan diantaranya adalah karena faktor dari siswa itu sendiri.

Di mana kondisi dan kemampuan daya serap yang rendah serta kurangnya perhatian

siswa terhadap pelajaran adalah merupakan sebab dari kegagalan pencapaian target

kurikulum.

       Faktor-faktor yang dialami oleh siswa seperti yang telah dijelaskan antara lain

dapat diantisipasi dengan diterapkannya metode. Metode yang diterapkan oleh

masing-masing guru atau pendidik akan mampu membangkitkan proses kegiatan

belajar dan perubahan tingkah laku yang baik, sehingga dengan sendirinya dapat

menguasai materi pelajaran yang diberikan serta dapat mencapai tujuan-tujuan

pendidikan, baik tujuan lembaga itu sendiri, maupun tujuan pendidikan nasional

sebagaimana yang diharapkan oleh bangsa dan negara Indonesia. Dengan tercapainya

tujuan-tujuan tersebut dengan sendirinya berarti bahwa target kurikulum telah

tercapai. Di sinilah letak pentingnya kedudukan faktor metode dalam kegiatan proses

belajar mengajar yang dialaksanakan oleh guru bagi siswa di suatu lembaga

pendidikan.

       Untuk mendukung pencapaian target kurikulum, ada beberapa langkah yang

dilakukan oleh guru berkaitan dengan masalah metode kepada siswa, diantaranya

sebagaimana yang dikemukakan oleh Wakil Kepala Sekolah MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

    1. Merumuskan tujuan pelajaran dengan baik terutama mempertimbangkan

       tingkat kemampuan siswa.
                                                                                       66




    2. Menggunakan metode mendidik dan alat mengajar dengan baik.

    3. Memvariasikan metode dalam kegiatan proses belajar mengajar.

    4. Pembinaan khusus oleh para wali kelas kepada siswa-siswa binaannya.

    5. Guru BP/BK senantiasa mengawasi atau mengontrol setiap tingkah laku siswa

       baik di dalam kelas maupun di luar lingkungan sekolah.64


       Demikian beberapa langkah guru yang dilakukan untuk memantapkan

pencapaian kurikulum yang telah ditargetkan sebelumnya. Dari langkah-langkah

seperti itu secara implisit banyak mengandung unsur motivasi di dalamnya.

Keseluruhan langkah-langkah para guru yang demikian tidak mempunyai sasaran lain

selain tertuju agar siswa terdorong untuk dapat belajar dengan baik dan memiliki

kepribadian yang baik pula.

       Dengan demikian dari langkah-langkah di atas telah tergambar pula peranan

seorang guru sebagai fasilitator dan motivator bagi siswanya.

     2. Meningkatnya kemampuan siswa

       Target yang ingin dicapai dengan diterapkannya metode kepada siswa adalah

terjadinya peningkatan kemampuan, baik peningkatan kemampuan pengetahuan,

keterampilan, maupun sikap. Peningkatan aspek-aspek tersebut itulah yang hendak

dicapai dalam setiap kegiatan belajar mengajar, seperti yang dikemukakan oleh




       64   Darwis, Wakil Kepala Sekolah/TU Pada MTs Darul Ulum Keamatan. Galang Kabupaten
Tolitoli, Wawancara, (Kantor Wakil Kepala Sekolah MTs Darul Ulum, Tanggal 17 Mei 2006).
                                                                                    67




Makmur AS guru bidang studi Sosiologi pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

       "Hasil yang hendak dicapai oleh para siswa dengan senantiasa diberikan
       motivasi sebagai bagian dari metode yang diterapkan. Dan dengan motivasi
       tersebut akan membawa dampak positif, di mana para siswa yang sebelumnya
       agak kurang belajar menjadi terdorong dan berusaha untuk meningkatkan
       prestasi belajarnya ke arah yang lebih baik lagi. Misalnya dari siswa yang
       memperoleh nilai kurang berubah menjadi sedang, dan bagi siswa yang
       memperoleh nilai sedang menjadi baik, dan bagi siswa yang telah memperoleh
       nilai baik menjadi lebih baik lagi".65

       Dari uraian di atas, maka dapat diperoleh suatu gambaran bahwa target dari

penerapan metode tersebut agar siswa baik secara individual maupun secara kolektif

terdapat perubahan yang terjadi dalam dirinya. Wujud dari perubahan tersebut adalah

semakin kuatnya kesadaran siswa untuk mengerti dan menjalankan tugas-tugas yang

menyangkut tugas belajar dan tugas sebagai seorang muslim yang dilaksanakannya

sendiri tanpa perlu ada unsur-unsur pendorong yang memunculkan siswa untuk

berbuat demikian.

       Penerapan metode dalam kelas akan mendorong siswa untuk meningkatkan

usahanya dalam kegiatan proses belajar dan mengembangkan hasil-hasil belajarnya.

Oleh karena itu, menurut Makmur AS, bahwa keseluruhan upaya guru dalam

menerapkan metode kepada siswa targetnya adalah pada umumnya untuk membantu

dan membimbing siswa menuju keberhasilan dengan prestasi belajar yang terbaik.




       65 Makmur AS, Guru Bidang Studi Sosiologi Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang
Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul Ulum, tanggal 18 Mei 2006).
                                                                                    68




Oleh karena itu secara rinci hasil yang hendak dicapai dalam penerapan metode itu

sendiri terdiri atas tujuan sebagai berikut :

    1. Meningkatkan perhatian siswa.

    2. Membangkitkan dan memelihara minat siswa untuk belajar yang telah ada

       sebelumnya.

    3. Mengawasi atau mengontrol dan mengubah tingkah laku siswa yang kurang

       positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang positif.

    4. Memudahkan siswa untuk mengoreksi dirinya, sehingga menyadari akan

       kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya.66


       Demikianlah beberapa hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam

kegiatan proses belajar mengajar yang pada intinya tercapainya hal-hal di atas

merupakan modal yang besar bagi siswa untuk meraih peningkatan kemampuan pada

aspek pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap menjadi lebih baik dari

semula.

        Dengan perubahan-perubahan tersebut, maka wujud dari hasil-hasil yang

dicapai berupaya nilai-nilai dan keaktifan siswa dalam melakukan kegiatan

keagamaan. Yang jelas para siswa di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli secara bertahap mengalami peningkatan kegiatan belajar mengajar yang

dimaksud adalah berupa peningkatan pada aspek kuantitatif maupun secara kualitatif.



        66Makmur AS, Guru Bidang Studi Sosiologi Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang
Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul Ulum, Tanggal 18 Mei 2006).
                                                                                69




Secara kuantitatif, dari hari ke hari kegiatan-kegiatan belajar di lembaga tersebut

semakin meningkat, sementara secara kualitatif semakin tinggi pula bobot materi

yang diterapkan.




