Latar Belakang Penelitian by RichardJones51

VIEWS: 0 PAGES: 24

									A. LATAR BELAKANG
   Pada masa pemerintahan sekarang mengharuskan adanya transparansi laporan
keuangan dan pendanaan penyelenggaraan daerah. Pengguna laporan keuangan
mengharapkan adanya laporan keuangan yang benar dan dapat dijadikan sebagai
pengambilsebuah keputusan. Pemerintah memberikan jawaban atas tuntutan akan
pentingnya pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan ditandai dengan
diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintah (SAP) yang kini telah diganti dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 71 Tahun 2010. Peraturan BAPEPAM Nomor Kep-36/PM/2003 dan
Peraturan Bursa Efek Jakarta (BEJ) Nomor Kep-306/BEJ/07-2004 menyebutkan
bahwa perusahaan yang go public diwajibkan menyampaikan laporan keuangan yang
disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan telah diaudit oleh
akuntan publik (Jamilah, Fanani, dan Chandrarin; 2007: 1).
   Auditor internal merupakan bidang yang lebih kompleks dan menantang bila
dibandingkan dengan profesi lain pada umumnya. Dalam melakukan tugas audit,
auditor harus mengevaluasi berbagai alternatif informasi dalam jumlah yang relatif
banyak untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan yaitu bukti audit kompeten yang
cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan
konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keuangan yang diaudit (Ikatan Akuntan Indonesia, 2001).
   Seorang akuntan (auditor) dalam proses audit memberikan opini dengan judgment
yang didasarkan pada kejadian-kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang
(Purwanto, 2011). Akuntan adalah suatu profesi yang salah satu tugasnya adalah
melaksanakan audit terhadap laporan keuangan sebuah entitas dan memberikan opini
atau pendapat terhadap saldo akun dalam laporan keuangan apakah telah disajikan
secara wajar sesuai dengan standar akuntansi keuangan atau prinsip akuntansi yang
berlaku umum dan standar atau prinsip tersebut diterapkan secara konsisten.Dalam
proses auditing sedikit sekali keputusan yang diambil oleh auditor bersifat obyektif,



                                         1
sehingga judgement yang diambil oleh auditor dapat berbeda diantara satu dengan
auditor yang lainnya.
   Dalam pekerjaan audit, judgement merupakan kegiatan yang selalu digunakan
auditor dalam setiap proses audit, untuk itu auditor harus terus mengasah judgement
mereka. Tepat atau tidaknya judgement auditor akan sangat menentukan kualitas dari
hasil audit dan juga opini yang akan dikeluarkan oleh auditor. Faktor yang
mempengaruhi audit judgment yaitu pengalaman, pengalaman yang diperoleh selama
melakukan pemeriksaan akuntansi. Susetyo (2009) menemukan bahwa berdasarkan
pengalaman audit masing-masing responden terhadap audit judgment memberikan
hasil yang sangat bervariasi. Hal ini karena setip responden dihadapkan pada
beberapa kasus yang berbeda, sehingga judgment masing-masing responden juga
bervariasi tergantung pengetahuan, intuisi, dan persepsinya masing-masing.
   Faktor lain yang dapat mempengaruhi audit judgment yaitu tekanan ketaatan.
Temuan DeZoort dan Lord dalam Hartanto dan Kusuma(2001) melihat adanya
pengaruh tekanan atasan pada konsekuensi yang memerlukan biaya, seperti halnya
tuntutan hukum, hilangnya profesionalisme, dan hilangnya kepercayaan publik dan
kredibilitas sosial. Hal tersebut mengindikasikan adanya pengaruh dari tekanan atasan
pada judgment yang diambil auditor.Menurut Milgram (1974) dikutip dalam jamilah
et al (2007) mengembangkan teori paradigm ketaatan dan kekuasaan bahwa bawahan
yang mengalami tekanan ketaatan dari atasan akan mengalami perubahan psikologis
dari seseorang yang berperilaku autonomis menjadi perilaku agen. Perubahandari
perilaku ini terjadi karena bawahan merasa menjadi perantara dari sumber kekuasaan,
dan dirinya terlepas dari tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
   Faktor selanjutnya yang dapat mempengaruhi audit judgment yaitu kompleksitas
tugas. Bonner (1994) dikutip dalam Jamilah et al. (2007) mengemukakan ada tiga
alasan yang cukup mendasar mengapa pengujian terhadap kompleksitas tugas untuk
sebuah situasi audit perlu dilakukan.     Pertama, kompleksitas tugas ini diduga
berpengaruh signifikan terhadap kinerja seorang auditor. Kedua, sarana dan teknik
pembuatan keputusan dan latihan tertentu diduga telah dikondisikan sedemikian rupa

