Docstoc

sastra linguistik

Document Sample
sastra linguistik Powered By Docstoc
					 KERANGKA EXPLANATORY AND HOW TO DO FEATURE


            “KESEGARAN DAN KHASIAT WEDANG UWUH”




Bagian 1 : Pengertian wedang uwuh.
Bagian 2 : Daerah yang memproduksi wedang uwuh.
Bagian 3 : Daerah yang terkenal dengan wedang uwuh.
Bagian 4 : Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat wedang uwuh.
Bagian 5 : Proses pembuatan wedang uwuh.
Bagian 6 : Cara penyajian wedang uwuh.
Bagian 7 : Waktu yang tepat untuk menikmati wedang uwuh.
Bagian 8 : Manfaat dan khasiat wedang uwuh.
Bagian 9 : Bentuk kemasan wedang uwuh.
Bagian 10: Durasi atau masa kadaluarsa wedang uwuh.
Bagian 11: Contoh penjual dan produksi wedang uwuh.
          EXPLANATORY AND HOW TO DO FEATURE


             “KESEGARAN DAN KHASIAT WEDANG UWUH”




                           Rasa nikmat dan segar langsung terasa sesaat setelah
merasakan minuman wedang uwuh di tempat warung Makam Raja-raja Mataram
di Imogiri. Tak hanya nikmat, minuman ini juga sangat berkhasiat tinggi. Di
antaranya dapat membuat tubuh kembali segar dan meningkatkan ketahanan
tubuh saat beraktifitas.


Pengertian wedang uwuh
       Wedang uwuh bukanlah minuman mengandung zat kimia, melainkan
hidangan yang bahan-bahannya diambil dari dedaunan kering di sekitar Makam
Kanjeng Prabu Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Makam-makam lainnya di
kompleks Imogiri. Wedang dalam bahasa jawa berarti minuman panas, wedang
biasanya diikuti dengan kata-kata ronde, jahe , secang , yang sudah cukup familier
dengan kita tapi mungkin jarang yang tahu tentang wedang uwuh.
       Nama Wedang Uwuh justru mengundang orang untuk datang, karena
kesegaran dan khasiat yang ada. Kata uwuh yang berasal dari Bahasa Jawa, yang
jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah sampah dedaunan. Dalam
perkembangannya, kata uwuh juga bermakna sampah secara umum, sehingga
mengesankan kotor dan becek.
          Secara fisik wedang uwuh memang mirip dengan sampah dedaunan
karena dalam penyajiannya wedang ini benar-benar menyajikan secara fisik
(bukan bubuk maupun sari ) uwuh yang berupa rempah dedaunan.


Daerah yang memproduksi wedang uwuh
          Wedang uwuh bukan berarti minuman sampah. Minuman ini adalah
minuman khas Imogiri, kecamatan Bantul, Provinsi DIY. Minuman ini memang
tak ada duanya. Di daerah lain boleh jadi tak akan ditemui. Soalnya minuman ini
yang memproduksi hanyalah daerah Imogiri, tepatnya yakni Makam Raja-raja
Jawa ( Jogja - Solo ).


Daerah yang terkenal dengan wedang uwuh
          Daerah yang terkenal dengan wedang uwuh adalah daerah Makam Raja-
raja Yogyakarta dan Surakarta yang sering disebut dengan Pajimatan Imogiri,
Bantul, Yogyakarta.


Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat wedang uwuh




1. Daun pala kering
2. Daun kayu manis kering
3. Daun cengkeh kering yang diambil langsung dari lokasi Makam Imogir
4. Batang cengkeh kering
5. Jahe
6. Serutan kayu secang kering
7. Gula batu / gula pasir


Proses pembuatan wedang uwuh
1. Cuci terlebih dahulu bahan-bahannya seperti jahe, cengkih / batang cengkih,
daun cengkih, daun kayu manis, daun pala, serutan kayu secang.
2. Memarkan jahe, dan bisa juga di bakar terlebih dahulu jahe kemudian
memarkan.
3. Masukkan jahe, cengkih / batang cengkih, daun cengkih, daun kayu manis,
daun pala, dan serutan kayu secang dalam dalam gelas. Tuang air panas ke dalam
gelas. Tunggu selama kurang lebih 3 menit, kemudian masukkan gula batu dan
aduk hingga rata. Ini jika dengan cara disedu, selain itu dapat juga dengan cara
direbus yakni, tuang air dalam panci. Masukkan jahe, cengkih/batang cengkih,
daun cengkih, daun kayu manis, daun pala, serutan kayu secang, dan gula batu.
Masak dengan api sedang hingga mendidih. Rebus selama kurang lebih 15 menit.
Angkat dan saring (bisa juga dihidangkan tanpa disaring) ke dalam gelas.
Note :
         Warna air yang merah cerah terbentuk dari air seduhan secang. Bau harum
muncul dari aroma kayu manis. Rasa hangat-pedas terbentuk dari jahe dan
dedaunan rempah lainnya.


Cara penyajian wedang uwuh
       Cara penyajiannya juga cukup unik, semua uwuh tersebut dimasukan
kedalam gelas ditambah gula batu secukupnya dan diseduh dengan air mendidih,
sesaat setelah uwuh diseduh, air akan berubah menjadi merah, warna yang
dihasilkan secara alami dari potongan secang, bukan pewarna buatan, dengan bau
wangi yang berasal dari serutan kayu manis, dan begitu dicicipi akan memberikan
rasa hangat yang berasal dari jahe yang dapat ditingkatkan kadar ke pedasan nya
dengan mememarkan serta membakar jahe tersebut, tidak lupa kadar manis yang
didapat dari gula batu, semakin besar gula batu dan semakin lama dibiarkan
mencair tentu semakin manis, ditambah bahan bahan lain seperti cengkeh, dan
pala yang memberikan sensasi tersendiri.
       Ada banyak cara menikmatinya, bisa langsung diminum Wedang Uwuh
terdapat di dalam gelas yang memberikan sensasi unik begitu potongan kecil
sampah ikut terminum , tergigit dan mengenai lidah, ada juga yang ditaruh di teko
berpenyaring, sehingga waktu dituang hanya akan mengeluarkan air merahnya
saja, yang jelas minuman ini dapat di refill dengan cara menambahkan air panas,
tapi tetap saja rasa tidak akan menandingi seduhan pertama.