                                       BAB IV

                               HASIL PENELITIAN


A. Tinjauan Umum MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli

       Sebelum penulis membahas masalah inti dari uraian skripsi ini yang

merupakan hasil penelitian, terlebih dahulu akan dikemukakan tinjauan umum

tentang MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dalam rangka

mengaktualisasikan keadaan segenap sumber daya pendidikan yang dimilikinya

sebagai tolok ukur tingkat kualitas dan keberhasilan sekolah tersebut.

       Pada langkah awal diketengahkan mengenai keadaan peserta didik atau siswa

dan pendidik yang merupakan faktor dominan dalam kegiatan pendidikan yang lebih

khusus lagi dalam kegiatan proses belajar mengajar. Oleh sebab itu, untuk dapat

mengungkapkan lebih sistimatis dari kedua unsur tersebut, maka berikut ini penulis

akan mengemukakan hasil penelitian yang langsung dilakukan, baik dengan

melakukan kegiatan observasi, dokumentasi, maupun wawancara yang dilaksanakan

selama berlangsungnya penelitian ini, sebagai berikut :

    1. Keadaan Siswa.
                                                                                            70




        Berdasarkan pengungkapan hasil dokumentasi yang dilakukan penulis pada

MTs Darul Ulum Kec.Galang Kabupaten Tolitoli menunjukkan bahwa siswa pada

MTs Darul Ulum Kec. Galang Kabupaten Tolitoli tersebut untuk tahun ajaran

2005/2006 berjumlah 94 orang yang terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas I, II, dan

kelas III . Untuk mengetahui jumlah siswa pada masing-masing kelas, maka penulis

akan mengemukakannya pada tabel dibawah ini, sebagai berikut :

                                          Tabel I

      Keadaan Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                    Masing-masing Kelas Tahun 2005/2006

                                            Jenis Kelamin
 No                Kelas                                               Jumlah        Ket
                                            Lk          Pr
 1                    I                 15 Orang    13 Orang         28 Orang
 2                   II                 15 Orang    16 Orang         31 Orang
 3                   III                19 Orang    16 Orang         35 Orang
Sumber Data : Kantor Tata Usaha (TU) MTs Darul Ulum Kec. Galang Toli-toli Tahun 2005/2006

        Dengan memperhatikan jumlah siswa yang ada pada MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli sebagaimana yang telah di uraiakan di atas,

perlu diketahui bahwa jumlah tersebut telah memadai. Hal ini dipertegas kembali

oleh Kepala MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Tolitoli yang mengatakan bahwa :

        “Siswa kami sekarang berjumlah sekitar 94 orang siswa dengan rata-rata
        jumlah perkelas 15 sampai 19 orang, dengan jumlah tersebut dapat
        memudahkan proses belajar mengajar sehingga guru kelas dapat mengawasi
        atau mengontrol serta membimbing aktifitas siswanya. Kalau dulu jumlah
        siswanya tidak sebanyak seperti sekarang ini, sehingga daya tampung tidak
        sesuai dengan jumlah siswa yang ada, hal tersebut bisa mengurangi prestasi
        belajar siswa itu sendiri”.67


         Abdul Kadir S., A.Ma, Kepala MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli,
        67

Wawancara, (Kantor Kepala Sekolah MTs Darul Ulum, Tanggal 15 Mei 2006).
                                                                                 71




        Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka dapat dikatakan bahwa jumlah

siswa yang ada di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli telah

dapat menunjang keberhasilan siswa dalam menerima pelajaran secara maksimal dan

hal tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri.

      2. Tenaga Pendidik.

        Dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pada MTs Darul

Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, maka untuk melaksanakan tugas-tugas

pengelolaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar, pada lembaga pendidikan

tersebut telah memiliki 17 orang tenaga pendidik termasuk Kepala Sekolah dan

bagian Tata Usaha. Tenaga pengajar tersebut terdiri dari berbagai disiplin ilmu,

sebahagian dari mereka bergelar sarjana yang telah memiliki Akta IV. Untuk lebih

jelasnya mengenai keadaan pendidik atau tenaga pengajar pada MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dapat di lihat pada tabel berikut ini :

                                    Tabel II
                            Keadaan Tenaga Pendidik
            Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                               Tahun 2005/2006
                                                 Bid. Studi Yang        Pendidikan
 No             Nama                Jabatan
                                                    Diajarkan            Terakhir
 1     Abdul Kadir S, A.Ma        Kep. Sek   Sejarah                  D. II/ Agama
 2     Darwis                     Wakasek/TU T I K                    KMI
 3     Adinae, A.Ma               Bendahara  Aqidah Akhlak/PAI        D. II/ Agama
 4     Siti Naimah                Guru       SKI                      PGA
 5     Jamri Labeddu, A.Ma        Guru       Al-Khat                  D. II/ Agama
 6     Drs. Dirwas                Guru       Qur'an Hadits            PGA
 7     Dra. Nuryani               Guru       Bhs. Arab                S.1/B. Arab
 8     Dra. Alif Sriwijayanti     Guru       Pend. Seni               S.1/PLS
 9     Badaruddin, S.Pd.I         Guru       Bhs. Indonesia           S.1/PAI
 10    Lita Nirawati, S.Pd        Guru       Fisika                   S.1/Kimia
                                                                                         72




 11    Drs. Busra S                Guru           Matematika                S.1/Matematika
 12    Muliadi, S.Pd.I             Guru           Biologi                   S.1/PAI
 13    Makmur AS                   Guru           Sosiologi                 -
 14    Andi Tenri Balobo, S.Pd     Guru           Bhs. Inggris              S.1/Pendidikan
 15    Kasuranta, SE               Guru           Ekonomi                   S.1/Ekonomi
 16    Umar Zaini                  Guru           Fiqhi                     KMI
 17    Drs. Ta'budan               Guru           Bhs. Inggris              S.1/B.Inggris
Sumber Data : Laporan Keadaan Tenaga Pendidik Pada MTs Darul Ulum Tolitoli Tahun 2005/2006

        Dengan jumlah tenaga pendidik yang ada di MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli telah dapat memberikan kelancaran proses belajar

mengajar pada Madrasah tersebut, hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh

Kepala MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

        “Untuk melaksanakan tugas-tugas pengajaran dan pendidikan, di Madrasah ini
        telah memiliki tenaga pendidik sebanyak 17 orang dan tenaga Tata Usaha
        sebanyak 1 orang yang berlatar belakang pendidikan dari berbagai disiplin
        ilmu yang dibutuhkan dalam menunjang proses pendidikan di Madrasah ini.
        Demikian pula tingkat kualifikasi pendidikan mereka”.68

        Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka dapat dikatakan bahwa dalam

pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli telah berjalan dengan baik, hal ini disebabkan karena di dukung

oleh tenaga pengajar dan Tata Usaha yang memadai, baik dari segi kualitas maupun

dari segi kuantitasnya, sehingga dari aspek ketenagaan MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli tidak mengalami hambatan yang berarti.

