PERAN KEBIJAKAN PUBLIK BANTUAN LANGSUNG TUNAI by HadirinSofi1

VIEWS: 150 PAGES: 17

									   PERAN KEBIJAKAN PUBLIK BANTUAN LANGSUNG TUNAI
     (BLT) TERHADAP PEREKONOMIAN RAKYAT MISKIN
                     PENERIMA BLT


BAB I
I.Latar Belakang Masalah
        Ekonomi adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia mencukupi
kebutuhannya hidupnya seperti produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa.
Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu οἶκος (oikos) yang berarti “keluarga, rumah
tangga” dan νόμος (nomos) yang berarti “peraturan, aturan, hukum”. Jadi pengertian
ekonomi pada dasarnya adalah ilmu yang mengatur rumah tangga.
Dari penggabungan kedua kata tersebut, juga dapat diartikan menunjukkan sebuah kondisi
yang merujuk pada pengertian tentang aktivitas manusia. Terutama pada usaha agar mampu
mengolah sumber daya di lingkungan sekitarnya.
Ekonomi juga dikategorikan sebagai Ilmu Sosial. Karena terkait dengan masalah manusia
yang menjadi pokok bahasan dalam kajian ilmu sosial.
Pengertian Ekonomi menurut beberapa ahli
Abraham Maslow. Abraham Maslow merupakan seorang psikolog dari Amerika. Selain itu
beliau juga terkenal akan pengertian ekonominya. Abraham Maslow membuat sebuah
teorihierarchy of needs. Didalam teorinya ia menyimpulkan ada lima kebutuhan dasar
manusia. yaitu:
1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan
biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari
teror, dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan
lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan
minatnya.
Paul A. Samuelson. Paul A. Samuelson seorang ekonom dari Amerika yang mendapat
penghargaan nobel dalam bidang ekonomi di tahun 1970. Ia juga telah memenangkan John
Bates Clark Award pada tahun 1947 karena beliau menunjukkan karya yang brilian pada
usiany ayang kurang dari 40 tahun. Didalam bukunya yang berjudul Foundations of
Economic Analysis, beliau berpendapat pengertian ekonomi merupakan cara-cara yang
dilakukan manusia dan memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh
berbagai komoditi dan memdistribusikan untuk dikonsumsi oleh masyarakat..
Hermawan Kartajaya. Hermawan Kartajaya seorang Ahli Pemasaran yang dikenal
masyarakat dunia. Ia mengemukakan pengertian ekonomi yaitu platform dimana sektor
industri melekat diatasnya.Setiap kegiatan yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi
kebutuhan hidupnya, dinamakan kegiatan ekonomi.
       Sedangkan Yang dimaksud prinsip dasar ekonomi adalah sebuah patokan prilaku
pelaku ekonomi dalam perekonomian yang mengarahkan untuk bertindak dan berkesesuaian
dengan apa yang diharapkan oleh pelaku ekonomi tersebut dalam mengambil keputusan.
       Selama ini prinsip ekonomi yang banyak diajarkan dan dikenal adalah “ berusaha
dengan usaha sekecil mungkin (tertentu) untuk mendapatkan hasil yang maksimal” . perinsip
ini jelas akan mengarahkan pada tindakan para pelaku ekonomi yang membolehkan segala
cara unntuk memenuhi kebutuhannya, padahal dalam memenuhi kebutuhan ekonominya
pelaku ekonomi harus tunduk pada etika dalam perekonomian (hanya menerima bila telah
sepakat)
       Di indonesia sendiri laju pertumbuhan ekonominya cukup bagus,namun pada tahun
2005 setelah pemerintah menaikan harga BBM ekonomi masyarakat kecil cenderung semakin
melemah.Hal ini dapat diketahui dari indikasi – indikasi protes masyarakat yang terus datang
menjelang kenaikan harga BBM.
Untuk meredam gejolak ketidak setujuan masyarakat tersebut atas dasar persetujuan presiden
kala itu (Bp.SBY) maka di buatlah program pemerintah yang manjadikan masyarakat miskin
sebagai sasaran, program pemerintah ini di sebut dengan BANTUAN LANGSUNG TUNAI
(BLT). kebijakan ini tertuang dalam Inpres No 12 tahun 2005 dan Inpres No 3 tahun 2008
Tentang Penanganan Rakyat Miskin yang dikeluarkan oleh presiden Susilo Bambang
Yudoyono. SBY sebagai pembuat kebijakan, dan pembuat peraturan tentang pelaksanaannya
agar progam BLT ini sampai pada masyarakat yang menjadi sasarannya. BLT yang
menghabiskan dana APBN 14,1 trilyun, yang digunakan untuk masyarakat yang dianggap
terkena Imbas dari dampak kenaikan BBM.
Dalam beberapa artikel telah di bahas mengenai hubungan antara kebijakan publik yang
dalam hal ini lebih mengkhususkan pada program pemerintah Bantuan Langsung Tunai atau
BLT dengan perekonomian rakyat miskin penerima Bantuan Langsung Tunai tersebut.
Beberapa opini mengatakan kiranya program bantuan langsung tunai tersebut dirasa kurang
begitu efektif karena tidak tepat sasaran dimana bantuan yang seharusnya di berikan kepada
masyarakat miskin justru masuk ke kantong oknum – oknum tertentu,Namun sebagian opini
juga mengatakan bahwa program bantuan langsung tunai tersebut memiliki efek yang cukup
bagus bagi masyarakat miskin penerimanya.karena selain bisa membantu perekonomian
jumlah yang diberikan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan yang ada.
Dari opini yang berbeda – beda inlah.maka dirasa perlu kiranya untuk dilakukan penelitian
yang lebih mendalam.selanjutnya berangkat dari latar belakang inilah proposal ini kami beri
judul PERAN KEBIJAKAN PUBLIK BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT)
TERHADAP PEREKONOMIAN RAKYAT MISKIN PENERIMA BLT yang mana
diharapkan dengan adanya proposal ini nantinya akan diketahui dampak seperti apa yang
ditimbulkan program pemerintah Bantuan Langsung Tunai terhadap perekonomian masyrakat
miskin penerima BLT.
II.Rumusan Masalah/Question Research
Adapun Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah :
1.Bagaimana Peran kebijakan publik (BLT) dalam membantu menopang perekonomian
rakyat miskin penerima BLT.?
2.Bagaimana dampak dari kebijakan publik (BLT) terhadap perekonomian rakyat miskin
penerima BLT..?
3.Seberapa Efektif kebijakan publik (BLT) dalam membantu perekonomian rakyat miskin
penerima BLT.?
4.sejauh mana kebijakan publik (BLT) dalam membantu menopang perekonomian rakyat
miskin penerima BLT.?
III.TUJUAN PENELITIAN
Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah.:
1.Untuk mengetahui seberapa besar peran kebijakan publik (BLT) dalam membantu
menopang perekonomian rakyat miskin penerima BLT.
2.Untuk mengetahui Apa dampak yang di hasilkan kebijakan publik (BLT) terhadap
perekonomian rakyat miskin penerima BLT.
3.Untuk mengetahui Bagaimana dampak yang dihasilkan oleh kebijakn publik (BLT)
terhadap perekonomian rakyat miskin penerima BLT.
4.Untuk mengetahui Seberapa Besar kebijakan publik (BLT) dalam membantu perekonomian
rakyat miskin penerima BLT.
5.Untuk mengetahui sejauh mana kebijakan publik (BLT) dalam membantu menopang
perekonomian rakyat miskin penerima BLT.
IV.MANFAAT PENELITIAN
A. Manfaat Teoritis Dari penelitian ini, secara teoritis akan menguji ada tidaknya :
1.Pengaruh kebijakan publik (BLT) dalam membantu menopang perekonomian rakyat miskin
penerima BLT.
2.Pengaruh kebijakan publik (BLT) terhadap perekonomian rakyat miskin penerima BLT.
3.Pengaruh kebijakan publik (BLT) terhadap kemajuan perekonomian rakyat miskin
penerima BLT.
4.Pengaruh Kebijakn Publik (BLT) sebagai kebijakan yang membantu ekonomi rakyat
miskin penerima BLT.
5.Pengaruh kebijakan pulblik (BLT) dengan kehidupan masyarakat miskin penerima BLT.
B. Manfaat Praktis. Dari penelitian ini, secara praktis akan bermanfaat bagi :
1.Pemerintah,agar menjadi sebuah masukan dan menjadi bahan pertimbangan untuk
kemudian diambil manfaat supaya dalam membuat kebijakan kedepannya menjadi lebih baik.
2.Pemerintah,supaya menjadi koreksi terhadap kinerjanya selama ini, apakah sudah sesuai
dengan yang diharapkan ataukah masih ada yang mesti diadakan perubahan,baik dari strategi
maupun metode.
3. Masyarakat umum supaya membantu memberi masukan demi tercapainya sebuah
kebijakan public yang tepat guna dan bermanfaat.
4.Masyarakat miskin penerima BLT,dalam memberikan kritik dan saran untuk program ini ke
depannya.


