STRENGHT KEKUATAN OPPORTUNITY PELUANG Adanya program lamongan Green and Clean dan 3R 60 4 2 by MichaelLopez993

VIEWS: 0 PAGES: 15

									BAB V INDIKASI PERMASALAHAN DAN POSISI
      PENGELOLAAN SANITASI


5.1      Area Beresiko Sanitasi
         Area beresiko sanitasi adalah daerah yang terjadinya penurunan kualitas hidup, kesehatan,
bangunan, dan atau lingkungan, akibat rendahnya akses terhadap layana sektor sanitasi dan perilaku hidup
bersih dan sehat.
Tujuan penetapan area beresiko adalah:
     Memetakan area-area yang memiliki resiko sanitasi.
     Mengklasifikasikan area berdasarkan tingkat resiko kesehatan lingkungan dengan cakupan area
         desa per kecamatan.

         Penetapan area beresiko didasarkan pada 3 aspek yaitu, data sekunder, persepsi SKPD dan hasil
dari Studi EHRA, dengan tahapan proses sebagai berikut:
     A. Pengumpulan Data
         Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan data primer.
         a. Pengumpulan Data Sekunder
             Data yang dikumpulkan antara lain:
              Kepadatan penduduk (populasi, luas area)
              Cakupan pelayanan air minum, jumlah KK miskin
              Jumlah jamban
              Jumlah sampah terangkut
              Luas genangan
              % wilayah terbangun
         b. Pengumpulan Data Primer
             Data yang dikumpulkan antara lain:
              Persepsi SKPD terkait yang mengetahui kondisi eksisting di wilayah studi dan juga
                 memberikan pertimbangan terkait dengan fungsi tata ruang (urban function) dimasa
                 mendatang. SKPD ini memberikan skor yang telah disepakati bersama terhadap desa-
                 desa di Kabupaten Lamongan.
              Data primer hasil studi EHRA dalam pengumpulan data penetapan area berisiko, yang
                 meliputi:
                 1. Sumber Air
                       Sumber air tercemar
                       Penggunaan sumber air tidak terlindungi
                       Kelangkaan air
                 2. Air Limbah Domestik
                       Tangki septic suspek aman
                       Pencemaran karena pembuangan isi tanki septic
                       Pencemaran karena SPAL
                 3. Persampahan
                       Pengelolaan sampah
                       Frekuensi pengangkutan sampah
                       Ketepatan waktu pengangkutan sampah
                       Pengelolaan setempat
                 4. Genangan Air
                       Adanya genangan air
                 5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
                       CTPS di 5 waktu penting
                       Apakah lantai & dinding jamban bebas dari tinja
                       Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat
                       Keberfungsian penggelontor
                       Apakah ada sabun di dalam/dekat jamban
                       Pencemaran pada wadah penyimpanan & penanganan air
                       Perilaku BABs



Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                 V-1
           B. Analisa Data
              Analisa data yang dilakukan meliputi:
               Penentuan Indikator sebagai variabel dalam pembobotan
               Melakukan Skoring dan pembobotan terhadap data sekunder, persepsi SKPD, dan hasi studi
                  EHRA.
               Melakukan Analisa frekuensi, mean weighted, dan diskusi kelompok

           C. Penentuan Area Beresiko
              Penentuan area beresiko dilakukan dengan cara:
               Membandingkan seluruh hasil pemberian skor (data sekunder, EHRA, persepsi SKPD)
               Melakukan diskusi dan sepakati cara menetapkan skor akhir.
                 Penentuan area beresiko ini pada tahap awal dilakukan pada 18 desa saja berdasarkan hasil
                 sampling terhadap penentuan kluster yang telah dilakukan. Perhitungan penentuan kluster
                 dan sampelnya dapat dilihat pada Laporan EHRA
              . Berikut penetapan area beresiko yang didasarkan pada 3 aspek.

                 Tabel 5. 1 Area Beresiko Sanitasi pada sample 18 Desa di Kabupaten Lamongan
No       Kecamatan        Desa/ Kelurahan           Skor              Skor              Skor           Skor yang
                                               Berdasarkan        Berdasarkan       Berdasarkan        disepakati
                                              Data Skeunder      Persepsi SKPD       Studi EHRA
1     Modo               Mojorejo                    3                  2                 2                  2
2     Babat              Babat                       3                  4                 1                  2
3     Babat              Banaran                     4                  4                 1                  2
4     Lamongan           Jetis                       1                  2                 3                  2
5     Lamongan           Tlogoanyar                  1                  2                 1                  1
6     Lamongan           Sidoharjo                   2                  2                 2                  2
7     Lamongan           Tumenggungan                1                  2                 2                  1
8     Lamongan           Made                        1                  2                 1                  1
9     Tikung             Tambakrigadung              2                  2                 1                  1
10    Deket              Deketkulon                  1                  2                 3                  2
11    Deket              Deketwetan                  1                  2                 4                  3
12    Karangbinangun     Blawi                       3                  3                 1                  2
13    Klaitengah         Bojoasri                    4                  2                 4                  4
14    Maduran            Pangean                     1                  2                 1                  1
15    Laren              Centini                     4                  3                 4                  4
16    Paciran            Paciran                     2                  3                 4                  4
17    Paciran            Blimbing                    1                  4                 3                  3
18    Brondong           Sedayulawas                 3                  3                 2                  2

               Untuk menetukan area beresiko sanitasi pada seluruh desa di Kabupaten Lamongan, lankah-
       langkah yang dilakukan antara lain:
                Lakukan observasi lapangan untuk mengechek hasil kesepakatan
                Sepakati hasil akhir dengan cara tiap desa sampling yang mewakili kluster akan
                   mempengaruhi terhadap area beresiko pada desa di kluster yang sama.
                Melakukan pemberian agreed score (skor kesepakatan bersama) terhadap desa-desa di
                   Kabupaten Lamongan.

