Beberapa contoh bank umum syariah antara lain Bank Syariah Mandiri by DeborahWashington78

VIEWS: 0 PAGES: 34

									                                          BAB II

                               LANDASAN TEORI



II.1    Pengertian Perbankan

        Kasmir (2007: 23), menjelaskan pengertian perbankan adalah lembaga

keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan dan deposito.

Kemudian bank juga dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi

masyarakat yang membutuhkannya. Disamping itu bank juga dikenal sebagai tempat

untuk menukar uang, memindahkan uang atau menerima segala macam bentuk

pembayaran dan setoran seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak, uang kuliah

dan pembayaran lainnya.

       Menurut undang-undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998

tentang perbankan, yang dimaksud dengan BANK adalah “ badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada

masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.



II.1.1 Fungsi Bank

        Menurut Triandaru dan Budisantoso dalam buku yang berjudul Bank dan

Lembaga Keuangan Lain (2008:9), fungsi utama bank ialah menghimpun dana dari

masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat, tetapi secara lebih

spesifik bank dapat berfungsi sebagai :

   1. Agent of trust

        Dasar utama kegiatan perbankan ialah kepercayaan (trust), baik dalam hal

        penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Masyarakat harus percaya



                                            9
       bahwa uangnya tidak akan disalahgunakan oleh bank dan uang masyarakat

       akan dikelola dengan baik. Pihak bank juga percaya pada debitor, bahwa

       debitor akan mengelola dana pinjaman dengan baik dan mempunyai

       kemampuan untuk membayar padasaat jatuh tempo.

   2. Agent of development

       Kegiatan perekonomian masyarakat di sektor moneter dan di sektor rill tidak

       dapat dipisahkan karena selalu berinteraksi dan saling mempengaruhi.

       Kegiatan bank berupa penghimpunan dana dan penyaluran dana sangat

       diperlukan   bagi   lancarnya   perekonomian    di   sektor   rill   sehingga

       memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan investasi, distribusi dan

       konsumsi.    Kelancaran   kegiatan-kegiatan    tersebut   adalah     kegiatan

       pembangunan perekonomian suatu masyarakat.

   3. Agent of service

       Di samping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, bank

       juga memberikan penawaran jasa perbankan yang lain kepada masyarakat.

       Seperti jasa pengiriman uang, jasa penitipan barang berharga, pemberian

       jaminan bank, dan penyelesaian tagihan.



II.2   Sejarah Bank Syariah Di Indonesia

       Bank syariah pertama di Indonesia lahir sejak 1992. Bank syariah pertama di

Indonesia adalah Bank Muamalat Indonesia. Pada tahun 1992 hingga 1999,

perkembangan Bank Muamalat Indonesia,masih tergolong stagnan. Namun sejak

adanya krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997 dan 1998, maka pihak

regulator termasuk Bank Indonesia melihat bahwa Bank Muamalat Indonesia (BMI)

tidak terlalu terkena dampak krisis moneter, dikarenakan tidak adanya negative


                                                                                 10
spread. Regulator berpendapat bahwa BMI sebagai satu-satunya bank syariah di

Indonesia saat itu, tahan terhadap krisis moneter. Pada tahun 1999, berdirilah Bank

Syariah Mandiri yang merupakan konversi dari Bank Susila Bakti, Bank Susila Bakti

merupakan bank konvensional yang dibeli oleh Bank Dagang Negara, kemudian

dikonversi menjadi Bank Syariah Mandir, bank syariah kedua di Indonesia.

       Bank umum syariah adalah bank syariah yang berdiri sendiri sesuai dengan

akta pendiriannya, bukan merupakan bagian dari bank konvensional. Beberapa

contoh bank umum syariah antara lain Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat

Indonesia, Bank Syariah Mega, Bank Syariah Bukopin, Bank BCA Syariah, dan

Bank BRI Syariah.

       Unit usaha syariah adalah unit kerja dari kantor pusat bank konvensional

yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan

kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja dikantor cabang dari suatu

bank yang berkedudukan diluar negeri yang melaksanakan usaha secara

konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu

syariah dan atau unit syariah. Contoh unit usaha syaria antara lain BNI Syariah, Bank

Permata Syariah,BII Syariah dan Bank Danamon Syariah.



II.2.1 Pengertian Bank Syariah

        Menurut Triandaru, Budisantoso (2008:153), Bank syariah bank yang dalam

aktivitasnya, baik penghimpun dana maupun dalam rangka penyaluran dananya

memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli atau

bagi hasil.

        Undang-Undang Perbankan Syariah No.21 tahun 2008 menyatakan bahwa

perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan


                                                                                   11
unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usahanya. Bank syariah adalah

bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS), dan bank pembiayaan rakyat

syariah (BPRS).

II.2.2 Prinsip Bank Syariah

       Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah dalam penentuan harga

produknya sangat berbeda dengan bank berdasarkan prinsip konvensional. Bank

berdasarkan prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara

bank dengan pihak lain untuk mentimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan

perbankan lainnya.

       Dalam menentukan harga atau mencari keuntungan bagi bank yang

bedasarkan prinsip syariah adalah sebagi berikut :

           1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah)

           2. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah)

           3. Prinsip jual beli barang denga memperoleh keuntungan (murabahah)

           4. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan

               (ijarah)

           5. Dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang

               disewa dari pihak bank dan oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

II.2.3 Akad Bank Syariah

   1. Al- wadi’ah

       merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan

       maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si

       penitip menghendaki.




                                                                                12
2. Al-musyarakah

   Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk

   melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak memberikan dana atau amal

   dengan kesepakatan bahwa keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama

   sesuai dengan kesepakatan.

3. Al- mudharabah

   Pengertian AI-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, di mana

   pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola.

   Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.

   Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan

   akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian

   pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab.

4. Bai'al Murabahah

   Bai'al-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan

   tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih

   dulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang

   diinginkannya.

5. Bai’ Al istishna

   Bai' Al istishna' adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen

   (pembuat barang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat

   lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga dapat

   dilakukan tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka

   atau secara angsuran per bulan atau di belakang.




                                                                          13
     6. Al-Ijarah

        Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa,

        melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan

        kepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan

        oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun

        financial lease.

     7. Ar-rahn

        Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam

        sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini

        dilakukan seperti jaminan utang atau gadai.