V.LANDASAN TEORI
Untuk penelitian ini dalam menguji kebijakan publik yang terkait,saya menggunakan konsep
implementasi publik dengan meminjam teori dari Mazmanian dan Sabatier
Dimana Mazmanian dan Sabatier (1983), mendefinisikan implementasi sebagai upaya
melaksanakan keputusan kebijakan, sebagaimana pendapat mereka :
“Implementation is the carrying out of basic policy decision, usually incorporated in a
statute but wich can also take the form of important executives orders or court decision.
Ideally, that decision identifies the problem(s) to be pursued, and, in a vaiety of ways,
‘structures’ the implementation process”
Menurut model ini, implementasi kebijakan dapat diklasifikan ke dalam tiga variable, yaitu
(Nugroho, 2008)
a.. Variabel independen : yaitu mudah-tidaknya masalah dikendalikan yang berkenaan
dengan indicator masalah teori dan teknis pelaksanaan, keragaman objek dan perubahan
seperti apa yang dikehendaki.
b. Variabel intervening : yaitu variable kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses
implementasi dengan indicator kejelasan dan konsistensi tujuan
c. Varaibel dependen : yaitu variable-variabel yang mempengaruhi proses implementasi yang
berkenaan dengan indicator kondisi social ekonomi dan teknologi, dukungan public, sikap
dan risorsis konstituen, dukungan pejabat yang lebih tinggi dan komitmen dan kualitas
kepemimpinan dari pejabat pelaksana
selanjutnya juga menggunakan Teori Goggin
ahli ini bertujuan mengembangkan teori implementasi kebijakan yang lebih ilmiah dengan
mengedepankan pendekatan "metode penelitian" dengan adanya variabel independen,
intervening dan dependen


BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
I.Pendekatan Penelitian
   Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan
menggunakan penelitian jenis survey.
Pendekatan kuantitatif dipandang sebagai pendekatan yang bersifat konfirmasi dan
deduktif.Bersifat konfirmatif disebabkan karena metode penelitian kuantitatif ini menguji
hipotesis dari suatu teori yang telah ada.Penelitian yang dilakukan bersifat mengkonfirmasi
antara teori dengan kenyataan yang ada dengan mendasarkan pada data ilmiah dalam bentuk
angka atau numerik,sehingga penelitian kuantitatif diidentikan dengan penelitian
numerik.Penarikan kesimpulan pada penelitian kuantitatif bersifat deduktif yaitu menarik
kesimpulan dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus.hal ini
berangkat dari teori – teori yng membangunnya.
II.Konseptualisasi Penelitian

Konseptualisasi dalam penelitian ini adalah Bagaiman Peran kebijakan publik (BLT) dalam
membantu perekonomian masyarakat miskin penerima BLT.
Adapun cara yang dilakukan peneliti dalam memecahkan masalah ini yakni dengan :
1.Membandingkan kondisi perekonomian masyarakat miskin penerima BLT sebelum dan
seseudah menerima BLT.
2.Memberikan penilaian secara objektif melalui pertanyaan – pertanyaan yang diajukan
kepada masyarakat miskin penerima BLT.


III.Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini antara lain :
1.Adanya hubungan antara Program Pemerintah (BLT) dengan perekonomian rakyat miskin
penerima BLT
2.Adanya dampak dari kebijakan publik (BLT) terhadap perekonomian rakyat miskin
penerima BLT..?
3.Adanya Efektiftifitas kebijakan publik (BLT) dalam membantu perekonomian rakyat
miskin penerima BLT.?
4.Adanya peran kebijakan publik (BLT) dalam membantu menopang perekonomian rakyat
miskin penerima BLT.?


IV.Definisi konseptual dan Definisi Operasional
Definisi konseptual adalah merupakan konklusi dari definisi beberapa variable – variable
dalam penelitian.ini adalah :
1.Bantuan Langsung Tunai, merupakan kebijakan pemerintah yang dikeluarkan sebagai
kompensasi kepada masyarakat bawah atas kenaikan harga BBM. Kebijakan ini pertama kali
muncul pada masa pemerintahan SBY pada awal pemerintahan 2005. sebagai kompensai
yang diberikan langsung kepada masyarakat secara langsung yang terkena imbas langsung
dari kenaikan BBM.
2. Masyarakat miskin adalah suatu kondisi dimana fisik masyarakat yang tidak memiliki
akses ke prasarana dan sarana dasar lingkungan yang memadai, dengan kualitas perumahan
dan pemukiman yang jauh di bawah standart kelayakan serta mata pencaharian yang tidak
menentu yang mencakup seluruh multidimensi, yaitu dimensi politik, dimensi social, dimensi
lingkungan, dimensi ekonomi dan dimensi asset (P2KP, Pedoman Umum, 2004:1).
   Sedangkan definisi Operasional dalam penelitian ini adalah :

   Rancangan penelitian ini terdiri dari 2 variabel. Yaitu variabel Independen dan variabel
   dependen.Variabel independennya (X) adalah Kebijakan publik (BLT) dan variabel
   dependennya (Y) adalah perekonomian rakyat miskin penerima BLT
   Dimana dapat dikatakan bahwa variabel (x) menjadi sebab atau mempengaruhi fator (y).
   Faktor (Y) yang merupakan hasil akan menjadi bahan penelitian dimana akan di
   perbandingkan bagaimana keadaan faktor (Y) sebelum dan sesudah faktor (X) memberi
   pengaruh

