TEKNIK FASILITASI by TapakJalakKuPermata

VIEWS: 0 PAGES: 11

									                    KIAT – KIAT MEMFASILITASI PERTEMUAN



1. CARA BERBICARA

  Cara berbicara :
  a. Suara cukup keras dan nyaman untuk didengar
  b. Kata – kata jelas untuk dimengerti
  c. Intonasi menarik
  d. Frekuensi suara sedang

  Dalam penyajian materi latihan empat hal yang penting diketahui :
  1. Adalah penguasaan materi yang hendak disajikan
  2. Adalah teknik menyajikan materi tersebut
  3. Adalah sikap dan penampilan dalam penyajian
  4. Adalah teknik berbicara didepan kelas atau ruang latihan.

  Tiga unsur penting yang mempengaruhi efektivitas bicara dari seorang fasilitator
  adalah :
  a. Suara cukup keras untuk didengar dan cukup jelas untuk dimengerti.
  b. Penggunaan kata dan intonasi yang menarik
  c. Nyaman untuk didengar.

  Beberapa kesalahan yang sering kali terjadi dalam berbicara adalah :
  a. Laju pembicaraan terlalu cepat;
  b. Frekuensi suara yang terlalu tinggi;
  c. Pengucapan kata-kata yang kurang jelas;
  d. Pembicaraan yang datar atau monoton sehingga membosankan.

  Kesalahan diatas dapat mengakibatkan terganggunya proses belajar.                  Laju
  pembicaraan yang terlalu cepat dapat menyebabkan hilangnya pesan atau informasi
  yang disampaikan. Hal serupa juga ditimbulkan oleh karena pengucapan kata – kata
  yang kurang jelas. Hilangnya pesan atau informasi akan menimbulkan hambatan bagi
  peserta dalam memberikan respon atau tanggapannya.             Ini berarti bahwa proses
  belajar telah menyimpang dari tujuan semula.

  Dalam berbicara didepan kelas atau ruang latihan, hendaknya cukup keras sehingga
  semua peserta dapat mendengar dengan jelas, tetapi tidak sedemikian kerasnya
  sehingga mengganggu peserta yang berada didekatnya.
  Dalam berbicara didepan kelas atau ruang latihan, hendaknya cukup keras sehingga
  semua peserta dapat mendengar dengan jelas, tetapi tidak sedemikian kerasnya
  sehingga mengganggu peserta yang berada di dekat pembicara.             Untuk jumlah
  peserta yang tidak terlalu banyak (tidak lebih 35 orang), usahakan untuk tidak
  memakai alat pengeras suara.

  Karena pengalaman menunjukkan untuk jumlah diatas, penggunaan alat pengeras
  suara lebih banyak mengganggu dari pada membantu proses belajar, oleh karena itu,
  seorang pembicara atau fasilitator yang baik akan selalu melatih volume suaranya
  agar dapat didengar dengan baik oleh semua peserta.

  Pembicara yang datar atau monoton yang dapat menimbulkan kebosanan para
  peserta dapat dihindarkan misalnya dengan penggunaan intonasi yang menarik.
  Selain itu, beberapa cara dapat digunakan untuk meningkatkan daya tarik
  pembicaraan,     misalnya untuk menggunakan perbandingan, analogi dan humor.
  Untuk memperoleh hasil perhatian peserta, dalam pembicaraan disampaikan sesuatu
  dengan menyisipkan suatu kasus atau mengutip hasil penelitian dan pendapat
  seorang ahli.



2. CARA MENDENGAR

  Cara mendengar :
  1. Hindarkan pertentangan, atau pendekatan
  2. Perhatikan “isi” pembicaraan
  3. Berikan perhatian dan tunjukkan bahwa anda mendengarkan.
  4. Bersikap netral, tidak memotong pembicaraan.
  5. Jangan memberikan saran saat seseorang sedang berbicara.
  6. Dengarkan pokok-pokok pikiran pembicara
  7. Garis bawahi pokok-pokok penting pembicara.
  8. Sadar tidak terbawa emosi terhadap terhadap isi dan gaya pembicara

  “Mendengar” adalah vital tetapi seringkali diabaikan, karena untuk mendengar yang
  baik diperlukan usaha secara sadar, seorang fasilitator sangat berkepentingan untuk
  menjadi seorang pendengar yang baik. Bila fasilitator mengabaikan hal ini berarti
  telah mengobarkan salah satu mekanisme belajar yang paling penting, yaitu umpan
  balik dari peserta.
“Mendengar” merupakan bagian penting dalam proses komunikasi.                 Menurut
penelitian, sekitar 45% kegiatan sehari-hari dipergunakan untuk mendengar.
Sayangnya terdapat banyak hambatan dalam “mendengar” yang sering kali tidak
disadari. Beberapa hambatan utama diantaranya adalah prasangka, rasa marah dan
emosi, rasa apriori, dan konsentrasi yang berlebihan.