                   Berdasarkan hasil kesepakatan, maka area beresiko di Kabupaten Lamongan dapat
                   terjabarkan dalam tabel 5.2 dibawah ini

                             Tabel 5. 2 Area Beresiko Sanitasi Kabupaten Lamongan
 No         Resiko           Kecamatan                                Desa/ Kelurahan
           Sanitasi
 1      Resiko rendah         Lamongan       Tlogoanyar, Tumenggungan, Made, Sukorejo, Wajik, Kramat,
                                             Sendangrejo
                              Sukorame       Sewor, Sembung, Banggle, Mragel, Kedungrejo, wedoro,
                                             Pendowokumpul
                               Bluluk        Bluluk, Bronjong, Banjargondang, Cangkring, Sumberbanjar, Primpen.
                              Ngimbang       Sendangrejo, Ngimbang, Lamongrejo, Kedungmentgawar,
                                             Kakatpenjalin, Drujugurit, Munungrejo, Girik, Jejel, Mendogo,
                                             Durikedungrejo, Purwokerto, Cerme.
       Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                             V-2
No        Resiko           Kecamatan                                 Desa/ Kelurahan
          Sanitasi
                            Sambeng        Tenggiring, Wateswinangun, Candisari, Nogojatisari, Pasarlegi,
                                           Sumbersari, Semampirejo, Garung, Jatipandak, Pamotan, Selorejo,
                                           Barurejo, Gempolmanis, Kedungbanjar, Wonorejo.
                            Mantup         Kedungsoko, Sidomulyo, Sumberkerep.
                          Kembangbahu      Kaliwetas, Lopang, Mangkujajar, Kedungsari, Doyomulyo, Sidomukti,
                                           Sukosongko, Kedungmegarih, Puter, Pelang, Gintungan, Katemas,
                                           Dumpiagung, Moronyamplung, Topoagung, Maor, Randubener.
                              Sugio        Sugio, Lebakadi, Supenuh, Kalitengah, Pangkatrejo, Bedingin,
                                           Jubelkidul, Jubellor, Bakalrejo, Kedungbanjar, Kedungdadi,
                                           Gondanglor, Deketagung, Sidorejo, Daliwilangun, German, Sidobogem,
                                           Lebakadi, Sekarbagus.
                           Kedungpring     Kedungpring, Tlanak, Mekanderejo, Kandangrejo, Jatidrojog,
                                           Gunungrejo, Dradahblumbang, Majenang, Warungering, Kalen, Mlati,
                                           Nglebur, Mojodadi.
                              Modo         Mojorejo, Pule, Jegreg, Sidodowo, Kedunglerep, Kedungpengaron,
                                           Kedungwaras, Sambungrejo, Nguwuk.
                              Babat        Karangkembang, Puncakwangi, Gedongkulon, Kebalanpelang,
                                           Sambangan, Keyongan, Patihan, Datinawong, Sumurgenuk,
                                           Moropelang, Tritunggal, Kebonagung.
                              Pucuk        Pucuk, Warukulon, Waruwetan, Paji, Karangtinggil, Kedali,
                                           Tanggungan, Sumberejo, Plososetro, Wanar, Padengangloso,
                                           Ngambeng, Cungkup.
                            Sukodadi       Sukodadi, Kebonsari, Gedangan, Banjarrejo, Menongo, Plumpang,
                                           Siwalanrejo, Sumberagung, Baturono, Sumberaji, Kedung Rembug,
                                           Balungtawun, Sugihrejo, Bandungsari, Tlogorejo, Surabayan,
                                           Sidogembul, Pajangan.
                             Tikung        Bakalanpule, Jotosanur, Dukuhagung, Jatirejo, Tambakrigadung,
                                           Kelorarum, Takeranklating, Pengumbulanadi, Guminingrejo.
                             Sarirejo      Dermolemahbang, Gempoltukmloko , Sumberjo, Simbatan, Beru.
                              Deket        Rejosari, Srirande, Sidobinangun, Sidorejo, Pandanpancur,
                                           Plosobuden, Rejotengah, Sugihwaras, Dinoyo, Babatagung.
                             Glagah        Wangen, Dukuhtunggal, Bapuhbandung, Mendogo, Menganti,
                                           Bapuhbaru, Jatirenggo, Bangkok, Meluntur, Tanggungprigel,
                                           Sudangan, Karanggung, Duduklor, Medang, Began, Panggung,
                                           Wonorejo.
                         Karangbinangun    Sambopinggir, Windu, Karangbinangun, Banjarejo, Mayong, Priyoso,
                                           Gawerejo, Banyurip, Palangan.
                               Turi        Balun, Ngujungrejo, Wangunrejo.
                            Kalitengah     Kalitengah, Butungan, Dibee, Canditunggal, Somosari, Cluring, Lukrejo,
                                           Mungli, Kediren, Sugihwaras, Tanjungmekar.
                          Karanggeneng     Banjarmadu, Sungelebak, Kendalkemlangi, Kaligerman.
                             Sekaran       Siman, Miru, Kebalankulon, Kudikan, Kembangan, Sekaran, Jugo,
                                           Trosono, Latek, Bugel, Karang, Porodeso, Moro.
                            Maduran        Pangean, Gumantuk, Kanugrahan, Ngayung, Turi.
                             Laren         Brangsi, Karangtawar.
                            Solokuro       Solokuro, Payaman.
                            Paciran        Sendangagung, Sendangduwur, Drajat, Sidokelar, Tlogosadang,
                                           Sumurgayam.
                            Brondong       Sendangharjo, Lembor, Tlogoretno, Sumberagung.
2     Resiko Sedang         Lamongan       Banjarmendalan, Jetis, Sidoharjo, Sukomulyo, Sidokumpul, Sidomukti,
                                           Karanglangit, Plosowahyu, Rancangkencono, Sumberjo, Kebet,
                                           Tanjung, Pangkatrejo.
                            Sukorame       Sukorame, Kedungkumpul.
                             Bluluk        Talunrejo, Kuwurejo, Songowareng.
                            Ngimbang       Ganggantingan, Gebangangkrik, Lawak, Slaharwotan,
                                           Ngasemlemahbang, Tlemang.
                            Sambeng        Ardirejo, Pataan, Kedungwangi, Sidokumpul, Kretenggan, Wudi.
                             Mantup        Mantup, Tugu, Tunggunjager, Sukobendu, Sumberdadi, Keduk
                                           Bembem, Sukosari, Mojosari, Rumpuk, Pelabuhanrejo, Sumberagung,
     Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                V-3
No        Resiko            Kecamatan                                   Desa/ Kelurahan
          Sanitasi
                                             Sumberbendo.
                           Kembangbahu       Kembangbahu
                               Sugio         Lawanganagung, Karangsambigalih, Kalipang.
                            Kedungpring      Tenggerejo, Sidobangun, Blawirejo, Karangcangkring, Sidomlangean,
                                             Maindu, Banjarrejo, Sumengko.
                               Modo          Sumberagung, Yungyang, Jatipayak, Kacangan, Kedungrejo,
                                             Sambangrejo, Medalem, Sidomulyo.
                               Babat         Babat, Banaran, Bedahan, Sogo, Gembong, Kuripan, Bulumargi, Truni,
                                             Trepan, Kebalanbondo.
                               Pucuk         Kesambi, Gempolpading, Bogoharjo, Babatkumpul.
                             Sukodadi        Sukolilo, Madulegi,
                              Tikung         Soko, Balongwangi, Wonokromo, Botoputih.
                              Sarirejo       Tambakmenjangan, Kedungkumpul,
                               Deket         Deketkulon, Dlanggu, Tukkerto, Weduni, Sidomulyo, Laladan.
                              Glagah         Glagah, Margoanyar, Rayunggumuk, Gempulpendowo, Morocalan,
                                             Konang, Meluwur, Karangturi.
                          Karangbinangun     Bogobabadan, Blawi, Pendowolimo, Watangpanjang, Sukorejo,
                                             Sowowinangun, Karanganom, Ketapangtelu, Baranggayam, Kuro,
                                             Putatbangah.
                                Turi         Sukoanyar, Sukorejo, Tawangrejo, Tambakploso, Gedongboyontung,
                                             Geger, Bambang, Kemlagigede, Turi, Keben, Badurame,
                                             Karangwedoro, Putatkumpul, Kemlangilor, Kepudibener.
                            Kalitengah       Pengangsalan, Kuluran, Jelakcatur, Tiwet, Blajo, Gambuhan.
                           Karanggeneng      Karanggeneng, Mertani, Sumberwudi, Karanganyar, Latukan,
                                             Karangwungu, Jagran, Kawistolegi, Sonoadi, Bantengputih, Guci,
                                             Karangrejo, Tracal, Prijekngablag.
                              Sekaran        Bulutengger, Manyar, Sungegeneng, Besur, Ngarum, Titik, Kendal,
                                             Keting.
                             Maduran         Maduran, Klagensrampat, Parengan, Pangkatrejo, Duriwetan, Taji,
                                             Brumbun, Siwuran, Jangkungkusomo, Primgoboyo, Gedangan,
                                             Blumbang.
                               Laren         Gampangsejati, Laren, Bulutigo, Pelangwot, Taman Prijek, Tejoasri,
                                             Bulubrangsi, Durikulon, Pesanggrahan, Jabung, Dating, Durikulon,
                                             Bulubrangsi, Tejoasri, Taman Prijek, Pelangwot, Bulutigo, Laren,
                                             Gampangsejati.
                             Solokuro        Tebluru, Sugihan, Dadapan, Takerharjo, Banyubang, Dagan, Bluri.
                              Paciran        Kranji, Weru, Tunggul, Banjarwati, Kemantren.
                             Brondong        Brondong, Sedayulawas, Labuhan, Brengkok, Sidomukti, Lohgung.
3     Resiko Tinggi          Sambeng         Sekidang
                               Babat         Plaosan,
                              Sarirejo       Sarirejo, Canggah
                               Deket         Deketwetan
                              Glagah         Pasi. Wedoro
                          Karangbinangun     Waruk,
                             Solokuro        Tenggulun,
                              Paciran        Kandangsemangkon, Blimbing, Paloh, Warulor, Sidokumpul.
4     Resiko Sangat        Kedungpring       Sukomalo
      Tinggi
                              Glagah         Soko
                                Turi         Pomahanjanggan
                             Kalitengah      Pucangro, Pucangtelu, Bojoasri.
                               Laren         Centini, Keduyung, Siser.
                              Paciran        Paciran