Waktu yang tepat untuk menikmati wedang uwuh
       Waktu terbaik menikmati wedang ini memang pada saat udara dingin,
malam hari ataupun setelah beraktifitas berat, bisa juga menikmati wedang ini
setelah lelah berolah raga di seputaran Pajimatan Imogiri, lebih nikmat lagi jika
ditemani pecel kembang turi, mie jawa, sate klatak dan juga cocok dengan ketupat
babanci jadi jika anda belum pernah mencicipinya dan penasaran akan sensasi
uwuh yg masuk ke mulut, silahkan mencoba.


Manfaat atau khasiat wedang uwuh
       Menikmati wedang uwuh, terasa hangat. Rasanya hampir mirip minuman
sekoteng, namun aroma rempahnya lebih terasa. Warna merah muda alami yang
didapatkan dari hasil seduhan secang membuat tampilan wedang uwuh makin
menarik.
       Minuman herbal berbahan bahan rempah ini berkhasiat menghangatkan
dan menyegarkan badan, menghilangkan masuk angin, batuk ringan, dan
melegakan tenggorokan. Bagi pecandu rokok kretek yang pengen berhenti
merokok, minuman ini mungkin bisa membantu menghentikan rokok kretek anda.
Bahan-bahan terdapat dalam minuman ini ternyata kaya akan antioksidan dan
memberikan efek ‘tenang’ setelah meminumnya. Beberapa komponen dalam
secang, cengkeh, pala, dan jahe diduga memiliki aktivitas antioksidan.
Antioksidan merupakan senyawa penangkal radikal bebas sehingga mampu
menghambat penuaan atau kerusakan sel pada tubuh.
       Manfaat wedang uwuh terutama untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan
memperlancar aliran darah. Serutan kayu manis dan cengkih, dijelaskannya,
adalah herba yang bersifat hangat, juga bisa memberikan aroma sekaligus sensasi
rasa yang unik. Jahe sudah dikenal manjur mengusir berbagai keluhan. Sifatnya
yang panas bermanfaat sebagai penghangat. Lebih dari itu, jahe, melalui banyak
penelitian, terbukti manfaatnya untuk melancarkan peredaran darah. Jahe bersifat
antikoagulan (anti pembekuan darah) yang lebih hebat daripada bawang putih
atau bawang merah.
       Jahe juga mampu menurunkan kadar kolesterol karena bisa mengurangi
penyerapan kolesterol dalam darah dan hati. Penelitian yang dilakukan para ahli di
Jepang memperlihatkan, jahe dapat menurunkan tekanan darah tinggi dengan
jalan mengurangi laju aliran darah perifer (aliran darah tepi). Daun pala yang
mengandung saponin, polifenol dan flavonoid bermanfaat untuk menghilangkan
nyeri, meredakan perut mulas karena masuk angin, melancarkan sirkulasi darah,
dan mengatasi gangguan pada lambung. Komponen penting lain dalam wedang
uwuh adalah secang. Herba yang biasa disebut kayu secang (Caesalpinia sappan)
ini telah lama dikenal sebagai bahan ramuan untuk mengobati berbagai penyakit,
seperti sifilis, batuk darah, dan radang. Kayu secang juga dapat dipergunakan
sebagai campuran untuk minuman kesehatan dan penghangat badan. Secang
memiliki kemampuan antioksidan, antikanker, memperlancar peredaran darah,
dan melegakan pernapasan. Terakhir, gula batu sebagai pelengkap untuk
memberikan rasa manis, tanpa membuang aroma sekaligus rasa asli bahan-bahan
ramuan ini.




Bentuk kemasan wedang uwuh
              “Wedang Uwuh dalam sajian bentuk kemasan celup”




       Kelebihan dari kemasan celup yakni proses penyeduhan lebih cepat, tidak
ada daun-daun dan bahan-bahan lain yang sering mengganggu sewaktu kita
minum (karena sudah dikemas dalam bentuk ekstrak kemasan celup), lebih
praktis, khasiat sama, citarasa dan aroma juga sama. 1 (satu) sachet wedang uwuh
celup tinggal diseduh dengan air panas - ke dalam gelas ukuran besar (250 ml),
plus gula batu (lebih nikmat) atau gula pasir sesuai selera. Tunggu 5 - 10 menit,
wedang uwuh siap disajikan, diminum dalam keadaan panas lebih nikmat.


                          “Wedang uwuh sajian gelas”
       Wedang uwuh dalam sajian gelas dapat langsung dinikmati di warung
yang menjual wedang uwuh siap saji. Dengan rasa yang lebih nikmat karena
diolah secara langsung. Masih adanya dedaunan dalam gelas semakin menambah
kesegaran.




                       “Wedang uwuh kemasan plastik”




       Wedang uwuh dalam kemasan plastik ini sangat praktis, dapat di minum
kapan saja. Cara menggunakannya pun sederhana hanya di cuci terlebihdahulu
kemudian di beri air panas dan siap di minum.


Durasi atau masa kadaluarsa wedang uwuh
       Wedang uwuh merupakan minuman yang berasal dari bahan-bahan asli.
Dalam pemakainnya bahan-bahan tersebut hanya cukup di cuci hingga bersih dan
di jemur atau di keringkan. Sehingga wedang uwuh ini sesungguhnya tidak ada
masa kadaluarsanya, hanya saja jika bahan-bahan tersebut sudah lama maka bahan
tersebut akan menjamur, namun jamur tersebut tidak ada pengaruh dan effek
sampingnya hanya saja jika akan menggunakannya harus di cuci terlebih dahulu.
Sedangkan wedang uwuh yang dikemas dalam bentuk clup, memang ada tanggal
kadaluarsanya karena sudah di olah melalui pabrik dan diberi tambahan zat kimia.