II.2.4 Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

No.               Bank Syariah                   No.              Bank Konvensional
 1     Investasi hanya untuk proyek dan           1      Investasi, tidak
       produk halal serta                                mempertimbangkan halal atau
       menguntungkan.                                    haram asalkan proyek yang
                                                         dibiayai menguntungkan
 2     Return yang dibayar dan/atau               2      Return baik yang dibayar kepada
       diterima berasal dari bagi hasil                  nasabah penyimpan dana dan
       atau pendapatan lainnya                           return yang diterima dari nasabah
       berdasarkan prinsip syariah.                      pengguna dana berupa bunga
 3     Perjanjian dibuat dalam bentuk             3      Perjanjian menggunakan hukum
       akad sesuai dengan syariah islam                  positif.
 4     Orientasi pembiayaan, tidak                4      Orientasi pembiayaan, untuk
       hanya untuk keuntungan akan                       memperoleh keuntungan atas dana
       tetapi juga falah-oriented, yaitu                 yang dipinjamkan
       berorientasi pada kesejahteraan
       masyarakat.
 5     Hubungan antara bank dan                   5      Hubungan anatara bank dan
       nasabah adalah mitra                              nasabah adalah kreditor dan
                                                         debitur.
 6     Dewan pengawas terdiri dari BI,            6      Dewan pengawas terdiri dari BI,
       Bapepam, Komisaris, dan Dewan                     Bapepam, dan Komisaris
       Pengawas Syariah(DPS)
 7     Penyelesaian             sengketa,         7      Penyelesaian sengketa melalui
       diupayakan, diselesaikan secara                   pengadilan negeri setempat.
       musyawarah antara bank dan
       nasabah, melalui peradilan agama
Sumber : Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan (2006)


                                                                                       14
II.3   Mudharabah

       Mudharabah adalah bentuk kontrak antara 2 pihak dimana satu pihak

berperan sebagai pemilik modal dan mempercayakan seluruh modalnya untuk

dikelola oleh pihak kedua, yaitu pelaksana usaha, dengan tujuan untuk mendapatkan

keuntung.

       Mudharabah dalam PSAK 105 adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak

dimana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak

kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi

diantara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian financial hanya ditanggung

oleh pengelola dana.

II.3.1 Jenis-Jenis Mudharabah

   1. Mudharabah Muthlaqah

            Mudharabah Muthlaqah merupakan akad perjanjian antara dua pihak

       yaitu shahibul maal dan mudharib, yang mana shahibul maal menyerahkan

       sepenuhnya atas dana yang diinvestasikan kepada mudharib untuk mengelola

       usahanya sesuai dengan prinsip syariah.

            Mudharabah Mutlaqah dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan

       Syariah   diterjemahkan     menjadi   “Investasi   Tidak   Terikat”   untuk

       penghimpunan dana dan “Pembiayaan Mudharabah” untuk penyaluran dana.

       Karena banyak menimbulkan salah pengertian “Investasi Tidak Terikat” yang

       berada pada posisi pasiva maka dalam PSAK Syariah yang baru istilah

       tersebut disempurnakan menjadi “Investasi Mudharabah”.

            Dalam PSAK 105 Mudharabah mutlaqah adalah Mudharabah dimana

       pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam

       pengelolaan investasinya.


                                                                               15
2. Mudharabah Muqayyadah

      Mudharabah Muqayyadah adalah merupakan akad kerja sama usaha

  antara dua pihak yang mana pihak pertama sebagai pemilik dana (shahibul

  maal) dan pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib). Shahibul maal

  menginvestasikan dana kepada mudharib, dan memberikan batasan atas

  penggunaan dana yang diinvestasikannya. Batasannya antara lain tentang:

  a. Tempat dan cara berinvestasi

  b. Jenis investasi

  c. Objek investasi

  d. Jangka waktu

      Mudharabah Muqayyadah dalam PSAK 59 maupun PSAK 105

  diterjemahkan     sebagai   “Investasi   Terikat”,   apabila   pemilik   dana

  (shahibulmaal) memberikan syarat-syarat tertentu kepada mudharib dalam

  pengelolaan dana. Dalam Mudharabah Muqayyadah pemilik modal mengikat

  pelaksanaan untuk berdagang dinegeri tertentu atau tempat tertentu atau

  waktu tertentu. Atau pemodal menekankan pada pelaksanaan untuk tidak

  membeli atau menjual kepada orang tertentu.

      Dalam PSAK 105 Mudharabah Muqayyadah adalah Mudharabah dimana

  pemilik modal memberikan batasan kepada pengelola dana, anatara lain

  mengenai tempat, cara, dan atau objek investasi.

      a. Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet

              Merupakan akad Mudharabah Muqayyadah yang mana mudharib

          ikut menanggung resiko atas kerugian dana yang diinvestasikan oleh

          shahibul maal.




                                                                            16
      Misalnya, nasabah menempatkan dananya dalam bentuk deposito

   Mudharabah     Muqayyadah     on    Balance    Sheet   sebesar   Rp

   1.000.000.000,- untuk proyek pembangunan jalan tol, dalam waktu 10

   tahun. Maka batasan yang diberikan oleh nasabah yaitu terkait dengan

   proyek usaha dan jangka waktunya. Bank syariah akan melakukan

   investasi atas dana Rp 1.000.000.000,- khusus untuk melakukan

   investasi proyek jalan tol dalam jangka waktu tidak boleh lebih dari

   10 tahun. Bagi hasil yang akan diperoleh shahibul maal, berasal dari

   pendapatan yang diperoleh mudharib. Bagi hasil ini harus dipisahkan

   dari bagi hasil atas transaksi Mudharabah Muthlaqah.

b. Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet

      Merupakan akad Mudharabah Muqayyadah yang mana pihak

  shahibul maal memberikan batasan yang jelas, baik batasan tentang

  proyek yang diperbolehkan, jangka waktu, serta pihak-pihak

  pelaksana pekerjaan.

      Contoh : pak Budi menanam dana di Bank XYZ dalam bentuk

  deposito mudharabah sebesar Rp 500.000.000 dengan akad

  mudharabah muqayyadah untuk disalurkan dalam pembiayaan

  perkebunan. Dari pembiayaan tersebut pendapatan yang dihasilakan

  adalah sebesar Rp 2.500.000. maka berapakah pendapatan pak Budi

  dari dana yang ditanamkan pada bank tersebut? Nisbah bagi hasil

  untuk nasabah adalah 35:65 dan bobotnya adalah 0.85




                                                                    17
           Jawab:

            Dana nasabah                   : Rp 500.000.000

            Dana yang dapat disalurkan : Rp 0.85 x 500.000.000

                                              Rp 425.000.000

            Dana bank                       :0

            Pendapatan dari pembiayaan : Rp 2.500.000

            Maka:

            Pendapatan tiap 1000 dana nasabah :

                                                          1
            Rasio dana terpakai x keuntungan x ���������������� ������������������������ℎ x 1000

            475.000.000 × 2.500.000 ×      1
            500.000.000               500.000.000 × 1000 = 4.5



            Pendapatan yang akan diterima oleh nasabah :

            4.5 × 35%500.000.000 = 787.500
                        1000

            Jadi pendapatan yang akan diterima oleh Pak Budi adalah sebesar Rp 787.500




II.3.2 Tabungan Mudharabah

       Merupakan       produk       penghimpunan          dana     oleh        bank   syariah   yang

menggunakan akad mudharabah muthlaqah. Bank syariah akan membayar bagi hasil

kepada nasabah setiap akhir bulan, sebesar nisbah yang telah diperjanjikan padasaat

pembukuan rekening tabungan mudharabah. Perubahan bagi hasil ini disebabkan

karena fluktuasi pendapatan bank syariah dan fluktuasi dana tabungan nasabah.