               Berdasarkan tabel 5.2 area beresiko sanitasi Kabupaten Lamongan, maka proporsi dari tiap resiko
     sanitasi dapat dilihat pada gambar berikut ini.



     Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                  V-4
                                           2% 3%
                                                                            resiko sangat
                                                                            tinggi
                                                                            resiko tinggi

                                                                            resiko sedang
                                                                  42%
                                                                            resiko rendah
                  53%




                Gambar 5. 1 Proporsi Area Beresiko Sanitasi Kabupaten Lamongan

        Pada gambar 5.1 diatas ditunjukkan bahwa resiko sangat tinggi memiliki persentase 2%, resko
tinggi memiliki persentase 3%, resiko sedang memiliki persentase 42%, dan resiko rendah memiliki
persentase 53%.



Berikut Peta Area Beresiko Kabupaten Lamongan dapat dilihat pada Peta 5.1



5.2      Posisi Pengelolaan Sanitasi
         Untuk mengetahui posisi pengelolaan sanitasi pada tahun 2012, perlu dilakukan tahapan-tahapan
dari isu strategis hingga analisa SWOT untuk menentukan di kuadran mana posisi pengelolaan sanitasi
yang meliputi beberapa sektor yaitu air minum, higiene, air limbah, drainase, sampah.

5.2.1 Sektor Air Minum
    A. Isu Negatif Sektor Air Minum
       Adapun isu strategis yang negatif dari sektor air minum meliputi:
       a. Dari Segi Teknis dan Operasional
            Kualitas Air Buruk
            Sarana Prasarana Penyaluran Air Kurang memadai
            Sumber Air terbatas pada lokasi tertentu
            Di musim kemarau cakupan pelayanan berkurang
            Tidak merata pelayanan
            Umur peralatan tua sehingga mengurangi fungsi
       b. Dari segi Kelembagaan
            Kurangnya koordniasai antar instansi
            Organisasi pengelola kurang bagus
            Kebijakan prioritas Pemda belum ke Air Minum
            Belum adanya perda tarif minimal untuk keberlangsungan pelayanan air bersih
       c. Dari Segi keuangan
            Biaya mahal untuk air PDAM
            Biaya di desa untuk memperoleh air tinggi
            Belum bisa full cost recovery (biaya pengelolaan lebih tinggi daripada pendapatan)
            Dukungan dana APBD untuk SPAM kurang
       d. Dari Segi SDM
            Adanya permasalahan teknik operasional pompa
            Isu derajat kesehatan menurun
            Operator kurang terlatih
            Kesadaran masyarakat vmasih kurang terhadap dukungan pengelolaan air bersih
            Pengetahuan tentang air minum terbatas
       e. Dari Segi komunikasi
Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                               V-5
               Sosialisasi tarif minim
               Komplain mekanisme penanganan kurang.