                                         2
ketika para peneliti memahami keganjilan pada kompleksitas tugas audit. Ketiga,
pemahaman terhadap kompleksitas dari sebuah tugas dapat membantu tim
manajemen audit perusahaan menemukan solusi terbaik bagi staf audit dan tugas
audit.
   Audit judgment merupakan salah satu cara pandang auditor dalam menanggapi
informasi yang mempengaruhi dokumentasi bukti serta pembuatan keputusan
pendapat auditor atas laporan keuangan suatu entitas.Audit judgment diperlukan
karena audit tidak semuanya dilakukan terhadap seluruh bukti. Akuntan publik
mempunyai tiga sumber informasi yang potensial untuk membuat suatu pilihan yaitu:
teknik manual, referensi yang lebih detail dan teknik keahlian. Berdasarkan proses
informasi dari ketiga sumber tersebut, akuntan mungkin akan melihat sumber yang
pertama, bergantung pada keadaan perlu tidaknya diperluas dengan sumber informasi
kedua, atau dengan sumber informasi yang ketiga, tetapi jarang memakai keduanya
(Gibbin, 1984) dikutip dalam jamilah et al.
   Telah banyak yang sudah melakukan penelitian tentang auditjudgmentdiantaranya
penelitian yang dilakukan oleh Siti Jamilahet al yang melakukan penelitian di KAP
Jawa Timur      yang mengatakan bahwa kompleksitas tugas tidak berpengaruh
signifikan terhadap audit judgement. Hasil ini sama dengan pendapat Zulaikha (2002)
yang meneliti mahasiswa lulusan S1 jurusan akuntansi yang menempuh Program
Pendidikan Akuntansi dan Program Magister sains Akuntansibahwa kompleksitas
tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap keakuratan judgemet. Lain dengan idris
(2012) yang meneliti di BPKP DKI Jakarta hasil statistik yang tidak signifikan dari
tekanan ketaatan, kompleksitas tugas untuk mengaudit keputusan yang di ambil oleh
auditor.
   Untuk ini pengetahuan dan persepsi etis memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap penilaian audit yang di ambil oleh auditor. Setelah mempelajari beberapa
penelitian terdahulu maka peneliti tertarik untuk mereplikasi penelitian Jamilah et al
(2007).Alasan mereplika penelitian Jamilah, dkk. (2007) adalah untuk mengetahui



                                          3
apakah dengan sampel dan waktu yang berbeda akan memberikan hasil yang sama
dengan penelitian terdahulu.
   Perbedaan dengan penelitian yang terdahulu yaitu terletak pada objek
studi.Penelitian terdahulu meneliti pada sektor swasta sedangkan peneliti melakukan
pada sektor publik. BPKP merupakan auditor internal yang memiliki peran penting
bagi akuntabilitas pemerintah dan juga BPKP memiliki tanggung jawab besar yaitu
menciptakan proses tata kelola pemerintahan yang baik dan bebas korupsi.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti bermaksud untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Tekanan Ketaatan, Kompleksitas Tugas, dan
Pengalaman Terhadap Auditor Judgment studi pada BPKP DIY Yogyakarta”.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam proposal penelitian ini dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
sebagai berikut:
   1. Apakah pengalaman berpengaruh terhadap audit judgement yang di ambil
       oleh auditor?
   2. Apakah tekanan ketaatan berpengaruh terhadap audit judgement yang di ambil
       oleh auditor?
   3. Apakah kompleksitas tugas berpengaruh terhadap audit judgement yang di
       ambil oleh auditor?
C. BATASAN MASALAH
   Batasan Masalah dari penelitian ini adalah sampel yang digunakan untuk
penelitian yang digunakan dalam penelitian yaitu hanya pada BPKP yang berada di
Yogyakarta.Penelitian ini memfokuskan pada aspek individu yaitu pada dimensi
pengalaman, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas
D. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah:
   Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini mempunyai tujuanantara
lain, untuk menganalisis dan memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh tekanan
ketaatan, kompleksitas tugas, dan pengalaman audit terhadap audit judgment pada

                                         4
BPKP perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam menjalankan tugasnya sebagai
auditor internal pemerintah.
E. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan oleh penulis diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
berbagai pihak, diantaranya:
   1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan
       wawasan tentang auditing yang berkaitan dengan gender, tekanan ketatan, dan
       kompleksitas tugas terhadap audit judgement pada BPKP di Yogyakarta, serta
       sebagai tambahan dokumentasi di lingkungan akademis sehingga dapat
       memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
   2. Bagi auditor diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam rangka
       meningkatkan profesionalisme profesi khusunya dalam membuat audit
       judgement.
   3. Memberikan tambahan informasi terhadap auditor untuk meningkatkan
       kualitas kinerjanya.
F. LANDASAN TEORI
1. Tekanan Ketaatan
   Tekanan ketaatan adalah jenis tekanan pengaruh sosial yang dihasilkan ketika
individu dengan perintah langsung dari perilaku individu lain. Teori ketaatan
menyatakan bahwa individu yang memiliki kekuasaan merupakan suatu sumber yang
dapat mempengaruhi perilaku orang dengan perintah yangdiberikannya (Idris,
2012).Tekanan ketaatan ini timbul akibat adanya kesenjangan ekspektasi yang terjadi
antara entitas yang diperiksa dengan auditor telah menimbulkan suatu konflik
tersendiri bagi auditor.Dalam suatu audit umum (general audit atau opiniom audit),
auditor dituntut untuk memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
entitas untuk menghindari adanya pergantian auditor. Pemberian opini wajar tanpa
pengecualian tanpa bukti-bukti audit yang memadai, dapat berubah dari masalah
standar audit (khususnya masalah standar pelaporan) ke masalah kode etik
(independensi dan benturan kepentingan). Pemenuhan tuntutan entitas merupakan