      3. Kondisi Sarana dan Prasarana




         Abdul Kadir S, A.Ma, Kepala MTs Darul Ulum Kec. Galang Kabupaten Toli-toli,
        68

Wawancara, (Kantor Kepala Sekolah MTs Darul Ulum, Tanggal 15 Mei 2006).
                                                                             73




       Dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar terutama pada lembaga

pendidikan formal seperti halnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai

baik dari segi mutu maupun jumlah merupakan suatu hal yang sangat mendasar.

Sebab proses belajar mengajar hanya dapat berlangsung dengan baik jika didukung

oleh sarana dan prasarana yang tersedia pada lembaga pendidikan tersebut, dengan

kata lain bahwa makin terpenuhinya sarana dan prasarana, maka semakin besar pula

kemungkinan tercapainya tujuan pendidikan yang lebih efektif.

       Adapun sarana dan prasarana yang dimaksud dalam pembahasan ini kaitannya

dengan penyelenggaraan proses pendidikan dan pengajaran pada MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli adalah segala sesuatu yang langsung dapat

mempengaruhi segala aktifitas dalam proses belajar mengajar yang meliputi gedung

sekolah, perpustakaan, laboratorium, demikian pula sarana lainnya yang dengan

sengaja disediakan atau dirancang untuk keperluan belajar siswa. dengan demikian

prasarana yang berhubungan dengan segala sesuatu yang dapat mendukung proses

belajar mengajar yang bersifat tidak langsung namun penting adanya bahkan dapat

mempengaruhi proses belajar mengajar tersebut. Sedangkan sarana lebih bersifat

secara langsung dipergunakan dalam proses belajar mengajar atau dengan kata lain

bahwa proses belajar mengajar harus dapat dilakukan jika tersedia sarana yang

mendukungnya. Hal ini meliputi mobiler, buku-buku, atau sumber belajar lainnya,

peralatan kantor atau peralatan administrasi lainnya.

       Yang dimaksud dengan sarana dan prasarana pendidikan adalah segala sarana

dan prasarana yang terdapat pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten
                                                                                                74




Tolitoli yang secara sengaja dibuat atau dirancang untuk kebutuhan proses belajar

mengajar, seperti terlihat dalam tabel berikut ini :




                                        Tabel III

                    Keadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
                 (Menurut Jenis dan Pendukung Alat Administrasi)
            Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                 Tahun 2005/2006

A. Keadaan Ruang Menurut Jenis

                                                         Keadaan Ruang
                                               Baik        Rusak Ringan   Rusak Berat   Total
 No              Jenis Ruang
                                           Jml
                                                  Luas
                                                           Jml
                                                                   Luas
                                                                          Jml
                                                                                Luas     Jml
                                                   M2               M2           M2
 1    Ruang Teori/Kelas                     3    8x9        3       -      -      -      3
 2    Lab (Kimia dan Biologi)               -     -         -       -      -      -      -
 3    Laboratorium Bahasa                   -     -         -       -      -      -      -
 4    Laboratorium IPS                      -     -         -       -      -      -      -
 5    Ruang Komputer                        -     -         -       -      -      -      -
 6    Ruang Perpustakaan                    -     -         -       -      -      -      -
 7    Ruang Keterampilan                    1    3x3        1       -      -      -      1
 8    Ruang Serbaguna                       -     -         -       -      -      -      -
 9    Ruang UKS                             -     -         -       -      -      -      -
 10   Ruang Praktek                         -     -         -       -      -      -      -
 11   Bengkel                               -     -         -       -      -      -      -
 12   Ruang Pameran                         -     -         -       -      -      -      -
 13   Ruang Bambar                          -     -         -       -      -      -      -
 14   Koperasi Siswa                        -     -         -       -      -      -      -
 15   Ruang BP/BK                           -     -         -       -      -      -      -
 16   Ruang Kepala Sekolah                  1    3x3        1       -      -      -      1
 17   Ruang Guru                            1    6x4        1       -      -      -      1
 18   Ruang Tata Usaha                      1    3x3        1       -      -      -      1
 19   Ruang OSIS                            -     -         -       -      -      -      -
 20   Kamar Mandi/WC Guru                   1    2x1,5      1       -      -      -      1
 21   Kamar Mandi/WC Siswa                  1    2x1,5      1       -      -      -      1
                                                                                        75




 22    Mushollah                             1    12x12   1       -     -       -   1
 23    Rumah Dinas Kep. Sekolah              -      -     -       -     -       -   -
 24    Rumah Dinas Guru                      -      -     -       -     -       -   -
 25    Rumah Dinas Penjaga Sekolah           -      -     -       -     -       -   -
 26    Ruang Sanggar MGMP                    -      -     -       -     -       -   -
 27    Ruang BKG                             -      -     -       -     -       -   -
 28    Asrama Siswa                          -      -     -       -     -       -   -
 29    Unit Produksi                         -      -     -       -     -       -   -
Sumber Data : Kantor Tata Usaha (TU) MTs Darul Ulum Tolitoli Tahun 2005/2006.



B. Pendukung Alat Administrasi

                                                 Jumlah Keadaan Alat/Buku           Jumlah
 No        Nama Alat / Judul Buku
                                            Baik    Rusak Ringan     Rusak Berat     Total
 I     Alat Pendukung Administrasi
       4. Komputer                            1               -                 -       1
       5. Mesin Ketik                                         -                 -       -
       6. Almari Kabinet                      1               -                 -       1

 II    Alat Media Belajar
 (a)   Buku Paket
       7. Fisika                             15               -                 -       15
       8. Bahasa Inggris                     15               -                 -       15
       9. Matematika                         20               -                 -       20
       10.Biologi                            45               -                 -       45
       11.Bahasa Indonesia                   15               -                 -       15
       12.Pendidikan Agama Islam             45               -                 -       45

 (b)   Buku Petunjuk Guru
       5. Matematika                          3               -                 -       3
       6. Bahasa Inggris                      3               -                 -       3
       7. Biologi                             3               -                 -       3
       8. Fisika                              -               -                 -       -

 (c)   Alat Peraga
       4. Jangka                              1               -                 -       1
       5. Globe                               1               -                 -       1
       6. Peta                                1               -                 -       1

 III   Alat Olahraga
       3. Volly Ball                          1               1                 -       2
       4. Bola Kaki                           -               -                 1       1
Sumber Data : Kantor Tata Usaha (TU) MTs Darul Ulum Tolitoli Tahun 2005/2006
                                                                                  76




       Bertitik tolak dari data yang dikemukakan dalam tabel tersebut tentang

keadaan sarana dan prasarana pendidikan pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli, dapat penulis jelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :

       1. Bahwa sarana dan prasarana belajar untuk siswa dan guru pada MTs Darul

Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dapat dikatakan sudah memadai sesuai

dengan kebutuhan, karena fakta menunjukkan adanya ruang kelas yang memadai.