Prasangka dapat menghambat keinginan seorang untuk mendengar. Jika seorang
fasilitator memiliki prasangka terhadap peserta latihan maka terdapat kecenderungan,
bahwa fasilitator yang bersangkutan untuk mengabaikan pendapat atau niat baik dari
peserta tersebut. Prasangka yang berkelanjutan akan menimbulkan perasaan yang
apriori. Sifat apriori merupakan sifat yang seharusnya tidak dimiliki fasilitator dalam
mengantarkan suatu proses belajar atau latihan. Karena sifat ini tidak mendukung
tercapainya komunikasi dua arah antara fasilitator dan peserta.

Demikian pula dengan rasa marah dan emosi. Kegagalan dalam mengontrol dan
menahan rasa marah serta emosi akan menghancurkan konsentrasi untuk mendengar
dengan baik.

Kerugian yang dirasakan akan semakin besar, akrena dalam situasi semacam itu
tidak saja konsentrasi fasilitator untuk mendengar yang terganggu, tetapi konsentarasi
para peserta juga akan terpengaruh olehnya.

Untuk meningkatkan ketrampilan mendengar, fasilitator dapat melakukan beberapa
cara diantaranya:
   Hindarkan pertentangan atau perdebatan yang tidak menentu;
   Jangan menilai cara menyampaikan, tetapi perhatikan “ISI” pembicaraan
    seseorang;
   Berikan perhatian yang penuh dan tunjukkan bahwa anda mendengarkan;
   Tetapi bersikap netral dengan cara tidak memotong, mengkritik, dan menyatakan
    sikap setuju atau tidak setuju serta jangan memberikan saran, pada saat
    seseorang sedang berbicara;
   Dengarkan pokok-pokok pikiran dari pembicaraan, dan garis bawahi pokok-pokok
    penting tersebut sehingga pembicara merasa dihargai;
   Kendalikan diri anda sehingga tidak terbawa arus emosi dan kurang sabar
    terhadap isi dan gaya pembicara.
3. CARA BERTANYA

  Cara bertanya :
  1. Kata – kata singkat dan jelas.
  2. Pertanyaan fokus pada satu pokok masalah.
  3. Pertanyaan berkaitan dengan materi yang disajikan.
  4. Agar ditujukan pada sebanyak mungkin peserta.
  5. Ajukan secara ramah dan santun
  6. Gunakan kata – kata untuk membantu peserta untuk berfikir bukan merendahkan
      atau menjatuhkan.
  7. Gunakan kata – kata yang mendorong peserta untuk menganalisa lebih mendalam.

  “Pertanyaan” adalah unsur lain yang tidak kalah pentingnya dengan teknik
  mendengar. Pertanyaan yang diajukan oleh seorang pelatih haruslah bertujuan :
     Membangkitkan rasa ingin tahu peserta, agar perhatian peserta dapat terpusat
      pada subyek yang dibicarakan.
     Merangsang diskusi lebih lanjut;
     Mengukur daya tangkap peserta terhadap subyek yang diberikan;
     Merangsang peserta yang kurang aktif.

  Secara umum pertanyaan dapat dibagi atas tiga jenis. Pertama adalah pertanyaan
  yang bersifat umum, yaitu pertanyaan yang diajukan keseluruh peserta dan setiap
  peserta dapat memberikan jawabannya. Maksud pertanyaan umum ini adalah untuk
  merangsang diskusi dan pemikiran lebih lanjut para peserta tentang sesuatu subyek
  tertentu. Kedua adalah pertanmyaan yang bersifat khusus, yaitu pertanyaan yang
  hanya tertuju pada peserta tertentu. Yang ketiga adalah pertanyaan yang bersifat
  retorik, yaitu : pertanyaan yang ditujukan keseluruh peserta tetapi tidak mengharapkan
  jawaban mereka.      Ini dimaksudkan untuk merangsang perhatian, dan biasanya
  dilakukan diawal sustu pertanyaan.