                                        5
pelanggaran terhadap standar. Dan auditor yang tidak memenuhi tuntutan klien
dianggap termotivasi untuk menerapkan standar audit (Theorodus, 2007).
   Menurut Hartanto (1999) menunjukkan bukti bahwa auditor yangmendapatkan
perintah tidak tepat baik itu dari atasan ataupun dari klien cenderungakan berperilaku
menyimpang dari standar professional. Menurut Ashton (1990),telah mencoba untuk
melihat pengaruh tekanan dari atasan pada kinerja auditordalam hal budget waktu,
tenggat waktu, akuntabilitas, dan justifikasi. Teoriketaatan menyatakan bahwa
individu yang memiliki kekuasaan merupakan suatu sumber yang dapat
mempengaruhi perilaku orang lain dengan perintah yangdiberikannya. Hal ini
disebabkan oleh keberadaan kekuasaan atau otoritas yangmerupakan bentuk dari
legitimate power (Idris, 2012).
Apabila dikaitkan dengan kode etik akuntan maka ada beberapa hal yang
mempengaruhinya (yang berhubungan) :
       1) Tiap anggota dalam menjalankan general audit tidak diperbolehkan
       member pernyataan akuntan terhadap laporan tahunan badan-badan, perseroan
       perseroan yang sedang diperiksa, bila ia mempunyai kepentingan finansial di
       dalamnya.
       2) Sarana Honorarium akuntan publik tidak boleh tergantung pada hasil
       pekerjaannya.
       3) Tiap anggota tidak dibenarkan untuk membayar atau memberi ganti rugi,
       komisi atau sumbangan dalam bentuk apapun juga untuk memperoleh
       nasabah atau tugas pekerjaan akuntan publik kecuali dalam hal pengoperan
       kantor akuntan publik atau pengoperan pekerjaan akuntan publik.
       4) Akuntan publik tidak dibenarkan menjalankan pekerjaan promotor seperti
       dalam penjualan saham dan surat berharga lainnya.
   2. Kompleksitas Tugas
   Auditor selalu dihadapkan dengan tugas-tugas yang banyak, berbeda-bedadan
saling terkait satu sama lain. Kompleksitas adalah sulitnya suatu tugas yang
disebabkan oleh terbatasnya kapabilitas, dan daya ingat serta kemampuan untuk

                                          6
mengintegrasikan masalah yang dimiliki oleh seorang pembuat keputusan (Jamilah
et.al.,2007). Tingkat kesulitan tugas dan struktur tugas merupakan dua aspek
penyusun dari kompleksitas tugas.Tingkat sulitnya tugas selalu dikaitkan dengan
banyaknya informasi tentang tugas tersebut, sementara struktur adalah terkait dengan
kejelasan informasi (information clarity).Kompleksitas tugas merupakan tugas yang
tidak terstuktur, membinggungkan, dan sulit.
Beberapa tugas audit dipertimbangkan sebagai tugas dengan kompleksitas tinggi dan
sulit, sementara yang lain mempresepsikannya sebagai tugas yang mudah (Jimbalvo
dan Pratt, 1982). Persepsi ini menimbulkan kemungkinan bahwa suatu tugas audit
sulit bagi seseorang, namun mungkin juga mudah bagi orang lain .
   Dalam pelaksanaan tugasnya yang kompleks, auditor sebagai anggota pada suatu
tim audit memerlukan keahlian, kemampuan dan tingkat kesabaran yang tinggi.
Tingkat kesulitan tugas dan struktur tugas merupakan dua aspek penyusun dari
kompleksitas tugas.Tingkat sulitnya tugas selalu dikaitkan dengan banyaknya
informasi tentang tugas tersebut, sementara struktur adalah terkait dengan kejelasan
informasi (information clarity). Pada tugas-tugas yang membingungkan (ambigous)
dan tidak terstuktur, alternatif-alternatif yang ada tidak dapat didefinisikan, sehingga
data tidak dapat diperoleh dan outputnya tidak dapat diprediksi. Chung dan Monroe
(2001) mengemukakan argumen yang sama, bahwa kompleksitas tugas dalam
pengauditan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
   a) Banyaknya informasi yang tidak relevan dalam artian informasi tersebut
       konsisten dengan kejadian yang akan diprediksikan
   b) Adanya ambiguitas yang tinggi, yaitu beragamnya outcome (hasil) yang
       diharapkan oleh klien dari kegiatan pengauditan.
   Restuningdiah    dan    Indriantoro   (2000)   menyatakan      bahwa    peningkatan
kompleksitas tugas dapat menurunkan tingkat keberhasilan tugas itu. Terkait dengan
kegiatan pengauditan, tingginya kompleksitas audit ini dapat menyebabkan akuntan
berperilaku disfungsional sehingga menyebabkan seorang auditor menjadi tidak