   V.Populasi dan Tehnik Sampling
   Dalam penelitian ini polpulasi yang dimaksud adalah masyarakat miskin penerima program
   kebijakan public BLT di desa X..
   Sedang tehnik sampling yang digunakan adalah Random, Teknik pengambilan sampel secara
   acak dari seluruh penerima program BLT di desa X.
   Dalam pengambilan acak sederhana (sample random sampling) seluruh individu yang
   menjadi anggota populasi memiliki peluang yang sama dan bebas dipilih sebagai anggota
   sampel.
       Dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling yaitu dari seluruh maskin
   penerima BLT di desa X akan diambil 50% sbagai responden dengan menggunakan langkah-
   langkah sebagai berikut :
1. Menulis daftar nama seluruh maskin penerima BLT,kemudian digulung pada kertas dan
   dimasukkan pada kotak
2. Mengkocok kotak dan diambil sampai dengan separuh dari seluruh jumlah kertas
3. Menentukan nama maskin penerima BLT sebagai responden


   VI.Tehnik Pengumpulan Data
   Adapun Tehnik yang digunakan dalam pengambilan data dalam penelitian ini Angket.
   Angket adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diberikan
   kepada subyek, baik secara individual atau kelompok, untuk mendapatkan informasi tertentu,
   seperti preferensi, keyakinan, minat, dan perilaku.Menurut Sugiono, angket adalah teknik
   pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
   pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya..

   VII.Tehnik Analisis Data
   Tehnik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik inferensial dengan
   menggunakan skala pengukuran Ordinal (non parametrik) dan dengan menggunakan
   analisis Bivariat.
VIII.DAFTAR PUSTAKA.
http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/06/contoh-proposal-penelitian-
kuantitatif.html
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/04/masyarakat-miskin-maskin.htm
http://robbyalexandersirait.wordpress.com/2008/06/04/kebijakan-blt/
http://politikdemokrasi.blogspot.com/2011/04/implementasi-kebijakan-publik.html
http://nindaranadhiya.blogspot.com/2012/09/font-definitions-font-face-font.html
http://id.shvoong.com/law-and-politics/political-economy/2117289-pengertian-
perekonomian/#ixzz2IuDXHxlu
http://youdant.wordpress.com/2011/06/13/98/
http://effendi-dmth.blogspot.com/2012/08/teknik-analisa-data-
penelitian.html#.UQCXTR3qki0
http://dinulislamjamilah.wordpress.com/2010/03/08/konseptualisasi-masalah-penelitian/
http://firdhanramadhansmart.wordpress.com/2011/11/20/instrumen-penelitian/
http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2009/08/skala-pengukuran.html
http://id.shvoong.com/business-management/management/2176937-teori-teori-implementasi-
kebijakan/#ixzz2Iqu4LJLr
http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/03/teori-implementasi-kebijakan-publik.html
http://ignlein.blogspot.com/2012/03/model-model-implementasi-kebijakan.html
http://www.scribd.com/doc/47226325/Variabel-Independen-dan-Variabel-Dependen
http://made.blog.unissula.ac.id/2012/02/16/pendekatan-penelitian/
http://www.scribd.com/doc/75841277/Statistik-Inferensial
      PENGARUH KEKUATAN PERSUASI MEDIA MASSA TERHADAP
    FENOMENA DEMAM MENJADI IDOLA PADA MAHASISWA KELAS A
            D II PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS TERBUKA

A. Latar Belakang Masalah

           Sebagai salah satu elemen yang tidak dapat terpisahkan dalam dunia modern, media
   saat ini telah menjadi instrumen paling penting dalam memberikan mimpi bagi sebagian
   besar orang untuk menjadi populer secara instan dalam waktu singkat. Masih segar dalam
   ingatan ketika ajang Akademi Fantasi Indosiar muncul untuk kali pertama, disusul
   Indonesian Idol, dan lain sebagainya. Saat ini, acara yang serupa pun masih tetap ada dengan
   varian yang semakin banyak. Media dalam hal ini turut andil dalam menyebarkan demam
   ajang pencarian bakat, lihat saja betapa orang berbondong-bondong datang dan mendaftar
   dalam berbagai ajang tersebut.