       2. Prasarana perkantoran yang diperlukan dalam menyelenggarakan

administrasi sekolah pada Madrasah MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli telah tersedia sesuai dengan kebutuhan, seperti adanya fasilitas gedung

inventaris, demikian pula sarana penunjang seperti lemari buku-buku paket yang

digunakan di sekolah tersebut serta catatan-catatan administrasi lainnya dalam

keadaan baik dan siap pakai.

       3. Bahwa sarana penunjang keterampilan jasa dan materi kesenian dan

keolahragaan bagi guru dan siswa sekolah tersebut juga tersedia dan memadai.



B. Metode Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MTs Darul Ulum
   Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli

       Upaya membangkitkan motivasi yang dilakukan oleh setiap guru diantaranya

dapat dilakukan dengan mengaitkan bahan yang bersifat praktis. Dengan mempelajari

bahan yang dikaitkan dengan hal tersebut, perhatian yang bersifat khusus akan

muncul karena bisa jadi bahan yang sama, namun dihubungkan dengan kehidupan

yang bersifat praktis, dengan demikian akan memunculkan keterkaitan dengan segi-
                                                                                77




segi tertentu yang sangat beragam. Dari keberadaan ini maka setiap siswa akan

menaruh perhatian khusus pada segi-segi tertentu dari kaitan bahan tersebut. Dengan

demikian diharapkan motivasi untuk mempelajarinya akan meningkat dan

berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan.

       Pengajaran yang prosesnya dilandasi oleh asas motivasi akan dapat

memberikan suasana dan kondisi kepada upaya para guru, baik dalam menyajikan

rangsangan, memberikan bimbingan, arahan, maupun dorongan atau motivasi. Guru

yang berpijak pada asas ini, maka seluruh upaya yang dilakukan dalam kegiatan

mengajar terfokus pada bagaimana membangkitkan motivasi belajar siswa. Hal ini

tentunya harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan tujuan itu

sendiri menjadi acuan dan penentu bagi jenis bahan dengan kondisi dan situasi

kehidupan yang bersifat praktis dapat memunculkan arti bahan tersebut bagi diri

siswa atau anak didik itu sendiri. Dengan merasakan bahwa bahan itu berarti atau

memiliki makna, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu atau rasa ingin memiliki.

Munculnya rasa keingintahuan tersebut dapat meningkatkan minat belajar yang

disebabkan oleh meningkatnya motivasi dalam diri individu setiap siswa.

       Berdasarkan pada uraian-uraian tersebut di atas, maka ada beberapa upaya

yang dilakukan oleh guru-guru, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam

untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli, antara lain adalah sebagai berikut :

     1. Menciptakan kondisi berprestasi
                                                                                       78




       Keinginan untuk berprestasi sesungguhnya merupakan bagian yang penting

dalam kehidupan setiap individu dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam

bidang olahraga, kesenian, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan

untuk mencapai suatu prestasi belajar dalam berbagai bentuknya, seperti belajar yang

menekankan pada kemampuan menyatakan suatu ide dengan kata-kata yang

dilakukan terutama dalam mempelajari bahasa. Kemudian belajar dengan cara

menjelaskan suatu peristiwa atau keterkaitan antara peristiwa yang satu dengan

peristiwa yang lainnya. Adapun belajar yang berupaya memecahkan masalah yang

mendorong keaktifan siswa untuk melahirkan ide-ide baru.

       Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya pada bidang studi

pendidikan agama Islam pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli melalui penciptaan kondisi berprestasi ini, yaitu sebagaimana yang

dikemukakan oleh Adinae, A.Ma, guru bidang studi pendidikan agama Islam dan

Akidah Akhlak, yang menyatakan bahwa :

       "Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan
       agama Islam, salah satu upaya yang saya lakukan adalah dengan berupaya
       menciptakan motivasi untuk senantiasa berprestasi antara lain dengan cara
       mengumumkan nilai-nilai yang diperoleh oleh peserta didik atau siswa
       khususnya dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam menurut tinggi
       rendahnya nilai yang mereka capai pada tiap semester ataupun evaluasi-
       evaluasi yang dilakukan pada mid semester. Dengan demikian mereka para
       siswa terdorong untuk terus berusaha memperoleh nilai yang lebih baik,
       sekaligus dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang
       ajaran Islam".69


       69Adinae, A.Ma, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam dan Akidah Akhlak Pada MTs
Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Ruang Dewan Guru MTs Darul
Ulum, Tanggal 16 Mei 2006).
                                                                                 79




       Kreatifitas guru termasuk dalam hal ini para guru bidang studi pendidikan

agama Islam pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli

senantiasa dituntut untuk menciptakan pola-pola yang membuat siswa memiliki

motivasi yang tinggi untuk berprestasi sekaligus mendorong mereka untuk lebih

berminat pada materi-materi dan bimbingan yang diberikan oleh guru bidang studi

pendidikan agama Islam di mana guru dituntut lebih berperan aktif dalam memotivasi

siswa dalam mempelajari dan memehami bidang studi pendidikan agama Islam,

meskipun peran guru-guru bidang studi lainnya juga memiliki tanggung jawab besar

dalam membina dan menanamkan nilai-nilai ajaran agama kepada siswa atau anak

didiknya sebagai bagian dari pembinaan dan pembentukan kepribadian siswanya.