                                           7
konsistensi dan tidak akuntanbilitas. Adanya kompleksitas tugas yang tinggi dapat
merusak judgment yang dibuat oleh audit.
   3. Pengalaman
   Menurut siagian (1996) dikutip dalam priatinngsih (2011) disebutkan bahwa
pengalaman sebagai keseluruhan yang dibentuk oleh seseorang dari peristiwa
peristiwa yang dlalui dalam pelajaran hidupnyaa. Auditor yang berpengalaman
membuat judgment yang lebih baik dalam tugas professional dibanding dengan yang
tidak berpengalaman. Auditor berpengalaman juga dapat mengidentifikasi kesalahan
dengan lebih baik. Abdolmohammadi dan Wright (1987) dikutip dalam puspitasari
(2011) mengatakan bahwa adanya perbedaan judgment antara auditor yang
berpengalaman dan yang tidak berpengalaman.
   Auditor yang berpengalaman akan lebih memahami ketentuan yang ada dalam
standar akunttansi, sehingga dapat menerapkan lebih baik daipada yang tidak
merpengalaman. Dari seseorang yang mempunyai pengalaman dapat belajar dari
kesalahan kesalahannya di masa lalu, sehingga dimasa yang akan datang akan
menambah kinerjanya dalam melakukan tugas. Pengalaman dapat mempengaruhi
kemampuan auditor dalam memprediksi dan mendeteksi kecurangan yang terjadi
dalam pelaporan keuangan suatu perusahaan yang diauditnya sehingga dapat
mempengaruhi judgment yang diambil oleh auditor. Dengan demikian maka akan
mengurangi kesalahan auditor di masa kini dan masa yang akan datang.
   Semakin tinggi pengalaman auditor, maka semakin tinggi kualitas pengambilan
keputusan audit. Artinya semakin tinggi pengalaman auditor maka semakin tinggi
kualitas pengambilan keputusan audit. Pengalaman bagi para audit merupakan hasil
penting agar dalam menjalankan tugasnya. Auditor yang profesional harus
mempunyai pengalaman yang cukup tentang tugas dan tanggungjawabnya.
Pengalaman auditor dapat menentukan profesionalisme, kinerja komitmen terhadap
organisasi, serta kualitas auditor melalui pengetahuan yang diperolehnya dari
pengalaman melakukan audit. Susetyo (2009) membuktikan bahwa pengalaman kerja
seorang auditor akan menentukan tingkat evaluasi yang dimilikinya.

                                           8
4. Pengertian Audit
   Menurut Mulyadi (2002;9) secara umum auditing adalah suatu proses sistematis
untuk memproleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-
pernyataan tentang kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat
kesesuian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah
ditentukan, serta menyampaikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan.
Menurut Sukrisno Agoes (2000;3) mendefinisikan auditing sebagai suatu
pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independent
terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-
catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya dengan tujuan untuk dapat
memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
   Menurut Haryono Jusuf (2001;11) audit adalah suatu proses sistematis untuk
mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang
tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang telah ditetapkan dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Auditor yang memahami tujuan dan apa yang dia harapkan atas hasil kinerjanya,
tidak akan bersikap menyimpang ketika mendapat tekanan dari atasan atau entitas
yang diperiksa dan tugas audit yang kompleks. Pemahaman mengenai tujuannya
dapat membantu auditor membuat suatu audit judgment yang baik. Auditor
seharusnya memahami bahwa tugas auditor adalah memberikan jasa professional
untuk menilai kewajaran informasi keuangan yang disajikan manajemen kepada
masyarakat yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut. Melalui
pemahaman ini auditor akan tetap bersikap profesional sesuai dengan etika profesi
dan standar profesional yang berlaku meskipun menghadapi rintangan dalam tugas
auditnya.
5. Audit Judgement
   Makna menurut kamus inggris-indonesia judgement diterjemahkan sebagai
pendapat, keputusan, dan pertimbangan. Menurut ISA 200 profesional judgement
adalah penerapan pengetahuan dan pengalaman yang relevan, dalam konteksauditing

                                        9
accounting dan standard etika, untuk mencapai keputusan yang tepatdalam situasi
atau keadaan selama berlangsungnya penugasan audit (Idris, 2012).
   Audit judgement adalah kebijakan auditor dalam menentukan pendapat mengenai
hasil auditnya yang mengacu pada penentuan suatu gagasan, pendapat atau perkiraan
tentang suatu objek, status atau peristiwa lainnya. Judgement merupakan cara
pandang auditor dalam menanggapi semua informasi yang berhubungan dengan
tanggung jawab dan risiko audit yang dihadapi oleh auditor (jamilah,dkk. 2007).
Kebijakan audit(judgement) menentukan prinsi-prinsip akuntansi mana yang harus
ditetapkan dalam situasi tertentu. Auditor membuat judgment dengan kesadaran
bahwa penilaiannya akan ditinjau dan akan dimintai keterangan. Pertanggungjawaban
merupakan factor penting dalam lingkup auditor judgment.Gibbins dan Emby dalam
(Enjang Tachyan, 2005) menyatakan bahwa salah satu kualitas terpenting dalam
membuat kebijakan (judgment) profesional adalah kemampuan untuk membenarkan
penilaian tersebut.
   Judgement merupakan suatu kegiatan yang selalu dibutuhkan oleh auditor dalam
melaksanakan audit laporan keuangan dari suatu entitas. Judgement dalam audit
tergantung pada kualitas dari keyakinan yang diperoleh melalui pengumpulan dan
pengembangan bukti-bukti (Idris, 2012). Sementara itu, pengumpulan dan
pengembangan bukti-bukti memerlukan upaya analisis atas fakta-fakta yang terjadi
yang melatarbelakangi asersi yang sedang diaudit. Setiap auditor dapat menghasilkan
judgement yang berbeda untuk suatu penugasan audit yang sama. Sehingga auditor
harus selalu mengasah kemampunnya karena semakin handal judgement yang diambil
oleh auditor maka akan semakin handal pula opini audit yang dikeluarkan oleh
auditor.
6. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
   Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa peran BPKP adalahsebagai
auditor internal bagi pemerintah. Dengan adanya Keppres no.31 tahun1983 BPKP
lahir dari hasil transformasi DJPKN ( Direktorat Jendral PengawasanKeuangan
Negara). DJPKN berdiri tahun 1966, dan memiliki tugas melakukanpengawasan