    B. Isu Positif Sektor Air Minum
       Adapun isu strategis yang positif untuk air minum meliputi:
       a. Dari Segi Teknis dan Operasional
            Kerjasama dengan IUWASH
            Kerjasama dengan donor Belanda, Singapura dalam peningkatan kualitas dari Air Bersih
                ke Air Minum
            Kerjsama dengan sektor lain (PJT)
       b. Dari segi Kelembagaan
            Peran HIPPAMS dominan di desa
            Adanya RISPAM
            Komitmen Kepala Daerah cukup tinggi tebukti ada dana revolving dari tahun 2003-2012
       c. Dari Segi keuangan
            Adanya dukungan dana APBN
       d. Dari Segi SDM
            Perbaikan kinerja PDAM dengan bantuan bantek dan fisik (meterisasi dari provinsi)
            Pengutan lembaga oleh WSP
            Bantek studi kelayakan SPAM dengan skema KPS
            Terpenuhinya kebutuhan air bersih di desa oleh HIPPAMS
       e. Dari Segi komunikasi
            Adanya media cetak dan elektronik seperti Citra TV, Lamongan POST, dan RKPD dalam
                promosi air minum
    C. Pembagian Sektor Internal dan Eksternal
           Dari isu strategis tersebut baik yang negatif maupun positif dipilah dimana untuk isu yang
       hampir sama dijadikan satu dan kemudian dibagi menurut aspek internal dan aspek eksternal.
       a. Aspek Internal
           1. Strenght (Kekuatan)
                 Komitmen Kepala Daerah tinggi
                 Restrukturisasi Hutang PDAM
                 Peningkatan Jumlah Pelanggan
                 Adanya RISPAM
           2. Weakness (Kelemahan)
                 Belum adanya regulasi/ peraturan tarif minimal air bersih
                 Manajemen pengelolaan air kurang memadai
                 Sarana Prasarana kurang memadai
                 SDM Pengelola Air kurang kompetensinya
                 Masyarakat mengeluarkan biaya tinggi untuk perolehan air bersih
                 Menuruunnya kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air bersih.
       b. Aspek Eksternal
           1. Opportunity (Peluang)
                 Dukungan Dana APBN
                 Peran HIPPAMS dominan di desa
                 Adanya Bantek
                 Terpenuhinya kebutuhan air bersih di desa
                 Perbaikan kinerja PDAM
                 Kerjasama dengan pihak lain
                 Adanya media cetak dan elektronik
           2. Treath (Ancaman)
                 Komitmen masyarakat pengguna rendah
                 Masyarakat terprovokasi tidak baik
    D. Pembobotan dan Penilaian Pengaruh
           Setelah dilakukan penilaian dari aspek internal dan eksternal, maka tahapan selanjutnya
       adalah dilakukan pembobotan dan penilaian pengaruh. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada
       tabel dibawah ini.




Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                              V-6
                      Tabel 5. 3 Pembobotan dan Penilaian Pengaruh Aspek Internal dan Eksternal Sektor Air Minum

            Aspek Internal               Bobot       Nilai       Skor                    Aspek eksternal           Bobot      Nilai      Skor
                                          (%)      Pengaruh    (bobotx                                              (%)     Pengaruh   (bobotx
                                                                Nilai)                                                                  Nilai)
STRENGHT (KEKUATAN)                                                           OPPORTUNITY (PELUANG)
 Komitmen Kepala Daerah tinggi           50           4          2            Dukungan Dana APBN                  30          4        1,2
 Restrukturisasi Hutang PDAM             30           4         1,2           Peran HIPPAMS dominan di            30          4        1,2
                                                                                  desa
 Peningkatan Jumlah Pelanggan            10           2         0,2           AdanyaBantek                        20          3       0,6
 Adanya RISPAM                           10           3         0,3           Terpenuhi0,2nya kebutuhan            5          4       0,2
                                                                                  air bersih di desa
                                                                               Perbaikan kinerja PDAM               5          4       0,2
                                                                               Kerjasama dengan pihak               5          4        0.2
                                                                                  lain
                                                                               Adanya media cetak dan               5          3       0,15
                                                                                  elektronik
Total Strenght                                                   3,7          Total Opportunity                                         3,6
WEAKNESS (KELEMAHAN)                                                          TREATH (ANCAMAN)
  Belum adanya regulasi/                 50           4         2             Komitmen            masyarakat      50          4        2
      peraturan tarif minimal air                                                 pengguna rendah
      bersih
  Manajemen pengelolaan air              20           4         0,8              Masyarakat       terprovokasi    50          2        1
      kurang memadai                                                               tidak baiK
  Sarana Prasarana kurang                10           4         0,4
      memadai
  SDM Pengelola Air kurang               10           4         0,4
      kompetensinya
  Masyarakat mengeluarkan                 5           3        0,15
      biaya tinggi untuk perolehan air
      bersih
  Menuruunnya kualitas,                   5           3        0,15
      kuantitas, dan kontinuitas air
      bersih.
Total weakness                                                   3,9          Total Treath                                                3
 Nilai koordinat aspek Internal           S (3,7)+ W( - 3,9)    -0,2          Nilai koordinat aspek                  O(3,6) + T (-3)     0,6
                                                                              Eksternal


                 E. Posisi Sektor Air Minum dalam kuadran SWOT
                        Dari perhitungan pembobotan dan penilaian pengaruh, maka posisi pengelolaan air minum
                    pada kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar berikut.

                                                                       O


                                                               0,6

                                               W                                              S
                                                                       -0,2




                                                                       T
                                    Gambar 5. 2 Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor Air Minum

                           Berdasarkan gambar 5.2 diatas dapat dijelaskan bahwa Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor
                      Air Minum terletak pada kuadran S-O, tepatnya pada Posisi Pertumbuhan Cepat.

            Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                                 V-7
           5.2.2 Sektor Higiene
               A. Isu Negatif Sektor Higiene
                  Adapun isu strategis yang negatif dari sektor higiene meliputi:
                   Lingkungan tidak mendukung (rawan banjir)
                   Kesadaran masyarakat rendah
                   Terbatasnya air bersih
                   Sistem drainase yang salah
                   Minimnya dana APBD untuk penanganan higiene
                   Kesadaran masyarakat untuk pengelolaan sampah rendah
                   Porsi pendanaan higine di APBN masih rendah
               B. Isu Positif Sektor Higiene
                   Adanya polinde di tiap desa
                   Penyuluhan tiap 1 bulan sekali
                   Komitemen Kepala Daerah tinggi terhadap peenanganan higiene
                   Adanya program pemerintah (Lmaongan Green and Clean)
                   Adanya WSLIC
               C. Pembagian Sektor Internal dan Eksternal
                       Dari isu strategis tersebut baik yang negatif maupun positif dipilah dimana untuk isu yang
                  hampir sama dijadikan satu dan kemudian dibagi menurut aspek internal dan aspek eksternal.
                  a. Aspek Internal
                      1. Strenght (Kekuatan)
                           Adanya polindes tiap desa
                           Penyuluhan tiap 1 bulan sekali
                           Komitmen Kepala Daerah
                           Adanya program pemerintah (Lamongan Green and Clean)
                      2. Weakness (Kelemahan)
                           Lingkungan tidak mendukung (rawan banjir)
                           Kesadaran masyarakat rendah
                           Terbatasnya air bersih
                           Sistem drainase yang salah
                           Minimnya dana APBD
                  b. Aspek Eksternal
                      1. Opportunity (Peluang)
                           Adanya WSLIC
                           Kesadaran masyarakat untuk pengolahan sampah tinggi
                      2. Treath (Ancaman)
                           Porsi pendanaan di APBN masih rendah
                           Kebiasaan masyarakat soal BABS yang sulit diubah

               D. Pembobotan dan Penilaian Pengaruh
                      Setelah dilakukan penilaian dari aspek internal dan eksternal, maka tahapan selanjutnya
                  adalah dilakukan pembobotan dan penilaian pengaruh. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada
                  tabel dibawah ini.

                      Tabel 5. 4 Pembobotan dan Penilaian Pengaruh Aspek Internal dan Eksternal Sektor Higiene

           Aspek Internal            Bobot     Nilai      Skor            Aspek eksternal         Bobot     Nilai      Skor
                                      (%)    Pengaruh   (bobotx                                    (%)    Pengaruh   (bobotx
                                                         Nilai)                                                       Nilai)
STRENGHT (KEKUATAN)                                               OPPORTUNITY (PELUANG)
 Adanya polindes tiap desa            10        3        0,3      Adanya WSLIC                    40        3        1,2
 Penyuluhan tiap 1 bulan sekali       20        3        0,6      Kesadaran masyarakat untuk      60        4        2,4
                                                                    pengolahan sampah tinggi
 Komitmen Kepala Daerah               40        4        1,6
 Adanya program pemerintah            30        3        0,9
   (Lamongan Green and Clean)
Total Strenght                                            3,4     Total Opportunity                                   3,6
WEAKNESS (KELEMAHAN)                                              TREATH (ANCAMAN)
 Lingkungan tidak mendukung           10        2        0,2      Porsi pendanaan di APBN         50        4        2
   (rawan banjir)                                                    masih rendah
 Kesadaran masyarakat rendah          30        4        1,2      Kebiasaan masyarakat soal       50        4        2
                                                                     BABS yang sulit diubah
           Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                               V-8
            Aspek Internal            Bobot       Nilai       Skor                   Aspek eksternal   Bobot      Nilai      Skor
                                       (%)      Pengaruh    (bobotx                                     (%)     Pengaruh   (bobotx
                                                             Nilai)                                                         Nilai)
 Terbatasnya air bersih               20           4          0,8
 Sistem drainase yang salah           10           3          0,3
 Minimnya dana APBD                   30           4          1,2
Total weakness                                                 3,7        Total Treath                                        3
 Nilai koordinat aspek Internal        S (3,4)+ W( - 3,7)     -0,3        Nilai koordinat aspek          O(3,6) + T (-4)    - 0,4
                                                                          Eksternal

                E. Posisi Sektor Higiene dalam kuadran SWOT
                       Dari perhitungan pembobotan dan penilaian pengaruh, maka posisi pengelolaan sector
                   hygiene pada kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar berikut.

                                                                      O




                                            W                                              S
                                                            -0,3
                                                                      -0,4



                                                                      T

                                     Gambar 5. 3 Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor Higiene
                         Berdasarkan gambar 5.3 diatas dapat dijelaskan bahwa Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor
                     Higiene terletak pada kuadran W-T, tepatnya pada Posisi Ceruk

            5.2.3 Sektor Air Limbah
                A. Isu Negatif Sektor Air Limbah
                   Adapun isu strategis yang negatif dari sektor air limbah meliputi:
                   a. Dari Segi Teknis dan Operasional
                        Pencemaran lingkungan yang tinggi terutama air tanahAspek Eksternal
                        Kurang maksimalnya pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (tangki septic dan
                         saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB.
                        Belum ada instalasi pengolahan Sarana & Prasarana IPLT dan IPAL Komunal
                        Keterbatasan lahan terutama dalam mencari lahan untuk IPAL pada kawasan permukiman
                         dengan kepadatan tinggi
                   b. Dari segi Kelembagaan
                        Belum adanya peraturan dan pembinaan dalam hal pengelolaan air limbah domestic
                        Belum adanya rencana pengelolaan air limbah domestik dalam RPJMD
                        Belum ada Instansi yang merasa bertanggung jawab penuh terhadap pengolahan air limbah
                         domestic
                        Belum Maximalnya koordinasi antar instansi
                   c. Dari Segi keuangan
                        Kurangnya dukungan dana APBD (dibawah 5%)
                   d. Dari Segi SDM
                        Blm masimal Dilatih Operator Pengolahan Air Limbah IKK yang padat Penduduk
                        Kurangnya kesadaran masyarakat akan pengolahan limbah domestik
                   e. Dari Segi komunikasi
                        Kurangnya Sosialisasi Perlunya Pengolahan Air Limbah Domestik
                        Kurangnya Kampanye Pengolahan Air limbah rumah
                        Belum adanya LSM yang peduli pada pengolahan air limbah domestik
                B. Isu Positif Sektor Air Limbah
                   a. Dari Segi Teknis dan Operasional
                        Pengolahan grey water sudah ada di tingkat lingkungan (5-10 lokasi)
                        Pihak swasta telah menyediakan layanan penyedotan lumpur tinja
                   b. Dari segi Kelembagaan
            Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                     V-9
                         Adanya pokja green and clean di tingkat RT
                         Adanya program adiwiyata di sekolah untuk pengolahan air limbah
                         Adanya sebagian Kelompok Masyarakat yang peduli untuk mengelola limbah grey water
                     c. Dari Segi keuangan
                         Bantuan dana APBN
                     d. Dari Segi SDM
                         Dilatihnya TFL Sanitasi dalam Program SLBM
                     e. Dari Segi komunikasi
                         Adanya Kampanye dan Sosialisasi Perlunya Pengolahan Air Limbah Domestik (green and
                           clean)