Contoh penjual dan produksi wedang uwuh




       Toko “Melati” Bu Eko yang terletak di barat Makam Raja-raja Yogyakarta
dan Surakarta, Bantul, Yogyakarta. Bu Eko adalah salah satu orang yang
memproduksi wedang uwuh, dia juga menjual wedang uwuh di tokonya baik
dalam bentuk kemasan maupun gelasan. Bu Eko yang berumur 32 tahun ini
menjalani usahanya sudah 3 tahun dengan sukses. Bagi Bu Eko berjualan wedang
uwuh tak hanya berdagang saja, tapi juga turut melestarikan warisan nenek
moyang. Karena itu ia selalu berusaha untuk menjaga mutu serta keaslian rasa
wedhang uwuh. Keaslian rasa wedhang uwuh mampu menciptakan suasana yang
khas, aromanya pun kental akan nuansa spiritual. Tak heran bila wedhang uwuh
selalu membuat penasaran pembelinya. Awalnya orang meragukan kesegaran
minuman tanpa nama tersebut, tetapi ketika mencoba malah ketagihan. Di antara
para pelanggan Bu Eko adalah para Wartawan KR yang meliput dan selalu
mampir untuk minum wedang uwuh di tempat Bu Eko tersebut.
       Di warung / usaha Bu Eko juga ada titipan dari usaha lain dalam perjualan
wedang uwuh, namun karena merasa uasaha yang dikelola memenuhi faktor pasar
/ kelarisan, sehingga harga tidak disamakan antara pengecer yang menitip
dagangannya. Untuk memenuhi faktor pasar / kelarisan Bu Eko meminta izin dari
Dinas Kesehatan, sehingga didalam kemasan terdapat merk dan cap dari
Departemen Kesehatan. Bu Eko punya prinsip bahwa ia tetap menjual dengan
harga yang mahal dibandingkan dengan produksi yang lain, karena ia tetap
menjaga kebersihan dan kualitas barangnya. Dengan itu Bu Eko selalu menjaga
kebersihannya. Bu Eko menjual wedang uwuh yang dikemas dalam pelastik ini
seharga Rp 1250/plastik. Dan untuk wedang uwuh gelasan Bu Eko menjual
seharga Rp 2000/gelas.


       Kendala yang dihadapi Bu Eko dalam penjualannya adalah karena
konsumen sering membanding-bandingkan antara produksi yang satu dengan
produksi yang lain, dan juga konsumen yang semakin lama hingga merasa bosan
sehingga penjualan pun dapat turun.




                  WIRAUSAHA PRODUKSI MIE 99
                         (MIE UNTUK MIE AYAM)


       Sebelumnya saya panjatkan puji syukur atas ridho Allah SWT karena
berkat rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas wawancara ini. Dalam tugas
wawancara ini saya mewawancarai seorang wirausaha pembuatan mie 99. Mie 99
yaitu mie yang digunakan untuk mie ayam. Saya juga ingin berterima kasih
kepada narasumber bapak Mislam, karena telah memberikan informasi tentang
usaha produksi mie 99. Produksi mie 99 bertempat di Tanjung, Patalan, Jetis,
Bantul, Yogyakarta.

       Ariesty: “Siapa nama bapak, dan sudah berapa lama memproduksi mie
               99?”

       Mislam: “Nama saya Mislam, saya sudah 21 tahun memproduksi mie 99.”

       Ariesty: “Mengapa bapak memberi nama mie 99?”
Mislan: “Nama mie 99 merupakan angka kelahiran usaha ini, yaitu pada
        tahun 1989 bulan 09, sehingga saya mengambil angka belakang
        menjadi 99.”

Ariesty: “Bagaimana awal mulanya bapak bisa memproduksi mie 99?”

Mislam: “Awal mulanya saya menjadi buruh pembuatan mie untuk mie
         ayam di Kebumen selama 5 tahun. Kemudian saya keluar dan
         pindah   ke   Yogyakarta.   Dari   pengalaman    bekerja   saya
         memutuskan untuk memulai usaha sendiri membuat mie, yang
         saya beri nama mie 99. Walaupun pada saat itu belum ada
         modal dan rencana yang matang untuk memulai usaha. Maka
         saya meminta bantuan saudara bagaimana solusi yang baik agar
         usaha saya bisa berjalan. Saudara saya meminjamkan modal
         untuk memulai usaha mie 99.”

Ariesty: “Berapa modal yang bapak perlukan untuk memulai usaha mie
         99?”

Mislam: “Modal yang saya perlukan untuk membuka usaha ini sekitar
         Rp.10.000.000,00. Pada saat itu hanya segitu yang saya miliki,
         itu juga karena dapat pinjaman dari saudara dan koperasi desa di
         tempat saya tinggal.”

Ariesty: “Bagaimana cara membuat mie 99?”

Mislan: “Cara membuat mie yaitu siapkan bahan-bahan seperti tepung
         terigu, air, garam dan kanji. Kemudian tepung terigu 25 Kg
         diberi air 5,5 gayung, dan garam secukupnya. Setelah itu di
         giling menggunakan mesin penggiling, jika sudah di pres sampai
         halus dan diberi kanji agar tidak lengket, yang terakhir mie
         dipotong-potong dan dikemas.”
Ariesty: “Apa usaha yang dilakukan bapak untuk memasarkan mie 99?”

Mislam: “Saya memulai dengan cara memasang spanduk, menyebarkan
         brosur, memberi tahu dari mulut ke mulut, menyewakan
         gerobak dan memberi fasilitas kepada pelanggan penjual mie
         ayam.”