Sebab sesungguhnya upaya pembinaan kepribadian siswa ini sudah merupakan

tanggung jawab bersama dari semua pihak, baik guru bidang studi pendidikan agama

maupun guru bidang studi lainnya dalam kapasitasnya sebagai tenaga pendidik dan

orang tua siswa itu sendiri sebagai pendidik pertama dan utama, demikian pula halnya

dengan tokoh-tokoh masyarakat. Mengenai peran serta guru bidang studi lainnya

dalam mendorong siswa mempelajari bidang studi pendidikan agama Islam dapat

dilihat pada tabel dibawah ini, sebagai berikut :

                                   Tabel IV
           Tanggapan Siswa Terhadap Upaya Guru Bidang Studi Lainnya
             Dalam Mendorong Siswa Mempelajari Pendidikan Agama

                                                 Jumlah
 No               Jawaban                                           Prosentase
                                               (Frekwensi)
 1    Sering                                    30 Orang            71, 42 %
                                                                                       80




 2     Kadang-kadang                             8 Orang                  19, 0 %
 3     Tidak Pernah                              4 Orang                  9, 52 %
       Jumlah                                   42 Orang                  100 %
Item No. 13



        Jika memperhatikan data tersebut di atas, terlihat bahwa peran serta guru

bidang studi lainnya dalam mendorong siswa untuk mempelajari bidang studi

pendidikan agama Islam menurut tanggapan para siswa yang dijadikan sebagai

responden memberikan jawaban yang cukup tinggi mengenai insensitas guru bidang

studi lainnya dalam memeberikan perhatian terhadap pendidikan agama bagi siswa

yang menjadi siswanya. Hasil angket di atas yang menunjukkan keaktifan dan

kepedulian para guru bidang studi selain bidang studi agama dalam memotivasi siswa

untuk lebih giat belajar pendidikan agama. Hal ini ditegaskan pula oleh salah seorang

guru pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, yang

menegaskan bahwa :

        "Pendidikan agama itu menurut saya merupakan hal yang sangat penting
        untuk diberikan kepada siswa agar mereka dapat mengetahui, memahami,
        menghayati, mengamalkan ajaran agama dalam hal ini adalah ajaran agama
        Islam. Oleh karena itu meskipun saya memegang bidang studi lain selain
        bidang studi agama, namun sebagai seorang pendidik dan juga sebagai
        seorang muslim, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk senantiasa
        mendorong dan mengajak setiap siswa khususnya yang ada pada MTs Darul
        Ulum Kecamatan Galang Tolitoli senantiasa memperhatikan dan giat untuk
        mempelajari ajaran agama Islam yang dalam hal ini dapat mereka peroleh
        melalui bidang studi agama Islam yang juga telah menjadi bidang studi yang
        wajib di ikuti oleh siswa".70



        70Dra. Alif Sriwijayanti, Guru Bidang Studi Pendidikan Seni Pada MTs Darul Ulum
Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul Ulum, Tanggal
17 Mei 2006).
                                                                                  81




       Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka tampak bahwa perhatian,

kepedulian dan rasa tanggung jawab para guru-guru bidang studi lainnya terhadap

keberadaan bidang studi pendidikan agama Islam pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli meskipun hanya dalam bentuk dorongan atau motivasi

serta ajakan kepada siswa agar mereka menjadikan bidang studi agama sebagai salah

satu bidang studi yang sangat perlu diperhatikan karena sangat penting dalam

pembinaan keimanan dan ketaqwaan siswa terhadap Allah swt.

       Perhatian dan kepedulian terhadap keberadaan bidang studi agama sebagai

salah satu bidang studi yang wajib di ikuti oleh siswa juga ditujukan oleh para orang

tua siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli. Perhatian

dan kepedulian ini terutama dalam bentuk motivasi kepada anak-anak mereka untuk

senantiasa mengikuti dengan baik seluruh bidang studi yang diajarkan khususnya

bidang studi pendidikan agama Islam agar putra putri mereka dapat memperoleh

ilmu-ilmu agama terutama yang berkaitan dengan cara-cara melaksanakan ibadah

yang bersifat praktis. Peran serta orang tua siswa ini dalam memotivasi putra putri

mereka dalam mempelajari bidang studi agama ini sangat jelas terlihat dari tanggapan

para siswa, sebagaimana tertuang dari hasil angket pada tabel V berikut ini :

                                    Tabel V
   Peran Serta Orang Tua Siswa MTs Darul Ulum Kec. Galang Kabupaten Tolitoli
                   Dalam Memotivasi Siswa Untuk Mempelajari
                      Bidang Studi Pendidikan Agama Islam
                                             Jumlah
 No              Jawaban                                      Prosentase
                                          (Frekwensi)
 1    Pernah                                2 Orang             4,76 %
 2    Sering                               39 Orang             92,8 %
                                                                                  82




 3       Kadang-kadang                          1 Orang                2,38 %
         Jumlah                                42 Orang                100 %
Sumber Data : Angket Item No. 8

          Dari hasil angket pada tabel V di atas, maka bahwa peran serta orang tua

siswa MTs Darul Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dalam memberikan motivasi

kepada putra putrinya cukup tinggi untuk mempelajari bidang studi pendidikan

agama Islam karena mereka menyadari bahwa bidang studi tersebut akan dapat

memberikan pengetahuan dan pemahaman agama kepada putra putri mereka. Hal ini

sangat jelas diutarakan oleh salah seorang dari orang tua siswa MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli yang di wawancarai oleh penulis yang

menyatakan bahwa :

          "Dengan keterbatasan yang ada pada kami, baik keterbatasan mengenai
          pengetahuan agama, keterbatasan waktu, maupun metode yang cocok untuk
          mengajarkan kepada putra putri kami, maka kami sangat bersyukur dengan
          adanya pendidikan agama yang diajarkan di sekolah ini. Oleh sebab itu, kami
          selaku orang tua merasa sangat perlu untuk mendorong anak-anak kami agar
          selalu tekun untuk mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolah ini".71

          Dengan menyimak ketarangan dari salah seorang orang tua siswa di atas,

tersirat bahwa peranan orang tua dan sekolah, khususnya dalam kegiatan proses

belajar mengajar pada bidang studi pendidikan agama Islam telah terjalin dengan

baik.