           Tentu saja media tidak hanya berperan membuat orang terkenal dalam berbagai
   kontes, bahkan dalam yang ‘menguras air mata’ pun media turut ambil bagian. Media
   menjadikan kisah sedih hidup seseorang menjadi suatu komoditas jual yang laris dipasaran,
   di mana terdapat berbagai acara yang menjadikan air mata dan kehidupan sedih yang terlalu
   didramatisasi sebagai nilai jual. Acara seperti Kejamnya Dunia menjual tragedi drama
   kehidupan manusia, maupun acara Termehek-mehek yang menjual kisah sedih percintaan.
   Tentu saja komersialisasi air mata tidak selalu berkaitan dengan acara yang ‘menyedihkan’,
   namun juga dalam acara yang ‘menggembirakan’. Ketika salah satu peserta AFI dieliminasi,
   media menjadikan air mata yang keluar sebagai nilai tambah acara tersebut, demikian pula
   ketika seorang perempuan dinobatkan sebagai Putri Indonesia, air mata pun kembali menjadi
   komoditas utama. Media dalam hal ini berperan sebagai pisau bermata ganda, di satu sisi
   media menjadi jalan bagi semua orang untuk menjadi idola dalam waktu instan, namun di sisi
   yang lain acara tersebut pun, tidak dapat dipungkiri, memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

           Demam menjadi idola telah berlangsung di Indonesia cukup lama, hanya saja
   gaungnya sangat terasa dalam enam tahun ke belakang. Ketika Akademi Fantasi Indosiar
   untuk kali pertama muncul, ribuan orang dari berbagai profesi dan tingkatan umur menyerbu
   Indosiar, demikian pula ketika Indonesian Idol dilaksanakan untuk musim pertama. Ajang
   pencarian bakat memang bukan hal baru, sebelumnya telah kontes-kontes yang sama. Asia
   Bagus misalnya, berhasil menelurkan Krisdayanti sebagai salah satu pemenang dan tetap
   eksis hingga saat ini.

          Negara Indonesia boleh jadi merupakan negara yang memiliki media massa yang
   sangat kreatif ketimbang negara Asia lainnya. Media di Indonesia memiliki kebebasan untuk
   menciptakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk kepentingan media itu sendiri,
   meskipun dalam banyak hal mereka pun seringkali mengatasnamakan masyarakat luas.
   Begitu luasnya pengaruh media di masyarakat sehingga dapat dipungkiri bahwa media telah
   menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari bangun tidur hingga
   menjelang tidur media menyuguhkan berbagai varian acara melalui berbagai medium, apakah
itu televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya. Sebagai bagian integral dalam
kehidupan masusia modern, media turut serta dalam berbagai usaha menyampaikan
informasi, bahkan media telah bertindak lebih jauh, media menjadi penghantar paling baik
dalam menyebarkan “demam” di masyarakat.

         Kasus ‘demam jadi bintang’ adalah salah satu kasus yang paling baik yang dapat
dilihat, betapa media telah menjadi penghantar yang sangat sempurna dalam menyebarkan
demam idol tersebut. Demam itu tidak hanya menyebar di wilayah perkotaan besar, namun
juga di kota-kota kecil hingga ke pelosok pedalaman dan desa terpencil. Media merupakan
wahana penyampaian informasi yang luar biasa luas dan dapat diakses oleh siapapun, tentu
saja dengan satu syarat bahwa sarana penyebarannya sudah dapat dijangkau. Rasanya sulit
menemukan satu wilayah yang sepenuhnya terisolir dari media, terutama televisi.

        Media memberikan jalan yang sangat luas bagi siapapun untuk menjadi orang
terkenal, tidak peduli apa jenis kelamin anda, berapa umur anda, atau bagaimana kondisi anda
saat ini. Berbagai acara ajang pencarian bakat memang memberikan jalan bagi setiap orang
untuk mencapai impiannya, namun bagaimana dengan mereka yang secara fisik ‘tidak
sempurna?’, media pun memberikan jalan bagi orang-orang semacam ini. Pernah kah merasa
tersentuh ketika melihat acara Jalinan Kasih atau Kejamnya Dunia? Media memiliki peran
yang luar biasa yang membuat mereka menjadi artis mendadak dengan penampilan yang riil.
Terlepas dari fakta bahwa mereka bukan lah golongan yang beruntung atau berlimpah secara
materi, namun media menjadikan kisah sedih hidup mereka sebagai komoditas jual.

       Air mata memang medium yang menarik sebagai salah satu komoditas jual yang luar
biasa. Ketika Nania dinyatakan harus kalah dari Delon dan Joy semua pendukung Nania
menangis, meskipun Nania tidak lah secara dramatis menangis berderai air mata di panggung,
namun aura kesedihan memang menyeruak hebat. Indra Lesmana bahkan secara pribadi
menyatakan akan membuatkan satu lagu untuk Nania, terlepas dari motif di balik tindakan
tersebut, namun setidaknya Indra berusaha mengurangi kesedihan Nania. RCTI sebagai
penyelenggara memang agak mendramatisir kekalahan Nania, tiba-tiba dalam waktu satu
minggu Nania telah menjadi selebritis baru, dirinya masuk dalam acara infotainmen dan
menjadi perbincangan banyak orang.