Ariesty: “Berapa pelanggan pertama yang membeli mie 99?”

Mislam: “Awalnya hanya 5 orang, itu saja masih belum tentu membeli mie
         99.”

Ariesty: “Berapa jumlah pelanggan bapak setelah sukses seperti sekarang
         ini?”

Mislam: “Sekitar 80 orang pelanggan tetap, dan ada 20 orang pelanggan
         yang tidak tetap.”

Ariesty: “Berapa karyawan yang bekerja di tempat bapak?”

Mislan: “Karyawan yang bekerja di tempat saya ada 10 orang.”

Ariesty: “Dimana bapak mendistribusikan mie 99?”

Mislam: “Keberbagai tempat seperti di Kulon Progo, Celep, Sorobayan,
         Gumulan, Kuroboyo, Pasar Mangiran, Tegal layang, Sumber
         Agung,     Manding,   Bantul,   Kretek,   Parangtritis,   Sewon,
         Sidomulyo, Kralas, Gajuran, Medelan, Pranti, Wonolopo, Srayu,
         Bakulan, Suren Wetan, Pundong.”

Ariesty: “Berapa Kg mie yang dihasilkan setiap hari dan berapa harga mie
         per Kg?”
Mislam: “Setiap 1 hari dapat menghasilkan sekitar 500Kg, harga 1 Kg
         Rp.8.000,00.”

Ariesty: “Berapa penghasilan dan pengeluaran bapat setiap harinya?”

Mislam: “Penghasilan setiap hari sekitar Rp.4.000.000,00. Pengeluaran
         sekitar Rp.2.000.000,00.”

Ariesty: “Apa suka duka bapak dalam menjalankan usaha mie?”

Mislan: “Suka duka yang bapak alami dalam menjalankan usaha ini
         banyak sekali. Sukanya bila pelanggan membeli mie dengan
         jumlah yang banyak. Sedangkan dukanya adalah bila harga
         tepung terigu naik, sehingga pengeluaran naik.”

Ariesty: “Kendala apa yang paling berat bapak hadapi dalam menjalankan
         usaha ini?”

Mislam: “kendala yang paling berat saya hadapi adalah bila banyak para
         pembeli yang menghutang, banyaknya saingan, yang paling
         penting adalah modal untuk membeli bahan-bahan kembali bila
         penjualan tidak mendapat hasil yang seimbang, dan kendala
         dalam hal distribusi seperti harga BBM naik, supir sakit, mobil
         rusak, listrik mati yang dapat mengakibatkan pendistribusian
         tidak tepat waktu.”

Ariesty: “ Apakah penghasilan bapak sudah memenuhi kebutuhan bapak
         dan keluarga sehari-hari?”

Mislan: “Kalau masalah sudah mencukupi atau belum. Jawabannya belum,
         tapi mau bagaimana lagi, sebisa mungkin kami harus cukup-
         mencukupi, harus seirit mungkin dalam menggunakan uang.
         Karena selain untuk kebutuhan sehari-hari kami juga harus
         memenuhi kebutuhan anak-anak kami untuk sekolah dan kuliah.
                  Sebagaimana diketahui kalau biaya sekolah sekarang sangat
                  mahal.”

       Ariesty: “Apa harapan untuk kedepannya tentang usaha bapak ini?”

       Mislan: “Bapak berharap usaha bapak ini bisa lebih maju, lebih
                  berkembang, memiliki cabang-cabang agar perekonomian
                  keluarga bapak dapat meningkat. Amin.”




                               A. PENDAHULUAN


Latar belakang
       Jurnalistik atau jurnalisme berasal dari kata Journal yang berarti catatan
harian. Catatan mengenai kejadian sehari-hari atau bisa juga berarti surat kabar.
Journal berasal dari kata latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari
perkataan itulah lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan
Jurnalistik. Dalam istilah ilmu publisistik adalah hal-hal yang berkaitan dengan
menyiarkan berita atau ulasan berita tentang peristiwa sehari-hari yang umum dan
actual dengan secepat-cepatnya. Jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita,
mencari fakta dan melaporkan peristiwa. Sehingga ada sebuah usaha untuk
mentransformasi informasi seaktual mungkin seobyektif mungkin, walaupun tidak
lepas dari ideologi dan karakter si penulis berita.
       Bicara media pers jurnalistik menjadi menarik ketika dikaitkan dengan
peran jurnalisme dalam membangun bahasa (Nasionalisme). Ini bisa kita lihat dari
bahasa yang digunakan dalam beberapa media. Mulai dari majalah hingga surat
kabar harian. Demikian penting fungsi media menjadi poros utama dalam
membangun bahsa nasionalisme. Sangat khas saat kita membandingkan gaya
tulisan di media massa, seperti dilihat dari jenisnya, karakter hingga jenis
reportase investigasi yang digunakan. Menjadi berbeda tentang tolok ukur kaidah-
kaidah jurnalistik saat kita menjumpai berbagai tulisan. Karena dalam bahasa
jurnalistik sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis
tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk
menulis berita utama. Dalam menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi
karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan,
pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Kalau kita mencermati bahasa
jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia
baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana. Karena
berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa
jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas,
lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti
perkembangan bahasa dalam masyarakat. Demikian adanya bahwa dalam
kepenulisan tidak hanya ragam bahasa jurnalistik saja yang harus dipenuhi tapi
juga sifat-sifatnya. Karena lapisan masyarakat dalam hal ini pangsa pasar minat
pembaca menjadi penentu karakter bahasanya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik
dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Hal ini dikarenakan tidak
setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu
bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua
informasi yang dibawa kepada pembaca secepatnya dengan mengutamakan daya
komunikasinya. Dilihat dari uraian diatas maka saya akan membahas lebih dalam
tentang peran jurnalisme dalam membangun bahasa (Nasioanlisme).
       Pemakalah berharap besar dengan adanya analisis tentang “peran
jurnalisme dalam membangun bahasa (Nasionalisme)” ini diharapkan pembaca
dapat memahami dan mengerti lebih jelas tentang jurnalisme.
                             B. PEMBAHASAN



1. Bahasa Indonesia dalam Media Massa

       Media   massa   merupakan    sarana   penyampaian    informasi   kepada
masyarakat. Dalam penyampaian informasi dalam media massa, hendaknya para
wartawan atau penulis berusaha agar bahasa yang digunakan bisa menarik
perhatian pembaca, sehingga mereka bisa memahami maksud informasi yang ada
di media massa tersebut. Wartawan dalam media massa harus menghindari
adanya penulisan kata atau istilah yang sering rancu (salah kaprah). Hendanya
penulisan istilah atau kata tersebut berdasarkan standardisasi Bahasa Indonesia
yang baik dan benar, menurut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia.