        2. Upaya-upaya guru dalam peningkatan sarana dan prasarana belajar




         Muhtar, Orang Tua Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli,
          71

Wawancara, (Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Tanggal 18 Mei 2006).
                                                                               83




        Salah satu faktor penunjang yang tidak kecil peranannya dalam keberhasilan

proses belajar mengajar adalah ketersediaan sarana dan prasarana belajar mengajar

yang memadai, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya. Hal ini juga

berlaku bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bidang studi pendidikan agama

Islam dimana dalam kegiatan belajar mengajar pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli ketersediaan dan optimalisasi sarana dan prasarana yang

telah ada masih merupakan masalah tersendiri sehingga diperlukan upaya-upaya

penambahan dan optimalisasi terhadap ketersediaan sarana dan prasarana belajar

mengajar termasuk dalam hal ini adalah sarana dan prasarana yang dipergunakan

dalam kegiatan belajar mengajar bidang studi pendidikan agama Islam yang bersifat

praktis, seperti sarana berupa buku-buku yang berkaitan dengan bidang studi

pendidikan agama Islam, sebagaimana yang terungkap dari angket pada tabel XIV di

bawah ini, sebagai berikut :

                                  Tabel VI
                      Tanggapan Para Siswa Terhadap
             Kondisi Sarana Belajar Mengajar Buku-Buku Agama
                                           Jumlah
 No           Jawaban                                        Prosentase
                                        (Frekwensi)
 1  Metode Mengajarnya                    1 Orang             2,3 %
 2  Alat Bantunya                         1 Orang             7,14 %
 3  Buku-buku Pelajarannya               40 Orang             98,9 %
    Jumlah                               42 Orang              100 %
Sumber Data : Angket Item No. 7

        Dan jika keterbatasan dibidang sarana ini dikaitkan dengan keterbatasan

prasarana khususnya yang berhubungan dengan buku-buku pelajaran yang bersifat

penunjang kegiatan belajar mengajar pada bidang studi pendidikan agama Islam
                                                                                       84




terlihat bahwa keterbatasan buku-buku tersebut pada umumnya buku-buku agama

yang menunjang pengembangan ilmu-ilmu dasar. Hal ini sebagaimana yang

dijelaskan oleh Adinae, A.Ma, guru bidang studi pendidikan agama Islam dan Akidah

Akhlak, yang menyatakan bahwa :

       "Yang sangat dirasakan oleh kami sebagai guru bidang studi dalam
       melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah kurangnya buku-buku
       penunjang dan buku-buku paket yang berhubungan dengan bidang studi
       pendidikan agama Islam, sehingga upaya untuk memberikan materi-materi
       bidang studi pendidikan agama Islam kami lakukan terpaksa harus
       mencatatnya kepada siswa dan ini cukup menyita cukup waktu yang
       seharusnya dapat digunakan untuk memperdalam materi-materi tersebut.
       Sedangkan keterbatasan buku-buku paket bidang studi pendidikan agama
       Islam dapat dikatakan juga masih terbatas".72

       Keterbatasan ini juga dirasakan pada ketersediaan prasarana yang digunakan

untuk kegiatan praktek dalam bidang studi pendidikan agama Islam yang

membutuhkan pengajaran yang bersifat praktis seperti praktek sholat, wudhu, sholat

jenazah, dan lain sebagainya. Prasarana yang dibutuhkan dalam bidang studi

pendidikan agama Islam ini terutama adalah tersedianya tempat ibadah berupa

mushollah atau mesjid. Hal tersebut seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

                                Tabel VII
         Tanggapan Para Siswa Tentang Keberadaan Prasarana Ibadah
         Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                          Jumlah
 No             Jawaban                                       Prosentase
                                       (Frekwensi)
 1  Ada                                  1 Orang               2,3 %
 2  Ada tapi tidak digunakan             2 Orang               9,5 %
 3  Tidak ada                           39 Orang               92,8 %


       72 Adinae, A.Ma Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam dan Akidah Akhlak Pada MTs
Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul
Ulum, tanggal 16 Mei 2006).
                                                                               85




       Jumlah                                    42 Orang           100 %
Sumber Data : Angket Item No. 10

        Berdasarkan data tersebut di atas, secara tegas terlihat bahwa keseluruhan

respon (42 orang) menyatakan keberadaan prasarana ibadah, baik berupa mesjid,

mushollah, ataupun ruangan khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan praktek ibadah

pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli. Padahal keberadaan

prasarana ibadah tersebut sangat perlu di sekolah tersebut. Hal ini juga mengingat

bahwa cukup jauhnya prasarana ibadah yang dimiliki masyarakat yang ada di

kecamatan Galang. Mengenai perlunya prasarana ibadah ini tercermin pula dari

tanggapan para siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Tolitoli, sebagaimana

yang terlihat dari hasil angket di bawah ini :

                                 Tabel VIII
      Tanggapan Para Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Tolitoli
                      Tentang Perlunya Prasarana Ibadah
                                           Jumlah
 No             Jawaban                                    Prosentase
                                         (Frekwensi)
 1  Perlu                                 23 Orang          71, 42 %
 2  Perlu sekali                          18 Orang           19, 0 %
 3  Tidak perlu                            3 Orang           9, 52 %
    Jumlah                                42 Orang           100 %
Sumber Data : Angket Item No. 11

        Jika dicermati hasil angket di atas dan dikaitkan dengan hasil angket

sebelumnya yang memperlihatkan akan pentingnya prasarana ibadah, maka

keberadaan prasarana ibadah berupa mushollah atau mesjid perlu menjadi prioritas.

Hal ini tersirat pula dari hasil angket pada tabel berikut ini :

                                     Tabel IX
           Tanggapan Para Siswa Tentang Prasarana Yang Menjadi Prioritas
            Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli
                                                                                    86




                                                 Jumlah
 No                  Jawaban                                          Prosentase
                                               (Frekwensi)
 1        Buku-buku                             16 Orang               67,2 %
 2        Tempat ibadah                         23 Orang               54,7 %
 3        Alat-alat praktek                      5 Orang               11,9 %
          Jumlah                                42 Orang               100 %
Sumber Data : Angket Item No. 12

           Dengan hasil tersebut di atas dan relevansi dengan hasil angket sebelumnya,

maka kebutuhan akan prasarana berupa Mushollah atau prasarana lainnya yang

mendukung aktifitas kegiatan belajar mengajar pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam akan

berkaitan erat dengan upaya peningkatan motivasi belajar siswa dalam bidang

tersebut.

      3. Tingkat Motivasi Dalam Bidang Studi PAI

           Tingkat motivasi siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli dalam mengikuti proses belajar mengajar khususnya dalam bidang studi

pendidikan agama terutama dapat di lihat dari tingkat keaktifan siswa dalam

mengikuti bidang studi tersebut. Hal ini sebagaimana dapat di lihat ari data yang

mencerminkan kehadiran para siswa yang diperoleh dari para dewan guru di MTs

Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

                                          Tabel X

                 Tingkat Kehadiran Siswa Dalam Mengikuti Bidang Studi
                                Pendidikan Agama Islam

  Kelas           Hadir            Alpa        Sakit          Izin       Prosentase

     I              67              7               7          3
     II            117             21               6          5          78,52 %
                                                                                       87




   III          102               13                4            2           84,29 %
  JML           276               41               17           10

Sumber Data : Absensi Guru-guru Bidang Studi PAI Tahun 2006.