Tabungan dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1.   Tabungan yang tidak dibenarkan secara syariah, yaitu tabungan yang

     berdasarkan perhitungan bunga.

2. Tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip

     mudharabah dan wadi’ah



                                                                                                 18
           Perhitungan bagi hasil tabungan mudharabah berdasarkan saldo rata-rata

harian yang dihitung ditiap akhir bulan dan dibuku awal bulan berikutnya. Rumus

perhitungan bagi hasil tabungan mudharabah adalah

���������������� ���������������� �������������������� × �������������������� ���������������� ‒ ���������������� ℎ�������������������� × ���������������������������� ���������������� ℎ����������������
                          ℎ������������ �������������������������������� ���������������� ������������������������������������������������




           Dalam meperhitungkan bagi hasil tabungan Mudharabah tersebut, hal-hal

yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

     Hasil perhitungan bagi hasil dalam angka satuan bulat tanpa mengurangi hak

      nasabah

      - Pembulatan keatas untuk nasabah

      - Pembulatan kebawah untuk bank

     Hasil perhitungan pajak dibulatkan keatas sampai puluhan terdekat

           Dalam hal pembayaran bagi hasil, bank syariah menggunakan metode end of

month, yaitu:

       - Pembayaran bagi hasil tabungan mudharabah dilakukan secara bulanan, yaitu

             pada tanggal tutup buku setiap bulan.

       - Bagi hasil bulan pertama dihitung secara prporsional hari efektif termasuk

             tanggal tutup buku, tapi tidak termasuk tanggal pembukuan tabungan.

       - Bagi hasil bulan terakhir dihitung secara proporsional hari efektif. Tingkat

             bagi hasil yang dibayarkan adalah tingkat bagi hasil tutup buku bulan

             terakhir.

       - Jumlah hari sebulan adalah jumlah hari kalender bulan yang bersangkutan (28

             hari, 29 hari, 30 hari, 31 hari).

       - Bagi hasil bulanan yang diterima nasabah yang dapat dialifiliasikan ke

             rekening lainnya sesuai permintaan nasabah.
                                                                                                                19
II.3.2.1 Perbandingan Tabungan Wadi’ah dan Mudharabah

NO                                Tabungan Mudharabah          Tabungan Wadi’ah
 1    Sifat Dana                  Investasi                    Titipan
 2    Penarikan                   Hanya dapat dilakukan pada   Dapat dilakukan setiap saat
                                  periode/ waktu tertentu
 3    Insentif                    Bagi hasil                   Bonus (jika ada)
 4    Pengembalian Modal          Tidak dijamin dikembalikan   Dijamin dikembalikan 100%
                                  100%
Sumber: Akad & Produk Bank Syariah (2008)

II.3.3 Deposito Mudharabah

        Deposito Mudharabah merupakan dana investasi yang ditempatkan oleh

nasabah yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan penarikannya hanya

dapat dilakukan pada waktu tertentu, sesuai dengan akad perjanjian yang dilakukan

oleh pihak bank dan nasabah.

        Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan

deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada

waktu-waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang

bersangkutan.

        Deposito, menurut Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 adalah investasi dana

berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip

syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan

akad antara nasabah penyimpan dan bank syariah.

II.3.3.1 Kewenangan yang Diberikan Oleh Pihak Pemilik Dana

     1. Mudharabah Mutlaqah (Unrestricted Investement Account, URIA)

               Deposito      Mudharabah     Mutlaqah     (URIA),     pemilik      dana       tidak

        memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam

        mengelola investasinya, baik yang berkaitan dengan tempat, cara maupun

        objek investasinya.



                                                                                               20
        Dalam menghitung bagi hasil deposito Mudharabah Mutlaqah (URIA),

basis perhiungan adalah hari bagi hasil sebenarnya, termasuk tanggal tutup

buku, namun tidak termasuk tanggal pembukuan deposito Mudharabah

Mutlaqah (URIA) dan tanggal jatuh tempo.

        Rumus perhitungan bagi hasil deposito Mudharabah Mutlaqah (URIA)

adalah

ℎ������������ ���������������� ℎ���������������� × ���������������������������� �������������������������������� × ���������������������������� ���������������� ℎ����������������
                  ℎ������������ �������������������������������� ���������������� ������������������������������������������������



Pencairan deposito Mudharabah Mutlaqah (URIA) dengan pembayaran bagi

hasil bulanan yang dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo, bank syariah akan

memberikan denda (penalty) sebesar 3% dari nominal bilyet deposito

Mudharabah Mutlaqah (URIA).

        Contoh perhitungan bagi hasil deposito Mudharabah Mutlaqah (URIA)

yang dicairkan sebelum tanggal jatuh tempo dengan sistem bulanan adalah

    Jangka waktu : 3 bulan (02-01-2004 s.d 02-04-2004)

    Nominal deposito Mudharabah Mutlaqah : Rp 100..000.000

    Deposito mudharabah Mutlaqah dicairkan

     Tanggal : 10-03-2004

    Tingkat bagi hasil tutup buku terakhir pada bilyet

     Deposito Mudharabah Mutlaqah (Feb 2004) : 1% (1 tahun 12%)

    Deposito Mudharabah Mutlaqah : 10-03-2001




Perhitungan bagi hasil denda (penalty) dan jumlah nominal yang dibayarkan

kepada deposan adalah sebagai berikut :

                                                                                                   21
    Hari bagi hasil                          perhitungan                                                   Keterangan
    Bagi hasil bulan        Bagi hasil:
         maret              Rp 100.000.000 x 1% x 9/31 = Rp 290.323

   Bagi hasil tanggal       Pajak :
     01/03/2004             20% x Rp 290.323 = Rp 58.065                                                   Dibayarkan
        sampai
     10/03/2004             Bagi hasil yang dibayarkan kepada deposan :
                            Rp 290.323 + Rp 58.065 = Rp 232.258
    Penalty 3% dari         3% x Rp 100.000.000 = Rp 3.000.000                                            Dibebankan
     nominal bilyet                                                                                         nasabah
     Yang diterima                                                                                        Dibayarkan
   nasabah pada saat        Rp 100.000.000 – Rp 3.000.000 = Rp 97.000.000                               sejumlah bilyet
   pencairan tanggal                                                                                   setelah dikurangi
      10/03/2004                                                                                            penalty



2. Mudharabah Muqayyadah (Restricted Investement Account, RIA)

         Deposito Mudharabah Muqayyadah (RIA), pemilik dana memberikan

   batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam mengelola

   investasinya,        yang        berkaitan           dengan           tempat,         cara,        maupun           objek

   investasinya.