  Untuk meningkatkan efektivitas dalam bertanya, hal – hal berikut perlu diperhatikan :
   Pertanyaan hendaknya singkat dan jelas;
   Pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga tidak membingungkan;
   Batasi pertanyaan pada satu pokok masalah saja;
   Pertanyaan harus berkaitan dengan materi yang disajikan;
   Pertanyaan jangan hanya ditujukan pada satu atau dua peserta saja, usahakan
      untuk melibatkan sebanyak mungkin peserta;
   Hindarkan pertanyaan kemungkinan besar tidak dapat dijawab;
   Ajukan pertanyaan sopan dan ramah;
   Gunakan pertanyaan untuk membantu peserta berfikir bukan untuk merendahkan
     atau menjatuhkan peserta;
   Ajukan pertanyaan yang mendorong peserta untuk menganalisa permasalahan
     lebih dalam.

  Mengajukan pertanyaan dengan baik adalah penting, tetapi menanggapi atau
  mngendalikan respon (jawaban) peserta adalah hal yang juga sangat penting,
  kesalahan yang menganggapi respon dapat menyebabkan turunnya partisipasi
  peserta. Untuk mencegah hal tersebut, maka berikut ini ada beberapa hal yang perlu
  diperhatikan oleh fasilitator dalam menanggapi respon peserta :
   Beri waktu peserta untuk jawab pertanyaan;
   Pertanyaan yang diajukan jangan cepat – cepat dijawab sendiri, karena akan
     berakibat menurunnya gairah untuk menjawab pertanyaan.
   Berikan tanggapan positif terhadap setiap respon yang diberikan peserta;
   Jika fasilitator tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan peserta,
     hendaknya berterus terang dan berusaha meminta bantuan peserta lain yang
     mungkin mengetahui;
   Jagalah emosi dan pertahankan kesabaran dalam menanggapi setiap respon
     peserta untuk menciptakan iklim yang baik.



4. SIKAP DILUAR JAM BELAJAR

  Cara menanggapi :
  1. Beri waktu pesrta untuk menjawab pertanyaan.
  2. Pertanyaan yang dilontarkan jangan cepat dijawab sendiri.
  3. Tanggapi positif setiap respon dari pesrta
  4. Akui keurangan diri peserta kalau tidak tahu, berikan ke peserta lain mungkin ada
     yang mengetahui.
  5. Jagalah emosi dan sabar dalam menanggapi setiap respon peserta.

  Untuk menciptakan iklim yang baik antara fasilitator dan peserta, hubungan dan
  interaksi keduanya juga harus dipertanyakan diluar jam belajar . Dalam hal ini harus
  disadari bahwa setiap tingkah laku, sikap dan penampilan diluar jam belajar tetap
  menjadi perhatian peserta. Bagi peserta seoang fasilitator adalah contoh yang dapat
  mempengaruhi presepsi mereka tentang bagaimana harusnya seoarang fasilitator
  tampil dan bersikap.
  Hubungan diluar jam belajar dapat dimanfaatkan juga untuk mengenai lebih dekat
  pribadi dan latar belakang peserta, ini dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan
  bersama yang bersifat kreatif. Fasilitator juga dapat memanfaatkan waktu makan dan
  istirahat untuk berkumpul dan berbincang dengan peserta, oleh karena itu diusahakan
  agar pada kesempatan seperti diatas para fasilitator tidak hanya berkumpul
  sesamanya apalagi menciptakan pemisahan yang jelas seperti pemisahan ruang dan
  meja makan, antara fasilitator dan peserta.

  Dalam suatu penyelenggara pelatihan, harus dirancang kegiatan-kegiatan rekreatif
  diluar jam belajar seperti piknik, makan bersama diluar, dan kegiatan olah raga
  bersama. Ini merupakan media yang paling efektif untuk mengakrabkan hubungan
  antara peserta dan fasilitator, dalam kesempatan seperti diatas, beri kesempatan
  untuk menciptakan interaksi yang merata.

  Hindarkan pendekatan atau interaksi yang terbatas kepada sekelompok atau
  beberapa peserta saja, humor dan lelucon adalah alat yang efektif untuk
  menghidupkan suasana.           Terutama humor dan lelucon yang berakitan dengan
  “SARA” harus dihindarkan.