         Pada tabel tersebut di atas memperlihatkan mengenai tingkat kehadiran siswa

memiliki korelasi tingkat motivasi para siswa terhadap bidang studi PAI. Hal ini juga

secara jelas dikemukakan oleh seorang siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan

Galang Kabupaten Tolitoli yang menyatakan bahwa :

         Mengenai bidang studi pendidikan agama Islam yang di ajarkan di sekolah ini,
         menurut saya merupakan bidang studi yang sangat perlu di ikuti, sebab
         melalui bidang studi agama ini kami memperoleh pengetahuan tentang agama
         sebagai bekal serta petunjuk dalam melaksanakan ajaran Islam, baik yang
         bersifat praktek dan lain sebagainya.73

         Dari pernyataan tersebut d atas, tampak bahwa kesadaran akan pentingnya

ajaran agama bagi para siswa khususnya pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli adalah salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan,

pemahaman yang mengarahkan kepada penghayatan dan pengalaman adalah melalui

proses belajar mengajar dilakukan dalam bidang studi pendidikan agama Islam.

Sehingga hal ini menjadi motivasi bagi siswa untuk mengikuti bidang studi

pendidikan agama Islam yang dilakukan oleh para dewan guru-guru.

         Dengan demikian, secara realitas dapat dipahami bahwa tingkat motivasi

siswa pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli dalam mengikuti

bidang studi pendidikan agama Islam sudah relatif memadai.




          Warlia, Siswa MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, Wawancara, MTs
         73

Darul Ulum Tanggal 16 Mei 2006.
                                                                                88




C. Pengaruh Metode Guru Meningkatkan Motivasi Terhadap Prestasi Belajar
    Siswa

       Dalam pandangan guru-guru yang ada di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli sangat mempunyai arti yang sangat penting dalam kegiatan

pendidikan. Terdapat beberapa target penting yang hendak dicapai dengan

diterapkannya metode dalam kaitannya dengan peningkatan hasil belajar dan mutu

pendidikan, khususnya bidang studi pendidikan agama Islam. Oleh karena itu jika

pendidikan agamanya kuat, maka siswa tersebut akan mudah di didik dan dapat diberi

tanggung jawab. Demikian pula halnya dengan MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli. Adapun taget-target yang ingin dicapai diantaranya adalah

sebagai berikut :

     1. Tercapainya target kurikulum.

       Tercapainya target kurikulum dalam suatu pengajaran merupakan suatu

indikator yang dapat dipakai untuk menilai adanya keberhasilan belajar siswa

terhadap suatu pokok bahasan atau bahkan keseluruhan program pengajaran.

       Sebagaimana lazimnya diantara penyebab tidak tercapainya target kurikulum

disuatu lembaga pendidikan diantaranya adalah karena faktor dari siswa itu sendiri.

Di mana kondisi dan kemampuan daya serap yang rendah serta kurangnya perhatian

siswa terhadap pelajaran adalah merupakan sebab dari kegagalan pencapaian target

kurikulum.
                                                                                   89




       Faktor-faktor yang dialami oleh siswa seperti yang telah dijelaskan antara lain

dapat diantisipasi dengan diterapkannya metode. Metode yang diterapkan oleh

masing-masing guru atau pendidik akan mampu membangkitkan proses kegiatan

belajar dan perubahan tingkah laku yang baik, sehingga dengan sendirinya dapat

menguasai materi pelajaran yang diberikan serta dapat mencapai tujuan-tujuan

pendidikan, baik tujuan lembaga itu sendiri, maupun tujuan pendidikan nasional

sebagaimana yang diharapkan oleh bangsa dan negara Indonesia. Dengan tercapainya

tujuan-tujuan tersebut dengan sendirinya berarti bahwa target kurikulum telah

tercapai. Di sinilah letak pentingnya kedudukan faktor metode dalam kegiatan proses

belajar mengajar yang dialaksanakan oleh guru bagi siswa di suatu lembaga

pendidikan.

       Untuk mendukung pencapaian target kurikulum, ada beberapa langkah yang

dilakukan oleh guru berkaitan dengan masalah metode kepada siswa, diantaranya

sebagaimana yang dikemukakan oleh Wakil Kepala Sekolah MTs Darul Ulum

Kecamatan Galang Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

    6. Merumuskan tujuan pelajaran dengan baik terutama mempertimbangkan

       tingkat kemampuan siswa.

    7. Menggunakan metode mendidik dan alat mengajar dengan baik.

    8. Memvariasikan metode dalam kegiatan proses belajar mengajar.

    9. Pembinaan khusus oleh para wali kelas kepada siswa-siswa binaannya.

    10.Guru BP/BK senantiasa mengawasi atau mengontrol setiap tingkah laku siswa

       baik di dalam kelas maupun di luar lingkungan sekolah.74
                                                                                       90




       Demikian beberapa langkah guru yang dilakukan untuk memantapkan

pencapaian kurikulum yang telah ditargetkan sebelumnya. Dari langkah-langkah

seperti itu secara implisit banyak mengandung unsur motivasi di dalamnya.

Keseluruhan langkah-langkah para guru yang demikian tidak mempunyai sasaran lain

selain tertuju agar siswa terdorong untuk dapat belajar dengan baik dan memiliki

kepribadian yang baik pula.

       Dengan demikian dari langkah-langkah di atas telah tergambar pula peranan

seorang guru sebagai fasilitator dan motivator bagi siswanya.

     2. Meningkatnya kemampuan siswa

       Target yang ingin dicapai dengan diterapkannya metode kepada siswa adalah

terjadinya peningkatan kemampuan, baik peningkatan kemampuan pengetahuan,

keterampilan, maupun sikap. Peningkatan aspek-aspek tersebut itulah yang hendak

dicapai dalam setiap kegiatan belajar mengajar, seperti yang dikemukakan oleh

Makmur AS guru bidang studi Sosiologi pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang

Kabupaten Tolitoli, sebagai berikut :

       "Hasil yang hendak dicapai oleh para siswa dengan senantiasa diberikan
       motivasi sebagai bagian dari metode yang diterapkan. Dan dengan motivasi
       tersebut akan membawa dampak positif, di mana para siswa yang sebelumnya
       agak kurang belajar menjadi terdorong dan berusaha untuk meningkatkan
       prestasi belajarnya ke arah yang lebih baik lagi. Misalnya dari siswa yang
       memperoleh nilai kurang berubah menjadi sedang, dan bagi siswa yang
       memperoleh nilai sedang menjadi baik, dan bagi siswa yang telah memperoleh
       nilai baik menjadi lebih baik lagi".75


       74   Darwis, Wakil Kepala Sekolah/TU Pada MTs Darul Ulum Keamatan. Galang Kabupaten
Tolitoli, Wawancara, (Kantor Wakil Kepala Sekolah MTs Darul Ulum, Tanggal 17 Mei 2006).
                                                                                    91




       Dari uraian di atas, maka dapat diperoleh suatu gambaran bahwa target dari

penerapan metode tersebut agar siswa baik secara individual maupun secara kolektif

terdapat perubahan yang terjadi dalam dirinya. Wujud dari perubahan tersebut adalah

semakin kuatnya kesadaran siswa untuk mengerti dan menjalankan tugas-tugas yang

menyangkut tugas belajar dan tugas sebagai seorang muslim yang dilaksanakannya

sendiri tanpa perlu ada unsur-unsur pendorong yang memunculkan siswa untuk

berbuat demikian.