       Bahasa yang digunakan media massa cetak terutama surat kabar sangat
berpengaruh terhadap masyaraat pembaca. Beberapa kekeliruan pemakaian
bahasa yang didalam masyarakat seperti penggunaan kata dimana yang tidak pada
tempatnya. Setelah media massa cetak berusaha tidak memakainya, pengguna
didalam masyarakat berangsur-angsur mereda. Demikian pula halnya dengan tata
kalimat. Cukup banyak media massa cetak yang telah berupaya untuk bercermat
dalam menyusun kalimat yang baik, benar, dan menarik. Itu semua merupakan
usaha penerbit untuk menyuguhkan bacaan yang komunikatif kepada para
pembaca. Hal seperti itu merupakan sumbangan penerbit media massa cetak
dalam melakuka pembinaan bahasa. Walaupun demikian, kita tida boleh menutup
mata bahwa masih banyak penerbit media massa cetak yang belum tertarik
terhadap maalah tersebut.

       Ada beberapa pedoman penggunaan bahasa ragam jurnalistik yang dapat
dijadikan pertimbangan dalam merumuskan standardisasi Bahasa Indonesia di
media massa :

1. Batasi penulisan akronim, kecuali yang sudah populer dimasyarakat. Akronim
yang belum populer harus dijelaskan kepanjangannya dalam tanda kurung pada
kesempatan pertama.

2. Jangan menghilangkan imbuhan kecuali dalam judul. Memenggal awalan dapat
dilakukan dalam penulisan judul, jika karena keterbatasan ruangan (kolom) atau
judul lebih atraktif (lebih hidup), sebagai contohnya boleh ditulis ”Spanyol
Tundukkan Jerman 2-1 ” namun dalam berita atau artikel ditulis menundukkan.

3. Tulis kalimat-kalimat dalam berita secara pendek-pendek, namun jelas mana
unsur S,P,O,K. Jadikan pedoman atau gagasan dalam satu kalimat.

4. Jauhkan dari penulisan ungkapan klise yang sering digunakan dalam transisi
berita atau daam penggantia alenia. Contoh : Sementara itu, dapat ditambahkan,
perlu diketahui.

5. Hindari penulisan kata mubadzir.

6. Hindari kata asing dari istilah yang terlalu teknis-ilmiah dalam kalimat berita,
kalau terpaksa kata itu harus disertai penjelas.

7. Pemilihan dan penggunaan kata atau istilah harus disesuaikan dengan logika.
Contoh :-Kapan digunakan kata atau istilah demilian ujarnya atau ungkapnya.

           -Kapan digunakan kata-kata demikian kilahnya.

8. Penulisan kata-kata dalam kalimat langsung dapat disesuaikan dengan kata-kata
lisan yang diucapka narasumber. Namun, jka dalam kata-kata narasumber itu ada
yang salah dari kaidah bahasa yang benar, penyunting berhak memperbaikinya.

2. Peran Jurnalisme dalam membangun Bahasa (Nasionalime)

          Peranan jurnalisme begitu besar terhadap pemakaian bahasa Indonesia.
Amatilah jika penyiar kita membawakan acara-acara di TV kita. Bukan hanya
penampilannya yang terkesan global, bahkan cara membawakan bahasanya pun
cenderung bermuatan asing yang sering melanggar aturan-aturan bahasa kita,
termasuk intonasinya, jika diteliti dengan cermat. Oleh karena itu, banyak
pelanggaran dalam bidang jurnalistik dalam pemakaian bahasa. Disamping itu,
dampak positif yang saya lihat, bahasa Indonesia diperkaya dengan berbagai
konsep baru dari luar yang kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, atau jika
menemui kesulitan, kata-kata asing yang mengandung konsep baru itu kita ambil
alih dan kita sesuaikan dengan bahasa kita. Atau dengan kata lain menjadi kata
serapan. Proses tersebut tidak selalu nyaman. Begitu juga dalam dunia politik,
terkadang terjadi benturan sosial yang dapat membahayakan stabilitas nasional.
Debat tentang proses modernisasi memang tidak pernah berhenti. Di sinilah letak
pentingnya bahasa yang bisa menjamin interaksi positif antara berbagai kelompok
politik. Maka dalam bidang politik, menjadi keharusan bagi pihak-pihak yang
bersangkutan untuk menguasai apa yang disebut bahasa politik agar tidak terjadi
kesimpangsiuran pengertian. Dari sini kita bisa lihat betapa pentingnya peran
bahasa.

          Peranan jurnalisme khususnya media massa dan media tertulis perlu
ditingkatkan. Kesadaran dan taggung jawab para wartawan terhadap Bahasa
Indonesia dan Berbahasa Indonesia harus ditingkatkan. Seperti diketahui, hasil
karya seorang wartawan menjadi anutan pemakai bahasa sehingga dengan
demikia dapat dikatakan. ”Sebenarnya wartawan tampil sebagai perusak bahasa”
dapat dihindari.”