                                        10
anggaran dan pengawasan seluruh pelaksanaan anggaran negara,anggaran daerah, dan
badan usaha milik negara / daerah.Kini, BPK memiliki visiyaitu “Auditor Presiden
yang responsif, interkatif, dan terpercaya untukmewujudkan akuntabilitas keuangan
negara yang berkualitas”. BPKP merupakan lembaga pemerintah non departemen
yang berada dibawah presiden dan bertanggung jawab langsung kepada
presiden.Karena BPKP lepas dari semua departemen, maka BPKP dapat
melaksanakan fungsinya secaralebih objektif.BPKP lebih cenderung bersifat
preventif atau pembinaan, daripadaaudit.Preventif yang dimaksud adalah pengawasan
yang berguna mencegahterjadinya penyimpangan.Berikut adalah tugas dan fungsi
BPKP sesuai denganPasal 52, 53, 54 Keputusan Presiden Republik Indonesia
No.103/ 20011.
Fungsi BPKP:
           a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan
               keuangan dan pembangunan
           b. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan
               keuangan dan pembangunan
           c. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP
G. Penelitian Terdahulu
   Sebelum penelitian ini banyak peneliti- peneliti terdahulu yang meneliti tentang
pengalaman, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas terhadap auditor judgment.
Chung dan Monroe (2001) melakukan studi pengaruh gender dan kompleksitas tugas
pada akurasi pertimbangan audit. Hasihya ternyata ada interaksi yang signifikan
antara gender dengan kompleksitas tugas pada akurasi pertimbangan audit. Penelitian
gender lain yang hasilnya konsisten adalah penelitiannya Johnson dan Kaplan (1998)
yang menggambarkan bahwa gender berpengaruh dalam mempertimbangkan evaluasi
kinerja manajer audit.




                                        11
H. Rerangka Penelitian
   Menurut Mulyadi dikutip dalam jamilah et al (2007) Profesionalisme seseorang
secara umum dipengaruhi oleh aspek-aspek yang bersifat individual meliputi antara
lain: pengalaman, tekanan ketaatan, dan kompleksitas tugas. Ketiga aspek di atas
memiliki peran yang besar terhadap judgment yang dibuat oleh auditor. Aspek
individual memiliki peranan yang cukup penting dalam mempengaruhi audit
judgment, hal ini terjadi karena aspek-aspek individual mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap perilaku individu. Dengan demikian pengalaman, tekanan
ketaatan dan kompleksitas tugas sebagai dimensi dari aspek individual akan
berpengaruh terhadap judgment yang akan diambil oleh seorang auditor. Berdasarkan
penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka model rerangka pemikiran
penelitian ini dapat disampaikan dalam Gambar 1 di bawah ini:


         Tekanan Ketaatan

               ( X1 )


        Kompleksitas Tugas                                Audit Judgment

               ( X2 )                                           (Y)


             Pengalaman

               ( X3 )

Gambar 1. Bagan Rerangka Konsep Penelitian
Pengembangan Hipotesis
Pengaruh pengalaman terhadap judgment yang diambil auditor
   Memiliki pengalaman yang banyak dan luas, akan mempermudah seorang auditor
menghasilkan audit judgment yang lebih baik. Pengalaman yang pernah dilalui oleh
seorang auditor dalam melakukan tugas auditnya memberikan pelajaran kepada
auditor tersebut dalam melakukan judgment. Seseorang yang melakukan pekerjaan

                                        12
sesuai dengan pengalaman yang dimiliki akan memberikan hasil yang lebih baik
daripada mereka yang tidak mempunyai pengalaman yang cukup dalam tugasnya.
Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi
kinerja auditor. Menurut Jeffrey (1992) dalam sularso dan naim (1999) dikutip dalam
priatiningsih (2011) memperlihatkan bahwa seseorang dengan banyak pengalaman
dalam suatu bidang memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan
dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesi sebagai berikut:
H1: Pengalaman berpengaruh terhadap judgment yang diambil oleh auditor
Pengaruh tekanan ketaatan terhadap judgment yang diambil oleh auditor
   Akuntan secara terus menerus berhadapan dengan dilema etika yang melibatkan
pilihan antara nilai-nilai yang bertentangan. Dalam keadaan ini, klien bisa
mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Klien bisa menekan
auditor untuk mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Auditor
secara umum dianggap termotivasi oleh etika profesi dan standar pemeriksaan, maka
auditor akan berada dalam situasi konflik. Memenuhi tuntutan klien berarti melanggar
standar.
   Namun dengan tidak memenuhi tuntutan klien, bisa mendapatkan sanksi oleh
klien berupa kemungkinan penghentian penugasan. Karena pertimbangan profesional
berlandaskan pada nilai dan keyakinan individu, kesadaran moral memainkan peran
penting dalam pengambilan keputusan akhir. Penelitian sebelumnya menunjukkan
bukti bahwa auditor yang mendapatkan perintah tidak tepat baik itu dari atasan
ataupun dari klien cenderung akan berperilaku menyimpang dari standar profesional
(Hartanto,1999). Menurut Ashton (1990), telah mencoba untuk melihat pengaruh
tekanan dari atasan pada kinerja auditor dalam hal budget waktu, tenggat waktu,
akuntabilitas, dan justifikasi. Penelitian Jamilah,dkk. (2007) dan Wijayatri (2010)
juga memberikan bukti bahwa tekanan ketaatan dapat mempengaruhi auditor dalam
membuat suatu judgment.Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:

                                        13
H2 : Tekanan ketaatan berpengaruh terhadap judgment yang diambil oleh auditor
Pengaruh kompleksitas tugas terhadap judgment yang diambil oleh auditor
   Tingkat kesulitan tugas dan struktur tugas merupakan dua aspek penyusun dari
kompleksitas tugas.Tingkat sulitnya tugas selalu dikaitkan dengan banyaknya
informasi tentang tugas tersebut, sementara struktur adalah terkait dengan kejelasan
informasi (information clarity). Menurut Bonner (1994) dikutip dalam jamilah dkk
(2007), proses pengolahan informasi terdiri dari tiga tahapan, yaitu: input, proses,
output. Pada tahap input dan proses, kompleksitas tugas meningkat seiring
bertambahnya faktor cues. Terdapat perbedaan antara pengertian banyaknya cues
yang diadakan (number of cues available) dengan banyaknya cues yang terolah
(number of cues processed). Banyaknya cues yang ada, seorang decision maker harus
berusaha melakukan pemilahan terhadap cues-cues tersebut (meliputi upaya
penyeleksian dan pertimbangan-pertimbangan) dan kemudian mengintegrasikannya
ke dalam suatu judgment (pendapat).
   Keputusan bisa diberikan segera bila banyak cues yang diamati tidak
meninggalkan batas-batas kemampuan dari seorang decision maker (Chung dan
Monroe, 2001) dikutip dalam jamilah dkk (2007).Jamilah, dkk.(2007) menjelaskan
terdapat dua aspek penyusun dari kompleksitas tugas, yaitu tingkat kesulitan tugas
dan stuktur tugas.Tingkat sulitnya tugas selalu dikaitkan dengan banyaknya informasi
tentang tugas tersebut, sementara struktur tugas terkait dengan kejelasaninformasi
(information clarity). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut:
H3 : Kompleksitas tugas berpengaruh terhadap judgment yang diambil oleh auditor.
I. Metode Penelitian
   1. Populasi dan sampel
   Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang
memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007) dikutip dalam
Kurniawati.

                                        14
   Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut.Sampel yang diambil harus benar-benar merepresentatifkan populasi
(Sugiyono, 2007) dikutip dalam Kurniawati. Pengambilan sampel ini akan dilakukan
pada auditor internan yang bekerja di BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta.
   Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling
yaitu sampel yang diambil dengan kriteria tertentu (Sugiyono, 2007) dikutip dalam
kurniawati (2006).
      2. Teknik Pengambilan Sampel
   Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling
yaitu sampel yang diambil dengan kriteria tertentu (Sugiyono, 2007) dikutip dalam
kurniawati.Dengan kriteria, Semua auditor internal Pemerintah yang bekerja di
perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta.
      3. Teknik pengumpulan data
   Teknik pengumpulan data dalam proposal penelitian ini yaitu dengan metoda
survei. Metoda survei merupakan metoda pengumpulan data primer yang diperoleh
dari sumber asli (Indriantoro dan Supomo, 1999: 152). Pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner dengan cara peneliti mengantarkan langsung dan
pengambilan akan diambil oleh peneliti ke Badan Pemeriksa Keuangan dan
Pembangunan di Yogyakarta.

 4.      Definisi operasional dan pengukuran variable
      1) Variabel terikat (Dependent variable)
   Variabel depennden terikat merupakan variable yang menjadi pusat perhatian
peneliti.Hakikat sebuah masalah, mudah terlihat dengan mengenali variabeldependen
yang digunakan dalam sebuah model.Dalam penelitian ini yang menjadi variabel
dependen/ terikat adalah Audit Judgment (Y).
      2) Variabel bebas (Independent variable)
   Variabel independen/bebas adalah variable yang mempengaruhi variabel
dependen/ terikat, baik yang pengaruhnya positif maupun variabel bebas adalah


                                          15
gender (X1), tekanan ketaatan (X2), dan kompleksitas tugas (X3).Audit judgment
melekat pada setiap tahap dalam proses audit laporan keuangan, yaitu penerimaan
perikatan audit, perencanaan audit, pelaksanaan pengujian audit, dan pelaporan audit.
Kebijakan audit (audit judgment) menentukan prinsip-prinsip akuntansi mana yang
harus ditetapkan dalam situasi tertentu.
Definisi operasional variabel
   Definisi operasional variabel merupakan cara atau langkah yang dilakukan untuk
mengukur variabel-variabel tersebut di lapangan dengan merumuskan secara singkat
dan jelas, serta tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Pertanyaan atau pernyataan
dalam kuisioner untuk masing-masing variabel dalam penelitian ini diukur
menggunakan skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur suatu sikap,
pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.
Jawaban dari responden kualitatif dikuantitatifkan, dimana jawaban diberi skor
dengan menggunakan lima point:
1. Tekanan Ketaatan ( X1 )
    Tekanan yang diterima oleh auditor dalam menghadapi atasan dan klien untuk
    melakukan tindakan menyimpang dari standar etika. Tekanan ketaatan
    merupakan variabel independen yang diukur dengan Skala Likert lima point yaitu
    (1) sangant tidak setuju; (2) tidak setuju; (3) netral; (4) setuju, dan (5) sangat
    setuju.
2. Kompleksitas Tugas (X2)
    Persepsi individu tentang kesulitan suatu tugas yang disebabkan oleh terbatasnya
    kapabilitas, dan daya ingat serta kemampuan untuk mengintegritaskan masalah
    yang dimliki oleh seorang pembuat keputusan. Kompleksitas tugas merupakan
    variabel independen yang diukur menggunakan Skala Likert lima point yaitu (1)
    sangat salah (2) salah (3) netral (4) benar (5) sangat benar.