         Menggunakan dana deposito Mudharabah Muqayyadah (RIA), terdapat

   2 metode, yakni :

   1. Cluster Pool Of Fund

           Merupakan penggunaan dana untuk beberapa proyek dalam suatu

       jenis industri bisnis. Pembayaran bagi hasil deposito mudharabah

       muqayyadah (RIA) dilakukan secara bulanan, triwulan, semesteran atau

       periodisasi laion yang disepakati.

           Dalam memperhitung bagi hasil cluster pool of fund, bank syariah

       bisa menggunakan rumus sebagai berikut :

            ℎ������������ ���������������� ℎ���������������� ���� ���������������������������� �������������������������������� ������������������������������������ℎ (������������)���� ���������������������������� ���������������� ℎ����������������
                                              ℎ������������ �������������������������������� ���������������� ������������������������������������������������



   2. Specific Product



                                                                                                                            22
                Merupakan         penggunaan               dana         untuk         suatu        proyek          tertentu.

             Pembayaran bagi hasil disesuaikan dengan arus kas proyek yang dibiayai.

             Dalam hal nominal proyek yang dibiayai oleh lebih dari satu nasabah atau

             oleh bank dan nasabah, maka bagi hasil dihitung secara proporsional.

                Dalam melakukan perhitungan bagi hasil deposito, basis perhitungan

             hari bagi hasil deposito adalah hari tanggal pembukuan deposito sampai

             dengan tanggal pembayaran bagi hasil terdekat, dan menjadi angka

             pembilang atau number of days. Jumlah hari tanggal pembayaran bagi

             hasil terakhir sampai tanggal pembayaran bagi hasil berikutnya menjadi

             angka penyebut/ angka pembagi.

                Rumus perhitungan bagi hasil yang dapat digunakan sebagai berikut :

                                    ℎ������������ ���������������� ℎ����������������              × ���������������������������� �������������������������������� × ������������������������ ������������������������
                            ℎ������������ ���������������� ℎ���������������� ��������������������ℎ��������         ���������������������������� ������������������������
                       ������������������������ ���������������� ℎ���������������� ����������������������������������������      ���������������� ��������������������������������



         Dalam hal pencairan deposito mudharabah muqayyadah (RIA), terdapat

ketentuan sebagai berikut :

1. Khusus untuk cluster, apabila dikehendaki oleh deposan, deposito mudharabah

       muqayyadah (RIA) dapat dicairkan atau ditarik kembali sebelum jatuh tempo

       yang disepakti dalam akad.

2. Khusus untuk specific project, deposito tidak dapat dicairkan atau ditarik

       kembali sebelum jatuh temponya tanpa konfirmasi dan persetujuan tertulis dari

       bank. Bank dapat menolak permohonan pencairan sebelum jatuh tempo bila

       memberatkan bank. Dalam hal bank menyetujui pencairan sebelum jatuh tempo,

       bank dapat mengenakan denda (penalty) sesuai kesepakatan.

II.4     Faktor-faktor yang mempengaruhi bagi hasil

       1. Investment Rate

                                                                                                                             23
         Merupakan presentase dana yang diinvestasikan kembali oleh bank

   syariah baik kedalam pembiayaan maupun penyaluran dana lainnya.

   Kebijakan ini diambil karena adanya ketentuan dari Bank Indonesia, bahwa

   sejumlah persentase tertentu atas dana yang dihimpun dari masyarakat,

   tidak boleh diinvestasikan, akan tetapi harus ditempatkan dalam giro wajib

   minimum untuk menjaga likuiditas bank syariah. Giro Wajib minimum

   (GWM) merupakan dana yang wajib dicadangkan oleh setiap bank untuk

   mendukung likiuditas bank.

         Misalnya, Giro wajib umum sebesar 8%, maka total dana yang dapat

   diinvestasikan oleh bank syariah maksimum sebesar 92%. Hal ini akan

   mempengaruhi terhadap bagi hasil yang diterima oleh nasabah investor.

2. Total Dana Investasi

         Total dana invenstasi yang diterima oleh bank syariah akan

   mempengaruhi bagi hasil yang diterima oleh nasabah investor. Total dana

   yang berasal dari        investasi mudharabah dapat dihitung dengan

   menggunakan saldo minimal bulanan atau saldo harian. Saldo minimal

   bulanan merupakan saldo minimal yang pernah mengendap dalam satu

   bulan. Saldo minimal akan digunakan sebagai dasar perhitungan bagi hasil.

   Saldo harian merupakan saldo rata-rata pengendapan digunakan sebagai

   dasar perhitungan bagi hasil.

3. Jenis Dana

         Investasi mudharabah dalam penghimpunan dana, dapat ditawarkan

   dalam beberapa jenis yaitu ; tabungan mudharabah, deposito mudharabah,

   dan sertifikat investasi mudharabah antarbank syariah (SIMA). Setiap jenis




                                                                           24
   dana investasi memliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga akan

   berpengaruh pada besarnya bagi hasil.

4. Nisbah

         Nisbah merupakan persentase tertentu yang disebutkan dalam akad

   kerja sama usaha (mudharabah dan musyarakah) yang telah disepakati

   antara bank dan nasabah investor. Kaarakteristik nisbah akan berbeda-beda

   dilihat dari beberapa segi antara lain :

        Persentase nisbah antarbank syariah akan berbeda, hal ini tergantung

            pada kebijakan masing-masing bank syariah.

        Persentase nisbah akan berbeda sesuai dengan jenis dana yg

            dihimpun. Misalnya, nisbah antara tabungan dan deposito akan

            berbeda.

        Jangka waktu investasi mudharabah akan berpengaruh pada besarnya

            persentase nisbah bagi hasil. Misalnya,nisbah untuk deposito

            berjangka dengan jangka waktu satu bulan akan berbeda dengan

            deposito berjanka dengan jangka waktu tiga bulan seterusnya.

5. Metode perhitungan bagi hasil

     5.1 Bagi Hasil Dengan Menggunakan Revenue Sharing

                 Dasar perhitungan bagi hasil yang menggunakan revenue

         saharing adalah pehitungan bagi hasil yang didasarkan atas penjualan

         dan/atau pendapatan kotor atau usaha sebelum dikurangi dengan

         biaya. Bagi hasil dalam revenue sharing dihitung dengan mengalikan

         nisbah yang telah disetujui dengan pendapatan bruto.

         Contoh berikut untuk mempermudah penjelasan




                                                                           25
   Nisbah yang telah ditetapkan aalah 10% untuk bank dan 90% untuk

   nasabah. Dalam hal bank sebagai mudharib dan nasabah shahibul

   maal, bila bank syariah memperoleh pendaptan Rp 10.000.000,- maka

   bagi hasil yang diterima oleh bank adalah 10% x Rp 10.000.000,- =

   Rp 1.000.000,- dan bagi hasil yang diterima oleh nasabah sebesar Rp

   9.000.000,-

5.2 Bagi hasil dengan menggunakan profit/ loss sharing

          Dasar perhitungan bagi hasil dengan menggunakan profit/loss

   sharing merupakan bagi hasil yang dihitung dari laba/rugi usaha.