       Peran jurnalisme tidak dapat disangkal bahwa jurnalisme memberikan
andil bagi pengembangan Bahasa Indonesia. Kata dan istilah baru, baik bersumber
dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, pada umumnya lebih awal dipakai
oleh media massa. Media massa memang memiliki kelebihan. Disamping
memiliki jumlah pembaca yang banyak, media memiliki pengaruh besar
dikalangan masyarakat. Oleh karena itu, media massa merupakan salah satu mitra
kerja yang penting dalam pelancaran dan penyebaran informasi tentang bahasa.
Seiring dengan itu, pembinaan Bahasa Indonesia dikalangan media massa mutlak
dipergunakan untuk menangkal informasi yang menggunakan kata dan istilah
yang menyalahi kaidah kebahasaan. Kalangan media massa harus diyakinkan
bahwa mereka juga pembinaan bahasa seperti kita.

       Keberadaan media massa merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan
sebaik-baiknya. Pers sebaiknya memuat ulasan atau menyediakan ruang
pembinaan Bahasa Indonesia sebagai upaya penyebaran pembakuan yang telah
disepakati bersama. Disamping itu pers diharapkan mampu mensosialisasikan
hasil-hasil pembinaan dan pangembangan bahasa. Dan mampu menjadi contoh
yang baik bagi masyarakat dalam hal pemakaian bahasa indonesia yang baik dan
benar. Harapan ini sangat munkin bisa direalisasika karena pers telah memiliki
Pedoman Penulisan Bahasa dalam Pers. Melihat perkembangan pers saat ini
banyak hal yang memprihatinkan, khususnya dalam etika berbahasa. Hampir
setiap hari berbagai hujatan dan ejekan keras terus diarahkan kepada para pejabat
dengan berbagai masalah yang menimpa mereka saat berkuasa. Dengan berpijak
pada istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), pers dengan leluasa
memberikan opini dengan pernyataan-pernyataan yang bernada menghakimi
oknum yang bersangkutan. Bahasa yang terkesan kasar ini jika terus menerus
mewarnai pers, tentu akan berpengaruh negatif pada pembinaan dan
pengembangan Bahasa Indonesia, karena masyarakat luas akan dengan mudah
menirukannya.
       Peran jurnalisme dalam hubungannya dengan pengembangan Bahasa
Indonesia dapat terlihat dalam penggalian dan penyebarluasan bahasa dari bahasa
daerah. Sehingga penggalian bahasa daerah kedalam bahasa indonesia itu akan
memperkaya kosa kata bahasa asing selama pengungkapan bahasa daerah tersebut
belum terdapat dalam kosa kata Bahas Indonesia. Pengambilan kosa kata bahasa
daerah tersebut aka memperkaya Bahasa Indonesia. Misalnya : Kata ngaben ,
kahanan, gambut, mandau, pura,dan galungan. Dengan kata lain media massa
memiliki peran penting dalam pengayaan kosa kota Bahasa Indonesia. Sekaligus
menyebarluaskan kemasyarakat Indonesia luar wilayah.

       Jurnalisme menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana untuk
menyampaikan berita, informasi, iklan, opini dan artikel kemasyarakat pembaca.
Secara tidak langsung, media massa merupakan media pendidikan bagi warga
masyarakat dalam Berbahasa Indonesia . Misalnya : Kata ”anda” yang digunakan
untuk memperkaya kata ganti orang kedua. Dalam pembinaan, media massa
menjadi guru bagi masyarakat pembacanya terutama dalam pembiasaan diri
menggunakan Bahasa Indonesia.

       Jurnalisme memainkan peran dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa
Indonesia khususnya dalam kegiatan berkomunikasi menggunakan Bahasa
Indonesia. Media massa menyajikan berita dalam Bahasa Indonesia secara tidak
langsung mengharuskan masyarakat untuk belajar Bahasa Indonesia. Mengingat
peranan yang sangat strategis tersebut media massa diharapkan menggunakan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan tetap melihat pada standardisasi
dalam penulisan di media massa. Informasi yang diperoleh melalui berbagai
media massa memegang peranan sangat penting dalam membentuk sikap mental
masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan
umumnya dan terhadap kesadaran untuk aktif menjaga kelestarian Bahasa
Indonesia.

3. Kode Etik Jurnalistik
           Jurnalistik merupakan salah satu profesi yang ada di tengah masyarakat.
Profesi ini merupakan bidang yang menarik dengan privilege yang luas serta
memiliki peran dan pengaruh yang besar. Jurnalistik bisa menjadi pengawas
pemerintahan dan bahkan bisa masuk ke ranah yang sensitif. Realitas yang telah
dikonstruksi jurnalis mampu memunculkan opini publik dan menggiring
perspektif masyarakat. Karena itu, profesi jurnalistik juga memiliki kode etik.

           Kode etik jurnalistik dibuat untuk menjaga standar kualitas dari para
pekerja media dalam menjalankan pekerjaannya agar tidak salah langkah,
profesional, dan bertanggung jawab. Etika jurnalistik sekaligus pula untuk
melindungi masyarakat luas dari kemungkinan timbulnya dampak negatif dari
kontruksi realitas para pekerja media, sehingga integritas dan reputasinya tetap
terjaga.

           Kode etik jurnalistik disusun oleh organisasi profesi jurnalistik yang ada.
Organisasi profesi jurnalistik yang tercatat di Dewan Pers pada 2008 berjumlah
29. Organisasi tersebut seperti Aliansi Jurnalistik Independen (AJI), Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Aliansi
Jurnalistik Indonesia (ALJI). Kode etik juga bisa disusun oleh institusi media,
sehingga kode etik tersebut khusus mengikat jurnalis yang bekerja di instansi
tersebut. Selain kode etik, institusi media juga merumuskan aturan perilaku.