                                           16
3. Pengalaman (X3)
    Pengalaman dikukur dengan jumlah penugasan yang pernah ditangani sebagai
    auditor pada BPKP. Pengalaman kerja merupakan keseluruhan pelajaran yang
    dibentuk oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dalam pelajaran hidupnya.
4. Audit Judgment ( Y )
    Kebijakan auditor dalam menentukan pendapat mengenai hasil auditnya yang
    mengacu pada pembentukan suatu gagasan, pendapat atau perkiraan tentang
    suatu objek, peristiwa, status atau jenis peristiwa lain. Audit Judgment
    merupakan variabel dependen yang diukur dengan Skala Likert lima point yaitu
    (1) sangat tidak mungkin (2) tidak mungkin (3) netral (4) mungkin, dan (5)
    sangat mungkin.
5. Teknik Analisis Data
a. Uji Kualitas Data
    1. Uji Validitas
   Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat validitas suatu
instrumen. Sebuah instrumen dinyatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
ingin diukur. Kemampuan kuesioner untuk mengungkapkan suatu variabel atau
konstruk yang seharusnya diukur dapat diketahui dari hasil signifikansi dari uji
Pearson correlation.Instrumen dikatakan valid jika memiliki nilai Pearson
correlation lebih besar dari nilai koefisien korelasi (Ghozali, 2006: 49-52).
   Uji validitas berguna untuk mengetahui kemungkinan ada atau tidak pernyataan-
pernyataan pada kuesioner yang harus dibuang/diganti karena dianggap tidak
relevan.Teknik untuk mengukur validitas kuesioner adalah dengan menghitung
korelasi antar data pada masing-masing pernyataan dengan skor total, memakai
rumus korelasi product moment.
    2. Uji Reliabilitas
   Setelah mengukur uji validitas, maka perlu mengukur realibilitas data.Uji
reliabilitas dilakukan dengan caraone shot atau pengukuran sekali saja dan kemudian
hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan lain atau mengukur korelasi antar jawaban

                                           17
pertanyaan, dengan uji statistik cronbach alpha. Suatu kontruksi atau variabel
dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha lebih dari 0,60 (Ghozali,
2006: 45).
b. Uji Asumsi Klasik
   Digunakannya asumsi klasik adalah untuk mengetahuimodel regresi yang
dihasilkan valid atau tidak.Suatu model regresi dikatakan baik jika tidak terdapat
multikolinearitas di antara variabel independen yang masuk ke dalam fungsi regresi
dan tidak ada heteroskedastisitas dan semua gangguan memiliki varian yang berbeda.
Uji asumsi klasik dijabarkan sebagai berikut:
   1. Uji normalitas
   Tujuan uji normalitas adalah ingin melihat dalam model regresi variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak.Untuk mengetahui
data itu berdistribusi normal atau tidak maka dengan melihat uji statistik non-
parametrik one-sample Kolmogorov-Smirnov (K-S). Dasar pengambilan keputusan
dengan uji normalitas ini adalah dengan melihat nilai asymp sig: (2-tailed). Jika nilai
asymp sig: 2-tailed >alpha (α), maka residual berdistribusi normal, dan sebaliknya
jika asymp sig: 2-tailed <alpha (α), maka residual berdistribusi tidak normal
(Ghozali, 2006: 147).
   2. Uji Heteroskedastisitas
   Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji ada tidaknya ketidaksamaan variance
dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain dalam model regresi.
Heteroskedastisitas dapat diuji menggunakan uji Glejser.Uji Glejser yaitu dengan
meregresikan variabel independen dengan nilai absolut residualnya. Jika nilai
signifikansi > 0,05 (alpha) maka model tersebut tidak terdapat heteroskedastisitas
(Ghozali, 2006: 125).
   3. Uji Multikolinearitas
   Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji ada tidaknya ditemukan korelasi
antar variabel bebas (independen) dalam suatu model regresi.Cara mendeteksi
multikolinearitas dengan menganalisis matrik korelasi antar variabel independen dan

                                          18
perhitungan nilai tolerance dan VIF. Nilai cut-off         yang umum dipakai untuk
menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama
dengan nilai VIF ≥ 10 (Ghozali, 2006: 95-96).

   4. Uji Autokorelasi

   Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji dalam model regresi linear ada korelasi
antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada
periode t-1 (sebelumnya). Salah satu cara yang digunakan adalah dengan uji Durbin
Watson. Uji Durbin Watson digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order
autokorelation) dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi
dan tidak ada variabel lagi diantara variabel bebas. Jika nilai statistik 0< d < dl atau
dl ≤ d ≤ du, maka tidak ada autokorelasi positif, jika 4 – dl < d < 4 atau 4 – du ≤ d ≤ 4
– dl, maka tidak ada korelasi negatif, jika du < d < 4 – du, maka tidak ada
autokorelasi positif maupun negatif (Ghozali, 2006: 99).
c. Pengujian Hipotesis
   Alat pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
berganda. Untuk itu diformulasikan model regresi berganda sebagai berikut:
       Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
       Di mana:        Y :Audit judgment
                       a : Nilai intersep (konstan)
                       b1..b3 : Koefisien arah regresi
                      X1 : tekanan ketaatan
                      X2 : kompleksitas tugas
                      X3 : pengalaman
                      e :error
   Untuk menganalisis pengaruh variabel tekanan ketaatan (X1), kompleksitas tugas
(X2), dan pengalaman (X3) terhadap audit judgment (Y) digunakan metode statistik
dengan tingkat taraf signifikansi α = 0,05 artinya derajat kesalahan sebesar 5 %.