                C. Pembagian Sektor Internal dan Eksternal
                      Dari isu strategis tersebut baik yang negatif maupun positif dipilah dimana untuk isu yang
                   hampir sama dijadikan satu dan kemudian dibagi menurut aspek internal dan aspek eksternal.
                   a. Aspek Internal
                      1. Strenght (Kekuatan)
                            Pengolahan grey water sudah ada di tingkat lingkungan (5-10 lokasi)
                            Adanya pokja green and clean di tingkat RT
                            Adanya program adiwiyata di sekolah untuk pengolahan air limbah
                            Adanya Kampanye dan Sosialisasi Perlunya Pengolahan Air Limbah Domestik (green
                              and clean)
                            Dilatihnya TFL Sanitasi dalam Program SLBM
                      2. Weakness (Kelemahan)
                            Pencemaran lingkungan yang tinggi terutama air tanahAspek Eksternal
                            Kurang maksimalnya pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (tangki septik
                              dan saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB.
                            Belum ada instalasi pengolahan Sarana & Prasarana IPLT dan IPAL Komunal
                            Keterbatasan lahan terutama dalam mencari lahan untuk IPAL pada kawasan
                              permukiman dengan kepadatan tinggi
                            Belum adanya peraturan dan pembinaan dalam hal pengelolaan air limbah domestic
                            Belum adanya rencana pengelolaan air limbah domestik dalam RPJMD
                            Belum ada Instansi yang merasa bertanggung jawab penuh terhadap pengolahan air
                              limbah domestic
                            Belum Maximalnya koordinasi antar instansi
                            Kurangnya dukungan dana APBD (dibawah 5%)
                            Blm masimal Dilatih Operator Pengolahan Air Limbah IKK yang padat Penduduk

                     b.      Aspek Eksternal
                             1. Opportunity (Peluang)
                                  Pihak swasta telah menyediakan layanan penyedotan lumpur tinja
                                  Adanya sebagian Kelompok Masyarakat yang peduli untuk mengelola limbah grey
                                    water
                                  Bantuan dana APBN
                             2. Treath (Ancaman)
                                  Belum adanya keterlibatan pihak swasta dalam pengolahan limbah domestic
                                  KSM pengelola kurang aktif
                                  Belum adanya LSM lokal yang peduli pada pengolahan air limbah domestic
                                  Kurangnya kesadaran sebagian besar masyarakat akan pengolahan limbah domestic

                D. Pembobotan dan Penilaian Pengaruh
                       Setelah dilakukan penilaian dari aspek internal dan eksternal, maka tahapan selanjutnya
                   adalah dilakukan pembobotan dan penilaian pengaruh. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada
                   tabel dibawah ini.

                Tabel 5. 5 Pembobotan dan Penilaian Pengaruh Aspek Internal dan Eksternal Sektor Air Limbah
            Aspek Internal                Bobot     Nilai      Skor            Aspek eksternal           Bobot     Nilai      Skor
                                           (%)    Pengaruh   (bobotx                                      (%)    Pengaruh   (bobotx
                                                              Nilai)                                                         Nilai)
STRENGHT (KEKUATAN)                                                    OPPORTUNITY (PELUANG)
 Pengolahan grey water sudah ada          30        4         1,2      pihak     swasta        telah    30        3         0,9
  di tingkat lingkungan (5-10 lokasi)                                    menyediakan         layanan
                                                                         penyedotan lumpur tinja
 Adanya pokja green and clean di          40        4         1,6      Adanya sebagian Kelompok         20        3         0,6
            Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                  V-10
            Aspek Internal               Bobot      Nilai        Skor               Aspek eksternal      Bobot      Nilai       Skor
                                          (%)     Pengaruh     (bobotx                                    (%)     Pengaruh    (bobotx
                                                                Nilai)                                                         Nilai)
   tingkat RT                                                              Masyarakat yang peduli
                                                                           untuk mengelola limbah grey
                                                                           water
 Adanya program adiwiyata di             10          3          0,3      Bantuan dana APBN              50          4         2
   sekolah untuk pengolahan air
   limbah
 Adanya Kampanye dan Sosialisasi         10          3          0,3
   Perlunya Pengolahan Air Limbah
   Domestik (green and clean)
 Dilatihnya TFL Sanitasi dalam           10          2          0,2
   Program SLBM
Total Strenght                                                   3,6     Total Opportunity                                     3,5
WEAKNESS (KELEMAHAN)                                                     TREATH (ANCAMAN)
 Pencemaran lingkungan yang tinggi        3          2         0,06      Belum adanya keterlibatan      10          2         0,2
   terutama air tanah                                                       pihak     swasta     dalam
                                                                            pengolahan limbah domestik
 kurang maksimalnya pengecekan            3          2         0,06      KSM pengelola kurang aktif     20          3         0,6
  kelengkapan        utilitas  teknis
  bangunan (tangki septic dan
  saluran drainase lingkungan) dalam
  pengurusan IMB.
 Belum ada instalasi pengolahan           3          3         0,09      Belum adanya LSM lokal         20          3         0,6
  Sarana & Prasarana IPLT dan IPAL                                         yang      peduli       pada
  Komunal                                                                  pengolahan    air    limbah
                                                                           domestik
 Keterbatasan lahan terutama dalam        3          4         0,12      kurangnya         kesadaran    50          4         2
    mencari lahan untuk IPAL pada                                          sebagian besar masyarakat
    kawasan permukiman dengan                                              akan pengolahan limbah
    kepadatan tinggi                                                       domestik
 Belum adanya peraturan dan              15          4          0,6
    pembinaan dalam hal pengelolaan
    air limbah domestik
 Belum            adanya     rencana     40          4          1,6
    pengelolaan air limbah domestik
    dalam RPJMD
 Belum ada Instansi yang merasa           9          3         0,27
    bertanggung jawab penuh terhadap
    pengolahan air limbah domestik
 Belum Maximalnya          koordinasi     9          4         0,36
    antar instansi
 Kurangnya dukungan dana APBD             7          4         0,28
    (dibawah 5%)
 Blm maksimal Dilatih Operator            8          4          3,2
    Pengolahan Air Limbah IKK yang
    padat Penduduk
Total weakness                                                   3,56    Total Treath                                           3,4
 Nilai koordinat aspek Internal          S (3,6)+ W( - 3,76)    -0,16    Nilai koordinat aspek            O(3,5) + T (-3,4)     0,1
                                                                         Eksternal




             Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                   V-11
    E. Posisi Sektor Air Limbah dalam kuadran SWOT
            Dari perhitungan pembobotan dan penilaian pengaruh, maka posisi pengelolaan air limbah
       pada kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar berikut.

                                                    O



                                                    0,1
                               W                                     S
                                          -0,16




                                                    T
                     Gambar 5. 4 Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor Air Limbah
              Berdasarkan gambar 5.4 diatas dapat dijelaskan bahwa Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor
        Air Limbah terletak pada kuadran O-W, tepatnya pada Posisi Pemeliharaan Agresif

5.2.4 Sektor Drainase
    A. Isu Negatif Sektor Drainase
        Adapun isu strategis yang negatif dari sektor drainase meliputi:
        a. Dari Segi Teknis dan Operasional
            sistem drainase yang kurang memadai
            Di wilayah perkotaan rasa ikut memelihara sal. Drainase masih kurang
            Perilaku masyarakat yang buang sampah di sal. Drainase
        b. Dari segi Kelembagaan
            belum ada aturan/perda tentang drainase di lamongan
        c. Dari Segi keuangan
            Anggaran APBD terbatas
        d. Dari Segi SDM
            sumber daya manusia pengelola drainase masih kurang
        e. Dari Segi komunikasi
            sosialisasi pemeliharaan dan pengelolaan drainase masih kurang
            Belm adanya penyuluhan pentingnya memelihara drainase
    B. Isu Positif Sektor Drainase
        Kegiatan Pembangunan drainase selalu dianggarkan tiap tahun
            Adanya koordinasi lintas sektor tentang drainase
            Perencanaan drainase telah tercantum dalam RPJMD
            Adanya biofori di sekolah
            adanya program penanggulangan bencana banjir
            adanya media cetak,elektronik,sbg media promosi dan sosialisasi
            Di wilayah pedesaan rasa ikut memelihara sdh ada m/kerja bakti/gotong royong
            Pembiayaan pembangunan drainase bisa melalui APBN, APBD Prop, lembaga donor
    C. Pembagian Sektor Internal dan Eksternal
       a. Aspek Internal
            1. Strenght (Kekuatan)
                 Adanya koordinasi lintas sektor tentang drainase
                 Perencanaan drainase telah tercantum dalam RPJMD
                 Adanya biofori di sekolah
                 adanya program penanggulangan bencana banjir
            2. Weakness (Kelemahan)
                 sistem drainase yang kurang memadai
                 sumber daya manusia pengelola drainase masih kurang
                 sosialisasi pemeliharaan dan pengelolaan drainase masih kurang
                 Anggaran APBD terbatas
                 belum ada aturan/perda tentang drainase di lamongan
                 Belum adanya penyuluhan pentingnya memelihara drainase

Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                             V-12
                     b. Aspek Eksternal
                         1. Opportunity (Peluang)
                              adanya media cetak,elektronik,sbg media promosi dan sosialisasi
                              Di wilayah pedesaan rasa ikut memelihara sdh ada m/kerja bakti/gotong royong
                              Pembiayaan pembangunan drainase bisa melalui APBN, APBD Prop, lembaga donor
                         2. Treath (Ancaman)
                              Perilaku masyarakat yang buang sampah di sal. Drainase
                              Di wilayah perkotaan rasa ikut memelihara sal. Drainase masih kurang

                 D. Pembobotan dan Penilaian Pengaruh
                        Setelah dilakukan penilaian dari aspek internal dan eksternal, maka tahapan selanjutnya
                    adalah dilakukan pembobotan dan penilaian pengaruh. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada
                    tabel dibawah ini.

                  Tabel 5. 6 Pembobotan dan Penilaian Pengaruh Aspek Internal dan Eksternal Sektor Drainase
             Aspek Internal               Bobot      Nilai         Skor            Aspek eksternal         Bobot     Nilai       Skor
                                           (%)     Pengaruh      (bobotx                                    (%)    Pengaruh    (bobotx
                                                                  Nilai)                                                        Nilai)
STRENGHT (KEKUATAN)                                                        OPPORTUNITY (PELUANG)
                                                                            adanya media
 Kegiatan Pembangunan drainase            25           4          1         cetak,elektronik,sbg media     20          2        0,4
  selalu dianggarkan tiap tahun                                              promosi dan sosialisasi
                                                                            Di wilayah pedesaan rasa
 Adanya koordinasi lintas sektor          15           3         0,45       ikut memelihara sdh ada        30          3        0,9
  tentang drainase                                                           m/kerja bakti/gotong royong
                                                                            Pembiayaan pembangunan
 Perencanaan       drainase telah         40           4          1,6       drainase bisa melalui APBN,    50          4        2
   tercantum dalam RPJMD                                                     APBD Prop, lembaga donor
 Adanya biofori di sekolah                10           2          0,2
 adanya program penanggulangan
                                           10           3          0,3
   bencana banjir
Total Strenght                                                    3,55     Total Opportunity                                    3,3
WEAKNESS (KELEMAHAN)                                                       TREATH (ANCAMAN)
                                                                            Perilaku masyarakat yang
 sistem drainase        yang    kurang                                       buang sampah di sal.          60          4        2,4
  memadai                                   5           2          0,1        Drainase
                                                                            Di wilayah perkotaan rasa
 sumber daya manusia pengelola                                               ikut memelihara sal.          40          4        1,6
  drainase masih kurang                    15           3         0,45        Drainase masih kurang
 sosialisasi    pemeliharaan    dan                                       
  pengelolaan drainase masih kurang         5           2          0,1
 Anggaran APBD terbatas                   40           4          1,6     
 belum ada aturan/perda tentang
  drainase di lamongan                     30           3          0,9
 Belum       adanya      penyuluhan
  pentingnya memelihara drainase            5           2          0,1
Total Weakness                                                    3,25     Total Treath                                           4
Nilai koordinat aspek Internal            S (3,55)+ W( - 3,25)     0,3     Nilai koordinat aspek            O(3,3) + T (-,4)    - 0,7
                                                                           Eksternal




             Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                     V-13
    E. Posisi Sektor Drainase dalam kuadran SWOT
            Dari perhitungan pembobotan dan penilaian pengaruh, maka posisi pengelolaan sector
       drainase pada kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar berikut.

                                                     O



                                                         0,3
                               W                                    S


                                              -0,7


                                                     T

                     Gambar 5. 5 Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor Drainase

            Berdasarkan gambar 5.5 diatas dapat dijelaskan bahwa Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor
        Drainase terletak pada kuadran S-T, tepatnya pada Posisi Diversifikasi Terpusat.

5.2.5 Sektor Sampah
    A. Isu Negatif Sektor Sampah
         Kemampuan pembiayaan terbatas
         Lahan TPA terbatas di Kecamatan Babat, dan Paciran
         Sarana Prasarana terbatas
         Frekuensi pengangkutan sampah terbatas
         Sistem Pengelolaan sampah di TPA adaah Open dumping
         Belum maksimalanya sector swasta
         Sebagian besar potensi masyarakat belum optimal
         Timbulan sampah semakin meningkat
    B. Isu Positif Sektor Sampah
         Adanya program lamongan Green and Clean dan 3R
         Perluasan lahan TPA di kota
         Media komunikasi soal sampah intens
         Adanya pengepul sampah
         Adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah
         Dukungan APBN untuk TPST dan TPA
    C. Pembagian Sektor Internal dan Eksternal
       a. Aspek Internal
           1. Strenght (Kekuatan)
               Adanya program lamongan Green and Clean dan 3R
               Perluasan lahan TPA di kota
           2. Weakness (Kelemahan)
               Kemampuan pembiayaan terbatas
               Lahan TPA terbatas di Kecamatan Babat, dan Paciran
               Sarana Prasarana terbatas
               Frekuensi pengangkutan sampah terbatas
               Sistem Pengelolaan sampah di TPA adalah Open dumping
       b. Aspek Eksternal
           1. Opportunity (Peluang)
               Media komunikasi soal sampah intens
               Adanya pengepul sampah
               Adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah
               Dukungan APBN untuk TPST dan TPA
           2. Treath (Ancaman)
               Belum maksimalanya sector swasta
               Sebagian besar potensi masyarakat belum optimal
               Timbulan sampah semakin meningkat
Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                           V-14
                D. Pembobotan dan Penilaian Pengaruh
                       Setelah dilakukan penilaian dari aspek internal dan eksternal, maka tahapan selanjutnya
                   adalah dilakukan pembobotan dan penilaian pengaruh. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada
                   tabel dibawah ini.
                  Tabel 5. 7 Pembobotan dan Penilaian Pengaruh Aspek Internal dan Eksternal Sektor Sampah
           Aspek Internal             Bobot      Nilai             Skor                  Aspek eksternal         Bobot      Nilai       Skor
                                       (%)     Pengaruh          (bobotx                                          (%)     Pengaruh    (bobotx
                                                                  Nilai)                                                               Nilai)
STRENGHT (KEKUATAN)                                                            OPPORTUNITY (PELUANG)
 Adanya program lamongan Green                                                 Media komunikasi soal sampah
                                        60         4               2,4                                            10          2         0,2
  and Clean dan 3R                                                               intens
 Perluasan lahan TPA di kota           40         4               1,6          Adanya pengepul sampah           20          3         0,6
                                                                                Adanya partisipasi masyarakat
                                                                                                                  40          4         1,6
                                                                                 dalam pengelolaan sampah
                                                                                Dukungan APBN untuk TPST         30          4         1,2
                                                                                 dan TPA
Total Strenght                                                     4           Total Opportunity                                       3,6
WEAKNESS (KELEMAHAN)                                                           TREATH (ANCAMAN)
                                                                                Belum maksimalanya sector
 Kemampuan pembiayaan terbatas                                                                                   20          3         0,6
                                        40         4               1,6           swasta
 Lahan TPA terbatas di Kecamatan                                               Sebagian besar potensi
                                                                                                                  30          3         0,9
  Babat, dan Paciran                    10         4               0,4           masyarakat belum optimal
                                                                                Timbulan sampah semakin          50          4         2
 Sarana Prasarana terbatas
                                        30         4               1,2           meningkat
 Frekuensi pengangkutan sampah                                                
   terbatas                             20         3               0,6
 Sistem Pengelolaan sampah di
   TPA adalah Open dumping              10         4               0,4
Total Weakness                                                     4,2         Total Treath                                             3,5
 Nilai koordinat aspek Internal         S (4)+ W( -4,2)           -0,2         Nilai koordinat aspek Eksternal    O(3,6) + T (-3,5)     0,1


                E. Posisi Sektor Sampah dalam kuadran SWOT
                       Dari perhitungan pembobotan dan penilaian pengaruh, maka posisi pengelolaan sector
                   sampah pada kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar berikut.

                                                                         O




                                                                         0,1                S
                                         W
                                                          -0,2




                                                                           T
                                    Gambar 5. 6 Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor Sampah


                        Berdasarkan gambar 5.5 diatas dapat dijelaskan bahwa Posisi Pengelolaan Sanitasi Sektor
                     sampah terletak pada kuadran W-O, tepatnya pada Posisi Pemeliharaan Selektif




            Penyusunan Buku Putih Kab. Lamongan                                                                           V-15

								
To top