           Meskipun ada berbagai rumusan kode etik, namun isinya tidak jauh
berbeda. Dalam kode etik jurnalistik, umumnya jurnalis tidak diperkenankan
menulis berita bohong, fitnah, menjiplak, dan menerima sogokan. Untuk lebih
memperkuat rambu-rambu bagi pekerja media, pada 6 Agustus 2009, 26
organisasi wartawan Indonesia menyusun Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI)
bersama-sama. Selain itu, di tingkat nasional terdapat Dewan Pers[6] yang juga
mempunyai kode etik jurnalistik.

           Masing-masing organisasi wartawan memiliki badan yang bertugas
mengawasi pelaksanaan kode etik. Badan ini juga bertugas mengumpulkan bukti
apabila terjadi pelanggaran kode etik jurnalistik, hingga permintaan penjatuhan
sanksi atau pemulihan nama baik kepada pengurus. Di AJI badan yang mengurusi
pengawasan pelaksanaan kode etik adalah Majelis Kode Etik, sedangkan di PWI
adalah Dewan Kehormatan PWI. Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik
jurnalistik dilakukan Dewan Pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik
dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.

       Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia
yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk
memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan
meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan
pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa,
tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.


       Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers
menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan
terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan
memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan
Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman
operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta
profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati
Kode Etik Jurnalistik:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat,
berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Penafsiran
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati
nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk
pemilik perusahaan pers.
b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c.   Berimbang       berarti   semua   pihak    mendapat     kesempatan     setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata
untuk menimbulkan kerugian pihak lain.
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan
tugas jurnalistik.
Penafsiran
Cara-cara yang profesional adalah:
a. Menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. Menghormati hak privasi;
c. Tidak menyuap;
d. Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. Rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara
dilengkapi dengan keterangan tentang sumberdan ditampilkan secara berimbang;
f. Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto,
suara;
g. Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain
sebagai karya sendiri;
h. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita
investigasi bagi kepentingan publik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang,
tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas
praduga tak bersalah.
Penafsiran
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran
informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing
masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda
dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas
fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
Penafsiran
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan
sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat
buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar,
suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu
pengambilan gambar dan suara.
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban
kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku
kejahatan.
Penafsiran
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang
yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan
pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut
menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari
pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak
bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan
embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan
kesepakatan.
Penafsiran
a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan
narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan
permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber
yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak
boleh disiarkan atau diberitakan.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka
atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit,
agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah,
miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Penafsiran
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum
mengetahui secara jelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya,
kecuali untuk kepentingan publik.
Penafsiran
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya
selain yang terkait dengan kepentingan publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang
keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca,
pendengar, dan atau pemirsa.
Penafsiran
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun
tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabilakesalahan terkait dengan substansi pokok.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan
tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan
nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi
yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.
Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers.
Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan
dan atau perusahaan pers.

4. Undang-undang KUHP

       Perdebatan apakah UU Pers dapat digunakan sebagai lex specialis dari
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dalam kasus pencemaran nama
baik, penghinaan dan fitnah, masih terus berlangsung dan belum menemukan titik
temu. Sementara, jumlah jurnalis yang terkena jerat pasal itu kian bertambah.
Jurnalis dari beberapa media memang dijerat dengan pasal-pasal pidana dalam
KUHP, khususnya pasal pencemaran nama baik dan penghinaan akibat berita
yang ditulisnya. Hal itu, ditambah dengan "hujan" gugatan perdata pada media,
menyentakkan kalangan pers.

       Pendapat bahwa UU Pers merupakan merupakan lex specialis dari KUH
Pidana yaitu UU Pers merupakan lex specialis dari KUHP. Artinya, mereka yang
menjalankan tugas jurnalistik, tidak bisa dijerat dengan pasal-pasal pencemaran
nama baik dalam KUHP. Secara hukum, mereka mendasarkan pandangannya
pada pasal 50 KUHP. Pasal tersebut tmenyebutkan barangsiapa melakukan
perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana.
Sementara pasal 3 UU Pers menyatakan salah satu fungsi pers nasional adalah
melakukan kontrol sosial. Karena tugas jurnalistik yang dilakukan oleh insan pers
dianggap sebagai perintah Undang-undang Pers, maka jurnalis yang menjalankan
tugas jurnalistik itu tidak bisa dipidana.

       Argumen lain adalah pasal 310 KUHP yang menyatakan bahwa
pencemaran nama baik bukan pencemaran nama baik bila dilakukan untuk
kepentingan umum. Berdasarkan pasal 6 UU Pers, pers nasional melakukan
pengawasan, kritik, koreksi dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
kepentingan umum. Bila UU Pers digunaka, jika ada masyarakat yang merasa
dirugikan atau dicemarkan nama baiknya oleh pemberitaan pers, ia harus
menggunakan hak jawabnya dan pers wajib melayani hak jawab itu. Kalau pers
tidak mau memuat hak jawab tersebut, UU Pers mencantumkan ancaman denda
Rp500 juta. Kalau hak jawab sudah dilayani utuh, maka problem selesai, setelah
hak jawab digunakan, pihak yang dirugikan tidak dapat lagi mengajukan gugatan
perdata terhadap pers. Sebuah perbuatan, baik direstui oleh hukum, disuruh oleh
hukum, atau tidak dilarang oleh hukum, harus dilakukan sesuai dengan peraturan-
peraturan yang ada, sesuai dengan kepatutan dan tidak boleh melanggar hak orang
lain. "Kalau seorang polisi menindak seseorang, itu sesuai dengan hukum,
memang tugas dia untuk menindak seseorang. Tetapi jika ia pukuli orang itu
sampai pingsan, itu adalah melakukan sesuatu dengan dukungan UU untuk
merugikan orang lain. Jadi, tidak bisa kita mengatakan ada pasal yang menyuruh
kita melakukan pekerjaan ini, titik. Tidak bisa, mesti melakukannya sesuai
kehendak hukum juga," papar pendiri kantor pengacara Makarim Taira ini.