   Kedua pihak, bank syariah maupun nasabah akan memperoleh

   keuntungan atas hasil usaha mudharib dan ikut menanggung kerugian

   bila usahanya mengalami kerugian.

          Dalam contoh tersebut, misalnya nisbah yang disepakti adalah

   40% untuk bank syariah dan 60% untuk nasabah, informasi keuangan

   nasabah antara lain ; pendapatan Rp 1.000.000.000, harga pokok

   penjualan Rp 700.000.000, biaya pemasaran Rp 50.000.000, biaya

   administrasi dan umum Rp 100.000.000, dan biaya lain-lain Rp

   50.000.000.

          Dari informasi diatas, maka bagi hasil yang harus dibayar

   kepada bank syariah dapat dihitung sebagai berikut:

   Pendapatan                           Rp 1.000.000.000

   Harga pokok penjualan                Rp   700.000.000

   Laba kotor                           Rp   300.000.000

   Biaya administrasi dan umum          Rp   100.000.000

   Biaya pemasaran                      Rp    50.000.000


                                                                   26
               Biaya lain-lain                       Rp   50.000.000

               Laba usaha sebelum pajak              Rp 100.000.000

                       Bagi hasil yang harus diberikan kepada nasabah kepada bank

               syariah adalah sebesar 40% x Rp 100.000.000 = Rp 40.000.000

            6. Kebijakan akuntansi

                       Kebijakan akuntansi akan berpengaruh pada besarnya bagi

               hasil. Beberapa kebijakan akuntansi yang akan memenuhi bagi hasil

               antara lain penyusutan. Penyusutan akan mempengaruhi laba usaha

               bank. Bila bagi hasil menggunakan metode profit/loss sharing, maka

               penyusutan akan berpengaruh pada bagi hasil, akan tetapi bila

               menggunakan revenue sharing, maka penyusutan tidak memengaruhi

               bagi hasil.

II.4.1    Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil

         Bunga bank merupakan balas jasa yang diberikan oleh bank yang

berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual

produknya. Atau bisa diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah

(yang memiliki simpanan) dan harga yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank

(nasabah yang memiliki pinjaman. Sistem bagi hasil merupakan sistem di mana

dilakukannya perjanjian atau ikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di

dalam usaha tersebut diperjanjikan adanya pembagian hasil atas keuntungan yang

akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih.




                                                                              27
                                              Tabel 2.1

                       Perbedaan Sistem Bunga dan Sistem Bagi Hasil

No        Sistem Bunga                                  Sistem Bagi Hasil
1         Penentuan suku bunga dibuat pada waktu        Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat
          akad dengan pedoman harus selalu untung       pada waktu akad dengan berpedoman pada
          untuk pihak bank                              kemungkinan untung dan rugi
2         Besarnya persentase berdasarkan pada          Besarnya rasio (nisbah) bagi hasil
          jumlah uang (modal) yang dipinjamkan          berdasarkan pada jumlah keuntungan yang
                                                        diperoleh
3         Tidak tergantung pada kinerja usaha. Jumlah   Tergantung pada kinerja usaha. Jumlah
          pembayaran bunga tidak mengikat meskipun      pembagian bagi hasil meningkat sesuai
          jumlah keuntungan berlipat ganda saat         dengan peningkatan jumlah pendapatan
          keadaan ekonomi sedang baik
4         Eksistensi bunga diragukan kehalalannya       Tidak ada agama yang meragukan keabsahan
          oleh semua agama termasuk agama islam         bagi hasil
5         Pembayaran bunga tetap seperti yang           Bagi hasil tergantung kepada keuntungan
          dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang     proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak
          dijalankan oleh pihak nasabah untung atau     mendapatkan keuntungan maka kerugian
          rugi                                          akan ditanggung bersama oleh kedua belah
                                                        pihak
Sumber : Perbankan Syariah (2011)

II.5        Akuntansi Mudharabah – PSAK 105

            Pengakuan,       pengukuran,       penyajian      dan     pengungkapan         transaksi

mudharabah yang sebelumnya diatur dalam PSAK 59 tentang akuntansi Mudharabah

Perbankan Syariah diganti dengan PSAK 105 tentang akuntansi Mudharabah yang

berisikan antara lain sebagai berikut :

     1.     Modal Mudharabah

          a. Dana Mudharabah diakui sebagai investasi Mudharabah pada saat

              pembayaran kas atau penyerahan aset nonkas kepada pengelola dana

          b. Pengukuran dalam bentuk kas diukur sejumlah yang dibayarkan

          c. Pengukuran dalam bentuk non kas diukur sebesar nilai wajar pada saat

              penyerahan. Jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya, maka

              selisihnya diakui sebagai kerugian. Jika nilai wajarlebih tinggi daripada

              nilai tercatatnya, maka selisihnya diakui sebagai keuntungan tangguhandan

              diamortisasi sesuai jangka waktu akad Mudharabah.




                                                                                                   28
     d. Nilai investasi Mudharabah turun sebelum usaha dimulai, maka nilainya

          dapat diakui sebagai kerugian.

     e. Jika kerugian investasi Mudharabah hilang setelah dimulainya usaha maka

          kerugian tersebut diperhitungkan pada saat bagi hasil.

     f. Usaha Mudharabah dianggap dimulai berjalan sejak dana atau modal

          usaha diterima oleh pengelola dana.

     g. Jika akad Mudharabah berakhir sebelum jatuh tempo, maka investasi

          Mudharabah diakui sebagai piutang.



2.    Penghasilan usaha

     a.     Jika   investasi   Mudharabah       melebihi   satu    periode   pelaporan,

          penghasilan usaha diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil sesuai

          nisbah yang disepakati.

     b.     Kerugian yang terjadi dalam suatu periode sebelum akad Mudharabah

          berakhir diakui sebagai kerugian dan dibentuk penyisihan kerugian

          investasi.

     c.     Bagi hasil usaha yang belum dibayar oleh pengelola dana diakui

          sebagai piutang.

3.    Penyajian

     a.     Pemilik dana menyajikan investasi Mudharabah dalam laporan

          keuangan sebesar nilai tercatat.

     b.     Pengelola dana menyajikan transaksi Mudharabah dalam laporan

          keuangan.

          1) Dana syirkah temporer dari pemilik dana disajikan sebesar nilai

              tercatatnya untuk setiap jenis Mudharabah.


                                                                                    29
          2) Bagi hasil dan dana syirkah temporer yang sudah diperhitungkan dan

              telah jatuh tempo tetapi belum diserahkan kepada pemilik dana

              disajikan sebagai kewajiban.