       Tingkah laku penggemar yang menangis ketika jagoannya tersisih atau bahkan
menang tidak hanya terjadi di Indonesia. Ketika David Cook dinyatakan sebagai pemenang
American Idol mengalahkan David Archuleta, semua orang menangis, baik pendukung Cook
dan Archuleta menangis, meskipun dengan alasan yang berbeda. Air mata telah berubah
menjadi komoditas penting yang membuat ajang pencarian bakat lebih menarik untuk
disaksikan. Saya pun menyadari betapa hambarnya acara ini jika tanpa diiringi oleh drama,
air mata, dan isak tangis; justru hal ini lah yang membuat acara ini disebut reality show,
sebuah acara yang mempertunjukkan realitas sebagaimana adanya.

     Dari latar belakang masalah di atas, penelitian ini sangat diharapkan dapat
memberikan informasi tentang pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena
   demam menjadi idola yang sedang melanda tidak hanya generasi muda saja tetapi semua
   generasi.

B. Rumusan Masalah

               1. Adakah pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena demam
                   menjadi idola pada mahasiswa kelas A DII Perpustakaan UniversitasTerbuka?
               2. Sejauhmana pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena
                   demam menjadi idola pada mahasiswa kelas A DII Perpustakaan
                   UniversitasTerbuka?
C. Tujuan

               1. Ingin mengetahui ada tidaknya pengaruh kekuatan persuasi      media massa
                  terhadap fenomena demam menjadi idola pada mahasiswa          kelas A DII
                  Perpustakaan UniversitasTerbuka.
               2. Ingin mengetahui sejauhmana pengaruh kekuatan persuasi        media massa
                  terhadap fenomena demam menjadi idola pada mahasiswa          kelas A DII
                  Perpustakaan UniversitasTerbuka.

      D. Kegunaan Penelitian

            Kegunaan penelitian adalah follow up penggunaan informasi yang tertera dalam
      kesimpulan (Dhofir, 2000:21).

              Dari setiap penelitian yang dilakukan dipastikan dapat memberi manfaat baik bagi
      objek, atau peneliti khususnya dan juga bagi seluruh komponen yang terlibat didalamnya.
      Manfaat atau nilai guna yang bisa diambil dari penulisan proposal penelitian sosial ini
      adalah :

      1. Segi Teoritis
         a. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam disiplin ilmu
            komunikasi.

            b. Untuk memperkuat teori bahwa kekuatan persuasi media massa dalam efek
               pengaruh media massa sangat mempengaruhi audience.

      2. Segi Praktis
         a. Dengan adanya penelitian ini diharapkan audience terutama mahasiswa
            perpustakaan dapat menyaring efek dari persuasi media massa yang sangat kuat
            pengaruhnya khususnya pada fenomena demam menjadi idola.

            b. Hasil dari Penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi mahasiswa, khususnya
                mahasiswa kelas A DII Perpustakaan UniversitasTerbuka tentang kebiasaan efek
                dari persuasi media massa terhadap fenomena demam menjadi idola sehingga
                mereka mampu untuk melihat realita yang ada.
       c. Sebagai bahan munaqosyah dan bahan dokumen untuk penelitian lebih lanjut.

   E. Tinjauan Pustaka

       Untuk mempelajari media massa khususnya kekuatan persuasinya, harus diakui
bahwa peran gatekeeper sangatlah vital dalam melayani konsumennya. Faktanya, media
massa muncul untuk meyakinkan tingkah laku, nilai dan maksud pengirim adalah
kepentingan lebih besar daripada penerima. Dalam literature komunikasi massa terdapat teori
yang disebut teori jarum hipodermik (hypodermic needle theory) atau teori peluru (bullet
theory). Teori ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat yang mengasumsikan bahwa para
pengelola media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dibanding audience. Akibatnya,
audience bisa dikelabui sedemikian rupa dari apa yang disampaikan media massa.

       Teori ini mengasumsikan media massa mempunyai pemikiran bahwa audience bisa
ditundukkan sedemikian rupa atau bahkan bisa dibentuk dengan cara apapun yang
dikehendaki media atau dengan kata lain audience dianggap pasif. Intinya, sebagaimana
dikatakan oleh Jason dan Anne Hill (1997), media massa dalam teori Jarum Hipodermik
mempunyai efek langsung “disuntikkan” ke dalam ketidaksadaran audience.

        Berbagai perilaku yang diperlihatkan televisi dalam adegan filmnya member
rangsangan masyarakat untuk menirunya. Padahal semua orang tahu bahwa apa yang
disajikan itu semua bukan yang terjadi sebenarnya. Akan tetapi, kerena begitu kuat pengaruh
televisi, audience tidak kuasa untuk melepaskan diri dari keterpengaruhan itu. Jika
dibandingkan dengan media massa lain, televisi sering dituduh sebagai agen yang bisa
mempengaruhi lebih banyak sikap dan perilaku audiencenya.