5. BEBERAPA       PERILAKU             DALAM       HUBUNGANNYA         DENGAN       SESAMA
  FASILITATOR DAN PANITIA LATIHAN

  Selain dengan peserta, sesama fasilitator dan penyelenggara, iklim yang serupa harus
  diciptakan, Untuk mempertahankan iklim tersebut, pertama-tama harus diatur
  pembagian tugas yang jelas diantara fasilitator dan penyelenggara. Seperti diketahui
  bahwa    keberhasilan        suatu    latihan   bukanlah   semata-mata     tergantung   pada
  kemampuan      fasilitator    saja,    tetapi   juga   tergantung   pada   dukungan     pihak
  penyelenggara, dalam hal penyediaan fasilitas untuk kelancaran proses belajar. Oleh
  karena itu, kerjasama yang baik antara fasilitator dan penyelenggara (panitia
  pelaksana) latihan harus dibina.

  Hal serupa juga berlaku untuk sesama fasilitator. Walaupun setiap fasilitator sudah
  memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing terutama yang berhubungan
  dengan topik yang akan disajikan, tetapi untuk keberhasilan program secara
  keseluruhan diperlukan seorang fasilitator yang juga akan bertanggung jawab sebagai
  koordinator.
Koordinator latihan ini berfungsi untuk mengatur jalannya latihan dari satu sesi ke sesi
lain, jika terjadi perubahan atau timbul kesulitan selama berlangsungnya latihan, maka
koordinator dapat mengambil inisiatif untuk memecahkan secepat mungkin.

Fungsi koordinator dalam latihan sangat penting, karena keberhasilan latihan tidak
ditentukan oleh satu-persatu topik atau kegiatan saja, melainkan perpaduan
menyeluruh dari semua topik yang disajikan dan semua kegiatan peserta dari awal
hingga akhir latihan.    Tetapi pengalaman sering kali menunjukkan hal tersebut
diabaikan, dimana setiap fasilitator hanya merasa bertanggung jawab yang berkaitan
dengan kepentingan dan kelancaran secara keseluruhan.

Kerjasama antar fasilitator harus terjalin baik diluar maupun didalam kelas. Diluar
kelas selain dari hubungan koordinator seperti dijelaskan diatas, kerjasama juga harus
terjalin pada setiap tahap latihan, mulai tahap perencanaan sampai tahap evaluasi.

Didalam kelas, kerjasama tersebut dapat ditunjukkan pada saat penyajian. Bila lebih
dari satu fasilitator yang bertugas untuk suatu penyajian, maka pembagian tugas
diantara sesama fasilitator harus ditentukan dengan jelas, pembagian tugas harus
diatur sedemikian rupa sehingga walaupun ada seorang yang akan bertanggung
jawab untuk penyajian itu, tetapi fasilitator yang lain harus membantu penyajian
dengan aktif dan tidak hanya sekedar membantu menulis pada kertas dinding pada
saat curah pendapat atau pun sekedar membuka atau menutup penyajian.
Kerjasama yang lebih berarti harus diciptakan diantara sesama fasilitator dalam
menyajikan suatu topik tertentu.
                         Peran Fasilitator Dalam Rapat 


                 Initiator                  : Memulai; mengusul
                 Lafo Giver/ Seeker         : Memberi atau Meminta fakta
                 Clarifier                  : Memperjelas Topik
                 Summarizer                 : Memformulasi Kesimpulan
                 Realita Tester             : Menguji Gagasan
                 Analyzer                   : Meneliti Topik
                 Harmonizer                 : Mengawinkan pendapat
                 Gatekeeper                 : Mengawasi Jalur Komunikasi
                 Consensus Tester           : Mencari Konsensus
                 Encoorager                 : Mendorong semangat
                 Compomizer                 : Berubah demi konsensus
                 Goal Tender                : Mengawasi Tercapai Tujuan
                 Time Keeper                : Mengawasi penggunaan waktu
                 Recorder                   : Menulis hasil rapat.




                                  -------- 0 O 0 --------




                              TIP’S BAGI FASILITATOR




Untuk memperoleh hasil komunikasi yang baik seorang fasilitator perlu menciptakan
suasana yang :

   1. Kumpulan Manusia Aktif
      Informasi yang disampaikan akan lebih cepat dan melekat pada ingatan
      masyarakat, apabila fasilitator tidak mendominasi dan mempercayai bahwa
      mereka (masyarakat) mampu menemukan alternatif – alternatif dan pemecahan
      masalah.   Fasilitator yang baik banyak mendengarkan dan bertindak sebagai
      sumber.

   2. Saling Menghormati
   Masyarakat akan merasa senang apabila pendapat pribadinya dihormati, boleh
   turut berpikir dan mengemukakan pikirannya daripada fasilitator menjejalkan teori
   dan gagasannya sendiri.

3. Saling Menghargai
   Belajar bersama bersifat subyektif dan unik, maka lepas dari benar atau salah,
   segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya harus dihargai.