          3) Bagi hasil dana syariah temporer yang sudah diperhitungkan tetapi

              belum jatuh tempo disajikan dalam pos bagi hasil yang belum

              dibagikan.

   4. Pengungkapan

       a. Pemilik dana mengungkapkan semua hal terkait transaksi Mudharabah

           tetapi tidak terbatas pada :

           1) Rincian jumlah investasi Mudharabah berdasarkan jenisnya

           2) Penyisihan kerugian investasi Mudharabah selama periode berjalan

           3) Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101

       b. Pengelolaan dana mengungkapkan semua hal terkait Mudharabahtetapi

           tidak terbatas pada :

           1) Rincian dana Syirkah temporer yang diterima berdasarkan jenisnya

           2) Penyaluran dana yang berasal dari Mudharabah muqayadah

           3) Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101



II.5.1 Komparasi Akuntansi Pemilik Dan Pengelola Dana Dalam Akuntansi

       Mudharabah (PSAK 105)

       Berdasarkan PSAK 105 dapat dibedakan akuntansi untuk pemilik dana dan

pengelola dana sebagai berikut:




                                                                                 30
                                            Tabel 2.2

                      Akuntansi Pemilik Dana dan Pengelola Dana

No               AKUTANSI PEMILIK DANA                           AKUTANSI PENGELOLA
                                                                 DANA
     MODAL MUDHARABAH
     12. Dana mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana       25. Dana yang diterima dari
     diakui sebagai investasi mudharabah pada saat               pemilik dana dalam akad
     pembayaran kas atau penyaerahan aset nonkas kepada          mudharabah diakui sebagai dana
     pengelola dana                                              syirkah temporer sebesar jumlah
                                                                 kasa atau nilai wajar aset nonkas
                                                                 yang diterima. Pada akhir periode
                                                                 akutansi, dana syirkah temporer
                                                                 diukur sebesar nilai tercatatnya.

                                                                 26. Jika pengelola dana yang
                                                                 menyalurkan dana syirkah
                                                                 temporer yang diterima maka
                                                                 pengelola dana mengakui sebagai
                                                                 aset sesuai ketentuan pada
                                                                 paragraf 12-13
     16. Usaha mudharabah dianggap mulai berjalan sejak
     dana atau modal usah mudharabah diterima oleh pngelola
     dana.
     13. Pengukuran investasi mudharabah adalah sebagai
     berikut :
       (a) investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur
           sebdesar jumlah yang dibayarkan;
       (b) investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas
           diukur sebesar sebesar nilai wajar aset nonkas pada
           saat penyerahan :
           (i) jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai
               tercatatnya diakui,maka selisihnya diakui
               sebagai keuntungan tangguhan dan diamortisasi
               sesuai jangka waktu akad mudhrabah.
           (ii) jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai
               tercatatnya, mkaa selisihnya diakui sebagai
               kerugian;

     14. Jika investasi mudharabah turun sebelum usaha
     dimulai disebabkan rusak, bilang atau faktor lain yang
     bukan kelalaian atau kesalahan pihak pengelola dama,
     maka penurunan nilai tersebut diakui sebagai kerugian
     dan mengurangi saldo investasi mudharabah
     15. Jika sebagai investasi mudharabah bilang setelah
     dimulainya usaha tanpa adanya kelalaian atau kesalahan
     pengelola dana, maka kerugian tersebut diperhitungkan
     pada saat bagi hasil.
     17. Dalam investasi mudharabah yang diberikan dalam
     bentuk barang (nonkas) dan barang tersebut mengalami
     penurunan nilai pada saat atau setelah barang
     dipergunaakan secara efektif dalam kegiatan usaha
     mudharabah, maka kerugian tersebut tidak langsung
     mengurangi jumlah investasi, namun diperhitungkan pada
     saat pembagian bagi hasil.
No   AKUTANSI PEMILIK DANA                                       AKUTANSI PENGELOLA
                                                                 DANA
     18. kelalaian ata kesalahan pengelola dana, anatara lain,

                                                                                                31
       ditunjukkan oleh :
          (a) persyaratan yang ditentukan di dlama akad tidak
              dipenuhi ;
          (b) tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force
              majeur) yang lazim dan/atau yang telah ditentukan
              oleh akad; atau
         (c) hasil keputusan dari institusi yang berwenang.
       19 Jika akad mudharabah berakhir sebelum atau saat akad
       jatuh tempo dan belum dibyar oleh pengelola dana, maka
       insvestasi mudharabah diakui sebagai piutang
       PEMBAGIAN HASIL USAHA
       20. Jika investasi mudharabah melebihi satu periode        27. pengelola dana nebgakui
       pelaporan, penghasilan usaha diakui dalam periode          pendapatan atas penyaliran dana
       terjadinya hak bagi hasil sesuai nisbah yang disepakati    syirkah temporer secara bruto
                                                                  sebelum dikurangi dengan bagian
                                                                  pemilik dana.

                                                                  28. Bagi hasil mudharabah dapat
                                                                  dilakukan dengan menggunakan
                                                                  dua prinsip, yaitu bagi laba atau
                                                                  bagi hasil seperti yang dijelaskan
                                                                  pada paragraf 11.

                                                                  29. hak pihak ketiga atas bagi
                                                                  hasil dana syirkah temporer yang
                                                                  sudah diumumkan dan belum
                                                                  dibagikan kepada pemilik dana
                                                                  diakui sebagai kewajiban sebesar
                                                                  bagi hasil yang menjadi porsi hak
                                                                  pemilik dana.
       22. Pengakuan penghasilan usaha mudharabah dalam
       praktik dapat diketahui berdasarkan laporan bagi hasil
       atas realisasi penghasilan usaha dari pengelola dana.
       Tidak diperknankan mengakui pendapatan dari proyek
       hasil usaha.
       24. Bagian hasil usaha yang belum dibayar oleh
       pengelola dana diakui sebagai piutang.
       21. Kerugian yang terjadi dalam suatu periode sebelum      30. kerugian yang diakibatkan
       akad mudharabah berakhir diakui sebagai kerugian dan       oleh kesalahan atau kelalaian
       dibentuk penyisihan kerugian investasi. Pada saat akad     pengelola dana diakui sebagai
       mudharabah berakhir,selisih antara :                       beban pengelola dana.
           (a) investasi mudharabah setelah dikurangi
               penyisihan kerugian investasi; dan
           (b) pengembalian investasi mudharabah; diakui
               sebagai keuntungan atau kerugian.
       23. Kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pengelola
       dana dibebankan pada pengelola dana dan tidak
       mengurangi investasi mudharabah.