       - Dalam melakukan kegiatan komunikasi, seorang komunikator yang melakukan
       kegiatan persuasi (bujukan) dan sering dikatakan bahwa sebetulnya kegiatan
       komunikator ketika menyampaikan pesan itu sama dengan kegiatan pembujuk atau
       persuader. Artinya, bagi pemberi pesan melakukan persuasi tersebut merupakan
       tujuan dari proses komunikasi yang dilakukan dan persuasi (komunisuasi) itu
       merupakan proses belajar yang bersifat emosional atau perpindahan anutan dari hal
       yang lama ke hal yang baru melalui penanaman suatu pengertian dan pemahaman.
       Menurut Otto Lerbinger di dalam bukunya Design for persuasive communication, ada
       beberapa model untuk merekayasa persuasi, antara lain sebagai berikut.

       a. Stimulus respons

               Model persuasi ini cara yang paling sederhana, yaitu berdasarkan konsep
          asosiasi. Misalnya jika seseorang selalu kelihatan berdua terus-menerus sepanjang
          waktu dan satu saat hanya terlihat sendiri, maka orang lain akan merasakan ada
          sesuatu yang kurang lengkap dan sudah dipastikan orang akan bertanya ke mana
          temannya itu. Melalui slogan atau magic word tertentu dalam iklan seperti kata-
          kata “three in one”, orang akan ingat pembatasan penumpang minimal tiga orang
   dalam satu mobil ketika melewati Jalan Protokol, Jalan Tamrin, dan Jalan
   Sudirman, Jakarta pada jam tertentu.

   Oleh karena itu, untuk mengingatkan orang, kata-kata populer “Three in one”
   tersebut digunakan pada produk shampoo, Dimension.

b. Kognitif

        Model ini berkaitan dengan nalar, pikiran dan rasio untuk peningkatan
   pemahaman, mudah dimengerti, dan logis bisa diterima. Dalam melakukan
   persuasi pada posisi ini, komunikator dan komunikan lebih menekankan penjelasan
   yang rasional dan logis. Artinya, ide atau informasi yang disampaikan tersebut
   tidak bisa diterima sebelum dikenakan alasan yang jelas dan wajar.

c. Motivasi

       Motivasi yaitu persuasi dengan model membujuk seseorang agar mau
   mengubah opininya atau agar kebutuhan yang diperlukan dapat terpenuhi dengan
   menawarkan sesuatu ganjaran tertentu. Dengan memotivasi melalui pujian, hadiah,
   dan iming-iming janji tertentu melalui berkomunikasi, maka lambat-laun orang
   bersangkutan bisa mengubah opininya.

d. Sosial

       Model persuasi ini menganjurkan pada pertimbangan aspek sosial dari publik
   atau komunikan, artinya pesan yang disampaikan itu sesuai dengan status sosial
   yang bersangkutan sehingga proses komunikasi akan lebih mudah dilakukan.
   Misalnya, kampanye iklan mobil mewah lebih berhasil kalau menonjolkan sesuatu
   yang “prestise” daripada menampilkan kelebihan mesin dan irit bahan bakarnya
   karena konsumen berduit lebih memperhatikan penampilan status sosialnya.

e. Personalitas

       Model persuasi di sini memperhatikan karakteristik pribadi sebagai acuan
   untuk melihat respon dari khalayak tertentu.

- Fenomena dari bahasa Yunani; phainomenon, "apa yang terlihat", dalam bahasa
Indonesia bisa berarti:

1. Gejala, misalkan gejala alam

2. Hal-hal yang dirasakan dengan pancaindra

3. Hal-hal mistik atau klenik
          4. Fakta, kenyataan, kejadian.

          - Menurut kamus idola berasal dari kata Bahasa Inggris idol yang artinya ialah
          berhala, atau patung.

          - Mengikut takrifan kamus Oxford (Edisi ketiga 2001), IDOL dalam bahasa Inggris
          idola membawa maksud patung; berhala; pujaan; orang atau benda yang terlampau
          disanjung. Dalam konteks pengunaan, perkataan ini lebih sesuai menjurus kepada
          pemujaan benda, patung atau berhala.

F. Hipotesis

      Karena masalah yang diteliti ini merupakan usaha untuk mencari ada tidaknya pengaruh,
   maka ada dua hipotesis yang muncul, yakni :

               - Hipotesis kerja (H0) :
                   Adanya pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena demam
                   menjadi idola pada mahasiswa kelas A DII Perpustakaan UniversitasTerbuka.
               - Hipotesis nihil (H1) :
                   Tidak ada pengaruh kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena
                   demam menjadi idola pada mahasiswa kelas A DII Perpustakaan
                   UniversitasTerbuka?

       G. Ruang Lingkup Penelitian
          1. Ruang Lingkup Materi

             Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah pengaruh
          kekuatan persuasi media massa terhadap fenomena demam menjadi idola pada
          mahasiswa kelas A DII Perpustakaan UniversitasTerbuka?.