       Penerapan metode dalam kelas akan mendorong siswa untuk meningkatkan

usahanya dalam kegiatan proses belajar dan mengembangkan hasil-hasil belajarnya.

Oleh karena itu, menurut Makmur AS, bahwa keseluruhan upaya guru dalam

menerapkan metode kepada siswa targetnya adalah pada umumnya untuk membantu

dan membimbing siswa menuju keberhasilan dengan prestasi belajar yang terbaik.

Oleh karena itu secara rinci hasil yang hendak dicapai dalam penerapan metode itu

sendiri terdiri atas tujuan sebagai berikut :

    5. Meningkatkan perhatian siswa.

    6. Membangkitkan dan memelihara minat siswa untuk belajar yang telah ada

       sebelumnya.

    7. Mengawasi atau mengontrol dan mengubah tingkah laku siswa yang kurang

       positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang positif.



        75Makmur AS, Guru Bidang Studi Sosiologi Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang
Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul Ulum, tanggal 18 Mei 2006).
                                                                                    92




    8. Memudahkan siswa untuk mengoreksi dirinya, sehingga menyadari akan

       kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya.76


       Demikianlah beberapa hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam

kegiatan proses belajar mengajar yang pada intinya tercapainya hal-hal di atas

merupakan modal yang besar bagi siswa untuk meraih peningkatan kemampuan pada

aspek pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap menjadi lebih baik dari

semula.

       Dengan perubahan-perubahan tersebut, maka wujud dari hasil-hasil yang

dicapai berupaya nilai-nilai dan keaktifan siswa dalam melakukan kegiatan

keagamaan. Yang jelas para siswa di MTs Darul Ulum Kecamatan Galang Kabupaten

Tolitoli secara bertahap mengalami peningkatan kegiatan belajar mengajar yang

dimaksud adalah berupa peningkatan pada aspek kuantitatif maupun secara kualitatif.

Secara kuantitatif, dari hari ke hari kegiatan-kegiatan belajar di lembaga tersebut

semakin meningkat, sementara secara kualitatif semakin tinggi pula bobot materi

yang diterapkan.




                                       BAB V

                                     PENUTUP


       76 Makmur AS, Guru Bidang Studi Sosiologi Pada MTs Darul Ulum Kecamatan Galang
Kabupaten Tolitoli, Wawancara, (Kantor Dewan Guru MTs Darul Ulum, Tanggal 18 Mei 2006).
                                                                                   93




A. Kesimpulan

       Dari uraian dan pembahasan yang penulis paparkan tersebut di atas, maka

dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1.   Motivasi siswa pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ulum Kecamatan

       Galang Kabupaten Tolitoli sangat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi

       siswa.

  2.   Motivasi siswa pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ulum Kecamatan

       Galang Kabupaten Tolitoli dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : pertama

       adalah faktor internal adalah faktor yang datang dari dalam diri siswa yang

       terbentuk dengan sendirinya dalam mengadakan perubahan tingkah laku

       sebagai hasil belajar. Faktor internal ini meliputi kemauan siswa dalam

       melakukan aktivitas yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, dan

       keinginan meraih angka prestasi dan juga karena harga diri. Yang kedua

       adalah faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu yang dapat

       memberikan nilai-nilai kepribadian. Adapun faktor eksternal tersebut meliputi

       peranan orang tua dalam mengarahkan anaknya untuk dapat belajar di rumah,

       peranan guru dalam memotivasi siswa dalam belajar dan mengajarkan ilmu

       yang dimilikinya, teman sekolah, serta lingkungan pergaulan.

  3.   Dalam memotivasi siswa pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ulum Kec.

       Galang Kabupaten Toli-toli para guru menempuh usaha-usaha diantaranya

       adalah   cara   mengajar    yang      menyenangkan,    memberikan     nasehat,
                                                                                    94




         menggunakan metode yang bervariasi, memberikan tugas-tugas, memberikan

         nilai   raport   atau   prestasi,   melaksanakan   kegiatan-kegiatan   ibadah,

         mengadakan perlombaan-perlombaan yang bersifat keagamaan, mengadakan

         peringatan hari besar Islam, mengadakan praktek keagamaan, dan

         mengadakan pesantren kilat.

  4.     Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam memotivasi siswa

         belajar.

  5.     Secara umum motivasi siswa pada Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ulum

         Kec. Galang Kabupaten Toli-toli sangat tinggi.



B. Saran-saran.

       1. Kepada Kepala Sekolah

         Hendaknya lebih meningkatkan usahanya dalam menyediakan fasilitas yang

diperlukan di sekolah, khususnya yang berhubungan dengan kegiatan proses belajar

mengajar, sehingga siswa dapat lebih termotivasi untuk belajar.

       2. Kepada para dewan guru atau tenaga pengajar.

         Diharapkan kepada para guru agar lebih meningkatkan motivasi siswa dalam

belajar dan meningkatkan cara mengajar dengan cara yang lebih baik serta

meningkatkan akhlaq anak didik dengan akhlak yang baik.




       3. Kepada para siswa.
                                                                                95




       Diharapkan kepada para siswa agar lebih meningkatkan belajarnya dengan

memperhatikan materi pelajaran yang disajikan oleh guru di dalam kelas dan

mengamalkan apa yang telah dipelajari dan apa yang telah didapatkannya dari guru di

sekolah.

       Al-hamdulillah, berkat ridha Allah swt., dan hidayah-Nya serta usaha yang

maksimal sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

       Bagaimanapun juga dalam penulisan skripsi ini tentunya tidak lepas dari

berbagai kekurangan dan keterbatasan, maka penulis berharap koreksi dan saran

maupun kritikan yang sifatnya membantu terhadap kesempurnaan skripsi ini.

       Harapan penulis, semoga hasil penelitian ini dapat memberikan informasi

kepada kalangan pendidik dan masyarakat umum demi kelestarian ilmu pengetahuan.

								
To top