II.6     Perhitungan Bagi Hasil

          Cara menghitung atau dana investasi mudharabah. Ilustrasi kasus

perhitungan bagi hasil untuk dana investasi mudharabah muthlaah. Didalam counter

bank syariah tertulis informasi tentang nisbah sebagai berikut :


                                                                                                  32
                                              Tabel 2.3

                                          Nisbah Bagi Hasil

                                                              Nisbah
             jenis investasi mudharabah             Nasabah               Bank
       a Tabungan Mudharabah                         55%                  45%
       b Deposito Mudharabah :
        jangka waktu 1 bulan                          60%                  40%
        jangka waktu 3 bulan                          63%                  37%
       jangka waktu 6 bulan                           65%                  35%
       jangka waktu 12 bulan                          68%                  32%
informasi lainnya :

Saldo rata-rata giro-wadiah                               Rp 10.000.000

Saldo rata-rata tabungan wadiah                           Rp 5.000.000

Saldo rata-rata tabungan mudharabah                       Rp 15.000.000

Saldo deposito berjangka :

b.   Deposito jangka waktu 1 bulan                        Rp 20.000.000.000

c.   Deposito jangka waktu 3 bulan                        Rp 25.000.000.000

d.   Deposito jangka waktu 6 bulan                        Rp 15.000.000.000

e.   Deposito jangka waktu 12 bulan                       Rp 10.000.000.000

Rata-rata pembiayaan pada bulan April 2010 adalah sebesar Rp 100.000.000.000

pendapatan :

     a. Bagi hasil                                        Rp 500.000.000

     b. Margin keuntungan                                 Rp 300.000.000

     c. Pendapatan sewa ijarah                            Rp 200.000.000

Giro wajib minimum 5%

Dari semua informasi tersebut, maka dapat dihitung bagi hasil untuk masing-masing

investasi mudharabah dengan tahapan sebagai berikut :

     a. Jumlah investasi mudharabah

        - Tabungan mudharabah                             Rp 15.000.000.000

        - Deposito mudharabah                             Rp 70.000.000.000

                                                                                 33
          - Total investasi mudharabah                                Rp 85.000.000.000

      b. Jumlah pendapatan                                            Rp 1.000.000.000

      c. Menghitung jumlah pendapatan yang akan dibagi hasilkan antara bank dan

          nasabah, yaitu income distribution sebagai berikut :

          Income                                                                                   distribution

           = ������������������������������������ ������������ℎ��������������������ℎ ‒ ������������ (������������. ������������ℎ��������������������ℎ) × ����������������������������������������
                                                 �������������������� ���������������������������������������� ����������������



= �������� 85.000.000.000 ‒ 5%(�������� 85.000.000.000) × �������� 1.000.000.000
                         �������� 100.000.000.000

                                    = �������� 807.500.000




                                                  Tabel 2.4

                                         Perhitungan Bagi Hasil

                                               (Dalam Jutaan)

                                                                        Bagi Hasil Investor        Bagi Hasil Bank
      Jenis Investasi         Saldo Rata-rata          Income
                                                                                    Bagi                       Bagi
       Mudharabah                 Harian             Distribution       Nisbah                     Nisbah
                                                                                    Hasil                      Hasil
Tabungan                                15.000               807,55          55%      78.375            45%      64.125
Deposito
   a.                                   20.000           1   807,55           60%        14.000          40%        76.000
         bulan                          25.000               807,55           63%        49.625          37%        87.875
   b.                                   15.000           3   807,55           65%        92.625          35%        49.875
         bulan                          10.000               807,55           68%        64.600          32%        30.400
   c.                                                    6
         bulan
   d.                                                    1
        2 bulan
                                        85.000                                        299.225                     308.275



Dari tabel diatas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

i)        Total pendapatan bank syariah sebelum diberikannya bagi hasil adalah Rp

          1.000.000.000,-.

ii)       Pendapatan yang akan dibagi hasilkan antara bank dan nasabah adalah

          sebesar Rp 807.500.000,-

                                                                                                               34
iii)   Bagi hasil tabungan mudharabah adalah berasal dari saldo rata-rata tabungan

       dibagi dengan investasi mudharabah dikalikan dengan nisbah bagi hasil

       tabungan mudharabah kemudian dikalikan dengan pendapatan yang dibagi

       hasilkan (income distribution), sama dengan Rp 78.375.000 dengan

       perhitungan sebagai berikut :

       �������� 15.000.000.000 × 55% × �������� 807.500.000 = �������� 78.375.000
       �������� 85.000.000.000

iv)    Bagi hasil untuk deposito jangka waktu 1 bulan, dengan rumus sebagai

                 �������� 20.000.000.000
       berikut : �������� 85.000.000.000 × 60% × �������� 807.500.000 = �������� 76.000.000.

       bagi hasil untuk deposito mudharabah jangka waktu 3 bulan, 6 bulan, dan 12

       bulan, dapat dihitung seperti pada perhitungan bagi hasil pada deposito

       mudharabah dengan jangka waktu 1 bulan.



II.7   Penilaian Kinerja Bank

       Laporan keuangan perusahaan dapat digunakan oleh para investor, para

manajer dalam melakukan analisa tidak hanya dalam jangka pendek tapi melihat

kondisi perusahaan dalam jangka panjang, serta digunakan para manajer untuk

meningkatkan kinerja perusahaan dan para investor menganalisa untuk pengambilan

keputusan.   Analisa laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh dengan

pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil

operasi perusahaan pada masa lalu dan masa sekarang, tujuannya untuk

menentujuantukan estimasi dan prediksi mengenai kondisi dan kinerja perusahaan

dimasa yang akan datang.

       Tujuan dilakukan analisa laporan keuangan untuk memberikan gambaran

tentang operasi normal, untuk mengestimasi kemampuan ekonomi dan prospek suatu

bisnis, perbandingan dengan bisnis yang sejenis untuk mengevaluasi risiko dan
                                                                                 35
parameter nilai. Analisa yang digunakan oleh para pengguna laporan keuangan

adalah sebagai berikut :




II.7.1 Analisis Rasio Keuangan

I.     PERMODALAN

       1.   CAR (Capital Adequency Ratio)

        Rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang

        mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank

        lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank, disamping memperoleh

        dana–dana dan sumber–sumber di luar bank, seperti dana masyarakat,

        pinjaman, dan lain–lain. Rasio ini merupakan indikator terhadap kemampuan

        bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dan kerugian–

        kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko.

        a. CAR dengan memperhitungkan risiko penyaluran dana

              �������������������� (���������������� + ������������������������������������)
                       ���������������� ������������������������



        b. CAR dengan memperhitungkan risiko pasar

                     �������������������� (���������������� + ������������������������������������)
                 ���������������� ������������������������ ������������ ������������������������ ��������������������




     2. Aktiva tetap terhadap modal

        Rasio ini mengukur kemampuan manajemen bank dalam menentukan

        besarnya aktiva produktif dengan kolektabilitas yang dimiliki bank yang

        bersangkutan terhadap modal. Semakin tinggi rasio ini artinya modal yang

        dimiliki bank kurang mencukupi dalam menunjang aktiva produktif dengan

                                                                              36
      kolektabilitas sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah

      akan semakin besar.