4. Saling Percaya
   Masyarakat harus diberi kepercayaan untuk menumbuhkan kepercayaan mereka.
   Tanpa kepercayaan program tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

5. Penemuan
   Masyarakat dapat belajar lebih banyak apabila diberi kesempatan menemukan
   sendiri kebutuhannya, pemecahan masalah dan kesalahan-kesalahannya.

6. Tidak Mengancam
   Manusia mempunyai sistem nilai yang berbeda, pendapat dan pendirian yang
   berbeda. Banyak yang dipelajari kalau masing – masing dapat mengemukakan isi
   hati dan isi pikiran tanpa rasa takut. Mereka harus mempunyai perasaan bahwa
   mereka boleh berbeda pendapat dan berbuat salah tanpa dirinya terancam.

7. Keterbukaan
   Fasilitator perlu memiliki sikap terbuka. Terbuka untuk mengungkapkan diri dan
   mendengarkan orang lain. Keterbukaan tidak boleh berakibat orang mendapat
   ejekan, hinaan atau dipermalukan. Hanya dalam suasana keterbukaan segala
   alternatif dapat tergali dan cakrawala terbentang lebih luas.

8. Mangakui Ke-Khasan Pribadi
   Manusia adalah khas dan unik, memiliki kecerdasan, kepercayaan, dan perasaan
   sendiri-sendiri.   Harus diakui bahwa masing-masing adalah pribadi yang khas
   maka tidak harus selalu sama dengan pribadi lain.

9. Membenarkan Perbedaan
   Paling membosankan adalah suasana yang seakan hanya mengakui satu
   kebenaran, satu metode “yang benar” satu sikap “yang patut” padahal manusia
   dengan segala latar belakang pendidikan, kebudayaan dan pengalaman masa
   lalu,   masing-masing     dapat   memberi    investasi   berharga,   justru   karena
   perbedaannya.
  10. Mengakui Hak Berbuat Salah
       Suasana yang baik adalah bila orang – orang berani dan mencoba perilaku baru
       dan mau mencoba pengetahuan baru atau segala sesuatu yang mengandung
       resiko kegagalan. Maka kesalahan, kekeliruan adalah bagian yang wajar.

  11. Membolehkan Keraguan
       Suasana komunikasi seringkali menghasilkan beberapa alternatif, beberapa teori
       dan bahkan dua tiga diantaranya bisa nampak sama baik atau sama buruk.
       Pemaksaan untuk menerima salah satu sebagai yang paling tepat, paling benar,
       akan menghambat komunikasi. Keraguan harus diperkenankan untuk waktu yang
       cukup agar tercapai keputusan akhir yang memuaskan.

  12. Evaluasi Bersama
       Pada akhirnya orang ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok. Orang ingin
       mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Maka evaluasi bersama dirasakan
       berharga untuk bahan renungan.




                         SIKAP FASILITATOR YANG ETIS :

A. PENAMPILAN PRIBADI :
  1.      Tidak terkesan urakan
  2.      Berpakaian sederhana dan pantas
  3.      Tidak ingin berbeda jauh dengan masyarakat.
  4.      Tidak sombong atau menyombongkan diri
  5.      Ramah tamah
  6.      Siap membantu

B. SIKAP PADA SAAT MEMFASILITASI DISKUSI / MUSYAWARAH
  1.      Tidak memihak pada seseorang atau kelompok tertentu
  2.      Tidak menggurui
  3.      Menghormati satu sama lain
  4.      Adil
  5.      Jujur
  6.      Terbuka
MEDIA YANG DAPAT DIPAKAI OLEH FASILITATOR DESA DALAM SOSIALISASI
DAN PENGGALIAN GAGASAN


1. Peta Desa (Profil Desa)
2. Poster PPK
3. Informasi PPK dalam Kertas Lebar
             a. Azas, Misi PPK
             b. Tujuan PPK
             c. Sasaran PPK
             d. Prinsip-Prinsip PPK
             e. Kebijakan Dasar PPK
             f.   Proses dan Prosedur PPK
             g. Organisasi PPK
             h. Pelaku PPK
4. Kertas Plano dan Spidol
5. Leaflet


ALAT TULIS YANG HARUS SELALU DIBAWA FASILITATOR DESA :
1. Buku Absensi (Daftar Hadir)
2. Buku daftar Gagasan
3. Potongan Kertas Untuk Menggali Gagasan
4. Form berita acara musyawarah

								
To top