                                           19
    1)          Koefisien Determinasi (R2)
   Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen.Nilai koefisien determinasi
adalah antara nol dan satu (Ghozali, 2001: 87).Untuk model regresi berganda
menggunakan nilai adj R2.Nilai adj R2 berkisar antara 0 sampai 1.Apabila adj R2
mendekati 1, menunjukkan bahwa variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh
variasi independen.Sebaliknya, jika adj R2 mendekati 0, maka variasi dari variabel
dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel independen.
    2)          Uji Signifikansi Simultan (uji statistik F)
   Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen
atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-
sama terhadap variabel dependen/terikat (Ghozali, 2001: 88). Untuk menguji
hipotesis ini digunakan statistik F dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai
berikut:
                    -     Quick look: bila nilai F lebih besar daripada 4 maka Ho ditolak
                          pada derajat kepercayaan 5%. Dengan kata lain menerima
                          hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel
                          independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi
                          variabel dependen.
                    -     Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F
                          menurut tabel. Bila nilai F hitung lebih besar daripada nilai F
                          tabel, maka Ho ditolak dan menerima Ha.
           3)           Uji Signifikan Parameter Individual (uji statistik t)
   Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen
(Ghazoli, 2001: 88). Kriteria pengujiannya sebagai berikut:
                -       Ho diterima dan Ha ditolak yaitu apabila p value< 0.05 atau bila
                        nilai signifikan lebih dari nilai alpha 0,05 berarti variabel

                                               20
    independen secara individual tidak berpengaruh terhadap variabel
    dependen.
-   Ho ditolak dan Ha diterima yaitu apabila p value> 0.05 atau bila
    nilai signifikansi kurang dari nilai alpha 0,05 berarti variabel
    independen secara individual berpengaruh terhadap variabel
    dependen.




                         21
                              DAFTAR PUSTAKA




Ghazali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
    Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.


Hartanto. 1999. Pemeriksaan Akuntansi (Auditing) : Faktor-faktor Perbedaan
    Gender Yang Mempengaruhi Independensi Penampilan Akuntan Publik.
    Yogyakarta. Salemba Empat.


http://www.google.com. Peraturan BAPEPAM Nomor Kep-36/PM/2003.


http://www.google.com. Peraturan Bursa Efek Jakarta (BEJ) Nomor Kep-
306/PM/2004.


IAI. 2001. Standar Profesi Akuntan Publik. Jakarta. Salemba Empat


Idris, Seni Fitriani. 2012. Pengaruh Tekanan Ketaatan, Kompleksitas Tugas,
    Pengetahuan dan Persepsi etis terhadap Audit Judgement (studi kasus pada
    perwakilan BPKP provinsi DKI Jakarta). Skripsi. Semarang: Universitas
    Diponegoro.


Indriantoro, Nur, dan Supomo. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi
    dan Manajemen. Yogyakarta. BPFE-yogyakarta.




Jamilah, Siti, Zaenal Fanani, dan Grahita Chandrarin. 2007. Pengaruh Gender,
    Tekanan Ketaatan, dan Kompleksitas Tugas Terhadap Audit Judgment. Jurnal
    Simposium Nasional Akuntansi (Juli).


                                       22
Jusuf, Al. H., 2001., Auditing., Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi., Yogyakarta.


Kurniawati, indah. 2006. Modul pengolahan data elektronik. Mengolah data statistic
    dengan SPSS 11.5. Yogyakarta. Universitas Ahmad Dahlan.


Mulyadi.2002.,Auditing. Jakarta: Penerbit Salemba Empat


Praditaningrum, Anugrah Suci. 2012. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh
    terhadap audit judgment (studi pada bpk ri perwakilan provinsi jawa tengah).
    Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.


Priatiningsih, dian. 2011. Pengaruh gender, pengetahuan, pengalaman, tekanan
    ketaatan, dan kompleksitas yugas terhadap kualitas audit judgment internal audit
    pemerintah. Tesis. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.


Purwanto, Robby Adi. 2011. Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan, Kompleksitas
    Tugas, dan Pengalaman auditor terhadap audit judgment (survei pada kap di
    surakarta dan yogyakarta). Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
    Surakarta.


Puspitasari, rahmi ayu. 2011. Analisis Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan,
    Kompleksitas Tugas, dan Pengalaman terhadap Kinerja Auditor dalam
    Pembuatan Audit Judgment. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro


Sukrisno Agoes. 2000. Auditing. Edisi 3. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas
    Ekonomi       Universitas Indonesia.




                                           23
Susetyo, budi. 2009. Pengaruh Pengalaman Audit Terhadap Pertimbangan Auditor
   DENGAN Kredibilitas Klien Sebagai Variabel Moderating. Tesis. Semarang:
   Universitas Diponegoro.




Wijayatri, Astri. 2010. Pengaruh Tekanan Ketaatan, Kompleksitas Tugas dan
   Keahlian audit terhadap audit judgment (studi empiris pada kantor akuntan
   publik di surabaya). Skripsi. Yogyakarta: Universitas Pembangunan Nasional.


Zulaikha, 2006. Pengaruh interaksi gender, kompleksitas tugas, dan pengalaman
   auditor terhadap Audit Judgment. Jurnal SNA 1X. padang. Agustus 2006.




                                      24

								
To top