              Maka untuk mempermudah penulis dalam membahas penelitian ini, perlu kiranya
          penulis membuat batasan ruang lingkup materi. Adapun permasalahan yang menjadi
          kajian pokok dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua variable, yakni :

               · Variabel X      : Kekuatan persuasi media massa
               · Variable Y      : Fenomena demam menjadi idola pada mahasiswa kelas A DII
                   Perpustakaan UniversitasTerbuka?
               2. Ruang Lingkup Subjek

                  Subjek penelitian adalah sesuatu yang menjadi kajian pokok penelitian. Maka
          dari ini yang menjadi subjek adalah mahasiswa kelas A DII Perpustakaan
          UniversitasTerbuka?.

          3. Ruang Lingkup Lokasi
          Lokasi adalah tempat sesuatu berada. Maka dalam hal ini adalah tempat subjek
   berada. Jadi lokasi penelitian ini adalah di kelas A DII Perpustakaan
   UniversitasTerbuka

   4. Ruang Lingkup Waktu

   Waktu adalah masa kapan terjadinya sesuatu. Dalam hal ini waktu penelitian adalah
   pada tahun 2013.

H. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

          Dalam kegiatan penelitian, kerangka atau rancangan penelitian merupakan
   unsur pokok yang harus ada sebelum proses penelitian dilaksanakan. Karena dengan
   sebuah rancangan yang baik pelaksanaan penelitian menjadi terarah, jelas, dan
   maksimal.

          Terkait dengan penelitian ini, maka penulis menggunakan jenis penelitian
   korelasional kuantitatif, yaitu sebuah penelitian yang menggunakan angka, mulai dari
   pengumpulan data, penafsiran terhadap data, serta penampilan dari hasilnya yang
   bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel (Arikunto,
   2006:270).

2. Teknik Penentuan Subjek Penelitian

          Penelitian ini adalah penelitian populasi, dimana seluruh populasi merupakan
   sample.

          Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang mencakup semua elemen
   dan unsur-unsur (Dhofir, 2000:36). Sedangkan sampel masih dalam buku yang sama,
   adalah sebagian subjek penelitian yang memiliki kemampuan mewakili seluruh data
   (populasi).

          Dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa kelas A DII
   Perpustakaan UniversitasTerbuka

          3. Teknik Pengumpulan data

          Teknik pengumpulan data adalah cara yang dipakai untuk mengumpulkan data
   dengan menggunakan metode-metode tertentu. Metode-metode yang akan digunakan
   dalam penelitian ini, antara lain :
   a. Metode Angket

       Angket adalah suatu teknik atau alat pengumpul data yang berbentuk pertanyaan-
       pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis pula (Sukmadinata,
       2004:271). Metode ini digunakan untuk mencari dan menyaring data yang
       bersumber dari responden.

   b. Metode Wawancara

       Wawancara atau interview merupakan suatu teknik pengumpulan data yang
       dilakukan secara tatap muka, pertanyaan diberikan secara lisan dan
       jawabannyapun diterima secara lisan pula (Sukmadinata, 2004:222). Dengan
       metode ini peneliti dapat langsung mengetahui reaksi yang ada pada responden
       dalam waktu yang relatif singkat.

4. Teknik Analisis Data

          Teknik analisis data merupakan pengelolaan data dari data-data yang sudah
   terkumpul. Diharapkan dari pengelolaan data tersebut dapat diperoleh gambaran yang
   akurat dan konkrit dari subjek penelitian. Penulis juga menggunakan statistik guna
   membantu analisa data sebagai hasil dari penelitian ini.

         Dalam penelitian ini yang menjadi Variabel X adalah Kekuatan Persuasi
   Media Massa, sedangkan Variabel Y adalah Fenomena Demam Menjadi Idola pada
   Mahasiswa UMM. Adapun rumus korelasi yang digunakan adalah Product Moment,
   dengan alasan karena penelitian ini terdiri dari dua variabel yang interval.

          Rumus product momentnya adalah sebagai berikut :

                   ∑xy

                         πxy   = √(∑x²) (∑y²)

          Keterangan :

          πxy   = Kofisien korelasi antara gejala X dan gejala Y

          ∑xy = Jumlah product X dan Y

          ∑x² = Jumlah gejala x kecil kuadrat

          ∑y² = Jumlah gejala y kecil kuadrat
                                        Daftar Pustaka

Dhofir, Syarqowi, 2000. Pengantar Metodologi Riset Denagn Spektrum Islami, Prenduan:
       Iman Bela

Fisher, B. Aubrey, 1986. Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat,
       Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://forumm.wgaul.com/archive/index.php/t-30833.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Fenomena

http://id.wikipedia.org/wiki/Idol

Mulyana, Dedy, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan
      Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurudin, M.Si, 2009. Pengantar Komunikasi Massa, Jakarta: Rajawali Pers

Purwadarminto, W.J.S Winkel; 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai
      Pustaka

Sukmadinata, Nana Syaodih; 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung:
     Remaja Rosdakarya

								
To top