      ������������������������ ������������������������������������ ������������������������ �������������������������������������������������������� 3 ����.���� 5
                                    �������������������� ��������������������



II.   AKTIVA PRODUKTIF

      semua aktiva yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk dapat

      memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya. Ada empat macam jenis

      aktiva produktif yaitu :

      a . Kredit yang diberikan

      b. Surat berharga

      c. Penempatan dana pada bank lain

      d. Penyertaan

      Penilaian aset, sesuai dengan Peraturan BI adalah dengan membandingkan

      antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif. Selain

      itu juga rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva

      produktif yang diklasifikasikan. Klasifikasi aktiva produktif merupakan

      aktiva produktif yang telah dilihat kolektabilitasnya, yaitu lancar, kurang

      lancar, diragukan dan macet.

      1. Rasio Aktiva Produktif yang Bermasalah Terhadap Aktiva Produktif

            Rasio ini untuk menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam

            mengelola aktiva produktif bermasalah terhadap total aktiva produktif.

            Semakin tinggi rasio ini maka semakin buruk kualitas aktiva produktif

            yang menyebabkan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif)

            yang tersedia semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam




                                                                                            37
   kondisi bermasalah semakin besar. Aktiva produktif bermasalah adalah

   aktiva produtif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.

       ������������������������ ������������������������������������ ������������������������ �������������������������������������������������������� 3 ����.���� 5
                           �������������������� ������������������������ ������������������������������������



2. Rasio NPF (Non Performing Financing)

   Rasio ini menunjukkan bahwa kemampuan manjemen bank dalam

   mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin

   tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank

   menyebabkan             jumlah         kredit        bermasalah            semakin        besar,   maka

   kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Kredit

   dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak

   termasuk kredit kepada bank lain. Kredit bermasalah adalah kredit dengan

   kualitas lancar, dana perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan

   macet.

   -   Gross

       ���������������������������������������� ������������������������ �������������������������������������������������������� 3 ����.���� 5
                          �������������������� ����������������������������������������



   -   Netto

           ���������������������������������������� ������������������������ �������������������������������������������������������� 3 ����.���� 5 ‒ ����������������
                                    �������������������� ����������������������������������������



3. PPAP terhadap aktiva produktif

   Rasio PPAP menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menjaga

   kualitas aktiva produktuf sehingga jumlah PPAP dapat dikelola dengan

   baik. Semakin besar PPAP maka semakin buruk aktiva produktif bank


                                                                                                        38
          yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi

          bermasalah semakin besar. Cakupan komponen aktiva produktif dan

          PPAP yang telah dibentuk sesuai dengan ketentuan Kualitas aktiva

          Produktif yang berlaku.

                          ����������������
               ������������������������ ������������������������������������



       4. Pemenuhan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif)

          Rasio ini menujukkan kemampuan manajemen bank dalam menentukan

          besarnya PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang wajib dibentuk.

          Semakin besar rasio ini maka kemungkinan bank dalam kondisi

          bermasalah semakin kecil karena semakin besar PPAP yang telah

          dibentuk dari PPAP yang wajib dibentuk. Perhitungan PPAP yang wajib

          dibentuk sesuai dengan ketentuan Kualitas aktiva Produktif yang berlaku.

                ���������������� ���������������� ����������������ℎ ��������������������������������
               ���������������� ���������������� �������������������� ��������������������������������



III.   RENTABILITAS

       Penilaian aspek ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam

       meningkatkan keuntungan, juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan

       profitabilitas yang dicapai bank yang syariah.

       a. ROE (Return On Equity)

         Rasio ini banyak diamati oleh para pemegang saham bank serta

         parainvestor di pasar modal yang ingin membeli saham bank yang

         bersangkutan. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih




                                                                                 39
    dan bank yang bersangkutan. Selanjutnya, kenaikan tersebut akan

    menyebabkan kenaikan harga saham bank.

    ���������������� ������������������������ℎ �������������������� ������������ �������������������� ��������…
          ���������������� ‒ ���������������� �������������������� ����������������������������



b. ROA (Return On Asset)

    Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank

    dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Semakin besar ROA

    bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut

    dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset.

    ���������������� ���������������������������� �������������������� ������������ �������������������� ��������…
              ���������������� ‒ ���������������� �������������������� ��������������������



c. NIM (Net Income Margin)

    Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam mengelola

    aktiva produktifnya untuk menghasilkan total                                 pendapatan bagi hasil.

    Semakin besar rasio ini maka meningkatnya total pendapatan bagi hasil

    atas aktiva produktif yang dikelola bank sehingga kemungkinan suatu

    bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil.

���������������� ���������������� �������������������� + ���������������� ������������������������ ‒ �������������������� ���������������� �������������������� ��������3 ������������ ��������������������������������
                                 ���������������� ‒ ���������������� ������������������������ ������������������������������������



d. BOPO (Beban Operasi terhadap Pendapatan Operasi)

    Digunakan untuk memgukur kemampuan manajemen bank dalam

    mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional.

    Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang

    dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank


                                                                                                                 40
           dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Biaya operasional dihitung

           berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban

           operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total

           pendapatan dari penyaluran dana dan total pendapatan operasional lainnya.

       �������������������� �������������������������������������������� ������������������������
       ���������������������������������������� ��������������������������������������������



IV.    LIKUIDITAS

       a. FDR ( Financing Deposit Ratio )

           Rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang

           diterima oleh bank. Rasio ini menunjukkan salah satu penilaian likuiditas

           bank. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin

           rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal mi

           disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit

           menjadi semakin besar.

       �������������������� ������������������������ ���������������� ������������������������������������
                       �������������������� ������������



II.8   Penelitian Terdahulu

       Berdasarkan penelitian Uum Riyana pada tahun 2010 dengan judul “Analisis

Hibungan Kinerja Keuangan Bank Pembiayaan Syariah Terhadap Tingkat Bagi

Hasil”. Penelitiannya bertujuan untuk mengetahui hubungan kinerja keuangan bank

syariah terhadap tingkat bagi hasil simpanan Mudharabah. Pengujian dilakukan

menggunakan tingkat bagi hasil simpanan dan rasio keuangan yaitu ROA, ROE,

FDR, BOPO, dan NIM. Untuk rasio profitabilitas diwakili dengan RIOA dan ROE

memiliki hubungan yang lemah dan negatif terhadap tingkat bagi hasil simpanan.

Pada rasio likuiditas diwakili oleh FDR memiliki hubungan negatif dengan tingkat
                                                                                 41
bagi hasil simpanan Mudharabah dan untuk rasio efisiensi diwakili oleh BOPO dan

NIM masing-masing mewakili hubungan yang kuat dan sedang dengan tingkat bagi

hasil simpanan Mudharabah.




                                                                            42

								
To top