       Saat ini pasal-pasal pencemaran nama baik dan penghinaan dalam KUHP
masih berlaku, maka yang seharusnya yang dilakukan adalah mengubah KUHP.
Mengubah KUHP akan membawa kemaslahatan pada seluruh bangsa Indonesia,
ketimbang menyatakan UU pers sebagai lex specialis, yang hanya bermanfaat
bagi kalangan pers saja. "Alangkah tidak simpatiknya kalau seandainya pers
hanya memikirkan diri sendiri. sehingga seandainya anggota pers melakukan
sesuatu perbuatan yang bisa dihukum, ia kemudian boleh menggunakan hak
jawab tapi kalau warga negara Indonesia yang lain melakukan, ia masuk penjara.
Sehingga yang mesti dilakukan oleh kalangan pers, adalah seperti apa yang telah
mereka lakukan selama ini, yaitu membela masyarakat. Dengan menghapus
ketentuan-ketentuan pidana yang mengkriminalisasi kebebasan berekspresi,
termasuk pasal-pasal pencemaran nama baik, maka peraturan di Indonesia akan
mengarah pada perangkat peraturan masyarakat beradab.

       Kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi masyarakat merupakan
tindakan masyarakat yang tidak beradab. Namun, meski melakukan pekerjaan
dalam rangka menjalankan peraturan perundang-undangan--seperti dinyatakan
dalam pasal 50 KUHP--tidak berarti jurnalis dapat semena-mena menabrak
peraturan perundang-undangan yang lain. Sewaktu menjalankan tugas jurnalistik,
wartawan terikat pada UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Ini sesuai dengan pasal
7 ayat 2 UU Pers yang menyatakan bahwa wartawan harus memiliki dan menaati
kode etik. Kode etik menyatakan bahwa wartawan tidak boleh membuat berita
yang memfitnah dan tidak berimbang. "Apa yang diatur dalam kode etik adalah
bagian utuh dari UU Pers. UU Pers satu paket dengan Kode Etik.”

       Apalagi dalam penjelasan UU Pers disebutkan bahwa Pers harus
mengormati hak asasi orang lain Oleh sebab itu, dalam menjalankan tugasnya,
pers harus profesional, dan dalam hal etika dan pers harus selalu dapat dikontrol
oleh masyarakat. Bentuk kontrol pers adalah jaminan hak jawab dan hak koreksi
bagi orang yang dirugikan oleh pemberitaan, media watch, dan dewan pers.
Pengaturan terhadap pers memang harus eksklusif dan berbeda dengan aturan bagi
masyarat umum. Pasalnya, pekerjaan jurnalistik adalah bersifat self regulatory,
sehingga untuk menjalankan tugasnya ia harus dilindungi dengan ketentuan
khusus. Berbeda dengan KUHP, paradigma UU Pers adalah tidak memenjarakan
wartawan. "Kalau pakai KUHP itu sudah aturan publik, padahal kerja-kerja
jurnalistik adalah self regulatory. Wartawan nyolong, sikat dengan KUHP, tapi
waktu ia menjalankan tugas jurnalistik, harus diselesaikan dengan cara-cara
jurnalistik.” Masalahnya, selama ini dalam beberapa tafsir KUHP, ketentuan pasal
50 itu ditafsirkan hanya untuk pegawai negeri, khususnya polisi atau jaksa. Yang
dimaksud menjalankan perintah undang-undang dalam pasal 50 KUHP adalah
pegawai negeri. "Pegawai negeri yaitu orang yang diangkat oleh negara atau
bagian dari negara untuk melakukan jabatan umum dari negara atau bagian dari
negara itu.”


                               C. KESIMPULAN

       Jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan
melaporkan peristiwa. Sehingga ada sebuah usaha untuk mentransformasi
informasi seaktual mungkin seobyektif mungkin, walaupun tidak lepas dari
ideologi dan karakter si penulis berita.
       Dalam perkembangan Bahasa Indonesia, jurnalisme mempunyai beberapa
peranan antara lain, memperkaya kosakata Bahasa Indonesia penggunaan
kosakata daerah, sebagai media pendidikan bagi warga masyarakat dalam
Berbahasa Indonesia, dan sebagai media pembelajaran bagi warga masyarakat
dalam berkomunkasi melalui Bahasa Indonesia.
       Kode etik jurnalistik dibuat untuk menjaga standar kualitas dari para
pekerja media dalam menjalankan pekerjaannya agar tidak salah langkah,
profesional, dan bertanggung jawab.
       UU Pers merupakan lex specialis dari KUHP. Artinya, mereka yang
menjalankan tugas jurnalistik, tidak bisa dijerat dengan pasal-pasal pencemaran
nama baik dalam KUHP. Secara hukum, mereka mendasarkan pandangannya
pada pasal 50 KUHP. Pasal tersebut tmenyebutkan barangsiapa melakukan
perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana.
Sementara pasal 3 UU Pers menyatakan salah satu fungsi pers nasional adalah
melakukan kontrol sosial. Karena tugas jurnalistik yang dilakukan oleh insan pers
dianggap sebagai perintah Undang-undang Pers, maka jurnalis yang menjalankan
tugas jurnalistik itu tidak bisa dipidana.




                                       TUGAS
  EXPLANATORY AND HOW TO DO FEATURE “KESEGARAN DAN
                          KHASIAT WEDANG UWUH”
   WAWANCARA WIRAUSAHA “WIRAUSAHA PRODUKSI MIE 99”
MAKALAH “PERAN JURNALISTIK DALAM MEMBANGUN BAHASA”
Diajukan sebagai syarat kelulusan tugas “Ragam Bahasa Jurnalistik”
                 Dosen Pengampu: Bapak Ari wibowo


                              Oleh
                NAMA : ARIESTY FUJIASTUTI
                NIM   : 08003053
                KELAS : A / PBSI / SEMESTER III



  PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
              UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
                        YOGYAKARTA
                              2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:14
posted:7/16/2013
language:Unknown
pages:31